Uploaded by common.user65636

Asuhan Keperawatan Jiwa Lanjut Pada Halusinasi

advertisement
LTM
Konsep Asuhan Keperawatan Jiwa Lanjut Pada Halusinasi
Oleh:
ALIFIA DIAN SUKMANINGTYAS
( 196070300111016 )
PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN
JURUSAN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2020
1. Pengertian
Halusinasi merupakan suatu kondisi individu menganggap jumlah serta pola
stimulus yang datang (baik dari dalam maupun dari luar) tidak sesuai dengan
kenyataan, disertai distorsi dan gangguan respons terhadap stimulus tersebut baik
respons yang berlebihan maupun yang kurang memadai (Townsend, 2010).
Halusinasi adalah satu gejala gangguan jiwa pada individu yang ditandai dengan
perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan perabaan atau penghiduan. Pasien merasakan stimulus yang
sebenarnya tidak ada (Keliat & Akemat, 2010).
2. Pengkajian
- Pengkajian Ners
Tanda dan gejala halusinasi dinilai dari hasil observasi terhadap pasien serta
ungkapan pasien. Tanda dan gejala pasien halusinasi adalah sebagai berikut:
Data Obyektif
a. Bicara atau tertawa sendiri.
b. Marah-marah tanpa sebab.
c. Memalingkan muka ke arah telinga seperti mendengar sesuatu
d. Menutup telinga.
e. Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu.
f. Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas.
g. Mencium sesuatu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
h. Menutup hidung.
j. Sering meludah.
k. Muntah.
l. Menggaruk-garuk permukaan kulit.
Data Subyektif
a. Mendengar suara-suara atau kegaduhan.
b. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
c. Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya
d. Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu atau
monster.
e. Mencium bau-bauan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu
menyenangkan.
f. Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses
g. Merasa takut atau senang dengan halusinasinya.
h. Mengatakan sering mendengar sesuatu pada waktu tertentu saat sedang
sendirian
i. Mengatakan sering mengikuti isi perintah halusinasi
- Pengkajian Ners Spesialis
Faktor Predisposisi dan Presipitasi
a. Biologis : Riwayat masuk RS sebelumnya, berapa kali dirawat, riwayat
pengobatan sebelumnya, riwayat minum obat, teratur atau tidak minum obat,
kapan terakhir minum obat, riwayat kejang, jatuh/trauma, riwayat penggunaan
NAPZA/penggunaan obat halusinogen, riwayat anggota keluarga dengan
gangguan jiwa
b. Social cultural : Riwayat pendidikan, riwayat putus sekolah dan gagal sekolah,
riwayat pekerjaan, kecukupan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan, siapa
yang menanggung biaya hidup selama dirawat, tinggal dengan siapa, berapa
saudara, siapa orang yang paling berarti, apakah pernah mengalami kehilangan
orang yang dicintai, perceraian, kehilangan harta benda, penolakan dari
masyarakat
c. Psikologis : perasaan klien setelah perawatan, komentar negatif orang-orang di
sekitarnya,
peran
yang
terganggu
akibat
dirawat,
pengalaman
tidak
menyenangkan, kepribadian klien misalnya mudah kecewa, kecemasan tinggi,
mudah putus asa dan menutup diri, konsep diri : adanya riwayat ideal diri yang
tidak realistis, identitas diri tak jelas, harga diri rendah, krisis peran dan gambaran
diri negative. Motivasi: riwayat kurangnya penghargaan dan riwayat kegagalan.
Pertahanan psikologi: ambang toleransi terhadap stres rendah dan adanya riwayat
gangguan perkembangan. Self control: adanya riwayat tidak bisa mengontrol
stimulus yang datang, misalnya suara, rabaan, penglihatan, penciuman,
pengecapan.
Penilaian terhadap stressor
a. Kognitif : tidak dapat memfokuskan pikiran, mudah lupa, tidak mampu
mengambil keputusan, tidak mampu memecahkan masalah, tidak dapat berfikir
logis, inkoheren, disorientasi, blocking, daya tilik diri jelek, mendengar suarasuara, melihat bayangan atau sinar, mendengar suara hati, menghidu bau-bauan,
merasakan rasa pahit, asam, asin di lidah, merasakan sensasi tidak nyaman dikulit,
ambivalen, sirkumstansial, flight of idea, tidak mampu mengontrol PK, punya
pikiran negatif terhadap stressor, mendominasi pembicaraan
b. Afektif : senang, sedih, merasa terganggu, marah, ketakutan, khawatir, merasa
terbelenggu, afek datar/ tumpul, afek labil, marah, kecewa, kesal, curiga, mudah
tersinggung
c. Fisiologis : sulit tidur, kewaspadaan meningkat, tekanan darah meningkat,
denyut nadi meningkat, frekuensi pernafasan meningkat, muka tegang, keringat
dingin, pusing, kelelahan/keletihan
d. Perilaku : Berbicara dan tertawa sendiri, Berperilaku aneh sesuai dengan isi
halusinasi, menggerakkan bibir/komat kamit, menyeringai, diam sambil
menikmati halusinasinya, perilaku menyerang, kurang mampu merawat diri,
memalingkan muka ke arah suara, menarik diri
e. Sosial : tidak tertarik dengan kegiatan sehari-hari, tidak mampu komunikasi
secara spontan, acuh terhadap lingkungan, tidak dapat memulai pembicaraan,
tidak dapat mempertahankan kontak mata, menarik diri
Sumber Koping
a. Personal ability : kemampuan apa yang sudah dilakukan, kemampuan yang
sudah dilatih. Kemampuan yang seharusnya dimiliki klien :
- Menghardik halusinasi
- Minum obat
- Bercakap-cakap
- Melakukan aktivitas terjadwal
b. Social support : caregiver klien, kemampuan caregiver / keluarga dalam
merawat, kelompok/peer group dengan penyakit yang sama, kader kesehatan jiwa
di lingkungan tempat tinggal.
c. Material asset : finansial : pekerjaan klien sebelum dirawat, penghasilan
sebelum dirawat, siapa yang menanggung biaya berobat klien, apakah memiliki
tabungan, jaminan kesehatan yang digunakan. Yankes : jika kontrol/kambuh
berobat kemana, fasilitas pelayanan kesehatan yang terdekat dengan tempat
tinggal.
d. Positif belief : keyakinan terhadap kesembuhan diri sendiri dan keyakinan
terhadap petugas kesehatan
3. Diagnosis Keperawatan
Halusinasi
4. Tindakan Keperawatan
a. Tindakan Keperawatan Ners untuk Klien
Tujuan : Pasien mampu :
- Mengenali halusinasi yang dialaminya: isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi
pencetus, perasaan, respon.
- Mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.
- Mengontrol halusinasi dengan cara menggunakan obat.
- Mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap.
- Mengontrol halusinasi dengan cara melakukan aktifitas.
Tindakan Keperawatan
- Mendiskusikan dengan pasien isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus,
perasaan, respon terhadap halusinasi.
- Menjelaskan dan melatih cara mengontrol halusinasi:
- Menghardik halusinasi
Menjelaskan cara menghardik halusinasi, memperagakan cara menghardik,
meminta pasien memperagakan ulang, memantau penerapan cara ini, dan
menguatkan perilaku pasien.
-Menggunakan obat secara teratur
Menjelaskan pentingnya penggunaan obat, jelaskan bila obat tidak digunakan
sesuai program, jelaskan akibat bila putus obat, jelaskan cara mendapat obat/
berobat, jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 6 benar (benar jenis,
guna, frekuensi, cara, kontinuitas minum obat).
- Bercakap –cakap dengan orang lain.
- Melakukan aktifitas yang terjadual.
Menjelaskan pentingnya aktifitas yang teratur, mendiskusikan aktifitas yang biasa
dilakukan oleh pasien, melatih pasien melakukan aktifitas, menyusun jadual
aktifitas sehari–hari sesuai dengan jadual yang telah dilatih, memantau jadual
pelaksanaan kegiatan, memberikan reinforcement.
b. Tindakan Keperawatan Ners untuk Keluarga
Tujuan : Keluarga mampu
- Mengenal masalah merawat pasien di rumah.
- Menjelaskan halusinasi (pengertian, jenis, tanda dan gejala halusinasi dan proses
terjadinya).
- Merawat pasien dengan halusinasi.
- Menciptakan lingkungan yang nyaman untuk klien dengan halusinasi
- Mengenal tanda dan gejala kambuh ulang
- Memanfaatkan fasilitas kesehatan untuk follow-up pasien dengan halusinasi.
Tindakan keperawatan
- Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien.
- Berikan penjelasan kesehatan meliputi : pengertian halusinasi, jenis halusinasi
yang dialami, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi
- Jelaskan dan latih cara merawat anggota keluarga yang mengalami halusinasi:
menghardik, minum obat, bercakap-cakap, melakukan aktivitas.
- Diskusikan cara menciptakan lingkungan yang dapat mencegah terjadinya
halusinasi.
- Diskusikan tanda dan gejala kekambuhan.
- Diskusikan pemanfaatan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk follow-up
anggota keluarga dengan halusinasi.
TAK (Terapi Aktivitas Kelompok)
- Sesi 1: mengenal halusinasi
- Sesi 2: mengontrol halusinasi dengan menghardik
- Sesi 3: mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan
- Sesi 4: mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap
- Sesi 5: mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat
c. Tindakan Ners Spesialis
Terapi Individu : Terapi Prilaku, Terapi Prilaku Kognitif, ACT, REBT
- Hasil penelitian Wahyuni, Keliat, dan Nasution (2010) menyatakan terapi
prilaku kognitif dapat menurunkan tanda dan gejala halusinasi pada pasien
- Hasil penelitian Sulistiowati (2010) menyatakan Acceptance and Commitment
Therapy dapat menurunkan tanda dan gejala pada pasien dengan halusinasi
- Hasil penelitian Sudiatmika, Keliat dan Wardhani (2011) menyatakan perpaduan
terapi CBT dan REBT mampu menurunkan tanda dan gejala pada pasien perilaku
kekerasan dan halusinasi
- Hasil penelitian Lelono, Keliat, dan Besral (2011) menyatakan perpaduan terapi
CBT dan REBT mampu menurunkan tanda dan gejala pada pasien perilaku
kekerasan, harga diri rendah dan halusinasi.
- Hasil Penelitian Hastuti (2013) menyatakan rational emotive behaviour therapy
efektif terhadap penurunan tanda dan gejala pada pasien dengan perilaku
kekerasan dan halusinasi
-Hasil Penelitian Sukma, Keliat dan Mustikasari (2015) menyatakan perpaduan
terapi CBT dan CBSST mammpu menurunkan tanda dan gejala pada pasien
dengan halusinasi dan isolasi social
Terapi Kelompok : Terapi Supportif
Terapi Keluarga : Triangle Terapi, Psikoedukasi Keluarga.
- Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wardaningsih, Keliat, dan Daulima (2007)
menyatakan FPE mampu menurunkan beban dan meninkatkan kemampuan
keluarga dalam merawat klien dengan halusinasi
- Hasil Penelitian Gajali, Mustikasari dan Susanti (2014) menyatakan terapi FPE
mampu meningkatkan kemampuan keluarga dalam merawat klien dengan
halusinasi
Daftar Pustaka
Gerson, M. J. (2010). The Embedded Self: An integrative psychodynamic and
systemic perspective on couples and family therapy (2nd ed.). New York:
Taylor & Francis Group.
Hyland, P., & Boduszek, D. (2012). Resolving a difference between cognitive
therapy and rational emotive behaviour therapy: towards the development
of an integrated CBT model of psychopathology. Mental Health Review
Journal, 17(2), 104–116. doi:10.1108/13619321211270425
Kernberg, P. F., Ritvo, R., & Keable, H. (2012). Practice Parameter for
Psychodynamic Psychotherapy With Children. Journal of the American
Academy
of
Child
&
Adolescent
Psychiatry,
51(5),
541–
557. doi:10.1016/j.jaac.2012.02.015
Lopes, J., Cutcliffe, J. R 2018. European psychiatric/mental health nursing in the
21st century: A person-centred evidance-based approach, Switzerland,
Springer.
Lorenzo-Luaces, L., Keefe, J. R., & DeRubeis, R. J. (2016). Cognitive-Behavioral
Therapy: Nature and Relation to Non-Cognitive Behavioral Therapy.
Behavior Therapy, 47(6), 785–803. doi:10.1016/j.beth.2016.02.012
McManus, F., Waite, P., & Shafran, R. (2009). Cognitive-Behavior Therapy for
Low Self-Esteem: A Case Example. Cognitive and Behavioral Practice,
16(3), 266–275. doi:10.1016/j.cbpra.2008.12.007
Morton, L., Roach, L., Reid, H., & Stewart, S. H. (2012).An evaluation of a CBT
group for women with low self-esteem. Behavioural and Cognitive
Psychotherapy, 40(2),
221-5.
doi:http://dx.doi.org/10.1017/S1352465811000294
Stuart, G. W. 2013. Principles and practice of psychiatric nursing, Missouri,
Elsevier mosby.
Summers, R. F., & Barber, J. P. (2015).Practicing psychodynamic therapy: A
casebook. New York: The guilford press.
Townsend, M. C. (2018). Psychiatric mental health nursing: Concepts of care in
evidence-based practice, Philadelphia, F.A. Davis company.
Videback, S. L. 2011. Psychiatric-mental health nursing, Philadelphia, Lippincott
williams& Wilkins.
Waite, P., McManus, F., & Shafran, R. (2012). Cognitive behaviour therapy for
low self-esteem: A preliminary randomized controlled trial in a primary
care setting. Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry,
43(4), 1049–1057. doi:10.1016/j.jbtep.2012.04.006
Download