Uploaded by User69521

PEDOMAN PENGOPERASIAN IPAL

advertisement
PEDOMAN PENGOPERASIAN & PEMELIHARAAN
INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH
I.
UMUM
Sebelum mengoperasikan instalasi Sewage Treatment Plant (STP), Kepala bagian yang
bertanggung jawab penuh atas instalasi tersebut, harus mengorganisir dan
menginstruksikan tindakan-tindakan yang tepat kepada personel-personel yang
bertanggung jawab atas pengoperasian instalasi tersebut.
1. Kepala Bagian harus menentukan kondisi pengoperasian aktual dari waktu ke waktu
dengan mempertimbangkan flow rate, kualitas influent dan efluen, sudut pandang
ekonomis, usia masing-masing peralatan, dan lain-lain.
2. Kepala
Bagian
harus
mengkonfirmasikan
kegiatan
harian
dalam
sistem
pengoperasian STP. Kepala Bagian harus menerangkan hal penting berkaitan dengan
sistem operasional berikut ini kepada operator :
 Detail pengoperasian
 Pencatatan Data Pengoperasian
 Memelihara Kebersihan Lokasi
 Langkah-Langkah Pengamanan
3. Pemecahan Masalah/Troubleshooting:
 Begitu terjadi kondisi atau masalah yang abnormal, personil yang mengetahui
harus melapor ke Kepala Bagian. Dalam hal ini, standby unit yang sudah siap
harus segera menggantikan.
 Suku cadang dan onderdil yang rusak harus diganti sesuai dengan petunjuk
perawatan dari penjual mesin atau peralatan tersebut.
 Jika standby unit dan onderdil yang rusak tidak tersedia di tempat, Kepala Bagian
harus memberitahu Pimpinan di atas yang membawahi STP secara mendetail,
supaya bisa menghubungi vendor.
 Catatlah alamat, telpon, email, dan lain sebagainya. semua daftar vendor dan subvendor sebagai referensi.
 Pada kasus gawat darurat yang luar biasa, Kepala Bagian harus menginstruksikan
langkah langkah optimum kepada operator-operator tiap instalasi. Pada kasus
terburuk, instalasi harus dihentikan sementara dan limbah dialirkan lewat by-pass
tanpa pengolahan. Walau demikian, penghentian IPAL harus diminimalisir.
 Untuk peralatan yang terpisah, periksa petunjuk perawatan masing-masing
peralatan tersebut.
II.
SISTEM PELISTRIKAN
Pasokan listrik umumnya berasal dari jaringan PLN, tetapi jika diperlukan bisa juga di
backup dengan unit genset tersendiri. Jika dengan menggunakan dua sumber, maka
diperlukan panel listrik untuk pengoperasiannya. Secara umum peralatan listrik standar
selalu tersedia panel box atau kontrol panel seperti :
1. NFS (No Fuse Breaker), berfungsi sebagai :
Untuk pembatasan daya/beban listrikyang digunakan oleh suatu mesin.
 Sebagai pengaman jaringan jika terjadi hubungan arus pendek.
 Sebagai penghubung atau pemutus jaringan/tegangan listrik yang mempunyai
kapasitas amper tinggi.
2. MCB (Magnetic Cercuit Breaker), memiliki fungsi sama dengan NFS namun MCB
digunakan untuk jaringan/tegangan listrik yang mempunyai kapasitas amper rendah.
3. Contactar, berfungsi sebagai saklar yang bekerja berdasarkan magnit listrik yang
bekerja berdasarkan tegangan listrik ±3 watt dapat dioperasikan secara otomatis
untuk mengkontrol alat/jaringan yang memiliki tegangan hingga ribuan watt.
Gambar 1. Contoh Panel Box IPAL/STP/WWTP
4. Overload Thermis, berfungsi pengaman beban listrik, terutama motor listrik agar
tdak rusak/terbakar jika kelebihan beban/tidak kuat memutar alat yang digerakkan.
Overload Thermis bekerja secara otomatis dengan menggunakan sensor panas.
5. Tombol ON & OFF (Push Bottom)
 Warna hijau : untuk mengaktifkan kontaktor, menghubungkan kontaktor dengan
tegangan listrik agar aktif/bekerja.
 Warna merah : untuk memutuskan kontaktor dari alirn/jaringan tegangan listrik
supaya mati/off.
Gambar 2. Tombol ON &OFF
6. Lampu Indikator :
 Sebagai alat bantu visual yang dihubungkn ke push bottom, sehingga mudah
diketahui posisi mesin mesin apakah sedang ON atau OFF.
 Pada indikator power supply dengan jaringan 3 phase, lampu indikator terdiri dari
3 warna, yaitu merah, kuning, dan hijau. Apabila power supply dihidupkan maka
seharusnya ketiga lampu indikator akan menyala, namun jika salah satu lampu
indikator tidak menyala menunjukkan bahwa aliran listrik tidak tersambung pada
aliran 3 phase tersebut. Dalam kondisi demikian, jangan mengaktifkan samua
peralatan/mesin jika salah satu phase mati.
Gambar 3. Lampu Indiktor 3 Phase
7. Saklar Geser, berfungsi sebagai pemindah fungsi operasi manual atau otomatis.
Gambar 4. Saklar Manual/Otomatis
8. Penghubung Kabel/Terminal, berfungsi untuk menghubungkan jaringan kabel
listrik.
Gambar 5. Terminal Kabel
9. Aksesoris Pelengkap, berfungsi sebagai alat bantu untuk memudahkan dalam
pengoperasian panel box, seperti plakat berisi langkah kerja pengoperasian panel
listrik yang dapat ditempel di pintu panel box atau lokasi yang mudah untuk dilihat.
Gambar 6. Papan/Plakat Penunjuk Pengoperasian Panel Box
III. PENGOPERASIAN UNIT PRETREATMENT
1. Perangkap Lemak/Grease Trap
Fungsi : Pada tahap awal proses pretreatment STP, perangkap lemak/grease trap
berfungsi sebagai screening awal, sehingga resiko penyumbatan pada jaringan
perpipaan dapat dihindari dan pemeliharaan jaringan perpipaan secara keseluruhan akan
menjadi lebih ringan. Grease trap juga berfungsi untuk memberikan waktu tinggal
yang cukup untuk memastikan lemak terpisah dari air, sehingga lemak akan
mengapung diatas air dan berada di bagian atas air limbah.
Terdapat 2 (dua) jenis grease trap yang umumnya digunakan, yaitu jenis pertama
adalah grease trap dengan konstruksi sederhana yaitu kolam yang diberi sekat-sekat
sehingga grease trap jenis ini tidak memerlukan pengoperasian secara khusus, hanya
perawatan dan pemeliharaan saja. Lemak dan kotoran mengambang pada kolam,
diambil dan dibersihkan setiap hari dan dibuang ke tempat pembuangan sampah atau
bisa dibakar di incinerator. Adapun grease trap jenis kedua adalah grease trap yang
menggunakan aerasi udara atau disebut juga dengan sistem flotation. Pada beberapa
unit grease trap umumnya terdapat saringan yang berfungsi untuk memisahkan
sampah-sampah seperti sampah plastik, limbah dapur, atau limbah padat lainnya.
Operasional :
 Unit grease trap termasuk free maintenance, dalam artian dapat bekerja sendiri
tanpa bantuan operator.
 Setelah limbah mengalir, biarkan proses berjalan secara alami
Pemeliharaan :
 Apabila ditemukan sampah seperti plastik dan padatan lainnya di dalam grease trap,
harus disaring.
 Pembersihan sampah pada grease trap dapat dilakukan dengan alumunium rake
setidaknya 1-2 kali dalam sehari.
 Sampah diambil harus segera dibuang setidaknya satu kali dalam sehari untuk
menghindari penumpukan sampah yang berlebihan dan menyebabkan bau tidak
sedap.
 Tutup grease trap hanya dibuka pada saat dilakukan pembersihan atau perbaikan.
IV.
PENGOPERASIAN UNIT BAK PENAMPUNG (EKUALISASI)
1. Bak Penampung (Ekualisasi)
Fungsi : Bak ekualisasi berfungsi sebagai pengumpul air limbah selama 24 jam dari
cakupan wilayah kerja STP yang ada. Selain itu bak ekualisasi juga berfungsi sebagai
kolam pengumpul sebelum dipompakan ke unit pengolahan berikutnya. Dari bak
ekualisasi ini, air limbah dipompa masuk ke unit pengolahan selama 24 jam. Tidak ada
operasi khusus pada bak ekualisasi ini karena bak ekualisasi ini berguna untuk
menyeragamkan debit dan kualitas limbah sebelum diolah pada unit pengolahan Utama.
Umumnya pada bak ekualisasi dilengkapi dengan pompa celup (submersible pump)
atau pompa sentrifugal dan juga pelampung/Water Level Control (WLC). Pada
beberapa unit ekualisasi juga bisa ditambahkan komponen berupa silent aerator yang
berfungsi sebagai suplai udara untuk proses pre-aerasi.
Operasional :
 Pemompaan pada bak ekualisasi diatur dengan menggunakan pelampung/Water
Level Control (WLC). Dalam kondisi normal, saklar pompa pada kontrol panel akan
diposisikan secara automatis.
 Apabila pelampung pompa mencapai batas atas maka pompa akan beroperasi secara
otomatis, dan apabila pelampung mencapai batas bawah maka pompa akan berhenti
secara otomatis.
 Apabila terdapat unit silent aerator dapat dioperasikan secara manual dan automatis
berdasarkan pengaturan waktu (timer).
Pemeliharaan :
 Pembersihan Bak Equalisasi dilakukan setidaknua setiap satu kali dalam seminggu
atau pada saat terindikasi adanya penyumbatan pada pompa/pipa Inlet.
 Tutup Manhole dibuka hanya pada saat dilakukan pembersihan bak.
Troubleshooting :
Tabel 1. Penangangan Kendala Teknis Unit Bak Penampung (Ekualisasi)
No
1
Masalah yang
ditimbulkan
Banyaknya padatan
yang menumpuk,
sehingga mengurangi
Penyebab/
Permasalahan
Pembersihan saluran
kurang maksimal
Tindakan
 Lakukan pembersihan
tumoukkan padatan (sludge)
secara rutin khususnya di saluran
No
2
Masalah yang
ditimbulkan
kapasitas yang
digunakan.
Bau yang menyengat
Penyebab/
Permasalahan
Tindakan
air limbah.
Banyaknya partikel
padatan menumpuk akan
mengakibatkan terjadi
proses anaerobic
 Lakukan pembersihan secara
rutin terhadap padatan (sludge)
yang menumpuk
 Operasikan silent aerator agar
dapat berfungsi sebagai pre
Aerasi
2. Pompa Angkat/Lift Pump
Fungsi : Pada suatu STP biasanya selalu terdapat minimal 2 unit pompa angkat yang
dioperasikan secara bergantian atau 3 unit pompa angkat dengan salah satu unit pompa
berfungsi untuk pompa cadangan. Pompa cadangan dioperasikan apabila terjadi kondisi
banjir, salah satu pompa mengalami kerusakan atau macet, dan lain sebagainya. Jenis
pompa angkat bermacam-macam, bergantung pada besarnya volume dan berapa
tingginya air yang mau dipindah, dan lain sebagainya. Pada beberapa STP, biasa
menggunakan pompa angkat jenis submersible (terbenam di dalam air limbah).
Gambar 7. Contoh Pompa Angkat Jenis Submersible Pump
Pengoperasian :
 Periksa apakah kontrol panel pompa sudah menyala atau belum. Apabila sudah
menyala maka lampu berwarna hijau, namun jika lampu indikator tidak menyala,
hidupkan NFB/MCB agar aliran listrik menyala.
 Pada beberapa STP dilengkapi dengan Lift Pump yang beroperasi dengan dua mode
operasi, yaitu pengoperasian Manual atau Otomatis.
Pengoperasian Manual
Tombol pengoperasian pompa yang ingin dioperasikan secara manual oleh operator,
harus diposisikan pada tulisan/posisi “manual”, agar pompa tersebut dapat berkerja
secara manual. Jika tombol pengoperasian diposisikan ke “stop”, maka pompa akan
mati. Pengoperasian pompa angkat dilakukan selama periode harian.
Pengoperasian Otomatis
Pengoperasian secara otomatis dilakukan dengan menggunakan peralatan bola
pelampung, dimana bola pelampung akan diatur sesuai ketinggian air yang
diinginkan untuk mengaktifkan pompa secara otomatis. Sebagai contoh jika tinggi
permukaan air di rumah pompa mencapai level tinggi tertentu, misalnya X (▼+6),
maka pompa otomatis menyala, dan jika air mencapai level Z (▼+5), pompa
otomatis mati. Jika memilih mode auto-1, pompa otomatis menyala dan mati ketika
air di rumah pompa mencapai level X dan Z. Pada mode otomatis, pengaturan
pompa diatur menurut debit inflow air limbah. Karena itu instalasi dengan sistem
pompa seperti ini tidak memerlukan operator untuk mengawasi aliran air limbah.
Pemeliharaan :
 Pastikan pompa tetap menyala saat operasional sehari – hari.
 Selalu lakukan pemeriksaan rutin terhadap jalur perpipaan yang berkaitan dengan
jalur perpipaan dari pompa. Pastikan tidak ada yang mengalami kerusakan atau
kebocoran pada sambungan pipa.
 Lakukan pembersihan saringan dan impeller secara berkala, minimal 1 bulan sekali
 Lakukan pemeriksaan Baut + Mur secara berkala, minimal 1 bulan sekali
Troubleshooting :
 Apabila pompa bekerja, namun air tidak keluar:

Lakukan pemeriksaaan pada pipa instalasi, apabila ada material yang
menyumbat sehingga menyebabkan saluran buntu segera dibersihkan

Lakukan pemeriksaaan pada impeller pompa, apabila ada material yang
meyumbat segera dibersihkan.
 Apabila pompa bekerja, namun tiba-tiba mati:

Lakukan pemeriksaan pada tegangan listrik yang masuk, apakah telah terpasang
pada teegangan yang telah ditentukan sebelumnya.

Lakukan pemeriksaan pada indicator trip pada panel, kemudian lakukan reset
pada overload.

V.
Lakukan pengukuran resistan pada kumparan motor pompa
PENGOPERASIAN UNIT AERASI
Fungsi : Unit Aerasi merupakan unit utama proses pengolahan air limbah padasuatu
STP. Proses degradasi material organik limbah dilakukan oleh bakteri aerobik yang
membutuhkan suplai udara untuk menjaganya tetap tumbuh dan aktif dalam mengurai
limbah. Suplai udara bebas diinjeksikan melalui unit Ring Blower dan didistribusi
secara merata ke dalam tangki yang berisi air limbah dengan Diffuser.
Operasional :
 Periksa kedalaman kolam aerasi, apakah sudah sesuai dengan desain/rencana.
Periksa juga bagian saluran inlet dan outlet dari sistem, apakah letaknya sudah
sesuai dengan desain.
 Pada awal proses start up STP, isi bak aerasi dengan air limbah secara bertahap
dalam kurun waktu tertentu. Pengisian pertama dapat dilakukan dengan volume air
limbah sebanyak 25% dari kapasitas bak aerasi. Pengisian kedua setelah 2 minggu
berikutnya kolam aerasi diisi air limbah hingga mencapai 50% dari kapasitas bak
aerasi. Pengisian ketiga dan ke empat dilakukan selama rentan waktu setiap 1
minggu dengan volume air limbah sebanyak 75% hingga 100% kapasitas bak aerasi.
Pengaturan waktu pengisian bak aerasi dilakukan dengan tujuan agar pertumbuhan
microorganisme/bakteri dapat lebih optimal.
 Selama proses start-up ini kondisikan dan pertahankan konentrasi pH pada level 77,5 agar pertumbuhan microorganisme/bakteri dapat lebih optimal. Apabila
konsentrasi pH bersifat asam/merosot menjadi <7, maka perlu dilakukan
penambahan kapur/gamping ke dalam kolam. Sangat penting menjaga kondisi pH
pada awal tahap start–up ini.
 Pastikan juga mesin blower dan diffuser beroperasi secara kontinu dan optimal
selama masa start up agar supply udara cukup untuk proses pertumbuhan
microorganisme/bakteri pada STP.
 Lakukan sampling dan analisa setiap minggu , untuk memeriksa kandungan organik
dari influen dan efluen sehingga diketahui apakah kolam aerasi telah berfungsi
sesuai desain kriteria dan dapat dioperasikan secara normal.
Setelah bak aerasi beroperasi secara normal, lakukan operasi standar sebagai berikut :
 Periksa saluran inlet dan outlet dua kali dalam sehari untuk memastikan tidak
tersumbat oleh benda atau kotoran besar yang akan mengganggu aliran air limbah.
 Periksa kinerja mesin pompa blower dan diffuser secara berkala untuk memastikan
mesin tetap beroperasi dengan normal.
 Pada beberapa unit STP, mesin pompa blower dan diffuser akan diatur menggunakan
timer, sehingga mesin akan beroperasi secara bergantian dengan tujuan untuk
memperpanjang usia operasi mesin.
 Jangan buka tutup mainhole, kecuali sedang melakukan perbaikan.
 Lakukan pengukuran aliran debit masuk dan debit keluar setiap hari.
Pemeliharaan :
 Selalu lakukan pemeriksaan rutin terhadap pompa blower dan pastikan saat motor
menyala, van belt beroperasi secara baik dengan secara berkala melakukan
pengecekkan kondisi kekencangan van belt.
 Secara berkala lakukan pelumasan pada mesin/motor minimal setiap 6 bulan sekali.
 Lakukan analisa kualitas limbah baik influen dan efluen setiap bulan.
 Periksa kondisi bak dan jaringan permipaan yang berhubungan dengan bak aerasi
secara berkala. Apabila terjadi kerusakan segera dilakukan perbaikan untuk
menghindari kebocoran.
Troubleshooting :
Tabel 2. Penangangan Kendala Teknis Unit Bak Aerasi
No
Penampakan Masalah
Warna Permukaan Larutan
1
Coklat Keemasan
2
3
Bau
1
2
Coklat Muda
Hitam
Aroma lumpur/tanah
Busuk
Penyebab/
Permasalahan
Tidak ada masalah
(kondisi ideal)
Siplai udara berlebih
Suplai udara kurang
sehingga terjadi kondisi
anaerobic yang dapat
menimbulkan bau busuk
Tidak ada masalah(kondisi
ideal)
Adanya gas H2S yang
Tindakan
Kurangi suplai udara dengan
mengatur timer blower
Tingkatkan suplai udara dengan
mengatur kerja timer blower.
Apabila sudah parah maka perlu
dilakukan seeding ulang bakteri
Tambahkan suplai udara dengan
megatur agar blower bekerja
lebih lama
No
Penampakan Masalah
Blower
1
Blower bekerja, namun udara
tidak keluar
2
Blower bekerja, namun tiba-tiba
mati
Lain-Lain
1
Pencampuran udara kurang
maksimal
Penyebab/
Permasalahan
terbentuk akibat proses
penguraian anaerobik
Penyumbatan
Gangguan sambungan
listrik
2
Gelembung udara yang tidak
seragam
Kebuntuan pada
diffuser/kerusakan pada
blower
Kerusakan pada pipa
diffuser
3
Kekurangan bakteri
Kesalahan pengoperasian
VI.
Tindakan
Lakukan pemeriksaaan pada
pipa instalasi
 Lakukan pemeriksaan pada
tegangan listrik yang masuk,
apakah telah terpasang pada
tegangan yang telah
ditentukan sebelumnya.
 Lakukan pemeriksaan pada
indicator trip pada panel,
kemudian lakukan reset pada
overload.
 Lakukan pemeriksaan pada
motor
Lakukan pemeriksaan dan
pembersihan diffuser secara
rutin dan berkala
Lakukan pemeriksaan dan
penggantian pipa-pipa yang
rusak
Tingkatkan pemberian bakteri
untuk pembentukkan MLSS
PENGOPERASIAN UNIT SEDIMENT TANK
Fungsi : Sedimentation Tank atau biasa disebut dengan istilah Clarifier Tank
merupakan sistem untuk pengendapan partikel - partikel floc (lumpur aktif). Pada
proses pengolahan di dalam STP, sebagian lumpur aktif akan dikembalikan kedalam
bak aerasi dan sebagian lagi akan dibuang ke dalam bak penampung lumpur (sludge
tank). Sedimentation Tank ini juga berfungsi untuk mendapatkan effluen dengan
kandungan BOD danTSS yang stabil.
Operasional :
 Hidupkan listrik pada panel box untuk mengoperasikan mesin pada sediment tank.
 Pada beberapa jenis STP, pengendapan berlangsung berdasarkan prinsip Gravitasi,
dimana sebagian lumpur aktif akan dikembalikan ke dalam bak aerasi dan sebagian
lagi akan dibuang ke dalam bak penampung lumpur (sludge tank), sedangkan effluen
kan dialirkan menuju Effluent Tank.
 Hidupkan pompa lumpur sekali atau dua kali setiap harinya.
 Periksa apakah lumpur tersalurkan dengan baik ke sludge tank.
Pemeliharaan :
Lakukan pembersihan secara berkala pada permukaan Sediment Tank, agar Supernatant
yang mengalir ke bak penampung effluent sudah jernih dan terpisah dari endapan
lumpur biologis.
Troubleshooting :
Tabel 3. Penangangan Kendala Teknis Unit Bak Pengendapan
No
Penampakan Masalah
Warna Permukaan Larutan
1
Jernih
2
Coklat Muda
3
Hitam
Lumpur Naik (Raising Sludge)
1
Gumpalan lumpur besar yang
mengambang kembali
Effluent yang Keruh
1
Effluent masih mengandung
padatan tersuspensi cukup tinggi
Penyebab/
Permasalahan
Tindakan
Tidak ada masalah
(kondisi ideal)
Lumpur tidak mau
mengendap
Lumpur terlalu lama di
dasar unit clarifier
Tingkatkan resirkulasi lumpur
dengan mengatur kerja pompa
lumpur
Adanya proses
denitrifikasi di dalam
tangki pengendapan akibat
lumpur terlalu lama di
dasar clarifier
Tingkatkan resirkulasi dan
pembuangan lumpur
Aerasi terlalu berlebih
Kurangi jam operasi blower dan
sehingga memecah
tingkatkan pembuangan lumpur
gumpalan lumpur atau usia
lumpur terlalu lama
VII. PENGOPERASIAN UNIT DESINFECTAN
Fungsi : Effluent yang berasal dari unit proses Sediment Tank harus didesinfeksi
terlebih dahulu sebelum dibuang ke badan air penerima. Pengolahan ini dilakukan pada
proses desinfeksi terhadap mikroorganisme yang bersifat patogenik. Pada proses
Desinfeksi, air limbah yang telah melalui proses pengendapan mendapat pembubuhan
bahan kimia berupa senyawa Calsium hipochlorit/Klorin yang memiliki kemampuan
untuk membunuh mikroorganisme. Proses pembubuhan menggunakan tangki pelarut
yang dirancang untuk membubuhkan desinfektan dengan debit konstant. Diharapkan
setelah dari proses ini air limbah telah memenuhi syarat fisis, kimia, maupun biologis
untuk dialirkan ke sungai/badan air. Penggunaan senyawa Calsium hipochlorit/Klorin
ini dilakukan dengan alasan sebagai berikut:
 Toksisitas terhadap mikroorganisme yang berbahaya dalam air buangan tinggi
 Kemampuan untuk larut di dalam air tinggi
 Tersedia di pasaran dan harganya murah
Operasional :
Persiapan larutan khlorin untuk proses desinfeksi :
 Larutkan bubuk khlorin dalam bak pelarut khlorin dengan dosis 5 ppm.
 Atur bukaan keran menuju bak effluen agar larutan khlorin cukup habis selama jam
operasional.
Pemeliharaan :
 Bersihkan sampah baik yang terapung maupun mengendap pada bak ini. Kontrol
bersamaan dengan pembersihan bak penampung awal (2 minggu sekali).
 Dilakukan Kontrol pada larutan klorin agar proses klorinasi dapat berjalan dengan
baik.
Download