Uploaded by Hari Untarto

PETUNJUK PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI D3 FARMASI (2019)

advertisement
PETUNJUK PRAKTIKUM
FARMAKOGNOSI
Disusun oleh:
Hari Untarto Swandono, SSi., MSc.
Dwi Wahyuni, SPd., MSi.
Dini Rizkiawati, SFarm., Apt.
Umu Rosida, SPd.
Fera Suwitasari, SPd. SSi.
PROGRAM STUDI D3 FARMASI
LABORATORIUM FARMAKOGNOSI
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
2019
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan “Buku Petunjuk Praktikum
Farmakognosi” untuk program studi D3 Farmasi Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata
Kediri.
Farmakognosi merupakan matakuliah kelanjutan dari matakuliah Botani
Farmasi, dan merupakan prasyarat bagi matakuliah Fitokimia yang akan diambil pada
semester berikutnya.
Buku petunjuk praktikum ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam
melaksanakan praktikum dengan baik dan praktikumnya dapat mempermudah
mahasiswa dalam memahami teori-teori yang disampaikan dosen ketika memberikan
kuliah di kelas.
Kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya buku ini, kami
ucapkan
terimakasih
dan
akan
ada
usaha
berkelanjutan
untuk
selalu
menyempurnakan buku petujuk praktikum Farmakognosi ini sesuai dengan keperluan
dan kemajuan di bidang Ilmu Farmakognosi. Semoga buku petunjuk ini dapat
dipergunakan sebagaimana mestinya.
Kediri,
September 2019
Penyusun
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
2
TATA TERTIB PRAKTIKUM
1. Sebelum melakukan praktikum, para praktikan diharuskan mempersiapkan diri
mempelajari dan memahami acara praktikum hari itu yang akan dikerjakan, serta
membawa perlengkapan praktikum yang diperlukan (alat tulis, object glass,
cover glass, dll).
2. Mahasiswa diharuskan menggunakan jas praktikum dan pakaian formal yang
sopan. Tidak diperkenankan menggunakan kaos oblong ataupun celana jeans.
3. Hadirlah tepat waktu, paling lambat 15 menit sebelum acara praktikum dimulai.
4. Pretest akan diselenggarakan di setiap awal praktikum dan bagi yang terlambat
tidak akan diberikan bonus waktu. Nilai rata-rata total pretest turut menentukan
kelulusan praktikum anda.
5. Pada dasarnya tidak diadakan praktikum perorangan (praktikum susulan) dan
praktikan yang tidak dapat mengikuti praktikum harus ada surat keterangan dokter
paling lambat pada praktikum berikutnya.
6. Mahasiswa yang tidak mengikuti praktikum 2x berturut-turut tanpa pemberutahuan
dianggap mengundurkan diri dan harus mengulangi seluruh praktikum pada tahun
berikutnya.
7. Sesudah praktikum, mahasiswa diharuskan membersihkan lensa-lensa mikroskop
dan mencuci object glass dan cover glass masing-masing yang sudah digunakan.
8. Catatlah kondisi mikroskop masing-masing sebelum dan sesudah penggunaan
pada Buku Inventarisasi Alat yang disediakan oleh laboratorium untuk
pengadaan perbaikan lebih lanjut oleh petugas teknisi kampus.
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
3
ALAT-ALAT YANG PERLU DIBAWA SELAMA PRAKTIKUM
Setiap mahasiswa yang akan melakukan praktikum Farmakognosi diwajibkan
membawa :
1. Jas praktikum.
2. Seperangkat object glass (gelas preparat) dan cover glass (gelas penutup) →
untuk pembuatan preparat selama praktikum.
3. Buku laporan praktikum.
4. Buku petunjuk praktikum.
5. Alat tulis (ballpoint, pensil 2B, penghapus, penggaris) → untuk mengerjakan
pretest dan membuat laporan praktikum.
6. Sticker label → untuk melabeli suatu preparat supaya tidak kacau dengan preparat
lain.
7. Tisu gulung.(untuk satu meja)
→ untuk menyerap cairan yang berlebihan setelah preparat yang ditetesi dengan
reagen ditutup dengan cover glass di atas object glass.
→ juga dapat untuk membersihkan lensa okuler mikroskop yang kotor terkena
debu.
→ untuk membantu membersihkan dan mengeringkan permukaan object glass
dan cover glass yang basah.setelah dicuci.
8. Kain lap bersih dari katun (untuk satu meja) → untuk membersihkan badan
mikroskop (selain lensa) yang kotor.
9. Tusuk gigi (untuk satu meja) → untuk alat bantu merebahkan cover glass di atas
object glass setelah preparat ditetesi dengan reagen.
10. Alkohol 70% (kualitas apotek) (untuk satu meja) → untuk membersihkan lensa
obyek pada mikroskop yang kotor karena tersentuh larutan reagen pada preparat
ketika lensa obyek bersinggungan dengan preparat terutama ketika dilakukan
pengamatan dengan perbesaran kuat.
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
4
REAGEN-REAGEN YANG DIGUNAKAN DALAM PRAKTIKUM
FARMAKOGNOSI
No.
1.
Nama
Reagen
Akuades
2.
Larutan
kloral hidrat
3.
Larutan I-KI
4.
Gliserin
5.
Larutan
H2SO4 +
alkohol
6.
Larutan
FeCl3
7.
Larutan
fluoroglucin
Kegunaan
Untuk melihat
preparat yang sudah
jernih
Untuk menjernihkan
preparat supaya
susunan jaringannya
dapat terlihat jelas
Untuk memperjelas
penampakan lamelalamela pada butir
amilum
Untuk mengawetkan
preparat supaya
tahan lama
Untuk
mengidentifikasi
adanya senyawa
curcumin yang
terdapat dalam
Curcuma Rhizoma
dan Curcuma
domestica Rhizoma
Untuk menunjukkan
adanya tanin.
Untuk memberi
warna pada bagianbagian yang
mengandung zat
kayu (lignin)
Cara Pembuatan
Cara penggunaan
Preparat diberi 2-3 tetes
akuades
80 bagian klolral hidrat Preparat diberi 1-2 tetes
dilarutkan dalam 20 ml larutan kloral hidrat
air
kemudian dipanaskan di
atas nyala api sebentar.
1 gram Iodium + 2
Preparat ditetesi 1 tetes
gram KI dilarutkan
larutan I-KI
dalam 100 ml akuades
Preparat ditetesi 1-2
tetes gliserin.
H2SO4 pekat + alkohol Preparat ditetesi larutan
96%
tersebut apabila segera
berwarna merah-violet
intensif berarti positif
mengandung senyawa
curcumin.
3 gram FeCl3
dilarutkan dalam 100
ml akuades
1 gram fluoroglucin
dilarutkan dalam 100
ml alkohol 96% + HCl
25%.
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
Preparat ditetesi larutan
FeCl3 apabila berwarna
biru-hijau sampai hitam
berarti positif
menunjukkan adanya
tanin
Preparat ditetesi 1-2
tetes larutan fluoroglucin
+ 1 tetes HCl 25%
(dibiarkan menguap
sebentar). Bagian-bagian
yang mengandung lignin
akan menjadi berwarna
merah muda muda
sampai merah violet.
5
8.
9.
Larutan
Sudan III
Untuk memberi
warna pada bagianbagian yang
mengandung zat
gabus (suberin),
minyak menguap
(minyak atsiri),
minyak lemak,
lapisan kutikula dan
lilin.
Larutan
FeCl3
Untuk menunjukkan
adanya tanin
10 Larutan
NaOH atau
KOH atau
NH4OH
Untuk menunjukkan
adanya glikosida
antrakinon
11. Larutan
natrium
karbonat
Untuk
mengembangkan
irisan simplisia yang
telah sangat
mengkerut akibat
pengeringan
5 gram Sudan III
dilarutkan dalam 50 ml
alkohol 96% + 50 ml
gliserin.
Preparat diberi 2-3 tetes
larutan Sudan III lalu
dididihkan sebentar.
Bagian yang
mengandung gabus
(suberin), minyak atsiri,
Struktur kimia Sudan minyak lemak, lapisan
III:
kutikula dan lilin akan
menjadi berwarna merah
muda—merah jingga—
merah tua.
1-(4-(phenyl azo)
phenyl azo)-2naphthol
3 gram FeCl3 + 100 ml Preparat ditetesi larutan
akuades
FeCl3 menjadi berwarna
biru-hijau sampai hitam
menunjukkan adanya
tanin.
10 gram NaOH atau
Preparat ditetesi larutan
KOH atau NH4OH +
KOH atau KOH atau
100 ml akuades
NH4OH menjadi
berwarna merah
menunjukkan adanya
glikosida antrakinon
5 gram Na2CO3 + 100 Preparat ditetesi larutan
ml akuades
Na2CO3 lalu dididihkan
sesaat.
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
6
MIKROSKOP DAN CARA PENGGUNAANNYA
I. MIKROSKOP
Mikroskop adalah alat optik yang terdiri dari kombinasi lensa-lensa yang
berguna untuk memberikan bayangan diperbesar dari benda-benda yang terlalu kecil
jika dilihat dengan mata biasa. Bagian-bagian dari mikroskop adalah
1). Lensa okuler
Ialah
lensa
yang
menghadap
ke
mata
pengamat.
Biasanya
perbesarannya 5x, 6x, 10x, atau 16x. Okuler berada lepas pada tabung okuler,
jadi kita tidak boleh membawa mikroskop dengan posisi terbalik karena
okulernya dapat terjatuh.
Jumlah okuler pada mikroskop monokuler ada 1, sedangkan pada
mikroskop binokuler ada 2.
2). Buluh teropong
Ialah bagian mikroskop yang menghubungkan lensa okuler dan lensa
obyektif.
3). Lensa obyektif
Ialah lensa yang terdapat di bagian bawah teropong dan menghadap ke
preparat.
Lensa obyektif mempunyai mempunyai perbesaran yang bermacammacam, ada 4x atau 5x dan 10x (perbesaran lemah), 40x atau 45x dan 100x
(perbesaran kuat). Bilangan-bilangan tersebut tertulis pada tabung lensa
obyektif yang bersangkutan.
Perbesaran mikroskop dihitung dengan cara :
perbesaran okuler (misal: 10x) X perbesaran obyek (misal: 40x).
Maka perbesaran mikroskopnya adalah 400x
4). Revolver (pemutar)
Lensa-lensa obyektif terpasang pada dudukan yang disebut “revolver”
yang dapat diputar-putar, sehingga kita dapat memilih perbesaran lensa
obyektif yang kita inginkan.
5). Tangkai / lengan / leher
Ialah bagian yang berfungsi untuk pegangan pada waktu kita akan
membawa atau memindahkan mikroskop dari satu tempat ke tempat lain.
6). Meja / panggung preparat
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
7
Adalah tempat untuk meletakkan object glass dengan preparat di
atasnya yang akan kita amati dengan mikroskop. Di atas meja preparat
terdapat penjepit object glass (gelas preparat) yang berfungsi untuk menjaga
object glass supaya tetap berada dalam posisi diam atau mudah digerakkan
ke kanan & ke kiri ataupun maju mundur oleh pemutar penggerak yang ada di
bawah meja / panggung preparat.
Pada meja benda terdapat lubang yang berguna untuk meneruskan
cahaya yang berasal dari lampu di bawah meja / panggung preparat supaya
menembus ke preparat.
7). Lampu
Lampu merupakan sumber cahaya untuk ditembuskan ke preparat
supaya preparat dapat diamati dengan jelas struktur sel-sel dan jaringannya
Adapun jelas-tidaknya penampakan gambar yang terlihat dapat pula diatur
dengan memutar knop pengatur intesitas (kekuatan) cahaya yang terdapat di
bagian samping dari kaki / dasar {bagian) dari mikroskop.
Untuk melihat jelas penampakan gambar suatu preparat tidak selalu
membutuhkan intensitas cahaya yang kuat, karena dengan cahaya yang
terlalu kuat kadang-kadang justru terlihat kabur ketika dilihat di mikroskop,
oleh karena itu untuk pencahayaannya perlu agak diredupkan supaya bagianbagian struktur di dalam preparat dapat terlihat lebih jelas. .
8). Kondensor
Kondensor merupakan bagian dari mikroskop yang letaknya di bawah
meja / panggung preparat dan biasanya berbentuk silinder besar dengan di
dalamnya terdapat :
(a) Lensa cembung-datar (lensa pengumpul cahaya)
Lensa ini berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang dipancarkan
dari lampu supaya terpusat menuju preparat sehingga preparat dapat
terlihat tembus cahaya dan bagian-bagian strukturnya dapat terlihat
jelas.
(b)
Diafragma (rana)
Diafragma adalah bagian yang dapat menutup dan membuka di
dalam kondensor yang berfungsi untuk mengatur banyak-sedikitnya
cahaya yang masuk. Membuka dan menutupnya diafragma (rana) dapat
diatur dengan menggerakkan ke kiri atau ke kanan tangkai yang terdapat
pada sebelah luar dari kondensor.
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
8
Apabila diafragma dibuka maksimal, maka cahaya yang masuk
akan banyak namun batas-batas bagian sel akan nampak kabur karena
cahaya terlalu silau; sebaliknya apabila agak ditutup, maka cahaya yang
masuk akan semakin sedikit namun batas-batas bagian sel akan lebih
jelas karena cahaya tidak terlalu silau. .
9). Pemutar pengatur fokus
Pemutar pengatur fokus ini terdapat pada bagian lengan / leher
mikroskop. Pemutar ini ada 2 macam, yaitu pemutar fokus kasar dan pemutar
fokus halus:
(a)
Pemutar fokus kasar
Pemutar fokus kasar berfungsi untuk mencari fokus dengan
menaikturunkan meja / panggung preparat secara cepat. Naik-turunnya
meja preparat ini akan menyebabkan menjauh atau mendekatnya jarak
antara lensa obyek terhadap preparat yang ingin diamati, sehingga
dengan demikian fokusnya akan pula berubah menjadi semakin jelas
atau semakin kabur sesuai dengan arah putarannya.
Apabila pemutar diputar ke arah turun, maka jarak lensa obyek
terhadap preparat akan semakin dekat (titik fokus semakikn dekat);
sebaliknya apabila pemutar diputar ke arah atas, maka jarak lensa obyek
terhadap preparat akan semakin menjauh (titik fokus semakin jauh).
Pemutar fokus kasar lebih aman digunakan pada penggunaan
perbesaran lemah karena pada saat ini jarak antara lensa obyek
terhadap preparat masih relatif jauh, sehingga tidak berisiko terjadinya
pecah object glass akibat bersentuhan terlalu dekat dengan preparat.
(b)
Pemutar fokus halus
Pemutar fokus halus digunakan untuk mencari fokus bayangan
preparat secara lambat (pelan) dengan menaikturunkan meja / panggung
preparat secara lambat.
Pemutar fokus halus paling baik digunakan pada saat penggunaan
perbesaran kuat karena pada saat ini jarak antara lensa obyek terhadap
preparat relatif sangat dekat hingga bersentuhan satu sama lain,
sehingga resiko terjadinya pecah object glass akibat terlalu berdekatan
dengan preparat menjadi lebih besar. Risiko ini bisa dikurangi dengan
menggunakan pemutar halus, karena pemutar ini dapat melakukan
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
9
gerakan menaik-turunkan meja / panggung preparat secara lambat
(pelan).
Penggunaan perbesaran kuat akan lebih aman lagi apabila anda
membiasakan diri untuk memposisikan terlebih dahulu lensa obyek
berada sangat dekat / bersentuhan dengan cover glass pada preparat,
baru setelah itu pemutar halusnya diputar ke atas supaya lensa
obyeknya bergerak naik secara pelan sambil dilihat di lensa okuler
sampai penampakan terlihat jelas.
Atau dengan kata lain, mulailah dari posisi lensa obyek sangat
dekat terhadap preparat, barulah setelah itu dijauhkan dengan memutar
pemutar halus ke atas.
10). Kaki
Kaki adalah bagian alas dari mikroskop yang berfungsi sebagai pondasi
untuk memberikan stabilitas pada alat. Bagian ini berbentuk persegi empat
dan biasanya di dalamnya terdapat rangkaian dan saklar untuk menyalakan
lampu.
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
10
lensa okuler
buluh teropong
Lengan
/ leher
revolver
(pemutar
sekrup pengatur
fokuslensa)
kasar
sekrup
pengatur
lensa
obyek
fokus halus
pemutar
pengatur fokus
kasar
penjepit
object
tangkai
(lengan)
glass
Pemutar
pengatur
fokus
halus
meja benda
penggerak
meja benda preparat
maju mundur &
kiri-kanan
kondensor
penaikturun
diafragma
kondensor
kondensor
diafragma↑
saklar on/off
& pengontrol
terang
cahaya
kaki
mikroskop
lampu
Mikroskop binokuler
Sifat bayangan
Mikroskop monokuler
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
11
Baik lensa obyektif maupun lensa okuler keduanya merupakan lensa cembung.
Secara garis besar lensa obyektif menghasilkan suatu bayangan sementara yang
mempunyai sifat semu, terbalik, dan diperbesar terhadap posisi benda mula-mula,
lalu yang menentukan sifat bayangan akhir selanjutnya adalah lensa okuler. Pada
mikroskop cahaya, bayangan akhir mempunyai sifat yang sama seperti bayangan
sementara yaitu semu, terbalik, dan diperbesar. (Contoh: jika seseorang yang
menggunakan mikroskop cahaya meletakkan huruf A di bawah mikroskop, maka
yang ia lihat ialah huruf A yang terbalik dan diperbesar).
Tujuan dari mikroskop cahaya adalah menghasilkan bayangan dari benda
yang dilihat di mikroskop menjadi tampak lebih besar. Perbesaran (Vm) ini
tergantung pada beberapa faktor, diantaranya :
- titik fokus lensa obyektif (f Ob)
- titik fokus lensa okuler (f Ok)
- panjang teropong atau jarak lensa obyektif terhadap lensa okuler (t)
- jarak pandang mata normal (Sn)
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
12
t . Sn
Rumus :
Vm =
f Ob . f Ok
CARA PENGGUNAAN MIKROSKOP :
1). Turunkan meja/panggung preparat dengan memutar pemutar fokus kasar ke arah
atas.
2). Letakkan object glass (gelas preparat) dengan sediaan (preparat) yang sudah
ditutup dengan cover glass (gelas penutup preparat) ke atas meja/panggung
preparat dan jepitlah dengan penjepit.
3). Pilihlah lensa obyektif dengan perbesaran lemah dahulu dengan memutar
revolver.
4). Geserlah sediaan (preparat) hingga tepat berada di bawah lensa obyektif dengan
memutar pemutar penggerak preparat yang ada di bawah meja/panggung
preparat.
5). Dekatkan mata anda pada lensa okuler dan putarlah pemutar fokus kasar atau
halus perlahan-lahan sambil diamati sampai penampakan preparat terlihat jelas di
lensa okuler.
Jika tetap tidak diperoleh bayangan, maka kemungkinan besar preparat belum
terletak tepat di bawah lensa obyektif. Jadi anda harus mengubah letaknya hingga
betul-betul di bawah lensa obyektif dengan memutar-mutar pemutar penggerak
sediaan.
6). Untuk melihat dengan perbesaran kuat (400x atau 1000x) :
(a). Tanpa mengubah pemutar fokus kasar dan pemutar fokus halus, putarlah
revolver hingga lensa obyek perbesaran kuat (misal: 40x) tepat menghadap
ke preparat.
(b). Sambil dilihat dari samping (dengan mata telanjang), putarlah pemutar fokus
kasar ke bawah sampai lensa obyek mendekati dan menempel pada cover
glass.
(c) Dekatkan mata anda ke lensa okuler, sambil dilihat di lensa okuler putarlah
sekrup pengatur fokus halus ke atas perlahan-lahan (sehingga lensa obyek
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
13
menjauh sedikit demi sedikit dari cover glass) sampai terlihat penampakan
yang jelas pada preparat.
(d) Bayangan tersebut dapat pula lebih diperjelas lagi dengan cara menurunkan
kondensor untuk mengurangi pemusatan cahaya (mengurangi silau) hingga
batas-batas pada sediaan menjadi lebih tegas terlihat.
CARA MENGEMAS MIKROSKOP SETELAH DIGUNAKAN:
1). Setelah pengamatan selesai, putarlah pemutar fokus ke atas hingga lensa obyek
menjauh dari meja/panggung preparat
2). Putarlah revolver dan kembalikan lensa obyektif ke kedudukan perbesaran
terlemah atau ke bagian yang kosong (lensa obyektfnya tidak terpasang)
3). Lepaskan object glass dari penjepitnya. (Lalu cucilah gelas benda tersebut
dengan air dan sekalah dengan kain serbet besih) (Kecuali untuk preparat
awetan, tidak perlu dicuci)
4). Bersihkan masing-masing lensa obyektif dengan mengunakan tissue & alkohol
70%.
5). Besihkan tubuh mikroskop dengan menggunakan kain lap.
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
14
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ……………………………………………………………………. i
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………… ii
TATA TERTIB PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI ………………………………………. iii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………… iv
ALAT-ALAT PRAKTIKUM ………………………………………………………………… v
REAGEN KIMIA ……………….………………………………………………………… viii
FORMAT LAPORAN PRAKTIKUM …………………….………………………………… x
ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS AMILUM …………… 1
ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA FOLIUM
………………………………………………………………………………… 6
ACARA III ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA RHIZOMA
……………………………………………………………………………... 12
ACARA IV ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA CORTEX
DAN FRUCTUS ……………………………………………………………. 17
ACARA V ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA LIGNUM,
FLOS, DAN SEMEN ……………………………………………………….. 22
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………… 27
ACARA I
ACARA II
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
15
LAPORAN PRAKTIKUM
FARMAKOGNOSI
Disusun oleh:
Nama
:
NIM
:
Kelompok
:
PROGRAM STUDI D3 FARMASI
LABORATORIUM FARMAKOGNOSI
FAKULTAS FARMASI
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
2019
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
16
LAPORAN PRAKTIKUM
PENGAMATAN ORGANOLEPTIS
GAMBAR MAKROSKOPIS
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
17
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
18
ACARA I
ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS AMILUM
A. Pendahuluan
Amilum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam, yaitusebagian besar
tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian. Amilum merupakan suatu
senyawa organik yang tersebar luas pada kandungan tanaman. Amilum dihasilkan dari
dalam daun-daun hijau sebagai wujud penyimpanan sementara dari produk fotosintesis.
Amilum juga tersimpan dalam bahan makanan cadangan yang permanen untuk tanaman,
dalam biji, jari-jari teras, kulit batang, akar tanaman menahun, dan umbi. Amilum
merupakan 50-65% berat kering biji gandum dan 80% bahan kering umbi kentang. Secara
umum, amilum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa)dan 80% bagian yag tidak
larut air (amilopektin). Hidrolisis amilum oleh asam mineral menghasilkan glukosa sebagai
produk akhir secara hamper kuantitatif.
Amilum juga disebut dengan pati. Pati yang diperdagangkan diperolehdari berbagai
bagian tanaman, misalnya endosperma biji tanaman gandum, jagung dan padi; dari umbi
kentang; umbi akar Manihot esculenta (patitapioka); batang Metroxylon sagu (pati sagu);
dan rhizom umbi tumbuhan bersitaminodia yang meliputi Canna edulis, Maranta
arundinacea, dan Curcuma angustifolia (pati umbi larut). Tanaman dengan kandungan
amilum yang digunakan di bidang farmasi adalah jagung (Zea mays), Padi/beras (Oryza
sativa), kentang (Solanum tuberosum), ketela rambat (Ipomoea batatas), ketela pohon
(Manihot utilissima).
Pada bidang farmasi, amilum terdiri dari granul-granul yang diisolasidari Zea mays
Linne (Graminae), Triticum aesticum Linne (Graminae), dan Solanum tuberosum Linne
(Solanaceae). Granul amilum jagung berbentupolygonal, membulat atau sferoidal dan
mempunyai garis tengah 35 mm. Amilum gandum dan kentang mempunyai komposisi yang
kurang seragam, masing-masing mempunyai 2 tipe granul yang berbeda. Amilum
digunakan sebagai bahan penyusun dalam serbuk dan sebagai bahan pembantu dalam
pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahanpengisi tablet, bahan pengikat, dan bahan
penghancur. Sementara suspense amilum dapat diberikan secara oral sebagai antidotum
terhadap keracunan iodium dam amilum gliserin biasa digunakan sebagai emolien dan
sebagaibasis untuk supositoria
B. Tujuan
Mahasiswa dapat mengidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis serbuk
amilum sampel tumbuhan
C. Alat
1. Pipet tetes
2. Plat tetes
3. Kaca benda
4. Kaca penutup
5. Baskom
D. Bahan
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
19
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Amilum Oryzae (Pati Beras)
Amilum Solani (Pati Kentang)
Amilum Maydis (Pati Jagung)
Amilum Manihot (Pati Singkong)
Amilum Marantae (Pati Garut)
Air
E. Cara Kerja
1. Ambil serbuk amilum amati organoleptis (bau, rasa dan warna)
2. Buatlah sediaan media air masing-masing serbuk amilum dengan cara meneteskan air
kemudian menaruh sampel pada kaca benda dan ditutup dengan kaca penutup
3. Amati di bawah mikroskop dan perhatikan bentuk, ada/tidaknya hilus dan lamella dari
masing-masing amilum.
Fragmen yang dimati:
a. Amilum Oryzae
Nama tanaman asal : Oryza sativa L
Familia
: Gramineae (Poaceae)
Fragmen
: Butir pati
Bentuk
: Poligonal menggerombol monoadelpus sampai poliadelpus
Hilus
: Kadang-kadang ada yang berhilus dan letaknya sentris.
Lamela
: Tidak ada
Penggunaan
: Zat tambahan untuk sediaan obat
b. Amilum Solani
Nama tanaman asal
Familia
Fagmen
Bentuk
Hilus
Lamela
Penggunaan
: Solanum tuberosum
: Solanaceae
: Butir pati
: Seperti bulat telur, poliadelpus terdiri dari dua atau tiga.
: Ada, letaknya eksentris
: Tidak ada
: Zat tambahan untuk sediaan obat
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
20
c.
d.
Amilum Maydis
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Bentuk
Hilus
Lamela
Penggunaan
: Zea mays
: Gramineae
: Butir pati
: Bulat, agak polygonal tunggal atau bergerombol
: Ada, letaknya sentris, bentuk seperti bintang
: Ada, terlihat jelas
: Zat tambahan untuk sediaan obat
Amilum Manihot
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Bentuk
Hilus
Lamela
Penggunaan
: Manihot utilissima Pohl.
: Euphorbiaceae
: Butir pati
: Bulat, ada yang rompang, tunggal atau bergerombol
: Ada, letaknya sentris, bentuk seperti titik atau lambda
: Ada, tidak terlihat jelas
: Zat tambahan untuk sediaan obat
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
21
e.
Amilum Marantae
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Bentuk
Hilus
Lamela
Penggunaan
f.
Amilum Tritici
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Bentuk
Hilus
Lamela
Penggunaan
: Maranta arundinacea L.
: Marantaceae
: Butir pati
: Ellipsoidus (bulat panjang tak simetris)
: Letak eksentris terletak pada ujung yang melebar berupa
titik datau seperti V.
: Ada, terlihat jelas
: Zat tambahan untuk sediaan obat
:Triticum vulgare
: Gramineae
: Butir pati
: Umumnya bulat dan seperti lensa.
: Ada, letaknya sentris, bentuk seperti titik atau garis.
Amilum yang besar dikelilingi yang kecil-kecil.
: Tidak jelas
: Zat tambahan untuk sediaan obat
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
22
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
23
ACARA II
ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA FOLIUM
A. Pendahuluan
Simplisia daun (folium) merupakan jenis simplisia yan paling umum digunakan
sebagai bahan baku ramuan obat tradisional atau minyak atsiri. Simplisia ini dapat berupa
lembaran daun tunggal atau majemuk. Simplisia daun biasanya dipakai dalam bentuk segar
atau dikeringkan. Sebagian simplisia daun terkadang berupa pucuk tanaman yang terdiri
dari beberapa daun muda. Pengamatan mikroskopis pada simplisia folium berupa rambut
kelenjar dan rambut penutup, jaringan mesofil, kristal kalsium oksalat, sel parenkim bunga
karang, dan bentuk stomata
B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri spesifik simplisia folium.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi fragmen-fragmen spesifik pada simplisia folium
C. Alat
1. Pipet tetes
2. Plat tetes
3. Kaca benda
4. Kaca penutup
5. Baskom
D. Bahan
1. Air
2. Reagen kloralhidrat
3. Guazuma Folium (Daun Jati Belanda)
4. Elephantopi Folium (Daun Tapak Liman)
5. Abri Folium (Daun Saga)
6. Blumea Folium (Daun Sembung)
7. Psidii Folium (Daun Jambu Biji)
8. Orthosiphon Folium (Daun Kumis Kucing)
9. Melaleuca Folium (Daun Kayu Putih)
E. Cara Kerja:
1. Ambil serbuk folium amati organoleptis (bau, rasa dan warna)
2. Buatlah sediaan media kloral hidrat masing-masing serbuk folium dengan cara:
a. Ambil sedikit simplisia serbuk folium, letakkan pada object glass (kaca preparat)
b. Tambahkan satu tetes larutan kloralhidrat
c. Tutup dengan gelas penutup
3. Amati dan gambarkan hasil pengamatan mikroskop pada laporan
Fragmen yang diamati pada simplisia folium ialah fragmen rambut penutup (trikoma)
1. Guazuma Folium
Nama tanaman asal
: Guazuma ulmifolia (L)
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
24
Familia
Fragmen
Bentuk
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
2. Elephantopi folium
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
: Sterculiaceae
: Tricoma dan fragmen lain
: Epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel, berambut penutup dan
berambut kelenjar, berbentuk poligonal, tidak berstomata.
Epidermis bawah sel lebih kecil, bergelombang, stomata
tipe anosositik, rambut penutup berupa bintang
: Tanin, lender, dan damar
: Adstringensia dan obat pelangsing
: Elephantopus scaber (L)
: Asteraceae
: Tricoma dan fragmen lain
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
25
Bentuk
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
3. Abri Folium
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
: Rambut penutup berdinding tebal, utuh atau terpotongpotong, kadang-kadang dengan gelembung udara; rambut
penutup berdinding tipis; fragmen epidermis atas dan
epidermis bawah; serabut sklerenkim; hablur kalsium
oksalat berbentuk roset dan prisma; pembuluh kayu
denangan penebalan tangga dan spiral.
: Flavonoida luteolin-7-glukosida
: Adstrigensia dan antidemam
: Abrus precatorius (L)
: Papilonaceae
: Trikoma dan fragmen lain
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
26
Bentuk
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
4. Blumeae Folium
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
: Epidermis atas dengan dinding antiklinal jelas
bergelombang, tidak terdapat stomata, atau rambut
penutup. Epidermis bawah sel lebih kecil, dinding
antiklinal dan bergelombang, ada rambut penutup
berbentuk kerucut ramping.
: Glisirizin sampai 15% dan kalsium oksalat
: Obat sariawan dan obat batuk
: Blumea balsamifera (L)
: Asteraceae
: Tricoma dan fragmen lain
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
27
Bentuk
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
5. Psidii Folium
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Bentuk
: rambut berlindung tipis; pembuluh kayu dengan penebalan
tangga dan spiral serabut sklerenkim; fragmen mesofil;
fragmen epidermis atas ; fragmen epidermis bawah
: Minyak Atsiri, zat penyamak (tannin) dan damar
: Karminativa, sudorifika, dan obat batuk
: Psidium guajava
: Myrtaceae
: Trikoma dan fragmen lain
: Epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel pipih, berbentuk
poligonal, dinding antiklinal lurus, tidak terdapat stomata
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
28
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
dan Epidermis bawah sel lebih kecil, pipih bentuk
poligonal, dinding antiklinal lurus, stomata tipe anomositik,
rambut penutup bentuk kerucut.
: Zat penyamak 9%, minyak atsiri, asam malat, dan minyak
lemak
: Antidiare dan Adstrigensia
6. Orthosiphonis Folium
Nama tanaman asal
: Orthosiphon aristatus (Bl.)
Familia
: Lamiaceae
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
29
Fragmen
Bentuk
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
7. Melaleucae Folium
Nama tanaman asal
: Trikoma dan fragmen lain
: Epidermis atas selnya berbentuk persegi empat, dinding
antiklinal berombak. Epidermis bawah sel lebih kecil,
dinding antiklinal lebih berombak, stomata tipe diastik
: Garam kalium, glukosida orthosiphon, minyak atsiri, dan
saponin
: Diuretika
: Melaleuca leucadendra (L)
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
30
Familia
Fragmen
Bentuk
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
: Myrtaceae
: Tricoma dan fragmen lain
: Epidermis atas dengan kutikula tebal, epidermis bawah
dengan stomata tipe animositik, rambut penutup bersel
tunggal, ujung runcing berdinding tebal, mesofil dengan
kelenjar minyak lisigen berwarna kekuningan, serabut
kristal kalsium oksalat berbentuk prisma, serabut
sklerenkim
: Minyak atsiri dan sineol
: Perdarahan stomachicum dan spasmolika
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
31
ACARA III
ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA
RHIZOMA
A. Pendahuluan
Rimpang atau rizoma (bahasa Latin: rhizoma) adalah modifikasi batang tumbuhan
yang tumbuhnya menjalar di bawah permukaan tanah dan dapat menghasilkan tunas dan
akar baru dari ruas-ruasnya. Suku temu-temuan (Zingiberaceae) dan paku-pakuan
(Pteridophyta) merupakan contoh yang biasa dipakai untuk kelompok tumbuhan yang
memiliki organ ini.
Rhizoma biasanya memiliki fungsi tambahan selain fungsi pokok seperti batang.
Yang paling umum adalah menjadi tempat penyimpanan produk metabolisme (metabolit)
tertentu. Rimpang menyimpan banyak minyak atsiri dan alkaloid yang berkhasiat
pengobatan. Rizoma yang membesar dan menjadi penyimpanan cadangan makanan
(biasanya dalam bentuk pati) dinamakan tuber (umbi batang).
B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri spesifik simplisia rhizoma.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi fragmen-fragmen spesifik pada simplisia rhizoma
C. Alat
1. Pipet tetes
2. Plat tetes
3. Kaca benda
4. Kaca penutup
5. Baskom
D. Bahan
1. Air
2. Reagen kloralhidrat
3. Languatis rhizoma (Rimpang Lengkuas)
4. Kaemppferia rhizoma (Rimpang Kencur)
5. Zingiberis rhizoma (Rimpang Jahe)
6. Curcuma rhizoma (Rimpang Temulawak)
7. Curcuma domestica rhizoma (Rimpang Kunyit)
E. Cara Kerja
1. Ambil serbuk amati organoleptis (bau, rasa dan warna)
2. Buatlah sediaan media kloralhidrat masing-masing serbuk rhizoma dengan cara:
a. Ambil sedikit simplisia serbuk rhizoma, letakkan pada object glass (kaca preparat)
b. Tambahkan satu tetes larutan kloralhidrat
c. Tutup dengan gelas penutup
3. Amati dan gambarkan hasil pengamatan mikroskop pada laporan
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
32
Fragmen yang diamati ialah
1. Languatis rhizoma
Nama tanaman asal
: Languas galanga (L)
Familia
: Zingiberaceae
Fragmen
: Fragmen berkas pembuluh, parenkim cortex, serabut
sklerenkim, butir pati, jaringan gabus bentuk poligonal,
rambut penutup.
Mikroskopis
: Epidermis terdiri dari 1 lapis sel kecil agak pipih, dinding
berwarna kuning kecoklatan, kutikula jelas. Koerteks
parenmatik, jaringan korteks bagian luar terdiri dari
beberapa lapis sel dengan dinding tipis berwarna kuning
kecoklatan, jaringan korteks bagian dalam terdiri sel
parenkim besar, dinding sel tipis, tidak berwarna, kadang
bernoktah halus, berisi butir pati.
Zat berkhasiat utama : Minyak atsiri yang mengandung; metilsinamat, sineol,
kamfer dan galangol
Penggunaan
: Karminativa dan antifungi
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
33
2. Kaempferiae Rhizoma
Nama tanaman asal
: Kaempferia galanga (L)
Familia
: Zingiberaceae
Fragmen
: Epidermis dan jaringan korteks bagian luar, parenkim, butir
pati, fragmen serabut, parenkim dengan butir pati, jaringan
berkas pembuluh.
Mikroskopis
: Periderm : terdiri dari 5-7 lapis sel, sel berbentuk segi
panjang berdinding tipis. Jaringan parenkim korteks :
Terdapat di bawah periderm, sel parenkim isodiametrik,
berdinding tipis, berisi butir-butir pati
Zat berkhasiat utama : Alkaloida, minyak atsiri yang mengandung sineol dan
kamferin, mineral, dan pati
Penggunaan
: Ekspektoransia, diaforetika, karminativa, stimulansia, dan
roboransia
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
34
3. Zingiberis Rhizoma
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Mikroskopis
: Zingiber officinale (Roscoe)
: Zingiberaceae
: Parenkim berisi butir pati, jaringan gabus, berkas
pembuluh, butir pati, periderm, pembuluh kayu, serabut,
parenkim
: Jaringan gabus, parenkim korteks, dan sel sekret berisi
oleoresin berwarna kuning sindur sampai kuning coklat,
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
35
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
serabut sklerenkim dengan salah satu dindingnya
berombak, trakea dengan penebalan tangga. Butir-butir
amilum bentuk khas, yaitu serupa elips dengan tonjolan
disalah satu ujung.
: Pati, damar, oleo resin, gingerin, minyak atsiri yang
mengandung zingeron, zingiberol, zingiberin, borneol,
kamfer, sineol, dan felandren
: Karminativa, stimulansia, dan diaforetika
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
36
4. Curcumae Rhizoma
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Mikroskopis
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
: Curcuma xanthorrhiza (Roxb)
: Zingiberaceae
: Fragmen berkas pembuluh, fragmen parenkim korteks,
serabut sklerenkim, butir pati diperbesar, butir pati,
fragmen jaringan gabus, rambut penutup.
: Jaringan gabus, parenkim korteks, dan sel sekret berwarna
kuning tua sampai kuning coklat, serabut sklerenkim
dengan salah satu dinding berombak, trakea penebalan
tangga. Butiran amilum bentuk khas seperti pada jahe.
Seluruh sediaan berwarna kuning tua karena mengandung
kurkumin.
: Minyak atsiri yang mengandung felandren dan tumerol, zat
warna kurkumin, pati, dan kadar minyak atsiri tidak kurang
dari 8,2 % b/v
: Kolagoga dan antispasmodika
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
37
5. Curcumae domesticae Rhizoma
Nama tanaman asal
: Curcuma domestica Val.
Familia
: Zingiberaceae
Fragmen
: Periderm, butir pati, rambut penutup, parenkim berisi butir
pati, pembuluh kayu, parenkim.
Mikroskopis
: Epidermis : 1 lapis sel, pipih berbentuk poligonal, dinding
sel menggabus. Rambut penutup : berbentuk kerucut, lurus
atau agak bengkok, dinding tebal. Hipodermis : terdiri dari
beberapa lapis sel, dinding sel menggabus,. Periderm :
terdiri dar 6-9 lapis sel berbentuk segi panjang, dinding
menggabus. Korteks dan silinder pusat : Parenkimatik,
terdiri dari sel-sel besar, penuh berisi pati Tunggal dan
berbentuk lonjong, lamela dan hilus kurang jelas.
Zat berkhasiat utama : Minyak atsiri, zat warna kurkumin, pati, damar
Penggunaan
: Karminativa, antidiare, kolagoga, dan skabisida
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
38
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
39
ACARA IV
ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA
CORTEX DAN FRUCTUS
A. Pendahuluan
Bagian terluar dari tanaman berkayu, meliputi : kulit batang, cabang, atau kulit akar
sampai ke lapisan epidermis. Saat tumbuhan sudah cukup besar umumnya zat berkhasiat
terdapat dalam serat terutama alkaloid. Cortex juga merupakan bark, kulit kayu. Berupa
seluruh jaringan di luar kambium. Dapat berasal dan akar, batang, dan cabang. Fragmen
spesifik dari cortex yaitu sel minyak dan sel lendir parenkim, sel batu, serabut sklerenkim,
sel minyak dan sel batu pada parenkim, peiderm, hablur kalsium oksalat, dan serabut sel
minyak pada parenkim
Buah (fructus) adalah ovarium yang telah matang (yang didahului atau tidak
didahului proses amphimixis) yang tumbuh berkembang dan berubah strukturnya menjadi
mengeras, mengulit, dan mendaging; atau ovarium yang telah matang dan atau beserta
bagian-bagian lain dari bunga (yang didahului atau tidak didahului proses amphimixis) yang
tumbuh, berkembang, dan berbuah strukturnya menjadi mengeras dan mendaging. Fungsi
buah adalah memungkinkan terjadinya penyebaran biji atau penyebaran keturunan
(propagasi). Fragmen spesifik dari fructus adalah epidermis luar, sklerenkim palisade,
endosperm, perisperm, selaput biji, perikarp, sel batu, serabut sklerenkim, hablur kalsium
oksalat, sel dengan minyak atsiri, fragmen kulit biji, pembuluh kayu.
B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri spesifik simplisia cortex dan fructus.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi fragmen-fragmen spesifik pada simplisia cortex dan
fructus
C. Alat
1. Pipet tetes
2. Plat tetes
3. Kaca benda
4. Kaca penutup
5. Baskom
D. Bahan
1. Air
2. Reagen kloralhidrat
3. Burmani Cortex (Kulit Kayu Manis)
4. Cinchona Cortex (Kulit Kina)
5. Alyxia Cortex (Kulit Pulasari)
6. Amomi Fructus (Buah Kapulaga)
7. Coriandri Fructus (Buah Ketumbar)
8. Piperis nigri Fructus (Buah Lada Hitam)
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
40
E. Cara Kerja
1. Ambil serbuk cortex dan fructus amati organoleptis (bau, rasa dan warna)
2. Buatlah sediaan media kloralhidrat masing-masing serbuk cortex dan fructus dengan
cara:
a. Ambil sedikit simplisia serbuk cortex dan fructus, letakkan pada object glass (kaca
preparat)
b. Tambahkan satu tetes larutan kloralhidrat
c. Tutup dengan gelas penutup
3. Amati dan gambarkan hasil pengamatan mikroskop pada laporan
Fragmen yang diamati:
1. Burmanni Cortex
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
: Cinnamomum burmanni (Blume)
: Lauraceae
: Sel minyak dan sel lendir parenkim, Sel batu, Serabut
sklerenkim, Sel minyak dan sel batu pada parenkim,
Peiderm, Hablur kalsium oksalat, Serabut sel minyak pada
parenkim
: Minyak atsiri, zat penyamak, dan damar bornilasetat
: Diaforetik, anti iritansia, karminativa, aromatika (bahan
penwangi), dan bumbu masak
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
41
2. Cinchonae Cortex
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
: Cinchona succirubra
: Rubiaceae
: Serabut floem, Parenkim berisi butir pati, Butir pati lepas,
Gabus terlihat tangensial, Hablur pasir
: Alkaloida, asam tnat, asam kina, damar, dan malam
: antipiretika dan antimalaria
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
42
3. Alyxiae Cortex
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
: Alyxia reinwardtii (Bl)
: Apocynaceae
: Parenkim korteks dengan sel batu, Jaringan gabus, Hablur
ca-oksalat bentuk prisma, Sel batu
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
43
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
4. Amomi Fructus
Nama tanaman asal
: Alkaloida, zat pahit, kumarin, zat penyamak, dan asam
organik
: Antidemam, karminativa, dan aromatika (bahan penwangi)
: Amomum compactum
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
44
Familia
Fragmen
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
: Zingiberaceae
: Epidermis luar terlihat tangensial, sklerenkim palisade
terlihat tangensial, endosperm, perisperm, selaput biji,
perikarp, sel batu, serabut sklerenkim, hablur kalsium
oksalat, sel dengan minyak atsiri, fragmen kulit biji,
pembuluh kayu.
: Minyak atsiri 8% dengan kandungan utama sineol
: Karminativa, aromatika (bahan penwangi), dan bumbu
masak
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
45
5. Coriandri Fructus
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
: Coriandrum sativum L.
: Apiaceae
: Mesokarp dengan endokarp, sspermoderm, endosperm.
Serabut sklerenkim mesokarp. Endokarp berikut parenkim
mesokarp terlihat tangensial. Pembuluh kayu. Epikarp
bagian ujung buah. Hablur kalsium oksalat.
: Minyak atsiri dan minyak lemak
: Karminativa, dan bumbu masak
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
46
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
47
6. Piperis nigri Fructus
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
: Piper nigrum L
: Piperaceae
: Kelompok sel batu dari hipodermis, fragmen epikarp
berikut hepidermis, kelompok sel batu dari endokarp,
fragmen mesokarp, fragmen perisperm dengan butir pati
dan sel sekresi, butir pati, fragmen epikarp berikut
hipodermis tampak tangensial.
: Minyak atsiri, alkaloida, khavisin, dan piperin
: Karminativa dan iritasi lokal
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
48
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
49
ACARA V
ANALISIS MAKROSKOPIS DAN MIKROSKOPIS SIMPLISIA
LIGNUM, FLOS, DAN SEMEN
A. Pendahuluan
Simplisia lignum (kayu) diambil dari tumbuhan dicotyledon, merupakan xylem
sekunder yang terbentuk karena aktivitas kambium batang. Jaringan pembuluh masih terihat
dalam lignum yaitu pembuluh kayu yang berfungsi membawa makanan dari akar ke daun
dan pembluh apis yaitu membawa makanan dari daun ke bagian lain. Pada preparat akan
terlihat serat, parenkim dan jari-jari empulur. Fragmen pengenal pada mikroskopik serbuk
kayu adalah berkas serabut dengan seludang hablur kalsium oksalat, fragmen pembuluh
kayu; fragmen serabut; serabut xylem; dan butir pati.
Flos adalah bagian tanaman berupa bunga. Kebanyakan simplisia dibuat dari bunga
yang masih kuncup. Simplisia bunga dapat berupa bunga tunggal atau majemuk, bagian dari
bunga majemuk, atau komponen penyusun bunga. Fragmen yang sering diamati dari flos
yaitu fragmen dasar bunga, epidermis dasar bunga, kelenjar minyak, epidermis daun
mahkota, sel batu dan seklereida, berkas pembuluh dan serabut sklerenkim, fragmen tangkai
sari, fragmen kepala sari, serbuk sari, kristal kalsium oksalat.
Biji dapat terlindung oleh organ lain (buah, pada Angiospermae atau
Magnoliophyta) atau tidak (pada Gymnospermae). Dari sudut pandang evolusi, biji
merupakan embrio atau tumbuhan kecil yang termodifikasi sehingga dapat bertahan lebih
lama pada kondisi kurang sesuai untuk pertumbuhan. Bagian-bagian dari biji yang sering
digunakan sebagai simplisia yaitu:
1. Kulit biji (spermoderm)
Pada tumbuhan biji tertutup (angiospermae), kulit biji terdiri atas dua lapisan, yaitu:
a. Lapisan kulit luar (testa), mempunyai sifat bermacam-macam, tipis, kaku seperti
kulit, atau keras seperti kayu atau batu, bewarna merah, biru, pirang,kehijau-hijauan,
licin, rata atau permukaan yang keriput. Bagian ini merupakan pelindung utama bagi
biji yang ada di dalam.
b. Lapisan kulit dalam (tegmen), biasanya tipis seperti selaput, disebut jugakulit ari.
2. Tali pusar/funiculusTali pusar merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan
tembuni, jadi merupakan tangkainya biji.
3. Inti (isi biji)-nucleus seminis. Inti biji terdiri atas lembaga (embryo), yang merupakan
calon individu baru dan putih tembaga (albumen), merupakan jaringan berisi jaringan
makanan untukmasa permulaan kehidupan tumbuhan baru (kecambah)
Fragmen yang sering diamati dari semen yaitu fragmen epidermis, fragmen kulit biji,
fragmen palisade, fragmen lapisan sel berisi hablur, fragmen endosperm, fragmen parenkim
dibawah palisade.
B. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri spesifik simplisia serbuk lignum, flos dan
semen.
2. Mahasiswa dapat mengidentifikasi fragmen-fragmen spesifik pada serbuk lignum, flos
dan semen
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
50
C. Alat
1. Pipet tetes
2. Plat tetes
3. Kaca benda
4. Kaca penutup
5. Baskom
D. Bahan
1. Air
2. Reagen kloralhidrat
3. Sappan Lignum (Kayu Secang)
4. Caryophylli Flos (Bunga Cengkeh)
5. Myristica Semen (Biji Pala)
6. Nigela sativa Semen (Biji Jinten Hitam)
E. Cara Kerja
1. Ambil serbuk lignum, flos dan semen amati organoleptis (bau, rasa dan warna)
2. Buatlah sediaan media kloralhidrat masing-masing serbuk lignum, flos dan semen
dengan cara:
a. Ambil sedikit simplisia serbuk, letakkan pada object glass (kaca preparat)
b. Tambahkan satu tetes larutan kloralhidrat
c. Tutup dengan gelas penutup
3. Amati dan gambarkan hasil pengamatan mikroskop pada laporan
Fragmen yang diamati:
1. Sappan Lignum
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
Mikroskopik
Zat berkhasiat utama
Penggunaan
: Caesalpinia sappan L.
: Caesalpiniaceae
: Serabut xilem, serabut xilem dengan hablur oksalat, serabut
xilem dan pembuluh kayu bernoktah.
: Xilem : Jelas, radier dengan jari-jari xilem terdiri dari 1
sampai 3 baris sel yang berisi butir pati kecil, tunggal dan
berkelompok. Pembuluh kayu atau trakhea umumnya
berkelompok, kadang-kadang tunggal, dinding tebal,
berlignin, bernoktah berbebtuk celah, lumen berisi zat
yang, berwarna merah keunguan, merah kekuningan
sampai merah kecoklatan. Serabut xilem : Berkelompok,
tersusun radiaer, terdiri dari 5-40 serabut, dinding serabut
tebal berlignin, lumen sempit.
: Brazilin, zat warna merah sappan, asam tanat, dan asam
galat
: Adstringensia, luka memar, batuk darah, dan sipilis
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
51
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
52
2. Caryophylli Flos
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
: Eugenia caryophyllus
: Myrtaceae
: Fragmen dasar bunga, epidermis dasar bunga, kelenjar
minyak, epidermis daun mahkota, sel batu dan seklereida,
berkas pembuluh dan serabut sklerenkim, fragmen tangkai
sari, fragmen kepala sari, serbuk sari, kristal kalsium
oksalat.
Mikroskopik
: Sel epidermis bentuk empat persegi panjang selapis sel
dengan kutikula tebal, stomata bundar tipe anomositik.
Zat berkhasiat utama : Minyak atsiri, zat penyamak, dan gom
Penggunaan
: Stimulasia, obat mulas, menghilangkan rasa mual dan
muntah
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
53
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
54
3. Myristicae Semen
Nama tanaman asal
Familia
Fragmen
: Myristica fragrans
: Myristicaceae
: Perisperm sekunder dengan sel minyak, endosperm dengan
butir pati dan aleuron, butir pati, perisperm primer terlihat
tangensial, berkas pembuluh
Mikroskopik
: Pada inti biji terdapat jaringan perisperm primer berbentuk
poligonal, dinding tipis berwarna coklat kekuningan
terletak disebelah luar, dan disebelah dalam terdapat
jaringan perisperm primer sekunder dan endosperm.
Zat berkhasiat utama : Minyak atsiri, kamfer, minyak lemak, dan zat putih telur
Penggunaan
: Aromatika (bahan pewangi), karminativa, dan stimulansia
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
55
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
56
4. Nigellae sativae Semen
Nama tanaman asal : Nigella sativa L.
Familia
: Ranunculaceae
Fragmen
: Fragmen epidermis terlihat tangensial, fragmen kulit biji,
fragmen palisade, fragmen lapisan sel berisi hablur
berbentuk prisma, fragmen endosperm, fragmen parenkim
dibawah palisade.
Mikroskopik
: Perisperma menunjukkan sel-sel parenkim berdinding tipis
dan sel-sel berisi pigmen berwarna coklat kehitaman,
endosperma berbentuk polygonal berisi aleurone dan tetes
minyak
Zat berkhasiat utama : Minyak atsiri, minyak lemak, glukosa, dan saponin
Penggunaan
: Stimulansia, karminativa, diaforetika, dan emenagoga
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
57
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
58
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1977. Materia Medika Indonesia, Jilid I. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Anonim, 1978. Materia Medika Indonesia, Jilid II. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Anonim, 1979. Materia Medika Indonesia, Jilid III. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Anonim, 1980. Materia Medika Indonesia, Jilid IV. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Anonim, 1989. Materia Medika Indonesia, Jilid V. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Anonim, 1995. Materia Medika Indonesia, Jilid VI. Jakarta : Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
BPOM. 2014. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia
Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional. BPOM:
Jakarta.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Depkes RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Eliyanoor, B. 2012. Penuntun Praktikum Farmakognosi : Makroskopik dan Mikroskopik
Edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Herawati, Nuraida, dan Sumarto. 2012. Cara Produksi Simplisia yang Baik Bogor: Seafast.
MenKes. 2009. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 261 tentang Farmakope Herbal Edisi
Pertama. Jakarta: Kementrian Kesehatan.
Ningsih, I. Y. 2016. Studi Etnofarmasi Penggunaan Tumbuhan Obat oleh Suku Tengger di
Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Pharmacy: Jurnal Farmasi
Indonesia 13(1):10-20.
Supardi, S., Herman, M. J., & Yuniar, Y. 2011. Penggunaan Jamu Buatan Sendiri di
Indonesia (Analisis Data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010). Buletin Penelitian
Sistem Kesehatan 14(4) : 375–381.
Syifa, N., Sihdianto, A. D., Herjuno, A., & Salash, A. F. 2011. Studi Etnofarmasi Etnis
Using Banyuwangi Indonesia. Farmasains: Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan
1(2):1-5.
Buku Petunjuk Praktikum Farmakognosi 2019
59
Download
Study collections