Uploaded by User98559

(20+) Lamongan berkibar – Posts Facebook

advertisement
4
9+
Lamongan berkibar
Community
Home
About
Photos
Send Message
Videos
More
Like
Lamongan berkibar
22 August 2013 ·
Napak Tilas Sejarah Jawa di Masa Lalu
Akar peradaban Jawa berawal dari Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat (4Ms) dan Kerajaan
Kanjuruhan (6Ms) di Jawa Timur. Dua kerajaan tertua di Jawa ini selanjutnya diikuti oleh
lahirnya sebuah kerajaan besar yaitu Kerajaan Mataram Kuno (Wangsa Syailendra dan Sanjaya)
di Jawa Tengah (8Ms) yang telah melahirkan sebuah karya agung Candi Borobudur dan Candi
Prambanan. Pada masa itu betapa kita telah disuguhi teknologi arsitektur luar biasa dan
suasana harmonis masyarakat yang plural (Hindu - Budha). Saya meyakini bahwa di dalam
“layout” Candi Borobudur tersimpan rahasia “cakra bumi”, semacam penyeimbang alam Pulau
Jawa untuk mereduksi ketimpangan energi yang dapat berakibat bencana alam. Sedangkan
kawasan Candi Prambanan masih menyisakan misteri tingginya peradaban kerajaan Ratu
Boko.
Peradaban “tengah” pun berpindah ke “timur” menjadi Kerajaan Medang (10Ms) yang
dipimpin oleh Mpu Sindok. Era ini telah menjadi titik balik bangkitnya kerajaan-kerajaan Jawa
Timur, yaitu Kadiri dan Jenggala (11Ms), Singhasari dan Majapahit (13Ms). Secara khusus
perihal Kerajaan Majapahit, Kitab Negarakertagama telah merekam betapa teratur dan
tingginya peradaban Majapahit. Bahasa Sanskrit yang digunakan pada masa itu adalah bahasa
yang mencerminkan budaya masyarakat yang sangat tinggi. Lambang “Surya Majapahit”
mencerminkan suatu “cakra bumi” yang menjaga Pulau Jawa dan Nusantara secara
keseluruhan agar tetap harmoni. Ini adalah suatu bentuk teknologi masa lalu yang masih
belum terpecahkan hingga kini. Armada laut Majapahit pada masa Patih Gajah Mada adalah
yang terbaik di Asia Tenggara. Itu bukan omong kosong karena terbukti armada China tidak
pernah mampu menembus Asia Tenggara, padahal Eropa saja mampu mereka taklukkan.
Kehancuran Majapahit selain karena faktor kegagalan suksesi adalah faktor pemberontakan
Kerajaan Demak oleh Raden Patah (Jim Bun), putera Prabu Brawijaya V dengan Putri China
pada tahun 1478 atau 1400 Saka (Sirna Ilang Kertaning Bumi). Tidak dapat dipungkiri bahwa
peran Walisanga, para ulama dari negeri China, khususnya Sunan Giri Kedaton amatlah besar
dalam mendirikan dan membesarkan Demak. Kata Walisanga yang selama ini diartikan
sembilan (sanga) wali, ternyata masih memberikan celah untuk versi penafsiran lain. Sebagian
sejarahwan berpendapat bahwa kata ‘sanga‘ berasal dari kata ‘tsana‘ dari bahasa Arab, yang
berarti mulia, yang di-gothak-gathuk menjadi “songo” (sembilan) dalam Bahasa Jawa.
Sedangkan kata Sunan yang menjadi panggilan para anggota Walisanga, dipercaya berasal
dari dialek Hokkian ‘Su‘ dan ‘Nan‘, kependekan dari kata ‘Suhu’ yang berarti guru atau wali
mazhab Hanafi dan ‘Nan’ yang berarti berarti selatan atau Tiongkok Selatan (Champa).
Fenomena runtuhnya satu kerajaan besar dan berganti dengan kerajaan besar lainnya adalah
hal yang biasa terjadi dalam suatu peradaban masyarakat. Namun yang terjadi antara
Majapahit vs Demak adalah sesuatu yang berbeda. Serat Darmogandhul menuliskan sebuah
sindiran yang menyiratkan adanya suatu gerakan “pemusnahan” mutiara-mutiara budaya lokal
berganti dengan budaya ke-arab-an. Pemusnahan ini oleh para Walisanga diterapkan dalam
dua cara yang berbeda, yang satu secara paksa dan cara lainnya adalah secara halus. Dua cara
yang berbeda ini bahkan memicu pertentangan di kubu Walisanga sendiri, khususnya Sunan
Giri (Putihan) dan Sunan Kalijaga (Abangan).
Saya tidak ingin membuat justifikasi motif Sunan Kalijaga dalam mengembangkan syiar
dengan menggunakan cara asimilasi budaya-budaya lokal, namun dalam kenyataannya,
banyak sekali warisan budaya terdahulu yang dirubah dan diberi label baru. Dan perlahan
namun pasti, cara ini telah menghasilkan suatu degradasi budaya yang signifikan. Dalam
perkembangan era pasca Demak, degradasi budaya terus berlangsung satu per satu. Mulai
dari bergantinya penggunaan Bahasa Sanskrit menjadi Bahasa Kawi dan lalu menurun lagi
menjadi Bahasa Jawa. Kesenian arsitektur seperti teknologi sekelas candi pun hilang tak
berbekas berganti dengan gaya arsitektur “joglo”, dan yang lebih parah adalah ajaran-ajaran
dan falsafah Jawadwipa yang teramat dalam, berganti menjadi falsafah Jawa baru yang kian
memasung kebebasan spiritualitas.
Dalam era Kesultanan Mataram Islam (17Ms), Panembahan Senopati telah melahirkan suatu
“budaya baru” yang saya sebut “sakralisasi mitologi keraton”. Demi memperoleh dan
melanggengkan kekuasaan, Panembahan Senopati mengkonstruksi berbagai mitologimitologi Jawa yang dapat digunakan untuk menambah efek “sakral” dalam entitas keraton.
Beberapa yang pengaruhnya masih kuat hingga sekarang adalah mitos Ratu Kidul dan Eyang
Merapi. Sebenarnya kultur mistik atau mitologi semacam ini sudah ada sejak dulu dalam
bentang peradaban Jawa, namun dunia mistik tidak dipandang sebagai sesuatu yang
“menakutkan” bagi masyarakat awam, misalnya pada jaman Mataram Kuno maupun
Majapahit, sosok makhluk “asura” atau “dwarapala” atau semacam bangsa jin, dipandang
biasa-biasa saja. Patung-patung dwarapala dengan taring panjang dan mata mendelik adalah
pemandangan yang biasa. Contoh lain adalah senjata keris yang dipandang lebih objektif
pada masa Jawa Kuno, tetapi menjadi barang sakral pada era Jawa Baru. Masyarakat Jawa
menjadi kian terpasung oleh sakralisasi mitologi, apalagi sakralisasi segala yang berhubungan
entitas keraton. Sakralisasi budaya keraton menjadi semacam agen kekuasaan dan status quo.
Kultur sakralisasi mitologi keraton, ibarat memiliki dampak “bola salju” yang menggelinding
dalam masyarakat Jawa, menyebar dari Jawa Tengah (Mataraman) hingga ke pelosok-pelosok
Jawa Timur dan Jawa Barat. Kultur inilah yang ditangkap oleh pemerintah kolonial dan
digunakan sebagai senjata untuk membodohi rakyat pribumi dengan berbagai tahayultahayul yang berkembang turun temurun hingga hari ini. Wajah peradaban Jawa yang dulunya
sarat dengan nilai-nilai spiritualitas, pun kian terdegradasi dengan citra perklenikan dan
perdukunan.
Bagaimanapun lekuk-lekuk budaya dalam suatu peradaban adalah fenomena yang wajar,
namun adalah menjadi tidak wajar bila budaya itu menjadi “mandeg” dan tidak lagi dinamis.
Artinya masyarakat dibelenggu oleh budaya sehingga ia tidak mampu lagi menghasilkan
budaya yang lebih baik. Pada saat itulah degradasi kualitas peradaban terjadi secara pasti.
Siapapun tokoh pendahulu kita, Gajah Mada, Prabu Jayabaya, Prabu Siliwangi, Panembahan
Senopati hanyalah pemain-pemain peradaban pada era mereka dengan segala pernak-pernik
hitam dan putih. Maka tentu tidak bijaksana bila kita menjustifikasi secara hitam putih bahwa
kondisi bangsa kita hari ini adalah akibat jasa mereka atau akibat kesalahan mereka.
Sebagai sebuah bangsa yang bermartabat dan dinamis, maka seharusnya kita mampu
memainkan budaya-nya secara kontekstual untuk menjawab kebutuhan kekinian. Dan dalam
pendapat saya, kebutuhan bangsa kita hari ini adalah melakukan “DESAKRALISASI MITOLOGI”,
baik desakralisasi terhadap segala macam tahayul-tahayul dan adat-adat yang tidak
kontekstual, maupun desakralisasi terhadap praktik beragama yang dogmatis. Ini bukan
berarti meninggalkan atau menghapuskan adat dan dogma agama dalam kehidupan
bermasyarakat, tetapi masalahnya adalah bagaimana menafsirkannya secara kontekstual.
Rahayu-rahayu, memayu hayuning bawana.
1
Like
Comment
Share
Write a comment…
OTHER POSTS
Lamongan berkibar
14 May 2016 ·
Di atas kepalaku,
sepotong awan sibuk berlalang-lalu. Seperti hendak menurunkan hujan tapi masih ragu.
Sedang di atas meja, kopi di cangkir ini tinggal separuh, tapi rinduku padamu sialnya masih
penuh.… See more
Like
Comment
Share
Lamongan berkibar
5 November 2014 ·
Selamat Pagi Manusia
Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu saja ada tamu baru yang datang:
kegembiraan, kesedihan, ataupun keburukan; lalu kesadaran sesaat datang sebagai suatu
pengunjung yang tak diduga. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua
hanya membawa dukacita. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua dengan
kasar menyapu dan mengosongkan isi rumahmu. Perlakukan setiap tamu dengan hormat,
sebab mereka semua mungkin adalah par… See more
1 share
2
Like
Comment
Share
Comment
Share
Write a comment…
Lamongan berkibar
15 May 2014 ·
Apa yang akan kau lakukan ketika tibatiba kau jumpai kawan lamamu yang
telah meninggal, tiba-tiba nongol ketika
kau menyeruput white cofee di warung?
Lalu percakapan pun terjadi.… See more
1
Like
Write a comment…
Lamongan berkibar
15 May 2014 ·
PHONE SEX
Saya pikir, tidak ada orang yang menolaknya.
Bahkan kalau ada orang suci jaman dulu bisa
“hidup lurus”. Mungkin akan belok setelah kenal… See more
2
Like
Comment
Share
Write a comment…
Lamongan berkibar
14 May 2014 ·
Kalau kau belum bisa menertawai dirimu sendiri,
berarti kau belum lewati fase “gila”, belum serius
menjalani hidup.
Hidup adalah soal memberi definisi pada apa
yang terjadi. Memberi makna pada apa yang… See more
1
Like
Comment
Share
Write a comment…
Lamongan berkibar
14 May 2014 ·
Menurutmu, apa yang menarik dari hidup kalau
bukan hidup itu sendiri? Berjalan sendirian di
tengah malam sampai menjelang pagi. Duduk di
antara pesawahan, atau di bawah terang lampu
dimana pagimu benar-benar sepi. Mengingat-… See more
1
Like
Comment
Share
Write a comment…
Lamongan berkibar
8 January 2014 ·
Pada Suatu Hari seorang Profesor pergi ke dalam hutan belantara
Dia berpikir enaknya hr ini berburu apa ya???? mumpung sedang cerah katanya
Akhirnya dia memutuskan berburu kelinci...ketika sedang asik berburu ternyata ada 2 ekor
Harimau tiba2 muncul dan langsung mengejarnya...
maka larilah dia terbirit birit untuk menyelamatkan diri… See more
1 comment
1
Like
Comment
Candra Singgih
Share
Berdoa meminta pertolongan kepada ‫اَﻟ ّﻠ ُﻪ‬. Menunggu mendapat hidayah
dari ‫اَﻟ ّﻠ ُﻪ‬.
Like · Reply · See translation · 6 y
Write a comment…
20+
Download