See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/336367584 INTERMEDIATE ACCOUNTING II Book · October 2019 CITATIONS READS 0 2,097 1 author: Eddy Sutjipto Universitas Semarang 2 PUBLICATIONS 0 CITATIONS SEE PROFILE Some of the authors of this publication are also working on these related projects: Investment Decision making HIGH-DIVÌDEND shares in IDX Base on Bottom up View project All content following this page was uploaded by Eddy Sutjipto on 31 October 2019. The user has requested enhancement of the downloaded file. INTERMEDIATE ACCOUNTING II Eddy Sutjipto ISBN 979-3948-16-7 KATA PENGANTAR Penulisan buku Intermidate Accounting II ini dalam rangka mengikuti Hibah bersaing A 1 yang di terima oleh Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Semarang ( FE USM ) untuk tahun ajaran 2004, khususnya di bidang pengajaran. Penulis menyadari bahwa, untuk meminjam buku di perpustakaan masih realtif terbatas, sehingga akan menyulitkan mahasiswa untuk dapat mengikuti perkuliahan dengan baik. Disamping itu buku sejenis yang tersedia di perpustakaan dengan bahasa Inggris dapat dikatakan kurang diminati oleh Mahasiswa. Atas dasar alasan tersebut, buku ini diterbitkan dengan bentuk yang relatif sederhana dan diharapkan dapat terjangkau oleh Mahasiswa sehingga tujuan Hibah A1 yaitu meningkatkan kualitas lulusan dapat tercapai. Materi pembahasan yang ada dalam buku disesuaikan dengan kurikulum mata kuliah Intermediate Accounting ( Akuntansi Keuangan Menengah ) yaitu dibagi menjadi dua. Oleh karena itu dalam buku ini dibahas hanya untuk Intermediate Accounting II ( Akuntansi Keuangan Menengah II) yaitu meliputi materi investasi saham dan obligasi, aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud, utang jangka panjang, modal saham, laba per lembar saham dan laba ditahan, dan perubahan kebijakan akuntasi dan kesalahan mendasar. Dalam pembahasan dicoba diberikan contoh yang mendekati kenyataan, misalnya tentang investasi saham diusahakan diberi contoh seperti yang ada di Bursa Efek Jakarta. Disamping itu, pembahasan juga diupayakan mengacu pada Standar Akuntansi Keuangan (SAK) per 1 Oktober 1994 dan referensi lain seperti dari Nikolai , Cashin dan Zaki Baridwan dan dalam setiap akhir pembahasan di sediakan beberapa pertanyaan dan latihan untuk dikerjakan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa buku ini masih jauh dari sempurna , oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran demi kesempurnaan Semoga buku yang sederhana ini dapat membantu Mahasiswa dalam rangka memahami mata kuliah ini sehingga ada perbaikan dalam prestasi studi di Jurusan Akuntansi FE USM. Semarang, Februari 2005 Penyusun Eddy Sutjipto Intermediate Accounting II – By Eddy Sutjipto i DAFTAR ISI Halaman KATA PENGATAR …………………………………………………....... i DAFTAR ISI …………………………………………………………....... ii BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V INVESTASI DALAM SAHAM ………………………… 1 Tujua Investasi, 1; Pembelian saham, 1; Penilaian investasi, 3; Pengembalian investasi, 4; – dividen tunai, 4; dividen saham dan stock split, 4; Bukti rights, 6; – Proporsi saham, 7; Nilai teoritis harga sahm 8, Hak bukti rights, 8; Penjualan saham, 9; Pertanyaan dan Latihan,10 INVESTASI OBLIGASI 12 Pembelian Obligasi, 12; Pencatatan harga pokok, 13; Amortisasi Disagio dan Agio obligasi, 14; Amortisasi dengan Metode Garis Lurus dan Bunga Efektif, 14; Penjualan obligasi sebelum jatuh tempo, 19; Pertanyaan dan Latihan,20 AKTIVA TETAP BERWUJUD : PEROLEHAN , 21 PENGELUARAN SELAMA PENGGUNAAN DAN PEMBERHENTIAN Pengertian, 21; Karakteristik aktiva tetap berwujud, 21; Klasifikasi aktiva tetap berwujud, 22; Penilaian dengan harga historis, 22; Perolehan aktiva tetap, 22; Pembelian tunai dan Pembelian angsuran, 22; Pembelian tunai secara gabungan, 24; Pengeluaran surat berharga, 25; Petukaran aktiva, 25; Pertukaran dengan aktiva produktif yang tidak sejenis, 26; Pertukaran dengan pengeluaran atau penerimaan kas, 27; Pertukaran dengan aktiva produktif yang sejenis, 27; Aktiva membuat sendiri, 30; Perolehan aktiva donasi, 31; Pengeluaran selama penggunaan, 31; Penambahan, 31; Perbaikan dan Penggantian ( Improvements and Replacements ), 31; Reparasi dan Pemeliharaan, 32; Pengaturan dan Pemindahan aktiva, 32; Penghentian dan pelepasan aktiva, 32; Pertanyaan dan Latihan,33. AKTIVA TETAP BERWUJUD - PENYUSUTAN DAN 34 DEPLESI Pengertian, 34; Perhitungan penyusutan, 34, Metode penyusutan, 35; Penyusutan untuk sebagian periode, 41; Perubahan dan koreksi penyusutan, 42; Deplesi, 42; Pertanyaan dan Latihan, 43 AKTIVA TETAP TIDAK BERWUJUD 46 Pengertian, 46; Penilaian aktiva tetap tidak berwujud, 46; Amortisasi aktiva tetap tidak berwujud, 47; Aktiva tetap tidak berwujud teridentifikasi, 47; Goodwill, 49; Penilaian goodwill, 50; Tahapan menentukan nilai goodwill, 51; Pertanyaan dan Latihan, 54 Intermediate Accounting II – By Eddy Sutjipto ii BAB VI UTANG JANGKA PANJANG Pengantar, 55; Alasan mengeluarkan utang jangka panjang, 55; Utang obligasi, 55; Penjualan obligasi, 57; Pencatatan penerbitan obligasi, 58; Penerbitan obligasi diantara tanggal pembayaran bunga, 59; Amortisasi disagio dan agio obligasi, 61; Penarikan obligasi sebelum jatuh tempo, 65; Pertanyaan dan Latihan, 66 BAB VII MODAL SAHAM Jenis Perusahaan, 68; Modal saham dan hak pemegang saham, 68; Penjualan saham, 69; Penjualan tunai, 69; Pesanan penjualan saham, 69; Pembatalan pesanan saham, 70; Kombinasi penjualan saham, 71; Penukaran saham dengan aktiva, 72; Stok split, 73; Pembelian kembali saham yang beredar, 74; Pembelian kembali saham untuk disimpan, 74; Saham treasuri, 75; Opsi atas saham, 77; Pertanyaan dan Latihan, 77 BAB VIII LABA PER LEMBAR SAHAM DAN LABA DITAHAN Laba dan Laba per lembar saham, 78; Dasar perhitungan Laba per lembar saham,78; Dilusi laba per lembar saham, 79; Dividen, 81; Dividen Tunai, 81; Dividen aktiva non kas, 82; Dividen saham, 83; Likuidasi dividen, 84; Laba ditahan sebelum penyesuaian, 85; Laporan laba ditahan, 84; Pertanyaan dan Latihan, 85. BAB IX PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN KESALAHAN MENDASAR Jenis perubahan kebijakan akuntansi, 93; Metode pengungkapan perubahan kebijakan akuntansi, 93; Kesalahan mendasar, 94; Koreksi kesalahan, 95; Pertanyaan dan Latihan, 97 DAFTAR PUSTAKA Intermediate Accounting II – By Eddy Sutjipto 55 68 78 86 99 iii 1 . BAB 1 INVESTASI DALAM SAHAM Melakukan investasi dalam saham saat ini dapat dikatakan sudah cukup mudah baik untuk perorangan atau perusahaan. Investasi dalam saham dapat dilakukan untuk jangka waktu pendek atau kurang dari satu tahun atau jangka panjang. Untuk investasi saham jangka panjang berarti bukan karena memanfaatkan dana yang berlebih, tapi ada tujuan yang diharapkan yaitu : a. meningkatkan pendapatan perusahaan terutama dalam bentuk dividen b. memperluas pangsa pasar, misalnya perusahaan rokok Marlboro membeli 40 % saham PT HM Sampurna c. melakukan diversifikasi produk sehingga penjualan akan meningkat d. mengupayakan adanya kontinyuitas pemasokan bahan baku yang diperlukan e. mengawasi perusahaan dan menjaga hubungan baik dengan perusahaan Investasi jangka panjang dalam saham dapat berpengaruh pada penggunaan metode akuntasi yang tepat dan perannya di dalam perusahaan yang sahamnya dibeli. Hal ini sangat tergantung pada besar kecilnya jumlah pemilikan saham dan secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut : Pengaruh pemilikan saham di perusahaan yang sahamnya dibeli Jumlah pemilikan Peranan dalam perusahaan Memiliki saham kurang dari 20 % Memiliki saham 20 % sampai 50 % Memiliki lebih dari 50 % Tidak mempunyai pengaruh penting di perusahaan Mempunyai pengaruh penting dalam perusahaan Mempunyai peran mengendalikan perusahaan Metode Biaya Lap. Untung dan Rugi yang belum direalisasi Laba bersih Metode Ekuitas Tidak ada pengakuan Laporan Keuangan Konsolidasi Tidak ada pengakuan Metode akuntansi Dengan jumlah pemilikan saham yang cukup besar, misal lebih dari 50 % di suatu perusahaan, maka dapat dikatakan sebagai pemegang saham mayoritas dan perannya sangat besar yaitu dapat mengontrol Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 2 perusahaan secara menyeluruh. Berbeda halnya dengan yang mempunyai saham kurang dari 20 %, maka perannya tidak begitu besar dan kemungkinan tidak dapat mengendalikan. PEMBELIAN SAHAM Harga perolehan saham yang dibeli termasuk harga beli ditambah dengan biaya komisi, pajak dan biaya lainnya yang diperlukan berkaitan dengan pembelian saham. Suatu saham dapat diperoleh dengan cara pembelian tunai atau ditukar dengan aktiva. Jika saham diperoleh dengan cara ditukar aktiva dan nilai wajarnya tidak diketahui, maka harga pasar saham dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan nilai aktiva yang diserahkan. Demikian sebaliknya bila harga pasar aktiva yang diserahkan diketahui, tapi harga pasar saham tidak diketahui, maka nilai aktiva yang diserahkan digunakan untuk mencatat perolehan saham. Sebagai contoh, misalnya pada 5 Juli 2003 PT Delta membeli saham biasa PT United sebanyak 10.000 lembar dengan harga pasar Rp 6.000,00 per lembar dan biaya komisi 0,02 %. PT United pada tanggal 15 Juli 2003 membagikan dividen tunai Rp 500,00 per lembar saham. Apabila pembelian saham tersebut dilakukan dengan dua alternartif yaitu (a) dengan tunai dan (b) ditukar dengan mesin yang tidak diketahui harga pasarnya. Jurnal yang dibuat oleh PT Delta adalah : 5 Juli 2003 Investasi saham biasa Kas Rp 60.120.000,001) Rp 60.120.000,00 1) Harga perolehan = (Rp 6.000,00 x 10.000) + 0,02 % x (Rp 6.000,00 x 10.000) Atau Investasi saham biasa Mesin Rp 60.120.000,001) Rp 60.120.000,00 15 Juli 2003 Kas (Rp 500,00 x 10.000)Rp 5.000.000,00 Pendapatan deviden Rp 5.000.000,00 Apabila membeli saham prioritas tidak pada saat pembayaran dividen, maka dividen yang terutang harus diperhitungkan dalam pembelian. Sebagai contoh, misalnya pada tanggal 1 Juli PT Forsa membeli saham prioritas 6 % dari PT Alfa sebanyak 1.000 lembar nominal Rp 10.000,00 dan harga pasar saham Rp 15.000,00 per lembar. Pembayaran dividen dilakukan tiap tanggal 31 Desember. Jurnal yang dibuat atas transaksi tersebut adalah sebagai berikut : 1 Juli Investasi saham prioritas, 6 % Rp 15.000.000,001) Pendapatan bunga Rp 300.000,002) Kas Rp 15.300.000,00 1) Harga beli = 1000 x Rp 15.000,00 = Rp 15.000.000,00 2) Bunga = 6/12 x 6 % x 1000 x Rp 10.000,00 = Rp 300.000,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 3 31 Des Kas Rp 600.000,00 Pendapatan bunga Rp 600.000,00 (6% x 1.000 x Rp 10.000,00) Alternatif lain dengan menggunakan rekening piutang pendapatan bunga untuk mencatat bunga yang terutang, sehingga pada saat diterima dividen pada 31 Desember rekening piutang pendapatan bunga di kredit. Jurnalnya adalah sebagai berikut : Kas Rp 600.000,00 Pendapatan bunga (6 bulan) Rp 300.000,00 Piutang pendapatan bunga Rp 300.000,00 Apabila dua atau lebih saham dibeli secara bersama (lump-sum), maka jumlah perolehan harus dialokasikan kedalam kelas saham (misal biasa dan preferen). Dengan cara pembelian tersebut akan terdapat minmal dua kemungkinan yaitu : a. Apabila harga pasar semua saham diketahui, maka harga perolehan masing-masing kelas saham dapat diketahui dengan menggunakan nilai relatif b. Apabila yang diketahui harga pasarnya hanya satu kelas saham, maka jumlah tersebut digunakan sebagai harga pokok saham kelas tersebut dan selisihnya untuk kelas yang lainnya Untuk dapat memberikan gambaran yang jelas tentang alokasi pembelian saham secara lump-sum dapat diberikan contoh sebagai berikut : PT Delta membeli saham biasa 10.000 lembar dan 2.000 lembar saham preferen dengan harga Rp 45.000.000,00, maka perhitungan alokasi harga pokoknya sebagai berikut : a. Harga pasar kedua kelas saham diketahui Dengan anggapan harga pasar kedua kelas saham diketahui yaitu saham biasa Rp 4.000,00 per lembar dan saham preferen Rp 5.000,00 per lembar, jurnal yang dibuat adalah : Investasi saham biasa Investasi saham prioritas Kas Rp 36.000.000,00 Rp 9.000.000,00 Rp 45.000.000,00 Perhitungan alokasi : Saham biasa Saham prioritas Jumlah Harga Pasar (Harga x ∑ lembar) Rp 40.000.000,Rp 10.000.000,Rp 50.000.000,- Perhitungan alokasi 40 / 50 x Rp 45 juta 10 / 50 x Rp 45 juta Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Alokasi harga pokok Rp 36.000.000,Rp 9.000.000,Rp 45.000.000,- 4 b. Harga pasar saham hanya diketahui salah satu kelas Misal yang diketahui harga pasarnya hanya saham biasa yaitu Rp 4.000,00 per lembar, maka jurnalnya adalah sebagai berikut : Investasi saham biasa Investasi saham prioritas Kas Rp 40.000.000,00 1) Rp 5.000.000,00 2) Rp 45.000.000,00 Perhitungan alokasi : 1) Saham biasa = Rp 4.000,- x 10.000 lembar = Rp 40.000.000,2) Saham prioritas = Rp 45.000.000,- – Rp 40.000.000,- = Rp 5.000.000,- PENILAIAN INVESTASI SAHAM Pembelian saham untuk tujuan investasi jangka panjang umumnya dicatat sebesar harga pokoknya. Apabila ternyata harga saham dipasar mengalami kenaikan dan penurunan yang sangat signifikan, maka selisihnya harus dibuat penyesuian tapi tidak diperlihatkan dalam laporan laba rugi PENGEMBALIAN INVESTASI Pengembalian investasi jangka panjang dalam saham dapat berupa dividen atau sebagian keuntungan perusahaan yang diberikan untuk para pemegang saham. Dividen yang diberikan oleh perusahaan dapat berbentuk uang tunai, saham dan aktiva (bukan uang tunai). Dividen Tunai – dari bagian keuntungan atau likuidasi Dividen yang diberikan oleh perusahaan merupakan sebagian dari keuntungan yang diperoleh periode sebelumnya. Waktu pemberian dividen kepada para pemegang saham ada dua yaitu dividen interim dan dividen final. Sedangkan bentuk pemberian dividen dengan uang tunai merupakan hal yang sangat umum..Hal ini dilakukan karena perusahaan yang mengeluarkan saham kondisi keuangannya mencukupi. Namun demikian dapat terjadi bahwa dividen tunai yang diberikan merupakan sebagian dari pengembalian investasi kepada para pemegang sahamnya atau dapat disebut dengan dividen likuidasi. Sebagai contoh, misalnya seorang investor memiliki saham PT SPMA sebanyak 10.000 lembar dengan nominal Rp 500,00 per lembar dan pada tanggal 15 Juli 2003 mengumumkan memberikan dividen sebesar Rp 100,00 per lembar saham dan akan dibayar dengan tunai pada 31 Juli 2003. Jurnal yang dibuat oleh investor yaitu : 15 Juli 2003, saat pengumuman pemberian dividen Piutang pendapatan dividen Pendapatan dividen Rp 100.000,00 Rp 100.000,00 1) 1) Dividen = 10.000 lembar x Rp 100,00 = Rp 100.000,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 5 31 Juli 2003, saat menerima pembayaran dividen Kas Rp 100.000,00 Piutang pendapatan dividen Rp 100.000,00 Apabila dalam pemberian dividen terdapat pengembalian uang kepada para pemegang saham sebagai dividen likuidasi, maka jurnalnya adalah : Kas Rp xxxxx Investasi saham – PT X Rp xxxxx Dividen Saham dan Split (Stock Dividends dan Splits) Dividen saham dan split tidak berpengaruh pada ekuitas pemegang saham, namun demikian jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham akan bertambah. Dengan adanya penerimaan saham (dividen saham atau split), maka harga pokoknya akan dibagi dengan jumlah saham yang lebih besar dari sebelumnya atau rata-rata harga pokok per lembar sahamnya akan menjadi lebih kecil. Sebagai konsekuensinya, investor tidak mencatat keuntungan ketika saham baru diterima dan cukup mencatat memo untuk penambahan jumlah lembar saham yang dimiliki. Sedangkan pada saat terjadi transaksi penjualan, maka harga pokok setelah menerima tambahan saham baru yang digunakan sebagai dasar perhitungan menentukan laba atau rugi penjualan. Sebagai contoh, dengan anggapan bahwa PT Delta pada awal Januari 2003 membeli 10.000 lembar saham biasa PT SPMA dengan harga Rp 1.200,00 per lembar dan biaya pembelian Rp 600.000,00. Pada bulan Juni, PT SPMA membayar dividen dalam bentuk saham dengan rasio 100 : 80 (setiap pemegang seratus lembar saham lama dengan nilai nominal Rp 1.000,00 berhak menerima 80 lembar saham baru dengan nilai nominal Rp 1.000,00). Bulan Juni 2004 dijual 4.000 lembar saham dengan harga pasar Rp 1.100,00 per lembar dan biaya penjualan Rp 200.000,00. Jurnal yang dibuat atas transaksi tersebut adalah sebagai berikut : Awal Januari 2003 Investasi saham biasa – PT SPMA Kas Rp 12.600.000,001) Rp 12.600.000,002) 1) Harga beli = (10.000 x Rp 1.200,00 + Rp 600.000,00) = Rp 12.600.000,00 2) Harga pokok per lembar = Rp 12.600.000,00 / 10.000 = Rp 1.260,00 Bulan Juni 2003 Memo : Penerimaan dividen saham dengan rasio 100 : 80 Saham yang diterima = 80/100 x 10.000 lembar = 8.000 lembar Jumlah saham baru = 10.000 + 8.000 = 18.000 lembar Harga pokok per lembar = Rp 12.600.000,00 / 18.000 = Rp 700,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 6 Juni 2004 Kas Rp 4.200.000,00 Investasi saham – PT SPMA Laba penjualan saham Rp 2.800.000,00 Rp 1.400.000,00 Perhitungan : Hasil penjualan = (4.000 x Rp 1.100,-) – Rp 200.000,- = Rp 4.200.000,Harga pokok penjualan = 4.000 x Rp 700, = Rp 2.800.000,Laba penjualan saham Rp 1.400.000,============ Apabila saham yang dimiliki oleh investor dibeli secara bertahap, maka alokasi harga pokok yang baru didasarkan pada jumlah saham masing-masing setelah adanya penerimaan dividen saham. Demikian halnya jika ada penjualan saham perlu ada kejelasan tentang cara penilaian persediaan , misalnya FIFO atau LIFO. Sebagai contoh, misalnya PT HMSP membeli saham PT Telkom sebagai berikut : Bulan Juni 2003 Des 2003 Feb 2004 Total 1) 2) ∑ saham 5.000 15.000 10.000 30.000 Harga beli per lembar Rp 4.000,Rp 6.000,Rp 7.000,- Biaya Pembelian Rp 100.000,Rp 450.000,Rp 300.000,- Jumlah Harga Pokok 1) Rp 20.100.000,Rp 90.450.000,Rp 70.300.000,Rp180.850.000,- HPP per Saham 2) Rp 4.020,Rp 6.030,Rp 7.030,- Harga pokok pembelian = (Harga beli per lembar x Jumlah saham) + Biaya Harga pokok per lembar saham = Harga Pokok Pembelian : jumlah saham Pada bulan Mei 2004 PT Telkom memberi dividen saham dengan rasio 1 : 1 (setiap pemilik satu saham lama berhak memperoleh satu dividen saham) dan pada bulan Juli 2004 dijual 15.000 lembar saham dengan harga Rp 4.000,- per lembar. Catatan yang perlu dibuat atas pemberian dividen saham dan penjualan saham adalah sebagai berikut : Bulan Mei 2004 Memo : Penerimaan dividen saham dengan rasio 1 : 1 Jumlah saham setelah ada dividen saham dan harga pokok pembelian saham yang baru adalah Jumlah lembar saham Bulan Juni 2003 Des 2003 Feb 2004 Total Awal Dividen Total 5.000 15.000 10.000 20.000 5.000 15.000 10.000 20.000 10.000 30.000 20.000 40.000 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Harga Pokok Rp 20.100.000,Rp 90.450.000,Rp 70.300.000,Rp 180.850.000,- Harga Pokok per lembar saham baru Rp 2.010,Rp 3.015,Rp 3.515,- 7 Bulan Juni 2004 Kas Rp 60.000.000,001) Investasi saham Rp 35.175.000,002) Keuntungan penjualan saham Rp 24.825.000,00 Perhitungan : 1) Penerimaan kas = (15.000 x Rp 4.000,-) = Rp 60.000.000,2) Investasi Saham (HPP) = (10.000xRp 2.020,-)+ (15.000–10.000xRp 3.015,-) = Rp 20.100.000,- + Rp 15.075.000,= Rp 35.175.000,3) Keuntungan penjualan = Rp 60.000.000,- – Rp 35.175.000,= Rp 24.825.000,- Perhitungan di atas menggunakan anggapan penilaian persediaan dengan cara FIFO. BUKTI RIGHTS Dalam rangka menambah modal disetor, perusahaan dapat mengeluarkan saham baru dan pembelinya diutamakan dari pemegang saham lama. Untuk dapat menambah jumlah saham yang beredar di bursa efek, perusahaan harus mengeluarkan bukti rights. Kesempatan untuk memanfaatkan bukti rights biasanya pemegang saham lama hanya diberi waktu yang sangat terbatas umurnya yaitu hanya beberapa minggu. Pengertian dari bukti rights adalah suatu produk efek (sekuritas) yang diturunkan dari saham yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru yang akan dikeluarkan oleh perusahaan dengan proporsi dan harga tertentu. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bukti rights adalah efek atau surat berharga yang dapat diperdagangkan di bursa efek. Disamping itu bukti rights memberikan hak atau kesempatan kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan waktu yang relatif terbatas. Setiap bukti rights yang diterima oleh pemegang saham berhak untuk menebus (membeli) satu saham baru seharga penebusan (exercise price) yang telah ditentukan. Apabila pemegang saham lama tidak memanfaatkan bukti rights tersebut, maka proporsi kepemilikan sahamnya di perusahaan akan berkurang dan sebaliknya proporsi hak pemilikannya akan tetap sama dengan sebelumnya bila memanfaatkan bukti rights (Preemptive rights). Dalam perdagangan saham untuk perusahaan yang melakukan rights issue ada dua tanggal yang sangat menentukan yaitu Cum-Rights dan Ex-Rights. Cum-Rights berarti tanggal terakhir pembeli saham suatu perusahaan akan memperoleh bukti hak rights yang nantinya dapat digunakan untuk menebus saham baru yang dikeluarkan oleh perusahaan. Sedangkan Ex-Rights hari dimulainya perdagangan tanpa adanya bukti rights atau jika ada pembeli saham pada tanggal ex-rights (biasanya satu Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 8 hari setelah cum-rights), maka pembeli saham tersebut tidak memperoleh bukti rights. Pada saat ex-rights harga saham biasanya telah mengalami penurunan dibanding saat cum-rights. Misalnya, PT BFIN mempunyai saham yang beredar sebanyak 50.000.000 lembar, nominal Rp 1.000,00 dan merencanakan untuk mengeluarkan bukti rights bagi pemegang saham lama agar membeli saham baru dengan harga Rp 1.000,00 per lembar. Ketentuannya yaitu setiap pemilik satu saham lama dengan nilai nominal Rp 1.000,00 berhak membeli 2 (dua) saham baru dengan harga penebusan (Exercise price) Rp 1.000,00. Sedangkan PT Agip memiliki saham PT BFIN 10.000.000 lembar dengan harga beli Rp 2.400,00 per lembar. Apabila diketahui bahwa harga pasar saham cum-rights Rp 3.000,00 per lembar dan ex-rights adalah Rp 2.250,00 per lembar. Apa yang terjadi bila PT Agip memanfaatkan atau tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru dan berapa nilai teoritis harga saham serta bukti rights per lembarnya ? a. Proporsi saham PT Agip jika memanfaatkan haknya dan tidak memanfaatkan Proporsi saham baru Jumlah saham lama PT BFIN Jumlah saham baru PT BFIN Total saham PT BFIN = 1 : 2 atau ½ 50 juta lembar saham = 50 juta : ½ = 100 juta lembar = 50.juta + 100 juta = 150 juta lembar Jumlah saham lama PT Agip 10.000.000 lembar saham Jumlah saham baru PT Agip = 10 juta : ½ = 20 juta lembar saham Total saham PT Agip = 10 juta + 20 juta = 30 juta lembar Proporsi pemilikan saham PT Agip = 10.000.000 lembar x 100 % 20 % 50.000.000 lembar (sebelum pengeluaran saham baru) Proporsi pemilikan saham PT Agip = 30.000.000 lembar x 100 % 20 % 150.000.000 lembar (jika hak rightsnya ditebus) Proporsi pemilikan saham PT Agip = 10.000.000 lembar x 100 % 6,67 % 150.000.000 lembar (jika hak rightsnya tidak ditebus) Apabila PT Agip memanfaatkan hak rightsnya, maka proporsi pemilikan sahamnya di PT BFIN akan tetap sama yaitu 20 %. Sebaliknya bila PT Agip tidak memanfaatkan hak rightsnya, maka proporsi pemilikan sahamnya di PT BFIN hanya 6,67 % atau ada penurunan sebesar 13,33 % (20 % - 6,67 %). Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 9 b. Nilai teoritis harga saham setelah rights issue Harga saham baru setelah tanggal cum-rights biasanya akan mengalami penurunan. Hal ini sebagai akibat adanya penambahan saham baru sehingga ada dilusi kepemilikan saham. Untuk menghitung harga teoritis saham sesudah rights issue adalah sebagai berikut : Harga teoritis Rasio rights x Harga saham cum rights Exercise price Rasio Right Issue Harga teoritis saham ex-rights = 1/2 x 1 Rp 3.100 1 1/2 Rp 1.000 = Rp 1.700,00 Jadi harga saham setelah ada rights issue yang tadinya saat cumrights Rp 3.100,00 secara teoritis turun menjadi Rp 1.700,00. Apabila kondisi fundamental perusahaan baik, maka harga pasar saham exrights dapat lebih tinggi dari harga teoritis. Sebaliknya bila kondisi fundamental perusahaan tidak baik atau menurun kinerjanya, maka harga pasar sahamnya dapat berada di bawah nilai teoritis. c. Harga bukti rights Harga atau nilai bukti rights sebagai dasar agar bukti rights dapat diperjualbelikan di bursa efek. Untuk menentukan harga bukti rights digunakan rumus sebagai berikut : Harga teoritis bukti rights = Harga teoritis saham ex-rights – Exercise Price Harga teoritis bukti rights = Rp 1.700,00 – Rp 1.000,00 = Rp 700,00/ lembar Dengan demikian bila harga pasar saham setelah rights issue menjadi Rp 1.800,00, maka harga bukti rights seharusnya Rp 800,00 (Rp 1.800,00 – Rp 1.000,00). Jadi kalau PT Agip yang mempunyai hak bukti rights tidak menebus atau membeli saham baru dengan harga Rp 1.000,00 per lembar dan menjual bukti rightsnya, misal dengan harga pasar bukti rights Rp 750,00 per lembar dan harga pasar saham Rp 2.250,00 per lembar, maka jurnal penjualan bukti rightsnya adalah : Kas (20.000 x Rp 750,00) Rp 15.000.000,00 Investasi saham dalam bukti rights Rp 6.000.000,00 Laba penjualan bukti rights Rp 9.000.000,00 Dengan demikian rekening investasi saham akan berkurang sebesar harga pokok bukti rights. Perhitungan harga pokok bukti rights ( BR ) adalah : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 10 Harga pokok bukti rights Harga pokok bukti rights Harga Pasar Bukti Rights (BR ) Harga Pasar Saham Harga Pasar BR = Rp 750,00 x Investasi x Rp 24.000.000,00 Rp 2.250,00 Rp 750,00 = Rp 6.000.000,00 ================== Apabila bukti rightsnya sampai dengan berakhirnya periode pendaftaran pemesanan dan pembayaran sertifikat bukti rights tidak dilaksanakan oleh PT Agip, maka bukti rights tersebut hilang dan nilainya menjadi NOL Sedangkan jurnal yang dibuat karena tidak dimanfaatkan (tidak dijual dan tidak ditebus) adalah : Rugi bukti rights Investasi saham Rp 6.000.000,00 Rp 6.000.000,00 d. Apabila PT Agip menebus atau membeli saham baru Dalam kondisi ini, maka PT Agip akan membayar sebesar jumlah lembar bukti rights yang dimiliki dikalikan dengan harga tebusan per lembar (exercise price) yang telah ditentukan. Dengan contoh di atas, maka uang tebusan yang dibayarkan oleh PT Agip adalah : Investasi saham *) Kas *) Rp 20.000.000,00 Rp 20.000.000,00 Investasi Saham = 20.000 x Rp 1.000,00 = Rp 20.000.000,00 Dengan penebusan itu, maka jumlah saham dan harga pokoknya akan berubah yaitu : Investasi awal Investasi baru Jumlah 10.000 lbr x Rp 2.400,- / lembar = 20.000 lbr x Rp 1.000,- / lembar = 30.000 lbr Rp 24.000.000,Rp 20.000.000,Rp 44.000.000,- Harga pokok per lembar saham dengan menggunakan metode ratarata tertimbang setelah melakukan penebusan bukti rights adalah Rp 1.667,67 (Rp 44.000.000,00 / 30.000 lembar saham). PENJUALAN SAHAM Saham yang telah dibeli dengan tujuan investasi jangka panjang dapat dijual oleh pemiliknya. Penjualan tersebut kemungkinan ada beberapa alasan yaitu : (a) kinerja perusahaan investee (yang mengeluarkan saham) dianggap sudah tidak baik sehingga harga pasar saham cenderung turun terus menerus atau (b) kebutuhan uang tunai dari pemegang saham atau investor. Apabila terjadi penjualan saham baik Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 11 kepada investor lain atau ditarik oleh perusahaan yang mengeluarkan saham akan ada pengakuan laba atau rugi penjualan.. Dengan menggunakan contoh di atas, PT Agip menjual saham PT BFIN sebanyak 15.000 lembar saham dengan harga pasar Rp 1.900,00 per lembar saham, maka pencatatannya adalah sebagai berikut : Kas (15.000 x Rp 1.500,00) Investasi saham*) Laba penjualan saham Rp 28.500.000,00 Rp 22.000.050,00 Rp 6.499.950,00 *) Harga pokok saham = (Rp 44.000.000,00 / 30.000) x 15.000 = Rp 1.466,67 x 15.000 = Rp 22.000.050,00 PERTANYAAN 1. Jelaskan tujuan melakukan investasi jangka panjang pada saham suatu perusahaan 2. Jelaskan apa perbedaan antara investasi jangka pendek dan jangka panjang 3. Jelaskan perbedaan antara metode biaya dan metode ekuitas 4. Apa yang dimaksud dengan bukti rights dan preemtive rights LATIHAN 1. PT Bluechip pada 5 Juli 2002 membeli saham biasa PT Triangsa sebanyak 30.000 lembar dengan harga pasar Rp 2.000,00 per lembar dan biaya komisi 0,02 %. Pada tanggal 31 Juli 2002 PT Triangsa membayar dividen tunai Rp 200,00 per lembar saham. Pembelian saham tersebut dilakukan dengan dua alternartif yaitu (a) tunai dan (b) ditukar dengan kendaraan yang harga pasarnya adalah Rp 50.000.000,00. Buatlah jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi yang dilakukan oleh PT Bluechip ! 2. PT Bima merencanakan membeli 10.000 lembar saham biasa dan 2.000 lembar saham preferen dari PT Duta dengan harga keseluruhan Rp 55.000.000,00. Buatlah jurnal yang diperlukan apabila diketahui bahwa : a. Harga pasar saham biasa Rp 4.500,00 per lembar dan saham preferen Rp 7.500,00 per lembar b. Harga pasar saham preferen Rp 7.500,00 per lembar dan harga pasar saham biasa tidak diketahui 3. PT Swara pada 10 Mei 2003 membeli 20.000 saham biasa PT Delta Force dengan kurs 105 nominal Rp 1.000,00. Pada tanggal 15 Juli PT Delta Force mengumumkan pemberian dividen Rp 200,00 per lembar saham dan akan dibayarkan pada 28 Juli 2003. Buatlah jurnal yang perlukan atas transaksi tersebut ! Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 12 4. PT Golden membeli saham PT Genio sebagai berikut : Bulan Maret 2002 Juni 2003 Feb 2004 ∑ saham 10.000 15.000 10.000 Harga beli / lembar Rp 3.000,00 Rp 5.500,00 Rp 7.500,00 Biaya Pembelian Rp 200.000,00 Rp 450.000,00 Rp 400.000,00 Pada tanggal 15 Juli 2004 PT Genio memberi dividen saham dengan rasio 1 : 2 (setiap pemilik satu saham lama berhak memperoleh dua lembar saham baru) dan pada akhir Agustus 2004 dijual 25.000 lembar saham dengan harga Rp 3.000,00 per lembar. Buatlah jurnal atau catatan yang diperlukan atas pemberian dividen saham dan penjualan saham tersebut ! 5. Saham yang beredar dari PT Jazz adalah 100.000.lembar, nominal Rp.500,00 dan pada 1 April 2002 PT Civic membeli 15 % PT Genio dengan harga Rp 8.500.000,00. PT Jazz berusaha untuk menambah modal disetor dengan cara melakukan rights issue dengan rasio satu dibanding dua dan exercise price sebesar Rp 500,00. Harga pasar saham cum-rights Rp 800,00 per lembar dan harga pasar saham exrights Rp 600,00 serta harga bukti rights Rp 80,00 per lembar Diminta : a. Hitung proporsi pemilikan saham PT Civic di PT Genio bila tidak menebus sertifikat bukti rights b. Hitung harga teoritis bukti rights dan saham setelah rights issue c. Hitung besarnya keuntungan yang diperoleh jika bukti rights dijual dan berapa besarnya kerugian bila bukti rights tidak ditebus oleh PT Civic serta jurnal yang diperlukan d. Buatlah jurnal apabila pada akhir Agustus 2002 PT Civic menjual 25.000 saham dengan harga Rp 575,00 per lembar Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 13 BAB 2 INVESTASI OBLIGASI Obligasi adalah surat pengakuan utang yang akan dibayar sebesar nilai nominal pada saat jatuh tempo ditambah dengan pembayaran bunga selama masa berlakunya obligasi. Selama obligasi memberikan sejumlah tingkat bunga yang tetap atau sejumlah realisasi pembayaran bunga, maka harga pokok yang dibayar oleh investor kemungkinan menjadi lebih besar atau lebih kecil daripada nilai nominal, karena harapan investor untuk memperoleh tingkat bunga atas pengeluaran investasi. Investasi obligasi termasuk dalam kategori investasi jangka panjang bila obligasi tersebut dipegang hingga jatuh tempo satu tahun atau lebih. Pada saat membeli dicatat sebesar harga pokok dan pendapatan bunga yang terutang atas investasi jangka panjang. Harga pokok obligasi dapat lebih besar atau lebih kecil daripada nilai saat jatuh tempo dan perbedaan tersebut akan diamortisasi selama sisa umur obligasi. Sedangkan pengakuan laba atau rugi dalam laporan keuangan hanya terjadi bila ada penjualan obligasi dan laba atau rugi sebelum terealisir tidak ada pencatatan. PEMBELIAN OBLIGASI Harga pokok pembelian obligasi yang dibayar oleh investor saat membeli akan sangat tergantung pada ketentuan dari obligasi yang ditbeli dan kondisi umum pasar obligasi, tingkat resiko obligasi dan harapan kondisi ekonomi. Perhitungan harga pokok pembelian obligasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : a Kurs pembelian. Apabila dalam pembelian obligasi menggunakan kurs, maka besarnya harga pokok pembelian obligasi sama dengan jumlah nominal obligasi dikalikan dengan kurs pembelian ditambah biaya pembelian. b Tingkat Bunga efektif (Yield) merupakan tingkat bunga di pasar untuk obligasi tersebut yang jumlahnya dapat lebih besar atau lebih kecil dari tingkat bunga obligasi yang sesungguhnya atau yang tercantum dalam oblgiasi. Dengan cara ini, maka yang sering terjadi dalam jual beli obligasi minimal ada dua kemungkinan yaitu : 1. Pembeli membayar dengan jumlah yang lebih kecil dari nilai nominal (Disagio obligasi) bila bunga efektif (yield) lebih besar dari bunga yang tertera dalam obligasi. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 14 2. Pembeli membayar lebih besar dari nilai nominal (Agio obligasi) bila bunga efektif (yield) lebih kecil dari bunga yang tercantum dalam obligasi. Pembeli obligasi akan menerima bunga yang tetap, misal setiap enam bulan sekali. Dengan demikian pada saat membeli obligasi ada dua kemungkinan yaitu : a. Pembeli tidak membayar pendapatan bunga yang terutang, bila tanggal pembelian sama dengan tanggal ketentuan penerimaan bunga obligasi Sebagai contoh, misal tanggal pembelian sama dengan tanggal penerimaan bunga obligasi yaitu tiap tanggal 1 Maret dan 1 September b. Pembeli harus membayar bunga terutang, jika tanggal pembelian obligasi berada diantara tanggal penerimaan bunga obligasi. Contohnya, pembelian obligasi dilakukan tanggal 1 Maret , sedangkan tanggal penerimaan bunga obligasi tiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Dengan demikian ada bunga yang terutang 2 bulan yaitu dari tanggal 1 Januari hingga 1 Maret. Pencatatan Harga Pokok Pencatatan investasi obligasi untuk jangka panjang perlu memperhatikan tanggal pembelian, tanggal pembayaran bunga obligasi, besarnya bunga obligasi, tamggal jatuh tempo (umur obligasi) dan bunga efektif atau kurs pembelian. Untuk memberikan gambaran, dengan anggapan bahwa PT Bimantara pada tanggal 1 April 2003 membeli obligasi 9 % dengan nominal Rp 100.000.000,00 dengan kurs 98 % ditambah bunga terutang. Pembayaran bunga dilakukan tiap tanggal 1 April dan 1 Oktober dan jatuh tempo obligasi adalah 3 tahun atau hingga 1 April 2005. PT Bimantara akan mencatat sebagai berikut : Investasi obligasi*) Kas Rp 98.000.000,00 *) Investasi Obligasi = Rp 100.000.000,00 x 98 % Rp 102.000.000,00 = Rp 98.000.000,00 Perusahaan mendebet investasi sebesar Rp 98.000.000,- sehingga ada disagio sebesar Rp 2.000.000,00 ( Rp 100 juta – Rp 98 juta) yang dicatat langsung dalam rekening investasi dan nantinya akan diamortisasi selama 3 tahun. Dalam transaksi tersebut tidak ada pembayaran bunga terutang, karena tanggal pembelian sama dengan tanggal pembayaran bunga obligasi. Tanggal pembelian obligasi dapat tidak sesuai dengan tanggal pembayaran bunga dan menggunakan tingkat bunga efektif. Sebagai contoh, pada tanggal 1 Juni 2003 PT Matahari membeli Rp 2.000.000,00 obligasi, 10 % milik PT Smart dan pembayaran bunga tiap tanggal 1 Maret dan 1 September. Tingkat bunga efektif yang berlaku saat itu adalah 12 %. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 15 Pencatatan yang dilakukan oleh PT Matahari adalah : Investasi obligasi*) Pendapatan bunga oblgasi Kas Rp 1.901.653,511) Rp 25.000,002) Rp 1.926.653,51 Perhitungan : 1) Investasi obligasi Present Value (PV) Nominal = Rp 2.000.000,00 x 9,705 a) = Rp 1.409.921,08 PV Bunga = (Rp 2.000.000 x 10 % x 6/12) x 4,91732 b) = Rp 491.732,43 Jumlah harga pokok obligasi = Rp 1.901.653,51 ============= a) PV – Nominal = PV (2x3),(12 % / 2) or PV 6,6 % = 9.0750 – lihat tabel b) PV of Annuity – Bunga = PV of A 6,6 % = 4,91732 – lihat tabel PV of A 2) Bunga obligasi = Rp 2.000.000,00 x 10 % x 3/12 = Rp 25.000,00 (Periode 1 Maret 2003 sampai dengan 1 Juni 2003 atau 3 bulan) Dengan tingkat bunga efektif (bunga pasar) yang lebih rendah dari bunga menurut obligasi, maka pembeli membayar dengan jumlah yang lebih kecil dari nilai nominal obligasi atau ada disagio sebesar Rp 98.346,49 (Rp 2.000.000,00 – Rp 1.901.653,51). Disagio tersebut akan diamortisasi selama umur obligasi yang nantinya akan menambah pendapatan obligasi tiap semesternya. Amortisasi Disagio dan Agio Obligasi Investasi obligasi yang dibeli dengan agio atau disagio sebagai akibat adanya perbedaan tingkat bunga efeketif dan bunga yang tertera dalam obligas. Sebagai konsekuensi dari investasi obligasi, pengakuan pendapatan bunga tiap periode akuntansi didasarkan pada tingkat bunga efektif terutama pada saat memperolehnya. Oleh karena itu, bila ada agio atau disagio di amortisasi selama sisa masa hidup obligasi untuk dapat mencerminkan pendapatan bunga yang sesungguhnya pada tiap periode akuntansi. AMORTISASI DISAGIO Sebagai contoh, PT HMSP pada 5 Januari 2002 membeli obligasi bunga 8 % dengan nominal Rp 4.000.000,00 dan bunga efektif 10 %. Penerimaan bunga setiap tanggal 30 Juni dan 31 Desember serta jatuh tempo obligasi 3 tahun atau 31 Desember 2004. Pencatatan yang dilakukan oleh PT HMSP pada saat pembelian adalah sebagai berikut : Investasi oblgasi Kas Rp 3.796.972,32 1) Rp 3.796.972,32 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 16 Perhitungan : 1) Investasi obligasi Present Value (PV) Nominal = Rp 4.000.000,00 x 0,7462 a) PV Bunga = (Rp 4.000.000,00 x 8 % x 6/12) x 5,07569 b) Jumlah harga pokok obligasi = Rp 2.984.861,59 = Rp 812.110,73 = Rp 3.796.972,32 ============= Disagio obligasi = Nilai nominal – Nilai Present Value Obligasi = Rp 4.000.000,00 – Rp 3.796.972,32 = Rp 203.027,68 Amortisasi Disagio dengan Metode Garis Lurus Dengan menggunakan metode garis lurus dalam perhitungan amortisasi agio, maka jumlah amortisasi tiap periodenya akan sama besarnya. Jurnal yang dibuat untuk pendapatan bunga obligasi pada 30 Juni 2002 adalah : Kas Investasi obligasi Pendapatan bunga obligasi Rp 160.000,00 Rp 33.837,95 Rp 193.837,95 Untuk jurnal periode selanjutnya sampai dengan jatuh tempo akan sama seperti periode Juni 2002. Tabel amortisasi disagio obligasi dengan metode garis lurus : Pendapatan Bunga Kredit Nilai Buku Investasi Obligasi B = Nominal x 8 % x 6/12 bln Investasi Obligasi Debet C = Disagio / 6 periode D=B+C E = Awal + C Rp 160,000.001) Rp 160,000.00 Rp 160,000.00 Rp 160,000.00 Rp 160,000.00 Rp 160,000.00 Rp 33.837,952) Rp 33.837,95 Rp 33.837,95 Rp 33.837,95 Rp 33.837,95 Rp 33.837,95 Rp 193.837,953) Rp 193.837,95 Rp 193.837,95 Rp 193.837,95 Rp 193.837,95 Rp 193.837,95 Rp 3.796.972,32 Rp 3.830.810,26 Rp 3.864.648,21 Rp 3.898.486,16 Rp 3.932.324,11 Rp 3.966.162,05 Rp 4.000.000,00 Tanggal Kas Debet A 1 Jan 02 30 Jun 02 31 Des 02 30 Jun 03 31 Des 03 30 Jun 04 31 Des 04 1) Kas = Rp 4.000.000 x 8 % x 6/12 = Rp 160.000 2) Investasi Obligasi (Amortisasi Disagio) = Rp 203.027,68 / 6 = Rp 33.837,95 3) Pendapatan bunga obligasi = Rp 160.000 + Rp 33.837,95 = Rp 193.837,95 Amortisasi Disagio dengan Metode Bunga Efektif Amortisasi Disagio obligasi dengan menggunakan bunga efektif jumlah tiap periodenya akan semakin besar dan akibatnya pendapatan bunga juga akan semakin besar. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 17 Kas Investasi obligasi Pendapatan bunga obligasi Rp 60.000,Rp 33.837,95 Rp 193.837,95 Untuk jurnal periode selanjutnya sampai jatuh tempo caranya akan sama seperti periode Juni 2002. Tabel amortisasi disagio obligasi dengan metode bunga efektif : Tanggal Kas Debet A B = Nominal x 8 % x 6/12 bln Pendapatan Bunga Kredit C = 8 % x Awal E x 6/12 Rp160,000.-1) Rp 160,000.Rp 160,000.Rp 160,000.Rp 160,000.Rp 160,000.- Rp 189.848,62 2) Rp 191,341.05 Rp 192,908.10 Rp 194,553.50 Rp 196,281.18 Rp 198,095.24 1 Jan 02 30 Jun 02 31 Des 02 30 Jun 03 31 Des 03 30 Jun 04 31 Des 04 Investasi Obligasi Debet Nilai Buku Investasi Obligasi D=C-B E = Awal + D Rp 29.848,62 3) Rp 31,341.05 Rp 32,908.10 Rp 34,553.50 Rp 36,281.18 Rp 38,095.24 Rp 3.796.972,32 Rp 3,826,820.93 Rp 3,858,161.98 Rp 3,891,070.08 Rp 3,925,623.58 Rp 3,961,904.76 Rp 4,000,000.00 1) Kas = Rp 4.000.000 x 8 % x 6/12 = Rp 160.000 2) Pend. bunga Juni = 8 % x Rp 3.796.972,32 x 6/12 = Rp 189.848,62 Pend. bunga Des = 8 % x Rp 3.826.820,93 x 6/12 = Rp 191.341,05 dst 3) Investasi Obligasi (Amortisasi Disagio) = Rp 189.848,62 - Rp 160.000,00 = Rp 29.848,62 AMORTISASI AGIO Dengan menggunakan contoh PT HMSP diatas, bahwa bunga efektif sebesar 6 % dan bunga menurut obligasi 8 % serta nominal Rp 4.000.000 Penerimaan bunga setiap tanggal 30 Juni dan 31 Desember serta jatuh tempo obligasi 31 Desember 2004. Pencatatan yang dilakukan oleh PT HMSP pada saat pembelian tanggal 1 Januari 2002 adalah : Investasi obligasi Kas Rp 4.216.687,661) Rp 4.216.687,66 Perhitungan : 1) Investasi obligasi - Present Value (PV) Nominal - PV Bunga Agio Obligasi = = = Rp 4.000.000 x 0,8375 = Rp 3.349.937,03 = (Rp 4.000.000 x 8 % x 6/12) x 5,41719 Jumlah harga pokok obligasi = Rp 866.750,63 Rp 4.216.687,66 Nilai nominal – Nilai Present Value Obligasi Rp 4.216.687,66 – Rp 4.000.000 = Rp 216.687,66 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 18 Amortisasi Agio dengan Metode Garis Lurus Amortisasi agio obligasi dengan menggunakan metode garis lurus pada dasarnya sama dengan pembahasan amortisasi disagio. Jurnal yang dibuat untuk penerimaan bunga pada 30 Juni 2002 adalah Kas Rp 160.000,00 Investasi obligasi Pendapatan bunga obligasi Rp 36.114,51 Rp 123.885,39 Untuk jurnal periode selanjutnya sampai dengan jatuh tempo akan sama seperti periode Juni 2002. Tabel amortisasi agio obligasi dengan metode garis lurus Tanggal Kas Debet Investasi Obligasi Kredit Pendapatan Bunga Kredit Nilai Buku Investasi Obligasi A B = Nominal x 8 % x 6/12 bln C = Agio / 6 periode D=B-C E = Awal - C Rp 160.000.-1) Rp 160.000,Rp 160.000,Rp 160.000,Rp 160.000,Rp 160.000,- Rp 36.114,612) Rp 36.114,61 Rp 36.114,61 Rp 36.114,61 Rp 36.114,61 Rp 36.114,61 Rp 123.885,393) Rp 123,885.39 Rp 123,885.39 Rp 123,885.39 Rp 123,885.39 Rp 123,885.39 Rp 4,216,687.66 Rp 4,180,573.05 Rp 4,144,458.44 Rp 4,108,343.83 Rp 4,072,229.22 Rp 4,036,114.61 Rp 4,000,000.00 1 Jan 02 30 Jun 02 31 Des 02 30 Jun 03 31 Des 03 30 Jun 04 31 Des 04 1) Kas = Rp 4.000.000 x 8 % x 6/12 = Rp 160.000 2) Investasi Obligasi (Amortisasi Agio) = Rp 216.687,66 / 6 = Rp 36.114,61 3) Pendapatan bunga obligasi = Rp 160.000 - Rp 36.114,61 = Rp 123.885,39 Amortisasi agio obligasi berpengaruh pada berkurangnya pendapatan bunga obligasi yang diterima oleh investor. Nilai buku obligasi tiap periodenya berkurang, sehingga pada saat jatuh tempo obligasi nilai bukunya akan sama besarnya dengan nilai nominalnya. Amortisasi Agio dengan Metode Bunga Efektif Agio obligasi diamortisasi dengan menggunakan bunga efektif, maka jumlahnya akan meningkat tiap periode dan akhirnya pendapatan bunga obligasi serta nilai buku investasi akan menurun. Jurnal yang dibuat untuk 30 Juni 2002 adalah sebagai berikut : Kas Rp 160.000,Investasi obligasi Pendapatan bunga obligasi Rp 33.499,37 Rp 126.500,63 Untuk mencatat pendapatan bunga obligasi periode selanjutnya, sesuai dengan prinsip yang digunakan seperti periode Juni 2002. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 19 Tabel amortisasi agio obligasi dengan metode bunga efektif Kas Debet Pendapatan Bunga Kredit Investasi Obligasi Kredit Nilai Buku Investasi Obligasi B = Nominal x 8 % x 6/12 bln C = 8 % x Awal E x 6/12 D=C-B E = Awal + D Rp 160,000.00 1) Rp 160,000.00 Rp 160,000.00 Rp 160,000.00 Rp 160,000.00 Rp 160,000.00 Rp 126.500,63 2) Rp 125,495.65 Rp 124,460.52 Rp 123,394.33 Rp 122,296.16 Rp 121,165.05 Rp 33.499,37 3) Rp 34,504.35 Rp 35,539.48 Rp 36,605.67 Rp 37,703.84 Rp 38,834.95 Rp 4,216,687.66 Rp 4,183,188.29 Rp 4,148,683.94 Rp 4,113,144.45 Rp 4,076,538.79 Rp 4,038,834.95 Rp 4,000,000.00 Tanggal A 1 Jan 02 30 Jun 02 31 Des 02 30 Jun 03 31 Des 03 30 Jun 04 31 Des 04 1) Kas = Rp 4.000.000 x 8 % x 6/12 = Rp 160.000 2) Pendapatan bunga Juni = 8 % x Rp 4.216.687,66 x 6/12 = Rp 126.500,63 Pendapatan bunga Des = 8 % x Rp 4.183.188,29 x 6/12 = Rp 125.495,65 dst 3) Investasi Obligasi (Amortisasi Agio) = Rp 160.000 - Rp 126.500,63 = Rp 33.499,37 Amortisasi Obligasi untuk Pembelian Diantara Tanggal Pembayaran Bunga Obligasi kemungkinan dibeli diantara tanggal pembayaran bunga, misalnya tanggal pembelian 1 April, sedangkan tanggal pembayaran bunga adalah 1 Januari dan 1 Juli. Apabila waktu pembelian obligasi terdapat agio atau disagio, maka amortisasinya didasarkan pada sisa waktu umur obligasi yang dimiliki oleh investor. Sebagai contoh, misalnya PT Astra pada tanggal 2 April 2002 membeli obligasi PT Argo dengan nominal Rp 6.000.000 dan bunga 12 % yang dibayarkan tiap 30 Juni dan 31 Desember. Tingkat bunga pasar 10 % dan jatuh tempo obligasi 31 Desember 2004 atau 33 bulan setelah tanggal pembelian. PT Astra mencatat transaksi pembelian pada 2 April 2002 sebagai berikut : Investasi Obligasi Pendapatan Bunga Obligasi Kas Rp 6.304.541,521) Rp 180.000,002) Rp 6.484.541,52 Perhitungan : 1) Investasi obligasi = = = 2) Pendapatan bunga= (Rp 6.000.000 x 0,7462) + ( Rp 6.000.000 x 12 % x 6/12 x ,07569) Rp 4.477.292,38 + Rp 1.827.249,14 Rp 6.304.541,52 Rp 6.000.000 x 12 % x 3 /12 (2 April s/d 30 Juni) = Rp 180.000,00 PT Astra dalam transaksi pembelian obligasinya ada agio obligasi Rp 304.541,52 (Rp 6.304.541,52 – Rp 6.000.000) dan jumlah tersebut akan diamortisasi selama 33 bulan umur dari obligasi hingga jatuh tempo. Dengan menggunakan metode garis lurus, maka jumlah amortisasi agio obligasi tiap bulan adalah Rp 9.228,53 dan selanjutnya digunakan untuk mengurangi pendapatan bunga tiap periode. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 20 Jurnal penerimaan bunga pada 30 Juni 2002 adalah Kas Rp 360.000,Pendapatan Bunga (Rp 6.000.000 x 12 % x 6/12) – (Rp 9.228,53 x 3 1)) Rp 332.314,41 Rp 27.685,59 1) Lama, 3 bulan yaitu sejak 1 Januari 2002 hingga 2 April 2002 (tanggal pembelian obligasi). Jurnal penerimaan bunga pada 31 Desember 2002 adalah Kas 1) Rp 360.000,Pendapatan Bunga (Rp 6.000.000 x 12 % x 6/12) – (Rp 9.228,53 x 6 1)) Rp 304.628,81 Rp 55.371,19 Lama, sejak tanggal 30 Juni 2002 hingga 31 Desember 2002 atau 6 bulan Sedangkan pencatatan penerimaan bunga selanjutnya sama dengan periode 31 Desember 2002 Sedangkan amortisasi agio dengan menggunakan metode bunga efektif, maka jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut : 30 Juni 2002 Kas Rp 360.000,Pendapatan Bunga Investasi Obligasi Rp 337.613,54 Rp 22.386,46 Perhitungan Pendapatan bunga = = = Investasi obligasi = 1) (Rp 6.304.541,52x10 % x 3/12) + (Rp 6.000.000 x 12 % x 3/12) Rp 157.613,54 + Rp 180.000,00 1) Rp 337.613,54 Rp 360.000 – Rp 337.613,54 = Rp 22.386,46 Jumlah Rp 180.000 sudah didebet pada saat membeli 2 April 2002 dan termasuk di dalam penerimaan kas Rp 360.000,- 31 Desember 2002 Kas Rp 360.000,Pendapatan Bunga Investasi Obligasi Rp 314.107,75 Rp 45.892,25 Perhitungan Pendapatan bunga = (Rp 6,304,541.52 – Rp 22.386,46 ) x 10 % x 6/12 = Rp 314.107,75 Investasi obligasi = Rp 360.000 – Rp 314.107,75 = Rp 45.892,25 Penjualan Obligasi Sebelum Jatuh Tempo Penjualan investasi obligasi sebelum waktu jatuh tempo sebetulnya merupakan suatu pelanggaran dari ketentuan dalam investasi jangka panjang. Hal ini jarang terjadi dan kemungkinan karena ada perubahan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 21 kondisi perusahaan investor atau investee yang tidak memungkinkan, sehingga terjadi penjualan investasi yang seharusnya tidak terjadi. Jika terjadi penjualan, maka perusahaan harus mencatat adanya untung atau rugi transaksi penjualan dan perusahaan harus menghapus rekening investasi serta menerima bunga sejak penerimaan bunga terakhir hingga tanggal penjualan dari pembeli yang baru. Untuk mengetahui untung atau rugi, perusahaan harus menghitung amortisasi atas agio atau disagio sejak perhitungan penerimaan bunga terakhir hingga tanggal penjualan. .Seperti contoh yang telah dibahas sebelumnya, misalnya obligasi nilai nominal Rp 4.000.000 dengan bunga 10 % yang dibeli pada 5 Januari 2002 oleh PT HMSP sebesar Rp 3.796.972,32 dijual pada 30 September 2003 dengan harga Rp 4.100.000 ditambah bunga yang terutang. PT HMSP mencatat penjualan obligasi sebagai berikut : Investasi Obligasi Rp 16.918,97 (Rp 203.027,68 : 6) x 3/12 Pendapatan Bunga Rp 314.107,75 (Amortisasi disagio dari 30 Juni 2003 – 30 Sept 2003) Kas Rp 4.180.000,Pendapatan Bunga (Rp 4.000.000 x 8 % x 3/12) Investasi Obligasi (Rp 3.898.486,16 – Tabel + Rp 16.918,97) Laba penjualan investasi obligasi Rp 80.000,- Rp 3.915.405,13 Rp 184.594,87 Untuk menentukan laba rugi penjualan, maka langkah yang perlu dilakukan yaitu mencari pendapatan bunga sejak tanggal penerimaan bunga terakhir (30 Juni 2003) hingga tanggal penjualan ( 30 Sepetember 2003) yaitu 3 bulan sebesar Rp 80.000. Selanjutnya amortisasi disagio seperti periode bunga tersebut yaitu 3 bulan dan nilai buku obligasi dilihat di tabel per 30 Juni 2003 ditambah amortisasi disagio selama 3 bulan atau total nilai buku investasi Rp 3.915.405,13 PERTANYAAN 1. Mengapa perusahaan melakukan investasi jangka panjang dalam obligasi ? 2. Jelaskan mengapa dalam investasi obligasi dapat terjadi agio dan disagio ! 3. Apakah perbedaan antara investasi jangka panjang dalam obligasi dan saham ? 4. Jelaskan perbedaan metode amortisasi agio atau disagio dengan metode garis lurus dan bunga efektif ! Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 22 LATIHAN 1. Pada 1 Juli PT Sigma membeli obligasi PT Sinar Rp 4.500.000,dengan nilai nominal Rp 5.000.000,-. Pembayaran bunga tiap tanggal 1 April dan 1 Oktober dengan bunga 7 % per tahun. Buatlah jurnal pada saat pembelian dan penerimaan bunga ! 2. PT Golden tanggal 1 Juni 2002 membeli obligasi dengan tingkat bunga 10 % per tahun dari PT Roda yang bernominal Rp 10.000.000,Bunga dibayarkan oleh PT Roda tiap tanggal 1 Maret dan 1 Oktober dan jatuh tempo obligasi 4 tahun atau tahun 1 Maret 2005. Bunga efektif yang brrlaku di pasar adalah 8 % dan pada 30 Desember 2003 obligasi dijual dengan harga Rp 9.500.000,-. Buatlah jurnal saat pembelian dan penjualan dengan anggapan bahwa amortisasi dengan metode garis lurus ! Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 23 BAB 3 AKTIVA TETAP BERWUJUD : PEROLEHAN,PENGELUARAN SELAMA PENGGUNAAN DAN PEMBERHENTIAN PENGERTIAN Menurut PSAK No. 16 para 05 disebutkan bahwa aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Dengan demikian aktiva tetap tersebut dapat dilihat secara fisik seperti tanah, bangunan, mesin , peralatan pabrik, kendaraan dan perabot kantor. Dalam bab ini akan dibahas mengenai perolehan aktiva tetap dan pemberhentian. KARAKTERISTIK AKTIVA TETAP BERWUJUD Secara umum aktiva tetap berwujud yang ada diperusahaan digunakan untuk membantu kegiatan operasi dalam kondisi normal. Menurut Nikolai dan Bazley (2004) suatu aktiva dapat dikategorikan sebagai aktiva tetap berwujud harus mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. Aktiva yang dimiliki untuk digunakan dan tidak tidak untuk investasi. Untuk aktiva yang dimiliki dan digunakan dalam aktivitas usaha normal dapat dianggap sebagai aktiva tetap berwujud. Namun demikian tidak harus digunakan secara terus menrus karena dapat terjadi bahwa aktiva tersebut dimiliki untuk cadangan apabila terjadi kerusakan. Berbeda halnya dengan pemilikan aktiva seperti tanah dan bangunan yang tidak digunakan sama sekali, maka pencatatannya harus dipisahkan kedalam kategori investasi. Dengan demikian dapat terjadi bahwa suatu aktiva perlakuannya berbeda diantara perusahaan satu dengan lainnya, sebagai contoh kendaraan dapat dikategorikan sebagai aktiva tetap berwujud dan dapat sebagai persediaan untuk perusahaan yang kegiatan usahanya menjual kendaraan. 2. Aktiva harus mempunyai umur lebih dari satu tahun. Perusahaan akan dapat menikmati manfaat daripada aktiva tersebut lebih dari satu tahun dan untuk aktiva yang akan dijual pada tahun berikutnya tetap diakui sebagai aktiva tetap berwujud. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 24 3. Secara alamiah aktiva harus dapat dilihat secara fisik. Aktiva tersebut harus dapat diraba dan dilihat secara fisik serta tidak ada perubahan bentuk seperti yang terjadi pada bahan baku dapat berubah bentuk menjadi barang lain. Perusahaan mencatat aktiva tersebut sebesar harga perolehannya. Selama aktiva dapat memberikan manfaat kepada perusahaan, maka tiap periodenya harus dilakukan alokasi kedalam biaya. Pengalokasian biaya tiap periodenya dapat dilakukan dengan cara penyusutan untuk aktiva yang terbatas umurnya dan deplesi untuk aktiva yang berhubungan dengan barang tambang. KLASIFIKASI AKTIVA TETAP BERWUJUD Secara umum klasifikasi dari aktiva tetap berwujud dalam laporan keuangan dapat berupa tanah, bangunan dan mesin dan peralatan. Tanah Tanah merupakan salah aktiva tetap berwujud yang berbeda dengan aktiva tetap lainnya yaitu tidak pernah usang atau secara fisik berkurang manfaatnya karena digunakan. Termasuk dalam kategori ini adalah lingkungan bangunan, halaman dan tempat parkir. Harga perolehan adalah semua pengeluaran yang berhubungan dengan perolehan tanah dan akhirnya tanah tersebut dapat digunakan , misalnya harga beli, biaya notaris, biaya pengurusan hak pemilikan tanah, biaya pencarian, biaya meratakan atau pengurugan serta biaya pembebasan tanah. Sedangkan penerimaan yang berhubungan dengan penjualan sisa tanah atau kayu digunakan untuk mengurangi harga beli tanah. Untuk perbaikan lingkungan seperti taman, tempat parkir, tempat pejalan kaki yang umurnya terbatas umurnya maka pencatatannya dipisahkan dalam rekening tersendiri dari rekening tanah yang selanjutnya akan dilakukan penyusutan. Tanah yang dimiliki untuk tujuan masa depan dicatat dalam rekening investasi dan bukan dalam rekening aktiva tetap berwujud. Bangunan Harga perolehan bangunan termasuk semua pengeluaran yang berhubungan perolehan atau pembangunan. Apabila bangunan tersebut dibeli, maka harga perolehan sebesar harga belinya ditambah dengan biaya perbaikan, biaya komisi pembelian, pajak yang belum dibayar dan biaya lainnya. Untuk bangunan yang dibangun, maka biaya komisi perencana, bahan bangunan, tenaga kerja, overhead, biaya ijin membangun dan biaya lainnya dikapitalisir. Sedangkan biaya bunga atau diskon obligasi di amortisasi selama periode pembangunan atau dapat juga dimasukan dalam harga perolehan. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 25 Mesin dan Peralatan Mesin dan perlatan termasuk juga mesin dan perlatan pabrik dan kantor, perabot kantor dan peralatan pengangkut. Harga perolehan dari mesin dan peralatan tersebut meliputi harga beli , biaya pengangkutan, pajak penjualan atau pajak lainnya, asuransi , biaya pemasangan dan biaya selama uji coba. Sedangkan mesin dan peralatan yang dibuat sendiri, maka seluruh pengeluaran dikapitalisir sebagai harga perolehan. PENILAIAN DENGAN HARGA HISTORIS Penggunaan harga historis dalam laporan pada dasarnya konsisten dengan pelaporan daripada aktiva lainnya, utang dan modal. Keuntungan penggunaan harga historis adalah (1) harga sesuai dengan nilai wajar pada saat perolehan, (2) harga mencerminkan kondisi yang realistis dan (3) pengakuan keuntungan dan kerugian pada saat terjadinya transaksi penjualan atau pertukaran aktiva. Penggunaan harga historis dalam laporan keuangan pada dasarnya dapat menjadi tidak relevan, karena suatu aktiva yang dibeli beberapa puluh tahun yang lalu sudah tidak mencerminkan kondisi saat ini. Oleh karena itu menurut prinsip akuntansi dalam laporan keuangan perusahaan dihimbau untuk memberi penjelasan tentang harga yang berlaku saat ini untuk aktiva tersebut. PEROLEHAN AKTIVA TETAP Jenis aktiva tetap dalam suatu perusahaan pada dasarnya dapat berupa tanah, bangunan, mesin, perabot, peralatan, perbaikan aktiva, sewa, dan beli. Aktiva tetap dapat diperoleh dengan cara pembelian tunai atau angsuran per satuan atau kelompok, mengeluarkan saham, penukaran dengan aktiva lain atau membuat sendiri dan dari donasi. PEMBELIAN TUNAI DAN PEMBELIAN ANGSURAN Perolehan aktiva tetap dengan cara pembelian tunai, maka penilaiannya didasarkan pada harga pembelian, termasuk seluruh pengeluaran biaya hingga dapat digunakan dan dikurangi dengan potongan pembelian atau dicatat sebagai kerugian apabila potongan pembelian tersebut tidak dimanfaatkan. Sedangkan pembelian dengan cara kredit atau angsuran, maka biaya bunga dapat dipisahkan dalam rekening tersendiri. Untuk memberikan gambaran yang jelas, maka contohnya sebagai berikut : PT Swara sedang mempertimbangkan untuk membeli kendaraan seharga Rp. 15.000.000,-. Pembayaran dapat dilakukan dengan berbagai alternatif yaitu (1) pembayaran dilakukan dalam jangka waktu 15 hari dengan potongan 5%, (2) pembayaran dalam tempo 30 hari tanpa potongan dan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 26 (3) memberi uang muka sebesar Rp. 1.500.000,- dan sisanya diangsur selama 12 bulan dengan bunga 20 % (bunga per tahun dihitung dari sisa utang kali tingkat bunga). Jurnal yang dibuat untuk ketiga tipe pembayaran adalah : Jurnal 1 Jurnal 2 Jurnal 3 Kendaraan Kas Rp 13.500.000,- Kendaraan Rugi potongan Utang Rp 13.500.000,Rp 1.500.000,- Kendaraan Rugi potongan Biaya bunga Kas Utang Rp 13.500.000,Rp 1.500.000,Rp 2.700.000,- Rp 13.500.000,- Rp 15.000.000,- Rp 1.500.000,Rp 16.200.000,- Alternatif lain yaitu PT Swata rencana membeli sebuah kendaraan dengan angsuran Rp. 5.400.000,00 per tahun untuk jangka waktu 2 tahun atau total angsurannya adalah Rp. 10.800.000,00 dan tingkat bunga yang dibebankan adalah 12 % per tahun. Untuk selanjutnya perlu dicari nilai pembelian tunai saat ini dari kendaraan dengan cara sebagai berikut : Nilai Tunai = Angsuran per tahun x PVof A 2, 12 % = Rp. 5.400.000,00 x 1,69 = Rp. 9.126.000,00 Sedangkan alokasi daripada bunga per tahunnya adalah sebagai berikut : Angsuran Perhitungan bunga Ta hun Saldo awal pinjaman Bunga Pokok Saldo Pinjaman Rp 9.126.000,- 1 Rp 5.400,000.- Rp 9.126.000,- x 12 % = Rp 1.095.120,- Rp 4.304.880,- Rp 4.821.120,- 2 Rp 5.400,000,- Rp 4.821.120,- x 12 % = Rp 578.880,- Rp 4.821.120,- Rp Rp 10.800.000,- Rp 1.674.000,- Rp 9.126.000,- Jurnal yang dibuat untuk mencatat pembelian kendaraan tiap tahunnya adalah : Saat membeli Kendaraan Beban bunga yang ditangguhkan Utang angsuran Rp 9.126.000,Rp 1.674.000,- Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 10.800.000,- 0,- 27 Tahun 1 Utang angsuran Biaya bunga Beban bunga yang ditangguhkan Kas Rp 4.500.000,Rp 1.095.120,Rp 1.095.120,Rp 4.500.000,- Tahun 2 Utang angsuran Biaya bunga Beban bunga yang ditangguhkan Kas Rp 4.500.000,Rp 578.880,Rp 578.880,Rp 4.500.000,- PEMBELIAN TUNAI SECARA GABUNGAN Pembelian aktiva seringkali terdiri dari beberapa unit aktiva secara bersama-sama dan disebut dengan pembelian gabungan. Dengan demikian perlu adanya pemisahan harga tiap jenis aktiva tersebut untuk memudahkan dalam pelaporan dan perhitungan penyusutan. Sebagi contohnya yaitu pembelian tanah yang diatasnya berdiri bangunan biasanya tidak ada pemisahan secara jelas tentang harga tanah dan bangunannya, sedangkan tanah tidak ada tidak ada penyusutan. Oleh karena diperlukan alokasi harga perolehan dengan menggunakan dasar harga taksiran, perhitungan atas dasar pembayaran pajak (Nilai Jual Obyek Pajak) atau harga pasar. Contohnya adalah sebagai berikut : Dalam rangka perluasan usaha , maka PT Swara membeli sebidang tanah yang ada bangunannya dengan harga Rp. 75.000.000,- dan harga tersebut sudah termasuk komisi pembelian. Harga tanah menurut faktur pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar Rp. 10.000.000,dan taksiran harga bangunan Rp. 40.000.000,-. Perhitungan alokasi harga beli dan jurnal pembeliannya adalah sebagai berikut : Jenis aktiva perolehan Tanah Bangunan Jumlah Harga taksiran Nilai Relatif x Harga = Harga perolehan Rp 10.000.000,Rp 40.000.000,Rp 50.000.000,- 10.000 / 50.000 x 75.000 = Rp 15.000.000,40.000 / 50.000 x 75.000 = Rp 60.000.000,Rp 75.500.000,- Jurnal : Tanah Bangunan Kas Rp 15.000.000,Rp 60.000.000,- Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 75.000.000,- 28 PENGELUARAN SURAT BERHARGA Suatu aktiva dapat diperoleh dengan cara mengeluarkan saham atau obligasi dan pencatatanya dengan menggunakan nilai pasar suratsurat berharga tersebut atau nilai pasar dari aktiva yang dibeli. Apabila tidak ada informasi tentang harga pasar dari aktiva dan surat-surat berharga, maka diperlukan harga taksiran yang ditentukan oleh pihak pimpinan perusahaan. Sedangkan saham dan obligasi yang ditukar dengan aktiva akan dicatat sebesar nilai nominalnya dalam rekening modal saham atau utang obligasi. Apabila ada perbedaan antara nilai penukaran aktiva dengan nilai pasar surat-surat berharga, maka akan dicatat sebagai untung atau rugi pertukaran dan selisih antara nilai nominal surat-surat berharga dengan nilai pasar dicatat sebagai agio atau disagio. Sebagai ilustrasi untuk memberikan gambaran yang jelas yaitu PT Swara menukarkan 10.000 lembar saham biasa dengan nominal Rp 1.000,- per lembar ditukar dengan sebuah mesin.yang harga pasarnya adalah Rp 16.000.000,-. Sedangkan harga pasar saham adalah Rp. 1.500,- per lembar. Jurnal untuk mencatat pertukaran sebagai berikut : Mesin Rp 16.000.000,Modal saham biasa Agio saham biasa Laba atas pertukaran Rp 10.000.000,Rp 5.000.000,Rp 1.000.000,- PERTUKARAN AKTIVA Suatu aktiva dapat diperoleh dengan cara pertukaran dengan aktiva lain yang sejenis atau tidak sejenis. Pengakuan dari perolehan aktiva tersebut didasarkan pada nilai wajar atas aktiva yang diserahkan setelah disesuaikan dengan jumlah pengeluaran kas atau setara dengan kas. Pengakuan untung atau rugi akibat pertukaran apabila terjadi perbedaan nilai wajar antara aktiva yang diserahkan dengan nilai bukunya. Apabila dalam pertukaran ada pengeluaran atau penerimaan uang, maka harga perolehan aktiva dan untung atau rugi dapat di hitung dengan perhitungan sebagai berikut : Harga perolehan aktiva = Nilai wajar aktiva + Pengeluaran – Penerimaan yang diserahkan kas kas dan Untung (Rugi) = Nilai wajar aktiva – Nilai buku aktiva yang diserahkan yang diserahkan Apabila nilai wajar aktiva yang diterima lebih realistis daripada aktiva yang diserahkan, maka perhitungan harga perolehannya dengan aktiva yang diterima. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 29 a. Pertukaran dengan aktiva produktif yang tidak sejenis Aktiva produktif adalah aktiva yang dimiliki atau digunakan dalam meproduksi barang atau jasa . Untuk aktiva produktif yang tidak sejenis berati aktiva tersebut mempunyai fungsi yang berbeda dan tidak digunakan dalam perusahaan yang sama. Sebagai contohnya yaitu : 1. Pertukaran tanpa pengeluaran atau penerimaan kas Perusahaan A (Kendaraan) Rp 50.000.000,Rp 30.000.000,Rp 25.000.000,- Harga perolehan yang diserahkan Akumulasi depresiasi Nilai Wajar Perusahaan B (Bangunan) Rp 80.000.000,Rp 52.000.000,Rp 25.000.000,- Jurnal untuk mencatat pertukaran tersebut adalah : Perusahaan A Bangunan Rp 25.000.000,Akumulasi depresiasi Rp 30.000.000,Kendaraan Rp 50.000.000,Keuntungan pertukaran Rp 5.000.000,(Rp 25.000.000,- – ( Rp 50.000.000,- – Rp 30.000.000,-)) Perusahaan B Kendaraan Akumulasi depresiasi Kerugian pertukaran Bangunan Rp 25.000.000,Rp 52.000.000,Rp 3.000.000,Rp 80.000.000,- 2. Pertukaran dengan pengeluaran atau penerimaan kas Harga perolehan yang diserahkan Akumulasi depresiasi Nilai Wajar Penerimaan (Pengeluaran) kas Perusahaan A (Kendaraan) Rp 50.000.000,Rp 30.000.000,Rp 25.000.000,(Rp 2.000.000,-) Perusahaan B (Bangunan) Rp 80.000.000,Rp 52.000.000,Rp 25.000.000,Rp 2.000.000,- Jurnal untuk mencatat pertukaran tersebut adalah : Perusahaan A Bangunan Rp 27.000.000,- (Rp 25 jt + Rp 2 jt) Akumulasi depresiasi Rp 30.000.000,Kas Rp 2.000.000,Kendaraan Rp 50.000.000,Keuntungan pertukaran Rp 5.000.000,(Rp 25.000.000,- – ( Rp 50.000.000,- – Rp 30.000.000,-)) Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 30 Perusahaan B Kendaraan Akumulasi depresiasi Kerugian pertukaran Kas Bangunan Rp 23.000.000,Rp 52.000.000,Rp 3.000.000,Rp 2.000.000,Rp 80.000.000,- b. Pertukaran dengan aktiva produktif yang sejenis Dalam PSAK No. 16 para 21 disebutkan bahwa aktiva produktif yang sejenis dapat ditukarkan dengan aktiva yang mempunyai manfaat yang sama ,digunakan dalam perusahaan yang sejenis dan memiliki nilai wajar serupa. Berdasarkan statement tersebut ada beberapa alternatif pencatatan yaitu : (1) Transaksi pertukaran tidak ada pengeluaran atau penerimaan uang, maka seluruh kerugian harus diakui dan tidak mengakui adanya keuntungan, (2) Jika ada penerimaan uang, maka kerugian diakui secara penuh dan keuntungan dilakukan secara proposional dengan penerimaannya dan (3) Jika ada pengeluaran uang, maka tidak ada pengakuan laba atas pertukaran, tapi bila ada kerugian harus diakui secara penuh. Berdasarkan ketentuan di atas, maka dapat dijelaskan dengan contoh sebagai berikut, misalnya transaksi pertukaran aktiva produktif sejenis tanpa ada pengeluaran atau penerimaan uang, maka jika ada laba ditunda pengakuanya dan bila terjadi kerugian harus diakui, seluruhnya dua perusahaan industri saling menukarkan kendaraan truk, maka kedua perusahaan dalam transaksi pertukaran tersebut harus menunda pengakuan keuantungan yang terjadi. Sebaliknya apabila terjadi kerugian, maka perusahaan harus mencatat. Namun berbeda halnya bila suatu perusahaan industri menukarkan truk di dealer kendaraan, maka kedua perusahaan itu harus mengakui adanya laba atau rugi pertukaraan kendaraan. Apabila nilai pasar aktiva yang diserahkan lebih kecil dari nilai bukunya, maka perhitungan harga perolehannya adalah : Harga perolehan aktiva = Nilai wajar aktiva + Pembayaran – Penerimaan Aktiva yang diserahkan uang atau uang Apabila nilai pasar aktiva yang diserahkan lebih besar dari nilai bukunya, maka perhitungan harga perolehanya adalah : Harga perolehan aktiva = Nilai wajar aktiva – Penerimaan + Keuntungan Aktiva yang diserahkan uang Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 31 Contoh : 1. Tanpa pengeluaran / penerimaan uang Harga perolehan yang diserahkan Akumulasi depresiasi Nilai Wajar Perusahaan A (Mesin A) Rp 80.000.000,Rp 44.000.000,Rp 30.000.000,- Perusahaan B (Mesin B) Rp 60.000.000,Rp 32.000.000,Rp 30.000.000,- Jurnal untuk mencatat pertukaran tersebut adalah : Perusahaan A Mesin B Akumulasi depresiasi Kerugian pertukaran Mesin A Rp 30.000.000,Rp 44.000.000,Rp 6.000.000,Rp 80.000.000,- Perusahaan B Mesin A Akumulasi depresiasi Bangunan Rp 28.000.000,Rp 32.000.000,Rp 60.000.000,- Perusahaan A mengakui adanya kerugian pertukaran sebesar Rp 6.000.000,- (Rp 80.000.000,- – Rp 44.000.000,- – Rp 30.000.000,-) atau merupakan selisih antara nilai buku mesin yang diserahkan (Rp 36.000.000,-) dengan harga perolehan mesin yang diterima (Rp 30.000.000,-). Sedangkan perusahaan B mencatat harga perolehan mesinnya sebesar Rp 28.000.000,- (Rp 60.000.000,– Rp. 32.000.000,- ) atau sebesar nilai buku dari mesin diserahkan. 2. Ada pengeluaran / penerimaan uang Harga perolehan yang diserahkan Akumulasi depresiasi Nilai Wajar Penerimaan (pembayaran) kas Perusahaan A (Mesin A) Rp 80.000.000,Rp 44.000.000,Rp 30.000.000,Rp 5.000.000,- Perusahaan B (Mesin B) Rp 60.000.000,Rp 32.000.000,Rp 30.000.000,(Rp 5.000.000,-) Jurnal untuk mencatat pertukaran tersebut adalah : Perusahaan A Mesin B Akumulasi depresiasi Kerugian pertukaran Kas Mesin A Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 25.000.000,Rp 44.000.000,Rp 6.000.000,Rp 5.000.000,Rp 80.000.000,- 32 Perusahaan B Mesin A Akumulasi depresiasi Mesin B Kas Rp 33.000.000,Rp 32.000.000,Rp 60.000.000,Rp 5.000.000,- Perusahaan A mengakui adanya kerugian pertukaran sebesar Rp 6.000.000,- (Rp 80.000.000,- – Rp 44.000.000,- – Rp 30.000.000,-) atau merupakan selisih antara nilai buku mesin yang diserahkan dengan harga perolehan mesin yang diterima (Rp 36.000.000,- – Rp 30.000.000,-) dan harga perolehan mesinnya adalah Rp 25.000.000,- (Rp 30.000.000,- – Rp 5.000.000,-). Sedangkan perusahaan B mencatat harga perolehan mesinnya sebesar Rp 33.000.000,- (Rp 60.000.000,- – Rp 32.000.000,- + Rp 5.000.000,-) atau sebesar nilai buku dari mesin diserahkan ditambah dengan pengeluaran kas.. 3. Ada pengeluaran / penerimaan uang dengan menggunakann proporsi penerimaan kas untuk alokasi harga perolehan Harga perolehan yang diserahkan Akumulasi depresiasi Nilai Wajar Penerimaan (pembayaran) kas Perusahaan A (Mesin A) Rp 80.000.000,Rp 60.000.000,Rp 30.000.000,Rp 4.000.000,- Perusahaan B (Mesin B) Rp 60.000.000,Rp 30.000.000,Rp 28.000.000,(Rp 4.000.000,-) Jurnal untuk mencatat pertukaran tersebut adalah : Perusahaan A Mesin B Akumulasi depresiasi Kas Mesin A Keuntungan Keuntungan Rp 17.250.000,Rp 60.000.000,Rp 4.000.000,Rp 80.000.000,Rp 1.250.000,- Penerimaan Kas Penerimaan Nilai wajar Rp 4.000.000, 00 Rp 4.000.000, 00 Rp 28.000.000 ,00 = Rp 1.250.000,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto x (Nilai wajar - NIlai buku) x (Rp 30.000.000 ,00 - Rp 30.000.000 ,00) 33 Perusahaan B Mesin A Rp 32.000.000,(Rp 28.000.000,- + Rp 4.000.000,-) Akumulasi depresiasi Rp 32.000.000,Kerugian Rp 2.000.000,(Rp 30.000.000,- – Rp 28.000.000,-) Mesin B Kas Rp 60.000.000,Rp 4.000.000,- Perusahaan A mencatat harga perolehan sebesar Rp 17.250.000,- (Rp 80.000.000,- – Rp 60.000.000,- – Rp 4.000.000,- + Rp 1.250.000,-). Sedangkan perusahaan B mencatat harga perolehan mesinnya sebesar Rp 32.000.000,(Rp 28.000.000,- + Rp 4.000.000,-) atau sebesar nilai wajar ditambah dengan pengeluaran kas. Kerugian pertukaran mesin merupakan selisih antara nilai buku dengan .dengan nilai wajar dari aktiva yang diserahkan oleh PT B. AKTIVA MEMBUAT SENDIRI Perusahaan dalam memperoleh aktiva yang berupa bangunan, mesin dan peralatan dapat dengan cara membuat sendiri. Dengan demikian semua biaya langsung yang berhubungan dengan pembuatan aktiva tersebut harus ditambahkan dalam harga perolehan yaitu berupa bahan, tenaga kerja dan biaya overhead. Sedangkan beberapa biaya seperti biaya bunga, biaya tetap overhead dan keuntungan perlu ada pertimbangan khusus untuk dapat dikapitalisasi. Dalam PSAK No. 16 para 17 disebutkan bahwa perolehan aktiva yang dikonstruksi sendiri , maka harga perolehan aktivanya sama dengan biaya memproduksi aktiva untuk dijual, maka ataujika ada laba harus dieliminasi dan bila ada pengeluaran yang tidak normal harus dikeluarkan.. Dengan demikian aktiva yang dibuat sendiri harus dibandingkan dengan harga pasar aktiva yang sejenis, sehingga bila terjadi harga perolehan pembuatan sendiri lebih mahal harus dikurangkan dan sebaliknya jika lebih murah tidak ada pengakuan laba. Untuk aktiva ayng dibuat sendiri dengan menggunakan dana pinjaman dan ada beban bunganya, PSAK No. 26 para 9 dan para 10 dijelaskan bahwa biaya pinjaman harus diakui dan dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan aktiva tersebut. Namun menurut FASB statement No. 34 tahun 1979 disebutkan bahwa kapitalisasi biaya pinjaman ada tiga alternatif yaitu (1) biaya bunga selama periode konstruksi diakui sebagai biaya dan bukan menambah harga perolehan aktiva dan (2) mengkapitalisasi biaya bunga sebesar dana yang digunakan dalam konstruksi dalam harga perolehan aktiva yang dibuat sendiri. Sedangkan kapitalisasi biaya tetap overhead pabrikasi dalam perolehan aktiva yang dibuat sendiri dapat dilakukan dengan beberapa Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 34 cara yaitu (1) biaya tetap overhead dialokasikan secara proposional dengan pengeluaran yang ada, (2) biaya tetap overhead yang dialokasikan hanya kenaikannya dan (3) biaya tetap overhead tidak dialokasikan dalam harga peroelahan. PEROLEHAN AKTIVA DONASI Aktiva perusahaan yang berupa tanah, bangunan, mesin, kendaraan dan peralatan dapat diperoleh dari suatu donasi dari pemerintah atau individu. Pengakuan daripada aktiva donasi didasarkan pada harga pasar atau harga taksiran dan di kredit dengan perkiraaan “Modal Donasi”. Apabila dalam memperoleh aktiva tersebut diperlukan biaya, maka rekening modal donasi dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan. PENGELUARAN SELAMA PENGGUNAAN Selama penggunaan aktiva dalam perusahaan dapat terjadi pengeluaran seperti perawatan yang bersifat rutin dan pengeluarannya realtif kecil atau besar, perbaikan, penambahan dan pengaturan kembali lay out mesin. Penambahan Biaya yang dikeluarkan untuk penambahan aktiva harus dikapitalisasi. Penambahan aktiva dapat berupa perluasan bangunan, penambahan instalasi, penambahan suku cadang mesin dll. Apabila dalam penambahan tersebut berakibat sebagain dari aktiva harus di hancurkan atau dibuang, maka pengeluaran akan dikapitalisir jika menambah manfaat ekonomis dan jika tidak menambah manfaat ekonomis biaya tersebut diakui sebagai biaya. Sedangkan perolehan dari aktiva yang di hancurkan atau dibuang dikeluarkan dari perolehan aktiva sebelumnya. Perbaikan dan Penggantain (Improvements and Replacements) Perbaikan atau betterments dan penggantian atau replacements berkaitan dengan substitusi sebgian dari aktiva lama dan bermanfaat meningkatkan nilai ekonomi dari aktiva. Perbaikan merupakan substitusi dari aktiva lama yang sedang digunakan dengan yang baru dan lebih baik, misalnya instalasi listrik yang ada di bangunan. Sedangkan penggantian adalah mengganti aktiva yang sejenis atau sama fungsinya seperti mesin kendaraan. Kapitalisasi biaya perbaikan dan penggantian aktiva dapat dilakukan dengan tiga alternatif yaitu : 1. Metode substitusi. Apbial nilai buku aktiva lama diketahui, maka dikeluarkan dari perkiraan dan mencata aktiva yang baru. Sebagai contoh, perusahaan mengganti AC lama dengan yang baru. Harga perolehan AC lama Rp. 5.000.000,- dengan akumulasi depresiasi Rp. 3.000.000,-. Harga jual AC lama Rp. 1.000.000,- dan harga Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 35 perolehan AC baru Rp 8.000.000,-. Perusahan mencatat transaksi penggantian sebagai berikut : AC baru Akumulasi depresiasi Kerugian penggantian AC lama Kas Rp 8.000.000,Rp 3.000.000,Rp 1.000.000,Rp 5.000.000,Rp 7.000.000,- Dalam praktek sering terjadi kesulitan dalam aplikasi metode ini karena tidak ada catatan tentang akumulasi depresiasi. 2. Mengurangi perkiraan akumulasi depresiasi. Harga perolehan atas perbikan dan penggantian di catat dengan mendebet rekening akumulasi depresiasi dari aktiva lama, apabila pengeluaran tersebut dapat memperpnjang umur penggunaan. Sebagai contoh, perusahaan mengganti sebagian atap bangunan sebesar Rp. 70.000.000,- yang diharapkan dapat memperpanjang umur penggunaan bangunan. Jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah : Akumulasi depresiasi Kas Rp 70.000.000,Rp 70.000.000,- 3. Perkiraan aktiva bertambah. Apabila pengeluaran untuk perbaikan dan penggantian dapat menambah manfaat bagi perusahaan, maka pengeluaran tersebut dicatat pada perkiraan aktiva tersebut. Sebagai contohnya, bahwa perusahaan telah memperluas bangunan pabrik dengan pengeluaran sebesar Rp. 60.000.000,- dan perusahaan mencatat sebagai berikut : Bangunan Kas Rp 60.000.000,Rp 60.000.000,- Reparasi dan Pemeliharaan Pengeluaran biaya reparasi dan pemeliharaan biasanya bertujuan untuk menjaga agar aktiva dapat beroperasi dengan baik dalam produksi normal dan jumlahnya relatif kecil. Dengan demikian semua pengeluaran dicatat dalam biaya pada periode terjadinya. Pengaturan dan Pemindahan aktiva Aktiva yang ada diperusahaan sering dilakukan penataan ulang terutama mesin atau bangunan untuk dapat meningkatkan produktivitas kerja atau lainnya. Pengeluaran yang berhubungan dengan pengaturan dan pemindahan aktiva tersebut dicatat dalam biaya periode terjadinya karena tidak berpengaruh pada perubahan manfaat ekonomi atau memperpanjang umur penggunaan. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 36 PENGHENTIAN DAN PELEPASAN AKTIVA Aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan dihentikan penggunaannya dengan cara dijual, ditukar dan tidak digunakan karena rusak. Menurut PSAK No. 16 para 44 dijelaskan bahwa aktiva tetap yang ditarik dari penggunaan dan tidak ada manfaat ekonomi dimasa mendatang harus dieliminasi dari neraca. Apabila terjadi keuntungan atau kerugian dalam penghentian dan pelepasan dilaporkan dalam laporan laba-rugi. PERTANYAAN 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan aktiva tetap berwujud beserta klasifikasinya ? 2. Jelaskan cara-cara memperoleh aktiva tetap berwujud ! 3. Bagaimana perlakuan pengeluaran biaya bunga selama masa pembangunan untuk aktiva yang dibuat sendiri ? 4. Jelaskan masalah yang timbul kaitannya dengan pengeluaran selama masa penggunaan aktiva ! LATIHAN 1. Perusahaan membeli kendaraan dengan harga tunai Rp 12.000.000,dan dalam membayar perusahaan mempunyai tiga pilihan yaitu (1) membeli secara tunai, (2) membayar dengan syarat pembayaran 5/10, n/30 dan (3) membayar uang muka sebesar Rp. 3.000.000,- dan sisanya diangsur selama 12 bulan dengan jumlah angsuran Rp 900.000,- per bulan. Buatlah jurnal untuk mencatat ketiga alternatif cara pembelian tersebut. 2. PT Swara membeli tanah dengan cara membayar tunai sebesar Rp 60.000.000,- dan memberi saham sebanyak 40.000 lembar dengan nominal Rp 1.000,- dan harga pasar saham di BEJ saat itu adalah Rp 3.500,- per lembar. Buatlah jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi pembelian tersebut. 3. PT ABC merencanakan melakukan pertukaran kendaraan dengan PT Manunggal dan datanya adalah sebagai berikut : Harga perolehan yang diserahkan Akumulasi depresiasi Nilai Wajar Penerimaan (Pengeluaran) kas PT. ABC Rp 100.000.000,Rp 64.000.000,Rp 50.000.000,Rp 5.000.000,- PT. Manunggal Rp 80.000.000,Rp 52.000.000,Rp 50.000.000,(Rp 5.000.000,-) Buatlah jurnal untuk mencatat transaksi pertukaran tersebut ! Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 37 BAB 4 AKTIVA TETAP BERWUJUD : PENYUSUTAN DAN DEPLESI PENGERTIAN Aktiva tetap berwujud yang dimilik oleh perusahaan untuk jangka waktu lebih dari satu tahun dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan. Dengan demikian perlu ada alokasi aktiva tetap secara sistematis ke dalam biaya selama perusahaan memperoleh manfaat atau disebut penyusutan. Istilah proses alokasi tergantung pada jenis aktivanya yaitu : 1. Penyusutan atau penyusutan menggambarkan alokasi daripada biaya untuk aktiva tetap berwujud seperti bangunan, mesin, kendaraan dan peralatan. 2. Diplesi merupakan alokasi biaya dari sumber daya alam seperti penambangan minyak, batubara, biji besi dan gas bumi. 3. Amortisasi adalah mengalokasikan biaya untuk aktiva tetap tidak berwujud seperti paten, hak cipta, dan goodwill. Alokasi biaya pada dasarnya tiap perusahaan sama yaiut untuk menyeimbangkan dengan pendapatan dan perbedaannya terletak pada jenis aktivanya. PERHITUNGAN PENYUSUTAN Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan penyusutan dari tiap periodenya adalah : 1. Harga Perolehan Aktiva. Harga perolehan aktiva adalah semua pengeluaran yang berhubungan dengan perolehan dan persiapan dari aktiva yang digunakan, misalnya harga faktur, biaya pengangkutan / transportasi, biaya instalasi, biaya komisi, dan lain-lain. 2. Nilai Residu. Merupakan perkiraan harga jual suatu aktiva pada akhir masa penggunaan. Apabila suatu aktiva mempunyai nilai yang yang signifikan pada akhir suatu proyek seperti pada saat perusahaan menukarkan kendaaraan tiap beberapa tahun digunakan, maka nilai residu harus dikurangkan dalam harga peroelahn yang akan dialokasikan dalam biaya tiap periodenya. Dalam praktek akan mengalami kesulitan untuk menaksir nilai residu suatu aktiva dalam jangka waktu lebih dari 10 tahun yang akan datang. Suatu kenyataan dapat terjadi bahwa nilai residu akan jauh lebih kecil daripada pengeluaran biaya untuk membongkar atau memindahkan aktiva Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 38 tersebut. Oleh karena dalam menghitung penyusutan tiap periodenya, nilai residu tidak diperhitungkan karean dianggap jumlahnya relatif kecil. 3. Umur Penggunaan. Umur penggunaan aktiva merupakan jumlah unit waktu atau produk yang diharapkan dari aktiva sebelum di hentikan dari penggunaan. Pengukuran umur penggunaan aktiva dapat dibedakan menjadi dua yaitu berdasarkan fisik dan fungsi atau kegunaan. Faktor fisik berhubungan dengan usang dan rusak karena aktiva tersebut dipakai. Sedangkan faktor fungsi atau faktor ekonomi berhubungan dengan keusangan atau tidak memenuhi kebutuhan walaupun secara fisik masih baik. METODE PENYUSUTAN Perusahaan mengalokasikan aktiva tetap dalam biaya menggunakan metode yang sistematis dan rasional. Dikatakan sistimatis apabila perhitungan penyusutan menggunakan formula dan bukan kebijakan yang berubah-ubah. Sedangkan rasional berarti jumlah penyusutan harus dihubungkan dengan manfaat yang diperoleh dari aktiva selama periode penggunaan. Dalam PSAK No. 17 para 08 disebutkan bahwa metode penyusutan dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Metode dengan dasar waktu yang terdiri dari : a. Garis lurus (Straight-line method) b. Metode pembebanan menurun (Declining charge) c. Jumlah-angka-tahun (Sum -of-the-years’-digits method) d. Saldo menurun (Declining balance) e. Saldo menurun ganda (Double-Declining Balance) 2. Metode aktivitas penggunaan(Activity for use methods) a. Metode jam-jasa (service-hours method) b. Metode jumlah unit produksi (productive-output method) c. Metode penyusutan dengan kriteria lainnya : 3. Metode berdasarkan jenis dan kelompok (group and composite method) a. Metode persediaan (inventory systems) b. Metode anuitas (annuity method) Metode Garis Lurus (Straight-line Method). Alokasi aktiva tetap ke dalam biaya dengan menggunakan metode garis lurus, maka jumlah tiap periodenya akan sama besarnya. Untuk perusahaan yang pendapatannya relative stabil dan sangat dipengaruhi oleh aktiva yang digunakan, maka metode tersebut sangat cocok. Demikian pula bila biaya perawatan tiap periodenya relative sama, maka total biaya penyusutan dan perawatan akan sejalan dengan manfaat yang diterima oleh perusahaan. Metode ini banyak digunakan oleh perusahaan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 39 karena cukup mudah menghitungnya. Perhitungan beban penyusutan tiap tahunnya adalah sebagai berikut : Beban penyusutan per tahun Harga perolehan - Nilai residu Umur penggunaan (tahun) Misalnya, perusahaan membeli satu unit mesin dengan harga perolehan Rp 6.000.000,- dan taksiran umur penggunaan selama 4 tahun. Taksiran nilai residu setelah mesin dipakai selama 4 tahun sebesar Rp 1.000.000,-. Dengan demikian penyusutan per tahunnya adalah 20 %. atau Rp 6.000.000, Rp 1.000.000, Rp 1.250.000, 4 Jurnal yang dibuat untuk mencatat penyusutan adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Rp 1.250.000,Rp 1.250.000,- Metode jumlah angka-tahun (Sum-of-the-Years-Digits Method) Metode ini merupakan salah satu dari dua perhitungan penyusutan yang jumlahnya besar pada awal tahun umur aktiva. Untuk perusahaan yang pendapatan tiap tahunnya semakin kecil, maka metode ini akan sesuai. Dengan menggunakan contoh data seperti diatas, yaitu harga perolehan satu unit mesin Rp 6.000.000,- nilai residu Rp 1.000.000,- dan umur penggunaan ditaksir selama 5 tahun. Perhitungan penyusutannya adalah sebagai berikut : Tahun 1 2 3 4 Bobot 4 3 2 1 Tarif Alokasi 4 / 10 atau 40 % x Rp 5.000.000,3 / 10 atau 30 % x Rp 5.000.000,2 / 10 atau 20 % x Rp 5.000.000,1 / 10 atau 10 % x Rp 5.000.000,- Jumlah Penyusutan Rp 2.000.000,Rp 1.500,000,Rp 1.000.000,Rp 500.000,- Jurnal untuk tahun pertama adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Rp 2.000.000,Rp 2.000.000,- Jurnal untuk tahun kedua adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 1.500.000,Rp 1.500.000,- 40 Metode Saldo Menurun (Declining Balance) Metode saldo menurun merupakan salah satu dari dua perhitungan penyusutan yang jumlahnya menurun tiap tahunnya. Dengan menggunakan metode ini, maka tarif penyusutan yang tetap dari nilai buku pada awal tahun dan nilai residu tidak diperhitungkan. Pada saat nilai buku menurun, beban penyusutannya menjadi kecil dan nilai buku pada akhir periode menjadi nilai sisa. Sedangkan cara menghitung tarip dengan metode saldomenurun adalah sebagai berikut ( Zaki Baridwan, 2000,316): Tarif 1 umur Nilai Residu Harga Perolehan Kelemahan dari rumus perhitungan tarip tersebut di atas yaitu apabila nilai residu tidak diketahui, maka tarip penyusutan tidak dapat dicari. Dengan data dari contoh yang ada sebelumnya yaitu harga perolehan satu unit mesin Rp 6.000.000,- nilai residu Rp 1.000.000,- dan umur penggunaan ditaksir selama 5 tahun. Perhitungan tarip penyusutannya adalah sebagai berikut : Tarif 1 4 1.000.000 0.30 atau 30 % 6.000.000 Sedangkan perhitungan penyusutan tiap periodenya adalah : Tahun 0 1 2 3 4 5 Jumlah Penyusutan Perhitungan Penyusutan 30 % x Rp 30 % x Rp 30 % x Rp 30 % x Rp 30 % x Rp 6.000.000,- = 4.200.000,- = 2.940.000,- = 2.058.000,- = 1.440.600,- = Rp 1.800.000,Rp 1.260.000,Rp 882.000,Rp 617.400,Rp 440.600,- *) Rp 5.000.000,- Nilai Buku Rp Rp Rp Rp Rp Rp 6.000.000,4.200.000,2.940,000,2.058.000,1.440.600,1.000.000,- Hasil perhitungan tersebut terlihat bahwa nilai buku pada akhir tahun ke 5 sama besarnya dengan nilai residunya. Sedangkan jurnal yang dibuat tiap tahunnya adalah sebagai berikut : Jurnal untuk tahun pertama adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Rp 1.800.000,Rp 1.800.000,- Jurnal untuk tahun kedua adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 1.260.000,Rp 1.260.000,- 41 Metode Saldo Menurun-ganda (Double Declining Balance Method). Metode saldo menurun-ganda (double-declining balance method) merupakan perhitungan penyusutan yang jumlahnya menurun tiap tahunnya. Tarip penyusutannya yang digunakan dalam metode ini adalah dua kali dari tarip perhitungan penyusutan dengan menggunakan garis lurus. Dengan demikian apabila suatu mesin berumur 5 tahun, maka tarip penyusutan dengan garis lurus adalah 20 % dan dengan metode saldo menurun-ganda adalah 40 % (2 x 20 %). Dengan contoh seperti yang ada sebelumnya, maka perhitungannya adalah sebagai berikut : Tahun 0 1 2 3 4 5 Jumlah Penyusutan Perhitungan Penyusutan 40 % x Rp 40 % x Rp 40 % x Rp 40 % x Rp 6.000.000,- = 3.600.000,- = 2.160.000,- = 1.296.000,- = Rp 2.400.000,Rp 1.440.000,Rp 864.000,Rp 296.000,- Nilai Buku Rp Rp Rp Rp Rp Rp 6.000.000,3.600.000,2.160,000,1.296.000,1.000.000,1.000.000,- Rp 5.000.000,- Dengan menggunakan tarip penyusutan yang tetap yaitu sebesar 40 %, maka jumlah penyusutan yang seharusnya selama empat tahun adalah Rp 5.222.400,- dan akibatnya nilai bukunya akan lebih rendah daripada nilai residunya. Dengan demikian penyusutan tahun keempat jumlahnya lebih rendah dari yang seharusnya dan untuk tahun kelima tidak ada penyusutan. Jurnal untuk tahun pertama adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Rp 2.400.000,Rp 2.400.000,- Jurnal untuk tahun kedua adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Rp 1.440.000,Rp 1.440.000,- Metode Aktivitas penggunaan ( Activity Methods ) Perusahaan menghitung penyusutan dengan metode aktivitas penggunaan apabila umur kehidupan aktiva dipengaruhi oleh berapa lama aktiva digunakan. Dalam kegiatan usaha aktivitas yang dimaksudkan adalah berhubungan dengan waktu penggunaan mesin, jumlah produk yang dihasilkan atau jumlah km. Sebagai contoh yaitu mesin dengan harga perolehan Rp 9.000.000,- dengan nilai residu Rp 1.000.000,- dan umur penggunaan mesin adalah 10.000 jam. Perhitungan penyusutan tiap jamnya sebagai berikut : Tarip Penyusutan Harga perolehan Nilai Residu Jumlah jam kerja mesin atau hasil produksi Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 42 Penyusutan per tahun = jumlah jam kerja atau jumlah hasil produksi per tahun x Tarip per jam atau unit Tarip Penyusutan Rp 9.000.000, - Rp 1.000.000, 10.000 jam = Rp 800,- per jam Dengan demikian jumlah alokasi biaya penyusutan tiap tahunya tergantung pada jam kerja mesin atau hasil produksi yang tiap tahun jumlahnya dapat berbeda-beda. Misal jam kerja mesin untuk tahun pertama 2.000 jam dan tahun kedua 1.500 jam, maka jurnalnya adalah : Jurnal untuk tahun pertama adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Rp 1.600.000,Rp 1.600.000,- Jurnal untuk tahun kedua adalah Biaya penyusutan – Mesin Akumulasi penyusutan – Mesin Rp 1.200.000,Rp 1.200.000,- Metode Penyusutan Jenis dan Kelompok Penggunaan metode penyusutan dan jenis kelompok biasanya bersamaan dengan metode garis lurus , pemberhentian dan penggantian untuk industri tertentu. Penyusutan jenis dipakai untuk aktiva yang homogen dan diharapkan mempunyai umur dan nilai residu yang sama. Sedangkan penyusutan kelompok akan digunakan untuk jenis aktiva yang heterogen dan mempunyai karakteristik yang sama tetapi mempunyai umur dan nilai residu yang berbeda-beda. Sebagai contohnya, metode penyusutan berdasar jenis akan dipakai untuk aktiva yang berupa computer atau kendaraan terutama yang sejenis dan metode penyusutan berdasarkan kelompok untuk jenis peralatan kantor. Penyusutan berdasarkan Jenis Dengan menggunakan metode penyusutan jenis maka pencatatan daripada aktiva hanya menggunakan satu rekening dan aktiva tersebut harus homogen. Tarip penyusutan didasarkan pada rata-rata umur kelompok aktiva yang dimiliki. Apabila ada salah satu dari kelompok aktiva yang dimiliki dihentikan dari penggunaan, maka tidak ada pengakuan laba atau rugi karena rekening aktiva tersebut belum dihentikan dari pemakaian. Namun demikian, bila seluruh aktiva yang ada dihentikan, maka harus ada pengakuan laba atau rugi. Sedangkan cara menghitung besarnya penyusutan per tahunnya adalah sebagai berikut : Penyusutan Harga perolehan Nilai Residu Umur penggunaan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 43 Sebagai contohnya, perusahaan obat-obatan membeli 10 buah sepeda motor Honda dengan harga Rp 10.000.000,- per unit dan perkiraan umur penggunaan adalah 4 tahun dengan nilai residu Rp 2.000.000,- per unit. Pada akhir tahun ketiga ada 3 unit kendaraan dijual dengan harga Rp 3.000.000,- akhir tahun keempat dijual 5 unit dengan harga Rp 2.500.000,- per unit dan setelah tahun keempat dijual 2 unit dengan harga Rp 1.500.000.-. Perhitungan penyusutan yang dilakukan oleh perusahaan adalah : Penyusutan ( 10 x Rp 10.000.000 ,-) (10 x Rp 2.000.000, -) 4 = Rp 20.000.000,- atau 20 % dari harga perolehan Jurnal yang dibuat untuk mencatat kejadian tersebut di atas yaitu : a. Mencatat pembelian kendaraan Honda Sepeda Motor – Honda Kas Rp 100.000.000,Rp 100.000.000,- b. Jurnal penyusutan tahun pertama Biaya penyusutan Akumulasi penyusutan Rp 20.000.000,Rp 20.000.000,- c. Jurnal penyusutan tahun kedua Biaya penyusutan Akumulasi penyusutan Rp 20.000.000,Rp 20.000.000,- d. Jurnal penyusutan akhir tahun ke tiga dan penjualan 3 unit sepeda motor Biaya penyusutan Akumulasi penyusutan Rp 20.000.000,Rp 20.000.000,- Kas Rp 9.000.000,Akumulasi penyusutan Rp 21.000.000,Sepeda motor – Honda Rp 30.000.000,(Akumulasi penyusutan sesungguhnya adalah Rp 18.000.000,-) e. Jurnal penyusutan akhir tahun ke empat dan penjualan 5 unit sepeda motor Biaya penyusutan Rp 14.000.000,Akumulasi penyusutan Rp 14.000.000,Penyusutan = 20 % x (Rp 100.000.000,- – Rp 30.000.000,-) Kas Rp 12.500.000,Akumulasi penyusutan Rp 37.500.000,Sepeda motor – Honda Rp 50.000.000,(Akumulasi penyusutan sesungguhnya adalah Rp 40.000.000,-) Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 44 f. Jurnal penyusutan tahun kelima dan penjualan 2 unit sepeda motor Biaya penyusutan Rp 500.000,Akumulasi penyusutan Rp 500.000,(Penyusutan = Harga Perolehan – Akumulasi Penyusutan – Nilai Residu atau Rp 20.000.000,- – Rp 15.500.000,- – Rp 4.000.000,-) Kas Akumulasi penyusutan Rugi pemberhentian Sepeda motor – Honda Rp 3.000.000,Rp 16.000.000,Rp 1.000.000,Rp 20.000.000,- Apabila perusahaan membeli kendaraan baru sebelum kelompok sepeda motor dihentikan, maka perhitungannya menggunakan tarip yang baru yaitu nilai buku ditambah dengan harga perolehan yang baru minus nilai residu dibagi dengan rata-rata umur dari kelompok aktiva tersebut. Penyusutan Kelompok (Composite Depreciation) Apabila aktiva yang dimiliki oleh perusahaan heterogen dan mempunyai karakteristik dan kegunaan yang hampir sama, maka penyusutannya menggunakan penyusutan kelompok. Perkiraan yang digunakan adalah hanya satu yaitu akumulasi penyusutan dan tidak ada pengakuan laba atau rugi atas aktiva yang dihentikan sebagian dari pengakuan laba atau rugi hanya pada saat semua aktiva dihentikan dari penggunaan. Sebagai contohnya yaitu perusahaan membeli tiga buah jenis aktiva sebagai berikut : Aktiva A B C Harga perolehan Rp 12.000.000,Rp 7.000.000,Rp 6.000.000,Rp 25.000.000,- Nilai residu Rp 2.000.000,Rp 1.000.000,Rp 0,Rp 3.000.000,- Umur 4 th 3 th 4 th Penyusutan Rp 2.500.000,Rp 2.000.000,Rp 1.500.000,Rp 6.000.000,- Apabila perusahaan menggunakan metode garis lurus dalam menghitung penyusutan, maka tarip penyusutan tiap tahunnya adalah = Rp 6.000.000,00 / Rp 25.000.000,00 = 24 % Pemberhentian dan Penggantian Perusahaan yang mengakui biaya apabila aktiva tersebut di dihentikan atau diganti. Dengan menggunakan metode pemberhentian, maka harga perolehan aktiva lama dikurangi dengan nilai residu adalah beban biaya apabila aktiva tersebut dihentikan dari pemakaian. Sedangkan dengan metode penggantian, harga perolehan aktiva baru dikurangi dengan nilai residu aktiva lama apabila ada pembelian baru. Apabila tidak ada pemberhentian atau penggantian, maka ada pembebanan biaya. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 45 Sistem Persediaan Sistem persediaan digunakan dalam kondisi dimana terdapat sejumlah besar aktiva yang harganya relative murah , misalnya peralatan di perusahaan, sendok di restoran. Perhitungan biaya penyusutan tiap tahunya dengan cara mengalikan jumlah unit pada akhir tahun dengan harga penggantinya. Metode ini pada dasarnya kurang sisitematis dan tidak rasional untuk alokasi biaya. PENYUSUTAN UNTUK SEBAGIAN PERIODE Dalam pembahasan penyusutan sebelumnya dengan anggapan bahwa aktiva dibeli pada awal bulan atau tahun dan penghentian pada akhir periode akuntansi. Dengan demikian perhitungan penyusutan kurang memperhatikan kecermatan karena dilakukan dengan menggunakan estimasi. Dalam perhitungan penyusutan dengan menggunakan sebagian periode ada tiga alternatif yang sering digunakan dalam praktek yaitu : 1. Penyusutan dihitung satu bulan yang terdekat. Aktiva yang dibeli sebelum tanggal 15 dari suatu bulan, maka aktiva tersebut dapat dianggap telah dimiliki selama satu bulan penuh. Sedangkan aktiva yang dibeli setelah tanggal 15, maka aktiva dianggap tidak dimiliki dalam bulan pembelian. Demikian pula aktiva yang dijual sebelum tanggal 15, dianggap tidak dimiliki selama satu bulan penuh dan jika dijual setelah tanggal 15 dapat dianggap dimiliki satu bulan penuh. 2. Penyusutan dihitung satu tahun yang terdekat. Pembelian aktiva yang dilakukan sebelum pertengahan tahun dianggap telah dimiliki satu tahun atau penyusutan satu tahun penuh dan aktiva yang dibeli setelah pertengahan tahun tidak dihitung penyusutan pada tahun yang bersangkutan. 3. Penyusutan dihitung 50 % dari seluruh aktiva yang dibeli dan yang dijual. Metode ini menganggap bahwa aktiva yang dibeli dan dijual dalam tahun fiscal semuanya dibeli dan dijual pada pertengahan tahun fiskal. PERUBAHAN DAN KOREKSI PENYUSUTAN Metode penyusutan yang telah dipilih harus digunakan secara konsisten tiap periodenya oleh perusahaan, namaun demikian tidak menutup kemungkinan terjadi perubahan metode penyusutan seperti yang dijelaskan dalam PSAK No. 17 para 14. Perubahan pilihan metode penyusutan kemungkinan dapat terjadi karena beberpa alasan yaitu : 1. Perubahan perkiraan nilai residu atau masa manfaat atas aktiva yang dimiliki saat ini. 2. Koreksi atas perhitungan penyusutan yang telah dilakukan dan sebagai konsekwensinya laba ditahan mengalami koreksi tambah atau kurang. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 46 DEPLESI Deplesi berhubungan habisnya sumber alam atau barang tambang sebagai aktiva yang dimiliki dan pengurangan atas nilai atau harga perolehan. Sumber alam atau barang tambang tersebut dapat berupa hutan kayu, batu bara atau minyak bumi yang disebut dengan aktiva yang habis terbuang dan didepelsi pada saat sumber alam tersebut di ambil. Penentuan harga perolehan sumber alam pada prinsipnya sama dengan yang digunakan untuk aktiva tetap. Secara umum harga perolehan sumber alam dapat terdiri dari semua pengeluaran yang berhubungan dengan pengeluaran untuk memperoleh ijin penguasaan lahan sumber alam dan biaya pengembangan. Perhitungan deplesi menggunaan metode jumlah yang yang diproduksi (units-of-output) lebih logis daripada metode yang mendasarkan pada waktu. Sedangkan biaya untuk perbaikan lingkungan dalam rangka mempersiapkan tanah untuk berbagai penggunaan sebaiknya dianggap sebagai nilai residu. Persamaan deplesi adalah : Deplesi Harga perolehan Nilai residu Jumlah kandungan sumber alam Apabila suatu perusahaan membeli tanah yang diperkirakan mengandung batu bara sebanyak 1.500.000 ton dengan harga Rp 3.150.000.000,- dan setelah selesai digali nilai tanahnya adalah Rp 150.000.000,-. Untuk tahun pertama perusahaan dapat menggali batu bara sebanyak 300.000 ton, maka perhitungan deplesinya adalah sebagai berikut : Deplesi Rp 3.150.000. 000,- Rp 150.000.00 0,1.500.000 ton Deplesi = Rp. 2.000,- per ton Dengan demikian deplesi untuk tahun pertama = 300.000 ton x Rp 2.000,= Rp 600.000.000,00 Jurnal yang diperlukan untuk tahun pertama adalah Deplesi Akumulasi deplesi Rp 600.000.000,Rp 600.000.000,- PERTANYAAN 1. Jelaskan tentang perbedaan antara penyusutan dan deplesi serta amortisasi ! 2. Sebutkan macam-macam metode penyusutan yang ada dan jelaskan perbedaannya ! 3. Dalam memilih metode penyusutan yang akan digunakan sebaiknya faktor-faktor apa saja yang perlu dipertimbangkan ? Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 47 4. Apakah metode penyusutan yang telah dipilih oleh perusahaan dapat dirubah. Jelaskan ! LATIHAN 1. PT Swara pada awal tahun 2004 membeli satu uni mesin dengan harga Rp 416.000.000,- dengan nilai residu Rp 20.000.000,-. Diperkiraan mesin tersebut dapat digunakan selama 10 tahun atau 72.000 jam dan dapat memproduksi 264.000 unit. Pada tahun 2004 perusahaan menggunakan mesin tersebut selama 6.000 jam dan hasil produksi 20.000 unit. Hitunglah penyusutan untuk tahun 2004 dengan menggunakan metode garis lurus, jam kerja mesin dan hasil produksi serta jurnal yang diperlukan ! 2. Perusahaan yang memproduksi makanan mencatat pembelian mesinnya dengan cara kelompok dan pembelian yang telah dilakukan pada awal tahun 2004 adalah sebagai berikut : Kelompok Mesin A B C D Harga Perolehan Rp 34.000.000,Rp 36.000.000,Rp 20.000.000,Rp 9.000.000,- Nilai Residu Rp Rp Rp Rp 4.000.000,2.000.000,2.000.000,1.000.000,- Umur 15 tahun 10 tahun 10 tahun 5 tahun Hitung : a. Beban penyusutan per tahunnya b. Persentase tarip penyusutan per tahun c. Umur aktiva secara kelompok 3. PT TDD pada awal tahun 2003 mencatat pembelian tanah dan bangunan sebagai berikut : Debet 10 Januari 15 Januari 10 Oktober 14 Oktober Harga perolehan tanah Biaya meratakan tanah Kontrak membangun rumah Pengeluaran lain-lain untuk membangun Jumlah Debet Rp 37.000.000,Rp 5.000.000,Rp 160.000.000,Rp 12.000.000,Rp 214.000.000,- Penjualan sisa pembongkaran bangunan Penyusutan tahun 2003 Jumlah Kredit Saldo Perkiraan Tanah dan Bangunan per 31 Des 2004 Rp 4.000.000,Rp 10.500.000,Rp 14.500.000,Rp 199.950.000,- Kredit 31 Maret 31 Des Perhitungan penyusutan yang telah dilakukan oleh perusahaan salah yaitu Rp 214.000.000,- – Rp 4.000.000,- = Rp 210.000.000,- x 5 % = Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 48 Rp 10.050.000,- dan jumlah tersebut telah dicatat dalam perkiraan Biaya Penyusutan. Diminta : a. Buatlah jurnal koreksi pencatatan aktiva dan biaya penyusutan per 31 Desember 2003 dengan anggapan umur bangunan 20 tahun dan metode penyusutan yang digunakan garis lurus (straight-line method) b. Hitung biaya penyusutan pada 31 Desember 2003 dengan menggunakan : (1) metode jumlah angka tahun (sum-of-theyears’-digits method) dan (2) metode saldo menurun ganda (double-declining balance method) 4. PT Satelit telah membeli peralatan pada 10 Januari 2000 dengan harga Rp 720.000.000,-. Jenis peralatan tersebut dikembangkan secara terus menerus sehingga perusahaan menentukan umur perlatannya hanya 5 tahun agar tidak ketinggalan jaman. Metode penyusutan yang digunakan garis lurus dan taripnya adalah sebesar 20 % per tahun. Pada tanggal 30 Juni 2002 ada tambahan peralatan dengan harga Rp 80.000.000,- dan pada tahun 2002 perusahaan melakukan penyusutan dengan tariff sebesar 20 % . Pada akhir tahun 2003 umur mesin diperkirakan masih 6 tahun lagi dan biaya pembongkaran Rp 20.000.000,- serta nilai residunya Rp 3.500.000,Diminta : a. Dengan menggunakan anggapan bahwa penyusutan atas dasar perkiraan umur peralatan yang telah direvisi, maka buatlah jurnal penyusutan untuk tahun 2002. b. Buatlah jurnal koreksi penyusutan untuk tahun 2000 dan 2001 5. PT Oskadon menggunakan metode penyusutan berdasarkan jenis (group depreciation method) atas kendaraan yang dimiliki untuk digunakan oleh para salesman. Umur penggunaan kendaraan diperkirakan 4 tahun dengan nilai taksiran ditukar 20 % dari harga perolehan. Pembelian kendaraan dilakukan dengan cara tunai sebagai berikut : Pembelian Tahun 2001 2002 2003 2004 Jumlah Harga Beli 15 8 3 10 157.500.000 91.200.000 36.000.000 120.000.000 Dikurangi : Cadangan pertukaran Tahun Jumlah Harga pembelian 3 10 2001 2001 15.000.000 18.000.000 Diminta : membuat jurnal pembelian, pertukaran kendaraan dan penyusutan tahun 2001 sampai dengan 2004 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 49 BAB 5 AKTIVA TETAP TIDAK BERWUJUD PENGERTIAN Untuk tujuan akuntansi, klasifikasi aktiva tetap tidak berwujud menunjuk pada aktiva non fisik seperti paten, hak cipta, faransis, hak sewa guna, goodwill dll. Aktiva tetap tidak berwujud pada umumnya berkaitan dengan keputusan hokum atau perjanjian kerjasama yang secara fisik tidak dapat dibuktikan. Pada dasarnya aktiva tetap berwujud dan aktiva tetap tidak berwujud mempunyai kesamaan antara lain yaitu (a) dimiliki untuk digunakan dan bukan untuk dijual, (b) mempunyai umur kegunaan lebih dari satu tahun, (c) mempunyai peran dalam memperoleh pendapatan bagi pemiliknya dan (d) dalam periode pemilikan diharapkan perusahaan memperoleh manfaat. Sedangkan aktiva tetap tidak berwujud terdapat tambahan karakteristik yang dapat membedakan dengan aktiva tetap berwujud yaitu (a) aktiva tersebut mempunyai ketidakpastian dimasa depan yang cukup besar dalam menciptakan manfaat bagi perusahaan, (b) nilainya sangat berflunktuatif karena sangat tergantung pada kondisi persaingan, (c) hanya mepunyai nilai untuk perusahaan tertentu dan (d) goodwill dan aktiva tetap tidak berwujud yang mempunyai kegunaan tidak terbatas adalah bukan pengeluaran. PENILAIAN AKTIVA TETAP TIDAK BERWUJUD Seperti aktiva yang lain, penilaian aktiva tidak berwujud dengan dasar harga perolehan. Nilai akitva tetap tidak berwujud akan dihapuskan selama masa manfaat dan akan dibebankan dalam pendapatan selama periode yang menerima manfaat. Klasifikasi dari aktiva tetap tidak berwujud tergantung pada cara memperolehnya yaitu dengan cara membeli dari pihak luar atau dikembangkan sendiri oleh perusahaan. Dengan klasifikasi tersebut maka akan terdapat dua alternatif yaitu membeli dan mengembangkan sendiri. Apabila aktiva tetap tidak berwujud diperoleh dengan cara membeli dapat dibedakan menjadi dua yaitu : a. Aktiva tetap tidak berwujud yang dapat diidentifikasi seperti paten (umurnya terbatas) dan merk dagang. (umurnya tidak terbatas Harga perolehan dari aktiva tersebut adalah seluruh pengeluaran yang berhubungan dengan aktiva tersebut dikapitalisasi misalnya pengeluaran untuk mendesain gambar, biaya perijinan dan konsultan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 50 hukum, biaya pendaftaran dan lain-lain. Namun dapat terjadi bahwa aktiva tersebut diperoleh dengan cara pertukaran dengan aktiva non moneter, sehingga harga perolehannya berdasarkan nilai wajar atas aktiva yang ditukar. b. Aktiva tetap tidak berwujud yang tidak dapat diidentifikasi dan umurnya terbatas seperti goodwill. Sedangkan aktiva tetap tidak berwujud yang diperoleh dengan cara mengembangkan sendiri dapat menimbulkan permasalahan dalam membedakan pengeluaran biaya dan pengeluaran modal, sehingga ada beberapa kesepakatan yaitu : a. Apabila biaya riset dan pengembangan dapat di tunjukkan dalam suatu proyek yang khusus, maka semua pengeluaran dapat dikapitaliasi dalam aktiva tetap tidak berwujud. b. Pengeluaran biaya riset dan pengembangan yang tidak bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan perusahaan dimasa depan, maka pengeluaran itu dibebankan sebagai biaya sesuai dengan fungsinya, misalnya bagian penjualan, bagian produksi dan lain-lain. Dalam hal ini dapat digunakan alternatif yaitu dikapitalisasi dan diamortisasi selama umur manfaat dari proyek tersebut. AMORTISASI AKTIVA TETAP TIDAK BERWUJUD Amortisasi merupakan proses penghapusan aktiva tetap tidak berwujud. Namun demikian tidak semua aktiva tetap tidak berwujud dapat diamortisasi dan kategori yang membedakan yaitu : a. Umurnya terbatas. Aktiva tetap berwujud pada dasarnya dapat mempunyai umur yang terbatas karena adanya peraturan dari pemerintah atau undang-undang., misalnya hak paten, hak cipta, leases, fransis dan goodwill. Untuk aktiva tersebut diamortisasi selama umur kegunaannya seperti halnya penyusutan untuk aktiva tetap berwujud. Metode yang sering digunakan adalah garis lurus dan metode menurun dapat digunakan apabila ada bukti bahwa untuk periode yang akan datang terjadi penurunan manfaat yang besar. b. Umurnya tidak terbatas. Goodwill dan merk dagang merupakan aktiva tetap tidak berwujud yang tidak mempunyai keterbatasan manfaat. Namun demikian untuk memenuhi tujuan prinsip akuntansi aktiva tersebut harus dihapus dalam jangka waktu maksimal 40 tahun. Disamping itu penghapusannya tidak boleh dilakukan sekaligus hanya pada saat periode terjadinya pengeluaran AKTIVA TETAP TIDAK BERWUJUD TERIDENTIFIKASI Aktiva tetap tidak berwujud yang dapat diidentifikasi adalah nyata dan hak kekayaan yang dapat dipisahkan. Aktiva tersebut daapt dibedakan dengan yang lain misalnya goodwill yang tidak dapat dilihat secara nyata dan harus menggunakan perlakuan khusus dalam akuntansi. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 51 Paten Pemilik paten mempunyai hak untuk memproduksi dan menjual atau mengontrol hasil temuannya selama 17 – 20 tahun sejak tanggal berlakunya. Paten tidak dapat diperbaiki, akan tetapi paten baru dapat diperoleh dengan dasar pengembangan paten yang sudah ada. Paten mempunyai nilai apabila perusahaan dapat memperoleh pendapatan yang lebih besar dengan cara menjual produk dengan harga yang lebih tinggi, memproduksi dengan biaya lebih rendah atau memproduksi produk yang pesaingnya masih relatif sedikit. Dalam praktek sering terjadi bahwa paten akan mengalami penurunan manfaat sebelum habis umur kegunaannya karena adanya penemuan baru yang sejenis dan bukan pelanggaran, penggunaan tekhnologi yang lebih modern atau adanya perubahan permintaan produk Sebagai contoh, misalnya sebuah perusahaan membeli hak paten seharga Rp 50.000.000,- dengan masa kegunaan selama 10 tahun. Jurnal yang perlukan saat pembelian dan amortisasi adalah sebagai berikut : Paten Rp 50.000.000,Kas Biaya Amortisasi atau Biaya Overhead Pabrik Akumulasi deplesi Rp 50.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,- Hak Cipta Hak cipta merupakan hasil karya seni atau kreasi seni seperti buku, musik atau film dan pemiliknya dapat mepublikasikan, menjual dan mengontrol selama 28 tahun serta dapat diperbarui untuk 28 tahun lagi. Namun di Amerika, pemilik dapat mengontrol selama masa hidupnya ditambah dengan 50 – 70 tahun. Amortisasi daripada hak cipta adalah selama umur aktiva tersebut dengan menggunakan garis lurus atau dengan dasar aktivitas sesuai dengan manfaat yang diterima. Merk Dagang Merk dagang pada dasarnya merupakan nama, simbol, label atau design yang dapat memberikan arti khusus bagi pemiliknya yang disebabkan karena promosinya berpengaruh besar pada reputasi produk dan keyakinan konsumen. Merk dagang dapat dibuat sendiri atau dibeli dan harga perolehannya adalah sebesar pengeluaran yang terkait. Sedangkan masa keguanaannya dapat tidak terbatas, namun jika ada rencana untuk dilakukan perubahan dimasa depan, maka merk dagang dihapus selama masa kegunaannya. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 52 Franchises Franchises adalah suatu perjanjian yang melibatkan dua belah pihak dalam hal biaya komisi ( „fee“), dimana satu pihak atau disebut franchisor yaitu yang memberi hak kepada pihak lainnya atau disebut franchises untuk menggunakan fasilitas , produk atau jasa. Pihak yang terkait dalam perjanjian kerjasama tersebut dapat melibatkan antara pihak pemerintah dan swasta dimana, misalnya pemerintah menyediakan fasilitas pelabuhan dan pihak swasta yang menyediakan kapal. Disamping itu dapat terjadi antara pihak swasta dengan swasta terutama bisnis restoran, seperti KFC dan Mc Donald telah tersebar luas diseluruh dunia termasuk di Indonesia. Pada umumnya franchises mempunyai umur manfaat sesuai dengan perjanjian yang dibuat, sehingga amortisasi franchises sesuai dengan pengeluaran dan umur manfaatnya. Program Komputer (Perangkat Lunak Komputer) Dalam perkembangan busnis saat ini sudah banyak perusahaan membangun peranti lunak untuk pengolahan data dan meningkatkan efisiensi dan pengeluarannya dikapitalisasi sesuai dengan FASB statement No. 86 tahun 1985 yang menyatakan bahwa akuntansi untuk perolehan piranti lunak komputer yang dijual, disewa atau dipasarkan. Dalam pembuatan pirogram komputer yang akan dipasarkan ada tiga tahapan yaitu (a) biaya riset dan pengembangan yang meliputi biaya perencanaan, perancangan dan uji coba, (b) biaya uji kelayakan teknis yaitu sebelum program tersebut dipasarkan kepada konsumen diperlukan biaya lebih lanjut yaitu pengujian, pembuatan master dikapitalisasi sebagai biaya produksi dan (c) biaya pengemasan yaitu pengeluaran biaya setelah pengujian kelayakan untuk dipasarkan, maka ada pengeluaran untuk pembuatan label dan kemasan di bebankan sebagai biaya persediaan. Dari ketiga tahapan tersebut yang dikapitalisasi sebagai biaya produk adalah biaya uji kelayakan yang akan diamortisasi selama masa manfaatnya. Biaya Pendirian Pada saat didirikan perusahaan, terdapat berbagai macam pengeluaran seperti biaya pengurusan ijin (akte notaris dan pendaftaran ke Menteri Kehakiman atau di Pemda setempat), biaya promosi dan lain-lain. Semua pengeluaran biaya tersebut sangat penting untuk kelancaran usaha dan sekaligus menentukan umur kehidupan perusahaan sehingga biaya tersebut dapat dianggap sebagai aktiva tetap tidak berwujud yang mempunyai umur manfaat. Leasehold Leases adalah aktiva tetap tidak berwujud karena merupakan hak untuk menggunakan / menyewa aktiva yang dimiliki oleh lessor selama suatu Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 53 periode waktu tertentu dan biaya secara periodik tertentu. Pengeluaran biaya atas ativa yang disewa menjadi beban dari lessee dan diamortisasi selama sisa umur sewa. Beban Ditangguhkan Beban ditangguhkan merupakan pengeluaran yang jumlahnya relatif material dan diharapkan dapat mempunyai manfaat ekonomi bagi perusahaan. Pengeluaran yang ditangguhkan, misalnya biaya pemindahan / pengaturan kembali aktiva dan biaya eksplorasi dan biaya tersebut diamortisasi selama umur ekonomi. GOODWILL Goodwill termasuk dalam aktiva yang tidak dapat diidentifikasi dan dalam akuntansi goodwtill dapat terjadi karena pengembangan internal perusahaan atau karena tranaksi pembelian. Goodwill yang berhubungan dengan pengembangan internal prusahaan dapat berupa kelebihan yang dimiliki oleh perusahaan misalnya karyawan dan lokasi perusahaan. Suatu perusahaan kemungkinan mempunyai banyak karyawan senior yang berbakat dan keahlian yang masih jarang dimiliki oleh perusahaan lain sehingga dapat meningkatkan pendapatan perusahaan. Di samping itu perusahaan juga mempunyai lokasi yang strategis yaitu dekat dengan bahan baku sehingga biaya transportasi lebih murah atau dekat dengan konsumen sehingga biaya distribusi murah dan akhirnya dapat meningkatkan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Dengan demikian, goodwill dapat dianggap mempunyai kemampuan untuk meningkatkan pendapatan di atas standar normal. Keahlian karyawan tersebut dapat menjadi modal intelektual yang tidak dapat teridentifikasi dan penilaiannya sangat sulit yang akhirnya dapat menjadi kurang realistis Sedangkan goodwill yang diperoleh karena transaksi pembelian adalah perbedaaan antara nilai perusahaan secara keseluruhan dengan jumlah penilaian atas aktiva yang dapat diidentifikasi atau merupakan nilai residu atas kelebihan nilai dari aktiva yang tidak teridentifikasi.Sebagai contohnya, misalnya PT HMSP membeli PT Alfa dengan tunai sebesar Rp 500.000.000,- dan wajar aktiva yang dapat diidentifikasi dari PT Alfa adalah Rp 700.000.000,- dengan nilai wajar hutang Rp 300.000.000,maka PT HMSP mencatat akuisisinya sebagai berikut : Aktiva yang dapat diidentifikasi Goodwill Hutang Kas Rp 700.000.000,Rp 100.000.000,Rp 300.000.000,Rp 500.000.000,- Dalam mencatat akuisisi dapat dilakukan dengan mendebet atau mengkredit masing-masing akun dari aset yang dapat diidentifikasi dan hutang berdasarkan nilai wajar saat ini. Contoh diatas terlihat adanya goodwill yang positif karena pembayaran melebihi nilai bersih dari aktiva Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 54 dan dapat terjadi pembayaran lebih kecil daripada nilai bersih aktiva yang diterima sehingga terjadi goodwill negatif. Penilaian goodwill Secara umum perusahaan yang akan dijual ditawarkan dengan harga yang lebih besar dari nilai buku atas aktiva bersih yang dimiliki. Hal ini terjadi karena (a) nilai buku yang terdapat dalam neraca menggunakan data historis, sedangkan nilai sekarang adalah menggunakan harga wajar sehingga terdapat perbedaan dan (b) aktiva tidak berwujud yang dapat diidentifikasi kemungkinan langsung dibebankan dalam biaya seperti biaya riset dan pengembangan. Penilaian goodwil pada dasarnya dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu dari nilai bersih aktiva perusahaan dan kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan abnormal. Cara pertama : nilai goodwil dapat diketahui dengan cara menilai kemungkinan suatu perusahan dapat dibeli dibandingkan dengan nilai bersih aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Nilai bersih aktiva suatu perusahaan diperoleh dengan cara mengurangi jumlah aktiva dengan seluruh utang yang ada. Hal ini akan mengalami kesulitan karena kemungkinan ada aktiva tetap berwujud yang tidak terindenfikasi dalam laporan keuangan perusahaan yang akan diakuisisi. Cara kedua: penilaian goodwil dilakukan. Dengan pendekatan keuntungan abnormal selanjutnya dapat diperkirakan nilai goodwill. Sebagai contoh, misalnya PT HMSP pada awal tahun 2004 merencanakan mengakuisisi PT Alfa dan neraca akhir Desember 2003 sebagai berikut : Aktiva lancar Aktiva lainnya Rp 300.000.000,Rp 400.000.000,- Hutang lancar Hutang jk. panjang Modal pemilik Rp 700.000.000,- Rp Rp Rp Rp 250.000.000,200.000.000,250.000.000,700.000.000,- Informasi lain atas laporan keuangan tersebut yaitu (a) nilai wajar dari aktiva lainnya adalah Rp 450.000.000,- karena harga tanah ada kenaikan dan yang dineraca atas dasar harga histories dan (b) perusahaan telah mengembangkan piranti lunak dengan biaya sebesar Rp 50.000.000,- tapi tidak dicatat sebagai aktiva. Pada tahun 2004 PT Alfa diperkirakan akan memperoleh keuntungan sebesar Rp 60.000.000,- dan tingkat keuntungan investasi dengan kondisi normal atas industri ritel per tahun adalah sebesar 10 %. Atas dasar informasi tersebut dapat ditentukan nilai wajar dari PT Alfa yaitu Nilai wajar perusahaan Keuntungan Tingkat pengembalian investasi Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 55 Rp 60.000.000,- 10 % = Rp. 600.000.000,00 Perhitungan nilai goodwill adalah sebagai berikut : Nilai wajar perusahaan diperkirakan sebesar Dikurangi - Nilai buku aktiva bersih (ekuiti) - Kelebihan nilai wajar aktiva atas nilai buku (Rp 450.000.000,- – Rp 250.000.000,-) - Nilai wajar aktiva tetap tidak berwujud yang tidak dicatat Rp 600.000.000,Rp 250.000.000,Rp 200.000.000,Rp 50.000.000,(Rp 500.000.000,-) Nilai aktiva bersih yang dapat diidentifikasi atau Goodwill Rp 100.000.000,- Tahapan menentukan nilai goodwill Dalam rangka membeli suatu perusahaan dengan menggunakan konsep keuntungan kaitannya dengan penentuan nilai goodwill, maka ada beberapa tahapan yang perlu dipertimbangkan yaitu : 1. memprediksi keuntungan rata-rata masa yang akan datang berdasarkan aktiva bersih yang dapat diidentifikasi 2. memprediksi tingkat pengembalian investasi atas dasar aktiva bersih yang dapat diidentifikasi 3. menaksir nilai wajar saat ini atas aktiva bersih yang teridentifikasi 4. menghitung kelebihan keuntungan tahunan 5. memprediksi lama kelebihan keuntungan tahunan 6. menghitung nilai sekarang atas prediksi kelebihan keuntungan tahunan 7. menghitung harga beli atas perusahaan yang akan diakuisisi 8. menganalisis tingkat sensitivitas Berdasarkan kedelapan langkah tersebut, maka berikut ini dijelaskan aplikasi dari tahapan tersebut. Tahap 1 : Memprediksi keuntungan periode yang akan datang Untuk dapat membuat prediksi keuntungan yang akan diperoleh untuk beberapa tahun yang akan perlu mengevaluasi kondisi eksternal dan internal. Kondisi eksternal dapat mencakup perkembangan industri sejenis, kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dan industri, perkembangan teknologi, pesaing, selera konsumen dan lain-lain. Sedangkan kondisi internal dapat mencakup kebijakan manajemen, produktivitas karyawan dan kemampuan memperoleh keuntungan. Dalam hubungannya dengan kemampuan mendapatkan keuntungan beberapa tahun yang lalu perlu dianalisis mengenai : (a) perkembangan elemen pendapatan dan biaya di luar operasi dan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 56 pengaruh dari penggunaan prinsip akuntansi dan (b) kemungkinan adanya penyesuaian karena adanya perubahan penggunaan metode persediaan dan penyusutan serta amortisasi. Berikut ini contoh langkah untuk memprediksi keuntungan dengan menggunakan data 5 tahun yang lalu dari keuangan PT Alfa. Rata-rata keuntungan per tahun Rata-rata harga pokok penjualan Rata-rata biaya operasi Perkiraan kenaikan gaji Perkiraan kenaikan penyusutan dengan dasar nilai wajar Perkiraan kenaikan amortisasi Perkiraan biaya Perkiraan keuntungan yang diharapkan Perkiraan pajak penghasilan Keuntungan yang diharapkan per tahun Rp 1.000.000,Rp 430.000,Rp 300.000,Rp 80.000,Rp 30.000,- Rp 10.000,(Rp 850.000,-) Rp 150.000,Rp 40.000,Rp 110.000,- Dalam membuat proyeksi keuntungan yang akan diperoleh oleh perusahaan ada beberapa penyesuaian yaitu kenaikan gaji, penyusutan dan amortisasi agar dapat diperoleh hasil yang lebih akurat. Tahap 2 : Memprediksi tingkat keuntungan Menentukan tingkat keuntungan yang diharapkan atas rencana pembelian perusahaan pada aktiva yang dapat didentikasi berdasarkan resiko investasi dan alternatif investasi yang ada. Untuk tujuan tersebut, maka perlu melakukan analisis dengan cara melakukan penyesuaian nilai aktiva yang dapat diidentifikasi dan metode penentuan persediaan yang digunakan atas : (a) data keuangan perusahaan yang akan dibeli dan (b) mencari data laporan keuangan perusahaan yang sejenis. Apabila kedua langkah tersebut telah dilakukan diperbandingkan, maka dapat ditentukan tingkat keuntungan yang diharapkan, misalnya rata-rata tingkat keuntungannya adalah 10 % setelah pajak penghasilan. Tahap 3 : Menentukan nilai wajar saat ini atas aktiva bersih yang dapat diidentifikasi Pencatatan akuntansi umumnya mendasarkan pada data historis yang sudah pasti sangat berbeda dengan nilai wajar saat ini, misalnya harga bangunan 5 tahun yang lalu akan berbeda dengan harga pasar saat ini. Hal ini akan berakibat beban penyusutan dengan menggunakan harga saat ini akan menjadi lebih besar dibanding dengan menggunakan dasar harga historis. Demikian pula penggunaan penentuan nilai persediaan dengan metode LIFO akan berakibat nilai persediaan menjadi lebih kecil bila dibandingkan dengan nilai wajar saat ini terutama apabila harga barang cenderung naik. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 57 Berikut ini contoh penilaian kembali atas aktiva yang dapat diidentifikasi yang dimiliki oleh PT Alfa Nilai buku aktiva bersih yang dapat diidentifikasi Revaluasi nilai persediaan dengan metode FIFO Kenaikan cadangan piutang tak tertagih Revaluasi nilai wajar atas tanah, bangunan, kendaraan Nilai wajar pengembangan internal Nilai aktiva bersih teridentifikasi Rp 650.000,Rp 50.000,(Rp 40.000,-) Rp 250.000,Rp 40.000,Rp 950.000,- Tahap 4 : Menghitung kelebihsn keuntungan tahunan Besarnya kelebihan keuntungan tahunan dihitung dari prediksi keuntungan dimasa yang datang dikurangi dengan tingkat keuntungan normal dikalikan nilai aktiva bersih saat ini. Rata-rata tingkat keuntungan yang diharapkan – Tahap 1 Keuntungan dari nilai wajar = 10 % x Rp 960.000,Perkiraan kelebihan keuntungan tahunan Rp 110.000,Rp 95.000,Rp 15.000,- Tahap 5 : Memprediksi lama kelebihan keuntungan tahunan Setelah pembelian suatu perusahaan perlu diperkirakan lama kelebihan keuntungan tahunan atau keuntungan di atas normal dapat dicapai, karena masa depan penuh ketidakpastian. Dengan adanya perubahan tekhnologi kemungkinan keuntungan akan dapat ditingkatkan atau perhitungan yang dilakukan sebelumnya mudah untuk dicapai. Sebaliknya kemungkinan perusahaan tidak dapat memanfaatkan kesempatan dengan baik sehingga perkiraan keuntungan tidak tercapai yang akhirnya bahwa goodwill mengalami keterbatasan umur. Untuk kepentingan contoh di atas, PT Alfa diasumsikan kelebihan keuntungan tahunan akan berakhir setelah 10 tahun dibeli oleh PT HMSP. Tahap 6 : Menentukan nilai sekarang atas prediksi kelebihan keuntungan tahunan Hasil prediksi kelebihan keuntungan tahunan (goodwill) perlu dihitung nilai sekarangnya agar dapat mencerminkan kondisi saat ini. Perhitungannya adalah sebagai berikut : Prediksi kelebihan keuntungan tahunan Present value of annuity untuk jangka waktu 10 tahun (tahap ke 5) dan tingkat bunga 10 % (tahap 2) – lihat tabel Nilai sekarang atas prediksi kelebihan keuntungan tahunan Rp 15.000,- x 6,144567 Rp 92.168,51 Tahap 7 : Menentukan nilai keseluruhan perusahaan Nilai perusahaan merupakan nilai wajar seluruh aktiva yang dapat diidentifikasi ditambah dengan nilai sekarang atas kelebihan keuntungan tahunan atau goodwill. Dengan demikian nilai keseluruhan perusahaan PT Alfa adalah Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 58 Nilai wajar aktiva bersih teridentifikasi Nilai sekarang atas prediksi kelebihan keuntungan tahunan Nilai perusahaan keseluruhan Rp 950.000,Rp 92.168,51 Rp 1.042.168,51 Tahap 8 : Menganalisis tingkat sensitivitas Dalam rangka mempertimbangkan nilai perusahaan yang akan dibeli kelebihan keuntungan tahunan yang akan diperoleh dimasa depan, nilai wajar aktiva yang dapat diidentifikasi, tingkat pengembalian investasi tahunan dan lama menikmati kelebihan keuntungan. Untuk melakukan penawaran atas perusahaan yang akan dibeli perlu dipertimbangkan tingkat sensitivitas atau resiko investasi yang nantinya dapat berpengaruh pada tingkat pengembalian investasi tahunan yang akan diperoleh dimasa depan. Apabila tingkat resiko perusahaan yang akan dibeli semakin besar, maka tingkat pengembalian investasinya harus besar agar investasi dapat cepat kembali dan sebaliknya resiko investasi kecil, maka tingkat pengembalian dapat kecil. Dari contoh di atas, misalnya tingkat pengembalian normal 10 %, karena PT Alfa bisnisnya mempunyai resiko yang cukup besar maka tingkat pengembaliannya dinaikkan menjadi 20 %, maka goodwillnya menjadi Rp 62,887.50 atau (Rp 15.000,- x 4,1925) PERTANYAAN a. Apa yang dimaksud dengan aktiva tetap tidak berwujud dan sebutkan jenis-jenisnya ? b. Jelaskan perbedaan antara aktiva tetap berwujud dengan aktiva tetap tidak berwujud ! c. Berapa umur dari masing-masing aktiva tetap tidak berwujud ? d. Jelaskan tentang tahapan pembuatan program komputer atau piranti lunak dan klasisifikasi perkiraan yang ada kaitannya dengan tahapan pembuatan tersebut ! e. Jelaskan apa yang dimaksud dengan goodwill ! f. Jelaskan langkah-langkah untuk menentukan goodwill ! LATIHAN 1. Pada awal tahun 2003 PT Mobilindo membeli paten dengan harga Rp 55.400.000,- dengan sisa umur 12 tahun dan diperkirakan dapat digunakan untuk jangka waktu 8 tahun. Pada awal tahun 2006 perusahaan membayar Rp 6.000.000,- kepada penemunya sebagai ganti rugi atas klaim pelanggaran penggunaan paten yang telah dilakukan oleh perusahaan. Buatlah jurnal yang diperlukan (a) harga perolehan paten, (b) pembayaran denda sebesar Rp 6.000.000,- dan (c) amortisasi paten tahun 2006. 2. Perusahaan A sedang melakukan negosiasi pembelian perusahaan B Rata-rata keuntungan yang diperoleh perusahaan B beberapa tahun yang lalu adalah Rp 50.000.000,- per tahun. Menurut manajer Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 59 perusahaan A memprediksi bahwa keuntungan perusahaan B dapat ditingkatkan menjadi 30 %. Sedangkan keuntungan normal perusahaan B tiap tahunnya adalah Rp 40.000.000,-. Berdasarkan data tersebut saudara diminta untuk menentukan besarnya goodwill bila (a) goodwill akan sebesar jumlah kelebihan keuntungan di atas normal yang diterima selama 5 tahun dan (b) kelebihan keuntungan di atas normal dikapitalisasi sebesar 12,5 %. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 60 BAB 6 UTANG JANGKA PANJANG PENGANTAR Utang yang tidak membutuhkan dana dari aktiva lancer disebut dengan utang jangka panjang dan dalam neraca dicatat secara terpisaha dengan utang lancar. Secara umum utang jangka panjang dapat meliputi utang obligasi, utang wesel jangka panjang, utang hipotik dan utang jangka panjang lainnya. Utang jangka panjang biasanya didasarkan pada perjanjian yang dibuat secara rinci tentang hak dan kewajiban yaitu yang meminjam dan memberi pinjaman. Isi perjanjian dapat berupa provisi yang dihitung dari jumlah pinjaman, tingkat bunga, jatuh tempo pelunasan kewajiban, tanggal pembayaran bunga, janji untuk menjamin keamanan pinjaman dan berbagai ketentuan untuk peminjam. Pinjaman agar dapat terjamin aman terjamin, peminjam dapat memberi agunan yang berupa harta tidak bergerak seperti tanah, bangunan dan mesin. ALASAN MENGELUARKAN UTANG JANGKA PANJANG Dalam rangka memenuhi kebutuhan dana untuk perluasan usaha atau modal kerja, perusahaan dapat memperoleh dari beberapa sumber. Sedangkan alasan mengenai perusahaan memilih menerbitkan utang jangka panjang adalah : a. Tidak mempunyai alternatif sumber pembiayaan yang lain. Hal ini terjadi karena perusahaan mungkin menganggap bahwa utang jangka yang paling rendah resikonya. b. Utang jangka panjang dianggap berbunga lebih rendah: c. Tidak ada hak suara bagi yang meminjamkan dana UTANG OBLIGASI Obligasi merupakan surat berharga tanda utang dari pihak yang menerbitkannya (issuer) dan investor (holder) sebagai pembelinya. Penerbit setuju untuk membayar obligasi sebesar nilai nominal saat obligasi jatuh tempo dan membayar bunga secara periodik dengan tingkat bunga tertentu dari nominal. Obligasi dapat dibedakan menjadi delapan jenis yaitu : 1. Penerbitnya 2. Sistem pembayaran bunga Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 61 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jaminan yang disediakan oleh penerbit obligasi Tempat penerbitan atau tempat perdagangan Peringkat (Rating) Callable bonds (pembelian kembali) Konversi (convertible bonds) Obligasi berseri (Serial bonds) Penerbit Obligasi Di Indonesia obligasi dapat diterbitkan oleh beberapa pihak yaitu (a) Pemerintah, (b) Perusahaan milik negara – BUMN, misalnya PLN, Pegadain dan lain-lain, dan (c) Perusahaan swasta, misalnya PT Citra Marga Nusaphala Persada, PT Astra Internasional dan lain-lain. Sistem Pembayaran Bunga Obligasi Bunga obligasi dapat menjadi salah satu instrument daya tarik bagi investor untuk membeli obligasi yang diterbitkan oleh penerbitnya. Sistem pembayaran bunga obligasi tiap perusahaan akan berbeda-beda yang dapat disebabkan oleh kemampuan keuangannya dan resiko bisnis perusahaan penerbit obligasi. Sistem pembayaran bunga obligasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu : a. Coupon Bond. Untuk jenis obligasi ini penerbit obligasi akan membayar bunga secara rutin, misalnya setiap tiga bulan, enam bulan atau satu tahun dan di obligasi tersebut terdapat bagian yang dapat disobek atau disebut dengan kupon obligasi yang digunakan untuk mengambil bunga oleh pemegang obligasi (Investor) . b. Zero Coupon Bond. Berbeda dengan coupon bond, jenis obligasi ini penerbit obligasi tidak akan akan membayar bunga secara rutin tapi akan bunga diberikan saat terjadi transaksi penjualan obligasi. Misalnya harga nominal obligasi Rp 5.000.000,- per lembar dan dijual dengan harga Rp 4.000.000,-. Jika obligasi telah jatuh tempo pihak penerbit akan membayar sebesar nilai nominalnya. Sedangkan besar kecilnya tingkat bunga yang diberikan oleh penerbit ada beberapa jenis yaitu : a. Bunga tetap (Fixed rate). Bunga obligasi dengan tingkat bunga yang tetap dan ditentukan pada saat penjualan serta tidak ada perubahan tingkat bunga sampai dengan obligasi jatuh tempo. b. Bunga mengambang (Floating rate bond). Besar kecilnya bunga tiap periodenya dapat berbeda-beda atau setiap kupon besarnya dapat tidak sama. Secara umum penentuan bunga obligasi di Indonesia biasanya berada di atas standar JIBOR (Jakarta Inter Bank Offering Rate) atau LIBOR (London Inter Bank Offering Rate) c. Bunga campuran (Mixed rate bond). Bunga obligasi jumlahnya dapat tetap dan mengambang. Biasanya bunga obligasi pada awal Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 62 periode dengan menggunakan ketentuan bunga tetap dan selanjutnya dengan menggunakan ketentuan bunga mengambang. Tempat penerbitan atau perdagangan obligasi Dilihat dari tempat penerbitan atau perdagangan obligasi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu (a) obligasi domestik (domestic bond) yaitu obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan / lembaga dalam negeri dan dipasarkan di dalam negeri, misal obligasi PLN hanya dijual di Indonesia, (b) obligasi asing (Foreign bond) yaitu obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan atau lembaga asing dan hanya dipasarkan di negara tertentu, Yankee bond diterbitkan dan dipasarkan hanya di Amerika Serikat dan (c) global bond yaitu obligasi yang dapat diperdagangkan dimanapun. Peringkat (Rating) Obligasi biasanya dilakukan evaluasi secara menyeluruh oleh suatu lembaga yang independen agar dapat membantu investor dalam mengambil keputusan berinvestasi. Di Amerika ada dua lembaga independen yang sudah dikenal yaitu Standar & Poor dan Moody’s serta hasil peringkat obligasi ada dua jenis yaitu (a) investment-grade bond yaitu obligasi yang dapat dikatakan layak untuk berinvestasi karena peringkatnya , missal AAA, AA, dan A atau Aaaa, Aa dan A dan (b) Noninvestment-grade bond, yaitu suatu obligasi yang tidak layak untuk dibeli karena bunga yang diberikan lebih tinggi, ada fasilitas ditarik kembali sebelum jatuh tempo. Callable feature (Pembelian kembali) Dilihat dari segi dapat atau tidak dapat dibeli kembali sebelum jatuh tempo, obligisi dapat dibedakan menjadi tiga yaitu (a). Freely callable bond yaitu obligasi yang dapat ditarik kembali oleh penerbitnya sebelum jatuh tempo apabila tingkat bunga obligasi lebih tinggi dari pada tingkat bunga yang berlaku umum. Untuk dapat menarik kembali obligasi yang telah beredar,maka penerbit memberikan konpensasi yang disebut dengan call agio. Sedangkan jumlah yang dibayarkan adalah nilai nominal dan call agio disebut dengan call price. (b). Noncallable bond yaitu obligasi yang tidak dapat dibeli kembali oleh penerbitnya sebelum jatuh tempo. (c). Deffered callable bond yaitu obligasi campuran antara freely dan noncallable terutama dengan batasan periode tertentu. Konversi (Convertible / Exchangeable bond) a. Convertible bond yaitu suatu obligasi yang dapat ditukar dengan saham yang dikeluarkan oleh penerbit obligasi atau saham perusahaan lain yang dimiliki oleh penerbit obligasi. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 63 b. Nonconvertible bond yaitu obligasi yang tidak dapat ditukar dengan saham kecuali pada saat jatuh tempo ditukar dengan nilai nominalnya. Obligasi berseri (Serial bonds) Obligasi yang dikeluarkan saat yang sama akan tetapi dalam pelunasan dilakukan secara bertahap dengan tanggal yang berbeda. PENJUALAN OBLIGASI Perusahaan yang menerbitkan obligasi biasanya menjual obligasinya tidak secara langsung kepada para pembeli tapi melalui penjamin (underwriter).dengan cara memberi komisi. Harga jual obligasi akan sangat tergantung pada ketentuan dari obligasi yang ditawarkan dan kondisi umum pasar obligasi, tingkat resiko obligasi dan harapan kondisi ekonomi. Yield (bunga efektif) adalah bunga pasar obligasi yang sesungguhnya terjadi dan besarnya dapat berbeda dengan yang tercantum dalam obligasi. Ada tiga alternatif yang mungkin dihadapi oleh perusahaan yang menjual obligasi yaitu : 1. Jika bunga efektif (yield) sama besarnya dengan bungai yang tertera dalam obligasi, maka pembeli obligasi akan membayar sebesar harga nominal atau obligasi dijual sebesar nominal. 2. Jika bunga efektif (yield) lebih besar dari bunga yang tertera dalam obligasi, maka pembeli akan membayar lebih kecil dari nilai nominal atau obligasi dijual dengan disagio. 3. Jika bunga efektif (yield) lebih kecil dari bunga yang tertera dalam obligasi, maka pembeli akan membayar lebih besar dari nilai nominal atau obligasi dijual dengan agio. Sebagai contohnya, apabila PT CMNP menerbitkan obligasi dengan nilai nominal Rp 10.000.000,- per lembar dijual dengan kurs 103 % (bunga efektif lebih kecil dari bunga yang tertera dalam obligasi) atau Rp 10.300.000,- sehingga ada agio sebesar Rp 300.000,00. Alternatif lain yaitu bila dijual dengan kurs 95 % (bunga efektif lebih besar daripada bunga yang tertera dalam obligasi) atau Rp 9.500.000,- sehingga ada diskon sebesar Rp 500.000,-. Berdasarkan alternatif tersebut di atas dapat diringkas sebagai berikut : Penjualan Obligasi Agio Nilai Nominal Disagio Yield dibandingkan Bunga selama umur obligasi Yield < Bunga obligasi Yield = Bunga obligasi Yield > Bunga obligasi Biaya bunga < Bunga yang dibayar Biaya bunga < Bunga yang dibayar Biaya bunga > Bunga yang dibayar Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 64 Pencatatan Penerbitan Obligasi Pada saat penjualan obligasi, perusahaan akan mencatat di kredit sebesar nilai nominal obligasi dalam rekening Utang Obligasi dan jika terjadi agio atau disagio dicatat dalam rekening terpisah. Sebagai contoh bila PT CMNP menjual obligasi dengan nilai nominal Rp 100.0000.000,- dengan kurs 102 %, maka pencatatan penjualan obligasi sebagai berikut : Kas (Rp 100.000.000,- x 102 %) Utang obligasi Agio – obligasi Rp 102.000.000,Rp 100.000.000,Rp 2.000.000,- Agio akan diamortisasi selama umur obligasi dan nilai buku obligasi adalah sebesar nilai nominal ditambah dengan agio yang belum diamortisasi. Dalam penjualan obligasi dapat juga menggunakan dasar perhitungan tingkat bunga efektif (bunga menurut permintaan yang ada di pasar obligasi). Dengan contoh di atas, misalnya obligasi PT CMNP dengan niilai nominal Rp 100.000.000,- dan yang dibayar kembali dalam jangka waktu 5 tahun dengan bunga 7 % yang dibayar tiap semester atau Rp 3.500.000,(Rp 100.000.000,- x 7 % x 6 bulan / 12 bulan). Apabila bunga efektif yang berlaku di pasar adalah 6 % atau 8 %, maka hasil penjualan yang akan diterima oleh penerbit obligasi adalah sebagai berikut : Present value dari nominal = Nominal x PV i % / umur obligasi Present value of Annuity = Bunga x PV of A i % efektif / umur dari 6 bulan Jumlah yang diterima dari penjualan obligasi = Rp A = Rp B = Rp A + B a. Tingkat bunga efektif 6 % - Present value dari Rp 100.000.000,Jatuh tempo 5 tahun dan bunga 6 % = Rp 100.000.000,- x 0,7473 = Rp 74.730.000,00 - Present value dari bunga Rp 3.500.000,Tiap 6 bulan untuk 5 tahun dengan = Rp 3.500.000,- x 8,5302 = Rp 29.855.709,93 bunga efektif 6 % (3 % per semester) Hasil penjualan obligasi = Rp 104.585.709,93 Nilai nominal obligasi = Rp 100.000.000,00 Agio utang obligasi = Rp 4.585.709,93 =============== Catatan : - Present value nomoinal = PV 6 % , 5 tahun = 0,7473 (lihat tabel present value) - Present value of annuity dari bunga = PVofA 3 %, 10 tahun = 8,5302, disini dihitung 3 % karena pembayaran bunga dilakukan setiap 6 bulan jadi 6 % dibagi 2 atau 3 % dan lamanya juga 5 tahun dibagi 2 atau 10 periode ( lihat ditabel present value of annuity ) Jurnal penjualan yang dibuat dengan tingkat bunga efektif 6 % adalah Kas Rp 104.585.709,93 Utang obligasi Agio – Utang obligasi Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 100.000.000,Rp 4.585.709,93 65 b. Tingkat bunga efektif 8 % - Present value dari Rp. 100.000.000,00 jatuh tempo 5 tahun dan bunga 8 % = Rp 100.000.000,00 x 0,6806 = - Present value dari bunga Rp 3.500.000,00 Tiap 6 bulan untuk 5 tahun dengan = Rp 3.500.000,00 x 8,111 = bunga efektif 8 % (4 % per semester) Hasil penjualan obligasi = Nilai nominal obligasi = Agio utang oblgiasi = Rp 68.060.000,00 Rp 28.388.135,23 Rp 96.448.135,23 Rp 100.000.000,00 Rp 3.551.864,77 =============== Jurnal penjualan yang dibuat dengan tingkat bunga efektif 8 % adalah Kas Disagio – Utang obligasi Utang bunga Rp 96.448.135,23 Rp 3.551.864,77 Rp 100.000.000,00 Penerbitan Obligasi Diantara Tanggal Pembayaran Bunga Penjualan obligasi dapat terjadi setelah tanggal pembayaran bunga, penjual mempunyai kewajiban membayar bunga sejak obligasi terjual atau beredar di pasaran. Apabila obligasi dijual di antara tanggal pembayaran bunga maka penjual akan menarik utang bunga yang belum dibayar kepada pembeli yaitu dari tanggal pembayaran bunga hingga tanggal penjualan obligasi. Bunga yang diterima dari pembeli akan dicatat sebagai Biaya Bunga yang dihitung dari tingkat bunga obligasi dikalikan dengan nominal. Secara ringkas kondisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Tanggal Pembayaran Bunga Tanggal Penjualan Obligasi Misal 2 bulan Bunga sebelum penjualan Periode A Tanggal Pembayaran Bunga (6 bulan) Misal 4 bulan Bunga setelah penjualan Periode B Bunga yang ditarik dari Pembeli saat penjualan periode A Perusahaan membayar bunga untuk periode A dan B (untuk 6 bulan) Jumlah bunga bersih yang dibayarkan Oleh perusahaan adalah Periode B Sebagai contoh, misalnya pada tanggal 1 Maret 2003, PT GGRM menjual obligasi Rp 800.000,00 jatuh tempo 10 tahun dengan bunga 12 %. Pembayaran bunga dilakukan setiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Biaya bunga yang ditarik dari pembeli adalah periode 1 Januari sampai dengan 1 Maret atau 2 bulan yaitu Rp 16.000,- (Rp 800.000,00 x 12 % x 2 / 12 bulan). Jurnal yang dibuat oleh perusahaan saat penjualan pada tanggal 1 Maret 2003 adalah : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 66 Kas Rp 816.000,00 Utang obligasi Biaya bunga Rp 800.000,00 Rp 16.000,00 Jurnal saat membayar bunga untuk 6 bulan pada 1 Juli 2003 adalah Biaya bunga (Rp 800.000,- X 12 % x 6 / 12) Rp 48.000,00 Kas Rp 48.000,00 Dengan demikian biaya bunga yang dibayar oleh perusahaan adalah Rp 32.000,00 (Rp 48.000,00 – Rp 16.000,00) Apabila bunga yang diminta dari pembeli saat penjualan obligasi dicatat dengan utang bunga, maka jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut : Kas Rp 816.000,00 Utang obligasi Utang bunga Rp 800.000,00 Rp 16.000,00 Jurnal saat membayar bunga untuk 6 bulan pada 1 Juli 2003 adalah Biaya bunga (Rp 800.000,- X 12 % x 4 / 12) Rp 32.000,00 Utang bunga Rp 16.000,00 Kas Rp 48.000,00 AMORTISASI DISAGIO DAN AGIO OBLIGASI Penjualan obligasi dapat terjadi adanya disagio atau agio karena adanya perbedaan antara bunga efektif (bunga yang terjadi di pasar) dengan bunga yang tercantum dalam obligasi. Pembayaran bunga dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan dasar perhitungan tariff bunga sesuai dengan yang tercantum dalamobligasi dikalikan dengan nominal. Biaya bunga yang ada di laporan keuangan harus mencerminkan jumlah biaya bunga yang didasarkan tingkat bunga efektif dan nilai buku obligasi.Jumlah biaya bunga efektif dihitung dari perkalian antara tingkat bunga efektif (yield) dengan nilai buku obligasi. Untuk melakukan amortisasi disagio dan agio ada metode yaitu metode garis lurus dan metode bunga efektif. Metode Garis Lurus Asumsi yang mendasari metode ini adalah pembayran bunga tiap periode akan sama besarnya. Dengan demikian amortissi agio dan disagio dengan menggunakan metode garis lurus besarnya akan sama untuk selama umur obligasi. Disagio Obligasi Disagio obligasi terjadi bila hasil penjualan obligasi lebih kecil dari nilai nominal obligasi. Hal ini dapat terjadi karena bunga obliigasi lebih kecil dari bunga efektif yang terjadi di pasar.Sebagai contoh, misalnya PT Alfa pada tanggal 1 Januari 2003 menjual obligasi dengan harga Rp 92.639.912,95 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 67 dan nominal Rp 100.000.000,00. Tingkat bunga obligasi adalah 10 % yang dibayarkan tiap tanggal 30 Juni dan 31 Desember serta jatuh tempo obligasi 31 Desember 2007 atau umur obligasi 5 tahun. Bunga obligasi yang berlaku di pasar adalah sebesar 12 % Pencatatan yang dilakukan pada tanggal 1 Januari 2003 adalah : Kas Disagio Utang obligasi Utang bunga Rp 92.639.912,95 Rp 7.360.067,05 Rp 100.000.000,00 Disagio sebesar Rp 7.360.067,05 dihitung dengan cara sebagai berikut : Present value nominal Rp 100.000.000,00 x 0,5584 1) Present value bunga Rp 6.000.000,00 2) x 7,36009 3) Harga jual Nilai nominal obligasi Disagio Utang Obligasi Rp 55.839.477,69 Rp 36,800,435.26 Rp 92.639.912,95 Rp 100.000.000,00 Rp 7.360.067,05 1) Present value untuk 10 semester dan bunga efektif 6 % (12 % dibagi 2) Bunga = Rp 100.000.000,00 x 10 % x 6 / 12 bulan 3) Present value of annuity untuk 10 semester dan bunga efektif 6 % 2) Penerimaan kas sebesar Rp 92.639.912,95 terdiri dari present value obligasi dengan tingkat bunga 12 % yaitu Rp 55.839.477,69 (Rp 100.000.000,00 x 0,5584) ditambah dengan present value of annuity dari pembayaran bunga tiap semester yaitu Rp 36.800.435,26 (Rp 100.000.000,00 x 10 % x 6 / 12 x 7,36009) Mencatat pembayaran bunga pada 30 Juni 2003 adalah sebagai berikut : Biaya Bunga Disagio utang obligasi Kas Rp 5.736.008,71 Rp 736.008,71 Rp 5.000.000,00 Bunga yang dibayarkan oleh perusahaan terdiri dari biaya bunga selama satu semester ditambah dengan amortisasi disagio tiap semester. Sedangkan tabel amortisasi disagio obligasi dengan metode garis lurus adalah sebagai berikut : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 68 B = Nominal x 12 % x 6/12 bln Amortisasi Disagio Kredit C = Disagio / 10 periode Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.- Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Rp 736,008.71 Kas Kredit Tanggal A 1 Jan 03 30 Jun 03 31 Des 03 30 Jun 04 31 Des 04 30 Jun 05 31 Des 05 30 Jun 06 31 Des 06 30 Jun 07 31 Des 07 Biaya Bunga Debet D=B+C Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Rp 5,736,008.71 Nilai Buku Obligasi E = Nilai buku awal +C Rp 92,639,912.95 Rp 93,375,921.65 Rp 94,111,930.36 Rp 94,847,939.06 Rp 95,583,947.77 Rp 96,319,956.47 Rp 97,055,965.18 Rp 97,791,973.88 Rp 98,527,982.59 Rp 99,263,991.29 Rp 100,000,000.00 Nilai buku obligasi yaitu hasil penjualan pada 1 Januari 2003 ditambah dengan amortisasi disagio tiap semester dan akhirnya pada 31 Desember 2007 nilai buku obligasi akan sama besarnya dengan nilai nominal obligasi. Agio Obligasi Agio obligasi terjadi apabila hasil penjualan obligasi lebih besar dari nilai nominal obligasi. Hal ini dapat terjadi karena bunga obliigasi lebih besar dari bunga efektif yang terjadi di pasar Sebagai contoh, PT Alfa pada tanggal 1 Januari 2003 menjual obligasi dengan harga Rp 96.448.135,23 dan nominal Rp 100.000.000,00. Tingkat bunga obligasi adalah 10 % yang dibayarkan tiap tanggal 30 Juni dan 31 Desember serta jatuh tempo obligasi 31 Desember 2007 atau umur obligasi 5 tahun. Bunga obligasi yang berlaku di pasar adalah sebesar 8 % Pencatatan yang dilakukan pada tanggal 1 Januari 2003 adalah: Kas Rp 108.110.895,78 Utang Obligasi Agio obligasi Rp 100.000.000,00 Rp 8.110.895,75 Hasil penjualan obligasi dengan bunga efektif 8 % sebesar Rp 108.110.895,78 yang terdiri dari present value obligasi dengan tingkat bunga efektif 8 % yaitu Rp Rp 67.556.416,78 (Rp 100.000.000,00 x 0,6756) ditambah dengan present value of annuity dari pembayaran bunga tiap semester yaitu Rp 40.554.478,90 (Rp 100.000.000,00 x 10 % x 6 / 12 x 8,11090) Mencatat pembayaran bunga pada 30 Juni 2003 adalah sebagai berikut : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 69 Biaya bunga Agio obligasi Kas Rp 4.188.910,42 Rp 811.089,58 Rp 5.000.000,00 Bunga yang dibayarkan oleh perusahaan terdiri dari biaya bunga selama satu semester dikurangi dengan amortisasi agio tiap semester. Dengan adanya agio obligasi, maka jumlah pembayaran bunga akan menjadi lebih kecil. Sedangkan tabel amortisasi agio obligasi dengan metode garis lurus adalah sebagai berikut : Tanggal A 1 Jan 03 30 Jun 03 31 Des 03 30 Jun 04 31 Des 04 30 Jun 05 31 Des 05 30 Jun 06 31 Des 06 30 Jun 07 31 Des 07 Kas Kredit Amortisasi Agio Kredit Biaya Bunga Debet B = Nominal x 12 % x 6/12 bln C = Disagio / 10 periode D=B+C Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.Rp 5,000,000.- Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 811,089.58 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Rp 4,188,910.42 Nilai Buku Obligasi E = Nilai buku awal +C Rp 108,110,895.78 Rp 107,299,806.20 Rp 106,488,716.62 Rp 105,677,627.05 Rp 104,866,537.47 Rp 104,055,447.89 Rp 103,244,358.31 Rp 102,433,268.73 Rp 101,622,179.16 Rp 100,811,089.58 Rp 100,000,000.00 Pada kolom terakhir terlihat nilai buku obligasi semakin kecil yaitu sama besarnya dengan nilai nominal, karena amortisasi agio obligasi tiap semesternya akan mengurangi saldo hasil penjualan obligasi. Metode Bunga Efektif Dengan menggunakan metode bunga efektif, disagio atau agio di amortisasi untuk biaya bunga yang dibayarkan tiap semester (periode) tidak jumlahnya tidak akan sama besar. Disagio Obligasi Dengan adanya agio obligasi menggunakan data seperti di atas, maka perhitungan amortisasi daripada disagio obligasi dan pembayaran bunga per semester adalah sebagai berikut : Mencatat pembayaran bunga pada 30 Juni 2003 adalah sebagai berikut : Biaya bunga Disagio utang obligasi Kas Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 5.558.394,78 Rp 558.394,78 Rp 5.000.000,00 70 Bunga yang dibayarkan oleh perusahaan terdiri dari biaya bunga selama satu semester ditambah dengan amortisasi disagio tiap semester. Sedangkan tabel amortisasi disagio obligasi dengan menggunakan metode bunga efektif adalah sebagai berikut : Kas Kredit Biaya Bunga Debet B = Nominal x 12% x 6/12 bln C = i efektif x NB Amortisasi Disagio Debet D=B+C 12% Rp 5,558,394.78 Rp 5,591,898.46 Rp 5,627,412.37 Rp 5,665,057.11 Rp 5,704,960.54 Rp 5,747,258.17 Rp 5,792,093.66 Rp 5,839,619.28 Rp 5,889,996.44 Rp 5,943,396.23 Rp 558,394.78 Rp 591,898.46 Rp 627,412.37 Rp 665,057.11 Rp 704,960.54 Rp 747,258.17 Rp 792,093.66 Rp 839,619.28 Rp 889,996.44 Rp 943,396.23 Tanggal A 1 Jan 03 30 Jun 03 31 Des 03 30 Jun 04 31 Des 04 30 Jun 05 31 Des 05 30 Jun 06 31 Des 06 30 Jun 07 31 Des 07 Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,- Nilai Buku Obligasi E = Nilai buku awal +C Rp 92,639,912.95 Rp 93,198,307.73 Rp 93,790,206.19 Rp 94,417,618.56 Rp 95,082,675.67 Rp 95,787,636.21 Rp 96,534,894.39 Rp 97,326,988.05 Rp 98,166,607.33 Rp 99,056,603.77 Rp 100,000,000.00 Pada kolom D terlihat bahwa amortisasi Disagio obligasi tiap semesternya semakin besar dan jumlah amortisasi itu digunakan untuk menambah saldo awal obligasi sehingga nilai bukunya akan sama dengan nilai nominalnya. Agio Obligasi Dalam menetukan besarnya amortisasi agio dengan metode bunga efektif dan pembayaran bunga tiap semester masih menggunakan contoh sebelumnya. Mencatat pembayaran bunga pada 30 Juni 2003 adalah sebagai berikut : Biaya bunga Agio Obligasi Kas Rp 4.324.435,83 Rp 675.564,17 Rp 5.000.000,00 Bunga yang dibayarkan oleh perusahaan terdiri dari biaya bunga selama satu semester dikurangi dengan amortisasi agio tiap semester. Dengan adanya agio obligasi, maka jumlah pembayaran bunga akan menjadi lebih kecil. Sedangkan tabel amortisasi agio obligasi dengan menggunakan metode bunga efektif sebagai berikut : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 71 Tanggal Kas Kredit Biaya Bunga Debet Amortisasi Agio Debet Nilai Buku Obligasi A B = Nominal x 12 % x 6/12 bln C = i efektif x NB D=B+C Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,Rp 5.000.000,- Rp 4,324,435.83 Rp 4,297,413.26 Rp 4,269,309.79 Rp 4,240,082.19 Rp 4,209,685.47 Rp 4,178,072.89 Rp 4,145,195.81 Rp 4,111,003.64 Rp 4,075,443.79 Rp 4,038,461.54 Rp 675,564.17 Rp 702,586.74 Rp 730,690.21 Rp 759,917.81 Rp 790,314.53 Rp 821,927.11 Rp 854,804.19 Rp 888,996.36 Rp 924,556.21 Rp 961,538.46 E = Nilai buku awal +C Rp 108,110,895.78 Rp 107,435,331.61 Rp 106,732,744.87 Rp 106,002,054.67 Rp 105,242,136.86 Rp 104,451,822.33 Rp 103,629,895.22 Rp 102,775,091.03 Rp 101,886,094.67 Rp 100,961,538.46 Rp 100,000,000.00 1 Jan 03 30 Jun 03 31 Des 03 30 Jun 04 31 Des 04 30 Jun 05 31 Des 05 30 Jun 06 31 Des 06 30 Jun 07 31 Des 07 PENARIKAN OBLIGASI SEBELUM JATUH TEMPO Perusahaan yang menjual obligasi dapat melakukan penarikan obligasi sebelum jatuh tempo sesuai dengan ketentuan yang ada. Hal ini terjadi karena perusahaan berusaha mengurangi beban utangnya dan mengantisipasi perubahan pasar dimasa datang. Dengan adanya penarikan kembali obligasi maka dapat terjadi untung atau rugi karena ada perbedaan antara nilai buku obligasi dengan harga pasar obligasi. Nilai buku obligasi adalah nilai nominal ditambah dengan agio yang belum diamortisasi atau nominal obligasi dikurangi dengan disagio yang belum diamortisasi. Oligasi yang ditarik nantinya dapat dijual lagi atau disebut dengan treasury bonds dan dicatat di debet sebesar nilai nominal untuk mengurangi rekening utang obligasi. Sedangkan obligasi yang ditarik tidak akan dijual lagi, maka rekening utang obligasi didebet sebesar nominalnya. Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang penarikan obligasi, maka contohnya adalah PT Garam pada 1 Januari 2000, menerbitkan obligasi senilai Rp 100.000.000,00 dengan bunga 12 % yang dibayarkan tiap 1 Januari dan 1 Juli dan kurs 97. Umur obligasi adalah 5 tahun dan pada 30 Juni 2003 perusahaan menarik obligasi dengan kurs 105. Amortisasi disagio menggunakan metode garis lurus. Jurnal 30 Juni 2003 Biaya bunga Rp 6.300.000,00 Disagio obligasi (Rp 3.000.000,00 / 5 x ½) Rp 300.000,00 Utang bunga (Rp 100 juta x 12 % x ½ ) Rp 6.000.000,00 Jurnal penarikan obligasi 30 Juni 2003 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 72 Utang obligasi Utang bunga Rugi penerikan obligasi Disagio obligasi Kas Rp 100.000.000,00 Rp 6.000.000,00 Rp 5.900.000,002) Rp 900.000,001) Rp 111.000.000,00 1) Perhitungan nilai buku disagio obligasi Disagio obligasi [Rp 100 juta x (100% - 97 %)] Amortisasi disagio 1 Jan 2000 – 30 Juni 2003 (Rp 3.000.000,00 / 5 th x 3,5 th) Nilai buku disagio 2) Rp 3.000.000,00 (Rp 2.100.000,00) Rp 900.000,00 =============== Perhitungan rugi penarikan obligasi Penarikan obligasi ( Rp 100 juta x 105) Rp 105.000.000,00 Dikurangi : Nilai nominal Rp 100.000.000,00 Nilai buku disagio (Rp 900.000,00) Rp 99.100.000,00 ------------------------Rugi penarikan obligasi Rp 5.900.000,00 =============== Dengan adanya penarikan obligasi sebelum jatuh tempo maka perusahaan akan menderita rugi sebesar Rp 5.900.000,00 PERTANYAAN 1. 2. 3. 4. 5. Apa yang dimaksud dengan utang obligasi ? Jelaskan alasan mengapa perusahaan menerbitkan utang obligasi ! Jelaskan delapan karakteristik dari utang obligasi ! Apa yang yang dimaksud dengan agio dan disagio utang obligasi ? Sebutkan metode amortisasi agio dan disagio utang obligasi dan jelaskan perbedaannya ! LATIHAN 1. PT Jasa Marga merencanakan menerbitkan obligsi pada 1 Maret 2003 senilai Rp 2 milyar, bunga 9 % yang jatuh tempo 10 tahun dan bunga dibayarkan tiap tanggal 1 Januari dan 1 Juli. Diminta (a) menghitung berapa hasil penjualan yang akan diterima oleh PT Jasa Marga bila bunga efektif adalah 8 % dan 10 %, (b) membuat jurnal yang diperlukan saat penjualan, (c) membuat jurnal pembayaran bunga tahun 2003 beserta tabel amortisasinya bila diketahui dalam amortisasi perusahaan menggunakan metode garis lurus 2. PT Liscom Internasional Tbk. pada 1 Januari 2002 menerbitkan obligasi Rp 40.000.000,00 bunga 9 % yang dibayarkan tiap tanggal 1 Maret dan 1 September dan umur obligasi 15 tahun. Obligasi dijual pada 1 Mei 2002 melalui underwriters dengan dua alternatif yaitu (a) kurs jual 96 ditambah dengan utang bunga dan perusahaan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 73 mencatat dengan Utang Bunga Obligasi dan (b) kurs penjualan adalah 104,45 ditambah dengan utang bunga dan perusahaan mencatat dengan perkiraan Utang Bunga Obligasi Diminta : membuat jurnal penerbitan obligasi, jurnal penyesuaian tanggal 30 Juni dan jurnal pembayaran bunga dua semester 3. PT Delta pada 1 Januari 2003, menerbitkan obligasi senilai Rp 100.000.000,00 dengan bunga 10 % yang dibayarkan tiap 1 Januari dan 1 Juli dan kurs 98. Umur obligasi adalah 10 tahun dan pada 30 Juni 2007 perusahaan menarik obligasi dengan kurs 104. Amortisasi disagio menggunakan metode garis lurus. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 74 BAB 7 MODAL SAHAM Sejalan dengan perkembangan perekonomian suatu negara, maka pada gilirannya akan tumbuh perusahaan yang pengelolaannya terpisah dengan harta pemili. Perusahaan yang demikian akan terlihat dengan jelas terutama yang sudah listing di Bursa Efek Jajarta (BEJ). Sedangkan yang belum tercatat di BEJ ada dua kemungkinan yaitu pengelolaan perusahaannya belum dipisahkan secara jelas dengan harta pemiliknya dan ada yang sudah terpisah. JENIS PERUSAHAAN Jenis perusahaan pada dasarnya dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara yaitu publik atau perorangan, terbuka dan tertutup dan perusahaan lokal dan asing. Secara garis besar klasifikasi perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Perusahaan swasta dapat dibedakan menjadi enam yaitu (a) Perusahaan Perorangan, (b) Perusahaan Perdata, (c) Firma, (c) Commanditaire Vennootscap (CV), (d) Koperasi dan (e) Perseroan Terbatas. Untuk perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) ada dua jenis yaitu bersifat tertutup dan terbuka. Jika PT terbuka berarti perusahaan tersebut telah menjual sahamnya kepada masyarakat di BEJ dan selanjutnya dapat disebut dengan Perusahaan Publik.. 2. Badan Usaha Milik Negara / Daerah (BUMN / D) yaitu perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah baik Pusat maupun Daerah, misalnya Pertamina 3. Perusahaan Domestik yaitu perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh warga negara dimana perusahaan itu beroperasi 4. Perusahaan Asing yaitu perusahaan beroperasi di suatu negara tapi pemiliknya berada di negara lain Dalam buku ini pembahasan akan lebih menekankan pada perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas yang bersifat terbuka terutama yang menerbitkan dan menjual sahamnya kepada masyarakat melalui bursa efek. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 75 MODAL SAHAM DAN HAK PEMEGANG SAHAM Modal saham merupakan bagian saham yang diterbitkan oleh perusahaan dan dimiliki oleh para pemegang saham. Pemegang saham suatu perusahaan mempunyai hak yaitu (1) memperoleh bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan dalam bentuk dividen, (2) mempunyai hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), (3) mempunyai hak memperoleh bagian dari aktiva tetap bila terjadi likuidasi. Namun demikian hak yang dimiliki oleh pemegang saham kemungkinan tidak sepenuhnya dapat diperoleh karena suatu kondisi yang tidak memungkinkan, misalnya untuk pemegang saham suatu perusahaan dengan jumlah yang dimiliki relatif kecil kemungkinan tidak dapat memanfaatkan hak suaranya dalam RUPS. Perusahaan menerbitkan saham untuk memperoleh uang tunai, dijual secara angsuran, ditukar dengan aktiva, untuk kompensasi saham, dan untuk transaksi lainnya. Secara umum saham yang diterbitkan oleh perusahaan ada dua jenis yaitu saham biasa dan saham preferen. Saham biasa yaitu surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan individu maupun instansi dalam suatu perusahaan. Sedangkan saham preferen pada dasarnya mempunyai hak yang tidak sepenuhnya sama dengan saham biasa. Pengertian modal saham yang sering digunakan dalam modal saham dan berhubungan dengan trnasksi yaitu : a. Modal dasar (Authorized capital stock) yaitu jumla maksimum saham yang dapat dikeluarkan oleh perusahaan untuk para pemegang saham yang akan ikut ambil andil didalam suatu perusahaan b. Modal ditempatkan (Issued capital stock) adalah modal yang sudah dicadangkan untuk para pemegang saham sehingga para pemegeang saham dapat menyetor sesuai dengan yang dicadangkan c. Modal Saham yang beredar (Outstanding capital stock) merupakan jumlah saham yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk pemegang saham dan saat ini masih dipegang hingga tanggal tertentu. d. Treasury stock adalah jumlah saham dari modal saham yang telah dikeluarkan dan ditarik kembali dari pemegangnya. e. Modal saham yang dipesan (Subscribed capital stock) merupakan jumlah saham dari modal saham yang akan dikeluarkan oleh perusahaan setelah pembeli melunasi saham yang telah dipesan. PENJUALAN SAHAM Perusahaan dalam menjual sahamnya kepada investor dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dijual tunai, dengan cara dipesan, dikombinasikan antara saham biasa dan saham preferen, ditukar dengan non kas dll. Jika penjualan saham terdiri dari saham biasa dan saham preferen, maka dalam jurnal harus dipisahkan. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 76 Penjualan Tunai Perusahan dalam mengeluarkan saham biasanya dengan nilai nominal. Umumnya penjualan saham oleh perusahaan dilakukan dengan tunai. Sebagai contoh, misalnya PT Sirad mengeluarkan 2.000 lembar saham biasa nominal Rp 1.000,00 dan harga pasar saham di pasar adalah Rp 1.200,00. Perusahaan mencatat transaksi penjualan tersebut sebagai berikut : Kas Rp 2.400.000,00 Modal saham biasa (Rp 1.000 x 2000) Rp 2.000.000,00 Agio saham (Rp 1200 – Rp 1.000 x 2000) Rp 400.000,00 Pesanan Penjualan Saham Dalam penjualan saham dapat terjadi dengan cara diangsur atau penjualan secara pesanan. Dengan demikian investor akan membayar sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat dengan perusahaan yang menerbitkan saham. Biasanya penjualan dengan cara tersebut inversotr diminta untuk memberi uang muka dan juga provisi untuk mengantisipasi terjadi pembatalan karena ketidak mampuan membayar. Perusahaan biasanya tidak akan memberikan saham kepada investor sebelum kewajibannya dilunasi secara penuh. Sebagai contohnya, misalnya PT Swara menjual saham biasa dengan cara pesanan sebanyak 1.000 lembar dengan nominal Rp 1.000 per lembar saham dan harga pasar Rp 1.500,00 per lembar. Uang muka yang harus dibayar oleh pembeli adalah Rp 300,00 per lembar saham dan sisanya Rp 1.000,00 per lembar dibayar pada akhir bulan. Apabila pembeli tidak dapat membayar perusahaan akan menjual sahamnya dengan harga Rp 1.300,00 per lembar. Pencatatan yang dilakukan oleh perusahaan adalah : Kas (Rp 300,00 x 1000) Rp 300.000,00 Piutang pesanan saham biasa Rp 1.200.000,00 (Rp 1.200,00 x 1000) Modal saham biasa dipesan Rp 1.000.000,00 (Rp 1.000,00 x 1000) Agio saham Rp 500.000,00 Apabila pada akhir bulan investor hanya mampu membayar 900 lembar, maka jurnal yang dibuat sebagai berikut : Kas (Rp 1.200,00 x 900) Rp 1.080.000,00 Piutang Pesanan Saham Biasa Rp 1.080.000,00 Modal saham Biasa Dipesan (Rp 1.000,00 x 900) Modal Saham Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 900.000,00 Rp 900.000,00 77 Pembatalan Pesanan Saham Dalam penjualan saham dengan pesanan dapat terjadi pembeli tidak dapat memenuhi kewajiban seperti yang telah diatur dalam perjanjian. Dengan adanya kejadian tersebut, maka ada dua cara perlakuan yaitu (a) uang yang sudah diterima dikembalikan, (b) uang yang sudah diterima dikembalikan dengan dikurangi biaya penjualan kembali saham yang telah dipesan, (c) memberikan saham sejumlah uang yang telah diterima, dan (d) semua uang yang sudah diterima diangap hilang Dengan menggunakan contoh di atas, bahwa pembeli tidak dapat membayar 100 lembar saham yang telah dipesan, maka jurnal yang dibuat dengan menggunakan ketentuan diatas adalah sebagai berikut : (a) uang yang sudah diterima dikembalikan, Modal saham yang dipesan Rp 100.000,00 (Rp 1.000,00 x 100) Agio saham (Rp 500,00 x 100) Rp 50.000,00 Piutang pesanan saham ( Rp 1.200,00 x 100) Rp 120.000,00 Kas Rp 30.000,00(b) (b) uang yang sudah diterima dikembalikan dengan dikurangi biaya penjualan kembali saham yang telah dipesan, Modal saham yang dipesan Rp 100.000,00 (Rp 1.000,00 x 100) Agio saham (Rp 500,00 x 100) Rp 50.000,00 Piutang pesanan saham ( Rp 1.200,00 x 100) Rp 120.000,00 Utang pada pemesan saham Rp 30.000,00(b) Kas (Rp 1.300,00 x 100) Rp 130.000,00 Utang pada pemesan saham Rp 20.000,00 Modal saham (Rp 1.000,00 x 100) Rp 100.000,00 Agio saham (Rp 1.500,00 – Rp 1.000,00 x100) Rp 50.000,00 Utang pada pemesan saham Rp 10.000,00 Kas (Rp 30.000,00 – Rp 20.000,00) Rp 10.000,00 (c) memberikan saham sejumlah uang yang telah diterima Modal saham dipesan Rp 100.000,00 (Rp 1.000,00 x100) Agio saham (Rp 500,00 x 100 ) Rp 50.000,00 Modal saham (Rp 1.000,00 x 30) Rp 30.000,00 Piutang pesanan saham (Rp 1.200 x 100) Rp 120.000,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 78 Kas [Rp 1.300,00 x (100 – 30)] Rp Modal saham (Rp 1.000,00 x 70) Agio saham 91.000,00 Rp Rp 70.000,00 21.000,00 (d) semua uang yang sudah diterima dianggap hilang Modal saham dipesan Rp 100.000,00 (Rp 1.000,00 x100) Agio saham (Rp 500,00 x 100) Rp 50.000,00 Modal pembatalan saham (Rp 300) x 100) Rp 30.000,00 Piutang pesanan saham (Rp 1.200 x 100) Rp 120.000,00 Kas (Rp 1.300,00 x 100) Rp 130.000,00 Modal saham (Rp 1.000,00 x 100) Rp 100.000,00 Agio saham Rp 30.000,00 Kombinasi Penjualan Saham Perusahaan dapat melakukan penjualan lebih dari dua jenis saham yang berbeda dalam suatu transaksi. Hal ini terjadi untuk perusahaan yang sahamnya telah diperjual-belikan secara luas, sehingga dengan menggabungkan beberapa saham kedalam satu paket harga tertentu dianggap akan lebih menarik bagi para investor. Kemungkinan perusahaan menjual beberapa jenis surat berharga seperti saham biasa, saham preferen dan obligasi dlam satu paket. Apabila perusahaan melakukan penjualan yang terdiri dari beberapa jenis saham, maka hasil penjualannya harus dialokasikan dengan mengunakan nilai relative masing-masing surat berharga. Jika ada salah satu surat berharga yang tidak diketahui nilai pasarnya, maka surat berharga yang diketahui nilai pasarnya digunakan untuk mengurangi penerimaan sebagai harga surat berharga yang tidak diketahui nilai pasarnya. Sebagai contoh, PT Cinema menjual 1.000 paket surat berharga dengan harga keseluruhan Rp 15.000.000,00 atau Rp 15.000,00 per paket. Setiap paket berisi 2 lembar saham biasa bernominal Rp 1.000,00 per lembar dan satu lembar saham preferen dengan nominal Rp 9.000,00 per lembar. Harga pasar saham Rp 1.500,00 per lembar dan saham preferen Rp 7.000,00 per lembar, maka jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut : Kas Rp 8.000.000,00 Modal Saham (Rp 800 x 2 x1000) Rp 1.600.000,00 Agio saham Rp 800.000,00 Modal saham preferen (Rp 4.000 x 1 x 1000) Rp 4.000.000,00 Agio saham preferen Rp 1.600.000,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 79 Perhitungan alokasi hasil penjualan saham biasa dan saham preferen : Hasil penjualan Saham biasa Rp 1.500,00 x 2 lembar x 1.000 paket = Rp 3.000.000,00 Saham preferen Rp 7.000,00 x 1 lembar x 1.000 paket = Rp 7.000.000,00 Jumlah hasil penjualan Rp 10.000.000,00 ============= Alokasi Saham biasa = Rp 3.000.000,00 Rp 10.000.000,00 Saham preferen = x Rp 8.000.000,00 Rp 2.400.000,00 Rp 7.000.000,00 Rp 10.000.000,00 xRp 8.000.000,00 Rp 5.600.000,00 --------------------------Rp 8.000.000,00 ============= Perusahaan mengalokasikan hasil penjualan untuk tiap jenis saham dan agio dengan menggunakan harga pasar Apabila yang diketahui harga pasarnya adalah saham biasa yaitu Rp 1.500,00 per lembar, sehingga hasil penjualan saham biasa Rp 3.000.000,00 (Rp 1.500,00 x 2 x 1.000), sehingga jumlah yang belum dialokasikan adalah Rp 5.000.000,00 (Rp 8.000.000,00 – Rp 3.000.000,00) untuk saham preferen dan jurnalnya sebagai berikut : Kas Rp 8.000.000,00 Modal Saham (Rp 800 x 2 x1000) Rp Agio saham Rp Modal saham preferen (Rp 4.000 x 1 x 1000) Rp Agio saham preferen Rp 1.600.000,00 1.400.000,00 4.000.000,00 1.000.000,00 Jika ternyata seluruh saham tidak dapat diketahui nilai pasarnya, maka perusahaan harus melakukan penilaian. Untuk melakukanitu perusahaan harus berhati-hati, karena dapat terjadi alokasinya tidak memberikanhasil yang rasional dan akibatnya dimasa depan kemungkinan terjadi penyesuaian. Penukaran Saham dengan Aktiva Pengeluaran saham untuk ditukar dengan aktiva selain kas disebut dengan transaksi pertukaran nonmoneter. Transaksi seperti ini akan menimbulkan masalah jika saham ditukar dengan aktiva tidak berwujud, seperti Paten, hak cipta atau biaya oendirian. Prinsip umum yang perlu di gunakan yaitu dalampertukaran harus diketahui nilai pasar atau nilai wajar dari saham dan aktiva yang akan diterima sehingga realistis. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 80 Sebagai contoh, PT Sinar mengeluarkan 1000 lembar saham biasa dengan nominal Rp 1.000,00 untuk ditukarkan dengan hak paten. Harga pasar saham saat ini Rp 2.500,00 per lembar, sehingga transaksi tersebut dicatat sebagai berikut : Paten (Rp 2.500,00 x 1.000 lembar) Rp 2.500.000,00 Modal Saham Rp 1.000.000,00 Agio saham Rp 1.500.000,00 Alternatif lain yaitu apabila suatu perusahaan mengeluarkan saham sebanyak 2.000 lembar nominal Rp 500,00 dan saham tersebut belum dicatatkan dalam bursa efek sehingga tidak diketahui harga pasarnya. Saham tersebut akan ditukar dengan tanah dan menurut taksiran harga jual tanah Rp 1.200.000,00. Perusahaan menggunakan data harga tanah sebagai nilai wajar untuk mencatat transaksi tersebut. Tanah Modal Saham Agio saham Rp 1.200.000,00 Rp 1.000.000,00 Rp 200.000,00 Apabila dalam pertukaran dengan menggunakan lebih dari satu saham, maka untuk menentukan nilai wajarnya harus ada alokasi seperti yang telah dibahas dalam sebelumnya. Stock Split Saham perusahaan yang harganya telah meningkat cukup besar, pada akhirnya dapat berpengaruh pada berkurangnya minat investor untuk membeli saham. Untuk mengatasi hal itu perusahaan biasanya akan melakukan company action yang berupa stock split. Dengan melakukan stock split (Stock split-up), maka nilai nominal saham akan menjadi lebih kecil dan jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham akan semakin banyak, tapi secara total nilainya sama. Hal ini berati bahwa stock split tidak berpengaruh pada nilai saham yang dimiliki oleh para pemegang saham dan bagi perusahaan juga tidak ada penerimaan uang. Sebagai contoh misalnya perusahaan mempunyai modal dasar 2.000.000 lembar saham biasa dan yang telah beredar 1.500.000 lembar nominal Rp 1.000,00 per lembar. Jika perusahaan mengumumkan stok split dengan rasio dua-untuk-satu (two-for-one) dan nilai nominal saham turun menjadi Rp 500,00 per lembar saham, modal dasar berubah menjadi 4.000.000 lembar dan saham yang beredar 3.000.000 lembar. Sejalan dengan tindakan stock split yang dilakukan oleh perusahaan, maka harga saham di pasar modal biasanya akan mengalami penurunan harga. Berdasarkan contoh tersebut, maka jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah : Stock split ada juga yang bersifat meningkatkan nilai nominal saham dan mengurangi jumlah saham yang dimiliki atau yang biasa disebut dengan split-down. Dari sudut akuntansi sama dengan split-up Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 81 yaitu tidak berpengaruh pada penurunan nilai saham yang dimiliki tapi hanya berubah jumlah sahamnya menjadi lebih sedikit karena nilai nominalnya menjadilebih besar. Sedangkan harga pasar juga ada kecenderungan meningkat sejalan dengan kenaikan nilai nominal saham perusahaan. PEMBELIAN KEMBALI SAHAM YANG BEREDAR Perusahaan yang telah menjual sahamnya kepada publik pada dasarnya dapat membeli kembali sahamnya yang sudah beredar untuk disimpan selamanya atau ditahan sementara yang nantinya akan dijual kembali atau disebut dengan saham treasuri (treasury stock). Penarikan kembali saham yang telah beredar oleh perusahaan ada beberapa alasan yaitu (1) untuk mendorong naiknya harga saham di bursa, (2) meningkatkan laba per lembar saham, (3) untuk dikonversi dengan saham lainnya, (4) untuk diberikan sebagai bonus, stok dividen, dibeli oleh karyawan, dan (5) mengurangi jumlah saham yang beredar sehingga perdagangan sahamnya menjadi lebih likuid atau menghindari dibeli oleh perusahaan lain. Tindakan tersebut pada prinsipnya tidak menyalahi peraturan di bursa efek atau pemerintah. Sesuai dengan ketentuan dalam akuntansi bahwa pembelian kembali saham yang beredar tidak menimbulkan laba atau rugi. Perusahaan menerbitkan saham untuk menambah modal, sehingga diharapkan dapat meningkatkan rentabilitas usaha dan pembelian kembali saham yang beredar akan berakibat mengurangi jumlah modal yang disetor. Pembelian Kembali Saham untuk Disimpan Saham yang beredar dibeli kembali oleh perusahaan dengan tujuan untuk disimpan selamanya, maka modal saham akan di debit sebesar nilai nominalnya dan kas di kredit sebesar pengeluarannya. Apabila dalam pembelian kembali ternyata harganya penarikan lebih besar dari nilai nominal sahamnya, maka kelebihan tersebut dapat diperlakukan sebagai berikut : (a) dibebankan ke rekening agio saham sesuai dengan jenis sahamnya (b) dialokasikan ke rekening agio saham dan laba ditahan (c) dibebankan sepenuhnya pada rekening laba ditahan Dalam praktek pembebanan kelebihan tersebut sangat tergantung pada saldo perkiraan yang ada dan kebijakan manajemen perusahaan. Untuk dapat memberikan gambaran yang jelas atas alternatif tersebut, misalnya data keuangan dari PT Alfa adalah sebagai berikut : Modal saham biasa yang beredar (Rp 1.000,00 x 2 000.000) Agio saham Laba ditahan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 2.000.000.000,00 Rp 400.000.000,00 Rp 1.200.000.000,00 82 Apabila perusahaan merencanakan menarik kembali saham yang beredar sebesar 20 % dengan harga Rp 1.250,00 atau nilai total penarikan Rp 500.000.000,00 [Rp 1.250,00 x (20 % x 2.000.000 lembar). Dengan demikian jurnal yang dapat dibuat oleh perusahaan dengan tiga alternatif di atas adalah sebagai berikut : (a) dibebankan ke rekening agio saham sesuai dengan jenis sahamnya Modal saham biasa Rp 400.000.000,00 (Rp 1.000,00 x 400.000 1) lembar) Agio saham Rp 100.000.000,00 (Rp 250,00 x 400.000 lembar) Kas Rp 500.000.000,00 1) 400.000 lembar saham = 20 % x 2.000.000 lembar saham (b) dialokasikan ke rekening agio saham dan laba ditahan Modal saham biasa Rp 400.000.000,00 (Rp 1.000,00 x 400.000 lembar) Agio saham Rp 20.000.000,00 (Rp 250 x 400.000 x 20 %) Laba ditahan Rp 80.000.000,00 (Rp 100.000.000,00 – Rp 20.000.000,00) Kas Rp 500.000.000,00 (c) dibebankan sepenuhnya ke rekening laba ditahan Modal saham biasa (Rp 1.000,00 x 400.000 lembar) Laba ditahan (Rp 250,00 x 400.000 lembar) Kas Rp 400.000.000,00 Rp 100.000.000,00 Rp 500.000.000,00 Apabila dari contoh di atas diketahui bahwa pembelian kembali sebanyak 20 % dengan harga pasar Rp 900,00 per lembar, maka jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah : Modal saham biasa Kas (Rp 900 x 400.000) Agio saham Rp 400.000.000,00 Rp 360.000.000,00 Rp 40.000.000,00 Dengan demikian apabila penebusan kembali saham dengan harga lebih kecil dari nilai nominalnya, maka akan terjadi pembayaran kas lebih kecil dan sisanya menambah rekening agio saham Saham Treasuri Saham treasuri merupakan saham yang dibeli kembali untuk disimpan sementara dan nantinya akan dijual lagi. Pencatatan saham Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 83 treasuri bukan merupakan aktiva tapi akan mengurangi rekening modal saham. Metode yang digunakan untuk mencatat saham treasuri yaitu : (a) metode biaya atau harga perolehan (cost method) yaitu pembelian saham treasuri merupakan elemen modal (b) metode nilai nominal yaitu menganggap bahwa pembelian saham treasuri merupakan pengehentian saham beredar secara efektif. a. Metode Biaya Dengan menggunakan metode biaya maka transaksi penarikan saham akan dicatat debet saham treasuri dan kas sebelah kredit sebesar harga pasar tanpa memperhatikan nilai nominal saham. Untuk selanjutnya rekening saham treasuri akan digunakan untuk mengurangi saldo modal saham yang disetor. Apabila saham treasuri dijual lagi, maka jika ada selisih antara harga jual dengan harga perolehan digunakan untuk menambah atau mengurangi saldo ekuitas pemegang saham. Sebagai ilustrasi, misalnya dengan menggunakan data dari PT Alfa di atas yaitu 2.000.000 lembar saham nominal Rp. 1.000,00 dijual dengan Rp 1.250,00 per lembar akan ditarik sebesar 20 % atau 400.000 lembar saham dengan harga beli Rp 1.300,00 per lembar dan beberapa bulan kemudian dijual secara bertahap yaitu 200.000 lembar dengan harga Rp 1.500,00 per lembar, 200.000 lembar dengan harga Rp 1.200,00 dan sisanya dihentikan untuk selamanya. Perusahaan mencatat kejadian tersebut sebagai berikut : a. Penarikan 400.000 lembar saham dengan harga Rp 1.300,00 Saham treasuri Rp 520.000.000,00 Kas (Rp 1.300,00 x 400.000) Rp 520.000.000,00 b. Penjualan saham treasuri 200.000 lembar dengan harga Rp 1.500,00 Kas (Rp 1.500,00 x 200.000) Rp 300.000.000,00 Saham treasuri (Rp1.300,00 x 200.000) Rp 260.000.000,00 Agio saham treasuri Rp 40.000.000,00 c. Penjualan saham treasuri 100.000 lembar dengan harga Rp 1.200,00 Kas (Rp 1.500,00 x 200.000) Rp 120.000.000,00 Agio saham treasuri Rp 10.000.000,00 Saham treasuri (Rp1.300 x 100.000) Rp 130.000.000,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 84 d. Menghentikan secara permanen saham treasuri 100.000 lembar Saham biasa Rp 100.000.000,00 (Rp 1.000,00 x 100.000) Agio saham Rp 2.500.000,00 (Rp 250,00 x 100.000) Agio saham treasuri Rp 27.500.000,00 Saham treasuri (Rp 1.300,00 x 100.000) Rp 130.000.000,00 Apabila saham treasuri dibeli dengan harga yang berbedabeda, maka dalam penjualan sebaiknya sesuai dengan harga perolehannya dan perlu ada pendekatan metode FIFO. b. Metode Nilai Nominal Apabila pendekatannya menggunakan metode nilai nominal, maka penarikan saham berarti pemegang saham dianggap mengundurkan diri. Dengan demikian bila ada penjualan atau pembelian baru dianggap sebagai kelompok yang terpisah dari sebelumnya. Sebagai contoh menggunakan data sebelumnya yaitu : a. Penarikan 400.000 lembar saham nominal Rp 1.000,00 dan harga penarikan Rp 1.300,00 Saham treasuri Rp 400.000.000,00 (Rp 1.000,00 x 400.000) Agio saham Rp 120.000.000,00 (Rp 300,00 x 400.000) Kas (Rp 1.300 x 400.000) Rp 520.000.000,00 b. Penjualan saham treasuri 200.000 lembar dengan harga Rp 1.500,00 Kas (Rp 1.500,00 x 200.000) Rp 300.000.000,00 Saham treasuri (Rp1.000,00 x 200.000) Rp 200.000.000,00 Agio saham Rp 100.000.000,00 c. Penjualan saham treasuri 100.000 lembar dengan harga Rp 1.200,00 Kas (Rp 1.500,00 x 200.000) Rp 120.000.000,00 Saham treasuri (Rp1.000,00 x 100.000) Rp 100.000.000,00 Agio saham Rp 20.000.000,00 d. Menghentikan secara permanen saham treasuri 100.000 lembar Saham biasa Rp 100.000.000,00 (Rp 1.000,00 x 100.000) Saham treasuri (Rp 1.000,00 x 100.000) Rp 100.000.000,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 85 OPSI ATAS SAHAM Opsi dapat didefinisikan sebagai suatu produk surat berharga (efek) yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli atau menjual efek sejumlah tertentu dari asset finalsil pada harga tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Pengertian tersebut menunjuk pada surat berharga secara umum yaitu saham dan obligasi, namun dalam bab ini akan lebih ditekankan pada pembahasan saham biasa. PERTANYAAN 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perusahaan swasta, BUMN / D, perusahaan domestik dan perusahaan asing ! 2. Jelaskan perbedaan antar perseroan yang terbuka dan tertutup dan berilah contoh ! 3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan saham dan pemegang saham ! 4. Apa yang dimaksud dengan modal dasar, modal yang ditempatkan, modal saham yang beredar, treasury stock dan modal saham yang dipesan ? 5. Apa yang dimaksud dengan stock split dan mengapa perusahaan melakukannya ? 6. Jelaskan perbedaan antara pencatatan saham treasuri dengan metode biaya dan metode nilai nominal ? LATIHAN 1. PT GGRM mengeluarkan saham biasa sebanyak 2.000.000 lembar dengan nilai nominal Rp 500,00 per lembar. Pada tanggal 9 Juni 2003 dijual dengan harga pasar Rp 700,00 2. PT Delta Force mengeluarkan saham biasa 1.000.000 lembar nominal Rp 600,00 per lembar dan harga pasar Rp 1.000,00 per lembar. Pada awal Mei 2003 perusahaan menjual dengan cara dipesan dan uang muka 70 % serta sisanya dibayar pada bulan berikutnya. Apabila pada waktu yang telah disepakati ternyata pemesan tidak dapat membayar sisanya a. buatlah jurnal saat menerima uang muka ! b. buatlah jurnal pembatalan sisa pembayaran dengan asumsi sebagai berikut (1) uang yang sudah diterima dikembalikan, (2) uang yang sudah diterima dikembalikan dengan dikurangi biaya penjualan kembali saham yang telah dipesan, (3) menberikan saham sejumlah uang yang telah diterima, dan (4) semua uang yang sudah diterima diangap hilang ! 3. PT CMNP merencanakan melakukan pembelian kembali saham yang telah beredar dan saldo rekening modal disetor, agio saham dan laba ditahan adalah sebagai berikut : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 86 Modal saham (Rp 500,00 x 2.000.000) Agio saham Laba ditahan Rp 1.000.000.000,00 Rp 150.000.000,00 Rp 800.000.000,00 Saham yang akan ditarik sebesar 10 % dengan harga pasar Rp 600,00 per lembar. Buatlah jurnal dengan menggunakan tiga alternatif yaitu (a) dibebankan ke rekening agio saham sesuai dengan jenis sahamnya, (b) dialokasikan ke rekening agio saham dan laba ditahan dan (c) dibebankan sepenuhnya pada rekening laba ditahan 4. Dalam rangka melakukan perluasan usaha perusahaan merencanakan menjual kembali saham treasuri yang jumlahnya 800.000 lembar yang ditarik dengan harga beli Rp 2.300,00 , nominal saham Rp 2.000 per lembar. Penjualan tahap pertama 300.000 lembar dengan harga jual Rp 2.500,00 per lembar, tahap kedua 400.000 lembar dengan ahrga Rp 2.100,00 per lembar dan sisanya disimpan untuk selamanya. Buatlah jurnal yang diperlukan dengan menggunakan metode biaya dan metode nilai nominal. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 87 BAB 8 LABA PER LEMBAR SAHAM DAN LABA DITAHAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai modal pemilik terutama di titik beratkan pada laba bersih , laba per lembar saham , laba ditahan dan pembagian dividen. Semua komponen tersebut pada akhirnya akan berpengaruh pada besar kecilnya modal para pemegang saham. LABA DAN LABA PER LEMBAR SAHAM Laba bersih (Rugi) merupakan jumlah laba yang diperoleh dari aktivitas perusahaan selama periode akuntansi. Dalam laporan keuangan suatu perusahaan dapat diketahui beberapa komponen dari laba bersih yaitu (a) laba atau rugi dari operasi perusahaan yang berkelanjutan yaitu kombinasi pendapatan operasi dikurangi biaya operasi dengan pendapatan non operasi dan biaya non operasi, dan keuntungan atau kerugian insidentil yang berasal dari transaksi luar biasa, (b) hasil dari operasi yang tidak berkelanjutan, termasuk didalamnya adalah pendapatan atau kerugian dari komponen yang tidak berkelanjutan seperti laba atau rugi dari komponen yang bersifat tidak terpakai, (c) pendapatan atau kerugian luar biasa yang berasal dari kejadian yang tidak umum dan jarang terjadi, dan (d) pengaruh komulative dari perubahan prinsip akuntansi. Dalam laporan perhitungan laba rugi disertakan pula hasil perhitungan laba per lembar saham. PENGGUNAAN INFORMASI LAPORAN LABA PER LEMBAR SAHAM Semua informasi laporan keuangan perusahaan dan semua catatan yang terkait akan berguna bagi para pengambil keputusan pihak luar. Laba per lembar saham merupakan salah satu perhitungan yang dapat dianggap menjadi indikator kinerja suatu perusahaan terutama para pemegang saham biasa. Para pemakai laporan keuangan tertarik pada perhitungan laba per lembar saham karena dapat untuk mengevaluasi tingkat pengembalian investasi dan risiko perusahaan. Keberhasilan atau kegagalan suatu perusahaan dapat dilihat dari perkembangan laba per lembar saham dan perubahannya dengan periode sebelumnya. Para investor juga tertarik pada arus kas per lembar saham perusahaan Investor juga tertarik untuk membuat proyeksi laba per lembar saham untuk periode yang akan datang. Sedangkan akuntan umumnya Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 88 tidak menyediakan informasi untuk masa yang akan datang dan perhitungan laba per lembar saham digunakan untuk mengetahui kemungkinan dampak atas suatu kejadian dimasa depan. Perusahaan melakukan opsi saham biasa, mengkonversi utang atau mengkonversi saham preferen, maka akan berakibat jumlah saham yang beredar bertambah banyak dan akhirnya akan berpengaruh pada laba per lembar saham. Untuk kepentingan membandingkan laba per lembar saham antar perusahaan, para pemakai informasi harus dapat memastikan bahwa perhitungan tersebut dapat diperbandingkan, karena kompleksitas daripada sturktur modal suatu perusahaan. PERHITUNGAN LABA PER LEMBAR SAHAM Dalam perhitungan laba per lembar saham dipengaruhi oleh struktur permodalan suatu perusahaan yaitu struktur modal yang sederhana atau komplek. Untuk struktur modal perusahaan yang sederhana berarti hanya ada satu jenis saham biasa yang beredar. Dengan demikian perhitungan laba per lembar sahamnya adalah sebagai berikut : Laba per lembar saham Laba bersih Dividen saham preferen Rata rata tertimbang jumlah saham yang beredar Perusahaan akan memberi laporan perhitungan laba per lembar saham dengan cara sederhana dibawah perhitungan laba bersih. Pengertian laba bersih sebagai pembilang yang digunakan untuk menghitung laba per lembar saham adalah laba bersih yang menjadi bagian atau hak bagi para pemegang saham biasa. Apabila perusahaan mempunyai saham preferen nonkomulative yang beredar, maka laba bersihnya dikurangi dengan dividen yang dideklarasikan untuk periode sekarang. Demikian halnya bila perusahaan mempunyai saham preferen komulative yang beredar, maka perusahaan harus mengurangi laba bersih untuk dividen periode sekarang tanpa memperhatikan perusahaan mengumumkan memberi dividen atau tidak. Sedangkan rata-rata tertimbang yang digunakan sebagai pembagi laba bersih adalah berdasarkan jumlah riil dari saham biasa yang beredar pada awal periode dikalikan dengan proporsi bulanan selama satu tahun jika ada penerbitan atau penarikan saham biasa. Untuk dapat memberikan gambaran perhitungan rata-rata tertimbang atas saham biasa yang beredar, misalnya PT INCO pada awal tahun mempunyai saham biasa yang beredar sebesar 100.000 lembar. Pada bulan April perusahaan menerbitkan saham baru sebesar 40.000 lembar, bulan Juli menerbitkan 60.000 lembar saham dan Oktober membeli kembali saham yang beredar 20.000 lembar. Maka rata-rata tertimbang saham yang beredar adalah 155.000 lembar saham dan perhitungan sebagai sebagai berikut : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 89 Saham beredar bulanan Jumlah X Proporsi saham bulanan beredar Januari – Maret 100.000 X 3/12 April – Juni 140.000 X 3/12 Juli – September 200.000 X 3/12 Oktober – Des. 180.000 X 3/12 Total rata-rata tertimbang saham biasa = Jumlah unit ekuivalen = = = = 25.000 35.000 50.000 45.000 155.000 DIVIDEN SAHAM DAN STOCK SPLIT Apabila perusahaan memberi dividen berupa saham dan melakukan stock split, maka jumlah saham yang beredar akan bertambah dan sebagai konsekuensinya ada perlakuan yang berlaku surut untuk laporan keuangan komparatif. Penyesuaian kembali atas perhitungan jumlah laba per lembar saham untuk seluruh periode berdasarkan jumlah saham yang beredar saat ini. Asumsi yang digunakan atas perlakuan surut yaitu bahwa pemberian dividen saham dan stock split terjadi pada awal periode yang terdahulu atau sejak berdirinya. Sebagai contoh yaitu apabila perusahaan mulai beroperasi sejak Januari 2003 dengan menerbitkan saham biasa 10.000 lembar dan pada 31 Desember 2003 melakukan stock split dua-untuk-satu lembar saham atau rasio 1 : 2 . Dengan demikian rata-rata tertimbang saham beredar akhir tahun 2003 adalah 20.000 ( 10.000 x 2 / 1 x 12/12 ) karena dengan anggapan bahwa stock split dilakukan pada awal Januari 2003. Pada bulan Mei 2004 perusahaan menerbitkan saham biasa 5.000 lembar, 9 Agustus 2003 perusahaan memberikan dividen saham 20 % dan pada awal Oktober 2004 menerbitkan saham biasa 4.000 lembar. Dengan demikian untuk melakukan perbandingan laba per lembar saham tahun 2003 dan 2004 rata-rata tertimbang saham yang digunakan tahun 2003 adalah 24.000 lembar saham biasa dan tahun 2003 yaitu 28.500 lembar. Dengan adanya pemberian dividen saham sebesar 20 % pada bulan Agustus 2004, maka perhitungan rata-rata saham tertimbang sejak awal berdirinya yaitu Januari 2003 mengalami perubahan. Sedangkan pengeluaran saham baru bulan Oktober 2004 tidak mengalami perubahan akibat pemberian dividen saham. Rincian perhitungan lebih lanjut adalah sebagai berikut : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 90 Saham beredar bulanan 2003 Jan – Des 2004 Jan – April Met – Juli Agst – Sept Saham beredar riil Proporsi bulanan = Jumlah unit ekuivalen 12/12 = 24.000 20.000 x 120% = 24.000 x 4/12 25.000 x 120% = 30.000 x 3/12 25.000 x 120% = 30.000 x 2/12 25.000 x 120% + 4.000 = Okt – Des 34.000 x 3/12 34.000 Total rata-rata tertimbang saham biasa tahun 2004 = = = 8.000 7.500 5.000 = 8.500 10.000 Anggapan Saham yang beredar 10.000 x 2/11) x 120%2) = 24.000 20.000 25.000 30.000 29.000 Catatan : 1) Stock split dengan rasio 1 : 2 atau 2/1 (satu lembar saham lama mendapat dua lembar saham baru) yang dilakukan pada 31 Desember 2003 2) Pada 9 Agustus 2004 pemberian dividen saham 20 % DILUSI LABA PER LEMBAR SAHAM Pada umumnya perusahaan mempunyai struktur modal yang cukup komplek yaitu saham preferen dan obligasi yang dapat dikonversi dengan saham biasa, warrant , opsi saham. Semua jenis surat berharga tersebut mempunyai potensi berpengaruh pada saham biasa, karena pemiliknya dapat menukarkannya dengan saham biasa. Dilusi laba per lembar saham terjadi apabila seluruh potensi yang dapat mempengaruhi jumlah saham yang beredar mengalami perubahan, maka pada akhirnya akan berpengaruh pada penurunan laba per lembar saham. Apabila perusahaan mengalami kerugian operasi usaha, maka hal tersebut tidak akan berpengaruh pada dilusi laba per lembar saham biasa. Sebagai ilustrasi yaitu pada tahun 2003 perusahaan memperoleh laba bersih setelah pajak Rp 20.000,00 dan pendapatan di luar usaha Rp 3.500,00 (sudah termasuk dalam laba bersih setelah pajak). Perusahaan mempunyai saham preferen 8 % dengan nilai Rp 20.000,00 dan saham biasa Rp 55.000,00 Sedangkan saham yang beredar adalah sebagai berikut : - Pada awal Januari 2003 perusahaan menerbitkan saham biasa 5.000 lembar - Tanggal 9 April 2003 menerbitkan tambahan saham biasa yang dijual tunai 3.000 lembar - Tanggal 3 Juni 2003 perusahaan melakukan stock split dengan rasio 1 : 2 (satu lembar saham lama mendapat dua lembar saham baru) - Tanggal 2 Nopember mengeluarkan saham baru 3.000 lembar - Tahun 2003 tidak ada tambahan atau penarikan saham preferen Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 91 - Tahun 2003 diumumkan pembagian dividen saham preferen sesuai dengan tingkat bunga - Perhitungan laba per lembar sahamnya adalah sebagai berikut : Keterangan Laba bersih setelah pajak Januari Dividen saham preferen ( 8 % x Rp 20.000 ) Saham biasa Laba per lembar saham Penyesuaian Laba : Penyesuaian Saham 20.000 = Laba per lembar saham = -1.600 18.400 : 7.500 7.500 = = 2,45 Rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar adalah sebagai berikut : Periode Januari – Maret 2003 =(5.000 x 2/1) = 10.000 x 3/12 = Periode April – Oktober 2003 =(3.000 x 2/1) = 6.000 x 7/12 = Periode Nop – Des 2003 = (3.000 x 2/1) + 3000 = 12.000 x 2/12 = Rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar tahun 2003 adalah 2.500 3.500 1.500 7.500 Laporan Laba Rugi tahun 2004 Laba bersih sebelum pendapatan diluar operasi Rp 16.500 (Rp 20.000 – Rp 3.500) Pendapatan diluar operasi Rp 3.500 Laba bersih setelah pajak Rp 20.000 Laba per lembar saham Laba bersih sblm extraordinary income = (Rp 18.400 – Rp 3.500 ) / 7.500 = Rp 1,98 Pendapatan di luar operasi = Rp 3.500 / 7.500 = Rp 0,47 Laba per lembar saham Rp 2,45 LABA DITAHAN Laba ditahan merupakan salah satu akun utama dari laporan laba rugi yang mempunyai hubungan dengan neraca suatu perusahaan. Aktiva yang dimiliki oleh perusahaan dibiayai dengan utang dan modal pemegang saham. Aktiva dari para pemegang saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi dan laba bersih (earnings) yang tidak dibagikan dalam bentuk dividen. Perusahaan menggunakan akun laba ditahan untuk sebagai ringkasan daripada komponen modal pemegang saham. Tambahan daripada laba bersih atau kerugian bersih suatu perusahaan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (a) dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham, (b) penyesuain pada awal periode dan (c) pembuatan cadangan (appropriations) Dividen Laba bersih perusahaan akan meningkatkan aktiva (modal) dan perusahaan akan mencatat peningkatan tersebut dalam akun laba ditahan sedangkan pembayaran dividen akan mempunyai pengaruh yang Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 92 sebaliknya. Pembagian dividen yang berupa dividen tunai atau property akan mengurangi aktiva (modal) dan dicatat sebagai pengurangan terhadap laba ditahan. Pemberian dividen merupakan wewenang manajemen suatu perusahaan dan sebelumnya telah dikonsultasikan dengan pihak akuntan. Manajemen mempunyai wewenang untuk mengambil kebijakan dividen termasuk penentuan jumlah, waktu dan jenis dividen yang akan diberikan. Pertimbangan pemberian dividen yang perlu diperhatikan yaitu kemampuan keuangan perusahaan dan kemampuan operasi serta dampak daripada pemberian dividen terhadap aktiva lancer, modal kerja, kemampuan untuk melakukan ekspansi usaha, pengaruhnya terhadap harga saham di pasar modal, dan pemeliharaan likuditas usaha yang dikaitkan dengan kondisi ekonomi masa depan yang menurun. Jenis pemberian dividen yang dpat dipertimbangkan oleh manajemen yaitu (a) tunai, (b) properti, (c) scrips, (d) saham, dan (e) dividen likuidasi. Sedangkan pengaruh dari beberapa jenis pemberian dividen adalah sebagai berikut (a) dividen tunai, properti dan scrips akan mengurangi laba ditahan dan modal pemegang saham, (b) didivden likuidasi akan mengurangi modal disetor dan modal pemegang saham, (c) dividen saham akan mengurangi laba ditahan dan meningkatkan modal pemilik walaupun tidak ada perubahan terhadap jumlah modal pemilik dan (d) stock split tidak akan berpengaruh pada neraca dan elemen dari pemegang saham. Dividen Tunai Pemberian dividen tunai merupakan hal yang umum dilakukan oleh perusahaan kepada para pemegang saham, sehingga bila ada pemberian dividen tanpa tambahan kata-kata yang lain berarti dividen tersebut berupa dividen tunai. Beberapa tanggal yang dianggap penting dalam pemberian dividen tunai yaitu (a) tanggal pengumuman, (b) tanggal ex-dividen, (c) tanggal pencatatan dan (d) tanggal pembayaran dividen. Pada tanggal pengumuman pembagian dividen, manajemen perusahaan mengumumkan bahwa dividen akan dibayarkan kepada para pemegang saham serta pencatatannya pada tanggal tertentu. Pada tanggal tersebut perusahaan dapat mencatat utang dividen untuk mengurangi laba ditahan. Dengan demikian mulai tanggal tersebut saham yang dijual di bursa efek mengandung sejumlah nilai dividen yang akan dibayarkan. Sedangkan tanggal ex-dividen yaitu beberapa hari sebelum tanggal pencatatan saham yang dimiliki oleh para pemegang saham. Pada tanggal tersebut saham yang dijual di bursa efek sudah tidak lagi mengandung penerimaan dividen. Tanggal pencatan saham biasanya terjadi setelah beberap minggu dari tanggal pengumuman pemberian dividen atau beberapa minggu sebelum tanggal pembayaran dividen. Pada tanggal pembayaran, maka perusahaan memberikan uang kepada pemegang saham dan Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 93 membuat jurtnal pembayaran atas utang dividen sehingga mengurangi uang kas. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, misalnya PT Tempo pada tanggal 16 Januari 2003 mengumumkan memberi dividen saham preferen sebesar Rp 125.000,00 dan saham biasa Rp 200.000,00 Pembayaran dividen akan dilakukan pada tanggal 4 Maret 2003 dan pencatatan 3 Februari 2003. Jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah : 16 Januari 2003 – Pengumuman pemberian dividen Laba ditahan Rp 325.000,00 Utang dividen saham preferen Rp 125.000,00 Utang dividen saham biasa Rp 200.000,00 3 Februari 2003 – Pencatatan saham Memo tentang rencana pembayaran dividen pada tanggal 4 Maret 2003 4 Maret 2003 – Saat pembayaran dividen Utang dividen saham preferen Utang dividen saham biasa Kas Rp 125.000,00 Rp 200.000,00 Rp 325.000,00 Apabila pembayaran dividen dilakukan pada akhir periode akuntansi, maka perusahaan dapat mencatat dengan utang dividen dalam utang lancar di neraca. SAHAM PREFEREN PARTISIPASI Umumnya jumlah dividen untuk masing-masing jenis saham dapat diketahui jumlahnya. Saham preferen dapat dibedakan menjadi dua yaitu partisipasi penuh atau partisipasi tidak penuh (parsial). Oleh karena itu perusahaan harus menghitung utang dividen untuk pemegang saham biasa dan saham preferen. Untuk saham preferen yang berpartisipasi penuh, kelebihan dividen yang diterima akan sama besarnya dengan saham biasa. Pembagian kelebihan dividen dilakukan secara proposional dari jumlah saham tiap jenisnya. Sedangkan saham preferen dengan partsipasi tidak penuh (partial) pemberian dividennya hanya dengan dasar tarip yang ada di saham tersebut. Sebagai contoh, perusahan telah menerbitkan saham preferen 10%, partisipatif, komulatif dengan nilai total Rp 200.000,00 dan saham biasa dengan nilai nominal Rp 300.000,00. Dengan menggunakan perbandingan kedua jenis saham tersebut, maka proporsi saham preferen adalah 40 % [Rp 200.000,00 (Rp 200.000,00 + Rp 300.000,00)] dan sisanya 60 % untuk saham biasa. Rencana jumlah dana yang akan diberikan dalam dividen tunai adalah Rp 80.000,00. Sedangkan asumsi yang digunakan yaitu (a) saham preferen berpartisipasi penuh, (b) saham Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 94 preferen berpartisipasi maksimal 12 % dari nilai nominal. Sedangkan perhitungannya adalah sebagai berikut : Keterangan a. Saham Preferen dengan partisipasi penuh Dividen saham preferen 10% x Nominal Dividen saham biasa sama dengan saham preferen 10 % Kelebihan dividen proposional dengan nominal saham - Jumlah total yang dialokasikan 80.000 - Alokasi (Rp 20.000 + Rp 30.000) (50.000) Sisa dana (40% untuk saham preferen 30.000 dan 60% saham biasa) Dividen tunai untuk kedua jenis saham b. Saham Preferen dengan partisipasi maksimal 12 % Dividen saham preferen 10% x Nominal Dividen saham biasa sama dengan saham preferen 10 % Dividen saham preferen (12 % – 10 % x 20.000) Dividen saham biasa (12% – 10% x 30.000) Sisa dividen untuk saham biasa (80.000 – 51.000) Dividen tunai untuk kedua jenis saham Saham Preferen Saham Biasa 20.000 30.000 12.000 18.000 32.000 48.000 20.000 30.000 400 600 29.000 20.400 59.600 Dividen Properti (Aktiva) Pemberian dividen berupa properti atau aktiva berarti merupakan transfer non moneter aset kepada pemilik. Dengan demikian perusahaan melakukan pertukaran dengan menyerahkan sejumlah nilai daripada aktiva akan tetapi tidak ada pengembalian aktiva atau jasa. Dengan menggunakan nilai wajar dalam pemberian dividen properti, maka perusahaan dapat menjual aktiva sehingga pemberian dividennya dapat berupa dividen tunai. Nilai wajar ditentukan saat pengumuman pemberian dividen (sebab pada tanggal tersebut sudah dianggap telah memenuhi aturan perundang-undangan) dengan mengacu pada harga pasar saham atau obligasi, harga aktiva saat ini atau tim penilai yang independen. Untuk memberikan gambaran, suatu perusahaan telah memutuskan untuk memberikan dividen properti dengan menjual obligasi milik PT Alfa yang saat ini nilai bukunya Rp 100.000,00 dan nilai pasar yang berlaku Rp 120.000,00. Jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 95 Tanggal Pengumuman Investasi Obligasi PT Alfa Rp 20.000,00 ( Rp 120.000,00 – Rp 100.000,00) Keuntungan atas penjualan Investasi Rp 20.000,00 Laba ditahan Utang Dividen Properti Rp 120.000,00 Rp 120.000,00 Tanggal Pembayaran Utang Dividen Properti Investasi Obligasi di PT Alfa Rp 120.000,00 Rp 120.000,00 Pada saat pembayaran perusahaan tidak melakukan jurnal koreksi atas keuntungan yang telah dibuat, walaupun terjadi penuruan atau kenaikan harga property yang dijual. Apabila dalam penjualan terdapat keuntungan atau kerugian dilaporkan dalam bagian lain dari laporan laba rugi. Sedangkan kalau perusahaan tidak dapat membayar dividen hingga tahun berikutnya, maka utang dividen tetap dicatat dalam utang lancer di neraca. Apabila perusahaan dalam membayar dividen property dengan menggunakan utang atau modal saham yang dapat dijual, maka perhitungan keuntungan dan kerugian akan lebih komplek karena harus memperhatikan pencatatan sebelumnya yang berupa kenaikan atau penuruan yang belum direalisasi. Perusahan biasanya menggunakan akun Cadangan untuk mencatat selisih antara harga pasar dengan harga perolehan dalam neraca. Pada tanggal pengumuman pemberian dividen property perusahaan harus melakukan revaluasi terhadap investasi dengan menyesuaikan akun cadangan dan mencatat keuntungan atau kerugian yang direalisasi serta mengeliminasi akun keuntungan atau kerugian yang belum direalisasi. Sebagai ilustrasi, PT HMSP mengumumkan pemberian dividen property pada tanggal 16 Maret 2004 dengan saham perusahaan PT Alfa. Saham PT Alfa dibeli pada awal tahun 2003 dengan harga Rp 80.000,00 dan telah dilaporkan sebagai aktiva dengan nilai Rp 100.000,00 (telah dicatat dalam Harga perolehan Rp 80.000,00 dan cadangan kenaikan harga saham Rp 20.000,00 pada laporan keuangan 31 Desember 2003). Apabila harga pasar saham pada tanggal 16 Maret 2004 adalah Rp 110.000,00, maka keuntungannya adalah Rp 30.000,00 (Rp 110.000,00 – Rp 80.000,00). Jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah : Cadangan perubahan nilai investasi yang Rp 10.000,00 dapat dijual Kenaikan nilai yang belum terealisas Rp 20.000,00 Keuntungan atas Investasi Rp 30.000,00 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 96 Laba ditahan Utang dividen property Rp 110.000,00 Rp 110.000,00 Pada tanggal pembayaran dividen, jurnal yang dibuat adalah : Utang dividen property Rp 110.000,00 Investasi dalam Saham PT Alfa Rp 80.000,00 Cadangan perubahan nilai investasi Rp 30.000,00 Dividen Saham Dividen saham berarti pemberian divdien berupa saham yang dihitung secara proporsional dengan rasionya sehingga menambah jumlah saham perusahaan dan pemegang saham. Pemberian dividen saham biasanya dengan menggunakan jenis saham yang sama dan selanjutnya disebut dengan dividen saham umum. Sedangkan pemberian dividen yang tidak sejenis, misalnya pemegang saham biasa diberi dividen saham preferen disebut dengan dividen saham khusus. Beberapa faktor yang dianggap menarik tentang pemberian dividen saham yaitu (a) pemegang sham menganggap bahwa dividen sham sebagai bukti perusahaan sedang tumbuh, (b) dividen saham bagi para pemegang saham dianggap sebagai kebijakan finansial, (c) diividen saham bagi investor dianggap dapat meningkatkan likuditas saham dan tidak berarti menurunkan harga saham, (d) pemegang saham menganggap bahwa akibat dividen saham adalah penurunan harga saham yang akhirnya dapat menjadi lebih menarik bagi para investor baru. Pemberian dividen saham dapat dibedakan menjadi dua yaitu dividen saham kecil dan dividen saham besar. Untuk dividen saham kecil, perusahaan hanya mentransfer akun laba ditahan pada modal saham sebesar nilai wajar dari tambahan saham baru dan jumlahnya berkisar antara 20 % – 25 %. .dari saham yang telah beredar sebelumnya. Sedangkan akuntansi untuk dividen saham besar menggunakan dasar nilai nominal atau yang tertera pada saham dan untuk saham yang tidak diketahui nilai nominalnya, maka dasar pencatatannya menggunakan rata-rata harga saham yang sejenis dari saham yang telah beredar sebelumnya atau ditentukan oleh pihak manajemen. Berikut ini diagram yang menggambarkan dividen saham kecil dan dividen saham besar. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 97 Dividen Saham Kecil (< 20 % - 25 %) Besar Nilai Wajar Nilai Nominal Laba Ditahan Modal Saham Agio / Disagio Saham Laba Ditahan Modal Saham Sumber : Nikolai and Bazley, 2003,p.739) Sebagai ilustrasi akuntansi untuk kedua jenis pemberian dividen adalah sebagai berikut : Saham Biasa, 4.000 lembar nilai nominal Rp 500,00 Agio Saham Laba ditahan Jumlah Modal Pemegang Saham Rp 2.000.000,00 Rp 800.000,00 Rp 1.200.000,00 Rp 4.000.000,00 a. Perusahaan memberikan dividen saham sebesar 10 % dan pada saat pengumuman harga jual saham Rp 700,00 per lembar. b. Perusahaan memberikan dividen saham sebesar 30 % atau 1.200 lembar dengan jumlah nilai nominal Rp 600.000,00 (1.200 x Rp 500,00) dan pada saat pengumuman harga jual saham Rp 700,00 per lembar. Jurnal yang dibuat oleh perusahaan adalah : a. Dividen Saham Kecil Tanggal Pengumuman Laba ditahan (10 % x 4.000 x Rp 700,00) Rp 280.000,00 Modal saham biasa yang diserahkan Rp 200.000,00 Agio Saham Biasa dari dividen saham Rp 80.000,00 Tanggal Penerbitan Saham Modal Saham Biasa yang diserahkan Modal Saham, nominal Rp 500,00 Rp 200.000,00 Rp 200.000,00 Perubahan dari modal pemegang saham adalah : Saham Biasa, 4.400 lembar nilai nominal Rp 500,00 Agio Saham Laba ditahan Jumlah Modal Pemegang Saham Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto Rp 2.200.000,00 Rp 880.000,00 Rp 920.000,00 Rp 4.000.000,00 98 Secara total modal pemegang saham tidak mengalami perubahan, tetapi hanya jumlah masing-masing komponen modal saham yang berubah. b. Dividen Saham Besar Tanggal Pengumuman Laba ditahan (30 % x 4.000 x Rp 500,00) Rp 600.000,00 Modal saham biasa yang diserahkan Rp 600.000,00 Tanggal Penerbitan Saham Modal Saham Biasa yang diserahkan Modal Saham, nominal Rp 500,00 Rp 600.000,00 Rp 600.000,00 Perubahan dari modal pemegang saham adalah : Saham Biasa, 5.200 lembar nilai nominal Rp 500,00 Agio Saham Laba ditahan Jumlah Modal Pemegang Saham Rp 2.600.000,00 Rp 800.000,00 Rp 600.000,00 Rp 4.000.000,00 PERTANYAAN 1. Jelaskan perbedaan struktur modal yang sederhana dan komplek ! 2. Bagaimana cara menghitung laba per lembar dengan menggunakan struktur modal yang sederhana ? 3. Jelaskan bagaimana cara menghitung rata-rata tertimbang saham yang beredar ! 4. Jelaskan perlakuan dari stock split dan dividen saham dalam perhitungan rata-rata tertimbang saham yang beredar suatu perusahaan ! 5. Jelaskan tanggal-tanggal terpenting dalam pemberian dividen suatu perusahaan ! 6. Jelaskan yang dimaksud dengan dilusi harga saham ! 7. Jelaskan perbedaan antara partisipasi penuh dan tidak penuh dari saham preferen ! 8. Jelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi besar kecilnya laba ditahan ! 9. Sebutkan jenis-jenis pemberian dividen dan pengaruhnya ! LATIHAN 1. Pada awal tahun PT HMSP mempunyai saham biasa yang beredar 20.000 lembar dengan nilai nominal Rp 500 dan adanya berbagai transaksi selama satu tahun akhirnya jumlah saham biasa yang beredar perusahaan mencapai 63.800. Sedangkan transaksinya adalah sebagai berikut : Tanggal 2 April, perusahaan menerbitkan saham biasa 3.000 lembar Tanggal 4 Juni , perusahaan menerbitkan saham biasa 4.000 lembar Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 99 Tanggal 1 Juli, perusahaan memberikan 10 % dividen saham Tanggal 28 September, melakukan stock split dengan rasio 1 : 2 dan nilai nominal menjadi Rp 250,Tanggal 3 Oktober, perusahaan menarik kembali 1.000 lembar saham sebagai treasuri Tanggal 27 Nopember, menerbitkan kembali treasuri stock 1.000 lembar Tentukan rata-rata tertimbang dari saham yang beredar untuk tujuan penentuan laba per lembar saham 2. PT INCO pada awal tahun 2003 mempunyai 7.000 lembar saham biasa yang beredar dan pada tanggal 2 April 2003 perusahaan menerbitkan saham biasa sebanyak 2.000 lembar. Pada tahun 2003 perusahaan juga mempunyai saham preferen 10 % non konversi sebanyak 1.000 lembar dengan nilai nominal Rp 1.000,- dan dividennya telah dibagikan. Laba bersih yang diperoleh perusahaan adalah Rp 300.000,- dan yang diberikan sebagai dividen untuk saham biasa adalah Rp 170.000,-. Pada akhir tahun 2003 harga pasar saham adalah Rp 175,Diminta : Hitung laba per lembar saham tahun 2003 dan price earning rationya 3. Modal pemegang saham dari PT Alfa adalah sebagai berikut : Modal saham biasa, nominal Rp 500,00 per lembar Rp 2.500.000,00 Agio saham biasa Rp 1.500.000,00 Laba ditahan Rp 2.000.000,00 Jumlah Rp 6.000.000,00 Perusahaan sedang mempertimbangkan untuk memberikan dividen saham pada saat harga pasar saham mencapai Rp 1.500,- per lembar Diminta : a. Manajemen beranggapan bahwa divden saham sebesar 6 %, maka buatlah (.1) Jurnal saat pengumuman dividen, (2) jurnal saat menerbitkan dan (3) modal pemegang saham setelah penerbitan saham baru b. Bila dividen saham adalah 40 %, maka buatlah jurnal seperti nomor 1,2 dan 3 soal b di atas. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 100 BAB 9 PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI DAN KESALAHAN MENDASAR Konsistensi merupakan salah satu kualitative karakteristik daripada akuntansi yang mencakup prinsip akuntansi, kebijakan dan prosedur pelaporan tiap periode. Namun demikian dalam kondisi tertentu perusahaan dapat mengembangkan pelaporannya karena dengan menggunakan prinsip akuntansi yang baru dianggp lebih sesuai atau lebih mencerminkan kondisi ekonomi saat ini. Dengan melakukan perubahan kebijakan akuntansi tersebut, maka ketentuan dalam penyajian laporan keuangan yang konsisten menjadi lemah. Oleh karena itu perlu ada penjelasan tentang pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dalam laporan keuangan. Dalam bab ini pembahasan lebih menekankan pada pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan JENIS PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI Menurut PSAK No. 25 bahwa perusahaan dapat melakukan perubahan kebijakan akuntansinya dan secara ringkas dapat dijelaskan sebagai berikut : a. Perubahan Kebijakan Akuntansi. Hal ini terjadi apabila perusahaan mengganti kebijakan akuntansi yang telah berjalan dengan yang baru,, misalnya perubahan dalam pencatatan persediaan dari FIFO menjadi LIFO atau perubahan metode penyusutan dari garis lurus menjadi saldo menurun. b. Perubahan Estimasi Akuntansi. Dalam penyajian laporan keuangan seringkali menggunakan dasar estimasi untuk menentukan besarnya pendapatan atau biaya dan penentuan estimasi itu didasarkan pada pengalaman masa lalu, kejadian yang ada saat ini dan informasi baru. Sebagai contohnya yaitu penentuan estimasi piutang sangsi (bad debts), keusangan persediaan dan masa manfaat atas aktiva yang disusutkan. Di samping itu perusahaan juga perlu mengungkapkan temuan kesalahan dalam laporan keuangan yang dipublikasikan. Kesalahan bukan merupakan bagian dari perubahan kebijakan akuntansi, tetapi hasil dari kesalahan perhitungan atau kesalahan dalam penerapan standar akuntansi. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 101 METODE PENGUNGKAPAN PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI Perubahan kebijakan akuntansi suatu perusahaan menurut PSAK No. 25 paragrap 41 dapat diungkapkan dengan dua cara yaitu (a) restropektif berarti bahwa kebijakan akuntansi yang baru diterapkan berlaku surut atau kebijakan itu seolah-olah telah digunakan sebelumnya dan (b) prospektif yang berarti bahwa kebijakan itu berlaku untuk transaksi setelah tanggal kebijakan itu diterapkan dan tidak ada penyesuaian terhadap periode sebelumnya pada saldo laba awal periode (retained earnings) atau laba atau rugi bersih periode sekarang. Sebagai contoh penerapan restropektif yang berhubungan dengan perubahan penggunaan metode penyusutan, PT Denco didirikan tahun 2001 dan membeli kendaraan seharga Rp 10.000.000,00 yang diperkirakan berumur 4 tahun tanpa nilai residu. Pada mulanya perusahaan melakukan penyusutan dengan metode sum-of-the-years’digits dan merencanakan mengganti dengan metode garis lurus pada awal tahun 2003. Perhitungan penyusutannya adalah sebagai berikut (dengan anggapan tanpa memperhatikan pajak penghasilan) Alternatif penyusutan PT Denco Metode Tahun 2001 2002 2003 2004 Sum-of-the-years’ – digits (4/10 x 10.000.000) (3/10 x 10.000.000) (2/10 x 10.000.000) (1/10 x 10.000.000) = = = = 4.000.000 3.000.000 2.000.000 1.000.000 10.000.000 Garis lurus 2.500.000 2.500.000 2.500.000 2.500.000 10.000.000 Jumlah perubahan penyusutan dengan garis lurus 1.500.000 500.000 ( 500.000) (1.500.000) 0 Dalam laporan keuangan yang dibuat perusahaan menyajikan laporan perbandingan (comparative) sehingga perusahaan harus menyesuaikan akun penyusutan untuk tahun 2001 – 2002. Dengan cara restropektif, perubahan penggunaan penyusutan berpengaruh terhadap laporan keuangan tahun sebelumnya dan berikutnya. Dengan menggunakan metode prospektif, perusahaan menghitung penyusutan untuk tahun 2003 dengan dasar sisa nilai buku awal tahun 2003 dan perhitungan penyusutannya dari sisa umur. Nilai buku pada awal tahun 2003 yaitu Rp 3.000.000,00 (Rp 10.000.000,00 – Rp 4.000.000,00 – Rp 3.000.000,00) dan penyusutan untuk tahun 2003 adalah Rp 1.500.000,00 (Rp 3.000.000,00 : 2 tahun). Dengan demikian perubahan penggunaan metode penyusutan dengn cara prospektif hanya akan bepengaruh pada laporan keuangan tahun 2003 dan 2004. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 102 KESALAHAN MENDASAR Dalam PSAK no. 25 disebutkan bahwa kesalahan mendasar berarti kesalahan yang jumlahnya cukup signifikan yang dijumpai pada suatu periode berjalan sehingga periode sebelumnya tidak dapat diandalkan lagi tanggal pada penerbitannya/ Pengaruh kesalahan tersebut kemungkinan pada akun luar biasa, laba bersih dan pada catatan perhitungan laba per lembar saham tiap periode laporan. Contoh kesalahan yang dapat terjadi di suatu perusahaan meliputi : 1. 2. 3. 4. Penggunaan prinsip akuntansi yang belum diterima secara umum Penggunaan estimasi yang menghasilkan perhitungan yang memadai Perhitungan matematik yang salah, seperti perhitungan persediaan Perlakuan akrual terhadap biaya Kesalahan yang terjadi disuatu perusahaan sangat sukar untuk diprediksi dan jenis kesalahan yang terjadi di perusahaan juga sukar untuk di lakukan generaliasasi. Suatu kesalahan sering dijumpai setelah laporan keuangan dibuat dan yang menemukan kesalahan itu dapat dari pihak internal atau eksternal auditor. Sedangkan kategori kesalahan dapat dibuat atas dasar pengaruh yang ditimbulkan dalam laporan keuangan yaitu : a. Kesalahan hanya berpengaruh pada neraca. Suatu kesalahan dapat terjadi hanya berpengaruh pada neraca, misalnya piutang wesel jangka panjang dicatat di neraca sebagai piutng jangka pendek. Dengan perlu direklasifikasi yang hanya berpengaruh di neraca saja. Oleh karena itu, jika kesalahan terjadi pada awal periode, maka perusahaan tidak perlu melakukan jurnal koreksi, jika laporan keuangan disajikan secara komparatif untuk periode sekarang, maka perusahaan perlu melakukan reklasisifkasi pada awal periode. b. Kesalahan berpengaruh pada laporan laba rugi. Kesalahan yang hanya berpengaruh pada akun laporan laba rugi biasanya karena kesalahan dalam reklasifikasi suatu akun, misalnya pendapatan bunga dengan pendapatan penjualan. Kesalahan tersebut perlu reklasifikasi, tapi tidak berpengaruh pada laba bersih. Apabila kesalahan tersebut terjadi pada awal periode dan tidak dilakukan comparative laporankeuangan, maka tidak perlu ada jurnal koreksi. Tetapi kalau laporan keuangannya dilakukan komperatif dengan tahun ini, maka perlu ada koreksi reklasifikasi. c. Kesalahan berpengaruh pada neraca dan laporanlaba rugi. Kesalahan dapat terjadi berpengaruh pada akun neraca dan laba rugi, misalnya perhitungan utang biaya bunga pada akhir periode terlalu kecil. KOREKSI KESALAHAN Untuk melakukan generalisasi suatu kesalahan sangat sulit karena jenis kesalahan sangat beraneka ragam. Untuk menentukan suatu Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 103 kesalahan perlu diuji secara cermat terutama harus mengetahui bagaimana suatu transaksi telah dicatat sebelumnya dan selanjutnya dapat menentukan bagaimana transaksi itu seharusnya dicatat. Langkah untuk melakukan koreksi adalah (1) buat jurnal dengan metode yang relative mudah, or (2) buatlah jurnal pembalikan (reversing ) dari jurnal yang dianggap salah sebelumnya dan buatlah jurnal yang sebenarnya atas transaksi tersebut dan kedua jurnal tersebut digabung. Sebagai contoh, perusahaan melakukan perbaikan bangunan sebasar Rp. 10.000.000,- dicatat sebagai biaya perbaikan bangunan dan kesalahan tersebut diketahui pada (1) tahun ini dan buku perusahaan belum ditutup dan (2) tahun berikutnya dan buku perusahaan telah ditutup. Dengan menggunakan langkah tersebut, maka jurnal koreksi yang dibuat adalah : 1. Kesalahan diketahui tahun ini dan buku perusahaan belum ditutup a. Jurnal yang salah oleh perusahaan Biaya perbaikan gedung Kas Rp 10.000.000,00 Rp 10.000.000,00 b. Jurnal yang salah dibalik (reverse) Kas Rp 10.000.000,00 Biaya perbaikan gedung Rp 10.000.000,00 c. Jurnal yang betul Bangunan Kas Rp 10.000.000,00 Rp 10.000.000,00 d. Jurnal koreksi yang benar (jurnal b dan c digabung) Bangunan Rp 10.000.000,00 Biaya perbaikan gedung Rp 10.000.000,00 2. Apabila buku perusahaan telah ditutup, maka jurnal koreksinya berhubungan dengan laba ditahan yaitu : Bangunan Laba ditahan Rp 10.000.000,00 Rp 10.000.000,00 Selanjutnya perusahaan juga harus melakukan koreksi atas penyusutan tahun sebelumnya, agar supaya laba bersihnya tidak terlalu besar (overstatement). Apabila umur perbaikan bangunan adalah 10 tahun, maka perusahaan harus membuat jurnal koreksi depresiasi untuk tahun lalu. Laba ditahan Akumulasi depresiasi Rp 1.000.000,00 Rp 1.000.000,00 Sedangkan untuk tahun berjalan (tahun kedua) perusahaan juga perlu membuat jurnal depresiasi yaitu : Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 104 Depresiasi – Bangunan Akumulasi depresiasi Rp 1.000.000,00 Rp 1.000.000,00 Pendapatan diterima dimuka tidak dicatat dalam periode yang benar. PT Alfa pada tahun 2002 menerima uang sewa untuk tahun 2003 dari PT ABC sebesar Rp 20.000.000,00. Pada tahun 2002 perusahaan mencatat kas didebet dan pendapatan dikredit dan kesalahan tersebut baru diketahui pada tahun 2003. Dengan demikian pendapatan sewa tahun 2002 terlalu besar, sehingga laba ditahan harus dikurangi. Jurnal koreksi yang dibuat oleh perusahaan adalah : Laba ditahan Pendapatan Sewa Rp 20.000.000,00 Rp 20.000.000,00 Apabila perusahaan hingga tahun 2004 tidak menemukan kesalahan, kesalahan tersebut tidak perlu dikoreksi karena sudah ada counterbalanced. Akan tetapi, bila perusahaan menyajikan laporan komparatif untuk tahun 2003 dan 2004, maka perusahaan harus melakukan koreksi kesalahan tersebut. Biaya Asuransi dibayar dimuka tidak dicatat dalam periode yang benar. PT GGRM tahun 2002 membayar asuransi untuk tahun 2003 sebesar Rp 10.000.000,00 dan dicatat sebagai biaya asuransi di debit dan kas di kredit. Kesalahan tersebut baru diketahui pada tahun 2003, sehingga laba tahun 2002 terlalu kecil dan tahun 2003 terlalu besar. Jurnal koreksinya pada tahun 2003 adalah : Biaya Asuransi Laba ditahan Rp 10.000.000,00 Rp 10.000.000,00 Apabila pembayaran asuransi tahun 2002 tersebut untuk dua tahun yang akan datang yaitu tahun 2003 dan 2004, maka jurnal koreksinya yang dibuat tahun 2003 adalah : Biaya Asuransi Biaya Asuransi dibayar dimuka Laba ditahan Rp 5.000.000,00 Rp 5.000.000,00 Rp 10.000.000,00 Kesalahan Persediaan Akhir. PT GGRM pada akhir tahun 2002 jumlah persediaan tembakaunya Rp 100.000,00 dan tahun 2003 diketahui bahwa persediaan tahun 2002 seharusnya Rp 110.000,00. Persediaan akhir tahun 2002 terlalu kecil Rp 10.000,00 sehingga harga pokok penjualannya terlalu besar Rp 10.000,00 dan akhirnya laba menjadi kecil. Oleh karena itu laba ditahan perlu ditambah dan jurnalnya adalah : Persediaan Laba ditahan Rp 10.000.000,00 Rp 10.000.000,00 Kesalahan Pembelian. PT Matahari tahun 2003 membeli barang dengan kredit sebesar Rp 52.000,00 tapi dicatat Rp 25.000,00 .Akun pembelian Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 105 dan utang dagang terlalu kecil sebesar Rp 27.000,00, harga pokok penjualannya pada tahun 2003 dan laba terlalu besar Rp 27.000,00. Oleh karena laba ditahan perlu dikurangi dengan jumlah tersebut. Jurnal koreksi yang dibuat oleh perusahaan tahun 2004 adalah menambah Utang Dagang dan mengurangi laba ditahan. Laba ditahan Utang Dagang Rp 27.000,00 Rp 27.000,00 Dalam kenyataan kemungkinan tidak akan terjadi koreksi dilakukan pada tahun 2004, karena para penjual umumnya membutuhkan dana pelunasan. PERTANYAAN 1. Jelaskan jenis perubahan kebijakan akuntansi menurut PSAK no. 25 ! 2. Sebutkan perbedaan metode pengungkapan perubahan kebijakan akuntansi ! 3. Jelaskan tiga kategori kesalahan dilihat dari pengaruh yang ada dalam laporan keuangan ! 4. Berilah contoh cara mengoreksi suatu kesalahan ! LATIHAN 1. PT Alfa gagal dalam pengakuan akrual dan dicatat sebagai biaya dibayar dimuka dan pendapatan diterima dimuka dicatat sebagai biaya dan pendapatan pada tahun terjadinya transaksi. Keterangan 2001 2002 2003 Biaya dibayar dimuka 5.000 9.000 11.000 Utang Biaya 8.000 7.000 9.500 30.000 40.000 10.000 6.000 10.000 12.000 80.000 100.000 110.000 Pendapatan diterima dimuka Pendapatan yang seharusnya diterima, tapi belum diterima Laba bersih Diminta : 1. Hitung laba bersih yang benar untuk tahun 2001 – 2003 2. Buat jurnal yang diperlukan untuk tahun 2003, jika kesalahan diketahui pada akhir tahun tersebut. 3. Buat jurnal yang diperlukan untuk tahun 2004, jika kesalahan diketahui pada akhir tahun tersebut 2. Jurnal koreksi untuk transaksi sebagai berikut : a. Barang dalam perjalanan, pembelian dilakukan dengan FOB destination Rp 10.000.000,00 telah dicatat dalam pembelian tapi belum dicatat dalam persediaan akhir. Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 106 b. Pembelian mesin seharga Rp 20.000.000,00 telah dicatat sebagai biaya dan diperkirakan berumur 4 tahun yang disusut dengan metode garis lurus. c. Utang gaji sebesar Rp. 3.000.000,00 belum dicatat d. Pembayaran biaya sewa untuk tahun depan sebesar Rp 10.000.000,- telah dicatat sebagai biaya sewa. e. Cadangan kerugian piutang sebesar Rp. 6.000.000,- belum dicatat Buatlah jurnal koreksi dengan anggapan bahwa kesalahan tersebut diketahui satu tahun setelah terjadinya transaksi tersebut ! Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 107 DAFTAR PUSTAKA Cashin, Feldman et al, 1994, Intermediate Accounting I, McGrawHill, Book Company Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) , 2004, Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat Kieso, Donald e dan Weygandt, JJ, 1995, Akuntansi Intermediate, 7 th Ed, Binarupa Aksara Larson, Wild dan Chiappetta, 2002, Fundamental Accounting Principles, FAP Sixteenth Ed., MCGraw Hill, Irwin Nikolai, Loren A dan Bazley , John D, 2003, Intermediate Accounting, 9th Ed, Thomson, South Western Robbert Ang, 1997, Buku Pintar Pasar Modal Indonesia, First Edition, Mediasoft Indonesia Smith, Jay M dan Skousen, K Fred, 1987, Akuntansi Intermediate, Jilid I & II, Penerbit Erlangga Undang Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 Zaki Baridwan, 2000, Intermediate Accounting , Edisi 2, BPFE, Yogyakarta Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 108 LAMPIRAN : 1 PRESENT VALUE OF 1 p = 1 / ( 1 + i )n n 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00% 8.00% 9.00% 10.00% 12.00% 1 0.9901 0.9804 0.9709 0.9615 0.9524 0.9434 0.9346 0.9259 0.9174 0.9091 0.8929 2 0.9803 0.9612 0.9426 0.9246 0.9070 0.8900 0.8734 0.8573 0.8417 0.8264 0.7972 3 0.9706 0.9423 0.9151 0.8890 0.8638 0.8396 0.8163 0.7938 0.7722 0.7513 0.7118 4 0.9610 0.9238 0.8885 0.8548 0.8227 0.7921 0.7629 0.7350 0.7084 0.6830 0.6355 5 0.9515 0.9057 0.8626 0.8219 0.7835 0.7473 0.7130 0.6806 0.6499 0.6209 0.5674 6 0.9420 0.8880 0.8375 0.7903 0.7462 0.7050 0.6663 0.6302 0.5963 0.5645 0.5066 7 0.9327 0.8706 0.8131 0.7599 0.7107 0.6651 0.6227 0.5835 0.5470 0.5132 0.4523 8 0.9235 0.8535 0.7894 0.7307 0.6768 0.6274 0.5820 0.5403 0.5019 0.4665 0.4039 9 0.9143 0.8368 0.7664 0.7026 0.6446 0.5919 0.5439 0.5002 0.4604 0.4241 0.3606 10 0.9053 0.8203 0.7441 0.6756 0.6139 0.5584 0.5083 0.4632 0.4224 0.3855 0.3220 11 0.8963 0.8043 0.7224 0.6496 0.5847 0.5268 0.4751 0.4289 0.3875 0.3505 0.2875 12 0.8874 0.7885 0.7014 0.6246 0.5568 0.4970 0.4440 0.3971 0.3555 0.3186 0.2567 13 0.8787 0.7730 0.6810 0.6006 0.5303 0.4688 0.4150 0.3677 0.3262 0.2897 0.2292 14 0.8700 0.7579 0.6611 0.5775 0.5051 0.4423 0.3878 0.3405 0.2992 0.2633 0.2046 15 0.8613 0.7430 0.6419 0.5553 0.4810 0.4173 0.3624 0.3152 0.2745 0.2394 0.1827 16 0.8528 0.7284 0.6232 0.5339 0.4581 0.3936 0.3387 0.2919 0.2519 0.2176 0.1631 17 0.8444 0.7142 0.6050 0.5134 0.4363 0.3714 0.3166 0.2703 0.2311 0.1978 0.1456 18 0.8360 0.7002 0.5874 0.4936 0.4155 0.3503 0.2959 0.2502 0.2120 0.1799 0.1300 19 0.8277 0.6864 0.5703 0.4746 0.3957 0.3305 0.2765 0.2317 0.1945 0.1635 0.1161 20 0.8195 0.6730 0.5537 0.4564 0.3769 0.3118 0.2584 0.2145 0.1784 0.1486 0.1037 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto 109 LAMPIRAN : 2 PRESENT VALUE OF AN ANNUITY OF 1 p = 1 1 /i n (1 i ) N 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00% 8.00% 9.00% 10.00% 12.00% 1 0.9901 0.9804 0.9852 0.9709 0.9615 0.9524 0.9434 0.9346 0.9259 0.9174 0.8929 2 1.9704 1.9416 1.9559 1.9135 1.8861 1.8594 1.8334 1.8080 1.7833 1.7591 1.6901 3 2.9410 2.8839 2.9122 2.8286 2.7751 2.7232 2.6730 2.6243 2.5771 2.5313 2.4018 4 3.9020 3.8077 3.8544 3.7171 3.6299 3.5460 3.4651 3.3872 3.3121 3.2397 3.0373 5 4.8534 4.7135 4.7826 4.5797 4.4518 4.3295 4.2124 4.1002 3.9927 3.8897 3.6048 6 5.7955 5.6014 5.6972 5.4172 5.2421 5.0757 4.9173 4.7665 4.6229 4.4859 4.1114 7 6.7282 6.4720 6.5982 6.2303 6.0021 5.7864 5.5824 5.3893 5.2064 5.0330 4.5638 8 7.6517 7.3255 7.4859 7.0197 6.7327 6.4632 6.2098 5.9713 5.7466 5.5348 4.9676 9 8.5660 8.1622 8.3605 7.7861 7.4353 7.1078 6.8017 6.5152 6.2469 5.9952 5.3282 10 9.4713 8.9826 9.2222 8.5302 8.1109 7.7217 7.3601 7.0236 6.7101 6.4177 5.6502 11 10.3676 9.7868 10.0711 9.2526 8.7605 8.3064 7.8869 7.4987 7.1390 6.8052 5.9377 12 11.2551 10.5753 10.9075 9.9540 9.3851 8.8633 8.3838 7.9427 7.5361 7.1607 6.1944 13 12.1337 11.3484 11.7315 10.6350 9.9856 9.3936 8.8527 8.3577 7.9038 7.4869 6.4235 14 13.0037 12.1062 12.5434 11.2961 10.5631 9.8986 9.2950 8.7455 8.2442 7.7862 6.6282 15 13.8651 12.8493 13.3432 11.9379 11.1184 10.3797 9.7122 9.1079 8.5595 8.0607 6.8109 16 14.7179 13.5777 14.1313 12.5611 11.6523 10.8378 10.1059 9.4466 8.8514 8.3126 6.9740 17 15.5623 14.2919 14.9076 13.1661 12.1657 11.2741 10.4773 9.7632 9.1216 8.5436 7.1196 18 16.3983 14.9920 15.6726 13.7535 12.6593 11.6896 10.8276 10.0591 9.3719 8.7556 7.2497 19 17.2260 15.6785 16.4262 14.3238 13.1339 12.0853 11.1581 10.3356 9.6036 8.9501 7.3658 20 18.0456 16.3514 17.1686 14.8775 13.5903 12.4622 11.4699 10.5940 9.8181 9.1285 7.4694 Intermadiate Accounting II – By Eddy Sutjipto View publication stats