Uploaded by User100352

Mahendra Cahya 190514650006 Tugas Aluminium Paduan

advertisement
TUGAS PAPER TENTANG PERLAKUAN PANAS PADA ALUMINIUM
PADUAN
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Ilmu Logam
Yang dibina oleh Dr. Heru Suryanto, M.T.
Oleh;
Mahendra Cahya Liestyanto
NIM 190514650006
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK MESIN
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK
MESIN
April 2020
LANDASAN TEORI
1. ALUMINIUM
Aluminium ialah unsur kimia. Lambang aluminium ialah Al, dan nomor
atomnya 13. Aluminium ialah logam paling berlimpah. Aluminium bukan
merupakan jenis logam berat, tetapi merupakan elemen yang berjumlah
sekitar 8% dari permukaan bumi dan paling berlimpah ketiga. Aluminium
terdapat dalam penggunaan aditif makanan, antasida, buffered aspirin,
astringents, semprotan hidung, antiperspirant, air minum, knalpot mobil, asap
tembakau, penggunaan aluminium foil, peralatan masak, kaleng, keramik, dan
kembang api.
Aluminium merupakan konduktor listrik yang baik. Ringan dan kuat.
Merupakan konduktor yang baik juga buat panas. Dapat ditempa menjadi
lembaran, ditarik menjadi kawat dan diekstrusi menjadi batangan dengan
bermacam-macam penampang. Tahan korosi.
Aluminium digunakan dalam banyak hal. Kebanyakan darinya digunakan
dalam kabel bertegangan tinggi. Juga secara luas digunakan dalam bingkai
jendela dan badan pesawat terbang. Ditemukan di rumah sebagai panci, botol
minuman ringan, tutup botol susu dsb. Aluminium juga digunakan untuk
melapisi lampu mobil dan compact disks.
2. ALUMINIUM PADUAN (ALIMINIUM ALLOY)
Aluminium paduan merupakan material berbasis aluminium yang
ditambah dengan elemen paduan. Elemen paduan yang biasa digunakan
seperti tembaga, magnesium, manganese, silicon, seng, bismuth, timbal,
boron, nickel, titanium, chromium, vanadium, dan zirconium. Tujuan dari
penambahan elemen paduan salah satunya untuk meningkatkan sifat mekanis
aluminium.
3. PERLAKUAN PANAS
Perlakuan panas pada aluminium paduan dilakukan dengan memanaskan
sampai terjadi fase tunggal kemudian ditahan beberapa saat dan diteruskan
dengan pendinginan cepat hingga tidak sempat berubah ke fase lain. Jika
bahan tadi dibiarkan untuk jangka waktu tertentu maka terjadilah proses
penuaan (aging). Perubahan akan terjadi berupa presipitasi (pengendapan) fase
kedua yang dimulai dengan proses nukleasi dan timbulnya klaster atom yang
menjadi awal dari presipitat. Presipitat ini dapat meningkatkan kekuatan dan
kekerasannya.
Proses
ini
merupakan
proses age
hardening yang
disebut natural aging. Jika setelah dilakukan pendinginan cepat kemudian
dipanaskan lagi hingga di bawah temperatur solvus (solvus line) kemudian
ditahan dalam jangka waktu yang lama dan dilanjutkan dengan pendinginan
lambat di udara disebut proses penuaan buatan (artificial aging).
Proses dari pemanasan awal hingga pendinginan cepat disebut proses
perlakuan pelarutan (solution treatment), dan proses sesudahnya disebut
proses perlakuan pengendapan (precipitation treatment).
SYARAT PERLAKUAN PANAS
Adapun syarat dalam perlakuanpanas yang harus dipenuhi yaitu:
•
•
•
Suhu pemanasan harus naik secara teratur dan merata.
Alat ukur suhu hendaknya seteliti mungki.
Laju pendinginan sesuai dengan jenis perlakuan panas yang dilakukan.
JENIS ALUMINIUM PADUAN
Secara umum aluminium paduan dibagi menjadi aluminium tuang (cast)
dan wrought.
•
Aluminium
Paduan
Tuang
(Cast
Aluminum
Alloy)
Aluminium paduan tuang memiliki makna bahwa produk jadi aluminium
paduan dibuat dengan proses penuangan. Aluminium paduan tuang dibagi
menjadi dua jenis yaitu heat-treatable alloy dan non-heat-treatable alloy.
Aluminium
paduan
tuang
heat-treatable
mengalami solution
treating atau fully treating. Sedangkan aluminium paduan tuang non-heattreatable mengalami strain-hardening atau annealing.
Contoh material standar yang tergolong dalam aluminium paduan tuang:
Heat-treatable: Aluminum Association Number 295.0 dan 356.0; UNS
Number A02950 dan A03560.
•
Aluminium
Paduan Wrought (Wrought
Aluminum
Alloy)
Wrought aluminum alloy memiliki makna bahwa produk aluminium jenis
ini dikerjakan dengan proses rolling, tempa, dan ekstrusi. Wrought
aluminum alloy diklasifikasikan menjadi dua jenis yakni heat-treatable
alloy dan non-heat-treatable alloy (sama seperti aluminium paduan tuang).
Contoh material standar yang tergolong dalam wrought aluminum alloy:
o Heat-treatable: Aluminum Association Number 2024, 6061, dan
7075; UNS Number A92024, A96061, dan A97075.
o Non-heat-treatable: Aluminum Association Number 1100, 3003,
dan 5052; UNS Number A91100, A93003, dan A95052.
MEKANISME PENGERASAN
Untuk menjelaskan mekanisme terjadinya pengerasan, sebagai contoh
diambil untuk diagram fase Al-Cu. Dari diagram tampak bahwa kelarutan Cu
dalam Al menurun dengan menurunnya temperatur. Suatu paduan dengan 4 % Cu
mulai membeku di titik 1 dengan membentuk dendrit larutan padat a. Dan pada
titik 2 seluruhnya sudah membeku menjadi larutan padat a dengan 4 % Cu. Pada
titik 3 kelarutan Cu dalam Al mencapai batas jenuhnya, bila temperaturnya
diturunkan akan ada Cu yang keluar dari larutan padat a berupa CuAl2. Makin
rendah temperaturnya makin banyak Cu-Al yang keluar. Pada gambar struktur
mikro Al-Cu tampak partikel CuAl tersebar didalam matriks a.
Dengan pemanasan kembali sampai diatas garis solvus (titik 3) semua Cu
larut kembali di dalam a. Dengan pendingan cepat (quench) Cu tidak sempat
keluar dari a. Pada suhu kamar struktur masih tetap berupa larutan padat a fase
tunggal Sifatnyapun masih belum berubah. Masih tetap lunak dan sedikit ulet.
Dalam keadaan ini larutan dikatakan sebagai larutan yang lewat jenuh karena
mengadung solute yang melampaui batas jenisnya untuk temperatur itu. Setelah
beberapa saat larutan yang lewat jenuh ini akan mengalami perubahan kekerasan
dan kekuatan. Menjadi lebih kuat dan keras , tetapi struktur mikro tidak tampak
mengalami perubahan.
Penguatan ini terjadi karena timbulnya partikel CuAl2 (fase q) yang
berpresipitasi di dalam kristal a. Presipitat ini sangat kecil tidak tampak di
mikroskop (submicroscopic) dan akan menyebabkan terjadinya tegangan pada
lattis kristal a di sekitar presipitat ini . Karena presipitat tersebar merata didalam
lattis kristal. Maka dapat dikatakan seluruh lattis menjadi tegang mengakibatkan
kekuatan dan kekerasan menjadi lebih tinggi. Struktur mikro dari presipitasi AlCu dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Micrograph showing Cu rich GP zones in Al-4%Cu, aged for 6 hours at 180 °C.
Micrograph showing θ’ precipitates in Al-4%Cu, aged for 2 hours at 200 °C
Micrograph showing θ precipitates in Al-4%Cu, aged for 45 mins at 450 °C.
Gambar . Presipitasi Al-Cu
Aging dapat dilakukan dengan membiarkan larutan lewat jenuh itu pada
temperatur kamar selama beberapa waktu. Dinamakan natural aging atau dengan
memanaskan kembali larutan lewat jenuh itu ke temperatur di bawah garis solvus
dan dibiarkan pada temperatur tersebut selama beberapa saat. Dinamakan artficial
aging Bila aging temperatur terlalu tinggi dan atau aging time terlalu panjang
maka partikel yang terjadi akan terlalu besar (sudah mikroskopik) sehingga effek
penguatannya akan
menurun bahkan menghilang sama sekali, dan ini
dinamakan over aged.
Proses precipitation hardening atau hardening dapat dibagi menjadi beberapa
tahap yaitu:
1. Solution treatment, yaitu memanaskan paduan hingga diatas solvus line.
2. Mendinginkan kembali dengan cepat (quenching)
3. Aging, yaitu menahan pada suatu temperatur tertentu (temperatur kamar
atau temperatur dibawah solvus line) selang waktu tertentu.
Paduan Aluminium lainnya yang dapat di perlakukan panas sebagaimana diagram
fasa di bawah ini :
1) Paduan Al-Mg dengan kadar Mg kurang dari 17,1 % termasuk yang heat
treatable karena jika dipanaskan di atas garis solvus mampu mencapai fasa
tunggal.
2) Paduan Al-Si masuk kategori non heat tretable, tetapi untuk paduan Al-Si
dengan kadar Si kurang dari 1,6 sebagaimana diagram fasa di bawah ini
masih memungkinkan Al-Si mencapai fasa tunggal jika dipanaskan di atas
garis solvus. Berarti memungkinkan untuk di heat treatmen.
3) Paduan Al-Cu dengan kadar Cu kurang dari 5,65 % juga heat treatable.
REFERENSI
•
•
•
•
Abdillah, F. (2010). Perlakuan panas paduan Al-Si pada prototipe piston
berbasis material piston bekas (Doctoral dissertation, Diponegoro
University).
Mazzolani, F. (1994). Aluminium alloy structures. CRC Press.
Raharjo, W. P. (2008). Pengaruh Perlakuan Panas Terhadap Struktur
Mikro Dan Kekerasan Coran Paduan Al-Mg-Si. Mekanika, 7(1).
Raharjo, S., Abdillah, F., & Wanto, Y. (2011). Analisa Pengaruh
Pengecoran Ulang Terhadap Sifat Mekanik Paduan Alumunium ADC
12. Prosiding SNST Fakultas Teknik, 1(1).
Download