Uploaded by User80161

Prinsip Penyusunan Kamus

advertisement
PEMBUATAN
KAMUS
Mersi Doknauli Simatupang
Bagaimana sebuah kata masuk ke KBBI?
Dikutip dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, untuk menjadi “warga” Kamus Besar Bahasa
Indonesia, sebuah kata harus sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia secara sematis, leksikal, fonetis,
pragmatis, dan penggunaan (usage), persyaratan tersebut diwakili oleh hal berikut:
● Unik
Kata yang disarankan dapat berasal dari bahasa daerag, bahasa asing dan belum memiliki makna dalam
bahasa Indonesia. Hal ini berfungsi untuk menutup rumpang leksikal (lexical gap),
contohnya: boru, yaitu golongan, pihak atau marga yang kawin dengan anak perempuan dalam suku batak.
● Eufonik (sedap didengar)
Kata yang disarankan memiliki bunyi yang tidak lazim dalam bahasa Indonesia atau sistem fonologinya
sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Hal ini berfungsi agar kata tersebut mudah dilafalkan oleh penutur
bahasa Indonesia yang berasal dari berbagai latar bahasa ibu.
contoh akhiran /g/ dalam bahasa Betawi/Sunda/Jawa menjadi /k/ dalam bahasa Indonesia atau fonem /eu/
dalam bahasa Sunda menjadi /e/ dalam bahasa Indonesia.
Contohnya: gebleg > geblek
Ojeg > ojek
Keuhkeuh > kekeh
● Seturut kaidah bahasa Indonesia
● Seturut kaidah bahasa Indonesia
Kata tersebut dapat dibentuk dan membentuk kata lain melalui pengimbuhan dan pemajemukan.
Contoh: ojek > mengojek; mengojekken; pengojek
● Tidak berkonotasi negatif
Kata yang memiliki konotasi negatif tidak dianjurkan masuk karena kemungkinan tidak berterima di kalangan
pengguna tinggi, misalnya beberapa kata yang memiliki makna sama yang belum ada dalam bahasa
Indonesia. Beberapa kata tersebut, yang akan dipilih untuk masuk ke dalam KBBI adalah kata yang memiliki
konotasi lebih positif. Kata lokalisasi dan pelokalan, misalnya, memiliki makna sama.
● Kerap dipakai
Kekerapan pemakaian sebuah kata diukur menggunakan frekuensi (frequence) dan julat (range). Frekuensi
adalah kekerapan kemunculan sebuah kata dalam korpus, sedangkan julat adalah ketersebaran kemunculan
kata tersebut di beberapa wilayah.Sebuah kata dianggap kerap pakai kalau frekuensi kemunculannya tinggi
dan wilayah kemunculannya juga tersebar secara luas, contohnya kata bobotoh yang ketersebaran
penggunaannya meluas di beberapa kota di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi serta frekuensi kemunculannya
juga tinggi.
Beberapa langkah kerja penyusunan kamus sebelum diluncurkan ke pasar
adalah sebagai berikut.
1.
a. Menentukan bentuk, jenis kamus, dan deskripsinya yang sesuai dengan
pengguna atau konsumen.
b. Menghitung besarnya finansial dan melakukan studi kelayakan.
c. Merencanakan proses kerja dan menjadwalkan sesuai dengan jadwalnya.
d. Mempersiapkan tim atau komunitas kerja sesuai dengan keahliannya
masing-masing dan sesuai kebutuhan.
2. Mempersiapkan kamus yang
akan
disusun
dengan
mengumpulkan
bahan-bahan
atau data atau materi serta
menentukan daftar pustaka yang
akan digunakan.
3. Memilih satuan-satuan kamus
atau sub-sub pokok kosakata inti
sebagai entri kamus.
4. Menyusun
pendahuluan,
menempatkan
materi-materi
tersebut dalam posisi yang
berbeda-beda.
5. Mengurutkan entri-entri tersebut
secara
berurutan
menurut
standar urutan kamus.
6. Acuan
paling
penting
dalam
penyusunan kamus modern saat ini
adalah
menambah
dua
bab
pembahasan tantang materi kamus
secara detail. Pertama, ada prolog
atau muqaddimah dan kedua, di
akhir kamus melampirkan beberapa
catatan atau lampiran-lampiran dan
keterangan-keterangan
tambahan
tentang pentingnya kamus bagi
pengguna.
Terdapat beberapa perbedaan
terkait dengan segi karakter dan
sifat kamus-kamus besar suatu
bahasa dengan kamus-kamus kecil
atau kamus-kamus asing dan
kamus-kamus khusus. Oleh karena
itu, ketika menyusun kamus juga
perlu mengacu pada kerangka teori
yang
sesuai
sehingga
menghasilkan bentuk kamus yang
diinginkan. Seorang leksikograf
perlu menentukan apa saja yang
dibutuhkan
ketika
menyusun
kamus dan metode apa yang
dipakai dalam menyusunnya.
Langkah-langkah
awal
yang
diperlukan untuk menyusun sebuah
kamus adalah sebagai berikut:
1. Pengetahuan awal (arti, sinonim,
pronoun, orthographi, penyusunan
kosakata, asal akata, nama diri, dan
hakikat).
2. Obyek kamus (orang yang sudah
dewasa,
anak-anak,
siswa,
mahasiswa, guru, kritikus, intelektual,
skretaris).
3. Tujuan kamus (untuk mempelajari
bahasa asing, penulisan laporan,
pembacaan teks, pengetahuan arti
kata, terjemah, petunjuk perjalanan,
penelusuran kosakata yang sesuai,
penyusunan kosakata yang terputus,
dan pengetahuan tentang wawasan).
Beban Finansial dan Memperbanyak Aset-aset
Finansial
“Beban finansial kamus terletak pada proses
penyiapan bahan, ongkos produksi, waktu
yang diperlukan untuk proses penerbitan, dan
gaji tim penyusun.
Di era komputerisasi sekarang ini, ketika
menyusun kamus diperlukan perangkat atau
sistem analisis, program accounting, dan
pelacakan informasi. Seorang produser ini
perlu tenaga ekstra. Dengan demikian,
dibutuhkan tenaga publikator yang banyak.”
Ada sebagian kamus yang tidak memperhitungkan beban finansial dalam
penyusunannya, di antaranya sebagai berikut:
1. Kamus yang diterbitkan oleh institusi kebudayaan milik pemerintah atau
milik universitas.
2. Kamus yang disusun oleh tim kerja yang terdiri dari beberapa peneliti
akademik yang memiliki tujuan untuk upaya penelitian ilmiah, hasil karya
sastra, atau promosi jabatan. Misalnya kamus Universitas Birmingham
merupakan kamus yang menggunakan metode seperti ini.
Pengumpulan Bahan
atau
Data
dan
Pembatasan Referensi
Untuk mengumpulkan bahan atau
data, leksikograf Arab kuno
menggunakan tiga metode, yaitu
sebagai berikut.
1. Metode statistik
Metode ini dilakukan oleh Khalil bin Ahmad
dalam kamusnya Al-‘Ain. Mengumpulkan
data atau bahan linguistik dengan cara
statistik
dilakukan
melalui
proses
penyetaraan dan interaksi.
2. Metode percakapan
Metode ini dipakai oleh alAzhari dalam kamusnya
Tahzibu al-Lughah.
Pengumpulan bahannya
dengan cara riset lapangan
kemudian dituangkan kembali
dalam kamusnya.
3. Metode mengumpulkan data
dari kamus sebelumnya
Metode ini sering diapakai sampai era
modern sekarang, tanpa berusaha
mengumpulkan data dari kehidupan
sehari-hari kemudian merangkumnya
dalam bentuk teks.
Menentukan
urutan kata dalam
kamus
Menentukan urutan kata
dalam
sebuah
kamus
membutuhkan penentuan
kalimat sebelum menyusun
kamus yang final. Beberapa
langkah
penting
yang
dilakukan adalah:
Menentukan materi-materi
dalam satu huruf
Hal ini berguna untuk menentukan arah
kamus yang akan disusun dengan
menyajikan batasan cakupan setiap huruf
sehingga bisa dibandingkan materi apa
saja yang dicakup selama proses
pengumpulan kosakata. Selain itu juga
dapat membantu menentukan cakupan
materi yang diperluas dan materi yang
dibahas secara terminologis dalam
kamus.
Menentukan kaidah
terkait dengan kata-kata
bermakna ganda
Chaer (2007a: 120) dan Hadi (2014: 4849) menyatakan bahwa kata-kata yang
memiliki kaitan antara beberapa makna,
biasa disebut polisemi (satu kata dengan
banyak arti), diletakkan dalam satu
komunitas. Sementara itu, Chaer (2007a:
135) dan Hadi (2014: 49) menyatakan
bahwa kata-kata yang tidak memiliki
kaitan antara beberapa makna, biasa
disebut homonimi (beberapa kata dengan
satu arti), diletakkan dalam banyak akar
kata
sesuai
dengan
arti
yang
dikandungnya.
Persoalan yang dihadapi oleh
leksikografer
bukan
kegandaan
makna itu sendiri, tetapi hubungan
polisemi
dan
homonimi.
Jika
hubungan sudah ditemukan, maka
leksikografer meletakkan polisemi
dalam
satu
akar
sedangkan
homonimi dalam beberapa banyak
akar kata. Hadi (2014: 48-49)
mengemukakan
bahwa
dalam
penentuan
kriteria
pembahasan
kegandaan kata perlu diperhatikan
hal-hal berikut.
a.
Pendapat
yang
cenderung
mengutamakan
pembahasan
polisemi dan pembahasan mengenai
hubungan antara arti-arti yang
berjauhan, misalnya kata hot yang
berarti “panas” akan memiliki makna
yang berbeda jika digunakan dalam
ungkapan berikut ini hot news, hot
line, dan hot sauce.
b. Oleman mengusulkan penggunaan
kriteria asal pembentukan dan urutan
huruf secara alfabetis. Jika secara
alfabetis atau dari sejarah berbeda,
maka kata-kata tersebut dianggap
homonimi.
c. Sebagian leksikografer mengusulkan
penggunaan teori semantik untuk
membedakan dua kata, misalnya
kata orange yang mempunyai dua
makna, yakni “warna” dan “buah”.
d. Kriteria umum yang dipakai dalam
kamus-kamus bahasa Inggris, sesuai
pendapat Lyonz, adalah penggunaan
dalam percakapan. Kata seperti
hammer memiliki dua arti, sebagai
kata benda (palu) dan kata kerja
(memalu, memukul), dan kata
division yang dapat bermakna
“pembagian”
(dalam
bidang
matematika) dan “divisi” (dalam
bidang ketentaraan).
e. Kriteria selanjutnya adalah kriteria frasa
yang berbeda dengan arti yang terdapat
dalam kata tunggal, seperti kambing dan
kambing hitam .
f. Chaplin menganjurkan untuk merujuk dan
membandingkan dengan bahasa lain
untuk
menentukan
homonimi
dan
polisemi. Oleh karena itu kata rice dalam
bahasa Inggris akan menjadi kata yang
homonimi jika dibandingkan dengan
beras dan nasi dalam bahasa Indonesia.
g. Katz memberikan pendapat bahwa
polisemi dan homonimi dapat ditentukan
dengan merujuk pada beberapa struktur
semantik pada dua kata yang sama
sehinga dapat ditentukan apakah kata
tersebut benar sama atau tidak.
h. Ada pula yang berpendapat menggunakan metode pragmatik yang didasarkan
pada konteks. Sebagai contoh adalah penggunaan kata akar (cek KBBI dulu).
i.
Ada juga yang berdasarkan pada ada tidaknya kemiripan antara dua makna.
Jika ada kemiripan maka dinamakan polisemi, jika tidak ada maka disebut
homonimi. Metode ini didasarkan pada pendapat penutur asli bahasa yang
menentukan hakekat kemiripan dua kata tersebut. Pendapat ini
mengetangahkanbahwa kata yang berlawanan merupakan polisemi karena
terdapat keterkaitan makna, sementara homonimi terjadi jika artinya sangat
berlainan.
j.
Metode lain yang digunakan adalah pembentukan. Dalam metode ini ada kata
yang diperkirakan sama tetapi sebenarnya berbeda karena membentuk kata
yang berbeda, seperti kata menyucikan dan mencucikan.
Karena banyaknya perbedaan pendapat mengenai metode untuk
membedakan polisemi dan homonimi, maka bisa kita temukan
dalam kamus-kamus bahasa Inggris usaha untuk mencari titik
temu metode-metode tersebut disatu sisi dan kesulitan
menentukan garis pemisah antara polisemi dan homonimi di sisi
lain. Kamus-kamus bahasa Inggris tidak hanya berbeda dalam
penentuan polisemi dan homonimi, tetapi juga pengurutan artiarti yang ditemukan dalam homonimi. Terkait dengan perbedaan
dalam hal polisemi dan homonimi tersebut, para ahli kamus
menyarankan agar mengelompokkan keduanya dalam satu
komunitas untuk lebih memudahkan. Ahli kamus harus
menentukan standar yang akan dipakai dalam memperlakukan
kata-kata yang memiliki banyak arti. Ada baiknya juga
menjadikan kriteria semantik sebagai kriteria utama.
Kata-kata yang tidak menunjuk
pada sesuatu di luar dirinya
Kata-kata ini memiliki arti yang bisa dipahami baik oleh pembicara maupun
pendengar, tetapi sesuatu yang bisa menunjukkan arti kata tersebut tidak ada
dalam alam nyata sehingga sulit dijelaskan melalui definisi sehingga
leksikografer harus memikirkan cara lain. Misalnya dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia kata seperti yang, dan, tetapi tidak dapat dijelaskan dari segi semantik
tetapi dari segi penggunaan, sehingga dalam kamus tersebut dijelaskan tentang
fungsi kata sandang dan contoh penggunaannya.
TERIMA KASIH
SETELAH BEBERAPA KATA MASUK DALAM
BEBERAPA DAFTAR KATA MAKA KATA TERSEBUT
PERLU UNTUK DISELEKSI DGN CARA DITABULASI
UNTUK DIMASUKKAN KE DALAM ENTRI KAMUS
YANG DISESUAIKAN DENGAN PERSYARATANPERSAYARAT SEBUAH KATA MAMPU MASUK
DALAM KAMUS
Download