Full Paper - Portal Garuda

advertisement
Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XI (2): 131-137 ISSN: 0853-6384
131
Full Paper
PEMIJAHAN DAN PERKEMBANGAN EMBRIO IKAN PELANGI,
Melanotaenia spp. ASAL PAPUA
SPAWNING AND EMBRYONAL DEVELOPMENT OF RAINBOW FISH,
Melanotaenia spp. FROM PAPUA
Chumaidi1*, Bastiar Nur1, Sudarto1, Laurent Pouyaud2 dan Jacques Slembrouck2
Loka Riset Budidaya Ikan Has Air Tawar, Depok
Jl. Perikanan No.13, Pancoran Mas, Depok
2
Institut de Recherché pour le Développement (IRD) Perancis
Jl. Taman Kemang Selatan N0 328, Jakarta Selatan.
*Penulis untuk korespondensi, E-mail: [email protected]
1
Abstract
Rainbow fish (Melanoptaenia spp.) is originated from Sungai Gelap, Papua. The objective of this
experiment was to observe the fecundity, hatching and embryogenesis rates of rainbow fish. Total of 50
males and females broodstock measuring 10–15 cm reared in closed recirculating water system in concrete
tank until their gonad matured. One group composed of one male and two females of matured fish were
transferred to 1 x 1 x 0.5 m³ concrete tank for pair breeding, the fish was sheltered with water hyacinth.
Released eggs were observed in the morning and in the afternoon daily. Eggs were categorized into
fertile and infertile. Some 25 eggs were incubated in plastic baskets, and observed under microscope for
their embryonic development stages. The results showed that rainbow fish from Sungai Gelap produced
eggs (averages) 392 per female; fertility rate was 93.74%; average hatching rate was 87.36%, and the
fertilized eggs were hatched approximately 5 days incubation.
Key words: breeding, embryogenesis, Melanotaenia spp., rainbow fish
Pengantar
Ikan pelangi (Melanotaenia spp.) merupakan salah satu
ikan hias endemik asal Papua yang warnanya indah
seperti pelangi yang menjadi andalan komoditas ekspor.
Ikan pelangi (rainbow fish) memiliki banyak spesies
tersebar di berbagai benua (Axelrod et al., 2004). Sejak
tahun 1980, Dr. Gerald Allen, kurator Museum Australia
Barat, telah menemukan 31 spesies baru di kawasan
daratan besar New Guinea dan Australia (Sudarto &
Nur, 2008), kemudian pada tahun 2007 suatu Ekspedisi
Ilmiah yang digelar oleh Departemen Kelautan dan
Perikanan (DKP) dan Institut de Recherché pour le
Développement (IRD) Perancis, menemukan pula
beberapa spesies baru di kawasan kepala burung (Bird’s
Head) Papua (Kadarusman et al., 2007). Ikan pelangi
sebanyak 65 spesies di kawasan daratan besar New
Guinea dan Australia telah dideskripsikan karakternya,
dan 37 spesies diantaranya mendiami daratan Papua
Indonesia (Sudarto et al., 2007). Ikan pelangi amat
rentan terhadap perubahan lingkungan di habitat aslinya
(Sudarto & Nur, 2008). Habitat asli ikan pelangi di Papua
sering berubah karena kejadian alam maupun ulah
tangan manusia yang dapat berakibat beberapa spesies
ikan pelangi musnah dari daratan Papua (Kadarusman
et al., 2007).
Salah satu habitat ikan pelangi di Papua adalah
Sungai Gelap. Ini merupakan penamaan sungai yang
belum punya nama di daerah kepala burung Papua,
tempat ikan pelangi dikoleksi. Koleksi beberapa
spesies ikan pelangi dan spesies baru perlu dilakukan
sebagai upaya menyelamatkan spesies dan budidaya.
Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok telah
mengoleksi 17 spesies ikan pelangi yang dianggap
spesies baru atas kerjasama antara DKP dengan
IRD Perancis. Spesies ikan pelangi tersebut dalam
tahap adaptasi dan setelah beradaptasi dengan
lingkungan budidaya serta bila ada yang matang
gonad diupayakan untuk dipijahkan. Data biologi
pemijahan ikan pelangi sangat penting, misalnya
jumlah telur yang dihasilkan, fertilitas dan daya tetas
telur, serta perkembangan embrio untuk menunjang
kegiatan budidaya dan konservasi. Pengamatan
jumlah telur hasil pembuahan dan fertilitas telur
serta proses perkembangan embrio merupakan
pengamatan tahap awal dari ikan spesies yang baru
diketahui (Woynarowich & Horvath, 1980).
Jumlah telur, tingkat pembuahan dan daya tetas
telur sangat tergantung dari spesies dan lingkungan
pemeliharaan ikan. Proses perkembangan embrio telur
ikan mas (Cyprinus carpio) dari hasil pemijahan alami
Copyright©2009. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved
Chumaidi et al., 2009
132
yang biasa berlangsung malam hari kurang dari 24 jam
(Huet, 1971), demikian pula embriogenesis tergantung
dari spesiesnya. Menurut Arokiaraj et al. (2003),
embriogenesis ikan catfish (Mystus montanus, Jerdon)
berlangsung selama 22-23 jam setelah pembuahan
telur. Embriogenesis pada ikan pelangi (Glossolepis
incicus, WEBER, 1907) berlangsung relatif lama,
yaitu 125 jam (Ferreira, 2007). Embriogenesis ikan
common gudgeon (Gobio gobio L.) berlangsung lebih
lama, yaitu sekitar 136 jam sejak pembuahan telur
(Palikova & Krejci, 2006). Pengamatan perkembangan
embrio ikan yang terkait dengan lamanya proses
embriogenesis perlu dilakukan untuk mengetahui
durasi tahapan perkembangan embrio hingga larva
menetas. Tujuan penelitian adalah mengetahui jumlah
telur yang dihasilkan, fertilitas dan daya tetas telur
serta perkembangan embrio ikan pelangi asal Sungai
Gelap, Papua.
Bahan dan Metode
Adaptasi Calon Induk
Calon induk ikan pelangi sebanyak kurang lebih 50
ekor terdiri jantan dan betina asal Sungai Gelap,
Papua dipelihara di dalam bak beton ukuran 2,5 x
1,0 x 1,0 m3 dengan media air yang diresirkulasi
dalam ruang tertutup. Bak pemeliharaan ditutup
dengan kain kasa untuk mencegah ikan melompat
keluar. Pakan diberikan tiga kali per hari berupa larva
Chironomus beku sebanyak 2,5% dari berat biomasa
ikan. Pengamatan kematangan gonad dilakukan
setiap saat dengan cara mengambil calon induk ikan
menggunakan serokan besar, kemudian diamati
kesiapannya untuk dipijahkan. Induk jantan matang
gonad memiliki ciri bila diurut bagian perut ke belakang
akan keluar sperma berwana putih susu, sedangkan
induk betina matang gonad memiliki ciri bagian perut
membuncit dan bila diraba terasa lembek. Induk jantan
dan betina matang gonad selanjutnya dipindahkan ke
dalam bak beton di luar ruangan untuk dipijahkan.
Pemijahan
Bak pemijahan yang digunakan berupa bak beton
ukuran 1,0 x 1,0 x 0,75 m3 diisi air setinggi 0,5 m.
Bak-bak pemijahan ditutup dengan kain jala agar ikan
tidak melompat ke luar dan dilindungi dengan kain
kasa hitam untuk mengurangi cahaya yang masuk ke
dalam bak serta mencegah alga berkembang. Media
air diaerasi agak kuat untuk meningkatkan kandungan
oksigen terlarut. Sebagai pelindung ikan dan media
untuk menempel telur bila terjadi pemijahan, ke dalam
bak ditambahkan tanaman air berupa eceng gondok
kira-kira sebanyak 50% dari luas permukaan air bak.
Rasio jantan dan betina setiap bak pemijahan adalah
satu induk jantan dan dua induk betina. Selama
pemeliharaan di dalam bak pemijahan, induk ikan
diberi pakan dengan jenis dan jumlah seperti saat
adaptasi ikan di bak beton tertutup. Pengamatan
keberhasilan ikan memijah dilakukan pada pagi dan
sore.
Pengamatan pagi dilakukan untuk proses pemijahan
yang berlangsung pada malam hari, sedangkan
pengamatan sore dilakukan untuk proses pemijahan
pada waktu siang. Bila pada akar eceng gondok ada
telur yang melekat maka eceng gondok tersebut
diangkat dari media air pemijahan dan ditaruh dalam
baskom yang berisi air. Akar yang terdapat telur
dipotong menggunakan gunting dan dipisahkan dari
pelepah daun eceng gondok.
Telur yang melekat di akar eceng gondok hasil
pemijahan dihitung dan dipisahkan antara telur yang
berhasil dibuahi (fertile) dan telur yang tidak dibuahi
(infertile). Penghitungan telur dilakukan setiap hari
hingga tidak ada lagi telur yang dihasilkan. Telur
yang fertile terlihat jernih seperti kaca sedangkan
yang infertile terlihat keruh seperti putih susu. Jumlah
telur baik yang fertile maupun infertile merupakan
jumlah telur yang dihasilkan. Persentase pembuahan
dihitung untuk semua telur yang dihasilkan pada
pemijahan pagi maupun sore hari.
Inkubasi Telur dan Pengamatan Perkembangan
Embrio
Telur yang fertile dipindah dan diinkubasi dalam
wadah plastik ukuran 10 x 8 x 10 cm3 yang diisi
air setinggi 5 cm. Media air diaerasi lemah. Basket
wadah plastik diletakkan di atas meja dalam ruangan
tertutup. Setiap basket diisi 25 butir telur. Selama
inkubasi, telur yang menetas menjadi larva tidak diberi
pakan. Air media inkubasi diganti sedikit demi sedikit
dan telur yang tidak menetas atau telur yang mati
diambil dan dihitung jumlahnya. Telur diamati sejak
keluar dari induk betina, melekat di eceng gondok,
saat inkubasi hingga telur menjadi larva. Pengamatan
dilakukan dengan mikroskop dihubungkan dengan
monitor komputer, sekaligus diambil gambarnya
setiap ada perubahan dalam embriogenesis telur.
Larva yang dihasilkan sebagai daya tetas telur dicatat
dan dihitung dalam persentase dari telur (25 butir)
yang diinkubasikan.
Pengamatan Kualitas Air Media
Pengamatan kualitas air media dilakukan sejak dari saat
adaptasi calon induk, pemijahan induk dan inkubasi telur
Copyright©2009. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved
133
Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XI (2): 131-137 ISSN: 0853-6384
hingga menetas menjadi larva. Kualitas air media yang
direkam terkait dengan suhu, dan pH air serta oksigen
terlarut dan daya hantar listrik (conductivity).
Hasil dan Pembahasan
Fekunditas dan Fertilitas
Telur yang dikeluarkan dua induk betina ikan pelangi
selama penelitian berjumlah 783 atau kira-kira 342
telur/induk dan fertilitas telur selama pemijahan
93,74% (Tabel 1).
Tabel 1. Fekunditas dan fertilitas telur.
No.
1.
2.
3.
4.
5.
5
6.
7.
Pemijahan
1 (16/07/08)
2 (17/07/08)
3 (19/07/08)
4 (21/07/08)
5 (23/07/08)
5 (28/07/08)
6 (29/07/08)
7 (31/07/08)
Jumlah
Jumlah telur fertile
Jumlah telur infertile
Total
Pagi
Sore
Fertile Infertile Fertile Infertile
69
2
2
1
77
15
91
22
154
150
114
77
91
22
643
27
734 (93,74%)
49 (6,26%)
783 (100%)
Daya Tetas Telur
Hasil pengamatan selama inkubasi telur di basket
penetasan menunjukkan bahwa telur yang menetas
menjadi larva berkisar 68-100% atau rata-rata 93,33%
(Tabel 2).
Daya tetas telur yang dihitung dari total jumlah larva
(684) dibagi dengan total jumlah telur (783) yang
dihasilkan adalah 87,36%.
Perkembangan Embrio
Proses perkembangan embrio ikan pelangi dapat
dibagi menjadi tiga tahap yaitu pembelahan inti sel
telur, pembentukan calon embrio dan perkembangan
embrio hingga telur menetas (Tabel 3).
Kualitas Fisika dan Kimia Air Media Pemeliharaan
Kualitas fisika dan kimia air selama pemeliharaan
baik di kolam induk, kolam pemijahan dan wadah
penetasan disajikan pada Tabel 4.
Hasil dan Pembahasan
Hasil pengamatan selama pemijahan menunjukkan
bahwa ikan pelangi memijah rata-rata pada waktu
Tabel 2. Daya tetas telur.
No.
Basket
Jumlah
Telur
Jumlah
Larva
Sintasan
(%)
1.
1
25
19
76
2.
2
25
25
100
3.
3
25
25
100
4.
4
25
25
100
5.
5
25
19
76
6.
6
25
25
100
7.
7
25
18
72
8.
8
25
25
100
9.
9
25
19
76
10.
10
25
20
80
11.
11
25
25
100
12.
12
25
25
100
13.
13
25
25
100
14.
14
25
25
100
15.
15
25
25
100
16.
16
25
25
100
17.
17
25
18
72
18.
18
25
25
100
19.
19
25
25
100
20.
20
25
17
68
21.
21
25
25
100
22.
22
25
25
100
23.
23
25
24
96
24.
24
25
25
100
25.
25
25
22
88
26.
26
25
25
100
27.
27
25
24
96
28.
28
25
25
100
29.
29
25
25
100
30.
30
9
9
100
Total
Rata-rata
734
684
24,57
22,8
93,33
malam, ditandai dengan hampir semua telur yang
didapat pada waktu pengamatan pagi hari walaupun
ada ikan yang memijah pada waktu siang atau telur
didapat pada sore hari (Tabel 1). Seperti ikan air tawar
pada umumnya pemijahan berlangsung pada malam
hari. Pemijahan berlangsung selama 15 hari dengan
mendapatkan telur yang melekat di eceng gondok
sebanyak 7 kali. Jumlah telur yang dikeluarkan
merupakan kemampuan induk betina menghasilkan
telur. Menurut Crowley & Ivanstsoff (1982) Ikan rainbow
Australia Melanotaenia nigrans dan Melanotaenia
inornata yang dipijahkan di akuarium mengeluarkan
telur pada substrat berlangsung pada pagi hari dan
biasanya berlanjut hingga sore hari.
Copyright©2009. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved
Chumaidi et al., 2009
134
Fertilitas telur yang tinggi menunjukkan kualitas zigot
yang sangat baik dan akan mempengaruhi daya
tetas telurnya. Daya tetas telur ialah kemampuan
dalam proses embriogenesis hingga telur menetas.
Daya tetas telur yang cukup tinggi tersebut terkait
dengan kandungan asam amino dan asam lemak.
Menurut Lochmann (2004), asam amino seperti
Asam Glutamat, Alanin dan Leusin berperan dalam
kematangan gonad ikan. Asam lemak terutama Asam
Linoleat dan Linolenat berperan dalam pembentukan
vitellogenin dari sel telur (Takeuchi, 1997). Pakan yang
diberikan berupa larva Chironomus mengandung
Alanin (4,13%), Asam Glutamat (6,99%) dan
Leusin (3,12%), Asam Linoleat (1,97%) dan Asam
Linolenat (1,10%) (Chumaidi et al., 2007). Menurut
Takeuchi (1997) kekurangan kedua asam lemak ini
mengakibatkan terganggunya proses embrional telur
dan tingginya abnormalitas larva (larva bengkok).
Selama pengambilan telur untuk diamati proses
embriogenesis tidak pernah menemukan inti telur
tahap paling awal atau sebelum pembelahan dan
selalu hanya mendapatkan inti telur telah membelah
dua sel. Tahapan perkembangan telur baik yang
diambil pada pagi maupun sore hari tidak ada
perbedaan ditinjau dari waktu tahapan embriogenesis
telur. Diperkirakan tahap awal proses fertilisasi telur,
inti telur belum membelah hingga pembelahan dua sel
berlangsung 33-40 menit (Crowley & Ivantsoff, 1982).
Proses perkembangan embrio telur ikan pelangi asal
Sungai Gelap tersebut berlangsung relatif lebih lama
yaitu mencapai 127 jam 4 menit atau kira-kira lima
hari (Tabel 3).
Tabel 3. Perkembangan embrio ikan pelangi asal Sungai Gelap Papua.
Tahap Perkembangan
Karakteristik Perkembangan
Durasi Perkembangan
(menit)
Pembelahan pertama inti telur membentuk 2 sel. Butiran
minyak berada pada bidang sisi telur antara kutub anima
dan kutub vegetatif
0
Pembelahan kedua inti telur membentuk 4 sel. Butiran
minyak bergerak kebawah menuju kutub vegetatif
61
Pembelahan ketiga inti telur membentuk 8 sel.Butiran
minyak telah berada pada kutub vegetatif
73
Pembelahan keempat inti telur membentuk 16 sel
77
Copyright©2009. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved
135
Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XI (2): 131-137 ISSN: 0853-6384
(Lanjutan Tabel 3)
Tahap Perkembangan
Karakteristik Perkembangan
Durasi Perkembangan
(menit)
Pembelahan kelima inti telur membentuk 32 sel
142
Pembelahan keenam inti telur membentuk 64 sel
147
Pembelahan ketujuh inti telur membentuk banyak sel
234
Morula, sel-sel inti telur mulai bergerak ke bawah
melingkupi kuning telur
658
Blastula, sel-sel inti telur telah melingkupi ½ kuning
telur
781
Gastrula sel-sel inti telur telah melingkupi ⅔ kuning
telur
1.024
Neurula calon embrio sudah terbentuk, beberapa somit
sudah terlihat.
1.177
Copyright©2009. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved
Chumaidi et al., 2009
136
(Lanjutan Tabel 3)
Tahap Perkembangan
Karakteristik Perkembangan
Durasi Perkembangan
(menit)
Embrio awal. Embrio membentuk huruf C dan terbentuk
calon mata
1.310
Embrio akhir. Bintik mata sudah terlihat dan somit-somit
mulai terlihat jelas
1.466
Telur menetas menjadi larva
8.660
Tabel 4. Kualitas fisika dan kimia air media pemeliharaan.
No.
1
2
3
Tempat
Kolam Induk
Kolam Pemijahan
Wadah Penetasan
Suhu
(ºC)
27,2 – 27,3
26,0 – 26,1
25,8 – 26,0
Embriogenesis Australian Rainbow fish (Melanotaenia
splendid) berlangsung 151-152 jam dan Melanotaenia
nigrans berlangsung 155-159 jam pada suhu inkubasi
25-27°C (Crowley & Ivantsoff, 1982). Hampir dalam
tiga tahapan proses embriogenesis relatif lebih lambat
dibanding dengan proses embriogenesis dari telur ikan
air tawar lainnya. Lamanya waktu pembelahan inti sel
dari dua hingga banyak sel pada ikan pelangi asal
Sungai Gelap, Papua berlangsung cukup lama, yaitu
234 menit atau hampir 4 jam. Proses embriogenesis
ikan pelangi asal Sungai Sawiat, Papua berlangsung
cukup lama pula, yaitu 142 jam 59 menit pada suhu
inkubasi 27,6-28,3°C (Nur et al., 2009).
Pada pembentukan calon embrio ikan pelangi
berlangsung cukup lama, yaitu 1,177 menit atau
hampir 20 jam. Pada tingkat neurula calon embrio
sudah terbentuk. Perkembangan embrio awal
dimulai setelah embrio berbentuk seperti huruf C
pH
8,0 – 8,2
7,8 – 8,0
7,9 – 8,3
Parameter
DO
(mg/l)
7,67 – 7,86
7,67 – 8,75
7,37 – 7,69
Konduktivitas
(µS)
176,1 – 184,0
147,1 – 155,8
258,1 – 264,8
dan terbentuk calon mata dan berlangsung selama
1,310 menit dari saat pembuahan telur. Selama
proses pembelahan inti sel hingga telur akan menetas
terlihat butiran minyak yang letaknya berseberangan
dari inti sel telur awal membelah. Butiran minyak ini
terlihat pula pada telur spesies ikan pelangi lainnya
(Ferreira, 2007).
Pengamatan kualitas air media baik di kolam induk,
kolam pemijahan dan basket penetasan menunjukkan
masih dalam kriteria yang layak untuk masing-masing
kegiatan (Tabel 4). Menurut Huet (1971), suhu optimal
untuk kehidupan ikan berkisar 22-28oC. Habitat ikan
pelangi di Australia pada kisaran pH 3,9-6,8 dan
daya hantar listrik 50-350 µS (Tappin, 2005). Menurut
Kadarusman et al. (2007), suhu di habitat ikan pelangi
di danau dan sungai Papua berkisar 25-26°C dan daya
hantar listrik 300 µS, sedangkan pH air sangat netral
untuk kehidupan ikan berkisar 6,5-9,0 (Boyd, 1982).
Copyright©2009. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved
137
Jurnal Perikanan (J. Fish. Sci.) XI (2): 131-137 ISSN: 0853-6384
Kesimpulan
Fekunditas ikan pelangi asal Sungai Gelap, Papua
sebanyak 392 per ekor, fertilitas 93,74%, daya tetas
telur 87,30%, dan telur menetas setelah 127 jam 4
menit atau 5 hari pasca pembuahan.
Saran
Butiran minyak yang ada di dalam dinding telur perlu
diteliti lebih lanjut untuk mengetahui pengaruhnya
terhadap proses embriogenesis pada telur ikan
pelangi.
Daftar Pustaka
Arockiaraj, A.J., M.A. Hanifa, S. Seetharaman & S.K.
Singh. 2003. Early development of a threaetened
freshwater catfish Mystus montanus (Jerdon).
Acta Zoologica Taiwanica 14(1):23-32.
Axelrod, H.R., G.S. Axelrod, W. B. Burgess, N. Pronek,
B.M. Scott & J.G. Wall. 2004. Atlas of Freshwater
Aquarium Fishes 10th ed. TFH Publication, FFH
Plaza. Neptune City, NJ 07753. 1158 p.
Boyd, E.C. 1982. Water Quality Management for
Rational Effluent and Stream. Standart of Trapical
Countries, AIT, Bangkok. 59 p.
Chumaidi, Y. Suryanti & A. Priyadi. 2007. Pematangan
awal gonad ikan botia (Chromobotia macracanta
BLKR) menggunakan pakan buatan dan pakan
hidup (Larva Chironomus sp) Dalam: Perkembangan
Teknologi Budidaya Perikanan. Achmad, Haryanti,
N. A. Giri, G. Sumiarsa, Rachmansyah dan I. Insan
(Eds.), Balai Besar Riset Budidaya Perikanan Laut.
Pusat Riset Perikanan Budidaya. 116-121.
Crowley, L.E.L.M. & W. Ivanstoff. 1982. Reproduction
and early stage of development in two species
of Australian Rainbowfish, Melanotaenia nigrans
(Richadson) and Melanotaenia splendid inornata
(Castelnau) Aust. Zool. 21(1):85-95.
Ferreirera, A.V. 2007. Ontogenia inicial e consume
de vitelo em embrioes de melatnotaenia
maca (Glossolepis imcisus, WEBER, 1907).
Universidade estadual do norte fluminencse
darcy ribero-UENF campos dos gytacazes-RJFevereiro (Abstract).
Huet, M. 1971. Texbook of Fish Cuilture and Cultivation
of Fish Fishing. New Book Ltd. England,436 p.
Kadarusman, L. Pouyaud, J. Slembrouck & Sudarto.
2007. Studi Pendahuluan Diversitas Jenis,
Habitat, Domestikasi dan Konservasi Ex-Situ
Ikan Rainbow; Melanotaenia di Kawasan
Vogelkop Papua. APSOR-IRD-LRBIHAT. Tidak
dipublikasikan. 12 p.
Lochmann,R. 2004. Spawning and grow-out of
Colossoma macropomum and/or Piaratus
brachypomus. PD/A CRSP Nineteenth Annual
Tecchnical Report.http://pdacrsp.oregonstate.
edu/pubs/technical/19tchhtml/9NS3A.html.
Diakses 3 Februari 2006.
Nur, B., Chumaidi, Sudarto, L. Pouyoud & J.
Slembrouck. 2009. Pemijahan dan perkembangan
embrio ikan pelangi (Melanotania spp.) asal
Sungai Sawiat, Papua. Jurnal Riset Akuakultur
4(2): 147-156.
Palikova, M. & R. Krejci. 2006. Arttificial stripping and
development of the common gudgeon (Gobio
gobio L.) and its use in embryo-larval testy- a pilot
study. Czech J. Anim. Sci. 51(4): 174-180.
Sudarto, Kadarusman & L. Pouyaud. 2007. Project
FISH-DIVA, Freshwater Fish Diversity in
South East Asia. Biannual Report 2006-2007.
LORIBIHAT-APSOR-IRD. FISH-DIVA Program.
p: 69-94.
Sudarto & B. Nur. 2008. Biodiversitas Ikan Pelangi
(Rainbow Fish) Asal Indonesia Bagian Timur
dalam Suriyadi H.,A. Hanafi, A.H.Kristanto,
Chumaidi, A. Mustafa, Imron & I. Insan. Tehnologi
Perikanan Budidaya. Pusat Riset Perikanan
Budidaya.Hal. 455-462.
Takeuchi, T. 1997. Essensiel fatty acid requirements
in carp. Arch Anim. Nutr. (49):23-32.
Tappin, A.R. 2005. Natural Habitat. RainbowFish Habitat.
http://member.optusnet.com.au/aquatichabitats/
habitat.html. Diakses 04 Juni 2008. 8p
Woynarovich, E. & L. Hovarth. 1980. The Artificial
Propagation of Warm Water Finfish. A Manual
for Extention, FAO Fisheries Technical Paper.
Rome. 201.
Copyright©2009. Jurnal Perikanan (Journal of Fisheries Sciences) All Right Reserved
Download