Uploaded by haninnailisa

ASKEP PERIANESTESI SC

advertisement
ASUHAN KEPERAWATAN PERIOPERATIF SECTIO CAESARIA
PADA Ny. N DIAGNOSA MEDIK G1P0A0 38 MINGGU DENGAN KALA II
LAMA
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Stase Pemintan Perioperatif Care
di RS PKU Muhammadiyah Gombong
Disusun Oleh:
Hanin Nailisa Hasna
A11601226
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2019
HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa makalah ASUHAN
KEPERAWATAN PERIOPERATIF SECTIO CAESARIA PADA NY. N
DIAGNOSA MEDIK G1P0A0 38 MINGGU DENGAN KALA II LAMA
Disusun oleh : Hanin Nailisa Hasna
NIM
: A11601226
Telah disetujui pada tanggal
PEMBIMBING AKADEMIK
PEMBIMBING KLINIK
Dadi Santoso, M.Kep
Anton Prabowo, S.Kep. Ns
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesejahteraan suatu bangsa salah satu indikatornya adalah angka kematian
maternal, dan angka kematian neonatal. Berdasarkan rencana strategi nasional
making pregnancy safer angka ini akan diturunkan menjadi 16 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2010 (Prawirohardjo, 2012).
Berdasarkan hasil kajian WHO pada periode 1994-1997, Angka Kematian
Ibu (AKI) sebesar 390 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 1999). Pada
tahun 2001 AKI mengalami penurunan menjadi 334 per 100.000 kelahiran
hidup (Resti, 2015). Berdasarkan Survei Demograpi dan Kesehatan Indonesia
(SDKI) 2002/2003, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih berada 307
per 100.000 kelahiran hidup atau setiap jam terdapat 2 orang ibu bersalin
meninggal dunia karena berbagai sebab (Depkes RI, 2004).
Sesungguhnya tragedi kematian ibu tidak perlu terjadi karena lebih dari
80% kematian ibu sebenarnya dapat dicegah melalui kegiatan yang efektif,
yaitu melalui pemeriksaan kehamilan, pemberian gizi yang memadai dan lainlain. Karena upaya penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu
tetap merupakan prioritas utama dalam pembangunan kesehatan menuju
tercapainya Indonesia Sehat 2010 (Depkes RI, 2004)
Penyebab kematian ibu 90% disebabkan oleh pendarahan, toksemia
gravidarum, infeksi, partus lama dan komplikasi abortus. Kematian ini paling
banyak terjadi pada masa sekitar persalinan yang sebenarnya dapat dicegah,
Sedangkan 10% disebabkan oleh komplikasi persalinan lain (DepkesRI, 2005).
Salah satu penyebab kematian ibu di atas telah di uraikan bahwa di
sebabkan oleh partus lama, Persalinan lama atau kasep merupakan masalah
besar di Indonesia karena pertolongan di daerah pedesaan masih dilakukan oleh
dukun. Persalinan lama adalah persalinan yang berjalan lebih dari 24 jam untuk
primigravida dan 18 jam bagi multigravida. Persalinan kasep adalah persalinan
lama yang di sertai komplikasi ibu maupun janin (Manuaba, 1998).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalahnya adalah
bagaimana pengelolaan pasien dengan regional anestesi dengan teknik spinal
anestesi pada pasien SC ditinjau dari asuhan keperawatan perioperative.
C. Ruang Lingkup
1. Anatomi dari organ reproduksi wanita
2. Definisi SC, penyebab, tanda gejala, patofisioogi dari kala 2 lama
3. Asuhan keperawatan peri-operatif pasien dengan kala 2 lama
D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui bagaimana asuhan
keperawatan anestesi pada pasien SC dengan regional anestesi dengan
teknik spinal anestesi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui bagaimana anatomi dari organ reproduksi wanita
b. Mengetahui apa itu SC
c. Mengetahui bagaimana inikasi dilakukan SC
d. Mengetahui bagaimana patofisiologi posisi lintang bayi
e. Mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang untuk mendirikan diagnose
kala II lama
f. Mengetahui apa saja terapi yang diberikan pada pasien yang akan
dilakukan SC
g. Mengetahui anestesi apa yang digunakan untuk operasi SC
h. Mengetahui apa saja focus pengkajian pada pasien yang akan dilakukan
SC
i. Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan tindakan
SC
E. Manfaat
1. Bagi Individu
Dapat membandingkan teori yang didapat saat kuliah dengan kenyataan
yang ada di lapangan dan mendapatkan pengalaman langsung dirumah sakit
2. Bagi Rumah Sakit
Membantu memberikan informasi pada rumah sakit tentang asuhan
keperawatan keperawatan perioperati, membantu untuk mendukung
pelaksanaan meningkatkan pelayanan operasi yang optimal.
3. Bagi Institusi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES)
Sebagai tambahan kepustakaan dalam pengembangan ilmu kesehatan pada
umumnya dan ilmu keperawatan pada khususnya serta menambah wawasan
bagi mahasiswa.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Spinal Anestesi
Anestesi regional memberikan efek mati rasa terhadap saraf yang
menginervasi beberapa bagian tubuh, melalui injeksi anestesi lokal pada
spinal/epidural, pleksus, atau secara Bier block (Mohyeddin, 2013). Anestesi
regional memiliki keuntungan, diantaranya adalah menghindari polifarmasi,
alternatif yang efektif terhadap anestesi umum, anesthesia yang dapat
diperpanjang, pasient dapat tetap dalam keadaan sadar, dan dapat dilakukan
pemberian makanan atau minuman yang lebih dini (Mohyeddin, 2013).
Anestesi spinal adalah injeksi agen anestesi ke dalam ruang intratekal,
secara langsung ke dalam cairan serebrospinalis sekitar region lumbal di bawah
level L1/2 dimana medulla spinalis berakhir (Keat, dkk, 2013). Menurut
Sjamsuhidayat & De Jong tahun 2010 Spinal anestesi dapat digunakan untuk
prosedur pembedahan, persalinan, penanganan nyeri akut maupun kronik.
Menurut Keat, dkk tahun 2013, indikasi pemberian spinal anestesi ialah untuk
prosedur bedah di bawah umbilicus.
Menurut Sjamsuhidayat & De Jong tahun 2010 anestesi regional yang luas
seperti spinal anestesi tidak boleh diberikan pada kondisi hipovolemia yang
belum terkorelasi karena dapat mengakibatkan hipotensi berat.
Komplikasi yang dapat terjadi pada spinal anestesi menurut Sjamsuhidayat
& De Jong tahun 2010, ialah :
1. Hipotensi terutama jika pasien tidak prahidrasi yang cukup
2. Blokade saraf spinal tinggi, berupa lumpuhnya pernapasan dan memerlukan
bantuan napas dan jalan napas segera.
3. Sakit kepala pasca pungsi spinal, sakit kepala ini bergantung pada besarnya
diameter dan bentuk jarum spinal yang digunakan.
B. Anatomi Tulang Belakang
1. Tulang belakang (Columna Vertebralis).
Tulang belakang merupakan penopang tubuh utama. Terdiri atas jejeran
tulang-tulang belakang (vertebrae). Di antara tulang-tulang vertebrae
terdapat discus invertebralis merupakan tulang rawan yang membentuk
sendi yang kuat dan elastis. Discus invertebralis memungkinkan tulang
belakang bergerak ke segala arah. Jika dilihat dari samping, tulang belakang
membentuk lekukan leher (cervix), lekukan dada (thorax), lekukan pinggul
(lumbal), dan lekukan selangkang (sacral).
2. Medulla Spinalis
Medulla spinalis berada dalam kanalis spinalis dikelilingi oleh cairan
serebrospinalis, dibungkus meningen (Duramater, lemak dan pleksus
venosus). Pada dewasa berakhir setinggi L1, pada anak L2 dan pada bayi L3
dan sakus duralis berakhir setinggi S2. Medulla spinalis diperdarahi oleh a.
spinalis anterior dan a. spinalis posterior.
3. Lapisan Jaringan Punggung
Untuk mencapai cairan serebrospinalis, maka jarum suntik akan menembus
kulit:
Kulit,
Subkutis,
Ligamentum
Supraspinosum,
Ligamentum
interspinosum, Ligamentum Flavum, Ruang Epidural, Duramater, Ruang
Subarakhnoid.
4. Cairan Serebrospinal
Cairan serebrospinal merupakan ultrafiltrasi dari plasma yang berasal dari
pleksus arteria koroidalis yang terletak di ventrikel 3-4 dan lateral. Cairan
jernih ini tak bewarna mengisi ruang subarachnoid dengan jumlah total
100150 ml, sedangkan yang dipunggung sekitar 24-45 ml.
C. Anatomi Sistem Reproduksi
Anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu:
alat reproduksi wanita bagian dalam yang terletak di dalam rongga pelvis, dan
alat reproduksi wanita bagian luar yang terletak di perineum.
1. Alat genitalia wanita bagian luar
a. Mons veneris / Mons pubis
Disebut juga gunung venus merupakan bagian yang menonjol di bagian
depan simfisis terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat setelah
dewasa tertutup oleh rambut yang bentuknya segitiga. Mons pubis
mengandung banyak kelenjar sebasea (minyak) berfungsi sebagai bantal
pada waktu melakukan hubungan seks.
b. Bibir besar (Labia mayora)
Merupakan kelanjutan dari mons veneris berbentuk lonjong, panjang
labia mayora 7-8 cm, lebar 2-3 cm dan agak meruncing pada ujung
bawah. Kedua bibir ini dibagian bawah bertemu membentuk perineum,
permukaan terdiri dari:
1) Bagian luar
Tertutup oleh rambut yang merupakan kelanjutan dari rambut pada
mons veneris.
2) Bagian dalam
Tanpa rambut merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea
(lemak).
c. Bibir kecil (labia minora)
Merupakan lipatan kulit yang panjang, sempit, terletak dibagian dalam
bibir besar (labia mayora) tanpa rambut yang memanjang kearah bawah
klitoris dan menyatu dengan fourchette, semantara bagian lateral dan
anterior labia biasanya mengandung pigmen, permukaan medial labia
minora sama dengan mukosa vagina yaitu merah muda dan basah.
d. Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil, dan
letaknya dekat ujung superior vulva. Organ ini mengandung banyak
pembuluh darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitive analog
dengan penis laki-laki. Fungsi utama klitoris adalah menstimulasi dan
meningkatkan ketegangan seksual.
e. Vestibulum
Merupakan alat reproduksi bagian luar yang berbentuk seperti perahu
atau lonjong, terletak di antara labia minora, klitoris dan fourchette.
Vestibulum terdiri dari muara uretra, kelenjar parauretra, vagina dan
kelenjar paravagina. Permukaan vestibulum yang tipis dan agak berlendir
mudah teriritasi oleh bahan kimia, panas, dan friksi.
f. Perinium
Merupakan daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus vagina
dan anus. Perinium membentuk dasar badan perinium.
g. Kelenjar Bartholin
Kelenjar penting di daerah vulva dan vagina yang bersifat rapuh dan
mudah robek. Pada saat hubungan seks pengeluaran lendir meningkat.
h. Himen (Selaput dara)
Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina bersifat rapuh dan
mudah robek, himen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lender
yang di keluarkan uterus dan darah saat menstruasi.
i. Fourchette
Merupakan lipatan jaringan transversal yang pipih dan tipis, terletak pada
pertemuan ujung bawah labia mayoradan labia minora. Di garis tengah
berada di bawah orifisium vagina. Suatu cekungan kecil dan fosa
navikularis terletak di antara fourchette dan himen.
2. Alat genitalia wanita bagian dalam
a. Vagina
Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu
meregang secara luas karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina.
Panjang dinding anterior vagina hanya sekitar 9 cm, sedangkan panjang
dinding posterior 11 cm. Vagina terletak di depan rectum dan dibelakang
kandung kemih. Vagina merupakan saluran muskulo membraneus yang
menghubungkan rahim dengan vulva. Jaringan muskulusnya merupakan
kelanjutan dari muskulus sfingter ani dan muskulus levator ani oleh
karena itu dapat dikendalikan. Pada dinding vagina terdapat lipatanlipatan melintang disebut rugae dan terutama di bagian bawah. Pada
puncak (ujung) vagina menonjol serviks pada bagian uterus. Bagian
servik yang menonjol ke dalam vagina di sebut portio. Portio uteri
membagi puncak vagina menjadi empat yaitu: fornik anterior, fornik
posterior, fornik dekstra, fornik sinistra. Sel dinding vagina mengandung
banyak glikogen yang menghasilkan asam susu dengan PH 4,5.
Keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi. Fungsi utama
vagina yaitu sebagai saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah
menstruasi, alat hubungan seks dan jalan lahir pada waktu persalinan.
b. Uterus
Merupakan jaringan otot yang kuat, berdinding tebal, muskular, pipih,
cekung dan tampak seperti bola lampu / buah peer terbalik yang terletak
di pelvis minor di antara kandung kemih dan rectum. Uterus normal
memiliki bentuk simetris, nyeri bila ditekan, licin dan teraba padat.
Uterus terdiri dari tiga bagian yaitu: fundus uteri yaitu bagian corpus
uteri yang terletak di atas kedua pangkal tuba fallopi, corpus uteri
merupakan bagian utama yang mengelilingi kavum uteri dan berbentuk
segitiga, dan seviks uteri yang berbentuk silinder. Dinding belakang,
dinding depan dan bagian atas tertutup peritoneum sedangkan bagian
bawahnya berhubungan dengan kandung kemih. Untuk mempertahankan
posisinya uterus disangga beberapa ligamentum, jaringan ikat dan
peritoneum. Ukuran uterus tergantung dari usia wanita, pada anak-anak
ukuran uterus sekitar 2-3 cm, nullipara 6-8 cm, dan multipara 8-9 cm.
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan yaitu peritoneum, miometrium /
lapisan otot, dan endometrium.
1) Peritoneum
a) Meliputi dinding rahim bagian luar
b) Menutupi bagian luar uterus
c) Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan pembuluh darah
limfe dan urat saraf
d) Meliputi tuba dan mencapai dinding abdomen
2) Lapisan otot
a) Lapisan luar: seperti “Kap” melengkung dari fundus uteri menuju
Ligamentum
b) Lapisan dalam: berasal dari osteum tuba uteri sampai osteum uteri
internum
c) Lapisan tengah: terletak di antara kedua lapisan tersebut
membentuk lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan
tengah ditembus oleh pembuluh darah arteri dan vena. Lengkungan
serabut otot ini membentuk angka dan sehingga saat terjadi
kontraksi pembuluh darah terjepit rapat dengan demikian
perdarahan dapat terhenti.
3) Semakin ke arah serviks otot rahim makin berkurang dan jaringan
ikatnya bertambah. Bagian rahim yang terletak antara osteum uteri
internum anatomikum yang merupakan batas dan kavum uteri dan
kanalis servikalis dengan osteum uteri histologikum (dimana terjadi
perubahan selaput lendir kavum uteri menjadi selaput lendir serviks)
disebut istmus. Istmus uteri ini akan menjadi segmen bawah rahim
dan meregang saat persalinan.
4) Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh tonus otot
rahim sendiri, tonus ligamentum yang menyangga, tonus otot-otot
dasar
panggul,
ligamentum
yang
menyangga
uterus
adalah
ligamentum latum, ligamentum rotundum (teres uteri) ligamentum
infindibulo pelvikum (suspensorium ovarii) ligamentum kardinale
machenrod, ligamentum sacro uterinum dan ligamentum uterinum.
a) Ligamentum latum
1. Merupakan lipatan peritoneum kanan dan kiri uterus meluas
sampai ke dinding panggul
2. Ruang antara kedua lipatan berisi jaringan ikat longgar dan
mengandung pembuluh darah limfe dan ureter
3. Ligamentum latum seolah-olah tergantung pada tuba fallopi
4. Ligamentum rotundum (teres uteri)
5. Mulai sedikit kaudal dari insersi tuba menuju kanalis inguinalis
dan mencapai labia mayus
6. Terdiri dari otot polos dan jaringan ikat
7. Fungsinya menahan uterus dalam posisi antefleksi
b) Ligamentuminfundibulo pelvikum
1. Terbentang dari infundibulum dan ovarium menuju dinding
panggul
2. Menggantung uterus ke dinding panggul
3. Antara tuba fallopi dan ovarium terdapat ligamentum ovary
proprium
c) Ligamentumkardinale machenrod
1. Dari serviks setinggi osteum uteri internum menuju panggul
2. Menghalangi pergerakan uterus ke kanan dan ke kiri
3. Tempatmasuknya pembuluh darah menuju uterus
d) Ligamentumsacro uterinum
Merupakan penebalan dari ligamentum kardinale machenrod
menuju os sacrum
e) Ligamentumvesika uterinum
1. Dari uterus menuju ke kandung kemih
2. Merupakan jaringan ikat yang agak longgar sehingga dapat
mengikuti perkembangan uterus saat hamil dan persalinan
5) Pembuluh darah uterus
a) Arteri uterina asenden yang menuju corpus uteri sepanjang dinding
lateral dan memberikan cabangnya menuju uterus dan di dasar
endometrium membentuk arteri spinalis uteri
b) Di bagian atas ada arteri ovarika untuk memberikan darah pada
tuba fallopi dan ovarium melalui ramus tubarius dan ramus ovarika.
6) Susunansaraf uterus
Kontraksi otot rahim bersifat otonom dan dikendalikan oleh saraf
simpatis dan parasimpatis melalui ganglion servikalis fronkenhouser
yang terletak pada pertemuan ligamentum sakro uterinum.
c. Tuba Fallopi
Tuba fallopi merupakan saluran ovum yang terentang antara kornu
uterine hingga suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum
mencapai rongga uterus. terletak di tepi atas ligamentum latum berjalan
ke arah lateral mulai dari osteum tubae internum pada dinding rahim.
Panjang tuba fallopi 12cm diameter 3-8cm. Dinding tuba terdiri dari tiga
lapisan yaitu serosa, muskular, serta mukosa dengan epitel bersilia. Tuba
fallopi terdiriatas :
1) Pars interstitialis (intramularis) terletak di antara otot rahim mulai dari
osteum internum tuba.
2) Pars istmika tubae, bagian tuba yang berada di luar uterus dan
merupakan bagian yang paling sempit.
3) Pars ampuralis tubae, bagian tuba yang paling luas danberbentuk “s”.
4) Pars infindibulo tubae, bagian akhir tubae yang memiliki lumbai yang
disebut fimbriae tubae.
Fungsi tuba fallopi :
1) Sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai kavum uteri.
2) Untuk menangkap ovum yang dilepaskan saat ovulasi.
3) Sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi.
4) Tempat terjadinya konsepsi.
5) Tempat pertumbuahn dan perkembangan hasil konsepsi sampai
6) mencapai bentuk blastula yang siap mengadakan implantasi.
d. Ovarium
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi
ovum, ovulasi, sintesis, dan sekresi hormon –hormon steroid.
Letak: Ovarium ke arah uterus bergantung pada ligamentum infundibulo
pelvikum dan melekat pada ligamentum latum melalui mesovarium.
Jenis: Ada 2 bagian dari ovarium yaitu:
1) Korteks ovarii
a) Mengandung folikel primordial
b) Berbagai fase pertumbuhan folikel menuju folikel de graff
c) Terdapat corpus luteum dan albikantes
2) Medula ovarii
a) Terdapat pembuluh darah dan limfe
b) Terdapat serat saraf
e. Parametrium
Parametrium adalah jaringan ikat yang terdapat di antara ke dua lembar
ligamentum latum. Batasan parametrium
1) Bagian atas terdapat tuba fallopi dengan mesosalping
2) Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri
3) Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium.
4) Bagian belakang terdapat ligamentum ovarii
D. Definisi
Sectio caesarea adalah cara melahirkan janin dengan menggunakan insisi pada
perut dan uterus (Bobak, IM. 2000)
Sectio caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan elalui
suatu insisi pada dinding perut dan dinding Rahim dengan syarat Rahim dalam
keadaan utuh serta berat janin diatas 500 gram (Wiknjosastro, 1994)
Section caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan
pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau section
caesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam Rahim
(Mochtar, 1998)
E. Etiologi
Etiologi terjadinya kala II lama ini adalah multikomplek dan tentu saja
bergantung pada pengawasan selagi hamil, pertolongan persalinan yang baik
dan penatalaksanaannya. Faktor-faktor penyebabnya antara lain :
1. Kelainan letak janin
2. Kelainan-kelainan panggul
3. Kelainan kekuatan his dan mengejan
4. Pimpinan persalinan yang salah
5. Janin besar atau ada kelainan kongenital
6. Primi tua primer dan sekunder
7. Perut gantung, grandemulti
8. Ketuban pecah dini ketika servik masih menutup, keras dan belum mendatar
9. Analgesi dan anestesi yang berlebihan dalam fase laten
10. Wanita yang dependen, cemas dan ketakutan. (Ilmu Kebidanan 2010)
F. Patofisiologi
Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah tampak di
vulva dengan diameter 5-6 cm. Kemajuan persalinan dalam kala II dikatakan
kurang baik apabila penurunan kepala janin tidak teratur di jalan lahir,
gagalnya pengeluaran pada fase pengeluaran. (Prawirohardjo, 2012)
Kesempitan panggul dapat menyebabkan persalinan yang lama atau
persalinan macet karena adanya gangguan pembukaan yang diakibatkan oleh
ketuban pecah sebelum waktunya yang disebabkan bagian terbawah kurang
menutupi pintu atas panggul sehingga ketuban sangat menonjol dalam vagina
dan setelah ketuban pecah kepala tetap tidak dapat menekan cerviks karena
tertahan pada pintu atas panggul. Persalinan kadang-kadang terganggu oleh
karena kelainan jalan lahir lunak (kelainan tractus genitalis). Kelainan tersebut
terdapat di vulva, vagina, cerviks uteri, dan uterus.
His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan
hambatan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, jika tidak
dapat diatasi dapat megakibatkan kemacetan persalinan. Baik atau tidaknya his
dinilai dengan kemajuan persalinan, sifat dari his itu sendiri (frekuensinya,
lamanya, kuatnya dan relaksasinya) serta besarnya caput succedaneum.
Pimpinan persalinan yang salah dari penolong, tehnik meneran yang
salah, bahkan ibu bersalin yang kelelahan dan kehabisan tenaga untuk meneran
dalam proses persalinan juga bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya kala
II lama.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan USG
2. Pemeriksaasn laboratorium darah lengap
3. Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa. Warna, konsentrasi, bau dan
pH nya
4. Cairan yang keluar dari vagina ini ada kemungkinan air ketuban, urine atau
sekret vagina
5. Sekret vagina ibu hamil pH 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna,
tetap kuning
6. Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7- 7,5 darah dan
infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu.
7. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek
dan dibiarkan kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran
daun pakis.
H. Therapi
NO
Nama Obat
Dosis
1
Ondancetron
4 mg
2
Ketorolac
30 mg
3
Bupivacaine
2,5 mg
4
Oxytocin
10 IU
5
Methylergometrine Maleate
0,2 mg
I. Fokus Pengkajian
1. Identitas klien dan penanggung jawab
2. Keluhan utama klien saat ini
3. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas, dan KB sebelumnya bagi klien
multipara
4. Riwayat penyakit klien serta keluarga
5. Keadaan klien meliputi :
a. Sirkulasi
Hipertensi dan pendarahan vagina yang mungkin terjadi. Kemungkinan
kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 mL
b. Integritas ego
Dapat menunjukkan prosedur yang diantisipasi sebagai tanda kegagalan
dan atau refleksi negatif pada kemampuan sebagai wanita.Menunjukkan
labilitas emosional dari kegembiraan, ketakutan, menarik diri, atau
kecemasan.
c. Makanan dan cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi (diet ditentukan).
d. Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anestesi spinalepidural.
e. Nyeri / ketidaknyamanan
Mungkin mengeluh nyeri dari berbagai sumber karena trauma bedah,
distensi kandung kemih , efek - efek anesthesia, nyeri tekan uterus
mungkin ada.
f. Pernapasan
Bunyi paru - paru vesikuler dan terdengar jelas.
g. Keamanan
Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda / kering dan utuh.
h. Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus.Aliran lokhea sedang.
Pengajian pada pasein dengan diagnosa kerja section caesarea dengan kala
II lama adalah :
a. Kaji activity daily living yaitu kebutuhan aktifitas sehari-hari klien,
apakah pada klien hamil trimester 3 mengalami gangguan pada activitas
hariannya
b. Kaji persolal higine klien mengalami masalah atau tidak
c. Kaji mobilisasi klian
d. Kaji tingkat nyeri kliene.
e. Kaji kekuatan otot klien
f. Kaji Kontraksi
g. Kaji DJJ
h. Kaji posisi janin menggunakan leopold
i. Kaji ketuban
J. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera (NANDA, 2015)
Tujuan: Nyeri berkurang sampai dengan hilang.
Kriteria Hasil: Pasien mengatakan nyeri berkurang, ekspresi wajah pasien
tampak tenang. Intervensi:
a. Kaji karakteristik nyeri, tingkat skala nyeri.
b. Monitor tanda-tanda vital.
c. Berikan posisi yang nyaman.
d. Ajarkan teknik relaksasi.
e. Beritahu penyebab nyeri
f. Beri obat analgesik.
2. Resiko perdarahan (NANDA 2015)
Tujuan : Kehilangan darah yang terlihat dapat dikendalikan
Kriteria hasil : Tekanan darah dalam batas normal, perdarahan pervagina
dalam batas normal
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda perdarahan
b. Monitor TTV ortostatik
c. Monitor status cairan
d. Pertahankan patensi IV line
3. Risiko tinggi infeksi (NANDA, 2015)
Tujuan: Agar luka tidak infeksi.
Kriteria Hasil: Luka kering dan bersih tanpa ada tanda dan gejala infeksi.
Intervensi:
a. Kaji peningkatan suhu, nadi, respirasi sebagai tanda infeksi.
b. Observasi insisi terhadap tanda infeksi: kemerahan, nyeri tekan, bengkak
pada sisi insisi, peningkatan suhu tubuh.
c. Ganti balutan luka.
d. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
e. Kaji fundus uteri dan pengeluaran lochea.
f. Kolaborasi dalam pemberian antibiotik.
BAB III
TINJAUAN KASUS
1. PENGKAJIAN
Hari
: Senin
Tempat
: IBS RS PKU Muhammadiyah Gombong
Metode
: Langsung
Oleh
: Hanin Nailisa Hasna
Tanggal
: 30 Desember 2019
Jam
: 09.00
A. Data Syubjektif
a. Identitas pasien
Nama
: Ny. N
Tempat tanggal lahir : Kebumen, 6 Oktober 1999
Alamat
: Jatinegara RT 03/02 Sempor
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Status
: Menikah
Diagnosa Medis
: G1P0A0 38 minggu dengan kala 2 lama
No. Rekam Medis
: 392 549
Tgl Masuk
: 30 Desember 2019
b. Identitas penanggung jawab
Nama
: Tn. A
Alamat
: Jatinegara RT 03/02 Sempor
Hubungan dengan pasien
: Suami
c. Riwayat kesehatan
1) Keluhan utama
Nyeri
2) Riwayat penyakit sekarang
Klien datang ke IGD karena sudah merasa ingin melahirkan, klien
ditangani oleh bidan VK IGD terlebih dahulu namun karena kala 2
klien lama klien dipindakan ke ruang IBS untuk dilakukan operasi
Caesar.
3) Riwayat penyakit dahulu
Klien mengatakan belum pernah sakit hingga dirawat dirumah sakit
sebelumnya. Klien tidak memiliki riwayat penyakit seperti asma,
jantung, dan penyakit yang memerlukan konsumsi obat rutin jangka
lama. Selain itu klien belum pernah dioperasi sebelumnya. Klien tidak
memiliki alergi obat-obatan. Selama kehamilan klien tidak pernah
mengalami masalah kesehatan.
4) Riwayat penyakit keluarga
Keluarga klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang
memiliki penyakit menurun, menahun dan menular seperti Hepatitis,
DM, dan TB paru.
d. Pola fungsional menurut Gordon
1) Pola persepsi dan penanganan kesehatan
Klien mengatakan kesehatan adalah hal yang sangat penting bagi
keluarganya. Klien dan keluarganya selalu menjaga lingkungan rumah
agar tetap bersih, rapih dan sehat guna menghindari resiko penyakit
dilingkungan rumahnya. Klien juga mengatakan bahwa dirumahnya
juga disediakan kotak P3K untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak
diinginkan di rumahya, klien juga mengatakan jika keluarga sakit
maka akan drawat dirumah dahulu jika tidak kunjung sembuh maka
baru dibawa kerumah sakit. Dikeluarganya terdapat anggota kelurga
yang merokok yaitu suaminya.
2) Nutrisi metabolic
Keluarga klien mangatakan klien makan dengan normal namun pada
tri semester awal kehamilan porsi makan klien hanya sedikit karena
mual muntah. Klien biasa makan tiga kali sehari, tidak mengalami
kesulitan menelan, tidak memiliki alergi terhadap makanan. Klien
juga mengatakan dikeluarga pasien tidak ada pantangan.
3) Eliminasi
Klien mengatakan tidak memiliki masalah dalam buang air baik kecil
maupun besar pada awal kehamilan, namun setelah memasuki
trisemester akhir klien mengalami sulit buang air besar. Klien
mengatakan kira-kira sehari BAK 5x sehari berwarna kuning terang,
dan BAB 1x sehari.
4) Aktifitas latihan
Klien mengatakan tidak mengalami gangguan aktivitas dan kegiatan
hariannya, klien tetap beraktifitas seperti biasa meski terkadang
sedikit kesulitan karena perutnya seakin membesar.
5) Tidur istirahat
Klien mengatakan terkadang merasa susah tidur jika sedang merasa
nyeri karena kontraksi perutnya, klien juga merasa tidak nyaman saat
tdur karena perutnya yang membesar. Klien mengatakan biasanya
tidur selama 6-8 jam perhari. Klien biasanya tidur sekitar jam 10 dan
bangun jam 5 pagi.
6) Kognitif persepsi
Klien mengatakan ibadah 5x sehari dengan rutin, dan selalu membaca
Al-Quran. Selain itu klien juga sering mencari tahu info-info tentang
kehamilan di internet.
7) Persepsi konsep diri
Klien mengatakan aktif dan mudah berinteraksi dengan orang lain.
Klien selalu berusaha menjadi istri dan calon ibu yang baik, namun
klien selalu khawatir jika terjadi sesuatu saat kehamilann dan
persalinannya.
8) Peran hubungan
Keluarga pasien mengatakan tahu mengenai person dan tanggung
jawab masing-masing dalam keluarganya. Suami bertugas mencari
pengahsilan
hidup dan istri sebagai ibu rumah tangga. Dan kegiatan sosial dengan
tetangga berjalan dengan baik.
9) Seksualitas reproduksi
Kehidupan seksualitas keluarga berjalan dengan normal tampa ada
masalah. Klien sudah membicarakan mengenai KB apa yang akan
digunakan dengan suaminya. Klien
mengalami siklus haid yang
normal.
10)
Koping stress
Klien mengatakan jika ada masalah dengan anggota keluarga yang
lain maka akan diselesaikan dengan cara berdiskusi. Dan keluraga
sering pergi rekreasi untuk mendekatkan satu sama lain dan
menghilangkan kejenuhan dirumah.
11)
Nilai kepercayaan
Klien mengatakan semua anggota keluarganya menganut agama
islam. Mereka semua bersalal dari suku jawa dan masih memegang
adat kebiasaan jawa yang diwariskan oleh orang tuannya. Klien
mengatakan agamaanya adalah hal penting dan merupkan panduan
hidup keluaarganya.
B. Data Objektif
1. Keadaan Umum
a. Kesadaran
: Compos mentis
b. GCS
: E 4, M 6, V 5 : 15
c. TTV
Nadi
: 90x/m
Suhu
: 36⁰C
Tekanan Darah : 123/88 mmHg
Pernafasan
: 22x/m
d. BB
: 54
e. TB
: 157
2. PEMERIKSAAN FISIK
a. Kepala
Bentuk mesosephal, ekspresif, wajah simetris tidak terdapat nyeri tekan
sinus, distribusi rambut merata, warna hitam, tidak terdapat pelebaran
pembuluh darah, tidak terdapat deformitas.
b. Mata
Bentuk normal, kedudukan bola mata simetris, palpebra normal, tidak
terdapat ptosis, lagoftalmus, oedema, perdarahan, blefaritis, maupun
xanthelasma. Gerakan normal, tidak terdapat strabismus, nystagmus,
konjungtiva ananemis, sklera anikterik, pupil bulat, didapatkan isokor,
diameter 2 mm, reflex cahaya langsung positif pada mata kanan dan kiri.
c. Telinga
Bentuk normotia, liang telinga lapang, tidak ditemukan penumpukan
serumen pada telinga kanan maupun kiri, tidak ada nyeri tarik pada
auricular kiri maupun kanan, tidak ada nyeri tekan pada tragus kanan
maupun kiri.
d. Hidung
Bagian luar normal, tidak terdapat deformitas septum terletak ditengah,
simetris, mukosa hidung tidak hiperemis, konka nasalis eutrofi, tidak ada
perdarahan.
e. Mulut
Bibirnormal, tidak pucat, tidak sianosis, hygiene kurang baik, tampak
lubang di gigi geraham, mukosa mulut normal, tidak hiperemis, lidah
normoglosia, tidak tremor, tidak kotor, tonsil ukuran T1/T1, tenang, tidak
hiperemis, faring tidak hiperemis, arcus faring simetris, uvula di tengah.
f. Leher
Tidak ada bendungan vena, kelenjar tiroid tidak membesar, mengikuti
gerakan, simetris, trakea di tengah.
g. Dada
Paru-paru
1) Inspeksi : simetris, tidak ada hemithorax yang tertinggal pada saat statis
dan dinamis
2) Palpasi : gerak simetris vocal fremitus sama kuat pada kedua hemithorax
3) Perkusi : sonor pada kedua hemithorax, batas paru-hepar pada sela iga VI
pada linea midklavikularis dextra, dengan peranjakan 2 jari pemeriksa,
batas paru-lambung pada sela iga ke VIII pada linea axilatis anterior
sinistra.
4) Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak terdengar ronkhi maupun
wheezing pada kedua lapang paru
Jantung
1) Inspkesi : tidak tampak pulsasi ictus cordis
2) Palpasi : terdapat pulsasi ictus cordis pada ICS V, di linea
midklavikularis sinistra
3) Perkusi : Batas jantung kanan ICS III - V , linea sternalis dextra, batas
jantung kiri ICS V , 2-3 cm dari linea midklavikularis sinistra, batas atas
jantung ICS III linea sternalis sinistra
4) Auskultasi : bunyi jantung I, II regular, tidak terdengar murmur maupun
gallop
h. Perut
1) Inspeksi : abdomen simetris, datar, tidak terdapat jaringan parut, striae
dan kelainan kulit, tidak terdpat pelebaran vena
2) Palpasi : terabaleras pada bagian abdomen bawah, hepar dan lien teraba,
ada nyeri tekan, maupun nyeri lepas, pada pemeriksaan ballottement
didapatkan hasil negative
a)
Leopold I
: TFU 29 cm (1/2 pusat- Px). Teraba bokong pada
fundus
b) Leopold II
: Teraba keras, datar, sebelah kanan perut ibu
c) Leopold III
: Teraba keras, bulat, melenting ( kepala) dan sudah
tidak dapat digerakkan ( kepala sudah masuk PAP)
d) Leopold IV
: Kepala sudah masuk 2/5 bagian
e) PBBJ
: 2635 gram
f) Pergerakan Janin (+) aktif
3) Perkusi : timpani pada keempat kuadran abdomen, tidak ada nyeri ketok
CVA, ballotment (-),
4) Auskultasi : bising usus positif 23x/menit, intensitas sedang, DJJ :
144x/m
i. Genetalia
Terpasang DC
j. Ekstremitas
1) Atas : Simetris, tangan masih lengkap, tidak cacat,capillary refill time
(CRT) <2 detik, tidak ada oedema, pada tangan kanan terpasang infus RL
20tpm dengan kondisi tidak ada kemerahan tidak ada tanda-tanda infeksi
dan tidak ada lesi. Balutan infus terlihat bersih, 5 | 5
2) Bawah : Tidak ada cacat, CRT <2 detik, kaki kanan kiri tidak ada
masalah, tapak sedikit oedema, KO 5 | 5
3. PEMERIKSAAN PENUNJANG
NO
Pemeriksaan
Hasil
Nilai normal
Satuan
1
Leukosit
9.92
3,2-10
Ribu/mmᶟ
2
Haemoglobin
12,3
12,0-15,0
g/dl
3
Trombosit
213
150-450
Ribu/mmᶟ
4
HbsAg
Negative
Negative
-
4. PERSIAPAN ANESTESI
Ny. N 20 tahun, diagnosa medik G1P0A0 38 minggu dengan kala 2 lama
rencana dilakukan SC, dengan status fisik ASA I yang direncanakan regional
anestesi dengan spinal anestesi.
a. Persiapan Alat
1) Peralatan spinal anestesi seperti kom berisi betadine dan alcohol, jarum
spinocan, spuit 3cc, sarung tangan steril dan Bupivacaine
2) Mesin anestesi yang dihubungkan dengan sumber gas dan mengecek
ulang kelengkapan serta fungsinya, pastikan vaporizer sudah terisi agen,
absobser tidak berubah warna, dan sambungkan dengan sumber listrik.
3) Pastikan bag mask, circuit, konektor sesuai tempatnya
4) Siapkan monitor lengkap dengan manset, finger sensor dan lead ekg
5) Persiapan alat regional anestesi dengan Spinal Anestasi : Bupivacain,
sarung tangan steril, spuit 3cc, jarum spinal anestesi ukuran 25
6) Persiapan bedside monitor yaitu pulse oxymetri dan tensi
7) O2, N2O, sevoflurane berjaga-jaga jika diperlukan
8) Menyiapkan lembar laporan durante anestesi dan balance cairan
b. Persiapan obat
1) Ondansentron 4 mg
2) Ketorolac 30 mg
3) Bupivacain 2,5 ml
4) Methylergometrine Maleate 0,2 mg
5) Oxytocin
6) Ephedrine
7) Cairan infus :
Koloid : HES 500ml
Kristaloid : RL 500 ml
c. Persiapan pasien
1) Pasien masuk ke IBS pukul 01.13 WIB
2) Pasien sudah dipuasakan sejak pukul 17.30
3) Periksa status pasien termasuk informed consent, profilaksis, hasil lab
dan obat-obatan yang telah diberikan diruang perawatan.
4) Mengecek ulang identitas pasien, nama, alamat dan menanyakan ulang
kapan terakhir kali klien mengkonsumsi makanan dan minuman, riwayat
penyakit dan alergi, berat badan saat ini, serta penggunaan perhiasan
yang belum dilepas
5) Melakukan pemeriksaan pulmo pasien
Inspeksi
: dada simetris, pasien dalam bernapas menggunakan
pernapasan abdomen.
Palpasi
: vokal fremitus sama kanan dan kiri
Perkusi
: suara sonor
Auskultasi
: Wheezing -/
6) Mempersiapkan pasien di meja operasi
Memasang monitor tanda vital (monitor tekanan darah, saturasi oksigen)
TD : 123/88 mmHg; N : 76x/mnt; Spo2: 99 %; RR : 16x/mnt
Memeriksa kelancaran infus dan alat kesehatan yang terpasang pada
pasien
5. LEMBAR SURGICAL CEK LIST
NO
SIGN IN
Sudah Belum
1
Pasien telah dikonfirmasi identifikasi dan gelang pasien
√
2
Pasien telah dikonfirmasi lokasi operasi
√
3
Pasien telah dikonfirmasi prosedur
√
4
Pasien telah dikonfirmasi inform consent operasi
√
5
Pasien telah dikonfirmasi inform consent anestesi
√
6
Lokasi operassi sudah diberi tanda
√
7
Mesin dan obat-obat anesthesia sudah dicek lengkap
√
8
Pulse oximeter sudah terpasang dan berfungsi
√
Ya
9
Apakah pasien memiliki riwayat Alergi?
10
Kesulitan bernafas/risiko aspirasi? Dan menggunakan
√
√
peralatan/bantuan?
11
Risiko kehilangan darah >500 ml (7 ml/kg BB pada
√
anak)
12
Dua akses intravena /akses sentral. Dan rencana therapy
√
cairan?
NO
1
TIME OUT
Sudah
Konfirmasi seluruh anggota tim telah memperkenalkan
√
nama dan perannya masing-masing
Tidak
Belum
2
√
Dokter bedah, dokter anesthesi, dan perawat melakukan
konfirmasi secara verbal
3
-
Nama pasien
-
Prosedur
-
Lokasi dimana insisi akan dibuat/posisi
√
Apakah antibiotik profilaksis sudah diberikan 30 menit
sebelumnya?
Nama antibiotic yang diberikan :
Dosis antibiotik yang diberikan :
4
Antisipasi kejadian kritis :
a. Review dokter bedah : langkah apa yang
dilakukan bila kondisi kritis atau kejadian
yang tidak di harapkan, lamanya operasi,
antisipasi kehilangan darah?
b. Review tim anesthesi : apakah ada hasil
khusus yang perlu diperhatikan pada pasien?
c. Review tim perawat : apakah peralatan sudah
steril,
adakah
alat-alat
yang
perlu
diperhatikan khusus atau dalam masalah?
5
√
Apakah foto Rontgen/CT Scan dan MRI telah
ditayangkan?
NO
1
SIGN OUT
Sudah
Perawat melakukan konfirmasi secara verbal dengan
tim :
1. Nama prosedur tindakan telah dicatat
√
2. Instrument, sponge dan jarum telah dihitung
√
dengan benar
3. Specimen telah diberi label (termasuk nama
pasien dan asal jaringan specimen
√
Belum
√
4. Adakah masalah dengan peralatan selama
operasi
2
Operator, dokter bedah, dokter anesthesi dan perawat melakukan review
masalah utama apa yang harus diperhatikan untuk penyembuhan dan
manajemen pasien selanjutya
Hal yang harus diperhatikan :
6. STATUS CAIRAN
a. Maintanance (M) = 2 x 53 = 106 cc
b. Stress operasi (SO) = 8 x 53 = 424 cc (operasi sedang)
c. Kebutuhan Jam 1 : M + 1/2PP + SO = 930 cc
Jam 2 : M + 1/4PP + SO = 730 cc
Jam 3 : M + 1/4PP + SO = 730 cc
A. PRE-OPERASI
Analisa data Pre-Operasi
NO Tanggal
Data Fokus
1
DS : klien mengatakan Nyeri akut
30
Desember nyeri pada perutnya
2019
P : nyeri terasa saat
sedang kontrasi
Q : nyeri terasa seperti
diremas-remas
R : nyeri dibagian perut
S : skala nyeri 6
T : nyeri hilang timbul
Problem
Etiologi
Agen
biologis
cidera
DO
:
klien
tampak
meringis menahan nyeri
dan memegangi perut saat
kontraksi
2
30
DS : klien mengatakan Ansietas
Proses
Desember merasa cemas karena ini
2019
pemmbedahan
adalah operasi pertamanya,
klien takut terjadi sesuatu
dengan bayinya.
DO : klien tampak gelisah
dan bertanya apakah akan
memakan waktu lama atau
tidak
Nadi
: 76x/m
Suhu : 36⁰C
TD
: 123/88 mmHg
RR
: 16x/m
B. PRIORITAS DIAGNOSA
1. Nyeri akut b.d agen cidera biologis
2. Ansietas b.d proses pembedahan
C. INTERVENSI
NO Dx Kep
1
NOC
NIC
Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan
Manajemen nyeri
cidera biologis
tindakan keperawatan
(1400)
selama 1x10 menit
1. Lakukan pengkajian
diharapkan masalah
nyeri komprehensif
nyeri pasien dapat
yang meliputi lokasi,
teratasi dengan kriteria
karakteristik,
hasil:
onset/durasi,
Tingkat nyeri (2102)
frekuensi, kualitas,
A
T
intensitas atau
Nyeri yang 3
5
beratnya nyeri dan
Indicator
dilaporkan
factor pencetus
berkurang
2. Berikan individu
Ekspresi
3
5
penurun nyeri yang
nyeri
optial dengan
menghilang
peresepan analgetik
Keterangan :
3. Pastikan perawatan
Keterangan :
analgetik pasien
1. Berat
dilakukan dengan
2. Cukup berat
pengawasan yang
3. Sedang
ketat
4. Ringan
5. Tidak ada
2
Ansietas b.d proses Setelah dilakukan
Pengurangan
pembedahan
tindakan keperawatan
kecemasan (5820)
selama 1x10 menit
1. Gunakan pendekatan
diharapkan masalah
yang tenang dan
ansietas pasien dapat
meyakinkan
teratasi dengan kriteria
hasil:
Tingkat
2. Jelaskan semua
prosedur termasuk
kecemasan
(1211)
sensasi yang akan
dirasakan yang
Indicator
A
T
mungkin akan
Perasaan
3
5
dialami klien selama
prosedur tindakan
gelisah
3. Berikan informasi
berkurang
Rasa cemas
3
5
factual terkait
diagnosis, perawatan
yang
disampaikan
berkurang
dan prognosis
4. Ciptakan atmosfer
rasa aman untuk
Keterangan :
meningkatkan
1. Berat
kepercayaan
2. Cukup berat
3. Sedang
Manajemen Sedasi
4. Ringan
(2260)
5. Tidak ada
1. Periksa alergi
terhadap obat
2. Pertimbangkan intake
cairan dan intake
terahir makan
3. Intruksikan klien dan
/atau kelaurga
mengenai efek
pembiusan
4. Berikan obat-obat
sesuai protocol dan
yang diresepkan
dokter
5. Monitor tingkat
kesadaran dan tandatanda vital klien serta
saturasi oksigen
D. IMPLEMENTASI
NO dx
Tanggal
Implementasi
Evaluasi
1
30
Melakukan pengkajian
S : klien mengeluh nyeri
Desember nyeri komprehensif yang
P : nyeri terasa saat
Paraf
2019
meliputi lokasi,
sedang kontrasi
karakteristik, onset/durasi,
Q : nyeri terasa seperti
frekuensi, kualitas,
diremas-remas
intensitas atau beratnya
R : nyeri dibagian perut
nyeri dan faktor pencetus
S : skala nyeri 6
T : nyeri hilang timbul
O : klien tampak meringis
menahan
nyeri
dan
memegangi perutnya saat
sedang kontraksi
2
30
Memeriksa alergi terhadap
S : klien mengatakan tidak
Desember obat
memiliki alergi terhadap
2019
jenis obat tertentu
O : hasil skin test tidak
menunjukan adanya alergi
2
30
Menjelaskan semua
S : klien mengatakan ingin
Desember prosedur termasuk sensasi
di bius total saja tidak ingin
2019
yang akan dirasakan yang
hanya
mungkin akan dialami
badan
klien selama prosedur
O : klien tampak gelisah
dibius
setengah
tindakan
2
30
Memberikan informasi
S
:
klien
mengatakan
Desember factual terkait diagnosis,
paham,
2019
merasa gelisah dan minta
perawatan dan prognosis
namun
masih
ditemani
O :
klien memejamkan
mata takut
2
30
Mengintruksikan klien dan
S : klien mengatakan ingin
Desember /atau kelaurga mengenai
dibius total saja
2019
O : klien tampak cemas
efek pembiusan
2
30
Berkolaborasi merikan
S:-
Desember obat-obat sesuai protocol
O : premedikasi antiemetic
2019
dan yang diresepkan dokter
dan analgesik disuntikan
pre-medikasi antiemetik
secara bolus
Ondansetron 4mg dan
analgesik Ketorolac 30mg
1
30
2
Memastikan perawatan
S:-
Desember analgetik pasien dilakukan
O : TD : 124/88, N :
2019
dengan pengawasan yang
76x/m, S : 36⁰C, RR :
ketat
16x/m, SpO₂ : 100%
Memonitor tingkat
S : klien menjawab ketika
30
Desember kesadaran dan tanda-tanda
dipanggil
2019
vital klien serta saturasi
O : kesadaran compos
oksigen
mentis, TD : 124/88, N :
76x/m, S : 36⁰C, RR :
16x/m, SpO₂ : 100%
A. INTRA-OPERASI
Analisa data Intra-Operasi
NO Tanggal
Data Fokus
1
DS : klien mengatakan tidak Resiko
16
Desember merasakan
2019
Problem
nyeri
bahkan perdarahan
kakinya terasa mati rasa
karena efek bius.
DO : tampak tindakan SC
mengakibatkan
perlukaan
didalam saluran kencing
B. PRIORITAS DIAGNOSA
1. Resiko perdarahan
Etiologi
C. INTERVENSI
NO Dx Kep
NOC
NIC
1
Setelah dilakukan
Pengurangan perdarahan
tindakan keperawatan
(4020)
selama 1x10 menit
1. Identifikasi penyebab
Resiko perdarahan
diharapkan masalah
resiko perdarahan
perdarahan
2. Monitor jumlah dan
pasien dapat teratasi
sifat
dengan kriteria hasil:
darah
Status sirkulasi (0401)
kehilangan
3. Perhatikan
kadar
Indicator
A
T
haemoglobin/hemato
Tekanan
3
5
krit
sebelum
darah
sesudah
sistol
darah
Tekanan
3
5
kehilangan
4. Monitor
darah
kecenderungan
diastol
hemodinamik
Tekanan
3
5
dan
5. Monitor status cairan
6. Pertahankan
nadi
SpO₂
4
5
Urin
4
5
7. Kolaorasi
pmberian
anti perdarahan
output
Penurunan 3
kepatenan akses IV
5
suhu kulit
Keterangan :
1. Deviasi berat dari
kisaran normal
2. Deviasi yang cukup
besar dari kisaran
normal
3. Deviasi sedang dari
kisaran normal
4. Deviasi ringan dari
kisaran normal
5. Tidak ada deviasi
dari kisaran normal
D. IMPLEMENTASI
NO dx
Tanggal
Implementasi
1
30
Berkolaborasi
Evaluasi
memberikan S : klien mengeluh nyeri
Desember anestesi spinal Bupivacaine saat
2019
Paraf
2,5 mg
diberi
namun
anestesi
beberapa
saat
kemudian kakinya mulai
terasa kesemutan
O : klien tampak
meringis saat diberi
anestesi
1
30
Memonitor
kecenderungan S : -
Desember hemodinamik
O : tekanan darah dan
2019
nadi klien turun menjadi
TD : 113/64, N : 56x/m
1
30
Desember
Memonitor status cairan
S:a.
2019
O : Maintanance (M)
= 2 x 53 = 106 cc
b.
Stress operasi (SO)
= 8 x 53 = 424 cc
(operasi sedang)
c.
Pengganti
Puasa
(PP) = 8 jam x 100
= 800 cc
d.
Kebutuhan Jam 1 :
M + 1/2PP + SO =
930 cc
Jam 2 : M + 1/4PP + SO
= 730 cc
Jam 3 : M + 1/4PP + SO
= 730 cc
1
30
Mempertahankan kepatenan S : -
Desember akses IV
O : aliran infus lancar
2019
1
30
Berkolaborasi pemberian
S :-
Desember Oxytocin dan
O : perdarahan tampak
2019
berkurang,
Methylergometone
nadi
dan
tekanan darah meningkat
TD : 125/85, N : 110x/m
A. POST-OPERASI
Analisa data Post-Operasi
NO Tanggal
30
Data Fokus
DS
:
klien
Problem
mengatakan Nyeri akut
Desember perutnya sudah mulai terasa
2019
sakit
P : nyeri sayatan postoperasi sectio caesaria
Q : nyeri seperti ditusuktusuk
R : nyeri dibagian perut
Etiologi
Agen cidera
fisik
didaerah luka sayatan
S : skala nyeri 5
T : nyeri terus-menerus
DO : ttampak luka sayatan
bekas oprasi yang tertutup
kassa
30
DS : -
Desember DO
Kerusakan
:
tampak
sayatan integritas
2019
horizontal pada bagian perut
kulit
30
DS : -
Resiko
Prosedur
bedah
Desember DO : luka masih tampak infeksi
2019
basah, darah masih tampak
merembes di kassa penutup,
perdarahan pervaginan
B. PRIORITAS DIAGNOSA
1. Nyeri akut b.d agen cidera fisik
2. Kerusakan integritas kulit b.d prosedur bedah
3. Resiko infeksi
C. INTERVENSI
NO Dx Kep
1
NOC
NIC
Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan
Manajemen nyeri
cidera fisik
tindakan keperawatan
(1400)
selama 1x10 menit
1. Lakukan pengkajian
diharapkan masalah
nyeri komprehensif
nyeri pasien dapat
yang meliputi lokasi,
teratasi dengan kriteria
karakteristik,
hasil:
onset/durasi,
Tingkat nyeri (2102)
frekuensi, kualitas,
A
T
intensitas atau
Nyeri yang 3
5
beratnya nyeri dan
Indicator
factor pencetus
dilaporkan
2. Berikan individu
berkurang
Ekspresi
4
5
penurun nyeri yang
nyeri
optial dengan
hilang
peresepan analgetik
Tidak
4
5
3. Pastikan perawatan
menggosok
analgetik pasien
daerah
dilakukan dengan
nyeri
pengawasan yang
ketat
Keterangan :
1. Berat
2. Cukup berat
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak ada
2
Kerusakan integritas Setelah dilakukan
Perawatan
kulit
sayatan (3440)
bedah
b.d prosedur tindakan keperawatan
selama 1x10 menit
daerah
1. Periksa
daerah
diharapkan masalah
sayatan
terhadap
kerusakan integritas
kemerahan,
kulit pasien dapat
bengkak,
teratasi dengan kriteria
tanda-tanda
hasil:
dehiscence
Integritas
Kulit &
Jaringan
atau
evicerasi
Membran 2. Monitor
Mukosa (1101)
Indicator
atau
A
proses
penyembuhan
T
daerah sayatan
3. Bersihkan
daerah
Luka
1
5
sayatan
dengan
pembersihan
sayatan
yang
tepat
Keterangan :
4. Monitor
1. Berat
sayatan
2. Cukup berat
untuk
tanda
3. Sedang
gejala infeksi
dan
5. Arahkan pasien cara
4. Ringan
merawat
5. Tidak ada
luka
selama mandi
6. Arahkan pasien cara
meminimalisir
tekanan pada daerah
insisi
7. Arahkan pasien dan
keluarga
cara
merawat luka dan
tanda-tanda infeksi
3
Resiko infeksi
Setelah dilakukan
Kontrol infeksi (6540)
tindakan keperawatan
1. Pastikan
teknik
selama 1x10 menit
perawatan luka yang
diharapkan masalah
tepat
resiko infeksi pasien
dapat teratasi dengan
kriteria hasil:
2. Tingkatkan
intake
nutrisi yang tepat
3. Monitor lochea
Keparahan
infeksi 4. Anjurkan
(0703)
untuk
pasien
meminum
A
T
terapi antibiotic yang
Kemerahan 4
5
sudah diresepkan
Nyeri
5
5. Ajarkan pasien dan
Indicator
Keterangan :
3
keluarga
tanda
mengenai
dan
gejala
1. Berat
infeksi
2. Cukup berat
6. Ajarkan pasien dan
3. Sedang
keluarga bagaimana
4. Ringan
cara
5. Tidak ada
infeksi
menghindari
D. IMPLEMENTASI
NO dx
Tanggal
Implementasi
Evaluasi
Paraf
1
30
Memonitor kondisi klien di S : klien dapat
Desember
ruang RR
menyebutkan
2019
identitasnya
O : kesadaran klien
tampak sudah pulih
1
30
Melakukan pengkajian nyeri
S:
Desember
komprehensif yang meliputi
P : nyeri sayatan post-
2019
lokasi, karakteristik,
operasi sectio caesaria
onset/durasi, frekuensi,
Q
kualitas, intensitas atau
ditusuk-tusuk
beratnya nyeri dan factor
R : nyeri dibagian perut
pencetus
didaerah luka sayatan
:
nyeri
seperti
S : skala nyeri 5
T : nyeri terus-menerus
bertambah
jika
bergerak
O
:
klien
tampak
kesulitan saat bergerak
karena nyeri
1
30
Memberikan
individu S : -
Desember
penurun nyeri yang optial O : berkolaborasi dengan
2019
dengan peresepan analgetik
dokter
meresepkan
analgetik
2,3
30
Memeriksa daerah sayatan S : -
Desember
terhadap
2019
bengkak, atau tanda-tanda tampak bersih tidak
kemerahan, O : kassa penutup
dehiscence atau evicerasi
2,3
tampak rembesan darah
30
Mengarahkan pasien cara S : klien mengatakan
Desember
merawat luka selama mandi
2019
paham dan menanyakan
beberapa hal yang belum
dipahaminya
O : klien dapat
menyebutkan kembali
cara yang sudah
diajarkan
3
30
Mengarahkan pasien
dan S : klien mengatakan
Desember
keluarga cara merawat luka paham
2019
dan tanda-tanda infeksi
O : klien dapat
menyebutkan tanda ifeksi
3
30
Mengajarkan
pasien
Desember
keluarga
2019
menghindari infeksi
bagaimana
dan S : klien dan keluarga
cara mengatakan paham
O : klien dan keluarga
dapat menyebutkan
kembali cara
menghindari infeksi
3
30
Anjurkan pasien
S : klien da keluarga
Desember
dankeluarga untuk
mengatakan akan
2019
memonitor lochea
memonitor sesuai
anjuran dan akan
melapor jika ada yang
tidak normal
O : klien dan keluarga
dapat menyebutkan tanda
lochea normal
E. MONITOR ANESTESI
Jam
TD
N
01.15
123/88 76x/m
SpO₂
O₂
100% 2 l/m
RR
Tindakan
16x/m Memberikan profilaksis Cefazolin
1mg (drip) serta cairan koloid
HES
01.20
124/88 76x/m
100% 2 l/m
16x/m Memberikan
pemedikasi
ondansetron 4mg dan ketorolac
30mg
01.25
119/78 65x/m
98%
2 l/m
16x/m
01.30
123/86 72x/m
100% 2 l/m
16x/m
01.35
119/75 68x/m
100% 2 l/m
16x/m
01.40
115/79 68x/m
100% 2 l/m
16x/m
01.45
117/80 71x/m
99%
2 l/m
16x/m
01.50
120/82 68x/m
98%
2 l/m
16x/m Memberikan obat spinal anestesi
Bupivacaine 2,5 mg
01. 55
113/64 56x/m
99%
2 l/m
02.00
125/85 110x/m 100% 2 l/m
16xm
Melakukan insisi
16x/m Memberikan obat
Methylergometone (bolus),
Oxytocin (drip)
02.05
115/79 86x/m
99%
2 l/m
16x/m
02.10
110/65 77x/m
99%
2 l/m
16x/m
02.15
112/63 68x/m
99%
2 l/m
16x/m
02.20
113/63 68x/m
98%
2 l/m
16x/m Memindahkan pasien ke ruang RR
Pengakhiran Anestesi
1. Operasi selesai pukul 02.20 WIB
2. Pasien menggunakan Nasal Kanul dengan oksigen 3lt/mnt
3. Monitor tanda vital sebelum pasien dibawa keruang pemulihan TD: 123/82
mmHg; N:80 x/mnt; SpO2 : 99 %; RR: 20 x/mnt.
4. Pasien dipindahkan ke recovery room dan dilakukan monitoring
F. MONITORING RECOVERY ROOM
N
SpO₂
O₂
Jam
TD
02.20
113/63 72x/m
100% 2 l/m
16x/m Pasien di pindahkan ke ruang RR
02.25
123/88 76x/m
100% 2 l/m
16x/m
02.30
121/78 67x/m
98%
16x/m
02.35
123/86 72x/m
100% 2 l/m
2 l/m
RR
Tindakan
16x/m Pasien dpindahkan ke bangsal
BAB IV
PEMBAHASAN
Asuhan keperawatan pada Ny. S yang telah dilaksanakan pada tanggal 23
November 2019 di ruang instalasi bedah sentral RS PKU Muhammadiyah
Gombong, khususnya pada tindakan keperawatan dan dalam melakukan proses
serta asuhan keperawatan melalui beberapa tahap antara lain :
1. PENGKAJIAN
Pengkajian preoperative dilakukan untuk mengindentifikaasi dan melakukan
assessment awal yang dilakukan kepada klien dengan melakukan pengecekan
kembali dan memastikan daerah luka operasi dengan benar serta memastikan
ada/tidaknya alergi obat pada klien dan sudahkah pasien dipuasakan. Perawat
memberikan profilaksis Cefazoline 1000mg, dan Premedikasi Ondansetron
4mg, Ketorolac 30mg.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Dari hasil pengkajian yang dilakukan kepada kelaurga Ny. S maka muncul
antara beberapa diagnosa keperawatan lain :
a. Pre Operasi
a) Nyeri akut, diagnosa ini diperoleh dari keterangan klien yang
mengatakan nyeri di daerah perutnya, dan setelah dilakukan pengkajian
PQRST didapatkan bahwa
P : nyeri terasa saat sedang kontrasi
Q : nyeri terasa seperti diremas-remas
R : nyeri dibagian perut
S : skala nyeri 6
T : nyeri hilang timbul
Untuk mengurangi nyeri diberikan ketorolac 30 mg sebagai pre-medikasi
analgesik. Selain itu klien diberikan Ondancetron 4mg sebagai antiemetic
premedkasi demi mencegah terjadinya mual muntah saat dilakukan
oprasi.
b) Ansietas, diagnose ini ditemukan karena ketia klien dibawa ke meja
operasi
terlihat
cemas,
klien
mengatakaan
bahwa
ini
adalah
pertamakalinya dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan operasi.
Klien juga mengatakan khawatir jika terjadi sesuatu pada bayinya saat
operasi.
b. Intra Operasi
a) Resiko perdarahan, diagnose resiko perdarahan didirikan dengan
mengambil data dari proses operasi yang melakukan insisi yang
kemungkinan besar akan menyebabkan perdarahan akibat dari insisi
tersebut dan dari dalam rahim. Dalam hal ini pasien diberikan Oxytocin
dan Methylergometone unuk mengurangi resiko perdarahan yang
berlebih.
c. Post Operasi
a) Nyeri akut, diagnose ini diambil karena adanya luka bekas sayatan bekas
oprasi
b) Kerusakan integritas kulit, diagnose kerusakan integritas kulit didirikan
dengan pengambilan data dari akibat dari proses insisi yaitu
mengakibatkan luka terbuka pada daerah yang di insisi yang
menyebabkan rusaknya integritas kulit klien.
c) Resiko infeksi, diagnose ini diambil karena adanya luka yang memiliki
resikountuk terinfeksi serta adanya perdarahan pervaginaan
3. INTERVENSI
Perencanaan pada kasus nyata pada dasarnya mengacu pada tinjauan
keperawatan, dan dari diagnose yang muncul dapat diambil rencana tindakan
keperawatan yang relefan untuk menangani diagnose keperawatan yang ada.
4. IMPLEMENTASI
Beberapa tindakan yang direncana sudah dapat di laksanakan, akan tetapi
tindakan lanjutan yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang belum
teratasi maupun yang teratasi sebagian belum dapat dilakukan karena
keterbatasan waktu.
5. EVALUASI
Pada tahap evaluasi didapatkan keberhasilan asuhan keperawatan yang
mengacu pada kriteria standart. Pada kasus nyata, hasil yang diharapkan ada
yang sesuai dengan evaluasi pada tinjauan teori dan ada beberapa tambahan
yang disesuaikan dengan kriteria standart pada intervensi.
BAB V
KESIMPULAN SARAN
A. Kesimpulan
Anestesi regional memberikan efek mati rasa terhadap saraf yang
menginervasi beberapa bagian tubuh, melalui injeksi anestesi lokal pada
spinal/epidural, pleksus, atau secara Bier block. Anestesi regional memiliki
keuntungan, diantaranya adalah menghindari polifarmasi, alternatif yang
efektif terhadap anestesi umum, anesthesia yang dapat diperpanjang, pasient
dapat tetap dalam keadaan sadar, dan dapat dilakukan pemberian makanan atau
minuman yang lebih dini.
Anestesi spinal adalah injeksi agen anestesi ke dalam ruang intratekal,
secara langsung ke dalam cairan serebrospinalis sekitar region lumbal di bawah
level L1/2 dimana medulla spinalis berakhir. Spinal anestesi dapat digunakan
untuk prosedur pembedahan, persalinan, penanganan nyeri akut maupun
kronik. Indikasi pemberian spinal anestesi ialah untuk prosedur bedah di bawah
umbilicus.
Section caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau
section caesarea adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam
rahim. Obat-obat yang digunakan dalam proses SC antara lain Cefazoline
sebagai antibiotic, Ondansetron dan Ketorolac sebagai premedikasi antiemetic
dan analgesik, Bupivacaine sebagai anestesi, Oxytocin dan Methylergometone
Maleate sebagai anti perdarhan, serta Ephedrine sebagai vaskontriktor jika
tekanan darah menurun.
B. Saran
Dokter dan Perawat anestesi harus bisa menganalisa keadaan klien yang akan
dianetesi. Selain itu tenaga anestesi juga harus tanggap dalam menangani
kedaruratan anestesi serta berkolaborasi dengan baik dengan operator operasi
demi keberlangsungan operasi.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak. (2000). Keperawatan Maternitas dan Ginekologi. Bandung: IAPKP.
Herdman, T.H. (2018). NANDA International Nursing Diagnoses: definitions and
classification 2018-2020. Jakarta: EGC
Mohyeddin. (2013). Spinal Anesthesia for Adult. Jakarta : Medilab
Nurarif, A. H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction.
Prawirohardjo. (2012). SECTIO CAESAREA. GINECOLOGY .
RI, D. K. (2004). Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1197/Menkes/SK/X/2004, tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah
Sakit. Jakarta..
Sjamsuhidajat R & Wim de Jong. (2011). Buku Ajar Ilmu Bedah.Edisi 3.Jakarta :
EGC.
Wiknjosastro. (1994). Prosedur Bedah Moderate Mayor. Jakarta : KBD
.
Download