LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA BAPAK S DENGAN BALITA (ANAK C) YANG MENGALAMI GIZI KURANG Dosen Pembimbing: Ns. Sovia, M. Kep Disusun untuk menyelesaikan Tugas Praktik Klinik Mata Kuliah Keperawatan Keluarga Oleh: Mia Farlena NIM PO71202200003 POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI JURUSAN KEPERAWATAN PRODI PROFESI NERS TAHUN AKADEMIK 2020/2021 KATA PENGANTAR Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan Rahmatnya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini. Penulisan tugas ini dikerjakan dalam rangka memenuhi kompetensi Praktik Klinik Keperawatan Komunitas dan Keluarga dengan judul Laporan Asuhan Keperawatan Keluarga bapak S dengan Balita (Anak C) yang Mengalami Gizi Kurang. Tugas ini dapat tersusun atas dukungan, bimbingan, serta saran dari beberapa pihak, untuk itu melalui kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu Ns. Loriza Sativa Yan, MNS., selaku dosen Koordinator mata kuliah Keperawatan Komunitas dan Keluarga. 2. Ibu Ns. Sovia, M.Kep, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan serta saran pada saya. 3. Kedua orang tua yang telah memberikan motivasi dan semangat. 4. Teman-teman prodi profesi ners yang telah saling mengingatkan dan memberi dukungan. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penulisan tugas ini. Semoga tugas ini membawa manfaat bagi kita semua. Jambi, 25 Januari 2021 Mia Farlena i DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................................................................. i Daftar Isi ...................................................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang....................................................................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................................................ 2 C. Tujuan .................................................................................................................... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Keluarga 1. Definisi Keluarga.......................................................................................... 3 2. Tipe-Tipe Keluarga ...................................................................................... 3 3. Tugas Keluarga ............................................................................................. 5 4. Fungsi Keluarga............................................................................................ 6 5. Tahap Perkembangan Keluarga ................................................................. 7 6. Tingkat Kemandirian Keluarga ................................................................ 10 7. Model Friedman dalam Keperawatan Keluarga .................................... 11 8. Tujuan Keperawatan Keluarga ................................................................. 11 9. Sasaran Keperawatan Keluarga ................................................................ 12 10. Peran dan Fungsi Keperawatan Keluarga .............................................. 13 B. Tahap Perkembangan Keluarga dengan Balita 1. Definisi ........................................................................................................ 15 2. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Balita....................................... 15 3. Masalah Kesehatan .................................................................................... 17 4. Perhatian Pelayanan Kesehatan ............................................................... 17 C. Konsep Gizi Kurang pada Balita 1. Definisi Gizi Kurang ................................................................................. 18 2. Etiologi Gizi Kurang ................................................................................. 18 3. Faktor Pendukung Terjadinya Gizi Kurang ........................................... 19 4. Kategori Status Gizi................................................................................... 20 5. Patofisiologi Gizi Kurang ......................................................................... 20 6. WOC Gizi Kurang ..................................................................................... 21 ii 7. Manifestasi Klinis Gizi Kurang ................................................................ 22 8. Pemeriksaan Penunjang ............................................................................ 22 9. Dampak Gizi Kurang ................................................................................ 23 10. Kebutuhan Gizi Kurang ........................................................................... 24 11. Penatalaksanaan Gizi Kurang................................................................... 25 12. Komplikasi .................................................................................................. 26 D. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian ................................................................................................... 27 2. Diagnosa Keperawatan ............................................................................ 31 3. Intervensi Keperawatan ............................................................................ 33 BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN BALITA A. Pengkajian ........................................................................................................... 36 B. Diagnosa Keperawatan ........................................................................................ C. Intervensi Keperawatan ........................................................................................ D. Implementasi Keperawatan .................................................................................. E. Evaluasi Keperawatan ........................................................................................... BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ............................................................................................................. B. Saran......................................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. LAMPIRAN A. Dokumentasi Kegiatan B. Link Video C. Informed Concent D. Laporan Kunjungan E. Media dan Intervensi iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tahap perkembangan keluarga dengan balita dimulai saat anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun ( Friedman, 2013). Kehidupan keluarga selama tahap ini sangat penting dan memberi tuntutan bagi orang tua. Masa balita merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan terhadap penyakit. Status gizi memegang peranan penting dalam meningatkan kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi dapat menghambat pertumbuhan fisik, perkembangan kecerdasan, penurunan produktivitas, menurunnya daya tahan tubuh, serta meningkatkan angka kesakitan dan kematian (Almatsier, 2011). Masalah kekurangan gizi merupakan masalah kesehatan yang masih tinggi di dunia, berdasarkan data WHO (2014), negara di regional Asia Selatan yang memiliki angka tertingi kejadian kurang gizi yaitu India 43,5% , disusul negaranegara seperti Bangladesh 36,8%, Afghanistan 32,9%, dan Pakistan 31,6%. Sedangkan untuk negara berkembang, salah satunya adalah Indonesia mempunyai prevalensi status gizi anak balita berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) di Indonesia yaitu 17,8% tinggi badan sangat pendek dan untuk prevalensi status gizi berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) persentase di Indonesia yaitu 6,7% berat badan sangat kurus. Prevalensi nasional masalah gizi buruk dan gizi kurang (BB/U) pada anak balita masih tinggi yaitu 19,6 %. Jika di bandingkan dengan angka Prevalensi Nasional tahun 2007 (18,4%) dan tahun 2010 (17,9%) terlihat meningkat. Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 di 17 kabupaten/kota se Sumatera Selatan presentase kejadian gizi kurang yaitu sebesar 10,2 %, jika dibandingkan target rensta yang 9% maka kejadian gizi kurang belum teratasi sesuai target yang ditetapkan dengan dengan presentase capaian 86,67% (Profil Kesehatan Indonesia 2017). Keluarga mempunyai peranan penting dalam perawatan balita, karena keluarga merupakan agen sosial yang akan mempengaruhi tumbuh kembang balita, sehingga status gizi balita tidak akan terlepas dari lingkungan yang merawat dan mengasuhnya(Arisman, 2013).Orangtua terutama ibu, yang dominan dalam merawat dan mengasuh balita seperti dalam pemenuhan gizi balita sangat 1 ditentukan oleh peran serta dan dukungan penuh dari keluarga (Nurdiansyah, 2011). Hal ini dikarenakan keluarga adalah pihak yang mengenal dan memahami berbagai aspek dalam diri anggota keluarga dengan jauh lebih baik dari pada orang lain (Friedman, 2010). Dukungan sosial keluarga akan semakin dibutuhkan orangtua balita selama perawatan balita, di sinilah peran anggota keluarga diperlukan untuk menjalani masa-masa sulit dengan cepat (Stanhope & Lancaster, 2014). Sebagai perawat keluarga, peran kita adalah memberikan asuhan keperawatan melalui pendidikan kesehatan kepada keluarga khususnya pada orang tua tentang pentingnya asupan gizi bagi anak balita, dengan demikian angka kejadian gizi buruk pada balita dapat teratasi. B. Rumusan Masalah Gizi kurang terjadi akibat asupan energi dan makronutrien yang tidak memadai. Pada dasarnya masalah gizi kurang disebabkan oleh kurang baiknya pola asuh makan dan pengetahuan keluarga dalam menyediakan makanan bergizi. peran perawat keluarga adalah memberikan asuhan keperawatan melalui pendidikan kesehatan kepada keluarga khususnya pada orang tua tentang pentingnya asupan gizi bagi anak balita. Maka, perumusan masalah dalam laporan ini adalah bagaimana memberikan asuhan keperawatan pada keluarga Bapak S dengan balita (Anak C) yang mengalami gizi kurang. C. Tujuan 1. Diketahuinya konsep teoritis keluarga 2. Diketahuinya konsep perkembangan keluarga dengan Balita 3. Diketahuinya konsep gizi kurang pada balita 4. Diketahuinya pemberian asuhan keperawatan keluarga Bapak S dengan balita (Anak C) yang mengalami gizi kurang 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Keluarga 1. Definisi Keluarga Keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung karena ikatan tertentu untuk saling berbagi pengalaman dan melakukan pendekatan emosional, serta mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari keluarga (Friedman, 2013). Padila (2012) mendefinisikan keluarga adalah suatu arena berlangsungnya interaksi kepribadian atau sebagai sosial terkecil yang terdiri dari seperangkat komponen yang sangat tergantung dan dipengaruhi oleh struktur internal dan sistem-sistem lain. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dan saling ketergantungan (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Dari beberapa pengertian keluarga tersebut, dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah dua individu atau lebih yang hidup bersama yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang dan saling ketergantungan untuk berbagi pengalaman satu sama lain dan mampu memenuhi kebutuhan. 2. Tipe-Tipe Keluarga Menurut Friedman (2013) berbagai tipe/bentuk keluarga digolongkan sebagai keluarga tradisional dan non tradisional yaitu sebagai berikut: a. Keluarga Tradisional 1) Keluarga inti (Nuclear Family) Keluarga inti terdiri dari seorang ayah yang mencari nafkah, ibu yang mengurusi rumah tangga dan anak, baik anak kandung maupun anak angkat atau anak tiri. 2) Keluarga dyad (The dyad family) Suatu rumah tangga yang terdiri atas suami dan istri tanpa anak. Hal yang perlu Anda ketahui, keluarga ini mungkin belum mempunyai anak atau tidak mempunyai anak, jadi ketika nanti Anda melakukan 3 pengkajian data dan ditemukan tipe keluarga ini perlu Anda klarifikasi lagi datanya. 3) Keluarga besar (Extended Family) Keluarga dengan pasangan yang berbagi pengaturan rumah tangga dan pengeluaran keuangan dengan orang tua, kakak/adik, d a n keluarga dekat lainnya. Anak-anak kemudian dibesarkan oleh generasi dan memiliki pilihan model pola perilaku yang akan membentuk pola perilaku mereka. Secara ringkasnya, keluarga besar terdiri dari keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan. 4) Keluarga orang tua tunggal (Single Parent) Keluarga orang tua tunggal adalah keluarga dengan ibu atau ayah sebagai kepala keluarga. Keluarga orang tua tunggal adalah keluarga dengan kepala rumah tangga duda/janda yang bercerai, ditelantarkan, atau berpisah. 5) Dewasa lajang yang tinggal sendiri (Single Adult) Kebanyakan individu yang tinggal sendiri adalah bagian dari beberapa bentuk jaringan keluarga yang longgar. Jika jaringan ini tidak terdiri atas kerabat, jaringan ini dapat terdiri atas teman- teman. Hewan peliharaan juga dapat menjadi anggota keluarga yang penting. 6) Middle-aged or elderly couple Keluarga dengan orang tua yang tinggal sendiri di rumah (baik suami/istri atau keduanya), karena anak-anaknya sudah membangun karir sendiri atau sudah menikah. 7) Kin-network family Beberapa keluarga yang tinggal bersama atau saling berdekatan dan menggunakan barang-barang pelayanan, seperti dapur dan kamar mandi yang sama. b. Keluarga Non Tradisional 1) Unmarried Parent and child, yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua (biasanya ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah atau perkawinan yang tidak dikehendaki. 2) Commune Family, yaitu beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan saudara, hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama: sosialisasi 4 anak dengan melalui aktivitas kelompok atau membesarkan anak bersama 3) The non-marital heterosexual cohibitang family, yaitu keluarga yang hidup bersama dan berganti-ganti pasangan tanpa melalui pernikahan. 4) Gay and Lesbian Family, yaitu seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana suami-istri (marital partness). 5) Cohibing Couple, dua orang atau satu pasangan yang tinggal bersama tanpa pernikahan. 3. Tugas Keluarga Menurut Friedman (2013), keluarga memiliki 8 tugas pokok dan juga 5 tugas dalam bidang kesehatan sebagai berikut: a. Tugas Pokok Keluarga 1) Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya. 2) Pemeliharaan sumber - sumber daya yang ada dalam keluarga. 3) Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai kedudukan masing-masing. 4) Sosialisasi antar anggota keluarga. 5) Pengaturan jumlah anggota keluarga. 6) Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga. 7) Penempatan anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas 8) Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga. b. Tugas Keluarga dalam Bidang Kesehatan 1) Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap anggotanya 2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat. 3) Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit dan yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya yang tertalu muda. 4) Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan kesehatan perkembangan kepribadian anggota keluarga. 5) Mempertahankan hubungan timbai balik antara keluarga dan lembaga kesehatan. yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas kesehatan yang ada. 5 4. Fungsi Keluarga Menurut Friedman (2013), lima fungsi keluarga menjadi saling berhubungan erat pada saat mengkaji dan melakukan intervensi dengan keluarga. Lima fungsi itu adalah : a. Fungsi Afektif Fungsi afektif merupakan dasar utama baik untuk pembentukan maupun berkelanjutan unit keluarga itu sendiri, sehingga fungsi afektif merupakan salah satu fungsi keluarga yang paling penting. Saat ini, ketika tugas sosial dilaksanakan di luar unit keluarga, sebagian besar upaya keluarga difokuskan pada pemenuhan kebutuhan anggota keluarga akan kasih sayang dan pengertian. Manfaat fungsi afektif di dalam anggota keluarga dijumpai paling kuat di antara keluarga kelas menengah dan kelas atas, karena pada keluarga tersebut mempunyai lebih banyak pilihan. Sedangkan pada keluarga kelas bawah, fungsi afektif sering terhiraukan. b. Fungsi Sosialisasi dan Status Sosial Sosialisasi anggota keluarga adalah fungsi yang universal dan lintas budaya yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup masyarakat. Sosialisasi merujuk pada banyaknya pengalaman belajar yang diberikan dalam keluarga yang ditujukan untuk mendidik anak-anak tentang cara menjalankan fungsi dan memikul peran sosial orang dewasa seperti peran yang dipikul suami-ayah dan istri-ibu. c. Fungsi Perawatan Kesehatan Keluarga menyediakan kebutuhan fisik dan perawatan kesehatan. Perawatan kesehatan dan praktik-praktik sehat (yang memengaruhi status kesehatan anggota keluarga secara individual) merupakan bagian yang paling relevan dari fungsi perawatan kesehatan. 1) Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan keluarga. 2) Kemampuan keluarga membuat keputusan yang tepat bagi keluarga. 3) Kemampuan keluarga dalam merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. 4) Kemampuan keluarga dalam mempertahankan atau menciptakan suasana rumah yang sehat. 5) Kemampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas. 6 d. Fungsi Reproduksi Salah satu fungsi dasar keluarga adalah untuk menjamin kontinuitas antar generasi keluarga masyarakat yaitu: menyediakan anggota baru untuk masyarakat. Banyaknya jumlah anak dalam suatu keluarga menyebabkan kebutuhan keluarga juga meningkat. e. Fungsi Ekonomi Fungsi ekonomi melibatkan penyediaan keluarga akan sumber daya yang cukup finansial, ruang dan materi serta alokasinya yang sesuai melalui proses pengambilan keputusan. 5. Tahap Perkembangan Kehidupan Keluarga Menurut Kemenkes RI tahun 2016 (dalam Modul Keperawatan Komunitas dan Kelurga tahun 2016), perkembangan keluarga terjadi dalam beberapa tahapan berikut: a. Keluarga baru menikah atau pemula (beginning family) Pembentukan pasangan menandakan permulaan suatu keluarga baru dengan pergerakan dari membentuk keluarga asli sampai ke hubungan intim yang baru. Tugas perkembangan tahap ini adalah: 1) Membangun perkawinan yang saling memuaskan 2) Membina hubungan persaudaraan, teman, dan kelompok sosial 3) Mendiskusikan rencana memiliki anak b. Keluarga dengan anak baru lahir (childbearing family) Tahap ini dimulai dengan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai bayi berusia 30 bulan. Transisi ke masa menjadi orang tua adalah salah satu kunci dalam siklus kehidupan keluarga. Tugas perkembangan tahap ini adalah: 1) Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap mengintegrasikan bayi yang baru lahir ke dalam keluarga 2) Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga 3) Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan 4) Memperluas persahabatan dengan keluarga besar menambahkan peran- peran orang tua dan kakek nenek. 7 dengan c. Keluarga dengan anak usia pra sekolah Prasekolah (families with preschool) Tahap ini dimulai ketika anak pertama berusia 2,5 tahun dan diakhiri ketika anak berusia 5 tahun. Keluarga saat ini dapat terdiri dari tiga sampai lima orang, dengan posisi pasangan suami-ayah, istri-ibu, putra-saudara lakilaki, dan putri-saudara perempuan. Tugas perkembangan tahap ini adalah: 1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti rumah, ruang bermain, privasi, dan keamanan 2) Mensosialisasikan anak 3) Mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi kebutuhan anak yang lain 4) Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga dan di luar keluarga. d. Keluarga dengan anak usia sekolah (families with school children) Tahap ini dimulai pada saat tertua memasuki sekolah dalam waktu penuh, biasanya pada usia 5 tahun, dan diakhiri ketika ia mencapai pubertas, sekitar usia 13 tahun. Keluarga biasanya mencapai jumlah anggota keluarga yang maksimal dan hubungan akhir yang maksimal. Tugas perkembangan tahap ini adalah: 1) Mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan hubungan dengan teman sebaya yang sehat 2) Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan 3) Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga e. Keluarga dengan anak remaja (families with teenagers) Biasanya tahap ini berlangsung selama enam atau tujuh tahun, walaupun dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluargalebih awal atau lebih lama jika anak tetap tinggal di rumah pada usia lebih dari 19 atau 20 tahun. Anak lainnya yang tinggal dirumah biasanya anak usia sekolah. Tujuan keluarga pada tahap ini adalah melonggarkan ikatan keluarga untuk memberikan tanggung jawab dan kebebasan remaja yang lebih besar dalam mempersiapkan diri menjadi seorang dewasa muda. Tugas perkembangan tahap ini adalah: 1) Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan semakin mandiri 2) Memfokuskan kembali hubungan perkawinan 8 3) Berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak. f. Keluarga melepas anak usia dewasa muda (launching center families) Tahap ini dimulai pada saat perginya anak pertama dari rumah orang tua dan berakhir dengan “kosongnya rumah”, ketika anak terakhir juga telah meninggalkan rumah. Tahap ini dapat cukup singkat atau cukup lama, bergantung pada jumlah anak dalam keluarga atau jika anak yang belum menikah tetap tinggal di rumah setelah mereka menyelesaikan SMU atau kuliahnya. Tugas perkembangan tahap ini adalah: 1) Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapatkan melalui perkawinan anak-anak 2) Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali hubungan perkawinan 3) Membantu orangtua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami atau istri. g. Keluarga dengan usia pertengahan (middle age families) Tahapan ini dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah dan berakhir dengan pensiunan atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini dimulai ketika orang tua berusia sekitar 45 tahun sampai 55 tahun dan berakhir dengan persiunannya pasangan, biasanya 16 sampai 18 tahun kemudian. Tugas perkembangan tahap ini adalah: 1) Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan 2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arti dengan para orang tua lansia dan anak-anak 3) Memperkokoh hubungan perkawinan. h. Keluarga dengan usia lanjut Tahap ini merupakan tahap terakhir perkembangan keluarga, dimulai pada saat pensiunan salah satu atau kedua pasangan, berlanjut sampai kehilangan salah satu pasangan, dan berakhir dengan kematian pasangan yang lain. Tugas perkembangan tahap ini adalah: 1) Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan 2) Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun 3) Mempertahankan hubungan perkawinan 4) Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan 5) Mempertahankan ikatan keluarga antargenerasi 6) Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan hidup). 9 6. Tingkat Kemandirian Keluarga Keberhasilan asuhan keperawatan keluarga yang dilakukan perawat keluarga dapat dinilai seberapa tingkat kemandirian keluarga dengan mengetahui kriteria atau ciri-ciri yang menjadi ketentuan tingkatan mulai dari tingkat kemandirian I sampai tingkat kemandirian IV yaitu sebagai berikut (Kementerian Kesehatan RI, 2016): a. Tingkat kemandirian I (keluarga mandiri tingkat I / KM-I) 1) Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat 2) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan b. Tingkat kemandirian II (keluarga mandiri tingkat II / KM-II) 1) Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat 2) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan 3) Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar 4) Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai yang dianjurkan 5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif c. Tingkat Kemandirian III (keluarga mandiri tingkat III / KM-III) 1) Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat 2) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan 3) Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar 4) Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai yang dianjurkan 5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif 6) Melaksanakan tindakan pencegahan sesuai anjuran d. Tingkat kemandirian IV (keluarga mandiri tingkat IV / KM-IV) 1) Menerima petugas Perawatan Kesehatan masyarakat 2) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan 3) Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar 4) Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai yang dianjurkan 5) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif 6) Melaksanakan tindakan pencegahan sesuai anjuran 7) Melakukan tindakan promotif secara aktif 10 7. Model Friedman dalam Keperawatan Keluarga Teori keperawatan keluarga terus berkembang sejalan dengan penelitian dan praktik keperawatan, dan para peneliti keperawatan terus berdebat tentang perkembangan teori keperawatan di semua area keperawatan. Banyak debat yang berfokus pada konseptualisasi baru konsep metaparadigma keperawatan dan merefleksikan pengaruh perspektif pascamoderenisasi dan neomoderenisasi (Friedman, 2013). Model pengkajian keluarga Friedman merupakan pendekatan terpadu dengan menggunakan teori sistem umum, teori perkembangan keluarga, teori struktural-fungsional, dan teori lintas budaya sebagai landasan teoritis primer model dan alat pengkajian keluarga. Teori pertengahan lainnya juga dipadukan kedalam berbagai dimensi struktural dan fungsional yang dikaji, seperti teori komunikasi, teori peran, dan teori stress keluarga. Diagnosis keperawatan keluarga dan strategi intervensinya juga dibahas terkait dengan setiap data yang diidentifikasi, sosiokultural, perkembangan, struktural, fungsional, dan bidang kajian stress serta kopingnya (Friedman, 2013). 8. Tujuan Keperawatan Keluarga Menurut Kemenkes RI tahun 2016 (dalam Modul Keperawatan Komunitas dan Kelurga tahun 2016), tujuan keperawatan keluarga ada dua macam, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dari keperawatan keluarga adalah kemandirian keluarga dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Tujuan khusus dari keperawatan keluarga adalah keluarga mampu melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatan keluarga dan mampu menangani masalah kesehatannya berikut ini: a. Mengenal masalah kesehatan yang dihadapi anggota keluarga Kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan seluruh anggota keluarga. Sebagai contoh, apakah keluarga mengerti tentang pengertian dan gejala kencing manis yang diderita oleh anggota keluarganya? b. Membuat keputusan secara tepat dalam mengatasi masalah kesehatan anggota keluarga Kemampuan keluarga dalam mengambil keputusan untuk membawa anggota keluarga ke pelayanan kesehatan. Sebagai contoh, segera 11 memutuskan untuk memeriksakan anggota keluarga yang sakit diare ke pelayanan kesehatan. c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan Kemampuan keluarga dalam merawat anggota keluarga yang sakit. Sebagai contoh, keluarga mampu merawat anggota keluarga yang sakit, memantau minum obat, mengingatkan untuk kontrol ke pelayanan kesehatan. d. Memodifikasi lingkungan yang kondusif Kemampuan keluarga dalam mengatur lingkungan, sehingga mampu mempertahankan kesehatan dan memelihara pertumbuhan serta perkembangan setiap anggota keluarga. Sebagai contoh, keluarga menjaga kenyamanan lingkungan fisik dan psikologis untuk seluruh anggota keluarga termasuk anggota keluarga yang sakit. e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeliharaan dan perawatan anggota keluarga yang mempunyai masalah kesehatan. Sebagai contoh, keluarga memanfaatkan Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan lain untuk anggota keluarganya yang sakit. 9. Sasaran Keperawatan Keluarga Menurut Kemenkes RI tahun 2016 (dalam Modul Keperawatan Komunitas dan Kelurga tahun 2016), sasaran keperawatan keluarga yaitu: a. Keluarga sehat Keluarga sehat adalah seluruh anggota keluarga dalam kondisi tidak mempunyai masalah kesehatan, tetapi masih memerlukan antisipasi terkait dengan siklus perkembangan manusia dan tahapan tumbuh kembang keluarga. Fokus intervensi keperawatan terutama pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. b. Keluarga risiko tinggi dan rawan kesehatan Keluarga risiko tinggi dapat didefinisikan, jika satu atau lebih anggota keluarga memerlukan perhatian khusus dan memiliki kebutuhan untuk menyesuaikan diri, terkait siklus perkembangan anggota keluarga dan keluarga dengan faktor risiko penurunan status kesehatan. 12 c. Keluarga yang memerlukan tindak lanjut Keluarga yang memerlukan tindak lanjut merupakan keluarga yang mempunyai masalah kesehatan dan memerlukan tindak lanjut pelayanan keperawatan atau kesehatan, misalnya klien pasca hospitalisasi penyakit kronik, penyakit degeneratif, tindakan pembedahan, dan penyakit terminal 10 Peran dan Fungsi Perawat Keluarga Menurut Kemenkes RI tahun 2016 (dalam Modul Keperawatan Komunitas dan Kelurga tahun 2016), peran dan fungsi perawat keluarga yaitu: a. Pelaksana Peran dan fungsi perawat sebagai pelaksana adalah memberikan pelayanan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan, mulai pengkajian sampai evaluasi. Pelayanan diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya keamanan menuju kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan yang dilakukan bersifat promotif, preventif, kuratif, serta rehabilitatif. b. Pendidik Peran dan fungsi perawat sebagai pendidik adalah mengidentifikasi kebutuhan, menentukan tujuan, mengembangkan, merencanakan, dan melaksanakan pendidikan kesehatan agar keluarga dapat berperilaku sehat secara mandiri. c. Konselor Peran dan fungsi perawat sebagai konselor adalah memberikan konseling atau bimbingan kepada individu atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang lalu untuk membantu mengatasi masalah kesehatan keluarga. d. Kolaborator Peran dan fungsi perawat sebagai kolaborator adalah melaksanakan kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait dengan penyelesaian masalah kesehatan di keluarga. 13 Selain peran perawat keluarga di atas, ada juga peran perawat keluarga dalam pencegahan primer, sekunder dan tersier, sebagai berikut. a. Pencegahan Primer Peran perawat dalam pencegahan primer mempunyai peran yang penting dalam upaya pencegahan terjadinya penyakit dan memelihara hidup sehat. b. Pencegahan sekunder Upaya yang dilakukan oleh perawat adalah mendeteksi dini terjadinya penyakit pada kelompok risiko, diagnosis, dan penanganan segera yang dapat dilakukan oleh perawat. Penemuan kasus baru merupakan upaya pencegahan sekunder, sehingga segera dapat dilakukan tindakan. Tujuan dari pencegahan sekunder adalah mengendalikan perkembangan penyakit dan mencegah kecacatan lebih lanjut. Peran perawat adalah merujuk semua anggota keluarga untuk skrining, melakukan pemeriksaan, dan mengkaji riwayat kesehatan. c. Pencegahan tersier Peran perawat pada upaya pencegahan tersier ini bertujuan mengurangi luasnya dan keparahan masalah kesehatan, sehingga dapat meminimalkan ketidakmampuan dan memulihkan atau memelihara fungsi tubuh. Fokus utama adalah rehabilitasi.Rehabilitasi meliputi pemulihan terhadap individu yang cacat akibat penyakit dan luka, sehingga mereka dapat berguna pada tingkat yang paling tinggi secara fisik, sosial, emosional. 14 B. Tahap Perkembangan Keluarga dengan Balita 1. Definisi Pada tahap perkembangan ini, dimulai saat anak pertama berusia 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun ( Friedman, 2013). Kehidupan keluarga selama tahap ini sangat penting dan memberi tuntutan bagi orang tua. Kedua orang tua banyak menggunakan waktu mereka, karena kemungkinan besar ibu bekerja, baik bekerja paruh waktu maupun dengan waktu penuh. Namun dengan menyadari bahwa orang tua adalah ‘arsitek keluarga’, maka adalah penting bagi mereka untuk memperkokoh kemitraan mereka, agar pernikahan mereka tetap hidup dan lestari. Pada tahap ini anak-anak balita harus banyak belajar, khususnya dalam hal kemandirian. Mereka harus mencapai otonomi yang cukup dan mampu memenuhi kebutuhan sendiri agar dapat menangani diri mereka sendiri tanpa campur tangan orang tua dimana saja dan kapan saja. Pengalaman di kelompok bermain atau program yang serupa lainnya merupakan cara yang baik untuk membantu perkembangan semacam ini. Peningkatan yang tajam dalam IQ dan keterampilan sosial telah dilaporkan terjadi setelah anak menyelesaikan sekolah taman kanak-kanak selama 2 tahun (Friedman, 2013). 2. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Balita Tugas perkembangan pada tahap ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini (Friedman, 2013): Tahap Perkembangan Keluarga dengan Balita a. b. c. d. e. f. g. Tugas Perkembangan Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman Membantu anak untuk bersosialisasi Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun di luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot) Pembagian tanggungjawab anggota keluarga Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang anak 15 Tugas utama dari keluarga adalah mensosialisasikan anak. Anak-anak usia balita mengembangkan sikap diri sendiri (konsep diri) dan secara cepat belajar mengekspresikan diri mereka, seperti tampak menangkap kemampuan bahasa secara cepat. Tugas lain pada masa ini adalah menyangkut bagaimana mengintegrasikan anggota keluarga yang baru (anak kedua dan ketiga) sementara masih memenuhi kebutuhan anak yang lebih tua. Penggeseran seorang anak oleh bayi baru lahir secara psikologis merupakan kejadian traumatik. Persiapan anak-anak menjelang kelahiran seorang bayi akan membantu memperbaiki situasi, khususnya jika orang tua sensitif dengan perasaan dan tingkah laku anak yang lebih tua. Persaingan di kalangan kakakadik biasanya diungkapkan dengan memukul atau berhubungan negatif dengan bayi, tingkah laku regresif atau melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian. Cara terbaik menangani persaingan kakak adik adalah dengan meluangkan waktu setiap hari untuk berhubungan lebih erat dengan anak yang lebih tua, untuk meyakinkan bahwa ia masih dicintai dan dikehendaki. Ketika anak mencapai usia balita, orang tua mulai belajar berpisah dengan anak-anaknya ketika mereka mulai masuk ke kelompok bermain, tempat penitipan anak, atau TK. Tahap ini terus berlangsung selama usia prasekolah sampai memasuki usia sekolah. Berpisah seringkali sulit bagi orang tua dan mereka perlu mendapatkan dukungan dan penjelasan tentang bagaimana penguasaan tugas-tugas perkembangan anak usia prasekolah, memberikan kontribusi untuk semakin meningkatnya otonomi mereka. Berpisah dari orang tua juga dirasa sulit oleh anak-anak usia prasekolah. Pisah dapat terjadi karena orang tua pergi bekerja, ke rumah sakit, malakukan perjalanan atau berlibur. Persiapan keluarga untuk berpisah dengan anak sangat penting dalam membantu anak menyesuaikan diri dengan perubahan. Kedua orang tua perlu memiliki kesenangan dan kontak di luar rumah untuk mengawetmudakan mereka, sehingga mereka dapat melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab di rumah. 16 3. Masalah Kesehatan a. Masalah kesehatan fisik 1) Anak-anak usia balita seringkali menderita penyakit infeksi menular karena paparan spesifik virus dan bakteri meningkat. 2) Pada tahap anak usia baliya, memiliki keinginan yang besar untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya, sehingga kecelakaan (jatuh, luka bakar,keracunan & kecelakaan-kecelakaan) menjadi penyebab utama kematian dan cacat. b..Masalah kesehatan psikososial: 1. Masalah kesehatan psikososial keluarga yang utama adalah hubungan perkawinan. Beberapa studi mencoba meneliti menurunnya kepuasan yang dialami oleh banyak pasangan selama tahun-tahun ini dan perlunya penanganan untuk masalah ini untuk memperkokoh dan memberikan semangat lagi pada unit yang vital ini. 2. Persaingan diantara kakak-adik Masalah-masalah kesehatan lain yang penting adalah keluarga berencana, kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan, masalahmasalah pengasuhan anak seperti membatasi lingkungan (disipin), penganiayaan dan menelantarkan anak, keamanan di rumah dan masalah-masalah komunikasi keluarga (Friedman, 2013). 4. Perhatian Pelayanan Kesehatan Tujuan utama bagi perawat yang bekerja dengan keluarga dan anak usia balita adalah membantu mereka membentuk gaya hidup sehat dan memfasilitasi pertumbuhan fisik,intelektual, emosional dan sosial secara optimal (Friedman, 2013). Strategi – strategi promosi kesehatan umum berhubungan erat selama tahap ini, karena tingkah laku gaya hidup yang dipelajari selama masa kanakkanak dapat menyebabkan konskuensi jangka pendek dan jangka panjang. Pendidikan kesehatan diarahkan pada pencegahan masalah-masalah kesehatan utama seperti merokok, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan alkohol, seksualitas manusia, keselamatan, diet dan nutrisi, olahraga, penanganan stress/ dukungan sosial. 17 C. Konsep Gizi Kurang Pada Balita 1. Definisi Gizi Kurang Gizi (nutrition) adalah proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi (penyerapan), transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan, untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal organ-organ, serta menghasilkan energi (Pudjiastuti, 2011). Gizi kurang atau kurang gizi (sering kali tersebut malnutrisi) muncul akibat asupan energi dan makronutrien yang tidak memadai. Pada beberapa orang kurang gizi juga terkait dengan defisiensi mikronutrien nyata ataupun subklinis (Webster-Gandy, 2014). 2. Etiologi Gizi Kurang Menurut Pudjiastuti (2011), gizi kurang pada balita, disebabkan oleh: a. Pola makan yang salah Asupan gizi dari makanan sangat berpengaruh besar pada pertumbuhan balita. Jumlah makanan yang dikonsumsi oleh balita harus diperhatikan, pola makan yang salah dapat menyebabkan balita mengalami gizi kurang. b. Anak sering sakit dan perhatian yang kurang Perhatian dan kasih sayang orang tua pada anak sangat dibutuhkan pada masa perkembangan anak. Rendahnya perhatian dan kasih sayang orang tua pada anak menyebabkan makan anak tidak terkontrol. c. Infeksi penyakit Adanya penyakit infeksi dapat memperburuk keadaan/ kondisi balita terutama pada balita yang asupan gizinya tidak terkontrol dengan baik. d. Kurangnya asupan gizi Rendahnya asupan gizi pada anak menyebabkan anak mengalami gizi kurang sehingga pertumbuhan tubuh dan otak anak terganggu. e. Berbagai hal buruk yang terkait dengan kemiskinan Status ekonomi yang terlalu rendah menyebabkan keluarga tidak mampu memberikan asupan makanan yang cukup pada anak sehingga penyakit mudah berkembang di tubuh anak. 18 3. Faktor Pendukung Terjadinya Gizi Kurang Menurut Webster-Gandy (2012), dalam kebanyakan kasus, ada berbagai faktor pendukung terjadinya gizi kurang, yaitu sebagai berikut: a. Ketersediaan makanan yang tidak memadai (kuantitatif ataupun kualitatif): a. Pasien diasuh di ruang isolasi sehingga baki makanan mungkin saja di tinggalkan diluar kamar atau ditempat yang tidak terjangkau pasien. b. Kelaparan berulang yang disengaja, misal harus berpuasa peroral karena menjalani berbagai macam pemeriksaan atau terapi c. Koordinasi motorik lambat sehingga perlu bantuan saat makan b. Anoreksia (kehilangan nafsu makan) : a. Dampak penyakit, misal akibat kanker, infeksi, inflamasi b. Mual dan muntah. c. Masalah psikologi, misal akibat depresi, kecemasan, kesepian. c. Gangguan makan : a. Gangguan gigi-geligi b. Perubahan pengecap dan pembau c. Sesak napas d. Gangguan menelan d. Absorpsi nutrien menurun a. Sekresi saluran cerna tidak mencukupi, termasuk empedu dan semua enzim saluran cerna, misal akibat kekurangan enzim pankreas. b. Kerusakan permukaan absorptif di saluran cerna, misal akibat penyakit Crohn. c. Reseksi + fistula saluran cerna d. Komplikasi terapi obat. e. Kebutuhan meningkat a. Hipermetabolisme terkait penyakit, misalnya akibat sirosis hati, beberapa kanker. b. Akibat terapi, misalnya setelah pembedahan. c. Peningkatan kehilangan, misalnya melalui saluran cerna, urine, kulit, napas, atau drainase bedah. d. Peningkatan aktivitas, misal akibat penyakit Parkinson 19 4. Kategori Status Gizi Kategori status gizi menurut Departemen Kesehatan RI (2016), berdasarkan Z-score (simpangan baku) dibagi menjadi 3 diantaranya : a. Kategori BB/U 1) Kategori Gizi Buruk: jika Z-score < - 3,0 2) Kategori Gizi Kurang: jika Z-score > - 3,0 s/d Z-score < - 2,0 3) Kategori Gizi Baik: jika Z-score > - 2,0 s/d Z-score < 2,0 4) Kategori Gizi Lebih: jika Z-score > 2,0 b. Kategori TB/U a. Kategori Sanagat Pendek: jika Z-score < - 3,0 b. Kategori Pendek: jika Z-score > - 3,0 s/d Z-score < -2,0 c. Kategori Normal: jika Z-score > - 2,0 c. Kategori BB/TB-PB (antropometri) Status Gizi Klinis Gizi Buruk Tampak sangat kurus dan atau Gizi Kurang Gizi Baik Gizi Lebih edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh Antropometri (BB/TB-PB) < - 3,0 SD **) -3,0 SD - <- 2,0 SD Tampak kurus Tampak sehat -2 SD – 2 SD Tampak gemuk >2 SD Catatan : **) Mungkin BB/TB-PB > - 3 SD bila terdapat edema berat (seluruh tubuh) 5. Patofisiologi Gizi Kurang Gizi kurang biasanya terjadi pada anak balita dibawah usia 5 tahun. Tidak tercukupinya makanan dengan gizi seimbang serta kondisi kesehatan yang kurang baik mengakibatkan balita menderita gizi kurang yang dapat bertambah menjadi gizi buruk jika tidak terintervensi dengan cepat dan tepat. Karena rendahnya penghasilan keluarga sehingga keluarga tidak mampu mencukupi kebutuhan balita dan keluarga tidak memberikan asuhan pada balita secara tepat dapat menyebabkan terjadinya gizi kurang (Waryana, 2016). Pada anak gizi kurang dapat mengakibatkan lapisan lemak di bawah kulit berkurang, daya tahan tubuh balita menurun, dan produksi albumin juga 20 menurun sehingga balita mudah terkena infeksi dan mengalami terlambatan perkembangan. Balita dengan gizi kurang juga mengalami peningkatan kadar asam basa pada saluran pencernaan menyebabkan balita mengalami diare sehingga masalah keperawatan yang muncul ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (Waryana, 2016). 6. WOC Gizi Kurang 21 7. Manifestasi Klinis Gizi Kurang Menurut Departemen Kesehatan RI (2016), balita dengan gizi kurang menunjukkan tanda dan gejala seperti: a. Anak tampak kurus b. Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti c. Berat badan tidak bertambah bahkan turun d. Ukuran lingkar lengan atas lebih kecil dari normal e. Maturasi tulang terlambat f. Tebal lipatan kulit berkurang g. Anemia ringan h. Aktivitas dan perhatian berkurang jika dibandingkan dengan anak sehat. Adapun malnutrisi berat pada anak dapat muncul dalam dua tampilan utama yaitu marasmus dan kwarsiorkor ataupun kombinasi dari keduanya. Pada anak marasmus ditemukan tanda: a. Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus b. Anak lebih cengeng c. Kulit kering, dingin, mengendur, dan keriput d. Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit berkurang e. Otot atrofi sehingga kontur tulang tampak jelas f. Tekanan darah lebih rendah, serta terdapat takikardia Sedangkan anak yang mengalami kwarsiorkor ditemukan tanda: a. Perubahan mental hingga apatis b. Anemia c. Perubahan warna dan tekstur rambut, mudah dicabut d. Gangguan sistem gastrointestinal e. Hepatomegali f. Dermatosis g. Atrofi otot h. Edema simetris pada kedua punggung kaki hingga seluruh tubuh 8. Pemeriksaan Penunjang Menurut Departemen Kesehatan RI (2016), pemeriksaan penunjang untuk malnutrisi digunakan untuk menilai kondisi pasien saat ini dan menentukan penyebab terjadinya malnutrisi tersebut. Disisi lain, pemeriksaan penunjang ini 22 juga dapat bermanfaat untuk menyingkirkan atau menegakkan diagnosa penyakit lain yang mungkin terjadi bersamaan dengan malnutrisi. Berikut pemeriksaan yang dilakukan: a. Pemeriksaan darah perifer lengkap Pemeriksaan darah perifer lengkap disertai dengan apusan darah tepi penting untuk melihat jenis anemia yang terjadi, mengetahui bila terjadi defisiensi zat besi (ditemukan sel target) atau defisiensi B12 dan asam folat b. Pengukuran status protein darah Melalui pemeriksaan kadar albumin serum, retinol-blinding protein, transferrin, kreatinin, dan BUN. Kadar albumin serum dapat dimanfaatkan sebagai salah satu indikator gizi buruk, baik pada saat awal kejadian malnutrisi maupun saat perbaikan mulai terjadi. Meskipun demikian, faktor-faktor bukan gizi yang dapat mempengaruhi kadar albumin seperti peningkatan cairan ekstra sel, trauma, sepsis, pembedahan, penyakit hati dan ginjal harus dieksklusi. Pemeriksaan kreatinin dan ureum darah dapat membantu menilai fungsi ginjal pasien malnutrisi c. Pemeriksaan laju endap darah (LED), elektrolit, urin lengkap Pemeriksaan ini dapat dilakukan bila dalam anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan indikasi, misalnya pada pasien dengan riwayat diare akut. 9. Dampak Gizi Kurang Menurut Webster-Gandy (2012), dampak gizi kurang bervariasi mulai dari subklinis, yakni tidak ada gangguan klinis sama sekali, sampai kematian, dan bergantung pada jenis, lama, dan derajat keparahan ketidakcukupan gizi, serta keadaan kesehatan pasien. Selain tingginya risiko mortalitas, kurang gizi juga terkait dengan morbilitas yang lebih besar : a. Berat badan turun (utamanya lemak dan otot) b. Fungsi otot terganggu a. Otot rangka (menyebabkan: mobilitas buruk, tingginya risiko jatuh) b. Pernapasan (menyebabkan: resiko infeksi paru, penurunan kapasitas penyapihan ventilasi tertunda) c. Jantung (menyebabkan: bradikardia, hipotensi, dan penurunan curah 23 jantung) d. Saluran cerna (menyebabkan: penurunan integritas dinding usus berpotensi menambah akses masuk mikroorganisme) c. Fungsi imun melemah: a. Penurunan fagositosis, penurunan kemotaksis, penurunan penghancuran bakteri intrasel, penurunan limfosit T b. Peningkatan angka infeksi c. Respons yang buruk terhadap vaksinasi d. Sintesis protein baru terganggu a. Penyembuhan luka kurang baik, tingginya risiko ulserasi b. Perlambatan masa pulih dari pembedahan c. Perlambatan atau penghentian pertumbuhan anak e. Gangguan psikologis a. Depresi, anoreksia, penurunan motivasi b. Penurunan kualitas hidup c. Gangguan intelektual jika kurang gizi terjadi pada masa bayi f. Beban ekonomi bertambah 10. Kebutuhan Gizi Kurang Menurut Webster-Gandy (2012), menjelaskan kebutuhan gizi seseorang adalah jumlah yang diperkirakan cukup untuk memelihara kesehatan pada umumnya. Secara garis besar, kebutuhan gizi ditentukan oleh usia, jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan pengeluarannya harus ada keseimbangan sehingga diperoleh status gizi yang baik. Status gizi balita dapat dipantau dengan menimbang anak setiap bulan dan dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat (KMS). a. Kebutuhan energi (Karbohidrat) Kebutuhan energi bayi dan balita relatif besar dibandingkan dengan orang dewasa, sebab pada usia tersebut pertumbuhannya masih sangat pesat. Kecukupannya akan semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia. Menurut Almatsier (2013), kebutuhan energi pada anak umur 0 – 6 bulan 350 kkal, umur 7 – 11 bulan 650 kkal, 1 – 3 tahun 1000 kkal dan 4 – 6 tahun 1550 kkal 24 b. Kebutuhan zat pembangun (protein) Secara fisiologis, balita sedang dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhannya relatif lebih besar dari pada orang dewasa. Namun, jika dibandingkan dengan bayi yang usianya kurang dari satu tahun, kebutuhannya relatif lebih kecil. Menurut Almatsier (2013), kebutuhan protein pada anak umur 0 – 6 bulan 10 gr, umur 7 – 11 bulan 16 gr, 1 – 3 tahun 25 gr dan 4 – 6 tahun 39 gr. c. Kebutuhan zat pengatur Kebutuhan air bayi dan balita dalam sehari berfluktuasi seiring dengan bertambahnya usia. Menurut Almatsier (2013), kebutuhan zat pengatur anak yaitu: 11. Penatalaksanaan Gizi Kurang Gizi kurang terjadi akibat kurangnya asupan gizi pada anak, yang bila tidak ditangani secara cepat, tepat dan komprehensif dapat mengakibatkan terjadinya gizi buruk. Perawatan gizi kurang dapat dilakukan dengan cara terapi gizi kurang. Menurut Webster-Gandy (2012), ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa bantuan gizi mampu menambah asupan protein dan energi, memperbaiki berat badan dan mengurangi penurunan berat badan diantaranya adalah : a. Penilaian Disaat kurang gizi didiagnosis, penilaian gizi secara menyeluruh harus dilakukan guna mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan menjadi dasar terapi b. Akses makanan 25 Setelah penilaian, jelas terlihat bahwa diperlukan beberapa tindakan nonteknis yang relatif mudah untuk membantu mereka yang kurang gizi mendapat makanan yang sesuai. c. Pemberian suplemen menggunakan makanan Modifikasi atau penyediaan makanan dan minuman menggunakan bahan makanan yang sudah umum dapat meningkatkan asupan energi dan zat gizi yang besar bagi banyak pasien. Langkah ini relatif jelas dan lugas serta harus dicoba terlebih dulu sebelum intervensi yang rumit dimulai. Status pasien harus rutin dipantau. d. Pemberian suplemen menggunakan suplemen gizi khusus per oral Suplemen gizi per oral siap guna sering disebut sip feeds dapat digunakan bersama fortifikasi makanan untuk menutupi kekurangan jika seseorang tidak dapat mengasup cukup makanan. 12. Komplikasi Menurut Webster-Gandy (2012), komplikasi gizi kurang diantaranya : a. Kwashiorkor (kekurangan karbohidrat): diare, infeksi, anemia, gangguan tumbuh kembang, hipokalemia, dan hipernatremia. b. Marasmus (kekurangan protein): infeksi, tuberculosis, parasitosis, disentri, malnutrisi kronik, gangguan tumbuh kembang. c. Marasmus-kwashiorkor (kekurangan karbohidrat dan protein): terjadi edema, kelainan rambut dan kelainan kulit 26 D. Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian anggota keluarga dengan Gizi Kurang Format pengkajian keluarga model Friedman yang diaplikasikan ke kasus dengan masalah utama gizi kurang meliputi: a. Data umum Menurut Friedman (2013), data umum yang perlu dikaji adalah : 1) Nama kepala keluarga dan anggota keluarga, alamat, jenis kelamin, umur, pekerjaan dan pendidikan. Pada pengkajian pendidikan diketahui bahwa pendidikan berpengaruh pada kemampuan dalam mengatur pola makan dan pentingnya asupan gizi bagi balita. Sedangkan pekerjaan yang terlalu sibuk bagi orang tua mengakibatkan perhatian orang tua terhadap tumbuh kembang anak tidak ada. 2) Tipe keluarga Menjelaskan mengenai jenis/tipe keluarga beserta kendala atau masalah-masalah yang terjadi dengan jenis/tipe keluarga yang mengalami gizi kurang (Padila, 2012). Biasanya keluarga yang mempunyai balita dengan gizi kurang mempunyai jumlah anggota keluarga yang banyak sehingga kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi. 3) Suku bangsa Identifikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan kesehatan (Sutanto, 2012). Biasanya keluarga dengan gizi kurang mempunyai budaya tidak terlalu memperhatikan menu makan balita, yang terpenting balita sudah mendapatkan makanan. 4) Status sosial ekonomi keluarga Status sosial ekonomi keluarga ditentukan oleh pendapatan baik dari kepala keluarga maupun dari anggota keluarga lainnya. Pada pengkajian status sosial ekonomi diketahui bahwa tingkat status sosial ekonomi berpengaruh pada tingkat kesehatan seseorang. Biasanya keluarga dengan gizi kurang mempunyai perekonomian yang rendah karena keluarga tidak mampu mencukupi semua kebutuhan balita. 27 b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga 1) Tahap perkembangan keluarga saat ini Tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti (Gusti, 2013). Biasanya keluarga dengan gizi kurang berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak pra sekolah. 2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi Menjelaskan mengenai tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendala-kendala yang dialami (Padila 2012). Biasanya keluarga belum mampu memenuhi semua kebutuhan anak karena keterbatasan penghasilan yang diperoleh. 3) Riwayat keluarga inti Menjelaskan riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga inti, upaya pencegahan dan pengobatan pada anggota keluarga yang sakit, serta pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada (Gusti, 2013). Biasanya keluarga dengan gizi kurang tidak memantau tumbuh kembang anak ke tenaga kesehatan. c. Pengkajian Lingkungan Karakteristik rumah diidentifikasi dengan melihat tipe rumah, jumlah ruangan, jenis ruang, jumlah jendela, jarak septictank dengan sumber air, sumber air minum yang digunakan, tanda cat yang sudah mengelupas, serta dilengkapi dengan denah rumah (Friedman, 2010). Biasanya keluarga dengan gizi kurang mempunyai keuangan yang tidak mencukupi kebutuhan anak sehingga luas rumah tidak sesuai dengan jumlah anggota keluarga. d. Fungsi Keluarga 1) Fungsi afektif Hal yang perlu dikaji seberapa jauh keluarga saling asuh dan saling mendukung, hubungan baik dengan orang lain, menunjukkan rasa empati, perhatian terhadap perasaan (Friedman, 2010). Bisanya keluarga dengan gizi kurang jarang memperhatikan kebutuhan akan kasih sayang dan perhatian pada anak, serta tidak mau bersosialisasi dengan lingkungan luar karena merasa malu akan kondisi anak. 28 2) Fungsi sosialisasi Dikaji bagaimana interaksi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, penghargaan, hukuman, serta memberi dan menerima cinta (Friedman, 2010). Biasanya keluarga dengan gizi kurang tidak disiplin terhadap pola makan balita. 3) Fungsi perawatan kesehatan a) Keyakinan, nilai, dan prilaku kesehatan: menjelaskan nilai yang dianut keluarga, pencegahan, promosi kesehatan yang dilakukan dan tujuan kesehatan keluarga (Friedman, 2013). Biasanya keluarga tidak mengetahui pencegahan yang harus dilakukan agar balita tidak mengalami gizi kurang. b) Status kesehatan keluarga dan keretanan terhadap sakit yang dirasa : keluarga mengkaji status kesehatan, masalah kesehatan yang membuat kelurga rentan terkena sakit dan jumlah kontrol kesehatan (Friedman, 2013). Bisanya keluarga tidak mampu mengkaji status kesehatan keluarga. c) Praktik diet keluarga : keluarga menegtahui sumber makanan yang dikonsumsi, cara menyiapkan makanan, banyak makanan yang dikonsumsi perhari dan kebiasaan mengkonsumsi makanan kudapan (Friedman, 2013). Biasanya keluarga tidak terlalu memperhatikan menu makanan, sumber makanan dan banyak makanan yang tersedia d) Peran keluarga dalam praktik keperawatan diri : tindakan yang dilakukan dalam memperbaiki status kesehatan, pencegahan penyakit, perawatn keluarga dirumah dan keyakinan keluarga dalam perawatan dirumah (Friedman, 2013). Biasanya kelurga dengan gizi kurang tidak tau cara pencegahan penyakit dan mengenal pennyakit. e) Tindakan pencegahan secara medis : status imunisasi anak, kebersihan gigi setelah makan, dan pola keluarga dalam mengkonsumsi makanan (Friedman, 2010). Biasanya keluarga tidak membawa anaknya imunisasi ke posyandu. 4) Fungsi sosialisasi Pada kasus penderita gizi kurang, dapat mengalami gangguan fungsi 29 sosial baik didalam keluarga maupun didalam komunitas sekitar keluarga (Padila, 2012). Biasanya keluarga sangat kesulitan untuk bersosialisasi anggota keluarga maupun lingkungan sekitar rumah. 5) Fungsi reproduksi Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi keluarga adalah : berapa jumlah anak, apa rencana keluarga berkaitan dengan jumlah anggota keluarga, metode yang digunakan keluarga dalam upaya mengendalikan jumlah anggota keluarga (Padila, 2012). Jumlah anak sangat berpengaruh dengan kecukupan gizi yang dikonsumsi anak balita. Biasanya keluarga mempunyai anak lebih dari 2 orang. 6) Fungsi ekonomi Menjelaskan bagaimana upaya keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan serta pemanfaatan lingkungan rumah untuk meningkatkan penghasilan keluarga (Gusti, 2013). Biasanya keluarga belum bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papa balita. e. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Metode yang di gunakan pada pemeriksaan fisik head to toe untuk pemeriksaan fisik untuk gizi kurang adalah sebagai berikut 1) Status kesehatan umum Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda - tanda vital. Bisanya balita mempunyai BB rendah. 2) Kepala dan leher Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah. Biasanya balita yang mengalami gizi kurang mempunyai warna rambut yang kecoklatan, pucat dan anemia. 3) Sistem Integumen Biasnya balita mempunyai turgor kulit menurun, kulit tampak kering dan kasar, kelembaban dan suhu kulit meningkat, tekstur rambut dan kuku juga kasar. 30 4) Sistem Pernafasan Pernafasan balita masih dalam rentang normal karena balita belum jatuh pada gizi buruk. 5) Sistem Kardiovaskuler Perfusi jaringan balita menurun, nadi perifer lemah atau berkurang, takikardi/bradikardi, dan disritmia, pemeriksaan CRT. 6) Sistem Gastrointestinal Bising usus pada balita yang mengalami gizi kurang terdengar jelas, frekuensi >20 kali/menit, mual, muntah, diare, konstipasi, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen. 7) Sistem Urinari Sistem perkemihan pada klien gizi kurang tidak mengalami gangguan. 8) Sistem Muskuluskletal Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahan tinggi badan, cepat lelah, lemah dan nyeri. 9) Sistem Neurologis Pada balita gizi kurang terjadi penurunan sensoris, penurunan kesadaran, reflek lambat, kacau mental dan disorientasi. 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosis keperawatan keluarga dirumuskan berdasarkan data yang didapatkan pada pengkajian, yang terdiri dari masalah keperawatan yang akan berhubungan dengan etiologi yang berasal dari pengkajian fungsi perawatan keluarga. Diagnosa keperawatan mengacu pada rumusan PES (problem, etiologi dan simpton) dimana untuk problem menggunakan rumusan masalah dari NANDA, sedangkan untuk etiologi dapat menggunakan pendekatan lima tugas keluarga atau dengan menggambarkan pohon masalah (Padila, 2012). Tipologi dari diagnosa keperawatan keluarga terdiri dari diagnosa keperawatan keluarga actual (terjadi defisit/gangguan kesehatan), risiko (ancaman kesehatan) dan keadaan sejahtera (wellness) (Padila, 2012). Diagnosa keperawatan keluarga dapat dibagi menjadi 3, yaitu : a. Diagnosa keperawatan keluarga : aktual b. Diagnosa keperawatan keluarga : resiko 31 c. Diagnosa keperawatan keluarga : sejahtera (potensial) Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada keluarga dengan gizi kurang menurut problem (NANDA, 2015-2017) dan etiologi (Friedman, 2010) adalah: 5. Ketidakseimbangan nurtrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan kekurangan nutrisi. 6. Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam melakukan stimulasi pada balita. 7. Resiko Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit. 8. Defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengatasi masalah gizi kurang. 32 3 Rencana Asuhan Keperawatan Menurut Gusti (2013), rencana asuhan keperawatan keluarga adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk dilaksanakan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang diidentifikasi dari masalah keperawatan yang sering muncul. No Diagnosa Keperawatan Tujuan Keperawatan dan Kriteria Hasil 1 Ketidakseimbangan nurtrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan kekurangan nutrisi Setelah dilakukan tindakan keperawatan…… keluarga mampu: - Menjelaskan pengertian gizi kurang dengan bahasa sendiri - Menyebutkan 2 dari 3 penyebab gizi kurang - Menyebutkan 2 dari 3 tanda dan gejala gizi kurang - Keluarga dapat menjelaskan tentang cara merawat balita dengan gizi kurang 2 Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam melakukan stimulasi pada balita Setelah dilakukan tindakan - Gali pengetahuan keluarga keperawatan.......Keluarga - Jelaskan pada keluarga mampu: mengenai tindakan yang - Menyebutkan perngertian harus dilakukan saat anak perkembangan dengan menderita keterlambatan bahasa sendiri tumbuh kembang - Menyebutkan 2 dari 4 - Jelaskan pada keluarga cara penyebab keterlambatan meningkatkan nafsu makan perkembangan anak : menyajikan - Menyebutkan tanda dan makanan dalam bentuk gejala anak yang yang menarik, mengalami keterlambatan memberikan makan tumbuh kembang sedikit tapi sering, pelihara kebersihan gigi - Kelurga mampu dan mulut, sajikan mengambil keputusan makanan yang hangat dan tingkatkan aktivitas anak - Demontasikan bersama keluarga cara membuat 33 Intervensi Keperawatan - Gali pengetahuan keluarga tentang gizi kurang - Diskusikan bersama keluarga tentang pengertian gizi kurang - Jelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Jelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Jelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Bantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Beri pujian atas prilaku yang benar - makanan yang menarik - Bimbing dan motivasi keluarga untuk mengambil keputusan dalam menangani masalah keterlambatan tumbuh kembang - Beri pujian atas keputusan yang diambil untuk mengatasi masalah keterlambatan tumbuh kembang 3 Resiko Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit Setelah dilakukan tindakan keperawatan… Keluarga mampu: Keluarga mampu : - Menjelaskan pengertian kerusakan integritas kulit dengan bahasa sendiri - Menyebutkan penyebab kerusakan integritas kulit - Menyebutkan 3 dari 4 tanda dan gejala kerusakan integritas kulit 34 - Gali pengetahuankeluarga - Diskusikan bersama keluarga tentang pengertian kerusakan integritas kulit - Jelaskan kepada keluarga penyebab kerusakan integritas kulit - Jelaskan tanda dan gejala kerusakan integritas kulit - Jelaskan pada keluarga cara perawatan luka: mencuci luka dengan NaCl dengan mempertahankan prinsip steril pada luka - Demontasikan bersama keluarga cara perawatn luka dengan benar - Beri kesempatan pada keluarga untuk mendemontrasikan Kembali - Beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Bantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Beri pujian atas prilaku yang benar 4 Defisit pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengatasi masalah gizi kurang Setelah dilakukan tindakan keperawatan……keluarga mampu: - Menjelaskan pengertian gizi kurang dengan bahasa sendiri - Menyebutkan 2 dari 3 penyebab gizi kurang - Menyebutkan 2 dari 3 tanda dan gejala gizi kurang - Menyebutkan dampak dari defisit pengetahuan 35 - Gali pengetahuan keluarga - Diskusikan bersama keluarga tentang pengertian keluarga - Jelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Jelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Jelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Beri kesempatan pada keuarga untuk bertanya - Bantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Beri pujian atas prilaku yang benar BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN BALITA GIZI KURANG A. Pengkajian 1. DATA UMUM a. Nama Kepala keluarga : Bapak S b. Umur : 32 Tahun c. Pendidikan : SD d. Jenis kelamin : Laki-laki e. Pekerjaan : Security f. Alamat Rumah : Jl. Tembok Baru, Plaju Palembang g. Komposisi keluarga : No Nama Umur JK Pendidikan Pekerjaan Hub. dg KK Status Imunisasi 1. 2. 3. Bp S Ibu H Anak C 32th 30th 17bln L P P SD SD - Security IRT - KK Istri Anak Lengkap Lengkap Belum lengkap h. Riwayat kesehatan keluarga Bp. A Ibu R 1946-1998 1950-2001 Bp D 50th Buruh Sehat Bp.S Ibu R 48th 40th Buruh IRT HT Sehat Bp S 32th Scrt Asma Bp. S Ibu L 1960-2011 1962-2018 Ibu H 30th IRT Sehat Bp T 29th Tani Sehat Ibu K 25th IRT Sehat Anak C, 17 bln Gizi kurang 36 Keterangan: Laki-laki Garis pernikahan Perempuan Garis Keturunan Tinggal Serumah Meninggal Klien Keterangan: Bapak S merupakan anak keempat dari empat bersaudara. Bapak S memiliki riwayat penyakit asma, riwayat penyakit lain seperti penyakit menahun ataupun penyakit menular tidak ada. Bapak S saat ini sehat dan tidak memiliki keluhan sakit apa-apa. Ibu. H merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ibu H tidak memiliki riwayat penyakit keturunan/degeneratif, penyakit menahun, ataupun penyakit menular. Ibu H pernah mengalami PEB saat kehamilan. Ibu H saat ini belum mengunakan KB. Ibu H saat ini sehat dan tidak memiliki keluhan sakit apa-apa. Anak C merupakan anak pertama di keluarga Bapak S dan Ibu H sekaligus menjadi entry point dalam asuhan keperawatan keluarga saat ini karena mengalami gizi kurang. Anak C lahir preterm dengan BBLR (2100gr), Anak C tidak memiliki riwayat penyakit bawaan. Anak C sejak bayi BB nya susah bertambah, nafsu makan anak kurang baik dan anak tidak mau minum susu. Anak C tidak diberi ASI maupun sufor, hanya diberikan teh. Anak C belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Saat ini keluhan Anak C yaitu susah menaikan BB. i. Tipe keluarga : Keluarga Inti (Nuclear Family) dimana di dalam satu rumah hanya terdapat satu keluarga inti, yaitu ayah, ibu dan anakanak. j. Suku bangsa k. Agama : Melayu-Palembang : Islam 37 l. Status sosial ekonomi 1) Pendapatan KK perbulan : ± Rp. 1.500.000., Sumber pendapatan utama keluarga dari bapak S yang bekerja sebagai satpam. Pendapatan perbulan rata-rata Rp. 1.500.000, dan kadang bertambah saat menggantikan shift temannya. 2) Pendapatan tambahan : ± Rp. 50.000-100.000., Pendapatan tambahan keluarga yaitu dari bapak S yang bekerja sampingan sebagai ojek. Namun tidak setiap hari dirinya ngojek, hanya ketika libur shift (3-4 kali libur). Satu bulan rata-rata hanya mendapat Rp. 50.000- Rp. 100.000. 3) Biaya yang dikeluarkan keluarga perbulan : Rp. 1.300.000.,- Rp. 1.500.000,Rincian : - Kontrakan : Rp. 300.000 - Listrik : Rp. 50.000 - Makan : Rp. 700.000 - Bensin : Rp. 50.000 - Lain-lain : Rp. 200.000 4) Barang-barang yang dimiliki keluarga : perabot rumah tangan dan alat elektronik (TV, kipas), alat komunikasi (hp), dan kedaraan (motor) 5) Tabungan dan biaya kesehatan keluarga : keluarga tidak memiliki tabungan jika ada keperluan mendesak, keluarga menggunakan jaminan kesehatan gratis dari pemerintah (KIS/Gakin) m. Aktivitas rekreasi keluarga 1) Tempat : rekreasi hiburan, rumah saudara Keluarga biasanya melakukan rekreasi atau hiburan dengan mengunjungi tempat saudaranya atau terkadang membawa anaknya untuk pergi ke taman kota yang gratis atau kadang main odongodong. 2) Jenis : permainan, wisata alam (outdoor) Hibura/rekreasi yang biasa keluarga yaitu jenis rekreasi hiburran outdoor dengan bermain ditaman. 3) Waktu : dikala senggang 38 4) Bapak S dan Ibu H membawa anaknya berekreasi dikala senggang biasanya tiap hari minggu ke taman kota, dan jika ada rezeki lebih membawa ananya main odong-odong (setiap bulan). 2. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA a. Tahap perkembangan keluarga saat ini Saat ini keluarga berada pada tahap perkembangan keluarga dengan balita dimana anak pertama keluarga Tn. S berumur 17 bln. Adapun tugas perkembangan keluarga pada tahap ini yaitu: 1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman 2) Membantu anak untuk bersosialisasi 3) Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi 4) Mempertahankan hubungan yang sehat baik di dalam maupun di luar keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar) 5) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap paling repot) 6) Pembagian tanggungjawab anggota keluarga b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi Keluarga belum mampu memenuhi tugas dalam hal membantu anak untuk bersosialisasi (poin 2), hal ini dikarenakan Anak C sering sakit-sakitan. Anak C juga takut bertemu orang baru, dan tidak mau bergaul/bersosialisasi. Tahap selanjutnya yang belum terpenuhi adalah beradaptasi dengan anak baru lahir dan memenuhi kebutuhan anak (poin 3), dalam hal ini kebutuhan anak C belum terpenuhi sehingga Anak C mengalami masalah gizi kurang. Kendala yang dialami keluarga dalam memenuhi tahap perkembangan tersebut yaitu masalah finansial/ekonomi serta ketidaktahuan keluarga mengenai pemberian gizi yang baik bagi anak. c. Riwayat kesehatan keluarga inti No Nama Penyakit Keturunan 1. 2. 3. Bp S Ibu H Anak C Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sehat ✔ ✔ 39 Sakit Pelayanan kesehatan yg digunakan Demam Puskesmas Keadaan 6 bln terakhir Masalah kesehatan keluarga yang menonjol saat ini : Keluarga memiliki anak balita (Anak C) yang mengalami gangguan nutrisi (gizi kurang). Anak C saat lahir preterm mengalami (BB 2100 gr), dan BB susah naik. Anak C lebih menyukai makan snack/makanan ringan. Anak C tidak diberi ASI (ASI tidak keluar) maupun sufor karena keterbatasan biaya dan anak muntah kalau diberi susu, setelah itu diberi makanan bubur sampai usia 8 bulan, dan setelahnya diberikan makanan biasa (makanan keluarga). Sejak usia 6 bulan, anak C hanya dikenalkan makanan tempe, tahu, dan sayur. Pernah diberikan telur tapi malah muntah sehingga tidak pernah lagi diberikan, pernah juga diberikan ikan namun tersedak tulang sehingga tidak lagi diberikan juga dan pada akhirnya Anak C tidak menyukai makanan itu. Ibu H memasak dengan menu seadanya dan tidak beragam. Terkadang ketika Anak C tidak mau makan dibiarkan saja. Anak C jarang dibawa ke posyandu, ke posyandu hanya untuk dilakukan imunisasi. Ibu H jarang bertanya dengan petugas yankes mengenai kondisi anaknya. Ibu H tidak mengetahui interpretasi dari KMS garis kuning. Anggota keluarga yang lain secara kesuluruhan tidak memiliki masalah kesehatan. 3. KEBIASAAN ANGGOTA KELUARGA SEHARI-HARI a. Nutrisi 1) Frekwensi makan : keluarga biasanya makan 2-3 kali sehari, kecuali An. C yang kadang hanya makan 2 kali sehari dan sering tidak habis. Makan sering tidak teratur dan menu makanan kurang beragam. 2) Jenis makanan Makanan pokok keluarga yaitu nasi. Lauk pauk yang sering dikonsumsi sehari-hari yaitu tempe, tahu, telur serta kadang sayursayuran. Keluarga biasanya mengelola makanan dengan cara dibersihkan terlebih dahulu, baru dimasak hingga matang. Menu yang paling sering dimasak yaitu goreng tempe tahu, sayur bening, dan sambal. Keluarga jarang mengonsumsi daging-dagingan (protein hewani) hanya ketika hari besar saja. Keluarga juga jarang mengonsumsi buah, paling hanya sebulan sekali. 40 3) Masalah dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga Anak C mengalami gangguan makan (anoreksia), suka memilih-milih makanan, dan sering muntah jika dipaksa makan. Anak C susah disuruh makan, banyak makanan yang tidak disukai seperti sayur, ikan, dan susu. Anak C lebih menyukai makan snack/makanan ringan. Anak C tidak diberi ASI maupun sufor. Sejak usia 6 bulan, anak C hanya dikenalkan makanan tempe, tahu, dan sayur. Pernah diberikan telur tapi malah muntah sehingga tidak pernah lagi diberikan, pernah juga diberikan ikan namun tersedak tulang sehingga tidak lagi diberikan juga dan pada akhirnya Anak C tidak menyukai makanan itu. Ibu H juga tidak mencoba lagi mengenalkan makan-makanan seperti ikan, sayur, telur, dan susu pada anaknya karena sudah lelah mencobanya. Anggota keluarga yang lain tidak ada masalah dalam pemenuhan nutrisi. b. Pola istirahat Keluarga biasanya tidur malam biasanya pukul 22.00 WIB, khusus anaknya biasanya pukul 21. 00 WIB sudah tertidur. Tidur siang pukul 14.00, dan bapak S jarang tidur siang. Rata-rata keluarga tidur perhari sekitar 7-8 jam. Keluarga tidak memiliki masalah pemenuhan kebutuhan istirahat/ tidur c. Pola eliminasi Keluarga biasanya BAB 1 kali sehari, konsistensi lunak, warna kuning kecoklatan, bau khas feses, tidak ada keluhan BAB (konstipasi, diare, melena). Rata-rata BAK 6-7 kali sehari, warna urine kuning cerah, bau khas urine, tidak ada keluhan BAK (nyeri BAK, anuria, poliuri, hematuri). Keluarga tidak memiliki masalah pemenuhan kebutuhan eliminasi d. Aktivitas olah raga Keluarga jarang atau bahkan tidak pernah melakukan olahraga dikarenakan sudah kelelahan bekerja e. Hygiene keluarga Keluarga biasanya mandi 2 kali sehari (pagi dan sore) dan menggosok gigi 2 kali sehari). Keluarga mencuci rambut setiap hari setiap kali mandi dan berganti pakaian 2 kali sehari. Secara keseluruhan keluarga tidak memiliki masalah dalam pemenuhan personal hygiene 41 4. PENGKAJIAN LINGKUNGAN a. Perumahan Keluarga tinggal di rumah kontrakan (bedeng petak) permanen berlantai semen dan dinding bata. Rumah terdiri dari ruang tamu, 1 kamar, dapur, dan kamar mandi dengan luas total 36 meter persegi, setiap ruangan rumah memiliki ventilasi (total luas ventilasi 1.2 m) Denah rumah : Kamar mandi Sumur bor Dapur Kamar Jarak 14 m Ruang Tamu Pintu Septic tank b. Sarana air bersih Keluarga menggunakan galon isi ulang untuk air minum, sedangkan untuk memasak dan MCK menggunakan sumur bor. Jarak sumber air minum denan septiktank adalah 12 m. Air yang digunakan tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa c. Air limbah Tempat pebuangan limbah keluarga yaitu diselokan khusus pembuangan limbah, dengan terlebih dahulu memisahkan dengan sampah yg mungkin bisa menyumbat saluran air. Pembuangan air limbah sudah sesuai dengan syarat kesehatan. d. Pengelolaan sampah Tempat pembuanan sampah keluarga di tempat sampah yang disediakan dengan keadaan tertutup. Sampah keluarga dikumpulkan lalu setiap hari dibuang ke TPA e. Jamban/ WC keluarga yang digunakan Jenis WC keluarga yang digunakan adalah wc jongkok leher angsa milik sendiri (pribadi) didalam rumah. Keadaan jamban bersih dan sesuai dengan syarat kesehatan. 42 f. Kandang ternak Keluarga tidak memiliki kandang ternak, dan warga sekitar juga tidak ada yang memili ternak. g. Karakteristik tetangga dan komunitas RW Keluarga tinggal di masyarakat urban yg padat penduduk dengan keadaan ekonomi menengah kebawah. Warga setempat memiliki kebiasaan melakukan gotong royong meembersihkan lingkungan setiap 3 bulan sekali. Warga di lingkunagn tempat tinggal bapak S banyak memiliki anak yang tampak kurus. Warga sekitar juga belum banyak yang mengetahui tentang gizi kurang. 5. STRUKTUR KELUARGA a. Pola komunikasi keluarga : pola komunikasi dalam keluarga yaitu demokratis. Dalam mengambil keputusan atau memecahkan masalah dalam keluarga selalu dimusyawarakan sebelum mengambil keputusan. Dalam hal memenuhi kesehatan, keluarga jarang memanfaatkan yankes untuk berobat atau sekedar kontrol kesehatan. Jika sakit keluarga hanya istirahat saja atau minum obat warung, jika sakit tidak tertahankan baru mengunjungi puskesmas terdekat. b. Struktur kekuatan keluarga : legitimate power, kepala keluarga berperan penting mengatur/mengontrol anggota keluarganya c. Pembagian peran dalam keluarga : Pembagian tugas/peran secara tradisional, yaitu tugas utama dari suami adalah bekerja dan mencari nafkah untuk keluarga, sedangkan tugas utama dari istri adalah mendukung suami dan mengurus segala urusan rumah tangga termasuk pengasuhan anak. d. Nilai/Norma yang dianut keluarga : nilai dan norma yang dianut keluarga pada umumnya sama dengan nilai dan norma di masyarakat. Seperti dalam hal ibadah, pola asuh anak, kehidupan sosial, persepsi terhadap penyakit, dan amtivvitas sehari-hari. 6. FUNGSI KELUARGA a. Fungsi afektif : Keluarga cukup rukun dan perhatian dalam membina rumah tangga. Dibuktikan dengan Ibu H yang pengertan pada bapak S 43 dalam mencari nafkah, dan tidak pernah mengeluh. b. Fungsi reproduksi : keluarga baru memiliki 1 orang anak dan akan memutuskan menggunakan KB (suntik) ketika nanti anaknya sudah berusia 6 bulan sesuai anjuran bidan. c. Fungsi sosialisasi : Kerukunan terjaga dengan baik, interaksi dalam keluarga cukup baik, interaksi dengan masyarakat cukup baik. d. Fungsi ekonomi : sumber pendapatan/ekonomi keluarga berasal dari Bapak S bekerja sebagai satpam dan ojek. Keadaan ekonomi keluarga paspasan, terkadang saat keadaan mendesak sering mendapat bantuan dari keluarga atau tetangga. e. Fungsi perawatan kesehatan (termasuk pengkajian lima tugas kesehatan keluarga): 1) Kemampuan keluarga mengenal masalah: Keluarga belum mampu mengenal apa itu gizi kurang, dan tidak mengetahui mengapa anaknya bisa mengalami gizi kurang (tidak tahu, pengertian gizi kurang, tanda dan gejala, dan apa penyebabnya) serta keluarga tidak mengerti intrepretasi dari KMS di garis kuning.. 2) Kemampuan keluarga mengambil keputusan: Keluarga tidak mengerti penatalaksanaan untuk mengatasi masalah gizi kurang yang terjadi pada anaknya, seperti halnya dalam meningkatkan status gizi anak yg kurang. Keluarga tidak tahu apa saja dampak yang ditimbulkan jika masalah gizi kurang ini tidak diatasi. Keluarga juga tidak pernah mencoba menanyakan cara pengobatan anaknya yang gizi kurang. Anak juga tidak pernah dikonsulkan ke ahli gizi atau petugas gizi mengenai BB nya yang sulit naik. Keluarga tidak tahu harus berbuat apa. 3) Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit: Keluarga terutama ortu tidak mengerti cara melakukan perawatan mandiri pada anggota keluarga yg mengalami gizi kurang, ortu tidak mengerti cara mengatasi gizi kurang pada anak, cara pemberian makan yang tepat, dan gizi seimbang bagi anak. Jika anak tidak mau makan dibiarkan saja sampai anak meminta sendiri untuk makan. Keluarga belum melakukan apa-apa untuk mengatasi gizi kurang pada anaknya. 4) Kemampuan keluarga memodifikasi lingkungan rumah: 44 Ibu H bisanya mengajak anaknya makan sambil jalan-jalan ke taman agar anaknya mau makan, Anak C juga sering disuruh mengonsmsi banyak cemilan seperti snack dan makanan ringan. 5) Kemampuan keluarga memanfaatkan fasilitas yankes: Keluarga belum memanfaatkan yankes setempat (puskesmas) untuk menanyakan tentang status gizi anaknya, atau konsul masalah gizi.. Ortu jarang memeriksaan dan membawa anaknya ke posyandu. 7. STRES DAN KOPING KELUARGA a. Stressor jangka panjang dan jangka pendek : Pendek: Ibu H mengatakan masalah yang sangat mengganggu pikirannya saat ini adalah kondisi kesehatan anaknya yang memiliki berat badan yang susah naik sehingga membuat Ibu H merasa bingung. Baik Bapak S maupun Ibu H ingin memeriksakan kesehatan Anak C dan memberikan gizi yang cukup namun masih terhambat oleh faktor biaya. Panjang: bapak S dan Ibu H takut jika keadaan ekonomi yg masih tidak stabil mempengaruhi perkembangan anaknya kelak, ortu beharap anaknya kelak tetap sehat selalu sehingga bisa mendapat penddidikan yang baik.. b. Strategi koping yang digunakan : Untuk stresor jangka panjang, koping yang dilakukan keluarga adalah mencoba membicarakan masalah yang dihadapi dan saling mengerti. Untuk stresor jangka pendek, koping yang digunakan keluarga adalah mencoba mengumpulkan uang, dan berusaha untuk merawat Anak C dengan lebih baik lagi. Ibu H juga mau menerima masukan serta berbagi ilmu terkait masalah yang dihadapinya saat ini. Begitu juga dengan Bapak S yang mau membantu dan menasehati Ibu H agar lebih telaten lagi dalam memberikan makanan dan menstimulasi anak-anaknya. c. Strategi adaptasi disfungsional : Keluarga selalu menggunakan pendekatan yang adaptif dan edukatif. 8. PENGKAJIAN FISIK SETIAP ANGGOTA KELUARGA Jenis pemeriksaan Suhu Nadi Bapak S Ibu H 37 oC 80 x/menit 36,5 oC 80 x/menit 45 Anak C 36,4 o C 80 x/menit RR TD BB TB Kepala Mata Telinga Hidung Mulut dan gigi Leher Dada/thorax Abdomen Ekstremitas Kulit 20 x/menit 120/80mmHg 58 kg 160 cm tidak ada lesi penyebaran rambut merata Rambut lurus hitam 20 x/menit 110/80mmHg 44 kg 154 cm tidak ada lesi penyebaran rambut merata rambut lurus hitam, agak rontok konjungtiva konjungtiva tidak anemis tidak anemis pupil bulat pupil bulat Isokor isokor tidak ada tidak ada keluhan, keluhan, Bersih bersih tidak ada tidak ada keluhan, keluhan, tidak ada sekret tidak ada sekret gigi masih utuh gigi masih utuh dan lengkap dan lengkap Tidak ada caries Tidak ada caries gigi, tidak ada gigi, tidak ada gigi yang copot gigi yang copot tidak ada tidak ada pembesaran pembesaran JVP dan JVP dan kelenjar getah kelenjar getah bening bening tidak ada tidak ada pembesaran pembesaran Ronkhi (-), Ronkhi (-), wheezhing (-) wheezhing (-) S1 & S2 normal S1 & S2 normal tidak ada tidak ada keluhan keluhan BU (+) BU (+) Tidak ada Tidak ada pembesaran pembesaran abdomen abdomen tidak ada tidak ada keluhan, keluhan, deformitas (-) deformitas (-) - 28 x/menit 90/60 mmHg 5 kg 70 cm tidak ada lesi penyebaran rambut tipis Rambut agak kemerahan tidak ada keluhan turgor kulit normal kulit agak kering turgor kulit normal tidak ada keluhan turgor kulit normal 46 konjungtiva anemis pupil bulat Isokor tidak ada keluhan, Bersih tidak ada keluhan, tidak ada sekret gigi utuh terdapat sedikit karies gigi tidak ada pembesaran JPV dan kelenjar getah bening tidak ada pembesaran Ronkhi (-), wheezhing (-) S1 & S2 normal tidak ada keluhan, BU (+) Tidak ada pembesaran abdomen tidak ada keluhan, deformitas (-) Tulang tampak menonjol 9. HARAPAN KELUARGA Keluarga bapak S ingin melihat anaknya selalu sehat dan nutrisinya terpenuhi. Bapak S berharap agar keluarganya tidak mengalami penyakit serta lebih waspada dalam hal menjaga pola makan dan kebiasaan. Yang Melakukan Pengkajian (Mia Farlena) NIM. PO71202200003 47 ANALISIS DATA DAN DIAGNOSIS Nama KK Alamat : Bapak S : Jl. Tembok Baru, Plaju Hari/ Tgl NO DATA ETIOLOGI 1. DS: - Ibu H mengatakan anak C suka memilih-milih makanan, dan sering muntah jika dipaksa makan. - Anak C lebih menyukai makan snack/makanan ringan. - Anak C tidak diberi ASI ataupun sufor hanya diberi air tajin, setelah usia 6 bulan diberi makanan bubur sampai usia 8 bulan, dan setelahnya diberikan makanan biasa (makanan keluarga). - Sejak usia 6 bulan, anak C hanya dikenalkan makanan tempe, tahu, dan sayur. Pernah diberikan telur tapi malah muntah sehingga tidak pernah lagi diberikan, pernah juga diberikan ikan namun tersedak tulang sehingga tidak lagi diberikan juga dan pada akhirnya Anak C tidak menyukai makanan itu. - Ibu H tidak mencoba lagi mengenalkan makan-makanan seperti ikan, sayur, telur, dan susu pada anaknya karena sudah lelah mencobanya. DO: - BB Anak F 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia Anak F pada kartu KMS berada di garis kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan BBLR Sosial ekonomi rendah Intake makanan tidak adekuat, anoreksia Gizi kurang Keluarga tidak tahu penatalaksanaan dalam merawat anak dengan gizi kurang Ketidakseimbnagan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh 48 :Selasa, 27 Januari 2020 DIAGNOSIS KEPERAWATAN Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada Anak C - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva anemis 2. DS: - Keluarga mengatakan belum mampu mengenal apa itu gizi kurang, dan tidak mengetahui mengapa anaknya bisa mengalami gizi kurang (tidak tahu, pengertian gizi kurang, tanda dan gejala, dan apa penyebabnya) serta keluarga tidak mengerti intrepretasi dari KMS di garis kuning. - Keluarga mengatakan tidak mengerti penatalaksanaan untuk mengatasi masalah gizi kurang yang terjadi pada anaknya, seperti halnya dalam meningkatkan status gizi anak yg kurang. Keluarga tidak tahu apa saja dampak yang ditimbulkan jika masalah gizi kurang ini tidak diatasi. Keluarga juga tidak pernah mencoba menanyakan cara pengobatan anaknya yang gizi kurang. Anak juga tidak pernah dikonsulkan ke ahli gizi atau petugas gizi mengenai BB nya yang sulit naik. - Keluarga tidak tahu harus berbuat apa DO: - BB Anak C 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia Anak C pada kartu KMS berada di garis kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering Konjungtiva anemis BBLR Sosial ekonomi rendah Intake makanan tidak adekuat, anoreksia Gizi kurang Ketidakmampuan pengetahuan keluarga tentang masalah anak dengan gizi kurang Ketidakefektifan manajemen kesehatan di keluarga 49 Ketidakefektifan manajemen kesehatan di keluarga 3. DS: - Keluarga mengatakan belum mampu mengenal apa itu gizi kurang, dan tidak mengetahui mengapa anaknya bisa mengalami gizi kurang (tidak tahu, pengertian gizi kurang, tanda dan gejala, dan apa penyebabnya) serta keluarga tidak mengerti intrepretasi dari KMS di garis kuning. - Keluarga mengatakan tidak mengerti penatalaksanaan untuk mengatasi masalah gizi kurang yang terjadi pada anaknya, seperti halnya dalam meningkatkan status gizi anak yg kurang. Keluarga tidak tahu apa saja dampak yang ditimbulkan jika masalah gizi kurang ini tidak diatasi. DO: - BB Anak C 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia Anak C pada kartu KMS berada di garis kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering Konjungtiva anemis BBLR Sosial ekonomi rendah Intake makanan tidak adekuat, anoreksia Gizi kurang Keluarga mengatakan kurang tahu mengenai gizi kurang pada anak Kurang pengetahuan 50 Kurang pengetahuan pada keluarga bapak S mengenai gizi kurang PRIORITAS MASALAH Nama KK Alamat Hari/Tanggal Diagnosis Keperawatan : Tn. C : .Jl. Tembok Baru, Plaju Palembang : Selasa, 27 Januari 2020 : 1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Kriteria Skor Angka Bobot Perhitungan Tertinggi Sifat masalah: 3 3 1 3/3 x 1 = 1 Actual Pembenaran Masalah sedang terjadi pada Anak C ditandai dengan badan Anak C yang kurus, berat badan Anak C 5 kg umur 17 bulan, dan BB susah naik sejak dahulu, Anak C banyak pilihpilih makanan (tidak suka susu, ikan, telur dan sayur), nafsu makan kurang, ortu tidak mengenalkan makanan yang beragam. Ibu H mengatakan Anak C lebih menyukai makanan ringan/snack dibandingkan makanan pokok. Kemungkinan masalah untuk diubah: sebagian mudah diubah 1 2 2 1/2 x 2 = 1 Potensi masalah untuk dicegah: tinggi 3 3 1 3/3 x 1 = 1 Masalah sedang terjadi dan telah berlangsung cukup lama lebih dari 6 bulan. Namun usia Anak C yang masih balita, dapat diubah tergantung dari pola asuh orang tua, terutama Ibu H Menonjolnya masalah : segera ditangani 2 2 1 2/2 x 1 = 1 Keluarga mengatakan bahwa masalah pada Anak C harus segera ditangani. Total 4 51 PRIORITAS MASALAH Nama KK Alamat Hari/Tanggal Diagnosis Keperawatan : Tn. S : .Jl. Tembok Baru, Plaju Palembang : Selasa, 27 Januari 2020 : 2. Ketidakefektifan manajemen kesehatan di keluarga Kriteria Sifat masalah: Aktual Skor Angka tertinggi 3 3 Bobot Perhitungan Pembenaran 1 3/3 x 1 = 1 Keluarga mengatakan tidak mengerti penatalaksanaan untuk mengatasi masalah gizi kurang, Anak C nampak kurus, berat badan Anak C 5 kg umur 17 bulan, dan BB susah naik Keluarga belum melakukan apa-apa untuk mengatasi masalah gizi kurang, keluarga belum melakukan konsultasi ke yankes terkait gizi kurang pada anak C Kemungkinan masalah untuk diubah: sebagian 1 2 2 1/2 x 2 = 1 Potensi masalah untuk dicegah: cukup 1 3 1 1/3 x 1 = 1/3 Menonjolnya masalah: segera ditangani 2 2 1 2/2 x 1 = 1 Total 3 1/3 52 Masalah sudah terjadi cukup lama dan Anak C seharusny BB minimal 8 kg. Keluarga mengatakan bahwa masalah pada An. C harus segera ditangani. PRIORITAS MASALAH Nama KK Alamat Hari/Tanggal Diagnosis Keperawatan : Tn. S : .Jl. Tembok Baru, Plaju Palembang : Selasa, 27 Januari 2020 : 3. Kurang pengetahuan pada keluarga bapak B tentang gizi kurang Kriteria Skor Bobot Perhitungan Pembenaran 3 Angka Tertinggi 3 Sifat masalah: Aktual 1 3/3 x 1 = 1 Kemungkinan masalah untuk diubah: mudah 1 2 2 1/2 x 2 = 1 Potensi masalah untuk dicegah: tinggi 3 3 1 3/3 x 1 = 1 Keluarga mengatakan tidak mengerti penatalaksanaan untuk mengatasi masalah gizi kurang, Anak C nampak kurus, berat badan An. C 5 kg umur 17 bulan, dan BB susah naik Dengn edukasi kesehatan diharapkan Ibu H dapat mengetahui cara penatalaksanaan dan mengerti tentang gizi kurang Masalah sedang terjadi dan telah berlangsung cukup lama lebih dari 6 bulan. Namun usia Anak C yang masih balita, dapat diubah tergantung dari pola asuh orang tua, terutama Ibu H Menonjolnya masalah: tidak perlu segera ditangani 1 2 1 1/2 x 1 = ½ Total 3½ 53 Keluarga mengatakan bahwa masalah pada keluarga tidak perlu ditangani segera INTERVENSI KEPERAWATAN NAMA KK ALAMAT HARI/ TGL NO 1. DIAGNOSIS KEPERAWATAN Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada Anak C : Tn. S : Jl. Tembok baru, Plaju Palembang : Selasa, 27 Januari 2021 TUJUAN (NOC) INTERVENSI (NIC) Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 kali pertemuan, keluarga mampu: - Mengenal apa itu gizi kurang - Mengambil keputusan untuk merawat/memperbaiki status gizi anak - Merawat anak dengan gizi kurang - Memodifikasi lingkungan untuk meningkatkan status gizi anak yang mengalami gizi kurang - Memanfaatkan faskes untuk mengatasi gizi kurang. Dengan kriteria hasil : - Mengetahui pengertian gizi kurang - Mengetahui penyebab gizi kurang - Mengetahui tanda dan gejala gizi kurang - Mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat gizi kurang - Mengetahui tindakan yang akan diambil dalam mengatasi gizi kurang - Mengetahui cara perawatan anak gizi kurang - Mengetahui cara memodifikasi untuk meningkatkan status gizi - Mengunjungi faskes terdekat untuk konsultasi masalah gizi krang - Identifikasi pengetahuan keluarga tentang gizi kurang - Diskusikan bersama keluarga tentang pengertian gizi kurang - Jelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Jelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Jelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Dukung keluarga untuk mengambil keputusan perawatan anak dengan gizi kurang dengan mengunjungi faskes. - Jelaskan cara memenuhi kebutuhn nutrisi yan tepat untuk anak, jelaskan cara penyajian makanan yang menarik. - Bantu memodifikasi lingkungan yang nyaman dan menyenangkan dalam pemberian nutrisi pada anak (ajak anak memilih makanan kesukaan, sajikan makanan dalam bentuk menarik) - Anjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Bantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Beri pujian atas prilaku yang benar 54 2. Ketidakefektifan manajemen kesehatan di keluarga Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 kali pertemuan, keluarga mampu: - Mengenal apa itu gizi kurang - Memutuskan untuk meningkatkan dan memperbaiki cara perawatan kesehatn - Merawat anak dengan gizi kurang - Memodifikasi lingkungan untuk meningkatkan status gizi anak yang mengalami gizi kurang - Memanfaatkan faskes untuk mengatasi gizi kurang. Dengan kriteria hasil : - Mengetahui cara manajemen gizi kurang - Mengetahui tindakan yang akan diambil dalam mengatasi gizi kurang seperti dalam hal melakukan diet seimbang - Mengetahui cara menyiapkan diet dengan tepat - Mengetahui cara mengurangi resiko terjadinya gizi kurang dengan rutin menimbang BB anak - Mengunjungi faskes terdekat untuk konsultasi masalah gizi krang 55 - Lakukan pendkes pada keluarga: proses penyakit, pengajaran diet yang tept - Beri dukungan emosional untuk dapat beradaptasi dengan perubahan fungsi yang terjadi - Beri dukungan dalam mengambil keputusan - Ajarkan cara manajemen nutrisi yang tepat : lakukan konseling nutrisi - Bantu pemeliharaan lingkungan yang menyenangkan dalam memberikan nutrisi pada anak - Anjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Bantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Beri pujian atas prilaku yang benar 3. Kurang pengetahuan pada keluarga bapak S tentang gizi kurang Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 kali pertemuan, keluarga mampu: - Mengenal apa itu gizi kurang - Mengambil keputusan tentang perawatan - Merawat anak dengan gizi kurang - Memodifikasi lingkungan untuk meningkatkan status gizi - Memanfaatkan faskes untuk mengatasi gizi kurang. Dengan kriteria hasil : - Mengetahui pengertian gizi kurang - Mengetahui penyebab gizi kurang - Mengetahui tanda dan gejala gizi kurang - Mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat gizi kurang - Mengetahui tindakan yang akan diambil dalam mengatasi gizi kurang - Mengetahui cara perawatan anak gizi kurang - Mengetahui cara memodifikasi untuk meningkatkan status gizi - Mengunjungi faskes terdekat untuk konsultasi masalah gizi krang 56 - Gali pengetahuan keluarga - Jelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Jelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Jelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Jelaskan pada keluarga cara meningkatkan nafsu makan anak : menyajikan makanan dalam bentuk yang menarik, memberikan makan sedikit tapi sering, pelihara kebersihan gigi dan mulut, sajikan makanan yang hangat dan tingkatkan aktivitas anak - Demontasikan bersama keluarga cara membuat makanan yang menarik - Dukung keluarga untuk mengambil keputusan perawatan anak dengan gizi kurang dengan mengunjungi faskes - Anjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Bantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Beri pujian atas prilaku yang benar IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Nama KK Alamat HARI/TGL /JAM Senin, 8 Februari 2021 : Tn. S : Jl. Tembok Baru, Plaju Palembang DIAGNOSIS IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Ketidakseimbangan - Mengidentifikasi pengetahuan nutrisi kurang dari keluarga tentang gizi kurang kebutuhan tubuh (pengertian, penyebab, tanda pada Anak C gejala, dan dampak) - Mendiskusikan bersama keluarga tentang pengertian gizi kurang - Menjelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Menjelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Menjelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Mendukung keluarga untuk mengambil keputusan perawatan anak dengan gizi kurang dengan mengunjungi faskes posyandu/puskesmas - Menjelaskan cara memenuhi kebutuhn nutrisi yan tepat untuk anak, menjelaskan cara penyajian makanan yang menarik (bento, berikan makanan selagi hangat) - Membantu memodifikasi lingkungan yang nyaman dan menyenangkan dalam pemberian nutrisi pada anak (ajak anak memilih makanan kesukaan, sajikan makanan dalam bentuk menarik) - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya seputar gizi kurang - Membantuantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan 57 EVALUASI S: - Ibu H mengatakan belum paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya. - Keluarga mengatakan nanti akan membawa anaknya ke posyandu untuk mengkonsultasikan masalah gizi anaknya - Ibu H mengatakan masih bingung cara merawat anak yang mengalami gizi kurang - Ibu H mengatakan belum sempat membuatkan anaknya makanan yang menarik karena sibuk - Ibu H mengatakan Anak C hanya senang mengonsumsi snack O: -Anak C berusia 24 bulan - BB Anak F 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva anemia - Keluarga masih bingung ketika ditanya tentang gizi kurang. A: -Masalah belum teratasi P: Melanjutkan intervensi HARI/TGL /JAM Senin, 8 Februari 2021 DIAGNOSIS IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Ketidakefektifan - Melakukan pendkes pada manajemen keluarga: proses penyakit, kesehatan di pengajaran diet yang tepat keluarga - Memberi dukungan emosional untuk dapat beradaptasi dengan perubahan fungsi yang terjadi (semangati Ibu R untuk membuat menu makanan yang beragam dan menarik) - Memberi dukungan dalam mengambil keputusan - Mengajarkan cara manajemen nutrisi yang tepat : lakukan konseling nutrisi - Membantu pemeliharaan lingkungan yang menyenangkan dalam memberikan nutrisi pada anak (memberi suasana makan yang asik, ajak anak makan sambil jalan-jalan) - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Membantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Memberi pujian atas prilaku yang benar 58 EVALUASI S: - Ibu H mengatakan belum paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya, dan setelah diberikan pendkes sudah sedikit paham - Keluarga mengatakan nanti akan membawa anaknya ke posyandu untuk mengkonsultasikan masalah gizi anaknya - Ibu H mengatakan masih bingung cara menyiapkan makanan yang menarik untuk anaknya - Ibu H mengatakan belum paham mengenai gizi seimbang - Ibu H mengatakan Anak C hanya senang mengonsumsi snack - Keluarga mengatakan akan mengikuti sarn perawat O: -Anak C berusia 17 bulan - BB Anak F 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva anemia - Keluarga masih bingung ketika ditanya tentang gizi kurang. A: -Masalah belum teratasi P: Melanjutkan intervensi HARI/TGL DIAGNOSIS /JAM KEPERAWATAN Senin, 8 Kurang pengetahuan Februari pada keluarga bapak 2021 B tentang gizi kurang IMPLEMENTASI EVALUASI - Menggali pengetahuan keluarga tentang gizi kurang - Menjelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Menjelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Menjelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Menjelaskan pada keluarga cara meningkatkan nafsu makan anak : menyajikan makanan dalam bentuk yang menarik, memberikan makan sedikit tapi sering, pelihara kebersihan gigi dan mulut, sajikan makanan yang hangat dan tingkatkan aktivitas anak - Mendemontasikan bersama keluarga cara membuat makanan yang menarik - Mendukung keluarga untuk mengambil keputusan perawatan anak dengan gizi kurang dengan mengunjungi faskes - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Membantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan mengenai gizi kurang - Memberi pujian atas prilaku yang benar S: - Ibu H mengatakan belum paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya, dan setelah diberikan pendkes sudah sedikit paham - Keluarga mengatakan belum mengetahui cara meningkatkan nafsu makan anak - Ibu H mengatakan masih bingung cara menyiapkan makanan - Keluarga mengatakan akan mengikuti sarn perawat O: -Anak C berusia 17 bulan - BB Anak F 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva anemia - Keluarga masih bingung ketika ditanya tentang gizi kurang. A: -Masalah belum teratasi P: Melanjutkan intervensi 59 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Nama KK Alamat HARI/TGL /JAM Selasa, 9 Februari 2021 : Tn. B : Jl. Tembok Baru, Plaju Palembang DIAGNOSIS IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Ketidakseimbangan - Mengidentifikasi pengetahuan nutrisi kurang dari keluarga tentang gizi kurang kebutuhan tubuh (pengertian, penyebab, tanda pada Anak C gejala, dan dampak) - Mendiskusikan bersama keluarga tentang pengertian gizi kurang - Menjelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Menjelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Menjelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Mendukung keluarga untuk mengambil keputusan perawatan anak dengan gizi kurang dengan mengunjungi faskes posyandu/puskesmas - Menjelaskan cara memenuhi kebutuhn nutrisi yan tepat untuk anak, menjelaskan cara penyajian makanan yang menarik (bento, berikan makanan selagi hangat) - Membantu memodifikasi lingkungan yang nyaman dan menyenangkan dalam pemberian nutrisi pada anak (ajak anak memilih makanan kesukaan, sajikan makanan dalam bentuk menarik) - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya seputar gizi kurang - Membantuantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan 60 EVALUASI S: - Ibu C mengatakan sedikit paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya. - Keluarga mengatakan akan membawa anaknya ke posyandu untuk mengkonsultasikan masalah gizi anaknya - Ibu H mengatakan masih sedikit mengerti cara merawat anak yang mengalami gizi kurang - Ibu H mengatakan belum sempat membuatkan anaknya makanan yang menarik karena sibuk - Ibu H mengatakan Anak C masih tidak menyukai telur dan susu O: -Anak C berusia 17 bulan - BB Anak F 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva anemia A: -Masalah teratasi sebagian P: Melanjutkan intervensi HARI/TGL /JAM Selasa, 9 Februari 2021 DIAGNOSIS IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Ketidakefektifan - Melakukan pendkes pada manajemen keluarga: proses penyakit, kesehatan di pengajaran diet yang tepat keluarga - Memberi dukungan emosional untuk dapat beradaptasi dengan perubahan fungsi yang terjadi (semangati Ibu R untuk membuat menu makanan yang beragam dan menarik) - Memberi dukungan dalam mengambil keputusan - Mengajarkan cara manajemen nutrisi yang tepat : lakukan konseling nutrisi - Membantu pemeliharaan lingkungan yang menyenangkan dalam memberikan nutrisi pada anak (memberi suasana makan yang asik, ajak anak makan sambil jalan-jalan) - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Membantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Memberi pujian atas prilaku yang benar 61 EVALUASI S: - Ibu H mengatakan sedikit paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya, dan setelah diberikan pendkes sudah sedikit paham - Keluarga mengatakan akan membawa anaknya ke posyandu untuk mengkonsultasikan masalah gizi anaknya - Ibu H mengatakan masih bingung cara menyiapkan makanan yang menarik untuk anaknya - Ibu H mengatakan sedikit paham mengenai gizi seimbang - Ibu H mengatakan Anak C sudah dicobakan diberi makan ikan, telur, dan susu tetapi tetap tidak mau - Keluarga mengatakan sudah mengikuti sarn perawat O: -Anak C berusia 17 bulan - BB Anak F 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva anemia A: -Masalah teratasi sebagian P: Melanjutkan intervensi HARI/TGL DIAGNOSIS /JAM KEPERAWATAN Selasa, 9 Kurang pengetahuan Februari pada keluarga bapak 2021 S tentang gizi kurang IMPLEMENTASI EVALUASI - Menggali pengetahuan keluarga tentang gizi kurang - Menjelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Menjelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Menjelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Menjelaskan pada keluarga cara meningkatkan nafsu makan anak : menyajikan makanan dalam bentuk yang menarik, memberikan makan sedikit tapi sering, pelihara kebersihan gigi dan mulut, sajikan makanan yang hangat dan tingkatkan aktivitas anak - Mendemontasikan bersama keluarga cara membuat makanan yang menarik - Mendukung keluarga untuk mengambil keputusan perawatan anak dengan gizi kurang dengan mengunjungi faskes - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Membantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan mengenai gizi kurang - Memberi pujian atas prilaku yang benar S: - Ibu H mengatakan sedikit paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya, dan setelah diberikan pendkes sudah sedikit paham - Keluarga mengatakan sudah mengetahui cara meningkatkan nafsu makan anak dan sudah dicoba - Ibu H mengatakan sudah mengerti cara menyiapkan makanan - Keluarga mengatakan sudah mengikuti sarn perawat O: -Anak C berusia 24 bulan - BB Anak F 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva anemia A: -Masalah teratasi sebagian P: Melanjutkan intervensi 62 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Nama KK Alamat HARI/TGL /JAM Rabu, 10 Februari 2021 : Tn. B : Jl. Tembok Baru, Plaju Palembang DIAGNOSIS IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Ketidakseimbangan - Mengidentifikasi pengetahuan nutrisi kurang dari keluarga tentang gizi kurang kebutuhan tubuh (pengertian, penyebab, tanda pada Anak C gejala, dan dampak) - Mendiskusikan bersama keluarga tentang pengertian gizi kurang - Menjelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Menjelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Menjelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Mendukung keluarga untuk mengambil keputusan perawatan anak dengan gizi kurang dengan mengunjungi faskes posyandu/puskesmas - Menjelaskan cara memenuhi kebutuhn nutrisi yan tepat untuk anak, menjelaskan cara penyajian makanan yang menarik (bento, berikan makanan selagi hangat) - Membantu memodifikasi lingkungan yang nyaman dan menyenangkan dalam pemberian nutrisi pada anak (ajak anak memilih makanan kesukaan, sajikan makanan dalam bentuk menarik) - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya seputar gizi kurang - Membantuantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan 63 EVALUASI S: - Ibu H mengatakan sudah paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya. - Keluarga mengatakan sudah membawa anaknya ke posyandu untuk mengkonsultasikan masalah gizi anaknya - Ibu H mengatakan sudah mengerti cara merawat anak yang mengalami gizi kurang - Ibu H mengatakan sudah membuatkan anaknya makanan yang menarik, dan anaknya makan lebih banyak dari biasanya - Ibu H mengatakan Anak C mulai mau minum susu kotak. O: -Anak C berusia 17 bulan - BB Anak C 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva tidak anemia A: -Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan HARI/TGL /JAM Rabu, 10 Februari 2021 DIAGNOSIS IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Ketidakefektifan - Melakukan pendkes pada manajemen keluarga: proses penyakit, kesehatan di pengajaran diet yang tepat keluarga - Memberi dukungan emosional untuk dapat beradaptasi dengan perubahan fungsi yang terjadi (semangati Ibu R untuk membuat menu makanan yang beragam dan menarik) - Memberi dukungan dalam mengambil keputusan - Mengajarkan cara manajemen nutrisi yang tepat : lakukan konseling nutrisi - Membantu pemeliharaan lingkungan yang menyenangkan dalam memberikan nutrisi pada anak (memberi suasana makan yang asik, ajak anak makan sambil jalan-jalan) - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Membantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan - Memberi pujian atas prilaku yang benar 64 EVALUASI S: - Ibu H mengatakan sudah paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya, dan setelah diberikan pendkes sudah sedikit paham - Keluarga mengatakan sudah membawa anaknya ke posyandu untuk mengkonsultasikan masalah gizi anaknya - Ibu H mengatakan sudah mengerti cara menyiapkan makanan yang menarik untuk anaknya - Ibu H mengatakan sudah paham mengenai gizi seimbang - Ibu H mengatakan Anak C sudah dicobakan minum susu kotak, dan anak C mau - Keluarga mengatakan sudah mengikuti sarn perawat O: -Anak C berusia 17 bulan - BB Anak C 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva tidak anemia A: -Masalah teratasi P: Intervensi dihentikanA: Masalah teratasi P: intervensi dihentikan HARI/TGL DIAGNOSIS /JAM KEPERAWATAN Rabu, 10 Kurang pengetahuan Februari pada keluarga bapak 2021 S tentang gizi kurang IMPLEMENTASI EVALUASI - Menggali pengetahuan keluarga tentang gizi kurang - Menjelaskan kepada keluarga penyebab gizi kurang - Menjelaskan tanda dan gejala gizi kurang pada balita - Menjelaskan dampak yang ditimbulkan pada balita dengan gizi kurang - Menjelaskan pada keluarga cara meningkatkan nafsu makan anak : menyajikan makanan dalam bentuk yang menarik, memberikan makan sedikit tapi sering, pelihara kebersihan gigi dan mulut, sajikan makanan yang hangat dan tingkatkan aktivitas anak - Mendemontasikan bersama keluarga cara membuat makanan yang menarik - Mendukung keluarga untuk mengambil keputusan perawatan anak dengan gizi kurang dengan mengunjungi faskes - Menganjurkan keluarga untuk mengunjungi faskes terdekat dalam mengkonsultasikan masalah nutrisi anak dengan ahli gizi - Memberi kesempatan pada keluarga untuk bertanya - Membantu keluarga untuk mengulangi apa yang telah dijelaskan mengenai gizi kurang - Memberi pujian atas prilaku yang benar S: - Ibu H mengatakan sudah paham mengenai gizi kurang, penyebab, tanda dan gejala, serta dampaknya, dan setelah diberikan pendkes sudah paham - Keluarga mengatakan sudah mengetahui cara meningkatkan nafsu makan anak dan sudah dicoba - Ibu H mengatakan sudah mengerti cara menyiapkan makanan - Keluarga mengatakan sudah mengikuti sarn perawat O: -Anak C berusia 17 bulan - BB Anak C 5 kg Usia : 17 bulan - BB/U – 3SD kategori gizi kurang - Hasil dari BB dan usia An. C pada kartu KMS berada digaris kuning dan termasuk dalam kategori gizi kurang. - Anak C nampak kurus, persebaran rambut merata, namun tipis dan kemerahan - Kulit kusam dan kering - Konjungtiva tidak anemia A: -Masalah teratasi P: Intervensi dihentikanA: Masalah teratasi P: Intervensi dihentikan 65 BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Setelah memberikan asuhan keperawatan selama 3 kali pertemuan, penulis mendapat gambaran nyata pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga pada Anak C di keluarga bapak S dengan permasalahan Gizi Kurang mulai dari pengkajian, analisis data, penegakan diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi, sampai dengan evaluasi. Pada kasus Anak C, ditegakkan diagnosis keperawatan utama ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, dengan penyebab ketidakmampuan keluarga mengenal masalah dan merawat anggota keluarga yang sakit. Dengan implementasi wujud dari perencanaan yang disusun, diagnosis tersebut dapat diatasi. Faktor pendukung dalam studi kasus ini adalah kemauan seluruh anggota keluarga untuk memperbaiki status gizi Anak C. Faktor penghambat berasal dari keluarga, berkaitan dengan finansial keluarga bapak S. B. Saran Kepada petugas pelayanan kesehatan untuk lebih meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit gizi kurang pada balita, perlu dilakukan program pengembangan dan analisis mengenai gizi kurang seperti dalam memberikan asuhan keperawatan keluarga yang tepat, dan bagi keluarga yang memiliki balita hendaknya rutin memeriksakan status kesehatan balitanya dan rajin menimbang BB anak di posyandu. 66 DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 2016. Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk Buku I. Jakarta: EGC Departemen Kesehatan RI. 2013. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar Indonesia Tahun 2013. Depkes. Jakarta. Dinas Kesehatan kota Palembang, 2017. LaporanTahunan Status Gizi Baduta dan Balita di Seluruh Puskesmas Kota Palembang. Friedman, Marilyn M. 2010. Buku Ajar Keperawatan Keluarga : Riset, Teori dan Praktik.Jakarta : EGC Kholifah, Siti Nur dan Wahyu Widagdo. 2016. Modul Keperawatan Keluarga dan Komunitas. Jakarta: Kemenkes RI NANDA. 2015. Diagnosa Keperawatan Definisi & Klasifikasi 2015-2017. Jakarta:EGC Nurarif, Amin Huda & Hardhi Kusuma. (2015). Asuhan Keperawatan berdasarkan Diagnosa Medis Nanda, NIC, NOC. Yogyakarta: Medication. Padila. 2012. Buku Ajar: Keperawatan Keluarga Dilengkapi Aplikasi Kasus Askep Keluarga Terapi Herbal dan Terapi Modalitas. Yogyakarta : Nuha Medika Pudiastuti, Ratna Dewi. 2011. Waspadai Penyakit pada Anak. Jakarta : PT Indeks Waryana. 2016. Promosi Kesehatan, Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat. Yogyakarta : Nuha Medika Webster-Gandy, Joan. 2014. Gizi & Dietetika. Jakarta : EGC 67 LAMPIRAN DOKUMENTASI KEGIATAN LINK VIDEO INFORMED CONSENT KK 2 LAPORAN KUNJUNGAN SATUAN ACARA PENYULUHAN PENANGANAN GIZI KURANG PADA BALITA A. JUDUL Satuan Acara Penyuluhan Penanganan Gizi Kurang pada Balita B. TUJUAN 1. Tujuan Umum : Setelah diberikan pendidikan kesehatan selama 30 menit diharapkan keluarga pasien dapat mengerti dan memahami tentang gizi kurang pada balita. 2. Tujuan Khusus : Setelah dilakukan pendidikan kesehatan keluarga dapat : a. Mengerti dan mampu menyebutkan pengertian gizi kurang b. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali tentang penyebab gizi kurang c. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali tentang tanda-tanda gizi kurang d. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali akibat gizi kurang pada balita e. Mengerti dan mampu menyebutkan kembali penatalaksanaan gizi kurang f. Mengerti dan mampu mendemonstrasikan kembali tentang cara membantu meningkatkan selera makan balita C. TEMPAT Posyandu Melati, RT. 05 Plaju Palembang D. WAKTU Jumat, 29 Januari 2021 pukul 10.00-10.30 WIB E. SASARAN Seluruh warga binaan wilayah kerja Puskesmes Ulu Palembang yang memiliki balita terindikasi gizi kurang. F. METODE 1. Ceramah 2. Demonstrasi 3. Tanya jawab G. MEDIA 1. Flip chart 2. Leaflet 3. Alat demonstrasi H. RENCANA PELAKSANAAN No. 1. 2. 3. 4. Kegiatan Pendahuluan : 1) Memberi Salam 2) Perkenalan 3) Mengingatkan kontrak 4) Menjelaskan maksud dan tujuan Pemberian materi: 1) Pemantauan status gizi pada balita 2) Penyebab gizi kurang 3) Akibat gizi kurang 4) Penanganan gizi kurang Demonstrasi Penutup : 1) Diskusi dan Tanya jawab 2) Menyimpulkan seluruh materi 3) Mengevaluasi peserta 4) Mengakhiri kontrak 5) Memberi salam penutup Waktu 5 menit 10 menit 10 menit 5 menit I. SETTING TEMPAT 1 Keterangan gambar: 1. Penyaji 2. Peserta 2 J. KRITERIA EVALUASI 1. Evaluasi Struktural : a. Persiapan Media Media yang digunakan dalam penyuluhan semua lengkap dan dapat digunakan dalam penyuluhan yaitu : Leaflet Flipchart Bahan demonstrasi b. Persiapan Materi Materi disiapkan dalam bentuk makalah dan dibuatkan flipchart dan leaflet dengan ringkas, menarik, lengkap mudah di mengerti oleh peserta penyuluhan. c. Persiapan Peserta Penyuluhan mengenai penatalaksanan gizi kurang bagi balita. Peserta telah diinformasikan sebelum dilaksanakan penyuluhan. 2. Evaluasi Proses : Peserta mengikuti acara pembelajaran kesehatan dari awal sampai selesai dan aktif selama proses pembelajaran kesehatan berlangsung. 3. Evaluasi Hasil : a. Sebanyak 60% peserta mampu mengungkapkan kembali pengertian gizi kurang. b. Sebanyak 60% peserta mampu menyebutkan kembali 8 penyebab gizi kurang. c. Sebanyak 60% peserta mampu menyebutkan kembali 7 tanda dan gejala gizi kurang. d. Sebanyak 60% peserta mampu menyebutkan kembali 5 akibat gizi kurang . e. Sebanyak 60% peserta mampu menyebutkan penatalaksanaan gizi kurang. f. Salah satu peserta mampu mendemonstrasikan kembali cara membantu meningkatkan selera makan balita. LAMPIRAN MATERI A. PENGERTIAN GIZI KURANG Gizi kurang atau kurang gizi (sering kali tersebut malnutrisi) adalah suatu keadaan yang muncul akibat asupan energi dan makronutrien yang tidak memadai. Pada beberapa orang kurang gizi juga terkait dengan defisiensi mikronutrien nyata ataupun subklinis (Webster-Gandy, 2014). Untuk mengetahui status gizi pada anak telah adekuat perlu dilakukan pemantauan pertumbuhan sebagai indikator status gizi. Pertumbuhan merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara asupan dan kebutuhan gizi. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik dari waktu ke waktu. Contoh : anak bertambah berat badannya , anak bertambah tinggi badannya. Anak yang gizinya seimbang pertumbuhannya akan baik sedangkan anak yang gizinya tidak seimbang maka pertumbuhannya akan terganggu. Untuk menilai pertumbuhan perlu dilakukan pengukuran berat badan (BB) dan umur secara berkala. Adapun cara untuk menilai pertumbuhan anak dari 0 bulan - 5 tahun menurut KMS adalah : 1. Penilaian pertumbuhan dilakukan dengan membuat garis yang menghubungan antara dua titik hasil penimbangan pada KMS. 2. Pertumbuhan disebut baik bila grafik BB mengikuti garis sejajar N2 atau lebih dibandingkan kurva baku N1 pada KMS. a. N1 (tumbuh kejar): bila BB naik dibandingkan bulan lalu dan grafik berpindah ke pita yang lebih atas (tua). b. N2 (tumbuh normal): bila BB naik dibanding bulan lalu dan grafik mengikuti pita warna yang sama. 3. Sebaliknya pertumbuhan dikatakan tidak baik bila grafik BB menunjukkan penurunan T3, datar T2 atau naik dengan peningkatan BB yang kurang mencukupi (T1). a. T1 (tumbuh tidak memandai) : bila BB naik dibandingkan bulan lalu tetapi grafik berpindah ke pita dibawahnya (lebih muda). b. T2 (tidak tumbuh) : bila BB bulan ini tetap disbanding bulan lalu, sehingga grafik di KMS mendatar. c. T3 (tumbuh negatif): bila BB bulan ini turun dibandingkan bulan lalu, d. sehingga grafik di KMS menurun. Keadaaan tersebut mencerminkan gizi kurang pada anak dan jika tidak ditanggulangi akan mengarah ke gizi buruk. Selain itu status gizi pada balita dapat diketahui dengan cara mencocokkan umur anak (dalam bulan) dengan berat badan standar tabel WHO-NCHS, bila berat badannya kurang, maka status gizinya kurang. Di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu), telah disediakan Kartu Menuju Sehat (KMS) yang juga bisa digunakan untuk memprediksi status gizi anak berdasarkan kurva KMS. Dengan memperhatikan umur anak, kemudian memetakan berat badannya dalam kurva KMS. Bila masih dalam batas garis hijau maka status gizi baik, bila di bawah garis merah, maka status gizi buruk. Parameter yang umum digunakan untuk menentukan status gizi pada balita adalah berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala. Lingkar kepala sering digunakan sebagai ukuran status gizi untuk menggambarkan perkembangan otak. Sementara itu, parameter status gizi balita yang umum digunakan di Indonesia adalah berat badan menurut umur. Parameter ini dipakai menyeluruh di Posyandu ( Ali, 2009) B. PENYEBAB GIZI KURANG Menurut Pudjiastuti (2011), gizi kurang pada balita, disebabkan oleh: 1. Balita tidak mendapatkan ASI E ksklusif atau mendapatkan makanan tambahan sebelum usia 6 bulan. 2. Balita yang disapih sebelum usia 2 tahun. 3. Balita tidak mendapatkan makanan pendamping ASI (MP ASI ) pada usia 6 bulan atau lebih. 4. Makanan pendamping ASI kurang dan tidak bergizi. 5. Setelah usia 6 bulan balita jarang disusui C. TANDA DAN GEJALA GIZI KURANG Menurut Kemenkes RI tahun 2016, balita dengan gizi kurang menunjukkan tanda dan gejala seperti: 1. Anak tampak kurus 2. Pertumbuhan linier berkurang atau terhenti 3. Berat badan tidak bertambah bahkan turun 4. Ukuran lingkar lengan atas lebih kecil dari normal 5. Maturasi tulang terlambat 6. Tebal lipatan kulit berkurang 7. Anemia ringan 8. Aktivitas dan perhatian berkurang jika dibandingkan dengan anak sehat D. AKIBAT GIZI KURANG Menurut Webster-Gandy (2012), dampak kurang gizi bervariasi mulai dari subklinis, yakni tidak ada gangguan klinis sama sekali, sampai kematian, dan bergantung pada jenis, lama, dan derajat keparahan ketidakcukupan gizi, usia, serta status gizi dan kesehatan pasien. Selain tingginya risiko mortalitas, kurang gizi juga terkait dengan morbilitas yang lebih besar : 1. Berat badan turun (utamanya lemak dan otot) 2. Fungsi otot terganggu a. Otot rangka (menyebabkan: mobilitas buruk, tingginya risiko jatuh) b. Pernapasan (menyebabkan: tingginya resiko infeksi paru-paru, penurunan kapasitas olahraga penyapihan ventilasi tertunda) c. Jantung (menyebabkan: bradikardia, hipotensi, penurunan curah jantung) d. Saluran cerna (menyebabkan: penurunan integritas dinding usus berpotensi menambah akses masuk mikroorganisme) 3. Fungsi imun melemah: i. Penurunan fagositosis, penurunan kemotaksis, penurunan penghancuran bakteri intrasel, penurunan limfosit T ii. Peningkatan angka infeksi iii. Respons yang buruk terhadap vaksinasi 4. Sintesis protein baru terganggu a. Penyembuhan luka kurang baik, tingginya risiko ulserasi b. Perlambatan masa pulih dari pembedahan c. Perlambatan atau penghentian pertumbuhan anak 5. Gangguan psikologis a. Depresi, anoreksia, penurunan motivasi b. Penurunan kualitas hidup c. Gangguan intelektual jika kurang gizi terjadi pada masa bayi E. PENATALAKSANAAN GIZI KURANG Nutrisi adalah proses total yang terlibat dalam konsumsi dan penggunaan zat makanan. Triguna makanan adalah: 1. Mengandung zat tenaga; karbohidrat, makanan pokok (nasi, jangung, sagu dan lain-lain). 2. Mengandung zar pembangun; protein, lauk-pauk (daging, telur, tempe tahu, ikan laut, dan lain-lain) 3. Mengandung zat pengatur; vitamin dan mineral (sayur dan buah) Cara menghidangkan makanan bagi keluarga penderita gizi kurang: 1. Sajikan hidangan makanan sehari-hari berdasarkan triguna makanan. 2. Berikan makanan secara beragam dan penyajian yang unik. 3. Berikan aneka ragam makanan dalam porsi kecil tetapi sering. 4. Berikan makanan yang mudah dicerna. 5. Gunakan garam beryodium. Jenis makanan usia 1-2 tahun 1. Berikan nasi yang ditambah telur/ ayam/ ikan/ tempe/ tahu/ daging/ wortel/ bayam/ kacang hijau. 2. Berikan makanan tersebut 3 kali sehari. 3. Berikan juga makanan selingan 2 kali sehari seperti bubur kacang hijau, pisang, biskuit dan buah. 4. Penuhi gizi seimbang 5. Membuat variasi menu sesuai dengan kesukaan anak Menu sehari-hari 1. Pagi : nasi, sayur, sop, ikan/ayam. 2. Siang : nasi, sayur, bayam, 1 potong tahu/tempe, dan buah. 3. Sore/malam: nasi, 1 butir telur, sayur. Berikut jumlah rata-rata kebutuhan nutrisi balita yang dibutuhkan setiap harinya berdasarkan Piramida Panduan Makanan pada balita usia 2-3 tahun : 1. Biji padi-padian a. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 2 tahun: 3 ons (85 gram). b. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 3 tahun: 4-5 ons (110-140 gram). c. Contoh makanan dan cara penyajian: 1 ons sama dengan 1 potong roti, 1 gelas takar sereal siap saji, atau 1/2 gelas takar nasi telah matang. 2. Sayuran a. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 2 tahun: 1 gelas takar. b. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 3 tahun: 1,5 gelas takar. Contoh makanan dan cara penyajian: untuk memastikannya bisa menggunakan gelas takar. Sajikan sayuran yang telah halus, dipotong hingga kecil dan dimasak sampai matang untuk mencegah anak tersedak. 3. Buah-buahan a. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 2 tahun: 1 gelas takar. b. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 3 tahun: 1,5 gelas takar. Contoh makanan dan cara penyajian: untuk memastikan jumlahnya gunakan gelas takar. Pisang dengan panjang 20-23 cm sama dengan 1 gelas takar 4. Susu a. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 2 tahun: 2 gelas (400 ml). b. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 3 tahun: 2 gelas (400 ml). Contoh makanan dan cara penyajian: 1 gelas sama dengan seperti 1 gelas susu, 1 1/2 ons (45 gram) keju alami, atau 2 ons (60 gram) keju yang sudah diproses. 5. Daging dan kacang-kacangan a. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 2 tahun: 2 ons (65 gram). b. Jumlah yang dibutuhkan per hari pada balita usia 3 tahun: 3-4 ons (85-115 gram). Contoh makanan dan cara penyajian: 1 ons sama dengan 1 ons (300 gram) daging ayam atau ikan, 1/4 gelas takar kacang-kacangan matang atau 1 butir telur. F. CARA MEMBANTU MENINGKATKAN SELERA MAKAN ANAK Cara meningkatkan selera makan anak: 1. Atur jadwal makan Balita belum memiliki nafsu makan yang kuat. Oleh karena itu, mereka enggan makan sebanyak tiga kali dalam sehari. Agar balita tetap memperoleh asupan gizinya yang cukup, orang tua sebaiknya mengatur jadwal makannya. 2. Atur porsi makan dengan porsi kecil tapi sering dengan kandungan gizi tinggi agar aktivitas makan menjadi kebiasaan bagi balita, balita perlu diberi makan dengan porsi kecil tapi sering namun mengandung gizi tinggi. 3. Makan dengan piring berwarna cerah, unik, dan menarik 4. Buat makanan yang unik, menarik, dan bervariasi Orang tua perlu menyajikan makanan secara unik dan menghiasnya agar balita tertarik untuk makan. Jangan terus-menerus memberi jenis makanan yang sama pada balita. Mengubah menu makan setiap hari dapat meningkatkan nafsu makan balita. 5. Tambah makanan selingan yang sehat Menambah makanan selingan dengan bahan yang bergizi diantara makanan utama dapat meningkatkan porsi makan balita, sehingga akan meningkatkan status gizinya. 6. Batasi minum di sela-sela waktu makan Minuman rendah lemak maupun jus buah segar memang penting untuk anak, namun bila anak anda terlalu banyak minum, tidak akan ada tempat yang cukup untuk makanan maupun kudapan sehat yang bisa masuk ke perut anak. 7. Berikan pujian pada anak bila mau mengunyah dan menelan makanannya dengan baik. 8. Libatkan anak dalam menyiapkan makanan Misalnya dengan meminta pertolongannya untuk membantu menyiapkan meja makan. 9. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan. 10. Siasati makanan yang tidak disukai anak dengan mencampurkannya pada makanan kesukaan anak dalam tekstur yang kecil sehingga tidak terlihat oleh anak, namun tetap memenuhi kebutuhan gizi. BALITA DENGAN GIZI KURANG Oleh: Mia Farlena Apa Itu Kurang Gizi? Gizi kurang atau kurang gizi Kurang Gizi? adalah suatu keadaan yang muncul Anak tampak kurus akibat asupan energi dan nutrisi Rambut tipis, jarang, kusam, yang tidak memadai. Sebab Kurang Gizi? POLTEKKES KEMENKES JAMBI JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM STUDI PROFESI NERS 2021 Apa Sajakah tanda-tanda Balita Balita tidak mendapatkan ASI Eksklusif atau mendapatkan makanan tambahan sebelum usia 6 bulan. Balita yang disapih sebelum usia 2 tahun. Balita tidak mendapatkan makanan pendamping ASI (MPASI) pada usia 6 bulan atau lebih. Makanan pendamping ASI kurang dan tidak bergizi. Setelah usia 6 bulan balita jarang disusui. warna rambut seperti rambut jagung dan bila dicabut tidak sakit. Berat badan tidak bertambah bahkan turun Ukuran lingkar lengan atas lebih kecil dari normal Tebal lipatan kulit berkurang Anemia ringan Aktivitas dan perhatian berkurang jika dibandingkan dengan anak sehat Apa akibat dari Kurang Gizi? Tidak cerdas atau bodoh. Berat dan tinggi badan pada umur dewasa lebih rendah dari Mengurangi makanan yang mengandung garam/ makanan yang diawetkan. TimBang Berat badan selalu. anak normal. Sering terkena penyakit infeksi seperti batuk, pilek, diare, TBC dan lain-lain. Hal-hal yang penting untuk diperhatiakan dalam usaha pencapaian gizi seimbang Banyak mengkonsumsi makanan yang beraneka ragam dan bergiizi Banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung serat (sayur dan buaha-buahan) Banyak minum air putih (8-10 gelas/hari) Cara meningkatkan nafsu makan Perawatan pada balita gizi buruk Berikan makanan yang bergizi dan seimbang : Zat tenaga (karbohidrat) : nasi, roti, singkong, jagung, ubi, dll Zat pengatur (vitamin & mineral) : sayur dan buahbuahan Zat pembangun (protein nabati / hewani) : daging, susu rendah lemak, ikan, telur, tempe, tahu, dll Bawa ke puskesmas/rumah sakit bila anak berumur 13 tahun dengan berat badan +/- 7kg Makan bersama keluarga Memberi makan sedikit tapi sering Memberi makan sambil bermain dan bercerita Hindari paksaan dalam memberi makan.