Uploaded by ftianti

Proposal Penelitian Demokrasi Dalam Islam

advertisement
PROPOSAL PENELITIAN
DEMOKRASI DALAM ISLAM:
STUDI PERBANDINGAN PEMIKIRAN MUHAMMAD ABID AL-JABIRI DAN
ABDOLKARIM SOROUSH
A. Latar Belakang Masalah
Wacana tentang hubungan Islam dan demokrasi telah lama menjadi perdebatan yang hangat
di dunia Islam. Sejak dasawarsa 1980-an, demokrasi menjadi trend pemikiran yang banyak dikaji
oleh para penulis tentang politik dunia. Salah satu isu yang akhir-akhir ini banyak dikaji adalah
masalah demokrasi di dunia Islam. Banyak kajian mutakhir tentang hubungan Islam dan
demokrasi, seperti yang dilakukan oleh Samuel P. Huntington dan Francis Fukuyama,
memberikan penilaian yang negatif bahwa Islam tidak sesuai dengan demokrasi. 1 Pandangan
mereka semacam itu didasarkan pada sejumlah ajaran Islam (doktrin) dan praktek kehidupan
politik umat Islam yang dianggap cenderung berseberangan dengan demokrasi.
Namun, juga terdapat sejumlah penulis Barat lain menilai positif, misalnya John L. Esposito
dan John O. Voll yang memandang bahwa di berbagai wilayah di dunia, gerakan-gerakan
kebangkitan agama dapat berjalan seiring dan terkadang justru memperkuat pembentukan sistem
politik yang demokratis. Tentang fenomena yang terjadi di dunia Islam, mereka berpendapat
bahwa isu-isu itu muncul ke permukaan disebabkan adanya kebangkitan Islam dan menguatnya
tuntutan partisipasi rakyat yang lebih besar dalam proses politik. 2 Mereka mencontohkan
bangkitnya Revolusi Islam Iran Tahun 1979 dan pembentukan Front Keselamatan Islam (FIS) di
Aljazair pada awal 1990-an sebagai bentuk kebangkitan Islam yang menuntut proses-proses
politik yang demokratis. Pandangan mereka didasarkan pada praktek kehidupan politik umat
Islam.
Pertanyaan atas keterkaitan Islam dan demokrasi kembali mencuat ketika Islam dihadapkan
oleh persoalan-persoalan aktual dalam tantangan modernitas, termasuk produk pemikiran Barat.
Ketika tradisi diperhadapkan pada modernitas, muncul tiga kecenderungan orientasi
keberagamaan, yaitu liberalisme (sekularisme), konservatisme, dan moderatisme.
Kecenderungan yang pertama menerima begitu saja modernitas sebagai konsekuensi perubahan
zaman dan lebih mengutamakan konsep politik model Barat beserta lembaga-lembaganya.
Kecenderungan yang kedua lebih mengukuhkan tradisi sebagai satu-satunya solusi yang
dianggap mampu mengatasi berbagai masalah dan memandang bahwa agama sepatutnya
menentukan watak organisasi politik, serta memosisikan hukum Islam (syariah) sebagai pengatur
kehidupan masyarakat. Sementara itu, kecenderungan yang ketiga berada di tengah-tengah,
antara sikap tetap menjaga tradisi dan juga mau menerima pemikiran-pemikiran modern (Barat).3
Apakah Islam compatible dengan demokrasi? Untuk menjawab hal ini diperlukan kajian
mendalam terhadap tradisi Islam yang membincangkan demokrasi. Esposito dan Voll,
menegaskan bahwa Islam sesungguhnya memiliki seperangkat simbol dan konsep yang
menumbuhkan kebebasan (freedom) dan persamaan (equality) sebagai prinsip-prinsip dalam
demokrasi. Mereka juga menegaskan bahwa sangat penting meneliti sumber-sumber konseptual
1Bahtiar
Effendy, Teologi Baru Politik Islam: Pertautan Agama, Negara, dan Demokrasi (Yogyakarta: Galang Press, 2001), h.
108-109.
2John L. Esposito dan John O. Voll, Islam and Democracy (Oxford and New York: Oxford University Press, 1996), h. 3.
3John L. Esposito, Islam dan Politik, terj. Joesoef Sou’yb (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 70-71.
di dalam tradisi Islam yang membincangkan demokrasi.4 Pernyataan mereka di atas didasarkan
pada doktrin Islam yang membahas tentang demokrasi.
Kajian tentang demokrasi yang terkait dengan tradisi agama dilakukan oleh banyak
intelektual muslim kenamaan, di antaranya, dua yang dipilih dalam studi ini, Muhammad Abid
al-Jabiri dan Abdolkarim Soroush. Al-Jabiri adalah intelektual Muslim asal Maroko yang dikenal
dengan mega proyek “Kritik Nalar Arab” (Naqd ‘Aql al-‘Arabi), sedangkan Soroush adalah
intelektual muslim asal Iran yang dikenal sangat gigih menyerukan pentingnya membangun
rasionalitas berpikir, kebebasan, dan demokrasi di dunia Islam.
Tesis ini mengambil pemikiran Muhammad Abid al-Jabiri dan Abdolkarim Soroush sebagai
bahan reflektif sekaligus perbandingan dalam mengkaji demokrasi dalam Islam. Kedua tokoh
yang masih hidup tersebut dipilih oleh karena representasi keduanya sebagai intelektual muslim
dari wilayah Arab dan non Arab. Al-Jabiri mewakili wilayah yang pertama, sedangkan Soroush
mewakili yang kedua.
Dunia Islam kini sedang mengalami suasana pertikaian yang beragam, yaitu pertikaian antar
pendukung kelompok elite politik. Kelompok elite yang berkuasa berupaya mengembangkan
pengaruhnya dengan membentuk lembaga-lembaga yang mampu meningkatkan keunggulan,
pengalaman, dan ambisinya yang memuaskan.5 Kondisi inilah yang menyebabkan perlunya para
intelektual muslim untuk merumuskan konsepsi yang mendalam tentang demokrasi dalam Islam.
Al-Jabiri menegaskan bahwa demokrasi adalah suatu keniscayaan sejarah yang sangat
dibutuhkan masyarakat Arab saat ini.6 Penegasan ini didasarkan pada kenyataan tidak adanya
demokrasi dan civil society di seluruh negara Arab, ditambah tidak adanya negara institusional
yang keberadaan dan pengaturannya didasarkan pada institusi-insitusi independen yang dimiliki
negara itu sendiri. Demikian halnya, Soroush juga memandang pentingnya demokrasi di dunia
muslim. Salah satu prinsip dalam demokrasi adalah tuntutan untuk menciptakan keadilan
struktural, yaitu keadilan yang berhubungan dengan konstruksi sosial dan kekuasaan negara.
Menurutnya, keadilan adalah warisan tradisi Islam yang sering dilupakan untuk menciptakan
tatanan politik yang lebih baik.7
Di antara isu-isu yang sering diperdebatkan dalam membincangkan kompatibilitas Islam dan
demokrasi adalah isu tentang konsep otoritas, syariah, dan kebebasan dalam Islam. Tesis ini
menjadikan isu-isu tersebut untuk menguji sejauhmana kompatibilitas Islam dan demokrasi.
Pemilihan ketiga isu tersebut didasarkan pada tiga alasan.
Pertama, persoalan otoritas dalam praktek sejarah Islam sering dipahami sebagai penyatuan
antara agama dan politik, dimana sang khalifah dianggap merepresentasikan kedaulatan Tuhan di
muka bumi.8 Realitas ini menunjukkan adanya suatu permasalahan yang harus dipecahkan
karena hal ini bertentangan dengan konsep demokrasi yang lebih mengukuhkan kedaulatan
rakyat (manusia). Sehingga, Eickelman dan Piscatori yang menjadikan isu otoritas sebagai salah
satu bahasan penting tentang politik Islam, merasa perlu untuk memberikan pengertian lain atas
otoritas sebagai dua wilayah (agama dan politik) yang bisa dipisahkan, saling berkait, dan
4Ibid.,
h. 7.
Abid al-Jabiri, “Problem Demokrasi dan Civil Society di Negara-Negara Arab”, dalam Mun’im A. Sirry (ed.),
Islam, Liberalisme, Demokrasi: Membangun Sinergi Warisan Sejarah, Doktrin, dan Konteks Global (Jakarta: Paramadina, 2002),
h. 250-251.
6Al-Jabiri, ibid., h. 233.
7Abdolkarim Soroush, “Mencari Format Ideal Hubungan Islam dan Demokrasi”, dalam Mun’im A. Sirry (ed.), ibid., h. 136-137.
8Dale F. Eickelman dan James Piscatori, Politik Muslim: Wacana Kekuasaan dan Hegemoni dalam Masyarakat Muslim, terj.
Endi Haryono dan Rahmi Yunita (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1998), h. 55.
5Muhammad
tumpang tindih sesuai konteks.9 Pengertian ini bisa dipahami lebih dekat dengan makna
demokrasi, dengan merujuk pendapat sejumlah intelektual Muslim yang berhaluan “liberal”.
Kedua, syariah memiliki peran yang sangat sentral dalam sebuah pemerintahan yang
bercorak “negara Islam”. Karakteristik utama sebuah pemerintahan Islam yang sah adalah bahwa
semua tunduk kepada dan dibatasi oleh hukum syariah.10 Ketika syariah dijadikan dasar hukum
negara, maka persoalannya terletak pada penunggalan pemahaman tentang syariah itu sendiri.
Padahal, syariah yang sempurna hanya ada di tangan Tuhan. Ketika sudah diwahyukan, syariah
sangat mengandalkan upaya interpretasi manusia, yang pada akhirnya bersifat tidak sempurna
dan memunculkan beragam penafsiran terhadap makna-maknanya.11 Pemahaman yang terakhir
lebih dekat dengan makna demokrasi karena mengandung pengertian bahwa keragaman tafsir
atas syariah akan membuka ruang pluralitas dan toleransi yang merupakan bagian dari prinsip
demokrasi itu sendiri. Abou El Fadl memasukkan isu syariah dan negara demokratis sebagai
salah satu bahasan penting tentang Islam dan tantangan demokrasi. Menurutnya, penerapan
syariah dalam negara demokratis merupakan sebuah paradoks karena semua hukum yang
dijelaskan dan diterapkan dalam sebuah negara adalah hukum manusia, sehingga hukum agama
tidak bisa diterapkan di dalamnya.12
Ketiga, prinsip kebebasan merupakan nilai yang terkandung dalam demokrasi, di samping
prinsip persamaan dan toleransi.13 Norman P. Barry menegaskan bahwa pemerintahan yang
demokratis harus memberikan kebebasan rakyat yang sungguh-sungguh untuk berkumpul,
mengomunikasikan ide-idenya, termasuk untuk bersikap berbeda dengan pemerintah.14 Untuk
melihat demokrasi dalam Islam, isu kebebasan perlu dibahas. Berdasarkan tiga alasan di atas,
tesis ini berusaha mengkaji isu-isu tersebut untuk menguji sejauh mana kompatibilitas Islam dan
demokrasi. Penelitian dalam tesis ini diharapkan memperoleh sebuah konstruksi pemikiran
tentang demokrasi Islam yang bisa diterima di dunia Islam.
B. Identifikasi Masalah
Konsep demokrasi diterima oleh hampir semua pemerintahan di dunia, bahkan pemerintahan
yang otoriter juga menggunakan atribut “demokrasi” sebagai ciri pemerintahannya. 15 Dunia
modern saat ini seakan dihantui oleh munculnya proyek demokratisasi yang dilakukan negaranegara maju kepada negara-negara berkembang, termasuk di dalamnya dunia Islam. Dalam
beberapa kasus konflik di Timur Tengah, pengaruh negara-negara Barat (terutama AS dan
sekutunya) terhadap kondisi internal negara-negara muslim menjadikan isu demokrasi sebagai
dalih intervensi penyelesaian masalah. Sebagai contoh adalah konflik di Irak pasca agresi militer
AS dan sekutunya yang pada kenyataannya menyisakan masalah-masalah baru.
Isu-isu yang terkandung dalam demokrasi menimbulkan perdebatan di kalangan umat Islam
tentang apresiasi dan kritik terhadap konsep ini. Pandangan umat Islam beragam, ada yang
memandang demokrasi itu sesuai (kompatibel) dengan Islam, namun tidak sedikit pula yang
menolak konsep ini bisa diterapkan dalam pemerintahan yang Islami. Isu-isu yang kerap menjadi
9Ibid.,
h. 69.
Abou El Fadl, Islam and the Challenge of Democracy, (New Jersey: Princeton University Press, 2004), h. 12.
11Ibid., h. 34.
12Ibid., h. 36.
13Masykuri Abdillah memasukkan nilai-nilai kebebasan, persamaan (egalitarianisme), dan toleransi (pluralisme) sebagai bahasan
tentang respon umat Islam terhadap demokrasi dalam bukunya Demokrasi di Persimpangan Makna, (Yogyakarta: Tiara Wacana,
1999), h. 111-171.
14Norman P. Barry, An Introduction to Modern Political Theory (New York: St. Martin’s Press, 1981), h. 161.
15Masykuri Abdillah, op. cit.,h. 2-3.
10Khaled
pusat kontroversi dalam tubuh umat Islam dan dijadikan bahasan dalam tesis ini adalah isu
seputar otoritas, syariah, dan kebebasan.
Kontroversi-kontroversi yang dimaksud di antaranya adalah isu penegakan khilafah
Islamiyyah, isu penerapan syariah Islam, dan sikap sejumlah kelompok Islam fundamentalis
yang mengekang kebebasan beragama kelompok lain. Isu yang pertama sering disuarakan oleh
kelompok ………….. (…………..), isu yang kedua sering disuarakan kelompok ………….. (…………..), dan
sikap yang ketiga pernah ditunjukkan kelompok ………….. (…………..) dan ………….. (…………..) dengan
melakukan tindakan kekerasan dan intimidasi untuk mengusir acara ………….. (…………..) di Parung
Bogor (Juli 2005).
Isu khilafah Islamiyyah merupakan kontroversi seputar otoritas karena berupaya membentuk
sebuah pemerintahan Islam federal yang dianggap lebih mencerminkan kedaulatan Tuhan di
muka bumi, di mana hak-hak-Nya diejawantahkan oleh sang khalifah. Isu penerapan syariah
Islam secara formal dalam sebuah negara memunculkan masalah demokrasi karena maksud
seperti ini menunjukkan adanya penunggalan pemahaman, padahal seharusnya syariah itu
dipahami secara beragam dan kontekstual. Re-interpretasi terhadap syariah akan membuka ruang
pencapaian tujuan kemaslahatan, termasuk di dalamnya demokrasi. Sementara itu, kasus yang
menimpa Ahmadiyah membuka pertanyaan tentang kebebasan beragama. Padahal Islam
menjamin kebebasan bagi setiap manusia (sebagaimana akan ditunjukkan pada pembahasan bab
empat).
Masalah-masalah dalam penelitian ini adalah:
A. Bagaimana hubungan antara Islam dan demokrasi menurut Al-Jabiri dan Soroush?
B. Sejauh mana kompatibilitas Islam dan demokrasi menurut Al-Jabiri dan Soroush, dengan
mengukur isu-isu otoritas, syariah, dan kebebasan sebagai alat uji?
C. Signifikansi Studi
Penelitian tentang demokrasi dalam Islam kini mendapat relevansi dan signifikansinya
semenjak isu radikalisme mengemuka di dunia Islam. Radikalisme dan terorisme sering
diasumsikan muncul sebagai konsekuensi atas kebijakan-kebijakan politis di negara-negara
muslim yang otoriter dan tidak demokratis.16 Kajian tentang Islam dan demokrasi masih menarik
untuk diangkat. Beberapa isu yang menjadi perdebatan internal umat Islam di sejumlah negaranegara Islam adalah seputar masalah otoritas kekuasaan, syariah, dan kebebasan.
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan. Pertama, mengkaji konsep demokrasi dengan
rujukan tradisi pemikiran Islam, di antaranya bagaimana respon intelektual Muslim terhadap
hubungan Islam dan demokrasi, termasuk bagaimana pandangan Al-Jabiri dan Soroush tentang
kompatibilitas keduanya. Kedua, melakukan kajian perbandingan pemikiran Al-Jabiri dan
Soroush tentang beberapa isu-isu kontroversial yang mewarnai kajian demokrasi dalam Islam,
seperti isu syariah, otoritas, dan kebebasan.
D. Kerangka Teori
Sebelum kerangka teori membahas tentang pengertian dan pendekatan demokrasi, perlu
dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan politik Islam sebagai wilayah kajian ini.
Secara teoritis, pengertian “politik” (politics) mempunyai arti aneka ragam kegiatan dalam suatu
sistem masyarakat yang terorganisasikan (terutama negara) yang menyangkut pengambilan
16M.
Khalid Masud, “Defining Democracy in Islamic Polity”, makalah pada diskusi terbuka di UGM Yogyakarta, 11 Desember
2004, h. 1.
keputusan, baik mengenai tujuan-tujuan sistem itu sendiri maupun pelaksanaannya.17 Dengan
demikian, pengertian “politik Islam” diartikan sebagai salah satu arena pemikiran Islam yang
membahas tentang bagaimana cara berpikir dan cara bertindak umat Islam dalam kehidupan
praktek politiknya.
a. Pengertian dan Pendekatan Demokrasi
Istilah demokrasi berasal dari kata Yunani, yaitu demos yang berarti rakyat dan kratos yang
berarti pemerintahan “dari rakyat untuk rakyat”. Secara konseptual, demokrasi mempunyai arti
sebagai ideologi yang ditata dengan memadukan nilai-nilai liberal, pemerintahan berdasarkan
hukum, dan berdasarkan sistem pemilihan umum yang bebas. Prinsip-prinsip yang menjadi dasar
dalam ide demokrasi adalah konstitusionalisme, kedaulatan rakyat, aparat yang bertanggung
jawab, jaminan kewajiban sipil, pemerintahan berdasarkan undang-undang, dan asas mayoritas.18
Demokrasi juga bisa diartikan sebagai suatu bentuk politik di mana rakyat sendiri yang
memiliki dan menjalankan seluruh kekuatan politik, dengan tujuan untuk menentang pemerintah
oleh satu orang (monarkhi) atau kelompok yang memiliki hak-hak istimewa (aristokrasi), dan
bentuk-bentuk pemerintahan yang jelek dari kedua jenis pemerintahan ini (tirani dan oligarkhi).19
Di samping pengertian di atas, juga terdapat beberapa definisi tentang demokrasi. Joseph A.
Schumpeter mendefinisikan metode demokratis sebagai “suatu perencanaan institusional untuk
mencapai keputusan politik di mana individu-individu memperoleh kekuasaan untuk
memutuskan dengan cara perjuangan kompetitif atas suara rakyat”.20 Philippe C. Schmitter dan
Terry Lynn Karl mendefinisikan demokrasi politik modern sebagai “suatu sistem pemerintahan
di mana pemerintah mempertanggung jawabkan tindakannya kepada warga negara, bertindak
secara langsung melalui kompetisi dan kerjasama dengan para wakil rakyat”. 21 Sementara itu,
Robert A. Dahl mendefinisikan demokrasi sebagai istilah yang berfungsi dalam memberikan
kesempatan untuk:
1. partisipasi secara efektif,
2. setara dalam hak suara, di mana setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama dan
efektif untuk memberikan suara,
3. mencapai pemahaman yang baik dan cerah, di mana setiap orang mempunyai kesempatan
yang sama dan efektif untuk mempelajari kebijakan-kebijakan alternatif,
4. menjalankan kontrol akhir terhadap agenda, dan
5. melibatkan orang dewasa.22
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, demokrasi mengandung beberapa unsur penting, yaitu
kekuasaan mayoritas, suara rakyat, pemilihan yang bebas dan bertanggung jawab. Pada masa
kontemporer ini, penggunaan istilah demokrasi lebih bersifat pragmatis ketimbang filosofis, hal
itu bisa dilihat pada karakteristik unsur-unsur dalam demokrasi. Sementara itu, pada masa
pencerahan, demokrasi awal mulanya dipahami secara filosofis, yaitu ide tentang kedaulatan
rakyat yang berlawanan dengan kedaulatan Tuhan (teokrasi) dan kedaulatan monarki
(kerajaan).23
17B.N.
Marbun, Kamus Politik (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), h. 518-519.
h. 134-135.
19 Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1996), h. 154.
20Joseph Schumpeter, Capitalism, Socialism, and Democracy, (London: George Allen & Unwin Ltd., 1943), h. 269.
21Philippe C. Schmitter dan Terry Lynn Karl, “What Democracy Is…and Is Not”, dalam Journal of Democracy, Vol. II, No. 3
(1991), h. 76.
22Robert A. Dahl, Perihal Demokrasi: Menjelajahi Teori dan Praktek Demokrasi Secara Singkat, terj. A. Rahman Zainuddin,
(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2001), h. 52-53.
23Masykuri Abdillah, Demokrasi di Persimpangan Makna, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999), h. 73.
18Ibid.,
Pemahaman demokrasi pada masa lalu tersebut tercermin dari Piagam Magna Carta yang
ditulis oleh Raja John di Inggris (15 Juni 1215), yang memberikan dua pesan penting, yaitu
bahwa kekuasaan pemerintah terbatas dan hak asasi manusia lebih penting daripada kedaulatan
raja. Raja John menegaskan bahwa tidak ada orang yang bebas dari penegakan hukum, sehingga
keadilan dapat dirasakan secara langsung oleh masing-masing individu (rakyat).24
Pada dasarnya, tesis ini lebih memfokuskan pembahasan tentang Islam dan demokrasi dari
sudut pandang filosofis, yang secara lebih mendalam mengangkat isu-isu otoritas, syariah, dan
kebebasan sebagai alat uji terhadap kompatibilitas keduanya. Pandangan Al-Jabiri dan Soroush
yang akan dibahas di akhir bab ini merupakan perdebatan wacana filosofis seputar masalah Islam
dan demokrasi.
Sesudah perang dunia II, secara formil demokrasi telah menjadi dasar bagi kebanyakan
negara-negara di dunia. Penelitian ………….. pada tahun 1949 menunjukkan bahwa mungkin untuk
pertama kalinya dalam sejarah demokrasi dinyatakan sebagai nama yang paling baik dan wajar
untuk semua sistem organisasi politik dan sosial yang diperjuangkan oleh pendukung-pendukung
yang berpengaruh.25
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa demokrasi merupakan sistem politik yang terbaik
dan terbukti banyak digunakan oleh negara-negara di dunia, beberapa di antaranya mendapatkan
keuntungan yang diperoleh dengan menerapkan sistem ini. Dahl menyebut sedikitnya delapan
keuntungan yang dapat dimanfaatkan dalam sistem politik yang demokratis, yaitu:
1. demokrasi menolong dalam mencegah timbulnya pemerintahan oleh kaum otokrat yang
kejam dan licik,
2. demokrasi menjamin bagi warga negaranya sejumlah hak asasi yang tidak diberikan oleh
sistem-sistem yang tidak demokratis,
3. demokrasi menjamin kebebasan pribadi yang lebih luas kepada warga negaranya,
4. demokrasi membantu orang-orang untuk melindungi kepentingan pokok mereka,
5. hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat memberikan kesempatan sebesar-besarnya
bagi orang-orang untuk menggunakan kebebasan dalam menentukan nasibnya sendiri, yaitu
untuk hidup di bawah hukum yang mereka pilih sendiri,
6. hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat memberikan kesempatan sebesar-besarnya
untuk menjalankan tanggung jawab moral,
7. demokrasi membantu perkembangan manusia lebih total dari alternatif lain yang
memungkinkan, dan
8. hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat membantu perkembangan kadar persamaan
politik yang relatif tinggi.26
1.
2.
3.
4.
Dahl juga mengemukakan ada tujuh indikator yang harus ada dalam sistem yang demokratis:
kontrol atas keputusan pemerintah mengenai kebijakan secara konstitusional diberikan untuk
para pejabat yang dipilih,
para pejabat dipilih melalui proses pemilihan yang teliti, jujur, dan tanpa paksaan,
semua orang dewasa mempunyai hak untuk memilih,
semua orang dewasa mempunyai hak untuk mencalonkan diri pada jabatan-jabatan di
pemerintahan,
24Richard
M. Ketchum (ed.), Demokrasi: Sebuah Pengantar, terj. Mukhtasar (Yogyakarta: Niagara, 2004), h. 35-36.
Budiardjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta: Gramedia, 1977), h. 50.
26Robert A. Dahl, Perihal Demokrasi…, op. cit., h. 61-85.
25Miriam
5. rakyat mempunyai hak untuk menyuarakan pendapat tanpa ancaman hukuman yang berat
(subversif),
6. rakyat mempunyai hak untuk mendapatkan sumber-sumber informasi alternatif, dan
7. rakyat mempunyai hak untuk membentuk lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi yang
relatif independen, termasuk berbagai partai politik dan kelompok kepentingan yang
independen.27
Teoretisasi terhadap demokrasi melahirkan dua pendekatan yang sering digunakan dalam
mengkaji konsep ini, yaitu pendekatan klasik-normatif dan pendekatan empirik-minimalis.
Pendekatan klasik-normatif memahami demokrasi sebagai sumber wewenang dan tujuan
(tentang bagaimana demokrasi itu seharusnya), sedangkan pendekatan empirik-minimalis lebih
menekankan pada sistem politik yang dibangun (deskripsi tentang apa demokrasi itu sekarang).28
Pendekatan klasik-normatif banyak dipengaruhi oleh garis pemikiran klasik dari zaman
Yunani kuno, abad pertengahan, hingga pada pemikiran sosialisme Karl Marx. Pendekatan ini
memaknai dan mengukur demokrasi secara maksimalis dengan memasukkan dimensi-dimensi
non-politik (sosial, ekonomi, dan budaya). Sebagai contoh, misalnya, konsep kebebasan tidak
saja dimaknai sebagai sebagai kebebasan politik saja, tetapi pemaknaannya lebih luas, yaitu
mencakup kebebasan sosial-ekonomi (bebas dari ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan,
keterbelakangan, dan sebagainya). Di samping itu, pendekatan ini sangat memerhatikan elemen
konstitusi dan gagasan rule of law (konstitusionalisme) untuk mengatur prosedur kelembagaan,
hak dan kewajiban rakyat, serta untuk membatasi kekuasaan. Konstitusionalisme adalah sebuah
gagasan kontraktual antara penguasa (negara) dan rakyat (masyarakat). Gagasan ini lahir melalui
dua ide utama, yaitu
1. konstitusionalisme mencakup pembatasan kekuasaan dengan doktrin Trias Politica, sehingga
kekuasaan dibatasi dengan hukum dasar, dan penguasa tunduk terhadap kedaulatan rakyat,
2. konstitusionalisme mencakup pemberian jaminan hak-hak sipil dan politik bagi warga
negaranya. Warga negara harus diberi jaminan kebebasan untuk berbicara, berkumpul,
berserikat, memperoleh penghidupann yang layak, keadilan, dan sebagainya.29
Pendekatan empirik-minimalis banyak dipengaruhi oleh gagasan Joseph Schumpeter yang
memandang demokrasi sebagai metode politik. Menurutnya, demokrasi adalah pengaturan
kelembagaan untuk mencapai keputusan-keputusan politik, di mana individu-individu dapat
memperoleh kekuasaan dengan perjuangan dalam memperebutkan suara rakyat pemilih,
kemudian membuat keputusan melalui perjuangan dalam memperoleh suara rakyat. Dengan
demikian, kehendak rakyat bukanlah penggerak demokrasi sebagaimana dipahami dalam
pendekatan klasik-normatif, melainkan adalah hasil proses politik. Dalam pemahaman
Schumpeterian, dunia modern yang kompleks ini akan dapat diatasi apabila negara yang
berdaulat dipisahkan dengan rakyat yang berdaulat, dengan penegasan bahwa peran yang
terakhir dibatasi seminimal mungkin. Maksudnya, istilah yang tepat digunakan adalah kehendak
mayoritas dalam hukum dan kebijakan politik, sebab penggunaan istilah kehendak semua
sangatlah utopis.30
Pandangan Schumpeter yang mengilhami pendekatan empirik-minimalis juga dikembangkan
oleh teoretikus politik lain, misalnya Robert A. Dahl dan Larry Diamond. Dahl menyebut bahwa
konsep “poliarkhi” (polyarchy) mendukung demokrasi karena memiliki ciri khas, yaitu sikap
27Robert
A. Dahl, Dilemma of Pluralist Democracy, (New Haven dan London: Yale University Press, 1982), h. 11.
Menjelajahi Demokrasi, (Yogyakarta: Liebe Book Press, 2004), h. 37.
29Ibid., h. 37-38.
30Ibid., h. 39-40.
28Suyatno,
tanggap pemerintah terhadap preferensi dan keinginan warga negaranya. Untuk mewujudkan
harapan tersebut, rakyat harus diberi kesempatan dalam proses:
1. merumuskan preferensi atau kepentingannya sendiri,
2. menginformasikan preferensinya itu kepada sesama warga negara dan juga pemerintah
melalui tindakan personal maupun kolektif, dan
3. mengusahakan agar preferensinya itu dapat dipertimbangkan secara setara dalam proses
pembuatan keputusan pemerintah.
Ketiga proses tersebut hanya akan terlaksana apabila didukung oleh kondisi-kondisi:
1. kebebasan untuk membentuk dan berpartisipasi dalam organisasi,
2. kebebasan berpendapat,
3. hak dalam pemilihan umum,
4. hak untuk menduduki jabatan publik,
5. hak para pemimpin dalam bersaing memperoleh dukungan suara rakyat,
6. terpenuhinya sumber-sumber informasi alternatif,
7. terselenggaranya pemilu yang jujur dan adil, dan
8. adanya lembaga-lembaga yang menjamin terlaksananya kebijakan publik yang sesuai dengan
preferensi masyarakat.31
Sementara itu, Diamond mengajukan istilah demokrasi elektoral sebagai pemahaman
minimalis terhadap demokrasi. Menurutnya, konsep minimalis tentang demokrasi elektoral juga
memerhatikan adanya kebebasan tertentu (berbicara, pers, organisasi, dan berserikat) agar
kompetisi dan partisipasi dalam proses politik yang demokratis dapat berjalan dengan baik. Bagi
Diamond, konsep Schumpeterian yang sudah umum itu beresiko menimbulkan “kekeliruan
elektoralisme” karena lebih mengistimewakan pemilu di atas dimensi-dimensi lain, dan
mengabaikan kemungkinan yang bisa timbul dalam pemilu multipartai. Untuk itulah, konsep
demokrasi elektoral bersifat lebih luas karena bermaksud menghilangkan unsur-unsur yang bisa
menimbulkan kerancuan. Tingkat kebebasan sipil digunakan sebagai alat ukur menentukan
demokratis tidaknya suatu negara. Misalnya, rezim-rezim yang masih berisi kekuatan militer
yang tidak terdapat pejabat terpilih, maka tidak lagi dikategorikan sebagai demokrasi elektoral.32
Dengan demikian, demokrasi elektoral dapat disimpulkan sebagai sebuah sistem
konstitusional yang menyelenggarakan pemilu multipartai yang kompetitif dan teratur dengan
mengutamakan hak pilih dalam memilih anggota legislatif dan kepala eksekutif.33 Dalam
pendekatan empirik-minimalis, demokrasi elektoral ini diperluas dengan mengembangkan
gagasan demokrasi liberal.
Pada dasarnya, hubungan antara liberalisme dan demokrasi adalah hubungan antara liberty
(kemerdekaan, kebebasan) dan equality (persamaan).34 Hubungan keduanya direpresentasikan
dalam pengertian demokrasi liberal. Menurut Diamond, demokrasi membutuhkan prasyaratprasyarat:
1. menolak kehadiran kekuasaan militer maupun aktor-aktor lain yang secara langsung maupun
tidak langsung tidak memiliki akuntabilitas pada pemilih,
31Robert
A. Dahl, Polyarchy: Participation and Opposition (New Haven: Yale University Press, 1971), h. 1-3.
Diamond, Developing Democracy toward Consolidation, (Yogyakarta: IRE Press, 2003), h. 9-10.
33Ibid., h. 11.
34Giovanni Sartori, The Theory of Democracy: Revisited, (New Jersey: Chatham House Publishers, 1987), h. 383.
32Larry
2. di samping itu, menghendaki akuntabilitas secara horisontal di antara pemegang jabatan,
yang membatasi kekuasaan eksekutif dan juga melindungi konstitusionalisme, legalitas, dan
proses pertimbangan, dan
3. demokrasi liberal mencakup ketentuan-ketentuan yang luas bagi pluralisme sipil dan politik,
serta kebebasan individu dan kelompok. Kebebasan dan pluralisme hanya dapat dijamin
melalui penegakan rule of law yang menjalankan hukum secara layak dan konsisten.35
Penelitian tesis ini menggunakan pendekatan yang pertama (klasik-normatif) dalam
membahas demokrasi dalam Islam dengan menjadikan isu-isu otoritas, syariah, dan kebebasan
sebagai fokus bahasan. Sebagaimana dipaparkan di atas bahwa pembahasan tentang demokrasi
dengan pendekatan klasik-normatif memasukkan dimensi-dimensi non-politik untuk memahami
dan mengukur demokrasi. Dalam tesis ini, dimensi agama dan filosofis dimasukkan sebagai
kerangka pemikiran dalam memahami dan mengukur persoalan demokrasi dalam Islam.
Dengan demikian, batasan pengertian demokrasi yang digunakan dalam pembahasan tesis ini
adalah demokrasi sebagai kerangka atau konsep filosofis yang berupaya mewujudkan kehendak
rakyat, belum masuk pada bagaimana prosedur-prosedur dab proses-proses yang akan
berlangsung. Sebagaimana akan ditunjukkan dalam pembahasan tesis ini, pengertian demokrasi
dalam pendekatan ini berhubungan erat dengan masalah kekuasaan (kepemimpinan), hukum, dan
kebebasan yang melandasinya. Sedangkan masalah siapa yang berhak memimpin, siapa saja
yang berhak berpartisipasi dalam demokrasi sebuah negara, dan masalah yang lainnya adalah
wilayah pemikiran dalam pendekatan demokrasi empirik-minimalis.
b. Otoritas, Syariah, dan Kebebasan
Isu-isu otoritas, syariah, dan kebebasan dijadikan alat uji untuk mengukur sejauh mana
kompatibilitas Islam dan demokrasi. Menggunakan ketiga alat uji tersebut, akan dilihat apakah
terdapat hubungan antara pengertian dan cakupan istilah demokrasi di atas dengan pemahaman
Islam yang berbicara tentang konsep politik.
Kata “otoritas” berasal dari bahasa Inggris (authority) yang memiliki arti yang berkuasa, ahli,
dan sumber, sedangkan dalam bahasa Latinnya (auctor) berarti perencana, cikal bakal, pembina,
dan pendiri. Kata ini secara umum diartikan sebagai “konsep yang mengacu pada individu atau
kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan sahih dan/atau kekuasaan legitim”. Istilah ini
memiliki dua arti, yaitu
1. dalam arti positif: otoritas diterima karena keuntungan yang diperoleh, dari suatu sumber
lainnya, dan
2. dalam arti negatif: otoritas dipandang sebagai penindas dan pelaku pengetahuan dan
kekuasaan yang tidak sah.36
Perdebatan yang sering mengemuka di antara para teoretisi tentang konsep otoritas adalah
masalah tentang apakah kekuasaan (seperti agama dan tradisi) itu merupakan bagian dari suatu
cakrawala yang sekarang nyaris lenyap dari dunia yang tengah diliputi krisis kekuasaan, atau
kekuasaan itu justru telah mengubah semua bentuk perangkatnya, tapi masih tetap ada dalam
bentuk yang modern, yakni tercipta dalam masyarakat industri maju yang rasional. Menurut
April Carter, dua pandangan tersebut dipahami dengan dua pendekatan yang berbeda. Pandangan
yang pertama didukung oleh para teoritisi sosiologi dan politik dengan mengalihkan perhatian
pada tertib otokratis, yaitu kehidupan sosial yang dikendalikan oleh penghormatan terhadap
35Larry
Diamond, Developing Democracy…, op. cit., h. 11-12.
Bagus, op. cit., h. 768.
36Lorens
hirarkhi, kebiasaan-kebiasaan, dan praduga-praduga yang tidak pernah direfleksikan. Sedangkan
pandangan yang kedua didukung oleh Max Weber yang mengakui pentingnya tradisi sebagai
sumber kekuasaan, tapi tetap berusaha mencari bentuk-bentuk kekuasaan alternatif yang
disandarkan pada konsep negara birokrasi modern dan kehidupan yang menjunjung
rasionalitas.37
Hubungan otoritas dan demokrasi memunculkan pertanyaan tentang apakah otoritas itu
diperlukan. Otoritas yang dimaksud adalah pengertian secara umum. Perlu tidaknya otoritas
diukur menurut kapasitas dan tingkatan masyarakat. Masalah pengambilan keputusan secara
langsung ataupun kolektif dalam sebuah masyarakat yang tingkatannya relatif kecil tidak
diperlukannya otoritas karena prosesnya berjalan secara persuasif di mana masyarakat menganut
nilai-nilai umum dan keyakinan yang sama (monolitik). Namun, semakin besar ukuran sebuah
unit politik dan semakin kompleks kepentingan dan kepercayaan yang dianut, maka diperlukan
adanya otoritas. Di sini otoritas dipahami sebagai terlembaganya nilai-nilai yang integratif dan
representatif, sehingga dengan adanya majelis representatif di tingkat nasional mampu
menyelaraskan berbagai kepentingan dan berdiri di tengah-tengah semua pandangan.38 Dengan
demikian, otoritas dan demokrasi dapat dikompromikan.
Salah satu prinsip yang sangat diperhatikan dalam otoritas yang demokratis adalah konsep
“kedaulatan rakyat”. Secara teoretis, konsep ini hanya akan eksis apabila rakyat benar-benar
berkuasa, yaitu individu-individu yang memiliki kesamaan hak berpartisipasi dalam proses
politik, dan didukung oleh tujuan pemerintahan yang menjamin kepentingan seluruh rakyat,
bukan hanya orang-orang dari lapisan atas atau kelompok tertentu. Pandangan teoretis ini
diproyeksikan dalam tindakan praktisnya, yaitu rezim-rezim politik yang mengakui menghargai
kedaulatan rakyat harus berusaha mencapainya. Kedaulatan harus dinyatakan dengan tegas
dalam bentuk pranata-pranata demokrasi.39
Sebuah negara baru bisa dikatakan demokratis apabila kebebasan memang sudah dijunjung
tinggi. Secara etimologis, kebebasan (freedom) berarti kualitas tidak adanya rintangan nasib,
keharusan, atau keadaan di dalam keputusan atau tindakan seseorang. Sedangkan secara
epistemologis, kebebasan pada umumnya adalah keadaan tidak dipaksa atau ditentukan oleh
sesuatu di luar dirinya, kemampuan seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat sesuai dengan
kemauan dan pilihannya, dan kemampuan seseorang untuk memilih serta kesempatannya untuk
memenuhi atau memperoleh pilihan itu.40
Aristoteles menyebut bahwa landasan negara demokratis aalah kebebasan. Salah satu prinsip
kebebasan adalah bahwa setiap orang secara bergantian mempunyai hak untuk memerintah dan
diperintah dalam suatu komunitas politik.41 Franklin Delano Roosevelt, mantan presiden
Amerika Serikat, menyebut ada empat kebebasan pokok manusia yang harus diperjuangkan
dalam negara yang demokratis, yaitu
1. kebebasan berbicara dan berpendapat,
2. kebebasan bagi setiap orang untuk beribadat kepada Tuhan sesuai dengan caranya sendiri,
3. bebas dari kekurangan (ekonomi), dan
37April
Carter, Otoritas dan Demokrasi, terj. Sahat Simamora, (Jakarta: Rajawali, 1985), h. 2.
h. 131.
39Michael A. Riff (ed.), Kamus Ideologi Politik Modern, terj. M. Miftahudin dan Hartian Silawati, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
1995), h. 107.
40Lorens Bagus, op. cit., h. 406.
41Aristoteles, “Politik”, dalam Diane Ravitch dan Abigail Thernstrom (ed.), Demokrasi: Klasik dan Modern, terj. Hermoyo,
(Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1994), h. 13.
38Ibid.,
4. bebas dari rasa takut.42
Di samping kebebasan, yang menjadi prinsip utama dalam konsep pemerintahan yang
demokratis adalah ditegakkannya hukum sebagai pranata demokrasi. Hukum adalah suatu sistem
norma-norma yang mengatur kehidupan dalam masyarakat (negara). Ada dua ciri khas yang
terkandung dalam hukum. Pertama, adanya kepastian dalam pelaksanaannya, yaitu bahwa
hukum itu secara resmi diperundangkan dilaksanakan secara pasti oleh negara. Kepastian hukum
itu juga berarti bahwa setiap orang dapat menuntut agar hukum dilaksanakan dan tuntutan
tersebut pasti dipenuhi, dan setiap pelanggaran terhadap hukum akan ditindak dan dikenai sanksi.
Kedua, adanya dimensi keadilan yang terkandung di dalam hukum. Tuntutan keadilan
mempunyai dua arti, yaitu bahwa hukum berlaku umum, dan hukum dituntut agar sesuai dengan
cita-cita keadilan dalam masyarakat.43
Pembahasan tesis ini mengaitkan isu syariah, sebagai padanan istilah hukum dalam Islam,
dengan demokrasi. Secara umum, syariah dipahami sebagai segala yang diturunkan Allah SWT
kepada Nabi Muhammad berbentuk wahyu yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Kata
syariah, arti semulanya adalah “jalan menuju air”, yang maksudnya jalan ke arah sumber pokok
kehidupan. Pengertian syariah sering disamakan dengan pengertian fikih, padahal keduanya
berbeda. Syariah masih bersifat suci dan ilahi, sedangkan fikih sudah bersifat rekayasa manusia
karena menyertakan interpretasi. Imam Syafi’i mendefinisikan fikih sebagai ilmu tentang
hukum-hukum syariah yang bersifat amaliyah yang diperoleh dari satu-persatu dalilnya. Jadi,
fikih sesungguhnya adalah apa yang dipahami manusia terhadap teks-teks suci al-Qur’an dan
sunnah dengan melakukan ijtihad untuk menangkap makna-manka, illat-illat (sebab), dan tujuan
yang hendak dicapai oleh teks suci tersebut.44
Isu syariah dijadikan perjuangan sejumlah kelompok Islam dalam menyerukan pentingnya
menegakkan hukum Islam dalam negara modern. Secara praktis, terdapat sejumlah negara
Muslim yang menjadikan syariah sebagai dasar konstitusi kenegaraan. Pengertian syariah yang
dimaksud adalah definisi yang pertama, yaitu wahyu ilahi dengan dasar Al-Qur’an dan Sunnah.
Pemahaman yang seharusnya dikedepankan dalam persoalan politik adalah definisi fikih, bukan
syariah. Dengan konsep fikih, maka terbukanya ragam interpretasi terhadap hukum agama yang
akan diterapkan dalam konstitusi negara. Dengan demikian, kaitannya dengan demokrasi akan
coba dibahas dalam penelitian tesis ini.
E. Metode Penelitian
Penelitian kepustakaan ini menggunakan pendekatan analitis-interpretatif dan juga
melakukan kajian perbandingan pemikiran Al-Jabiri dan Soroush tentang demokrasi dalam
Islam. Untuk menganalisis pemikiran Al-Jabiri dan Soroush tentang demokrasi dalam Islam,
saya akan meneliti dengan asumsi dasar bahwa sesungguhnya Islam sesuai (kompatibel) dengan
demokrasi. Untuk membuktikan asumsi ini, saya memosisikan isu-isu otoritas, syariah, dan
kebebasan sebagai indikator-indikator yang menguji apakah Islam memang dapat sesuai dengan
demokrasi. Bila konsep otoritas dapat mengakui kedaulatan rakyat (manusia), syariah yang
dipahami pada aspek kemaslahatannya, dan kebebasan yang sangat diakui dalam Islam, maka
dengan demikian Islam itu dapat dikatakan kompatibel dengan demokrasi.
42Franklin
43Franz
Delano Roosevelt, “Empat Kebebasan”, dalam ibid., h. 212-214.
Magnis-Suseno, Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern, cet. IV, (Jakarta: Gramedia, 2001), h.
68-84.
44Pengertian syariah diperoleh dalam Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van How, 1994)
Studi ini berdasarkan pada penelitian kepustakaan (library research) yang data-datanya
diperoleh melalui pelacakan sumber-sumber primer maupun sekunder. Sumber-sumber
primernya terdiri dari karya-karya yang ditulis Al-Jabiri dan Soroush, sedangkan sumber-sumber
sekundernya adalah publikasi-publikasi ilmiah yang ditulis intelektual-intelektual Muslim, baik
tentang pemikiran al-Jabiri dan Soroush maupun yang berkenaan dengan isu-isu demokrasi
dalam Islam.
Namun dalam proses pelacakan sumber, saya menghadapi kesulitan dalam menggunakan
sumber primer Soroush disebabkan karena tulisan-tulisannya banyak yang ditulis dalam bahasa
Persia (Iran), sedangkan dua tulisan Soroush berbahasa Inggris yang dijadikan acuan dalam tesis
ini adalah buku Reason, Freedom, and Democracy in Islam (2000) dan sebuah artikel dalam
buku Charles Kurzman Liberal Islam (1998). Dengan keterbatasan seperti itu, saya agak
kesulitan untuk memosisikan Al-Jabiri dan Soroush agar seimbang dalam cakupan kajiannya.
Namun demikian, perbandingan pemikiran antar keduanya bisa dilakukan.
F. Sistematika Pembahasan
Untuk menjawab masalah-masalah dalam penelitian ini, maka tesis ini dibagi ke dalam lima
bab. Bab pertama menjelaskan tentang latar belakang tesis ini, yang kemudian diikuti dengan
formulasi masalah, signifikansi studi, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika
pembahasan.
Bab kedua membahas tentang biografi dan peta pemikiran. Bagian pertama memberikan
bahasan tentang biografi singkat dan karya-karya Al-Jabiri dan Soroush Sedangkan bagian kedua
memaparkan epistemologi pemikiran kedua tokoh tersebut yang terbagi atas kritik nalar Arab
dan teori interpretasi agama.
Bab ketiga membahas tentang hubungan Islam dan demokrasi. Bagian pertama menganalisis
tentang bagaimana sejarah pertemuan umat Islam dengan konsep demokrasi. Bagian kedua
menganalisis respon intelektual muslim dan barat tentang demokrasi dalam Islam, termasuk di
dalamnya melakukan pemetaan tentang respon intelektual muslim. Sementara itu, bagian ketiga
menganalisa perbandingan pendekatan Al-Jabiri dan Soroush dalam memahami hubungan Islam
dan demokrasi, yang terbagi atas demokrasi dan syura, serta pembahasan tentang pemerintahan
demokrasi agama.
Bab keempat mengkaji perbandingan pemikiran Al-Jabiri dan Soroush tentang isu-isu
demokrasi dalam Islam. Bagian pertama mengulas tentang isu otoritas yang membicarakan
tentang masalah kedaulatan Tuhan dan kedaulatan rakyat, juga masalah penentuan dan
pembatasan khalifah. Bagian kedua mengulas tentang isu syariah, yang terdiri atas: pemahaman
syariah dan penerapannya. Sementara itu, bagian ketiga adalah tentang isu kebebasan, yang
membahas bagaimana pandangan Al-Jabiri dan Soroush tentang Islam dan kebebasan, termasuk
di dalamnya perihal kebebasan beragama. Bab terakhir dalam tesis ini adalah kesimpulan.
Download