Uploaded by User22379

PKRS ACNE VULGARIS

advertisement
LAPORAN PELAKSANAAN PENYULUHAN
ACNE VULGARIS
DISUSUN OLEH:
Kelompok DM UHT 43 P
I Gusti Ngurah Gede Wira A.
20190420021
Mahendi
20190420119
Maratus Sholekhah
20190420120
Maretta Wulandari
20190420121
Maria Anastasia Sidabutar
20190420122
Maryam Assegaf
20190420123
Meidy Adlina Firliyani
20190420124
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA BEKERJA SAMA DENGAN
UNIT PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT RUMKITAL DR.
RAMELAN
SURABAYA
2019
LEMBAR PENGESAHAN
Satuan acara penyuluhan (SAP) Acne vulgaris telah dikonsulkan dan
telah dilaksanakan pada:
Hari/tanggal : Jumat 13 September 2019
Tempat
: Poli Klinik Kulit dan Kelamin
Sasaran
: Pasien dan Keluarga Pasien
Surabaya, 13 September 2019
Dokter Penanggung Jawab
Ka Klinik Kulit dan Kelamin
Rumkital Dr. Ramelan Surabaya
dr. Eko Riyanto, Sp.KK
Masni Ritongga, A.Md. Kep
Letkol Laut (K)NRP.10451/P
Penata TK I III/d 196907201991032004
Mengetahui
Ka. Unit PKRS
Rumkital Dr. Ramelan Surabaya
Dra. Mila Abdullah, M.M.,Apt
Kolonel Laut (K/W)NRP.11682/P
ii
DAFTAR ISI
COVER ............................................................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................... ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
SATUAN ACARA PENYULUHAN ILMU KULIT DAN KELAMIN .............................. 1
MATERI PENYULUHAN ACNE VULGARIS................................................................ 5
A. DEFINISI ................................................................................................................. 5
B. EPIDEMIOLOGI ..................................................................................................... 5
C. ETIOLOGI ............................................................................................................... 5
D. PATOGENESIS ..................................................................................................... 6
E. GEJALA KLINIS ..................................................................................................... 8
F. DIAGNOSIS ............................................................................................................ 8
G. PENATALAKSANAAN .......................................................................................... 9
H. PENCEGAHAN .................................................................................................... 11
I.
PROGNOSIS ........................................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 13
DAFTAR ABSENSI ........................................................................................................ 15
LEMBAR OBSERVASI .................................................................................................. 17
LAMPIRAN 1 ................................................................................................................... 19
iii
SATUAN ACARA PENYULUHAN ILMU KULIT DAN KELAMIN
“Acne vulgaris”
Topik
: Acne
Sub. Topik
: Acne vulgaris
Hari/tanggal
: Jum’at, 13 September 2019
Pukul
: 08.30-09.00
Waktu
: 30 menit
Tempat
: Poli Klinik Kulit dan Kelamin RSAL Dr. Ramelan Surabaya
Peserta
: Pasien atau keluarganya
1. Tujuan umum
Setelah melakukan penyuluhan, sasaran mampu mengetahui Acne vulgaris
2. Tujuan khusus
Setelah diberikan penyuluhan selama 30 menit diharapkan pasien dan keluarga :
1. Memahami pengertian Acne vulgaris
2. Memahami epidemiologi Acne vulgaris
3. Memahami etiologi Acne vulgaris
4. Memahami patogenesis Acne vulgaris
5. Memahami gejala klinis Acne vulgaris
6. Memahami diagnosa Acne vulgaris
7. Memahami penatalaksanaan Acne vulgaris
8. Memahami pencegahan Acne vulgaris
9. Memahami prognosis Acne vulgaris
3. Materi
Acne vulgaris: terlampir
4. Metode
Ceramah dan tanya jawab
1
5. Media
PPT dan leafleat
6. Kegiatan penyuluhan
No
Kegiatan
Penyuluhan
Peserta
Waktu
Menjawab salam
3 menit
.
1.
Pembukaa Pengucapan salam
n
Pembukaan
Memperkenalkan diri
Memperhatikan
Apresepsi
Mengkomunikasikan
tujuan
Kontrak waktu
2.
Kegiatan
Memahami dan
Memperhatikan
inti
menguraikan materi
penjelasan
tentang :
penyuluhan
Acne vulgaris
1. Memperhatikan
2. Epidemiologi
2. Menanyakan
Acne vulgaris
hal
yang belum jelas
Acne
3. Memperhatikan
vulgaris
jawaban penyuluh
4. Patogenesis
Acne vulgaris
5. Diagnosa Acne
vulgaris
6. Penatalaksana
an
dengan
cermat:
1. Pengertian
3. Etiologi
20 menit
Acne
vulgaris
2
7. Pencegahan
Acne vulgaris
8. Prognosis
Acne vulgaris
3.
Penutup
1. Menyimpulkan
1. Memberikan
materi
kesimpulan
2. Mengucapkan
dari
materi penyuluhan
terima kasih
yang
3. Mengucapkan
telah
disampaikan
salam penutup
7.
7 menit
2. Menjawab salam
Evaluasi
Diberikan setelah ceramah dengan mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan.
Kriteria Evaluasi
a. Evaluasi Struktur
1) Pasien dan keluarga hadir / ikut dalam kegiatan penyuluhan.
2) Penyelenggaran penyuluhan dilakukan
di Poli Klinik Kulit dan
Kelamin RSAL Dr. Ramelan Surabaya.
3) Pengorganisasian penyuluhan dilakukan pada hari pelaksanaan.
b. Evaluasi Proses
1) Peserta antusias terhadap materi penyuluhan.
2) Pasien tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan selesai.
3) Peserta terlibat aktif dalam kegiatan penyuluhan.
c. Evaluasi Hasil
1) Prosedur
2) Bentuk: pertanyaan terbuka
a. Memahami pengertian Acne vulgaris
b. Memahami epidemiologi Acne vulgaris
c. Memahami etiologi Acne vulgaris
d. Memahami patogenesis Acne vulgaris
e. Memahami gejala klinis Acne vulgaris
f. Memahami diagnosa Acne vulgaris
3
g. Memahami penatalaksanaan Acne vulgaris
h. Memahami pencegahan Acne vulgaris
i.
Memahami prognosis Acne vulgaris
3) Presentasi
Hasil : Sasaran mampu menjawab pertanyaan
8.
a. >80%
= Berhasil
b. 50-80%
= Cukup
c. <50%
= Kurang berhasil
Pengorganisasian
Pemateri/Penyaji
: Maryam Assegaf/Maretta Wulandari
Moderator
: dr. Densy Violina, Sp.DV
Notulen
: Meidy Adlina Firliyani, I Gusti Ngurah Gede Wira Adyana
Fasilitator
: Mar’atus Sholekhah, Mahendi, Maria Anastasia S
Observer
: Ka Klinik Kulit dan Kelamin
9.
Denah Ruangan
Poli Kulit dan
Kelamin
B
A
A = Pemateri
B = Moderator
F
F
C = Fasilitator
C
F
F
F
F
D = Observer
E = Dokumentasi
E
D
Ruang Dokter
Keterangan :
A = Pemateri, B =Moderator, C = Fasilitator, D = Observer, E = Dokumentasi
4
MATERI PENYULUHAN
ACNE VULGARIS
A. DEFINISI
Acne vulgaris adalah penyakit radang menahun dari apparatus
pilosebasea, lesi paling sering di jumpai pada wajah, dada dan punggung.
Kelenjar yang meradang dapat membentuk papul kecil berwarna merah muda,
yang kadang kala mengelilingi komedo sehingga tampak hitam pada bagian
tengahnya, atau membentuk pustul atau kista; penyebab tak diketahui, tetapi
telah dikemukakan banyak faktor, termasuk stress, faktor herediter, hormon,
obat dan bakteri, khususnya Propionibacterium acnes, Staphylococcus albus,
dan Malassezia furfur, berperan dalam etiologi (Adhi Djuanda, 2005).
B. EPIDEMIOLOGI
Karena hampir setiap orang pernah menderita penyakit ini, maka sering
dianggap sebagai kelainan kulit yang timbul secara fisiologis. Baru pada masa
remajalah acne vulgaris menjadi salah satu masalah. Umumnya insiden terjadi
Universitas Sumatera Utara pasa umur 14-17 tahun pada wanita, 16-19 tahun
pada pria dan masa itu lesi yang pradominan adalah komedo dan papul dan
jarang terlihat lesi beradang. Diketahui pula bahwa ras oriental (Jepang, Cina,
Korea) lebih jarang menderita acne vulgaris dibanding dengan ras Kaukasia
(Eropa dan Amerika), dan lebih sering terjadi nodulo-kistik pada kulit putih
daripada Negro (Wasiaatmadja, 2007).
C. ETIOLOGI
Acne vulgaris adalah penyakit yang disebabkan multifactor, Faktor faktor
yang mempengaruhi terjadinya acne adalah:
1. Faktor genetik. Faktor genetik memegang peranan penting terhadap
kemungkinan seseorang
menderita acne. Penelitian di Jerman
menunjukkan bahwa acne terdapat pada 45% remaja yang salah satu
atau kedua orang tuanya menderita acne, dan hanya 8% bila ke dua
orang tuanya tidak menderita acne.
5
2. Faktor ras. Warga Amerika berkulit putih lebih banyak menderita acne
dibandingkan dengan yang berkulit hitam dan acne yang diderita lebih
berat dibandingkan dengan orang Jepang.
3. Hormonal. Hormonal dan kelebihan keringat semua pengaruh
perkembangan dan atau keparahan dari jerawat Beberapa faktor
fisiologis seperti menstruasi dapat mempengaruhi acne. Pada wanita,
60- 70% acne yang diderita menjadi lebih parah beberapa hari sebelum
menstruasi dan menetap sampai seminggu setelah menstruasi.
4. Diet. Tidak ditemukan adanya hubungan antara acne dengan asupan
total
kalori
dan
jenis
makanan,
walapun
beberapa
penderita
menyatakan acne bertambah parah setelah mengkonsumsi beberapa
makanan tertentu seperti coklat dan makanan berlemak.
5. Iklim. Cuaca yang panas dan lembab memperburuk acne. Hidrasi pada
stratum korneum epidermis dapat merangsang terjadinya acne.
Paparan sinar matahari yang berlebihan dapat memperburuk acne.
6. Lingkungan. Acne lebih sering ditemukan dan gejalanya lebih berat di
daerah industri dan pertambangan dibandingkan dengan di pedesaan.
7. Stres. Acne dapat kambuh atau bertambah buruk pada penderita stres
emosional. Mekanisme yang tepat dari proses jerawat tidak sepenuhnya
dipahami,
namun
diketahui
dicirikan
oleh
sebum
berlebih,
hiperkeratinisasi folikel, stres oksidatif dan peradangan. Androgen,
mikroba dan pengaruh pathogenetic juga bekerja dalam proses
terjadinya jerawat (Thiboutot, 2008).
D. PATOGENESIS
Etiologi Acne vulgaris belum jelas sepenuhnya. Patogenesis acne
adalah multifaktorial, namun telah diidentifikasi empat teori sebagai
etiopatogenesis acne. Keempat patogenesis tersebut adalah hiperkeratinisasi
dari
duktus
polisebasea,
produksi
sebum
yang
berlebih,
bakteri
Propionibacterium acnes (P. acnes), dan inflamasi.
a. Peningkatan produksi sebum
Sebum disintesis oleh kelenjar sebasea secara kontinu dan
disekresikan ke permukaan kulit melalui pori – pori folikel rambut.
6
Sekresi sebum ini diatur secara hormonal. Kelenjar sebasea terletak
pada seluruh permukaan tubuh, namun jumlah kelenjar yang terbanyak
didapatkan pada wajah, pungung, dada, dan bahu. Kelenjar sebasea
mensekresikan lipid melalui sekresi holokrin. Selanjutnya, kelenjar ini
menjadi aktif saat pubertas karena adanya peningkatan hormon
androgen, khususnya hormon testosteron, yang memicu produksi
sebum . Hormon androgen menyebabkan peningkatan ukuran kelenjar
sebasea, menstimulasi produksi sebum, serta menstimulasi proliferasi
keratinosit pada duktus kelenjar sebasea dan acroinfundibulum.
Ketidakseimbangan antara produksi dan kapasitas sekresi sebum akan
menyebabkan pembuntuan sebum pada folikel rambut .
b. Penyumbatan keratin di saluran pilosebaseus
Terdapat perubahan pola keratinisasi folikel sebasea, sehingga
menyebabkan stratum korneum bagian dalam dari duktus pilosebseus
menjadi lebih tebal dan lebih melekat dan akhinya akan menimbulkan
sumbatan pada saluran folikuler. Bila aliran sebum ke permukaan kulit
terhalang
oleh
masa
keratin
tersebut,
maka
akan
terbentuk
mikrokomedo dimana mikrokomedo ini merupakan suatu proses awal
dari pembentukan lesi acne yang dapat berkembang menjadi lesi noninflamasi maupun lesi inflamasi. Proses keratinisasi ini dirangsang oleh
androgen, sebum, asam lemak bebas dan skualen .
c. Kolonisasi mikroorganisme di dalam folikel sebaseus
Peran mikroorganisme penting dalam perkembangan acne.
Dalam hal ini mikroorganisme
Propionilbacterium
acnes,
yang
mungkin berperan
Staphylococcus
epidermidis
adalah
dan
Pityrosporum ovale. Mikroorganisme tersebut berperan pada kemotaktik
inflamasi serta pada pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi lipid
sebum.
P.
Acnes
menghasilkan komponen
aktif
protease, hialuronidase, dan faktor kemotaktik yang
seperti lipase,
menyebabkan
inflamasi. Lipase berperan dalam mengidrolisis trigliserida sebum
menjadi asam lemak bebas yang berperan dalam menimbulkan
hiperkeratosis, retensi, dan pembentukan mikrokomedo.
7
d. Inflamasi
Propionilbacteriuum acnes mempunyai faktor kemotaktik yang
menarik leukosit polimorfonuklear kedalam lumen komedo. Jika leukosit
polimorfonuklear memfagosit P. acnes dan mengeluarkan enzim
hidrolisis, maka akan menimbulkan kerusakan dinding folikuler dan
menyebabkan ruptur sehingga isi folikel (lipid dan komponen keratin)
masuk dalam dermis sehingga mengakibatkan terjadinya proses
inflamasi.
E. GEJALA KLINIS
Lesi utama acne adalah mikrokomedo atau mikrokomedone, yaitu
pelebaran folikel rambut yang mengandung sebum dan P. acnes. Sedangkan
lesi acne lainnya dapat berupa papul, pustul, nodul, dan kista. Predileksi acne
yaitu pada wajah, bahu, dada, punggung, dan lengan atas. Komedo yang tetap
berada di bawah permukaan kulit tampak sebagai komedo white head,
sedangkan komedo yang bagian ujungnya terbuka pada permukaan kulit
disebut komedo black head karena secara klinis tampak berwarna hitam pada
epidermis (Baumann dan Keri, 2009 ; Sukanto dkk., 2005).
Acne baik itu ada atau tidak adanya inflamsi dapat menimbulkan scar.
Scar karena acne terdiri dari empat tipe yaitu, scar icepick, rolling, boxcar dan
hipertropik. Scar icepick adalah scar yang dalam dan sempit, dengan bagian
terluasnya berada pada permukaan kulit dan semakin meruncing menuju satu
titik ke dalam dermis. Scar rolling adalah scar yang dangkal, luas, dan tampak
memiliki undulasi. Scar boxcar adalah scar yang luas dan berbatas tegas. Tidak
seperti scar icepick, lebar permukaan dan dasar scar boxcar adalah sama.
Pada beberapa kejadian yang jarang, terutama pada truncus, scar yang
terbentuk dapat berupa scar hipertropik (Zaenglein dkk., 2008).
F. DIAGNOSIS
Diagnosis
Acne
vulgaris
ditegakkan
dengan
anamnesis
dan
pemeriksaan klinis. Keluhan penderita dapat berupa gatal atau sakit, tetapi
pada umumnya keluhan penderita lebih bersifat kosmetik. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan komedo, baik komedo terbuka maupun komedo tertutup.
8
Adanya komedo diperlukan untuk menegakkan diagnosis Acne vulgaris (Wolff
dan Johnson, 2009). Selain itu, dapat pula ditemukan papul, pustul, nodul dan
kista pada daerah–daerah predileksi yang mempunyai banyak kelenjar lemak.
Secara umum, pemeriksaan laboratorium bukan merupakan indikasi untuk
penderita Acne vulgaris, kecuali jika dicurigai adanya hyperandrogenism
(Zaenglein dkk., 2008).
G. PENATALAKSANAAN
Pemahaman mengenai patogenesis acne dengan keempat faktor yang
berperan akan mempermudah prinsip penanganan acne, yaitu memperbaiki
keratinisasi folikel, menurunkan aktivitas kelenjar sebasea, menurunkan
populasi bakteri P. acnes, dan menekan inflamasi. (Zaenglein AL, 2008). Akan
tetapi, penentuan derajat acne untuk pengobatan tidak hanya berdasarkan
jumlah lesi semata, tetapi juga ditentukan oleh beberapa faktor lain, misalnya
distribusi lesi lokalisata atau generalisata, derajat inflamasi, lama sakit, respons
terapi sebelumnya, dan efek psikososial. Sebagian besar acne ringan sampai
sedang membutuhkan terapi topikal. Acne sedang sampai berat menggunakan
kombinasi terapi topikal dan oral. Untuk menentukan jenis acne infl amasi, non
inflamasi, atau campuran keduanya, sehingga dapat memberikan terapi yang
tepat. (Cunliffe dkk 2001)
Terapi acne dimulai dari pembersihan wajah menggunakan sabun.
Beberapa sabun sudah mengandung antibakteri, misalnya triclosan yang
menghambat kokus positif gram. Selain itu juga banyak sabun mengandung
benzoil peroksida atau asam salisilat. (Zaenglein AL, 2008). Bahan topikal
untuk pengobatan acne sangat beragam. Sulfur, sodium sulfasetamid,
resorsinol, dan asam salisilat, sering ditemukan sebagai obat bebas. Asam
azaleat dengan konsentrasi krim 20 persen atau gel 15 persen, memiliki efek
antimikroba dan komedolitik, selain mengurangi pigmentasi dengan berfungsi
sebagai
inhibitor
kompetitif
tirosinase.
Benzoil
peroksida
merupakan
antimikroba kuat, tetapi bukan antibiotik, sehingga tidak menimbulkan
resistensi. (Harper JC 2004).
Antibiotik topikal yang sering digunakan adalah klindamisin dan
eritromisin. Keduanya dapat digunakan dengan kombinasi bersama benzoil
9
peroksida dan terbukti mengurangi resistensi. Retinoid merupakan turunan
vitamin A yang mencegah pembentukan komedo dengan menormalkan
deskuamasi epitel folikular. Retinoid topikal yang utama adalah tretinoin,
tazaroten, dan adapalene. (Haider A, 2004). Tretinoin paling banyak digunakan,
bersifat komedolitik dan antiinfl amasi poten. Secara umum, semua retinoid
dapat menimbulkan dermatitis kontak iritan. Pasien dapat disarankan
menggunakan tretinoin dua malam sekali pada beberapa minggu pertama
untuk mengurangi efek iritasi. Tretinoin bersifat photolabile sehingga
disarankan aplikasi pada malam hari. (Zaenglein AL, 2008).
Salah satu terapi sistemik acne adalah antibiotik. Tetrasiklin banyak
digunakan untuk acne infl amasi. Meskipun tidak mengurangi produksi sebum
tetapi dapat menurunkan konsentrasi asam lemak bebas dan menekan
pertumbuhan P. acnes. (Zaenglein AL, 2008). Akan tetapi tetrasiklin tidak
banyak digunakan lagi karena angka resistensi P. acnes yang cukup tinggi.
(Harper JC 2004).
Turunan tetrasiklin yaitu doksisiklin dan minosiklin menggantikan
tetrasiklin sebagai terapi antibiotik oral lini pertama untuk acne dengan dosis
50-100 mg dua kali sehari. Eritromisin dibatasi penggunaannya, yaitu hanya
pada ibu hamil, karena mudah terjadi resistensi P. acnes terhadap eritromisin.
Resistensi dapat dicegah dengan menghindari penggunaan antibiotik
monoterapi, membatasi lama penggunaan antibiotik, dan menggunakan
antibiotik bersama benzoil peroksida jika memungkinkan. Isotretinoin oral
adalah obat yang paling efektif untuk acne.Dosis isotretinoin yang dianjurkan
adalah 0,5-1 mg/kg/hari dengan dosis kumulatif 120-150 mg/kg berat badan.
(Zaenglein AL, 2008).
Obat ini langsung menekan aktivitas kelenjar sebasea, menormalkan
keratinisasi folikel kelenjar sebasea, menghambat infl amasi, dan mengurangi
pertumbuhan P. acnes secara tidak langsung. Isotretinoin paling efektif untuk
acne nodulokistik rekalsitran dan mencegah jaringan parut. Meskipun demikian,
isotretinoin tidak bersifat kuratif untuk acne. Penghentian obat ini tanpa disertai
terapi pemeliharaan yang memadai, akan menimbulkan kekambuhan acne.
Selain itu, penggunaan obat ini harus berhatihati pada perempuan usia
reproduksi karena bersifat teratogenik. (Kurokawa I,2009).
10
Penggunaan isotretinoin dan tetrasiklin bersamaan sebaiknya dihindari
karena meningkatkan risiko pseudotumor serebri. Suntikan glukokortiokoid
intralesi dapat diberikan untuk lesi acne nodular dan cepat mengurangi infl
amasinya. Risiko tindakan ini adalah hipopigmentasi dan atrofi Modalitas lain
yang dapat digunakan untuk mengatasi acne adalah radiasi ultraviolet yang
memiliki efek antiinfl amasi terhadap acne. Radiasi UVB atau kombinasi UVB
dan UVA dapat bermanfaat untuk acne infl amasi, tetapi perlu diwaspadai
potensi karsinogeniknya. (Zaenglein AL, 2008).
H. PENCEGAHAN
1. Cuci area bermasalah dengan pembersih yang lembut. Dua kali sehari,
gunakan tangan untuk mencuci wajah dengan sabun lembut dan air
hangat.
2. Hindari produk tertentu, seperti scrub wajah, astringen dan masker.
Produk tersebut cenderung mengiritasi kulit, yang dapat memperburuk
jerawat. Mencuci dan menggosok secara berlebihan juga bisa
mengiritasi kulit.
3. Obat jerawat yang tidak diresepkan dapat menyebabkan efek samping
awal seperti kemerahan, kekeringan dan pengelupasan yang sering
membaik setelah bulan pertama penggunaannya.
4. Hindari gesekan atau tekanan pada kulit. Lindungi kulit yang rentan
berjerawat dari kontak dengan barang-barang seperti telepon, helm,
kerah ketat atau tali pengikat, dan ransel.
5. Hindari menyentuh atau menekan di area masalah. Jika dilakukan dapat
memicu lebih banyak jerawat atau menyebabkan infeksi atau jaringan
parut.
6. Mandi setelah beraktivitas berat. Minyak dan keringat di kulit dapat
menyebabkan berjerawat. (Medscape, 2018).
I. PROGNOSIS
Menurut Medscape, 2019, Acne vulgaris dapat menyebabkan efek
psikososial dan fisik lama serta merugikan. Ini terkait dengan depresi dan
kecemasan, terlepas dari keparahan penyakit, meskipun efek psikologis
11
biasanya membaik dengan pengobatan. Selain itu, Acne vulgaris dapat
menyebabkan jaringan parut permanen yang sulit untuk diperbaiki.
Pada pasien pria, Acne vulgaris umumnya hilang pada awal masa
dewasa. 5% pria masih memiliki Acne vulgaris pada usia 25 tahun. Acne
vulgaris dewasa lebih sering terjadi pada wanita. 12% wanita masih memiliki
Acne vulgaris pada usia 25 tahun. 5% wanita masih memiliki Acne vulgaris
pada usia 45 tahun. Prognosis keseluruhan untuk pasien dengan Acne vulgaris
adalah baik.
12
DAFTAR PUSTAKA
Baumann, L., Keri J. 2009. Cosmetic Dermatology Principles and Practice. Acne (Type
1 Sensitive Skin). Second Edition. New York. pp. 121-127.
Cunliff e WJ, Gollnick HPM. Topical therapy. In: Cunliff e WJ, Gollnick HPM, eds. Acne
diagnosis and management. London: Martin Dunitz Ltd, 2001:107-14.
Cuncliffe WJ. Inflammation in acne scarring: a comparison of the responsesin lesions
from patients prone and not prone to scar. British Journal of Dermatology. London.
Martin Dunitz Ltd . 150(1):72–81. 2007.
Djuanda Adhi, Prof.Dr.dr.Pioderma. In: Djuand Adhi, Prof.Dr.dr.editors. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. 5th ed. Jakarta: balai penerbit FKUI: 2005.p.253-259
Fulton, James Jr.
Acne vulgaris in Medscape Journal; 2010. [cited 2010 june
21]. Avalaible from: http://dermatology.cdlib.org/93/commentary/acne/hanna.html.
Haider A, Shaw JC. Treatment of Acne vulgaris. JAMA. 2004;292(6):726-35.
Harper JC. An update on the pathogenesis and management of Acne vulgaris. J Am
Acad Dermatol. 2004;51(1):S36-8.
Harper JC . Acne vulgaris . Edisi Ke-4 . Jakarta. EGC . 2007 .
Jacyk WK. Acne vulgaris. Grades of severity and treatment options. SA Fam Pract.
2003;45(9):32-6.
Kabau S. Hubungan antara Pemakaian Jenis Kosmetik dengan Kejadian Acne
vulgaris. Jurnal Media Medika Muda. 43(1) :32-6. 2012.
Mayoclinic.
Acne.
Available
at:
https://www.mayoclinic.org/diseases-
conditions/acne/diagnosis-treatment/drc-20368048. (Accessed : 9 September 2019)
Medscape.
Acne
vulgaris
Treatment
&
Management.
https://emedicine.medscape.com/article/1069804-treatment.
September 2019)
13
Available
(Accessed
at
:
:
9
Purwaningdyah RAK, Jusuf NK. Profil Penderita Acne vulgaris pada Siswa-Siswi di
SMA Shafiyyatul Amaliyyah Medan. E-Journal FK USU. 1(1);1-8. 2013.
Thiboutot D, Gollnick H, Bettoli V, Dreno B, Kang S, Leyden JJ, dkk. New insights into
the management of acne: An update from the Global Alliance to Improve Outcomes in
Acne Group. J Am Acad Dermatol. 2008 ;60:S1-50
Wasitaatmadja, M. Sjarif, 2007. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Penerbit Universitas
AS Indonesia. UI-PRESS, Jakarta. 2007
Williams SM. Pilo Sebaceuous duct physiology, observation on the number and size
of pilo sebaceuous ducts in Acne vulgaris. New York. Dermatology . 95(2);15355.
2007.
Wolff
K,
Johnson
R.
2009.
Fitzpatrick’s
Color
Atlas
and
Synopsis
of
Clinical Dermatology. 6th ed. USA: McGraw Hill Professional.
Zaenglein, A.L., Graber, E.M., Thiboutot, D.M., Strauss, J.S., 2008. Acne vulgaris and
Acneiform Eruptions. In:Wolff, K., Goldsmith, L.A., Katz, S.I., Gilchrest, B.A., Paller,
A.S., Leffell, D.J. eds Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 7th ed. New
York:Mc Graw Hill;2007.p: 690-703.
14
DAFTAR ABSENSI
EDUKASI PKRS RUMKITAL DR. RAMELAN SURABAYA
Hari/tanggal : Jumat/ 13 September 2019
Tempat
: Poli Klinik Kulit dan Kelamin RSAL dr. Ramelan Surabaya
Waktu
: 09.00 - selesai
No
Nama
Alamat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
15
TTD
14.
15.
Surabaya, 11 September 2019
Ka. Unit PKRS
Dra. Mila Abdullah,Apt. M.M
Kolonel Laut (K/W) NRP 11682/P
16
LEMBAR OBSERVASI
Tema
: “Acne vulgaris”
Hari /Tanggal
: Jumat, 13 September 2019
Tempat
: Poli Klinik Kulit dan Kelamin
Persiapan
: Mempersiapkan proposal, leaflet, laptop, dan projector.
Pelaksanaan
:
Organisasi
Pemateri
: Maryam Assegaf, Maretta Wulandari
Moderator
: dr. Densy Violina, Sp.DV
Fasilitator
:Mar’atus
Sholekhah,
Mahendi.
Maria
Anastasia Sidabutar
Waktu
Peserta
Mulai
: 09.00 WIB
Penjelasan
: 30 menit
Jumlah
: 22 orang
Penyampaian
:
penyajiannya
sangat
baik
dalam
menyampaikan materi, bahasa dan intonasinya baik.
Penyajian
Interaksi antara penyaji dan pendengar baik.
Kendala
: Tidak ada
Solusi
: Tidak ada
Proses diskusi : dalam proses diskusi baik, audien
antusias dalam bertanya, dan memperhatikan betul apa
Diskusi
Daftar pertanyaan
Jawaban Fasilitator
yang disampaikan oleh penyaji.
Kendala
: Tidak ada
Solusi
: Tidak ada
1.
2.
1.
2.
Penyuluhan ini sangat baik bagi orang-orang awam untuk
Masukan / Tambahan
menambah wawasan mereka mengenai penyakit yang
belum
pernah
penanganannya
17
mereka
dengar
dan
tahu
cara
Surabaya, 13 September 2019
Ka. Klinik Kulit dan Kelamin
Rumkital Dr. Ramelan Surabaya
Masni Ritongga, A.Md. Kep
Penata TK I III/d 19690720 199103 2 004
18
LAMPIRAN 1
FOTO KEGIATAN PKRS ACNE VULGARIS
13 September 2019
19
Download