ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.T DENGAN DIAGNOSA MEDIS MALARIA DI RSUD PASARWAJO KABUPATEN BUTON KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari OLEH: IRMA RUSMIYANTI ASIS P00320018136 KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI JURUSAN KEPERAWATAN T.A 2019 i ii iii SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Irma Rusmiyanti Asis Nim : P00320018136 Institusi Pendidikan : Poltekkes Kemenkes Kendari Judul Studi Kasus : ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.T DENGAN DIAGNOSA MEDIS MALARIA DI RSUD PASARWAJO KABUPATEN BUTON Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benarbenar hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut Kendari, 18 Juli 2019 Yang Membuat Pernyataan Irma Rusmiyanti Asis iv RIWAYAT HIDUP I. II. IDENTITAS 1. Nama Lengkap : Irma Rusmiyanti Asis 2. Tempat/Tanggal Lahir : Mawasangka, 3 November 1979 3. Jenis Kelamin : Perempuan 4. Agama : Islam 5. Suku/Bangsa : Buton/Indonesia 6. Alamat : Kel. Watolo, Kec. Mawasangka 7. No. Telp/HP : 082193701567 RIWAYAT PENDIDIKAN 1. Sekolah Dasar Negeri 4 Mawasangka, Lulus tahun 1991 2. Sekolah menengah Pertama Negeri 1 Mawasangka, Lulus tahun 1994 3. Sekolah Perawat Kesehatan Pemda Buton, Lulus tahun 1997 4. Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan. Periode 20162019 v MOTTO Rahasia kesuksesan adalah mengetahui yang orang lain tidak ketahui Ada banyak jalan menuju keberhasilan, salah satunya adalah berpikir cerdas Berpikir cerdas yang dimaksud adalah orang yang pandai membaca peluang dan berpikir unik. Daripada mati-matian berlomba dengan segelintir orang untuk meraih hal yang sama, mending mencari sesuatu yang tidak diketahui orang lain vi ABSTRAK Irma Rusmayanti Asis, NIM : P00320018136 “Asuhan Keperawatan Pada Ny.T Dengan Diagnosa Medis Malaria Di RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton, Dibimbing oleh Ibu Fitri Wijayati, S.Kep.,Ns.,M.Kep. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit dari genus plasmodium yang ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk jenis anopheles betina, penyakit ini dapat menyerang segala ras, usia, dan jenis kelamin (Irianto, 2011). Tujuan : untuk mengetahui asuhan keperawatan pada Ny.T dengan diagnosa medis malaria. Hasil : Data diperoleh dari pengkajian langsung, wawancara, serta melihat catatan rekam medik pasien, dimana pada saat pengkajian didapatkan beberapa keluhan yang dikeluhkan klien mengenai malaria, dimana diagnosa yang diangkat pada kasus ini adalah perubahan perfusi jatingan, hipertermia, resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, nyeri dan ketidaknyamanan, gangguan aktivitas, resiko penularan penyakit, Intervensi dilakukan sesuai dengan teori yang ada yaitu menggunakan Nursing Outcomes Classsification dan Nursing Intervention Classification, implementasi dilakukan selama 3 hari, sehingga didapatkan semua masalah yang ada dapat teratasi pada tanggal 21 dan 22 Maret 2019 Kata Kunci : Asuhan Keperawatan, Malaria, Pasarwajo Daftar Pustaka : 26 (2008-2018) vii KATA PENGANTAR Assalamu’alaikum Wr. Wb Alhamdulillahirobil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua. Berkat ridho dari-Nya penulis dapat menyelesaikan pendidikan progam studi D-III Keperawatan Di Poltekkes Kemenkes Kendari dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.T DENGAN DIAGNOSA MEDIS MALARIA DI RSUD PASARWAJO KABUPATEN BUTON”. Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menyadari masih banyak kesulitan dan hambatan, tetapi berkat bantuan dan bimbingan yang berupa saran dan kritikan dari berbagai pihak penyusunan tugas akhir ini dapat diselesaikan. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan dan penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu kepada yang terhormat : 1. Ibu Askrening, SKM.,M.Kes selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari. 2. Kepada Kantor Badan Riset Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara yang telah memberikan izin penelitian kepada penulis 3. Direktur RSUD Pasarwajo yang telah memberikan izin penelitian 4. Bapak Indriono Hadi, S.Kep.,Ns.,M.Kes selaku Ketua Jurusan D-III Keperawatan viii 5. Ibu Reni Devianti Usman, M.Kep.,Sp.KMB selaku Sekretaris Jurusan D-III Keperawatan 6. Kepada ibu Fitri Wijayati, S.Kep.,Ns.,M.kep sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan selama penulis menyusun Karya Tulis ini. 7. Kepada ibu Hj. Sitti Rachmi Misbah, S.Kp.,M.Kes, bapak Muslimin L, A.Kep.,S.Pd.,M.Si, Bapak Bapak Sahmad, S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku dosen penguji I, penguji II, dan penguji III yang telah membimbing saya dan memberikan masukan-masukan sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat disusun dengan sebaik-baiknya 8. Semua dosen dan staf Program Studi D-III Keperawatan Poltekkes Kemenkes kendari yag telah membantu dan memberikan bimbingan dengan sabar serta ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama kuliah Akhir kata semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi penulis khususnya. Terima Kasih Wassalamu’alaikum Wr. Wb Kendari, 18 Juli 2019 Penulis ix DAFTAR ISI Halaman Judul ....................................................................................................... i Halaman Persetujuan ........................................................................................... ii Halaman Pengesahan ........................................................................................... iii Keaslian Penelitian ............................................................................................... iv Daftar Riwayat Hidup ...........................................................................................v Halaman Motto .................................................................................................... vi Abstrak ................................................................................................................. vii Kata Pengantar .................................................................................................. viii Daftar Isi .................................................................................................................x Daftar Lampiran ................................................................................................. xii Daftar Tabel........................................................................................................ xiii Daftar Gambar ................................................................................................... xiv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...........................................................................................1 B. Rumusan Masalah......................................................................................6 C. Tujuan Studi Kasus ...................................................................................6 D. Manfaat Studi Kasus .................................................................................7 E. Metode dan Teknik Penelitian ..................................................................7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Malaria ...............................................................................9 B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan .....................................................29 BAB III LAPORAN KASUS A. Pengkajian ................................................................................................58 B. Diagnosa Keperawatan ............................................................................72 C. Intervensi Keperawatan ..........................................................................72 x D. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan .............................................79 BAB IV PEMBAHASAN A. Pengkajian ..............................................................................................109 B. Diagnosa Keperawatan ..........................................................................112 C. Intervensi Keperawatan ........................................................................116 D. Implementasi Keperawatan ..................................................................117 E. Evaluasi Keperawatan ...........................................................................117 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan .............................................................................................119 B. Saran .......................................................................................................121 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xi DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Surat Keterangan Bebas Pustaka Lampiran 2 : Surat Keterangan Bebas Administrasi Lampiran 3 : Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian xii DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Manifestasi klinis infeksi plasmodium Tabel 2.2 Analisa Data Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan Tabel 3.1 Data Penunjang Tabel 3.2 Penatalaksanaan Medis Tabel 3.3 Kebiasaan sehari-hari Tabel 3.4 Analisa Data Tabel 3.5 Intervensi Keperawatan Tabel 3.6 Implementasi Keperawatan Tabel 3.7 Evaluasi Keperawatan xiii DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Morfologi stadium-stadium plasmodium vivax didalam darah. Gambar 2.2 Limpa dan hati Gambar 2.3 Tanda-tanda nyamuk malariabila hinggap/menggigit letak kepala lebih rendah dibanding badannya (menungging). Gambar 2.4 Sedian darah tepi sedian hapus tipis pada masing-masing parasit plasmodium. Gambar 2.5 Siklus hidup plasmodium penyebab malaria xiv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit dari genus plasmodium yang ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk jenis anopheles betina, penyakit ini dapat menyerang segala ras, usia, dan jenis kelamin (Irianto, 2011). Menurut Safar Rosdiana (2009) dikenal empat spesies dari genus plasmodium yang hidup sebagai penyebab penyakit malaria pada manusia yaitu : Plasmodium falcifarum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Berbeda dengan penyakit-penyakit yang lain, malaria tidak dapat disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala penyakit. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup (Sembel, 2009). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 41% populasi dunia dapat terinfeksi malaria. Setiap tahun terdapat 300 – 500 juta penderita mengalami penyakit serius dan sekurang-kurangnya 1-2,7 juta diantaranya meninggal karena malaria (Sembel, 2009). Menurut WHO pula, Ini termasuk banyak dari Afrika Sub-Sahara, Asia, dan Amerika Latin. Pada 2015, ada 214 juta kasus malaria di seluruh dunia. Malaria umumnya terkait dengan kemiskinan dan memiliki efek negatif yang besar terhadap pembangunan ekonomi. Di Afrika, malaria diperkirakan mengakibatkan kerugian yang besar 1 dalam setiap tahunnya karena menigkatnya biaya kesehatan, kehilangan kemampuan untuk bekerja, dan efek negatif pada pariwisata. Situasi malaria di Indonesia menunjukkan masih terdapat 10,7 juta penduduk yang tinggal di daerah endemis menengah dan tinggi malaria. Daerah tersebut terutama meliputi Papua, Papua Barat, dan NTT. Pada 2017, dari jumlah 514 kabupaten/kota di Indonesia, 266 (52%) di antaranya wilayah bebas malaria, 172 kabupaten/kota (33%) endemis rendah, 37 kabupaten/kota (7%) endemis menengah, dan 39 kabupaten/kota (8%) endemis tinggi. Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung dapat menyebabkan demam, anemia, splenomegali, dan dapat menurunkan produktivitas kerja.Sebagian besar daerah di Indonesia masih merupakan daerah endemik infeksi malaria, Indonesia bagian timur seperti Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan bahkan beberapa daerah di Sumatra seperti Lampung, Bengkulu, Riau. Daerah di Jawa dan Bali pun walaupun endemitas sudah sangat rendah, masih sering dijumpai letupan kasus malaria, dan tentu saja hal ini disebabkan mudahnya transportasi untuk mobilisasi penduduk, sehingga sering menyebabkan timbulnya malaria import (Harijanto, 2011). Tujuan pengendalian malaria didaerah-daerah yang endemik malaria adalah menurunkan serendah-rendahnya dampak malaria terhadap kesehatan masyarakat dengan menggunakan semua sumber daya yang tersedia. Pengendalian dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan 2 mengendalikan nyamuk anopheles yang menjadi vektor penyakit. Seseorang seharusnya menghindari dari gigitan nyamuk dengan menggunakan pakaian lengkap (tangan dan kaki tertutup), tidur ditempat tidur yang memakai kelambu, memakai obat penolak nyamuk, menghindari untuk mengunjungi lokasi-lokasi yang rawan malaria. Pengendalian nyamuk secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida, yaitu penyemprotan dalam rumah dan sekitar rumah untuk membunuh nyamuk dewasa atau membunuh jentikjentik nyamuk dengan larvasida atau menebar ikan pemakan jentik nyamuk. Pengendalian secara sanitasi yaitu membersihkan sarang-sarang pembiakan nyamuk (Sembel, 2009). Program eliminasi malaria di Indonesia tertuang dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No 293/MENKES/SK/IV/2009. Pelaksanaan pengendalian malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu pulau atau beberapa pulau sampai seluruh pulau tercakup guna terwujudnya masyarakat yang hidup sehat yang terbebas dari penularan malaria sampai tahun 2030 (Kemenkes RI, 2011). Saat ini pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah on the track dalam upaya eliminasi malaria pada 2030. Pada tahun 2016 jumlah kab/kota eliminasi malaria sebanyak 247 dari target 245. Pada 2017 pemerintah berhasil memperluas daerah eliminasi malaria yakni 266 kabupaten/kota dari target 265 kabupaten/kota. Sementara tahun ini ditargetkan sebanyak 285 kabupaten/kota yang berhasil mencapai eliminasi, dan 300 kabupaten/kota pada 2019. Selain itu, pemerintah pun menargetkan tidak ada lagi daerah endemis tinggi malaria di 2020. Pada 2025 semua 3 kabupaten/kota mencapai eliminasi, 2027 semua provinsi mencapai eliminasi, dan 2030 Indonesia mencapai eliminasi. Eliminasi malaria adalah upaya untuk menghentikan penularan malaria setempat dalam satu wilayah geografi tertentu. Maksudnya, kasus malaria masih ada namun bukan didapat di daerah tersebut, dan bisa jadi masih ditemukan nyamuk penular malarianya, sehingga tetap dibutuhkan kewaspadaan petugas kesehatan, pemerintah, dan masyarakat untuk mencegah penularan kembali. (www.depkes.go.id,2018) Annual Parasite Incidence (API) Nasional menunjukan penurunan dari tahun 2008-2009 yaitu 2,47 per 1.000 penduduk menjadi 1,85 per 1.000 penduduk. Sesuai Target Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun 2010-2014 malaria merupakan salah satu penyakit yang ditargetkan untuk menurunkan angka kesakitanya dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk, sehingga masih harus dilakukan upaya efektif untuk menurunkan angka kesakitan 0,85 per 1.000 penduduk dalam waktu 4 tahun, agar target Rencana Strategis Kesehatan tahun 2015 tercapai (Kemenkes RI, 2011). Angka kesakitan penyakit malaria di ukur dengan menggunakan malaria klinis dalam bentuk Angka Kesakitan Annual Parasite Incidence (API ), artinya indikator ini menyatakan kesakitan berdasarkan gejala klinis bukan berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Angka kesakitan malaria dalam bentuk API di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2017 sebanyak 1.069 dengan Angka Kesakitan per 1000 penduduk beresiko sebesar 0,41 ,sedikit lebih rendah dibanding tahun 2016. Permasalahan yang ditemui dalam pemberantasan penyakit malaria antara lain adalah kurangnya kegiatan yang dilakukan dalam rangka penemuan penderita, sehingga nilai ABER (Anual 4 Blood Examination Rate) masih sangat rendah dan disisi lain nilai SPR ( Slide Positive Rate) masih cukup tinggi. (Profil Dinkes Propinsi Sulawesi Tenggara, 2017). Berdasarkan data yang di peroleh dari data rekam medik RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton pada tahun 2018 jumlah kasus malaria 1.32 penderita, Sedangkan pada tahun 2018 sebanyak 1.35 penderita, di mana kasus malaria menduduki peringkat ke 1 dari 10 penyakit terbesar di Puskesmas Mawasangka pada tahun 2011.Dari data di atas terlihat adanya peningkatan kasus malaria setiap tahunnya.Di Puskesmas Mawasangka pada tahun 2011 malaria merupakan penyakit dengan jumlah penderita terbanyak dimana kasus malaria menduduki peringkat ke 1 dari 10 penyakit terbesar yang ada, tercatat kasus malaria pada tahun 2018 sebanyak 300 penderita(Medical Record, 2018). Di tinjau dari tingginya angka kejadian serta komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh penyakit malaria maka perawat mempunyai peranan penting dalam memberikan pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan serta pengalaman biologi, psikologi, sosiologi, spiritual yang komprehensif, ditunjukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik sakit maupun sehat yang meliputi peningkatan derajat kesehatan klien, pencegahan penyakit, penyembuhan dan pemulihan kesehatan klien dan menggunakan pendekatan proses keperawatan (Praptianingsih, 2006). Semua itu dapat di berikan dalam bentuk asuhan keperawatan. Asuhan keperawatan di laksanakan mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, 5 sampai evaluasi yang mana kita dapat memberikan bantuan kepada klien dalam memenuhi kebutuhanya, mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut, mengatasi respon penyakit yang di deritanya sehingga masalah klien dapat dikurangi ataupun teratasi. Berdasarkan uraian diatas maka Penulis berkeinginan, melakukan studi kasus bagaimana menerapkan “Asuhan Keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton”. B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah “Asuhan Keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten”. C. Tujuan Studi Kasus 1. Tujuan Umum Menggambarkan Asuhan Keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten. 2. Tujuan Khusus Penulis dapat : a. Melakukan pengkajian keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten. b. Menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten. 6 c. Menyusun rencana tindakan keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten. d. Melakukan implementasi tindakan keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten. e. Melakukan evaluasi keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten. D. Manfaat Studi Kasus Studi kasus ini, diharapkan memberikan manfaat bagi : 1. Bagi Klien / Masyarakat Dapat menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan tentang penyakit dengan kasus Malaria dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas. 2. Bagi Rumah Sakit Sebagai penambah wawasan dan pedoman bagi tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami penyakit Malaria dengan pemenuhan kebutuhan aktivitas. 3. Bagi Peneliti Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan, khususnya studi kasus tentang pelaksanaan pemenuhan kebutuhan aktivitas pada pasien Malaria. E. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam karya tulis ilmiah adalah metode deskriptif dalam bentuk studi kasus pada keluarga Mengadakan pengamatan 7 dan melaksanakan asuhan keperawatan keluarga dengan pasien hipertensi pada keluarga Desa Lakandito Puskesmas Kabangka Kabupaten Muna. Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah: 1. Wawancara Mengadakan tanya jawab dengan keluarga mengenai klien atau pasien hipertensi. Wawancara dilakukan selama proses keperawatan berlangsung. 2. Observasi Mengadakan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada keluarga dengan pasien hipertensi pada keluarga Desa Lakandito Puskesmas Kabangka Kabupaten Muna. 3. Studi Kepustakaan Menggunakan dan mempelajari literatur medis maupun perawatan yang menunjang sebagai landasan teoritis untuk menegakkan diagnosa dan perencanaan keperawatan keluarga dengan pasien hipertensi. 4. Studi dokumentasi Dokumentasi ini diambil dan dipelajari dari catatan medis dan catatan perawatan untuk mendapatkan data mengenai asuhan keperawatan dan pengobatan keluarga dengan pasien hipertensi. 5. Pemeriksaan fisik Melakukan pemeriksaan fisik terhadap keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita hipertensi di Desa Lakandito Wilayah Kerja Puskesmas Kabangka Kabupaten Muna. 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Malaria 1. Pengertian Malaria merupakan infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan ke manusia melalui air liur nyamuk (Handayani wiwik, 2008). Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang di sebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukanya bentuk aseksual didalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil, anemia dan splenomegali (Harijanto, 2009). Malaria adalah suatu penyakit infeksi dengan demam berkala yang disebabkan oleh parasit Plasmodium (termasuk protozoa) dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina (Zulkoni Akhsin, 2009). 2. Anatomi Fisiologi Gambar 2.1 : Morfologi stadium-stadium plasmodium vivax didalam darah. 9 Darah merupakan komponen esensial makluk hidup yang berada dalam ruang vascular, karena peranannya sebagai media komunikasi antar sel ke berbagai bagian tubuh dengan dunia luar karena fungsinya membawa oksigen dari paru-paru kejaringan dan karbondioksida dari jaringan keparu-paru untuk dikeluarkan, membawa zat nutrient dari saluran cerna ke jaringan kemudian menghantarkan hormone dan materimateri pembekuan darah (Tarwoto, 2008). a. Karakteristik darah (Tarwoto, 2008) 1) Warna Darah arteri berwarna merah muda karena banyak oksigen yang berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena berwarna merah tua/gelap karena kurang oksigen dibanding dengan darah arteri. 2) Viskositas Viskositas darah ¾ lebih tinggi dari pada viskositas air yaitu sekitar 1.048 sampai 1.066. 3) pH pH darah bersifat alkalin dengan pH 7.35 sampai 7.45 (netral 7.00). 4) Volume Pada orang dewasa volume darah sekitar 70 sampai 75 ml/kg BB, atau sekitar 4 sampai 5 liter darah. 10 5) Komposisi a) Plasma darah yaitu bagian cair darah (55%) yang sebagian besar terdiri dari air (92%), 7% protein, 1% nutrien, hasil metabolisme, gas pernapasan, enzim, hormon-hormon, faktor pembekuan dan garam-garaman organic. Protein-protein dalam plasma terdiri dari serum albumin (alpha-1 globulin, alpha-2 globulin, beta globulin dan gamma globulin), fibrinogen, protombine dan protein esensien untuk koagulasi. Serum albumin dan gamma globulin sangat penting untuk mempertahankan tekanan osmotik koloid, dan gamma globulin juga mengandung antibody (immunoglobulin) seperti IgM, IgG, IgA, IgD dan IgE untuk mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme. b) Sel-sel darah/ butir-butir darah (bagian padat) kira-kira 45%, terdiri atas eritrositatau sel darah merah (SDM) atau red blood cell (RBC), leukosit atau sel darah putih (SDP) atau white blood cell (WBC), dan trombositplatelet. Sel darah merah merupakan unsur terbanyak dari sel darah (44%) sedangkan sel darah putih dan trombosit 1% . sel darah putih terdiri dari basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit. b. Struktur sel darah 1) Sel darah merah Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 7,5 mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian 11 tengahnya 1 mikron atau kurang, tersusun atas membran yang sangat tipis sehingga sangat mudah terjadi diffusi oksigen, karbondioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel. Sel darah merah matang mengandung 200-300 juta hemoglobin (terdiri hem merupakan gabungan protoporfirin dengan besi dan globin adalah bagian dari protein yang tersusun oleh 2 rantai alfa dan 2 rantai beta) dan enzim-enzim seperti G6PD (glucose 6 – phosphate dehydogenase). Hemoglobin mengandung kira-kira 95% besi dan berfungsi membawa oksigen dengan cara mengikat oksigen dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk kebutuhan metabolisme. Kadar normal hemoglobin tergantung usia dan jenis kelamin. Hemoglobin adalah protein berpigmen merah yang terdapat dalam sel darah merah. Normalnya dalam darah pada laki-laki 15,5g/dl dan pada wanita 14,0g/dl (Susan M Hinchliff,1996). Rata-rata konsentrasi hemoglobin pada sel darah merah 32g/dl. 2) Sel darah putih Pada keadaan normal jumlah sel darah putih atau leukosit 500010000 sel/mm3. Leukosit terdiri dari 2 kategori yaitu yang bergranulosit dan yang agranulosit. 3) Trombosit Trombosit merupakan sel tak berinti, berbentuk cakram dengan diameter 2-5 um, berasal dari pertunasan sel raksasa berinti banyak megakariosit yang terdapat dalam sumsum tulang. Pada 12 keadaan normal jumlah trombosit sekitar 150.000-300.000/mL darah dan mempunyai masa hidup sekitar 1-2 minggu atau kirakira 8 hari. Trombosit tersusun atas substansi fospolifid yang penting dalam pembekuan dan juga menjaga keutuhan pembuluh darah serta memperbaiki pembuluh darah kecil yang rusak. Trombosit diproduksi di sumsum tulang kemudian sekitar 80% beredar disirkulasi darah hanya 20% yang disimpan dalam limpa sebagai cadangan. c. Hemopoisis (hematopoisis) Hemopoisis adalah proses pembentukan dan pematangan darah. Organ-organ yang penting dalam hemopoisis adalah: 1) Limpa Limpa berada dibawah diafragma sebelah kiri dari lambung. Tersusun atas 3 tipe jaringan yaitu white pulp, red pulp dan marginal pulp, yang semua berperan dalam keseimbangan pembentukan dan pemecahan sel darah. Selama pembentukan darah, limpa menghancurkan sel darah merah yang sudah tua dengan cara memfagosit, membantu metabolisme besi dengan cara memecah hemoglobin. 2) Hati Hati merupakan organ sangat penting dalam eritropoisis, terutama jika produksi sel darah merah dalam susum tulang tidak normal. Hati merupakan tempat utama produksi dari faktor pembekuan 13 darah dan protrombin, menghasilkan empedu, mengaktifkan vitamin k . Gambar 2.2 Limpa dan hati d. Fungsi darah 1) Transport internal Darah membawa berbagai macam substansi untuk fungsi metabolisme. a) Respirasi. Gas oksigen dan karbondioksida dibawah oleh hemoglobin dalam sel darah merah dan plasma, kemudian terjadi pertukaran gas di paru-paru. 14 b) Nutrisi, nutrient/zat gizi diabsorpsi dari usus, kemudian dibawa dalam plasma kehati dan jaringan-jaringan lain yang digunakan untuk metabolisme. c) Sekresi. Hasil metabolisme dibawa plasma kedunia luar melalui ginjal. d) Mempertahankan air, elektrolit dan keseimbangan asam basa dan juga berperan dalam hemoestasis. e) Regulasi metabolisme, hormon dan enzim atau keduanya mempunyai efek dalam mengaktivitas metabolisme sel, dibawa dalam plasma. 2) Proteksi tubuh terhadap bahaya mikroorganisme, yang merupakan fungsi dari sel darah putih. 3) Proteksi terhadap cedera dan perdarahan Proteksi terdahap respon peradangan local terhadapcedera jaringan. Pencegahan perdarahanmerupakan fungsi dari trombosit karena adanya faktor pembekuan, fibrinolitik yang ada dalam plasma. 4) Mempertahankam temperatur tubuh Darah membawa panas dan bersirkulasi keseluruh tubuh. Hasil metabolisme juga menghasilkan energi dalam bentuk panas (Tarwoto, 2008). 3. Etiologi Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami 15 pembiakan aseksual di jaringan hati dan di eritrosit. Pembiakan seksual terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina (Harijanto, 2009). Genus Plasmodium merupakan penyebab penyakit malaria yang mempunyai keunikan karena memiliki 2 hospes, yakni manusia sebagai hospes intermediate dan nyamuk anopheles sebagai hospes definitif. Genus plasmodium mempunyai 4 spesies penting dalam parasitologi medik, yaitu : Plasmodium falcifarum (malaria tertiana maligna) menyebabkan malaria tropika yang sering menyebabkan penyakit malaria berat/malaria otak dengan kematian. Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana benigna. Plasmodium malariae penyebab malaria kuartana. Plasmodium ovale (malaria tertiana ovale), jenis ini jarang sekali dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat (Muslim, 2009). Gambar 2.3: Tanda-tanda nyamuk malariabila hinggap/menggigit letak kepala lebih rendah dibanding badannya (menungging). Terdapat empat spesies parasit malaria pada manusia, yaitu Plasmodium falcifarum, yang paling banyak menimbulkan kematian, 16 Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae. Ciri khas morfologi plasmodium pada hapusan darah adalah sebagai berikut : Plasmodium falcifarum : gametosit berbentuk pisang; Plasmodium vivax : trofozoit berbentuk amuboid dengan sel darah merah yang terinfeksi membesar ukurannya; Plasmodium ovale : sel darah merah yang terinfeksi bentuknya tidak teratur dan bergerigi; Plasmodium malariae : trofozoit dewasa berbentuk pita (band-form) (Soedarto, 2009). Gambar 2.4 Sedian darah tepi sedian hapus tipis pada masing-masing parasit plasmodium. 17 Selain di tularkan melalui gigitan nyamuk, malaria dapat menjangkiti orang lain melalui bawaan lahir dari ibu ke anak, yang disebabkan karena kelainan pada sawar plasenta yang menghalangi penularan infeksi vertikal. Metode penularan lainya adalah melalui jarum suntik, yang banyak terjadi pada pengguna narkoba suntik yang sering bertukar jarum secara tidak steril. Model penularan infeksi yang terakhir adalah melalui tranfusi darah. Disebutkan dalam literatur bahwa melalui metode ini, hanya akan terjadi siklus eritrositer. Siklus hati tidak terjadi karena tidak melalui sporozoit yang memerlukan siklus hati (Widoyono, 2008). 4. Manifestasi klinis Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik, anemia dan splenomegali. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing plasmodium (tabel 1). Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya demam berupa : kelesuhan, malaise, sakit kepala, merasa dingin di punggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia (hilang nafsu makan), perut tidak enak, diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin. Keluhan prodromal sering terjadi pada Plasmodium vivax dan ovale, sedang pada plasmodium falcifarum dan malariae keluhan prodromal tidak jelas bahkan gejala dapat mendadak. Gejala yang klasik yaitu terjadinya trias malaria serangan paroksimal secara berurutan : periode dingin (15-60 menit) : mulai menggigil, penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, diikuti dengan meningkatnya temperatur, diikuti dengan periode panas : 18 penderita muka merah, nadi cepat, dan panas badan tetap tinggi beberapa jam, diikuti dengan keadaan berkeringat ; kemudian periode berkeringat : penderita berkeringat banyak dan temperatur turun, dan penderita merasa sehat. Trias malaria lebih sering terjadi pada infeksi plasmodium vivax, pada plasmodium falcifarum menggigil dapat berlangsung berat ataupun tidak ada. Periode tidak panas berlangsung 12 jam pada plasmodium falcifarum, 36 jam pada plasmodium vivax dan ovale, 60 jam pada plasmodium malariae. Plasmodium Falcifarum Tabel 2.1 Manifestasi klinis infeksi plasmodium Tipe Masa Recru panas Relaps Manifestasi klinis inkubasi densi (hari) (jam) 12 (9-14) 24,36,48 + Gejala gastrointestinal , hemolisis, anemia, ikterus, splenomegali, hepatomegali, hemoglobinuria, algid malaria, gejala serebral, edema paru, hipoglikemia, gangguan kehamilan, kematian Vivax 13(12-17) 48 + - Gejala gastrointestinal, gangguan kehamilan, anemia, splenomegali. Ovale 17(16-18) 48 + - Malariae 28(18-40) 72 - + Gejala gastrointestinal, anemia, splenomegali. Gejala 19 gastrointestinal, Sindroma nefrotik, splenomegali, anemia jarang terjadi. Keterangan : Masa inkubasi : Masa antara masuknya sporozoit ke dalam tubuh hospes sampai timbulnya gejala demam. Relapse atau rechute : ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia yang lebih lama dari waktu diantara serangan periodik dari infeksi primer yaitu setelah periode yang lama dari masa latent (sampai lima tahun), biasanya karena infeksi tidak sembuh atau oleh bentuk luar eritrosit (hati) pada malaria vivax atau ovale (plasmodium berdiam dalam hati : hipnozoit). Serangan primer : yaitu keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan mulai terjadi serangan paroksimal yang terdiri dari dingin/menggigil, panas dan berkeringat. Serangan paroksimal ini dapat pendek atau panjang tergantung dari perbanyakan parasit dan keadaan immunitas penderita. Periode latent : yaitu periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia selama terjadinya infeksi malaria. Biasanya terjadi diantara dua keadaaan paroksimal. 20 Recrudescense : yaitu berulangnya gejala klinik dan parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan primer. Recrudescense dapat terjadi berupa berulangnya gejala klinik sesudah periode laten dari serangan primer (Harijanto, 2009). 5) Patofisiologi Gambar 2.5: Siklus hidup plasmodium penyebab malaria. Parasit malaria dalam siklus hidupnya membutuhkan dua hospes. Melalui aliran darah, nyamuk anopheles betina menginokulasi sporozoit ke dalam tubuh manusia1. Sporozoit menginfeksi sel hati2, berkembang biak menjadi skizon3. Lalu pecah dan mengeluarkan merozoit (p. Vivax, dan p.ovale memiliki stadium dorman4. (hipnozoit) berdiam dalam hati dan dapat kambuh kembali untuk menginvasi kembali dalam darah beberapa minggu atau satu tahun kemudian) sesudah memperbanyak 21 diri dalam hati ini (exo-erythrocytic schizogony)A. Selanjutnya parasit memasuki perkembang biakan secara aseksual dalam eritrosit (erythrocytic schizogony)B. Merozoit mengifeksi sel darah merah4. Stadium ring, trofozoit matur selanjutnya menjadi skizon, yang akan menghasilkan merozoit5. Beberapa parasit berubah menjadi bentuk stadium sexual erythrocytic (gametosit)6. Pada stadium parasit dalam darah muncul gejala klinis penyakit ini. Gametosit, jantan (mikrogametosit) dan betina (makrogametosit), masuk nyamuk dalam tubuh nyamuk anopheles melalui darah yang terhisap7. Dalam tubuh nyamuk, parasit memperbanyak diri dengan cara sporogonic cycleC. Di dalam tubuh nyamuk, mikrogamet melakukan penetrasi ke makrogamet untuk menghailkan zigot8. Zigot bergerak dan memanjang (ookinet)9. Keluar dari dinding lambung nyamuk untuk berkembang menjadi ookista10. Ookista tumbuh, matang dan mengeluarkan sporozoit11. Selanjutnya hidup berdiam dalam pada kelenjar liur nyamuk. Sporozoit siap diinokulasikan ke tubuh manusia lainnya dan kembali melangsungkan siklus hidupnya1 (Muslim, 2009). 6. Komplikasi Menurut Widoyono (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit malaria sebagai berikut : a. Malaria serebral (malaria otak) adalah malaria dengan penurunan kesadaran. Penilaian derajat kesadaran dilakukan bardasarkan Skala Koma Glasgow (GCS, Glasgow Coma Scale). Pada orang dewasa GCS ≤11, sedangkan pada anak berdasarkan Blantyre Coma Scale≤3, 22 atau koma >30 menit setelah serangan kejang yang tidak disebabkan oleh penyakit lain. b. Anemia berat (Hb <5 gr% atau hematokrit <15%) pada keadaan hitung parasit >10.000/uL. Bila anemia hipokromik mikrositik, harus dikesampingkan adanya anemia defisiensi besi, talasemia, atau hemoglobinopati lainnya. c. Gagal ginjal akut (urin <400 mL/24 jam pada orang dewasa atau <1 mL/kgBB/jam pada anak setelah dilakukan rehidrasi, dengan kreatinin darah meningkat>3 mg%). d. Edema paru atau acute respiratory distress syndrome (ARDS). e. Hipoglikemia : gula darah <40 mg%. f. Gagal sirkulasi atau syok : tekanan sistolik <70 mmHg, disertai keringat dingin. g. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, alat pencernaan dan atau disertai kelainan laboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler. h. Kejang berulang >2 kali per 24 jam setelah pendinginan pada hipertermia. i. Asidema (pH <7,25) atau asidosis (bikarbonat plasma <15 mmol/L). j. Hemoglobinuria makroskopik karena infeksi malaria akut (bukan karena obat antimalaria pada seseorang dengan defisiensi Glukosa-6Posfat Dehidrogenase)(Widoyono, 2008). 23 7. Pemeriksaan diagnostik a. Pemeriksaan mikroskopis Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah yang menurut teknis pembuatannya dibagi menjadi preparat darah (SDr, sediaan darah) tebal dan preparat darah tipis, untuk menentukan ada tidaknya parasit malaria dalam darah. Melalui pemeriksaan ini dapat dilihat jenis plasmodium dan stadiumnya (P. falciparum, P. vivax, P. malariae, P. ovale, tropozoit, skizon, dan gametosit) serta kepadatan parasitnya. Kepadatan parasit dapat dilihat melalui dua cara yaitu semikuantitatif dan kuantitatif. Metode semi-kuantitatif adalah menghitung parasit dalam LPB (lapang pandang besar) dengan rincian sebagai berikut: (-) : SDr negatife (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB) (+) : SDr positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB) (++) : SDr positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB) (+++) : SDr positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB) (++++) : SDr positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 1 LPB) Penghitungan kepadatan parasit secara kuantitatif pada SDr tebal adalah menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Pada SDr tipis, penghitungan jumlah parasit per 1000 eritrosit. b. Tes diagnostik cepat (RDT, rapid diagnostic test) Metode ini mendeteksi adanya antigen malaria dalam darah dengan cara imunokromatografi. Dibandingkan uji mikroskopis, tes 24 ini mempunyai kelebihan yaitu hasil pengujian dengan cepat dapat diperoleh, tetapi lemah dalam hal spesifisitas dan sensitivitasnya. c. Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) Dengan menggunakan pemeriksaan PCR spesifisitas dan sensitivitasnya dapat ditingkatkan. Keunggulan tes ini walaupun jumlah parasit yang dapat dideteksi sangat sedikit dapat mengidentifikasi infeksi ringan dengan sangat tepat dan dapat dipercaya. Hal ini penting untuk studi epidemiologi dan eksperimental dan belum untuk pemeriksaan rutin. d. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum penderita, meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit, jumlah leukosit, eritrosit, dan trombosit. Bisa juga dilakukan pemeriksaan kimia darah (gula darah, SGOT, SGPT) serta pemeriksaan rontgen dan USG untuk melihat apakah terjadi pembesaran hati dan limpa dan pemeriksaan lainya sesuai indikasi (Widoyono, 2008). 8. Penatalaksanaan a. Penatalaksanaan Keperawatan 1) Pemantauan tanda-tanda vital (TD, nadi, pernafasan, dan suhu). 2) Cairan dan elektrolit Pemberian cairan merupakan bagian yang penting dalam penanganan malaria, biasanya diberikan cairan 1500-2000 cc/hari apalagi bila sudah terjadi malaria berat. Pemberian cairan yang 25 tidak adekuat akan menyebabkan timbulnya nekrosis tubuler akut. Sebaliknya pemberian cairan yang berlebihan dapat menyebabkan udema paru. Cairan yang biasa digunakan adalah dextrose 5% untuk menghindari hipoglikemi khususnya pada pemberian kina. Bila dapat diukur kadar elektrolit (natrium), dipertimbangkan pemberian NaCl bila diperlukan. 3) Nutrisi Pada pasien malaria makanan biasa atau makanan lunak. Diit lunak yang diberikan mengandung protein, energy dan zat gizi lainnya. Makanan yang diberikan dalam bentuk mudah dicerna , rendah serat dan tidak mengandung bumbu yang tajam. 4) Eliminasi Pada pasien malaria biasanya tidak mengalami gangguan eliminasi tapi pada malaria berat terjadi gangguan eliminasi BAK yaitu hemoglobinuria dan gangguan eliminasi BAB yaitu diare. 5) Aktifitas dan istirahat Malaria biasa tidak perlu istirahat mutlak hanya aktivitas yang dibatasi, mengatur posisi yang nyaman bagi pasien. 6) Bila terjadi anemia diberi tranfusi darah. 7) Memberikan kompres hangat pada pasien (hindari kompres alcohol dan air es) dan bila pasien menggigil berikan selimut. b. Penatalaksanaan non medis 1) Menggunakan kelambu pada waktu tidur. 2) Mengolesi tubuh dengan obat anti gigitan nyamuk. 26 3) Menggunakan pembasmi serangga. 4) Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi. Letak tempat tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak. 5) Mencegah penderita malaria dari gigitan nyamuk agar infeksi tidak menyebar lebih jauh. 6) Membersihkan tempat hinggap atau istirahat nyamuk dan memberantas sarang nyamuk. 7) Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian yang bergantungan serta genangan air. 8) Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprotkan obati anti atau menebarkan ikan pemakan jentik. 9) Melestarikan hutan bakau sebagai habitat ikan di rawa-rawa sepanjang pantai (Irianto, 2011) c. Penatalaksanaan medis Berdasarkan suseptibilitas (rentan) berbagai stadium parasit malaria terhadap obat malaria, maka obat malaria dibagi lima golongan, yaitu : 1) Skizontisida jaringan primer, proguanil, pirimetamindapat membasmi parasit praeritrosit, sehingga mencegah masuknya parasit ke dalam eritrosit; digunakan sebagai profilaksis kausal. 2) Skizontisida jaringan sekunder; primakuin dapat membasmiparasit daur eksoeritrosit dan bentuk-bentuk jaringan plasmodium vivax dan ovale dan digunakan untuk pengobatan radikal infeksi ini bagi anti relaps. 27 3) Skizontisida darah; membasmi parasit yang berhubungan dengan penyakit akut disertai gejala klinik. Skizontisida dapat mencapai penyembuhan klinis suprasif bagi keempat spesies plasmodium. Skizontisida darah juga membunuh bentuk eritrosit stadium seksual plasmodium vivax, ovale dan malariae. Skizontisida darah yang ampuh adalah kina, klorokuin, dan amodiakuin, sedangkan yang efeknya terbatas adalah proguanil dan pirimetamin. 4) Gametositosida: menghancurkan semua stadium seksual, termasuk stadium gametosit plasmodium falcifarum, juga mempengaruhi perkembangan parasit malaria dalam nyamuk Anopheles betina. Beberapa obat gametositosida bersifat sporontosida. Primakuin adalah gametositosida untuk keempat spesies, sedang kina, klorokuin, dan amodiakuin adalah gametositosida untuk plasmodium vivax, ovale dan malariae. 5) Sporontosida: mencegah atau menghambat gametosit dalam darah untuk membentuk ookista dan sporozoit dalam nyamuk Anopheles. Obat ini mencegah transmisi penyakit malaria dan disebut juga obat anti sporogonik. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini ialah primakuin dan poquanil. Obat-obat malaria yang terdaftar di Dit. Jen. Pom dan memenuhi standar untuk program pemberantasan penyakit malaria Dep. Kes. Adalah klorokuin, S-P, kina, primakuin dan beberapa antibiotika yang beredar diindonesia. Obat baru halofantrin, artemisin (qinghaosu) dan 28 derivatnya: artemeter, artesunat, arte-ater, pironaridin, atovakuan, yinghausu (arteflen) (Safar Rosdiana, 2009). B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Proses keperawatan adalah suatu metode yang sistematis dan terorganisasi dalam pemberian asuhan keperawatan, yang difokuskan pada reaksi dan respons unik individu pada suatu kelompok atau perorangan terhadap gangguan kesehatan yang dialami, baik, aktual, maupun potensial. Proses keperawatan juga dapat diartikan sebagai pendekatan yang digunakan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, sehingga kebutuhan dasar klien dapat teratasi. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap, yaitu : pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi (Deswani, 2009). 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dalam asuhan keperawatan dan landasan proses keperawatan. Oleh karena itu dibutuhkan pengkajian yang cermat guna mengenal masalah klien sepertimengumpulkan semua informasi yang bersangkutan dengan masa lalu dan saat ini, data objektif dan subjektif dari klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, atau budaya. Keberhasilan asuhan keperawatan sangat tergantung kecermatan dan ketelitian dalam pengkajian (Deswani, 2009). Pengkajian : a. Identitas pasien 29 Terdiri dari: nama pasien, umur, pendidikan, agama, pekarjaan, alamat serta penanggung jawab pasien. Biasanya malaria diderita oleh seorang yang tinggal di daerah atau lingkungan endemic malaria. b. Data riwayat kesehatan 1) Riwayat kesehatan sekarang Keluhan klien saat masuk rumah sakit, keluhan saat dikaji : demam yang hilang timbul, menurunnya nafsu makan, sakit kepala,mual, muntah, lemah, menggigil, malaise, nyeri sendi dan tulang, berkeringat. 2) Riwayat kesehatan yang lalu Menggambarkan kesehatan pasien sebelumnya, apakah pasien pernah mempunyai riwayat penyakit malaria atau meminum obat malaria, apakah pernah bepergian dan bermalam didaerah endemik. 3) Riwayat kesehatan keluarga Menggambarkan adakah anggota keluarga yang mengalami penyakit malaria, riwayat penyakit genetik, dan congenital dalam keluarga. 4) Riwayat kebiasaan sehari-hari a) Pola nutrisi Menggambarkan keluhan pasien berupa: mual, muntah terus menerus, sering juga muntah darah. 30 b) Pola eliminasi BAK : pada malaria berat warna air kencing menjadi seperti teh, dan volume air kencing yang berkurang sampai tidak keluar air kencing sama sekali. BAB : Kemungkinan terjadinya berak darah. c) Pola istirahat dan tidur Pada umumnya didapat keluhan berupa adanya gangguan istirahat dan tidur yang disebabkan oleh nyeri kepala, mual, muntah dan demam menggigil. d) Pola aktivitas Pada umumnya penderita malaria terdapat kelemahan atau kelelahan saat melakukan aktivitas dikarenakan pasien mengalami mual, muntah dan nyeri kepala. e) Personal hygiene Pada umumnya personal hygiene pada penderita malaria masih cukup baik dan bersih. c. Pemeriksaan Fisik (Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi) 1) Keadaan umum Di kaji penampilan dan tingkat kesadaran. kesadaran, kelemahan atau kelumpuhan otot 31 Terjadi gangguan 2) Tanda-tandavital Pasien mengalami demam 37,50C - 400C, penurunan tekanan darah, nadi berjalan cepat dan lemah, serta frekuensi nafas meningkat. 3) Pemeriksaan fisik a) Pernapasan Inspeksi : Frekuensi pernapasan meningkat, bentuk dada simetris/tidak dan ada/tidak benjolan atau bekas luka. Auskultasi : Suara nafas vesikuler. Palpasi : Pergerakan dinding dada simetris/tidak, ada/tidak benjolan dan nyeri tekan. Perkusi : Resonan. b) Pencernaan Inspeksi : Mukosa bibir kering dan pecah-pecah, abdomen simetris/tidak, ada/tidak luka operasi. Auskultasi : Bising usus (+) Palpasi : Ada/tidak benjolan dan nyeri tekan, ada/tidak pembesaran hepar atau limfa. Perkusi: Timpani c) Penglihatan Inspeksi : Konjungtiva palpebra pucat. Palpasi : Ada/tidak benjolan dan nyeri tekan. d) Pengecapan : Mulut terasa pahit 32 e) Pendengaran : Tidak ada gangguan pada pendengaran f) Kardiovaskuler Inspeksi : ada/tidak bekas operasi dan benjolan. Palpasi : Ada/tidak nyeri tekan dan pembengkakan jantung. Perkusi : Redup pada bagian jantung. Auskultasi : Bunyi jantung I dan bunyi jantung II normal. g) Perkemihan :volume air kencing berkurang, warna seperti teh. h) Reproduksi : Tidak ada masalah pada sistem reproduksi. d. i) Moskuloskeletal : Terjadi kelemahan pada otot. j) Intergument : Warna ikterik/ kekuningan / tampak pucat. Riwayat Psikologis dan Spiritual 1) Psikologi Menggambarkan tentang reaksi pasien terhadap penyakit yang di alami, cemas dan harapan pasien mendapatkan dukungan dari orang - orang terdekat pasien. 2) Spiritual Kepercayaan yang di anut pasien, kebiasaan beribadah, dan sejauh mana kepercayaan tersebut mempengaruhi kehidupan pasien. e. Pemeriksaan penunjang 1) USG : pada penderita malaria kronis terdapat pembesaran limpa 33 2) Rontgen : pada penderita malaria kronis terlihat pembesaran hati dan limpa. 3) Laboratorium a) Hitung leukosit darah rendah atau normal (n : 4.000-10.000 mm3) b) Jumlah trombosit sering menurun terutama pada malaria berat (n : 150.000-400.000 sel/mm3) c) Laju endap darah sangat tinggi (>5-15 mm/jam) d) Hemoglobin darah rendah (<10 gr/dl) e) Plasmodium terlihat dalam sediaan, DDR (+). 34 Analisa data Tabel 2.2 Analisa Data No 1 Data focus Masalah Ds : Klien mengeluh kepala terasa pusing Do : Perubahan perfusi jaringan ï‚· TTV : Tensi darah hipotensi, nadi cepat ï‚· Terdapat sianosis ï‚· Akral dingin ï‚· Kulit pucat ï‚· Klien tampak gelisah ï‚· Hb dibawah normal ï‚· Conjungtiva anemis ï‚· Mukosa bibir tampak kering ï‚· Hasil pemeriksaan DDR (+) 2 Ds : klien mengatakan bahwa klien tidak nafsu Resiko makan dan perutnya mual,dan pernah muntah ketidakseimbangan >1x nutrisi Do : kurang dari ï‚· Porsi makan yang dihabiskan terlihat kebutuhan hanya 3 sendok makan ï‚· Keadaan umum tampak lemah ï‚· BB klien di bawah normal/biasanya ï‚· Tinggi badan tidak seimbang dengan BB ï‚· Klien tampak pucat ï‚· Mukosa bibir tampakk kering 3 Ds : Klien mengatakan merasa mual, dan Aktual/resiko muntah > 3x, tidak ada keinginan untuk minum. Do : 35 tinggi gangguan elektrolit ï‚· TTV : TD : hipotensi, nadi : takikardi, suhu >380C. ï‚· Tugor kulit tidak elastis ï‚· Haluaran urin tidak adekuat ï‚· Intake dan output tidak seimbang ï‚· Membran mukosa kering 4 Ds : klien mengeluh tubuhnya terasa panas, Hipertermi panas yang dirasakan hilang timbul. Do : ï‚· Pada palpasi klien teraba panas ï‚· Suhu >370C ï‚· Hasil pemerikasaan DDR (+) ï‚· Klien tampak gelisah ï‚· Mukosa bibir tampak kering 5 Ds : klien mengatakan tubuhnya terasa lemas Gangguan aktifitas Do : ï‚· Klien tampak lemah ï‚· Aktivitas klien hanya ditempat tidur ï‚· Semua kebutuhan klien dibantu oleh keluarga dan perawat ï‚· Kekuatan otot <4444 <4444 <4444 <4444 6 Ds : klien mengeluh tubuhnya terasa nyeri pada Nyeri persendian tulang dan juga otot, tubuh terasa pegal-pegal. Do : 36 ketidaknyamanan dan ï‚· Klien tampak meringis kesakitan ï‚· Klien tampak gelisah ï‚· Sakala nyeri (1-5)= <2 7 Ds : klien dan keluarga mengatakan tidak tahu Resiko tentang apa penyakit malaria dan cara penularan penularan penyakit malaria. penyakit malaria. Do : ï‚· Keluarga dan klien tidak menjawab ketika ditanya tentang cara penularan penyakit malaria dan hanya mengelengkan kepala. ï‚· Keluarga dan klien tidak mengetahui cara pencegahan malaria. ï‚· Keluarga bertanya tentang apa penyakit yang di derita keluarganya. 2. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakan diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam medik, dan pemberi pelayanan kesehatan lain (Deswani, 2009). Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria berdasarkan dari tanda dan gejala yang timbul menurut Muttaqin (2011) adalah : a. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. 37 b. Aktual/resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah. c. Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan diuresis osmotik, diaforesis. d. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. e. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. f. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia. g. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup. 3. Intervensi keperawatan Intervensi keperawatan adalah panduan untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari klien, dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Intervensi dilakukan untuk membantu klien mencapai hasil yang diharapkan (Deswani, 2009) Terhadap perencanaan meliputi : a. Menentukan proritas masalah Menentukan prioritas masalah menurut maslow memberikan kerangka kerja yang berguna dalam menentukan masalah prioritas, dengan prioritas utama diberikan pada kebutuhan fisik diikuti oleh kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah. Tahap prioritas masalah 38 menurut maslow adalah meliputi : kebutuhan fisiologi, kebutuhan rasa aman dan kenyamanan, kebutuhan cinta dan mencintai, kebutuhan harga diri, dman kebutuhan pencapaian tujuan pribadi (Deswani, 2009) Prioritas keperawatan untuk pasien dengan diagnosa malaria dapat meliputi : 1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. 2) Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan diuresis osmotik, diaforesis. 3) Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. 4) Aktual/resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah. 5) Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia. 6) Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 7) Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup. 39 b. Menetapkan intervensi keperawatan 1) Menetapkan tujuan Tujuan keperawatan ditulis berdasarkan pada standar perawatan dan merupakan tujuan dalam mengatasi masalah klien. 2) Menetapkan kriteria hasil Untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang di terapkan pada standar, maka dibuatlah kriteria hasil. Kriteria hasil ditegakkan untuk masing-masing masalah klien sesuai dengan rencana tindakan yang disusun (Doengoes, 2000). Adapun perencanaan keperawatan yang dapat diisusun pada klien dengan malaria menurut Muttaqin (2011) ialah : Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan No 1 Diagnosa NOC NIC Keperawatan Perubahan perfusi Tujuan : setelah 1. Memeriksa jaringan dilakukan berhubungan dengan perawatan dalam Rasional 1. Memantau tanda-tanda perkembangan vital tekanan darah penurunan waktu dan perubahan komponen 4x24jamtidak pada tekanan seluler yang di terjadipenurunan nadi. Hipotensi perlukan untuk tingkat kesadaran pengiriman oksigen dan akan berkembang dapat bersamaan dan nutrient dalam mempertahankan dengan tubuh. kuman cardiac output yang menyerang secara adekuat darah. guna 2.Catat adanya 2. Keluhan pusing meningkatkan keluhan merupakan perfusi jaringan. pusing. manifestasi penurunan 40 Kriteria hasil : suplai darah ke ï‚· Tanda-tanda jaringan otak. vital normal 3. Respons 3.Kurangi aktivitas yang valsava mengeluh merangsang meningkatkan pusing timbulnya beban jantung respons sehingga akan valsava/aktivit menurunkan as. curah ï‚· Klien tidak ï‚· Klien tidak gelisah ï‚· Tidak terdapat akan jantung ke otak. sianosis 4. Menurunkan ï‚· Kulit segar 4.Tingkatkan ï‚· Hemoglobin tirah baring. normal beban kerja miokard dan konsumsi ï‚· Akral hangat oksigen, ï‚· Conjungtiva memaksimalkan ananemis efektifitas ï‚· Mukosa bibir dari perfusi jaringan. tampak lembab 5. Bukti 5.Observasi ï‚· Hasil pemeriksaan DDR (-) terhadap perubahan sensori dan penurunan tingkat aliran darah ke kesadaran jaringan pasien yang serebral adalah menunjukan adanya penurunan perubahan perfusi otak respons sensori (gelisah, dan penurunan confuse/bingu tingkat ng, kesadaran pada apatis, somnolen) 41 aktual fase akut. Adanya kegagalan harus dilakukan monitoring ketat. 6. Kolaborasi 6. Jalur yang paten Pemberian penting transfusi darah pemenuhan lisis PRC darah (packed red cells). untuk sebagai intervensi kedaruratan 2 Aktual/risiko tinggi Tujuan : setelah 1. Ukur/ catat 1. Penurunan gangguan elektrolit dilakukan haluaran urine haluaran berhubungan dan akan dengan perawatan dalam diuresis waktu osmotik, diaforesis. 4x24jam tidak terjadi catat intake-output menyebabkan pasien. hipovolemi. hiponatremi dan hipokalemi atau 2. Observasi kondisi hiponatremi dan urin 2. Hipotensi, tanda–tanda takikardi atau vital. demam dapat menunjukan hipokalemi. respon terhadap Kriteria hasil : atau ï‚· TTV kehilangan dalam cairan batas normal ï‚· Turgor kulit 3. Palpasi elastis denyut ï‚· Haluaran efek urin perifer. nadi 3. Denyut yang lemah mudah hilang dan dapat menyebabkan adekuat ï‚· Intake dan 42 hipovolemi. output seimbang 4. Anjur klien 4. Dengan banyak minum ï‚· Membran banyak mukosa lembab minum ï‚· Klien tidak kurang 2000- cairan mengeluh mual 3000 cc/hari. hilang. dan muntah lebih menggantikan yang 5. Menunjukan 5. Observasi turgor dapat kulit kehilangan dan membran cairan/ mukosa dehidrasi. 6. Kolaborasi 6. Mencegah pemberian terjadinya cairan kekurangan parenteral. cairan dan elektrolit serta menggantikan cairan tubuh yang hilang. 7. Kolaborasi 7. Antipiretik: untuk mengontrol pemberian demam, obat menurunkan sesuai indikasi kehilangan seperti cairan tidak antipiretik, terlihat. Anti antiemetik, emetik: untuk dan elektrolit. mengurangi mual dan muntah. Elektrolit: menggantikan elektrolit hilang. 43 yang 3 Hipertermi Tujuan :Setelah 1.Evaluasi TTV 1. Sebagai pada peningkatan perawatan dalam pergantiann sif terhadap adanya metabolisme, waktu atau setiap ada perubahan dehidrasi, 4x24jamterjadi keluhan keadaan umum efek langsung penurunan klien. sirkulasi suhu setiap pengawasan berhubungan dengan dilakukan dari klien dapat dilakukan kuman tubuh dan panas pada hipotalamus. sehingga penanganan dan tidak berulang. perawatan Kriteria hasil : secara cepat dan ï‚· Pada tepat. palpasi teraba 2. Anjurkan klien 2. Dengan tubuh tidak panas ï‚· Suhu tubuh normal baju untuk yang tipis dan memakaikan menyerap pakaian keringat yang tipis dan dapat diharapkan klien lembab menyerap tidak gerah dan ï‚· DDR (-) keringat. panas ï‚· Mukosa bibir ï‚· Klien akan turun. tidak 3. Pemberian 3. Anjurkan gelisah tubuh memberikan selimut menjelaskan selimut digunakan untuk kembali menggigil. ï‚· Klien mampu bila mengurangi pendidikan ketidak kesehatan nyamanan pada yang saat demam dan diberikan. menggigil ï‚· Klien mampu termotivasi sebagai respon sekunder dari hipertermi. untuk 44 melaksanakan 4. Beri kompres 4. Terjadi vasodilatasi penjelasan dengan air yang hangat - pembuluh darah, hangat kuku sehingga terjadi pada aksila, penguapan lipat paha, dan (evaporasi). telah diberikan. temporal bila terjadi panas. 5. Berikan klien 5. Dengan banyak banyak minum minum dapat 2000-3000 menggantikan cc/hari. cairan yang hilang. 6. Kolaborasi 6. Pemberian untuk cairan pemberian dapat mencegah cairan infus. terjadinya infus kekurangan cairan serta untuk mengganti cairang tubuh yang hilang. 7. Kolaborasi 7. Anti untuk dapat pemberian merangsang antipiretik, hipotalamus anti malaria, untuk dan antii biotik. piretik menurunkan suhu tubuh, pemberian anti malaria dapat membunuh 45 parasit/plasmodi um penyebab malaria, antibiotik untuk mengatasi infeksi. 8. Atur 8. Kondisi ruang lingkungan kamar yang yang tidak panas, konduksif. tidak bising, dan sedikit pengunjung memberi efektivitas terhadap proses penyembuhan. 4 Ketidakseimbangan Tujuan : Setelah 1. Kaji 1. Tingkat nutrisi kurang dari dilakukan pengetahuan pengetahuan kebutuhan klien tentang dipengaruhi intake nutrisi. oleh tubuh perawatan dalam berhubungan dengan waktu intake dekuat: yang tidak klien 5x24jam dapat anorexia, mempertahankan mual/muntah. kondisi sosial ekonomi klien. Perawat kebutuhan nutrisi mengunakan yang adekuat. pendekatan yang sesuai Kriteria hasil : dengan kondisi ï‚· Berat individu badan Dengan klien 46 klien. normalseimban mengetahui g dengan tinggi tingkat badan pengetahuan mampu tersebut, menghabiskan perawat dapat porsi makan lebih terarah yang disajikan dalam ï‚· Klien ï‚· Keadaan umum memberikan klien membaik pendidikan ï‚· Mual, yang muntah dengan berkurang ï‚· Mukosa sesuai pengetahuan bibir tampak lembab klien secara efisien dan efektif. 2. Untuk 2. Anjurkan klien agar makan makanan mengurangi perasaan pahit pada lidah. dalam keadaan 3. Untuk hangat. mengurangi 3. Anjurkan klien untuk makan makanan lunak 47 perasaan tegang pada lambung sehingga tidak dalam porsi terjadi mual dan kecil tapi muntah. sering 4. Dapat meningkatkkan masukan 4. Diskusikan makanan klien. makanan yang disukai dan klien masukan 5. Anti dalam diet murni. emetik dapat mengurangi mual dan 5. Kolaborasi muntah. pemberian 6. Penimbangan obat anti emetik. berat badan dilakukan sebagai evaluasi terhadap 6. Monitor intervensi yang perkembangan diberikan. berat badan. 5 Nyeri dan Tujuan : Setelah 1. Jelaskan dan 1. Pendekatan ketidaknyamanan dilakukan bantu klien berhubungan perawatan dalam dengan 48 dengan menggunakan dengan respons waktu tindakan relaksasi inflamasi 4x24jamterjadi pereda sistemik, penurunan nonfarmakolo lainya mialgia, keluhan nyeri dan gi menunjukan artralgia. ketidaknyamanan. noninvasif. nyeri dan dan nonfarmakologi telah keefektifan dalam Kriteria hasil : mengurangi ï‚· Secara nyeri. 2. Istirahatkan subjektif 2. Istirahat secara akan melaporkan klien pada saat fisiologis nyeri berkurang nyeri muncul menurunkan atau kebutuhan dapat oksigen diadaptasi yang diperlukan untuk ï‚· Skala nyeri 0-1 Dapat memenuhi mengidentifika kebutuhan si metabolisme (1-4). aktivitas basal. yang meningkatkan 3. Ajarkan teknik 3. Meningkatkan atau relaksasi intake oksigen menurunkan pernafasan sehingga akan nyeri dalam pada menurunkan saat nyeri nyeri sekunder dari iskemia ï‚· Klien tidak muncul. gelisah 49 spina. 4. Manajemen 4. Lingkungan lingkungan, yang Lingkungan akan yang menurunkan tenang, tenang batasi stimulus nyeri pengunjung, eksternal dan istirahatkan pembatasan klien. pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan. Istirahat akan.menurunk an kebutuhan oksigen jaringan perifer. 5. Tingkatkan 50 5. Pengetahuan pengetahuan mengenai hal tentang sebab- yang di sebab nyeri. rasakan akan membantu mengurangi nyerinya dan dapat membantu mengembangka n kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik. 6 Gangguan aktivitas Tujuan : Setelah 1. Observasi 1. Untuk berhubungan dengan dilakukan respons klien mengidentifikasi kelemahan fisik. perawatan dalam terhadap indikasi 5x24jamklien aktivitas. kemajuan atau dapat melakukan penyimpangan aktivitas dari hasil yang sesuai dengan diharapkan. kemampuan. 2. Awasi tanda – 2. Agar tanda vital mengetahui Kriteria hasil : selama dan perubahan ï‚· Klien sesudah mampu 51 kelemahan dan aktivitas. melakukan kekuatan aktivitas sendiri ï‚· Badan dan pasien. klien 3. Tingkatkan tidak lemah lagi pada tirah baring. 3. Tirah baring meningkatkan istirahat kekuatan dan otot membaik ketenangan klien ï‚· Tanda-tanda serta vital menyediakan dalam energi batas normal yang digunakan untuk penyembuhan. 4. Atur posisi 4. Agar klien bisa pasien beristirahat dan senyaman memulihkan mungkin kesehatan. 5. Berikan 5. Membantu klien bantuan dalam bila perlu, untuk aktivitas meninggkatkan sehari-hari bila kepercayaan diri perlu. bila klien dapat melakukan aktivitas sendiri. 6. Membangun 6. Libatkan 52 hubungan yang keluarga kooperatif antara dalam perawat pemenuhan keluaraga. dan kebutuhan klien. 7 Resiko penyakit penularan Tujuan : Setelah 1. Beri malaria dilakukan 1. Klien penjelasan berhubungan dengan perawatan dalam tentang kurang pengetahuan waktu itu tentang 3x24jam penyakit penularan keluarga apa penyakit dan dapat menjelaskan kembali dan malaria, cara menentukan malaria, kebersihan penyakit malaria penularan pencegahan lingkungan dan pola tidak terjadi. penyakit penyakit hidup. malaria Kriteria hasil : dan pencegahanya dan 2. Anjurkan ï‚· Klien malaria secara dini. 2. Dengan keluarga dapat keluarga dan lingkungan menjelaskan klien yang bersih dan kembali memelihara nyaman dan nyamuk meningkatkan akan cara penularan kebersihan berkembang penyakit diri malaria. lingkunganya. itu apa penyakit malaria dan 53 untuk dan biak. tidak 3. Akan mencegah 3. Anjurkan ï‚· Klien dan klien dan Keluarga keluarga dapat untuk menyebutkan membasmi cara sarang pencegahan nyamuk atau malaria. tempat berkembang biak nyamuk. 54 terjadi penularan. BAB III LAPORAN KASUS A. Pengkajian 1. Identitas klien Nama :Ny. T Umur :46 Tahun Jenis Kelamin :Perempuan Pendidikan :SMA/FARMASI Agama :Islam Alamat :Lapodi No. RM :568642 Ruangan : Ruang Interna Tanggal masuk :17 maret 2019 Tanggal pengkajian :18 Maret 2019, pukul 10.00 WIB Diagnosa medis : Malaria Identitas Penanggung Jawab Nama :Tn M Umur :48 Tahun Jenis Kelamin :Laki-laki Pendidikan :SMA Agama :Islam Alamat :Lapodi 55 Hubungan dengan Keluarga 2. : Suami Keluhan utama a. Riwayat kesehatan Sekarang Klien dibawa oleh keluarga ke IGD RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton pada tanggal 17 Maret 2019 pukul 10.00 WITA dengan keluhan demam dirasakan sejak 1 minggu yang lalu, keluhan menggigil baru dirasakan sejak kemarin (16 Maret 2019), merasa mual, muntah satu kali, tubuh terasa panas, sering berkeringat, kepala pusing, seluruh tubuh dirasakan sakit dan pegal-pegal. Tiga hari yang lalu klien sudah minum obat yang di beli di warung yaitu paracetamol guna menurunkan panas tetapi tidak ada perubahan. Tanda tanda vital : TD : 120/80 mmHg, Nadi : 86 x/menit, Pernafasan : 22 x/menit, Suhu : 380C, Berat badan : 49 kg, Tinggi badan : 155 cm. Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 18/03/2019 pukul 10.00 WITA, keadaan umum klien masih tampak lemah, mukosa bibir terlihat kering, conjungtiva anemis, klien mengeluh terasa nyeri pada daerah persendian tulang dan juga otot, skala nyeri 3 (1-5), tubuh terasa pegal-pegal, merasa mual, nyeri pada uluh hati, lidah terasa pahit, tidak ada nafsu makan, sakit kepala, panas pada tubuh sering dirasakan hilang timbul dan sering berkeringat, keluhan menggigil sudah berkurang tidak seperti pada saat pertama masuk. Klien juga 56 mengeluh bahwa hasil labornya haemoglobin rendah yaitu 7,5 gr/dl menurut saran dokter untuk tranfusi darah 3 kantong, untuk menormalkan Hb. Klien tampak pucat, akral teraba dingin, ekstremitas atas terpasang infus dan sedang dilakukan transfusi. Tanda vital : TD :110/70 mmHg, Nadi : 90 X/menit, Pernafasan : 22 x/menit, Suhu : 370C. b. Riwayat Kesehatan Dahulu Sebelumnya klien pernah mengalami demam seperti sekarang ini dengan diagnosa yang sama yaitu Malaria pada dua tahun yang lalu dan dirawat selama 3 hari di ruang Ruang Interna RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton. Riwayat operasi caesaria : 1 (satu) kali karena melahiran kembar pada tahun 2003. c. Riwayat Kesehatan Keluarga Dalam keluarga Ny. T terdapat keluarga yang pernah mengalami penyakit malaria yaitu suaminya, anak pertama dan anak kedua. 3. Pemeriksaan Fisik Keadaan umum : Lemah Tekanan darah : 100/70 mmHg Nadi : 90 x/menit 57 Suhu : 370C Pernapasan : 22 x/menit Pemeriksaan head to toe : a. Kepala : 1) Rambut : Inspeksi : Distribusi rambut merata, warna rambut hitam, kulit kepala terlihat bersih, terlihat banyak rambut yang gugur pada bantal tempat tidur klien. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan. 2) Mata : Inspeksi : Fungsi penglihatan kurang klien menggunakan kacamatan, letak simentris, sklera anikterik, conjungtiva anemis, sekret tidak ada, pupil isokor, reflek cahaya positif. 3) Telinga : Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada pengeluaran cairan serumen, tidak ada penumpukan serumen, tidak ada gangguan pendengaran. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan. 4) Hidung : Inspeksi : Bentuk simetris, klien mampu membedakan bau-bauan,mukosa kering, benjolan tidak ada, 58 polip tidak ada, tidak ada tanda-tanda peradangan. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan. 5) Mulut : Inspeksi : Mukosa bibir terlihat kering, lidah terlihat kotor, tidak ada lesi, tidak ada stomatitis, lidah terasa pahit, tidak ada karies. b. Leher : Inspeksi : Tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan. c. Thorak Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada benjolanatau bekas luka operasi, tidak ada alat bantu pernafasan. Auskultasi : Irama jantung teratur, bunyi jantung 1 normal, bunyi jantung II normal, bunyi nafas vesikuler, tidak ada wheezing, tidak ada ronchi. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan. Perkusi : Redup, resonan pada lapang paru. d. Abdomen : Inspeksi : Terlihat distensi, tidak ada benjolan, terdapat bekas luka operasi. Auskultasi : Bising usus 12 x/menit. 59 Palpasi : Nyeri tekan epigastrik (+), tidak ada pembesaran hepar atau limpa. Perkusi : Timpani. e. Ekstermitas : Atas : Akral dingin, udema tidak ada, tangan kiri terpasang infus dan sedang transfusi darah. Bawah: Akral dingin, tidak ada varises, klien jarang menggerakan kakinya karena masih merasa lemah. Kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah : 4444 4444 4444 4444 4. Data Psikologi : Saat dikaji ekspresi wajah klien terlihat cemas terhadap penyakit yang dialami, dan klien berharap cepat sembuh. 5. Data Sosial Ekonomi Klien adalah seorang wanita karier yang bekerja di balai POM dikarenakan klien sedang sakit perkerjaan klien jadi terganggu dan klien tidak dapat masuk kerja.Klien mengatakan kebiasaan sehari-hari klien sebelum tidur klien menggunakan obat seprot nyamuk, klien tidur tidak menggunakan kelambu, klien mengatakan pada ventilasi rumah tidak terpasang kawat kasa, klien juga tidak memiliki kandang ternak, klien tinggal pada wilayah pemukiman yang padat,tidak terdapat genangan air pada sekitar rumah klien, namun hanya terdapat selokan didepan rumah namun telah ditutup 60 dengan semen dan hanya terbuka sedikit, klien mengatakan keadaan sekitar lingkungan rumahnya kurang bersih karena klien sibuk dengan pekerjaan dan mengurus anak-anaknya sehingga tidak terlalu memperhatikan keadaan rumah. 6. Data Spiritual Kepercayaan yang dianut klien adalah agama islam, klien rajin beribadah sewaktu dirumah namun selama dirumah sakit klien tidak melakukan ibadah seperti : sholat dikarenakan fisiknya lemah. Bagi klien sakit yang dideritanya adalah cobaan yang diberikan oleh ALLAH SWT dan pasti akan ada hikmahnya di kemudian hari. 7. Data penunjang : tanggal 17 Maret 2019, pukul 10.30 WITA. Tabel 3.1 Data Penunjang Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan Hematologi : Hemaktokrit Haemoglobin Leokosit Trombosit L 23 L 7,5 H 17,4 320.000 % Gr/dl 10^3/µl Sel/mmµ3 40 – 54 12.0 – 16.0 4.0 – 10.0 150.000 – 400.000 Malaria/DDR : Plasmodium vivax Kimia klinik : Ureum serum Kreatinin serum Glukosa sewaktu : Glukosa sewaktu (+) Positif (-) Negatif 29.0 0.6 Mg/dl Mg/dl 20 -40 0.5 -1.2 H 167 Mg/dl 70 – 120 61 8. Penatalaksanaan Medis : Tabel 3.2 Penatalaksanaan Medis Terapi tanggal 17 /3/ 2019 Terapi tanggal 18/03/2019 Intra vena : Infus RL 20 tts/menit D5% 20 tts/menit Ondan sentron 1 x 1 Ranitidin 2 x 1 Cefotaxime 2 x 1 Obat oral : Paracetamol 3 x 1 Dexanta sirup 3 x 1 Neorodex 2 x 1 Vometa 3 x 1 Omeparazole 1 x 1 Malarex (4) – 4 – 2 Intra vena : Infus RL 20 tts/menit D5% 20 tts/menit Transfusi 1 k Pre transfusi : 6) NaCl 7) Dexamethasone 8) Dhipinehidramine Cefotaxime 2 x 1 Obat oral : Malarex (4) – (4) – 2 Dexanta sirup 3x1 Vometa 3x1 Neorodex 2 x 1 Omeparazole 1 x 1 Paracetamol 3 x 1 Terapi tanggal 19 /3/ 2019 Terapi tanggal 20/03/2019 Intra vena : Infus RL 20 tts/menit D5% 20 tts/menit Transfusi 1 k Pre transfusi : 9) NaCl 10) Dexamethasone 11) Dhipinehidramine Cefotaxime 2 x 1 Obat oral : Malarex (4) – (4) – (2) Dexanta sirup 3x1 Vometa 3x1 Neorodex 2 x 1 Omeparazole 1 x 1 Paracetaamol 3 x 1 Intra vena : Infus RL 20 tts/menit D5% 20 tts/menit Transfusi 1 k Pre transfusi : 12) NaCl 13) Dexamethasone 14) Dhipinehidramine Cefotaxime 2 x 1 Obat oral : Clobazam untuk malam 1 x 1 Neorodex 2 x 1 Omeparazole 1 x 1 Donperidon 3 x 1 Dexanta sirup 3x1 Paracetamol 3x1 62 Terapi tanggal 21 /3/ 2019 Intra vena : Infus RL 20 tts/menit D5% 20 tts/menit Cefotaxime 2 x 1 Obat oral : Clobazam 1 x 1 Neorodex 2 x 1 Omeparazole 1 x 1 Donperidon 3 x 1 Scopamin 3 x 1 9. Terapi tanggal 22 /3/ 2019 Intra vena : Infus RL 20 tts/menit D5% 20 tts/menit Cefotaxime 2 x 1 Obat oral : Clobazam 1x1 Neorodex 2x1 Omeparazole 1x1 Donperidon 3x1 Scopamin 3x1 Paracetamol 3x1 Kebiasaan sehari – hari Tabel 3.3 Kebiasaan sehari-hari Kebiasaan Dirumah Dirumah sakit Nutrisi : A. Makan - Pola makan 3x sehari 3 x sehari - Porsi 1 porsi 3 sendok makan - Jenis makanan Nasi, lauk, sayur, dan Bubur, nasi, buah, susu, buah sayur - Pantangan Tidak ada Makanan yg pedas - Kesulitan Tidak ada Mual, nyeri pada uluh B. Minum hati, lidah terasa pahit ï€ Jenis Air putih, sirup, dan teh Air putih, susu ï€ Frekuensi 1750 cc – 2000 cc /hari 1500 – 1750 cc / hari ï€ Kesulitan Tidak ada Mual ï€ Pola BAB 1 x sehari 1x sehari Konsistensi Lembek Lembek Bau Khas Khas Warna Kuning Kuning Eliminasi : 63 Kesulitan Tidak ada Tidak ada Frekuensi 4 – 5 x sehari 3 -4 x sehari Warna Kuning Kuning Kesulitan Tidak ada Tidak ada 2 x sehari 2x ï€ Pola BAK Personal Hygiene ï€ Mandi (dilap oleh ibu dengan air hangat). Istirahat / tidur : ï€ Frekuensi 6 – 8 jam / hari 4-6 jam / hari ï€ Kesulitan Tidak ada Tubuh sering terasa panas ketika malam hari, sering berkeringat, nyeri pada sendi tulang dan otot, tubuh terasa pegal-pegal sehingga tidur menjadi terganggu. Pola aktivitas Klien dapat melakukan Klien aktivitas sendiri seperti tubuhnya mandi, makan aktivitas lainya. mengatakan lemah. dan Aktivitas klien seperti makan, minum, personal hygiene dan eliminasi dibantu oleh keluarga dan perawat. 10. Status nutrisi BB : 49 kg TB : 155 cm 64 IMT : Indeks Masa Tubuh IMT : BB Kg TB2 (m) : 49 kg (1,55 m)2 : 49 kg 2.4025 m : 20.4 (Normal) Ket : <20 20 -25 : Underweight : Normal 25 – 30 : overweight >30 obesitas : 65 Analisa Data Tabel 3.4 Analisa Data No Data focus Interprestasi data Masalah 1 Ds : Klien mengeluh kepalanya terasa pusing. Do : ï‚· Keadaan umum : Lemah ï‚· TTV : Tensi darah : 110/70 mmHg Nadi : 90 x/menit Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 370C Invasi parasit malaria Perubahan perfusi jaringan 2 ï‚· Akral dingin ï‚· Kulit pucat ï‚· Klien tambak gelisah ï‚· Hb : 7,5 Gr/dl ï‚· Conjungtiva anemis ï‚· Mukosa bibir tampak kering ï‚· Hasil pemeriksaan DDR (+) Ds : klien mengeluh tubuhnya terasa panas, panas yang dirasakan hilang timbul, dan paling sering muncul ketika malam hari. Do : ï‚· Tubuh klien teraba panas ï‚· Suhu 380C ï‚· Hasil pemerikasaan DDR (+) ï‚· Klien tampak gelisah ï‚· Mukosa bibir tampak kering Jumlah skizon yang pecah dalam sirkulasi meningkat, penekanan proses hematopoiesis, dan peningkatan pembersihan sel darah di limpa Anemia dan hipovolemi (penurunan aliran darah) Plasmodim mencapai jaringan serebral Sumbatan kapiler pembuluh darah otak oedema serebri anoksia otak Penurunan perfusi jaringan Invasi parasit malaria Jumlah skizon yang pecah dalam sirkulasi meningkat, penekanan proses hematopoiesis, dan peningkatan pembersihan sel darah di limpa Respons imflamasi sistemik Peningkatan sirkulasi endoktoksin pada hipotalamus Perubahan regulasi temperatur 66 Hipertermi Muncul demam 3 Ds : Klien mengatakan bahwa klien tidak nafsu makan dan perutnya terasa mual,dan pernah muntah 1x, lidah terasa pahit dan uluh hati terasa nyeri. Do : ï‚· Porsi makan yang dihabiskan terlihat hanya 3 sendok makan ï‚· Keadaan umum tampak lemah ï‚· BB : 49 kg ï‚· Tinggi badan : 155 cm ï‚· Klien tampak pucat ï‚· Mukosa bibir tampak kering Hipertermi Invasi parasit malaria Resiko ketidakseimbanga Jumlah skizon yang pecah n nutrisi kurang dalam sirkulasi dari kebutuhan meningkat, penekanan proses hematopoiesis, dan peningkatan pembersihan sel darah di limpa Respon intestinal P. mencapai sirkulasi saluran cerna Pelepasan serotonin 5HT3 ke dalam usus halus Saraf vagus menyampaikan rangsangan ke CTZ, syaraf eferen dan kortek serebral Pusat Muntah (Postrema medula oblongata) Mual, muntah, anoreksia Intake nutrisi tidak adekuat Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan 4 Ds : klien mengeluh tubuhnya terasa nyeri pada persendian danjuga otot tubuh terasa pegalpegal. Do : ï‚· Klien tampak meringis kesakitan ï‚· Klien taampak gelisah ï‚· Skala nyeri 3 (1-5) Invasi parasit malaria Jumlah skizon yang pecah dalam sirkulasi meningkat, penekanan proses hematopoiesis, dan peningkatan pembersihan sel darah di limpa Respons imflamasi 67 Nyeri dan ketidaknyamanan sistemik 5 Mialgia, arthralgia Ds : Klien mengatakan Invasi parasit malaria Gangguan tubuhnya terasa aktifitas lemas. Jumlah skizon yang pecah Do : dalam sirkulasi meningkat, penekanan ï‚· Klien tampak lemah proses hematopoiesis, dan ï‚· Aktivitas klien hanya peningkatan pembersihan ditempat tidur ï‚· Semua kebutuhan klien sel darah di limpa, intake yang kurang dibantu oleh keluarga dan perawat Anemia dan hipovolemi, ï‚· Kekuatan otot kekurangan energi 4444 4444 Respon muskuloskeletal 4444 4444 Kelemahan fisik umum, malaise 6 Ds : Klien dan keluarga mengatakan tidak tahu tentang penyakit malaria dan cara penularan penyakit malaria. Do : ï‚· Keluarga dan klien tidak menjawab ketika ditanya tentang cara penularan penyakit malaria dan cara pencegahanya, keluarga dan klien hanya mengelengkan kepala. ï‚· Keluarga bertanya tentang apa penyakit yang di derita keluarganya. Gangguan aktivitas sehari-hari Invasi parasit malaria Kurang informasi tentang cara penularan penyakit malaria Resiko penularan penyakit 68 Resiko penularan penyakit malaria. B. Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. 2. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme,efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. 3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat : anorexia, mual/muntah. 4. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia. 5. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 6. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup. C. Intervensi Keperawatan Tabel 3.5 Intervensi Keperawatan No 1 Diagnosa keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional hasil 1. Memantau Tujuan : setelah 1. Memeriksa dilakukan tanda-tanda perkembangan perawatan dalam vital. tekanan darah waktu 4x24 jam dan perubahan pada tekanan tidak terjadipenurunan nadi. Hipotensi tingkat kesadaran akan berkembang dan dapat bersamaan dengan kuman mempertahankan yang menyerang cardiac output secara adekuat darah. guna meningkatkan 2. Catat adanya 2. Keluhan pusing keluhan merupakan perfusi jaringan. pusing. manifestasi penurunan suplai 69 Kriteria hasil : darah ke jaringan otak. ï‚· Tanda-tanda 3. Kurangi 3. Respons valsava vital normal aktivitas yang akan ï‚· Klien tidak merangsang meningkatkan mengeluh timbulnya beban jantung pusing respons sehingga akan ï‚· Klien tidak valsava/ menurunkan gelisah aktivitas. curah jantung ke ï‚· Tidak terdapat otak. sianosis 4. Tingkatkan 4. Menurunkan ï‚· Kulit segar tirah baring. beban kerja ï‚· Hemoglobin miokard dan normal konsumsi ï‚· Akral hangat oksigen, ï‚· Conjungtiva memaksimalkan ananemis efektifitas dari ï‚· Mukosa bibir perfusi jaringan. tampak lembab 5. Observasi 5. Bukti aktual ï‚· Hasil perubahan terhadap pemeriksaan sensori dan penurunan aliran DDR (-) tingkat darah ke jaringan kesadaran serebral adalah pasien yang adanya perubahan menunjukan respons sensori penurunan dan penurunan perfusi otak tingkat kesadaran (gelisah, pada fase akut. confuse/bingu Adanya ng, apatis, kegagalan harus somnolen). dilakukan monitoring ketat. 6. Kolaborasi 6. Jalur yang paten Pemberian penting untuk transfusi darah pemenuhan lisis PRC (packed darah sebagai red cells). intervensi kedaruratan. 70 2 Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. Tujuan : Setelah dilakukan perawatan dalam waktu 4x24 jamterjadi penurunan suhu tubuh dan panas tidak berulang. Kriteria hasil : ï‚· Pada palpasi tubuh teraba tidak panas ï‚· Suhu tubuh normal ï‚· Mukosa bibir lembab ï‚· DDR (-) ï‚· Klien tidak gelisah ï‚· Klien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan. ï‚· Klien mampu termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah diberikan. 71 1. Evaluasi TTV 1. Sebagai pengawasan pada setiap terhadap adanya pergantian sif perubahan atau setiap ada keadaan umum keluhan dari klien sehingga klien. dapat dilakukan penanganan dan perawatan secara cepat dan tepat. baju 2. Anjurkan klien 2. Dengan yang tipis dan untuk menyerap memakaikan pakaian yang keringat diharapkan klien tipis dan dapat tidak gerah dan menyerap panas tubuh akan keringat. turun. 3. Pemberian 3. Anjurkan selimut memberikan digunakan untuk selimut bila mengurangi menggigil. ketidak nyamanan pada saat demam dan menggigil sebagai respon sekunder dari hipertermi. 4. Beri kompres 4. Terjadi vasodilatasi dengan air hangat - hangat pembuluh darah, sehingga terjadi kuku pada aksila, lipat penguapan (evaporasi). paha, dan temporal bila terjadi panas. 5. Berikan klien 5. Dengan banyak minum dapat banyak minum menggantikan 2000-3000 cc/hari. cairan yang hilang. 6. Pemberian cairan 6. Kolaborasi infus dapat untuk mencegah pemberian terjadinya cairan infus. kekurangan cairan serta untuk mengganti cairang tubuh yang hilang. 7. Kolaborasi 7. Anti piretik dapat untuk merangsang pemberian hipotalamus antipiretik, anti untuk malaria, dan menurunkan suhu anti biotik. tubuh, pemberian anti malaria dapat membunuh parasit/plasmodiu m penyebab malaria, antibiotik untuk mengatasi infeksi. 8. Atur 8. Kondisi ruang lingkungan kamar yang tidak yang konduksif. panas, tidak bising, dan sedikit pengunjung memberi efektivitas terhadap proses penyembuhan. 3 Resiko ketidakseimb angan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat: anorexia, mual/muntah. Tujuan : Setelah dilakukan perawatan dalam waktu 5x24 jam kliendapat mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat. Kriteria hasil : ï‚· Berat badan klien normal seimbang dengan tinggi badan ï‚· Klien mampu menghabiskan porsi makan yang disajikan ï‚· Keadaan umum klien membaik 72 1. Kaji 1. Tingkat pengetahuan pengetahuan klien tentang dipengaruhi oleh intake nutrisi. kondisi sosial ekonomi klien. Perawat mengunakan pendekatan yang sesuai dengan kondisi individu klien. Dengan mengetahui tingkat pengetahuan tersebut, perawat dapat lebih terarah dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan ï‚· Mual, muntah berkurang ï‚· Mukosa bibir tampak lembab 2. Anjurkan klien agar makan makanan dalam keadaan hangat. 3. Anjurkan klien untuk makan makanan lunak dalam porsi kecil tapi sering 4 Nyeri dan ketidaknyam anan berhubungan dengan respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia. Tujuan : Setelah dilakukan perawatan dalam waktu 4x24 jam terjadi penurunan keluhan nyeri dan ketidaknyamanan. Kriteria hasil : ï‚· Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi ï‚· Skala nyeri 0-1 (1-4). Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan 73 pengetahuan klien secara efisien dan efektif. 2. Untuk mengurangi perasaan pahit pada lidah. 3. Untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung sehingga tidak terjadi mual dan muntah. 4. Dapat meningkatkkan masukan makanan klien. 4. Diskusikan makanan yang disukai klien dan masukan dalam diet murni. 5. Kolaborasi 5. Anti emetik dapat pemberian obat mengurangi mual anti emetik dan muntah. 6. Monitor 6. Penimbangan perkembangan berat badan berat badan. dilakukan sebagai evaluasi terhadap intervensi yang diberikan. 1. Jelaskan dan 1. Pendekatan bantu klien dengan dengan menggunakan tindakan relaksasi dan pereda nyeri nonfarmakologi nonfarmakolo lainya telah gi dan menunjukan noninvasif. keefektifan dalam mengurangi nyeri. 2. Istirahatkan 2. Istirahat secara klien pada saat fisiologis akan nyeri muncul. menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan atau menurunkan nyeri ï‚· Klien tidak 3. Ajarkan teknik relaksasi gelisah pernafasan dalam pada saat nyeri muncul. 4. Manajemen lingkungan, Lingkungan yang tenang, batasi pengunjung, istirahatkan klien. 5. Tingkatkan pengetahuan tentang sebabsebab nyeri. 5 Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan Tujuan : Setelah dilakukan perawatan dalam 5x24jam klien dapat melakukan 74 metabolisme basal. 3. Meningkatkan intake oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spina. 4. Lingkungan yang tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan. Istirahat akanmenurunkan kebutuhan oksigen jaringan perifer. 5. Pengetahuan mengenai hal yang akan di rasakan membantu mengurangi nyerinya dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik. 1. Observasi 1. Untuk respons klien mengidentifikasi terhadap indikasi aktivitas. kemajuan atau penyimpangan fisik. aktivitas sesuai dengan kemampuanya. dari hasil yang diharapkan. 2. Awasi tanda – 2. Agar mengetahui Kriteria hasil : tanda vital perubahan selama dan kelemahan dan ï‚· Klien mampu kekuatan pada sesudah melakukan aktivitas. pasien. aktivitas sendiri ï‚· Badan klien tidak 3. Tirah baring lemah lagi dan 3. Tingkatkan tirah baring. meningkatkan kekuatan otot istirahat dan membaik ketenangan klien ï‚· Tanda-tanda vital serta menyediakan dalam batas energi yang normal digunakan untuk penyembuhan. 4. Atur posisi 4. Agar klien bisa pasien beristirahat dan senyaman memulihkan mungkin kesehatan. 5. Berikan 5. Membantu klien bantuan dalam bila perlu, untuk aktivitas seharimeninggkatkan hari bila perlu. kepercayaan diri bila klien dapat melakukan aktivitas sendiri. 6. Libatkan 6. Membangun keluarga dalam hubungan yang pemenuhan kooperatif antara kebutuhan perawat dan klien. keluaraga. 6 Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola Tujuan : Setelah dilakukan perawatan dalam waktu 3x24 jampenularan penyakit malaria tidak terjadi. Kriteria hasil : ï‚· Klien dan keluarga dapat menjelaskan kembali apa itu penyakit malaria 75 1. Beri 1. Klien dan penjelasan keluarga dapat tentang apa itu menjelaskan penyakit kembali dan malaria, cara menentukan penularan pencegahan penyakit penyakit malaria malaria dan secara dini. pencegahanya. 2. Anjurkan 2. Dengan keluarga dan lingkungan yang klien untuk bersih dan memelihara nyaman nyamuk dan tidak akan hidup. dan penularan penyakit malaria. cara meningkatkan berkembang biak. kebersihan diri dan lingkunganya. 3. Anjurkan klien 3. Akan mencegah dan keluarga terjadi penularan. ï‚· Klien dan untuk Keluarga dapat membasmi menyebutkan sarang nyamuk cara pencegahan atau tempat malaria. berkembang biak nyamuk. D. Implementasi Keperawatan N o Tanggal/ Jam 1 18/03/2019 11.00 WITA Tabel 3.6 Implementasi Keperawatan Diagnosa Implementasi keperawatan Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. Respon hasil Paraf 1. Memeriksa tanda- 1. TTV : Irma R tanda vital dan TD : 110/70 mmHg menanyakan Nadi : 90 x/menit keluhan klien. RR : 22 x/menit Suhu : 37 0C Klien mengatakan tubuhnya sering merasakan panas dan berkeringat. Malam tadi tubuh klien terasa panas klien menjadi susah untuk tidur, seluruh tubuh dirasakan pegal-pegal dan terasa nyeri pada persendian dan otot skala nyeri 3 (1-5). 2. Klien mengeluh 2. Menanyakan kepalanya terasa adanya keluhan pusing. pusing. 3. Klien mau 3. Menyarankan mendengarkan kepada klien untuk anjuran perawat mengurangi dan klien hanya aktivitas yang beristirahat merangsang ditempat tidur. timbulnya respon valsava/aktivitas. 76 4. Menganjurkan 4. Klien mau klien untuk mendengarkan meningkatkan tirah anjuran perawat baring. dan klien tidur dengan satu bantal. 5. Klien tampak 5. Observasi gelisah. perubahan sensori dan tingkat kesadaran pasien yang menunjukan penurunan perfusi otak (gelisah, confuse/bingung, apatis, somnolen). 6. Transfusi darah 6. Memantau tetesan telah diberikan. transfusi darah. Pada pukul 10.00 (Pemberian WIB. Sebelum transfusi darah tranfusi darah PRC (packed red terlebih dahulu cells). diberikan, NaCl, dexamethasone, Dhipinehidramine. Dengan tetesan 30 gtt/menit. Transfusi darah PRC habis pukul 13.00 WIB langsung ganti dengan NaCL dengan tetesan 20 gtt/menit. 2 18/03/2019 11.30 WITA Hipertermi 1. Menganjurkan 1. Klien mengatakan berhubungan klien untuk iya bila tubuhnya dengan menggunakan terasa panas klien pakaian yang tipis peningkatan akan menggunkan Irma R metabolisme, dan dapat pakaian yang tipis menyerap keringat efek langsung dan menyerap sirkulasi kuman bila tubuh terasa keringat. pada panas. hipotalamus. 2. Klien mengatakan iya bila tubuh 2. Menganjurkan kedinginan atau klien untuk menggigil klien menggunakan akan menggunakan selimut bila tibaselimut. tiba tubuh menjadi 77 dingin menggigil. dan 3. Klien mengatakan iya klien akan melakukan kompres 3. Menganjurkan dengan air hangat klien untuk bila tubuhnya nanti melakukan terasa panas. kompres air hangat bila tubuh terasa 4. Klien mengatakan panas. iya klien akan banyak-banyak minum 4. Menganjurkan klien untuk banyak minum 2000- 5. Cairan infus telah 3000cc/hari / 9 di berikan gelas/hari. berdasarkan terapi yaitu RL dan D5% 5. Melaksanakan dengan tetesan 20 pemberian cairan gtt/menit. infus. 6. Klien mengatakan klien akan meminum obatnya tepat waktu sesuai 6. Melaksanakan instruksi yang telah pemberian obat diberikan obat klien antipiretik, anti pada hari ini yaitu malaria, dan anti malarex 4-(4)-2, biotik paracetamol 3x1, cefotaxime 2x1. 3 18/03/2019 12.00 WITA Resiko 1. Mengkaji 1. Klien mengatakan ketidakseimbang pengetahuan klien makanan yang an nutrisi kurang tentang intake sehat terdiri dari dari kebutuhan nutrisi. empat sehat lima sempurna, yang tubuh berhubungan mengandung dengan intake karbohidrat, yang tidak protein, lemak, vitamin, mineral dekuat: dan air yang cukup. anorexia, mual/muntah. Minum sebanyak 8 gelas/hari,makan secara teratur 3x/hari. Klien membeli makanan tambahan yang dibeli diluar seperti 78 Irma R buah,roti dan khasiat sari kurma (untuk menyembuhkan anemia) yang dialami Ny. T. 2. Menganjurkan 2. Klien langsung klien agar makan memakan makanan makanan dalam yang telah diantar keadaan hangat. oleh ahli gizi (makan siang). 3. Menganjurkan 3. Klien terlihat hanya klien untuk makan menghabiskan 3 makanan lunak sendok makan. dalam porsi kecil mual (+), muntah (tapi sering. ), lidah terasa pahit nyeri pada uluh hati. 4. Diskusikan 4. Klien mengatakan makanan yang selera makan bubur disukai klien dan ayam. Dan sudah masukan dalam diberikan oleh diet murni. keluarga namun klien hanya makan 2 sendok. Dengan alasan keluhan yang sama lidah terasa pahit, nyeri pada uluh hati, mual (+), muntah (). 5. Klien sudah 5. Melaksanakan meminum obat pemberian obat sesuai dengan anti emetik. instruksi dokter. Vometa 3x1 PO untuk mengurangi mual,omeparazole untuk menghambat produksi asam lambung 1x1, dexanta sirup 3x1 untuk menetralkan asam lambung. 79 Neorodex sebagai multivitamin B1,B6 dan B12 pemberian 2x1 PO. 6. Memonitor perkembangan berat badan klien. 4 18/03/2019 13.15 WITA 6. Berat badan klien 49 kg. Nyeri dan 1. Menjelaskan dan 1. Klien mau untuk ketidaknyamana membantu klien melakukan saran n berhubungan dengan tindakan perawat dengan dengan respons pereda nyeri meredakan nyeri inflamasi nonfarmakologi secara alami tanpa sistemik, dan noninvasif. dengan mialgia, menggunakan obat artralgia. pereda nyeri. 2. Mengajarkan 2. Klien mengerti dan teknik manajemen paham cara nyeri keperawatan, meredakan nyeri dengan yaitu dengan menganjurkan beristirahat saat klien beristirahat nyeri muncul, bila merasakan menarik nafas nyeri, mengajarkan dalam pada saat teknik relaksasi terasa nyeri, dan pernafasan dalam mengatur pada saat nyeri kenyamanan tubuh muncul, dan dan lingkungan. mengatur kenyamanan dan lingkungan klien seperti membatasi pengunjung untuk tidak terlalu ramai demi kenyamanan klien. 3. Ny. T mengerti 3. Meningkatkan dengan apa pengetahuan klien penyakit yang di tentang sebabalaminya tubuhnya sebab nyeri terasa sakit dan mengapa Ny. T pegal-pegal bisa terasa sakit disebabkan parasit pada sendi dan malaria yang tulang, dan juga terdapat dalam 80 Irma R pada otot, seluruh tubuh terasa pegalpegal itu semua karena penyakit yang Ny. T alami yaitu malaria keluhan tersebut merupakan respon dari proses penyakit malaria. 5 18/03/2019 13.30 WITA Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. tubuhnya sehingga menimbulkan gejala. 1. Mengobservasi 1. Klien mengatakan apabila dibawa respons klien terhadap aktivitas. duduk/ berdiri seperti ingin kekamar mandi kepala terasa pusing. Jadi klien hanya berbaring ditempat tidur. 2. Mengawasi tanda- 2. Klien mengatakan tanda vital selama apabila setelah di dan sesudah bawa duduk atau aktivitas. beraktivitas seperti kekamar mandi denyut jantung berdebar-debar cepat dan kuat. Namun sebaliknya bila di bawa tiduran atau istirahat denyut jantung normal. 3. Menganjurkan 3. Klien mau klien untuk menerima saran meningkatkan tirah perawat klien tidur baring. untuk beristirahat. 4. Klien tidur dengan 4. Mengatur posisi satu bantal, dan klien senyaman menggunakan mungkin. selimut. 5. Memberikan 81 5. Membantu saat klien klien mau Irma R bantuan dalam aktivitas seharihari bila perlu. 6. Memberitahukan keluarga untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan klien dan memberikan bantuan dalam aktivitas klien. 1 19/03/2019 08.30 WITA Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. kekamar mandi. 6. Keluarga menerima saran perawat, setiap kebutuhan dan aktivitas klien di bantu oleh keluarga seperti membantu mengantar klien untuk kekamar mandi, membantu untuk menyuapi makanan, membantu memenuhi kebutuhan kebersihan tubuh klien seperti mengelap tubuh klien. 1. Memeriksa tanda- 1. TTV : tanda vital dan TD : 110/70 menanyakan Nadi : 84 x/menit keluhan klien. RR : 20 x/menit Suhu : 380C Mukosa bibir tampak kering, conjungtiva anemis. Klien mengeluh malam tadi tidur pukul 24.00 WITA dan terbangun jam 03.00 WITA pagi klien terbangun karena tubuh berkeringat sampai baju klien basah, sendi dan otot terasa sakit skalanyeri 3(1-5), tubuh terassa pegal dan tubuh terasa panas, dan 82 Irma R dianjurkan oleh perawat untuk melakukan kompres air hangat dan meminum paracetamol namun panas tubuh tidak kunjung turun . 2. Menganjurkan 2. Klien mengganti klien untuk pakaian dengan menggunakan dibantu keluarga pakaian yang tipis menggunakan dan dapat pakaian yang tipis menyerap keringat. dan menyerap keringat. 3. Klien 3. Menganjurkan mengangguk klien untuk tanda menyetujui menggunakan dan menerima selimut bila tubuh saran perawat bila tiba-tiba terasa tubuh menggigil dingin/menggigil. gunakan selimut. 4. Keluarga ikut berpartisipasi dalam perawatan klien dan memberikan kompres pada daerah yang di anjurkan. 4. Menganjurkan keluarga untuk memberi kompres air hangat pada aksila, lipat paha, dan temporal pada klien agar panas klien turun. 5. Klien menerima saran perawat dan 5. Menganjurkan akan banyak klien banyak minum. Keluarga minum 2000-3000 meletakan air cc/hari. minum yang diisikan kedalam botol dan diletakan disamping tubuh klien. Bila sewaktu-waktu klien ingin minum 83 mudah dijangkau. untuk 6. Cairan infus sudah diberikan yaitu RL dengan tetesan 20 gtt/menit. 6. Melaksanakan pemberian cairan infus. 7. Klien telah melakukan minum obat sesuai 7. Melaksanakanpem dengan terapi berian antipiretik, yang diberikan anti malaria dan yaitu meminum anti biotik. paracetamol 3x1 sebagai anti piretik PO, malarex 4-4-(2) PO sebagai anti malaria, cefotaxime vial IV diberikan 2x1 oleh perawat pada pukul 18.00-06.00 sebagai anti biotik. 8. Mengatur lingkungan kondusif. 2 19/03/2019 09.00 WITA 8. Mengantikan laken dan sarung bantal klien, menghidupkan yang kipas angin, membatasi pengunjung. Dan menganjurkan keluarga untuk mengganti kompres dengan yang hangat kembali bila sudah terasa dingin. Nyeri dan 1. Menganjurkan 1. Keluarga ketidaknyamana klien untuk langsung n berhubungan meredakan nyeri memberikan dengan respons pada sendi dan bantuan kepada 84 Irma R inflamasi sistemik, mialgia, artralgia. otot, pegal-pegal pada tubuh dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dengan melakukan pemijatan/masase. klien dengan melakukan pemijatan pada tubuh klien dan kompres air hangat masih dilanjutkan. 2. Klien menerima 2. Menganjurkan saran perawat dan klien untuk langsung memperagakan memperagakan. teknik manajemen nyeri keperawatan yang telah diajarkan, untuk beristirahat bila nyeri muncul, teknik relaksasi pernafasan dalam. 3 19/03/2019 09.15 WITA Resiko ketidakseimbang an nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat: anorexia, mual/muntah. 2. Menganjurkan 2. Keluarga klien untuk makan langsung makanan dalam memberikan klien keadaan hangat. makan, menyuapi Irma R klien. 3. Menganjurkan klien untuk makan 3. Klien terlihat makanan lunak hanya dalam porsi kecil menghabiskan 4 tapi sering. sendok makan, klien mengeluh merasa tidak enak diperut, merasa 4. Mendiskusikan mual, lidah terasa makanan yang pahit, dan tersa disukai klien dan nyeri pada uluh masukan dalam hati. diet murni. 4. Klien mengatakan 5. Melaksanakan tidak berselera pemberian obat makan. anti emetik. 5. Klien telah meminum obat sesuai dengan terapi yang di berikan yaitu : 85 vometa 3x1 untuk mengurangi mual, omeparazole 1x1 PO untuk menghabat produksi asam lambung, dexanta sirup 3x1 sebagai penetral asam lambung, neorodex 2x1 PO sebagai multivitamin B1,B6,B12. 4 19/03/2019 11.00 WITA 5 19/03/2019 12.00 Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 1. Mengobservasi 1. Klien mengatakan respons klien apabila diibawa terhadap aktivitas. duduk ataupun berdiri kepala terasa pusing. 2. Membantu klien 2. Klien mau untuk mendengarkan meningkatkan tirah saran perawat dan baring, untuk klien tidur dengan memenuhi 1 bantal. kebutuhan istirahat dan tidur klien. 3. Merapikan tempat tidur klien, 3. Mengatur posisi menghidupkan pasien senyaman kipas angin. mungkin. 4. Slalu mengontrol 4. Memberikan keadaan klien dan bantuan kepada membantu klien klien dalam bila klien meminta aktivitas seharipertolongan. hari. 5. Keluaga siap membantu setiap 5. Memberitahu aktivitas klien. keluarga untuk membantu memenuhi keperluan dan aktivitas klien. Perubahan perfusi jaringan 1. Memeriksa tanda- 1. TTV : tanda vital TD 86 : 110/70 Irma R WITA berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. kliendan menanyakan keluhan pasien. mmHg Nadi : 90 x/menit RR : 20 x/menit Suhu : 370C Klien mengatakan setelah dilakukan kompres dan meminum paracetamol panas pada tubuh dirasakan turun. 2. Klien mengeluh kepalanya terasa 2. Mencatat adanya pusing apalagi bila keluhan pusing. dibawa berdiri atau duduk. 3. Menganjurkan klien untuk banyak-banyak beristirahat dan kurangi aktivitas. 3. Klien menerima saran perawat dan klien hanya berbaring ditempat tidur untuk beristirahat. 4. Klien menerima saran perawat klien 4. Menganjurkan sangat ingin untuk klien untuk tidur namun susah meningkatkan tirah sekali. baring dan banyakbanyak 5. Klien tampak beristirahat. gelisah. 5. Mengobservasi perubahan sensori darah dan tingkat 6. Transfusi PRC telah di kesadaran klien. berikan pada pukul 13.00 WIB, 6. Melaksanakan sebelum di beri pemberian transfusi darah transfusi terlebih PRC. dahulu telah diberikan NaCl, dexamethasone, Dhipinehidramine. Dengan tetesan transfusi 30 gtt/menit. 87 Irma R Transfusi selesai pukul 16.00 WITA dan langsung digantikan dengan NaCL dengan 20 gtt/menit. 1 20/03/2019 08.30 WITA Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. 1. Memeriksa tanda- 1. TTV: TD : 110/70 Mmhg tanda vital dan menanyakan Nadi : 90 X/Menit keluhan klien. RR : 20 X/Menit Irma R 0 Suhu : 37 C Klien mengeluh malam tadi klien susah untuk tidur klien tidur jam 1 dan terbangun jam 3 dan tidak bisa tidur lagi sampai sekarang, dikarenakan tubuh klien terasa panas, selalu berkeringat hingga pakaian yang klien gunakan lembab. tubuh klien dirasakan pegalpegal dan terasa nyeri pada persendian dan otot skala nyeri 3 (1-5). 2. Menganjurkan 2. Klien setuju dengan klien bila tubuh saran perawat, dan terasa panas dihariklien mengatakan hari berikutnya malam tadi klien gunakan pakaian telah menggunakan yang tipis dan pakaian yang tipis menyerap keringat. dan menyerap keringat namun tetap juga tubuh terasa panas dan berkeringat hingga pakaian menjadi lembab. 3. Menganjurkan 3. Klien mengatakan klien untuk bila malam tadi telah 88 tubuh terasa panas lakukan kompres dengan air hangat. dikompres dengan menggunakan air hangat. Setelah beberapa jam setelah pengompresan panas dirasakan turun. 4. Menganjurkan 4. Klien mengatakan klien banyak iya klien akan minum 2000-3000 banyak-banyak cc/hari atau minum. sebanyak 9 gelas/hari. 5. Infus yang 5. Melaksanakan terpasang RL pemberian cairan dengan tetesan 20 infus. gtt/menit. 6. Melaksanakan pemberian obat antipiretik, anti malaria, dan antibiotik. 7. Mengatur lingkungan konduksif. 89 6. Klien mengatakan akan meminum obat yang dii berikan tepat waktu dan rutin paracetamol 3x1 PO sebagai anti piretik, cefotaxime vial IV 2x1 diberikan oleh perawat pukul 06.00 dan 18.00 sebagai anti biotik. clobazam 1x1 diminum sebelum tidur malam nanti sebagai obat penenang agar bisa tidur. 7. Merapikan tempat tidur klien, yang menghidupkan kipas angin, membatasi pengunjung. 2 20/03/2019 09.00 WITA 3 20/03/2019 09.30 WITA Nyeri dan 1. Mebantu klien 1. Klien dan kluarga mengerti dengan ketidaknyamana dengan tindakan n berhubungan pereda nyeri non apa yang dikatakan dengan respons farmakologi dan perawat keluarga langsung inflamasi invansif seperti sistemik, melakukan mengoleskan minyak kayu putih mialgia, masase/pemijatan artralgia. pada seluruh tubuh pada tubuh klien klien atau dengan dan klien meminta untuk dilakukan mengoleskan minyak kayu putih pengerikan. Dan pada tubuh klien. kluargapun melakukan permintaan klien. Resiko 2. Menganjurkan 2. Keluarga langsung klien untuk makan memberikan klien ketidakseimbang an nutrisi kurang makanan dalam makan, klien makan keadaan hangat. masih dibantu dari kebutuhan disuapi oleh tubuh berhubungan keluarga. dengan intake yang tidak 3. Menganjurkan 3. Klien terlihat dapat klien untuk makan menghabiskan 6 dekuat: makanan lunak sendok makan ¼ anorexia, mual/muntah. dalam porsi kecil bagian dari tapi sering. makanan yang diberikan. 4. Diskusikan 4. Klien mengatakan makanan yang klien selera bubur disukai klien dan kacang hijau, lalu masukan dalam meminta keluarga diet murni. untuk membeli bubur kacang hijau, klien terlihat menghabiskan 4 sendok bubur kacang hijau, klien mengeluh perutnya terasa mual dan terasa nyeri pada uluh hati. 5. Klien meminum 5. Melaksanakan obat rutin sesuai pemberian obat dengan terapi yang antiemetik dan diberikan multivitamin. omeparazole 1x1 90 Irma R Irma R PO sebagai penghambat produksi asam lambung, dexanta sirup 3x1 PO sebagai penetral asam lambung, domperidon 3x1 PO sebagai obat anti emetik, neorodex 2x1 PO sebagai multivitamin B1,B6,B12. 4 20/03/2019 10.00 WITA Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 1. Mengobservasi 1. Klien mengatakan respon klien klien sudah bisa terhadap aktivitas. duduk apabila duduk di atas tempat tidur kepala klien sudah tidak merasa pusing lagi, tapi klo dibawa berjalan seperti ke kamar mandi kepala menjadi pusing. 2. Mengatur posisi 2. Meletakan bantal pasien senyaman sebagai sandaran mungkin. dibelakang tubuh klien agar klien dapat tahan lama untuk duduk. 3. Memberikan 3. Klien mengatakan bantuan dalam senang aktivitas seharimendapatkan hari klien bila bantuan dari perlu. perawat setiap hal yang dibutuhkan dapat minta tolong kepada perawat dan merasa diperhatikan. 4. eluarga bersedia 4. Menganjurkan membantu setiap keluarga untuk aktivitas klien dan 91 Irma R 5 20/03/2019 11.00 WITA Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. membatu setiap memenuhi aktivitas yang kebutuhanya. dibutuhkan klien. 1. Memeriksa tanda- 1. TTV : TD : 110/70 tanda vital klien mmHg dan keluhan klien. Nadi : 82 x/menit RR : 20 x/menit Suhu : 370C Klien mengatakan tubuhnya sudah merasa lebih enakan, nyeri terasa berkurang setelah diberi minyak kayu putih dan dikerik skala nyeri 1 (1-5). 2. Mencatat adanya 2. Klien mengatakan apabila dibawa keluhan pusing. duduk atau tidur kepalanya tidak terasa pusing namun bila dibawa berjalan atau berdiri kepala terasa pusing. 3. Klien menerima 3. Menganjurkan saran dari perawat klien untuk klien mengatakan mengurangi akan beristirahat. aktivitas yang merangsang timbulnya respon valsava/aktivitas. 4. Klien mengatakan klien ingin sekali 4. Menganjurkan bisa tidur namun klien untuk sulit. meningkatkan tirah baring. 5. Klien tampak gelisah. 5. Mengobservasi perubahan sensori dan tingkat kesadaran klien. 6. Transfusi darah telah di 6. Melaksanakan berikanpada pukul 92 Irma R pemberian PRC 12.00 WITA, sebelum trasfusi diberikan terlebih dahulu diberikan NaCl, dexamethasone, Dhipinehidramine. Dengan tetesan transfusi 30 gtt/menit. Transfusi selesai pukul 14.15 WITA dan langsung digantikan dengan NaCL dengan 20 gtt/menit. 6 20/03/2019 13.00 WITA Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup. 1. Memberikan 1. Klien dan keluarga pendidikan mendengarkan kesehatan tentang penjelasan perawat apa itu malaria, tentang penyakit Irma R bagaimana cara yang dideritanya penularan malaria, dengan baikdan apa gejala malaria, mengangguk tanda apa akibat penyakit mengerti.Klien dan malaria dan kluarga juga bagaimana mengajukan pencegahan pertanyaaan apakah malaria. Media penyakit malaria yang digunakan menular melalui berupa leaflet. semakan atau seminum dengan klien yang menderita penyakit malaria. Ketika dievaluasi klien dapat mengulang kembali materi yang telah disampaikan. 1 21/03/2019 09.00 WITA Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di 1. Memeriksa tanda- 1. TTV : tanda vital. TD : 110/70 mmHg Nadi :80 x/menit RR : 20 x/menit Suhu : 370C Klien mengatakan malam tadi setelah 93 Irma R perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. meminum obat clobazam sebelum tidur klien bisa tidur dengan nyenyak dari jam 23.0005.00. Tubuh klien masih dirasakan sering berkeringat namun sudah tidak merasa panas lagi. Dan tubuh klien merasa lebih enakan dan tidak terasa sakit lagi ataupun pegalpegal skala nyeri 0 (1-5). 2. Mencatat adanya 2. Klien mengatakan keluhan pusing. kepalanya sudah tidak merasa pusing lagi baik duduk ataupun berdiri namun apabila berjalan ke kamar mandi masih diperlukan bantuan karena tubuh klien masih merasa lemah. 3. Klien mau 3. Menganjurkan mendengarkan klien untuk sedikit saran perawat dan beraktivitas atau klien langsung mengubah posisi mengubah seperti duduk posisinya dari tidur jangan bebaring menjadi duduk terus. dengan bantal disandarkan dibelakang tubuh. 4. Mengobservasi perubahan sensori dan tingkat kesadaran klien. 4. Klien tampak tenang namun lemah (composmentis). 5. Hasil labor klien 94 2 21/03/2019 09.30 WITA Resiko ketidakseimbang an nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat: anorexia, mual/muntah. 5. Memeriksa hasil pada tanggal Labor 21/03/2019 yaitu 9 haemoglobin klien. gr/dl. 1. Menganjurkan 1. Klien langsung klien untuk makan memakan makanan makanan dalam yang telah keadaan hangat. disediakan oleh ahli gizi. 2. Menganjurkan 2. Klien terlihat klien untuk makan menghabiskan ¾ makanan lunak makanan yang ada. dalam porsi kecil tapi sering. 3. Diskusikan 3. Klien mengatakan makanan yang klien selera makan disukai klien dan nasi dengan sayur masukan dalam santan dan ikan diet murni. sambal, keluargapun memberikan makanan yang diinginkan klien, klien terlihat dapat mengahabiskan 6 sendok makan. 4. Klien mengatakan 4. Melaksanakan akan meminum pemberian obat obat yang diberika anti emetik. tepat waktu dan rutin obat yang tersedia untuk hari ini yaitu omeparazole 1x1 PO sebagai pengahambat produksi asam lambung, donperidon 3x1 PO sebagai anti emetik, scopamin 3x1 PO sebagai anti nyeri, neorodex 2x1 PO sebagai multivitamin B1,B6,B12, 95 Rina f cefotaxime vial IV diberikan oleh perawat 2x1 pada pukul 06.00 WITA dan 18.00 WITA sebagai antibiotik dan clobazam diminum sebelum tidur malam nantisebagai obat penenang. 5. Berat badan klien tetap 49 kg. 3 21/03/2019 10.15 WITA 4 21/03/2019 11.00 WITA Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup. 5. Monitor perkembangan berat badan. 1. Mengobservasi 1. Klien mengatakan respons klien klo berjalan terhadap aktivitas. seperti mau kekamar mandi masih diperlukan bantuan walau sudah tidak merasa pusing lagi ketika berjalan namun tubuh masih terasa lemah . 1. Mengingatkan 1. Klien kembali kepada menyebutkan klien dan keluarga malaria apa itu malaria, disebabkan oleh parasit bagaimana cara penularan malaria, (plasmodium) apa gejala malaria, ditularkan apa akibat penyakit kemanusia malaria dan melalui gigitan bagaimana nyamuk. Gejala pencegahan malaria dapat malaria. berupa menggigil, 2. Menganjurkan tidak nafsu keluarga dan klien makan, tubuh untuk memelihara terasa panas dan dan meningkatkan dapat kebersihan diri dan mengakibatkan lingkungan, karena anemia karena sel dengan lingkungan darah merah 96 Irma R Irma R yang nyaman nyamuk tidak akan berkembang biak. 3. Mengajurkan klien untuk membasmi sarang nyamuk atau tempat perkembangbiakan nyamuk yang ada disekitar rumah pada saat pulang nantiseperti menimbun genangan air, jangan terlalu banyak pakaian yang bergantungan. hancur dirusak oleh parasit. Cara pencegahan malaria dengan menghindardari gigitan nyamuk seperti tidur menggunakan kelambu, menggunakan obat penolak nyamuk, menggunakan pakaian tertutup bila perlu, memasang kawat kasa pada ventilasi dan membersihkan sarang nyamuk atau lingkungan. 2. Keluarga dan klien mengangguk tanda menyetujui saran perawat dan keluarga pun tampak membersihkan lingkungan sekitar tempat tidur klien. 3. Klien mengatakan iya ketika pulang nanti klien dan keluarga akan menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan dengan lebih baik lagi agar terhidar dari penyakit malaria atau penyakit lainya. 1 22/03/2019 Perubahan 1. Memeriksa tanda- 1. TTV 97 08.30 WITA perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. 2 22/03/2019 09.00 WITA Resiko ketidakseimbang an nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat: anorexia, mual/muntah. tanda vital dan menanyakan keluhan klien. TD :120/70 mmHg Nadi : 84 x/menit Irma R RR : 20 x/menit Suhu : 370C Klien mengatakan tubuhnya sudah merasa lebih baik sudah tidak merasapegal-pegal lagi ataupun nyeri pada sendi dan otot, kepala sudah tidak terasa pusing lagi. Tubuh sudah tidak terasa panas lagi dan berkeringat agak berkurang. Malam tadi klien nyenyak tidur klien tidur dari jam 22.00 WITA-05.00WITA. 1. Menganjurkan 1. Klien langsung klien untuk makan memakan makanan makanan dalam yang telah disediakan keadaan hangat. oleh ahli gizi. Irma R 2. Menganjurkan 2. Klien tampak klien untuk makan menghabiskan makanan lunak seluruh makanan dalam porsi kecil yang disajikan oleh tapi sering. ahli gizi. Mual (-), muntah (-) 3. Mendikusikan makanan yang 3. Klien mengatakan disukai klien dan klien selera makan masukan dalam bubur ayam, lalu diet murni. keluargapun pergi membelikan bubur ayam untuk klien dan terlihat klien dapat menghabiskan semua bubur ayam yang dibeli. Klien mengatakan perutnya sudah merasa enakan sekarang sudah 98 tidak ada rasa mual ataupun nyeri pada uluh hati. 3 22/03/2019 10.00 WITA Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 4. Melaksanakanpem berian obat anti emetik. 4. Klien mengatakan akan meminum obat yang diberika tepat waktu dan rutin obat yang tersedia untuk hari ini yaitu omeparazole 1x1 PO sebagai pengahambat produksi asam lambung, donperidon 3x1 PO sebagai anti emetik, scopamin 3x1 PO sebagai anti nyeri, neorodex 2x1 PO sebagai multivitamin B1,B6,B12, cefotaxime vial IV diberikan oleh perawat 2x1 pada pukul 06.00WITA dan 18.00 WITA sebagai antibiotik dan clobazam diminum sebelum tidur malam nanti sebagai obat penenang. 5. Memonitor perkembangan berat badan klien. 5. Berat badan klien 49 kg, tinggi badan 155 cm. 1. Mengobservasi 1. Klien mengatakan respons klien sudah bisa berjalan terhadap aktivitas. kekamar mandi sendiri tanpa bantuan, makan sendiri dan mengganti pakaian 99 Irma R 4 22/03/2019 11.00 WITA Resiko 1. Mengingatkan penularan kembali kepada penyakit malaria klien bila pulang berhubungan nanti diharapkan dengan kurang dapat melakukan pengetahuan pencegahan dari tentang penyakit gigitan nyamuk malaria, seperti yang telah diajarkan, menjaga kebersihan kebersihan diri dan lingkungan dan pola hidup. lingkungan dan bila muncul tanda dan gejala demam diharapkan keluarga dan klien dapat menerapkan cara penatalaksaan seperti yang telah diajarkan. 100 sendiri. Klien mengatakan tubuh klien sudah merasa lebih kuat dan tidak lemah lagi seperti kemarin. (Klien hari ini sudah boleh pulang oleh dokter dan melakukan perawatan dirumah/ rawat jalan. Karena keadaan klien sudah tampak membaik). 1. Klien dan keluarga mengatakan iya bila pulang kerumah nanti klien dan keluarga akan lebih menjaga kesehatanya agar tidak mudah sakit. Klien akan melakukan saran perawat akan melakukan pencegahan terhadap penyakit malaria dengan menghindar dari gigitan nyamuk dan membrantas sarang nyamuk dan lebih menjaga kebersihan lingkungan. Keluarga mengatakan trimakasih telah memberi pengalaman dalam merawat nanti apabila dikemudian hari ada yang sakit insyaallah klien akan menggunakan cara-cara yang telah diajarkan. D. Evaluasi Keperawatan Tabel 3.7 Evaluasi Keperawatan No Tanggal 1 21/03/2019 Diagnosa keperawatan Perubahan perfusi S : jaringan berhubungan dengan penurunan komponen O: seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. Evaluasi Paraf Klien mengatakan Irma R sudah tidak merasakan sakit kepala lagi. - TTV : TD : 100/70 mmHg Nadi : 80 x/menit Pernafasan: 20 x/menit Suhu : 370C - Akral teraba hangat - Kulit tampak segar - Haemoglobin 9 Gr/dl - Conjungtiva ananemis A : Masalah perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh dapat teratasi. 2 21/03/2019 P : Intervensi dihentikan. Hipertermia S : Klien mengatakan Irma R berhubungan dengan malam tadi setelah peningkatan meminum obat metabolisme, clobazam sebelum tidur efek langsung klien bisa tidur dengan sirkulasi kuman pada nyenyak dari jam hipotalamus. 23.00- 05.00. Tubuh klien masih dirasakan sering berkeringat namun sudah tidak merasa panas lagi. O: - TTV : TD : 100/70 101 mmHg Nadi : 80 x/menit Pernafasan: 20 x/menit Suhu : 370C - Pada palpasi tidak panas lagi - Mukosa bibir terlihat lembab A : Masalah hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus dapat teratasi. P : Intervensi dihentikan 3 22/03/2019 Resiko S : Klien mengatakan Irma R ketidakseimbangan perutnya sudah merasa enakan sekarang sudah nutrisi kurang dari tidak ada rasa mual kebutuhan tubuh berhubungan dengan ataupun nyeri pada intake yang tidak uluh hati. dekuat ; anorexia, O : mual/muntah. - Mual (-), Muntah (-) - Keadaan umum membaik - Klien tampak menghabiskan seluruh makanan yang disajikan oleh ahli gizi. - Berat badan : 49 kg - Tinggi badan : 155 cm A : Masalah resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, 102 mual/muntah teratasi. dapa P : Intervensi dihentikan. 4 21/03/2019 Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia. S : Klien mengatakan Irma R tubuhnya sudah merasa lebih enakan dan tidak terasa sakit lagi ataupun pegal-pegal, skala nyeri 0 (1-5). O: - Keadaaan umum klien tampak baik, dan klien tampak tenang. - Klien tidak meringis kesakitan lagi. A : Masalah Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia, diaforesis, dapat teratasi. P : Intervensi di hentikan. 5 22/03/2019 Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 103 S : Klien mengatakan Irma R sudah bisa berjalan kekamar mandi sendiri tanpa bantuan, makan sendiri dan mengganti pakaian sendiri. Klien mengatakan tubuh klien sudah merasa lebih kuat dan tidak lemah lagi seperti kemarin. O: - Klien tampak dapat melakukan aktivitasnya sendiri - Klien tampak lebih segar dan tidak terlihat lemah - Kekuatan otot A : Masalah Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik dapat teratasi. P : Intervensi dihentikan. 6 22/03/2019 Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup. S : Klien dan keluarga Irma R dapat menjelaskan dengan bahasanya sendiri tentang penyakit malaria cara penularan, penatalaksanaan yang dapat dilakukan dalam mengatasi demam malaria dan pencegahan penyakit malaria. O: - Klien dan keluarga dapat menjelaskan kembali cara-cara penularan penyakit malaria. - Klien dan keluarga dapat menjelaskan kembali tentang cara-cara pencegahan penyakit malaria. A : Masalah Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup dapat teratasi. P : Intervensi dihentikan. 104 Catatan perkembangan pulang : Tanggal 22 Maret 2019 Ny. T atas order dan saran dari dokter sudah diperbolehkan pulang untuk rawat jalan, keadaan umum membaik : TTV : TD :120/70 mmHg Nadi : 84 x/menit RR : 20 x/menit Suhu : 370C Obat yang diberikan omeparazole 1x1 PO, donperidon 3x1 PO, scopamin 3x1 PO, neorodex 2x1 PO, Paracetamol 3x1. Dan klien sudah tahu cara meminum obat tersebut dirumah dan tujuan dari masing-masing obat karena sudah dijelaskan cara pemberianya. 105 BAB IV PEMBAHASAN Dari hasil pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny. T dengan kasus Malaria di Ruang Interna RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton pada tahun 2019 yang dimulai dari tanggal 18/03/2019 sampai 22 Maret 2019 ditemukan beberapa persamaan atau kesenjangan antar teori yang ada dengan data yang di dapatkan. A. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Dalam mengumpulkan data ditemukan beberapa kesenjangan dan persamaan antara lain : pada riwayat kesehatan sekarang, pada Ny. T ditemukan keluhan Demam dirasakan sejak satu minggu yang lalu, tubuh menggigil merasa kedinginan, merasa mual yang disertai dengan muntah,nyeri pada uluh hati, lidah terasa pahit, tidak ada nafsu makan, kepala terasa pusing, tubuh terasa panas, sering berkeringat, seluruh tubuh dirasakan sakit (nyeri pada persendian dan juga otot) dan pegal-pegal,tubuh terasa lemah, dan klien mengeluh hasil labor haemoglobinnya rendah yaitu 7,5 gr/dl. Keluhan yang dialami oleh Ny. T tersebut sama dengan manifestasi klinis yang dapat ditimbulkan oleh malaria pada tinjauan teoritis. Akan tetapi ada beberapa gejala pada tinjauan teoritis yaitu pembesaran limpa (splenomegali) dan pembesaran hepar(hepatomegali) pada kasus Ny. T tidak penulis temukan. Menurut penulis hal ini disebabkan oleh malaria yang diderita Ny. T belum terlalu berat sehingga belum terjadi komplikasi lebih lanjut dimana belum terjadi kerusakan parenkim hati yang menyebabkan hepar dan limpa terkompensasi. 106 Pada riwayat kesehatan dahulu Ny. T ditemukan bahwa Ny. T dua tahun yang lalu pernah dirawat di RS selama tiga hari dengan alasan penyakit yang sama yaitu malaria. Berdasarkan tinjauan toritis bahwa malaria merupakan penyakit yang sewaktu-waktu dapat kambuh kembali di sebabkan oleh parasit malaria yaitu plasmodium vivax dan ovale memiliki stadium dormant (hipnozoit) berdiam dalam hati dan dapat kambuh kembali untuk menginvasi kembali kedalam darah beberapa minggu atau 1 tahun kemudian, ini sama dengan yang dialami oleh Ny. T yaitu penyakit malaria yang diderita mengalami kekambuhan (Muslim, 2009). Pada riwayat kesehatan keluarga terdapat keluarga Ny. T yang perna mengalami penyakit malaria yaitu suaminya, anak pertama dan anak kedua. Berdasarkan tinjauan teoritis menurut pendapat Handayani wiwik (2008) bahwa malaria merupakan infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan ke manusia melalui air liur nyamuk. Pada keluarga Ny. T sepertinya sudah terjadi penularan penyakit malaria antar keluarga sehingga terdapat keluarga selain Ny. T yang pernah mengalami penyakit malaria. Pada pengkajian kebiasaan hidup sehari-hari Ny. T pada kebutuhan nutrisi Ny. T selama dirumah sakit hanya makan 3sendok makan setiap makan beda dengan selama dirumah sewaktu sehat klien dapat menghabiskan 1 porsi makan. Klien menemukan kesulitan saat makan yaitu perut terasa mual, nyeri pada uluh hati, lidah terasa pahit. Pada kebutuhan istirahat dan tidur Ny. T kurang dari kebutuhan yang seharusnya/ biasanya sebanyak 6-8 jam menjadi 4-6 jam hal tersebut dikarenakan tubuh Ny. T sering terasa 107 panas, sering berkeringat, terasa nyeri pada sendi tulang dan otot, tubuh terasa pegal sehingga klien menjadi susah untuk tidur. Pada kebutuhan aktivitas klien klien hanya berada ditempat tidur semua aktivitas klien di bantu oleh keluarga di karenakan klien mengalami kelemahan fisik. Berdasarkan tanda dan gejala menurut pendapat Harijanto (2009) bahwa manifestasi klinis pada malaria serupa dengan yang dialami Ny. T yaitu merasa mual, muntah, tidak nafsu makan,terasa lesuh/lemah, demam yang dirasakn hilang timbul, nyeri pada sendi tulang dan otot, tubuh terasa pegal-pegal sehingga menyebabkan terganggunya kebutuhan istirahat dan tidur Ny. T. Berdasarkan data sosial ekonomi yang didapatkan pada pengkajian Ny. T adalah seorang wanita karir yang bekerja di balai POM, dikarenakan klien sedang sakit pekerjaan klien menjadi terganggu dan klien tidak dapat masuk kerja. Benar menurut pendapat Harijanto (2011) bahwa malariamerupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menurunkan produktivitas kerja. Pada tinjauan kasus hasil laboratorium Ny. T ditemukan beberapa persamaan pada tinjauan teoritis seperti leukosit darah tinggi : 17.400/mm3 (N = 4.000 – 10.000/mm3), Peningkatan jumlah leukosit ini (disebut Leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi, hemoglobin rendah (7,5 gr/dl) berdasarkan menurut pendapat zulkoni akhsin (2009) malaria dapat menyebabkan anemia dikarenakan sel darah merah lisis akibat siklus hidup parasit dan penghancuran sel darah merah baik yang terinfeksi maupun tidak terinfeksi oleh limpa. Hemaktokrit rendah (23%) penurunanpersentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah. 108 menunjukan Adapun kesenjangan yang ditemukan pada hasil laboratorium Ny. T yaitu trombosit normal (320.000 sel/mm3) ini mengalami kesenjangan dengan yang ada pada tinjauan teori yang seharusnya pada tinjauan teori jumlah trombosit sering menurun (N = 150.000- 400.000 sel/mm3) menurut penulis penyakit malaria yang diderita oleh Ny. T belum mengalami penghancuran trombosit yang berlebihan sehingga tidak terjadi trombositopenia (jumlah trombosit sering menurun terutama pada malaria berat).Pada pemeriksaan ureum serum dan kreatinin serum pada Ny. T normal yaitu ureum serum 29.0 mg/dl (N= 20-40 mg/dl) dan kreatinin serum 0.6 mg/dl (N= 0.5-1.2 mg/dl), ini menunjukan bahwa fungsi ginjal pada Ny. T masih baik dan Ny. T belum mengalami komplikasi lebih lanjut dari penyakit malaria yang diderita, yang mana menurut widoyono (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit malaria adalah GGA (urin <400Ml/24jam, dengan kreatinin darah >3 Mg/dl). Pada pemeriksaan glukosa sewaktu/BBS pada Ny. T tinggi yaitu 167 mg/dl (N=70-120 mg/dl) ini menunjukan bahwa Ny. Thiperglikemia sedangkan menurut widoyono (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada malaria adalah Hipoglikemia gula darah <40mg/dl menurut penulis Ny. T tidak mengalami hipoglikemia disebabkan penggunaan glukosa oleh parasit belum terlalu banyak sehingga tidak terjadi insufiensi insulin sehingga tidak terjadi hipoglikemia. B. Diagnosa Keperawatan Pada diagnosa keperawatan penulis hanya menganalisa data yang diperoleh dari pengkajian sebelum menegakan diagnosa keperawatan. Dalam asuhan keperawatan secara teori penulis menemukan 7 diagnosa keperawatan 109 yang muncul pada pasien malaria berdasarkan dari tanda dan gejala yang timbul menurut Muttaqin, 2011 adalah : 1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. 2. Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan diuresis osmotik, diaforesis. 3. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. 4. Aktual/resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah. 5. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia. 6. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. 7. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup. Sedangkan pada tinjauan kasus, penulis hanya menemukan 6 diagnosa keperawatan yang terdiri dari : 1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. Penulis menegakkan diagnosa ini karena menemukan data bahwa klien mengeluh kepalanya terasa pusing, akral teraba dingin, kulit pucat, klien 110 tampak gelisah, conjungtiva anemis, mukosa bibir tampak kering, Hb : 7,5 gr/dl, hasil pemeriksaan DDR (+), TTV : TD :110/70 mmHg, Nadi : 90 x/menit, pernafasan : 22 x/menit, suhu : 370C, yang bearti sel darah merah lisis akibat siklus hidup parasit malaria yaitu plasmodium, semakin banyak jumlah skizon yang pecah di dalam darah maka semakin banyak jumlah merozoit yang keluar yang akan menyerang eritrosit baru sehingga menyebabkan anemia (Zulkoni akhsin, 2009). 2. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan data bahwa klien mengeluh tubuhnya terasa panas, suhu : 380C, pada palpasi tubuh terasa panas, klien tampak gelisah, mukosa bibir tampak kering dan hasil pemeriksaan DDR (+), yang berati sudah terdapat plasmodium dalam darah yang menyebabkan peningkatan sirkulasi endoktoksin pada hipotalamus, sehingga terjadi perubahan regulasi temperatur pada termoregulator yang mengakibatkan peningkatan suhu tubuh (Muttaqin, 2011). 3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah. Diagnosa ini ditegakakan berdasarkan data bahwa klien mengatakan tidak nafsu makan dan perutnya terasa mual dan muntah 1x, porsi makan yang dihabiskan terlihat hanya 3 sendok makan, keadaan umum tampak lemah, klien tampak pucat, mukosa bibir tampak kering, BB :49 kg, TB :155 cm, karena tidak terjadi penurunan berat badan yang signifikan, dan berat badan klien masih berada dalam batas normal sesuai dengan umur 111 dan tinggi badan klien, penulis hanya mengangkat diagnosa ini sebagai resiko. Mual dan muntah yang disebabkan adaanya plasmodium yang mencapai sirkulasi gastrointestinal bila tidak segera diatasi dapat mengakibatkan penurunan berat badan karena intake nutrisi yang tidak adekuat secara oral, sedangkan yang berada pada tubuh berkurang karena output melalui muntah yang berlebihan (Muttaqin, 2011). 4. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia, diaforesis. Diagnosa ini penulis tegakkan karena efek dari respons inflamasi sistemik parasit pada tubuh menyebabkan terasa pegal-pegal, dan nyeri pada sendi tulang dan otot (Muttaqin, 2011). 5. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Diagnosa ini penulis tegakan karena efek dari proses penyakit pada sistem muskuloskletal yang dikarenakan oleh anemia dan kurangnya asupan nutrisi klien mengakibatkan kelemahan fisik sehingga klien membutuhkan bantuan dalam melakukan aktivitasnya berdasarkan tinjauan teoritis menurut Harijanto (2009) bahwa Keluhan prodromal pada malaria salah satunya berupa kelesuhan. 6. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola hidup. Diagnosa ini ditegakkan karena keluarga mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit malaria, cara penularan maupun pencegahannya. 112 Kurangnya pengetahuan keluarga menyebabkan ia banyak bertanya mengenai keadaan penyakit yang diderita. Diagnosa resiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan diuresis osmotik, diaforesis, tidak penulis angkat karena tidak ditemukan tanda-tanda kekurangan cairan yang berat pada Ny. T seperti turgor kulit klien masih baik, haluaran urine adekuat, terpasang infus RL dan D5% (1:1) 20 tt/ menit, klien masih mau minum sehingga defisit volume cairan tidak terjadi. Dari pengkajian keperawatan yang penulis lakukan penulis menemukan diagnosa baru yang tidak ada pada tinjauan teori yaitu gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan hipertermi dan nyeri pada sendi tulang dan otot, namun diagnosa ini tidak penulis angkat karena menurut penulis klien tidak dapat tidur disebabkan hipertermi. Sedangkan tujuan dari dilakukannya tindakan keperawatan adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi dan mengatasi masalah yang menjadi prioritas agar masalah lain yang ditimbulkan dapat teratasi (deswani, 2009). Jadi penulis mengangkat masalah hipertermi dan gangguan rasa nyaman nyeriyang menjadi prioritas karena dapat menimbulkan masalah lain pada klien yaitu kebutuhan istirahat dan tidur menjadi terganggu C. Intervensi Keperawatan Intervensi keperawatan yang penulis susun pada studi kasus telah mengacu pada asuhan keperawatan secara teoritis dengan disesuaikan pada prioritas masalah keperawatan yang dirumuskan. Penulis membuat intervensi dan prioritas waktu dengan menyesuaikan pada masalah keperawatan yang 113 ditemukan dan sesuai dengan kemampuan yang dipunyai oleh penulis untuk menyelesaikan/ mengatasi masalah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Intervensi yang ada pada tinjauan teoritis menurut Muttaqin (2011) dapat direncanakan pada kasus. D. Implementasi Keperawatan Implementasi merupakan pengolahan data dan perwujudan dari rencana tindakan keperawatan, meliputi tindakan yang telah direncanakan oleh perawat dalam membantu klien. Dalam melakukan tindakan keperawatan harus memperhatikan kenyamanan dan keadaan klien. Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada Ny. T dengan penyakit malaria di ruang rawat inap Ruang Interna RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton, penulis melakukanya selama lima hari perawatan dan yang dilakukan adalah sesuai dengan perencanaan. Pelaksanaan tindakan perawatan pada klien dapat dilakukan dengan baik karena faktor yang mendukung dalam pelaksanaan asuhan keperawatan ini. Adapun faktor pendukung lain antara lain : 1. Adanya kerja sama dan kolaborasi antar tim kesehatan yang lain dan yang paling mendukung adalah kerjasama antara penulis dan keluarga. 2. Karena adanya motivasi yang kuat dari keluarga untuk kesembuhan klien sehingga keluarga selalu mendukung dan melaksanakan anjuran perawat. E. Evaluasi keperawatan Evaluasi merupakan bagian akhir dari proses keperawatan, yang digunakan sebagai alat ukur berhasil atau tidaknya tindakan keperawatan kepada klien, sesuai dengan diagnosa, tujuan dan kriteria hasil. Dari 6 114 diagnosa keperawatan yang telah disusun sesuai dengan masalah utama, selama melakukan lima hari perawatan pada Ny. T dengan penyakit malaria sejak tanggal 18/03/2019 sampai 22 Maret 2019 dapat dikatakan berhasil, dimana hasil akhir dari evaluasi didapatkan bahwa semua masalah yang ada dapat teratasi pada tanggal 21 dan 22 Maret 2019. 115 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : 1. Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit dari genus plasmodium yang ditularkan pada manusia melaluit gigitan nyamuk jenis anopheles betina, penyakit ini dapat menyerang segala ras, usia, dan jenis kelamin. Dikenal empat spesies dari genus plasmodium yang hidup sebagai penyebab penyakit malaria pada manusia yaitu : Plasmodium falcifarum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, Plasmodium ovale. Berbeda dengan penyakit-penyakit lain, malaria tidak dapat disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejalagejala penyakit. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup. Adapun tanda dan gejala yang dapat di timbulkan oleh malaria berupademam periodik, anemia dan splenomegali. 2. Dari pengkajian yang dilakukan pada Ny. T dengan penyakit malaria, penulis mendapatkan data-data pengkajian meliputi : identitas pasien, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik, data psikologi, data sosial ekonomi, data spiritual, data penunjang, penatalaksanaan medis, dan kebiasaan sehari-hari klien. 3. Setelah data-data tersebut terkumpul, penulis menganalisa data yang telah ditemukan untuk menemukan masalah keperawatan klien,setelah itu 116 penulis menyusun diagnosa keperawatan untuk menunjang proses keperawatan dan ditemukan enam diagnosa keperawatan pada Ny. T. 4. Berdasarkan diagnosa keperawatan, penulis menyusun intervensi yang disesuaikan dengan tinjauan teori menurut Muttaqin (2011) dengan mempertimbangkan prosedur kebijakan dan fasilitas diruangan rawat inap tempat klien dirawat, serta disesuaikan juga dengan kemampuan penulis dan keadaan klien. 5. Kemudian rencana-rencana tersebut penulis implementasikan pada klien dan keluarga, sekaligus mengevaluasi setiap respon hasil atau kemajuan klien setelah dilakukan tindakan keperawatan. 6. Pada evaluasi di semua tindakan keperawatan dikategorikan berhasil karena dari enam diagnosa yang disusun sesuai masalah pada Ny. T menunjukan bahwa semua masalah dapat teratasi dengan baik. 7. Analisa antara konsep teori dan kasus yang telah ditemukan pada Ny. T yang tentunya terdapat beberapa kesenjangan dan persamaan yang semuanya telah dibahas di bab pembahasan. 8. Dari proses keperawatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pada Ny. T mengalami penyakit malaria, setelah dilakukan tindakan keperawatan selama lima hari penyakit malaria yang di sebabkan oleh plasmodium vivax dan telah menyebabkan anemia pada Ny. T dapat teratasi begitupun dengan gejala yang lain seperti hipertermi, nyeri pada sendi tulang dan otot, tubuh terasa pegal-pegal, merasa mual yang disertai muntah, tidak nafsu makan dan kelesuhan sudah tidak dirasakan lagi. 117 B. Saran Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis memberikan alternatif pemecahan masalah yang berupa saran-saran, yaitu untuk mencapai asuhan keperawatan yang optimal. 1. RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas sebagai standar praktek keperawatan yang berlaku dan dapat meningkatkan sarana dan prasarana kesehatan yang ada di RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton untuk dapat menunjang pengobatan dan perawatan pada pasien dengan penyakit malaria yang dirawat di RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton dan dapat meningkatkan sumber daya manusia dengan banyak mengadakan pelatihan-pelatihan ataupun seminar mengenai masalah malaria sehingga menambah ilmu dan wawasan para perawat. 2. Institusi pendidikan/Akademik Kepada pihak akademik diharapkan dapat lebih memperluas dalam pemberian materi tentang malaria dan dapat menambah buku-buku tentang Malaria edisi terbaru sehingga peneliti selanjutnya tidak kesulitan mencari untuk referensi. 3. Penulis selanjutnya Diharapkan pada penulis selanjutnya yang berminat untuk meneliti masalah ini lebih jauh dan mendalam hendaknya untuk meneliti masalah ini dengan menggunakan tempat yang berbeda dengan teknik yang lain sehingga diperoleh keragaman hasil penelitian yang berkaitan dengan 118 penyakit malaria seperti “Hubungan prilaku pencegahan malaria terhadap kejadian malaria”. “Faktor faktor risiko yang mempengaruhi kejadian malaria” dengan menggunakan metode penelitian observasional. 119 DAFTAR PUSTAKA Sucipto, Cecep Dani. 2017. Manual Lengkap Malaria. Jakarta : EGC Kemenkes RI. Info Data Dan Informasi Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta : Kemenkes RI; 2014. Riskedas. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang Depkes RI Dinkes Prov.Sultra. 2016. Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara Tahun 2016. Kendari Nurarif & Kusuma. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : MediAction Robbins. 2007. Buku ajar : Patologi. Jakarta : EGC Tarwoto et al. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Cetakan Pertama. Trans Info Media: Jakarta Smeltzer, S. C. And Bare, B. G. 2012.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Sudart Edisi 8. Jakarta: EGC Moorhead, sue et al. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi 5. Singapore: Elsevies, Alih Bahasa Intansari Nurjannah & Roxsana Devi Tumanggor Nurarif, Amin Huda & Kusuma Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Medis & Nanda Nic-Noc Jilid 3. Yogyakarta: Medication Publishing Budiono, Sumirah Budi Pertami. 2015. Konsep dasar Keperawatan. Jakarta : Bumi Medika 120 Bulechek, Gloria M et al. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi 6. Singapore: Elsavier, Alih Bahasa Intansari Nurjannah & Roxsana Devi Tumanggor. 121 122 123 124 125 126