Uploaded by User36749

Askep Kasus Endokarditis fix

advertisement
Tugas : Keperawatan Medikal Bedah Lanjut I
Dosen: Syahrul Ningrat, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp. KMB
.
ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN INFLAMASI
DAN STRUKTUR JANTUNG DENGAN PENDEKATAN
TEORI VIRGINIA HENDERSON
Oleh:
MUHAMMAD ASRY
(R012191009)
WAHYUNI ARNI
(R012191011)
HARDIANTY
(R012191013)
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
1|Page
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah Subhanahu Wa
Ta’ala yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan inayahnya, sehingga penulis
mampu menyelesaikan makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Gangguan
Inflamasi dan Struktur Jantung dengan Pendekatan Teori Virginia Henderson”
sebagai tugas dan syarat untuk memenuhi mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah
Lanjut I pada Program Studi Magister Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin.
Penulis juga menyadari tanpa adanya bantuan dan partisipasi dari berbagai
pihak baik keluarga, pembimbing, maupun teman sejawat, makalah ini tidak mungkin
dapat terselesaikan seperti yang diharapkan. Untuk itu, penulis menyampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu khususnya kepada pembimbing.
Penulis menyadari laporan ini jauh dari kesempurnaan sehingga penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca untuk memperbaiki makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberi manfaat kepada penulis dan pembaca.
Makassar, November 2019
Penulis
2|Page
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
1
KATA PENGANTAR
2
DAFTAR ISI
3
BAB I. PENDAHULUAN
4
A. Latar Belakang Masalah
4
B. Rumusan Masalah
5
C. Tujuan Penulisan Makalah
5
BAB II. KAJIAN PUSTAKA
6
A. Peritonitis
6
B. Teori Keperawatan Virgina Henderson
9
BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN
15
A. Pengkajian
16
B. Diagnosa Keperawatan
33
C. Rencana Keperawatan
22
D. Implementasi Keperawatan
35
E. Evaluasi Keperawatan
22
F. Evidence Based Practice
46
BAB V. PENUTUP
48
A. SIMPULAN
48
B. SARAN
48
DAFTAR PUSTAKA
49
3|Page
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
. Jantung adalah salah satu organ vital manusia yang terletak di dalam rongga
dada. Organ ini memiliki fungsi yang sangat besar bagi kelangsungan hidup manusia.
Jantung berperan dalam sistem sirkulasi dan berfungsi sebagai alat pemompa darah.
Kontraksi dan relaksasi yang teratur dari otot-otot jantung memungkinkan darah yang
mengandung banyak oksigen dari paru-paru dipompakan ke seluruh tubuh dan darah
yang berasal dari seluruh tubuh dipompakan ke dalam paru-paru pada saat yang
bersamaan. Mekanisme ini berlangsung terus-menerus dan memungkinkan jaringan
tubuh kita mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi yang dibawa oleh darah untuk
proses metabolisme tubuh. Fungsi jantung yang sangat penting dan berkaitan erat
dengan organ-organ lain dalam tubuh, apabila dalam kerjanya jantung mendapatkan
masalah tentu akan menggangu fungsi tubuh yang lain juga.
Penyakit Endokarditis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi
mikroorganisme pada endokard atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya
terjadi pada jantung yang telah mengalami kerusakan. Penyakit ini didahului dengan
endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan, maupun penyakit jantung
yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri
sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh
bakteri saja, tetapi bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus,
dan lain-lain.
Etiologi Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans
yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum
ditemuklan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis infeksi disebabkan oleh
strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 %
penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab
lain dari infeksi endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang
4|Page
menyebabkan infeksi endokarditis subakut. Penyebab lainnya adalah streptokokus
fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan
kandida.
Faktor-faktor predisposisi dan faktor pencetus. Faktor predisposisi diawali
dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung rematik,
penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps
katub mitral,post operasi jantung miokarduopati hipertrof obstruksi.
Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain
pada gigi dan mulut, kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan
radang saluran pernapasan.
Endokarditis merupaka peradangan pada katup dan permukaan endotel
jantung karditis bersifat endokarditis rematik di sebabkan langsung karena demam
rematik merupakan penyakit sistemik karena infeksi streptokokus.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan beberapa rumusan
masalah yaitu:
1. Bagaimana konsep penyakit Endokarditis?
2. Teori apa yang dapat digunakan dalam asuhan keperawatan penyakit
endokarditis?
3. Bagaimana aplikasi teori keperawatan dalam asuhan keperawatan penyakit
endokarditis?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk memaparkan konsep penyakit
2. Untuk memaparkan teori keperawatan yang dapat digunakan dalam asuhan
penyakit peritonitis.
3. Untuk memaparkan aplikasi teori keperawatan dalam asuhan keperawatan
pada pasien peritonitis
5|Page
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Peritonitis
1.
Endokarditis infektif
a. Pengertian
Endokarditis infektif adalah penyakit infeksi oleh mikroorganisme dengan
suatu kondisi inflamasi pada endocardium terutama pada katup jantung.
Penyebabnya bisa bermacam – macam selain bakteri antara lain : karena
jamur, virus,dan bisa juga disebabkan oleh penyakit Jantung bawaan
maupun penyakit jantung bawaan (Noer & Senarto, 2002). Sementara
menurut(J. M. Black & Hawks, 2014) adalah suatu kondisi inflamasi pada
endokardium terutama pada katup.
b. Patofisiologi
Mikroorganisme masuk di aliran darah melalui berbagai cara, proses
kolonisasi terjadi pada endotel, replikasi terjadi dan koloni bakteri
terbentuk di antara lapisan trombosit dan fibrin dan terjerat didalam kedua
lapisan tersebut yang menyebabkan koloni tersebut semakin kurang peka
terhadap mekanisme pertahanan tubuh. Bakteri menstimulasi system imun
humoral untuk menghasilkan antibody nonspesifik, tetapi bakteri
dilindungi oleh agregasi trombosit – fibrin. Vegetasi ini dapat membentuk
yang berpindah ke organ lain membentuk suatu abses. Vegetasi dapat
menyebabkan kerusakan pada katup jantung dengan melakukan perforasi
dan mengubah struktur daun katup. Bakteri dapat menginvasi aorta atau
pericardium. Jumlah kerusakan bergantung pada tipe dan virulensi
organisme yang menyebabkan infeksi
c. Komplikasi : gagal jantung, emboli arterial, infark ginjal, limpa dan otak.
6|Page
d. Manisfestasi Klinis
Menurut (J. M. Black & Hawks, 2014) bahwa manifestasi klinik dari
endokarditis infektif meliputi kondisi yang berhubungan dengan proses
infeksi, murmur jantung, emboli, dan respon imun. Proses infeksi meliputi
: demam, menggigil yang diselingi dengan berkeringat, malaise,
kelemahan, anoreksia, penurunan berat badan, pucat, nyeri punggung,
splenomegali, nyeri kepala, dan nyeri musculoskeletal. Proses murmur
jantung baru dapat terdengar bilamana terdapat penyakit katup
sebelumnya, dan bisa terjadi gagal jantung secara mendadak. Komplikasi
meliputi perforasi daun katup, rupture pada salah satu korda tandinea atau
terjadi stenosis fungsional karena obstruksi aliran darah akibat vegetasi
yang besar. Proses emboli dapat terjadi di seluruh bagian tubuh.
Sementara (Noer & Senarto, 2002) membagi dalam endokarditis infeksi
Subakut dengan gejala :
1) Gejala umum, yang paling sering ditemukan ialah demam terus
menerus secara teratur dan tidak teratur suhu badan 38’ C – 40’ C
terjadi pada sore atau malam hari, disertai menggigil, anemia, terjadi
pembesaran hati dan limpa.
2) Gejala emboli dan vaskuler
Petekie biasanya timbul pada mukosa tenggorokan, mata dan juga
pada semua bagian kulit dan berubah kecoklatan sampai menghilang
pada masa penyembuhan. Emboli yang timbul di bawah kuku jari
tangan dan kaki berbentuk linier ( splinter hemorrhage ). Lesi yang
lebih spesifik dimana terdapat penonjolan kulit berwarna kebiruan,
biasa juga berwarna merah jambuh di bagian dalam jari. Lesi atau
emboli infeksius pada kulit bisa menjadi abses. Emboli besar bisa
menyangkut di otak sehingga bisa menimbulkan hemiplegia atau
gangguan saraf sentral lainnya. Bilamana emboli menyangkut di arteri
koroner akan menyebabkan infark miokard akut, emboli yang
7|Page
menyangkut di paru akan menyebabkan sesak nafas, sakit dada, batuk
kadang campur darah. Limpa sering membesar bilamana hal ini sudah
berlansung lama, tidak nyeri tekan, namun bisa terjadi infark limpa
dengan sakit perut tiba – tiba dibagian kiri atas, nyeri tekan.
3) Gagal jantung.
Gagal jantung terjadi pada stadium akhir endokarditis infektif sub akut
yang sering terjadi pada insufisiensi aorta dan insufisiensi mitral. Pada
fase sub akut ini biasanya di dahului dengan kelainan katup jantung,
atau kelainan bawaan
e. Endokarditis Infektif Akut
Endokarditis infektif akut lebih sering terjadi pada jantung normal
sehingga perlu mengenal perubahan jantung dari yang normal ke
abnormal. Bila endokarditis mengenai aorta akan terdengan bising
diastolic yang panjang dan lemah serta bunyi jantung pertama yang lemah.
Infeksi aorta dapat menjalar ke septuminterventrikuler dan menimbulkan
abses yang bisa pecah dapat menimbulkan AV blok, infeksi katup mitral
bisa menjalar ke otot papilaris dan menyebabkan rupture hingga terjad
flail katup mitral
f. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium

Leukosit, Hb, LED, Imunoglobulin, gammaglobulin, bilirubin

Urine

Pembiakan microorganism darah.
Pemeriksaan jantung :

EKG untuk mencari infark yang disebabkan oleh emboli atau
vegetasi pada arteri koronaria dan gangguan hantaran yang
disebabkan endokarditis.

8|Page
Ekokardiografi :

Melihat vegetasi pada katup aorta, terutama vegetasi
yang besar lebih dari 5 mm.

Melihat dilatasi atau hipertrofi atrium atau ventrikel
yang progresif.

Mencari prolaps mitral, fibrosis dan klasifikasi mitral.

Penutupan katup mitral yang lebih dini menunjukkan
adanya destruksi katup aorta.

Pemeriksaan Rontgen
B. Teori keperawatan Virginia Henderson
Henderson mengutarakan bahwa perawat memiliki peran yang unik yakni
membantu individu baik dalam keadaan sehat maupun sakit melalui implementasi
berbagai aktivitas sehingga mampu mendukung kesehatan maupun penyembuhan
pasien serta proses meninggal dengan damai (Mcewen & Wills, 2011). Dalam
teori tersebut, henderson juga menjelaskan bahwa tujuan dari teori tersebut adalah
pasien memeroleh kemandirian dan kebebasan. Tujuan tersebut dapat tercapai
jika perawat memiliki kemampuan dalam mengkaji, menganalisis, mengobservasi
dan bertindak agar bisa membantu pasien dalam proses penyembuhan atau
pemulihan. Perawat dituntut untuk memiliki tanggung jawab dalam memenuhi
kebutuhan kesehatan pasien serta menyediakan lingkungan yang kondusif untuk
memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan orang lain (Parker, 2001). Teori defenisi
keperawatan tersebut dia dasarkan atas keyakinan terhadap empat komponen
yakni manusia, keperawatan, lingkungan dan kesehatan.
a. Manusia
Secara epistemologi, Henderson berpendapat bahwa manusia adalah makhluk
yang unik dan tidak ada yang memiliki kebutuhan dasar yang sama yang
dalam pemenuhannya membutuhkan orang lain. Manusia dalam melewati
perkembangan rentang kehidupan memerlukan bantuan orang lain guna
9|Page
memeroleh kesehatan, kebebasan dan kematian yang damai. Ia juga melihat
bahwa pikiran dan tubuh manusia adalah satu komponen yang tidak dapat
dipisahkan. Oleh sebab itu Ia membagi kebutuhan dasar manusia itu menjadi
14 komponen penanganan perawatan yang diklasifikasikan menjadi 4 kategori
yakni komponen kebutuhan biologis, psikologis, sosiologis, dan spiritual
(Ferrari, Rodrigues, Baldissera, Pelloso, & Carreira, 2014). Hal ini sejalan
dengan kebutuhan dasar manusia yang tertuang dalam Hierarki Maslow
(Younas Ahtisham & Jacoline, 2015). Adapun keempat kategori tersebut
dirincikan sebagai berikut:
1) Kebutuhan Biologis
a) Bernapas secara normal.
b) Makan dan minum dengan cukup
c) Membuang kotoran tubuh.
d) Bergerak dan menjaga posisi yang diinginkan.
e) Tidur dan istirahat.
f) Memilih pakaian yang sesuai.
g) Menjaga
suhu
tubuh
tetap
dalam
batas
normal
dengan
menyesuaikan pakaian dan mengubah lingkungan.
h) Menjaga tubuh tetap bersih dan terawat serta melindungi
integumen.
i) Menghindari bahaya lingkungan yang bisa melukai.
2) Kebutuhan Psikologis
j) Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengungkapkan emosi,
kebutuhan, rasa takut, atau pendapat.
k) Belajar mengetahui atau memuaskan rasa penasaran yang
menuntun pada perkembangan normal dan kesehatan serta
menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia.
3) Kebutuhan Sosiologis
l) Bekerja dengan tata cara yang mengandung unsur prestasi.
10 | P a g e
m) Bermain atau terlibat dalam berbagai kegiatan rekreasi.
4) Spiritual
n) Beribadah sesuai dengan keyakinan.
b. Keperawatan
Dalam menjalankan fungsinya penanganan keperawatan didasari oleh 14
kebutuhan dasar manusia (independence). Untuk membantu individu yang
sakit maupun sehat untuk mendapatkan kembali pemulihannya yang
tujuannya ialah kebebasan.
Sebagai tenaga professional perawat dituntut harus memiliki pendekatan
dengan pasien agar mendukung dalam proses memberikan pelayanan,maka
dalam melayani pasien terbentuklah suatu hubungan antara perawat dengan
pasiennya. Menurut Henderson, ada tiga tingkatan hubungan ketergantungan
pasien dengan perawat dari yang sangat bergantung hingga mendapatkan
kembali kemandirian pasien.diantaranya yaitu :
1) Perawat sebagai pengganti (substitute) bagi pasien. Peran ini dijalankan
oleh perawat ketika berhadapan dengan pasien yang mengalami
penurunan kekuatan fisik, kemampuan maupun kemauan pasien. Artinya,
perawat berperan memenuhi kekurangan pasien dan melengkapinya
hingga masa gawat berlalu dan beralih ke masa pemulihan
2) Perawat sebagai penolong (helper) bagi pasien. Peran ini dilakukan oleh
perawat guna membantu pasien memeroleh kembali kemandiriannya
setelah pasien berada pada masa pemulihan meskipun kemandirian yang
dimiliki masih bersifat relatif
3) Perawat sebagi mitra (partner) bagi pasien. Sebagai mitra (partner)
perawat dan pasien bersama-sama merumuskan rencana perawatan
kesehatan pasien walaupun mengalami dugaan yang berbeda tetap saja
pasien memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi hanya saja
kebutuhan dasar yang dimaksud dipengaruh oleh kondisi patologis dan
faktor lainnya seperti lingkungan, usia, dan budaya.
11 | P a g e
Menurut Henderson, tugas perawat membantu pasien dalam melakukan
manajemen kesehatan saat tidak ada dokter dan Ia tidak menyetujui akan
filosofi bahwa seorang dokter boleh memberi perintah kepada pasien atau
tenaga kesehatan lainnya dan ia juga mengatakan bahwa perawat tidak boleh
selalu tunduk mengikuti perintah dokter. Rencana keperawatan yang telah
disusun oleh perawat dan pasien harus dijalankan dengan optimal, agar dapat
diobservasi untuk membatu pengobatan yang akan ditentukan oleh dokter
(Parker, 2001).
c. Sehat
Dalam mendapatkan kesehatan manusia perlu memiliki kesadaran dan
pengetahuan dalam meningkatkan kualitas hidup lebih baik yang menjadi
dasar manusia berfungsi bagi kemanusiaan karena mencegah
lebih baik
daripada mengobati penyakit. Agar manusia mendapatkan kesehatannya maka
diperlukan kemandirian dan saling ketergantungan
d. Lingkungan
Lingkungan adalah salah satu yang harus di perhatikan karena lingkungan
sekitar adalah cerminan pola kehidupan manusia dan merupakan faktor yang
memiliki pengaruh besar bagi kesehatan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan aspek lingkungan:
a)
Individu yang sehat mampu mengontrol lingkungan mereka, namun
kondisi sakit akan menghambat kemampuan tersebut.
b)
Perawat harus mampu melindungi klien dari cedera mekanis.
c)
Perawat harus memiliki pengetahuan tentang keamanan lingkungan.
d)
Dokter menggunakan hasil observasi dan penilaian perawat sebagai dasar
dalam memberikan resep.
e)
Perawat harus tahu tentang kebiasaan sosial dan praktik keagamaan
f)
Dalam pemberian layanan kepada klien, terjalin hubungan antara perawat
dan klien (Ginger & Ascp, 2011).
12 | P a g e
C. Aplikasi teori Defenisi Keperawatan
Penekanan teori Henderson yaitu pada kebutuhan dasar manusia
sebagai fokus utama dari praktik keperawatan (DeLaune & Ladner, 2011).
Filosofi dari Henderson mudah diaplikasikan dalam berbagai situasi
pelayanan keperawatan mulai dari unit rawat jalan hingga ruang perawatan
intensif (B. P. Black, 2014). Berikut penjelasan aplikasi teori Virginia
Henderson dalam pemberian asuhan keperawatan.
a. Pengkajian
Perawat melakukan pengkajian keperawatan kepada klien berdasarkan 14
komponen kebutuhan dasar (Alligood, 2017).
b. Diagnosa Keperawatan
Penegakan diagnosis keperawatan berdasarkan masalah yang didapatkan
pada saat melakukan pengkajian terhadap 14 kebutuhan dasar yang telah
dijabarkan di atas (Dermawan, 2013).
Selanjutnya untuk menyusun
prioritas diagnosis keperawatan harus dilakukan analisis yang mendalam
dari 14 kebutuhan dasar menurut Henderson (Y Ahtisham & Jacoline,
2015)
c. Perencanaan
Menurut Henderson, dalam menyusun intervensi keperawatan perawat
memiliki tanggung jawab untuk menilai kebutuhan klien, dan perawat
harus mengidentifikasi kemampuan klien untuk melakukan aktivitas tanpa
bantuan ataupun dengan bantuan dalam memenuhi kebutuhannya sendiri
dengan mempertimbangkan kekuatan klien dan pengetahuan klien (Vera,
2014)
d. Implementasi
Pelaksanaan rencana keperawatan merupakan sebuah tahap dalam proses
keperawatan yang menciptakan tantangan yang berbeda dari pengkajian
dan perencanaan. Pada dasarnya implementasi berarti melaksanakan
rencana keperawatan melalui tindakan keperawatan. Faktor-faktor yang
13 | P a g e
mempengaruhi implementasi keperawatan tidak hanya terkait dengan
kualitas dari tahap pengkajian dan perencanaan tapi juga sistem asuhan
keperawatan yang diberikan dan sumber daya yang tersedia. Intinya
adalah keberhasilan dalam implementasi keperawatan tergantung pada
pengkajian awal, kualitas dari rencana asuhan keperawatan dan
pengorganisasian pemberian asuhan keperawatan serta pemberian
tindakan keperawatan yang kompeten. Selain itu, juga memerlukan
dukungan dan keterlibatan dari tim kesehatan lainnya (Hall & Dawn,
2009).
e. Evaluasi
Dalam melakukan evaluasi keperawatan kita harus merujuk pada tujuan
dan kriteria hasil yang telah ditetapkan sebelumnya, melakukan penilaian
terhadap respon verbal dan non verbal dari klien setelah kita melakukan
implementasi, dan bila ada temuan atau data baru yang muncul kita dapat
merujuk ke tim kesehatan lain sesuai dengan kompetensinya (Dermawan,
2013).
14 | P a g e
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN ENDOKARDITIS
A. Kasus
J .F. adalah ibu rumah tangga yang sudah menikah berusia 50 tahun dengan
defisiensi autoimun genetik; dia menderita endokarditis infektif recurrent.
Episode terbaru adalah infeksi Staphylococcus aureus pada katup mitral 16 bulan
lalu dan
infeksi Streptococcus viridans pada katup aorta 1 bulan yang lalu.
Selama rawat inap yang terakhir ini, ekokardiogram menunjukkan stenosis aorta
moderat, insufisiensi aorta moderat , vegetasi katup kronis, dan pembesaran
atrium kiri moderat. Dua tahun lalu, JF
menerima kursus parenteral nutrisi selama 18 bulan untuk malnutrisi yang
disebabkan oleh idiopatik, tanpa henti mual dan muntah (N / V). Dia juga
menderita penyakit arteri koroner selama beberapa tahun dan, 2 tahun yang lalu,
menderita infark miokard dinding anterior akut (MI). Selain itu, ia memiliki
riwayat nyeri sendi kronis. Sekarang , setelah berada di rumah hanya selama
seminggu, JF kembali masuk rumah sakit dengan endokarditis, N / V, dan gagal
ginjal. Sejak kemarin, dia muntah dan muntah terus-menerus; dia juga menderita
kedinginan, demam, kelelahan, nyeri sendi, dan sakit kepala. Setelah dilakukan
proses anamnesis, JF nampak memakai kacamata dan gigi palsu. Akses intravena
diperoleh dengan jalur kateter sentral double lumen yang dimasukkan secara
perifer (PICC)
Rencana perawatan dan pengobatan yang akan dilakukan pada Ny. JF antara lain :
-
Pemeriksaan kultur darah (aerob dan anaerob)
-
Pemeriksaan elektrolit
-
Pemberian nutrisi parenteral (PN) pada 85 mL / jam
-
Penicillin 2 juta unit IV piggyback q4h
-
Furosemide (Lasix) 80 mg / hari PO
-
Amlodipine (Norvasc) 5 mg / hari PO
15 | P a g e
-
Potassium chloride (K-Dur) 40 mEq / hari PO
-
Metoprolol (Lopressor) 25 mg PO
-
Prochlorperazine (Compazine) 5 mg IV push prn untuk N / V e
-
chocardiogram Transesophageal ASAP P
-
Pengkajian saat diterima antara lain Tekanan darah 152/48 (terlentang) dan
100 / 40 (duduk), Denyut nadi 116 denyut / menit, Laju pernapasan 22 napas /
mnt , Suhu 38 , Berorientasi tapi mengantuk, murmur holosistolik Kelas II /
VI dan murmur diastolik grade III / VI yang dicatat pada auskultasi Paru-paru
jelas, Perut bilateral dengan kelembutan sedikit kiri kuadran (LUQ), nampak
beberapa petekie pada kulit lengan, kaki.
-
Hasil Laboratorium Na 138 mEq / LK 3,9 mEq / L Cl 103 mEq / L BUN 85
mg / dL Kreatinin 3,9 mg / dL Glukosa 165 mg / dL WBC 6700 / mm 3 Hct
27% Hgb 9,0 g
-
JF memiliki suami bapak F yang mendukung dan dua anak perempuan yang
tinggal di dekatnya yang dapat berfungsi sebagai pengasuh ketika JF
dipulangkan. Mereka, bersama dengan pasien, akan membutuhkan pengajaran
tentang endokarditis.
B. Pengkajian
I. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny. J.F
Umur
: 50 Tahun
Status perkawinan
: Kawin
Pendidikan terakhir
:-
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
:
Golongan darah
:
Diagnosa medis
: Endokarditis Infektif Rekkurent + Gagal Ginjal
16 | P a g e
II. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan utama
: mual, muntah terus menerus
2. Riwayat keluhan utama : mual, muntah dialami sejak satu hari sebelum
masuk rumah sakit. Awalnya klien mengalami kurang nafsu makan, lalu
sakit kepala, merasa pusing lalu mual dan akhirnya muntah terus menerus.
3. Riwayat kesehatan masa lalu :
a. Kebiasaan (merokok, obat-obatan, alcohol) : tidak ada kebiasaan
merokok, obat-obatan dan alkohohol
b. Penyakit yang pernah dialami : infeksi Staphylococcus aureus pada
katup mitral 16 bulan lalu dan
infeksi Streptococcus viridans pada
katup aorta 1 bulan yang lalu. Klien juga memiliki riwayat penyakit
arteri koroner selama beberapa tahun dan, 2 tahun lalu memiliki
riwayat penyakit infark miokard dinding anterior akut (MI). Klien
pernah
dirawat
sebelumnya
dengan
kasus
ekokardiogram
menunjukkan stenosis aorta moderat, insufisiensi aorta, vegetasi katup
kronis, dan sedang pembesaran atrium kiri. Riwayat nyeri sendi kronis
c. Riwayat pengobatan : dua tahun lalu, JF menerima kursus parenteral
nutrisi selama 18 bulan untuk malnutrisi yang disebabkan oleh
idiopatik, tanpa henti nausea dan muntah.
d. Riwayat alergi : tidak ada
e. Riwayat infeksi : tidak ada
f. Riwayat penyakit keluarga : tidak ada
III. PENGKAJIAN 14 KEBUTUHAN DASAR MANUSIA (VIRGINIA
HANDERSON)
1. Pengkajian 14 Kebutuhan Dasar Manusia
1.
Pola Oksigenasi
Keluhan : tidak ada keluhan sesak nafas
17 | P a g e
Pemeriksaan fisik :
Inspeksi :
 Airway :
Sumbatan ( ) bersih(√ ) Lain-lain :
 Pengembangan dada :
Maksimal (√) tidak ( ) Lain-lain :
 Bentuk dada :
Simetris (√) burung ( ) Lain-lain :
 Frekuensi :
Nafas : 22 x/menit
Jantung : 116 x/menit
Lain-lain : ......
 Irama/irama :
Teratur (√ ) tidak ( )
 Kedalaman :
Dalam (√ ) dangkal ( )
 Sifat pernafasan :
Dada (√) perut ( ) keduanya ( )
(dada/perut/keduanya)
 Kulit daerah dada :
Kemerahan ( ) lebam ( ) Lain-lain : tidak
ada keluhan
 Reflek batuk :
Ada (√) tidak ada ( )
Palpasi :
 Keadaan kulit :
Kasar (√ ) halus ( )
 Kesimetrisan :
Simetris (√ ) asimetris ( )
 Kelainan : (nyeri,
Nyeri ( ) radang ( ) masa ( )
masa, radang,dll)
 Taktil Fremitus :
Getaran sama (√) kanan ( ) kiri ( )
Perkusi :
Redup ( ) di.....
Resonan ( ) di......
Hiperesonan ( ) di .....
Sonor ( ) di....
Pekak ( ) di....
Auskultasi :
Paru : Vesikuler ( ) di....
Brokovesikuler ( ) di....
18 | P a g e
Bronkial ( ) di....
Trakheal ( ) di....
Rales ( ) ronchi ( ) friction rub ( )
wheezing ( )
Jantung : S1 (√) S2 (√ ) S3 (√ )
Bunyi tambahan lain : Murmur holosistolik
grade II / VI dan murmur diastolik grade
III / VI
Data Penunjang :
Rontsen : tidak ada
Lain-lain :
ekokardiogram menunjukkan stenosis aorta
moderat, insufisiensi aorta sedang ,
vegetasi katup kronis, dan sedang
pembesaran atrium kiri
2.
Pola Nutrisi
Keluhan : mual, muntah terus menerus
Pemeriksaan Fisik :
Inspeksi :
Organ terkait Sistem
Cerna
19 | P a g e
Mulut :
Normal ( √) tidak ( ) Lain-lain :
 Palatum :
Normal (√) tidak ( ) Lain-lain:
 Bibir :
Normal (√) tidak ( ) Lain-lain:
 Lidah :
Normal (√) karies ( ) tanggal ( ) Lain-lain:
 Gigi :
Normal ( ) tidak ( ) Lain-lain: gigi palsu
 Mukosa :
Lembab ( ) kering (√ ) Lain-lain:
 Abdomen :
Datar ( ) cembung ( ) Lain-lain:
Jenis Diet :
Cair (√ ) bubur ( ) nasi ( ) Lain-lain:
Porsi makan :
¼ (√ ) ½ ( ) 1 ( ) >1 ( )
Frekuensi :(Bisa
< 3x (√ ) =3x ( ) >3x ( )
subjektif/objektif)
Palpasi :
Organ terkait Sistem
Cerna
 Abdomen :
Normal ( √) masa ( ) nyeri ( ) Lain-lain :
Perut lunak dengan tenderness sedikit kiri
kuadran (LUQ)
Perkusi abdomen:
Timpani ( ), di....
Dullness ( ), di....
Hiperesonan ( ), di....
Flat ( ), di....
Auskultasi/peristaltik :
10 x/menit
Data Penunjang :
 Laboratorium :
 USG :
Antropometri :
BB : 46 kg
TB : 153 cm
IMT 19,6
3.
Pola Eliminasi
Keluhan :
20 | P a g e
Pemeriksaan Fisik :
Inspeksi :
 Abdomen
Datar ( √) cembung ( ) Lain-lain :
tenderness
Palpasi :
 Abdomen
Normal (√ ) masa ( -) nyeri (- ) Lain-lain :
Perkusi :
Timpani (+ ), di....
 Abdomen
Dullness (-), di....
Hiperesonan (- ), di....
Flat (- ), di....
Auskultasi :
 Bising usus
10 x/menit
Data Penunjang :
Laboratorium :
4.
Pola Aktivitas
Keluhan : kelelahan, mengantuk
Pemeriksaan Fisik :
Tanda Vital
TD : 152/48 mmHg (terlentang),
100/40 mmHg (duduk)
RR : 22x/menit
N : 116 x/menit
S : 38
Skala aktivitas :
1. Mandiri
21 | P a g e
1 ( ) 2 (√ ) 3 ( ) 4 ( ) 5 ( )
2. Memerlukan bantuan dan
pengawasan orang lain
3. Memerlukan
bantuan/pengawasan/bimbingan
sederhana
4. Memerlukan bantuan dan
pengawasan orang lain dan alat
bantuan
5. Tergantung secara total
Skala Mobilitas :
0 ( ) 1 ( ) 2 ( √) 3 ( ) 4 ( )
Tingkat 0 : mampu merawat diri
sendiri secara penuh
Tingkat 1 : memerlukan penggunaan
alat
Tingkat 2 : perlu bantuan/pengawasan
org lain
Tingkat 3 : perlu bantuan, pengawasan
org lain & peralatan
Tingkat 4 : sangat tergantung &
tidak dapat melalukan/ berpartisipasi
dalam perawatan
Kekuatan otot :
0=Paralisis total
1=Tidak ada gerakan, teraba/terlihat
adanya kontraksi
2=Gerakan otot penuh menentang
gravitasi, dengan sokongan
22 | P a g e
0 ( ) 1 ( ) 2 ( ) 3 ( ) 4 (√ ) 5 ( )
3=Gerakan
normal
menentang
gravitasi
4=Gerakan normal penuh menentang
gravitasi dengan sedikit tahanan
5=Gerakan normal penuh menentang
gravitasi dengan tahanan penuh
Data Penunjang :
Ronsten :
Lain-lain :
5.
Pola Istirahat dan Tidur
Keluhan : kelelahan
Pemeriksaan Fisik :
Lingkaran hitam di
Ada ( ) tidak ada (√ )
kelopak mata :
Waktu tidur :
 Siang :
<1 jam ( ) >1 jam ( √) Lain-lain:
 Malam :
<6 jam ( √) > 6 jam ( ) Lain-lain :
Lain-lain :
Sering terbangun ( √) nyenyak ( ) :
Alasan : bising ( ) nyeri ( ) cemas (√ ) Lainlain :
6.
Kebutuhan Berpakaian
Keluhan : tidak ada keluhan
Berapa kali berganti pakaian/hari : 3x/hari
7.
Mempertahankan temperatur tubuh
23 | P a g e
Keluhan : demam, kedinginan
Suhu :
Normal ( ) hipotermi ( ) hipertermi (√ ), ket
: 380C
Akral :
Hangat (√ ) dingin ( )
Turgor :
Elastis ( ) turun (√ )
Mukosa :
Lembab ( ) kering (√ )
Data Penunjang
Laboratorium :
8.
Personal Higiene
Keluhan :
Inspeksi kebersihan
badan:
 Rambut :
Bersih ( √) kotor ( ) Lain-lain :
 Mulut :
Bersih (√ ) kotor ( ) Lain-lain :
 Telinga :
Bersih (√ ) kotor ( ) Lain-lain :
 Genetalia :
Bersih (√ ) kotor ( ) Lain-lain :
 Kulit :
Bersih (√ ) kotor ( ) Lain-lain : Beberapa
petekie pada kulit lengan, kaki, kering
 Kuku :
Bersih (√ ) kotor ( ) Lain-lain :
Frekuensi :
 Mandi/hari :
Tidak pernah ( ) <2x ( ) 2x (√ ) >2x ( )
 Gosok gigi/hari :
Tidak pernah ( ) <2x ( ) 2x (√ ) >2x ( )
 Keramas/minggu :
Tidak pernah ( ) <2x ( ) 2x ( ) >2x (√ )
 Memotong kuku/
Tidak pernah ( √) <2x ( ) 2x ( ) >2x ( )
minggu:
 Mengganti pakaian
24 | P a g e
kotor/hari :
Tidak pernah ( ) <2x ( ) 2x (√ ) >2x ( )
Lain-lain :
9.
Kebutuhan Aman dan Nyaman
Keluhan : nyeri sendi, dan sakit kepala
P: peradangan pada sendi
Q: rasa tertusuk-tusuk
R: lutut kiri intermitten
S: 8 atau 9 dari 10 (nyeri berat)
T: saat bergerak
Pemeriksaan TTV : Suhu 37,9, Tekanan Darah, Respirasi Rate 22x/menit,
Nadi116x/menit
10. Komunikasi
Keluhan :
Pemeriksaan fisik terkait
organ komunikasi :
Mata :
I:
Normal ( √) juling ( ) Lain-lain :
P:
menggunakan kaca mata
Visus/ketajaman :
Normal (√ ) nyeri ( ) Lain-lain :
Lapang pandang :
Normal ( ) miopi ( √) presbiopi Lain-lain :
Tes buta warna :
Normal (√ ) jauh ( ) dekat ( ) Lain-lain :
Normal ( ) buta warna ( ) Lain-lain :
Telinga :
I:
25 | P a g e
Bersih (√ ) kotor ( ) Lain-lain :
P:
Normal (√ ) masa ( ) nyeri ( ) Lain-lain :
Pemeriksaan bisikan
Normal (√ ) tidak mampu mendengar ( )
Arloji :
Normal (√ ) tidak mampu mendengar ( )
Garpu tala :
Normal (√ ) tidak mampu mendengar ( )
Mulut :
I:
Bersih (√ ) kotor ( ) Lain-lain :
P:
Normal (√ ) masa ( ) nyeri ( ) Lain-lain :
Bicara :
Normal (√ ) pelo ( ) Lain-lain :
Persyarafan :
Normal ( √
Nervus 1-12
) abnormal ( ) di....
Klien tampak hati-
Ya ( ) tidak (√ )
hati dalam berbicara
Apakah pola komunikasi
Spontan (√ ) lambat ( )
nya
Apakah klien menolak u
Ya ( ) tidak (√ )
ntuk diajak komunikasi
Apakah
Ya (√ ) tidak ( )
komunikasi klien jelas
Apakah klien mengguna
Ya ( ) tidak (√ )
kan bahasa isyarat
Apakah tipe kepribadian
Terbuka (√ ) tertutup ( )
klien
11. Pola Spiritual
Data
Keluhan :
Kebutuhan untuk
26 | P a g e
Terpenuhi ( √) tidak terpenuhi ( )
beribadah
Masalah-masalah dalam
Tidak ada (√ ) tidak mampu bangun untu
pemenuhan kebutuhan s
shalat ( ) Lain-lain :
piritual ?
Upaya untuk mengatasi
Berdoa (√ ) Lain-lain :
masalah
pemenuhan kebutuhan
spiritual ?
Lain-lain :
12. Pola Kerja / kebutuhan bekerja
Keluhan :
Pekerjaan :
Swasta ( ) pegawai ( ) petani ( ) Lain-lain :
ibu rumah tangga
Waktu bekerja :
Terpenuhi ( ) tidak terpenuhi ( )
Lain-lain :
13. Kebutuhan bermain dan Rekreasi
Keluhan :
kelelahan
Kegiatan
Membaca (√ ) jalan-jalan ( ) mendengar
bermain/rekreasi :
musik ( ) Lain-lain :
Waktu :
Terpenuhi ( ) tidak terpenuhi ( √)
Lain-lain :
27 | P a g e
14. Kebutuhan Belajar
Keluhan :
Kebutuhan belajar
Terpenuhi ( ) tidak terpenuhi (√ )
tentang :penyakit,
pengaturan dan
pemenuhan nutrisi
Lain-lain :
IV. Pemeriksaan Laboratorium
a. Hematologi
1. WBC
: 6700/mm3
2. HCT
: 27%
3. Hb
: 9.0 gram/dl
b. Kimia darah
1. Glukosa
GDS
: 165 mg/dl
2. Fungsi ginjal
Ureum
: 85 mg/dl (10-50)
Kreatinin
: 3,9 mg/dl (
BUN
: 85 mg/dL
3. Fungsi hati
SGOT
: 24 U/L
SGPT
: 26 U/L
4. Elektrolit
28 | P a g e
Natrium
: 138 mmol/l (135-145)
Kalium
: 3,9 mmol/l (3,5-5,1)
Klorida
: 103 mmol/l (97-111)
Kesan : Azotemia
V. Pemeriksaan Diagnostik
a. Ekokardiogram : stenosis aorta moderat, insufisiensi aorta sedang,
vegetasi katup kronis
VI. Terapi
-
Nutrisi Parenteral (PN) 85 ml/jam
-
Penicilin 2 juta unit IV piggyback q4h
-
Furosemid (Lasix) 80 mg/hari PO
-
Amplodipine (Norvasc) 5 mg/hari PO
-
Pottasium chloride (K-Dur) 40 meq/hari PO
-
Metoprolol (Lopressor) 25 mg PO
VII.
RENCANA PEMERIKSAAN
a. Kultur Darah (aerob dan anaerob)
b. Periksa Darah Lengkap
c. Urinalisa
d. Echokardiografi
e. Rontgen Thorax
B. Analisa Data
No. Data Subjektif
1.
Klien
muntah,
mengeluh
muntah
29 | P a g e
Data Objektif
mual, 
Tanda Vital
terus TD : 152/48 mmHg (terlentang),
Masalah Keperawatan
Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang dari kebutuhan
menerus,
frekuensi
kelelahan, 100/40 mmHg (duduk)
makan
dalam RR : 22x/menit
sehari < 3 kali
N : 116 x/menit
S : 38

Perut lunak dengan tenderness
sedikit kiri kuadran (LUQ)

Membran mukosa bibir kering

HCT

Hb

Ureum
: 27%
: 9.0 gram/dl
: 85 mg/dl
(10-50)

Kreatinin : 3,9 mg/dl

BUN : 85 mg/dL

BB : 46 kg
TB : 153 cm
IMT 19,6

2.

Klien
kedinginan,
mengeluh 
Menggunakan gigi palsu
Tanda-tanda vital
Hipertermi
demam, TD : 152/48 mmHg (terlentang),
kelelahan
100/40 mmHg (duduk)
RR : 22x/menit
N : 116 x/menit
S : 38
Beberapa peteki di kulit tangan
dan kaki
3.
Klien mengeluh kelelahan
30 | P a g e

Tanda Vital
Intoleransi Aktivitas
TD : 152/48 mmHg (terlentang),
100/40 mmHg (duduk)
RR : 22x/menit
N : 116 x/menit
S : 38

HCT
: 27%

Hb
: 9.0 gram/dl

Ureum
: 85 mg/dl (10-50)

Kreatinin : 3,9 mg/dl
Ekokardiografi : stenosis aorta
moderat, insufisiensi aorta sedang,
vegetasi katup kronis
4.
Klien mengeluh nyeri sendi, TD : 152/48 mmHg (terlentang),
sakit kepala
100/40 mmHg (duduk)
P: peradangan pada sendi
RR : 22x/menit
Q: rasa tertusuk-tusuk
N : 116 x/menit
R: lutut kiri intermitten
S : 38
Nyeri kronis
S: 8 atau 9 dari 10 (nyeri
berat)
T: saat bergerak
Riwayat infeksi
5.
Klien mengeluh kelelahan
Riwayat
coroner
penyakit
selama

arteri 
beberapa 
tahun, dan dua tahun lalu
HCT
Hb
Ureum
: 27%
: 9.0 gram/dl
: 85 mg/dl
(10-50)
miokard  Kreatinin : 3,9 mg/dl
dinding anterior akut (MI)
Ekokardiogram : stenosis aorta
riwayat
infark
31 | P a g e
Penurunan curah jantung
moderat, insufisiensi aorta sedang,
vegetasi katup kronis
Bunyi jantung : Murmur
holosystolic grade II/VI, murmur
diastolic grade III/VI
6.
Kebutuhan belajar tentang Kebutuhan belajar tidak terpenuhi
Kurang pengetahuan
:penyakit, pengaturan dan
pemenuhan nutrisi
C. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia berhubungan dengan peradangan endocardium
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
3. Nyeri kronis berhubungan dengan respons inflamasi pada sendi
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
ketidakmampuan mengabsorpsi makanan
5. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
32 | P a g e
Infeksi Staphylococcus aureus pada
katup mitral, infeksi Streptococcus
viridans pada katup aorta
Port The Entry
Saluran nafas atas, alat genitalia, saluran cerna,
pembuluh darah, kulit dan prosedur invasif
Complemen type III sensitivity reaction
dalam aliran darah (Autogenus Antigen)
Menempel pada membrane sel endocard
termasuk katup jantung
Endokarditis
Immune reaction
Reaksi Inflamasi
Akumulasi monosit, makrofag, sel
T helper dan fibroblas
Fibrosis/kalsifikasi katup (kaku, tebal,
annulus menyempit)
Antigen
Tubuh membentuk
antibody
Peradangan pada
persendian
Peradangan pada
membrane sinovial
Pelepasan mediator
nyeri (histamin,
bradykinin,
prostaglandin
Pelepasan pyrogen endogen
(sitokin)
Stenosis katup
Interleukin-1
Interleukin-6
Nyeri kronis
Aliran darah atrium ke ventrikel
terhambat
Merangsang saraf
vagus
Inadekuat pengisian ventrikel
Sinyal
mencapai
system saraf
pusat
Asam arakidonat
merangsag
prostaglandin
pada hipotalamus
Cardiac output menurun
Penurunan curah jantung
Ketidakseimbangan
kebutuhan dan suplai oksigen
Intoleransi
Aktivitas
Ketidakseimbangan
kebutuhan dan suplai oksigen
Kurang terpapar
informasi
Kurang
Pengetahuan
33 | P a g e
Peningkatan titik
patokan suhu (set
point)
Peningkatan suhu
tubuh, mengigil,
nyeri kepala
Hipertermi
Kelemahan
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan
Mual, anoreksia
Peningkatan opiod
endogenus
Merangsang medulla
oblongata
Kompensasi saraf
simpatis
GI tract
Kerja lambung
meningkat
HCL meningkat
Intervensi Keperawatan
No
1
DiagnosaKeperawatan
Hipertermi
Dengan
Endocardium
Nursing Outcome Classsification
Nursing Intervention Classification
(Moorhead, Marion, Maas, &
(Bulechek, Butcher, Dochterman, &
Elizabeth, 2013)
Wagner, 2013)
Berhubungan NOC :
Peradangan
Fever treatment
Thermoregulation
1. Monitor suhu sesering mungkin
Kriteria hasil :
2. Monitor IWL
1. Suhu tubuh dalam rentang norma
3. Monitor warna dan suhu kulit
2. Nadi dan RR dalam rentang 4. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
normal
5. Monitor
3. Tidak ada perubahan warna kulit
dan tidak ada pusing
penurunan
tingkat
kesadaran
6. Monitor WBC, Hb, dan Hct
7. Monitor intake dan output
8.
Berikan anti piretik
9. Berikan
pengobatan
untuk
mengatasi penyebab demam
10. Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
11. Lakukan tapid sponge
34 | P a g e
12. Kolaborasi
pemberian
cairan
intravena
13. Kompres pasien pada lipat paha dan
aksila
14. Tingkatkan sirkulasi udara
15. Temperature regulation
16. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
17. Rencanakan monitoring suhu secara
kontinyu
18. Monitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi
19. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
Vital sign Monitoring
1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
2. Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
3. Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk atau berdiri
35 | P a g e
4. Auskultasi TD pada kedua lengan
dan bandingkan
5. Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
6. Monitor kualitas dari nadi
7. Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
8. Monitor suara paru
9. Monitor pola pernapasan abnormal
10. Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
11. Monitor sianosis perifer
12. Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
13. Identifikasi penyebab dari
perubahan Vital sign
36 | P a g e
2.
Intoleran
aktivitas NOC :
berhubungan
ketidakseimbangan
suplai
oksigen
Manajemen Energy
dengan

Self Care : ADLs
antara

Toleransi aktivitas
penghematan energi (duduk saat
dan

Konservasi energi
gosok gigi, atau menyisir rambut)
1. Instruksikan pasien tentang tekhnik
kebutuhan.
dan melakukan aktivitas dengan
perlahan
Kriteria Hasil :
1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik 2. Dorong pasien melakukan akivitas
tanpa disertai peningkatan tekanan
secara bertahap
3. Peningkatan keterlibatan keluarga
darah, nadi dan RR
2. Mampu melakukan aktivitas sehari 4. Bangun hubungan pribadi dengan
pasien dan anggota keluarga yang
hari (ADLs) secara mandiri
3. Keseimbangan
istirahat
aktivitas
dan
terlibat dalam perawatan pasien
5. Identifikasi kemampuan anggota
keluarga untuk terlibat dalam
perawatan pasien
6. Tentukan tingkat ketergantungan
pasien pada anggota keluarga, yang
sesuai untuk usia atau penyakit
7. Informasikan faktor-faktor yang
37 | P a g e
dapat meningkatkan kondisi pasien
pada anggota keluarga
3.
Nyeri
dengan
kronis
berhubungan NOC
respons
pada sendi
inflamasi
 Pain Level,
 Pain control
Monitor vital sign:
1. Monitor tekanan darah, nadi, suhu,
dan status pernapasan dengan tepat
 Comfort level
38 | P a g e
Kriteria Hasil :
Manajemen Nyeri
1. Klien mampu mengontrol nyeri
1. Observasi
adanya
petunjuk
(tahu penyebab nyeri, mampu
nonverbal
mengenai
menggunakan tehnik
ketidaknyamanan
nonfarmakologi untuk mengurangi
mereka
nyeri, mencari bantuan)
berkomunikasi secara efektif
yang
terutama
pada
tidak
dapat
2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang 2. Kurangi atau eliminasi faktor-faktor
dengan menggunakan manajemen
yang
nyeri
meningkatkan nyeri (kelelahan)
3. Mampu mengenali nyeri (skala,
dapat
mencetuskan
atau
3. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen
intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri nonfarmakologis (misalnya
nyeri)
relaksasi
4. Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang
nafas
dikombinasikan
dalam
dengan
terapi
pemberian
obat
musik)
4. Kolaborasi
analgesik
4.
Ketidakseimbangan
Kurang
Dari
berhubungan
Nutrisi NOC
Kebutuhan
dengan
ketidakmampuan
mengabsorbsi makanan
Nutrition Management
 Nutritional Status
1. Kaji adanya alergi makanan
 Nutritional Status : food and 2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan
Fluid Intake
 Nutritional
Status:
nutrient
Intake
 Weight control
Kriteria Hasil :
1. Adanya peningkatan berat badan
39 | P a g e
jumlah
kalori
dan
nutrisi yang dibutuhkan pasien.
3. Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan intake Fe
4. Anjurkan
pasien
untuk
meningkatkan protein dan vitamin C
sesuai dengan tujuan
5. Yakinkan
2. Berat badan ideal sesuai dengan
tinggi badan
diet
mengandung
yang
tinggi
dimakan
serat
untuk
mencegah konstipasi
3. Mampu
mengidentifikasi 6. Berikan
kebutuhan nutrisi
makanan
yang
terpilih
(sudah dikonsultasikan dengan ahli
4. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
gizi)
5. Menunjukkan peningkatan fungsi 7. Ajarkan pasien bagaimana membuat
pengecapan dan menelan
6. Tidak
terjadi
penurunan
badan yang berarti
catatan makanan harian.
berat 8. Monitor
jumlah
nutrisi
dan
kandungan kalori
9. Berikan
informasi
tentang
kebutuhan nutrisi
10. Kaji
kemampuan
mendapatkan
pasien
nutrisi
untuk
yang
dibutuhkan
Nutrition Monitoring
1. BB pasien dalam batas normal
2. Monitor adanya penurunan berat
40 | P a g e
badan
3. Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
4. Monitor
interaksi
anak
atau
orangtua selama makan
5. Monitor lingkungan selama makan
6. Jadwalkan
pengobatan
dan
perubahan pigmentasi
7. Monitor turgor kulit
8. Monitor kekeringan, rambut kusam,
dan mudah patah
9. Monitor mual dan muntah
10. Monitor
kadar
albumin,
total
protein, Hb, dan kadar Ht
11. Monitor
pertumbuhan
dan
perkembangan
12. Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
13. Monitor kalori dan intake nutrisi
41 | P a g e
14. Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
15. Catat jika lidah berwarna magenta,
scarlet
5.
Penurunan
curah
jantung NOC :
Monitoring Tanda Vital
dengan

Cardiac Pump effectiveness
perubahan dalam preload atau

Circulation Status.
hipotensi atau hipertensi, laju
peningkatan tekanan atrium

Vital Sign Status
pernapasan
dan kongesti vena.

Tissue perfusion: perifer
berhubungan
1. Kaji tekanan darah untuk mengetahui
2. Kaji denyut jantung dan irama
Criteria hasil:
jantung, amati adanya takikardi, atau
1. Tanda Vital dalam rentang normal
distritmia
(Tekanan darah, Nadi, respirasi)
3. Pantau irama jantung sesuai indikasi
2. Dapat mentoleransi aktivitas, tidak 4. Auskultasi denyut jantung dan amati
adakah suara jantung seperti murmur,
ada kelelahan
3. Menunjukkan penurunan episode
dispnea, nyeri dada dan dispnea
S3, S4
Perawatan Jantung Akut
4. Tidak ada edema paru, perifer, dan 1. Tingkatkan tirah baring dengan
kepala tempat tidur ditinggikan 45
tidak ada asites
42 | P a g e
5. Tidak ada penurunan kesadaran
6. AGD dalam batas normal
derajat
2. Bantu dengan aktivitas sesuai indikasi
Tidak ada distensi vena leher
(mis.berjalan) bila mampu pasien
turun dari tempat tidur.
3. Halth education : manfaat pola hidup
sehat
6
Kurang
pengetahuan NOC :
1. Berikan penilaian tentang tingkat
berhubungan dengan kurang 
Knowledge : disease process
pengetahuan pasien tentang proses
informasi 
Knowledge : health Behavior
penyakit yang spesifik
terpapar
pada
tentang penyakit jantung
2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit
KriteriaHasil :
dan bagaimana hal ini berhubungan
1. Pasien dan keluarga menyatakan
dengan anatomi dan fisiologi, dengan
pemahaman
tentang
penyakit,
cara yang tepat.
kondisi, prognosis dan program 3. Gambarkan tanda dan gejala yang
biasa muncul pada penyakit, dengan
pengobatan.
2. Pasien
dan
melaksanakan
keluarga
prosedur
dijelaskan secara benar
43 | P a g e
mampu
cara yang tepat
yang 4. Gambarkan proses penyakit, dengan
cara yang tepat
3. Pasien
dan
keluarga
mampu 5. Identifikasi kemungkinan penyebab,
menjelaskan kembali apa yang
dengan cara yang tepat
dijelaskan perawat/tim kesehatan 6. Sediakan informasi pada pasien
lainnya
tentang kondisi, dengan cara yang
tepat
7. Sediakan bagi keluarga informasi
tentang kemajuan pasien dengan cara
yang tepat
8. Diskusikan perubahan gaya hidup
yang
44 | P a g e
EVINDENCE BASED NURSING
1. Management Considerations in Infective Endocarditis A Review
PENTING Endokarditis infektif terjadi pada sekitar 15 dari 100.000 orang di
Australia Amerika Serikat dan insidensinya meningkat. Dokter harus
membuat keputusan pengobatan menghormati profilaksis, manajemen bedah,
antibiotik spesifik, dan lamanya pengobatan dalam pengaturan temuan
penelitian klinis yang muncul, terkadang tidak meyakinkan.
PENGAMATAN Endokarditis infektif yang berhubungan dengan komunitas
tetap menjadi bentuk utama penyakit; Namun, perawatan kesehatan
menyumbang sepertiga dari kasus di negara-negara berpenghasilan tinggi.
Sebagai intervensi medis semakin banyak dilakukan pada pasien yang lebih
tua, insiden penyakit dari perangkat elektronik implan jantung juga
meningkat. Selain itu, pasien yang lebih muda terlibat dengan penggunaan
obat intravena telah meningkat dalam dekade terakhir dan dengannya
proporsi rawat inap AS telah meningkat menjadi lebih dari 10%. Ini
epidemiologis faktor-faktor telah menyebabkan Staphylococcus aureus
menjadi penyebab paling umum pada berpenghasilan tinggi negara, terhitung
hingga 40% dari kasus. Andalan diagnosis masih ekokardiografi dan kultur
darah. Pencitraan ajuvan seperti jantung dihitung pencitraan tomografi dan
nuklir dapat meningkatkan sensitivitas diagnosis saat ekokardiografi tidak
konklusif. Studi serologis, histopatologi, dan polymerase tes reaksi berantai
memiliki peran berbeda dalam diagnosis endokarditis infektif ketika darah
budaya telah diuji negatif dengan hasil tertinggi yang diperoleh dari studi
serologis. Peningkatan resistensi antibiotik, terutama pada S aureus, telah
menyebabkan kebutuhan akan perbedaan pilihan pengobatan antibiotik
seperti antibiotik baru dan rejimen terapi kombinasi. Pembedahan dapat
memberikan manfaat bertahan hidup bagi pasien dengan komplikasi besar;
namun demikian keputusan untuk mengejar operasi harus menyeimbangkan
risiko dan manfaat operasi dalam hal ini pasien yang sering berisiko tinggi.
45 | P a g e
KESIMPULAN
DAN
RELEVANSI
Epidemiologi
dan
manajemen
endokarditis infektif terus berubah. Pedoman memberikan rekomendasi
spesifik tentang manajemen; Namun, perhatian yang cermat terhadap
karakteristik pasien individu, patogen, dan risiko gejala sisa harus
dipertimbangkan ketika membuat keputusan terapeutik.
46 | P a g e
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Endokarditis infektif adalah penyakit infeksi oleh mikroorganisme dengan
suatu kondisi inflamasi pada endocardium terutama pada katup jantung.
Penyebabnya bisa bermacam – macam selain bakteri antara lain : karena
jamur, virus,dan bisa juga disebabkan oleh penyakit Jantung bawaan maupun
penyakit jantung bawaan
2. Henderson mengutarakan bahwa perawat memiliki peran yang unik yakni
membantu individu baik dalam keadaan sehat maupun sakit melalui
implementasi berbagai aktivitas sehingga mampu mendukung kesehatan
maupun penyembuhan pasien serta proses meninggal dengan damai
B. SARAN
1. Dalam melakukan pengkajian pada klien yang mengalami gangguan
endocarditis diperlukan penggunaan data focus daan spesifik
2. Untuk memperoleh data focus diperhatikan format baku yang mampu
mengkaji semua system pada gangguan endocarditis.
47 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Ahtisham, Y, & Jacoline, S. (2015). Integrating Nursing Theory and Process in to
Practice ; Virginia"s Hendeson Need Theory. International Journal of Caring
Sciences, 8 (2), 443–450.
Alligood, R. M. (2017). Pakar Teori Keperawatan dan Karya Mereka (8th ed.; Y. S.
A. Hamid & K. Ibrahim, eds.). Singapura: Elsevier.
Black, B. P. (2014). Proffesional Nursing : Consepts and Challenges (7th ed.).
Missouri: Elsevier Saunders.
Black, J. M., & Hawks, J. H. (2014). Keperawatan Medikal Bedah (8th ed.). jakarta:
Salemba Medika.
Bulechek, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2013).
Nursing Intervention Classification (NIC) (Edisi Keen; I. Nurjannah & R. D.
Tumanggor, eds.). United Kingdom: Elsevier.
DeLaune, S. C., & Ladner, P. K. (2011). Fundamentals of Nursing : Standars and
Practice (4th ed.). New York: Delmar.
Dermawan, D. (2013). Pengantar Keperawatan Profesional (1st ed.). Yogyakarta:
Gosyen Publishing.
Ferrari, R. F. R., Rodrigues, D. M. M. R., Baldissera, V. D. A., Pelloso, S. M., &
Carreira, L. (2014). Applicability of the Virginia Henderson Theory for
Foundations in Nursing Weaknesses and Potential. Arquivos de Ciências Da
Saúde Da UNIPAR, 18(1), 51–57.
Ginger, T., & Ascp, M. T. (2011). Virginia Henderson"s Principles and Practice of
Nursing to Applied to Organ Donation After Brain Death.
Hall, C., & Dawn, R. (2009). What Is Nursing? Exploring Theory and Practice.
Exeter: Learning Matters.
Mcewen, M., & Wills, E. M. (2011). Theoretical Basis in Nursing. In Lippincott
Williams & Wilkins (3rd ed.). Philadelpia.
48 | P a g e
Moorhead, S., Marion, J., Maas, M. L., & Elizabeth, S. (2013). Nursing Outcones
Classification (NOC) (Edisi Keli; I. Nurjannah & R. D. Tumanggor, eds.).
United Kingdom: Elsevier.
Noer, S., & Senarto. (2002). Buku AjarIlmu Penyakit Dalam (3rd ed.; S. Noer, ed.).
jakarta: Balai penerbit FKUI.
Parker, M. (2001). Nursing Theories and Nursing Practice. In F. A. Davis Company.
Philadelphia.
Vera, M. (2014). Virginia Henderson"s Nursing Need Theory.
49 | P a g e
Download