1 ANALISIS NILAI TAMBAH DAN BREAK EVEN POINT AGROINDUSTRI KERIPIK SINGKONG (Kasus Pada Agroindustri Keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura) SKRIPSI Oleh: TRIAS WULANDARI 0910440208 MINAT MANAJEMEN DAN ANALISIS AGRIBISNIS PROGRAM STUDI AGRIBISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN MALANG 2013 2 ANALISIS NILAI TAMBAH DAN BREAK EVEN POINT AGROINDUSTRI KERIPIK SINGKONG (Kasus Pada Agroindustri Keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura) Oleh: TRIAS WULANDARI 0910440208 MINAT MANAJEMEN DAN ANALISIS AGRIBISNIS PROGRAM STUDI AGRIBISNIS SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Strata Satu (S-1) UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN MALANG 2013 PERNYATAAN 3 Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Malang, Trias Wulandari 0910440208 4 PERSEMBAHAN SKRIPSI Setiap kesusahan dan cobaan adalah TABUNGAN KEBAHAGIAAN...hadapi dengan segala kekuatan,bangkit dan terus menatap kedepan... Ikhlas dan menerima bahwa segalanya yang terjadi adalah proses pendewasaan diri dan sebagai warna lukisan kehidupan.... (Ayahanda Catur Puji Widodo) Skripsi ini aku persembahkan untuk.... Kedua orang tuaku tercinta yang begitu tulus memberikan dukungan, nasehat dan doa serta menjadi semangat untuk tetap berjuang... Kakakku tersayang mas Bayu dan mas Radith serta adekku Ita atas dukungan serta doanya.. Mbudtku terkasih yang begitu tulus menemani, memberikan semangat, doa, dan menjadi tempat sandaran lelahku untuk menjadi lebih kuat dan tegar.. Sahabat dan saudari terbaikku mbak Astrie, mbak Uun, adek Yeni, Desi dan Jamil yang telah menjadi tempat keluh kesahku, tak lelah memberi dorongan semangat dan doanya... Terima kasih atas cinta, kasih sayang dan perhatiannya untukku... 5 RINGKASAN TRIAS WULANDARI. 0910440208. Analisis Nilai Tambah Dan Break Even Point Agroindustri Keripik Singkong (Studi Kasus Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan) Dibawah bimbingan Prof.Dr.Ir. Djoko Koestiono MS dan Prof.Dr.Ir. Nuhfil Hanani MR, MS. Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi keaneragaman sumber daya alam yang melimpah dengan berbagai wilayah yang memiliki potensi di Sektor Pertanian dimana sebagian besar penduduk Indonesia bekerja pada sektor tersebut. Namun belum adanya pemanfaatan sumber daya alam yang optimal sehingga mengakibatkan rendahnya nilai tambah yang diperoleh dari hasil-hasil pertanian. Salah satu upaya dalam memberikan nilai tambah terhadap komoditi pertanian yaitu melalui industrialisasi berbasis pertanian (agroindustri) dengan memanfaatkan teknologi dan sumberdaya alam serta sumberdaya manusia (Hidayat, 2007). Kegiatan agroindustri merupakan bagian integral dari sektor pertanian mempunyai kontribusi penting dalam proses industrialisasi terutama di wilayah pedesaan. Efek agroindustri tidak hanya mentransformasikan produk primer ke produk olahan tetapi juga budaya kerja dari agraris tradisional yang menciptakan nilai tambah rendah menjadi budaya kerja industrial modern yang menciptakan nilai tambah tinggi (Suryana, 2004). Kebijakan pembangunan agroindustri antara lain kebijakan investasi, teknologi dan lokasi agroindustri harus mendapat pertimbangan utama (Yusdja dan Iqbal, 2002) Saat ini banyak berkembang agroindustri dengan jenis olahan dalam skala usaha yang beragam. Salah satu agroindustri jenis olahan yang diunggulkan di kabupaten Pamekasan Madura adalah agroindustri keripik singkong. Sentra agroindustri singkong terdapat Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura. Agroindustri keripik singkong merupakan salah satu usaha yang cukup potensial mengingat sentra produksi kripik singkong berasal dari Madura dan keripik jenis olahan singkong ini hanya diolah di kota Pamekasan Madura. Pengolahan keripik singkong merupakan suatu kegiatan pasca panen yang mampu memberikan daya simpan yang lebih lama pada singkong dan mampu memberikan nilai tambah. Perumusan permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan adalah : (1) Berapa besarnya nilai tambah dari agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura. (2) Berapa besarnya produksi minimal yang harus dihasilkan oleh pengusaha agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura agar tidak mengalami kerugian. Berdasarkan perumusan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah : (1) Menganalisis besarnya nilai tambah dari agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura. (2) Menganalisis besarnya produksi minimal yang harus dihasilkan oleh pengusaha agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura agar tidak mengalami kerugian. Metode penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut adalah sentra agroindustri keripik singkong 6 yang ada di Kota Pamekasan. Dalam penelitian ini responden yang digunakan berjumlah 15 orang pengusaha keripik singkong. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan kuesioner, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui aspek produksi, aspek sumberdaya manusia, aspek pemasaran, dan aspek sosial ekonomi. Analisis kualitatif meliputi (1) Analisis Nilai Tambah. (2) Analisis Penerimaan. (3) analisis Break Even point. Hasil penelitian antara lain : (1) Rata-rata nilai tambah dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern sebesar Rp. 14.592,7 per kilogram bahan baku atau sebesar 79,27 persen dari nilai produksi. Imbalan tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 520 atau 0,04 persen dari nilai tambah, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 14.072,7 atau sebesar 97,9 persen dari nilai tambah. Sedangkan pada agroindustri tradisional sebesar Rp. 12.731 per kilogram bahan baku atau sebesar 79,08 persen dari nilai produksi. Imbalan tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 300 atau 2,35 persen dari nilai tambah, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 12.431 atau sebesar 97,6 persen dari nilai tambah. Jumlah rata-rata keripik singkong dalam satu kali proses produksi agroindustri keripik singkong 50-51,4 kilogram. Rata-rata penerimaan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis pertama yang telah dirumuskan dapat diterima, dengan jumlah bahan baku yang sama agroindustri keripik singkong semi modern lebih besar perolehan nilai tambah jika dibandingkan dengan agroindustri tradisional. (2) Nilai B/C rasio agroindustri keripik singkong pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar 3,8 sedangkan pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan tenaga tradisional sebesar 3,5, sehingga dapat dinyatakan bahwa agroindustri keripik singkong layak dikembangkan dan memberikan nilai keuntungan bagi pengusahanya. Berdasarkan nilai BEP dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin berada pada titik impas pada volume produksi 0,43 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00 sedangkan pada keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar 0,20 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 5.352,00, sehingga dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong telah melewati titik impas yaitu dengan volume sebesar 51,4 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan volume sebesar 50 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis kedua yang telah dirumuskan dapat diterima, karena agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan bagi pengusahanya yaitu tingkat keuntungan agroindustri semi modern lebih tinggi daripada agroindustri tradisional.(3) Berdasarkan uraian mengenai hasil perhitungan nilai tambah, penerimaan dan BEP maka dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong dapat memberikan nilai tambah pada komoditas singkong, nilai tambah yang diberikan masuk dalam kriteria tinggi yaitu 79,08 dan 79,33 persen. Suatu produk yang memberikan nilai tambah pasti akan memberikan keuntungan bagi pengusahanya dimana besar kecilnya keuntungan yang diterima dipengaruhi oleh besarnya total penerimaan dan total biaya produksi, total penerimaan pada 7 agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp.798.000,00 . Dengan perhitungan analisis B/C rasio diketahui bahwa agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan menguntungkan bagi pengusaha keripik singkong dan perhitungan BEP maka diketahui produksi minimal yang harus dicapai oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu sebesar 0,43 kg dengan harga Rp. 15.776 sedangkan pada agroindustri yang masih menggunakan tenaga tradisional sebesar 0,20 kg dengan harga Rp. 5.352. dari data tersebut maka dapat diketahui titik impas dimana agroindustri tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan dan data tersebut sesuai dengan hipotesis kedua yaitu agroindustri semi modern lebih tinggi tingkat keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada agroindustri yang masih menggunakan tenaga tradisional. 8 SUMMARY TRIAS WULANDARI. 0910440208. Value Added Analysis And Break Even Point Agro Cassava Chips (Case Study In Blumbungan Village, District Prohibition, City Pamekasan). Under the adviser of Prof.Dr.Ir. Djoko Koestiono MS dan Prof.Dr.Ir. Nuhfil Hanani MR, MS. Indonesia is a country that has the potential diversity of abundant natural resources in a variety of areas that have potential in the agricultural sector where most Indonesian people working in the sector. However, the lack of use of natural resources so that optimal results in lower added value derived from agricultural products. An effort to provide added value to agricultural commodities is through industrialization based on agriculture (agro) by utilizing technology and natural resources and human resources (Hidayat, 2007). Agro-industrial activities is an integral part of the agricultural sector has an important contribution in the process of industrialization, especially in rural areas. Agro-industry effects not only transform primary products to processed products, but also the work of traditional agrarian culture that creates a low added value to modern industrial work culture that creates high added value (Suryana, 2004). Agro-industry development policies such as investment policy, agro-technology and location should be of primary consideration (Yusdja and Iqbal, 2002) Today many developing agro-processed type scale with diverse business. One type of processed agro seeded Pamekasan Madura district is agro cassava chips. Cassava agro-industrial centers are sub Prohibition, Pamekasan, Madura. Agroindustrial cassava chips is one of the potential business since cassava chip production centers from Madura and type of processed cassava chips is only processed in the city of Madura Pamekasan. Processing of cassava chips is a postharvest activities, which could give a longer shelf life on cassava and can provide added value. Formulation of research problems can be formulated as follows: (1) What is the value added of agro Blumbungan cassava chips in the Village, District Prohibition, Pamekasan Madura. (2) What is the minimum amount of production to be generated by the agro-industry entrepreneurs Blumbungan cassava chips in the Village, District Prohibition, Pamekasan Madura in order not to experience losses. Based formulation of the problem, the objectives of this study were: (1) to analyze the value-added of agro Blumbungan cassava chips in the Village, District Prohibition, Pamekasan Madura. (2) analyze the minimal amount of production to be generated by the agro-industry entrepreneurs Blumbungan cassava chips in the Village, District Prohibition, Pamekasan Madura in order not to experience losses. Method of determining the location was intentionally (purposive) with the consideration that the area is a center for agro cassava chips in the city Pamekasan. In this study respondents used were 15 employers cassava chips. Data collection techniques used were interviews with questionnaires, observation and documentation. Data analysis methods used are qualitative analysis and quantitative analysis. Qualitative analysis is used to determine the production aspects, aspects 9 of human resources, marketing aspects, and socio-economic aspects. Qualitative analysis includes (1) Value Added Analysis. (2) Analysis of Revenue. (3) Break Even point analysis. The results include: (1) The average value added in the production process in the agro cassava chips of Rp. 14592.7 per kilogram of raw materials or 79.27 percent of the value of production. Workers received benefits amounting to Rp. 520 or 0.04 percent of the value added, while the profits of Rp. 14072.7 or by 97.7 per cent of the value added. Average number of cassava chips in a single production process agro cassava chips 50 pounds. The average revenue in a single production process that uses cassava chips agro machine is Rp. 1,013,142.86 while the agro cassava chips are not using the machine is Rp. 798,000.00. From the description, the first hypothesis has been formulated to be accepted, because agro cassava chips can provide added value. (2) The value of B / C ratio on agro agro cassava chips cassava chips that use the engine is at 3.8 while the agro cassava chips that use traditional power of 3.5, so it can be stated that agro cassava chips feasible and provide value gains for entrepreneurs. Based on the value of BEP can be seen that the use of agro cassava chips machine is at the breakeven point on the production volume of 0.43 kilograms with revenues of Rp. 15776.00 while the cassava chips that do not use the machine at 0.20 kg with revenues of Rp. 5352.00, so it can be concluded that agro cassava chips have passed the break-even point is the volume of 50 pounds with a revenue of Rp. 1,013,142.86 and Rp. 798,000.00. From the description, the second hypothesis has been formulated to be accepted, because agro cassava chips feasible to develop and provide benefits for the entrepreneur. (3) Based on the description of the calculation of value added, BEP revenue and it can be concluded that agro cassava chips can add value to cassava commodity, value given in the criteria as high as 79.33 percent. A product that provides added value will surely benefit entrepreneurs where the size of the benefit received is influenced by the amount of total revenue and total production cost, total revenue in the agro-industry that use cassava chips machine is Rp. 1,013,142.86 while not using the machine for Rp.798.000, 00. By calculation analysis of B / C ratio and BEP, it is known that the agro cassava chips feasible to develop and profitably. 10 KATA PENGANTAR Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala Nikmat, Karunia, serta RahmatNya karena penulis dapat menyusun skripsi dengan judul “Analisis Nilai Tambah dan Break Even Point Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura”. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Prof.Dr.Ir Djoko Koestiono, MS, Ibu Ir. Nidamulyawaty Maarthen Msi dan Bapak Prof.Dr.Ir Nuhfil Hanani AR, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, nasehat serta motivasi kepada penulis. 2. Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan selaku responden serta instansi terkait yang memberikan informasi dan data-data dalam penulisan skripsi. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis juga membutuhkan kritik dan saran yang berperan dalam penyempurnaan proposal skripsi ini. Harapan dari penulis adalah semoga skripsi ini dapat diterima serta bermanfaat untuk semua pihak atau pengguna ilmu lainnya. Malang, Mei 2013 Penulis 11 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 15 April 1991 di Kota Sampang dari pasangan Bapak Catur Puji Widodo dan Ibu Titik Endarti. Penulis adalah Putri ketiga dari empat bersaudara. Penulis memulai pendidikan di TK Al-Irsyad Pamekasan (1996-1997), kemudian penulis melanjutkan pendidikan di SDN. Gladak Anyar II Pamekasan (19972003) dan menempuh jenjang pendidikan menengah pertama di SMPN 01 Pamekasan (2003-2006) dan menempuh jenjang pendidikan menengah atas di SMUN 3 Pamekasan (2006-2009). Penulis melanjutkan pendidikan perguruan tinggi di Universitas Brawijaya Malang, Fakultas Pertanian, Program Studi Agribisnis pada tahun 2009 melalui jalur PSB. 12 DAFTAR ISI Halaman RINGKASAN......................................................................................... i SUMMARY............................................................................................. iv KATA PENGANTAR ............................................................................ vi DAFTAR ISI ............................................................................................... vii DAFTAR TABEL ..................................................................................... x DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xii I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ........................................................................................... 1 1 1.2. Rumusan Masalah ...................................................................................... 3 3 1.3. Tujuan Penelitian ....................................................................................... 5 1.4. Kegunaan Penelitian .................................................................... 5 II. KERANGKA TEORITIS 2.1. Kerangka Pemikiran .................................................................................. 6 23 2.2. Hipotesis ................................................................................................... 8 23 2.3. Batasan Masalah ....................................................................................... 8 23 2.4. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ........................................ 8 24 III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan waktu Penelitian ....................................................................... 11 27 3.2 Teknik Penetuan Sample ........................................................................... 11 42 3.3 Teknik Pengumpulan Data............................................................. 12 3.4 Teknik Analisis Data ................................................................... 13 3.4.1. Analisis Data Kualitatif ..................................................... 13 3.4.2. Analisis Data Kuantitatif ................................................... 13 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Daerah Penelitian ........................................... 4.1.1. Letak Geografis.............................................................. 4.1.2. Luas Wilayah Dan Penggunaan Lahan........................... 4.1.3 Kondisi Penduduk ......................................................... 4.1.3.1. Berdasarkan Jenis kelamin ............................... 4.1.3.2. Berdasarkan Usia ............................................. 4.1.3.3. Berdasarkan Tingkat Pendidikan ..................... 4.1.3.4. Berdasarkan Mata Pencaharian ........................ 4.1.4. Kondisi Pertanian ............................................................ 4.2. Karakteristik Responden .......................................................... 4.2.1. Berdasarkan Usia ........................................................... 19 19 20 21 21 22 22 23 23 25 26 13 4.2.2. Berdasarkan Tingkat Pendidikan ................................... 4.2.3 Berdasarkan Lama Usaha ............................................... 4.2.4. Berdasarkan Jenis Usaha ............................................... 4.2.5.Karakteristik Agroindustri Keripik Singkong................. 4.2.6. Penyediaan Input Produksi............................................. 4.2.7. Proses Produksi .............................................................. 4.2.8. Kapasitas Produksi......................................................... 4.2.9. Pemasaran ..................................................................... 4.3. Analisis Nilai Tambah ............................................................. 4.4. Analisis Kelayakan Usaha ....................................................... 4.4.1. Analisis Penerimaan ..................................................... 4.4.2. Analisis B/C Rasio ........................................................ 4.4.3. Analisis BEP ................................................................. 27 28 28 38 29 34 38 38 40 44 44 50 51 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan.............................................................................. 5.2. Saran ....................................................................................... 55 57 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................... LAMPIRAN ........................................................................................ 58 60 14 DAFTAR TABEL Nomor 1. Halaman Teks Jumlah Produksi Tanaman Pangan di Pamekasa Madura....... 2 2. Format Nilai Tambah........................................................14 3. Jenis Penggunaan Lahan Di Desa Blumbungan Tahun 2012... 20 4. Komposisi Jumlah Penduduk Di Desa Blumbungan Tahun 2012.......................................................................................... 21 Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Di Desa Blumbungan Tahun 2012 ........................................................ 22 Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Blumbungan Tahun 2012............................................. 23 Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencarian Di Desa Blumbungan Tahun 2012.................................................. 24 8. Kondisi Pertanian Di Desa Blumbungan Tahun 2012................ 25 9. Karakter Responden Berdasarkan Kelompok Usia Di Desa Blumbungan Tahun 2012 .......................................................... 26 Karakter Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Desa Blumbungan Tahun 2012 ........................................................... 27 Karakter Responden Berdasarkan Lama Usaha Di Desa Blumbungan Tahun 2012 ........................................................... 28 Karakter Responden Berdasarkan Jenis Usaha Di Desa Blumbungan Tahun 2012 ........................................................... 29 13. Besarnya Biaya Satu Kali Proses Produksi Oleh Agroindustri .. 30 14. Rata-Rata Kebutuhan Bahan Dalam Sekali Proses Produksi ..... 31 15. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja Dan Pemberian Upah Dalam Sekali Proses Produksi................................................................. 33 5. 6. 7. 10. 11. 12. 15 DAFTAR TABEL Nomor Halaman Teks 16. 17. 18. 19. Alat-alat Yang Digunakan Dalam Proses Produksi Keripik Singkong Tahun 2013........................................................ 35 Jumlah Produksi Keripik Singkong Dalam Satu Kali Produk- si Keripik Singkong Tahun 2013........................................… 38 Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Keripik Singkong Semi Modern Tahun 2013............................ 41 Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Keripik Singkong Tradisional Tahun 2013................................ 42 20. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Produksi Dalam Proses Produksi Keripik singkong Tahun 2013..................................... 21. 22. 23. 24. 25. 26. 45 Rata-rata Biaya Variabel Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Keripik Singkong Tahun 2013................................... 46 Rata-rata Biaya Total Biaya Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Keripik Singkong Tahun 2013..................................... 48 Rata-rata Harga Pokok Satu Kilogram Kerpik Singkong Pada Agroindustri Keripik Singkong Tahun 2013............................... 48 Rata-rata Penerimaan Dalam Satu Kali Proses Produksi Keripik Keripik Singkong Tahun 2013 ................................................... 49 Rata-rata Tingkat Kelayakan Usaha Dalam Satu Kali Proses Produksi Keripik Singkong Tahun 2013 .................................... 50 Analisis Break Even Point Dalam Satu Kali Proses Produksi Keripik Singkong Tahun 2013 ................................................... 51 16 DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman Teks 1. Kerangka Pemikiran Analisis Nilai Tambah dan Break Even Point Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura …………………. 7 2. 3. 4. Proses Pembuatan Keripik Singkong Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan................................. Pola Pemasaran Keripik Singkong Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan ................................ Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan.............................................. 37 39 52 17 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi keaneragaman sumber daya alam yang melimpah dengan berbagai wilayah yang memiliki potensi di sektor pertanian dimana sebagian besar penduduk Indonesia bekerja pada sektor tersebut. Namun belum adanya pemanfaatan sumber daya alam yang optimal sehingga mengakibatkan rendahnya nilai tambah yang diperoleh dari hasil-hasil pertanian. Salah satu upaya dalam memberikan nilai tambah terhadap komoditi pertanian yaitu melalui industrialisasi berbasis pertanian (agroindustri) dengan memanfaatkan teknologi dan sumberdaya alam serta sumberdaya manusia (Hidayat, 2007). Menurut Hanani et.al (2003), pengembangan agroindustri sebagai langkah industrialisasi pertanian merupakan pilihan strategi yang tepat, karena tidak hanya menciptakan kondisi yang saling mendukung antara kekuatan industri maju dengan pertanian yang tangguh, tetapi juga membentuk keterpaduan sektor industri pertanian yang mampu memberikan perubahan melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan dan perbaikan pembagian pendapat, peningkatan peroleh devisa negara dan mampu mendorong munculnya industri baru. Sebagai salah satu penggerak pembangunan pertanian, agroindustri diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam kegiatan pembangunan daerah, baik dalam sasaran pembangunan, pertumbuhan ekonomi maupun stabilitas nasional. Untuk mewujudkan harapan itu maka harus dilihat potensi yang ada di daerah tersebut. Indonesia termasuk sebagai negara penghasil singkong terbesar ketiga (13.300.000 ton) setelah Brazil (25.554.000 ton) dan Thailand (13.500.000 ton), disusul negara-negara seperti Nigeria (11.000.000 ton), India (6.500.000 ton) dari total produksi dunia sebesar 122.134.000 ton per tahun . Berdasarkan kontribusi terhadap produksi nasional terdapat sepuluh propinsi utama penghasil singkong yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Sumatera Selatan dan Yogyakarta yang menyumbang sebesar 89,47 % dari produksi nasional, sedangkan dari propinsi lainnya sekitar 11-12% (Agrica, 2007). Indonesia memiliki prosentase yang meningkat tiap tahunnya sehingga dibutuhkan upaya maksimal dalam meningkatkan nilai tambah produk. 1 18 Ubi kayu atau biasa disebut singkong (Manihot esculenta Crantz) merupakan bahan makanan penting di Indonesia setelah padi dan jagung. Lebih kurang 60% dari produksi singkong di Indonesia digunakan sebagai bahan makanan, sedangkan 32% digunakan sebagai bahan industri dalam negeri, dan 8% diekspor dalam bentuk gaplek. Sebagai bahan makanan, jika ditinjau dari kalori yang dihasilkan per satuan luas tanah, singkong menghasilkan kalori lebih tinggi dibandingkan dengan padi dan jagung. Sedangkan apabila ditinjau dari kalori yang dihasilkan per satuan waktu, jagung lebih tinggi hasil kalorinya dibandingkan padi dan singkong. Dibidang industri, singkong menghasilkan bioethanol yang dapat dijadikan bahan bakar nabati dan ramah lingkungan karena mengandung emisi gas karbon monoksida lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar minyak (Anonim, 2007). Madura adalah pulau yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil garam, singkong, jagung, padi, tembakau, sapi, dan hasil laut sepanjang pantai utaraselatan. Produksi tanaman palawija seperti jagung ataupun ubi kayu memberikan kontribusi terhadap pendapatan daerah di Pamekasan. Seperti yang disajikan pada tabel berikut ini : Tabel 1. Produksi Tanaman Pangan di Pamekasan Tahun 2012 No. Komoditi 1. Padi 2. Jagung Ketersediaan Area (Ha) 636.671 911.828 3.. Singkong 1.518,233 Sumber : Dinas Pertanian Kabupaten Pamekasan, Madura, 2012 Produksi (ton) 12.036.303 904.192 2103 Dari tabel tersebut padi memiliki luas area 636.671 Ha sedangkan jagung dengan luas area 911.828 Ha menghasilkan produksi sebesar 904.192 ton dan singkong dengan luas area 1,518.233 Ha dengan produksi sebesar 2103 ton. Dari uraian tersebut maka komoditi singkong memiliki potensi yang dapat diolah menjadi berbagai macam olahan sehingga mampu memberikan nilai tambah. Saat ini banyak berkembang agroindustri dengan jenis olahan dalam skala usaha yang beragam. Salah satu agroindustri jenis olahan yang diunggulkan di kabupaten Pamekasan Madura adalah agroindustri keripik singkong. Sentra agroindustri singkong terdapat Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura. Agroindustri keripik singkong merupakan salah satu usaha yang cukup potensial 19 mengingat sentra produksi kripik singkong berasal dari Madura dan keripik jenis olahan singkong ini hanya diolah di kota Pamekasan Madura. Pengolahan keripik singkong merupakan suatu kegiatan pasca panen yang mampu memberikan daya simpan yang lebih lama pada singkong dan mampu memberikan nilai tambah. Agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura sebagian besar adalah agroindustri skala kecil yang membutuhkan pengembangan skala usahanya guna meningkatkan keuntungan yang lebih tinggi. Berdasarkan uraian diatas, maka dirasa cukup penting untuk meneliti analisis nilai tambah dan break even point dalam rangka pengembangan usaha sehingga hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pengusaha keripik singkong guna meningkatkan produksi dan keuntungan dari usahanya selain itu juga adanya informasi mengenai nilai tambah ini juga diharapkan agar para petani singkong sadar bahwa mengolah singkong menjadi keripik singkong mampu memberikan nilai tambah dan keuntungan yang lebih besar daripada hanya menjual dalam bentuk umbi sehingga nantinya pendapatan yang lebih besar tersebut dapat mensejahterakan hidup petani. 1.2 Perumusan Masalah Agroindustri kripik singkong merupakan salah satu usaha yang cukup potensial untuk dikembangkan di kota Pamekasan karena merupakan satu- satunya kota di Madura yang memproduksi olahan keripik singkong sehingga mampu dijadikan camilan khas kota Pamekasan. Adanya usaha agroindustri ini mampu memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja di lingkungan sekitar, selain itu agroindustri keripik singkong mampu memberikan nilai tambah karena proses pengolahan singkong yang mampu meningkatkan nilai jual produk sehingga memperoleh keuntungan yang lebih besar. Melihat peranan dan potensi agroindustri keripik singkong ini perlu mendapat perhatian lebih serta pembinaan khususnya untuk para petani singkong sebagai upaya dalam peningkatan kesejahteraan serta pengembangan dan meningkatkan area pemasaran agar lebih di kenal oleh masyarakat di kota lain. Sentra produk keripik singkong tersebut ada dalam satu lokasi dan berdekatan antara 1 hingga 15 agroindustri yang memungkinkan untuk kesamaan jumlah bahan baku, penggunaan alat dan proses 20 pembuatan keripik singkong, namun cakupan area produk dan cita rasanya berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Permasalahan yang dihadapi para pelaku usaha agroindustri keripik singkong yaitu kurangnya modal dan perluasan area pemasaran produk. Sampai saat ini agroindustri komoditas ini masih tetap berdiri karena masih terdapat permintaan konsumen, tetapi semakin lama jumlah agroindustri keripik singkong semakin menurun. Namun permintaan terhadap produk keripik singkong ini semakin meningkat dari berbagai wilayah di Madura. Hal ini karena kurangnya peran dari pemerintah dalam upaya pengembangan dan perluasan pemasaran sehingga jumlah pemesanan hanya terbatas pada konsumen-konsumen yang telah dikenal dan jangkauan pemasaran produk yang kurang meluas selain itu penggunaan teknologi yang masih sederhana dan kendala cuaca yang mempengaruhi proses produksi mengakibatkan produk yang dihasilkan belum optimal baik secara kualitas maupun kuantitas. Sebagian besar kegiatan pengolahan keripik singkong masih dikerjakan secara manual atau dengan menggunakan tenaga manusia sehingga membutuhkan waktu yang lama dalam kegiatan produksinya. Selain itu terbatasnya daerah pemasaran mengakibatkan minimnya jumlah produk yang mampu dijual, sehingga konsumen kesulitan dalam menjangkau atau memesan produk dalam jumlah yang banyak mengakibatkan rendahnya penerimaan dan keuntungan yang diperoleh oleh pengusaha keripik singkong. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pertanyaan pokok dalam penelitian ini adalah: 1. Berapa besarnya nilai tambah dari agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri keripik singkong tradisional di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura? 2. Berapa besarnya produksi minimal yang harus dihasilkan oleh pengusaha agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura agar tidak mengalami kerugian? 21 1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Menganalisis besarnya nilai tambah yang dihasilkan oleh pengusaha agroindustri keripik singkong di daerah penelitian. 2. Menganalisis besarnya produksi minimal yang harus dihasilkan oleh pengusaha agroindustri keripik singkong di daerah penelitian agar tidak mengalami kerugian. 1.4 Kegunaan Penelitian 1. Sebagai informasi bagi pengusaha keripik singkong dalam upaya peningkatan pendapatan dan dasar pertimbangan dalam upaya perluasan usaha. 2. Sebagai informasi bagi para petani singkong agar mampu mengolah singkong sehingga dapat memberikan nilai tambah dan keuntungan serta menambah daya simpan produk para petani. 3. Sebagai tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang yang sejenis dengan penelitian ini. 22 II. KERANGKA KONSEP PENELITIAN 2.1 Kerangka Pemikiran Singkong merupakan salah satu komoditas yang melimpah di Indonesia. Komoditi ini telah banyak dikenal dan dimanfaatkan namun mayoritas pengolahan singkong sangat minim atau hanya daerah tertentu yang mengolah singkong, selebihnya hanyalah di jual dalam bentuk umbi segar. Produk pertanian yang sebagian besar memiliki sifat mudah rusak dan tidak tahan lama dan membutuhkan adanya pengolahan lebih lanjut. Agroindustri merupakan suatu usaha yang di dalamnya terdapat kegiatan pengolahan komoditas pertanian menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sehingga akan meningkatkan keuntungan bagi pengusaha agroindustri. Salah satu agroindustri yang telah mengolah komoditas pertanian menjadi produk yang lebih bernilai dan mampu menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar adalah agroindustri keripik singkong yang berada di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura yaitu agroindustri semi modern dan agroindustri tradisional. Perbedaan antar agroindustri tersebut yaitu pada penggunaan mesin dan input variabel lain atau bahan tambahan pada proses pembuatan keripik singkong. Agroindustri keripik singkong yang ada merupakan agroindustri skala kecil yang memiliki nilai tambah yang dijadikan salah satu parameter pengembangan agroindustri. Namun pada kenyataannya agroindustri ini belum menunjukkan hasil yang optimal dalam upaya pengembangan usaha sehingga berpengaruh terhadap pendapatan ataupun keuntungan yang diperoleh sehingga perlu dikaji teori yang ada guna menganalisis nilai tambah, tingkat penerimaan dan keuntungan yang diperoleh serta tingkat kelayakan usaha dari perusahaan tersebut dilakukan dengan metode analisis nilai tambah, analisis penerimaan dan keuntungan serta analisis kelayakan usaha (B/C rasio dan BEP) . Dari uraian tersebut dapat dibuat kerangka pemikiran yang dapat dilihat pada skema berikut : 6 23 Potensi : 1. Bahan baku mudah didapat 2. Meningkatkan pendapatan 3. Penyerapan tenaga kerja Agroindustri Keripik Singkong Kendala : 1. Modal terbatas 2. Kurangnya teknologi Proses produksi Proses Tradisional Proses Semi Modern Teknis Pengolahan: 4. Tidak menggunakan mesin 5. Tidak dikemas Penggunaan Bahan : 6. 50 kg bahan baku 7. Tidak menggunakan bahan tambahan Area Pemasaran : 1. Terbatas (area sekitar) Harga : 1. Lebih rendah 2. Pembayaran tunai dan non tunai Teknis Pengolahan: 1. Menggunakan mesin 2. Dikemas Penggunaan Bahan : 1. 100 kg bahan baku 2. menggunakan bahan tambahan Area Pemasaran : 3. lebih luas (berbagai wilayah di Madura) Harga : 4. Lebih tinggi 5. Pembayaran tunai 1. Analisis nilai tambah 2. Analisis Penerimaan 3. Analisis BEP. Agroindustri keripik singkong memberikan nilai tambah dan layak untuk dikembangkan Skema 1. Kerangka Pemikiran Analisis Nilai Tambah dan Break Even Point Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura. 24 2.2 Hipotesis Berdasarkan permasalahan dalam kerangka pemikiran tersebut, maka dapat dikemukakan hipotesis yakni : 1. Diduga agroindustri keripik singkong semi modern memiliki nilai tambah yang lebih besar daripada keripik singkong tradisional. 2. Diduga agroindustri keripik singkong semi modern lebih tinggi tingkat keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada keripik singkong tradisional. 2.3 Batasan Masalah Dalam penelitian ini perlu diberikan batasan masalah untuk memperjelas permasalahan yang ada dan mempermudahkan dalam pembahasan. Adapun batasan masalah adalah sebagai berikut : 1. Penelitian dilakukan pada agroindustri keripik singkong yang ada di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Madura yaitu agroindustri semi modern dan agroindustri tradisional. 2. Penelitian hanya terbatas pada menganalisis nilai tambah, analisis pendapatan, analisis kelayakan usaha dan BEP. 2.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 1. BEP adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian, dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas apabila jumlah penghasilan sama dengan biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutupi biaya tetap saja a) BEP unit adalah besarnya perbandingan biaya tetap dibagi dengan harga jual perunit dikurangi dengan biaya variabel dengan satuan unit. b) BEP rupiah adalah besarnya perbandingan biaya tetap dibagi dengan biaya tetap per total penerimaannya dengan satuan rupiah. 2. Biaya tetap adalah jenis biaya yang jumlahnya totalnya tetap tidak dipengaruhi oleh jumlah keripik singkong yang ingin diproduksi. Dalam penelitian ini biaya tetapnya adalah biaya penyusutan yang digunakan untuk proses produksi keripik singkong, dimana biaya penyusutan pertahun yang dihitung dengan cara membagi alat dengan umur ekonomis alat yang digunakan. Dalam penelitian ini alat setelah 25 melampaui batas umur ekonomisnya tidak dihitung karena alat yang telah habis masa pakainya dianggap telah rusak dan tidak dijual (tidak bernilai ekonomis). 3. Biaya variabel adalah besarnya biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh pajak, sewa, jumlah produksi yang diusahakan (Rp). Yang termasuk biaya variabel yaitu biaya bahan baku, bahan penolong, upah tenaga kerja, dan transportasi. 4. Biaya total adalah jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi keripik singkong selama satu tahun yang terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Cara penelitian ini adalah total biaya dihitung dengan menggunakan rumus TC= TFC+TVC. 5. Penerimaan adalah nilai uang yang dihasilkan dari penjumlahan keripik singkong, dihitung dengan cara mengalikan jumlah total produksi keripik singkong dengan harga produk keripik singkong tiap satuan (Rp). Untuk menghitung total penerimaan agroindustri keripik singkong menggunakan rumus: TR= PxQ . 6. Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan total biaya produksi selama satu tahun. Tingkat keuntungan : π= TR-TC Keterangan : π = keuntungan agroindustri keripik singkong (Rp). P = harga keripik singkong (Rp/kg) Q = jumlah produksi keripik singkong yang dihasilkan (kg). TR = total revenue/ total penerimaan (Rp). TC= total cost/ total biaya (Rp). TFC = total biaya tetap (Rp). TVC = Total biaya variabel (Rp). 7. Nilai tambah adalah pengurangan biaya bahan baku yang digunakan dalam industri keripik singkong ditambah biaya input lainnya terhadap penerimaan tidak termasuk biaya tenaga kerja (Rp/kw). 8. Biaya penyusutan adalah nilai pengurangan fungsi alat yang digunakan dalam proses produksi. Biaya penyusutan meliputi biaya penyusutan atas penggunaan mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Diukur dengan menghitung selisih antara nilai awal dengan nilai akhir kemudian dibagi nilai umur ekonomis, dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp). 9. Bahan baku adalah bahan-bahan utama yang digunakan untuk proses produksi 26 yang dinyatakan dalam satuan Kg. 10. Harga bahan baku adalah besarnya nilai yang harus dikeluarkan untuk pembelian harga bahan dalam proses produksi dan dinyatakan dalam satuan Rupiah/kg. 11. Hasil produksi adalah sejumlah produk yang dihasilkan dari proses produksi dalam kurun waktu satu hari. Dinyatakan dalam satuan kg/hari. 12. Harga produk rata-rata adalah besarnya nilai jual rata-rata dari produk yang dihasilkan dan dinyatakan dalam satuan rupiah. 13. Tenaga kerja adalah sejumlah orang yang berperan dalam melakukan kegiatan produksi, dinyatakan dalam satuan jam/produksi. 14. Koefisien tenaga kerja adalah perbandingan besarnya jumlah tenaga kerja yang digunakan dibagi dengan bahan baku yang diperlukan dalam satu kali proses produksi. 15. Upah rata-rata adalah rata-rata biaya yang dibayarkan kepada tenaga kerja. 16. Input lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku penunjang dalam proses produksi, dinyatakan dalam satuan Rp/kg bahan baku. 17. Nilai produk adalah besarnya faktor konversi dibagi dengsn harga produk ratarata, dinyatakan dalam satuan Rp/kg. 18. Imbalan tenaga kerja adalah besarnya upah yang diberikan kepada tenaga kerja per kilogram produksi (Rp/kg). 19. Bagian tenaga kerja adalah prosentase dari besar imbalan tenaga kerja dibagi dengan nilai tambah. 20. Tingkat keuntungan adalah prosentase besarnya keuntungan dibagi dengan nilai tambah. 21. Pesaing adalah produsen keripik singkong diluar penelitian atau bukan industri keripik singkong tetapi menggunakan singkong sebagai bahan bakunya. Variabel ini dilihat dari kapasitas produksi pesaing serta jumlah pesaing yang ada. 27 III. METODOLOGI 3.1 Metode Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu pada sentra agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura. Pertimbangan pemilihan lokasi ini dikarenakan menurut data dari Dinas Industri dan Perdagangan, daerah tersebut merupakan sentra agroindustri keripik singkong. Selain itu melihat produksi keripik singkong yang mencapai 2103 ton dan melihat beberapa kelemahan dan kekuatan yang dimiliki serta adanya peluang agroindustri keripik singkong di daerah tersebut sebagai agroindustri yang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat setempat sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangannya khususnya untuk mengolah bahan baku mentah menjadi olahan yang mampu memberikan nilai tambah. 3.2 Metode Penentuan Responden Responden dalam penelitian ini adalah mereka yang memproduksi keripik singkong. Penentuan responden dilakukan dengan sensus yaitu pengambilan dari seluruh data populasi yang ada di daerah penelitian. Agroindustri keripik singkong merupakan responden utama dalam penelitian yaitu pemilik agroindustri keripik singkong. Jumlah keseluruhan agroindustri keripik singkong di daerah penelitian ada 15 unit yaitu 14 responden agroindustri keripik singkong semi modern dan 1 responden agroindustri keripik singkong tradisional. Agroindustri keripik singkong semi modern rata-rata menggunakan 100 kg bahan baku yang menghasilkan 60 kg dan agroindustri keripik singkong tradisional dengan bahan baku 50 kg menghasilkan 30 kg keripik. Tenaga kerja 7 hingga 10 orang pekerja dengan lama jam kerja berkisar 3-5 jam dan rata- rata pekerja berjenis kelamin perempuan. Agroindustri ini cukup lama didirikan yaitu selam 10-15 tahun, namun belum ada perkembangan tingkat produksi karena kurangnya modal dan tekhnologi yang digunakan. Karena agroindustri yang terdapat di lokasi penelitian seluruhnya menggunakan bahan baku >50 kg/hari sehingga seluruhnya dikategorikan agroindustri skala usaha kecil. Metode yang digunakan adalah 11 28 metode sensus yakni menggunakan seluruh jumlah anggota responden karena jumlah populasi yang sedikit dan masih bisa dijangkau untuk dilakukan penelitian secara keseluruhan. 3.3 Metode Pengumpulan Data Teknik yang digunakan dalam pengambilan data penelitian ini antara lain 1. Wawancara Teknik ini digunakan untuk memperoleh data yang diinginkan yaitu dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan pihak pemilik agroindustri keripik singkong tentang kebutuhan bahan baku, jumlah output yang dihasilkan, kebutuhan alat-alat, ketenaga kerjaan, area pemasaran dan kendala-kendala yang dihadapi dalam proses produksi keripik singkong. 2. Observasi Dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan yang dilakukan di lokasi penelitian, khususnya selama proses produksi dan kegiatan lainnya yang terlibat. 3. Dokumentasi Dokumentasi dilakukan pada kegiatan proses produksi keripik singkong dan terhadap data sekuder yang diperoleh dari instansi terkait yakni kantor kecamatan untuk memperoleh informasi tentang kondisi monografi dan geografis lokasi penelitian Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua macam yakni: 1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan melihat dan mengadakan pengamatan secara langsung ke lokasi penelitian serta melakukan wawancara dan juga menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan sebelumnya. 2. Data Sekunder, diperlukan dengan tujuan untuk mengambil data yang mempunyai keterkaitan dengan masalah yang dihadapi dalam penelitian dan untuk melengkapi data primer yang ada. Data sekunder diambil dari pemilik perusahaan dan instansi yang terkait dengan penelitian ini, seperti kantor kecamatan untuk mengetahui kondisi umum daerah penelitian berupa data 29 monografi dan geografis. Selain itu data sekunder diambil dari berbagai pustaka ilmiah yang mendukung sebagai dasar atau pedoman. 3.4 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. 3.4.1 Analisis Kualitatif Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan aspek sosial ekonomi, aspek produksi, aspek sumberdaya manusia, dan aspek pemasaran. Aspek sosial ekonomi digunakan untuk mengetahui sumber daya serta potensi yang dimiliki Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura dalam menunjang keberadaan agroindustri keripik singkong. Aspek produksi digunakan untuk mendiskripsikan mengenai proses produksi yang dilakukan dalam menghasilkan produk keripik singkong. Aspek sumberdaya manusia digunakan untuk mengetahui kerakteristik produsen keripik singkong yang meliputi umur responden dan tingkat pendidikan responden, sedangkan aspek pemasaran digunakan untuk mendeskripsikan mengenai cakupan daerah pemasaran dan alur pemasaran dari agroindustri keripik singkong yang meliputi kegiatan distribusi. 3.4.2 Analisis Kuantitatif A. Analisis Nilai Tambah Besarnya nilai tambah karena proses pengolahan diperoleh dari pengurangan biaya bahan baku ditambah input lainnya terhadap nilai produk yang dihasilkan, tidak termasuk tenaga kerja. Nilai tambah merupakan imbalan bagi tenaga kerja dan keuntungan bagi pengolah atau pengusaha.menurut Hubeis, rasio nilai tambah dapat digolongkan menjadi 3 yakni dikatakan rendah jika < 15%, sedang jika berkisar 15%-40% dan tinggi jika >40%. Menurut Hayami (2001), format yang digunakan untuk menghitung nilai tambah adalah sebagai berikut : 30 Tabel 2. Format Nilai Tambah Pengolah Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, Madura No Keterangan Rumus 1 Bahan baku (kg/hari) A 2 Harga bahan baku (Rp/kg) B 3 Hasil produksi (kg/hari) C 4 Faktor konversi (3/1) C/A= H 5 Harga produk rata-rata (Rp/kg) D 6 Tenaga kerja (HK/hari) E 7 Koefisien tenaga kerja (6/1) E/A= I 8 Upah rata-rata (Rp/HK) F 9 Input lain (Rp/kg bahan baku) G 10 Nilai produk (Rp/kg) (4/5) H/D= J 11.a Nilai tambah (Rp/kg) (10-9-2) J-G-B= K B K/J x 100%M= L Rasio nilai tambah (11a/10) x 100% 12.a Imbalan tenaga kerja (Rp/kg) (7x8) LxF =M B M/K x 100% = N% Bagian tenaga kerja (12a/11a) x 100% 13.a Keuntungan (Rp/kg) (11a-12a) K-M = O b O/K x 100% = P% Tingkat keuntungan (13a/11a)x 100% Menurut Hubeis dalam Hermawatie (1998), rasio nilai tambah dapat digolongkan menjadi 3 yaitu : 1. Rasio nilai tambah rendah, apabila memiliki persentase > 15% 2. Rasio nilai tambah sedang, apabila memiliki persentase 15% - 14% 3. Rasio nilai tambah tinggi, apabila memiliki persentase > 40%. B. Analisis Penerimaan Analisis ini digunakan untuk memperoleh gambaran tentang besarnya biaya dan keuntungan suatu perusahaan. Beberapa alat ukur yang dipakai yaitu : 1. Perhitungan biaya produksi a) Biaya tetap yaitu biaya yang tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produk yang dihasilkan. Misalnya biaya penyusutan peralatan, pajak dan bunga pinjaman. Besarnya biaya tetap dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : 31 𝑛 𝑖−1 𝐹𝐶 TFC = Keterangan : TFC = Total biaya tetap agroindustri keripik singkong (Rp) FC = Biaya tetap untuk input agroindustri keripik singkong (Rp) n = Banyaknya input agroindustri keripik singkong biaya yang diperhitungkan sebagai biaya tetap adalah biaya penyusutan alat. Biaya penyusutan alat adalah pengalokasian biaya investasi suatu alat setiap proses produksi sepanjang umur ekonomis alat tersebut. Perhitungan penyusutan menggunakan metode garis lurus (straight line method) yaitu suatu metode yang menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata (tanpa fluktuasi) disepanjang masa penggunanya. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus : D= 𝑃𝑏 −𝑃𝑠 𝑡 Keterangan : D = Biaya penyusutan peralatan (Rp/tahun) Pb = Harga beli awal (Rp) Ps = Harga jual (Rp) t = Umur ekonomis (tahun) b) Biaya variabel (tidak tetap) Biaya variabel (tidak tetap), yaitu biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produk yang dihasilkan. Misalnya biaya pembelian bahan baku, bahan penolong, bahan bakar, upah tenaga kerja dan biaya transportasi. Besarnya biaya variabel secara matematis dihitung sebagai berikut : VC = Pxi.Xi Keterangan : Pxi = Harga input ke-i pada agroindustri keripik singkong Xi = Jumlah inpuk ke-i pada agroindustri keripik singkong Perhitungan biaya variabel yang dibutuhkan untuk mengetahui besarnya masing-masing biaya tidak tetap yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan yang kemudian digunakan untuk menghitung total biaya variabel dalam kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. 32 Perhitungan besarnya total biaya variabel secara matematis dihitung sebagai berikut : TVC = 𝑛 𝑖=1 𝑉𝐶 Keterangan : TVC = Total biaya tidak tetap agroindustri keripik singkong VC = Biaya variabel dari setiap unit agroindustri keripik singkong n = Banyaknya input pada agroindustri keripik singkong c) Biaya total, yaitu penjumlahan antara total biaya tetap dan tota biaya variabel. Biaya total dapat dihitung dengan rumus : TC = TFC + TVC Keterangan : TC = Total biaya produksi agroindustri keripik singkong (Rp) TFC = Total biaya tetap agroindustri keripik singkong (Rp) TVC = Total biaya tidak tetap agroindustri keripik singkong 2. Perhitungan penerimaan Perhitungan penerimaan digunakan untuk mengetahui besarnya hasil dari keseluruhan penjualan produk. Penerimaan dihitung dengan rumus sebagai berikut: TR = P x Q Keterangan : TR = Total penerimaan agroindustri keripik singkong (Rp) P = Harga jual per unit ditingkat produsen (Rp) Q = Jumlah produk yang dihasilkan pada agroindustri keripik singkong (unit) C. Analisis Break Even Point Untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha dapat dihitung dengan menggunakan NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate Of Return), PP (Payback Period), analisis sensitivitas, analisis B/C rasio dan analisis BEP (Break Even Point), hal ini dikarenakan data produksi yang ada bukan bersifat data series sehingga tidak dapat diketahui data produksinya tiap tahunnya. Penggunaan analisis B/C rasio dan analisis BEP hanya digunakan untuk menghitung kelayakan usaha dari agroindustri keripik singkong berdasarkan satu kali kegiatan produksinya. 33 1. Analisis B/C rasio Analisis B/C rasio (benefit per cost ratio) dapat didefinisikan sebagai perbandingan (rasio) nilai dari manfaat terhadap nilai dari biaya-biaya. Pada analisis B/C rasio data yang dipentingkan adalah besarnya manfaat. Perhitungan ini dapat diperoleh dari perbandingan antara penjualan dengan total biaya produksi. Rumus yang digunakan adalah : 𝐵𝑒𝑛𝑒𝑓𝑖𝑡 B/C = 𝐶𝑜𝑠𝑡 Dengan kriteria : a) B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan dan menguntungkan. b) B/C = 1, maka usaha tersebut tidak menguntungkan dan tidak merugikan. c) B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan merugikan. 2. Analisis BEP Titik impas / Break Even Point memberikan informasi tentang hubungan antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Dalam penelitian ini BEP dapat dihitung dengan dua cara yaitu : a. Atas dasar penjualan dalam unit 𝑇𝐹𝐶 BEP unit = 𝑇𝑉𝐶 𝑃− 𝑄 b. Atas dasar penjualan dalam rupiah BEP (Rp) = 𝑇𝐹𝐶 𝑇𝑉𝐶 𝑇𝑅 1− Keterangan : P = Harga jual keripik singkong per unit (Rp). Q = Jumlah produk keripik singkong yang dihasilkan TFC = Total Biaya tetap (Rp) TVC = Total Biaya variabel (Rp) TR = Total penerimaan (Rp) 34 Dengan mengetahui titik impas suatu produksi, maka akan diketahui berapa besarnya jumlah produksi (volume produksi) minimal yang harus dipertahankan agar produsen keripik singkong tidak mengalami kerugian. Tiap perusahaan hendaknya dapat berproduksi diatas titik BEP agar dapat memperoleh keuntungan. Analisis B/C rasio dan BEP pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengetahui apakah suatu usaha telah layak atau belum untuk dikembangkan, namun dari kedua alat analisis tersebut memiliki perbedaan dalam cara perhitungannya. B/C rasio digunakan untuk mengetahui besarnya pengembalian dari biaya-biaya yang telah dikeluarkan, sedangkan BEP digunakan untuk mengetahui apakah besarnya biaya yang telah dikeluarkan lebih besar atau lebih kecil dari penerimaan yang didapat, sehingga dengan mengetahui nilai dari B/C rasio dan BEP akan memudahkan pengusaha dalam melihat kinerja usahanya berdasarkan manfaat dari setiap rupiah yang dikeluarkan serta batas minimum produksi dimana pengusaha tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan. 35 VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian 4.1.1 Letak Geografis Desa Blumbungan merupakan wilayah kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dengan keadaan topografi dataran rendah. Secara geografis Desa Blumbungan berada pada ketinggian 8 meter diatas permukaan air laut dengan suhu udara rata-rata 29°C. Kondisi tanah Desa Blumbungan yang subur dan cocok untuk usaha penanaman singkong, padi, jagung dan tembakau. Dengan adanya potensi wilayah inilah sehingga mayoritas penduduknya menanam komoditi tersebut. Adapun batas wilayah Desa Blumbungan adalah sebagai berikut : a) Sebelah Utara : Desa Pamaroh - Desa Bangkes (Kadur) b) Sebelah Barat : Desa Sentol – Kelurahan Kowel c) Sebelah Selatan : Kelurahan Kowel – Desa Plak-pak d) Sebelah Timur : Desa Brujugan – Desa Larangan Luar Jarak dari Desa Blumbungan ke kecamatan Larangan adalah sejauh 6 km dan jarak ke pemerintahan Kota Pamekasan sejauh 6 km. Sedangkan untuk jarak antara kota Pamekasan, kota Sampang dan Kota Bangkalan dapat ditempuh selama 2 jam. Dari rentang waktu tersebut menunjukkan jarak yang memungkinkan untuk perluasan area pemasaran sehingga meluas ke luar madura. Hal ini tentunya diperlukan peran pemerintah dalam upaya pengembangan pangsa pemasaran produk keripik singkong sehingga dapat dikenal meluas ke berbagai kota sebagai camilan khas kota Pamekasan. Sedangkan untuk batas desa antara desa Blumbungan ke desa lainnya tidak menempuh jarak yang jauh yaitu antara 4 - 5 km sehingga desa yang berdekatan dengan sentra produksi keripik singkong banyak memasok atau menjadi agen dalam pemasaran keripik singkong dan desa-desa tersebut juga memasok bahan mentah atau singkong sebagai bahan baku pembuatan keripik singkong. Hal ini tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi desa-desa tersebut karena desa lain mampu memasok bahan baku dan desa tersebut juga mampu menjual hasil dari olahan bahan baku sehingga memperoleh keuntungan bagi para peduduk desa. 19 36 4.1.2 Luas Wilayah dan Penggunaan Lahan Desa Blumbungan memiliki wilayah seluas 1200 Ha yang terdistribusi kedalam beberapa jenis penggunaannya. Jenis penggunaan lahan di Desa Blumbungan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3 berikut : Tabel 3. Jenis Penggunaan Lahan Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012. Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Jalan 150 Sawah dan Ladang 300 Bangunan Umum 190 Kolam dan Peternakan 100 Pemukiman 313 Jalur Hijau 45 Perkuburan 87 Lain-lain 15 Total 1200 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 12,5 25 15,83 8,33 26,13 3,75 7,25 1,25 100 Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa penggunaan lahan yang paling luas adalah untuk pemukiman penduduk yaitu seluas 313 Ha atau sebesar 26,13% penggunaan lahan lain yaitu sawah dan ladang yaitu seluas 300 Ha atau sebesar 25% yang biasa digunakan untuk tanaman padi, jagung, singkong dan tembakau. Bangunan umum seperti sekolah, masjid, kantor dan bangunan lain seluas 190 Ha atau sebesar 15,83%, penggunaan jalan umum dengan luas 150 Ha atau sebesar 12,5%, kolam dan peternakan dengan luas 100 Ha atau sebesar 8,33% yaitu dengan memelihara ikan mujair, ikan nila sedangkan peternakannya yaitu sapi, kambing, ayam dan bebek sedangkan penggunaan lahan untuk jalur hijau dengan luas 45 Ha atau sebesar 3,75% dan untuk luas lahan lain-lainnya 15 Ha atau sebesar 1,25%. 37 4.1.3 Kondisi Penduduk Jumlah penduduk Desa Blumbungan pada tahun 2012 tercatat sebanyak 17.122 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 5355 kepala keluarga. Komposisi dari seluruh penduduk tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : 4.1.3.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan data monografi terakhir, Desa Blumbungan memiliki total jumlah penduduk sebesar 17.122 jiwa. Komposisi jumlah penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4 berikut : Tabel 4. Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan 2012 Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Pria 8359 Wanita 8763 Total 17122 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 48,82 51,18 100 Berdasarkan Tabel 4 tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Blumbungan lebih banyak wanita daripada pria. Jumlah total penduduk wanita sebanyak 8763 jiwa atau sebesar 51,18% sedangkan jumlah total penduduk pria sebanyak 8359 atau sebesar 48,82%. Dari data tersebut maka pekerja dari agroindustri keripik singkong di daerah Blumbungan ini lebih banyak wanita daripada pria. Selain karena jumlah penduduk tersebut, pemilihan pekerja wanita dikarenakan sifat kerjanya yang lebih teliti, ulet dan terampil sehingga lebih baik dalam proses pembuatan keripik singkong. Sedangkan pria lebih banyak bekerja di sawah sebagai petani ataupun menekuni pekerjaan lain. Untuk pemilihan pekerja pria pada agroindustri keripik singkong lebih ditempatkan pada sistem pemasaran produk keripik singkong yang wilayah pemasarannya berada di kota lain namun masih dalam wilayah Madura. 38 4.1.3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia Komposisi penduduk Desa Blumbungan berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 5 berikut : Tabel 5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2012. Golongan Usia (Tahun) Jumlah (Jiwa) 0-10 875 11-20 2904 21-30 5714 31-40 4608 41-50 2656 > 50 365 Total 17.122 Sumber : Data monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 5,11 16,96 33,37 26,91 15,51 2,13 100 Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang paling tinggi di Desa Blumbungan adalah penduduk dengan usia 21-30 tahun yaitu sebesar 5.714 atau 33,37%. Urutan kedua dan ketiga adalah penduduk dengan golongan usia 31-40 tahun yaitu sebesar 4608 atau 26,91% dan 11-20 tahun sebesar 2904 atau 16,96%. Sedangkan untuk kisaran umur 41-50 tahun sebesar 2656 atau 15,51% dan untuk kisaran umur anak-anak yaitu 0-10 tahun sebesar 875 atau 5,11%. Sedangkan untuk kisaran umur > 50 sebesar 365 atau 2,13%. Dari kondisi tersebut dapat diketahui bahwa Desa Blumbungan memiliki potensi yang besar dalam penyediaan tenaga kerja yang produktif bagi lapangan pekerjaan yang tersedia di desa tersebut. 4.1.3.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan merupakan faktor penting dalam menunjang proses pembangunan suatu daerah karena merupakan suatu indikator dari kualitas sumberdaya manusia. Komposisi penduduk Desa Blumbungan berdasarkan tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Tabel 6 Berikut : 39 Tabel 6. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan Kota Pamekasan tahun 2012. Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Tidak Tamat SD 675 SD/Sederajat 6239 SMP/Sederajat 4823 SMA/Sederajat 5217 Sarjana (S1,S2,23) 168 Total 17122 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 3,94 36,43 28,16 30,47 0,98 100 Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk Desa Blumbungan memiliki tingkat pendidikan terakhir yaitu pada tingkat SD yaitu sebanyak 6239 jiwa atau 36,43%, hal ini karena sebagian besar penduduknya berada dalam katagori dewasa sampai lanjut usia dan pembangunan sekolah masih belum optimal dan pendapatan terdahulu tidak mencukupi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tingkat pendidikan SMP dan SMA yaitu sebesar 4823 atau 28,16% dan 5217 atau 30,47%, untuk tingkat Sarjana sebesar 168 atau 0.98%. dari segi tingkat pendidikan menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Desa Blumbungan pernah mendapatkan pendidikan di bangku sekolah, hal ini dapat diartikan bahwa hampir seluruh penduduk di Desa Blumbungan telah memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis sehingga mampu berkembang dan menyerap informasi dan inovasi khususnya di bidang agroindustri bagi masyarakat setempat. 4.1.3.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Mata pencaharian merupakan kegiatan yang memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, baik dalam biaya pendidikan hingga usaha tani dalam pemenuhan bibit atau bahan tanam karena sebagian besar penduduk ini adalah seorang petani. Mata pencaharian penduduk di Desa Blumbungan terdiri dari berbagai jenis pekerjaan, pengelompokan ini berdasarkan atas semua pekerjaan yang dijadikan sebagai sumber pendapatan. Komposisi penduduk berdasarkan mata pencahariannya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut : 40 Tabel 7. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan 2012 Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Belum/tidak bekerja 600 Karyawan 1907 Wiraswasta 3172 Petani 7719 Buruh 1795 Pensiunan 516 Nelayan 470 Ibu rumah tangga 650 Dokter/tenaga medis 200 Lain-lain 93 Total 17.122 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 3,5 11,13 18,52 45,08 10,48 3,01 2,74 3,79 1,16 0,54 100 Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk di Desa Blumbungan mempunyai mata pencaharian sebagai petani yaitu sebesar 7719 atau sebesar 45,08%. Data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan potensi daerah lebih cenderung ke sektor pertanian. Sedangkan untuk pekerjaan yang mendominasi selain pertanian wiraswasta, karyawan dan buruh. Pekerjaan tersebut cenderung dalam bidang sales ataupun karyawan toko dan buruh petani ataupun buruh bangunan. 4.1.4 Kondisi Pertanian Desa Blumbungan merupakan suatu daerah dengan kondisi tanah yang subur dan cocok untuk ditanami tanaman pangan seperti padi, jagung dan singkong, selain itu sayur-sayuran seperti kacang tanah dan buah-buahan seperti mangga, pisang dan lain-lain. Secara rinci kondisi pertanian di Desa Blumbungan dapat dilihat pada Tabel 8 berikut : 41 Tabel 8. Kondisi Pertanian di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012. Jenis Tanaman Luas (Ha) Padi 67 Jagung 70 Ketela pohon (Singkong) 72 Kacang tanah 19 Tomat 7 Timun 10 Pisang 30 Mangga 25 Total 300 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Hasil Panen (Ton) 22,33 23,33 24 6,33 2,33 3,33 10 8,33 100 Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui berbagai jenis tanaman yang ada di Desa Blumbungan yang meliputi tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan. Dari data tersebut menunjukkan bahwa singkong memiliki luas lahan yang besar dan selisih yang kecil dengan jagung dan padi yaitu sebesar 72 atau 24% dan 70 atau 23,33%, serta padi sebesar 67 atau 22,33%. Hal ini dikarenakan suhu dan kondisi lahan yang tepat jika ditanami tanaman tersebut sehingga tanaman tersebut mendominasi untuk dibudidayakan. Tanaman sayuran yang banyak ditanam adalah tomat dan timun yaitu sebesar 7 atau 2,33% dan 10 atau 3,33%. Sedangkan untuk buah yaitu pisang dan mangga sebesar 30 atau 10% dan 25 atau 8,33%. 4.2 Karakteristik Responden Agroindustri Keripik Singkong Karakteristik responden agroindustri keripik singkong merupakan suatu gambaran informasi mengenai keadaan atau hal-hal yang berkaitan tentang pengusaha keripik singkong dalam menjalankan usahanya di lokasi penelitian. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kegiatan dan kendala dalam menjalankan kegiatan produksi keripik singkong. Sebagian besar pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan menjadikan usaha agroindustri keripik singkong sebagai pekerjaan utama, hal ini dikarenakan agroindustri keripik singkong mampu memberikan pendapatan yang besar bagi pengusahanya. Pada umumnya para pengusaha keripik singkong di lokasi penelitian masih tergolong usaha skala kecil, hal ini dapat dilihat baik dari segi penggunaan bahan baku yaitu >50 kg dan dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja yang dimiliki yaitu 7- 42 10 orang. Yang membedakan hanyalah penggunaan bahan tambahan dan penggunaan mesin dalam pengemasan keripik singkong. Berdasarkan hasil penelitian terhadap keseluruhan pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan diperoleh karakteristik pengusaha agroindustri keripik singkong yaitu sebagai berikut : 4.2.1. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Usia Usia merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan suatu usaha,karena usia akan mempengaruhi kemampuan fisik dan daya fikir responden dalam mengambil suatu keputusan dan keaktifan mengelola usahanya. Berdasarkan hasil penelitian, usia pengusaha keripik singkong yang paling muda adalah 25 tahun, sedangkan usia pengusaha keripik singkong yang tertua adalah 40 tahun. Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan masih dalam usia produktif baik dalam segi tenaga dan pemikiran, sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan fisik yang dimiliki masih baik dan tentunya berpengaruh pada semangat kerja, oleh sebab itu pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan usahanya. Kisaran umur responden keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dikelompokkan kedalam beberapa golongan usia yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9 berikut : Tabel 9. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Kelompok Usia Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012 No Kelompok Usia (Tahun) 1. 21-30 2. 31-40 3. 41-50 4. > 50 Total Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah (Jiwa) 5 7 2 15 Persentase (%) 33,33 46,66 13,33 100 Berdasarkan Tabel 9 diatas dapat diketahui bahwa usia responden agroindustri keripik singkong yang tertinggi adalah pada golongan usia 31-40 tahun sebanyak 7 jiwa atau sebesar 46,66% dan pada tingkat kedua adalah pada golongan usia 21-30 tahun sebanyak 5 jiwa atau sebesar 33,33% dan yang terkecil adalah usia responden dengan golongan usia 41-50 tahun atau sebesar 13,33%. 43 Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan termasuk kedalam golongan usia tua. Hal ini dikarenakan para pelaku usaha merupakan lanjutan dari usaha sebelumnya yang dikerjakan oleh orang tua mereka, sehingga usaha ini berlanjut turun-temurun dan para pekerja yang membantu proses produksi adalah pekerja dengan usia golongan muda. 4.2.2. Karekteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan dapat digunakan sebagai indikator terhadap daya fikir dan kemudahan seseorang dalam menerima teknologi dan informasi secara baik. Pendidikan juga merupakan salah satu latar belakang dalam upaya pengembangan diri dan respon dalam mengatasi setiap kendala yang dihadapi. Pada umumnya pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan telah memiliki latar belakang pendidikan formal, dimana tingkat pendidikan terendah yakni pada tingkat SLTA, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan mudah untuk melakukan adopsi terhadap teknologi dan berpeluang untuk melakukan berbagai inovasi dalam menjalankan usahanya. Secara rinci tingkat pendidikan formal responden keripik singkong si Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 10 berikut : Tabel 10. Karekteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012 No Tingkat Pendidikan 1. SD 2. SLTP/Sederajat 3. SLTA/Sederajat 4. Sarjana(S1,S2,S3) Total Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah (Jiwa) 1 14 15 Persentase (%) 6,66 86,66 100 Berdasarkan Tabel 10 diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan responden keripik singkong terdiri dari tingkat SLTP dan SLTA, masing-masing sebanyak 1 atau sebesar 6,66% dan 14 atau sebesar 86,66%. Dari latar belakang pendidikan tersebut sangat mempengaruhi dalam upaya pengembangan usaha 44 karena tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan pola pikir, memperluas wawasan serta lebih memudahkan dalam menyerap informasi yang lebih maju dan berkembang. 4.2.3. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Lama Usaha Lama usaha memiliki kaitan yang erat dengan tingkat pengalaman usaha yang dimiliki. Semakin lama suatu usaha yang dijalankan, maka semakin banyak pula pengalaman yang dimiliki. Agroindustri keripik singkong telah lama ada yaitu 15 tahun, hal ini karena kota pamekasan merupakan sentra pemasok produk keripik singkong yang berbeda dan diolah secara tradisional. Selain itu potensi daerah dari hasil produksi singkong merupakan alasan utama dalam meningkatkan nilai tambah produk. Secara rinci lama usaha agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan dapat dilihat pada Tabel 11 berikut : Tabel 11. Karakteristrik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Lama Usaha di Desa Blumbunga, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No Lama Usaha (Tahun) 1. 1-5 2. 6-10 3. 11-15 Total Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah (Jiwa) 5 10 15 Persentase (%) 33,33 66,67 100 1 Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lama usaha pengusaha keripik singkong tertinggi berkisar antara 10-15 tahun yaitu sebanyak 10 jiwa dengan persentase 66,67%, sedangkan responden terendah yaitu lama usaha pada rentang tahun 6-10 tahun yaitu sebanyak 5 jiwa dengan persentase 33,33%. Hal ini dikarenakan keripik singkong merupakan jenis produk yang telah lama diproduksi dan dijadikan sebagai sentra camilan di kota Pamekasan sehingga telah memiliki pengalaman yang cukup dalam kegiatan pengolahannya. 4.2.4. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Jenis Usaha Karakteristik responden berdasarkan jenis usaha berkaitan dengan keberlanjutan usaha agroindustri keripik singkong yang dilakukan oleh pengusaha untuk mengetahui jenis usaha dari agroindustri tersebut. Pada umumnya pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan menjadikan usahanya sebagai pekerjaan utama, hal ini dikarenakan agroindustri keripik singkong memberikan 45 keuntungan dan nilai tambah bagi pengusahanya. Jenis usaha responden keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 12 berikut : Tabel 12. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Jenis Usaha di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No Jenis Usaha 1. Utama 2. Sampingan Total Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah (Jiwa) 15 15 Persentase(%) 100 100 Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa seluruh pengusaha keripik singkong menjadikan agroindustri keripik singkong sebagai pekerjaan utama yaitu sebanyak 15 jiwa atau sebesar 100%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha agroindustri keripik singkong dilaksanakan secara berkelanjutan karena telah menjadi usaha utama bagi pemiliknya. 4.2.5 Karakteristik Agroindustri Keripik Singkong Usaha pengolahan keripik singkong yang terdapat di Desa Blumbungan merupakan skala kecil dengan jumlah tenaga kerja berkisar 7-10 orang yang mengolah singkong menjadi keripik singkong dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah singkong. Desa Blumbungan merupakan sentra produksi keripik singkong yang juga merupakan produk unggulan dari Kota Pamekasan sebagai oleh-oleh khas dari kota ini. Desa Blumbungan juga telah mempunyai sarana transportasi yang memadai, yaitu jalan aspal yang menghubungkan Desa Blumbungan dengan desa lain dan dengan mudah dilewati oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Sarana transportasi yang memadai merupakan pendukung dalam kelancaran penyediaan bahan baku produksi dan pemasaran hasil. Karakteristik agroindustri keripik singkong diperlukan untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan dalam menyelanggarakan produksi keripik singkong. Karakteristik agroindustri keripik singkong adalah sebagai berikut : 4.2.5.1 Penyediaan Input Produksi Keripik Singkong Input produksi atau sering disebut faktor produksi merupakan korbanan yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk, baik berupa bahan atau alat- 46 alat yang menunjang proses produksi. Dalam menjalankan usaha agroindustri keripik singkong dibutuhkan faktor produksi untuk memperlancar kegiatan produksi dan mendorong pengembangan usaha serta meningkatkan keuntungan bagi pengusaha keripik singkong. Kegiatan penyediaan input produksi meliputi : 1) Modal Yang Digunakan Dalam Agroindustri Keripik Singkong Modal merupakan kekayaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha untuk melakukan suatu kegiatan usaha dengan mengeluarkan sejumlah biaya untuk menjalankan proses produksi. Modal sangat diperlukan dalam pengembangan usaha, karena semakin besar modal yang dimiliki maka akan dapat meningkatkan jumlah produksi yang dihasilkan sehingga tingkat keuntungan yang diperoleh juga akan semakin besar begitupun sebaliknya. Modal yang digunakan oleh pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan sebagian besar berasal dari modal pribadi, alasan dari pengusaha tidak melakukan pengajuan pinjaman pada Bank dikarenakan rumitnya birokrasi dan persyaratan yang diajukan oleh pihak Bank serta adanya tingkat suku bunga yang tinggi sehingga membuat para pengusaha keripik singkong lebih memilih untuk memaksimalkan modal usahanya dari modal pribadi sehingga dirasa lebih efisien dan efektif dalam menjalankan usahanya. Besarnya modal yang dimiliki oleh para pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat dari besarnya total biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi. Besarnya biaya yang dimiliki oleh para responden dapat dilihat pada tabel 13 berikut : Tabel 13. Besarnya Biaya Yang Dikeluarkan Dalam Satu Kali Proses Produksi, Oleh Pengusaha Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2013. Biaya Total (Rp) Jumlah Pengusaha (Jiwa) 100.000 – 500.000 8 500.000 - 1.000.000 7 1.000.000 – 2.000.000 Total 15 Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Persentase (%) 60 40 100 Berdasarkan Tabel 13 dapat diketahui bahwa produsen yang memiliki modal dengan kisaran modal Rp. 100.000 – Rp. 500.000 sebanyak 8 jiwa atau 60% dan produsen dengan Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 sebanyak 7 jiwa atau 40%. Dengan 47 adanya jumlah modal yang rendah maupun tinggi diharapkan keuntungan yang diperoleh akan lebih besar dari setiap satu rupiah modal yang dikeluarkan. 2) Bahan Yang Digunakan Dalam Agroindustri Keripik Singkong Bahan yang digunakan dalam agroindustri keripik singkong dibagi menjadi dua yaitu bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong adalah singkong. Bahan baku yang diperoleh produsen berasal dari petani di daerah sekitar kota Pamekasan. Produsen keripik singkong biasanya membeli singkong dalam hitungan karung, yang mana setiap karung berisi ± 5 – 10 kg singkong dengan kisaran harga Rp. 2000 – Rp. 2200 per kg. Kapasitas penggunaan bahan baku untuk setiap produsen keripik singkong juga berbeda-beda yaitu berkisar antara 50 – 100 kg dalam satu kali proses produksi. Kapasitas bahan baku merupakan kemampuan masing-masing produsen dalam menyediakan bahan baku singkong untuk produksi keripik singkong. Bahan lain yang digunakan dalam agroindustri keripik singkong adalah bahan penolong. Bahan penolong yang digunakan terdiri dari garam, air, teri dan bahan bakar. Para pengusaha keripik singkong tidak pernah mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku maupun bahan penolong, hal ini dikarenakan lokasi agroindustri berada di Kota Pamekasan yang berpotensi sebagai penghasil singkong. Selain itu, letak agroindustri keripik singkong yang juga dekat dengan pasar akan memudahkan pengusaha dalam mendapatkan bahan penolong yang dibutuhkan. Dari 15 responden keripik singkong hanya 10 diantaranya yang menggunakan bahan tambahan teri sedangkan untuk 5 responden lain tidak menggunakan teri. Hal ini dikarenakan agar ada variasi rasa yang berbeda karena lokasi tempat produksi hyang berdekatan dan merupakan sentra dalam pembuatan keripik singkong. Keripik singkong yang dihasilkan biasanya telah dikemas dengan menggunakan kemasan plastik dengan sablon merk produk. Alasan menggunakan kemasan plastik karena dirasa awet dan tahan lama daripada menggunakan karton, selain itu agar menjaga mutu produk sehingga tidak mudah rusak. Pembelian kemasan dilakukan yaitu dengan membeli langsung kemasan plastik sedangkan untuk merk produk dengan mendesain serta mencetak sendiri dengan kisaran harga plastik Rp.20.000 per roll dan kertas untuk desain Rp.100 – Rp.200 per 48 kemasan. Namun ada salah satu responden yang tidak menggunakan kemasan plastik namun dijual tanpa kemasan dan dijual seluruhnya dalam bentuk jumlah kilo keripik. Biasanya para pembeli yang membeli keripik tanpa kemasan ini adalah penjual yang menggunakan campuran keripik singkong. Penggunaan bahan baku dan bahan penolong dalam proses produksi keripik singkong pada setiap agroindustri jumlahnya berbeda. Perbedaan kapasitas penggunaan bahan tersebut dipengaruhi oleh modal dan jumlah permintaan pasar. Namun perbedaan kisaran jumlah yang digunakan tidak terlalu jauh, hal ini karena dalam sentra produksi keripik singkong para pengusaha berada dalam suatu lingkungan yang berdekatan serta tidak terjadi persaingan yang berarti. Secara rinci kebutuhan bahan-bahan yang digunakan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 14 berikut : Tabel 14. Rata-rata Kebutuhan Bahan Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No Kebutuhan Bahan Bahan Baku Singkong (kg) 2. Bahan Penolong Teri (kg) Garam (kg) Air (Liter) Gas (kg) 3. Bahan Pelengkap Kemasan Plastik (Roll) Kertas (kg) Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah ( Satuan ) Semi Modern Tradisional 85,71 50 1 0,42 1,7 2,5 0,25 1 1,5 1. 1,7 0,85 - Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa rata-rata kebutuhan bahan baku singkong yang digunakan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri semi modern sebesar 85,71 kilogram dan pada agroindustri tradisiona sebesar 50 kg, sedangkan untuk bahan penolong disesuaikan dengan modal dan kebutuhan masing-masing pengusaha. Misalnya penggunaan teri dari ke lima belas produsen lima diantaranya tidak menggunakan teri. Adanya penambahan bahan yang tidak 49 sama antara para produsen keripik singkong akan menghasilkan rasa keripik singkong yang berbeda antara pedagang satu dengan pedagang yang lainnya. 3) Tenaga Kerja Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting dalam menjalankan suatu usaha. Adanya ketersediaan tenaga kerja yang memadai dan berpengalaman, akan mendukung kelancaran dalam proses produksi. Tenaga kerja pada agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan ini jumlahnya berkisar antara 7 - 10 orang yang sebagian besar dari luar anggota keluarga. Tenaga kerja yang dipilih mayoritas adalah wanita karena lebih ulet dan teliti dalam kegiatan proses produksinya. Dalam sistem pengupahan tidak ada perbedaan antara tenaga kerja yang berasal dari dalam anggota keluarga maupun tenaga kerja dari luar anggota keluarga. Dalam proses pengolahan keripik singkong terdapat sistem pembagian tugas tenaga kerja, pembagian tugas tersebut tergantung pada tahapan proses produksi. Para tenaga kerja umumnya bekerja mulai pukul 08.00 WIB – 13.00 WIB dengan sistem pembayaran upah secara harian yang jumlahnya berkisar antara Rp. 15.000 – Rp. 20.000 per satu kali proses produksi. Tahapan kegiatan produksi yang dilakukan oleh tenaga kerja meliputi pengupasan kulit singkong, pemotongan singkong, pencucian singkong, pengukusan singkong, pengirisan singkong, penumbukan singkong, penjemuran keripik singkong dan pengemasan keripik singkong. Penggunaan tenaga kerja dan pemberian upah dalam agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 15 berikut : Tabel 15. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja Dan Pemberian Upah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. Jumlah Tenaga Kerja ( Jiwa ) 8 Sumber : Data Primer Diola, 2013 Upah Tenaga Kerja (Rp) 18.333 Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa rata-rata tenaga kerja yang dibutuhkan oleh masing-masing pengusaha dalam agroindustri keripik singkong adalah sebanyak 134 atau 8 orang dengan upah rata-rata untuk setiap tenaga kerja pada ke lima belas agroindustri adalah Rp. 18.333 per satu kali proses produksi. 50 4) Teknologi Peralatan Jenis teknologi yang digunakan dalam suatu kegiatan produksi akan berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas produk yang dihasilkan. Teknologi yang digunakan dalam kegiatan produksi agroindustri keripik singkong bersifat tradisional yaitu dengan tenaga manusia dan hanya menggunakan mesin press untuk pengemasan. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi agroindustri keripik singkong meliputi alat press, pisau, alat tumbuk, baskom, talenan, kayu, pengukus, kompor, dan alat penjemur. Dari peralatan tersebut yang termasuk peralatan dengan teknologi modern hanya mesin press. Penggunaan alat-alat tradisional ini umum digunakan karena lebih tertata dan terukur baik tingkat rasa, ukutan atau ketebalannya. Penggunaan mesin dalam proses produksi keripik singkong belum ada yang menerapakan hal ini karena kendala modal ataupun tidak adanya informasi dalam pengaplikasian alat-alat pendukung proses produksi keripik singkong. 4.2.6 Proses Produksi Keripik Singkong A. Bahan-bahan Keripik singkong merupakan salah satu produk olahan dari singkong. Singkong yang digunakan sebagai bahan baku merupakan singkong pilihan yaitu singkong kuning dan empuk saat diolah.untuk mendapatkan produk olahan yang mempunyai kualitas baik diperlukan singkong dengan tingkat kemasakan singkong yang tepat, yaitu tidak terlalu tua ataupun tidak terlalu muda. Sedangkan untuk bahan penolong yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik singkong meliputi teri, garam, air dan bahan bakar. B. Alat-alat Peralatan yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong sebagian besar merupakan peralatan sederhana dan hanya satu teknologi modern yang digunakan dalam kegiatan pengemasan keripik singkong. Peralatan sederhana yang digunakan dalam kegiatan produksi keripik singkong meliputi pisau, alat tumbuk, baskom, talenan, kayu, dan pengukus. Dari semua peralatan tersebut, tidak semua pengusaha memiliki jumlah peralatan yang sama, hal ini dikarenakan adanya perbedaan jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing pengusaha 51 serta adanya perbedaan kapasitas bahan baku yang digunakan. Penggunaan jumlah dan jenis peralatan yang tidak sama diantara setiap pengusaha keripik singkong akan menyebabkan output yang dihasilkan berbeda antara pengusaha yang satu dengan pengusaha yang lainnya. Secara rinci alat-alat yang digunakan dalam proses produksi keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 16 berikut : Tabel 16. Alat-alat Yang Digunakan Dalam Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No 1 Nama Alat Alat Press Fungsi Untuk pengemasan poduk dengan kemasan plastik. 2 Pisau Untuk mengupas dan memotong bahan-bahan pembuat keripik singkong. 3 Alat Tumbuk Untuk menumbuk singkong yang telah matang. 4 Baskom Usebagai wadah untuk menampung bahan-bahan pembuatan keripik singkong. 5 Talenan Untuk tempat memotong singkong 6 Kayu Untuk alas dalam pembuata keripik singkong. 7 Pengukus Untuk tempat mengukus singkong. 8 Kompor Alat pemanas saat mengukus singkong. 9 Alat Pejemuran Untuk wadah dalam proses penjemuran keripik Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah Ratarata ( Buah ) 1 4 4 8 4 4 3 2 8 C. Proses Pembuatan Keripik Singkong Dalam proses pengolahan singkong menjadi keripik singkong yang harus diperhatikan adalah proses penumbukan singkong, karena pada tahap ini dibutuhkan ketelitian untuk menentukan ukuran dan ketebalan keripik yang diinginkan. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan dalam pembuatan keripik singkong yang terdiri dari delapan tahapan meliputi pengupasan, pemotongan, pencucian, pengukusan, pengirisan, penumbukan, penjemuran dan pengemasan.. Secara rinci tahapan pembuatan keripik singkong dijelaskan sebagai berikut : 52 1) Pengupasan Pengupasan singkong merupakan kegiatan untuk menghilangkan kulit singkong. Hal ini karena dalam proses pembuatannya, daging umbi yang dibutuhkan untuk pembuatan keripik singkong. 2) Pemotongan Pemotongan singkong dilakukan untuk memperkecil ukuran umbi sehingga mempermudah proses pengukusan dan pengirisan singkong. Adanya tahapan pemotongan juga mempercepat proses kematangan singkong sehingga kegiatan produksi bisa lebih efisien 3) Pencucian Pencucian dilakukan setelah sigkong dipotong-potong, hal ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan sisa kulit buah yang masih menempel pada daging umbinya. Tahapan pencucian dilakukan secara manual dengan menggunakan bantuan air. 4) Pengukusan Tahapan pengukusan diakukan dengan tujuan agar daging umbi menjadi lebih lunak. Adanya tahapan pengukusan akan membuat hasil keripik akan lebih renyah. 5) Pengirisan Pengirisan singkong dilakukan untuk memperkecil ukuran umbi setelah proses pengukusan singkong. Adanya tahapan ini merupakan penetapan ukuran yang tepat sebelum ditumbuk menjadi keripik. 6) Penumbukan Penumbukan singkong dilakukan untuk melunakkan singkong yang telah dikukus dan diiris sehingga diperoleh keripik yang renyah. 7) Penjemuran Proses penjemuran dilakukan untuk mengurangai kadar air pada keripik sehingga keripik akan lebih tahan lama. Proses penjemuran dilakukan di bawah sinar matahari langsung selama 2 jam. 8) Pengemasan Setelah keripik kering, maka keripik telah siap dikemas dengan menggunakan plastik dan mesin press. 53 Singkong Pengupasan kulit umbi Pemotongan daging umbi Pencucian daging umbi Pengukusan daging umbi Agar daging umbi lebih lunak Pengirisan daging umbi yang telah lunak Penumbukan Tambahkan air garam dan teri penjemuran dikemas Skema 2. Proses Pembuatan Keripik Singkong Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. 54 4.2.8 Kapasitas Produksi Kemampuan produksi yang dilakukan oleh masing-masing pengusaha keripik singkong berbeda. Hal ini dikarenakan jumlah modal yang dimiliki oleh setiap pengusaha tidak sama sehingga mempengaruhi kemampuan untuk membeli bahan baku dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik singkong. Jumlah produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap pengusaha keripik singkong dapat dilihat secara rinci pada Tabel 17 berikut : Tabel 17. Jumlah Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. Jumlah Jumlah Produksi ( kg ) Total Rata-rata Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Semi modern Tradisional 720 51,4 30 30 Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa jumlah produksi keripik singkong dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern yaitu 51,4 kg sedangkan pada agroindustri keripik singkong tradisional yaitu 30 kg. Adanya jumlah produksi yang berbeda disebabkan oleh perbedaan kapasitas bahan baku dan bahan-bahan lainnya yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong. 4.2.9. Pemasaran Kegiatan pemasaran merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh setiap pengusaha, termasuk juga pengusaha keripik singkong. Keripik singkong merupakan produk khas Pamekasan namun dibutuhkan perluasan pemasaran sehingga lebih meningkatkan keuntungan dan lebih dikenal oleh kotakota lain. Pemasaran keripik singkong yang dihasilkan oleh agroindustri keripik singkong Di Desa Blumbungan sebagian besar hanya berkisar di wilayah madura, akan tetapi terdapat juga di wilayah Surabaya. Dalam pemasaran produknya, agroindustri keripik singkong menggunakan jasa lembaga pemasaran yang meliputi agen, grosir dan pengecer atau retailer, namun terdapat juga pengusaha keripik singkong yang langsung menjual produknya kepada konsumen akhir. 55 Dalam kegiatan distribusi produk, pengusaha keripik singkong biasanya mengirimkan langsung produknya kepada agen, grosir, pengecer, namun terdapat juga beberapa pengusaha keripik singkong yang produknya diambil langsung oleh agen dan grosir ataupun penjual makanan yang menggunakan tambahan keripik singkong. Penjualan produk menggunakan bantuan lembaga pemasaran dirasa lebih efektif dalam menunjang kegiatan pemasaran produk, hal ini dikarenakan keuntungan yang bisa diperoleh oleh pengusaha lebih besar dibandingkan jika menjualnya langsung kepada konsumen akhir. Apabila dilihat dalam segi harga, produk keripik singkong dijual seharga Rp. 8.800/pc atau Rp.32.000/ kg untuk konsumen akhir, sedangkan untuk lembaga pemasaran dijual seharga Rp.7.700/pc atau Rp. 30.893/kg, sedangkan pada agroindustri keripik singkong tradisional menjual produknya langsung pada konsumen akhir dengan harga Rp.26.600. Perbedaan harga tersebut jika dilihat bahwa pengusaha yang menjual produknya pada konsumen akhir akan lebih untuk dibandingkan dengan menjualnya pada lembaga pemasaran, akan tetapi pada kenyataannya pengusaha akan menerima keuntungan yang lebih besar pada saat menjual produknya pada lembaga pemasaran, hal ini dikarenakan meski harga produk yang diberlakukan lebih murah dibandingkan pada konsumen akhir, namun kuantitas pembelian yang dilakukan oleh pihak lembaga pemasaran jauh lebih besar, sehingga penerimaan konsumen juga akan meningkat. Pola pemasaran produk keripik pada agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Gambar 3 berikut : Agen Pengecer/ Retailer Konsumen Akhir Produsen Keripik Singkong Konsumen Akhir Gambar 3. Pola Pemasaran Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. 56 Sistem pembayaran dalam penjualan keripik singkong yang menggunakan tenaga konvensional ini pada umumnya bersifat sistem pembayaran langsung, yaitu peran pembeli yang meliputi agen, grosir dan pengecer/retailer langsung membayar secara tunai terhadap produk keripik singkong yang telah dibeli, sedangkan pada agroindustri yang menggunakan alat tradisional memasarkan produknya langsung pada konsumen akhir dalam jumlah kilogram sesuai permintaan konsumen. 4.3 Analisis Nilai Tambah Agroindustri Keripik Singkong Analisis nilai tambah digunakan untuk mengetahui adanya nilai tambah yang terdapat pada satu kilogram singkong yang diolah menjadi keripik singkong. Besarnya nilai tambah diperoleh dari hasil pengurangan nilai produksi yang dihasilkan terhadap biaya bahan baku ditambah input lainnya, tidak termasuk tenaga kerja. Dengan mengetahui perkiraan dari nilai tambah pada agroindustri keripik singkong, diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai rasio nilai tambah terhadap produk keripik singkong yang dihasilkan, imbalan tenaga kerja, dan keuntungan bagi pengusaha agroindustri keripik singkong, selain itu diharapkan pada para petani singkong agar menyadari bahwa singkong jika diolah menjadi produk olahan hasil panen mampu memberikan nilai tambah dan memberikan keuntungan yang lebih besar daripada dijual dalam bentuk segar tanpa pengolahan lebih lanjut. Dalam analisis nilai tambah ini akan dibandingkan berapa besar nilai tambah pada agroindustri semi modern dengan agroindustri tradisional jika menggunakan jumlah bahan baku dan tenaga kerja yang sama. Analisis nilai tambah pada agroindustri keripik singkong semi modern di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 18 berikut : 57 Tabel 18. Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong semi modern Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2013. Output, Input, Harga Nilai 1. Hasil Produksi (kg/Proses produksi) 29,9 2. Bahan Baku (kg/Proses Produksi) 50 3. Tenaga Kerja (Jam) 5 4. Faktor Konversi (1/2) 0,59 5. Koefisien Tenaga Kerja (3/2) 0,1 6. Harga Produk (Rp/kg) 31.200 7. Upah Rata-rata (Rp/Jam) 3.000 Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong) 8. Harga Bahan Baku (Rp/kg) 2.028,6 9. Input Lain (Rp/kg) 1.786,7 10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg) 18.408 11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg) 14.592,7 b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%) 79,27 12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg) 300 b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%) 2,1 13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp) 14.292,7 b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%) 97,9 Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Berdasarkan Tabel 18 dapat diketahui bahwa usaha agroindustri keripik singkong jika menggunakan bahan baku singkong yang sama dengan agroindustri tradisional yaitu sebanyak 50 kg/proses produksi dapat menghasilkan produk keripik singkong sebanyak 29,9 kg/per proses produksi. Dari data diatas menunjukkan bahwa besarnya nilai tambah rata-rata pada agroindustri keripik singkong adalah Rp. 14.592,7/kg bahan baku singkong. Besarnya nilai tambah pada suatu produk dipengaruhi oleh besarnya nilai produksi karena nilai tambah dihasilkan dari pengurangan nilai produksi terhadap bahan baku (Rp/kg) ditambah input lainnya (Rp/kg). Input lainnya meliputi nilai penjumlahan biaya bahan penolong, biaya pelengkap dan biaya lain-lain. Pada agroindustri semi modern menggunakan bahan tambahan teri sedangkan pada agroindustri tradisional tidak menggunakan teri. Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik singkong adalah sebesar 79,27%, hal ini berarti bahwa 79,27% nilai produksi keripik singkong merupakan penambahan nilai yang dihasilkan dari perlakuan yang dilakukan terhadap bahan baku keripik singkong yaitu singkong. Pendapatan atau imbalan tenaga kerja dari setiap kilogram bahan baku 58 singkong yang diolah menjadi keripik singkong adalah sebesar 520 dan bagian tenaga kerja sebesar 1,04 %. Imbalan tenaga kerja dipengaruhi oleh besarnya koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja per jam. Koefisien tenaga kerja menunjukkan besarnya curahan tenaga kerja per jam yang dibutuhkan untuk mengolah satu kilogram singkong menjadi keripik singkong sebanyak 0,14 jam. Keuntungan yang diperoleh dari agroindustri keripik singkong adalah sebesar Rp. 14.292,7/kg bahan baku, sedangkan tingkat keuntungan yang diperoleh adalah sebesar 97,9% dari nilai tambah, artinya setiap satu kilogram bahan baku dengan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan sebesar 14.292,7. Tabel 19. Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong tradisional Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangann, Kota Pamekasan tahun 2013. Output, Input, Harga Nilai 1. Hasil Produksi (kg/Proses produksi) 30 2. Bahan Baku (kg/Proses Produksi) 50 3. Tenaga Kerja (Jam) 5 4. Faktor Konversi (1/2) 0,6 5. Koefisien Tenaga Kerja (3/2) 0,1 6. Harga Produk (Rp/kg) 26.600 7. Upah Rata-rata (Rp/Jam) 3.000 Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong) 8. Harga Bahan Baku (Rp/kg) 2.000 9. Input Lain (Rp/kg) 1.229 10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg) 15.960 11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg) 12.731 b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%) 79,08 12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg) 300 b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%) 2,35 13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp) 12.431 b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%) 97,6 Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa usaha agroindustri keripik singkong dengan menggunakan bahan baku singkong sebanyak 50 kg/proses produksi dapat menghasilkan produk keripik singkong sebanyak 30 kg/per proses produksi. Dari data diatas menunjukkan bahwa besarnya nilai tambah rata-rata pada agroindustri keripik singkong adalah Rp. 12.731/kg bahan baku singkong. Besarnya nilai tambah pada suatu produk dipengaruhi oleh besarnya nilai produksi karena nilai tambah dihasilkan dari pengurangan nilai produksi terhadap 59 bahan baku (Rp/kg) ditambah input lainnya (Rp/kg). Input lainnya meliputi nilai penjumlahan biaya bahan penolong, biaya pelengkap dan biaya lain-lain. Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik singkong adalah sebesar 79,08%, hal ini berarti bahwa 79,08% nilai produksi keripik singkong merupakan penambahan nilai yang dihasilkan dari perlakuan yang dilakukan terhadap bahan baku keripik singkong yaitu singkong. Pendapatan atau imbalan tenaga kerja dari setiap kilogram bahan baku singkong yang diolah menjadi keripik singkong adalah sebesar 300 dan bagian tenaga kerja sebesar 2,35 %. Imbalan tenaga kerja dipengaruhi oleh besarnya koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja per jam. Koefisien tenaga kerja menunjukkan besarnya curahan tenaga kerja per jam yang dibutuhkan untuk mengolah satu kilogram singkong menjadi keripik singkong sebanyak 0,01 jam. Keuntungan yang diperoleh dari agroindustri keripik singkong adalah sebesar Rp. 12.431/kg bahan baku, sedangkan tingkat keuntungan yang diperoleh adalah sebesar 97,6% dari nilai tambah, artinya setiap satu kilogram bahan baku dengan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan sebesar 12.431. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong semi modern di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan memberikan nilai tambah sebesar 79,33% atau tinggi dan agroindustri keripik singkong tradisional 79,08% termasuk golongan nilai tambah tinggi . Hal ini dapat diartikan bahwa usaha agroindustri keripik singkong telah mampu memberikan keuntungan pada pengusaha keripik singkong. Perhitungan nilai tambah pada agroindustri keripik singkong bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai tambah dalam satu kilogram singkong setelah diolah menjadi keripik singkong, hal ini berguna sebagai bahan informasi bagi produsen keripik singkong dalam usaha mengembangkan produksinya. Selain itu dengan diketahui besarnya nilai tambah terhadap pengolahan keripik singkong diharapkan usaha ini akan mendapat perhatian lebih lanjut dari pemerintah daerah setempat baik pemenuhan bahan baku, modal dan kegiatan pemasarannya sehingga akan menarik minat investor untuk bekerja sama dalam melakukan pengembangan agroindustri keripik singkong. Produk yang memiliki nilai tambah sudah pasti produk tersebut 60 memberikan keuntungan bagi pengusahanya, akan tetapi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penerimaan dan keuntungan yang dihasilkan oleh agroindustri keripik singkong maka dibahas lebih lanjut dalam bahasan mengenai penerimaan dan keuntungan. 4.4 Analisis Kelayakan Usaha 4.4.1 Analisis Penerimaan Analisis penerimaan dan keuntungan digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui berapa besarnya keuntungan yang diperoleh oleh agroindustri keripik singkong baik yang menggunakan mesin press ataupun agroindustri yang tidak mengunakan mesin. Untuk mengetahui berapa besarnya tingkat penerimaan dan keuntungan dari agroindustri keripik singkong, maka sebelumnya harus dilakukan perhitungan terhadap semua biaya produksi. Biaya produksi terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Perhitungan terhadap biaya produksi yang digunakan dalam proses produksi keripik singkong adalah sebagai berikut : 4.4.1.1 Biaya Produksi 1) Biaya Tetap Biaya tetap (fixed cost) merupakan biaya yang jumlahnya tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi. Biaya yang termasuk kategori biaya tetap dalam agroindustri keripik singkong adalah biaya penyusutan semua peralatan produksi. Peralatan tersebut meliputi pisau, alat tumbuk, baskom, talenan, kayu, dan pengukus. Dari semua peralatan tersebut, tidak semua pengusaha memiliki jumlah peralatan yang sama, hal ini dikarenakan adanya perbedaan jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing pengusaha serta adanya perbedaan kapasitas bahan baku yang digunakan. Dalam perhitungan biaya penyusutan dalam satu kali proses produksi harus diketahui banyaknya proses produksi yang dilakukan dalam satu tahun. Pada setiap agroindustri keripik singkong, banyaknya kegiatan produksi yang dilakukan dalam satu tahun memiliki jumlah yang sama namun berbeda hari. Untuk semua agroindustri dalam satu tahun melakukan kegiatan produksi sebanyak 192 hari. Banyaknya kegiatan produksi dalam satu tahun tersebut diperoleh dengan menghitung hari kerja normal dikurangi hari libur dimana satu kali proses 61 produksi membutuhkan waktu satu hari. Besarnya biaya penyusutan peralatan produksi agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 20 berikut : Tabel 20. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Produksi Dalam Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No Jenis Alat Semi modern Rata-rata (Rp) 1 2 3 Persentase (%) Alat Press 4.240 40,11 Pisau 169,5 1,6 Alat 169,5 1,6 Tumbuk 4 Baskom 322,84 3,1 5 Talenan 276,78 2,5 6 Kayu 346,65 3,3 7 Pengukus 2678,7 25,3 8 Kompor 1250 11,8 9 Alat 1116 10,5 Pejemuran Total Biaya 10.570 100 Tetap Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Tradisional Rata-rata Persentase (Rp) (%) 72 1,7 72 1,7 218,7 187,5 234,4 1562,6 1250 651 5,1 4,4 5,5 36,8 29,4 15,3 4248 100 Berdasarkan Tabel 20 dapat diketahui bahwa besarnya rata-rata biaya tetap per satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 10.5.70. Alokasi biaya penyusutan terbesar adalah pada alat press yaitu sebesar Rp. 4.240 atau 40,11% dari total biaya penyusutan satu kali proses produksi. Alat press memiliki biaya penyusutan yang paling besar karena harga pembelian sebesar Rp. 750.000 dengan umur ekonomis 5 tahun. Bahan dari alat press ini yaitu dari mesin yang bertahan lama. Sedangkan biaya penyusutan terkecil adalah pisau dan alat tumbuh sebesar Rp. 169,5 atau 1,6% per satu kali proses produksi. Sedangkan pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin adalah sebesar Rp.4248. alokasi biaya penyusutan terbesar adalah pada alat pengukus yaitu sebesar Rp. 1562,6 atau sebesar 36,8% dari total biaya penyusutan satu kali proses produksi alat pengukus memiliki biaya penyusutan terbesar karena harga pembelian sebesar Rp.200.000 dengan umur ekonomis selama 2 tahun. Sedangkan biaya penyusutan terkecil adalah pisau dan alat tumbuh sebesar Rp. 72 atau 1,7% per satu kali proses produksi Besarnya 62 biaya penyusutan masing-masing peralatan tergantung pada jumlah peralatan yang dimiliki, umur ekonomis, harga beli awal dan harga sisa. Perincian biaya tetap untuk masing-masing responden dapat dilihat pada Lampiran 1. 2) Biaya Variabel Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah produksi. Besarnya perubahan biaya variabel dipengaruhi oleh volume produksi yang dihasilkan, perubahan bahan baku dan biaya lainnya yang digunakan. Biaya variabel yang digunakan dalam proses produksi agroindustri keripik singkong meliputi biaya bahan baku, bahan penolong, biaya pelengkap, biaya lain-lain dan upah tenaga kerja. Besarnya biaya variabel dalam agroindustri keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 21 berikut : Tabel 21. Rata-Rata Variable Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. Jenis Biaya Variabel 1 2 Semi modern Rata-rata Persentas (Rp) e (%) 174.285,71 52,4 35.557,14 10,7 Bahan Baku Bahan Penolong 3 Bahan 43.714,00 Pelengkap 4 Biaya Lain61.785,71 lain 5 Upah Tenaga 18.571,43 Kerja Total Biaya 332.628,57 Variabel Sumber : Data Primer diolah, 2013 Tradisional Rata-rata Persentase (Rp) (%) 100.000,00 60,8 9.450,00 5,7 13,1 - - 18,6 40.000,00 24,3 5,6 15.000,00 9,1 100 164.450,00 100 Berdasarkan Tabel 21 dapat diketahui bahwa besarnya total biaya variabel dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong dengan menggunakan mesin adalah Rp. 332.628,57 Biaya variabel yang memiliki nilai terbesar digunakan untuk pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp. 174.285,71atau 52,4%. Sedangkan besarnya total biaya variabel dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin adalah Rp. 164.450,00. Biaya variabel yang memiliki nilai terbesar digunakan untuk pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp. 100.000 atau 60,8% Rata-rata dalam satu 63 kali proses produksi agroindustri keripik singkong menggunakan bahan baku singkong sebanyak 83,33 kg dengan harga Rp.2.026,66/kg. Besarnya biaya bahan baku pada setiap agroindustri keripik singkong berbeda tergantung banyaknya jumlah bahan baku singkong yang akan diolah. Penggunaan biaya lain-lain menempati tingkatan terbesar kedua setelah biaya bahan baku yaitu sebesar Rp. 61.785,71 atau 18,6%. Sedangkan untuk agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 40.000,00 atu sebesar 24,3%. Biaya lain-lain meliputi biaya transportasi untuk pengiriman produk pesanan keripik singkong dari luar madura. Penggunaan biaya bahan pelengkap pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin berada pada urutan ketiga yaitu Rp. 43.714,00 atau 13,1%. Bahan pelengkap ini meliputi plastik dan kertas. Rata-rata biaya satu kemasan plastik yaitu Rp. 120,48, sedangkan rata-rata biaya satu kertas sebagai merk produk seharga Rp.15. besarnya biaya bahan pelengkap pada setiap agroindustri tidak sama tergantung pada besarnya volume produksi yang akan dihasilkan. Biaya bahan penolong pada agroindustri yang menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 35.557,14 atau 10,7%. Sedangkan pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 9.450,00 atau sebesar 5,7%. Bahan penolong ini meliputi garam,air, teri dan bahan bakar. Besarnya biaya bahan penolong setiap agroindustri keripik singkong berbeda tergantung besarnya volume produksi yang akan dihasilkan, sedangkan untuk rata-rata besarnya upah tenaga kerja yang harus dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong dalam satu kali proses produksi yaitu sebesar Rp. 18.571,43 atau sebesar 5,6% dari total biaya variabel. Sedangkan pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 15.000,00 atau sebesar 9,1%. 3) Biaya Total Biaya total merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi guna menghasilkan suatu produk yang memiliki nilai lebih tinggi dari bentuk sebelumnya. Biaya total dalam agroindustri keripik singkong diperoleh dari penjumlahan total biaya tetap dan total biaya variabel. Total biaya tetap diperoleh dari total perhitungan biaya penyusutan peralatan, sedangkan biaya 64 variabel dipengaruhi dari total perhitungan seluruh biaya yang sifatnya dipengaruhi oleh besar kecilnya volume produksi. Biaya total agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungnan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dalam satu kali proses produksi dapat dilihat pada Tabel 22 berikut : Tabel 22. Rata-Rata Total Biaya Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013 No Uraian 1 2 Semi modern Rata-rata Persentase (Rp) (%) 10.570,28 3,1 333.807,14 96,93 Biaya Tetap Biaya Variabel Total Biaya 344.377,43 Sumber : Data Primer Diolah, 2013 100 Tradisional RataPeresentase(%) rata(Rp) 4228,00 2,5 164.450,00 97,5 168.678,00 100 Berdasarkan Tabel 22 dapat diketahui bahwa besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp. 344.377,43. Sedangkan besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp168.678,00. Dengan mengetahui besarnya biaya total produksi dalam agroindustri keripik singkong, maka akan dapat diketahui besarnya harga pokok yang harus ditawarkan oleh produsen untuk satu kilogram singkong. Besarnya harga pokok untuk satu kilogram keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 23 berikut : Tabel 23. Rata-Rata Total Harga Pokok Satu Kilogram Kerpik Singkong Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No. 1 Uraian Total Produksi (kg/proses produksi) 2 Biaya Produksi (Rp/kg) Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Semi modern Rata-rata 50 Tradisional Rata-rata 50 6.687,55 3.373,56 Dari Tabel 23 dapat diketahui bahwa total biaya produksi untuk satu kilogram keripik singkong yang menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 6.687,55. 65 Sedangkan total biaya produksi untuk satu kilogram keripik singkong yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 3.373,56. Total biaya produksi satu kilogram keripik singkong merupakan hasil pembagian antara total biaya (Rp/proses produksi) dengan total produksi keripik singkong (kg/proses produksi). Dengan mengetahui besarnya biaya produksi satu kilogram keripik singkong, maka produsen dapat mengetahui berapa harga minimum yang harus ditawarkan untuk satu kilogram keripik singkong. Harga yang harus ditawarkan harus lebih tinggi dari harga pokok produksi sebesar Rp. 6.685,75 jika produsen keripik singkong ingin mendapat keuntungan. Penerimaan merupakan hasil perkalian antara harga jual produk dan jumlah produksi. Besarnya penerimaan pengusaha keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 24 berikut : Tabel 24. Rata-Rata Penerimaan Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013 Penerimaan Semi Modern Harga Jual Jumlah (Rp) Produk si (kg) 720 Total 436.800 51,4 Rata 31.200 Tradisional Nilai (Rp) 14.184.000 1.013.142,86 Harga Jual (Rp) 26.600 26.600 Jumlah Produks i (kg) 30 30 Nilai (Rp) 798.000, 798.000 -rata Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa rata-rata total penerimaan untuk satu kali proses produksi adalah pada agroindustri semi modern yaitu sebesar Rp 1.013.142,86 dengan harga jual Rp.31.200,00 dan jumlah produksi 51,4 kg, sedangkan pada agroindustri tradisional yaitu sebesar Rp. 798.000,00 dengan harga jual Rp 26.600,00 dan jumlah produksi 30 kg/. Dengan adanya perhitungan terhadap penerimaan yang diperoleh agroindustri keripik singkong, maka akan dapat memberikan informasi pada pengusaha keripik singkong mengenai rincian biaya dan penerimaan yang dihasilkan, hal ini akan memudahkan pengusaha keripik singkong untuk melihat kinerja dari usahanya serta dapat membandingkan antara penerimaan yang ingin di capai dengan penerimaan yang telah diterima, sehingga pengusaha keripik singkong dapat membuat perencanaan yang lebih lanjut dalam pengembangan usahanya guna 66 meningkatkan penerimaan. Penerimaan yang didapat oleh agroindustri keripik singkong akan berpengaruh terhadap besarnya keuntungan yang dapat diterima, perhitungan mengenai keuntungan pada agroindustri keripik singkong akan dibahas pada poin selanjutnya. 4.4.2 Analisis B/C Rasio Kelayakan usaha agroindustri keripik singkong dapat diketahui dengan menghitung benefit per cost ratio (B/C rasio), yaitu perbandingan nilai dari manfaat terhadap nilai dari biaya-biaya. Perhitungan B/C rasio dapat diperoleh dari perbandingan antara hasil penjualan dengan total biaya produksi. Kriteria B/C rasio dapat digolongkan menjadi 3 yaitu : 1) B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan dan menguntungkan. 2) B/C = 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan tidak menguntungkan. 3) B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan merugikan. Rata-rata tingkat kelayakan usaha pada agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamata Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 25 berikut : Tabel 25. Rata-Rata Tingkat Kelayakan Usaha Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di No 1 2 Uraian Keuntungan Total Biaya Produksi B/C rasio Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Semi modern Nilai (Rp) 1.293.694,71 334.377,43 3,8 Tradisional Nilai (Rp) 604.979,00 168.678,00 3,5 Berdasarkan Tabel 25 dapat diketahui bahwa nilai B/C rasio pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah 3,8 dan pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin adalah 3,5 sehingga masuk dalam kriteria pertama yaitu B/C rasio > 1, yang artinya agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan pada pengusahanya. Nilai B/C ratio diperoleh dari perbandingan besarnya nilai manfaat dengan besarnya total biaya produksi yang dikeluarkan sehingga dari perhitungan tersebut dapat diketahui tingkat kelayakan usaha dari agroindustri keripik singkong berdasarkan satu kali proses produksi. Hal ini akan menjadi suatu 67 pertimbangan penting bagi berbagai pihak seperti lembaga keuangan yang akan meminjamkan uangnya kepada pengusaha keripik singkong maupun pihak instansi pemerintahan seperti sinas perindustrian dan pariwisata dalam mendukung dan memfasilitasi pengembangan agroindustri keripik singkong tersebut. Selain perhitungan menggunakan B/C rasio, kelayakan usaha dapat diketahui dengan menggunakan analisis BEP (break even point) yang akan dijelaskan pada point selanjutnya. 4.4.3 Analisis BEP Analisis titik impas (break even point) disebut juga titik pulang pokok yang merupakan suatu metode analisis untuk mengetahui keterkaitan antara biaya tetap, biaya variabel dan tingkat penerimaan pada berbagai output. Tingkat BEP pada agroindustri keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 26 berikut : Tabel 26. Analisis Break Even Point Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013 No Uraian Konvensional Nilai 1 BEP (Rp) 15.776 2 BEP (kg) 0,43 Sumber Primer Diolah, 2013 Tradisional Nilai 5352 0,20 Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa nilai BEP dalam satu kali proses produksi dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu 50 kg pada agroindustri yang menggunakan mesin diperoleh pada volume produksi 0,43 kilogram atau senilai Rp. 15.776,00 dan nilai BEP dalam satu kali proses produksi pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin diperoleh pada volume produksi 0,20 kilogram atau senilai Rp. 5352 Artinya, jika pengusaha keripik singkong telah mencapai angka penjualan tersebut maka dapat diartikan bahwa pengusaha telah mencapai titik dimana pengusaha tidak mengalami kerugian maupun keuntungan. Untuk memperoleh keuntungan maka pengusaha herus memproduksi dan menjual keripik singkong lebih tinggi dari titik impas tersebut. Dalam perhitungan BEP akan diketahui nilai TR = TC yang dapat diimplementasikan dalam bentuk kurva sehingga dapat dilihat penerimaan yang diperoleh agroindustri keripik singkong terhadap jumlah produksi yang dihasilkan./ analisis ini juga dapat digunakan untuk menetapkan pada tingkat 68 mana total biaya dan total penerimaan berada dalam keadaan seimbang, dalam artian dimana pengusaha keripik singkong tidak mengalami kerugian ataupum keuntungan. Secara rinci kurva BEP pada agroindustri keripik singkong dapat dilihat pada Gambar 4 berikut : TR Cost (Rp) 1.013.142,81 Untung TC 344.377,43 VC 333.807,14 15.776 BEP FC 10.570,28 Rugi 0,43 50 Q (kg) Gambar 7. Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong semi modern. 69 Cost (Rp) TR 798.000 Untung TC 168.678 VC 164.450 5352 BEP 4228 FC Rugi 0,20 50 Q (kg) Gambar 8. Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong Tradisional Berdasarkan Gambar 7 dan gambar 8 dapat diketahui bahwa nilai BEP pada agroindustri yang menggunakan mesin terjadi sebesar Rp.15.776 dengan nilai Q sebanyak 0,43 kilogram, sedangkan TR yang diperoleh agroindustri keripik singkong senilai Rp. 1.013.142,86 dengan nilai Q yang sama dengan agroindustri tradisional yaitu sebanyak 50 kilogram. Sedangkan agroindustri yang tidak menggunakan mesin terjadi sebesar Rp. 5352 dengan nilai Q sebanyak 50 kilogram, sedangkan TR yang diperoleh sebesar pada saat nilai TR sebesar Rp. 798.000,00. Nilai TR diperoleh dari perkalian antara harga jual produk (P) dengan jumlah volume produksi (Q). Nilai BEP pada agroindustri keripik singkong telah melewati titik impas yaitu mampu menghasilkan volume produksi sebesar 85 kg keripik singkong dan dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan 798.000,00 dengan volume sebesar 50 kg. daerah yang berada di titik impas adalah daerah yang menguntungkan, dimana penerimaan lebih besar daripada total biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan telah memberikan keuntungan bagi pengusahanya dan layak untuk dikembangkan. Dalam perhitungan kelayakan usaha pada agroindustri keripik singkong dengan menggunakan analisis B/C rasio dan analisis BEP (Break Even Point) 70 dapat diketahui bahwa agroindustri tersebut layak untuk dikembangkan dengan nilai B/C rasio 3,8 dan nilai BEP sebesar 0,43 kg dengan penerimaan Rp. 15.776 yang mana telah mampu dilewati oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dan tidak menggunakan mesindengan nilai B/C rasio sebesar 3,5 dan nilai BEP sebesar 0,20 kg dengan penerimaan Rp. 5352. 71 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang “Analisis Nilai Tambah Dan Break Even Point Agroindustri Keripik Singkong” di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Rata-rata nilai tambah dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern sebesar Rp. 14.592,7 per kilogram bahan baku atau sebesar 79,27 persen dari nilai produksi. Imbalan tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 520 atau 0,04 persen dari nilai tambah, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 14.072,7 atau sebesar 97,9 persen dari nilai tambah. Sedangkan pada agroindustri tradisional sebesar Rp. 12.731 per kilogram bahan baku atau sebesar 79,08 persen dari nilai produksi. Imbalan tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 300 atau 2,35 persen dari nilai tambah, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 12.431 atau sebesar 97,6 persen dari nilai tambah. Jumlah rata-rata keripik singkong dalam satu kali proses produksi agroindustri keripik singkong 50-51,4 kilogram. Rata-rata penerimaan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis pertama yang telah dirumuskan dapat diterima, dengan jumlah bahan baku yang sama agroindustri keripik singkong semi modern lebih besar perolehan nilai tambah jika dibandingkan dengan agroindustri tradisional. 2. Nilai B/C rasio agroindustri keripik singkong pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar 3,8 sedangkan pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan tenaga tradisional sebesar 3,5, sehingga dapat dinyatakan bahwa agroindustri keripik singkong layak dikembangkan dan memberikan nilai keuntungan bagi pengusahanya. Berdasarkan nilai BEP dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin berada pada titik impas pada volume produksi 0,43 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00 sedangkan pada keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar 0,20 kg dengan penerimaan 55 72 sebesar Rp. 5.352,00, sehingga dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong telah melewati titik impas yaitu dengan volume sebesar 51,4 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan volume sebesar 50 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis kedua yang telah dirumuskan dapat diterima, karena agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan bagi pengusahanya yaitu tingkat keuntungan agroindustri semi modern lebih tinggi daripada agroindustri tradisional. 3. Berdasarkan uraian mengenai hasil perhitungan nilai tambah, penerimaan dan BEP maka dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong dapat memberikan nilai tambah pada komoditas singkong, nilai tambah yang diberikan masuk dalam kriteria tinggi yaitu 79,08 dan 79,33 persen. Suatu produk yang memberikan nilai tambah pasti akan memberikan keuntungan bagi pengusahanya dimana besar kecilnya keuntungan yang diterima dipengaruhi oleh besarnya total penerimaan dan total biaya produksi, total penerimaan pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp.798.000,00 . Dengan perhitungan analisis B/C rasio diketahui bahwa agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan menguntungkan bagi pengusaha keripik singkong dan perhitungan BEP maka diketahui produksi minimal yang harus dicapai oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu sebesar 0,43 kg dengan harga Rp. 15.776 sedangkan pada agroindustri yang masih menggunakan tenaga tradisional sebesar 0,20 kg dengan harga Rp. 5.352. dari data tersebut maka dapat diketahui titik impas dimana agroindustri tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan dan data tersebut sesuai dengan hipotesis kedua yaitu agroindustri semi modern lebih tinggi tingkat keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada agroindustri yang masih menggunakan tenaga tradisional. 73 5.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diberikan beberapa saran dalam upaya pengembangan agroindustri keripik singkong sebagai berikut : 1. Diperlukan adanya perhatian lebih lanjut dari instansi pemerintah seperti Dinas Perindustrian Dan Perdagangan serta Dinas pariwisata dalam membantu mempromosikan serta memasarkan produk keripik singkong sebagai produk unggulan lokal, sehingga akan mendorong peningkatan produk dari para pengusaha usaha kecil. 2. Mengajak para petani singkong untuk ikut mengusahakan produk keripik singkong sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi para petani singkong. 74 DAFTAR PUSTAKA Agrica. 2007. Produksi Singkong Dunia. www.hasil produksi singkongdunia.html. Diakses pada 13 januari 2013 Alwi. 1994. Analisis Break Even point Penebar Swadaya. Jakarta Anonymous. 2013. Produksi Singkong di Indonesia. www.singkong.net/semuamengenai-singkong.html. Diakses pada 13 Januari 2013. Arifin. 2005. Tanaman Pangan. www.tanaman pangan.html. Diakses pada 13 Januari 2013 Apriadi. 2003. Analisis Nilai Tambah. http://apriadi.student.umm.ac.id/files/2010/07. Diakses 13 Januari 2013. Asregaf. 2001. Teori Pendapatan. UMM Press. Malang. Austin. 1981. Teknologi Pengolahan Pertanian. www.teknologi.pengolahanpertanian.html. Diakses pada 15 Januari 2013. BPS. 2012. Data Produksi Singkong Di Indonesia. www.BPS.com. Diakses pada 13 Januari 2013 Produktivitas Singkong Indonesia. http://kotimkab.bps.go.id/ adminfiles/IP_Agustus_2012.pdf. Diakses pada 13 januari 2013. Eldons . 2000. Teori Akuntansi. PT. Raja Grafindo. Jakarta. Hanani et.al. 2003. Tentang tanaman singkong. Mandarmaju. Bandung. Harahap. 2001. Konsep Pendapatan. http://otherpink.wordpress.com/2010/04/11. Diakses 13 januari 2013. Hidayat. 2007. Pengembangan pertanian. Kanisius. Yogyakarta. Hubeis. 1997. Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Kencana. Jakarta.. Kotler. 1994. Manajemen Pemasaran. Edisi kesebelas. PT Prenhallindo. Jakarta. Mulyadi. 1992. Teori Break Even Point. www.BEP.teori.html . Diakses pada 15 januari 2013 Rukaman. 1997. singkong. Kanisius. Yogyakarta. 75 Shinta, Agustina. 2003. Manajemen Pemasaran. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. 2003 Suryana. 2004. Pengembangan Agribisnis Pertanian. BPFE. Yogyakarta Soekartawi, 2001. Pokok-pokok Pembangunan Agroindustri Pertanian. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Winda, Aprilia. 2011. Analisis usaha keripik pisang Studi Kasus di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Skripsi Strata Satu Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang. 76 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Press) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur Biaya Penyusutan Biaya Penyusutan Jumlah Total Biaya (Rp) (Rp) Ekonomis Per Tahun Per Proses Alat Penyusutan Per (Thn) (Rp) Produksi (Buah) Proses Produksi (Rp) (Rp) 1 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 2 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 3 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 4 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 5 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 6 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 7 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 8 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 9 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 10 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 11 500.000,00 150.000,00 5,00 350.000,00 1.823,00 1,00 1.823,00 12 500.000,00 150.000,00 5,00 350.000,00 1.823,00 1,00 1.823,00 13 500.000,00 150.000,00 5,00 350.000,00 1.823,00 1,00 1.823,00 14 500.000,00 150.000,00 5,00 350.000,00 1.823,00 1,00 1.823,00 15 Jumlah 9.500.000,00 3.100.000,00 70,00 6.400.000,00 33.334,00 24,00 59.367,00 Rata-Rata 678.571,43 221.428,57 5,00 457.142,86 2.381 1,7 4.241,14 Catatan : Responden 1-14 merupakan agroindustri keripik singkong semi modern Responden 15 merupakan agroindustri keripik singkong tradisional 60 77 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Pisau) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur (Rp) (Rp) Ekonomis (Thn) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 200.000 13.333,3 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 95.000,00 6.333,3 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,00 Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 105.000,00 7.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 24 24 24 24 24 537 35,8 Jumlah Alat (Buah) 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 65,00 4,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 72 72 72 72 72 2.445,00 163 61 78 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Tumbuk) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur Biaya Penyusutan (Rp) (Rp) Ekonomis Per Tahun (Thn) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 200.000 13.333,3 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 95.000,00 6.333,3 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 105.000,00 7.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 24 24 24 24 24 537 35,8 Jumlah Alat (Buah) 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 65,00 4,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 72 72 72 72 72 2.445,00 163 62 79 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Baskom) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur (Rp) (Rp) Ekonomis (Thn) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 150.000,00 10.000,00` 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 45.000,00 3.000,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,0 Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 105.000,00 7000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 546,75 36,45 Jumlah Alat (Buah) 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 6,00 6,00 6,00 6,00 6,00 130 8,66 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 218,7 218,7 218,7 218,7 218,7 4.738,5 315,9 63 80 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Talenan) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur (Rp) (Rp) Ekonomis (Thn) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 225.000,00 15.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 45.000,00 3.000,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,0 Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 180.000,00 12.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 937.5 62.5 Jumlah Alat (Buah) 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 65,00 4,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 187,5 187,5 187,5 187,5 187,5 4.062,5 270,83 64 81 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan kayu) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur (Rp) (Rp) Ekonomis (Thn) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 300.000,00 20.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,0 Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 225.000,00 15.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 1.172 78,13 Jumlah Alat (Buah) 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 65,00 4,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 234,4 234,4 234,4 234,4 234,4 5.087,5 338,57 65 82 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Pengukus) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur Biaya Penyusutan (Rp) (Rp) Ekonomis Per Tahun (Thn) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 3.000.000,00 200.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 750.000,00 50.000,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 30,00 2,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 2.250.000,00 150.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 11.719,5 781,3 Jumlah Alat (Buah) 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 50,00 3,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 1.562,6 1.562,6 1.562,6 1.562,6 1.562,6 39.065 2.604,3 66 83 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Kompor) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur (Rp) (Rp) Ekonomis (Thn) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 2.250.000,00 150.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 450.000,00 30.000,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 60,00 4,00 Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 1.800.000,00 120.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 9.375,00 625,00 Jumlah Alat (Buah) 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 30,00 2,00 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 18.750,00 1.250,00 67 84 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Penjemur) Per Proses Produksi No. Harga Beli Harga Sisa Umur Biaya Penyusutan (Rp) (Rp) Ekonomis Per Tahun (Thn) (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 450.000,00 30.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 30,00 2,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 375.000,00 25.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 1.953 130,2 Jumlah Alat (Buah) 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 125 8,3 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 651 651 651 651 651 16.275 1.085 68 85 Lampiran 2. Total Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Semua Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 TOTAL 15 59367 Ratarata 4240.5 Alat Press 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 1823 1823 1823 1823 pisau 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 72 72 72 72 2373 169,5 72 Alat Tumbuk 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 72 72 72 72 2373 169,5 72 Baskom 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 218,7 218,7 218,7 218,7 4519,8 322,84 218,7 Talenan 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 187,5 187,5 187,5 187,5 3875 276,78 187,5 Kayu 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 234,4 234,4 234,4 234,4 4853,1 346,65 234,4 Pengukus 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 1562,6 1562,6 1562,6 1562,6 37502,4 2678,74 1562,6 Kompor 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 17.500 1250 1250 Alat penjemur TOTAL (TFC) 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 651 651 651 651 15624 1116 651 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 6.071 6.071 6.071 6.071 147.984 10.570 4248,2 - 69 86 Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jumlah Rata-rata Jumlah (Kg) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 50,00 50,00 50,00 50,00 50,00 1.250,00 83,33 Bahan baku Singkong Harga (Rp/Kg) 2200,00 2200,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 30.400,00 2.026,66 Total (Rp) 220.000,00 220.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 2.540.000,00 169.333,33 Jumlah (Kg) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 Bahan Penolong Teri Harga (Rp/Kg) 27.500,00 27.000,00 25.000,00 27.500,00 28.000,00 28.000,00 27.000,00 27.000,00 27.000,00 27.000,00 271.000,00 27.100,00 Total (Rp) 27.500,00 27.000,00 25.000,00 27.500,00 28.000,00 28.000,00 27.000,00 27.000,00 27.000,00 27.000,00 271.000,00 27.100,00 70 87 Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan (Lanjutan) Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-rata Bahan Penolong Jumlah (Kg) Garam Harga (Rp/Kg) Total (Rp) Jumlah (Liter) 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 6,25 0,41 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 42.000,00 2800,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 700,00 700,00 700,00 700,00 700,00 17.500,00 1.166,66 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 25 1,66 Air Harga (Rp/ Liter ) 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 18.750,00 1.250,00 Total (Rp) 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 31.250,00 2.083,00 71 88 Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan (Lanjutan) Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jumlah Rata-rata Jumlah (Kg) 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 37,5 2,5 Bahan Penolong Gas (Bahan Bakar ) Harga (Rp/Kg) 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5000,00 5000,00 5000,00 5000,00 5000,00 75.000,00 5000,00 Total (Rp) 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 7.500,00 7.500,00 7.500,00 7.500,00 7.500,00 187.500,00 12.500,00 Jumlah (Roll) 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 24 1,7 Biaya Pelengkap Kemasan Plastik Harga (Rp/buah) 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 280.000,00 20.000,00 Total (Rp) 40.000,00 40.000,00 40.000,00 40.000,00 40.000,00 40.000,00 40.000,00 40.000,00 40.000,00 40.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 480.000,00 34.285,71 72 89 Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan (Lanjutan) Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jumlah Rata-rata Jumlah (Kg) Biaya Pelengkap Kertas Harga (Rp/Kg) Total (Rp) Jumlah (Liter) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0,5 0,5 0,5 0,5 12 0,85 12.000,00 10.000,00 12.000,00 11.000,00 12.000,00 13.000,00 13.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 6.000,00 142.000,00 10.143,00 12.000,00 10.000,00 12.000,00 11.000,00 12.000,00 13.000,00 13.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 3.000,00 3.000,00 2.500,00 3.000,00 130.500,00 9.321,00 15 15 15 15 15 15 15 10 10 10 10 10 10 8 8 181 12,06 Biaya Lain-lain Biaya Transportasi Harga (Rp/ Liter) 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 Total (Rp) 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 40.000,00 40.000,00 905.000,00 60.333,33 73 90 Lampiran 4. Total Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Responden Bahan Baku (Rp) Bahan Penolong (Rp) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. TVC Rata-rata 15 TVC Rata-rata 220.000,00 220.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 2.440.000,00 174.285,71 100.000,00 100.000,00 100.000,00 46.400,00 45.900,00 43.900,00 46.400,00 46.900,00 46.900,00 45.900,00 45.900,00 45.900,00 45.900,00 9.450,00 9.450,00 9.450,00 9.450,00 497.800,00 35.557,14 9.450,00 9.450,00 9.450,00 Biaya Perlengkapan (RP) 52.000,00 50.000,00 52.000,00 51.000,00 52.000,00 53.000,00 53.000,00 52.000,00 52.500,00 52.500,00 23.000,00 23.000,00 23.000,00 23.000,00 612.000,00 43.714,00 - Biaya Lain-lain (Rp) Upah TK (Rp) TOTAL (Rp) 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 40.000,00 865.000,00 61.785,71 40.000,00 40.000,00 40.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 260.000,00 18.571,43 15.000,00 15.000,00 15.000,00 413.400,00 410.900,00 390.900,00 392.400,00 393.900,00 394.900,00 393.900,00 367.900,00 367.900,00 367.900,00 197.450,00 197.450,00 196.950,00 187.450,00 4.656.800,00 332.628,57 164.450,00 164.450,00 164.450,00 74 91 N Output, o Input, Responden Jumlah Rata-rata 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 30 30 30 30 720 51,4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 50 50 50 50 1200 85,7 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 100 7,1 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 8,4 0,6 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,1 0,1 0,1 0,1 1,2 0,08 33.000 33.00 33.00 33.00 33.00 33.00 33.00 33.00 33.00 33.00 26.60 26.600 2700 26.60 436.800 31200 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 52.000 3.714,3 Harga 1. Hasil Produksi 2. Bahan Baku 3. 4. Tenaga kerja (jam) Faktor 5. Konversi (1/2) 6. Koefisien TK (3/2) Harga Produk 7. 0 (Rp/Kg) Upah Ratarata (Rp/jam) 4.000 3.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 3.000 3.000 3.000 75 92 Pendapatan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong) 8. Harga Bahan baku 2.200 2.200 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 28.400 2.028,6 1.934 1.909 1.909 1.834 1.939 1.939 1.939 1.679 1.679 1.679 1.646 1.646 1.636 1.646 25.014 1.786,7 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 15960 15960 16200 15960 254.880 18.205 (Rp/Kg) 9. Input Lain (Rp/Kg) 10 Nilai Produk (4x6)(Rp/Kg) Nilai tambah 11a (10-8- 15.666 15.691 15.891 15.966 15.861 15.861 15.861 16.121 16.121 16.121 12314 12314 12.564 12314 201.466 14.390,4 79,12 79,24 80,25 80,78 80,10 80,10 80,10 81,41 81,41 81,41 77,15 77,15 77,55 77,15 1.110,65 79,33 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 300 300 300 300 3.200 228,57 1,27 1,27 1,25 1,25 1,24 1,24 1,24 1,24 1,24 1,24 2,43 2,43 2,38 2,43 22,15 1,58 15.466 15.491 15.491 15.766 15.661 15.661 15.661 15.921 15.921 15.921 12014 12014 12264 12014 205.266 14.661,8 98,7 98,8 98,7 98,8 98,8 98,8 98,8 98,8 98,8 98,8 97,6 97,6 98,1 97,6 1476,4 105 9)(Rp/Kg) Rasio nilai b. tambah (11a/10)x 100% 12a Imbalan TK (5X7)(Rp/Kg b. Bagian TK (12a/11a)x 100% Keuntungan 13a (11a12a)(Rp) Tingkat B keuntungan (13a/11a)x 100% 93 Lampiran 5. Analisis Nilai Tambah Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong tradisional Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan (Lanjutan) Output, Input, Harga 14. Hasil Produksi (kg/Proses produksi) 15. Bahan Baku (kg/Proses Produksi) 16. Tenaga Kerja (Jam) 17. Faktor Konversi (1/2) 18. Koefisien Tenaga Kerja (3/2) 19. Harga Produk (Rp/kg) 20. Upah Rata-rata (Rp/Jam) Nilai 30 50 5 0,6 0,1 26.600 3.000 Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong) 2.000 1.229 15.960 12.731 79,08 300 2,35 12.431 97,6 21. Harga Bahan Baku (Rp/kg) 22. Input Lain (Rp/kg) 23. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg) 24. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg) b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%) 25. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg) b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%) 26. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp) b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%) 77 94 Lampiran 6. Analisis Penerimaan Dan Keuntungan Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Total Rata-rata 15. Total TFC (Rp) 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 6.071,00 6.071,00 6.071,00 6.071,00 147.984,00 10.570 4.248,00 4.248,00 Biaya TVC (Rp) 413.400,00 410.900,00 390.900,00 392.400,00 393.900,00 394.900,00 393.900,00 367.900,00 367.900,00 367.900,00 197.450,00 197.450,00 196.950,00 187.450,00 4.673.300,00 333.807,14 164.450,00 164.450,00 TC(Rp) 425.770,00 423.270,00 403.270,00 404.770,00 406.270,00 407.270,00 406.270,00 380.270,00 380.270,00 380.270,00 203.521,00 203.521,00 203.021,00 193.521,00 4.821.284,00 344.377,43 168.678,00 168.678,00 Harga (Rp) 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 26.600,00 26.600,00 27.000,00 26.600,00 436.800,00 31.200,00 26.600,00 26.600,00 Penerimaan Jumlah (Kg) 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 30,00 30,00 30,00 30,00 720,00 51,43 30,00 30,00 TR (Rp/Kg) 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 798.000,00 798.000,00 810.000,00 798.000,00 14.184.000 1.013.142,86 798.000,00 798.000,00 Keuntungan (Rp) 1.554.230,00 1.556.730,00 1.576.730,00 1.576.230,00 1.589.100,00 1.590.000,00 1.589.100,00 1.559.730,00 1.559.730,00 1.559.730,00 594.479,00 594.479,00 606.979,00 604.479,00 18.111.726,00 1.293.694,71 604.979,00 604.979,00 Rata-rata 4.228,00 164.450,00 168.678,00 26.600,00 30,00 798.000,00 604.979,00 78 95 Lampiran 7. Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. 1) Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong semi modern ( Responden 1 – Responden 14) TFC : Rp. 10.570 TVC : Rp. 333.807,14 P : Rp.31.200 Q : 50 kg TR : Rp. 1.013.142,86 Jawab : 1. BEP dalam kg BEP (kg) = 𝑇𝐹𝐶 = = 𝑇𝑉𝐶 𝑃− 𝑄 𝑅𝑝 .10.570 333 .807 ,14 50 31.200− 𝑅𝑝 .10.570 24.523,86 = 0,43 kg 2. BEP dalam rupiah BEP (rupiah) = 𝑇𝐹𝐶 𝑇𝑉𝐶 1− 𝑇𝑅 = 𝑅𝑝 .10.570 333 .807 ,14 1−1.013 .142 ,86 = 𝑅𝑝 .10.570 0,67 = Rp. 15.776,00 96 2) Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong Tradisional(Responden 15) TFC : Rp. 4228 TVC : Rp. 164.450 P Q : Rp. 26.600 : 50 kg TR : Rp. 798.000 Jawab : 1. BEP dalam kg BEP (kg) = 𝑇𝐹𝐶 = = 𝑇𝑉𝐶 𝑃− 𝑄 𝑅𝑝 .4228 164 .450 50 26.6𝑜𝑜 − 𝑅𝑝 .4228 23.311 = 0,20 kg 2. BEP dalam rupiah BEP (rupiah) = 𝑇𝐹𝐶 𝑇𝑉𝐶 𝑇𝑅 1− = 𝑅𝑝 .4228 164 .450 1−798 .000 = 𝑅𝑝 .4228 0,79 = Rp. 5.352,00 Dari perhitungan nuilai BEP diatas, dapat disimpulkan bahwa titik balik modal usaha produksi keripik singkong pada responden 1 hingga responden 14 rata-rata diperoleh pada volume produksi 0,43 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00. Sedangkan pada responden 15 yang tidak menggunakan mesin diperoleh pada 97 volume produksi 0,20 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 5.352,00. Apabila perusahaan telah mencapai titik balik tersebut maka perusahaan tidak mengalami kerugian maupun keuntungan. 98 Lampiran 8. Gambar Proses Pengolahan Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. 1. Agroindustri keripik singkong semi modern Bahan Baku Singkong Pengukusan Bahan Baku Pembuatan Bahan Tambahan Pengupasan Bahan Baku Pemotongan dan Pengirisan bahan baku Penumbukan Bahan Baku 99 Penjemuran Keripik Singkong Pengemasan Keripik Singkong 2.Agroindustri keripik singkong tradisional ``` Bahan baku singkong pengupasan dan pengirisan singkong 100 Pengukusan singkong Penumbukan singkong Penjemuran keripik keripik tanpa kemasan I. 1.1 TINJAUAN PUSTAKA Karakteristrik Tanaman Singkong Singkong adalah tanaman rakyat yang telah dikenal di seluruh pelosok Indonesia. Saat ini produksi singkong di Indonesia telah mencapai kurang lebih 30 juta ton per tahun (BPS, 2012). Singkong merupakan hasil pertanian yang jumlahnya berlimpah dan perlu alternatif lain dalam pemanfaatannya. Untuk menunjang program ketahanan pangan sesuai dengan PP Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan yang mengatur ketersediaan pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan, dan penanggulangan masalah pangan. Pengolahan singkong secara terpadu merupakan upaya memanfaatkan seluruh bagian dari singkong tanpa ada yang terbuang termasuk kulitnya. Singkong yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Ada beberapa jenis singkong yang dikembangkan di Indonesia. Jenis atau varietas singkong digolongkan berdasarkan kadar asam sianida yang dikandungnya. Ada jenis singkong manis dan pahit. Yang biasa digunakan dalam pembuatan keripik yaitu jenis singkong manis diantaranya Gading, Adira, Mangi dan Randu Ranting. Sedangkan untuk jenis singkong pahit biasa sebagai keperluan industri Tapioka seperti Basiorao, Tapikuru, Bogor, Adira II dan SPP. ( Arifin, 2005) Rukaman (1997), menyatakan bahwa komponen kimia dan gizi dalam 100 g kulit singkong adalah sebagai berikut : protein 8,11 g; serat kasar 15,20 g; pektin 0,22 g; lemak 1,29 g; kalsium 0,63 g sedangkan komponen kimia dan gizi daging singkong dalam 100 g adalah protein 1 g; kalori 154 g; karbohidrat 36,8 g; lemak 0,1 g sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar protein singkong lebih rendah dibanding kulit singkong. Kandungan karbohidrat kulit singkong segar blender adalah 4,55%, sehingga memungkinkan digunakan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme dalam proses fermentasi. Selain itu kulit singkong mengandung tannin, enzim peroksida, glikosa, kalsium oksalat serat dan HCN. 1.2 Penerapan dan Pengembangan Agroindustri Hasil Pertanian Alternatif teknologi yang tersedia untuk pengolahan hasil-hasil pertanian bervariasi mulai dari teknologi tradisional yang digunakan oleh industri kecil (cottage industry) sampai kepada teknologi canggih yang biasanya digunakan oleh industri besar. Dengan demikian alternatif teknologi tersebut bervariasi dari teknologi yang padat karya sampai ke teknologi yang padat modal. Teknologi maju dan mesin-mesin berkapasitas besar dapat mengurangi biaya peubah (variable cost) seperti biaya tenaga kerja per unit output serta dapat memperkuat kedudukan perusahaan di pasar produk bersangkutan, karena kualitas outputnya yang tinggi, standar kualitasnya yang konsisten, dan volume produksinya yang besar sehingga dapat menarik pembeli dengan jumlah pembelian besar. Tetapi tingkat produksi dan teknologi yang tinggi menuntut pengembangan prasarana, pengelolaan, dan tenaga kerja terampil. Disamping itu, karena biaya tetap (fixed cost) yang tinggi maka perusahaan seperti itu harus memiliki kepastian penyediaan bahan baku serta kepastian pasar untuk produk yang dihasilkan dan beroperasi mendekati kapasitas efektifnya agar perusahaan tersebut berjalan sehat (viable). Pada tahap-tahap produksi, setiap perusahaan agroindustri terdiri dari komponen-komponen fisik seperti penerimaan dan penyimpanan bahan mentah, pengkondisian bahan mentah, pengolahan utama (pemisahan, pemusatan, pencampuran, dan stabilitas), pengemasan, penyimpanan produk-produk yang dihasilkan, dan pengiriman produk-produk yang dihasilkan. Disamping komponen-komponen fisik tersebut diatas, perusahaan agroindustri memerlukan sistem-sistem penunjang seperti sumber energi, air, bahan-bahan, perlakuan dan pembuangan limbah, pemeliharaan dan perbaikkan. Kebanyakan agroindustri juga mempunyai sistem penerimaan, penyimpanan, dan penyiapan bahan-bahan yang diperlukan dalam pengolahan secara terpisah, dan paling sedikit mempunyai sistem produk sampingan yang dilengkapi dengan tahap-tahap pengolahan, pengemasan, penyimpanan, dan distribusi. Sistem administrasi dan pengolahan serta perumahan staf juga diperlukan untuk menjamin operasi pabrik secara efisien. Untuk menemukan teknologi atau paket barang modal yang tepat untuk suatu perusahaan agroindustri, perusahaan tersebut harus memahami pasar yang dilayani dan memahami ketersediaan bahan baku. Setelah menetapkan produk yang diinginkan serta semua parameter dalam sistem penyediaan bahan baku, faktor-faktor yang berkaitan dengan teknologi pengolahan atau faktor-faktor yang berkaitan dengan persyaratan produk dan proses perlu diidentifikasi. Austin (1981) menunjukkan bahwa kriteria utama yang harus diperhatikan dalam pemilihan teknologi diantaranya adalah: 1. Kebutuhan kualitas (quality requirements). Teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasar terutama yang menyangkut kualitas. Karena preferensi konsumen sangat beragam, maka teknologi yang dipilih pun harus mampu memenuhi kebutuhan tersebut. 2. Kebutuhan pengolahan (process requirements). Sudah barang tentu bahwa setiap jenis alat pengolahan memiliki kemampuan tertentu untuk mengolah suatu bahan baku menjadi berbagai bentuk produk. Semakin tinggi kemampuan suatu alat untuk menghasilkan berbagai jenis produk, maka akan semakin kompleks jenis teknologinya dan akan semakin mahal investasinya. Oleh karena itu, pemilihan teknologi harus memadukan pertimbangan antara kompleksitas teknologi dan biaya yang dibutuhkan. 3. Penggunaan kapasitas (capacity utilization). Pemilihan teknologi harus disesuaikan dengan kapasitas yang akan digunakan, sedangkan kapasitas yang akan digunakan sangat tergantung dari ketersediaan dan kontinuitas bahan baku (raw material). 4. Kapasitas kemampuan manajemen (management capability). Biasanya suatu pengelolaan akan berjalan baik pada tahap awal karena besarnya kegiatan masih berada dalam cakupan pengelolaan yang optimal (optimum management size). Setelah besar, masalah biasanya mulai muncul dan hal itu menandakan bahwa skala usaha sudah melebihi kapasitas pengelolaan. 2.3 Pendapatan Pendapatan merupakan unsur yang sangat penting dalam laporan keuangan karena dalam melakukan aktivitas usaha, menejemen perusahaan tentu ingin mengetahui nilai tambah atau jumlah pendapatan yang diperoleh. Menurut Eldon S. Hendriksen (2000) dalam Teori Akuntansi menjelaskan bahwa “Pendapatan dapat mendefinisikan secara umum sebagai hasil dari suatu perusahaan. Hal itu biasanya diukur dalam satuan harga pertukaran yang berlaku. Pendapatan diakui setelah kejadian penting atau setelah proses penjualan pada dasarnya telah diselesaikan. Dalam praktek ini biasanya pendapatan diakui pada saat penjualan”. Sedangkan menurut Harahap (2001) mengemukakan bahwa “Pendapatan adalah hasil penjualan barang dan jasa yang dibebankan kepada langganan/mereka yang menerima”. Hendriksen mengemukakan definisi mengenai pendapatan yaitu “Konsep dasar pendapatan adalah pendapatan merupakan proses arus yaitu penciptaan barang dan jasa selama jarak waktu tertentu”. Definisi-definisi diatas memperlihatkan bahwa ada 2 konsep tentang pendapatan yaitu sebagai konsep pendapatan yang memusatkan pada arus masuk (inflow) aktiva sebagai hasil dari kegiatan operasi perusahaan. Pendekatan ini menganggap pendapatan sebagai inflow of net asset. Meurut Assegaf (2001) Ada tiga unsur dalam pendapatan yaitu sebagai berikut : 1. Penjualan hasil produksi barang dan jasa merupakan unsur pokok perusahaan. 2. Imbalan yang diterima atas penggunaan aktiva atau sumber-sumber ekonomi perusahaan oleh pihak lain dapat menjadi unsur pendapatan lain-lain bagi perusahaan jenis lain. 3. Penjualan aktiva diluar barang dagang merupakan unsur pendapatan lain-lain suatu perusahaan. 2.4 Analisis Break Even Point 2.4.1 Pengertian Break Even Point Banyak para ahli berpendapat tentang pengertian Break Even Point (Titik Impas) dimana pengertian satu dengan yang lain berbeda, tetapi pada prinsipnya mempunyai konsep dasar yang sama. Menurut Alwi (1994), menyatakan bahwa BEP adalah suatu keadaan dimana dalam operasi perusahaan, perusahaan itu tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian (penghasilan = total biaya). Sedangkan menurut Mulyadi (1992) menyatakan bahwa Impas adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian, dengan kata lain suatu usaha dikatakan Impas apabila jumlah penghasilan sama dengan biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutupi biaya tetap saja. Analisis break even point bukan semata-mata untuk mengetahui keadaan perusahaan yang break even point saja, tetapi analisis BEP mampu memberikan informasi kepada pimpinan perusahaan mengenai berbagai tingkat volume penjualan serta hubungannya kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan. Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perusahaan dikatakan mencapai break even point apabila dalam suatu periode kerja tidak memperoleh laba tetapi juga tidak menderita kerugian dimana laba adalah nol. Jadi dapat dikatakan break even point hubungan antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada tingkat penjualan tertentu, sehingga analisis break even point ini sering disebut dengan cost, volume, profit analisis. Selain itu analisis ini sangat berguna untuk menentukan kebijaksanaan dalam perusahaan, baik perusahaan yang sudah maju maupun perusahaan yang baru mengadakan perencanaan. 2.4.2. Unsur-Unsur Pokok Dalam Break Even Point Analisis unsur-unsur yang mempengaruhi break even point yaitu biaya, volume, harga, harga jual serta laba itu sendiri. Di dalam pengertian biaya dan beban dalam bahasa Indonesia belum dibedakan dengan tepat. Sering kali istilah cost digunakan secara sinonim dengan istilah Expense. Mulyadi membedakan antara cost dan expense sebagai berikut : 1. Cost adalah bagian dari harga perolehan tahun harga beli aktiva yang ditunda pembebanannya atau belum di manfaatkan dalam hubungannya realisasi penghasilan. Sedangkan expense adalah cost yang di korbankan didalam usaha memperoleh penghasilan. 2. Volume yang terdapat dalam analisis BEP adalah jumlah unit produksi atau jumlah unit penjualan. 3. Harga jual per unit adalah sejumlah uang yang diterima atau piutang yang timbul atas penyerahan barang dan jasa kepada setiap konsumen dalam setiap unitnya. Harga jual bisa berupa harga jual bersih atau bisa harga jual kotor. Sedangkan yang digunakan dalam analisis BEP adalah harga jual bersih yang terlepas dari berbagai potongan. 4. Laba adalah keuntungan yang diperoleh perusahaan, dimana keuntungan ini berasal dari penghasilan setelah dikurangi biaya. Alwi (1994) menyatakan bahwa variable-variabel yang membentuk BEP adalah harga jual dan biaya (biaya tetap dan biaya variable). Kedua variable itu saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, perubahan salah satu variable yang dimaksud mengakibatkan perubahan besarnya titik Break Even Point. 2.4.3 Harga Jual Pengertian Harga Jual menurut Kotler ( 1994) adalah sebagai berikut : “ Price is what the seller feel it is worth in terms of money to the buyer”. Dimana pengertiannya adalah harga bagi penjual merupakan suatu nilai dalam uang yang ditawarkan pada pembeli. Jadi dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa harga yang dibayar oleh pembeli sudah termasuk pelayanan yang diberikan oleh penjual, serta penjual juga menginginkan sejumlah keuntungan dari harga tersebut. Ada beberapa metode yang biasanya digunakan dalam menetapkan harga yaitu: 1. Cost based pricing a. Mark up Pricing (cost plus pricing) adalah penetapkan harga jual dengan menambah tingkat keuntungan pada biaya-biaya yang telah dibebankan pada barang. b. Target profit pricing adalah Penetapan harga jual yang didasarkan atas permintaan. 2. Buyer based pricing adalah penetapan harga jual berdasarkan nilai / citra yang dirasakan konsumen terhadap produk. 3. Competition based pricing a) Going rate pricing adalah penetapan harga jual menurut situasi yang ditetapkan oleh pesaing. b) Sealed – bid pricing adalah penetapan harga jual dalam situasi dimana perusahaan bersaing dengan cara menetapkan harga jual lebih rendah dari harga yang ditetapkan pesaing. Alwi ( 1994 ) menyatakan bahwa harga jual suatu produk pada umumnya adalah kumpulan dari biaya produksi, biaya penjualan, dan biaya-biaya lain ditambah dengan sejumlah keuntungan yang diinginkan produsen yang ditawarkan pada konsumen. Sedang masing-masing biaya tersebut mempunyai berbagai karakter yang berbeda antara biaya yang satu dengan biaya yang lain. Seperti halnya biaya tetap mempunyai karakteristik yang berbeda dengan biaya variable. 2.4.4 Biaya Menurut Awi (1994) menyatakan biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis. Sumber ekonomis yang dimaksudkan adalah suatu sumber yang memiliki adanya sifat kelangkaan (scarcity). Masing-masing biaya mempunyai perbedaan antara biaya yang satu dengan yang lain. Masing-masing perbedaan itu juga tergantung dari sudut pandangnya masing-masing. Namun terkait dengan Break even Point klasifikasi dari biaya yang dimaksudkan yaitu berdasarkan sifatnya terdiri dari biaya tetap, biaya variable dan biaya semi variable. 1. Biaya Tetap Menurut Alwi (1994) menyatakan bahwa biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan yang tidak berpengaruh dengan volume produksi. atau dengan kata lain turun naiknya volume produksi tidak mempengaruhi besarnya biaya yang dimaksud. Untuk itu karateristik biaya tetap adalah sebagai berikut: a. Jumlahnya tetap dalam satu periode b. Biaya per unit berbanding terbalik dengan jumlah produksi, dalam arti semakin besar jumlah produksi, maka biaya ttap perunit semakin kecil demikian juga berlaku sebaliknya. 2. Biaya Variabel Alwi (1994) menyatakan bahwa variable merupakan sejumlah biaya yang di keluarkan yang besarnya tergantung volume produksi, semakin besar volume produksi akan diikuti melonjaknya biaya tersebut dan demikian sebaliknya. Dengan demikian karateristik biaya variable antara lain: a. Jumlahnya berfluktuasi berdasarkan volume produksi. b. Biaya variable per unit relative tetap sering dengan bertambahnya volume produksi, tetapi secara keseluruhan total biaya variable berbanding lurus dengan jumlah produksi, dimana semakin besar total biaya variable jumlah produksi semakin besar pula. c. Biaya Semi Variabel, Alwi (1994) menyatakan bahwa biaya semi variable yaitu biaya yang merupakan kombinasi antara biaya tetap dengan biaya variable. Seperti halnya upah karyawan yang di dalamnya termasuk upah tetap dan insetive karyawan. 2.5 Analisis Nilai Tambah Nilai tambah didefinisikan sebagai pertambahan nilai yang terjadi pada suatu komoditas karena komoditas tersebut mengalami proses pengolahan lebih lanjut pada suatu proses produksi. Konsep nilai tambah adalah status pengembangan nilai yang terjadi karena adanya input fungsional yang diperlukan pada suatu komoditas. Input fungsional adalah perlakuan dan jasa yang menyebabkan bertambahnya kegunaan dan nilai komoditas selama mengikuti arus komoditas pertanian (Harjanto,1999). Nilai tambah yang tinggi dapat digunakan sebagai informasi bagi pengusaha lain untuk menanamkan modal pada agroindustri tersebut. Apabila nilai tambah dari perlakuan yang diberikan mampu memberikan nilai tambah yang tinggi, maka akan menarik investor baru untuk menanamkan modalnya serta menjadi peluang kerja baru bagi masyarakat. Pada perhitungan nilai tambah dapat diketahui kategori dari suatu agroindustri berdasarkan rasio nilai tambahnya termasuk dalam agroindustri bernilai tambah rendah, sedang atau tinggi. Kategori nilai tambah rendah, sedang dan tinggi ditentukan dengan kriteria menurut hubeis dalam Apriadi (2003), yaitu nilai tambah dikatakan rendah jika nilai rasio < 15%, sedang sedang jika nilai rasio berkisar 15% -40% dan tinggi jika nilai rasio > 40%. Kriteria jumlah penggunaan bahan baku dapat dijadikan indikator dalam mengkategorikan agroindustri berdasarkan skala usahanya. Usaha yang menggunakan bahan baku <50 kg/hari dikategorikan sebagai skala usaha rumah tangga, sedangkan usaha yang menggunakan bahan baku >50 kg/hari dikategorikan sebagai skala usaha skala kecil (Hubeis, 1997). Pengolahan produk pertanian menjadi produk-produk tertentu untuk diperdagangkan akan memberikan banyak arti ditinjau dari segi ekonomi menurut (Soekartawi, 2001) antara lain : 1. Meningkatkan nilai tambah Adanya pengolahan produk pertanian dapat meningkatkan nilai tambah, yaitu meningkatkan nilai (value) komoditas pertanian yang diolah dan meningkatkan keuntungan pengusaha yang melakukan pengolahan komoditas tersebut. 2. Meningkatkan kualitas hasil Dengan kualitas hasil yang lebih baik, maka nilai barang akan menjadi lebih tinggi. Kualitas hasil yang baik dipengaruhi oleh komposisi bahan baku yang digunakan. 3. Meningkatkan pendapatan Selain pengusaha, petani penghasil bahan baku yang digunakan dalam industri pengolahan tersebut akan mengalami peningkatan pendapatan. 4. Menyediakan lapangan kerja Dalam proses pengolahan produk-produk petanian menjadi produk lain tentunya tidak terlepas dari adanya keikutsertaan tenaga manusia sehingga proses ini akan membuka peluang bagi tersedianya lapangan kerja. 5. Memperluas jaringan distribusi Adanya pengolahan produk-produk pertanian akan menciptakan atau meningkatkan diversifikasi produk sehingga keragaman produk ini akan memperluas jaringan distribusi. KERANGKA KONSEP PENELITIAN 1.1 Kerangka Pemikiran Singkong merupakan salah satu komoditas yang melimpah di Indonesia. Komoditi ini telah banyak dikenal dan dimanfaatkan namun mayoritas pengolahan singkong sangat minim atau hanya daerah tertentu yang mengolah singkong, selebihnya hanyalah di jual dalam bentuk umbi segar. Produk pertanian yang sebagian besar memiliki sifat mudah rusak dan tidak tahan lama dan membutuhkan adanya pengolahan lebih lanjut. Agroindustri merupakan suatu usaha yang di dalamnya terdapat kegiatan pengolahan komoditas pertanian menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah yang lebih tinggi sehingga akan meningkatkan keuntungan bagi pengusaha agroindustri. Salah satu agroindustri yang telah mengolah komoditas pertanian menjadi produk yang lebih bernilai dan mampu menyerap tenaga kerja di lingkungan sekitar adalah agroindustri keripik singkong yang berada di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura yaitu agroindustri semi modern dan agroindustri tradisional. Perbedaan antar agroindustri tersebut yaitu pada penggunaan mesin dan input variabel lain atau bahan tambahan pada proses pembuatan keripik singkong. Agroindustri keripik singkong yang ada merupakan agroindustri skala kecil yang memiliki nilai tambah yang dijadikan salah satu parameter pengembangan agroindustri. Namun pada kenyataannya agroindustri ini belum menunjukkan hasil yang optimal dalam upaya pengembangan usaha sehingga berpengaruh terhadap pendapatan ataupun keuntungan yang diperoleh sehingga perlu dikaji teori yang ada guna menganalisis nilai tambah, tingkat penerimaan dan keuntungan yang diperoleh serta tingkat kelayakan usaha dari perusahaan tersebut dilakukan dengan metode analisis nilai tambah, analisis penerimaan dan keuntungan serta analisis kelayakan usaha (B/C rasio dan BEP) . Dari uraian tersebut dapat dibuat kerangka pemikiran yang dapat dilihat pada skema berikut : 15 Potensi : 1. Bahan baku mudah didapat 2. Meningkatkan pendapatan 3. Penyerapan tenaga kerja Agroindustri Keripik Singkong Kendala : 1. Modal terbatas 2. Kurangnya teknologi Proses produksi Proses Tradisional Proses Semi Modern Teknis Pengolahan: 4. Tidak menggunakan mesin 5. Tidak dikemas Penggunaan Bahan : 6. 50 kg bahan baku 7. Tidak menggunakan bahan tambahan Area Pemasaran : 1. Terbatas (area sekitar) Harga : 1. Lebih rendah 2. Pembayaran tunai dan non tunai Teknis Pengolahan: 1. Menggunakan mesin 2. Dikemas Penggunaan Bahan : 1. 100 kg bahan baku 2. menggunakan bahan tambahan Area Pemasaran : 3. lebih luas (berbagai wilayah di Madura) Harga : 4. Lebih tinggi 5. Pembayaran tunai 1. Analisis nilai tambah 2. Analisis Penerimaan 3. Analisis BEP. Agroindustri keripik singkong memberikan nilai tambah dan layak untuk dikembangkan Skema 1. Kerangka Pemikiran Analisis Nilai Tambah dan Break Even Point Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura. 1.2 Hipotesis Berdasarkan permasalahan dalam kerangka pemikiran tersebut, maka dapat dikemukakan hipotesis yakni : 1. Diduga agroindustri keripik singkong semi modern memiliki nilai tambah yang lebih besar daripada keripik singkong tradisional. 2. Diduga agroindustri keripik singkong semi modern lebih tinggi tingkat keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada keripik singkong tradisional. 1.3 Batasan Masalah Dalam penelitian ini perlu diberikan batasan masalah untuk memperjelas permasalahan yang ada dan mempermudahkan dalam pembahasan. Adapun batasan masalah adalah sebagai berikut : 1. Penelitian dilakukan pada agroindustri keripik singkong yang ada di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Madura yaitu agroindustri semi modern dan agroindustri tradisional. 2. Penelitian hanya terbatas pada menganalisis nilai tambah, analisis pendapatan, analisis kelayakan usaha dan BEP. 1.4 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 1. BEP adalah suatu keadaan dimana suatu usaha tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian, dengan kata lain suatu usaha dikatakan impas apabila jumlah penghasilan sama dengan biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutupi biaya tetap saja a) BEP unit adalah besarnya perbandingan biaya tetap dibagi dengan harga jual perunit dikurangi dengan biaya variabel dengan satuan unit. b) BEP rupiah adalah besarnya perbandingan biaya tetap dibagi dengan biaya tetap per total penerimaannya dengan satuan rupiah. 2. Biaya tetap adalah jenis biaya yang jumlahnya totalnya tetap tidak dipengaruhi oleh jumlah keripik singkong yang ingin diproduksi. Dalam penelitian ini biaya tetapnya adalah biaya penyusutan yang digunakan untuk proses produksi keripik singkong, dimana biaya penyusutan pertahun yang dihitung dengan cara membagi alat dengan umur ekonomis alat yang digunakan. Dalam penelitian ini alat setelah melampaui batas umur ekonomisnya tidak dihitung karena alat yang telah habis masa pakainya dianggap telah rusak dan tidak dijual (tidak bernilai ekonomis). 3. Biaya variabel adalah besarnya biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh pajak, sewa, jumlah produksi yang diusahakan (Rp). Yang termasuk biaya variabel yaitu biaya bahan baku, bahan penolong, upah tenaga kerja, dan transportasi. 4. Biaya total adalah jumlah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi keripik singkong selama satu tahun yang terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Cara penelitian ini adalah total biaya dihitung dengan menggunakan rumus TC= TFC+TVC. 5. Penerimaan adalah nilai uang yang dihasilkan dari penjumlahan keripik singkong, dihitung dengan cara mengalikan jumlah total produksi keripik singkong dengan harga produk keripik singkong tiap satuan (Rp). Untuk menghitung total penerimaan agroindustri keripik singkong menggunakan rumus: TR= PxQ . 6. Keuntungan merupakan selisih antara penerimaan dengan total biaya produksi selama satu tahun. Tingkat keuntungan : π= TR-TC Keterangan : π = keuntungan agroindustri keripik singkong (Rp). P = harga keripik singkong (Rp/kg) Q = jumlah produksi keripik singkong yang dihasilkan (kg). TR = total revenue/ total penerimaan (Rp). TC= total cost/ total biaya (Rp). TFC = total biaya tetap (Rp). TVC = Total biaya variabel (Rp). 7. Nilai tambah adalah pengurangan biaya bahan baku yang digunakan dalam industri keripik singkong ditambah biaya input lainnya terhadap penerimaan tidak termasuk biaya tenaga kerja (Rp/kw). 8. Biaya penyusutan adalah nilai pengurangan fungsi alat yang digunakan dalam proses produksi. Biaya penyusutan meliputi biaya penyusutan atas penggunaan mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi. Diukur dengan menghitung selisih antara nilai awal dengan nilai akhir kemudian dibagi nilai umur ekonomis, dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp). 9. Bahan baku adalah bahan-bahan utama yang digunakan untuk proses produksi yang dinyatakan dalam satuan Kg. 10. Harga bahan baku adalah besarnya nilai yang harus dikeluarkan untuk pembelian harga bahan dalam proses produksi dan dinyatakan dalam satuan Rupiah/kg. 11. Hasil produksi adalah sejumlah produk yang dihasilkan dari proses produksi dalam kurun waktu satu hari. Dinyatakan dalam satuan kg/hari. 12. Harga produk rata-rata adalah besarnya nilai jual rata-rata dari produk yang dihasilkan dan dinyatakan dalam satuan rupiah. 13. Tenaga kerja adalah sejumlah orang yang berperan dalam melakukan kegiatan produksi, dinyatakan dalam satuan jam/produksi. 14. Koefisien tenaga kerja adalah perbandingan besarnya jumlah tenaga kerja yang digunakan dibagi dengan bahan baku yang diperlukan dalam satu kali proses produksi. 15. Upah rata-rata adalah rata-rata biaya yang dibayarkan kepada tenaga kerja. 16. Input lain adalah biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku penunjang dalam proses produksi, dinyatakan dalam satuan Rp/kg bahan baku. 17. Nilai produk adalah besarnya faktor konversi dibagi dengsn harga produk ratarata, dinyatakan dalam satuan Rp/kg. 18. Imbalan tenaga kerja adalah besarnya upah yang diberikan kepada tenaga kerja per kilogram produksi (Rp/kg). 19. Bagian tenaga kerja adalah prosentase dari besar imbalan tenaga kerja dibagi dengan nilai tambah. 20. Tingkat keuntungan adalah prosentase besarnya keuntungan dibagi dengan nilai tambah. 21. Pesaing adalah produsen keripik singkong diluar penelitian atau bukan industri keripik singkong tetapi menggunakan singkong sebagai bahan bakunya. Variabel ini dilihat dari kapasitas produksi pesaing serta jumlah pesaing yang ada. METODOLOGI 4.1 Metode Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu pada sentra agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Madura. Pertimbangan pemilihan lokasi ini dikarenakan menurut data dari Dinas Industri dan Perdagangan, daerah tersebut merupakan sentra agroindustri keripik singkong. Selain itu melihat produksi keripik singkong yang mencapai 2103 ton dan melihat beberapa kelemahan dan kekuatan yang dimiliki serta adanya peluang agroindustri keripik singkong di daerah tersebut sebagai agroindustri yang menjadi salah satu mata pencaharian masyarakat setempat sehingga perlu mendapat perhatian dalam upaya pengembangannya khususnya untuk mengolah bahan baku mentah menjadi olahan yang mampu memberikan nilai tambah. 4.2 Metode Penentuan Responden Responden dalam penelitian ini adalah mereka yang memproduksi keripik singkong. Penentuan responden dilakukan dengan sensus yaitu pengambilan dari seluruh data populasi yang ada di daerah penelitian. Agroindustri keripik singkong merupakan responden utama dalam penelitian yaitu pemilik agroindustri keripik singkong. Jumlah keseluruhan agroindustri keripik singkong di daerah penelitian ada 15 unit yaitu 14 responden agroindustri keripik singkong semi modern dan 1 responden agroindustri keripik singkong tradisional. Agroindustri keripik singkong semi modern rata-rata menggunakan 100 kg bahan baku yang menghasilkan 60 kg dan agroindustri keripik singkong tradisional dengan bahan baku 50 kg menghasilkan 30 kg keripik. Tenaga kerja 7 hingga 10 orang pekerja dengan lama jam kerja berkisar 3-5 jam dan rata- rata pekerja berjenis kelamin perempuan. Agroindustri ini cukup lama didirikan yaitu selam 10-15 tahun, namun belum ada perkembangan tingkat produksi karena kurangnya modal dan tekhnologi yang digunakan. Karena agroindustri yang terdapat di lokasi penelitian seluruhnya menggunakan bahan baku >50 kg/hari sehingga seluruhnya dikategorikan agroindustri skala usaha kecil. Metode yang digunakan adalah 20 metode sensus yakni menggunakan seluruh jumlah anggota responden karena jumlah populasi yang sedikit dan masih bisa dijangkau untuk dilakukan penelitian secara keseluruhan. 4.3 Metode Pengumpulan Data Teknik yang digunakan dalam pengambilan data penelitian ini antara lain 1. Wawancara Teknik ini digunakan untuk memperoleh data yang diinginkan yaitu dengan cara berkomunikasi secara langsung dengan pihak pemilik agroindustri keripik singkong tentang kebutuhan bahan baku, jumlah output yang dihasilkan, kebutuhan alat-alat, ketenaga kerjaan, area pemasaran dan kendala-kendala yang dihadapi dalam proses produksi keripik singkong. 2. Observasi Dengan mengadakan pengamatan secara langsung terhadap kegiatan yang dilakukan di lokasi penelitian, khususnya selama proses produksi dan kegiatan lainnya yang terlibat. 3. Dokumentasi Dokumentasi dilakukan pada kegiatan proses produksi keripik singkong dan terhadap data sekuder yang diperoleh dari instansi terkait yakni kantor kecamatan untuk memperoleh informasi tentang kondisi monografi dan geografis lokasi penelitian Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah terdiri dari dua macam yakni: 1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh dengan melihat dan mengadakan pengamatan secara langsung ke lokasi penelitian serta melakukan wawancara dan juga menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah dipersiapkan sebelumnya. 2. Data Sekunder, diperlukan dengan tujuan untuk mengambil data yang mempunyai keterkaitan dengan masalah yang dihadapi dalam penelitian dan untuk melengkapi data primer yang ada. Data sekunder diambil dari pemilik perusahaan dan instansi yang terkait dengan penelitian ini, seperti kantor kecamatan untuk mengetahui kondisi umum daerah penelitian berupa data monografi dan geografis. Selain itu data sekunder diambil dari berbagai pustaka ilmiah yang mendukung sebagai dasar atau pedoman. 1.4 Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. 1.4.1 Analisis Kualitatif Analisis kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan aspek sosial ekonomi, aspek produksi, aspek sumberdaya manusia, dan aspek pemasaran. Aspek sosial ekonomi digunakan untuk mengetahui sumber daya serta potensi yang dimiliki Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan Madura dalam menunjang keberadaan agroindustri keripik singkong. Aspek produksi digunakan untuk mendiskripsikan mengenai proses produksi yang dilakukan dalam menghasilkan produk keripik singkong. Aspek sumberdaya manusia digunakan untuk mengetahui kerakteristik produsen keripik singkong yang meliputi umur responden dan tingkat pendidikan responden, sedangkan aspek pemasaran digunakan untuk mendeskripsikan mengenai cakupan daerah pemasaran dan alur pemasaran dari agroindustri keripik singkong yang meliputi kegiatan distribusi. 1.4.2 Analisis Kuantitatif A. Analisis Nilai Tambah Besarnya nilai tambah karena proses pengolahan diperoleh dari pengurangan biaya bahan baku ditambah input lainnya terhadap nilai produk yang dihasilkan, tidak termasuk tenaga kerja. Nilai tambah merupakan imbalan bagi tenaga kerja dan keuntungan bagi pengolah atau pengusaha.menurut Hubeis, rasio nilai tambah dapat digolongkan menjadi 3 yakni dikatakan rendah jika < 15%, sedang jika berkisar 15%-40% dan tinggi jika >40%. Menurut Hayami (2001), format yang digunakan untuk menghitung nilai tambah adalah sebagai berikut : Tabel 2. Format Nilai Tambah Pengolah Agroindustri Keripik Singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan Kabupaten Pamekasan, Madura No Keterangan Rumus 1 Bahan baku (kg/hari) A 2 Harga bahan baku (Rp/kg) B 3 Hasil produksi (kg/hari) C 4 Faktor konversi (3/1) C/A= H 5 Harga produk rata-rata (Rp/kg) D 6 Tenaga kerja (HK/hari) E 7 Koefisien tenaga kerja (6/1) E/A= I 8 Upah rata-rata (Rp/HK) F 9 Input lain (Rp/kg bahan baku) G 10 Nilai produk (Rp/kg) (4/5) H/D= J 11.a Nilai tambah (Rp/kg) (10-9-2) J-G-B= K B K/J x 100%M= L Rasio nilai tambah (11a/10) x 100% 12.a Imbalan tenaga kerja (Rp/kg) (7x8) LxF =M B M/K x 100% = N% Bagian tenaga kerja (12a/11a) x 100% 13.a Keuntungan (Rp/kg) (11a-12a) K-M = O b O/K x 100% = P% Tingkat keuntungan (13a/11a)x 100% Menurut Hubeis dalam Hermawatie (1998), rasio nilai tambah dapat digolongkan menjadi 3 yaitu : 1. Rasio nilai tambah rendah, apabila memiliki persentase > 15% 2. Rasio nilai tambah sedang, apabila memiliki persentase 15% - 14% 3. Rasio nilai tambah tinggi, apabila memiliki persentase > 40%. B. Analisis Penerimaan Analisis ini digunakan untuk memperoleh gambaran tentang besarnya biaya dan keuntungan suatu perusahaan. Beberapa alat ukur yang dipakai yaitu : 1. Perhitungan biaya produksi a) Biaya tetap yaitu biaya yang tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produk yang dihasilkan. Misalnya biaya penyusutan peralatan, pajak dan bunga pinjaman. Besarnya biaya tetap dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : 𝑛 𝑖−1 𝐹𝐶 TFC = Keterangan : TFC = Total biaya tetap agroindustri keripik singkong (Rp) FC = Biaya tetap untuk input agroindustri keripik singkong (Rp) n = Banyaknya input agroindustri keripik singkong biaya yang diperhitungkan sebagai biaya tetap adalah biaya penyusutan alat. Biaya penyusutan alat adalah pengalokasian biaya investasi suatu alat setiap proses produksi sepanjang umur ekonomis alat tersebut. Perhitungan penyusutan menggunakan metode garis lurus (straight line method) yaitu suatu metode yang menganggap aktiva tetap akan memberikan kontribusi yang merata (tanpa fluktuasi) disepanjang masa penggunanya. Dapat dihitung dengan menggunakan rumus : D= 𝑃𝑏 −𝑃𝑠 𝑡 Keterangan : D = Biaya penyusutan peralatan (Rp/tahun) Pb = Harga beli awal (Rp) Ps = Harga jual (Rp) t = Umur ekonomis (tahun) b) Biaya variabel (tidak tetap) Biaya variabel (tidak tetap), yaitu biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produk yang dihasilkan. Misalnya biaya pembelian bahan baku, bahan penolong, bahan bakar, upah tenaga kerja dan biaya transportasi. Besarnya biaya variabel secara matematis dihitung sebagai berikut : VC = Pxi.Xi Keterangan : Pxi = Harga input ke-i pada agroindustri keripik singkong Xi = Jumlah inpuk ke-i pada agroindustri keripik singkong Perhitungan biaya variabel yang dibutuhkan untuk mengetahui besarnya masing-masing biaya tidak tetap yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan yang kemudian digunakan untuk menghitung total biaya variabel dalam kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Perhitungan besarnya total biaya variabel secara matematis dihitung sebagai berikut : TVC = 𝑛 𝑖=1 𝑉𝐶 Keterangan : TVC = Total biaya tidak tetap agroindustri keripik singkong VC = Biaya variabel dari setiap unit agroindustri keripik singkong n = Banyaknya input pada agroindustri keripik singkong c) Biaya total, yaitu penjumlahan antara total biaya tetap dan tota biaya variabel. Biaya total dapat dihitung dengan rumus : TC = TFC + TVC Keterangan : TC = Total biaya produksi agroindustri keripik singkong (Rp) TFC = Total biaya tetap agroindustri keripik singkong (Rp) TVC = Total biaya tidak tetap agroindustri keripik singkong 2. Perhitungan penerimaan Perhitungan penerimaan digunakan untuk mengetahui besarnya hasil dari keseluruhan penjualan produk. Penerimaan dihitung dengan rumus sebagai berikut: TR = P x Q Keterangan : TR = Total penerimaan agroindustri keripik singkong (Rp) P = Harga jual per unit ditingkat produsen (Rp) Q = Jumlah produk yang dihasilkan pada agroindustri keripik singkong (unit) C. Analisis Break Even Point Untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha dapat dihitung dengan menggunakan NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate Of Return), PP (Payback Period), analisis sensitivitas, analisis B/C rasio dan analisis BEP (Break Even Point), hal ini dikarenakan data produksi yang ada bukan bersifat data series sehingga tidak dapat diketahui data produksinya tiap tahunnya. Penggunaan analisis B/C rasio dan analisis BEP hanya digunakan untuk menghitung kelayakan usaha dari agroindustri keripik singkong berdasarkan satu kali kegiatan produksinya. 1. Analisis B/C rasio Analisis B/C rasio (benefit per cost ratio) dapat didefinisikan sebagai perbandingan (rasio) nilai dari manfaat terhadap nilai dari biaya-biaya. Pada analisis B/C rasio data yang dipentingkan adalah besarnya manfaat. Perhitungan ini dapat diperoleh dari perbandingan antara penjualan dengan total biaya produksi. Rumus yang digunakan adalah : 𝐵𝑒𝑛𝑒𝑓𝑖𝑡 B/C = 𝐶𝑜𝑠𝑡 Dengan kriteria : a) B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan dan menguntungkan. b) B/C = 1, maka usaha tersebut tidak menguntungkan dan tidak merugikan. c) B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan merugikan. 2. Analisis BEP Titik impas / Break Even Point memberikan informasi tentang hubungan antara volume penjualan, biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Dalam penelitian ini BEP dapat dihitung dengan dua cara yaitu : a. Atas dasar penjualan dalam unit 𝑇𝐹𝐶 BEP unit = 𝑇𝑉𝐶 𝑃− 𝑄 b. Atas dasar penjualan dalam rupiah BEP (Rp) = 𝑇𝐹𝐶 𝑇𝑉𝐶 𝑇𝑅 1− Keterangan : P = Harga jual keripik singkong per unit (Rp). Q = Jumlah produk keripik singkong yang dihasilkan TFC = Total Biaya tetap (Rp) TVC = Total Biaya variabel (Rp) TR = Total penerimaan (Rp) Dengan mengetahui titik impas suatu produksi, maka akan diketahui berapa besarnya jumlah produksi (volume produksi) minimal yang harus dipertahankan agar produsen keripik singkong tidak mengalami kerugian. Tiap perusahaan hendaknya dapat berproduksi diatas titik BEP agar dapat memperoleh keuntungan. Analisis B/C rasio dan BEP pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengetahui apakah suatu usaha telah layak atau belum untuk dikembangkan, namun dari kedua alat analisis tersebut memiliki perbedaan dalam cara perhitungannya. B/C rasio digunakan untuk mengetahui besarnya pengembalian dari biaya-biaya yang telah dikeluarkan, sedangkan BEP digunakan untuk mengetahui apakah besarnya biaya yang telah dikeluarkan lebih besar atau lebih kecil dari penerimaan yang didapat, sehingga dengan mengetahui nilai dari B/C rasio dan BEP akan memudahkan pengusaha dalam melihat kinerja usahanya berdasarkan manfaat dari setiap rupiah yang dikeluarkan serta batas minimum produksi dimana pengusaha tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan. V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian 5.1.1 Letak Geografis Desa Blumbungan merupakan wilayah kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dengan keadaan topografi dataran rendah. Secara geografis Desa Blumbungan berada pada ketinggian 8 meter diatas permukaan air laut dengan suhu udara rata-rata 29°C. Kondisi tanah Desa Blumbungan yang subur dan cocok untuk usaha penanaman singkong, padi, jagung dan tembakau. Dengan adanya potensi wilayah inilah sehingga mayoritas penduduknya menanam komoditi tersebut. Adapun batas wilayah Desa Blumbungan adalah sebagai berikut : a) Sebelah Utara : Desa Pamaroh - Desa Bangkes (Kadur) b) Sebelah Barat : Desa Sentol – Kelurahan Kowel c) Sebelah Selatan : Kelurahan Kowel – Desa Plak-pak d) Sebelah Timur : Desa Brujugan – Desa Larangan Luar Jarak dari Desa Blumbungan ke kecamatan Larangan adalah sejauh 6 km dan jarak ke pemerintahan Kota Pamekasan sejauh 6 km. Sedangkan untuk jarak antara kota Pamekasan, kota Sampang dan Kota Bangkalan dapat ditempuh selama 2 jam. Dari rentang waktu tersebut menunjukkan jarak yang memungkinkan untuk perluasan area pemasaran sehingga meluas ke luar madura. Hal ini tentunya diperlukan peran pemerintah dalam upaya pengembangan pangsa pemasaran produk keripik singkong sehingga dapat dikenal meluas ke berbagai kota sebagai camilan khas kota Pamekasan. Sedangkan untuk batas desa antara desa Blumbungan ke desa lainnya tidak menempuh jarak yang jauh yaitu antara 4 - 5 km sehingga desa yang berdekatan dengan sentra produksi keripik singkong banyak memasok atau menjadi agen dalam pemasaran keripik singkong dan desa-desa tersebut juga memasok bahan mentah atau singkong sebagai bahan baku pembuatan keripik singkong. Hal ini tentunya memberikan keuntungan tersendiri bagi desa-desa tersebut karena desa lain mampu memasok bahan baku dan desa tersebut juga mampu menjual hasil dari olahan bahan baku sehingga memperoleh keuntungan bagi para peduduk desa. 28 5.1.2 Luas Wilayah dan Penggunaan Lahan Desa Blumbungan memiliki wilayah seluas 1200 Ha yang terdistribusi kedalam beberapa jenis penggunaannya. Jenis penggunaan lahan di Desa Blumbungan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 3 berikut : Tabel 3. Jenis Penggunaan Lahan Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012. Jenis Penggunaan Lahan Luas (Ha) Jalan 150 Sawah dan Ladang 300 Bangunan Umum 190 Kolam dan Peternakan 100 Pemukiman 313 Jalur Hijau 45 Perkuburan 87 Lain-lain 15 Total 1200 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 12,5 25 15,83 8,33 26,13 3,75 7,25 1,25 100 Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa penggunaan lahan yang paling luas adalah untuk pemukiman penduduk yaitu seluas 313 Ha atau sebesar 26,13% penggunaan lahan lain yaitu sawah dan ladang yaitu seluas 300 Ha atau sebesar 25% yang biasa digunakan untuk tanaman padi, jagung, singkong dan tembakau. Bangunan umum seperti sekolah, masjid, kantor dan bangunan lain seluas 190 Ha atau sebesar 15,83%, penggunaan jalan umum dengan luas 150 Ha atau sebesar 12,5%, kolam dan peternakan dengan luas 100 Ha atau sebesar 8,33% yaitu dengan memelihara ikan mujair, ikan nila sedangkan peternakannya yaitu sapi, kambing, ayam dan bebek sedangkan penggunaan lahan untuk jalur hijau dengan luas 45 Ha atau sebesar 3,75% dan untuk luas lahan lain-lainnya 15 Ha atau sebesar 1,25%. 5.1.3 Kondisi Penduduk Jumlah penduduk Desa Blumbungan pada tahun 2012 tercatat sebanyak 17.122 jiwa dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 5355 kepala keluarga. Komposisi dari seluruh penduduk tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : 5.1.3.1 Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin Berdasarkan data monografi terakhir, Desa Blumbungan memiliki total jumlah penduduk sebesar 17.122 jiwa. Komposisi jumlah penduduk menurut jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 4 berikut : Tabel 4. Komposisi Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan 2012 Jenis Kelamin Jumlah (Jiwa) Pria 8359 Wanita 8763 Total 17122 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 48,82 51,18 100 Berdasarkan Tabel 4 tersebut dapat diketahui bahwa jumlah penduduk Desa Blumbungan lebih banyak wanita daripada pria. Jumlah total penduduk wanita sebanyak 8763 jiwa atau sebesar 51,18% sedangkan jumlah total penduduk pria sebanyak 8359 atau sebesar 48,82%. Dari data tersebut maka pekerja dari agroindustri keripik singkong di daerah Blumbungan ini lebih banyak wanita daripada pria. Selain karena jumlah penduduk tersebut, pemilihan pekerja wanita dikarenakan sifat kerjanya yang lebih teliti, ulet dan terampil sehingga lebih baik dalam proses pembuatan keripik singkong. Sedangkan pria lebih banyak bekerja di sawah sebagai petani ataupun menekuni pekerjaan lain. Untuk pemilihan pekerja pria pada agroindustri keripik singkong lebih ditempatkan pada sistem pemasaran produk keripik singkong yang wilayah pemasarannya berada di kota lain namun masih dalam wilayah Madura. 5.1.3.2 Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia Komposisi penduduk Desa Blumbungan berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 5 berikut : Tabel 5. Komposisi Penduduk Berdasarkan Usia di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2012. Golongan Usia (Tahun) Jumlah (Jiwa) 0-10 875 11-20 2904 21-30 5714 31-40 4608 41-50 2656 > 50 365 Total 17.122 Sumber : Data monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 5,11 16,96 33,37 26,91 15,51 2,13 100 Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang paling tinggi di Desa Blumbungan adalah penduduk dengan usia 21-30 tahun yaitu sebesar 5.714 atau 33,37%. Urutan kedua dan ketiga adalah penduduk dengan golongan usia 31-40 tahun yaitu sebesar 4608 atau 26,91% dan 11-20 tahun sebesar 2904 atau 16,96%. Sedangkan untuk kisaran umur 41-50 tahun sebesar 2656 atau 15,51% dan untuk kisaran umur anak-anak yaitu 0-10 tahun sebesar 875 atau 5,11%. Sedangkan untuk kisaran umur > 50 sebesar 365 atau 2,13%. Dari kondisi tersebut dapat diketahui bahwa Desa Blumbungan memiliki potensi yang besar dalam penyediaan tenaga kerja yang produktif bagi lapangan pekerjaan yang tersedia di desa tersebut. 5.1.3.3 Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan merupakan faktor penting dalam menunjang proses pembangunan suatu daerah karena merupakan suatu indikator dari kualitas sumberdaya manusia. Komposisi penduduk Desa Blumbungan berdasarkan tingkat pendidikannya dapat dilihat pada Tabel 6 Berikut : Tabel 6. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan Kota Pamekasan tahun 2012. Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Tidak Tamat SD 675 SD/Sederajat 6239 SMP/Sederajat 4823 SMA/Sederajat 5217 Sarjana (S1,S2,23) 168 Total 17122 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 3,94 36,43 28,16 30,47 0,98 100 Berdasarkan tabel 6 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk Desa Blumbungan memiliki tingkat pendidikan terakhir yaitu pada tingkat SD yaitu sebanyak 6239 jiwa atau 36,43%, hal ini karena sebagian besar penduduknya berada dalam katagori dewasa sampai lanjut usia dan pembangunan sekolah masih belum optimal dan pendapatan terdahulu tidak mencukupi untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tingkat pendidikan SMP dan SMA yaitu sebesar 4823 atau 28,16% dan 5217 atau 30,47%, untuk tingkat Sarjana sebesar 168 atau 0.98%. dari segi tingkat pendidikan menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk di Desa Blumbungan pernah mendapatkan pendidikan di bangku sekolah, hal ini dapat diartikan bahwa hampir seluruh penduduk di Desa Blumbungan telah memiliki kemampuan untuk membaca dan menulis sehingga mampu berkembang dan menyerap informasi dan inovasi khususnya di bidang agroindustri bagi masyarakat setempat. 5.1.3.4 Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Mata pencaharian merupakan kegiatan yang memberikan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, baik dalam biaya pendidikan hingga usaha tani dalam pemenuhan bibit atau bahan tanam karena sebagian besar penduduk ini adalah seorang petani. Mata pencaharian penduduk di Desa Blumbungan terdiri dari berbagai jenis pekerjaan, pengelompokan ini berdasarkan atas semua pekerjaan yang dijadikan sebagai sumber pendapatan. Komposisi penduduk berdasarkan mata pencahariannya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut : Tabel 7. Komposisi Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan 2012 Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Belum/tidak bekerja 600 Karyawan 1907 Wiraswasta 3172 Petani 7719 Buruh 1795 Pensiunan 516 Nelayan 470 Ibu rumah tangga 650 Dokter/tenaga medis 200 Lain-lain 93 Total 17.122 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Persentase (%) 3,5 11,13 18,52 45,08 10,48 3,01 2,74 3,79 1,16 0,54 100 Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk di Desa Blumbungan mempunyai mata pencaharian sebagai petani yaitu sebesar 7719 atau sebesar 45,08%. Data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian dan potensi daerah lebih cenderung ke sektor pertanian. Sedangkan untuk pekerjaan yang mendominasi selain pertanian wiraswasta, karyawan dan buruh. Pekerjaan tersebut cenderung dalam bidang sales ataupun karyawan toko dan buruh petani ataupun buruh bangunan. 5.1.4 Kondisi Pertanian Desa Blumbungan merupakan suatu daerah dengan kondisi tanah yang subur dan cocok untuk ditanami tanaman pangan seperti padi, jagung dan singkong, selain itu sayur-sayuran seperti kacang tanah dan buah-buahan seperti mangga, pisang dan lain-lain. Secara rinci kondisi pertanian di Desa Blumbungan dapat dilihat pada Tabel 8 berikut : Tabel 8. Kondisi Pertanian di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012. Jenis Tanaman Luas (Ha) Padi 67 Jagung 70 Ketela pohon (Singkong) 72 Kacang tanah 19 Tomat 7 Timun 10 Pisang 30 Mangga 25 Total 300 Sumber : Data Monografi Desa Blumbungan, 2012 Hasil Panen (Ton) 22,33 23,33 24 6,33 2,33 3,33 10 8,33 100 Berdasarkan Tabel 8 dapat diketahui berbagai jenis tanaman yang ada di Desa Blumbungan yang meliputi tanaman pangan, sayuran dan buah-buahan. Dari data tersebut menunjukkan bahwa singkong memiliki luas lahan yang besar dan selisih yang kecil dengan jagung dan padi yaitu sebesar 72 atau 24% dan 70 atau 23,33%, serta padi sebesar 67 atau 22,33%. Hal ini dikarenakan suhu dan kondisi lahan yang tepat jika ditanami tanaman tersebut sehingga tanaman tersebut mendominasi untuk dibudidayakan. Tanaman sayuran yang banyak ditanam adalah tomat dan timun yaitu sebesar 7 atau 2,33% dan 10 atau 3,33%. Sedangkan untuk buah yaitu pisang dan mangga sebesar 30 atau 10% dan 25 atau 8,33%. 5.2 Karakteristik Responden Agroindustri Keripik Singkong Karakteristik responden agroindustri keripik singkong merupakan suatu gambaran informasi mengenai keadaan atau hal-hal yang berkaitan tentang pengusaha keripik singkong dalam menjalankan usahanya di lokasi penelitian. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kegiatan dan kendala dalam menjalankan kegiatan produksi keripik singkong. Sebagian besar pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan menjadikan usaha agroindustri keripik singkong sebagai pekerjaan utama, hal ini dikarenakan agroindustri keripik singkong mampu memberikan pendapatan yang besar bagi pengusahanya. Pada umumnya para pengusaha keripik singkong di lokasi penelitian masih tergolong usaha skala kecil, hal ini dapat dilihat baik dari segi penggunaan bahan baku yaitu >50 kg dan dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja yang dimiliki yaitu 7- 10 orang. Yang membedakan hanyalah penggunaan bahan tambahan dan penggunaan mesin dalam pengemasan keripik singkong. Berdasarkan hasil penelitian terhadap keseluruhan pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan diperoleh karakteristik pengusaha agroindustri keripik singkong yaitu sebagai berikut : 5.2.1. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Usia Usia merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan suatu usaha,karena usia akan mempengaruhi kemampuan fisik dan daya fikir responden dalam mengambil suatu keputusan dan keaktifan mengelola usahanya. Berdasarkan hasil penelitian, usia pengusaha keripik singkong yang paling muda adalah 25 tahun, sedangkan usia pengusaha keripik singkong yang tertua adalah 40 tahun. Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan masih dalam usia produktif baik dalam segi tenaga dan pemikiran, sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan fisik yang dimiliki masih baik dan tentunya berpengaruh pada semangat kerja, oleh sebab itu pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan memiliki kesempatan yang luas untuk mengembangkan usahanya. Kisaran umur responden keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dikelompokkan kedalam beberapa golongan usia yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 9 berikut : Tabel 9. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Kelompok Usia Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012 No Kelompok Usia (Tahun) 1. 21-30 2. 31-40 3. 41-50 4. > 50 Total Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah (Jiwa) 5 7 2 15 Persentase (%) 33,33 46,66 13,33 100 Berdasarkan Tabel 9 diatas dapat diketahui bahwa usia responden agroindustri keripik singkong yang tertinggi adalah pada golongan usia 31-40 tahun sebanyak 7 jiwa atau sebesar 46,66% dan pada tingkat kedua adalah pada golongan usia 21-30 tahun sebanyak 5 jiwa atau sebesar 33,33% dan yang terkecil adalah usia responden dengan golongan usia 41-50 tahun atau sebesar 13,33%. Dari data tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan termasuk kedalam golongan usia tua. Hal ini dikarenakan para pelaku usaha merupakan lanjutan dari usaha sebelumnya yang dikerjakan oleh orang tua mereka, sehingga usaha ini berlanjut turun-temurun dan para pekerja yang membantu proses produksi adalah pekerja dengan usia golongan muda. 5.2.2. Karekteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan dapat digunakan sebagai indikator terhadap daya fikir dan kemudahan seseorang dalam menerima teknologi dan informasi secara baik. Pendidikan juga merupakan salah satu latar belakang dalam upaya pengembangan diri dan respon dalam mengatasi setiap kendala yang dihadapi. Pada umumnya pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan telah memiliki latar belakang pendidikan formal, dimana tingkat pendidikan terendah yakni pada tingkat SLTA, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan mudah untuk melakukan adopsi terhadap teknologi dan berpeluang untuk melakukan berbagai inovasi dalam menjalankan usahanya. Secara rinci tingkat pendidikan formal responden keripik singkong si Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 10 berikut : Tabel 10. Karekteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2012 No Tingkat Pendidikan 1. SD 2. SLTP/Sederajat 3. SLTA/Sederajat 4. Sarjana(S1,S2,S3) Total Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah (Jiwa) 1 14 15 Persentase (%) 6,66 86,66 100 Berdasarkan Tabel 10 diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan responden keripik singkong terdiri dari tingkat SLTP dan SLTA, masing-masing sebanyak 1 atau sebesar 6,66% dan 14 atau sebesar 86,66%. Dari latar belakang pendidikan tersebut sangat mempengaruhi dalam upaya pengembangan usaha karena tingkat pendidikan yang tinggi akan meningkatkan pola pikir, memperluas wawasan serta lebih memudahkan dalam menyerap informasi yang lebih maju dan berkembang. 5.2.3. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Lama Usaha Lama usaha memiliki kaitan yang erat dengan tingkat pengalaman usaha yang dimiliki. Semakin lama suatu usaha yang dijalankan, maka semakin banyak pula pengalaman yang dimiliki. Agroindustri keripik singkong telah lama ada yaitu 15 tahun, hal ini karena kota pamekasan merupakan sentra pemasok produk keripik singkong yang berbeda dan diolah secara tradisional. Selain itu potensi daerah dari hasil produksi singkong merupakan alasan utama dalam meningkatkan nilai tambah produk. Secara rinci lama usaha agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan dapat dilihat pada Tabel 11 berikut : Tabel 11. Karakteristrik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Lama Usaha di Desa Blumbunga, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No Lama Usaha (Tahun) 1. 1-5 2. 6-10 3. 11-15 Total Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah (Jiwa) 5 10 15 Persentase (%) 33,33 66,67 100 1 Berdasarkan Tabel 11 dapat diketahui bahwa lama usaha pengusaha keripik singkong tertinggi berkisar antara 10-15 tahun yaitu sebanyak 10 jiwa dengan persentase 66,67%, sedangkan responden terendah yaitu lama usaha pada rentang tahun 6-10 tahun yaitu sebanyak 5 jiwa dengan persentase 33,33%. Hal ini dikarenakan keripik singkong merupakan jenis produk yang telah lama diproduksi dan dijadikan sebagai sentra camilan di kota Pamekasan sehingga telah memiliki pengalaman yang cukup dalam kegiatan pengolahannya. 5.2.4. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Jenis Usaha Karakteristik responden berdasarkan jenis usaha berkaitan dengan keberlanjutan usaha agroindustri keripik singkong yang dilakukan oleh pengusaha untuk mengetahui jenis usaha dari agroindustri tersebut. Pada umumnya pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan menjadikan usahanya sebagai pekerjaan utama, hal ini dikarenakan agroindustri keripik singkong memberikan keuntungan dan nilai tambah bagi pengusahanya. Jenis usaha responden keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 12 berikut : Tabel 12. Karakteristik Responden Keripik Singkong Berdasarkan Jenis Usaha di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No Jenis Usaha 1. Utama 2. Sampingan Total Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah (Jiwa) 15 15 Persentase(%) 100 100 Berdasarkan Tabel 12 dapat diketahui bahwa seluruh pengusaha keripik singkong menjadikan agroindustri keripik singkong sebagai pekerjaan utama yaitu sebanyak 15 jiwa atau sebesar 100%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa usaha agroindustri keripik singkong dilaksanakan secara berkelanjutan karena telah menjadi usaha utama bagi pemiliknya. 5.2.5 Karakteristik Agroindustri Keripik Singkong Usaha pengolahan keripik singkong yang terdapat di Desa Blumbungan merupakan skala kecil dengan jumlah tenaga kerja berkisar 7-10 orang yang mengolah singkong menjadi keripik singkong dengan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah singkong. Desa Blumbungan merupakan sentra produksi keripik singkong yang juga merupakan produk unggulan dari Kota Pamekasan sebagai oleh-oleh khas dari kota ini. Desa Blumbungan juga telah mempunyai sarana transportasi yang memadai, yaitu jalan aspal yang menghubungkan Desa Blumbungan dengan desa lain dan dengan mudah dilewati oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Sarana transportasi yang memadai merupakan pendukung dalam kelancaran penyediaan bahan baku produksi dan pemasaran hasil. Karakteristik agroindustri keripik singkong diperlukan untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan kemampuan dalam menyelanggarakan produksi keripik singkong. Karakteristik agroindustri keripik singkong adalah sebagai berikut : 5.2.5.1 Penyediaan Input Produksi Keripik Singkong Input produksi atau sering disebut faktor produksi merupakan korbanan yang dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk, baik berupa bahan atau alat- alat yang menunjang proses produksi. Dalam menjalankan usaha agroindustri keripik singkong dibutuhkan faktor produksi untuk memperlancar kegiatan produksi dan mendorong pengembangan usaha serta meningkatkan keuntungan bagi pengusaha keripik singkong. Kegiatan penyediaan input produksi meliputi : 1) Modal Yang Digunakan Dalam Agroindustri Keripik Singkong Modal merupakan kekayaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha untuk melakukan suatu kegiatan usaha dengan mengeluarkan sejumlah biaya untuk menjalankan proses produksi. Modal sangat diperlukan dalam pengembangan usaha, karena semakin besar modal yang dimiliki maka akan dapat meningkatkan jumlah produksi yang dihasilkan sehingga tingkat keuntungan yang diperoleh juga akan semakin besar begitupun sebaliknya. Modal yang digunakan oleh pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan sebagian besar berasal dari modal pribadi, alasan dari pengusaha tidak melakukan pengajuan pinjaman pada Bank dikarenakan rumitnya birokrasi dan persyaratan yang diajukan oleh pihak Bank serta adanya tingkat suku bunga yang tinggi sehingga membuat para pengusaha keripik singkong lebih memilih untuk memaksimalkan modal usahanya dari modal pribadi sehingga dirasa lebih efisien dan efektif dalam menjalankan usahanya. Besarnya modal yang dimiliki oleh para pengusaha keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat dari besarnya total biaya yang dikeluarkan dalam satu kali proses produksi. Besarnya biaya yang dimiliki oleh para responden dapat dilihat pada tabel 13 berikut : Tabel 13. Besarnya Biaya Yang Dikeluarkan Dalam Satu Kali Proses Produksi, Oleh Pengusaha Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2013. Biaya Total (Rp) Jumlah Pengusaha (Jiwa) 100.000 – 500.000 8 500.000 - 1.000.000 7 1.000.000 – 2.000.000 Total 15 Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Persentase (%) 60 40 100 Berdasarkan Tabel 13 dapat diketahui bahwa produsen yang memiliki modal dengan kisaran modal Rp. 100.000 – Rp. 500.000 sebanyak 8 jiwa atau 60% dan produsen dengan Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 sebanyak 7 jiwa atau 40%. Dengan adanya jumlah modal yang rendah maupun tinggi diharapkan keuntungan yang diperoleh akan lebih besar dari setiap satu rupiah modal yang dikeluarkan. 2) Bahan Yang Digunakan Dalam Agroindustri Keripik Singkong Bahan yang digunakan dalam agroindustri keripik singkong dibagi menjadi dua yaitu bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku utama yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong adalah singkong. Bahan baku yang diperoleh produsen berasal dari petani di daerah sekitar kota Pamekasan. Produsen keripik singkong biasanya membeli singkong dalam hitungan karung, yang mana setiap karung berisi ± 5 – 10 kg singkong dengan kisaran harga Rp. 2000 – Rp. 2200 per kg. Kapasitas penggunaan bahan baku untuk setiap produsen keripik singkong juga berbeda-beda yaitu berkisar antara 50 – 100 kg dalam satu kali proses produksi. Kapasitas bahan baku merupakan kemampuan masing-masing produsen dalam menyediakan bahan baku singkong untuk produksi keripik singkong. Bahan lain yang digunakan dalam agroindustri keripik singkong adalah bahan penolong. Bahan penolong yang digunakan terdiri dari garam, air, teri dan bahan bakar. Para pengusaha keripik singkong tidak pernah mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan baku maupun bahan penolong, hal ini dikarenakan lokasi agroindustri berada di Kota Pamekasan yang berpotensi sebagai penghasil singkong. Selain itu, letak agroindustri keripik singkong yang juga dekat dengan pasar akan memudahkan pengusaha dalam mendapatkan bahan penolong yang dibutuhkan. Dari 15 responden keripik singkong hanya 10 diantaranya yang menggunakan bahan tambahan teri sedangkan untuk 5 responden lain tidak menggunakan teri. Hal ini dikarenakan agar ada variasi rasa yang berbeda karena lokasi tempat produksi hyang berdekatan dan merupakan sentra dalam pembuatan keripik singkong. Keripik singkong yang dihasilkan biasanya telah dikemas dengan menggunakan kemasan plastik dengan sablon merk produk. Alasan menggunakan kemasan plastik karena dirasa awet dan tahan lama daripada menggunakan karton, selain itu agar menjaga mutu produk sehingga tidak mudah rusak. Pembelian kemasan dilakukan yaitu dengan membeli langsung kemasan plastik sedangkan untuk merk produk dengan mendesain serta mencetak sendiri dengan kisaran harga plastik Rp.20.000 per roll dan kertas untuk desain Rp.100 – Rp.200 per kemasan. Namun ada salah satu responden yang tidak menggunakan kemasan plastik namun dijual tanpa kemasan dan dijual seluruhnya dalam bentuk jumlah kilo keripik. Biasanya para pembeli yang membeli keripik tanpa kemasan ini adalah penjual yang menggunakan campuran keripik singkong. Penggunaan bahan baku dan bahan penolong dalam proses produksi keripik singkong pada setiap agroindustri jumlahnya berbeda. Perbedaan kapasitas penggunaan bahan tersebut dipengaruhi oleh modal dan jumlah permintaan pasar. Namun perbedaan kisaran jumlah yang digunakan tidak terlalu jauh, hal ini karena dalam sentra produksi keripik singkong para pengusaha berada dalam suatu lingkungan yang berdekatan serta tidak terjadi persaingan yang berarti. Secara rinci kebutuhan bahan-bahan yang digunakan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 14 berikut : Tabel 14. Rata-rata Kebutuhan Bahan Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No Kebutuhan Bahan Bahan Baku Singkong (kg) 2. Bahan Penolong Teri (kg) Garam (kg) Air (Liter) Gas (kg) 3. Bahan Pelengkap Kemasan Plastik (Roll) Kertas (kg) Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah ( Satuan ) Semi Modern Tradisional 85,71 50 1 0,42 1,7 2,5 0,25 1 1,5 1. 1,7 0,85 - Berdasarkan Tabel 14 dapat diketahui bahwa rata-rata kebutuhan bahan baku singkong yang digunakan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri semi modern sebesar 85,71 kilogram dan pada agroindustri tradisiona sebesar 50 kg, sedangkan untuk bahan penolong disesuaikan dengan modal dan kebutuhan masing-masing pengusaha. Misalnya penggunaan teri dari ke lima belas produsen lima diantaranya tidak menggunakan teri. Adanya penambahan bahan yang tidak sama antara para produsen keripik singkong akan menghasilkan rasa keripik singkong yang berbeda antara pedagang satu dengan pedagang yang lainnya. 3) Tenaga Kerja Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting dalam menjalankan suatu usaha. Adanya ketersediaan tenaga kerja yang memadai dan berpengalaman, akan mendukung kelancaran dalam proses produksi. Tenaga kerja pada agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan ini jumlahnya berkisar antara 7 - 10 orang yang sebagian besar dari luar anggota keluarga. Tenaga kerja yang dipilih mayoritas adalah wanita karena lebih ulet dan teliti dalam kegiatan proses produksinya. Dalam sistem pengupahan tidak ada perbedaan antara tenaga kerja yang berasal dari dalam anggota keluarga maupun tenaga kerja dari luar anggota keluarga. Dalam proses pengolahan keripik singkong terdapat sistem pembagian tugas tenaga kerja, pembagian tugas tersebut tergantung pada tahapan proses produksi. Para tenaga kerja umumnya bekerja mulai pukul 08.00 WIB – 13.00 WIB dengan sistem pembayaran upah secara harian yang jumlahnya berkisar antara Rp. 15.000 – Rp. 20.000 per satu kali proses produksi. Tahapan kegiatan produksi yang dilakukan oleh tenaga kerja meliputi pengupasan kulit singkong, pemotongan singkong, pencucian singkong, pengukusan singkong, pengirisan singkong, penumbukan singkong, penjemuran keripik singkong dan pengemasan keripik singkong. Penggunaan tenaga kerja dan pemberian upah dalam agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 15 berikut : Tabel 15. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja Dan Pemberian Upah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. Jumlah Tenaga Kerja ( Jiwa ) 8 Sumber : Data Primer Diola, 2013 Upah Tenaga Kerja (Rp) 18.333 Berdasarkan Tabel 15 dapat diketahui bahwa rata-rata tenaga kerja yang dibutuhkan oleh masing-masing pengusaha dalam agroindustri keripik singkong adalah sebanyak 134 atau 8 orang dengan upah rata-rata untuk setiap tenaga kerja pada ke lima belas agroindustri adalah Rp. 18.333 per satu kali proses produksi. 4) Teknologi Peralatan Jenis teknologi yang digunakan dalam suatu kegiatan produksi akan berpengaruh terhadap kualitas maupun kuantitas produk yang dihasilkan. Teknologi yang digunakan dalam kegiatan produksi agroindustri keripik singkong bersifat tradisional yaitu dengan tenaga manusia dan hanya menggunakan mesin press untuk pengemasan. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan produksi agroindustri keripik singkong meliputi alat press, pisau, alat tumbuk, baskom, talenan, kayu, pengukus, kompor, dan alat penjemur. Dari peralatan tersebut yang termasuk peralatan dengan teknologi modern hanya mesin press. Penggunaan alat-alat tradisional ini umum digunakan karena lebih tertata dan terukur baik tingkat rasa, ukutan atau ketebalannya. Penggunaan mesin dalam proses produksi keripik singkong belum ada yang menerapakan hal ini karena kendala modal ataupun tidak adanya informasi dalam pengaplikasian alat-alat pendukung proses produksi keripik singkong. 5.2.6 Proses Produksi Keripik Singkong A. Bahan-bahan Keripik singkong merupakan salah satu produk olahan dari singkong. Singkong yang digunakan sebagai bahan baku merupakan singkong pilihan yaitu singkong kuning dan empuk saat diolah.untuk mendapatkan produk olahan yang mempunyai kualitas baik diperlukan singkong dengan tingkat kemasakan singkong yang tepat, yaitu tidak terlalu tua ataupun tidak terlalu muda. Sedangkan untuk bahan penolong yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik singkong meliputi teri, garam, air dan bahan bakar. B. Alat-alat Peralatan yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong sebagian besar merupakan peralatan sederhana dan hanya satu teknologi modern yang digunakan dalam kegiatan pengemasan keripik singkong. Peralatan sederhana yang digunakan dalam kegiatan produksi keripik singkong meliputi pisau, alat tumbuk, baskom, talenan, kayu, dan pengukus. Dari semua peralatan tersebut, tidak semua pengusaha memiliki jumlah peralatan yang sama, hal ini dikarenakan adanya perbedaan jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing pengusaha serta adanya perbedaan kapasitas bahan baku yang digunakan. Penggunaan jumlah dan jenis peralatan yang tidak sama diantara setiap pengusaha keripik singkong akan menyebabkan output yang dihasilkan berbeda antara pengusaha yang satu dengan pengusaha yang lainnya. Secara rinci alat-alat yang digunakan dalam proses produksi keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 16 berikut : Tabel 16. Alat-alat Yang Digunakan Dalam Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No 1 Nama Alat Alat Press Fungsi Untuk pengemasan poduk dengan kemasan plastik. 2 Pisau Untuk mengupas dan memotong bahan-bahan pembuat keripik singkong. 3 Alat Tumbuk Untuk menumbuk singkong yang telah matang. 4 Baskom Usebagai wadah untuk menampung bahan-bahan pembuatan keripik singkong. 5 Talenan Untuk tempat memotong singkong 6 Kayu Untuk alas dalam pembuata keripik singkong. 7 Pengukus Untuk tempat mengukus singkong. 8 Kompor Alat pemanas saat mengukus singkong. 9 Alat Pejemuran Untuk wadah dalam proses penjemuran keripik Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Jumlah Ratarata ( Buah ) 1 4 4 8 4 4 3 2 8 C. Proses Pembuatan Keripik Singkong Dalam proses pengolahan singkong menjadi keripik singkong yang harus diperhatikan adalah proses penumbukan singkong, karena pada tahap ini dibutuhkan ketelitian untuk menentukan ukuran dan ketebalan keripik yang diinginkan. Terdapat beberapa tahapan yang dilakukan dalam pembuatan keripik singkong yang terdiri dari delapan tahapan meliputi pengupasan, pemotongan, pencucian, pengukusan, pengirisan, penumbukan, penjemuran dan pengemasan.. Secara rinci tahapan pembuatan keripik singkong dijelaskan sebagai berikut : 1) Pengupasan Pengupasan singkong merupakan kegiatan untuk menghilangkan kulit singkong. Hal ini karena dalam proses pembuatannya, daging umbi yang dibutuhkan untuk pembuatan keripik singkong. 2) Pemotongan Pemotongan singkong dilakukan untuk memperkecil ukuran umbi sehingga mempermudah proses pengukusan dan pengirisan singkong. Adanya tahapan pemotongan juga mempercepat proses kematangan singkong sehingga kegiatan produksi bisa lebih efisien 3) Pencucian Pencucian dilakukan setelah sigkong dipotong-potong, hal ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan sisa kulit buah yang masih menempel pada daging umbinya. Tahapan pencucian dilakukan secara manual dengan menggunakan bantuan air. 4) Pengukusan Tahapan pengukusan diakukan dengan tujuan agar daging umbi menjadi lebih lunak. Adanya tahapan pengukusan akan membuat hasil keripik akan lebih renyah. 5) Pengirisan Pengirisan singkong dilakukan untuk memperkecil ukuran umbi setelah proses pengukusan singkong. Adanya tahapan ini merupakan penetapan ukuran yang tepat sebelum ditumbuk menjadi keripik. 6) Penumbukan Penumbukan singkong dilakukan untuk melunakkan singkong yang telah dikukus dan diiris sehingga diperoleh keripik yang renyah. 7) Penjemuran Proses penjemuran dilakukan untuk mengurangai kadar air pada keripik sehingga keripik akan lebih tahan lama. Proses penjemuran dilakukan di bawah sinar matahari langsung selama 2 jam. 8) Pengemasan Setelah keripik kering, maka keripik telah siap dikemas dengan menggunakan plastik dan mesin press. Singkong Pengupasan kulit umbi Pemotongan daging umbi Pencucian daging umbi Pengukusan daging umbi Agar daging umbi lebih lunak Pengirisan daging umbi yang telah lunak Penumbukan Tambahkan air garam dan teri penjemuran dikemas Skema 2. Proses Pembuatan Keripik Singkong Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. 5.2.8 Kapasitas Produksi Kemampuan produksi yang dilakukan oleh masing-masing pengusaha keripik singkong berbeda. Hal ini dikarenakan jumlah modal yang dimiliki oleh setiap pengusaha tidak sama sehingga mempengaruhi kemampuan untuk membeli bahan baku dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan dalam pembuatan keripik singkong. Jumlah produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap pengusaha keripik singkong dapat dilihat secara rinci pada Tabel 17 berikut : Tabel 17. Jumlah Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada agroindustri keripik singkong semi modern dan agroindustri tradisional Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. Jumlah Jumlah Produksi ( kg ) Total Rata-rata Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Semi modern Tradisional 720 51,4 30 30 Berdasarkan Tabel 17 dapat diketahui bahwa jumlah produksi keripik singkong dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern yaitu 51,4 kg sedangkan pada agroindustri keripik singkong tradisional yaitu 30 kg. Adanya jumlah produksi yang berbeda disebabkan oleh perbedaan kapasitas bahan baku dan bahan-bahan lainnya yang digunakan dalam pembuatan keripik singkong. 5.2.9. Pemasaran Kegiatan pemasaran merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan oleh setiap pengusaha, termasuk juga pengusaha keripik singkong. Keripik singkong merupakan produk khas Pamekasan namun dibutuhkan perluasan pemasaran sehingga lebih meningkatkan keuntungan dan lebih dikenal oleh kotakota lain. Pemasaran keripik singkong yang dihasilkan oleh agroindustri keripik singkong Di Desa Blumbungan sebagian besar hanya berkisar di wilayah madura, akan tetapi terdapat juga di wilayah Surabaya. Dalam pemasaran produknya, agroindustri keripik singkong menggunakan jasa lembaga pemasaran yang meliputi agen, grosir dan pengecer atau retailer, namun terdapat juga pengusaha keripik singkong yang langsung menjual produknya kepada konsumen akhir. Dalam kegiatan distribusi produk, pengusaha keripik singkong biasanya mengirimkan langsung produknya kepada agen, grosir, pengecer, namun terdapat juga beberapa pengusaha keripik singkong yang produknya diambil langsung oleh agen dan grosir ataupun penjual makanan yang menggunakan tambahan keripik singkong. Penjualan produk menggunakan bantuan lembaga pemasaran dirasa lebih efektif dalam menunjang kegiatan pemasaran produk, hal ini dikarenakan keuntungan yang bisa diperoleh oleh pengusaha lebih besar dibandingkan jika menjualnya langsung kepada konsumen akhir. Apabila dilihat dalam segi harga, produk keripik singkong dijual seharga Rp. 8.800/pc atau Rp.32.000/ kg untuk konsumen akhir, sedangkan untuk lembaga pemasaran dijual seharga Rp.7.700/pc atau Rp. 30.893/kg, sedangkan pada agroindustri keripik singkong tradisional menjual produknya langsung pada konsumen akhir dengan harga Rp.26.600. Perbedaan harga tersebut jika dilihat bahwa pengusaha yang menjual produknya pada konsumen akhir akan lebih untuk dibandingkan dengan menjualnya pada lembaga pemasaran, akan tetapi pada kenyataannya pengusaha akan menerima keuntungan yang lebih besar pada saat menjual produknya pada lembaga pemasaran, hal ini dikarenakan meski harga produk yang diberlakukan lebih murah dibandingkan pada konsumen akhir, namun kuantitas pembelian yang dilakukan oleh pihak lembaga pemasaran jauh lebih besar, sehingga penerimaan konsumen juga akan meningkat. Pola pemasaran produk keripik pada agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Gambar 3 berikut : Agen Pengecer/ Retailer Konsumen Akhir Produsen Keripik Singkong Konsumen Akhir Gambar 3. Pola Pemasaran Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. Sistem pembayaran dalam penjualan keripik singkong yang menggunakan tenaga konvensional ini pada umumnya bersifat sistem pembayaran langsung, yaitu peran pembeli yang meliputi agen, grosir dan pengecer/retailer langsung membayar secara tunai terhadap produk keripik singkong yang telah dibeli, sedangkan pada agroindustri yang menggunakan alat tradisional memasarkan produknya langsung pada konsumen akhir dalam jumlah kilogram sesuai permintaan konsumen. 5.3 Analisis Nilai Tambah Agroindustri Keripik Singkong Analisis nilai tambah digunakan untuk mengetahui adanya nilai tambah yang terdapat pada satu kilogram singkong yang diolah menjadi keripik singkong. Besarnya nilai tambah diperoleh dari hasil pengurangan nilai produksi yang dihasilkan terhadap biaya bahan baku ditambah input lainnya, tidak termasuk tenaga kerja. Dengan mengetahui perkiraan dari nilai tambah pada agroindustri keripik singkong, diharapkan dapat diperoleh informasi mengenai rasio nilai tambah terhadap produk keripik singkong yang dihasilkan, imbalan tenaga kerja, dan keuntungan bagi pengusaha agroindustri keripik singkong, selain itu diharapkan pada para petani singkong agar menyadari bahwa singkong jika diolah menjadi produk olahan hasil panen mampu memberikan nilai tambah dan memberikan keuntungan yang lebih besar daripada dijual dalam bentuk segar tanpa pengolahan lebih lanjut. Dalam analisis nilai tambah ini akan dibandingkan berapa besar nilai tambah pada agroindustri semi modern dengan agroindustri tradisional jika menggunakan jumlah bahan baku dan tenaga kerja yang sama. Analisis nilai tambah pada agroindustri keripik singkong semi modern di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 18 berikut : Tabel 18. Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong semi modern Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan tahun 2013. Output, Input, Harga Nilai 1. Hasil Produksi (kg/Proses produksi) 29,9 2. Bahan Baku (kg/Proses Produksi) 50 3. Tenaga Kerja (Jam) 5 4. Faktor Konversi (1/2) 0,59 5. Koefisien Tenaga Kerja (3/2) 0,1 6. Harga Produk (Rp/kg) 31.200 7. Upah Rata-rata (Rp/Jam) 3.000 Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong) 8. Harga Bahan Baku (Rp/kg) 2.028,6 9. Input Lain (Rp/kg) 1.786,7 10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg) 18.408 11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg) 14.592,7 b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%) 79,27 12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg) 300 b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%) 2,1 13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp) 14.292,7 b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%) 97,9 Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Berdasarkan Tabel 18 dapat diketahui bahwa usaha agroindustri keripik singkong jika menggunakan bahan baku singkong yang sama dengan agroindustri tradisional yaitu sebanyak 50 kg/proses produksi dapat menghasilkan produk keripik singkong sebanyak 29,9 kg/per proses produksi. Dari data diatas menunjukkan bahwa besarnya nilai tambah rata-rata pada agroindustri keripik singkong adalah Rp. 14.592,7/kg bahan baku singkong. Besarnya nilai tambah pada suatu produk dipengaruhi oleh besarnya nilai produksi karena nilai tambah dihasilkan dari pengurangan nilai produksi terhadap bahan baku (Rp/kg) ditambah input lainnya (Rp/kg). Input lainnya meliputi nilai penjumlahan biaya bahan penolong, biaya pelengkap dan biaya lain-lain. Pada agroindustri semi modern menggunakan bahan tambahan teri sedangkan pada agroindustri tradisional tidak menggunakan teri. Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik singkong adalah sebesar 79,27%, hal ini berarti bahwa 79,27% nilai produksi keripik singkong merupakan penambahan nilai yang dihasilkan dari perlakuan yang dilakukan terhadap bahan baku keripik singkong yaitu singkong. Pendapatan atau imbalan tenaga kerja dari setiap kilogram bahan baku singkong yang diolah menjadi keripik singkong adalah sebesar 520 dan bagian tenaga kerja sebesar 1,04 %. Imbalan tenaga kerja dipengaruhi oleh besarnya koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja per jam. Koefisien tenaga kerja menunjukkan besarnya curahan tenaga kerja per jam yang dibutuhkan untuk mengolah satu kilogram singkong menjadi keripik singkong sebanyak 0,14 jam. Keuntungan yang diperoleh dari agroindustri keripik singkong adalah sebesar Rp. 14.292,7/kg bahan baku, sedangkan tingkat keuntungan yang diperoleh adalah sebesar 97,9% dari nilai tambah, artinya setiap satu kilogram bahan baku dengan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan sebesar 14.292,7. Tabel 19. Rata-rata Nilai Tambah Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong tradisional Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangann, Kota Pamekasan tahun 2013. Output, Input, Harga Nilai 1. Hasil Produksi (kg/Proses produksi) 30 2. Bahan Baku (kg/Proses Produksi) 50 3. Tenaga Kerja (Jam) 5 4. Faktor Konversi (1/2) 0,6 5. Koefisien Tenaga Kerja (3/2) 0,1 6. Harga Produk (Rp/kg) 26.600 7. Upah Rata-rata (Rp/Jam) 3.000 Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong) 8. Harga Bahan Baku (Rp/kg) 2.000 9. Input Lain (Rp/kg) 1.229 10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg) 15.960 11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg) 12.731 b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%) 79,08 12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg) 300 b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%) 2,35 13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp) 12.431 b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%) 97,6 Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Berdasarkan Tabel 19 dapat diketahui bahwa usaha agroindustri keripik singkong dengan menggunakan bahan baku singkong sebanyak 50 kg/proses produksi dapat menghasilkan produk keripik singkong sebanyak 30 kg/per proses produksi. Dari data diatas menunjukkan bahwa besarnya nilai tambah rata-rata pada agroindustri keripik singkong adalah Rp. 12.731/kg bahan baku singkong. Besarnya nilai tambah pada suatu produk dipengaruhi oleh besarnya nilai produksi karena nilai tambah dihasilkan dari pengurangan nilai produksi terhadap bahan baku (Rp/kg) ditambah input lainnya (Rp/kg). Input lainnya meliputi nilai penjumlahan biaya bahan penolong, biaya pelengkap dan biaya lain-lain. Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik singkong adalah sebesar 79,08%, hal ini berarti bahwa 79,08% nilai produksi keripik singkong merupakan penambahan nilai yang dihasilkan dari perlakuan yang dilakukan terhadap bahan baku keripik singkong yaitu singkong. Pendapatan atau imbalan tenaga kerja dari setiap kilogram bahan baku singkong yang diolah menjadi keripik singkong adalah sebesar 300 dan bagian tenaga kerja sebesar 2,35 %. Imbalan tenaga kerja dipengaruhi oleh besarnya koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja per jam. Koefisien tenaga kerja menunjukkan besarnya curahan tenaga kerja per jam yang dibutuhkan untuk mengolah satu kilogram singkong menjadi keripik singkong sebanyak 0,01 jam. Keuntungan yang diperoleh dari agroindustri keripik singkong adalah sebesar Rp. 12.431/kg bahan baku, sedangkan tingkat keuntungan yang diperoleh adalah sebesar 97,6% dari nilai tambah, artinya setiap satu kilogram bahan baku dengan nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan yang dilakukan akan memberikan keuntungan sebesar 12.431. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong semi modern di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan memberikan nilai tambah sebesar 79,33% atau tinggi dan agroindustri keripik singkong tradisional 79,08% termasuk golongan nilai tambah tinggi . Hal ini dapat diartikan bahwa usaha agroindustri keripik singkong telah mampu memberikan keuntungan pada pengusaha keripik singkong. Perhitungan nilai tambah pada agroindustri keripik singkong bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai tambah dalam satu kilogram singkong setelah diolah menjadi keripik singkong, hal ini berguna sebagai bahan informasi bagi produsen keripik singkong dalam usaha mengembangkan produksinya. Selain itu dengan diketahui besarnya nilai tambah terhadap pengolahan keripik singkong diharapkan usaha ini akan mendapat perhatian lebih lanjut dari pemerintah daerah setempat baik pemenuhan bahan baku, modal dan kegiatan pemasarannya sehingga akan menarik minat investor untuk bekerja sama dalam melakukan pengembangan agroindustri keripik singkong. Produk yang memiliki nilai tambah sudah pasti produk tersebut memberikan keuntungan bagi pengusahanya, akan tetapi untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penerimaan dan keuntungan yang dihasilkan oleh agroindustri keripik singkong maka dibahas lebih lanjut dalam bahasan mengenai penerimaan dan keuntungan. 1.4 Analisis Kelayakan Usaha 5.4.1 Analisis Penerimaan Analisis penerimaan dan keuntungan digunakan sebagai alat ukur untuk mengetahui berapa besarnya keuntungan yang diperoleh oleh agroindustri keripik singkong baik yang menggunakan mesin press ataupun agroindustri yang tidak mengunakan mesin. Untuk mengetahui berapa besarnya tingkat penerimaan dan keuntungan dari agroindustri keripik singkong, maka sebelumnya harus dilakukan perhitungan terhadap semua biaya produksi. Biaya produksi terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Perhitungan terhadap biaya produksi yang digunakan dalam proses produksi keripik singkong adalah sebagai berikut : 5.4.1.1 Biaya Produksi 1) Biaya Tetap Biaya tetap (fixed cost) merupakan biaya yang jumlahnya tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi. Biaya yang termasuk kategori biaya tetap dalam agroindustri keripik singkong adalah biaya penyusutan semua peralatan produksi. Peralatan tersebut meliputi pisau, alat tumbuk, baskom, talenan, kayu, dan pengukus. Dari semua peralatan tersebut, tidak semua pengusaha memiliki jumlah peralatan yang sama, hal ini dikarenakan adanya perbedaan jumlah modal yang dimiliki oleh masing-masing pengusaha serta adanya perbedaan kapasitas bahan baku yang digunakan. Dalam perhitungan biaya penyusutan dalam satu kali proses produksi harus diketahui banyaknya proses produksi yang dilakukan dalam satu tahun. Pada setiap agroindustri keripik singkong, banyaknya kegiatan produksi yang dilakukan dalam satu tahun memiliki jumlah yang sama namun berbeda hari. Untuk semua agroindustri dalam satu tahun melakukan kegiatan produksi sebanyak 192 hari. Banyaknya kegiatan produksi dalam satu tahun tersebut diperoleh dengan menghitung hari kerja normal dikurangi hari libur dimana satu kali proses produksi membutuhkan waktu satu hari. Besarnya biaya penyusutan peralatan produksi agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 20 berikut : Tabel 20. Rata-rata Biaya Penyusutan Peralatan Produksi Dalam Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No Jenis Alat Semi modern Rata-rata (Rp) 1 2 3 Persentase (%) Alat Press 4.240 40,11 Pisau 169,5 1,6 Alat 169,5 1,6 Tumbuk 4 Baskom 322,84 3,1 5 Talenan 276,78 2,5 6 Kayu 346,65 3,3 7 Pengukus 2678,7 25,3 8 Kompor 1250 11,8 9 Alat 1116 10,5 Pejemuran Total Biaya 10.570 100 Tetap Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Tradisional Rata-rata Persentase (Rp) (%) 72 1,7 72 1,7 218,7 187,5 234,4 1562,6 1250 651 5,1 4,4 5,5 36,8 29,4 15,3 4248 100 Berdasarkan Tabel 20 dapat diketahui bahwa besarnya rata-rata biaya tetap per satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 10.5.70. Alokasi biaya penyusutan terbesar adalah pada alat press yaitu sebesar Rp. 4.240 atau 40,11% dari total biaya penyusutan satu kali proses produksi. Alat press memiliki biaya penyusutan yang paling besar karena harga pembelian sebesar Rp. 750.000 dengan umur ekonomis 5 tahun. Bahan dari alat press ini yaitu dari mesin yang bertahan lama. Sedangkan biaya penyusutan terkecil adalah pisau dan alat tumbuh sebesar Rp. 169,5 atau 1,6% per satu kali proses produksi. Sedangkan pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin adalah sebesar Rp.4248. alokasi biaya penyusutan terbesar adalah pada alat pengukus yaitu sebesar Rp. 1562,6 atau sebesar 36,8% dari total biaya penyusutan satu kali proses produksi alat pengukus memiliki biaya penyusutan terbesar karena harga pembelian sebesar Rp.200.000 dengan umur ekonomis selama 2 tahun. Sedangkan biaya penyusutan terkecil adalah pisau dan alat tumbuh sebesar Rp. 72 atau 1,7% per satu kali proses produksi Besarnya biaya penyusutan masing-masing peralatan tergantung pada jumlah peralatan yang dimiliki, umur ekonomis, harga beli awal dan harga sisa. Perincian biaya tetap untuk masing-masing responden dapat dilihat pada Lampiran 1. 2) Biaya Variabel Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah produksi. Besarnya perubahan biaya variabel dipengaruhi oleh volume produksi yang dihasilkan, perubahan bahan baku dan biaya lainnya yang digunakan. Biaya variabel yang digunakan dalam proses produksi agroindustri keripik singkong meliputi biaya bahan baku, bahan penolong, biaya pelengkap, biaya lain-lain dan upah tenaga kerja. Besarnya biaya variabel dalam agroindustri keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 21 berikut : Tabel 21. Rata-Rata Variable Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. Jenis Biaya Variabel 1 2 Semi modern Rata-rata Persentas (Rp) e (%) 174.285,71 52,4 35.557,14 10,7 Bahan Baku Bahan Penolong 3 Bahan 43.714,00 Pelengkap 4 Biaya Lain61.785,71 lain 5 Upah Tenaga 18.571,43 Kerja Total Biaya 332.628,57 Variabel Sumber : Data Primer diolah, 2013 Tradisional Rata-rata Persentase (Rp) (%) 100.000,00 60,8 9.450,00 5,7 13,1 - - 18,6 40.000,00 24,3 5,6 15.000,00 9,1 100 164.450,00 100 Berdasarkan Tabel 21 dapat diketahui bahwa besarnya total biaya variabel dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong dengan menggunakan mesin adalah Rp. 332.628,57 Biaya variabel yang memiliki nilai terbesar digunakan untuk pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp. 174.285,71atau 52,4%. Sedangkan besarnya total biaya variabel dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin adalah Rp. 164.450,00. Biaya variabel yang memiliki nilai terbesar digunakan untuk pembelian bahan baku yaitu sebesar Rp. 100.000 atau 60,8% Rata-rata dalam satu kali proses produksi agroindustri keripik singkong menggunakan bahan baku singkong sebanyak 83,33 kg dengan harga Rp.2.026,66/kg. Besarnya biaya bahan baku pada setiap agroindustri keripik singkong berbeda tergantung banyaknya jumlah bahan baku singkong yang akan diolah. Penggunaan biaya lain-lain menempati tingkatan terbesar kedua setelah biaya bahan baku yaitu sebesar Rp. 61.785,71 atau 18,6%. Sedangkan untuk agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 40.000,00 atu sebesar 24,3%. Biaya lain-lain meliputi biaya transportasi untuk pengiriman produk pesanan keripik singkong dari luar madura. Penggunaan biaya bahan pelengkap pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin berada pada urutan ketiga yaitu Rp. 43.714,00 atau 13,1%. Bahan pelengkap ini meliputi plastik dan kertas. Rata-rata biaya satu kemasan plastik yaitu Rp. 120,48, sedangkan rata-rata biaya satu kertas sebagai merk produk seharga Rp.15. besarnya biaya bahan pelengkap pada setiap agroindustri tidak sama tergantung pada besarnya volume produksi yang akan dihasilkan. Biaya bahan penolong pada agroindustri yang menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 35.557,14 atau 10,7%. Sedangkan pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 9.450,00 atau sebesar 5,7%. Bahan penolong ini meliputi garam,air, teri dan bahan bakar. Besarnya biaya bahan penolong setiap agroindustri keripik singkong berbeda tergantung besarnya volume produksi yang akan dihasilkan, sedangkan untuk rata-rata besarnya upah tenaga kerja yang harus dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong dalam satu kali proses produksi yaitu sebesar Rp. 18.571,43 atau sebesar 5,6% dari total biaya variabel. Sedangkan pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 15.000,00 atau sebesar 9,1%. 3) Biaya Total Biaya total merupakan keseluruhan biaya yang dikeluarkan selama proses produksi guna menghasilkan suatu produk yang memiliki nilai lebih tinggi dari bentuk sebelumnya. Biaya total dalam agroindustri keripik singkong diperoleh dari penjumlahan total biaya tetap dan total biaya variabel. Total biaya tetap diperoleh dari total perhitungan biaya penyusutan peralatan, sedangkan biaya variabel dipengaruhi dari total perhitungan seluruh biaya yang sifatnya dipengaruhi oleh besar kecilnya volume produksi. Biaya total agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungnan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dalam satu kali proses produksi dapat dilihat pada Tabel 22 berikut : Tabel 22. Rata-Rata Total Biaya Produksi Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013 No Uraian 1 Semi modern Rata-rata Persentase (Rp) (%) 10.570,28 3,1 Biaya Tetap 2 Biaya 333.807,14 Variabel Total 344.377,43 Biaya Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Tradisional RataPeresentase(%) rata(Rp) 4228,00 2,5 96,93 164.450,00 97,5 100 168.678,00 100 Berdasarkan Tabel 22 dapat diketahui bahwa besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp. 344.377,43. Sedangkan besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin dalam satu kali proses produksi adalah sebesar Rp168.678,00. Dengan mengetahui besarnya biaya total produksi dalam agroindustri keripik singkong, maka akan dapat diketahui besarnya harga pokok yang harus ditawarkan oleh produsen untuk satu kilogram singkong. Besarnya harga pokok untuk satu kilogram keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 23 berikut : Tabel 23. Rata-Rata Total Harga Pokok Satu Kilogram Kerpik Singkong Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013. No. 1 Uraian Total Produksi (kg/proses produksi) 2 Biaya Produksi (Rp/kg) Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Semi modern Rata-rata 50 Tradisional Rata-rata 50 6.687,55 3.373,56 Dari Tabel 23 dapat diketahui bahwa total biaya produksi untuk satu kilogram keripik singkong yang menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 6.687,55. Sedangkan total biaya produksi untuk satu kilogram keripik singkong yang tidak menggunakan mesin yaitu sebesar Rp. 3.373,56. Total biaya produksi satu kilogram keripik singkong merupakan hasil pembagian antara total biaya (Rp/proses produksi) dengan total produksi keripik singkong (kg/proses produksi). Dengan mengetahui besarnya biaya produksi satu kilogram keripik singkong, maka produsen dapat mengetahui berapa harga minimum yang harus ditawarkan untuk satu kilogram keripik singkong. Harga yang harus ditawarkan harus lebih tinggi dari harga pokok produksi sebesar Rp. 6.685,75 jika produsen keripik singkong ingin mendapat keuntungan. Penerimaan merupakan hasil perkalian antara harga jual produk dan jumlah produksi. Besarnya penerimaan pengusaha keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 24 berikut : Tabel 24. Rata-Rata Penerimaan Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013 Penerimaan Semi Modern Harga Jual Jumlah (Rp) Produk si (kg) 720 Total 436.800 51,4 Rata 31.200 Tradisional Nilai (Rp) 14.184.000 1.013.142,86 Harga Jual (Rp) 26.600 26.600 Jumlah Produks i (kg) 30 30 Nilai (Rp) 798.000, 798.000 -rata Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Berdasarkan Tabel 24 dapat diketahui bahwa rata-rata total penerimaan untuk satu kali proses produksi adalah pada agroindustri semi modern yaitu sebesar Rp 1.013.142,86 dengan harga jual Rp.31.200,00 dan jumlah produksi 51,4 kg, sedangkan pada agroindustri tradisional yaitu sebesar Rp. 798.000,00 dengan harga jual Rp 26.600,00 dan jumlah produksi 30 kg/. Dengan adanya perhitungan terhadap penerimaan yang diperoleh agroindustri keripik singkong, maka akan dapat memberikan informasi pada pengusaha keripik singkong mengenai rincian biaya dan penerimaan yang dihasilkan, hal ini akan memudahkan pengusaha keripik singkong untuk melihat kinerja dari usahanya serta dapat membandingkan antara penerimaan yang ingin di capai dengan penerimaan yang telah diterima, sehingga pengusaha keripik singkong dapat membuat perencanaan yang lebih lanjut dalam pengembangan usahanya guna meningkatkan penerimaan. Penerimaan yang didapat oleh agroindustri keripik singkong akan berpengaruh terhadap besarnya keuntungan yang dapat diterima, perhitungan mengenai keuntungan pada agroindustri keripik singkong akan dibahas pada poin selanjutnya. 5.4.2 Analisis B/C Rasio Kelayakan usaha agroindustri keripik singkong dapat diketahui dengan menghitung benefit per cost ratio (B/C rasio), yaitu perbandingan nilai dari manfaat terhadap nilai dari biaya-biaya. Perhitungan B/C rasio dapat diperoleh dari perbandingan antara hasil penjualan dengan total biaya produksi. Kriteria B/C rasio dapat digolongkan menjadi 3 yaitu : 1) B/C > 1, maka usaha tersebut layak untuk dikembangkan dan menguntungkan. 2) B/C = 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan tidak menguntungkan. 3) B/C < 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk dikembangkan dan merugikan. Rata-rata tingkat kelayakan usaha pada agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan, Kecamata Larangan, Kota Pamekasan dapat dilihat pada Tabel 25 berikut : Tabel 25. Rata-Rata Tingkat Kelayakan Usaha Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di No 1 2 Uraian Keuntungan Total Biaya Produksi B/C rasio Sumber : Data Primer Diolah, 2013 Semi modern Nilai (Rp) 1.293.694,71 334.377,43 3,8 Tradisional Nilai (Rp) 604.979,00 168.678,00 3,5 Berdasarkan Tabel 25 dapat diketahui bahwa nilai B/C rasio pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah 3,8 dan pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin adalah 3,5 sehingga masuk dalam kriteria pertama yaitu B/C rasio > 1, yang artinya agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan pada pengusahanya. Nilai B/C ratio diperoleh dari perbandingan besarnya nilai manfaat dengan besarnya total biaya produksi yang dikeluarkan sehingga dari perhitungan tersebut dapat diketahui tingkat kelayakan usaha dari agroindustri keripik singkong berdasarkan satu kali proses produksi. Hal ini akan menjadi suatu pertimbangan penting bagi berbagai pihak seperti lembaga keuangan yang akan meminjamkan uangnya kepada pengusaha keripik singkong maupun pihak instansi pemerintahan seperti sinas perindustrian dan pariwisata dalam mendukung dan memfasilitasi pengembangan agroindustri keripik singkong tersebut. Selain perhitungan menggunakan B/C rasio, kelayakan usaha dapat diketahui dengan menggunakan analisis BEP (break even point) yang akan dijelaskan pada point selanjutnya. 5.4.3 Analisis BEP Analisis titik impas (break even point) disebut juga titik pulang pokok yang merupakan suatu metode analisis untuk mengetahui keterkaitan antara biaya tetap, biaya variabel dan tingkat penerimaan pada berbagai output. Tingkat BEP pada agroindustri keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 26 berikut : Tabel 26. Analisis Break Even Point Dalam Satu Kali Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Tahun 2013 No Uraian 1 BEP (Rp) 2 BEP (kg) Sumber Primer Diolah, 2013 Konvensional Nilai 15.776 0,43 Tradisional Nilai 5352 0,20 Berdasarkan Tabel 26 dapat diketahui bahwa nilai BEP dalam satu kali proses produksi dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu 50 kg pada agroindustri yang menggunakan mesin diperoleh pada volume produksi 0,43 kilogram atau senilai Rp. 15.776,00 dan nilai BEP dalam satu kali proses produksi pada agroindustri yang tidak menggunakan mesin diperoleh pada volume produksi 0,20 kilogram atau senilai Rp. 5352 Artinya, jika pengusaha keripik singkong telah mencapai angka penjualan tersebut maka dapat diartikan bahwa pengusaha telah mencapai titik dimana pengusaha tidak mengalami kerugian maupun keuntungan. Untuk memperoleh keuntungan maka pengusaha herus memproduksi dan menjual keripik singkong lebih tinggi dari titik impas tersebut. Dalam perhitungan BEP akan diketahui nilai TR = TC yang dapat diimplementasikan dalam bentuk kurva sehingga dapat dilihat penerimaan yang diperoleh agroindustri keripik singkong terhadap jumlah produksi yang dihasilkan./ analisis ini juga dapat digunakan untuk menetapkan pada tingkat mana total biaya dan total penerimaan berada dalam keadaan seimbang, dalam artian dimana pengusaha keripik singkong tidak mengalami kerugian ataupum keuntungan. Secara rinci kurva BEP pada agroindustri keripik singkong dapat dilihat pada Gambar 4 berikut : TR Cost (Rp) 1.013.142,81 Untung TC 344.377,43 VC 333.807,14 15.776 BEP FC 10.570,28 Rugi 0,43 50 Q (kg) Gambar 7. Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong semi modern. Cost (Rp) TR 798.000 Untung TC 168.678 VC 164.450 5352 BEP 4228 FC Rugi 0,20 50 Q (kg) Gambar 8. Kurva Break Even Point (BEP) Agroindustri Keripik Singkong Tradisional Berdasarkan Gambar 7 dan gambar 8 dapat diketahui bahwa nilai BEP pada agroindustri yang menggunakan mesin terjadi sebesar Rp.15.776 dengan nilai Q sebanyak 0,43 kilogram, sedangkan TR yang diperoleh agroindustri keripik singkong senilai Rp. 1.013.142,86 dengan nilai Q yang sama dengan agroindustri tradisional yaitu sebanyak 50 kilogram. Sedangkan agroindustri yang tidak menggunakan mesin terjadi sebesar Rp. 5352 dengan nilai Q sebanyak 50 kilogram, sedangkan TR yang diperoleh sebesar pada saat nilai TR sebesar Rp. 798.000,00. Nilai TR diperoleh dari perkalian antara harga jual produk (P) dengan jumlah volume produksi (Q). Nilai BEP pada agroindustri keripik singkong telah melewati titik impas yaitu mampu menghasilkan volume produksi sebesar 85 kg keripik singkong dan dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan 798.000,00 dengan volume sebesar 50 kg. daerah yang berada di titik impas adalah daerah yang menguntungkan, dimana penerimaan lebih besar daripada total biaya produksi yang dikeluarkan, sehingga dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong di Desa Blumbungan telah memberikan keuntungan bagi pengusahanya dan layak untuk dikembangkan. Dalam perhitungan kelayakan usaha pada agroindustri keripik singkong dengan menggunakan analisis B/C rasio dan analisis BEP (Break Even Point) dapat diketahui bahwa agroindustri tersebut layak untuk dikembangkan dengan nilai B/C rasio 3,8 dan nilai BEP sebesar 0,43 kg dengan penerimaan Rp. 15.776 yang mana telah mampu dilewati oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dan tidak menggunakan mesindengan nilai B/C rasio sebesar 3,5 dan nilai BEP sebesar 0,20 kg dengan penerimaan Rp. 5352. KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tentang “Analisis Nilai Tambah Dan Break Even Point Agroindustri Keripik Singkong” di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Rata-rata nilai tambah dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong semi modern sebesar Rp. 14.592,7 per kilogram bahan baku atau sebesar 79,27 persen dari nilai produksi. Imbalan tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 520 atau 0,04 persen dari nilai tambah, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 14.072,7 atau sebesar 97,9 persen dari nilai tambah. Sedangkan pada agroindustri tradisional sebesar Rp. 12.731 per kilogram bahan baku atau sebesar 79,08 persen dari nilai produksi. Imbalan tenaga kerja yang diterima sebesar Rp. 300 atau 2,35 persen dari nilai tambah, sedangkan keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 12.431 atau sebesar 97,6 persen dari nilai tambah. Jumlah rata-rata keripik singkong dalam satu kali proses produksi agroindustri keripik singkong 50-51,4 kilogram. Rata-rata penerimaan dalam satu kali proses produksi pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan pada agroindustri keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis pertama yang telah dirumuskan dapat diterima, dengan jumlah bahan baku yang sama agroindustri keripik singkong semi modern lebih besar perolehan nilai tambah jika dibandingkan dengan agroindustri tradisional. 2. Nilai B/C rasio agroindustri keripik singkong pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin adalah sebesar 3,8 sedangkan pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan tenaga tradisional sebesar 3,5, sehingga dapat dinyatakan bahwa agroindustri keripik singkong layak dikembangkan dan memberikan nilai keuntungan bagi pengusahanya. Berdasarkan nilai BEP dapat diketahui bahwa agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin berada pada titik impas pada volume produksi 0,43 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00 sedangkan pada keripik singkong yang tidak menggunakan mesin sebesar 0,20 kg dengan penerimaan 64 sebesar Rp. 5.352,00, sehingga dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong telah melewati titik impas yaitu dengan volume sebesar 51,4 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 1.013.142,86 dan volume sebesar 50 kilogram dengan penerimaan sebesar Rp. 798.000,00. Dari uraian tersebut, maka hipotesis kedua yang telah dirumuskan dapat diterima, karena agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan memberikan keuntungan bagi pengusahanya yaitu tingkat keuntungan agroindustri semi modern lebih tinggi daripada agroindustri tradisional. 3. Berdasarkan uraian mengenai hasil perhitungan nilai tambah, penerimaan dan BEP maka dapat disimpulkan bahwa agroindustri keripik singkong dapat memberikan nilai tambah pada komoditas singkong, nilai tambah yang diberikan masuk dalam kriteria tinggi yaitu 79,08 dan 79,33 persen. Suatu produk yang memberikan nilai tambah pasti akan memberikan keuntungan bagi pengusahanya dimana besar kecilnya keuntungan yang diterima dipengaruhi oleh besarnya total penerimaan dan total biaya produksi, total penerimaan pada agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin sebesar Rp. 1.013.142,86 sedangkan yang tidak menggunakan mesin sebesar Rp.798.000,00 . Dengan perhitungan analisis B/C rasio diketahui bahwa agroindustri keripik singkong layak untuk dikembangkan dan menguntungkan bagi pengusaha keripik singkong dan perhitungan BEP maka diketahui produksi minimal yang harus dicapai oleh agroindustri keripik singkong yang menggunakan mesin dengan jumlah bahan baku yang sama yaitu sebesar 0,43 kg dengan harga Rp. 15.776 sedangkan pada agroindustri yang masih menggunakan tenaga tradisional sebesar 0,20 kg dengan harga Rp. 5.352. dari data tersebut maka dapat diketahui titik impas dimana agroindustri tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan dan data tersebut sesuai dengan hipotesis kedua yaitu agroindustri semi modern lebih tinggi tingkat keuntungannya dan tingkat BEP nya daripada agroindustri yang masih menggunakan tenaga tradisional. 6.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat diberikan beberapa saran dalam upaya pengembangan agroindustri keripik singkong sebagai berikut : 1. Diperlukan adanya perhatian lebih lanjut dari instansi pemerintah seperti Dinas Perindustrian Dan Perdagangan serta Dinas pariwisata dalam membantu mempromosikan serta memasarkan produk keripik singkong sebagai produk unggulan lokal, sehingga akan mendorong peningkatan produk dari para pengusaha usaha kecil. 2. Mengajak para petani singkong untuk ikut mengusahakan produk keripik singkong sehingga mampu memberikan nilai tambah bagi para petani singkong. DAFTAR PUSTAKA Agrica. 2007. Produksi Singkong Dunia. www.hasil produksi singkongdunia.html. Diakses pada 13 januari 2013 Alwi. 1994. Analisis Break Even point Penebar Swadaya. Jakarta Anonymous. 2013. Produksi Singkong di Indonesia. www.singkong.net/semuamengenai-singkong.html. Diakses pada 13 Januari 2013. Arifin. 2005. Tanaman Pangan. www.tanaman pangan.html. Diakses pada 13 Januari 2013 Apriadi. 2003. Analisis Nilai Tambah. http://apriadi.student.umm.ac.id/files/2010/07. Diakses 13 Januari 2013. Asregaf. 2001. Teori Pendapatan. UMM Press. Malang. Austin. 1981. Teknologi Pengolahan Pertanian. www.teknologi.pengolahanpertanian.html. Diakses pada 15 Januari 2013. BPS. 2012. Data Produksi Singkong Di Indonesia. www.BPS.com. Diakses pada 13 Januari 2013 Produktivitas Singkong Indonesia. http://kotimkab.bps.go.id/ adminfiles/IP_Agustus_2012.pdf. Diakses pada 13 januari 2013. Eldons . 2000. Teori Akuntansi. PT. Raja Grafindo. Jakarta. Hanani et.al. 2003. Tentang tanaman singkong. Mandarmaju. Bandung. Harahap. 2001. Konsep Pendapatan. http://otherpink.wordpress.com/2010/04/11. Diakses 13 januari 2013. Hidayat. 2007. Pengembangan pertanian. Kanisius. Yogyakarta. Hubeis. 1997. Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-Ilmu Sosial Lainnya. Kencana. Jakarta.. Kotler. 1994. Manajemen Pemasaran. Edisi kesebelas. PT Prenhallindo. Jakarta. Mulyadi. 1992. Teori Break Even Point. www.BEP.teori.html . Diakses pada 15 januari 2013 Rukaman. 1997. singkong. Kanisius. Yogyakarta. Shinta, Agustina. 2003. Manajemen Pemasaran. Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. 2003 Suryana. 2004. Pengembangan Agribisnis Pertanian. BPFE. Yogyakarta Soekartawi, 2001. Pokok-pokok Pembangunan Agroindustri Pertanian. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta. Winda, Aprilia. 2011. Analisis usaha keripik pisang Studi Kasus di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Skripsi Strata Satu Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang. Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Press) Per Proses Produksi Biaya Penyusutan Total Biaya Umur Biaya Penyusutan Jumlah Harga Beli Harga Sisa Per Proses Penyusutan Per No. Ekonomis Per Tahun Alat (Rp) (Rp) Produksi Proses Produksi (Thn) (Rp) (Buah) (Rp) (Rp) 1 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 2 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 3 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 4 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 5 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 6 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 7 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 8 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 9 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 10 750.000,00 250.000,00 5,00 500.000,00 2.604,2 2,00 5.208,40 11 500.000,00 150.000,00 5,00 350.000,00 1.823,00 1,00 1.823,00 12 500.000,00 150.000,00 5,00 350.000,00 1.823,00 1,00 1.823,00 13 500.000,00 150.000,00 5,00 350.000,00 1.823,00 1,00 1.823,00 14 500.000,00 150.000,00 5,00 350.000,00 1.823,00 1,00 1.823,00 15 Jumlah 9.500.000,00 3.100.000,00 70,00 6.400.000,00 33.334,00 24,00 59.367,00 Rata-Rata 678.571,43 221.428,57 5,00 457.142,86 2.381 1,7 4.241,14 Catatan : Responden 1-14 merupakan agroindustri keripik singkong semi modern Responden 15 merupakan agroindustri keripik singkong tradisional 69 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Pisau) Per Proses Produksi No. Harga Beli (Rp) Harga Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Thn) Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 200.000 13.333,3 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 95.000,00 6.333,3 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 105.000,00 7.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 24 24 24 24 24 537 35,8 Jumlah Alat (Buah) 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 65,00 4,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 72 72 72 72 72 2.445,00 163 70 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Tumbuk) Per Proses Produksi No. Harga Beli (Rp) Harga Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Thn) Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 200.000 13.333,3 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 7.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 95.000,00 6.333,3 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 8.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 105.000,00 7.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 41,7 24 24 24 24 24 537 35,8 Jumlah Alat (Buah) 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 65,00 4,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 72 72 72 72 72 2.445,00 163 71 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Baskom) Per Proses Produksi No. Harga Beli (Rp) Harga Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Thn) Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 10.000,00 150.000,00 10.000,00` 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 45.000,00 3.000,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,0 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 7000,00 105.000,00 7000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 36,45 546,75 36,45 Jumlah Alat (Buah) 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 10,00 6,00 6,00 6,00 6,00 6,00 130 8,66 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 218,7 218,7 218,7 218,7 218,7 4.738,5 315,9 72 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Talenan) Per Proses Produksi No. Harga Beli (Rp) Harga Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Thn) Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 225.000,00 15.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 3.000,00 45.000,00 3.000,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,0 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 180.000,00 12.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 62.5 937.5 62.5 Jumlah Alat (Buah) 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 65,00 4,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 187,5 187,5 187,5 187,5 187,5 4.062,5 270,83 73 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan kayu) Per Proses Produksi No. Harga Beli (Rp) Harga Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Thn) Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 300.000,00 20.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 1,00 15,00 1,0 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 225.000,00 15.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 78,13 1.172 78,13 Jumlah Alat (Buah) 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 3,00 65,00 4,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 234,4 234,4 234,4 234,4 234,4 5.087,5 338,57 74 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Pengukus) Per Proses Produksi No. Harga Beli (Rp) Harga Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Thn) Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 3.000.000,00 200.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 750.000,00 50.000,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 30,00 2,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 2.250.000,00 150.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 781,3 11.719,5 781,3 Jumlah Alat (Buah) 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 4.00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 50,00 3,33 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 3.125,2 1.562,6 1.562,6 1.562,6 1.562,6 1.562,6 39.065 2.604,3 75 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Kompor) Per Proses Produksi No. Harga Beli (Rp) Harga Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Thn) Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 150.000,00 2.250.000,00 150.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 450.000,00 30.000,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 4,00 60,00 4,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 120.000,00 1.800.000,00 120.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 625,00 9.375,00 625,00 Jumlah Alat (Buah) 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 30,00 2,00 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 18.750,00 1.250,00 76 Lampiran 1. Biaya Tetap (Penyusutan Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Kripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. (Lanjutan) Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Alat Penjemur) Per Proses Produksi No. Harga Beli (Rp) Harga Sisa (Rp) Umur Ekonomis (Thn) Biaya Penyusutan Per Tahun (Rp) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-Rata 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 30.000,00 450.000,00 30.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 2,00 30,00 2,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 25.000,00 375.000,00 25.000,00 Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 130,2 1.953 130,2 Jumlah Alat (Buah) 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 10.00 5,00 5,00 5,00 5,00 5,00 125 8,3 Total Biaya Penyusutan Per Proses Produksi (Rp) 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 651 651 651 651 651 16.275 1.085 77 Lampiran 2. Total Biaya Tetap (Biaya Penyusutan Semua Alat) Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 TOTAL 15 59367 Ratarata 4240.5 Alat Press 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 5208,4 1823 1823 1823 1823 pisau 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 72 72 72 72 2373 169,5 72 Alat Tumbuk 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 208,5 72 72 72 72 2373 169,5 72 Baskom 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 364,5 218,7 218,7 218,7 218,7 4519,8 322,84 218,7 Talenan 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 312,5 187,5 187,5 187,5 187,5 3875 276,78 187,5 Kayu 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 390,65 234,4 234,4 234,4 234,4 4853,1 346,65 234,4 Pengukus 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 3125,2 1562,6 1562,6 1562,6 1562,6 37502,4 2678,74 1562,6 Kompor 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 1250 17.500 1250 1250 Alat penjemur TOTAL (TFC) 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 1302 651 651 651 651 15624 1116 651 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 12.370 6.071 6.071 6.071 6.071 147.984 10.570 4248,2 - 78 Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jumlah Rata-rata Jumlah (Kg) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 50,00 50,00 50,00 50,00 50,00 1.250,00 83,33 Bahan baku Singkong Harga (Rp/Kg) 2200,00 2200,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 2000,00 30.400,00 2.026,66 Total (Rp) 220.000,00 220.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 2.540.000,00 169.333,33 Jumlah (Kg) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 1 Bahan Penolong Teri Harga (Rp/Kg) 27.500,00 27.000,00 25.000,00 27.500,00 28.000,00 28.000,00 27.000,00 27.000,00 27.000,00 27.000,00 271.000,00 27.100,00 Total (Rp) 27.500,00 27.000,00 25.000,00 27.500,00 28.000,00 28.000,00 27.000,00 27.000,00 27.000,00 27.000,00 271.000,00 27.100,00 79 Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan (Lanjutan) Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Rata-rata Bahan Penolong Jumlah (Kg) Garam Harga (Rp/Kg) Total (Rp) Jumlah (Liter) 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0,25 0,25 0,25 0,25 0,25 6,25 0,41 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 2800,00 42.000,00 2800,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 1.400,00 700,00 700,00 700,00 700,00 700,00 17.500,00 1.166,66 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 25 1,66 Air Harga (Rp/ Liter ) 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 18.750,00 1.250,00 Total (Rp) 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 2.500,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 1.250,00 31.250,00 2.083,00 80 Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan (Lanjutan) Responden 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jumlah Rata-rata Bahan Penolong Gas (Bahan Bakar ) Jumlah (Kg) Harga (Rp/Kg) Total (Rp) 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 37,5 2,5 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5.000,00 5000,00 5000,00 5000,00 5000,00 5000,00 75.000,00 5000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 7.500,00 7.500,00 7.500,00 7.500,00 7.500,00 187.500,00 12.500,00 Jumlah (Roll) 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 24 1,7 Biaya Pelengkap Kemasan Plastik Harga Total (Rp) (Rp/buah) 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 40.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 280.000,00 480.000,00 20.000,00 34.285,71 81 Lampiran 3. Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan (Lanjutan) Responden Jumlah (Kg) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Jumlah Rata-rata 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0,5 0,5 0,5 0,5 12 0,85 Biaya Pelengkap Kertas Harga (Rp/Kg) 12.000,00 10.000,00 12.000,00 11.000,00 12.000,00 13.000,00 13.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 6.000,00 6.000,00 5.000,00 6.000,00 142.000,00 10.143,00 Total (Rp) Jumlah (Liter) 12.000,00 10.000,00 12.000,00 11.000,00 12.000,00 13.000,00 13.000,00 12.000,00 12.000,00 12.000,00 3.000,00 3.000,00 2.500,00 3.000,00 130.500,00 9.321,00 15 15 15 15 15 15 15 10 10 10 10 10 10 8 8 181 12,06 Biaya Lain-lain Biaya Transportasi Harga (Rp/ Total (Rp) Liter) 5.000,00 75.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 75.000,00 5.000,00 50.000,00 5.000,00 50.000,00 5.000,00 50.000,00 5.000,00 50.000,00 5.000,00 50.000,00 5.000,00 50.000,00 5.000,00 40.000,00 5.000,00 40.000,00 75.000,00 905.000,00 5.000,00 60.333,33 82 Lampiran 4. Total Biaya Variabel Dalam Satu Kali Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Responden Bahan Baku (Rp) Bahan Penolong (Rp) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. TVC Rata-rata 15 TVC Rata-rata 220.000,00 220.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 200.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 100.000,00 2.440.000,00 174.285,71 100.000,00 100.000,00 100.000,00 46.400,00 45.900,00 43.900,00 46.400,00 46.900,00 46.900,00 45.900,00 45.900,00 45.900,00 45.900,00 9.450,00 9.450,00 9.450,00 9.450,00 497.800,00 35.557,14 9.450,00 9.450,00 9.450,00 Biaya Perlengkapan (RP) 52.000,00 50.000,00 52.000,00 51.000,00 52.000,00 53.000,00 53.000,00 52.000,00 52.500,00 52.500,00 23.000,00 23.000,00 23.000,00 23.000,00 612.000,00 43.714,00 - Biaya Lainlain (Rp) Upah TK (Rp) TOTAL (Rp) 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 75.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 50.000,00 40.000,00 865.000,00 61.785,71 40.000,00 40.000,00 40.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 20.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 15.000,00 260.000,00 18.571,43 15.000,00 15.000,00 15.000,00 413.400,00 410.900,00 390.900,00 392.400,00 393.900,00 394.900,00 393.900,00 367.900,00 367.900,00 367.900,00 197.450,00 197.450,00 196.950,00 187.450,00 4.656.800,00 332.628,57 164.450,00 164.450,00 164.450,00 83 Lampiran 5. Analisis Nilai Tambah Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong semi modern Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan No Responden Output, Input, Jumlah Rata-rata 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 60 60 60 60 60 60 60 60 60 60 30 30 30 30 720 51,4 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 50 50 50 50 1200 85,7 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 100 7,1 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 0,6 8,4 0,6 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,05 0,1 0,1 0,1 0,1 1,2 0,08 33.000 33.000 33.000 33.000 33.000 33.000 33.000 33.000 33.000 33.000 26.600 26.600 27000 26.600 436.800 31200 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 4.000 3.000 3.000 3.000 3.000 52.000 3.714,3 Harga 1. Hasil Produksi 2. Bahan Baku Tenaga 3. 4. kerja (jam) Faktor Konversi (1/2) 5. Koefisien TK (3/2) 6. Harga Produk (Rp/Kg) 7. Upah Ratarata (Rp/jam) 84 Pendapatan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong) 8. Harga Bahan baku 2.200 2.200 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 2.000 28.400 2.028,6 1.934 1.909 1.909 1.834 1.939 1.939 1.939 1.679 1.679 1.679 1.646 1.646 1.636 1.646 25.014 1.786,7 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 19.800 15960 15960 16200 15960 254.880 18.205 (Rp/Kg) 9. Input Lain (Rp/Kg) 10 Nilai Produk (4x6)(Rp/Kg) Nilai tambah 11a (10-8- 15.666 15.691 15.891 15.966 15.861 15.861 15.861 16.121 16.121 16.121 12314 12314 12.564 12314 201.466 14.390,4 79,12 79,24 80,25 80,78 80,10 80,10 80,10 81,41 81,41 81,41 77,15 77,15 77,55 77,15 1.110,65 79,33 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 300 300 300 300 3.200 228,57 1,27 1,27 1,25 1,25 1,24 1,24 1,24 1,24 1,24 1,24 2,43 2,43 2,38 2,43 22,15 1,58 15.466 15.491 15.491 15.766 15.661 15.661 15.661 15.921 15.921 15.921 12014 12014 12264 12014 205.266 14.661,8 98,7 98,8 98,7 98,8 98,8 98,8 98,8 98,8 98,8 98,8 97,6 97,6 98,1 97,6 1476,4 105 9)(Rp/Kg) Rasio nilai b. tambah (11a/10)x 100% 12a Imbalan TK (5X7)(Rp/Kg b. Bagian TK (12a/11a)x 100% Keuntungan 13a (11a12a)(Rp) Tingkat B keuntungan (13a/11a)x 100% 85 Lampiran 5. Analisis Nilai Tambah Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong tradisional Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan (Lanjutan) Output, Input, Harga Nilai Hasil Produksi (kg/Proses produksi) 30 Bahan Baku (kg/Proses Produksi) 50 Tenaga Kerja (Jam) 5 Faktor Konversi (1/2) 0,6 Koefisien Tenaga Kerja (3/2) 0,1 Harga Produk (Rp/kg) 26.600 Upah Rata-rata (Rp/Jam) 3.000 Penerimaan dan keuntungan (Rp/Kg Singkong) 8. Harga Bahan Baku (Rp/kg) 2.000 9. Input Lain (Rp/kg) 1.229 10. Nilai Produksi (4x6)(Rp/kg) 15.960 11. a. Nilai Tambah (10-8-9)(Rp/kg) 12.731 b. Rasio Nilai Tambah (11a/10)(100%)(%) 79,08 12. a. Imbalan Tenaga Kerja (5x7)(Rp/kg) 300 b. Bagian Tenaga Kerja (12a/11a)x100%(%) 2,35 13. a.Keuntungan (11a-12a)(Rp) 12.431 b. Tingkat Keuntungan (13a/11a)x100% (%) 97,6 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 86 Lampiran 6. Analisis Penerimaan Dan Keuntungan Per Proses Produksi Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan Responden TFC (Rp) Biaya TVC (Rp) TR (Rp/Kg) Keuntungan (Rp) 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 33.000,00 26.600,00 26.600,00 27.000,00 26.600,00 436.800,00 31.200,00 26.600,00 26.600,00 Penerimaan Jumlah (Kg) 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 60,00 30,00 30,00 30,00 30,00 720,00 51,43 30,00 30,00 TC(Rp) Harga (Rp) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. Total Rata-rata 15. Total 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 12.370,00 6.071,00 6.071,00 6.071,00 6.071,00 147.984,00 10.570 4.248,00 4.248,00 413.400,00 410.900,00 390.900,00 392.400,00 393.900,00 394.900,00 393.900,00 367.900,00 367.900,00 367.900,00 197.450,00 197.450,00 196.950,00 187.450,00 4.673.300,00 333.807,14 164.450,00 164.450,00 425.770,00 423.270,00 403.270,00 404.770,00 406.270,00 407.270,00 406.270,00 380.270,00 380.270,00 380.270,00 203.521,00 203.521,00 203.021,00 193.521,00 4.821.284,00 344.377,43 168.678,00 168.678,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 1.980.000,00 798.000,00 798.000,00 810.000,00 798.000,00 14.184.000 1.013.142,86 798.000,00 798.000,00 1.554.230,00 1.556.730,00 1.576.730,00 1.576.230,00 1.589.100,00 1.590.000,00 1.589.100,00 1.559.730,00 1.559.730,00 1.559.730,00 594.479,00 594.479,00 606.979,00 604.479,00 18.111.726,00 1.293.694,71 604.979,00 604.979,00 Rata-rata 4.228,00 164.450,00 168.678,00 26.600,00 30,00 798.000,00 604.979,00 87 Lampiran 7. Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. 1) Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong semi modern ( Responden 1 – Responden 14) TFC : Rp. 10.570 TVC : Rp. 333.807,14 P : Rp.31.200 Q : 50 kg TR : Rp. 1.013.142,86 Jawab : 1. BEP dalam kg BEP (kg) = 𝑇𝐹𝐶 = = 𝑇𝑉𝐶 𝑃− 𝑄 𝑅𝑝 .10.570 333 .807 ,14 50 31.200− 𝑅𝑝 .10.570 24.523,86 = 0,43 kg 2. BEP dalam rupiah BEP (rupiah) = 𝑇𝐹𝐶 𝑇𝑉𝐶 1− 𝑇𝑅 = 𝑅𝑝 .10.570 333 .807 ,14 1−1.013 .142 ,86 = 𝑅𝑝 .10.570 0,67 = Rp. 15.776,00 2) Analisis Perhitungan BEP Pada Agroindustri Keripik Singkong Tradisional(Responden 15) TFC : Rp. 4228 TVC : Rp. 164.450 P Q : Rp. 26.600 : 50 kg TR : Rp. 798.000 Jawab : 1. BEP dalam kg BEP (kg) = 𝑇𝐹𝐶 = = 𝑇𝑉𝐶 𝑃− 𝑄 𝑅𝑝 .4228 164 .450 50 26.6𝑜𝑜 − 𝑅𝑝 .4228 23.311 = 0,20 kg 2. BEP dalam rupiah BEP (rupiah) = 𝑇𝐹𝐶 𝑇𝑉𝐶 𝑇𝑅 1− = 𝑅𝑝 .4228 164 .450 1−798 .000 = 𝑅𝑝 .4228 0,79 = Rp. 5.352,00 Dari perhitungan nuilai BEP diatas, dapat disimpulkan bahwa titik balik modal usaha produksi keripik singkong pada responden 1 hingga responden 14 rata-rata diperoleh pada volume produksi 0,43 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 15.776,00. Sedangkan pada responden 15 yang tidak menggunakan mesin diperoleh pada volume produksi 0,20 kg dengan penerimaan sebesar Rp. 5.352,00. Apabila perusahaan telah mencapai titik balik tersebut maka perusahaan tidak mengalami kerugian maupun keuntungan. Lampiran 8. Gambar Proses Pengolahan Pada Agroindustri Keripik Singkong Di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kota Pamekasan. 1. Agroindustri keripik singkong semi modern Bahan Baku Singkong Pengukusan Bahan Baku Pembuatan Bahan Tambahan Pengupasan Bahan Baku Pemotongan dan Pengirisan bahan baku Penumbukan Bahan Baku Penjemuran Keripik Singkong Pengemasan Keripik Singkong 2.Agroindustri keripik singkong tradisional ``` Bahan baku singkong pengupasan dan pengirisan singkong Pengukusan singkong Penumbukan singkong Penjemuran keripik keripik tanpa kemasan