Uploaded by common.user150469

Analisis Nilai Tambah & BEP Agroindustri Keripik Singkong

advertisement
1
ANALISIS NILAI TAMBAH DAN BREAK EVEN
POINT AGROINDUSTRI KERIPIK SINGKONG
(Kasus Pada Agroindustri Keripik singkong di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura)
SKRIPSI
Oleh:
TRIAS WULANDARI
0910440208
MINAT MANAJEMEN DAN ANALISIS AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
MALANG
2013
2
ANALISIS NILAI TAMBAH DAN BREAK EVEN
POINT AGROINDUSTRI KERIPIK SINGKONG
(Kasus Pada Agroindustri Keripik singkong di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura)
Oleh:
TRIAS WULANDARI
0910440208
MINAT MANAJEMEN DAN ANALISIS AGRIBISNIS
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana
Pertanian Strata Satu (S-1)
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
MALANG
2013
PERNYATAAN
3
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi,
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Malang,
Trias Wulandari
0910440208
4
PERSEMBAHAN SKRIPSI
Setiap kesusahan dan cobaan adalah TABUNGAN
KEBAHAGIAAN...hadapi dengan segala kekuatan,bangkit dan
terus menatap kedepan...
Ikhlas dan menerima bahwa segalanya yang terjadi adalah
proses pendewasaan diri dan sebagai warna lukisan
kehidupan....
(Ayahanda Catur Puji Widodo)
Skripsi ini aku persembahkan untuk....
Kedua orang tuaku tercinta yang begitu tulus memberikan dukungan,
nasehat dan doa serta menjadi semangat untuk tetap berjuang...
Kakakku tersayang mas Bayu dan mas Radith serta adekku Ita atas
dukungan serta doanya..
Mbudtku terkasih yang begitu tulus menemani, memberikan semangat, doa,
dan menjadi tempat sandaran lelahku untuk menjadi lebih kuat dan tegar..
Sahabat dan saudari terbaikku mbak Astrie, mbak Uun, adek Yeni, Desi dan
Jamil yang telah menjadi tempat keluh kesahku, tak lelah memberi
dorongan semangat dan doanya...
Terima kasih atas cinta, kasih sayang dan perhatiannya untukku...
5
RINGKASAN
TRIAS WULANDARI. 0910440208. Analisis Nilai Tambah Dan Break Even
Point Agroindustri Keripik Singkong (Studi Kasus Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan) Dibawah bimbingan Prof.Dr.Ir.
Djoko Koestiono MS dan Prof.Dr.Ir. Nuhfil Hanani MR, MS.
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi keaneragaman sumber
daya alam yang melimpah dengan berbagai wilayah yang memiliki potensi di
Sektor Pertanian dimana sebagian besar penduduk Indonesia bekerja pada sektor
tersebut. Namun belum adanya pemanfaatan sumber daya alam yang optimal
sehingga mengakibatkan rendahnya nilai tambah yang diperoleh dari hasil-hasil
pertanian. Salah satu upaya dalam memberikan nilai tambah terhadap komoditi
pertanian yaitu melalui industrialisasi berbasis pertanian (agroindustri) dengan
memanfaatkan teknologi dan sumberdaya alam serta sumberdaya manusia
(Hidayat, 2007).
Kegiatan agroindustri merupakan bagian integral dari sektor pertanian
mempunyai kontribusi penting dalam proses industrialisasi terutama di wilayah
pedesaan. Efek agroindustri tidak hanya mentransformasikan produk primer ke
produk olahan tetapi juga budaya kerja dari agraris tradisional yang menciptakan
nilai tambah rendah menjadi budaya kerja industrial modern yang menciptakan
nilai tambah tinggi (Suryana, 2004). Kebijakan pembangunan agroindustri antara
lain kebijakan investasi, teknologi dan lokasi agroindustri harus mendapat
pertimbangan utama (Yusdja dan Iqbal, 2002)
Saat ini banyak berkembang agroindustri dengan jenis olahan dalam skala
usaha yang beragam. Salah satu agroindustri jenis olahan yang diunggulkan di
kabupaten Pamekasan Madura adalah agroindustri keripik singkong. Sentra
agroindustri singkong terdapat Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura.
Agroindustri keripik singkong merupakan salah satu usaha yang cukup potensial
mengingat sentra produksi kripik singkong berasal dari Madura dan keripik jenis
olahan singkong ini hanya diolah di kota Pamekasan Madura. Pengolahan keripik
singkong merupakan suatu kegiatan pasca panen yang mampu memberikan daya
simpan yang lebih lama pada singkong dan mampu memberikan nilai tambah.
Perumusan permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan adalah : (1)
Berapa besarnya nilai tambah dari agroindustri keripik singkong di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura. (2) Berapa besarnya
produksi minimal yang harus dihasilkan oleh pengusaha agroindustri keripik
singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura agar
tidak mengalami kerugian.
Berdasarkan perumusan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini
adalah : (1) Menganalisis besarnya nilai tambah dari agroindustri keripik singkong
di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura. (2) Menganalisis
besarnya produksi minimal yang harus dihasilkan oleh pengusaha agroindustri
keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura
agar tidak mengalami kerugian.
Metode penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan
pertimbangan bahwa daerah tersebut adalah sentra agroindustri keripik singkong
6
yang ada di Kota Pamekasan. Dalam penelitian ini responden yang digunakan
berjumlah 15 orang pengusaha keripik singkong. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah wawancara dengan kuesioner, observasi dan dokumentasi.
Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui aspek produksi, aspek
sumberdaya manusia, aspek pemasaran, dan aspek sosial ekonomi. Analisis
kualitatif meliputi (1) Analisis Nilai Tambah. (2) Analisis Penerimaan. (3) analisis
Break Even point.
Hasil penelitian antara lain : (1) Rata-rata nilai tambah dalam satu kali
proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern sebesar Rp.
14.592,7 per kilogram bahan baku atau sebesar 79,27 persen dari nilai produksi.
Imbalan tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 520 atau 0,04 persen dari nilai
tambah, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 14.072,7 atau sebesar
97,9 persen dari nilai tambah. Sedangkan pada agroindustri tradisional sebesar Rp.
12.731 per kilogram bahan baku atau sebesar 79,08 persen dari nilai produksi.
Imbalan tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 300 atau 2,35 persen dari nilai
tambah, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 12.431 atau sebesar
97,6 persen dari nilai tambah. Jumlah rata-rata keripik singkong dalam satu kali
proses produksi agroindustri keripik singkong 50-51,4 kilogram. Rata-rata
penerimaan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong
yang menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan pada
agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp.
798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis pertama yang telah dirumuskan
dapat diterima, dengan jumlah bahan baku yang sama agroindustri keripik
singkong semi modern lebih besar perolehan nilai tambah jika dibandingkan
dengan agroindustri tradisional. (2) Nilai B/C rasio agroindustri keripik singkong
pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar 3,8
sedangkan pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan tenaga
tradisional sebesar 3,5, sehingga dapat dinyatakan bahwa agroindustri keripik
singkong layak dikembangkan dan memberikan nilai keuntungan bagi
pengusahanya. Berdasarkan nilai BEP dapat diketahui bahwa agroindustri keripik
singkong yang menggunakan mesin berada pada titik impas pada volume produksi
0,43 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00 sedangkan pada keripik
singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar 0,20 kg dengan penerimaan
sebesar Rp. 5.352,00, sehingga dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik
singkong telah melewati titik impas yaitu dengan volume sebesar 51,4 kilogram
dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan volume sebesar 50 kilogram
dengan penerimaan sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis
kedua yang telah dirumuskan dapat diterima, karena agroindustri keripik singkong
layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan bagi pengusahanya yaitu
tingkat keuntungan agroindustri semi modern lebih tinggi daripada agroindustri
tradisional.(3) Berdasarkan uraian mengenai hasil perhitungan nilai tambah,
penerimaan dan BEP maka dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik
singkong dapat memberikan nilai tambah pada komoditas singkong, nilai tambah
yang diberikan masuk dalam kriteria tinggi yaitu 79,08 dan 79,33 persen. Suatu
produk yang memberikan nilai tambah pasti akan memberikan keuntungan bagi
pengusahanya dimana besar kecilnya keuntungan yang diterima dipengaruhi oleh
besarnya total penerimaan dan total biaya produksi, total penerimaan pada
7
agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin sebesar Rp. 1.013.142,86
sedangkan yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp.798.000,00 . Dengan
perhitungan analisis B/C rasio diketahui bahwa agroindustri keripik singkong
layak untuk dikembangkan dan menguntungkan bagi pengusaha keripik singkong
dan perhitungan BEP maka diketahui produksi minimal yang harus dicapai oleh
agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dengan jumlah bahan
baku yang sama yaitu sebesar 0,43 kg dengan harga Rp. 15.776 sedangkan pada
agroindustri yang masih menggunakan tenaga tradisional sebesar 0,20 kg dengan
harga Rp. 5.352. dari data tersebut maka dapat diketahui titik impas dimana
agroindustri tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan dan data tersebut
sesuai dengan hipotesis kedua yaitu agroindustri semi modern lebih tinggi tingkat
keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada agroindustri yang masih
menggunakan tenaga tradisional.
8
SUMMARY
TRIAS WULANDARI. 0910440208. Value Added Analysis And Break Even
Point Agro Cassava Chips (Case Study In Blumbungan Village, District
Prohibition, City Pamekasan). Under the adviser of Prof.Dr.Ir. Djoko
Koestiono MS dan Prof.Dr.Ir. Nuhfil Hanani MR, MS.
Indonesia is a country that has the potential diversity of abundant natural
resources in a variety of areas that have potential in the agricultural sector where
most Indonesian people working in the sector. However, the lack of use of natural
resources so that optimal results in lower added value derived from agricultural
products. An effort to provide added value to agricultural commodities is through
industrialization based on agriculture (agro) by utilizing technology and natural
resources and human resources (Hidayat, 2007).
Agro-industrial activities is an integral part of the agricultural sector has an
important contribution in the process of industrialization, especially in rural areas.
Agro-industry effects not only transform primary products to processed products,
but also the work of traditional agrarian culture that creates a low added value to
modern industrial work culture that creates high added value (Suryana, 2004).
Agro-industry development policies such as investment policy, agro-technology
and location should be of primary consideration (Yusdja and Iqbal, 2002)
Today many developing agro-processed type scale with diverse business.
One type of processed agro seeded Pamekasan Madura district is agro cassava
chips. Cassava agro-industrial centers are sub Prohibition, Pamekasan, Madura.
Agroindustrial cassava chips is one of the potential business since cassava chip
production centers from Madura and type of processed cassava chips is only
processed in the city of Madura Pamekasan. Processing of cassava chips is a postharvest activities, which could give a longer shelf life on cassava and can provide
added value.
Formulation of research problems can be formulated as follows: (1) What
is the value added of agro Blumbungan cassava chips in the Village, District
Prohibition, Pamekasan Madura. (2) What is the minimum amount of production
to be generated by the agro-industry entrepreneurs Blumbungan cassava chips in
the Village, District Prohibition, Pamekasan Madura in order not to experience
losses.
Based formulation of the problem, the objectives of this study were: (1)
to analyze the value-added of agro Blumbungan cassava chips in the Village,
District Prohibition, Pamekasan Madura. (2) analyze the minimal amount of
production to be generated by the agro-industry entrepreneurs Blumbungan
cassava chips in the Village, District Prohibition, Pamekasan Madura in order not
to experience losses.
Method of determining the location was intentionally (purposive) with
the consideration that the area is a center for agro cassava chips in the city
Pamekasan. In this study respondents used were 15 employers cassava chips. Data
collection techniques used were interviews with questionnaires, observation and
documentation.
Data analysis methods used are qualitative analysis and quantitative
analysis. Qualitative analysis is used to determine the production aspects, aspects
9
of human resources, marketing aspects, and socio-economic aspects. Qualitative
analysis includes (1) Value Added Analysis. (2) Analysis of Revenue. (3) Break
Even point analysis.
The results include: (1) The average value added in the production
process in the agro cassava chips of Rp. 14592.7 per kilogram of raw materials or
79.27 percent of the value of production. Workers received benefits amounting to
Rp. 520 or 0.04 percent of the value added, while the profits of Rp. 14072.7 or by
97.7 per cent of the value added. Average number of cassava chips in a single
production process agro cassava chips 50 pounds. The average revenue in a single
production process that uses cassava chips agro machine is Rp. 1,013,142.86
while the agro cassava chips are not using the machine is Rp. 798,000.00. From
the description, the first hypothesis has been formulated to be accepted, because
agro cassava chips can provide added value. (2) The value of B / C ratio on agro
agro cassava chips cassava chips that use the engine is at 3.8 while the agro
cassava chips that use traditional power of 3.5, so it can be stated that agro
cassava chips feasible and provide value gains for entrepreneurs. Based on the
value of BEP can be seen that the use of agro cassava chips machine is at the
breakeven point on the production volume of 0.43 kilograms with revenues of Rp.
15776.00 while the cassava chips that do not use the machine at 0.20 kg with
revenues of Rp. 5352.00, so it can be concluded that agro cassava chips have
passed the break-even point is the volume of 50 pounds with a revenue of Rp.
1,013,142.86 and Rp. 798,000.00. From the description, the second hypothesis has
been formulated to be accepted, because agro cassava chips feasible to develop
and provide benefits for the entrepreneur. (3) Based on the description of the
calculation of value added, BEP revenue and it can be concluded that agro cassava
chips can add value to cassava commodity, value given in the criteria as high as
79.33 percent. A product that provides added value will surely benefit
entrepreneurs where the size of the benefit received is influenced by the amount of
total revenue and total production cost, total revenue in the agro-industry that use
cassava chips machine is Rp. 1,013,142.86 while not using the machine for
Rp.798.000, 00. By calculation analysis of B / C ratio and BEP, it is known that
the agro cassava chips feasible to develop and profitably.
10
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala Nikmat, Karunia, serta
RahmatNya karena penulis dapat menyusun skripsi dengan judul “Analisis Nilai
Tambah dan Break Even Point Agroindustri Keripik Singkong di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura”.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof.Dr.Ir Djoko Koestiono, MS, Ibu Ir. Nidamulyawaty Maarthen Msi
dan Bapak Prof.Dr.Ir Nuhfil Hanani AR, MS selaku dosen pembimbing skripsi
yang telah memberikan bimbingan, nasehat serta motivasi kepada penulis.
2. Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan selaku responden serta
instansi terkait yang memberikan informasi dan data-data dalam penulisan
skripsi.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna.
Oleh karena itu, penulis juga membutuhkan kritik dan saran yang berperan dalam
penyempurnaan proposal skripsi ini. Harapan dari penulis adalah semoga skripsi
ini dapat diterima serta bermanfaat untuk semua pihak atau pengguna ilmu
lainnya.
Malang, Mei 2013
Penulis
11
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 15 April 1991 di Kota Sampang dari
pasangan Bapak Catur Puji Widodo dan Ibu Titik Endarti. Penulis adalah Putri ketiga
dari empat bersaudara.
Penulis memulai pendidikan di TK Al-Irsyad Pamekasan (1996-1997),
kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SDN. Gladak Anyar II Pamekasan (19972003) dan menempuh jenjang pendidikan menengah pertama di SMPN 01 Pamekasan
(2003-2006) dan menempuh jenjang pendidikan menengah atas di SMUN 3 Pamekasan
(2006-2009). Penulis melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Universitas Brawijaya
Malang, Fakultas Pertanian, Program Studi Agribisnis pada tahun 2009 melalui jalur
PSB.
12
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN.........................................................................................
i
SUMMARY.............................................................................................
iv
KATA PENGANTAR ............................................................................
vi
DAFTAR ISI ...............................................................................................
vii
DAFTAR TABEL .....................................................................................
x
DAFTAR GAMBAR .................................................................................
xii
I.
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...........................................................................................
1
1
1.2. Rumusan Masalah ......................................................................................
3
3
1.3. Tujuan Penelitian .......................................................................................
5
1.4. Kegunaan Penelitian .................................................................... 5
II. KERANGKA TEORITIS
2.1. Kerangka Pemikiran ..................................................................................
6
23
2.2. Hipotesis ...................................................................................................
8
23
2.3. Batasan Masalah .......................................................................................
8
23
2.4. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ........................................
8
24
III. METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan waktu Penelitian .......................................................................
11 27
3.2 Teknik Penetuan Sample ...........................................................................
11 42
3.3 Teknik Pengumpulan Data............................................................. 12
3.4 Teknik Analisis Data ................................................................... 13
3.4.1. Analisis Data Kualitatif ..................................................... 13
3.4.2. Analisis Data Kuantitatif ................................................... 13
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian ...........................................
4.1.1. Letak Geografis..............................................................
4.1.2. Luas Wilayah Dan Penggunaan Lahan...........................
4.1.3 Kondisi Penduduk .........................................................
4.1.3.1. Berdasarkan Jenis kelamin ...............................
4.1.3.2. Berdasarkan Usia .............................................
4.1.3.3. Berdasarkan Tingkat Pendidikan .....................
4.1.3.4. Berdasarkan Mata Pencaharian ........................
4.1.4. Kondisi Pertanian ............................................................
4.2. Karakteristik Responden ..........................................................
4.2.1. Berdasarkan Usia ...........................................................
19
19
20
21
21
22
22
23
23
25
26
13
4.2.2. Berdasarkan Tingkat Pendidikan ...................................
4.2.3 Berdasarkan Lama Usaha ...............................................
4.2.4. Berdasarkan Jenis Usaha ...............................................
4.2.5.Karakteristik Agroindustri Keripik Singkong.................
4.2.6. Penyediaan Input Produksi.............................................
4.2.7. Proses Produksi
..............................................................
4.2.8. Kapasitas Produksi.........................................................
4.2.9. Pemasaran .....................................................................
4.3. Analisis Nilai Tambah .............................................................
4.4. Analisis Kelayakan Usaha .......................................................
4.4.1. Analisis Penerimaan .....................................................
4.4.2. Analisis B/C Rasio ........................................................
4.4.3. Analisis BEP .................................................................
27
28
28
38
29
34
38
38
40
44
44
50
51
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan..............................................................................
5.2. Saran .......................................................................................
55
57
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................
LAMPIRAN ........................................................................................
58
60
14
DAFTAR TABEL
Nomor
1.
Halaman
Teks
Jumlah Produksi Tanaman Pangan di Pamekasa Madura.......
2
2.
Format Nilai Tambah........................................................14
3.
Jenis Penggunaan Lahan Di Desa Blumbungan Tahun 2012...
20
4.
Komposisi Jumlah Penduduk Di Desa Blumbungan Tahun 2012..........................................................................................
21
Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Di Desa Blumbungan Tahun 2012 ........................................................
22
Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Di Desa Blumbungan Tahun 2012.............................................
23
Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencarian Di
Desa Blumbungan Tahun 2012..................................................
24
8.
Kondisi Pertanian Di Desa Blumbungan Tahun 2012................
25
9.
Karakter Responden Berdasarkan Kelompok Usia Di Desa Blumbungan Tahun 2012 ..........................................................
26
Karakter Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Blumbungan Tahun 2012 ...........................................................
27
Karakter Responden Berdasarkan Lama Usaha Di Desa
Blumbungan Tahun 2012 ...........................................................
28
Karakter Responden Berdasarkan Jenis Usaha Di Desa
Blumbungan Tahun 2012 ...........................................................
29
13.
Besarnya Biaya Satu Kali Proses Produksi Oleh Agroindustri ..
30
14.
Rata-Rata Kebutuhan Bahan Dalam Sekali Proses Produksi .....
31
15.
Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja Dan Pemberian Upah Dalam
Sekali Proses Produksi.................................................................
33
5.
6.
7.
10.
11.
12.
15
DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
Teks
16.
17.
18.
19.
Alat-alat Yang Digunakan Dalam Proses Produksi Keripik
Singkong Tahun 2013........................................................
35
Jumlah Produksi Keripik Singkong Dalam Satu Kali
Produk- si Keripik Singkong Tahun
2013........................................…
38
Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi
Keripik Singkong Semi Modern Tahun
2013............................
41
Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi
Keripik Singkong Tradisional Tahun
2013................................
42
20.
Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Produksi Dalam
Proses Produksi Keripik singkong Tahun
2013.....................................
21.
22.
23.
24.
25.
26.
45
Rata-rata Biaya Variabel Produksi Dalam Satu Kali Proses
Produksi Keripik Singkong Tahun 2013...................................
46
Rata-rata Biaya Total Biaya Produksi Dalam Satu Kali Proses
Produksi Keripik Singkong Tahun 2013.....................................
48
Rata-rata Harga Pokok Satu Kilogram Kerpik Singkong Pada
Agroindustri Keripik Singkong Tahun 2013...............................
48
Rata-rata Penerimaan Dalam Satu Kali Proses Produksi Keripik
Keripik Singkong Tahun 2013 ...................................................
49
Rata-rata Tingkat Kelayakan Usaha Dalam Satu Kali Proses
Produksi Keripik Singkong Tahun 2013 ....................................
50
Analisis Break Even Point Dalam Satu Kali Proses Produksi
Keripik Singkong Tahun 2013 ...................................................
51
16
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
Teks
1.
Kerangka Pemikiran Analisis Nilai Tambah dan Break
Even Point Agroindustri Keripik Singkong di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura
………………….
7
2.
3.
4.
Proses Pembuatan Keripik Singkong Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa
Blumbungan.................................
Pola Pemasaran Keripik Singkong Pada Agroindustri
Keripik Singkong Di Desa Blumbungan
................................
Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik
Singkong Di Desa
Blumbungan..............................................
37
39
52
17
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi keaneragaman sumber
daya alam yang melimpah dengan berbagai wilayah yang memiliki potensi di
sektor pertanian dimana sebagian besar penduduk Indonesia bekerja pada sektor
tersebut. Namun belum adanya pemanfaatan sumber daya alam yang optimal
sehingga mengakibatkan rendahnya nilai tambah yang diperoleh dari hasil-hasil
pertanian. Salah satu upaya dalam memberikan nilai tambah terhadap komoditi
pertanian yaitu melalui industrialisasi berbasis pertanian (agroindustri) dengan
memanfaatkan teknologi dan sumberdaya alam serta sumberdaya manusia
(Hidayat, 2007).
Menurut Hanani et.al (2003), pengembangan agroindustri sebagai langkah
industrialisasi pertanian merupakan pilihan strategi yang tepat, karena tidak hanya
menciptakan kondisi yang saling mendukung antara kekuatan industri maju
dengan pertanian yang tangguh, tetapi juga membentuk keterpaduan sektor
industri pertanian yang mampu memberikan perubahan melalui penyerapan
tenaga kerja, peningkatan dan perbaikan pembagian pendapat, peningkatan
peroleh devisa negara dan mampu mendorong munculnya industri baru. Sebagai
salah satu penggerak pembangunan pertanian, agroindustri diharapkan dapat
memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan daerah, baik dalam
sasaran pembangunan, pertumbuhan ekonomi maupun stabilitas nasional. Untuk
mewujudkan harapan itu maka harus dilihat potensi yang ada di daerah tersebut.
Indonesia termasuk sebagai negara penghasil singkong terbesar ketiga
(13.300.000 ton) setelah Brazil (25.554.000 ton) dan Thailand (13.500.000 ton),
disusul negara-negara seperti Nigeria (11.000.000 ton), India (6.500.000 ton) dari
total produksi dunia sebesar 122.134.000 ton per tahun . Berdasarkan kontribusi
terhadap produksi nasional terdapat sepuluh propinsi utama penghasil singkong
yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara,
Maluku, Sumatera Selatan dan Yogyakarta yang menyumbang sebesar 89,47 %
dari produksi nasional, sedangkan dari propinsi lainnya sekitar 11-12% (Agrica,
2007). Indonesia memiliki prosentase yang meningkat tiap tahunnya sehingga
dibutuhkan upaya maksimal dalam meningkatkan nilai tambah produk.
1
18
Ubi kayu atau biasa disebut singkong (Manihot esculenta Crantz)
merupakan bahan makanan penting di Indonesia setelah padi dan jagung. Lebih
kurang 60% dari produksi singkong di Indonesia digunakan sebagai bahan
makanan, sedangkan 32% digunakan sebagai bahan industri dalam negeri, dan 8%
diekspor dalam bentuk gaplek. Sebagai bahan makanan, jika ditinjau dari kalori
yang dihasilkan per satuan luas tanah, singkong menghasilkan kalori lebih tinggi
dibandingkan dengan padi dan jagung. Sedangkan apabila ditinjau dari kalori
yang dihasilkan per satuan waktu, jagung lebih tinggi hasil kalorinya
dibandingkan padi dan singkong. Dibidang industri, singkong menghasilkan
bioethanol yang dapat dijadikan bahan bakar nabati dan ramah lingkungan karena
mengandung emisi gas karbon monoksida lebih rendah dibandingkan dengan
bahan bakar minyak (Anonim, 2007).
Madura adalah pulau yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil garam,
singkong, jagung, padi, tembakau, sapi, dan hasil laut sepanjang pantai utaraselatan. Produksi tanaman palawija seperti jagung ataupun ubi kayu memberikan
kontribusi terhadap pendapatan daerah di Pamekasan. Seperti yang disajikan pada
tabel berikut ini :
Tabel 1. Produksi Tanaman Pangan di Pamekasan Tahun 2012
No.
Komoditi
1. Padi
2. Jagung
Ketersediaan Area (Ha)
636.671
911.828
3.. Singkong
1.518,233
Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan, Madura, 2012
Produksi (ton)
12.036.303
904.192
2103
Dari tabel tersebut padi memiliki luas area 636.671 Ha sedangkan jagung
dengan luas area 911.828 Ha menghasilkan produksi sebesar 904.192 ton dan
singkong dengan luas area 1,518.233 Ha dengan produksi sebesar 2103 ton. Dari
uraian tersebut maka komoditi singkong memiliki potensi yang dapat diolah
menjadi berbagai macam olahan sehingga mampu memberikan nilai tambah.
Saat ini banyak berkembang agroindustri dengan jenis olahan dalam skala
usaha yang beragam. Salah satu agroindustri jenis olahan yang diunggulkan di
kabupaten Pamekasan Madura adalah agroindustri keripik singkong. Sentra
agroindustri singkong terdapat Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura.
Agroindustri keripik singkong merupakan salah satu usaha yang cukup potensial
19
mengingat sentra produksi kripik singkong berasal dari Madura dan keripik jenis
olahan singkong ini hanya diolah di kota Pamekasan Madura. Pengolahan keripik
singkong merupakan suatu kegiatan pasca panen yang mampu memberikan daya
simpan yang lebih lama pada singkong dan mampu memberikan nilai tambah.
Agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan,
Pamekasan, Madura sebagian besar adalah agroindustri skala kecil yang
membutuhkan pengembangan skala usahanya guna meningkatkan keuntungan
yang lebih tinggi. Berdasarkan uraian diatas, maka dirasa cukup penting untuk
meneliti analisis nilai tambah dan break even point dalam rangka pengembangan
usaha sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pengusaha
keripik singkong guna meningkatkan produksi dan keuntungan dari usahanya
selain itu juga adanya informasi mengenai nilai tambah ini juga diharapkan agar
para petani singkong sadar bahwa mengolah singkong menjadi keripik singkong
mampu memberikan nilai tambah dan keuntungan yang lebih besar daripada
hanya menjual dalam bentuk umbi sehingga nantinya pendapatan yang lebih besar
tersebut dapat mensejahterakan hidup petani.
1.2 Perumusan Masalah
Agroindustri kripik singkong merupakan salah satu usaha yang cukup
potensial untuk dikembangkan
di kota Pamekasan karena merupakan satu-
satunya kota di Madura yang memproduksi olahan keripik singkong sehingga
mampu dijadikan camilan khas kota Pamekasan. Adanya usaha agroindustri ini
mampu memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja di lingkungan
sekitar, selain itu agroindustri keripik singkong mampu memberikan nilai tambah
karena proses pengolahan singkong yang mampu meningkatkan nilai jual produk
sehingga memperoleh keuntungan yang lebih besar. Melihat peranan dan potensi
agroindustri keripik singkong ini perlu mendapat perhatian lebih serta pembinaan
khususnya untuk para petani singkong sebagai upaya dalam peningkatan
kesejahteraan serta pengembangan dan meningkatkan area pemasaran agar lebih
di kenal oleh masyarakat di kota lain. Sentra produk keripik singkong tersebut ada
dalam satu lokasi dan berdekatan antara 1 hingga 15 agroindustri yang
memungkinkan untuk kesamaan jumlah bahan baku, penggunaan alat dan proses
20
pembuatan keripik singkong, namun cakupan area produk dan cita rasanya
berbeda-beda antara satu dengan yang lain.
Permasalahan yang dihadapi para pelaku usaha agroindustri keripik
singkong yaitu kurangnya modal dan perluasan area pemasaran produk. Sampai
saat ini agroindustri komoditas ini masih tetap berdiri karena masih terdapat
permintaan konsumen, tetapi semakin lama jumlah agroindustri keripik singkong
semakin menurun. Namun permintaan terhadap produk keripik singkong ini
semakin meningkat dari berbagai wilayah di Madura. Hal ini karena kurangnya
peran dari pemerintah dalam upaya pengembangan dan perluasan pemasaran
sehingga jumlah pemesanan hanya terbatas pada konsumen-konsumen yang telah
dikenal dan jangkauan pemasaran produk yang kurang meluas selain itu
penggunaan teknologi yang masih sederhana dan kendala cuaca yang
mempengaruhi proses produksi mengakibatkan produk yang dihasilkan belum
optimal baik secara kualitas maupun kuantitas. Sebagian besar kegiatan
pengolahan keripik singkong masih dikerjakan secara manual atau dengan
menggunakan tenaga manusia sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam
kegiatan produksinya. Selain itu terbatasnya daerah pemasaran mengakibatkan
minimnya jumlah produk yang mampu dijual, sehingga konsumen kesulitan
dalam menjangkau atau memesan produk dalam jumlah yang banyak
mengakibatkan rendahnya penerimaan dan keuntungan yang diperoleh oleh
pengusaha keripik singkong.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pertanyaan pokok dalam
penelitian ini adalah:
1. Berapa besarnya nilai tambah dari agroindustri keripik singkong semi modern
dan agroindustri keripik singkong tradisional di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura?
2. Berapa besarnya produksi minimal yang harus dihasilkan oleh pengusaha
agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan,
Pamekasan Madura agar tidak mengalami kerugian?
21
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis besarnya nilai tambah yang dihasilkan oleh pengusaha
agroindustri keripik singkong di daerah penelitian.
2. Menganalisis besarnya produksi minimal yang harus dihasilkan oleh pengusaha
agroindustri keripik singkong di daerah penelitian agar tidak mengalami
kerugian.
1.4 Kegunaan Penelitian
1. Sebagai informasi bagi pengusaha keripik singkong dalam upaya peningkatan
pendapatan dan dasar pertimbangan dalam upaya perluasan usaha.
2. Sebagai informasi bagi para petani singkong agar mampu mengolah singkong
sehingga dapat memberikan nilai tambah dan keuntungan serta menambah
daya simpan produk para petani.
3. Sebagai tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang yang sejenis dengan
penelitian ini.
22
II. KERANGKA KONSEP PENELITIAN
2.1 Kerangka Pemikiran
Singkong merupakan salah satu komoditas yang melimpah di Indonesia.
Komoditi ini telah banyak dikenal dan dimanfaatkan namun mayoritas pengolahan
singkong sangat minim atau hanya daerah tertentu yang mengolah singkong,
selebihnya hanyalah di jual dalam bentuk umbi segar. Produk pertanian yang
sebagian besar memiliki sifat mudah rusak dan tidak tahan lama dan
membutuhkan adanya pengolahan lebih lanjut. Agroindustri merupakan suatu
usaha yang di dalamnya terdapat kegiatan pengolahan komoditas pertanian
menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sehingga
akan meningkatkan keuntungan bagi pengusaha agroindustri. Salah satu
agroindustri yang telah mengolah komoditas pertanian menjadi produk yang lebih
bernilai dan mampu menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar adalah
agroindustri keripik singkong yang berada di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Pamekasan Madura yaitu agroindustri semi modern dan agroindustri
tradisional. Perbedaan antar agroindustri tersebut yaitu pada penggunaan mesin
dan input variabel lain atau bahan tambahan pada proses pembuatan keripik
singkong.
Agroindustri keripik singkong yang ada merupakan agroindustri skala kecil
yang memiliki nilai tambah yang dijadikan salah satu parameter pengembangan
agroindustri. Namun pada kenyataannya agroindustri ini belum menunjukkan
hasil yang optimal dalam upaya pengembangan usaha sehingga berpengaruh
terhadap pendapatan ataupun keuntungan yang diperoleh sehingga perlu dikaji
teori yang ada guna menganalisis nilai tambah, tingkat penerimaan dan
keuntungan yang diperoleh serta tingkat kelayakan usaha dari perusahaan tersebut
dilakukan dengan metode analisis nilai tambah, analisis penerimaan dan
keuntungan serta analisis kelayakan usaha (B/C rasio dan BEP) . Dari uraian
tersebut dapat dibuat kerangka pemikiran yang dapat dilihat pada skema berikut :
6
23
Potensi :
1. Bahan baku mudah
didapat
2. Meningkatkan
pendapatan
3. Penyerapan tenaga
kerja
Agroindustri Keripik
Singkong
Kendala :
1. Modal terbatas
2. Kurangnya
teknologi
Proses produksi
Proses Tradisional
Proses Semi Modern
Teknis Pengolahan:
4. Tidak menggunakan mesin
5. Tidak dikemas
Penggunaan Bahan :
6. 50 kg bahan baku
7. Tidak menggunakan bahan
tambahan
Area Pemasaran :
1. Terbatas (area sekitar)
Harga :
1. Lebih rendah
2. Pembayaran tunai dan non
tunai
Teknis Pengolahan:
1. Menggunakan mesin
2. Dikemas
Penggunaan Bahan :
1. 100 kg bahan baku
2. menggunakan bahan
tambahan
Area Pemasaran :
3. lebih luas (berbagai
wilayah di Madura)
Harga :
4. Lebih tinggi
5. Pembayaran tunai
1. Analisis nilai tambah
2. Analisis Penerimaan
3. Analisis BEP.
Agroindustri keripik singkong
memberikan nilai tambah dan layak
untuk dikembangkan
Skema 1. Kerangka Pemikiran Analisis Nilai Tambah dan Break Even Point
Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Pamekasan Madura.
24
2.2 Hipotesis
Berdasarkan permasalahan dalam kerangka pemikiran tersebut, maka dapat
dikemukakan hipotesis yakni :
1. Diduga agroindustri keripik singkong semi modern memiliki nilai tambah yang
lebih besar daripada keripik singkong tradisional.
2. Diduga agroindustri keripik singkong semi modern lebih tinggi tingkat
keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada keripik singkong tradisional.
2.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini perlu diberikan batasan masalah untuk memperjelas
permasalahan yang ada dan mempermudahkan dalam pembahasan. Adapun
batasan masalah adalah sebagai berikut :
1. Penelitian dilakukan pada agroindustri keripik singkong yang ada di Desa
Blumbungan,
Kecamatan
Larangan,
Kota
Pamekasan
Madura
yaitu
agroindustri semi modern dan agroindustri tradisional.
2. Penelitian hanya terbatas pada menganalisis nilai tambah, analisis pendapatan,
analisis kelayakan usaha dan BEP.
2.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
1. BEP adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak
menderita kerugian, dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas apabila jumlah
penghasilan sama dengan biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat
digunakan untuk menutupi biaya tetap saja
a) BEP unit adalah besarnya perbandingan biaya tetap dibagi dengan harga jual
perunit dikurangi dengan biaya variabel dengan satuan unit.
b) BEP rupiah adalah besarnya perbandingan biaya tetap dibagi dengan biaya
tetap per total penerimaannya dengan satuan rupiah.
2. Biaya tetap adalah jenis biaya yang jumlahnya totalnya tetap tidak dipengaruhi
oleh jumlah keripik singkong yang ingin diproduksi. Dalam penelitian ini biaya
tetapnya adalah biaya penyusutan yang digunakan untuk proses produksi keripik
singkong, dimana biaya penyusutan pertahun yang dihitung dengan cara membagi
alat dengan umur ekonomis alat yang digunakan. Dalam penelitian ini alat setelah
25
melampaui batas umur ekonomisnya tidak dihitung karena alat yang telah habis
masa pakainya dianggap telah rusak dan tidak dijual (tidak bernilai ekonomis).
3. Biaya variabel adalah besarnya biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh pajak,
sewa, jumlah produksi yang diusahakan (Rp). Yang termasuk biaya variabel yaitu
biaya bahan baku, bahan penolong, upah tenaga kerja, dan transportasi.
4. Biaya total adalah jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk proses
produksi keripik singkong selama satu tahun yang terdiri dari biaya tetap (fixed
cost) dan biaya variabel (variable cost). Cara penelitian ini adalah total biaya
dihitung dengan menggunakan rumus TC= TFC+TVC.
5. Penerimaan adalah nilai uang yang dihasilkan dari penjumlahan keripik singkong,
dihitung dengan cara mengalikan jumlah total produksi keripik singkong dengan
harga produk keripik singkong tiap satuan (Rp). Untuk menghitung total
penerimaan agroindustri keripik singkong menggunakan rumus: TR= PxQ .
6. Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan total biaya produksi
selama satu tahun. Tingkat keuntungan : π= TR-TC
Keterangan :
π = keuntungan agroindustri keripik singkong (Rp).
P = harga keripik singkong (Rp/kg)
Q = jumlah produksi keripik singkong yang dihasilkan (kg).
TR = total revenue/ total penerimaan (Rp).
TC= total cost/ total biaya (Rp).
TFC = total biaya tetap (Rp).
TVC = Total biaya variabel (Rp).
7. Nilai tambah adalah pengurangan biaya bahan baku yang digunakan dalam
industri keripik singkong ditambah biaya input lainnya terhadap penerimaan tidak
termasuk biaya tenaga kerja (Rp/kw).
8. Biaya penyusutan adalah nilai pengurangan fungsi alat yang digunakan dalam
proses produksi. Biaya penyusutan meliputi biaya penyusutan atas penggunaan
mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Diukur dengan
menghitung selisih antara nilai awal dengan nilai akhir kemudian dibagi nilai
umur ekonomis, dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
9. Bahan baku adalah bahan-bahan utama yang digunakan untuk proses produksi
26
yang dinyatakan dalam satuan Kg.
10. Harga bahan baku adalah besarnya nilai yang harus dikeluarkan untuk pembelian
harga bahan dalam proses produksi dan dinyatakan dalam satuan Rupiah/kg.
11. Hasil produksi adalah sejumlah produk yang dihasilkan dari proses produksi
dalam kurun waktu satu hari. Dinyatakan dalam satuan kg/hari.
12. Harga produk rata-rata adalah besarnya nilai jual rata-rata dari produk yang
dihasilkan dan dinyatakan dalam satuan rupiah.
13. Tenaga kerja adalah sejumlah orang yang berperan dalam melakukan kegiatan
produksi, dinyatakan dalam satuan jam/produksi.
14. Koefisien tenaga kerja adalah perbandingan besarnya jumlah tenaga kerja yang
digunakan dibagi dengan bahan baku yang diperlukan dalam satu kali proses
produksi.
15. Upah rata-rata adalah rata-rata biaya yang dibayarkan kepada tenaga kerja.
16. Input lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku penunjang
dalam proses produksi, dinyatakan dalam satuan Rp/kg bahan baku.
17. Nilai produk adalah besarnya faktor konversi dibagi dengsn harga produk ratarata, dinyatakan dalam satuan Rp/kg.
18. Imbalan tenaga kerja adalah besarnya upah yang diberikan kepada tenaga kerja
per kilogram produksi (Rp/kg).
19. Bagian tenaga kerja adalah prosentase dari besar imbalan tenaga kerja dibagi
dengan nilai tambah.
20. Tingkat keuntungan adalah prosentase besarnya keuntungan dibagi dengan nilai
tambah.
21. Pesaing adalah produsen keripik singkong diluar penelitian atau bukan industri
keripik singkong tetapi menggunakan singkong sebagai bahan bakunya. Variabel
ini dilihat dari kapasitas produksi pesaing serta jumlah pesaing yang ada.
27
III. METODOLOGI
3.1 Metode Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu pada
sentra agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan,
Kabupaten Pamekasan, Madura. Pertimbangan pemilihan lokasi ini dikarenakan
menurut data dari Dinas Industri dan Perdagangan, daerah tersebut merupakan
sentra agroindustri keripik singkong. Selain itu melihat produksi keripik singkong
yang mencapai 2103 ton dan melihat beberapa kelemahan dan kekuatan yang
dimiliki serta adanya peluang agroindustri keripik singkong di daerah tersebut
sebagai agroindustri yang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat
setempat sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangannya
khususnya untuk mengolah bahan baku mentah menjadi olahan yang mampu
memberikan nilai tambah.
3.2 Metode Penentuan Responden
Responden dalam penelitian ini adalah mereka yang memproduksi keripik
singkong. Penentuan responden dilakukan dengan sensus yaitu pengambilan dari
seluruh data populasi yang ada di daerah penelitian. Agroindustri keripik singkong
merupakan responden utama dalam penelitian yaitu pemilik agroindustri keripik
singkong.
Jumlah keseluruhan agroindustri keripik singkong di daerah penelitian ada
15 unit yaitu 14 responden agroindustri keripik singkong semi modern dan 1
responden agroindustri keripik singkong tradisional. Agroindustri keripik
singkong semi modern rata-rata menggunakan 100 kg bahan baku yang
menghasilkan 60 kg dan agroindustri keripik singkong tradisional dengan bahan
baku 50 kg menghasilkan 30 kg keripik. Tenaga kerja 7 hingga 10 orang pekerja
dengan lama jam kerja berkisar 3-5 jam dan rata- rata pekerja berjenis kelamin
perempuan. Agroindustri ini cukup lama didirikan yaitu selam 10-15 tahun,
namun belum ada perkembangan tingkat produksi karena kurangnya modal dan
tekhnologi yang digunakan. Karena agroindustri yang terdapat di lokasi penelitian
seluruhnya menggunakan bahan baku >50 kg/hari sehingga seluruhnya
dikategorikan agroindustri skala usaha kecil. Metode yang digunakan adalah
11
28
metode sensus yakni menggunakan seluruh jumlah anggota responden karena
jumlah populasi yang sedikit dan masih bisa dijangkau untuk dilakukan penelitian
secara keseluruhan.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengambilan data penelitian ini antara lain
1. Wawancara
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data yang diinginkan yaitu dengan
cara berkomunikasi secara langsung dengan pihak pemilik agroindustri keripik
singkong tentang kebutuhan bahan baku, jumlah output yang dihasilkan,
kebutuhan alat-alat, ketenaga kerjaan, area pemasaran dan kendala-kendala
yang dihadapi dalam proses produksi keripik singkong.
2. Observasi
Dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan yang
dilakukan di lokasi penelitian, khususnya selama proses produksi dan kegiatan
lainnya yang terlibat.
3. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan pada kegiatan proses produksi keripik singkong dan
terhadap data
sekuder yang diperoleh dari instansi terkait yakni kantor
kecamatan untuk memperoleh informasi tentang kondisi monografi dan
geografis lokasi penelitian
Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua macam
yakni:
1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan melihat dan mengadakan
pengamatan secara langsung ke lokasi penelitian serta melakukan wawancara
dan juga menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan
sebelumnya.
2. Data Sekunder, diperlukan dengan tujuan untuk mengambil data yang
mempunyai keterkaitan dengan masalah yang dihadapi dalam penelitian dan
untuk melengkapi data primer yang ada. Data sekunder diambil dari pemilik
perusahaan dan instansi yang terkait dengan penelitian ini, seperti kantor
kecamatan untuk mengetahui kondisi umum daerah penelitian berupa data
29
monografi dan geografis. Selain itu data sekunder diambil dari berbagai
pustaka ilmiah yang mendukung sebagai dasar atau pedoman.
3.4 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif.
3.4.1 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan aspek sosial ekonomi,
aspek produksi, aspek sumberdaya manusia, dan aspek pemasaran. Aspek sosial
ekonomi digunakan untuk mengetahui sumber daya serta potensi yang dimiliki
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura dalam menunjang
keberadaan agroindustri keripik singkong. Aspek produksi digunakan untuk
mendiskripsikan mengenai proses produksi yang dilakukan dalam menghasilkan
produk keripik singkong. Aspek sumberdaya manusia digunakan untuk
mengetahui kerakteristik produsen keripik singkong yang meliputi umur
responden dan tingkat pendidikan responden, sedangkan aspek pemasaran
digunakan untuk mendeskripsikan mengenai cakupan daerah pemasaran dan alur
pemasaran dari agroindustri keripik singkong yang meliputi kegiatan distribusi.
3.4.2 Analisis Kuantitatif
A. Analisis Nilai Tambah
Besarnya
nilai
tambah
karena
proses
pengolahan
diperoleh
dari
pengurangan biaya bahan baku ditambah input lainnya terhadap nilai produk yang
dihasilkan, tidak termasuk tenaga kerja. Nilai tambah merupakan imbalan bagi
tenaga kerja dan keuntungan bagi pengolah atau pengusaha.menurut Hubeis, rasio
nilai tambah dapat digolongkan menjadi 3 yakni dikatakan rendah jika < 15%,
sedang jika berkisar 15%-40% dan tinggi jika >40%. Menurut Hayami (2001),
format yang digunakan untuk menghitung nilai tambah adalah sebagai berikut :
30
Tabel 2. Format Nilai Tambah Pengolah Agroindustri Keripik Singkong di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, Madura
No
Keterangan
Rumus
1
Bahan baku (kg/hari)
A
2
Harga bahan baku (Rp/kg)
B
3
Hasil produksi (kg/hari)
C
4
Faktor konversi (3/1)
C/A= H
5
Harga produk rata-rata (Rp/kg)
D
6
Tenaga kerja (HK/hari)
E
7
Koefisien tenaga kerja (6/1)
E/A= I
8
Upah rata-rata (Rp/HK)
F
9
Input lain (Rp/kg bahan baku)
G
10
Nilai produk (Rp/kg) (4/5)
H/D= J
11.a Nilai tambah (Rp/kg) (10-9-2)
J-G-B= K
B
K/J x 100%M= L
Rasio nilai tambah (11a/10) x 100%
12.a Imbalan tenaga kerja (Rp/kg) (7x8)
LxF =M
B
M/K x 100% = N%
Bagian tenaga kerja (12a/11a) x 100%
13.a Keuntungan (Rp/kg) (11a-12a)
K-M = O
b
O/K x 100% = P%
Tingkat keuntungan (13a/11a)x 100%
Menurut Hubeis dalam Hermawatie (1998), rasio nilai tambah dapat
digolongkan menjadi 3 yaitu :
1. Rasio nilai tambah rendah, apabila memiliki persentase > 15%
2. Rasio nilai tambah sedang, apabila memiliki persentase 15% - 14%
3. Rasio nilai tambah tinggi, apabila memiliki persentase > 40%.
B. Analisis Penerimaan
Analisis ini digunakan untuk memperoleh gambaran tentang besarnya biaya
dan keuntungan suatu perusahaan. Beberapa alat ukur yang dipakai yaitu :
1.
Perhitungan biaya produksi
a) Biaya tetap yaitu biaya yang tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produk
yang dihasilkan. Misalnya biaya penyusutan peralatan, pajak dan bunga
pinjaman. Besarnya biaya tetap dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
31
𝑛
𝑖−1 𝐹𝐶
TFC =
Keterangan :
TFC = Total biaya tetap agroindustri keripik singkong (Rp)
FC = Biaya tetap untuk input agroindustri keripik singkong (Rp)
n = Banyaknya input agroindustri keripik singkong
biaya yang diperhitungkan sebagai biaya tetap adalah biaya penyusutan
alat. Biaya penyusutan alat adalah pengalokasian biaya investasi suatu alat
setiap proses produksi sepanjang umur ekonomis alat tersebut. Perhitungan
penyusutan menggunakan metode garis lurus (straight line method) yaitu
suatu metode yang menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi
yang merata (tanpa fluktuasi) disepanjang masa penggunanya. Dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :
D=
𝑃𝑏 −𝑃𝑠
𝑡
Keterangan :
D = Biaya penyusutan peralatan (Rp/tahun)
Pb = Harga beli awal (Rp)
Ps = Harga jual (Rp)
t = Umur ekonomis (tahun)
b) Biaya variabel (tidak tetap)
Biaya variabel (tidak tetap), yaitu biaya yang besar kecilnya dipengaruhi
oleh produk yang dihasilkan. Misalnya biaya pembelian bahan baku,
bahan penolong, bahan bakar, upah tenaga kerja dan biaya transportasi.
Besarnya biaya variabel secara matematis dihitung sebagai berikut :
VC = Pxi.Xi
Keterangan :
Pxi = Harga input ke-i pada agroindustri keripik singkong
Xi = Jumlah inpuk ke-i pada agroindustri keripik singkong
Perhitungan biaya variabel yang dibutuhkan untuk mengetahui
besarnya masing-masing biaya tidak tetap yang dikeluarkan oleh suatu
perusahaan yang kemudian digunakan untuk menghitung total biaya
variabel dalam kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
32
Perhitungan besarnya total biaya variabel secara matematis dihitung sebagai
berikut :
TVC =
𝑛
𝑖=1 𝑉𝐶
Keterangan :
TVC = Total biaya tidak tetap agroindustri keripik singkong
VC = Biaya variabel dari setiap unit agroindustri keripik singkong
n
= Banyaknya input pada agroindustri keripik singkong
c) Biaya total, yaitu penjumlahan antara total biaya tetap dan tota biaya
variabel. Biaya total dapat dihitung dengan rumus :
TC = TFC + TVC
Keterangan :
TC = Total biaya produksi agroindustri keripik singkong (Rp)
TFC = Total biaya tetap agroindustri keripik singkong (Rp)
TVC = Total biaya tidak tetap agroindustri keripik singkong
2.
Perhitungan penerimaan
Perhitungan penerimaan digunakan untuk mengetahui besarnya hasil dari
keseluruhan penjualan produk. Penerimaan dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
TR = P x Q
Keterangan :
TR = Total penerimaan agroindustri keripik singkong (Rp)
P = Harga jual per unit ditingkat produsen (Rp)
Q = Jumlah produk yang dihasilkan pada agroindustri keripik singkong (unit)
C. Analisis Break Even Point
Untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha dapat dihitung dengan
menggunakan NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate Of Return), PP
(Payback Period), analisis sensitivitas, analisis B/C rasio dan analisis BEP (Break
Even Point), hal ini dikarenakan data produksi yang ada bukan bersifat data series
sehingga tidak dapat diketahui data produksinya tiap tahunnya. Penggunaan
analisis B/C rasio dan analisis BEP hanya digunakan untuk menghitung kelayakan
usaha dari agroindustri keripik singkong berdasarkan satu kali kegiatan
produksinya.
33
1. Analisis B/C rasio
Analisis B/C rasio (benefit per cost ratio) dapat didefinisikan sebagai
perbandingan (rasio) nilai dari manfaat terhadap nilai dari biaya-biaya. Pada
analisis B/C rasio data yang dipentingkan adalah besarnya manfaat. Perhitungan
ini dapat diperoleh dari perbandingan antara penjualan dengan total biaya
produksi. Rumus yang digunakan adalah :
𝐵𝑒𝑛𝑒𝑓𝑖𝑡
B/C =
𝐶𝑜𝑠𝑡
Dengan kriteria :
a) B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan dan
menguntungkan.
b) B/C = 1, maka usaha tersebut tidak menguntungkan dan tidak merugikan.
c) B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan
merugikan.
2. Analisis BEP
Titik impas / Break Even Point memberikan informasi tentang hubungan
antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada
level penjualan tertentu. Dalam penelitian ini BEP dapat dihitung dengan dua cara
yaitu :
a. Atas dasar penjualan dalam unit
𝑇𝐹𝐶
BEP unit = 𝑇𝑉𝐶
𝑃−
𝑄
b. Atas dasar penjualan dalam rupiah
BEP (Rp) =
𝑇𝐹𝐶
𝑇𝑉𝐶
𝑇𝑅
1−
Keterangan :
P
= Harga jual keripik singkong per unit (Rp).
Q
= Jumlah produk keripik singkong yang dihasilkan
TFC = Total Biaya tetap (Rp)
TVC = Total Biaya variabel (Rp)
TR = Total penerimaan (Rp)
34
Dengan mengetahui titik impas suatu produksi, maka akan diketahui berapa
besarnya jumlah produksi (volume produksi) minimal yang harus dipertahankan
agar produsen keripik singkong tidak mengalami kerugian. Tiap perusahaan
hendaknya dapat berproduksi diatas titik BEP agar dapat memperoleh keuntungan.
Analisis B/C rasio dan BEP pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu
mengetahui apakah suatu usaha telah layak atau belum untuk dikembangkan,
namun dari kedua alat analisis tersebut memiliki perbedaan dalam cara
perhitungannya. B/C rasio digunakan untuk mengetahui besarnya pengembalian
dari biaya-biaya yang telah dikeluarkan, sedangkan BEP digunakan untuk
mengetahui apakah besarnya biaya yang telah dikeluarkan lebih besar atau lebih
kecil dari penerimaan yang didapat, sehingga dengan mengetahui nilai dari B/C
rasio dan BEP akan memudahkan pengusaha dalam melihat kinerja usahanya
berdasarkan manfaat dari setiap rupiah yang dikeluarkan serta batas minimum
produksi dimana pengusaha tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan.
35
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian
4.1.1 Letak Geografis
Desa Blumbungan merupakan wilayah kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan dengan keadaan topografi dataran rendah. Secara geografis Desa
Blumbungan berada pada ketinggian 8 meter diatas permukaan air laut dengan
suhu udara rata-rata 29°C. Kondisi tanah Desa Blumbungan yang subur dan cocok
untuk usaha penanaman singkong, padi, jagung dan tembakau. Dengan adanya
potensi wilayah inilah sehingga mayoritas penduduknya menanam komoditi
tersebut. Adapun batas wilayah Desa Blumbungan adalah sebagai berikut :
a) Sebelah Utara
: Desa Pamaroh - Desa Bangkes (Kadur)
b) Sebelah Barat
: Desa Sentol – Kelurahan Kowel
c) Sebelah Selatan
: Kelurahan Kowel – Desa Plak-pak
d) Sebelah Timur
: Desa Brujugan – Desa Larangan Luar
Jarak dari Desa Blumbungan ke kecamatan Larangan adalah sejauh 6 km
dan jarak ke pemerintahan Kota Pamekasan sejauh 6 km. Sedangkan untuk jarak
antara kota Pamekasan, kota Sampang dan Kota Bangkalan dapat ditempuh
selama 2 jam. Dari rentang waktu tersebut menunjukkan jarak yang
memungkinkan untuk perluasan area pemasaran sehingga meluas ke luar madura.
Hal ini tentunya diperlukan peran pemerintah dalam upaya pengembangan pangsa
pemasaran produk keripik singkong sehingga dapat dikenal meluas ke berbagai
kota sebagai camilan khas kota Pamekasan.
Sedangkan untuk batas desa antara desa Blumbungan ke desa lainnya tidak
menempuh jarak yang jauh yaitu antara 4 - 5 km sehingga desa yang berdekatan
dengan sentra produksi keripik singkong banyak memasok atau menjadi agen
dalam pemasaran keripik singkong dan desa-desa tersebut juga memasok bahan
mentah atau singkong sebagai bahan baku pembuatan keripik singkong. Hal ini
tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi desa-desa tersebut karena desa
lain mampu memasok bahan baku dan desa tersebut juga mampu menjual hasil
dari olahan bahan baku sehingga memperoleh keuntungan bagi para peduduk
desa.
19
36
4.1.2 Luas Wilayah dan Penggunaan Lahan
Desa Blumbungan memiliki wilayah seluas 1200 Ha yang terdistribusi
kedalam beberapa jenis penggunaannya. Jenis penggunaan lahan di Desa
Blumbungan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3 berikut :
Tabel 3. Jenis Penggunaan Lahan Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan,
Kota Pamekasan tahun 2012.
Jenis Penggunaan
Lahan
Luas (Ha)
Jalan
150
Sawah dan Ladang
300
Bangunan Umum
190
Kolam dan Peternakan
100
Pemukiman
313
Jalur Hijau
45
Perkuburan
87
Lain-lain
15
Total
1200
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
12,5
25
15,83
8,33
26,13
3,75
7,25
1,25
100
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa penggunaan lahan yang paling
luas adalah untuk pemukiman penduduk yaitu seluas 313 Ha atau sebesar 26,13%
penggunaan lahan lain yaitu sawah dan ladang yaitu seluas 300 Ha atau sebesar
25% yang biasa digunakan untuk tanaman padi, jagung, singkong dan tembakau.
Bangunan umum seperti sekolah, masjid, kantor dan bangunan lain seluas 190 Ha
atau sebesar 15,83%, penggunaan jalan umum dengan luas 150 Ha atau sebesar
12,5%, kolam dan peternakan dengan luas 100 Ha atau sebesar 8,33% yaitu
dengan memelihara ikan mujair, ikan nila sedangkan peternakannya yaitu sapi,
kambing, ayam dan bebek sedangkan penggunaan lahan untuk jalur hijau dengan
luas 45 Ha atau sebesar 3,75% dan untuk luas lahan lain-lainnya 15 Ha atau
sebesar 1,25%.
37
4.1.3 Kondisi Penduduk
Jumlah penduduk Desa Blumbungan pada tahun 2012 tercatat sebanyak
17.122 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 5355 kepala keluarga.
Komposisi dari seluruh penduduk tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
4.1.3.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan data monografi terakhir, Desa Blumbungan memiliki total
jumlah penduduk sebesar 17.122 jiwa. Komposisi jumlah penduduk menurut jenis
kelamin dapat dilihat pada Tabel 4 berikut :
Tabel 4. Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan 2012
Jenis Kelamin
Jumlah (Jiwa)
Pria
8359
Wanita
8763
Total
17122
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
48,82
51,18
100
Berdasarkan Tabel 4 tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk
Desa Blumbungan lebih banyak wanita daripada pria. Jumlah total penduduk
wanita sebanyak 8763 jiwa atau sebesar 51,18% sedangkan jumlah total penduduk
pria sebanyak 8359 atau sebesar 48,82%. Dari data tersebut maka pekerja dari
agroindustri keripik singkong di daerah Blumbungan ini lebih banyak wanita
daripada pria. Selain karena jumlah penduduk tersebut, pemilihan pekerja wanita
dikarenakan sifat kerjanya yang lebih teliti, ulet dan terampil sehingga lebih baik
dalam proses pembuatan keripik singkong. Sedangkan pria lebih banyak bekerja
di sawah sebagai petani ataupun menekuni pekerjaan lain. Untuk pemilihan
pekerja pria pada agroindustri keripik singkong lebih ditempatkan pada sistem
pemasaran produk keripik singkong yang wilayah pemasarannya berada di kota
lain namun masih dalam wilayah Madura.
38
4.1.3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia
Komposisi penduduk Desa Blumbungan berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel
5 berikut :
Tabel 5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2012.
Golongan Usia (Tahun)
Jumlah (Jiwa)
0-10
875
11-20
2904
21-30
5714
31-40
4608
41-50
2656
> 50
365
Total
17.122
Sumber : Data monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
5,11
16,96
33,37
26,91
15,51
2,13
100
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang paling
tinggi di Desa Blumbungan adalah penduduk dengan usia 21-30 tahun yaitu
sebesar 5.714 atau 33,37%. Urutan kedua dan ketiga adalah penduduk dengan
golongan usia 31-40 tahun yaitu sebesar 4608 atau 26,91% dan 11-20 tahun
sebesar 2904 atau 16,96%. Sedangkan untuk kisaran umur 41-50 tahun sebesar
2656 atau 15,51% dan untuk kisaran umur anak-anak yaitu 0-10 tahun sebesar
875 atau 5,11%. Sedangkan untuk kisaran umur > 50 sebesar 365 atau 2,13%.
Dari kondisi tersebut dapat diketahui bahwa Desa Blumbungan memiliki potensi
yang besar dalam penyediaan tenaga kerja yang produktif bagi lapangan pekerjaan
yang tersedia di desa tersebut.
4.1.3.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan
merupakan
faktor
penting
dalam
menunjang
proses
pembangunan suatu daerah karena merupakan suatu indikator dari kualitas
sumberdaya manusia. Komposisi penduduk Desa Blumbungan berdasarkan
tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Tabel 6 Berikut :
39
Tabel 6. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan Kota Pamekasan tahun 2012.
Tingkat Pendidikan
Jumlah (Jiwa)
Tidak Tamat SD
675
SD/Sederajat
6239
SMP/Sederajat
4823
SMA/Sederajat
5217
Sarjana (S1,S2,23)
168
Total
17122
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
3,94
36,43
28,16
30,47
0,98
100
Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk Desa
Blumbungan memiliki tingkat pendidikan terakhir yaitu pada tingkat SD yaitu
sebanyak 6239 jiwa atau 36,43%, hal ini karena sebagian besar penduduknya
berada dalam katagori dewasa sampai lanjut usia dan pembangunan sekolah masih
belum optimal dan pendapatan terdahulu tidak mencukupi untuk meneruskan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tingkat pendidikan SMP dan SMA
yaitu sebesar 4823 atau 28,16% dan 5217 atau 30,47%, untuk tingkat Sarjana
sebesar 168 atau 0.98%. dari segi tingkat pendidikan menunjukkan bahwa
sebagian besar penduduk di Desa Blumbungan pernah mendapatkan pendidikan di
bangku sekolah, hal ini dapat diartikan bahwa hampir seluruh penduduk di Desa
Blumbungan telah memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis sehingga
mampu berkembang dan menyerap informasi dan inovasi khususnya di bidang
agroindustri bagi masyarakat setempat.
4.1.3.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata pencaharian merupakan kegiatan yang memberikan pendapatan untuk
memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, baik dalam biaya pendidikan hingga
usaha tani dalam pemenuhan bibit atau bahan tanam karena sebagian besar
penduduk ini adalah seorang petani. Mata pencaharian penduduk di Desa
Blumbungan terdiri dari berbagai jenis pekerjaan, pengelompokan ini berdasarkan
atas semua pekerjaan yang dijadikan sebagai sumber pendapatan. Komposisi
penduduk berdasarkan mata pencahariannya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut :
40
Tabel 7. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan 2012
Mata Pencaharian
Jumlah (Jiwa)
Belum/tidak bekerja
600
Karyawan
1907
Wiraswasta
3172
Petani
7719
Buruh
1795
Pensiunan
516
Nelayan
470
Ibu rumah tangga
650
Dokter/tenaga medis
200
Lain-lain
93
Total
17.122
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
3,5
11,13
18,52
45,08
10,48
3,01
2,74
3,79
1,16
0,54
100
Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk di
Desa Blumbungan mempunyai mata pencaharian sebagai petani yaitu sebesar
7719 atau sebesar 45,08%. Data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian
dan potensi daerah lebih cenderung ke sektor pertanian. Sedangkan untuk
pekerjaan yang mendominasi selain pertanian wiraswasta, karyawan dan buruh.
Pekerjaan tersebut cenderung dalam bidang sales ataupun karyawan toko dan
buruh petani ataupun buruh bangunan.
4.1.4 Kondisi Pertanian
Desa Blumbungan merupakan suatu daerah dengan kondisi tanah yang
subur dan cocok untuk ditanami tanaman pangan seperti padi, jagung dan
singkong, selain itu sayur-sayuran seperti kacang tanah dan buah-buahan seperti
mangga, pisang dan lain-lain. Secara rinci kondisi pertanian di Desa Blumbungan
dapat dilihat pada Tabel 8 berikut :
41
Tabel 8. Kondisi Pertanian di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan tahun 2012.
Jenis Tanaman
Luas (Ha)
Padi
67
Jagung
70
Ketela pohon (Singkong)
72
Kacang tanah
19
Tomat
7
Timun
10
Pisang
30
Mangga
25
Total
300
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Hasil Panen (Ton)
22,33
23,33
24
6,33
2,33
3,33
10
8,33
100
Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui berbagai jenis tanaman yang ada di
Desa Blumbungan yang meliputi tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan. Dari
data tersebut menunjukkan bahwa singkong memiliki luas lahan yang besar dan
selisih yang kecil dengan jagung dan padi yaitu sebesar 72 atau 24% dan 70 atau
23,33%, serta padi sebesar 67 atau 22,33%. Hal ini dikarenakan suhu dan kondisi
lahan yang tepat jika ditanami tanaman tersebut sehingga tanaman tersebut
mendominasi untuk dibudidayakan. Tanaman sayuran yang banyak ditanam
adalah tomat dan timun yaitu sebesar 7 atau 2,33% dan 10 atau 3,33%. Sedangkan
untuk buah yaitu pisang dan mangga sebesar 30 atau 10% dan 25 atau 8,33%.
4.2 Karakteristik Responden Agroindustri Keripik Singkong
Karakteristik responden agroindustri keripik singkong merupakan suatu
gambaran informasi mengenai keadaan atau hal-hal yang berkaitan tentang
pengusaha keripik singkong dalam menjalankan usahanya di lokasi penelitian. Hal
ini diperlukan untuk mengetahui kegiatan dan kendala dalam menjalankan
kegiatan produksi keripik singkong. Sebagian besar pengusaha keripik singkong
di Desa Blumbungan menjadikan usaha agroindustri keripik singkong sebagai
pekerjaan utama, hal ini dikarenakan agroindustri keripik singkong mampu
memberikan pendapatan yang besar bagi pengusahanya.
Pada umumnya para pengusaha keripik singkong di lokasi penelitian masih
tergolong usaha skala kecil, hal ini dapat dilihat baik dari segi penggunaan bahan
baku yaitu >50 kg dan dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja yang dimiliki yaitu 7-
42
10 orang. Yang membedakan hanyalah penggunaan bahan tambahan dan
penggunaan mesin dalam pengemasan keripik singkong. Berdasarkan hasil
penelitian
terhadap
keseluruhan
pengusaha
keripik
singkong
di
Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan diperoleh karakteristik
pengusaha agroindustri keripik singkong yaitu sebagai berikut :
4.2.1. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Usia
Usia merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan suatu
usaha,karena usia akan mempengaruhi kemampuan fisik dan daya fikir responden
dalam mengambil suatu keputusan dan keaktifan mengelola usahanya.
Berdasarkan hasil penelitian, usia pengusaha keripik singkong yang paling muda
adalah 25 tahun, sedangkan usia pengusaha keripik singkong yang tertua adalah
40 tahun. Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar
pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan masih dalam usia produktif
baik dalam segi tenaga dan pemikiran, sehingga dapat disimpulkan bahwa
kemampuan fisik yang dimiliki masih baik dan tentunya berpengaruh pada
semangat kerja, oleh sebab itu pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan
memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan usahanya.
Kisaran umur responden keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan dikelompokkan kedalam beberapa golongan usia yang
secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9 berikut :
Tabel 9. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Kelompok Usia
Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012
No
Kelompok Usia (Tahun)
1.
21-30
2.
31-40
3.
41-50
4.
> 50
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah (Jiwa)
5
7
2
15
Persentase (%)
33,33
46,66
13,33
100
Berdasarkan Tabel 9 diatas dapat diketahui bahwa usia responden
agroindustri keripik singkong yang tertinggi adalah pada golongan usia 31-40
tahun sebanyak 7 jiwa atau sebesar 46,66% dan pada tingkat kedua adalah pada
golongan usia 21-30 tahun sebanyak 5 jiwa atau sebesar 33,33% dan yang terkecil
adalah usia responden dengan golongan usia 41-50 tahun atau sebesar 13,33%.
43
Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian pengusaha keripik singkong
di Desa Blumbungan termasuk kedalam golongan usia tua. Hal ini dikarenakan
para pelaku usaha merupakan lanjutan dari usaha sebelumnya yang dikerjakan
oleh orang tua mereka, sehingga usaha ini berlanjut turun-temurun dan para
pekerja yang membantu proses produksi adalah pekerja dengan usia golongan
muda.
4.2.2. Karekteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Tingkat
Pendidikan
Tingkat pendidikan dapat digunakan sebagai indikator terhadap daya fikir
dan kemudahan seseorang dalam menerima teknologi dan informasi secara baik.
Pendidikan juga merupakan salah satu latar belakang dalam upaya pengembangan
diri dan respon dalam mengatasi setiap kendala yang dihadapi. Pada umumnya
pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan telah memiliki latar belakang
pendidikan formal, dimana tingkat pendidikan terendah yakni pada tingkat SLTA,
hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengusaha keripik singkong di Desa
Blumbungan mudah untuk melakukan adopsi terhadap teknologi dan berpeluang
untuk melakukan berbagai inovasi dalam menjalankan usahanya.
Secara rinci tingkat pendidikan formal responden keripik singkong si Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 10
berikut :
Tabel 10. Karekteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Tingkat
Pendidikan di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan tahun 2012
No
Tingkat Pendidikan
1.
SD
2.
SLTP/Sederajat
3.
SLTA/Sederajat
4.
Sarjana(S1,S2,S3)
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah (Jiwa)
1
14
15
Persentase (%)
6,66
86,66
100
Berdasarkan Tabel 10 diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan
responden keripik singkong terdiri dari tingkat SLTP dan SLTA, masing-masing
sebanyak 1 atau sebesar 6,66% dan 14 atau sebesar 86,66%. Dari latar belakang
pendidikan tersebut sangat mempengaruhi dalam upaya pengembangan usaha
44
karena tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan pola pikir, memperluas
wawasan serta lebih memudahkan dalam menyerap informasi yang lebih maju dan
berkembang.
4.2.3. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Lama Usaha
Lama usaha memiliki kaitan yang erat dengan tingkat pengalaman usaha
yang dimiliki. Semakin lama suatu usaha yang dijalankan, maka semakin banyak
pula pengalaman yang dimiliki. Agroindustri keripik singkong telah lama ada
yaitu 15 tahun, hal ini karena kota pamekasan merupakan sentra pemasok produk
keripik singkong yang berbeda dan diolah secara tradisional. Selain itu potensi
daerah dari hasil produksi singkong merupakan alasan utama dalam meningkatkan
nilai tambah produk. Secara rinci lama usaha agroindustri keripik singkong di
Desa Blumbungan dapat dilihat pada Tabel 11 berikut :
Tabel 11. Karakteristrik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Lama Usaha
di Desa Blumbunga, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun
2013.
No
Lama Usaha (Tahun)
1. 1-5
2. 6-10
3. 11-15
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah (Jiwa)
5
10
15
Persentase (%)
33,33
66,67
100
1
Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lama usaha pengusaha keripik
singkong tertinggi berkisar antara 10-15 tahun yaitu sebanyak 10 jiwa dengan
persentase 66,67%, sedangkan responden terendah yaitu lama usaha pada rentang
tahun 6-10 tahun yaitu sebanyak 5 jiwa dengan persentase 33,33%. Hal ini
dikarenakan keripik singkong merupakan jenis produk yang telah lama diproduksi
dan dijadikan sebagai sentra camilan di kota Pamekasan sehingga telah memiliki
pengalaman yang cukup dalam kegiatan pengolahannya.
4.2.4. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Jenis Usaha
Karakteristik responden berdasarkan jenis usaha berkaitan dengan
keberlanjutan usaha agroindustri keripik singkong yang dilakukan oleh pengusaha
untuk mengetahui jenis usaha dari agroindustri tersebut.
Pada umumnya
pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan menjadikan usahanya sebagai
pekerjaan utama, hal ini dikarenakan agroindustri keripik singkong memberikan
45
keuntungan dan nilai tambah bagi pengusahanya. Jenis usaha responden keripik
singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat
dilihat pada Tabel 12 berikut :
Tabel 12. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Jenis Usaha di
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
No
Jenis Usaha
1.
Utama
2.
Sampingan
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah (Jiwa)
15
15
Persentase(%)
100
100
Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa seluruh pengusaha keripik
singkong menjadikan agroindustri keripik singkong sebagai pekerjaan utama yaitu
sebanyak 15 jiwa atau sebesar 100%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa
usaha agroindustri keripik singkong dilaksanakan secara berkelanjutan karena
telah menjadi usaha utama bagi pemiliknya.
4.2.5 Karakteristik Agroindustri Keripik Singkong
Usaha pengolahan keripik singkong yang terdapat di Desa Blumbungan
merupakan skala kecil dengan jumlah tenaga kerja berkisar 7-10 orang yang
mengolah singkong menjadi keripik singkong dengan tujuan untuk meningkatkan
nilai tambah singkong. Desa Blumbungan merupakan sentra produksi keripik
singkong yang juga merupakan produk unggulan dari Kota Pamekasan sebagai
oleh-oleh khas dari kota ini.
Desa Blumbungan juga telah mempunyai sarana transportasi yang memadai,
yaitu jalan aspal yang menghubungkan Desa Blumbungan dengan desa lain dan
dengan mudah dilewati oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Sarana
transportasi yang memadai merupakan pendukung dalam kelancaran penyediaan
bahan baku produksi dan pemasaran hasil.
Karakteristik agroindustri keripik singkong diperlukan untuk mengetahui
hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan dalam menyelanggarakan produksi
keripik singkong. Karakteristik agroindustri keripik singkong adalah sebagai
berikut :
4.2.5.1 Penyediaan Input Produksi Keripik Singkong
Input produksi atau sering disebut faktor produksi merupakan korbanan
yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk, baik berupa bahan atau alat-
46
alat yang menunjang proses produksi. Dalam menjalankan usaha agroindustri
keripik singkong dibutuhkan faktor produksi untuk memperlancar kegiatan
produksi dan mendorong pengembangan usaha serta meningkatkan keuntungan
bagi pengusaha keripik singkong. Kegiatan penyediaan input produksi meliputi :
1) Modal Yang Digunakan Dalam Agroindustri Keripik Singkong
Modal merupakan kekayaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha untuk
melakukan suatu kegiatan usaha dengan mengeluarkan sejumlah biaya untuk
menjalankan proses produksi. Modal sangat diperlukan dalam pengembangan
usaha, karena semakin besar modal yang dimiliki maka akan dapat meningkatkan
jumlah produksi yang dihasilkan sehingga tingkat keuntungan yang diperoleh juga
akan semakin besar begitupun sebaliknya.
Modal yang digunakan oleh pengusaha keripik singkong di Desa
Blumbungan sebagian besar berasal dari modal pribadi, alasan dari pengusaha
tidak melakukan pengajuan pinjaman pada Bank dikarenakan rumitnya birokrasi
dan persyaratan yang diajukan oleh pihak Bank serta adanya tingkat suku bunga
yang tinggi sehingga membuat para pengusaha keripik singkong lebih memilih
untuk memaksimalkan modal usahanya dari modal pribadi sehingga dirasa lebih
efisien dan efektif dalam menjalankan usahanya.
Besarnya modal yang dimiliki oleh para pengusaha keripik singkong di
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat dari
besarnya total biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi. Besarnya
biaya yang dimiliki oleh para responden dapat dilihat pada tabel 13 berikut :
Tabel 13. Besarnya Biaya Yang Dikeluarkan Dalam Satu Kali Proses Produksi,
Oleh Pengusaha Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan tahun 2013.
Biaya Total (Rp)
Jumlah Pengusaha (Jiwa)
100.000 – 500.000
8
500.000 - 1.000.000
7
1.000.000 – 2.000.000
Total
15
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Persentase (%)
60
40
100
Berdasarkan Tabel 13 dapat diketahui bahwa produsen yang memiliki modal
dengan kisaran modal Rp. 100.000 – Rp. 500.000 sebanyak 8 jiwa atau 60% dan
produsen dengan Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 sebanyak 7 jiwa atau 40%. Dengan
47
adanya jumlah modal yang rendah maupun tinggi diharapkan keuntungan yang
diperoleh akan lebih besar dari setiap satu rupiah modal yang dikeluarkan.
2) Bahan Yang Digunakan Dalam Agroindustri Keripik Singkong
Bahan yang digunakan dalam agroindustri keripik singkong dibagi menjadi
dua yaitu bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku utama yang digunakan
dalam pembuatan keripik singkong adalah singkong. Bahan baku yang diperoleh
produsen berasal dari petani di daerah sekitar kota Pamekasan. Produsen keripik
singkong biasanya membeli singkong dalam hitungan karung, yang mana setiap
karung berisi ± 5 – 10 kg singkong dengan kisaran harga Rp. 2000 – Rp. 2200 per
kg. Kapasitas penggunaan bahan baku untuk setiap produsen keripik singkong
juga berbeda-beda yaitu berkisar antara 50 – 100 kg dalam satu kali proses
produksi. Kapasitas bahan baku merupakan kemampuan masing-masing produsen
dalam menyediakan bahan baku singkong untuk produksi keripik singkong.
Bahan lain yang digunakan dalam agroindustri keripik singkong adalah
bahan penolong. Bahan penolong yang digunakan terdiri dari garam, air, teri dan
bahan bakar. Para pengusaha keripik singkong tidak pernah mengalami kesulitan
dalam mendapatkan bahan baku maupun bahan penolong, hal ini dikarenakan
lokasi agroindustri berada di Kota Pamekasan yang berpotensi sebagai penghasil
singkong. Selain itu, letak agroindustri keripik singkong yang juga dekat dengan
pasar akan memudahkan pengusaha dalam mendapatkan bahan penolong yang
dibutuhkan. Dari 15 responden keripik singkong hanya 10 diantaranya yang
menggunakan bahan tambahan teri sedangkan untuk 5 responden lain tidak
menggunakan teri. Hal ini dikarenakan agar ada variasi rasa yang berbeda karena
lokasi tempat produksi hyang berdekatan dan merupakan sentra dalam pembuatan
keripik singkong.
Keripik singkong yang dihasilkan biasanya telah dikemas dengan
menggunakan kemasan plastik dengan sablon merk produk. Alasan menggunakan
kemasan plastik karena dirasa awet dan tahan lama daripada menggunakan karton,
selain itu agar menjaga mutu produk sehingga tidak mudah rusak. Pembelian
kemasan dilakukan yaitu dengan membeli langsung kemasan plastik sedangkan
untuk merk produk dengan mendesain serta mencetak sendiri dengan kisaran
harga plastik Rp.20.000 per roll dan kertas untuk desain Rp.100 – Rp.200 per
48
kemasan. Namun ada salah satu responden yang tidak menggunakan kemasan
plastik namun dijual tanpa kemasan dan dijual seluruhnya dalam bentuk jumlah
kilo keripik. Biasanya para pembeli yang membeli keripik tanpa kemasan ini
adalah penjual yang menggunakan campuran keripik singkong.
Penggunaan bahan baku dan bahan penolong dalam proses produksi keripik
singkong pada setiap agroindustri jumlahnya berbeda. Perbedaan kapasitas
penggunaan bahan tersebut dipengaruhi oleh modal dan jumlah permintaan pasar.
Namun perbedaan kisaran jumlah yang digunakan tidak terlalu jauh, hal ini karena
dalam sentra produksi keripik singkong para pengusaha berada dalam suatu
lingkungan yang berdekatan serta tidak terjadi persaingan yang berarti.
Secara rinci kebutuhan bahan-bahan yang digunakan dalam satu kali proses
produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri
tradisional di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat
dilihat pada Tabel 14 berikut :
Tabel 14. Rata-rata Kebutuhan Bahan Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional
Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun
2013.
No
Kebutuhan Bahan
Bahan Baku
Singkong (kg)
2. Bahan Penolong
Teri (kg)
Garam (kg)
Air (Liter)
Gas (kg)
3. Bahan Pelengkap
Kemasan Plastik (Roll)
Kertas (kg)
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah ( Satuan )
Semi Modern
Tradisional
85,71
50
1
0,42
1,7
2,5
0,25
1
1,5
1.
1,7
0,85
-
Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa rata-rata kebutuhan bahan
baku singkong yang digunakan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri
semi modern sebesar 85,71 kilogram dan pada agroindustri tradisiona sebesar 50
kg, sedangkan untuk bahan penolong disesuaikan dengan modal dan kebutuhan
masing-masing pengusaha. Misalnya penggunaan teri dari ke lima belas produsen
lima diantaranya tidak menggunakan teri. Adanya penambahan bahan yang tidak
49
sama antara para produsen keripik singkong akan menghasilkan rasa keripik
singkong yang berbeda antara pedagang satu dengan pedagang yang lainnya.
3) Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting dalam
menjalankan suatu usaha. Adanya ketersediaan tenaga kerja yang memadai dan
berpengalaman, akan mendukung kelancaran dalam proses produksi. Tenaga kerja
pada agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan ini jumlahnya berkisar
antara 7 - 10 orang yang sebagian besar dari luar anggota keluarga. Tenaga kerja
yang dipilih mayoritas adalah wanita karena lebih ulet dan teliti dalam kegiatan
proses produksinya. Dalam sistem pengupahan tidak ada perbedaan antara tenaga
kerja yang berasal dari dalam anggota keluarga maupun tenaga kerja dari luar
anggota keluarga. Dalam proses pengolahan keripik singkong terdapat sistem
pembagian tugas tenaga kerja, pembagian tugas tersebut tergantung pada tahapan
proses produksi. Para tenaga kerja umumnya bekerja mulai pukul 08.00 WIB –
13.00 WIB dengan sistem pembayaran upah secara harian yang jumlahnya
berkisar antara Rp. 15.000 – Rp. 20.000 per satu kali proses produksi.
Tahapan kegiatan produksi yang dilakukan oleh tenaga kerja meliputi
pengupasan kulit singkong, pemotongan singkong, pencucian singkong,
pengukusan singkong, pengirisan singkong, penumbukan singkong, penjemuran
keripik singkong dan pengemasan keripik singkong. Penggunaan tenaga kerja dan
pemberian upah dalam agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 15 berikut :
Tabel 15. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja Dan Pemberian Upah Dalam Satu
Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
Jumlah Tenaga Kerja ( Jiwa )
8
Sumber : Data Primer Diola, 2013
Upah Tenaga Kerja (Rp)
18.333
Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa rata-rata tenaga kerja yang
dibutuhkan oleh masing-masing pengusaha dalam agroindustri keripik singkong
adalah sebanyak 134 atau 8 orang dengan upah rata-rata untuk setiap tenaga kerja
pada ke lima belas agroindustri adalah Rp. 18.333 per satu kali proses produksi.
50
4) Teknologi Peralatan
Jenis teknologi yang digunakan dalam suatu kegiatan produksi akan
berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas produk yang dihasilkan.
Teknologi yang digunakan dalam kegiatan produksi agroindustri keripik singkong
bersifat tradisional yaitu dengan tenaga manusia dan hanya menggunakan mesin
press untuk pengemasan.
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi agroindustri keripik
singkong meliputi alat press, pisau, alat tumbuk, baskom, talenan, kayu,
pengukus, kompor, dan alat penjemur. Dari peralatan tersebut yang termasuk
peralatan dengan teknologi modern hanya mesin press. Penggunaan alat-alat
tradisional ini umum digunakan karena lebih tertata dan terukur baik tingkat rasa,
ukutan atau ketebalannya. Penggunaan mesin dalam proses produksi keripik
singkong belum ada yang menerapakan hal ini karena kendala modal ataupun
tidak adanya informasi dalam pengaplikasian alat-alat pendukung proses produksi
keripik singkong.
4.2.6 Proses Produksi Keripik Singkong
A. Bahan-bahan
Keripik singkong merupakan salah satu produk olahan dari singkong.
Singkong yang digunakan sebagai bahan baku merupakan singkong pilihan yaitu
singkong kuning dan empuk saat diolah.untuk mendapatkan produk olahan yang
mempunyai kualitas baik diperlukan singkong dengan tingkat kemasakan
singkong yang tepat, yaitu tidak terlalu tua ataupun tidak terlalu muda. Sedangkan
untuk bahan penolong yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik singkong
meliputi teri, garam, air dan bahan bakar.
B. Alat-alat
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong sebagian
besar merupakan peralatan sederhana dan hanya satu teknologi modern yang
digunakan dalam kegiatan pengemasan keripik singkong. Peralatan sederhana
yang digunakan dalam kegiatan produksi keripik singkong meliputi pisau, alat
tumbuk, baskom, talenan, kayu, dan pengukus. Dari semua peralatan tersebut,
tidak semua pengusaha memiliki jumlah peralatan yang sama, hal ini dikarenakan
adanya perbedaan jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing pengusaha
51
serta adanya perbedaan kapasitas bahan baku yang digunakan.
Penggunaan jumlah dan jenis peralatan yang tidak sama diantara setiap
pengusaha keripik singkong akan menyebabkan output yang dihasilkan berbeda
antara pengusaha yang satu dengan pengusaha yang lainnya. Secara rinci alat-alat
yang digunakan dalam proses produksi keripik singkong di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 16 berikut :
Tabel 16. Alat-alat Yang Digunakan Dalam Proses Produksi Pada Agroindustri
Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan Tahun 2013.
No
1
Nama Alat
Alat Press
Fungsi
Untuk pengemasan poduk dengan
kemasan plastik.
2 Pisau
Untuk mengupas dan memotong
bahan-bahan pembuat keripik
singkong.
3 Alat Tumbuk
Untuk menumbuk singkong yang
telah matang.
4 Baskom
Usebagai wadah untuk menampung
bahan-bahan pembuatan keripik
singkong.
5 Talenan
Untuk tempat memotong singkong
6 Kayu
Untuk alas dalam pembuata keripik
singkong.
7 Pengukus
Untuk tempat mengukus singkong.
8 Kompor
Alat pemanas saat mengukus
singkong.
9 Alat Pejemuran
Untuk wadah dalam proses
penjemuran keripik
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah Ratarata ( Buah )
1
4
4
8
4
4
3
2
8
C. Proses Pembuatan Keripik Singkong
Dalam proses pengolahan singkong menjadi keripik singkong yang harus
diperhatikan adalah proses penumbukan singkong, karena pada tahap ini
dibutuhkan ketelitian untuk menentukan ukuran dan ketebalan keripik yang
diinginkan. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan dalam pembuatan keripik
singkong yang terdiri dari delapan tahapan meliputi pengupasan, pemotongan,
pencucian, pengukusan, pengirisan, penumbukan, penjemuran dan pengemasan..
Secara rinci tahapan pembuatan keripik singkong dijelaskan sebagai berikut :
52
1) Pengupasan
Pengupasan singkong merupakan kegiatan untuk menghilangkan kulit
singkong. Hal ini karena dalam proses pembuatannya, daging umbi yang
dibutuhkan untuk pembuatan keripik singkong.
2) Pemotongan
Pemotongan singkong dilakukan untuk memperkecil ukuran umbi sehingga
mempermudah proses pengukusan dan pengirisan singkong. Adanya tahapan
pemotongan juga mempercepat proses kematangan singkong sehingga kegiatan
produksi bisa lebih efisien
3) Pencucian
Pencucian dilakukan setelah sigkong dipotong-potong, hal ini bertujuan
untuk menghilangkan kotoran dan sisa kulit buah yang masih menempel pada
daging umbinya. Tahapan pencucian dilakukan secara manual dengan
menggunakan bantuan air.
4) Pengukusan
Tahapan pengukusan diakukan dengan tujuan agar daging umbi menjadi
lebih lunak. Adanya tahapan pengukusan akan membuat hasil keripik akan
lebih renyah.
5) Pengirisan
Pengirisan singkong dilakukan untuk memperkecil ukuran umbi setelah
proses pengukusan singkong. Adanya tahapan ini merupakan penetapan ukuran
yang tepat sebelum ditumbuk menjadi keripik.
6) Penumbukan
Penumbukan singkong dilakukan untuk melunakkan singkong yang telah
dikukus dan diiris sehingga diperoleh keripik yang renyah.
7) Penjemuran
Proses penjemuran dilakukan untuk mengurangai kadar air pada keripik
sehingga keripik akan lebih tahan lama. Proses penjemuran dilakukan di bawah
sinar matahari langsung selama 2 jam.
8) Pengemasan
Setelah keripik kering, maka keripik telah siap dikemas dengan
menggunakan plastik dan mesin press.
53
Singkong
Pengupasan kulit umbi
Pemotongan daging
umbi
Pencucian daging umbi
Pengukusan daging umbi
Agar daging umbi lebih
lunak
Pengirisan daging umbi
yang telah lunak
Penumbukan
Tambahkan air garam dan teri
penjemuran
dikemas
Skema 2. Proses Pembuatan Keripik Singkong Pada Agroindustri Keripik
Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan.
54
4.2.8 Kapasitas Produksi
Kemampuan produksi yang dilakukan oleh masing-masing pengusaha
keripik singkong berbeda. Hal ini dikarenakan jumlah modal yang dimiliki oleh
setiap pengusaha tidak sama sehingga mempengaruhi kemampuan untuk membeli
bahan baku dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik
singkong. Jumlah produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap pengusaha keripik
singkong dapat dilihat secara rinci pada Tabel 17 berikut :
Tabel 17. Jumlah Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada agroindustri
keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional Di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
Jumlah
Jumlah Produksi ( kg )
Total
Rata-rata
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Semi modern
Tradisional
720
51,4
30
30
Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa jumlah produksi keripik singkong
dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern
yaitu 51,4 kg sedangkan pada agroindustri keripik singkong tradisional yaitu 30
kg. Adanya jumlah produksi yang berbeda disebabkan oleh perbedaan kapasitas
bahan baku dan bahan-bahan lainnya yang digunakan dalam pembuatan keripik
singkong.
4.2.9. Pemasaran
Kegiatan pemasaran merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan
oleh setiap pengusaha, termasuk juga pengusaha keripik singkong. Keripik
singkong merupakan produk khas Pamekasan namun dibutuhkan perluasan
pemasaran sehingga lebih meningkatkan keuntungan dan lebih dikenal oleh kotakota lain.
Pemasaran keripik singkong yang dihasilkan oleh agroindustri keripik
singkong Di Desa Blumbungan sebagian besar hanya berkisar di wilayah madura,
akan tetapi terdapat juga di wilayah Surabaya. Dalam pemasaran produknya,
agroindustri keripik singkong menggunakan jasa lembaga pemasaran yang
meliputi agen, grosir dan pengecer atau retailer, namun terdapat juga pengusaha
keripik singkong yang langsung menjual produknya kepada konsumen akhir.
55
Dalam kegiatan distribusi produk, pengusaha keripik singkong biasanya
mengirimkan langsung produknya kepada agen, grosir, pengecer, namun terdapat
juga beberapa pengusaha keripik singkong yang produknya diambil langsung oleh
agen dan grosir ataupun penjual makanan yang menggunakan tambahan keripik
singkong. Penjualan produk menggunakan bantuan lembaga pemasaran dirasa
lebih efektif dalam menunjang kegiatan pemasaran produk, hal ini dikarenakan
keuntungan yang bisa diperoleh oleh pengusaha lebih besar dibandingkan jika
menjualnya langsung kepada konsumen akhir. Apabila dilihat dalam segi harga,
produk keripik singkong dijual seharga Rp. 8.800/pc atau Rp.32.000/ kg untuk
konsumen akhir, sedangkan untuk lembaga pemasaran dijual seharga Rp.7.700/pc
atau Rp. 30.893/kg, sedangkan pada agroindustri keripik singkong tradisional
menjual produknya langsung pada konsumen akhir dengan harga Rp.26.600.
Perbedaan harga tersebut jika dilihat bahwa pengusaha yang menjual produknya
pada konsumen akhir akan lebih untuk dibandingkan dengan menjualnya pada
lembaga pemasaran, akan tetapi pada kenyataannya pengusaha akan menerima
keuntungan yang lebih besar pada saat menjual produknya pada lembaga
pemasaran, hal ini dikarenakan meski harga produk yang diberlakukan lebih
murah dibandingkan pada konsumen akhir, namun kuantitas pembelian yang
dilakukan oleh pihak lembaga pemasaran jauh lebih besar, sehingga penerimaan
konsumen juga akan meningkat. Pola pemasaran produk keripik pada agroindustri
keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
dapat dilihat pada Gambar 3 berikut :
Agen
Pengecer/
Retailer
Konsumen
Akhir
Produsen Keripik
Singkong
Konsumen Akhir
Gambar 3. Pola Pemasaran Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
56
Sistem pembayaran dalam penjualan keripik singkong yang menggunakan
tenaga konvensional ini pada umumnya bersifat sistem pembayaran langsung,
yaitu peran pembeli yang meliputi agen, grosir dan pengecer/retailer langsung
membayar secara tunai terhadap produk keripik singkong yang telah dibeli,
sedangkan pada agroindustri yang menggunakan alat tradisional memasarkan
produknya langsung pada konsumen akhir dalam jumlah kilogram sesuai
permintaan konsumen.
4.3 Analisis Nilai Tambah Agroindustri Keripik Singkong
Analisis nilai tambah digunakan untuk mengetahui adanya nilai tambah
yang terdapat pada satu kilogram singkong yang diolah menjadi keripik singkong.
Besarnya nilai tambah diperoleh dari hasil pengurangan nilai produksi yang
dihasilkan terhadap biaya bahan baku ditambah input lainnya, tidak termasuk
tenaga kerja. Dengan mengetahui perkiraan dari nilai tambah pada agroindustri
keripik singkong, diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai rasio nilai
tambah terhadap produk keripik singkong yang dihasilkan, imbalan tenaga kerja,
dan keuntungan bagi pengusaha agroindustri keripik singkong, selain itu
diharapkan pada para petani singkong agar menyadari bahwa singkong jika diolah
menjadi produk olahan hasil panen mampu memberikan nilai tambah dan
memberikan keuntungan yang lebih besar daripada dijual dalam bentuk segar
tanpa pengolahan lebih lanjut. Dalam analisis nilai tambah ini akan dibandingkan
berapa besar nilai tambah pada agroindustri semi modern dengan agroindustri
tradisional jika menggunakan jumlah bahan baku dan tenaga kerja yang sama.
Analisis nilai tambah pada agroindustri keripik singkong semi modern di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 18
berikut :
57
Tabel 18. Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong semi modern Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2013.
Output, Input, Harga
Nilai
1. Hasil Produksi (kg/Proses produksi)
29,9
2. Bahan Baku (kg/Proses Produksi)
50
3. Tenaga Kerja (Jam)
5
4. Faktor Konversi (1/2)
0,59
5. Koefisien Tenaga Kerja (3/2)
0,1
6. Harga Produk (Rp/kg)
31.200
7. Upah Rata-rata (Rp/Jam)
3.000
Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong)
8. Harga Bahan Baku (Rp/kg)
2.028,6
9. Input Lain (Rp/kg)
1.786,7
10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg)
18.408
11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg)
14.592,7
b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%)
79,27
12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg)
300
b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%)
2,1
13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp)
14.292,7
b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%)
97,9
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan Tabel 18 dapat diketahui bahwa usaha agroindustri keripik
singkong jika menggunakan bahan baku singkong yang sama dengan agroindustri
tradisional yaitu sebanyak 50 kg/proses produksi dapat menghasilkan produk
keripik singkong sebanyak 29,9 kg/per proses produksi. Dari data diatas
menunjukkan bahwa besarnya nilai tambah rata-rata pada agroindustri keripik
singkong adalah Rp. 14.592,7/kg bahan baku singkong. Besarnya nilai tambah
pada suatu produk dipengaruhi oleh besarnya nilai produksi karena nilai tambah
dihasilkan dari pengurangan nilai produksi terhadap bahan baku (Rp/kg) ditambah
input lainnya (Rp/kg). Input lainnya meliputi nilai penjumlahan biaya bahan
penolong, biaya pelengkap dan biaya lain-lain. Pada agroindustri semi modern
menggunakan bahan tambahan teri sedangkan pada agroindustri tradisional tidak
menggunakan teri.
Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik singkong adalah sebesar
79,27%, hal ini berarti bahwa 79,27% nilai produksi keripik singkong merupakan
penambahan nilai yang dihasilkan dari perlakuan yang dilakukan terhadap bahan
baku keripik singkong yaitu singkong.
Pendapatan atau imbalan tenaga kerja dari setiap kilogram bahan baku
58
singkong yang diolah menjadi keripik singkong adalah sebesar 520 dan bagian
tenaga kerja sebesar 1,04 %. Imbalan tenaga kerja dipengaruhi oleh besarnya
koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja per jam. Koefisien tenaga kerja
menunjukkan besarnya curahan tenaga kerja per jam yang dibutuhkan untuk
mengolah satu kilogram singkong menjadi keripik singkong sebanyak 0,14 jam.
Keuntungan yang diperoleh dari agroindustri keripik singkong adalah
sebesar Rp. 14.292,7/kg bahan baku, sedangkan tingkat keuntungan yang
diperoleh adalah sebesar 97,9% dari nilai tambah, artinya setiap satu kilogram
bahan baku dengan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan yang dilakukan
akan memberikan keuntungan sebesar 14.292,7.
Tabel 19. Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong tradisional Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangann, Kota Pamekasan tahun 2013.
Output, Input, Harga
Nilai
1. Hasil Produksi (kg/Proses produksi)
30
2. Bahan Baku (kg/Proses Produksi)
50
3. Tenaga Kerja (Jam)
5
4. Faktor Konversi (1/2)
0,6
5. Koefisien Tenaga Kerja (3/2)
0,1
6. Harga Produk (Rp/kg)
26.600
7. Upah Rata-rata (Rp/Jam)
3.000
Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong)
8. Harga Bahan Baku (Rp/kg)
2.000
9. Input Lain (Rp/kg)
1.229
10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg)
15.960
11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg)
12.731
b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%)
79,08
12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg)
300
b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%)
2,35
13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp)
12.431
b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%)
97,6
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa usaha agroindustri keripik
singkong dengan menggunakan bahan baku singkong sebanyak 50 kg/proses
produksi dapat menghasilkan produk keripik singkong sebanyak 30 kg/per proses
produksi. Dari data diatas menunjukkan bahwa besarnya nilai tambah rata-rata
pada agroindustri keripik singkong adalah Rp. 12.731/kg bahan baku singkong.
Besarnya nilai tambah pada suatu produk dipengaruhi oleh besarnya nilai
produksi karena nilai tambah dihasilkan dari pengurangan nilai produksi terhadap
59
bahan baku (Rp/kg) ditambah input lainnya (Rp/kg). Input lainnya meliputi nilai
penjumlahan biaya bahan penolong, biaya pelengkap dan biaya lain-lain.
Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik singkong adalah sebesar
79,08%, hal ini berarti bahwa 79,08% nilai produksi keripik singkong merupakan
penambahan nilai yang dihasilkan dari perlakuan yang dilakukan terhadap bahan
baku keripik singkong yaitu singkong.
Pendapatan atau imbalan tenaga kerja dari setiap kilogram bahan baku
singkong yang diolah menjadi keripik singkong adalah sebesar 300 dan bagian
tenaga kerja sebesar 2,35 %. Imbalan tenaga kerja dipengaruhi oleh besarnya
koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja per jam. Koefisien tenaga kerja
menunjukkan besarnya curahan tenaga kerja per jam yang dibutuhkan untuk
mengolah satu kilogram singkong menjadi keripik singkong sebanyak 0,01 jam.
Keuntungan yang diperoleh dari agroindustri keripik singkong adalah
sebesar Rp. 12.431/kg bahan baku, sedangkan tingkat keuntungan yang diperoleh
adalah sebesar 97,6% dari nilai tambah, artinya setiap satu kilogram bahan baku
dengan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan yang dilakukan akan
memberikan keuntungan sebesar 12.431.
Berdasarkan data dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong semi
modern di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
memberikan nilai tambah sebesar 79,33% atau tinggi dan agroindustri keripik
singkong tradisional 79,08% termasuk golongan nilai tambah tinggi . Hal ini
dapat diartikan bahwa usaha agroindustri keripik singkong telah mampu
memberikan keuntungan pada pengusaha keripik singkong. Perhitungan nilai
tambah pada agroindustri keripik singkong bertujuan untuk mengetahui besarnya
nilai tambah dalam satu kilogram singkong setelah diolah menjadi keripik
singkong, hal ini berguna sebagai bahan informasi bagi produsen keripik singkong
dalam usaha mengembangkan produksinya. Selain itu dengan diketahui besarnya
nilai tambah terhadap pengolahan keripik singkong diharapkan usaha ini akan
mendapat perhatian lebih lanjut dari pemerintah daerah setempat baik pemenuhan
bahan baku, modal dan kegiatan pemasarannya sehingga akan menarik minat
investor untuk bekerja sama dalam melakukan pengembangan agroindustri keripik
singkong. Produk yang memiliki nilai tambah sudah pasti produk tersebut
60
memberikan keuntungan bagi pengusahanya, akan tetapi untuk mengetahui lebih
lanjut mengenai penerimaan dan keuntungan yang dihasilkan oleh agroindustri
keripik singkong maka dibahas lebih lanjut dalam bahasan mengenai penerimaan
dan keuntungan.
4.4 Analisis Kelayakan Usaha
4.4.1 Analisis Penerimaan
Analisis penerimaan dan keuntungan digunakan sebagai alat ukur untuk
mengetahui berapa besarnya keuntungan yang diperoleh oleh agroindustri keripik
singkong baik yang menggunakan mesin press ataupun agroindustri yang tidak
mengunakan mesin. Untuk mengetahui berapa besarnya tingkat penerimaan dan
keuntungan dari agroindustri keripik singkong, maka sebelumnya harus dilakukan
perhitungan terhadap semua biaya produksi. Biaya produksi terdiri dari biaya
tetap dan biaya variabel. Perhitungan terhadap biaya produksi yang digunakan
dalam proses produksi keripik singkong adalah sebagai berikut :
4.4.1.1 Biaya Produksi
1) Biaya Tetap
Biaya tetap (fixed cost) merupakan biaya yang jumlahnya tidak
dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi. Biaya yang termasuk kategori biaya
tetap dalam agroindustri keripik singkong adalah biaya penyusutan semua
peralatan produksi. Peralatan tersebut meliputi pisau, alat tumbuk, baskom,
talenan, kayu, dan pengukus. Dari semua peralatan tersebut, tidak semua
pengusaha memiliki jumlah peralatan yang sama, hal ini dikarenakan adanya
perbedaan jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing pengusaha serta
adanya perbedaan kapasitas bahan baku yang digunakan.
Dalam perhitungan biaya penyusutan dalam satu kali proses produksi harus
diketahui banyaknya proses produksi yang dilakukan dalam satu tahun. Pada
setiap agroindustri keripik singkong, banyaknya kegiatan produksi yang dilakukan
dalam satu tahun memiliki jumlah yang sama namun berbeda hari. Untuk semua
agroindustri dalam satu tahun melakukan kegiatan produksi sebanyak 192 hari.
Banyaknya kegiatan produksi dalam satu tahun tersebut diperoleh dengan
menghitung hari kerja normal dikurangi hari libur dimana satu kali proses
61
produksi membutuhkan waktu satu hari. Besarnya biaya penyusutan peralatan
produksi agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 20 berikut :
Tabel 20. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Produksi Dalam Proses Produksi
Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
No
Jenis Alat
Semi modern
Rata-rata
(Rp)
1
2
3
Persentase
(%)
Alat Press
4.240
40,11
Pisau
169,5
1,6
Alat
169,5
1,6
Tumbuk
4 Baskom
322,84
3,1
5 Talenan
276,78
2,5
6 Kayu
346,65
3,3
7 Pengukus
2678,7
25,3
8 Kompor
1250
11,8
9 Alat
1116
10,5
Pejemuran
Total Biaya
10.570
100
Tetap
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Tradisional
Rata-rata
Persentase
(Rp)
(%)
72
1,7
72
1,7
218,7
187,5
234,4
1562,6
1250
651
5,1
4,4
5,5
36,8
29,4
15,3
4248
100
Berdasarkan Tabel 20 dapat diketahui bahwa besarnya rata-rata biaya tetap
per satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang
menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 10.5.70. Alokasi biaya penyusutan
terbesar adalah pada alat press yaitu sebesar Rp. 4.240 atau 40,11% dari total
biaya penyusutan satu kali proses produksi. Alat press memiliki biaya penyusutan
yang paling besar karena harga pembelian sebesar Rp. 750.000 dengan umur
ekonomis 5 tahun. Bahan dari alat press ini yaitu dari mesin yang bertahan lama.
Sedangkan biaya penyusutan terkecil adalah pisau dan alat tumbuh sebesar Rp.
169,5 atau 1,6% per satu kali proses produksi. Sedangkan pada agroindustri yang
tidak menggunakan mesin adalah sebesar Rp.4248. alokasi biaya penyusutan
terbesar adalah pada alat pengukus yaitu sebesar Rp. 1562,6 atau sebesar 36,8%
dari total biaya penyusutan satu kali proses produksi alat pengukus memiliki biaya
penyusutan terbesar karena harga pembelian sebesar Rp.200.000 dengan umur
ekonomis selama 2 tahun. Sedangkan biaya penyusutan terkecil adalah pisau dan
alat tumbuh sebesar Rp. 72 atau 1,7% per satu kali proses produksi Besarnya
62
biaya penyusutan masing-masing peralatan tergantung pada jumlah peralatan yang
dimiliki, umur ekonomis, harga beli awal dan harga sisa. Perincian biaya tetap
untuk masing-masing responden dapat dilihat pada Lampiran 1.
2) Biaya Variabel
Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi
oleh jumlah produksi. Besarnya perubahan biaya variabel dipengaruhi oleh
volume produksi yang dihasilkan, perubahan bahan baku dan biaya lainnya yang
digunakan. Biaya variabel yang digunakan dalam proses produksi agroindustri
keripik singkong meliputi biaya bahan baku, bahan penolong, biaya pelengkap,
biaya lain-lain dan upah tenaga kerja. Besarnya biaya variabel dalam agroindustri
keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 21 berikut :
Tabel 21. Rata-Rata Variable Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri
Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan Tahun 2013.
Jenis Biaya
Variabel
1
2
Semi modern
Rata-rata
Persentas
(Rp)
e (%)
174.285,71
52,4
35.557,14
10,7
Bahan Baku
Bahan
Penolong
3
Bahan
43.714,00
Pelengkap
4
Biaya
Lain61.785,71
lain
5
Upah Tenaga
18.571,43
Kerja
Total Biaya
332.628,57
Variabel
Sumber : Data Primer diolah, 2013
Tradisional
Rata-rata
Persentase
(Rp)
(%)
100.000,00
60,8
9.450,00
5,7
13,1
-
-
18,6
40.000,00
24,3
5,6
15.000,00
9,1
100
164.450,00
100
Berdasarkan Tabel 21 dapat diketahui bahwa besarnya total biaya variabel
dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong dengan
menggunakan mesin adalah Rp. 332.628,57 Biaya variabel yang memiliki nilai
terbesar digunakan untuk pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp. 174.285,71atau
52,4%. Sedangkan besarnya total biaya variabel dalam satu kali proses produksi
pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin adalah Rp.
164.450,00. Biaya variabel yang memiliki nilai terbesar digunakan untuk
pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp. 100.000 atau 60,8% Rata-rata dalam satu
63
kali proses produksi agroindustri keripik singkong menggunakan bahan baku
singkong sebanyak 83,33 kg dengan harga Rp.2.026,66/kg. Besarnya biaya bahan
baku pada setiap agroindustri keripik singkong berbeda tergantung banyaknya
jumlah bahan baku singkong yang akan diolah.
Penggunaan biaya lain-lain menempati tingkatan terbesar kedua setelah
biaya bahan baku yaitu sebesar Rp. 61.785,71 atau 18,6%. Sedangkan untuk
agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 40.000,00 atu
sebesar 24,3%. Biaya lain-lain meliputi biaya transportasi untuk pengiriman
produk pesanan keripik singkong dari luar madura.
Penggunaan biaya bahan pelengkap pada agroindustri keripik singkong
yang menggunakan mesin berada pada urutan ketiga yaitu Rp. 43.714,00 atau
13,1%. Bahan pelengkap ini meliputi plastik dan kertas. Rata-rata biaya satu
kemasan plastik yaitu Rp. 120,48, sedangkan rata-rata biaya satu kertas sebagai
merk produk seharga Rp.15. besarnya biaya bahan pelengkap pada setiap
agroindustri tidak sama tergantung pada besarnya volume produksi yang akan
dihasilkan.
Biaya bahan penolong pada agroindustri yang menggunakan mesin yaitu
sebesar Rp. 35.557,14 atau 10,7%. Sedangkan pada agroindustri yang tidak
menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 9.450,00 atau sebesar 5,7%. Bahan
penolong ini meliputi garam,air, teri dan bahan bakar. Besarnya biaya bahan
penolong setiap agroindustri keripik singkong berbeda tergantung besarnya
volume produksi yang akan dihasilkan, sedangkan untuk rata-rata besarnya upah
tenaga kerja yang harus dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong dalam satu
kali proses produksi yaitu sebesar Rp. 18.571,43 atau sebesar 5,6% dari total
biaya variabel. Sedangkan pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu
sebesar Rp. 15.000,00 atau sebesar 9,1%.
3) Biaya Total
Biaya total merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan selama proses
produksi guna menghasilkan suatu produk yang memiliki nilai lebih tinggi dari
bentuk sebelumnya. Biaya total dalam agroindustri keripik singkong diperoleh
dari penjumlahan total biaya tetap dan total biaya variabel. Total biaya tetap
diperoleh dari total perhitungan biaya penyusutan peralatan, sedangkan biaya
64
variabel dipengaruhi dari total perhitungan seluruh biaya yang sifatnya
dipengaruhi oleh besar kecilnya volume produksi. Biaya total agroindustri keripik
singkong di Desa Blumbungnan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dalam
satu kali proses produksi dapat dilihat pada Tabel 22 berikut :
Tabel 22. Rata-Rata Total Biaya Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013
No
Uraian
1
2
Semi modern
Rata-rata
Persentase
(Rp)
(%)
10.570,28
3,1
333.807,14
96,93
Biaya Tetap
Biaya
Variabel
Total Biaya 344.377,43
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
100
Tradisional
RataPeresentase(%)
rata(Rp)
4228,00
2,5
164.450,00
97,5
168.678,00
100
Berdasarkan Tabel 22 dapat diketahui bahwa besarnya biaya total yang
dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dalam
satu kali proses produksi adalah sebesar Rp. 344.377,43. Sedangkan besarnya
biaya total yang dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong yang tidak
menggunakan mesin
dalam satu kali proses produksi adalah sebesar
Rp168.678,00. Dengan mengetahui besarnya biaya total produksi dalam
agroindustri keripik singkong, maka akan dapat diketahui besarnya harga pokok
yang harus ditawarkan oleh produsen untuk satu kilogram singkong. Besarnya
harga pokok untuk satu kilogram keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 23
berikut :
Tabel 23. Rata-Rata Total Harga Pokok Satu Kilogram Kerpik Singkong Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
No.
1
Uraian
Total Produksi (kg/proses
produksi)
2
Biaya Produksi (Rp/kg)
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Semi modern
Rata-rata
50
Tradisional
Rata-rata
50
6.687,55
3.373,56
Dari Tabel 23 dapat diketahui bahwa total biaya produksi untuk satu
kilogram keripik singkong yang menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 6.687,55.
65
Sedangkan total biaya produksi untuk satu kilogram keripik singkong yang tidak
menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 3.373,56. Total biaya produksi satu
kilogram keripik singkong merupakan hasil pembagian antara total biaya
(Rp/proses produksi) dengan total produksi keripik singkong (kg/proses
produksi). Dengan mengetahui besarnya biaya produksi satu kilogram keripik
singkong, maka produsen dapat mengetahui berapa harga minimum yang harus
ditawarkan untuk satu kilogram keripik singkong. Harga yang harus ditawarkan
harus lebih tinggi dari harga pokok produksi sebesar Rp. 6.685,75 jika produsen
keripik singkong ingin mendapat keuntungan. Penerimaan merupakan hasil
perkalian antara harga jual produk dan jumlah produksi. Besarnya penerimaan
pengusaha keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 24 berikut :
Tabel 24. Rata-Rata Penerimaan Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013
Penerimaan
Semi Modern
Harga Jual Jumlah
(Rp)
Produk
si (kg)
720
Total
436.800
51,4
Rata
31.200
Tradisional
Nilai (Rp)
14.184.000
1.013.142,86
Harga
Jual
(Rp)
26.600
26.600
Jumlah
Produks
i (kg)
30
30
Nilai (Rp)
798.000,
798.000
-rata
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa rata-rata total penerimaan
untuk satu kali proses produksi adalah pada agroindustri semi modern yaitu
sebesar Rp 1.013.142,86 dengan harga jual Rp.31.200,00 dan jumlah produksi
51,4 kg, sedangkan pada agroindustri tradisional yaitu sebesar Rp. 798.000,00
dengan harga jual Rp 26.600,00 dan jumlah produksi 30 kg/. Dengan adanya
perhitungan terhadap penerimaan yang diperoleh agroindustri keripik singkong,
maka akan dapat memberikan informasi pada pengusaha keripik singkong
mengenai rincian biaya dan penerimaan yang dihasilkan, hal ini akan
memudahkan pengusaha keripik singkong untuk melihat kinerja dari usahanya
serta dapat membandingkan antara penerimaan yang ingin di capai dengan
penerimaan yang telah diterima, sehingga pengusaha keripik singkong dapat
membuat perencanaan yang lebih lanjut dalam pengembangan usahanya guna
66
meningkatkan penerimaan. Penerimaan yang didapat oleh agroindustri keripik
singkong akan berpengaruh terhadap besarnya keuntungan yang dapat diterima,
perhitungan mengenai keuntungan pada agroindustri keripik singkong akan
dibahas pada poin selanjutnya.
4.4.2 Analisis B/C Rasio
Kelayakan usaha agroindustri keripik singkong dapat diketahui dengan
menghitung benefit per cost ratio (B/C rasio), yaitu perbandingan nilai dari
manfaat terhadap nilai dari biaya-biaya. Perhitungan B/C rasio dapat diperoleh
dari perbandingan antara hasil penjualan dengan total biaya produksi. Kriteria B/C
rasio dapat digolongkan menjadi 3 yaitu :
1) B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan dan menguntungkan.
2) B/C = 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan tidak
menguntungkan.
3) B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan merugikan.
Rata-rata tingkat kelayakan usaha pada agroindustri keripik singkong di
Desa Blumbungan, Kecamata Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel
25 berikut :
Tabel 25. Rata-Rata Tingkat Kelayakan Usaha Dalam Satu Kali Proses Produksi
Pada Agroindustri Keripik Singkong Di
No
1
2
Uraian
Keuntungan
Total Biaya Produksi
B/C rasio
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Semi modern
Nilai (Rp)
1.293.694,71
334.377,43
3,8
Tradisional
Nilai (Rp)
604.979,00
168.678,00
3,5
Berdasarkan Tabel 25 dapat diketahui bahwa nilai B/C rasio pada
agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah 3,8 dan pada
agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin adalah 3,5 sehingga
masuk dalam kriteria pertama yaitu B/C rasio > 1, yang artinya agroindustri
keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan pada
pengusahanya. Nilai B/C ratio diperoleh dari perbandingan besarnya nilai manfaat
dengan besarnya total biaya produksi yang dikeluarkan sehingga dari perhitungan
tersebut dapat diketahui tingkat kelayakan usaha dari agroindustri keripik
singkong berdasarkan satu kali proses produksi. Hal ini akan menjadi suatu
67
pertimbangan penting bagi berbagai pihak seperti lembaga keuangan yang akan
meminjamkan uangnya kepada pengusaha keripik singkong maupun pihak
instansi pemerintahan seperti sinas perindustrian dan pariwisata dalam
mendukung dan memfasilitasi pengembangan agroindustri keripik singkong
tersebut. Selain perhitungan menggunakan B/C rasio, kelayakan usaha dapat
diketahui dengan menggunakan analisis BEP (break even point) yang akan
dijelaskan pada point selanjutnya.
4.4.3 Analisis BEP
Analisis titik impas (break even point) disebut juga titik pulang pokok yang
merupakan suatu metode analisis untuk mengetahui keterkaitan antara biaya tetap,
biaya variabel dan tingkat penerimaan pada berbagai output. Tingkat BEP pada
agroindustri keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 26 berikut :
Tabel 26. Analisis Break Even Point Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013
No
Uraian
Konvensional
Nilai
1 BEP (Rp)
15.776
2 BEP (kg)
0,43
Sumber Primer Diolah, 2013
Tradisional
Nilai
5352
0,20
Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa nilai BEP dalam satu kali
proses produksi dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu 50 kg pada
agroindustri yang menggunakan mesin diperoleh pada volume produksi 0,43
kilogram atau senilai Rp. 15.776,00 dan nilai BEP dalam satu kali proses produksi
pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin diperoleh pada volume
produksi 0,20 kilogram atau senilai Rp. 5352 Artinya, jika pengusaha keripik
singkong telah mencapai angka penjualan tersebut maka dapat diartikan bahwa
pengusaha telah mencapai titik dimana pengusaha tidak mengalami kerugian
maupun keuntungan. Untuk memperoleh keuntungan maka pengusaha herus
memproduksi dan menjual keripik singkong lebih tinggi dari titik impas tersebut.
Dalam perhitungan BEP akan diketahui nilai TR = TC yang dapat
diimplementasikan dalam bentuk kurva sehingga dapat dilihat penerimaan yang
diperoleh agroindustri keripik singkong terhadap jumlah produksi yang
dihasilkan./ analisis ini juga dapat digunakan untuk menetapkan pada tingkat
68
mana total biaya dan total penerimaan berada dalam keadaan seimbang, dalam
artian dimana pengusaha keripik singkong tidak mengalami kerugian ataupum
keuntungan. Secara rinci kurva BEP pada agroindustri keripik singkong dapat
dilihat pada Gambar 4 berikut :
TR
Cost (Rp)
1.013.142,81
Untung
TC
344.377,43
VC
333.807,14
15.776
BEP
FC
10.570,28
Rugi
0,43
50
Q (kg)
Gambar 7. Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong semi
modern.
69
Cost (Rp)
TR
798.000
Untung
TC
168.678
VC
164.450
5352
BEP
4228
FC
Rugi
0,20
50
Q (kg)
Gambar 8. Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong
Tradisional
Berdasarkan Gambar 7 dan gambar 8 dapat diketahui bahwa nilai BEP pada
agroindustri yang menggunakan mesin terjadi sebesar Rp.15.776 dengan nilai Q
sebanyak 0,43 kilogram, sedangkan TR yang diperoleh agroindustri keripik
singkong senilai Rp. 1.013.142,86 dengan nilai Q yang sama dengan agroindustri
tradisional yaitu sebanyak 50 kilogram. Sedangkan agroindustri yang tidak
menggunakan mesin terjadi sebesar Rp. 5352 dengan nilai Q sebanyak 50
kilogram, sedangkan TR yang diperoleh sebesar pada saat nilai TR sebesar Rp.
798.000,00. Nilai TR diperoleh dari perkalian antara harga jual produk (P) dengan
jumlah volume produksi (Q). Nilai BEP pada agroindustri keripik singkong telah
melewati titik impas yaitu mampu menghasilkan volume produksi sebesar 85 kg
keripik singkong dan dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan
798.000,00 dengan volume sebesar 50 kg. daerah yang berada di titik impas
adalah daerah yang menguntungkan, dimana penerimaan lebih besar daripada
total biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa
agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan telah memberikan keuntungan
bagi pengusahanya dan layak untuk dikembangkan.
Dalam perhitungan kelayakan usaha pada agroindustri keripik singkong
dengan menggunakan analisis B/C rasio dan analisis BEP (Break Even Point)
70
dapat diketahui bahwa agroindustri tersebut layak untuk dikembangkan dengan
nilai B/C rasio 3,8 dan nilai BEP sebesar 0,43 kg dengan penerimaan Rp. 15.776
yang mana telah mampu dilewati oleh agroindustri keripik singkong yang
menggunakan mesin dan tidak menggunakan mesindengan nilai B/C rasio sebesar
3,5 dan nilai BEP sebesar 0,20 kg dengan penerimaan Rp. 5352.
71
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang “Analisis Nilai Tambah Dan Break
Even Point Agroindustri Keripik Singkong” di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Rata-rata nilai tambah dalam satu kali proses produksi pada agroindustri
keripik singkong semi modern sebesar Rp. 14.592,7 per kilogram bahan baku
atau sebesar 79,27 persen dari nilai produksi. Imbalan tenaga kerja yang
diterima sebesar Rp. 520 atau 0,04 persen dari nilai tambah, sedangkan
keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 14.072,7 atau sebesar 97,9 persen dari
nilai tambah. Sedangkan pada agroindustri tradisional sebesar Rp. 12.731 per
kilogram bahan baku atau sebesar 79,08 persen dari nilai produksi. Imbalan
tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 300 atau 2,35 persen dari nilai tambah,
sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 12.431 atau sebesar 97,6
persen dari nilai tambah. Jumlah rata-rata keripik singkong dalam satu kali
proses produksi agroindustri keripik singkong 50-51,4 kilogram. Rata-rata
penerimaan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong
yang menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan pada
agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp.
798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis pertama yang telah
dirumuskan dapat diterima, dengan jumlah bahan baku yang sama agroindustri
keripik singkong semi modern lebih besar perolehan nilai tambah jika
dibandingkan dengan agroindustri tradisional.
2. Nilai B/C rasio agroindustri keripik singkong pada agroindustri keripik
singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar 3,8 sedangkan pada
agroindustri keripik singkong yang menggunakan tenaga tradisional sebesar
3,5, sehingga dapat dinyatakan bahwa agroindustri keripik singkong layak
dikembangkan dan memberikan nilai keuntungan bagi pengusahanya.
Berdasarkan nilai BEP dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong
yang menggunakan mesin berada pada titik impas pada volume produksi 0,43
kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00 sedangkan pada keripik
singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar 0,20 kg dengan penerimaan
55
72
sebesar Rp. 5.352,00, sehingga dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik
singkong telah melewati titik impas yaitu dengan volume sebesar 51,4
kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan volume sebesar 50
kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut,
maka hipotesis kedua yang telah dirumuskan dapat diterima, karena
agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan
keuntungan bagi pengusahanya yaitu tingkat keuntungan agroindustri semi
modern lebih tinggi daripada agroindustri tradisional.
3. Berdasarkan uraian mengenai hasil perhitungan nilai tambah, penerimaan dan
BEP maka dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong dapat
memberikan nilai tambah pada komoditas singkong, nilai tambah yang
diberikan masuk dalam kriteria tinggi yaitu 79,08 dan 79,33 persen. Suatu
produk yang memberikan nilai tambah pasti akan memberikan keuntungan
bagi pengusahanya dimana besar kecilnya keuntungan yang diterima
dipengaruhi oleh besarnya total penerimaan dan total biaya produksi, total
penerimaan pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin
sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan yang tidak menggunakan mesin sebesar
Rp.798.000,00 . Dengan perhitungan analisis B/C rasio diketahui bahwa
agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan menguntungkan
bagi pengusaha keripik singkong dan perhitungan BEP maka diketahui
produksi minimal yang harus dicapai oleh agroindustri keripik singkong yang
menggunakan mesin dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu sebesar 0,43
kg dengan harga Rp. 15.776 sedangkan pada agroindustri yang masih
menggunakan tenaga tradisional sebesar 0,20 kg dengan harga Rp. 5.352. dari
data tersebut maka dapat diketahui titik impas dimana agroindustri tidak
mengalami kerugian ataupun keuntungan dan data tersebut sesuai dengan
hipotesis kedua yaitu agroindustri semi modern lebih tinggi tingkat
keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada agroindustri yang masih
menggunakan tenaga tradisional.
73
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diberikan beberapa
saran dalam upaya pengembangan agroindustri keripik singkong sebagai berikut :
1. Diperlukan adanya perhatian lebih lanjut dari instansi pemerintah seperti Dinas
Perindustrian Dan Perdagangan serta Dinas pariwisata dalam membantu
mempromosikan serta memasarkan produk keripik singkong sebagai produk
unggulan lokal, sehingga akan mendorong peningkatan produk dari para
pengusaha usaha kecil.
2. Mengajak para petani singkong untuk ikut mengusahakan produk keripik
singkong sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi para petani
singkong.
74
DAFTAR PUSTAKA
Agrica. 2007. Produksi Singkong Dunia. www.hasil produksi singkongdunia.html. Diakses pada 13 januari 2013
Alwi. 1994. Analisis Break Even point Penebar Swadaya. Jakarta
Anonymous. 2013. Produksi Singkong di Indonesia. www.singkong.net/semuamengenai-singkong.html. Diakses pada 13 Januari 2013.
Arifin. 2005. Tanaman Pangan. www.tanaman pangan.html. Diakses pada 13
Januari 2013
Apriadi.
2003.
Analisis
Nilai
Tambah.
http://apriadi.student.umm.ac.id/files/2010/07. Diakses 13 Januari
2013.
Asregaf. 2001. Teori Pendapatan. UMM Press. Malang.
Austin. 1981. Teknologi Pengolahan Pertanian. www.teknologi.pengolahanpertanian.html. Diakses pada 15 Januari 2013.
BPS. 2012. Data Produksi Singkong Di Indonesia. www.BPS.com. Diakses pada
13 Januari 2013
Produktivitas
Singkong
Indonesia.
http://kotimkab.bps.go.id/
adminfiles/IP_Agustus_2012.pdf. Diakses pada 13 januari 2013.
Eldons . 2000. Teori Akuntansi. PT. Raja Grafindo. Jakarta.
Hanani et.al. 2003. Tentang tanaman singkong. Mandarmaju. Bandung.
Harahap. 2001. Konsep Pendapatan. http://otherpink.wordpress.com/2010/04/11.
Diakses 13 januari 2013.
Hidayat. 2007. Pengembangan pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Hubeis. 1997. Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan
Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Kencana.
Jakarta..
Kotler. 1994. Manajemen Pemasaran. Edisi kesebelas. PT Prenhallindo. Jakarta.
Mulyadi. 1992. Teori Break Even Point. www.BEP.teori.html . Diakses pada 15
januari 2013
Rukaman. 1997. singkong. Kanisius. Yogyakarta.
75
Shinta, Agustina. 2003. Manajemen Pemasaran. Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya. 2003
Suryana. 2004. Pengembangan Agribisnis Pertanian. BPFE. Yogyakarta
Soekartawi, 2001. Pokok-pokok Pembangunan Agroindustri Pertanian. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Winda, Aprilia. 2011. Analisis usaha keripik pisang Studi Kasus di Kecamatan
Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Skripsi Strata Satu Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
76
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Press) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
Biaya Penyusutan Biaya Penyusutan Jumlah
Total Biaya
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
Per Tahun
Per Proses
Alat
Penyusutan Per
(Thn)
(Rp)
Produksi
(Buah) Proses Produksi
(Rp)
(Rp)
1
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
2
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
3
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
4
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
5
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
6
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
7
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
8
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
9
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
10
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
11
500.000,00
150.000,00
5,00
350.000,00
1.823,00
1,00
1.823,00
12
500.000,00
150.000,00
5,00
350.000,00
1.823,00
1,00
1.823,00
13
500.000,00
150.000,00
5,00
350.000,00
1.823,00
1,00
1.823,00
14
500.000,00
150.000,00
5,00
350.000,00
1.823,00
1,00
1.823,00
15
Jumlah
9.500.000,00 3.100.000,00
70,00
6.400.000,00
33.334,00
24,00
59.367,00
Rata-Rata
678.571,43
221.428,57
5,00
457.142,86
2.381
1,7
4.241,14
Catatan : Responden 1-14 merupakan agroindustri keripik singkong semi modern
Responden 15 merupakan agroindustri keripik singkong tradisional
60
77
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Pisau) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
(Thn)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
200.000
13.333,3
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
95.000,00
6.333,3
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,00
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
105.000,00
7.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
24
24
24
24
24
537
35,8
Jumlah
Alat
(Buah)
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
3,00
3,00
3,00
3,00
3,00
65,00
4,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
72
72
72
72
72
2.445,00
163
61
78
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Tumbuk) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
Biaya Penyusutan
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
Per Tahun
(Thn)
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
200.000
13.333,3
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
95.000,00
6.333,3
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
105.000,00
7.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
24
24
24
24
24
537
35,8
Jumlah
Alat
(Buah)
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
3,00
3,00
3,00
3,00
3,00
65,00
4,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
72
72
72
72
72
2.445,00
163
62
79
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Baskom) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
(Thn)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
150.000,00
10.000,00`
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
45.000,00
3.000,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,0
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
105.000,00
7000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
546,75
36,45
Jumlah
Alat
(Buah)
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
130
8,66
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
218,7
218,7
218,7
218,7
218,7
4.738,5
315,9
63
80
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Talenan) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
(Thn)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
225.000,00
15.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
45.000,00
3.000,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,0
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
180.000,00
12.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
937.5
62.5
Jumlah
Alat
(Buah)
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
3,00
3,00
3,00
3,00
3,00
65,00
4,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
187,5
187,5
187,5
187,5
187,5
4.062,5
270,83
64
81
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan kayu) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
(Thn)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
300.000,00
20.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,0
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
225.000,00
15.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
1.172
78,13
Jumlah
Alat
(Buah)
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
3,00
3,00
3,00
3,00
3,00
65,00
4,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
234,4
234,4
234,4
234,4
234,4
5.087,5
338,57
65
82
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Pengukus) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
Biaya Penyusutan
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
Per Tahun
(Thn)
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
3.000.000,00
200.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
750.000,00
50.000,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
30,00
2,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
2.250.000,00
150.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
11.719,5
781,3
Jumlah
Alat
(Buah)
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
50,00
3,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
1.562,6
1.562,6
1.562,6
1.562,6
1.562,6
39.065
2.604,3
66
83
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Kompor) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
(Thn)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
2.250.000,00
150.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
450.000,00
30.000,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
60,00
4,00
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
1.800.000,00
120.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
9.375,00
625,00
Jumlah
Alat
(Buah)
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
30,00
2,00
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
18.750,00
1.250,00
67
84
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Penjemur) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
Harga Sisa
Umur
Biaya Penyusutan
(Rp)
(Rp)
Ekonomis
Per Tahun
(Thn)
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
450.000,00
30.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
30,00
2,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
375.000,00
25.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
1.953
130,2
Jumlah
Alat
(Buah)
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
125
8,3
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
651
651
651
651
651
16.275
1.085
68
85
Lampiran 2. Total Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Semua Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
TOTAL
15
59367
Ratarata
4240.5
Alat Press
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
1823
1823
1823
1823
pisau
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
72
72
72
72
2373
169,5
72
Alat
Tumbuk
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
72
72
72
72
2373
169,5
72
Baskom
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
218,7
218,7
218,7
218,7
4519,8
322,84
218,7
Talenan
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
187,5
187,5
187,5
187,5
3875
276,78
187,5
Kayu
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
234,4
234,4
234,4
234,4
4853,1
346,65
234,4
Pengukus
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
1562,6
1562,6
1562,6
1562,6
37502,4
2678,74
1562,6
Kompor
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
17.500
1250
1250
Alat
penjemur
TOTAL
(TFC)
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
651
651
651
651
15624
1116
651
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
6.071
6.071
6.071
6.071
147.984
10.570
4248,2
-
69
86
Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan.
Responden
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Jumlah
Rata-rata
Jumlah (Kg)
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
50,00
50,00
50,00
50,00
50,00
1.250,00
83,33
Bahan baku
Singkong
Harga (Rp/Kg)
2200,00
2200,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
30.400,00
2.026,66
Total (Rp)
220.000,00
220.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
2.540.000,00
169.333,33
Jumlah (Kg)
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
10
1
Bahan Penolong
Teri
Harga (Rp/Kg)
27.500,00
27.000,00
25.000,00
27.500,00
28.000,00
28.000,00
27.000,00
27.000,00
27.000,00
27.000,00
271.000,00
27.100,00
Total (Rp)
27.500,00
27.000,00
25.000,00
27.500,00
28.000,00
28.000,00
27.000,00
27.000,00
27.000,00
27.000,00
271.000,00
27.100,00
70
87
Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan
(Lanjutan)
Responden
1.
2.
3.
4.
5.
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-rata
Bahan Penolong
Jumlah (Kg)
Garam
Harga (Rp/Kg)
Total (Rp)
Jumlah (Liter)
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
6,25
0,41
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
42.000,00
2800,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
700,00
700,00
700,00
700,00
700,00
17.500,00
1.166,66
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
25
1,66
Air
Harga (Rp/ Liter
)
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
18.750,00
1.250,00
Total (Rp)
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
31.250,00
2.083,00
71
88
Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan
(Lanjutan)
Responden
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Jumlah
Rata-rata
Jumlah (Kg)
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
37,5
2,5
Bahan Penolong
Gas (Bahan Bakar )
Harga (Rp/Kg)
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5000,00
5000,00
5000,00
5000,00
5000,00
75.000,00
5000,00
Total (Rp)
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
7.500,00
7.500,00
7.500,00
7.500,00
7.500,00
187.500,00
12.500,00
Jumlah (Roll)
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
24
1,7
Biaya Pelengkap
Kemasan Plastik
Harga (Rp/buah)
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
280.000,00
20.000,00
Total (Rp)
40.000,00
40.000,00
40.000,00
40.000,00
40.000,00
40.000,00
40.000,00
40.000,00
40.000,00
40.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
480.000,00
34.285,71
72
89
Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan
(Lanjutan)
Responden
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Jumlah
Rata-rata
Jumlah (Kg)
Biaya Pelengkap
Kertas
Harga (Rp/Kg)
Total (Rp)
Jumlah (Liter)
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0,5
0,5
0,5
0,5
12
0,85
12.000,00
10.000,00
12.000,00
11.000,00
12.000,00
13.000,00
13.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
6.000,00
6.000,00
5.000,00
6.000,00
142.000,00
10.143,00
12.000,00
10.000,00
12.000,00
11.000,00
12.000,00
13.000,00
13.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
3.000,00
3.000,00
2.500,00
3.000,00
130.500,00
9.321,00
15
15
15
15
15
15
15
10
10
10
10
10
10
8
8
181
12,06
Biaya Lain-lain
Biaya Transportasi
Harga (Rp/
Liter)
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
Total (Rp)
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
40.000,00
40.000,00
905.000,00
60.333,33
73
90
Lampiran 4. Total Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
Responden
Bahan Baku (Rp)
Bahan Penolong
(Rp)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
TVC
Rata-rata
15
TVC
Rata-rata
220.000,00
220.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
2.440.000,00
174.285,71
100.000,00
100.000,00
100.000,00
46.400,00
45.900,00
43.900,00
46.400,00
46.900,00
46.900,00
45.900,00
45.900,00
45.900,00
45.900,00
9.450,00
9.450,00
9.450,00
9.450,00
497.800,00
35.557,14
9.450,00
9.450,00
9.450,00
Biaya
Perlengkapan
(RP)
52.000,00
50.000,00
52.000,00
51.000,00
52.000,00
53.000,00
53.000,00
52.000,00
52.500,00
52.500,00
23.000,00
23.000,00
23.000,00
23.000,00
612.000,00
43.714,00
-
Biaya Lain-lain
(Rp)
Upah TK (Rp)
TOTAL (Rp)
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
40.000,00
865.000,00
61.785,71
40.000,00
40.000,00
40.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
260.000,00
18.571,43
15.000,00
15.000,00
15.000,00
413.400,00
410.900,00
390.900,00
392.400,00
393.900,00
394.900,00
393.900,00
367.900,00
367.900,00
367.900,00
197.450,00
197.450,00
196.950,00
187.450,00
4.656.800,00
332.628,57
164.450,00
164.450,00
164.450,00
74
91
N
Output,
o
Input,
Responden
Jumlah
Rata-rata
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
30
30
30
30
720
51,4
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
50
50
50
50
1200
85,7
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
100
7,1
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
8,4
0,6
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,1
0,1
0,1
0,1
1,2
0,08
33.000
33.00
33.00
33.00
33.00
33.00
33.00
33.00
33.00
33.00
26.60
26.600
2700
26.60
436.800
31200
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
52.000
3.714,3
Harga
1.
Hasil
Produksi
2.
Bahan
Baku
3.
4.
Tenaga
kerja (jam)
Faktor
5.
Konversi
(1/2)
6.
Koefisien
TK (3/2)
Harga
Produk
7.
0
(Rp/Kg)
Upah Ratarata
(Rp/jam)
4.000
3.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
3.000
3.000
3.000
75
92
Pendapatan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong)
8.
Harga Bahan
baku
2.200
2.200
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
28.400
2.028,6
1.934
1.909
1.909
1.834
1.939
1.939
1.939
1.679
1.679
1.679
1.646
1.646
1.636
1.646
25.014
1.786,7
19.800 19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
15960
15960
16200
15960
254.880
18.205
(Rp/Kg)
9.
Input Lain
(Rp/Kg)
10
Nilai Produk
(4x6)(Rp/Kg)
Nilai tambah
11a
(10-8-
15.666
15.691
15.891
15.966
15.861
15.861
15.861
16.121
16.121
16.121
12314
12314
12.564
12314
201.466
14.390,4
79,12
79,24
80,25
80,78
80,10
80,10
80,10
81,41
81,41
81,41
77,15
77,15
77,55
77,15
1.110,65
79,33
200
200
200
200
200
200
200
200
200
200
300
300
300
300
3.200
228,57
1,27
1,27
1,25
1,25
1,24
1,24
1,24
1,24
1,24
1,24
2,43
2,43
2,38
2,43
22,15
1,58
15.466
15.491
15.491
15.766
15.661
15.661
15.661
15.921
15.921
15.921
12014
12014
12264
12014
205.266
14.661,8
98,7
98,8
98,7
98,8
98,8
98,8
98,8
98,8
98,8
98,8
97,6
97,6
98,1
97,6
1476,4
105
9)(Rp/Kg)
Rasio nilai
b.
tambah
(11a/10)x
100%
12a
Imbalan TK
(5X7)(Rp/Kg
b.
Bagian TK
(12a/11a)x
100%
Keuntungan
13a
(11a12a)(Rp)
Tingkat
B
keuntungan
(13a/11a)x
100%
93
Lampiran 5. Analisis Nilai Tambah Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong tradisional Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
(Lanjutan)
Output, Input, Harga
14. Hasil Produksi (kg/Proses produksi)
15. Bahan Baku (kg/Proses Produksi)
16. Tenaga Kerja (Jam)
17. Faktor Konversi (1/2)
18. Koefisien Tenaga Kerja (3/2)
19. Harga Produk (Rp/kg)
20. Upah Rata-rata (Rp/Jam)
Nilai
30
50
5
0,6
0,1
26.600
3.000
Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong)
2.000
1.229
15.960
12.731
79,08
300
2,35
12.431
97,6
21. Harga Bahan Baku (Rp/kg)
22. Input Lain (Rp/kg)
23. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg)
24. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg)
b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%)
25. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg)
b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%)
26. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp)
b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%)
77
94
Lampiran 6. Analisis Penerimaan Dan Keuntungan Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
Responden
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Total
Rata-rata
15.
Total
TFC (Rp)
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
6.071,00
6.071,00
6.071,00
6.071,00
147.984,00
10.570
4.248,00
4.248,00
Biaya
TVC (Rp)
413.400,00
410.900,00
390.900,00
392.400,00
393.900,00
394.900,00
393.900,00
367.900,00
367.900,00
367.900,00
197.450,00
197.450,00
196.950,00
187.450,00
4.673.300,00
333.807,14
164.450,00
164.450,00
TC(Rp)
425.770,00
423.270,00
403.270,00
404.770,00
406.270,00
407.270,00
406.270,00
380.270,00
380.270,00
380.270,00
203.521,00
203.521,00
203.021,00
193.521,00
4.821.284,00
344.377,43
168.678,00
168.678,00
Harga (Rp)
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
26.600,00
26.600,00
27.000,00
26.600,00
436.800,00
31.200,00
26.600,00
26.600,00
Penerimaan
Jumlah (Kg)
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
30,00
30,00
30,00
30,00
720,00
51,43
30,00
30,00
TR (Rp/Kg)
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
798.000,00
798.000,00
810.000,00
798.000,00
14.184.000
1.013.142,86
798.000,00
798.000,00
Keuntungan
(Rp)
1.554.230,00
1.556.730,00
1.576.730,00
1.576.230,00
1.589.100,00
1.590.000,00
1.589.100,00
1.559.730,00
1.559.730,00
1.559.730,00
594.479,00
594.479,00
606.979,00
604.479,00
18.111.726,00
1.293.694,71
604.979,00
604.979,00
Rata-rata
4.228,00
164.450,00
168.678,00
26.600,00
30,00
798.000,00
604.979,00
78
95
Lampiran 7. Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
1) Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong semi modern (
Responden 1 – Responden 14)
TFC
: Rp. 10.570
TVC
: Rp. 333.807,14
P
: Rp.31.200
Q
: 50 kg
TR
: Rp. 1.013.142,86
Jawab :
1. BEP dalam kg
BEP (kg)
=
𝑇𝐹𝐶
=
=
𝑇𝑉𝐶
𝑃− 𝑄
𝑅𝑝 .10.570
333 .807 ,14
50
31.200−
𝑅𝑝 .10.570
24.523,86
= 0,43 kg
2. BEP dalam rupiah
BEP (rupiah)
=
𝑇𝐹𝐶
𝑇𝑉𝐶
1− 𝑇𝑅
=
𝑅𝑝 .10.570
333 .807 ,14
1−1.013 .142 ,86
=
𝑅𝑝 .10.570
0,67
= Rp. 15.776,00
96
2) Analisis
Perhitungan
BEP
Pada
Agroindustri
Keripik
Singkong
Tradisional(Responden 15)
TFC
: Rp. 4228
TVC
: Rp. 164.450
P
Q
: Rp. 26.600
: 50 kg
TR
: Rp. 798.000
Jawab :
1. BEP dalam kg
BEP (kg)
=
𝑇𝐹𝐶
=
=
𝑇𝑉𝐶
𝑃− 𝑄
𝑅𝑝 .4228
164 .450
50
26.6𝑜𝑜 −
𝑅𝑝 .4228
23.311
= 0,20 kg
2. BEP dalam rupiah
BEP (rupiah)
=
𝑇𝐹𝐶
𝑇𝑉𝐶
𝑇𝑅
1−
=
𝑅𝑝 .4228
164 .450
1−798 .000
=
𝑅𝑝 .4228
0,79
= Rp. 5.352,00
Dari perhitungan nuilai BEP diatas, dapat disimpulkan bahwa titik balik modal
usaha produksi keripik singkong pada responden 1 hingga responden 14 rata-rata
diperoleh pada volume produksi 0,43 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00.
Sedangkan pada responden 15 yang tidak menggunakan mesin diperoleh pada
97
volume produksi 0,20 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 5.352,00. Apabila
perusahaan telah mencapai titik balik tersebut maka perusahaan tidak mengalami
kerugian maupun keuntungan.
98
Lampiran 8. Gambar Proses Pengolahan Pada Agroindustri Keripik Singkong Di
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
1. Agroindustri keripik singkong semi modern
Bahan Baku Singkong
Pengukusan Bahan Baku
Pembuatan Bahan Tambahan
Pengupasan Bahan Baku
Pemotongan dan Pengirisan bahan baku
Penumbukan Bahan Baku
99
Penjemuran Keripik Singkong
Pengemasan Keripik Singkong
2.Agroindustri keripik singkong tradisional
```
Bahan baku singkong
pengupasan dan pengirisan singkong
100
Pengukusan singkong
Penumbukan singkong
Penjemuran keripik
keripik tanpa kemasan
I.
1.1
TINJAUAN PUSTAKA
Karakteristrik Tanaman Singkong
Singkong adalah tanaman rakyat yang telah dikenal di seluruh pelosok
Indonesia. Saat ini produksi singkong di Indonesia telah mencapai kurang lebih 30
juta ton per tahun (BPS, 2012). Singkong merupakan hasil pertanian yang
jumlahnya berlimpah dan perlu alternatif lain dalam pemanfaatannya. Untuk
menunjang program ketahanan pangan sesuai dengan PP Nomor 68 Tahun 2002
tentang Ketahanan Pangan yang mengatur ketersediaan pangan, cadangan
pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan, dan penanggulangan masalah
pangan. Pengolahan singkong secara terpadu merupakan upaya memanfaatkan
seluruh bagian dari singkong tanpa ada yang terbuang termasuk kulitnya.
Singkong yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon
tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal
luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran.
Ada beberapa jenis singkong yang dikembangkan di Indonesia. Jenis atau
varietas
singkong
digolongkan
berdasarkan
kadar
asam
sianida
yang
dikandungnya. Ada jenis singkong manis dan pahit. Yang biasa digunakan dalam
pembuatan keripik yaitu jenis singkong manis diantaranya Gading, Adira, Mangi
dan Randu Ranting. Sedangkan untuk jenis singkong pahit biasa sebagai
keperluan industri Tapioka seperti Basiorao, Tapikuru, Bogor, Adira II dan SPP.
( Arifin, 2005)
Rukaman (1997), menyatakan bahwa komponen kimia dan gizi dalam 100 g
kulit singkong adalah sebagai berikut : protein 8,11 g; serat kasar 15,20 g; pektin
0,22 g; lemak 1,29 g; kalsium 0,63 g sedangkan komponen kimia dan gizi daging
singkong dalam 100 g adalah protein 1 g; kalori 154 g; karbohidrat 36,8 g; lemak
0,1 g sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar protein singkong lebih rendah
dibanding kulit singkong. Kandungan karbohidrat kulit singkong segar blender
adalah 4,55%, sehingga memungkinkan digunakan sebagai sumber energi bagi
mikroorganisme dalam proses fermentasi. Selain itu kulit singkong mengandung
tannin, enzim peroksida, glikosa, kalsium oksalat serat dan HCN.
1.2 Penerapan dan Pengembangan Agroindustri Hasil Pertanian
Alternatif teknologi yang tersedia untuk pengolahan hasil-hasil pertanian
bervariasi mulai dari teknologi tradisional yang digunakan oleh industri kecil
(cottage industry) sampai kepada teknologi canggih yang biasanya digunakan oleh
industri besar. Dengan demikian alternatif teknologi tersebut bervariasi dari
teknologi yang padat karya sampai ke teknologi yang padat modal. Teknologi
maju dan mesin-mesin berkapasitas besar dapat mengurangi biaya peubah
(variable cost) seperti biaya tenaga kerja per unit output serta dapat memperkuat
kedudukan perusahaan di pasar produk bersangkutan, karena kualitas outputnya
yang tinggi, standar kualitasnya yang konsisten, dan volume produksinya yang
besar sehingga dapat menarik pembeli dengan jumlah pembelian besar. Tetapi
tingkat produksi dan teknologi yang tinggi menuntut pengembangan prasarana,
pengelolaan, dan tenaga kerja terampil. Disamping itu, karena biaya tetap (fixed
cost) yang tinggi maka perusahaan seperti itu harus memiliki kepastian
penyediaan bahan baku serta kepastian pasar untuk produk yang dihasilkan dan
beroperasi mendekati kapasitas efektifnya agar perusahaan tersebut berjalan sehat
(viable). Pada tahap-tahap produksi, setiap perusahaan agroindustri terdiri dari
komponen-komponen fisik seperti penerimaan dan penyimpanan bahan mentah,
pengkondisian
bahan mentah, pengolahan utama (pemisahan, pemusatan,
pencampuran, dan stabilitas), pengemasan, penyimpanan produk-produk yang
dihasilkan, dan pengiriman produk-produk yang dihasilkan.
Disamping komponen-komponen fisik tersebut diatas,
perusahaan
agroindustri memerlukan sistem-sistem penunjang seperti sumber energi, air,
bahan-bahan, perlakuan dan pembuangan limbah, pemeliharaan dan perbaikkan.
Kebanyakan agroindustri juga mempunyai sistem penerimaan, penyimpanan, dan
penyiapan bahan-bahan yang diperlukan dalam pengolahan secara terpisah, dan
paling sedikit mempunyai sistem produk sampingan yang dilengkapi dengan
tahap-tahap pengolahan, pengemasan, penyimpanan, dan distribusi. Sistem
administrasi dan pengolahan serta perumahan staf juga diperlukan untuk
menjamin operasi pabrik secara efisien. Untuk menemukan teknologi atau paket
barang modal yang tepat untuk suatu perusahaan agroindustri, perusahaan tersebut
harus memahami pasar yang dilayani dan memahami ketersediaan bahan baku.
Setelah menetapkan produk yang diinginkan serta semua parameter dalam sistem
penyediaan bahan baku, faktor-faktor yang berkaitan dengan teknologi
pengolahan atau faktor-faktor yang berkaitan dengan persyaratan produk dan
proses perlu diidentifikasi. Austin (1981) menunjukkan bahwa kriteria utama yang
harus diperhatikan dalam pemilihan teknologi diantaranya adalah:
1. Kebutuhan kualitas (quality requirements). Teknologi pengolahan yang dipilih
harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasar terutama yang menyangkut
kualitas. Karena preferensi konsumen sangat beragam, maka teknologi yang
dipilih pun harus mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
2. Kebutuhan pengolahan (process requirements). Sudah barang tentu bahwa
setiap jenis alat pengolahan memiliki kemampuan tertentu untuk mengolah
suatu bahan baku menjadi berbagai bentuk produk. Semakin tinggi kemampuan
suatu alat untuk menghasilkan berbagai jenis produk, maka akan semakin
kompleks jenis teknologinya dan akan semakin mahal investasinya. Oleh
karena itu, pemilihan teknologi harus memadukan pertimbangan antara
kompleksitas teknologi dan biaya yang dibutuhkan.
3. Penggunaan kapasitas (capacity utilization). Pemilihan teknologi harus
disesuaikan dengan kapasitas yang akan digunakan, sedangkan kapasitas yang
akan digunakan sangat tergantung dari ketersediaan dan kontinuitas bahan
baku (raw material).
4. Kapasitas kemampuan manajemen (management capability). Biasanya suatu
pengelolaan akan berjalan baik pada tahap awal karena besarnya kegiatan
masih berada dalam cakupan pengelolaan yang optimal (optimum management
size). Setelah besar, masalah biasanya mulai muncul dan hal itu menandakan
bahwa skala usaha sudah melebihi kapasitas pengelolaan.
2.3 Pendapatan
Pendapatan merupakan unsur yang sangat penting dalam laporan keuangan
karena dalam melakukan aktivitas usaha, menejemen perusahaan tentu ingin
mengetahui nilai tambah atau jumlah pendapatan yang diperoleh. Menurut Eldon
S. Hendriksen (2000) dalam Teori Akuntansi menjelaskan bahwa “Pendapatan
dapat mendefinisikan secara umum sebagai hasil dari suatu perusahaan. Hal itu
biasanya diukur dalam satuan harga pertukaran yang berlaku. Pendapatan diakui
setelah kejadian penting atau setelah proses penjualan pada dasarnya telah
diselesaikan. Dalam praktek ini biasanya pendapatan diakui pada saat penjualan”.
Sedangkan menurut Harahap (2001) mengemukakan bahwa “Pendapatan adalah
hasil penjualan barang dan jasa yang dibebankan kepada langganan/mereka yang
menerima”. Hendriksen mengemukakan definisi mengenai pendapatan yaitu
“Konsep dasar pendapatan adalah pendapatan merupakan proses arus yaitu
penciptaan barang dan jasa selama jarak waktu tertentu”. Definisi-definisi diatas
memperlihatkan bahwa ada 2 konsep tentang pendapatan yaitu sebagai konsep
pendapatan yang memusatkan pada arus masuk (inflow) aktiva sebagai hasil dari
kegiatan operasi perusahaan. Pendekatan ini menganggap pendapatan sebagai
inflow of net asset.
Meurut Assegaf (2001) Ada tiga unsur dalam pendapatan yaitu sebagai berikut :
1. Penjualan hasil produksi barang dan jasa merupakan unsur pokok perusahaan.
2. Imbalan yang diterima atas penggunaan aktiva atau sumber-sumber ekonomi
perusahaan oleh pihak lain dapat menjadi unsur pendapatan lain-lain bagi
perusahaan jenis lain.
3. Penjualan aktiva diluar barang dagang merupakan unsur pendapatan lain-lain
suatu perusahaan.
2.4 Analisis Break Even Point
2.4.1 Pengertian Break Even Point
Banyak para ahli berpendapat tentang pengertian Break Even Point (Titik
Impas) dimana pengertian satu dengan yang lain berbeda, tetapi pada prinsipnya
mempunyai konsep dasar yang sama. Menurut Alwi (1994), menyatakan bahwa
BEP adalah suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan itu tidak
memperoleh laba dan tidak menderita kerugian (penghasilan = total biaya).
Sedangkan menurut Mulyadi (1992) menyatakan bahwa Impas adalah suatu
keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian,
dengan kata lain suatu usaha dikatakan Impas apabila jumlah penghasilan sama
dengan biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutupi
biaya tetap saja.
Analisis break even point bukan semata-mata untuk mengetahui keadaan
perusahaan yang break even point saja, tetapi analisis BEP mampu memberikan
informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume
penjualan serta hubungannya kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat
penjualan yang bersangkutan.
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan
dikatakan mencapai break even point apabila dalam suatu periode kerja tidak
memperoleh laba tetapi juga tidak menderita kerugian dimana laba adalah nol.
Jadi dapat dikatakan break even point hubungan antara volume penjualan, biaya
dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada tingkat penjualan tertentu,
sehingga analisis break even point ini sering disebut dengan cost, volume, profit
analisis. Selain itu analisis ini sangat berguna untuk menentukan kebijaksanaan
dalam perusahaan, baik perusahaan yang sudah maju maupun perusahaan yang
baru mengadakan perencanaan.
2.4.2. Unsur-Unsur Pokok Dalam Break Even Point
Analisis unsur-unsur yang mempengaruhi break even point yaitu biaya,
volume, harga, harga jual serta laba itu sendiri. Di dalam pengertian biaya dan
beban dalam bahasa Indonesia belum dibedakan dengan tepat. Sering kali istilah
cost digunakan secara sinonim dengan istilah Expense. Mulyadi membedakan
antara cost dan expense sebagai berikut :
1. Cost adalah bagian dari harga perolehan tahun harga beli aktiva yang ditunda
pembebanannya atau belum di manfaatkan dalam hubungannya realisasi
penghasilan. Sedangkan expense adalah cost yang di korbankan didalam usaha
memperoleh penghasilan.
2. Volume yang terdapat dalam analisis BEP adalah jumlah unit produksi atau
jumlah unit penjualan.
3. Harga jual per unit adalah sejumlah uang yang diterima atau piutang yang
timbul atas penyerahan barang dan jasa kepada setiap konsumen dalam setiap
unitnya. Harga jual bisa berupa harga jual bersih atau bisa harga jual kotor.
Sedangkan yang digunakan dalam analisis BEP adalah harga jual bersih yang
terlepas dari berbagai potongan.
4. Laba adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, dimana keuntungan ini
berasal dari penghasilan setelah dikurangi biaya.
Alwi (1994) menyatakan bahwa variable-variabel yang membentuk BEP
adalah harga jual dan biaya (biaya tetap dan biaya variable). Kedua variable itu
saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, perubahan salah satu variable
yang dimaksud mengakibatkan perubahan besarnya titik Break Even Point.
2.4.3 Harga Jual
Pengertian Harga Jual menurut Kotler ( 1994) adalah sebagai berikut : “
Price is what the seller feel it is worth in terms of money to the buyer”. Dimana
pengertiannya adalah harga bagi penjual merupakan suatu nilai dalam uang yang
ditawarkan pada pembeli. Jadi dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa
harga yang dibayar oleh pembeli sudah termasuk pelayanan yang diberikan oleh
penjual, serta penjual juga menginginkan sejumlah keuntungan dari harga
tersebut. Ada beberapa metode yang biasanya digunakan dalam menetapkan harga
yaitu:
1. Cost based pricing
a. Mark up Pricing (cost plus pricing) adalah penetapkan harga jual dengan
menambah tingkat keuntungan pada biaya-biaya yang telah dibebankan pada
barang.
b. Target profit pricing adalah Penetapan harga jual yang didasarkan atas
permintaan.
2. Buyer based pricing
adalah penetapan harga jual berdasarkan nilai / citra yang dirasakan konsumen
terhadap produk.
3. Competition based pricing
a) Going rate pricing adalah penetapan harga jual menurut situasi yang ditetapkan
oleh pesaing.
b) Sealed – bid pricing adalah penetapan harga jual dalam situasi dimana
perusahaan bersaing dengan cara menetapkan harga jual lebih rendah dari
harga yang ditetapkan pesaing.
Alwi ( 1994 ) menyatakan bahwa harga jual suatu produk pada umumnya
adalah kumpulan dari biaya produksi, biaya penjualan, dan biaya-biaya lain
ditambah dengan sejumlah keuntungan yang diinginkan produsen yang
ditawarkan pada konsumen. Sedang masing-masing biaya tersebut mempunyai
berbagai karakter yang berbeda antara biaya yang satu dengan biaya yang lain.
Seperti halnya biaya tetap mempunyai karakteristik yang berbeda dengan biaya
variable.
2.4.4 Biaya
Menurut Awi (1994) menyatakan biaya adalah pengorbanan sumber
ekonomis. Sumber ekonomis yang dimaksudkan adalah suatu sumber yang
memiliki adanya sifat kelangkaan (scarcity). Masing-masing biaya mempunyai
perbedaan antara biaya yang satu dengan yang lain. Masing-masing perbedaan itu
juga tergantung dari sudut pandangnya masing-masing. Namun terkait dengan
Break even Point klasifikasi dari biaya yang dimaksudkan yaitu berdasarkan
sifatnya terdiri dari biaya tetap, biaya variable dan biaya semi variable.
1. Biaya Tetap
Menurut Alwi (1994) menyatakan bahwa biaya tetap adalah biaya yang
dikeluarkan yang tidak berpengaruh dengan volume produksi. atau dengan kata
lain turun naiknya volume produksi tidak mempengaruhi besarnya biaya yang
dimaksud. Untuk itu karateristik biaya tetap adalah sebagai berikut:
a. Jumlahnya tetap dalam satu periode
b. Biaya per unit berbanding terbalik dengan jumlah produksi, dalam arti semakin
besar jumlah produksi, maka biaya ttap perunit semakin kecil demikian juga
berlaku sebaliknya.
2. Biaya Variabel
Alwi (1994) menyatakan bahwa variable merupakan sejumlah biaya yang di
keluarkan yang besarnya tergantung volume produksi, semakin besar volume
produksi akan diikuti melonjaknya biaya tersebut dan demikian sebaliknya.
Dengan demikian karateristik biaya variable antara lain:
a. Jumlahnya berfluktuasi berdasarkan volume produksi.
b. Biaya variable per unit relative tetap sering dengan bertambahnya volume
produksi, tetapi secara keseluruhan total biaya variable berbanding lurus
dengan jumlah produksi, dimana semakin besar total biaya variable jumlah
produksi semakin besar pula.
c. Biaya Semi Variabel, Alwi (1994) menyatakan bahwa biaya semi variable yaitu
biaya yang merupakan kombinasi antara biaya tetap dengan biaya variable.
Seperti halnya upah karyawan yang di dalamnya termasuk upah tetap dan insetive
karyawan.
2.5 Analisis Nilai Tambah
Nilai tambah didefinisikan sebagai pertambahan nilai yang terjadi pada
suatu komoditas karena komoditas tersebut mengalami proses pengolahan lebih
lanjut pada suatu proses produksi. Konsep nilai tambah adalah status
pengembangan nilai yang terjadi karena adanya input fungsional yang diperlukan
pada suatu komoditas. Input fungsional adalah perlakuan dan jasa yang
menyebabkan bertambahnya kegunaan dan nilai komoditas selama mengikuti arus
komoditas pertanian (Harjanto,1999). Nilai tambah yang tinggi dapat digunakan
sebagai informasi bagi pengusaha lain untuk menanamkan modal pada
agroindustri tersebut. Apabila nilai tambah dari perlakuan yang diberikan mampu
memberikan nilai tambah yang tinggi, maka akan menarik investor baru untuk
menanamkan modalnya serta menjadi peluang kerja baru bagi masyarakat.
Pada perhitungan nilai tambah dapat diketahui kategori dari suatu
agroindustri berdasarkan rasio nilai tambahnya termasuk dalam agroindustri
bernilai tambah rendah, sedang atau tinggi. Kategori nilai tambah rendah, sedang
dan tinggi ditentukan dengan kriteria menurut hubeis dalam Apriadi (2003), yaitu
nilai tambah dikatakan rendah jika nilai rasio < 15%, sedang sedang jika nilai
rasio berkisar 15% -40% dan tinggi jika nilai rasio > 40%. Kriteria jumlah
penggunaan bahan baku dapat dijadikan indikator dalam mengkategorikan
agroindustri berdasarkan skala usahanya. Usaha yang menggunakan bahan baku
<50 kg/hari dikategorikan sebagai skala usaha rumah tangga, sedangkan usaha
yang menggunakan bahan baku >50 kg/hari dikategorikan sebagai skala usaha
skala kecil (Hubeis, 1997).
Pengolahan produk pertanian menjadi produk-produk tertentu untuk
diperdagangkan akan memberikan banyak arti ditinjau dari segi ekonomi menurut
(Soekartawi, 2001) antara lain :
1. Meningkatkan nilai tambah
Adanya pengolahan produk pertanian dapat meningkatkan nilai tambah, yaitu
meningkatkan nilai (value) komoditas pertanian yang diolah dan meningkatkan
keuntungan pengusaha yang melakukan pengolahan komoditas tersebut.
2. Meningkatkan kualitas hasil
Dengan kualitas hasil yang lebih baik, maka nilai barang akan menjadi lebih
tinggi. Kualitas hasil yang baik dipengaruhi oleh komposisi bahan baku yang
digunakan.
3. Meningkatkan pendapatan
Selain pengusaha, petani penghasil bahan baku yang digunakan dalam industri
pengolahan tersebut akan mengalami peningkatan pendapatan.
4. Menyediakan lapangan kerja
Dalam proses pengolahan produk-produk petanian menjadi produk lain
tentunya tidak terlepas dari adanya keikutsertaan tenaga manusia sehingga
proses ini akan membuka peluang bagi tersedianya lapangan kerja.
5. Memperluas jaringan distribusi
Adanya pengolahan produk-produk pertanian akan menciptakan atau
meningkatkan diversifikasi produk sehingga keragaman produk ini akan
memperluas jaringan distribusi.
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
1.1 Kerangka Pemikiran
Singkong merupakan salah satu komoditas yang melimpah di Indonesia.
Komoditi ini telah banyak dikenal dan dimanfaatkan namun mayoritas pengolahan
singkong sangat minim atau hanya daerah tertentu yang mengolah singkong,
selebihnya hanyalah di jual dalam bentuk umbi segar. Produk pertanian yang
sebagian besar memiliki sifat mudah rusak dan tidak tahan lama dan
membutuhkan adanya pengolahan lebih lanjut. Agroindustri merupakan suatu
usaha yang di dalamnya terdapat kegiatan pengolahan komoditas pertanian
menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sehingga
akan meningkatkan keuntungan bagi pengusaha agroindustri. Salah satu
agroindustri yang telah mengolah komoditas pertanian menjadi produk yang lebih
bernilai dan mampu menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar adalah
agroindustri keripik singkong yang berada di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Pamekasan Madura yaitu agroindustri semi modern dan agroindustri
tradisional. Perbedaan antar agroindustri tersebut yaitu pada penggunaan mesin
dan input variabel lain atau bahan tambahan pada proses pembuatan keripik
singkong.
Agroindustri keripik singkong yang ada merupakan agroindustri skala kecil
yang memiliki nilai tambah yang dijadikan salah satu parameter pengembangan
agroindustri. Namun pada kenyataannya agroindustri ini belum menunjukkan
hasil yang optimal dalam upaya pengembangan usaha sehingga berpengaruh
terhadap pendapatan ataupun keuntungan yang diperoleh sehingga perlu dikaji
teori yang ada guna menganalisis nilai tambah, tingkat penerimaan dan
keuntungan yang diperoleh serta tingkat kelayakan usaha dari perusahaan tersebut
dilakukan dengan metode analisis nilai tambah, analisis penerimaan dan
keuntungan serta analisis kelayakan usaha (B/C rasio dan BEP) . Dari uraian
tersebut dapat dibuat kerangka pemikiran yang dapat dilihat pada skema berikut :
15
Potensi :
1. Bahan baku mudah
didapat
2. Meningkatkan
pendapatan
3. Penyerapan tenaga
kerja
Agroindustri Keripik
Singkong
Kendala :
1. Modal terbatas
2. Kurangnya
teknologi
Proses produksi
Proses Tradisional
Proses Semi Modern
Teknis Pengolahan:
4. Tidak menggunakan mesin
5. Tidak dikemas
Penggunaan Bahan :
6. 50 kg bahan baku
7. Tidak menggunakan bahan
tambahan
Area Pemasaran :
1. Terbatas (area sekitar)
Harga :
1. Lebih rendah
2. Pembayaran tunai dan non
tunai
Teknis Pengolahan:
1. Menggunakan mesin
2. Dikemas
Penggunaan Bahan :
1. 100 kg bahan baku
2. menggunakan bahan
tambahan
Area Pemasaran :
3. lebih luas (berbagai
wilayah di Madura)
Harga :
4. Lebih tinggi
5. Pembayaran tunai
1. Analisis nilai tambah
2. Analisis Penerimaan
3. Analisis BEP.
Agroindustri keripik singkong
memberikan nilai tambah dan layak
untuk dikembangkan
Skema 1. Kerangka Pemikiran Analisis Nilai Tambah dan Break Even Point
Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Pamekasan Madura.
1.2 Hipotesis
Berdasarkan permasalahan dalam kerangka pemikiran tersebut, maka dapat
dikemukakan hipotesis yakni :
1. Diduga agroindustri keripik singkong semi modern memiliki nilai tambah yang
lebih besar daripada keripik singkong tradisional.
2. Diduga agroindustri keripik singkong semi modern lebih tinggi tingkat
keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada keripik singkong tradisional.
1.3 Batasan Masalah
Dalam penelitian ini perlu diberikan batasan masalah untuk memperjelas
permasalahan yang ada dan mempermudahkan dalam pembahasan. Adapun
batasan masalah adalah sebagai berikut :
1. Penelitian dilakukan pada agroindustri keripik singkong yang ada di Desa
Blumbungan,
Kecamatan
Larangan,
Kota
Pamekasan
Madura
yaitu
agroindustri semi modern dan agroindustri tradisional.
2. Penelitian hanya terbatas pada menganalisis nilai tambah, analisis pendapatan,
analisis kelayakan usaha dan BEP.
1.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
1. BEP adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak
menderita kerugian, dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas apabila jumlah
penghasilan sama dengan biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat
digunakan untuk menutupi biaya tetap saja
a) BEP unit adalah besarnya perbandingan biaya tetap dibagi dengan harga jual
perunit dikurangi dengan biaya variabel dengan satuan unit.
b) BEP rupiah adalah besarnya perbandingan biaya tetap dibagi dengan biaya
tetap per total penerimaannya dengan satuan rupiah.
2. Biaya tetap adalah jenis biaya yang jumlahnya totalnya tetap tidak dipengaruhi
oleh jumlah keripik singkong yang ingin diproduksi. Dalam penelitian ini biaya
tetapnya adalah biaya penyusutan yang digunakan untuk proses produksi keripik
singkong, dimana biaya penyusutan pertahun yang dihitung dengan cara membagi
alat dengan umur ekonomis alat yang digunakan. Dalam penelitian ini alat setelah
melampaui batas umur ekonomisnya tidak dihitung karena alat yang telah habis
masa pakainya dianggap telah rusak dan tidak dijual (tidak bernilai ekonomis).
3. Biaya variabel adalah besarnya biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh pajak,
sewa, jumlah produksi yang diusahakan (Rp). Yang termasuk biaya variabel yaitu
biaya bahan baku, bahan penolong, upah tenaga kerja, dan transportasi.
4. Biaya total adalah jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk proses
produksi keripik singkong selama satu tahun yang terdiri dari biaya tetap (fixed
cost) dan biaya variabel (variable cost). Cara penelitian ini adalah total biaya
dihitung dengan menggunakan rumus TC= TFC+TVC.
5. Penerimaan adalah nilai uang yang dihasilkan dari penjumlahan keripik singkong,
dihitung dengan cara mengalikan jumlah total produksi keripik singkong dengan
harga produk keripik singkong tiap satuan (Rp). Untuk menghitung total
penerimaan agroindustri keripik singkong menggunakan rumus: TR= PxQ .
6. Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan total biaya produksi
selama satu tahun. Tingkat keuntungan : π= TR-TC
Keterangan :
π = keuntungan agroindustri keripik singkong (Rp).
P = harga keripik singkong (Rp/kg)
Q = jumlah produksi keripik singkong yang dihasilkan (kg).
TR = total revenue/ total penerimaan (Rp).
TC= total cost/ total biaya (Rp).
TFC = total biaya tetap (Rp).
TVC = Total biaya variabel (Rp).
7. Nilai tambah adalah pengurangan biaya bahan baku yang digunakan dalam
industri keripik singkong ditambah biaya input lainnya terhadap penerimaan tidak
termasuk biaya tenaga kerja (Rp/kw).
8. Biaya penyusutan adalah nilai pengurangan fungsi alat yang digunakan dalam
proses produksi. Biaya penyusutan meliputi biaya penyusutan atas penggunaan
mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Diukur dengan
menghitung selisih antara nilai awal dengan nilai akhir kemudian dibagi nilai
umur ekonomis, dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp).
9. Bahan baku adalah bahan-bahan utama yang digunakan untuk proses produksi
yang dinyatakan dalam satuan Kg.
10. Harga bahan baku adalah besarnya nilai yang harus dikeluarkan untuk pembelian
harga bahan dalam proses produksi dan dinyatakan dalam satuan Rupiah/kg.
11. Hasil produksi adalah sejumlah produk yang dihasilkan dari proses produksi
dalam kurun waktu satu hari. Dinyatakan dalam satuan kg/hari.
12. Harga produk rata-rata adalah besarnya nilai jual rata-rata dari produk yang
dihasilkan dan dinyatakan dalam satuan rupiah.
13. Tenaga kerja adalah sejumlah orang yang berperan dalam melakukan kegiatan
produksi, dinyatakan dalam satuan jam/produksi.
14. Koefisien tenaga kerja adalah perbandingan besarnya jumlah tenaga kerja yang
digunakan dibagi dengan bahan baku yang diperlukan dalam satu kali proses
produksi.
15. Upah rata-rata adalah rata-rata biaya yang dibayarkan kepada tenaga kerja.
16. Input lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku penunjang
dalam proses produksi, dinyatakan dalam satuan Rp/kg bahan baku.
17. Nilai produk adalah besarnya faktor konversi dibagi dengsn harga produk ratarata, dinyatakan dalam satuan Rp/kg.
18. Imbalan tenaga kerja adalah besarnya upah yang diberikan kepada tenaga kerja
per kilogram produksi (Rp/kg).
19. Bagian tenaga kerja adalah prosentase dari besar imbalan tenaga kerja dibagi
dengan nilai tambah.
20. Tingkat keuntungan adalah prosentase besarnya keuntungan dibagi dengan nilai
tambah.
21. Pesaing adalah produsen keripik singkong diluar penelitian atau bukan industri
keripik singkong tetapi menggunakan singkong sebagai bahan bakunya. Variabel
ini dilihat dari kapasitas produksi pesaing serta jumlah pesaing yang ada.
METODOLOGI
4.1 Metode Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian
Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu pada
sentra agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan,
Kabupaten Pamekasan, Madura. Pertimbangan pemilihan lokasi ini dikarenakan
menurut data dari Dinas Industri dan Perdagangan, daerah tersebut merupakan
sentra agroindustri keripik singkong. Selain itu melihat produksi keripik singkong
yang mencapai 2103 ton dan melihat beberapa kelemahan dan kekuatan yang
dimiliki serta adanya peluang agroindustri keripik singkong di daerah tersebut
sebagai agroindustri yang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat
setempat sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangannya
khususnya untuk mengolah bahan baku mentah menjadi olahan yang mampu
memberikan nilai tambah.
4.2 Metode Penentuan Responden
Responden dalam penelitian ini adalah mereka yang memproduksi keripik
singkong. Penentuan responden dilakukan dengan sensus yaitu pengambilan dari
seluruh data populasi yang ada di daerah penelitian. Agroindustri keripik singkong
merupakan responden utama dalam penelitian yaitu pemilik agroindustri keripik
singkong.
Jumlah keseluruhan agroindustri keripik singkong di daerah penelitian ada
15 unit yaitu 14 responden agroindustri keripik singkong semi modern dan 1
responden agroindustri keripik singkong tradisional. Agroindustri keripik
singkong semi modern rata-rata menggunakan 100 kg bahan baku yang
menghasilkan 60 kg dan agroindustri keripik singkong tradisional dengan bahan
baku 50 kg menghasilkan 30 kg keripik. Tenaga kerja 7 hingga 10 orang pekerja
dengan lama jam kerja berkisar 3-5 jam dan rata- rata pekerja berjenis kelamin
perempuan. Agroindustri ini cukup lama didirikan yaitu selam 10-15 tahun,
namun belum ada perkembangan tingkat produksi karena kurangnya modal dan
tekhnologi yang digunakan. Karena agroindustri yang terdapat di lokasi penelitian
seluruhnya menggunakan bahan baku >50 kg/hari sehingga seluruhnya
dikategorikan agroindustri skala usaha kecil. Metode yang digunakan adalah
20
metode sensus yakni menggunakan seluruh jumlah anggota responden karena
jumlah populasi yang sedikit dan masih bisa dijangkau untuk dilakukan penelitian
secara keseluruhan.
4.3 Metode Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengambilan data penelitian ini antara lain
1. Wawancara
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data yang diinginkan yaitu dengan
cara berkomunikasi secara langsung dengan pihak pemilik agroindustri keripik
singkong tentang kebutuhan bahan baku, jumlah output yang dihasilkan,
kebutuhan alat-alat, ketenaga kerjaan, area pemasaran dan kendala-kendala
yang dihadapi dalam proses produksi keripik singkong.
2. Observasi
Dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan yang
dilakukan di lokasi penelitian, khususnya selama proses produksi dan kegiatan
lainnya yang terlibat.
3. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan pada kegiatan proses produksi keripik singkong dan
terhadap data
sekuder yang diperoleh dari instansi terkait yakni kantor
kecamatan untuk memperoleh informasi tentang kondisi monografi dan
geografis lokasi penelitian
Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua macam
yakni:
1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan melihat dan mengadakan
pengamatan secara langsung ke lokasi penelitian serta melakukan wawancara
dan juga menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan
sebelumnya.
2. Data Sekunder, diperlukan dengan tujuan untuk mengambil data yang
mempunyai keterkaitan dengan masalah yang dihadapi dalam penelitian dan
untuk melengkapi data primer yang ada. Data sekunder diambil dari pemilik
perusahaan dan instansi yang terkait dengan penelitian ini, seperti kantor
kecamatan untuk mengetahui kondisi umum daerah penelitian berupa data
monografi dan geografis. Selain itu data sekunder diambil dari berbagai
pustaka ilmiah yang mendukung sebagai dasar atau pedoman.
1.4 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif.
1.4.1 Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan aspek sosial ekonomi,
aspek produksi, aspek sumberdaya manusia, dan aspek pemasaran. Aspek sosial
ekonomi digunakan untuk mengetahui sumber daya serta potensi yang dimiliki
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura dalam menunjang
keberadaan agroindustri keripik singkong. Aspek produksi digunakan untuk
mendiskripsikan mengenai proses produksi yang dilakukan dalam menghasilkan
produk keripik singkong. Aspek sumberdaya manusia digunakan untuk
mengetahui kerakteristik produsen keripik singkong yang meliputi umur
responden dan tingkat pendidikan responden, sedangkan aspek pemasaran
digunakan untuk mendeskripsikan mengenai cakupan daerah pemasaran dan alur
pemasaran dari agroindustri keripik singkong yang meliputi kegiatan distribusi.
1.4.2 Analisis Kuantitatif
A. Analisis Nilai Tambah
Besarnya
nilai
tambah
karena
proses
pengolahan
diperoleh
dari
pengurangan biaya bahan baku ditambah input lainnya terhadap nilai produk yang
dihasilkan, tidak termasuk tenaga kerja. Nilai tambah merupakan imbalan bagi
tenaga kerja dan keuntungan bagi pengolah atau pengusaha.menurut Hubeis, rasio
nilai tambah dapat digolongkan menjadi 3 yakni dikatakan rendah jika < 15%,
sedang jika berkisar 15%-40% dan tinggi jika >40%. Menurut Hayami (2001),
format yang digunakan untuk menghitung nilai tambah adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Format Nilai Tambah Pengolah Agroindustri Keripik Singkong di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, Madura
No
Keterangan
Rumus
1
Bahan baku (kg/hari)
A
2
Harga bahan baku (Rp/kg)
B
3
Hasil produksi (kg/hari)
C
4
Faktor konversi (3/1)
C/A= H
5
Harga produk rata-rata (Rp/kg)
D
6
Tenaga kerja (HK/hari)
E
7
Koefisien tenaga kerja (6/1)
E/A= I
8
Upah rata-rata (Rp/HK)
F
9
Input lain (Rp/kg bahan baku)
G
10
Nilai produk (Rp/kg) (4/5)
H/D= J
11.a Nilai tambah (Rp/kg) (10-9-2)
J-G-B= K
B
K/J x 100%M= L
Rasio nilai tambah (11a/10) x 100%
12.a Imbalan tenaga kerja (Rp/kg) (7x8)
LxF =M
B
M/K x 100% = N%
Bagian tenaga kerja (12a/11a) x 100%
13.a Keuntungan (Rp/kg) (11a-12a)
K-M = O
b
O/K x 100% = P%
Tingkat keuntungan (13a/11a)x 100%
Menurut Hubeis dalam Hermawatie (1998), rasio nilai tambah dapat
digolongkan menjadi 3 yaitu :
1. Rasio nilai tambah rendah, apabila memiliki persentase > 15%
2. Rasio nilai tambah sedang, apabila memiliki persentase 15% - 14%
3. Rasio nilai tambah tinggi, apabila memiliki persentase > 40%.
B. Analisis Penerimaan
Analisis ini digunakan untuk memperoleh gambaran tentang besarnya biaya
dan keuntungan suatu perusahaan. Beberapa alat ukur yang dipakai yaitu :
1.
Perhitungan biaya produksi
a) Biaya tetap yaitu biaya yang tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produk
yang dihasilkan. Misalnya biaya penyusutan peralatan, pajak dan bunga
pinjaman. Besarnya biaya tetap dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :
𝑛
𝑖−1 𝐹𝐶
TFC =
Keterangan :
TFC = Total biaya tetap agroindustri keripik singkong (Rp)
FC = Biaya tetap untuk input agroindustri keripik singkong (Rp)
n = Banyaknya input agroindustri keripik singkong
biaya yang diperhitungkan sebagai biaya tetap adalah biaya penyusutan
alat. Biaya penyusutan alat adalah pengalokasian biaya investasi suatu alat
setiap proses produksi sepanjang umur ekonomis alat tersebut. Perhitungan
penyusutan menggunakan metode garis lurus (straight line method) yaitu
suatu metode yang menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi
yang merata (tanpa fluktuasi) disepanjang masa penggunanya. Dapat
dihitung dengan menggunakan rumus :
D=
𝑃𝑏 −𝑃𝑠
𝑡
Keterangan :
D = Biaya penyusutan peralatan (Rp/tahun)
Pb = Harga beli awal (Rp)
Ps = Harga jual (Rp)
t = Umur ekonomis (tahun)
b) Biaya variabel (tidak tetap)
Biaya variabel (tidak tetap), yaitu biaya yang besar kecilnya dipengaruhi
oleh produk yang dihasilkan. Misalnya biaya pembelian bahan baku,
bahan penolong, bahan bakar, upah tenaga kerja dan biaya transportasi.
Besarnya biaya variabel secara matematis dihitung sebagai berikut :
VC = Pxi.Xi
Keterangan :
Pxi = Harga input ke-i pada agroindustri keripik singkong
Xi = Jumlah inpuk ke-i pada agroindustri keripik singkong
Perhitungan biaya variabel yang dibutuhkan untuk mengetahui
besarnya masing-masing biaya tidak tetap yang dikeluarkan oleh suatu
perusahaan yang kemudian digunakan untuk menghitung total biaya
variabel dalam kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
Perhitungan besarnya total biaya variabel secara matematis dihitung sebagai
berikut :
TVC =
𝑛
𝑖=1 𝑉𝐶
Keterangan :
TVC = Total biaya tidak tetap agroindustri keripik singkong
VC = Biaya variabel dari setiap unit agroindustri keripik singkong
n
= Banyaknya input pada agroindustri keripik singkong
c) Biaya total, yaitu penjumlahan antara total biaya tetap dan tota biaya
variabel. Biaya total dapat dihitung dengan rumus :
TC = TFC + TVC
Keterangan :
TC = Total biaya produksi agroindustri keripik singkong (Rp)
TFC = Total biaya tetap agroindustri keripik singkong (Rp)
TVC = Total biaya tidak tetap agroindustri keripik singkong
2.
Perhitungan penerimaan
Perhitungan penerimaan digunakan untuk mengetahui besarnya hasil dari
keseluruhan penjualan produk. Penerimaan dihitung dengan rumus sebagai
berikut:
TR = P x Q
Keterangan :
TR = Total penerimaan agroindustri keripik singkong (Rp)
P = Harga jual per unit ditingkat produsen (Rp)
Q = Jumlah produk yang dihasilkan pada agroindustri keripik singkong (unit)
C. Analisis Break Even Point
Untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha dapat dihitung dengan
menggunakan NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate Of Return), PP
(Payback Period), analisis sensitivitas, analisis B/C rasio dan analisis BEP (Break
Even Point), hal ini dikarenakan data produksi yang ada bukan bersifat data series
sehingga tidak dapat diketahui data produksinya tiap tahunnya. Penggunaan
analisis B/C rasio dan analisis BEP hanya digunakan untuk menghitung kelayakan
usaha dari agroindustri keripik singkong berdasarkan satu kali kegiatan
produksinya.
1. Analisis B/C rasio
Analisis B/C rasio (benefit per cost ratio) dapat didefinisikan sebagai
perbandingan (rasio) nilai dari manfaat terhadap nilai dari biaya-biaya. Pada
analisis B/C rasio data yang dipentingkan adalah besarnya manfaat. Perhitungan
ini dapat diperoleh dari perbandingan antara penjualan dengan total biaya
produksi. Rumus yang digunakan adalah :
𝐵𝑒𝑛𝑒𝑓𝑖𝑡
B/C =
𝐶𝑜𝑠𝑡
Dengan kriteria :
a) B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan dan
menguntungkan.
b) B/C = 1, maka usaha tersebut tidak menguntungkan dan tidak merugikan.
c) B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan
merugikan.
2. Analisis BEP
Titik impas / Break Even Point memberikan informasi tentang hubungan
antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada
level penjualan tertentu. Dalam penelitian ini BEP dapat dihitung dengan dua cara
yaitu :
a. Atas dasar penjualan dalam unit
𝑇𝐹𝐶
BEP unit = 𝑇𝑉𝐶
𝑃−
𝑄
b. Atas dasar penjualan dalam rupiah
BEP (Rp) =
𝑇𝐹𝐶
𝑇𝑉𝐶
𝑇𝑅
1−
Keterangan :
P
= Harga jual keripik singkong per unit (Rp).
Q
= Jumlah produk keripik singkong yang dihasilkan
TFC = Total Biaya tetap (Rp)
TVC = Total Biaya variabel (Rp)
TR = Total penerimaan (Rp)
Dengan mengetahui titik impas suatu produksi, maka akan diketahui berapa
besarnya jumlah produksi (volume produksi) minimal yang harus dipertahankan
agar produsen keripik singkong tidak mengalami kerugian. Tiap perusahaan
hendaknya dapat berproduksi diatas titik BEP agar dapat memperoleh keuntungan.
Analisis B/C rasio dan BEP pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu
mengetahui apakah suatu usaha telah layak atau belum untuk dikembangkan,
namun dari kedua alat analisis tersebut memiliki perbedaan dalam cara
perhitungannya. B/C rasio digunakan untuk mengetahui besarnya pengembalian
dari biaya-biaya yang telah dikeluarkan, sedangkan BEP digunakan untuk
mengetahui apakah besarnya biaya yang telah dikeluarkan lebih besar atau lebih
kecil dari penerimaan yang didapat, sehingga dengan mengetahui nilai dari B/C
rasio dan BEP akan memudahkan pengusaha dalam melihat kinerja usahanya
berdasarkan manfaat dari setiap rupiah yang dikeluarkan serta batas minimum
produksi dimana pengusaha tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian
5.1.1 Letak Geografis
Desa Blumbungan merupakan wilayah kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan dengan keadaan topografi dataran rendah. Secara geografis Desa
Blumbungan berada pada ketinggian 8 meter diatas permukaan air laut dengan
suhu udara rata-rata 29°C. Kondisi tanah Desa Blumbungan yang subur dan cocok
untuk usaha penanaman singkong, padi, jagung dan tembakau. Dengan adanya
potensi wilayah inilah sehingga mayoritas penduduknya menanam komoditi
tersebut. Adapun batas wilayah Desa Blumbungan adalah sebagai berikut :
a) Sebelah Utara
: Desa Pamaroh - Desa Bangkes (Kadur)
b) Sebelah Barat
: Desa Sentol – Kelurahan Kowel
c) Sebelah Selatan
: Kelurahan Kowel – Desa Plak-pak
d) Sebelah Timur
: Desa Brujugan – Desa Larangan Luar
Jarak dari Desa Blumbungan ke kecamatan Larangan adalah sejauh 6 km
dan jarak ke pemerintahan Kota Pamekasan sejauh 6 km. Sedangkan untuk jarak
antara kota Pamekasan, kota Sampang dan Kota Bangkalan dapat ditempuh
selama 2 jam. Dari rentang waktu tersebut menunjukkan jarak yang
memungkinkan untuk perluasan area pemasaran sehingga meluas ke luar madura.
Hal ini tentunya diperlukan peran pemerintah dalam upaya pengembangan pangsa
pemasaran produk keripik singkong sehingga dapat dikenal meluas ke berbagai
kota sebagai camilan khas kota Pamekasan.
Sedangkan untuk batas desa antara desa Blumbungan ke desa lainnya tidak
menempuh jarak yang jauh yaitu antara 4 - 5 km sehingga desa yang berdekatan
dengan sentra produksi keripik singkong banyak memasok atau menjadi agen
dalam pemasaran keripik singkong dan desa-desa tersebut juga memasok bahan
mentah atau singkong sebagai bahan baku pembuatan keripik singkong. Hal ini
tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi desa-desa tersebut karena desa
lain mampu memasok bahan baku dan desa tersebut juga mampu menjual hasil
dari olahan bahan baku sehingga memperoleh keuntungan bagi para peduduk
desa.
28
5.1.2 Luas Wilayah dan Penggunaan Lahan
Desa Blumbungan memiliki wilayah seluas 1200 Ha yang terdistribusi
kedalam beberapa jenis penggunaannya. Jenis penggunaan lahan di Desa
Blumbungan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3 berikut :
Tabel 3. Jenis Penggunaan Lahan Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan,
Kota Pamekasan tahun 2012.
Jenis Penggunaan
Lahan
Luas (Ha)
Jalan
150
Sawah dan Ladang
300
Bangunan Umum
190
Kolam dan Peternakan
100
Pemukiman
313
Jalur Hijau
45
Perkuburan
87
Lain-lain
15
Total
1200
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
12,5
25
15,83
8,33
26,13
3,75
7,25
1,25
100
Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa penggunaan lahan yang paling
luas adalah untuk pemukiman penduduk yaitu seluas 313 Ha atau sebesar 26,13%
penggunaan lahan lain yaitu sawah dan ladang yaitu seluas 300 Ha atau sebesar
25% yang biasa digunakan untuk tanaman padi, jagung, singkong dan tembakau.
Bangunan umum seperti sekolah, masjid, kantor dan bangunan lain seluas 190 Ha
atau sebesar 15,83%, penggunaan jalan umum dengan luas 150 Ha atau sebesar
12,5%, kolam dan peternakan dengan luas 100 Ha atau sebesar 8,33% yaitu
dengan memelihara ikan mujair, ikan nila sedangkan peternakannya yaitu sapi,
kambing, ayam dan bebek sedangkan penggunaan lahan untuk jalur hijau dengan
luas 45 Ha atau sebesar 3,75% dan untuk luas lahan lain-lainnya 15 Ha atau
sebesar 1,25%.
5.1.3 Kondisi Penduduk
Jumlah penduduk Desa Blumbungan pada tahun 2012 tercatat sebanyak
17.122 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 5355 kepala keluarga.
Komposisi dari seluruh penduduk tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
5.1.3.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan data monografi terakhir, Desa Blumbungan memiliki total
jumlah penduduk sebesar 17.122 jiwa. Komposisi jumlah penduduk menurut jenis
kelamin dapat dilihat pada Tabel 4 berikut :
Tabel 4. Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan 2012
Jenis Kelamin
Jumlah (Jiwa)
Pria
8359
Wanita
8763
Total
17122
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
48,82
51,18
100
Berdasarkan Tabel 4 tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk
Desa Blumbungan lebih banyak wanita daripada pria. Jumlah total penduduk
wanita sebanyak 8763 jiwa atau sebesar 51,18% sedangkan jumlah total penduduk
pria sebanyak 8359 atau sebesar 48,82%. Dari data tersebut maka pekerja dari
agroindustri keripik singkong di daerah Blumbungan ini lebih banyak wanita
daripada pria. Selain karena jumlah penduduk tersebut, pemilihan pekerja wanita
dikarenakan sifat kerjanya yang lebih teliti, ulet dan terampil sehingga lebih baik
dalam proses pembuatan keripik singkong. Sedangkan pria lebih banyak bekerja
di sawah sebagai petani ataupun menekuni pekerjaan lain. Untuk pemilihan
pekerja pria pada agroindustri keripik singkong lebih ditempatkan pada sistem
pemasaran produk keripik singkong yang wilayah pemasarannya berada di kota
lain namun masih dalam wilayah Madura.
5.1.3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia
Komposisi penduduk Desa Blumbungan berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel
5 berikut :
Tabel 5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2012.
Golongan Usia (Tahun)
Jumlah (Jiwa)
0-10
875
11-20
2904
21-30
5714
31-40
4608
41-50
2656
> 50
365
Total
17.122
Sumber : Data monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
5,11
16,96
33,37
26,91
15,51
2,13
100
Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang paling
tinggi di Desa Blumbungan adalah penduduk dengan usia 21-30 tahun yaitu
sebesar 5.714 atau 33,37%. Urutan kedua dan ketiga adalah penduduk dengan
golongan usia 31-40 tahun yaitu sebesar 4608 atau 26,91% dan 11-20 tahun
sebesar 2904 atau 16,96%. Sedangkan untuk kisaran umur 41-50 tahun sebesar
2656 atau 15,51% dan untuk kisaran umur anak-anak yaitu 0-10 tahun sebesar
875 atau 5,11%. Sedangkan untuk kisaran umur > 50 sebesar 365 atau 2,13%.
Dari kondisi tersebut dapat diketahui bahwa Desa Blumbungan memiliki potensi
yang besar dalam penyediaan tenaga kerja yang produktif bagi lapangan pekerjaan
yang tersedia di desa tersebut.
5.1.3.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan
merupakan
faktor
penting
dalam
menunjang
proses
pembangunan suatu daerah karena merupakan suatu indikator dari kualitas
sumberdaya manusia. Komposisi penduduk Desa Blumbungan berdasarkan
tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Tabel 6 Berikut :
Tabel 6. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan Kota Pamekasan tahun 2012.
Tingkat Pendidikan
Jumlah (Jiwa)
Tidak Tamat SD
675
SD/Sederajat
6239
SMP/Sederajat
4823
SMA/Sederajat
5217
Sarjana (S1,S2,23)
168
Total
17122
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
3,94
36,43
28,16
30,47
0,98
100
Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk Desa
Blumbungan memiliki tingkat pendidikan terakhir yaitu pada tingkat SD yaitu
sebanyak 6239 jiwa atau 36,43%, hal ini karena sebagian besar penduduknya
berada dalam katagori dewasa sampai lanjut usia dan pembangunan sekolah masih
belum optimal dan pendapatan terdahulu tidak mencukupi untuk meneruskan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tingkat pendidikan SMP dan SMA
yaitu sebesar 4823 atau 28,16% dan 5217 atau 30,47%, untuk tingkat Sarjana
sebesar 168 atau 0.98%. dari segi tingkat pendidikan menunjukkan bahwa
sebagian besar penduduk di Desa Blumbungan pernah mendapatkan pendidikan di
bangku sekolah, hal ini dapat diartikan bahwa hampir seluruh penduduk di Desa
Blumbungan telah memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis sehingga
mampu berkembang dan menyerap informasi dan inovasi khususnya di bidang
agroindustri bagi masyarakat setempat.
5.1.3.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata pencaharian merupakan kegiatan yang memberikan pendapatan untuk
memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, baik dalam biaya pendidikan hingga
usaha tani dalam pemenuhan bibit atau bahan tanam karena sebagian besar
penduduk ini adalah seorang petani. Mata pencaharian penduduk di Desa
Blumbungan terdiri dari berbagai jenis pekerjaan, pengelompokan ini berdasarkan
atas semua pekerjaan yang dijadikan sebagai sumber pendapatan. Komposisi
penduduk berdasarkan mata pencahariannya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut :
Tabel 7. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan 2012
Mata Pencaharian
Jumlah (Jiwa)
Belum/tidak bekerja
600
Karyawan
1907
Wiraswasta
3172
Petani
7719
Buruh
1795
Pensiunan
516
Nelayan
470
Ibu rumah tangga
650
Dokter/tenaga medis
200
Lain-lain
93
Total
17.122
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Persentase (%)
3,5
11,13
18,52
45,08
10,48
3,01
2,74
3,79
1,16
0,54
100
Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk di
Desa Blumbungan mempunyai mata pencaharian sebagai petani yaitu sebesar
7719 atau sebesar 45,08%. Data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian
dan potensi daerah lebih cenderung ke sektor pertanian. Sedangkan untuk
pekerjaan yang mendominasi selain pertanian wiraswasta, karyawan dan buruh.
Pekerjaan tersebut cenderung dalam bidang sales ataupun karyawan toko dan
buruh petani ataupun buruh bangunan.
5.1.4 Kondisi Pertanian
Desa Blumbungan merupakan suatu daerah dengan kondisi tanah yang
subur dan cocok untuk ditanami tanaman pangan seperti padi, jagung dan
singkong, selain itu sayur-sayuran seperti kacang tanah dan buah-buahan seperti
mangga, pisang dan lain-lain. Secara rinci kondisi pertanian di Desa Blumbungan
dapat dilihat pada Tabel 8 berikut :
Tabel 8. Kondisi Pertanian di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan tahun 2012.
Jenis Tanaman
Luas (Ha)
Padi
67
Jagung
70
Ketela pohon (Singkong)
72
Kacang tanah
19
Tomat
7
Timun
10
Pisang
30
Mangga
25
Total
300
Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012
Hasil Panen (Ton)
22,33
23,33
24
6,33
2,33
3,33
10
8,33
100
Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui berbagai jenis tanaman yang ada di
Desa Blumbungan yang meliputi tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan. Dari
data tersebut menunjukkan bahwa singkong memiliki luas lahan yang besar dan
selisih yang kecil dengan jagung dan padi yaitu sebesar 72 atau 24% dan 70 atau
23,33%, serta padi sebesar 67 atau 22,33%. Hal ini dikarenakan suhu dan kondisi
lahan yang tepat jika ditanami tanaman tersebut sehingga tanaman tersebut
mendominasi untuk dibudidayakan. Tanaman sayuran yang banyak ditanam
adalah tomat dan timun yaitu sebesar 7 atau 2,33% dan 10 atau 3,33%. Sedangkan
untuk buah yaitu pisang dan mangga sebesar 30 atau 10% dan 25 atau 8,33%.
5.2 Karakteristik Responden Agroindustri Keripik Singkong
Karakteristik responden agroindustri keripik singkong merupakan suatu
gambaran informasi mengenai keadaan atau hal-hal yang berkaitan tentang
pengusaha keripik singkong dalam menjalankan usahanya di lokasi penelitian. Hal
ini diperlukan untuk mengetahui kegiatan dan kendala dalam menjalankan
kegiatan produksi keripik singkong. Sebagian besar pengusaha keripik singkong
di Desa Blumbungan menjadikan usaha agroindustri keripik singkong sebagai
pekerjaan utama, hal ini dikarenakan agroindustri keripik singkong mampu
memberikan pendapatan yang besar bagi pengusahanya.
Pada umumnya para pengusaha keripik singkong di lokasi penelitian masih
tergolong usaha skala kecil, hal ini dapat dilihat baik dari segi penggunaan bahan
baku yaitu >50 kg dan dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja yang dimiliki yaitu 7-
10 orang. Yang membedakan hanyalah penggunaan bahan tambahan dan
penggunaan mesin dalam pengemasan keripik singkong. Berdasarkan hasil
penelitian
terhadap
keseluruhan
pengusaha
keripik
singkong
di
Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan diperoleh karakteristik
pengusaha agroindustri keripik singkong yaitu sebagai berikut :
5.2.1. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Usia
Usia merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan suatu
usaha,karena usia akan mempengaruhi kemampuan fisik dan daya fikir responden
dalam mengambil suatu keputusan dan keaktifan mengelola usahanya.
Berdasarkan hasil penelitian, usia pengusaha keripik singkong yang paling muda
adalah 25 tahun, sedangkan usia pengusaha keripik singkong yang tertua adalah
40 tahun. Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar
pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan masih dalam usia produktif
baik dalam segi tenaga dan pemikiran, sehingga dapat disimpulkan bahwa
kemampuan fisik yang dimiliki masih baik dan tentunya berpengaruh pada
semangat kerja, oleh sebab itu pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan
memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan usahanya.
Kisaran umur responden keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan dikelompokkan kedalam beberapa golongan usia yang
secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9 berikut :
Tabel 9. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Kelompok Usia
Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012
No
Kelompok Usia (Tahun)
1.
21-30
2.
31-40
3.
41-50
4.
> 50
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah (Jiwa)
5
7
2
15
Persentase (%)
33,33
46,66
13,33
100
Berdasarkan Tabel 9 diatas dapat diketahui bahwa usia responden
agroindustri keripik singkong yang tertinggi adalah pada golongan usia 31-40
tahun sebanyak 7 jiwa atau sebesar 46,66% dan pada tingkat kedua adalah pada
golongan usia 21-30 tahun sebanyak 5 jiwa atau sebesar 33,33% dan yang terkecil
adalah usia responden dengan golongan usia 41-50 tahun atau sebesar 13,33%.
Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian pengusaha keripik singkong
di Desa Blumbungan termasuk kedalam golongan usia tua. Hal ini dikarenakan
para pelaku usaha merupakan lanjutan dari usaha sebelumnya yang dikerjakan
oleh orang tua mereka, sehingga usaha ini berlanjut turun-temurun dan para
pekerja yang membantu proses produksi adalah pekerja dengan usia golongan
muda.
5.2.2. Karekteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Tingkat
Pendidikan
Tingkat pendidikan dapat digunakan sebagai indikator terhadap daya fikir
dan kemudahan seseorang dalam menerima teknologi dan informasi secara baik.
Pendidikan juga merupakan salah satu latar belakang dalam upaya pengembangan
diri dan respon dalam mengatasi setiap kendala yang dihadapi. Pada umumnya
pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan telah memiliki latar belakang
pendidikan formal, dimana tingkat pendidikan terendah yakni pada tingkat SLTA,
hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengusaha keripik singkong di Desa
Blumbungan mudah untuk melakukan adopsi terhadap teknologi dan berpeluang
untuk melakukan berbagai inovasi dalam menjalankan usahanya.
Secara rinci tingkat pendidikan formal responden keripik singkong si Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 10
berikut :
Tabel 10. Karekteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Tingkat
Pendidikan di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan tahun 2012
No
Tingkat Pendidikan
1.
SD
2.
SLTP/Sederajat
3.
SLTA/Sederajat
4.
Sarjana(S1,S2,S3)
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah (Jiwa)
1
14
15
Persentase (%)
6,66
86,66
100
Berdasarkan Tabel 10 diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan
responden keripik singkong terdiri dari tingkat SLTP dan SLTA, masing-masing
sebanyak 1 atau sebesar 6,66% dan 14 atau sebesar 86,66%. Dari latar belakang
pendidikan tersebut sangat mempengaruhi dalam upaya pengembangan usaha
karena tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan pola pikir, memperluas
wawasan serta lebih memudahkan dalam menyerap informasi yang lebih maju dan
berkembang.
5.2.3. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Lama Usaha
Lama usaha memiliki kaitan yang erat dengan tingkat pengalaman usaha
yang dimiliki. Semakin lama suatu usaha yang dijalankan, maka semakin banyak
pula pengalaman yang dimiliki. Agroindustri keripik singkong telah lama ada
yaitu 15 tahun, hal ini karena kota pamekasan merupakan sentra pemasok produk
keripik singkong yang berbeda dan diolah secara tradisional. Selain itu potensi
daerah dari hasil produksi singkong merupakan alasan utama dalam meningkatkan
nilai tambah produk. Secara rinci lama usaha agroindustri keripik singkong di
Desa Blumbungan dapat dilihat pada Tabel 11 berikut :
Tabel 11. Karakteristrik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Lama Usaha
di Desa Blumbunga, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun
2013.
No
Lama Usaha (Tahun)
1. 1-5
2. 6-10
3. 11-15
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah (Jiwa)
5
10
15
Persentase (%)
33,33
66,67
100
1
Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lama usaha pengusaha keripik
singkong tertinggi berkisar antara 10-15 tahun yaitu sebanyak 10 jiwa dengan
persentase 66,67%, sedangkan responden terendah yaitu lama usaha pada rentang
tahun 6-10 tahun yaitu sebanyak 5 jiwa dengan persentase 33,33%. Hal ini
dikarenakan keripik singkong merupakan jenis produk yang telah lama diproduksi
dan dijadikan sebagai sentra camilan di kota Pamekasan sehingga telah memiliki
pengalaman yang cukup dalam kegiatan pengolahannya.
5.2.4. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Jenis Usaha
Karakteristik responden berdasarkan jenis usaha berkaitan dengan
keberlanjutan usaha agroindustri keripik singkong yang dilakukan oleh pengusaha
untuk mengetahui jenis usaha dari agroindustri tersebut.
Pada umumnya
pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan menjadikan usahanya sebagai
pekerjaan utama, hal ini dikarenakan agroindustri keripik singkong memberikan
keuntungan dan nilai tambah bagi pengusahanya. Jenis usaha responden keripik
singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat
dilihat pada Tabel 12 berikut :
Tabel 12. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Jenis Usaha di
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
No
Jenis Usaha
1.
Utama
2.
Sampingan
Total
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah (Jiwa)
15
15
Persentase(%)
100
100
Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa seluruh pengusaha keripik
singkong menjadikan agroindustri keripik singkong sebagai pekerjaan utama yaitu
sebanyak 15 jiwa atau sebesar 100%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa
usaha agroindustri keripik singkong dilaksanakan secara berkelanjutan karena
telah menjadi usaha utama bagi pemiliknya.
5.2.5 Karakteristik Agroindustri Keripik Singkong
Usaha pengolahan keripik singkong yang terdapat di Desa Blumbungan
merupakan skala kecil dengan jumlah tenaga kerja berkisar 7-10 orang yang
mengolah singkong menjadi keripik singkong dengan tujuan untuk meningkatkan
nilai tambah singkong. Desa Blumbungan merupakan sentra produksi keripik
singkong yang juga merupakan produk unggulan dari Kota Pamekasan sebagai
oleh-oleh khas dari kota ini.
Desa Blumbungan juga telah mempunyai sarana transportasi yang memadai,
yaitu jalan aspal yang menghubungkan Desa Blumbungan dengan desa lain dan
dengan mudah dilewati oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Sarana
transportasi yang memadai merupakan pendukung dalam kelancaran penyediaan
bahan baku produksi dan pemasaran hasil.
Karakteristik agroindustri keripik singkong diperlukan untuk mengetahui
hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan dalam menyelanggarakan produksi
keripik singkong. Karakteristik agroindustri keripik singkong adalah sebagai
berikut :
5.2.5.1 Penyediaan Input Produksi Keripik Singkong
Input produksi atau sering disebut faktor produksi merupakan korbanan
yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk, baik berupa bahan atau alat-
alat yang menunjang proses produksi. Dalam menjalankan usaha agroindustri
keripik singkong dibutuhkan faktor produksi untuk memperlancar kegiatan
produksi dan mendorong pengembangan usaha serta meningkatkan keuntungan
bagi pengusaha keripik singkong. Kegiatan penyediaan input produksi meliputi :
1) Modal Yang Digunakan Dalam Agroindustri Keripik Singkong
Modal merupakan kekayaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha untuk
melakukan suatu kegiatan usaha dengan mengeluarkan sejumlah biaya untuk
menjalankan proses produksi. Modal sangat diperlukan dalam pengembangan
usaha, karena semakin besar modal yang dimiliki maka akan dapat meningkatkan
jumlah produksi yang dihasilkan sehingga tingkat keuntungan yang diperoleh juga
akan semakin besar begitupun sebaliknya.
Modal yang digunakan oleh pengusaha keripik singkong di Desa
Blumbungan sebagian besar berasal dari modal pribadi, alasan dari pengusaha
tidak melakukan pengajuan pinjaman pada Bank dikarenakan rumitnya birokrasi
dan persyaratan yang diajukan oleh pihak Bank serta adanya tingkat suku bunga
yang tinggi sehingga membuat para pengusaha keripik singkong lebih memilih
untuk memaksimalkan modal usahanya dari modal pribadi sehingga dirasa lebih
efisien dan efektif dalam menjalankan usahanya.
Besarnya modal yang dimiliki oleh para pengusaha keripik singkong di
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat dari
besarnya total biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi. Besarnya
biaya yang dimiliki oleh para responden dapat dilihat pada tabel 13 berikut :
Tabel 13. Besarnya Biaya Yang Dikeluarkan Dalam Satu Kali Proses Produksi,
Oleh Pengusaha Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan tahun 2013.
Biaya Total (Rp)
Jumlah Pengusaha (Jiwa)
100.000 – 500.000
8
500.000 - 1.000.000
7
1.000.000 – 2.000.000
Total
15
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Persentase (%)
60
40
100
Berdasarkan Tabel 13 dapat diketahui bahwa produsen yang memiliki modal
dengan kisaran modal Rp. 100.000 – Rp. 500.000 sebanyak 8 jiwa atau 60% dan
produsen dengan Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 sebanyak 7 jiwa atau 40%. Dengan
adanya jumlah modal yang rendah maupun tinggi diharapkan keuntungan yang
diperoleh akan lebih besar dari setiap satu rupiah modal yang dikeluarkan.
2) Bahan Yang Digunakan Dalam Agroindustri Keripik Singkong
Bahan yang digunakan dalam agroindustri keripik singkong dibagi menjadi
dua yaitu bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku utama yang digunakan
dalam pembuatan keripik singkong adalah singkong. Bahan baku yang diperoleh
produsen berasal dari petani di daerah sekitar kota Pamekasan. Produsen keripik
singkong biasanya membeli singkong dalam hitungan karung, yang mana setiap
karung berisi ± 5 – 10 kg singkong dengan kisaran harga Rp. 2000 – Rp. 2200 per
kg. Kapasitas penggunaan bahan baku untuk setiap produsen keripik singkong
juga berbeda-beda yaitu berkisar antara 50 – 100 kg dalam satu kali proses
produksi. Kapasitas bahan baku merupakan kemampuan masing-masing produsen
dalam menyediakan bahan baku singkong untuk produksi keripik singkong.
Bahan lain yang digunakan dalam agroindustri keripik singkong adalah
bahan penolong. Bahan penolong yang digunakan terdiri dari garam, air, teri dan
bahan bakar. Para pengusaha keripik singkong tidak pernah mengalami kesulitan
dalam mendapatkan bahan baku maupun bahan penolong, hal ini dikarenakan
lokasi agroindustri berada di Kota Pamekasan yang berpotensi sebagai penghasil
singkong. Selain itu, letak agroindustri keripik singkong yang juga dekat dengan
pasar akan memudahkan pengusaha dalam mendapatkan bahan penolong yang
dibutuhkan. Dari 15 responden keripik singkong hanya 10 diantaranya yang
menggunakan bahan tambahan teri sedangkan untuk 5 responden lain tidak
menggunakan teri. Hal ini dikarenakan agar ada variasi rasa yang berbeda karena
lokasi tempat produksi hyang berdekatan dan merupakan sentra dalam pembuatan
keripik singkong.
Keripik singkong yang dihasilkan biasanya telah dikemas dengan
menggunakan kemasan plastik dengan sablon merk produk. Alasan menggunakan
kemasan plastik karena dirasa awet dan tahan lama daripada menggunakan karton,
selain itu agar menjaga mutu produk sehingga tidak mudah rusak. Pembelian
kemasan dilakukan yaitu dengan membeli langsung kemasan plastik sedangkan
untuk merk produk dengan mendesain serta mencetak sendiri dengan kisaran
harga plastik Rp.20.000 per roll dan kertas untuk desain Rp.100 – Rp.200 per
kemasan. Namun ada salah satu responden yang tidak menggunakan kemasan
plastik namun dijual tanpa kemasan dan dijual seluruhnya dalam bentuk jumlah
kilo keripik. Biasanya para pembeli yang membeli keripik tanpa kemasan ini
adalah penjual yang menggunakan campuran keripik singkong.
Penggunaan bahan baku dan bahan penolong dalam proses produksi keripik
singkong pada setiap agroindustri jumlahnya berbeda. Perbedaan kapasitas
penggunaan bahan tersebut dipengaruhi oleh modal dan jumlah permintaan pasar.
Namun perbedaan kisaran jumlah yang digunakan tidak terlalu jauh, hal ini karena
dalam sentra produksi keripik singkong para pengusaha berada dalam suatu
lingkungan yang berdekatan serta tidak terjadi persaingan yang berarti.
Secara rinci kebutuhan bahan-bahan yang digunakan dalam satu kali proses
produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri
tradisional di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat
dilihat pada Tabel 14 berikut :
Tabel 14. Rata-rata Kebutuhan Bahan Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional
Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun
2013.
No
Kebutuhan Bahan
Bahan Baku
Singkong (kg)
2. Bahan Penolong
Teri (kg)
Garam (kg)
Air (Liter)
Gas (kg)
3. Bahan Pelengkap
Kemasan Plastik (Roll)
Kertas (kg)
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah ( Satuan )
Semi Modern
Tradisional
85,71
50
1
0,42
1,7
2,5
0,25
1
1,5
1.
1,7
0,85
-
Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa rata-rata kebutuhan bahan
baku singkong yang digunakan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri
semi modern sebesar 85,71 kilogram dan pada agroindustri tradisiona sebesar 50
kg, sedangkan untuk bahan penolong disesuaikan dengan modal dan kebutuhan
masing-masing pengusaha. Misalnya penggunaan teri dari ke lima belas produsen
lima diantaranya tidak menggunakan teri. Adanya penambahan bahan yang tidak
sama antara para produsen keripik singkong akan menghasilkan rasa keripik
singkong yang berbeda antara pedagang satu dengan pedagang yang lainnya.
3) Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting dalam
menjalankan suatu usaha. Adanya ketersediaan tenaga kerja yang memadai dan
berpengalaman, akan mendukung kelancaran dalam proses produksi. Tenaga kerja
pada agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan ini jumlahnya berkisar
antara 7 - 10 orang yang sebagian besar dari luar anggota keluarga. Tenaga kerja
yang dipilih mayoritas adalah wanita karena lebih ulet dan teliti dalam kegiatan
proses produksinya. Dalam sistem pengupahan tidak ada perbedaan antara tenaga
kerja yang berasal dari dalam anggota keluarga maupun tenaga kerja dari luar
anggota keluarga. Dalam proses pengolahan keripik singkong terdapat sistem
pembagian tugas tenaga kerja, pembagian tugas tersebut tergantung pada tahapan
proses produksi. Para tenaga kerja umumnya bekerja mulai pukul 08.00 WIB –
13.00 WIB dengan sistem pembayaran upah secara harian yang jumlahnya
berkisar antara Rp. 15.000 – Rp. 20.000 per satu kali proses produksi.
Tahapan kegiatan produksi yang dilakukan oleh tenaga kerja meliputi
pengupasan kulit singkong, pemotongan singkong, pencucian singkong,
pengukusan singkong, pengirisan singkong, penumbukan singkong, penjemuran
keripik singkong dan pengemasan keripik singkong. Penggunaan tenaga kerja dan
pemberian upah dalam agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 15 berikut :
Tabel 15. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja Dan Pemberian Upah Dalam Satu
Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
Jumlah Tenaga Kerja ( Jiwa )
8
Sumber : Data Primer Diola, 2013
Upah Tenaga Kerja (Rp)
18.333
Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa rata-rata tenaga kerja yang
dibutuhkan oleh masing-masing pengusaha dalam agroindustri keripik singkong
adalah sebanyak 134 atau 8 orang dengan upah rata-rata untuk setiap tenaga kerja
pada ke lima belas agroindustri adalah Rp. 18.333 per satu kali proses produksi.
4) Teknologi Peralatan
Jenis teknologi yang digunakan dalam suatu kegiatan produksi akan
berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas produk yang dihasilkan.
Teknologi yang digunakan dalam kegiatan produksi agroindustri keripik singkong
bersifat tradisional yaitu dengan tenaga manusia dan hanya menggunakan mesin
press untuk pengemasan.
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi agroindustri keripik
singkong meliputi alat press, pisau, alat tumbuk, baskom, talenan, kayu,
pengukus, kompor, dan alat penjemur. Dari peralatan tersebut yang termasuk
peralatan dengan teknologi modern hanya mesin press. Penggunaan alat-alat
tradisional ini umum digunakan karena lebih tertata dan terukur baik tingkat rasa,
ukutan atau ketebalannya. Penggunaan mesin dalam proses produksi keripik
singkong belum ada yang menerapakan hal ini karena kendala modal ataupun
tidak adanya informasi dalam pengaplikasian alat-alat pendukung proses produksi
keripik singkong.
5.2.6 Proses Produksi Keripik Singkong
A. Bahan-bahan
Keripik singkong merupakan salah satu produk olahan dari singkong.
Singkong yang digunakan sebagai bahan baku merupakan singkong pilihan yaitu
singkong kuning dan empuk saat diolah.untuk mendapatkan produk olahan yang
mempunyai kualitas baik diperlukan singkong dengan tingkat kemasakan
singkong yang tepat, yaitu tidak terlalu tua ataupun tidak terlalu muda. Sedangkan
untuk bahan penolong yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik singkong
meliputi teri, garam, air dan bahan bakar.
B. Alat-alat
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong sebagian
besar merupakan peralatan sederhana dan hanya satu teknologi modern yang
digunakan dalam kegiatan pengemasan keripik singkong. Peralatan sederhana
yang digunakan dalam kegiatan produksi keripik singkong meliputi pisau, alat
tumbuk, baskom, talenan, kayu, dan pengukus. Dari semua peralatan tersebut,
tidak semua pengusaha memiliki jumlah peralatan yang sama, hal ini dikarenakan
adanya perbedaan jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing pengusaha
serta adanya perbedaan kapasitas bahan baku yang digunakan.
Penggunaan jumlah dan jenis peralatan yang tidak sama diantara setiap
pengusaha keripik singkong akan menyebabkan output yang dihasilkan berbeda
antara pengusaha yang satu dengan pengusaha yang lainnya. Secara rinci alat-alat
yang digunakan dalam proses produksi keripik singkong di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 16 berikut :
Tabel 16. Alat-alat Yang Digunakan Dalam Proses Produksi Pada Agroindustri
Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan Tahun 2013.
No
1
Nama Alat
Alat Press
Fungsi
Untuk pengemasan poduk dengan
kemasan plastik.
2 Pisau
Untuk mengupas dan memotong
bahan-bahan pembuat keripik
singkong.
3 Alat Tumbuk
Untuk menumbuk singkong yang
telah matang.
4 Baskom
Usebagai wadah untuk
menampung bahan-bahan
pembuatan keripik singkong.
5 Talenan
Untuk tempat memotong singkong
6 Kayu
Untuk alas dalam pembuata keripik
singkong.
7 Pengukus
Untuk tempat mengukus singkong.
8 Kompor
Alat pemanas saat mengukus
singkong.
9 Alat Pejemuran
Untuk wadah dalam proses
penjemuran keripik
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Jumlah Ratarata ( Buah )
1
4
4
8
4
4
3
2
8
C. Proses Pembuatan Keripik Singkong
Dalam proses pengolahan singkong menjadi keripik singkong yang harus
diperhatikan adalah proses penumbukan singkong, karena pada tahap ini
dibutuhkan ketelitian untuk menentukan ukuran dan ketebalan keripik yang
diinginkan. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan dalam pembuatan keripik
singkong yang terdiri dari delapan tahapan meliputi pengupasan, pemotongan,
pencucian, pengukusan, pengirisan, penumbukan, penjemuran dan pengemasan..
Secara rinci tahapan pembuatan keripik singkong dijelaskan sebagai berikut :
1) Pengupasan
Pengupasan singkong merupakan kegiatan untuk menghilangkan kulit
singkong. Hal ini karena dalam proses pembuatannya, daging umbi yang
dibutuhkan untuk pembuatan keripik singkong.
2) Pemotongan
Pemotongan singkong dilakukan untuk memperkecil ukuran umbi sehingga
mempermudah proses pengukusan dan pengirisan singkong. Adanya tahapan
pemotongan juga mempercepat proses kematangan singkong sehingga kegiatan
produksi bisa lebih efisien
3) Pencucian
Pencucian dilakukan setelah sigkong dipotong-potong, hal ini bertujuan
untuk menghilangkan kotoran dan sisa kulit buah yang masih menempel pada
daging umbinya. Tahapan pencucian dilakukan secara manual dengan
menggunakan bantuan air.
4) Pengukusan
Tahapan pengukusan diakukan dengan tujuan agar daging umbi menjadi
lebih lunak. Adanya tahapan pengukusan akan membuat hasil keripik akan
lebih renyah.
5) Pengirisan
Pengirisan singkong dilakukan untuk memperkecil ukuran umbi setelah
proses pengukusan singkong. Adanya tahapan ini merupakan penetapan ukuran
yang tepat sebelum ditumbuk menjadi keripik.
6) Penumbukan
Penumbukan singkong dilakukan untuk melunakkan singkong yang telah
dikukus dan diiris sehingga diperoleh keripik yang renyah.
7) Penjemuran
Proses penjemuran dilakukan untuk mengurangai kadar air pada keripik
sehingga keripik akan lebih tahan lama. Proses penjemuran dilakukan di bawah
sinar matahari langsung selama 2 jam.
8) Pengemasan
Setelah keripik kering, maka keripik telah siap dikemas dengan
menggunakan plastik dan mesin press.
Singkong
Pengupasan kulit umbi
Pemotongan daging
umbi
Pencucian daging umbi
Pengukusan daging umbi
Agar daging umbi lebih
lunak
Pengirisan daging umbi
yang telah lunak
Penumbukan
Tambahkan air garam dan teri
penjemuran
dikemas
Skema 2. Proses Pembuatan Keripik Singkong Pada Agroindustri Keripik
Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan.
5.2.8 Kapasitas Produksi
Kemampuan produksi yang dilakukan oleh masing-masing pengusaha
keripik singkong berbeda. Hal ini dikarenakan jumlah modal yang dimiliki oleh
setiap pengusaha tidak sama sehingga mempengaruhi kemampuan untuk membeli
bahan baku dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik
singkong. Jumlah produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap pengusaha keripik
singkong dapat dilihat secara rinci pada Tabel 17 berikut :
Tabel 17. Jumlah Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada agroindustri
keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional Di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
Jumlah
Jumlah Produksi ( kg )
Total
Rata-rata
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Semi modern
Tradisional
720
51,4
30
30
Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa jumlah produksi keripik singkong
dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern
yaitu 51,4 kg sedangkan pada agroindustri keripik singkong tradisional yaitu 30
kg. Adanya jumlah produksi yang berbeda disebabkan oleh perbedaan kapasitas
bahan baku dan bahan-bahan lainnya yang digunakan dalam pembuatan keripik
singkong.
5.2.9. Pemasaran
Kegiatan pemasaran merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan
oleh setiap pengusaha, termasuk juga pengusaha keripik singkong. Keripik
singkong merupakan produk khas Pamekasan namun dibutuhkan perluasan
pemasaran sehingga lebih meningkatkan keuntungan dan lebih dikenal oleh kotakota lain.
Pemasaran keripik singkong yang dihasilkan oleh agroindustri keripik
singkong Di Desa Blumbungan sebagian besar hanya berkisar di wilayah madura,
akan tetapi terdapat juga di wilayah Surabaya. Dalam pemasaran produknya,
agroindustri keripik singkong menggunakan jasa lembaga pemasaran yang
meliputi agen, grosir dan pengecer atau retailer, namun terdapat juga pengusaha
keripik singkong yang langsung menjual produknya kepada konsumen akhir.
Dalam kegiatan distribusi produk, pengusaha keripik singkong biasanya
mengirimkan langsung produknya kepada agen, grosir, pengecer, namun terdapat
juga beberapa pengusaha keripik singkong yang produknya diambil langsung oleh
agen dan grosir ataupun penjual makanan yang menggunakan tambahan keripik
singkong. Penjualan produk menggunakan bantuan lembaga pemasaran dirasa
lebih efektif dalam menunjang kegiatan pemasaran produk, hal ini dikarenakan
keuntungan yang bisa diperoleh oleh pengusaha lebih besar dibandingkan jika
menjualnya langsung kepada konsumen akhir. Apabila dilihat dalam segi harga,
produk keripik singkong dijual seharga Rp. 8.800/pc atau Rp.32.000/ kg untuk
konsumen akhir, sedangkan untuk lembaga pemasaran dijual seharga Rp.7.700/pc
atau Rp. 30.893/kg, sedangkan pada agroindustri keripik singkong tradisional
menjual produknya langsung pada konsumen akhir dengan harga Rp.26.600.
Perbedaan harga tersebut jika dilihat bahwa pengusaha yang menjual produknya
pada konsumen akhir akan lebih untuk dibandingkan dengan menjualnya pada
lembaga pemasaran, akan tetapi pada kenyataannya pengusaha akan menerima
keuntungan yang lebih besar pada saat menjual produknya pada lembaga
pemasaran, hal ini dikarenakan meski harga produk yang diberlakukan lebih
murah dibandingkan pada konsumen akhir, namun kuantitas pembelian yang
dilakukan oleh pihak lembaga pemasaran jauh lebih besar, sehingga penerimaan
konsumen juga akan meningkat. Pola pemasaran produk keripik pada agroindustri
keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
dapat dilihat pada Gambar 3 berikut :
Agen
Pengecer/
Retailer
Konsumen
Akhir
Produsen Keripik
Singkong
Konsumen Akhir
Gambar 3. Pola Pemasaran Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
Sistem pembayaran dalam penjualan keripik singkong yang menggunakan
tenaga konvensional ini pada umumnya bersifat sistem pembayaran langsung,
yaitu peran pembeli yang meliputi agen, grosir dan pengecer/retailer langsung
membayar secara tunai terhadap produk keripik singkong yang telah dibeli,
sedangkan pada agroindustri yang menggunakan alat tradisional memasarkan
produknya langsung pada konsumen akhir dalam jumlah kilogram sesuai
permintaan konsumen.
5.3 Analisis Nilai Tambah Agroindustri Keripik Singkong
Analisis nilai tambah digunakan untuk mengetahui adanya nilai tambah
yang terdapat pada satu kilogram singkong yang diolah menjadi keripik singkong.
Besarnya nilai tambah diperoleh dari hasil pengurangan nilai produksi yang
dihasilkan terhadap biaya bahan baku ditambah input lainnya, tidak termasuk
tenaga kerja. Dengan mengetahui perkiraan dari nilai tambah pada agroindustri
keripik singkong, diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai rasio nilai
tambah terhadap produk keripik singkong yang dihasilkan, imbalan tenaga kerja,
dan keuntungan bagi pengusaha agroindustri keripik singkong, selain itu
diharapkan pada para petani singkong agar menyadari bahwa singkong jika diolah
menjadi produk olahan hasil panen mampu memberikan nilai tambah dan
memberikan keuntungan yang lebih besar daripada dijual dalam bentuk segar
tanpa pengolahan lebih lanjut. Dalam analisis nilai tambah ini akan dibandingkan
berapa besar nilai tambah pada agroindustri semi modern dengan agroindustri
tradisional jika menggunakan jumlah bahan baku dan tenaga kerja yang sama.
Analisis nilai tambah pada agroindustri keripik singkong semi modern di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 18
berikut :
Tabel 18. Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong semi modern Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2013.
Output, Input, Harga
Nilai
1. Hasil Produksi (kg/Proses produksi)
29,9
2. Bahan Baku (kg/Proses Produksi)
50
3. Tenaga Kerja (Jam)
5
4. Faktor Konversi (1/2)
0,59
5. Koefisien Tenaga Kerja (3/2)
0,1
6. Harga Produk (Rp/kg)
31.200
7. Upah Rata-rata (Rp/Jam)
3.000
Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong)
8. Harga Bahan Baku (Rp/kg)
2.028,6
9. Input Lain (Rp/kg)
1.786,7
10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg)
18.408
11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg)
14.592,7
b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%)
79,27
12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg)
300
b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%)
2,1
13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp)
14.292,7
b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%)
97,9
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan Tabel 18 dapat diketahui bahwa usaha agroindustri keripik
singkong jika menggunakan bahan baku singkong yang sama dengan agroindustri
tradisional yaitu sebanyak 50 kg/proses produksi dapat menghasilkan produk
keripik singkong sebanyak 29,9 kg/per proses produksi. Dari data diatas
menunjukkan bahwa besarnya nilai tambah rata-rata pada agroindustri keripik
singkong adalah Rp. 14.592,7/kg bahan baku singkong. Besarnya nilai tambah
pada suatu produk dipengaruhi oleh besarnya nilai produksi karena nilai tambah
dihasilkan dari pengurangan nilai produksi terhadap bahan baku (Rp/kg) ditambah
input lainnya (Rp/kg). Input lainnya meliputi nilai penjumlahan biaya bahan
penolong, biaya pelengkap dan biaya lain-lain. Pada agroindustri semi modern
menggunakan bahan tambahan teri sedangkan pada agroindustri tradisional tidak
menggunakan teri.
Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik singkong adalah sebesar
79,27%, hal ini berarti bahwa 79,27% nilai produksi keripik singkong merupakan
penambahan nilai yang dihasilkan dari perlakuan yang dilakukan terhadap bahan
baku keripik singkong yaitu singkong.
Pendapatan atau imbalan tenaga kerja dari setiap kilogram bahan baku
singkong yang diolah menjadi keripik singkong adalah sebesar 520 dan bagian
tenaga kerja sebesar 1,04 %. Imbalan tenaga kerja dipengaruhi oleh besarnya
koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja per jam. Koefisien tenaga kerja
menunjukkan besarnya curahan tenaga kerja per jam yang dibutuhkan untuk
mengolah satu kilogram singkong menjadi keripik singkong sebanyak 0,14 jam.
Keuntungan yang diperoleh dari agroindustri keripik singkong adalah
sebesar Rp. 14.292,7/kg bahan baku, sedangkan tingkat keuntungan yang
diperoleh adalah sebesar 97,9% dari nilai tambah, artinya setiap satu kilogram
bahan baku dengan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan yang dilakukan
akan memberikan keuntungan sebesar 14.292,7.
Tabel 19. Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong tradisional Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangann, Kota Pamekasan tahun 2013.
Output, Input, Harga
Nilai
1. Hasil Produksi (kg/Proses produksi)
30
2. Bahan Baku (kg/Proses Produksi)
50
3. Tenaga Kerja (Jam)
5
4. Faktor Konversi (1/2)
0,6
5. Koefisien Tenaga Kerja (3/2)
0,1
6. Harga Produk (Rp/kg)
26.600
7. Upah Rata-rata (Rp/Jam)
3.000
Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong)
8. Harga Bahan Baku (Rp/kg)
2.000
9. Input Lain (Rp/kg)
1.229
10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg)
15.960
11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg)
12.731
b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%)
79,08
12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg)
300
b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%)
2,35
13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp)
12.431
b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%)
97,6
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa usaha agroindustri keripik
singkong dengan menggunakan bahan baku singkong sebanyak 50 kg/proses
produksi dapat menghasilkan produk keripik singkong sebanyak 30 kg/per proses
produksi. Dari data diatas menunjukkan bahwa besarnya nilai tambah rata-rata
pada agroindustri keripik singkong adalah Rp. 12.731/kg bahan baku singkong.
Besarnya nilai tambah pada suatu produk dipengaruhi oleh besarnya nilai
produksi karena nilai tambah dihasilkan dari pengurangan nilai produksi terhadap
bahan baku (Rp/kg) ditambah input lainnya (Rp/kg). Input lainnya meliputi nilai
penjumlahan biaya bahan penolong, biaya pelengkap dan biaya lain-lain.
Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik singkong adalah sebesar
79,08%, hal ini berarti bahwa 79,08% nilai produksi keripik singkong merupakan
penambahan nilai yang dihasilkan dari perlakuan yang dilakukan terhadap bahan
baku keripik singkong yaitu singkong.
Pendapatan atau imbalan tenaga kerja dari setiap kilogram bahan baku
singkong yang diolah menjadi keripik singkong adalah sebesar 300 dan bagian
tenaga kerja sebesar 2,35 %. Imbalan tenaga kerja dipengaruhi oleh besarnya
koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja per jam. Koefisien tenaga kerja
menunjukkan besarnya curahan tenaga kerja per jam yang dibutuhkan untuk
mengolah satu kilogram singkong menjadi keripik singkong sebanyak 0,01 jam.
Keuntungan yang diperoleh dari agroindustri keripik singkong adalah
sebesar Rp. 12.431/kg bahan baku, sedangkan tingkat keuntungan yang diperoleh
adalah sebesar 97,6% dari nilai tambah, artinya setiap satu kilogram bahan baku
dengan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan yang dilakukan akan
memberikan keuntungan sebesar 12.431.
Berdasarkan data dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong semi
modern di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
memberikan nilai tambah sebesar 79,33% atau tinggi dan agroindustri keripik
singkong tradisional 79,08% termasuk golongan nilai tambah tinggi . Hal ini
dapat diartikan bahwa usaha agroindustri keripik singkong telah mampu
memberikan keuntungan pada pengusaha keripik singkong. Perhitungan nilai
tambah pada agroindustri keripik singkong bertujuan untuk mengetahui besarnya
nilai tambah dalam satu kilogram singkong setelah diolah menjadi keripik
singkong, hal ini berguna sebagai bahan informasi bagi produsen keripik singkong
dalam usaha mengembangkan produksinya. Selain itu dengan diketahui besarnya
nilai tambah terhadap pengolahan keripik singkong diharapkan usaha ini akan
mendapat perhatian lebih lanjut dari pemerintah daerah setempat baik pemenuhan
bahan baku, modal dan kegiatan pemasarannya sehingga akan menarik minat
investor untuk bekerja sama dalam melakukan pengembangan agroindustri keripik
singkong. Produk yang memiliki nilai tambah sudah pasti produk tersebut
memberikan keuntungan bagi pengusahanya, akan tetapi untuk mengetahui lebih
lanjut mengenai penerimaan dan keuntungan yang dihasilkan oleh agroindustri
keripik singkong maka dibahas lebih lanjut dalam bahasan mengenai penerimaan
dan keuntungan.
1.4 Analisis Kelayakan Usaha
5.4.1 Analisis Penerimaan
Analisis penerimaan dan keuntungan digunakan sebagai alat ukur untuk
mengetahui berapa besarnya keuntungan yang diperoleh oleh agroindustri keripik
singkong baik yang menggunakan mesin press ataupun agroindustri yang tidak
mengunakan mesin. Untuk mengetahui berapa besarnya tingkat penerimaan dan
keuntungan dari agroindustri keripik singkong, maka sebelumnya harus dilakukan
perhitungan terhadap semua biaya produksi. Biaya produksi terdiri dari biaya
tetap dan biaya variabel. Perhitungan terhadap biaya produksi yang digunakan
dalam proses produksi keripik singkong adalah sebagai berikut :
5.4.1.1 Biaya Produksi
1) Biaya Tetap
Biaya tetap (fixed cost) merupakan biaya yang jumlahnya tidak
dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi. Biaya yang termasuk kategori biaya
tetap dalam agroindustri keripik singkong adalah biaya penyusutan semua
peralatan produksi. Peralatan tersebut meliputi pisau, alat tumbuk, baskom,
talenan, kayu, dan pengukus. Dari semua peralatan tersebut, tidak semua
pengusaha memiliki jumlah peralatan yang sama, hal ini dikarenakan adanya
perbedaan jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing pengusaha serta
adanya perbedaan kapasitas bahan baku yang digunakan.
Dalam perhitungan biaya penyusutan dalam satu kali proses produksi harus
diketahui banyaknya proses produksi yang dilakukan dalam satu tahun. Pada
setiap agroindustri keripik singkong, banyaknya kegiatan produksi yang dilakukan
dalam satu tahun memiliki jumlah yang sama namun berbeda hari. Untuk semua
agroindustri dalam satu tahun melakukan kegiatan produksi sebanyak 192 hari.
Banyaknya kegiatan produksi dalam satu tahun tersebut diperoleh dengan
menghitung hari kerja normal dikurangi hari libur dimana satu kali proses
produksi membutuhkan waktu satu hari. Besarnya biaya penyusutan peralatan
produksi agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 20 berikut :
Tabel 20. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Produksi Dalam Proses Produksi
Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
No
Jenis Alat
Semi modern
Rata-rata
(Rp)
1
2
3
Persentase
(%)
Alat Press
4.240
40,11
Pisau
169,5
1,6
Alat
169,5
1,6
Tumbuk
4 Baskom
322,84
3,1
5 Talenan
276,78
2,5
6 Kayu
346,65
3,3
7 Pengukus
2678,7
25,3
8 Kompor
1250
11,8
9 Alat
1116
10,5
Pejemuran
Total Biaya
10.570
100
Tetap
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Tradisional
Rata-rata
Persentase
(Rp)
(%)
72
1,7
72
1,7
218,7
187,5
234,4
1562,6
1250
651
5,1
4,4
5,5
36,8
29,4
15,3
4248
100
Berdasarkan Tabel 20 dapat diketahui bahwa besarnya rata-rata biaya tetap
per satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang
menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 10.5.70. Alokasi biaya penyusutan
terbesar adalah pada alat press yaitu sebesar Rp. 4.240 atau 40,11% dari total
biaya penyusutan satu kali proses produksi. Alat press memiliki biaya penyusutan
yang paling besar karena harga pembelian sebesar Rp. 750.000 dengan umur
ekonomis 5 tahun. Bahan dari alat press ini yaitu dari mesin yang bertahan lama.
Sedangkan biaya penyusutan terkecil adalah pisau dan alat tumbuh sebesar Rp.
169,5 atau 1,6% per satu kali proses produksi. Sedangkan pada agroindustri yang
tidak menggunakan mesin adalah sebesar Rp.4248. alokasi biaya penyusutan
terbesar adalah pada alat pengukus yaitu sebesar Rp. 1562,6 atau sebesar 36,8%
dari total biaya penyusutan satu kali proses produksi alat pengukus memiliki biaya
penyusutan terbesar karena harga pembelian sebesar Rp.200.000 dengan umur
ekonomis selama 2 tahun. Sedangkan biaya penyusutan terkecil adalah pisau dan
alat tumbuh sebesar Rp. 72 atau 1,7% per satu kali proses produksi Besarnya
biaya penyusutan masing-masing peralatan tergantung pada jumlah peralatan yang
dimiliki, umur ekonomis, harga beli awal dan harga sisa. Perincian biaya tetap
untuk masing-masing responden dapat dilihat pada Lampiran 1.
2) Biaya Variabel
Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi
oleh jumlah produksi. Besarnya perubahan biaya variabel dipengaruhi oleh
volume produksi yang dihasilkan, perubahan bahan baku dan biaya lainnya yang
digunakan. Biaya variabel yang digunakan dalam proses produksi agroindustri
keripik singkong meliputi biaya bahan baku, bahan penolong, biaya pelengkap,
biaya lain-lain dan upah tenaga kerja. Besarnya biaya variabel dalam agroindustri
keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 21 berikut :
Tabel 21. Rata-Rata Variable Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri
Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota
Pamekasan Tahun 2013.
Jenis Biaya
Variabel
1
2
Semi modern
Rata-rata
Persentas
(Rp)
e (%)
174.285,71
52,4
35.557,14
10,7
Bahan Baku
Bahan
Penolong
3
Bahan
43.714,00
Pelengkap
4
Biaya
Lain61.785,71
lain
5
Upah Tenaga
18.571,43
Kerja
Total Biaya
332.628,57
Variabel
Sumber : Data Primer diolah, 2013
Tradisional
Rata-rata
Persentase
(Rp)
(%)
100.000,00
60,8
9.450,00
5,7
13,1
-
-
18,6
40.000,00
24,3
5,6
15.000,00
9,1
100
164.450,00
100
Berdasarkan Tabel 21 dapat diketahui bahwa besarnya total biaya variabel
dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong dengan
menggunakan mesin adalah Rp. 332.628,57 Biaya variabel yang memiliki nilai
terbesar digunakan untuk pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp. 174.285,71atau
52,4%. Sedangkan besarnya total biaya variabel dalam satu kali proses produksi
pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin adalah Rp.
164.450,00. Biaya variabel yang memiliki nilai terbesar digunakan untuk
pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp. 100.000 atau 60,8% Rata-rata dalam satu
kali proses produksi agroindustri keripik singkong menggunakan bahan baku
singkong sebanyak 83,33 kg dengan harga Rp.2.026,66/kg. Besarnya biaya bahan
baku pada setiap agroindustri keripik singkong berbeda tergantung banyaknya
jumlah bahan baku singkong yang akan diolah.
Penggunaan biaya lain-lain menempati tingkatan terbesar kedua setelah
biaya bahan baku yaitu sebesar Rp. 61.785,71 atau 18,6%. Sedangkan untuk
agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 40.000,00 atu
sebesar 24,3%. Biaya lain-lain meliputi biaya transportasi untuk pengiriman
produk pesanan keripik singkong dari luar madura.
Penggunaan biaya bahan pelengkap pada agroindustri keripik singkong
yang menggunakan mesin berada pada urutan ketiga yaitu Rp. 43.714,00 atau
13,1%. Bahan pelengkap ini meliputi plastik dan kertas. Rata-rata biaya satu
kemasan plastik yaitu Rp. 120,48, sedangkan rata-rata biaya satu kertas sebagai
merk produk seharga Rp.15. besarnya biaya bahan pelengkap pada setiap
agroindustri tidak sama tergantung pada besarnya volume produksi yang akan
dihasilkan.
Biaya bahan penolong pada agroindustri yang menggunakan mesin yaitu
sebesar Rp. 35.557,14 atau 10,7%. Sedangkan pada agroindustri yang tidak
menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 9.450,00 atau sebesar 5,7%. Bahan
penolong ini meliputi garam,air, teri dan bahan bakar. Besarnya biaya bahan
penolong setiap agroindustri keripik singkong berbeda tergantung besarnya
volume produksi yang akan dihasilkan, sedangkan untuk rata-rata besarnya upah
tenaga kerja yang harus dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong dalam satu
kali proses produksi yaitu sebesar Rp. 18.571,43 atau sebesar 5,6% dari total
biaya variabel. Sedangkan pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu
sebesar Rp. 15.000,00 atau sebesar 9,1%.
3) Biaya Total
Biaya total merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan selama proses
produksi guna menghasilkan suatu produk yang memiliki nilai lebih tinggi dari
bentuk sebelumnya. Biaya total dalam agroindustri keripik singkong diperoleh
dari penjumlahan total biaya tetap dan total biaya variabel. Total biaya tetap
diperoleh dari total perhitungan biaya penyusutan peralatan, sedangkan biaya
variabel dipengaruhi dari total perhitungan seluruh biaya yang sifatnya
dipengaruhi oleh besar kecilnya volume produksi. Biaya total agroindustri keripik
singkong di Desa Blumbungnan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dalam
satu kali proses produksi dapat dilihat pada Tabel 22 berikut :
Tabel 22. Rata-Rata Total Biaya Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013
No
Uraian
1
Semi modern
Rata-rata Persentase
(Rp)
(%)
10.570,28
3,1
Biaya
Tetap
2 Biaya
333.807,14
Variabel
Total
344.377,43
Biaya
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Tradisional
RataPeresentase(%)
rata(Rp)
4228,00
2,5
96,93
164.450,00
97,5
100
168.678,00
100
Berdasarkan Tabel 22 dapat diketahui bahwa besarnya biaya total yang
dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dalam
satu kali proses produksi adalah sebesar Rp. 344.377,43. Sedangkan besarnya
biaya total yang dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong yang tidak
menggunakan mesin
dalam satu kali proses produksi adalah sebesar
Rp168.678,00. Dengan mengetahui besarnya biaya total produksi dalam
agroindustri keripik singkong, maka akan dapat diketahui besarnya harga pokok
yang harus ditawarkan oleh produsen untuk satu kilogram singkong. Besarnya
harga pokok untuk satu kilogram keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 23
berikut :
Tabel 23. Rata-Rata Total Harga Pokok Satu Kilogram Kerpik Singkong Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013.
No.
1
Uraian
Total Produksi (kg/proses
produksi)
2
Biaya Produksi (Rp/kg)
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Semi modern
Rata-rata
50
Tradisional
Rata-rata
50
6.687,55
3.373,56
Dari Tabel 23 dapat diketahui bahwa total biaya produksi untuk satu
kilogram keripik singkong yang menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 6.687,55.
Sedangkan total biaya produksi untuk satu kilogram keripik singkong yang tidak
menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 3.373,56. Total biaya produksi satu
kilogram keripik singkong merupakan hasil pembagian antara total biaya
(Rp/proses produksi) dengan total produksi keripik singkong (kg/proses
produksi). Dengan mengetahui besarnya biaya produksi satu kilogram keripik
singkong, maka produsen dapat mengetahui berapa harga minimum yang harus
ditawarkan untuk satu kilogram keripik singkong. Harga yang harus ditawarkan
harus lebih tinggi dari harga pokok produksi sebesar Rp. 6.685,75 jika produsen
keripik singkong ingin mendapat keuntungan. Penerimaan merupakan hasil
perkalian antara harga jual produk dan jumlah produksi. Besarnya penerimaan
pengusaha keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 24 berikut :
Tabel 24. Rata-Rata Penerimaan Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013
Penerimaan
Semi Modern
Harga Jual Jumlah
(Rp)
Produk
si (kg)
720
Total
436.800
51,4
Rata
31.200
Tradisional
Nilai (Rp)
14.184.000
1.013.142,86
Harga
Jual
(Rp)
26.600
26.600
Jumlah
Produks
i (kg)
30
30
Nilai (Rp)
798.000,
798.000
-rata
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa rata-rata total penerimaan
untuk satu kali proses produksi adalah pada agroindustri semi modern yaitu
sebesar Rp 1.013.142,86 dengan harga jual Rp.31.200,00 dan jumlah produksi
51,4 kg, sedangkan pada agroindustri tradisional yaitu sebesar Rp. 798.000,00
dengan harga jual Rp 26.600,00 dan jumlah produksi 30 kg/. Dengan adanya
perhitungan terhadap penerimaan yang diperoleh agroindustri keripik singkong,
maka akan dapat memberikan informasi pada pengusaha keripik singkong
mengenai rincian biaya dan penerimaan yang dihasilkan, hal ini akan
memudahkan pengusaha keripik singkong untuk melihat kinerja dari usahanya
serta dapat membandingkan antara penerimaan yang ingin di capai dengan
penerimaan yang telah diterima, sehingga pengusaha keripik singkong dapat
membuat perencanaan yang lebih lanjut dalam pengembangan usahanya guna
meningkatkan penerimaan. Penerimaan yang didapat oleh agroindustri keripik
singkong akan berpengaruh terhadap besarnya keuntungan yang dapat diterima,
perhitungan mengenai keuntungan pada agroindustri keripik singkong akan
dibahas pada poin selanjutnya.
5.4.2 Analisis B/C Rasio
Kelayakan usaha agroindustri keripik singkong dapat diketahui dengan
menghitung benefit per cost ratio (B/C rasio), yaitu perbandingan nilai dari
manfaat terhadap nilai dari biaya-biaya. Perhitungan B/C rasio dapat diperoleh
dari perbandingan antara hasil penjualan dengan total biaya produksi. Kriteria B/C
rasio dapat digolongkan menjadi 3 yaitu :
1) B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan dan menguntungkan.
2) B/C = 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan tidak
menguntungkan.
3) B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan merugikan.
Rata-rata tingkat kelayakan usaha pada agroindustri keripik singkong di
Desa Blumbungan, Kecamata Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel
25 berikut :
Tabel 25. Rata-Rata Tingkat Kelayakan Usaha Dalam Satu Kali Proses Produksi
Pada Agroindustri Keripik Singkong Di
No
1
2
Uraian
Keuntungan
Total Biaya Produksi
B/C rasio
Sumber : Data Primer Diolah, 2013
Semi modern
Nilai (Rp)
1.293.694,71
334.377,43
3,8
Tradisional
Nilai (Rp)
604.979,00
168.678,00
3,5
Berdasarkan Tabel 25 dapat diketahui bahwa nilai B/C rasio pada
agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah 3,8 dan pada
agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin adalah 3,5 sehingga
masuk dalam kriteria pertama yaitu B/C rasio > 1, yang artinya agroindustri
keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan pada
pengusahanya. Nilai B/C ratio diperoleh dari perbandingan besarnya nilai manfaat
dengan besarnya total biaya produksi yang dikeluarkan sehingga dari perhitungan
tersebut dapat diketahui tingkat kelayakan usaha dari agroindustri keripik
singkong berdasarkan satu kali proses produksi. Hal ini akan menjadi suatu
pertimbangan penting bagi berbagai pihak seperti lembaga keuangan yang akan
meminjamkan uangnya kepada pengusaha keripik singkong maupun pihak
instansi pemerintahan seperti sinas perindustrian dan pariwisata dalam
mendukung dan memfasilitasi pengembangan agroindustri keripik singkong
tersebut. Selain perhitungan menggunakan B/C rasio, kelayakan usaha dapat
diketahui dengan menggunakan analisis BEP (break even point) yang akan
dijelaskan pada point selanjutnya.
5.4.3 Analisis BEP
Analisis titik impas (break even point) disebut juga titik pulang pokok yang
merupakan suatu metode analisis untuk mengetahui keterkaitan antara biaya tetap,
biaya variabel dan tingkat penerimaan pada berbagai output. Tingkat BEP pada
agroindustri keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 26 berikut :
Tabel 26. Analisis Break Even Point Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada
Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013
No
Uraian
1 BEP (Rp)
2 BEP (kg)
Sumber Primer Diolah, 2013
Konvensional
Nilai
15.776
0,43
Tradisional
Nilai
5352
0,20
Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa nilai BEP dalam satu kali
proses produksi dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu 50 kg pada
agroindustri yang menggunakan mesin diperoleh pada volume produksi 0,43
kilogram atau senilai Rp. 15.776,00 dan nilai BEP dalam satu kali proses produksi
pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin diperoleh pada volume
produksi 0,20 kilogram atau senilai Rp. 5352 Artinya, jika pengusaha keripik
singkong telah mencapai angka penjualan tersebut maka dapat diartikan bahwa
pengusaha telah mencapai titik dimana pengusaha tidak mengalami kerugian
maupun keuntungan. Untuk memperoleh keuntungan maka pengusaha herus
memproduksi dan menjual keripik singkong lebih tinggi dari titik impas tersebut.
Dalam perhitungan BEP akan diketahui nilai TR = TC yang dapat
diimplementasikan dalam bentuk kurva sehingga dapat dilihat penerimaan yang
diperoleh agroindustri keripik singkong terhadap jumlah produksi yang
dihasilkan./ analisis ini juga dapat digunakan untuk menetapkan pada tingkat
mana total biaya dan total penerimaan berada dalam keadaan seimbang, dalam
artian dimana pengusaha keripik singkong tidak mengalami kerugian ataupum
keuntungan. Secara rinci kurva BEP pada agroindustri keripik singkong dapat
dilihat pada Gambar 4 berikut :
TR
Cost (Rp)
1.013.142,81
Untung
TC
344.377,43
VC
333.807,14
15.776
BEP
FC
10.570,28
Rugi
0,43
50
Q (kg)
Gambar 7. Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong semi
modern.
Cost (Rp)
TR
798.000
Untung
TC
168.678
VC
164.450
5352
BEP
4228
FC
Rugi
0,20
50
Q (kg)
Gambar 8. Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong
Tradisional
Berdasarkan Gambar 7 dan gambar 8 dapat diketahui bahwa nilai BEP pada
agroindustri yang menggunakan mesin terjadi sebesar Rp.15.776 dengan nilai Q
sebanyak 0,43 kilogram, sedangkan TR yang diperoleh agroindustri keripik
singkong senilai Rp. 1.013.142,86 dengan nilai Q yang sama dengan agroindustri
tradisional yaitu sebanyak 50 kilogram. Sedangkan agroindustri yang tidak
menggunakan mesin terjadi sebesar Rp. 5352 dengan nilai Q sebanyak 50
kilogram, sedangkan TR yang diperoleh sebesar pada saat nilai TR sebesar Rp.
798.000,00. Nilai TR diperoleh dari perkalian antara harga jual produk (P) dengan
jumlah volume produksi (Q). Nilai BEP pada agroindustri keripik singkong telah
melewati titik impas yaitu mampu menghasilkan volume produksi sebesar 85 kg
keripik singkong dan dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan
798.000,00 dengan volume sebesar 50 kg. daerah yang berada di titik impas
adalah daerah yang menguntungkan, dimana penerimaan lebih besar daripada
total biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa
agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan telah memberikan keuntungan
bagi pengusahanya dan layak untuk dikembangkan.
Dalam perhitungan kelayakan usaha pada agroindustri keripik singkong
dengan menggunakan analisis B/C rasio dan analisis BEP (Break Even Point)
dapat diketahui bahwa agroindustri tersebut layak untuk dikembangkan dengan
nilai B/C rasio 3,8 dan nilai BEP sebesar 0,43 kg dengan penerimaan Rp. 15.776
yang mana telah mampu dilewati oleh agroindustri keripik singkong yang
menggunakan mesin dan tidak menggunakan mesindengan nilai B/C rasio sebesar
3,5 dan nilai BEP sebesar 0,20 kg dengan penerimaan Rp. 5352.
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang “Analisis Nilai Tambah Dan Break
Even Point Agroindustri Keripik Singkong” di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Rata-rata nilai tambah dalam satu kali proses produksi pada agroindustri
keripik singkong semi modern sebesar Rp. 14.592,7 per kilogram bahan baku
atau sebesar 79,27 persen dari nilai produksi. Imbalan tenaga kerja yang
diterima sebesar Rp. 520 atau 0,04 persen dari nilai tambah, sedangkan
keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 14.072,7 atau sebesar 97,9 persen dari
nilai tambah. Sedangkan pada agroindustri tradisional sebesar Rp. 12.731 per
kilogram bahan baku atau sebesar 79,08 persen dari nilai produksi. Imbalan
tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 300 atau 2,35 persen dari nilai tambah,
sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 12.431 atau sebesar 97,6
persen dari nilai tambah. Jumlah rata-rata keripik singkong dalam satu kali
proses produksi agroindustri keripik singkong 50-51,4 kilogram. Rata-rata
penerimaan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong
yang menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan pada
agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp.
798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis pertama yang telah
dirumuskan dapat diterima, dengan jumlah bahan baku yang sama agroindustri
keripik singkong semi modern lebih besar perolehan nilai tambah jika
dibandingkan dengan agroindustri tradisional.
2. Nilai B/C rasio agroindustri keripik singkong pada agroindustri keripik
singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar 3,8 sedangkan pada
agroindustri keripik singkong yang menggunakan tenaga tradisional sebesar
3,5, sehingga dapat dinyatakan bahwa agroindustri keripik singkong layak
dikembangkan dan memberikan nilai keuntungan bagi pengusahanya.
Berdasarkan nilai BEP dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong
yang menggunakan mesin berada pada titik impas pada volume produksi 0,43
kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00 sedangkan pada keripik
singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar 0,20 kg dengan penerimaan
64
sebesar Rp. 5.352,00, sehingga dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik
singkong telah melewati titik impas yaitu dengan volume sebesar 51,4
kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan volume sebesar 50
kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut,
maka hipotesis kedua yang telah dirumuskan dapat diterima, karena
agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan
keuntungan bagi pengusahanya yaitu tingkat keuntungan agroindustri semi
modern lebih tinggi daripada agroindustri tradisional.
3. Berdasarkan uraian mengenai hasil perhitungan nilai tambah, penerimaan dan
BEP maka dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong dapat
memberikan nilai tambah pada komoditas singkong, nilai tambah yang
diberikan masuk dalam kriteria tinggi yaitu 79,08 dan 79,33 persen. Suatu
produk yang memberikan nilai tambah pasti akan memberikan keuntungan
bagi pengusahanya dimana besar kecilnya keuntungan yang diterima
dipengaruhi oleh besarnya total penerimaan dan total biaya produksi, total
penerimaan pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin
sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan yang tidak menggunakan mesin sebesar
Rp.798.000,00 . Dengan perhitungan analisis B/C rasio diketahui bahwa
agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan menguntungkan
bagi pengusaha keripik singkong dan perhitungan BEP maka diketahui
produksi minimal yang harus dicapai oleh agroindustri keripik singkong yang
menggunakan mesin dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu sebesar 0,43
kg dengan harga Rp. 15.776 sedangkan pada agroindustri yang masih
menggunakan tenaga tradisional sebesar 0,20 kg dengan harga Rp. 5.352. dari
data tersebut maka dapat diketahui titik impas dimana agroindustri tidak
mengalami kerugian ataupun keuntungan dan data tersebut sesuai dengan
hipotesis kedua yaitu agroindustri semi modern lebih tinggi tingkat
keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada agroindustri yang masih
menggunakan tenaga tradisional.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diberikan beberapa
saran dalam upaya pengembangan agroindustri keripik singkong sebagai berikut :
1. Diperlukan adanya perhatian lebih lanjut dari instansi pemerintah seperti Dinas
Perindustrian Dan Perdagangan serta Dinas pariwisata dalam membantu
mempromosikan serta memasarkan produk keripik singkong sebagai produk
unggulan lokal, sehingga akan mendorong peningkatan produk dari para
pengusaha usaha kecil.
2. Mengajak para petani singkong untuk ikut mengusahakan produk keripik
singkong sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi para petani
singkong.
DAFTAR PUSTAKA
Agrica. 2007. Produksi Singkong Dunia. www.hasil produksi singkongdunia.html. Diakses pada 13 januari 2013
Alwi. 1994. Analisis Break Even point Penebar Swadaya. Jakarta
Anonymous. 2013. Produksi Singkong di Indonesia. www.singkong.net/semuamengenai-singkong.html. Diakses pada 13 Januari 2013.
Arifin. 2005. Tanaman Pangan. www.tanaman pangan.html. Diakses pada 13
Januari 2013
Apriadi.
2003.
Analisis
Nilai
Tambah.
http://apriadi.student.umm.ac.id/files/2010/07. Diakses 13 Januari
2013.
Asregaf. 2001. Teori Pendapatan. UMM Press. Malang.
Austin. 1981. Teknologi Pengolahan Pertanian. www.teknologi.pengolahanpertanian.html. Diakses pada 15 Januari 2013.
BPS. 2012. Data Produksi Singkong Di Indonesia. www.BPS.com. Diakses pada
13 Januari 2013
Produktivitas
Singkong
Indonesia.
http://kotimkab.bps.go.id/
adminfiles/IP_Agustus_2012.pdf. Diakses pada 13 januari 2013.
Eldons . 2000. Teori Akuntansi. PT. Raja Grafindo. Jakarta.
Hanani et.al. 2003. Tentang tanaman singkong. Mandarmaju. Bandung.
Harahap. 2001. Konsep Pendapatan. http://otherpink.wordpress.com/2010/04/11.
Diakses 13 januari 2013.
Hidayat. 2007. Pengembangan pertanian. Kanisius. Yogyakarta.
Hubeis. 1997. Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan
Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Kencana.
Jakarta..
Kotler. 1994. Manajemen Pemasaran. Edisi kesebelas. PT Prenhallindo. Jakarta.
Mulyadi. 1992. Teori Break Even Point. www.BEP.teori.html . Diakses pada 15
januari 2013
Rukaman. 1997. singkong. Kanisius. Yogyakarta.
Shinta, Agustina. 2003. Manajemen Pemasaran. Fakultas Pertanian Universitas
Brawijaya. 2003
Suryana. 2004. Pengembangan Agribisnis Pertanian. BPFE. Yogyakarta
Soekartawi, 2001. Pokok-pokok Pembangunan Agroindustri Pertanian. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
Winda, Aprilia. 2011. Analisis usaha keripik pisang Studi Kasus di Kecamatan
Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Skripsi Strata Satu Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Press) Per Proses Produksi
Biaya Penyusutan
Total Biaya
Umur
Biaya Penyusutan
Jumlah
Harga Beli
Harga Sisa
Per Proses
Penyusutan Per
No.
Ekonomis
Per Tahun
Alat
(Rp)
(Rp)
Produksi
Proses Produksi
(Thn)
(Rp)
(Buah)
(Rp)
(Rp)
1
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
2
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
3
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
4
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
5
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
6
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
7
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
8
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
9
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
10
750.000,00
250.000,00
5,00
500.000,00
2.604,2
2,00
5.208,40
11
500.000,00
150.000,00
5,00
350.000,00
1.823,00
1,00
1.823,00
12
500.000,00
150.000,00
5,00
350.000,00
1.823,00
1,00
1.823,00
13
500.000,00
150.000,00
5,00
350.000,00
1.823,00
1,00
1.823,00
14
500.000,00
150.000,00
5,00
350.000,00
1.823,00
1,00
1.823,00
15
Jumlah
9.500.000,00 3.100.000,00
70,00
6.400.000,00
33.334,00
24,00
59.367,00
Rata-Rata
678.571,43
221.428,57
5,00
457.142,86
2.381
1,7
4.241,14
Catatan : Responden 1-14 merupakan agroindustri keripik singkong semi modern
Responden 15 merupakan agroindustri keripik singkong tradisional
69
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Pisau) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
(Rp)
Harga Sisa
(Rp)
Umur
Ekonomis
(Thn)
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
200.000
13.333,3
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
95.000,00
6.333,3
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
105.000,00
7.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
24
24
24
24
24
537
35,8
Jumlah
Alat
(Buah)
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
3,00
3,00
3,00
3,00
3,00
65,00
4,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
72
72
72
72
72
2.445,00
163
70
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Tumbuk) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
(Rp)
Harga Sisa
(Rp)
Umur
Ekonomis
(Thn)
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
200.000
13.333,3
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
7.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
95.000,00
6.333,3
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
8.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
105.000,00
7.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
41,7
24
24
24
24
24
537
35,8
Jumlah
Alat
(Buah)
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
3,00
3,00
3,00
3,00
3,00
65,00
4,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
72
72
72
72
72
2.445,00
163
71
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Baskom) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
(Rp)
Harga Sisa
(Rp)
Umur
Ekonomis
(Thn)
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
10.000,00
150.000,00
10.000,00`
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
45.000,00
3.000,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,0
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
7000,00
105.000,00
7000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
36,45
546,75
36,45
Jumlah
Alat
(Buah)
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
10,00
6,00
6,00
6,00
6,00
6,00
130
8,66
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
218,7
218,7
218,7
218,7
218,7
4.738,5
315,9
72
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Talenan) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
(Rp)
Harga Sisa
(Rp)
Umur
Ekonomis
(Thn)
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
225.000,00
15.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
3.000,00
45.000,00
3.000,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,0
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
180.000,00
12.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
62.5
937.5
62.5
Jumlah
Alat
(Buah)
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
3,00
3,00
3,00
3,00
3,00
65,00
4,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
187,5
187,5
187,5
187,5
187,5
4.062,5
270,83
73
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan kayu) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
(Rp)
Harga Sisa
(Rp)
Umur
Ekonomis
(Thn)
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
300.000,00
20.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
1,00
15,00
1,0
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
225.000,00
15.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
78,13
1.172
78,13
Jumlah
Alat
(Buah)
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
3,00
3,00
3,00
3,00
3,00
65,00
4,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
234,4
234,4
234,4
234,4
234,4
5.087,5
338,57
74
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Pengukus) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
(Rp)
Harga Sisa
(Rp)
Umur
Ekonomis
(Thn)
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
3.000.000,00
200.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
750.000,00
50.000,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
30,00
2,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
2.250.000,00
150.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
781,3
11.719,5
781,3
Jumlah
Alat
(Buah)
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
4.00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
50,00
3,33
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
3.125,2
1.562,6
1.562,6
1.562,6
1.562,6
1.562,6
39.065
2.604,3
75
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Kompor) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
(Rp)
Harga Sisa
(Rp)
Umur
Ekonomis
(Thn)
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
150.000,00
2.250.000,00
150.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
450.000,00
30.000,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
4,00
60,00
4,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
120.000,00
1.800.000,00
120.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
625,00
9.375,00
625,00
Jumlah
Alat
(Buah)
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
30,00
2,00
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
18.750,00
1.250,00
76
Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
(Lanjutan)
Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Penjemur) Per Proses Produksi
No.
Harga Beli
(Rp)
Harga Sisa
(Rp)
Umur
Ekonomis
(Thn)
Biaya Penyusutan
Per Tahun
(Rp)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-Rata
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
30.000,00
450.000,00
30.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
2,00
30,00
2,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
25.000,00
375.000,00
25.000,00
Biaya Penyusutan
Per Proses
Produksi
(Rp)
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
130,2
1.953
130,2
Jumlah
Alat
(Buah)
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
10.00
5,00
5,00
5,00
5,00
5,00
125
8,3
Total Biaya
Penyusutan Per
Proses Produksi
(Rp)
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
651
651
651
651
651
16.275
1.085
77
Lampiran 2. Total Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Semua Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
TOTAL
15
59367
Ratarata
4240.5
Alat Press
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
5208,4
1823
1823
1823
1823
pisau
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
72
72
72
72
2373
169,5
72
Alat
Tumbuk
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
208,5
72
72
72
72
2373
169,5
72
Baskom
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
364,5
218,7
218,7
218,7
218,7
4519,8
322,84
218,7
Talenan
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
312,5
187,5
187,5
187,5
187,5
3875
276,78
187,5
Kayu
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
390,65
234,4
234,4
234,4
234,4
4853,1
346,65
234,4
Pengukus
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
3125,2
1562,6
1562,6
1562,6
1562,6
37502,4
2678,74
1562,6
Kompor
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
1250
17.500
1250
1250
Alat
penjemur
TOTAL
(TFC)
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
1302
651
651
651
651
15624
1116
651
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
12.370
6.071
6.071
6.071
6.071
147.984
10.570
4248,2
-
78
Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan.
Responden
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Jumlah
Rata-rata
Jumlah (Kg)
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
50,00
50,00
50,00
50,00
50,00
1.250,00
83,33
Bahan baku
Singkong
Harga (Rp/Kg)
2200,00
2200,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
2000,00
30.400,00
2.026,66
Total (Rp)
220.000,00
220.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
2.540.000,00
169.333,33
Jumlah (Kg)
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
10
1
Bahan Penolong
Teri
Harga (Rp/Kg)
27.500,00
27.000,00
25.000,00
27.500,00
28.000,00
28.000,00
27.000,00
27.000,00
27.000,00
27.000,00
271.000,00
27.100,00
Total (Rp)
27.500,00
27.000,00
25.000,00
27.500,00
28.000,00
28.000,00
27.000,00
27.000,00
27.000,00
27.000,00
271.000,00
27.100,00
79
Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan
(Lanjutan)
Responden
1.
2.
3.
4.
5.
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Jumlah
Rata-rata
Bahan Penolong
Jumlah (Kg)
Garam
Harga (Rp/Kg)
Total (Rp)
Jumlah (Liter)
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,5
0,25
0,25
0,25
0,25
0,25
6,25
0,41
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
2800,00
42.000,00
2800,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
1.400,00
700,00
700,00
700,00
700,00
700,00
17.500,00
1.166,66
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
1
25
1,66
Air
Harga (Rp/
Liter )
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
18.750,00
1.250,00
Total (Rp)
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
2.500,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
1.250,00
31.250,00
2.083,00
80
Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan
(Lanjutan)
Responden
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Jumlah
Rata-rata
Bahan Penolong
Gas (Bahan Bakar )
Jumlah (Kg) Harga (Rp/Kg)
Total (Rp)
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1,5
1,5
1,5
1,5
1,5
37,5
2,5
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5.000,00
5000,00
5000,00
5000,00
5000,00
5000,00
75.000,00
5000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
7.500,00
7.500,00
7.500,00
7.500,00
7.500,00
187.500,00
12.500,00
Jumlah (Roll)
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
1
1
1
24
1,7
Biaya Pelengkap
Kemasan Plastik
Harga
Total (Rp)
(Rp/buah)
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
40.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
280.000,00
480.000,00
20.000,00
34.285,71
81
Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan
Larangan, Kota Pamekasan
(Lanjutan)
Responden
Jumlah (Kg)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Jumlah
Rata-rata
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0,5
0,5
0,5
0,5
12
0,85
Biaya Pelengkap
Kertas
Harga (Rp/Kg)
12.000,00
10.000,00
12.000,00
11.000,00
12.000,00
13.000,00
13.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
6.000,00
6.000,00
5.000,00
6.000,00
142.000,00
10.143,00
Total (Rp)
Jumlah (Liter)
12.000,00
10.000,00
12.000,00
11.000,00
12.000,00
13.000,00
13.000,00
12.000,00
12.000,00
12.000,00
3.000,00
3.000,00
2.500,00
3.000,00
130.500,00
9.321,00
15
15
15
15
15
15
15
10
10
10
10
10
10
8
8
181
12,06
Biaya Lain-lain
Biaya Transportasi
Harga (Rp/
Total (Rp)
Liter)
5.000,00
75.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
75.000,00
5.000,00
50.000,00
5.000,00
50.000,00
5.000,00
50.000,00
5.000,00
50.000,00
5.000,00
50.000,00
5.000,00
50.000,00
5.000,00
40.000,00
5.000,00
40.000,00
75.000,00
905.000,00
5.000,00
60.333,33
82
Lampiran 4. Total Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
Responden
Bahan Baku (Rp)
Bahan
Penolong (Rp)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
TVC
Rata-rata
15
TVC
Rata-rata
220.000,00
220.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
200.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
100.000,00
2.440.000,00
174.285,71
100.000,00
100.000,00
100.000,00
46.400,00
45.900,00
43.900,00
46.400,00
46.900,00
46.900,00
45.900,00
45.900,00
45.900,00
45.900,00
9.450,00
9.450,00
9.450,00
9.450,00
497.800,00
35.557,14
9.450,00
9.450,00
9.450,00
Biaya
Perlengkapan
(RP)
52.000,00
50.000,00
52.000,00
51.000,00
52.000,00
53.000,00
53.000,00
52.000,00
52.500,00
52.500,00
23.000,00
23.000,00
23.000,00
23.000,00
612.000,00
43.714,00
-
Biaya Lainlain (Rp)
Upah TK
(Rp)
TOTAL (Rp)
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
75.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
50.000,00
40.000,00
865.000,00
61.785,71
40.000,00
40.000,00
40.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
20.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
15.000,00
260.000,00
18.571,43
15.000,00
15.000,00
15.000,00
413.400,00
410.900,00
390.900,00
392.400,00
393.900,00
394.900,00
393.900,00
367.900,00
367.900,00
367.900,00
197.450,00
197.450,00
196.950,00
187.450,00
4.656.800,00
332.628,57
164.450,00
164.450,00
164.450,00
83
Lampiran 5. Analisis Nilai Tambah Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong semi modern Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
No
Responden
Output,
Input,
Jumlah
Rata-rata
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
60
60
60
60
60
60
60
60
60
60
30
30
30
30
720
51,4
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
50
50
50
50
1200
85,7
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
100
7,1
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
0,6
8,4
0,6
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,05
0,1
0,1
0,1
0,1
1,2
0,08
33.000
33.000
33.000
33.000
33.000
33.000
33.000
33.000
33.000
33.000
26.600
26.600
27000
26.600
436.800
31200
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
4.000
3.000
3.000
3.000
3.000
52.000
3.714,3
Harga
1.
Hasil
Produksi
2.
Bahan Baku
Tenaga
3.
4.
kerja (jam)
Faktor
Konversi
(1/2)
5.
Koefisien
TK (3/2)
6.
Harga
Produk
(Rp/Kg)
7.
Upah Ratarata
(Rp/jam)
84
Pendapatan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong)
8.
Harga Bahan
baku
2.200
2.200
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
2.000
28.400
2.028,6
1.934
1.909
1.909
1.834
1.939
1.939
1.939
1.679
1.679
1.679
1.646
1.646
1.636
1.646
25.014
1.786,7
19.800 19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
19.800
15960
15960
16200
15960
254.880
18.205
(Rp/Kg)
9.
Input Lain
(Rp/Kg)
10
Nilai Produk
(4x6)(Rp/Kg)
Nilai tambah
11a
(10-8-
15.666
15.691
15.891
15.966
15.861
15.861
15.861
16.121
16.121
16.121
12314
12314
12.564
12314
201.466
14.390,4
79,12
79,24
80,25
80,78
80,10
80,10
80,10
81,41
81,41
81,41
77,15
77,15
77,55
77,15
1.110,65
79,33
200
200
200
200
200
200
200
200
200
200
300
300
300
300
3.200
228,57
1,27
1,27
1,25
1,25
1,24
1,24
1,24
1,24
1,24
1,24
2,43
2,43
2,38
2,43
22,15
1,58
15.466
15.491
15.491
15.766
15.661
15.661
15.661
15.921
15.921
15.921
12014
12014
12264
12014
205.266
14.661,8
98,7
98,8
98,7
98,8
98,8
98,8
98,8
98,8
98,8
98,8
97,6
97,6
98,1
97,6
1476,4
105
9)(Rp/Kg)
Rasio nilai
b.
tambah
(11a/10)x
100%
12a
Imbalan TK
(5X7)(Rp/Kg
b.
Bagian TK
(12a/11a)x
100%
Keuntungan
13a
(11a12a)(Rp)
Tingkat
B
keuntungan
(13a/11a)x
100%
85
Lampiran 5. Analisis Nilai Tambah Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong tradisional Di Desa Blumbungan,
Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
(Lanjutan)
Output, Input, Harga
Nilai
Hasil Produksi (kg/Proses produksi)
30
Bahan Baku (kg/Proses Produksi)
50
Tenaga Kerja (Jam)
5
Faktor Konversi (1/2)
0,6
Koefisien Tenaga Kerja (3/2)
0,1
Harga Produk (Rp/kg)
26.600
Upah Rata-rata (Rp/Jam)
3.000
Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong)
8. Harga Bahan Baku (Rp/kg)
2.000
9. Input Lain (Rp/kg)
1.229
10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg)
15.960
11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg)
12.731
b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%)
79,08
12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg)
300
b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%)
2,35
13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp)
12.431
b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%)
97,6
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
86
Lampiran 6. Analisis Penerimaan Dan Keuntungan Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan
Responden
TFC (Rp)
Biaya
TVC (Rp)
TR (Rp/Kg)
Keuntungan
(Rp)
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
33.000,00
26.600,00
26.600,00
27.000,00
26.600,00
436.800,00
31.200,00
26.600,00
26.600,00
Penerimaan
Jumlah
(Kg)
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
60,00
30,00
30,00
30,00
30,00
720,00
51,43
30,00
30,00
TC(Rp)
Harga (Rp)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Total
Rata-rata
15.
Total
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
12.370,00
6.071,00
6.071,00
6.071,00
6.071,00
147.984,00
10.570
4.248,00
4.248,00
413.400,00
410.900,00
390.900,00
392.400,00
393.900,00
394.900,00
393.900,00
367.900,00
367.900,00
367.900,00
197.450,00
197.450,00
196.950,00
187.450,00
4.673.300,00
333.807,14
164.450,00
164.450,00
425.770,00
423.270,00
403.270,00
404.770,00
406.270,00
407.270,00
406.270,00
380.270,00
380.270,00
380.270,00
203.521,00
203.521,00
203.021,00
193.521,00
4.821.284,00
344.377,43
168.678,00
168.678,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
1.980.000,00
798.000,00
798.000,00
810.000,00
798.000,00
14.184.000
1.013.142,86
798.000,00
798.000,00
1.554.230,00
1.556.730,00
1.576.730,00
1.576.230,00
1.589.100,00
1.590.000,00
1.589.100,00
1.559.730,00
1.559.730,00
1.559.730,00
594.479,00
594.479,00
606.979,00
604.479,00
18.111.726,00
1.293.694,71
604.979,00
604.979,00
Rata-rata
4.228,00
164.450,00
168.678,00
26.600,00
30,00
798.000,00
604.979,00
87
Lampiran 7. Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa
Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
1) Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong semi modern (
Responden 1 – Responden 14)
TFC
: Rp. 10.570
TVC
: Rp. 333.807,14
P
: Rp.31.200
Q
: 50 kg
TR
: Rp. 1.013.142,86
Jawab :
1. BEP dalam kg
BEP (kg)
=
𝑇𝐹𝐶
=
=
𝑇𝑉𝐶
𝑃− 𝑄
𝑅𝑝 .10.570
333 .807 ,14
50
31.200−
𝑅𝑝 .10.570
24.523,86
= 0,43 kg
2. BEP dalam rupiah
BEP (rupiah)
=
𝑇𝐹𝐶
𝑇𝑉𝐶
1− 𝑇𝑅
=
𝑅𝑝 .10.570
333 .807 ,14
1−1.013 .142 ,86
=
𝑅𝑝 .10.570
0,67
= Rp. 15.776,00
2) Analisis
Perhitungan
BEP
Pada
Agroindustri
Keripik
Singkong
Tradisional(Responden 15)
TFC
: Rp. 4228
TVC
: Rp. 164.450
P
Q
: Rp. 26.600
: 50 kg
TR
: Rp. 798.000
Jawab :
1. BEP dalam kg
BEP (kg)
=
𝑇𝐹𝐶
=
=
𝑇𝑉𝐶
𝑃− 𝑄
𝑅𝑝 .4228
164 .450
50
26.6𝑜𝑜 −
𝑅𝑝 .4228
23.311
= 0,20 kg
2. BEP dalam rupiah
BEP (rupiah)
=
𝑇𝐹𝐶
𝑇𝑉𝐶
𝑇𝑅
1−
=
𝑅𝑝 .4228
164 .450
1−798 .000
=
𝑅𝑝 .4228
0,79
= Rp. 5.352,00
Dari perhitungan nuilai BEP diatas, dapat disimpulkan bahwa titik balik modal
usaha produksi keripik singkong pada responden 1 hingga responden 14 rata-rata
diperoleh pada volume produksi 0,43 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00.
Sedangkan pada responden 15 yang tidak menggunakan mesin diperoleh pada
volume produksi 0,20 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 5.352,00. Apabila
perusahaan telah mencapai titik balik tersebut maka perusahaan tidak mengalami
kerugian maupun keuntungan.
Lampiran 8. Gambar Proses Pengolahan Pada Agroindustri Keripik Singkong Di
Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan.
1. Agroindustri keripik singkong semi modern
Bahan Baku Singkong
Pengukusan Bahan Baku
Pembuatan Bahan Tambahan
Pengupasan Bahan Baku
Pemotongan dan Pengirisan bahan baku
Penumbukan Bahan Baku
Penjemuran Keripik Singkong
Pengemasan Keripik Singkong
2.Agroindustri keripik singkong tradisional
```
Bahan baku singkong
pengupasan dan pengirisan singkong
Pengukusan singkong
Penumbukan singkong
Penjemuran keripik
keripik tanpa kemasan
Download