Uploaded by common.user151789

LAPORAN TUTORIAL MODUL 4 BLOK 20 KELOMPOK 1 (2025)

advertisement
LAPORAN TUTORIAL
MODUL 4 BLOK 20
PENYAKIT HEMATOLOGI DAN KELAINAN PERDARAHAN
Tutor
: Dr. drg. Aida Fitriana, M.Biomed
Ketua
: Karima Putri Evani (2211411004)
Sekretaris Meja
: Fatimah Az Zahra (2211412026)
Sekretaris Papan
: Adila Rahmi Savitri (2211412013)
Anggota
: Assyifa Salsabila Sukma (2211413007)
Farid Akram (2211413017)
Davina Yasinta Faiza (2211412023)
Sayyid Azzam Muntashir (2211412030)
Siti Arifah Rama Syani (2211413020)
Tiara Maisy Putri (2211412016)
Triana Maharani (2211413002)
Windi Putri Arnores (2211413034)
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS ANDALAS
TAHUN AJARAN 2025/2026
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan laporan tutorial yang berjudul “Penyakit Hematologi dan Kelainan
Perdarahan” sebagai salah satu tugas kompetensi kelompok. Shalawat beriring salam selalu
tercurah kepada junjungan kita, nabi besar Muhammad SAW beserta para keluarga, sahabat, dan
pengikut pengikutnya hingga akhir zaman.
Kami menyadari bahwa laporan tutorial ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan di masa
mendatang. Dalam penyusunan ini kami mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT, yang telah
memberi kesehatan dan rahmat-Nya, dan kepada dokter tutor kami, Dr. drg. Aida Fitriana,
MBiomed yang telah memberikan dukungan, masukan, dan kepercayaan yang begitu besar, serta
kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan laporan tutorial ini. Dari sanalah semua
kesuksesan ini berawal, semoga laporan ini bisa bermanfaat dan menuntun pada langkah yang
lebih baik lagi kedepannya bagi kami. Semoga Allah SWT memberikan balasan pahala atas segala
amal yang diberikan kepada semua orang yang menyusun dan membantu pembuatan laporan ini
dan semoga laporan tutorial ini bermanfaat bagi kita dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin. Akhir kata kami mengucapkan terima
kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Padang, 24 Oktober 2025
Penyusun
(Fatimah Az Zahra)
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................................................. iii
LANGKAH METODE SEVEN JUMPS ........................................................................................ 2
Langkah 1: Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang
dapat menimbulkan kesalahan interpretasi. ................................................................................ 3
Langkah 2: Menentukan rumusan masalah................................................................................. 3
Langkah 3: Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior
knowledge. .................................................................................................................................. 4
Langkah 4: Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan
mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi secara
terintegrasi................................................................................................................................... 8
Langkah 5: Memformulasikan Tujuan Pembelajaran. ................................................................ 9
Langkah 6: Mengumpulkan Informasi di Perpustakaan, Internet, dan Lain Lain. ..................... 9
Langkah 7: Sintesa dan Uji Informasi yang telah diperoleh. ...................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................................... 44
iii
MODUL 4
PENYAKIT HEMATOLOGI DAN KELAINAN PERDARAHAN
SKENARIO 4
GUSI MIA YANG BERDARAH
Mia usia 25 tahun datang ke poli gigi RSGM karena perdarahan pada gusi yang terjadi
tiba-tiba dan tidak kunjung berhenti. Pasien menceritakan perdarahan di gusi sering terjadi tetapi
kali ini yang paling parah. Pasien juga mengaku sering pingsan waktu upacara di sekolah dulu,
dan sering mengalami lebam dikulit saat terkena benturan ringan tapi tidak pernah diperiksakan
ke dokter. Pemeriksaan ekstra oral konjuctiva anemis. Pemeriksaan intra oral terlihat mukosa
mulut pucat.
Dokter gigi kemudian merujuk pasien ke bagian hematologi. Pemeriksaan hematologi
menunjukkan hemoglobin rendah, trombositopenia, dan leukopenia, sedangkan hasil yang lainnya
dalam batas normal. Imunologi test negative, INR (international normal ratio) dan PTT juga
normal. Hepatomegaly, splenomegaly dan limfadenopati juga negatif. Bagian hematologi
memberikan transfusi darah 1 kantong dan terapi infus platelet.
Bagaimana Saudara menjelaskan kasus di atas?
1
LANGKAH METODE SEVEN JUMPS
1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal yang
dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.
2. Menentukan rumusan masalah.
3. Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior knowledge.
4. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh.
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran.
6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain-lain.
7. Sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh.
2
Langkah 1: Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan hal-hal
yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi.
1. INR: Tes darah spesfik untuk mengukur waktu yang dibutuhkan darah untuk
membentuk bekuan darah
2. PTT: Parsial Tromboplastine Time waktu untuk membntuk bekuan darah
3. Hepatomegaly: Pembesaran pada organ hati
4. Splenomegaly: Pembesaran limfa di organ perut, ukuran dan berat melebihi batas
normal
5. Trombositopenia : Kondisi trombosit dalam darah rendah, darah sulit membeku
6. Leukopenia : Penurunan jumlah sel darah putih dalam darah
Langkah 2: Menentukan rumusan masalah.
1. Kenapa bisa terjadi perdarahan pada gusi yang tidak kunjung berhenti dan luka
lebam di kulit padahal hanya terbentur ringan?
2. Bagaimana penatalaksanaan kasus pasien tersebut?
3. Berapa nilai normal dari sel darah putih, trombosit, hemoglobin?
4. Apa yang terjadi jika sel darah putih dan trombosit dibawah normal
5. Apa penyebab trombosit dan sel darah putih dibawah normal?
6. Apa saja yang bisa menjadi tanda2 bahwa seorang pasien menderita penyakit
gangguan darah?
7. Apa saja macam2 penyakit gangguan pendarahan dan manifestasi oralnya?
8. Apa saja jenis dari penyakit sel darah merah dan manifestasi oralnya ?
9. Apa saja macam2 penyakit sel darah putih dan manifestasi oralnya?
3
10. Mengapa pasien tetap mengalami pendarahan gusi yang sulit berhenti jika INR dan
PTT normal?
11. Apa kemungkinan diagnosa dari pasien tersebut?
Langkah 3: Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior
knowledge.
1. Kenapa bisa terjadi perdarahan pada gusi yang tidak kunjung berhenti dan luka lebam di
kulit padahal hanya terbentur ringan?
Perdarahan pada gusi bisa disebabkan karena trombositopenia, trombosis mengalami
gangguan
2.
3.
dan
rendah,
adanya
faktor
pembekuan
darah.
Bagaimana penatalaksanaan kasus pasien tersebut?
•
Tranfusi darah , antibiotik untuk trombositopenia, biopsi sumsum tulang
•
Penatalaksanaan dental ditunda sampai kondisi hematologis stabil, menjaga oh
•
Hemostatik lokal pada pendarahan gusi, hindari NSAID
•
Antibiotik jika leukosit masih kurang, vaksinasi
•
Gusi perdarahan yang bengkak bisa dikompres dengan air dingin
Berapa nilai normal dari sel darah putih, trombosit, hemoglobin?
Sel darah putih =
-
Anak 2-5 tahun: 2500-15500, diatas 5 tahun: 5000-13000
-
Dewasa diatas 15 tahun: 3500-10500
Trombosit = 150000-400000 keping darah
Hemoglobin
4
-
Bayi= 16-23 gram/dl
-
Anak= 10-14 grm/dl
-
Laki2 dewasa= 13-17
-
Wanita
1. tdk hamil= 12-16
2. hamil= 11-13
4.
Apa yang terjadi jika sel darah putih dan trombosit dibawah normal ?
•
Dampak terjadi gangguan darah sulit membeku yang menyebabkan pendarahan pada
gusi, resiko pendarahan spontan yang serius
•
5.
Luka kecil bisa menjadi berat dan menyebar dengan cepat (trombosit)
Apa penyebab trombosit dan sel darah putih dibawah normal?
3
Mekanisme Utama:
1. Penurunan trombosit di sumsum tulang, karena kemoterapi, radiasi, leukimia,
infeksi virus
2. Peningkatan destruksi trombosit, karena idiopatik trombositopenia purpura, sle
3. Distribusi abnormal, terjadi hipersplenisme trombosit banyak terperangkap di limfa
•
Sel darah putih rendah, penurunan produksi di sumsum tulang
•
Penurunan leukosit karena penurunan imun
•
Kondisi medis karena sirosis hati dan sindrom hemolitik bisa mempengaruhi kadar
penghancuran sumsum tulang dan sel darah
5
6.
Apa saja yang bisa menjadi tanda2 bahwa seorang pasien menderita penyakit gangguan
darah?
•
Pucat mukosa dan konjungtiva, limfadenopati, pendarahan berlebihan pada
gusi,mimisan, mudah lebam
7.
•
Kelelahan ekstrim, infeksi berulang,demam
•
Luka sulit sembuh,bau mulut khas,pendarahan gusi spontan
•
Sesak nafas dan kelelahan
•
Peningkatan detak jantung
Apa saja macam2 penyakit gangguan pendarahan dan manifestasi oralnya?
•
Kelainan trombosit= trombositopenia karena virus, autoimun, obat2 an. Manifestasi
oral: kesulitan penghntian pendarahan
•
Hemofilia= mudah memar, luka berkepanjangan
•
Idiopatik trombositopenia= petechiae palatal
•
Polisitenia fera= gingiva ungu merah tua, bengkak, lidah kemerahan
•
Anemia aplastik= penurunan sel darah merah putih, sumsung tulang. Manifestasi oral:
pendarahan gusi spontan, ulserasi, mukosa mulut pucat
8.
Apa saja jenis dari penyakit sel darah merah dan manifestasi oralnya?
•
Anemia= sel darah merah rendah. Manifestasi oral: mukosa pucat gingiva dan lidah,
lidah licin, angular cheilitis, burning sensation
•
Polisitenia fera=mukosa mulut gelap, gusi mudah berdarah, lidah kemerahan, sensasi
panas pada mukosa
6
•
Hemolitik anemia= sclera kekuningan, mukosa ulserasi ringan, nyeri di tmj, mukosa
pucat
•
Anemia sel sabit= mukosa pucat,nyeri tulang rahang, infeksi mulut berulang
•
Thalasemia= anemia berat, wajah khas. Manifestasi oral: pembesaran pada maksila,
maloklusi, resorpsi tulang alveolar
9.
10.
Apa saja macam2 penyakit sel darah putih dan manifestasi oralnya?
•
Leukopenia= ulserasi mmukosa, pendarahan gusi spontan,infeksi kandidiasis, herpes
•
Limfoma= terdapat limfodenopati, demam, keringat malam
•
Agranulositosis= ulkus nyeri, infeksi gingiva, demam, bau mulut
•
Neutropenia= ulkus mulut, infeksi gusi, luka sulit sembuh
•
Multiple myeloma
Mengapa pasien tetap mengalami pendarahan gusi yang sulit berhenti jika INR dan PTT
normal?
Meskipun INR dan PPT normal, pasien tetap bisa mengalami pendarahan karena
trombositopenia. Trombosit yang rendah mengakibatkan mekanisme awal penghentian
darah terganggu.
11.
Apa kemungkinan diagnosa dari pasien tersebut?
Diagnosa Kerja : Anemia Aplastik
Diagnosa Banding: Leukemia
7
Langkah 4: Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan dan
mencari korelasi dan interaksi antar masing-masing komponen untuk membuat solusi
secara terintegrasi.
Mia (25 Tahun)
Perdarahan Gusi, sering pingsan, sering
lebam padahal benturan ringan
Pemerikasaan
Intraoral
Pemerikasaan
Ekstraoral
Pemerikasaan
Hematologi
Mukosa mulut pucat
Konjungtiva
anemis
- Hb rendah
- Trombositopenia
- Leukopenia
Penyakit Hematologi dan Kelainan Perdarahan
Kelainan Sel Darah Merah
(Eritrosit)
Kelainan Sel Darah Putih
(Leukosit)
Gangguan Perdarahan
Manifestasi Oral, Identifikasi, dan Penatalaksanaan
Dental
8
Langkah 5: Memformulasikan Tujuan Pembelajaran.
1. Mahasiswa mampu mejelaskan mengenai Kelainan Sel Darah Merah (Klasifikasi, Etiologi,
Patofisiologi, Manifestasi Oral, Penatalaksanaan, Pertimbangan OH)
2. Mahasiswa mampu mejelaskan mengenai Kelainan Sel Darah Putih (Klasifikasi, Etiologi,
Patofisiologi, Manifestasi Oral, Penatalaksanaan, Pertimbangan OH)
3. Mahasiswa mampu mejelaskan mengenai Gangguan Perdarahan (Klasifikasi, Etiologi,
Patofisiologi, Manifestasi Oral, Penatalaksanaan, Pertimbangan OH)
Langkah 6: Mengumpulkan Informasi di Perpustakaan, Internet, dan Lain Lain.
Langkah 7: Sintesa dan Uji Informasi yang telah diperoleh.
1. Mahasiswa mampu mejelaskan mengenai Kelainan Sel Darah Merah (Klasifikasi,
Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Oral, Penatalaksanaan, Pertimbangan OH)
1. Talasemia
Talasemia merupakan defek atau kerusakan haemoglobin (Hb) akibat mutasi atau
delesi gen yang mengatur pembentukan rantai globin alfa atau beta yang biasanya
diturunkan secara autosom resesif. Di asia tenggara anemia simtomatis terjadi pada
0,66 per 1.000 kelahiran dengan insiden 20.420 per tahun dan hampir seluruhnya
bergantung pada transfuse.
Etiologi dan Klasifikasi :
Talasemia adalah kelainan genetik yang diakibatkan oleh penurunan sintesis rantai
alfa atau beta pada haemoglobin. Penurunan sintesis rantai alfa maupun beta ini
mengakibatkan tubuh tidak dapat membentuk sel darah merah dengan benar
sehingga dapat menyebabkan anemia yang dimulai pada masa anak-anak dan akan
9
berlangsung seumur hidup. Talasemia ini merupakan penyakit keturunan dengan
autosomal resesif yang artinya salah kedua orang tua harus terkena atau menjadi
pembawa penyakit untuk dapat menurunkan atau menularkan penyakitnya ke
generasi berikutnya
Talasemia diklasifikasikan menjadi talasemia beta, alfa, delta, gamma, delta beta,
serta gamma delta beta, bergantung pada rantai globin yang terpengaruh. Talasemia
alfa disebabkan oleh mutasi atau delesi gen pembawa rantai globin alfa di
kromosom 16, sehingga menyebabkan pembentukan rantai globin alfa pada
haemoglobin menjadi sedikit atau bahkan tidak terbentuk. Sedangkan talasemia
beta disebabkan oleh mutasi atau delesi gen globin beta pada kromosom 11,
sehingga menyebabkan gangguan pembentukan rantai beta pada haemoglobin.
Secara klinis talasemia beta dibedakan kembali menjadi talasemia mayor, talasemia
intermedia, dan talasemia minor. Pada talasemia mayor, tidak terdapat produksi
rantai globin beta sama sekali. Gambaran klinis yang sering ditemukan adalah
anemia berat mikrositik hipokrom, dengan anisopoikilositosis dan diperlukan
tranfusi darah seumur hidup. Pada talasemia intermedia, manifestasi klinis yang
muncul hanya anemia ringan dan jarang membutuhkan transfusi. Biasanya
talasemia intermedia baru terdeteksi ketika balita atau usia sekolah. Pada talasemia
minor ditandai dengan eritrosit mikrositik hipokrom dan ditemukan sel target.
Biasanya baru terdeteksi saat melakukan skrining dan sering terjadi kesalahan
diagnosis sebagai anemia defisiensi besi.
Patofisiologi:
10
Talasemia terjadi karena mutasi atau delesi rantai globin alfa maupun beta pada
haemoglobin sehingga sinstesis rantai globin menjadi tidak seimbang. Dalam
keadaan normal, rantai globin alfa dan beta yang disintesis seimbang yaitu 2 rantai
alfa dan 2 rantai beta. Ketika terjadi talasemia beta zero, maka rantai globin beta
tidak disintesis sama sekali sehingga rantai globin alfa diproduksi secara berlebihan
(4 alfa). Sedangkan pada talasemia alfa zero, rantai globin alfa tidak disintesis sama
sekali sehingga rantai globin beta diproduksi secara berlebihan (4 beta)
Ketidakseimbangan produksi rantai alfa dan beta pada talasemia mengakibatkan
eritropoiesis yang tidak efektif, penghancuran sel darah merah prematur, dan
anemia. Anemia kromis dan berat pada pasien talasemia dapat menyebabkan
komplikasi seperti ekspansi sumsum tulang dan hematopoiesis ekstrameduler.
Manifestasi Klinis dan Oral:
•
Tanda dan gejala klinis talasemia bergantung pada tingkat keparahan penyakit
dan berkisar dari tidak ada hingga mengancam jiwa.
•
Mengenai talasemia alfa, hidrops fetalis Bart bersifat fatal dalam kandungan
atau segera setelah lahir akibat hipoksia berat. Jika transfusi diberikan
intrauterin dan setelah melahirkan, harapan hidup dapat diperpanjang hingga 5
tahun. HbH hadir dengan fenotipe yang bervariasi dengan tingkat keparahan
yang bervariasi, mulai dari anemia sedang dan splenomegali hingga perjalanan
penyakit yang lebih parah dengan episode infeksi interkuren, anemia berat, dan
kebutuhan transfusi.
11
•
Manifestasi lain meliputi penyakit kuning, retardasi pertumbuhan pada anak,
infeksi, ulkus kaki, batu empedu, defisiensi asam folat, dan hemolisis akibat
obat.
•
Pasien dengan sifat beta-thalassemia biasanya asimtomatik, tetapi mungkin
mengalami anemia ringan. Pasien dengan beta-thalassemia mayor mengalami
tanda dan gejala saat bayi, termasuk gagal tumbuh, pucat, lemas, penyakit
kuning, perut buncit dengan limpa dan hati yang membesar, urin berwarna
gelap, tulang wajah abnormal, dan retardasi pertumbuhan. Pasien betathalassemia intermedia menunjukkan tanda dan gejala anemia yang bervariasi,
lebih ringan, dan terjadi di kemudian hari; namun, mereka rentan mengalami
kejadian trombotik, terutama jika splenektomi. Kejadian tersebut meliputi
trombosis vena dalam, stroke, trombosis vena porta, dan emboli paru.
Manifestasi oral yang signifikan terkait dengan talasemia tampaknya terjadi lebih
sering
pada
kelompok
beta-talasemia
dan
mencerminkan
eritropoiesis
ekstrameduler yang mendasari yang diamati pada fenotipe yang lebih parah
•
Deformitas kraniofasial yang khas meliputi hubungan dasar rangka kelas II
dengan mandibula pendek, tinggi wajah posterior berkurang, proporsi wajah
anterior meningkat, dan “wajah chipmunk.”
•
Temuan potensial lain yang dilaporkan meliputi akar berbentuk paku dan
pendek, taurodontisme, lamina dura yang menipis, ruang sumsum tulang yang
membesar, sinus maksilaris kecil, tidak adanya kanal alveolar inferior,gigi
sulung persisten, dan korteks mandibula yang tipis.Perubahan morfologi
lengkung gigi meliputi maksila yang lebih sempit, palatum yang lebih
12
lengkung, dan lebar gigi seri yang lebih kecil untuk lengkung maksila dan
mandibula.
•
Peningkatan risiko karies telah dilaporkan, yang mungkin disebabkan oleh
faktor-faktor seperti disfungsi imunologi yang disebabkan oleh penyakit,
berkurangnya akses terhadap perawatan, dan kebersihan mulut pasien yang
tidak memadai.
•
Peningkatan kadar rongga mulut Infeksi Streptococcus mutans dan Candida
juga telah dilaporkan.
Penatalaksanaan:
-
Pada talasemia ringan (Hb 6-10 g/dl) penderita kadang-kadang mungkin
memerlukan transfusi terutama setelah operasi, setelah melahirkan, atau
untuk menangani komplikasi talasemia.
-
Pada talasemia sedang sampai berat (Hb < 5-6) diperlukan beberapa
penanganan sebagai berikut.
a. Transfusi darah yang sering
b. Terapi kelasi
c. Transplantasi sel induk
d. Terapi gen
e. Teknik pengeditan genom
f. Splenektomi
g. Kolesistektomi
Pertimbangan Dental dan Kesehatan Oral:
•
Evaluasi medis dan riwayat transfusi penting sebelum tindakan dental invasif.
13
•
Waspadai risiko perdarahan selama dan setelah prosedur, siapkan tindakan
pengendalian perdarahan.
•
Jaga kebersihan mulut dengan ketat untuk mencegah infeksi.
•
Kolaborasi dengan dokter hematologi untuk manajemen pasien.
•
Pantau tanda-tanda infeksi atau komplikasi mulut pasca tindakan dental.
•
Pasien yang telah menjalani splenektomi lebih rentan mengalami sepsis
pascasplenektomi
Pneumoniae,
akibat
bakteri
Haemophilus
berkapsul
Influenzae,
dan
(misalnya,
Streptococcus
Neisseria
Meningitidis).
Pencegahan sepsis pascasplenektomi meliputi imunisasi terhadap bakteri
tersebut di atas, dan pengobatan antibiotik dini untuk demam dan malaise.
•
Selain itu, pasien dengan beta-thalassemia intermedia mungkin sedang
mengonsumsi agen antitrombotik, sehingga perlu diwaspadai kemungkinan
perdarahan berkepanjangan.57
2. Polisitemia Vera (PV)
PV adalah neoplasma mieloproliferatif, suatu panmielopati dengan perkiraan
insidensi 1,9–2,3 kasus per 100.000 orang/tahun dan sedikit didominasi oleh lakilaki. Kondisi ini sering disebabkan oleh lebih dari satu kejadian genetik pada satu
progenitor hematopoietik yang menghasilkan mieloid klonal atau sel punca
pluripoten (ekspansi produksi sel darah merah).
Kriteria diagnostik untuk PV terdiri dari kriteria mayor dan minor
Kriteria mayor adalah (1) Hb >16,5 g/dL pada pria.>16,0 g/dL pada wanita, atau
HCT >49% pada pria, >48% pada wanita, atau peningkatan massa sel darah merah
14
>25% di atas nilai prediksi normal rata-rata; (2) biopsi sumsum tulang yang
menunjukkan hiperselularitas sesuai usia dengan pertumbuhan trilineage
(panmielosis), termasuk proliferasi eritroid, granulosit, dan megakariosit yang
menonjol dengan megakariosit matur pleomorfik (perbedaan ukuran); (3) adanya
mutasi JAK2 V617F atau JAK2 ekson 12. Kriteria minor: kadar eritropoietin serum
subnormal. Adanya ketiga kriteria mayor atau dua kriteria mayor pertama ditambah
kriteria minor diperlukan untuk diagnosis (lihat Tabel 17-2).10
Etiologi:
Penyebab utama PV adalah:
•
Mutasi somatik pada gen JAK2 (Janus Kinase 2), terutama mutasi
JAK2V617F yang ditemukan lebih dari 90% kasus PV.
•
Mutasi ini menyebabkan aktivasi konstitutif jalur sinyal dalam sel prekursor
hematopoietik, sehingga terjadi proliferasi dan diferensiasi tanpa kontrol
normal.
•
Etiologi pasti mutasi belum diketahui, dan mutasi ini bersifat didapat (somatik)
bukan bawaan.
Patofisiologi
•
Mutasi JAK2 menyebabkan hipersensitivitas sel progenitor eritroid terhadap
eritropoietinatau bahkan independen dari eritropoietin.
•
Akibatnya, terjadi proliferasi sel darah merah berlebihan meski kadar
eritropoietin rendah.
•
Selain eritrositosis, terjadi juga proliferasi garis mieloid lain seperti leukosit
dan trombosit.
15
•
Volume darah meningkat dan darah menjadi lebih kental (hiperviskositas),
meningkatkan risiko pembentukan trombosis (penggumpalan darah).
•
Gangguan ini juga dapat menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan kelainan
fungsi trombosit sehingga sekitar sepertiga pasien mengalami perdarahan.
Manifestasi Klinis dan Oral:
•
PV biasanya asimtomatik dan seringkali baru ditemukan secara insidental.
•
Kondisi ini dapat terjadi pada semua usia, tetapi jarang ditemukan pada anakanak dan meningkat secara eksponensial pada usia >60 tahun.
•
PV harus dicurigai pada pasien dengan peningkatan kadar hemoglobin atau
HCT, splenomegali, atau trombosis vena porta.
•
Gejala yang muncul dapat berupa pruritus, vertigo, nyeri gastrointestinal (GI),
sakit kepala, parestesia, nyeri terbakar pada kaki dan tangan, kelelahan,
kelemahan, gangguan penglihatan, tinitus, dan pletora wajah.
•
Pruritis setelah mandi atau berendam seringkali merupakan keluhan utama dan
diduga disebabkan oleh degranulasi sel mast.
•
Komplikasi utama PV (misalnya, stroke, tromboemboli vena) disebabkan oleh
hiperviskositas darah dan perubahan trombosit kualitatif dan kuantitatif yang
diamati pada penyakit ini.
•
Komplikasi lain meliputi migrain okular, serangan iskemik transien, trombosis,
leukositosis, hiperurisemia, dan splenomegali.
•
PV dapat bermanifestasi intraoral dengan eritema (warna merah-ungu) pada
mukosa, glositis, dan gingiva eritematosa dan edematosa, Perdarahan gingiva
16
spontan dapat terjadi karena lokasi utama perdarahan, meskipun jarang,
dilaporkan berada di kulit, membran mukosa, dan saluran cerna.
Penatalaksanaan:
•
Flebotomi (pengambilan darah secara teratur) untuk menurunkan jumlah sel
darah merah dan mengurangi kekentalan darah.
•
Terapi obat seperti hydroxyurea untuk menekan produksi berlebih sel darah
merah dan trombosit.
•
Penggunaan aspirin dosis rendah untuk mencegah trombosis.
•
Monitoring ketat hemoglobin, hematokrit, dan tanda-tanda trombosis atau
perdarahan.
Pertimbangan Dental dan Kesehatan Oral:
•
Perlu konsultasi dengan dokter hematologi sebelum tindakan invasif di mulut.
•
Risiko perdarahan meningkat akibat gangguan fungsi trombosit; penanganan
hemostasis harus lebih waspada.
•
Karena darah kental dan berisiko trombosis, prosedur dental harus pendek dan
minimal trauma.
•
Kebersihan mulut harus dijaga ketat untuk mencegah infeksi karena
kemungkinan gangguan sirkulasi dan imunitas.
•
Pantau dan edukasi pasien untuk mengenali tanda-tanda perdarahan atau
komplikasi mulut.
•
Pemberian perawatan gigi rutin untuk pasien PV yang terkontrol dengan baik
kemungkinan menimbulkan risiko minimal. Aspirin dosis rendah jarang
dikaitkan dengan komplikasi hemoragik akibat pencabutan gigi.
17
•
Pasien yang tidak terkontrol dengan baik memiliki risiko lebih tinggi terhadap
komplikasi trombotik dan hemoragik akibat hiperviskositas darah dan
perubahan trombosit kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan.
•
Penting untuk diketahui bahwa HCT yang terlalu tinggi dapat menyebabkan
nilai waktu protrombin yang terlalu tinggi.
3. Anemia Sel Sabit
Anemia sel sabit (SCD) adalah sekelompok gangguan yang menyebabkan sel darah
merah menjadi berbentuk abnormal dan pecah secara prematur. Pada SCD, terdapat
kelainan pada hemoglobin yang membawa oksigen ke sel-sel di seluruh tubuh [1].
Hemoglobin abnormal ini, yang dikenal sebagai hemoglobin S, memiliki kapasitas
fungsional yang lebih rendah dan menyebabkan berbagai komplikasi sistemik.
Hemoglobin S mengubah bentuk sel darah merah menjadi bentuk sabit atau bulan
sabit, sehingga penyakit ini dinamakan demikian.
Manifestasi Oral:
a) Mukosa Mulut dan Lidah.
Manifestasi intraoral paling umum dari SCD adalah pucatnya mukosa dan
ikterus.Hal ini disebabkan oleh pemecahan dini sel darah merah (RBC) di
limpa dan jumlah RBC yang rendah dalam pembuluh darah, yang
menyebabkan anemia hemolitik dan hyperbilirubinemia. Akibat rendahnya
kadar oksigen dalam darah, warna kulit menjadi pucat. Hal ini juga dapat
diamati pada mukosa bukal dan labial intraoral, serta gusi
18
b) Banyak studi telah melaporkan hipoplasia email, hipoplasia dentin, dan
penundaan erupsi gigi pada pasien SCD. Situs email yang rusak (hipoplasia
atau hipokalsifikasi) dapat menyediakan lingkungan lokal yang sesuai
untuk adhesi dan kolonisasi bakteri karies, dan bakteri dapat terperangkap
di dasar defek yang bersentuhan dengan dentin yang terpapar,
memungkinkan karies gigi berkembang lebih cepat.
c) Pulpa Gigi. Alasan utama orang dengan SCD mengunjungi penyedia
layanan gigi adalah nyeri dan sensitivitas yang ekstrem. Salah satu cara
menjelaskan nyeri ini adalah karena karies mendekati pulpa, menyebabkan
peradangan pulpa, kondisi yang dikenal sebagai pulpitis. Efek lain SCD
pada pulpa gigi adalah krisis vaso-oklusif, ketika obstruksi mikrosirkulasi
di pulpa menyebabkan nekrosis pulpa simptomatik dan asimptomatik tanpa
tanda-tanda patologi odontogenik pada gigi yang tampak sehat.
d) Neuropati Saraf Mental: “Sindrom Kebas Dagu”. Oklusi vaskular (VOC) di
daerah maxillofacial juga dapat terjadi pada kanal-kanal sempit saraf utama
yang memasok maxilla dan mandibula, menyebabkan kehilangan sensasi
dan neuropati.
Manifestasi Radiografi:
Ciri-ciri radiografi pada SCD memiliki penyebab yang beragam. Pertama dan
terpenting adalah hipertrofi sumsum tulang dan hiperplasia eritroblastik akibat
peningkatan jumlah sel sabit dan destruksi prematurnya, yang menyebabkan
penurunan jumlah sel darah merah (RBC). Akibatnya, terjadi perubahan pola
trabekular tulang, termasuk hilangnya trabekula halus dan pembentukan ruang
19
sumsum tulang yang besar. Foto rontgen gigi mungkin menunjukkan ruang
meduler yang membesar dan pengurangan trabekulasi. Mungkin terjadi
penipisan lempeng kortikal, dan batas inferior rahang bawah mungkin tampak
tidak teratur dan kabur pada foto rontgen.
Pengobatan:
Kemajuan dalam terapi medis telah secara signifikan meningkatkan harapan
hidup pasien SCD berkat perawatan pendukung dan hydroxyurea. Langkahlangkah umum untuk memberikan perawatan paliatif dan mengurangi berbagai
komplikasi SCD memerlukan pendekatan multidisiplin dan pendidikan pasien
yang komprehensif. Hydroxyurea telah digunakan untuk mencegah nyeri akut
dan sindrom dada akut. Langkah-langkah pencegahan meliputi profilaksis
penisilin pada anak-anak, skrining Doppler untuk pencegahan stroke, dan
transfusi darah secara teratur. Profilaksis penisilin untuk anak-anak dengan
SCD di bawah usia 5 tahun mengurangi morbiditas dan mortalitas terkait
infeksi, begitu pula vaksinasi yang tepat terhadap pneumonia dan influenza.
Vaksinasi dengan vaksin pneumokokus konjugat 13-valen (PCV13) dan vaksin
polysaccharide pneumokokus PPSV23 dapat mencegah infeksi oleh sebagian
besar serotipe. Sindrom dada akut merupakan penyebab utama kematian. Terapi
bersifat intensif dan luas, dan intervensi yang mungkin termasuk transfusi,
oksigen tambahan, terapi pernapasan berkelanjutan, antibiotik, bronkodilator,
pengelolaan nyeri, pengelolaan cairan, kortikosteroid, dan ventilasi mekanik.
Pertimbangan Dental:
20
Tindakan untuk mengurangi beban penyakit mulut dan infeksi pada pasien SCD
jelas diindikasikan. Profilaksis penisilin jangka panjang pada anak-anak SCD
di bawah usia 6 tahun menghambat akuisisi Streptococcus mutans, yang
mengakibatkan tingkat karies yang jauh lebih rendah pada anak-anak ini.
Mengingat variasi yang luas dalam tingkat keparahan penyakit, penting untuk
mendapatkan riwayat medis yang komprehensif dan konsultasi medis untuk
menentukan status pasien. Selama periode non-krisis, tidak ada kontraindikasi
terkait pemberian perawatan gigi rutin dengan anestesi lokal dan sedasi
inhalasi. Penghindaran penggunaan agen anestesi lokal tanpa vasokonstriktor
tidak beralasan. Sebagian besar pasien dapat dirawat dengan aman di
lingkungan rawat jalan. Untuk pasien yang dianggap berisiko tinggi, terapi gigi
dapat dipertimbangkan di lingkungan rumah sakit di mana dukungan medis
yang memadai tersedia.
4. Anemia Aplastik
Kelainan hematologi yang jarang namun serius yang ditandai dengan kegagalan
sumsum tulang untuk memproduksi sel darah yang cukup, sehingga menyebabkan
pansitopenia dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Hal ini
dapat mengakibatkan komplikasi yang serius, termasuk kelelahan yang sangat
parah, peningkatan kerentanan terhadap infeksi, dan peningkatan risiko perdarahan.
Klasifikasi:
Anemia aplastik diklasifikasikan sebagai didapat atau kongenital. Jenis kongenital
jarang terjadi dan biasanya berhubungan dengan anemia Fanconi dan diskeratosis
21
kongenital . Pada lebih dari 50% kasus anemia aplastik didapat, penyebabnya tidak
diketahui. Pemicu potensial untuk timbulnya anemia aplastik meliputi penyakit
autoimun yang dimediasi sel T, agen iatrogenik , infeksi virus, dan kehamilan.
Etiologi:
Etiologi yang mendasari anemia aplastik dapat secara luas diklasifikasikan menjadi
kategori didapat atau diwariskan. Anemia aplastik yang didapat sering dikaitkan
dengan faktor lingkungan dan agen eksternal, sedangkan bentuk yang diwariskan
dapat berasal dari mutasi genetik yang memengaruhi hematopoiesis. Etiologi yang
paling umum, idiopatik, mencapai 65%.
Patofisiologi:
Anemia aplastik ditandai dengan kegagalan sel punca hematopoietik di sumsum
tulang, yang menyebabkan pansitopenia. Patogenesisnya melibatkan mekanisme
imun dan intrinsik, serta faktor genetik dan lingkungan. Patofisiologi multifaktorial
ini menyoroti kompleksitas anemia aplastik dan menggarisbawahi pentingnya
pendekatan terapi yang tepat sasaran.
Manifestasi oral:
Manifestasi meliputi perdarahan petekie, pembengkakan gingiva dan perdarahan
spontan, ulserasi, dan penyakit periodontal parah. Perdarahan gingiva adalah
manifestasi umum lainnya yang terkait dengan penurunan kadar trombosit yang
terlihat pada pasien anemia aplastik. Lesi traumatik dan hemoragik petekie oral
telah dikaitkan dengan penurunan kadar trombosit.
Foto klinis pasien yang menunjukkan pucat ekstrem pada konjungtiva palpebra
bawah.
22
Foto klinis pasien yang menunjukkan pucatnya dasar kuku.
Foto intraoral menunjukkan hematoma oral pada mukosa bukal kanan dalam
kaitannya dengan garis oklusi di daerah molar yang berukuran sekitar 2 mm.
Foto intraoral menunjukkan dua hematoma pada mukosa labial atas
23
Foto intra-oral yang menunjukkan resesi gingiva dengan
keluarnya darah
dari sulkus gingiva.
Penatalaksanaan:
Penanganan anemia aplastik sangat bergantung pada tingkat keparahan kondisinya.
Evaluasi praperawatan yang komprehensif sangat penting untuk menentukan
strategi perawatan yang paling efektif dan personal bagi individu yang terdampak
kondisi kompleks dan berpotensi mengancam jiwa ini.
Penatalaksanaan anemia aplastik berfokus pada penanganan penyebab yang
mendasarinya, dengan menekankan pentingnya diagnosis dan karakterisasi anemia
yang akurat. Jika penyebab yang mendasarinya teridentifikasi sebagai paparan obat
atau zat kimia sitotoksik, penghentian penggunaan zat penyebab dianjurkan, jika
24
memungkinkan. Anemia aplastik yang berhubungan dengan kehamilan biasanya
dapat sembuh sendiri dan membaik setelah melahirkan, tetapi kekambuhan sering
terjadi. Pada kasus yang melibatkan timoma, pasien sering mengalami pemulihan
fungsi sumsum tulang secara penuh setelah timektomi.
- Terapi pilihan pertama untuk anemia aplastik adalah transplantasi sel punca
alogenik dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 70–80%. Penolakan
cangkok dan penyakit graft-versus-host tetap menjadi risiko serius, tetapi dapat
diatasi dengan manajemen pasien yang cermat.
- Terapi suportif dengan transfusi eritrosit dan trombosit merupakan alternatif yang
banyak digunakan dan masuk akal. Manfaat transfusi untuk mencegah perdarahan
harus
dipertimbangkan
terhadap
kemungkinan
berkembangnya antibodi
HLA dan hemokromatosis . Jika pasien tidak merespons terapi suportif dengan
baik, pengobatan imunomodulasi berdasarkan anti-timosit globulin atau antilimfosit globulin jangka pendek dan siklosporin selama beberapa bulan untuk
memodulasi respons imun pasien dapat dicoba. Prognosis pengobatan
imunomodulasi relatif tinggi, dengan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun hingga
75%.
Pertimbangan Dental:
-
Manajemen
gigi
pasien
anemia
aplastik
memerlukan perawatan
interdisipliner dengan konsultasi dokter gigi yang merawat dengan ahli
hematologi. Dianjurkan untuk melakukan perawatan gigi pada hari transfusi
trombosit. Untuk mengurangi risiko perdarahan yang tidak terkontrol selama
25
perawatan gigi mayor, pasien harus mengonsumsi antifibrinolitik . Agenagen ini dapat mengurangi perdarahan, terutama perdarahan mukosa oral .
-
Pasien dengan anemia aplastik lebih rentan terhadap infeksi; oleh karena itu,
perawatan gigi harus ditunda sampai jumlah sel darah putih pasien naik ke
tingkat
normal. Dokter
gigi
harus
mempertimbangkan
untuk
meresepkan obat kumur antibakteri dan antibiotik oral sebelum prosedur gigi.
Karena periodontitis kronis merupakan fokus infeksi dan dianggap sebagai
risiko potensial infeksi sistemik pada pasien dengan anemia aplastik, akan
lebih bijaksana untuk menangani kondisi ini dengan berkonsultasi dengan
ahli hematologi.
1. Evaluasi hematologi lengkap sebelum tindakan, termasuk jumlah trombosit
dan leukosit untuk mengantisipasi risiko pendarahan dan infeksi.
2. Hindari prosedur invasif jika kadar trombosit sangat rendah untuk
mengurangi risiko pendarahan yang sulit dihentikan.
3. Persiapan transfusi trombosit dan obat-obatan hemostatik seperti asam
traneksamat sebelum dan sesudah tindakan jika diperlukan.
4. Manajemen infeksi yang ketat karena imunokompromis pasien rentan
terhadap infeksi mulut dan sistemik.
5. Pemantauan ketat pascatindakan, termasuk terapi suportif dengan obat kumur
antiseptik atau larutan asam traneksamat untuk mengendalikan perdarahan
gingiva.
26
6. Kolaborasi dengan dokter hematologi untuk mengoptimalkan kondisi medis
pasien sebelum prosedur OH dilakukan.
2. Mahasiswa mampu mejelaskan mengenai Kelainan Sel Darah Putih (Klasifikasi,
Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Oral, Penatalaksanaan, Pertimbangan OH)
1. Leukemia
Leukemia limfositik akut (LLA) adalah keganasan yang paling sering ditemukan
pada anak dan dapat mengenai seluruh system organ. Insiden LLA adalah sekitar
25%-30% dari seluruh leukemia pada anak. Lebih sering pada anak laki-laki dan
puncaknya insidensi antara usia 2 hingga 5 tahun.
Etiologi:
Penyebab leukemia limfositik akut belum diketahui, tetapi bisa dihubungkan
dengan radiasi ion, obat obatan sitotoksik, infeksi virus, perubahan kromosom atau
paparan terhadap bahan kimia.
Gejala Klinis:
Gejala klinis LLA sangat bervariasi. Pada umumnya gejala klinis menggambarkan
kegagalan sumsum tulang atau keterlibatan ekstramedular oleh sel leukemia.
Akumulasi sel-sel limfoblas ganas di sumsum tulang menyebabkan kurangnya selsel normal di perifer dan gejala infeksi klinis dapat berhubungan dengan demam,
anemia, infeksi, dan perdarahan. Demam atau infeksi yang jelas dapat ditemukan
pada separuh penderita LLA, sedangkan gejala perdarahan pada sepertiga penderita
yang baru didiagnosis LLA. Perdarahan yang berat jarang terjadi. Gejala-gejala dan
tanda klinis yang dapat ditemukan: Anemia menyebabkan mudah lelah, letargi,
27
pusing, sesak, nyeri dada, anoreksia atau berat badan yang msnurun karena
proliferasi dan metabolisme sel-sel leukemia yang begitu cepat, nyeri tulang dan
sendi (karena infiltrasi sumsum tulang oleh sel-sel leukemia), demam, banyak
hipermetabolisme), berkeringat (gejala Infeksi mulut, saluran napas atas dan
bawah, selulitis, atau sepsis. Perdarahan kulit (petechiae, atraumatic ecchymosis),
perdarahan gusi, hematuria, perdarahan saluran cerna, perdarahan otak, di mana
perdarahan-perdarahan ini terjadi karena trombositopenia. Hepatomegali,
splenomegali, limfadenopati yang disebabkan infiltrasi sel-sel leukemia ke
berbagai jaringan dan organ. Massa di mediastinum (sering pada LLA sel T).
Penatalaksanaan:
Penatalaksanaan LLA meliputi Kemoterapi radioterapi, dan terapi kekambuhan.
Kemoterapi untuk induksi remisi mencakup terapi multidrug yaitu 3 atau 4 obat
menginduksi agresif diikuti dengan kemoterapi intratekal. Kombinasi vincristine,
prednisone, dan asparginase dengan atau tanpa antrasiklin menghasilkan remisi
lengkap pada sekitar 95%-98% dari pasien. Namun penggunaan antarsiklin dibatasi
oleh risiko kardiotoksisitas, mengingat bahwa obat ini sering banyak digunakan
selama terapi lini pertama. Setelah induksi, sebagian protokol termasuk konsolidasi
lebih lanjut dan intensif terapi terus untuk total sekitar 2 tahun.
28
2. Eosinofilia
Definisi dan Klasifikasi:
Eosinofilia adalah kondisi klinis di mana jumlah eosinofil dalam darah melebihi
batas normal, yaitu ≥500 sel per mikroliter darah. Pembagian berdasarkan tingkat
keparahan dan penyebab:
•
Eosinofilia ringan: 500-1.500/µL
•
Eosinofilia sedang: 1.500-5.000/µL
•
Hipereosinofilia: >5.000/µL (berpotensi menyebabkan kerusakan organ yang
lebih serius)
Berdasarkan penyebabnya, eosinofilia dibedakan menjadi:
•
Sekunder (reaktif): Terjadi sebagai respons terhadap infeksi, alergi, atau
iritasi lain.
•
Primer (klonal/neoplastik): Disebabkan gangguan proliferasi sel darah merah
yang berlebihan, seperti dalam hipereosinofilia idiopatik atau leukemia
eosinofilik.
Etiologi
Penyebab utama eosinofilia meliputi:
•
Infeksi parasit, terutama cacing seperti Ascaris dan Schistosoma
•
Reaksi alergi, termasuk asma, dermatitis atopik, dan rhinitis alergi
•
Kelainan hematologi neoplastik, seperti leukemia eosinofilik
•
Kelainan imun dan sistematis, termasuk sindrom hipereosinofilik (HES)
•
Obat-obatan, yang dapat memicu reaksi alergi berupa eosinofilia sebagai efek
samping
29
Patofisiologi:
Eosinofil adalah bagian dari sistem imun yang berperan dalam melawan infeksi
parasit dan berperan dalam reaksi alergi. Pada eosinofilia:
•
Stimulan seperti sitokin (IL-5) merangsang proliferasi dan migrasi eosinofil
dari sumsum tulang ke jaringan.
•
Eosinofil yang berlebihan mengekspresikan enzim lisosom, radikal oksigen,
dan mediatoren inflamasi seperti prostaglandin dan leukotrien yang
menimbulkan kerusakan jaringan.
•
Akumulasi eosinofil dalam organ menimbulkan inflamasi dan fibrosis,
menyebabkan disfungsi organ.
Manifestasi Oral
Manifestasi klinis eosinofilia di rongga mulut dapat meliputi:
Lesi inflamasi berupa ulserasi, erosi, atau gambaran erythematous (kemerahan)
•
pada mukosa mulut.
•
Gingivitis yang parah dan recurren.
•
Perubahan pada jaringan lunak, seperti edema dan hiperemia.
•
Pada
sindrom
hipereosinofilik
tertentu,
infiltrasi
eosinofil
menyebabkan pembengkakan atau penebalan jaringan (misalnya, di pipi dan
langit-langit).
Penatalaksanaan
Penanganan eosinofilia tergantung pada penyebabnya:
•
Pengobatan etiologi utama (antiparasit, antihistamin, atau terapi untuk
kondisi neoplastik)
30
•
Kortikosteroid sistemik atau lokal untuk menekan aktivitas eosinofil.
•
Obat imunomodulator pada kasus hipereosinofilia yang berat.
•
Monitoring ketat fungsi organ dan keberhasilan pengobatan.
Pertimbangan Dental dan Kesehatan Oral:
•
Evaluasi lengkap sebelum prosedur invasif untuk menilai risiko perdarahan
dan infeksi.
•
Pengelolaan peradangan dan menjaga kebersihan mulut untuk mengurangi
risiko infeksi sekunder.
•
Hindari trauma berlebih saat melakukan prosedur dental.
•
Koordinasi dengan tenaga medis, terutama apabila pasien sedang menjalani
terapi steroid atau pengobatan lain yang memengaruhi imunitas.
•
Penggunaan strategi hemostasis ekstra selama dan setelah prosedur untuk
mencegah perdarahan.
•
Hati-hati dalam pemberian obat yang dapat memicu reaksi alergi atau
eosinofilia sekunder.
3. Limfoma
a) Limfoma Non-Hodgkin
Limfoma adalah keganasan sel limfoid normal yang berasal dari jaringan limfoid.
Limfoma Non-Hodgkin (LNH) mencakup sekelompok neoplasma ganas yang
beragam turunannya dari progenitor sel T, progenitor sel B, sel T matur, sel B matur,
atau sel pembunuh alami (pada kasus sporadis). Di Amerika Serikat, LNH
31
merupakan salah satu kanker yang paling umum. Pada tahun 2019, American
Cancer Society memperkirakan terdapat 74.200 kasus baru (41.090 pria).
Pertimbangan Oral:
• NHL primer pada daerah mulut jarang terjadi dan dapat bermanifestasi sebagai
pembengkakan atau massa pada jaringan gingiva atau mukosa.
• NHL juga dapat menunjukkan keterlibatan intraboni yang ditandai dengan
penipisan tulang di sekitar akar gigi simptomatik, menyerupai sakit gigi.
Dalam kasus seperti ini, pencabutan gigi terkait diikuti oleh pertumbuhan
tumor yang cepat dari lokasi pencabutan yang tidak kunjung sembuh. Invasi
saraf dapat menyebabkan parestesia atau anestesi pada jaringan mukosa
mulut terkait.
• NHL juga dapat bermanifestasi sebagai ulserasi mukosa yang tidak kunjung
sembuh dengan batas yang tidak jelas, lesi gingiva yang tampak jinak, dan
lesi mukosa yang menyerupai penyakit vesikulobulosa. Keterlibatan mukosa
mulut pada limfoma sel T kutan (mikosis fungoides) jarang terjadi dan
biasanya berhubungan dengan prognosis yang buruk.
b) Limfoma Hodgkin
Limfoma Hodgkin (HL) jarang terjadi (0,5% dari semua kanker) dan biasanya
terjadi pada remaja dan dewasa muda. Pada tahun 2019, diperkirakan terdapat 8.110
kasus baru HL. HL memiliki distribusi usia bimodal, antara 15 dan 30 tahun dan
pada pasien berusia di atas 55 tahun.123 Insidensinya meningkat di negara-negara
industri. Terdapat dua jenis HL: HL klasik dan HL nodular limfosit dominan yang
32
langka (NLPHL). Jenis klasik kemudian dibagi lagi menjadi sklerosis nodular
(paling umum), selularitas campuran, deplesi limfosit, dan HL kaya limfosit.
HL deplesi limfosit dan selularitas campuran lebih umum terjadi pada pasien
dengan status sosial ekonomi rendah dan sering dikaitkan dengan EBV, sementara
HL sklerosis nodular dikaitkan dengan standar hidup yang tinggi.
Faktor risiko HL meliputi defisiensi imun, transplantasi organ padat atau sel punca,
dan penggunaan obat imunosupresif.
Anak-anak dengan HL dapat mengalami limfadenopati (serviks, supraklavikula,
aksila, atau, jarang, inguinal), kelelahan, anoreksia, penurunan berat badan, dan
massa mediastinum (terlihat pada 75% kasus pada radiografi dada). Pasien anak
biasanya menerima kemoterapi dengan atau tanpa radioterapi. Regimen termasuk
ABVE-PC
(doksorubisin,
bleomisin,
vinblastin,
etoposida-prednison
siklofosfamid) atau OEPA vinkristin, etoposida, prednison, doksorubisin) dengan
PPOK (siklofosfamid, vinkristin, prednison, dan dakarbazin) pada pasien HL risiko
menengah/tinggi. Saat digunakan, radioterapi diberikan dengan dosis 15-25 Gy.
Penatalaksanaan:
Jenis pengobatan utama untuk pasien dengan limfoma adalah:
1. Antibodi monoklonal (MAB)
2. Kemoterapi
3. Radioterapi
4. Kortikosteroid
5. Transplantasi sel punca hematopoietik (HSCT).
Pertimbangan Dental:
33
-
Sebelum transplantasi sel punca hematopoietik (HSCT), pasien mengalami
penurunan jumlah trombosit dan neutrofil akibat dosis tinggi kemoterapi yang
diterima sebagai persiapan untuk transplantasi. Hal ini akan meningkatkan
risiko perdarahan dan infeksi. Oleh karena itu, penilaian gigi pra-perawatan
pada pasien yang akan menjalani HSCT sangat penting untuk menghilangkan
sumber infeksi.
-
Ekstraksi gigi dengan prognosis buruk serta pembersihan supragingival dan
subgingival direkomendasikan. Koordinasi dengan tim hematologi-onkologi
pada tahap ini sebelum perawatan gigi sangat penting. Disarankan minimal
10−14 hari untuk penyembuhan setelah ekstraksi sebelum memulai kemoterapi
guna mencegah infeksi serius saat pasien dalam kondisi imunokompromais.
-
Pasien dengan hitung trombosit di bawah 50 x 10⁹/L dan hitung neutrofil di
bawah 2 x 10⁹/L mungkin memerlukan transfusi trombosit pra-operasi dan GCSF plus antibiotik untuk mencegah infeksi pasca-operasi. Pasien-pasien ini
sebaiknya ditangani di pusat perawatan sekunder.
-
Selama enam bulan pertama setelah HSCT, perawatan gigi elektif tidak
direkomendasikan. Masalah gigi darurat sebaiknya ditangani melalui ekstraksi
gigi dan/atau antibiotik, dan harus dilakukan di pusat perawatan sekunder.
Enam bulan setelah HSCT, pasien dapat dirujuk ke perawatan primer untuk
pemantauan rutin dan perawatan gigi. Dokter gigi umum disarankan untuk
Konsultasikan dengan tim hematologi-onkologi pasien atau dokter umum (GP)
mengenai jumlah trombosit dan neutrofil sebelum menjalani perawatan gigi
invasif.
34
-
Penyakit graft-versus-host (GVHD) adalah komplikasi serius setelah
transplantasi sel punca hematopoietik alogenik (HSCT). Bentuk akutnya
merupakan sindrom yang ditandai dengan dermatitis, ruam nyeri, hepatitis,
enteritis, dan supresi sumsum tulang yang menyebabkan trombositopenia dan
anemia hemolitik. Tim hematologi-onkologi bertujuan untuk mengobati bentuk
akut GVHD dengan metotreksat intravena selama 14 hari, sementara steroid
oral (prednison) dengan atau tanpa siklosporin dapat dipertimbangkan untuk
pengobatan bentuk kronis. Siklosporin berdampak negatif pada kesehatan
mulut dan gigi, menyebabkan hiperplasia gingiva. Pembesaran gingiva
mempersulit kebersihan mulut, dapat menyebabkan bau mulut, dan juga
memengaruhi fungsi mulut.
-
Perawatan gigi elektif sebaiknya dihindari selama fase akut; hanya antibiotik
dan analgesik yang direkomendasikan..19,20 Pembesaran gingiva mempersulit
kebersihan mulut, dapat menyebabkan bau mulut, dan juga memengaruhi
fungsi mulut.
4. Myelodysplastic Syndrome
Sindrom mielodisplastik (MDS) adalah sekelompok gangguan sel punca
hematopoietik ganas yang ditandai dengan produksi sel darah yang displastik dan
tidak efektif, serta risiko bervariasi untuk berkembang menjadi leukemia mieloid
akut (AML). Pasien biasanya mengalami sitopenia kronis dan berisiko mengalami
pendarahan, infeksi, dan anemia simptomatik.
Insidensi:
35
Angka insidensi MDS sekitar 4,9 per 100.000 orang per tahun.Sebagian besar
pasien yang didiagnosis dengan MDS berusia di atas 60 tahun dengan dominasi
laki-laki; namun, beberapa anak dan dewasa muda dapat mengembangkan MDS
dalam konteks mutasi kongenital yang menyebabkan sindrom kegagalan sumsum
tulang atau predisposisi turun-temurun terhadap tumor mieloid.
Patofisiologi:
Patogenesis MDS masih belum jelas dan melibatkan proses bertahap mutasi
onkogenik yang dapat muncul secara de novo atau setelah paparan terhadap toksin
lingkungan (misalnya, benzena), radiasi, atau agen kemoterapi tertentu (misalnya,
agen alkilasi). Beberapa kasus dikaitkan dengan kondisi genetik bawaan (misalnya,
ataksia telangiektasia, sindrom Bloom, anemia Fanconi, trisomi 21) dan gangguan
hematologi benigna lainnya (misalnya, neutropenia kongenital, hemoglobinuria
paroksismal dan nokturnal).
Manifestasi Klinis:
Secara klinis, pasien menunjukkan gejala dan tanda yang tidak spesifik. Sebagian
besar pasien asimtomatik, dan diagnosis dibuat setelah temuan insidental selama
pemeriksaan darah rutin. Pasien lain mungkin mengeluhkan kelelahan, kelemahan,
pusing, angina, atau infeksi (sekunder akibat neutropenia dan disfungsi granulosit).
Diagnosis ditegakkan melalui evaluasi sumsum tulang dan sediaan darah tepi,
setelah penilaian klinis yang cermat, untuk mendokumentasikan perubahan
sitologis displastik morfologis yang diperlukan pada semua sel hematopoietik.
Bentuk blast mewakili <20% dari total sel berinti pada aspirasi sumsum tulang dan
sediaan darah tepi. Kriteria diagnostik minimal untuk MDS meliputi (1) sitopenia
36
stabil; dan (2) pengecualian penyakit lain sebagai penyebab utama displasia atau
sitopenia atau keduanya.
Penatalaksanaan:
Pengelolaan MDS bervariasi dari perawatan pendukung dengan transfusi atau
faktor pertumbuhan hematopoietik dan pemberian cytarabine dosis rendah, hingga
kemoterapi intensif. Tiga agen FDA yang disetujui untuk pengobatan subtipe
spesifik MDS meliputi azacytidine dan decitabine untuk pasien berisiko tinggi atau
yang tidak responsif terhadap pengobatan, serta lenalidomide untuk pasien dengan
kelainan sitogenetik del(5q).Meskipun transplantasi sumsum tulang alogenik
(HSCT) adalah satu-satunya terapi yang berpotensi menyembuhkan MDS, angka
kematian pasca transplantasi tinggi, akibat kekambuhan penyakit dan komplikasi
terkait transplantasi.
5. Multiple Myloma
Mieloma multipel (MM) adalah kanker sel plasma matur, sejenis sel darah putih
yang menghasilkan imunoglobulin (antibodi). Antibodi biasanya diproduksi untuk
melindungi tubuh dari mikroba, seperti bakteri. Pada mieloma multipel, sel plasma
monoklonal
menghasilkan
imunoglobulin
monoklonal
(M-spike)
yang
disfungsional, dapat menghambat sistem imun, dan dapat menyebabkan kerusakan
pada berbagai organ
Klasifikasi:
37
Multiple myeloma (MM) adalah keganasan sel plasma di sumsum tulang, sering
muncul setelah tahap premalignan MGUS (monoclonal gammopathy of
undetermined signifikansi). Klasifikasi dasar berdasarkan distribusi adalah:
• Klasik / simtomatik : dengan tanda hiperkalsemia, insufisiensi ginjal, anemia,
dan lesi tulang (CRAB).
• Smoldering / asimtomatik : belum ada tanda penyakit aktif.
Etiologi:
Etiologi MM pasti tidak diketahui, tetapi faktor risiko meliputi usia lanjut (50-80
tahun), paparan radiasi, dan genetik.
Manifestasi Oral
Lebih dari 30% pasien menunjukkan manifestasi di rongga mulut, termasuk:
•
Pembengkakan pada rahang, terutama mandibula
•
Nyeri tulang dan rasa tidak nyaman
•
Paresthesia atau mati rasa jaringan lunak sekitar
•
Perdarahan gingiva
•
Mobilitas gigi meningkat
•
Lesi osteolitik rahang bawah tampak pada radiograf sebagai lesi
plasmacytoma atau lesi punched-out
•
Pembesaran gingiva dan lesi amyloidosis jarang terjadi
Penatalaksanaan:
•
Terapi medis utama adalah kemoterapi, terapi target, dan pelepasan sumsum
tulang (transplantasi).
•
Manajemen suportif untuk anemia, nyeri tulang, dan komplikasi lainnya.
38
Pertimbangan Dental:
•
Sebelum bertindak, lakukan evaluasi lengkap status hematologi termasuk
trombosit dan fungsi ginjal.
•
Hindari prosedur invasif jika kondisi pasien tidak stabil atau trombosit
rendah.
•
Kolaborasi dengan dokter hematologi sangat penting.
•
Siapkan terapi hemostatik dan antibiotik jika diperlukan.
•
Waspadai risiko infeksi dan pendarahan pasca tindakan.
•
Perhatian khusus pada perawatan mulut pencegahan karena risiko lesi dan
infeksi meningkat
3. Mahasiswa mampu mejelaskan mengenai Gangguan Perdarahan (Klasifikasi,
Etiologi, Patofisiologi, Manifestasi Oral, Penatalaksanaan, Pertimbangan OH)
Gangguan perdarahan dapat didefinisikan sebagai kondisi di mana mekanisme hemostasis
tubuh — yang mencakup vaskularisasi, fungsi platelet (trombosit), faktor-koagulasi, dan
fibrinolisis — mengalami gangguan, sehingga terdapat kecenderungan untuk perdarahan
yang lebih mudah, berkepanjangan atau spontan. Dalam praktik kedokteran gigi, penting
karena tindakan manipulasi jaringan lunak atau keras dapat memicu perdarahan yang sulit
dikendalikan, dan manifestasi oral sering kali merupakan petunjuk awal adanya gangguan
hematologi/koagulasi.
Klasifikasi
Klasifikasi gangguan perdarahan dapat dikelompokkan berdasarkan bagian hemostasis
yang terganggu:
39
A. Berdasarkan mekanisme utama (primer vs sekunder vs fibrinolisis)
-
Kelainan
hemostasis
primer:
Gangguan
pada
vaskular
+
trombosit
Gangguan
pada
faktor-koagulasi
(adhesi/aktivasi/aggregasi).
-
Kelainan
hemostasis
sekunder:
(jalur
intrinsik/ekstrinsik) → pembentukan fibrin yang tidak memadai.
-
Kelainan hiperfibrinolisis: Pembentukan atau stabilisasi fibrin awal normal, tetapi
terjadi lisis terlalu cepat sehingga clot tidak bertahan.
B. Berdasarkan etiologi/congenital vs akuisita
-
Inherited (keturunan): Contoh: Hemophilia A (Faktor VIII), Hemophilia B (Faktor
IX), von Willebrand disease (vWF) (NCBI)
-
Acquired: Contoh: penyakit hati (liver) yang menurunkan sintesis faktor, defisiensi
vitamin K, penggunaan antikoagulan, DIC/disseminated intravascular coagulation,
penyakit vaskular. (cda-adc.ca)
C. Berdasarkan komponen spesifik yang terlibat
-
Kelainan platelet (kuantitas rendah – trombositopenia; atau kualitas/fungsi
abnormal)
-
Kelainan faktor koagulasi (defisiensi satu atau lebih faktor)
-
Kelainan vaskular atau struktur dinding pembuluh
-
Kelainan fibrinolisis
1. Immune Thrombocytopenic Purpura
Penyakit ITP merupakan kelainan perdarahan yang disebabkan oleh penurunan
jumlah trombosit. Definisi ITP, yaitu keadaan trombosit <100.000/uL.
40
Patofisiologi ITP
Penyakit ITP adalah penyakit autoimun yang disebabkan adanya destruksi
trombosit normal akibat adanya antibodi (antibody-mediated destruction of
platelets) dan gangguan produksi megakariosit. Penyakit ITP merupakan kelainan
akibat disregulasi imun dengan hasil akhir adanya hilangnya toleransi sistem imun
terhadap antigen diri yang berada di permukaan trombosit dan megakariosit. Sel T
teraktivasi akibat pengenalan antigen spesifik trombosit pada APC (antigen
presenting cell) yang kemudian menginduksi ekspansi antigen-spesifik pada sel B.
Kemudian sel B menghasilkan autoantibodi yang spesifik terhadap glikoprotein
yang diekspresikan pada trombosit dan megakariosit. Trombosit yang bersirkulasi
diikat oleh autoantibodi trombosit kemudian terjadi pelekatan pada reseptor FC
makrofag limpa yang mengakibatkan penghancuran trombosit. Selain itu, terbentuk
juga autoantibodi anti megakariosit yang mengurangi kemampuan megakariosit
untuk menghasilkan trombosit.
Gambaran klinis ITP
Pasien ITP mempunyai gambaran klinis yang khas, yaitu terjadi pada anak usia 46 tahun yang tampak “sehat” dengan gambaran perdarahan kulit seperti hematom
dan petekiae. Sebanyak 75% pasien datang dengan jumlah trombosit ,20.000/uL.
Sebagian besar kasus (hampir 2/3 kasus) mempunyai riwayat penyakit infeksi yang
terjadi hingga 4 minggu sebelumnya. Pemeriksaan fisis juga hanya mendapatkan
perdarahan kulit akibat trombositopenia. Gambaran darah tepi menunjukkan
jumlah trombosit rendah tanpa sel blast.
Tata laksana pada ITP
41
-
Pasien ITP newly diagnosed dengan trombositopenia berat tetapi klinis
tanpa perdarahan/perdarahan ringan sebenarnya tidak perlu diberikan tata
laksana khusus. Namun demikian, walaupun jumlah kasus perdarahan berat
pada ITP anak yang cukup rendah dan perdarahan yang terjadi hanyalah
perdarahan ringan/tanpa perdarahan, dokter tetap perlu memperhatikan
faktor yang memengaruhi pertimbangan terapi pada ITP. Faktor yang
menjadi pertimbangan, antara lain, kecemasan orang tua, akivitas anak, dan
jarak ke pusat kesehatan. Bila diputuskan untuk hanya melakukan observasi
maka yang perlu diedukasi kepada orang tua adalah restriksi aktivitas
motorik, penghindaran prosedur khusus (contoh pencabutan gigi),
penghindaran obat tertentu yang dapat memperberat perdarahan (contoh
aspirin).
-
Sebagai terapi lini pertama maka dapat diberikan IVIG dosis tunggal atau
steroid jangka pendek (Grade 1 B). Penggunaan IVIG bila trombosit perlu
ditingkatkan dengan cepat (Grade 1B).1 Dosis IVIG adalah 0,8-1 g/kg dosis
tunggal atau 2 g/kg terbagi dalam 2-5 hari. Efek samping pemberian IVIG
(15-75)% kasus adalah nyeri kepala, nyeri punggung, mual, dan
demam.3,11 Penggunaan IVIG hanya diberikan pada keadaan mengancam
jiwa. Metilprednisolon diberikan dengan dosis 2 mg/ kg per hari atau 60
mg/m2/hari (maksimal 80 mg/ hari) selama 14 hari, dilanjutkan dengan
tappering off dan dihentikan selama 1 minggu berikutnya. Kortikosteroid
dapat juga diberikan dengan dosis tinggi yaitu metilprednisolon 4 mg/kg
per hariSementara bila perdarahan ringan dan trombosit 1 tahun maka
42
pasien direncanakan untuk mendapatkan kortikosteroid. Efek samping
pemberian kortikosteroid adalah hipertensi, nyeri perut dan ulkus peptikum,
hiperglikemia, osteoporosis, imunosupresi, insufisiensi adrenal.
43
DAFTAR PUSTAKA
Abed, H., Nizarali, N., & Burke, M. (2019). Oral and dental management for people with
lymphoma. Dental Update, 46(2), 133-150.
Burket LW, Greenberg MS, Glick M. (2021). Burkett’s Textbook of Oral Medicine. 13th ed. John
Wiley & Sons.Inc.
Kakkar M, Holderle K, Sheth M, Arany S, Schiff L, Planerova A. (2021). Orofacial Manifestation
and
Dental
Management
of
Sickle
Cell
Disease:
A
Scoping
Review. Anemia.
https://doi.org/10.1155/2021/5556708.
Liem, E. F., Mantik, M., & Rampengan, N. (2019). Hubungan kadar hemoglobin dan tercapainya
remisi pada anak penderita leukemia akut. Jurnal Medik dan Rehabilitasi, 1(3).
Paloma, I. D. A. N. C. (2023). Talasemia: sebuah Tinjauan Pustaka. Biocity Journal of Pharmacy
Bioscience and Clinical Community, 1(2), 93-104.
Sari,
T.
T. (2018). Immune
Thrombocytopenic
Purpura. Sari
Pediatri, 20(1),
58-
64. https://doi.org/10.14238/sp20.1.2018.58-64
44
Download