Proposal Skripsi Kebidanan STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu

advertisement
Lampiran
: 1 Lembar
Perihal
: Usulan Judul Skripsi
Kepada Yth:
Ketua Program Studi Kebidanan Program Sarjana Terapan
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu
Di
Bengkulu
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini;
Nama
: Ferli Dianti
NPM
: 1926040113.P
Prodi/Semester
: Program Studi Kebidanan Program Sarjana Terapan
Bermaksud untuk mengajukan judul tugas akhir guna menyusun skripsi
pada Program Studi Kebidanan Program Sarjana Terapan
di Sekolah Tinggi
Kesehatan Stikes Tri Mandiri Sakti Bengkulu.
Adapun judul yang saya ajukan adalah:
1. Faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita di Puskesmas X
2. Hubungan pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan
keteraturan kunjungan ANC di Wilayah Kerja Puskesmas X
3. Hubungan usia kehamilan dan jenis persalinan dengan kejadian
hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Demikianlah surat permohonan ini saya buat atas perhatian dan kebijakan dari
bapak saya ucapkan terimakasih.
Bengkulu, November 2019
Hormat Saya
Ferli Dianti
Lampiran:
1.
2.
3.
4.
Surat permohonan pengajuan usulan judul skripsi
Foto copy buku pembayaran uang ganjil semester dari bank
Foto copy KRS semester 1
3 buah judul dengan lampiran BAB 1
PROPOSAL SKRIPSI
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS
GIZI BALITA DI PUSKESMAS X
OLEH
FERLI DIANTI
NPM : 1926040113.P
PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA TERAPAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak balita merupakan salah satu kelompok usia yang mendapatkan
prioritas utama oleh pemerintah dalam hal upaya perbaikan gizi karena kelompok
anak pada usia tersebut masih sangat memerlukan gizi untuk pertumbuhan dan
perkembangan. Balita yang kurang gizi mempunyai risiko meninggal lebih tinggi
dibandingkan balita yang tidak kurang gizi (WHO, 2015).
Gizi kurang dan gizi buruk merupakan status gizi yang didasarkan pada
indeks berat badan menurut umur (BB/U). Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun
2017 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa
persentase gizi buruk pada balita usia 0-59 bulan di Indonesia adalah 3,8%,
sedangkan persentase gizi kurang adalah 14%. Hal tersebut tidak berbeda jauh
dengan hasil PSG tahun 2016 yaitu persentase gizi buruk pada balita usia 0-59
bulan sebesar 3,4% dan persentase gizi kurang sebesar 14,43%. Provinsi dengan
persentase tertinggi gizi buruk dan gizi kurang pada balita usia 0-59 bulan tahun
2017 adalah Nusa Tenggara Timur, sedangkan provinsi dengan persentase
terendah adalah Bali (Kemenkes RI, 2018)
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat dari pemakaian,
penyerapan, dan penggunaan makanan. Pengertian lain menyebutkan bahwa status
gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu, atau perwujudan daristatus tubuh yang berhubungan dengangizi dalam
bentuk variabel tertentu (Supariasa, 2015).
Masa balita menjadi lebih penting karena merupakan masa yang kritis
dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas di masa yang
akan datang. Terlebih lagi triwulan kedua dan ketiga masa kehamilan dan dua
tahun pertama pasca kelahiran merupakan masa emas (golden periode) dimana
selsel otak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
Adanya gangguan kesehatan akan membawa dampak terhadap laju tumbuh
kembang tubuh anak sedangkan salah satu faktor yang dapat menentukan daya
tahan tubuh seseorang anak adalah keadaan gizinya (Soetjiningsih, 2014).
Upaya mencapai status gizi anak balita yang baik tidak terlepas dari peran
orang tua khususnya ibu sebagai pengasuh karena ibu sebagai seorang yang
bertanggung jawab dalam penyelenggaraan makan keluarga termasuk untuk anak
balita sangat penting. Hal ini dapat tercermin di dalam pola pemberian makanan
balita yang di terapkan atau di praktekkan ibu kepada anak balita yang
diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Anak merupakan konsumenpasif, artinya
anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya (Proverawati, 2009).
Asupan gizi yang baik pada anak sering tidak bisa dipenuhi seorang anak
karena disebabkan beberapa faktor. Termasuk diantaranya adalah tingkat
pendidikan ibu, pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan, kondisi social
ekonomi keluarga, ketersediaan bahan pangan, serta hubungan emosional anggota
keluarga yang lain yang tercermin dalam suatu kebiasaan. Adanya faktor-faktor
tersebut menjadikan perlu adanya suatu perhatian dalam memberikan makanan
kepada anak karena perilaku dan sikap yang terpola 3 dalam suatu kebiasaan
memberi makan kepada anak dapat mempengaruhi asupan zat-zat gizi untuk anak
(Supariasa, 2015).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi asupan makan seseorang
adalah pengetahuan gizi, pendidikan dan status ekonomi. Pengetahuan gizi adalah
pengetahuan terkait makanan dan zat gizi. Sikap dan perilaku ibu dalam memilih
makanan yang akan dikonsumsi oleh balita dipengaruhi oleh berbagai faktor,
diantaranya adalah tingkat pengetahuan seseorang tentang gizi sehingga dapat
mempengaruhi status gizi seseorang tersebut (Supariasa, 2015).
Semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah untuk menerima
informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya
pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang
terhadap perubahan hidup sehat. Selain itu juga perubahan prilaku merupakan
hasil proses interaksi dengan lingkungan seperti jarak, status ekonomi, tradisi,
kebudayaan dan kebijakan pemerintah. Yang menganalisa perilaku manusia dari
tingkat kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah
pendidikan (Notoadmojo, 2014)
Status ekonomi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
sttus gizi balita. Semakin rendah status ekonomi suatu keluarga maka akan
semakin buruk status gizi balita atau semakin besar mengalami peluang balita
dalam mengalami status gizi yang dibutuhkan oleh balita, sedangkan pada usia 15 tahun balita membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk perkembangan, balita
yang mengalami status gizi kurang akan mengalami hambatan dalam
pertumbuhan dan perkembangan otak balita (Notoadmodjo, 2014).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik melakukan
pebelitian tentang “faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita di
Puskesmas X”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah“apasajakah faktor-faktor yang berhubungan dengan status
gizi balita di Puskesmas X?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan status
gizi balita di Puskesmas X
2. Tujuan khusus
a. Untuk mengetahui gambaran status gizi balita di Puskesmas X
b. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang gizi balita di
Puskesmas X
c. Untuk mengetahui gambaran pendidikan ibu di Puskesmas X
d. Untuk mengetahui gambaran status ekonomi ibu di Puskesmas X
e. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan status gizi balita di
Puskesmas X
f. Untuk mengetahui hubungan pendidikan ibu dengan status gizi balita di
Puskesmas X
g. Untuk mengetahui hubungan status ekonomi dengan status gizi balita di
Puskesmas X
D. Manfaat Penelitian
1. Institusi Puskesmas X
Memberikan informasi bagi Puskesmas X mengenai faktor-faktor
yang berhubungan dengan status gizi balita, sehingga dapat melakukan
pendekatan dan promosi yang lebih tepat lagi melakukan pelayanan pada
ibu dan balita.
2. Institusi Pendidikan STIKES TMS Bengkulu
Penelitian ini nantinya diharapkan menambah literatur dan bahan
kajian bagi mahasiswa STIKES Tri Mandiri Sakti khususnya tentang
faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi balita sehingga dapat
membantu dalam melakukan menyusun asuhan kebidanan pada balita.
3. Peneliti Lain
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumber referensi bagi
peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian lain dengan variabel
diluar penelitian ini.
PROPOSAL SKRIPSI
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA
BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KETERATURAN KUNJUNGAN
ANC DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS X
OLEH
FERLI DIANTI
NPM : 1926040113.P
PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA TERAPAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut WHO setiap tahun sekitar 160 juta perempuan di seluruh
dunia hamil. Sebagian besar kehamilan ini berlangsung dengan aman. Namun
sekitar 15% menderita komplikasi berat, dengan sepertiganya merupakan
komplikasi yang mengancam jiwa ibu. Komplikasi ini menyebabkan lebih dari
setengah juta orang ibu setiap tahun. Dari jumlah ini diperkirakan 90% terjadi
di Asia dan Afrika subsahara, 10% di negara berkembang lainnya, dan kurang
dari 1% di negara-negara maju. Di beberapa negara resiko kematian ibu lebih
tinggi dari 1 dalam 10 kehamilan, sedangkan di negara maju risiko ini kurang
dari 1 dalam 6.000 (Sarwono, 2012)
Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator yang
peka terhadap kualitas dan aksesibilitas fasilitas pelayanan kesehatan.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012,
AKI (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas) sebesar 359
per 100.000 kelahiran hidup (Kemenkes RI, 2014)
Secara nasional, indikator kinerja cakupan pelayanan kesehatan ibu
hamil K4 pada tahun 2014 belum mencapai target Rencana Strategis (Renstra)
Kementerian Kesehatan di tahun yang sama, yakni sebesar 95%. Dengan tiga
provinsi yang memiliki cakupan pelayanan ibu hamil K4 yang kurang dari
50%, yakni Papua Barat (39,74%), Maluku (47,87%), dan Papua (49,67%).
Secara nasional, cakupan pelayanan kesehatan ibu hamil K4 pada tahun 2014
sebesar 86,70% (Kemenkes RI, 2014)
Berbagai fakta menunjukkan adanya masalah serius dalam pelayanan
kesehatan di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh belum adanya sistem
pengendali yang terbaik yang dapat diterapkan. Pemahaman secara lebih
mendalam tentang kebijakan pemerintah merupakan salah satu upaya terhadap
perwujudan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu (Purwoastuti, 2015).
Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan primer dapat dicapai
melalui ANC, salah satunya pelayanan komprehensif asuhan ANC pada ibu
hamil. Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan Untuk mengetahui keadaan ibu
dan janin secara berkala. Pemeriksaan ANC sebaliknya dilakukan paling
sedikit 4 kali kunjungan selama kehamilan yaitu kunjungan pertama (KI) satu
kali pada trimester I (sebelum umur kehamilan 14 minggu), kunjungan kedua
(KII) 1 kali trimester II (umur 14-28 minggu), dua kali selama trimester III
(antara umur kehamilan 28-36 minggu dan sesudah 36 umur kehamilan)
(Saifuddin, 2011)
Pengetahuan merupakan salah satu faktor
yang
mempengaruhi
perilaku seseorang. Pengetahuan merupakan dominan yang sangat penting
bagi terbentuknya perilaku. Perilaku yang didasari pengetahuan akan
lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari
pengetahuan.
Sehingga semakin baik tingkat pengetahuan ibu tentang kehamilan maka
cenderung melakukan perubahan bagi hidupnya untuk hidup lebih sehat
khususnya dalam partisipasi melakukan pemeriksaan ANC (Manuaba, 2011)
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang “Hubungan pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya
kehamilan dengan keteraturan kunjungan ANC di Wilayah Kerja Puskesmas
X”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah pada penelitian ini yaitu
“Adakah hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu hamil tentang
tanda bahaya kehamilan dengan keteraturan kunjungan ANC di Wilayah Kerja
Puskesmas X?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan
ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan keteraturan kunjungan
ANC di Wilayah Kerja Puskesmas X.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran keteraturan kunjungan ANC di Wilayah
Kerja Puskesmas X
b. Untuk mengetahui gambaran
pengetahuan ibu hamil tentang tanda
bahaya kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas X
c. Untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu hamil tentang tanda
bahaya kehamilan dengan keteraturan kunjungan ANC di Wilayah
Kerja Puskesmas X
D. Manfaat
1. Bagi STIKES Tri Mandiri Sakti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah materi pustaka di
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu, sehingga mahasiswa khususnya
kebidanan dapat menambah wawasan tentang hubungan pengetahuan ibu
hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan keteraturan kunjungan
ANC.
2. Bagi Puskesmas X
Memberikan informasi bagi Puskesmas X mengenai hubungan
pengetahuan ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan dengan
keteraturan kunjungan ANC, sehingga dapat melakukan pendekatan dan
promosi yang lebih tepat lagi melakukan pelayanan ANC.
3. Bagi Peneliti lain
Untuk
menjadi
bahan
acuan
bagi
peneliti
selanjutnya
dan
mengembangkan penelitian ini dengan mencari faktor-faktor lain yang
dapat mempengaruhi kunjungan ANC ibu hamil.
PROPOSAL SKRIPSI
HUBUNGAN USIA KEHAMILAN DAN JENIS PERSALINAN
DENGAN KEJADIAN HIPERBILIRUBINEMIA PADA BAYI
BARU LAHIR DI RSUD DR. M. YUNUS BENGKULU
OLEH
FERLI DIANTI
NPM : 1926040113.P
PROGRAM STUDI KEBIDANAN PROGRAM SARJANA TERAPAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
TRI MANDIRI SAKTI
BENGKULU
2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut World Health Organization (2015), di dunia dilaporkan
kurang lebih 60% dari 4 miliar neonatus mengalami hiperbilirubinemia
dengan prevalensi hiperbilirubinemia pada minggu pertama kehidupan
berkisar antara 8%-20%.
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017
Angka Kematian Bayi (AKB) 34 per 1.000 kelahiran, penyebab kematian bayi
karena BBLR 29%, asfiksia 27%, masalah pemberian minum 10%, tetanus
10%, gangguan hematologi 6%, infeksi 5%, hiperbilirubin 5% dan lain-lain
8% (SDKI, 2017).
Hiperbilirubin adalah istilah yang dipakai untuk ikterus neonatorum
setelah ada hasil laboratorium yang menunjukkan peningkatan kadar serum
bilirubin. Masalah utama bayi baru lahir adalah masalah yang sangat spesifik
yang terjadi pada masa bayi serta dapat menyebabkan kecacatan dan kematian.
Salah satunya penyebab kematian bayi adalah hiperbilirubin (Iyan, 2015)
Ikterus neonatorum merupakan fenomena biologis yang timbul akibat
tingginya produksi dan rendahnya ekskresi bilirubin selama masa transisi pada
neonatus. Pada neonatus produksi bilirubin 2 sampai 3 kali lebih tinggi
dibanding orang dewasa normal. Hal ini dapat terjadi karena jumlah eritosit
pada neonatus lebih banyak dan usianya lebih pendek. Hal ini bisa diakibatkan
oleh pemecahan eritrosit yang berlebihan, gangguan clearance metabolism,
gangguan konjugasi atau gangguan ekskresi bersama air (Wiknjosastro, 2016).
Ikterus pada neonatus dapat dibedakan secara dua macam,yaitu
fisiologis dan patologis. Ikterus neonatorum fisiologis timbul akibat
peningkatan dan akumulasi bilirubin indirek <5 mg/dl/24 jam yaitu yang
terjadi 24 jam pasca salin. Hal ini karena metabolisme bilirubin neonatus
belum sempurna yaitu masih dalam masa transisi dari masa janin ke masa
dewasa. Ikterus neonatorum patologis pula adalah ikterus yang timbul dalam
24 jam pertama pasca salin dimana peningkatan dan akumulasi bilirubin
indirek > 5 mg/dl/24 jam dan ikterus akan tetap menetap hingga 8 hari atau
lebih pada bayi cukup bulan(matur) sedangkan pada bayi kurang bulan
(prematur) ikterus akan tetap ada hingga hari ke-14 atau lebih (Kosim, 2016)
Ikterus neonatorum patologis dapat ditimbulkan oleh beberapa
penyakit
seperti
anemia
hemolitik,
polisitemia,
ekstravasasi
darah
(hematoma), sirkulasi enterohepatik yang berlebihan, defek konjugasi,
berkurangnya uptake bilirubin oleh hepar, gangguan transportasi bilirubin
direk yang keluar dari hepatosit atau oleh karena obstruksi aliran empedu.
Faktor resiko yang dianggap sebagai pemicu timbulnya ikterus neonatorum
yaitu kehamilan kurang bulan (prematur), bayi berat badan lahir rendah,
persalinan patologis, asfiksia, ketuban pecah dini, ketuban keruh dan
inkompatibilitas golongan darah ibu dan anak (Surasmi, 2015)
Ikterus neonatorum dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius
jika tidak ditangani dengan yaitu ensefalopati bilirubin yang dikenal dengan
kern icterus. Kern icterus timbul akibat akumulasi bilirubin indirek di susunan
saraf pusat yang melebihi batas toksisitas bilirubin pada ganglia basalis dan
hipocampus. Kern icterus juga dapat menyebabkan gejala sisa berupa cerebral
palsy, gangguan pendengaran, paralisis dan displasia dental yang sangat
mempengaruhi kualitas hidup (Kosim, 2016)
Menurut Sukadi (2016) bahwa penyebab hiperbillirubin saat ini masih
merupakan faktor predisposisi. Yang sering ditemukan antara lain dari faktor
maternal seperti komplikasi kehamilan, faktor perinatal dan faktor neonatus,
faktor risiko terjadinya hiperbillirubin diantaranya pada bayi kurang bulan
atau kehamilan usia jenis persalianan.
Usia kehamilan ibu bersalin merupakan faktor risiko terhadap kejadian
hiperbillirubin pada bayi lahir, karena usia kehamilan merupakan faktor yang
penting dan penentu kualitas kesehatan bayi yang dilahirkan, karena bayi baru
lahir dari usia kehamilan yang kurang berkaitan dengan berat lahir rendah dan
tentunya akan berpengaruh kepada daya tahan tubuh bayi yang belum siap
menerima dan beradaptasi dengan lingkungan di luar rahim sehingga
berpotensi terkena berbagai komplikasi salah satunya adalah ikterus
neonatorum yang dapat menyebabkan hiperbillirubin (Mauliku, 2016)
Menurut Widya (2015), bahwa bayi yang dilahirkan dengan tindakan,
kemungkinan pada saat lahir tidak langsung manangis dan keterlambatan
menangis ini mengakibatkan kelainan hemodinamika sehingga depresi
pernapasan dapat menyebabkan hipoksia di seluruh tubuh yang berakibat
timbulnya
asidosis
respiratorik/metabolik
yang
dapat
mengganggu
metabolisme bilirubin.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang “Hubungan usia kehamilan dan jenis persalinan dengan
kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang rumusan masalah pada penelitian ini yaitu
“Adakah hubungan usia kehamilan dan jenis persalinan dengan kejadian
hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari hubungan usia kehamilan dan jenis persalinan
dengan kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Dr. M.
Yunus Bengkulu.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran kejadian hiperbilirubinemia pada bayi
baru lahir di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
b. Untuk mengetahui gambaran usia kehamilan di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu
c. Untuk mengetahui gambaran jenis persalinan di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu
d. Untuk mengetahui hubungan usia kehamilan dengan kejadian
hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu
e. Untuk mengetahui hubungan jenis persalinan dengan kejadian
hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir di RSUD Dr. M. Yunus
Bengkulu
D. Manfaat
1. Bagi STIKES Tri Mandiri Sakti
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah materi pustaka di
STIKES Tri Mandiri Sakti Bengkulu, sehingga mahasiswa khususnya
kebidanan dapat menambah wawasan tentang hubungan usia kehamilan
dan jenis persalinan dengan kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru
lahir.
2. Bagi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu
Memberikan informasi bagi RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu mengenai
hubungan usia kehamilan dan jenis persalinan dengan kejadian
hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir, sehingga dapat melakukan asuhan
kebidanan pada bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia.
3. Bagi Peneliti lain
Untuk
menjadi
bahan
acuan
bagi
peneliti
selanjutnya
dan
mengembangkan penelitian ini dengan mencari faktor-faktor lain yang
dapat berhubungan dengan kejadian hiperbilirubinemia pada bayi baru
lahir.
Download