Uploaded by destriwijaya50

Akuntansi-biaya-pertemuan-14

advertisement
TUGAS 7 AKUNTANSI BIAYA
HARGA POKOK
PRODUK BERSAMA
OLEH:
A.SULOLIPU
(02220130012)
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2014/2015
1
HARGA POKOK PRODUK BERSAMA
Berkembangnya industri akan selalu memunculkan produk-produk baru. Perusahaan
akan selalu berusaha menciptakan produk yang dibutuhkan oleh konsumen. Akibatnya suatu
perusahaan tidak hanya memproduksi satu produk tetapi beragam produk untuk memenuhi
kebutuhan konsumen. Hal ini menjadikan masalah baru bagi perusahaan dalam perhitungan
akuntansinya. Bersumber dari masalah inilah kalkulasi produk bersama dan produk
sampingan menjadi penting untuk dibahas.
A. KONSEP PRODUK BERSAMA DAN PRODUK SAMPINGAN
Sebelum membahas produk bersama dan produk sampingan maka harus membahas
biaya bersama terlebih dahulu karena pembagian produk menjadi produk bersama dan produk
sampingan bersumber dari biaya bersama.
Biaya bersama dapat diartikan sebagai biaya overhead bersama yang harus
dialokasikan ke berbagai departemen, baik dalam perusahaan yang kegiatan produksinya
berdasarkan pesanan ataupun secara massa.
Biaya Produk bersama juga bisa diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan sejak saat
mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan
identitasnya. Biaya produk bersama ini terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan
biaya overhead pabrik.
Biaya produk bersama muncul dari produksi secara simultan atas berbagai produk
dalam proses yang sama. Ketika dua atau tiga produk di produksi dari sumber daya yang
sama maka akan terbentuk biaya gabungan. Biaya gabungan terjadi sebelum titik pisah (splitoff). Titik pisah adalah saat dihasilkannya dua atau lebih produk bersama, dimana pada saat
itu produk bersama bisa langsung dijual atau diproses lebih lanjut.
Biaya bersama digunakan untuk memproduksi berbagai produk, yaitu:
1. Produk bersama (joint-product)
Produk Bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan bersama- sama atau
serempak dengan menggunakan satu macam atau beberapa macam bahan baku, tenaga kerja
dan fasilitas pabrik yang sama dan masukkan (input) tersebut tidak diikuti jejaknya pada
setiap macam produk tertentu. Biaya produk bersama bersifat homogen untuk seluruh produk
sampai pada titik pisah. Nilai jual dari masing-masing produk bersama relatif sama sehingga
tidak ada produk yang dianggap sebagi produk utama dan produk sampingan.
2
Contoh: Pabrik penyulingan minyak mentah (crude oil) menghasikan minyak siap
dikonsumsi berupa minyak gasolin, karosine, minyak diesel (solar), minyak bakar, minyak
tanah, dll.
2. Produk Sampingan (by-product)
Istilah produk sampingan digunakan untuk suatu produk yang bernilai total relatif
kecil dan diproduksi secara berbarengan dengan produk yang bernilai lebih besar. Produk
yang nilainya lebih besar biasa disebut dengan produk utama. Produk sampingan juga bisa
diartikan sebagai produk yang bukan tujuan utama operasi perusahaan tetapi tidak dapat
dihindarkan terjadinya dalam proses pengolahan produk disebabkan sifat bahan yang diolah
atau karena sifat pengolahan produk, kuantitas dan nilai produk sampingan relatif kecil
dibandingkan dengan nilai keseluruhan produk.
Pembedaan produk utama dan produk sampingan terletak pada nilai jualnya. Jika nilai
jual salah satu produk relatif lebih kecil dari yang lainnya maka dikategorikan sebagai produk
sampingan, sedangkan apabila produk-produk yang dihasilkan relatif sama maka
dikategorikan sebagai produk bersama.
Contoh: pada pabrik penggergajian kayu, kayu lapis dan papan kayu merupakan
produk utama, sedangkan serbuk gergaji dan kayu bakar merupakan produk sampingan.
3. Produk sekutu (coproduct)
Produk sekutu dapat didefinisikn sebagai beberapa macam produk yang dihasilkan
dalam waktu yang sama, tetapi tidak berasal dari proses pengolahan yang sama atau tidak
dari bahan baku yang sama.
Contoh : Pabrik penggergajian dapat menghasilkan papan kayu dan kayu lapis dari
berbagai jenis kayu log (kayu gelonggongan) yang diproses sehingga macam produk yang
dihasilkan dapat berupa papan kayu jati, kayu meranti, kayu kanfer, begitu pula dapat
dihasilkan kayu lapis jati,meranti atau kanfer.
Produk bersama dan produk sekutu memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Produk bersama dan produk sekutu merupakan tujuan utama kegiatan produksi.
b. Dengan mengolah produk bersama, produsen tidak dapat menghindarkan diri untuk
menghasilkan semua jenis produk bersama, jika ingin memproduksi salah satu
diantara prduk bersama tersebut.
c. Produk diproses secara bersamaan dan setiap produk mempunyai nilai yang relatif
sama antara satu dengan yang lainnya.
3
d. Setiap produk mempunyai hubungan fisik yang sangat erat dalam proses produksi.
Apabila terjadi peningkatan kualitas untuk satu unit jenis produk yang dihasilkan,
maka kualitas yang lain akan bertambah secara proporsional.
e. Dalam produk bersama dikenal istilah Split-Off Point adalah saat dimana produkproduk tersebut dapat diidentifikasi atau dipisah ke masing-masing produk secara
individual.
f. Setelah Split-Off Point (titik pisah) tersebut dapat dijual pada titik pisah (secara
langsung) dan dapat juga dijual setelah pisah (setelah proses lebih lanjut) untuk
mendapatkan produk yang lebih menguntungkan. Biaya yang dikeluarkan untuk
memproses produk lebih lanjut disebut biaya proses lanjutan atau biaya setelah titik
pisah (severable cost)
Produk sampingan dapat digolongkan sesuai dengan dapat tidaknya produk tersebut
dijual pada saat terpisah dari produk utama.
a. Produksi sampingan yang dapat dijual setelah terpisah dari produk utama, tanpa
memerlukan pengolahan lebih lanjut.
b. Produk sampingan yang memerlukan proses pengolahan lebih lanjut setelah terpisah
dari produk utama.
B. AKUNTANSI PRODUK BERSAMA
Perusahaan yang menghasilkan produk bersama pada umumnya menghadapi masalah
pemasaran berbagai macam produknya, karena masing-masing produk mempunyai masalah
pemasaran dan harga jual yang berbeda. Manajemen biasanya ingin mengetahui kontribusi
masing-masing produk pada pendapatan perusahan. Oleh karena itu, perlu diketahui secara
teliti biaya yang dibebankan pada masing-masing produk sebagai dasar perhitungan harga
pokok setiap produk.
Alokasi Biaya merupakan pembebanan biaya secara proposional dari biaya tidak
langsung atau biaya bersama ke objek biaya. Biaya bersama sulit diperhitungkan kepada
masing-masing produk, oleh karena itu untuk memudahkan dalam perhitungan diperlukan
alokasi biaya.
Manfaat menghitung alokasi biaya dalam produk bersama adalah:
1. Menghitung harga pokok dan menentukan nilai persediaan untuk tujuan pelaporan
keuangan internal dan eksternal.
2. Menilai persediaan untuk tujuan asuransi.
3. Menentukan nilai persediaan jika terjadi kerusakan terhadap nilai barang yang rusak.
4
4. Biaya bahan yang hancur.
5. Menetukan biaya departemen atau divisi untuk tujuan pengukuran kinerja eksekutif.
6. Pengaturan tarif karena adanya sebagian produk atau jasa yang diproduksi dikenakan
peraturan harga.
7. Mengetahui besarnya kontribusi masing-masing produk bersama terhadap total
pendapatan perusahaan.
8. Mengetahui seluruh biaya produksi yang dibebankan ke masing-masing produk
bersama.
Biaya produk bersama dialokasikan ke setiap produk bersama menggunakan metode
nilai pasar, rata-rata biaya per satuan, rata-rata tertimbang dan unit kuantitatif.
a) Metode Nilai Pasar / Nilai Jual Relatif
Metode ini adalah metode yang sangat populer karena dengan argumennya bahwa
harga produk merupakan manifestasi dari biaya produksinya. Metode ini mengasumsikan
bahwa setiap produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memilki nilai jual atau
nilai pasar yang berbeda. Perbedaan nilai pasar disebabkan tingkat pemakaian biaya yang
berbeda.
Metode ini berpendapat bahwa jika salah satu produk terjual lebih tinggi daripada
yang lainnya, hal itu terjadi karena biaya yang dikeluarkan untuk memproduksinya juga lebih
tinggi dibandingkan produk lain. Jadi dalam metode ini kelangkaan tidak mempunyai
pengaruh dalam menentukan harga jual. Karena asumsi itulah, cara yang logis untuk
mengalokasikan biaya bersama adalah berdasarkan pada nilai jual relatif masing-masing
produk bersama.
Terdapat dua metode dalam metode nilai jual relatif, yaitu:
1. Metode nilai pasar saat split-off point
Metode ini digunakan ketika setelah split-off point tidak ada proses produksi lanjutan
dan harga jual sudah diketahui pada saat itu. Biaya bersama (joint cost) dialokasikan ke
masing-masing produk sesuai dengan perbandingan nilai jualnya terhadap nilai jual
keseluruhan produk bersama.
Contoh :
PT “ABC” memproduksi 3 macam produk yaitu alfa, beta dan gamma. Biaya bersama
yang dikeluarkan selama satu periode adalah sebsar Rp 20.000.000,00. Jumlah produksi dan
harga jual masing-masing produk tertera pada table berikut:
5
Produk
Jumlah unit
Harga unit
Alfa
5.000
Rp 1000
Beta
10.000
Rp 1500
Gamma
7.000
Rp 1300
Penyelesaian :
Produk
Jumlah
Harga
Nilai jual
Rasio
Alokasi
HPP/ unit
unit
unit
Alfa
5.000
1000
5.000.000
22,62%
4.524.000
904,8
Beta
10.000
800
8.000.000
36,20%
7.240.000
724
Gamma
7.000
1300
9.100.000
41,18%
8.236.000
1.176,5
22.100.000
100%
20.000.000
Jumlah
2. Metode nilai jual hipotesis
Apabila suatu produk tidak bisa dijual pada saat titik pisah, maka harga tidak dapat
diketahui pada saat titik pisah. Produk tersebut memerlukan proses tambahan sehingga harga
jual tidak dapat dikethui sebelum dijual (setelah titk pisah). Dasar yang dapat digunakan
dalam mengalokasikan biaya bersama adalah harga pasar hipotesis.
Harga pasar hipotesis adalah nilai jual suatu produk setelah diproses lebih lanjut
dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk memproses lanjutan setelah pemisahan.
Contoh :
Dengan menggunakan data perusahaan PT. ABC pada contoh soal metode nilai pasar,
diketahui biaya proses lanjutan masing-masing produk adalah sebagai berikut:
Keterangan
Produk Alfa
Produk Beta
Produk Gamma
Unit Produksi
5.000
10.000
7.000
Harga Jual/unit
Rp1.000
Rp800
Rp1.300
Biaya Proses lanjutan/unit
Rp400
Rp300
Rp500
6
Produk
Hrg
bersama jual/
kg
Biaya
Nilai
Tmbh jual
an
Jmlh
Nilai jual
Rasio
Prduk
Alokasi**
HPP
(20.000.000)
/kg
4.412.000
882,4
7.352.000
735,2
8.236.000
1.176,6
Hipote
sis*
1.000
Alfa
400
600
5.000
3.000.000
22,06
%
800
Beta
300
500
10.000
5.000.000
36,76
%
Gamma
1.300
500
800
7.000
5.600.000
41,18
%
13.600.000
100%
20.000.000
*(Harga jual – biaya tambahan)
**(rasio x 20.000.000)
b) Metode rata-rata biaya per satuan
Metode ini berupaya untuk mendistribusikan total biaya produksi gabungan ke
berbagai produk atas dasar biaya per unit. Metode ini digunakan jika dari satu proses
produksi bersama dihasilkan beberapa produk yang bisa diukur dalam satuan yang sama
meskipun dalam kualitas yang berbeda-beda. Perusahaan yang menggunakan metode ini
berpendapat bahwa semua produk yang dikerjakan dengan proses yang sama harus menerima
bagian yang sebanding dengan total biaya gabungan berdasarkan unit yang diprosuksi.
Penentuan biaya untuk setiap produk dihitung sesuai dengan proporsi kuantitas masingmasing produk yang dihasilkan.
Contoh :
Suatu perusahaan menghabiskan biaya Rp 2.000.000 untuk memproduksi 1000 liter
produk dari minyak mentah. Rata-rata biaya produksi per unit adalah Rp 2.000 (Rp
2.000.000/1000)
7
Produk
Kuantitas
Rata-rata biaya Alokasi
per satuan
bersama
Bensin
350
Rp 2.000
Rp 700.000
Pelumas
250
Rp 2.000
Rp 500.000
Minyak
300
Rp 2.000
Rp 600.000
Solar
100
Rp 2.000
Rp 200.000
Jumlah
1000
biaya
Tanah
Rp 2.000.000
c) Metode rata-rata tertimbang
Pada banyak industri, metode-metode yang telah dibahas diatas tidak dapat
memberika solusi yang memuaskan dalam mengalokasikan biaya bersama karena tidak
mempertimbangkan segi kualitas dari suatu produk. Sehingga mucullah metode yang
menggunakan bobot sebagai presentasi dari ukuran besarnya unit, kesulitan pembuatan,
waktu yang dibutuhkan dan sebagainya sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya bersama.
Penentuan alokasi biaya bersama pada setiap produk didasarkan atas perkalian jumlah unit
produk dengan angka penimbang, dan hasilnya digunakan sebagai dasar untuk alokasi.
Contoh :
Dari soal pada metode kedua (metode rata-rata biaya per satuan), diketahui bobot
untuk bensin 4, pelumas 2, minyak tanah 3 dan solar 1. Alokasi biaya bersamanya sebagai
berikut :
Produk
Jumlah
Angka
Jumlah produk x angka Alokasi biaya bersama
produk
penimbang
penimbang
(2.000.000)
Bensin
350
4
1400
Rp 965.517
Pelumas
250
2
500
Rp344.826
Minyak
300
3
900
Rp620.689
Solar
100
1
100
Rp. 68.966
Total
1000
2.900
Rp 2.000.000
tanah
8
d) Metode unit kuantitatif / satuan fisik
Metode kuantitatif berupaya mendistribusikan total biaya gabungan berdasarkan
satuan ukuran tertentu seperti kilogram, ton, liter, meter dan sebagainya. Jika produk bersama
mempunyai ukuran yang berbeda maka harus ditentukan koefisien ekuivalesinya yang
digunakan untuk mengubah satuan yang berbeda kedalam satuan yang sama. Metode ini
beranggapan bahwa setiap produk dapat diidentifikasi sesuai dengan tingkat pemanfaatan
bahan baku dalam ukuran satuan yang sama.
Contoh :
Berikut adalah data produk yang dihasilkan dari satu ton batu bara yang
menghabiskan biaya sebesar Rp 1.000.000 :
Produk
Kuantitas
Presentase (%)
Alokasi Biaya Bersama
(pon)
Kokas
1.200
60%
Rp 600.000
Ter Batu Bara
300
15%
Rp 150.000
Gas
500
25%
Rp 250.000
Jumlah
2.000
100%
Rp 1.000.000
C. PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUK SAMPINGAN
Setelah mempelajari konsep dan cara perhitungan harga pokok produk gabungan,
maka tidak lengkap jika tidak membahas harga pokok produk sampingan. Hal ini dapat
dimengerti karena keduanya mempunyai hubungan yang erat. Dalam produk sampingan,
yang menjadikan permasalahan adalah bagaimana memperlakukan pendapatan penjualan
produk sampingan tersebut.
Pengakuan adanya produk sampingan ini menyangkut perlakuan terhadap harga
pokok produk sampingan, biaya untuk memproses produk sampingan, dan hasil penjualan
produk sampingan. Alokasi biaya bersama kepada produk utama dan produk sampingan pada
umumnya dianggap tidak perlu, karena nilai produk sampingan relatif rendah bila
dibandingkan dengan produk utama. Tetapi dalam kenyataannya ada beberapa metode yang
mengalokasikan biaya bersama kepada produk utama dan produk sampingan. Metode-metode
akuntansi yang dapat diterima untuk menetapkan biaya produk sampingan dibagi dalam dua
kategori, yaitu:
9
a. Metode Tanpa Harga Pokok (Non-Cost Methods)
Dalam metode ini, Harga pokok produk sampingan atau persediannya tidak
diperhitungkan, tetapi memperlakukan pendapatan penjualan prduk sampingan sebagai
pendapatan atau pengurang biaya prduksi produk utama. Dalam rangka perhitungan biaya
persediaan, suatu nilai yang berdiri sendiri dapat dibebankan ke produk sampingan.
Metode tanpa harga pokok adalah suatu metode dalam perhitungan produk sampingan
tidak memperoleh alokasi biaya bersama dari pengolahan produk sebelum dipisah.
Metode tanpa harga pokok dibagi menjadi 2 macam:
1. Produk sampingan dapat langsung dijual pada saat saat titik pisah (split-off point) atau
pengakuan atas pendapatan kotor.
Metode ini memperlakukan penjualan produk sampingan berdasarkan penjualan
kotor. Hal ini dilakukan karena biaya persediaan final dari produk utama dianggap terlalu
tinggi sehingga menanggung biaya yang seharusnya dibebankan pada produk sampingan.
Dalam metode ini penjualan atau pendapatan produk sampingan dalam laporan laba rugi
dapat dikategorikan sebagai berikut :
a) Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai penghasilan diluar usaha.
Dalam metode ini pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk sampingan
dikurangi dengan returnya, dicatat dalam rekening “Pendapatan Penjualan Produk
Sampingan” dan pada akhir periode akuntansi ditutup ke rekening Rugi-Laba. Rekening
pendapatan penjualan produk sampingan dicantumkan dalam laporan Laba-Rugi pada
kelompok penghasilan di luar usaha (other income).
Metode ini tidak mencoba untuk menentukan harga pokok sampingan. Metode ini
cocok bila digunakan pada perusahaan yang:
-
Nilai produk sampingnya tidak begitu penting atau tidak dapat ditentukan.
-
Penggunaan metode yang lebih teliti tidak sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
-
Pemisahan produk sampingan dari produk utama tidak begitu jelas dan pembebanan harga
pokok produk sampingan pada produk utama tidak mengakibatkan perbedaan yang mencolok
pada harga pokok produk utama.
Terdapat beberapa kekurangan pada metode pendapatan penjualan produk sampingan
dicatat sebagai penghasilan diluar usaha, yaitu:
-
Apabila pada akhir periode akuntansi terdapat persediaan pokok sampingan, maka timbul
masalah penilaian persediaan untuk tujuan pembuatan neraca perusahaan. Pada umumnya
persediaan akhir produk sampingan tidak diadakan penilaian sehingga mengakibatkan harga
10
pokok persediaan produk utama lebih besar.
-
Dapat mengakibatkan perbandingan pendapatan dan biaya yang kurang tepat karena
perbedaan periode akuntansi. Pada saat produk sampingan selesai diproduksi tidak ada
pencatatan jurnal, pencatatan dilakukan ketika produk dijual. Apabila produksi dan
penjualannya tidak dalam satu periode maka perhitungan pendapatan dan biaya menjadi
kurang tepat.
-
Tidak adanya pengawasan dari terhadap persediaaan produk sampingan mengakibatkan
rawan terjadi penggelapan.
-
Dapat mengaburkan gambaran menyeluruh tentang hasil usaha perusahaan.
Contoh : Diketahui data dari kegiatan operasional perusahaan “ABC” sebagai berikut:
Unit Produksi Produk Utama
16.200 unit
Unit Penjualan Produk Utama
13.500 unit
Unit Persediaan Awal Produk Utama
500 unit
Harga Jual per Unit
Rp750
Biaya produksi/unit produk utama
Rp500
Hasil Penjualan Produk Sampingan (2.000xRp300)
Rp600.000
Beban Pemasaran dan Administrasi Produk Utama
Rp2.925.000
Laporan laba-rugi sebagai berikut:
Penjualan produk utama
Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan awal (500xRp 500)
Rp
250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500) Rp 8.100.000 +
Tersedia dijual
Rp 8.350.000
Persediaan akhir (3.200 x Rp 500)
Rp 1.600.000 Rp 6.750.000-
Laba Kotor
Rp 3.375.000
Beban pemasaran dan administrasi
Rp 2.925.000-
Laba operasi
Rp
450.000
Pendapatan lain-lain :
Pendapatan penjualan produk sampingan
Rp 600.000+
11
Laba sebelum pajak
Rp 1.050.000
Pendapatan penjualan produk sampingan dijadikan sebagai pendapatan lain-lain sehingga
akan menambah laba operasi secara langsung.
b) Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai tambahan pendapatan penjualan
produk utama.
Metode ini merupakan variasi dari metode pertama. Semua biaya produksi dikurangkan
dari pendapatan penjualan semua produk (baik utama maupun sampingan) untuk
mendapatkan laba bruto. Dalam metode ini tidak ada alokasi biaya bersama seperti dalam
metode pertama.
Dengan menggunakan data perusahaan “ABC”, maka laporan laba-rugi menggunakan
metode ini akan tampak sebagai berikut:
Penjualan
Rp 10.125.000
Pendapatan penjualan produk sampingan
Rp 600.000+
Penjualan bersih
Rp 10.725.000
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan awal (500xRp 500)
Rp
250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500) Rp 8.100.000 +
Tersedia dijual
Persediaan akhir (3.200 xRp 500)
Rp 8.350.000
Rp
1.600.000 Rp 6.750.000-
Laba Kotor
Rp 3.975.000
Beban pemasaran dan administrasi
Rp 2.925.000-
Laba operasi
Rp 1.050.000
Dari laporan laba rugi diatas, ditampilkan Rp600.000 dari penjualan produk sampingan
sebagai tambahan penjualan produk utama. Akibatnya total pendapatan menjadi Rp
10.725.000,00. Sedangkan angka lainnya tetap sama.
c) Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai pengurang harga pokok penjualan.
Dari data perusahaan “ABC”, jika dibuat laporan laba-rugi dengan metode in maka akan
menjadi:
12
Penjualan
Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan awal (500xRp 500)
Rp
250.000
Total biaya produksi (16.200 x Rp 500) Rp 8.100.000 +
Tersedia dijual
Rp 8.350.000
Persediaan akhir (3.200 x Rp 500)
Rp 1.600.000 -
Harga pokok penjualan
Rp 6.750.000
Pendapatan penjualan produk sampingan
Rp
600.000 Rp 6.150.000 -
Laba Kotor
Rp 3.975.000
Beban pemasaran dan administrasi
Rp 2.925.000 -
Laba operasi
Rp 1.050.000
Dalam kasus ini, hasil penjualan produk sampingan sebesar Rp600.000 dikurangkan
pada harga pokok penjualan sehingga HPP menjadi Rp6.150.000 (HPP sebelum dikurangkan
sebesar Rp 6.750.000).
d) Pendapatan penjualan produk sampingan dicatat sebagai pengurang total biaya produksi.
Pada metode ini, hasil penjualan produk sampingan sebesar Rp600.000 dikurangkan
pada total biaya produksi sebesar Rp 8.100.000 sehingga menghasilkan biaya produksi netto
sebesar Rp7.500.000. Pegurangan ini menyebabkan biaya per unit rata-rata menjadi
Rp464,07 (7.500.000+250.000 : 16.700) Konsekuansinya persediaan akhir sebesar Rp
1.600.000,00 menjadi Rp1.485.024,00
Laporan laba rugi akan tampak sebagai berikut :
Penjualan
Rp 10.125.000
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan awal (500x500)
Rp
250.000
Total biaya produksi (16.200 x 500)
Rp 8.100.000
Pendapatan penjualan PS
Rp
600.000Rp 7.500.000+
Tersedia dijual
Rp 7.750.000
Persediaan akhir (3.200 x 464,07)
Rp 1.485.024 Rp 6.264.976 -
Laba Kotor
Rp 3.860.024
13
Beban pemasaran dan administrasi
Rp 2.925.000 -
Laba operasi
Rp
935.024
2. Produk sampingan memerlukan proses lanjutan setelah dipisah dari produk utama atau
pengakuan atas pendapatan bersih.
Dalam metode ini disadari kebutuhan untuk membebankan sebagian biaya ke produksi
sampingan. Tetapi bukan berarti mengalokasikan biaya produk utama ke produk sampingan.
Biaya pemrosesan dan pemasaran produk sampingan setelah pemisahan dicatat dalam
perkiraan yang berbeda dengan produk utama. Angka-angka yang ada tetap akan
diperhitungkan didalam laporan laba-rugi sesuai dengan metode yang ada pada metode
pertama.
Ayat jurnal dalam metode ini juga terdiri atas pembebanan biaya setelah pemisahan
(proses lanjutan) terhadap hasil penjualan produk sampingan. Beban pemasaran dan
administrasi juga dialokasikan kedalam produk sampingan sesuai tarif yang telah
direncanakan sebelumnya.
Dalam metode ini hasil penjualan bersih produk sampingan dapat dihitung, yaitu :
Penjualan/pendapatan produk sampingan
Rp xxxxxx
Biaya proses lanjutan produk sampingan
Rp xxxxxx
Biaya pemasaran dan biaya administrasi
Rp xxxxxx +
Rp xxxxxx +
Penjualan/ Pendapatan Bersih Produk Sampingan
Rp xxxxxx
Pendapatan bersih produk sampingan inilah yang nantinya akan dimaksukkan pada
perhitungan laporan laba-rugi.
Seperti metode pertama, dalam menghitung harga pokok produk sampingan metode
kedua juga bisa dilkaukan dengan metode-metode yang ada pada metode pertama, yaitu:
1. Diperlakukan sebagai penghasilan diluar usaha atau pendapatan lain-lain.
2. Diperlakukan sebagai penambah penjualan atau pendapatan produk utama.
3. Diperlakukan sebagai pengurang harga pokok penjualan.
4. Diperlakukan sebagai pengurang biaya produksi.
14
b. Metode-Metode Harga Pokok (Cost Methods)
Dalam metode ini pengalokasian biaya produk sampingan hampir sama dengan produk
bersama yaitu sebagian biaya bersama dialokasikan kepada produk sampingan dan
menentukan harga pokok persediaan produk sampingan dengan biaya yang dialokasikan
tersebut. Ada dua metode yang berdasarkan dpada metode harga pokok, yaitu:
1. Metode biaya pengganti
Metode biaya pengganti biasanya digunakan pada perusahaan yang produk
sampingannya digunakan sendiri, sehingga tidak perlu membeli bahan dari pemasok luar.
Harga pokok yang diperhitungkan adalah sebesar harga beli atau biaya pengganti
(replacement cost) yang berlaku di pasar. Harga pokok ini kemudian dikreditkan pada
rekening Barang Dalam Proses-Biaya Bahan Baku (BDP-BBB), sehingga mengurangi biaya
produksi produk utama. Pengurangan biaya produksi produk utama ini akan mengakibatkan
harga pokok persediaan produk utama menjadi lebih rendah.
Contoh:
Misalkan diketahui data sebagai berikut :
Jumlah biaya produksi untuk 10.000kg produk utama
700.000
Pendapatan penjualan (9000 x 120)
1.080.000
Biaya pengganti produk sampingan yang digunakan dalam pengolahan produk 50.000
utama
Biaya pemasaran dan administrasi&umum
100.000
Persediaan akhir produk
1000kg
Laporan laba rugi :
Pendapatan penjualan produk utama
Rp 1.080.000
HPP:
Biaya produksi
Rp
Dikurangi: biaya pengganti produk smpingan
Rp
Rp
Dikurangi: Persediaan akhir (1000kg x Rp65)*
Rp
700.000
50.000 650.000
65.000Rp
15
585.000-
Laba bruto
Rp
495.000
Biaya pemasaran dan admnstrasi&umum
Rp 100.000-
Laba bersih sebelum PPh
Rp 395.000
*Rp650.000 : 10.000kg = Rp65
Tugas
Misalkan diketahui perusahaan XYZ memproduksi produk utama sebanyak 900 buah
dan produk sampingan sebanyak 100 buah. Produk sampingan jika dijual akan laku sebesar
Rp 500/buah. Biaya bersama yang dikeluarkan sebanyak Rp1.600.000. hitunglah harga pokok
produk utama dan produk sampingan.
Jawaban
dkirim
lewat
email
dengan
[email protected]
16
subject
“TugasAkbi14_Nama”
ke
Download