Uploaded by moehammadpadhil

Konsep Katulahan dalam budaya Banjar

advertisement
Konsep Katulahan dalam budaya Banjar
Muhammad Padhil
Mahasiswa Hukum Keluarga Islam
Fakultas Syariah UIN Antasari Banjarmasin
Email : [email protected]
Abstrak
Tulisan ini mengkaji tentang bagaimana konsep katulahan yang terdapat pada masyarakat
banjar, yang akan menghasilkan deskripsi tentang bentuk asli dari katulahan. Katulahan
pada masyarakat banjar diyakini hasil dari representasi nilai-nilai agama islam, berdasar
pada anggapan urang banjar adalah orang islam. Sehingga besar kemungkinan katulahan
memang diilhami dari islam, dengan adanya kesamaan dari objek yang bermula pada adab
serta akhlak. Metode yang diterapkan pada penelitian menggunakan Library Research
dengan pendekatan analisis (Analythical Approach), dengan analisis data yang diperoleh
dari data kualitatif terhadap data sekunder. Hasil penelitian adalah bagaimana deskripsi
katulahan pada masyarakat banjar serta faktor-faktor yang menyebabkannya.
Kata Kunci : Katulahan, Budaya Banjar, Islam
1.
Pendahuluan
Masyarakat banjar dikenal sebagai penduduk yang mayoritasnya adalah beragama
islam, serta menjunjung tinggi budaya warisan leluhur mereka.1 Selain daripada itu, urang
banjar2 terkenal dengan gaya berbicara mereka yang cepat dan berirama. Hal tersebut menjadi
ciri khas tersendiri bagi urang banjar, yang menjadikannya sebagai salah satu corak pembeda
dari suku lain di nusantara.
Kondisi masyarakat banjar dalam kehidupan sehari-hari pada interaksinya, masih
menggunakan istilah ataupun sastra lisan dari budaya mereka. Sastra lisan banjar umunya
terbagi menjadi beberapa bagian, diantaranya ada yang berbentuk seni dan petuah. Sastra
lisan yang berbentuk petuah dalam interaksi sosial penggunaannya tidak terlepas pada budaya
1
Lebba Kadorre Pongsibanne, Islam dan Budaya Lokal, UIN Jakarta, 2017, h. 48.
2
Penyebutan bagi masyarakat yang asli dari keturunan banjar dan hidup di tanah banjar.
untuk mengamalkan dan merealisasikan Papadahan3 Urang Bahari4. Pada sastra lisan
khususnya Papadahan Urang Bahari, makna dan tujuan yang ingin disampaikan langsung
secara eksplisit berbentuk Pamali5. Halnya melingkupi dalam :
a. Kehamilan
b. Kelahiran
c. Masa anak-anak
d. Pekerjaan Rumah
e. Mata Pencaharian atau rezeki
f. Berhubungan sosial
g. Berhubungan dengan cinta kasih/perkawinan
h. Berhubungan dengan kematian
i. Berhubungan dengan pemeliharaan tubuh
j. Berhubungan dengan kehidupan rumah tangga
k. Berhubungan dengan alam ghaib
l. Berhubungan dengan agama atau religi.6
Secara turun temurun masyarakat banjar menerapkan sastra lisan di setiap interaksi
pada kehidupan mereka, hal tersebut seperti sudah mendarah daging dan dijadikan norma
tidak tertulis. Ada sanksi tersendiri bagi mereka yang melanggar, seperti cibiran ataupun
perkataan-perkataan yang tidak enak untuk didengar (sarkasme) atau terkena Katulahan.
Katulahan sebagai bentuk kekayaan khazanah sastra lisan banjar dan juga bentuk
dari melanggar hal yang dianggap sebagai norma. Istilah ini apabila diterjemahkan dengan
Bahasa Indonesia secara umum memiliki arti kualat atau durhaka kepada orang yang lebih
tua.7
Istilah Katulahan lahir sebagai bentuk ekspresi masyarakat banjar untuk
mendeskripsikan suatu perbuatan/tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma sosial dan
norma agama. Fokusnya adalah pada kelakuan individu atau cara individu bermasyarakat
3
Petuah atau nasehat baik.
4
Orang tua zaman dahulu.
5
Pantangan dan Larangan.
6
Pamali Banjar, Balai bahasa banjarmasin, Banjarbaru, 2006, h. 9.
7
Abdul Djebar Hapip, Kamus Banjar-Indonesia, Departemen pendidikan dan kebudayaan, 1997, h.
101.
terkait dengan adab serta akhlak. Sehingga sebagai objek, adab dan akhlak adalah hal paling
mendasar yg dijadikan sebagai acuan penilaian.
Definisi sesungguhnya menurut masyarakat banjar bukan hanya terpaku pada
makhluk sesama makhluk, akan tetapi lebih jauh daripada itu. Ada yg menjabarkan Ketulahan
itu bisa kepada Tuhan, Kitab suci, dan hal lainnya. Sehingga penelitian ini akan difokuskan
pada pada pertanyaan apa saja faktor yang menjadi penyebab katulahan serta keterkaitannya
dengan agama islam.
Karena perbedaan dalam memahami makna katulahan menjadikan isitilah ini kaya
akan makna, serta menghasilkan banyak objek pembahasan. Akan sangat menarik apabila
katulahan dijabarkan dengan berbagagai macam pendekatan serta analisisnya, sehingga dapat
menjawab pertanyaan tadi yang sudah penulis kemukakan.
2.
Metode
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Kualitatif deskriptif. Dengan
menyesuaikan pendapat antara peneliti dan informasi yang didapat. Pemilihan metode ini
karena analisisnya tidak bisa dalam bentuk angka dan peneliti mendiskripsikan segala
fenomena yang ada di masyarakat secara jelas. Sumber data Primer di penelitian ini
menggunakan wawancara dan pengamatan langsung di lapangan, serta untuk sumber data
Sekunder peneliti melakukan studi ke perpustakaan untuk menambah literatur dan landasan
teori.
3.
Landasan Teori
Teori-teori :
Katulahan terdiri dari kata Tulah disertai dengan imbuhan Ke dan An. Imbuhan Ke
pada Katulahan di leburkan ke bahasa banjar menjadi Ka. Tulah menurut KBBI berarti nasib
sial yang didapat dari sebab ada yang mengutuk, karena perbuatan yang tidak baik terhadap
orang tua atau orang yang dianggap suci dan sebagainya, serta akibat dari melanggar terhadap
larangan sehingga menjadi kualat.8
Karma adalah proses dari suatu sebab akibat yang terjadi dari hasil perbuatan yang
kita lakukan, bisa itu bersifat buruk ataupun baik.9
8
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa KEMENDIKBUD,
2016.
9
Yulisa, Membandingkan Konsep Karma Dalam Film “KARMA” Dengan Konsep Karma Buddha
Mahayana, Jurnal PETRA, 2015.
Azab adalah ganjaran dari tuhan sebab dari suatu perbuatan yang melanggar dari
ketentuan agama.10
Budaya Banjar adalah suatu hal yang dilakukan secara turun temurun yang berasal
dari masyarakat banjar.
Konsep menurut Umar adalah sejumlah teori yang berkaitan dengan suatu objek.
Konsep diciptakan dengan menggolongkan dan mengelompokkan objek-objek tertentu yang
mempunyai ciri-ciri yang sama.11
Kutukan berarti sumpan atau celaan dari tuhan atau makhluk.12
Pamali adalah hal-hal yang bersifat tabu, berisikan larangan serta pantangan yang
tidak boleh dilanggar.13
Dasar Hukum :
Katulahan merupakan salah satu bentuk dari mitos yang bersifat lokal pada
masyarakat banjar. Kehadiran mitos yang ada dan berkembang pada suatu daerah
menandakan daerah tersebut memiliki tingkat penghargaan yang tinggi terhadap budaya
lokal. Akan tetapi tidak jarang suatu mitos terdapat unsur di dalamnya yang bertentangan
denga nilai ajaran islam, seperti mitos-mitos yang berbentuk pantangan dan disertai sebabakibatnya. Hal tersebut seperti mendahului dari takdir dan ketentuan Allah yang akan terjadi,
dan apabila kita mempercayainya dapat menjadikan kita Khurafat.
ً ُ ‫ع ْنهُ َم ْسئ‬
‫وَل‬
َّ ‫ْس لَكَ بِ ِه ِع ْل ٌم ۚ إِ َّن ال‬
ُ ‫َو ََل ت َ ْق‬
َ َ‫ص َر َو ْالفُ َؤادَ ُك ُّل أُو َٰلَئِكَ َكان‬
َ َ‫س ْم َع َو ْالب‬
َ ‫ف َما لَي‬
Artinya : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungan jawabnya. (Q.S Al-Isra:36)
َّ ‫ْب ِإ ََّل‬
َ‫َّللاُ ۚ َو َما َي ْشعُ ُرونَ أَيَّانَ يُ ْب َعثُون‬
ِ ‫س َم َاوا‬
َّ ‫قُ ْل ََل َي ْعلَ ُم َم ْن ِفي ال‬
ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬
َ ‫ض ْالغَي‬
Artinya : Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara
yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.
10
Hasan Alwi, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), h.81.
11
Definisi Konsep Menurut Para Ahli, https://www.zonareferensi.com/pengertian-konsep/
12
Kamus Besar Bahasa Indonesia
13
Ibid,.
Ayat tersebut menjelaskan agar manusia tidak mempercayai dan melakukan hal-hal
yang tidak diketahui kebenarannya atau belum pasti, seperti halnya mitos. Karena segala
perkara ghaib yang belum terjadi hanya Allah lah yang mengetahuinya, hal tersebut juga
termasuk dalam hal yang akan ditakdirkan oleh Allah berdasarkan ketentuannya.
Tetapi dalam pantangan dan larangan yang dikategorikan mitos, tidak serta merta
semuanya tidak baik. Banyak hal tabu yang dijadikan nasihat-nasihat sederhana yang dapat
membuat hidup menjadi bahagia dunia dan akhirat. Tentu tabu semacam ini diperbolehkan
dalam islam karena tujuannya yang baik, yakni untuk memberikan nasihat. Sebagaimana
terdapat dalam al-Qur’an perintah untuk saling menasihati.
ُ ‫ص ْح‬
‫ت ل َ ك ُ ْم َو لَٰ َ ِك ْن ََل ت ُ ِح ب ُّو َن‬
َ َ ‫ف َ ت ََو ل َّ َٰى عَ نْ هُ ْم َو ق َ ا َل ي َ ا ق َ ْو ِم ل َ ق َ د ْ أ َب ْ ل َ غْ ت ُك ُ ْم ِر سَ ا ل َ ة َ َر ب ِ ي َو ن‬
‫اص ِح ي َن‬
ِ َّ ‫ال ن‬
Artinya : Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku sesungguhnya aku
telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu,
tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat". (Q.S Al-A’raf:79)
4.
Hasil Analisis dan Pembahasan
Pembahasan mengenai bagaimana konsep dari katulahan dalam budaya banjar akan
penulis klasifikasikan sebagai berikut.
4.1 Konsep Katulahan
Katulahan pada budaya banjar masih memiliki kaitan erat dengan Pamali, keduanya
adalah bentuk sastra lisan yang dijadikan norma serta akibatnya dalam lingkungan mayarakat
banjar sebagai wujud kearifan lokal. Dalam ruang lingkupnya, kemungkinan terjadinya
katulahan tidak hanya pada adanya interaksi sosial, tetapi juga dalam hal-hal ghaib dan yang
bersifat religi.
Adab dan Akhlak adalah objek fundamental dari adanya katulahan. Dapat dipastikan
dari setiap katulahan yang terjadi disebabkan karena buruknya adab dan akhlak yang ada pada
diri seseorang. Secara implisit dengan adanya katulahan dan diterapkannya pada kehidupan
diharapkan sejak dini dapat menjaga adab serta akhlak masyarakat yang meyakini adanya
katulahan.
Bentuk dari akibat katulahan ada berbagai macam, mulai dari yang ringan sampai
dengan yang berat, dari yang sifatnya melekat pada diri dengan jangka pendek sampai dengan
seumur hidup. Katulahan sebenarnya mirip dengan azab akan tetapi ruang lingkup katulahan
ini lebih luas dari azab. Azab apabila di bandingkan dengan katulahan maka, tingkatan azab
ini sama dengan katulahan yang besar.
Pamali dan katulahan adalah suatu kesatuan yang berkaitan dalam hukum sebabakibat, yang apabila pamali dilanggar maka katulahan adalah bentuk dari hukuman dari
pelanggaran tersebut. Pamali sebagai wujud dari norma yang berlaku dan bersifat lokal pada
masyarakat banjar, hal tersebut seperti sudah melekat pada masyarakat banjar dan tidak dapat
dihilangkan. Misalnya ada orang yang berasal dari suku lain, dan ia melanggar dari pamali
yang ada pada lingkungan masyarakat banjar, pasti ada dari orang banjar yang
memperingatkan akan pelanggaran tersebut agar tidak diulangi supaya terhindar dari
katulahan, sehingga untuk kedepannya orang tadi akan menaati pamali yang telah ia langgar.
Contoh dari katulahan yang terdapat pada masyarakat banjar :
a. Pamali makan dan minum badiri kaina kasadakan
(Dilarang minum dan makan berdiri nanti tersedak)
Minum dan makan berdiri memang tidak diharamkan dalam islam akan tetapi juga
tidak dianjurkan, buktinya ada hadits yang melarang dan ada hadits yang
membolehkan.
Dari
Abu
Hurairah radhiyallahu
‘anhu,
Rasulullah shallallahu
‘alaihi
wa
sallam bersabda,
ْ‫ِى فَ ْليَ ْستَقِئ‬
َ ‫َلَ يَ ْش َربَ َّن أَ َحد ٌ ِم ْن ُك ْم قَائِ ًما فَ َم ْن نَس‬
“Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri. Apabila
dia lupa maka hendaknya dia muntahkan.” (HR. Muslim no. 2026)14
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma berkata,
َّ ‫صلَّى‬
َّ ‫سو َل‬
‫ب قَائِ ًما‬
ُ ‫س َقيْتُ َر‬
َ ‫سلَّ َم ِم ْن زَ ْمزَ َم فَش َِر‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬
َ
َ ِ‫َّللا‬
14
Syafri M. Noor, Makan dan Minum Sambil Berdiri, Haramkah?, h. 32.
“Aku memberi minum kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari air zamzam, lalu beliau minum sambil berdiri.” (HR. Bukhari no. 1637 dan Muslim no.
2027)15
Tetapi karena adanya keinginan untuk menjaga adab serta akhlak maka di dalam
pamali tersebut dikatakan bahwa minum atau makan sambil berdiri adalah dilarang,
tentunya hal tersebut bersumber dari keyakinan masyarakat banjar pula. Selain itu
pula apabila ditinjau dari syariah makan ataupun minum berdiri sangatlah tidak sopan,
tidak etis dan sama sekali tidak sehat, dan apabila melanggar pamali tersebut bisa
katulahan pada orang yang memperingatkannya dengan kemungkinan tersedak serta
akan menimbulkan gangguan pencernaan dan penyakit lainnya.16
b. Pamali duduk diatas pada orang tuha kaina katulahan
(dilarang duduk dengan tempat yang lebih tinggi dari orang yang lebih tua nanti
terkena tulah)
Hal ini berkaitan penuh dengan permasalahan adab, sebab apabila kita duduk diatas
orang yang lebih tua, maka seakan kita tidak menghormati mereka dan tidak memiliki
sopan santun. Maka apabila melanggar akan mendapat berbagai macam kesialan.17
4.2 Faktor Katulahan
Ada berbagai macam hal ataupun perbuatan yang bisa menyebabkan katulahan,
diantaranya :
a. Menapikkan pamali
Tidak mentaati atau mengabaikan norma-norma yang ada dalam pamali, berarti
sama saja dengan tutup telinga dengan nasehat serta pesan moral kepada dirinya. Sebab
di dalam pamali banyak berisikan tentang nasehat agar tercapainya kedamaian dalam
hidup.
b. Mengatai yang tidak baik kepada orang yang lebih tua
15
Ibid,. h.10.
16
Bambang, Bahaya Makan dan Minum Berdiri, Jurnal Universitas Airlannga.
17
Pamali Banjar, Balai bahasa banjarmasin, Banjarbaru, 2006, h. 105.
Secara tidak langsung perkataan yang tidak baik kepada orang yang lebih tua akan
menyakiti perasaannya, dampaknya kita akan dianggap seperti tidak hormat dan tidak
memiliki sopan santun. Seharusnya kita dalam berbicara harus menjaga adab di hadapan
orang tua baik itu dari intonasi ataupun diksi kata yang dipakai, untuk menjaga perasaan
dari orang tua yang menjadi lawan bicara kita.
c. Meletakkan buku ataupun kitab suci sembarangan
Buku adalah sumber ilmu, ungkapan tersebut berarti secara tidak langsung
mengaakan bahwa buku adalah guru yang tidak hidup. Terlebih lagi dengan kitab suci AlQur’an, kita diajarkan harus beradab saat membacanya seperti berwudhu dan menutup
aurat. Sebagai wujud menghormati ilmu serta kitab suci yang berisikan firman tuhan,
maka hendaknya dalam meletakannya tidaklah boleh sembarang. Seperti dalam ungkapan
pamali Jangan meandaka al-Qur’an randah pada lintuhut, kaina katulahan (jangan
menaruh al-Qur’an lebih rendah dari lutut, pamali tersebut dapat dimaknai maksudnya
adalah untuk menjaga kehormatan al-Qur’an sebagai kitab suci, untuk menghindari
adanya kemungkina terlangkahi sewaktu berjalan. Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid
Nada dalam Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyyah mengatakan agar merawat buku dengan
sebaik mungkin, dalam hal menaruh buku tidak sembarangan adalah juga untuk menjaga
buku sebagai sumber ilmu agar tidak terkena cairan ataupun hal-hal yang dapat merusak
keutuhan buku.
d. Berbuat kerusakan pada alam
Dalam maqashid syari’ah dijelaskan untuk menjaga alam dan lingkungan yang
masuk dalam kaidah Hifdz al-‘alam.18 Pada masyarakat banjar perbuatan merusak alam
dan menyakiti binatang dapat mengakibatkan katulahan, sebab perbuatan tersebut
berkaitan pula dengan akhlak. Misalnya membakar hutan dan lahan yang di dalamnya
banyak terdapat hewan-hewan, tentu hal ini melanggar dari tujuan syariah untuk menjaga
alam. Hewan sebagai makhluk hidup harus kita jagan dan kita hormati kehidupannya
selama tidak berbahaya dan mengganggu kehidupan manusia.
18
A Thohari - Az Zarqa, Epistemologi Fikih Lingkungan : Revitaslisasi Konsep Maslahah, Jurnal
Hukum Bisnis Islam UIN SUKA, 2013
4.3 Katulahan Sebagai Representasi Nilai-Nilai Islam
Nabi muhammad diturunkan ke dunia untuk memperbaiki akhlak manusia,
sebagaimana hadits nabi :
”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari
dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).19
Bukan untuk menyempurnakan ilmu ataupun hal lain, akan tetapi adalah akhlak yang
paling diutamakan untuk diperbaiki oleh nabi. Selaras akan hal tersebut adanya katulahan
pada masyarakat banjar adalah untuk menjaga adab serta akhlak pula, dengan
memberikan ancaman akan adanya karma, azab ataupun hukuman lain atas perbuatannya
dalam bentuk katulahan. Diharapkan masyarakat banjar akan menjadi takut untuk
melakukan perbuatan yang dapat mendatangkan katulahan.
Diriwayatkan dari Anas Ibn. Malik bahwa suatu ketika nabi muhammad
mengkhawatirkan cucunya hasan dan husain kelaparan sedangkan tidak ada makanan,
maka nabi berjalan mencari makanan untuk kedua cucunya tersebut. bertemulah nabi
dengan seorang badui yang sedang mengambil air dari sumur, lalu nabi menawarkan diri
untuk memberikan jasa mengambil air dalam sumur tersebut dengan upah 3 biji kurma
untuk sekali timba nya. Lalu setelah 9 kali timba maka timbaan air tersebut putus dan
jatuh ke dasar sumur, lalu si badui amat marah dan langsung menampar nabi muhammad.
Nabi hanya diam dan lalu mengambilkan gayung yang telah jatuh tadi, setelah itu nabi
muhammad pulang dengan membawa kurma hasil dari upah menimba. Sesaat setelah
nabi pulang maka si badui tadi tersadar bahwa sososk yang mengambil tadi adalah yang
mulia nabi muhammad, spontan saja ia sangat merasa takut atas perbuatannya tadi.
Lantas ia memotong tangan yang telah menampar nabi sebagai bentuk penyesalan dan
ketakutannya kalau saja kualat terhadap nabi.
Dari riwayat diatas, saking takut dan merasa berdosanya si badui maka ia memotong
tangannya agar tidak terjadi kualat padanya. Padahal posisi si badui saat itu bukanlah
19
F Zahro, Motion Comic Adab dan Doa Islam Sehari-Hari Untuk Anak Usia Sekolah Dasar,
CALYPTRA Jurnal UBAYA, 2018
beragama islam, hanya saja ia memberikan rasa hormatnya kepada nabi sebagai
pemimpin kaum muslimin.
Riwayat lain yang mirip dengan katulahan ada pada kisah 2 orang yang menghina
abu bakar dan umar hingga mereka kualat. Suatu saat nabi tidak sengaja menemui
sahabatnya dalam keadaan kaki berlumuran darah, dikisahkan oleh sahabat tersebut
bahwa kakinya bekas digigit oleh anjing yang buas. Beberapa waktu berselang datang
lagi sahabat dengan keadaan dan sebab serupa, maka pergilah nabi dengan 2 sahabat
tersebut membawa pedang untuk membunuh anjing ganas tersebut. Saat dihadapan
anjing itu nabi dengan pedang terhunus, mendadak si anjing berbicara bahwa jangan
membunuh dia sebab dia adalah ciptaan Allah, dan ia menggigit kaki kedua sahabat itu
karena adalah perintah dari Allah karena keduanya telah menghina abu bakar dan umar.20
Riwayat tersebut apabila diakitkan dengan katulahan yang ada pada masyarakat
banjar maka sangatlah mirip, dari sebab dan akibatnya yang berupa adab dan akhlak tidak
baik sehingga menyebabkan ia tertimpa suatu musibah atau kemalangan atas perintah
dari Allah.
5.
Kesimpulan
Katulahan adalah bentuk kearifan lokal masyarakat banjar yang keberadaannya terus
dilestarikan dengan terus menggunakannya beriringan dengan pamali sebagai satu
kesatuan. Katulahan dalam ruang lingkupnya tidak hanya berkaitan pada hal yang
bersifat sosial, lebih dari itu aspeknya mencakup hampir pada seluruh kehidupan.
Esensinya adalah untuk menjaga dan mengajarkan perilaku yang beradab serta
berakhlak, baik itu kepada sesama manusia dan makhluk lain serta benda mati yang
diciptakan Allah.
20
Anas bin Malik, Terjemah Al-Aqthaf ad-Daniyyah fi Îdhahi Mawâ’idhil ‘Ushfûriyyah.
Daftar Pustaka
Pongsibanne, Lebba Kadorre. Islam dan Budaya Lokal. UIN Jakarta. 2017
Pamali Banjar. Balai bahasa banjarmasin. Banjarbaru. 2006
Hapip, Abdul Djebar. Kamus Banjar-Indonesia. Departemen pendidikan dan kebudayaan.
1997
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Yulisa. Membandingkan Konsep Karma Dalam Film “KARMA” Dengan Konsep Karma
Buddha Mahayana. Jurnal PETRA. 2015
Alwi, Hasan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. 2005.
Definisi Konsep Menurut Para Ahli. https://www.zonareferensi.com/pengertian-konsep/
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
KEMENDIKBUD. 2016
M. Noor, Syafri. Makan dan Minum Sambil Berdiri, Haramkah?
Bambang. Bahaya Makan dan Minum Berdiri. Jurnal Universitas Airlannga.
Az-Zarqa, A Thohari. Epistemologi Fikih Lingkungan : Revitaslisasi Konsep Maslahah. Jurnal
Hukum Bisnis Islam UIN SUKA. 2013
Anas bin Malik. Al-Aqthaf ad-Daniyyah fi Îdhahi Mawâ’idhil ‘Ushfûriyyah.
Download