Uploaded by kujanisfhia19

MAKALAH GLOBAL KELANGKAAN AIR BERSIH

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Air merupakan unsur yang vital dalam kehidupan manusia. Seseorang tidak dapat
bertahan hidup tanpa air, karena itulah air merupakan salah satu penopang hidup bagi
manusia. Ketersediaan air di dunia ini begitu melimpah ruah, namun yang dapat
dikonsumsi oleh manusia untuk keperluan air minum sangatlah sedikit. Dari total
jumlah air yang ada, hanya lima persen saja yang tersedia sebagai air minum,
sedangkan sisanya adalah air laut. Selain itu, kecenderungan yang terjadi sekarang ini
adalah berkurangnya ketersediaan air bersih itu dari hari ke hari.
Semakin meningkatnya populasi, semakin besar pula kebutuhan akan air minum.
Sehingga ketersediaan air bersih pun semakin berkurang. Seperti yang disampaikan
Jacques Diouf, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), saat
ini penggunaan air di dunia naik dua kali lipat lebih dibandingkan dengan seabad
silam, namun ketersediaannya justru menurun.
Akibatnya, terjadi kelangkaan air yang harus ditanggung oleh lebih dari 40 persen
penduduk bumi. Kondisi ini akan kian parah menjelang tahun 2025 karena 1,8 miliar
orang akan tinggal di kawasan yang mengalami kelangkaan air secara absolut.
Kekurangan air telah berdampak negatif terhadap semua sektor, termasuk kesehatan.
Tanpa akses air minum yang higienis mengakibatkan 3.800 anak meninggal tiap hari
oleh penyakit. Begitu peliknya masalah ini sehingga para ahli berpendapat bahwa
pada suatu saat nanti, akan terjadi “pertarungan” untuk memperbuatkan air bersih ini.
Sama halnya dengan pertarungan untuk memperebutkan sumber energi minyak dan
gas bumi.
Disamping bertambahnya populasi manusia, kerusakan lingkungan merupakan
salah satu penyebab berkurangnya sumber air bersih. Abrasi pantai menyebabkan
rembesan air laut ke daratan, yang pada akhirnya akan mengontaminasi sumber air
bersih yang ada di bawah permukaan tanah. Pembuangan sampah yang sembarang di
sungai juga menyebabkan air sungai menjadi kotor dan tidak sehat untuk digunakan.
Di Indonesia sendiri diperkirakan, 60 persen sungainya, terutama di Sumatera,
Jawa, Bali, dan Sulawesi, tercemar berbagai limbah, mulai dari bahan organik hingga
bakteri coliform dan fecal coli penyebab diare. Menurut data Departemen Kesehatan
tahun 2002 terjadi 5.789 kasus diare yang menyebabkan 94 orang meninggal.
Pembabatan hutan dan penebangan pohon yang mengurangi daya resap tanah
terhadap air turut serta pula dalam menambah berkurangnya asupan air bersih ini.
Selain itu pendistribusian air yang tidak merata juga ikut andil dalam permasalahan
ini.
Berkaitan dengan krisis air ini, diramalkan 2025 nanti hampir dua pertiga
penduduk dunia akan tinggal di daerah-daerah yang mengalami kekurangan air.
Ramalan itu dilansir World Water Assesment Programme (WWAP), bentukan United
Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco). Lembaga itu
menegaskan bahwa krisis air didunia akan memberi dampak yang mengenaskan.
Tidak hanya membangkitkan epidemi penyakit yang merenggut nyawa, tapi juga akan
mengakibatkan bencana kelaparan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Air ?
2. Syarat- syarat Air Bersih ?
3. Apa saja Potensi Air di Dunia ?
4. Apa saja penyebab krisis air bersih ?
5. Apa saja Dampak Krisis Air bersih ?
6. Negara mana saja di dunia yang mengalami kesusahan air bersih ?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari air
2. Untuk mengetahui apa saja syarat-syarat air
3. Untuk mengetahui potensi air di dunia
4. Untuk mengetahui apa penyebab krisis air bersih
5. Untuk mengetahui apa Dampak krisis air bersih
6. Untuk mengetahui negara mana saja yang mengalami kesusahan air bersih
1.4 Manfaat
Pembaca mengetahui banyak informasi tentang air, dan dapat menerapkannya di
kehidupan.
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Air
Air adalah unsur yang memiliki peran paling penting dalam kehidupan setiap
makhluk yang hidup di muka bumi ini. Pernyataan tersebut adalah salah satu
pengertian air secara umum. Secara ilmiah, air bisa diartikan sebagai sebuah senyawa
kimia yang terdiri dari dua unsur, yaitu unsur H2 (hidrogen) yang berikatan dengan
unsur O2 (oksigen) yang kemudian menghasilkan senyawa air (H2O).
Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan di Bumi,.Air
menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4triliun kilometer kubik (330 juta
mil³) tersedia di Bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisanlapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai
awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyekobyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan,
dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara)
menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia.

Sitanala Arsyad : Air adalah senyawa gabungan antara dua atom hydrogen dan
satu atom oksigen menjadi H2

Effendi : Air adalah salah satu sumber energy

Robert J. Kodoatie : Air merupakan material yang membuat kehidupan terjadi di
bumi.

Roestam Sjarief : Air merupakan zat yang paling esensial dibutuhkan oleh
makhluk hidup.

Sayyid Quthb : Air adalah dasar dari suatu kehidupan dan merupakan satu unsur
yang dibutuhkan dalam kehidupan hingga manusia pun sangat menantikan
kedatangannya.

Eko Budi Kuncoro : Air merupakan suatu senyawa kimia sederhana yang terdiri
atas 2 atom hidrogen (H) dan 1 atom Oksigen (O). Air mempunyai ikatan
Hidrogen yang cenderung bersatu padu untuk menentang kekuatan dari luar yang
akan memecahkan ikatan-ikatan ini.
Bambang Agus Murtidjo: Air merupakan substansi yang mempunya ikeistimewaan
sebagai penghantar panas yang sangat baik, sehingga air di dalam tubuh lebih penting
dari makanan.
2.2 Syarat-syarat Air Bersih
Pemerintah telah mengeluarkan Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002
tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum.
Syarat air minum sesuai Permenkes yaitu harus bebas dari bahan-bahan anorganik
dan organik.
Dengan kata lain kualitas air minum harus bebas bakteri, zat kimia, racun, limbah
berbahaya dan lain sebagainya.
Parameter kualitas air minum yang berhubungan langsung dengan kesehatan sesuai
Permenkes tersebut adalah berhubungan dengan mikrobiologi, seperti bakteri E.Coli
dan total koliform.
Yang berhubungan dengan kimia organik berupa arsenik, flourida, kromium,
kadmium, nitrit, sianida dan selenium.
Sedangkan parameter yang tidak langsung berhubungan dengan kesehatan, antara
lain berupa bau, warna, jumlah zat padat terlarut (TDS), kekeruhan, rasa, dan suhu.
Untuk parameter kimiawi berupa aluminium, besi, khlorida, mangan, pH, seng, sulfat,
tembaga, sisa khlor dan ammonia.
2.3 Potensi Air di Dunia
Bumi sebenarnya masih mempunyai banyak persediaan air tetapi hanya sedikit
sekali air yang layak dikonsumsi.
Berdasarkan laporan World Commission On Water, dalam 20 tahun ini, air yang
dibutuhkan untuk konsumsi dunia, baik air minum maupun air untuk mengairi
tanaman, sudah tak cukup lagi. Hanya 2,5 persen saja air di dunia ini yang tidak
mengandung garam. Dan dua pertiga dari jumlah itu terkubur dalam gunung es dan
glasier.
Di dunia secara garis besara total volume air yang ada, air asin dan air tawar adalah
1.385.984.610 km3, terdiri atas (UNESCO, 1978 dalam Chow dkk, 1988 dalam
Kodoatie dan Sjarief, 2005):
Air laut : 1.338.000.000 km3 atau 96,54%
Lainnya (air tawar + asin) : 47.984.610 km3 atau 3.46%
Air asin di luar air laut : 12.995.400 km3 atau 0.93%
Air tawar : 35.029.210 km3 atau 2.53%
2.4 Penyebab dan Dampak Krisis Air Bersih
2.4.1 Perilaku Manusia
Faktor utama krisis air adalah perilaku manusia guna mencukupi kebutuhan hidup
yaitu perubahan tata guna lahan untuk keperluan mencari nafkah dan tempat tinggal.
Sebagian besar masyarakat Indonesia, menyediakan air minum secara mandiri, tetapi
tidak tersedia cukup informasi tepat guna hal hal yang terkait dengan persoalan air,
terutama tentang konservasi dan pentingnya menggunakan air secara bijak.
Masyarakat masih menganggap air sebagai benda sosial. (Kodoatie dalam bukunya
yang berjudul Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu ).
Masyarakat pada umumnya tidak memahami prinsip perlindungan sumber air
minum tingkat rumah tangga, maupun untuk skala lingkungan. Sedangkan sumber air
baku (sungai), difungsikan berbagai macam kegiatan sehari hari, termasuk digunakan
untuk mandi, cuci dan pembuangan kotoran/sampah. Sebagian masyarakat masih
menganggap bahwa air hanya urusan pemerintah atau PDAM saja, sehingga tidak
tergerak untuk mengatasi masalah air minum secara bersama.
Populasi yang terus bertambah dan sebaran penduduk yang tidak merata.
Pemanfaatan sumberdaya air bagi kebutuhan umat manusia semakin hari semakin
meningkat. Hal ini seirama dengan pesatnya pertumbuhan penduduk di dunia, yang
memberikan konsekuensi logis terhadap upaya-upaya pemenuhan kebutuhan
hidupnya. Disatu sisi kebutuhan akan sumberdaya air semakin meningkat pesat dan
disisi lain kerusakan dan pencemaran sumberdaya air semakin meningkat pula sebagai
implikasi industrialisasi dan pertumbuhan populasi yang tidak disertai dengan
penyebaran yang merata sehingga menyebabkan masih tingginya jumlah orang yang
belum terlayani fasilitas air bersih dan sanitasi dasar.
Selain itu meningkatnya jumlah populasi juga berdampak pada sanitasi yang
buruk yang akan berpengaruh besar pada kualitas air. Sekitar 60 rumah di Jakarta
memiliki sumur yang berjarak kurang dari 10 meter dari septic tank. Jumlah septic
tank di Jakarta lebih dari satu juta. Melimpahnya jumlah septic tank yang terus
bertambah tanpa ada regulasi yang baik mengakibatkan pencemaran air tanah dan
membahayakan jutaan penduduk.
2.4.2 Kerusakan Lingkungan
2.4.2.1 Penggundulan Hutan
Kerusakan lingkungan yang makin parah akibat penggundulan hutan merupakan
penyebab utama kekeringan dan kelangkaan air bersih. Kawasan hutan yang selama
ini menjadi daerah tangkapan air (catchment area) telah rusak karena penebangan liar.
Laju kerusakan di semua wilayah sumber air semakin cepat, baik karena
penggundulan di hulu maupun pencemaran di sepanjang DAS. Kondisi itu akan
mengancam fungsi dan potensi wilayah sumber air sebagai penyedia air bersih.
Berdasarkan data di Departemen Kehutanan hingga tahun 2000 saja diketahui
luas lahan kritis yang mengalami kerusakan parah di seluruh Indonesia mencapai
7.956.611 hektare (ha) untuk kawasan hutan dan 14.591.359 ha lahan di luar kawasan
hutan. Sedangkan pada tahun yang sama rehabilitasi atau penanaman kembali yang
dilakukan pemerintah hanya mampu menjangkau 12.952 ha kawasan hutan dan
326.973 ha di luar kawasan hutan.
2.4.2.2 Global Warming
Pemanasan global telah memicu peningkatan suhu bumi yang mengakibatkan
melelehnya es di gunung dan kutub, berkurangnya ketersediaan air, naiknya
permukaan air laut dan dampak buruk lainnya. Seiring dengan semakin panasnya
permukaan bumi, tanah tempat di mana air berada juga akan cepat mengalami
penguapan untuk mempertahankan siklus hidrologi.
Air permukaan juga mengalami penguapan semakin cepat sedangkan balok-balok
salju yang dibutuhkan untuk pengisian kembali persediaan air tawar justru semakin
sedikit dan kecil. Ketika salju mencair tidak menurut musimnya yang benar, maka
yang terjadi bukanlah salju mencair dan mengisi air ke danau, salju justru akan
mengalami penguapan. Danau-danau itu sendiri akan menghadapi masalahnya sendiri
ketika airnya tidak lagi membeku.
Air akan mengalami penguapan yang jauh lebih lambat ketika permukaannya
tertutup es, sehingga ada lebih banyak air yang tersisa dan meresap ke dalam tanah.
Ketika terjadi pembekuan yang lebih sedikit, artinya semakin banyak air yang
dilepaskan ke atmosfir. Maka, ketika gletser yang tersisa dari zaman es mencair
semua, sungai-sungai akan kehilangan sumber air.
2.4.3 Pencemaran Air
Saat ini pencemaran air sungai, danau dan air bawah tanah meningkat dengan
pesat. Sumber pencemaran yang sangat besar berasal dari manusia, dengan jumlah 2
milyar ton sampah per hari, dan diikuti kemudian dengan sektor industri dan
perstisida dan penyuburan pada pertanian (Unesco, 2003). Sehingga memunculkan
prediksi bahwa separuh dari populasi di dunia akan mengalami pencemaran sumbersumber perairan dan juga penyakit berkaitan dengannya.
Hilman Masnellyarti, Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam
dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup
mengungkapkan bahwa kelangkaan air bersih disebabkan pula oleh pencemaran
limbah di sungai. Diperkirakan, 60 persen sungai di Indonesia, terutama di Sumatera,
Jawa, Bali, dan Sulawesi, tercemar berbagai limbah, mulai dari bahan organik hingga
bakteri coliform dan fecal coli penyebab diare.
2.4.4 Manajemen Pengelolaan Air yang kurang baik
Manajemen Pengelolaan Air yang Kurang Baik
2.4.4.1 Kurangnya koordinasi antara institusi terkait
Departemen Pekerjaan Umum bertanggung jawab terhadap infrastruktur air,
Departemen Dalam Negeri mengurusi pentarifan air, Departemen Kehutanan
bertanggung jawab terhadap konservasi sumber daya air, sedangkan masalah kualitas
air oleh Departemen Kesehatan. Banyaknya institusi yang terlibat dan tumpangtindihnya pengambilan kebijakan tentang air oleh berbagai departemen yang ada
ditambah lagi dengan kurangnya koordinasi antara institusi tersebut menyebabkan
kegagalan program pembangunan Indonesia di sektor air.
a) Anggaran yang tidak mencukupi
Menurut Depkes, selama 30 tahun terakhir, anggaran yang dialokasikan untuk
perbaikan sanitasi (termasuk penyediaan air bersih) hanya sekitar 820 juta dolar
AS atau setara Rp 200 per orang per tahun. Padahal kebutuhannya mencapai Rp
470 per rupiah per tahun. Versi Bank Pembangunan Asia perlu RP 50 triliun
untuk mencapai target MDGs 2015 dengan 72,5% penduduk akan terlayani oleh
b) fasilitas air bersih dan sanitasi dasar.
Dalam APBN tahun 2008, anggaran untuk sanitasi itu hanya 1/214 dari anggaran
subsidi BBM. Dari anggaran tersebut terlihat pemerintah belum melihat anggaran
untuk perbaikan sanitasi sebagai investasi tetapi mereka melihatnya sebagai
biaya. Padahal menurut perhitungan WHO dan sejumlah lembaga lain setiap
US$ 1 investasi di sanitasi dan air bersih akan memberikan manfaat ekonomi
sebesar US$ 8 dalam bentuk peningkatan produktivitas dan waktu, berkurangnya
angka kasus penyakit dan kematian.
2.4.4.2 Buruknya Kinerja PAM/PDAM
Air minum perpipaan sebagai sistem pelayanan air minum yang paling ideal
hingga saat ini baru dapat dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat Indonesia. Secara
nasional, cakupan air perpipaan baru sekitar 17%, meliputi 32% di perkotaan dan
6,4% di perdesaan. Pada umumnya PDAM secara rata rata nasional mempunyai
kinerja yang belum memenuhi harapan. Seperti tingkat pelayanan yang rendah (32%),
kehilangan air tinggi (41%), konsumsi air yang rendah (14 m3/bulan/RT).
Sebagian besar PDAM mengalami kendala dalam memberikan pelayanan yang
baik akibat berbagai persoalan, baik aspek teknis (air baku, unit pengolah dan jaringan
distribusi yang sudah tua, tingkat kebocoran, dan lain lain) maupun aspek non teknis
(status kelembagaan PDAM, utang, sulitnya menarik investasi swasta, pengelolaan
yang tidak berprinsip kepengusahaan, tarif tidak full cost recovery, dan lain lain).
Biaya produksi tergantung dari sumber air baku yang digunakan oleh PDAM.
Namun secara umum biaya produksi untuk sernua jenis air baku ternyata lebih tinggi
daripada tarif. PDAM yang menggunakan mata air sebagai sumber air baku, biaya
produksi rata rata Rp 787/m3, sedangkan tarif rata-rata Rp 61 8/m3. PDAM yang
menggunakan mata air, sumur dalam dan sungai sekaligus, biaya produksi rata rata
Rp 1.188/m3 , dan tarif rata rata Rp 1.112/m3. Sedangkan PDAM yang mengandalkan
sungai sebagai sumber air baku, biaya produksi rata rata Rp 1.665/m3 , dan tarif rata
rata Rp 1.175/m3.
PDAM belum mandiri karena campur tangan pemilik (Pemda) dalam manajemen
dan keuangan, cukup membebani PDAM. Sumber daya manusia pengelola PDAM
umumnya kurang profesional sehingga menimbulkan inefisiensi dalam manajemen.
Dari segi keuangan, tarif air saat ini tidak bisa menutup biaya operasi PDAM,
sehingga PDAM mengalami defisit kas, dan tidak mampu lagi menyelesaikan
kewajibannya. PDAM masih mempunyai hutang jangka panjang yang cukup besar
dan tidak terdapat penyelesaian yang memuaskan.
2.5 Dampak Krisis Air Bersih
Krisis air bersih yang berkepanjangan menyebabkan dampak yang buruk pada
segala hal. Dalam masalah kekurangan air, negara-negara miskin paling banyak
merasakan dampaknya. Negara-negara ini membutuhkan air dalam jumlah besar
untuk bidang irigasi, domestik dan industri.
Air adalah kebutuhan mendasar manusia, tanpa air lingkungan akan kering dan
manusia akan mati. Ada beberapa penyebab merebaknya masalah krisis air ini, salah
satunya kegagalan beberapa negara untuk meregulasi, mengatur dan menjaga
kelestarian air, selain itu juga pertumbuhan populasi penduduk yang semakin
meningkat. Sebagai contoh, jumlah penduduk Cina yang mencapai 1,2 miliar saat ini
akan membengkak menjadi 1,5 miliar pada tahun 2030. Berarti permintaan air akan
meningkat sebesar lebih dari 66 persen selama periode itu. Selain itu, penggunaan
sumber air bawah tanah yang tak terbatas juga memicu krisis air.
Selama ini, manusia telah memanfaatkan air sebagai satu-satunya ”benda” yang
tak dapat tergantikan oleh benda lain. Namun usaha untuk penyediaan air bersih
belum banyak dilakukan. Bisa dibayangkan jika manusia di seluruh bumi ini terusmenerus mengonsumsi air tanpa ada yang peduli terhadap kelestariannya.
2.5.1 Dampak Bagi kesehatan
Parahnya masalah ketersediaan air bersih ini menimbulkan masalah yang pelik
pada sektor kesehatan. Setidaknya ada 20-30 jenis penyakit yang disebabkan oleh
mikroorganisme yang hidup dalam air. Penelitian WHO mengenai penyediaan air
bersih dan sanitasi dengan kesehatan, mengemukakan beberapa penyakit lain seperti :
kolera, hepatitis, polimearitis, typoid, disentrin trachoma, scabies, malaria, yellow
fever, dan penyakit cacingan.
2.5.2 Dampak Bagi Ekonomi
Krisis air bersih memberikan dampak pada bidang ekonomi. Disisi lain kondisi
sumber-sumber air semakin parah, khususnya di negara-negara miskin karena
masalah pencemaran dan limbah. Oleh karena itu telah diserukan investasi dalam
pengadaan air oleh AS dan membiarkan sektor swasta untuk menyediakan air atau
privatisasi air. Permasalahan privatisasi air di Indonesia sekarang menjadi lebih rumit
karena hampir semua Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) saat ini dalam kondisi
tidak mampu membayar utang-utangnya. Dalam situasi seperti inilah, maka
privatisasi air seolah-olah merupakan obat mujarab untuk membereskan masalah air
bersih.
Sebenarnya, privatisasi tersebut akan membuat akses masyarakat terhadap air
menjadi terbatas dan mahal. Karena seluruh biaya pengelolaan dan perawatan
jaringan air dan sumber air lainnya bergantung semata pada pemakai dalam bentuk
tarif. Sebenarnya dengan komersialisasi air, mereka yang memiliki uang paling
banyaklah yang akan mendapat air paling banyak. Masyarakat miskin yang tidak
punya uang justru makin sulit mendapat air sehingga banyak orang yang tidak mampu
mendapat air sehat untuk minum
2.6 Negara yang Mengalami Kesusahan Air Bersih
Menurut Liputan6 tahun 2018 :
1. Libya
Sementara di Libya mengalami pergolakan politik, kondisi di negara yang terletak di
Benua Afrika ini juga mengalami krisis air bersih. Padahal, negara ini dikenal tandus
dan membutuhkan pasokan air untuk kehidupan. Sumber air di Libya sulit diakses.
Ditambah perubahan rezim yang bertindak semaunya dan memutus aliran air di
sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Tripoli. Tak hanya masalah air, kekacauan juga
terjadi karena banyak warga hidup tanpa bahan bakar dan makanan.
2. Sahara Barat
Sering digambarkan sebagai gurun karena namanya, negara ini sebenarnya adalah
rumah bagi ribuan pengungsi yang mengalami penderitaan. Hal ini terjadi karena
mereka mengalami kekurangan makanan dan air secara terus menerus. Konflik yang
terjadi di negara ini juga jadi pelopor permasalahan
3. Yaman
Yaman adalah sarang konflik dan titik utama bagi teroris yang berasal dari kawasan
Timur Tengah. Banyak warga di negara ini yang bergantung pada negara lain untuk
mencakup air bersih. Selain karena faktor konflik, negara ini juga memiliki masalah
pasokan air bersih dan sumber air. Pertikaian politik memperumit masalah ini.
Beberapa ahli memproyeksikan ibu kota Sanaa di Yaman akan menjadi kota besar
pertama di dunia yang kehabisan pasokan air.
4. Djibouti
Negara yang terletak di kawasan Afrika Timur ini telah lama menjadi target bantuan
kemanusiaan dari UNICEF dan UNHCR. Salah satu bantuan yang dilakukan oleh
organisasi dunia ini adalah pemberian bantuan air bersih. Iklim yang panas dan juga
insfrastruktur buruk selalu jadi masalah. Tak heran jika ada sejumlah orang yang
meninggal lantaran kondisi ini.
Lalu, pada tahun 2019 bertambah satu negara ;
5. Yordania
Yordania berada dalam posisi yang tidak menguntungkan karena berada di Timur
Tengah yang gersang dan terpecah secara politik. Negara ini harus sangat bergantung
pada sumber daya air alami sendiri, yaitu Laut Mati dan Sungai Yordan. Karena
peningkatan desertifikasi dan populasi yang meningkat, sumber air kian menipis.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Air adalah kebutuhan penting bagi makhluk hidup. Manusia pasti membutuhkan
air untuk bertahan hidup. Supaya tetap sehat pastinya manusia lebih banyak
menggunakan air bersih dibanfing air kotor. Tetapi, air bersih ini tidak akan
selamanya tersedia, lama-lama akan habis digunakan oleh manusia dan makhluk
hidup lainnya, dan yang tersisa mungkin hanyalah air kotor. Namun, dengan
dilakukannya proses pengolahan air oleh PDAM, air kotor pun dapat diolah menjadi
air bersih yang bisa digunakan maupun dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.
3.2 Saran
Air merupakan kebutuhan pokok manusia. Air yang bermacam-macam jenisnya
itu harus kita jaga dan kita gunakan sebagaimana mestinya agar kebutuhan manusia
akan air yang banyak dapat tercukupi. Kita pun harus memperlakukan air dengan
baik, karena air cerminan dari kepribadian kita. Jika kita berlaku baik terhadap air,
maka air yang kita konsumsi pun akan menyehatkan.Perlakuan yang baik pada alam
dan air akan memberikan dampak positif bagi diri manusia sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Sudjoko, dkk.2010.Pendidikan Lingkungan Hidup.Jakarta:Universitas Terbuka.
Asfawi, S, 2004. Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Kualitas Bakteriologis
Air Minum Isi Ulang pada Tingkat Produsen di Kota Semarang Tahun 2004. Tesis,
Universitas Diponegoro, Semarang
Andi Iqbal Burhanuddin, Fenomena Pemanasan Global dan Dampaknya (22 Nov
2007)
Kepmenkes No 907/Menkes/SK/VII/2002 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas
Air Minum
Liputan6 : negara yang mengalami kesusahan air bersih 2018-2019
Download