IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Daerah operasi penangkapan untuk PT. Radios Apirja Sorong pada perairan sebelah selatan Papua barat, yaitu operasi penangkapan dilakukan di area rumpon bagian selatan Pulau Papua Barat, perairan Fak-fak, Karena memiliki potensi ikan khususnya ikan tuna dan ikan cakalang yang besar yang identik dengan palung–palung dan pulau–pulau bawah air yang menjadi potensi lestari ikan yang besar serta faktor lingkungan yang mendukung seperti arus, dan suhu yang cocok untuk habitat tuna. 4.1.1 Keadaan Umum Perusahaan Kota Sorong terletak pada propinsi Papua Barat merupakan pintu masuk Papua mempunyai letak geografis antara 131º 15`BT dan 0º 54` LS dengan luas wilayah 1105 km². Sesuai dengan letaknya di sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Makbon dan selat Dampir, sedangkan sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan Aimas dan kecamatan Salawati Kabupaten Sorong. PT. RADIOS APIRJA SORONG merupakan salah satu perusahaan di Sorong yang bergerak dalam bidang perikanan, khususnya dalam bidang penangkapan dengan alat tangkap Pole and line. Sedangkan alamat kantor PT.RadiosApirja Sorong tepatnya di Jl. Terumbu 1 KlalinDistrk Aimas Sorong Papua Barat. Kantor ini merupakan basis operasi dari kapal-kapal milik yang bukan milik PT.RadiosApirja Sorong dengan jumlah armada 4 buah kapal dengan alat tangkap Pole and Line. Koperasi Moria Araminta (KMA) berdiri pada tanggal 12 November 2000 yang kemudian pada tanggal 13 Februari 2001 KMA disahkan oleh menteri negara koperasi dan pengusaha kecil dengan surat keputusan nomor 518/BH/139/II/2001. KMA merupakan badan usaha koperasi serba usaha yang salah satu usaha pokoknya adalah melaksanakan kegiatan usaha di bidang perikanan yaitu mengelola kapal-kapal penangkapan dan mengakomodir nelayan-nelayan pencari ikan tuna/cakalang dan tengiri. Saat ini KMA mengelola 4 kapal penangkap ikan tuna/cakalang dan bermitra dengan PT. RadiosApirja yang mana PT. RadiosApirja Sorong untuk penyediaan bahan-bahan operasional serta pemasaran hasil tangkapan. 4.1.2 Sarana dan Prasarana Adapun sarana dan prasarana yang terdapat di PT. RadiosApirja Sorong. a. Alat angkutan, yaitu 1 buah Truck b. Generator roomworkshop 15 c. Gudang penyimpanan d. Ice Making e. Pabrik Pengepakan f. Tempat ibadah g. Dermaga h. Gudang penyimpanan ikan i. Bengkel untuk Docking kapal j. 1 Unit Alat Berat Berupa Crane 4.1.3 Armada Armada penangkapan yang ada di PT. RadiosApirja Sorong seperti pada tabel berikut ini : Tabel 1. Armada Penangkapan No Kapal GT Merek Kapasitas Daya 1 Dioskuri 01 A 97 Yuchai 280 2 Dioskuri 03 A 97 Yuchai 280 3 Dioskuri 04 A 97 Yuchai 280 4 Dioskuri 06 A 97 Yuchai 280 Sumber.1: PT. RadiosApirja Sorong (2020) Sumber : KM. Dioskuri 06a (2020) 4.1.4 Data Umum Kapal KM. Dioskuri 06a Kapal pole and line KM. Dioskuri 06a ditunjukan pada gambar 1 adalah kapal pole and line milik PT. RadiosApirja Sorong. Data umum KM. Dioskuri 06a dapat di lihat pada gambar yang di bawah ini. 16 Gambar 1. KM. Dioskuri 06 A, (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020) 4.1.5 Data Spesifikasi Kapal KM. Dioskuri 06a Data-data spesifikasi kapal yang digunakan sebagai tempat praktek oleh penulis adalah sebagai berikut : Tabel 2. Spesifikasi kapal KM. Dioskuri 06a No Data umum kapal KM. Dioskuri 06a 1 Nama kapal KM. DIOSKURI 06A 2 Nama pemilik PT. RADIOS APIRJA SORONG 3 Nama panggilan DIOS 06 4 Bendera kebangsaan Indonesia 5 Tanda selar SORONG/GT.97 NO.1010/MMJ 6 Tonase kotor 97 GT 7 Tonase bersih 45 NT 8 Tahun pembuatan 2008 9 Bahan kapal Fiber Glass 10 Bentuk dasar V bottom 11 Jumlah daun baling-baling 3 buah 12 LOA 25,47 m 13 LBP 25,30 m 14 Lebar 5,60 m 15 Dalam (Draft) 2,75 m 17 16 Kapasitas FishHold 25 ton 17 Kapasitas Fuel Tank 147 ton 18 Kapasitas Fresh Water Tank 10 ton 19 Kapasitas Lubrication Oil Tank 1,4 ton 20 Sistem alat tangkap Pole and line 21 Sistem kemudi Manual 22 Kecepatan maksimal kapal 5 Knot 4.1.6 Mesin Induk Pada KM. Dioskuri 06a KM. Dioskuri 06a digerakan oleh mesin induk berupa motor diesel dengan daya 280 PK. Dari mesin induk diteruskan melalui gearbox untuk disesuaikan arah dan kecepatan putarannya setelah itu diteruskan ke poros dan propeller. Main engine adalah mesin yang dipergunakan untuk mengerakan kapal atau sebagai jenis penggerak utama pada kapal tersebut. Gambar 2. Mesin induk (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020) 18 4.1.7 Data Mesin Induk Pada KM. Dioskuri 06a Tabel 3. Data mesin induk No Data Mesin Induk KM. Dioskuri 06a 1 Merk YUCHAI Tipe YC6M320-20 2 3 No. Seri M70C0D00012 4 Daya 280 PK 5 Putaran maksimal 1220 rpm 6 Jumlah silinder 6 Silinder Bahan bakar Solar 7 8 9 10 11 12 13 Jenis Minyak pelumas Sistem star Sistem pendinginan Sistem pelumasan Gear Box SAE 15W – 40 AKI (Elektrik) Tidak langsung Manipol basah PlaneteryGear G.M 7251 3,95-1 Serial Number 74E 1900 Spesifikasi mesin induk KM. Dioskuri 06a (2020) 4.1.8 Struktur Organisasi Kapal KM. DIOSKURI 06A Kapal penangkap yang dimiliki PT. RADIOS APIRJA SORONG merupakan kapal penangkap ikan yang mempunyai awak kapal tetap maksimal 21 orang. Sedangkan pada KM. Dioskuri 06a awak kapalnya berjumlah 23 orang, Komposisi awak kapal terdiri dari seorang Nahkoda, seorang KKM, serang/Pembantu KKM, seorang juru minyak, seorang kepala kerja, seorang juru boy-boy, serta dua orang juru masak. Pembagian jaga kemudi untuk ABK dilakukan secara bergantian setiap empat jam sekali, yaitu empat jam jaga dan empat jam istirahat, selama kapal berjalan menuju kedaerahfishinground (pukul 24.00-05.00 WIT ; pukul 10.00-14.00 WIT; pukul 20.00-04.00 WIT). Sedangkan untuk nakhoda, chep, KKM dan boy-boy (pelempar umpan), 8 jam kerja dan 8 jam istirahat. seorang kepala kerja (serang). Struktur organisasi pada KM. Dioskuri 06a menggunakan model garis (komando) yaitu sistem organisasi kewewenangan dan tanggung jawab mengikuti garis secara vertikal. 19 dimana tingkatan Nahkoda KKM Chip Officer Koki Massinis Boy-Boy Oile Man Pemacing Gambar 3. Struktur Organisasi KM. Dioskuri 06a (Sumber KM. Dioskuri 06a 2020) Setiap awak buah kapal mempunyai tugas masing-masing di atas kapal, setiap awak buah kapal harus melaksanakan tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab agar operasi penangkapan dapat berjalan dengan lancar dan optimal. Untuk daftar nama anak buah kapal KM. Dioskuri 06a dapat dilihat pada lampiran 1. Adapun tugas awak buah kapal antara lain: 1. Nakhoda a. Memegang kekuasaan tertinggi di atas kapal dan bertanggung jawab kepada perusahaan. b. Memimpin dan bertanggung jawab terhadap kapal dan seluruh anak buah kapal dalam melaksanakan operasi penangkapan. c. Bertanggung jawab terhadap keselamatan, kegiatan di atas kapal, baik dalam hubungan dengan pekerjaan atau pembagian kerja di atas kapal. d. Memberi pengarahan penjelasan serta pembinaan kepada setiap anak buah kapal. e. Menulis buku jurnal harian dek untuk setiap kegiatan di atas kapal. f. Memberikan laporan kegiatan selama operasi penangkapan kepada perusahaan. g. Memberikan nilai kondite kepada semua ABK dan melaporkan ke perusahaan. 2. KKM a. Memegang kekuasaan tertinggi di kamar mesin, bertanggung jawab kepada nahkoda terhadap seluruh kegiatan yang ada di kamar mesin. b. Mengatur dan mengawasi kerja di ruang mesin. 20 c. Melakukan perawatan dan perbaikan mesin-mesin yang ada diatas kapal. d. Mengontrol dan memeriksa keadaan semua mesin-mesin di atas kapal. e. Memberikan nilai kondite kepada semua ABK bagian mesin dan melaporkannya ke nahkoda. 3. Chep a. Membantu pekerjaan nahkoda di atas kapal dan bertanggung jawab kepada nakhoda dan pada saat jam jaganya menjadi perwira jaga. b. Sebagai pengganti nahkoda apabila nakhoda ada halangan. c. Menulis buku jurnal harian dek untuk setiap kesiatan yang ada di atas kapal. d. Menjaga dan memimpin penangkapan pada waktu malam hari saat nakhoda istirahat. e. Mengecek dan mencatat barang-barang yang ada di atas kapal, penggunaannya dan melakukan order barang keperluan di atas kapal kepada perusahaan untuk trip selanjutnya dengan sepengetahuan nakhoda. 4. Boy-Boy (Pengumpan) a. Kepala pelaksana dalam operasi penangkapan dan bertanggung jawab kepada perwira jaga. b. Bertanggung jawab terhadap alat tangkap yang ada di atas kapal. c. Mengkoordinir kerja saat melakukan operasi penangkapan dan memimpin regu kerja. d. Bertanggung jawab terhadap penanganan dan mutu dari hasil tangkapan (Ikan). e. Bertanggung jawab atas bongkar muat kapal. f. Bertanggung jawab terhadap kebersihan deck. 5. Pemacing a. Anak buah kapal atau pemacing bertanggung jawab dalam proses pemacingan di mualai. b. Setelah sampai pada fishingground maka pemacing bersiap-siap untuk melakukan pemacingan. c. Dimana pemacing tersebut dilakukan pertama kali dengan melemparkaan umpan hidup.Kegiatanpemacing ini dilakukan begitu rupa yaitu dengan menjatuhkan pancing ke atas permuakaan air dan bila disambar oleh ikan d. Teknik pemacing dengan cara seperti ini biasa disebut dengan cara banting. 21 1. Masinis a. Sebagai pembantu utama KKM dalam melaksanakan pekerjaan di kamar mesin dan pada saat jam jaganya menjadi perwira jaga mesin. b. Mengawasi dan melaporkan kejadian penting yang terjadi di dalam kamar mesin. c. Ikut menjaga kelancaran kerja mesin kapal secara bersama-sama dengan KKM dan melakukan perbaikan-perbaikan apabila terjadi kerusakan mesin. d. Menulis jurnal harian mesin. e. Melakukan pencatatan penggunaan sparepart yang digunakan di kamar mesin dan melakukan order barang ke perusahaan untuk trip selanjutnya dengan sepengetahuan dari KKM. f. Bersama-sama membantu serang pada saat operasi penangkapan berlangsung. 2. Oil Man a. Membantu segala kegiatan yang dilakukan KKM maupun masinis dalam melaksanakan tugasnya. b. Melakukan perawatan mesin-mesin yang ada di atas kapal. c. Malakukan perbaikan-perbaikan pada mesin atau alat-alat yang rusak d. Mengecek keadaan tangki bahan bakar (sounding), tangki harian, tangki oli, tangki air tawar dan menjurnal harian di kamar mesin. e. Membersihkan ruang kamar mesin, mengecek dan mencatat kerusakan yang terjadi pada saat mesin beroperasi. f. Bertanggung jawab kepada KKM atas kelengkapan dan kesiapan alat-alat mesin yang akan digunakan. 3. Koki a. Bertanggung jawab terhadap persediaan bahan makanan yang ada di atas kapal selama melaksanakan operasi penangkapan. b. Mengatur pembagian makanan kepada seluruh awak buah kapal. c. Mengatur sebaik mungkin persediaan bahan makanan selama melakukan operasi penangkapan. d. Bertanggung jawab terhadap kebersian dapur dan alat-alat dapur. e. Menulis order kebutuhan alat masak dan bahan makanan yang diperlukan untuk trip berikutnya. 22 4.1.9 Pengaturan Penjagaan di Kamar Mesin Pengaturan penjagaan kamar mesin merupakan salah satu tanggung jawab KKM dari segi pegelolaan kamar mesin. Penjagaan kamar mesin diatur sedemikian rupa dalam waktu tertentu yang bertujuan untuk memilihara inventaris kamar mesin secara keseluruhan agar operasional mesin bisa berjalan dengan lancar. Adapun pengaturan penjagaan kamar mesin pada KM. Dioskuri 06a dilakukan dengan cara di bagi menjadi dua regu. Satu regu kerja terdiri dari dua orang. Kelompok kerja tersebut bertanggung jawab penuh terhadap komponen mesin selama 4 jam. Sedangkan KKM bertugas sebagai pengontrol dan bertanggung jawab atas kerja dari ABK mesin selama 24 jam. 4.1.10 Daftar Awak Kapal KM. Dioskuri 06 A Awak kapal KM. Dioskuri 06a terdiri dari 23 orang yang terdiri dari 2 orang awak nautika, 2 orang awak teknika, 2 orang awak boy-boy (Pengumpan), 13 orang awak pemancing, 3 orang awak taruna praktek, dan 1 orang awak koki. Untuk lebih jelasnya mengenai daftar awak Kapal KM. Dioskuri 06a beserta kepemilikan sertifikat ahli dan jabatannya di kapal dapat dilihat pada Tabel. Tabel 4. Sertifikat ahli dan jabatan yang dimiliki awak kapal KM. Dioskuri 06a No Nama Jabatan Sertifikat Ahli 1 Ferdi Waromi Nakhoda ANKAPIN III BST 11.2022 2 Irwan R. Taghupia KKM ATKAPIN III BST 11.2022 3 Agapitus Biweng Juru Mudi BST BST 5.2022 4 Irwan Dahlan Juru Minyak BST BST 5.2022 5 Johanis Waromi Boy-boy 1 _ _ _ 6 Feri Kasiu Boy-boy 2 _ _ _ 7 Steven Kuera Pemancing _ _ _ 8 Bartolomius Rumboby Pemancing _ _ _ 9 Agus Tumipa Pemancing _ _ _ 10 Vikly S. Tumipa Pemancing _ _ _ 23 Sertifikat Berakhir Keselamatan Tanggal 11 Herman Agia Pemancing _ _ _ 12 Paulus Esue Pemancing _ _ _ 13 Roni R. Wukaje Pemancing _ _ _ 14 Yohanis Saleo Pemancing _ _ _ 15 Riko Y. Simanjuntak Pemancing _ _ _ 16 Yusuf Turay Pemancing _ _ _ 17 Christian Tompunu Pemancing _ _ _ 18 Matias Dimara Pemancing _ _ _ 19 Hendrik Waromi Pemancing _ _ _ 20 Daniel I. Panjaitan Praktek _ _ _ 21 Jhosua R.R. Ginuni Praktek _ _ _ 22 Jon Efun Praktek _ _ _ 23 Deki Kapisa koki _ _ _ Sumber : Kapal KM. Dioskuri 06 A 4.1.11 Pekerjaan Yang Di Lakukan Di KM. Dioskuri 06 A Pekerjaan yang di lakukan di KM. Dioskuri 06a yaitu sebagai berikut: 1. Persiapan kapal berlayar Persiapan yang dilakukan pada saat berada di fishing base pengisihan bahan bakar, air tawar, bahan makanan, pengisihan es balok dan umpan, sebagai berikut: a. Pengisian bahan bakar Pengisian bahan bakar yang di lakukan di KM. Dioskuri 06a yaitu bahan bakar di bawa kemudian di salurkan ke tanki bahan bakar dengan menggunakan selang akan tetapi selang yang digunakan agak sedikit pendek hal tersebut membuat tumpahan minyak bahan bakar di lantai kapal sehingga membuat kondisi lantai kapal licin. Kondisi tersebut mengganggu pekerja saat berlalulalang di atas kapal terutama saat pengisisan bahan bakar sedang berlangsung sehingga pekerja di kapal harus lebih berhati hati karena kondisi lantai yang licin dapat menyebabkan pekerja terpeleset dan jatuh. Risiko yang diakibatkan ketika ABK terjatuh adalah terkilir hingga luka lainnya apabila terbentur benda keras. 24 Kecelakaan yang terjadi karena kuranggnya kepedulian dan kelalaian ABK kapal sehingga dapat menyebabkan kecelakaan kerja yaitu seperti terpeleset karena tumpahan minyak. untuk mencegah kecelakaan tersebut alat keselamatan yang harus digunakan yaitu alat pelindung kaki atau sepatu boots untuk menghindari licinnya tumpahan minyak. Gambar 4. Pengisian bahan bakar (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020) b. Pengisian air tawar Pengisian air tawar yang di lakukan di KM. Dioskuri 06a yaitu air tawar di bawa kemudian di salurkan ke palka air tawar dengan menggunakan selang yang agak sedikit panjang hal tersebut tidak membuat tumpahan air tawar. Alat keselamatan yang digunakan yaitu alat pelindung kepala yaitu helem dan menggunakan sepatu biasa, seperti gambar dibawah ini. Gambar 5. Pengisian air tawar (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020) c. Pemuatan bahan makanan Pemuatan bahan makanan di lakukan di KM. Dioskuri 06 a, proses pemuatan bahan makan terlebih dahulu melalukan pengecekan hal tersebut di lakukan supaya bahan 25 makan yang di butukan di kapal kurang atau ketinggal bisa di minta lagi, seperti gambar di bawah ini. Gambar 6. Pemuatan bahan makanan (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020) d. Pengisian es balok Proses pengisian es balok ke dalam palka yaitu es balok di bawa menggunakan tempat pelucuran es balok kemudian dimasukankedalam palka. Pada saat Pengisian es balok ke dalam palka tidak ada jembatan penyangga untuk memudahkan akses pemindahan es balok dari dermaga ke dalam palka kapal Sehingga hal tersebut dapat menimbulkan kecelakaan kerja yang fatal seperti tertimpa es balok dan terjatuh ke laut oleh karena itu pembongkaranpun perlu ekstra hati-hati karena mencegah terjatuh ke laut dan tergelincirnya es balok. Untuk mencegah kecelakaan terjadi ABK di haruskan menggunakan alat keselamatan kerja yaitu kaos tangan karet dan sepatu boots pada saat pengisian es balok. Di KM. Dioskuri 06a ada kepedulian dari ABK kapal untuk menggunakan alat keselamatan kerja seperti sarung tangan dan sepatu boot. Gambar 7. Pengisian es balok (Sumber. KM. Dioskuri 06a, 2020) 26 e. Umpan Pada saat proses pemuatan umpan di KM. Dioskuri 06a dilakukan pada malam hari sekitar jam 12:00, pemuatan umpan atau pengambilan umpan di timbah mengunakan sibu-sibu kemudian umpan di masukan ke ember lalu masukan lagi ke bak umpan. Pemuatan umpan di lakukan dari bagan yang satu ke bagan yang lain selesai muat umpan lanjut ke daerah fisin groud atau daerah pemacingan, seperti gambar di bawah ini. Gambar 8. Pemuatan umpan (Sumber. KM. Dioskuri 06 a, 2020) 2. Kapal berlayar Pada saat kapal berlayar hal yang dilakukan di KM. Dioskuri 06 a, mengoperasikan mesin, persiapan alat tangkap, proses penangkapan ikan, proses penyusunan ikan, proses bembekuan atau pendinginan ikan, dan merapikan alat tangkap, sebagai berikut: a. Mengoperasikan mesin Mengoperasikan mesin pada saat kapal berlayar hal yang di lakukan pemanasan atau percobaan mesin, agar mesin tidak mengalami gangguan pada saat kapal berlayar persiapan yang di lakukan, membersikan kamar mesin, hal yang perlu disiapkan saat kapal bergerak, checklistengine, warmingupengine, trial engine atau percobaan mesin, standby (tunggu perintah dari anjungan), dan runningup atau fullaway. b. Persiapan alat tangkap Persiapan alat tangkap pada saat kapal berlayar yang di persiapakan yaitu, joran (bambu), tali pancing, dan mata pancing, persiapan di lakuakan agar supaya tidak sibuk mempersiapkan alat tangkap lagi pada saat berada di daerah penangkapan. 27 c. Proses penangkapan ikan Proses penangkapan ikan pada saat beradah di daerah penangkapan atau rumpon semua pemacing berada di depan dan pinggir kapal bersiap untuk mancing atau penangkapan, pada saat penangkapan boy-boy mulai melempar umpan. Gambar 9. Proses penangkapan ikan (Sumber. KM. Dioskuri 06 a, 2020) d. Proses penyusunan ikan Proses penyusunan ikan pada saat selasai penangkapan kemudian ikan di siram dengan air sebelum ikan di masukan ke dalam palka, palka diisi dulu dengan es balok kemudian penyusunan ikan di mulai. e. Proses bembekuan atau pendinginan ikan Proses pembekuan atau pendinginan ikan di lakukan pada saat selesai penyusunan, pembekuan atau pendinginan ikan menambahkan es balok di atas ikan sekitar 15 cm, sekitar dua hari es balok mulai cair mulai penambahan es balok supaya ikan awet dan tidak busuk. Gambar 10. Pembekuan/pendinginan ikan (Sumber. KM. Dioskuri 06 a, 2020) 28 f. Merapikan alat tangkap Merapikan alat tangkap pada saat selesai penyusunan ikan, mulai pembersiahan atau mencuci alat tangkap dan merapikan kembali alat tangkap dan di simpan pada tempatnya. 3. Kapal kembali Pada saat kapal kembali yang dilakukan di KM. Dioskuri 06 a, bongkar muat dan beresberes kapal, sebagai berikut: a. Bongkar muat Bongkar muat di lakukan pada saat kapal kembali hal yang dilakukan yaitu ikan diangkat dari dalam palka dengan menggunakan keranjang timbah dan di letakan ke dalam wadah atau keranjang kemudian di angkat ke dalam tempat pelucuran ikan. Saat proses pembongkaran ikan berlangsung para pekerja menggunakan alat keselamatan kerja seperti sarung tangan dan sepatu boats, hal tersebut dapat mengakibatkan pekerja bisa terlincin terjatuh ke laut karena salah menginjakan kaki dan juga pekerja bisa terjatuh tertimpa keranjang tempat untuk mengangkat ikan. Hanyalah taruna praktik dan satu orang ABK saja yang turun ke dalam palka untuk membongkar ikan sedangkan ABK lainnya hanya menggunakan sarung tangan saja alasannya karena sepatu boats yang terbatas. Gambar 11.Bongkar muat (Sumber. KM. Dioskuri 06 a, 2020) b. Beres-beres kapal Beres-beres kapal pada saat selesai pembongkaran ikan hal yang di lakukan yaitu pembersihan kapal dan pembersihan alat pembongkaran ikan kemudian rapikan kembali atau beres-beres di dalam kapal. 29 4.2 Alat Keselamatan Kerja Di KM. Dioskuri 06A Keselamatan kerja yaitu proritas paling utama oleh pelaut saat bekerja di kapal, untuk mencapai tujuan tersebut kapal perikanan seperti KM. Dioskuri 06a harus di lengkapi dengan alat-alat keselamatan kerja. Alat keselamatan harus di pakai sesuai dengan tingkat bahaya serta risiko dari pekerjaan, untuk menjaga keselamatan saat bekerja di atas kapal. Departemen Perhubungan (2002), menyatakan kecelakaan kapal penangkap ikan terus meningkat dalam kurung waktu 10 tahun terakhir ini terutama ketika menghadapi gelombang laut yang tinggi. Kapal penangkap ikan seperti KM. Dioskuri 06a ukuran 97 GT sangat sensitif ketika berlayar pada kondisi laut yang bergelombang. Kecelakaan kerja yang terjadi karena cuaca buruk dan kuranggnya kesadaran awak kapal. Untuk mencapai kesehatan dan keselamatan kerja pemerintah telah membuat Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja di kapal antara lain sebagai berikut: 1. UU No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja. 2. SOLAS 1974 beserta amandemen-amandemennya tentang persyaratan keselamatan kapal. 3. STCW 1978 amandemen 1995 tentang standar pelatihan bagi para pelaut. 4. ISM Code tentang code manajemen internasional untuk keselamatan pengoperasian kapal dan pencegahan pencemaran. 5. OccupationalHealth tahun 1950 tentang usaha kesehatan kerja. Untuk menjaga terjadinya kecelakaan kerja di atas kapal, ada beberapa alat keselamatan yang di pakai di KM. Dioskuri 06a yaitu alat pelindung kepala (helmet), alat pelindung tangan (sarung tangan), alat pelindung kaki, baju pelampung (lifejacket), pelampung penolong (lifebouy). Macam-macam alat keselamatan kerja di KM. Dioskuri 06a adalah sebagai berikut: Tabel 5. Alat-alat keselamatan kerja di kapal KM. Dioskuri 06a No. Nama Jumlah Lokasi Kondisi Tahun 1 Helmet 7 Dek/bris Baik 2018 2 Sarung tangan 40 Dek/bris Baik 2020 3 Sepatu karet (bot) 7 Kamar mesin 2018/2019 30 Baik 4 Baju pelampung (lifejacket) 14 Dek/bris Baik 2018 5 Pelampung (lifebouy) 4 Dek/bris Baik 2018 6 Rakit penolong (liferafl) 1 Dek/bris Baik 2017/2020 7 Pemadam kebakaran 4 Ruang ABK, kamar mesin 2017 penolong Baik Sumber : KM. Dioskuri 06 A, 2020 4.2.1 Helmet Helmet atau pelindung kepala yang di gunakan di KM. Dioskuri 06a memiliki 7 buah helem layak di pakai dan terbuat dari bahan pelastik keras dan di lengkapi dengan tali-tali penahan (cradle) di dalamnya yang dapat disetel untuk menahan helmet agar terpasang dengan baik di kepala. Dan tali pengikat dagu (chin-strap) yang sesuai untuk menahan agar helmet tidak terjatuh. Helmet banyak digunakan pada saat mancing ikan untuk melindungi kepala karena ikan yang di angkat jatuh mengenai kepala dan bekerja di kamar mesin untuk melindungi kepala dari bahaya seperti kejatuhan benda ataupun paparan bahaya arus listrik karena di kamar mesin KM. Dioskuri 06a sangat kecil dan kurang pencahayaan. Gambar 12. Helmet (Sumber: KM. Dioskuri 06a. 2020) 31 4.2.2 Sarung Tangan Alat pelindung tangan atau sarung tangan yang di pakai di KM. Dioskuri 06a ada dua jenis yaitu, sarung tangan karet dan sarung tangan kain masing-masing tersedia 40 unit. Sarung tangan adalah alat pelindung yang di gunakan untuk melindung tangan dari situasi yang bisa mengakibatkan cedera tangan seperti tergores atau luka akibat sentuhan dengan benda runcing tajam pada saat proses penampungan,dan pembongkaran ikan di KM. Dioskuri 06a, sarung tangan yang digunakan untuk penanganan dan pembongkaran ikan cukup memadai yaitu berjumlah 40 unit layak di pakai dan dibagi oleh ABK saat bekerja masing-masing satu pasang. Gambar 13. Sarung Tangan (Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020) 4.2.3 Sepatu Karet (boots) Sepatu pelindung yang di pakai di KM. Dioskuri 06a, adalah alat pelindung yang terbuat dari bahan karet yaitu sepatu boots cuman hanya tersedia 7 unit, yang berfungsi melindungi kaki dari tertimpa benda berat ataupun benda tajam, cairan kimia, benda panas dan aliran listrik saat bekerja di atas kapal. Di KM. Dioskuri 06a sepatu karet atau boots di gunakan pada saat melakukan penampungan dan pembongkaran ikan untuk melindungi kaki dari tertimpa benda berat, dan dinginnya es balok didalam palka pada saat proses penampungan dan pembongkaran ikan di kapal KM. Dioskuri 06a. 32 Gambar 14. Sepatu Karet (boot) (Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020) 4.2.4 Baju Pelampung (lifejacket) Baju pelampung atau lifejacket berbentuk seperti rompi dengan warna yang cerah supaya mudah di lihat. Life jacket di KM. Dioskuri 06a digunakan oleh ABK kapal ketika terjadi kecelakaan kapal, Di KM. Dioskuri 06a lifejacket di beli pada tahun 2008 dan disediakan sebanyak 14 unit, semua lifejacket tersebut disimpan di ruang bridge dan di berikan kepada para ABK ketika kondisi darurat kapal akan tenggelam yang disebabkan oleh kecerobohan manusia atau kondisi alam seperti cuaca kurang bersahabat, gelombang yang cukup besar yang berpontensi menyebabkan kapal tenggelam. Gambar 15. Baju Pelampung (lifejacket) (Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020) 33 4.2.5 Pelampung Penolong (lifebouy) Life bouy atau pelampung penolong di KM. Dioskuri 06a terbuat dari bahan gabus padat yang berbentuk cincin dengan warna yang mencolok. Pada keempat tempat diberi ban kain yang menjadi ikatan bagi tali pegangan yang terbuat dari tali manila ataupun nylon. Di KM. Dioskuri 06a penyediaan lifebouy kurang memadai yaitu berjumlah 4 unit atau empat buah lifebouy akan tetapi lifebouy yang jarang di gunakan.. kegunaanya hampir sama dengan lifejacket yaitu digunakan apabila terjadi kecelakaan tenggelam atau terjatuh ke laut pada saat penampungan ikan di laut. Di KM. Dioskuri 06a lifebouy di tempatkan tepatnya berada di bagian depan dan di belakang kapal. Gambar 16. Pelampung Penolong (lifebouy) (Sumber: KM. Dioskuri 06a,2020) 4.2.6 Rakit Penolong (liferafl) Life rafl atau rakit penolong di KM. Dioskuri 06a berbentuk seperti kapsul dengan kemampuan besar di perlengkapi tali pembuka yang panjang. Pemakaiannay lewat cara automatis menggembung. Di dalamnya ada peralatan keselamatan jiwa seprti makanan, minuman, dan obat-obatan kemampuan rakit bisa mengangkut sampai 25 orang. Life rafl digunakan apabila terjadi kecelakan kapal tengelam atau terbakar di laut pada saat penampungan ikan di laut. Di KM. Dioskuri 06a liferafl di tempatkan tepatnya berada di bagian brist. 34 Gamabr 17. Rakit penolong (liferafl) (Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020) 4.2.7 Alat Pemadam Kebakaran (drychemical) Alat pemadam kebakaran disediakan di kapal KM. Dioskuri 06a yaitu 4 unit alat pemadam kebakaran dan layak digunakan yang di pasangkan bagian area mudah terbakar seperti, dapur, kamar mesin atas dan bawah, dan kamar ABK. Alat pemadam kebakaran adalah suatu alat memadamkan kebakaran besar atau kecil yang terjadi di atas kapal. Alat pemadam kebakaran Bahan yang berasal dari powder kering atau drychemical. Bahan dari powder kering dan drychemical digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas A, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Cara pemadaman kebakaran dengan menggunakan media pemadam dari tepung kimia. Gambar 18. Alat pemadam kebakaran (drychemical)(Sumber: KM. Dioskuri 06a, 2020) 4.3 Penerapan Alat keselamatan Kerja Pada KM. Dioskuri 06a Pekerjaan pada kapal penangkap ikan merupakan pekerjaan yang dikenal dengan istilah D3 (Dirt, Difficult, Dan Gerous) yaitu kotor, sulit dan berbahaya, pekerjaan tersebut termasuk di KM. Dioskuri 06a, di tambah ukuran kapal yang relatif kecil, berlayar pada gelombang tinggi dengan kondisi cuaca tidak menentu sehingga dapat meningkatkan tingkat kecelakaan pada kapal KM. Dioskuri 06a. Maka di haruskan setiap kapal penangkap ikan 35 harus menyediakan alat keselamatan kerja yang berstandar IMO (International Maritime Organization). Penggunaan alat-alat keselamatan kerja di KM. Dioskuri 06a merupakan salah satu usaha untuk mencegah atau mengurangi adanya kecelakaan pada saat bekerja. Oleh karena itu diharapkan seluruh awak kapal atau ABK yang bekerja di kapal agar selalu menggunakan alat-alat keselamatan pada saat kerja di dek maupun kamar mesin guna menghindri hal-hal yang tidak di inginkan seperti kecelakaan saat bekerja. Penerapan keselamatan dan kesehatan kerja di kapal penampung perikanan KM. Dioskuri 06a. Ketersediaan alat keselamatan kerja ini juga akan dibandingkan dengan ketentuan sesuai SOLAS, data pemeliharaan dan perawatan alat keselamatan kerja akan diuraikan secara deskriptif. Alat pelindung diri ini sudah seharusnya digunakan oleh seluruh pekerja dalam kaitannya sebagai tindakan preventif dari potensi terjadinya kecelakaan kerja. Alat pelindung diri ini juga harus memenuhi standar teknis yang ditentukan oleh pemerintah. Secara garis besar, penggunaan alat pelindung diri ini tidak dapat melindungi tubuh secara sempurna, akan tetapi penggunaan alat pelindung diri ini lebih ditujukan kepada tindakan preventif terjadinya kecelakaan kerja dan dapat meminimalisasi keluhan kecelakaan atau peyakit yang berpotensi terjadi. Alat pelindung diri ini memiliki beberapa kelemahan seperti: a. Kemampuan perlindungan yang tidak sempura. b. Tenaga kerja tidak merasa nyaman karena ukuran yang terkadang tidak sesuai. c. Komunikasi terganggu. Terlihat pada Tabel 5 bahwa alat-alat keselamatan kerja yaitu helmet di KM. Dioskuri 06a memiliki 7 buah helem layak di pakai, helmet di siapkan untuk awak kapal yang berjumlah 7 orang yaitu ABK yang berjumlah 4 orang, Nahkoda, KKM, dan Masinis masingmasing 1 buah helmet untuk di gunakan akan tetapi yang dipakai cuman 2 helem untuk pekerjaan di kamar mesin sedangkan 1 buah helem rusak kerena tidak dirawat dengan baik. Pekerjaan yang sering di lakukan di atas kapal adalah kegiatan memancing atau penangkapan ikan, bongkar muat ikan dan es. Ketika melakukan kegiatan penangkapan ikan, alat keselamatan tidak di gunakan dengan baik, terlihat seperti pada foto nelayan pemacing tidak menggunakan alat keselamatan life jacket, safety helmet dan sepatu boat. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan ABK mengapa tidak menggunakan alat keselamatan berupa life jacket dan safety helmet adalah karena jumlah life jacket tersedia di kapal sebanyak 14 unit dan merasa percaya diri saat memancing tidak tercebur ke laut karena sudah biasa atau terampilan dan kurang leluasa dalam bergerak, begitu juga dalam penggunaan safety helmet. Pada saat melakukan pekerjaan bongkar muat ikan dan es, ABK yang bertugas seluruhnya menggunakan APD berupa sarung tangan karet, sarung tangan kain. Sarung 36 tangan karet digunakan pada saat bongkar ikan dan es balok di dalam palka agar tangan tidak cepat dingin, sedangkan sarung tangan kain digunakan pada saat mengangkat ikan agar tangan tidak licin atau terkena tulang ikan pada saat masukan ikan ke dalam palka dan bongkar ikan. Dalam hal ini ABK peduli karena menerima dampak langsung yaitu rasa dingin apabila tidak menggunakan sarung tangan karet ketika memindakan es, dan bahaya luka karena sirip ikan dan duri ikan apabila tidak menggunakan sarung tangan kain ketika memindahkan ikan. Pada pekerjaan bidang ini tidak seluruhnya ABK menggunakan sepatu boat, karena jumlah sepatu boat belum mencukupi untuk semua ABK, sepatu boat yang tersedia di kapal sebanyak jumlah 7 unit saja. Apabila di lihat dari pengalaman pelatihan, seluruh ABK pemacing belum mengikuti sertifikasi pelatihan keselamatan dasar (BST) dan kepedulian keselamatan kerja (SAT) hal ini mengakibatkan pemacing belum memiliki kepedulian dan kesadaran tentang keselamatan bekerja di laut. Peralatan pelampung life jacket seluruhnya secara visual terlihat layak dan tidak dalam kondisi rusak life jacket hanya digunakan saat kapal dalam kondisi emergensi dan tersedia di kapal sebanyak 14 unit, begitu juga dengan life bouy tersedia di kapal 4 unit, life rafl atau rakit penolong di KM. Dioskuri 06a berbentuk seperti kapsul dengan kemampuan besar di perlengkapi tali pembuka yang panjang disedikan sebanyak 1 unit. Berdasarkan label identitas, life rafl mampu menampung 25 orang dan dalam kondisi terkendali, tidak dalam kondisi kadaluarsa dan siap digunakan apabila terjadi kondisi darurat (kapal tengelam). Berdasarkan literatur di dalam life rafl dapat peralatan keselamatan diri seperti makanan, minuman, dan obat-obatan kemampuan rakit bisa mengangkut. Di KM. Dioskuri 06a life rafl di tempatkan tepatnya berada di bagian brist. Alat pemadam kebakaran disediakan di kapal KM. Dioskuri 06a yaitu 4 unit alat pemadam kebakaran dan layak digunakan yang di pasangkan bagian area mudah terbakar seperti, dapur, kamar mesin atas dan bawah, dan kamar ABK, digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas A, dan dapat juga digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Cara pemadaman kebakaran dengan menggunakan media pemadam dari tepung kimia. Pemeliharaan keselamatan kerja dikapal dilakukan pemeliharaan berkala maupun diservis sesuai kerusakan akan diperiksa setahun sekali. Pemeliharaan peralatan ini dilakukan terutama pada alat-alat keselamatan utama di KM. Dioskuri 06a. Pekerjaan pemeliharaan dilakukan langsung di atas kapal maupun melalui agen yang akan diperbaiki ditempat servis sesuai dengan perusahaan pembuat peralatan. Berdasarkan pada Tabel 5 terlihat bahwa jenis alat keselamatan kerja belum semua tersedia di KM. Dioskuri 06a. Peralatan pelampung seperti life bouy semua yang tersedia,. Helmet dan sepatu keselamatan (safety shoes) sepatu boat semua tersedia, sarung tangan karet dan sarung tangan kain tersedia di kapal KM. Dioskuri 06a. Jika dibandingkan syarat 37 minimum yang diatur dalam SOLAS, maka pada peralatan pelampung yaitu life bouy dan life jacket harus tersedia di kapal dengan presentase 105 % dari jumlah ABK di kapal. Peralatan keselamatan kerja yang tersedia di kapal KM. Dioskuri 06a jika dibandingkan dengan persyaratan SOLAS, maka dapat dikatakan belum memenuhi persyaratan atau belum tersedia di kapal. 4.4 Kejadian Kecelakaan Kerja Yang Pernah Terjadi Di KM. Dioskuri 06 A Tabel 6. Kejadian kecelakaan kerja di KM. Dioskuri 06a No Kecelakaan Lokasi 1 Tangan coldstorage tertimpa es balok atau terkilir Tindakan Kondisi tidak Dampak tidak aman aman Tahun Dilucurkan ditempatpel ucur es balok terlalu licin dan kencang (ini merupakan kondisi tidak aman) Papan luncur Terkilir tidak ada pembatas (pagar) agar es tidak jatuh menimpa pekerja 2020 Alat membawa Luka-luka ikan masih berpotensi tradisional, infeksi belum menggunakan conveyor 2020 Pekerjaan tidak aman adalah bekerja sambil bergurau 2 Tangan Kapal tertusuk sisik atau tulang ikan Membawa ikan ke palka dengan posisi ikan tidak rapi dan tidak menggunak an sarung tangan 38 No Kecelakaan Lokasi Tindakan Kondisi tidak Dampak tidak aman aman Tahun 3 Terpeleset saat pembokaran ikan Kapal Membawa ikan ditempatpel ucuran ke perusahaan kurang hatihati dan memburu waktu 2020 Tidak Terkilir, menggunakan luka dalam sepatu boot, dan jalan liscin Sumber : KM. Dioskuri 06 A, 2020 39 V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Dengan melakukan identifikasi, maka penulis melakukan kesimpulan bahwa kecelakaan kerja dapat terjadi karena disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: 1. Kurangnya penggunaan alat-alat keselamatan kerja di atas kapal yaitu alat pelindung kepala, sarung tangan, alat pelindung kaki, pakaian pelindung, dan baju pelampung. karena alat keselamatan kerja yang tidak tersedia dan tidak layak untuk di pakai. 2. Kurangnya pengenalan prosedur kerja dan pemanfaatan alat keselamatan kerja di atas kapal karena kurangnya kepedulian untuk memakai alat keselamatan kerja sehingga menyebabkan kecelakaan kerja di atas kapal. 5.2 Saran Berdasarkan pengamatan langsung selama pelaksanaan KPA, maka saran yang dapat diberikan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja di atas kapal sebagai berikut : 1. Perusahaan mengikutkan ABK untuk mengikuti pelatihan BST dan SAT. 2. Perusahaan melengkapi alat keselamatan di atas atas kapal yang memadai. 3. Perusahaan membuat sosialisasi keselamatan dengan safety sign seperti utamakan keselamatan kerja, penggunaan APD. 4. Nakhoda mengingatkan kepada ABK yang tidak peduli dengan keselamatan. 5. Perusahaan melengkapi asuransi tenaga kerja sebagai jaminan untuk mengurangi dampak dari risiko kecelakaan kerja. 6. Di atas kapal hendaknya dapat meningkatkan kepedulian dalam penggunaan alat-alat keselamatan kerja kepada ABK agar ABK dapat selalu menggunakan alat-alat keselamatan kerja saat bekerja di kapal dengan mewajibkan ABK mengikuti pelatihan BST dan SAT. 7. Nahkoda memberikan pengarahan tentang pentingnya alat-lat keselamatan kerja dan memberikan panduan atau arahan kepada ABK tentang alat-alat keselamatan kerja. 8. Mualim harus selalu mengingatkan ABK di atas kapal tentang pentingnya penggunaan alat-alat keselamatan kerja serta pengenalan tentang prosedur kerja di atas kapal yang benar agar ABK peduli dalam penggunaan alat keselamatan kerja. 40 DAFTAR PUSTAKA Anonimous, 2011. BasicSafetyTraning. Diklat Khusus perkapalan Akademi Perikanan Bitung.Bitung.266 hal. Cahyono. 2004,Alat Keselamatan diatas Kapal, http://sepatusafetybootid.blogspot.com//2017/02/beragam-alat-keselamatan-diataskapal.html?m=1 C. H. Wright. (2002). Survivalat Sea ;Brown, Son, &Ferguson LTD, Glasgow International Maritime Organisation. (1974). Safety of Life at Sea consulatededition 2002, International Maritime Organisation London. Daryanto. (2010). Keselamatan Kerja Peralatan Bengkel Dan Perawatan. Penerbit Alfa Beta. Fajar, 1995 Macam–macam Alat Keselamatan diatas Kapal, http://pelayarannautika.blogspot.com/2011/05/macam-macam-alat-keselamatandiatas.html/m=1 Jasman, T. (2015). Aspek Keselamatan Kerja Kapal Purse Seine di Tempat Pelelangan Ikan Pelabuhan Kota Tegal. Oceatek, 9(01), 103–112. Mangkunegara, 2009. Kesehatan Kerja. Universitas Sumatra Utara, Pdf. Mely, 2010. Kesehatan Kerja. Universitas Sumatra Utara, Pdf. Mulyatno, I. P., Jatmiko, S., & Susilo, F. (2012). Analisa Investasi Kapal Ikan Tradisional Purseiner 30 GT. Jurnal KAPAL, 9(2), 58–67. https://doi.org/10.14710/KPL.V9I2.4390 Purwanto, Y., Iskandar, B. H., Imron, M., & Wiryawan, B. (2016). Aspek Keselamatan Ditinjau dari Stabilitas Kapal dan Regulasi pada Kapal Pole and Line di Bitung, Sulawesi Utara. Marine Fisheries, 5(2), 181. https://doi.org/10.29244/jmf.5.2.181-191. Suwardjo, D., Haluan, J., Jaya, I., & Poernomo, S. (2010). Keselamatan Kapal Penangkap Ikan, Tinjauan Dari Aspek Regulasi Nasional dan Internasional. Jurnal Teknologi Perikanan Dan Kelautan, 1(1), 1–13. Suma’mur dan Srikandy Rahayu 1996.Perngertian umum keselmatan kerja. Pdf. Syamsuddin Tjahjanto, R., & Azis, I. (2016). Analisis Penyebab Terjadinya Kecelakaan Kerja Di Atas Kapal MV. CS Brave. Jurnal KAPAL, 13(1), 13–18. https://doi.org/10.12777/kpl.13.1.13-18. Waroka 2007. Teknika Kapal Penangkap Ikan. (untuk sekolah menengah kejuruan). Direktorat pembinaan sekolah menengah kejuruan.Direktoratjrnderal Manajemen pendidikan dasar dan Manengah.Depertemen pendidikan Nasional.Jakarta 396 hal PDF undo 13 juni 2017. 41