Uploaded by farahdibaazizah

Asuhan Keperawatan Malaria: Studi Kasus di RSUD Pasarwajo

advertisement
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.T DENGAN DIAGNOSA MEDIS
MALARIA DI RSUD PASARWAJO
KABUPATEN BUTON
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan
Diploma III Keperawatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
OLEH:
IRMA RUSMIYANTI ASIS
P00320018136
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
JURUSAN KEPERAWATAN
T.A 2019
i
ii
iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
: Irma Rusmiyanti Asis
Nim
: P00320018136
Institusi Pendidikan
: Poltekkes Kemenkes Kendari
Judul Studi Kasus
: ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.T
DENGAN DIAGNOSA MEDIS MALARIA DI RSUD
PASARWAJO KABUPATEN BUTON
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas Akhir yang saya tulis ini benarbenar hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilan tulisan atau pikiran
orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri
Apabila dikemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas Akhir ini adalah hasil
jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut
Kendari, 18
Juli
2019
Yang Membuat Pernyataan
Irma Rusmiyanti Asis
iv
RIWAYAT HIDUP
I.
II.
IDENTITAS
1. Nama Lengkap
: Irma Rusmiyanti Asis
2. Tempat/Tanggal Lahir
: Mawasangka, 3 November 1979
3. Jenis Kelamin
: Perempuan
4. Agama
: Islam
5. Suku/Bangsa
: Buton/Indonesia
6. Alamat
: Kel. Watolo, Kec. Mawasangka
7. No. Telp/HP
: 082193701567
RIWAYAT PENDIDIKAN
1. Sekolah Dasar Negeri 4 Mawasangka, Lulus tahun 1991
2. Sekolah menengah Pertama Negeri 1 Mawasangka, Lulus tahun
1994
3. Sekolah Perawat Kesehatan Pemda Buton, Lulus tahun 1997
4. Poltekkes Kemenkes Kendari Jurusan Keperawatan. Periode 20162019
v
MOTTO
Rahasia kesuksesan adalah mengetahui yang orang lain tidak ketahui
Ada banyak jalan menuju keberhasilan, salah satunya adalah berpikir cerdas
Berpikir cerdas yang dimaksud adalah orang yang pandai membaca peluang
dan berpikir unik. Daripada mati-matian berlomba dengan segelintir orang
untuk meraih hal yang sama, mending mencari sesuatu yang tidak diketahui
orang lain
vi
ABSTRAK
Irma Rusmayanti Asis, NIM : P00320018136 “Asuhan Keperawatan Pada
Ny.T Dengan Diagnosa Medis Malaria Di RSUD Pasarwajo Kabupaten
Buton, Dibimbing oleh Ibu Fitri Wijayati, S.Kep.,Ns.,M.Kep. Malaria adalah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan
berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria
(Anopheles) betina Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit
dari genus plasmodium yang ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk
jenis anopheles betina, penyakit ini dapat menyerang segala ras, usia, dan jenis
kelamin (Irianto, 2011). Tujuan : untuk mengetahui asuhan keperawatan pada
Ny.T dengan diagnosa medis malaria. Hasil : Data diperoleh dari pengkajian
langsung, wawancara, serta melihat catatan rekam medik pasien, dimana pada saat
pengkajian didapatkan beberapa keluhan yang dikeluhkan klien mengenai malaria,
dimana diagnosa yang diangkat pada kasus ini adalah perubahan perfusi jatingan,
hipertermia, resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, nyeri
dan ketidaknyamanan, gangguan aktivitas, resiko penularan penyakit, Intervensi
dilakukan sesuai dengan teori yang ada yaitu menggunakan Nursing Outcomes
Classsification dan Nursing Intervention Classification, implementasi dilakukan
selama 3 hari, sehingga didapatkan semua masalah yang ada dapat teratasi pada
tanggal 21 dan 22 Maret 2019
Kata Kunci
: Asuhan Keperawatan, Malaria, Pasarwajo
Daftar Pustaka
: 26 (2008-2018)
vii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillahirobil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan atas
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada
kita semua. Berkat ridho dari-Nya penulis dapat menyelesaikan pendidikan
progam studi D-III Keperawatan Di Poltekkes Kemenkes Kendari dengan judul
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.T DENGAN DIAGNOSA MEDIS
MALARIA DI RSUD PASARWAJO KABUPATEN BUTON”.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menyadari masih
banyak kesulitan
dan hambatan, tetapi berkat bantuan dan bimbingan yang
berupa saran dan kritikan dari berbagai pihak penyusunan tugas akhir ini dapat
diselesaikan.
Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penulisan dan penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini,
baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu kepada yang terhormat :
1. Ibu Askrening, SKM.,M.Kes selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari.
2. Kepada Kantor Badan Riset Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara yang telah
memberikan izin penelitian kepada penulis
3. Direktur RSUD Pasarwajo yang telah memberikan izin penelitian
4. Bapak Indriono Hadi, S.Kep.,Ns.,M.Kes selaku Ketua Jurusan D-III
Keperawatan
viii
5. Ibu Reni Devianti Usman, M.Kep.,Sp.KMB selaku Sekretaris Jurusan D-III
Keperawatan
6. Kepada ibu Fitri Wijayati, S.Kep.,Ns.,M.kep sebagai pembimbing yang telah
banyak memberikan bimbingan dan arahan selama penulis menyusun Karya
Tulis ini.
7. Kepada ibu Hj. Sitti Rachmi Misbah, S.Kp.,M.Kes, bapak Muslimin L,
A.Kep.,S.Pd.,M.Si, Bapak Bapak Sahmad, S.Kep.,Ns.,M.Kep, selaku dosen
penguji I, penguji II, dan penguji III yang telah membimbing saya dan
memberikan masukan-masukan sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat
disusun dengan sebaik-baiknya
8. Semua dosen dan staf
Program Studi D-III Keperawatan Poltekkes
Kemenkes kendari yag telah membantu dan memberikan bimbingan dengan
sabar serta ilmu yang bermanfaat kepada penulis selama kuliah
Akhir kata semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan bagi penulis khususnya. Terima Kasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Kendari, 18 Juli 2019
Penulis
ix
DAFTAR ISI
Halaman Judul ....................................................................................................... i
Halaman Persetujuan ........................................................................................... ii
Halaman Pengesahan ........................................................................................... iii
Keaslian Penelitian ............................................................................................... iv
Daftar Riwayat Hidup ...........................................................................................v
Halaman Motto .................................................................................................... vi
Abstrak ................................................................................................................. vii
Kata Pengantar .................................................................................................. viii
Daftar Isi .................................................................................................................x
Daftar Lampiran ................................................................................................. xii
Daftar Tabel........................................................................................................ xiii
Daftar Gambar ................................................................................................... xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...........................................................................................1
B. Rumusan Masalah......................................................................................6
C. Tujuan Studi Kasus ...................................................................................6
D. Manfaat Studi Kasus .................................................................................7
E. Metode dan Teknik Penelitian ..................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Malaria ...............................................................................9
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan .....................................................29
BAB III LAPORAN KASUS
A. Pengkajian ................................................................................................58
B. Diagnosa Keperawatan ............................................................................72
C. Intervensi Keperawatan ..........................................................................72
x
D. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan .............................................79
BAB IV PEMBAHASAN
A. Pengkajian ..............................................................................................109
B. Diagnosa Keperawatan ..........................................................................112
C. Intervensi Keperawatan ........................................................................116
D. Implementasi Keperawatan ..................................................................117
E. Evaluasi Keperawatan ...........................................................................117
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .............................................................................................119
B. Saran .......................................................................................................121
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Keterangan Bebas Pustaka
Lampiran 2 : Surat Keterangan Bebas Administrasi
Lampiran 3 : Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Manifestasi klinis infeksi plasmodium
Tabel 2.2 Analisa Data
Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan
Tabel 3.1 Data Penunjang
Tabel 3.2 Penatalaksanaan Medis
Tabel 3.3 Kebiasaan sehari-hari
Tabel 3.4 Analisa Data
Tabel 3.5 Intervensi Keperawatan
Tabel 3.6 Implementasi Keperawatan
Tabel 3.7 Evaluasi Keperawatan
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Morfologi stadium-stadium plasmodium vivax didalam darah.
Gambar 2.2 Limpa dan hati
Gambar 2.3 Tanda-tanda nyamuk malariabila hinggap/menggigit letak kepala
lebih rendah dibanding badannya (menungging).
Gambar 2.4 Sedian darah tepi sedian hapus tipis pada masing-masing parasit
plasmodium.
Gambar 2.5 Siklus hidup plasmodium penyebab malaria
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium
yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan
oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina Malaria adalah penyakit menular
yang disebabkan oleh parasit dari genus plasmodium yang ditularkan pada
manusia melalui gigitan nyamuk jenis anopheles betina, penyakit ini dapat
menyerang segala ras, usia, dan jenis kelamin (Irianto, 2011). Menurut Safar
Rosdiana (2009) dikenal empat spesies dari genus plasmodium yang hidup
sebagai penyebab penyakit malaria pada manusia yaitu : Plasmodium
falcifarum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale.
Berbeda
dengan
penyakit-penyakit
yang
lain,
malaria
tidak
dapat
disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejala-gejala
penyakit. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena parasit
dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup (Sembel, 2009).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 41% populasi
dunia dapat terinfeksi malaria. Setiap tahun terdapat 300 – 500 juta penderita
mengalami penyakit serius dan sekurang-kurangnya 1-2,7 juta diantaranya
meninggal karena malaria (Sembel, 2009). Menurut WHO pula, Ini termasuk
banyak dari Afrika Sub-Sahara, Asia, dan Amerika Latin. Pada 2015, ada 214
juta kasus malaria di seluruh dunia. Malaria umumnya terkait dengan
kemiskinan dan memiliki efek negatif yang besar terhadap pembangunan
ekonomi. Di Afrika, malaria diperkirakan mengakibatkan kerugian yang besar
1
dalam setiap tahunnya karena menigkatnya biaya kesehatan, kehilangan
kemampuan untuk bekerja, dan efek negatif pada pariwisata. Situasi malaria di
Indonesia menunjukkan masih terdapat 10,7 juta penduduk yang tinggal di
daerah endemis menengah dan tinggi malaria. Daerah tersebut terutama
meliputi Papua, Papua Barat, dan NTT. Pada 2017, dari jumlah 514
kabupaten/kota di Indonesia, 266 (52%) di antaranya wilayah bebas malaria,
172 kabupaten/kota (33%) endemis rendah, 37 kabupaten/kota (7%) endemis
menengah, dan 39 kabupaten/kota (8%) endemis tinggi.
Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat
menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak
balita, ibu hamil, selain itu malaria secara langsung dapat menyebabkan
demam, anemia, splenomegali, dan dapat menurunkan produktivitas
kerja.Sebagian besar daerah di Indonesia masih merupakan daerah endemik
infeksi malaria, Indonesia bagian timur seperti Papua, Maluku, Nusa
Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan bahkan beberapa daerah di Sumatra
seperti Lampung, Bengkulu, Riau. Daerah di Jawa dan Bali pun walaupun
endemitas sudah sangat rendah, masih sering dijumpai letupan kasus malaria,
dan tentu saja hal ini disebabkan mudahnya transportasi untuk mobilisasi
penduduk,
sehingga
sering
menyebabkan
timbulnya
malaria
import
(Harijanto, 2011).
Tujuan pengendalian malaria didaerah-daerah yang endemik malaria
adalah menurunkan serendah-rendahnya dampak malaria terhadap kesehatan
masyarakat dengan menggunakan semua sumber daya yang tersedia.
Pengendalian dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan
2
mengendalikan nyamuk anopheles yang menjadi vektor penyakit. Seseorang
seharusnya menghindari dari gigitan nyamuk dengan menggunakan pakaian
lengkap (tangan dan kaki tertutup), tidur ditempat tidur yang memakai
kelambu, memakai obat penolak nyamuk, menghindari untuk mengunjungi
lokasi-lokasi yang rawan malaria. Pengendalian nyamuk secara kimia dapat
dilakukan dengan menggunakan insektisida, yaitu penyemprotan dalam rumah
dan sekitar rumah untuk membunuh nyamuk dewasa atau membunuh jentikjentik nyamuk dengan larvasida atau menebar ikan pemakan jentik nyamuk.
Pengendalian secara sanitasi yaitu membersihkan sarang-sarang pembiakan
nyamuk (Sembel, 2009).
Program eliminasi malaria di Indonesia tertuang dalam keputusan Menteri
Kesehatan RI No 293/MENKES/SK/IV/2009. Pelaksanaan pengendalian
malaria menuju eliminasi dilakukan secara bertahap dari satu pulau atau
beberapa pulau sampai seluruh pulau tercakup guna terwujudnya masyarakat
yang hidup sehat yang terbebas dari penularan malaria sampai tahun 2030
(Kemenkes RI, 2011). Saat ini pemerintah Indonesia khususnya Kementerian
Kesehatan (Kemenkes) sudah on the track dalam upaya eliminasi malaria pada
2030. Pada tahun 2016 jumlah kab/kota eliminasi malaria sebanyak 247 dari
target 245.
Pada 2017 pemerintah berhasil memperluas daerah eliminasi malaria yakni
266 kabupaten/kota dari target 265 kabupaten/kota. Sementara tahun ini
ditargetkan sebanyak 285 kabupaten/kota yang berhasil mencapai eliminasi,
dan 300 kabupaten/kota pada 2019. Selain itu, pemerintah pun menargetkan
tidak ada lagi daerah endemis tinggi malaria di 2020. Pada 2025 semua
3
kabupaten/kota mencapai eliminasi, 2027 semua provinsi mencapai eliminasi,
dan 2030 Indonesia mencapai eliminasi. Eliminasi malaria adalah upaya untuk
menghentikan penularan malaria setempat dalam satu wilayah geografi
tertentu. Maksudnya, kasus malaria masih ada namun bukan didapat di daerah
tersebut, dan bisa jadi masih ditemukan nyamuk penular malarianya, sehingga
tetap dibutuhkan kewaspadaan petugas kesehatan, pemerintah, dan masyarakat
untuk mencegah penularan kembali. (www.depkes.go.id,2018)
Annual Parasite Incidence (API) Nasional menunjukan penurunan dari
tahun 2008-2009 yaitu 2,47 per 1.000 penduduk menjadi 1,85 per 1.000
penduduk. Sesuai Target Rencana Strategis Kementrian Kesehatan tahun
2010-2014 malaria merupakan salah satu penyakit yang ditargetkan untuk
menurunkan angka kesakitanya dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk,
sehingga masih harus dilakukan upaya efektif untuk menurunkan angka
kesakitan 0,85 per 1.000 penduduk dalam waktu 4 tahun, agar target Rencana
Strategis Kesehatan tahun 2015 tercapai (Kemenkes RI, 2011).
Angka kesakitan penyakit malaria di ukur dengan menggunakan malaria
klinis dalam bentuk Angka Kesakitan Annual Parasite Incidence (API ),
artinya indikator ini menyatakan kesakitan berdasarkan gejala klinis bukan
berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Angka kesakitan malaria dalam
bentuk API di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2017 sebanyak 1.069
dengan Angka Kesakitan per 1000 penduduk beresiko sebesar 0,41 ,sedikit
lebih rendah dibanding tahun 2016. Permasalahan yang ditemui dalam
pemberantasan penyakit malaria antara lain adalah kurangnya kegiatan yang
dilakukan dalam rangka penemuan penderita, sehingga nilai ABER (Anual
4
Blood Examination Rate) masih sangat rendah dan disisi lain nilai SPR ( Slide
Positive Rate) masih cukup tinggi. (Profil Dinkes Propinsi Sulawesi
Tenggara, 2017).
Berdasarkan data yang di peroleh dari data rekam medik RSUD Pasarwajo
Kabupaten Buton pada tahun 2018 jumlah kasus malaria 1.32 penderita,
Sedangkan pada tahun 2018 sebanyak 1.35 penderita, di mana kasus malaria
menduduki peringkat ke 1 dari 10 penyakit terbesar di Puskesmas
Mawasangka pada tahun 2011.Dari data di atas terlihat adanya peningkatan
kasus malaria setiap tahunnya.Di Puskesmas Mawasangka pada tahun 2011
malaria merupakan penyakit dengan jumlah penderita terbanyak dimana kasus
malaria menduduki peringkat ke 1 dari 10 penyakit terbesar yang ada, tercatat
kasus malaria pada tahun 2018 sebanyak 300 penderita(Medical Record,
2018).
Di tinjau dari tingginya angka kejadian serta komplikasi yang dapat
ditimbulkan oleh penyakit malaria maka perawat mempunyai peranan penting
dalam memberikan pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral
dari pelayanan kesehatan berdasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan serta
pengalaman biologi, psikologi, sosiologi, spiritual yang komprehensif,
ditunjukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, baik sakit
maupun sehat yang meliputi peningkatan derajat kesehatan klien, pencegahan
penyakit, penyembuhan dan pemulihan kesehatan klien dan menggunakan
pendekatan proses keperawatan (Praptianingsih, 2006). Semua itu dapat di
berikan dalam bentuk asuhan keperawatan. Asuhan keperawatan di laksanakan
mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi,
5
sampai evaluasi yang mana kita dapat memberikan bantuan kepada klien
dalam memenuhi kebutuhanya, mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut,
mengatasi respon penyakit yang di deritanya sehingga masalah klien dapat
dikurangi ataupun teratasi.
Berdasarkan uraian diatas maka Penulis berkeinginan, melakukan studi
kasus bagaimana menerapkan “Asuhan Keperawatan pada Ny. T dengan
Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten
Buton”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah
dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah “Asuhan Keperawatan pada Ny. T
dengan Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo
Kabupaten”.
C. Tujuan Studi Kasus
1. Tujuan Umum
Menggambarkan Asuhan Keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa
Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten.
2. Tujuan Khusus
Penulis dapat :
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa
Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten.
b. Menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa
Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten.
6
c. Menyusun rencana tindakan keperawatan pada Ny. T dengan
Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo
Kabupaten.
d. Melakukan implementasi tindakan keperawatan pada Ny. T dengan
Diagnosa Medis Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo
Kabupaten.
e. Melakukan evaluasi keperawatan pada Ny. T dengan Diagnosa Medis
Malaria di Ruang Interna di RSUD Pasarwajo Kabupaten.
D. Manfaat Studi Kasus
Studi kasus ini, diharapkan memberikan manfaat bagi :
1. Bagi Klien / Masyarakat
Dapat menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan tentang
penyakit dengan kasus Malaria dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas.
2. Bagi Rumah Sakit
Sebagai penambah wawasan dan pedoman bagi tenaga keperawatan
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami
penyakit Malaria dengan pemenuhan kebutuhan aktivitas.
3. Bagi Peneliti
Sebagai tambahan pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti dalam
mengaplikasikan hasil riset keperawatan,
khususnya studi kasus
tentang pelaksanaan pemenuhan kebutuhan aktivitas pada pasien Malaria.
E. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam karya tulis ilmiah adalah metode
deskriptif dalam bentuk studi kasus pada keluarga Mengadakan pengamatan
7
dan melaksanakan asuhan keperawatan keluarga dengan pasien hipertensi
pada keluarga Desa Lakandito Puskesmas Kabangka Kabupaten Muna.
Adapun tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Wawancara
Mengadakan tanya jawab dengan keluarga mengenai klien atau pasien
hipertensi.
Wawancara
dilakukan
selama
proses
keperawatan
berlangsung.
2. Observasi
Mengadakan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara
langsung pada keluarga dengan pasien hipertensi pada keluarga Desa
Lakandito Puskesmas Kabangka Kabupaten Muna.
3. Studi Kepustakaan
Menggunakan dan mempelajari literatur medis maupun perawatan yang
menunjang sebagai landasan teoritis untuk menegakkan diagnosa dan
perencanaan keperawatan keluarga dengan pasien hipertensi.
4. Studi dokumentasi
Dokumentasi ini diambil dan dipelajari dari catatan medis dan catatan
perawatan untuk mendapatkan data mengenai asuhan keperawatan dan
pengobatan keluarga dengan pasien hipertensi.
5. Pemeriksaan fisik
Melakukan pemeriksaan fisik terhadap keluarga dengan salah satu
anggota keluarga menderita hipertensi di Desa Lakandito Wilayah Kerja
Puskesmas Kabangka Kabupaten Muna.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Malaria
1. Pengertian
Malaria merupakan infeksi parasit pada sel darah merah yang
disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan ke
manusia melalui air liur nyamuk (Handayani wiwik, 2008).
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang di sebabkan oleh
plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukanya
bentuk aseksual didalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa
demam, menggigil, anemia dan splenomegali (Harijanto, 2009).
Malaria adalah suatu penyakit infeksi dengan demam berkala yang
disebabkan oleh parasit Plasmodium (termasuk protozoa) dan ditularkan
oleh nyamuk Anopheles betina (Zulkoni Akhsin, 2009).
2. Anatomi Fisiologi
Gambar 2.1 : Morfologi stadium-stadium plasmodium vivax didalam
darah.
9
Darah merupakan komponen esensial makluk hidup yang berada
dalam ruang vascular, karena peranannya sebagai media komunikasi antar
sel ke berbagai bagian tubuh dengan dunia luar karena fungsinya
membawa oksigen dari paru-paru kejaringan dan karbondioksida dari
jaringan keparu-paru untuk dikeluarkan, membawa zat nutrient dari
saluran cerna ke jaringan kemudian menghantarkan hormone dan materimateri pembekuan darah (Tarwoto, 2008).
a.
Karakteristik darah (Tarwoto, 2008)
1) Warna
Darah arteri berwarna merah muda karena banyak oksigen yang
berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena
berwarna merah tua/gelap karena kurang oksigen dibanding
dengan darah arteri.
2) Viskositas
Viskositas darah ¾ lebih tinggi dari pada viskositas air yaitu
sekitar 1.048 sampai 1.066.
3) pH
pH darah bersifat alkalin dengan pH 7.35 sampai 7.45 (netral
7.00).
4) Volume
Pada orang dewasa volume darah sekitar 70 sampai 75 ml/kg BB,
atau sekitar 4 sampai 5 liter darah.
10
5) Komposisi
a) Plasma darah yaitu bagian cair darah (55%) yang sebagian
besar terdiri dari air (92%), 7% protein, 1% nutrien, hasil
metabolisme, gas pernapasan, enzim, hormon-hormon, faktor
pembekuan dan garam-garaman organic. Protein-protein
dalam plasma terdiri dari serum albumin (alpha-1 globulin,
alpha-2 globulin, beta globulin dan gamma globulin),
fibrinogen, protombine dan protein esensien untuk koagulasi.
Serum albumin dan gamma globulin sangat penting untuk
mempertahankan tekanan osmotik koloid, dan gamma
globulin juga mengandung antibody (immunoglobulin)
seperti IgM, IgG, IgA, IgD dan IgE untuk mempertahankan
tubuh terhadap mikroorganisme.
b) Sel-sel darah/ butir-butir darah (bagian padat) kira-kira 45%,
terdiri atas eritrositatau sel darah merah (SDM) atau red
blood cell (RBC), leukosit atau sel darah putih (SDP) atau
white blood cell (WBC), dan trombositplatelet. Sel darah
merah merupakan unsur terbanyak dari sel darah (44%)
sedangkan sel darah putih dan trombosit 1% . sel darah putih
terdiri dari basofil, eosinofil, neutrofil, limfosit, dan monosit.
b. Struktur sel darah
1) Sel darah merah
Sel darah merah berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter
sekitar 7,5 mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian
11
tengahnya 1 mikron atau kurang, tersusun atas membran yang
sangat tipis sehingga sangat mudah terjadi diffusi oksigen,
karbondioksida dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai inti sel.
Sel darah merah matang mengandung 200-300 juta hemoglobin
(terdiri hem merupakan gabungan protoporfirin dengan besi dan
globin adalah bagian dari protein yang tersusun oleh 2 rantai alfa
dan 2 rantai beta) dan enzim-enzim seperti G6PD (glucose 6 –
phosphate dehydogenase). Hemoglobin mengandung kira-kira
95% besi dan berfungsi membawa oksigen dengan cara mengikat
oksigen dan diedarkan ke seluruh tubuh untuk kebutuhan
metabolisme. Kadar normal hemoglobin tergantung usia dan jenis
kelamin. Hemoglobin adalah protein berpigmen merah yang
terdapat dalam sel darah merah. Normalnya dalam darah pada
laki-laki
15,5g/dl
dan
pada
wanita 14,0g/dl
(Susan
M
Hinchliff,1996). Rata-rata konsentrasi hemoglobin pada sel darah
merah 32g/dl.
2) Sel darah putih
Pada keadaan normal jumlah sel darah putih atau leukosit 500010000 sel/mm3. Leukosit terdiri dari 2 kategori yaitu yang
bergranulosit dan yang agranulosit.
3) Trombosit
Trombosit merupakan sel tak berinti, berbentuk cakram dengan
diameter 2-5 um, berasal dari pertunasan sel raksasa berinti
banyak megakariosit yang terdapat dalam sumsum tulang. Pada
12
keadaan normal jumlah trombosit sekitar 150.000-300.000/mL
darah dan mempunyai masa hidup sekitar 1-2 minggu atau kirakira 8 hari. Trombosit tersusun atas substansi fospolifid yang
penting dalam pembekuan dan juga menjaga keutuhan pembuluh
darah serta memperbaiki pembuluh darah kecil yang rusak.
Trombosit diproduksi di sumsum tulang kemudian sekitar 80%
beredar disirkulasi darah hanya 20% yang disimpan dalam limpa
sebagai cadangan.
c.
Hemopoisis (hematopoisis)
Hemopoisis adalah proses pembentukan dan pematangan darah.
Organ-organ yang penting dalam hemopoisis adalah:
1) Limpa
Limpa berada dibawah diafragma sebelah kiri dari lambung.
Tersusun atas 3 tipe jaringan yaitu white pulp, red pulp dan
marginal pulp, yang semua berperan dalam keseimbangan
pembentukan dan pemecahan sel darah. Selama pembentukan
darah, limpa menghancurkan sel darah merah yang sudah tua
dengan cara memfagosit, membantu metabolisme besi dengan
cara memecah hemoglobin.
2) Hati
Hati merupakan organ sangat penting dalam eritropoisis, terutama
jika produksi sel darah merah dalam susum tulang tidak normal.
Hati merupakan tempat utama produksi dari faktor pembekuan
13
darah dan protrombin, menghasilkan empedu, mengaktifkan
vitamin k .
Gambar 2.2 Limpa dan hati
d. Fungsi darah
1) Transport internal
Darah membawa berbagai macam substansi untuk fungsi
metabolisme.
a) Respirasi. Gas oksigen dan karbondioksida dibawah oleh
hemoglobin dalam sel darah merah dan plasma, kemudian
terjadi pertukaran gas di paru-paru.
14
b) Nutrisi, nutrient/zat gizi diabsorpsi dari usus, kemudian
dibawa dalam plasma kehati dan jaringan-jaringan lain yang
digunakan untuk metabolisme.
c) Sekresi. Hasil metabolisme dibawa plasma kedunia luar
melalui ginjal.
d) Mempertahankan air, elektrolit dan keseimbangan asam basa
dan juga berperan dalam hemoestasis.
e) Regulasi metabolisme, hormon dan enzim atau keduanya
mempunyai efek dalam mengaktivitas metabolisme sel,
dibawa dalam plasma.
2) Proteksi tubuh terhadap bahaya mikroorganisme, yang merupakan
fungsi dari sel darah putih.
3) Proteksi terhadap cedera dan perdarahan
Proteksi terdahap respon peradangan local terhadapcedera
jaringan. Pencegahan perdarahanmerupakan fungsi dari trombosit
karena adanya faktor pembekuan, fibrinolitik yang ada dalam
plasma.
4) Mempertahankam temperatur tubuh
Darah membawa panas dan bersirkulasi keseluruh tubuh. Hasil
metabolisme juga menghasilkan energi dalam bentuk panas
(Tarwoto, 2008).
3. Etiologi
Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, Plasmodium ini pada
manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan mengalami
15
pembiakan aseksual di jaringan hati dan di eritrosit. Pembiakan seksual
terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina (Harijanto, 2009).
Genus Plasmodium merupakan penyebab penyakit malaria yang
mempunyai keunikan karena memiliki 2 hospes, yakni manusia sebagai
hospes intermediate dan nyamuk anopheles sebagai hospes definitif.
Genus plasmodium mempunyai 4 spesies penting dalam parasitologi
medik, yaitu : Plasmodium falcifarum (malaria tertiana maligna)
menyebabkan malaria tropika yang sering menyebabkan penyakit malaria
berat/malaria otak dengan kematian. Plasmodium vivax penyebab malaria
tertiana benigna. Plasmodium
malariae penyebab malaria kuartana.
Plasmodium ovale (malaria tertiana ovale), jenis ini jarang sekali
dijumpai, umumnya banyak di Afrika dan Pasifik Barat (Muslim, 2009).
Gambar 2.3: Tanda-tanda nyamuk malariabila hinggap/menggigit
letak kepala lebih rendah dibanding badannya (menungging).
Terdapat empat spesies parasit malaria pada manusia, yaitu
Plasmodium falcifarum, yang paling banyak menimbulkan kematian,
16
Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae. Ciri
khas morfologi plasmodium pada hapusan darah adalah sebagai berikut :
Plasmodium falcifarum : gametosit berbentuk pisang; Plasmodium vivax :
trofozoit berbentuk amuboid dengan sel darah merah yang terinfeksi
membesar ukurannya; Plasmodium ovale : sel darah merah yang terinfeksi
bentuknya tidak teratur dan bergerigi; Plasmodium malariae : trofozoit
dewasa berbentuk pita (band-form) (Soedarto, 2009).
Gambar 2.4 Sedian darah tepi sedian hapus tipis pada masing-masing
parasit plasmodium.
17
Selain di tularkan melalui gigitan nyamuk, malaria dapat menjangkiti
orang lain melalui bawaan lahir dari ibu ke anak, yang disebabkan karena
kelainan pada sawar plasenta yang menghalangi penularan infeksi vertikal.
Metode penularan lainya adalah melalui jarum suntik, yang banyak terjadi
pada pengguna narkoba suntik yang sering bertukar jarum secara tidak
steril. Model penularan infeksi yang terakhir adalah melalui tranfusi darah.
Disebutkan dalam literatur bahwa melalui metode ini, hanya akan terjadi
siklus eritrositer. Siklus hati tidak terjadi karena tidak melalui sporozoit
yang memerlukan siklus hati (Widoyono, 2008).
4.
Manifestasi klinis
Malaria mempunyai gambaran karakteristik demam periodik, anemia
dan splenomegali. Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing
plasmodium (tabel 1). Keluhan prodromal dapat terjadi sebelum terjadinya
demam berupa : kelesuhan, malaise, sakit kepala, merasa dingin di
punggung, nyeri sendi dan tulang, demam ringan, anoreksia (hilang nafsu
makan), perut tidak enak, diare ringan dan kadang-kadang merasa dingin.
Keluhan prodromal sering terjadi pada Plasmodium vivax dan ovale,
sedang pada plasmodium falcifarum dan malariae keluhan prodromal tidak
jelas bahkan gejala dapat mendadak.
Gejala yang klasik yaitu terjadinya trias malaria serangan paroksimal
secara berurutan : periode dingin (15-60 menit) : mulai menggigil,
penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada
saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk,
diikuti dengan meningkatnya temperatur, diikuti dengan periode panas :
18
penderita muka merah, nadi cepat, dan panas badan tetap tinggi beberapa
jam, diikuti dengan keadaan berkeringat ; kemudian periode berkeringat :
penderita berkeringat banyak dan temperatur turun, dan penderita merasa
sehat. Trias malaria lebih sering terjadi pada infeksi plasmodium vivax,
pada plasmodium falcifarum menggigil dapat berlangsung berat ataupun
tidak ada. Periode tidak panas berlangsung 12 jam pada plasmodium
falcifarum, 36 jam pada plasmodium vivax dan ovale, 60 jam pada
plasmodium malariae.
Plasmodium
Falcifarum
Tabel 2.1 Manifestasi klinis infeksi plasmodium
Tipe
Masa
Recru
panas
Relaps
Manifestasi klinis
inkubasi
densi
(hari)
(jam)
12 (9-14)
24,36,48 +
Gejala
gastrointestinal
,
hemolisis, anemia,
ikterus,
splenomegali,
hepatomegali,
hemoglobinuria,
algid malaria, gejala
serebral,
edema
paru, hipoglikemia,
gangguan
kehamilan, kematian
Vivax
13(12-17)
48
+
-
Gejala
gastrointestinal,
gangguan
kehamilan, anemia,
splenomegali.
Ovale
17(16-18)
48
+
-
Malariae
28(18-40)
72
-
+
Gejala
gastrointestinal,
anemia,
splenomegali.
Gejala
19
gastrointestinal,
Sindroma nefrotik,
splenomegali,
anemia
jarang
terjadi.
Keterangan :
Masa inkubasi
: Masa antara masuknya sporozoit ke dalam tubuh
hospes sampai timbulnya gejala demam.
Relapse atau rechute : ialah berulangnya gejala klinik atau parasitemia
yang lebih lama dari waktu diantara serangan
periodik dari infeksi primer yaitu setelah periode
yang lama dari masa latent (sampai lima tahun),
biasanya karena infeksi tidak sembuh atau oleh
bentuk luar eritrosit (hati) pada malaria vivax atau
ovale (plasmodium berdiam dalam hati : hipnozoit).
Serangan primer
: yaitu keadaan mulai dari akhir masa inkubasi dan
mulai terjadi serangan paroksimal yang terdiri dari
dingin/menggigil, panas dan berkeringat. Serangan
paroksimal ini dapat pendek atau panjang tergantung
dari perbanyakan parasit dan keadaan immunitas
penderita.
Periode latent
: yaitu periode tanpa gejala dan tanpa parasitemia
selama terjadinya infeksi malaria. Biasanya terjadi
diantara dua keadaaan paroksimal.
20
Recrudescense
: yaitu berulangnya gejala klinik dan parasitemia
dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan
primer.
Recrudescense
dapat
terjadi
berupa
berulangnya gejala klinik sesudah periode laten dari
serangan primer (Harijanto, 2009).
5) Patofisiologi
Gambar 2.5: Siklus hidup plasmodium penyebab malaria.
Parasit malaria dalam siklus hidupnya membutuhkan dua hospes.
Melalui aliran darah, nyamuk anopheles betina menginokulasi
sporozoit ke dalam tubuh manusia1. Sporozoit menginfeksi sel hati2,
berkembang biak menjadi skizon3. Lalu pecah dan mengeluarkan merozoit
(p. Vivax, dan p.ovale memiliki stadium dorman4. (hipnozoit) berdiam
dalam hati dan dapat kambuh kembali untuk menginvasi kembali dalam
darah beberapa minggu atau satu tahun kemudian) sesudah memperbanyak
21
diri dalam hati ini (exo-erythrocytic schizogony)A. Selanjutnya parasit
memasuki perkembang biakan secara aseksual dalam eritrosit (erythrocytic
schizogony)B. Merozoit mengifeksi sel darah merah4. Stadium ring,
trofozoit matur selanjutnya menjadi skizon, yang akan menghasilkan
merozoit5. Beberapa parasit berubah menjadi bentuk stadium sexual
erythrocytic (gametosit)6. Pada stadium parasit dalam darah muncul gejala
klinis penyakit ini. Gametosit, jantan (mikrogametosit) dan betina
(makrogametosit), masuk nyamuk dalam tubuh nyamuk anopheles melalui
darah yang terhisap7. Dalam tubuh nyamuk, parasit memperbanyak diri
dengan cara sporogonic cycleC. Di dalam tubuh nyamuk, mikrogamet
melakukan penetrasi ke makrogamet untuk menghailkan zigot8. Zigot
bergerak dan memanjang (ookinet)9. Keluar dari dinding lambung nyamuk
untuk berkembang menjadi ookista10. Ookista tumbuh, matang dan
mengeluarkan sporozoit11. Selanjutnya hidup berdiam dalam pada kelenjar
liur nyamuk. Sporozoit siap diinokulasikan ke tubuh manusia lainnya dan
kembali melangsungkan siklus hidupnya1 (Muslim, 2009).
6.
Komplikasi
Menurut Widoyono (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada
penyakit malaria sebagai berikut :
a.
Malaria serebral (malaria otak) adalah malaria dengan penurunan
kesadaran. Penilaian derajat kesadaran dilakukan bardasarkan Skala
Koma Glasgow (GCS, Glasgow Coma Scale). Pada orang dewasa
GCS ≤11, sedangkan pada anak berdasarkan Blantyre Coma Scale≤3,
22
atau koma >30 menit setelah serangan kejang yang tidak disebabkan
oleh penyakit lain.
b.
Anemia berat (Hb <5 gr% atau hematokrit <15%) pada keadaan
hitung parasit >10.000/uL. Bila anemia hipokromik mikrositik, harus
dikesampingkan adanya anemia defisiensi besi, talasemia, atau
hemoglobinopati lainnya.
c.
Gagal ginjal akut (urin <400 mL/24 jam pada orang dewasa atau <1
mL/kgBB/jam pada anak setelah dilakukan rehidrasi, dengan kreatinin
darah meningkat>3 mg%).
d.
Edema paru atau acute respiratory distress syndrome (ARDS).
e.
Hipoglikemia : gula darah <40 mg%.
f.
Gagal sirkulasi atau syok : tekanan sistolik <70 mmHg, disertai
keringat dingin.
g.
Perdarahan spontan dari hidung, gusi, alat pencernaan dan atau
disertai kelainan laboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler.
h.
Kejang berulang >2 kali per 24 jam setelah pendinginan pada
hipertermia.
i.
Asidema (pH <7,25) atau asidosis (bikarbonat plasma <15 mmol/L).
j.
Hemoglobinuria makroskopik karena infeksi malaria akut (bukan
karena obat antimalaria pada seseorang dengan defisiensi Glukosa-6Posfat Dehidrogenase)(Widoyono, 2008).
23
7.
Pemeriksaan diagnostik
a.
Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan darah yang menurut
teknis pembuatannya dibagi menjadi preparat darah (SDr, sediaan
darah) tebal dan preparat darah tipis, untuk menentukan ada tidaknya
parasit malaria dalam darah. Melalui pemeriksaan ini dapat dilihat
jenis plasmodium dan stadiumnya (P. falciparum, P. vivax, P.
malariae, P. ovale, tropozoit, skizon, dan gametosit) serta kepadatan
parasitnya.
Kepadatan parasit dapat dilihat melalui dua cara yaitu semikuantitatif dan kuantitatif. Metode semi-kuantitatif adalah menghitung
parasit dalam LPB (lapang pandang besar) dengan rincian sebagai
berikut:
(-)
: SDr negatife (tidak ditemukan parasit dalam 100 LPB)
(+)
: SDr positif 1 (ditemukan 1-10 parasit dalam 100 LPB)
(++)
: SDr positif 2 (ditemukan 11-100 parasit dalam 100 LPB)
(+++) : SDr positif 3 (ditemukan 1-10 parasit dalam 1 LPB)
(++++) : SDr positif 4 (ditemukan 11-100 parasit dalam 1 LPB)
Penghitungan kepadatan parasit secara kuantitatif pada SDr
tebal adalah menghitung jumlah parasit per 200 leukosit. Pada SDr
tipis, penghitungan jumlah parasit per 1000 eritrosit.
b.
Tes diagnostik cepat (RDT, rapid diagnostic test)
Metode ini mendeteksi adanya antigen malaria dalam darah
dengan cara imunokromatografi. Dibandingkan uji mikroskopis, tes
24
ini mempunyai kelebihan yaitu hasil pengujian dengan cepat dapat
diperoleh, tetapi lemah dalam hal spesifisitas dan sensitivitasnya.
c.
Pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction)
Dengan
menggunakan
pemeriksaan
PCR
spesifisitas
dan
sensitivitasnya dapat ditingkatkan. Keunggulan tes ini walaupun
jumlah
parasit
yang
dapat
dideteksi
sangat
sedikit
dapat
mengidentifikasi infeksi ringan dengan sangat tepat dan dapat
dipercaya. Hal ini penting untuk studi epidemiologi dan eksperimental
dan belum untuk pemeriksaan rutin.
d.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi umum
penderita, meliputi pemeriksaan kadar hemoglobin, hematokrit,
jumlah leukosit, eritrosit, dan trombosit. Bisa juga dilakukan
pemeriksaan kimia darah (gula darah, SGOT, SGPT) serta
pemeriksaan rontgen dan USG untuk melihat apakah terjadi
pembesaran hati dan limpa dan pemeriksaan lainya sesuai indikasi
(Widoyono, 2008).
8.
Penatalaksanaan
a.
Penatalaksanaan Keperawatan
1) Pemantauan tanda-tanda vital (TD, nadi, pernafasan, dan suhu).
2) Cairan dan elektrolit
Pemberian cairan merupakan bagian yang penting dalam
penanganan malaria, biasanya diberikan cairan 1500-2000 cc/hari
apalagi bila sudah terjadi malaria berat. Pemberian cairan yang
25
tidak adekuat akan menyebabkan timbulnya nekrosis tubuler akut.
Sebaliknya pemberian cairan yang berlebihan dapat menyebabkan
udema paru. Cairan yang biasa digunakan adalah dextrose 5%
untuk menghindari hipoglikemi khususnya pada pemberian kina.
Bila dapat diukur kadar elektrolit (natrium), dipertimbangkan
pemberian NaCl bila diperlukan.
3) Nutrisi
Pada pasien malaria makanan biasa atau makanan lunak.
Diit lunak yang diberikan mengandung protein, energy dan zat
gizi lainnya. Makanan yang diberikan dalam bentuk mudah
dicerna , rendah serat dan tidak mengandung bumbu yang tajam.
4) Eliminasi
Pada pasien malaria biasanya tidak mengalami gangguan
eliminasi tapi pada malaria berat terjadi gangguan eliminasi BAK
yaitu hemoglobinuria dan gangguan eliminasi BAB yaitu diare.
5) Aktifitas dan istirahat
Malaria biasa tidak perlu istirahat mutlak hanya aktivitas
yang dibatasi, mengatur posisi yang nyaman bagi pasien.
6) Bila terjadi anemia diberi tranfusi darah.
7) Memberikan kompres hangat pada pasien (hindari kompres
alcohol dan air es) dan bila pasien menggigil berikan selimut.
b.
Penatalaksanaan non medis
1) Menggunakan kelambu pada waktu tidur.
2) Mengolesi tubuh dengan obat anti gigitan nyamuk.
26
3) Menggunakan pembasmi serangga.
4) Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi. Letak tempat
tinggal diusahakan jauh dari kandang ternak.
5) Mencegah penderita malaria dari gigitan nyamuk agar infeksi
tidak menyebar lebih jauh.
6) Membersihkan tempat hinggap atau istirahat nyamuk dan
memberantas sarang nyamuk.
7) Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian
yang bergantungan serta genangan air.
8) Membunuh jentik nyamuk dengan menyemprotkan obati anti atau
menebarkan ikan pemakan jentik.
9) Melestarikan hutan bakau sebagai habitat ikan di rawa-rawa
sepanjang pantai (Irianto, 2011)
c.
Penatalaksanaan medis
Berdasarkan suseptibilitas (rentan) berbagai stadium parasit
malaria terhadap obat malaria, maka obat malaria dibagi lima
golongan, yaitu :
1) Skizontisida
jaringan
primer,
proguanil,
pirimetamindapat
membasmi parasit praeritrosit, sehingga mencegah masuknya
parasit ke dalam eritrosit; digunakan sebagai profilaksis kausal.
2) Skizontisida
jaringan
sekunder;
primakuin
dapat
membasmiparasit daur eksoeritrosit dan bentuk-bentuk jaringan
plasmodium vivax dan ovale dan digunakan untuk pengobatan
radikal infeksi ini bagi anti relaps.
27
3) Skizontisida darah; membasmi parasit yang berhubungan dengan
penyakit akut disertai gejala klinik. Skizontisida dapat mencapai
penyembuhan klinis suprasif bagi keempat spesies plasmodium.
Skizontisida darah juga membunuh bentuk eritrosit stadium
seksual plasmodium vivax, ovale dan malariae. Skizontisida
darah yang ampuh adalah kina, klorokuin, dan amodiakuin,
sedangkan
yang
efeknya
terbatas
adalah
proguanil
dan
pirimetamin.
4) Gametositosida:
menghancurkan
semua
stadium
seksual,
termasuk stadium gametosit plasmodium falcifarum, juga
mempengaruhi perkembangan parasit malaria dalam nyamuk
Anopheles
betina.
Beberapa
obat
gametositosida
bersifat
sporontosida. Primakuin adalah gametositosida untuk keempat
spesies, sedang kina, klorokuin, dan amodiakuin adalah
gametositosida untuk plasmodium vivax, ovale dan malariae.
5) Sporontosida: mencegah atau menghambat gametosit dalam
darah untuk membentuk ookista dan sporozoit dalam nyamuk
Anopheles. Obat ini mencegah transmisi penyakit malaria dan
disebut juga obat anti sporogonik. Obat-obatan yang termasuk
dalam golongan ini ialah primakuin dan poquanil.
Obat-obat malaria yang terdaftar di Dit. Jen. Pom dan memenuhi
standar untuk program pemberantasan penyakit malaria Dep. Kes.
Adalah klorokuin, S-P, kina, primakuin dan beberapa antibiotika yang
beredar diindonesia. Obat baru halofantrin, artemisin (qinghaosu) dan
28
derivatnya: artemeter, artesunat, arte-ater, pironaridin, atovakuan,
yinghausu (arteflen) (Safar Rosdiana, 2009).
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
Proses keperawatan adalah suatu metode yang sistematis dan terorganisasi
dalam pemberian asuhan keperawatan, yang difokuskan pada reaksi dan
respons unik individu pada suatu kelompok atau perorangan terhadap
gangguan kesehatan yang dialami, baik, aktual, maupun potensial. Proses
keperawatan juga dapat diartikan sebagai pendekatan yang digunakan
perawat dalam memberikan asuhan keperawatan, sehingga kebutuhan dasar
klien dapat teratasi. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap, yaitu :
pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi (Deswani,
2009).
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dalam asuhan keperawatan dan
landasan proses keperawatan. Oleh karena itu dibutuhkan pengkajian yang
cermat guna mengenal masalah klien sepertimengumpulkan semua
informasi yang bersangkutan dengan masa lalu dan saat ini, data objektif
dan subjektif dari klien, keluarga, masyarakat, lingkungan, atau budaya.
Keberhasilan asuhan keperawatan sangat tergantung kecermatan dan
ketelitian dalam pengkajian (Deswani, 2009).
Pengkajian :
a.
Identitas pasien
29
Terdiri dari: nama pasien, umur, pendidikan, agama, pekarjaan, alamat
serta penanggung jawab pasien. Biasanya malaria diderita oleh
seorang yang tinggal di daerah atau lingkungan endemic malaria.
b.
Data riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan klien saat masuk rumah sakit, keluhan saat dikaji :
demam yang hilang timbul, menurunnya nafsu makan, sakit
kepala,mual, muntah, lemah, menggigil, malaise, nyeri sendi dan
tulang, berkeringat.
2) Riwayat kesehatan yang lalu
Menggambarkan kesehatan pasien sebelumnya, apakah pasien
pernah mempunyai riwayat penyakit malaria atau meminum obat
malaria, apakah pernah bepergian dan bermalam didaerah
endemik.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Menggambarkan adakah anggota keluarga yang mengalami
penyakit malaria, riwayat penyakit genetik, dan congenital dalam
keluarga.
4) Riwayat kebiasaan sehari-hari
a) Pola nutrisi
Menggambarkan keluhan pasien berupa: mual, muntah terus
menerus, sering juga muntah darah.
30
b) Pola eliminasi
BAK : pada malaria berat warna air kencing menjadi seperti
teh, dan volume air kencing yang berkurang sampai tidak
keluar air kencing sama sekali.
BAB : Kemungkinan terjadinya berak darah.
c) Pola istirahat dan tidur
Pada umumnya didapat keluhan berupa adanya gangguan
istirahat dan tidur yang disebabkan oleh nyeri kepala, mual,
muntah dan demam menggigil.
d) Pola aktivitas
Pada umumnya penderita malaria terdapat kelemahan atau
kelelahan saat melakukan aktivitas dikarenakan pasien
mengalami mual, muntah dan nyeri kepala.
e) Personal hygiene
Pada umumnya personal hygiene pada penderita malaria
masih cukup baik dan bersih.
c.
Pemeriksaan Fisik
(Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)
1) Keadaan umum
Di kaji penampilan dan tingkat kesadaran.
kesadaran, kelemahan atau kelumpuhan otot
31
Terjadi gangguan
2) Tanda-tandavital
Pasien mengalami demam 37,50C - 400C, penurunan tekanan
darah, nadi berjalan cepat dan lemah, serta frekuensi nafas
meningkat.
3) Pemeriksaan fisik
a) Pernapasan
Inspeksi :
Frekuensi pernapasan meningkat, bentuk dada
simetris/tidak dan ada/tidak benjolan atau bekas
luka.
Auskultasi : Suara nafas vesikuler.
Palpasi :
Pergerakan
dinding
dada
simetris/tidak,
ada/tidak benjolan dan nyeri tekan.
Perkusi :
Resonan.
b) Pencernaan
Inspeksi :
Mukosa bibir kering dan pecah-pecah, abdomen
simetris/tidak, ada/tidak luka operasi.
Auskultasi : Bising usus (+)
Palpasi :
Ada/tidak benjolan dan nyeri tekan, ada/tidak
pembesaran hepar atau limfa.
Perkusi:
Timpani
c) Penglihatan
Inspeksi :
Konjungtiva palpebra pucat.
Palpasi :
Ada/tidak benjolan dan nyeri tekan.
d) Pengecapan :
Mulut terasa pahit
32
e) Pendengaran : Tidak ada gangguan pada pendengaran
f)
Kardiovaskuler
Inspeksi :
ada/tidak bekas operasi dan benjolan.
Palpasi :
Ada/tidak nyeri tekan dan pembengkakan
jantung.
Perkusi :
Redup pada bagian jantung.
Auskultasi : Bunyi jantung I dan bunyi jantung II normal.
g) Perkemihan :volume air kencing berkurang, warna seperti
teh.
h) Reproduksi : Tidak ada masalah pada sistem reproduksi.
d.
i)
Moskuloskeletal : Terjadi kelemahan pada otot.
j)
Intergument : Warna ikterik/ kekuningan / tampak pucat.
Riwayat Psikologis dan Spiritual
1) Psikologi
Menggambarkan tentang reaksi pasien terhadap penyakit yang di
alami, cemas dan harapan pasien mendapatkan dukungan dari
orang - orang terdekat pasien.
2) Spiritual
Kepercayaan yang di anut pasien, kebiasaan beribadah, dan
sejauh mana kepercayaan tersebut mempengaruhi kehidupan
pasien.
e.
Pemeriksaan penunjang
1) USG : pada penderita malaria kronis terdapat pembesaran limpa
33
2) Rontgen : pada penderita malaria kronis terlihat pembesaran hati
dan
limpa.
3) Laboratorium
a) Hitung leukosit darah rendah atau normal (n : 4.000-10.000
mm3)
b) Jumlah trombosit sering menurun terutama pada malaria
berat (n : 150.000-400.000 sel/mm3)
c) Laju endap darah sangat tinggi (>5-15 mm/jam)
d) Hemoglobin darah rendah (<10 gr/dl)
e) Plasmodium terlihat dalam sediaan, DDR (+).
34
Analisa data
Tabel 2.2 Analisa Data
No
1
Data focus
Masalah
Ds : Klien mengeluh kepala terasa pusing
Do :
Perubahan
perfusi
jaringan
ï‚· TTV : Tensi darah hipotensi, nadi cepat
ï‚· Terdapat sianosis
ï‚· Akral dingin
ï‚· Kulit pucat
ï‚· Klien tampak gelisah
ï‚· Hb dibawah normal
ï‚· Conjungtiva anemis
ï‚· Mukosa bibir tampak kering
ï‚· Hasil pemeriksaan DDR (+)
2
Ds : klien mengatakan bahwa klien tidak nafsu Resiko
makan dan perutnya mual,dan pernah muntah
ketidakseimbangan
>1x
nutrisi
Do :
kurang
dari
ï‚· Porsi makan yang dihabiskan terlihat kebutuhan
hanya 3 sendok makan
ï‚· Keadaan umum tampak lemah
ï‚· BB klien di bawah normal/biasanya
ï‚· Tinggi badan tidak seimbang dengan BB
ï‚· Klien tampak pucat
ï‚· Mukosa bibir tampakk kering
3
Ds : Klien mengatakan merasa mual, dan Aktual/resiko
muntah > 3x, tidak ada keinginan untuk minum.
Do :
35
tinggi
gangguan elektrolit
ï‚· TTV : TD : hipotensi, nadi : takikardi,
suhu >380C.
ï‚· Tugor kulit tidak elastis
ï‚· Haluaran urin tidak adekuat
ï‚· Intake dan output tidak seimbang
ï‚· Membran mukosa kering
4
Ds : klien mengeluh tubuhnya terasa panas, Hipertermi
panas yang dirasakan hilang timbul.
Do :
ï‚· Pada palpasi klien teraba panas
ï‚· Suhu >370C
ï‚· Hasil pemerikasaan DDR (+)
ï‚· Klien tampak gelisah
ï‚· Mukosa bibir tampak kering
5
Ds : klien mengatakan tubuhnya terasa lemas
Gangguan aktifitas
Do :
ï‚· Klien tampak lemah
ï‚· Aktivitas klien hanya ditempat tidur
ï‚· Semua kebutuhan klien dibantu oleh
keluarga dan perawat
ï‚· Kekuatan otot
<4444 <4444
<4444 <4444
6
Ds : klien mengeluh tubuhnya terasa nyeri pada Nyeri
persendian tulang dan juga otot, tubuh terasa
pegal-pegal.
Do :
36
ketidaknyamanan
dan
ï‚· Klien tampak meringis kesakitan
ï‚· Klien tampak gelisah
ï‚· Sakala nyeri (1-5)= <2
7
Ds : klien dan keluarga mengatakan tidak tahu Resiko
tentang apa penyakit malaria dan cara penularan
penularan
penyakit malaria.
penyakit malaria.
Do :
ï‚· Keluarga dan klien tidak menjawab ketika
ditanya tentang cara penularan penyakit
malaria dan hanya mengelengkan kepala.
ï‚· Keluarga dan klien tidak mengetahui cara
pencegahan malaria.
ï‚· Keluarga bertanya tentang apa penyakit
yang di derita keluarganya.
2.
Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah menganalisis data subjektif dan
objektif yang telah diperoleh pada tahap pengkajian untuk menegakan
diagnosa keperawatan. Diagnosa keperawatan melibatkan proses berpikir
kompleks tentang data yang dikumpulkan dari klien, keluarga, rekam
medik, dan pemberi pelayanan kesehatan lain (Deswani, 2009).
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan malaria berdasarkan dari
tanda dan gejala yang timbul menurut Muttaqin (2011) adalah :
a.
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam
tubuh.
37
b.
Aktual/resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan
dengan
intake
yang
tidak
dekuat
;
anorexia,
mual/muntah.
c.
Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan diuresis
osmotik, diaforesis.
d.
Hipertermi
berhubungan
dengan
peningkatan
metabolisme,
efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
e.
Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
f.
Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi
sistemik, mialgia, artralgia.
g.
Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan
pola hidup.
3.
Intervensi keperawatan
Intervensi keperawatan adalah panduan untuk perilaku spesifik yang
diharapkan dari klien, dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh
perawat. Intervensi dilakukan untuk membantu klien mencapai hasil yang
diharapkan (Deswani, 2009)
Terhadap perencanaan meliputi :
a.
Menentukan proritas masalah
Menentukan prioritas masalah menurut maslow memberikan
kerangka kerja yang berguna dalam menentukan masalah prioritas,
dengan prioritas utama diberikan pada kebutuhan fisik diikuti oleh
kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah. Tahap prioritas masalah
38
menurut maslow adalah meliputi : kebutuhan fisiologi, kebutuhan
rasa aman dan kenyamanan, kebutuhan cinta dan mencintai,
kebutuhan harga diri, dman kebutuhan pencapaian tujuan pribadi
(Deswani, 2009)
Prioritas keperawatan untuk pasien dengan diagnosa malaria
dapat meliputi :
1) Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan
komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen
dan nutrient dalam tubuh.
2) Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan
diuresis osmotik, diaforesis.
3) Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme,
efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
4) Aktual/resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia,
mual/muntah.
5) Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons
inflamasi sistemik, mialgia, artralgia.
6) Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
7) Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan
dan pola hidup.
39
b.
Menetapkan intervensi keperawatan
1) Menetapkan tujuan
Tujuan keperawatan ditulis berdasarkan pada standar
perawatan dan merupakan tujuan dalam mengatasi masalah klien.
2) Menetapkan kriteria hasil
Untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yang di terapkan
pada standar, maka dibuatlah kriteria hasil. Kriteria hasil
ditegakkan untuk masing-masing masalah klien sesuai dengan
rencana tindakan yang disusun (Doengoes, 2000).
Adapun perencanaan keperawatan yang dapat diisusun pada
klien dengan malaria menurut Muttaqin (2011) ialah :
Tabel 2.3 Intervensi Keperawatan
No
1
Diagnosa
NOC
NIC
Keperawatan
Perubahan perfusi Tujuan : setelah 1. Memeriksa
jaringan
dilakukan
berhubungan dengan perawatan dalam
Rasional
1. Memantau
tanda-tanda
perkembangan
vital
tekanan
darah
penurunan
waktu
dan
perubahan
komponen
4x24jamtidak
pada
tekanan
seluler yang
di terjadipenurunan
nadi.
Hipotensi
perlukan
untuk tingkat kesadaran
pengiriman oksigen dan
akan berkembang
dapat
bersamaan
dan nutrient dalam mempertahankan
dengan
tubuh.
kuman
cardiac
output
yang menyerang
secara
adekuat
darah.
guna
2.Catat
adanya 2. Keluhan pusing
meningkatkan
keluhan
merupakan
perfusi jaringan.
pusing.
manifestasi
penurunan
40
Kriteria hasil :
suplai darah ke
ï‚· Tanda-tanda
jaringan otak.
vital normal
3. Respons
3.Kurangi
aktivitas yang
valsava
mengeluh
merangsang
meningkatkan
pusing
timbulnya
beban
jantung
respons
sehingga
akan
valsava/aktivit
menurunkan
as.
curah
ï‚· Klien
tidak
ï‚· Klien
tidak
gelisah
ï‚· Tidak terdapat
akan
jantung
ke otak.
sianosis
4. Menurunkan
ï‚· Kulit segar
4.Tingkatkan
ï‚· Hemoglobin
tirah baring.
normal
beban
kerja
miokard
dan
konsumsi
ï‚· Akral hangat
oksigen,
ï‚· Conjungtiva
memaksimalkan
ananemis
efektifitas
ï‚· Mukosa bibir
dari
perfusi jaringan.
tampak
lembab
5. Bukti
5.Observasi
ï‚· Hasil
pemeriksaan
DDR (-)
terhadap
perubahan
sensori
dan
penurunan
tingkat
aliran darah ke
kesadaran
jaringan
pasien
yang
serebral adalah
menunjukan
adanya
penurunan
perubahan
perfusi
otak
respons sensori
(gelisah,
dan penurunan
confuse/bingu
tingkat
ng,
kesadaran pada
apatis,
somnolen)
41
aktual
fase
akut.
Adanya
kegagalan harus
dilakukan
monitoring
ketat.
6. Kolaborasi
6. Jalur yang paten
Pemberian
penting
transfusi darah
pemenuhan lisis
PRC
darah
(packed
red cells).
untuk
sebagai
intervensi
kedaruratan
2
Aktual/risiko tinggi Tujuan : setelah 1. Ukur/
catat 1. Penurunan
gangguan elektrolit dilakukan
haluaran urine
haluaran
berhubungan
dan
akan
dengan
perawatan dalam
diuresis waktu
osmotik, diaforesis.
4x24jam
tidak
terjadi
catat
intake-output
menyebabkan
pasien.
hipovolemi.
hiponatremi
dan
hipokalemi
atau 2. Observasi
kondisi
hiponatremi
dan
urin
2. Hipotensi,
tanda–tanda
takikardi
atau
vital.
demam
dapat
menunjukan
hipokalemi.
respon terhadap
Kriteria hasil :
atau
ï‚· TTV
kehilangan
dalam
cairan
batas normal
ï‚· Turgor
kulit 3. Palpasi
elastis
denyut
ï‚· Haluaran
efek
urin
perifer.
nadi
3. Denyut
yang
lemah
mudah
hilang dan dapat
menyebabkan
adekuat
ï‚· Intake
dan
42
hipovolemi.
output seimbang 4. Anjur
klien 4. Dengan banyak
minum
ï‚· Membran
banyak
mukosa lembab
minum
ï‚· Klien
tidak
kurang 2000-
cairan
mengeluh mual
3000 cc/hari.
hilang.
dan muntah
lebih
menggantikan
yang
5. Menunjukan
5. Observasi
turgor
dapat
kulit
kehilangan
dan membran
cairan/
mukosa
dehidrasi.
6. Kolaborasi
6. Mencegah
pemberian
terjadinya
cairan
kekurangan
parenteral.
cairan
dan
elektrolit
serta
menggantikan
cairan
tubuh
yang hilang.
7. Kolaborasi
7. Antipiretik:
untuk
mengontrol
pemberian
demam,
obat
menurunkan
sesuai
indikasi
kehilangan
seperti
cairan
tidak
antipiretik,
terlihat.
Anti
antiemetik,
emetik:
untuk
dan elektrolit.
mengurangi
mual
dan
muntah.
Elektrolit:
menggantikan
elektrolit
hilang.
43
yang
3
Hipertermi
Tujuan
:Setelah
1.Evaluasi TTV 1. Sebagai
pada
peningkatan
perawatan dalam
pergantiann sif
terhadap adanya
metabolisme,
waktu
atau setiap ada
perubahan
dehidrasi,
4x24jamterjadi
keluhan
keadaan umum
efek langsung
penurunan
klien.
sirkulasi
suhu
setiap
pengawasan
berhubungan dengan dilakukan
dari
klien
dapat dilakukan
kuman tubuh dan panas
pada hipotalamus.
sehingga
penanganan dan
tidak berulang.
perawatan
Kriteria hasil :
secara cepat dan
ï‚· Pada
tepat.
palpasi
teraba 2. Anjurkan klien 2. Dengan
tubuh
tidak panas
ï‚· Suhu
tubuh
normal
baju
untuk
yang tipis dan
memakaikan
menyerap
pakaian
keringat
yang
tipis dan dapat
diharapkan klien
lembab
menyerap
tidak gerah dan
ï‚· DDR (-)
keringat.
panas
ï‚· Mukosa bibir
ï‚· Klien
akan turun.
tidak
3. Pemberian
3. Anjurkan
gelisah
tubuh
memberikan
selimut
menjelaskan
selimut
digunakan untuk
kembali
menggigil.
ï‚· Klien mampu
bila
mengurangi
pendidikan
ketidak
kesehatan
nyamanan pada
yang
saat demam dan
diberikan.
menggigil
ï‚· Klien mampu
termotivasi
sebagai
respon
sekunder
dari
hipertermi.
untuk
44
melaksanakan
4. Beri kompres 4. Terjadi
vasodilatasi
penjelasan
dengan
air
yang
hangat
-
pembuluh darah,
hangat
kuku
sehingga terjadi
pada
aksila,
penguapan
lipat paha, dan
(evaporasi).
telah
diberikan.
temporal
bila
terjadi panas.
5. Berikan klien 5. Dengan banyak
banyak minum
minum
dapat
2000-3000
menggantikan
cc/hari.
cairan
yang
hilang.
6. Kolaborasi
6. Pemberian
untuk
cairan
pemberian
dapat mencegah
cairan infus.
terjadinya
infus
kekurangan
cairan
serta
untuk mengganti
cairang
tubuh
yang hilang.
7. Kolaborasi
7. Anti
untuk
dapat
pemberian
merangsang
antipiretik,
hipotalamus
anti
malaria,
untuk
dan
antii
biotik.
piretik
menurunkan
suhu
tubuh,
pemberian
anti
malaria
dapat
membunuh
45
parasit/plasmodi
um
penyebab
malaria,
antibiotik untuk
mengatasi
infeksi.
8. Atur
8. Kondisi
ruang
lingkungan
kamar
yang
yang
tidak
panas,
konduksif.
tidak bising, dan
sedikit
pengunjung
memberi
efektivitas
terhadap proses
penyembuhan.
4
Ketidakseimbangan
Tujuan : Setelah 1. Kaji
1. Tingkat
nutrisi kurang dari dilakukan
pengetahuan
pengetahuan
kebutuhan
klien tentang
dipengaruhi
intake nutrisi.
oleh
tubuh perawatan dalam
berhubungan dengan waktu
intake
dekuat:
yang
tidak klien
5x24jam
dapat
anorexia, mempertahankan
mual/muntah.
kondisi
sosial ekonomi
klien.
Perawat
kebutuhan nutrisi
mengunakan
yang adekuat.
pendekatan
yang
sesuai
Kriteria hasil :
dengan kondisi
ï‚· Berat
individu
badan
Dengan
klien
46
klien.
normalseimban
mengetahui
g dengan tinggi
tingkat
badan
pengetahuan
mampu
tersebut,
menghabiskan
perawat
dapat
porsi
makan
lebih
terarah
yang disajikan
dalam
ï‚· Klien
ï‚· Keadaan umum
memberikan
klien membaik
pendidikan
ï‚· Mual,
yang
muntah
dengan
berkurang
ï‚· Mukosa
sesuai
pengetahuan
bibir
tampak lembab
klien
secara
efisien
dan
efektif.
2. Untuk
2. Anjurkan klien
agar
makan
makanan
mengurangi
perasaan
pahit
pada lidah.
dalam keadaan 3. Untuk
hangat.
mengurangi
3. Anjurkan klien
untuk
makan
makanan lunak
47
perasaan tegang
pada
lambung
sehingga
tidak
dalam
porsi
terjadi mual dan
kecil
tapi
muntah.
sering
4. Dapat
meningkatkkan
masukan
4. Diskusikan
makanan klien.
makanan yang
disukai
dan
klien
masukan 5. Anti
dalam
diet
murni.
emetik
dapat
mengurangi
mual
dan
5. Kolaborasi
muntah.
pemberian
6. Penimbangan
obat
anti
emetik.
berat
badan
dilakukan
sebagai evaluasi
terhadap
6. Monitor
intervensi yang
perkembangan
diberikan.
berat badan.
5
Nyeri
dan
Tujuan : Setelah 1. Jelaskan
dan 1. Pendekatan
ketidaknyamanan
dilakukan
bantu
klien
berhubungan
perawatan dalam
dengan
48
dengan
menggunakan
dengan
respons
waktu
tindakan
relaksasi
inflamasi
4x24jamterjadi
pereda
sistemik,
penurunan
nonfarmakolo
lainya
mialgia,
keluhan nyeri dan
gi
menunjukan
artralgia.
ketidaknyamanan.
noninvasif.
nyeri
dan
dan
nonfarmakologi
telah
keefektifan
dalam
Kriteria hasil :
mengurangi
ï‚· Secara
nyeri.
2. Istirahatkan
subjektif
2. Istirahat
secara
akan
melaporkan
klien pada saat
fisiologis
nyeri berkurang
nyeri muncul
menurunkan
atau
kebutuhan
dapat
oksigen
diadaptasi
yang
diperlukan untuk
ï‚· Skala nyeri 0-1
Dapat
memenuhi
mengidentifika
kebutuhan
si
metabolisme
(1-4).
aktivitas
basal.
yang
meningkatkan
3. Ajarkan teknik 3. Meningkatkan
atau
relaksasi
intake
oksigen
menurunkan
pernafasan
sehingga
akan
nyeri
dalam
pada
menurunkan
saat
nyeri
nyeri
sekunder
dari
iskemia
ï‚· Klien
tidak
muncul.
gelisah
49
spina.
4. Manajemen
4. Lingkungan
lingkungan,
yang
Lingkungan
akan
yang
menurunkan
tenang,
tenang
batasi
stimulus
nyeri
pengunjung,
eksternal
dan
istirahatkan
pembatasan
klien.
pengunjung
akan membantu
meningkatkan
kondisi oksigen
ruangan
yang
akan berkurang
apabila banyak
pengunjung
yang berada di
ruangan.
Istirahat
akan.menurunk
an
kebutuhan
oksigen
jaringan perifer.
5. Tingkatkan
50
5. Pengetahuan
pengetahuan
mengenai
hal
tentang sebab-
yang
di
sebab nyeri.
rasakan
akan
membantu
mengurangi
nyerinya
dan
dapat
membantu
mengembangka
n
kepatuhan
klien
terhadap
rencana
terapeutik.
6
Gangguan aktivitas Tujuan : Setelah 1. Observasi
1. Untuk
berhubungan dengan dilakukan
respons
klien
mengidentifikasi
kelemahan fisik.
perawatan dalam
terhadap
indikasi
5x24jamklien
aktivitas.
kemajuan
atau
dapat melakukan
penyimpangan
aktivitas
dari hasil yang
sesuai
dengan
diharapkan.
kemampuan.
2. Awasi tanda – 2. Agar
tanda
vital
mengetahui
Kriteria hasil :
selama
dan
perubahan
ï‚· Klien
sesudah
mampu
51
kelemahan
dan
aktivitas.
melakukan
kekuatan
aktivitas sendiri
ï‚· Badan
dan
pasien.
klien 3. Tingkatkan
tidak lemah lagi
pada
tirah baring.
3. Tirah
baring
meningkatkan
istirahat
kekuatan
dan
otot membaik
ketenangan klien
ï‚· Tanda-tanda
serta
vital
menyediakan
dalam
energi
batas normal
yang
digunakan untuk
penyembuhan.
4. Atur
posisi 4. Agar klien bisa
pasien
beristirahat dan
senyaman
memulihkan
mungkin
kesehatan.
5. Berikan
5. Membantu klien
bantuan dalam
bila perlu, untuk
aktivitas
meninggkatkan
sehari-hari bila
kepercayaan diri
perlu.
bila klien dapat
melakukan
aktivitas sendiri.
6. Membangun
6. Libatkan
52
hubungan
yang
keluarga
kooperatif antara
dalam
perawat
pemenuhan
keluaraga.
dan
kebutuhan
klien.
7
Resiko
penyakit
penularan Tujuan : Setelah 1. Beri
malaria dilakukan
1. Klien
penjelasan
berhubungan dengan perawatan dalam
tentang
kurang pengetahuan waktu
itu
tentang
3x24jam
penyakit penularan
keluarga
apa
penyakit
dan
dapat
menjelaskan
kembali
dan
malaria, cara
menentukan
malaria, kebersihan penyakit malaria
penularan
pencegahan
lingkungan dan pola tidak terjadi.
penyakit
penyakit
hidup.
malaria
Kriteria hasil :
dan
pencegahanya
dan 2. Anjurkan
ï‚· Klien
malaria
secara
dini.
2. Dengan
keluarga dapat
keluarga dan
lingkungan
menjelaskan
klien
yang bersih dan
kembali
memelihara
nyaman
dan
nyamuk
meningkatkan
akan
cara penularan
kebersihan
berkembang
penyakit
diri
malaria.
lingkunganya.
itu
apa
penyakit
malaria
dan
53
untuk
dan
biak.
tidak
3. Akan mencegah
3. Anjurkan
ï‚· Klien
dan
klien
dan
Keluarga
keluarga
dapat
untuk
menyebutkan
membasmi
cara
sarang
pencegahan
nyamuk atau
malaria.
tempat
berkembang
biak nyamuk.
54
terjadi
penularan.
BAB III
LAPORAN KASUS
A. Pengkajian
1.
Identitas klien
Nama
:Ny. T
Umur
:46 Tahun
Jenis Kelamin
:Perempuan
Pendidikan
:SMA/FARMASI
Agama
:Islam
Alamat
:Lapodi
No. RM
:568642
Ruangan
: Ruang Interna
Tanggal masuk
:17 maret 2019
Tanggal pengkajian
:18 Maret 2019, pukul 10.00 WIB
Diagnosa medis
: Malaria
Identitas Penanggung Jawab
Nama
:Tn M
Umur
:48 Tahun
Jenis Kelamin
:Laki-laki
Pendidikan
:SMA
Agama
:Islam
Alamat
:Lapodi
55
Hubungan dengan Keluarga
2.
:
Suami
Keluhan utama
a.
Riwayat kesehatan Sekarang
Klien dibawa oleh keluarga ke IGD RSUD Pasarwajo
Kabupaten Buton pada tanggal 17 Maret 2019 pukul 10.00
WITA dengan keluhan demam dirasakan sejak 1 minggu yang
lalu, keluhan menggigil baru dirasakan sejak kemarin (16
Maret 2019), merasa mual, muntah satu kali, tubuh terasa
panas, sering berkeringat, kepala pusing, seluruh tubuh
dirasakan sakit dan pegal-pegal. Tiga hari yang lalu klien
sudah minum obat yang di beli di warung yaitu paracetamol
guna menurunkan panas tetapi tidak ada perubahan. Tanda
tanda vital : TD : 120/80 mmHg, Nadi : 86 x/menit, Pernafasan
: 22 x/menit, Suhu : 380C, Berat badan : 49 kg, Tinggi badan :
155 cm.
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 18/03/2019
pukul 10.00 WITA, keadaan umum klien masih tampak lemah,
mukosa bibir terlihat kering, conjungtiva anemis, klien
mengeluh terasa nyeri pada daerah persendian tulang dan juga
otot, skala nyeri 3 (1-5), tubuh terasa pegal-pegal, merasa
mual, nyeri pada uluh hati, lidah terasa pahit, tidak ada nafsu
makan, sakit kepala, panas pada tubuh sering dirasakan hilang
timbul dan sering berkeringat, keluhan menggigil sudah
berkurang tidak seperti pada saat pertama masuk. Klien juga
56
mengeluh bahwa hasil labornya haemoglobin rendah yaitu 7,5
gr/dl menurut saran dokter untuk tranfusi darah 3 kantong,
untuk menormalkan Hb. Klien tampak pucat, akral teraba
dingin, ekstremitas atas terpasang infus dan sedang dilakukan
transfusi. Tanda vital : TD :110/70 mmHg, Nadi : 90 X/menit,
Pernafasan : 22 x/menit, Suhu : 370C.
b.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Sebelumnya klien pernah mengalami demam seperti
sekarang ini dengan diagnosa yang sama yaitu Malaria pada
dua tahun yang lalu dan dirawat selama 3 hari di ruang Ruang
Interna RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton. Riwayat operasi
caesaria : 1 (satu) kali karena melahiran kembar pada tahun
2003.
c.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga Ny. T terdapat keluarga yang pernah
mengalami penyakit malaria yaitu suaminya, anak pertama dan
anak kedua.
3.
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum
: Lemah
Tekanan darah
: 100/70 mmHg
Nadi
: 90 x/menit
57
Suhu
: 370C
Pernapasan
: 22 x/menit
Pemeriksaan head to toe :
a.
Kepala :
1) Rambut :
Inspeksi : Distribusi rambut merata, warna rambut hitam,
kulit kepala terlihat bersih, terlihat banyak
rambut yang gugur pada bantal tempat tidur
klien.
Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan.
2) Mata :
Inspeksi : Fungsi penglihatan kurang klien menggunakan
kacamatan, letak simentris, sklera anikterik,
conjungtiva anemis, sekret tidak ada, pupil
isokor, reflek cahaya positif.
3) Telinga :
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada pengeluaran cairan
serumen, tidak ada penumpukan serumen, tidak
ada gangguan pendengaran.
Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan.
4) Hidung :
Inspeksi : Bentuk simetris, klien mampu membedakan
bau-bauan,mukosa kering, benjolan tidak ada,
58
polip
tidak
ada,
tidak
ada
tanda-tanda
peradangan.
Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan.
5) Mulut :
Inspeksi : Mukosa bibir terlihat kering, lidah terlihat kotor,
tidak ada lesi, tidak ada stomatitis, lidah terasa
pahit, tidak ada karies.
b. Leher :
Inspeksi
: Tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada
pembesaran kelenjar tyroid.
Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan.
c. Thorak
Inspeksi :
Bentuk simetris, tidak ada benjolanatau bekas luka
operasi, tidak ada alat bantu pernafasan.
Auskultasi :
Irama jantung teratur, bunyi jantung 1 normal, bunyi
jantung II normal, bunyi nafas vesikuler, tidak ada
wheezing, tidak ada ronchi.
Palpasi :
Tidak ada nyeri tekan.
Perkusi :
Redup, resonan pada lapang paru.
d. Abdomen :
Inspeksi :
Terlihat distensi, tidak ada benjolan, terdapat bekas
luka operasi.
Auskultasi : Bising usus 12 x/menit.
59
Palpasi :
Nyeri tekan epigastrik (+), tidak ada pembesaran
hepar atau limpa.
Perkusi :
Timpani.
e. Ekstermitas :
Atas :
Akral dingin, udema tidak ada, tangan kiri
terpasang infus dan sedang transfusi darah.
Bawah:
Akral dingin, tidak ada varises, klien jarang
menggerakan kakinya karena masih merasa lemah.
Kekuatan otot ekstremitas atas dan bawah :
4444 4444
4444 4444
4.
Data Psikologi :
Saat dikaji ekspresi wajah klien terlihat cemas terhadap
penyakit yang dialami, dan klien berharap cepat sembuh.
5.
Data Sosial Ekonomi
Klien adalah seorang wanita karier yang bekerja di balai
POM dikarenakan klien sedang sakit perkerjaan klien jadi terganggu
dan klien tidak dapat masuk kerja.Klien mengatakan kebiasaan
sehari-hari klien sebelum tidur klien menggunakan obat seprot
nyamuk, klien tidur tidak menggunakan kelambu, klien mengatakan
pada ventilasi rumah tidak terpasang kawat kasa, klien juga tidak
memiliki kandang ternak, klien tinggal pada wilayah pemukiman
yang padat,tidak terdapat genangan air pada sekitar rumah klien,
namun hanya terdapat selokan didepan rumah namun telah ditutup
60
dengan semen dan hanya terbuka sedikit, klien mengatakan keadaan
sekitar lingkungan rumahnya kurang bersih karena klien sibuk
dengan pekerjaan dan mengurus anak-anaknya sehingga tidak terlalu
memperhatikan keadaan rumah.
6.
Data Spiritual
Kepercayaan yang dianut klien adalah agama islam, klien
rajin beribadah sewaktu dirumah namun selama dirumah sakit klien
tidak melakukan ibadah seperti : sholat dikarenakan fisiknya lemah.
Bagi klien sakit yang dideritanya adalah cobaan yang diberikan oleh
ALLAH SWT dan pasti akan ada hikmahnya di kemudian hari.
7.
Data penunjang : tanggal 17 Maret 2019, pukul 10.30 WITA.
Tabel 3.1 Data Penunjang
Jenis pemeriksaan
Hasil
Satuan
Nilai Rujukan
Hematologi :
Hemaktokrit
Haemoglobin
Leokosit
Trombosit
L 23
L 7,5
H 17,4
320.000
%
Gr/dl
10^3/µl
Sel/mmµ3
40 – 54
12.0 – 16.0
4.0 – 10.0
150.000 – 400.000
Malaria/DDR :
Plasmodium
vivax
Kimia klinik :
Ureum serum
Kreatinin serum
Glukosa sewaktu :
Glukosa sewaktu
(+) Positif
(-) Negatif
29.0
0.6
Mg/dl
Mg/dl
20 -40
0.5 -1.2
H 167
Mg/dl
70 – 120
61
8.
Penatalaksanaan Medis :
Tabel 3.2 Penatalaksanaan Medis
Terapi tanggal 17 /3/ 2019
Terapi tanggal 18/03/2019
Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Ondan sentron 1 x 1
Ranitidin 2 x 1
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Paracetamol 3 x 1
Dexanta sirup 3 x 1
Neorodex 2 x 1
Vometa 3 x 1
Omeparazole 1 x 1
Malarex (4) – 4 – 2
Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Transfusi 1 k
Pre transfusi :
6) NaCl
7) Dexamethasone
8) Dhipinehidramine
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Malarex (4) – (4) – 2
Dexanta sirup 3x1
Vometa 3x1
Neorodex 2 x 1
Omeparazole 1 x 1
Paracetamol 3 x 1
Terapi tanggal 19 /3/ 2019
Terapi tanggal 20/03/2019
Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Transfusi 1 k
Pre transfusi :
9) NaCl
10) Dexamethasone
11) Dhipinehidramine
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Malarex (4) – (4) – (2)
Dexanta sirup 3x1
Vometa 3x1
Neorodex 2 x 1
Omeparazole 1 x 1
Paracetaamol 3 x 1
Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Transfusi 1 k
Pre transfusi :
12) NaCl
13) Dexamethasone
14) Dhipinehidramine
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Clobazam untuk malam 1 x 1
Neorodex 2 x 1
Omeparazole 1 x 1
Donperidon 3 x 1
Dexanta sirup 3x1
Paracetamol 3x1
62
Terapi tanggal 21 /3/ 2019
Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Clobazam 1 x 1
Neorodex 2 x 1
Omeparazole 1 x 1
Donperidon 3 x 1
Scopamin 3 x 1
9.
Terapi tanggal 22 /3/ 2019
Intra vena :
Infus RL 20 tts/menit
D5% 20 tts/menit
Cefotaxime 2 x 1
Obat oral :
Clobazam 1x1
Neorodex 2x1
Omeparazole 1x1
Donperidon 3x1
Scopamin 3x1
Paracetamol 3x1
Kebiasaan sehari – hari
Tabel 3.3 Kebiasaan sehari-hari
Kebiasaan
Dirumah
Dirumah sakit
Nutrisi :
A. Makan
-
Pola makan
3x sehari
3 x sehari
-
Porsi
1 porsi
3 sendok makan
-
Jenis makanan
Nasi, lauk, sayur, dan Bubur, nasi, buah, susu,
buah
sayur
-
Pantangan
Tidak ada
Makanan yg pedas
-
Kesulitan
Tidak ada
Mual, nyeri pada uluh
B. Minum
hati, lidah terasa pahit
 Jenis
Air putih, sirup, dan teh
Air putih, susu
 Frekuensi
1750 cc – 2000 cc /hari
1500 – 1750 cc / hari
 Kesulitan
Tidak ada
Mual
 Pola BAB
1 x sehari
1x sehari
Konsistensi
Lembek
Lembek
Bau
Khas
Khas
Warna
Kuning
Kuning
Eliminasi :
63
Kesulitan
Tidak ada
Tidak ada
Frekuensi
4 – 5 x sehari
3 -4 x sehari
Warna
Kuning
Kuning
Kesulitan
Tidak ada
Tidak ada
2 x sehari
2x
 Pola BAK
Personal Hygiene
 Mandi
(dilap
oleh
ibu
dengan air hangat).
Istirahat / tidur :
 Frekuensi
6 – 8 jam / hari
4-6 jam / hari
 Kesulitan
Tidak ada
Tubuh
sering
terasa
panas
ketika
malam
hari, sering berkeringat,
nyeri pada sendi tulang
dan otot, tubuh terasa
pegal-pegal
sehingga
tidur
menjadi
terganggu.
Pola aktivitas
Klien dapat melakukan Klien
aktivitas sendiri seperti tubuhnya
mandi,
makan
aktivitas lainya.
mengatakan
lemah.
dan Aktivitas klien seperti
makan,
minum,
personal hygiene dan
eliminasi dibantu oleh
keluarga dan perawat.
10.
Status nutrisi
BB
: 49 kg
TB
: 155 cm
64
IMT : Indeks Masa Tubuh
IMT :
BB Kg
TB2 (m)
:
49 kg
(1,55 m)2
:
49 kg
2.4025 m
: 20.4 (Normal)
Ket : <20
20 -25
:
Underweight
:
Normal
25 – 30 :
overweight
>30
obesitas
:
65
Analisa Data
Tabel 3.4 Analisa Data
No
Data focus
Interprestasi data
Masalah
1
Ds : Klien mengeluh
kepalanya terasa
pusing.
Do :
ï‚· Keadaan umum :
Lemah
ï‚· TTV :
Tensi darah : 110/70
mmHg
Nadi : 90 x/menit
Pernafasan : 22
x/menit
Suhu : 370C
Invasi parasit malaria
Perubahan perfusi
jaringan
2
ï‚· Akral dingin
ï‚· Kulit pucat
ï‚· Klien tambak gelisah
ï‚· Hb : 7,5 Gr/dl
ï‚· Conjungtiva anemis
ï‚· Mukosa bibir tampak
kering
ï‚· Hasil pemeriksaan
DDR (+)
Ds : klien mengeluh
tubuhnya terasa
panas, panas yang
dirasakan hilang
timbul, dan paling
sering muncul ketika
malam hari.
Do :
ï‚· Tubuh klien teraba
panas
ï‚· Suhu 380C
ï‚· Hasil pemerikasaan
DDR (+)
ï‚· Klien tampak gelisah
ï‚· Mukosa bibir tampak
kering
Jumlah skizon yang pecah
dalam sirkulasi
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan
sel darah di limpa
Anemia dan hipovolemi
(penurunan aliran darah)
Plasmodim mencapai
jaringan serebral
Sumbatan kapiler
pembuluh darah otak
oedema serebri
anoksia otak
Penurunan perfusi
jaringan
Invasi parasit malaria
Jumlah skizon yang pecah
dalam sirkulasi
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan
sel darah di limpa
Respons imflamasi
sistemik
Peningkatan sirkulasi
endoktoksin pada
hipotalamus
Perubahan regulasi
temperatur
66
Hipertermi
Muncul demam
3
Ds : Klien mengatakan
bahwa klien tidak
nafsu makan dan
perutnya terasa
mual,dan pernah
muntah 1x, lidah
terasa pahit dan uluh
hati terasa nyeri.
Do :
ï‚· Porsi makan yang
dihabiskan terlihat
hanya 3 sendok makan
ï‚· Keadaan umum
tampak lemah
ï‚· BB : 49 kg
ï‚· Tinggi badan : 155 cm
ï‚· Klien tampak pucat
ï‚· Mukosa bibir tampak
kering
Hipertermi
Invasi parasit malaria
Resiko
ketidakseimbanga
Jumlah skizon yang pecah n nutrisi kurang
dalam sirkulasi
dari kebutuhan
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan
sel darah di limpa
Respon intestinal
P. mencapai sirkulasi
saluran cerna
Pelepasan serotonin 5HT3
ke dalam usus halus
Saraf vagus
menyampaikan
rangsangan ke CTZ,
syaraf eferen dan kortek
serebral
Pusat Muntah (Postrema
medula oblongata)
Mual, muntah, anoreksia
Intake nutrisi tidak
adekuat
Perubahan nutrisi kurang
dari kebutuhan
4
Ds : klien mengeluh
tubuhnya terasa nyeri
pada persendian danjuga
otot tubuh terasa pegalpegal.
Do :
ï‚· Klien tampak meringis
kesakitan
ï‚· Klien taampak gelisah
ï‚· Skala nyeri 3 (1-5)
Invasi parasit malaria
Jumlah skizon yang pecah
dalam sirkulasi
meningkat, penekanan
proses hematopoiesis, dan
peningkatan pembersihan
sel darah di limpa
Respons imflamasi
67
Nyeri dan
ketidaknyamanan
sistemik
5
Mialgia, arthralgia
Ds : Klien mengatakan
Invasi parasit malaria
Gangguan
tubuhnya terasa
aktifitas
lemas.
Jumlah skizon yang pecah
Do :
dalam sirkulasi
meningkat, penekanan
ï‚· Klien tampak lemah
proses hematopoiesis, dan
ï‚· Aktivitas klien hanya
peningkatan pembersihan
ditempat tidur
ï‚· Semua kebutuhan klien sel darah di limpa, intake
yang kurang
dibantu oleh keluarga
dan perawat
Anemia dan hipovolemi,
ï‚· Kekuatan otot
kekurangan energi
4444 4444
Respon muskuloskeletal
4444 4444
Kelemahan fisik umum,
malaise
6
Ds : Klien dan keluarga
mengatakan tidak
tahu tentang penyakit
malaria dan cara
penularan penyakit
malaria.
Do :
ï‚· Keluarga dan klien
tidak menjawab ketika
ditanya tentang cara
penularan penyakit
malaria dan cara
pencegahanya,
keluarga dan klien
hanya mengelengkan
kepala.
ï‚· Keluarga bertanya
tentang apa penyakit
yang di derita
keluarganya.
Gangguan aktivitas
sehari-hari
Invasi parasit malaria
Kurang informasi tentang
cara penularan penyakit
malaria
Resiko penularan
penyakit
68
Resiko penularan
penyakit malaria.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam
tubuh.
2. Hipertermia
berhubungan
dengan
peningkatan
metabolisme,efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak dekuat : anorexia, mual/muntah.
4. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi
sistemik, mialgia, artralgia.
5. Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
6. Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola
hidup.
C. Intervensi Keperawatan
Tabel 3.5 Intervensi Keperawatan
No
1
Diagnosa
keperawatan
Perubahan
perfusi
jaringan
berhubungan
dengan
penurunan
komponen
seluler yang
di perlukan
untuk
pengiriman
oksigen dan
nutrient
dalam tubuh.
Tujuan dan kriteria
Intervensi
Rasional
hasil
1. Memantau
Tujuan : setelah 1. Memeriksa
dilakukan
tanda-tanda
perkembangan
perawatan dalam
vital.
tekanan
darah
waktu 4x24 jam
dan
perubahan
pada
tekanan
tidak
terjadipenurunan
nadi. Hipotensi
tingkat kesadaran
akan berkembang
dan
dapat
bersamaan
dengan
kuman
mempertahankan
yang menyerang
cardiac
output
secara
adekuat
darah.
guna meningkatkan 2. Catat adanya 2. Keluhan pusing
keluhan
merupakan
perfusi jaringan.
pusing.
manifestasi
penurunan suplai
69
Kriteria hasil :
darah ke jaringan
otak.
ï‚· Tanda-tanda
3. Kurangi
3. Respons valsava
vital normal
aktivitas yang
akan
ï‚· Klien
tidak
merangsang
meningkatkan
mengeluh
timbulnya
beban
jantung
pusing
respons
sehingga
akan
ï‚· Klien
tidak
valsava/
menurunkan
gelisah
aktivitas.
curah jantung ke
ï‚· Tidak terdapat
otak.
sianosis
4.
Tingkatkan
4.
Menurunkan
ï‚· Kulit segar
tirah baring.
beban
kerja
ï‚· Hemoglobin
miokard
dan
normal
konsumsi
ï‚· Akral hangat
oksigen,
ï‚· Conjungtiva
memaksimalkan
ananemis
efektifitas
dari
ï‚· Mukosa
bibir
perfusi jaringan.
tampak lembab
5. Observasi
5. Bukti
aktual
ï‚· Hasil
perubahan
terhadap
pemeriksaan
sensori
dan
penurunan aliran
DDR (-)
tingkat
darah ke jaringan
kesadaran
serebral adalah
pasien
yang
adanya perubahan
menunjukan
respons sensori
penurunan
dan
penurunan
perfusi
otak
tingkat kesadaran
(gelisah,
pada fase akut.
confuse/bingu
Adanya
ng,
apatis,
kegagalan harus
somnolen).
dilakukan
monitoring ketat.
6. Kolaborasi
6. Jalur yang paten
Pemberian
penting
untuk
transfusi darah
pemenuhan lisis
PRC (packed
darah
sebagai
red cells).
intervensi
kedaruratan.
70
2
Hipertermi
berhubungan
dengan
peningkatan
metabolisme,
efek langsung
sirkulasi
kuman pada
hipotalamus.
Tujuan : Setelah
dilakukan
perawatan dalam
waktu
4x24
jamterjadi
penurunan
suhu
tubuh dan panas
tidak berulang.
Kriteria hasil :
ï‚· Pada
palpasi
tubuh
teraba
tidak panas
ï‚· Suhu
tubuh
normal
ï‚· Mukosa
bibir
lembab
ï‚· DDR (-)
ï‚· Klien
tidak
gelisah
ï‚· Klien mampu
menjelaskan
kembali
pendidikan
kesehatan yang
diberikan.
ï‚· Klien mampu
termotivasi
untuk
melaksanakan
penjelasan yang
telah diberikan.
71
1. Evaluasi TTV 1. Sebagai
pengawasan
pada
setiap
terhadap adanya
pergantian sif
perubahan
atau setiap ada
keadaan umum
keluhan dari
klien
sehingga
klien.
dapat dilakukan
penanganan dan
perawatan secara
cepat dan tepat.
baju
2. Anjurkan klien 2. Dengan
yang tipis dan
untuk
menyerap
memakaikan
pakaian yang
keringat
diharapkan klien
tipis dan dapat
tidak gerah dan
menyerap
panas tubuh akan
keringat.
turun.
3. Pemberian
3. Anjurkan
selimut
memberikan
digunakan untuk
selimut
bila
mengurangi
menggigil.
ketidak
nyamanan pada
saat demam dan
menggigil
sebagai
respon
sekunder
dari
hipertermi.
4. Beri kompres 4. Terjadi
vasodilatasi
dengan
air
hangat - hangat
pembuluh darah,
sehingga terjadi
kuku
pada
aksila,
lipat
penguapan
(evaporasi).
paha,
dan
temporal bila
terjadi panas.
5. Berikan klien 5. Dengan banyak
minum
dapat
banyak minum
menggantikan
2000-3000
cc/hari.
cairan
yang
hilang.
6. Pemberian cairan
6. Kolaborasi
infus
dapat
untuk
mencegah
pemberian
terjadinya
cairan infus.
kekurangan
cairan serta untuk
mengganti
cairang
tubuh
yang hilang.
7. Kolaborasi
7. Anti piretik dapat
untuk
merangsang
pemberian
hipotalamus
antipiretik, anti
untuk
malaria,
dan
menurunkan suhu
anti biotik.
tubuh, pemberian
anti malaria dapat
membunuh
parasit/plasmodiu
m
penyebab
malaria,
antibiotik untuk
mengatasi
infeksi.
8. Atur
8. Kondisi
ruang
lingkungan
kamar yang tidak
yang konduksif.
panas,
tidak
bising,
dan
sedikit
pengunjung
memberi
efektivitas
terhadap proses
penyembuhan.
3
Resiko
ketidakseimb
angan nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan intake
yang
tidak
dekuat:
anorexia,
mual/muntah.
Tujuan : Setelah
dilakukan
perawatan dalam
waktu 5x24 jam
kliendapat
mempertahankan
kebutuhan nutrisi
yang adekuat.
Kriteria hasil :
ï‚· Berat badan klien
normal seimbang
dengan
tinggi
badan
ï‚· Klien
mampu
menghabiskan
porsi
makan
yang disajikan
ï‚· Keadaan umum
klien membaik
72
1. Kaji
1. Tingkat
pengetahuan
pengetahuan
klien tentang
dipengaruhi oleh
intake nutrisi.
kondisi
sosial
ekonomi klien.
Perawat
mengunakan
pendekatan yang
sesuai
dengan
kondisi individu
klien.
Dengan
mengetahui
tingkat
pengetahuan
tersebut, perawat
dapat
lebih
terarah
dalam
memberikan
pendidikan yang
sesuai
dengan
ï‚· Mual,
muntah
berkurang
ï‚· Mukosa
bibir
tampak lembab
2. Anjurkan klien
agar
makan
makanan dalam
keadaan hangat.
3. Anjurkan klien
untuk
makan
makanan lunak
dalam
porsi
kecil tapi sering
4
Nyeri
dan
ketidaknyam
anan
berhubungan
dengan
respons
inflamasi
sistemik,
mialgia,
artralgia.
Tujuan : Setelah
dilakukan
perawatan dalam
waktu 4x24 jam
terjadi penurunan
keluhan nyeri dan
ketidaknyamanan.
Kriteria hasil :
ï‚· Secara subjektif
melaporkan nyeri
berkurang atau
dapat diadaptasi
ï‚· Skala nyeri 0-1
(1-4).
Dapat
mengidentifikasi
aktivitas
yang
meningkatkan
73
pengetahuan
klien
secara
efisien
dan
efektif.
2. Untuk
mengurangi
perasaan
pahit
pada lidah.
3. Untuk
mengurangi
perasaan tegang
pada
lambung
sehingga
tidak
terjadi mual dan
muntah.
4. Dapat
meningkatkkan
masukan
makanan klien.
4. Diskusikan
makanan yang
disukai
klien
dan
masukan
dalam
diet
murni.
5. Kolaborasi
5. Anti emetik dapat
pemberian obat
mengurangi mual
anti emetik
dan muntah.
6. Monitor
6. Penimbangan
perkembangan
berat
badan
berat badan.
dilakukan sebagai
evaluasi terhadap
intervensi
yang
diberikan.
1. Jelaskan dan 1. Pendekatan
bantu
klien
dengan
dengan
menggunakan
tindakan
relaksasi
dan
pereda nyeri
nonfarmakologi
nonfarmakolo
lainya
telah
gi
dan
menunjukan
noninvasif.
keefektifan dalam
mengurangi
nyeri.
2. Istirahatkan
2. Istirahat secara
klien pada saat
fisiologis
akan
nyeri muncul.
menurunkan
kebutuhan
oksigen
yang
diperlukan untuk
memenuhi
kebutuhan
atau menurunkan
nyeri
ï‚· Klien
tidak 3. Ajarkan teknik
relaksasi
gelisah
pernafasan
dalam
pada
saat
nyeri
muncul.
4. Manajemen
lingkungan,
Lingkungan
yang tenang,
batasi
pengunjung,
istirahatkan
klien.
5. Tingkatkan
pengetahuan
tentang sebabsebab nyeri.
5
Gangguan
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan
Tujuan : Setelah
dilakukan
perawatan dalam
5x24jam
klien
dapat melakukan
74
metabolisme
basal.
3. Meningkatkan
intake
oksigen
sehingga
akan
menurunkan
nyeri
sekunder
dari
iskemia
spina.
4. Lingkungan yang
tenang
akan
menurunkan
stimulus
nyeri
eksternal
dan
pembatasan
pengunjung akan
membantu
meningkatkan
kondisi oksigen
ruangan
yang
akan berkurang
apabila banyak
pengunjung yang
berada
di
ruangan. Istirahat
akanmenurunkan
kebutuhan
oksigen jaringan
perifer.
5. Pengetahuan
mengenai
hal
yang akan di
rasakan
membantu
mengurangi
nyerinya
dan
dapat membantu
mengembangkan
kepatuhan klien
terhadap rencana
terapeutik.
1. Observasi
1. Untuk
respons klien
mengidentifikasi
terhadap
indikasi
aktivitas.
kemajuan
atau
penyimpangan
fisik.
aktivitas
sesuai
dengan
kemampuanya.
dari hasil yang
diharapkan.
2. Awasi tanda – 2. Agar mengetahui
Kriteria hasil :
tanda
vital
perubahan
selama
dan
kelemahan
dan
ï‚· Klien
mampu
kekuatan
pada
sesudah
melakukan
aktivitas.
pasien.
aktivitas sendiri
ï‚· Badan klien tidak
3. Tirah
baring
lemah lagi dan 3. Tingkatkan
tirah
baring.
meningkatkan
kekuatan
otot
istirahat
dan
membaik
ketenangan
klien
ï‚· Tanda-tanda vital
serta menyediakan
dalam
batas
energi
yang
normal
digunakan untuk
penyembuhan.
4. Atur
posisi 4. Agar klien bisa
pasien
beristirahat
dan
senyaman
memulihkan
mungkin
kesehatan.
5. Berikan
5. Membantu klien
bantuan dalam
bila perlu, untuk
aktivitas seharimeninggkatkan
hari bila perlu.
kepercayaan diri
bila klien dapat
melakukan
aktivitas sendiri.
6. Libatkan
6. Membangun
keluarga dalam
hubungan
yang
pemenuhan
kooperatif antara
kebutuhan
perawat
dan
klien.
keluaraga.
6
Resiko
penularan
penyakit
malaria
berhubungan
dengan
kurang
pengetahuan
tentang
penyakit
malaria,
kebersihan
lingkungan
dan
pola
Tujuan : Setelah
dilakukan
perawatan dalam
waktu
3x24
jampenularan
penyakit
malaria
tidak terjadi.
Kriteria hasil :
ï‚· Klien
dan
keluarga dapat
menjelaskan
kembali apa itu
penyakit malaria
75
1. Beri
1. Klien
dan
penjelasan
keluarga
dapat
tentang apa itu
menjelaskan
penyakit
kembali
dan
malaria, cara
menentukan
penularan
pencegahan
penyakit
penyakit malaria
malaria
dan
secara dini.
pencegahanya.
2. Anjurkan
2. Dengan
keluarga dan
lingkungan yang
klien
untuk
bersih
dan
memelihara
nyaman nyamuk
dan
tidak
akan
hidup.
dan
penularan
penyakit
malaria.
cara
meningkatkan
berkembang biak.
kebersihan diri
dan
lingkunganya.
3. Anjurkan klien 3. Akan mencegah
dan keluarga
terjadi penularan.
ï‚· Klien
dan
untuk
Keluarga dapat
membasmi
menyebutkan
sarang nyamuk
cara pencegahan
atau
tempat
malaria.
berkembang
biak nyamuk.
D. Implementasi Keperawatan
N
o
Tanggal/
Jam
1 18/03/2019
11.00
WITA
Tabel 3.6 Implementasi Keperawatan
Diagnosa
Implementasi
keperawatan
Perubahan
perfusi jaringan
berhubungan
dengan
penurunan
komponen
seluler yang di
perlukan untuk
pengiriman
oksigen
dan
nutrient dalam
tubuh.
Respon hasil
Paraf
1. Memeriksa tanda- 1. TTV :
Irma R
tanda vital dan
TD : 110/70 mmHg
menanyakan
Nadi : 90 x/menit
keluhan klien.
RR : 22 x/menit
Suhu : 37 0C
Klien mengatakan
tubuhnya
sering
merasakan
panas
dan
berkeringat.
Malam tadi tubuh
klien terasa panas
klien menjadi susah
untuk tidur, seluruh
tubuh
dirasakan
pegal-pegal
dan
terasa nyeri pada
persendian dan otot
skala nyeri 3 (1-5).
2. Klien
mengeluh
2. Menanyakan
kepalanya
terasa
adanya
keluhan
pusing.
pusing.
3. Klien
mau
3. Menyarankan
mendengarkan
kepada klien untuk
anjuran
perawat
mengurangi
dan klien hanya
aktivitas
yang
beristirahat
merangsang
ditempat tidur.
timbulnya respon
valsava/aktivitas.
76
4. Menganjurkan
4. Klien
mau
klien
untuk
mendengarkan
meningkatkan tirah
anjuran
perawat
baring.
dan klien tidur
dengan satu bantal.
5. Klien
tampak
5. Observasi
gelisah.
perubahan sensori
dan
tingkat
kesadaran pasien
yang menunjukan
penurunan perfusi
otak
(gelisah,
confuse/bingung,
apatis, somnolen).
6. Transfusi
darah
6. Memantau tetesan
telah
diberikan.
transfusi
darah.
Pada pukul 10.00
(Pemberian
WIB.
Sebelum
transfusi
darah
tranfusi
darah
PRC (packed red
terlebih
dahulu
cells).
diberikan,
NaCl,
dexamethasone,
Dhipinehidramine.
Dengan tetesan 30
gtt/menit. Transfusi
darah PRC habis
pukul 13.00 WIB
langsung
ganti
dengan
NaCL
dengan tetesan 20
gtt/menit.
2 18/03/2019
11.30
WITA
Hipertermi
1. Menganjurkan
1. Klien mengatakan
berhubungan
klien
untuk
iya bila tubuhnya
dengan
menggunakan
terasa panas klien
pakaian yang tipis
peningkatan
akan menggunkan Irma R
metabolisme,
dan
dapat
pakaian yang tipis
menyerap keringat
efek langsung
dan
menyerap
sirkulasi kuman
bila tubuh terasa
keringat.
pada
panas.
hipotalamus.
2. Klien mengatakan
iya
bila
tubuh
2. Menganjurkan
kedinginan
atau
klien
untuk
menggigil
klien
menggunakan
akan menggunakan
selimut bila tibaselimut.
tiba tubuh menjadi
77
dingin
menggigil.
dan 3. Klien mengatakan
iya klien akan
melakukan kompres
3. Menganjurkan
dengan air hangat
klien
untuk
bila tubuhnya nanti
melakukan
terasa panas.
kompres air hangat
bila tubuh terasa 4. Klien mengatakan
panas.
iya klien akan
banyak-banyak
minum
4. Menganjurkan
klien untuk banyak
minum
2000- 5. Cairan infus telah
3000cc/hari / 9
di
berikan
gelas/hari.
berdasarkan terapi
yaitu RL dan D5%
5. Melaksanakan
dengan tetesan 20
pemberian cairan
gtt/menit.
infus.
6. Klien mengatakan
klien
akan
meminum obatnya
tepat waktu sesuai
6. Melaksanakan
instruksi yang telah
pemberian
obat
diberikan obat klien
antipiretik,
anti
pada hari ini yaitu
malaria, dan anti
malarex
4-(4)-2,
biotik
paracetamol 3x1,
cefotaxime 2x1.
3 18/03/2019
12.00
WITA
Resiko
1. Mengkaji
1. Klien mengatakan
ketidakseimbang
pengetahuan klien
makanan
yang
an nutrisi kurang
tentang
intake
sehat terdiri dari
dari kebutuhan
nutrisi.
empat sehat lima
sempurna,
yang
tubuh
berhubungan
mengandung
dengan intake
karbohidrat,
yang
tidak
protein,
lemak,
vitamin,
mineral
dekuat:
dan air yang cukup.
anorexia,
mual/muntah.
Minum sebanyak 8
gelas/hari,makan
secara
teratur
3x/hari.
Klien
membeli makanan
tambahan
yang
dibeli diluar seperti
78
Irma R
buah,roti
dan
khasiat sari kurma
(untuk
menyembuhkan
anemia)
yang
dialami Ny. T.
2. Menganjurkan
2. Klien
langsung
klien agar makan
memakan makanan
makanan
dalam
yang telah diantar
keadaan hangat.
oleh
ahli
gizi
(makan siang).
3. Menganjurkan
3. Klien terlihat hanya
klien untuk makan
menghabiskan
3
makanan
lunak
sendok
makan.
dalam porsi kecil
mual (+), muntah (tapi sering.
), lidah terasa pahit
nyeri pada uluh
hati.
4. Diskusikan
4. Klien mengatakan
makanan
yang
selera makan bubur
disukai klien dan
ayam. Dan sudah
masukan
dalam
diberikan
oleh
diet murni.
keluarga
namun
klien hanya makan
2 sendok. Dengan
alasan
keluhan
yang sama lidah
terasa pahit, nyeri
pada uluh hati,
mual (+), muntah ().
5. Klien
sudah
5. Melaksanakan
meminum
obat
pemberian
obat
sesuai
dengan
anti emetik.
instruksi
dokter.
Vometa 3x1 PO
untuk mengurangi
mual,omeparazole
untuk menghambat
produksi
asam
lambung
1x1,
dexanta sirup 3x1
untuk menetralkan
asam
lambung.
79
Neorodex sebagai
multivitamin B1,B6
dan B12 pemberian
2x1 PO.
6. Memonitor
perkembangan
berat badan klien.
4 18/03/2019
13.15
WITA
6. Berat badan klien
49 kg.
Nyeri
dan 1. Menjelaskan dan 1. Klien mau untuk
ketidaknyamana
membantu
klien
melakukan
saran
n berhubungan
dengan tindakan
perawat
dengan
dengan respons
pereda
nyeri
meredakan
nyeri
inflamasi
nonfarmakologi
secara alami tanpa
sistemik,
dan noninvasif.
dengan
mialgia,
menggunakan obat
artralgia.
pereda nyeri.
2. Mengajarkan
2. Klien mengerti dan
teknik manajemen
paham
cara
nyeri keperawatan,
meredakan
nyeri
dengan
yaitu
dengan
menganjurkan
beristirahat
saat
klien beristirahat
nyeri
muncul,
bila
merasakan
menarik
nafas
nyeri, mengajarkan
dalam pada saat
teknik
relaksasi
terasa nyeri, dan
pernafasan dalam
mengatur
pada saat nyeri
kenyamanan tubuh
muncul,
dan
dan lingkungan.
mengatur
kenyamanan dan
lingkungan klien
seperti membatasi
pengunjung untuk
tidak terlalu ramai
demi kenyamanan
klien.
3. Ny. T mengerti
3. Meningkatkan
dengan
apa
pengetahuan klien
penyakit yang di
tentang
sebabalaminya tubuhnya
sebab
nyeri
terasa sakit dan
mengapa Ny. T
pegal-pegal
bisa terasa sakit
disebabkan parasit
pada sendi dan
malaria
yang
tulang, dan juga
terdapat
dalam
80
Irma R
pada otot, seluruh
tubuh terasa pegalpegal itu semua
karena
penyakit
yang Ny. T alami
yaitu
malaria
keluhan tersebut
merupakan respon
dari
proses
penyakit malaria.
5 18/03/2019
13.30
WITA
Gangguan
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan fisik.
tubuhnya sehingga
menimbulkan
gejala.
1. Mengobservasi
1. Klien mengatakan
apabila
dibawa
respons
klien
terhadap aktivitas.
duduk/
berdiri
seperti
ingin
kekamar
mandi
kepala
terasa
pusing. Jadi klien
hanya
berbaring
ditempat tidur.
2. Mengawasi tanda- 2. Klien mengatakan
tanda vital selama
apabila setelah di
dan
sesudah
bawa duduk atau
aktivitas.
beraktivitas seperti
kekamar
mandi
denyut
jantung
berdebar-debar
cepat dan kuat.
Namun sebaliknya
bila di bawa tiduran
atau
istirahat
denyut
jantung
normal.
3. Menganjurkan
3. Klien
mau
klien
untuk
menerima
saran
meningkatkan tirah
perawat klien tidur
baring.
untuk beristirahat.
4. Klien tidur dengan
4. Mengatur
posisi
satu bantal, dan
klien
senyaman
menggunakan
mungkin.
selimut.
5. Memberikan
81
5. Membantu
saat klien
klien
mau
Irma R
bantuan
dalam
aktivitas
seharihari bila perlu.
6. Memberitahukan
keluarga
untuk
membantu dalam
memenuhi
kebutuhan
klien
dan memberikan
bantuan
dalam
aktivitas klien.
1 19/03/2019
08.30
WITA
Hipertermi
berhubungan
dengan
peningkatan
metabolisme,
efek langsung
sirkulasi kuman
pada
hipotalamus.
kekamar mandi.
6. Keluarga menerima
saran
perawat,
setiap
kebutuhan
dan aktivitas klien
di
bantu
oleh
keluarga
seperti
membantu
mengantar
klien
untuk
kekamar
mandi, membantu
untuk
menyuapi
makanan,
membantu
memenuhi
kebutuhan
kebersihan tubuh
klien
seperti
mengelap
tubuh
klien.
1. Memeriksa tanda- 1. TTV :
tanda vital dan
TD : 110/70
menanyakan
Nadi : 84 x/menit
keluhan klien.
RR : 20 x/menit
Suhu : 380C
Mukosa
bibir
tampak
kering,
conjungtiva
anemis.
Klien mengeluh
malam tadi tidur
pukul
24.00
WITA
dan
terbangun
jam
03.00 WITA pagi
klien
terbangun
karena
tubuh
berkeringat
sampai baju klien
basah, sendi dan
otot terasa sakit
skalanyeri 3(1-5),
tubuh
terassa
pegal dan tubuh
terasa panas, dan
82
Irma R
dianjurkan
oleh
perawat
untuk
melakukan
kompres
air
hangat
dan
meminum
paracetamol
namun
panas
tubuh
tidak
kunjung turun .
2. Menganjurkan
2. Klien mengganti
klien
untuk
pakaian
dengan
menggunakan
dibantu keluarga
pakaian yang tipis
menggunakan
dan
dapat
pakaian yang tipis
menyerap keringat.
dan
menyerap
keringat.
3. Klien
3. Menganjurkan
mengangguk
klien
untuk
tanda menyetujui
menggunakan
dan
menerima
selimut bila tubuh
saran perawat bila
tiba-tiba
terasa
tubuh menggigil
dingin/menggigil.
gunakan selimut.
4. Keluarga
ikut
berpartisipasi
dalam perawatan
klien
dan
memberikan
kompres
pada
daerah yang di
anjurkan.
4. Menganjurkan
keluarga
untuk
memberi kompres
air hangat pada
aksila, lipat paha,
dan temporal pada
klien agar panas
klien turun.
5. Klien menerima
saran perawat dan
5. Menganjurkan
akan
banyak
klien
banyak
minum. Keluarga
minum 2000-3000
meletakan
air
cc/hari.
minum
yang
diisikan kedalam
botol
dan
diletakan
disamping tubuh
klien.
Bila
sewaktu-waktu
klien ingin minum
83
mudah
dijangkau.
untuk
6. Cairan infus sudah
diberikan
yaitu
RL dengan tetesan
20 gtt/menit.
6. Melaksanakan
pemberian cairan
infus.
7. Klien
telah
melakukan minum
obat
sesuai
7. Melaksanakanpem
dengan
terapi
berian antipiretik,
yang
diberikan
anti malaria dan
yaitu meminum
anti biotik.
paracetamol 3x1
sebagai
anti
piretik
PO,
malarex 4-4-(2)
PO sebagai anti
malaria,
cefotaxime vial IV
diberikan 2x1 oleh
perawat
pada
pukul 18.00-06.00
sebagai
anti
biotik.
8. Mengatur
lingkungan
kondusif.
2 19/03/2019
09.00
WITA
8. Mengantikan
laken dan sarung
bantal
klien,
menghidupkan
yang
kipas
angin,
membatasi
pengunjung. Dan
menganjurkan
keluarga
untuk
mengganti
kompres dengan
yang
hangat
kembali
bila
sudah
terasa
dingin.
Nyeri
dan 1. Menganjurkan
1. Keluarga
ketidaknyamana
klien
untuk
langsung
n berhubungan
meredakan nyeri
memberikan
dengan respons
pada sendi dan
bantuan
kepada
84
Irma R
inflamasi
sistemik,
mialgia,
artralgia.
otot, pegal-pegal
pada tubuh dengan
tindakan
pereda
nyeri
nonfarmakologi
dengan melakukan
pemijatan/masase.
klien
dengan
melakukan
pemijatan
pada
tubuh klien dan
kompres
air
hangat
masih
dilanjutkan.
2. Klien menerima
2. Menganjurkan
saran perawat dan
klien
untuk
langsung
memperagakan
memperagakan.
teknik manajemen
nyeri keperawatan
yang
telah
diajarkan,
untuk
beristirahat
bila
nyeri
muncul,
teknik
relaksasi
pernafasan dalam.
3 19/03/2019
09.15
WITA
Resiko
ketidakseimbang
an nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan intake
yang
tidak
dekuat:
anorexia,
mual/muntah.
2. Menganjurkan
2. Keluarga
klien untuk makan
langsung
makanan
dalam
memberikan klien
keadaan hangat.
makan, menyuapi Irma R
klien.
3. Menganjurkan
klien untuk makan 3. Klien
terlihat
makanan
lunak
hanya
dalam porsi kecil
menghabiskan 4
tapi sering.
sendok
makan,
klien
mengeluh
merasa tidak enak
diperut,
merasa
4. Mendiskusikan
mual, lidah terasa
makanan
yang
pahit, dan tersa
disukai klien dan
nyeri pada uluh
masukan
dalam
hati.
diet murni.
4. Klien mengatakan
5. Melaksanakan
tidak
berselera
pemberian
obat
makan.
anti emetik.
5. Klien
telah
meminum
obat
sesuai
dengan
terapi yang di
berikan yaitu :
85
vometa 3x1 untuk
mengurangi mual,
omeparazole 1x1
PO
untuk
menghabat
produksi
asam
lambung, dexanta
sirup 3x1 sebagai
penetral
asam
lambung,
neorodex 2x1 PO
sebagai
multivitamin
B1,B6,B12.
4 19/03/2019
11.00
WITA
5 19/03/2019
12.00
Gangguan
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan fisik.
1. Mengobservasi
1. Klien mengatakan
respons
klien
apabila diibawa
terhadap aktivitas.
duduk
ataupun
berdiri
kepala
terasa pusing.
2. Membantu klien 2. Klien
mau
untuk
mendengarkan
meningkatkan tirah
saran perawat dan
baring,
untuk
klien tidur dengan
memenuhi
1 bantal.
kebutuhan istirahat
dan tidur klien.
3. Merapikan tempat
tidur
klien,
3. Mengatur
posisi
menghidupkan
pasien senyaman
kipas angin.
mungkin.
4. Slalu mengontrol
4. Memberikan
keadaan klien dan
bantuan
kepada
membantu klien
klien
dalam
bila klien meminta
aktivitas
seharipertolongan.
hari.
5. Keluaga
siap
membantu setiap
5. Memberitahu
aktivitas klien.
keluarga
untuk
membantu
memenuhi
keperluan
dan
aktivitas klien.
Perubahan
perfusi jaringan
1. Memeriksa tanda- 1. TTV :
tanda
vital
TD
86
:
110/70
Irma R
WITA
berhubungan
dengan
penurunan
komponen
seluler yang di
perlukan untuk
pengiriman
oksigen
dan
nutrient dalam
tubuh.
kliendan
menanyakan
keluhan pasien.
mmHg
Nadi : 90 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 370C
Klien mengatakan
setelah dilakukan
kompres
dan
meminum
paracetamol panas
pada
tubuh
dirasakan turun.
2. Klien
mengeluh
kepalanya
terasa
2. Mencatat adanya
pusing apalagi bila
keluhan pusing.
dibawa berdiri atau
duduk.
3. Menganjurkan
klien
untuk
banyak-banyak
beristirahat
dan
kurangi aktivitas.
3. Klien
menerima
saran perawat dan
klien
hanya
berbaring ditempat
tidur
untuk
beristirahat.
4. Klien
menerima
saran perawat klien
4. Menganjurkan
sangat ingin untuk
klien
untuk
tidur namun susah
meningkatkan tirah
sekali.
baring dan banyakbanyak
5. Klien
tampak
beristirahat.
gelisah.
5. Mengobservasi
perubahan sensori
darah
dan
tingkat 6. Transfusi
PRC
telah
di
kesadaran klien.
berikan pada pukul
13.00
WIB,
6. Melaksanakan
sebelum di beri
pemberian
transfusi
darah
transfusi
terlebih
PRC.
dahulu
telah
diberikan
NaCl,
dexamethasone,
Dhipinehidramine.
Dengan
tetesan
transfusi
30
gtt/menit.
87
Irma R
Transfusi
selesai
pukul 16.00 WITA
dan
langsung
digantikan dengan
NaCL dengan 20
gtt/menit.
1 20/03/2019
08.30
WITA
Hipertermi
berhubungan
dengan
peningkatan
metabolisme,
efek langsung
sirkulasi kuman
pada
hipotalamus.
1. Memeriksa tanda- 1. TTV:
TD : 110/70 Mmhg
tanda vital dan
menanyakan
Nadi : 90 X/Menit
keluhan klien.
RR : 20 X/Menit
Irma R
0
Suhu : 37 C
Klien
mengeluh
malam tadi klien
susah untuk tidur
klien tidur jam 1
dan terbangun jam
3 dan tidak bisa
tidur lagi sampai
sekarang,
dikarenakan tubuh
klien terasa panas,
selalu berkeringat
hingga
pakaian
yang klien gunakan
lembab. tubuh klien
dirasakan
pegalpegal dan terasa
nyeri
pada
persendian dan otot
skala nyeri 3 (1-5).
2. Menganjurkan
2. Klien setuju dengan
klien bila tubuh
saran perawat, dan
terasa panas dihariklien mengatakan
hari
berikutnya
malam tadi klien
gunakan pakaian
telah menggunakan
yang tipis dan
pakaian yang tipis
menyerap keringat.
dan
menyerap
keringat
namun
tetap juga tubuh
terasa panas dan
berkeringat hingga
pakaian
menjadi
lembab.
3. Menganjurkan
3. Klien mengatakan
klien untuk bila
malam tadi telah
88
tubuh terasa panas
lakukan kompres
dengan air hangat.
dikompres dengan
menggunakan air
hangat.
Setelah
beberapa
jam
setelah
pengompresan
panas
dirasakan
turun.
4. Menganjurkan
4. Klien mengatakan
klien
banyak
iya klien akan
minum 2000-3000
banyak-banyak
cc/hari
atau
minum.
sebanyak
9
gelas/hari.
5. Infus
yang
5. Melaksanakan
terpasang
RL
pemberian cairan
dengan tetesan 20
infus.
gtt/menit.
6. Melaksanakan
pemberian
obat
antipiretik,
anti
malaria,
dan
antibiotik.
7. Mengatur
lingkungan
konduksif.
89
6. Klien mengatakan
akan
meminum
obat
yang
dii
berikan tepat waktu
dan
rutin
paracetamol
3x1
PO sebagai anti
piretik, cefotaxime
vial
IV
2x1
diberikan
oleh
perawat
pukul
06.00 dan 18.00
sebagai anti biotik.
clobazam
1x1
diminum sebelum
tidur malam nanti
sebagai
obat
penenang agar bisa
tidur.
7. Merapikan tempat
tidur
klien,
yang
menghidupkan
kipas
angin,
membatasi
pengunjung.
2 20/03/2019
09.00
WITA
3 20/03/2019
09.30
WITA
Nyeri
dan 1. Mebantu
klien 1. Klien dan kluarga
mengerti
dengan
ketidaknyamana
dengan tindakan
n berhubungan
pereda nyeri non
apa yang dikatakan
dengan respons
farmakologi dan
perawat keluarga
langsung
inflamasi
invansif
seperti
sistemik,
melakukan
mengoleskan
minyak kayu putih
mialgia,
masase/pemijatan
artralgia.
pada seluruh tubuh
pada tubuh klien
klien atau dengan
dan klien meminta
untuk
dilakukan
mengoleskan
minyak kayu putih
pengerikan.
Dan
pada tubuh klien.
kluargapun
melakukan
permintaan klien.
Resiko
2. Menganjurkan
2. Keluarga langsung
klien untuk makan
memberikan klien
ketidakseimbang
an nutrisi kurang
makanan
dalam
makan, klien makan
keadaan hangat.
masih
dibantu
dari kebutuhan
disuapi
oleh
tubuh
berhubungan
keluarga.
dengan intake
yang
tidak 3. Menganjurkan
3. Klien terlihat dapat
klien untuk makan
menghabiskan
6
dekuat:
makanan
lunak
sendok makan ¼
anorexia,
mual/muntah.
dalam porsi kecil
bagian
dari
tapi sering.
makanan
yang
diberikan.
4. Diskusikan
4. Klien mengatakan
makanan
yang
klien selera bubur
disukai klien dan
kacang hijau, lalu
masukan
dalam
meminta keluarga
diet murni.
untuk
membeli
bubur kacang hijau,
klien
terlihat
menghabiskan
4
sendok
bubur
kacang hijau, klien
mengeluh perutnya
terasa mual dan
terasa nyeri pada
uluh hati.
5. Klien
meminum
5. Melaksanakan
obat rutin sesuai
pemberian
obat
dengan terapi yang
antiemetik
dan
diberikan
multivitamin.
omeparazole 1x1
90
Irma R
Irma R
PO
sebagai
penghambat
produksi
asam
lambung, dexanta
sirup
3x1
PO
sebagai
penetral
asam
lambung,
domperidon
3x1
PO sebagai obat
anti
emetik,
neorodex 2x1 PO
sebagai
multivitamin
B1,B6,B12.
4 20/03/2019
10.00
WITA
Gangguan
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan fisik.
1. Mengobservasi
1. Klien mengatakan
respon
klien
klien sudah bisa
terhadap aktivitas.
duduk
apabila
duduk
di
atas
tempat tidur kepala
klien sudah tidak
merasa pusing lagi,
tapi klo dibawa
berjalan seperti ke
kamar
mandi
kepala
menjadi
pusing.
2. Mengatur
posisi 2. Meletakan bantal
pasien senyaman
sebagai sandaran
mungkin.
dibelakang tubuh
klien agar klien
dapat tahan lama
untuk duduk.
3. Memberikan
3. Klien mengatakan
bantuan
dalam
senang
aktivitas
seharimendapatkan
hari klien bila
bantuan
dari
perlu.
perawat setiap hal
yang
dibutuhkan
dapat minta tolong
kepada perawat dan
merasa
diperhatikan.
4. eluarga
bersedia
4. Menganjurkan
membantu
setiap
keluarga
untuk
aktivitas klien dan
91
Irma R
5
20/03/2019
11.00
WITA
Perubahan
perfusi jaringan
berhubungan
dengan
penurunan
komponen
seluler yang di
perlukan untuk
pengiriman
oksigen
dan
nutrient dalam
tubuh.
membatu
setiap
memenuhi
aktivitas
yang
kebutuhanya.
dibutuhkan klien.
1. Memeriksa tanda- 1. TTV :
TD
:
110/70
tanda vital klien
mmHg
dan keluhan klien.
Nadi : 82 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 370C
Klien mengatakan
tubuhnya
sudah
merasa
lebih
enakan, nyeri terasa
berkurang setelah
diberi minyak kayu
putih dan dikerik
skala nyeri 1 (1-5).
2. Mencatat adanya 2. Klien mengatakan
apabila
dibawa
keluhan pusing.
duduk atau tidur
kepalanya
tidak
terasa
pusing
namun bila dibawa
berjalan atau berdiri
kepala
terasa
pusing.
3. Klien
menerima
3. Menganjurkan
saran dari perawat
klien
untuk
klien mengatakan
mengurangi
akan beristirahat.
aktivitas
yang
merangsang
timbulnya respon
valsava/aktivitas.
4. Klien mengatakan
klien ingin sekali
4. Menganjurkan
bisa tidur namun
klien
untuk
sulit.
meningkatkan tirah
baring.
5. Klien
tampak
gelisah.
5. Mengobservasi
perubahan sensori
dan
tingkat
kesadaran klien.
6. Transfusi
darah
telah
di
6. Melaksanakan
berikanpada pukul
92
Irma R
pemberian PRC
12.00
WITA,
sebelum
trasfusi
diberikan terlebih
dahulu
diberikan
NaCl,
dexamethasone,
Dhipinehidramine.
Dengan
tetesan
transfusi
30
gtt/menit.
Transfusi
selesai
pukul 14.15 WITA
dan
langsung
digantikan dengan
NaCL dengan 20
gtt/menit.
6 20/03/2019
13.00
WITA
Resiko
penularan
penyakit malaria
berhubungan
dengan kurang
pengetahuan
tentang penyakit
malaria,
kebersihan
lingkungan dan
pola hidup.
1. Memberikan
1. Klien dan keluarga
pendidikan
mendengarkan
kesehatan tentang
penjelasan perawat
apa itu malaria,
tentang
penyakit Irma R
bagaimana
cara
yang
dideritanya
penularan malaria,
dengan
baikdan
apa gejala malaria,
mengangguk tanda
apa akibat penyakit
mengerti.Klien dan
malaria
dan
kluarga
juga
bagaimana
mengajukan
pencegahan
pertanyaaan apakah
malaria.
Media
penyakit
malaria
yang
digunakan
menular
melalui
berupa leaflet.
semakan
atau
seminum
dengan
klien
yang
menderita penyakit
malaria.
Ketika
dievaluasi
klien
dapat mengulang
kembali
materi
yang
telah
disampaikan.
1 21/03/2019
09.00
WITA
Perubahan
perfusi jaringan
berhubungan
dengan
penurunan
komponen
seluler yang di
1. Memeriksa tanda- 1. TTV :
tanda vital.
TD : 110/70 mmHg
Nadi :80 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 370C
Klien mengatakan
malam tadi setelah
93
Irma R
perlukan untuk
pengiriman
oksigen
dan
nutrient dalam
tubuh.
meminum
obat
clobazam sebelum
tidur klien bisa
tidur
dengan
nyenyak dari jam
23.0005.00.
Tubuh klien masih
dirasakan
sering
berkeringat namun
sudah tidak merasa
panas lagi. Dan
tubuh klien merasa
lebih enakan dan
tidak terasa sakit
lagi ataupun pegalpegal skala nyeri 0
(1-5).
2. Mencatat adanya 2. Klien mengatakan
keluhan pusing.
kepalanya
sudah
tidak merasa pusing
lagi baik duduk
ataupun
berdiri
namun
apabila
berjalan ke kamar
mandi
masih
diperlukan bantuan
karena tubuh klien
masih
merasa
lemah.
3. Klien
mau
3. Menganjurkan
mendengarkan
klien untuk sedikit
saran perawat dan
beraktivitas atau
klien
langsung
mengubah posisi
mengubah
seperti
duduk
posisinya dari tidur
jangan
bebaring
menjadi
duduk
terus.
dengan
bantal
disandarkan
dibelakang tubuh.
4. Mengobservasi
perubahan sensori
dan
tingkat
kesadaran klien.
4. Klien
tampak
tenang
namun
lemah
(composmentis).
5. Hasil labor klien
94
2 21/03/2019
09.30
WITA
Resiko
ketidakseimbang
an nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan intake
yang
tidak
dekuat:
anorexia,
mual/muntah.
5. Memeriksa hasil
pada
tanggal
Labor
21/03/2019 yaitu 9
haemoglobin klien.
gr/dl.
1. Menganjurkan
1. Klien
langsung
klien untuk makan
memakan makanan
makanan
dalam
yang
telah
keadaan hangat.
disediakan oleh ahli
gizi.
2. Menganjurkan
2. Klien
terlihat
klien untuk makan
menghabiskan
¾
makanan
lunak
makanan yang ada.
dalam porsi kecil
tapi sering.
3. Diskusikan
3. Klien mengatakan
makanan
yang
klien selera makan
disukai klien dan
nasi dengan sayur
masukan
dalam
santan dan ikan
diet murni.
sambal,
keluargapun
memberikan
makanan
yang
diinginkan
klien,
klien terlihat dapat
mengahabiskan 6
sendok makan.
4. Klien mengatakan
4. Melaksanakan
akan
meminum
pemberian
obat
obat yang diberika
anti emetik.
tepat waktu dan
rutin obat yang
tersedia untuk hari
ini
yaitu
omeparazole 1x1
PO
sebagai
pengahambat
produksi
asam
lambung,
donperidon 3x1 PO
sebagai anti emetik,
scopamin 3x1 PO
sebagai anti nyeri,
neorodex 2x1 PO
sebagai
multivitamin
B1,B6,B12,
95
Rina f
cefotaxime vial IV
diberikan
oleh
perawat 2x1 pada
pukul 06.00 WITA
dan 18.00 WITA
sebagai antibiotik
dan
clobazam
diminum sebelum
tidur
malam
nantisebagai obat
penenang.
5. Berat badan klien
tetap 49 kg.
3 21/03/2019
10.15
WITA
4 21/03/2019
11.00
WITA
Gangguan
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan fisik.
Resiko
penularan
penyakit malaria
berhubungan
dengan kurang
pengetahuan
tentang penyakit
malaria,
kebersihan
lingkungan dan
pola hidup.
5. Monitor
perkembangan
berat badan.
1. Mengobservasi
1. Klien mengatakan
respons
klien
klo
berjalan
terhadap aktivitas.
seperti
mau
kekamar
mandi
masih diperlukan
bantuan
walau
sudah
tidak
merasa pusing lagi
ketika
berjalan
namun
tubuh
masih
terasa
lemah .
1. Mengingatkan
1. Klien
kembali
kepada
menyebutkan
klien dan keluarga
malaria
apa itu malaria,
disebabkan oleh
parasit
bagaimana
cara
penularan malaria,
(plasmodium)
apa gejala malaria,
ditularkan
apa akibat penyakit
kemanusia
malaria
dan
melalui
gigitan
bagaimana
nyamuk. Gejala
pencegahan
malaria
dapat
malaria.
berupa menggigil,
2. Menganjurkan
tidak
nafsu
keluarga dan klien
makan,
tubuh
untuk memelihara
terasa panas dan
dan meningkatkan
dapat
kebersihan diri dan
mengakibatkan
lingkungan, karena
anemia karena sel
dengan lingkungan
darah
merah
96
Irma R
Irma R
yang
nyaman
nyamuk tidak akan
berkembang biak.
3. Mengajurkan klien
untuk membasmi
sarang
nyamuk
atau
tempat
perkembangbiakan
nyamuk yang ada
disekitar
rumah
pada saat pulang
nantiseperti
menimbun
genangan
air,
jangan
terlalu
banyak
pakaian
yang
bergantungan.
hancur
dirusak
oleh parasit. Cara
pencegahan
malaria
dengan
menghindardari
gigitan
nyamuk
seperti
tidur
menggunakan
kelambu,
menggunakan
obat
penolak
nyamuk,
menggunakan
pakaian tertutup
bila
perlu,
memasang kawat
kasa
pada
ventilasi
dan
membersihkan
sarang
nyamuk
atau lingkungan.
2. Keluarga
dan
klien mengangguk
tanda menyetujui
saran perawat dan
keluarga
pun
tampak
membersihkan
lingkungan sekitar
tempat tidur klien.
3. Klien mengatakan
iya ketika pulang
nanti klien dan
keluarga
akan
menjaga
kesehatan
dan
kebersihan
lingkungan
dengan lebih baik
lagi agar terhidar
dari
penyakit
malaria
atau
penyakit lainya.
1 22/03/2019
Perubahan
1. Memeriksa tanda- 1. TTV
97
08.30
WITA
perfusi jaringan
berhubungan
dengan
penurunan
komponen
seluler yang di
perlukan untuk
pengiriman
oksigen
dan
nutrient dalam
tubuh.
2 22/03/2019
09.00
WITA
Resiko
ketidakseimbang
an nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan intake
yang
tidak
dekuat:
anorexia,
mual/muntah.
tanda vital dan
menanyakan
keluhan klien.
TD
:120/70
mmHg
Nadi : 84 x/menit
Irma R
RR : 20 x/menit
Suhu : 370C
Klien mengatakan
tubuhnya
sudah
merasa lebih baik
sudah
tidak
merasapegal-pegal
lagi ataupun nyeri
pada sendi dan otot,
kepala sudah tidak
terasa pusing lagi.
Tubuh sudah tidak
terasa panas lagi
dan
berkeringat
agak
berkurang.
Malam tadi klien
nyenyak tidur klien
tidur dari jam 22.00
WITA-05.00WITA.
1. Menganjurkan
1. Klien
langsung
klien untuk makan
memakan makanan
makanan
dalam
yang telah disediakan
keadaan hangat.
oleh ahli gizi.
Irma R
2. Menganjurkan
2. Klien
tampak
klien untuk makan
menghabiskan
makanan
lunak
seluruh
makanan
dalam porsi kecil
yang disajikan oleh
tapi sering.
ahli gizi. Mual (-),
muntah (-)
3. Mendikusikan
makanan
yang 3. Klien mengatakan
disukai klien dan
klien selera makan
masukan
dalam
bubur ayam, lalu
diet murni.
keluargapun pergi
membelikan bubur
ayam untuk klien
dan terlihat klien
dapat
menghabiskan
semua bubur ayam
yang dibeli. Klien
mengatakan
perutnya
sudah
merasa
enakan
sekarang
sudah
98
tidak ada rasa mual
ataupun nyeri pada
uluh hati.
3 22/03/2019
10.00
WITA
Gangguan
aktivitas
berhubungan
dengan
kelemahan fisik.
4. Melaksanakanpem
berian obat anti
emetik.
4. Klien mengatakan
akan
meminum
obat yang diberika
tepat waktu dan
rutin obat yang
tersedia untuk hari
ini
yaitu
omeparazole 1x1
PO
sebagai
pengahambat
produksi
asam
lambung,
donperidon
3x1
PO sebagai anti
emetik, scopamin
3x1 PO sebagai
anti
nyeri,
neorodex 2x1 PO
sebagai
multivitamin
B1,B6,B12,
cefotaxime vial IV
diberikan
oleh
perawat 2x1 pada
pukul 06.00WITA
dan 18.00 WITA
sebagai antibiotik
dan
clobazam
diminum sebelum
tidur malam nanti
sebagai
obat
penenang.
5. Memonitor
perkembangan
berat badan klien.
5. Berat badan klien
49 kg, tinggi badan
155 cm.
1. Mengobservasi
1. Klien mengatakan
respons
klien
sudah bisa berjalan
terhadap aktivitas.
kekamar
mandi
sendiri
tanpa
bantuan,
makan
sendiri
dan
mengganti pakaian
99
Irma R
4 22/03/2019
11.00
WITA
Resiko
1. Mengingatkan
penularan
kembali
kepada
penyakit malaria
klien bila pulang
berhubungan
nanti diharapkan
dengan kurang
dapat melakukan
pengetahuan
pencegahan
dari
tentang penyakit
gigitan
nyamuk
malaria,
seperti yang telah
diajarkan, menjaga
kebersihan
kebersihan diri dan
lingkungan dan
pola hidup.
lingkungan
dan
bila muncul tanda
dan gejala demam
diharapkan
keluarga dan klien
dapat menerapkan
cara penatalaksaan
seperti yang telah
diajarkan.
100
sendiri.
Klien
mengatakan tubuh
klien sudah merasa
lebih kuat dan tidak
lemah lagi seperti
kemarin.
(Klien
hari ini sudah boleh
pulang oleh dokter
dan
melakukan
perawatan dirumah/
rawat jalan. Karena
keadaan
klien
sudah
tampak
membaik).
1. Klien dan keluarga
mengatakan iya bila
pulang
kerumah
nanti klien dan
keluarga akan lebih
menjaga
kesehatanya agar
tidak mudah sakit.
Klien
akan
melakukan
saran
perawat
akan
melakukan
pencegahan
terhadap penyakit
malaria
dengan
menghindar
dari
gigitan nyamuk dan
membrantas sarang
nyamuk dan lebih
menjaga kebersihan
lingkungan.
Keluarga
mengatakan
trimakasih
telah
memberi
pengalaman dalam
merawat
nanti
apabila dikemudian
hari ada yang sakit
insyaallah
klien
akan menggunakan
cara-cara yang telah
diajarkan.
D. Evaluasi Keperawatan
Tabel 3.7 Evaluasi Keperawatan
No
Tanggal
1
21/03/2019
Diagnosa keperawatan
Perubahan
perfusi S :
jaringan berhubungan
dengan
penurunan
komponen
O:
seluler yang
di
perlukan
untuk
pengiriman oksigen
dan nutrient dalam
tubuh.
Evaluasi
Paraf
Klien
mengatakan Irma R
sudah tidak merasakan
sakit kepala lagi.
- TTV :
TD : 100/70
mmHg
Nadi
:
80
x/menit
Pernafasan: 20
x/menit
Suhu : 370C
- Akral teraba hangat
- Kulit tampak segar
- Haemoglobin
9
Gr/dl
- Conjungtiva
ananemis
A : Masalah
perubahan
perfusi
jaringan
berhubungan dengan
penurunan komponen
seluler yang
di
perlukan
untuk
pengiriman
oksigen
dan nutrient dalam
tubuh dapat teratasi.
2
21/03/2019
P : Intervensi dihentikan.
Hipertermia
S : Klien
mengatakan Irma R
berhubungan dengan
malam tadi setelah
peningkatan
meminum
obat
metabolisme,
clobazam sebelum tidur
efek langsung
klien bisa tidur dengan
sirkulasi kuman pada
nyenyak
dari
jam
hipotalamus.
23.00- 05.00. Tubuh
klien masih dirasakan
sering
berkeringat
namun sudah tidak
merasa panas lagi.
O:
- TTV :
TD : 100/70
101
mmHg
Nadi
:
80
x/menit
Pernafasan: 20
x/menit
Suhu : 370C
- Pada palpasi tidak
panas lagi
- Mukosa
bibir
terlihat lembab
A : Masalah
hipertermi
berhubungan dengan
peningkatan
metabolisme, dehidrasi,
efek langsung sirkulasi
kuman
pada
hipotalamus
dapat
teratasi.
P : Intervensi dihentikan
3
22/03/2019
Resiko
S : Klien mengatakan Irma R
ketidakseimbangan
perutnya sudah merasa
enakan sekarang sudah
nutrisi kurang dari
tidak ada rasa mual
kebutuhan
tubuh
berhubungan dengan
ataupun nyeri pada
intake yang tidak
uluh hati.
dekuat ; anorexia, O :
mual/muntah.
- Mual (-), Muntah (-)
- Keadaan
umum
membaik
- Klien
tampak
menghabiskan
seluruh
makanan
yang disajikan oleh
ahli gizi.
- Berat badan : 49 kg
- Tinggi badan : 155
cm
A : Masalah
resiko
ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
tubuh
berhubungan dengan
intake
yang
tidak
dekuat ; anorexia,
102
mual/muntah
teratasi.
dapa
P : Intervensi dihentikan.
4
21/03/2019
Nyeri
dan
ketidaknyamanan
berhubungan dengan
respons
inflamasi
sistemik,
mialgia,
artralgia.
S : Klien
mengatakan Irma R
tubuhnya sudah merasa
lebih enakan dan tidak
terasa
sakit
lagi
ataupun
pegal-pegal,
skala nyeri 0 (1-5).
O:
- Keadaaan
umum
klien tampak baik,
dan klien tampak
tenang.
- Klien tidak meringis
kesakitan lagi.
A : Masalah Nyeri dan
ketidaknyamanan
berhubungan dengan
respons
inflamasi
sistemik,
mialgia,
artralgia,
diaforesis,
dapat teratasi.
P : Intervensi di hentikan.
5
22/03/2019
Gangguan
aktivitas
berhubungan dengan
kelemahan fisik.
103
S : Klien
mengatakan Irma R
sudah bisa berjalan
kekamar mandi sendiri
tanpa bantuan, makan
sendiri dan mengganti
pakaian sendiri. Klien
mengatakan
tubuh
klien sudah merasa
lebih kuat dan tidak
lemah lagi seperti
kemarin.
O:
- Klien tampak dapat
melakukan
aktivitasnya sendiri
- Klien tampak lebih
segar dan tidak
terlihat lemah
- Kekuatan otot
A : Masalah
Gangguan
aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik
dapat teratasi.
P : Intervensi dihentikan.
6
22/03/2019
Resiko
penularan
penyakit
malaria
berhubungan dengan
kurang pengetahuan
tentang
penyakit
malaria, kebersihan
lingkungan dan pola
hidup.
S : Klien dan keluarga Irma R
dapat
menjelaskan
dengan
bahasanya
sendiri
tentang
penyakit malaria cara
penularan,
penatalaksanaan yang
dapat dilakukan dalam
mengatasi
demam
malaria
dan
pencegahan penyakit
malaria.
O:
- Klien dan keluarga
dapat menjelaskan
kembali
cara-cara
penularan penyakit
malaria.
- Klien dan keluarga
dapat menjelaskan
kembali
tentang
cara-cara
pencegahan
penyakit malaria.
A : Masalah
Resiko
penularan
penyakit
malaria berhubungan
dengan
kurang
pengetahuan
tentang
penyakit
malaria,
kebersihan lingkungan
dan pola hidup dapat
teratasi.
P : Intervensi dihentikan.
104
Catatan perkembangan pulang :
Tanggal 22 Maret 2019 Ny. T atas order dan saran dari dokter sudah
diperbolehkan pulang untuk rawat jalan, keadaan umum membaik :
TTV :
TD :120/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
RR : 20 x/menit
Suhu : 370C
Obat yang diberikan omeparazole 1x1 PO, donperidon 3x1 PO, scopamin
3x1 PO, neorodex 2x1 PO, Paracetamol 3x1. Dan klien sudah tahu cara
meminum obat tersebut dirumah dan tujuan dari masing-masing obat
karena sudah dijelaskan cara pemberianya.
105
BAB IV
PEMBAHASAN
Dari hasil pelaksanaan asuhan keperawatan pada Ny. T dengan kasus
Malaria di Ruang Interna RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton pada tahun 2019
yang dimulai dari tanggal 18/03/2019 sampai 22 Maret 2019 ditemukan beberapa
persamaan atau kesenjangan antar teori yang ada dengan data yang di dapatkan.
A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. Dalam
mengumpulkan data ditemukan beberapa kesenjangan dan persamaan antara
lain : pada riwayat kesehatan sekarang, pada Ny. T ditemukan keluhan
Demam dirasakan sejak satu minggu yang lalu, tubuh menggigil merasa
kedinginan, merasa mual yang disertai dengan muntah,nyeri pada uluh hati,
lidah terasa pahit, tidak ada nafsu makan, kepala terasa pusing, tubuh terasa
panas, sering berkeringat, seluruh tubuh dirasakan sakit (nyeri pada
persendian dan juga otot) dan pegal-pegal,tubuh terasa lemah, dan klien
mengeluh hasil labor haemoglobinnya rendah yaitu 7,5 gr/dl. Keluhan yang
dialami oleh Ny. T tersebut sama dengan manifestasi klinis yang dapat
ditimbulkan oleh malaria pada tinjauan teoritis. Akan tetapi ada beberapa
gejala pada tinjauan teoritis yaitu pembesaran limpa (splenomegali) dan
pembesaran hepar(hepatomegali) pada kasus Ny. T tidak penulis temukan.
Menurut penulis hal ini disebabkan oleh malaria yang diderita Ny. T belum
terlalu berat sehingga belum terjadi komplikasi lebih lanjut dimana belum
terjadi kerusakan parenkim hati yang menyebabkan hepar dan limpa
terkompensasi.
106
Pada riwayat kesehatan dahulu Ny. T ditemukan bahwa Ny. T dua
tahun yang lalu pernah dirawat di RS selama tiga hari dengan alasan penyakit
yang sama yaitu malaria. Berdasarkan tinjauan toritis bahwa malaria
merupakan penyakit yang sewaktu-waktu dapat kambuh kembali di sebabkan
oleh parasit malaria yaitu plasmodium vivax dan ovale memiliki stadium
dormant (hipnozoit) berdiam dalam hati dan dapat kambuh kembali untuk
menginvasi kembali kedalam darah beberapa minggu atau 1 tahun kemudian,
ini sama dengan yang dialami oleh Ny. T yaitu penyakit malaria yang diderita
mengalami kekambuhan (Muslim, 2009).
Pada riwayat kesehatan keluarga terdapat keluarga Ny. T yang perna
mengalami penyakit malaria yaitu suaminya, anak pertama dan anak kedua.
Berdasarkan tinjauan teoritis menurut pendapat Handayani wiwik (2008)
bahwa malaria merupakan infeksi parasit pada sel darah merah yang
disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan ke
manusia melalui air liur nyamuk. Pada keluarga Ny. T sepertinya sudah
terjadi penularan penyakit malaria antar keluarga sehingga terdapat keluarga
selain Ny. T yang pernah mengalami penyakit malaria.
Pada pengkajian kebiasaan hidup sehari-hari Ny. T pada kebutuhan
nutrisi Ny. T selama dirumah sakit hanya makan 3sendok makan setiap
makan beda dengan selama dirumah sewaktu sehat klien dapat menghabiskan
1 porsi makan. Klien menemukan kesulitan saat makan yaitu perut terasa
mual, nyeri pada uluh hati, lidah terasa pahit. Pada kebutuhan istirahat dan
tidur Ny. T kurang dari kebutuhan yang seharusnya/ biasanya sebanyak 6-8
jam menjadi 4-6 jam hal tersebut dikarenakan tubuh Ny. T sering terasa
107
panas, sering berkeringat, terasa nyeri pada sendi tulang dan otot, tubuh terasa
pegal sehingga klien menjadi susah untuk tidur. Pada kebutuhan aktivitas
klien klien hanya berada ditempat tidur semua aktivitas klien di bantu oleh
keluarga di karenakan klien mengalami kelemahan fisik. Berdasarkan tanda
dan gejala menurut pendapat Harijanto (2009) bahwa manifestasi klinis pada
malaria serupa dengan yang dialami Ny. T yaitu merasa mual, muntah, tidak
nafsu makan,terasa lesuh/lemah, demam yang dirasakn hilang timbul, nyeri
pada sendi tulang dan otot, tubuh terasa pegal-pegal sehingga menyebabkan
terganggunya kebutuhan istirahat dan tidur Ny. T.
Berdasarkan data sosial ekonomi yang didapatkan pada pengkajian Ny.
T adalah seorang wanita karir yang bekerja di balai POM, dikarenakan klien
sedang sakit pekerjaan klien menjadi terganggu dan klien tidak dapat masuk
kerja. Benar menurut pendapat Harijanto (2011) bahwa malariamerupakan
salah satu masalah kesehatan yang dapat menurunkan produktivitas kerja.
Pada tinjauan kasus hasil laboratorium Ny. T ditemukan beberapa
persamaan pada tinjauan teoritis seperti leukosit darah tinggi : 17.400/mm3
(N = 4.000 – 10.000/mm3), Peningkatan jumlah leukosit ini (disebut
Leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi, hemoglobin rendah (7,5
gr/dl) berdasarkan menurut pendapat zulkoni akhsin (2009) malaria dapat
menyebabkan anemia dikarenakan sel darah merah lisis akibat siklus hidup
parasit dan penghancuran sel darah merah baik yang terinfeksi maupun tidak
terinfeksi
oleh
limpa.
Hemaktokrit
rendah
(23%)
penurunanpersentase konsentrasi eritrosit dalam plasma darah.
108
menunjukan
Adapun kesenjangan yang ditemukan pada hasil laboratorium Ny. T
yaitu trombosit normal (320.000 sel/mm3) ini mengalami kesenjangan dengan
yang ada pada tinjauan teori yang seharusnya pada tinjauan teori jumlah
trombosit sering menurun (N = 150.000- 400.000 sel/mm3) menurut penulis
penyakit malaria yang diderita oleh Ny. T belum mengalami penghancuran
trombosit yang berlebihan sehingga tidak terjadi trombositopenia (jumlah
trombosit sering menurun terutama pada malaria berat).Pada pemeriksaan
ureum serum dan kreatinin serum pada Ny. T normal yaitu ureum serum 29.0
mg/dl (N= 20-40 mg/dl) dan kreatinin serum 0.6 mg/dl (N= 0.5-1.2 mg/dl),
ini menunjukan bahwa fungsi ginjal pada Ny. T masih baik dan Ny. T belum
mengalami komplikasi lebih lanjut dari penyakit malaria yang diderita, yang
mana menurut widoyono (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit
malaria adalah GGA (urin <400Ml/24jam, dengan kreatinin darah >3 Mg/dl).
Pada pemeriksaan glukosa sewaktu/BBS pada Ny. T tinggi yaitu 167 mg/dl
(N=70-120 mg/dl) ini menunjukan bahwa Ny. Thiperglikemia sedangkan
menurut widoyono (2008) komplikasi yang dapat terjadi pada malaria adalah
Hipoglikemia gula darah <40mg/dl menurut penulis Ny. T tidak mengalami
hipoglikemia disebabkan penggunaan glukosa oleh parasit belum terlalu
banyak sehingga tidak terjadi insufiensi insulin sehingga tidak terjadi
hipoglikemia.
B. Diagnosa Keperawatan
Pada diagnosa keperawatan penulis hanya menganalisa data yang
diperoleh dari pengkajian sebelum menegakan diagnosa keperawatan. Dalam
asuhan keperawatan secara teori penulis menemukan 7 diagnosa keperawatan
109
yang muncul pada pasien malaria berdasarkan dari tanda dan gejala yang
timbul menurut Muttaqin, 2011 adalah :
1.
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam
tubuh.
2.
Aktual/risiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan diuresis
osmotik, diaforesis.
3.
Hipertermi
berhubungan
dengan
peningkatan
metabolisme,
efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
4.
Aktual/resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah.
5.
Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi
sistemik, mialgia, artralgia.
6.
Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
7.
Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola
hidup.
Sedangkan pada tinjauan kasus, penulis hanya menemukan 6 diagnosa
keperawatan yang terdiri dari :
1.
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam
tubuh.
Penulis menegakkan diagnosa ini karena menemukan data bahwa klien
mengeluh kepalanya terasa pusing, akral teraba dingin, kulit pucat, klien
110
tampak gelisah, conjungtiva anemis, mukosa bibir tampak kering, Hb :
7,5 gr/dl, hasil pemeriksaan DDR (+), TTV : TD :110/70 mmHg, Nadi :
90 x/menit, pernafasan : 22 x/menit, suhu : 370C, yang bearti sel darah
merah lisis akibat siklus hidup parasit malaria yaitu plasmodium,
semakin banyak jumlah skizon yang pecah di dalam darah maka semakin
banyak jumlah merozoit yang keluar yang akan menyerang eritrosit baru
sehingga menyebabkan anemia (Zulkoni akhsin, 2009).
2.
Hipertermia
berhubungan
dengan
peningkatan
metabolisme,
efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan data bahwa klien mengeluh
tubuhnya terasa panas, suhu : 380C, pada palpasi tubuh terasa panas,
klien tampak gelisah, mukosa bibir tampak kering dan hasil pemeriksaan
DDR (+), yang berati sudah terdapat plasmodium dalam darah yang
menyebabkan peningkatan sirkulasi endoktoksin pada hipotalamus,
sehingga terjadi perubahan regulasi temperatur pada termoregulator yang
mengakibatkan peningkatan suhu tubuh (Muttaqin, 2011).
3.
Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak dekuat ; anorexia, mual/muntah.
Diagnosa ini ditegakakan berdasarkan data bahwa klien mengatakan
tidak nafsu makan dan perutnya terasa mual dan muntah 1x, porsi makan
yang dihabiskan terlihat hanya 3 sendok makan, keadaan umum tampak
lemah, klien tampak pucat, mukosa bibir tampak kering, BB :49 kg, TB
:155 cm, karena tidak terjadi penurunan berat badan yang signifikan, dan
berat badan klien masih berada dalam batas normal sesuai dengan umur
111
dan tinggi badan klien, penulis hanya mengangkat diagnosa ini sebagai
resiko.
Mual dan muntah yang disebabkan adaanya plasmodium yang mencapai
sirkulasi gastrointestinal bila tidak segera diatasi dapat mengakibatkan
penurunan berat badan karena intake nutrisi yang tidak adekuat secara
oral, sedangkan yang berada pada tubuh berkurang karena output melalui
muntah yang berlebihan (Muttaqin, 2011).
4.
Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan respons inflamasi
sistemik, mialgia, artralgia, diaforesis.
Diagnosa ini penulis tegakkan karena efek dari respons inflamasi
sistemik parasit pada tubuh menyebabkan terasa pegal-pegal, dan nyeri
pada sendi tulang dan otot (Muttaqin, 2011).
5.
Gangguan aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Diagnosa ini penulis tegakan karena efek dari proses penyakit pada
sistem muskuloskletal yang dikarenakan oleh anemia dan kurangnya
asupan nutrisi klien mengakibatkan kelemahan fisik sehingga klien
membutuhkan bantuan dalam melakukan aktivitasnya berdasarkan
tinjauan teoritis menurut Harijanto (2009) bahwa Keluhan prodromal
pada malaria salah satunya berupa kelesuhan.
6.
Resiko penularan penyakit malaria berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang penyakit malaria, kebersihan lingkungan dan pola
hidup.
Diagnosa ini ditegakkan karena keluarga mengatakan tidak mengetahui
tentang penyakit malaria, cara penularan maupun pencegahannya.
112
Kurangnya pengetahuan keluarga menyebabkan ia banyak bertanya
mengenai keadaan penyakit yang diderita.
Diagnosa resiko tinggi gangguan elektrolit berhubungan dengan
diuresis osmotik, diaforesis, tidak penulis angkat karena tidak ditemukan
tanda-tanda kekurangan cairan yang berat pada Ny. T seperti turgor kulit
klien masih baik, haluaran urine adekuat, terpasang infus RL dan D5% (1:1)
20 tt/ menit, klien masih mau minum sehingga defisit volume cairan tidak
terjadi.
Dari pengkajian keperawatan yang penulis lakukan penulis menemukan
diagnosa baru yang tidak ada pada tinjauan teori yaitu gangguan istirahat dan
tidur berhubungan dengan hipertermi dan nyeri pada sendi tulang dan otot,
namun diagnosa ini tidak penulis angkat karena menurut penulis klien tidak
dapat tidur disebabkan hipertermi. Sedangkan tujuan dari dilakukannya
tindakan keperawatan adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi dan
mengatasi masalah yang menjadi
prioritas agar masalah lain yang
ditimbulkan dapat teratasi (deswani, 2009). Jadi penulis mengangkat masalah
hipertermi dan gangguan rasa nyaman nyeriyang menjadi prioritas karena
dapat menimbulkan masalah lain pada klien yaitu kebutuhan istirahat dan
tidur menjadi terganggu
C. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan yang penulis susun pada studi kasus telah mengacu
pada asuhan keperawatan secara teoritis dengan disesuaikan pada prioritas
masalah keperawatan yang dirumuskan. Penulis membuat intervensi dan
prioritas waktu dengan menyesuaikan pada masalah keperawatan yang
113
ditemukan dan sesuai dengan kemampuan yang dipunyai oleh penulis untuk
menyelesaikan/ mengatasi masalah dengan memanfaatkan fasilitas yang ada.
Intervensi yang ada pada tinjauan teoritis menurut Muttaqin (2011) dapat
direncanakan pada kasus.
D. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan pengolahan data dan perwujudan dari rencana
tindakan keperawatan, meliputi tindakan yang telah direncanakan oleh
perawat dalam membantu klien. Dalam melakukan tindakan keperawatan
harus memperhatikan kenyamanan dan keadaan klien. Dalam pelaksanaan
tindakan keperawatan pada Ny. T dengan penyakit malaria di ruang rawat
inap Ruang Interna RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton, penulis melakukanya
selama lima hari perawatan dan yang dilakukan adalah sesuai dengan
perencanaan.
Pelaksanaan tindakan perawatan pada klien dapat dilakukan dengan
baik karena faktor yang mendukung dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
ini. Adapun faktor pendukung lain antara lain :
1.
Adanya kerja sama dan kolaborasi antar tim kesehatan yang lain dan
yang paling mendukung adalah kerjasama antara penulis dan keluarga.
2.
Karena adanya motivasi yang kuat dari keluarga untuk kesembuhan klien
sehingga keluarga selalu mendukung dan melaksanakan anjuran perawat.
E. Evaluasi keperawatan
Evaluasi merupakan bagian akhir dari proses keperawatan, yang
digunakan sebagai alat ukur berhasil atau tidaknya tindakan keperawatan
kepada klien, sesuai dengan diagnosa, tujuan dan kriteria hasil. Dari 6
114
diagnosa keperawatan yang telah disusun sesuai dengan masalah utama,
selama melakukan lima hari perawatan pada Ny. T dengan penyakit malaria
sejak tanggal 18/03/2019 sampai 22 Maret 2019 dapat dikatakan berhasil,
dimana hasil akhir dari evaluasi didapatkan bahwa semua masalah yang ada
dapat teratasi pada tanggal 21 dan 22 Maret 2019.
115
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
1.
Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh parasit dari
genus plasmodium yang ditularkan pada manusia melaluit gigitan
nyamuk jenis anopheles betina, penyakit ini dapat menyerang segala ras,
usia, dan jenis kelamin. Dikenal empat spesies dari genus plasmodium
yang hidup sebagai penyebab penyakit malaria pada manusia yaitu :
Plasmodium falcifarum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae,
Plasmodium ovale. Berbeda dengan penyakit-penyakit lain, malaria tidak
dapat disembuhkan meskipun dapat diobati untuk menghilangkan gejalagejala penyakit. Malaria menjadi penyakit yang sangat berbahaya karena
parasit dapat tinggal dalam tubuh manusia seumur hidup. Adapun tanda
dan gejala yang dapat di timbulkan oleh malaria berupademam periodik,
anemia dan splenomegali.
2. Dari pengkajian yang dilakukan pada Ny. T dengan penyakit malaria,
penulis mendapatkan data-data pengkajian meliputi : identitas pasien,
riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat
kesehatan keluarga, pemeriksaan fisik, data psikologi, data sosial
ekonomi, data spiritual, data penunjang, penatalaksanaan medis, dan
kebiasaan sehari-hari klien.
3. Setelah data-data tersebut terkumpul, penulis menganalisa data yang
telah ditemukan untuk menemukan masalah keperawatan klien,setelah itu
116
penulis menyusun diagnosa keperawatan untuk menunjang proses
keperawatan dan ditemukan enam diagnosa keperawatan pada Ny. T.
4. Berdasarkan diagnosa keperawatan, penulis menyusun intervensi yang
disesuaikan dengan tinjauan teori menurut Muttaqin (2011) dengan
mempertimbangkan prosedur kebijakan dan fasilitas diruangan rawat
inap tempat klien dirawat, serta disesuaikan juga dengan kemampuan
penulis dan keadaan klien.
5.
Kemudian rencana-rencana tersebut penulis implementasikan pada klien
dan keluarga, sekaligus mengevaluasi setiap respon hasil atau kemajuan
klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.
6.
Pada evaluasi di semua tindakan keperawatan dikategorikan berhasil
karena dari enam diagnosa yang disusun sesuai masalah pada Ny. T
menunjukan bahwa semua masalah dapat teratasi dengan baik.
7.
Analisa antara konsep teori dan kasus yang telah ditemukan pada Ny. T
yang tentunya terdapat beberapa kesenjangan dan persamaan yang
semuanya telah dibahas di bab pembahasan.
8.
Dari proses keperawatan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa pada Ny. T mengalami penyakit malaria, setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama lima hari penyakit malaria yang di
sebabkan oleh plasmodium vivax dan telah menyebabkan anemia pada
Ny. T dapat teratasi begitupun dengan gejala yang lain seperti hipertermi,
nyeri pada sendi tulang dan otot, tubuh terasa pegal-pegal, merasa mual
yang disertai muntah, tidak nafsu makan dan kelesuhan sudah tidak
dirasakan lagi.
117
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis memberikan alternatif
pemecahan masalah yang berupa saran-saran, yaitu untuk mencapai asuhan
keperawatan yang optimal.
1.
RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton
Diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan
memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas sebagai standar
praktek keperawatan yang berlaku dan dapat meningkatkan sarana dan
prasarana kesehatan yang ada di RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton
untuk dapat menunjang pengobatan dan perawatan pada pasien dengan
penyakit malaria yang dirawat di RSUD Pasarwajo Kabupaten Buton dan
dapat meningkatkan sumber daya manusia dengan banyak mengadakan
pelatihan-pelatihan ataupun seminar mengenai masalah malaria sehingga
menambah ilmu dan wawasan para perawat.
2.
Institusi pendidikan/Akademik
Kepada pihak akademik diharapkan dapat lebih memperluas dalam
pemberian materi tentang malaria dan dapat menambah buku-buku
tentang Malaria edisi terbaru sehingga peneliti selanjutnya tidak kesulitan
mencari untuk referensi.
3.
Penulis selanjutnya
Diharapkan pada penulis selanjutnya yang berminat untuk meneliti
masalah ini lebih jauh dan mendalam hendaknya untuk meneliti masalah
ini dengan menggunakan tempat yang berbeda dengan teknik yang lain
sehingga diperoleh keragaman hasil penelitian yang berkaitan dengan
118
penyakit malaria seperti “Hubungan prilaku pencegahan malaria terhadap
kejadian malaria”. “Faktor faktor risiko yang mempengaruhi kejadian
malaria” dengan menggunakan metode penelitian observasional.
119
DAFTAR PUSTAKA
Sucipto, Cecep Dani. 2017. Manual Lengkap Malaria. Jakarta : EGC
Kemenkes RI. Info Data Dan Informasi Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta
: Kemenkes RI; 2014.
Riskedas. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitbang Depkes
RI Dinkes Prov.Sultra. 2016. Profil Kesehatan Sulawesi Tenggara Tahun
2016. Kendari
Nurarif & Kusuma. 2015. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA NIC-NOC. Jogjakarta : MediAction
Robbins. 2007. Buku ajar : Patologi. Jakarta : EGC
Tarwoto et al. 2009. Anatomi Dan Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan.
Cetakan Pertama. Trans Info Media: Jakarta
Smeltzer, S. C. And Bare, B. G. 2012.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Sudart Edisi 8. Jakarta: EGC
Moorhead, sue et al. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC) Edisi 5.
Singapore: Elsevies, Alih Bahasa Intansari Nurjannah & Roxsana Devi
Tumanggor
Nurarif, Amin Huda & Kusuma Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosis Medis & Nanda Nic-Noc Jilid 3. Yogyakarta:
Medication Publishing
Budiono, Sumirah Budi Pertami. 2015. Konsep dasar Keperawatan. Jakarta :
Bumi Medika
120
Bulechek, Gloria M et al. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC) Edisi
6. Singapore: Elsavier, Alih Bahasa Intansari Nurjannah & Roxsana Devi
Tumanggor.
121
122
123
124
125
126
Download