Uploaded by jonefun5

IV

advertisement
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek
Daerah operasi penangkapan untuk PT. Radios Apirja Sorong pada perairan sebelah
selatan Papua barat, yaitu operasi penangkapan dilakukan di area rumpon bagian selatan
Pulau Papua Barat, perairan Fak-fak, Karena memiliki potensi ikan khususnya ikan tuna dan
ikan cakalang yang besar yang identik dengan palung–palung dan pulau–pulau bawah air
yang menjadi potensi lestari ikan yang besar serta faktor lingkungan yang mendukung seperti
arus, dan suhu yang cocok untuk habitat tuna.
4.1.1 Keadaan Umum Perusahaan
Kota Sorong terletak pada propinsi Papua Barat merupakan pintu masuk Papua
mempunyai letak geografis antara 131º 15`BT dan 0º 54` LS dengan luas wilayah 1105 km².
Sesuai dengan letaknya di sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Makbon dan selat
Dampir, sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan Aimas dan kecamatan
Salawati Kabupaten Sorong. PT. RADIOS APIRJA SORONG merupakan salah satu
perusahaan di Sorong yang bergerak dalam bidang perikanan, khususnya dalam bidang
penangkapan dengan alat tangkap Pole and line. Sedangkan alamat kantor PT.RadiosApirja
Sorong tepatnya di Jl. Terumbu 1 KlalinDistrk Aimas Sorong Papua Barat. Kantor ini
merupakan basis operasi dari kapal-kapal milik yang bukan milik PT.RadiosApirja Sorong
dengan jumlah armada 4 buah kapal dengan alat tangkap Pole and Line.
Koperasi Moria Araminta (KMA) berdiri pada tanggal 12 November 2000 yang
kemudian pada tanggal 13 Februari 2001 KMA disahkan oleh menteri negara koperasi dan
pengusaha kecil dengan surat keputusan nomor 518/BH/139/II/2001.
KMA merupakan badan usaha koperasi serba usaha yang salah satu usaha pokoknya
adalah melaksanakan kegiatan usaha di bidang perikanan yaitu mengelola kapal-kapal
penangkapan dan mengakomodir nelayan-nelayan pencari ikan tuna/cakalang dan tengiri.
Saat ini KMA mengelola 4 kapal penangkap ikan tuna/cakalang dan bermitra dengan
PT. RadiosApirja yang mana PT. RadiosApirja Sorong untuk penyediaan bahan-bahan
operasional serta pemasaran hasil tangkapan.
4.1.2 Sarana dan Prasarana
Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di PT. RadiosApirja Sorong.
a. Alat angkutan, yaitu 1 buah Truck
b. Generator roomworkshop
15
c. Gudang penyimpanan
d. Ice Making
e. Pabrik Pengepakan
f. Tempat ibadah
g. Dermaga
h. Gudang penyimpanan ikan
i. Bengkel untuk Docking kapal
j. 1 Unit Alat Berat Berupa Crane
4.1.3 Armada
Armada penangkapan yang ada di PT. RadiosApirja Sorong seperti pada tabel
berikut ini :
Tabel 1. Armada Penangkapan
No
Kapal
GT
Merek
Kapasitas
Daya
1
Dioskuri 01 A
97
Yuchai
280
2
Dioskuri 03 A
97
Yuchai
280
3
Dioskuri 04 A
97
Yuchai
280
4
Dioskuri 06 A
97
Yuchai
280
Sumber.1: PT. RadiosApirja Sorong (2020)
Sumber : KM. Dioskuri 06a (2020)
4.1.4 Data Umum Kapal KM. Dioskuri 06a
Kapal pole and line KM. Dioskuri 06a ditunjukan pada gambar 1 adalah kapal pole
and line milik PT. RadiosApirja Sorong. Data umum KM. Dioskuri 06a dapat di lihat pada
gambar yang di bawah ini.
16
Gambar 1. KM. Dioskuri 06 A, (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020)
4.1.5 Data Spesifikasi Kapal KM. Dioskuri 06a
Data-data spesifikasi kapal yang digunakan sebagai tempat praktek oleh penulis adalah
sebagai berikut :
Tabel 2. Spesifikasi kapal KM. Dioskuri 06a
No
Data umum kapal KM. Dioskuri 06a
1
Nama kapal
KM. DIOSKURI 06A
2
Nama pemilik
PT. RADIOS APIRJA SORONG
3
Nama panggilan
DIOS 06
4
Bendera kebangsaan
Indonesia
5
Tanda selar
SORONG/GT.97 NO.1010/MMJ
6
Tonase kotor
97 GT
7
Tonase bersih
45 NT
8
Tahun pembuatan
2008
9
Bahan kapal
Fiber Glass
10
Bentuk dasar
V bottom
11
Jumlah daun baling-baling
3 buah
12
LOA
25,47 m
13
LBP
25,30 m
14
Lebar
5,60 m
15
Dalam (Draft)
2,75 m
17
16
Kapasitas FishHold
25 ton
17
Kapasitas Fuel Tank
147 ton
18
Kapasitas Fresh Water Tank
10 ton
19
Kapasitas Lubrication Oil
Tank
1,4 ton
20
Sistem alat tangkap
Pole and line
21
Sistem kemudi
Manual
22
Kecepatan maksimal kapal
5 Knot
4.1.6 Mesin Induk Pada KM. Dioskuri 06a
KM. Dioskuri 06a digerakan oleh mesin induk berupa motor diesel dengan daya 280
PK. Dari mesin induk diteruskan melalui gearbox untuk disesuaikan arah dan kecepatan
putarannya setelah itu diteruskan ke poros dan propeller. Main engine adalah mesin yang
dipergunakan untuk mengerakan kapal atau sebagai jenis penggerak utama pada kapal
tersebut.
Gambar 2. Mesin induk (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020)
18
4.1.7 Data Mesin Induk Pada KM. Dioskuri 06a
Tabel 3. Data mesin induk
No
Data Mesin Induk KM. Dioskuri 06a
1
Merk
YUCHAI
Tipe
YC6M320-20
2
3
No. Seri
M70C0D00012
4
Daya
280 PK
5
Putaran maksimal
1220 rpm
6
Jumlah silinder
6 Silinder
Bahan bakar
Solar
7
8
9
10
11
12
13
Jenis Minyak pelumas
Sistem star
Sistem pendinginan
Sistem pelumasan
Gear Box
SAE 15W – 40
AKI (Elektrik)
Tidak langsung
Manipol basah
PlaneteryGear G.M 7251 3,95-1
Serial Number
74E 1900
Spesifikasi mesin induk KM. Dioskuri 06a (2020)
4.1.8 Struktur Organisasi Kapal KM. DIOSKURI 06A
Kapal penangkap yang dimiliki PT. RADIOS APIRJA SORONG merupakan kapal
penangkap ikan yang mempunyai awak kapal tetap maksimal 21 orang. Sedangkan pada KM.
Dioskuri 06a awak kapalnya berjumlah 23 orang, Komposisi awak kapal terdiri dari seorang
Nahkoda, seorang KKM, serang/Pembantu KKM, seorang juru minyak, seorang kepala
kerja, seorang juru boy-boy, serta dua orang juru masak.
Pembagian jaga kemudi untuk ABK dilakukan secara bergantian setiap empat jam
sekali, yaitu empat jam jaga dan empat jam istirahat, selama kapal berjalan menuju
kedaerahfishinground (pukul 24.00-05.00 WIT ; pukul 10.00-14.00 WIT; pukul 20.00-04.00
WIT). Sedangkan untuk nakhoda, chep, KKM dan boy-boy (pelempar umpan), 8 jam kerja
dan 8 jam istirahat. seorang kepala kerja (serang). Struktur organisasi pada KM. Dioskuri 06a
menggunakan model garis (komando)
yaitu sistem organisasi
kewewenangan dan tanggung jawab mengikuti garis secara vertikal.
19
dimana tingkatan
Nahkoda
KKM
Chip Officer
Koki
Massinis
Boy-Boy
Oile Man
Pemacing
Gambar 3. Struktur Organisasi KM. Dioskuri 06a
(Sumber KM. Dioskuri 06a 2020)
Setiap awak buah kapal mempunyai tugas masing-masing di atas kapal, setiap awak
buah kapal harus melaksanakan tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab agar operasi
penangkapan dapat berjalan dengan lancar dan optimal. Untuk daftar nama anak buah kapal
KM. Dioskuri 06a dapat dilihat pada lampiran 1. Adapun tugas awak buah kapal antara lain:
1. Nakhoda
a. Memegang kekuasaan tertinggi di atas kapal dan bertanggung jawab kepada
perusahaan.
b. Memimpin dan bertanggung jawab terhadap kapal dan seluruh anak buah kapal dalam
melaksanakan operasi penangkapan.
c. Bertanggung jawab terhadap keselamatan, kegiatan di atas kapal, baik dalam
hubungan dengan pekerjaan atau pembagian kerja di atas kapal.
d. Memberi pengarahan penjelasan serta pembinaan kepada setiap anak buah kapal.
e. Menulis buku jurnal harian dek untuk setiap kegiatan di atas kapal.
f. Memberikan laporan kegiatan selama operasi penangkapan kepada perusahaan.
g. Memberikan nilai kondite kepada semua ABK dan melaporkan ke perusahaan.
2. KKM
a. Memegang kekuasaan tertinggi di kamar mesin, bertanggung jawab kepada nahkoda
terhadap seluruh kegiatan yang ada di kamar mesin.
b. Mengatur dan mengawasi kerja di ruang mesin.
20
c. Melakukan perawatan dan perbaikan mesin-mesin yang ada diatas kapal.
d. Mengontrol dan memeriksa keadaan semua mesin-mesin di atas kapal.
e. Memberikan nilai kondite kepada semua ABK bagian mesin dan melaporkannya ke
nahkoda.
3. Chep
a. Membantu pekerjaan nahkoda di atas kapal dan bertanggung jawab kepada nakhoda
dan pada saat jam jaganya menjadi perwira jaga.
b. Sebagai pengganti nahkoda apabila nakhoda ada halangan.
c. Menulis buku jurnal harian dek untuk setiap kesiatan yang ada di atas kapal.
d. Menjaga dan memimpin penangkapan pada waktu malam hari saat nakhoda istirahat.
e. Mengecek dan mencatat barang-barang yang ada di atas kapal, penggunaannya dan
melakukan order barang keperluan di atas kapal kepada perusahaan untuk trip
selanjutnya dengan sepengetahuan nakhoda.
4. Boy-Boy (Pengumpan)
a. Kepala pelaksana dalam operasi penangkapan dan bertanggung jawab kepada perwira
jaga.
b. Bertanggung jawab terhadap alat tangkap yang ada di atas kapal.
c. Mengkoordinir kerja saat melakukan operasi penangkapan dan memimpin regu kerja.
d. Bertanggung jawab terhadap penanganan dan mutu dari hasil tangkapan (Ikan).
e. Bertanggung jawab atas bongkar muat kapal.
f. Bertanggung jawab terhadap kebersihan deck.
5. Pemacing
a. Anak buah kapal atau pemacing bertanggung jawab dalam proses pemacingan di
mualai.
b. Setelah sampai pada fishingground maka pemacing bersiap-siap untuk melakukan
pemacingan.
c. Dimana pemacing tersebut dilakukan pertama kali dengan melemparkaan umpan
hidup.Kegiatanpemacing ini dilakukan begitu rupa yaitu dengan menjatuhkan pancing
ke atas permuakaan air dan bila disambar oleh ikan
d. Teknik pemacing dengan cara seperti ini biasa disebut dengan cara banting.
21
1. Masinis
a. Sebagai pembantu utama KKM dalam melaksanakan pekerjaan di kamar mesin dan
pada saat jam jaganya menjadi perwira jaga mesin.
b. Mengawasi dan melaporkan kejadian penting yang terjadi di dalam kamar mesin.
c. Ikut menjaga kelancaran kerja mesin kapal secara bersama-sama dengan KKM dan
melakukan perbaikan-perbaikan apabila terjadi kerusakan mesin.
d. Menulis jurnal harian mesin.
e. Melakukan pencatatan penggunaan sparepart yang digunakan di kamar mesin dan
melakukan order barang ke perusahaan untuk trip selanjutnya dengan sepengetahuan
dari KKM.
f. Bersama-sama membantu serang pada saat operasi penangkapan berlangsung.
2. Oil Man
a. Membantu segala kegiatan yang dilakukan KKM maupun masinis dalam
melaksanakan tugasnya.
b. Melakukan perawatan mesin-mesin yang ada di atas kapal.
c. Malakukan perbaikan-perbaikan pada mesin atau alat-alat yang rusak
d. Mengecek keadaan tangki bahan bakar (sounding), tangki harian, tangki oli, tangki air
tawar dan menjurnal harian di kamar mesin.
e. Membersihkan ruang kamar mesin, mengecek dan mencatat kerusakan yang terjadi
pada saat mesin beroperasi.
f. Bertanggung jawab kepada KKM atas kelengkapan dan kesiapan alat-alat mesin yang
akan digunakan.
3. Koki
a. Bertanggung jawab terhadap persediaan bahan makanan yang ada di atas kapal selama
melaksanakan operasi penangkapan.
b. Mengatur pembagian makanan kepada seluruh awak buah kapal.
c. Mengatur sebaik mungkin persediaan bahan makanan selama melakukan operasi
penangkapan.
d. Bertanggung jawab terhadap kebersian dapur dan alat-alat dapur.
e. Menulis order kebutuhan alat masak dan bahan makanan yang diperlukan untuk trip
berikutnya.
22
4.1.9 Pengaturan Penjagaan di Kamar Mesin
Pengaturan penjagaan kamar mesin merupakan salah satu tanggung jawab KKM dari
segi pegelolaan kamar mesin. Penjagaan kamar mesin diatur sedemikian rupa dalam waktu
tertentu yang bertujuan untuk memilihara inventaris kamar mesin secara keseluruhan agar
operasional mesin bisa berjalan dengan lancar.
Adapun pengaturan penjagaan kamar mesin pada KM. Dioskuri 06a dilakukan dengan
cara di bagi menjadi dua regu. Satu regu kerja terdiri dari dua orang. Kelompok kerja tersebut
bertanggung jawab penuh terhadap komponen mesin selama 4 jam. Sedangkan KKM
bertugas sebagai pengontrol dan bertanggung jawab atas kerja dari ABK mesin selama 24
jam.
4.1.10 Daftar Awak Kapal KM. Dioskuri 06 A
Awak kapal KM. Dioskuri 06a terdiri dari 23 orang yang terdiri dari 2 orang awak
nautika, 2 orang awak teknika, 2 orang awak boy-boy (Pengumpan), 13 orang awak
pemancing, 3 orang awak taruna praktek, dan 1 orang awak koki.
Untuk lebih jelasnya mengenai daftar awak Kapal KM. Dioskuri 06a beserta
kepemilikan sertifikat ahli dan jabatannya di kapal dapat dilihat pada Tabel.
Tabel 4. Sertifikat ahli dan jabatan yang dimiliki awak kapal KM. Dioskuri 06a
No
Nama
Jabatan
Sertifikat
Ahli
1
Ferdi Waromi
Nakhoda
ANKAPIN III
BST
11.2022
2
Irwan R. Taghupia
KKM
ATKAPIN III
BST
11.2022
3
Agapitus Biweng
Juru Mudi
BST
BST
5.2022
4
Irwan Dahlan
Juru Minyak
BST
BST
5.2022
5
Johanis Waromi
Boy-boy 1
_
_
_
6
Feri Kasiu
Boy-boy 2
_
_
_
7
Steven Kuera
Pemancing
_
_
_
8
Bartolomius
Rumboby
Pemancing
_
_
_
9
Agus Tumipa
Pemancing
_
_
_
10
Vikly S. Tumipa
Pemancing
_
_
_
23
Sertifikat
Berakhir
Keselamatan Tanggal
11
Herman Agia
Pemancing
_
_
_
12
Paulus Esue
Pemancing
_
_
_
13
Roni R. Wukaje
Pemancing
_
_
_
14
Yohanis Saleo
Pemancing
_
_
_
15
Riko Y. Simanjuntak
Pemancing
_
_
_
16
Yusuf Turay
Pemancing
_
_
_
17
Christian Tompunu
Pemancing
_
_
_
18
Matias Dimara
Pemancing
_
_
_
19
Hendrik Waromi
Pemancing
_
_
_
20
Daniel I. Panjaitan
Praktek
_
_
_
21
Jhosua R.R. Ginuni
Praktek
_
_
_
22
Jon Efun
Praktek
_
_
_
23
Deki Kapisa
koki
_
_
_
Sumber : Kapal KM. Dioskuri 06 A
4.1.11 Pekerjaan Yang Di Lakukan Di KM. Dioskuri 06 A
Pekerjaan yang di lakukan di KM. Dioskuri 06a yaitu sebagai berikut:
1. Persiapan kapal berlayar
Persiapan yang dilakukan pada saat berada di fishing base pengisihan bahan bakar, air
tawar, bahan makanan, pengisihan es balok dan umpan, sebagai berikut:
a. Pengisian bahan bakar
Pengisian bahan bakar yang di lakukan di KM. Dioskuri 06a yaitu bahan bakar di
bawa kemudian di salurkan ke tanki bahan bakar dengan menggunakan selang akan
tetapi selang yang digunakan agak sedikit pendek hal tersebut membuat tumpahan
minyak bahan bakar di lantai kapal sehingga membuat kondisi lantai kapal licin.
Kondisi tersebut mengganggu pekerja saat berlalulalang di atas kapal terutama
saat pengisisan bahan bakar sedang berlangsung sehingga pekerja di kapal harus lebih
berhati hati karena kondisi lantai yang licin dapat menyebabkan pekerja terpeleset dan
jatuh. Risiko yang diakibatkan ketika ABK terjatuh adalah terkilir hingga luka lainnya
apabila terbentur benda keras.
24
Kecelakaan yang terjadi karena kuranggnya kepedulian dan kelalaian ABK kapal
sehingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja yaitu seperti terpeleset karena
tumpahan minyak. untuk mencegah kecelakaan tersebut alat keselamatan yang harus
digunakan yaitu alat pelindung kaki atau sepatu boots untuk menghindari licinnya
tumpahan minyak.
Gambar 4. Pengisian bahan bakar (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020)
b. Pengisian air tawar
Pengisian air tawar yang di lakukan di KM. Dioskuri 06a yaitu air tawar di bawa
kemudian di salurkan ke palka air tawar dengan menggunakan selang yang agak
sedikit panjang hal tersebut tidak membuat tumpahan air tawar. Alat keselamatan
yang digunakan yaitu alat pelindung kepala yaitu helem dan menggunakan sepatu
biasa, seperti gambar dibawah ini.
Gambar 5. Pengisian air tawar (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020)
c. Pemuatan bahan makanan
Pemuatan bahan makanan di lakukan di KM. Dioskuri 06 a, proses pemuatan bahan
makan terlebih dahulu melalukan pengecekan hal tersebut di lakukan supaya bahan
25
makan yang di butukan di kapal kurang atau ketinggal bisa di minta lagi, seperti
gambar di bawah ini.
Gambar 6. Pemuatan bahan makanan (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020)
d. Pengisian es balok
Proses pengisian es balok ke dalam palka yaitu es balok di bawa menggunakan
tempat pelucuran es balok kemudian dimasukankedalam palka. Pada saat Pengisian es
balok ke dalam palka tidak ada jembatan penyangga untuk memudahkan akses
pemindahan es balok dari dermaga ke dalam palka kapal Sehingga hal tersebut dapat
menimbulkan kecelakaan kerja yang fatal seperti tertimpa es balok dan terjatuh ke
laut oleh karena itu pembongkaranpun perlu ekstra hati-hati karena mencegah terjatuh
ke laut dan tergelincirnya es balok. Untuk mencegah kecelakaan terjadi ABK di
haruskan menggunakan alat keselamatan kerja yaitu kaos tangan karet dan sepatu
boots pada saat pengisian es balok. Di KM. Dioskuri 06a ada kepedulian dari ABK
kapal untuk menggunakan alat keselamatan kerja seperti sarung tangan dan sepatu
boot.
Gambar 7. Pengisian es balok (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020)
26
e. Umpan
Pada saat proses pemuatan umpan di KM. Dioskuri 06a dilakukan pada malam
hari sekitar jam 12:00, pemuatan umpan atau pengambilan umpan di timbah
mengunakan sibu-sibu kemudian umpan di masukan ke ember lalu masukan lagi ke
bak umpan. Pemuatan umpan di lakukan dari bagan yang satu ke bagan yang lain
selesai muat umpan lanjut ke daerah fisin groud atau daerah pemacingan, seperti
gambar di bawah ini.
Gambar 8. Pemuatan umpan (Sumber. KM. Dioskuri 06 a, 2020)
2. Kapal berlayar
Pada saat kapal berlayar hal yang dilakukan di KM. Dioskuri 06 a, mengoperasikan
mesin, persiapan alat tangkap, proses penangkapan ikan, proses penyusunan ikan,
proses bembekuan atau pendinginan ikan, dan merapikan alat tangkap, sebagai berikut:
a. Mengoperasikan mesin
Mengoperasikan mesin pada saat kapal berlayar hal yang di lakukan pemanasan
atau percobaan mesin, agar mesin tidak mengalami gangguan pada saat kapal berlayar
persiapan yang di lakukan, membersikan kamar mesin, hal yang perlu disiapkan saat
kapal bergerak, checklistengine, warmingupengine, trial engine atau percobaan mesin,
standby (tunggu perintah dari anjungan), dan runningup atau fullaway.
b. Persiapan alat tangkap
Persiapan alat tangkap pada saat kapal berlayar yang di persiapakan yaitu, joran
(bambu), tali pancing, dan mata pancing, persiapan di lakuakan agar supaya tidak
sibuk mempersiapkan alat tangkap lagi pada saat berada di daerah penangkapan.
27
c. Proses penangkapan ikan
Proses penangkapan ikan pada saat beradah di daerah penangkapan atau rumpon
semua pemacing berada di depan dan pinggir kapal bersiap untuk mancing atau
penangkapan, pada saat penangkapan boy-boy mulai melempar umpan.
Gambar 9. Proses penangkapan ikan (Sumber. KM. Dioskuri 06 a, 2020)
d. Proses penyusunan ikan
Proses penyusunan ikan pada saat selasai penangkapan kemudian ikan di siram
dengan air sebelum ikan di masukan ke dalam palka, palka diisi dulu dengan es balok
kemudian penyusunan ikan di mulai.
e. Proses bembekuan atau pendinginan ikan
Proses pembekuan atau pendinginan ikan di lakukan pada saat selesai
penyusunan, pembekuan atau pendinginan ikan menambahkan es balok di atas ikan
sekitar 15 cm, sekitar dua hari es balok mulai cair mulai penambahan es balok supaya
ikan awet dan tidak busuk.
Gambar 10. Pembekuan/pendinginan ikan (Sumber. KM. Dioskuri 06 a, 2020)
28
f. Merapikan alat tangkap
Merapikan alat tangkap pada saat selesai penyusunan ikan, mulai pembersiahan
atau mencuci alat tangkap dan merapikan kembali alat tangkap dan di simpan pada
tempatnya.
3. Kapal kembali
Pada saat kapal kembali yang dilakukan di KM. Dioskuri 06 a, bongkar muat dan beresberes kapal, sebagai berikut:
a. Bongkar muat
Bongkar muat di lakukan pada saat kapal kembali hal yang dilakukan yaitu ikan
diangkat dari dalam palka dengan menggunakan keranjang timbah dan di letakan ke
dalam wadah atau keranjang kemudian di angkat ke dalam tempat pelucuran ikan.
Saat proses pembongkaran ikan berlangsung para pekerja menggunakan alat
keselamatan kerja seperti sarung tangan dan sepatu boats, hal tersebut dapat
mengakibatkan pekerja bisa terlincin terjatuh ke laut karena salah menginjakan kaki
dan juga pekerja bisa terjatuh tertimpa keranjang tempat untuk mengangkat ikan.
Hanyalah taruna praktik dan satu orang ABK saja yang turun ke dalam palka
untuk membongkar ikan sedangkan ABK lainnya hanya menggunakan sarung tangan
saja alasannya karena sepatu boats yang terbatas.
Gambar 11.Bongkar muat (Sumber. KM. Dioskuri 06 a, 2020)
b. Beres-beres kapal
Beres-beres kapal pada saat selesai pembongkaran ikan hal yang di lakukan yaitu
pembersihan kapal dan pembersihan alat pembongkaran ikan kemudian rapikan
kembali atau beres-beres di dalam kapal.
29
4.2 Alat Keselamatan Kerja Di KM. Dioskuri 06A
Keselamatan kerja yaitu proritas paling utama oleh pelaut saat bekerja di kapal, untuk
mencapai tujuan tersebut kapal perikanan seperti KM. Dioskuri 06a harus di lengkapi dengan
alat-alat keselamatan kerja. Alat keselamatan harus di pakai sesuai dengan tingkat bahaya
serta risiko dari pekerjaan, untuk menjaga keselamatan saat bekerja di atas kapal.
Departemen Perhubungan (2002), menyatakan kecelakaan kapal penangkap ikan terus
meningkat dalam kurung waktu 10 tahun terakhir ini terutama ketika menghadapi gelombang
laut yang tinggi. Kapal penangkap ikan seperti KM. Dioskuri 06a ukuran 97 GT sangat
sensitif ketika berlayar pada kondisi laut yang bergelombang. Kecelakaan kerja yang terjadi
karena cuaca buruk dan kuranggnya kesadaran awak kapal. Untuk mencapai kesehatan dan
keselamatan kerja pemerintah telah membuat Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan
kesehatan dan keselamatan kerja di kapal antara lain sebagai berikut:
1. UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja.
2. SOLAS 1974 beserta amandemen-amandemennya tentang persyaratan keselamatan
kapal.
3. STCW 1978 amandemen 1995 tentang standar pelatihan bagi para pelaut.
4. ISM Code tentang code manajemen internasional untuk keselamatan pengoperasian
kapal dan pencegahan pencemaran.
5. OccupationalHealth tahun 1950 tentang usaha kesehatan kerja.
Untuk menjaga terjadinya kecelakaan kerja di atas kapal, ada beberapa alat
keselamatan yang di pakai di KM. Dioskuri 06a yaitu alat pelindung kepala (helmet), alat
pelindung tangan (sarung tangan), alat pelindung kaki, baju pelampung (lifejacket),
pelampung penolong (lifebouy). Macam-macam alat keselamatan kerja di KM. Dioskuri 06a
adalah sebagai berikut:
Tabel 5. Alat-alat keselamatan kerja di kapal KM. Dioskuri 06a
No. Nama
Jumlah Lokasi
Kondisi
Tahun
1
Helmet
7
Dek/bris Baik
2018
2
Sarung tangan
40
Dek/bris Baik
2020
3
Sepatu karet (bot)
7
Kamar
mesin
2018/2019
30
Baik
4
Baju pelampung (lifejacket)
14
Dek/bris Baik
2018
5
Pelampung
(lifebouy)
4
Dek/bris Baik
2018
6
Rakit penolong (liferafl)
1
Dek/bris Baik
2017/2020
7
Pemadam kebakaran
4
Ruang
ABK,
kamar
mesin
2017
penolong
Baik
Sumber : KM. Dioskuri 06 A, 2020
4.2.1 Helmet
Helmet atau pelindung kepala yang di gunakan di KM. Dioskuri 06a memiliki 7 buah
helem layak di pakai dan terbuat dari bahan pelastik keras dan di lengkapi dengan tali-tali
penahan (cradle) di dalamnya yang dapat disetel untuk menahan helmet agar terpasang
dengan baik di kepala. Dan tali pengikat dagu (chin-strap) yang sesuai untuk menahan agar
helmet tidak terjatuh. Helmet banyak digunakan pada saat mancing ikan untuk melindungi
kepala karena ikan yang di angkat jatuh mengenai kepala dan bekerja di kamar mesin untuk
melindungi kepala dari bahaya seperti kejatuhan benda ataupun paparan bahaya arus listrik
karena di kamar mesin KM. Dioskuri 06a sangat kecil dan kurang pencahayaan.
Gambar 12. Helmet (Sumber: KM. Dioskuri 06a. 2020)
31
4.2.2 Sarung Tangan
Alat pelindung tangan atau sarung tangan yang di pakai di KM. Dioskuri 06a ada dua
jenis yaitu, sarung tangan karet dan sarung tangan kain masing-masing tersedia 40 unit.
Sarung tangan adalah alat pelindung yang di gunakan untuk melindung tangan dari
situasi yang bisa mengakibatkan cedera tangan seperti tergores atau luka akibat sentuhan
dengan benda runcing tajam pada saat proses penampungan,dan pembongkaran ikan di KM.
Dioskuri 06a, sarung tangan yang digunakan untuk penanganan dan pembongkaran ikan
cukup memadai yaitu berjumlah 40 unit layak di pakai dan dibagi oleh ABK saat bekerja
masing-masing satu pasang.
Gambar 13. Sarung Tangan (Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020)
4.2.3 Sepatu Karet (boots)
Sepatu pelindung yang di pakai di KM. Dioskuri 06a, adalah alat pelindung yang
terbuat dari bahan karet yaitu sepatu boots cuman hanya tersedia 7 unit, yang berfungsi
melindungi kaki dari tertimpa benda berat ataupun benda tajam, cairan kimia, benda panas
dan aliran listrik saat bekerja di atas kapal.
Di KM. Dioskuri 06a sepatu karet atau boots di gunakan pada saat melakukan
penampungan dan pembongkaran ikan untuk melindungi kaki dari tertimpa benda berat, dan
dinginnya es balok didalam palka pada saat proses penampungan dan pembongkaran ikan di
kapal KM. Dioskuri 06a.
32
Gambar 14. Sepatu Karet (boot) (Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020)
4.2.4 Baju Pelampung (lifejacket)
Baju pelampung atau lifejacket berbentuk seperti rompi dengan warna yang cerah
supaya mudah di lihat. Life jacket di KM. Dioskuri 06a digunakan oleh ABK kapal ketika
terjadi kecelakaan kapal, Di KM. Dioskuri 06a lifejacket di beli pada tahun 2008 dan
disediakan sebanyak 14 unit, semua lifejacket tersebut disimpan di ruang bridge dan di
berikan kepada para ABK ketika kondisi darurat kapal akan tenggelam yang disebabkan oleh
kecerobohan manusia atau kondisi alam seperti cuaca kurang bersahabat, gelombang yang
cukup besar yang berpontensi menyebabkan kapal tenggelam.
Gambar 15. Baju Pelampung (lifejacket) (Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020)
33
4.2.5 Pelampung Penolong (lifebouy)
Life bouy atau pelampung penolong di KM. Dioskuri 06a terbuat dari bahan gabus
padat yang berbentuk cincin dengan warna yang mencolok. Pada keempat tempat diberi ban
kain yang menjadi ikatan bagi tali pegangan yang terbuat dari tali manila ataupun nylon. Di
KM. Dioskuri 06a penyediaan lifebouy kurang memadai yaitu berjumlah 4 unit atau empat
buah lifebouy akan tetapi lifebouy yang jarang di gunakan..
kegunaanya hampir sama dengan lifejacket yaitu digunakan apabila terjadi kecelakaan
tenggelam atau terjatuh ke laut pada saat penampungan ikan di laut. Di KM. Dioskuri 06a
lifebouy di tempatkan tepatnya berada di bagian depan dan di belakang kapal.
Gambar 16. Pelampung Penolong (lifebouy) (Sumber: KM. Dioskuri 06a,2020)
4.2.6 Rakit Penolong (liferafl)
Life rafl atau rakit penolong di KM. Dioskuri 06a berbentuk seperti kapsul dengan
kemampuan besar di perlengkapi tali pembuka yang panjang. Pemakaiannay lewat cara
automatis menggembung. Di dalamnya ada peralatan keselamatan jiwa seprti makanan,
minuman, dan obat-obatan kemampuan rakit bisa mengangkut sampai 25 orang.
Life rafl digunakan apabila terjadi kecelakan kapal tengelam atau terbakar di laut
pada saat penampungan ikan di laut. Di KM. Dioskuri 06a liferafl di tempatkan tepatnya
berada di bagian brist.
34
Gamabr 17. Rakit penolong (liferafl) (Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020)
4.2.7 Alat Pemadam Kebakaran (drychemical)
Alat pemadam kebakaran disediakan di kapal KM. Dioskuri 06a yaitu 4 unit alat
pemadam kebakaran dan layak digunakan yang di pasangkan bagian area mudah terbakar
seperti, dapur, kamar mesin atas dan bawah, dan kamar ABK. Alat pemadam kebakaran
adalah suatu alat memadamkan kebakaran besar atau kecil yang terjadi di atas kapal.
Alat pemadam kebakaran Bahan yang berasal dari powder kering atau drychemical.
Bahan dari powder kering dan drychemical digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas
A, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Cara pemadaman
kebakaran dengan menggunakan media pemadam dari tepung kimia.
Gambar 18. Alat pemadam kebakaran (drychemical)(Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020)
4.3 Penerapan Alat keselamatan Kerja Pada KM. Dioskuri 06a
Pekerjaan pada kapal penangkap ikan merupakan pekerjaan yang dikenal dengan
istilah D3 (Dirt, Difficult, Dan Gerous) yaitu kotor, sulit dan berbahaya, pekerjaan tersebut
termasuk di KM. Dioskuri 06a, di tambah ukuran kapal yang relatif kecil, berlayar pada
gelombang tinggi dengan kondisi cuaca tidak menentu sehingga dapat meningkatkan tingkat
kecelakaan pada kapal KM. Dioskuri 06a. Maka di haruskan setiap kapal penangkap ikan
35
harus menyediakan alat keselamatan kerja yang berstandar IMO (International Maritime
Organization).
Penggunaan alat-alat keselamatan kerja di KM. Dioskuri 06a merupakan salah satu
usaha untuk mencegah atau mengurangi adanya kecelakaan pada saat bekerja. Oleh karena
itu diharapkan seluruh awak kapal atau ABK yang bekerja di kapal agar selalu menggunakan
alat-alat keselamatan pada saat kerja di dek maupun kamar mesin guna menghindri hal-hal
yang tidak di inginkan seperti kecelakaan saat bekerja.
Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di kapal penampung perikanan KM.
Dioskuri 06a. Ketersediaan alat keselamatan kerja ini juga akan dibandingkan dengan
ketentuan sesuai SOLAS, data pemeliharaan dan perawatan alat keselamatan kerja akan
diuraikan secara deskriptif.
Alat pelindung diri ini sudah seharusnya digunakan oleh seluruh pekerja dalam
kaitannya sebagai tindakan preventif dari potensi terjadinya kecelakaan kerja. Alat pelindung
diri ini juga harus memenuhi standar teknis yang ditentukan oleh pemerintah. Secara garis
besar, penggunaan alat pelindung diri ini tidak dapat melindungi tubuh secara sempurna, akan
tetapi penggunaan alat pelindung diri ini lebih ditujukan kepada tindakan preventif terjadinya
kecelakaan kerja dan dapat meminimalisasi keluhan kecelakaan atau peyakit yang berpotensi
terjadi.
Alat pelindung diri ini memiliki beberapa kelemahan seperti:
a. Kemampuan perlindungan yang tidak sempura.
b. Tenaga kerja tidak merasa nyaman karena ukuran yang terkadang tidak sesuai.
c. Komunikasi terganggu.
Terlihat pada Tabel 5 bahwa alat-alat keselamatan kerja yaitu helmet di KM. Dioskuri
06a memiliki 7 buah helem layak di pakai, helmet di siapkan untuk awak kapal yang
berjumlah 7 orang yaitu ABK yang berjumlah 4 orang, Nahkoda, KKM, dan Masinis masingmasing 1 buah helmet untuk di gunakan akan tetapi yang dipakai cuman 2 helem untuk
pekerjaan di kamar mesin sedangkan 1 buah helem rusak kerena tidak dirawat dengan baik.
Pekerjaan yang sering di lakukan di atas kapal adalah kegiatan memancing atau
penangkapan ikan, bongkar muat ikan dan es. Ketika melakukan kegiatan penangkapan ikan,
alat keselamatan tidak di gunakan dengan baik, terlihat seperti pada foto nelayan pemacing
tidak menggunakan alat keselamatan life jacket, safety helmet dan sepatu boat. Berdasarkan
hasil pengamatan dan wawancara dengan ABK mengapa tidak menggunakan alat
keselamatan berupa life jacket dan safety helmet adalah karena jumlah life jacket tersedia di
kapal sebanyak 14 unit dan merasa percaya diri saat memancing tidak tercebur ke laut karena
sudah biasa atau terampilan dan kurang leluasa dalam bergerak, begitu juga dalam
penggunaan safety helmet.
Pada saat melakukan pekerjaan bongkar muat ikan dan es, ABK yang bertugas
seluruhnya menggunakan APD berupa sarung tangan karet, sarung tangan kain. Sarung
36
tangan karet digunakan pada saat bongkar ikan dan es balok di dalam palka agar tangan tidak
cepat dingin, sedangkan sarung tangan kain digunakan pada saat mengangkat ikan agar
tangan tidak licin atau terkena tulang ikan pada saat masukan ikan ke dalam palka dan
bongkar ikan. Dalam hal ini ABK peduli karena menerima dampak langsung yaitu rasa
dingin apabila tidak menggunakan sarung tangan karet ketika memindakan es, dan bahaya
luka karena sirip ikan dan duri ikan apabila tidak menggunakan sarung tangan kain ketika
memindahkan ikan. Pada pekerjaan bidang ini tidak seluruhnya ABK menggunakan sepatu
boat, karena jumlah sepatu boat belum mencukupi untuk semua ABK, sepatu boat yang
tersedia di kapal sebanyak jumlah 7 unit saja.
Apabila di lihat dari pengalaman pelatihan, seluruh ABK pemacing belum mengikuti
sertifikasi pelatihan keselamatan dasar (BST) dan kepedulian keselamatan kerja (SAT) hal ini
mengakibatkan pemacing belum memiliki kepedulian dan kesadaran tentang keselamatan
bekerja di laut. Peralatan pelampung life jacket seluruhnya secara visual terlihat layak dan
tidak dalam kondisi rusak life jacket hanya digunakan saat kapal dalam kondisi emergensi
dan tersedia di kapal sebanyak 14 unit, begitu juga dengan life bouy tersedia di kapal 4 unit,
life rafl atau rakit penolong di KM. Dioskuri 06a berbentuk seperti kapsul dengan
kemampuan besar di perlengkapi tali pembuka yang panjang disedikan sebanyak 1 unit.
Berdasarkan label identitas, life rafl mampu menampung 25 orang dan dalam kondisi
terkendali, tidak dalam kondisi kadaluarsa dan siap digunakan apabila terjadi kondisi darurat
(kapal tengelam). Berdasarkan literatur di dalam life rafl dapat peralatan keselamatan diri
seperti makanan, minuman, dan obat-obatan kemampuan rakit bisa mengangkut.
Di KM. Dioskuri 06a life rafl di tempatkan tepatnya berada di bagian brist. Alat
pemadam kebakaran disediakan di kapal KM. Dioskuri 06a yaitu 4 unit alat pemadam
kebakaran dan layak digunakan yang di pasangkan bagian area mudah terbakar seperti, dapur,
kamar mesin atas dan bawah, dan kamar ABK, digunakan untuk memadamkan kebakaran
kelas A, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Cara
pemadaman kebakaran dengan menggunakan media pemadam dari tepung kimia.
Pemeliharaan keselamatan kerja dikapal dilakukan pemeliharaan berkala maupun
diservis sesuai kerusakan akan diperiksa setahun sekali. Pemeliharaan peralatan ini dilakukan
terutama pada alat-alat keselamatan utama di KM. Dioskuri 06a. Pekerjaan pemeliharaan
dilakukan langsung di atas kapal maupun melalui agen yang akan diperbaiki ditempat servis
sesuai dengan perusahaan pembuat peralatan.
Berdasarkan pada Tabel 5 terlihat bahwa jenis alat keselamatan kerja belum semua
tersedia di KM. Dioskuri 06a. Peralatan pelampung seperti life bouy semua yang tersedia,.
Helmet dan sepatu keselamatan (safety shoes) sepatu boat semua tersedia, sarung tangan
karet dan sarung tangan kain tersedia di kapal KM. Dioskuri 06a. Jika dibandingkan syarat
37
minimum yang diatur dalam SOLAS, maka pada peralatan pelampung yaitu life bouy dan life
jacket harus tersedia di kapal dengan presentase 105 % dari jumlah ABK di kapal.
Peralatan keselamatan kerja yang tersedia di kapal KM. Dioskuri 06a jika
dibandingkan dengan persyaratan SOLAS, maka dapat dikatakan belum memenuhi
persyaratan atau belum tersedia di kapal.
4.4 Kejadian Kecelakaan Kerja Yang Pernah Terjadi Di KM. Dioskuri 06 A
Tabel 6. Kejadian kecelakaan kerja di KM. Dioskuri 06a
No
Kecelakaan
Lokasi
1
Tangan
coldstorage
tertimpa
es
balok
atau
terkilir
Tindakan
Kondisi tidak Dampak
tidak aman aman
Tahun
Dilucurkan
ditempatpel
ucur
es
balok
terlalu licin
dan
kencang
(ini
merupakan
kondisi
tidak aman)
Papan luncur Terkilir
tidak
ada
pembatas
(pagar) agar es
tidak
jatuh
menimpa
pekerja
2020
Alat membawa Luka-luka
ikan
masih berpotensi
tradisional,
infeksi
belum
menggunakan
conveyor
2020
Pekerjaan
tidak aman
adalah
bekerja
sambil
bergurau
2
Tangan
Kapal
tertusuk sisik
atau
tulang
ikan
Membawa
ikan
ke
palka
dengan
posisi ikan
tidak rapi
dan tidak
menggunak
an sarung
tangan
38
No
Kecelakaan
Lokasi
Tindakan
Kondisi tidak Dampak
tidak aman aman
Tahun
3
Terpeleset
saat
pembokaran
ikan
Kapal
Membawa
ikan
ditempatpel
ucuran ke
perusahaan
kurang hatihati
dan
memburu
waktu
2020
Tidak
Terkilir,
menggunakan luka dalam
sepatu
boot,
dan jalan liscin
Sumber : KM. Dioskuri 06 A, 2020
39
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dengan melakukan identifikasi, maka penulis melakukan kesimpulan bahwa
kecelakaan kerja dapat terjadi karena disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Kurangnya penggunaan alat-alat keselamatan kerja di atas kapal yaitu alat pelindung
kepala, sarung tangan, alat pelindung kaki, pakaian pelindung, dan baju pelampung.
karena alat keselamatan kerja yang tidak tersedia dan tidak layak untuk di pakai.
2. Kurangnya pengenalan prosedur kerja dan pemanfaatan alat keselamatan kerja di atas
kapal karena kurangnya kepedulian untuk memakai alat keselamatan kerja sehingga
menyebabkan kecelakaan kerja di atas kapal.
5.2 Saran
Berdasarkan pengamatan langsung selama pelaksanaan KPA, maka saran yang dapat
diberikan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja di atas kapal sebagai berikut :
1. Perusahaan mengikutkan ABK untuk mengikuti pelatihan BST dan SAT.
2. Perusahaan melengkapi alat keselamatan di atas atas kapal yang memadai.
3. Perusahaan membuat sosialisasi keselamatan dengan safety sign seperti utamakan
keselamatan kerja, penggunaan APD.
4. Nakhoda mengingatkan kepada ABK yang tidak peduli dengan keselamatan.
5. Perusahaan melengkapi asuransi tenaga kerja sebagai jaminan untuk mengurangi
dampak dari risiko kecelakaan kerja.
6. Di atas kapal hendaknya dapat meningkatkan kepedulian dalam penggunaan alat-alat
keselamatan kerja kepada ABK agar ABK dapat selalu menggunakan alat-alat
keselamatan kerja saat bekerja di kapal dengan mewajibkan ABK mengikuti pelatihan
BST dan SAT.
7. Nahkoda memberikan pengarahan tentang pentingnya alat-lat keselamatan kerja dan
memberikan panduan atau arahan kepada ABK tentang alat-alat keselamatan kerja.
8. Mualim harus selalu mengingatkan ABK di atas kapal tentang pentingnya
penggunaan alat-alat keselamatan kerja serta pengenalan tentang prosedur kerja di
atas kapal yang benar agar ABK peduli dalam penggunaan alat keselamatan kerja.
40
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous, 2011. BasicSafetyTraning. Diklat Khusus perkapalan Akademi Perikanan
Bitung.Bitung.266 hal.
Cahyono. 2004,Alat Keselamatan diatas Kapal,
http://sepatusafetybootid.blogspot.com//2017/02/beragam-alat-keselamatan-diataskapal.html?m=1
C. H. Wright. (2002). Survivalat Sea ;Brown, Son, &Ferguson LTD, Glasgow International
Maritime Organisation. (1974). Safety of Life at Sea consulatededition 2002,
International Maritime Organisation London.
Daryanto. (2010). Keselamatan Kerja Peralatan Bengkel Dan Perawatan. Penerbit Alfa
Beta.
Fajar, 1995 Macam–macam Alat Keselamatan diatas Kapal,
http://pelayarannautika.blogspot.com/2011/05/macam-macam-alat-keselamatandiatas.html/m=1
Jasman, T. (2015). Aspek Keselamatan Kerja Kapal Purse Seine di Tempat Pelelangan Ikan
Pelabuhan Kota Tegal. Oceatek, 9(01), 103–112.
Mangkunegara, 2009. Kesehatan Kerja. Universitas Sumatra Utara, Pdf. Mely, 2010.
Kesehatan Kerja. Universitas Sumatra Utara, Pdf.
Mulyatno, I. P., Jatmiko, S., & Susilo, F. (2012). Analisa Investasi Kapal Ikan Tradisional
Purseiner 30 GT. Jurnal KAPAL, 9(2), 58–67. https://doi.org/10.14710/KPL.V9I2.4390
Purwanto, Y., Iskandar, B. H., Imron, M., & Wiryawan, B. (2016). Aspek Keselamatan
Ditinjau dari Stabilitas Kapal dan Regulasi pada Kapal Pole and Line di Bitung,
Sulawesi Utara. Marine Fisheries, 5(2), 181. https://doi.org/10.29244/jmf.5.2.181-191.
Suwardjo, D., Haluan, J., Jaya, I., & Poernomo, S. (2010). Keselamatan Kapal Penangkap
Ikan, Tinjauan Dari Aspek Regulasi Nasional dan Internasional. Jurnal Teknologi
Perikanan Dan Kelautan, 1(1), 1–13.
Suma’mur dan Srikandy Rahayu 1996.Perngertian umum keselmatan kerja. Pdf. Syamsuddin
Tjahjanto, R., & Azis, I. (2016). Analisis Penyebab Terjadinya Kecelakaan Kerja Di Atas
Kapal
MV.
CS
Brave.
Jurnal
KAPAL,
13(1),
13–18.
https://doi.org/10.12777/kpl.13.1.13-18.
Waroka 2007. Teknika Kapal Penangkap Ikan. (untuk sekolah menengah kejuruan).
Direktorat
pembinaan
sekolah
menengah
kejuruan.Direktoratjrnderal
Manajemen
pendidikan dasar dan Manengah.Depertemen pendidikan Nasional.Jakarta 396 hal PDF
undo 13 juni 2017.
41
Download