Gempa Bumi A. Latar Belakang Sampai saat ini bumi merupakan satu-satunya planet yang dapat mendukung kelangsungan hidup seluruh makhluk, diantara planet-planet anggota tata-surya lainnya. Oleh karenanya pengetahuan mengenai bumi dianggap sangat vital guna kelangsungan hidup penghuninya termasuk manusia. Di jagat raya ini masih banyak pengetahuan yang belum kita kuasai, termasuk pengetahuan mengenai gempa bumi dan cara memprediksinya. Dari hal ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa ruang lingkup ilmu kita masih sangat kecil bila dibandingkan dengan luasnya jagat raya. Ini juga merupakan bukti bahwa Allah Maha Besar, Maha Mengetahui atas segalanya dan kita tidak sepatutnya sombong dengan pengetahuan kita yang sangat sedikit ini. Manusia hidup tidak pernah bisa lepas dari alam. Dari kekayaan alam, kebutuhan manusia terpenuhi. Akan tetapi, melalui alam juga, manusia disadarkan bahwa bencana bisa terjadi kapan saja. Sebut saja gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, dan sebagainya. B. Rumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dalam hal ini dapat diketahui rumusan masalah dalam pembahasan yang tersaji dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Apakah yang dimaksud dengan gempa bumi ? 2. Apa sajakah macam-macam skala gempa bumi ? 3. Apakah alat yang digunakan untuk mengukur gempa bumi ? 4. Apakah penyebab terjadinya gempa bumi ? 5. Apakah tanda-tanda terjadinya gempa bumi ? 1 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi 6. Apa sajakah jenis-jenis gempa bumi ? 7. Apakah dampak dari bencana yang ditimbulkan oleh gempa bumi ? 8. Bagaimanakah cara penanggulangan dari gempa bumi ? C. TUJUAN Tujuan yang hendak kita capai dalam pembahasan mengenai gempa bumi ini adalah untuk mencari dan memberikan informasi tentang gempa bumi, baik penyebab dan akibat gempa tersebut, maupun jenis – jenisnya, serta alat yang digunakan untuk mencatat gempa bumi, macam-macam skala gempa bumi dan bagaiamana cara penanggulangan bencana gempa bumi tersebut. 2 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi A. DEFENISI GEMPA BUMI Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Frekuensi suatu wilayah, mengacu pada jenis dan ukuran gempa bumi yang di alami selama periode waktu. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempa bumi (gelombang seismik), sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi. Gempa memang berupa goyangan atau gerakan atau getaran. Frekuensi getaran gempa ini sekitar 10 Hz artinya ada sepuluh kali goyangan tiap detik. Baik goyangan naik turun, kiri-kanan maupun maju mundur. Ada 4 gelombang seismik pada kejadian gempa bumi, sehingga dapat mengguncang kita bahkan menyebabkan kerusakan pada bangunan di permukaan bumi, gelombang tersebut adalah : 3 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi 1. Gelombang Primer (P Wave), gelombang ini menjalar akibat adanya penekanan dan peregangan. Kalau dilihat di gambar terlihat bergetar menekan dan meregang. kalau anda menghadap ke kiri maka goyangan tersebut berarah kiri-kanan atau maju-mundur (tergantung dimana arah menghadapnya). Gelombang primer ini memiliki kecepatan rambat sekitar 8 km/detik. Gelombang inilah yang akan dirasakan lebih dahulu ketika gempa, karena dia akan datang lebih dulu dibanding penjalaran gelombang yang lain. 2. Gelombang Sekunder (S Wave), gelombang ini menjalar seperti gelombang air yang mengalun-alun. Menjalar naik-turun. Jadi gelombang ini melemparlemparkan ke atas dan ke bawah ketika anda merasakan adanya gempa. 4 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi Gelombang Sekunder ini memiliki kecepatan penjalaran sekitar 4 Km/detik, tentunya akan dirasakan lebih lambat dari Gelombang Primer. Namun gelombang sekunder ini memiliki lebar goyangan (amplitudo) yang besar sehingga gelombang ini akan memilki kekuatan yang sangat besar dalam merontokkan bangunan, juga mengakibatkan longsoran tebing-tebing yang curam. 3. Gelombang Cinta ( Love Wave ), gelombang yang menjalar di permukaan bumi yang karakteristiknya memiliki pergerakan yang mirip dengan gelombang S, yaitu arah pergerakan partikel medan yang dilewati arahnya tegak lurus terhadap arah perambatan gelombang. Yang membedakan adalah lokasi perambatan gelombang cinta terdapat di permukaan bumi. Dan getarannya secara lateral (mendatar). 4. Gelombang Rayleigh, gelombang permukaan juga yang arah pergerakan partikelnya bergerak berputar di permukaan. Gelombang Primer & Gelombang Sekunder berjalan melalui interior bumi ( di dalam bumi melalui lapisan litospir ), sedangkan gelombang Cinta & Rayleigh berjalan melaluli surface ( permukaan bumi ), gelombang ini kecepatannya lebih lambat dibanding gelombang Primer dan Sekunder. Kedua Jenis gelombang inilah yang menyebabkan kerusakan bangunan Karakteristik Gempa bumi Berlangsung dalam waktu yang sangat singkat Lokasi kejadian tertentu Akibatnya dapat menimbulkan bencana Berpotensi terulang lagi Belum dapat diprediksi Tidak dapat dicegah, tetapi akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi 5 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi B. MACAM-MACAM SKALA GEMPA 1. Skala Mercalli Skala Mercalli adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Satuan ini diciptakan oleh seorang vulkanologis dari Italia yang bernama Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Skala Mercalli terbaagi menjadi 12 pecahan berdasarkan informasi dari orang-orang yang selamat dari gempa tersebut dan juga dengan melihat dan membandingkan tingkat kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Oleh itu skala Mercalli adalah sangat subjektif dan kurang tepat dibanding dengan perhitungan magnitudo gempa yang lain. Oleh karena itu, saat ini penggunaan skala Richter lebih luas digunakan untuk untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Tetapi skala Mercalli yang dimodifikasi, pada tahun 1931 oleh ahli seismologi Harry Wood dan Frank Neumann masih sering digunakan terutama apabila tidak terdapat peralatan seismometer yang dapat mengukur kekuatan gempa bumi di tempat kejadian. Skala Modifikasi Intensitas Mercalli mengukur kekuatan gempa bumi melalui tahap kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi itu. Satuan ukuran skala Modifikasi Intensitas Mercalli adalah seperti di bawah : Tidak terasa. Terasa oleh orang yang berada di bangunan tinggi. Getaran dirasakan seperti ada kereta yang berat melintas. Getaran dirasakan seperti ada benda berat yang menabrak dinding rumah, benda tergantung bergoyang. Dapat dirasakan di luar rumah, hiasan dinding bergerak, benda kecil di atas rak mampu jatuh. Terasa oleh hampir semua orang, dinding rumah rusak. Dinding pagar yang tidak kuat pecah, orang tidak dapat berjalan/berdiri. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan tekuk. Jambatan dan tangga rusak, terjadi tanah longsor. Rel kereta api rusak. Seluruh bangunan hancur dan hancur lebur. 6 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi 2. Skala Richter Skala Richter atau SR didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter. Untuk memudahkan orang dalam menentukan skala Richter ini, tanpa melakukan perhitungan matematis yang rumit, dibuatlah tabel sederhana seperti gambar di samping ini. Parameter yang harus diketahui adalah amplitudo maksimum yang terekam oleh seismometer (dalam milimeter) dan beda waktu tempuh antara gelombang-P dan gelombang-S (dalam detik) atau jarak antara seismometer dengan pusat gempa (dalam kilometer). Dalam gambar di samping ini dicontohkan sebuah seismogram mempunyai amplitudo maksimum sebesar 23 milimeter dan selisih antara gelombang P dan gelombang S adalah 24 detik maka dengan menarik garis dari titik 24 dt di sebelah kiri ke titik 23 mm di sebelah kanan maka garis tersebut akan memotong skala 5,0. Jadi skala gempa tersebut sebesar 5,0 skala Richter. Skala Richter pada mulanya hanya dibuat untuk gempa-gempa yang terjadi di daerah Kalifornia Selatan saja. Namun dalam perkembangannya skala ini banyak diadopsi untuk gempa-gempa yang terjadi di tempat lainnya. Skala Richter ini hanya cocok dipakai untuk gempa-gempa dekat dengan magnitudo gempa di bawah 6,0. Di atas magnitudo itu, perhitungan dengan teknik Richter ini menjadi tidak representatif lagi. Perlu diingat bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya memakai teknik Richter seperti ini. Kadang-kadang terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan di media tentang magnitudo gempa ini karena metode yang dipakai kadang tidak disebutkan dalam pemberitaan di media, sehingga bisa jadi antara instansi yang satu dengan instansi yang lainnya mengeluarkan besar magnitudo yang tidak sama. 7 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi 3. Skala Kekuatan Momentum Skala kekuatan moment diperkenalkan pada 1979 oleh Tom Hanks dan Hiroo Kanamori sebagai pengganti skala Richter dan digunakan oleh seismologis untuk membandingkan energi yang dilepas oleh sebuah gempa bumi. Kekuatan moment Mw adalah sebuah angka tanpa dimensi yang didenifinisikan sebagai berikut, dimana M0 adalah Moment seismik (menggunakan satu newton meter [N·m] sebagai moment). Sebuah peningkatan satu tahap dalam skala logaritmik ini berarti sebuah peningkatan 101,5 = 31,6 kali dari jumlah energi yang dilepas, dan sebuah peningkatan 2 tahap berarti sebuah peningkatan 103 = 1.000 kali kekuatan awal. 8 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi C. ALAT PENCATAT GEMPA BUMI Seismometer (bahasa Yunani: seismos: gempa bumi dan metero: mengukur) atau lebih dikenal dengan nama “seismograf” adalah alat atau sensor getaran, yang bisaanya dipergunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah. Hasil rekaman dari alat ini disebut seismogram (rekaman gerakan tanah, atau grafik aktifitas gempa bumi sebagai fungsi waktu yang dihasilkan oleh seismometer). Prototip dari alat ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 132 SM oleh matematikawan dari Dinasti Han yang bernama Chang Heng. Dengan alat ini orang pada masa tersebut bisa menentukan dari arah mana gempa bumi terjadi. Dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka kemampuan seismometer dapat ditingkatkan, sehingga bisa merekam getaran dalam jangkauan frekuensi yang cukup lebar. Alat seperti ini disebut seismometer broadband. Seismograf yaitu alat atau sensor getaran, yang biasanya dipergunakan untuk mendeteksi gempa bumi atau getaran pada permukaan tanah. Hasil rekaman dari alat ini disebut seismogram. Ada dua macam yaitu seismograf vertikal dan horizontal. Seismograf memiliki instrumen sensitif yang dapat mendeteksi gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi. Gelombang seismik yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram. Seismologist mengukur garis-garis ini dan menghitung besaran gempa. Dahulu, seismograf hanya dapat mendeteksi gerakan horizontal, tetapi saat ini seismograf sudah dapat merekam gerakan-gerakan vertikal dan lateral. Seismograf 9 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi menggunakan dua gerakan mekanik dan elektromagnetik seismographer. Kedua jenis gerakan mekanikal tersebut dapat mendeteksi baik gerakan vertikal maupun gerakan horizontal tergantung dari pendular yang digunakan apakah vertikal atau horizontal. Seismograf modern menggunakan elektromagnetik seismographer untuk memindahkan volatilitas sistem kawat tarik ke suatu daerah magnetis. Peristiwaperistiwa yang menimbulkan getaran kemudian dideteksi melalui spejlgalvanometer seismograf 10 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi D. PENYEBAB TERJADINYA GEMPA BUMI Berbicara tentang penyebab terjadinya gempa bumi, kita dapat merujuk pada teori lempeng tektonik. Dimana menurut teori ini, bahwa permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang dapat menyebabkan terjadinya gempa bumi, gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading). Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat 11 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati (collision) dan saling geser (transform). Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi. Dengan kata lain, bahwa gempa bumi dapat disebabkan oleh : 1. Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang disebabkan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa Bumi akan terjadi. Gempa Bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan-lempengan tersebut. Gempa Bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional. Gempa Bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km. 2. Beberapa gempa Bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa Bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi. 3. Beberapa gempa Bumi (jarang namun) juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, seperti Dam Karibia di Zambia, Afrika. 12 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi 4. Sebagian lagi (jarang juga) dapat terjadi karena injeksi atau akstraksi cairan dari/ke dalam Bumi (contoh pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas Bumi di Rocky Mountain Arsenal). 5. Gempa juga dapat terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa Bumi yang disebabkan oleh manusia seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi. 13 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi E. TANDA-TANDA AKAN TERJADINYA GEMPA BUMI Gempa bumi yang terjadi memang menakutkan, namun hal ini tidak bisa dihindari mengingat Indonesia termasuk negara yang rawan akan bencana gempa. Untuk itu, mempelajari dan mewaspadai ciri-ciri yang biasanya terjadi sebelum gempa adalah hal yang bijaksana. Ada beberapa ciri-ciri yang dapat terlihat jika akan terjadi gempa bumi. Beberapa ciri tersebut antara lain ; 1. Lihat ke Langit Ketika kita menengadah ke langit luas dan melihat ada awan yang berbentuk seperti angin tornado atau seperti pohon atau seperti batang, bentuknya berdiri, itu adalah awan gempa yang biasanya muncul sebelum gempa terjadi. Awan yang berbentuk aneh itu terjadi karena adanya gelombang elektromagnetis yang berkekuatan hebat dari dasar bumi, sehingga gelombang elektromagnetis tersebut “menghisap” daya listrik di awan. Oleh karena itu, bentuk awannya jadi seperti tersedot ke bawah. Gelombang elektromagnetis itu sendiri terjadi akibat adanya patahan atau pergeseran lempeng bumi. Akan tetapi kemunculan awan gempa seperti itu tidak selamanya berarti akan ada gempa, bisa saja bentuknya memang seperti itu. 2. Mencoba Menguji Medan Elektromagnetis di dalam Rumah Cek siaran TV, apakah terdengar suara brebet-brebet atau tidak. Jika terdapat mesin fax, cek apakah lampunya blinking meskipun lagi tidak transmit data. Coba meminta orang lain mengirim fax ke kita, cek apakah teksnya yang diterima berantakan atau tidak. Coba matikan aliran listrik, cek apakah lampu neon tetap menyala redup atau remang-remang meskipun tidak ada arus listrik. Apabila TV tiba-tiba brebet-brebet, lampu fax blinking padahal sedang tidak transmitting, teks fax yang kita terima berantakan dan lampu neon menyala biarpun tidak ada arus listrik, itu berarti bahwa memang sedang ada gelombang elektromagnetis luar biasa yang sedang terjadi tapi kasat mata dan tidak dapat dirasakan oleh manusia. 14 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi 3. Memperhatikan Hewan-hewan Coba cek hewan-hewan seperti “menghilang”, lari atau bertingkah laku aneh atau gelisah. Insting hewan biasanya tajam dan hewan bisa merasakan gelombang elektromagnetis. 4. Air Tanah Selain itu, coba perhatikan pula, apakah air tanah tiba-tiba menjadi surut tidak seperti biasanya. Jika empat tanda ini ada atau terlihat dalam waktu bersamaan, segeralah bersiap-siap untuk evakuasi. Empat tanda tersebut kemungkinan besar menunjukkan memang akan ada gempa berkekuatan besar. Walaupun demikian, adanya awan gempa yang bentuknya aneh itu, tetap tidak bisa memastikan kapan gempa akan terjadi. Oleh karena itu, jangan tunggu-tunggu lagi sebisa mungkin langsung melakukan tindakan penyelamatan diri untuk menghindari hal-hal yang paling buruk. Apabila skala gempanya besar dan episentrumnya terletak di laut, kita harus selalu waspada akan datangnya gelombang tsunami. Tingginya gelombang bisa puluhan meter, bisa juga hanya dua meter. Akan tetapi biarpun hanya dua meter, gelombangnya tidak main-main. Kekuatannya dahsyat (seperti tidak ada habisnya) dan tekanannya bisa mencapai 190 kg. 15 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi F. MACAM-MACAM GEMPA BUMI Jenis gempa bumi dapat dibedakan berdasarkan: 1. Berdasarkan Penyebabnya a. Gempa bumi tektonik Gempa Bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di Bumi, getaran gempa Bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian Bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh pelepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tibatiba. b. Gempa bumi vulkanik Gempa Bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut. c. Gempa bumi terban Merupakan Gempa yanmg terjadi akibat adanya runtuhan. Misalnya adanya runtuhan goa yang menimbulkan getaran pada bumi. Gempa Bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah pertambangan, gempa bumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal. 16 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi d. Gempa bumi jatuhan Bumi merupakan salah satu planet yang ada dalam susunan tata surya. Dalam tata surya kita terdapat ribuan meteor atau batuan yang bertebaran mengelilingi orbit bumi. Sewaktuwaktu meteor tersebut jatuh ke atmosfer bumi dan kadang-kadang sampai ke permukaan bumi. Meteor yang jatuh ini akan menimbulkan getaran bumi jika massa meteor cukup besar, getaran ini disebut gempa jatuhan. Namun, gempa ini sangat jarang terjadi. e. Gempa bumi buatan Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktifitas dari manusia, seperti peledakan dinamik, nuklir atau palu yang dipukulkan ke permukaan bumi. Suatu percobaan peledakan nuklir di bawah tanah atau laut dapat menimbulkan getaran bumi yang dapat tercatat oleh seismograf ke seluruh permukaan bumi tergantung dengan kekuatan ledakan. Sedangkan, ledakan dinamik di bawah permukaan bumi juga dapat menimbulkan getaran, namun efek getarannya sangat lokal. 2. Berdasarkan Kedalaman Sumber Gempa (Hiposentrum) a. Gempa bumi dalam Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi. Gempa bumi dalam pada umumnya tidak terlalu berbahaya. 17 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi b. Gempa bumi menengah Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada antara 60 km sampai 300 km di bawah permukaan bumi.gempa bumi menengah pada umumnya menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih terasa. c. Gempa bumi dangkal Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan bumi. Gempa bumi ini biasanya menimbulkan kerusakan yang besar. 3. Berdasarkan Intensitasnya a. Gempa bumi microseisme Gempa bumi bumi microseisme adalah gempa bumi yang intensitasnya kecil, sehingga hanya bisa diketahui dengan menggunakan alat pengukur gempa bumi (seismograf). b. Gempa bumi macroseisme Gempa bumi macroseisme adalah gempa bumi yang intensitasnya besar, sehingga bisa diketahui meski tanpa menggunakan alat ukur gempa. 4. Berdasarkan Jarak Episentrum Episentrum merupakan titik permukaan bumi yang tegak lurus di atas pusat gempa yang ada di dalam bumi. Berikut adalah klasifikasi jenis gempa berdasarkan jarak episentrum gempanya, yaitu ; a. Gempa bumi lokal Gempa bumi lokal terjadi jika jarak terjauh gempa terasa kurang dari 10.000 km dari episentrumnya. b. Gempa bumi jauh Gempa bumi jauh terjadi jika jarak terjauh gempa terasa sekitar 10.000 km dari episentrumnya. c. Gempa bumi sangat jauh Gempa bumi sangat dekat terjadi jika jarak terjauh gempa terasa lebih dari 10.000 km dari episentrumnya. 18 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi G. DAMPAK YANG DITIMBULKAN OLEH GEMPA BUMI 1. Dampak Positif Dampak positif gempa bumi - Indonesia sebenarnya tidak asing lagi dengan bencana gempa, baik yang berasal dari adanya pergerakan lempeng dalam bumi maupun akibat aktifitas gunung berapi. Selain menimbulkan korban jiwa dan harta, bencana gempa baik tektonik maupun vulkanik, pada umumnya memiliki makna positif dari segi keilmuan. a. Gempa bumi, sangat berguna bagi manusia karena mereka memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di bawah tanah. Hal ini dapat membuat ekstraksi minyak dan gas lebih efisien, dan memungkinkan para ilmuwan untuk memantau perkembangan air selama ekstraksi energi panas bumi. b. Gempa juga memberi tahu kita apa yang terjadi dalam struktur bumi, misalnya, ruang magma, dan memungkinkan para ilmuwan untuk memonitor gunung berapi dan ancaman letusan. c. Gempa bumi juga dapat memberitahu kita tentang struktur internal Bumi. Dengan mengukur waktu yang diperlukan gelombang seismik untuk melintasi bumi kita bisa memetakan struktur bumi ke inti. d. Pada skala global, gempa bumi hanyalah gejala pergerakan lempeng yang terjadi sepanjang waktu, dan mereka terjadi karena material di permukaan di bumi berubah karena konveksi di dalam mantel bumi – gunung-gunung yang sedang dibuat, mineral dari bawah sedang dinaikkan ke atas dan dasar laut baru sedang dibuat. e. Aktivitas tektonik sangat penting untuk mempertahankan kehidupan di bumi. Materi yang ada terus-menerus didaur ulang antara permukaan dan kerak bumi. Kita memiliki beberapa daratan karena adanya aktivitas tektonik. Dataran yang muncul di tengah laut mendukung sejumlah besar kehidupan, dan mungkin memiliki peranan penting pada asal-usul kehidupan, dan permukaan bumi juga sangat dipengaruhi oleh letusan gunung berapi untuk membentuk komposisinya. 19 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi 2. Dampak Negatif Dampak negatif gempa bumi – Goncangan gempa bisa sangat hebat dan dampak yang ditimbulkannya juga tidak kalah dahsyat. Gempa merupakan salah satu fenomena alam yang menimbulkan bencana. Dilihat dari efek atau akibat yang ditimbulkan, kejadian-kejadian yang mungkin terjadi mengiringi peristiwa gempa bumi sebagai berikut. 1. Gelombang tsunami Salah satu akibat dari gempa bumi adalah munculnya gelombang tsunami jika sumber gempa di bawah laut. Gelombang tsunami tersebut muncul jika di pusat gempa terjadi patahan lempeng bumi turun sehingga air laut surut sementara. Akan tetapi tidak lama kemudian gelombang sangat tinggi dan berkecepatan luar biasa menerjang pantai dan masuk jauh ke daratan. Selanjutnya gelombang ini merusak apa saja yang dilaluinya. Sebelum tsunami muncul, biasanya muncul tanda-tanda seperti terjadi gerakan tanah, getaran kuat, muncul cairan hitam atau putih dari arah laut, biasanya juga terdengar bunyi keras, tercium bau garam menyengat dan air laut terasa dingin. 2. Kerusakan bangunan Gempa merupakan suatu pergerakan permukaan bumi disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik yang terdapat di bawah permukaan bumi. Dengan bergoyangnya permukaan bumi, maka bangunan-bangunan seperti gedung sekolah, pusat pertokoan, perkantoran, maupun rumah-rumah penduduk dapat hancur atau paling tidak retak. 3. Mengubah topografi atau bentuk muka bumi Dari hasil penelitian Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Yogyakarta diketahui bahwa terjadi perubahan topografi tanah di sekitar Yogyakarta akibat gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 yang lalu. Gempa bumi tersebut memicu longsoran tanah dan mengakibatkan perubahan struktur tanah di daerah-daerah berlereng curam akibat guncangan gempa. Struktur tanah seperti ini berbutir kasar dan dalam kondisi kering akan merapat. Akibat pengaruh gempa, tegangan pori udara dalam lapisan tanah pasir meningkat, dan tegangan efektif 20 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi tanah menurun hingga mencapai nilai terendah. Dengan demikian tanah kehilangan kekuatan sehingga mengakibatkan runtuhnya lapisan di atas pembentuk lereng dan memicu terjadi tanah longsor. 4. Menyebabkan keretakan permukaan bumi Selain tsunami dan hancurnya infrastruktur, gempa bumi juga mengakibatkan keretakan permukaan tanah. Keretakan ini disebabkan permukaan tanah ikut bergerak ketika lempeng tektonik di bawahnya saling berbenturan. 5. Menyebabkan perubahan tata air tanah Pada dasarnya sebelum terjadi gempa tata air tanah bersifat terbuka, tidak bertekanan, berlapis-lapis sesuai dengan struktur batuan dan tanah sehingga ada mata air kecil, relatif besar, dan sudah terbentuk kantongkantong air di bawah tanah. Kantong-kantong air tersebut secara rutin terisi oleh saluran primer, sekunder, dan tersier berdasarkan struktur dan kestabilan tanah yang telah terbentuk sebelumnya. Ketika terjadi gempa bumi lapisan dalam kantong-kantong air ini patah sehingga terjadi kebocoran, lapisan tanah terkoyak, dan bergeser. Oleh karena itu wajar jika setelah gempa tiba-tiba ada mata air yang mati, sumur kering, atau muncul mata air baru di tempat lain. Hilangnya mata air atau munculnya mata air baru di tempat lain akibat patahan dan pergeseran kantong-kantong air ini menunjukkan adanya perubahan tata air setelah guncangan gempa. 6. Mengakibatkan trauma psikis atau mental Ternyata bencana gempa, gunung meletus, dan tsunami tidak hanya mengakibatkan kerusakan fisik atau bangunan, harta benda, dan jiwa manusia, tetapi juga kondisi kejiwaan bagi para korban. Akibat bencana tersebut, sebagian besar korban dapat mengalami penderitaan biopsikososial yaitu gangguan akan kewaspadaan den kepekaan yang berlebihan terhadap sekadar perubahan suara, perubahan keadaan, dan aneka perubahan kecil lain yang sebenarnya wajar terjadi di tengah kehidupan sehari-hari. 21 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi H. CARA PENANGGULANGAN GEMPA BUMI 1. Upaya Menghadapi Bencana Gempa Bumi a. Bila berada di dalam suatu ruangan ( rumah ) : Jangan panik dan jangan berlari keluar, berlindunglah dibawah meja atau tempat tidur. Bila tidak ada, lindungilah kepala dengan bantal atau benda lainnya. Jauhi rak buku, lemari dan jendela kaca. Hati-hati terhadap langit-langit yang mungkin runtuh, benda-benda yang tergantung di dinding dsb. b. Bila berada di luar ruangan : Jauhi bangunan tinggi, dinding, tebing terjal, pusat listrik dan tiang listrik, papan reklame, pohon yang tinggi, dsb. Usahakan dapat mencapai daerah yang terbuka. Jauhi rak-rak dan jendela kaca. c. Bila sedang mengendarai kendaraan : Segera hentikan di tempat yang terbuka. Jangan berhenti di atas jembatan atau dibawah jembatan layang / jembatan penyeberangan. d. Bila sedang berada di pusat perbelanjaan, bioskop, dan lantai dasar mall : Jangan menyebabkan kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari pegawai atau satpam. e. Bila sedang berada di dalam lift : Jangan menggunakan lift saat terjadi gempabumi atau kebakaran. Lebih baik menggunakan tangga darurat. Jika anda merasakan getaran gempabumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia 22 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi f. Bila sedang berada di dalam kereta api : Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan g. Bila sedang berada di gunung / pantai : Ada kemungkinan lonsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi. h. Beri pertolongan : Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempabumi besar. Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang berada di sekitar anda. i. Evakuasi : Tempat-tempat pengungsian biasanya telah diatur oleh pemerintah daerah. Pengungsian perlu dilakukan jika kebakaran meluas akibat gempabumi. Pada prinsipnya, evakuasi dilakukan dengan berjalan kaki dibawah kawalan petugas polisi atau instansi pemerintah. Memawa barang-barang secukupnya. j. Dengarkan informasi : Saat gempabumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yang benar dari pihak berwenang, polisi, atau petugas PMK. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas. 23 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi 2. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi a. Membuat bangunan dengan konstruksi tahan getaran / gempa khususnya di daerah rawan gempa. b. Penguatan bangunan dengan mengikuti standar kualitas bangunan. c. Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi. d. Penguatan bangunan-bangunan vital yang telah ada. e. Merencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi. f. Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan. g. Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara – cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi. h. Mengikuti pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama. i. Menyiapkan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya. j. Merencanakan kontinjensi / kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi. k. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama. 24 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati” Gempa Bumi A. KESIMPULAN Dari uraian makalah di atas dapat disimpulkan bahwa, gempa bumi adalah getaran yang terjadi permukaan bumi. Gempa bumi bisaa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Gempa bumi disebabkan oleh pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itu lah gempa bumi akan terjadi. B. SARAN Untuk mengantisipasi gempa bumi yang sampai saat ini belum bisa diprediksikan kapan dan dimana akan terjadi maka dapat dilakukan beberapa langkah sebagai berikut : 1. Menentukan tempat-tempat berlindung yang aman jika terjadi gempa bumi. 2. Menyediakan air minum untuk keperluan darurat. 3. Menyiapkan tas ransel yang berisi (atau dapat diisi) barang-barang yang sangat dibutuhkan di tempat pengungsian. 25 Kelompok 1 : “Arbain, Asrar, Lutfi Adila, M. Ridwan, M. Syukran & Rinawati”