Uploaded by User53724

MAKALAH TEMATIK KELOMPOK 2 - Copy (2)

advertisement
MAKALAH
MAMPU MEMAHAMI KURIKULUM TERPADU
Dengan Matakuliah Konsep Dasar Pembelajaran Tematik
Dosen Pengampu : Suhardin M.Si
Disusun oleh :
Kelompok II :
1.
SERLI MULYANTI
(2018070105)
2.
INDAH RAHAYU
(2018070110)
3.
MITA USWATUN
(2018070104)
4.
NENENG KURNIA
(2018070112)
5.
LIA ALFERA
( 2018070106)
6.
YUYUN SAFIRA
(2018070111)
Kelas : IV/ D
Prody : PGSD
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN TAMAN SISWA BIMA
TAHUN AKADEMIK 2019/2020
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul konsep dasar pembelajaran tematik
ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari dosen
suhardin M.Si pada mata kuliah pembelajaran tematik. Selain itu, makalah ini juga bertujuan
untuk menambah wawasan tentang konsep dasar pbelajaran tematik bagi para pembaca dan
juga bagi penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak suhardin M.si selaku dosen pengampu
mata kuliah pembelajaran tematik yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah
pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Kota Bima, 27 April 2020
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................................
i
KATA PENGANTAR ......................................................................................................
ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................
1
A. Latar Belakang ............................................................................................................
2
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................
2
C. Tujuan Penulisan .........................................................................................................
3
D. Manfaat Penulisan .......................................................................................................
3
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................
4
A. konsep dasar pembelajaran tematik ............................................................................
4
B. pengertian pembelajara tematik ...................................................................................
8
C. landasan pembelajaran tematik ....................................................................................
20
D. prinsip pembelajaran tematik integratif ......................................................................
24
E. karakteristik pembelajaran tematik...............................................................................
30
F. rambu-rambu pembelajaran tematik ............................................................................
35
G. kekuatan dan keterbatasan pembelajaran tematik ........................................................
3
BAB III PENUTUP .........................................................................................................
36
A. Kesimpulan .................................................................................................................
36
B. Saran ............................................................................................................................
38
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................
40
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seiring berjalannya waktu, perkembangan dunia pendidikan mengalami perkembangan
yang pesat. Untuk itu peningkatan mutu pembelajaran di sekolah perlu dilakukan. Peningkatan
mutu pembelajaran tersebut akan selalu mendapatkan perbaikan-perbaikan secara berkelanjutan
yang dilakukan melalui perubahan kurikulum sekolah oleh pemerintah. Perubahan kurikulum
yang terjadi merupakan hal yang biasa dan merupakan suatu keniscayaan dalam rangka
mengikuti perkembangan masyarakat yang begitu cepat. Pada tahun ajaran baru 2013,
pemerintah dalam hal ini Kemdikbud mulai menerapkan kurikulum baru di semua jenjang
pendidikan sekolah. Kurikulum 2013 tersebut pada jenjang SD/MI mendapatkan porsi perubahan
yang cukup banyak. Salah satu ciri kurikulum 2013 adalah bersifat tematik integratif pada level
pendidikan dasar (SD). Oleh karena itu, makalah ini akan membahas tentang konsep dasar
pembelajaran tematik.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dasar pembelajaran tematik?
2. Apa yang dimaksud dengan pembelajara tematik?
3. Apa landasan pembelajaran tematik?
4. Bagaimana prinsip pembelajaran tematik integratif?
5. Bagaimana karakteristik pembelajaran tematik?
6. Bagaimana rambu-rambu pembelajaran tematik?
7. Apa kekuatan dan keterbatasan pembelajaran tematik?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar pembelajaran tematik.
2. Untuk mengetahui pengertian pembelajara tematik.
3. Untuk mengetahui landasan pembelajaran tematik.
4. Untuk mengetahui prinsip pembelajaran tematik integratif.
iv
5. Untuk mengetahui karakteristik pembelajaran tematik.
6. Untuk mengetahui rambu-rambu pembelajaran tematik.
7. Untuk mengetahui kekuatan dan keterbatasan pembelajaran tematik.
D. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini menggunakan
studi kepustakaan yang bersumber dari berbagai media buku maupun media cetak/elektronik
yang sesuai dengan materi yang akan dibahas.
v
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk
mengitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada
murid. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan.
(Poerwadarminta, 1983).
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu (integrated
instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara
individu maupun kelompok aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip
keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.
Dalam bukunya, Interdisciplinary Curriculum: Design and Implementation, Jacob (1989)
menjelaskan bahwa tumbuh kembangnnya minat dan kebutuhan atas kurikulum terpadu
(integrative curriculum) dipicu oleh sejumlah hal berikut ini.
1. Perkembangan pengetahuan
Perkembangan pengetahuan tumbuh sangat pesat dalam berbagai bidang. Kemajuan
tersebut tidak serta merta dapat diadopsi dalam kurikulum. Akibatnya, apa yang sedang
dan telah dipelajari siswa kerap basi dan usang karena telah tertinggal jauh oleh
perkembangan yang terjadi.
2. Fragmentasi jadwal pembelajaran (fragmented schedule)
Merancang dan melaksanakan pembelajaran di sekolah dibentengi oleh satuan waktu
yang disebut menit. Karena waktunya sudah habis, kegiatan yang sedang berlangsung
terpaksa harus diputus, dan segera berpindah pada pelajaran yang baru. Para siswa belajar
dengan terpenggal-penggal dan terputus-putus tanpa mempedulikan ketuntasan dan
keutuhan.
3. Relevansi kurikulum
vi
Kegiatan pembelajaran yang dialami anak menjadi membosankan dan tidak berguna,
ketika mereka tidak mengerti untuk apa mempelajari Matematika, IPS, IPA, dan
sebagainya. Pembelajaran hanya dilakukan demi pelajaran itu sendiri, atau sekedar
menghadapi tes dan ujian. Padahal, ketika bangun dipagi hari atau begitu menamatkan
sekolah, anak dihadapkan pada sekeranjang masalah kehidupan nyata yang memerlukan
pemecahan secara baik dan dari berbagai sudut pandang. Persoalan itu pulalah yang kerap
memicu perdebatan tentang apa tujuan pendidikan sekolah, apa yang harus dialami dan
dipelajari anak, dan bagaimana semestinya pendidikan itu dilaksanakan. Kurikulum
menjadi relevan dan bermakna ketika pelajaran-pelajaran yang harus dikuasai siswa
terkait satu sama lain.
4. Respons masyarakat terhadap fragmentasi pembelajaran
Ketika seorang caon dokter dididik menjadi dokter, ia tidak hanya diajar tentang halhal yang bersifat fisik, biologis, dan media, ia pun diajari pula tentang filosofi manusia,
psikologi, etika, dan komunikasi yang dapat membekalinay dengan penyikapan terhadap
manusia secara utuh. Spesialisasi memang penting, tetapi pendulum akan tetap bergerak
dan mengarah pada keseimbangan. Karena itu pula, interdisiplin akan membantu siswa
untuk dapat lebih baik dalam mengintegrasikan pengetahuan dan strategibelajarnya guna
menghadapi kompleksitas dunia.
Sifat keterhubungan antar-disiplin itu pada kenyataannya melahirkan sejumlah
vasiasi yang memiliki makna yang tidak persis sama (Jacob, Ed., 1989, dan Pitts, dkk.,
1991), di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Paralel disiplin: Pembelajaran yang mengurutkan suatu pelajaran dengan pelajaran
lain berkenaan dengan suatu isu atau konsep yang sama.
2. Lintas disiplin atau crossdisclinary: Pembelajaran yang memandang suatu bidang
studi dari perspektif bidang studi lain.
3.
Pluridisiplin: Pembelajaran yang menghubungkan antardua bidang studi yang
berbeda dengan menggunakan sebuah tema.
4. Multidisiplin: Pembelajaran yang bertolak dari suatu tema dengan mengusung satu
bidang studi inti, dan menyertakan pula bidang studi lain. Tak ada upaya untuk
menghubungkan antarbidang studi.
vii
5. Interdisiplin: Pembelajaran yang secara sadar menghubungkan tujuan, isi, dan
kegiatan belajar dari berbagai bidang studi yang berbeda untuk menggali sebuah tema.
6. Keterpaduan hari atau integradet-day: Program pembelajaran sehari (full-day program)
yang didasarkan atas tema utama dan masalah yang muncul dari dunia anak.
Penekanannnya pada suau pendekatan organik terhadap kehidupan kelas yang
berfokus pada kurikulum yang digali dari pertanyaan dan minat anak.
7. Program lengkap atau complete program: pembelajaran yang bertolak dari kurikulum
yang bersumber dari kehidupan sehari-hari siswa. Ini adalah bentuk terekstrem dari
interdisiplin dan program integratif yang total karena kehidupan siswa sama dengan
sekolah.
Dari berbagai istilah tersebut, Jacob lebih menyukai istilah interdisiplin sebagai
payung karena memandang pengetahuan dan pendekatan kurikulum yang menerapkan
secara sadar metodologi dan bahasa lebih dari satu disiplin utnuk menguji relevansi dan
kebermaknaan tema sentral, isu, masalah, topik, atau pengalaman.
Pada
dasarnya
pembelajaran
terpadu
dikembangkan
untuk
menciptakan
pembelajaran yang di dalamnya siswa sendiri aktif secara mental membangun
pengetahuannya yang dilandasi oleh struktur kognitif yang telah dimilikinya. Pendidik
lebih berperan sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran. Penekanan tentang belajar
dan mengajar lebih berfokus pada suksesnay siswa mengorganisasi pengalaman mereka,
bukan ketepatan siswa dalam melakukan replikasi atas apa yang dilakukan pendidik.
Menurut aliran progresif, anak merupakan satu kesatuan yang utuh, perkembangan
emosi dan sosial sama pentingnya dengan perkembangan intelektual. Dewey
mengungkapkan bahwa Education is growth, development, and life. Hal ini berarti bahwa
proses pendidikan itu tidak mempunyai tujuan di luar dirinya, tetapi terdapat dalam
pendidikan itu sendiri. Proses pendidikan juga bersifat kontinu dan merupakan
reorganisasi, rekonstruksi, dan pengetahuan pengalaman hidup.
Pengembangan pembelajaran terpadu di sekolah dasar didasari beberapa hal, yaitu:
a. Sesuai dengan penghayatan dunia kehidupan anak yang bersifat holistik.
b. Sesuai dengan potensi pengaitan mata pelajaran di sekolah dasar sehingga mampu
membuahkan penguasaan isi pembelajaran secara utuh.
viii
c. Idealisasi pelaksanaan kurikulum yang selayaknya dikembangkan secara integratif.
(Depdikbud, 1995:3).
B. Pengertian Pembelajaran Tematik
Konsep pembelajaran tematik merupakan pengembangan dari dua tokoh pendidikan yakni
jacob (1989) dengan konsep pembelajaran interdisipliner dan fagory (1991) dengan konsep
pembelajaran terpadu. Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran
yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik baik dalam intramata pelajaran maupun
antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan
dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran jadi bermakna bagi peserta didik.
Bermakna artinya bahwa pada pembelajaran tematik peserta didik akan dapat memahami
konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata yang
menghubungkan antar konsep dalam intra maupun dalam mata pelajaran. Jika dibandingkan
dengan pendekatan konvensional, pembelajaran tematik tampak lebih menekankan pada
keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran sehingga peserta didik aktif terlibat dalam
proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan.
BNSP (2006:35) menyatakan bahwa pengalaman belajar peserta didik menempati posisi
penting dalam usaha meningkatkan kualitas lulusan. Untuk itu, pendidik dituntut mampu
merancang dan melaksanakan pengalaman belajar dengan tepat. Setiap peserta didik
memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapt hidup di masyarakat, dan bekal ini
diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar disekolah. Oleh karena itu, pengalaman belajar
di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal bagi peserta didik dalam mencapai kecakapan
untuk berkarya. Kecakapan ini disebut dengan kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas
dibandingkan dengan keterampilan.
Kurikulum 2013 SD/MI menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif dari
kelas I sampai kelas VI. Pembelajaran tematik integratif merupakan pendekatan pembelajaran
mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran kedalam berbagi tema.
Kata tema berasal dari kata yunani tithenai, yang berati “menempatkan” atau “meletakkan”
dan kemudian kata itu mengalami perkembangan sehingga kata tithenai berubah menjadi tema.
ix
Menurut arti katanya ,tema berarti “sesuatu yang telah diuraikan” atau “sesuatu yang telah
ditempatkan” (Gorys keraf, 2001: 107)
Adapun pengertian luas, tema merupakan alat atau wadah untuk mengenalkan berbagai
konsep kepada anak didik secara utuh. Dalam pembelajaran tema diberikan dengan maksud
menyatukan isi kurikulum dalam satu kesatuan yang utuh, memperkaya perbendaharaan bahasa
anak didik dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Penggunaan tema dimaksudkan agar
anak mampu mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas. Pembelajaran tematik
merupakan suatu strategi pembelajaran yang meliibatkan beberpa mata pelajaran untuk
memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Keterpaduan pembelajaran ini dapaat
dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar-mengajar. Jadi
pembelajaran tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema sebagai pemersatu
materi dalam beberapa mata pelajaran sekaligus dalam satu kali pertemuan.
Pengertian pembelajaran tematik dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pembelajaran yang berangkat dari suatu tema tertentu sebagai pusat yang digunakan
untuk memahami gejala-gejala, dan konsep-konsep, baik yang berasal dari bidang studi
yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya.
2. Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang
mencerminkan dunia riil di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan
anak.
3. Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan.
4. Menggabungkan suatu konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda dengan
harapan anak akan belajar lebih baik dan bermakna.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik adalah
pembelajaran yang dirancang berdasarkan tema-tema tertentu. Dalam pembahasannya tema itu
ditinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh, tema “Air” dapat ditinjau dari mata
pelajaran fisika, kimia, biologi, dan matematika. Lebih luas lagi, tema itu dapat ditinjau dari
bidang studi lain. Seperti IPS, bahasa, agama, dan seni. Pembelajaran tematik menyediakan
keluasan dan kedalaman implementasi kurikulum, menawarkan kesempatan yang sangat banyak
pada peserta didik untuk memunculkan dinamika dalam proses pembelajaran. Unit yang tematik
adalah epitome dari seluruh bahasa pembelajaraan yang memfasilitasi peserta didik untuk
x
produktif menjawab pertanyaan yang dimunculkan sendiri dan memuaskan rasa ingin tahu
dengan penghayatan secara alamiah tentang dunia disekitar mereka.
C. Landasan Pembelajaran Tematik
Adapun landasan pembelajaran tematik mencakup:
1. Landasan filosofis
Dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu:
a.Aliran Progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada
pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural),
dan memperhatikan pengalaman siswa
b. Aliran konstruktivisme melihat penglaman langsung siswa (direct expreriences)
sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini pengetahuan adalah hasil
konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengonstruksi pengetahuan melalui
interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak
dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan
sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi,
melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Keaktifan siswa yang
diwujudkan
oleh
ras
ingin
tahunya
sangat
berperan
dalam
perkembangan
pengetahuannya.
c. Aliran humanisme melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan
motivasi yang dimilikinya.
2. Landasan psikologis
Pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan pserta
didik dengan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam
menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar agar
tingkat keluasaan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran
tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula siswa harus
mempelajarinya.
xi
3. Landasan yuridis
Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan
yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis
tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan
bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya
(pasal 9). UU No. 20 Tahun 2002 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan
bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan
pendidikan sesuai bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V pasal 1-b).
D. Prinsip Pembelajaran Tematik Integratif
Beberapa prinsip yang berkenaan dengan pembelajaran tematik integratif sebagai berikut:
1. Pembelajaran tematik integratif memiliki satu tema yang aktual dekat dengan dunia
siswa dan ada dalam kehidupan sehari-hari. Tema ini menjadi satu pemersatu materi
yang beragam dari beberapa mata pelajaran.
2. Pembelajaran tematik integratif perlu memilih materi beberapa mata pelajaran yang
mungkin saling terkait. Dengan demikian materi-materi yang di pilih dapat
mengungkapkan tema secara bermakna. Mungkin terjadi pengayaan horizontal
dalam bentuk contoh aplikasi yang tidak termuat dalam standart isi. Namun ingat,
penyajian materi pengayaan seperti ini perlu di batasi dengan mengacu pada tujuan
pembelajaran.
3. Pembelajaran tematik integratif tidak boleh bertentangan dengan tujuan kurikulum
yang berlaku tetapi sebaliknya pembelajaran tematik integratif harus mendukung
pencapaian tujuan utuh kegiatan penbelajaran yang termuat dalam kurikulum.
4. Materi
pembelajaran
yang
dapat
di
padukan
dalam
satu
tema
selalu
mempertimbangkan karakteristik siswa seperti minat, kemampuan, kebutuhan, dan
pengetahuan awal.
5.
Materi awal yang di padukan tidak terlalu di paksakan. Artinya, materi yang tidak
mungkin di padukan tidak usah di padukan.
xii
E. Karakteristik Pembelajaran Tematik.
Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar. Pembelajaran tematik memiliki
karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
1. Berpusat pada siswa.
Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered). Hal ini sesuai dengan
pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subyek belajar,
sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator,yaitu memberikan kemudahankemudahan kepada siswa untukmelakukan aktifitas belajar.
2. Memberikan pengalaman langsung.
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct
experiences). Dengan pengalaman langsung ini,siswa di hadapkan pada sesuatu yang
nyata (konkret) sebagai asar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu
Dalam pelajaran tematik, pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
Fokus pembelajaran di arahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat
berkaitan dengan kehidupan siswa.
4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
Pembelajaran tematik menyajikan konsep –konsep dari berbagai mata pelajaran
dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian siswa mampu memahami konsepkonsep tersebut secara utuh. Hal ini di perlukan untuk membantu siswa dalam
memecahkan masalah-masalah yang di hadapi dalam kehidupan sehari – hari .
5. Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan
bahan ajar dari satumata pelajaran dengan mata pelajaran yang laennya.
6. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.
Adapun karakteristik dari pembelajarantematik ini menurut TIM Pengembang
PGSD , 1997 (Hesty, 2008). Adalah:
a. Holistik,
xiii
Suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran
tematik di amati dan di kaji dari beberapa bidang studi sekaligus,tidak dari sudut
pandang yang berkotak-kotak.
b. Bermakna,
Pengkajian suatu fenomena dari berbagai
macam aspek, memungkinkan
terbentuknya semacam jalinan antar schemata yang di miliki oleh siswa ,yang gilirannya
nanti akan memberikan dampak kebermaknaan dari materi yang di pelajari.
c. Otentik
Pembelajaran tematik memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan
prinsip yang ingin di pelajari.
d. Aktif,
Pembelajaran tematik di kembangkan dengan berdasar pada pendekatan “inquiry
discovery” dimana siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran ,mulai
perencanaan,pelaksanaan,hingga proses evaluasi.
F. Rambu–rambu Pembelajaran Tematik
Adapun rambu–rambu pembelajaran tematik adalah sebagai berikut:
1. Tidak semua mata pelajaran harus disatukan
2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
3. Kompetensi dasar yang tidak dapat di padukan, tidah harus dipadukan. Kompetensi dasar
yang tidak dapat diintegrasikan dibelajarkan secara
4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik
melalui tema lain maupun disajikan secara
5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menullis, dan berhitung
serta penanaman nilai –nilai moral.
6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteritik siswa, lingkungan, dan daerah
Prinsip –prinsip pemilihan tema sebagai berikut:
1. Kedekatan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema yang terdekat dengan
kehidupan anak kepada tema yang semakin jauh dari kehidupan
xiv
2. Kesederhanaan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema-tema yang sederhana,
ketema-tema yang lebih rumit bagi anak-anak.
3. Kemenarikan, artinya tema hendaknya dipilih mulai dari tema-tema yang menarik minat
anak kepada tema-tema yang kurang menarik minat
4. Keinsidentalan, artinya peristiwa atau kejadian di sekitar anak (sekolah) yang terjadi pada
saat pembelajaran berlangsung, hendaknya dimasukkan dalamp embelajaran walaupun
tidak sesuai dengan tema yang dipilih pada hari
G. Kekuatan dan Keterbatasan Pembelajaran Tematik
Pembelajaran terpadu memiliki kelebihan dibandingkan pendekatan konvesional, yaitu
sebagai berikut:
1. Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat
perkembangan
2. Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta
3. Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar akan
dapat bertahan lebih lama.
4. Pembelajarn terpadu menumbuh kembangkan keterampilan berfikir dan sosial peserta
5. Pembelajarn terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat Dengan permasalahan yang
sering ditemui dalamk ehidupan/lingkungan riil peserta didik.
6. Jika Pembelajarn terpadu di rancang bersama dapat meningkatkank erjasama antar guru
bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik,
pesertadidik/guru dengan narasumber sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar
dalam situasi nyata, dand alam konteks yang lebih
Selain itu, pembelajaran tematik memiliki kelebihan dan arti penting, yakni sebagai berikut:
1. Menyenangkan, karena berangkat dari minat dan kebutuhan anak
2. Memberikan pengalaman dan kegiatan belajar mengajar yang relevan dengan tingkat
perkembangan dan kebutuhan anak
3. Hasil belajar dapat bertahan lama karena lebih berkesan dan
4. Menggembangkan keterampilan berpikir anak didik sesuai dengan persoalan yang
dihadapi.
5. Menumbuhkan keterampilan sosial melalui
xv
6. Memiliki sikap toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
7. Menyajikan kegiatan yang bersifat nyata sesuai dengan persoalan yang dihadapi dalam
lingkungan anakanak
Di samping kelebihan, pembelajaran terpadu memiliki keterbatasan terutama dalam
pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak
menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak
pembelajaran langsung saja. Puskur, Balitbang Diknas mengidentifikasi beberapa aspek
keterbatasan pembelajaran terpadu, yaitu sebagai berikut.
1. Aspek Guru.
Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan
metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi dan berani mengemas dan
mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali
informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan
banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian
tertentu saja. Tanpa kondisi ini, pembelajaran terpadu akan sulit terwujud.
2. Aspek peserta
Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan belajar peserta didik yang relative
“baik”, baik dalam kemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena
model
pembelajaran
terpadu
menekankan
padakemapuan
analistis
(mengurai),
kemampuan asosiatif (menghubung-hubungkan), kemampuan eksplorati fdan elaborative
(menemukandanmenggali). Jikakondisi ini tidak dimiliki, penerapan model pembelajaran
terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
3. Aspek sarana dan sumber
Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup
banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang,
memperkaya dan mempermudah pengembangan wawasan. Jika sarana ini tidak dipenuhi,
penerapan pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
4. Aspek kurikulum
Kurikulum harusl uwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman
peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi
xvi
kewenangan
dalam
mengembangkan
materi,
metode,
penilaian
keberhasilan
pembelajaran peserta didik.
5. Aspek pembelajaran terpadu
Pembelajaran
terpadu
membutuhkan
cara
penilaian
yang
menyeluruh
(komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang
kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyedikan
teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga
dituntut untuk berkoordianasi dengan guru lain jika materi pembelajaran berasal dari guru
yang berbeda.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Model pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang menunjukan kaitan
unsure-unsur konseptual baik didalam maupun antar mata pelajaran, untuk memberi peluang
bagi terjadinya pembelajaran yang efektif dan untuk memberikan pengalaman yang bermakna
bagi anak.
Pembelajaran tematik sebagai pendekatan baru merupakan seperangkat wawasan dan
aktifitas berpikir dalam merancang butur-butir pembelajaran yang ditujukan untuk menguntai
tema, topic maupun pemahaman dan ketrampilan yang diperoleh siswa sebagai pembelajaran
secara utuh dan padu. Atau dengan pengertian lain pembelajaran tematik adalah suatu
pendekatan pembelajaran yang menghubungkan, merakit atau menghubungkan sejumlah konsep
dari berbagai mata pelajaran yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian
untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan siswa secara stimulan.
xvii
B. Saran
Menyadari bahwa kelompok kami masih jauh dari kata sempurna, selanjutnya kelompok
kami akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumbersumber yang lebih banyak dan tentunya dapat dipertanggung jawabkan.
DAFTAR PUSTAKA
 Majid, Abdul. 2014. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
 Wati, Kurnia. 2013. Konsep Dasar Pembelajaran Tematik.
 http://uukurniawati.wordpress.com/2013/05/17/konsep-dasar-pembelajaran-tematik/
(online), diakses: 11 Oktober 2014.
xviii
Download