GANGGUAN SISTEM PERNAPASAN Kelompok II Muh. Faisal Dg. Munir Hernawati Meri PENDAHULUAN Respirasi adalah pertukaran gas, yaitu oksigen (O2) yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel dan karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari tubuh melalui paru. STRUKTUR SISTEM RESPIRASI 1. Saluran nafas bagian atas Pada bagian ini udara yang masuk ke tubuh dihangatkan, disaring dan dilembabkan. 2. Saluran nafas bagian bawah Bagian ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas ke alveoli Fungsi Respirasi & Non Respirasi 1. Respirasi : pertukaran gas O² dan CO² 2. Keseimbangan asam basa 3. Keseimbangan cairan 4. Keseimbangan suhu tubuh 5. Membantu venous return darah ke atrium kanan selama fase inspirasi 6. Endokrin : keseimbangan bahan vaso aktif, histamine, serotonin, ECF dan angiotensin 7. Perlindungan terhadap infeksi: makrofag yang akan membunuh bakteri Transpor oksigen 1. Hemoglobin Oksigen dalam darah diangkut dalam dua bentuk: - Kelarutan fisik dalam plasma - Ikatan kimiawi dengan hemoglobin Ikatan hemoglobin dengan tergantung pada saturasi O2, jumlahnya dipengaruhi oleh pH darah dan suhu tubuh. Setiap penurunan pH dan kenaikkan suhu tubuh mengakibatkan ikatan hemoglobin dan O2 menurun. 2. Oksigen content Jumlah oksigen yang dibawa oleh darah dikenal sebagai oksigen content (Ca O2 ) - Plasma - Hemoglobin Pemeriksaan Fungsi Paru Kegunaan: untuk mendiagnostik adanya : sesak nafas, sianosis, sindrom bronkitis Indikasi klinik: - Kelainan jalan nafas paru,pleura dan dinding toraks - Payah jantung kanan dan kiri - Diagnostik pra bedah toraks dan abdomen - Penyakit-penyakit neuromuskuler - Usia lebih dari 55 tahun. KASUS GAWAT DARURAT Pada Sistem Pernapasan Tension Pneumotorak Gagal Nafas Akut Asma Bronkhial Asma Bronkhial Asma adalah penyakit paru dengan ciri khas yaitu saluran nafas sangat mudah bereaksi terhadap rangsangan atau pencetus dengan manifestasi berupa serangan astma. Kelainan yang didapatkan adalah otot bronkus yang mengkerut (penyempitan), selaput lendir bronkus edema dan produksi lendir makin banyak, lengket dan kental. Sehingga terjadi penyempitan bronkus, batuk dan sesak nafas ( Ngastiyah, 1997) Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor pencetus timbulnya serangan astma bronchial disamping ada factor genetic yang ada sm patient. Alergi Perubahan cuaca Stress Lingkungan kerja Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat Patofisiologi Obstruksi saluran nafas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronchus, sumbatan mucus, edema dan imflamasi dinding bronchus. Obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisiologis saluran nafas menyempit pada fase tersebut. Hal ini mengakibatkan udara distal tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi. Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu Pathway Manifestasi Klinis Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah : sesak nafas mengi ( whezing ) batuk pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Pemeriksaan Penunjang • Spirometri • Uji provokasi bronkus • Pemeriksaan sputum • Pemeriksaan cosinofit total • Uji kulit • Pemeriksaan kadar IgE total dan IgE spesifik dalam sputum • Foto dada • Analisis gas darah Komplikasi Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah : I. Status asmatikus yaitu astma dengan intensitas tinggi dan tidak respon dengan obat-obat konfensional II. Atelektasis pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru akibat penyumbatan saluran udara III. Hipoksemia IV. Pneumothoraks suatu keadaan dimana terdapat udara bebas dalam ruang antar pleura V. Emfisema adalah melebarnya secara abnormal saluran udara bagian distal bronhkus terminal yang disertai kerusakan dinding alveolus. Gagal Nafas Akut Gagal nafas akut Gagal nafas yang timbul pada pasien yang paru-parunya normal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Gagal nafas adalah kegagalan system pernafasan untuk mempertahankan pertukaran O2 dan CO2 dalam tubuh yang dapat mengakibatkan gangguan pada kehidupan (Heri Rokhaeni, dkk, 2001) Etiologi Depresi sistem saraf pusat Kelainan neurologis primer Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks Trauma Penyakit akut paru Patofisiologi Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana masing masing mempunyai pengertian yang bebrbeda. Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunya normal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara).Pasien mengalalmi toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru-paru kembali kekeasaan asalnya. Pada gagal nafas kronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel. Pathway Manifestasi Klinis Tanda Gagal nafas total Gagal nafas parsial Gejala Hiperkapnia Hipoksemia Pemeriksaan Penunjang Pemerikasan gas-gas darah arteri Pemeriksaan rontgen dada EKG Komplikasi Paru: emboli paru, fibrosis dan komplikasi sekunder penggunaan ventilator (seperti, emfisema kutis dan pneumothoraks). Jantung: cor pulmonale, hipotensi, penurunan kardiak output, aritmia, perikarditis dan infark miokard akut. Tension Pneumotorak Tension pneumothoraks adalah pengumpulan/penimbunan udara di ikuti peningkatan tekanan di dalam rongga pleura. Kondisi ini terjadi bila salah satu rongga paru terluka, sehingga udara masuk ke rongga pleura dan udara tidak bisa keluar secara alami. Kondisi ini bisa dengan cepat menyebabkan terjadinya insufisiensi pernapasan, kolaps kardiovaskuler, dan, akhirnya, kematian jika tidak dikenali dan ditangani. Etiologi Etiologi Tension Pneumotoraks yang paling sering terjadi adalah karena iatrogenik atau berhubungan dengan trauma. Yaitu sebagai berikut: 1. Etiologi Tension Pneumotoraks yang paling sering terjadi adalah karena iatrogenik atau berhubungan dengan trauma. Yaitu sebagai berikut: 2. Komplikasi ventilator, pneumothoraks spontan, Pneumotoraks sederhana ke Tension Pneumotoraks. Patofisiologi Tension pneumotoraks terjadi ketika adanya gangguan yang melibatkan pleura visceral, parietal, atau cabang trakeobronkial. Gangguan terjadi ketika terbentuk katup 1 arah, yang memungkinkan udara masuk ke rongga pleura tapi tidak memungkinkan bagi keluarnya udara. Volume udara ini meningkat setiap kali inspirasi karena efek katup 1 arah. Akibatnya, tekanan meningkat pada hemitoraks yang terkena. Saat tekanan naik, paru ipsilateral kolaps dan menyebabkan hipoksia. Pathway Manifestasi Klinis Menurut Boshwick tanda dan gejala pada Tension Pneumothorax yaitu: Manifestasi awal : nyeri dada, dispnea, ansietas, takipnea, takikardi, hipersonor dinding dada dan tidak ada suara napas pada sisi yang sakit. Manifestasi lanjut : tingkat kesadaran menurun, trachea bergeser menuju ke sisi kontralateral, hipotensi, pembesaran pembuluh darah leher/ vena jugularis (tidak ada jika pasien sangat hipotensi) dan sianosis (Boshwick, 1997). Pemeriksaan Penunjang 1. Foto rontgen 2. Analisa Gas Darah 3. CT-scan Thorax 4. USG Komplikasi a. Gagal napas akut (3-5%) b. Komplikasi tube torakostomi lesi pada nervus interkostales c. Henti jantung-paru d. Infeksi sekunder dari penggunaan WSD e. Syok ASUHAN KEPERAWATAN SYSTEM PERNAFASAN Pengkajian Anamnesa • Biodata pasien • Keluhan Utama • Riwayat penyakit saat ini • Riwayat penyakit dahulu • Riwayat penyakit keluarga • Riwayat pekerjaan dan gaya hidup Pemeriksaan fisik • • • • Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Pemeriksaan diagnostik • Metode morfologis • Metode fisiologis Diagnosa Keperawatan 1 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas Ketidakefektifan pola nafas 2 Gangguan pertukaran gas 3 4 5 6 7 Fungsi pernafasan, resiko ketidakefektifan Disfungsi respon penyapihan ventilator Risiko disfungsi respon penyapihan ventilator Gangguan ventilasi spontan Intervensi Keperawatan Dx 1: Ketidakefektifan Bersihan jalan nafas Kriteria hasil NOC: Setelah dilakukan tindakan …x24 jam maka di harapkan : • Menunjukkan bersihan jalan napas yang efektif yang dibuktikan oleh, pencegahan aspirasi, status pernapasan: ventilasi tidak terganggu dan status pernapasan: kepatenan jalan napas • Menunjukkan status pernapasan: kepatenan jalan napas, yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut:gangguan eksterm, berat, sedang, ringan, tidak ada gangguan Intervensi (NIC): • Manajemen jalan napas; memfasilitasi kepatenan jalan napas • Pengisapan jalan napas; mengeluarkan secret jalan napas dengan cara memasukkan kateter pengisap kedalam jalan napas oral atau trakea pasien • Kewaspadaan aspirasi; mencegah atau meminimalkan factor resiko pada pasien yang berisiko terhadap aspirasi • Manajemen asma; mengidentifikasi, mengobati, dan mencegah reaksi inflamasi dijalan napas • Pengaturan posisi; mengubah posisi pasien atau bagian tubuh pasien secara sengaja untuk memfasilitasi kesejahteraan fisiologis dan psikologis • Bantuan ventilasi; meningkatkan pola napas spontan yang optimal, yang memaksimakan pertukaran oksigen dan karbondioksida dalam paru Dx 2: Ketidakefektifan pola nafas Kriteria Hasil NOC Setelah dilakukan tindakan ..x24 jam maka di harapkan : • Memiliki frekuensi pernapasan dalam batas normal dibandingkan nilai dasar • Mengekspresikan redanya pearsaan sesak napas • Menyebutkan factor penyebab , berikut cara mencegah dan mengatasi • Pola nafas efektif • Bunyi nafas normal atau bersih • TTV dalam batas normal • Batuk berkurang • Ekspansi paru mengembang Intervensi (NIC): • Monitor suara nafas dan pergerakan ada secara teratur • Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal. • Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti krekels, wheezing. • Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. • Observasi pola batuk dan karakter sekret. • Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk. Dx 3:Gangguan pertukaran gas Kriteria Hasil: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam, pasien mempunyai status pernapasan: pertukaran gas tidak akan terganggu dibuktikan dengan: • Status neurologis dalam rentang yang diharapkan • Dispnea pada saat istirahat dan aktivitas tidak ada • PaO2, PaCO2, pH arteri dan SaO2 dalam batas normal • tidak ada gelisah, sianosis, dan keletihan Intervensi NIC • Kaji bunyi paru, frekuensi napas,kedalaman dan usaha napas serta produksi sputum • Pantau saturasi O2 dengan oksimeter nadi • Pantau hasil gas darah (misal PaO2 yang rendah, PaCO2 yang meningkat, kemunduran tingkat respirasi) • Pantau kadar elektrolit • Pantau status mental • Peningkatan frekuensi pemantauan pada saat pasien tampak somnolen • Observasi terhadap sianosis, terutama membran mukosa mulut • Identifikasi kebutuhan pasien akan insersi jalan napas aktual/potensial • Auskultasi bunyi napas, tandai area penurunan atau hilangnya ventilasi dan adanya bunyi tambahan • Pantau status pernapasan dan oksigenasi Dx 4:Fungsi pernafasan, resiko ketidakefektifan Intervensi : • Tentukan faktor penyebab (nyeri, lemah, gangguan neuromuskular, kurangnya motivasi seperti nafas dalam dan batuk, penurunan tingkat kesadaran, pengobatan, kelembapan yang tidak adekuat) • Hilangkan atau kurangi faktor penyebab jika memungkinkan • Kaji adanya penurunan nyeri yang optimal dengan periode kelelahan atau depresi pernafasan yang minimal. • Koordinasikan program pemberian obat dengan aktivitas yang terencana. • Pastikan kelembapan udara yang adekuat, sediakan humidifikasi tambahan, kecuali dikontraindikasikan karena penyakit jantung • Variasikan posisi tempat tidur, dengan begitu posisi horizontal dan vertikal toraks akan berubah secara bertahap. • Dorong latihan nafas dalam dan batuk terkontrol lima kali per jam • Ajarkan individu untuk menggunakan botol tiup atau spirometer intensif setiap jam pada saat terjaga. • Pastikan status hidrasi optimal • Pastikan nutrisi pasien terpenuhi secara optimal Dx 5: Disfungsi respon penyapihan ventilator • Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips) • Status respirasi pertukaran gas, ventilasi, dan status tanda vital membaik Status respirasi ventilasi: • Tidak ada tanda gelisah, sianosis dan lemah • Tidak ada penggunaan otot aksesorius pernapasan • Tidak ada retraksi dada • Tidak ada napas pendek dan dipsneu Intervensi NIC: • Weaning ventilasi mekanik • Kaji kesiapan pasien untuk penyapihan. • Bantu pasien untuk membedakan pernapasan spontan dari pernapasan yang dialirkan oleh mesin • Hubungkan kembali pasien dengan ventilator jika pasien masih belum toleran terhadap penyapihan Dx 6: Risiko disfungsi respon penyapihan ventilator • Tujuan umum • Pasien mampu aktif untuk berpartisipasi dalam proses penyapihan. • Tujuan khusus • Setelah dirawat nafas sesuai dengan irama ventilator, volume nafas adekuat, alarm tidak berbunyi • Kriteria Hasil (Linda Jual Carpenitto): • Individu akan: • Memperlihatkan kesediaan untuk memulai penyapihan • Memperlihatkan perilaku positif mengenai kemampuan untuk berhasil Intervensi Keperawatan: • Kaji factor fisik dalam penyapihan (frekuensi jantung, irama stabil, TD, dan bunyi nafas jelas, demam, status nutria dan kekuatan otot) • Meningkatkan laju dan kebutuhan oksigen7%, menentukan kesiapan psikologis • Jelaskan teknik penyapihan ventilator pada klien • Berikan periode tidur/istirahat tanpa diganggu • Evaluasi/catat kemajuan pasien • Kenalkan/ berikan dorongan untuk upaya pasien • Awasi respon terhadap aktivitas • Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai pemenuhan kebutuhan nutrisi • Kolaborasi dengan dokter mengenai pemeriksaan laboratorim, foto dada dan AGD Dx 7: Gangguanventilasi spontan Kriteria hasil: Pasien akan: • Mempunyai tingkat energy dan fungsi otot yang adekuat untuk mendapatkan pernafasan spontan • Menerima nutrisi adekuat sebelum, selama, dan setelah proses penyapihan dari ventilator • Mempunyai nilai gas darah dan saturasi oksigen dalam rentang yang berterima • Menunjukkan status neurologis yang adekuat untuk mempertahankan pernafasan spontan Intervensi keperawatan • Untuk pasien yang membutuhkan jalan napas buatan: pantau letak slang, kaji pengembungan manset setiap empat jam dan saat manset dikempiskan serta dipompa kembali • Ventilasi mekanik (NIC) • Pemantauan Pernafasan (NIC) Terima kasih