Uploaded by common.user65330

9922-40500-1-PB

advertisement
UJI KOMPARASI MODEL KORELASI DALAM MENGANALISIS EFEKTIVITAS
PENDAMPINGAN PETANI
Alternative of Corellation Models to Analyze Farmers Assistance Effectivity
Yennita Sihombing1, Lintje Hutahaean1
Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Jl. Tentara Pelajar No. 10, Bogor, 16114, Indonesia
Telp. (0251) 8351277, Fax. (0251) 8350928, 8322933
E-mail: [email protected], [email protected]
1
(Makalah diterima 18 Januari 2019 – Disetujui 03 Juni 2019)
ABSTRAK
Penerapan teknologi atau inovasi pertanian di petani memerlukan pendampingan oleh peneliti atau penyuluh agar
memberikan hasil yang diharapkan. Pengkajian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model korelasi Pearson,
Kendall’s tau-b, dan Spearman dalam menganalis kegiatan pendampingan petani. Pengkajian didasarkan pada data
hasil pendampingan yang dikumpulkan di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara. Data primer didapat
melalui wawancara menggunakan kuesioner terhadap 22 petani padi yang terpilih sebagai responden secara acak yang
didahului dengan PRA. Data pendampingan yang dikumpulkan fokus pada aspek produksi padi sebelum dan sesudah
pendampingan petani. Indikator efektivitas model korelasi dilihat dari banyaknya variabel hasil analisis yang nyata dan
nilai koefisien yang dihasilkan. Berdasarkan pendekatan tersebut diperoleh gambaran bahwa model uji korelasi Pearson
dan Kendall’s tau-b serta Spearman pada dasarnya dapat digunakan dalam menganalisis kinerja pendampingan yang
ditunjukkan oleh korelasi dari ketiga model tersebut, baik sebelum maupun setelah pendampingan. Ketiga model korelasi
menghasilkan satu korelasi variable signifikan yang sama, yaitu korelasi umur dengan pengalaman. Perbedaannya hanya
muncul dalam derajat kekuatan korelasi. Analisis korelasi model Pearson, Kendall’s tau b, dan Spearman dapat menjadi
pilihan dalam menganalisis kinerja pendampingan petani dalam menerapkan teknologi di lapang.
Kata kunci: petani, pendampingan, model, korelasi
ABSTRACT
In Order to apply the agriculture technology or innovation, the farmers requires assistance by researches or extension
agent to provide the expected results. The application of agricultural technology or innovation in farmers requires
assistance by researchers or extension workers to provide the expected results. This study has an objective to determine
the effectiveness among three correlation models, namely: Pearson, Kendall’s tau-b, and Spearman for analyzing the
performance of assisting activities. The assessment was done based on the assisting data which collected in North
of Bolaang Mongondow District, North Sulawesi Province. As the respondents, the primary data were obtained by
questionnaires to 22 of the rice farmers who were randomly selected by PRA. The assisting data focused on the rice
production aspect for both of pre-assisting and post-assisting cases. The effectiveness indicator among those correlation
models has defined using the number of real analysis variables and the correlation coefficients. According to three
models, they produced almost similar coefficient correlation for both of pre-assisting and post-assisting cases. Based on
three models, a significant correlation variable which found was a correlation between the age and the experiences. For
those significant variable, the differences among those models only appears in the degree of correlation. As a conclusion,
the Pearson, Kendall’s tau b, and Spearman correlation models can be used as an alternative methods for analyzing the
performance of assisting activities.
Key words: farmer, assisting, model, correlation
1
Informatika Pertanian, Vol. 28 No.1, Juni 2019 : 1 - 10
PENDAHULUAN
Pendampingan yang dilakukan peneliti dan penyuluh
di lingkup Balitbangtan bertujuan untuk memotivasi
(mendorong) perubahan sikap dan perilaku petani
terhadap introduksi inovasi teknologi agar sikap yang
semula apriori terhadap teknologi menjadi proaktif.
Melalui pendampingan diharapkan akan meningkat
pengetahuan dan keterampilan petani dalam berusaha
tani.
Perubahan sikap, pengetahuan, dan perilaku tersebut
menjadi awal perbaikan pengelolaan usaha tani. Hal
ini diharapkan mendorong efektivitas dan efisiensi
adopsi teknologi sehingga berujung pada meningkatkan
produktivitas usaha tani (Hendayana, 2016). Menurut
Syakir (2016), upaya mendorong petani meningkatkan
produksi pertanian merupakan bagian dari kebijakan
pemerintah menuju kedaulatan pangan.
Kata pendampingan berarti proses, cara, dan kegiatan
mendampingi atau mendampingkan (KBBI, 2015).
Dalam konteks peningkatan produksi pertanian,
pendampingan berhubungan dengan upaya peningkatan
pemberdayaan petani ke arah perbaikan pengelolaan
usaha tani. Prinsip pendampingan yaitu membangun
inisiatif dan mendayagunakan potensi lokal, partisipasi,
peningkatan peran aktif anggota kelompok dalam
berusaha tani, kemitraan, tidak menggurui, aktualisasi
institusi tradisional, dan keberlanjutan (Hendayana,
2011; Hendayana, 2016).
Prinsip dasar pendampingan adalah egaliter sehingga
watak hubungan antara pendamping dan komunitas
(masyarakat) yang didampingi adalah kemitraan
(partnership). Pendampingan membangun inisiatif dan
mendayagunakan potensi lokal, partisipasi, peningkatan
peran aktif anggota kelompok dalam berusaha tani secara
keberlanjutan (Ife, 1995).
Wujud pendampingan petani padi dapat langsung
maupun tidak langsung. Dalam Surat Keputusan Kepala
Balitbangtan No. 79/Kpts/KP.340/I/2/2014 mengenai
tugas pengawalan dan pendampingan dikemukakan
bahwa kegiatan pendampingan antara lain menyediakan
rekomendasi teknologi spesifik lokasi pada setiap
kawasan, merekomendasikan penggunaan varietas
unggul baru (VUB) spesifik lokasi, menyediakan
kalender dan pola tanam, menyelenggarakan temu
lapang dengan pelaksana di lapangan; menyebarkan
leaflet dan brosur. Di samping itu berpartisipasi dalam
pelatihan sebagai narasumber, menghadirkan peneliti
sebagai narasumber pada waktu pertemuan dengan
petani, melakukan display (uji adaptasi) teknologi dan
mengefektifkan kegiatan sekolah lapang (Jamal, 2009).
Salah satu wujud pendampingan yang efektif mengacu
pada pendekatan Spectrum Diseminasi Multi Channel
(SDMC) (Badan Litbang Pertanian, 2011).
2
Pendampingan bertujuan agar inovasi teknologi dapat
diterapkan secara optimal dalam upaya mendukung
pencapaian tujuan dan sasaran peningkatan produksi
pangan nasional. Sasaran pendampingan di kawasan
produksi padi adalah meningkatnya pengetahuan,
keterampilan, dan sikap petani sehingga pelaksanaan
penerapan teknologi intensifikasi dan ekstensifikasi dapat
berjalan lebih cepat dan berkelanjutan (Dirjen Tanaman
Pangan, 2014) .
Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan terungkap
petani memberikan apresiasi positif atau cenderung
sangat setuju dengan kehiatan pendampingan dan materi
yang diberikan. Hendayana (2011) mengungkapkan pula
penilaian petani terhadap pendampingan difokuskan
pada aspek pendidikan formal, disiplin ilmu, umur,
masa kerja sebagai pegawai, motivasi dan pengalaman
pendampingan serta kegiatan di luar pendampingan.
Pada pengkajian ini, data utama yang dijadikan basis
pembahasan adalah aspek produksi usaha tani padi
sebelum dan setelah pendampingan. Terhadap data yang
terkumpul diaplikasikan tiga model korelasi, yaitu model
korelasi Pearson, Kendall’s tau-b, dan Spearman. Uji
Pearson merupakan statistik nonparametrik, sedangkan
Kendall’s tau-b dan Spearman termasuk statistik
parametrik.
Makalah ini bertujuan untuk mengelaborasi model
korelasi Pearson, Kendall’s tau-b, dan Spearman dalam
menganalisis efektivitas kegiatan pendampingan usaha
tani padi.
BAHAN DAN METODE
Pendekatan
Pengkajian untuk mengelaborasi tiga model korelasi
dalam pendampingan mengacu pada data pendampingan
di Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara, pada
tahun 2017.
Pengumpulan data melalui survei dwngan bantuan
kuesioner. Survei menggunakan pendekatan partisipatif
dengan mengakomodasi pendekatan PRA terhadap 22
petani padi yang dipilih secara acak sederhana.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data utama yang dikumpulkan adalah produksi
padi berupa gabah dalam satuan kilogram per hektar,
dari dua kondisi. Pertama, produksi padi yang diperoleh
petani sebelum pendampingan. Kedua, produksi padi
setelah pendampingan dari musim tanam yang sama.
Analisis Data
Analisis data menggunakan tiga model korelasi
Uji Komparasi Model Korelasi dalam Menganalisis Efektivitas Pendampingan Petani
(Yennita Sihombing, Lintje Hutahaean)
yaitu model korelasi Pearson, Kendall’s tau b, dan
Spearman. Analisis korelasi digunakan untuk mencari
tingkat keeratan dan arah hubungan. Semakin tinggi
nilai korelasi, semakin tinggi pula keeratan hubungan
kedua variabel. Nilai korelasi memiliki rentang antara
nol sampai satu atau nol sampai minus satu. Angka pada
nilai korelasi menunjukkan keeratan hubungan antara
dua variabel yang diuji. Jika angka korelasi semakin
mendekati satu, maka korelasi dua variabel akan semakin
kuat, sedangkan jika angka korelasi mendekati nol maka
korelasi dua variabel semakin lemah. Tanda minus dan
plus pada nilai korelasi menyatakan sifat hubungan. Jika
nilai korekasi bertanda minus, berarti hubungan di antara
kedua tabel bersifat searah. Jika nilai korelasi bertanda
plus, hubungan di antara kedua tabel berlawanan arah
(Trihendradi, 2012).
Landasan Teoritis
Model Korelasi Pearson
Uji Pearson merupakan salah satu dari beberapa jenis
uji korelasi yang digunakan untuk mengetahui derajat
keeratan hubungan dua variabel berskala interval atau
rasio, berdistribusi normal, yang akan mengembalikan
nilai koefisien korelasi dengan nilai berkisar antara -1,
0 dan 1. Nilai -1 artinya terdapat korelasi negatif yang
sempurna, 0 artinya tidak ada korelasi dan nilai 1 berarti
ada korelasi positif yang sempurna (Huang, 2016).
Syarat atau asumsi klasik untuk uji Pearson antara
lain linearitas, normalitas, heteroskedastisitas. Linearitas
adalah sifat hubungan yang linear antarvariabel, artinya
setiap perubahan yang terjadi pada satu variabel akan
diikuti oleh perubahan dengan besaran yang sejajar
pada variabel lainnya. Interprestasinya, jika nilai H0 <
0,05 maka bersifat linear. Uji normalitas adalah uji yang
bertujuan untuk menilai sebaran data pada kelompok
data atau variabel (Arifin, 2012).
Uji heteroskedastisitas adalah uji yang menilai
ketidaksamaan varian dari residual untuk semua
pengamatan pada model regresi linear. Uji ini merupakan
salah satu dari uji asumsi klasik yang harus dilakukan
pada regresi linear. Apabila asumsi heteroskedastisitas
tidak terpenuhi, maka model regresi dinyatakan tidak
valid sebagai alat peramalan (Hidayat, 2012).
Formula korelasi Pearson yang digunakan adalah :
r = nilai korelasi
x = variabel x
y = variabel y
n = banyak sampel
Model Korelasi Kendall’s Tau-b
Model korelasi Kendall’s Tau-b digunakan untuk
mengukur keeratan hubungan populasi yang mempunyai
dua variabel, berdistribusi tidak normal, dan biasa
digunakan untuk data yang berskala ordinal (Gamma
Sigma Beta, 2012).
Koefisein korelasi rangking Kendall’s Tau-b cocok
digunakan sebagai ukuran korelasi dengan jenis data
yang sama dengan data dimana koefisien korelasi
rangking Spearman dapat digunakan. Artinya, jika
sekurang-kurangnya tercapai pengukuran ordinal dari
tabel X dan Y. Nilai korelasi yang dihasilkan berkisar
antara -1 sampai +1 (Kurniawan, 2009).
Untuk uji signifikasi diperlukan pembentukan hipotesis
yaitu H0 : tabel X dan tabel Y tidak saling berhubungan,
sedangkan H1 : tabel X dan tabel Y saling berhubungan
(Sarwono, 2006).
Formula korelasi Kendall’s Tau-b yang digunakan
adalah:
dengan:
Tx =
( Tx – 1)
Ty =
( Ty – 1)
Tx = banyaknya nilai X yang sama suatu data
Ty = banyaknya nilai X yang sama suatu data
Cek kagi apakah Ty maksudnya?
Model Korelasi Spearman
Dari semua statistik yang didasarkan atas rangking
(peringat) koefisien korelasi, Spearman merupakan
alat analisis statistik yang paling awal digunakan dan
mungkin paling dikenal dengan baik. Statistik ini
kadang-kadang disebut rho, ditulis dengan rs, merupakan
ukuran korelasi yang menuntut kedua tabel pengamatan
sekurang-kurangnya diukur berdasarkan dalam urutan
rangking dua variabel skala atau ordinal, dan berdistribusi
tidak normal, sehingga obyek atau individu yang diamati
dapat dirangking dalam dua rangkaian berurut.
Korelasi rank spearman digunakan untuk menganalisis
hubungan antara variabel dengan skala ordinal atau
variabel dengan data interval yang tidak berdistribusi
normal. Oleh karena itu, alat uji ini tidak sensitif terhadap
nilai ekstrim (Kurniawan, 2009).
3
Informatika Pertanian, Vol. 28 No.1, Juni 2019 : 1 - 10
Formula korelasi Spearman yang digunakan adalah :
rs = Koefisien korelasi Rank Spearman
di = Selisih setiap rank
n = Banyaknya pasangan data
Indikator efektivitas model dievaluasi dari koefisien
korelasi masing-masing model. Suatu model korelasi
dikatakan efektif jika:
(a) Penerapan instrumen analisis korelasi dapat
mengakomodasi karakteristik data pendampingan.
Indikatornya, data yang terkumpul relevan dianalisis
menggunakan instrumen korelasi yang digunakan.
(b) Hasil analisis korelasi dapat menjelaskan fenomena
yang terjadi dalam pendampingan. Indikatornya, dilihat
dari nilai koefesien korelasi mampu menunjukkan hasil
yang signifikan (Singgih, 2010).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Aspek pertama yang dijadikan obyek dalam
analisis Pearson, Kendall’s tau-b, dan Spearman yaitu
karakteristik petani yang melakukan budi daya padi
varietas Ciherang pada agroekosistem sawah irigasi di
musim hujan.
Karakteristik petani yang dibahas difokuskan pada
umur, pendidikan, dan pengalaman berusaha tani. Ketiga
variabel tersebut termasuk karakter demografi (Afandi,
2010; Budiartiningsih et al., 2010; Nurhasikin, 2013;
Andini et al., 2013; Manyamsari dan Mujiburrahmad,
2014).
Umur dihitung sejak lahir sampai saat menjadi
responden, yang dikategorikan: (1) muda (< 45 tahun),
(2) sedang (45-55 tahun), dan (3) tua (>55 tahun).
Lama pendidikan merupakan waktu yang ditempuh
petani dalam mengikuti sekolah formal berdasarkan
jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi (tahun).
Hasil pengukuran dikategorikan menjadi: (1) rendah
(kurang dari 7 tahun atau setara dengan tamatan SD), (2)
sedang (lebih dari 7 tahun sampai dengan 10 tahun atau
setara tamatan SMP), dan (3) tinggi (lebih dari 10 tahun).
Pengalaman berusahatani menunjukkan lama petani
berkecimpung dalam kegiatan budi daya, produksi,
seluk beluk usaha dan pemasaran hasil pertanian (Shinta,
2011). Pengalaman dibagi menjadi: (1) pengalaman baru,
kurang dari 10 tahun, (2) pengalaman sedang, berkisar
antara 10 - 20 tahun, dan (3) pengalaman lama, lebih dari
20 tahun. Informasi lebih rinci ketiga variabel tersebut
disajikan pada Tabel 1.
Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa 22 petani responden
menunjukkan umur relatif homogen (standar deviasi =
7,911), dengan umur minimum dan maksimum dalam
kategori produktif (Nurhasikin, 2013).
Dari sisi pendidikan diperoleh nilai standar deviasi
kecil 2,532 yang dapat diartikan bahwa nilai mean (rata
rata) yang diperoleh akurat. Pendidikan menentukan
tingkat kompetensi petani dalam melakukan kegiatan
pertanian (Manyamsari dan Mujiburrahmad, 2014).
Wiriaatmadja (1986) menjelaskan tingkat pendidikan
merupakan salah satu indikator mutu petani. Dari hasil
penelitian Sudana dan Subagyono (2012) terungkap
umur dan tingkat pendidikan petani berpengaruh nyata
terhadap peluang adopsi inovasi teknologi.
Dari sisi pengalaman berusahatani, nilai standar
deviasi cukup besar yaitu 13,287. Hal ini berarti semakin
besar nilai standar deviasi semakin beragam nilaivariabel
yang diuji. Dengan kata lain, semakin tidak akurat nilai
mean yang diperoleh sehingga dapat diartikan nilai mean
bukan parameter yang tepat untuk mewakili semua data.
Mulyasa (2003) mengemukakan perkembangan
kemampuan berpikir terjadi seiring dengan bertambahnya
umur. Hal ini menunjukkan semakin tua umur petani
semakin bertambah pengalaman sehingga semakin
meningkat kompetensi dalam berusaha tani.
Tabel 1. Karakteristik petani
Uraian
N
Mean
Std. deviation
Minimum
Maximum
4
Valid
Missing
Umur
(tahun)
22
0
48,27
7,911
38
63
Uji Komparasi Model Korelasi dalam Menganalisis Efektivitas Pendampingan Petani
(Yennita Sihombing, Lintje Hutahaean)
Dari Tabel 2 dapat dilihat hasil padi petani responden
sebelum dan sesudah pendampingan relatif heterogen,
namun dengan kisaran minimum dan maksimum dalam
katagori tinggi.
Dapat disimpulkan bahwa pendampingan terhadap
petani terjadi peningkatan hasil padi yang cukup
signifikan sehingga meningkatkan pendapatan petani di
Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara.
Model Pearson menghasilkan korelasi variabel yang
sangat signifikan pada taraf 0,01, yaitu antara variabel
umur dan pengalaman berusaha tani dengan nilai
koefisien korelasi 0,691. Korelasinya sangat erat dan
searah
Variabel lainnya tidak signifikan. Hal ini diduga
disebabkan antara lain karena rata-rata petani sudah
berusaha tani sejak sebelum sekolah, tidak melanjutkan
pendidikan sampai ke perguruan tinggi (hanya sampai
tingkat SMP) karena lebih suka bertani, dan tidak memiliki
biaya sehingga banyak petani yang mengandalkan usaha
tani sebagai sumber utama pendapatan sampai akhir
hidupnya (Andini et al. 2013).
Sementara itu korelasi antara karakteristik petani (umur,
pendidikan, dan pengalaman berusaha tani) dengan hasil
padi tidak signifikan dengan nilai koefisien korelasi <
Aplikasi Tiga Model Korelasi
a.
Sebelum Pendampingan
Hasil uji korelasi Pearson, Kendall’s tau-b, dan
Spearman antara variabel karakteristik usaha tani dengan
usahatani sebelum pendampingan dapat dilihat pada
Tabel 3, 4, dan 5.
Tabel 2. Karakteristik usaha tani padi
Uraian
N
Hasil padi (kg/ha) sebelum
pendampingan
22
0
1822,73
254,356
1.200
2.200
Valid
Missing
Mean
Std. Deviation
Minimum
Maximum
Hasil padi (kg/ha) sesudah
pendampingan
22
0
2154,55
159,545
2.000
2.500
Tabel 3. Hasil uji korelasi Pearson sebelum pendampingan
1
-0,351
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
,691**
22
0,109
22
0,000
22
0,432
22
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
-0,351
1
-0,393
-0,316
0,109
22
22
0,071
22
0,152
22
Pengalaman
Pearson
Usahatani (Thn) Correlation
Sig. (2-tailed)
N
,691**
-0,393
1
-0,075
0,000
22
0,071
22
22
0,740
22
HasilProduksi
(Kg.Ha)
Sebelum
Pendampingan
0,177
-0,316
-0,075
1
0,432
22
0,152
22
0,740
22
22
Uraian
Umur (Thn)
Pendidikan
(Thn)
Umur (Thn)
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pendidikan
(Thn)
Hasil padi (kg/ha)
sebelum pendampingan
0,177
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
5
Informatika Pertanian, Vol. 28 No.1, Juni 2019 : 1 - 10
Tabel 4. Korelasi Kendall’s Tau-b sebelum pendampingan
Uraian
Kendall’s Umur (Thn)
tau_b
Pendidikan (Thn)
Pengalaman
bersaha tani (Thn)
Hasil padi (kg.
ha) sebelum
pendampingan
Correlation
Coefficient
Sig. (2-taied)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Umur
(Thn)
Pendidikan
(Thn)
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
Hasil padi (kg/
ha) sebelum
pendampingan
1,000
-0,259
,406*
0,065
22
-0,259
0,139
22
1,000
0,011
22
-0,329
0,688
22
-0,263
0,139
22
,406*
22
-0,329
0,061
22
1,000
0,144
22
-0,070
0,011
22
0,065
0,061
22
-0,263
22
-0,070
0,667
22
1,000
0,688
22
0,144
22
0,667
22
22
* Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
Tabel 5. Korelasi Spearman sebelum pendampingan
Umur
(Thn)
Pendidikan
(Thn)
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
1,000
-0,317
0,151
22
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
-0,317
0,151
22
1,000
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
,541**
0,009
22
Hasil padi (kg/
ha) Sebelum
pendampingan
Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
0,116
0,606
22
Uraian
Spearman’s Umur (Thn)
rho
Pendidikan
(Thn)
22
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
,541**
0,009
22
Hasil padi (kg/
ha) sebelum
pendampingan
0,116
0,606
22
-0,377
0,083
22
-0,309
0,161
22
-0,377
0,083
22
1,000
-0,084
0,711
22
-0,309
0,161
22
-0,084
0,711
22
22
22
1,000
22
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
0,5. Hasil padi memiliki hubungan negatif dengan tingkat
pendidikan dan pengalaman berusaha tani, sedangkan
dengan variabel umur memiliki hubungan yang positif
(searah).
6
Hasil uji Kendall’s Tau-b menghasilkan korelasi
variabel yang signifikan, terdiri atas variabel umur
dengan pengalaman berusaha tani dengan nilai koefisien
0,406 pada taraf 0,05. Artinya hubungan kedua variabel
erat dan searah.
Uji Komparasi Model Korelasi dalam Menganalisis Efektivitas Pendampingan Petani
(Yennita Sihombing, Lintje Hutahaean)
Korelasi antara karakteristik petani (umur, pendidikan,
dan pengalaman berusaha tani) dengan hasil padi tidak
signifikan yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi
-0,263 dan -0,070. Hasil padi memiliki hubungan yang
kurang berarti dengan tingkat pendidikan dan pengalaman
berusaha tani serta berbanding terbalik (tidak searah).
Hasil analisis sama dengan hasil dua analisis
sebelumnya, yaitu korelasi variabel umur dan pengalaman
berusahatani dengan nilai koefisien 0,541 pada taraf 0,01.
Korelasi antara karakteristik petani (umur, pendidikan,
dan pengalaman berusaha tani) dengan hasil padi
tidak signifikan dengan nilai koefisien korelasi -0,309.
Hubungan antara variabel pengalaman berusaha tani
dengan hasil padi kurang berarti dan berbanding terbalik,
sedangkan dengan variabel umur memiliki hubungan
yang searah.
b. Sesudah Pendampingan
Uji korelasi Pearson, Kendall’s tau-b, dan Spearman
antara variabel karakteristik usahatani dengan usahatani
sesudah pendampingan dapat dilihat pada Tabel 6, 7,
dan 8.
Tabel 6. Korelasi Pearson Sesudah Pendampingan
Uraian
Umur (Thn)
Umur (Thn)
Pendidikan
(Thn)
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
Hasil padi (kg/
ha) sesudah
pendampingan
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pearson Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Pendidikan
(Thn)
1
-0,351
0,109
22
1
22
-0,351
0,109
22
,691**
0,000
22
-0,129
0,566
22
22
-0,393
0,071
22
-0,019
0,932
22
Pengalaman
berisaha tani
(Thn)
,691**
0,000
22
-0,393
0,071
22
1
22
0,037
0,870
22
Hasil padi (kg/
ha) sesudah
pendampingan
-0,129
0,566
22
-0,019
0,932
22
0,037
0,870
22
1
22
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
Tabel 7. Korelasi Kendall’s Tau-b sesudah pendampingan
Uraian
Kendall’s
tau_b
Umur (Thn)
Pendidikan (Thn)
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
Hasil padi (kg/
ha) aesudah
pendampingan
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
* Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed)
-0,259
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
,406*
Hasil padi
(kg/ha) ssdh
pendampingan
-0,115
0,139
22
1,000
0,011
22
-0,329
0,495
22
0,030
0,139
22
,406*
22
-0,329
0,061
22
1,000
0,875
22
-0,020
0,011
22
-0,115
0,061
22
0,030
22
-0,020
0,905
22
1,000
0,495
22
0,875
22
0,905
22
22
Umur (Thn)
Pendidikan
(Thn)
1,000
22
-0,259
7
Informatika Pertanian, Vol. 28 No.1, Juni 2019 : 1 - 10
Tabel 8. Korelasi Spearman sesudah pendampingan
Umur
(Thn)
Uraian
Spearman’s rho Umur (Thn)
Pendidikan
(Thn)
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
Hasil padi (kg/
ha) sesudah
pendampingan
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Correlation
Coefficient
Sig. (2-tailed)
N
Pendidikan
(Thn)
Pengalaman
berusaha tani
(Thn)
,541**
Hasil padi
(kg/ha) sesudah
pendampingan
-0,166
1,000
-0,317
22
-0,317
0,151
22
1,000
0,009
22
-0,377
0,461
22
0,030
0,151
22
,541**
22
-0,377
0,083
22
1,000
0,896
22
-0,018
0,009
22
-0,166
0,083
22
0,030
22
-0,018
0,938
22
1,000
0,461
22
0,896
22
0,938
22
22
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed)
Hubungan korelasi antara karakteristik petani (umur,
pendidikan, dan pengalaman berusaha tani) dengan
hasil padi sesudah pendampingan tidak signifikan
dengan nilai koefisien korelasi -0,129, artinya hubungan
antara variabel umur dengan hasil padi lemah. Variabel
pendidikan dan hasil padi kurang berarti dan berbanding
terbalik, sedangkan dengan variabel pengalaman
berusaha tani memiliki hubungan yang searah.
Semakin tua dan semakin tinggi tingkat pendidikan
petani, maka hasil padi tinggi sesudah pendampingan dan
sebaliknya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bandolan
et al. (2008) yang menyimpulkan tingginya keterampilan
petani disebabkan oleh adanya pengetahuan yang
dimiliki. Keterampilan mencakup pemilihan bibit unggul,
penanaman, pemeliharaan, dan panen dilakukan dengan
baik. Hal ini tidak berlaku untuk variabel pengalaman
berusaha tani.
Hubungan korelasi antara karakteristik petani (umur,
pendidikan, dan pengalaman berusaha tani) dengan hasil
padi sesudah pendampingan tidak signifikan dengan nilai
koefisien korelasi -0,115. Hubungan antara variabel umur
dengan hasil usaha tani lemah. Dengan nilai koefisien
korelasi -0,020, variabel pengalaman berusaha tani dan
hasil usaha tani kurang berarti dan berbanding terbalik
(tidak searah), sedangkan dengan variabel pengalaman
berusaha tani searah.
Hal tersebut tidak berlaku dengan variabel pendidikan,
semakin tinggi pendidikan petani, maka hasil usaha
tani sesudah pendampingan semakin tinggi, karena
8
pendidikan sangat berpengaruh dalam peningkatan hasil,
dan sebaliknya.
Hal ini sesuai dengan Sudana (2005)
yang
menyatakan pendidikan adalah suatu proses terencana
untuk mengubah perilaku seseorang yang dilandasi
oleh perubahan pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Pendidikan umumnya mempengaruhi cara dan pola pikir
petani dalam mengelola usaha tani. Pendidikan yang
relatif tinggi menyebabkan petani lebih dinamis.
Hubungan korelasi antara karakteristik petani (umur,
pendidikan, dan pengalaman berusaha tani) dengan
hasil padi sesudah pendampingan dengan uji Spearman
tidak signifikan, dengan nilai koefisien korelasi pada
uji Spearman -0,166. Artinya hubungan antara variabel
umur petani dengan hasil usaha tani lemah sesudah
pendampingan.
Di samping itu, hubungan antara variabel pengalaman
berusaha tani dan hasil padi sesudah pendampingan
kurang berarti dan berbanding terbalik (tidak searah).
Sementara itu hubungannya searah dengan variabel
pendidikan.
KESIMPULAN
Model uji Korelasi Pearson yang merupakan statistik
nonparametrik dan Kendall’s tau-b serta Spearman yang
termasuk statistik parametrik pada dasarnya efektif
digunakan dalam menganalisis kinerja pendampingan
teknologi yang ditunjukkan oleh hasil korelasi dari ketiga
model, baik sebelum maupun setelah pendampingan.
Uji Komparasi Model Korelasi dalam Menganalisis Efektivitas Pendampingan Petani
(Yennita Sihombing, Lintje Hutahaean)
Ketiga model korelasi menghasilkan satu korelasi
variable signifikan yang sama yaitu korelasi umur dengan
pengalaman berusaha tani. Perbedaannya hanya terjadi
dalam tingkat kekuatan korelasi.
Hasil kajian ini menunjukkan analisis korelasi model
Pearson, Kendall’s tau-b, dan Spearman dapat menjadi
pilihan dalam menganalisis kinerja pendampingan
teknologi kepada petani.
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, W.N. 2010. Identifikasi karakteristik rumah
tangga miskin di Kabupaten Padang Pariaman. Tesis
(tidak dipublikasikan). Universitas Andalas. Tersedia
dari: http://unand.ac.id/20447/1. Diakses pada
tanggal 12 Mei 2018.
Andini, N. K,. D. P. E. Nilakusmawati, dan M.
Susilawati. 2013. Faktor-faktor yang memengaruhi
penduduk lanjut usia masih bekerja. Piramida Jurnal
Kependudukan dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia 9(1) :44-49.
Arifin, Z. 2012. Penelitian Pendidikan Metode dan
Paradigma Baru. Bandung (ID): PT. Remaja
Rosdakarya.
Badan Litbang Pertanian. 2011. PTT Padi Sawah. Pedoman
Umum. Jakarta (ID): Badan Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Kementerian Pertanian.
Bandolan, Y., A. Azis, dan Sumang. 2008. Tingkat adopsi
petani terhadap teknologi budidaya rambutan di desa
romangloe kecamatan bontomarannu kabupaten
gowa. Jurnal Agrisistem 4 (2) : 5 – 12.
Budiartiningsih, R., Y. Maulida, dan Taryono. 2010.
Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan
pendapatan keluarga petani melalui sektor informal
di desa kedaburapat, kecamatan rangsang barat,
kabupaten bengkalis. Jurnal Ekonomi 18(1):79-93.
Dirjen Tanaman Pangan. 2014. Petunjuk Teknis Teknologi
Tanam Jajar Legowo Tahun 2016. Jakarta (ID):
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian
Pertanian.
Gamma Sigma Beta. 2012. Statistika Parametrik Vs
Statistika Nonparametrik. Tersedia dari: http://http://
gsb.lk.ipb.ac.id/?p=633. Diakses pada tanggal 12
Mei 2018.
Hendayana, R. 2011. Memacu Produksi Dengan
Pendampingan. Sinar Tani, 4 April 2011.
Hendayana, R. 2011. Strategi Pendampingan SLPTT Padi Yang efektif Mendukung Swasembada
Beras Berkelanjutan. Balai Besar Pengkajian
dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian
Pertanian. Halaman 1-27.
Hendayana, R. 2016. Pokok - Pokok Pikiran
Pendampingan Dalam Mendorong Peningkatan
Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai. Aktualisasi
Pendampingan Kawasan Tanaman Pangan Strategis
Komoditas Padi, Jagung, dan Kedelai. Balai Besar
Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.
Bogor. Halaman 25-36.
Hendayana, R. 2016. Analisis Data Pengkajian : Cerdas
dan Cermat Menggunakan Alat Analisis Data Untuk
Karya Tulis Ilmiah. IAARD Press. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian. Jakarta. Halaman 136140.
Hernanto. 2013. Karakteristik Sosial Ekonomi Petani
Padi dan Hubungannya dengan Pendapatan. Fakultas
Pertanian USU. Medan. Halaman 41-48.
Hidayat, A. 2012. Uji Pearson Product Moment
dan Asumsi Klasik. Tersedia dari: https://www.
statistikian.com/2012/07/pearson-dan-asumsi-klasik.
html. Diakses pada tanggal 12 Mei 2018.
Huang, H. 2016. Perbedaan Korelasi Pearson Product
Moment Dan Rank Spearman. Tersedia dari: http://
www.globalstatistik.com/perbedaan-korelasipearson-product-moment-dan-rank-spearman/.
Diakses pada tanggal 12 Mei 2018.
Ife, J. 1995. Community Development: Creating
Community Alternatives, Vision, Analysis and
Practice. Australia (AUS): Longman.
Jamal, E. 2009. Telaah Penggunaan Pendekatan Sekolah
Lapang Dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT)
Padi: Kasus di Kabupaten Blitar dan Kediri Jawa
Timur. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian 7 (4) :
337-349.
KBBI. 2015. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tersedia
dari: http://kbbi.kemdikbud.go.id/. Diakses pada
Tanggal 28 April 2017.
Kurniawan, A. 2009. Belajar Mudah SPSS Untuk Pemula:
Untuk Mahasiswa dan Umum Disertai Latihan Soal
dan Kunci Jawaban. Yogyakarta (ID): Mediakom.
Manyamsari, I dan Mujiburrahmad. 2014. Karakteristik
petani dan hubungannya dengan kompetensi petani
lahan sempit. Agrisep 15(2): 58-74.
Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi:
Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung
(ID): .Remaja Rosdakarya.
Nurhasikin. 2013. Penduduk Usia Produktif dan
Ketenagakerjaan. Tersedia dari: http://kepri.bkkbn.
go.id/Lists/Artikel/DispForm.aspx?I D=144. Diakses
pada tanggal 27 Juni 2018.
Sarwono, J. 2006. Buku Metodologi Penelitian Kuantitatif
dan Kualitatif. Yogyakarta (ID): Graha Ilmu.
Singgih, S. 2010. Statistik Nonparametik. Jakarta (ID):
Elex Media Komputindo.
Shinta, A. 2011. Ilmu Usahatani. Malang (ID): Univeritas
Brawijaya Press.
9
Informatika Pertanian, Vol. 28 No.1, Juni 2019 : 1 - 10
Sudana, W. Dan K. Subagyono. 2012. Kajian faktor-faktor
penentu adopsi inovasi pengelolaan tanaman terpadu
padi melalui sekolah lapang pengelolaan tanaman
terpadu. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan
Teknologi Pertanian 15 (2): 94-106.
Surat Keputusan Kepala Badan Litbang Pertanian No. 79/
Kpts/KP.340/I/2/2014. Pengawalan/Pendampingan
Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu
(SL-PTT) Padi, Jagung, dan Kedelai. Kementerian
Pertanian.
Suzan, L. 2011. Analisis efisiensi penggunaan faktor
produksi pada usaha tani padi sawah di desa mopuya
utara kecamatan dumoga utara kabupaten bolang
mongondow. Jurnal ASE 7 (1): 38-47.
10
Syakir, M. 2016. Kebijakan Pembangunan IPTEK
Mendukung Kedaulatan Pangan. Kementerian
Pertanian. Arahan pada Seminar Nasional di Ambon,
12 Oktober 2016.
Trihendradi, C. 2012. Step by Step SPSS 20: Analisis
Data Statistik. Yogyakarta (ID): Andi.
Wiriaatmadja, S. 1986. Pokok-Pokok Penyuluhan
Pertanian. CV. Yasaguna . Jakarta.
Sudana. 2005. Potensi dan prospek laha rawa sebagai
sumber produksi pertanian. Jurnal Analisis Kebijakan
Pertanian 3(2) : 141-151
Download