Uploaded by User22962

makalah hukum bisnis

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap manusia memerlukan harta untuk mencukupi segala kebutuhan
hidupnya. Salah satu cara memperoleh harta adalah bekerja, sedangkan salah satu
ragam dari bekerja adalah berbisnis. Dalam berbisnis, manusia pasti membutuhkan
dan menggunakan modal. Dengan berbisnis, amnusia dapat mengembangkan
modalnya.
Dalam ilmu ekonomi, modal diartikan sebagai alat yang berguna untuk
produksi selanjutnya. Alat ini dalam berbagai bentuk, seperti mesin pabrik, mesin
kantor, bangunan toko, bangunan yang disewakan, kendaraan dan lain sebagainya
yang digunakan untuk menghasilkan lebih lanjut. Guna mencapai produksi yang
lebih besar orang senantiasa memikirkan bagaimana meningkatkan modal, yaitu
dengan cara melakukan bisnis, atau menabung dengan tujuan kelak akan digunakan
untuk menambah kekuatan modalnya.
Dalam zaman modern ini, banyak manusia yang menghalalkan segala cara
untuk mengembangkan modalnya, tanpa mematuhi ajaran islam, sehingga
merugikan banyak pihak, dan hanya menguntungkan sekelompok individu. Praktik
pengembangan modal yang tidak sesuai dengan ajaran islam yang terjadi saat ini
seperti penggunaan uang pelicin saat perizinan usaha, menyimpan uang dalam
rekening koran yang berbunga, penayangan iklan yang tidak senonoh, pembuatan
pub, diskotik, panti pijat, dan sebagainya.
Islam
memberikan
solusi
dengan
konsepnya
tentang
bagaimana
mengembangkan modal yang benar dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Salah satu caranya adalah berbisnis sesuai dengan ajaran islam. Dalam berbisnis,
menurut islam, modal atau harta harus dikembangkan dengan memperhatikan cara
perolehan dan penggunaannya (aturan halal dan haram).
1|Pengembangan Modal Dalam Islam
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pandangan mengenai modal dalam islam ?
2. Bagaimana cara pengumpulan modal menurut syariat islam ?
3. Bagaimana pengembangan bisnis dalam bingkai syariah ?
C. Tujuan
1. Dapat mengetahui pandangan islam mengenai modal dalam bisnis.
2. Dapat mengetahui cara pengumpulan modal yang sesuai dengan syariat
islam.
3. Dapat mengetahui pengembangan bisnis dalam bingkai syariah.
2|Pengembangan Modal Dalam Islam
BAB II
PEMBAHASAN
A. Modal Dalam Bisnis : Faktor Vital Dalam Produksi
Secara bahasa (Arab) modal atau harta disebut al-māl (mufrad-tunggal), atau
al-amwāl (jama’- jamak). Secara harfiah, al-māl (harta) adalah mā malaktahu min
kulli syay. Artinya segala sesuatu yang engkau punyai. Adapun dalam istilah syar’i,
harta diartikan sebagai segala sesuatu yang dimanfaatkan dalam perkara yang legal
menurut syara’ (hukum islam), seperti bisnis, pinjaman, konsumsi, dan hibah
(pemberian). Yang termasuk dalam kategori al-amwāl (harta kekayaan) adalah
uang, tanah, kendaraan, rumah, perhiasan, perabotan rumah tangga, dan pakaian.1
Dalam ilmu fikih, dinyatakan oleh kalangan hanafiyah bahwa harta itu adalah
sesuatu yang digandrungi oleh tabiat manusia dan mungkin disimpan untuk
digunakan saat dibutuhkan. Namun, harta tersebut tidak akan bernilai kecuali bila
dibolehkan menggunakannya secara syari’at.2
Modal merupakan aset yang digunakan untuk membantu distribusi berikutnya.
Menurut Prof.Thomas, hak milik individu dan negara selain tanah digunakan dalam
menghasilkan aset berikutnya disebut modal. Dikatakan bahwa modal dapat
memberikan kepuasan pribadi dan membantu untuk menghasilkan kekayaan lebih
banyak, asalkan dikelola dengan benar dan tepat sasaran.3
M.A. Mannan berpendapat, bahwa modal adalah sarana produksi yang
menghasilkan, bukan sebagai faktor produksi pokok, melainkan sebagai sarana
untuk mengadakan tanah dan tenaga kerja. Semua benda yang menghasilkan
1
Muhammad Djakfar, Hukum Bisnis – Membangun wacana integrasi Perundangan Nasional
dengan Syariah, (Malang : UIN Maliki Press,2016), Hlm. 127
2
Nurul Huda dan Mustafa Edwin Nasution, Investasi Pada Pasar Modal Syariah (Jakarta:
Prenadamedia Group, 2007) hlm 3
3
Djakfar, Hukum, Hal. 128
3|Pengembangan Modal Dalam Islam
pendapatan selain tanah harus dianggap sebagai modal termasuk barang-barang
milik umum.4
Capital (modal) adalah semua bentuk kekayaan yang dapat digunakan,
langsung maupun tidak langsung, dalam produksi untuk menambah output (hasil
produksi). Lebih khusus dapat dikatakan bahwa capital terdiri dari barang-barang
yang dibuat untuk penggunaan produksi pada yang akan datang. Ini meliputi
pabrik-pabrik dan alat-alat, bangunan dan sebaginya. Capital sebagai alat
pendorong perkembangan ekonomi meliputi investasi dalam pengetahuan teknik,
perbaikan-perbaikan dalam pendidikan, kesehatan dan keahlian. Selain itu, juga
termasuk sumber-sumber yang menaikkan tenaga produksi, yang semuanya
membutuhkan kepandaian penduduknya. Dengan kata lain, dalam pertumbuhan
ekonomi jangka panjang fungsi capital yang menaikkan produktivitas itu tidak saja
beerupa aset berwujud, tetapi juga berwujud human capital.5
Sehingga, dari beberapa penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
yang dimaksud dengan modal adalah harta baik berupa uang, barang, peralatan,
kemampuan sember daya manusia, dan lain-lain yang dapat digunakan untuk
menghasilkan aset berikutnya dengan memperhatikan syariat islam dalam
pengolahannya. Modal menurut pengertian ekonomi adalah barang atau hasil
produksi yang digunakan untuk menghasilkan produk lebih lanjut atau produk yang
baru. Misalkan, orang membuat jala untuk mencari ikan. Dalam hal ini jala
merupakan barang modal, karena jala merupakan hasil produksi yang digunakan
untuk menghasilkan atau mendapatkan produk lain yaitu berupa ikan.
Pentingnya modal dalam kehidupan manusia ditunjukkan dalam al-qur’an surat
Ali Imrān ayat 14 yaitu :
4
Rozalinda, Ekonomi Islam : Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi. (Jakata : PT. Raja
Grafindo, 2015). Hlm. 114
5
Irawan, Supramoko, Ekonomika Pembangunan, (Yogyakarta: BPFE, 1996), Hlm. 75
4|Pengembangan Modal Dalam Islam
َ ِّ‫اء َوا ْلبَن‬
‫ير ا ْل ُمقَ ْن َط َر ِّة‬
َّ ‫ب ال‬
ِّ ‫ش َه َوا‬
ِّ ‫س‬
ِّ َ‫ين َوا ْلقَن‬
َ ِّ‫ت ِّم َن الن‬
ِّ َّ‫ُز ِّي َن ِّللن‬
ُّ ‫اس ُح‬
ِّ ‫اط‬
َّ ‫ب َوا ْل ِّف‬
‫ع ا ْل َحيَا ِّة‬
ُ ‫ث ۗ َٰذَ ِّلكَ َمتَا‬
ِّ ‫س َّو َم ِّة َو ْاْل َ ْنعَ ِّام َوا ْل َح ْر‬
َ ‫ض ِّة َوا ْل َخ ْي ِّل ا ْل ُم‬
ِّ ‫ِّم َن الذَّ َه‬
‫ب‬
ْ ‫َّللاُ ِّع ْن َدهُ ُح‬
َّ ‫ال ُّد ْنيَا ۖ َو‬
ِّ ‫س ُن ا ْل َمآ‬
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup
di dunia, dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
Kata “mata’un” berarti modal karena disebut emas dan perak, kuda yang bagus
dan ternak (termasuk bentuk modal yang lain). Kata “zuyyina” menunjukkan
kepentingan modal dalam kehidupan manusia.
Bahkan lebih jauh, betapa pentingnya nilai modal untuk mengembangkan
bisnis ke depan, Sayyidina Umar r.a selalu menyuruh umat islam untuk mencari
lebih banyak aset atau modal. Dalam sistem ekonomi islam mempunyai cara
tersendiri dibanding dengan sistem kapitalis yang selalu berupaya memperkuat
modal dengan cara memperbesar produksi. Untuk mencapai target yang diinginkan,
sistem ini bisa saja menghalalkan segala macam cara tanpa memikirkan apakah cara
yang ditempuh menguntungkan atau merugikan pihak lain. Dalam sistem ekonomi
islam modal itu harus terus berkembang, dalam arti tidak boleh stagnan, apalagi
sampai terjadi idle (menganggur).artinya hendaknya modal harus berputar. Islam
dalam sistemnya sendiri, di dalam upaya memanfaatkan dan mengembangkan
modal, menekankan agar tetap memikirkan kepentingan orang lain.6
B. Pengumpulan Modal : Motivasi dan Pesan Syariah
Modal merupakan hasil kerja apabila pendapatan melebihi pengluaran. Untuk
meningkatkan jumlah modal dalam sebuah negara, sebainya masyarakat terus
berusaha meningkatkan pendapatannya, hemat dan cermat dalam membelanjakan
pendapatan, menghindari pengeluaran yang berlebihan, dan adanya rasa aman bagi
6
Djakfar, Hukum, Hal. 130
5|Pengembangan Modal Dalam Islam
masyarakat dalam mendapatkan aset dengan mudah. Untuk meningkatkan
simpanan yang berujung pada penambahan modal ini perlu memperhatikan
beberapa hal yang diajarkan dalam syariat islam, yaitu :
1. Peningkatan pendapatan
a. Pembayaran zakat
Secara bahasa, zakat berarti an-numu wa az-ziyadah (tumbuh dan
bertambah). Kadang-kadang dipakaikan dengan makna at-thaharah (suci) albarakah (berkah). Zakat dalam pengertian suci, adalah membersihkan diri, jiwa,
dan harta. Sementara dalam pengertian berkah adalah sisa harta yang sudah
dikeluarkan zakatnya secara kualitatif akan mendapat berkah dan akan
berkembang walaupun secara kualitatif jumlahnya berkurang.7
Zakat merupakan pengeluaran yang wajib atas ternak, tanaman, barang
dagangan, emas, perak, dan uang tunai. Zakat bukanlah pajak. Zakat dikenakan
kepada aset yang dimiliki sepanjang tahun. Terlepas apakah si pemilik
menggunakan aset itu atau tidak. Agar harta kita tidak habis utuk membayar
zakat, maka hendaknya harta itu perlu dikembangkan dengan cara yang halal.
Semakin berkembang harta yang dimiliki, akan semakin banyak nominal harta
zakat yang harus dikeluarkan. Dengan demikian, kewajiban menunaikan zakat
bagi pemilik harta (muslim) seharausnya menjadi motivasi untuk terus
meningkatkan pendapatan dalam berbagai usaha yang halal (bisnis).8
b. Larangan mengenakan bunga
Islam mempertimbangkan bunga itu suatu kejahatan yang menyebarkan
kesengsaraan dalam kehidupan. Oleh karena itu, al-qur’an menyatakan haram
terhadap bunga bagi kalangan masyarakat islam.9 Alasan pelarangan bunga
selain akan menimbulkan kesngsaraan, juga akan mendapat siksa yang pedih,
yang lebih bersifat akhirat. Hal ini sesuai dengan hadits Nabi yang artinya “Dari
7
Rozalinda, Ekonomi, Hlm. 247.
Ibid, Hal. 132
9
Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam Jilid III, (Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Prima Yasa, 2002),
Hlm. 76.
8
6|Pengembangan Modal Dalam Islam
Jabir, Nabi saw mencela penerima dan pembayar bunga, orang yang mencatat
begitupula yang menyaksikan transaksi dimaksud. Beliau bersabda : “mereka
semua sama-sama berada didalam dosa.” (HR. Muslim; Tirmidzi dan Ahmad).10
Masyarakat tidak dibenarkan menghasilkan uang dari pinjaman modal
dengan bunga. Oleh karena itu, seyogianya orang menanamkan modalnya
kedalam hal-hal yang produktif yang dapat meningkatkan pendapatan dan
keuntungan. Disini dimaksudkan oleh karena setiap muslim wajib menjauhi
bunga, maka perlu dicari alternatif agar mereka meningkatkan pendapatan
melalui jalur yang dihalalkan menurut syariat islam.
c. Penggunaan harta anak yatim
Untuk meningkatkan pertumbuhan modal dalam masyarakat, pengasuh
anak yatim hendaknya tidak menyimpan harta anak yatim, tetapi
memanfaatkannya
untuk
perdagangan
atau
perusahaan
yang
lebih
menguntungkan. Mereka diminta menggunakan untuk kebaikan serta tidak
memboroskannya. Hal tersebut disinggung dalam al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat
5:
َّ ‫سفَ َها َء أَ ْم َوالَ ُك ُم الَّ ِتي َج َع َل‬
‫َّللاُ لَ ُك ْم قِ َيا ًما‬
ُّ ‫َو ََل تُؤْ تُوا ال‬
‫سو ُه ْم َوقُولُوا لَ ُه ْم قَ ْو ًَل َم ْع ُروفًا‬
ُ ‫ار ُزقُو ُه ْم فِي َها َوا ْك‬
ْ ‫َو‬
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna
akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan
allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari
hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”
Qs. An-Nisa’ ayat 6 :
10
Iggi H. Achsien, Investasi Syariah di Pasar Modal – Mengagas Konsep dan Praktek Manajemen
Portofolio Syariah, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), Hlm.30.
7|Pengembangan Modal Dalam Islam
‫الن َكا َح فَإِ ْن آنَ ْست ُ ْم ِم ْن ُه ْم ُر ْشدًا‬
ِ ‫َوا ْبتَلُوا ْال َيتَا َم ٰى َحت َّ ٰى ِإذَا َبلَغُوا‬
ۚ ‫ارا أَ ْن َي ْكبَ ُروا‬
ً َ‫فَا ْدفَعُوا ِإلَ ْي ِه ْم أَ ْم َوالَ ُه ْم ۖ َو ََل تَأ ْ ُكلُوهَا إِ ْس َرافًا َو ِبد‬
َ َ‫َو َم ْن َكان‬
‫يرا فَ ْليَأ ْ ُك ْل‬
ْ ‫غنِيًّا فَ ْليَ ْست َ ْع ِف‬
ً ‫ف ۖ َو َم ْن َكانَ فَ ِق‬
‫علَ ْي ِه ْم ۚ َو َكفَ ٰى‬
ِ ‫ِب ْال َم ْع ُر‬
َ ‫وف ۚ فَإِذَا دَفَ ْعت ُ ْم ِإلَ ْي ِه ْم أ َ ْم َوالَ ُه ْم فَأ َ ْش ِهدُوا‬
َّ ‫ِب‬
‫اَّللِ َحسِيبًا‬
“Dan ujilah anak yatim piatu itu sampai mereka cukup umur untuk kawin.
Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai
memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan
janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan
janganlah kamu tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka
dewasa. Barang siapa (diantara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah
ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim) dan barang siapa yang
miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian
apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu
adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah
Allah sebagai pengawas (atas persaksian itu).”
d. Penanaman modal secara tunai
Pertumbuhan modal dianggap sangat penting dan setiap muslim
diharapkan menanamkan modal secara tunai ke dalam perniagaan. Seperti sabda
Rosulullah saw : “Allah swt tidak merestui hasil penjualan tanah dan rumah
yang tidak ditanamkan lagi dalam perniagaan.”
Dari hadist yang lain menyebutkan : Barang siapa menjual rumah atau
sebidang tanah akan menghasilkan pendapatan, tetapi jika dia tidak
menanamkan lagi hasilnya kepada benda-benda serupa, dia akan mendapatkan
berkat dari padanya (dan asetnya tidak akan bertambah).”
8|Pengembangan Modal Dalam Islam
Ini menunjukkan bahwa Rosulullah saw sangat berhati-hati dalam
memelihara pertumbuhan modal dalam masyarakat. Beliau menyerukan supaya
umat islam menyimpan modalnya dan tidak menjualnya tetapi boleh digunakan
untuk menghasilkan lebih banyak aset lagi (sebagai modal). Seandainya orang
terpaksa menjualnya dia dianjurkan supaya membeli harta benda (yang
produktif) yang serupa dari uang yang diperolehnya. 11
e. Meninggalkan harta waris
Untuk membantu pertumbuhan modal dalam masyarakat, islam
mendorong umatnya agar meninggalkan ahli waris dalam keadaan berharta dan
berkecukupan dan tidak menyerahkan semua harta mereka untuk amal
kebajikan.
2. Menghindari sikap berlebih-lebihan (mubadzir)
Pertumbuhan pendapatan tidak akan meningkatkan tabungan jika pada waktu
yang sama pengeluaran bertambah melebihi pendapatan. Oleh karena itu, perlu
dikurangi pengeluaran yang tidak perlu, seperti gaya hidup mewah dan dijaga agar
tidak hidup berlebih-lebihan dalam masyarakat. Islam mengajarkan agar kita tidak
berlaku boros dalam membelanjakan harta, bahkan juga dalam bersedekah. Islam
menganjurkan nilai pertengahan dalam segala tingkah laku. Pemerolehan dan
pendayagunaan harta secara tidak seimbang akan memunculkan ketimpangan dan
krisis sosial.12 Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-A’raf ayat 31:
‫يَا بَنِي آدَ َم ُخذُوا ِزينَتَ ُك ْم ِع ْندَ ُك ِل َم ْس ِج ٍد َو ُكلُوا َوا ْش َربُوا َو ََل‬
َ‫ب ْال ُم ْس ِر ِفين‬
ُّ ‫ت ُ ْس ِرفُوا ۚ إِنَّهُ ََل يُ ِح‬
11
Afzalur Rahman. 1995. Doktrin Ekonomi Islam Jilid I. (Yogyakarta : PT. Dana Bhakti Wakaf).Hlm.
289.
12
Muhammad Nafik HR, Bursa Efek dan Investasi Syariah, (Jakarta : PT. Serambi Ilmu
Semesta,2009), Hlm. 64
9|Pengembangan Modal Dalam Islam
“Hai anak Adam, pekailah pakaianmu yang indah disetiap (memasuki) masjid,
makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Hemat, dalam arti proporsional dalam penggunakan dana (modal) dalam bisnis
merupakan sikap yang arif dan cenderung akan menguntungkan untuk
pengembangan bisnis dalam jangka panjang. Apabila tanpa adanya perencanaan
penggunaa modal yang matang maka kita akan terjerumus pada penggunaan
modal yang tidak efisien. Artinya pengguanaan dana yang di investasikan tidak
seimbang dengan produktifitas yang diperoleh.
3. Larangan pembekuan modal
Sistem ekonomi islam melarang pengumpulan harta secara berlebihan. Seorang
muslim wajib mencegah dirinya dan masyarakat supaya tidak memiliki harta
secara berlebihan dan mengabaikan kepentingan orang lain. Islam juga melarang
umatnya untuk menjadikan harta sebagai tujuan hidup sehingga melakuakan
berbagai cara untuk mendapatkannya. 13
Dalam rangka menghormati hak-hak masyarakat dalam sasuatu benda yang
dimiliki seseorang maka perbuatan pembekuan harta oleh seorang pemilik barang
sangat dicela oleh syariat islam karena merupakan perbuatan tercela. 14
Apabila aset tidak digunakan (idle) untuk menghasilkan kekayaan, maka akan
menyebabkan berkurangnya jumlah modal kerja yang diperlukan untuk usaha
dalam perdagangan, pertanian dan industri. Harta perlu dijadikan sebagai modal
produktif, bukan konsumtif, apalagi berfoya-foya, demonstration effect (pamer
kekayaan) yang akan menimbulkan kecemburuan sosial. 15 Hal ini sesuai dengan
firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 34 :
13
Ibid, Hlm. 63.
Suhrawardi K. Lubis dan Farid Wadji, Hukum Ekonomi Islam, (Jakarta : Sinar Grafika, 2012),
Hlm. 14.
15
Djakfar, Hukum , Hlm. 135.
14
10 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
‫ان لَ َيأ ْ ُكلُونَ أ َ ْم َوا َل‬
ُّ ‫ار َو‬
ً ِ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا إِ َّن َكث‬
ِ ‫يرا ِمنَ ْاْل َ ْح َب‬
ِ ‫الر ْه َب‬
َّ ‫سبِي ِل‬
‫َب‬
ِ ‫اس ِب ْال َب‬
ُ ‫اط ِل َو َي‬
ِ َّ‫الن‬
َ ‫َّللاِ ۗ َوالَّذِينَ َي ْكنِ ُزونَ الذَّه‬
َ َ‫صدُّون‬
َ ‫ع ْن‬
َّ ‫سبِي ِل‬
‫ب أَ ِل ٍيم‬
َّ ‫َو ْال ِف‬
ٍ ‫َّللاِ فَبَش ِْر ُه ْم بِ َعذَا‬
َ ‫ضةَ َو ََل يُ ْن ِفقُونَ َها فِي‬
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar orang-orang alim
yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan
batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orangorang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan
Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat)
siksa yang pedih”.
Dengan begitu, modal jangan dibiarkan diam, tetapi haruslah harta itu dibuat
menghasilkan (produktif). Dengan mengembangkan modal, paling tidak ada dua
keuntungan yang dapat diraih oleh pemiliknya. Pertama bisa memperkuat modal,
sekaligus memberdayakan bisnis yang dikelola. Yang kedua, bisa berbuat baik
kepada sesama manusia dan kepada negara. Kepada sesama manusia bisa
berwujud membuka lapangan pekerjaan, memperbesar jumlah zakat, infak, dan
sedekah. Sedangkan kebaikan untuk negara, antara lain dapat membayar pajak
yang bisa digunakan untuk memperbesar pendapatan negara.
4. Ada jaminan keselamatan dan keamanan
Apabila ada jaminan keselamatan dan keamanan dalam suatu negara, rakyat
akan lebih giat dalam bekerja dan mengumpulkan harta. Al-qur’an
memerintahkan umat islam untuk menjaga keamanan dan kestabilan negaranya,
agar rakyat dapat hidup bahagia dan sejahtera. Sebagaimana firman-Nya surat AlBaqarah ayat 193 :
ُ ‫َوقَاتِلُو ُه ْم َحت َّ ٰى ََل تَ ُكونَ فِتْنَةٌ َويَ ُكونَ الد‬
‫ِين ِ ََّّللِ ۖ فَإِ ِن ا ْنتَ َه ْوا َف ََل‬
َّ ‫ع َلى‬
َ‫الظا ِل ِمين‬
ُ
َ ‫ع ْد َوانَ ِإ ََّل‬
11 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga)
ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari
memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orangorang yang dzalim.”
Dalam hal ini, hendaknya kita menjaga iklim yang kondusif agar iklim usaha
itu berjalan dengan aman dan lancar. Bagaimanapun, faktor keamanan akan sangat
menentukan terhadap keberhasilan atau pengembangan dunia usaha.
C. Bisnis Yang Diharamkan Untuk Pengembangan Modal
Dalam hal pengembangan modal menurut pandangan islam harus diperhatikan
hak-hak masyarakat. Oleh karena itu, islam sangat mencela orang-orang yang
mengembangkan harta (termasuk membelanjakan harta) terhadap hal-hal yang
membahayakan masyarakat banyak. Yang dimaksud dengan membehayakan
masyarakat disini adalah melakukan kegiatan ekonomi yang membahayakan
kepentingan masyarakat ditinjau dari sudut pandang islam, misalnya memproduksi
atau menjual barang-barang, makanan, minuman yang dilarang oleh syariat islam.
16
Maka dari itu, orang yang memiliki modal harus mempertimbangkan usaha
yang akan didirikan untuk mengembangkan modal sudah sesuai dengan ketentuan
syariat islam (khususnya dalam hal halal dan haram). Berikut ini akan dijelaskan
mengenai
bisnis
haram
yang harus
dihindari
seorang muslim
dalam
mengembangkan modalnya :17
a. Perdagangan alkohol
Perdangangan dan konsumsi alkohol dilarang dalam islam, sesuai dengan
firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat 90 :
16
Lubis, Ekonomi, Hlm.15.
Muhammad dan Lukman Fauroni, Visi Al-Qur’an Tentang Etika dan Bisnis, (Jakarta : Salemba
Diniyah, 2002), Hlm. 136-140
17
12 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
‫اب َو ْاْل َ ْز ََل ُم‬
ُ ‫ص‬
َ ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا ِإنَّ َما ْال َخ ْم ُر َو ْال َم ْيس ُِر َو ْاْل َ ْن‬
َ ‫ش ْي‬
َّ ‫ع َم ِل ال‬
َ‫اجتَنِبُوهُ لَعَلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِل ُحون‬
ْ ‫ان َف‬
ٌ ‫ِر ْج‬
َ ‫س ِم ْن‬
ِ ‫ط‬
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar,
berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar
kamu mendapat keberuntungan.”
Hal ini juga sesuai dengan Hadist Nabi, yang artinya : “Sesungguhnya, Allah
SWT membenci khamr dan membenci orang yang memproduksinya, orang yang
kepadanya khamr diproduksi, orang yang meminumnya, orang yang
menyediakannya, orang yang membawanya, orang yang kepadanya khamr
dibawa, orang yang menjualnya, orang yang mendapat uang dari
penjualannya, orang yang membelinya, serta orang yang kepadanya khamr
dibeli ” (HR. Tirmidzi dan Ibn Majah).
Karenanya, seorang pengusaha muslim tidak diperbolehkan menjalankan
usaha apapun yang mengimpor atau mengekspor minuman beralkohol. Ia tidak
diperbolehkan memiliki usaha dimana alkohol diperjualbelikan, ataupun ia juga
tidak diperbolehkan bekerja dalam usaha semacam ini.
b. Transaksi dan perdagangan obat-obatan terlarang
Yususf Qadhrawi mengklasifikasikan obat-obatan terlarang seperti
mariyuana, kokain, opium dan berbagai jenis lainnya dibawah kategori khamr
yang dilarang dalam islam. Kriteria untuk mendefinisikan khamr berasal dari
Umar Bin Khattab :
“Khamr adalah apa yang mengaburkan pikiran”
Para hakim muslim, termasuk Ibn Taimiyah, secara bulat melarang obatobatan seperti ini karena pengaruhnya yang memabukkan dan menimbulkan
halusinasi. Penggunaan obat-obatan ini dapat mengakibatkan timbulnya tindak
13 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
kejahatan dan memiliki pengaruh yang merusak bagi orang yang
menggunakannya.
c. Pembuatan dan penjualan barang-barang haram
Seperti dapat dilihat dari pelarangan Khamr, maka perdagangan barangbarang yang dipergunakan untuk melakukan perbuatan dosa adalah juga haram,
misalnya pornografi, ganja, dan obat-obatan lainnya, pembuatan patung, dan
lain-lain. Perdagangan semacam ini cenderung akan mendorong dan
menyebarkan segala apa yang haram dan menyebabkan perilaku haram.
d. Pelacuran
Meskipun legal di banyak negara, namun islam melarang perdagangan ini.
Sebenarnya, ketika islam datang, islam berusaha mengakhiri eksploitasi
perempuan dalam praktek pelacuran ini. Kutipan hadist dan ayat al-Qur’an
dibawah ini secara tegas mengutuk praktek prostitusi:
‘Abd Allah ibn Ubay ibn Salul terbiasa berkata kepada budak perempuannya :
“Pergilah dan bawakan sesuatu bagi kami dengan melacur”. Dalam kutipan
inilah Allah SWT, Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia, menurunkan firmannya:
“Dan janganlah kamu paksa budak-budak perempuanmu untuk melakukan
pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu
hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka,
maka sesungguhnya Allah SWT adalah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang setelah mereka dipaksa itu”.
e. Al-Gharar
Rasulullah SAW melarang semua bentuk perdagangan yang tidak pasti,
berkaitan dengan jumlah yang tidak ditentukan secara khusus atas barang-
14 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
barang yang akan ditukarkan atau dikirimkan. Perdagangan masa depan dengan
demikian dilarang dalam islam. Ini adalah perdagangan yang melibatkan
penjualan komoditi yang belum menjadi milik sang penjual, penjualan binatang
yang belum lahir, penjualan hasil pertanian yang belum pertanian yang belum
dipanen, dan lain-lain.
D. Pengembangan Bisnis Dalam Bingkai Syariah
Islam mewajibkan setiap muslim, khususnya yang memiliki tanggungan untuk
bekerja, karena bekerja merupakan salah satu pokok yang memungkinkan manusia
memiliki harta kekayaan. Untuk memungkinkan manusia berusaha mencari nafkah,
Allah melapangkan bumi serta menyediakan berbagai fasilitas yang dapat
dimanfaatkan manusia untuk mencari rezeki. Hal ini diterangkan dalam al-Qur’an
surah Al-Mulk ayat 15:
ً ُ‫ُه َو الَّذِي َجعَ َل لَ ُك ُم ْاْل َ ْر َ ذَل‬
ُ ‫ام‬
‫شوا فِي َمنَا ِك ِب َها‬
ْ َ‫وَل ف‬
ُ ُّ‫َو ُكلُوا ِم ْن ِر ْزقِ ِه ۖ َوإِلَ ْي ِه الن‬
‫ور‬
ُ ‫ش‬
Artinya: “Dialah yang menyediakan bumi itu mudah bagi kamu, maka
berjalanlah disegala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan
hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.
Disamping anjuran untuk mencari rezeki, islam sangat menekankan
(mewajibkan) aspek kehalalannya, baik dari sisi perolehannya maupun
pendayagunaannya (pengelolaan dan pembelanjaan). Bisnis islami merupakan
serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak membatasi
jumlah kepemilikan, termasuk profitnya, namun membatasi cara perolehan dan
pendayagunaan hartanya (ada aturan halal dan haram).
Pengembangan bisnis yang memerlukan modal dalam islam harus berorientasi
syari’ah, sebagai pengendali agar bisnis itu berada dijalur yang benar sesuai dengan
ajaran islam. Dengan kendali syariat, aktivitas bisnis diharapkan bisa mencapai
empat hal utama :
15 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
1.
Target Hasil: Profit-Materi dan Benefit- non Materi
Tujuan perusahaan tidak hanya untuk mencari profit (qimah madiyah atau
nilai materi) setinggi-tingginya tetapi juga harus dapat memperoleh dan
memberikan benefit (keuntungan atau manfaat) non materi kepada internal
organisasi perusahaan dan eksternal (lingkungan), seperti terciptanya suasana
persaudaraan, kepedulian social, dan sebagainya.
2.
Pertumbuhan yang terus meningkat
Jika profit materi dan benefit non-materi telah diraih sesuai target,
perusahaan akan mengupayakan pertumbuhan atau kenaikan terus menerus dari
setiap profit dan benefitnya itu. Hasil perusahaan akan terus diupayakan agar
tumbuh meningkat setiap tahunnya. Upaya pertumbuhan itu tentu dijalankan
dalam koridor syariat. Misalnya, dalam meningkatkan jumlah produksi seiring
dengan perluasan pasar, peningkatan inovasi sehingga bisa menghasilkan
produk baru dan sebagainya.18
3.
Keberlangsungan, dalam kurun waktu selama mungkin.
Belum sempurna orientasi suatu perusahaan bila hanya berhenti pada
perencanaan target hasil dan pertumbuhan. Karena itu, perlu diupayakan terus
agar pertumbuhan target hasil yang telah diraih dapat dijaga keberlangsunganya
dalam kurun waktu yang cukup lama.
4.
Keberkahan atau keridhoan Allah.
Faktor keberkahan untuk menggapai ridho Allah SWT. Merupakan puncak
kebahagiaan hidup manusia muslim. Bila ini tercapai, menandakan diterimanya
dua syarat diterimanya amal manusia yakni adanya niat iklas dan cara yang
sesuai dengan tuntutan syari’at.
18
Djakfar, Hukum, Hlm.138-142
16 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
Barokah adal suatu karunia yang tidak bisa dipantau (invisible blessing). Ini
adalah sebuah pertumbuhan yang dikalkulasikan dengan hitungan dolar dan
mata uang apapun. Keberkahan adalah suatu hadiah yang tidak kasat mata dari
Yang Maha Memberi dan Yang Maha Rahman kepada hamba yang dicintai
karena selalu mentaati segala ketentuan-Nya. 19
Namun demikian, Al-Qur’an Melarang mengembangkan harta dengan cara
menyengsarakan masyarakat, dan juga memakan harta manusia dengan tidak
sah, sebagai firman-Nya dalam Al-Baqarah ayat 188 yaitu:
‫اط ِل َوت ُ ْدلُوا بِ َها ِإلَى ْال ُح َّك ِام ِلتَأ ْ ُكلُوا‬
ِ َ‫َو ََل تَأ ْ ُكلُوا أَ ْم َوالَ ُك ْم بَ ْينَ ُك ْم ِب ْالب‬
َ‫اْلثْ ِم َوأَ ْنت ُ ْم تَ ْعلَ ُمون‬
ِ َّ‫فَ ِريقًا ِم ْن أَ ْم َوا ِل الن‬
ِ ْ ‫اس ِب‬
“ Dan jangalah sebagian kamu memakan harta sebagian diantara kamu dengan
jalan yang bathil (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim,
supaya kamu dapat memakan sebagian harta daripada orang lain itu dengan
(jalan bathil) dosa,”
Di antara pokok-pokok penting dalam pengembangan harta adalah sebagai
berikut:
1. Menghindari sentralisasi modal, artinya agar harta itu tidak terkonsentrasi
hanya pada satu orang atau kelompok orang tertentu saja.
2. Mengembangkan
yayasan-yayasan
kemanusiaan
dengan
orientasi
kemasyarakatan, artinya hendaknya harta yang dikuasai oleh seseorang,
perlu didistribusikan pula untuk kepentingan orang lain.
3. Menguatkan ikatan persaudaraan dan kemasyarakatan melalui zakat dan
infaq, artinya karena harta yang kita miliki tidaklah hanya untuk diri sendiri,
namun di dalamnya ada hak kolektif yang secara hukum wajib dikeluarkan
sesuai tuntutan syariat.
19
Muhammad Djakfar, Etika Bisnis Islami Tataran Teoritis dan Praksis.(Malang: UIN Malang
Press, 2008), Hlm.230.
17 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
Sebagaimana kita pahami bahwa harta pada hakikatnya adalah milik Allah
SWT. Namun karena Allah SWT telah menyerahkan kekuasaan-Nya atas harta
tersebut kepada manusia, maka ia diberi kewenangan untuk memanfaatkan dan
mengembangkannya. Sebab, ketika seorang memiliki harta tersebut hanya
untuk dimanfaatkan dan dikembangkan. Namun demikian, dalam hal ini ia
terikat dengan hukum-hukum syara’ dan tidak bebas mengelola secara mutlak.
BAB III
KESIMPULAN
Bisnis sebagai salah satu instrumen penguatan ekonomi, baik bagi individu,
keluarga maupun negara, bagaimanapun membutuhkan modal yang memadai.
Tanpa modal yang mencukupi, hampir mustahil bisnis bisa dikembangkan secara
18 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
maksimal, kendati masih ada faktor-faktor produksi yang lain. Karena itu, islam
sangat mendorong agar pelaku bisnis memperkeuat ketersediaan modal dengan
meningkatkan pendapatan, hemat dan cermat dalam membelanjakan, dan selalu
berupaya meningkatkan jumlah simpanan. Dengan alasan ini, islam melarang
adanya pembekuan modal dan terkonsentrasinya pada segelintir orang tertentu
dengan motif agar bisnis di masyarakat terus berkembang. Hanya saja dalam
pengembangan itu, islam menekankan kepada pelaku bisnis agar tidak saja
mengejar keuntungan yang berupa materi (profit), tetapi juga keuntungan nonmateri agar diperoleh keberkahan yang diridhoi Allah SWT. Oleh sebab itu, untuk
mencapai dua keuntungan itu ditekankan pula agar didalam bisnis benar-benar
memperhatikan zona halal maupun haram yang harus dihindari. Bahkan yang
syubhat sekalipun.
Mengelola modal (harta) dalam syariat islam identik dengan mengelola dan
memanfaatkan zat benda. Hal itu bisa dilakukan karena ada hak kepemilikan yang
dianugerahkan oleh tuhan yang dibenarkan dalam islam. Hak mengelola zat benda
yang dimiliki juga mencakup hak untuk mengelolanya (bentuk bisnis) dalam rangka
mengembangkan kepemilikan benda tersebut. Pengembangan modal dalam islam
sangat tergantung pada ketentuan dan faktor produksi yang digunakan untuk
menghasilkan harta. Sedangkan pengembangan kepemilikan harta itu terkait
dengan suatu mekanisme yang dipergunakan oleh seseorang untuk menghasilkan
pertambahan kepemilikan tesebut dari keadaan semula.
Dikatakan bahwa pada prinsipnya sistem ekonomi dalam islam itu tidak
membahas tentang pengembangan harta, melainkan hanya membahas tentang
pengemabangan kepemilikannya. Islam tidak pernah mengemukakan tentang
pengembangan harta, karena menyerahkan masalah itu kepada individu agar
mengembangkannya sesuai dengan ketentuan dan faktor produksi apa saja yang
membuatnya layak dipergunakan untuk mengembangkan harta tersebut. Namun
demikian, bagaimanapun nilai-nilai syariah harus tetap dijunjung tinggi dan
dihormati sebagaimana yang diajarkan di dalam islam.
19 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
DAFTAR PUSTAKA
Achsien, Iggi H. 2003. , Investasi Syariah di Pasar Modal – Mengagas Konsep
dan Praktek Manajemen Portofolio Syariah. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Djakfar, Muhammad. 2008. Etika Bisnis Islami Tataran Teoritis dan Praksis.
Malang: UIN Malang Press.
20 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
Djakfar, Muhammad. 2016. Hukum Bisnis – Membangun wacana integrasi
Perundangan Nasional dengan Syariah. Malang : UIN Maliki Press.
Huda, Nurul dan Mustafa Edwin Nasution. 2007. Investasi Pada Pasar Modal
Syariah. Jakarta : Prenadamedia Group.
Irawan, Supramoko, 1996. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta: BPFE.
Lubis, Suhrawardi K dan Farid Wadji. Hukum Ekonomi Islam. Jakarta :
Sinar Grafika
Muhammad dan Lukman Fauroni. 2002. Visi Al-Qur’an Tentang Etika dan
Bisnis. Jakarta : Salemba Diniyah.
Nafik HR, Muhammad. 2009. Bursa Efek dan Investasi Syariah. Jakarta :
PT. Serambi Ilmu Semesta.
Rozalinda. 2015. Ekonomi Islam : Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas
Ekonomi. Jakata : PT. Raja Grafindo.
Rahman , Afzalur. 1995. Doktrin Ekonomi Islam Jilid I. Yogyakarta : PT.
Dana Bhakti Wakaf.
Rahman , Afzalur. 2002. Doktrin Ekonomi Islam Jilid III. Yogyakarta : PT.
Dana Bhakti Prima Yasa.
21 | P e n g e m b a n g a n M o d a l D a l a m I s l a m
Download