Uploaded by User62791

Natrium Tiosulfat

advertisement
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan lengkap praktikum Kimia Anorganik dengan judul
“Pembuatan Natrium Tiosulfat” yang disusun oleh:
nama
: Putri Azzahra
NIM
: 1813042002
kelas/ Kelompok
: Pendidikan Kimia B / I (Satu)
telah diperiksa dan dikonsultasikan oleh Asisten dan Koordinator Asisten
maka, laporan ini dinyatakan telah diterima.
Makassar, 17 Juli 2019
Koordinator Asisten
Asisten
Yudhi Priyatmo,S.Pd.,M.Pd
Putri Patricia Anggraini
NIM. 1713140008
Mengetahui,
Dosen Penanggung Jawab
Hardin., S.Si., S.Pd.,M.Pd
NIP. 198708072015041004
A. JUDUL PERCOBAAN
Pembuatan Natrium Tiosulfat
B. TUJUAN PERCOBAAN
Mempelajari pembuatan garam natrium tiosulfat dan sifat-sifat
kimianya
C. LANDASAN TEORI
1..Tinjauan Pustaka
Natrium (Inggris: sodium), unsur logam mengkilat, putih
perak dan lunak. Lambang: Na. Nomor atom 11. Bobot atom 22.997.
Rapat masa 0,97. Kekerasan 0,4. Panas jenis 0,253. Titik cair 97,5o
C. Unsur kimia aktif dan termasuk golongan unsur logam alkali.
Seperti kalium, natrium dapat dioksidasikan cepat di udara, dan
karena itu harus disimpan dibawah permukaan minyak, mis. Minyak
tanah. Bereaksi hebat dengan air, mengganti hidrogen membentuk
hidroksida. Bereaksi langsung dengan unsur halogen dan oksigen.
Senyawa-senyawanya banyak tersebar luas dan dalam jumlah besar
dalam
alam
dan
banyak
pula
digunakan
dalam
industri (Pringgodigdo, 1973)
Natrium adalah logam yang berwarna putih-perak yang lunak,
dengan titik lebur 97,50C. Natrium dapat teroksidasi dengan cepat
dalam udara yang lembab, jadi agar natrium tidak teroksidasi maka
harus disimpan dalam keadaan terendam seluruhnya dalam pelarut
nafta dan stirena. Logam ini dapat bereaksi keras dengan air,
membentuk natrium hidroksida dan hidrogen:
2Na + 2H2O → 2Na+ + 2OH- + H2↑
dalam garam-garamnya, natrium berupa kation monovalen (Na+).
Garam tersebut membentuk larutan yang bening kecuali jika
anionnya berwarna. Hampir semua garam natrium dapat larut dalam
air (Svehla, 1985).
Larutan natrium tiosulfat lazimnya dibeli sebagai pentahidrat
Na2S2O3.5H2O. Larutan tidak boleh distandarkan berdasarkan
penimbangan langsung melainkan harus distandarkan terhadap
sebuah standar primer. Larutan-larutan tersebut tidak stabil pada
jangka waktu yang lama. Bakteri yang memakan belerang akhirnya
masuk ke larutan itu dan proses metaboliknya akan mengakibatkan
pembentukan SO32-,SO42- dan belerang kloidal. Belerang ini akan
menyebabkan kekeruhan;bla timbul kekeruhan larutan harus dibuang.
Pada umumnya air yang diguanakan untuk membuat larutan tiosulfat
didihkan agar steril dan sering ditamabahkan boraks atau natrium
karbonat sebagai pengwet. Oksidasi tiosulfat oleh udara sangat
lambat. Namun, runutan tembanga yang terkadang dalam air suling
akan mengatalis oksidasi oleh udara ini (Day dan Underwood, 1986).
Natrium tiosulfat atau natrium hiposulfit atau hipo atau thio,
kristal yang agak jernih, mudah larut dalam air dan terurai di udara
dengan membentuk belerang. Kristalnya mengandung lima molekul
air kristal. Pada pemanasan sampai 33o C air kristalnya terlepas dan
meleleh, dalam air kristalnya terlepas pada suhu 48o C. Hipo dibuat
dengan memanaskan natrium sulfit dengan belerang yang meleleh
pada suhu 120o C atau dengan mengoksidasi natrium sulfida. Hipo
dipakai dalam fotografi, dalam laboratorium dan antichlor pada
proses pemutihan (Pringgodigdo, 1973)
Tiosulfat diuraikan dalam larutan asam dengan membentuk
belerang sebagai endapan mirip susu
S2O32- + 2H+
H2S2O3
H2SO3 +S (s)
Tetapi reaksi itu lambat dan tidak terjadi tiosulfat dititrasi kedalam
larutan iod yang asam, asal larutan diaduk dengan baik sehingga
Iodium mengoksidasi tiosulfat menjadi ion tetrationat:
I2 + 2 S2O32-
2 I- + S4O62-
Reaksinya berjalan cepat sampai selesai dan tidak ada reaksi
sampingan. Berat ekivalen dari Na2S2O3.5H2O adalah berat
molekulnya, 248,17, karena satu persatu elektron molekul hilang.
Jika pH larutan diatas 9, tiosulfat teroksidasi secara parsial menjadi
sulfat:
4I2 + 2 S2O32- + 5H2O
8I- + 2SO42- + 10H+
(Day dan Underwood, 1986).
Mekanisme
pengaruh
ion
anorganik
pada
tegangan
permukaan sangat rumit. Tegangan permukaan berkurang dengan
meningkatnya konsentrasi ion ketika konsentrasi permukaan berlebih
atau adsorpsi zat terlarut di antarmuka antara cairan dan gas adalah
positif. Begitu pula sebaliknya, tegangan permukaan meningkat
karena konsentrasi berlebih permukaan negatif atau adsorpsi zat
terlarut di antarmuka. Karena natrium tiosulfat termasuk dalam
garam dari alkali kuat asam lemah, hidrolisis radikal tiosulfat dapat
menghasilkan ion hidroksil. Namun pengaruh agitasi pada tegangan
permukaan
natrium
tiosulfat
lemah.
Ini
disebabkan
karena
konsentrasi ion hidroksil rendah dan pengaruh ion hidroksil pada
tegangan permukaan dapat diabaikan (Wen, dkk, 2018)
Sejumlah zat dapat digunakan sebagai suatu standar primer
untuk larutan tiosulfat. Iod murni merupakan standar yang paling
jelas
namun
jarang
digunakan,
karena
kesulitannya
dalam
penanganan dan penimbangan yang lebih sering digunakan adalah
standar yang terbuat dari suatu zat pengoksidasi kuat yang akan
membebaskan iod dari iodida. Jadi sebuah proses iodometri. Dalam
larutan yang netral, atau sedikit alkalin, oksidasi menjadi sulfat yang
tidak muncul, terutama
jika dalam hal ini dimana
iodin
dipergunakan sebagai titran (Day dan Underwood, 1986).
2..Tinjauan Hasil
Hasil penelitian yang telah dilakukan Ulfa (2015), natrium
tiosulfat apabila ditambahkan dengan iodium, dimana banyaknya
volume tiosulfat yang digunakan berbanding lurus dengan iod yang
dihasilkan. Sesuai dengan reaksi sebagai berikut:
I2 + 2S2O32Apabila
iodium
S4O62- + 2I-
dititrasi
dengan
natrium
tiosulfat
menggunakan indikator amilum maka yang akan terjadi perubahan
warna yaitu larutan yang semula berwarna biru menjadi larutan yang
tidak berwarna (Istiningrum, dkk, 2017).
Kebanyakan tiosulfat telah dibuat larut dalam air. Tiosulfat
dari timbal perak dan kalium larut sedikit sekali. Banyak dari
tiosulfat ini larut dalam larutan Na2S2O3 yang berlebihan,
membentuk garam kompleks. Untuk mempelajari reaksi ini
digunakan larutan Na2S2O3.5H2O.
1. Larutan Asam Klorida encer
Tak terjadi perubahan yang tepat dalam keadaan dingin dengan
larutan tiosulfat
2. Larutan Iod
Dihilangkan warnanya, pada mana terbentuk larutan ion tetrationat
yang tak berwarna.
I2
+
2 S2O32-
2I-
+
S4O62-
3. Larutan Barium Klorida
Endapan putih barium tiosulfat, BaS2O3 dari larutan yang sedang
pekatnya.
Reaksi:
S2O32-
+
Ba2+
Ba S2O3
(Shevla,1985)
D. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
a. Neraca Analitik
1 buah
b. Kondensor refluks
1 buah
c. Labu bundar 250 mL
1 buah
d. Gelas ukur 10 mL
1 buah
e. Gelas ukur 50 mL
1 buah
f. Gelas kimia 100 mL
1 buah
g. Kaki tiga
1 buah
h. Kasa asbes
1 buah
i. Pembakar spiritus
1 buah
j. Tabung reaksi
5 buah
k. Rak tabung reaksi
1 buah
l. Kaca arloji
1 buah
m. Batang pengaduk
1 buah
n. Spatula
2 buah
o. Botol semprot
1 buah
p. Corong biasa
1 buah
q. Cawan penguap
1 buah
r. Timbangan
1 buah
s. Pipet tetes
3 buah
t. Lap kasar dan lap halus
1 buah
u. Korek api
1 buah
2. Bahan
a. Natrium Sulfit anhidrat
(Na2SO3)
b. Serbuk belerang
(S)(s)
c. Larutan Iod (I2) 0,1 M dalam larutan KI
d. Larutan asam klorida encer
(HCl)(l)
e. Larutan Barium klorida
(BaCl2)(l)
f. Aquades
(H2O)(l)
g. Es batu
(H2O)(s)
h. Natrium tiosulfat pentahidrat
(Na2S2O3.5H2O)
i. Natrium tiosulfat dekahidrat
(Na2S2O3.10H2O)
j. Aluminium foil
k. Tissu
l. Kertas saring whatman
m. Kertas saring biasa
n. Batu didih
E. PROSEDUR KERJA
1.. Pembuatan natrium tiosulfat pentahidrat
1
11
25 g
1
25,004 g N a 2 SO3
45 mL H2O
11
4 g
4,079 serbuk
belera ng
Didinginkan
disaring
Larutan didinginkan
sam bil dik ocok
diuapkan hingga
1/2 volume awal
Direfluks selama 1 jam
1
11
Kristal ditimbang
kristal dikeringkan
Disaring
2..Mempelajari sifat-sifat natrium tiosulfat
a..Reaksi Pemanasan
Kristal
Na2 S2O3.5H2O
dipanaskan
Diamati perubahan
yangterjadi
Kristal
Na2S2O3.10H2O
dipanaskan
Diamati perubahan
yang terjadi
Dibandingkan stabilisasi
termal antara kedua
kristal tersebut
b. Reaksi dengan iod
1 gram
N a 2 S 2 O 3 .5 H 2 O
10 mL H2O
2 mLlarutan iod
c..Penambahan asam encer
1 gram
Na2S2O3.5H2O
3 mL H2O
3mL HCl encer
F. HASIL PENGAMATAN
1. Pembuatan natrium tiosulfat-5-hidrat
No Perlakuan
1
Hasil
25 gr Natrium sulfit + 20 mL Larutan berwarna
aquades
+ 4 gr belerang
2
Direfluks selama 1 jam
Larutan mendidih
3
Didinginkan hingga hangat
Larutan
berwarna
hijau
4
Disaring
Larutan
tidak
berwarna
5
Diuapkan
Larutan
berwarna
tidak
dan
ada
endapan
6
Disaring
Adanya kristal putih
7
Dikeringkan
Kristal putih
8
Ditimbang
0,56 gram
2.Uji sifat-sifat natrium tiosulfat
No Perlakuan
1
Hasil
Reaksi dengan iod
Na2S2O3 (hasil percobaan) + 10 mL Larutan
aquades
tidak
berwarna
+ 3 tetes larutan iod
2
Reaksi dengan asam
0,28 gr Na2S2O3 (hasil percobaan) + Larutan
2 mL aquades
tidak
berwarna
+ 10 tetes HCl
Larutan keruh, ketika
ditetesi asam timbul
endapan dan berbau
tengik.
G. ANALISIS DATA
Dikekatahui : M Na2SO3
= 25 gram
Mr Na2SO3
= 126 g/mol
M S8
= 4 gram
Mr S8
= 256 g/mol
V H2O
= 20 mL
Mr H2O
= 18 g/mol
M Na2S2O3 praktek
= 0,56 gram
Ditanyakan : % Rendemen Na2S2O3.5H2O
= ....?
Penyelesaian : 8Na2SO3 + S8 + 5H2O
8 Na2S2O3.5H2O
=
Mol Na2SO3
=
massa
Mr
25 gram
126 g/mol
= 0,198 mol
Mol S8
=
=
massa
4 gram
Mr
256 g/mol
= 0,015 mol
=
Mol H2O
=
massa
Mr
1 g/mL x 10 mL
18 g/mol
= 0,55 mol
Mol Na2S2O3.5H2O
= 8 x mol S8
= 8 x 0,015 mol
= 0,12 mol
Mol Na2S2O3 yang bereaksi = 8 x mol S8
= 8 x 0,015 mol
= 0,12 mol
Mol H2O yang bereaksi
= 5 x 0,015 mol
= 0,075 mol
8Na2SO3 + S8 + 5H2O
Mula-mula
: 0,198
Bereaksi
: 0,12
Sisa
: 0,078
0,015
0,55
0.015
-
8 Na2S2O3.5H2O
0,075
0,475
0,12
0,12
Berat teori Na2S2O3.5H2O = mol sisa x Mr
= 0,12 mol x 248 g/mol
= 34,08 g
% rendemen Na2S2O3.5H2O
=
=
Berat praktek
0,56 g
34,08 g
Berat teori
x 100%
x 100 %
= 1,64 %
H. PEMBAHASAN
Tujuan percobaan ini adalah untuk mempelajari cara pembuatan
natrium tiosulfat dan mempelajari sifat-sifatnya. Natrium tiosulfat
(Na2S2O3) merupakan jenis garam terhidrat, yang dimana garam
terhidrat merupakan garam yang terbentuk dari senyawa-senyawa
kimia yang dapat mengikat molekul-molekul air pada suhu kamar.
1. Pembuatan natrium tiosulfat 5-hidrat
Percobaan yang pertama ini yaitu pembuatan natrium
tiosulfat-5-anhidrat, dengan mereaksikan sulfur dalam bentuk S8 dan
natrium sulfit, yang dilarutkan dalam air. Natrium sulfit (Na2SO3) ini
merupakan bahan utama pembuatan natrium tiosulfat-5-anhidrat yang
nantinya jika berekasi dengan serbuk sulfur yang berfungsi sebagai
penyedia dan pendonor atom sulfur (S) sehingga akan membentuk
natrium tiosulfat-5-anhidrat (Na2S2O3.5H2O). Digunakannya sulfur
dalam bentuk S8 yaitu dengan tujuan apbila dalam reaksi
ditambahkan belerang dalam jumlah berlebih maka semua ion sulfit
akan membentuk ion S2O32-.
Hal yang pertama dilakukan yaitu menimbang kedua bahan
tersebut yaitu natrium sulfit anhydrous dengan serbuk belerang
dengan menggunakan neraca analitik. Neraca analitik digunakan
karena
kepekaan
dalam
menimbang
lebih
tinggi
sehingga
memperoleh hasil yang lebih akurat. kemudian kedua senyawa ini
direfluks dengan melarutkannya dengan menggunakan aquades
(H2O), larutan direfluks selama 1 jam.
Sebelum direfluks
ditambahkan dulu batu didih ke labu
bundar. Hal ini berfungsi untuk menjaga suhu dan tekanan didalam
labu bundar dapat terjaga dan stabil serta mengurangi letupan yang
timbul. Batu didih memiliki pori-pori yang besar sehingga dapat
menyengah letupan yang timpul. Batu didih dapat megurangi dan
menahan letupan karena batu didih dapat menangkap udara pada
letupan dan akan membawanya kepermukaan larutan.
Tujuan dari proses refluks yaitu untuk mereaksikan secara
sempurna seluruh bahan karena natrium tiosulfit dan belerang sangat
sukar bereaksi dan juga untuk memutuskan struktur molekul sulfur
yang membentuk cincin dengan 8 atom sehingga dapat bereaksi
dengan natrium sulfit. Cincin yang dibentuk sulfur sebagai berikut:
16S
= 1s2 2s2 2p6 3s2 3p4
Pembentukan garam tiosulfat berdasarkan reaksi yang terjadi
antara belerang dan sulfit yaitu:
SO32- + S → S2O32-
Bila dalam reaksi ditambahkan belerang dalam jumlah berlebih
maka semua ion sulfit akan membentuk ion S2O32-. Adapun prinsip
dasar dari refluks adalah pelarut volatil yang digunakan akan
menguap pada suhu tinggi, namun akan didinginkan oleh kondensor
hingga pelarut akan tetap ada selama reaksi berlangsung. Sedangkan
prinsip kerja dari refluks adalah pemanasan, penguapan, pendinginan
serta pengembuanan. Pada proses refluks menghasilkan larutan keruh
dan endapan kuning, hal ini menandakan bahwa sulfur telah bereaksi
dengan natrium sulfit yang ditandai dengan terbentuknya larutan
berwarna kuning atau endapan kuning. Larutan tersebut kemudian
disaring dalam keadaan panas. Fungsi dari penyaringan ini yaitu
untuk memisahkan filtrat dan residu dimana filtrat yang diperoleh
adalah berwarna bening dan residu berwarna putih kekuningan.
Penyaringan dilakukan pada keadaan panas agar mencegah
terbentuknya Kristal pada kertas saring. Filtrat ini merupakan hasil
reaksi antara Na2SO3, belerang dan air yaitu Na2SO3.5H2O.
Sementara endapannya merupakan bahan-bahan yang tidak bereaksi,
hal ini sesuai dengan teori bahwa belerang susah larut dalam air,
sehingga hanya sebagian yang bereaksi.
Selanjutnya adalah menguapkan filtrat yang telah diperoleh
sampai terbentuk kristal, yaitu dengan ditandai terbentuknya endapan
putih. Penguapan ini dilakukan untuk menguapkan sisa-sisa air, agar
mempermudah proses pengkristalan. Prinsip dasar kristalisasi adalah
pelepasan pelarut dari zat terlarutnya dalam sebuah campuran
homogen, sehingga terbentuk kristal dari zat terlarutnya karena suatu
larutan dalam kondisi lewat jenuh dimana pelarut sudah tidak mampu
melarutkan zat terlarutnya.
Hasil penguapan kemudian direndam dengan air dingin untuk
mempercepat proses terbentuk kristal, tujuannya agar dapat
mempercepat proses pengkristalan. Kristal lebih cepat terbentuk pada
suhu dingin karena pada suhu dingin, pergerakan molekul pada
larutan akan semakin lambat sehingga terjadi pembekuan yang
membentuk kristal.
Kemudian saring larutan tersebut untuk memisahkan filtrat
dengan kristal. Kristal yang diperoleh dikeringkan, fungsi dari
pengeringan adalah agar massa air yang masih terdapat pada Kristal
tidak mempengaruhi proses penimbangan.
Kristal kering ditimbang dan diperoleh kristal berwarna putih
sebanyak 0,56 gram dengan rendemen 1,64% yang artinya jika dari
100 gram hasil yang seharusnya maka hanya terdapat 0,56 gram hasil
yang diperoleh. Rendemen yang diperoleh jauh dari 100%, hal ini
dikarenakan pada proses pelarutan natrium sulfit dan sulfur dengan
aquadest kurang larut sehingga pada saat memindahkannya kedalam
labu bulat masih banyak bahan yang tertinggal dalam gelas kimia,
dan juga pada saat proses pendinginan, Kristal tidak terbentuk
seluruhnya. Adapun reaksi yang terjadi:
8Na2SO3(s) + S8(s) + 40H2O(l)
→
8 Na2S2O3.5H2O(s)
2. Mempelajari sifat-sifat kimia natrium tiosulfat
a. Reaksi dengan iod
Natrium tiosulfat memiliki sifat mereduksi. Salah satu
sifat kimia dari Natrium tiosulfat adalah berfungsi sebagai zat
pereduksi atau dapat mengalami oksidasi. Percobaan ini dilakukan
dengan
melarutkan
Kristal
natrium
tiosulfat-5-anhidrat
(Na2S2O3.5H2O) yang diperoleh dengan aquades (H2O) kemudian
ditambahkan dengan larutan I2 dalam KI, hasil yang diperoleh yaitu
larutan menjadi bening, hasil yang diperoleh sesuai dengan teori.
Warna bening yang dihasilkan adalah tanda bahwa terbentuknya
senyawa NaI. Pada perlakuan ini terjadi reaksi redoks. Reaksi
redoks adalah suatu reaksi dimana keadaan bilangan oksidasi
berubah dan disertai pertukaran elektron antara pereaksi. Dalam
halini I2 mengalami reduksi menjadi I- dan biloksnya mengalami
perubahan dari 0 menjadi -1.
Sedangkan 2S2O32- mengalami
oksidasi menjadi S4O62- , dan biloksnya meningkat dari -4 menjadi
-2. Dalm hal ini I2 sebagai oksidator sedangakan S2O32- bertindak
sebagai reduktor.
Adapun penyebab larutan menjadi bening karena ion
tiosulfat merupakan pengoksidator kuat sehingga dapat mereduksi
I2 menjadi I- yang menyebabkan larutan bening. Adapun reaksi
yang terjadi:
2Na2S2O3 (aq) + I2 (aq)
2NaI(aq) + Na2S4O6 (aq)
Oksidasi : 2 S2O3
S4O62- + 2e
Reduksi :
2I-
I2 + 2e
2S2O32- + I2
S4O62- + 2I-
Reaksi lengkap yaitu:
2Na2S2O3 + I2
Na2S4O6 + 2NaI
(Svehla, 1985: 325)
b. Pengaruh asam encer
Percobaan ini bertujuan untuk melihat pengaruh asam encer
terhadap natrium tiosulfat. Percobaan ini dilakukan dengan cara
yaitu,
melarutkan
kristal
natrium
tiosulfat-5-anhidrat
(Na2S2O3.5H2O) dengan beberapa mL aquades (H2O) dan hasil
yang diperoleh yaitu menghasilkan larutan bening. Selanjutnya
ditambah dengan asam klorida encer (HCl) menghasilkan larutan
bening serta menghasilkan bau tengik. Hal ini kurang tepat dengan
teori yang menyatakan bahwa natrium tiosulfat direaksikan dengan
asam encer akan menjadi keruh atau terdapat endapan putih
belerang karena terjadinya pemisahan belerang dan dalam larutan
terdapat asam sulfit. Bau yang dihasilkan pada saat natrium
tiosulfat jika direaksikan dengan HCl akan terbentuk gas SO2 yang
menjadikannya berbau sulfur. Reaksi yang terjadi:
Na2S2O3 (aq) + 2HCl (aq)
H2S2O3 (aq)
H2S2O3 (aq) + 2NaCl (aq)
SO2 (s)
+ S(g)
+ H2O(l)
(Svehla, 1985: 325)
I. KESIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan antara lain:
a. Kristal natrium tiosulfat-5-anhidrat (Na2S2O3.5H2O) dapat dibuat
dengan mereaksikan antara natrium sulfit (Na2SO3) dan belerang (S8)
beserta air (H2O). Berat kristal yang diperoleh adalah 0,56 gram
dengan % rendemen sebesar 1,64%
b. Sifat-sifat natrium tiosulfat:
1) Na2S2O3 dapat mereduksi iod atau iod dapat mengoksidasi Na2S2O3
membentuk Na2S4O6 yang tidak berwarna
2) Asam encer dapat mengurai Na2S2O3 menghasilkan endapan sulfur
dan membebaskan gas SO2 yang berbau tengik.
DAFTAR PUSTAKA
Day, R.A. dan A.L. Underwood. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelimia.
Jakarta: Erlangga.
Istiningrum, R.B., Priyadi., Sulfiah., dan Nafisah. 2017. Pemanfaatan Abu Sekam
Padi Untuk Pemurnian Bahan Baku dan Produk Biodiesel Dari Minyak
Jelantah. Jurnal Sains dan Teknologi. ISSN 2303-3142.
Pringgodigdo.1973. Ensiklopedia Umum. Yogyakarta:Kasinus.
Svehla, G. 1985. Analisis Kuantitatif Anorganik Makro Dan Semimikro. Jakarta:
Pt. Kalman Media Pustaka.
Ulfa, Ade Maria. 2015. Penetapan Kadar Klorin (Cl2) Pada Beras Menggunakan
Metode Iodometri. Jurnal Kesehatan Holistik, Vol. 9. No 4.
Wen, Jiming., Kaiyi shi.,Qiunan Sun., Zhongning Sun., dan Haifeng u. 2018.
Measurement for surfaec Tension Of Aqueous Inorganic Salt. Frontiers in
Energy Research, Vo. 6. No. 12.
Download