OM SWASTYASTU PEMANTAUAN DAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN OLEH PUTU LAKSMI DEVI 1713081001 GEDE GERY APRILIANA PUTRA 1713081006 NI LUH PUTU AGUSTINA PUTRI 1713081015 JURUSAN KIMIA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA JALAN UDAYANA NO. 11 SINGARAJA BALI 81117 Good in The Worst: COVID-19 Restrictions and Ease in Global Air Pollution TOPIK PEMBAHASAN 1 2 LATAR BELAKANG POLUSI UDARA POLUSI UDARA DAN PENYAKIT PERNAFASAN/PARU-PARU 3 COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL 4 KESIMPULAN DAN PROSPEK ABSTRAK COVID-19 saat ini mengancam kesehatan manusia di seluruh dunia, akibat adanya virus tersebut membuat hampir seluruh dunia menerapkan kebijakan lockdown untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Kebijakan tersebut membuat beberapa sektor terhenti, social distancing dan menghentikan transportasi umum serta aktivitas manusia yang berkaitan dengan diluar rumah dihentikan dimana ada baiknya dilakukan di rumah saja (work from home). Karena kebijakan yang dibuat untuk memutus rantai penyebaran virus tersebut yang dimana secara signifikan ada dampak baik yang diberikan dalam situasi saat ini yaitu mengurangi polusi udara global yang dapat mengentikan krisis kesehatan pernafasan di masa depan semakin surut. TUJUAN 01 03 Memperkenalkan COVID-19 dan polusi udara. Mengkompilasi dan menyoroti data utama yang muncul di media dan jurnal yang melaporkan penurunan polusi udara di kota-kota besar yang sudah sangat dipengaruhi oleh COVID-19. 02 04 Meninjau hubungan polusi udara dengan penyakit pernafasan atau paru-paru. Daftar jalan untuk kedepannya dalam konteks saat ini. LATAR BELAKANG • COVID-19 telah dianggap sebagai darurat kesehatan global oleh WHO. Virus ini menginfeksi populasi manusia, dengan jalan penularan yang efisien terjadi dar manusia ke manusia. virus ini telah tersebar di sekitar 20 negara di dunia dan jumlah kasus dan angka kematiannya cukup tinggi, dapat di lihat pada (Tabel 1; Gambar 1). • Dalam upaya memperlambat penyebaran virus ini, sejumlah besar negara menerapkan peraturan yaitu social distancing dan menyuruh masyarakatnya untuk tinggal di rumah saja dan work from home. akibat penerapan peraturan ini sebagian besar kota maupun jalanan atau tempat wisata menjadi sepi, sehingga berdampak pada ekonomi di seluruh dunia dan juga berdampak pada polusi udara secara global. LATAR BELAKANG Gambar 1. Negara, wilayah atau wilayah dengan kasus COVID-19 yang dilaporkan yang telah dilaporkan pada tanggal 30 Maret 2020 (WHO 2020). Tabel 1. COVID-2019 mengkonfirmasi kasus dan kematian pada 4 April 2020 (WHO 2020). LATAR BELAKANG • Akibat dari COVID-19 ini dikaitkanlah dengan dampak polusi udara global yang umumnya menyebabkan penyakit pernafasan / paru-paru yang mengalami penurunan, dimana penurunan polusi udara ini terjadi di kotakota besar. Hal ini cukup baik karena dapat membantu memperkecil resiko penyakit pernafasan. POLUSI UDARA • Udara diperlukan untuk bertahan hidup oleh sebagian besar makhluk hidup salah satunya adalah manusia. Udara menyediakan oksigen (O2) agar respirasi bisa terjadi, dan juga karbon dioksisa (CO2) untuk membantu proses fotosintesis pada tanaman. • Saat ini keadaan udara di seluruh wilayah tepatnya di kota-kota besar seluruh dunia sudah mulai tercemar karena zat beracun yang dihasilkan dari industri, baik indutri kimia maupun industri lainnya. Udara dapat di katakan tercemar ketika konsentrasi berbahaya dari campuran partikel dan gas terkandung pada udara tersebut seperti karbon hitam, asap, metana (CH4) dan CO2. Selain itupula terdapat beberapa jenis dan sumber pencemar udara utama lainnya yang dapat dilihat pada (Gambar 2). POLUSI UDARA Gambar 2. Jenis dan sumber pencemar udara utama. POLUSI UDARA • Saat ini telah dikonfirmasi bahwa dalam sampel udara di kota-kota besar seluruh dunia terjadi peningkatan level komponen kecil atau bisa disebut PM (PM10, PM2,5 dan partikel UFP-ultrafine yang berdiameter <0,1 mm, dimana itu 20 kali lebih kecil dari lebar rambut manusia). • Komponen kecil atau PM itu sebagaian besar disumbangkan dari produk sampingan pembakaran dari pembangkit litrik tenaga batu bara, tungku pembakaran kayu dan arang serta mesin kendaraan dan juga pabrik. • PM10 (<10 mm) dan PM2,5 (<2,5 mm) secara khusus dapat dihirup hingga ke paru-paru dan menyebrang ke aliran darah. Dimana hal tersebut mampu menimbulkan resiko kesehatan yang berbahaya. POLUSI UDARA DAN PENYAKIT PERNAFASAN / PARU-PARU • Polusi udara merupakan suatu resiko utama bagi kesehatan pernafasan di seluruh dunia, utamanya untuk negra-negara yang berpenghasilan rendah dan menengah. • Gas NO2 telah dianggap sebagai gas beracun yang menyebabkan peradangan signifikan pada saluran udara, karena gas ini memiliki konsentrasi 200 mg/m3 menurut WHO. • Terdapat beberapa kosekuensi kesehatan utama akibat dari polusi udara yaitu infeksi pernafasan, asma, penyakit paru obstruktif kronis, kanker paru-paru bahkan dapat menyebabkan kombinasi penyakit antara stroke de ngan penyakit jantung. POLUSI UDARA DAN PENYAKIT PERNAFASAN / PARU-PARU • Polusi udara telah dianggap sebagai salah satu faktor resiko utama penyebab kematian dunia, dapat dilihat pada (Gambar 3 dan Gambar 4). Secara global 9% kematian disebabkan oleh polusi udara, dan hal ini cukup bervariasi dari 2% hingga 15% sesuai dengan negaranya masing-masing. Gambar 3. Data menunjukkan beban dengan faktor resiko pada tahun 2017 Gambar 4. Peta dunia menyoroti kematian akibat pencemaran udara di tahun 2017 POLUSI UDARA DAN PENYAKIT PERNAFASAN / PARU-PARU • 49% kota dan sebagian besar kota di negara yang berpenghasilan rendah dan menengah dengan penduduk yang lebih dari 100.000 juta tercatat tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO yang menyebabkan dampak polusi udara di negara tersebut meningkat dan dapat mempengaruhi kesehatan masyarakatnya karena menghirup udara yang mengandung polutan tingkat tinggi. • Akibat dari polusi udara ini WHO secara terus-menerus bekerja dengan seluruh negara untuk memantau polusi udara dan meningkatkan kualitas udara. Karena telah dilaporkan polusi udara menyebabkan 7 juta kematian di seluruh dunia setiap tahunnya. Sebagian besar penyakit yang diakibatkan ialah melalui oenyakit tidak menular termasuk infeksi pernafasan akut seperti pneumonia. COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL • Kondisi COVID-19 saat ini, para ahli berpendapat bahwa polusi udara dan merokok yang tinggi membuat orang lebih rentan terhadap penyakit ini. Polusi udara telah diharapkan sebagai penyebut umum untuk negara-negara dengan kasus infeksi COVID-19 yang parah, Cina, Korea Selatan,Iran, dan Italia utara. Kota-kota dengan polusi udara yang lebih tinggi di anggap lebih berisiko COVID-19, peningkatan terjadinya infeksi saluran pernapasan dan penyakit paru-paru. COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL • Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia yang paling ketat dan standar Uni Eropa untuk polusi udara, tingkat polusi udara masih tinggi di sebagian besar kota. PM2.5 sendiri telah dilaporkan menyebabkan sekitar 412.000 kematian dini di-41 Negara Eropa pada 2016. Sekitar 374.000 kematian tersebut terjadi di Uni Eropa (UE). Oleh karena itu, polusi udara telah menjadi salah satu risiko kesehatan lingkungan terbesar di Eropa. Di Italia, lompatan harian tertinggi tercatat pada COVID-19 kematian, di mana pada 29 Maret 2020, lebih dari 10.000 orang telah meninggal sejak awal pandemi ini, setelah Italia, angka kematian koronavirus tertinggi ke dua di dunia tercatat di Spanyoldimana COVID-19 yang mematikan sejauh ini telah menewaskan 5.690 orang. Pada 29 Maret 2020, AS memiliki kasus terkonfirmasi di dunia, melampaui Cina dan Italia. COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL • Lock down menyebabkan beberapa konsekuensi yang tak terduga dalam penurunan polusi udara yang sedang hingga signifikan disebagian besar dunia termasuk Cina, Italia, dan California. Penurunan emisi gas rumah kaca di seluruh benua. • Di Cina, langkah-langkah untuk meminimalkan penyebaran SARS-CoV-2 telah menghasilkan pengurangan 15% hingga 40% dalam output di sektor-sektor industri utama dan juga secara temporer mengurangi emisi CO2 Cina hingga seperempatnya. COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL • Tabel 2. Status penurunan permintaan energi dan emisi di sektor utama yang terkait dengan permintan listrik dan keluaran industri di China dalam periode empat minggu yang dimulai 3 Februari 2020. COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL • Sekitar 800 juta ton CO2 (MtCO2) dirilis di Tiongkok pada periode yang sama pada tahun 2019. Disisi lain, NO2, polutan udara yang terkait erat dengan pembakaran bahan bakar fosil menunjukkan 36% lebih rendah di China Gambar 5. menunjukkan status NO2 di Kota–kota besar di China selama Januari 1-20, 2020 dan Februari 10-25, 2020 COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL • Italia, penurunan yang luar biasa telah terungkap dalam polusi NO2 yang berasal dari lalu lintas, terutama kendaraan diesel, yang juga merupakan sumber utama PM Gambar 6. Menunjukkan penguraina tingkat partikulat ukuran 10 mikrometer dan NO2 di Kota– kota besar di Italia setelah 10 hari dari kinerja jarak sosial covid-19 COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL • Prancis juga menunjukkan penurunan yang diukur dalam NOx karena aktivitas ekonomi dan transportasi didalamnya berada pada tingkat minimum karena COVID-19 Gambar 7. Menunjukkan pengurangan tingkat NO2 di Kota – kota besar di Prancis pada Covid-19 saat Lockdown. COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL • New York menunjukkan penurunan 5-10% dalam CO2 dan penurunan padat metana. Selain itu, pandemi COVID-19 menyebabkan kurang ke giatan komersial dan lalu lintas menurunkan tingkat NO2 di wilayah tertentu di seluruh Amerika Serikat. Gambar 8. Menunjukkan status NO2 di Kota –Kota besar di AS selama pembatasan Covid-19 COVID-19 DAN STATUS POLUSI UDARA GLOBAL Gambar 9. Menampilkan kualitas udara di kota –kota besar di India. • COVID-19 telah menyebabkan penurunan PM2,5 30% di Delhi dan 15% di Ahmedabad dan Pune. Di New Delhi, pengalihan dan/atau penghentian penerbangan menyaksikan penurunan tingkat polusi udara sebesar 71% hanya dalam satu minggu, di mana tingkat PM2.5 turun dari dari 91 mikrogram per meter kubik ke 26 mikrogram per meter kubik hanya dalam beberapa hari penguncian. KESIMPULAN DAN PROSPEK • COVID-19 adalah pandemi yang sedang berlangsung dan saat ini masih jauh dari selesai, kesimpulan kuat tidak dapat ditarik dengan data yang sangat terbatas saat ini. Tidak diragukan lagi polusi udara meningkat di seluruh dunia dan telah banyak di laporkan berkaitan erat dengan penyakit paru-paru / pernafasan yang parah pada manusia. • Penghentian angkutan umum nasional dan penutupan unit industri utama telah menghasilkan penurunan yang signifikan dalam emisi berbagai gas yang terkait dengan energi dan transportasi. Oleh karena itu, indikasi pelambatan trasport publik dan pribadi, dan perjalanan dalam mengurangi polusi udara diperkirakan akan merangsang para peneliti, pembuat kebijakan dan pemerintah untuk secara bijaksana menggunakan sumber daya dan dengan demikian meminimalkan emisi global dan mempertahankan ekonomi mereka setelah pandemi mereda. TERIMA KASIH