Uploaded by bangkityougapratama99

Laporan Makalah Anak Maternitas Terpadu Program KIA Pemberian Tablet Tambah Darah Bagi Ibu Hamil Dengan Anemia Di Puskesmas

advertisement
LAPORAN MAKALAH ANAK MATERNITAS TERPADU
PROGRAM KIA PEMBERIAN TABLET TAMBAH DARAH
BAGI IBU HAMIL DENGAN ANEMIA DI PUSKESMAS
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak Maternitas
Terpadu
D-III Keperawatan
DISUSUN OLEH:
Kelompok Maternitas
Rizqi Septian Rahmanda
Rahayu Nugraheni
Widya Rahmawati
Fikri Aji Pamadi
Risma Eko Pupasari
Muhammad Ridwan
Elvira Putri Salsabela
Bangkit Youga Pratama
Hardianti
(NIM. 201810300511011)
(NIM. 201810300511043)
(NIM. 201810300511039)
(NIM. 201810300511026)
(NIM. 201710300511075)
(NIM. 201810300511024)
(NIM. 201810300511045)
(NIM. 201810300511059)
(NIM. 201810300511017)
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2021
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “laporan
makalah Anak Maternitas Terpadu Program Program KIA pemberian Tablet 90
Fe pada ibu hamil dengan anemia di Puskesmas” dengan baik dan tepat pada
waktunya. Dalam penyusunan makalah ini mungkin ada hambatan, namun berkat
bantuan serta dukungan dari berbagai pihak dan bimbingan dari dosen
pembimbing. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat membantu proses
pembelajaran dan dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Kami juga
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, atas bantuan serta dukungan dan
doa nya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membaca
makalah ini dan dapat mengetahui tentang profesi keperawatan. Kami mohon
maaf apabila makalah ini mempunyai banyak kekurangan, karena keterbatasan
penulis yang masih dalam tahap pembelajaran. Oleh karena itu, kritik dan saran
dari pembaca yang sifatnya membangun, sangat diharapkan oleh kami dalam
pembuatan makalah selanjutnya. Semoga makalah sederhana ini bermanfaat bagi
pembaca maupun kami.
Malang, 8 Maret 2021
Penulis
2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................
KATA PENGANTAR ...........................................................................................
DAFTAR ISI ..........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan ...............................................................................................
1.3.1 Tujuan Umum ......................................................................................
1.3.2 Tujuan Khusus......................................................................................
1.4 Manfaat Penulisan .............................................................................................
1.4.1 Manfaat bagi Institusi Pendidikan Keperawatan ....................................
1.4.2 Manfaat bagi klien (Ibu Hamil) ..............................................................
1.4.3 Manfaat bagi penulis ..............................................................................
1.4.4 Manfaat bagi lembaga ............................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...........................................................................
2.1 Konsep Anemia ................................................................................................
2.1.1
Definisi Anemia Pada Kehamilan ........................................................
2.1.2
Penyebab Anemia pada Kehamilan .....................................................
2.1.3
Tanda dan Gejala Anemia pada Kehamilan .........................................
2.1.4
Dampak Anemia Pada Kehamilan .......................................................
2.1.5
Upaya Pencegahan Anemia Pada Kehamilan ......................................
2.1.6
Pedoman Gizi Pada Anemia Defisiensi Besi .......................................
2.2 Konsep Program Tablet Tambah Darah...........................................................
2.1.1
Definisi Tablet Tambah Darah .............................................................
2.1.2
Manfaat Tablet Tambah Darah ............................................................
2.1.3
Efek samping Pemberian Tablet Tambah Darah .................................
2.1.4
Dosis Pemberian Tablet Tambah Darah ..............................................
2.2 Program Pencegahan Anemia dengan Tablet Tambah Darah .........................
3
BAB III PEMBAHASAN .....................................................................................
BAB IV PENUTUP ...............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anemia merupakan masalah gizi yang perlu mendapat perhatian dan menjadi
salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang dapat dialami oleh
semua kelompok umur mulai dari Balita, remaja, ibu hamil sampai usia lanjut.
Anemia dapat disebabkan oleh berbagai hal antara lain defisiensi zat besi,
defisiensi vitamin B12, defisiensi asam folat, penyakit infeksi, faktor bawaan dan
pendarahan. Berdasarkan Riskesdas 2018, prosentase ibu hamil yang mengalami
anemia adalah 48.9%. Hal ini berarti sekitar 5 dari 10 ibu hamil di Indonesia
menderita anemia. Anemia pada ibu hamil akan berdampak terhadap tidak
optimalnya pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan serta
berpotensi
menimbulkan
komplikasi
kehamilan
dan
persalinan,
bahkan
menyebabkan kematian ibu dan anak (Kemenkes, 2020). Anemia merupakan
salah satu masalah gizi yang paling lazim di dunia dan menjangkiti lebih dari 600
juta manusia, prevalensi anemia secara global adalah sekitar 51%. WHO
melaporkan bahwa terdapat 52% ibu hamil mengalami anemia di negara
berkembang. WHO menetapkan klasifikasi prevalensi kadar hemoglobin untuk
penentuan status anemia (WHO, 2016) dalam suatu kelompok umur (masyarakat)
yang ada di suatu wilayah dan dalam jangka waktu tertentu per konstanta 100
individu untuk menyatakan prevalensinya adalah ; < 15 %, dikatakan mempunyai
prevalensi rendah dan diinterpretasikan sebagai kelompok masyarakat yang tidak
bermasalah dengan anemia gizi: 15 – 40% dikatakan prevalensi sedang dan di
interpretasikan sebagai kelompok masyarakat yang mempunyai masalah (ringan –
sedang) dengan anemia gizi sedangkan 40% ,dikatakan mempunyai prevalensi
tinggi dan diinterpretasikan sebagai kelompok masyarakat yang mempunyai
masalah berat dengan anemia gizi. Di Indonesia, prevalensi anemia pada
kehamilan masih tinggi yaitu sekitar 24,5% (Khoiriah, 2020).
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Kesehatan untuk mengatasi
anemia ibu hamil antara lain pemberian tablet besi pada ibu hamil secara rutin.
Cakupan ini belum mencapai standar nasional sebesar 90%, maka perlu dilakukan
5
upaya untuk mencapai target yang ditetapkan tersebut.Belum diketahui faktor
penyebab belum tercapainya target program suplementasi Fe. Salah satu masalah
gizi yang banyak terjadi pada ibu hamil merupakan anemia gizi, yang merupakan
masalah gizi mikro terbesar dan tersulit diatasi di seluruh dunia. World Health
Organization (WHO) melaporkan bahwa terdapat 52% ibu hamil mengalami
anemia di negara berkembang. Di Indonesia (Susenas dan Survei Depkes Unicef)
dilaporkan bahwa dari sekitar 4 juta ibu hamil, separuhnya mengalami anemia gizi
dan satu juta lainnya mengalami kekurangan energi kronis (Khoiriah, 2020).
Suplementasi besi atau pemberian tablet besi merupakan salah satu strategi
pencegahan dan penanggulangan anemia gizi yang paling efektif meningkatkan
kadar hemoglobin terutama pada ibu hamil. Upaya ini telah direkomendasikan
secara universal di negara-negara berkembang. Sejak tahun 1970-an, program
program pemberian tablet telah di buktikan hasilnya di beberapa negara, dengan
pemberian tablet Fe dapat menurunkan prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar
20-25% Zat besi merupakan mikro elemen esensial bagi tubuh yang diperlukan
dalam sintesa hemoglobin dimana untuk mengkonsumsi tablet Fe sangat berkaitan
dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil (Khoiriah, 2020).
Anemia sering terjadi akibat defisiensi zat besi karena pada ibu hamil terjadi
peningkatan kebutuhan zat besi dua kali lipat akibat peningkatan volume darah
tanpa ekspansi volume plasma, untuk memenuhi kebutuhan ibu (mencegah
kehilangan darah pada saat melahirkan) dan pertumbuhan janin. Penyebab utama
anemia pada ibu hamil dikarenakan defisiensi besi, di Thailand bahwa (43,1%),
Tanzania kejadian defisiensi zat besi (p = 0,03), vitamin A (p =0,004) dan status
gizi (LILA) (p = 0,003). Anemia pada saat kehamilan menjadi factor utama
terjadinya kematian janin, abortus, cacat bawaan, berat bayi lahir rendah,
cadangan zat besi yang berkurang pada anak atau anak lahir dalam keadaan
anemia gizi (Khoiriah, 2020).
Program pencegahan anemia pada ibu hamil di Indonesia dengan memberikan
suplemen tablet Fe sebanyak 90 tablet selama masa kehamilan. Kebanyakan ibu
hamil yang menolak atau tidak mematuhi anjuran ini karena berbagai alasan
Kepatuhan mengkonsumsi tablet Fe dikatakan baik apabila ibu hamil
mengkonsumsi semua tablet Fe yang diberikan selama kehamilan. Kepatuhan ibu
6
hamil mengkonsumsi tablet Fe merupakan faktor penting dalam menjamin
peningkatan kadar hemoglobin ibu hamil. Tablet Fe sebagai suplemen yang
diberikan pada ibu hamil menurut aturan harus dikonsumsi setiap hari. Selain itu
pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada ibu hamil merupakan salah satu
pelayanan gizi yang harus tetap dilakukan. Hal ini untuk mencukupi kebutuhan
zat besi selama kehamilan yang diperlukan untuk pertumbuhan janin, plasenta dan
pencegahan pendarahan saat persalinan. Selain itu, kebutuhan zat besi pada ibu
hamil meningkat 25% dibandingkan ibu tidak hamil (Agustina, 2019).
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk membuat laporan
makalah Anak Maternitas Terpadu “Program KIA Pemberian Tablet Tambah
Darah (TTD) Bagi Ibu Hamil Dengan Anemia Di Puskesmas”. Laporan ini
diharapkan dapat berguna sebagai sumber dan natinya akan membantu
menurunkan kejadian anemia pada ibu hamil.
1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang yang sudah dijelaskan di atas, maka rumusan
masalah dalam penulisan laporan makalah ini adalah Program KIA Pemberian
Tablet Tambah Darah (TTD) Bagi Ibu Hamil Dengan Anemia Di Puskesmas?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah
ingin mengetahui Program KIA Pemberian Tablet Tambah Darah (TTD)
Bagi Ibu Hamil Dengan Anemia Di Puskesmas.
1.3.2 Tujuan Khusus
a.
Tersedianya pedoman bagi tenaga kesehatan dalam pelaksanaan
pemberian Tablet Tambah Darah pada ibu hamil dan dapat
digunakan sebagai acuan koordinasi dengan lintas program dan
lintas sektor terkait.
b.
Untuk mengetahui tujuan Program pemberian tablet tambah darah
pada ibu hamil
c.
Untuk Mengetahui Upaya Peningkatan Konsumsi pada Ibu Hamil
d.
Untuk mengetahui pelaksanaan program pemberian tambah darah
pada ibu hamil
7
e.
Untuk mengetahui Pelayanan Pemberian Tablet Tambah Darah
Pada Ibu Hamil
f.
Untuk mengetahui kendala pelaksanaan Program Terkait TTD
untuk Ibu Hamil
g.
Untuk mengetahui evaluasi pelayanan program pemberian tambah
darah pada ibu hamil
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Manfaat bagi Institusi Pendidikan Keperawatan
Hasil penulisan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi mahasiswa
yang akan mengadakan praktik klinik anak maternitas terpadu puskesmas
berkaitan dengan Program KIA Pemberian Tablet Tambah Darah Bagi Ibu
Hamil Dengan Anemia Di Puskesmas.
1.4.2
Manfaat bagi klien (Ibu Hamil)
Manfaat penulisan laporan makalah ini bagi klien/ibu hamil dapat
mengetahui Program KIA Pemberian Tablet Tambah Darah Bagi Ibu Hamil
Dengan Anemia Di Puskesmas
1.4.3 Manfaat bagi Penulis
Menambah wawasan bagi penulis agar dapat lebih memahami tentang
Program KIA Pemberian Tablet Tambah Darah Bagi Ibu Hamil Dengan
Anemia Di Puskesmas dan penulis dapat memperoleh pengalaman dalam
melaksanakan Praktik klinik keperawatan khususnya di departemen Anak
maternitas terpadu selama perkuliahan tentang Program KIA Pemberian
Tablet Tambah Darah Bagi Ibu Hamil Dengan Anemia Di Puskesmas.
1.4.4 Manfaat bagi lembaga (Puskesmas)
Manfaat laporan makalah ini bagi pelayanan kesehatan khususnya di
lingkup puskesmas yaitu sebagai acuan dan referensi mengenai Program
KIA Pemberian Tablet Tambah Darah Bagi Ibu Hamil Dengan Anemia Di
Puskesmas.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Konsep Anemia Pada Ibu Hamil
2.1.1 Definisi Anemia Pada Kehamilan
Anemia
pada
kehamilan
adalah
dimana
kondisi
ibu
kadar
haemoglobinnya dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar
dibawah 10,5 gr% pada trimester II. Anemia defisiensi besi pada wanita
merupakan problema kesehatan yang dialami oleh wanita diseluruh dunia
terutama dinegara berkembang (Aminin & Utami, 2017).
Menurut kemenkes (2020) anemia pada kehamilan adalah suatu kondisi
tubuh dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah lebih rendah
dari standar yang seharusnya. Ibu hamil dikatakan anemia apabila
kandungan Hb < 11 gr/dl (Kemenkes, 2020).
2.1.2 Penyebab Anemia Pada Kehamilan
Menurut (Rahmiati, 2019) pada umumnya, penyebab anemia pada
kehamilan adalah:
a. Kurang zat besi
Kebutuhan zat besi pada trimester II dan III tidak dapat dipenuhi dari
mengkonsumsi makanan saja, walaupun makanan yang dikonsumsi
memiliki kualitas yang baik ketersediaan zat besi yang tinggi. Peningkatan
kebutuhan zat besi meningkat karena kehamilan. Sebagian kebutuhan zat
besi dapat dipenuhi oleh simpanan zat besi dan presentase zat besi yang
diserap, namun apabila simpanan zat besi rendah atau zat besi yang diserap
sedikit maka diperlukan suplemen preparat zat besi agar ibu hamil tidak
mengalami anemia.
b. Ibu yang mempunyai penyakit kronik
Ibu yang memiliki penyakit kronik mengalami inflamasi yang lama
dan dapat mempengaruhi produksi sel darah merah yang sehat. Ibu hamil
dengan penyakit kronis lebih berisiko mengalami anemia akibat inflamasi
dan infeksi akut.
9
c. Kehilangan banyak darah saat persalinan sebelumnya
Perdarahan yang hebat dan tiba-tiba seperti perdarahan saat persalinan
merupakan penyebab tersering terjadinya anemia, jika kehilangan darah
yang abnyak, tubuh segera menarik cairan dari jaringan diluar pembuluh
darah agar darah dalam pembuluh darah tetap tersedia. Banyak kehilangan
darah saat persalinan akan mengakibatkan anemia. Dibutuhkan waktu
untuk memulihkan kondisi fisiologis ibu dan memenuhi cadangan zat besi
ibu hamil.
d. Jarak kehamilan
Hasil penelitian dari (Margirizki & Sumarmi, 2019) menyatakan
kematian terbanyak terjadi pada ibu dengan prioritas 1 sampai 3 anak dan
jika dilihat menurut jarak kehamilan ternyata jarak kurang dari 2 tahun
menunjukkan kematian maternal lebih banyak. Jarak kehamilan yang
terlalu dekat dapat menyebabkan ibu mempunyai waktu singkat untuk
memulihkan kondisi rahimnya agar bisa kembali ke kondisi sebelumnya.
Pada ibu hamil dengan jarak yang terlalu dekat dapat menyebabkan resiko
terjadi anemia dalam kehamilan. Dibutuhkan waktu untuk memulihkan
kondisi fisiologis ibu adalah dua tahun. Karena cadangan zat besi ibu
hamil belum pulih. Akhirnya berkurang untuk keperluan janin yang
dikandungnya.
e. Paritas
Hasil penelitian (Anggraeni, 2016) menyatakan paritas merupakan
salah satu faktor penting dalam kejadian anemia pada ibu hamil. Ibu hamil
dengan paritas tinggi mempunyai resiko lebih besar untuk mengalami
anemia dibandingkan dengan paritas rendah. Adanya kecenderungan
bahwa semakin banyak jumlah kelahiran (paritas), maka akan semakin
tinggi angka kejadian anemia.
f. Ibu dengan hamil gemeli dan hidramnion
Derajat perubahan fisiologis maternal pada kehamilan gemeli lebih
besar dari pada dibandingkan kehamilan tunggal. Pada kehamilan gemeli
yang dikomplikasikan dengan hidramnion, fungsi ginjal maternal dapat
mengalami komplikasi yang serius dan besar. Peningkatan volume darah
10
juga lebih besar pada kehamilan ini. Rata-rata kehilangan darah melalui
persalinan pervaginam juga lebih banyak.
2.1.3 Tanda dan Gejala Anemia Pada Kehamilan
Penderita anemia biasanya ditandai dengan mudah lelah, letih, lesu,
nafas pendek, muka pucat, susah berkosentrasi serta fatique atau rasa lelah
yang berlevuhan. Gejala ini disebabkan karena otak dan jantung mengalami
kekurangan distribusi oksigen dari dalam darah. Denyut jantung biasanya
kebih cepat karena berusaha untuk mengkompensasi kekurangan oksigen
dengan memompa darah lebih cepat. Akibatnya kemampuan kerja dan
kebugaran tubuh akan berkurang. Jika kondisi ini berlangsung lama, kerja
jantung menjadi berat dan bisa menyebabkan gagal jantung kongestif
(Purnamasari, 2016).
Menurut Kemenkes (2020) tanda anemia adalah pucat (lidah, bibir
dalam, muka, telapak tangan), mudah letih, detak jantung lebih cepat, apatis,
pusing, mata berkunang-kunang dan mengantuk (Kemenkes, 2020).
2.1.4 Dampak Anemia Pada Kehamilan
Anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil ini dapat menimbulkan
dampak besar bagi kehamilan terjadi abortus, persalinan pre-maturitas,
hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi,
perdarahan antepartum, ketuban pecah dini (KPD), saat persalinan dapat
mengakibatkan gangguan His, kala pertama dapat berlangsung lama, dan
terjadi partus terlantar, dan pada kala nifas terjadi subinvolusi uteri
menimbulkan perdarahan pospartum, memudahkan infeksi puerperium, dan
pengeluarkan AS1 berkurang (Risnawati & Hanung, 2015).
2.1.5 Upaya Pencegahan Anemia Pada Kehamilan
Kebutuhan zat besi selama kehamilan meningkat karena digunakan
untuk pembentukan sel dan jaringan baru termasuk jaringan otak pada janin.
Zat besi merupakan unsur penting dalam pembentukan hemoglobin pada sel
darah merah. Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen dan
menghantarkan oksigen ke seluruh sel jaringan tubuh, termasuk otot dan
otak. Bila seorang ibu hamil kekurangan hemoglobin, maka ibu hamil
dikatakan mengalami anemia atau kurang darah. Upaya pencegahan anemia
11
pada masa kehamilan dapat dilakukan oleh ibu hamil dengan meningkatkan
asupan zat besi melalui makanan, konsumsi pangan hewani dalam jumlah
cukup dan mengurangi konsumsi makanan yang bisa menghambat
penyerapan zat besi seperti: fitat, fosfat, tannin. Suplemen tablet zat besi
yang diberikan minimal 90 tablet untuk memenuhi kebutuhan zat besi pada
ibu hamil juga perlu untuk diminum secara tepat. Dukungan lingkungan
seperti keluarga serta kelompok. ibu hamil juga diperlukan pada upaya
penurunan kejadian anemia. Dukungan sosial dari keluarga akan
mempengaruhi persepsi dan keyakinan ibu hamil sehingga meningkatkan
perilaku untuk mencegah anemia. Bentuk dukungan keluarga pada ibu hamil
untuk mencegah anemia seperti pemberian keyakinan kemampuan ibu untuk
minum tablet tambah darah secara teratur, mengingatkan untuk makan
makanan bergizi keluarga memberikan contoh dengan makan makanan
bergizi dan menjaga kebersihan diri. Dukungan dari sesama ibu hamil dapat
diberikan selama kelas kehamilan atau menghadiri perawatan antenatal
(Wahyuni, 2018).
2.1.6 Pedoman Gizi Pada Anemia Defisiensi Besi
Kebutuhan besi pada ibu hamil dapat diketahui dengan mengukur kadar
hemoglobin. Kadar Hb < 11 mg/dL sudah termasuk kategori anemia
defisiensi besi. Namun pengukuran yang lebih spesifik dapat dilakukan
dengan mengukur kadar feritin, karena walaupun kadar Hb normal belum
tentu kadar feritin tubuh dalam keadaan normal. Kadar feritin memberikan
gambaran cadangan besi dalam tubuh. Beberapa hal yang bisa dipakai
sebagai
pedoman
untuk
mencukupi
kebutuhan
besi
antara
lain
(Agustyaningsih, 2017) :
a.
Pemberian suplement Fe untuk anemia berat dosisnya adalah 4-6mg/Kg
BB/hari dalam 3 dosis terbagi. Untuk anemia ringan-sedang : 3 mg/kg
BB/hari dalam 3 dosis terbagi
b.
Mengatur pola diet seimbang berdasarkan piramida makanan sehingga
kebutuhan makronutrien dan mikronutrien dapat terpenuhi.
c.
Meningkatkan konsumsi bahan makanan sumber besi terutama dari
protein hewani seperti daging, sehingga walaupun tetap mengkonsumsi
12
protein nabati diharapkan persentase konsumsi protein hewani lebih
besar dibandingkan protein nabati.
d.
Meningkatkan konsumsi bahan makanan yang dapat meningkatkan
kelarutan dan bioavailabilitas besi seperti vitamin C yang berasal dari
buah-buahan bersama-sama dengan protein hewani.
e.
Membatasi konsumsi bahan makanan yang dapat menghambat absorpsi
besi seperti bahan makanan yang mengandung polifenol atau pitat.
f.
Mengkonsumsi suplemen besi ferro sebelum kehamilan direncanakan
minimal tiga bulan sebelumnya apabila diketahui kadar feritin rendah.
Semua pedoman di atas dilakukan secara berkesinambungan karena
proses terjadinya defisiensi besi terjadi dalam jangka waktu lama,
sehingga untuk dapat mencukupi cadangan besi tubuh harus dilakukan
dalam jangka waktu lama pula.
2.2
Konsep Program Tablet Tambah Darah
2.2.1 Definisi Tablet Tambah Darah
Tablet tambah darah atau TTD merupakan suplemen zat gizi yang
mengandung 60 mg besi elemental dan 0,25 asam folat. TTD bila diminum
secara teratur dan sesuai aturan dapat mencegah dan menanggulangi anemia
gizi. Suplemen tablet tambah darah diberikan untuk menghindari remaja
putri dari anamia besi (Kemenkes, 2020).
2.2.2 Manfaat Tablet Tambah Darah
Dalam kondisi kebutuhan zat besi tidak terpenuhi dari makanan, pilihan
untuk memberikan zat besi guna mencegah atau menanggulangi anemia
menjadi sangat bermanfaat. Tablet tambah darah di butuhkan oleh ibu hamil
untuk memperbaiki status zat besi secara cepat, sebagai strategi dan dapat
mengurangi resiko terjadinya kekurangan zat besi. Jika ibu kekurangan zat
besi selama hamil, maka persediaan zat besi pada bayi saat dilahirkan pun
tidak akan memadai, padahal zat besi sangat dibutuhkan untuk
perkembangan otak bayi di awal kelahirannya. Kekurangan zat besi sejak
sebelum hamil bila tidak teratasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita
anemia, mempengaruhi pertumbuhan janin saat lahir, berat badan lahir
13
rendah (BBLR). Akibat lain dari anemia defesiensi besi selama hamil adalah
bayi lahir premature (Susiloningtyas, 2020).
2.2.3 Efek samping Pemberian Tablet Tambah Darah
Suplemen oral zat besi dapat menyebabkan mual, muntah, kram
lambung, nyeri ulu hati, dan konstipasi (kadang-kadang diare). Namun
derajat mual yang ditimbulkan oleh setiap preparat tergantung pada jumlah
element zat besi yang diserap Takaran zat besi diatas 60 mg dapat
menimbulkan efek samping yang tidak dapat diterima pada ibu hamil
sehingga terjadi ketidakpatuhan dalam pemakaian tablet zat besi dengan
dosis rendah lebih cenderung ditoleransi (dan diminum) dari pada dosis
tinggi (Susiloningtyas, 2020).
2.2.4 Dosis Pemberian Tablet Tambah Darah
Pemberian tablet tambah darah selama kehamilan merupakan salah
satu cara yang paling cocok bagi ibu hamil untuk meningkatkan kadar Hb
sampai tahap yang diinginkan, karena sangat efektif dimana satu tablet
mengandung 60 mg Fe. Setiap tablet setara dengan 200 mg ferrosulfat.
Selama kehamilan minimal diberikan 90 tablet sampai 42 minggu setelah
melahirkan diberikan sejak pemeriksaan ibu hamil pertama (Ariesta, 2016).
b.
Pemberian tablet tambah darah lebih bisa ditoleransi jika dilakukan
pada saat sebelum tidur malam
c.
Pemberian tablet tambah darah harus dibagi serta dilakukan dengan
interval sedikitnya 6-8 jam, dan kemudian interval ini ditingkatkan
hingga 12 atau 24 jam jika timbul efek samping
d.
Muntah dan kram perut merupakan efek samping dan sekaligus tanda
dini toksitasi zat besi, keduanya ini menunjukan perlu mengubah
(menurunkan) dosis zat besi dengan segera.
e.
Minum tablet tambah darah pada saat makan atau segera sesudah
makan selain dapat mengurangi gejala mual yang menyertainya tetapi
juga akan menurunkan jumlah zat besi yang diabsorpsi.
2.2.5 Cara Minum Tablet Tambah Darah
Berikut cara minum Tablet Tambah Darah bagi ibu hamil dengan baik
dan benar Menurut Government of South Australia (2017) :
14
a. Jangan minum tablet tambah darah bersamaan dengan susu, teh, tablet
calcium, karena akan mengahambat penyerapan zat besi.
b. Kesamaan tablet tambah darah yang telah dibuka agar ditutup kembali
dengan rapat.
c. Tablet tambah darah yang sudah berubah warna jangan diminum.
d. Ikuti petunjuk yang diberikan dokter Anda tentang berapa tablet yang
harus Anda minum dan waktu meminumnya
e. Telan tablet zat besi bulat-bulat, jangan dihancurkan atau dikunyah
f. Zat besi paling baik diminum waktu perut kosong (satu jam sebelum atau
dua jam sesudah makan) dengan segelas air atau jus. Vitamin C dalam
jus buah dapat membantu lebih banyak zat besi menyerap dalam tubuh
tetapi tidak harus – air sudah cukup.
g. jangan menelan tablet atau cairan zat besi dengan teh, kopi, susu, coklat,
cola atau anggur karena minuman-minuman ini akan mengurangi jumlah
serapan zat besi ke dalam tubuh Anda.
h. jangan minum obat-obatan berikut bersamaan dengan tablet atau cairan
zat besi – kalsium; antacids (seperti Mylanta dan Gaviscon); beberapa
obat untuk osteoporosis, tiroid atau Parkinson; beberapa antibiotik.
Tanyakan dokter atau apoteker Anda berapa jam selang waktu yang
dibutuhkan untuk minum obat-obatan ini dan zat besi.
2.3
Program Pemerintah dalam Mencegah Anemia
Pada kasus anemia, pemerintah telah mengupayakan penanggulangan
masalah anemia pada ibu hamil dengan melakukan pembagian Tablet Tambah
Darah (TTD) atau tablet zat besi (Fe). Pemberian TTD sebanyak 90 tablet
merupakan salah satu komponen pelayanan kesehatan ibu hamil sebagaimana
dijelaskan dalam Profil Kesehatan Republik Indonesia. Pencegahan anemia gizi
pada ibu hamil dilakukan dengan memberikan minimal 90 Tablet Tambah Darah
(TTD) selama kehamilan dan dimulai sedini mungkin. Pemberian TTD setiap hari
selama kehamilan dapat menurunkan risiko anemia maternal 70% dan defisiensi
besi 57%. Sedangkan untuk pengobatan anemia mengacu pada Pedoman
Penatalaksanaan Pemberian Tablet Tambah Darah (Kemenkes, 2015).
Program pemerintah saat ini, setiap ibu hamil mendapatkan tablet besi 90
tablet selama kehamilannya. Tablet besi yang diberikan mengandung FeSO4 320
15
mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 0,25 mg. Program tersebut bertujuan
mencegah dan menangani masalah anemia pada ibu hamil. Adapun program
pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan dalam mencegah anemia
meliputi Pemberian tablet besi pada ibu hamil secara rutin sebanyak 90 tablet
untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara tepat. Tablet besi untuk ibu hamil
sudah tersedia dan telah didistribusikan ke seluruh provinsi dan pemberiannya
dapat melalui Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu dan Bidan di Desa.
Dan secara teknis diberikan setiap bulan sebanyak 30 tablet (Susiloningtyas,
2020).
16
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, W. (2019). PERBANDINGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU
HAMIL YANG MENGKOMSUMSI TABLET BESI DENGAN DAN
TANPA VITAMIN C DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LANGSA
LAMA TAHUN 2019. Jurnal Nasional Ilmu Kesehatan.
Agustyaningsih. (2017). Efektifitas Program Pembelajaran Kelas Ibu Hamil
terhadap Pengetahuan Gizi,Status Anemia, KEK, dan BBLR di Kecamatan
Grogol Kabupaten Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta, 3542.
Aminin, F., & Utami, D. (2017). Kepatuhan Ibu Hamil Mengkonsumsi Tablet Fe
di Kota Tanjungpinang Tahun 2017. JURNAL NERS DAN KEBIDANAN.
Anggraeni. (2016). ‘Hubungan Tingkat Kepatuhan Ibu Hamil dalam Konsumsi
Tablet Fe dengan Kejadian. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 80-92.
Angraini, D. I., Karyus, A., Kania, S., Sari, M. I., & Imantika, E. (2020).
Penerapan eKIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Elektronik) Dalam
Upaya Meningkatkan Kesehatan Ibu Hamil Di Era New Normal. Jurnal
pengabdian Masyarakat, 1-4.
Ariesta, N. (2016). Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Kepatuhuan
Mengkonsumsi Tablet Tambah Darah. Jurnal Obstretika Scientia, 381400.
Dainur. (2010). Materi-Materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Widya
Medika.
Dina Dewi Anggraini, W. P. (2018). INTERAKSI IBU HAMIL DENGAN
TENAGA KESEHATAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP
KEPATUHAN IBU HAMIL MENGONSUMSI TABLET BESI (Fe)
DAN ANEMIA DI PUSKESMAS KOTA WILAYAH SELATAN KOTA
KEDIRI. 82-89.
Kemenkes. (2015). Profil Kesehatan Indonesia 2015. Jakarta: Kementrian
Kesehatan RI.
Kemenkes. (2019). Data Dasar Puskesmas. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.
Khoiriah, A. (2020). FAKTOR–FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN
KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS
MAKRAYU PALEMBANG. Jurnal Kebidanan UM. Mataram, 43-50.
17
Margirizki & Sumarmi. (2019). Analisa Program Tablet Tambah Darah untuk Ibu
Hamil di Kota Bogor. Media Gizi Kesmas, 19-26.
Purnamasari. (2016). Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap kepatuhan ibu
hamil dalam mengkonsumsi. Jurnal Kebidanan dan Ilmu Kesehatan, 4963.
Rahmiati, B. F. (2019). STRATEGI PERBAIKAN PROGRAM TABLET
TAMBAH DARAH DI KABUPATEN TASIKMALAYA. Jurnal
Kebidanan, 53-59.
Risnawati, & Hanung. (2015). Dampak Anemia Kehamilan Terhadap Perdarahan
Post Partum. Jurnal Imu Keperawatan dan Kebidanan, 57-67.
Susiloningtyas, I. (2020). PEMBERIAN ZAT BESI (Fe) DALAM
KEHAMILAN. Staf Pengajar Prodi D III Kebidanan Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas.
Syafrudin, & Hamidah. (2010). Kebidanan komunitas. Jakarta: Buku kedokteran
EGC.
Wahyuni. (2018). Efektifitas Pendampingan Minum Tablet Tambah Darah (TTD)
oleh Kader Posyandu. Jurnal Surya Medika, 82-94.
Wijhati, E. R. (2019). Pemanfaatan buku Kesehatan Ibu dan Anak pada ibu hamil
di puskesmas. Jurnal Kebidanan dan Keperawatan 'Aisyiyah, 46-53.
18
Download