Uploaded by User125969

zdocs.tips makalah-pancasila

advertisement
MAKALAH
Pancasila dalam Kajian Sejarah Bangsa Indonesia
dari Era Pra Kemerdekaan sampai Era Orde Reformasi
Dosen Pengampu Mata Kuliah
Ketut Diara Astawa
Oleh Kelompok 1:
1.
2.
3.
4.
Devia Fitri Pratiwi
Janis Khafidzul Luthfi
Maria Aprilia Maja Wara
Mohamad Syafi’I
(160332605888)
(160332605849)
(160332605xxx)
(160332605891)
Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Malang
2017
Pancasila dalam Kajian Sejarah Bangsa Indonesia
1. Pendahuluan
Pancasila adalah lima nilai dasar luhur yang ada dan berkembang bersama dengan bangsa
Indonesia sejak dahulu. Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sesungguhnya nilai-nilai
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa sudah terwujud dalam kehidupan bermasyarakat
sejak sebelum Pancasila sebagai dasar negara dirumuskan dalam satu sistem nilai. Sejak
zaman dahulu, wilayah-wilayah nusantara ini mempunyai beberapa nilai yang dipegang teguh
oleh masyarakat sebagai contoh: (1) Percaya kepada Tuhan dan toleran, (2) Gotong Royong,
(3) Musyawarah, (4) Solidaritas atau kesetiakawanan sosial, dan sebagainya. Akan tetapi saat
ini nilai-nilai tersebut sudah jarang ditemukan dalam kehidupan masyarakat, dan semakin
pudar. Bahkan banyak dari aparatur pemerintah yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Perilaku seperti ini dapat dikategorikan perilaku yang tidak mensyukuri kemerdekaan Negara
Republik Indonesia.
Dasar Negara merupakan alas atau fundamen yang menjadi pijakan dan mampu
memberikan kekuatan kepada berdirinya sebuah Negara. Negara Indonesia dibangun juga
berdasarkan pada suatu landasan atau pijakan yaitu Pancasila. Pancasila, dalam fungsinya
sebagai dasar negara, merupakan sumber kaidah hukum yang mengatur Negara Republik
Indonesia, termasuk di dalamnya seluruh unsur-unsurnya yakni pemerintah, wilayah, dan
rakyat. Ibarat sebuah kontruksi bangunan, Pancasila merupakan fondasi yang membuat kokoh
Negara Republik Indonesia.
Telah nyata diketahui bahwa Pancasila merupakan dasar negara Indonesia. Akan tetapi
saat ini, masih banyak rakyat Indonesia yang belum mengerti makna dari Pancasila, belum
memahami tentang sejarah Pancasila, bahkan sebagian rakyat Indonesia belum hafal
Pancasila. Hal ini dapat mengakibatkan salah pemahaman mengenai Pancasila. Berdasarkan
latarbelakang diatas maka perlu adanya pemahaman mengenai Pancasila dalam kajian sejarah
bangsa Indonesia kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, diangkatlah pemahaman tersebut
dalam bentuk makalah yang berjudul “Pancasila dalam Kajian Sejarah Bangsa Indonesia dari
Era Pra Kemerdekaan sampai Era Reformasi”.
Masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah bagaimana Pancasila dalam kajian
sejarah bangsa Indonesia dari Era Pra Kemerdekaan sampai Era Reformasi?
Tujuan yang akan dicapai adalah mengerti dan mehamami bagaimana Pancasila dalam
kajian sejarah bangsa Indonesia dari Era Pra Kemerdekaan sampai Era Reformasi.
2. Konsep dan Urgensi Pancasila
Begitu kuat dan mengakarnya Pancasila dalam jiwa bangsa menjadikan Pancasila terus
berjaya sepanjang masa. Hal tersebut disebabkan ideologi Pancasila tidak hanya sekedar
“confirm and deepen” identitas Bangsa Indonesia. Ia lebih dari itu. Ia adalah identitas Bangsa
Indonesia sendiri sepanjang masa. Sejak Pancasila digali kembali dan dilahirkan kembali
menjadi Dasar dan Ideologi Negara, maka ia membangunkan dan membangkitkan identitas
yang dormant, yang “tertidur” dan yang “terbius” selama kolonialisme” (Abdulgani, 1979:
22).
2.1 Esensi Pancasila
Pancasila pada
hakikatnya
merupakan
Philosofische
Grondslag
dan
Weltanschauung. Pancasila dikatakan sebagai dasar filsafat negara (Philosofische
Grondslag) karena mengandung unsur-unsur sebagai berikut: alasan filosofis berdirinya
suatu negara; setiap produk hukum di Indonesia harus berdasarkan nilai Pancasila.
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa (Weltanschauung) mengandung unsur-unsur
sebagai berikut: nilai-nilai agama, budaya, dan adat istiadat.
2.2 Urgensi Pancasila
Hasil Survei yang dilakukan KOMPAS yang dirilis pada 1 Juni 2008 menunjukkan
bahwa pengetahuan masyarakat tentang Pancasila merosot secara tajam, yaitu 48,4%
responden berusia 17 sampai 29 tahun tidak mampu menyebutkan silai-sila Pancasila
secara benar dan lengkap. 42,7% salah menyebut sila-sila Pancasila, lebih parah lagi,
60% responden berusia 46 tahun ke atas salah menyebutkan sila-sila Pancasila.
Fenomena tersebut sangat memprihatinkan karena menunjukkan bahwa pengetahuan
tentang Pancasila yang ada dalam masyarakat tidak sebanding dengan semangat
penerimaan masyarakat terhadap Pancasila (Ali, 2009: 2).
Selain data tersebut, pentingnya Pancasila dalam sejarah bangsa Indonesia
dikarenakan
hal-hal
berikut:
pengidentikan
Pancasila
dengan
ideologi
lain,
penyalahgunaan Pancasila sebagai alat justifikasi kekuasaan rezim tertentu, melemahnya
pemahaman dan pelaksanaan nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Perlunya Pancasila
3.1 Sebagai Identitas Bangsa Indonesia
Sebagaimana diketahui bahwa setiap bangsa mana pun di dunia ini pasti memiliki
identitas yang sesuai dengan latar belakang budaya masing-masing. Budaya merupakan
proses cipta, rasa, dan karsa yang perlu dikelola dan dikembangkan secara terus-menerus.
Budaya dapat membentuk identitas suatu bangsa melalui proses inkulturasi dan
akulturasi. Pancasila sebagai identitas bangsa Indonesia merupakan konsekuensi dari
proses inkulturasi dan akulturasi tersebut.
Kebudayaan bangsa Indonesia merupakan hasil inkulturasi, yaitu proses perpaduan
berbagai elemen budaya dalam kehidupan masyarakat sehingga menjadikan masyarakat
berkembang secara dinamis. (J.W.M. Bakker, 1984:22) menyebutkan adanya beberapa
saluran inkulturasi, yang meliputi: jaringan pendidikan, kontrol, dan bimbingan keluarga,
struktur kepribadian dasar, dan self expression. Kebudayaan bangsa Indonesia juga
merupakan hasil akulturasi sebagaimana yang ditengarai Eka Dharmaputera dalam
bukunya Pancasila: Identitas dan Modernitas. Haviland menegaskan bahwa akulturasi
adalah perubahan besar yang terjadi sebagai akibat dari kontak antarkebudayaan yang
berlangsung lama.
Hal-hal yang terjadi dalam akulturasi meliputi: 1) Substitusi; penggantian unsur atau
kompleks yang ada oleh yang lain yang mengambil alih fungsinya dengan perubahan
structural yang minimal; 2) Sinkretisme; percampuran unsur-unsur lama untuk
membentuk sistem baru; 3) Adisi; tambahan unsur atau kompleks-kompleks baru; 4)
Orijinasi; tumbuhnya unsur-unsur baru untuk memenuhi kebutuhan situasi yang berubah;
5) Rejeksi; perubahan yang berlangsung cepat dapat membuat sejumlah besar orang tidak
dapat
menerimanya
sehingga
menyebabkan
penolakan
total
atau
timbulnya
pemberontakan atau gerakan kebangkitan (Haviland, 1985: 263).
3.2 Sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia
Pancasila disebut juga sebagai kepribadian bangsa Indonesia, artinya nilai-nilai
ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan diwujudkan dalam sikap
mental dan tingkah laku serta amal perbuatan. Sikap mental, tingkah laku dan perbuatan
bangsa Indonesia mempunyai ciri khas, artinya dapat dibedakan dengan bangsa lain.
Kepribadian itu mengacu pada sesuatu yang unik dan khas karena tidak ada pribadi yang
benar-benar sama. Setiap pribadi mencerminkan keadaan atau halnya sendiri, demikian
pula halnya dengan ideologi bangsa (Bakry, 1994: 157).
Meskipun nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan juga
terdapat dalam ideologi bangsa-bangsa lain, tetapi bagi bangsa Indonesia kelima sila
tersebut mencerminkan kepribadian bangsa karena diangkat dari nilai-nilai kehidupan
masyarakat Indonesia sendiri dan dilaksanakan secara simultan. Di samping itu, proses
akulturasi dan inkulturasi ikut memengaruhi kepribadian bangsa Indonesia dengan
berbagai variasi yang sangat beragam. Kendatipun demikian, kepribadian bangsa
Indonesia sendiri sudah terbentuk sejak lama sehingga sejarah mencatat kejayaan di
zaman Majapahit, Sriwijaya, Mataram, dan lain-lain yang memperlihatkan keunggulan
peradaban di masa itu. Nilainilai spiritual, sistem perekonomian, politik, budaya
merupakan contoh keunggulan yang berakar dari kepribadian masyarakat Indonesia
sendiri.
3.3 Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia
Pancasila dikatakan sebagai pandangan hidup bangsa, artinya nilai-nilai ketuhanan,
kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan diyakini kebenarannya, kebaikannya,
keindahannya, dan kegunaannya oleh bangsa Indonesia yang dijadikan sebagai pedoman
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dan menimbulkan tekad yang kuat untuk
mengamalkannya dalam kehidupan nyata (Bakry, 1994: 158). Pancasila sebagai
pandangan hidup berarti nilai-nilai Pancasila melekat dalam kehidupan masyarakat dan
dijadikan norma dalam bersikap dan bertindak. Ketika Pancasila berfungsi sebagai
pandangan hidup bangsa Indonesia, maka seluruh nilai Pancasila dimanifestasi ke dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
3.4 Sebagai Jiwa bangsa
Sebagaimana dikatakan von Savigny bahwa setiap bangsa mempunyai jiwanya
masing-masing, yang dinamakan volkgeist (jiwa rakyat atau jiwa bangsa). Pancasila
sebagai jiwa bangsa lahir bersamaan dengan lahirnya bangsa Indonesia. Pancasila telah
ada sejak dahulu kala bersamaan dengan adanya bangsa Indonesia (Bakry, 1994: 157).
3.5 Sebagai Perjanjian Luhur
Perjanjian luhur, artinya nilai-nilai Pancasila sebagai jiwa bangsa dan kepribadian
bangsa disepakati oleh para pendiri negara (political consensus) sebagai dasar negara
Indonesia (Bakry, 1994: 161). Kesepakatan para pendiri negara tentang Pancasila sebagai
dasar negara merupakan bukti bahwa pilihan yang diambil pada waktu itu merupakan
sesuatu yang tepat.
4. Sejarah Pancasila
4.1 Era Pra-Kemerdekaan
Jauh sebelum periode pengusulan Pancasila, cikal bakal munculnya ideologi bangsa
itu diawali dengan lahirnya rasa nasionalisme yang menjadi pembuka ke pintu gerbang
kemerdekaan bangsa Indonesia. Ahli sejarah, Sartono Kartodirdjo, sebagaimana yang
dikutip oleh Mochtar Pabottinggi dalam artikelnya yang berjudul Pancasila sebagai
Modal Rasionalitas Politik, menengarai bahwa benih nasionalisme sudah mulai tertanam
kuat dalam gerakan Perhimpoenan Indonesia yang sangat menekankan solidaritas dan
kesatuan bangsa. Perhimpoenan Indonesia menghimbau agar segenap suku bangsa
bersatu teguh menghadapi penjajahan dan keterjajahan. Kemudian, disusul lahirnya
Soempah Pemoeda 28 Oktober 1928 merupakan momen-momen perumusan diri bagi
bangsa Indonesia.
4.1.1 Pengusulan Pancasila
Ketika Dr. Radjiman Wediodiningrat, selaku Ketua Badan dan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI), pada tanggal 29 Mei 1945, meminta
kepada sidang untuk mengemukakan dasar (negara) Indonesia merdeka,
permintaan itu menimbulkan rangsangan anamnesis yang memutar kembali
ingatan para pendiri bangsa ke belakang; hal ini medorong mereka untuk
menggali kekayaan kerohanian, kepribadian dan wawasan kebangsaan yang
terpendam lumpur sejarah (Latif, 2011: 4).
Pada sidang pertama BPUPKI yang dilaksanakan dari tanggal 29 Mei – 1
Juni 1945, tampil berturut-turut untuk berpidato menyampaikan usulannya tentang
dasar negara. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muhammad Yamin mengusulkan
calon rumusan negara Indonesia sebagai berikut: 1) Peri Kebangsaan, 2) Peri
Kemanusiaan, 3) Peri Ketuhanan, 4) Peri Kerakyatan, 5) Kesejahteraan Rakyat.
Selanjutnya Prof. Dr. Soepomo pada tanggal 30 Mei 1945 mengemukakan teoriteori Negara, yaitu: 1) Teori negara perseorangan (individualis), 2) Paham negara
kelas, dan 3) Paham negara integralistik. Kemudian disusul oleh Ir. Soekarno pada
tanggal 1 Juni 1945 yang mengusulkan lima dasar negara yang terdiri dari: 1)
Nasionalisme (kebangsaan Indonesia), 2) Internasionalisme (peri kemanusiaan),
3) Mufakat (demokrasi), 4) Kesejahteraan social, dan 5) Ketuhanan Yang Maha
Esa (Berkebudayaan) (Kaelan, 2000: 37-40)
Berdasarkan catatan sejarah, kelima butir gagasan itu oleh Soekarno diberi
nama Pancasila. Selanjutnya, Soekarno juga mengusulkan jika seandainya peserta
sidang tidak menyukai angka 5, maka ia menawarkan angka 3, yaitu Trisila yang
terdiri atas (1) Sosio-Nasionalisme, (2) Sosio-Demokrasi, dan (3) Ketuhanan Yang
Maha Esa. Soekarno akhirnya juga menawarkan angka 1, yaitu Ekasila yang
berisi asas Gotong-Royong. Tetapi yang lahir pada tanggal 1 Juni itu adalah nama
Pancasila (di samping nama Trisila dan Ekasila yang tidak terpilih) (Notosusanto,
1981: 21).
Setelah pidato Soekarno, sidang menerima usulan nama Pancasila bagi dasar
filsafat negara (Philosofische grondslag) yang diusulkan oleh Soekarno, dan
kemudian dibentuk panitia kecil 8 orang (Ki Bagus Hadi Kusumo, K.H. Wahid
Hasyim, Muh. Yamin, Sutarjo, A.A. Maramis, Otto Iskandar Dinata, dan Moh.
Hatta) yang bertugas menampung usul-usul seputar calon dasar negara.
Kemudian, sidang pertama BPUPKI (29 Mei - 1 Juni 1945) ini berhenti untuk
sementara. Sejarah mencatat bahwa pidato lisan Soekarno inilah yang di
kemudian hari diterbitkan oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia
dalam bentuk buku yang berjudul Lahirnya Pancasila (1947).
4.1.2
Perumusan Pancasila
Hal terpenting yang mengemuka dalam sidang BPUPKI kedua pada 10 - 16
Juli 1945 adalah disetujuinya naskah awal “Pembukaan Hukum Dasar” yang
kemudian dikenal dengan nama Piagam Jakarta. Piagam Jakarta itu merupakan
naskah awal pernyataan kemerdekaan Indonesia. Pada alinea keempat Piagam
Jakarta itulah terdapat rumusan Pancasila sebagai berikut: 1.) Ketuhanan, dengan
kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemelukpemeluknya, 2.) Kemanusiaan
yang adil dan beradab, 3.) Persatuan Indonesia, 4.) Kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan 5.) Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Naskah awal “Pembukaan Hukum Dasar” yang dijuluki “Piagam Jakarta” ini
di kemudian hari dijadikan “Pembukaan” UUD 1945, dengan sejumlah perubahan
di sana-sini. Ketika para pemimpin Indonesia sedang sibuk mempersiapkan
kemerdekaan menurut skenario Jepang, secara tiba-tiba terjadi perubahan peta
politik dunia. Salah satu penyebab terjadinya perubahan peta politik dunia itu
ialah takluknya Jepang terhadap Sekutu. Peristiwa itu ditandai dengan jatuhnya
bom atom di kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945. Sehari setelah peristiwa itu, 7
Agustus 1945, Pemerintah Pendudukan Jepang di Jakarta mengeluarkan maklumat
yang berisi: (1) pertengahan Agustus 1945 akan dibentuk Panitia Persiapan
Kemerdekaan bagi Indonesia (PPKI), (2) panitia itu rencananya akan dilantik 18
Agustus 1945 dan mulai bersidang 19 Agustus 1945, dan (3) direncanakan 24
Agustus 1945 Indonesia dimerdekakan.
Esok paginya, 8 Agustus 1945, Sukarno, Hatta, dan Rajiman dipanggil
Jenderal Terauchi (Penguasa Militer Jepang di Kawasan Asia Tenggara) yang
berkedudukan di Saigon, Vietnam (sekarang kota itu bernama Ho Chi Minh).
Ketiga tokoh tersebut diberi kewenangan oleh Terauchi untuk segera membentuk
suatu Panitia Persiapan Kemerdekaan bagi Indonesia sesuai dengan maklumat
Pemerintah Jepang 7 Agustus 1945 tadi. Sepulang dari Saigon, ketiga tokoh tadi
membentuk PPKI dengan total anggota 21 orang, yaitu: Soekarno, Moh. Hatta,
Radjiman,
Ki
Bagus
Hadikusumo,
Otto
Iskandar
Dinata,
Purboyo,
Suryohamijoyo, Sutarjo, Supomo, Abdul Kadir, Yap Cwan Bing, Muh. Amir,
Abdul Abbas, Ratulangi, Andi Pangerang, Latuharhary, I Gde Puja, Hamidan,
Panji Suroso, Wahid Hasyim, T. Moh. Hasan (Sartono Kartodirdjo, dkk., 1975:
16--17).
4.1.3
Pengesahan Pancasila
Peristiwa penting lainnya terjadi pada 12 Agustus 1945, ketika itu Soekarno,
Hatta, dan Rajiman Wedyodiningrat dipanggil oleh penguasa militer Jepang di
Asia Selatan ke Saigon untuk membahas tentang hari kemerdekaan Indonesia
sebagaimana yang pernah dijanjikan. Namun, di luar dugaan ternyata pada 14
Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu tanpa syarat. Pada 15 Agustus
1945 Soekarno, Hatta, dan Rajiman kembali ke Indonesia. Kedatangan mereka
disambut oleh para pemuda yang mendesak agar kemerdekaan bangsa Indonesia
diproklamasikan secepatnya karena mereka tanggap terhadap perubahan situasi
politik dunia pada masa itu. Para pemuda sudah mengetahui bahwa Jepang
menyerah kepada sekutu sehingga Jepang tidak memiliki kekuasaan secara politis
di wilayah pendudukan, termasuk Indonesia. Perubahan situasi yang cepat itu
menimbulkan kesalahpahaman antara kelompok pemuda dengan Soekarno dan
kawan-kawan sehingga terjadilah penculikan atas diri Soekarno dan M. Hatta ke
Rengas Dengklok (dalam istilah pemuda pada waktu itu “mengamankan”),
tindakan pemuda itu berdasarkan keputusan rapat yang diadakan pada pukul 24.00
WIB menjelang 16 Agustus 1945 di Cikini no. 71 Jakarta (Kartodirdjo, dkk.,
1975: 26).
Melalui jalan berliku, akhirnya dicetuskanlah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia pada 17 Agustus 1945. Teks kemerdekaan itu didiktekan oleh Moh.
Hatta dan ditulis oleh Soekarno pada dini hari. Dengan demikian, naskah
bersejarah teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia ini digagas dan ditulis oleh
dua tokoh proklamator tersebut sehingga wajar jika mereka dinamakan
Dwitunggal. Selanjutnya, naskah tersebut diketik oleh Sayuti Melik. Rancangan
pernyataan kemerdekaan yang telah dipersiapkan oleh BPUPKI yang diberi nama
Piagam Jakarta, akhirnya tidak dibacakan pada 17 Agustus 1945 karena situasi
politik yang berubah (Lihat Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah
Revolusi, William Frederick dan Soeri Soeroto, 2002: hal. 308 - 311).
Sampai detik ini, teks Proklamasi yang dikenal luas adalah sebagai berikut:
Proklamasi
Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal
yang mengenai pemindahan kekuasaan dll. diselenggarakan dengan cara
saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta, 17 Agustus 2605
Atas Nama Bangsa Indonesia
Soekarno-Hatta
4.2 Era Kemerdekaan
Isi Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 sesuai dengan semangat yang
tertuang dalam Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagam ini berisi garis-garis
pemberontakan melawan imperialisme-kapitalisme dan fasisme serta memuat dasar
pembentukan Negara Republik Indonesia. Piagam Jakarta yang lebih tua dari Piagam
Perjanjian San Francisco (26 Juni 1945) dan Kapitulasi Tokyo (15 Agustus 1945) itu ialah
sumber berdaulat yang memancarkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
(Yamin, 1954: 16).
Perlu diketahui bahwa sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yakni 18
Agustus 1945, PPKI bersidang untuk menentukan dan menegaskan posisi bangsa
Indonesia dari semula bangsa terjajah menjadi bangsa yang merdeka. PPKI yang semula
merupakan badan buatan pemerintah Jepang, sejak saat itu dianggap mandiri sebagai
badan nasional. Atas prakarsa Soekarno, anggota PPKI ditambah 6 orang lagi, dengan
maksud agar lebih mewakili seluruh komponen bangsa Indonesia. Mereka adalah
Wiranatakusumah, Ki Hajar Dewantara, Kasman Singodimejo, Sayuti Melik, Iwa
Koesoema Soemantri, dan Ahmad Subarjo.
Indonesia sebagai bangsa yang merdeka memerlukan perangkat dan kelengkapan
kehidupan bernegara, seperti: Dasar Negara, Undang-Undang Dasar, Pemimpin negara,
dan perangkat pendukung lainnya. Putusan-putusan penting yang dihasilkan mencakup
hal-hal berikut: 1.) Mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara (UUD ‘45) yang terdiri
atas Pembukaan dan Batang Tubuh. Naskah Pembukaan berasal dari Piagam Jakarta
dengan sejumlah perubahan. Batang Tubuh juga berasal dari rancangan BPUPKI dengan
sejumlah perubahan pula, 2.) Memilih Presiden dan Wakil Presiden yang pertama
(Soekarno dan Hatta), dan 3.) Membentuk KNIP yang anggota intinya adalah mantan
anggota PPKI ditambah tokoh-tokoh masyarakat dari banyak golongan.
Komite ini dilantik 29 Agustus 1945 dengan ketua Mr. Kasman Singodimejo.
Rumusan Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut: 1.) Ketuhanan
Yang Maha Esa, 2.) Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3.) Persatuan Indonesia, 4.)
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
/perwakilan, dan 5.) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sejarah bangsa Indonesia juga mencatat bahwa rumusan Pancasila yang disahkan
PPKI ternyata berbeda dengan rumusan Pancasila yang termaktub dalam Piagam Jakarta.
Hal ini terjadi karena adanya tuntutan dari wakil yang mengatasnamakan masyarakat
Indonesia Bagian Timur yang menemui Bung Hatta yang mempertanyakan 7 kata di
belakang kata “Ketuhanan”, yaitu “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi
pemeluk-pemeluknya”. Tuntutan ini ditanggapi secara arif oleh para pendiri negara
sehingga terjadi perubahan yang disepakati, yaitu dihapusnya 7 kata yang dianggap
menjadi hambatan di kemudian hari dan diganti dengan istilah “Yang Maha Esa”. Setelah
kemerdekaan Indonesia diproklamasikan yang kemudian diikuti dengan pengesahaan
Undang-Undang Dasar 1945, maka roda pemerintahan yang seharusnya dapat berjalan
dengan baik dan tertib, ternyata menghadapi sejumlah tantangan yang mengancam
kemerdekaan negara dan eksistensi Pancasila. Salah satu bentuk ancaman itu muncul dari
pihak Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia.
Awal dekade 1950-an muncul inisiatif dari sejumlah tokoh yang hendak melakukan
interpretasi ulang terhadap Pancasila. Saat itu muncul perbedaan perspektif yang
dikelompokkan dalam dua kubu. Pertama, beberapa tokoh berusaha menempatkan
Pancasila lebih dari sekedar kompromi politik atau kontrak sosial. Mereka memandang
Pancasila tidak hanya kompromi politik melainkan sebuah filsafat sosial atau
weltanschauung bangsa. Kedua, mereka yang menempatkan Pancasila sebagai sebuah
kompromi politik. Dasar argumentasinya adalah fakta yang muncul dalam sidang-sidang
BPUPKI dan PPKI. Pancasila pada saat itu benar-benar merupakan kompromi politik di
antara golongan nasionalis netral agama (Sidik Djojosukarto dan Sutan takdir
Alisyahbana dkk) dan nasionalis Islam (Hamka, Syaifuddin Zuhri sampai Muhammad
Natsir dkk) mengenai dasar negara.
4.3 Orde Lama
Terdapat dua pandangan besar terhadap Dasar Negara yang berpengaruh terhadap
munculnya Dekrit Presiden. Pandangan tersebut yaitu mereka yang memenuhi “anjuran”
Presiden/ Pemerintah untuk “kembali ke Undang-Undang Dasar 1945” dengan Pancasila
sebagaimana dirumuskan dalam Piagam Jakarta sebagai Dasar Negara. Sedangkan pihak
lainnya menyetujui ‘kembali ke Undang-Undang Dasar 1945”, tanpa cadangan, artinya
dengan Pancasila seperti yang dirumuskan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar
yang disahkan PPKI tanggal 18 Agustus 1945 sebagai Dasar Negara. Namun, kedua
usulan tersebut tidak mencapai kuorum keputusan sidang konstituante (Anshari, 1981:
99).
Majelis (baca: konstituante) ini menemui jalan buntu pada bulan Juni 1959. Kejadian
ini menyebabkan Presiden Soekarno turun tangan dengan sebuah Dekrit Presiden yang
disetujui oleh kabinet tanggal 3 Juli 1959, yang kemudian dirumuskan di Istana Bogor
pada tanggal 4 Juli 1959 dan diumumkan secara resmi oleh presiden pada tanggal 5 Juli
1959 pukul 17.00 di depan Istana Merdeka (Anshari, 1981: 99-100). Dekrit Presiden
tersebut berisi: 1.) Pembubaran konstituante, 2.) Undang-Undang Dasar 1945 kembali
berlaku, dan 3.) Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara.
Sesudah dikeluarkannya Dekrit 5 Juli 1959 oleh Presiden Soekarno, terjadi beberapa
penyelewengan terhadap UUD 1945. Antara lain, Soekarno diangkat sebagai presiden
seumur hidup melalui TAP No. III/MPRS/1960. Selain itu, kekuasaan Presiden Soekarno
berada di puncak piramida, artinya berada pada posisi tertinggi yang membawahi ketua
MPRS, ketua DPR, dan ketua DPA yang pada waktu itu diangkat Soekarno sebagai
menteri dalam kabinetnya sehingga mengakibatkan sejumlah intrik politik dan perebutan
pengaruh berbagai pihak dengan berbagai cara, baik dengan mendekati maupun menjauhi
presiden. Pertentangan antarpihak begitu keras, seperti yang terjadi antara tokoh PKI
dengan perwira Angkatan Darat (AD) sehingga terjadilah penculikan dan pembunuhan
sejumlah perwira AD yang dikenal dengan peristiwa Gerakan 30 September (G30S PKI).
Peristiwa G30S PKI menimbulkan peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.
Peralihan kekuasan itu diawali dengan terbitnya Surat Perintah dari Presiden Soekarno
kepada Letnan Jenderal Soeharto, yang di kemudian hari terkenal dengan nama
Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Surat itu intinya berisi perintah presiden
kepada Soeharto agar “mengambil langkah-langkah pengamanan untuk menyelamatkan
keadaan”. Supersemar ini dibuat di Istana Bogor dan dijemput oleh Basuki Rahmat, Amir
Mahmud, dan M. Yusuf.
Supersemar ini pun juga menjadi kontroversial di belakang hari. Supersemar yang
diberikan oleh Presiden Soekarno kepada Letjen Soeharto itu kemudian dikuatkan dengan
TAP No. IX/MPRS/1966 pada 21 Juni 1966. Dengan demikian, status supersemar
menjadi berubah: Mula-mula hanya sebuah surat perintah presiden kemudian menjadi
ketetapan MPRS. Jadi, yang memerintah Soeharto bukan lagi Presiden Soekarno,
melainkan MPRS. Hal ini merupakan fakta sejarah terjadinya peralihan kekuasaan dari
Soekarno ke Soeharto. Bulan berikutnya, tepatnya 5 Juli 1966, MPRS mengeluarkan TAP
No. XVIII/ MPRS/1966 yang isinya mencabut TAP No. III/MPRS/1960 tentang
Pengangkatan Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup. Konsekuensinya, sejak saat itu
Soekarno bukan lagi berstatus sebagai presiden seumur hidup.
4.4 Orde Baru
Setelah lengsernya Ir. Soekarno sebagai presiden, selanjutnya Jenderal Soeharto yang
memegang kendali terhadap negeri ini. Dengan berpindahnya kursi kepresidenan
tersebut, arah pemahaman terhadap Pancasila pun mulai diperbaiki. Pada peringatan hari
lahir Pancasila, 1 Juni 1967 Presiden Soeharto mengatakan, “Pancasila makin banyak
mengalami ujian zaman dan makin bulat tekad kita mempertahankan Pancasila”. Selain
itu, Presiden Soeharto juga mengatakan, “Pancasila sama sekali bukan sekedar semboyan
untuk dikumandangkan, Pancasila bukan dasar falsafah negara yang sekedar
dikeramatkan dalam naskah UUD, melainkan Pancasila harus diamalkan (Setiardja,
1994: 5).
Jadi, Pancasila dijadikan sebagai political force di samping sebagai kekuatan ritual.
Begitu kuatnya Pancasila digunakan sebagai dasar negara, maka pada 1 Juni 1968
Presiden Soeharto mengatakan bahwa Pancasila sebagai pegangan hidup bangsa akan
membuat bangsa Indonesia tidak loyo, bahkan jika ada pihak-pihak tertentu mau
mengganti, merubah Pancasila dan menyimpang dari Pancasila pasti digagalkan (Pranoto
dalam Dodo dan Endah (ed.), 2010: 42).
Selanjutnya pada tahun 1968 Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden
Nomor 12 tahun 1968 yang menjadi panduan dalam mengucapkan Pancasila sebagai
dasar negara, yaitu:
Satu
: Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa
Dua : Kemanusiaan yang adil dan beradab
Tiga : Persatuan Indonesia
Empat : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan
Lima
: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Instruksi Presiden tersebut mulai berlaku pada tanggal 13 April 1968.
Pada tanggal 22 Maret 1978 ditetapkan ketetapan (disingkat TAP) MPR Nomor
II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya
Pancakarsa) yang salah satu pasalnya tepatnya Pasal 4 menjelaskan,
“Pedoman Penghayatan dan Pengamalan pancasila merupakan penuntun
dan pegangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan
bernegara bagi setiap warga negara Indonesia, setiap penyelenggara
negara serta setiap lembaga kenegaraan dan lembaga kemasyarakatan,
baik Pusat maupun di Daerah dan dilaksanakan secara bulat dan utuh”.
Ketika itu, sebagian golongan Islam menolak reinforcing oleh pemerintah dengan
menyatakan bahwa pemerintah akan mengagamakan Pancasila. Kemarahan Pemerintah
tidak dapat dibendung sehingga Presiden Soeharto bicara keras pada Rapim ABRI di
Pekanbaru 27 Maret 1980. Intinya Orba tidak akan mengubah Pancasila dan UUD 1945,
malahan diperkuat sebagai comparatist ideology. Jelas sekali bagaimana pemerintah Orde
Baru merasa perlu membentengi Pancasila dan TAP itu meski dengan gaya militer. Tak
seorang pun warga negara berani keluar dari Pancasila (Pranoto dalam Dodo dan Endah
(ed.), 2010: 43).
Selanjutnya pada bulan Agustus 1982 Pemerintahan Orde Baru menjalankan “Azas
Tunggal” yaitu pengakuan terhadap Pancasila sebagai Azas Tunggal, bahwa setiap partai
politik harus mengakui posisi Pancasila sebagai pemersatu bangsa (Pranoto dalam Dodo
dan Endah (ed.), 2010: 43-44). Dengan semakin terbukanya informasi dunia, pada
akhirnya pengaruh luar masuk Indonesia pada akhir 1990-an yang secara tidak langsung
mengancam aplikasi Pancasila yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru. Demikian
pula demokrasi semakin santer mengkritik praktek pemerintah Orde Baru yang tidak
transparan dan otoriter, represif, korup dan manipulasi politik yang sekaligus mengkritik
praktek Pancasila. Meski demikian kondisi ini bertahan sampai dengan lengsernya
Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 (Pranoto dalam Dodo dan Endah (ed), 2010: 45).
4.5 Reformasi
Pancasila yang seharusnya sebagai nilai, dasar moral etik bagi negara dan aparat
pelaksana Negara, dalam kenyataannya digunakan sebagai alat legitimasi politik. Puncak
dari keadaan tersebut ditandai dengan hancurnya ekonomi nasional, maka timbullah
berbagai gerakan masyarakat yang dipelopori oleh mahasiswa, cendekiawan dan
masyarakat sebagai gerakan moral politik yang menuntut adanya “reformasi” di segala
bidang politik, ekonomi dan hukum (Kaelan, 2000: 245).
Saat Orde Baru tumbang, muncul fobia terhadap Pancasila. Dasar Negara itu
untuk sementara waktu seolah dilupakan karena hampir selalu identik dengan rezim Orde
Baru. Dasar negara itu berubah menjadi ideologi tunggal dan satu-satunya sumber nilai
serta kebenaran. Negara menjadi maha tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Nilai-nilai itu selalu ditanam ke benak masyarakat melalui indoktrinasi (Ali, 2009: 50).
Dengan seolah-olah “dikesampingkannya” Pancasila pada Era Reformasi ini,
pada awalnya memang tidak nampak suatu dampak negatif yang berarti, namun semakin
hari dampaknya makin terasa dan berdampak sangat fatal terhadap kehidupan berbangsa
dan bernegara Indonesia. Dalam kehidupan sosial, masyarakat kehilangan kendali atas
dirinya, akibatnya terjadi konflik-konflik horisontal dan vertikal secara masif dan pada
akhirnya melemahkan sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsadan negara Indonesia.
Dalam bidang budaya, kesadaran masyarakat atas keluhuran budaya bangsa Indonesia
mulai luntur, yang pada akhirnya terjadi disorientasi kepribadian bangsa yang diikuti
dengan rusaknya moral generasi muda.
Dalam bidang ekonomi, terjadi ketimpangan-ketimpangan di berbagai sektor
diperparah lagi dengan cengkeraman modal asing dalam perekonomian Indonesia. Dalam
bidang politik, terjadi disorientasi politik kebangsaan, seluruh aktivitas politik seolaholah hanya tertuju pada kepentingan kelompok dan golongan. Lebih dari itu, aktivitas
politik hanya sekedar merupakan libido dominandi atas hasrat untuk berkuasa, bukannya
sebagai suatu aktivitas memperjuangkan kepentingan nasional yang pada akhirnya
menimbulkan carut marut kehidupan bernegara seperti dewasa ini (Hidayat, 2012).
Namun demikian, kesepakatan Pancasila menjadi dasar Negara Republik Indonesia
secara
normatif,
tercantum
dalam
ketetapan
MPR.
Ketetapan
MPR
Nomor
XVIII/MPR/1998 Pasal 1 menyebutkan bahwa “Pancasila sebagaimana dimaksud dalam
Pembukaan UUD 1945 adalah dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara” (MD, 2011). Ketetapan
ini terus dipertahankan, meskipun ketika itu Indonesia akan menghadapi Amandeman
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945.
Selain kesepakatan Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila pun menjadi sumber
hukum yang ditetapkan dalam Ketetapan MPR Nomor III/MPR/2000 Pasal 1 Ayat (3)
yang menyebutkan,
“Sumber hukum dasar nasional adalah Pancasila sebagaimana yang
tertulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Ketuhanan
Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan
Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu
Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, dan batang tubuh
Undang- Undang Dasar 1945”.
5. Sumber-Sumber Pancasila
5.1 Sumber Historis
Pesiden Soekarno pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”.
Pernyataan tersebut dapat dimaknai bahwa sejarah mempunyai fungsi penting dalam
membangun kehidupan bangsa dengan lebih bijaksana di masa depan. Nilai-nilai
Pancasila sudah ada dalam adat istiadat, kebudayaan, dan agama yang berkembang dalam
kehidupan bangsa Indonesia sejak zaman kerajaan dahulu. Misalnya, sila Ketuhanan
sudah ada pada zaman dahulu, meskipun dalam praktik pemujaan yang beraneka ragam,
tetapi pegakuan tentang adanya Tuhan sudah diakui. Selain sila Ketuhanan, sila -sila yang
lain di dalam Pancasila sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu.
5.2 Sumber Sosiologis
Nilai-nilai Pancasila (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan)
secara sosiologis telah ada dalam masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga sekarang.
Salah satu nilai yang dapat ditemukan dalam masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu
hingga sekarang adalah nilai gotong royong. Misalnya dapat dilihat, bahwa kebiasaan
bergotongroyong, baik berupa saling membantu antar tetangga maupun bekerjasama
untuk keperluan umum di desa-desa. Kegiatan gotong royong itu dilakukan dengan
semangat kekeluargaan sebagai cerminan dari sila Keadilan Sosial. Gotong royong juga
tercermin pada sistem perpajakan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena masyarakat
secara bersama-sama mengumpulkan iuran melalui pembayaran pajak yang dimaksudkan
untuk pelaksanaan pembangunan.
5.3 Sumber Politis
Sebagaimana diketahui bahwa nilai-nilai dasar yang terkandung dalam Pancasila
bersumber dan digali dari local wisdom, budaya, dan pengalaman bangsa Indonesia,
termasuk pengalaman dalam berhubungan dengan bangsa-bangsa lain. Nilai-nilai
Pancasila, misalnya nilai kerakyatan dapat ditemukan dalam suasana kehidupan pedesaan
yang pola kehidupan bersama yang bersatu dan demokratis yang dijiwai oleh semangat
kekeluargaan sebagaimana tercermin dalam sila keempat Kerakyatan Yang Dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Semangat seperti ini
diperlukan dalam mengambil keputusan yang mencerminkan musyawarah.
6. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian Pancasila
dalam sejarah bangsa Indonesia menunjukkan hal-hal sebagai berikut:
1. Pancasila merupakan produk otentik pendiri negara Indonesia (The
Founding fathers).
2. Nilai-nilai Pancasila bersumber dan digali dari nilai agama,
kebudayaan, dan adat istiadat.
3. Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa dan dasar filsafat
kenegaraan.
Pentingnya Pancasila dalam sejarah bangsa Indonesia menunjukkan halhal berikut:
1. Betapapun lemahnya pemerintahan suatu rezim, tetapi Pancasila
tetap bertahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
2. Betapapun ada upaya untuk mengganti Pancasila sebagai ideologi
bangsa, tetapi terbukti Pancasila merupakan pilihan yang terbaik
bagi bangsa Indonesia.
3. Pancasila merupakan pilihan terbaik bagi bangsa Indonesia karena
bersumber dan digali dari nilai-nilai agama, kebudayaan, dan adat
istiadat yang hidup dan berkembang di bumi Indonesia.
4. Kemukakan argumen Anda tentang Pancasila sebagai pilihan terbaik
bangsa Indonesia.
Meskipun banyak sekali halangan dan rintangan yang terjadi namun
sampai saat ini Pancasila akan tetap menjadi dasar negara Indonesia dan
sebagai pedoman bagi seluruh rakyat Indonesia.
Daftar Rujukan
Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2013.
Materi Ajar Mata Kuliah Pendidikan Pancasila. Jakarta: Departeman Pendidikan
Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. 2016. Buku
Ajar Mata Kuliah Wajib Umum Pendidikan Pancasila. Jakarta: Departeman Pendidikan
Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Download