Fauzia Suryani Puteri (15408061) Iztirani Nuraisha

advertisement
LAPORAN
PL3002 ASPEK KEBENCANAAN
ANALISIS BAHAYA GEMPA BUMI
Disusun Oleh:
Fauzia Suryani Puteri
(15408061)
Iztirani Nuraisha
(15409005)
Inertia Indi Hapsari
(15409013)
Argasadha Retapradana
(15409029)
Gina Puspitasari
(15409035)
Atika Nurcahaya
(15409046)
Dinurrahma Kemala
(15409060)
Tri Rahayu Wulansari
(15409069)
Ryan Aditya Amir
(15409080)
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
SEKOLAH ARSITEKTUR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN
KEBIJAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2011
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Pengertian Gempabumi
Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di
dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada
kerak bumi. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang
gempabumi sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.
1.1.1
Penyebab Terjadinya Gempabumi
Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi
beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak
bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu,
maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama
lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat
yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi,
gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik
merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua
(Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).
GAMBAR 1.1
LEMPENG TEKTONIK
Sumber: www.bmkg.go.id
2
Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif
dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah
lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini
sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga
dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai
aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan
terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan
pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila
kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan
saling geser (transform).
Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak
saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini
berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur
sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling
mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai
pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan
gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai
gempa bumi.
GAMBAR 1.2
PENAMPANG KERAK BUMI
Sumber: www.bmkg.go.id
3
1.1.2
Karakteristik Gempabumi
Gempabumi memiliki beberapa karakteristik, yaitu:
•
Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat
•
Lokasi kejadian tertentu
•
Akibatnya dapat menimbulkan bencana
•
Berpotensi terulang lagi
•
Belum dapat diprediksi
•
Tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi
1.1.3
Parameter Dasar Gempa
Beberapa parameter dasar gempa bumi yang perlu kita ketahui, yaitu:
1. Hypocenter, yaitu tempat terjadinya gempa atau pergeseran tanah di
dalam bumi.
2. Epicenter, yaitu titik yang diproyeksikan tepat berada di atas hypocenter
pada permukaan bumi.
3. Bedrock, yaitu tanah keras tempat mulai bekerjanya gaya gempa.
4. Ground acceleration, yaitu percepatan pada permukaan bumi akibat
gempa bumi.
5. Amplification factor, yaitu faktor pembesaran percepatan gempa yang
terjadi pada permukaan tanah akibat jenis tanah tertentu.
6. Skala gempa, yaitu suatu ukuran kekuatan gempa yang dapat diukur
dengan secara kuantitatif dan kualitatif. Pengukuran kekuatan gempa
secara kuantitatif dilakukan pengukuran dengan skala Richter yang
umumnya dikenal sebagai pengukuran magnitudo gempa bumi.
Magnitudo gempa bumi adalah ukuran mutlak yang dikeluarkan oleh
pusat gempa. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Richter
dengan besar antara 0 sampai 9. Selama ini gempa terbesar tercatat
sebesar 8,9 skala Richter terjadi di Columbia tahun 1906. Pengukuran
kekuatan gempa secara kualitatif yaitu dengan melihat besarnya
kerusakan yang diakibatkan oleh gempa. Kerusakan tersebut dapat
4
dikatakan sebagai intensitas gempa bumi. Di Indonesia digunakan skala
intensitas MMI (Modified Mercalli Intensity) versi tahun 1931.
1.1.4
Klasifikasi Gempabumi
Berikut adalah klasifikasi gempabumi dari berbagai aspek:
1) Berdasarkan Gelombang/Getaran Gempa
a. Gempa Gelombang Primer(gelombang lungitudinal)
Gelombang/getaran merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara
7-14 km/detik.getaran ini berasal dari hiposentrum
b. GempaGelombang Sekunder (gelombang transversal)
Gelombang atau getaran merambat,seperti gelombang primer dengan
kecepatan yang sudah berkurang,yakni 4-7 km/detik. Gelombang
sekunder tidak dapat merambat melalui lapisan cair.
c. Gempa Gelombang Panjang
Gelombang panjang adalah gelombang yang merambat melalui
permukaan bumi dengan kecepatan 3-4 km/detik.Gelombang ini
berasal
dari
episentrum.dan
gelombang
inilah
yang
banyak
menimbulkan kerusakan di permukaan bumi.
2) Bedasarkan Faktor Penyebab
a. Gempabumi vulkanik ( Gunung Api )
Gempa bumi ini terjadi akibatadanya aktivitas magma, yang biasa
terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin
tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan
menimbulkan terjadinya gempabumi.. Gempabumi tersebut hanya
terasa di sekitar gunung api tersebut.
b. Gempa bumi tektonik
Gempabumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu
pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang
mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar.
Gempabumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di
bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh
5
bagian bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga
yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti
layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga
yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan
tektonik. Teori dari tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan bahwa
bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari
lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju.
Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan
bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan
terjadinya gempa tektonik.
3) Berdasarkan Magnitude Gempa
a. Gempabumi sangat besar dengan magnitude lebih besar dari 8 SR.
b. Gempabumi besar magnitude antara 7 hingga 8 SR.
c. Gempabumi merusak magnitude antara 5 hingga 6 SR.
d. Gempabumi sedang magnitude antara 4 hingga 5 SR.
e. Gempabumi kecil dengan magnitude antara 3 hingga 4 SR .
f. Gempabumi mikro magnitude antara 1 hingga 3 SR .
g. Gempabumi ultra mikro dengan magnitude lebih kecil dari 1 SR .
4) Berdasarkan Kedalaman Sumber
a. Gempabumi dalam h > 300 Km .
b. Gempabumi menengah 80 - 300 Km .
c. Gempabumi dangkal h < 80 Km .
5) Berdasarkan Bentuk Episentrum:
a. Gempa sentral: episentrumnya berbentuk titik
b. Gempa linear: episentrumnya berbentuk garis
6) Berdasarkan Jaraknya
a. Gempa sangat jauh: jarak episentrum lebih dari 10.000 km
b. Gempa jauh: jarak episentrum sekitar 10.000 km.
c. Gempa lokal: jarak episentrum kurang 10.000 km.
6
7) Berdasarkan Lokasinya
a. Gempa daratan : episentrumnya di daratan.
b. Gempa lautan : episentrumnya di dasar laut. Input data sumber gempa
1.1.5
Karakteristik Gempabumi yang Menyebabkan Tsunami
Tidak semua gempa menghasilkan tsunami, hal ini tergantung beberapa
faktor utama seperti tipe sesaran (fault type), kemiringan sudut antar lempeng (dip
angle), dan kedalaman pusat gempa (hypocenter). Gempa dengan karakteristik
tertentu akan menghasilkan tsunami yang sangat berbahaya dan mematikan, yaitu:
a. Tipe sesaran naik (thrust/ reverse fault). Tipe ini sangat efektif
memindahkan volume air yang berada diatas lempeng untuk bergerak
sebagai awal lahirnya tsunami.
b. Kemiringan sudut tegak antar lempeng yang bertemu.Makin tinggi
sudutnya (mendekati 90o), makin efektif tsunami yang terbentuk.
c. Kedalaman pusat gempa yang dangkal (<70 km).
1.2 Catatan Sejarah Kegempaan di Indonesia
Posisi geografis kepulauan Indonesia yang berada di zona Ring of Fire.
Pertemuan empat lempeng besar pada zona tersebut menyebabkan banyaknya
patahan-patahan aktif yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal ini yang
menyebabkan sejarah kegempaan yang tercatat relatif cukup banyak dibandingkan
dengan Negara lain yang berada di titik ancaman gempa lain.
Sedikit membahas mengenai sejarah kegempaan di Indonesia, sejarah yang
tercatat dan data yang tersedia secara umumdapat diklasifikasikan dalam tiga
lingkup lokasi makro.
1. Catatan sejarah gempabumi di Pulau Sumatra
2. Catatan sejarah gempabumi di Pulau Jawa
3. Catatan sejarah gempabumi di wilayah Indonesia bagian timur
a. Kepulauan Nusa Tenggara
b. Kepulauan Maluku
c. Pulau Irian
d. Pulau Sulawesi
7
1.2.1 Catatan Sejarah Gempabumi di Pulau Sumatra
Catatan sejarah kegempaan di pulau Sumatra cukup banyak dan mendetail
dibandingkan dengan catatan sejarah kegempaan di wilayah lain di Indonesia.
Catatan dan data-data kegempaan ini banyak dibuat sebagai respon atas kondisi
kerentanan dan ancaman gempabumi yang besar di pulau Sumatra. Seringnya
terjadi gempabumi di pulau Sumatra juga menjadi bahan riset menarik bagi
peneliti geologi dan pakar-pakar kegempaan di Indonesia maupun di Luar negeri.
Jika membahas gempa yang sering terjadi di pulau Sumatra, umumnya
pusat gempa (episenter) terletak di zona patahan yang memanjang sepanjang bukit
barisan. Namun bukan berarti gempa tidak pernah terjadi akibat episenter yang
berada di zona subduksi (zona pertemuan lempeng). Gempa dengan episenter
yang terletak di zona subduksi justru lebih berbahaya dan beresiko menimbulkan
gelombang Tsunami karena letak zona subduksi yang berada di bawah laut. Rasio
kejadian gempa ber-magnitude besar berdasarkan sumber gempa adalah sebagai
berikut
1. Gempabumi akibat episenter di zona subduksi terjadi “hanya” dua /
tiga kali dalam 100 tahun terakhir.
2. Gempabumi akibat episenter di zona patahan (patahan Sumatra)
terjadi sampai 20 kali dalam 100 tahun.
Untuk catatan gempa besar yang terjadi di pulau Sumatra dalam 10 tahun
terakhir adalah sebagai berikut :

Bengkulu tahun 2000 – 7.8 SR

Pulau Simelue tahun 2002

Aceh – Andaman tahun 2004 – 9.2 SR

Nias – Simelue tahun 2005 – 8.7 SR

Bengkulu - Mentawai tahun 2007 – 8.4 SR

Mentawai tahun 2007 – 7.9 SR
Berikut adalah peta sejarah kegempaan periode 1797 sampai tahun 2005.
GAMBAR 1.3
8
PETA SEJARAH KEGEMPAAN DI PULAU SUMATRADISERTAI
TAHUN KEJADIAN (PERIODE 1797 – 2005)
Keterangan : dari gambar diatas dapat dilihat letak episenter gempa disertai tahun
kejadian gempanya.
1.2.2 Catatan Sejarah Gempabumi di Pulau Jawa
Karakteristik gempabumi yang terjadi di Pulau Jawa umumnya nyaris
sama dengan karakteristik gempa di Pulau Sumatra. Mayoritas episenter gempa
berada di zona patahan (beberapa yang terkenal adalah patahan CimandiriLembang, Patahan Baribis, Patahan Semarang-Brebes, dan Patahan di sebelah
timur gunung Muria).
Catatan gempa-gempa merusak di pulau Jawa dari tahun 1850 sampai
tahun 1985 adalah sebagai berikut,
9
GAMBAR 1.4
PETA SEJARAH KEGEMPAAN DI PULAU JAWA
(PERIODE 1850 – 1985)
Dari berbagai catatan sejarah yang ditemukan, dapat diambil kesimpulan
bahwa potensi gempabumi dan tsunami di zona subduksi Jawa tidak sebesar zona
subduksi Sumatra. Kesimpulan ini didukung oleh fakta bahwa kekuatan gempa
terbesar yang pernah terjadi belum pernah menyentuh angka magnitude 8. Berikut
catatan gempa disertai kekuatan gempanya,
10
GAMBAR 1.5
PETA SEJARAH KEGEMPAAN DI PULAU JAWA DISERTAI
KEDALAMAN EPISENTER DAN MAGNITUDE GEMPA
PERIODE 1850 – 1985
Berdasarkan catatan diatas, dapat dilihat bahwa potensi gempa di zona
subduksi Jawa cukup besar dan tidak dapat diabaikan karena tidak dapat dikatakan
bahwa zona subduksi Jawa tidak dapat mengeluarkan gempa dengan magnitude
sampai 9 SR.
1.2.3 Catatan Sejarah Gempabumi di Indonesia Timur
Secara fisik, kondisi struktur geologi dan tatanan tektonik di wilayah
Indonesia Timur lebih rumit dibandingkan dengan Pulau Sumatra dan Pulau Jawa.
Namun hal ini justru tidak didukung oleh ketersediaan data mengenai kegempaan
(geologi dan geofisika). Oleh karena itu, analisis ancaman dan resiko gempabumi
untuk wilayah Indonesia timur terbentur masalah kelangkaan data kegempaan.
Berikut beberapa catatan gempa yang pernah terjadi di wilayah Indonesia
timur,
11
GAMBAR 1.6
PETA SEJARAH KEGEMPAAN DI INDONESIA TIMURDISERTAI TAHUN
KEJADIAN GEMPA
PERIODE 1973 - 2005
GAMBAR 1.7
PETA SEJARAH KEGEMPAAN DI INDONESIA TIMURDISERTAI TAHUN
KEJADIAN GEMPA (PERIODE 1973 – 2005)
12
1.2.1
Jumlah Korban Bencana Gempabumi di Indonesia
Daftar gempa bumi besar (di atas skala Richter 5) di Indonesia (diurutkan
menurut tanggal paling lama):
Episentrum
Area
Korban
Tanggal
Kekuatan
20 September 1899
7.8
25 November 1833
8.8-9.2 Mw
2 Februari 1938
8.5
14 Agustus 1968
7.8
Sulawesi Utara
392
26 Juni 1976
7.1
Papua
9.000
19 Agustus 1977
8.0
12 Desember 1992
7.5
Pulau Flores
2.100
2 Juni 1994
7.2
Banyuwangi
200
4 Mei 2000
6.5
4 Juni 2000
7.3
Bengkulu
>100
12 November 2004
7.3
Alor
26
Kota Ambon
2.5°LU 100.5°BT
Sumatera
5.05°LU
Pulau Banda
131.62°BT
dan Pulau Kai
Kepulauan
Sunda
Kepulauan
Banggai
Nanggroe
Aceh
26 Desember 2004
9.3
Samudra Hindia
Darussalam
dan sebagian
Sumatera Utara
28 Maret 2005
8.2
2.04°LU 97°BT
Samudra Hindia
7.977°LS
27 Mei 2006
5.9
110.318°BT
Bantul, Yogyakarta
Jiwa
3.280
Tidak
terdata
2.200
54
131.028
tewas dan
sekitar
37.000
orang
hilang
Pulau Nias
Daerah
Istimewa
Yogyakarta
6.234
dan Klaten
13
17 Juli 2006
7.7
9.334°LS
Ciamis dan
107.263°BT
Cilacap
>400
Samudra Hindia
11 Agustus 2006
6.0
2.374°LU
Pulau
96.321°BT
Simeulue
Solok, Kota
6 Maret 2007
6.4 Mw, 6.3
0.49°LS
Mw
100.529°BT
Solok, Tanah
Datar, dan
>60
Kota
Bukittinggi
12 September 2007
7.7
26 November 2007
6.7
17 November 2008
7.7
4 Januari 2009
7.2
2 September 2009
7.3
4.517°LS
Kepulauan
101.382°BT
Mentawai
8.294°LS
118.36°BT
Sumbawa
Sulawesi
Tengah
Manokwari
8.24°LS 107.32°BT
Tasikmalaya
dan Cianjur
10
>3
4
2
>87
Padang
30 September 2009
7.6 Mw
0.725°LS
99.856°BT
Pariaman, Kota
Pariaman, Kota
1.115
Padang, dan
Agam
1 Oktober 2009
6.6 Mw
2.44°LS 101.59°BT
9 November 2009
6.7
8.24°LS 118.65°BT
25 Oktober 2010
7.7
3.61°LS 99.93°BT
Kerinci
Pulau
Sumbawa
Sumatera Barat
2
1
408
Berdasarkan data diatas, korban jiwa dari gempa bumi terjadi tidak
berdasarkan besar magnitude atau skala gempa yang terjadi. Skala besarnya
14
gempa memang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi banyaknya korban
jiwa, bisa kita lihat pada gempa bumi di Aceh, namun hal itu terjadi karena
adanya tsunami. Faktor yang menyebabkan banyaknya korban jiwa adalah
bangunan yang runtuh dan kurang sigapnya masyarakat saat gempa bumi terjadi.
Gempa bumi yang terjadi diatas skala 5 dikhawatirkan mengakibatkan korban
jiwa karena cukup kuat getarannya. Korban jiwa tersebut diakibatkan oleh
reruntuhan bangunan dan longsornya tanah. Gempa bumi tidak menyebabkan
korban jiwa, namun akibat dari gempa tersebut seperti bangunan, longsor dan
tsunami yang mengakibatkankorban jiwa.
15
BAB II
LANGKAH-LANGKAH HAZARD ASESSMENT
Untuk menghubungkan antara data gempa dengan model yang akan digunakan
dalam analisis bahaya gempa diperlukan identifikasi dan karakterisasi semua
potensi sumber gempa yang mungkin memberikan pengaruh signifikan pada
ground motion di lokasi gempa. Sumber gempa dapat diidentifikasi dari geologi,
tektonik, sejarah dan dari hasil pencatatan gempa. Analisis penilaian bencana
gempa melibatkan estimasi kuantitatif dari karakteristik ground motion pada site
lokasi. Pendekatan analisis yang digunakan dalam penentuan analisis bencana
gempa tersebut terdiri atas dua pendekatan yaitu secara deterministik
(Deterministic Seismic Hazard Analysis (DSHA)) dan secara probabilistik
(Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA)). Berikut ini adalah penjelasan
mengenai langkah-langkah dari masing-masing analisis bahaya gempabumi
tersebut:
2.1
Metoda Deterministik (DSHA)
Metoda deterministik merupakan metoda dengan menggunakan input data
skenario gempabumi dari satu sumber patahan gempa bumi yang paling
berpotensial untuk menimbulkan bencana di wilayah yang bersangkutan. Metoda
ini terutama baik dilakukan untuk wilayah yang kebetulan dilintasi atau berada
pada jarak cukup dekat dari suatu patahan gempa utama sehingga diperkirakan
akan mengalami kerusakan yang signifikan apabila gempa besar terjadi pada
patahan tersebut. Secara umum, metoda deterministik digambarkan dalam empat
tahapan proses (Reiter, 1990) yaitu:
1. Identifikasi
dan
karakterisasi
semua
sumber-sumber
gempa
yang
mempunyai kapasitas menghasilkan gerakan tanah pada suatu lokasi (lokasi,
geometri, mekanisme kegempaan, sejarah kegempaan, dan parameter
kegempaan seperti magnitudo maksimum dan frekuensi keberulangan
kejadian gempa)
16
2. Pemilihan parameter jarak dari sumber ke lokasi. Biasanya dalam metoda
DSHA, jarak yang dipilih adalah jarak terdekat dari zona sumber gempa
(source zone) dengan lokasi yang ditinjau. Jarak yang digunakan dapat
diekspresikan sebagai jarak dari episenter atau jarak dari hiposenter, dimana
hal ini tergantung pada pengukuran jarak dari persamaan empiris yang akan
digunakan untuk mempredikasi pada tahap berikutnya.
3. Pemilihan controlling earthquake, yaitu gempa yang diperkirakan akan
menghasilka tingkat goncangan yang terkuat, dimana biasanya diekspresikan
dalam parameter gerakan tanah dalam suatu lokasi. Pemilihan ini dilakukan
dengan membandingkan tingkat goncangan yang dihasilkan oleh gempa
yang diidentifikasi dalam tahap pertama) yang diasumsikan terjadi pada
jarak yang diidentifikasi pada tahap kedua. Controlling earthquake ini
biasanya dideskripsikan dengan besar (umumnya diekspresikan sebagai
magnitude) dan jaraknya dari lokasi yang bersangkutan.
4. Bencana yang terjadi pada suatu lokasi kemudian didefinisikan biasanya
dalam bentuk gerakan tanah yang terjadi pada lokasi tersebut akibat
controlling earthquake. Karakteristik tersebut biasanya dideskripsikan oleh
satu atau lebih parameter gerakan tanah yang diperoleh dari persamaan
empiris yang digunakan. Percepatan puncak, kecepatan puncak, dan ordinat
respons spectrum biasanya digunakan untuk mengkarakteristikkan bencana
gempa.
17
GAMBAR 2. 1
TAHAPAN ANALISA BENCANA GEMPA DENGAN METODA DSHA
Sumber: Kramer, S.L, 1996
Metoda deterministik atau berdasarkan skenario gempa pada satu patahan
tertentu ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
1. Metoda standar/ konvensional: memakai formula empiris untuk model
goncangan gempa
2. Metode detil: memakai metoda “Stochastic- Green’s Function” untuk
simulasi numerik dari sumber gempa dan penjalaran gelombangnya
2.1.1
Metoda Deterministik Konvensional
Metoda deterministik konvensional adalah metoda memperkirakan besar
goncangan dengan memakai rumus-rumus empiris hubungan antara besar
kekuatan dan tipe sumber gempa dengan dampak kerusakan berdasarkan data-data
kerusakan gempabumi di dunia. Kekurangan metoda ini adalah karena sampai saat
ini belum ada rumus-rumus empiris yang khusus dikembangkan untuk wilayah
Indonesia. Oleh karena itu terpaksa harus mengambil rumus-rumus empiris yang
dikembangkan berdasarkan data-data dari luar Indonesia, sehingga belum tentu
cocok di Indonesia. Adapun keuntungannya, metoda ini jauh lebih mudah
daripada metoda detil.
18
GAMBAR 2. 2
DIAGRAM CARA MEMBUAT PETA BAHAYA GONCANGAN
BERDASARKAN METODA DETERMINISITIK STANDAR
Sumber: Diadosi dari “Seismic Hazard Manual Guide” Natural Research Institute for
Earth Science and Disaster Prevention-Japan, 2008
Contoh Analisis Goncangan Gempa dengan Metoda Deterministik
Konvensional
Dalam analisis deterministik faktor probabilitas atau berapa besar
kemungkinan terjadinya suatu gempa besar di suatu wilayah tertentu tidak
dipentingkan. Yang dihitung adalah berapa besar goncangan yang mungkin terjadi
di wilayah tersebut apabila gempa besar yang terjadi pada salah satu sumber
gempa disekitarnya terjadi. Jadi besar goncangan yang terjadi adalah akibat dari
suatu kejadian gempa. Biasanya diambil besari magnitude maximum (worst-case).
Secara Sederhana model besar goncangan gempa dapat dihitung sebagai berikut.
Akselerasi gempa (sebanding dengan) Besar kekuatan/ magnitude sumber
gempa/(berbanding terbalik dengan) jarak sumber ke lokasi peredaman
gelombang gempa. Jadi besar goncangan gempa berbanding lurus dengan besar
sumber gempa (magnitude) dan berbanding terbalik dengan jarak gempa(makin
jauh/besar akan makin kecil) dan faktor peredaman gelombang.
Pada contoh studi ini akan dihitung perkiraan potensi bahaya goncangan
gempa dari Segmen Renun dari Patahan Sumatera di Wilayah Danau Toba.
Patahan aktif ini dipetakan berdasarkan foto udara skala 1 : 100.000 dan peta
19
topografi skala 1 : 50.000. Peta patahan aktif ini sudah cukup besar skalanya
untuk bisa melakukan segmentasi patahan. Dari analsis segmentasi, diketahui
bahwa panjang segmen patahan aktif Renun sekitar 170 km. Berdasarkan panjang
patahannya maka dari formula empiris didapat perkiraan besar magnitude gempa
maximum ( MCE = Maximum Credible Earthquake) adalah Mw 7.6
GAMBAR 2. 3
PETA PATAHAN SUMATERA DI WILAYAH DANAU TOBA
Sumber: Sieh dan Natawidjaja, 2000
Patahan aktif ini dipetakan dari foto udara 1 : 100.000 dan topografi skala
1 :50.000. Segmen patahan Renun panjangnya 170 km. Dibagian utara dibatasi
oleh diskontiniuitas jalur patahan berupa struktur Lembah Alas. Di bagian
Selatannya dipisahkan dari segmen patahan Toru oleh perubahan arah jalur
gempanya. Untuk model goncangan gempa dipakai formula empiris dari atenuasi
gempa oleh Fukushima dan Tanaka (1990), sebagai berikut.
Dimana, A = rata – rata ground peak acceleration-PGA (cm.sec2); R = jarak
terdekat dari lokasi ke sumber gempa (km); Mw = skala magnitude momen.mbar
Berdasarkan input dan patahan aktif Segmen Renun pada gambar 4 dan
formula atenuasi gelombang diatas maka didapat perkiraan besar goncangan
20
gempa (dalam satuan PGA = Peak Ground Acceleration –g =m/detik2) seperti
terlihat pada gambar 2.3 dibawah :
GAMBAR 2. 4
PETA BAHAYA GONCANGAN GEMPABUMI BERDASARKAN ANALISIS
DETERMINISTIK-KONVENSIONAL
Sumber: Fukushima dan Tanaka. 1990
Gambar 2.3 merupakan Peta bahaya goncangan gempabumi (pada batuan
dasar) berdasarkan analisis deterministik-konvensional dari patahan sumatera
segmen Renum di wilayah Toba (MCE=Mw 7.6) dengan memakai formula
empiris atenuasi gelombang dari Fukushima dan Tanaka (1990). Pada gambar
tersebut terlihat pola goncangan gempabuminya simetris, artinya dalam
pemodelan ini tidak diperhitungkan faktor variasi arah propagasi dari perekahan
patahan gempa dan juga kondisi tanah/batuan disekelilingnya diasumsikan
homogeny. Pada kenyataannya besar goncangan gempa dipengaruhi oleh banyak
faktor, seperti kondisi geologi dan tanah didekat permukaan, konfigurasi struktur
bawah permukaan dan lain-lain.
2.1.2
Metoda Deterministik Detil (Stochastic)
Metoda deterministik detil adalah metoda dengan menggunakan simulasi
numerik dari sumber gempa dan penjalaran gelombangnya. Kelebihan metoda ini
adalah bisa memperhitungkan berbagai scenario kemungkinan proses gempabumi
pada satu patahan aktif yang sama namun bisa menghasilkan pola efek goncangan
yang berbeda-beda, tergantung dari asumsi dan parameter patahan gempa yang
21
diterapkan. Metoda ini mensimulasikan secara numeric gelombang gempabumi
mulai dari pembentukan di sumber gempa kemudian menajalar ke sekelilingnya
melewati lapisan-lapisan tanah dan struktur bawah permukaan yang dimodelkan
berdasarkan data geologi bawah permukaan. Data karakteristik fisik material
tanah di permukaan juga dapat dimasukkan sebagai input datanya untuk
mendapatkan variasi goncangan gempa sesuai dengan perkiraan efek amplifikasi
di berbagai titik-titik target. Hasil dari metoda ini tidak hanya peta intensitas
gempabumi seperti metoda deterministic standar, tapi juga mendapatkan data seri
waktu (time series) dari gelombang seismic/gempa (sintetis) untuk semua lokasi.
GAMBAR 2. 5
DIAGRAM CARA MEMBUAT PETA BAHAYA GONCANGAN
BERDASARKAN METODA DETERMINISTIK DETIL
Sumber: Diadosi dari “Seismic Hazard Manual Guide” Natural Research Institute for Earth
Science and Disaster Prevention-Japan, 2008
2.2
Metoda Probabilistik (PSHA)
Analisis goncangan gempa bumi dengan cara probabilistik adalah cara yang
paling umum dilakukan di dunia. Metoda ini tidak hanya memperhitungkan satu
sumber patahan gempa bumi saja tetapi menghitung semua efek goncangan
gempa dari semua sumber-sumber gempa bumi pada dan sekitar wilayah studi.
Metoda ini tidak mengasumsikan satu atau beberapa skenario gempa pada setiap
sumber (patahan) gempanya tetapi semua kemungkinan magnitudo gempa bumi
22
yang dapat terjadi yaitu nilai perioda ulang atau frekuensi masing-masing.
Umumnya metoda ini memakai pendekatan rumus-rumus empiris, mirip dengan
yang dipakai dalam metoda deterministik standar tetapi diaplikasikan untuk
banyak sumber gempa sekaligus memakai prinsip probabilstik bukan skenario
gempa. Metoda PSHA dapat dideskripsikan dalam empat tahapan prosedur
(Reiter, 1990) sebagai berikut:
1. Tahap pertama adalah identifikasi dan karakterisasi sumber gempa,
termasuk didalamnya adalah karakterisasi distribusi probabilitas dari lokasi
rupture yang berpotensi pada sumber. Dalam kebanyakan kasus, diterapkan
distribusi probabilitas yang sama untuk masing-masing zona sumber. Hal ini
secara tidak langsung menyatakan bahwa gempa mungkin sama-sama akan
terjadi pada setiap titik dalam zona sumber gempa. Distribusi ini,
dikombinasikan dengan bentuk geometri sumber untuk mendapatkan
distribusi probabilitas yang sesuai dengan jarak sumber ke lokasi
2. Langkah berikutnya adalah karakterisasi dari seismisitasi atau distribusi
sementara dari perulangan kejadian gempa. Hubungan empiris perulangan
kejadian gempa (recurrence relationship), yang mengekspresikan kecepatan
rata-rata dari suatu gempa dengan besar yang berbeda akan terlampaui,
digunakan untuk mengkarakterisasikan seismisitasi dari masing-masing
zona sumber gempa. Hubungan empiris ini dapat mengakomodasikan
besarnya magnitude maksimum dari gempa
3. Gerakan tanah yang terjadi di suatu lokasi akibat adanya gempa dengan
besar gempa berapapun dan lokasi dimanapun dalam masing-masing zona
sumber
gempa,
dapat
ditentukan
dengan
menggunakan
predictive
relationships
4. Langkah terakhir adalah mengkombinasikan ketidakpastian dari lokasi
gempa, besarnya gempa dan predikasi parameter gerakan tannah untuk
mendapatkan probabilitas dimana parameter gerakan tanah akan terlampaui
selama periode waktu tertentu.
23
GAMBAR 2. 6
EMPAT TAHAPAN ANALISA BAHAYA GEMPA DENGAN METODA PSHA
Sumber: Kramer, S.L, 1996
2.2.1
Input Data
Input data sumber gempa dipakai untuk metoda PSHA, yaitu :
a. Patahan Aktif
b. Area Sumber Gempa/ Seismik Latar Belakang
Data patahan aktif adalah input data yang paling menentukan kualitas bagi
hasil PSHA. Semakin komplit dan semakin baik kualitas data untuk input patahan
aktifnya akan semakin baik juga hasil PSHA-nya. Untuk itu langkah pertama yang
utama adalah mengumpulkan semua data patahan aktif yang sudah tersedia untuk
kemudian analisis satu persatu untuk memeriksa kualitas dan akurasi
datanya,kemudian bandingkan antara satu sumber dengan yang lainnya.
Faktanya dibanyak tempat di dunia termasuk di Indonesia data patahan
aktif ini masih terbatas sehingga input data area sumber gempa/seismik latar
belakang menjadi sangat penting. Oleh karena itu untuk melakukan PSHA
porsedur standar untuk mendesain input data seismic latar belakang ini perlu
benar – benar diperhatikan. Lebih jelasnya, data seismik latar belakang ini di
analisis dan disintesiskan dari katalog gempabumi, yaitu: data rekaman seismik
yang berisi informasi tentang lokasi episenter dan kedalaman sumber atau
hiposenter, magnitudo, dan waktu terjadi gempa-gempa masa lalu. Tahapantahapan untuk mempersiapkan pangkal data katalog gempa yang baik adalah
sebagai berikut :
24
1. Kompilasi semua katalog gempa bumi yang ada dan pemilihan serta
eliminasi data yang sama (completeness analysis)
2. Agar datanya komplit
3. Menyamakan skala magnitudo yang dipakai oleh berbagai katalog tersebut
4. Melakukan proses “declustering”, yaitu menghilangkan semua data – data
gempa yang termasuk kedalam gempa – gempa pendahuluan dan gempa –
gempa susulan (karena yang diperlukan untuk PSHA hanya gempa –
gempa utama atau berdiri sendiri saja)
5. Tahapan yang cukup sulit atau bahkan sering tidak bisa dilakukan adalah
menyamakan kualitas dan keakuratan dari semua katalog semua gempa
bumi yang dikompilasi untuk homogenisasi pangkal data seismiknya.
2.2.2
Model Atenuasi Gempa
Formula empiris adalah hubungan kuantitatif/matematis/statistik antara
dua atau lebih parameter berdasarkan data-data kejadian yang melibatkan
parameter-parameter tersebut. Secara umum rumus empiris atenuasi gelombang
gempa adalah hubungan antara sumber gempa, terutama magnitudonya, dengan
tingkat kerusakan yang terjadi disekitarnya sebagai fungsi dari jarak (antara
sumber gempa dan titik target). Lebih lanjut lagi, parameter lainnya seperti sejenis
mekanisme gempa (apakah patahan naik, turun, atau geser) dan lingkungan
tektonik patahan gempanya (apakah patahan yang berada pada lempeng atau
patahan di batas antar lempeng) juga dimasukkan sebagai parameter sumber
gempa. Untuk kerusakan di target poin juga dimasukkan parameter tambahan
seperti efek amplifikasi pada poin tersebut yang tergantung pada jenis
tanah/batuannya.
Ada banyak formula empiris untuk atenuasi gelombang yang sudah dibuat
untuk berbagai kondisi sumber gempa dan kondisi lokalnya. Sebagian formula
empiris khusus dikembangkan untuk wilayah/ Negara tertentu yang tentunya juga
berdasarkan data dari suatu wilayah/Negara tersebut. Sebagian lainnya
dikembangkan lebih universal berdasarkan data dari seluruh dunia. Sampai
sekarang belum ada formula empiris yang dikembangkan dari data Indonesia dan
untuk Indonesia. Juga belum ada usaha yang lebih komprehensif untuk membuat
25
koreksi dan penyesuaian terhadap berbagai formula yang sudah dikembangkan
untuk bisa diterapkan lebih baik di Indonesia. Karena itu pemilihan formula
empiris yang akan dipakai harus dengan kehati-hatian mengingat belum tentu
benar-benar cocok. Lebih baik kalau memakai beberapa rumus empiris sekaligus
sehingga bisa dibandingkan hasilnya untuk kemudian dipertimbangkan dengan
sebaik-baiknya untuk menentukan nilai mana yang akan dipakai. Dengan akan
tersedianya banyak data seismometer dan akselerometer di seluruh wilayah
Indonesia dalam rangka keperluan TEWS maka dapat dipastikan bahwa data ini
nantinya dapat dipakai untuk membuat/mengkoreksi formula-formula empiris
atenuasi gelombang gempa.
2.2.3
Intensitas Pada Batuan Dasar Keteknikan
Nilai kecepatan atau percepatan gelombang gempa atau juga konversinya
ke intensitas atau besarnya goncangan gempa dapat di perkirakan pada batuan
dasarnya atau pada permukaan tanahnya. Yang disebut sebagai batuan dasar
adalah batuan/tanah yang lebih kerass dan padat di bawah tubuh tanah yang lebih
lunak dan tidak terkonsolidasi. Batuan dasar keteknikaan (engineering bedrock)
adalah batuan dasar yang menjadi fondasi untuk struktur bangunan besar.
2.2.4
Efek Amplifikasi Gelombang di Dekat Permukaan
Ketika gelombang gempa menjalar dari batuan dasar ke atas permukaan
maka gelombang ini akan mengalami amplifikasi. Besarnya amplifikasi ini
ditentukan oleh jenis atau sifat fisik tanahnya. Yang sekarang umum dipakai
untuk standar besarnya amplifikasi adalah nilai kecepatan gelombang permukaan
pada tubuh tanah dari permukaan sampai kedalamn 30 meter (Vs-30 m). Satuan
goncangan untuk batuan dasar dan permukaan ini bisa direpresentasikan sebagai
Puncak Kecepatan/Percepatan Gelombang (Peak Ground Velocity/Acceleration.
PGV/PGA)
2.2.5
Respon Struktur
Selain besar goncangan gempa pada batuan dasar dan permukaan, potensi
bencana juga ditentukan oleh respon struktur bangunan karena efek resonansi dari
sturktur bangunan akan memperkuat gelombang gempa. Oleh karena itu dalam
analisis goncangan perihal respon struktur bangunan ini diperhitungkan. Respon
26
struktur pada gelombang gempa yang datang ini biasa disebut sebagai spektra
respon (response spectra).
2.2.6
Tampilan Peta Probabilitas Goncangan Gempa
Ada dua macam tampilan dari peta probabilitas bahaya goncangan gempa
bumi yaitu:
1) Peta besarnya probabilitas dari goncangan gempa yang melewati nilai
goncangan yang ditentukan untuk perioda waktu yang ditentukan (the
probability for a fixed time period and intensity)
2) Peta Probabilitas besarnya goncangan gempa yang melewati nilai yang
tidak ditentukan untuk besar probabilitas dan perioda waktu yang
ditentukan (the intensity for a fixed time period and probability)
GAMBAR 2. 7
PETA PROBABILISTIK BAHAYA GONCANGAN GEMPA UNTUK WILAYAH
JEPANG
Sumber: Diadopsi dari “Seismic Hazard Manual Guide”, NRI-ESDP-Japan,2008 dan “Seismic
Hazard and Risk Analysis” by R.K. McQuire, 2004
Gambar diatas merupakan contoh 2 (dua) macam tampilan peta
probabilistik bahaya goncangan gempa untuk wilayah Jepang yaitu:
1) Peta kiri memperlihatkan perkiraan besar intensitas goncangan dengan
tingkat kemungkinan 6% dalam 30 tahun ke depan. Peta kanan
memperlihatkan perkiraan besar intensitas (dalam JMA) goncangan
dengan tingkat kemungkinan 3 % dalam 30 tahun ke depan.
2) Peta kiri memperlihatkan tingkat kemungkinan (probabilitas) goncangan
gempa akan sama dengan atau melebihi intensitas 5 (skala JMA). Peta
27
Kanan memperlihatkan tingkat kemungkinan (probabilitas) goncangan
gempa akan sama dengan atau melebihi intensitas 6 (skala JMA).
GAMBAR 2. 8
PETA PROBABILISTIK TINGKAT BAHAYA GONCANGAN GEMPA DI
SUMATERA UNTUK “10% PROBABILITY OF EXEDANCE”
Sumber: Petersen et al, 2004
GAMBAR 2. 9
PETA DIAGRAM ALUR KERJA KAJIAN BAHAYA GONCANGAN GEMPA
DENGAN METODA PROBABILISTIK
Sumber: Diadopsi dari “Seismic Hazard Manual Guide”, NRI-ESDP-Japan,2008 dan “Seismic
Hazard and Risk Analysis” by R.K. McQuire, 2004
28
BAB III
STUDI KASUS
2.1
Gempa Mentawai 2010
Studi kasus yang diambil pada laporan ini adalah Gempa Mentawai yang
terjadi pada tanggal 25 Oktober 2011. Gempa ini terjadi pada pukul 21.42 WIB.
Gempa Mentawai ini terjadi di barat daya pulau Pagai, Mentawai, Sumatera Barat.
Berdasarkan laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Gempa ini
berkekuatan 7,2 Skala Richter atau 7,7 Skala Richter versi USGS dan memicu
terjadinya tsunami pada hari yang sama pada pukul 22.00 WIB.
Gempa dan tsunami ini menewaskan 311 orang dan 600 orang dinyatakan
hilang. Gempa ini juga merusak fasilitas umum, yaitu 10 buah jembatan, jalan
sepanjang 8 Km, 4 rumah Ibadah, 3 bangunan sekolah, 3 rumah dinas dokter, 2
resort, dan 174 rumah warga mengalami rusak ringan. 2 resort yang rusak ini
merupakan resort yang sering dikunjungi wisatawan lokal dan domestik.
Berikut adalah gambar-gambar pasca kejadian gempa mentawai 2010:
29
2.1.1
Gempa Mentawai 2011
Gempa Mentawai ini terjadi pada 26 Oktober 2011, satu tahun setelah
mentawai 2010 pada pukul 10.38 WIB. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi
dan Geofisika, Gempa ini berkekuatan 5,4 Skala Richter berpusat di 42 Km
tenggara Sipura, Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat atau 2,59 LS dan 99,67
BT. Lokasi gempa berada di bibir empeng subduksi Indoaustralia. Gempa ini
tergolong dangkal sehingga tidak berpotensi menciptakan tsunami. Gempa
tersebut merupakan lokasi rawan tsunami, jika terjadi gempa dengan skala diatas
7 Skala Richter. Pusat gempa berkedalaman 29 Km dari permukaan Laut.
30
BAB IV
KAJIAN GEMPABUMI DALAM PERENCANAAN
Perencanaan dan perancangan kota merupakan salah satu unsur penting
dalam pembangunan, terutama mengenai isu gempa bumi. Perencanaan dan
perancangan kota dapat memberikan sumbangsih, baik sebagai pencegah maupun
perbaikan. Dengan adanya perencanaan dan perancangan yang dikhususkan untuk
menanggulangi gempa bumi, maka dapat dipastikan bencana yang terjadi serta
kerusakan dapat diantisipasi. Banyaknya korban bencana alam gempa bumi yang
terjadi akhir-akhir ini seharusnya membuat para perencana dan perancang mampu
menganalisis kemudian mengaplikasikan ilmunya dalam bentuk pembangunan
yang nyata.
Perencanaan merupakan sebuah tindakan atau proses berkelanjutan dimana
rencana yang dikeluarkan digunakan untuk masa depan dengan memikirkan masa
lalu dan masa kini. Perencanaan tentu saja mengoptimalkan sumber daya yang ada
untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kemudia dilakukan pengambilan
keputusan setelah menentukan alternatif yang ditawarkan. Dalam perencanaan dan
perancangan sendiri memerlukan beberapa prinsip yang memperhatikan beberapa
aspek geophysic, tektonic, structural engineering, relief and rehabilitations
operations, dan penanganan masalah sosial.
Pemikiran-pemikiran tentang sistem peringatan dini, perencanaan dan
perancangan kota (planning and design for safe city), penggunaan material, disain
dan rekayasa bangunan tahan gempa merupakan salah satu bahasan yang
berkesinambungan dan menarik . Namun sebelum merencanakan semua hal
diatas, tentu saja sebagai seorang planner atau perencana memerlukan kajian
seputar gempa bumi. Kajian ini diperlukan guna memperhatikan aspek dan prinsip
dalam perencanaa itu sendiri sehingga tidak terjadi kesalahan dan sesuai
kebutuhan.
Ada beberapa hal yang memicu potensi bencana alam di Indonesia, selain
wilayah Indonesia yang memang berada diantara tiga lempang besar (Lempeng
Indo-Australia), Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik) ada beberapa faktor lain
31
yang memicu potensi bencana terjadi yaitu pertumbuhan penduduk Indonesia
sendiri. Laju pertumbuhan yang sangat tinggi membuat kebutuhan akan lahan
semakin bertambah. Kawasan hunian merupakan salah satu kawasan yang terus
berkembang sehingga mencapai kawasan marginal yang tidak aman. Tata tertib
dan tata guna lahan yang menjadi inti permasalahan dalam hal peningkatan
kerentanan. Peningkatan kerentanan ini juga terjadi akibat masyarakat dan
pemerintah yang tidak menyadari dan tanggap terhadap potensi bencana di
daerahnya. Melihat banyak sekali permasalahan yang ada dari pengalaman, maka
upaya yang komperhensif diperlukan untuk mengurangi resiko bencana yaitu
dengan melakukan mitigasi.
Mitigasi dilakukan untuk mengurangi kerugian akibat kemungkinan terjadi
bencana baik berupa korban jiwa, harta, atau benda yang akan berpengaruh ke
kehidupan manusia. Kajian resiko merupakan salah satu bentuk yang diperlukan
untuk penyusunan rencana, terutama perencanaan dan perancangan wilayah dan
kota sendiri. Alur yang digunakandiawal merupakan rangkaian kerentanan dan
bahaya itu sendiri. Bisa diliHat di gambar di bawah ini.
GAMBAR 4.1
MODEL HUBUNGAN RESIKO BENCANA, BAHAYA DAN KERENTANAN
Sumber: UNDP, 1992
Produk perencanaan dan peracangan kota, dengan berbagai produk
pemanfaatan ruang (aboveground, underground spaces, urban landscape)
sebenarnya merupakan bentuk regulasi (kebijakan publik) yang harus ditaati oleh
semua aktor pembangun, (arsitek, perancang struktur, urban planner, dan urban
32
designer, investor, serta aparat birokrasi). Peraturan tata ruang dan peraturan
bangunan (building codes) memiliki posisi sangat strategis dalam menentukan
produk perancangan kota dan/ atau bangunan yang aman bagi penggunanya.
Ketaatan terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan bangunan yang ketat berkaitan
upaya mitigasi dampak gempa merupakan prasyarat utama yang harus dilakukan.
Alur yang digunakan untuk resiko bencana menurut UNISDR bisa dilihat pada
gambar di bawah ini.
GAMBAR 4.2
KERANGKA PENGURANGAN RESIKO BENCANA
Sumber: UNISDR, 2002
Penanganan mitigasi bencana ini sendiri haruslah berkelanjutan. Karena
salah satu prinsip dalam perencanaan adalah berkelanjutan. Hal ini diperlukan
agar tindakan selanjutnya bisa dilakuakan sesuai dengan rencana yang telah
33
ditetapkan diawal. Kemudian, permasalahan akan bencana yang semakin
berkembang seiring dengan permasalahan lain haruslah diperkirakan apa yang
akan terjadi sehingga penyelesaiannya sendiri bisa dicari. Keikutsertaan
pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama juga dibutuhkan.
Ada 2 bentuk mitigasi, yaitu struktur dan non struktur. Mitigasi struktur
adalah upaya dalam bentuk memperkuat bangunan dan/atau infrastruktur yang
berpotensi terkena bencana, seperti membuat desain rekayasa, dan konstruksi
untuk menahan serta memperkokoh struktur ataupun membangun struktur
bangunan penahan gempa dan sebagainya. Hal ini sangat penting sekali
mengingat salah satu penyebab korban jiwa adalah bangunan itu sendiri. Struktur
bangunan juga dapat mengurangi resiko bencana yang terjadi. Maka dari itu,
sebagai perencana harus juga memikirkan sturktur bangunan dengan memahami
jenis gempa dan bentuk dari gempa itu sendiri. Kemudian hasil analisis tersebut
bisa digunakan untuk membuat rencana dan rancanagan bersama ahli lain. Kajian
akan bentuk dan struktur bangunan juga diperlukan untuk ahli lain sdeperti teknik
sipil dan arsitek. Upaya mitigasi non struktural dilakukan dengan cara
menghindari wilayah bencana dalam merencanakan dan merancang bangunan.
Perlu dilakukannya perencanaan tata ruang dan wilayah yang komprehensif.
Selain itu perlu dilakukan upaya mitigasi lingkungan alam non struktural
diantaranya yakni tidak mengubah lingkungan alam yang dapat melindungi
terhadap bencana seperti karang pantai, bukit pasir pantai, danau, laguna, hutan
dan lahan vegetatif, kawasan perbukitan karst dan unsur geologi lainnya yang
dapat meredam dan mengurangi dampak bencana. Upaya pemanfatan ruang kota
melalui planning and design dalam rangka menciptakan setting kota yang aman
merupakan salah satu upaya mitigasi dampak bencana.
Perencanaan Kota merupakan perencanaan fisik yang
terpadu, karena
perencanaan kota mempunyai aspek yang sangat kompleks menyangkut aspek
sosial-budaya, ekonomi, dan politik dalam satu kesatuan wilayah fisik (ruang
kota). Dengan demikian, rencana kota merupakan rencana yang disusun dalam
rangka pengaturan
pemanfaatan ruang kota, yang menyangkut masalah
kebutuhan atau kepentingan yang saling terkait dalam pemanfaatan sumber daya
34
(ruang kota) yang sudah sangat terbatas; serta keterkaitan antara satu peruntukan
dengan peruntukan lain sesuai dengan kapasitas infrastruktur yang menunjang
peruntukaan-peruntukan tersebut (Respati, 2005: 33).
Peran perencanaan dan perancangan kota dalam upaya mitigasi dampak
gempa bumi sangat penting dalam rangka "melindungi” dan memberikan rasa
aman masyarakat dari ancaman bahaya gempa bumi. Penataan urban landscape
diarahkan untuk memberikan ruang evakuasi, serta ruang penyelamatan korban
gempa. Penataan ruang melalui penataan konfigurasi ruang kota dengan unsur
bangunan tinggi (skycraper, high rise building), kepadatan bangunan, serta ruang
terbuka, keberadaannya menjadi penting untuk mengurangi jumlah korban akibat
gempa. Upaya mitigasi dampak gempa bumi melalui perencanaan dan
perancangan kota dan bangunan harus didukung oleh perangkat peraturan dan
kebijakan pemerintah kota dan pusat yang berkaitan dengan perlindungan
masyarakat dari bahaya gempa. Mitigasi struktur dan non-struktur hanya bisa
dilakukan dengan didukung dengan kelengkapan perangkat peraturan bangunan
(building codes), serta konsistensi implementasi semua produk pranata
perencanaan dan perancangan kota dan/atau bangunan.
Adapun unsur pembentuk kota pada hahekatnya substansi urban design
sebenarnya akan menyangkut 3 unsur pokok yaitu;
a) Faktor lingkungan alam, karakteristik alam merupakan unsur dasar yang
akan memberikan karakteristik yang spesifik suatu kawasan/kota. Faktor
alam ini mencakup; iklim, topografi, seismocity, geomorfologi, aliran,
kelembaban, suhu udara, flora-fauna dan sebagainya.
b)
Faktor lingkungan buatan, kondisi-potensi lingkungan buatan sebagai
produk budaya masyarakat yang telah membentuk lingkungan yang
spesifik perlu menjadi suatu pertimbangan sebagai satu kesatuan produk
aktifitas masyarakat.
c) Faktor lingkungan nonfisik, kehidupan sosial-budaya, ekonomi, politik
dan teknologi, sebagai faktor yang melatar belakangi terbentuknya
lingkungan binaan manusia.
35
BAB V
KESIMPULAN
Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di
dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada
kerak bumi. Penyebab gempabumi adalah pergerakan lempeng tektonik di
permukaan bumi. Posisi Indonesia yang berada pada posisi pertemuan 3 lempeng
tektonik menyebabkan Indonesia rawan akan bahaya gempabumi. Dari berbagai
catatan gempabumi yang terjadi di Indonesia, banyak jumlah korban akibat
bencana ini. Korban tewas terbanyak adalah saat gempa di Aceh pada tanggal 26
Desember 2004 dengan kekuatan 9,1 Skala Richter, yaitu sebanyaj 220.000 jiwa.
Kajian bahaya gempabumi (Earthquake Hazard Assesment) merupakan
langkah awal dari analisis resiko bencana gempabumi. Kajian ini dapat dilakukan
dengan dua metoda pendekatan, yaitu metoda probabilistik dan deterministik.
Melalui pendekatan ini dapat dihasilkan sebuah peta bahaya gempabumi yang
dapat digunakan sebagai pedoman untuk mitigasi bencana.
36
REFERENSI
http://bnpb.go.id
http://science.howstuffworks.com/earthquake.htm/printable
http://portal.vsi.esdm.go.id/portal/gempabumi/gempabumi.htm
http://eksan.komite-sman2bjb.web.id/wp-content/uploads/2008/04/aneka-bentukdan-potensi-muka-bumi.pdf
http://draft2pena.files.wordpress.com/2008/05/gempa11.jpg
http://nasional.vivanews.com/news/read/185375-gempa-mentawai-dan-merapimeletus-terkaithttp://nasional.vivanews.com/news/read/258896-gempa-guncang-mentawai
http://berita.liputan6.com/read/303436/gempa-dan-tsunami-mentawai-rusakfasilitas-umum
http://kaskus-us.blogspot.com/2010/10/foto-tsunami-mentawai-gempamentawai.html
http://sugengsetyawan.blogspot.com/2010/10/kronologi-tsunami-mentawaigempa.html
http://balisafety.baliprov.go.id/Edukasi.aspx?ida=133&id=3
http://yuli.blog.uns.ac.id/files/2010/05/makalah-teknik-gempa.pdf
http://adelnriripunya.blogspot.com/2010/02/klasifikasi-gempa.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23857/4/Chapter%20II.pdf
http://www.bmkg.go.id/bmkg_pusat/Geofisika/gempabumi.bmkg
http://catatan-kuliah.blogspot.com/gempabumi
Rencana Aksi Nasional Pengurangan Resiko Bencana 2010-2012. BNPB
Pengenalan Karakteristik Bencana dan Upaya Mitigasinya di Indonesia.
2007.Mitigasi BNPB
Natawidjaja, D.H, 2008. Pedoman Analisis Bahaya Dan Risiko Bencana Gempa
Bumi. BNPB/SCDRR
37
LOG BOOK
Nama
NIM
Pengerjaan
Fauzia Suryani Puteri
15408061
Langkah Hazard Assesment
Iztirani Nuraisha
15409005
Pengertian Gempabumi
Inertia Indi Hapsari
15409013
Studi kasus
Argasadha Retapradana
15409029
Studi kasus
Gina Puspitasari
15409035
Pengertian Gempabumi
Atika Nurcahaya
15409046
Kajian Bahaya Gempabumi
dalam Perencanaan
Dinurrahma Kemala
15409060
Jumlah Korban
Tri Rahayu Wulansari
15409069
Kesimpulan dan Langkah
Hazard Assesment
Ryan Aditya Amir
15409082
Sejarah Kegempaan
38
Download