LAPORAN PRAKTIKUM KARAKTERISTIK BAHAN PANGAN KARAKTERISTIK FISIK UMBI-UMBIAN DOSEN PENGAMPU : Ir.INDRIYANI M.P Ir. SURHAINI M.P DIAN WULANSARI S.TP., M.Si ASISTEN DOSEN : HESI NOVIALISPITA (J1A115005) SITI ROBIATUL HASANAH (J1A115027) DISUSUN OLEH : RICO APRIYANDI (J1A117004) IGA PANGESTIKA (J1A117012) NINA KRISNAWATI (J1A117019) MARDIAH AINUN H (J1A117032) FISKA BOTIA ULFAYANTI (J1A117039) DION ALFARES (J1A117047) PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI 2019 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak zaman dahulu manusia telah mengenal bahwa berbagai jenis akar dan umbi tanaman dapat dipergunakan sebagai makanan maupun obat-obatan. Secara umum yang dimaksud dengan umbi-umbian adalah bahan nabati yang diperoleh dari dalam tanah, yang dapat berupa akar sejati atau perubahan dari akar dan batang yang biasanya merupakan tempat penimbunan cadangan bahan makanan tanaman. Umbi adalah organ tumbuhan yang mengalami perubahan ukuran dan bentuk (pembengkakan) sebagai akibat perubahan fungsinya. Perubahan ini berakibat pula pada perubahan anatominya. Organ yang membentuk umbi terutama batang, akar, atau modifikasinya. Hanya sedikit kelompok tumbuhan yang membentuk umbi dengan melibatkan daunnya. . Umbi-umbian dapat dibedakan berdasarkan asalnya yaitu umbi akar , umbi batang, dan umbi lapis. Umbi akar atau batang sebenarnya merupakan bagian akar atau batang yang digunakan sebagai tempat menyimpan makanan cadangan. Sedangkan umbi lapis merupakan sejenis umbi-umbian yang terbentuk dari tumpukan daun yang rapat dalam format roset. Yang termasuk umbi akar misalnya ubi kayu dan bangkuang, sedangkan ubi jalar, kentang dan gadung merupakan umbi batang, serta kelompok bawang-bawangan termasuk kedalam jenis umbi lapis. Bawang putih termasuk kedalam tumbuhan berumbi lapis atau disebut juga dengan tumbuhan siung yang bersusun. Bawang putih tumbuh secara berumpun dan berdiri tegak sampai 30 – 75 cm, bawang putih ini memiliki batang yang semu yang terbentuk dari pelepah-pelepah daun. Helaian daunnya mirip pita, berbentuk pipih dan memanjang. Bawang memiliki akar berupa serabut-serabut kecil yang berjumlah banyak. Setiap daun bawang putih terdiri dari sejumlah anak bawang (siung) dimana setiap siungnnya terbungkus kulit tipis yang berwarna putih (Untari, 2010). Bawang putih merupakan bahan utama untuk bumbu dasar masakan nusantara. Selain itu ternyata bawang putih juga sangat bermanfaat dan berkhasiat bagi kesehatan. Bawang putih mentah mengandung senyawa-senyawa sulfur, termasuk zat kimia yang disebut Alliin. Zat inilah yang membuat rasa bawang putih menjadi terasa getir atau langur. Bawang putih juga memiliki karakteristik fisik yang ditentukan untuk mengetahui kualitas dan mutu dari bawang putih itu sendiri. Oleh karena itu, dilakukannya praktikum ini untuk mempelajari karakteristik fisik umbi-umbian terutama umbi lapis bawang putih. 1.2 Tujuan Adapun tujuan dilakukannya praktikum ini adalah : 1. Untuk mengetahui karakteristik fisik pada umbi lapis bawang putih 2. Untuk mengetahui waktu reaksi enzimatis pada bawang putih BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bawang Putih Bawang putih (Allium sativum L) merupakan salah tanaman sayuran umbi yang banyak ditanam diberbagai negara di dunia. Di Indonesia bawang putih memiliki banyak nama panggilan seperti orang manado menyebutnya lasuna moputi, orang Makasar menyebut lasuna kebo dan orang Jawa menyebutnya bawang. Masyarakat pada umumnya hanya memanfaatkan bagian umbi saja, utamanya hanya sebagai bumbu dapur. Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa bawang putih memiliki potensi sebagai bahan baku obat-obatan untuk menyembuhkan berbagai penyakit (Faradiba, 2014) 2.1.1. Klasifikasi Bawang Putih Menurut Yuniastuti (2006). sistematika tanaman bawang putih adalah sebagai berikut : Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyta Klas : Monocotyledoneae Ordo : Liliflorae Famili : Liliales atau Liliaceae Genus : Allium Spesie : Allium sativum L. 2.1.2. Morfologi Bawang Putih Morfologi bawang putih terdiri atas akar, batang, daun, bunga dan umbi. Struktur morfologi bawang putih dapat dijelaskan pada Gambar 2.1. Gambar 2.1 Bagian-bagian dari tanaman bawang putih (Sumber: Samadi, 2000) 1. Akar Tanaman bawang putih memiliki sistem perakaran dangkal yang berkembang dan menyebar disekitar permukaan tanah sampai pada kedalaman 10 cm. Bawang putih memiliki akar serabut dan terbentuk di pangkal bawah batang sebenarnya (discus). Akar tersebut tertanam dalam tanah sebagai alat untuk menyerap air dan unsur hara dari tanah. Sistem perakaran bawang putih menyebar ke segala arah, namun tidak terlalu dalam sehingga tidak tahan pada kondisi tanah yang kering (Samadi, 2000). 2. Batang Batang bawang putih merupakan batang semu dan berbentuk cakram. Batang tersebut terletak pada bagian dasar atau pangkal umbi yang terbentuk dari 9 pusat tajuk yang dibungkus daun-daun. Ketinggian batang semu bawang putih dapat mencapai 30 cm (Samadi, 2000). 3. Daun Daun tanaman bawang putih memiliki ciri morfologis yaitu berbentuk pita, pipih, lebar dan berukuran kecil serta melipat ke arah dalam sehingga membentuk sudut pada pangkalnya. Satu tanaman bawang putih biasanya memiliki 8-11 helai daun. Permukaan daun bagian atas berwarna hijau muda dengan kelopak daun yang tipis, kuat, dan membungkus kelopak daun yang yang lebih muda (Samadi, 2000). 4. Bunga Tanaman bawang putih dapat berbunga namun hanya pada varietas tertentu saja. Bunga bawang putih berupa bunga majemuk yang berbentuk bulat seperti bola, berwarna merah jambu, berukuran kecil, tangkainya pendek, dan bentuknya menyerupai umbi bawang. Bunga yang tumbuh dapat menghasilkan biji. Umumnya pada sebagian besar varietas, tangkai bunga tidak tumbuh keluar melainkan hanya sebagian bunga saja yang tampak keluar bahkan tidak sedikitpun bagian bunga yang keluar karena sudah gagal sewaktu masih berupa tunas (Wibowo, 2007).Pembungaan pada bawang putih dapat mengganggu perkembangan umbi dan tidak memiliki nilai ekonomi sehingga biasanya para petani akan membuangnya. Pada bagian tangkai bunga terbentuk umbi kecil yang menyebabkan pembengkakan sehingga umbi terlihat seperti bunting. Umbi-umbi 10 kecil tersebut dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan secara vegetative dengan cara ditanam berulang-ulang selama lebih kurang 2 tahun (Rukmana, 1995). 5. Umbi Umbi bawang putih tersusun dari beberapa siung yang masing-masing terbungkus oleh selaput tipis yang sebenarnya merupakan pelepah daun sehingga tampak seperti umbi yang berukuran besar (Rukmana, 1995). Ukuran dan jumlah siung bawang putih bergantung pada varietasnya. Umbi bawang putih berbentuk bulat dan agak lonjong. Siung bawang putih tumbuh dari ketiak daun, kecuali ketiak daun paling luar. Jumlah siung untuk setiap umbi berbeda tergantung pada varietasnya. Bawang putih varietas lokal biasanya pada setiap umbinya tersusun 15-20 siung (Samadi, 2000). 2.1.3. Komposisi Kimia Bawang Putih Bawang putih merupakan salah satu tanaman dengan kandungan senyawa aktif yang tinggi. Senyawa aktif tersebut berdampak positif dan bermanfaat besar bagi tubuh diantaranya seperti allicin, protein, vitamin B1, B2, C, dan D. Senyawa aktif yang berfungsi sebagai antioksidan pada bawang putih adalah allicin. Bawang putih yang dipotong atau dihancurkan akan menyebabkan allinase mengkonversi alliin menjadi allicin (diallylthiosulphinate atau 2- prophenyl-2propenethiol sulphinate). Allicin bersifat tidak stabil sehingga mudah terurai. Kemampuan allicin menekan produksi nitrat oksida (NO) dengan cara mengendalikan iNOS mRNA pada konsentrasi rendah dan mengendalikan CAT-2 mRNA pada konsentrasi tinggi. Melalui mekanisme tersebut allicin mampu mencegah reaksi akibat radikal bebas (Atmadja, 2002) 2.1.4. Manfaat Bawang Putih Bawang putih termasuk tanaman rempah yang bernilai ekonomi tinggi karena memiliki beragam kegunaan. Tidak hanya di dapur, bawang putih memegang peranan sebagai tanaman apotek hidup yang sanggup berkiprah. Manfaat utama bawang putih adalah sebagai bumbu penyedap masakan yang membuat masakan menjadi beraroma dan mengundang selera. Meskipun kebutuhan untuk bumbu masakan hanya sedikit, namun tanpa kehadirannya masakan akan terasa hambar (Solihin, 2009) Zat-zat kimia yang terdapat pada bawang putih adalah Allisin yang berperan memberi aroma pada bawang putih sekaligus berperan ganda membunuh bakteri gram positif maupun bakteri gram negatif karena mempunyai gugus asam amino para amino benzoat, Sedangkan Scordinin berupa senyawa kompleks thioglosida yang berfungsi sebagai antioksidan. Tidak seperti antibiotika sintetis, daya antibiotika bawang putih bekerja ke seluruh tubuh, bukan hanya ditempat yang sakit. Sebagai antibiotik alami, bawang putih bisa dimakan langsung dalam bentuk mentah, bisa pula direbus terlebih dahulu atau dicampurkan ke dalam masakan. Bawang putih digunakan sebagai obat dalam seperti : mengurangi kadar kolesterol dalam darah, mencegah serangan jantung, menstabilkan sistem pencernaan yang terganggu, meningkatkan daya tahan tubuh, mengobati nyeri sendi, menghambat penuaan sel otak, mengurangi gejala diabetes melitus, asma dan lain sebagainya. Sebagai obat luar digunakan untuk mengobati jerawat, bisul, sakit gigi, infeksi jamur pada kaki, infeksi telinga, mengobati panu, kadas, kurap dan lain sebagainya (Lingga, 2012) Bawang putih bermanfaat bagi kesehatan karena mengandung unsur-unsur aktif, memiliki daya bunuh terhadap bakteri, sebagai bahan antibiotik, merangsang pertumbuhan sel tubuh, dan sebagai sumber vitamin B1. Selain itu, bawang putih mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi, dan mengandung sejumlah komponen kimia yang diperlukan untuk hidup manusia. Dewasa ini, bawang putih dimanfaatkan sebagai penghambat perkembangan penyakit kanker karena mengandung komponen aktif, yaitu selenium dan germanium (Atmadja, 2002) BAB III METODELOGI 3.1 Waktu dan Tempat Pratikum ini dilaksanakan pada hari jumat pada tanggal 2019 pada pukul 13.00- selesai. Pratikum ini dilaksanakan di laboratorium fisika Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jambi. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan pada pratikum ini adalah pisau, jangka sorong dan timbangan analitik sedangkan bahan yang digunakan pada pratikum ini adalah bawang putih. 3.3 Prosedur Kerja Bawang putih Diamati aroma, warna dan penampakan umum Diamati ukuran engan menggunakan jangka sorong Diamati bentuk Dikupas dan dibuang yang tidak dapat dimakan Dihitung edible portion Digambar struktur melintang dan membujur dihitung waktu pengcoklatan Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Lalu amati warna, aroma dan penampakan dari bawang putih. Selanjutnya ukur diameter dari bawang putih setelah itu bwang putih dikupas dan dibuang bagian yang tidak dapat dimakan setelah itu ditimbang kembali bwang putih dan hitung edible portionnya. Selanjutnya gambarkan struktur melintang dan membujur serta hitung waktu pengcoklatan dari bawang putih. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan Tabel 1. Hasil Pengamatan karakteristik fisik pada umbi-umbian (bawang putih). Bahan bawang putih Warna putih gading Rasa agak pedas, after taste: getir, lengket Aroma Bentuk melintang kurang beraroma membujur lebih beraroma 1 bonggol Oval 1 siung Seperti bulan sabit Bagian yang dapat dimakan 61,87 gram Bagian yang tidak dapat dimakan 2,88 gram Berat kotor Berat bersih 1 bonggol 64,75 gram 1 siung 4,87 gram 1 bonggol 61,87 gram 1 siung 4,75 gram Tebal 1,43 cm Panjang 3,58 cm Lebar 1,78 cm Lama proses pencoklatan % Edible portion membujur 38:23 menit melintang 38:36 menit 95,55% 4.2 Pembahasan Pada praktikum karakteristik bahan pangan kali ini dilakukan pengamatan tentang karakteristik fisik dari jenis umbi-umbian, baik itu warna, rasa, bentuk, ukuran, berat maupun edible portionnya. Umbi-umbian adalah salah satu hasil pertanian Indonesia. Jadi kita harus mengetahui sifat-sifat fisiknya. Sifat fisik bahan pangan dapat didefinisikan sebagai sifat atas karakteristik yang mendeskripsikan secara fisik bahan pangan. Karakteristik fisik berhubungan dengan karakteristik bahan yang tidak melibatkan perubahan zat pada bahan tersebut (Nurhadi dan Siti, 2010). Pada praktikum ini diamati karakteristik fisik dari umbi-umbian yaitu bawang putih. Bawang putih adalah jenis tanaman berbentuk umbi. Bawang putih merupakan jenis bawang-bawangan yang berwarna putih atau kuning. Bawang putih dilapisi dengan kulit yang tipis. Berbeda dengan jenis bawang lainnya, bawang putih tidak berbentuk seperti buku. Bawang putih berbentuk umbi yang utuh. Bawang putih mempunyai karakteristik khas yakni beraroma tajam dan memiliki rasa pedas. Bawang putih cukup mudah ditemui di negara tropis seperti Indonesia dan negara-negara di Asia. Hal ini dikarenakan bawang putih telah menjadi bahan bumbu utama untuk masakan Asia dan mudah tumbuh di negara tropis. Bawang putih mempunyai banyak manfaat, bahkan daunnya juga menjadi bahan utama dalam bumbu masakan. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, sifat fisik bawang putih yang telah diamati yaitu bawang putih memiliki warna putih gading, rasanya agak pedas dan after taste: getir, berbentuk oval (satu bonggol) dan berbentuk seperti bulan sabit (satu siung), memiliki panjang 3,58 cm, tebal 1,43 cm dan lebar 1,78 cm. untuk bagian yang dapat dimakan (edible portion) pada bawang putih yaitu 95,55%. Rasa pada bawang putih yaitu agak pedas dan ada after taste setelah dimakan dikarenakan pada bawang putih memiliki senyawa alicin. Nilai edible portion yang diperoleh menandakan bahwa hampir sebagian besar bagian dari bawang putih dapat dimakan, kecuali bagian kulit dan sedikit diujungnya. Praktikum ini juga dilakukan pengamatan tentang lama terjadinya reaksi pencoklatan pada bawang putih yang diamati setelah dilakukan proses pemotongan secara melintang dan membujur. Menurut Herudiyanto (2006), pencoklatan enzimatis berefek negatif pada bahan pangan. Pencoklatan enzimatis ini tidak diinginkan karena dapat mempengaruhi rasa, warna, dan nilai gizi dari makanan, serta dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang luar biasa. Pencoklatan enzimatis ini dipengaruhi oleh oksigen, enzim, serta komponen fenolik. Menurut Zulfahnur, et al (2009), semakin luas permukaan suatu bahan, maka semakin cepat terjadinya reaksi pencoklatan secara enzimatis pada bahan akibat adanya kontak dengan oksigen dan aktivitas enzim polifenol oksidase yang terkandung pada bahan sejak bahan tersebut dipotong. Pada pengamatan struktur fisik bawang putih yang dipotong membujur dan melintang, aroma bawang putih yang dipotong membujur lebih beraroma dibanding yang dipotong melintang. Hal ini dikarenakan luas permukaan bahan yang dipotong membujur lebih luas sehingga aromanya lebih tercium. Dan lamanya reaksi pencoklatan yang terjadi pada bawang putih yang dipotong membujur lebih cepat mengalami reaksi pencoklatan dibanding bawang putih yang dipotong melintang. Dengan waktu pencoklatan yang dipotong membujur 38:23 menit dan yang dipotong melintang 38:36 menit. Hal ini disebabkan karena bawang putih yang dipotong membujur memiliki luas permukaan yang lebih luas dibanding bawang putih yang dipotong melintang. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Bawang putih memiliki karakteristik fisik yaitu berwarna putih atau kuning, dilapisi dengan kulit yang tipis, satu bonggol bawang putih berbentuk oval dan satu siungnya berbentuk seperti bulan sabit, beraroma tajam dan memiliki rasa pedas, getir, dan lengket. 2. Lama reaksi pencoklatan pada bawang putih yang dipotong membujur yaitu 38:23 menit dan yang dipotong melintang yaitu 38:36 menit. Dimana semakin luas permukaan suatu bahan, maka semakin cepat terjadinya reaksi pencoklatan secara enzimatis akibat adanya kontak dengan oksigen dan aktivitas enzim polifenol oksidase yang terkandung pada bahan sejak bahan tersebut dipotong. 5.2 Saran Diharapkan dalam praktikum selanjutnya praktikan lebih memahami prosedur praktikum yang dilakukan agar data yang didapatkan tidak bias. DAFTAR PUSTAKA Atmadja, Djaja Surya. 2002. Bawang putih untuk kesehatan. Jakarta: Bumi Aksara Faradiba, S. (2014). Efektivitas Bawang Putih (Allium sativum) dalam Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus epidermidis. Disertasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Jakarta : UIN Jakarta Herudiyanto, Marlen S. 2006. Pengantar Teknologi Pengolahan Pangan. Bandung: Widya Padjajaran. Lingga, L. 2012. Terapi Bawang Putih Untuk Kesehatan. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Nurhadi, Bambang., dan Siti Nurhasanah. 2010. Sifat Fisik Bahan Pangan. Bandung : Widya Padjajaran. Rukmana, R, 1995. Bawang Merah Budidaya Dan Pengolahan Pasca Panen. Jakarta : Kanisius. Samadi, budi.2000. Usaha Tani Bawang Putih. Yogyakarta: Kanisius Solihin. 2009. Manfaat bawang putih. Jakarta: Media Management. Untari, Ida. 2010. Bawang Putih Sebagai Obat Paling Mujarab Bagi Kesehatan. Jurnal Gaster, Vol.7 (1). Hal: 547 – 554. Wibowo, Singgih.2006. Budi Daya Bawang. Jakarta : penebar swadaya Yuniastuti, K. (2006). Ekstraksi dan identifikasi Komponen Sulfide pada Bawang Putih. Semarang : Universitas Negeri Semarang. Zulfahnur, et al. 2009. Mempelajari Pengaruh Reaksi Pencoklatan Enzimatis Pada Buah dan Sayur. Bogor: Institut Pertanian Bogor. LAMPIRAN Lmpiran 1. Gambar Gambar 1. Sebonggol Bawang Putih Gambar 3. Pengukuran Panjang 1 Siung Bawang Gambar 5. Pengukuran Tebal 1 Siung Bawang Gambar 7. Penimbangan 1 Siung Bawang Gambar 2. Penimbangan Bawang Putih Gambar 4. Pengukuran lebar 1 Siung Bawang Gambar 6. Pengupasan Kulit Bawang