Uploaded by User62893

Contoh Prop PTK PDS-Lesson Study-PS-TPS

advertisement
PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
DALAM RANGKA PROGRAM PENUGASAN DOSEN DI SEKOLAH (PDS)
PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA
TENTANG PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN PRAKTIK INSTALASI
PENERANGAN LISTRIK DENGAN LESSON STUDY,
PROBLEM SOLVING DAN THINK PARE SHARE
Tim Pengusul
1. Dr. Noor Hudallah, M.T.
2. Dr. Ing. Dhidik Prasetyanto, M.T.
3. Qoni’ah, S.Pd., M.T.
NIDN 0016106408
NIDN 0031057804
NIP 196505192002122001
Dibiayai Oleh:
DIPA Kemenristek-Dikti, Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan
No. SP DIPA-042.04.1.400170/2018 tanggal 5 Desember 2017
Sesuai dengan Surat Perjanjian Kontrak Kerja
Nomor: 13.13.7/UN37/PPK.2.1/2018
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2018
HALAMAN PENGESAHAN PROPOSAL
Judul Penelitian
Bidang Penelitian
Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap dan Gelar
c. Pangkat/Gol/NIDN
d. Jabatan Fungsional
e. Disiplin ilmu
f. Nomor HP
g. Surel (e-mail)
h. Pusat Penelitian
Alamat Ketua Peneliti
a. Alamat Kantor/Tlp
b. Alamat Rumah/Tlp
Anggota Peneliti (1)
a. Nama Lengkap
b. NIDN
c. Perguruan Tinggi
Anggota Peneliti (2)
a. Nama Lengkap
b. NIP
c. Asal Sekolah
Lama Penelitian Keseluruhan
Lokasi Penelitian
Kerjasama dg institusi lain
Biaya yang diperlukan
a. Sumber dari DIPA Unnes
b. Sumber dari DIPA
Belmawa
Jumlah
: PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA
TENTANG PERENCANAAN DAN PELAKSANAAN
PRAKTIK INSTALASI PENERANGAN LISTRIK
DENGAN LESSON STUDY, PROBLEM SOLVING
DAN THINK PARE SHARE
: Pendidikan Teknik Elektro
:
:
:
:
:
:
:
Dr. Noor Hudallah, M.T.
Pembina Tk.I/IV-b/0016106408
Lektor Kepala
Pendidikan Teknik Elektro
08156553255
[email protected]
Universitas Negeri Semarang
: Gedung E11, Kampus Sekaran Gunungpati/024-8508101
: Perumahan Taman Kradenan Asri E-20 Semarang
Gunungpati 50221
: Dr. Ing, Dhidik Prasetyanto, M.T.
: 0031057804
: Universitas Negeri Semarang
:
:
:
:
:
:
Qoni’ah, S.Pd., M.T.
196505192002122001
SMKN-1 Semarang
4 Bulan
SMKN-1 Semarang
-
: Rp
0,00
: Rp 5.000.000,00
: Rp 5.000.000,00
(Lima Juta Rupiah)
Semarang, Agustus 2018
Mengetahui,
Dekan FT UNNES
Ketua Peneliti
Dr. Nur Qudus, M.T.
NIP 196911301994031001
Dr. Noor Hudallah, M.T.
NIP 196410161989011001
Menyetujui,
Ketua LP2M
Dr. Suwito Eko Pramono, M.Pd
NIP 195809201985031003
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) merupakan pendidikan pada
jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan
siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Pendidikan di SMK
mengutamakan penyiapan siswa untuk memasuki lapangan kerja dengan
mengembangkan sikap profesional dalam bekerja. Sesuai dengan bentuknya,
Sekolah Menengah Kejuruan menyelenggarakan program-program pendidikan
yang disesuaikan dengan jenis-jenis lapangan kerja yang ada di masyarakat
(Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1990).
Sekolah Menengah Kejuruan adalah salah satu bentuk satuan pendidikan
formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan
menengah sebagai lanjutan dari SMP, MTs, atau bentuk penyelenggaraan
pendidikan lain yang sederajat. Persekolahan pada jenjang pendidikan dan jenis
kejuruan dapat bernama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Madrasah
Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat (Undang-undang
Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003).
SMK memiliki banyak program keahlian yang disesuaikan dengan
kebutuhan dunia kerja yang ada dan mempersiapkan peserta didik terutama agar
siap bekerja dalam bidang tertentu.
Peserta didik dapat memilih bidang keahlian yang diminati di SMK.
Kurikulum SMK dibuat sedemikian rupa agar peserta didik siap untuk langsung
bekerja di dunia kerja ketika sudah lulus. Muatan kurikulum yang ada di SMK
disusun sesuai dengan kebutuhan dunia kerja yang ada. Hal ini dilakukan agar
peserta didik tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk adaptasi ketika masuk
di dunia kerja. Dengan masa studi tiga atau empat tahun, lulusan SMK diharapkan
mampu untuk bekerja sesuai dengan keahlian yang telah ditekuni.
Tujuan pendidikan menengah kejuruan menurut Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003, terbagi menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum
pendidikan menengah kejuruan adalah: (a) meningkatkan keimanan dan
ketakwaan peserta didik kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi warga Negara yang berakhlak mulia, sehat,
berilmu,
cakap,
kreatif,
mandiri,
demokratis
dan
bertanggung
jawab;
(c) mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki wawasan kebangsaan,
memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia; dan
(d) mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap
lingkungan hidup dengan secara aktif turut memelihara dan melestarikan
lingkungan hidup, serta memanfaatkan sumber daya alam dengan efektif dan
efisien.
Tujuan khusus pendidikan menengah kejuruan adalah sebagai berikut:
(a) menyiapkan peserta didik agar menjadi manusia produktif, mampu bekerja
mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada sebagai tenaga kerja tingkat
menengah sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yang dipilihnya;
(b) menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam
berkompetensi, beradaptasi di lingkungan kerja dan mengembangkan sikap
profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya; (c) membekali peserta didik
dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni agar mampu mengembangkan diri di
kemudian hari baik secara mandiri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih
tinggi; dan (d) membekali peserta didik dengan kompetensi kompetensi yang
sesuai dengan program keahlian yang dipilih.
Sekolah Menengah Kejuruan merupakan bentuk satuan pendidikan
menengah yang mempersiapkan siswanya agar dapat bekerja baik secara mandiri
dalam dunia usaha dan industri sesuai dengan program keahlian yang dimiliki.
Oleh karena itu pada mata pelajaran kompetensi keahlian (C3), memiliki fungsi
membekali siswa agar memiliki kompetensi atau kemampuan pada suatu
pekerjaan atau keahlian tertentu yang relevan dengan tuntutan dan permintaan
pasar kerja. Mata pelajaran program produktif berbasis pada kompetensi yang
menekankan pada pembekalan penguasaan kompetensi tertentu kepada siswa
yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan tata nilai secara tuntas dan
utuh.
Salah satu program produktif pada bidang keahlian Teknik Elektro/Teknik
Instalasi Tenaga Listrik yaitu mata pelajaran Praktik Instalasi Penerangan Listrik,
yang menekankan pada pemahaman dan penguasaan praktik instalasi penerangan
listrik sesuai tuntutan dunia usaha dan dunia industri.
Berdasarkan pengamatan peneliti di lapangan yaitu di SMKN-1 Semarang
serta komunikasi dengan gurunya, diperoleh informasi bahwa dalam pembelajaran
praktik banyak guru yang mengeluhkan siswa kurang bergairah mengikuti
pelajaran, sering mengantuk (terutama jika proses pembelajarannya siang hari),
dan malas membuat tugas. Siswa kurang aktif dan bila ditanya hanya sedikit yang
berani menjawabnya. Akibatnya siswa kurang termotivasi mengeluarkan
pendapatnya di kelas saat ditanya oleh guru.
Dalam proses pembelajaran yang terjadi selama ini, siswa lebih banyak
mencatat dan menyalin materi dibanding memahami materi yang diajarkan.
Dalam mengerjakan tugas Praktik Instalasi Penerangan Listrik kebanyakan siswa
kurang memahami dalam perencanaan gambar diagram garis tunggal maupun
pada gambar pengawatan atau gambar pelaksanaan, sehingga pada saat
pelaksanaan praktik instalasi dan pemasangan komponen instalasi listrik siswa
membutuhkan waktu yang lebih lama akibat belum benarnya gambar perencanaan
instalasinya.
Pada mata pelajaran instalasi penerangan listrik yang diajar oleh 2 orang
guru dibutuhkan adanya koordinasi yang maksimal antar kedua orang guru agar
hasilnya bisa masimal karena adanya kesepahaman antara 2 orang guru yang
menjadi penanggung jawab proses pembelajaran di kelas tersebut. Jika antar 2
orang guru yang terlibat bisa dimaksimalnya koordinasinya lewat pemilihan
model pembelajaran yang sesuai maka diharapkan hasil pembelajarannya juga
bisa maksimal.
Melihat hal demikian peneliti memfokuskan penelitian ini bagaimana
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dengan pendekatan saintifik (5 M)
dan model pembelajaran Problem Solving (PS) serta Think Pare Share (TPS).
Sementara untuk menyiapkan tim guru mata pelajarannya (Mapel) agar memiliki
persiapan dan perencanaan proses yang baik maka model pembelajaran yang
digunakan adalah Lesson Study.
Model pembelajaran Problem Solving dan Think Pare Share merupakan
model
pembelajaran yang lebih menekankan perhatian terpusat pada siswa
(student centered). Model ini menempatkan siswa tidak hanya sebagai objek
belajar tetapi juga sebagai subjek belajar, dan pada akhirnya bermuara pada proses
pembelajaran yang menyenangkan sehingga menjadikan situasi belajar yang tidak
monoton dan memupuk siswa untuk termotivasi dan semakin aktif belajar
bersama. Sementara dengan pendekatan model Lesson Study maka perencanaan
dan persiapan pembelajaran yang diampu oleh tim guru mata pelajaran bisa
disiapkan lebih maksimal.
Berdasarkan permasalahan di atas peneliti melakukan penelitian dengan
judul “Peningkatan Pemahaman Konsep Siswa tentang Perencanaan dan
Pelaksanaan Praktik Instalasi Penerangan Listrik dengan Lesson Study, Problem
Solving dan Think Pare Share”.
1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan penelitian
dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Kurangnya motivasi belajar siswa pada praktik instalasi yang didalamnya
berisi studi kasus.
2. Rendahnya aktivitas siswa untuk berpendapat pada saat PBM.
3. Rendahnya aktivitas siswa dalam bekerjasama menyelesaikan permasalahan
praktik.
4. Lemahnya koordinasi diantara tim guru mata pelajaran praktik pada saat
mempersiapkan RPP yang digunakan pada saat PBM.
1.3. Pembatasan Masalah
Mempertimbangkan
permasalahan
peningkatan
proses
dan
hasil
pembelajaran yang ada dilapangan sebenarnya banyak berhubungnan berbagai
macam variabel yang begitu luasnya, maka pada penelitian ini hanya difokuskan
pada:
1. Upaya peningkatan pemahaman konsep siswa tentang mata pelajaran Instalasi
Penerangan Listrik.
2. Upaya peningkatan kerjasama antar siswa pada mata pelajaran Instalasi
Penerangan Listrik.
3. Upaya peningkatan perencanaan dan persiapan mata pelajaran Instalasi
Penerangan Listrik.
4. Penelitian dilakukan pada Kelas XI TITL-2 SMKN-1 Semarang.
1.4. Perumusan Masalah
Rumusan masalah yang ada pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang mata pelajaran
Instalasi Penerangan Listrik.
2. Bagaimana meningkatkan kerjasama antar siswa pada mata pelajaran Instalasi
Penerangan Listrik.
3. Bagaimana meningkatkan perencanaan dan persiapan mata pelajaran Instalasi
Penerangan Listrik.
1.5. Tujuan Penelitian
Tujuan dilaksakannya penelitian ini adalah:
1. Meningkatkan pemahaman konsep siswa tentang mata pelajaran Instalasi
Penerangan Listrik.
2. Meningkatkan kerjasama antar siswa pada mata pelajaran Instalasi Penerangan
Listrik.
3. Meningkatkan perencanaan dan persiapan mata pelajaran Instalasi Penerangan
Listrik.
1.6. Manfaat Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) ini, diharapkan dapat
memberikan manfaat:
1. Bagi Siswa
1. Meningkatnya motivasi belajar siswa pada praktik instalasi yang
didalamnya berisi studi kasus.
2. Meningkatnya aktivitas siswa untuk mengemukakan pendapat pada saat
PBM.
3. Meningkatnya
aktivitas
siswa
dalam
bekerjasama
menyelesaikan
permasalahan praktik.
2. Bagi Guru
a. Meningkatknya profesionalisme guru.
b. Meningkatknya kemampuan guru dalam pengelolaan kelas utamanya
kemampuan memberdayakan siswa di kelas
c. Meningkatnya koordinasi diantara tim guru mata pelajaran praktik pada
saat mempersiapkan RPP dan saat PBM di kelas.
3. Bagi Sekolah
a. Hasil penelitian bisa menjadi umpan balik bagi peningkatan efektifitas dan
efisiensi pembelajaran.
b. Meningkatnya kualitas atau mutu sekolah melalui peningkatan kinerja
guru pada pengelolaan pembelajaran di kelas.
c. Meingkatnya pemahaman dan kemampuan guru dalam melaksanakan
Penelitian Tindakan Kelas.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Motivasi Belajar
A. Motivasi
Motivasi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan apa yang
memberikan energi bagi seseorang dan apa yang memberikan arah bagi
aktivitasnya. Motivasi kadang-kadang dibandingkan dengan mesin dan kemudi
pada mobil. Energi dan arah inilah yang menjadi inti dari konsep tentang
motivasi. Suciati dalam Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu
kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, memberi arah
dan ketahanan pada tingkah laku tersebut.
Motivasi merupakan sebuah konsep yang luas (diffuse), dan seringkali
dikaitkan dengan faktor-faktor lain yang mempengaruhi energi dan arah aktivitas
manusia, misalnya minat (interest), kebutuhan (need), nilai (value), sikap
(attitude), aspirasi, dan insentif (Gage & Berliner, 1984). Dengan pengertian
istilah motivasi seperti tersebut di atas, kita dapat mendefinisikan motivasi belajar
siswa, yaitu apa yang memberikan energi untuk belajar bagi siswa dan apa yang
memberikan arah bagi aktivitas belajar siswa.
Dalam proses belajar motivasi siswa tercermin melalui ketekunan yang
tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang banyak kesulitan.
Motivasi juga ditunjukkan melalaui intensitas unjuk kerja dalam melakukan suatu
tugas.
Dari berbagai motivasi yang berkembang Suciati dalam Keller (1983)
telah menyususn seperangkat prinsip-prinsip motivasi yang dapat diterapkan
dalam proses belajar mengajar yang disebut sebagai model ARCS (Attention,
Relevance, Confidence and Satisfaction).
1. Perhatian (Attention).
Perhatian siswa muncul didorong oleh rasa ingin tahu. Oleh sebab itu rasa
ingin tahu ini perlu mendapat rangsangan. Sehingga siswa akan memberikan
perhatian, dan perhatian tersebut terpelihara selama proses pemelajaran bahkan
lebih lama lagi. Rasa ingin tahu ini dapat dirangsang atau dipancing melalui halhal yang baru, aneh, lain dari yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks. Apabila
hal ini dapat diterapkan dalam proses pemelajaran akan dapat menstimulir rasa
ingin tahu siswa. Namun perlu diingatkan agar stimulus tersebut digunakan tidak
berlebihan., sebab akan menjadikan stimulus hal biasa dan kehilangan
keefektifannya.
2. Relevansi (Relevance)
Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pelajaran dengan
kebutuhan, kondisi dan kehidupan siswa. Motivasi akan terpelihara apabila
mereka menganggap apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau
bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang.
3. Kepercayaan Diri (Confidence)
Apabila merasa diri kompeten atau mampu, merupakan potensi untuk
berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Percaya diri merupakan konsep
yang berhubungan dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan
melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan.
Prinsip yang berlaku dalam hal ini adalah bahwa motivasi akan meningkat
sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Harapan ini seringkali
dipengaruhi oleh pengalaman sukses dimasa yang lampau. Dengan demikian ada
hubungan antara pengalaman sukses dengan motivasi. Motivasi ini dapat
menghasilkan ketekunan yang membawa keberhasilan (prestasi) dan selanjutnya
pengalaman sukses tersebut akan memotivasi siswa untuk mengerjakan tugas
berikutnya.
4. Kepuasan (Satisfaction)
Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan
dan siswa akan termotivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan. Ini akan
dipengaruhi oleh konsekuensi yang diterima baik yang berasal dari dalam maupun
dari luar siswa. Untuk meningkatkan dan memelihara motivasi siswa, guru dapat
menggunakan pemberian penguatan (reinforcement) berupa pujian, pemberian
ketepatan, dsb.
B. Belajar
Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat
orang belajar maka responya menjadi lebih baik dan sebaliknya bila tidak belajar
responya menjadi menurun sedangkan menurut Gagne belajar adalah seperangkat
proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi limgkungan, melewati pengolahan
informasi, menjadi kapasitas baru (Dimyati, 2002-10). Sedangkan menurut kamus
umum bahasa Indonesia belajar diartikan berusaha (berlatih, dsb) supaya
mendapat suatu kepandaian ( Purwadarminta: 109 )
Belajar lebih dari sekedar mengingat, tapi belajar adalah suatu proses yang
kompleks dengan bermacam-macam kegiatan. Menurut Dymiati dan Mudjiono
(1999) belajar merupakan tindakan dan prilaku siswa yang kompleks. Sedangkan
menurut Dewi Rahmad H (1998) belajar merupakan susatu proses perubahan
tingkah laku yang diperoleh melalui pengalaman untuk mendapatkan pengetahuan
baru.
Belajar tidak lagi ditekankan pada penguasaan ilmu pengetahuan saja,
namun diartikan sebagai perubahan dalam diri seseorang berupa adanya pola baru
yang dapat dilihat pada perubahan aspek kognitif, efektif dan psikomotor. Ciri-ciri
penting belajar adalah perubahan bersifat fungsional, perbuatan yang di sadari
malalui pengalaman yang bersifat individual, menyeluru dan terintegrasi kearah
yang lebih kompleks.
2.1. Hakikat Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar adalah suatu bentuk kegiatan yang tidak terpisahkan dari
kehidupan manusia. Untuk memenuhi kebutuhan dan sekaligus mengembangkan
dirinya, manusia telah melakukan kegiatan belajar sejak ia dilahirkan.
Belajar pada dasarnya merupakan peristiwa yang bersifat individual, yakni
peristiwa terjadinya perubahan tingkah laku sebagai dampak dari pengalaman
individu. Pengertian belajar menurut Soedijarto (1989: 49) adalah suatu proses
secara langsung dan aktif pada saat pelajar itu mengikuti suatu kegiatan belajar
mengajar yang direncanakan dan disajikan di sekolah, proses belajar mengajar
tersebut dapat terjadi di dalam kelas maupun di luar kelas. Dengan demikian
seorang pelajar dikatakan sedang belajar apabila pelajar tersebut terlibat secara
langsung dan aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Belajar diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat
adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan
lingkungannya (W.H. Burton, dalam Moh. Uzer Usman, 1995: 2).
Dari pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa seseorang dikatakan telah
belajar apabila telah terjadi suatu perubahan pada dirinya. Perubahan tersebut
terjadi berkat adanya interaksi dengan orang lain atau lingkungannya. Sehingga
untuk dapat belajar seorang pelajar tidak dapat terlepas dari orang lain, dalam hal
ini dosen dan teman belajar. Dengan demikian dapat dikatakan seorang pelajar
tidak dapat belajar dengan baik bila hanya sendirian saja, dia juga perlu dosen
untuk membimbing dan teman untuk berdiskusi.
Bertolak dari berbagai definisi yang telah diuraikan tadi, secara umum
belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu
yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan
yang melibatkan proses kognitif.
Menurut Bruner (S. Nasution, 2005: 9) dalam proses belajar dapat
dibedakan tiga fase atau episode, yakni: informasi, transformasi, dan evaluasi.
1. Informasi
Setiap belajar kita peroleh sejumlah informasi, ada yang menambah
pengetahuan yang telah kita miliki, ada yang memperhalus dan memperdalamnya,
ada pula informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita ketahui
sebelumnya.
2. Transformasi
Informasi yang diperoleh harus dianalisis dan ditransformasikan ke dalam
bentuk yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal
yang lebih luas. Dalam hal ini peran dari dosen sangat diperlukan agar tidak
terjadi kesalahan secara konseptual.
3. Evaluasi
Pengetahuan yang kita peroleh dan ditransformasikan itu kemudian
dievaluasi sehingga dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain.
Dalam proses belajar ketiga episiode itu selalu ada, hanya saja berapa banyak
informasi yang diperlukan agar dapat ditransformasikan, berapa lama waktu tiap
episiode, untuk tiap orang mungkin tidak sama. Hal ini bargantung pada tujuan
yang diharapkan, motivasi belajar, minat, keinginan untuk mengetahui dan
dorongan untuk menemukan sendiri.
b. Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran tradisional yang biasa
dilakukan oleh guru seperti metode ceramah, tanya jawab dan latihan soal (Kamus
Besar Bahasa Indonesia, 1997: 15). Metode konvensional adalah cara
menyampaikan pembelajaran dari seorang guru kepada siswa didalam kelas
dengan cara berbicara diawal pembelajaran, menerangkan materi dan contoh soal
(Suyitno, 2004 : 3).
Metode konvensional hampir sama dengan metode ceramah dalam hal
terputusnya kegiatan pada guru sebagai informasi (bahan pelajaran). Seorang guru
dalam menerapkan metode konvensional telah menyusun bahan pelajaran secara
hierarkis dan sistematis, sehingga dalam pembelajaran yang terjadi adalah guru
menerangkan dan siswa menerima.
Perbedaan antara konvensional dan metode ceramah adalah berkurangnya
dominasi guru karena tidak terus-menerus bicara. Guru berbicara pada awal
pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-waktu yang
diperlukan saja. Guru dapat memerikasa pekerjaan siswa secara individual,
menerangkan lagi pada siswa apabila dirasakan banyak siswa yang belum paham
mengenai materi. Kegiatan siswa ini tidak hanya mendengar dan mencatat. Siswa
dalam metode konvensional menyelesaikan soal latihan dan bertanya bila belum
mengerti. Selain itu dalam pembelajaran guru sering membiarkan adanya siswa
yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok.
2.3. Kemampuan Guru
Mengapa masalah dalam kegiatan belajar mengajar seperti uraian
pendahuluan dapat terjadi, kalau kita introspeksi pada diri kita boleh jadi kita
(guru) yang bermasalah. Salah satu persyaratan yang harus dimiliki
oleh seorang guru yang baik adalah memiliki kemampuan dasar dan sikap
serta terampil (Dikmenum, 2003 : 12) antara lain: menguasai kurikulum yang
berlaku, menguasai materi pelajaran, menguasai metode, menguasai teknik
evaluasi, memiliki komitmen terhadap tugas, disiplin dalam pengertian luas. Mana
metode yang tepat untuk mengajar. Paradigma pendidikan masa depan
menyatakan: ”Guru tidak harus didikte dan diberi berbagai arahan serta instruksi,
yang penting adalah perlu disusun standar profesionalisme guru yang dijadikan
acuan pengembangan mutu guru ” (Zamroni, 2003 : 34).
Dari paparan tersebut metode atau strategi yang dipikirkan guru, berpijak
pada atmosfir kelas dan kondisi siswa, tidak lagi atas dasar petunjuk dari atasan
atau atas dasar kesukaan kita dalam pembelajaran. Banyak metode atau strategi
mengajar seperti: Ceramah, diskusi informasi, cerita, tanya jawab, debat, sosiodrama, demonstrasi dan eksperimen serta metode belajar lainnya. Sifat pelajaran
Biologi yang mengutamakan proses ilmiah dan menyadari bahwa kita belajar
menurut Sheal, Pater (1989) dalam Depdiknas, (2004 : 23) mengatakan:
1. 10 % dari apa yang kita baca
2. 20 % dari apa yang kita dengar
3. 30 % dari apa yang kita lihat
4. 50 % dari apa yang kita lihat dan dengar
5. 70 % dari apa yang kita katakan
6. 90 % dari apa yang kita katakan dan lakukan.
2.4. Team Teaching
Pada penyelenggaraan pendidikan di sekolah, sangat penting peran serta
guru dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa, yang diwujudkan dalam
bentuk interaksi belajar mengajar, baik antara pendidik dengan pendidik lainnya,
pendidik dengan peserta didik, maupun peserta didik dengan peserta didik dan
lingkungannya. Dalam menyelenggarakan pembelajaran formal, pendidik
berpedoman
pada
rencana
dan
pengaturan
tentang
pendidikan,
yang
keseluruhannya dikemas dalam bentuk kurikulum.
Dalam konteks Kurikulum 2013 yang saat ini sedang diberlakukan di
Indonesia, peran guru untuk dapat mengimplementasikan dan mengembangkan
kurikulum tampaknya bukan hal yang sederhana. Guru dituntut untuk dapat
memenuhi sejumlah prinsip pembelajaran tertentu, diantaranya guru harus
memperhatikan kebutuhan dan perbedaan individual, mengembangkan strategi
pembelajaran yang memungkinkan siswa aktif, kreatif dan menyenangkan, serta
menilai proses dan hasil pembelajaran siswa secara akurat dan komperhensif.
Untuk dapat mengimplementasikan kurikulum dengan baik masih
ditemukan berbagai kendala, diantaranya persoalan rendahnya motivasi dan
kemampuan guru, motivasi belajar siswa yang rendah, dan keterbatasan sarana.
Semua
itu
menuntut
guru
untuk
dapat
mengelola
pembelajaran
dan
mengembangkan bentuk-bentuk strategi pembelajaran dan model pembelajaran
yang lebih tepat dan sesuai.
Selama ini pada umumnya strategi pembelajaran dan model pembelajaran
yang dikembangkan di sekolah cenderung dilakukan secara soliter. Dalam arti,
pengelolaan pembelajaran menjadi tanggung jawab guru yang bersangkutan
secara individual, baik dalam merencanakan, melaksanakan, maupun menilai
pembelajaran siswa. Ketika dihadapkan dengan tuntutan kurikulum yang sangat
kompleks dan kondisi nyata yang kurang kondusif, guru seringkali menjadi tidak
berdaya dan memiliki keterbatasan untuk dapat mengimplementasikan kurikulum
sesuai dengan apa yang diharapkan dan digariskan dalam ketentuan yang ada.
Terkait dengan permasalahan tersebut, strategi Team Teaching bisa
menjadi alternatif untuk mengatasi permasalahan yang ada. Team Teaching
merupakan salah satu bentuk strategi pembelajaran yang melibatkan dua orang
guru atau lebih dalam proses pembelajaran siswa, dengan pembagian peran dan
tanggung jawab secara jelas dan seimbang. Melalui strategi Team Teaching,
diharapkan antar mitra dapat bekerja sama dan saling melengkapi dalam
mengelola proses pembelajaran. Setiap permasalahan yang muncul dalam proses
pembelajaran dapat diatasi secara bersama-sama.
Berdasar pada banyaknya masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan,
pihak sekolah dan guru-guru dituntut daya kreatifitasnya dalam memilih strategi
dan model pembelajaran yang tepat agar segala tuntutan yang ditujukan terhadap
guru terkait hasil pembelajaran dapat terpenuhi dengan maksimal, dan strategi
Team Teaching merupakan cara tepat.
Team Teaching merupakan strategi pembelajaran yang kegiatan proses
pembelajarannya dilakukan oleh lebih dari satu orang guru dengan pembagian
peran dan tanggung jawabnya masing-masing. Definisi ini sesuai dengan yang
dijelaskan oleh Martiningsih (2007) bahwa “Metode pembelajaran team teaching
adalah suatu metode mengajar dimana pendidiknya lebih dari satu orang yang
masing-masing mempunyai tugas.
Lebih lanjut Ahmadi dan Prasetya (2005) menyatakan bahwa Team
teaching (pengajaran beregu) adalah suatu pengajaran yang dilaksanakan bersama
oleh beberapa orang. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran
dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama
dalam waktu dan tujuan yang sama pula. Para guru tersebut bersama-sama
mempersiapkan,
melaksanakan,
dan
mengevaluasi
hasil
belajar
siswa.
Pelaksanaan belajarnya dapat dilakukan secara bergilir dengan metode ceramah
atau bersama-sama dengan metode diskusi panel.
2.5. Model Pembelajaran Lesson Study
Lesson Study adalah salah satu metode dalam pembelajaran untuk
meningkatkan proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru/dosen
secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan,
mengobservasi dan melaporkan hasil pembelajaran. Lesson Study bukan sebuah
proyek sesaat, tetapi merupakan kegiatan terus menerus yang tiada henti dan
merupakan sebuah upaya untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dalam Total
Quality Management, yakni memperbaiki proses dan hasil pembelajaran
mahasiswa secara terus-menerus, berdasarkan data. Lesson Study merupakan
kegiatan yang dapat mendorong terbentuknya sebuah komunitas belajar (learning
society) yang secara konsisten dan sistematis melakukan perbaikan diri, baik pada
tataran individual maupun manajerial. Slamet Mulyana (2007) memberikan
rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi
pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan
berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk
membangun komunitas belajar.
Bill Cerbin & Bryan Kopp mengemukakan bahwa Lesson Study memiliki
4 (empat) tujuan utama, yaitu untuk:
1. memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana mahasiswa
belajar dan dosen mengajar;
2. memperoleh hasil-hasil tertentu yang dapat dimanfaatkan oleh para dosen
lainnya, di luar peserta Lesson Study;
3. meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif.
4. membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang dosen dapat
menimba pengetahuan dari dosen lainnya.
Menurut Catherine Lewis (2004), ciri-ciri esensial dari Lesson Study,
yaitu: (1) Tujuan bersama untuk jangka panjang. Lesson study didahului adanya
kesepakatan dari para dosen tentang tujuan bersama yang ingin ditingkatkan
dalam kurun waktu jangka panjang dengan cakupan tujuan yang lebih luas,
misalnya
tentang:
pengembangan
kemampuan
akademik
mahasiswa,
pengembangan kemampuan individual mahasiswa, pemenuhan kebutuhan belajar
mahasiswa, pengembangan pembelajaran yang menyenangkan, mengembangkan
kerajinan mahasiswa dalam belajar, dan sebagainya. (2) Materi pelajaran yang
penting. Lesson Study memfokuskan pada materi atau bahan pelajaran yang
dianggap penting dan menjadi titik lemah dalam pembelajaran mahasiswa serta
sangat sulit untuk dipelajari mahasiswa. (3) Studi tentang mahasiswa secara
cermat. Fokus yang paling utama dari Lesson Study adalah pengembangan dan
pembelajaran
yang dilakukan
mahasiswa,
misalnya,
apakah
mahasiswa
menunjukkan minat dan motivasinya dalam belajar, bagaimana mahasiswa
bekerja dalam kelompok kecil, bagaimana mahasiswa melakukan tugas-tugas
yang diberikan dosen, serta hal-hal lainya yang berkaitan dengan aktivitas,
partisipasi, serta kondisi dari setiap mahasiswa dalam mengikuti proses
pembelajaran. Dengan demikian, pusat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada
bagaimana cara dosen dalam mengajar sebagaimana lazimnya dalam sebuah
supervisi kelas yang dilaksanakan oleh kepala sekolah atau pengawas sekolah.
(4) Observasi pembelajaran secara langsung. Observasi langsung boleh dikatakan
merupakan jantungnya Lesson Study. Untuk menilai kegiatan pengembangan dan
pembelajaran yang dilaksanakan mahasiswa tidak cukup dilakukan hanya dengan
cara melihat dari Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Lesson Plan) atau hanya
melihat dari tayangan video, namun juga harus mengamati proses pembelajaran
secara langsung. Dengan melakukan pengamatan langsung, data yang diperoleh
tentang proses pembelajaran akan jauh lebih akurat dan utuh, bahkan sampai halhal yang detail sekali pun dapat digali. Penggunaan videotape atau rekaman bisa
saja digunakan hanya sebatas pelengkap, dan bukan sebagai pengganti.
Caterine Lewis mengemukakan keuntungan dari Lesson Study yaitu:
(1) memikirkan secara lebih teliti lagi tentang tujuan, materi tertentu yang akan
dibelajarkan kepada mahasiswa, (2) memikirkan secara mendalam tentang tujuantujuan pembelajaran untuk kepentingan masa depan mahasiswa, misalnya tentang
arti penting sebuah persahabatan, pengembangan perspektif dan cara berfikir
mahasiswa, serta kegandrungan mahasiswa terhadap ilmu pengetahuan,
(3) mengkaji tentang hal-hal terbaik yang dapat digunakan dalam pembelajaran
melalui belajar dari para dosen lain (peserta atau partisipan Lesson Study),
(4) belajar tentang isi atau materi pelajaran dari dosen lain sehingga dapat
menambah pengetahuan tentang apa yang harus diberikan kepada mahasiswa,
(5) mengembangkan keahlian dalam mengajar, baik pada saat merencanakan
pembelajaran
maupun
selama
berlangsungnya
kegiatan
pembelajaran,
(6) membangun kemampuan melalui pembelajaran kolegial, dalam arti para dosen
bisa saling belajar tentang apa-apa yang dirasakan masih kurang, baik tentang
pengetahuan maupun keterampilannya dalam membelajarkan mahasiswa, dan
(7) mengembangkan “The Eyes to See Students” (kodomo wo miru me), dalam
arti dengan dihadirkannya para pengamat (obeserver), pengamatan tentang
perilaku belajar mahasiswa bisa semakin detail dan jelas.
Manfaat lain dari Lesson Study, diantaranya: (1) dosen dapat
mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (2) dosen dapat memperoleh umpan
balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (3) dosen dapat mempublikasikan dan
mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study.
Slamet Mulyana (2007) mengemukakan dua tipe penyelenggaraan Lesson
Study, yaitu Lesson Study berbasis sekolah dan Lesson Study berbasis MGMP.
Lesson Study berbasis sekolah dilaksanakan oleh semua dosen dari berbagai
bidang studi dengan kepala sekolah yang bersangkutan. dengan tujuan agar
kualitas proses dan hasil pembelajaran dari semua mata pelajaran di sekolah yang
bersangkutan dapat lebih ditingkatkan. Sedangkan Lesson Study berbasis MGMP
merupakan pengkajian tentang proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh
kelompok dosen mata pelajaran tertentu, dengan pendalaman kajian tentang
proses pembelajaran pada mata pelajaran tertentu, yang dapat dilaksanakan pada
tingkat wilayah, kabupaten atau mungkin bisa lebih diperluas lagi.
Menurut Wikipedia (2007) bahwa Lesson Study dilakukan melalui empat
tahapan dengan menggunakan konsep Plan-Do-Check-Act (PDCA). Sementara
itu, Slamet Mulyana (2007) mengemukakan tiga tahapan dalam Lesson Study,
yaitu : (1) Perencanaan (Plan); (2) Pelaksanaan (Do) dan (3) Refleksi (Check).
Sedangkan Bill Cerbin dan Bryan Kopp dari University of Wisconsin
mengetengahkan enam tahapan dalam Lesson Study, yaitu: (1) Form a Team:
membentuk tim sebanyak 3-6 orang yang terdiri dosen yang bersangkutan dan
pihak-pihak lain yang kompeten serta memilki kepentingan dengan Lesson Study.
(2) Develop Student Learning Goals: anggota tim memdiskusikan apa yang akan
dibelajarkan kepada mahasiswa sebagai hasil dari Lesson Study. (3) Plan the
Research Lesson: dosen-dosen mendesain pembelajaran guna mencapai tujuan
belajar dan mengantisipasi bagaimana para mahasiswa akan merespons.
(4) Gather Evidence of Student Learning: salah seorang dosen tim melaksanakan
pembelajaran, sementara yang lainnya melakukan pengamatan, mengumpulkan
bukti-bukti dari pembelajaran mahasiswa. (5) Analyze Evidence of Learning: tim
mendiskusikan hasil dan menilai kemajuan dalam pencapaian tujuan belajar
mahasiswa (6) Repeat the Process: kelompok merevisi pembelajaran, mengulang
tahapan-tahapan mulai dari tahapan ke-2 sampai dengan tahapan ke-5
sebagaimana dikemukakan di atas, dan tim melakukan sharing atas temuantemuan yang ada.
2.6. Model Pembelajaran Problem Solving
Model pembelajaran problem solving adalah cara mengajar yang
dilakukan dengan cara melatih para murid menghadapi berbagai masalah untuk
dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama (Alipandie, 1984: 105). Menurut
N.Sudirman (1987: 146) model pembelajaran problem solving adalah cara
penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak
pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha untuk mencari
pemecahan atau jawabannya oleh siswa.
Gambar 1. Sirkulasi Model Pembelajaran Problem Solving
Menurut Purwanto (1999: 17) problem solving adalah suatu proses dengan
menggunakan strategi, cara, atau teknik tertentu untuk menghadapi situasi baru,
agar keadaan tersebut dapat dilalui sesuai keinginan yang ditetapkan.Selain itu
Zoler (Sutaji, 2002: 17) menyatakan bahwa pengajaran dimulai dengan
pertanyaan – pertanyaan yang mengarahkan kepada konsep, prinsip, dan hukum,
kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memecahkan masalah disebut sebagai
pengajaran yang menerapkan model pemecahan masalah.
Sedangkan menurut Gulo (2002: 111) menyatakan bahwa problem solving
adalah metode yang mengajarkan penyelesaian masalah dengan memberikan
penekanan pada terselesaikannya suatu masalah secara menalar. Menurut Syaiful
Bahri Djamara (2006: 103) bahwa, Model pembelajaran problem solving (metode
pemecahan masalah) bukan hanya sekedar metode mengajar tetapi juga
merupakan suatu metode berfikir, sebab dalam problem solving dapat
menggunakan metode lain yang dimulai dari mencari data sampai kepada menarik
kesimpulan.
Hidayati (2008), berpendapat bahwa model pembelajaran Problem Solving
(metode pemecahan masalah) didasarkan pada kesadaran terhadap kenyataan,
bahwa mengajar bukanlah sekedar berpidato dan mengkomunikasikan ilmu
pengetahuan kepada siswa. Tetapi, mengajar adalah untuk meneliti dengan
seksama,
mencari, menyelidiki,
memikirkan, menganalisis,
dan
sampai
menemukan.
Senada dengan pendapat diatas Sanjaya (2006: 214) menyatakan pada
metode pemecahan masalah, materi pelajaran tidak terbatas pada buku saja tetapi
juga bersumber dari peristiwa – peristiwa tertentu sesuai dengan kurikulum yang
berlaku. Model Pembelajaran Problem Solving merupakan metode dalam kegiatan
pembelajaran dengan melatih siswa menghadapi berbagai masalah, baik masalah
pribadi maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara
bersama.sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang
pada dasarnya adalah pemecahan masalah. (Hamdani, 2011: 84).
Crow dan Crow (Hamdani, 2011: 84) menyatakan model pembelajaran
pemecahan masalah/Problem Solving adalah suatu cara menyajikan pelajaran
dengan mendorong siswa untuk mencari dan memecahkan suatu masalah atau
persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.
Metode Problem Solving menurut Suprijono (2012: 46) ialah pola yang
digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun
tutorial. Sedangkan, Arends (Suprijono, 2012: 46) menyatakan model
pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di
dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran,
lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Dengan demikian model pembelajaran problem solving merupakan
metode pembelajaran yang mengaktifkan dan melatih siswa untuk menghadapi
berbagai masalah dan dapat mencari pemecahan masalah atau solusi dari
permasalahan itu.
Menurut Wankat dan Oreovocz (1995) tahap-tahap strategi operasional
dalam pemecahan masalah sebagai berikut:
1. I can (Saya mampu/ bisa): tahap membangkitkan motivasi dan
membangun/menumbuhkan keyakinan diri siswa.
2. Define (Mendefinisikan): membuat daftar hal yang diketahui dan tidak
diketahui, menggunakan gambar grafis untuk memperjelas permasalahan.
3. Explore
(Mengeksplorasi):
merangsang
siswa
untuk
mengajukan
pertanyaanpertanyaan dan membimbing untuk menganalisis dimensidimensi permasalahan yang dihadapi.
4. Plan (Merencanakan): mengembangkan cara berpikir logis siswa untuk
menganalisis masalah dan menggunakan flochart untuk mengambarkan
permasalahan yang dihadapi.
5. Do it (Mengerjakan): membimbing siswa secara sistematis untuk
memperkiraan jawaban yang mungkin untuk memecahkan masalah.
6. Check (Mengoreksi kembali): membimbing siswa untuk mengecek
kembali jawaban yang dibuat, mungkin ada beberapa kesalahan yang
dilakukan.
7. Generalize
(Generalisasi): membimbing siswa
untuk
mengajukan
pertanyaan.
Langkah-langkah/Sintak Model Pembelajaran Problem Solving ( Dewey
dalam W.Gulo, 2002: 115) terfiri atas 6 tahap, yaitu sebagai berikut:
1. Merumuskan masalah
Kemampuan yang diperlukan adalah : mengetahui dan merumuskan masalah
secara jelas.
2. Menelaah masalah
Kemampuan yang diperlukan adalah : menggunakan pengetahuan untuk
memperinci, menganalisis masalah dari berbagai sudut.
3. Merumuskan hipotesis
Kemampuan yang diperlukan adalah : berimajinasi dan menghayati ruang
lingkup, sebab akibat dan alternatif penyelesaian.
4. Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis
Kemampuan yang diperlukan adalah : kecakapan mencari dan menyusun data.
Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar atau tabel.
5. Pembuktian hipotesis
Kemampuan yang diperlukan adalah : kecakapan menelaah dan membahas
data, kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, serta keterampilan
mengambil keputusan dan kesimpulan.
6. Menentukan Pilihan Penyelesaian.
Kemampuan yang diperlukan adalah : kecakapan membuat alternatif
penyelesaian, kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang
akan terjadi pada setiap pilihan.
Penyelesaian masalah Menurut David Johnson dan Johnson dapat
dilakukan melalui kelompok dengan prosedur penyelesaiannya dilakukan sebagai
berikut (W.Gulo 2002 : 117):
1. Mendifinisikan Masalah
2. Mendiagnosis masalah
3. Merumuskan Altenatif Strategi
4. Menentukan dan menerapkan Strategi
5. Mengevaluasi Keberhasilan Strategi
Kelebihan model pembelajaran problem solving antara lain sebagai
berikut:
1. Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis.
2. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
3. Berpikir dan bertindak kreatif.
4. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
5. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
6. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
7. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan
masalah yang dihadapi dengan tepat.
8. Dapat
membuat
pendidikan
sekolah
lebih
relevan
dengan
kehidupan,khususnya dunia kerja
9. Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi.
10. Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek.
11. Mendidik siswa percaya diri sendiri.
Kelemahan model pembelajaran problem solving antara lain sebagai
berikut:
1. Memerlukan cukup banyak waktu.
2. Melibatkan lebih banyak orang.
3. Tidak semua materi pelajaran mengandung masalah.
4. Memerlukan perencanaan yang teratur dan matang.
5. Tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif.
Manfaat dari penggunaan model pembelajaran problem solving pada
proses belajar mengajar untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik.
Menurut Djahiri (1983:133) model pembelajaran problem solving memberikan
beberapa manfaat antara lain:
1. Mengembangkan
sikap
keterampilan
siswa
dalam
memecahkan
permasalahan, serta dalam mengambil kepuutusan secara objektif dan
mandiri
2. Mengembangkan kemampuan berpikir para siswa, anggapan yang
menyatakan bahwa kemampuan berpikir akan lahir bila pengetahuan
makin bertambah
3. Melalui inkuiri atau problem solving kemampuan berpikir tadi diproses
dalam situasi atau keadaan yang bener – bener dihayati, diminati siswa
serta dalam berbagai macam ragam altenatif
4. Membina pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih jauh) dan cara
berpikir objektif – mandiri, krisis – analisis baik secara individual maupun
kelompok
Tujuan model pembelajaran problem solving adalah sebagai berikut.
1. Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian
menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya.
2. Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi
siswa.
3. Potensi intelektual siswa meningkat.
4. Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses
melakukan penemuan.
2.7. Model Pembelajaran Think- Pair- Share
Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) dikembangkan oleh Frank
Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran
Think-Pair-Share merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif
sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta
bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi
partisipasi siswa (Lie, 2004: 57).
Model pembelajaran Think-Pair-Share merupakan salah satu model
pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan
partisipasi kepada orang lain. Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran
Think-Pair-Share adalah:
1. Guru membagi siswa dalam kelompok berempat dan memberikan tugas
kepada semua kelompok.
2. Setiap siswa memikirkan dan mengerjakan tugas tersebut sendiri.
3. Siswa berpasangan dengan salah satu rekan dalam kelompok dan
berdiskusi dengan pasangannya.
4. Kedua pasangan bertemu kembali dalam kelompok berempat.
Siswa mempunyai kesempatan untuk membagikan hasil kerjanya kepada
kelompok berempat (Lie, 2004: 58).
Think-Pair-Share memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit
untuk memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab, dan saling
membantu satu sama lain (Nurhadi dkk, 2003 : 66). Sebagai contoh, guru baru
saja menyajikan suatu topik atau siswa baru saja selesai membaca suatu tugas,
selanjutnya guru meminta siswa untuk memikirkan permasalahan yang ada dalam
topik/bacaan tersebut.
Langkah-langkah dalam pembelajaran Think-Pair-Share sederhana,
namun penting terutama dalam menghindari kesalahan-kesalahan kerja kelompok
(http://home.att-net/_clnetwork/think_ps.htm). Dalam model ini, guru meminta
siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan
mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas.
Tahap utama dalam pembelajaran Think-Pair-Share menurut Ibrahim
(2000: 26-27) adalah sebagai berikut:
Tahap 1: Thinking (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan
pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu
tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
Tahap 2: Pairing
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa lain untuk mendiskusikan
apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota
pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan
mendefinisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau
paling unik. Biasanya guru memberi waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
Tahap 3: Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi dengan
seluruh kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi
dalam seluruh kelas dapat dilakukan dengan menunjuk pasangan yang secara
sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya.
Langkah-langkah atau alur pembelajaran dalam model Think-Pair-Share
adalah:
Langkah ke 1: Guru menyampaikan pertanyaan
Aktifitas: Guru melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan
menyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan
disampaikan.
Langkah ke 2: Siswa berpikir secara individual
Aktifitas: Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban
dari permasalahan yang disampaikan dosen. Langkah ini dapat dikembangkan
dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikiranyya masing-masing.
Langkah ke 3: Setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing
dengan pasangan
Aktifitas: Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi
kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka
paling benar atau paling meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam
kerja kelompoknya. Pelaksanaan model ini dapat dilengkapi dengan LKS
sehingga kumpulan soal latihan atau pertanyaan yang dikerjakan secara
kelompok.
Langkah ke 4: Siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas
Aktifitas: Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara
individual atau kelompok didepan kelas.
Langkah ke 5: Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
Aktifitas: Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap
hasil pemecahan masalah yang telah mereka diskusikan.
Kegiatan “berpikir-berpasaangan-berbagi” dalam model Think-PairShare memberikan keuntungan. Siswa secara individu dapat mengembangkan
pemikirannya masing-masing karena adanya waktu berpikir (think time), Sehingga
kualitas jawaban juga dapat meningkat. Menurut Jones (2002), akuntabilitas
berkembang karena siswa harus saling melaporkan hasil pemikiran masingmasing dan berbagi (berdiskusi) dengan pasangannya, kemudian pasanganpasangan tersebut harus berbagi dengan seluruh kelas. Jumlah anggota kelompok
yang kecil mendorong setiap anggota untuk terlibat secara aktif, sehingga siswa
jarang atau bahkan tidak pernah berbicara didepan kelas paling tidak memberikan
ide atau jawaban karena pasangannya.
Menurut Spencer Kagan (dalam Maesuri, 2002: 37) manfaat Think-PairShare adalah: (1) para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk
mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain ketika mereka
terlibat dalam kegiatan Think-Pair-Share lebih banyak siswa yang mengangkat
tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dalam pasangannya. Para siswa
mungkin mengingat secara lebih, seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas
jawaban mungkin menjadi lebih baik, dan (2) para guru juga mungkin mempunyai
waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think-Pair-Share.
Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi
siswa, dan mengajukan pertanyaaan tingkat tinggi.
2.8. Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian
tindakan ini didefinisikan oleh Kemmis dan Mc. Taggart, (1988:35) adalah:
”Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penyelidikan melalui cara mawas diri
secara kolektif, yang dilakukan oleh para
peserta
dalam
suatu
situasi
sosial
dengan
maksud
untuk
meningkatkan/memperbaiki rasionalitas dan keselarasan benar dan adilnya dari
praktek-praktek pendidikan sosial sendiri, juga dengan tujuan meningkatkan
pemahaman atas praktek-praktek itu, serta situasi-situasi tempat dilaksanakannya
praktik itu”
Penelitian ini adalah penelitian tindakan, dimana siswa dalam proses
belajar mengajar disuguhkan materi pelajaran dan cara pengajaran yang menarik
sehingga nantinya akan memotivasi siswa dalam belajar dan akhirnya dapat
meningkatkan kemampuan mereka dalam materi RAB. Sudarsono (1982: 24)
memberikan batasan tentang PTK yaitu suatu bentuk penelitian yang bersifat
refleksif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu, agar dapat memperbaiki
dan atau meningkatkan praktek pembelajaran di kelas secara lebih profesional.
Secara umum setiap siklus perbaikan mutu dengan PTK terdiri dari:
a. Perencanaan: membuat rencana tindakan untuk melakukan perbaikan mutu
atau pemecahan masalah.
b. Tindakan: mengimplementasikan tindakan tersebut sesuai dengan rencana
c. Observasi: melakukan pengamatan terhadap efek dari tindakan yang
diberikan.
d. Refleksi: mereflesikan hasil tindakan tersebut, sebagai dasar perencanaan
berikutnya.
Setelah pembelajaran atau tindakan pada siklus I berakhir, guru,
kolaborator dan siswa mengadakan diskusi dan refleksi untuk menemukan
berbagai kelemahan ataupun kelebihan. Temuan pada siklus I dijadikan
pertimbangan untuk memperbaiki rancangan pembelajaran Siklus II. Untuk lebih
memahami dengan penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Tahapan Perencanaan (Plan)
Dalam tahap perencanaan, para guru yang tergabung dalam Lesson Study
berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang
berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis
kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang:
kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas dan
sarana belajar, dan sebagainya, sehingga dapat ketahui berbagai kondisi nyata
yang akan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Selanjutnya, secara
bersama-sama pula dicarikan solusi untuk memecahkan segala permasalahan
ditemukan. Kesimpulan dari hasil analisis kebutuhan dan permasalahan menjadi
bagian yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan RPP, sehingga RPP
menjadi sebuah perencanaan yang benar-benar sangat matang, yang didalamnya
sanggup mengantisipasi segala kemungkinan yang akan terjadi selama
pelaksanaan pembelajaran berlangsung, baik pada tahap awal, tahap inti sampai
dengan tahap akhir pembelajaran.
b. Tahapan Pelaksanaan (Do)
Pada tahapan yang kedua, terdapat dua kegiatan utama yaitu: (1) kegiatan
pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah seorang guru yang
disepakati atau atas permintaan sendiri untuk mempraktikkan RPP yang telah
disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh
anggota atau komunitas Lesson Study yang lainnya (baca: guru, kepala sekolah,
atau pengawas sekolah, atau undangan lainnya yang bertindak sebagai
pengamat/observer) .
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan,
diantaranya: gurumelaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah
disusun bersama. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam
setting yang wajar dan natural, tidak dalam keadaan under pressure yang
disebabkan adanya model Lesson Study, Problem Solving dan Think Pare Share.
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan
mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran dan mengganggu konsentrasi
gurumaupun mahasiswa. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap
interaksi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan lainnya,
dengan menggunakan instrumen pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya
dan disusun bersama-sama. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang
berlangsung dan bukan untuk mengevalusi guru.
Pengamat dapat melakukan perekaman melalui video camera atau photo
digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan
perekaman tidak mengganggu jalannya
proses pembelajaran. Pengamat
melakukan pencatatan tentang perilaku belajar siswa selama pembelajaran
berlangsung, misalnya tentang komentar atau diskusi siswa dan diusahakan dapat
mencantumkan nama siswa yang bersangkutan, terjadinya proses konstruksi
pemahaman siswa melalui aktivitas belajar mahasiswa. Catatan dibuat
berdasarkan pedoman dan urutan pengalaman belajar siswa yang tercantum dalam
RPP.
c. Tahapan Refleksi (Check)
Tahapan ketiga merupakan tahapan yang sangat penting karena upaya
perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman
analisis para perserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran
yang telah dilaksanakan. Kegiatan refleksi dilakukan dalam bentuk diskusi yang
diikuti seluruh peserta Lesson Study, Problem Solving dan Think Pare Share yang
dipandu oleh kepala sekolah atau peserta lainnya yang ditunjuk. Diskusi dimulai
dari penyampaian kesan-kesan guruyang telah mempraktikkan pembelajaran,
dengan menyampaikan komentar atau kesan umum maupun kesan khusus atas
proses pembelajaran yang dilakukannya, misalnya mengenai kesulitan dan
permasalahan yang dirasakan dalam menjalankan RPP yang telah disusun.
Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak
terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan (bukan terhadap guruyang
bersangkutan). Dalam menyampaikan saran-saranya, pengamat harus didukung
oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan
opininya. Berbagai pembicaraan yang berkembang dalam diskusi dapat dijadikan
umpan balik bagi seluruh peserta untuk kepentingan perbaikan atau peningkatan
proses pembelajaran. Oleh karena itu, sebaiknya seluruh peserta pun memiliki
catatan-catatan pembicaraan yang berlangsung dalam diskusi.
d. Tahapan Tindak Lanjut (Act)
Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau
keputusan-keputusan
penting
guna
perbaikan
dan
peningkatan
proses
pembelajaran, baik pada tataran indiividual, maupun menajerial.Pada tataran
individual, berbagai temuan dan masukan berharga yang disampaikan pada saat
diskusi dalam tahapan refleksi (check) tentunya menjadi modal bagi para dosen,
baik yang bertindak sebagai pengajar maupun observer untuk mengembangkan
proses pembelajaran ke arah lebih baik. Pada tataran manajerial, dengan pelibatan
langsung kepala sekolah sebagai peserta Lesson Study, tentunya kepala sekolah
akan memperoleh sejumlah masukan yang berharga
bagi
kepentingan
pengembangan manajemen pendidikan di sekolahnya secara keseluruhan. Kalau
selama ini kepala sekolah banyak disibukkan dengan hal-hal di luar pendidikan,
dengan keterlibatannya secara langsung dalam Lesson Study, maka dia akan lebih
dapat memahami apa yang sesungguhnya dialami oleh gurudan mahasiswanya
dalam proses pembelajaran, sehingga diharapkan kepala sekolah dapat semakin
lebih fokus lagi untuk mewujudkan dirinya sebagai pemimpin pendidikan di
sekolah.
2.9. Hipotesis Penelitian
Berdasar atas kerangka teoritik maka dirumuskan hipotesis penelitian ini,
yaitu: "Model Pembelajaran Lesson Study, Problem Solving dan Think Pare Share
dapat meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan praktik siswa pada mata
pelajaran Praktik Instalasi Penerangan Listrik".
Hasil belajar siswa dapat diketahui jika pengajar melakukan pengukuran,
penilaian dan evaluasi, sedangkan alat yang digunakan untuk pengukuran berupa
alat tes dan bisa dengan alat non tes. Alat tes digunakan untuk mengukur
kemampuan kognitif, sedangkan non tes digunakan untuk mengukur kemampuan
psikomotor dan afektif.
Karena mata pelajaran Praktik Instalasi Penerangan Listrik adalah mata
pelajran praktik maka instrumen untuk mengukur hasil belajarnya adalah
menggunakan tes dan lembar observasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Subjek Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Semarang yang
berlokasi di Jalan Dokter Cipto No.93 Telp. (024) 3545601. Kegiatan penelitian
ini dilakukan pada siswa kelas XI-TPITL-2 dengan jumlah siswa sebanyak 35
siswa SMK Negeri 1 Semarang pada semester gasal Tahun Pelajaran 2018/2019.
3.1. Perencanaan Penelitian
Perencanaan penelitian ditujukan untuk meningkatkan kemampuan konsep
dan praktik siswa dan strategi pembelajarannya dibuat semenarik mungkin yaitu
dengan menggunakan model pembelajaran Lesson Study, Problem Solving dan
Think Pare Share pada mata pelajaran Praktik Instalasi Penerangan Listrik agar
nantinya siswa dapat meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan
praktiknya.
3.3. Rencana Tindakan
Persiapan penelitian ini dilakukan berkaitan dengan program Penugasan
Dosen di Sekolah (PDS) di SMK Negeri 1 Semarang pada semester gasal
2018/2019 mulai bulan Juli 2018 hingga bulan Oktober 2018. Penelitian ini
dilaksanakan
dengan
banyak
siklus
menyesuaikan
capaian
tujuan
pembelajarannya. Siklus pertama dilakukan pada tanggal Selasa 4-September2018, sementara siklus berikutnya dilakukan sesuai hasil refleksi yang didapatkan.
Setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah didesain terhadap
faktor yang diteliti. Untuk melihat tingkat "pemahaman awal" siswa terhadap
materi pelajaran praktik instalasi penerangan listrik, dilakukan tes diagnosis yang
berfungsi sebagai evaluasi awal (pra siklus). Sedangkan observasi awal dilakukan
untuk mengetahui apakah tindakan yang akan diberikan tepat dalam rangka
meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa terhadap materi praktik
instalasi penerangan listrik. Prosedur tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
P
R
Siklus 1
P
T
R
Siklus 2
O
T
O
Gambar 2. Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Keterangan :
P = Perencanaan
O = Observasi
T = Tindakan
R = Refleksi
Berdasar evaluasi dan observasi awal maka dalam proses refleksi,
ditetapkan bentuk tindakan untuk penguatan pemahaman siswa terhadap materi
praktik instalasi penerangan listrik dengan menggunakan model pembelajaran
Problem Solving dan Think Pare Share untuk meningkatkan pemahaman konsep
dan kemampuan praktik siswa pada mata pelajaran Praktik Instalasi Penerangan
Listri. Pemilihan model pembelajaran Problem Solving dan Think Pare Share
dengan pertimbangan model tersebut mampu mempercepat proses pemahaman
dan dapat diterapkan dalam pembuatan skripsi.
Berpedoman pada refleksi awal maka dilaksanakanlah penelitian tindakan
kelas ini dengan prosedur : (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan tindakan
(action), (3) observasi (observation) dan (4) refleksi (reflection) dalam setiap
siklus.
Adapun batas–batas tindakan yang akan diambil dalam penelitian ini
adalah:
1. Strategi
pembelajaran
yang
direncanakan
berintikan
pada
upaya
mengoptimalkan aktivitas dan partisipasi siswa dalam segala aspek
pembelajaran yang dipersiapkan oleh 2 orang guru dan 2 orang dosen (Lessson
Study) dilaksanakan di kelas di bawah bimbingan guru dengan model
pembelajaran Problem solving dan Think Pare Share.
2. Seperangkat tindakan yang disiapkan adalah:
Persiapan:
a. Kurikulum atau silabus
b. RPP
c. Instrumen penilaian
d. Persiapan buku pegangan siswa- Jobsheet
e. Persiapan buku pegangan guru
f. Persiapan problem/persoalan
g. Merencanakan waktu untuk pelaksanaan tindakan
h. Menyusun serangkaian tindakan kegiatan secara menyeluruh
i. Menyiapkan teknik pemantauan pada setiap tahapan penelitian
Pelaksanaan Siklus I
a. Menjelaskan uraian pekerjaan perencanaan dan pemasangan instalasi
penerangan listrik
b. Pelaksanaan di kelas praktik dengan cara memberikan tugas membuat
gambar garis tunggal dan gambar pengawatan/pelaksanaan instalasi
penerangan listrik, siswa diharapkan memahami cara menggambar
garis tunggal dan garis ganda/pelaksanaan pada praktik mata pelajaran
instalasi penerangan listrik.
c. Siswa mengetahui kegunaan dari gambar garis tunggal dan gambar
pengawatan/pelaksanaan instalasi penerangan listrik.
d. Untuk mempertajam konsep, guru memberikan problem berupa
rancangan instalasi penerangan listrik yang harus dibuat gambar garis
tunggal dan gambar pengawatan/pelaksanaannya.
e. Siswa melakukan diskusi untuk menyelesaikan problem yang
diberikan guru bersama teman pasangannya dalam kelompok (Think)
f. Siswa melakukan presentasi di depan kelas untuk menyelesaikan
problem yang diberikan guru dan dibahas bersama teman-temannya
dalam satu kelas.
g. Guru berperan sebagai fasilitator
h. Penarikan kesimpulan, ringkasan atau rangkuman.
i. Refleksi I, kegiatan ini peneliti lakukan untuk mendapatkan tingkat
pemahaman siswa rata–rata dimana sebagai dasar untuk tindakan yang
akan dilaksanakan pada siklus II (dua).
Pelaksanaan Siklus II
a. Melanjutkan materi pada tugas membuat gambar garis tunggal dan
gambar pengawatan/pelaksanaan instalasi penerangan listrik sebagai
lanjutan dari siklus I
b. Pada siklus II ini seluruh siswa melakukan diskusi bersama dalam 1
kelas untuk menyamakan persepsi pada gambar garis tunggal dan
gambar pengawatan/pelaksanaan instalasi penerangan listrik yang
benar.
Kegiatan
yang
dilakukan
adalah
mempersentasekan,
mendiskusikan, dan membuat kesimpulan bersama mengenai gambar
garis
tunggal
dan
gambar
pengawatan/pelaksanaan
instalasi
penerangan listrik yang akan dipraktikkan.
c. Guru dalam siklus dua ini berperan sebagai fasilitator sekaligus
moderator.
d. Memberikan arahan pemahaman konsep secara individu dan
memantau tugas yang dikerjakan siswa.
e. Melakukan evaluasi berdasarkan format pemantauan. Tujuannya untuk
mengetahui efektifitas keberhasilan dan hambatan terhadap tindakan
yang dilakukan.
f. Refleksi II, dilakukan peneliti untuk mendapatkan nilai capaian
kemampuan praktik siswa setelah sejumlah tindakan dilakukan apakah
tindakan ini bisa meningkatkan penguasaan konsep dan praktik pada
materi pelajaran pembelajaran yang diberikan.
3.4. Teknik Pemantauan
Ada beberapa teknik pemantauan yang diterapkan pada PTK ini, yaitu:
1. Pengamatan partisipatif, yaitu dilakukan oleh guru yang bersangkutan dan satu
orang kolaborator, pengamatan ini dilakukan untuk merekam perilaku,
aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
2. Teknik wawancara secara bebas, dilakukan untuk mengungkap data yang
diungkapkan dengan kata-kata secara lisan tentang sikap, pendapat, wawasan
maupun kolaborator mengenai baik buruknya proses pembelajaran yang telah
berlangsung.
3. Teknik pemanfaatan data dokumen meliputi: silabus dan sistem penilaian,
catatan guru, hasil nilai unjuk kerja dan hasil tugas siswa
3.5. Kriteria Keberhasilan Tindakan
Untuk memudahkan pemantauan, analisis dan pengambilan kesimpulan
terhadap keberhasilan tindakan yang dilakukan, perlu ditetapkan kriteria
keberhasilan tindakan. Untuk itu peneliti menentukan kriteria sebagai berikut:
1. Peningkatan motivasi belajar siswa dengan indikator:
a. Adanya peningkatan aktivitas dan keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran.
b. Adanya peningkatan kerjasama antarsiswa dalam melaksanakan tugastugas pembelajaran
2. Peningkatan hasil belajar siswa dengan indikator:
a. adanya peningkatan perasaan puas pada siswa
b. adanya peningkatan kompetensi psikomotor, afektif dan kognitif siswa
dalam pembelajaran ini.
3.6. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini sebagian besar
berupa analisis deskriptis kualitatif. Teknik ini digunakan untuk mengolah data
yang bersifat kualitatif, baik yang berhubungan dengan keberhasilan proses
maupun hasil pembelajaran. Adapun data yang bersifat kuantitatif seperti nilai
unjuk kerja (hasil diskusi dan tugas) akan dianalisis dengan teknik deskriptif
kuantitatif sederhana, yakni dengan membandingkan nilai rerata.
Analisis data yang akan dilakukan meliputi empat tahap. Tahap pertama,
data yang terkumpul dari berbagai instrumen seperti lembar pengamatan, catatan
guru, catatan hasil kegiatan wawancara, dan hasil tes unjuk kerja dikelompokkan
menurut pokok permasalahan yang sejenis. Tahap kedua, data tersebut disajikan
secara deskriptif kualitatif. Tahap ketiga adalah inferensi, yaitu menyajikan data
dalam bentuk tabel atau diagram. Tahap keempat adalah penarikan kesimpulan
secara induktif, yaitu menafsirkan data yang sudah dikelompokkan.
Dari hasil analisis data diatas, akan ditarik kesimpulan secara keseluruhan
dengan menyatakan kebenaran hipotesis tindakan yang telah ditetapkan.
(instrumen pengumpulan data terlampir) Data yang diperoleh dianalisis dengan
teknik
analisis
deskriptif.
Sebelum
dianalisis
data
di
tabulasi
dan
diinterpretasikan.
Ada dua rumus analisis yang digunakan untuk mengetahui efektifitas
pembelajarannya
dan
untuk
mengetahui
besarnya
perubahan
capaian
pembelajarannya.
a.
t-test
Analisis t-test digunakan untuk mengetahui peningkatan efektifitas
kelompok dalam mengikuti pembelajaran Praktik Instalasi Penerangan pada:
1. pra siklus ke siklus-1
2. siklus-1 ke siklus-2
3. pra siklus ke silkus-2
...
4. siklus sebelumnya ke siklus terakhir
apakah perubahannya siginifikan atau tidak. Rumus t-test yang digunakan adalah:
Dimana:
b.
NGain
Berdasar tabel di atas diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar mulai
dari pra siklus, siklus-I dan siklus-II dimana jika dicari peningkatan capaian
nilainya dihitung berdasar rumus NGain:
𝑁𝐺𝑎𝑖𝑛 =
(𝑀𝑒𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑘𝑙𝑢𝑠 Perlakuan) − (𝑀𝑒𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑘𝑙𝑢𝑠 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚𝑛𝑦𝑎)
(𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠) − (𝑀𝑒𝑎𝑛 𝑆𝑖𝑘𝑙𝑢𝑠 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚𝑛𝑦𝑎)
Kriteria perolehan skor NGain dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1
Kategori Skor NGain
Batasan
Kategori
g > 0,7
Tinggi
0,3 < g ≤ 0,7
Sedang
g ≤ 0,3
Rendah
BAB IV
BIAYA DAN JADWAL PENEITIAN
4.1 Biaya Penelitian
Estimasi biaya yang akan dikeluarkan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini
sebagai berikut.
Tabel 4.1 Ringkasan Anggaran Biaya
No
1
2
3
4
Jenis Pengeluaran
Honorarium
Bahan Habis Pakai dan Peralatan
Perjalanan
Lain-lain
Jumlah
Jumlah (Rp)
1.400.000
1.650.000
1.200.000
750.000
5.000.000
4.2 Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian merupakan acuan bagi peneliti untuk melakukan
penelitian supaya tepat sasaran. Jadwal penelitian ini adalah sebagai berikut.
Tabel 4.2 Jadwal Penelitian
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Jenis Kegiatan
Diskusi awal tim peneliti
Penyusunan proposal
Penyusunan Insrumen Penelitian
Pelaksanaan Penelitian
Tabulasi Data
Olah Data
Penyusunan Laporan
Penyusunan Artikel
Juli
Bulan
Agust Sept
Okt
Lampiran 1: Anggaran Penelitian
No
I
Uraian
Vol
Harga Satuan
10
Jam
25.000
SUB TOTAL (Rp)
15.000
250.000
15.000
235.000
235.000
Kertas HVS A4
2
rim
35.000
70.000
0
70.000
Kertas F4
3
rim
38.000
114.000
0
114.000
Fotokopi
1
paket
500.000
500.000
0
500.000
Stabilo
6
buah
20.000
120.000
0
120.000
CD dan tempat
5
buah
36.000
180.000
0
180.000
15
dozin
42.000
630.000
0
630.000
4
dozin
54.000
216.000
0
216.000
Bolpen
Konsumsi snack (koordinasi tim,
pelaksanaan, penyusunan
laporan & administrasi)
15
doz
13.000
195.000
0
195.000
Konsumsi makan (koordinasi tim,
pelaksanaan, penyusunan
laporan & administrasi)
15
doz
35.000
525.000
0
525.000
SUB TOTAL (Rp)
2.550.000
-
2.550.000
Perjalanan
Transport Pelaksanaan
8
OH
150.000
SUB TOTAL (Rp)
IV
250.000
Bahan Habis Pakai & Peralatan
Penunjang
Map plastik
III
Jml Setelah
Pajak
Pajak
Honorarium
Honor Pembantu peneliti (1 org x
40 jam)
II
Jumlah
1.200.000
1.200.000
0
-
1.200.000
1.200.000
Lain-lain
Pembuatan artikel publikasi
Penggandaan proposal &
Laporan
1
10
buku
500.000
500.000
0
500.000
50.000
500.000
0
500.000
SUB TOTAL (Rp)
1.000.000
-
1.000.000
TOTAL (Rp)
5.000.000
15.000
4.985.000
DAFTAR PUSTAKA
Anastasi, Anne. (1976). Psychological Testing, 4th ed. New York : Macmillan
Publishing Co., Inc.
Anita Lie. 2002. Cooperative learning, Mempraktikkan Cooperative learning di
Ruang kelas. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Ananom. 2001. Mengenal Model Pembelajaran Kooperatif. Semarang: DEPDIKNAS.
Dimyati dan Mudjiono.1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud.
Djamarah, Bahri Syaiful, 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Erman, Suherman dkk, 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer
(Common Teks Books). Bandung : JICA Universitas Pendidikan Indonesia.
Hamalik, Oemar.2003. Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta: Bumi Aksara.
Ibrahim, Muslimin, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : University Press.
Indrawati, 2008. Penilaian Berbasis Kelas. Bandung: Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam
Depdiknas
Jones, Raymond. 2002. Strategis For Reading Comprehensin, TPS. http: curry.
Edschool. Virginia. Edu/go/readquest/start/tps.html.(12 Mei 2007)
Madya, Suwarsih. 1994. Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lemlit IKIP
Yogyakarta.
Munib, Achmad dkk.2004.Pengantar Ilmu Pendidikan. Semarang : UNNES Press.
Nasution. 1992. Berbagai pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta; Bumi
Aksara.
Purwanto, Ngalim. 2004. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Sariadi. 1999. Jaringan Distribusi Listrik. Bandung: Angkasa.
Saripudin Winataputra. 1994. Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran.
Jakarta : PAU-PPAI-UT.
Suciati. 1995. Teori Motivasi dan Penerapannya dalam Proses Belajar Mengajar
(ARCS- Model). Jakarta: Depdikbud
Suharsimi Arikunto. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Download
Random flashcards
sport and healty

2 Cards Nova Aulia Rahman

Secuplik Kuliner Sepanjang Danau Babakan

2 Cards oauth2_google_2e219703-8a29-4353-9cf2-b8dae956302e

Tarbiyah

2 Cards oauth2_google_3524bbcd-25bd-4334-b775-0f11ad568091

Create flashcards