Uploaded by Adinda Ayu Sauma Shalihah

ACARA 1 PASCAPANEN (Adin)

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
IDENTIFIKASI HAMA PASCA PANEN
Oleh :
Golongan F/ Kelompok 5
Adinda Ayu Sauma Shalihah (171510701027)
PROGRAM STUDI PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2019
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Keanekaragaman organisme yang ada di bumi sangat banyak, semua organisme
tersebut memiliki caranya sendiri dalam bertahan hidup seperti makan, tumbuh dan
mulai berkembang biak. Di alam terdapat lebih dari 700.000 jenis serangga yang
telah diketahui akan tetapi serangga yang dikategorikan sebagai hama hanya sekitar
25% dari jumlah tersebut. Sebelum melakukan pengendalian terhadap hama
diperlukan pengetahuan tentang hama tersebut seperti jenis – jenis hama,
karakteristik yang dimiliki oleh hama tersebut, siklus hidup hama, tanaman apa saja
yang diserang dan gejala yang ditimbulkan oleh hama tersebut.
Hama memiliki pengertian sebagai organisme pengganggu tanaman yang gejala
kerusakannya
dapat
dilihat
secara
langsung.
Serangan
hama
biasanya
meninggalkan bekas pada bagian – bagian tanaman. Bekas dari serangan hama akan
membuat penurunan hasil pasca panen. Pasca panen memiliki pengertian sebagai
waktu di mana setelah panen suatu komoditas disimpan hingga komoditas hasil
panen tersebut siap di manfaatkan maupun di konsumsi (Wagiman, 2016).
Gangguan OPT yang berasal dari serangan hama saat pasca panen dapat
menyebabkan tingkat kerusakan yang cukup serius dan sering kali menyebabkan
kerugian ekonomi bagi para petani. Gangguan yang disebabkan pada hasil produksi
hampir 50% termasuk ke dalam golongan serangga. Pengendalian terhadap hama
sangat diperlukan agar bisa mencegah terjadinya hal yang paling fatal yaitu
kegagalan panen dan pengendalian saat ini sudah banyak ditemukan di mana
terdapat pengendalian secara kultur teknis, secara mekanis, secara kimia dan ada
pula dengan pengendalian hayati (Purnomo, 2010).
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui dan mengidentifikasi hama pasca panen serta gejala
serangannya.
1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Sitopholus oryzae merupakan hama pasca panen pada tanaman padi, di mana
akibat dari serangan hama ini pada beras menyebabkan terjadinya penurunan
kualitas serta kuantitas yang cukup besar. Beras sendiri merupakan inang utama
dari hama gudang ini, selain beras Sitophilus oryzae memiliki inang lain yang sering
kali di sebut sebagai inang alternatif yaitu jagung. Penyusutan yang terjadi pada
jagung tidak sebesar penyusutan pada beras karena jagung memang bukanlah inang
utama dari hama gudang tersebut. Sitophilus oryzae tidak dapat hidup pada tanaman
inang lainnya seperti pada kacang tanah, kedelai serta kopra karena hama gudang
tersebut di temukan mati dan tidak ada bekas serangan ataupun gejala yang
disebabkan oleh hama tersebut, dapat diketahui bahwa hama tersebut tidak berperan
penting pada komoditas di luar beras serta jagung melainkan hanya sebagai Visitor
pada komoditas kacang tanah, kacang kedelai serta kopra (Manueke dan Palealu,
2015).
Tribolium castaneum merupakan salah satu hama sekunder, di mana hama ini
tidak dapat menyerang komoditas dalam gudang yang masih utuh atau belum
terserang hama – hama gudang yang tergolong hama primer atau pun mengalami
kerusakan pada saat kegiatan panen. Hama gudang tersebut hanya akan dapat
menyerang komoditas yang telah terserang hama primer dan menyebabkan bagian
biji berlubang, sehingga hama tersebut dengan mudah masuk ke dalam biji. Gejala
yang disebabkan oleh hama ini adalah adanya serbuk tepung yang merupakan hasil
gerakan. Perkembangbiakan pada hama tersebut akan semakin cepat ketika berada
pada bahan pangan yang telah menjadi serbuk tepung (Hendrival dkk, 2016).
Kualitas maupun kuantitas suatu komoditas dalam produksi pertanian sangatlah
penting, karena akan menentukan nilai jual dari komoditas tersebut. Kualitas dan
kuantitas suatu produk pertanian dapat dilihat dari besarnya serangan dari hama,
baik serangan yang terjadi pada saat produk pertanian tersebut masih berada di
lahan ataupun saat produk pertanian tersebut sudah dalam tahap penyimpanan atau
pascapanen. Serangan hama tersebutlah yang menyebabkan kemerosotan yang
cukup besar apabila tidak di perhatikan, serta harus ada pencegahan dan
2
pengendalian apabila hama tersebut telah menyerang tanaman baik saat masih di
lahan atau pun saat sudah di panen dan masuk pada pascapanen (Indratmi dan
Chana, 2011).
Hama gudang yang banyak ditemukan pada komoditas jagung adalah Sitophilus
zeamais dan termasuk sebagai hama penting. Kehilangan hasil dari jagung yang
disebabkan oleh hama tersebut yaitu sebesar 30% hingga 100%, kerusakan yang
disebabkan dapat mencapai nilai hingga 85% dan penyusutan bobot biji jagung
mencapai 17%. Biji jagung yang dipanen saat sudah masak fisiologi dengan di
tandai adanya lapisan hitam pada permukaan biji akan lebih aman dari serangan
hama gudang ini, karena biji jagung akan lebih keras sehingga sulit untuk di tembus.
Jagung yang disimpan dalam bentuk kelobot pun lebih aman apabila disimpan jika
dibandingkan jagung yang disimpan dalam bentuk pipilan. Penyimpanan jagung
sebelumnya harus dipastikan bahwa kadar airnya sekitar 10% dan suhu ruang
penyimpanan yang sesuai yaitu pada suhu ≥15℃ (Nonci dan Muis, 2015).
Cylas formicarus atau umumnya dikenal sebagai hama boleng, merupakan hama
yang sering ditemukan pada komoditas ubi jalar. Hama tersebut menyebabkan
produktivitas dari komoditas ubi jalar rendah. Hama boleng yang telah memasuki
fase dewasa tidak terlalu berpengaruh terhadap produktivitas ubi jalar, karena pada
fase dewasa hama tersebut hanya akan merusak pada bagian permukaan atau kulit
dari ubi jalar, tangkai daun maupun batang dan meninggalkan bercak berbentuk
oval kecil. Kerusakan yang serius terjadi pada saat hama tersebut berada pada fase
larva, karena ketika berada pada fase larva hama tersebut akan menggerek umbi
serta batang dari ubi jalar. Bagian samping dekat gerakan larva hama tersebut akan
mengalami perubahan warna menjadi hitam dan lama – kelamaan akan menjadi
busuk sehingga tidak dapat lagi di konsumsi dan apabila dikonsumsi oleh mamalia
akan menyebabkan terbentuknya senyawa toksin yang mempengaruhi kinerja dari
hati dan paru – paru (Indiati dan Saleh, 2010).
3
BAB 3. METODE PRATIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Hama Dan Penyakit Pasca Panen acara 1 “Identifikasi Hama Pasca
Panen” dilaksanakan pada hari Kamis, 12 September 2019 pukul 8.40 – 11.30 WIB
di Laboratorium Hama Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat :
1.
Lembar kerja
2.
Pipet
3.
Pinset
4.
Cawan petri
5.
Mikroskop stereo
3.2.2 Bahan :
1.
Alcohol 70%
2.
Biji kedelai
3.
Biji kacang hijau
4.
Beras
5.
Jagung
6.
Kacang tanah
3.3 Pelaksanaan Pratikum
1.
Menyiapkan alat dan bahan.
2.
Mengambil hama pasca panen yang ada pada masing-masing komoditas.
3.
Mengamati hama dan gejala serangan pada biji setiap komoditas.
4.
Mendokumentasikan dan mengidentifikasi hasil yang telah diamati pada
lembar kerja.
4
3.4 Variabel Pengamatan
1.
Morfologi hama pasca panen
2.
Gejala serangan yang di timbulkan
3.5
Analisis Data
Data diperoleh dari hasil pengamatan praktikum dan selanjutnya akan
dianalisis dengan analisis deskriptif.
5
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
(Terlampir)
4.2 Pembahasan
(Sitophilus oryzae)
Sitophilus oryzae memiliki beberapa ciri morfologi yaitu memiliki ukuran
tubuh berkisar 3,3 mm. Warna tubuh pada imago yang masih muda adalah cokelat
kemerahan dan pada imago yang sudah tua warnanya menjadi cokelat kehitaman.
Terdapat 4 titik berwarna kuning kemerahan pada bagian sayapnya. Ketika akan
bertelur betina biasanya akan membuat lubang pada butiran beras dengan ujung
moncongnya dan meletakkan telurnya di dalam butir beras yang sudah berlubang
dan tutup dengan zat berwarna putih yang merupakan saliva dari hama tersebut.
Gejala yang diakibatkan oleh hama tersebut adalah bulir beras yang terserang akan
berlubang – lubang sehingga dapat menurunkan bobot berat serta kualitas dari
beras. Biji yang telah berlubang kemudian dapat pecah dan hancur, selain itu jamur
akan bisa tumbuh pada butiran beras yang telah hancur. Butiran beras akan
mengalami kerusakan total, muncul bau ampek dan tidak dapat lagi dikonsumsi.
Sitophilus oryzae meruapakan hama gudang primer pada komoditas beras dan beras
merupakan inang utama dari hama tersebut. Inang alternatif lainnya adalah jagung,
sedangkan pada komoditas kacang tanah, kacang kedelai, kacang hijau, dan kopra
hama tersebut hanya berperan sebagai visitor dan tidak menimbulkan gejala
(Manueke dan Palealu, 2015).
6
(Sitophilus zeamais)
Sitophilus zeamais merupakan golongan kumbang moncong dimana
memiliki ukuran tubuh 3 – 5 mm. Warna tubuh pada imago yang masih muda
adalah cokelat kemerahan dan pada imago yang sudah tua warnanya menjadi
cokelat kehitaman. Terdapat 4 titik berwarna kuning kemerahan pada bagian
sayapnya. Hama tersebut bertelur di dalam butiran jagung sebelum di panen
ataupun setelah dipanen, telur yang telah berada di dalam butiran jagung dan di
simpan kemudian akan menetas dan menjadi larva, di mana larva akan hidup di
dalam butiran jagung tersebut hingga hancur. Larvanya tidak memiliki kaki dan
berwarna putih jernih. Tidak hanya menjadi hama utama pada tanaman jagung,
tetapi hama tersebut memiliki inang alternatif lainnya seperti pada kencang kedelai,
kacang hijau dan kacang tanah. Kehilangan hasil dari jagung yang disebabkan oleh
hama tersebut yaitu sebesar 30% hingga 100%, kerusakan yang disebabkan dapat
mencapai nilai hingga 85% dan penyusutan bobot biji jagung mencapai 17% (Nonci
dan Muis, 2015).
(Tribolium castaneum)
Tribolium castaneum disebut sebagai kumbang tepung merah, karena kumbang
tersebut saat menyerang suatu komoditi akan menyisakan serbuk tepung dan karena
7
kumbang tersebut memiliki warna tubuh cokelat kemerahan. Hama tersebut
ditemukan pada komoditas komoditas kacang tanah dan kacang hijau. Pupa dari
hama tersebut juga ditemukan pada komoditas kacang hijau. Ukuran tubuh
kumbang tersebut adalah 3 – 4 mm. Telur dari kumbang tepung merah berwarna
putih keruh dan memiliki bentuk yang agak lonjong dengan ukuran sekitar 1,5 mm.
Larvanya berwarna putih kekuningan dengan ukuran tubuh 5-6 mm. Ketika
membentuk pupa, pupanya memiliki panjang sekitar 3,5 mm dengan bentuk yang
bebas atau tidak tetap. Termasuk ke dalam kategori hama sekunder, di mana hama
tersebut akan menyerang suatu komoditas yang telah mengalami kerusakan baik di
sebabkan oleh serangga dalam kategori primer maupun kerusakan yang terjadi pada
saat kegiatan pasca panen yang kurang tepat (Hendrival dkk, 2016).
(Tribolium confusum)
Tribolium confusum ditemukan pada biji kacang kedelai dan juga kacang tanah,
di mana memiliki ciri morfologi yang mirip dengan morfologi kumbang tepung
merah atau Tribolium castaneum, maka dari itu kumbang tersebut di sebut juga
sebagai kumbang tepung merah palsu. Ciri morfologi dari kedua kumbang tersebut
pun sama di mana membuat keduanya sulit dibedakan, akan tetapi terdapat
beberapa hal yang membedakan keduanya adalah pada T. castaneum sayapnya
dapat mengembang dengan sempurna karena kumbang tersebut dapat terbang
berbeda dengan T. confusum yang sayapnya tidak mengembang sempurna
menyebabkan kumbang tersebut tidak dapat terbang. Kedua, adanya perbedaan
bentuk antena kedua kumbang tersebut di mana pada kumbang T. castaneum pada
bagian ujung atas antena tiba – tiba membesar sedang kan pada T. confusum
antenanya membesar secara berurutan.
8
Perbedaan antena T. castaneum dan T. confusum
Dokumentasi Widayanti, 2016
A. Tribolium castaneum
B. Tribolium confusum
Perbedaan Karakteristik Imago T. castaneum dan T. confusum
Dokumentasi Widayanti, 2016
B. Tribolium confusum
A. Tribolium castaneum
Gejala yang disebabkan oleh kumbang tepung merah palsu (T. confusum) juga
sama dengan gejala yang disebabkan oleh kumbang tepung merah (T. castaneum)
yaitu akan menyerang biji yang sudah terlebih dahulu di serang oleh hama gudang
primer ataupun pada biji yang telah rusak akibat penanganan pasca panen yang
tidak tepat. Bekas gerakan yang di lakukan oleh larva T. confusum meninggalkan
9
serbuk tepung di mana ketika serbuk tepung yang ada dalam jumlah yang banyak
maka perkembangbiakannya akan semakin tinggi (Anggara dan Sudarmaji, 2009).
(Cylas formicarus)
Cylas formicarus disebut dengan nama hama boleng, di mana hama tersebut
merupakan ham yang paling sering ditemukan pada tanaman ubi jalar dan
menyerang pada bagian umbi, tangkai daun dan batang. Serangga dewasa
ukurannya dapat mencapai 5-7 mm, tubuhnya ramping, halus, memiliki punggung
yang keras, moncong yang panjang dan tumpul. Bagian kepala, sayap depan dan
perut memiliki warna biru metalik sedangkan pada bagian kaki dan rongga dadanya
berwarna cokelat kemerahan. Antena pada serangga betina memiliki bentuk seperti
gada dan ukurannya lebih besar apabila di bandingkan serangga jantan. Bentuk
antena pada jantan seperti benang. Hama boleng yang telah memasuki fase dewasa
tidak terlalu berpengaruh terhadap produktivitas ubi jalar, karena pada fase dewasa
hama tersebut hanya akan merusak pada bagian permukaan atau kulit dari ubi jalar,
tangkai daun maupun batang dan meninggalkan bercak berbentuk oval kecil.
Kerusakan yang serius terjadi pada saat hama tersebut berada pada fase larva,
karena ketika berada pada fase larva hama tersebut akan menggerek umbi serta
batang dari ubi jalar. Bagian samping dekat gerakan larva hama tersebut akan
mengalami perubahan warna menjadi hitam dan lama – kelamaan akan menjadi
busuk sehingga tidak dapat lagi di konsumsi dan apabila dikonsumsi oleh mamalia
akan menyebabkan terbentuknya senyawa toksin yang mempengaruhi kinerja dari
hati dan paru – paru (Indiati dan Saleh, 2010).
10
(Tenebriodes mauritanicus)
Tenebriodes mauritanicus merupakan salah satu hama gudang yang ditemukan
pada biji kacang kedelai, serangga tersebut memiliki ciri morfologi sebagai berikut;
tubuhnya memiliki bentuk yang pipih, memiliki warna tubuh hitam dengan panjang
sekitar 11 – 13 mm, telur dari serangga tersebut berbentuk silindrik dan agak
panjang yaitu sekitar ± 3 mm. Kumbang yang telah dewasa memiliki bentuk yang
khas yaitu pada bagian metathorax mengecil sehingga bentuk serangga tersebut
seperti memiliki leher. Selain menemukan kumbang tersebut dalam fase dewasa
ditemukan juga kumbang saat masih dalam fase larva, di mana larvanya berwarna
kelabu keputih – putihan dengan bagian kepala dan ujung abdomen berwarna
kehitaman. Panjang yang di miliki larva sekitar 15 mm, dengan bentuk kepala
seperti terdapat gada dan pada bagian abdomen seperti semakin membesar dan
terdapat bentuk seperti tanduk. Serangan ketika larva dengan masuk ke dalam biji
dan menggerek bagian dalamnya hingga menjadi pupa dan selanjutnya imago di
dalam biji.
Biji kedelai yang telah terserang hama gudang tersebut meninggalkan lubang
bekas gerekan pada permukaan biji dan pada bagian dalam biji menjadi berongga.
Rongga tersebut bisa sangat besar bahkan bisa hanya menyisakan bagian kulit dari
11
biji saja apabila serangan hama gudang sudah semakin parah. Biji kedelai yang
ditemukan pada bagian permukaannya di dapati telur yang di duga merupakan telur
dari Callosobruchus chinensis. Telur memiliki bentuk lonjing dan warnanya agak
kuning transparan. Ukuran telur sekitar 0,57 mm dengan bentuk yang sedikit
cembung. Imago betina dapat bertelur hingga 150 butir, telur diletakkan pada
permukaan produk ke kacangan dalam simpanan dan akan menetas setelah 3-5 hari.
Larva biasanya tidak keluar dari telur, tetapi hanya merobek bagian kulit telur yang
melekat pada material. Larva akan menggerek di sekitar tempat telur diletakkan.
Lama stadia larva adalah 4-6 hari. Produk yang diserang akan tampak berlubang
(Handayani et al, 2017).
12
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Komoditas yang digunakan untuk mengidentifikasi hama gudang
adalah
kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau dan ubi jalar. Hama pascapanen yang
ditemukan yaitu Tenebriodes mauritanicus pada stadia imago dan larva, Tribolium
confusum, Tribolium castaneum pada stadia imago dan pupa, Sitophilus oryzae,
Sitophilus zeamais, Cylas formicarus dan stadia telur Callosobruchus chinensis.
Jenis hama gudang yang paling banyak di temukan adalah Tribolium castaneum
pada stadia imago dan juga Tribolium confusum. Kerusakan serta kehilangan hasil
yang disebabkan oleh hama gudang cukup besar dan merugikan, bahkan bisa
mencapai 100%.
5.2 Saran
Saran dari saya agar praktikum dapat di laksanakan lebih kondusif lagi oleh
praktikan.
13
DAFTAR PUSTAKA
Anggara, A.W. dan Sudarmaji. 2009. Hama Pascapanen Padi dan
Pengendaliannya.
Balai
Besar
Penelitian
Tanaman
Padi.
http://www.litbang.pertanian.go.id/special/padi/bbpadi_9.
Handayani A., F. X. Wagiman, S. Indarti, S. Suputa. 2017. Insect Quarantine Status
in Association with Imported Commodities from Timor Leste Passed through
Agricultural Quarantine Ware of Mota'ain-District of Belu. Jurnal
Perlindungan Tanaman Indonesia, 2(3): 1-18.
Hendrival, Latifa, D. Saputra dan Orina. 2016. Kerentanan Jenis Tepung Terhadap
Infestasi Kumbang Tepung Merah (Tribolium castaneum Herbst) (Coleoptera:
Tenebriodae). Agricultura. 27(3): 148-153.
Indiati, S.W. dan N. Saleh. 2010. Hama Boleng pada Tanaman Ubi Jalar dan
Pengendaliannya. Buletin Palawijaya. 19: 27 – 37.
Indratmi, D., dan M. Chana. 2011. Pendampingan Pengendalian Hama Terpadu dan
Penanganan Pasca Panen Kakao pada Kelompok Tani Kakao Desa
Mentaraman Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Dedikasi, 8(1) : 6773.
Manueke, J. dan J. Palealu. 2015. Ketertarikan Hama Sitophilus oryzae pada Beras,
Jagung Pipilan, Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan kopra. Eugenia. 21(2): 7079.
Nonci, N. dan A. Muis. 2015. Biologi, Gejala Serangan dan Pengendalian Hama
Bubuk Jagung Sitophilus zeamais Motschulsky (Coleoptera: Curculiondae).
Litbang Pertanian. 34(2): 61-70.
Purnomo, Hari. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati. Yogyakarta : Penerbit
Andi.
Wagiman, F.X. 2016. Hama Pascapanen dan pengelolaannya. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Widayanti, S. 2016. Status Resistensi Tribolium castaneum Herbst dan Araecerus
fasciculatus De Geer Asal Gudang Biji Kakao di Makassar Sulawesi Selatan
Terhadap Fosfin [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
14
LAMPIRAN
Purnomo, Hari. 2010. Pengantar Pengendalian Hayati. Yogyakarta : Andi.
Wagiman, F.X. 2016. Hama Pascapanen dan pengelolaannya. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Hendrival, Latifa, D. Saputra dan Orina. 2016. Kerentanan Jenis Tepung Terhadap
Infestasi Kumbang Tepung Merah (Tribolium castaneum Herbst)
(Coleoptera: Tenebriodae). Agricultura. 27(3): 148-153.
Manueke, J. dan J. Palealu. 2015. Ketertarikan Hama Sitophilus oryzae pada Beras,
Jagung Pipilan, Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan kopra. Eugenia. 21(2):
70-79.
Indratmi, D., dan M. Chana. 2011. Pendampingan Pengendalian Hama Terpadu dan
Penanganan Pasca Panen Kakao pada Kelompok Tani Kakao Desa
Mentaraman Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Dedikasi, 8(1) : 6773.
Nonci, N. dan A. Muis. 2015. Biologi, Gejala Serangan dan Pengendalian Hama
Bubuk Jagung Sitophilus zeamais Motschulsky (Coleoptera: Curculiondae).
Litbang Pertanian. 34(2): 61-70.
Indiati, S.W. dan N. Saleh. 2010. Hama Boleng pada Tanaman Ubi Jalar dan
Pengendaliannya. Buletin Palawijaya. 19: 27 – 37.
Anggara, A.W. dan Sudarmaji. 2009. Hama Pascapanen Padi dan
Pengendaliannya.
Balai
Besar
Penelitian
Tanaman
Padi.
http://www.litbang.pertanian.go.id/special/padi/bbpadi_9.
Handayani A., F. X. Wagiman, S. Indarti, S. Suputa. 2017. Insect Quarantine Status
in Association with Imported Commodities from Timor Leste Passed through
Agricultural Quarantine Ware of Mota'ain-District of Belu. Jurnal
Perlindungan Tanaman Indonesia, 2(3): 1-18.
Widayanti, S. 2016. Status Resistensi Tribolium castaneum Herbst dan Araecerus
fasciculatus De Geer Asal Gudang Biji Kakao di Makassar Sulawesi Selatan
Terhadap Fosfin [Skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Download