Uploaded by bagaspatih12

Sari Purboyekti-FKIK

advertisement
GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP
PENGOBATAN KOMPLEMENTER DAN ALTERNATIF DI
WILAYAH KELURAHAN PONDOK BENDA RW 013
PAMULANG 2
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep)
Oleh:
SARI PURBOYEKTI
1113104000021
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H/2017 M
ii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCES
SCHOOL OF NURSING
SYARIF HIDAYATULLAH STATE ISLAMIC UNIVERSITY OF JAKARTA
Undergraduate Thesis, June 2017
Sari Purboyekti, NIM: 1113104000021
Public Perception Towards Complementary And Alternative Medicine In
Kelurahan Pondok Benda RW 013 Pamulang 2
xvii + 96 pages + 7 tables + 2 schemes + 9 attachements
ABSTRACT
Complementary and alternative medicine are progressing globally. Research
in various worlds shows complementary and alternative ways are very common. This
study held respondents who have used and never use complementary and alternative
medicine. The purpose of this research is to know people's perception of
compelementer and alternative medicine. This type of research is quantitative with
descriptive design. The sample of this research is 88 respondents in Kelurahan
Pondok Benda RW 013 Pamulang 2 with random sampling technique. Data collection
using questionnaires made by the researcher. The results showed that 53.4% of
respondents had postive perception of complementary and alternative medicine,
62.6% had positive perception on cupping, 60.2% of respondents had positive
persespi on acupuncture and acupressure, respondent's perception of reflexology had
the amount Similarly, 80.7% of respondents had positive perceptions of herbal
medicine, 60.2% of respondents had good perception on traditional bone setter,
61.4% of respondents had positive perception of shamanism, and 61.4% of
respondents had good perception on profit and lack of complementary and alternative
medicine. Researchers advise the community to choose complementary and
alternative medicine that has been standardized.
Keyword: perception, complementary and alternative medicine
References: 88 (1995-2017)
iii
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Skripsi, Juni 2017
Sari Purboyekti, NIM: 1113104000021
Gambaran Persespi Masyarakat Terhadap Pengobatan Komplementer Dan
Alternatif Di Wilayah Kelurahan Pondok Benda RW 013 Pamulang 2
xvii + 96 halaman + 7 tabel + 2 bagan + 9 lampiran
ABSTRAK
Pengobatan komplementer dan alternatif mengalami perkembangan secara
global. Penelitian di berbagai dunia menunjukkan bahwa pengobatan komplementer
dan alternatif sangat umum digunakan. Penelitian ini meneliti responden yang pernah
menggunakan dan tidak pernah menggunakan pengobatan komplementer dan
alternatif. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui persepsi masyarakat terhadap
pengobatan kompelementer dan alternatif. Jenis penelitian ini adalah kuantitaif
dengan desain deskriptif. Sampel penelitian adalah 88 orang warga di wilayah
Kelurahan Pondok Benda RW 013 Pamulang 2 dengan teknik random sampling.
Pengambilan data menggunakan kuesioner yang dibuat oleh peneliti. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa 53,4 % responden memiliki persepsi yang positif terhadap
pengobatan komplementer dan alternatif, 62,6% memiliki persepsi positif terhadap
bekam, 60,2% responden memiliki persespi positif terhadap akupuntur dan akupresur,
persepsi responden terhadap pijat refleksi memilki jumlah yang sama, 80,7%
responden memilki persepsi positif terhadap obat herbal, 60,2 % responden memilki
persepsi positif terhadap ahli patah tulang, 61,4% responden memilki persepsi positif
terhadap dukun sembur, dan 61,4% responden memilki persepsi positif terhadap
keuntungan dan kekurangan dari pengobatan komplementer dan alternatif. Peneliti
menyarankan kepada masyarakat untuk dapat memilih pengobatan komplementer dan
alternatif yang sudah terstandarisasi.
Kata Kunci: persepsi, pengobatan komplementer dan alternatif
Daftar Pustaka: 88 (1995-2017)
iv
RIWAYAT HIDUP
Nama
: Sari Purboyekti
Temapt/ Tanggal Lahir
: Tangerang, 31 Juli 1995
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Status
: Belum Menikah
Alamat
: Jalan Benda Barat 11 B Blok D 38/7
Pamulang 2 RT 004/RW 013 Kota Tangerang Selatan
Telepon
: 08567088224
Email
: [email protected]
Riwayat Pendidikan
:
1. 1999 - 2001: TK Tunas Harapan I
2. 2001 - 2007: SDN Serua 03
3. 2007 - 2010: SMP Negeri 9 Kota Tangerang Selata
4. 2010 - 2013: SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan
5. 2013 - 2017: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Pengalaman Organisasi
:
1. 2016: Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
viii
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat, hidayah, kekuatan, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul “Gambaran Persepsi Masyarakat Terhadap
Pengobatan Komplementer Dan Alternatif Di Wilayah Kelurahan Pondok Benda RW
013 Pamulang 2.” Yang disusun dan diajukan sebagai salah satu persyaratan untuk
memperoleh gelar Sarjana Keperawatan. Sholawat serta salam juga tercantum kepada
Nabi Muhammad SAW.
Penulis telah berusaha untuk menyajikan suatu tulisan ilmiah yang rapi dan
sistematik sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam
proses penulisan skiripsi ini jauh dari sempurna dan banyak mengalami kendala,
namun penulis berkat bantuan, bimbingan serat dukungan dari berbagai pihak
sehingga penulis ingin mengucapkan ucapan terimakasih dan penghargaan yang
sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada yang terhormat:
1. Kedua orang tua saya yang tercinta Bapak Ahmad Zaidi dan Ibu Suparti yang
tidak pernah lelah untuk memberikan dukungan baik moril, material, kasih
sayang, dan selalu mendoakan penulis dalam proses menyelesaikan skripsi
ini.
ix
2. Prof.Dr.H. Arif Sumantri, S.KM., M.Kes, selaku dekan Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Maulina Handayani, S.Kp, M.Sc, selaku Ketua Program Studi dan Ernawati,
S.Kp, M.Kep, Sp.KMB, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
4. Ibu Ernawati, S. Kp, M.Kep, Sp.KMB, dan Ibu Maulina Handayani, S.Kp.,
M.Sc, Selaku Dosen Pembimbing, terima kasih sebesar-besarnya untuk beliau
yang telah meluangkan waktu serta memberikan arahan dan bimbingan
dengan sabar kepada penulis selama proses pembuatan skripsi ini.
5. Bapak Karyadi, S.Kp.,MKep., PhD, selaku dosen pembimbing akademik,
terimakasih sebesar-besarnya untuk beliau yang telah membimbing dan
memberikan motivasi selama 3 tahun duduk di bangku kuliah.
6. Seluruh dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah membekali penulis ilmu dan
pengetahuan serta pengalamannya selama penulis mengikuti perkuliahan.
7. Seluruh staf dan karyawan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Seluruh angkatan 2013 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Terimakasih karena telah saling mengingatkan, mendukung, mendo’akan, dan
menjadi
penyemangat
untuk
berjuang
menggapai
semua
impian.
Ciputat, Juni 2017
Sari Purboyekti
x
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN .......................................................................................... ii
ABSTRACT ................................................................................................................. iii
ABSTRAK ................................................................................................................... iv
PERNYATAAN PERSETUJUAN ................................ Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PENGESAHAN ........................................... Error! Bookmark not defined.
LEMBAR PENGESAHAN ........................................... Error! Bookmark not defined.
RIWAYAT HIDUP..................................................................................................... vii
KATA PENGANTAR ................................................................................................. ix
DAFTAR ISI ................................................................................................................ xi
DAFTAR SINGKATAN ............................................................................................xiv
DAFTAR TABEL ........................................................................................................xv
DAFTAR BAGAN .....................................................................................................xvi
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................................. xvii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
A. Latar Belakang ................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 5
xi
C. Tujuan Penelitian ............................................................................................... 6
D. Manfaat Penelitian ............................................................................................. 6
E. Ruang Lingkup Penelitian.................................................................................. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 8
A. Persepsi .............................................................................................................. 8
1.
Pengertian ....................................................................................................... 8
2.
Macam-macam persepsi ................................................................................. 9
3.
Syarat dan proses pembentukan persepsi ..................................................... 11
4.
Faktor yang mempengaruhi persepsi ............................................................ 12
B. Pengobatan komplementer dan alternatif ......................................................... 15
1.
Pengertian ..................................................................................................... 15
2.
Klasifikasi..................................................................................................... 17
3.
Kuntungan dan kekurangan CAM................................................................ 45
C. Masyarakat ....................................................................................................... 47
D. Penelitian Terkait ............................................................................................. 48
E. Kerangka Teori ................................................................................................ 51
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ...................... 52
xii
A. Kerangka konsep .............................................................................................. 52
B. Definisi operasional ......................................................................................... 53
BAB IV METODELOGI PENELITIAN ................................................................... 56
A. Desain Penelitian ............................................................................................. 56
B. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................................... 56
C. Populasi dan Sampel ........................................................................................ 57
D. Instrumen Penelitian ........................................................................................ 59
E. Pengumpulan Data ........................................................................................... 63
Uji Validitas dan Uji Reliabilitas ..................................................................... 64
F.
G. Teknik Analisa Data ........................................................................................ 66
H. Etika Penelitian ................................................................................................ 68
BAB V HASIL PENELITIAN ................................................................................... 70
A. Gambaran Tempat Penelitian ........................................................................... 70
B. Analisis Univariat ............................................................................................ 71
1.
Data Demografi ............................................................................................ 71
2.
Gambaran Persespi Pengobatan Komplementer dan Alternatif ................... 72
3.
Distribusi Proporsi Persepsi Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif Berdasarkan Usia ................................................................................ 73
xiii
4.
Distribusi Proporsi Persepsi Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif Berdasarkan Jenis Kelamin ................................................................. 74
5.
Distribusi Proporsi Persepsi Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif Berdasarkan Pendidikan Terakhir ....................................................... 75
6.
Distribusi Proporsi Persepsi Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif Berdasarkan Pengalaman .................................................................... 76
7.
Gambaran Persepsi Tehadap Pengobatan Komplementer dan Alternatif
Berdasarkan Item Pernyataan .............................................................................. 77
BAB VI PEMBAHASAN........................................................................................... 80
A. Karakteristik Responden .................................................................................. 80
B. Gambaran Persespi Masyarakat Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif ................................................................................................................. 82
C. Keterbatasan Penelitian .................................................................................... 91
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................... 92
A. Kesimpulan ...................................................................................................... 92
B. Saran ................................................................................................................ 93
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 95
LAMPIRAN .............................................................................................................. 102
xiv
DAFTAR SINGKATAN
CAM
: Complementary and Alternative Medicine
NCCAM
: National Center of Compelemtary and Alternative Medicine
WHO
: World Health Organization
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Definisi Operasional……………………………………………………...53
Tabel 4.1 Kisi-Kisi Kuesioner………………………………………………………60
Tabel 4.2 Skor Perhitungan Stastistik Persepsi Tentang Pengobatan Komplementer
dan Alternatif………………………………………………………….....61
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Data Demografi…………………………………....71
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Persepsi…………………………………………….72
Tabel 5.3 Distribusi Persepsi Berdasarkan Usia……………………………………73
Tabel 5.4 Distribusi Persespi Berdasarkan Jenis Kelamin………………………….74
Tabel 5.5 Distribusi Persespi Berdasarkan Pendidikan Terakhir…………………...75
Tabel 5.6 Distribusi Persespi Berdasarkan Pengalaman Terhadap Pengobatan
Komplementer dan Alternatif……………………………………………77
Tabel 5.7 Distribusi Persepsi Tehadap Pengobatan Komplementer dan Alternatif..78
xv
DAFTAR BAGAN
Bagan 2.1 Kerangka Teori…………………………………………………………51
Bagan 3.1 Kerangka Konsep………………………………………………………52
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1: Informed concent
Lampiran 2: Kuesioner penelitian
Lampiran 3: Uji validitas dan reliabilitas kuesioner
Lampiran 4: Hasil olahan SPSS
Lampiran 5: Surat permohonan izin studi pendahuluan
Lampiran 6: Surat izin studi pendahuluan dari Kelurahan Pondok Benda
Lampiran 7: Surat permohonan izin uji validitas dan reliabilitas
Lampiran 8: Surat izin uji validitas dan reliabilitas dari Kelurahan Benda Baru
Lampiran 9: Surat izin penelitian dan pengambilan data dari Kelurahan Pondok
Benda
xvii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
National Center for Complementary and Alternative Medicine
(NCCAM) mengartikan Complementary and Alternative Medicine (CAM)
sebagai sekelompok dari berbagai macam pengobatan dan perawatan
kesehatan yang terdiri dari praktisi dan pelayanannya tidak termasuk dalam
pengobatan konvensional (NCCAM. 2012, dalam Lindquist, 2014). Peraturan
Menteri Kesehatan tahun 2007 mengartikan pengobatan komplementer dan
alternatif sebagai pengobatan non konvesnional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan
terstruktur
dengan
kulaitas
kemanaan,
dan
efektifitas
yang
tinggi
berlandasakan ilmu pengetahuan biomedik.
Data dari
World Health Organization (WHO) tahun 2010,
menargetkan sejumlah negera di dunia, masyarakatnya menggunakan
pengobatan komplementer dan alternatif, yaitu sekitar 80% pengguna (WHO,
2010). Sejumlah negera sudah menerapkan pengobatan komplementer dan
alternatif sebagai pendukung pengobatan konvensional. Ethiopia 80%
masyarakatnya menggunakan pengobatan tradisional karena mereka percaya
bahwa pengobatan tradisional dapat menyembuhkan dengan biaya yang
1
2
murah. Negara di Asia seperti China dan Jepang yang mempunyai berbagai
macam pengobatan komplementer dan alternatif sudah mengintegrasikannya
ke dalam pengobatan konvensional, yaitu terdapat 95% rumah sakit di China
yang sudah menerapakan dan sekitar 72% dokter di Jepang sudah
menerapakan penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif kedalam
prakteknya (Kamaludin, 2010). Pengobatan ini berkembang ke negara-negara
barat seperti Amerika Serikat yang diperkirakan 38% orang dewasanya
menggunakan pengobatan komplementer dan alternatif (Mc Fadden et al,
2010). Australia dan Perancis jumlah pengguna pengobatan ini sekitar 49%,
serta Kanada sekitar 70% masyarakatnya menggunakan pengobatan
komplementer dan alternatif (Elolemy dan AlBedah, 2012).
Seseorang yang mengalami sakit pasti akan mencari tindakan untuk
memperoleh kesembuhan (Sunaryo, 2004; Asmadi, 2008). Jumlah penduduk
Indonesia
mengalami
peningkatan
dalam
menggunakan
pengobatan
komplementer dan alternatif dari tahun 2000 - 2006 dari 15,2% menjadi
38,30% (Supardi dan Susyanty, 2010). Jenis-jenis pengobatan komplementer
dan alternatif yang sering digunakan oleh masyarakat seperti bekam,
akupuntur dan akupresur, pijat refleksi, obat herbal, ahli patah tulang, dan
tukang urut (NCCAM, 2012; Kemenkes, 2007).
Pengunaan pengobatan
komplementer dan alternatif sudah mulai digunakan di sejumlah rumah sakit,
seperti Rumah Sakit Kanker Dharmais, RS Orthopedi Prof. Dr. R. Soeharso
3
Solo, dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang menyediakan layanan
pengobatan komplementer dan alternatif (Setyaningsih, 2012).
Masyarakat yang menggunakan pengobatan komplementer dan
alternatif terus mengalami peningkatan (Widyatuti, 2008). Penelitian terkait
yang dilakukan oleh Onyiapat et al (2011) mengenai pravelensi penggunaaan
CAM pada orang dewasa di Enugu menunjukan bahwa jenis kelamin (lakilaki), usia (26-41 tahun), dan status ekonomi berpengaruh dalam penggunaan
CAM. Dahilig dan Selenga (2012) dalam
penelitiannya di Filipina
menunjukan bahwa wanita dengan status pendidikan tinggi lebih cenderung
menggunakan CAM. Alasan seseorang menggunakan pengobatan ini antara
lain untuk meningkatkan kesehatan atau untuk mengurangi gejala penyakit,
menghindari efek samping pengobatan konvesional, memiliki kontrol yang
besar terhadap kesehatan sendiri (Barnes et al, 2008). Pengaruh media massa,
informasi dari sebuah produk, rekomendasi keluarga dan teman, sifat alami
manusia yang ingin selalu mencoba hal-hal baru serta kemudahan akses pada
pengobatan ini dapat mempengaruhi persepsi seseorang untuk menggunakan
CAM karena dinilai alami dan aman digunakan (Limsatchapanich et al,
2013); (Onyiapat et al, 2014).
Persepsi merupakan padangan pribadi atas apa yang terjadi, setiap
orang merasakan, menginterprestasikan, dan memahami kejadian secara
berbeda
(Potter
dan
Perry,
2012).
Persepsi
menangkap
stimulus,
4
mengorganisasikan stimulus, dan menerjemahkan atau mengintegrasikan
stimulus yang terorganisir untuk mempengaruhi perilaku dan membentuk
sikap (Ivancevich, 2007). Pemahaman pasien ataupun masyarakat mengenai
persepsi pengobatan komplementer dan alternatif itu penting karena pasien
yang menggunakan CAM harus mengetahui efek dari pengobatan tersebut.
Masyarakat lebih memilih menggunakan tempat pengobatan komplementer
dan alternatif yang masih dipertanyakan keamanannya (Bahall, 2015). Peran
penting tenaga kesehatan terhadap penggunaan pengobatan komplementer dan
alternatif di masyarakat perlu dilakukan karena tenaga kesehatan mempunyai
peran sebagai konsultan, advokat, pemberi
pelayanan pendidikan dan
promosi kesehatan (Asmadi,2008)
Praktek keperawatan saat ini membutuhkan pengetahuan dan sikap
yang baik mengenai pengobatan komplementer dan alternatif karena jumlah
masyarakat yang semakin banyak menggunakannya. Penyedia pelayanan
kesehatan konvesional perlu mehamai isu-isu terkait keamaan dan keefektifan
penggunaan CAM. Perawat yang mempunyai pengetahuan dan persepsi yang
baik terhadap pengobatan komplementer dan alternatif dapat memenuhi
tanggung jawab sebagai seorang perawat (Waheida, 2016).
Wilayah Tangerang Selatan terdapat kurang lebih 162 klinik
pengobatan komplementer dan alternatif. Studi pendahuluan yang dilakukan
oleh peneliti pada warga RW 013 Pamulang 2 di wilayah Kelurahan Pondok
5
Benda, terdapat hasil
9 dari 10 orang menggunakan pengobatan
komplementer dan alternatif. Produk pengobatan komplementer dan alternatif
yang banyak digunakan adalah herbal dan pijat urut, 1 dari 9 orang pernah
menggunakan pengobatan ke ahli patah tulang, 2 dari 9 orang pernah
menggunakan bekam dan 2 orang pernah melakukan pijat refleksi dan 1 orang
belum pernah menggunakan terapi pengobatan ini. Berdasarkan studi
pendahuluan diatas yang dilakukan oleh peneliti, masih ada masyarakat yang
beralasan penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif karena lebih
efisien dan praktis, harga yang murah, alami, efek samping yang tidak akan
menggangu kesehatan dan prosedur yang tidak sulit namun ada juga yang
beralasan lebih baik menggunakan pengobatan konvensionalPada tempat
tersebut terdapat seorang warga yang mampu melakukan praktik pengobatan
komplementer dan alternatif yaitu bekam dan pijat refleksi.
B. Rumusan Masalah
Pengobatan komplementer dan alternatif beberapa waktu belakangan
ini mulai banyak digunakan masyarakat di berbagi negara, termasuk
Indonesia. Banyaknya tempat praktik pengobatan komplementer dan alternatif
yang menawarkan berbagai macam manfaat kesembuhan dan kepraktisan
prosedur namun masih ada tempat praktik perorangan yang belum sesuai
dengan standar dan masih ada masyarakat yang mempersepsikan bahwa
pengobatan komplementer dan alternatif memiliki efek samping yang tidak
6
akan menggangu kesehatan serta dalam menentukan pilihan untuk
menggunakan pengobatan ini masih ada masyarakat yang mengikuti kata
orang lain tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik mengetahui persepsi masyarakat
wilayah Kelurahan Pondok Benda RW 013 Pamulang 2 terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat
mengenai pengobatan komplementer dan alternatif.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin,
pendidikan
terakhir,
dan
pengalaman
terhadap
pengobatan
komplementer dan alternatif.
b. Mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengobatan komplementer
dan alternatif.
c. Mengetahui gambaran persepsi tentang pengobatan komplementer dan
alternatif berdasarkan karakteristik demografi.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian bagi peneliti yaitu dapat menambah pengalaman
yang diperoleh dari penelitian ini dan dapat mengetahui persepi masyarakat
7
mengenai pengobatan komplementer dan alternatif. Manfaat bagi institusi
pendidikan
adalah
dapat
memperoleh
masukkan
untuk
dijadikan
pertimbangan agar pengobatan komplementer dan alternatif ini dapat
dikembangkan ke bidang keperawatan lainnya. Manfaat bagi profesi yaitu
agar mampu menyikapi penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif
ini dengan positif serta dapat mengintegrasikannya kedalam pelayanan
keperawatan. Manfaat bagi pemerintah yaitu dapat mengawasi praktekpraktek pengobatan komplementer dan alternatif yang ada di Indonesia dan
manfaat penelitian untuk masyarakat yaitu dapat mengetahui dan memilih
pengobatan komplementer dan alternatif yang keamanannya sudah jelas dan
dapat dipertanggung jawabkan.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Wilayah Pamulang 2 Kelurahan Pondok
Bneda untuk mengetahui persepsi masyarakat mengenai pengobatan
komplementer dan alternatif. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan
rancangan desain deskriptif. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei
2017.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Persepsi
1. Pengertian
Persepsi (perception) adalah proses di mana individu mengatur dan
menginterprestasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti
bagi lingkungan mereka (Robbins dan Judge, 2008). Pendapat yang lain
mengartikan persespsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan
menafsirkannya. Persepsi adalah memberikan makna kepada stimulus
(Notoatmojo, 2010). Persepsi biasanya digunakan untuk mengungkapkan
tentang pengalaman terhadap sesuatu benda ataupun suatu kejadian yang
dialami.
Hude (2006) mengatakan persepsi merupakan suatu tindakan lanjut
dari suatu perasaan, karena persepsi pada hakikatnya merupakan
pemberian suatu makna pada stimulasi yang ditangkap oleh sistem
pengindraan. Persepsi juga sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu
faktor personal dan faktor situasional atau faktor fungsional dan juga
faktor sturktural. Persepsi dapat membantu individu untuk bertindak dan
8
9
juga mengerti sosial lingkungan sekitarnya, karena persepsi merupakan
suatu proses akhir dari rangkaian peristiwa yang saling berhubungan.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesamaan pendapat bahwa
persepsi merupakan suatu ransangan objek yang dilihat sehinnga
menciptakan tanggapan pada diri individu. Tanggapan tersebut yang
nantinya akan mempengaruhi sikap individu terhadap lingkungannya.
2. Macam-macam persepsi
Menurut (Sunaryo, 2013) persepsi dapat dibedakaan menjadi dua
macam, yaitu: Persepsi eksternal, yaitu suatu persepsi yang datangnya
karena adanya rangsangan dari luar tubuh individu dan persepsi internal
atau persepsi diri merupakan sutau persepsi yang datangnya karena
adanya rangsangan dari stimulus dalam tubuh individu.
Mulyana (2007) mengatakan bahwa terdapat 2 macam persepsi yang
dimilki oleh manusia yaitu:
a. Persepsi terhadap objek lingkungan fisik
Persepsi setiap individu dalam menilai suatu objek atau suatu
lingkungan fisik terjadi kekeliruan, karena suatu onjek tersebut
dapat menipu indera individu tersebut. Hal ini disebabkan karena:
1) Kondisi yang dapat mempengaruhi pandangan seseorang
seperti cuaca yang dapat membuat fatamorgana, pembiasan
cahaya contohnya peristiwa ketika seseorang melihatnya
10
didalam air yang akan terlihat bengkok yang sebenarnya
berposisi lurus. Hal tersebut yang disebut ilusi.
2) Latar belakang pengalaman yang berbeda antara individu satu
dengan yang lainnya.
3) Budaya yang berbeda yang dapat mempengaruhi persepsi
inividu tersebut.
4) Gambaran psikologi yang berbeda juga dapat mempengaruhi
perbedaan persespi individu dengan orang lain dalam
mepersepsikan suatu objek.
b. Persepsi terhadap manusia atau persepsi sosial
Persepsi
manusia
atau
persepsi
sosial
merupakan
proses
penangkapan makan dari objek-objek sosial dan kejadian yang
dialami oleh individu dalam lingkungan individu tersebut persepsi
ini lebih kompleks karena:
1) Manusia memiliki sifat yang dinamis karenanya persepsi
manusai dapat berubah dari waktu ke waktu dan labih cepat
dari pada persepsi terhadap objek.
2) Persepsi sosial tidak meliputi sifat-sifat yang tampak dari luar,
namun juga sifat-sifat ataupun alasan-alasan dari dalam.
11
3) Persepsi sosial bersifat interaktif karena pada saat individu
mempersepsikan orang lain, maka orang tersebut tidak diam
meliankan turut mempersepsikan orang tersebut.
3. Syarat dan proses pembentukan persepsi
Persepsi dapat membuat seseorang menyadari dan memahami suatu
keadaan di lingkungan sekitarnya, dan juga dapat menyadari dan
memahami keadaan diri sendiri (self perception). Persepsi terjadi dari
proses sistem penginderaan. Pertama, stimulus akan diterima oleh resptor,
yang kemudian akan diteruskan kedalam otak atau pada susunan saraf
pusat yang akan diorganisasikan dan juga diinterprestasikan sebagai
proses psikologi. Pada akhirnya individu akan menyadari apa yang telah ia
lihat dan yang telah ia dengar (Sunaryo, 2013)
Ada beberapa syarat terjadinya suatu persepsi, yaitu:
a. Adanya objek. Objek berperan sebagai suatu rangsangan sedangkan
pacaindra berperan sebagai reseptornya.
b. Adanya perhatian sebagai salah satu langkah pertama untuk
mengadakan suatu persepsi
c. Adanya pancaindra sebagai reseptor penerima rangsangan
d. Saraf sensorik berguna sebagai meneruskan rangsangan ke dalam otak
(pusat saraf atau pusat kesadaraan) yang kemudian dibawa melalui
saraf motorik untuk menghasilkan sebuah respon.
12
Sebuah persepsi terjadi melalui tiga porses, yaitu proses fisik,
fisiologis, dan psikologis. Proses fisik terjadi melalui pengalaman, yakni
objek diberikan rangsangan, kemudian diterima oleh resptor atau sistem
indra. Sementara itu, proses fisiologis terjadi karena rangsangan yang
dihantarkan ke saraf sensorik akan disampaikan ke otak. Terakhir, proses
psikologis yaitu proses yang terjadi pada otak sehingga seseorang
menyadari rangsangan yang diterima. Jadi, ketiga syarat tersebut sangat
diperlukan untuk tercapainya suatu persepsi yang baik (Sunaryo, 2013)
4. Faktor yang mempengaruhi persepsi
Menurut (Toha, 2008) faktor yang mempengaruhi persepsi individu
yaitu:
a. Faktor internal
Faktor internal meliputi perasaan, sikap, dan kepribadian individu,
prasangka, keinginan atau harapan, perhatian (fokus), proses belajar,
keadaan fisik, kebutuhan serta minat, dan motivasi.
b. Faktor eksternal
Faktor eksternal meliputi latar belakang keluarga, informasi yang
diperoleh, pengetahuan, intensitas, keberlawanan, hal-hal baru dan
familiar atau ketidakasingan suatu objek.
Menurut (Rakhmat, 2011); (Sobur, 2003) faktor yang mempengaruhi
persepsi individu, yaitu:
13
c. Faktor fungsional
Faktor fungsional merupakan faktor yang berasal dari
kebutuhan, kegembiraan, pelayanan yang diterima, dan pengalaman
masa lalu individu. Faktor ini bersifat subjektif dan internal dari
seseorang. Persepsi pada dasarnya tidak ditentukan oleh jenis
rangsangan,
tetapi
tergantung
pada
karakter
individu
yang
memberikan respon terhadap rangsangan tersebut, dengan demikian
persespi
bersifat
selektif
fungsional,
maka
seseorang
yang
mempersepsikan sesuatu akan memberikan tekanan sesuai dengan
tujuan individu tersebut.
d. Faktor struktural
Faktor-faktor yang timbul dari bentuk rangsangan dan efek
netral yang akan dihasilkan dari sistem saratf individu. Faktor ini
merupakan faktor biologis dari tubuh seseorang. Usia merupakan
faktor biologis, usia 26-33 tahun sudah dapat menentukan pilihan yang
mereka pilih dan menyelesaikan masalah-masalah dalam kehidupan
mereka, usia 33-40 tahun merupakan periode yang menetap dimana
mereka sudah menemukan tempat dalam hidup dan berusaha
menggabungkan peran potensial mereka (Durkin, 1995). Usia 40-65
tahun kemampuan kognitif dan intelektual dimasa paruh baya tidak
14
banyak mengalami perubahan, kemampuan dalam memecahkan
masalah tetap sama (Kozier, 2011).
Gestalt ahli psikologis mengatakan, manusia mempresepsikan
sesuatu cenderung sebagai suatu yang keseluruhan, meskipun
rangsangan yang diterima dengan rangakaian stimulus yang di
persepsikan.
Hal
mengelompokan
itu
orang,
menyebabakan
ataupun
individu
persitiwa
cenderung
sejenis
dan
memisahakannya dari kelompok lain yang tidak serupa.
e. Faktor situasional
Faktor ini merupakan faktor yang berhubungan dengan bahasa
nonverbal. Persepsi dilihat secara kontekstual yang artinya situasi
dimana persepsi tersebut muncul dan harus mendapatkan perhatian.
Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam proses
pembentukan persepsi individu.
f. Faktor personal
Faktor personal merupakan faktor yang terdiri dari faktor
pengalaman, sosial budaya, pengetahuan. Pengetahuan dapat diperoleh
melalui pendidikan, penelitian yang dilakukan oleh (Barnes et al,
2008) memperlihatkan bahwa masyarakat yang memiliki pendidikan
tinggi lebih sering menggunakan pengobatan komplementer dan
alternatif, penelitian lain juga menunjukan masyarakat yang sekolah di
15
perguruan tinggi menyatakan pengobatan ini dapat membantu (Pooya,
2011). Faktor personal juga dipengaruhi oleh harapan, motivasi, dan
kepribadian individu.
Faktor-faktor tersebut menjadikan persepsi individu berbeda satu sama
lain dan akan berpengaruh pada individu dalam mempersepsikan suatu
objek, stimulus, meskipun objek tersebut benar-benar sama. Persepsi
seseorang atau kelompok dapat jauh berbeda dengan persepsi orang atau
kelompok lain sekalipun situasinya sama. Perbedaan persepsi dapat
ditelusuri pada adanya perbedaan-perbedaan individu, perbedaan dalam
sikap atau perbedaan dalam motivasi (Walgito, 2003).
B. Pengobatan komplementer dan alternatif
1. Pengertian
Pengobatan komplementer dan alaternatif beberapa tahun belakangan
ini mulai banyak digunakan oleh masyarakat sebagai salah satu terapi
pilihan untuk kesehatan. Pengertian dari pengobatan komplementer dan
alternatif sendiri merupakan suatu bentuk penyembuhan yang bersumber
pada berbagai sitem, modalitas dan praktek kesehatan yang didukung oleh
teori dan kepercayaan (Setyaningsih, 2012). National Center for
Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) mendefinisikan
pengobatan komplementer dan alternatif sebagai istilah umum terhadap
16
berbagai praktik ataupun produk yang umunya tidak dianggap bagian
terapi medis ataupun konvensional (Snyder dan Lindquis 2014).
Menurut peraturan Menteri Kesehatan tahun 2007. Pengobatan
komplementer dan alternatif adalah pengobatan non konvensional yang
ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi
upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh
memalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan, dan efektifitas
yang tinggi yang berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik, yang belum
diterima dalam kedokteran konvensional (Kemenkes, 2007). Hampir
setengah (49,53%) penduduk Indonesia berusia 15 tahun keatas,
mengonsumsi jamu yang merupakan salah satu produk dari pengobatan
komplementer dan alternatif. Sekitar lima persen (4,36%) mengkonsumsi
jamu setaip hari, sedangkan sisanya (45,17%) mengkonsumsi jamu
sesekali (Kemenkes, 2011).
Penggunaan komplementer dan alternatif sudah digunakan sejak
berabad-abad yang lalu. Florence Nightingale yang dikenal sebagai
pelopor keperawatan telah menggunakan terapi musik dalam proses
penyembuhan pasein (Snyder dan Lindquist, 2014). Komplementer dan
alternatif terapi bukan tradisi dari sebuah negara sendiri dan tidak
terintegrasi kedalam sistem perawatan konvensional. Pengobatan ini
17
terkadang di istilahkan sebagai pengobatan alami, non konvensional dan
pengobatan holistic (Health Professions Licensing Authority, 2007).
2. Klasifikasi
Berdasarkan peraturan (Kemenkes, 2007) dan National Center for
Complementary and Alternative Medicine (NCCAM) tahun 2012
pengobatan komplementer dan alternatif dapat dikalsifikasikan sebagai
berikut:
a. Sistem pelayanan pengobatan alternatif (alternative system of medical
practice
Terapi ini sebagai sistem yang lengkap dari teori dari praktek yang
berbeda dari pengobatan konvensional. Contohnya:
1) Bekam
a) Pengertian Bekam
Bekam merupakan metode pengobatan dengan cara
mengeluarkan darah kotor dari badan tubuh melalui permukaan
kulit. Bekam mempunyai nama lain seperti canduk, canthuk,
kop, mambakan, di Eropa bekam dikenal dengan istilah Cuping
Therapeutic Method (Aldjoefrie, 2015) . Bekam dalam bahasa
Arab berasal dari kata “Al Hijmu” yang berarti menghisap atau
menyedot. Kesimpulan definisi hijamah menurut bahasa adalah
ungkapan tentang menghisap darah dan mengeluarkannya dari
18
permukaan kulit, yang kemudian ditampung di dalam gelas
mihjamah, yang menyebabkan pemusatan dan penarikan darah
di sana, lalu dilakukan penyayatan permukaan kulit dengan
pisau bedah, guna untuk mengeluarkan darah (Kasmui, 2014).
b) Cara Melakukan Bekam
(1) Bekam basah
(a) Mengukur tekanan darah
(b) Siapkan gelas kop ukuran sedang yang telah dipasang
alat pemantiknya, dalam kedaan steril
(c) Sebelum ditusuk titik yang akan dibekam, dibersihkan
terlebih dahulu dengan kapas beralkohol 70%
(d) Lakukan pemijatan pada seluruh badan atau daerah
yang ingin di bekam dengan menggunakan minyak
zaitun/ minyak habbatusaudah
(e) Bersihkan derah akhda’ dengan kassa streril yang telah
diberikan betadine. Juru bekam dan pasien dalam
keadaan suci dari hadas dengan wudhu. Juru bekam
dapat membaca/berdoa dengan bacaan ruqyah untuk
orang sakit yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW,
dan ingatkan pasein untuk selalu berdzikir dengan
mambaca minimal “Allahu hawa asysyifa” atau
19
“Allahu
Huwasysyafi”
(Allah
Yang
Maha
Menyembuhkan), selama proses pembekaman supaya
yakin
bahwa
hanya
Allah
SWT
yang
dapat
menyembuhkan penyakit. Juru bekam juga harus selalu
mambaca dzikir ini.
(f) Letakkan alat bekam di daerah akhda’ dan ucapkan
Basmalah
(g) Vacuum gelas kop secukupnya 2-3 kali, tidak terlalu
kuat atau lemah pada titik yang ingin di bekam. Biarkan
selama 2-3 menit untuk meberikan kekebalan pada kulit
saat akan dilakukan penyayatan
(h) Lepas gelas kop tersebut, lakukan penyayatan dengan
jarum (lancing), penyayatan di sesuaikan dengan
besarnya diameter gelas kaca tersebut. Vacuum
kembali hingga darah keluar
(i) Bersihkan darahnya, kemudian bekas sayatannya di
bersihkan menggunakan tissue/kassa dan tutup luka
sayatan dengan membersihkan darah dengan betadine,
lalu oleskan minyak habatussauda/ zaitun agar tidak
terjadi infeksi dan lukanya cepat sembuh (Kasmui,
2014)
20
(2) Bekam kering
(a) Pijat bagain tubuh yang ingin dilakukan bekam dengan
minyak zaitun selama 5 menit
(b) Vaccum gelas kop pada permukaan kulit di titik yang
telah ditentukan. Kemudian diamkan selama 10-12
menit
(c) Lepas gelas kop tersebut dan pijat kembali bekas
bekam dengan minyak zaitun selama 3-5 menit
(Nilawati, 2008).
(3) Bekam meluncur
(a) Pijat bagian tubuh yang ingin dilakukan bekam dengan
menggunakan
minyak
zaitun
atau
minyak
habatussaudah
(b) Vaccum gelas kop di permukaan kulit 1-3 kali
pompaan. Kemudian gerakkan gelas kop ke bagain
tubuh yang sudah diolesi minyak zaitun atau minyak
habatussaudah samapi terlihat kemerhaan. Cukup
dilalukan 2-3 menit.
(c) Lepas kop bekam (Nilawati, 2008).
21
c) Manfaat Bekam
Bekam mempunyai beberapa manfaat seperti mengatasi
tekanan darah yang tidak normal, kolesterol tinggi, mengatasi
migrain dan sakit kepala, mengatasi permasalahan pada sistem
pernapasan seperti: asma, flu, sinusitis, alergi, membersihkan
darah dari racun-racun dalam tubuh yang berasal dari sisa
makanan, bermanfaat bagi wanita yang mengalami keputihan
dan mengalami gangguan pada rahim, mengatasi stroke,
mengurangi nyeri pada bahu, kram otot, nyeri pinggang,
rematik, membantu dalam pengobatan mata (Kasmui, 2014).
Penelitian yang dilakukan oleh Mei Chi (2016) mengenai
keefktifan terapi bekam terhadap penurunan nyeri leher dan
punggung, didapatkan hasil terjadi penurunan tingkat nyeri
yang signifikan dari 9,7 menjadi 3,6 pada kelompok yang
diberikan intervensi sedangkan kelompok kontrol hanya
memiliki perubahan yang sedikit yaitu dari 9,7 menjadi 9,5.
d) Indikasi dan kontraindikasi
Bekam dapat digunakan untuk mengobati beberapa
penyakit seperti penyakit kulit, gangguan reproduksi pada pria,
reumatik, gangguan pembuluh darah, glaukoma, penyakit
jantung,
hemoroid,
hipertensi.
Bekam
juga
memiliki
22
kontraindikasi seperti anemia, hemophilia, wanita hamil,
leukemia, nyeri selama prosedur bekam, hipotensi, infeksi,
alergi, sepsi (Alam, 2013).
2) Akupuntur dan Akupresur
a) Pengertian akupuntur dan akupresur
Lebih dari 2500 tahun pembanguan, kekayaan pengalaman
telah terakumulasi dalam akupuntur, berbagi penyakit dan
kondisi terbukti dapat disembuhkan secara efektif dengan
akupuntur. Akupuntur telah digunakan di seluruh dunia,
terutama sejak tahun 1970-an. Pengertian akupuntur sendiri
secara harfiah berarti tusakan dengan jarum. Sedangkan
pengertian akupresur merupakan istilah yang digunakan untuk
memberikan rangsangan (stimulasi) titik akupuntur dengan
teknik penekanan atau teknik mekanik. Penekanan dilakukan
sebagai pengganti penusukan jarum yang dilakukan pada
akupuntur dengan tujuan untuk melancarkan aliran energi vital
(qi) pada seluruh tubuh (Kemenkes, 2015).
b) Pengobatan China dasar
Dasar dari pengobatan tradisional China berdasarkan pada
hubungan antara pikiran pribadi, tubuh dan spiritualitas.
Pengobatan tradisional China menginterpretasikan tubuh
23
sebagai alam semesta, salah satu hukum keseimbangan yang di
percaya masyarakat China adalah Yin Yang. Emosi dan mental
yang baik akan mempengaruhi tubuh terhadap kerentanan
penyakit serta faktor-faktor dari luar seperti pekerjaan, gaya
hidup, lingkungan. Berikut adalah konsep dasar pengobatan
tradisional China:
(a) Lima elemen
Konsep lain dalam teori pengobatan tradisional China
adalah mengenai tubuh manusia dan alam semesta yang
digambarkan terbuat dari lima elemen utama yang ada di
alam. Elemen tersebut saling berhubungan satu sama lain
dan masing-masing elemen menghasilkan unsur lain atau
mengontrol elemen lain. Pengobatan tradisional China
menggunakan ini untuk mengkategorikan organ dan
menggambarkan elemen, mendiagnosa, dan mengobati
kondisi medis. Berikut 5 elemen dalam pengoabtan
tradisional China:
(1) Kayu berhubungan dengan organ hepar dan kantung
empedu
(2) Api berhubungan dengan organ jantung dan sistem
pencernaan kecil
24
(3) Bumi berhubungan dengan organ limpa dan perut
(4) Air berhubungan dengan organ ginjal dan kandung
kemih
(5) Logam berhubungan dengan paru-paru dan sistem
pencernaan besar
(b) Meridian
Dalam tubuh selain mengalir sistem peredaran darah,
sistem saraf, dan sistem getah bening, menurut ilmu
pengobatan tradisional China ada juga sistem meridian.
Merdian berfungsi sebagai tempat mengalirnya energi vital,
penghubung bolak-balik antar organ, bagian-bagian, dan
jaringan tubuh, panca indra, titik akupuntur, masuk dan
keluarnya penyebab penyakit, serta tempat rangsangan
penyembuhan. Melalui sistem meridian ini energi vital
dapat diarahkan ke organ atau bagian tubuh yang sedang
mengalami gangguan. Pada meridian ini terdapat titik-titik
akupuntur dan akupresur yang akan dirangsang dengan
tekanan jari atau alat tumpul lain yang tidak menembus
kulit dan tidak menimbulkan rasa sakit (Sukanta, 2008).
(1) Penggolongan
25
Meridian
digolongkan
menjadi
jalur
yang
membujur dan melintang. Jalur yang membujur terdiri
atas meridian umum, meridian cabang, dan meridian
istimewa, sedangkan jalur yang melintang teridiri atas
luo dan salurannya.
(a) Meridian umum digolongkan berdasarkan yin yang,
organ tubuh dan kaki tangan, yang jumlahnya ada
12.
i. Yin bersifat pasif, meridian yin dalam
tubuh manusia letaknya di sisi depan.
Yang bersifat aktif, meridian yang dalam
tubuh manusia letaknya di sisi belakang.
ii. Organ tubuh menurut ilmu akupuntur
terdiri dari enam organ
zang (organ
padat) yang bersifat yin yaitu paru,
jantung, selaput jantung, limpa, ginjal, dan
hati. Enam organ fu (organ berongga)
bersifat yang yaitu usus besar, usus kecil,
tri pemanas, lambung, kandung kemih,
dan
kandung
empedu.
Selanjutnya
meridian umum ynag berhubungan dengan
26
organ tetentu dalam tubuh diberi nama
sesuai dengan nama organ tersebut.
iii. Jalur meridian umum melewati anggota
gerak tangan dan kaki untuk selanjutnya
meridian yang melewati tangan disebut
meridian tangan yang dari yin tangan dan
yang tangan, demikian juga meridian yang
melewati kaki disebut meridian kaki yang
terdiri dari yin kaki dan yang kaki.
(b) Meridian istimewa
Merupakan bagian penting dari sistem meridian
yang jumlahnya ada 8 (delapan). Meridian ini tidak
berhubungan dengan organ tubuh. Fungsi dari
meridian istimewa adalah sebagai regulator dan
reservoir dari energi vital (qi) meridian umum. Ada
dua jenis meridian istimewa yaitu meridian
Konsepsi/Ren
(bersifat
yin)
dan
meridian
Gubernur/Du (bersifat yang) karena pada kedua
meridian
istimewa
tersebut
akupuntur/akupresur tersendiri.
terdapat
titik
27
(c) Luo merupakan jalur meridian yang melintang dan
berasal dari meridian umum, berfungsi untuk
mempererat hubungan antara meridian (Kemenkes,
2015).
(2) Penamaan
Meridian umum diberi nama berdasarkan singkatan
dari nama organ mapun meridian istimewa yaitu: Lung
(LU): Paru-paru, Large Intestine (LI): Usus Besar,
Stomach (ST): Lambung, Spleen (SP): Limpa, Heart
(HT): Jantung, Small Intestine (SI): Usus Kecil,
Bladder (BL): Kandung Kemih, Kidney (KL): Ginjal,
Pericardium (PC): Selaput Jantung, San jiao (SJ): Tri
Pemanas, Gallbladder (GB): Kandung Empedu, Liver
(LV): Hati, Consepsion Vessel/Ren (CV/RN): Merdian
Konsespi, dan Govemoor Vessel/Du (GV/DU: Meridian
Gubernur (Focks, 2008).
c) Titik akupuntur dan akupresur
Titik
akupuntur
dan
akupresur
merupakan
tempat
terpusatnya energi vital (qi) sekaligus merupakan tempat untuk
melakukan penekanan atau penusukan jarum sehingga tercapai
28
keseimbangan yin yang dalam tubuh. Ada 3 titik untuk
melakukan akupuntur/akupresur
(1) Titik
akupuntur/akupresur
umum
adalah
titik
akupuntur/akupresur yang terletak di jalur meridian
umum dan meridian istimewa
(2) Titik
akupuntur/akupresur
ekstra
adalah
titik
akupuntur/akupresur yang terletak di luar jalur meridian
umum dan meridian istimewa
(3) Titik nyeri adalah titik akupuntur/akupresur yang bukan
merupakan titik akupuntur/akupresur umum maupun
titik akupuntur/ekupresur ekstra. Pada titik tersebut
akan dirasakan nyeri apabila dilakukan penekaan
(dalam fase pasif) maupun tidak dilakukan penekanan
(dalam fase aktif).
d) Cara melakukan akupuntur dan akupresur
Pemilihan titik-titik akupuntur/akupresur sangat penting
dilakukan dimana titik yang dipilih merupukan tempat
penekanan ataupun penusukan jarum untuk mengatasi keluhan
gangguan kesehatan tertentu. Keluhan gangguan kesehatan
akibat bekerja di tempat kerja yang dapat dilakukan perawatan
mandarin akupuntur/ akupresur antara lain: keluhan sakit
29
kepala, sakit leher, mata lelah, nyeri bahu, nyeri pergelangan
tangan, nyeri pinggang, nyeri lutut dan stress. Penelitian yang
dilakukan oleh Dodik (2012) mengenai pengaruh akupuntur
terhadap penurunan nyeri lutut pada pasien osteoatritis
didapatkan hasil sebelum dilakukan terapi tingkatan nyeri
berada rata-rata pada skala nyeri sedang (4-6) sedangkan
setelah dilakukan terapi akupuntur nyeri berkurang menjadi
skala ringan (1-3). Penelitian lain yang dilakukan oleh Putri
dkk (2014) mengenai pengaruh akupresur terhadap moring
sickness menunjukkan hasil rata-rata skor sebelum dilakukan
akupresur pada kelompok intervensi lebih tinggi dengan ratarata 8,48 dibandingkan kelompok kontrol yaitu 7,96,
sedangkan setelag dilakukan akupresur rata-rata moring
sickeness pada kelompok intervensi lebih rendah yaitu 1,28
dan kelompok kontrol sebesar 7,84. Adapun tahapan
pelaksanaan akupuntur dan akupresur adalah sebagi berikut:
(1) Relaksasi
Relaksasi dilakukan dengan memijat tengkuk, bahu,
lengan,
tangan,
pinggang,
paha
dan
kaki
dengan
menggunakan jari dan telapak tangan, masing-masing
sebanyak 5 kali.
30
(2) Menentukkan titik-titik akupuntur/akupresur pada tubuh
yang mengalami keluhan
(3) Penekanan/pemijatan
Pemijatan dilakukan pada titik-titik akupresur sebanyak 2030 kali tekanan, kekuatan tekanan dianggap cukup apabila
sepertiga kuku menjadi putih pasa saat penekanan
dilakukan. Kekuatan tekanan disesuaikan apabila dilakukan
dengan alat bantu tumpul. Pada akupuntur jarum yang
ditusukan ke tubuh pasien berlangsung selama 30 menit
(Kemenkes, 2015).
e) Kontraindikasi
Akupuntur dapat menginduksi terjadinya persalinan, wanita
hamil tidak dianjurkan untuk menggunakan terapi ini selama
masa kehamilan. Pada trimester pertama kehamilan titik-titik
tertentu pada daerah abdomen dan lumbal sacral dapat
merangsang kontraksi uterus yang kuat. Akupuntur tidak boleh
diberikan kepada pasien yang mengalami kondisi
darurat,
selian itu pada pasien yang menderita tumor ganas bisa
menggunakan tercapai ini hanya untuk mengurangi efek
samping dari kemoterapi. Akupuntur juga tidak dianjurkan
bagi pasien yang menderita kelainan darah (WHO, 2000)
31
b. Cara penyembuhan manual (manual healing methods)
Teknik terapi ini berdasarkan manipulasi atau pergerakan dari satu
atau lebih dari bagain tubuh. Contohnya:
1) Pijat refleksi
a) Pengertian
Refleksi diambil dari kata refleks, yaitu suatu istilah yang
mengandung makna “gerak yang tak sengaja” atau gerak yang
otomatis, atau dapat pula berarti berbalik kembali atau
memantul (Hadikusumo, 2000). Teknik pengobatan dengan
cara memijat, mengusap tau mengurut, memanaskan atau
menghangatkan, atau menusuk sebenarnya adalah keterampilan
umum milik semua bangsa yang dilakukan, baik oleh yang ahli
ilmu pengobatan maupun orang awam, bahkan oleh anak kecil
sekalipun Saat ini terapi pijat refleski telah berkembang di
seluruh dunia. Pijat refleksi menjadi salah satu pilihan untuk
mengatasi gangguan kesehatan pada manusia. Masyarakat di
Indonesia telah banyak memanfaatkan jasa pelayanan pijat
refleksi untuk menjaga kesehatan (Kemdendikbud, 2015).
b) Mekanisme kerja pijat refleksi
Refleksologi adalah pengobatan holistik berdasarkan
prinsip bahwa terdapat titik atau area pada kaki, tangan, dan
32
telinga yang terhubung ke bagian tubuh atau organ lain melalui
sistem saraf. Tekanan atau pijatan di titik atau area tersebut
akan merangsang pergerakan energi di sepanjang saluran saraf
yang
akan
membantu
mengembalikan
homeostatis
(keseimbangan) energi tubuh. Stress, cedera, atau gangguan
penyakit dapat menyebabkan keseimbangan energi tubuh
terganggu.
Ketidakseimbangan energi dapat dirasakan melalui Kristal
di titik refleski yang sesuai dengan bagain tubuh yang
bermasalah. Kristal tersebut terasa bervariasi dari yang seperti
pasir hingga terasa berbentuk benjolan. Kristal tersebut terjadi
karena terhalangnya saluran energi. Pijatan di daerah yang
bermasalah akan merangsang aliran energi yang akan
membongkar halangan dan melancarkan kembali aliran energi.
Ketidakseimbangan energi dapat dilihat atau dirasakan melalui
tanda-tanda, antara lain mengerasnya kulit, muncul tanda-tanda
di kaku (tanda merah dapat menunjukan masalah akut), bau
kaki, atau temperatur kaki dan kelembaban kaki yang tidak
normal.
Pijat refleksi dilakukan dengan memanipulasi di titik atau
area refleski untuk merangsang aliran dan pergerakan energi di
33
sepanjang saluran zona yang akan membantu mengembalikan
homeostasis (keseimbangan) energi tubuh. Rangsangan pijat
refleksi bekerja dari dalam ke luar, memanipulasi energi tubuh
agar tubuh memperbaiki gangguan, dan merangsang sistem
saraf untuk melepaskan ketegangan (Kemendikbud, 2015).
c) Manfaat pijat refleksi
Teori Endorphin Pommeranz menyatakan bahwa tubuh
akan bereaksi dengan mengeluarkan endorphin karena
pemijatan. Endorphin bersifat menenangkan, memberikan efek
nyaman, dan sangat berperan dalam regenerasi sel-sel guna
memperbaiki bagian tubuh yang sudah rusak. Pijat refleksi
juga memberikan manfaat bagi sistem dalam tubuh. Beberapa
di antaranya adalah sebagai berikut:
(1) Stress, kurang tidur, nyeri kepala, dan sebaginya
menimbulkan ketegangan pada sistem saraf. Pijat refleksi
dapat sedatif yang berfungsi meringankan ketegangan
pada saraf. Karena mempengaruhi sistem saraf, pijat
refleksi juga dapat meningkatkan aktivitas sistem vegetasi
tubuh yang dikontrol oleh otak dan sistem saraf, yakni
sistem kelenjar-hormonal, penelitian yang dilakukan oleh
Srilestari (1997) tentang pengaruh pijat refleksi pada
34
penderita non insulin dependen diabetes mellitus didapatka
hasil pada kelompok intervensi setelah dilakukan pijat
refleksi 5 kali, kadar glukosa darah puasa menurun sebesar
11,7 mg %, sedangkan pada kelompok kontrol meningkat
8,6 mg % dan glukosa dara pospradinal setelah pijar
refleksi 5 kali, pada kelompok intervensi menurun 3 mg %
sedangkan pada kelompok kontrol meningkat 17,7 mg %.
Sistem peredaran darah, Rezky dkk (2015) melakukan
penelitian mengenai pengaruh pijat refleksi terhadap
tenakan darah pada penderita hipertesi primer didapatkan
hasil pada kelompok intervensi mengalami penurunan
tekanan darah sitolik yaitu dari 158 mmHg menjadi 152
mmHg dan tekanan darah diastolik mengalami penurunan
sebesar 3,44 mmHg sedangkan pada kelompok kontrol
tekanan daran sistolik juga mengalami penurunan dari 159
mmHg menjadi 157 mmHg dengan selisih sebesar 2,42
mmHg dan tenakan darah diastoliknya naik sebesar 0,97
mmHg, sistem pencernaan.
(2) Mengurangi pegal dan nyeri pada otot ataupun persendian
yang diakibatkan penumpukan asam laktat. Pijat refleksi
35
dapat membuat otot dan jaringan lunak tubuh lebih releks
dan meregang (Kemendikbud, 2015).
c. Pengobatan farmakalogi dan biologi (pharmacologic and biologic
treatments)
Terapi yang menggunakan bahan-bahan yang tersedia di alam.
Contohnya:
1) Obat herbal
a) Pengertian
Obat herbal adalah obat-obatan yang dibuat dari bahan
tumbuan, baik itu tumbuhan yang sudah dibudidayakan
maupun tumbuhan liar. Obat herbal merupakan salah satu obat
tradisional. Dalam obat tradisional mencakup juga obat yang
dibuat dari bahan hewan, mineral, atau gabungan dari bahan
hewan, mineral, dan tumbuhan (Mangan, 2009).
b) Macam-macam obat herbal
Obat herbal dapat dikelompokkan menjadi empat kategori
(WHO, 2004), yaitu berdasarkan asal usul, evolusi, dan bentuk
penggunaan saat ini.
(1) Obat-obatan herbal asli
Kategori obat herbal ini secara historis digunakan di
masyarakat atau daerah setempat dan sudah digunakan
36
sejak lama dalam hal kompisisinya. Informasi mengenai
penjelasan pengobatan dan dosis hanya berdasarkan
informasi dari masyarakat saja karena belum adanya label
mengenai kemanjuran dan keamanaan dari kategori obat
herbal ini.
(2) Obat herbal dengan sistem
Obat-obatan dalam kategori ini sudah lama digunakan
dan mempunyai informasi yang jelas berdasarkan teori dan
konsep pengobatan dan diterima secara global. Misalnya
Ayurveda, Unani, dan Siddha masuk ke dalam kategori ini.
(3) Obat herbal yang dimodifikasi
Pada kategori ini obat herbal sudah mengalami
modifikasi baik dari cara, bentuk sediaan, dosis, bahan
yang digunakan sebagai ramuan obat herbal, cara
penggunaan, dan indikasi medis. Pada kategori ini obat
herbal yang akan digunakan harus memenuhi persayaratan
mengenai keamanan dari lembaga pengawasan obat dan
keampuhan dari obat herbal itu sendiri.
(4) Produk impor dengan basis obat herbal
Kategori ini mencakup semua obat-obatan herbal impor
termasuk bahan baku dan produk herbal impor harus
37
terdaftar dan dipasarkan juga di negara asalnya sebelum
produk tersebut dipasarkan ke negara lain. Produk obat
herbal impor ini juga harus mempunyai data mengenai
keamanaan dan kemapuhan baik dari negara asalnya
maupun negara yang menerima produk tersebut.
c) Penggunaan obat herbal dengan tepat
Katno (2008), menyatakan bahwa obat herbal akan
bermanfaat
dan
aman
jika
digunakan
dengan
mempertimbangkan enam aspek ketepatan, yaitu:
(1) Tepat takaran (dosis)
Obat herbal sama seperti obat buatan pabrik yang harus
dikonsumsi sesuai dengan dosis, seperti penggunaan daun
keji beling (Strobilantus cripus) untuk menghancurkan batu
ginjal melebihi dua gram serbuk dalam sekali minum dapat
menimbulkan iritasi saluran kemih. Permasalahan dalam
ketepatan
takaran
penggunaan
obat
herbal
karena
penentuan takaran umumnya belum banyak didukung oleh
hasil penelitian. Peracikan secara tradisional hanya
menggunakan
segenggam,
ketepatannya.
ukuran
dan
tradisional,
seruas
sehingga
seperti
sejumput,
sulit
ditentukan
38
(2) Tepat waktu penggunaan
Penggunaan ekstrak kunyit dapat mengurangi nyeri saat
menstruasi karena kunyit bersifat abortivum sehingga
memiliki
efek
stimultan
pada
kontraksi
uterus,
mengkonsumsi ekstrak kunyit tidak dianjurkan pada awal
masa kehamilan, karena akan meningkatkan resiko
keguguran. Hal ini menunjukkan bahwa ketepatan waktu
penggunaan obat herbal akan sangat menentukan tercapi
tidaknya efek yang diharapkan.
(3) Tepat cara penggunaan
Secara umum, masyarakat menggunakan obat herbal
dengan cara direbus untuk mengambil sarinya. Hal ini tidak
sepenuhnya dapat digunakan untuk semua jenis obat herbal
ataupun tanaman obat, seperti daun kecebung (Datura
metel L), daun ini mengandung alkaloid (seperti hiosiamin
dan atropin) yang bersifat bronkodilator. penggunaan daun
ini tidak boleh dengan cara di rebus karena akan
meningkatkan alkaloid dalam darah sehingga akan terjadi
keracunan.
39
(4) Tepat pemilihan bahan
Obat herbal biasanya diproses menggunakan tanaman
obat yang mempunyai beragam spesies sehingga sulit
untuk dibedakan. Masyarakat harus lebih teliti dalam
pemilihan bahan agar khasiat yang ingin di dapat dapat
diperoleh jika terjadi kesalahan dalam membuat ramuan
obat herbal maka akan menimbulkan efek samping seperti
keracunan.
(5) Tepat telaah informasi
Perkembangan
teknologi
informasi
meberikan
kemudahan akses dalam mencari informasi. Kemudahan
akses ini harus didukung dengan pengetahuan dasar yang
memadai dan telaah atau kajian yang cukup sehingga tidak
akan
terjadi
kesalahan
dalam
menerima
informasi.
Ketidaktahuan bisa menyebabkan obat herbal dapat
memimbulkan efek samping yang berbahaya.
(6) Sesuai dengan indikasi penyakit tertentu
Masyarakat
mempunyai
banyak
pilihan
untuk
menggunakan obat herbal. Pemilihan jenis obat herbal
untuk mengobati suatu penyakit harus dilakukan dengan
tepat dan rasio antara keberhasilan terapi dan efek samping
40
yang ditimbulkan harus menjadi pertimbangan dalam
pemilihan obat herbal.
d) Tanaman obat herbal
Beberapa tanaman obat yang biasa digunakan menjadi obat
herbal antara lain:
(1) Kunyit
Termasuk salah satu tanaman suku temu-temuan
(Zingiberaceae). Kunyit yang dikenal sebagai penyedap
dapat digunakan juga sebagai obat untuk meyembuhkan
berbagi penyakit. Kunyit kaya akan kandungan minyak
atsiri yang dapat mencegah keluarnya asam lambung yang
berlebihan dan mengurangi gerak usus terlalu kuat. Selain
minyak atsiri, kunyit juga berkhasiat untuk menyembuhkan
gangguan pada hepar dan saluran empedu.
Zat aktif yang terkandung dalam kunyit dan efek
farmakologis
No.
Nama Zat Aktif
Efek Farmakologis
1
Caffeic acid
Merangsang semangat, penyegar,
mengurangi rasa letih, antiradang,
antikejang, dan antioksidan
2
L-a dan L-b curcumae
Penyegar
3
Guanicol
Menurunkan
kepekaan
perbaba dan menekan batuk
4
Protochatechuic acid
Merangsang daya tahan tubuh
saraf
41
5
Ukanon A, B, C dan D
Merangsang daya tahan, stamina,
dan kekebalan tubuh
(Winarto, 2008)
(5) Jahe merah
Jahe (Zingiber afficinale Rosc) adalah salah satu
tanaman obat yang sering digunakan oleh masyarakat.
Pemanfaatan jahe sudah diwariskan secara turun-temurun,
seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi
dan
dilengkapi
dengan
penelitian
yang
mendukung, jahe mulai dimanfaatkan secara komersial.
Salah satu jenis jahe yang sering dijadikan obat adalah
jenis jahe merah.
Zat aktif yang terkandung dalam jahe merah dan efek
farmakologi
No.
Nama Zat Aktif
Efek Farmakologis
1
Limonene
Menghambat
jamur
Candida
albicans, anticholinesterase, obat
flu
2
1,8-cineole
Mengatasi ejakulasi premature,
anestetik anticholinesterase,
perangsang aktivitas saraf pusat,
pengaut hepar
3
4
10-dehydroginger-dione,
Merangsang
10-ginger-dione,
menghambat kerja enzim siklo-
6-
keluarnya
ASI,
gingerdion, 6-gingerol
oksigenase, penekan prostaglandin
Alpha-linolenic acid
Anti-pendarahan
di
luar
haid,
42
merangsang
kekebalan
tubuh,
merangsang produksi getah bening
5
Arginine
Mencegah kemandulan,
memperkuat daya than sperma
6
Aspartic acid
Perangsang saraf, penyegar
7
Betha-sitoserol
Perangsang hormone androgen,
menghambat hormone estrogen,
mencegah hiper-lipoprotein,
melemahkan potensi sperma, bahan
baku feroid
8
Caprylic-acid
Antijamur Candida albicans
9
Capcaisin
Merangsang ereksi, menghembat
keluarnya enzim 5-lipoksigenase
dan siklo-oksigenase,
meningkatkan aktivitas kelenjar
endokrin
10
Chlorogenic acid
Mencegah
proses
penuaan,
merangsang regenerasi sel kulit,
farnesal
11
Farnesol
Bahan pewangi makanan, parfum,
merangsang regenerasi sel normal.
(Winarto, 2008)
(2) Mengkudu
Mengkudu (Morinda citrifolia) yang termasuk anggota
family Rubiaceae ini juga dikenal dengan nama keumudee,
lengkudu, atau bangkudu pada daerah Sumatra. Nama
mengkudu berbeda-beda disetiap daerah. Mengkudu
mempunyai beberapa kandungan untuk kesehatan seperti
sebagai pencahar, bersifat fiuretik, obat anticacing gelang,
43
menghilangkan hawa lembab pada tubuh, meningkatkan
kekuatan tulang, membersihkan darah, meluruhkan haid,
melembutkan kulit, serta mengobati batuk (Suharmiati dkk,
2006). Mengkudu mengandung potasium yang tinggi
sehingga pasien yang mempunyai gangguan pada ginjal
harus berhati-hati karena dapat menyebabkan aritmia dan
infark miokard (Hussin, 2001).
(3) Alang-alang
Alang-alang merupakan tanaman yang berbentuk
rumput panjang yang tumbuh merayap di tanah. Alangalang mempunyai nama latin Imperata cylindrical dan
mempunyai beberapa nama yang berbeda di setiap daerah
contohnya di daerah Sumatera alang-alang dinamakan
naleueng lakoe. Beberapa khasiat yang terdapat pada alangalang di antaranya mempunyai sifat penurun panas, peluruh
kencing (diuretik), menghentikan pendarahan (hemostatik),
menghilangkan haus (Andareto, 2015; Dalimartha, 2007).
e) Efek samping
Masyarakat yang mengkonsumsi obat herbal harus berhatihati terhadap efek samping. Wanita hamil harus berhati-hati
dalam mengkonsumsi obat herbal karena kandungan senyawa
44
pada obat herbal dapat mengakibatkan gangguan pada janin
atau masalah pada bayi baru lahir. Penggunaan obat herbal
yang dikombinasi dengan obat konvesional dapat merubah
farmakokinetik dan farmakodinamik. Interaksi obat herbal
dapat menyebabkan terjadinya penurunan atau peningkatan
penyerapan, distribusi, metabolisme, dan ekskresi dari obat
konvensional (Hussin, 2001).
d. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan (unclassified diagnostic and
treatment methods)
a) Ahli patah tulang
Ahli patah tulang adalah seorang praktisi manipulasi sendi.
Ahli patah tulang juga dapat didefinisikan sebagai praktisisi yang
terbentuk dari sebuah tradisi dan tidak mengikuti pendidikan
formal atau pelatihan medis mengenai patah tulang/fraktur.
Pengobatan dasar yang dilakukan oleh seorang ahli patah tulang
meliputi teknik pembalutan, dislokasi, strain dan sprain, metode
awal penyembuhan patah tulang, dan memproduksi minyak untuk
memperkuat tulang. Ahli patah tulang mendapatkan ilmu secara
turun-temurun tanpa adanya dokumentasi dan prosedur yang jelas
mengenai praktik ini (Singh, 2013; Aries, 2007).
45
Beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat memilih ahli
patah tulang antara lain karena akses yang mudah, pelayanan yang
cepat, takut dengan prosedur medis seperti pemasangan implant
dan traksi, kemudahan dan fleksibilitas, percaya dengan tradisi
turun-temurun, dan ahli patah tulang dipandang sebagai seorang
yang mengobati patah tulang minor (Owumi, 2013).
b) Dukun sembur
Sebuah profesi tradisional yang ada dalam masyarakat Betawi
yang berfungsi membantu orang melahirkan anak. Biasanya dukun
beranak adalah perempuan yang sudah berusia lanjut. Selain
membantu melahirkan dukun sembur juga membantu pengobatan
dengan cara mengolesi ramuan yang dijadikan obat pada tubuh
pasien kemudian di bacakan doa-doa khusus atau jampi-jampi.
Media penyembuhan yang biasa digunakan oleh dukun sembur
seperti air atau ramuan (akar, daun) yang dijampi-jampi lalu
disemburkan (Ensiklopedia Jakarta, 2012).
3. Kuntungan dan kekurangan CAM
Beberapa keuntungan dan kerugian dalam penggunaan pengobatan
komplementer dan alternatif (WHO, 2012), sebagai berikut:
a. Keuntungan
1) Kemudahan akses
46
Pengobatan komplementer dan alternatif lebih sering digunakan
oleh masyarakat di negara berkembang karena pengobatan ini
banyak ditemukan di negara berkembang dan lebih terjangkau dari
pada pengobatan konvensional.
2) Terjangkau
Kebanyakan masyarakat miskin di negera berkembang membeli
obat dengan harga yang tidak sesuai dengan kantung mereka,
meskipun layanan pengobatan disekitar mereka menyediakan
pengabatan gratis ataupun pengobatan esensial tidak dapat
diandalkan serta jauhnya jarak fasilitas kesehatan.
3) Dirasa aman
Terapi pengobatan komplementer dan alternatif dikenal dengan
masyarakat
karena
memiliki
efek
samping
yang
rendah
dibandingkan dengan terapi medis.
4) Berpotensi menyembuhan penyakit
Masyarakat yang menggunakan pengobatan komplementer dan
alternatif secara umum menganggap bahwa pengobatan ini
mempunyai manfaat yang baik khususnya dalam mengobati
penyakit kronis. Selain itu masyarakat yang menggunakan
pengobatan komplementer dan alternatif biasanya menolak
menggunakan pengobatan konvensional.
47
b. Kekurangan
1) Kualitas yang tidak baik
Salah satu produk dari pengobatan komplementer dan alternatif
adalah obat herbal. Obat herbal yang di produksi masih
mempunyai standar yang kurang dalam hal pengawasan. Hal
tersebut dapat menyebabkan masalah seperti pemalsuan, kesalahan
identifikasi bahan, kontaminasi, dan kurangnya informasi pada
label kemasan.
2) Penggunaan yang tidak tepat
Penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif yang tidak
tepat dapat menimbulkan hal yang serius.
3) Informasi yang kurang
Kebanyakan konsumen di negara berkembang menggunakan
produk pengobatan komplementer dan alternatif untuk mengobati
diri mereka sendiri tanpa adanya pendampingan dari orang yang
ahli karena pengobatan ini memiliki kebebasan dan harga yang
tidak begitu mahal.
C. Masyarakat
Masyarakat dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari
kata latin socius yang berarti kawan. Masyarakat adalah sekumpulan manusia
yang saling berinteraksi satu sama lain (Koentjaraningrat, 2009). Pengertian
48
lain mendefinisikan masyarakat sebagai sekelompok manusia yang telah
hidup dan bekerja sama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri
mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan
batas-batas yang telah ditetapkan dengan jelas (Effendy, 2000).
Horton et al (dalam Satria, 2008) mendefinisikan masyarakat sebagai
sekumpulan manusia yang relatif mandiri, yang hidup bersama-sama cukup
lama, mendiami suatu wilayah tertentu, memiliki kebudayaan sama, dan
melakukan sebagian besar kegiatannya dalam sekelompok tersebut. Soerjono
Soekanto (dalam Satria, 2008) mencirikan unsur-unsur masyarakat sebagai
berikut:
a. Manusia yang hidup bersama
b. Mereka bercampur untuk waktu yang lama
c. Mereka sadar sebagai suatu kesatuan, dan
d. Mereka merupakan suatu sitem hidup bersama.
D. Penelitian Terkait
1. Onyiapat dkk tahun 2011 melakukan penelitian di Negeria mengenai
penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif terhadap orang
dewasa di Enugu, Nigeria. Penelitian ini menggunakan kuisioner dengan
metode cross-sectional dan random sampling di dapatkan hasil sebanyak
732 peserta (37, 2% laki-laki dan 62,8% perempuan) yang usianya 18-65
49
tahun. Sebanyak 620 (84,7%) menggunakan satu atau lebih pegobatan
komplementer dan alternatif sedangkan sebanyak 112 (15,3%) tidak
menggunakan segala bentuk dari pengobatan komplementer dan alternatif.
Alasan utama masyarakat Enugu menggunakan pengobatan ini karena
sudah menjadi kebiasaan masyarakat disana dan sebagai sarana promosi
serta pemeliharan kesehatan.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Hermalinda dkk tahun 2015 mengenai
pengalaman orang tua dalam penggunaan pengobatan alternatif pada anak
yang menderita kanker di Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan
fenomenologi dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara
mendalam terhadap 8 orang tua dan dianalisis dengan metode Colaizzi.
Hasil pada penelitian ini adalah tidak ada perubahan dan adanya efek jera
dalam penggunaan pengobatan alternatif. Orang tua yang memilih
menggunakan pengobatan alternatif karena memiliki ketidakpuasan pada
pengobatan konvensional.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Khan dkk tahun 2015 pemilihan dan
kebiasaan menggunakan ahli patah tulang. Penelitian ini menggunakan
design observational study. Hasil penelitian ini sebayak 60 perempuan dan
44 laki-laki, 2 (3,3%) pasien tetap memimilih menggunakan pelayanan
orthopedic modern, 47 (78,3%) pasien yang menggunakan ahli patah
tulang berdasarkan keinginan sendiri dan saran dari keluarga mereka, 20%
50
atas rekomendasi dari teman. Alasan mereka menggunakan pengobatan
ahli patah tulang karena percaya, harga yang murah, pelayanan yang cepat
dan pelayanannya sama seperti tenaga medis yang ada di rumah sakit.
51
E. Kerangka Teori
Masyarakat
Medis/konvensional:
-
Operasi
Farmakologi
Pengobatan komplementer
dan alternatif:
-
Bekam
Akupuntur dan
akupresur
Pijat refleksi
Obat herbal
Ahli patah tulang
Dukun sembur
Pandangan masyarakat
terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif
meliputi pengertian, jenis,
keuntungan dan kerugian
Self perception:
pengetahuan, sikap,
perasaan,
kepribadian,
harapan, keinginan,
motivasi , keadaan
fisik, dan sosial
budaya
Persepsi
External
perception:
keluarga, orang
lain, informasi
yang diterima,
lingkungan, dan
hal baru
Bagan 2.1 Kerangka teori: NCCAM (2013), Toha (2003), Rakhmat (2011), (Sobur,
2003)
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
A. Kerangka konsep
Variabel penelitian adalah sesutau yang digunakan sebagai ciri, sifat, dan
ukuran yang dimiliki atau didapat oleh satuan penelitian tentang suatu konsep
pengertian tertentu (Notoatmojo, 2010). Penelitian ini memiliki satu variable
yaitu persepsi masyarakat di wilayah Kelurahan Pondok Benda RW 013
Pamulang 2 terhadap pengobatan komplementer dan alternatif.
Persepsi
Pandangan masyarakat terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif menurut
masyarakat meliputi: pengertian, jenis,
keuntungan dan kerugian
52
53
B. Definisi operasional
Definisi operasional adalah medefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati,
sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat suatu objek atau
fenomena.
Variabel
Usia
Definisi Operasional
Suatu rentang waktu kehidupan
yang diukur dengan tahun
berdasarkan tahun yang sudah
dilalui oleh responden pada saat
pengambilan data
Alat Ukur
Kuesioner
Hasil Ukur
1 = Dewasa awal = 26-35 tahun
2 = Dewasa akhir = 36-45 tahun
3 = Lansia awal = 46-55 tahun
4 = Lansia akhir = 56-65 tahun
(Kozier, 2011), (Durkin, 1995)
Skala
Ordinal
Jenis kelamin
Status seks antara laki-laki dan
perempuan yang dimiliki oleh
responden secara biologis yang
dibawa sejak responden lahir
Kuesioner
1 = Laki-laki
2 = Perempuan
Nominal
Pendidikan
Pendidikan yang sedang
berlangsung ataupun pendidikan
terakhir responden
Kuesioner
0 = Tidak sekolah
1 = Lulus SD
2 = Lulus SMP/SLTPTA
3 = Lusus SMA/SLTA/SMK
4 = Perguruan tinggi
(UU nomer 20 tahun 2003)
Ordinal
54
Pengalaman
menggunakan
pengobatan
komplementer dan
alternative
Persepsi tentang
pengobatan
komplementer dan
alternative
Berpengalaman menggunakan
pengobatan komplementer dan
alternative
Kuesioner
1= Pernah
2= Tidak pernah
Nominal
Pandangan masyarakat terhadap
pengobatan komplementer dan
alternatif meliputi: pengertian, jenis,
keuntungan, dan kerugian
Suatu persepsi yang dimiliki
responden terhadap pengertian
pengobatan komplementer dan
altenatif dan makanya apabila
persepsi positif maka responden
tersebut dapat menjawab dengan
tepat tentang pengertian pengobatan
komplementer dan alternatif
Suatu persepsi dimana responden
menganggap bahwa bekam tetap
memiliki indikasi, kontraindikasi
serta harus mempunyai keamanan
dalam prosedur tindakan
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
92,00)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban ≤ median,
92,00)
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
6,00)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban ≤ median, 6,00)
Ordinal
Persepsi tentang
pengertian
pengobatan
komplementer dan
alternative
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 28
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 2
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 5
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 5
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
18,00)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban < median,
18,00)
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
18,00)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban < median,
18,00)
3.
Persepsi tentang
bekam
Persepsi tentang
akupuntur dan
akupresur
Suatu persepsi dimana responden
menganggap bahwa akupuntur dan
akupresur tetap memiliki indikasi,
kontraindikasi serta harus
mempunyai keamanan dalam
prosedur tindakan
55
Persepsi tentang
pijat refleksi
Suatu persepsi dimana responden
menganggap bahwa pijat
refleksitetap memiliki indikasi,
kontraindikasi serta harus
mempunyai keamanan dalan
prosedur tindakan
Persepsi tentang
obat herbal
Suatu persepsi dimana responden
menganggap bahwa obat herbal
tetap memiliki indikasi,
kontraindikasi serta harus
mempunyai informasi mengenai
keamanan dan kemapuhan dari obat
herbal
Suatu persepsi dimana responden
menganggap bahwa ahli patah
tulang tetap memiliki indikasi,
kontraindikasi serta harus
mempunyai keamanan dalam
prosedur tindakan
Persespi tentang ahli
patah tulang
Persepsi tentang
dukun sembur
Suatu persepsi dimana responden
menganggap bahwa dukum
semburtulang tetap memiliki
indikasi kontraindikasi serta harus
mempunyai keamanan dalam
prosedur tindakan
Persepsi tentang
keuntungan dan
kerugian pengobatan
komplementer dan
alternatif
Suatu persepsi dimana responden
menganggap bahwa pengobatan
komplementer dan alternatif tetap
mempunyai keuntungandan
kerugian
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 4
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 3
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 2
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 2
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Menggunakan kusioner yang dibuat
sendiri oleh peneliti yang sudah di uji
validitas dan reliabilitas berjumlah 5
pernyataan lalu menghitung skor pada
pernyataan yang sudah dijawab
repsonden dengan cara ukur skala
likert
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
15,50)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban < median,
15,50)
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
6,00)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban < median,
6,00)
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
6,00)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban < median,
6,00)
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
7,00)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban < median,
7,00)
Cut of point:
1. Persepsi positif (skor
jawaban ≥ median ,
16,00)
2. Persepsi negatif (skor
jawaban < median,
16,00)
BAB IV
METODELOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan
penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penun
tun penelitian pada seluruh proses penelitian (Setiadi, 2007). Jenis penelitian
ini adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan desain deskriptif. Penelitian
ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran persepsi masyarakat terhadap
pengobatan komplementer dan alternatif pada wilayah Kelurahan Pondok
Benda RW 013 Pamulang 2.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Pondok Benda RW 013 Pamulang 2.
Tempat ini dipilih oleh peneliti karena belum ada penelitian yang sama
dan untuk mengetahui pengobatan komplementer dan alternatif yang
umumnya akan digunakan oleh masyarakat. Selain itu tempat ini terdapat
seorang warga yang mampu melakukan praktik pengobatan dan alternatif
seperti bekam dan pijat refleksi.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan April-Mei 2017.
56
57
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah jumlah dari keseluruhan objek yang karakteristiknya tidak
ditetapkan (Nursalam, 2008). Populasi dalam penelitian ini adalah semua
masyarakat di wilayah Kelurahan Pondok Benda RW 013 Pamulang 2
yang berusia 26 sampai 65 tahun. Populasi pada penelitian ini berjumlah
403.
2. Sampel
Sampel adalah bagan populasi yang dipilih dengan sampling tertentu
untuk bisa memenuhi atau mewakili populasi (Nursalam, 2008). Penelitian
ini menggunakan random sampling yang merupakan cara pengambilan
sampel untuk memberikan peluang yang sama kepada setiap anggota
populasi untuk terpilih sebagai sampel (Morton, 2009). Teknik random
sampling yang digunakan adalah simple random sampling dengan sistem
lotre (Gulo, 2010).
Sampel ditentukan dengan cara mengambil responden yang memenuhi
kriteria inklusi dan ekslusi. Pengambilan kriteria inklusi dan kriteria
eksklusi yang ditentukan oleh peneliti.
a. Kriteria inklusi yang ditetapkan adalah
1) Bersedia menjadi responden
2) Memahami bahasa Indonesia
3) Masyarakat yang berusia 26 sampai 65 tahun
58
4) Masyarakat yang pernah menggunakan ataupun belim pernah
menggunakan pengobatan komplementer dan alternatif
5) Sehat jasmani dan rohani
b. Kriteria ekslusi
1) Menolak untuk berpartisipasi sebagai subjek penelitian
2) Responden tidak dapat diwakilkan oleh orang lain.
Perhitungan jumlah sampel dibawah ini menggunakan rumus Slovin untuk
menentukan berapa minimal sampel yang dibutuhkan jika ukuran populasi
diketahui (Hamdi, 2014), yaitu:
N
n=
1+N (d2)
Keterangan:
n: Jumlah sampel
N: Populasi
d: Derajat kesalahan yang diinginkan
Maka pengambilan sampel yang diinginkan adalah:
403
n=
1+ 403 (10%)2
403
=
1+ 4,03
=
403
5,03
59
= 80,11 (dibulatkan 80)
Untuk mengantisipasi responden yang droupout, maka total sampel yang
diambil sebanyak 80 orang ditambah 10% sehingga sampel penelitian
sebanyak 88 orang.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan oleh peneliti untuk memperoleh
informasi dari responden ialah menggunakan kuesioner
1. Kuesioner
Pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah kuesioner atau
angket yang disesuaikan dengan tujuan penelitian dan mengacu kepada
konsep dan teori yang telah dibuat. Pertanyaan terdiri dari empat bagian
yaitu:
a. Bagian A berisi tentang data demografi yang meliputi inisial, usia,
jenis kelamin, riwayat pendidikan terakhir, dan pengalaman terhadap
pengoabtan komplementer dan alternatif.
b. Bagian B berkaitan dengan persepsi masyarakat terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif.
60
Tabel 4.1 Kisi-Kisi Kuesioner
Persepsi terhadap pengobatan
Positif
Negatif
Jumlah
1
2
2
Pengertian
3
-
1
Keamanan
4
5, 6
3
Kontraindikasi
7
-
1
Pengertian
8
-
1
Keamanan
9
10, 12
3
Kontraindikasi
12
-
1
Pengertian
13
-
1
Keamanan
14
15
2
Kontraindikasi
16
-
1
Pengertian
-
-
-
Keamanan
-
17
1
Khasiat
-
18 19
2
Pengertian
20
-
1
Kemananan
-
21
1
Biaya
-
-
-
22
-
1
-
23
1
Keuntungan
24, 26, 28
-
3
Kekurangan
-
25, 27
2
komplementer dan alternative
Pengetian
Bekam:
Akupuntur dan akupresur:
Pijat refleksi:
Obat herbal:
Ahli patah tulang:
Dukun sembur/ “ Orang pintar”:
Pengertian
Keefektifan
Berdasarkan skala likert, dengan penilaian untuk pertanyaan positif
“sangat tidak setuju” = 1, “kurang setuju” = 2, “ragu-ragu” = 3,
61
“setuju” = 4, “sangat setuju” = 5. Sedangkan untuk pertanyaan yang
bersifat negatif diberi nilai “sangat setuju” = 1, “setuju” = 2, “raguragu” = 3, “kurang setuju” = 4, “sangat tidak setuju” = 5.
Penelitian ini menggunakan cut of point sebagai nilai tengah untuk
mengetahui skor persepi tentang pengobatan komplementer dan alternatif,
sehingga dilakukan uji normalitas. Uji normalitas data pada penelitian ini
menggunakan Kolmogrov-Smirnov jika nilai p < 0,05, maka distribusi
data tidak normal sedangkan jika p > 0,05 maka distribusi data normal
(Sopiyudin, 2012). Perhitungan statistik persepsi tentang pengobatan
komplementer dan alternatif dan subvariabelnya dapat dilihat pada tabel
berikut:
Tabel 4.2
Skor perhitungan statistik persespi tentang pengobatan
komplementer dan alternatif beserta subvariabelnya
Mean
Median
KolmogrovSmirnov
Persepsi total
93,74
92,00
.001
Pengertian
6,53
6,00
.000
Bekam
18,07
18,00
.000
Akupuntur dan akupresur
18,01
18,00
.011
Pijat refleksi
15,31
15,50
.000
Obat herbal
6,68
6,00
.000
Ahli patah tulang
5,97
6,00
.000
Dukun sembur/”orang pintar”
7,16
7,00
.000
Keuntungan dan kekurangan
16,01
16,00
.005
62
Pada tabel 4.2 diatas didapatkan bahwa data mengenai persepsi
tentang pengobatan komplementer dan alternatif berdistribusi tidak
normal, sehingga pada penelitian ini menggunakan nilai median sebagai
batas tengah atau cut of point. Nilai cut of point untuk persepsi tentang
pengobatan komplementer dan alternatif adalah 92,00, apabila persespi
positif maka skor hitung ≥ 92,00 dan apabila persespi negatif maka skor
hitung ≤ 92,00. Persespi positif pengertian pengobatan komplementer dan
alternatif skor hitung ≥ 6,00 dan persespi negatif skor hitung ≤ 6,00.
Persepsi positif item bekam skor hitung ≥ 18,00 da persespi negate jika
skor hitung ≤ 18,00. Persepsi positif item akupuntur dan akupresur skor
hitung ≤ 18,00 dan persespi negatif jika skor hitung ≤ 18,00. Persepsi
positif item pijat refleksi skor hitung ≥ 15,50 dan persepsi negatif skor
hitung ≤ 15,50. Persepsi positif item obat herbal skor hitung ≥ 6,00 dan
persespi negatif skor hitung ≤ 6,00. Persepsi positif item ahli patah tulang
skor hitung ≥ 6,00 dan persepsi negatif skor hitung ≤ 6,00. Persespi positif
item duku sembur/”orang pintar” ≥ 7,00 dan persepsi negatif skor hitung ≤
7,00. Persepsi positif item keuntungan dan kerugian skor hitung ≥ 16,00
dan persespi negatif ≤ 16,00.
63
E. Pengumpulan Data
1. Sumber Data
Data primer yang didapatkan peneliti adalah langsung dari responden
melalui kuesioner yang diberikan oleh peneliti. Sebelum melakukan
pengumpulan data peneliti sudah melakukan uji validitas dan uji
reliabilitas kuesioner yang digunakan untuk penelitian ini. Responden
diminta untuk mengisi sendiri kuesioner yang telah diberikan oleh peneliti
dan tidak boleh diwakilkan. Kuesioner yang telah diisi langsung diberikan
kepada peneliti.
2. Prosedur Pengumpulan Data
Proses-proses pengumpulan data pada penelitian melalui beberapa tahap,
yaitu:
a. Setelah proposal penelitian disetujui oleh penguji dan pembimbing
peneliti membuat kuesioner berdasarkan teroi yang ada
b. Selanjutnya peneliti mengambil data setelah mendapatkan surat
pemohonan izin penelitian dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditujukan kepada
Kepala Kelurahan Pondok Benda.
c. Setelah mendapat persetujuan dari Kepala Kelurahan Pondok Benda,
peneliti melakukan pengambilan data yang memenuhi kriteria
penelitian
64
d. Meminta kesediaan calon responden yang terpilih agar bersedia
menjadi responden setelah mengadakan pendekatan dan memberikan
penjelasan tentang tujuan dan manfaat, dan prosedur penelitian serta
hak dan kewajiban selama menjadi responden. Responden yang
bersedia selanjutnya diminta menandatangani lembar informed
consent.
e. Memberikan kesempatan kepada responden untuk mengisi kuesioner
dan bertanya kepada peneliti bila ada pernyataan yang tidak jelas jelas.
f. Mengingatkan responden untuk memeriksa kembali kueisoner yang
telah diisi untuk memastikan semua pernyataan diisi dengan baik
g. Responden memberikan kembali kueisoner yang sudah diisi oleh
reponden untuk diperiksa
h. Setelah seluruh pernyataan dalam kuisioner sudah dijawab, maka
peneliti mengumpulkan data dan mengucapkan terimakasih.
i. Mengolah data dan menganalisa data sesuai uji statistik yang telah
ditetapkan oleh peneliti
F. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas
1. Uji Validitas
Uji validitas merupakan suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu
benar-benar mengukur apa yang diukur. Suatu kuisioner dikatakan valid
jika pertanyaan pada kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu
65
yang akan diukur oleh kuesioner tersebut yaitu variabel ( Hidayat, 2008).
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner yang dibuat sendiri
oleh peneliti. Setelah membuat instrument sesuai dengan aspek-aspek
yang akan diukur berlandaskan dengan teori tertentu Uji validitas
dilakukan pada masyarakat di Kelurahan Benda Baru sebanyak 30
responden. Uji yang dilakukan adalah menggunakan rumus Pearson
Product Moment (Hastono, 2006). Pertanyaan valid apabila r hitung > r
tabel, sedangkan pertanyaan dianggap tidak valid jika r hitung < r tabel
(0,361) pada n = 30 (Sugiyono, 2016). Hasil uji validitas kuesioner dari 33
pernyataan didapatkan nomor 3, 14, 17, 18, 21, 24, 25, 26, 27, dan 30
tidak valid. Setelah itu peneliti melakukan uji conten validity didapatkan
untuk nomor 14, 17, 21, 26, dan 27 tetap dimasukan ke dalam kuesioner
karena merupakan pernyataan pokok yang ingin diteliti oleh peneliti dan
dilakukan modifikasi , sedangkan untuk nomor 3,18, 24, 25, dan 30 tidak
dimasukan karena mempunyai kesamaan makna pada pernyataan
sebelumnya.
2. Uji Reliabilitas
Reabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti
menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat
diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu
tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap
66
gejala yang sama, dengan menggunakan alat ukur yang sama
(Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini menggunakan uji reliabilitas Alpha
Cronbach a> 0,60 (Ridwan, 2007), dalam uji reliabilitas r hasil adalah
alpha. Uji reliabilitas untuk jumlah pernyataan sebanyak 33 didapatkan
nilai reliabilitasnya adalah 0,842 yang menunjukkan bahwa kuesioner ini
bersifat reliabel.
G. Teknik Analisa Data
Berikut langkah-langkah dalam pengolahan data meliputi editing,
coding, processing, cleaning data menurut Hidayat (2008) dengan penjelasan
sebagai berikut:
1. Langkah Analisa Data
a. Editing
Editing adalah kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian dari
kueisoner yang telah diisi apakah sudah sesuai, atau apakah sudah
lengkap atau belum. Pada proses ini peneliti melakukan pemerikasaan
data yang telah terkumpul misalnya, apakah semua pernyataan sudah
terisi, apakah penulisannya jelas, dan apakah jawaban yang ditulis
relevan dengan perntayaan.
b. Coding
Memberikan kode tertentu untuk setiap pertanyaan. Dalam coding,
data yang terbentuk huruf diubah menjadi data berbentuk angka atau
67
bilangan. Misalnya untuk variabel tingkat pendidikan terakhir
diberikan koding 0 = Tidak sekolah, 1= SD, 2= SMP, 3= SMA, 4=
Perguruan Tinggi. Proses koding ini untuk mempermudah peneliti saat
melakukan analisa data dan mempercepat
entery data atau
memasukkan data kedalam program komputer SPSS.
c. Processing
Pemrosesan data dilakukan dengan mengentri data yang sudah diubah
dalam bentuk kode kedalam program komputer SPSS.
d. Cleaning Data
Cleaning data merupakan kegiatan memeriksa kembali data yang
sudah dientri, apakah ada kesalahan atau tidak. Setelah proses entery
data selesai peneliti mengecek kembali data-data yang telah di entery,
dan semuanya data tidak ada yang salah. (Notoatmodjo, 2010).
2. Analisis Univariat
Penelitian ini menggunakan analisis univariat. Analisis univariat
bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap
variabel penelitian (Sumantri, 2011). Karakteristik responden pada
penelitian ini meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, dan
pengalaman terhadap pengobatan komplementer dan alternatif. Analisis
univariat dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi. Variabel
yang akan dianalisis univariat adalah persepsi masyarakat terhadap
68
pengobatan komplementer dan alternatif di wilayah Kelurahan Pondok
Benda RW 013 Pamulang 2.
H. Etika Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menerapkan prinsip etis
(Sumantri, 2011) sebagai berikut:
1. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human dignity)
Peneliti mempertimbangkan hak subjek dalam mendapatkan informasi
yang berkaitan dengan berjalannya penelitian. Peneliti mempersiapkan
formulir informed concent dalam menghormati harkat dan martabat subjek
dalam penelitian, yaitu sebagai berikut:
a. Menjelaskan manfaat dan tujuan penelitian
b. Menjelaskan
resiko
yang
mungkin
dapat
muncul
serta
ketidaknyamanan
c. Melakukan persetujuan penelitian dapat menjawab perntayaan yang
diajukan sebjek berkaitan dengan prosedur penelitian
d. Melakukan persetujan subjek apabila menolak untuk dijadikan subjek
penelitian.
2. Menghormati privasi dan kerahasian subjek penelitian (respect for privacy
and confidentiality)
Peneliti memperhatikan kerahasiaan data subjek dalam penelitian
karena tidak semua orang menginginkan informasinya diketahui oleh
69
orang lain, dalam pelaksanaan, peneliti tidak menampilkan informasu
identitas responden secara lengkap dalam kuesioner serta alat ukur apapun
dalam menjaga anominitas dan kerahasiaan identitas responden.
3. Keadilan dan inklusivitas (repect for justice and inlusiveness)
Prinsip keadilan dan keterbukaan dalam penelitian. Penelitian ini
dilakukan secara jujur, hati-hati, professional, berperikamusiaan, dan
memperhatikan faktor-faktor ketepatan, keseksamaan, kecermataan,
intimitas, psikologi dari subjek penelitian. Prinsip keterbukaan mengenai
kejelasan prosedur penelitian. Prinsip keadilan menekankan sejauh mana
peneliti membagikan keuntungan dan beban yang secara merata kepada
semua subjek yang bersedia dalam penelitan
4. Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (balancing
harm and benefits)
Peneliti melakuan penelitian ini sesuai dengan proses dan prosedur
penelitian untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat secara maksimal dan
dapat digeneralisasikan dalam tingkat populasi.
BAB V
HASIL PENELITIAN
Bab ini akan memaparkan secara lengkap hasil penelitian persepsi masyarakat
terhadap pengobatan komplementer dan alternatif di wilayah Kelurahan Pondok
Benda RW 013 Pamulang 2. Peneliti menyebarkan 88 kuesioner di wilayah tersebut,
pembagian kuesioner sesuai dengan kriteria inklusi penelitian.
A. Gambaran Tempat Penelitian
Kelurahan Pondok Benda merupakan kelurahan yang masuk kedalam wilayah
Kecamatan Pamulang. Kelurahan ini mempunyai batas wilayah sebagai berikut:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan: Kelurahan Bambu Apus
2. Sebelah Barat Laut berbatasan dengan: Kelurahan Benda Barau
3. Sebelah Tenggara berbatas dengan:Kelurahan Pamulang Timur
Kelurahan Pondok Benda terdiri dari 33 RW yang salah satunya RW 013
Pamulang 2. RW 013 Pamulang 2 mempunyai jumlah kepala keluarga sebanyak
dengan jumlah RT sebanyak 6. Pada RW 013 terdapat seorang yang membuka
praktik pengobatan komplementer dan alternatif berupa tindakan bekam dan pijat
refleksi. Kelurahan Pondok Benda ini berada dalam wilayah kerja Puskesmas
Pondok Benda.
70
71
B. Analisis Univariat
Pada penelitian ini, karakteristik responden yang dianalisis adalah sebagai
berikut:
1. Data Demografi
Pengelompokan responden berdasarkan data demografi digambarkan
pada tabel 5.1 berikut:
Tabel 5.1
Distribusi frekuensi data demografi masayarakat di Kelurahan Pondok
Benda RW 013 Pamulang 2 (N=88)
Karakteristik
Frekuensi
Persentase (%)
Usia
Dewasa awal (26-35)
29
33
Dewasa akhir (36-45)
19
21,6
Lansia awal (46-55)
21
23,9
Lanisa akhir (56-65)
19
21,6
88
100
Laki-laki
44
50
Perempuan
44
50
88
100
SD
3
3,4
SMP/SLTP
13
14,8
SMA/SLTA/SMK
38
43,2
Perguruan Tinggi
36
38,6
88
100
Pernah
50
56,8
Tidak pernah
38
43,2
88
100
Total
Jenis Kelamin
Total
Pendidikan Terakhir
Total
Pengalaman CAM
Total
72
Berdasarkan tabel diatas didapatkan karakteristik responden berdasarkan
usia terbanyak adalah usia dewasa awal (26-35) (33%). Karakteristik
responden berdasarkan jenis kelamin memiliki jumlah yang sama yaitu
sebanyak 50% laki-laki dan 50% perempuan. Karakteristik responden
berdasarkan
pendidikan
terakhir
terbanyak
adalah
SMA
(43,2%).
Karakteristik responden berdasarkan pengalaman terbanyak adalah pernah
(56,8%).
2. Gambaran Persespi Pengobatan Komplementer dan Alternatif
Pada penelitian ini tingkat persepsi terhadap pengobatan komplementer
dan alternatif dikelompokan menjadi positif dan negatif. Persepsi positif
apabila nilai jawaban responden lebih besar dari nilai COP median (92,00),
sedangkan persepsi negatif apabila nilai jawaban responden lebih kecil dari
nilai COP
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Persepsi Pada Masyarakat di Kelurahan Pondok
Benda RW 013 Pamulang (N=88)
Karakteristik
Frekuensi
Persentase (%)
Positif
47
53,4
Negatif
41
46,6
Total
88
100
Pada tabel 5.2 menggambarkan bahwa tingkat persepsi terhadap
pengobatan komplementer dan alternatif responden yang positif sebanyak 47
73
responden atau 53,4% dan yang negatif sebanyak 36 responden atau
sebanyak 46,6%
3. Distribusi Proporsi Persepsi Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif Berdasarkan Usia
Penglompokan responden berdasarkan kategori usia digambarkan pada
table 5.3 berikut:
Tabel 5.3
Distribusi Persepsi Berdasarkan Usia (N=88)
Usia
Persepsi terhadap pengobatan Total
komplementer dan alternative
Dewasa awal
Dewasa akhir
Lansia awal
Lansia akhir
Total
Positif
Negatif
17
12
29
58,6%
41,4%
100%
12
14
21
63,2%
36,8%
100%
7
14
21
33,3%
66,7%
100%
11
8
19
57,9%
42,1%
100%
47
41
88
53,4%
46,6%
100,0%
Pada tabel 5.3 menunjukan bahwa persepsi terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif berdasarkan usia dewasa awal yang memiliki
persepsi positif sebanyak 17 responden (58,6%) dan yang memiliki persepsi
74
negatif sebanyak 12 responden (41,4%), usia dewasa akhir yang memiliki
persepsi positif sebanyak 12 responden (63,2%) dan yang memiliki persepsi
negatif sebanyak 14 responden (36,8%), usia lansia awal yang memiliki
persepsi positif sebanyak 7 responden (33,3%) dan yang memiliki persepsi
negatif sebanyak 14 responden (66,7%), dan usia lansia akhir yang memiliki
persepsi positif sebanyak 11 responden (57,9 %) dan yang memiliki persepsi
negatif sebanyak 8 responden (42,1%).
4. Distribusi Proporsi Persepsi Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif Berdasarkan Jenis Kelamin
Penglompokan responden berdasarkan kategori jenis kelamin
digambarkan pada tabel 5.4 berikut:
Tabel 5.4
Distribusi Persepsi Berdasarkan Jenis Kelamin (N=88)
Jenis kelamin
Persepsi terhadap pengobatan Total
komplementer dan alternative
Laki-laki
Perempuan
Total
Positif
Negatif
24
20
44
54,5%
45,5%
100%
23
21
44
52,3%
47,7%
100%
47
41
88
53,4%
46,6%
100,0%
Pada table 5.4 Pada tabel ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap
pengobatan komplementer dan alternatif berdasarkan jenis kelamin, laki-laki
75
yang memiliki persepsi positif sebanyak 24 responden (54,5%) dan yang
memiliki persepsi negatif sebanyak 20 responden (45,5%). Sedangkan jenis
kelamin perempuan yang memiliki persepsi positif sebanyak 23 responden
(52,3%) dan yang memiliki persespi negatif sebanyak 21 responden (47,7%).
5. Distribusi Proporsi Persepsi Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pengelompokan responden berdasarkan kategori pendidikan terakhir
digambarakan pada tabel 5.5 berikut:
Tabel 5.5
Distribusi Persepsi Berdasarkan Pendidikan Terakhir (N=88)
Pendidikan
Persepsi
terakhir
komplementer dan alternative
SD
SMP/SLTP
SMA/SLTA/SMK
Perguruan Tinggi
Total
terhadap
pengobatan
Total
Positif
Negatif
0
3
3
0,0%
100%
100%
8
5
13
61,5%
38,5%
100%
18
13
34
47,4%
52,6%
100%
21
13
34
61,8%
38,2%
100%
47
41
88
53,4%
46,6%
100,0%
Pada tabel 5.5 menunjukan bahwa persepsi terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif berdasarkan jenjang pendidikan terakhir
responden. Responden dengan jenjang pendidikan terakhir SD
yang
76
memiliki persepsi positif sebanyak 0 responden (0%) dan yang memiliki
persespi negatif sebanyak 3 responden (100%), responden dengan jenjang
pendidikan terakhir SMP/SLTP yang memiliki persespi positif sebanyak 8
responden (61,5%) dan yang memiliki persepsi negatif sebanyak 5 responden
(38,5%), responden dengan jenjang pendidikan terakhir SMA/SLTA/SMK
yang memiliki persepsi positif sebanyak 18 responden (47,4%) dan yang
memiliki persepsi negatif sebanyak 13 responden ( 52,6%), dan responden
dengan jenjang pendidikn terakhir perguruan tinggi yang memiliki persespi
positif sebanyak 21 responden (61,8%) dan yang memiliki persespi negatif
sebanyak 13 responden (38,2%).
6. Distribusi Proporsi Persepsi Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif Berdasarkan Pengalaman
Pengelompokan responden berdasarkan pengalaman menggunakan
pengobatan komplementer dan alternatif digambarkan pada tabel 5.6 berikut:
77
Tabel 5.6
Distribusi Persepsi Berdasarkan Pengalaman CAM (N=88)
Pengalaman
Persepsi
terhadap
pengobatan
Total
komplementer dan alternatif
Pernah
Tidak pernah
Total
Positif
Negatif
30
20
50
60,0%
40,0%
100%
17
21
38
44,7%
53,3%
100%
47
41
88
53,4%
46,6%
100%
Pada tabel 5.6 menunjukan bahwa persepsi terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif berdasarkan pengalaman terhadap pengobatan
ini. Responden yang pernah menggunakan pengobatan ini sebanyak 30
responden (60%) memiliki persespi yang positif dan responden yang
memiliki persespi negatif sebanyak 20 (40%), sedangkan responden yang
tidak pernah menggunakan pengobatan ini sebanyak 17 responden (44,7%)
memilki persespi yang positif dan responden yang memiliki persespi negatif
sebanyak 21 (53,3%).
7. Gambaran Persepsi Tehadap Pengobatan Komplementer dan Alternatif
Berdasarkan Item Pernyataan
Gambaran persepsi terhadap pengobatan komplementer dan alternatif
akan dijelaskan pada tabel dibawah ini mengenai pengertian, jenis
pengobatan komplementer dan alternatif seperti: bekam, akupuntur dan
78
akupresur, pijat refleksi, obat herbal, ahli patah tulang, dan dukun sembur/
“orang pintar” serta mengenai keuntungan dan kerugian dari pengobatan ini.
Tabel 5.7
Distribusi persespi terhadap pengobatan komplementer dan alternatif
(N=88)
Persepsi Pengobatan
Komplementer dan
Alternatif
Positif
Frekuensi
Negatif
Pengertian
77
Persentase
(%)
87,5
Frekuensi
11
Persentase
(%)
12,5
Bekam
55
62,6
33
37,5
Akupuntur dan Akupresur
53
60,2
35
39,8
Pijat Refleksi
44
50
44
50
Obat Herbal
72
80,7
17
19,3
Ahli Patah Tulang
53
60,2
35
39,8
Dukun Sembur/ “Orang
54
62,4
34
38,6
54
62,4
34
38,6
Pintar”
Keuntungan dan Kerugian
Pada tabel 5.7 menggambarkan bahwa persepsi responden terhadap
pengertian pengobatan komplementer dan alternatif yang positif sebanyak 77
responden (87,%) dan yang persepsinya negatif sebanyak 11 responden
(12,5%). Persepsi responden terhadap bekam yang positif sebanyak 55
responden (62,6%) dan yang persepsinya negatif sebanyak 33 responden
(37,5%). Persepsi responden terhadap akupuntur dan akupresur yang positif
sebanyak 53 responden (60,2%) dan yang persepsinya negtaif sebanyak 35
responden (39,8%). Persepsi responden terhadap pijat refleksi yang positif
79
sebanyak 44 responden (50%) dan yang persepsinya negatif sebanyak 44
responden (50%). Persepsi responden terhadap obat herbal yang positif
sebanyak 71 responden (80,7%) dan yang persepsinya negatif sebanyak 17
responden (19,5%). Persepsi responden terhadap pengobatan ahli patah
tulang yang positif sebanyak 55 responden (60,2%) dan yang persepsinya
negatif sebanyak 35 responden (39,8%). Persepsi responden terhadap dukun
sembur/ “orang pintar” yang positif sebanyak 54 responden (61,4,%) dan
yang persepsinya negatif sebanyak 34 responden (38,6%), dan persepsi
responden terhadap keuntungan dan kerugian pengobatan komplementer dan
alternatif yang positif sebanyak 54 responden (61,4%) dan yang persepsinya
negatif sebanyak 34 responden (38,6%).
BAB VI
PEMBAHASAN
Bab ini akan menjelasakan hasil penelitian dan keterbatasan penelitian.
Interpretasi hasil akan membahas mengenai hasil penelitian yang dikaitkan dengan
teori yang ada pada tinjauan pustaka, sedangkan keterbatasan penelitian akan
memaparkan keterbatasan yang terjadi selama penelitian.
A. Karakteristik Responden
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia mayoritas responden termasuk
dalam kategori usia dewasa awal (26-35 tahun) sebanyak 29 orang (33%). Hasil
penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Onyiapat (2011),
penelitian ini dilakukan di Nigeria dengan jumlah responden terbanyak yaitu usia
26-41 tahun. Menurut teori Durkin (1995) usia 26-35 tahun sudah dapat
menentukkan suatu pilihan dan dapat menyelesaikan masalah-masalah dalam
kehidupan mereka.
Pada seluruh responden yang berjumlah 88 orang, didapatkan sebanyak 44
(50%) orang berjenis kelamin laki-laki dan 44 (50%) berjenis kelamin
perempuan. Pada penelitian ini jumlah responden berdasarkan jenis kelamin
mempunyai jumlah yang sama. Dahilig (2012) melakukan penelitian pada
masyarakat Filipina mengenai pravelensi, persepsi dan prediktor terhadap
penggunaan pengobatan komplementer dan alternatif hasilnya menunjukkan
80
81
bahwa responden mayoritas adalah perempuan (60,3%) sedangkan penelitian
yang dilakukan oleh Onyiapat (2011) tentang penggunaan pengobatan
komplementer dan alternatif pada orang dewasa di Enugu, menunjukkan hasil
mayoritas responden adalah laki-laki, ini menunjukkan bahwa hasilnya akan
berdeda-beda disetiap wilayah dan tergantung dengan cara pengambilan
sampelnya.
Mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir SMA yaitu sebanyak 38
orang (43,2%), terbanyak kedua adalah responden dengan pendidikan terakhir
Sarjana/ Diploma yaitu sebanyak 36 orang (38,6%), Wied Hary (1996) (dalam
Notoatmodjo, 2012), menjelaskan bahwa, pendidikan akan berdampak pada
tingkat pengetahuan seseorang. Seseorang yang memiliki pendidikan tinggi akan
mempunyai wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang
berpendidikan lebih rendah. Toha (2008) menyebutkan bahwa salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi terbentuknya persespi yaitu faktor eksternal, dimana
faktor eksternal ini salahsatunya berasal dari pengetahuan individu.
Responden yang pernah mempunyai pengalaman terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif sebanyak 50 orang (56,8%), sedangkan responden
yang tidak pernah mempunyai pengalaman terhadap pengobatan ini sebanyak 38
orang (43,2%). Pengalaman merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi persespi individu (Rakhmat, 2011).
82
B. Gambaran Persespi Masyarakat Terhadap Pengobatan Komplementer dan
Alternatif
Persepsi adalah proses di mana individu mengatur dan menginterprestasikan
kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka
(Robbins dan Judge, 2008). Persepsi dapat diinterperestasikan dengan baik atau
persepsi yang positif maupun persepsi yang negatif (Walgito, 2004), persepsi ini
seperti file yang sudah tersimpan rapi di dalam alam pikiran bawah sadar
seseorang individu. File itu akan segera muncul jika ada stimulus yang
merangsangnya. Persepsi merupakan hasil kerja otak dalam memahami atau
menilai suatu hal yang terjadi di sekitarnya (Waidi, 2006).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 88 responden 47 orang (53,4%)
mempunyai persepsi yang positif terhadap pengobatan komplementer dan
alternatif, sedangkan responden yang mempunyai persespi negatif sebanyak 41
orang (46,6%). Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Nigeria
sebanyak 44,6% mempunyai persepsi yang positif terhadap pengobatan
komplementer dan alternatif (Ejimah, 2015).
1. Persepsi berdasarkan usia
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden kategori
usia dewasa akhir sebanyak 12 orang (63,2%) memiliki persepsi yang positif.
Pada penelitian ini usia tersebut sudah mampu untuk menyelesaikan masalah
dalam hidupnya (Durkin, 1995), mempunyai pola pikir yang stabil, dan
merasa positif dengan diri sendiri (Muhith, 2015). Hal ini didukung oleh
83
(Notoadmojo, 2010) menyatakan bahwa usia seseorang berkaitan dengan
bertambahnya pengalaman, dimana pengalaman tersebut akan meningkatkan
pengetahuan dan kematangan seseorang dalam menhadapi masalah.
Pengalaman dan pengetahuan juga merupakan salah satu faktor yang akan
memperngaruhi persepsi. Penelitian ini sejalan dengan Berikani (2014) yang
meneliti praktisi pengobatan komplementer dan alternatif berdasarkan
pengetahuan dan sikap, penelitian ini sebagian besar berusia 25 tahun keatas
dan hasilnya sebanyak 96,4 % memiliki persepsi yang positif mengenai
keuntungan dalam menjalankan praktik pengobatan ini.
2. Persepsi berdasarkan jenis kelamin
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin laki-laki
mempunyai persespi yang positif yaitu sebanyak 24 orang (54,5%). Laki-laki
lebih memilih membaca informasi-informasi faktual daripada cerita dan hanya
mencari informasi tertentu yang diinginkannya daripada membaca dari awal
sampai akhir (Santana, 2007). Ejimah (2015) meneliti mengenai penggunaan
pengobatan komplementer dan alternatif pada pekerja di Negeria, didapatkan
hasil sebanyak 62,3 % berjenis kelamin laki-laki, pada penelitian tersebut
mayoritas
reponden
memiliki
persepsi
positif
terhadap
pengobatan
komplementer dan alternatif serta vitamin untuk meningkatkan daya tahan
tubuh.
84
3. Persespi berdasarkan tingkat pendidikan
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
responden
dengan
tingkat
pendidikan akhir perguruan tinggi mempunyai persepsi yang positif yaitu
sebanyak 21 orang (61,8%). Tingkat pendidikan akan mempengaruhi tingkat
pengetahuan seseorang, diharapkan dengan pendidikan yang tinggi maka
individu akan memiliki wawasan yang luas. Pengetahuan seseorang tentang
suatu objek mengandung dua aspek, yaitu aspek positif dan negatif. Kedua
aspek ini yang akan menentukan sikap seseorang semakin banyak aspek
positif dan objek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap semakin
positif terhadap objek tertentu (Wawan dan Dewi, 2010). Toha (2008)
menyebutkan bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terbentuknya
persespi yaitu faktor eksternal, dimana faktor eksternal ini salah satunya
berasal dari pengetahuan individu. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Roy (2015), pada penelitian tersebut peneliti
membandingkan persepsi antara dokter dengan pasien mengenai pengobatan
komplementer dan alternatif hasilnya secara umum sebanyak 58% dokter
memiliki persepsi yang positif terhadap pengobatan komplementer dan
alternatif.
4. Persespi berdasarkan pengalaman terhadap pengobatan komplementer dan
alternatif
Hasil
penelitian
menunjukkan
bahwa
responden
yang
pernah
menggunakan pengobatan komplementer dan alternatif sebanyak 30 orang
85
(60,0%) memilki persepsi yang positif. Pengalaman merupakan sumber
pengetahuan atau pengalaman merupakan suatau cara memperoleh kebenaran
pengetahuan (Notoatmodjo, 2012). Pengetahuan dan pengalaman merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi persespi seseorang (Rahkmat,
2011). Penelitian ini meneliti masyarakat baik yang pernah menggunakan
ataupun belum pernah menggunakan pengobatan komplementer dan alternatif
sehingga sudah mengetahui dengan baik mengenai manfaat, keamanan
prosedur, dan efek samping yang akan timbul, Honda dkk (2005) melakukan
penelitian
terhadap
pengguna
dan
non
pengguna
dari
pengobatan
komplementer dan alternatif di Amerika, di dapatkan hasil mayoritas
responden mempunyai persepsi yang positif terhadap pengobatan ini. Sridhar
(2017) melakukan penelitian di Uni Emirates Arab terhadap masyarakat yang
menggunakan pengobatan ini, hasilnya sebanyak 51,6% memiliki persepsi
yang positif tentang keuntungan, keamanan dan keefektifan dari pengobatan
komplementer dan alternatif ini.
5. Persepsi Tentang Pengertian Pengobatan Komplementer dan Alternatif
Persepsi responden terhadap pengertian pengobatan komplementer dan
alternatif adalah persepsi yang positif dengan jumlah 77 orang (87,5%).
Pernyataan yang dijawab tepat ini dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan
yaitu jumlah terbanyak rata-rata responden adalah yang pendidikan
terakhirnya SMA dan perguruan tinggi. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ejima (2015), penelitian ini menunjukkan
86
bahwa sebanyak 164 responden (73,9%) mempunyai pengetahuan yang cukup
baik terhadap pengobatan komplementer dan alternatif. Menurut Waidi (2006)
setiap individu mempunyai kecenderungan dalam menilai suatu objek yang
sama dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut dapat dipengaruhi
oleh banyak faktor, yaitu salah satunya faktor pengetahuan.
6. Persepsi Tentang Jenis Pengobatan Komplementer dan Alternatif
a. Persespi Tentang Bekam
Persepsi responden terhadap pengobatan komplementer dan alternatif
bekam sebanyak 55 responden (62,6%) memiliki persepsi yang positif.
Mayoritas responden mengetahui bahwa bekam merupakan tindakan
yang hanya boleh dilakukan oleh seorang tenaga ahli, bekam merupakan
sebuah terapi dengan mengelurakan darah kotor dan responden
mengetahui bahwa bekam mempunyai kontraindikasi terhadap penyakit
tertentu. Penelitian ini sejalan dengan Razzaq (2013) mayoritas
responden mempunyai persepsi yang positif dimana 59,6% setuju bahwa
bekam efektif dan mempunyai efek samping.
b. Persepsi Tentang Akupuntur dan Akupresur
Persepsi responden terhadap akupuntur dan akupresur sebanyak 53
orang (60,2%) mempunyai persepsi yang positif terhadap pengobatan ini.
Mayoritas responden mengetahui bahwa akupuntur dan akupresur hanya
boleh dilakukan oleh seorang tenaga terapis yang ahli, serta mengetahui
tehnik pengobatan ini yang dilakukan pada titik-titik tubuh dan
87
mengetahui bahwa pengobatan ini mempunyai kontraindikasi terhadap
penyakit tertentu. Chan (2015) melakukan penelitian dengan metode
kualitatif kepada pengguna dan non pengguna akupuntur didapatkan hasil
yang berbeda antara kedua kelompok tersebut. Kelompok pengguna
mempunyai persespi yang positif mengenai keefektifan dan efek
samping, sedangkan untuk kelompok bukan pengguna mempunyau
persespi yang negatif terhadap pengobatan ini karena menganggap
pengobatan ini tidak mempunyai kejelasan informasi mengenai klinik,
mempunyai resiko tinggi, dan tidak terstandarisasi.
c. Persepsi Tentang Pijat Refleksi
Persepsi responden terhadap pengobatan pijat refleksi memiliki jumlah
yang sama yaitu sebanyak 44 orang (50%) mempunyai persepsi yang
positif
dan
persepsi
yang
negatif,
hal
ini
karena
responden
mempersepsikan bahwa pijat refleksi sama dengan pijat pada umumnya
sehingga pijat refleksi dirasa aman jika dilakukan oleh orang yang bukan
tenaga ahli pada bidang ini, selain itu juga responden mempersepsikan
bahwa pijat refleksi tidak dikontraindikasikan pada kondisi kesehatan
tertentu. Haswani (2016) melakukan penelitian mengenai pijat refleksi
secara kualitatif, didapatkan hasil bahwa pijat refleksi saat ini telah
diterima sebagai salah satu cara untuk menjaga kesehatan. Penelitian ini
menunjukkan masih adanya batasan pada praktik pengobatan ini, seperti
masih ada klinik pijat refleksi yang melakukan prosedur tindakan dengan
88
tidak benar atau tenaga ahli yang kurang profesional sehingga
menyebabkan efek samping yang memperparah kondisi kesehatan pasien.
Masalah ini dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap
keefektifan dan keamanan dari pijat refleksi.
d. Persepsi Tentang Obat Herbal
Persepsi responden terhadap obat herbal sebanyak 77 orang (80,7%)
mempunyai persepsi yang positif. Mayoritas responden mengetahui
bahwa obat herbal tetap mempunyai efek samping dan informasi
mengenai khasiat kurang jelas. Penelitian ini sejalan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Gyasi (2011), menyatakan bahwa sebanyak 37 orang
(52,9%) menyatakan bahwa penggunaan obat tradisional herbal tidak
aman digunakan karena dalam proses produksi tidak menggunakan
standar yang benar mengenai kebersihan dan standar dosis yang tepat .
Penggunaan produk dan suplemen obat herbal telah meningkat secara
pesat beberapa tahun belakang ini, kurang lebih 80% orang di seluruh
dunia pernah menggunakan obat herbal. Obat herbal dapat berpotensi
menyembuhkan penyakit namun obat herbal sendiri tetap mempunyai
efek samping ataupun khasiat yang belum teruji secara klinis sehingga
masyarakat perlu mengetahui mengenai cara kerja, kontraindikasi, dan
interaksi dengan obat-obatan konvensional (Ekor, 2014).
e. Persepsi Tentang Ahli Patah Tulang
89
Persepsi responden terhadap pengobatan ahli patah tulang sebanyak 53
orang (60,2%) mempunyai persespi yang positif. Mayoritas responden
mengetaui bahwa ahli patah tulang tidak mengikuti pendidikan mengenai
patah tulang dan mengetahui berobat ke ahli patah tulang tetap
mempunyai terjadinya komplikasi yang akan memperparah keadaan.
Pada penelitian ini berdeda dengan penelitian yang ada mengenai
pengobatan ahli patah tulang, peneliti hanya meneliti responden
berdasarkan pengalaman terhadap pengobatan komplementer dan
alternatif secara umum saja. Edusai (2015) melakukan penelitian pada
pasien fraktur di Ghana, menyatakan bahwa masyarakat mempunyai
persepsi yang baik mengenai pelayanan yang diberikan oleh pengobatan
ahli patah tulang kecuali beberapa masalah mengenai kebersihan pada
tempat praktik. Pada penelitian ini masalah mengenai komplikasi yang
timbul tidak dijadikan sebagai objek penelitian.
f. Persepsi Tentang Dukun Sembur/”Orang Pintar”
Persepsi responden terhadap pengobatan duku sembur/ “orang pintar”
sebanyak 54 orang (61,4 %) mempunyai persespi yang positif.
Responden mengetahui bahwa praktik pengobatan ini tidak efektif
digunakan sebagai terapi pengobatan. Penelitian ini tidak sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Syuhudi dkk (2012) menyatakan bahwa
masyarakat di Makassar masih mempunyai persepsi yang negatif karena
masyarakat disana masih mempercayai bahwa praktik perdukunan efektif
90
dapat menyembuhkan penyakit. Masyarakat yang masih mempercayai
praktik pengobatan ini biasanya disebabkan oleh pengetahuan dan
pengalaman mereka. Pengetahuan dan pengalaman merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi persespi seseorang (Walgito, 2004).
7. Persepsi Tentang Kelebihan dan Kekurangan Pengobatan Komplementer dan
Alternatif
Persespi terhadap kelebihan dan kekurangan pengobatan komplementer
dan alternatif sebanyak 54 orang (61,4%) mempunyai persespi yang positif.
Pengobatan komplementer dan alternatif mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan pegobatan ini yaitu bersifat alami, lebih hemat biaya
dan lebih praktis dibandingkan pengoabtan konvensional sedangkan untuk
kekurangan
pengobatan
komplementer
dan
alternatif
yaitu
kurang
memberikan informasi mengenai kejelasan khasiat serta masih kurangnya
bukti mengenai keefektifan praktik pengobatan ini (WHO, 2012). Penelitian
ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bahall (2015), menyebutkan
bahwa pasien jantung yang menggunakan terapi pengobatan ini setuju bahwa
pengobatan komplementer dan alternatif lebih bersifat alami, mengatasi
keterbatasan pengobatan konvensional, kurang memberikan informasi
mengenai khasiat dan informasi ilmiah.
91
C. Keterbatasan Penelitian
Peneliti menyadari adanya keterbatasan dalam pelaksanaan penelitian ini.
Keterbatasan penelitian tersebut anatara lain adalah sebagai berikut:
1. Dalam penelitian ini tidak bisa di generalisasi karena dilakukan pada satu
area, sehingga mungkin hasilnya akan berbeda dengan wilayah lainnya.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penelitian
mengenai
persespi
masyarakat
terhadap
pengobatan
komplementer dan alternatif di wilayah Kelurahan Pondok Benda Pada RW
013 Pamulang 2 dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, usia responden sebagian besar
adalah kategori usia dewasa awal yaitu sebanyak 29 orang (33%).
Persentase jenis kelamin memiliki jumlah yang sama antara laki-laki dan
perempuan yaitu sebanyak 44 (50%) orang untuk masing-masing kategori
jenis kelamin. Mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir yaitu
SMA sebesar sebanyak 38 orang (43,2%). Persentase responden yang
mempunyai pengalaman terhadap pengobatan komplementer dan alternatif
sebanyak 50 orang (56,8%).
2. Hasil penelitian ini menunjukkan secara umum masyarakat mempunyai
persespi yang positif terhadap praktik pengobatan ini sebanyak 47 orang
(53,4%). Persepsi tentang bekam 55 orang (62,%) mempunyai persespi
yang positif. Persepsi tentang akupuntur dan akupresur sebanyak 53 orang
(60,2%) mempunyai persespi yang positif. Persespi terhadap pijat refleksi
sebanyak 44 orang (50%) mempunyai persepsi yang positif dan 44 orang
(50%) memiliki persepsi yang negatif. Persepsi terhadap obat herbal
92
93
masyarakat sebagian besar mempunyai persepsi yang positif yaitu
sebanyak 77 orang (80,7%). Persepsi terhadap ahli patah tulang
masyarakat yang mempunyai persespi positif sebanyak 53 orang (60,2%),
dan persepsi masyarakat terhadap pengobatan dengan dukun sembur/
“orang pintar” sebanyak 54 orang (61,2%) memiliki persespi yang positif.
Persespi terhadap keuntungan dan kekurangan pengobatan komplementer
dan alternatif sebanyak 54 orang (61,4%) mempunyai persepsi yang
positif.
3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi berdasarkan: jenis
kelamin laki-laki sebanyak 24 (54,5%) mempunyai persespi yang positif,
usia dewasa akhir sebanyak 12 (63,2%) memiliki persepsi yang positif,
tingkat pendidikan terakhir yaitu perguruan tinggi sebanyak 21 (61,2%)
mempunyai persepsi yang positif dan mayoritas responden memiliki
persepsi yang positif berdasarkan pengalaman pernah menggunakan
pengobatan komplementer dan alternatif yaitu sebanyak 30 (60,0%).
B. Saran
1. Bagi masyarakat, agar masyarakat dapat mengetahui keefektifan tentang
pengobatan komplementer dan alternatif, serta dapat memilih pengobatan
komplementer dan alternatif yang mempunyai standar prosedur yang jelas
dan benar.
94
2. Bagi institusi pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat menjadi
landasan dan acuan dalam mengembangkan ilmu pembelajaran dan dapat
menjadi sumber informasi mengenai pengobatan komplementer dan
alternatif.
3. Bagi peneliti selanjutnya, dapat melakukan penelitian ini dengan
menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode wawancara agar
mendapatkan hasil persepsi yang lebih mendalam dan membahas lebih
mendalam mengenai pengalaman terhadap pengobatan komplementer dan
alternatif.
DAFTAR PUSTAKA
Alam, Tanwir et al. 2013. Leech Therapy (Taleeq): Indication, Contraindication and
Standard Operative Procedures (SOPS). Journal of Biological and Scientific
Opinion: Moksha Publishing House. India
Aldjoefrie, Mohamad Riza. 2015. Bekam Hijamah Menurut Sains dan Kedokteran
Modern. Surabaya
Andareto, Oki. 2015. Apotik Herbal di Sekitar Anda. Jakarta: PT. Serambi Distribusi
Aries, Marcel J et al. 2007. Fracture Treatment by Bonesetters in Central Ghana:
Patients Explain Their Choices and Experiences. Journal Tropical Medicine
and International Health. Department of Neurology, University of Groningen.
Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC
Bahall dan Edwards. 2015. Perception of Complementary and Alternative Medicine
Among Cardiac Patients in South Trinidad: A Qualitative Study. University Of
The West Indies, St. Agustine, Trinidad and Tobago
Barnes et al. 2008. Complementary and Alternative Medicine Use Among Adults and
Children: United States. Journal of National Center for Health Statistics. USA
Barikani, Ameneh. 2014. Knowledge, Attitude and Practice of General Practitioners
Towards Complementary and Alternative Medicine: A Cross-Sectional Study.
Tehran University of Medical Sciences Journal
Chan, Kara. 2015. Attitudes Toward Acupunnture in Hongkong. International Journal
of Pharmaceutical and Health Care Marketing
Dalimartha, Setiawan. 2007. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 4. Jakarta: Puspa
Swara
Devananda, Swami V. 1988. The Complete Illustrated Book Of Yoga. New York:
Three River Press
Dodik dkk. 2012. Pengaruh Terapi Akupuntur Terhadap Penurunan Nyeri Lutut
Pada Pasien dengan Osteoartritis di Praktik Klinik Perawatan Mandiri Latu
Usadha Abiansemal. Jurnal Keperawatan Universitas Udayana
Durkin, Kevin. 1995. Developmental Social Psychology: From Infancy to Old Age.
New Jersey: Wiley-Blackwell
Edusei, Anthony. 2015. Prespectives in Musculoskeletal Injury Management By
Traditional Bone Setters in Ashanti, Ghana. African Journal of Disability 4
Effendi, Nasrul. 2000. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
EGC
Elolemy, Ahmed T dan Albedah, Abdullah M.N. 2012. Public Knowledge, Attitude
and Practice of Complementary and Alternative Medicine in Riyadh Region,
Saudi Arabia: Oman Medical Journal, vol. 27
Ekor, Martins. 2014. The Growing Use of Herbal Medicines: Issues Relating to
Adverse Reaction and Challenges in Monitoring Safety. Journal of Department
of Pharmacology, University of Cape Coast, Ghana
Focks, Claudia. 2008. Atlas of Acupunture. New York: Elsevier
Grant, J Emily. 2013. Medical Music Therapy: Medical and Nursing Student
Perception and Barries to Program Implementation. Florida State University.
Thesis
Gulo, W. 2010. Metodologi Penelitian. Jakarta: Grasindo
Gyasi, Razak M. 2011. Public Perceptions of The Role of Traditional Medicine in
The Health Care Delivery System in Ghana. Global Journal of Health Science
Hadikusumo. 2000. Kop, Moksibasi, dan Pijat Refleksi. Jakarta: Kanisius
Hamdi, Asep. 2014. Metodologi Penelitian Kuantitatif Aplikasi Dalam Pendidikan.
Yogyakarta: Deepulish
Haswani, Nurul et al. 2016. Perspectives on Reflexology: A Qualitative Approach.
Journal of Traditional and Complementary Medicine
Hermalinda dkk. 2015. Pengalaman Orang Tua Dalam Penggunaan Pengobatan
Alternatif Pada Anak yang Menderita Kanker di Jakarta. Jurnal Keperawatan
Universitas Indonesia
Hidayah, Zulyani. 2015. Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Pustaka
Obor Indonesia
Hidayat, Alimul Aziz, 2008. Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis
Data. Jakarta: Salemba Medika
http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/471/Dukun-Sembur diakses pada
tanggal 12 Januari 2017 pukul 7.14 WIB
Hude, M. D. 2006. Emosi: Penjelajah Religio-Psikologi Tentang Emosi Manusai di
Dalam Al-Quran. Jakarta: Erlangga
Hussin, Abas. 2001. Adverse Effects of Herbs and Drug-Herbal Interactions.
Malaysian Journal of Pharmacy, Universiti Sains Malaysia
Ivancevich, John M dkk. 2007. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta:
Erlangga
Kamaludin, Ridlwan. 2010. Pengalaman Pasien Hipertesni yang Menjalani Terapi
Alternatif Komplementer Bekam Di Kabupaten Banyumas. Jakarta: Faklutas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Tesis
Kasmui. 2014. Bekam Terapi Modern: Cara Membekam dengan Betul. Jakarta: AsSabil
Katno. 2008. Tingkat Manfaat, Keamanan dan Efektifitas Tanaman Obat dan Obat
Tradisional. Jakarta: Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat
dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT), Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes RI
Kementrian Kesehatan RI. 2011. Integrasi Pengobatan Tradisional dalam Sistem
Kesehatan Nasional. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI
Kementrian Kesehatan RI. 2015. Panduan Akupresur Mandiri Bagi Pekerja di
Tempat Kerja. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. 2015. Ilmu Pijat Pengobatan Refleksi
Relaksasi. Jakarta: Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Khan, Imran et al. 2015. Traditional Bone Setters: Preference and Patronage. The
Professional Medical Journal
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Kozier, Erb. 2011. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC
Lindquist, Ruth et al. 2014. Complementary and Alternative Therapies in Nurisng.
New York: Springter Publishing Company
Mangan, Yellia. 2009. Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker. Jakarta: Agro
Media Pustaka
McFadden, Kristina L et al. 2010. Attitudes Towards Complementary and Alternative
Medicine Infulence Its Use. Elsevier Inc
Mei Chi, Lee et al. 2016. The Effectiveness of Cupping Therapy on Relieving Chronic
Neck and Shoulder Pain: A Randomized Controlled Trail. Journal of National
Institute of Health. USA
Nilawati, Sri. 2008. Care Yourself: Kolesterol. Jakarta: Penebar Plus
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka
Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Promosi Kesehatan Dan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT.
Rineka Cipta
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika
Onyiapat et al. 2011. Complementary and Alternative Medicine Use Among Adults in
Enugu, Nigeria. Journal of Nursing: Department of Nurisng Sciences College
of Medicine University of Nigeria
Owumi, B. E et al. 2013. Utilization of Traditional Bone-Setter in The Treatment of
Bone Fracture in Ibadan North Local Government. International Journal of
Humanities and Social Science Invention Vol 2
Pooya, Ali A dan Emami. 2014. Perceptiona and Use of Complementary and
Alternative Medicine Among Children and Adults With Epilepsy: The
Importance of The Decision Makers. Traditional Medicine and History of
Medicine Research Center, Shiraz University of Medical Sciences, Iran
Putri, Hikma A dkk. 2014. Pengaruh Akupresur Terhadap Morning Sickenss di
Kecamatan Magelang Utara Tahun 2014. Jurnal Keperawatan Universitas
Muhammadiyah Magelang
Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Razzaq et al. 2013. Public Awarenness Towards Cupping Therapy in Karaci.
Pakistan Journal of Medicine and Dentistry
Rezky, Rindang A dkk. 2015. Pengaruh Terapi Pijat Refleksi Kaki Terhadap
Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Primer. Jurnal Keperawatan
Universitas Riau
Richard F, Morton. 2009. Epidemologi dan Biostatistika. Jakarta: EGC
Robbins dkk. 2008. Perilaku Organisasi, edisi 12. Jakarta: Salemba Empat
Roy, Vandana. 2015. Perception, Attitude and Usage of Complementary and
Alternative Medicine Among Doctors and Patients in A Tertiary Care Hospital
in India. Indian Journal of Pharmacology
Santana, Septiawan. 2007. Menulis Ilmiah Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta:
Obor Indonesia
Satria, Arif. 2014. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta: Pustaka Obor
Indonesia
Setiadi. 2007. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta: Graha Ilmu
Setiyaningsih, Yuni. 2012. Hubungan Antara Persepsi dengan Sikap Masyarakat
Terhadap Pengobatan Komplementer dan Alternatif di Kecamatan Grogol
Kabupaten Sukoharjo. Jurnal Universitas Muhammadiyah Surakarta
Singh, Paramvir et al. 2013. Tradisional Bone Setting: Origin and Practice.
International Journal of Therapeutic Application. Punjabi University.
Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia
Sopiyudin. 2012. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Penerbit
Salemba
Sridhar, Sathuik B et al. 2017. Assessment of Perception, Experience, and
Information-Seeking Behavior of The Public of Ras Al-Kaimah, Uni Emirates
Arab, Toward Usage and Safety of Complementary and Alternative Medicine.
Journal of Pharmacy and Bio Allied Sciences
Srilestari, Adiningsih. 1997. Pengaruh Pijat Refleksi Pada Penderita Non Insulin
Dependen Diabetes Melitus di RSUPN. Dr. Cipto Mangunkusumo Tahun 1997.
Universitas Indonesia: Tesis
Suharmiati dan Handayani. 2005. Ramuan Tradisional untuk Keadaan Darurat di
Rumah. Jakarta: Agromedia Pustaka
Sugiyono. 2016. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Sukanta. 2008. Pijat Akupresur Untuk Kesehatan. Jakarta: Penebar Plus
Sumantri, Arif. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Kencana
Sunaryo. 2004. Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
Supardi, Sudibyo dan Susyanti, Andi Leny. 2010. Penggunaan Obat Tradisonal
Dalam Upaya Pengobatan Sendiri Di Indonesia (Analisis Data Susenas 2007).
Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem dan Kebijakan Kesehatan
Jakarta
Syuhudi dkk. 2012. Etnografi Dukun: Studi Atropologi Tentang Praktik Pengobatan
Dukun Di Kota Makassar. Balai Penelitian dan Pengembangan Agama
Makssar
Toha, Miftah. 2008. Perilaku Organisasi, Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta:
Rajawali Press
Waheida, Soheir et al. 2016. Nursing Students’ Knowledge, Practice, Attitudes and
Barries Toward Complementary and Alternative Therapy: Journal of Nursing
and Health Science
Waidi. 2006. On Becoming A Personal Excellent. Jakarata: PT Elex Media
Komputindo
Walgito, Bimo. 2003. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi Yogyakarta
Widyatuti. 2008. Terapi Komplementer Dalam Keperawatan: Jurnal Keperawatan
Indonesia Volume 12. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia
Winarto. 2008. Khasiat dan Manfaat Jahe Merah Si Rimpang Ajaib. Jakarta: Argo
Media
Winarto. 2008. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: Argo Media
World Health Organization. 2000. Guidelines on Basic Training and Safety in
Acupunture
World Health Organization. 2003. Guidelines for The Regulation of Herbal
Medicines in The South-East Asia Region
World Health Organization. 2012. Management Sciences For Health
Wawan dan Dewi M. 2010. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika
LAMPIRAN
LAMPIRAN
PERMOHONAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Sari Purboyekti
NIM
: 1113104000021
Program studi: Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta
Saya adalah mahasiswi Univeristas Islam Negeri Syarif Hidyatullah Jakarta
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Program Studi Ilmu Keperawatan yang
sedang melaksanakan penelitian untuk penulisan skripsi sebagai tugas akhir dalam
menyelesaikan pendidikan sebagai Sarjana Keperawatan (S.Kep).
Berkaitan dengan penelitian yang akan saya lakukan, saya mohon bantuan dan
kesedian waktu untuk mengisi daftar pertanyaan berikut ini dengan sejujur-jujurnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi masyarakat terhadap
pengobatan komplementer dan alternatif di wilayah RW013 Kelurahan Pondok
Benda Pamulang 2. Partisipasi saudara/i akan sangat berarti terhadap penelitian saya.
Kerahasiaan jawaban dan identitas saudara/i akan dijaga dan hanya diketahui oleh
peneliti.
Saya mengucapkan terimakasih atas bantuan dan partisipasi saudara/i dalam
pengisian kuesioner ini.
Hormat saya
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Bersedia menjadi responden:
YA/TIDAK
Sari Purboyekti
SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Setelah saya membaca dan memahami ini dan penjelasan pada lembar
permohonan menjadi responden, maka saya bersedia turut berpartisipasi sebagai
responden dalam penelitian yang akan dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yaitu:
Nama
: Sari Purboyekti
NIM
: 111314000021
Judul Penelitian
: Gambaran Persepsi Masyarakat Terhadap Pengobatan
Komplementer Dan Alternatif Di Wilayah RW 013
Kelurahan Pondok Benda Pamulang 2
Saya memahami bahwa penelitian ini tidak membahayakan dan merugikan
saya maupun keluarga saya, sehingga saya bersedia menjadi responden dalam
penelitian ini.
Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya tanpa ada
paksaan dan ancaman.
Pamulang, Maret 2017
(…………………………….)
Nama terang dan tanda tangan
KUESIONER
GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGOBATAN
KOMPLEMENTER DAN ALATERNATIF DI WILAYAH RW 013
KELURAHAN PONDOK BENDA PAMULANG 2
A. Data demografi/identitas
1. Nama/ inisial responden
:
2. Jenis kelamin
: ( ) Laki-laki
( ) Perempuan
3. Usia
:……….Tahun
4. Pendidikan terakhir
:
:
( ) Tidak sekolah
:
( ) SD
( ) SMP/SLTP
( ) SMA/SLTA/SMK
( ) Perguruan tinggi
5. Pengalaman menggunakan pengobatan komplementer dan alternatif:
(
) Pernah
(
) Tidak pernah
KUESIONER
GAMBARAN PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGOBATAN
KOMPLEMENTER DAN ALATERNATIF DI WILAYAH RW 013
KELURAHAN PONDOK BENDA PAMULANG 2
No. Responden
Petunjuk pengisian kuesioner:
1. Baca setiap pernyataan dibawah ini dengan teliti
2. Setiap pernyataan memiliki 5 jawaban. Pilihan tersebut adalah :
Sangat Setuju
(SS)
Setuju
(S)
Ragu-ragu
(RR)
Tidak Setuju
(TS)
Sangat Tidak Setuju
(STS)
3. Harap mengisi pernyataan yang ada didalam kuesioner ini, pastikan tidak ada yang
terlewat
4. Beri tanda cek list (√) pada kotak yang telah disediakan
5. Apabila mengalami kesulitan dalam mengisi kuesioner, silahkan bertanya langsung
kepada peneliti
B. Lembar kuesioner persepsi
Pernyataan
Menurut saya:
1.
Pengobatan komplementer dan alternatif adalah
praktik pengobatan yang tidak termasuk ke dalam
pengobatan kedokteran modern
2.
Pengobatan komplementer dan alternatif
dilakukan oleh seseorang yang menempuh
pelatihan khusus secara formal
3.
Bekam adalah mengeluarkan darah kotor
4.
Bekam hanya boleh dilakukan oleh seorang
terapis/tenaga ahli
5.
Bekam boleh dilakukan selain dengan
SS
S
RR
TS
STS
6.
7.
8.
9
10
11
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23
24.
25.
terapis/tenaga ahli
Bekam dirasa aman untuk kesehatan
Bekam dikontraindikasi pada kondisi kesehatan
tertentu
Akupuntur dan akupresur adalah terapi yang
dilakukan pada titik-titik tubuh
Akupuntur dan akupresur hanya boleh dilakukan
oleh seorang terapis/tenaga ahli
Akupuntur dan akupresur boleh dilakukan selain
dengan terapis/tenaga ahli
Akupuntur dan akupresur di rasa aman untuk
kesehatan
Akupuntur dan akupresur dikontraindikasikan
pada kondisi kesehatan tertentu
Pijat refleksi adalah teknik pemijatan yang
dilakukan pada telapak kaki
Pijat refleksi hanya boleh dilakukan oleh seorang
terapis/tenaga ahli
Pijat refleksi boleh dilakukan selain dengan
terapis/tenaga ahli
Pijat refleksi dikontraindikasikan pada kondisi
kesehatan tertentu
Obat herbal bersifat alami tanpa ada efek samping
Kandungan obat herbal tertulis jelas pada
kemasan
Kandungan obat herbal efektif dapat
menyembuhkan penyakit
Ahli patah tulang tidak mengikuti pendidikan
formal mengenai patah tulang
Berobat ke ahli patah tulang tidak mempunyai
risiko yang akan memperparah kondisi patah
tulang
Dukun sembur/ “orang pintar” merupakan
seorang ahli pengobatan dengan menggunakan
ramuan dan doa-doa tertentu
Dukun sembur/ “orang pintar” dirasa lebih efektif
dari pengobatan modern
Pengobatan komplementer dan alternatif bersifat
alami
klinik/produk pengobatan komplementer dan
alternatif memberikan informasi yang jelas
26.
27.
28.
mengenai khasiat
Pengobatan komplementer dan alternatif lebih
praktis daripada pengobatan kedokteran modern
Pengobatan komplementer dan alternatif aman
digunakan karena mempunyai efek samping yang
sedikit
Berobat ke pengobatan komplementer dan
alternatif lebih hemat biaya
Hasil Uji Validitas dan Relibilitas
Correlations
p1 p1 p1 p1 p1 p1 p1 p1 p1 p1 p2 p2 p2 p2 p2
p1 p2 p3 p4 p5 p6 p7 p8 p9
p Pears
1 on
Correl
1
.0
.2
25 46
.5
.5
61 61
**
**
.0
.0
.2
.3
12 27
.5
.4
72 07
**
*
.0
.0
0
1
.3
.2
23 10
2
3
4
5
6
7
.4
.4
.3
.4
.4
-
50 43 64 13 14
.3
*
*
*
*
*
.0
.0
.0
.0
.0
ation
Sig.
.8
(2-
Correl
.0
25
1
.0
93
ation
Sig.
(2tailed)
N
.0
.0
.2
.0
49
.7
.2
.2
.2
.0
.2
71 10 27 12 75
.4
.7
.4
23 71 59
*
**
*
.0
Correl
(2tailed)
N
.7
*
.0
1
2
.1
.2
.1
15 91 79
.5
.1
.3
3
.0
84
.6
4
.2
10
.2
.4
21
*
.0
.2
.1
.0
79 95 51 97
.4
61
*
.1
.2
.2
.4
06 54 32 05
*
.8
.6
.1
.2
.2
.9
.1
.0
.0
.0
.9
94
26 98 47 66 27 51 41 20 00 11 03 67 21 77 13 26 11 10 76 75 17 26
.2
.0
.6
.1
.4
.6
.0
.5
.1
.2
.0
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.2
.0
46 93
1
.1
.2
.1
.2
.2
.0
.1
.1
.1
.1
68 14 57 71 59 72 11 38 64 89
ation
Sig.
.2
23 09
p Pears
3 on
.0 88
11 69
.0
.3
0
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
2 on
.2
-
9
94 89 01 01 60 78 01 25 81 66 13 14 48 23 23 95 19 34 46 19 44 61 65
tailed)
N
.1
8
.1
.6
89 26
.3
.2
.4
.1
.1
.7
.5
.4
.3
.3
.0
22
.9
.2
.0
64 62
.1
.7
-
-
.1
.0
22 63
.5
.7
.1
.2
34 18
.4
.2
-
-
-
.0
.0
.0
81 70 84
.6
.7
.6
.1
44
.4
75 57 08 47 66 05 60 67 85 17 07 59 43 22 42 80 48 69 13 57 47
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
4 on
Correl
.5
-
61
.0
**
49
.0
.7
ation
Sig.
(2tailed)
N
p Pears
5 on
Correl
.1
68
1
.3
.3
11
.0
01 98 75
.4
42
.1
*
06
.0
.5
.7
.4
90 69
**
**
.0
.0
.2
.1
.2
44 32 56
.1
.4
.1
.8
66
**
.0
.2
.3
.2
76 43 87
.1
.0
.1
-
-
.2
.1
85 98
.1
(2tailed)
N
Correl
.5
61
**
.2
.2
.3
71 14 11
.4
.3
.3
1 00 92 67
*
*
*
.0
.0
.0
.1
.1
60 14
.0
.1
.2
.0
01 47 57 95
.4
(2tailed)
N
Correl
ation
.2
64 46 79 62 09
.1
.4
.1
.3
.2
.0
14
.9
.5
46
**
.3
.1
.1
.2
.3
.0
25 50 40 09 51 05
.5
.0
.0
.4
.4
.2
.0
.9
.1
39
.4
.2
.2
.0
.1
.0
.2
29 07 05 30 53 17
.2
.2
.9
.4
.7
.2
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.2
.2
.1
12 10 57
.4
.4
42 00
*
.2
.2
.4
.0
1
*
.0
.1
62
.3
60 66 08 15 28
.4
87
**
.0
24
.0
.9
-
.4
.0 30
32
*
.8
.0
.0
.2
.1
.1
.1
.1
.4
34 58 47 72 01 41 37
.8
.1
.4
.3
.5
.4
.0
*
13
.0
.9
.1
08
.5
.1
73
.3
.2
01
.2
.5
48
.0
**
39
.0
.8
91 06 00 66 18 58 69 38 63 94 56 16 44 69 61 87 02 38
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
7 on
.1
28 32 46 00 49 02 80 30 60 68 57 80 64 23 74 78 94 79 50
ation
Sig.
.2
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
6 on
.1
95 15 78 00 09 94 87 73 00 40 64 24 27 94 58 42 36 93 68 42
ation
Sig.
.2
.2
.3
.2
.2
.1
27 27 71 06
.3
92
*
.1
62
1
.1
.1
68 64
.3
.4
80 53
*
*
.0
79
.0
73
.1
.2
.2
37 04 15
.0
-
.6
.1 25
52 55
**
.0
.1
50 33
.0
49
.0
.0
97 11
Sig.
(2tailed)
N
p Pears
8 on
Correl
.0
.2
.1
.5
.0
.3
.3
78 27 47 78 32 91
.3
.0
.0
.6
.7
.4
.2
.2
(2tailed)
N
p Pears
9 on
Correl
(2tailed)
N
.5
72
**
.0
.0
.2
12 59
.7
.3
.4
90 67 87
**
*
**
.1
68
.4
1 73
**
.9
.1
.0
.0
.0
.3
.0
01 51 66 00 46 06 73
.4
07
*
.0
0 Correl
23
.2
.0
75 72
.4
69
**
.1
.0
.1
60 24 64
.1
.7
.0
.4
.4
23
*
.1
.2
.1
11 44 14
ation
N
.7
.6
.9
.2
.1
.3
24 74 32
.7
51
**
.1
.3
.2
.2
.3
.0
.0
.4
90 05 20 76
.3
.1
.2
.1
**
58
.0
.4
.1
.1
22 10
.5
.5
.0
41
.8
.2
.1
.0
38 77 73
.2
.3
.7
.4
.6
73
1 50
**
**
.1
38
.5
.5
21 05
**
**
.0
30
.7
80
**
.3
.9
.3
.0
.0
.4
.0
.0
.8
.0
.4
46 22
.0
-
.4
.4
.0 08 16
33
*
*
.0
.8
.0
*
.0
.1
35
.4
.4
-
70
.0
**
03
.0
.9
.3
94
*
.0
00 67 03 04 77 00 61 20 61 25 22 78 09 87 31
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.3
tailed)
.4
08 34 57 73 00 14 01 42 08 03 21 63 29 06 50 02
25 41 05 09 00 00 86 08
1 on
(2-
.7
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
Sig.
.0
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
ation
Sig.
.4
73 86 38 12 77 02 71 80 53 86 14 00 92 83 95 11 53
ation
Sig.
.7
.0
.0
.5
.1
.5
-
.3
.0 80
32
*
.8
.0
.2
24
.2
.6
50
**
.0
81 20 60 94 49 66 38 34 00
1
.2
12
.2
.4
21
*
.0
.2
77
.1
-
.6
.0 19
23
**
.9
.0
.0
72
.7
.0
87
.6
.0
77
.4
.4
07 17
*
*
.2
07
.4
15
*
.1
.4
43 95
**
.6
.0
.0
.2
.0
.4
.0
60 20 38 05 00 07 46 85 26 22 72 23 50 05
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
1 on
.2
1 Correl
10
.7
71
**
.1
.1
38 32
.5
.4
.4
46 30 53
**
*
*
.0
.0
.0
.1
.1
.2
74 38 12
1
.3
15
ation
Sig.
(2tailed)
N
p Pears
1 on
2 Correl
.2
.0
.4
.4
.3
.4
.2
.0
66 00 67 87 02 18 12 57 67 60
.0
69
.7
.1
.2
.2
.1
.0
.2
.3
.1
.2
70 89 87 17 00 51 09 67 56
.3
.1
.1
.5
90 17 69 21 24 39
1.
00
0
.1
.0
.3
.1
(2tailed)
N
p Pears
1 on
3 Correl
(2tailed)
N
p Pears
1 on
4 Correl
ation
31
.0
*
46
.0
.8
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.4
.4
50 59
*
*
.0
.0
.1
.2
.3
.0
.0
.3
64 56 25 34 79 32
.3
.1
.0
.8
.5
.4
21 21
.3
**
*
15
.0
.0
.0
1
.6
.0
.3
.2
49 70
.0
13 11 85 73 80 58 77 73 03 20 90
.4
88
**
.2
.0
.0
.2
.3
.1
.2
65 23 95 04 31 73 59
.1
.0
.1
.9
.6
.2
.0
.3
.1
-
-
.2
.0
38 27
.2
.8
58 50 06 56 03 16 79 74 59 67 04 86
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.4
43
*
.0
.1
23 89
.8
66
**
.1
.2
50 58
ation
Sig.
-
80 97 79 73 17 09
ation
Sig.
.4
.0
.9
.3
.0
.4
.1
-
.7
.5
.0 51 05
.2
73
**
**
77
.7
.0
.0
.1
.0
69
.7
.3
49
1
.0
.2
.1
44 21 37
.1
14 03 17 00 30 69 02 00 04 38 17 58
.3
.0
.4
-
-
.2
.1
13 25
.2
.5
.1
.2
.1
.1
34 18 63 40
.4
.2
.3
.4
-
-
.0
.1
12 26
.9
.5
94 84 70 59 09 80 48 90 60 50 06
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.3
64
*
.2
09
.0
22
.2
.1
.1
.1
.1
.0
76 40 47 37 90 30
.0
23
.1
.2
.2
70 70 44
1
.1
24
.1
.2
.1
33 12 54
.0
22
.1
.2
19 27
-
-
.1
.1
64 09
.0
59
Sig.
(2tailed)
N
p Pears
1 on
5 Correl
.0
.2
.9
.1
.4
.4
.4
.3
.8
.9
.3
.1
.1
48 67 07 40 60 38 71 14 77 05 69 50 94
(2tailed)
N
p Pears
1 on
6 Correl
.4
(2tailed)
N
p Pears
1 on
7 Correl
ation
Sig.
(2tailed)
N
.4
.9
.5
.2
.3
.5
.7
15 84 60 15 08 31 27 86 67 56
.4
.4
13 21
*
*
.0
.0
.2
.3
.2
.1
.2
.3
64 43 09 72 04 05
.7
.6
80 19
.2
**
**
89
.0
.0
.1
.4
88
.3
**
21
.1
.0
.2
.3
.2
.1
.0
.0
.1
1
24
.5
.3
48
.0
23 21 59 64 68 63 80 01 00 00 21 06 84 15
.2
34
.2
59 14
.0
00
1.
00
0
.4
.4
12 05
*
*
.0
.0
.0
.3
.0
23 21 84
.9
.0
.6
.3
27
.0
24 26 05 83 58 78
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.4
14
*
.0
.0
.2
.3
.1
.2
.2
.3
.0
.2
.2
.1
.1
.3
79 62 87 51 01 15 20 46 72 87 65 37 33 48
1
ation
Sig.
.2
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
ation
Sig.
.5
.0
.6
.7
.1
.0
.5
.2
.2
.0
.7
.1
.1
.4
.4
.0
23 77 43 24 57 94 53 42 61 07 24 56 70 84 59
.3
99
-
.4
-
.0 14
.0
40
.8
*
41
*
.0
.8
.0
.1
.0
.1
37 66 32
.4
.7
.4
.0
86
.6
29 32 23 33 71 31 85 50
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.3
11
.0
.2
95
.1
-
-
.1
.2
22 85
.5
.1
.0
.1
05 41
.9
.4
.0
52
.7
-
-
.4
.4
76 22
.0
**
*
87
.0
.0
.6
.1
.0
17 23
.5
.9
.2
13
.2
.2
12
.2
.2
34
.2
.3
99
*
.0
95 13 22 27 80 56 86 08 20 46 39 03 59 60 14 29
1
-
-
.1
.2
98 17
.2
.2
.1
.0
31 81
.4
.6
.1
64
.3
.0
62
.7
.0
16
.9
95 48 91 72 85 43 32
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
1 on
8 Correl
ation
Sig.
(2tailed)
N
p Pears
1 on
9 Correl
.0
69
.7
.1
51
.4
-
-
-
.0
.1
.1
63 98 39
.7
.2
.4
(2tailed)
N
.4
37
*
.0
-
-
-
.1
.1
.0
55 58 33
.4
.4
.8
.0
.0
.0
77 00 95
.6
19 26 42 94 64 16 14 03 61 85
1.
00
0
.6
.1
25
.5
.1
.0
54 00
.4
16 09 15
1.
00
0
.3
88
*
.0
.1
0 Correl
15
.0
.1
.2
.2
97 34 64 29
.6
.4
.1
.2
-
.6
.0 25
.1
13
**
22
.9
.0
.5
.4
.4
08 07
*
*
.0
.0
.2
.2
.1
51 04 34
.1
.2
.4
-
.4
N
.4
61
*
.5
.0
1
41 98
.8
.2
71 57
.7
32 95
.1
.4
-
-
-
-
.0
.2
.3
.0
98 93 19 33
.6
.1
.0
.8
11 07 05 16 86 61
-
.0 12 14
.2
22
*
*
17
.9
.0
.0
.2
.0
71
1
.7
.2
.1
45 71
.1
.3
-
-
-
.0
.0
.1
74 55 29
.6
.7
.4
92 65 99 72 97
.2
.1
.2
.1
.0
.1
18 46 07 08 50 10
.4
.4
16 17
*
*
.3
.3
.2
.1
09 31 18 19
.4
-
05
.0
*
40
.2
.4
.2
.5
.7
.5
.0
.0
.0
.0
.2
.5
.0
.8
.1
.1
.2
31 57 45
1
.0
.3
.0
.4
96 01 58 06
*
.4
.4
.1
.6
46 10 48 42 74 69 92 63 22 22 97 74 48 31 26 33 91 07 92
.1
.7
.0
13 06 60 26
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
2 on
.2
1 Correl
91 06
ation
.1
.4
ation
tailed)
.0
.0
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
2 on
(2-
-
34 11 80 58 23 44 00 21 25 26 80 79 80 08 24 23 48 11
p Pears
Sig.
-
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
ation
Sig.
-
.1
.0
81
.2
.0
79 05
.1
73
.1
33
.0
41
.1
.2
.1
.1
.1
.2
.0
.1
.0
35 07 67 73 63 27 23 37 81
.0
98
.1
.0
71 96
1
.1
.1
32 76
.1
48
Sig.
(2tailed)
N
.1
.5
.1
2 Correl
79 54
.2
ation
tailed)
N
p Pears
2 on
3 Correl
ation
Sig.
(2tailed)
N
.3
.1
.0
70
.7
.0
84
.6
.2
32
.2
.0
84
.6
.4
.2
.3
.3
.3
.2
.9
.4
.6
.6
.3
.6
.4
.3
.4
88 52 36
.1
.1
.2
62 30 01
.3
.4
.2
.0
49
.7
.2
38
.2
.4
.4
70 15
**
*
.0
.0
.2
.2
.1
56 59 40
.1
.1
.4
.1
64
.3
.3
.0
21 66
.0
.7
-
-
-
.1
.2
.0
64 93 74
.3
.1
.6
.3
.1
01 32
.1
1
.4
.3
58
.0
.1
58
.4
52 06
.2
.0
09 53
.2
.7
.5
48
**
.0
.0
.1
97 77
.6
.3
.0
03
.9
.1
43
.4
.4
-
-
-
31
.2
.0
.1
*
.0
38 12 09
.2
.9
.5
.0
.1
.0
84 32 62
.6
.4
.7
-
-
.3
.0
19 55
.0
.7
.0
.1
.3
58 76 58
.7
.3
1
.1
80
.3
61 17 57 68 79 02 11 50 87 50 17 04 50 67 58 85 43 86 72 60 52 52
41
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
-
4 Correl
10 05 44
.4
.1
*
ation
N
.8
.0
.2
tailed)
.4
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
2 on
(2-
.3
44 75 13 93 94 87 95 06 09 23 73 67 60 86 83 31 85 16 99 06 88
p Pears
Sig.
.9
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
2 on
(2-
.1
19 76 69 36 78 61 83 29 78 72 79 59 90 27 05 71 72 05 65 13
p Pears
Sig.
.6
.2
.0
.4
.0
14
.9
.2
.0
.0
.0
-
-
.3
.4
17 39 11 73 94 95
.2
.8
.9
.7
*
**
.0
.0
-
-
-
.0
.0
.1
46 27 26
.8
.8
.5
.0
59
.7
-
-
-
-
-
.3
.0
.0
.0
.1
27 86 16 33 29
.0
.6
.9
.8
.4
.4
06
*
.0
-
-
-
.1
.1
.1
1
48 58 80
.4
.4
.3
65 26 47 42 50 38 53 02 31 05 09 86 06 56 78 50 32 61 97 26 36 06 41
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
2 on
5 Correl
ation
Sig.
(2tailed)
N
-
-
.1
.1
62 10
.3
.1
6 Correl
73
ation
tailed)
N
.3
.2
7 Correl
90
ation
tailed)
N
-
.1
.2
.3
.2
84 49 35 51
.3
.1
.1
-
.1 02
28 36
.5
.4
.4
*
.0
.0
.2
64 59
.7
.1
.0
10
.9
.1
.0
.2
34 99 51
.4
.6
.1
.1
.0
75 53
.6
.7
-
-
.1
.2
21 94
.5
.1
.0
00
1.
00
0
-
-
.0
.1
99 62
.6
.3
.1
38
.4
.0
-
.3
-
.3 74
.2
*
58
.0
.1
95 55
.6
.0
.0
18
.9
-
-
-
-
.2
.2
.2
.0
91 52 24 13
.1
.1
.2
.9
04 93 69 16 54 42 69 26 19 80 33 45
.1
.0
63
.7
.3
.2
.0
.0
.0
.2
43 81 84 58 00 71
.0
.1
.6
.7
1.
00
0
.1
.0
84
.6
.2
84
.1
.6
-
-
14
.3
.2
**
.0
29 31
.0
.2
.0
99
.6
-
-
.1
.1
03 47
.5
.4
.3
37
.0
.4
-
12
.0
*
81
.0
.6
47 61 28 00 76 19 03 87 37 69 24 69
.0
10
.9
.3
.1
30 05
.0
.5
.1
30
.4
.0
.3
.0
25 43 93
.8
.0
.6
.0
86
.6
.0
40
.8
.0
68
.7
.1
41
.4
.1
10
.5
.0
.1
.0
.3
.0
.2
.2
85 82 00 02 59 02 28
.6
.3
21 56 79 01 81 58 75 81 92 95 63 25 53 33 20 58 63 55 36
1.
00
0
.1
.7
.2
.2
05 57 85 25
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
2 on
.2
8 Correl
69 88 80 19 09
ation
.0
.0
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
2 on
(2-
-
60 00 74 27 35 67 42 64 33 61 62
p Pears
Sig.
.4
-
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
2 on
(2-
48
-
93 63 36 31 84 70 81 95 83 23 15
p Pears
Sig.
.5
.1
.1
.2
.1
.2
.1
22
.1
.1
.1
.2
.1
.3
.1
.1
.0
.3
10 41 76 71 95 09 27 46 71 07
.1
60
.0
.1
83 67
.0
55
.2
42
-
-
-
.0
.1
.0
02 11 95
Sig.
(2tailed)
N
.1
.0
9 Correl
25
ation
tailed)
N
.5
.2
.5
.5
.4
.8
1.
00
0
**
.0
.0
93
.6
.0
49
.7
.2
.2
.2
.0
.1
.2
.2
.9
45 55 92 70 31 59 91 86
.0
.0
.0
.1
.2
.1
.1
ation
p Pears
3 on
1 Correl
.0
.5
.4
.7
.0
.4
.7
.4
23 71 59
*
**
*
.0
.2
23 09
.4
21
*
.0
(2tailed)
N
.6
.3
.2
.1
.0
79 95 51 97
.1
.0
.0
.0
.9
.2
.0
.6
.8
.7
.6
.7
.4
.1
.3
.3
.0
12
.9
.3
.1
58 17
.0
.5
.1
40
.4
.0
92
.6
.3
39
.0
.0
64
.7
.1
53
.4
.7
.1
.9
.5
.6
.4
61
*
.1
.2
.2
.4
06 54 32 05
.1
.4
.6
.0
.5
.1
.2
.0
.0
83
.6
.2
56
.1
.0
.0
49 99
.7
.6
.1
33
.4
.3
61
.0
.5
50
.0
**
49
.0
.7
15 72 29 12 91 67 11 26 49 52 37 61 29 67 36 21 64 72 98 04 84 50 02 97
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.5
87
**
.0
.2
66 11
.8
.3
.5
36 67 43
**
*
**
.2
12
.9
.5
47 21
**
**
.3
.2
.3
14 36 21
.6
86
**
.2
49
.4
05
*
.2
.0
.7
.2
.0
.0
.0
.2
.0
.0
.0
.2
.0
.0
.1
.0
.4
53 43
ation
Sig.
.3
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
0 Correl
N
.3
94 00 26 98 47 66 27 51 41 20 00 11 03 67 21 77 13 26 11 10 76 75 17 26
.0
tailed)
.1
*
3 on
(2-
.2
71 10 27 12 75
p Pears
Sig.
.3
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
2 on
(2-
.1
51 20 34 31 68 20 63 56 51 47 02 96 03 41 09 98 97 64 79 74 97 92 59 18
p Pears
Sig.
.3
.1
.1
*
47
.0
.4
.1
.1
.0
.2
.2
68 28 51 56 80
.3
.5
.7
.1
.1
.0
25
.8
01 30 63 00 46 02 61 00 03 91 09 84 00 85 26 77 14 38 76 02 89 72 34 97
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
p Pears
3 on
.2
.1
.2
.0
.3
.1
2 Correl
95 79 84 57 59 62
.9
88
**
.1
.1
.3
12 35 37
.4
03
-
.0
*
48
.0
.8
.1
26
ation
Sig.
(2tailed)
N
p Pears
3 on
3 Correl
.1
.3
.1
.7
.0
.3
.0
.5
.4
.0
.5
.1
.1
.2
29 76 07
.4
.3
.2
(2tailed)
N
T Pears
o on
t
Correl
.0
-
.1 25
21 90
.9
.6
.3
**
.0
.0
17 10
.9
-
.1
.0
49
.5
.7
.0
.0
87 51
.6
.7
13 44 28 63 51 92 00 57 78 69 27 01 06 95 52 73 11 13 00 29 62 97 46 91
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.4
22
*
.3
.0
34 92
.4
44
*
.0
.0
.2
99 21 15
.4
.9
.6
36 65 93
*
**
**
.1
88
.5
.4
58 77
**
**
.0
15
.8
20
**
.2
.0
.0
.6
.0
.6
.9
.2
.0
.0
.0
.3
.0
.0
.9
.0
.3
83 76
ation
Sig.
-
.1
-
.4
.3
.0 41 65
*
09
*
.0
.9
.0
.1
*
62
.0
.3
.4
-
-
39
.0
.3
*
.0
21 33
.9
.0
20 71 30 14 04 11 53 16 00 00 21 01 08 37 00 30 41 64 15 48 94 15 11 72
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
.6
.5
47 40
.2
**
**
96
.0
.0
.1
.6
.5
.4
.5
.6
.6
.5
.6
.5
.4
25 67 67 46 28 16 92 82 48 79
.2
**
**
**
**
**
**
**
**
**
**
92
.0
.0
.0
.0
.0
.0
.0
.0
.0
.0
.1
.6
.4
-
30 64
.1
**
**
.0
.0
a ation
-
.5
.4
.1 08 41
61 04
.2
**
*
61
.0
.0
.1
.4
.3
-
02 67
.1
*
*
48
.0
.0
.4
l
Sig.
(2tailed)
N
.3
.5
00 02 12 00 01 09 02 00 00 01 00 02 07 17 00 10 96 85 04 15 63 28 46 35
30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30 30
Correlations
p25
p26
p27
p28
p29
p30
p31
p32
p33
Total
p1
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p2
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p3
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p4
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p5
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p6
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
**
.295
.422
.815
.001
.113
.020
.000
30
30
30
30
30
30
**
.055
.066
.179
.334
.320
.000
.772
.730
.344
.071
.002
30
30
30
30
30
30
30
30
-.136
.134
.280
.093
.092
.211
.284
.092
.296
.436
.474
.479
.134
.626
.629
.263
.128
.630
.112
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.184
.402
*
.099
.119
-.049
.070
**
.057
.444
.331
.027
.601
.531
.798
.712
.000
.763
.014
.000
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.249
.064
.251
.209
.271
.131
.367
*
.359
.099
.184
.735
.181
.268
.147
.491
.046
.051
.604
.001
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.335
.259
-.010
-.122
.210
.259
**
.162
.021
.070
.167
.958
.520
.266
.167
.002
.392
.911
.009
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.162
.173
.290
.269
.025
.045
.393
.360
.121
.151
.894
30
30
30
30
-.110
-.128
-.010
.188
.563
.500
.956
30
30
.148
1.000
.587
.836
.543
*
*
.647
.540
.625
.567
.467
**
**
**
**
**
p7
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p8
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p9
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p10
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p11
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p12
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
**
.215
.261
.000
.253
.002
30
30
30
30
**
.112
.436
.326
.000
.557
.016
.000
30
30
30
30
30
30
.176
.275
-.012
**
.135
.492
.351
.141
.949
.003
.478
.000
.000
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.121
.084
.025
.271
.423
*
.358
.314
.337
.523
.661
.895
.147
.020
.052
.091
.069
.000
.001
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.294
.058
.343
.195
**
.117
.236
.403
*
.188
.115
.762
.063
.302
.000
.537
.209
.027
.321
.000
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
.000
.000
.093
.309
.459
*
-.140
.321
.048
1.000
1.000
.625
.096
.011
.461
.084
.801
.001
.002
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.251
-.063
.330
.110
.227
.191
.212
.181
.742
.075
.563
.227
.311
30
30
30
30
30
30
.075
.343
.105
.141
.012
.186
.695
.064
.581
.456
.951
30
30
30
30
.053
.281
-.130
.783
.133
30
.771
.947
.521
.988
.965
.693
.558
*
**
**
**
.546
.628
.616
.592
.682
.548
**
**
**
**
**
**
p13
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p14
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p15
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p16
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p17
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p18
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
**
-.126
.629
.000
.506
.008
.007
30
30
30
30
30
30
.146
.209
-.339
.249
.129
.015
.292
.833
.441
.267
.067
.185
.495
.937
.117
30
30
30
30
30
30
30
30
30
.138
.284
-.068
.071
.421
*
.064
.405
*
.176
.469
.128
.720
.709
.021
.736
.026
.352
.000
.000
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
**
.141
.307
.079
-.153
.253
.207
.283
.616
.000
.458
.098
.677
.421
.177
.273
.130
.010
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.355
-.329
-.110
-.160
.295
.083
-.443
*
-.021
-.376
*
-.161
.054
.076
.563
.397
.113
.664
.014
.911
.041
.396
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
*
-.231
.085
.083
.151
-.256
-.147
-.190
-.009
-.104
.042
.219
.655
.664
.426
.172
.438
.313
.964
.585
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.099
.271
-.086
.127
.023
.092
.604
.147
.653
.503
.903
30
30
30
30
-.162
-.084
.040
.393
.661
30
-.095
.374
.614
.686
.477
.820
**
**
.479
.630
.464
**
**
**
p19
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p20
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p21
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p22
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p23
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p24
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
.441
*
.182
.167
.097
.049
.168
.169
.603
.336
.379
.611
.798
.376
.000
.015
.004
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
.018
-.103
.000
-.055
.461
*
.099
.128
.017
.365
.926
.587
1.000
.774
.010
.604
.502
.929
.048
.015
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.291
-.147
.302
.242
.106
-.133
.051
.110
.162
.261
.119
.437
.105
.197
.576
.484
.789
.562
.394
.163
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.252
.337
.059
-.002
.254
.361
.256
-.049
.439
.180
.069
.757
.992
.175
.050
.172
.797
.015
.028
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.224
.412
*
.202
-.111
.232
**
.280
.087
-.021
.367
.233
.024
.285
.559
.217
.002
.134
.646
.911
.046
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.013
-.081
.228
-.095
-.405
*
.049
-.025
.051
-.333
-.148
.945
.669
.225
.618
.026
.797
.897
.791
.072
.435
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
*
*
.508
**
.099
.550
.625
**
-.258
.441
.402
*
*
*
p25
Pearson
Correlation
1
-.091
-.156
-.176
-.110
-.268
.087
-.257
.047
-.245
.633
.411
.352
.563
.152
.649
.170
.806
.193
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.091
1
.031
-.102
-.128
.223
.371
*
-.074
.221
.317
.872
.591
.500
.236
.043
.698
.240
.088
Sig. (2-tailed)
N
p26
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p27
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p28
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p29
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p30
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
.633
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.156
.031
1
.149
-.010
.208
.084
.300
-.091
.311
.411
.872
.431
.956
.271
.661
.108
.631
.095
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.176
-.102
.149
1
.188
-.035
.129
.113
.183
.261
.352
.591
.431
.320
.856
.496
.553
.333
.163
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.110
-.128
-.010
.188
1
.055
.066
.179
.334
.563
.500
.956
.320
.772
.730
.344
.071
.002
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
-.268
.223
.208
-.035
.055
1
.126
.172
.012
.262
.152
.236
.271
.856
.772
.508
.364
.948
.162
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
.540
**
p31
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p32
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
p33
Pearson
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
Tota Pearson
l
Correlation
Sig. (2-tailed)
N
.087
.371
*
.084
.129
.066
.126
.649
.043
.661
.496
.730
.508
30
30
30
30
30
30
-.257
-.074
.300
.113
.179
.170
.698
.108
.553
30
30
30
.047
.221
.806
1
.160
.491
**
.694
**
.398
.006
.000
30
30
30
30
.172
.160
1
.184
.344
.364
.398
30
30
30
30
-.091
.183
.334
.012
.240
.631
.333
.071
30
30
30
30
-.245
.317
.311
.261
.193
.088
.095
30
30
30
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
.497
**
.329
.005
30
30
30
**
.184
1
.948
.006
.329
30
30
30
30
**
.262
.163
.002
.162
.000
.005
.000
30
30
30
30
30
30
.540
.491
.694
**
.497
**
.632
**
.000
30
30
**
1
.632
30
Case Processing Summary
N
Cases
Valid
a
Excluded
Total
%
30
100.0
0
.0
30
100.0
a. Listwise deletion based on all variables in the
procedure.
Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha
N of Items
.842
33
Download