Uploaded by roro.intan95

Sejarah Sosial Pendidikan Islam (revisi)

advertisement
MAKALAH
SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM
Disusun untuk memenuhi mata kuliah
Sejarah Sosial Pendidikam Islam
Disusun oleh:
Roro Intan Pangesti
Magister Menejemen Pendidikan Islam
Institut Agama Islam Negeri Kendari. 2019-2020
1
Sejarah Sosial Pendidikam Islam
Roro Intan Pangesti
Fakultas Manajemen Pandidikan Islam (MPI) Institut Agama Islam Negeri) Kendari
Email: [email protected]
ABSTRAK
Sejarah pendidikan Islam tidak pernah terlepas dari isu-isu sosial yang berjalan beriringan
dengan sejarah perkembangan Islam di dunia. Pengetahuan akan menjadi menjadi penting
sebagai bekal untuk seseorang menjadi lebih arif dalam menghadapi tantangan di era sekarang
ini. Termasuk sejarah sosial pendidikan Islam memeliki perana penting dalam
mengembangkan konsep-konsep pendidikan Islam sekaligus menjaga dan mempertahakan
semangat juang keilmuan umat Muslim di masa sekarang untuk mengejar ketertinggalan dan
meraih kembali kejayaan seperti di masa lampau. Karena sejarah penidikan Islam t memiliki
kaitan yang erat dengan sjarah Islam itu sendiri maka, maka membahas sejarah sosial
pendidikan Islam berarti membahas periode perkembangannya dari zaman Rasulullah SAW,
dilanjut dengan masa kejayaan, periode kemunduran, periode pembaruan hingga periode
kebangkitan Pendidikan Islam .
Kata kunci: Sejarah sosial pendidikan Islam, fakta-fakta, manfaat, periodisasi.
2
Pendahuluan
Eksistensi Pendidikan Islam selalu berkalan beriringan dengan alur perkembangan
jaman. Perubahan zaman yang terjadi, tidak membuat Pendidikan Islam ditinggalkan. Hal ini
terlihat dari banyaknya lembaga-lembaga pendidikan khususnya di Indonesia yang masih dan
lebih mengedepankan nilai-nilai pendidikan yang berbasis Islam.
Telah tertulis diberbagai macam literatur bahwa Pendidikan Islam telah banyak
melahirkan ilmuwan-ilmuwan dengan ide cerdasnya yang tidak hanya dikenal oleh kalangan
muslim, tapi juga non-muslim. Nabi Muhammad SAW, yang merupakan aktor utama dalam
sejarah ini, telah meletakan sendi-sendi dan praktik pendidikan Islam. Berbagai keputusan
beliau dalam segala hal dan permasalahan telah menjadi persedden baik bagi pertumbuhan
dan perkembangan pendidikan Islam masa kini termasuk di Indonesia.
Meski
demikian,
tidak
dapat
dipungkiri
bahwa
Sejarah
mencatat
dalam
perkembangannya Pendidikan Islam mengalami pasang surut. Sejarah Pendidikan Islam erat
keitannya dengan sejarah Islam yang mengalami masa kemajuan dan juga kemunduran.
Kini Barat dan menjadikannya sebagai tolak ukur kemajuan pendidikan. Hal ini sesuai
dengan banyaknya lahir ahli-ahli pendidikan Barat yang sangat terkenal dengan pemikiran ,
teori serta karyanya tentang ilmu pengetahuan. Meskipun, pada faktanya, sejarah Islam
mengungkapkan bahwa penyebaran ilmu dari dunia Islam memiliki peran penting dalam
revolusi ilmu pengetahuan di Barat. Untuk mengetahui fakta dibalik kebenaran itu maka
dirasa perlu melakukan pengkajian pendidikan dengan pendekatan sejarah Islam.
Maka, pada tulisan ini akan membahas tenang definisi sejarah sosial pendidikan Islam
yang diperluas dengan objek study dan urgensinya. Kemudian berlanjut pada pembahasan
priodisasi sejarah pendidikan Islam
3
DESKRIPSI
A. Definisi Sejarah Pendidikan Islam
Secara etimologi kata sejarah dalam bahasa arab, “tarikh” yang berarti “ketentuan
masa”. Menurut istilah, keterangan yang menerangkan tentang hal ihwal umat dan segala
sesuatu yang telah terjadi di kalangannya pada masa yang telah lampau atau pada masa
yang masih ada (Dirjen Bimas Islam, 1985:1).1 secara terminologi berarti sejumlah
keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau dan benar-benar terjadi pada
kenyataan-kenyataan alam dan manusia.
Taufik Abdullah mendefinisikan sejarah sebagai suatu ilmu yang di dalamnya dibahas
berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, obyek, latar belakang,
dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak
dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat
dalam peristiwa tersebut.2
Sosial berasal dari bahasa latin ‘Socius” yang berarti segala sesuatu yang lahir,
tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan bersama (Salim, 2002). Sudarno (dalam
Salim, 2002) , menekankan pengertian sosial pada strukturnya, yaitu suatu tatanan dari
hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat, ada juga yang mengatakan sosial adalah
ssuatu yang dicapai, dihasilkan dan ditetapkan dalam interaksi sehari-hari antar warga.3
Sejarah sosial mencangkup perjalanan hidup manusia dalam mengisi perkembangan
dunia dari masa ke masa karena sejarah mempunyai arti yang bernilai sehingga manusia
dapat membuat sejarah sendiri dan sejarahpun membentuk manusia.4
Agama Islam adalah agama yang tidak hanya mangajarkan tentang konsep religiusitas
namun juga mngajarkan bagaimana umat manusia menjaga ukhwah dengan cara
meningkatkan muamalah bainannas, yang dalam hal ini berarti Islam juga mencakup
proses sosial kehidupan manusia.
1
Haidar Putra.d. dan Nurgaya Pasa, Pendidikan Islam Dalam Lintas Sejarah, (Jakarta: Kencana, 2013), hal. 2
Kharisul Wathoni, Pendekatan Sejarah Sosial Dalam kajian Politik Pendidikan Islam,J(urnal Tadris, Vol: 8,
No. 1, 2013), hal. 5
3
Banu Sodikun, Sejarah Sosial Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jurnal Systems, vol: 10, no: 1, 2015), hal. 2
4
Sutarjo. J, Urgensi Pengetahuan Sejarah Sosial Pendidikan Islam Dalam Dunia Akademis, (Jurnal Tarbawiya,
Vol:11, No. 2, 2014), hal. 254
2
4
Adapun proses sosial menurut Gillin dan Gillin, ialah cara-cara berhubungan yang
dapat dilihat apabila orang/kelompok manusiasaling bertemu dan menemukan sistem serta
bentuk-bentuk hubungan.5
Pendidikan atau Tarbiyah merupakan mashdar dari tiga akar kata, raba-yarbu, rabiyayarba dan rabba-yarubbu. Pertama, Raba-yarbu, berarti bertambah dan berkembang,
yaitu merupakan suatu proses yang selalu terjadi pertambahan dan perkembangan. Kedua,
Rabiya-Yarba, berarti bertumbuh atau berkembang, digunakan untuk suatu proses yang
mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Ketiga, Rabba-Yarubbu, berarti menjaga,
merawat, dan memelihara, yaitu sebuah proses penjagaan, perawatan, dan pemeliharaan
atas sesuatu. Dari sini dapat didefinisikan bahwa pendidikan adalah sebuah perkembangan
yangterus menuju ke arah yang lebih baik dan menguntungkan6
Menurut Ary H. Gunawan dalam bukunya sosiologi Pendidikan ia mengemukakan
bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia secara manusiawi, yang harus
disesuaikan dengan situasi dan kondisi dan perkembangan zaman.7
Adapun pengertian pendidikan Islam bisa ditinjau dari sempit dan luas. Pengertian
sempit adalah usaha yang dilakukan untuk pentrasferan ilmu, nilai, dan keterampilan
berdasarkan ajaran Islam guna membentuk pribadi muslim seutuhnya. Sedangkan
pendidikan Islam dalam arti luas, tidak hanya terbatas kepada proses pentrasferan, akan
tetapi mencakup berbagai hal yang berkenaan dengan pendidikan Islam secara luas yang
mencakup; sejarah, pemikiran dan lembaga. 8
Bila dirangkaikan kata sejarah dengan kata pendidikan Islam, Dirjen Bimbanga Islam
merumuskan sebagai berikut:
a. Keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari
waktu ke waktu, mulai sejak zaman lahirnya Islam hingga masa sekarang
b. Cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan pendidikan
Islam, baik dari segi ide dan konsep maupun segi institusi dan operasionalisasi
5
Ary h. Gunawan, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta, rineka Cipta, 2000 ) hal.30-31
Banu Sodikun, Sejarah ... hal.2
7
Ary Gunawan, sosiologi...hal. 55
8
Haidar Putra.d., Pendidikan... hal. 3
6
5
sejak zaman Nabi Muhammad SAW sampai sekarang (Dirjen Bimbaga Islam,
1985:2)9
secara historis tradisi Islam telah mengakui sentralitas pendidikan baik sebagai bentuk
ibadah dan sebagai sarana untuk sosialisasi moral, etika, dan budaya umat (komunitas
Muslim). 10
B. Obyek Materi Dan Formal Sejarah Sosial Pendidikan Islam
Objek merupakan perkara atau yang menjadi pokok pembicaraan . Objek material
dalam pendidikan Islam adalah segala sesuatu yang dipelajari dalam kaitanya dengan
fenomena agama yang terdapat dan terjadi dalam pikiran, manifestsi agama, tindakan dan
perbuatan manusia beragama. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, sejarah sosial
pendidikan Islam umumnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan dalam obyekobyek sejarah pendidikan, seperti sistem-sistem, sifat-sifat ataupun lembaga yang
dimilikinya.11
Apabila dilihat dari esensi sejarah, sejarah pendidikan Islam tidak hanya menguraikan
secara deskriptif apa yang terjadi pada masa lampau akan tetapi mencakup juga tentang
analisis dari waktu ke waktu, dan juga bisa mengaitkan antarag tiga dimensi waktu tanpa
terpisah, yaitu, masa lampau, sekarang, dan akan datang. Sejarah baisanya ditulis dan
dikaji dari sudut pandang suatu fakta atau kejadian tentang peradaban bangsa. 12 Maka
objek sejarah pendidikan Islam mencakup fakta-fakta yang berhubungan dengan
pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam baik informal, formal, maupun
nonformal. Dengan demikian akan diperoleh sejarah serba obyek.13
Fakta-fakta yang diungkapkan itu bisa melalui sumber-sumber langsung, seprti:
prasasti, undang-undang, dokumen-dokumen, gambar-gambar serta benda-benda sejarah
lainnya, dan juga dapat digunkan seumber tidak langsung yaitu bahan yang diperoleh dari
hasil penelitian sumber langsung.14
9
Ibid.
M. Noor Sulaiman Syah, Challenges Of Islamic Education In Muslimworld: Historical, Political, And SocioCultural Perspective, Qudus International Journal of Islamic Studies, Vol: 4, Issue: 1, 2016, hal. 85
11
Banu Sodikun, Sejarah..., hal. 3
12
Herman, Sejarah Pendidika Islam, 2007 hal. 2
13
Ibid., hal.3
14
Haidar,Pendidikan ...hal. 5
10
6
Objek formal adalah sudut pandang dari mana sang subjek menelaah objek
materialnya. Seorang Sejarawan harus mempunyai kemampuan intelektual dan
menguasai alat-alat analisis untuk menilai kebenaran materi-materi sumbernya, dan
perpaduan untuk mengumpulkan dan menafsirkan materi-materi itu ke dalam kisah yang
penuh makna. Untuk itu diperlukan metode-metode untuk membantu kerangka berfikir
sejarawan dalam mengkaji materi maupun dalam menggunakan sumber-sumbernya.
Adapun yang dimaksud dengan metode sejarah adalah proses menguji dan
menganilisis secara kritik rekaman dan peninggalan masa lampau. Dengan demikian,
diperlukan rekonstruksi yang imajinatif daripada masa lampau berdasarkan data yang
diperoleh dengan menempuh proses yang disebut dengan historigrafi (penulisan sejarah)
(Sottschalk, 1975.33).15 Ibn Khaldun, seorang pemikir besar Islam, menekankan kepada
parapemerhati sejarah bahwa tanpa metodologi yang jelas maka, alur penjelasan
secararasional atau rekonstruksi, sitematika-kronologi dan analisisnya akan sulit
dimengerti
Mengingat sejarah pendidikan Islam mencakup berbagai aspek seperti nilai-nilai
agamawi, filosofis, psikologi maka perlu menempatkan objek sasarannya itu secara utuh,
menyeluruh dan mendasar. Maka dari itu terdapat tiga metode yangharus ditempuh yaitu;
deskriptif, komparatif, dan analisis sintesis16
c. Urgensi Sejarah Sosial Pendidikan Islam
Dengan mengkaji sejarah akan bisa memperoleh informasi tentang pelaksanaan
pendidikan Islam dari zaman Rasulullah sampai sekarang. Dari sejarah dapat diketahui segala
sesuatu yang terjadi dalam penyelenggaran pendidikan Islam dengan segala ide, konsep, ide,
intuisi sistem dan operasionalisnya.jadi, sejarah pada dasarnya tidak hanya sekedar
memberikan romantisme tetapi lebih dari itu merupakan refleksi historis.17
H munawar Cholil mengungkapkan bahwa “ sesungguhnya pengetahuan tarih itu banyak
gunanya, baik untuk urusan keduniaan, maupun untuk urusan keakhiratan. Barang siapa yang
hapal atau mengerti benar tentang tarih, bertambahlah akal pikirannya. Tarih dan ilmu tarih
itu pokok kemajuan suatu umat, manakala ada suatu umat tidak memperhatikan tarih dan ilmu
tarik, maka umat itu tentulah akan ketinggalan di belakang; dan manakala suatu umat
15
Haidar, Pendidikan... , hal. 5
Ibid.
17
Sutarjo. J, Urgensi ...hal. 254
16
7
sungguh-sungguh memperhatikan tarih dan ilmu tarih, maka tentulah umat itu maju ke muka
(dalam kemajuan)18
Di dalam mempelajari sejarah pendidikan Islam, Zuraini dkk, mengemukakan manfaat
yang dapat diambil:
1. Mengetahui dan memahami pertumbuhan, perkembangan pemikiran-pemikiran
umat Islam dalam bidang pendidikan Islam
2. Mampu mengambul pelajaran dari proses pemikiran tentang Pendidikan Islam
masa lalu untuk memecahkan problematika pendidikan Islam pada masa kini.
3. Memiliki sikap positif terhadap pemikiran-pemikiran baru yang muncul di seputar
pendidikan Islam (Zuraini dkk, 1992:6)19
C. Periodisasi sejarah Pendidikan Islam
Sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kiblat ilmu pengetahuan
dunia sekitar abad ke-7 M sampai abad ke-15 M. Setelah itu masa keemasan itu mulai
melayu, statis bahkan mundur hingga abad ke-21 M. Ketika menjadi kiblat ilmu
pengetahuan, pendidikan Islam yang berkembang adalah pendidikan Islam yang
berkembang non-dikotomis yang akhirnya mampu melahirkan intelektual muslim yang
memiliki karya sangat besar dan berpengaruh
positif terhadap eksistensi kehidupan
manusia.20
Dr Harun Nasution membagi sejarah pendidikan Islam ke dalam tiga periode, yaituperiode
klasik, pertengahan dan modern21 kemudian perinciannya dapat dibagi menjadi 5 masa, yaitu;
1. Masa Hidup Nabi Muhammad SAW (71-632 M)
2. Masa Khulafaur rasyidin (632-661 M0
3. Masa kekuasaan Umayah di Damsyik (661-750M)
4. Kekuasaan Abasiyah di Baghdad (750-1250 M)
5. Masa dari jatuhnya kekuasaan Khalifah di Baghdad tahun !250 M sampai
sekarang.22
18
Herman sejarah..hal. 6
Haidar, Pendidikan,...hal. 8
20
Baharuddin dkk, Dikotomi Pendidikan Islam(Historis Dan Implikasi Pada Masyarakar Islam), Bandung:
Rosdakarya, 2011), hal. ix
21
Herman, Sejarah.... hal. 7
19
8
Berbeda dengan yang dikemukakan oleh Harun Nasution, menurut Haidar Daulay dan
Nurgaya dalam buku “Pendidian Islam dalam Lintan Sejarah” Periodisasi sejarah
pendidikan Islam, tidak jauh berbeda dengan periodisasi sejarah Islam. Untuk itu,
apabila periodisasi sejarah Islam dapat dijadikan kerangka acuan dasar, maka
perdiodisasi sejarah pendidikan Islam itu dapat dibagi kepada lima periode yaitu:
1. Periode Pertumbuhan Dan Perkembangan Sejarah Pendidikan Islam.
Dalam sejarah pendidikan Islam pada masa Rasul terbagi menjadi dua periode,
periode Mekkah dan periode Madinah. Pada periode pendidikan di Mekkah nabi
memfokuskan pada materi tauhid dan akhlak serta menganjurkan kepada manusia
untuk mempergunakan akal pikiranya memperhatikan kejadian manusia dan alam
semesta sebagai anjuran pendidikan ‘akliyah dan Ilmiyah.
23
Sedangkan di Madinah
lebih melebar lagi, dari materi tauhid menjadi materi politik, ekonomi, pendidikan,
budaya, dan aspek kehidupan manusia lainnya.24
Pendidikan Islam pada periode Mekkah awalnya dilakukan dengan rahasia
melalui perorangan yakni diajarkan kepada keluarganya sendiri dan kepada para
sabahabat Nabi, hal itu dilakukan untuk menghindari adanya perpecahan yang lebih
parah, sebab keadaan politik di kota Mekkah saat itu masih belum stabil.25
Setelah tahap sembunyi-sembunyi , Nabi Muhammad melanjutkan ajaran Islam
dengan cara terang-terangan yang kemudian dilanjutkan dengan tahap untuk Umum, pada
tahap ini Nabi Muhammad mulai menyampaikan ajaran agama Islam secara lebih luas
kepada seluruh masyarakaat bahkan pada masyarakat di luar Mekkah yang datang ke
Mekkah baik melaksanakan ibadah haji maupun untk berdagang.26 Pada tahap inilah ada
perkembangan penyebaran ajaran agama Islam.
Pendidikan Islam di Madinah berlangsung lebih leluasa. Rasulullah mendirikan masjid
sebagai pusat umat, pertemuan umat Islam, melaksanakan sholatberjamaah, membaca dan
mempelajari al-qur’an. Sehingga dengan kata lain masjid
22
merupakan tempat Rasulullah
Harun Nasution Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran Dan Gerakan,Jakarta: bulan bintang,, 1975)
hal. 11
23
Hamim Hafiddi, Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, (Jurnal TARBIYA,vol: 1, No: 1 2015), hal.21
24
Abuddin, Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam, Literasi Nusantara, Batu, 2019,
25
Syamsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam; menelusuri jejak Sejarah Pendidikan Era Rasuullah sampai
Indonesia, (Jakarta: kencana, 2013) hal, 5
26
Suhairini, sejarah pendidikan... 23
9
melaksanakan
pembelajaran.27
Adapun
metode
yang
digunakan
adalah
metode
hiwar(percakapan), keteladanan (bidang ibadah), dan metode amsal. Heri Gunawan
menambahkan metode ceramah, pembiasaan dan metode taghrib dan tahrib.28
2. Periode Kemajuan Pendidikan Islam
Sebanarnya pada zaman Nabi Muhammad Iptek sudah dikenal dalam dunia Islam.
Kemudian semakin nampak dan meningkat khususnya pada masa dinasti Abasiyyah, yaitu
pada saat pemerintahan dipegang oleh Khalifah al-Mukmin. Pada masa itu, penerjemahan
kitab-kitab asing dilakukan secara besar-besaran, didirikan sekolah-sekolah dan perguruan
tingga serta bait al-Himah, sehingga, gerakan pemikiran dan ilmu pengetahuan berkembang
pesat.29
Apresiasi umat Islam terhadap perkembangan Iptek pada masa ini sangat
menakjubkan. Cerdik cendikia bermuculan dalam berbagai disiplin ilmu baik dalam bidang
agama maupun non-agama. Pemahasannya tidak hanya soal fiqh dan teologi tetapi juga
filsafat, matematika, astronomi, kedokteran dan sebagainya. Satu hal yang menarik adalah
mereka mempunyai pandangan yang menunjukkan kesatupaduan antara ilmu pengetahuan
dan iman.
3. Periode Kemunduran Pendidikan Islam
Kemunduran dan kelemahan di berbagai bidang ilmu di dunia Islam mulai terjadi
ditandai dengan adanya perpecahan di kalangan umat Islam dan menurunnya kekuasaan
kekhalifaan, diperparah dengan jatuhnya baghdatke tangan Hulagu. Kondisi ini diperparah
dengan semakin tampaknya perbedaan antara Sunni dan Syi’ah dan juga antara Arab dan
Persia30
Selain itu, meluasnya pendapat di kalangan umat muslim yang menyatakan bahwa pintu
ijtihad telah tertutup dan tersebarnya tarekat dengan pengaruh negatifnya di masyarakat juga
menyebabkan berkurangnya perhatian terhadap ilmu pengetahuan. Di Spanyol, karena telah
27
Iskandar dan Najmuddin, Pola Pendidikan Islam Pada Periodasulullah di Mekkah dan Madinah ,(Jurnal LENTERA, vol:
13, No:3, 2013) hal. 71
28
Heri Gunawan, Pendidikan Islam, kajian teoritis dan pemikiran tokoh, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014)
hal.272
29
Baharuddin dkk, Dikotomi...Hal. 109
30
Ibid, hal. 111
10
jatuh ke tangan Kristen, umat Islam pun dipaksa mengikuti agama mereka atau keluar dari
daerah tersebut. 31
Dampak dari ini semua adalah mundurnya semangat keilmuwan dan sekaligus mundur
pula cabang ilmu di Dunia Islam, berjangkitlah penyakit taklid dan fanatisme. Suasana ini
diperburuk dengan jatuhnya negeri-negeri yang mayoritas penduduknya umat Islam ke tangan
penjajah Barat, seperti: Belanda, Inggris, Perancis, Spanyol, dan Portugis
Tidak hanya itu, kerajaan-kerajaan Islam yang tersebar di berbagai negara seperti Turki,
Persia dan India tidak mampu mempertahakan kejayaannya sehingga mengalami kemerosotan
di berbagai bidang. Penetrasi Barat dengan kekuatannya yang semakin meningkat kian meluas
hingga ke dunia Islam, yang kekuatannya menurun. Akhirnya, pada tahun 1798 M, Mesir
sebagai salah satu pusat Islam terpenting jatuh ke tangan Napoleon Bonaparte. 32
Kemudian berlanjut dengan terjadinya pemisahan” ilmu agama” dan “ilmu umum” (agama
dan dari ilmu pengetahuan) terjadi pada abad pertengahan, yakni pada saat umat Islam kurang
mempedulikan baca meninggalkan iptek. Pada msa itu yang berpengaruh di masyarakat Islam
adalah ulama fiqh. Salah satunya di madrasah
Nizamiyah pada abad ke-111M.terjadi
perspesifikasian kurikulum yang hanya menekankan pada supremasi dan penjabaran hukum
Islam. Selan ulama fiqh ada juga ulama tarekat. Keduanya menanamkan oaham taklid dan
membatasi kajian agama hanya bidang seperti tafsir, fiqh, tauhid.33
Implikasinya adalah hilangnya budaya berfikir ilmiah-rasionalistik di kalangan umat
Islam. Hal ini diperparah dengan serangan al-Ghazali terhadap
para filosof dan tokoh
rasionalis seperti al-farabi dan Ibnu Sina yang dikemukakan dalam kitabnya Tahafut alFalasifah. Kritik al-Ghazali ini menyebabkan semangat dan tradisi ilmuwan yang rasional
menjadi lenyap. Akhirnya paradigma dikotomi ilmu berkelindan dalam tubuh umat Islam
yang menyebabkan umat Islam masuk pada era kegelapan yang pernah dirasakan oleh Barat.34
4. Periode Pembaruan Pendidikan Islam
Pada abak ke-19, kontak antara kaum Muslimin dengan masyarakat Barat kembali
terjadi. Dalam kontak ini, terlihat betapa masyarakat Barat telah begitu maju dibanding
dengan masyarakat Muslim dalam bidang ilmu Pengetahuan. Kontak ini menimbulkan
31
Ibid., Hal. 112
Ibid
33
Ibid., hal iv
34
Ibid., hal. v
32
11
kesadaran umat Islam betapa mereka telah jauh tertinggal dibandingkan dengan masyarakat
Barat. Oleh karena itu, timbul upaya untuk memperbaiki kekurangan yang dialami selama ini
agar masyarakat Muslim tidak lagi terjebak dalam ketertinggalan yang berkepanjangan.
Jatuhnya Mesir ke tangan Barat menginsyafkan dunia Islam akan kelemahannya dan
menyadarkan mereka bahwa di Barat telah muncul peradaban baru yang lebih tinggi dan
merupakan ancaman bagi eksistensi Islam. Raja-raja dan pemuka Islam mulai memikirkan
bagaimana meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali. Ide-ide pembaharuan pun
muncul dalam Islam.35
Pendudukan Mesir oleh Napoleon Bonaparte tahun 1798 M, adalah merupakan
tonggak sejarah bagi umat Islam untuk mendapatkan kembali kesadaran akan kelemahan dan
keterbatasan mereka. Ekspedisi Napolen tesebut disamping membawa pasukan tentara yang
kuat, juga membawa seperangkat ilmuwan dengan seperangkat peralatan ilmiah untuk
mengadakan penelitian di Mesir. Ekspedisi ini menunjukkan ketertinggalan dan kebodohan
umat Muslim.36 Inilah yang membuka mata kaum muslimin, sehingga akhirnya timbul
berbagai macam usaha pembaharuan dalam segala bidang kehidupan, untuk mengejar
ketertinggalan mereka, termasuk usaha-usaha di bidang pendidikan.37
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengejar ketertinggalan itu adalah dengan
pendidikan. Berkenaan dengan itu timbullah usaha perbaikan pendidikan Islam di Mesir yang
dipelopori oleh Muhammad Ali Pasha. Di Turki dipelopori oleh Sultan Mahmud I Sn di India
oleh Syaid Ahmad Khan.
Madjid, dunia Islam dewasa ini merupakan kawasan bumi Periode Kebangkitan
Pendidikan Islam kawasan bumi yang paling terbelakang di antara penganut agama-agama
besar. Praktis tidak ada satupun agama besar dimuka bumi ini yang lebih rendah kemajuan
ipteknya daripada Islam.38
Kebesaran dan kejayaan Islam masa lalu hanya tinggal kenangan di tengah kemajuan dan
kejayaan dunia Barat. Pernyatan ini merupakan wujud dari kegelisahan untuk umat Islam
supaya bangkit dan menampilkan kembali Islam sebagai rahmat bagi alam semesta39.
35
Harun nasution, Pembaharuan ....hal. 14
Ibid., hal. 17
37
Departemen Pendidikan, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2013), hal. 109
38
Baharuddin dkk, Dikotomi.... hal.113
39
Ibid.
36
12
5. Periode kebangkitan Pendidikan Islam
Periode ini adalah lanjutan dari periode pembaruan, kalau pada era pembaruan adalah
periode timbulnya kesadaran umat Islam terhadap ketertinggalan mereka dalam bidang
pendidikan, maka periode kebangkitan adalah muncul secara nyata kegiatan-kegiatan positif
dalam bidang pendidikan. Misalnya, semakin berkembangnya lembaga pendidikan Islam
terutama semakin semarak dan munculnya pendidikan tinggi Islam, integrasi keilmuan
semakin terwujud dengan baik terutama diperguruan tinggi. Karena salah satu penyebab
kemunduran umat Islam adalah karena melemahnya kualitas pendidikan Islam. Untuk itu,
perlu mengembalikan kekuatan pendidikan Islam sebagai penyangga kemajuan umat Islam
sehingga bermuncullah gagasan-gagasan tentang pembaruan pendidikan Islam yang diikuti
dengan pelaksaan perubahan penyelenggaraannya (Asroha, 1999: 128-129)40
Eksploitasi dan intervensi Barat dalam berbagai bidang keilmuan telah menyadarkan
atas keterbelakangan umat Islam. Kontrol Barat terhadap mereka adalah karena kemajuan
modern yang dimiliki oleh Barat, keinginan untuk melawan Barat haruslah didahuli dengan
mengadakan perubahan dalam diri umat Islam. Sebagai konsekuensi logis dari upaya
reformasi dan modernisasi, yang dipelopori oleh penguasa, kaum bangsawan elite, dan
intelegensia, terciptalah usaha-usaha perubahan dan pembaharuan di bidang pendidikan
Kebangkitan pendidikan Islam selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh berikut
gagasannya dalam mengembalikan kejayaan Islam khususnya dalam bidang Pendidikan.
Beberapa diantaranyaadalah Sultan Ahmad III dan Sultan Muhammad II di Turki,
Muhammad Ali Pasa dan Muhammad Abduh di Mesir, dan Sayyed Ahmad Khan di India. 41
Untuk mendorong masyarakat Islam berkarya dengan berbagai ilmu pengetahuan
Sultan Ahmad III mendirikan percetakan di Istanbul pada 1727 M, sebagai cara untuk
mempermudah akses buku-buku pengetahuan, dicetak buku-buku tentang ilmu kedokeran,
ilmu-ilmu pasti, astronomi, sejarah, kitab hadist, fiqh, ilmu kalam tafsir (Nasution, 1997:16).
Upaya yang dilakukan tersebut lebih pada upaya untuk mendirikan lembaga pendidikan yang
di dalamnya diajarkan ilmu-ilmu pengetahuan modern dan agama yang dibutuhkan untuk
kemajuan masyarakay Muslim.
40
Syahraini Tambak, Kebangkitan Pendidikan Islam: Melacak Historis Kebangkitan Kembali Pendidikan Islam,
(Jurnal Al-Hikmah, 2015) vol: 12, no: 2, hal. 185
41
Ibid.
13
Muhammad Ali Pasya setelah menjadi penguasa Mesir ia mencurahkan perhatiannya
pada pendidikan dengan mendirikan Kementrian pendidikan dan lembaga pendidikan.42
Dalam rangka mengalihkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah berkembang di Barat,
Muhammad Ali Pasya menggalakkan penerjemahan buku-buku barat ke dalam bahasa Arab,
hingga ia mendirikan sekolah penerjemahan.43 Muhammad Abduh yang didalam seoanjang
hayat dankarirnya selalu memperhatikan pada pembaruan pendidikan Islam. Ia memandang
pendidikan itu penting sekali, sedang ilmu pengetahuan itu wajib dipelajari. Menurutnya yang
harus diperjuangkan dalam satu sistem pendidikan adalah pendidikan yang fungsional, yang
meliputi pendidikan universal bagi semua anak, laki-laki maupun perempuan. Selain itu,
pembaruan pendidikan Islam yang dilakukannya adalah menyebarkan secara luas ide-ide
pembaruannya ke seluruh wilayah termasuk kepada para guru dan civitas akademika Al-azhar
Sayyid Ahmad Khan di India, berpendapat bahwa peningkatan kedudukan umat Islam
di India dapat diwujudkan hanya melalui bekerjasama dengan Inggris, sebab saat itu Inggris
merupakan penguasa terkuat India. Untuk itu, Ahmad Khan mengajak umat Islam India untuk
bersikap loyal terhadap Inggris. Ia melihat bahwa umat Islam India sangat terbelakang kerena
rendahya mutu pendidikan. Mutu pendidikan Islam haruslah ditingkatkan dengan menerapkan
sistem pendidikan modern. Pada tahun 1864 ia mendirikan scientific society untuk
memerkenalkan sains Barat kepada rakyat India. Selain itu pada tahun 11878 ia juga
mendirikan Muhammedan Anglo Oriental College (MAOC) yang bertujuan mengajarkan
ilmu pengetahuan modern tanpa mengabaikan pendidikan agama.44
42
Ibid., Hal. 188
Departemen Agama, Sejarah..., hal. 121
44
Syahraini, Kebangkitan... hal. 191
43
14
Analisis Data
Sejarah sosial merupakan disiplin ilmu yang mempunyai spesifikasi sebagai sebuah
pisau bedah untuk menganalisis sejarah berdasarkan perspektif sosiologi dan juga
cenderung melihat persitiwa sejarah secara lebih komprehensif dan seobjektif mungkin
berdasarkan fakta-fakta.
Dikatakan secara komprehensif, karena Islam tidak hanya
mencakup pemehaman tentang ketuhanan namun juga mengandung aspek-aspek
kehidupan manusia lainnya yang dapat terungkap dengan menelisik sejarah aslinya.
Pendidikan Islam merupakan proses bimbingan yang ditujukan sebagai upaya untuk
memperbaiki mental yang terwujud dalam perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri
maupun orang lain Sehingga sejarah pendidikan Islam dapat diartikan sebagaai catatan
peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam baik dari segi
gagasan atau ide-ide.
Sejarah sosial pendidikan Islam dilihat dari perspekti kemanfataannya dapat
disimpulkan sebagai rekonstruksi tentang arahan dan bimbingan, dorongan, teladan dan
pembiasaan pada peserta didik yang mengandung unsur interaksi dan komunikasi satu
dengan yang lain agar peserta didik dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran
Islam dan mentransferny dalam ucapan dan perbuatan sehari-hari.
Secara umum sejarah mengandung kegunaan yang sangat besar bagi kehidupan umat
manusia45 karena sejarah menyimpan dan mengandung kekuatan yang dapat
menimbulkan dinamisme dan melahirkan nilai-nilai baru baik pertumbuhan serta
perkembangan kehidupan umat manusia, untuk itu, sumber utama ajaran Islam (AlQuran) mengandung cukup banyak nilai-nilai kesejarahan, yang langsung atau tidak
langsung mengandung makna yang besar, pelajaran yang sangat tinggi. Maka ilmu tarih
(sejarah) dalam Islam menduduki arti penting dan mempunyai kegunaan dalam kajian
tentang Islam
Sejarah sangat bermanfaat besar bagi umat manusia, karena dengan sejarahlah
manusia belajar serta berupaya untuk menjadi arif dengan melihat dan mengambil i’tibar
dari masa lampau yang pernah dialami oleh umat manusia. Kearifan diperlukan bagi
manusia agar dia dapat bertindak dan berperilaku bijaksana. Dengan karifan itulah,
45
H. Munawar Cholil, opcit, dalam sejarah pendidika islam hermawan, 2007, hal. 6
15
seseorang dapat meletakkan sesuatu pada tempatnya. Untuk hisa menjadi arif manusia
harus belajar sejarah, karena sejarah mendidika dan menjadikan orang menjadi arif.46
Selain itu, Prof. Dr. Haidar Putra Daulay dan Dra. Nurgaya Pasa di dalam bukunya
“Pendidikan Islam Dalam Lintas Sejarah” menambahkan beberapa manfaat dalam
mengetahui sejarah pendidikan Islam, yaitu:
a. Mendorong timbulnya semangat mencontoh hal-hal yang positif pada masa
lampau dalam bidang pendidikan Islam dan manjauhi hal-hal yang negatif
b. Mendorong untuk timbulnya semangat mencontoh hal-hal yang positif pada masa
lampau dalam bidang pendidikan Islam dan menjauhi hal-hal yang negatif47
Adapun dari aspek kompetensi sosial, pelaran sejarah akan memperkukuh
kompetensi sosial seseorang, lewat pelajaran sejarah seseorang akan mengetahui di
mana posisinya sebagai anggota masyarakat, sehingga dapat menempatkan dirinya
sebagai makhluk individu berhadapan dengan kelompok masyarakat, dan dapat pula
menempatkan dirinya sebagai makhluk sosial berhubungan dengan individu-individu
Metode dalam mengkaji fakta-fakta sejarah pendidikan Islam ada tiga yaitu;
pertama, deskriptif dengan memasukkan ajaran ajaran Islam sebagaimana yang
dibawa oleh Rasulullah SAW, terutama yang berhubungan dengan pendidikan. Kedua,
komparatif, ajaran-ajaran Islam dikomparasikan dengan fakta-fakta yang terjadi dalam
kurun dan tempat tertentu dan menghubungkannya dengan pendidikan Islam. Ketiga,
pendekatan analisis-sintesis,secara kritis membaca, meneliti istilah-istilah, pengertianpengertian yang diberikan oleh Islam48
Periodesasi sejarah sosial pendidikan Islam lebih menekankan pada lima periode
yang merujuk pada buku “Pendidikan Islam dalam Lintas Sejarah” yang menjadikan
periodisasi sejarah Islam sebagai kerangka acuannya. Periodisasi ini terbagi ke dalam
lima, yaitu:
1. Pendidikan Periode Rasulullah
Periode ini meliputi pendidikan Islam pada masa Rasulullah, Khulaafaur Rasyidin,
dan masa Bani Umayyah. Rasulullah adalah utusan yang dikirim Allah kepada umat
46
Haidar Putra D. , Pendidikan Islam... hal. 6
Ibid., hal 8
48
Hermawa, sejarah pendidikan Islam, hal. 4
47
16
manusia dan membawa ajaran Allah, sehingga sudah menjadi tugasnyalah untuk
meluruskan hadharah atau peradaban kuno yang diwariskan oleh nenek moyang
mereka. Dalam konteks sosial bangsa Arab penuh dengan macam-macam peradaban
kuno yang kuat dan menjadi pijakan yang harus mereka jalani.
49
Tugas ini tidak
hanya untuk bangsa arab akan tetapi menjadi tugas beliau kepada seluruh umat
manusia (kaffatan li al-Nas)50
Konsep perkembangan pendidikan sejak masa Nabi Muhammad sebenarnya sudah
terancang dengan baik, hanya saja belum menjadi semacam pendidikan formal. Beberapa
lembaga pendidikan yang ada sejak zaman nabi Muhammad adalah sebagai berikut:
1. Dar al-Arqam bin Abi al-Arqam (pada masa klasis Islam), rumah dijadikan
sebagai tempat berlangsungnya pendidikan Islam.
2. Kuttab, berlangsung dengan sistem halaqah, ada juga guru yang menggunakan
metode dengan membacakan kitab dengan suara keras dan kemudian diikuti oleh
seluruh siswanya. Kuttab berfungsi sebagai tempat pendidikan yang memfokusan
pada tulis baca dan pendidikan Al-Qur’an serta dasar-dasar keagamaan
3. Masjid, sebagai pusat peribadatan dan pengetahuan, yang menjadi tempat
rujukan masyarakat kala itu untuk melanjutkan pendidikan menengah setelah
kuttab.51
2. Periode Kemajuan Pendidikan Islam
Periode ini dimulai sejak awal pertumbuhan bani Abbasiyah sampai akhir Abbasiyah
di belahan dunia Timur. Adapun di belahan dunia Barat dimulai sejak masa kemajuan yang
dicapai oleh umat Islam di wilayah tersebut, misalnya di Mesir, Afrika Utara, dan Andalusia
sampai berakhirnya kekuasaan Islam di Andalusia.
Masa kejayaan Islam terhadap dinasti Abbasiyah terjadi dalam berbagai bidang
pengetahuan. Pada zaman ini ilmu pengatahuan baik Aqli (rasional ataupun naqli mengalami
kemajuan sangat pesat, hal ini karena umar Islam bnyak melakukankajian kritis tentang ilmi.
Muhammad as’ad Thalas, at-Tarbiyah wa Ta’lim fi Islam, mesir, Handawi, 2012, hal. 13
Suhairini dkk, Sejarah pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 2013, hal. 14
51
Zaini Dahla, Sejarah Pendidikan.... hal. 6-10
49
50
17
Hal ini dapat dilihat dari adanya gerakan penerjemahan buku dari berbagai bangsa dan
bahasa, sehingga lahirlah tokoh dengan keahliannya.52
3. Periode kemunduran
Periode ini dimulai sejak jatuhnya Baghdad ke tangan Hulagu Khan (1258 M) yang
merupakan lambang (simbol) dari kejatuhan umat Islam, yang kemudian diiringi dengan
kejatuhan umat Islam di dunia Barat (Andalusia) ditandai dengan jatuhnya benteng terakhir
umat Islam di Grabada (1498 M), selanjutnya diiringi pula dengan timbulnya perpecahan
dikalangan umat Islam.Perpecahan dilatarbelakangi oleh perbedaan politik, etnis, dan
perbedaan pemahaman keagamaan (perpecahan sunni-syiah, Arab non-Arab dan lain-lain).
Ketika masa kejayaan Islam, ilmu pengetahuan Umat Islam juga sangat berkembang
dan tersebar sampai ke dunia Barat. Sehingga, ketika gelombang intelektual di wilayah
pemerintahan Islam mulai surut, arus kebalikan mulai berkembang dalam peradaban Eropa
Kristen.53 Runtuhnya sendi-sendi Pendidikan Islam ini ditandai dengan dengan hancurnya
Baghdad dan Spanyol sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan Islam.54
Tim Perumus Fakultas Teknik UMJ Jakarta menyimpulkan bahwa ada beberapa faktor
yang menjadi penyebab kelemahan dan kemunduruan Umat Islam dalam bidang
pengembangan Ilmu pengetahuan , diantaranya: 1) faktor internal umay Islam, kondisi politik
yang melemah dan terjadinya perebutan kekuasaan diantara penguasa-penguasa Muslim
(masukkan jurnal jurnal pendidikan Islam dan politik), 2) fanatisme golongan yang berlebihan
, hingga sekelompok golongan muslim tidak memberikan kesempatan kepada golongan lain
untuk melangkah mengembangkan ajaran Islam. 3) hidup mewah di Istana yang mematikan
semangat untk mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam. 4) bercampurnya Islam
dengan paham-paham dari luar yang menyumbat kemajuan dan kebebasan berfikir. 5) hidup
suburnya mistisisme yang salah (tasawuf palsu) di kalangan umat sehingga melahirkan
kemalasan untuk berjtihad.6). berbagai faktor eksternal beruparongrongan dari kekuatan lain
52
Sri Wahyuni, Implementasi Sistem Pendidikan Islam pada Masa Daulah Abasiyyah dan Pada Masa Sekarang,
Jurnal Kependidikan, vol. 11, no:2, 2014, hal.111
53
Zaini Dahlan, Sejarah Pendidikan Islam,Signifikansi Jejak Pendidikan Islam Bagi Pengembangan Pendidikan
Islam Masa Kini Dan Masa Depan, (Medan: Widya Puspita, 2018) hal. 61
54
Ahmad Syukri, Pendidikan Masa Kemunduran Islam, Jurnal Innovatio, vol: 14. No. 2, 2014, hal.34
18
seperti Jengis Khan, Hulagu Khan, dan lain sebagainya yang sengaja ingin menghancurkan
ummat Islam.55
4. Periode Pembaruan Islam
Pengaruh ilmu Islam atas Eropa menimbulkan gerakan kebangkitan kembali
(renaisance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Dengan demikian proses
penyebaran ilmu pengetahuan Islam di Eropa juga tidak bisa lepas dari adanya
proses penerjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin yang banyak dilakukan para
pemuda Eropa.
Pada periode ini juga Umat Islam menyadari bahwa iptek modern yang ada sekarang
ini merupakan perpanjangan tangan dari iptek Barat yang telah mengabaikan nilai dan etika.
Bahkan Edward Goldsmith sebagaimana dikutip Haidar Bagir dan Zainal Abidin mengatakan
bahwa “sains modern saat ini bukan apa-apa kecuali akumulasi dari setengah kebenaran, dan
atas basis setngah kebenaran inilah kita mencoba mengontrol dunia dan sebagai hasilnya
membawa dunia kepada kehancurannya”56
Sehingga muncullah beberapa pemikir dan ilmuwan Muslim yang berupaya untuk
menegakkan kembali peradaban Islam. Beberapa diantaranya Muhammad Abduh,
Jalaluddinal-Afghani dan Rasyid Ridha di Mesir, Mustafa Kemal di Turki, serta Sayyid
Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, dan Muhammad Iqbal di India. Dalam bidang keilmuan ada
Ismail Raji al-Faruqi dan Sayyid Hosein Nasr dengan gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan.57
Diantara inti pokok pendidikan Islam yang diperbaharui itu adalah materi yang diajarkan serta
sistem pengajaran, menejemen dan metode
5. Periode Kebangkitan Pendidikan Islam
Periode ini adalah lanjutan dari periode pembaruan. Kalau pada era pembaruan adalah
periode timbulnya kesadaran umat Islam terhadap ketertinggalan mereka dalam bidang
pendidikan, maka periode kebangkitan adalah muncul ssecara nyata kegiatan-kegiatan positif
dalam bidang pendidikan. Misalnya, semakin berkembangnya lembaga pendidikan Islam
terutama semakin semarak munculnya pendidikan Islam, integrasi keilmuwan semakin
55
Baharuddin dkk, Dikotomi Pendidikan Islam(Historis dan Implikasi Pada Masyarakat Islam), Rosdakarya,
Bandung 2011, hal. 120
56
Haidar Bagir dan Zainal Abidin Abidin, Filsafat Sains Islamic: kenyataan atau khayalan, pengantar, dalam
Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains Menurut Alqur’an, Bandung, Mizan 1989 hal. 20 dalam baharuddin
57
Baharuddin, dkk, Dikotomi Pendidikan..., hal. 120
19
terwujud dengan baik terutama diperguruan perguruan tinggi Islam. Begitu juga kesiapan
pendidikan Islam dalam memasuki era globalisasi.
Adapun model pembaruan pendidikan Islam adalah:
Pertama, menjalin kerjasama dengan Barat. Sayyed Ahmad Khan berpendapat bahwa
peningkatan kedudukan umat Islam di India dapat terwujud bila bekerjasama dengan Inggris
Kedua, memperbaiki sistem pendidikan yang berkualitas menjadi sebuah keharusan untk
mencapai kemajuan dan keluar dari keterpurukkan
Ketiga, mengembangkan research dengan mengirimkan duta-duta Islam ke Eropa dan Barat,
yang bertujuan untuk meneliti penyebab-penyebab kemajuan. Kegiatan research ini
memberikan dampak yang besar bagi perkembangan masyarakt Islam. Hasil research tersebut
memunculkan perubahan signifikan yang berwujud aksi pada pendidiran sekolah-sekolah
modern untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Formula ini sesungguhnya memberikan kontribusi signifikan bagi perkembangan dan
kemajuan umat Islam, termasuk pada kondisi hari ini.
Ketiga, medirikan lembaga terjemah dan percetakan. Karya-karya besar yang berkembang di
Eropa dan Barat diterjemahkan secara sistematis untuk dapat dipelajari oleh umat muslim
Kelima, meneydiakan beasiswa belajar ke Eropadan Barat. Usaha ini yang dilakukan Sultan
Mahmud II yang mengirimkan pelajar ke luar negeri antara Lain Inggris, Prancis, Rusia, dan
Australia
Keenam: mendirikan sekolah modern, dilakukan untuk mewujudkan lembaga pendidikan
yang berkualitas bagi umat Islam
Ketujuh: Integrasi Ilmu pengetahuan di lembaga pendidikan.
20
Penutup
Dari uraian deskripsi hingga analisis data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
mengkaji sejarah
berrati mengkaji seperangkat fakta-fakta, sekaligus ide-ide yang
terdapat dalam proses perkembangannya. Peran sejrah termasuk sejarah pendidikan Islam
sangat penting khususnya dalam bidang pendidikan di masa sekarang. Sebab. Selain
dapat memperkaya khazanah empiris, juga bisamengasah sikap mental dan kearifan
seseorang. Ditambah dengan fakta-fakta tentang sejarah periodisasi pendidikan Islam,
tentu diharapkan mampu menjadi bahan bakar semangat umat Muslim dalam
mengembangkan bidang keilmuan.
Maka dari itu, Sejarah sosial pendidikan Islam dilihat dari perspekti kemanfataannya
dapat disimpulkan sebagai rekonstruksi tentang arahan dan bimbingan, dorongan, teladan
dan pembiasaan pada peserta didik yang mengandung unsur interaksi dan komunikasi
satu dengan yang lain agar peserta didik dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai
ajaran Islam dan mentransferny dalam ucapan dan perbuatan sehari-hari.
21
Daftar Pustaka
Abuddin. 2019. Sejarah Sosial dan Intelektual Pendidikan Islam, Batu: Literasi Nusantara
Baharuddin dkk. 2011. Dikotomi Pendidikan Islam(Historis dan Implikasi Pada Masyarakat
Islam), Rosdakarya: Bandung
Dahlan ,Zaini. 2018,Sejarah Pendidikan Islam,Signifikansi Jejak Pendidikan Islam Bagi
Pengembangan Pendidikan Islam Masa Kini Dan Masa Depan Medan: Widya
Puspita
Daulay, H.P, Pasa. S. 2013. Pendidikan Islam Dalam Lintas Sejarah. Jakarta: Kencana
Departemen Agama. 2013. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
Gunawan, N. 2000. Sosiologi Pendidikan . Jakarta: Rineka Cipta
Gunawan, Heri. 2014. Pendidikan Islam, kajian teoritis dan pemikiran tokoh,Bandung:
Remaja Rosdakarya
Herman. Sejarah Pendidikan Islam . 2007
Harun,
Nasution. 1975, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran Dan Gerakan.
Jakarta: Bulan Bintang
Hafiddi, Hamim. 2015. Pendidikan Islam pada masa Rasulullah, Jurnal TARBIYA,vol: 1,
No: 1
Iskandar. Najmuddin. 2013. Pola Pendidikan Islam Pada Periodasulullah di Mekkah dan
Madinah, Jurnal LENTERA, vol: 13, No:3
M. Nurcholish. 1997. Kaki Langit Peradaban Islam. Jakarta: Paramadina
Nizar, Syamsul. 2013. Sejarah Pendidikan Islam; menelusuri jejak Sejarah Pendidikan Era
Rasuullah sampai Indonesia, Jakarta: kencana
Syukri, Ahmad. 2014. Pendidikan Masa Kemunduran Islam, Jurnal Innovatio, vol: 14. No. 2
Sodikun, Banu. 2015. Sejarah Sosial Pendidikan Islam Di Indonesia, Jurnal Systems, vol: 10,
no: 1
Sutarjo, J. 2014. Urgensi Pengetahuan Sejarah Sosial Pendidikan Islam Dalam Dunia
Akademis. Jurnal Tarbawiya, Vol:11, No. 2
Syah, Sulaiman. 2016. Challenges Of Islamic Education In Muslimworld: Historical,
Political, And Socio-Cultural Perspective, Qudus International Journal of Islamic
Studies, Vol: 4, Issue: 1
Tambak, Syahraini. 2015. Kebangkitan Pendidikan Islam: Melacak Historis Kebangkitan
Kembali Pendidikan Islam, Jurnal Al-Hikmah, 2015, vol: 12, no: 2
22
Thalas, As’ad. 2012. at-Tarbiyah wa Ta’lim fi Islam, Mesir: Handawi
Wathoni, Kharisul. 2013. Pendekatan Sejarah Sosial Dalam kajian Politik Pendidikan
Islam,Jurnal Tadris, Vol: 8, No. 1
Wahyuni, Sri. 2014. Implementasi Sistem Pendidikan Islam pada Masa Daulah Abasiyyah
dan Pada Masa Sekarang, Jurnal Kependidikan, vol. 11, no:2, 2014
Zuhairini. 2013. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
23
Download