Uploaded by User108519

TUGAS KELOMPOK 5 -SAMPEL PROBABILITAS

advertisement
SAMPEL PROBABILITAS (PROBABILTY SAMPLING)
Oleh Kelompok 5 :
Rassya Priyandira (180904004)
Mickhael Rajagukguk (180904052)
Ronaldo Hafizh (180904064)
Noniya Dewinta Anggi (180904074)
Mirza Ramadhan Harahap (180904116)
PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Probability Sampling merupakan teknik penarikan sampel secara acak dari
populasi yang dipilih. Metode Probability Sampling dilakukan ketika unsur-unsur
dalam populasi mempunyai peluang atau probabilitas yang sama untuk terpilih
menjadi sampel. Probability Sampling dapat berupa unrestricted (simple random)
sampling, yaitu ketika populasi diperkirakan tidak mempunyai karakteristik khusus
atau restricted (complex probability) sampling, yaitu ketika populasi mempunyai
karakteristik tertentu, misalkan bertingkat atau tersebar.
Tahun 1948 sejumlah peneliti telah melakukan uji coba penggunaan metode
penarikan sampel probabilitas (probability sampling methods). Hasil dari uji coba
tersebut menyimpulkan bahwa penggunaan metode penarikan sampel tersebut lebih
sukses dibandingkan dengan penggunaan metode kuota sampel. Pada saat ini,
metode penarikan sampel probabilitas merupakan metode utama yang banyak
digunakan di dalam penelitian sosial.
B. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka rumusan
masalah yang akan kami bahas adalah jenis-jenis Probability Sampling yang kerap
dilaksanakan dalam mengumpulkan pendapat umum di lapangan.
C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah, untuk dapat memahami serta
membedakan jenis-jenis Sampel Probabilitas (Probability Sampling) dan bisa
menerapkannya pada saat kegiatan lapangan nantinya.
BAB 2
PEMBAHASAN
A. Teknik Pengambilan Sample Acak Sederhana (Simple Random Sampling)
Teknik acak sederhana adalah teknik acak yang paling dasar. Teknik acak
ini, seperti orang mengundi lotere atau mengundi pemenang arisan. Ketika hendak
menentukan siapa pemenang arisan minggu ini, cara yang dilakukan adalah menulis
semua nama peserta arisan dalam secarik kertas. Nama-nama tersebut kemudian
digulung dan dimasukkan kedalam botol, kemudian diaduk, kemudia diambil satu
nama. Nama yang keluar dari botol itu adalah pemenangnya.
Prinsip sample acak sederhana, setiap anggota jikpopulasi memiliki
kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai sample. Apabila dalam populasi
tersbut terdapat 10.000 orang, berarti kesempatan setiap orang untuk dipilih sebagai
sample adalah 1/10.000, artinya masing-masing orang harus mendapatkan
kesempatan dan perlakuan yang sama.Teknik acak sederhana dipakai jikalau ada
kerangka sample yang baik dan lengkap yang memuat daftar nama semua anggota
populasi. Kerangka sample itu harus akurat dan juga benar. Tidak boleh ada anggota
populasi yang tidak masuk dalam kerangka sample itu karena bisa mengurangi
kesempatan yang sama bagi semua anggota populasi.
Oleh karena itu, syarat yang ketat itu, teknik acak sederhana ini umumnya
bisa dipakai dalam kondisi tersebut. Pertama, populasi relative kecil. Sample acak
sederhana efektif dipakai jika populasi tidak besar. Karena pada populasi yang kecil
umumnya ada kerangka sample yang memuat semua nama anggota populasi
kalaupun tidak ada daftar, peneliti tidak akan sulit untuk menyusun daftar nama itu.
Kedua, selain populasi tidak besar, acak sederhana juga bisadipakai jikalau populasi
relatif homogen. Anggota populasi mempunyai karakteristik yang hampir mirip
satu sama lain.
Ada beragam cara penarikan sample sederhana. Cara yang paling sederhana
adalah lotere atau mengundi. Kita mencatat terlebih dahulu semua anggota populasi
dan memeberi mereka nomor. Misalnya, kalau dalam populasi ada 100 orang, kita
membuat daftar nama keseratus orang itu dan memberikan mereka nomor 1-100.
Pada saat bersamaan, kita membuat gulungan kertas dengan disertai nomor 1
hingga 100. Teknik mengundi bisa bermacam-macam (lewat botol kecil,
mengambil dengan mata tertutu, dlsb). Semua cara itu bisa dilakukan asal
memenuhi prinsip semua gulungan kertas itu mempunyai kesempatan yang sama
untuk diambil. Nomor yang daimbil itu kemudian dicocokkan dengan daftar nama
yang telah kita buat. Nama itulah yang tertulis sebagai sample. Cara ini terus
menerus dilakukan sampai jumlah sample yang diinginkan terpenuhi. Teknik ini
hanya efektif dilakukan dalam populasi yang relatif kecil, misalnya kurang dari 100
orang. Ketika jumlah anggota populasi agak besar, akan susah dan merepotkan
melakukan cara ini. Cara yang lebih efektif dilakukan untuk populasi agak besar
adalah dengan memakai tabel angka acak. Tabel itu ada yang terdiri atas 1 halaman,
ada yang terdiri atas 5 halaman. Tabel angka acak itu disusun oleh ahli statistic
sedemikian rupa yang bisa dipakai oleh peneliti.
Seiring dengan kemajuan teknologi, berbagai software komputer saat ini
banyak yang dilengkapi dengan fasilitas angka random. Misalnya, program
Microsoft Excel yang banyak dipakai dan terpasang di Personal Computer (PC)
bisa dimanfaatkan untuk mengeluarkan angka-angka random. Kelebihan lain dari
program random dari software ini adalah bisa dipakai untuk mengeluarkan angka
acak untuk populasi hingga jutaan.Selain itu, ada juga software yang memudahkan
peneliti. Salah satunya aplikasi yang bisa memunculkan angka-angka random ini
adalah www.random.org.
B. Teknik Pengambilan
Sampling)
Sample Acak Sistematis (Systematic Random
Sample acak sistematis adalah teknik penarikan sample yang lebih
sederhana dibandingkan dengan acak sederhana. Karena teknik ini tidak
memerlukan tabel angka acak, seperti pada acak sederhana. Seperti namanya,
teknik acak sistematis pada dasarnya memilih smaple dalam populasi secara
sistematis. Kita hanya memerlukan random (acak) unsur pertama saja dalam
populasi. Unsur selanjutnya tinggal mengikut deret atau sistematika tertentu.
Langkah pertama dalamn penarikan sample sistematis adalah menentukan
interval sample. Interval sample ini diperoleh dengan membagi jumlah populasi
dengan jumlah sample.
Interval Sample =
Jumlah Populasi
Jumlah Sample
Misalnya, populasi survey kita 1000 orang dan sample yang dipakai 50
orang, berarti interval sample adalah 1000/50 = 200. Ini berarti, dalama menentukan
sample nanti secara sistematis akan bergerak tiap 200 langkah. Selanjutnya,
menentukan unsur pertama dari sample. Unsur pertama ini dipilih secara acak
(random) dari angka interval sample. Pada ilustrasi ini, unsur pertama dipilih secara
random dari angka 1-200. Jika sudah dipilih, unsur kedua dan seterusnya tinggal
bergerak sesuai dengan interval sample. Jika unsur pertama kita beri simbol x, dan
interval kita beri simbol I, maka unsur-unsur selanjutnya dari sample terpilih adalah
sebagai berikut.
Sample pertama = x
Sample kedua = x + i
Sample Ketiga = x + 2i dan seterusnya
Sample acak sistematis bisa diterapkan, dengan sejumlah kondisi berikut.
Pertama, terdapat kerangka sample yang baik. Tanpa kerangka sample yang
memuat daftar nama-nama anggota popualasi, kita tidak bisa menggunakan teknik
penarikan sample ini. Kerangka sample ini juga harus memuat semua anggota
populasi secara lengkap. Kedua, kerangka sample itu bukan hanya harus lengkap
dan up to date, melainkan juga harus mengikuti urutan tertentu. Tidak ada aturan
bagaimana urutan kerangka sample tersebut bisa menurut abjad atau urutan lain.
Kelamahan dari teknik acak sistematis terletak padakerangka sample yang
akan dipakai. Jika kerangka sample itu berurutan dan diterapkan acak sistematis,
bisa jadi akan menghasilkan sample yang bias karena sample hanya mendapatkan
unit yang sama ataupun karakter yang mirip. Misalnya, kita membuat survey
dengan populasi pasangan suami-istri. Kerangka sample yang tersedia mengurutkan
nama suami, nama istri dan begitu seterusnya. Kemungkinan yang akan timbul, kita
hanya mendapat sample istri saja. Ini bisa terjadi karena acak sistematis mengambil
sample secara sistematis. Kalau terjadi kesalahan, maka kesalahan itu akan
berulang secara sistermatis pula. Jika demikian penerapan acak sistematis justru
akan menghasilkan sample yang bias.
Kelamahan acak dari acak sistematis adalah jika kerangka sample disusun
berdasarkan abjad, misalnya buku petunjuk telepon. Kernagka sample demikian
akan mengakibatkan tidak semua anggota populasi mempunyai kesempatan yang
sama untuk dipakai sebagai sample.
Strategi Membuat Sample Acak Sistematis yang Baik
Hasil acak sistematis tergantung pada kerangka sampel yang tersedia. Jika
kerangka sampel itu disusun dengan satu pola yang bisa menimbulkan bias maka
sebaiknya kerangka sampel ini dihindari. Atau peneliti bisa menyusun kerangka
sampel baru yang bisa menjamin unsur keacakan (randomness) dan representasi.
Kerangka sampel yang baik adalah kerangka sampel yang disusun secara berurutan
dari sampel yang homogen dan mencerminkan proporsi dalam populasi. Kerangka
sampel seperti ini jika dipakai secara inklusif seperti peneliti melakukan startifikasi.
Sampling
Interval
=
Population Size
Sample Size
Sampling
Ratio
=
Sample Size
Population Size
C. Teknik Pengambilan Sample Acak Stratifikasi (Stratified Random
Sampling)
Teknik acak sederhana atau sistematis hanya cocok dipakai pada populasi
yang homogeny. Dalam kenyataanya jarang sekali ada populasi yang homogen.
Terutama untuk populasi besar yang menyertakan banyak orang, umumnya anggota
populasi terdiri dari beragam orang dengan karakter yang berbeda. Dalam kondisi
demikian, kita membutuhkan teknik penarikan sempel lain yang dikenal sebagai
acak sratifikasi. Dalam acak statifikasi, sebelum sempel diambil dari populasi, kita
melakukan statifikasi populasi lebih dulu berdasarkan karakter tertentu. Sampel
yang diambil harus sesuai dengan prpoprsi dari populasi. Dengan begitu, sampel
bisa lebih mencerminkan populasi.
Misalnya populasi kelereng dalam sebuah kotak yang berjumlah 20,
masing-masing terdiri dari 10 kelereng berwarna putih dan 10 kelereng berwarna
merah. Dengan mata tertutup kita mengambil kelereng sebanyak 4 buah. Kelereng
yang kita ambil baru bisa dianggap representatif jika kita bisa menemukan 2
kelereng merah dan 2 kelereng putih. Jika kita mengambil kelereng dari kotak itu
secara langsung, kemungkinan besar kita tidak mendapat proporsi kelereng merah
dan putih yang sama. Temuan ini akan berbeda jika kita melakukan stratifikasi
terlebih dahulu karena kelereng tidak seragam, kita membagi terlebih dahulu
kelereng merah dan putih itu kedalam kotak yang berbeda. Cara ini pasti akan
menghasilkan temuan yang benar. Kita akan mendapatkan 2 kelereng putih dan 2
kelereng merah. Logika mengambil kelereng ini hampir mirip dalam kehidupan
nyata, mengingat populasi dalam kenyataannya sangat heterogen.sebab orangorang dalam populasi memiliki karakteristik yang berbeda-beda, baik dari segi
agama, pendidikan, adat istidat dan lain-lain. Teknik penarikan sampel sratifikasi
sama dengan logika kelereng tersebut. Kita mengelompokkan anggota populasi
kedalam karakteristik yang berbeda kemudian baru dilakukan proses acak. Teknik
penarikan acak sratifikasi akan mengasilkan sampel yang lebih representative
dibandingkan dengan acak sederhana atau sistematis.
Penarian sampel sederhana secarareoritis potensial menghasilkan sampel
yang bias, karena salah satu karakter tertentu. Contohnya penduduk di desa kita
daftar dan langsung kita Tarik sampel, kemungkinan kita akan mendapatkan sampel
dengan pendidikan rendah kurang atau lebih dari 50%. Sampel sratifikasi bisa
menghindari masalah tersebut. Karena populasi telah dikelompokkan terkebih
dahulu kedalam srata-srata tertentu, secara teoritis kita akan mendapatkan sampel
yang lebih baik. Biasanya, hasil penarikan acak sederhana potensial menghasilkan
sampel yang bias, condong ke salah satu karakter. Sementara dalam acak sratifikasi,
menghasilkan sampel yang kurang lebih sama dengan populasi.
Sampel acak stratifikasi terbagi kedalam dua jenis: sampel acak sratifikasi
proporsional dan sampel acak tidak proporsional.perbedaan antara kedua jenis
teknik acak ini terletak apakah jumlah proporsi dari masing-masing strata dibuat
proporsional atau tidak dengan proporsi dalam populasi.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 34 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40
41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60
61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80
81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100
The Sample
3
13
23
33
43
53
63
73
83
93
Keterangan:
Diketahui jumlah dari jumlah populasi N = 100, ditetapkan ukuran sampel
n = 10, di mana untuk angka “random start” dipilih jatuh pada angka 3, kemudian
ditetapkan secara sistematis selisih 10 angka dari “random start” 3, 13, 23, ..... 93
untuk dijadikan sampel.
Melalui ilustrasi tersebut dapat dijelaskan, teknik penarikan sampel
“Stratified Random Sampling Technique” atau dikenal dengan singkatan “SRST”,
secara operasional tetap menggunakan struktur sampel sistematik (systematic
sample) dan “random start”.
a. Sampel Acak Stratifikasi Proporsional
Dalam sstratifikasi proporsional, jumlah populasi masing-masing strata
dalam sampel ditentukan secara proposional sesuai dengan besarnya dalam
populasi. Proporsi terbesar akan mendapatkan sampel yang lebih besar di banding
strata yang lebih kecil. Dalam stratifikasi proporsional terkandung prinsip keadilan,
populasi yang besar akan mendapatkan sampel yang besar pula. Stratifikasi
proporsional baik digunakan ketika strata dalam populasi terbagi keadaan yang
kurang lebih seimbang. Misalnya, survei tentang pendapat mahasiswa. Peneliti
membuat sampel stratifikasi berdasarkan fakultas. Secara teoritis, proporsi fakultas
relative seimbang.
b. Sampel Acak Stratifikasi tidak Proporsional
Teknik stratifikasi tidak proporsional ini hampir mirip dengan stratifikasi
proporsional. Populasi dibagi menjadi beberapa starta dan ditentukan proporsinya.
Yang membedakan adalah jumlah sampel dari masing-masing strata nantinya tidak
diambil secara proporsional. Ada strata yang mendapat jumlah sampel lebih besar
dari proporsi yang sebenarnya. Sebaliknya ada strata yang dikurangi jumlah sampel
dari proporsi yang seharusnya diterima.
Teknik penarikan sampel ini diambil ketika strata dan proposisi dalam
populasi tidak seimbang. Misalnya, survey mengenai pendapat anggota polisi
mengenai reformasi di tubuh polri. Stratifikasi dibuat berdasarkan kepangkatan,
adsa polisi yang berpangkat rendah, menengah dan tinggi. Jika stratifikasi
kepangkatan ini dijadikan dasar atau pertimbangan, maka terjadi situasi yang tidak
seimbang. Hal ini karena jumlah polisi yang berpangkat tinggi sangat kecil. Jika
stratifikasi proposional kita terapkan, bisa jadi polisi berpangkat tinggi ini hanya
mendapat jatah sedikit saja. Ini akan menimbulkan kesulitan saat nanti melakukan
analis mengenai sikap polisi berdasarkan pangkat. Jumlah sampel yang beberapa
orang tersebut tidak bisa mewakili suara polisi berpangkat tinggi dan tidak cukup
adil untuk membandingkannya dengan polisi yang berpangkat lebih rendah. Jika
terjadi situasi seperti ini, kita bisa menggunakan teknik penarikan sampel
stratifikasi tidak proposional.
BAB 3
PENUTUP
A. Kesimpulan
Beberapa teknik dari sampel probabilitas (Probability Sampling) bisa
diterapkan berdasarkan kebutuhan ketika berada di lapangan. Masing-masing dari
jenis ini juga memiliki keuntungan dan juga kelemahan tersendiri, tergantung
dimana penempatan teknik ini nantinya digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Danandjaja. 2012. Metodologi Penelitian Sosial: Disertai Aplikasi SPSS for
Windows. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Eriyanto. 2007. Teknik Sampling Analisi Opini Publik. Yogyakarta: LKiS
Yogyakarta
Martono, Nanang. 2016. Metodologi Penelitian Sosial: Konsep-Konsep Kunci.
Jakarta: Rajawali Pers
Download