Uploaded by common.user25237

Peran hukum dalam pembangunan ekonomi

advertisement
MAKALAH
PERAN HUKUM DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Dosen pengampu :
Disusun oleh
FAKULTAS
UNIVERSITAS
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga kami dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Tidak lupa kami
juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari seluruh komponen yang
telah membantu dalam penyelesaian makalah yang berjudul " Peran Hukum Dalam
Pembangunan Ekonomi".
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, serta seluruh pembaca khususnya para mahasiswa
untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah ini
agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin
dalam pembuatan makalah kali ini masih banyak ditemukan kekurangan, oleh
karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A Latar Belakang ............................................................................................. 1
B Rumusan Masalah ........................................................................................ 3
C Tujuan .......................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 4
A. Pembangunan Ekonomi .............................................................................. 5
B. Peranan Hukum ........................................................................................... 7
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 14
A Kesimpulan .................................................................................................. 14
B Saran ............................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 16
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Merupakan sebuah kebutuhan suatu negara yang tidak dapat dihindari,
bahwa setiap negara untuk memenuhi tujuan negara dan masyarakat selalu akan
memacu pembangunan khususnya dalam bidang ekonomi. Vitalnya bidang
ekonomi dikarenakan dasar hakiki dari setiap masyarakat bahwa setiap orang
menginginkan kesejahteraan didalam hidup. Atas dasar teori kontrak social1,
negara yang merupakan refleksi kepercayaan dari seluruh masyarakat berusaha
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tersebut serta menjadikannya sebagai
salah tujuan negara.
Didalam upaya mengimplementasikan usaha pembangunan ekonomi
tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung, diantaranya factor politik,
hukum maupun social. Faktor hukum mempunyai posisi yang amat penting
didalam upaya untuk dapat menyediakan kondisi yang dapat memacu
tumbuhnya pembangunan ekonomi serta untuk menjaga hubungan antar
berbagai elemen dan para pelaku ekonomi.
Visi Indonesia Tahun 2030 pada Presiden dan ditargetkan bahwa
pendapatan perkapita Indonesia akan mencapai 18.000 dolar Amerika Serikat
per tahunnya. lumlah penduduk Indonesia per tahun 2017 tercatat lebih dari
261 juta orang, dengan demikian kekuatan ekonomi dunia urutan ke lima
setelah Cina, Amerika Serikat, Uni Eropa dan India dapat dengan mudah
diduduki oleh Indonesia.2
Optimisme menduduki kekuatan ekonomi dunia ke lima pun dibarengi
oleh kontadiksi pendapat, melihat kondisi ekonomi Indonesia yang belum
mampu menekan angka kemiskinan dan penggangguran serta minimnya
2
Adi Sulistyono dan Muhammad Rustamaji, Hukum Ekonomi sebagai Panglima, Masmedia
Buana Pustaka, Sidoarjo: 2009, hlm. 1.
1
investasi. Terpuruknya kondisi ekonomi Indonesia juga dilihat dari tingginya
angka korupsi serta menurunnya angka kredibilatas penegak hukum dan
lembaga negara. Sebuah buku Social control through law yang lahir dari
buah pemikiran Roscoe Pound memaknai hukum sebagai metode yang
berpengaruh kepada perubahan hubungan social manusia bermasyarakat atau
yang dikenal hukum sebagai alat rekayasa sosial "law as a tool of social
engineering".
Indonesia sebagai negara berkembang memiliki karakteristik yang
tentunya berbeda dengan negara - negara berkembang lain. Dengan melakukan
ratifikasi perjanjian internasional bidang perdagangan tidak menutup
kemungkinan membuahkan hasil yang berbeda dibandingkan negara - negara
lainnya. Friedman mengatakan bahwa budaya hukum suatu masyarakat
mempengaruhi tegaknya hukum dalam masyarakat tersebut. Faktor - faktor
yang mempengaruhi hal tersebut antara lain adalah politik, letak geografis,
latar belakang pendidikan, budaya, lingkungan dan yang tidak kalah penting
adalah ekonomi.3
Berangkat dari hal tersebutlan kiranya hukum memiliki peranan yang
sangat penting guna mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia.
Sebagai penerus bangsa yang turut prihatin juga menerima kenyataan bahwa
Indonesia telah menghadapi krisis masa depan bangsa, peneliti ingin terlibat
juga dalam memberikan kontribusi pemikiran melalui peran hukum dalam
mendorong dinamika pembangunan perekonomian Indonesia.
Sesuai dengan amanat Pasal 33 ayat (4)Undang-Undang Dasar Negera
Republik Indonesia 1945 menyatakan bahwa perekonomian nasional
diselenggarakan berdasarkan asas demokrasi ekonomi dengan prinsip
kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan,
kemandirian serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan
ekonomi nasional, Indonesia memiliki jati diri yang termaktub dalam konstitusi
3
Maryanto, "Pengaruh Globalisasi dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia", 2011
http://maryanto.blog.unissula.ac.id/2011/10/07/pengaruh-globalisasi-terhadap-hukum-ekonomiindonesia/.diakses. (Diakses pada 06/09/2019)
2
yang menjadi landasan dalam pembangunan perekonomian nasional.
Atas dasar pemikiran tersebut maka peneliti ingin melakukan kajian
lebih mendalam mengenai peran hukum dalam mendorong dinamika
pembangunan perekonomian nasional ditinjau melalui beberapa pembahasan
mengenai urgensi pembangunan hukum ekonomi nasional, peran hukum dalam
mendorong dinamika pembangunan perekonomian nasional ditinjau dari prinsip
ekonomi kerakyatan, serta strategi pembangunan perekonomian nasional
dengan berprinsip ekonomi kerakyatan.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dijabarkan di atas maka dalam penulisan
ini penulis hanya membatasi masalah yang akan dikaji, yaitu :
1. Bagaimanakah pembangunan hukum ekonomi Indonesia?
2. Bagaimanakah peran hukum dalam pembangunan nasional ditinjau dari
prinsip ekonomi kerakyatan?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui pembangunan hukum ekonomi Indonesia.
2. Untuk mengetahui peran hukum dalam pembangunan nasional ditinjau dari
prinsip ekonomi kerakyatan.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembangunan Ekonomi
Kekuasaan negara tergantung pada kemampuan rakyat biasa untuk
bekerja dan berjuang, dan rakyat bersama-sama dengan penguasa-penguasa
industri, tergantung kepada pemerntah nasional untuk melindungi mereka
terhadap kemiskinan akibat depresi dan kehancuran dari perang. Fungsi primer
pemerintah pada tahap industrialisasi adalah melindungi pengusaha yang
memiliki modal untuk mempercepat laju industri, sedangkan dalam tahap ketiga
merupakan tugas pemerintah untuk melindungi rakyat terhadap kesulitankesulitan kehidupan industri, untuk menjaga supaya ekonomi berjalan lancar,
memberikan taraf kehidupan yang lebih tinggi yang lama mereka dambakan.
Sebagian negara-negara maju dan negara berkembang sedang menjalan fase
seperti ini, dimana fokus pemerintahan adalah mensejahterkan rakyatnya
dengan berbagai macam fasilitas publik, pendidikan dan kesejahteraan.
Tahap terakhir menurut Organsky adalah Tahap Politik Berkelimpahan
(politics of abundance) atau Otomatisasi, Organsky menyebutkan tak satu pun
negara didunia masuk dalam tahap ini tetapi Amerika Serikat dan beberapa
negara Eropa yang paling maju telah memasuki gerbang Tahap Politik
Berkelimpahan. Tahap ini ditandai oleh majunya teknologi, komputer dan
kehidupan serba otomatis, sehingga mesin-mesin industri berjalan dengan
otomatis yang berdampak pada pengangguran karena para buruh tersisih oleh
kemampuan mesin. Masyarakat pada tahap ini mempunyai ciri-ciri pemusatan
kekuatan ekonomi, penggunaan mesin yang sangat mahal dan efisiensi produksi
pabrik, ciri ini sudah terjadi pada beberapa negara maju, dimana telah tumbuh
perusahaan-perusahaan
besar
yang
memonopoli
perekonomian
yang
merupakan kekuatan ekonomi global atau dikenal dengan Perusahaan Multi
Nasional yang beroperasi di banyak negara di dunia.
Disuatu negara pembangunan yang baik adalah pembangunan yang
dilakukan secara komprehensif. Artinya, pembangunan selain mengejar
4
pertumbuhan ekonomi semata, juga harus memperhatikan pelaksanaan jaminan
perlindungan hak-hak asasi manusia warga negaranya yang telah diatur dalam
konstitusi negara yang bersangkutan, baik hak-hak sipil, maupun hak ekonomi,
sosial dan budaya. Dengan demikian, pembangunan yang telah, sedang dan
akan dilakukan oleh Pemerintah akan mampu menarik lahirnya partisipasi
masyarakat dalam pembangunan.4
Dari berbagai studi mengenai hukum dan pembangunan dapat diketahui,
setidaknnya ada lima kualitas hukum yang kondusif bagi perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan, yaitu5 :
(1) Stabilitas (stability)
(2) Dapat diramalkan (predictability)
(3) Keadilan (fairness)
(4) Pendidikan (education)
(5) Pengembangan profesi hukum (the special development abilities of the
lawyer).
Stabilitas dan predictability adalah merupakan prasyarat untuk
berfungsinya sistem ekonomi. Predictability sangat berperan, terutama bagi
negara-negara yang masyarakatnya baru memasuki hubungan-hubungan
ekonomi melintasi lingkungan sosial tradisional mereka. Sedangkan stabilitas
berarti hukum berpotensi untuk menjaga keseimbangan dan mengakomodasi
kepentingan-kepentingan yang saling bersaing. Aspek keadilan akan tercermin
dari proses hukum, persamaan dihadapan hukum, dan standar sikap/perlakuan
pemerintah, dan lain-lain akan mempengaruhi kelangsungan mekanisme pasar
dan mencegah campur tangan pemerintah yang terlalu dominan.Sedangkan
pendidikan dan pengembangan profesi hukum merupakan sesuatu keharusan
yang harus diberdayakan dalam praktek hukum, agar dapat berperan sebagai
ahli hukum dalam pembangunan hukum dan pembangunan ekonomi.6
4
https://.bappenas.go.id%2Ffiles%2F3413%2F5185%2F1850%2Frencana-pembangunan-jangkapanjang-nasional-tahun-2005-20025.doc&usg=AOvVaw0y93K2ZCtd3QIsPZKY279l
5
Ibid
6
Bivisyani
Questibrilia.
Sistem
Ekonomi:
Pengertian
dan
Jenis-Jenisnya
https://jojonomic.com/sistem-ekonomi/ diakses pada 7 September 2019
5
Terkait peranan hukum dalam pembangunan ekonomi suatu negara pada
dasarnya tidak terlepas dari pembicaraan mengenai pendekatan ekonomi
terhadap hukum atau sebaliknya, pendekatan hukum terhadap ekonomi, yang
lazim dikenal dengan analisis ekonomi hukum. Pendekatan ekonomi terhadap
hukum berarti penggunaan pertimbangan-pertimbangan ekonomi untuk
menyelesaikan masalah, dan penggunaan alat atau konsep teknik analisis yang
lazim digunakan oleh para ekonom.Pendekatan hukum ekonomi bersifat dan
menggunakan pendekatan-pendekatan transnasional dan interdisipliner, dengan
mengkhususkan diri pada hubungan-hubungan antara masalah-masalah
ekonomi dan sosial nasional dan regional serta internasional secara integral.7
Pengaturan bidang-bidang hukum ekonomi harus selaras dengan arah
dan kebijakan politik ekonomi pembangunan dan politik hukum pembangunan
serta politik pembangunan masyarakat secara intern dan transdisipliner secara
holistik dan sistematik.Sehingga dapat dikatakan bahwa ruang lingkup bidang
hukum ekonomi (economic law) merupakan bidang hukum yang luas dan
berkaitan dengan kepentingan privat dan kepentingan umum (public interest)
sekaligus. Untuk itu pendekatan ekonomi terhadap hukum, akan menjadi salah
satu cara agar tidak terjadi ketertinggalan hukum dalam lalu lintas ekonomi
dalam dan antar negara dengan negara lainnya baik secara nasional, regional
dan internasional.8
B. Peranan Hukum
1. Pembangunan Hukum Ekonomi Indonesia
Negara Indonesia adalah negara hukum (rechtsstaat) bukan negara
kekuasaan (machtsstaat). Kalimat tersebut kita temukan dalam Pasal 1 Ayat
(3) Undang - Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta
dijelaskan dalam pasal - pasal penjelasannya. Praktek penyelenggaraan
negara lahir dari Konsep negara hukum yang mendudukkan hukum sebagai
7
Fredmann. W, The State and The Rule of Law in Mix Eeonomy, London: Steven & Son
1971.
8
Ibid
6
panglima.
Berdasarkan prinsip negara hukum, sesungguhnya yang memerintah
adalah hukum, bukan manusia. Hukum dimaknai sebagai kesatuan hirarkis
tatanan norma hukum yang berpuncak pada konstitusi. Hal ini berarti bahwa
dalam sebuah negara hukum menghendaki adanya supremasi konstitusi.
Supremasi konstitusi disamping merupakan konsekuensi dari konsep negara
hukum, sekaligus merupakan pelaksanaan demokrasi karena konstitusi adalah
wujud perjanjian sosial tertinggi. Oleh karena itu, aturan-aturan dasar
konstitusional harus menjadi dasar dan dilaksanakan melalui peraturan
perundang-undangan yang mengatur penyelenggaraan negara dan kehidupan
masyarakat.9
Peraturan perundang-undangan (legislation) merupakan bagaian dari
hukum yang dibuat secara sengaja oleh institusi negara. Ia muncul tidak tibatiba. Namun, dibuat dengan tujuan dan alasan tertentu. Keanekaragamaan
tujuan dan alasan dibuatnya peraturan perundang-undangan disebut sebagai
politik hukum (legal policy). Menurut Hikmahanto Juwana, pembuatan
peraturan perundang-undangan, politik hukum sangat penting, paling penting,
untuk dua hal. Pertama sebagai alasan mengapa diperlukan pembentukan suatu
peraturan perundang-undangan. Kedua, untuk menentukan apa yang hendak
diterjemahkan kedalam kalimat hukum dan menjadi perumusan pasal. Dua hal
ini penting karena keberadaan peraturan perundang-undangan dan perumusan
pasal merupakan "jembatan" antara politik hukum yang ditetapkan dengan
pelaksanaan politik hukum tersebut dalam tahap implementasi peraturan
perundang- undangan.Mengingat harus ada konsitensi dan korelasi antara apa
yang ditetapkan sebagai politik hukum dengan yang ingin dicapai sebagai
tujuan.10
Salah satu arah Kebijakan Program Pembangunan Nasional Bidang
Hukum yang tercakup dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah
9
Ade Manan S, Aspek Hukum dalam Ekonomi Global, Ghalia Indonesia, Bogor: 2005, hlm. 8.
Elsi Kartika S, dan Advendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta: 2005, hlm. 4.
10
7
mengembangkan peraturan perundang-undangan yang mendukung kegiatan
perekonomian dalam menghadapi era perdagangan bebas. Tentunya arah
kebijakan tersebut merupakan satu pernyataan eksplisit bahwa Negara Kesatuan
Republik Indonesia telah melakukan pilihan untuk mengembangkan suatu
sistem hukum yang mendukung ekonomi pasar (market economy).11
Dalam masa pemerintahan yang baru agenda pembangunan hukum
didasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2015-2019 merupakan rencana pembangunan jangka menengah nasional
periode 2015-2019 sebagai penjabaran dari visi dan misi Presiden Joko Widodo
dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, dan juga merupakan rencana
pembangunan jangka menengah ketigadari Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025. Selain untuk menjamin pencapaian visi
dan misi Presiden, RPJMN sekaligus digunakan untuk menjaga konsistensi arah
pembangunan nasional. khususnya bagian bab 2 yang memberikan arahan
mengenai "Pembenahan system dan politik hukum". Politik hukum baru ini
banyak mengadopsi pandangan Lawrence Meir Friedman tentang legal system
mencakup kelembagaan (structure), materi hukum (subtance) dan budaya
hukum (legal culture).12
Politik hukum dapat dibedakan dalam dua dimensi. Dimensi pertama
adalah politik hukum yang menjadi alasan dasar dari diadakannya suatu
peraturan perundang- undangan. Kebijakan dasar yang dibuat berkaitan dengan
perekonomian, maka disebut sebagai politik hukum ekonomi, karena tujuan dari
pembuatan peraturan perundang- undangan (selanjutnya disebut dengan
Undang-undang (UU)) adalah untuk melengkapi regulasi dalam kegiatan
perekonomian di suatu Negara.13
Politik Hukum Ekonomi sering dibuat untuk merespon kebutuhan
masyarakat hal ini tercermin melalui konsideran menimbang maupun
11
Aminuddin Ilmar, Konstruksi Teori dan Metode Kajian Ilmu Hukum, Hasanuddin University
Press, Makassar: 2009.
12
Satya Arinanto, Silabus Perkuliahan Politik Hukum Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas
Indonesia
13
Abdul R. saliman, Hukum Bisnis untuk Perusahaan :Teori dan Contoh Kasus, Prenadamedia
Group, Jakarta: 2015.
8
penjelasan umum kebanyakan UU Bidang Ekonomi menyebut bahwa UU yang
dibentuk bertujuan untuk merespon kebutuhan masyarakat atau mewujudkan
suatu masyarakat adil dan makmur.14
Dalam publikasi The World Bank Poverty Reduction and Economy,
Cheryl W Gray dalam tulisannya yang berjudul "Reforming Legal Systems in
Developing and Transition Countries", menyatakan bahwa terdapat tiga
prasyarat penting yang perlu diperhatikan agar sistem hukum dapat berfungsi
dengan baik dalam suatu ekonomi pasar, yakni tersedianya hukum yang ramah
terhadap pasar (market-friendly laws), adanya kelembagaan yang mampu
secara efektif menerapkan dan menegakkan hukum yang bersangkutan; dan
adanya kebutuhan dari para pelaku pasar atas hukum dan perundangundangan dimaksud.15
Berkenaan dengan pembentukan hukum yang berhadapan dengan
kepentingan pembangunan ekonomi yang market-friendly, Cheryl W Gray
menyatakan bahwa secara umum terdapat dua kemungkinan sumber hukum
substantif, yakni home grown atau perundang-undangan "hasil cangkokan"
(legislation transplanted) yang keseluruhan atau beberapa bagiannya
merupakan hasil adaptasi dari perundang-undangan negara- negara yang sistem
ekonomi pasarnya sudah memadai. Di satu sisi cara mengimpor hukum secara
cangkokan dapat memberikan keuntungan dalam rangka menciptakan modelmodel uji-awal. Namun sesuai sifatnya yang merupakan cangkokan maka
mengandung risiko, mengingat hukum yang bersangkutan tidak tumbuh dari
budaya hukum lokal dan mungkin tidak sampai ke akarnya.16
Untuk menengahi kedua kemungkinan sumber hukum substantif
tersebut di atas, terdapat model transisi yang dinilai cukup praktis, yakni dengan
jalan meminjam ide umum dari contoh-contoh hukum terbaik (best practice)
dari negara lain, yang kemudian diadaptasi serta diinternalisasikan terlebih
dahulu melalui debat-debat politik dan proses nasionalisasi secara cermat dalam
14
Ibid
Adi Sulistyono dan Muhammad Rustamaji, Hukum Ekonomi sebagai Panglima, Masmedia
Buana Pustaka, Sidoarjo: 2009.
16
Ibid
15
9
tahap "legal drafting". Sebagai contoh terbaik dalam hal ini adalah dalam
pembentukan Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas,
Undang-undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, dan beberapa undangundang berkenaan dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual (Intellectual
Property Rights).17
2. Peran Hukum dalam Pembangunan Nasional ditinjau dari Prinsip
Ekonomi Kerakyatan
Secara yuridis prinsip - prinsip dasar ekonomi kerakyatan dapat kita
temukan dalam Pasal 33 Undang - Undang Dasar Negera Republik Indonesia
1945 diantaranya adalah;
a. Prinsip kekeluargaan. Penjelasan Undang-Undang Dasar Negera
Republik Indonesia 1945 menyatakan bahwa perekonomian disusun
sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Meskipun
digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan usaha BUMN dan BUMS,
BUMD namun badan usaha yang paling sesuai dengan prinsip ini adalah
Koperasi. Sebagai soko guru perekonomian, predikat yang disematkan
pada badan usaha koperasi untuk pelaksanaan sampai saat ini belum juga
menggambarkan Koperasi sebagai soko guru perekonomian. Masalah
yang utama adalah kesadaran masyarakat Indonesia untuk berkoperasi
sangat rendah. Karena Badan Usaha Koperasi telah kalah pamor dengan
Badan Usaha lain seperti comanditer venotschaap (CV) ataupun
perseroan terbatas (PT).
b. Prinsip keadilan. Pelaksanaan ekonomi kerakyatan harus dapat
mewujudkan keadilan dalam masyarakat. Sistem ini diharapkan bisa
memberikan peluang yang sama kepada semua anak bangsa generasi
penerus, baik itu konsumen, produsenlpengusaha maupun sebagai tenaga
kerja. Hapusnya stigma mengenai perbedaan suku, agama dan gender,
semuanya sama dalam lapangan ekonomi;
c. Prinsip pemerataan pendapatan, telah menjadi rahasia umum bahwa di
17
Ibid
10
Indonesia ketimpangan pendapatan masyarakat Indonesia sangatlah
besar. Upaya pertumbuhan ekonomi dengan mengabaikan pemerataan
pendapatan sama saja dengan sia - sia. lustru hal tersebut akan
mempersubur kapitalisasi di Indonesia sehingga pemerataan pendapatan
menjadi
mustahil
untuk
dicapai.
Sehingga
prinsip
pemerataan
pendapatan ini sangatlah diperlukan;
d. Prinsip keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan
masyarakat, Pasal 27 ayat (2) Undang - Undang Dasar Negera Republik
Indonesia 1945 menyatakan bahwa tiap - tiap warga negara berhak atas
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Hal itu mengisyaratkan bahwa kepentingan pribadilindividu merupakan hal yang harus
mendapat prioritas. Namun demikian kepentingan pribadilindividu pun
tidak boleh mengabaikan kepentingan masyarakat. Sehingga sinergi
antara kepentingan individu dengan kepentingan masyarakat dapat
terwujud;
e. Prinsip kerja sama atau jaringan, perekonomian menjadi kuat
merupakan bentuk kerja sama yang kuat pula oleh para pelaku ekonomi
baik konsumen, produsen maupun tenaga kerja. Pelaku usaha kecil akan
sangat terbatu dengan adanya kerja sama yang bagus oleh pelaku usaha
skala besar.
Pelaksanaan kelima prinsip tersebut mutlak harus dilakukan dalam
upaya peningkatan pembangunan ekonomi nasional. Hukum menyumbang
peran juga dalam peningkatan pembangunan nasional tersebut melalui
produk hukum yang dapat melindungi
kepentingan para pelaku ekonomi dengan berlandaskan ekonomi
kerakyatan. lika dicermati satu persatu sebenarnya hukum tak hanya
berperan dalam sektor ekonomi saja melainkan sektor - sektor lain yang
dapat mendukung pembangunan nasional.18
18
Ade Manan S, Aspek Hukum dalam Ekonomi Global, Ghalia Indonesia, Bogor: 2005, hlm. 8.
11
Hukum adalah "alat perubahan sosial" menurut pandangan Roscoe
Pound Pandangan Roscoe Pound tersebut, dalam hal ini ingin menjelaskan
bahwa perubahan yang ada dalam masyarakat, dapat didahuluioleh hukum.
Pun demikian suatu keadaan yang sebelumnya tidak ada menjadi ada dapat
menggunakan hukum untuk melakukan rekayasa. Muncul 4 macam fungsi
hukum, yakni:
a. sebagai pemelihara ketertiban;
b. sebagai sarana pembangunan;
c. sebagai sarana penegak keadilan; dan,
d. sebagai sarana pendidikan masyarakat.
Keempat fungsi itu hukum diatas sesungguhnya saling berkaitan dan
tak dapat dipungkiri bahwa proses pembangunan membutuhkan hukum
sebagau suatu sarana yang amat penting.
Mengikuti arus globalisasi sangatlah penting agar kita tidak tertinggal
oleh negara - negara lain. Pesatnya perkembangan perekonomian
internasional sebagaimana disampaikan sebelumnya melahirkan pula
ketentuan - ketentuan internasional bidang perekonomian yang wajib
diselaraskan oleh kebijakan masing - masing negara anggota konvensi
internasional tersebut. Perkembangan perekonomian global memberikan
dampak positif dan juga negatif bagi Indonesia sebagai negara berkembang.
Dampak positifnya adalah Indonesia memiliki akses luas dan sama dalam
bidang perdagangan internasional. Disisi lain dampak negatifnya adalah
Indonesia diharuskan emiliki kesiapan untuk menghadapi ketentuan ketentuan perdagangan internasional sepetai free trade, equality serta
recipority dalam kaitannya melindungi pelaku usaha kecil, mikro menengah
dalam bersaing.
Indonesia dihadapkan pada berbagai penuntasan persoalan hukum
yang harus tetap diselesaikan. Hal tersebut merupakan efek lain dari
globalisasi ekonomi selain tuntutan sistem hukum nasional yang
12
disesuaikan dengan globalisasi ekonomi.19 Hukum ekonomi berfungsi
mengatur sekaligus membatasi kegiatan ekonomi. Hukum ekonomi lahir
dari
meningkatnya
pertumbuhan
perekonomian
global.
Sistem
pembangunan perekonomian yang diatur oleh kebijakan - kebijakan
hukum diharapkan tetap memperhatikan kepentingan dan hak dari
masyarakat sebagai pelaku ekonomi.20
19
Ngadino, "Peranan Hukum dalam Globalisasi Ekonomi", Jurnal Pembaharuan Hukum, No.1,
Vol. 1, 2014, hlm, 59-65.
20
Elsi Kartika S, dan Advendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta: 2005, hlm. 4
13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan mengenai peran hukum dalam pembangunan yang
telah dijabarkan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pembangunan yang baik adalah pembangunan yang dilakukan secara
komprehensif. Artinya, pembangunan selain mengejar pertumbuhan ekonomi
semata, juga harus memperhatikan pelaksanaan jaminan perlindungan hakhak asasi manusia warga negaranya yang telah diatur dalam konstitusi negara
yang bersangkutan, baik hak-hak sipil, maupun hak ekonomi, sosial dan
budaya
Peranan hukum dalam pembangunan ekonomi terkait dengan
pendekatan hukum terhadap ekonomi dan sebaliknya yakni pendekatan
ekonomi terhadap hukum.
Peran hukum tertuang didalam politik pembangunan hukum ekonomi
yang menjadi bagian dalam program pembangunan hukum nasional yang
mempunyai kecenderungan untuk menciptakan suatu kepastian hukum,
penciptaan kondisi ekonomi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Sistem Ekonomi nasional Indonesia menganut asas kekeluargaan,
berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, serta menunjukkan keberpihakan
terhadap ekonomi rakyat. Pembangunan ekonomi Indonesia seharusnya
dilakukan tanpa mengesampingkan sistem ekonomi nasional sehinggal era
globalisasi yang tak dapat ditampikkan oleh Indonesia pun juga harus
disesuaikan dengan sistem ekonomi kerakatan yang memihak kepada
ekonomi rakyat Indonesia. Tak juga dapat dipungkiri jika dalam era
globalisasi prinsip - prinsip liberalism secara halus bisa memasuki
Indonesia, pun demikian hukum harus mengambil peran agar dapat tetap
memposisikan sistem ekonomi kerakyatan sebagai sistem ekonomi nasional
yang tidak akan dapat dikesampingkan begitu saja.
14
B. Saran
Saran yang penulis ingin sampaikan adalah :
Pembangunan perekonomian mempunyai mobilitas dan dinamika yang
cukup tinggi, hendaknya hukum-hukum yang termuat dalam peraturan
perundang- undangan yang berkaitan dengan perekonomian itu dibuat
sefleksibel mungkin dengan tidak meninggalkan asas kepastian hukum. Hal ini
dikarenakan bahwa kecenderungan para pelaku ekonomi yang berpola piker
ekonomis tentu saja tidak menginginkan suatu proses hukum yang merugikan
dirinya ataupun perusahaannya.
Pemerintah harus menjalankan fungsinya sebagai lembaga penguasa
yang berfungsi sebagai pengawas agar mencegah terjadinya kecurangankecurangan para pelaku ekonomi didalam menjalankan usahanya, sehingga
dapat merugikan masyarakat banyak.
15
DAFTAR PUSTAKA
Abdul R. saliman, Hukum Bisnis untuk Perusahaan :Teori dan Contoh Kasus,
Prenadamedia Group, Jakarta: 2015.
Ade Manan S, Aspek Hukum dalam Ekonomi Global, Ghalia Indonesia, Bogor:
2005, hlm. 8.
Adi Sulistyono dan Muhammad Rustamaji, Hukum Ekonomi sebagai Panglima,
Masmedia Buana Pustaka, Sidoarjo: 2009.
Agus
Haryadi
(http://www2.kompas.com/kompascetak/0005/21/0PINI/supr45.htm), 06 Desember 2008.
Aminuddin Ilmar, Konstruksi Teori dan Metode Kajian Ilmu Hukum, Hasanuddin
University Press, Makassar: 2009.
Bivisyani Questibrilia. Sistem Ekonomi: Pengertian dan Jenis-Jenisnya
https://jojonomic.com/sistem-ekonomi/ diakses pada 7 September 2019
Elsi Kartika S, dan Advendi Simangunsong, Hukum dalam Ekonomi, Gramedia
Widiasarana Indonesia, Jakarta: 2005, hlm. 4.
Fredmann. W, The State and The Rule of Law in Mix Eeonomy, London:
Steven & Son 1971.
https://.bappenas.go.id%2Ffiles%2F3413%2F5185%2F1850%2Frencanapembangunan-jangka-panjang-nasional-tahun-2005-2025 Diakses pada
06/09/2019)
Jimly
Asshidiqie,
Membangun
Budaya
sadar
Konstitusi,
(htttp//www.jimly.com/pemikiran/getbukut/9), Diakses pada 06/09/2019)
Maryanto, "Pengaruh Globalisasi dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia", 2011
http://maryanto.blog.unissula.ac.id/2011/10/07/pengaruh-globalisasiterhadap-hukum-ekonomi-Indonesia Diakses pada 06/09/2019
Mukthi Fadjar, M. 2004 Tipe Negara Hukum. Malang: Bayu Media dan InTRANS,.
16
Ngadino, "Peranan Hukum dalam Globalisasi Ekonomi", Jurnal Pembaharuan
Hukum, No.1, Vol. 1, 2014, hlm, 59-65.
Rizki
saputro,
Teori
Kontrak
Sosial,
(http://rizkisaputro.wordpress.com/2007/07/24/teori-kontrak-sosialhobbes-locke-dan-rousseau/), 7 September 2019
Satya Arinanto, Silabus Perkuliahan Politik Hukum Pascasarjana Fakultas
HukumUniversitas Indonesia
17
Download