Uploaded by User90383

Hilangnya Modal setelah Tsunami (OK).

advertisement
Hilangnya Modal setelah Tragedi Tsunami
Setelah tsunami tahun 2004, situasi menjadi lebih buruk, karena semua
tambak dan tanah pertanian hancur oleh tsunami. Kerusakan sekitar 50% di
Aceh Utara dan Lhoksumawe dimana studi ini dilakukan. Kebanyakan modal fisik
yang menopang produksi tambak yang dikembangkan dalam beberapa dekade
dan mendukung 7% dari GDP daerah ini dengan mempekerjakan 100.000
pekerja hancur oleh tsunami.
Penilaian yang dilakukan oleh FAO beberapa minggu setelah bencana
tsunami mencatat bahwa sebanyak 20.429 ha atau 42.9% tambak di propinsi
Aceh hancur dengan beberapa kondisi dengan tingkat kerusakan yang beragam.
Sekitar 1,000 ha tambak secara permanent terendam air karena perubahan garis
permukaan air, dan 7,300 ha rusak parah. Tambak yang hanya terendam air
selama tsunami tidak jelas apakah hasil panennya hilang atau tidak. Mengenai
infrastruktur, 810 km (66.8%) saluran irigasi dan 193 unit (dari 223 ha) hancur
parah. Sementara kawasan pantai, kerusakan total terhitung sebanyak hampir
50% hingga 100%, sementara kerusakan pada lahan padi tergantung pada jenis
tanah pertaniannya, yaitu; 23.340 ha untuk sawah, 102.461 ha untuk kebun dan
24.345 ha untuk ladang. Aceh Utara sendiri kerusakan tambaknya hamper
100%, hasil ikan (40%), peralatan untuk nelayan seperti motorboats (100%), dan
petani sebanyak 1.224 ha. Jumlah ini masih kecil disbanding Aceh Besar yang
mengalami kerusakan sawah hingga 5.111 ha.1
Tabel 3. Perkiraan Kerusakan pada Nelayan dan Petani Tambak
Kabupaten
Dermaga
(percent)
Boat, dan Mesin
Perikanan
(percent)
Tambak
(percent)
Banda Aceh
100
100
100
Aceh Besar
100
100
100
Aceh Barat
100
100
100
Aceh Jaya
80
80
100
1
Irine Hiraswati Gayatri. “Kerusakan Ekosistem akibat Konflik dan Tsunami di Aceh.” Jurnal
Masyarakat Indonesia, (2: 2007). Puslitbang Sosial Ekonomi, Lembaga Ilmu Pengetahun
Indonesia (LIPI).
17
Sabang
Simeulue
Pidle
Bireuen
0
50
100
90
20
100
100
100
50
50
100
50
Aceh Utara
100
100
40
Lhokseumawe
100
75
40
Nagan Raya
0
50
30
Aceh Selatan
0
50
30
Aceh Barat Daya
0
50
30
Sumber: Laporan khusus dari AO/WFP Food Supply and Demand Assessment untuk Propinsi
Aceh dan Pulau Nias (Indonesia), 5 May 2005.
Kerusakan tambak akibat tsunami termasuk; (1) kerusakan pada struktur
seperti rusaknya tanggul, saluran irigasi, pintu air dan hilangnya fasilitas lain
(pondok, pompa dan mesin), dan (2) sedimentasi disebabkan oleh endapan dari
reruntuhan, lumpur, pasir dan lumpur ke kolam dan saluran irigasi.
Perlu dicatat bahwa sebagai akibat dari pasir dan reruntuhan tsunami,
meluas di sepanjang pantai utara-timur, bahkan mengisi kolam tambak tanpa
kerusakan struktural. Tambak yang tertimbun lumpur akan lebih memerlukan
upaya perbaikan. Kerusakan pada bedengan relatif mudah untuk memperbaiki.
Adapun tambak yang terletak antara permukiman juga diisi dengan reruntuhan
dari bangunan; memulihkan tambak milik kasus ini adalah yang paling sulit untuk
dikembalikan.
Rehabilitasi tambak dilakukan satu tahun setelah tsunami. Upaya untuk
memulihkan modal fisik ini bervariasi tergantung tingkat kerusakan. Setahun
setelah tsunami menghantam propinsi, beberapa patch kerusakan tambak telah
dipulihkan oleh organisasi internasional bekerja sama dengan mitra nasional,
meskipun masih sangat sedikit. Rehabilitasi mulai dari kerusakan ringan seperti
tambak di Bireun dan Lhoksemauwe, sedangkan kerusakan berat tambak
dimulai pada bulan September 2005, dan dilaksanakan pada daerah relatif kecil.
18
Penelusuran kembali ke sejarah pembangunan kolam tambak di Aceh
dimulai pada awal 1940-an oleh Ulee balang (Aceh aristokrasi) dalam bentuk
tradisional tambak sistem yang bergantung pada pasang surut air untuk
pertukaran pasokan bibit dan pemeliharaan kualitas air. Kolam air tambak di
sepanjang pantai utara-timur berkembang pesat pada akhir tahun 1970-an yang
terkait dengan pengembangan semi intensif udang, berkembang dengan sengaja
stok atau penetasan bibit udang yang semakin meningkat didukung oleh
makanan dan untuk pengelolaan air meningkatkan hasil. Luas konversi hutan
mangrove untuk udang, misalnya di Seunuddon, Aceh Utara, dimulai pada awal
tahun 1960-an, ketika seorang investor berbasis di Medan menyediakan skema
kredit untuk budi daya udang bagi 40 kelompok petani. Dengan lisensi (surat
angan menggarap) yang dikeluarkan oleh desa (gampong) kepala (geuchick /
keuchik), orang-orang yang tidak memiliki tanah dapat menggunakan lahan yang
tersedia di desa, sebagian besar hasil konversi hutan mangrove.
Booming budi daya udang di Asia Tenggara, yang terjadi antara tahun
1970 sampai dengan tahun
1990-an, merupakan faktor penentu dari
pembangunan kolam tambak di Aceh. Dengan mengadopsi teknologi yang lebih
intensif, telah mengakibatkan hilangnya hutan mangrove. Sangat disadari bahwa
rata-rata umur operasional sebuah kolam udang adalah dua sampai tiga tahun,
sebagaimana makanan dan pupuk kimia tercampur dengan pestisida (digunakan
dalam budidaya) memperburuk kualitas air ke titik tidak dapat secara sehat lagi
digunakan untuk meningkatkan udang. Pada tahap ini kegaiatan tambak
ditinggalkan dengan beralihnyua para investor ke daerah-daerah baru untuk
membuka hutan mangrove.2
Data statistik terbaru kolam tambak di Aceh sebelum tsunami,
menunjukkan bahwa tambak ikan bandeng dan udang di Aceh sebagian besar
dioperasikan secara tradisional (74,7%), dengan sistem pertanian yang minim
2
Indra Zainun, et. al. Brackish Water Aquaculture (Tambak) Production in Nanggroe Aceh
Darussalam: Integrated Natural Resource Management & Livelihood Paradigms in Recovery from
the Tsunami in Aceh. ICRAF Working Paper Number 46, 2007. The Ford Foundation Jakarta,
Indonesia and World Agro Forestry Centre – ICRAF Southeast Asia Regional Office, Bogor –
Indonesia.
19
hasil dalam bisnis tambak udang dan ikan bandeng yang terletak di sepanjang
pantai Utara dan Timur. Terdapat 22% (dari total) adalah semi-intensif tanah
pertanian dan hanya 3,2% intensif tambak udang. Studi menunjukkan bahwa
kebanyakan rumah tangga yang menggantungkan hidup di ladang-ladang padi,
tambak
dan
pantai.
Kebanyakan
masyarakat
menggantungkan
mata
pencahariannya pada tanah pertanian, tambak dan kelautan. Kebanyakan
mempraktekkan cara tradisional, artinya, yang berhubungan dengan isu hak
kepemilikan, tidak semua tambak dijadikan sebagai hak milik, diperkirakan hanya
19,8% dari tambak di wilayah kabupaten dimiliki oleh tanah non-pribadi dan
hanya 36,5% dimiliki oleh pemilik tanah swasta yang memegang sertifikat
tanah.3
Praktek Lokal Sumber Kredit Informal di Aceh
Di luar perbankan, golongan miskin dapat memperoleh layanan keuangan
dari lembaga non-bank, lembaga non-formal dan unit usaha keuangan mikro
program pembangunan pemerintah. Layanan utama yang disediakan oleh
lembaga ini adalah kredit. Masalahnya adalah bahwa kapasitas dana ini adalah
lembaga keuangan mikro, yang pada umumnya kecil. Ada juga kecenderungan
yang untuk membiayai masyarakat miskin yang memiliki usaha non-pertanian,
sehingga dapat lebih mudah mengakses kredit, karena non-usaha pertaniani
dinilai memiliki potensi besar untuk diberikan pinjaman. Tetapi, berbeda cerita
sekarang sedang terjadi di Aceh Utara seperti yang dibahas pada paragraf
mendatang, di mana sebuah lembaga keuangan mikro lokal lebih memilih untuk
mendanai petani padi dan tambak.
Secara tradisional, masyarakat miskin memenuhi kebutuhan pelayanan
keuangan melalui kegiatan arisan atau, jika terpaksa, untuk meminjam dari
tetangga atau rentenir untuk mempertahankan hidupnya atau perusahaan.
Mereka juga menyimpan tabungan dalam bentuk ternak atau hasil panen. Di
tempat dimana layanan lembaga keuangan terbatas, kegiatan arisan sering
3
Indra Zainun, et. al. 2007. Ibid.
20
ditemukan
maju.
Berbagai
kelompok
arisan
mengembangkan
kegiatan
menabung sebagai sumber pelayanan kredit bagi anggotanya. Namun, pengaruh
kegiatan arisan atau pinjaman dari tetangga dalam kegiatan ekonomi masih
terbatas sementara pinjaman dari rentenir masih cukup umum meski permintaan
tinggi minat dan cicilan harian.4
Ribuan petani udang / bandeng kehilangan pendapatan serta modal kerja.
Tiba-tiba hilang modal kerja, membawa dampak serius untuk ketersediaan modal
keuangan di masyarakat. Penilaian cepat (quick assesment) dilakukan pada
Desember 2007 di 12 desa di enam kabupaten terbesar dengan kolam air
payau-daerah
di
provinsi
(Banda
Aceh,
Aceh
Besar,
Pidie,
Bireun,
Lhokseumawe, dan Aceh Utara) menemukan bahwa 95% -100% petani tambak
mengandalkan pemberi uang pinjaman tradisional (toke) yang memberikan
modal kerja dan bertindak sebagai agen pemasaran. Oleh karena itu, semua
toke juga kehilangan modal. Hampir tidak ada yang tersisa bagi mereka untuk
cepat sembuh dari kejadian tsunami.
Di Aceh Utara pada khususnya, toke telah lama menjadi tradisi informal
penyedia modal untuk masyarakat setempat. Baik dari petani padi dan
peternakan, daerah tambak, nelayan dan pelaut yang meminta toke untuk
memberikan modal atau alat untuk menjalankan perusahaan. Pada akhir, toke
mempunyai hak untuk membeli semua produksi panen atau pantai dengan harga
sendiri, karena toke juga merupakan spekulan harga. Toke yang spesialis di
pesisir perusahaan akan menjualnya ke muge, yang kemudian mendistribusikan
ke pusat pasar tradisional dengan mengendarai sepeda motor. Orang-orang
yang mampu memberi modal sendiri mempunyai hak untuk menjual ikan
langsung ke muge (agen). Namun, ini adalah hal yang sangat langka.
4
Arisan merupakan praktek menabung yang sering ditemui di kalangan perempuan atau ibu-ibu
di sekitar lingkungan atau di kantor. Uang setiap anggota harus disimpan dan menunjuk seorang
kolektor yang tergantung pada komitmen antara anggota. Dalam setiap bulan, nama semua
anggota dimasukkan dalam botol. Yang menjadi kolektor mengocok botol itu dan nama yang
beruntung akan keluar. Hal ini dilakukan sampai semua anggota mendapatkan giliran. Namun
demikian, tabungan jenis ini biasanya digunakan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari dari ibuibu (ibu rumah tangga), dan jarang digunakan untuk tujuan menjalankan perusahaan.
21
Toke bangku, merupakan label untuk penyedia modal dan kebutuhan lain
untuk pelaut dan petani di Aceh Utara. Di dalam Dermaga (pelabuhan kecil), toke
memiliki meja dan kursi (bangku) di mana dia meletakkan kalkulator dan buku
harian untuk transaksi dengan pelaut. Dalam masyarakat pesisir, terdapat
sejumlah toke tergantung pada jumlah produksi pantai di daerah. Toke memiliki
jaringan yang kuat di antara pelaut, muge dan toke lain di Aceh dan Medan.
Itulah sebabnya kenapa toke memiliki jumlah besar modal yang digunakan untuk
membiayai semua kebutuhan pelaut dan petani. Jika tidak modal, toke dapat
menyediakan alat dan peralatan tergantung pada jenis perusahaan. Untuk
nelayan dan pelaut, toke menyediakan paket solar (matahari), jaring (pukat) dan
boat (perahu). Sistem ini terkenal dan populer di Aceh yang disebut sebagai
mawah.
Sistem berbagi sebagai dasar transaksi berjalan. Toke akan mengambil
15% saham dari perahu, 15% saham dari jaring (pukat), dan sisanya 70% akan
pergi ke nelayan atau pelaut. Selain itu, semua ikan harus pergi ke toke dan
harga tergantung pada perhitungan toke. Pada sektor tambak, ada empat pelaku
utama terlibat secara langsung ke sistem ini: pemilik, toke, operator pertanian
(yang menyewa [mawah] di tambak) dan tenaga kerja. Pemilik tambak tidak
selalu mengontrol sistem produksi tambak, tetapi adakah tugas operator lahan.
Dalam beberapa kasus, pemilik tambak adalah juga operator. Toke menyediakan
modal untuk tambak atau pemilik lahan tanpa operator yang jelas suku bunga,
namun produksi tambak telah pergi ke toke, yang juga bertindak sebagai agen
pemasaran. Toke tidak hanya menyediakan uang untuk operasi tambak, tetapi
juga untuk kebutuhan pribadi dan darurat. Interaksi sosial di antara mereka yang
cukup dekat.
22
TOKE
(CAPITAL PROVIDER)
PETANI/NELAYAN
(FARMERS/SEAMEN)
MUGE
(PENJUAL ECERAN OR AGENT)
TOKE BESAR
(BIG TOKE IN BANDA ACEH OR MEDAN)
Sistem lain disebut gala (pledging). Petani kadang-kadang untuk
menghindari menjual budidaya tambak atau padi dengan menggunakan teknik
gala. Mereka berjanji menarik tambak untuk dua sampai empat tahun dan
mengelola untuk pengembalian dana yang dipinjam dengan modal awal yang
didapat dari pendapatan dan usaha lain. Teknik gala membuktikan menjadi indah
perlu diatur suatu bentuk kelembagaan sebagai investasi kelipatan. Pertama, ia
memainkan peranan yang langsung di migrasi meliputi biaya pembelian tanah
dan tanpa de-kapitalisasi di daerah asal. Kedua, petani masih memiliki peluang
untuk menjadi pemilik dari aset jika meminjam modal telah dibayar.
Model terakhir adalah pengbungong (rentenir). Hal ini cukup uang untuk
berinvestasi dan mengharapkan untuk dikembalikan dengan bunga, tidak peduli
apakah usahanya berhasil atau tidak. Sistem ini hanya tentang uang dengan
uang dan tidak mengambil resiko apapun atau dengan melakukan pekerjaan
apapun atau oleh setiap usaha atau korban di semua. Pengbungong mengambil
keuntungan dari bunga karena jumlah uang yang didagangkan adalah penipuan
dan kadang-kadang manipulatif. Pengambilan bunga berjalan setiap hari, setiap
minggu, atau setiap bulan tergantung pada komitmen sebelumnya.
Error!
23
Toke bangku sedang menerima tangkapan ikan dari nelayan di dermaga
Sementara toke padi pertanian biasanya memiliki gudang kecil untuk
menyimpan semua produksi padi untuk sementara waktu, kemudian menjual ke
Toke besar di Banda Aceh atau Medan. Di Seunuddon sendiri, terdapat 20 toke.
Salah satu toke di sektor ini menjelaskan sistem kerjanya kepada saya sebagai
berikut:
Namanya adalah Usman (nama samaran) yang telah menjadi toke sejak tahun 1988.
Sebelumnya, ia memiliki satu hektar lahan padi, maka ia meletakkannya di sistem
mawah dimana dia mengambil Rp.500 ribu untuk setiap produksi padi. Dia mengatakan
bahwa ia dapat mengambil keuntungan lebih dari menjadi toke. Sebagai contoh, ia
memberikan modal bagi petani sekitar Rp.20 juta untuk tanam padi. Setiap petani hanya
perlu Rp.600 ribu untuk kebutuhan tanaman pertanian seluas 1.600 meter. Setelah
produksi padi, Usman akan mengambil Rp.100 per kg. Jika produksi padi mencapai 100
ton, Usman akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp.10 juta per setiap produksi padi.
Ketika petani yang mampu produksi padi dua kali setahun, ibu kota Usman telah
menginvestasikan akan kembali hanya dalam satu tahun. Usman juga memiliki 17 sapi
dan mereka semua dimasukkan dalam sistem mawah. "
Wawancara dengan toke padi (kanan) dan gudang penyimpanan padinya
24
Download