Uploaded by User21917

DIKTAT KITAB MAZMUR SEENAM KIM

advertisement
PENGANTAR
Diktat Kitab Mazmur ini merupakan karya Rev. Seenam Kim, Ph.D (USA). Diktat ini digunakan
ketika Dr. Kim mengajar mata kuliah Kitab Mazmur di STT Aletheia pada tahun 2012. Pada awalnya
diktat ini berbahasa Inggris, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Pdt. Gumulya
Djuharto, Th.M. Selanjutnya Pdt. Sia Kok Sin telah memperoleh izin dari Dr. Kim untuk
menggunakan dan memperbanyak diktat ini. Pdt Sia juga melakukan pelbagai koreksi kecil dalam
diktat ini.
Lawang, Januari 2017
DAFTAR ISI
Pemahaman Kanonikal Terhadap Kitab Mazmur ..........................................................
(1-14)
1. Pemahaman Keunikan Kitab Mazmur
2. Struktur Kitab Mazmur
3. Asal Mula Mazmur
4. Judul-judul Mazmur
Studi Terkini Kitab Mazmur ...........................................................................................
(15-22)
1. Studi-studi Kitab Mazmur Terdahulu
2. Kritik Bentuk oleh Hermann Gunkel
3. Metode Fungsional Kultus: Sigmund Mowinckel
4. Studi-studi Terkini Setelah Kritik Bentuk
Penggunaan Mazmur Dalam Sejarah
............................................................................
(23-32)
1. Mazmur diantara Komunitas Gulungan Laut Mati
2. Mazmur-Mazmur dalam Yudaisme
3. Penggunaan Mazmur dalam Dunia Kristen
4. Memahami Mazmur sebagai Puisi
5. Penggunaan Mazmur dalam PL
6. Berdoa dengan Menggunakan Mazmur di Zaman Sekarang
Mazmur Keluhan Individu .............................................................................................
(33-40)
1. Karakteristik Mazmur Keluhan Individu
2. Struktur Mazmur Keluhan Individu
3. Komponen-komponen Keluhan
4. Contoh-contoh Mazmur Keluhan Individu
Mazmur Keluhan Komunal ............................................................................................
(41-47)
1. Karakteristik Mazmur Keluhan Komunal
2. Struktur Keluhan Komunal
3. Contoh-contoh Mazmur Keluhan Komunal
Mazmur Nyanyian Pujian
..............................................................................................
1. Karakteristik Nyanyian Pujian Secara Umum
2. Relasi Antara Pujian dan Kematian
(48-55)
3. Struktur Nyanyian Pujian
4. Contoh-contoh
Mazmur Ucapan Syukur Individu
.................................................................................
(56-62)
1. Karakteristik Mazmur Ucapan Syukur Individu
2. Latar Belakang Ibadah Dalan Kitab Mazmur
3. Struktur Mazmur Ucapan Syukur Individu
4. Contoh-contoh Mazmur Ucapan Syukur Individu
Mazmur Ucapan Syukur Komunal
................................................................................
(63-66)
1. Karakteristik Mazmur Ucapan Syukur Komunal
2. Struktur
3. Contoh-contoh Mazmur Ucapan Syukur Komunal
Mazmur Penciptaan
......................................................................................................
(67-70)
1. Karakteristik Mazmur Penciptaan
2. Contoh-contoh Mazmur Penciptaan
Mazmur Tuhan Sebagai Raja
........................................................................................
(71-77)
1. Daftar dan Karakteristik Mazmur Tuhan sebagai Raja
2. Struktur Mazmur Tuhan sebagai Raja
3. Latar Belakang Mazmur Tuhan Sebagai Raja
4. Mazmur Tuhan Sebagai Raja Sebagai Sebuah Metafora
5. Contoh-contoh Mazmur Tuhan sebagai Raja
Mazmur Liturgikal ..........................................................................................................
(78-82)
1. Karakteristik Mazmur Liturgikal
2. Contoh-contoh Ibadah Bait Suci
3. Mazmur Masuk (ke Gerbang Bait Suci)
4. Contoh-contoh Mazmur Liturgikal
Mazmur Keyakinan
.......................................................................................................
(83-87)
1. Karakteristik Mazmur Keyakinan
2. Contoh-contoh Mazmur Keyakinan
Mazmur Zion ..................................................................................................................
1. Karakteristik Mazmur Zion
(88-91)
2. Latar Belakang Mazmur Zion
3. Contoh-contoh Mazmur Zion
Mazmur Raja ...................................................................................................................
(92-96)
1. Karakteristik Mazmur-Mazmur Raja
2. Konsep Raja di Timur Dekat Kuno
3. Mazmur Raja dan Penafsiran Mesianis
4. Contoh-contoh Mazmur Raja
Mazmur Hikmat
...........................................................................................................
(97-101)
1. Karakteristik Mazmur Hikmat
2. Contoh-contoh Mazmur Hikmat
Allah Dalam Kitab Mazmur ...........................................................................................
(102-107)
1. Nama Tuhan
2. Wahyu dan Keadilan Allah
Individu dan Raja Dalam Kitab Mazmur
.....................................................................
(108-112)
1. Individu di Israel
2. Deskripsi Tentang Manusi dalam Kitab Mazmur
3. Raja Dalam Kitab Mazmur
Musuh dan Pembalasan Dalam Kitab Mazmur
............................................................
(113-119)
.....................................................................................................
(120-125)
1. Musuh-musuh Bangsa
2. Musuh-musuh Individu
3. Mazmur Kutukan
Mazmur dan Gereja
1. Mazmur dan PB
1
Pemahaman Kanonikal terhadap Kitab Mazmur
1. Keunikan Kitab Mazmur
(1) Arti Penting Nama Kitab Ini
a. Nama Inggris "Psalms" atau "Psalter" menunjuk pada buku yang berasal dari kata
Yunani yalmoi/ dan yalth/rion. Kata Yunani yang pertama (yalmoi/) digunakan sebagai
judul buku dalam LXX, dan manuskrip abad 5 M Codex Alexandrinus menggunakan kata
kedua (yalth/rion) untuk menamai buku yang kita bahas ini. Yalmo/v dan yalth/rion, yang
berasal dari kata kerja ya/llein "menarik," "memetik," or "bermain (instrumen musik tali
senar)," menunjuk pada sebuah nyanyian yang dinyanyikan dengan instrumen musik senar
seperti harpa atau kecapi. Kedua kata benda Yunani tersebut dimengerti sebagai terjemahan
kata Ibrani  () yang menjadi judul dari banyak mazmur.
b. Berhubungan dengan nama kitab ini, tidak seperti kitab2 dalam Pentateukh dalam
bahasa Ibrani, kitab Mazmur tidak disebut sesuai dengan huruf awal kata atau kata2 dalam
kitab tersebut. Kata Ibrani kita ini adalah  ( dari akar kata  "memuji") yang
berarti "nyanyian2 pujian." Dengan menyadari bahwa banyak mazmur dalam kitab ini
bukanlah puji2an, judul kitab ini disadari tidak terlalu akurat dalam kaitan dengan macam2
gaya bahasa (genres) kitab Mazmur. Namun berdasarkan fakta bahwa akar kata  "memuji"
muncul secara dominan dalam kitab Mazmur, dan bahwa kata "Halleluya" tidak ditemukan di
tempat lain dalam PL, pasti ada hal yang sangat menentukan dengan menyebut kitab ini
. Implikasi penting dari , yang tidak muncul dalam PL, adalah bahwa kata
itu adalah kata teknis yang dibuat hanya untuk kitab Mazmur saja.
(2) Sifat Dasar Mazmur sebagai Respon Manusia terhadap Tuhan
a. Untuk memahami sifat dasar Mazmur, penting untuk ditekankan dari permulaan
bahwa mazmur2 dalam kitab ini adalah respon2 manusia terhadap Tuhan terutama
dalam 2 bentuk, dalam permohonan dan dalam ucapan syukur. Allah berbicara
hanya dalam sedikit doa2, seperti misalnya mazmur2 nubuatan (Mazmur 50, 75,
81, 95). Yang sering muncul adalah ekspresi sentimental individual atau
komunitas dalam dialog dengan Tuhan. Dengan demikian, keunikan Mazmur
adalah, sementara sebagian besar kitab dalam Alkitab berbicara kepada kita,
Mazmur berbicara bagi kita. Atau dapat dikatakan dalam cara yang lain:
sementara sebagian besar kitab yang lain adalah dari Tuhan kepada umat manusia,
Mazmur adalah dari manusia kepada Tuhan seperti yang ditunjukkan di bawah
ini:
Kitab2 Lain
Mazmur
Allah
Allah
↓
↑
Manusia
Manusia
b. Ketika kita menggolongkan sifat dasar Mazmur sebagai respon manusia kepada
Tuhan, seseorang dapat mengajukan pertanyaan serius: Bagaimana mungkin kata2 manusia
2
kepada Tuhan menjadi kata2 Allah kepada manusia dapat dimasukkan ke dalam kanon
Alkitab?
c. Beberapa ahli tafsir Alkitab berpikir bahwa Mazmur 1 menyediakan petunjuk
penting bagi transformasi kata2 manusia kepada Tuhan. Ketika seseorang menyadari bahwa
penyusunan mazmur2 di dalam kitab ini tidak sepenuhnya kronologis melainkan terutama
tematis dan teologis, penempatan Mazmur 1 menjadi sebuah penyingkapan (sesuatu yang
penting). Westermann, Childs, dan yang lain, setuju bahwa Mazmur 1 adalah pendahuluan
bagi seluruh kitab Mazmur, dan mereka berpendapat bahwa Mazmur 1 memiliki fungsi
hermeneutik yang istimewa.
d. Sebagai pendahuluan kitab, Mazmur 1 memberitahukan bahwa berkat bagi orang
benar adalah merenungkan “Torah” (Taurat) dengan setia (1:2). Yang menjadi krusial dalam
memahami arti penting Mazmur 1 adalah identitas Taurat dalam 1:2. Banyak ahli setuju
bahwa Taurat dalam 1:2 menunjuk pada semua Mazmur yang mengikuti Mazmur 1. Menurut
Childs, Mazmur 1 memberikan kesaksian bahwa perubahan hermeneutik terjadi di Israel
untuk menerima doa2 dan puji2an sebagai tulisan2 yang kudus. Dengan demikian,
"merenungkan Taurat siang dan malam" (1:2) mengindikasikan bahwa Mazmur dibaca
sebagai buku ilahi, dan bahwa sebagai buku ilahi, Mazmur memberikan syarat bagi para
pembaca untuk mempelajari mazmur2 siang dan malam dengan (mentalitas) "Ketaatan
terhadap Taurat."
e. Menyetarakan Mazmur2 dengan Taurat dalam Mazmur 1 mengimplikasikan bahwa
orang Israel di masa kemudian percaya bahwa mereka tetap menerima dan mendengarkan
Firman Tuhan melalui suara respon para penulis Mazmur dan dengan demikian Mazmur
berfungsi bagi mereka sebagai kata2 ilahi itu sendiri. Mazmur adalah tentang Tuhan dan
menyatakan kepada kita siapakah Allah itu.
2. Struktur Kitab Mazmur
(1) Lima Bagian Kitab
Buku I
Buku II
Buku III
Buku IV
BukuV
Mazmur 1–41
Mazmur 42–72
Mazmur 73–89
Mazmur 90–106
Mazmur 107–150
41 mazmur
31 mazmur
17 mazmur
17 mazmur
44 mazmur
a. Lima pembagian dibuat dengan kehadiran doksologi di akhir setiap grup (41:14;
72:19; 89:53; 106:48; 150). Mazmur 150 tidak memiliki doksologi dalam bentuk
seperti itu. Penjelasannya, Mazmur 150 adalah doksologi bagi Buku V dan pada saat
yang sama bagi keseluruhan Mazmur.
contoh, Mazmur 41:14, "Terpujilah TUHAN, Allah Israel,
dari selama-lamanya sampai selama-lamanya.
Amin, ya amin."
b. Menarik untuk disimak bahwa kutipan Mazmur 106:47–48 dalam 1 Taw. 16:35-36
memasukkan doksologi semacam ini. Ini mungkin mengindikasikan bahwa kitab
Mazmur telah dibagi dalam buku2 (5 bagian) dan telah lengkap pada masa
3
penyusunan Kitab Tawarikh.
c. Berkaitan dengan pembagian kitab (5 buku), Talmud berkata, "Musa memberikan
kepada Israel Lima Buku, dan Daud memberikan kepada Israel lima buku Mazmur"
(Midrash Tehillim pada Mazmur 1:1). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa struktur
kitab yang terbagi dalam 5 bagian (the five-fold structure) mungkin telah disusun
setelah Pentateukh. Bagaimanapun juga, alasan bagi lima bagian tidak disebutkan di
manapun dalam kitab Mazmur dan tidak lagi jelas bagi para penafsir modern.
d. N. Sarna mendukung ide bahwa pembagian ini mengikuti pola Pentateukh. Dia
berpendapat bahwa Mazmur 90–150 semula termasuk dalam satu grup namun
kemudian dibagi menjadi dua untuk membuatnya menjadi 5 bagian. Sebagai landasan
bagi argumentasinya, Sarna menampilkan elemen2 umum yang muncul dalam Mz
90–150:
i. Tidak seperti mazmur2 dalam Buku I–III, kebanyakan Mazmur 90-150
adalah mazmur pujian dan ucapan syukur.
ii. Terminologi "Halleluya" hanya muncul di Mazmur 90–150.
iii. Tidak seperti Buku I–III, ada banyak Mazmur tanpa kepala surat/judul
pendahuluan (28 dari 34 mazmur dalam bagian ini).
iv. Kepala surat/judul pendahuluan dalam Mazmur 90–150 sama sekali tidak
berisi tentang tipe (bunyi nada) musik.
v. Istilah umum "selah" dan "Bagi pemimpin biduan" sangat jarang di bagian
ini.
e. Rabi2 terdahulu percaya bahwa ada hubungan yang jelas antara karya Daud dan 5
Kitab Musa. Baru2 ini, beberapa ahli mengembangkan argument bahwa 5 bagian
Kitab berhubungan dengan siklus tiga tahunan dalam penyusunan lectionary
(pembagian bagian2 kitab untuk dibaca) sinagog bersama2 dengan Pentateukh.
Bagaimanapun juga, banyak ahli modern berpendapat bahwa kemiripan antara
Pentateukh dan 5 Buku dalam Mazmur mungkin sepenuhnya kebetulan. H.-J. Kraus
berkomentar keras tentang isu ini dengan berkata bahwa hubungan erat di antara
keduanya selalu merupakan rangkaian kombinasi yang mustahil/tidak masuk akal.
f. Tentang kehadiran 4 bagian Mazmur dengan doksologi yang disengaja untuk
menandai akhir tiap bagian, pertanyaan2 berikut dapat disampaiakan untuk
menjelaskan bagaimana kehadiran mereka harus dijelaskan:
i. Apakah doksologi2 tersebut dimasukkan kemudian?
ii. Atau, apakah 5 bagian Mazmur dengan akhir yang khusus dan editor
merancang 5 bagian Mazmur setelah Pentateukh untuk menegakkan status
Mazmur sebagai bagian dari Alkitab?
iii. Ataukah doksologi2 tersebut adalah bukti adanya perkembangan bertahap
dari kitab Mazmur?
(2) Kumpulan Koleksi di dalam Kitab Mazmur
a. Ketika kita melihat ikhtisar Kitab Mazmur, jelaslah bahwa mazmur2 tersebut tidak
disusun secara acak namun hasil koleksi dari beberapa pengarang atau koleksi
mazmur yang memiliki ciri2 yang sama.
4
Koleksi Daud:
Buku I
Buku II
Buku III
Buku IV
Buku V
3–9, 11–32, 34–41
51–65, 68–70
86
101, 103
108–110, 120, 124, 131, 133, 138–145
Koleksi Korah:
Buku II
Buku III
42/43–49
84–85, 87–88
Koleksi Asaf:
Buku II
Buku III
50
73–83
Koleksi Elohis:
(yang menggunakan
nama Elohim)
Buku II
Buku III
42–72
73–83
Mazmur Maskil:
(Nyanyian Pengajaran)
Buku II
Buku III
42/42–45, 52–55
88–89
Mazmur Miktam:
Buku II
56–60
Mazmur Tuhan sbg Raja:
Buku II
Buku IV
47
93, 95–99
Mazmur Haleluyah:
Buku IV
Buku V
104–106
111–113, 115–117, 135, 146–150
Mazmur Ziarah:
Buku V
120–134
b. Karakteristik koleksi2 tersebut dapat diringkas sebagai berikut:
i. Mazmur2 Daud, yang terutama I-psalms (mazmur2 yg menggunakan kata
ganti orang pertama tunggal), ditemukan dalam kelima bagian, tetapi terutama
terkonsentrasi dalam Buku I dan II.
ii. Koleksi2 Korah, Asaf, dan Elohis (terutama We-psalms [mazmur2 yg
menggunakan kata ganti orang pertama jamak]) terdapat dalam Buku II dan III.
iii. Di sisi lain, Mazmur2 Pujian (Mazmur Tuhan sebagai Raja dan Mazmur
Haleluyah) dan Mazmur Ziarah (Songs of Ascents) terutama terletak di Buku IV
& V.
(3) Pembentukan Kanon Kitab Mazmur
a. Bentuk sekarang Kitab Mazmur merefleksikan sejarah panjang perkembangan baik
secara bentuk oral maupun literatur. Beberapa petunjuknya adalah:
i. Mazmur 72:20 terlihat menandai koleksi terdahulu karena dikatakan,
“Sekianlah doa-doa Daud bin Isai." Fakta bahwa mazmur2 Daud ditemukan di
5
bagian terkemudian (86, 101, 103, 108–110, 122, 124, 131, 133, 138–145)
mengindikasikan bahwa Buku I–II semula tersusun terpisah dari Buku III–V.
ii. Munculnya sejumlah duplikasi (pengulangan) dalam Kitab Mazmur
mengandung implikasi bahwa pengumpulan semua mazmur tidak terjadi
sekaligus.
▪ Mz 14 = Mz 53
▪ Mz 40:13–17 = Mz 70
▪ Mz 108 = Mz 57:7–11 + Mz 60:5–12
iii. Mazmur 42–83 biasanya dikenal sebagai "Mazmur Elohis" karena nama
Elohim (Allah) muncul lebih sering daripada YHWH (Tuhan) dalam mazmur2
tersebut. Fenomena yang khas ini mengimplikasikan bahwa suatu waktu
dalam sejarah (pembentukan) Kitab Mazmur, Elohim secara sistematis
menggantikan YHWH mungkin karena alasan doktrinal (bandingkan Mz 14:
2, 4 dengan Mz 53:2, 4; bandingkan “Akulah Allah, Allahmu" dalam 50:7 dan
"sebab itu, Allah, Allahmu" dalam 45:8). Distribusi berikut tentang pemakaian
kedua nama Ilahi dalam Kitab Mazmur mengindikasikan bahwa pemilihan
Elohim dalam Mazmur 42–83 bukanlah sesuatu yang kebetulan:
YHWH
Buku I (1–41)
Elohim
278
48
Buku II (42–72)
32
197
Buku III (73–89)
44
61
Elohis (73–83)
(13)
(45)
Non-Elohis (84–89)
(16)
Buku IV (90–106)
(31)
105
Buku V (107–150)
236
28
19
b. Pandangan G. H. Wilson terhadap Mazmur 72:20
Wilson mengajukan argumentasi melawan pandangan bahwa Mz 72:20 adalah bukti
paling penting bagi pengumpulan mazmur secara bertahap. Menurutnya, kesulitan
utama untuk mempertahankan teori pengumpulan bertahap adalah eksistensi Mazmur
Elohis (Mz 42–83). Ciri utama mazmur2 tersebut, yaitu pemakaian Elohim yang lebih
dominan terhadap YHWH, membedakan Mz 42–83 sebagai suatu unit literatur,
sehingga Mz 1–72, seperti bentuknya yang sekarang, tidak dapat disebut sebagai
koleksi awal yang membedakan dengan koleksi berikutnya. Bagaimanapun juga,
Mazmur Elohis tidak begitu saja menggugurkan teori pengumpulan bertahap, karena
sangat mungkin Mazmur Elohis dimasukkan ke dalam Buku III (Mz 73–89) setelah
Buku II telah menjadi lengkap.
c. W. Zimmerli berpendapat bahwa bentuk final Kitab Mazmur berisi banyak
pasangan mazmur yang dihubungkan dengan kata2 kunci atau tema2 yang sejenis.
Berikut ini adalah pasangan mazmur yang diperhatikan oleh Zimmerli:
6
Mz 1–2, 3–4, 9–10, 30–31, 31–32, 32–33, 38–39, 39–40, 40–41, 43–44,
69–70, 73–74, 74–75, 77–78, 79–80, 80–81, 105–106, 111–112, 127–128.
(4) Pandangan Terkini tentang Komposisi dan Penyusunan Kitab Mazmur
a. H. Gunkel and S. Mowinckel
Dua ahli ini menentukan arah pelajaran tentang Mazmur di dunia akademis
selama beberapa dekade. Namun, kontribusi mereka terhadap studi tentang
Mazmur terutama tentang klasifikasi dan latar belakang ibadah dari mazmur2.
Kita akan mendiskusikan pendekatan mereka secara mendetail dalam pembahasan
terkemudian.
.
b. C. Westermann
i. Westermann mempresentasikan proposal penting bagi penafsiran Mazmur
secara keseluruhan. Dia mencatat bahwa Buku I–III terutama berisi keluhan2
dan Buku IV–V terutama tentang puji2an. Dia kemudian menyimpulkan
bahwa Kitab Mazmur secara keseluruhan menampilkan pola perkembangan
dari keluhan menuju pujian. Bagaimanapun juga, ini hanyalah kecenderungan
umum dan bukan pola/aturan yang kaku.
ii. Dia juga beranggapan bahwa Mz 1 dan 119 menunjukkan indikasi yang
jelas tentang perubahan utama dari pemahaman Mazmur dalam kaitan dengan
kultus ibadah menuju perlakuan terhadap Mazmur sebagai buku yang harus
dibaca, dipelajari dan direnungkan. Dia berargumentasi, pada suatu tahap
tertentu, demi untuk menekankan natur Kitab Mazmur sebagai Firman Tuhan
terhadap umat manusia, Mz 1 dan 119 telah ditempatkan pada bagian
permulaan dan akhir dari Mazmur, yang menandai ciri keseluruhan kitab.
iii. Menurut beliau, ketika di masa kemudian Kitab Mazmur menjadi lengkap
dalam bentuknya yang final, doksologi di setiap penutup dari 5 bagian
Mazmur (Pss 41, 72, 89, 106, 150) ditambahkan untuk membuat pembagian
seperti sekarang ini.
c. B. Childs
i. Childs memiliki pandangan yang mirip dengan Westermann tentang bentuk
kanonik Kitab Mazmur. Dia berkata bahwa Mz 1 dan 2 berfungsi sebagai
pendahuluan bagi keseluruhan Kitab, dan bahwa mereka menandai perubahan
penafsiran Mazmur dari kultus ibadah menjadi sebuah buku yang harus
dibaca.
.
ii. Dia berargumentasi bahwa selain Mz 1 dan 2, beberapa Mazmur yang lain,
khususnya Mz 19:9–15 (Inggris: 8–14) memberikan indikasi bahwa doa2
sekarang berfungsi sebagai Firman Allah itu sendiri. Jika seseorang
mempelajari Mazmur, dia akan dituntun kepada jalan menuju berkat
.
d. G. H. Wilson
Wilson membuat usaha yang sistematis untuk menunjukkan bahwa Mazmur dalam
7
bentuk finalnya memberikan bukti tentang eksistensi karya editorial tunggal dan
memiliki tujuan khusus. Dia berargumentasi bahwa Mazmur2 Raja mungkin secara
sengaja ditempatkan dalam “lapisan2” Buku I–III untuk mengekpresikan
perkembangan tema yang progresif tentang Raja dan Perjanjian Daud (Mz 2, 72, dan
89). Berikut ini adalah ringkasan penjelasannya tentang aktifitas editorial dengan
menggunakan Mazmur2 Raja di tempat2 yang penting dan strategis untuk
menunjukkan perkembangan ide yang progresif tentang Dinasti dan Perjanjian Daud:
:
i. Buku I (1–41): Pendirian Perjanjian Tuhan dengan Daud (Mz 2)
▪ Hampir semua mazmur dalam Buku 1 dihubungkan dengan Daud.
Sebagai pengecualian adalah Mz 1, 2, 10, dan 33. Secara umum disetujui
bahwa Mz 9 dan 10 berhubungan erat (kedua mazmur ini menggunakan
kata negatif yang khusus yaitu bal [] dan Mz 32 dan 33 juga
berhubungan karena adanya kalimat yang hampir identik, 32:11 dan 33:1).
▪ Latar belakang Mz 2 kemungkinan adalah penobatan Daud sebagai
Raja, sehingga secara alami itu ditempatkan sebelum "Mzmur2 Daud "
yang dimulai dengan Mz 3.
▪ Mazmur 1 menjadi pendahuluan Buku I demikian juga bagi
keseluruhan Kitab Mazmur.
▪ Mazmur 2 menampilkan pendirian Perjanjian Tuhan dengan Daud
sebagai tema utama dalam Buku I.
ii. Buku II (42–72): Peralihan Perjanjian kepada Salomo (Mz 72)
▪ Pengarang mazmur2 dalam bagian ini juga ditekankan:
Mz 42/43–49
Mazmur Korah
Mz 50
Mazmur Asaf
Mz 51–65, 68–70
Mazmur Daud
Mz 66, 67, 71
Tidak ada Pengarang
Mz 72
Mazmur Salomo
▪ Buku II adalah bagian dari Mazmur Elohis (42–83)
▪ Mazmur terakhir (Mz 72) mendoakan peralihan perjanjian kepada
keturunan Daud.
iii. Buku III (73–89): Keluhan kepada Tuhan tentang Perjanjian Daud yang
kelihatannya terputus (Mz 89)
▪ Buku III hanya berisi satu Mazmur Daud:
Mz 73–83
Mazmur Asaf (Mazmur Elohis)
Mz 84, 85, 87, 88
Mazmur Korah
Mz 86
Mazmur Daud
Mz 89
Mazmur oleh Etan
▪ Mazmur terakhir (Mz 89) berisi keluhan kepada Tuhan tentang
Perjanjian Daud yang kelihatannya terputus. Mazmur 2 berisi tentang
pembuatan Perjanjian Daud dan Mz 89 mempertanyakan
8
penggenapannya.
.
iv. Buku IV (90–106): Tuhan sebagai Raja Israel di masa lalu dan masa depan
(Mz 93, 95–99, Mazmur Tuhan sebagai Raja)
▪ Situasi tentang kepengarangan secara drastic berubah (13 dari 17
Mazmur tanpa pengarang):
Mz 90
oleh Musa
Mz 101, 103 oleh Daud
Mz 102
oleh orang yang tertindas
▪ Buku IV adalah jawaban terhadap pertanyaan yang disampaikan dalam
Mz 89 dalm Buku III.
Mz 90: "Tuhan telah menjadi tempat perteduhan kami jauh
sebelum masa Daud "
Mz 91: "Tuhan adalah tempat perteduhanku"
Mz 92 berfungsi sebagai penghubung Mz 90–91 dan Mazmur
Tuhan sebagai Raja (Mz 93, 95–99).
Mz 93, 95–99: "Mazmur Tuhan sebagai Raja"
Mz 105–106: Tema tentang Musa (105:23–45; 106:7–33)
▪ Mazmur2 dalam Buku IV memberikan harapan bagi Israel dengan
mengindikasikan bahwa Tuhan telah menjadi Raja Israel di masa lalu (Mz
90), dan Dia akan tetap menjadi Raja di masa depan (Mz 93, 95–99).
▪ Mazmur terakhir berisi tentang doa kepada Tuhan bagi restorasi dari
pembuangan (Mz 106:47).
v. Buku V (107–150): Mazmur Daud dan Mazmur Haleluya
▪ Sekali lagi, kepengarangan tidak ditekankan (27 dari 44 mazmur tanpa
judul), namun Mazmur Daud mengambil posisi penting (11 mazmur).
▪ Mazmur 107 berfungsi sebagai penghubung antara Buku IV dan V,
Mengimplikasikan bahwa jika rakyat bersandar pada Tuhan, restorasi
akan dijamin. Untuk tujuan ini, ketaatan terhadap hukum Tuhan adalah
mutlak sifatnya (Mz 119).
▪ Buku V menunjukkan struktur sbb:
107
108-110
111-117
118
119
Mz 107
Mz 108–100
Mz 111–117
Mz 118
120-134
135-137
138-145
146-150
penghubung antara Buku IVdan V
Mazmur Daud
Mazmur Haleluya
penghubung antara Mazmur Haleluya dan
Mazmur Ziarah (120–134)
Mz 119
Mazmur Taurat, pusat Buku V
Mz 120–134 Mazmur Ziarah
Mz 135–137 penghubung antara Mazmur Ziarah dan Mazmur
Daud
9
Mz 138–145 Mazmur Daud
Mz 146–150 Mazmur Haleluya
▪ Menurut Wilson, kitab Mazmur berisi peninjauan kembali peristiwa
historis dalam Buku I–III, dan menunjukkan pola perkembangan yang
progresif dari nasihat menuju pengharapan dalam Tuhan di dalam Buku
IV dan V.
e. K. Seybold
i. Menurut Seybold, koleksi mazmur terdahulu terdiri dari Mz 3–41, yang
dianggap berasal dari Daud sebagai pengarang. Selain Mazmur 10 dan 33
yang tanpa nama pengarang, mazmur2 yang lain dihubungkan dengan Daud
karena ada kaitan linguistik dengan Mazmur 9 dan 32.
ii. Koleksi kedua dari Mazmur Daud terdiri dari Mazmur 51–72 (Mz 66, 67,
dan 71 termasuk di dalamnya). Mazmur Daud dalam koleksi ini dicampur
dengan mazmur2 oleh 2 penyanyi Bait Allah, Asaf dan anak2 Korah. Pertama,
mazmur Asaf ditempatkan sebelum dan sesudah Mazmur Daud. Mazmur 50
ditaruh sebelum koleksi kedua karena berfungsi sebagai pendahuluan dan Mz
73–83 ditempatkan di akhir koleksi.
iii. Kemudian, Mazmur Korah ditambahkan pada koleksi Mazmur Asaf dan
Daud. Mazmur Korah (42–49 dan 84–88) membentuk kerangka dasar bagi
koleksi tersebut. Mazmur 86 yang termasuk Mazmur Daud terletak di tengah2
Mz 84–88. Tahap pertama dan kedua dari pandangan Seybold tentang
komposisi Kitab Mazmur dapat dilihat seperti gambar di bawah ini:
Davidic
3-41
Korahite
42-49
Asaphite
50
Davidic
51-72
Asaphite
73-83
Davidic
Korahite
84-85
86
Korahite
87-88
iv. Pada tahap ketiga pembentukan kitab Mazmur, Mazmur 2 dan 89
ditambahkan ke Mazmur 3–88. Mazmur 2 harus diletakkan di permulaan
koleksi Daud karena tema mazmur tersebut adalah Perjanjian Daud. Mazmur
89 ditambahkan di akhir Mz 3–88 karena pengarang Mazmur 89 adalah Etan
yang adalah penyanyi di Bait Allah bersama2 dengan Heman dan Asaf. Lebih
jauh, Perjanjian Daud adalah tema dari Mz 89. Jadi Mazmur 2 dan 89
membentuk kerangka yang lebih besar bagi keseluruhan koleksi mazmur Daud
dan penyanyi2 Bait Allah.
v. Seybold tidak mampu menampilkan penjelasan sistematis bagi komposisi
Buku IV–V (90–150). Dia mengakui bahwa komposisi 2 Buku terakhir terlalu
kompleks untuk dijelaskan secara logis.
f. Brueggemann dan McCann
i. Pemahaman mereka tentang keseluruhan struktur Kitab Mazmur pada
10
dasarnya sama dengan Westermann: keseluruhan struktur kitab menunjukkan
perkembangan progresif dari keluhan menuju pujian.
ii. Dua ahli ini menunjuk pada 3 mazmur penting yang menjelaskan
bagaimana perkembangan tersebut terjadi. Ketiga mazmur tersebut adalah Mz
1 (permulaan), 73 (pusat), dan 150 (akhir):
▪ Mazmur 1: ketaatan terhadap Taurat diperlukan bagi semua orang yang
menjadi Kitab Mazmur
▪ Mazmur 73: Krisis keyakinan karena kemakmuran orang fasik
▪ Mazmur 150: Pujian kerendahan hati kepada Tuhan
3. Asal Mula Mazmur
(1) Problema Pengarang
a. Secara umum tradisi yang diterima di kalangan Kristiani dan Yahudi menyebutkan
bahwa Mazmur ditulis oleh Daud. Contoh yang baik tentang tradisi seperti itu adalah
Mz 95, yang dikutip dalam Ibrani 4:7 dalam PB sebagai Mazmur Daud meskipun
pengarangnya tidak diketahui dalam PL.
b. Studi terkini tentang judul/kalimat pendahuluan Mazmur menyingkapkan
penemuan baru berkenaan dengan kepengarangan. Menurut B. K. Waltke, beberapa
jenis judul/kalimat pendahuluan telah menjadi kata2 tambahan dari mazmur terdahulu
(misal, Hab 3 dan Ps 88).
c. Berikut ini adalah judul bagi 116 mazmur sementara tidak ada informasi yang
diberikan bagi 34 mazmur:
Daud
Salomo
Musa
Asaf
Anak2 Korah
Heman
Etan
Tidak ada pengarang
juga tanpa judul
73 mazmur
2 mazmur (Mz 72, 127)
1 mazmur (Mz 90)
12 mazmur (Mz 50, 73–83)
11 mazmur (Mz 42, 44–49, 84–85, 87–88)
1 mazmur (Mz 88)
1 mazmur (Mz 89)
34 mazmur (Mz 1, 2, 10, 33, 43, 71, 91, 93–97,
99,
Judul tanpa pengarang
104–107, 111–119, 135–137, 146–150)
16 mazmur (Mz 66, 67, 92, 98, 100, 102, 120,
121,
123, 125, 126, 128–130, 132, 134)
"Untuk pemimpin biduan"
()
lebih dari 50 mazmur
d. Penggunaan  ()
i.
Kata depan  digunakan dengan nama individu: misal,
11
 () "bagi/kepada/oleh Daud."
ii. Digunakan dengan judul "pemimpin biduan/koor":  ().
iii. Digunakan dengan suatu kelompok, "anak2 Korah" 
() dalam Mz 42:1
iv. Digunakan untuk hari tertentu:  () "untuk hari
Sabat dalam Mz 92:1.
v. Digunakan untuk orang tertentu:  () "untuk/oleh yang tersiksa"
dalam Mz 102:1.
(2) Mazmur dan Daud
a. Menyadari pemakaian yang luas tentang kata depan Ibrani dalam judul Mazmur,
tidak jelas apakah rumus  sejak semula mengindikasikan Daud sebagai
pengarang. Bagaimanapun juga, tradisi dalam PL menyaksikan adanya indikasi
bahwa Daud adalah pemusik besar yang menyusun banyak lagu, menemukan
instrument musik, dan mendirikan kelompok2 penyanyi di Bait Suci:
i. Daud adalah pemain harpa yang terampil (1 Sam 16:14–23)
ii. Daud adalah penyanyi yang disenangi (2 Sam 23:1)
iii. Daud menemukan instrument musik (Amos 6:5)
iv. Daud memilih para penyanyi dan pemusik (1 Taw 15:16–24; 16:7, 37)
v. Tradisi terkemudian menyebutkan bahwa Daud menyusun total 4,050
mazmur dalam roh kenabian (11QPsa)
b. Tradisi kepengarangan Daud dikuatkan di sejumlah mazmur melalui referensi2
biografis yang tepat yang meletakkan mazmur dalam kehidupan aktual Daud (misal,
Mz 3, 7, 34, dan khususnya 51–72).
i. "Mazmur Daud ketika dia lari dari anaknya Absalom" (Mz 3)
ii. "Keluhan Daud, dimana dia bernyanyi untuk Tuhan karena Kush, orang
Benyamin itu" (Mz 7)
c. Akhir Mz 72:20 (meskipun judulnya menghubungkan mazmur ini dengan Salomo)
menyebutkan: "Sekianlah doa2 Daud bin Isai." Akhir ini mengindikasikan bahwa
tradisi mengkaitkan Buku I dan II dengan Daud.
d. Beberapa ahli (misal Childs) berpikir bahwa usaha menghubungkan Mazmur
dengan Daud adalah langkah untuk membuat mazmur2 memiliki ciri yang universal
dalam rangka menciptakan konteks hermeneutis yang lebih luas (agar dapat
mengaplikasikan mazmur ke dalam kehidupan seseorang secara pribadi). Dengan kata
lain, Daud menjadi simbol bagi siapa saja.
(3) Bagaimana Mazmur Terbentuk?
a. Pertama2, mazmur2 terbentuk dalam situasi kehidupan yang aktual. Kebanyakan
mazmur tidak terbentuk seperti literatur2 jaman kita terbentuk. Mazmur2 adalah doa2
yang dikatakan dengan suara keras di tengah2 publik (Hana ditegur oleh imam karena
dia berbicara tidak jelas), dan doa2 juga dinyanyikan dengan menggunakan instrumen
12
musik. Jadi, dapat dikatakan bahwa mazmur2 berasal dari ibadah Israel (misal,
"nyanyian baru" dalam Mz 40:1–3).
b. Mazmur2 bukan ditulis dan kemudian dinyanyikan, melainkan pertama2
dinyanyikan dan didoakan dalam konteks ibadah untuk waktu yang lama sebelum
akhirnya dituliskan.
i. Keluhan Komunal. Krisis nasional yang besar, masa kekeringan, ancaman
serangan musuh, atau bencana membawa umat kepada Tuhan dalam keluhan.
Karena hal2 tsb, mazmur keluhan komunal bermunculan.
ii. Pujian Komunal. Dengan cara yang sama, kemenangan atau pembebasan
dari musuh membuat umat membawa ucapan syukur kepada Tuhan. Dari
kondisi tsb, mazmur pujian komunal berkembang pesat.
iii. Keluhan Individu. Informasi di pembukaan mazmur keluhan individu
memberitahukan kepada kita bahwa asal mula mazmur2 tsb berasal dari
pengalaman2 krisis dan penyelamatan (misal Mz 3:1; Mz 18). Beberapa orang
sakit berdoa dari tempat tidurnya, dan para narapidana dari penjara mereka.
c. Asal mula mazmur akrostik secara pasti berbeda dari mazmur2 yang lain. Proses
penyusunan mazmur2 akrostik dipercaya terjadi secara mekanis dan formal,
kemungkinan di lingkungan dengan latar belakang sekolah/tempat studi (Mz 9–10;
25; 34; 37; 111; 112; 119; 145). Bagaimanapun juga, rasanya tidak mungkin untuk
berpendapat bahwa mazmur2 yang dibuatkan dengan huruf awal berurutan
dimaksudkan sebagai alat untuk mempermudah mengingat isinya.
4. Judul2 Mazmur
(1)  ()
a. Kata ini yang secara literal berarti "nyanyian" memiliki arti teknis, menunjuk pada
jenis nyanyian tertentu. Itu sering digunakan dengan  () di dalam judul
Mazmur 30; 48; 65–68; 75; 83; 87; 88; 92; 108. Dalam Mazmur 120–134 kata tsb
selalu muncul dalam frasa  () dalam kaitan dengan
ibadah di Bait Suci.
b. Itu dapat menunjuk pada nyanyian kultus dan ibadah untuk memuji TUHAN dan
tempat kudus-Nya. Semula, itu berarti nyanyian vokal.
(2)  ()
a. Muncul 57 kali, 35 di antaranya dalam kaitan dengan Daud:  atau
 ( or ).
b. Perbedaan antara  dan  adalah yang pertama () digunakan untuk
13
presentasi mazmur yang dinyanyikan (vocal cantilating presentation of a psalm)
sementara yang kedua () digunakan untuk menyanyi dengan diiringi
instrument musik.
(3)  ()
Judul ini muncul di Mz 120–134. Ada beberapa penjelasan tentang arti judul tersebut.
Beberapa pandangan yang paling memungkinkan adalah:
a.  dapat berarti "langkah2," memberikan indikasi bahwa nyanyian2 dengan
judul ini adalah "(nyanyian2 dengan langkah2) songs of the steps."
b.  dapat berarti "ziarah." Jadi, judul ini berarti "nyanyian2 ziarah."
(4)  ()
a. Kata ini, yang muncul di pembukaan Mz 16 dan 56–60, adalah salah satu yang
paling tidak jelas.
b. Beberapa opini adalah "permata emas" (Luther), "mazmur penebusan"
(Mowinckel), dan "pilar prasasti" (LXX dan terjemahan2 Targum).
(5)  ()
a. Ini muncul di pembukaan Mz 32; 42; 44–45; 52–55; 74; 78; 88–89; 142. Dari akar
katanya, diduga bahwa mazmur2 dengan judul ini adalah "nyanyian2 pengajaran."
b. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah "nyanyian yang disusun secara artistik dan
dengan keterampilan seorang ahli."
(6)  ()
Judul ini muncul dalam Mz 7, dan itu dapat berarti "ratapan," tetapi alasan mengapa judul
ini hanya diaplikasikan untuk Mz sama sekali tidak jelas.
(7)  ()
Arti dari kata ini adalah "pujian."
(8)  ()
Muncul dalam pembukaan 5 mazmur (17; 86; 90; 102; 142). Artinya "doa" dan ketika
diaplikasikan untuk mazmur, itu berarti doa keluhan atau syafaat.
(9)  ()
a. Kata ini bukanlah sebuah judul. Kata ini muncul 71 kali dalam 39 mazmur (missal,
3:3; 4:3, 5).
14
b. Ada berbagai penafsiran tentang kata ini: "menaikkan (suara, mata, atau musik),"
"mengulangi," atau "berlutut/bersimpuh" (dari bahasa Arab).
(10)  ()
a. Muncul 55 kali, sebagian besar dalam Mazmur 4–88 (Buku I–III). Beberapa
perkecualian ditemukan dalam Mz 109, 139, dan 140.
b. Arti kata kerja adalah tidak jelas (kemungkinan, "melakukan supervisi"). Dalam
banyak kasus, itu mengindikasikan mazmur2 ini dikaitkan dengan penampilan dalam
ibadah (misal, Mz 4).
(11)  ()
a. Muncul 23 kali dalam Mazmur Haleluya dalam Mz 104–150.
b. Di tempat lain dalam Alkitab, kata ini hanya ditemukan dalam Kitab Wahyu (19:1,
3, 4–6).
15
Studi-Studi Terkini Kitab Mazmur
1. Studi2 Kitab Mazmur Terdahulu
(1) Metode Personal/Historis
a. Dalam masa2 terdahulu, pendekatan yang dipakai untuk memahami Mazmur adalah
pendekatan personal atau historis. Jika mazmur menerangkan situasi khusus individu,
pertanyaan utama adalah, "Siapakah yang menulis mazmur dan dalam situasi
kehidupan yang seperti apakah itu ditulis?"
b. Ketika mazmur tidak berhubungan dengan individu melalui peristiwa historis,
penafsir mencari peristiwa historis bagi tanggal dan latar belakang historis
sesungguhnya bagi mazmur tersebut.
(2) Klasifikasi melalui Judul2
a. Cara sederhana untuk mendapatkan pemahaman terhadap mazmur adalah
mengelompokkan mazmur2 sesuatu dengan kepala surat, judul, atau kalimat judul.
Istilah2 yang paling umum adalah sbb:
i.  (): muncul 57 kali dalam kepala surat, dan 35 di antaranya
berhubungan dengan Mazmur Daud.
ii.  (): muncul 30 kali, menunjuk pada nyanyian2 Bait Suci.
Penggunaan yang paling mencolok adalah kemunculannya dalam kepala surat
Mazmur Ziarah.
iii.  (): muncul 13 kali dalam kepala surat, beberapa di antaranya
terdapat dalam koleksi Korah (Mz 42, 44, 54, 88, 89) dan dalam koleksi Daud
kedua (52–55).
b. Metode yang menggunakan kepala surat untuk mengklasifikasi mazmur tidak
banyak menolong untuk memahami mazmur2 tersebut.
(3) Klasifikasi berdasarkan Isi
a. Mengingat ketidakmampuan metode sebelumnya, para pembaca dan penafsir
Mazmur membutuhkan metode yang lain. Metode yang baru adalah mengumpulkan
dalam satu kelompok mazmur2 yang memiliki pokok pembicaraan yang sama atau
serupa.
b. Sebagai contoh, gereja mula2 mengenal kelompok tujuh Mazmur Penebusan (atau
7 Mazmur Penyesalan): Mz 6; 32; 38; 51; 102; 130; 143. Atau mazmur2 yang dibagi
dalam mazmur-Kami, mazmur-Saya, atau mazmur-Musuh, dll.
c. Ketepatan dan kegunaan jenis pengelompokan ini diperdebatkan. Bahkan, dalam
system klasifikasi ini, bentuk literature mazmur tidak disadari dengan serius.
16
2. Kritik Bentuk oleh Hermann Gunkel
(1) Kritk Bentuk oleh Gunkel
a. Gunkel dikenal sebagai salah seorang ahli yang paling penting dalam studi biblika
berkenaan dengan metodenya, kritik bentuk, yang telah terbukti valid dan masuk akal
setelah pengujian bertahun-tahun. Meskipun dia dipengaruhi oleh metodologi kritik
historis yang disampaikan oleh Julius Welhausen, dia diyakinkan bahwa kritik historis
tidak memadai untuk menuliskan sejarah literatur Israel karena pengetahuan kita
tentang tanggal mendasar bagian2 PL sangat terbatas.
b. Karena Gunkel juga tertarik dalam penulisan sejarah PL, dia mengusulkan cara lain
dalam memandang literatur Israel, yang menekankan cara2 pembicaraan dalam
nuansa2 mereka. Prosedur dari kritik bentuknya dapat diringkas sebagai berikut:
i. Seseorang harus mengisolasi unit literatur individu dengan menentukan
permulaan dan akhirnya.
ii. Setelah sebuah unit telah ditentukan, sangat penting untuk
mengidentifikasi tipe atau genre (Gattung) dengan mengamati karakteristik2
formal, gaya, cara pembentukan, terminology, dan gambaran2 retorik.
iii. Setelah genre literatur diidentifikasi, kemudian asal mulanya harus dilacak
kembali kepada asalnya dalam tahapan rumusan sebelum literature (atau
tahapan lisan) dalam rangka untuk mengetahui latar belakang kehidupan (Sitz
im Leben).
Misal,
▪ Nyanyian2 kemenangan dinyanyikan bagi pahlawan setelah pulang
dari peperangan
▪ Nyanyian2 penguburan pada waktu pengusungan jenasah
▪ Nyanyian2 pujian dinyanyikan di seputar Bait Suci
▪ Perkara2 hukum diadili pada pintu2 gerbang
▪ Ucapan2 nubuatan diberitakan di tempat2 umum (pasar)
▪ Ritual imam di bagian luar Bait Suci
(2) Kritik Bentuk Gunkel dalam Studi Mazmur
a. Metodologi kritik bentuk Gunkel berhubungan dengan Mazmur sepenuhnya diakui
dalam buku pendahuluannya Introduction to Psalms (edisi Inggris terbit tahun 1998,
diterjemahkan dari edisi Jerman Einleitung in die Psalmen yang muncul satu tahun
setelah kematiannya di tahun 1932).
b. Memperhatikan banyaknya referensi dalam mazmur tentang aktifitas2 ibadah
(menyanyi, menari, berteriak, memberikan kurban, doa, dll), Gunkel menyimpulkan
bahwa Mazmur berhubungan dengan ibadah public dari Israel kuno daripada tentang
perenungan orang saleh secara individu2. Jadi, dia mengusulkan bahwa jika seseorang
mengidentifikasi genre mazmur, 3 kondisi berikut harus dipenuhi:
i. Mazmur berkaitan dengan peristiwa spesifik dalam ibadah (latar belakang
kultus yang seragam).
17
ii. Mazmur2 yang tergabung dalam satu kelompok pasti mengindikasikan
pemikiran2 yang umum dan suasana2 yang berasal dari latar belakang
kehidupan (Sitz im Leben), atau yang dapat dengan mudah dihubungkan
dengannya.
iii. Mazmur2 individu yang tergabung dalam satu kelompok pasti memiliki
“bahasa yang umum yang berhubungan dengan bentuknya."
c. Satu hal perlu dicatat dalam metode Gunkel adalah bahwa tidak ada satu
mazmurpun yang mewakili "tipe" yang sepenuhnya ideal. Dalam satu atau lain cara
semua mazmur kelihatannya memiliki variasi dari model mazmur yang telah
direkonstruksi.
(3) Tipe2 Mazmur menurut Gunkel
a. Delapan tipe utama (mayor)
i.
ii.
iii.
iv.
v.
vi.
vii.
viii.
Nyanyian Pujian
Nyanyian Penobatan Tuhan sebagai Raja
Keluhan Komunal
Mazmur Raja
Keluhan Individu
Ucapan Syukur Individu
Elemen3 Nubuatan dalam Mazmur
Hikmat dalam Mazmur
b. Tipe-tipe minor
i.
ii.
iii.
iv.
v.
vi.
vii.
Berkat dan Kutuk
Nyanyian Ziarah
Nyanyian Kemenangan
Ucapan Syukur Israel
Legenda
Taurat
Tipe2 Campuran
(4) Kesimpulan
a. Posisi Gunkel adalah bahwa bermacam2 tipe Mazmur lahir dari ibadah namun
bentuk aslinya sebagian besar saat ini sudah hilang. Mazmur2 yang masih adalah
dalam Kitab Mazmur meniru tipe2 asli tersebut telah telah ditulis pada waktu
mazmur2 tidak lagi digunakan dalam latar belakang ibadah yang asli. Posisi ini
sekarang dipertanyakan oleh banyak ahli.
b. Kontribusi Gunkel terlihat dalam fakta bahwa ahli2 mengikuti pimpinannya dalam
satu atau lain cara dan memulai dengan klasifikasi. Klasifikasinya mungkin
bervariasi, tetapi sebagian besar setuju bahwa Kitab Mazmur berisi nyanyian pujian
dan keluhan seperti halnya mazmur individu dan komunal.
18
c. Mengklasifikasi mazmur2 menurut tipe menolong untuk mengorganisasi studi kitab
ini sementara membaca Kitab Mazmur dari Mazmur 1 sampai 150 membingungkan.
Mengorganisasi pembacaan menurut tipe mazmur adalah prosedur yang sangat
menolong. Klasifikasi ini adalah dasar bagi studi lebih lanjut.
3. Metode Fungsional Kultus: Sigmund Mowinckel
(1) Pandangan Mowinckel Melawan Gunkel
a. Mowinckel, murid Gunkel, mengakui bahwa Gunkel, dengan kritik bentuknya,
meletakkan dasar bagi pemahaman historis dan literature sesungguhnya terhadap
Kitab Mazmur. Faktanya, dia bukan hanya mengambil metode Gunkel sebagai titik
keberangkatan studinya sendiri terhadap mazmur, tetapi juga menekankan bahwa
dalam praktek kritik bentuk dan metode fungsional kultusnya tidak dapat dipisahkan
satu dengan yang lain.
b. Bagaimanapun juga, dia berbeda dari Gunkel berkenaan dengan relasi antara
mazmur dan ibadah. Gunkel menunjukkan bahwa mazmur2 asli yang lahir dari ibadah
di Bait Suci, namun berpikir bahwa mayoritas mazmur2 yang tersisa bukanlah
mazmur2 ibadah yang sesungguhnya. Menurutnya, mazmur2 itu adalah tiruan2 yang
“dirohanikan” dari bentuk lama mazmur2 ibadah yang sekarang hampir semuanya
hilang. Melawan pendapat ini, Mowinckel berargumen bukan hanya bahwa mazmur2
yang berasal dari ibadah tetapi bahwa sebagian besar mazmur di dalam Kitab kita
sekarang ini juga digunakan dalam ibadah dan dibentuk untuk tujuan ibadah juga.
(2) Contoh2 Penggunaan Mazmur dalam Ibadah
a. Tradisi Rabi yang terpelihara dalam Mishna dan Talmud tentang mazmur2 yang
digunakan dalam berbagai peristiwa adalah ibadah adalah sbb:
i. Mazmur 92 digunakan untuk hari Sabat.
ii. Mazmur 44:24 mungkin digunakan pada persembahan kurban harian di
pagi hari ().
iii. Mazmur 120–134 dinyanyikan pada ritual pencurahan/pembasuhan air
pada perayaan hari ke-8.
iv. Mazmur 81 dinyanyikan pada Tahun Baru, hari pertama Tishri (yaitu
September-October).
v. Mazmur 30 dinyanyikan pada hari raya Dedikasi (Bait Suci yang kedua).
vi. Mazmur 113–118 (Hallel Mesir) dinyanyikan saat penyembelihan anak
domba Paskah.
b. Bukti internal juga mengindikasikan beberapa mazmur dibuat untuk tujuan
liturgical dan ritual:
i. Mazmur2 bagi prosesi perayaan hari2 raya:
▪ Mazmur 24 terbagi dalam 3 bagian utama yang digunakan selama
prosesi sepanjang jalan masuk ke Bait Allah, di depan pintu gerbang,
19
dan ketika prosesi melewati pintu gerbang.
▪ Mazmur 68:24ff. menerangkan tentang prosesi, termasuk para
penyanyi dan pemusik.
▪ Mazmur 118 juga dimulai di depan Bait Suci dan prosesi berbaris
melewati "Gerbang Kebenaran" dan mengelilingi altar/mezbah kurban
bakarn di bagian luar Bait Suci.
▪ Mazmur 132 menerangkan prosesi pengembalian Tabut Allah ke
tempat kudus di Zion.
▪ contoh2 lain: Mz 48:13ff.42:4.
ii. Tindakan2 ritual lainnya
▪ Mazmur 5:7 menyebutkan penyembah yang datang ke Bait Suci dan
membungkukkan diri di hadapan tempat kudus.
▪ Mazmur 26 mungkin digunakan bagi individu yang menyatakan
ketidakbersalahannya, mengelilingi altar di tempat kudus sambil
menyanyikan ucapan syukur kepada Tuhan. Pembicara
mendeklarasikan ketidakbersalahan pribadi dengan tindakan simbolis
penyucian tangan.
▪ Mazmur 51:9 menyinggung ritual penyucian dengan pemercikan
menggunakan hisop (bandingkan dengan Mz 95).
4. Studi2 Terkini setelah Kritik Bentuk
(1) C. Westermann
a. Westermann berargumen bahwa pada dasarnya ada 2 tipe mazmur dalam Kitab
Mazmur, pujian dan keluhan. Dia membagi pujian menjadi pujian deklaratif (mazmur
ucapan syukur oleh orang lain) dan mazmur deskriptif (nyanyian pujian oleh orang
lain).
b. dia juga membagi keluhan menjadi 2 sub bagian: keluhan individu dan keluhan
komunal.
(2) B. Childs
a. Childs memulai metode yang dikenal sebagai pendekatan kanonikal. Prinsip
penafsirannya adalah menghubungkan proses penafsiran dengan konteks kanonikal
Alkitab yang diindikasikan dengan bentuk final Alkitab.
b. Berhubungan bentuk bentuk final Kitab Mazmur, dia menunjukkan bahwa bentuk
masa kini Kitab Mazmur adalah hasil dari sejarah perkembangan yang panjang baik
20
dalam tahapan oral maupun literal (misalnya penyuntingan Elohis dalam Mz 43–83).
Dia juga menjelaskan bahwa ada faktor2 tertentu yang menyebabkan komunitas orang
percaya membentuk mazmur2 sesuai dengan kebutuhan:
i. Penekanan pada komunitas. Banyak mazmur menerangkan hidup individu,
tetapi ada bukti bahwa generasi berikut mengaplikasikan teks2 tersebut ke
dalam pengalaman komunitas (misal, 130:7–8; 25:22).
ii. Pengaruh dari pembuangan: Childs mencatat pandangan bahwa Israel kuno
menafsirkan ulang mazmur dalam terang pengalaman pembuangan di Babel
(misal, 22; 9; 10).
iii. Pengharapan masa depan: pengaruh pembuangan juga terlihat di dalam
penekanan pengharapan di masa depan (misal, Mz 69:34–36). Mazmur Raja
layak mendapatkan perhatian. Mazmur2 ini pada mulanya menunjuk pada
keturunan Daud di Yerusalem, namun dalam masa penyusunan lengkap Kitab
Mazmur, tidak ada raja di kota. Komunitas memahami mazmur raja sebagai
mazmur mesianis menyaksikan pengharapan bagi kerajaan mesianis.
iv. Karakter universal Kitab Mazmur: bahasa Kitab Mazmur secara universal
diaplikasikan dan diadaptasikan. Itu diadaptasi bagi kehidupan dan terbuka
pemakaiannya bagi orang banyak. Jenis bahasa seperti ini membuat aplikasi
teks2 ini memungkinkan bagi suatu komunitas yang tidak lagi terikat pada
kultus ibadah Yerusalem sebelum masa pembuangan.
v. Kalimat Judul Pembuka: Beberapa mazmur Daud memasukkan peristiwa2
historis dari kehidupan Daud (misal, Mz 51–63). Penjelasan2 historis seperti
itu menolong pembaca memimpikan isi dari mazmur2 dalam latar belakang
yang khusus. Kemudian para pembaca dapat melihat bagaimana mazmur2 ini
dapat berfungsi dala latar belakang serupa di dalam kehidupan mereka sendiri.
Kalimat judul pembuka menolong komunitas orang percaya mengaplikasikan
ulang teks2 ini sebagai nyanyian2 iman bagi setiap orang.
(3) James L. Mays
Mays membangkitkan pertanyaan apakah ada konteks dalam Kitab Mazmur yang dengannya
mazmur2 individu dapat ditafsirkan. Hampir mustahil dalam studi biblika bahwa eksegese
dapat dilakukan tanpa konteks kitab dimana sebuah teks ditemukan. Dalam masa lalu,
perkecualian diberikan bagi Mazmur dan Amsal sebab mereka dianggap sebagai kitab dengan
penyusunan independen dengan hubungan yang minim dengan kitab secara keseluruhan.
Pemahaman ini perlahan berubah dan kelihatannya ucapan2 hikmat dalam amsal yang
mazmur yang kelihatannya independen sekarang ditafsirkan dalam konteks keseluruhan
kitab. Pertanyaan Mays harus dipahami dalam konteks perkembangan studi akademis para
ahli.
Sesuai dengan pendekatan baru untuk menemukan konteks Kitab Mazmur, Mays
mengusulkan 5 elemen yang harus disadari:
a. Mazmur 1 dan 2 sebagai tema interpretative bagi Kitab Mazmur
21
Ini adalah pendahulan bagi keseluruhan kitab, pembukaan di dalam Kitab Mazmur
dengan implikasi bahwa 5 bagian adalah sejenis Taurat. Mays mengusulkan bahwa
tema2 dari 2 mazmur ini, Taurat (Mz 1) dan Tuhan sebagai Raja (Mz 2), harus
digunakan untuk memahami mazmur2 yang lain, seperti Mazmur 89 dalam Buku
III dan kedatangan Tuhan sebagai Raja dalam Mazmur 93–100.
b. Perubahan dalam konsep dan penggunaan genre2
Mazmur 30, yang adalah nyanyian ucapan syukur bagi individu, dipahami dengan
judulnya, "Bagi dedikasi Bait Suci," yang menunjuk pada pembebasan umat dari
pembuangan. Inilah bukti untuk pembacaan ulang mazmur bagi penggunaan dan
jemaat yang berbeda. Judul Mazmur 51 mengindikasikan bahwa ini semula adalah
doa pengakuan dosa Daud, tetapi memiliki element bagi penggunaan komunitas
dan pengharapan bagi restorasi bangsa (51:20–21).
c. Dari iring2an ritual menuju kepada instruksi/pengarahan
Mazmur2 tertentu menunjukkan maksud instruksional dalam teks,
mengimplikasikan ini sebagai perkembangan dari penampilan dalam kultus ibadah
menjadi penampilan yang bersifat pedagogik (mengajarkan sesuatu). Contohnya
adalah Mz 33, 32, and 34.
d. Kombinasi dan konsolidasi genre, topic dan motif
Mazmur 19 mengkombinasikan 3 topik dan gaya penulisan dalam kesatuan.
Mazmur 119 adalah kombinasi banyak genre dan topik. Mazmur 136 dan 145
terhubung oleh cara mereka yang umum untuk memuji tindakan Allah yang
megah. Mazmur 103 dan 104 juga terhubung sebagai suatu pasangan karena
ekspresi unik, "Diberkatilah Tuhan, hai jiwaku." Yang pertama adalah pujian
terhadap perlakuan Tuhan terhadap orang2 berdosa, dan yang kedua adalah tentang
hikmat Tuhan dalam penciptaan dan pemeliharaan-Nya bagi semua ciptaan.
e. Mazmur2 dalam referensi dengan kitab2 dalam Alkitab
Mazmur 136 merefleksikan Kej 1 (ayat 6–9), Kel 14 (ayat 13–15), dan Bilangan 21
(ayat 17–22). Mazmur 118 mengutip Keluaran 15:2 (ayat 14) dan Mz 103:8 adalah
kutipan dari Keluaran 34:6.
(4) W. Brueggemann
a. Klasifikasi Bruegemann tentang Kitab Mazmur
i. Mazmur2 Orientasi
Mazmur2 ini memberikan pengertian "berada dalam rumah." Mereka
mengekspresikan keteraturan, kebaikan dan stabilitas. Brueggemann
menyebutkan mazmur2 seperti itu sebagai Mazmur2 Orientasi. Mazmur2 yang
tergabung dalam tipe ini adalah Mazmur Penciptaan, Mazmur Taurat, dan
Mazmur Hikmat.
22
ii. Mazmur2 Disorientasi
Menurutnya, Mazmur2 Disorientasi menerangkan jatuhnya orientasi yang
lama, suatu situasi yang membahayakan. Mazmur2 keluhan termasuk dalam
tipe ini.
iii. Mazmur2 Orientasi yang Baru atau Reorientasi (Orientasi Ulang)
Mazmur2 ini mengekspresikan orientasi ulang dari disorientasi. Mazmur
Ucapan Syukur, Nyanyian2 Pujian atau Pujian2 dapat disebut Mazmur2
Reorientasi.
b. Pembacaan Mazmur secara Keseluruhan ala Brueggemann
i. Mazmur 1 ditempatkan secara sengaja pada permulaan dengan tujuan
menyediakan petunjuk bagi pembacaan secara keseluruhan. Pesan dari
mazmur itu adalah iman dalam Tuhan melalui ketaatan terhadap Taurat.
ii. Hal yang sama dapat dikatakan tentang Mazmur 150. Penempatannya
dalam kesimpulan kitab ini memiliki kesengajaan yang sama. Ketaatan pada
Taurat dalam Mazmur 1 harus berakhir dengan pujian yang absolute dalam
Mazmur 150.
iii. Pergerakan dari Mazmur 1 menuju Mazmur 150 (atau dari permulaan
dalam ketaatan menuju akhir dalam pujian) adalah sulit dalam kehidupan
sebenarnya dari orang Israel.
iv. Mazmur 72, mazmur terakhir dalam Buku II, adalah doa bagi kelanjutan
perjanjian Daud dalam masa Salomo. Itu juga merefleksikan keagungan
Salomo dan masa kemakmuran. Mazmur 72:20, bagaimanapun juga,
mengindikasikan bahwa akhir akan terjadi terhadap kemuliaan Salomo dan
Israel akan ada dalam pembuangan.
v. Sama seperti Mazmur 72 menandai akhir Salomo, mazmur berikutnya yaitu
Mazmur 73, memberitahukan kepada kita dimana iman dapat dimulai lagi.
Mazmur 73 berbeda secara drastis dari Mazmur 1 dalam argumennya yang
diperluas. Pemazmur menunjukkan sikap skeptic tentang iman di dalam Tuhan
(ayat 2–14), namun kemudian dia kembali dengan kuat untuk memiliki
keyakinan iman di dalam keadilan Allah (ayat 17–26). Mazmur 73
merefleksikan kekacauan yang dialami Israel setelah kejatuhan bangsa. Itu
adalah titik penting dan menentukan dalam pergerakan dari Mazmur 1 menuju
Mazmur 150.
vi. Setelah membaca Mazmur dengan cara seperti ini, penyetaraan secara lebih
luas dapat dibuat tentang rangkaian Mazmur 1, 72–73, dan 150. Kehadiran 2
tipe mazmur yang berbeda, keluhan/complain dan ucapan syukur/pujian antara
Mazmur 1 dan 150 adalah penjelasan kehidupan sesungguhnya di Israel.
23
Penggunaan Mazmur dalam Sejarah
1. Mazmur di antara Komunitas Gulungan Laut Mati
(1) Teks2 Mazmur Yang Ditemukan di Qumran
a. Sejak penemuan gua2 di wilayah Qumran di tahun 1947, tujuh dari 11 gua
menyimpan teks2 mazmur Ibrani. Distribusi penemuan teks2 mazmur adalah sbb:
i. Kira-kira 30 teks mazmur dari 7 gua
ii. 18 teks mazmur dari gua ke-4
iii. 5 teks mazmur dari gua ke-11
b. Arti penting teks2 ini bagi studi Mazmur Ibrani dipahami berdasarkan fakta bahwa
teks2 tersebut 1000 tahun lebih terdahulu dari teks2 Mazmur dalam MT. Karena
alasan tersebut, teks2 tsb sangat berharga bagi studi teks Alkitab Ibrani.
(2) Gulungan Mazmur dari Gua 11 (11QPsa)
a. 11QPsa adalah gulungan kulit yang besar yang ditemukan pada tahun 1956 dan
telah dibuka pada tahun 1961. Gulungan mazmur ini diserahkan kepada James A.
Sanders dari American School of Oriental Research untuk mempublikasikannya.
Deskripsi fisik dari gulungan itu adalah sbb:
i. Bagian ujung bawah dari gulungan itu terlihat usang dan bagian permulaan
dari gulungan itu hilang.
ii. Panjang gulungan yang tersisa kira-kira 13,5 kaki.
iii. Ada 28 kolom, dan masing2 kolom pada mulanya terdiri dari 21-23 baris.
iv. Masing2 kolom yang masih ada sekarang berisi antara 14-17 baris teks.
v. Gulungan tersebut mungkin telah disalin antara tahun 30–50 M.
b. 11QPsa memiliki 2 ciri2 penting:
i. Gulungan itu berisi semua atau sebagian dari 39 mazmur kanonik, namun
urutan mazmur2 itu berbeda dari teks Ibrani tradisional.
ii. Terdapat mazmur2 non kanonikal dalam gulungan itu, yang kemudian dikenal
sebagai Mazmur 151, 154, 155.
iii. Teks dari mazmur kanonikal dalam gulungan kadangkala berbeda dari teks
Ibrani tradisional.
(3) Urutan Mazmur dalam 11QPsa
a. Mazmur2 dalam gulungan disusun dalam urutan sbb: Mazmur 101–103; 109; 118;
104; 147; 105; 146; 121–132; 119; 135; 136; 145; 154 (non kanonikal); "Permohonan
Pembebasan" (non kanonikal); 139; 137; 138; Sir 51:13–30 (non kanonikal); 142;
143; 149; 150; "Nyanyian Pujian bagi Pencipta" (non kanonikal); 140; 134; 151A and
B (non kanonikal).
b. Penting untuk dicatat bahwa mazmur2 dalam 11QPsa berasal dari Buku IV dan V.
24
c. Mengingat urutan fragment2 Mazmur 6–69 yang ditemukan di Gua 4 adalah lebih
atau kurang dari urutan tradisional, dan bahwa urutan mazmur2 dari Gua 11 berbeda
dari teks tradisional, seseorang mungkin dapat menyimpulkan bahwa urutan mazmur
dalam Buku I dan II telah disusun terlebih dahulu daripada mazmur2 dalam Buku IV
dan V.
(4) Penjelasan2 tentang Urutan Mazmur dalam 11QPsa
a. Eksistensi gulungan yang berisi mazmur2 kanonikal dan non kanonikal bersama2
adalah bukti bahwa kanonisasi Mazmur belum lengkap pada satu sekte ini diam di
Qumran. Sebagai tambahan, urutan yang belum baku dari mazmur2 di Buku IV dan V
diyakini berdasarkan pada fakta ini.
b. Penjelasan lain adalah bahwa gulungan2 ini mungkin digunakan secara liturgical
untuk tujuan2 religius tertentu. Dalam kasus seperti ini, adalah mungkin bahwa sekte
yang tinggal di Laut Mati menyusun mazmur2 ini dalam urutan yang diharapkan bagi
peristiwa2 istimewa bersamaan dengan mazmur2 non kanonikal yang disenangi.
(5) Penggunaan Lain Mazmur2 dalam Komunitas Laut Mati
a. Satu tipe literatur yang mengutip Mazmur2 ini adalah Florilegium (bunga rampai,
yang dimaksud adalah 4Qflor atau 4Q174). Gulungan singkat ini berisi rangkaian
teks2 “pembuktian” dari PL dengan komentar2 dari komunitas. Tujuan dari bukti teks
seperti itu adalah untuk mengumumkan kedatangan 2 Mesias, Mesias dari
Daud/keturunan raja dan Mesias dari Harun/keturunan imam. Dalam gulungan ini,
Mazmur 1:1 dan 2:1 digunakan bersama2 dengan 2 Sam 7:10; Kel 15:17; 2 Sam
7:11–14; Amos 9:11; Yes 8:11; Yehez 44:10; dan Dan 12:10 (bandingkan dengan Ibr
1:5, dimana Mz 2:7 dan 2 Sam 7:14 dikutip untuk membuktikan Yesus sebagai
Messias).
b. 11QMelech yang menyebutkan karakter Alkitab yang misterius dari Melkisedek
(bandingkan dengan Kej 14 dan Mz 110:4) mengutip Mz 82:1–2 dalam rangka
menggambarkan dia sebagai hakim akhir bagi dunia.
c. Beberapa tafsiran pada mazmur2 tertentu telah ditemukan di sekitar gulungan2 Laut
Mati: tafsiran2 dari Mz 68 (Gua 1) dan Mz 37 (Gua 4).
d. Kelihatannya sekte di Laut Mati menggunakan Mazmur secara bebas dalam
dokumen2 mereka tanpa memberikan sumber2 yang akurat. Sebagai contoh, kita
dapat menemukan frasa, "seorang manusia di antara mereka yang mempelajari
Hukum siang dan malam" (Mz 1:2), dalam Community Rule (Peraturan Komunitas).
Fenomena ini umum terjadi dalam dokumen2 yang lain.
e. Pengaruh Mazmur terlihat dalam nyanyian2 pujian dan nyanyian2 yang dibuat
dalam komunitas. Contoh terbaik untuk menjelaskan hal ini adalah Nyanyian Pujian
Ucapan Syukur, kira2 berisi 25 himne dalam gulungan tunggal dari Gua 1. Masing2
himne dimulai dengan kata2 "Saya berterima kasih, ya Tuhan," dan berisi frasa2 yang
serupa yang ditemukan dalam mazmur2 dalam Alkitab.
25
2. Mazmur2 dalam Yudaisme
(1) Penggunaan Mazmur dalam Liturgi Yahudi
a. Diyakini bahwa liturgy Yahudi berkembang secara bertahap selama berabad-abad
setelah kejatuhan Yerusalem. Menurut Mishnah, mazmur2 yang berbeda2
dinyanyikan oleh kaum Lewi setiap hari dalam seminggu:
Minggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jum’at
Sabtu
Mazmur 24
Mazmur 48
Mazmur 82
Mazmur 94
Mazmur 81
Mazmur 93
Mazmur 92
b. Setiap berkat dimulai dengan Mazmur 119:12a, "Terpujilah Engkau, Ya TUHAN"
(, ). Di samping itu, ayat2 dari banyak mazmur
disampaikan dalam ibadah sinagog di pagi, sore, dan malam hari. Khususnya, ibadah
pagi selalu disimpulkan dengan Mazmur Hari Itu.
c. Dalam ibadah pagi untuk Sabat, pembacaan yang telah dipilih dari Taurat
disampaikan terlebih dahulu.Pembacaan Taurat diikuti oleh pembacaan yang sudah
diseleksi dari Nabi2 (dari Yosua sampai Maleakhi). Tergantung pada tradisi
Ashkenazic (keturunan komunitas Yahudi abad pertengahan di sepanjang Sungai
Rhine di Jerman, yang kemudian menyebar di daerah2 Eropa Timur) atau tradisi
Sephardic (orang2 Yahudi yang berasal dari Iberian Peninsula), Sembilan atau empat
belas mazmur disampaikan dalam ibadah pagi Sabat.
d. Mazmur biasanya juga digunakan secara ekstensif dalam 3 hari raya tahunan yang
utama:
i. Passover (atau Hari Raya Roti Tidak Beragi) pada bulan March/April
ii. Shavuot (Pentakosta atau Hari Raya Tujuh Minggu), 49 hari setelah Passover
iii. Sukkot (Hari Raya Pondok Daun atau Tabernakel) pada bulan
September/October
e. Pentingnya Mazmur dalam liturgy Yahudi dapat disimpulkan dari fakta bahwa total
57 mazmur digunakan dalam liturgi. Pembagian 57 mazmur tersebut berdasarkan
genre menunjukkan distribusi berikut: nyanyian pujian 15, Mazmur Tuhan sebagai
Raja 5, Mazmur Keyakinan 7, Mazmur Ucapan Syukur 7, dan Mazmur Hikmat 5.
(2) Penggunaan Mazmur dalam Literatur Yahudi.
a. Yang pertama adalah Mishnah, yang disusun pada akhir abad ke-2 M. Isi Mishnah
didasarkan pada penafsiran hukum2 dalam Pentateukh, kadangkala dengan nama
rabi2 secara individu. Itu terdiri dari 63 buku2 singkat, masing2 berkenaan dengan
topic tertentu. Instruksi2 pada topik2 tertentu, seperti berpuasa, termasuk bagaimana
menggunakan mazmur dalam peristiwa2 khusus.
26
b. Mazmur memiliki tempat istimewa dalam literature penting Yahudi yang lain,
Talmud. Itu adalah penafsiran terhadap Mishnah, dan lebih panjang dan luas
ukurannya daripada Mishnah. Itu terdiri dari "halakah" (materi hukum dan praktek)
dan "haggadah" (homiletika, materi2 homiletika dari Israel di masa lalu). Dua bagian
ini disebut Gemara (Bahasa Aram untuk "studi").
3. Penggunaan Mazmur dalam Dunia Kristen
(1) Bapa2 Gereja Mula-mula
a. Clement Pertama. Ini ditulis oleh Clement kira2 tahun 96 M dari Roma sampai
Korintus. Berisi 49 kutipan dari 32 mazmur.
b. Barnabas. Ditulis kira2 tahun 130 M. Memiliki selusin kutipan dari 10 mazmur.
c. Agustinus. Di antara ratusan khotbahnya yang terpelihara sampai sekarang,5
khotbah untuk Hari Natal mengutip Mazmur 8. Agustinus mencatat terutama ayat 4–
9. Ketika dia tergeletak karena sakitnya, dia meminta tujuh mazmur pengakuan dosa
(Mz 6; 32; 38; 51; 102; 130; 143) ditulis ulang dan diletakkan di tempat yang dapat
dilihatnya dari tempat tidurnya.
d. Ambrose. Dia menulis tafsiran Mazmur 44 ketika akhir hidupnya mendekat. Dia
meninggal ketika dia mencapai ayat 24, "Bangunlah, ya Tuhan. Mengapa Engkau
tertidur?"
(2) Tafsiran2 Mazmur
a. Tafsiran paling dini tentang Mazmur ditulis oleh Origen (185–254). Jerome (342–
420) juga menulis tafsiran singkat Kitab Mazmur.
b. Martin Luther (1483–1546)
i. Mengikuti usulan bapa yang menerima pengakuan dosanya (i.e. confessor),
dia mempelajari Alkitab untuk mendapatkan gelar doctor dan pada saat yang sama
waktu untuk meredakan kegundahan rohaninya. Hubungan formal pertamanya
dengan Mazmur adalah pengajarannya tentang pokok tersebut mulai tahun 1513–
1515, meliputi hampir keseluruhan Mazmur 1-126.
ii. Sejarawan gereja yang terkemudian berkomentar bahwa Luther menaruh
banyak perhatian terhadap Mazmur sepanjang karirnya. Perhatiannya bersifat
personal, perenungan, politik, eksegese, polemic, semuanya pada saat yang
bersamaan.
iii. Pemahaman Luther terhadap kanonitas Mazmur sangat mirip dengan ahli2
masa kini. Dia melaporkan bahwa Kitab Mazmur tidak menceritakan karya2
orang2 suci namun melaporkan kata2 mereka, bagaimana mereka berbicara
kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya.
iv. Luther menterjemahkan Alkitab dari bahasa asli Yunani dan Ibrani. Adalah
Luther yang dengan terjemahan Alkitabnya sungguh2 menciptakan bahasa Jerman
27
modern. Dia menterjemahkan PB terlebih dahulu, dan membicarakan terjemahan
Mazmur secara tersendiri di tahun 1524. Itu direvisi kemudian di tahun 1525,
1528, dan 1531.
v. Dia juga berkontribusi sangat signifikan terhadap buku nyanyian pujian
Jerman dengan menuli 23 nyanyian pujian. Himne terkenalnya "A Mighty Fortress
is Our God" (Ein feste Burg ist unser Gott) didasarkan pada Mazmur 46.
c. John Calvin (1509–1564)
i. Relasinya dengan Mazmur ditemukan dalam tafsiran2nya. Dia menulis
tafsiran Kejadian, harmoni sebagian Kitab Pentateukh, Yosua, Mazmur, Nabi
Besar dan Kecil, dan semua PB kecuali 2 dan 3 Yohanes dan Wahyu. Tafsiran
pertamanya pada Mazmur dipublikasikan dalam Bahasa Latin pada tahun 1557
dan Bahasa Perancis tahun 1558.
ii. Deskripsinya yang khas tentang Mazmur dengan baik diekspresikan dalam
pernyataan berikut: "Kitab Mazmur adalah anatomi seluruh bagian jiwa."
Sebabnya, semua jenis emosi manusia direpresentasikan dalam Mazmur.
iii. Calvin menemukan Mazmur sebagai refleksi pengalaman pribadinya. Dia
dengan hati2 mengidentifikasikan dirinya dengan Daud dengan berkata: "Karena
meskipun saya mengikuti Daud dari kejauhan, dan sangat jauh untuk disamakan
dengan dirinya, saya tanpa ragu membandingkan diri saya sendiri dengan dirinya."
4. Memahami Mazmur sebagai Puisi
(1) Karakteristik Puisi
a. Meskipun tidak mudah untuk mendefinisikan karakteristik puisi, secara umum,
ketika sepotong tulisan menampilkan ritme verbal secara berkelanjutan atau struktur
formal dengan prinsip yang beroperasi secara kontinu, itu dapat disebut sebagai puisi.
b. Tentang karakteristik puisi, orang dapat menyebutkan elemen2 yang berbeda, tetapi
satu elemen utama haruslah meter (irama). Meter adalah sistem dari suatu peraturan
berurutan tentang jumlah huruf hidup yang dibuat dengan sangat cermat. Itulah yang
membedakan puisi dari prosa.
c. Tidak seperti puisi Yunani-Romawi yang mana meter merupakan elemen yang
penting, karakteristik paling penting dan umum dari puisi Ibrani adalah paralelisme,
pengulangan kata2, frasa2, klausa2, atau kalimat2.
(2) Efek Puisi dalam Alkitab
a. Karena Mazmur pada dasarnya nyanyian dan doa, adalah alami kalau mereka
disusun dalam bentuk puisi. Namun mengapa nabi2 seringkali mengatakan pesan
mendesak mereka dalam puisi, bukan dalam bentuk prosa yang langsung jelas
maknanya?
28
b. Jawabannya ditemukan dalam kekuatan puisi. Puisi adalah komunikasi manusia
yang lebih baik untuk menarik minat seluruh orang dibandingkan dengan prosa. Itu
biasanya kalimat singkat, namun merangsang imaginasi kita, membangkitkan emosi
kita, member “makan” intelek kita dan menyapa kehendak kita.
(3) Bermacam Relasi antara Colon (atau baris) A dan Colon B dalam Paralelisme Ibrani
a. Hanya sebagai koma. Dalam kasus ini, tidak ada paralelisme semantic antara 2 cola
(Colon A dan colon B). Di sini penghentian antara hanyalah koma yang membagi
suatu baris ke dalam 2 unit yang kira2 sama.
Mz 80:5
A "O Tuhan Allah semesta alam,
B berapa lama lagi murka-Mu menyala sekalipun umat-Mu berdoa?"
b. Colon B sebagai kutipan. Dalam kasus ini, colon B adalah isi perkataan pemazmur
atau orang lain.
Mz 31:23 A Aku menyangka dalam kebingunganku:,
B “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu!'"
c. Urutan tindakan. Tindakan dalam colon B adalah kelanjutan dari colon A.
Mz 80:9 A "Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir,
B telah Kauhalau bangsa-bangsa, lalu Kautanam pohon itu."
d. Elemen pasangan. Ekspresi tertentu (biasanya kata2 pasangan) muncul dalam
kedua cola.
Mz 42:9
A "Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari,
B dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian,”
e. A dan B dalam paralelisme yang persis sama. Setiap istilah di colon A menemukan
paralelnya di colon B.
Ps 146:2
A "Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup,
B dan bermazmur bagi Allahku selagi aku ada."
f. Semua dalam B memberikan keterangan tambahan terhadap bagian dari A.
Mz 12:4
A "Biarlah Tuhan mengerat segala bibir yang manis,
B dan setiap lidah yang bercakap besar."
g. AB/B'C
Mz 50:4
A "Dia berseru kepada langit di atas,
B dan kepada bumi untuk mengadili umat-Nya."
h. A adalah pernyataan, B adalah pertanyaan
Mz 6:6
A "Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu,
29
B siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang
mati?"
(4) Paralelisme Utama dalam Puisi Ibrani
a. Paralelisme Sinonim. Ini adalah ciri puisi Ibrani yang paling sering dicatat. Dalam
paralelisme ini pemikiran dalam colon A diulangi, dikembangkan, atau ditekankan
dalam B.
Mz 6:2
A "Ya Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu,
B
dan janganlah mengajar aku dalam kepanasan amarah-
Mu."
b. Paralelisme Antithesis. Pemikiran yang sama diekspresikan dengan cara lain atau
pemikiran yang kontras.
Mz 1:6
A "sebab TUHAN mengenal jalan orang benar,
B tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan."
c. Paralelisme Sintesis. Pemikiran dalam colon A tidak diulangi, namun
dikembangkan, dilengkapi, atau ditambahkan.
Mz 40:1–3 "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN
Lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar jeritanku
Ia mengangkat aku dari lubang kebinasaan, dari lumpur rawa
Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku
Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku, untuk memuji Allah
kita."
d. Paralelisme Klimaks. Ini adalah kombinasi paralelisme sinonim dan sintesis,
dimana pemikirannya terlihat mendaki. Seringkali melibatkan 3 cola atau lebih.
Mz 93:3
"Sungai-sungai telah mengangkat, ya TUHAN,
sungai-sungai telah mengangkat suaranya,
sungai-sungai telah mengangkat bunyi hempasannya."
e. Paralelisme Chiasme. Ini untuk paralel yang urutannya dibalik atau disilangkan
dari kata, kalimat, atau unit literatur yang besar. Ini berguna bagi pemahaman struktur
dan perkembangan pemikiran suatu unit.
Mz 19:1
A Langit
menyatakan
kemuliaan
B dan pekerjaan tangan-Nya
memberitakan
cakrawala
Allah
(5) Penafsiran Puisi Ibrani
a. A ≠ B
b. A = B
c. A→B
Tidak mengakui puisi Ibrani
A adalah pengulangan dari B
B mengembangkan/melanjutkan pemikiran A
30
5. Penggunaan Mazmur dalam PL
(1) Untuk Berdoa
a. Bukti internal tentang mazmur sebagai doa
Mz 143:1
Mz 5:2–3
"Ya, TUHAN, dengarlah doaku,
berilah telinga kepada permohonanku!"
"Berilah telinga kepada perkataanku, ya TUHAN,
Indahkanlah keluh kesahku.
Perhatikan teriakku minta tolong, ya Rajaku dan Allahku,
Sebab kepada-Mulah aku berdoa."
b. Tempat berdoa
Mz 5:8
"Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar,
aku akan masuk ke dalam rumah-Mu,
sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus
dengan takut akan Engkau."
Mz 28:2
"Dengarkanlah suara permohonanku,
apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong,
dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang
mahakudus.”
c. Waktu Berdoa
i. Pagi (Mz 59:17; 119:147. Bandingkan dengan Mz 30:6; 46:6; 90:14; 143:8)
Mz 5:4 "TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku,
pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu dan aku
menunggu-nunggu."
Mz 57:9 "Bangunlah, kemuliaanku! Bangunlah harpa dan kecapi!
Aku akan membangunkan fajar."
Mz 88:14 "Tetapi aku ini, ya TUHAN, kepada-Mu aku berteriak minta tolong,
Di pagi hari doaku datang ke hadapan-Mu."
ii. Petang (bandingkan dengan Mz. 134:1 – malam)
Mz 141:2 "Biarlah doaku diatur adalah bagi-Mu seperti persembahan ukupan,
Dan tanganku yang terangkat seperti persembahan korban pada
waktu
petang.”
iii. Petang, pagi, dan tengah hari
Mz 55:18
menangis;
"Di waktu petang, pagi dan tengah hari aku cemas dan
31
dan Ia mendengar suaraku."
d. Posisi Berdoa
i. Sujud menyembah, sujud tunduk atau berlutut (Mz 5:8; 95:6)
ii. Mengangkat tangan (Mz 28:2; 141:2)
(2) Menyanyi
a. Sejumlah referensi dalam kepala surat dan nama2 instrumen musik dalam Kitab
Mazmurc menegaskan bahwa mazmur dipakai untuk menyanyi:
Instrumen tali/senar ()
Instrumen tali/senar ()
Instrumen tali/senar ()
Seruling ()
Rebana ()
Harpa/Gambus ()
Kecapi ()
Ceracap/cymbals ()
Sangkakala ()
Terompet/nafiri ()
Mz 4:1; 6:1; 54:1; 55:1; 67:1; 76:1
Mz 45:9; 150:4
Mz 8:1; 81:1; 84:1
Mz 150:4
Mz 81:3; 149:3; 150:4
Mz 33:2; 57:9; 81:3; 150:3
Mz 33:2; 49:5; 137:2
Mz 150:5
Mz 47:6; 81:4; 98:6; 150:3
Mz 98:6
b. Judul melodi dalam bagian awal mazmur-mazmur tertentu mengindikasikan bahwa
mazmur-mazmur ini dinyanyikan:
Mz 22: Kijang di kala fajar
Mz 45 Bunga Bakung
Mz 56 Merpati di Pohon2 Tarbantin yang Jauh
(3) Memberikan Instruksi
Mazmur-mazmur tertentu cenderung bertujuan untuk pengajaran. Mazmur-mazmur ini
memberkan informasi, memberikan instruksi, dan mengajar orang lain (misal Mz 32;
bandingkan dengan Mz 127; 133; 131).
(4) Untuk Liturgi
Mazmur dibuat untuk dialog antiphonal atau tindakan liturgikal dengan kata-kata yang
mungkin digunakan untuk liturgi:
Mz 15 dan 24
Mz 48:13ff.
Mz 68:25–28
Mz 115
Liturgi untuk masuk ke dalam Bait Suci
Prosesi, kemungkinan termasuk Tabut Allah
Prosesi khidmat Tabut Allah
Bermacam2 suara yang mempertanyakan dan merespons
5. Berdoa dengan Menggunakan Mazmur di Zaman Sekarang
(1) Bagaimana Kita Berdoa dengan Menggunakan Mazmur?
32
a. Identifikasi
i. Satu cara untuk berdoa menggunakan mazmur secara efektif adalah dengan
mengidentifikasi diri sendiri dengan mazmur dan kata-kata puisinya. Ketika
kita melakukan hal ini, kata-kata atau doa pemazmur menjadi milik kita.
ii. Namun identifikasi tidak selalu mudah karena beberapa ide sulit dalam
mazmur yang kita tidak dapat pahami dengan mudah (misal balas dendam,
kematian, ungkapan metafor). Masalah lain bagi identifikasi adalah bahwa kita
tidak dapat mengidentifikasi dengan keluhan ketika kita ada dalam suasana
sukacita dan perayaan.
b. Meditasi dan aplikasi
i. Kita dapat merenungkan frasa-frasa tertentu dari mazmur yang menarik
perhatian kita, memanfaatkan paralelisme Ibrani dan konsep penting dalam
teks itu.
ii Dan orang Kristen yang percaya berhak melangkah melampaui kitab
Mazmur ke dalam pewahyuan PB, dan memahami Yesus sebagai "Batu
Karang." Ini adalah sikap yang baik untuk membaca teks kuno dengan
pemahaman yang penuh.
(2) Menyanyikan Nyanyian Baru bagi Tuhan
Banyak mazmur berbicara tentang "nyanyian baru" bagi Tuhan (Mz 33:3; 40:4; 96:1;
98:1;
144:9; 149:1). Apakah nyanyian baru itu?
a. “Nyanyian baru" lahir dalam pengalaman masa kini. Itu adalah doa dari
pengalaman hidup, apapun itu wujudnya.
b. "Nyanyian baru" adalah pemahaman baru terhadap makna hidup. Dalam pengertian
ini, tidak harus nyanyian baru adalah nyanyian yang baru ditulis. Itu dapat saja
nyanyian lama dengan arti dan pemahaman yang baru tentang kehidupan.
c. “Nyanyian baru" adalah dialog dengan Tuhan dalam cara yang sangat pribadi,
menggunakan ekspresi sendiri yang khusus. Pemazmur menggunakan ekspresi
imaginatif mereka untuk melukiskan masalah mereka, rasa sakit, dan keselamatan
Allah.
d. Klaus Seybold memberikan argument bahwa “nyanyian baru" dalam Mz 40:4
menunjuk pada ucapan syukur yang baru digubah dan dibawa oleh penyembah
kepada Allah, daripada membawa suatu persembahan kurban.
33
Mazmur Keluhan Individu
1. Karakteristik Mazmur Keluhan Individu
(1) Natur dari Keluhan Individu
a. Mazmur keluhan individu adalah jenis yang paling sering ditemukan dalam Kitab
Mazmur. Kira-kira 50 mazmur (kebanyakan dari Buku I dan II) termasuk genre ini.
Buku I
Buku II
Buku III
Buku IV
Buku V
3–7; 9–11; 13; 16; 17; 22; 25–28; 31; 35; 36; 38–40
42; 43; 51; 52; 54–57; 59; 61–64; 69–71
77; 86; 88
94; 102
109; 120; 130; 140–143
b. Kitab Mazmur adalah respon manusia kepada Tuhan. Walau pujian adalah sangat
mendasar bagi doa dan nyanyian manusia, namun suara pujian bukanlah bagian
dominan dalam Kitab Mazmur. Pembaca Mazmur dengan cepat tertegun oleh fakta
bahwa kebanyakan mazmur berkaitkan dengan kesusahan atau kemalangan tertentu
dari pemazmur.
c. Kisah tentang ibu Samuel dalam 1 Samuel 1 menunjukkan dengan jelas natur, asal
mula, dan latar belakang keluhan individu:
i. Seorang wanita dalam kesusahan yang besar datang ke rumah kudus untuk
berdoa.
ii. Dia mencurahkan isi hatinya kepada Allah.
iii. Dalam jawaban doanya dia mendapatkan jaminan bahwa Tuhan telah
mendengar doanya.
(2) Keluhan Individu dalam Kitab2 lain dalam PL
Gunkel menghubungkan dominasi keluhan individu dalam Mazmur dengan
popularitasnya di antara para penyembah karena kekuatan yang bersifat menggerakkan
dari keluhan. Pandangan ini didukung oleh banyak munculnya keluhan individu di luar
Mazmur:
a. Yeremia: 11:18–20; 15:15–21; 17:12–18; 18:18–23; 20:10–13 (bagian lain yang
berhubungan adalah 12:1–6; 15:10–12; 20:7–9, 14–18).
b. Ayub: 6:2–7:21; 9:25–10:22; 13:23–14:22; 16:6–17:9; 19:7–20; 23:2–17; 29:1–
31:37
c. Kejadian: 4:13f.; 32:10–13
d. Ulangan: 3:23–25
e. 1 Samuel 1:10f.
f. 2 Samuel 12:16; 24:10, 17
g. 1 Raja 8:37ff.; 19:4
h. 2 Raja 20:2f.
i. Yunus 1:14
34
(3) Kesulitan dalam Memahami Mazmur Keluhan Individu
a. Mazmur keluhan individu merefleksikan pelbagai situasi dimana mazmur-mazmur
ini dijadikan doa oleh orang-orang yang mengalami penyakit, tuduhan hukum palsu,
fitnah, tekanan, dan yang lain. Nampaknya orang-orang ini kadangkala datang ke Bait
Suci untuk mencari perlindungan di sana.
b. Kesulitannya berkaitan dengan identitas kesulitan dan musuh demikian pula halnya
dengan situasi mazmur-mazmur tersebut. Tidak selalu jelas apakah kesulitan
pemazmur di masa kini atau masa lalu, atau siapakah musuh dan orang fasik (yang
mereka hadapi).
c. Seringkali keluhan individu mengimplikasikan bahwa penyakit adalah penyebab
utama penderitaan (misal, Mz 38). Namun kebenarannya ialah bahwa tidaklah mudah
untuk berkata dengan pasti bahwa penyakit dalam mazmur keluhan bukanlah suatu
metafora atau figuratif. Contoh yang baik untuk menerangkan siatuasi ini terdapat
dalam Yer 15:18 dimana dia berkata, "Mengapa penderitaanku tidak berkesudahan
dan lukaku sangat payah dan sukar disembuhkan?" Sementara Yeremia menerangkan
keterpisahan dirinya dari komunitas disebabkan oleh tanggung jawab kenabiannya,
dia menggunakan bahasa yang berhubungan dengan penyakit.
d. Ketidakjelasan identitas musuh dan masalah mungkin disengaja sehingga mazmur
dapat digunakan oleh setiap orang bagi segala situasi (misal, Mz 51). Dengan kata
lain, bahasa Mazmur terbuka dan bersifat metaforis.
(4) Elemen Dasar Keluhan Individu
a. Menurut Westermann, dalam struktur mazmur keluhan, seseorang biasanya
berurusan dengan 3 dimensi. Mazmur 13 adalah contoh yang baik untuk menjelaskan
3 elemen tsb.
i. Tuhan yang kepada-Nya keluhan diarahkan (13:1–2)
Ada 4 pertanyaan "Berapa lama?" Itu adalah pertanyaan “Berapa lama?” yg
sangat manusiawi dan alami dari orang yg mengeluh mengungkapkan bahwa
ia tidak dapat lagi menahan sakit, tekanan, ketiadaan pertolongan Tuhan yang
berkelanjutan. Pertanyaan, “Berapa lama?” mengindikasikan kemurnian relasi
dengan Tuhan, relasi sebagaimana sukacita, kebahagiaan, kebebasan, dan
kesehatan dpt dipahami hanya sebagai bentuk kebergantungan pada perhatian
Tuhan (baginya).
"Berapa lama lagi, ya Tuhan, Kaulupakan aku terus menerus?
Berapa lama lagi, Kausembunyikan wajah-Mu dariku?
Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, bersedih hati
sepanjang hari?
Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?"
ii. Orang yang berkeluh kesah (13:3)
Keluhan kepada Tuhan diikuti dengan permohonan dari orang yang berkeluh
kesah. Ini didukung alasan yg membuat permohonannya lebih persuasif.
35
"Pandanglah kiranya dan jawablah aku, ya TUHAN, Allahku
Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati."
iii. Musuh (13:4)
Elemen ketiga adalah musuh. Dia tidak diidentifikasi dan tidak ada cara untuk
mengetahuinya siapakah dia. Naturnya adalah bersukacita terhadap
ketidakberuntungan orang yang berkeluh kesah.
"supaya musuhku jangan berkata, 'Aku telah mengalahkan dia'
dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah."
(5) Keluhan-keluhan Umum dalam Keluhan Individu
a. Salah satu keluhan paling umum dalam mazmur adalah melawan orang-orang yang
mencela pemazmur. Celaan-celaan itu secara mendasar merupakan tantangan atau
penghinaan terhadap tiadanya pertolongan dan ketiadaan kekuatan Allah orang yang
menyampaikan keluhan (misal, Mz 42:4b, 11; 79:10).
b. Para penghina diterangkan sebagai musuh orang yang menyampaikan keluhan.
Musuh2 seringkali diidentifikasi dengan bahasa umum dan tanpa nama: mereka,
banyak orang, penganiayaku, dan yang serupa itu (misal, 3:2-3; 70:3–4).
(6) Musuh: Tindakan dan Natur Mereka
a. Tindakan musuh
i. Mereka berusaha mencabut nyawa pemazmur (misal, 35:4; 38:13; 40:15;
54:5; 63:10; 70:3).
ii. Mereka mengekspresikan sukacita tak terkendali atas ketidakberuntungan
orang yang menderita (35:15; 13:5; bandingkan dengan 6:11).
iii. Mereka mencela orang yang menyampaikan keluhan (42:4, 11; 79:10).
b. Tiga metafora yang digunakan untuk menjelaskan musuh
i. Musuh diterangkan sebagai pemburu yg memakai jala dan jebakan (140:5–
6).
ii. Musuh diterangkan sebagai binatang buas (17:11–12; 22:13–14, 17).
iii. Musuh diterangkan sebagai prajurit (7:14; 11:2; 37:14).
c. Natur dari musuh
i. Mereka jahat (26:10; 36:5).
ii. Mereka tidak takut Allah (godless) dan melanggar kesusilaan (10:4–5;
14:1).
iii. Mereka tidak mengakui Tuhan sebagai Tuhan. Mereka atheis (94:7).
d. Masa depan orang jahat itu
Dalam beberapa keluhan individu, kejatuhan masa depan orang jahat digambarkan
36
secara kontras dengan orang benar. Kontras ini disampaikan dengan baik dalam Mz
52 dan 58:
i. Deskripsi orang jahat
ii. Nasib orang jahat
iii. Nasib orang saleh
(7) Identitas Musuh
a. Menurut Hans Schmidt, musuh dalam sejumlah mazmur adalah penuduh palsu
orang yang menyampaikan keluhan.
b. Sigmund Mowinckel berkata bahwa musuh adalah tukang sihir & kuasa kegelapan.
c. H. Birkeland berargumen bahwa mengingat kebanyakan keluhan individu adalah
nyanyian raja, musuh adalah musuh nasional yang menentang peraturan raja.
d. Westermann menampilkan pandangan yang sangat berbeda. Dia memahami bahwa
penulisan sebagian besar keluhan individu ini adalah pada masa pasca pembuangan.
Musuh (pelaku kejahatan) dan orang yang menyampaikan keluhan mewakili 2
kelompok dalam masyarakat. Yang pertama adalah orang yang mengadaptasi bagi diri
mereka sendiri dalam gaya hidup kafir, tidak lagi memegang Taurat. Mereka
termasuk orang kaya dan kelas atas. Di sisi lain, yang kedua mewakili mereka yang
tetap memegang kepercayaan Israel dan Taurat.
2. Struktur Mazmur Keluhan Individu
(1) Elemen-elemen (tidak ada satu mazmurpun yang memiliki semua elemen)
a. Alamat
Alamatnya adalah pendahuluan teriak meminta tolong. Alamatnya cenderung
memiliki relasi yang intim dan pribadi ("Allahku yang benar" dalam 4:1 dan "Rajaku
dan Allahku" dalam 5:3).
b. Keluhan
Tiga subyek (Allah, aku, dan musuh) muncul dalam elemen ini. Walau situasinya
dapat beraneka, ungkapannya seringkali berkenaan dengan kematian. Metafora ini
digunakan untuk mendapatkan pertolongan Tuhan. Kadangkala keluhan bukan hanya
untuk menjelaskan suatu situasi, namun menuntut pertanggungan jawab Tuhan
(30:10; 88:11–13; 6:5; 13:4).
c. Keyakinan
Di tengah2 keluhan, orang yang menyampaikan keluhan mengekspresikan keyakinan
dalam Tuhan ( 3:6; 4:9; 13:6).
d. Permohonan
37
Ini adalah permohonan kepada Tuhan untuk menolong. Elemen ini adalah yang paling
intens karena diungkapkan dalam bentuk perintah yang penuh keberanian. Ini adalah
suatu perasaan bahwa pembicara berasumsi mempunyai hak atas permohonannya. Ini
adalah permohonan bagi keadilan dan juga untuk belas kasihan, dengan anggapan
bahwa situasi yang tidak adil itu berhubungan dengan ketidakpedulian Allah.
e. Motif
Maksud elemen ini adalah menggerakkan Allah untuk campur tangan. Ini
memberikan Tuhan alasan untuk bertindak dengan cepat. Itu sangat menyedihkan
bahwa pembicara tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi. Kadang tindakannya
mirip dengan tawar menawar, menyuap, atau bahkan mengintimidasi (6:6; 30:10;
88:11–13).
f. Janji untuk memuji
Pembicara berjanji bahwa, jika dia dilepaskan dari krisis, dia akan melaksanakan janji
untuk memberikan dan membayar sesuatu sebagai ucapan syukur dan pujian (13:6).
g. Pujian kepada Tuhan
Di akhir mazmur keluhan individu, terdapat janji untuk memuji atau pujian kepada
Tuhan karena menjawab doanya (7:18).
(2) Arti Penting Pujian di Akhir sebuah Mazmur
a. Dalam banyak keluhan individu, bagian terakhir menunjukkan maksud atau janji
pemazmur untuk memuji Tuhan karena mendengarkan doanya (misal, 6:9; 13:6).
b. Janji untuk memuji di akhir keluhan individu ini mengindikasikan terjadinya titik
balik situasi sementara keluhan disampaikan dalam doa. Meskipun itu muncul dalam
pelbagai tingkatan dan cara yang sangat berbeda, titik balik ini muncul di seluruh
genre.
c. Bagaimana kita memahami titik balik ini? Itu dapat dijelaskan dengan beberapa
cara:
i. Selama doa, orang yang menyampaikan keluhan mendengar janji
keselamatan Allah sehingga dia melangkah keluar dari keluhan menuju
keyakinan, kepada kepastian bahwa doanya telah didengar, kepada antisipasi
terhadap pembebasan.
ii. Itu merupakan pola doa-doa yang disampaikan di Bait Suci.
iii. 1 Samuel 1 menunjukkan bukti bagaimana hal ini terjadi selama doa. Hana
menerima jaminan dari Tuhan melalui imam Eli. Jika pandangan ini benar,
kita dapat memahami fungsi imam selama doa para penyembah
(disampaikan).
38
3. Komponen-komponen Keluhan
(1) Keluhan yang Disampaikan kepada Tuhan
a. Keluhan diekspresikan dalam bentuk pertanyaan "Mengapa?" atau "Berapa lama?"
(misal, 10:1; 13:1–2; 22:2).
b. Kadangkala, itu muncul sebagai permohonan negatif (6:2; 109:1): "O Tuhan,
janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam
kepanasan amarah-Mu."
c. Ekspresi yang tidak biasa adalah kombinasi "why-question (pertanyaan mengapa)"
dengan pengakuan keyakinan: "Engkaulah Tuhan Gunung Batuku. Mengapa Engkau
melupakan aku?" (misal, 42:10; 43:2).
d. Beberapa keluhan diekspresikan dalam bentuk pernyataan deklaratif: "Telah
Kautaruh aku dalam liang kubur yang paling bawah, dalam kegelapan dalam tempat
yang dalam" (misal, 88:7–9, 16–17).
(2) Alasan bagi Keluhan
Alasan bagi keluhan terarah langsung kepada Tuhan biasanya ada 4 macam:
a. Kemarahan Allah: Mz 6; 60; 74; 80; 85; 89; 102
b. Penolakan Allah: Mz 43:2; 77:8; 88:15
c. Allah yang melupakan: Mz 13:2; 42:10; 44:25; 77:10
d. Allah yang menyembunyikan wajah-Nya: Mz 10:1; 13:2
(3) Kematian dalam Mazmur Keluhan Individu
a. Kematian sebagai (peristiwa) masa kini
Pemazmur dalam mazmur keluhan kadangkala membandingkan diri mereka dengan
orang yang mati, mengekspresikan kedekatan mereka dengan kematian (Mz 22:16;
88:4–7; 143:3). Namun mereka memberikan implikasi bahwa tidaklah terlalu
terlambat bagi Tuhan untuk bertindak.
b. Kematian sebagai sesuatu yang segera (akan terjadi)
Pemazmur merasa bahwa kematian sangat dekat dengannya (Mz 39:14; 41:6, 9;
102:12, 24, 25).
c. Kematian sebagai motif bagi Tuhan untuk bertindak
Kematian yang datang segera adalah alasan bahwa Allah harus bertindak cepat
sebelum kematian menyusul pemazmur (Mz 6:6; 13:4; 28:1; 88:11–13; 143:7).
d. Kematian dalam Gambaran Banjir
Realita kematian seringkali digambarkan dengan banjir atau air yang dalam (Mz 42:8;
69:2–3 [bandingkan dengan Yunus 2], 15–16; 88:8, 17–18).
39
4. Contoh2 Mazmur Keluhan Individu
(1) Mazmur 13
a. Keluhan (tiga subyek): ayat 1–2
▪ Allah (ayat 2)
▪ Aku (ayat 3)
▪ Musuh (ayat 3)
"Berapa lama, O Tuhan?" dan
"Berapa lama Engkau akan . . . ?"
"Berapa lama aku harus . . . ?"
"Berapa lama musuhku akan . . . ?"
i. Pertanyaan "Berapa lama?" diulangi 4x, mengimplikasikan pembicara tidak
dapat menahan sakit lebih lama. Pertanyaannya bersifat retorik, mencari
jawaban namun mengekspresikan pernyataan2.
ii. Pertanyaan2 tersebut memegang (konsep bahwa) Allah bertanggung jawab
bagi situasi tersebut karena Dia “melupakan” dan “menyembunyikan wajahNya.” Ini menunjukkan kebergantungan pendoa yang kuat kepada Tuhan dan
relasinya dengan Tuhan.
iii. Sukacita musuh terhadap ketidakberuntungan pembicara adalah rasa sakit
yang lain (yg dialami) karena sikap musuh mengindikasikan bahwa pembicara
berhak mendapatkannya dan bahwa Tuhan tidak ada di sisi-Nya.
iv. Ada ketidakjelasan natur penderitaan dan identitas musuh.
b. Permohonan: ayat 4a
i. Permohonan disebutkan dalam 3 kata perintah:
▪ "Pandanglah!"
▪ "Jawablah aku!"
▪ "Buatlah mataku bercahaya!"
ii. Dalam ekspresi "Ya Tuhan, Allahku" pemazmur mengidentifikasikan
“Allahku" dengan YHWH, dan inilah dasar bagi permohonannya.
c. Motivasi: ayat 4b–5
i. Ada 3 motivasi untuk membuat Tuhan bertindak sekarang
▪ Kematian pemazmur yang segera datang/dialami
▪ Ucapan kemenangan musuh
▪ Sukacita musuh terhadap kematian pemazmur
ii. Tiga alasan tersebut memasukkan Allah ke dalam situasi (yang dihadapi):
kematian pembicara adalah kehilangan YHWH. Jika dia ditertawakan oleh
musuh, Tuhan juga ditertawakan.
d. Keyakinan: ayat 6
40
i. Ini adalah titik balik dari mazmur ini. Pembicara mengambil langkah yang
melampaui keluhan dan mengekspresikan keyakinannya pada Allah dalam
situasi tersebut.
ii. Karena keyakinan dan kepercayaannya, keluhannya telah berhenti/tidak
bersuara lagi.
e. Janji untuk memuji: ayat 6
i. Dalam ayat ini kunci atau rahasia keluhan individu terungkap. Bukannya
tidak mungkin untuk menjelaskan bagaimana dan mengapa terjadinya titik
balik bagi orang yang menyampaikan keluhan dalam banyak keluhan2
individu.
ii. Dasar bagi pujian di masa depan adalah "karena Dia telah melakukan yang
baik bagiku."
(2) Studi Mazmur Keluhan Individu yang Lain
41
Mazmur Keluhan Komunal
1. Karakteristik Mazmur Keluhan Komunal
(1) Distribusi Mazmur Keluhan Komunal
Buku I: 12, 14
Buku II: 44, 53, 58, 60
Buku III: 74, 79, 80, 83, 85
Buku IV: 90, 106
Buku V: 108, 123, 126, 137
(2) Keluhan Komunal Mula-mula
a. Permulaan keluhan komunal harus kembali ke masa pengembaraan Israel di padang
gurun. Dalam masa terdahulu hal itu diekspresikan dalam pernyataan, "Kemudian
orang Israel berteriak kepada Tuhan" (Kel 2:23).
b. Beberapa elemen umum dari mazmur keluhan juga ditemukan dalam keluhan
terdahulu dan teks-teks narasi:
i. Kel 32:11–12 (Keluhan Musa untuk kepentingan umat)
ii. Bil 14:1–4 (keluhan umat karena laporan para pengintai)
iii. Yosua 7:7–9 (Keluhan Yosua untuk kepentingan umat)
iv. Hakim 21:3 (Keluhan suku2 tentang suku Benyamin)
v. Hab 1:2–4 (Keluhan Habakuk terhadap ketidakadilan dalam dunia)
vi. Ezra 9:6–15 (Pertobatan Ezra karena dosa umat)
vii. Neh 1:5–11 (Doa permohonan Nehemia bagi bangsanya)
viii. Dan 9:4–19 (Pertobatan Daniel bagi bangsanya)
c. Berbagai bencana yang menyebabkan terbentuknya keluhan komunal menunjukkan
bahwa ritual-ritual khusus dilaksanakan sebagai bagian dari keluhan/ratapan:
i.
ii.
iii.
iv.
v.
Berpuasa: Yoel 2:12–15; Yer 36:9; Yunus 3:5
Mengenakan kain kabung dan berkabung: Yoel 1:13; Yer 4:8
Menaruh abu dan debu di atas kepala: Yosua 7:6; Neh 9:1
Menangis di hadapan Tuhan: Hakim 20:23–26
Aktifitas-aktivitas lainnya:
▪
▪
▪
Memukul pangkal pinggang/paha (atau dada, Yer 31:19)
Bercukur (Yes 15:2; 22:12; Mikha 1:16)
Berguling dalam debu dan abu (Yer 6:26; Mikha 1:10)
(3) Waktu Keluhan Komunal
a. Ratapan komunitas bukan suatu rutinitas ibadah yang berulang setiap tahun
melainkan sesuatu yang dinyatakan oleh umat kapan saja bangsa mengalami ancaman
kesusahan, bahaya atau malapetaka.
42
b. Karena semua terlibat dalam krisis semacam ini, semua laki-laki, perempuan, dan
anak-anak, tua maupun muda mengambil bagian dalam ratapan/keluhan.
c. Keluhan dimulai di tempat terbuka, di kebun anggur dan di jalan-jalan dan tempattempat terbuka di kota; kemudian prosesi bergerak menuju tempat kudus untuk
menangis di hadapan Tuhan.
(4) Dua Jenis Krisis Nasional
a. Jenis yang pertama adalah krisis politik, seperti perang, serangan musuh,
penghancuran kota atau tempat kudus, dan pengusiran penduduk.
b. Jenis yang kedua dari krisis nasional adalah bencana alam, seperti kekeringan,
wabah belalang, panen buruk atau kelaparan.
c. Perlu diingat bahwa latar belakang keluhan komunal dalam Kitab Mazmur selalu
berhubungan dengan ancaman musuh (Mz 44:10–17, 20, 23–25; 60:3–5; 74:4–11;
79:1–4) sementara keluhan komunitas dalam kitab nabi-nabi terutama disebabkan
oleh bencana alam (misal, tidak ada hujan dalam Yer 14:2–6 dan belalang dalam Yoel
1:4–7).
(5) Arti Penting Keluhan Komunal secara Teologis
a. Ketika bangsa menghadapi krisis, suatu bangsa membawa kebutuhannya di
hadapan Tuhan. Karena apa yang terjadi dalam dunia politik adalah bagian dari relasi
Israel dengan Tuhan. Setiap orang percaya bahwa krisis datang dari Tuhan dan,
dengan demikian, hanya Tuhan yang dapat membalikkan keadaan.
Ketidakberuntungan politik secara khusus dipahami sebagai bahaya religius.
i.
ii.
iii.
iv.
v.
Adalah umat Tuhan yang ingin dibinasakan oleh bangsa-bangsa (83:3–4).
Adalah nama Tuhan yang dihina orang bodoh (74:18).
Adalah Bait Suci-Nya yang dipermalukan (74:3ff.; 79:1).
Adalah tempat kediaman-Nya yang dihancurkan (79:7).
Adalah tempat kudus-Nya yang dihancurkan (79:1).
b. Selama bencana nasional, umat memahaminya sebagai bermacam reaksi Allah
terhadap dosa:
i.
ii.
iii.
iv.
Tuhan telah menolak kita (74:1).
Tuha telah merendahkan kita (44:10).
Tuhan telah menggoncangkan tanah (60:4).
Tuhan telah menjual kita seperti domba (44:13).
c. Israel mengeluh dalam kesulitan seperti itu Tuhan tidak bersimpati. Allah
diterangkan sebagai:
i. Menyembunyikan wajah-Nya dan melupakan kesengsaraan dan penindasan
terhadap Israel (44:25).
ii. Marah dengan murka yang menyala-nyala (89:47).
iii. Menaruh atau menahan tangan kanan-Nya (74:11).
43
iv. Tertidur (44:24).
d. Ketika umat datang kepada Tuhan dan berteriak minta tolong, mereka
mengingatkan Dia tentang perbuatan-perbuatan dan janji-janji-Nya di masa lalu.
Kasih Allah di masa lalu bagi mereka adalah satu-satunya alasan yang karenanya
umat memohon kepada Tuhan untuk menyatakan belas kasihan.
e. Jadi mazmur keluhan adalah salah satu potongan-potongan bukti penting bagi
pemahaman Israel kuna tentang sejarah, suatu pemahaman yang melihat masa lalu,
sekarang, dan masa depan sebagai sesuatu yang terikat bersama di bawah kontrol
Allah.
(6) Penulisan Mazmur Keluhan Komunal
a. Mazmur Keluhan Komunal dinyanyikan dari periode paling awal sampai pada
periode terkemudian. Sebagai contoh, Mz 80 dipahami berasal dari wilayah suku-suku
Utara yang terdahulu. Mazmur 83 berbicara tentang serangan dari semua bangsabangsa sekitarnya.
b. Bagaimanapun juga, karena sebagian Mazmur Keluhan Komunal merefleksikan
krisis nasional, adalah lebih mudah untuk menentukan tanggal penulisan mazmurmazmur ini daripada yang lain. Sebagai contoh, Mz 74, 79, dan 137 merefleksikan
periode pembuangan di Babel setelah penghancuran Yerusalem dan Bait Suci di tahun
586 SM.
2. Struktur Keluhan Komunal
(1) Struktur secara Umum
Mazmur 74
Mazmur 79
Mazmur 80
Alamat (kadang
jeritan sebagai
pendahuluan
Mengapa . .ya Allah Ya, Allah
Hai, Gembala Israel,
pasanglah telinga
Tindakan Allah
Ingatlah
Engkau membawa pohon
terdahulu
umat-Mu (ayat 2).
anggur keluar dari Mesir
(ayat 9–12)
Musuh
Engkaulah yang membelah laut (ayat 13)
Lawan-Mu mengaum Bangsa2 masuk
dan musuh2 kami
di tempat pertemuan- ke dalam tanah
mengolok2 kami (ayat 7b)
Mu (ayat 4-8)
milik-Mu (ayat 1–3)
Kami
Tanda2 ajaib tidak
diberikan pada
kami (ayat 9)
Kami menjadi
obyek celaan bagi
tetangga kami (ayat 4)
Allah
Mengapa Engkau
Berapa lama Tuhan? Berapa lama murka-Mu
44
menolak kami
(ayat 1)
Keyakinan
Engkau murka
terus menerus?
(ayat 5)
menyala (ayat 5)
Tapi Engkau, Tuhan
adalah Rajaku dari
maka kami tidak akan
menyimpang dari-Mu
zaman purbakala (ayat 12)
19)
(ayat
Permohonan
bagi kita
Jangan berikan
nyawa merpati-Mu
(ayat 19–20)
Jangan perhitungkan Ya Allah senesta alam,
bagi kami kesalahan kembalilah kiranya
nenek moyang kami (ayat 15)
(ayat 8–9)
Permohonan
bagi musuh
Jangan lupa suara
lawan-Mu (ayat 23)
Tumpahkan amarah-Mu
pd bangsa2 (ayat 6, 12)
Motif2
Ingatlah bagaimana
musuh menghina
Engkau, O Tuhan
(ayat 18, 22b)
Mengapa bangsa2
batang yang ditanam
boleh berkata "Di
dengan tangan kanan-Mu
mana Allah mereka?" (ayat 16)
(ayat 10a)
Janji utk Memuji
Biarlah org sengsara Maka kami umat-Mu Biarkan kami hidup, maka
dan orang miskin
dan kawanan domba kami akan memanggil
namamemuji nama-Mu
(ayat 21b)
gembalaan-Mu akan Mu (ayat 19b)
memuji-Mu selamalamanya (ayat 13a)
(2) Komponen-komponen
a. Alamat
i. Alamat (memanggil nama Allah) adalah penting karena itu menetapkan
kontak untuk berbicara kepada Tuhan. Biasanya, nama yang dipanggil
hanyalah Tuhan (YHWH). Sesekali, nama ini dikembangkan dengan beberapa
rumusan:
▪
▪
▪
▪
Allah penyelamat kami (Mz 79:9; 85:5)
Allah semesta alam (Mz 80:5, 8, 15)
Allah pembalas (Mz 94:1)
Hakim bumi (Mz 94:2)
b. Keluhan: Tiga Subyek
i. Kepada Tuhan
Mengapa dan Berapa lama adalah kata2 yang biasanya disampaikan orang yang
mengeluh/meratap kepada Tuhan. Pertanyaan Mengapa mempertanyakan
mengapa Allah telah menolak (Mz 74), meninggalkan, atau melupakan (Mz
44:25) umat-Nya. Ini mensyaratkan eksistensi Tuhan dan merefleksikan harapan
45
komunitas untuk mengetahui arti dan tujuan hidup.
ii. We-complaint (Keluhan-kami)
Itu terdiri dari 2 elemen:
▪ Keluhan tentang kesulitan
▪ Rasa malu disebabkan oleh kesulitan (Mz 79:4)
iii. Melawan musuh
Tidak seperti keluhan individu, musuh dalam keluhan komunal adalah jelas
bersifat politis. Ini berhubungan dengan fakta bahwa keluhan-keluhan yang ada
dalam mazmur ini hampir secara eksklusif bersifat politis (Mz 44:10–17; 60:3–
5; 74:4–11; 79:1–4; 80:6-7; 83:3–9).
c. Tindakan Allah di masa lalu
i. Biasanya muncul di pembukaan mazmur.
ii. Tujuan ucapan ini adalah menciptakan ketegangan antara apa yang Tuhan
telah lakukan di masa lalu dan apa yang terjadi sekarang. Kelihatannya pemazmur
mencoba untuk mengingatkan Allah tentang tindakan-Nya yang menyenangkan di
masa lalu (misal, Mz 44; 80:9-12).
iii. Ini memiliki efek membangkitkan pengertian tentang sejarah.
iv. Referensi ini dapat disebut pujian deklaratif: "Engkau telah melakukan. . . "
d. Permohonan
i. Permohonan agar Tuhan memperhatian, menggunakan bermacam2 kata
perintah (imperative): Datanglah!, Bangkitlah!, Sadarilah!, Dengarlah!,
Lihatlah!, Janganlah diam!, Ingatlah!.
ii. Permohonan bagi intervensi Allah dalam kata kerja perintah (imperative):
Tolonglah kami!, Selamatkan kami!, Belalah aku!.
iii. Karena tujuan permohonan adalah untuk menggerakkan hati Allah dan
membuat-Nya “tidak dapat” menolak permohonan, umat secara konstan
mengulangi ungkapan umat-Mu, milik pusaka-Mu, kepunyaan-Mu (Mz 74:2; 79:1;
83:4; 94:5).
iv. Setelah menjelaskan situasi mereka dan mengucapkan permohonan, umat
secara alami mengharapkan jawaban Allah (respon ilahi). Seperti yang terlihat
dalam Mz 85:9ff. dan 60: 8–10, respon dari Allah dapat didengar melalui hamba
Tuhan (imam atau nabi). Ini juga dilakukan oleh nabi2, yang mengucapkan
nubuatan keselamatan (misal, Amos 7–8; Yer 14–15). Contoh lain yang baik
adalah 2 Taw 20:3–17, yang menunjukkan struktur berikut:
▪
▪
▪
Persiapan untuk keluhan komunal (20:3–5)
Dialamatkan kepada Tuhan (20:6)
Tindakan2 Allah di masa lalu (20:7–9)
46
▪
▪
▪
Situasi sekarang (20:10–12)
Respon Allah melalui Yahaziel, orang Lewi (20:14–17)
Keyakinan dalam Tuhan dan imam (20:20–21)
e. Janji untuk memuji
Elemen ini ditemukan bukan seperti yang biasa ditemukan dalam keluhan individu.
3. Contoh2 Mazmur Keluhan Komunal
(1) Mazmur 80
ayat 2–4
ayat 5–8
ayat 9–12
ayat 13–14
ayat 15–16
ayat 17–18
ayat 19–20
Alamat dengan permohonan pendahuluan
Keluhan
Tindakan penyelamatan Allah di masa lalu
Keluhan dan tindakan Allah di masa sekarang
Permohonan dan tindakan Allah di masa lalu
Permohonan
Janji untuk memuji
a. Alamat (ayat 2–4)
i. Mazmur ini dimulai dengan doa, Gembala Israel. Judul lain (Tuhan) Allah
Yang Mahakuasa (, ) digunakan pada ayat5, 8, 15,
20.
ii. Fungsi doa adalah untuk membuat kontak dengan Tuhan.
iii. Dua permohonan, Pasanglah telinga! dalam ayat 2 dan Pulihkan kami! dalam
ayat 4, menunjukkan bahwa relasi antara Allah dan manusia sangatlah personal.
iv. Doa dalam ayat 2 ditekankan dengan penggunaan paralelisme:
▪
▪
"O Gembala Israel"
"Seorang yang memimpin Yusuf" (seperti kawanan domba)
v. Ayat 4 diulangi dalam ayat 8 dan 20, menekankan permohonan.
b. Keluhan (ayat 5–8)
i. Permohonan ini langsung (disampaikan) kepada Allah.
ii. Pertanyaan yang dimulai dengan Berapa lama? dan Mengapa? (bandingkan
dengan ayat 13) tidak berarti bahwa umat tidak mengetahui arti dari penghakiman.
iii. Ayat 7 berisi unsur dari musuh.
c. Tindakan penyelamatan Allah di masa lalu (ayat 9–12)
47
Ayat-ayat ini menerangkan tindakan Allah yang menyenangkan bagi Israel di masa
lalu. Titik temu bagian ini adalah dengan membuat kontras antara kasih Allah di
masa lalu dan kesengsaraan di masa sekarang.
d. Keluhan (ayat 13–14)
i. Bagian ini menerangkan situasi masa kini. Pertanyaan dengan Mengapa?
Tidak berarti bahwa Israel tidak mengetahui arti sebuah bencana.
ii. Justru ini menyatakan ketergantungan mereka kepada Allah. Ini berimplikasi
bahwa Allah bertanggung jawab atas situasi sekarang meskipun mereka berdosa..
e. Permohonan dan tindakan Allah di masa lalu (ayat 15–16)
Permohonan dalam ayat 15 diikuti dengan tindakan penyelamatan Allah di masa lalu
dalam rangka membuat permohonan tersebut lebih bersifat persuasif (ketika
disampaikan) kepada Tuhan
.
f. Permohonan (ayat 17–18)
g. Janji untuk memuji dan permohonan akhir (ayat 19–20)
i. Janji yang dijanjikan didasarkan pada keselamatan dari Allah di masa depan.
ii. Ayat 20 berfungsi sebagai inklusio bersama dengan ayat 4. Inklusio ini
membuat keseluruhan mazmur sebagai suatu permohonan yang kuat.
(2) Baca Mazmur 79
48
Nyanyian Pujian
1. Karakteristik Nyanyian Pujian Secara Umum
(1) Pembagian Nyanyian Pujian
a. Daftar
Buku I
Buku II
Buku IV
Buku V
29, 33
68
100, 103, 105
111, 113, 114, 115, 117, 134, 135, 139, 145, 146, 147, 149, 150
b. Pembagian nyanyian pujian
i. Seseorang mungkin berpendapat bahwa judul Ibrani dari Kitab
Mazmur,  (, nyanyian2 pujian), adalah tidak tepat karena
ada lebih banyak mazmur keluhan daripada mazmur pujian dalam Kitab
Mazmur. Meskipun himne atau nyanyian pujian kalah jumlahnya dari doa2
keluhan, judul Ibrani kitab ini adalah tepat karena natur dari kitab ini
adalah pujian. Hal ini terlihat bahkan di bagian akhir doa2 keluhan.
ii. Perlu diingat bahwa doa-doa keluhan sangat dominan di Buku I–III
(Mz 1–89), dan himne atau nyanyian pujian mendominasi Buku IV–V (Mz
90–150).
(2) Arti Penting Nyanyian Pujian
a. Nyanyian Pujian dan Mazmur Ucapan Syukur adalah “respon” manusia
yang terbaik dalam mengungkapkan kedaulatan, kuasa, dan kemuliaan Allah.
Hal-hal itu adalah indikator yang paling luas dan kaya untuk menggambarkan
siapakah Allah itu dan apakah yang dilakukan-Nya. Nyanyian-nyanyian pujian
ini mengungkapkan kepada kita betapa kuatnya antusiasme Israel terhadap apa
yang telah Tuhan lakukan. Tidak ada kata yang terlalu agung ketika digunakan
untuk merayakan Tuhan. Sebagai hasilnya, suasana hati yang paling
fundamental dari nyanyian pujian adalah antusiasme, pemujaan,
penghormatan, pujian, dan pengagungan (kepada Tuhan).
b. Arti penting nyanyian pujian adalah menunjukkan pada kita iman, teologi,
dan kesalehan Israel. Nyanyian pujian mengungkapkan apa yang diketahui
Israel tentang Allah dan apa yang mereka percayai dalam relasi dengan Tuhan.
c. Nyanyian pujian dipahami sebagai pujian umat yang berkumpul untuk
beribadah. Secara umum itu dimengerti bahwa baik ibadah maupun perayaan
kultus tidak dapat eksis tanpa nyanyian-nyanyian pujian kepada Allah. Di
Israel, nyanyian pujian digunakan di depan publik untuk menerangkan sifatsifat Allah, karya-Nya yang menyelamatkan, tindakan penciptaan-Nya, dsb.
Contoh paling kuno tentang nyanyian pujian adalah:
i. Pujian Miryam (Kel 15:21)
ii. Pujian Debora (Hak 5)
iii. Nyanyian Pujian Serafim (Yes 6:3)
49
d. Dalam pengertian yang sangat ketat, nyanyian pujian adalah respon terbaik
manusia kepada Tuhan karena perhatian utamanya adalah untuk memuji
Tuhan. Dengan memahami perbandingan yang diberikan oleh Wendel tentang
mazmur pujian dan ucapan syukur, arti penting pujian dapat diterangkan
demikian:
i. Dalam pujian, Tuhan ditinggikan dalam pengertian yang lengkap,
namun dalam ucapan syukur peninggian-Nya adalah sebagian karena Dia
mendapatkan pujian karena perbuatan-Nya yang spesifik.
ii. Dalam pujian, penyembah diarahkan sepenuhnya kepada Tuhan, satusatunya obyek dari pujian, dan itu berarti hilangnya “aku” di hadapan
Tuhan. Dalam ucapan syukur, penyembah tetap ada di tempatnya semula
karena dia mengekspresikan ucapan syukur “nya” kepada Tuhan.
iii. Esensi pujian adalah kebebasan dan spontanitas, namun memberikan
ucapan syukur dapat menjadi sebuah tugas.
iv. Natur dari pujian adalah publik, mengundang orang lain untuk
bergabung dalam memuji Tuhan, tetapi mengucap syukur bersifat pribadi,
karena perhatian utamanya tidak pada satu orangpun kecuali orang yang
memberikan ucapan syukur dan orang yang diberi ucapan syukur.
v. Perbedaan verbal yang paling penting antara pujian dan ucapan syukur
adalah bahwa ucapan syukur terjadi dalam pengucapan kata-kata, "thank
you" (terima kasih kepada kamu) atau "thanks," namun dalam pujian, yang
dipuji adalah subyeknya, "Engkau telah melakukan," atau "Engkau adalah .
. . ."
(3) Tipe-tipe Nyanyian Pujian
a. Westermann berargumen bahwa penandaan “nyanyian pujian" harus diganti
dengan istilah yang lain karena “nyanyian pujian” adalah diklasifikasikan oleh
bentuk. Dia mengusulkan untuk membagi nyanyian pujian dalam 2 kelompok
sesuai dengan isinya:
i. Pujian yang Deskriptif
Ini adalah nyanyian pujian untuk memuji Allah karena karya, sifat, dan
keberadaan-Nya secara keseluruhan (missal, Mz 113).
ii. Pujian yang Deklaratif
Biasanya disebut oleh ahli lain sebagai mazmur ucapan syukur.
Mazmur ini adalah pujian kepada Tuhan karena perbuatan-perbuatan
Allah yang spesifik yang telah dilakukan-Nya bagi individu atau
komunitas.
b. F. Crüsemann juga membagi nyanyian pujian dalam 2 kelompok
berdasarkan penggunakan kata kerja, nyanyian pujian imperatif dan nyanyian
pujian partisip.
i. Nyanyian Pujian Imperatif
50
Mazmur ini memiliki 2 elemen yang khas. Pertama, dimulai dengan
panggilan imperatif untuk memuji (misal, "mainkan" atau "nyanyikan"
dalam Mz 113; 117; 33; 105). Kata kerja yang paling sering adalah hll
(, "memuji"). Imperatif (kata perintahnya) diikuti oleh alasan
untuk memuji, yang didahului oleh  (, "karena" dalam Mz 100;
117; 136).
▪ Mazmur 33
"Bersorak-sorailah, hari orang-orang benar, dalam Tuhan
Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi
Bermazmurlah bagi Dia dengan harpa 10 tali
Nyanyikanlah bagi-Nya nyanyian baru
Petiklah kecapi baik-baik dengan sorak sorai
Sebab (, ) Firman Tuhan itu benar."
▪ Mazmur 136
"Bersyukurlah kepada Tuhan, karena Ia baik.
Karena (, ) kasih-Nya untuk selama2nya.
Bersyukurlah kepada Allah segala allah.
Karena (, ) kasih-Nya untuk selama2nya.
Bersryukurlah kepada Tuhan segala tuhan.
Karena (, ) kasih-Nya untuk selama2nya."
ii. Nyanyian Pujian Partisip
Dalam mazmur ini, tindakan Allah diterangkan melalui penggunaan
partisip:
▪ Mazmur 104:2–4
"Yang berselimutkan terang seperti dengan kain,
yang membentangkan langit seperti tenda,
yang mendirikan kamar-kamar loteng-Mu di air,
yang menjadikant awan-awan sebagai kereta perang-Nya,
yang bergerak di atas sayap angin,
yang membuat angin sebagai suruhan-suruhan-Nya”
c. Menurut Crüsemann, 2 tipe nyanyian pujian ini memiliki fungsi yang
berbeda. Sementara nyanyian pujian imperatif memberikan pendahuluan bagi
suatu nyanyian untuk ibadah publik, nyanyian pujian partisip menjelaskan
iman umat dan keseluruhan sejarah penyelamatan ilahi.
2. Relasi antara Pujian dan Kematian
(1) Hubungan yang khas antara Kematian dengan Pujian
a. Kita melihat dalam mazmur keluhan individu beberapa pemazmur
51
memohon pertolongan dengan sangat kepada Tuhan sebelum kematian
mereka. Alasannya adalah bahwa orang mati tidak dapat memuji Tuhan.
b. Satu hal penting yang perlu dicatat adalah bahwa memuji Tuhan di Israel
tidak pernah menjadi peristiwa kultus yang independen, terpisah dari
kehidupan (sehari-hari) umat. Sebaliknya, hal tsb menempati tempat yang
sentral dalam keseluruhan hidup individu dan umat di hadapan Tuhan. Di
Israel, eksistensi Allah tidak pernah dipertanyakan dan keyakinan mereka
tidak pernah dibingungkan. Pujian kepada Tuhan adalah bagian dari hidup dan
gaya hidup mereka. Ekspresi yang khas, pujian dan kematian, lahir dari aspek
relasi seperti ini antara Allah dan orang Israel.
(2) Arti Ekspresi tersebut (Kematian dan Pujian)
a. Ide tentang pujian dan kematian muncul dalam mazmur-mazmur berikut:
6:6; 30:9; 88:11–13; 115:17; 118:17; 119:175; cf. Isa 38:18.
▪ Mz 6:6"Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepada-Mu;
siapakah yang akan bersyukur kepada-Mu di dalam dunia orang
mati?"
▪ Mz 30:10 "Apakah untungnya kalau darahku tertumpah
kalau aku turun ke dalam lubang kubur?
Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu?
Dan memberitakan kesetiaan-Mu?"
b. Westermann berpikir bahwa ekspresi ini berasal dari keluhan pribadi
sebagai suatu motif dukungan terhadap permohonan mereka. Sebagai motif,
itu dimaksudkan untuk menggerakkan Allah untuk menyelamatkan pemazmur
dari penderitaan (Mz 6:6; 30:10; 88:11–13).
c. Pemahaman positif dari ekspresi negatif ini ditemukan dalam Yes 38:19,
"hanyalah orang yang hidup, dialah yang mengucap syukur kepada-Mu."
Westermann menerangkan kejadian di seputar ekspresi dalam Yes 38:18 yang
dipengaruhi oleh keluhan individu. Bagian yang serupa (Mz 115:18; 118:17;
119:175) harus dipahami dalam cara yang sama, yaitu secara positif.
d. Semua bagian ini memiliki arti bahwa di mana ada kematian, tidak ada
pujian. Di sisi lain, di mana ada hidup, ada pujian. Hidup yang tidak memuji
Tuhan tidak memiliki gambaran di sini. Karena kematian tidak berhubungan
dengan pujian, pujian berhubungan dengan kehidupan. Pujian dan tidak
adanya pujian berhubungan satu dengan yang lain sama seperti kehidupan dan
kematian.
3. Struktur Nyanyian Pujian
Nyanyian pujian tidak memiliki struktur yang jelas seperti tipe mazmur yang lain.
Struktur nyanyian pujian secara longgar terbagi dalam 3 bagian:
▪ Pendahuluan
52
▪ Bagian Utama
▪ Kesimpulan
(1) Pendahuluan
a. Sangat sering nyanyian pujian dimulai dengan panggilan imperatif jamak
untuk memuji (kira-kira 200 kali dalam nyanyian pujian). Ekspresi yang
paling sering digunakan adalah panggilan untuk bersuka dan bernyanyi:
i.
ii.
iii.
iv.
 ("Pujilah!")
113:1; 117:1; 135:1, 3; 148:1–4; 150:1–5
 ("Bermazmurlah!") 33:2; 66:2; 105:2; 135:3
 (Bersyukurlah!")
33:2; 105:1; 106:1; 107:1
 ("Nyanyikanlah!")
33:3; 96:1, 2; 98:1; 105:2; 149:1
b. Undangan untuk memuji Tuhan dialamatkan oleh pemimpin ibadah kepada
para penyembah, yang dipanggil dengan berbagai cara:
i.
ii.
iii.
iv.
v.
"Hamba-hamba TUHAN"
"Anak-anak Yakub"
"Orang-orang saleh milik Tuhan"
"Orang-orang benar"
"Mereka yang takut akan Tuhan"
113:1; 134:1; 135:1
105:6
30:5; 145:10; 149:5
32:11; 33:1; 68:4; 140:14
22:24
c. Kadang terlihat tidak cukup bagi pemazmur, yang terinspirasi dan terkagum
dengan Allah yang tak terbatas, kalau hanya Israel yang harus memuji Tuhan.
Karena itu pemazmur mengirim undangan pujian secara internasional dan
universal.
i. "Seluruh bumi"
ii. "Bumi"
iii. "Banyak pulau"
iv. "Ujung bumi"
v. "Semua penduduk dunia"
vi. "segala kamu bangsa-bangsa"
vii. "Rakyat dan bangsa-bangsa"
33:8; 66:1, 4; 96:1, 9; 98:4; 100:1
97:1
97:1
67:8
33:8
22:28; 96:7
47:2; 66:8; 67:4, 5, 6; 117:1
d. Bisa juga undangan tsb disampaikan ke alam: langit, bumi, dan yang lain
(148;
96:11–12).
e. Nasihat untuk memuji Tuhan menemukan realisasi yang lengkap ketika
diarahkan ke “jiwa” pemazmur itu sendiri seperti dalam Mz 103:1, "Pujilah
Tuhan, hai jiwaku, pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku."
f. Kemudian sampailah pada pembacaan nama Tuhan ("Pujilah Tuhan" atau
"Nyanyilah kepada Tuhan").
g. Kadangkala cara bagaimana pujian harus dinyatakan juga terindikasi dalam
teks: "dengan harpa," "dengan tarian," dll (Mz 149:1–3).
h. Sesekali, kata perintah diikuti oleh penjelasan kemuliaan Allah, dan
kemudian, panggilan perintah yang lain untuk memuji diikuti oleh penjelasan
53
tentang kebaikan Tuhan (Mz 100; 95).
(2) Bagian Utama
a. Pendahuluan biasanya diikuti oleh alasan untuk memuji, yang dimulai
dengan "sebab" (117; 135:3). Contoh paling kuno dari struktur ini adalah
pujian Miryam: "Pujilah Tuhan, sebab Ia tinggi luhur" (Kel 15:21).
b. Puji-pujian diperuntukkan bagi sifat-sifat dan karya Allah. Ini dapat
ditambahkan ke dalam pendahuluan dalam rangkaian bentuk partisip: "Yang .
. . , yang . . . ," (Mz 146:7f.).
c. Ketika mazmur berbicara tentang karya Tuhan yang istimewa dalam
sejarah, bentuk perfect, imperfect, dan consecutive imperfect digunakan dan
bukannya bentuk partisip (Mz 104:5, 9). Pujian kadangkala muncul dalam
bentuk pertanyaan retorik "Siapakah seperti TUHAN, Allah kita” (Mz 113:5).
d. Kelihatannya nyanyian pujian yang paling kuno berisi pengulangan yang
konstan tentang ajakan untuk memuji Tuhan (Mz 136).
e. Bagian utama dapat dibagi dalam 2 tipe: umum dan khusus.
i. Tipe yang lebih umum menyebutkan sifat-sifat Allah dan karya-karyaNya yang mulia. Jadi, tipe ini dapat digunakan bagi jenis ibadah apa saja
(Mz 136).
ii. Tipe yang lebih khusus menggambarkan satu situasi yang khusus atau
tindakan Allah yang tunggal dan dimaksudkan untuk digunakan dalam
peristiwa yang khusus pula (Mz 114).
(3) Kesimpulan
a. Tidak ada pola tetap bagi kesimpulan.
b. Kadangkala pendahuluan “Pujilah Tuhan" diulangi di akhir mazmur (Mz
146–150).
c. Sesekali, nyanyian pujian ditutup dengan harapan atau doa singkat bagi
individu atau jemaat (104:31, 34–35).
4. Contoh2
(1) Mazmur 117
a. Struktur
i. Ayat 1: nasihat untuk memuji "Pujilah" dan "Megahkanlah."
ii. Ayat 2: alasan memuji ("kasih" dan "kesetiaan")
b. Latar Belakang
i. Pada waktu ibadah
ii. Karena "bangsa-bangsa", beberapa ahli berpendapat bahwa ini
54
diarahkan kepada para petobat baru.
c. Komentar
i. Alamatnya sangat komprehensif. Itu meliputi semua orang.
ii. Kita tidak melihat dasar khusus untuk memuji. Mungkin ini adalah
kesimpulan dari keseluruhan iman Israel dan terminolog1 umum.
(2) Mazmur 113
a. Struktur A
i. Ayat 1–3: nasihat untuk memuji dengan penekanan pada nama-Nya
ii. Ayat 4–6: dasar untuk memuji (kemuliaan Tuhan)
iii. Ayat 7–9: dasar untuk memuji (kebaikan Tuhan)
b. Struktur B (Kraus)
i. Ayat 1–4: nasihat yang dinyanyikan oleh satu grup paduan suara
ii. Ayat 5–9: pertanyaan retorik bagi dasar untuk memuji dinyanyikan
oleh grup paduan suara yang lain.
c. Latar Belakang
i. "hai hamba-hambaTuhan” dalam ayat 1 dengan jelas mengindikasikan
bahwa latar belakangnya adalah ibadah.
ii. Ayat 7–9 mengimplikasikan perbuatan Allah yang spesifik,
memberikan indikasi bahwa mazmur ini mungkin digunakan untuk
pengingatan pembebasan (yang dilakukan Tuhan). Mungkin ini menjadi
nyanyian perayaan bagi komunitas yang membutuhkan pertolongan dan
tidak memiliki kekuasaan melawan musuh2 yang berkuasa, secara
nasional ataupun social.
d. Komentar
i. Dalam ayat 1–3 panggilan untuk memuji nama-Nya diulangi 3x karena
nama itu termasuk di dalam segala hal yang baik yang penting bagi
kehidupan yang bahagia.
ii. Pujian terhadap nama-Nya haruslah "setiap waktu" dan pada "segala
tempat."
iii. Ayat 5–6 memberikan visi tentang Tuhan yang bertahta di tempat
tinggi dan memerintah seluruh dunia.
iv. Mazmur ini bergerak dari kemuliaan kosmik Allah kepada perhatian
Allah yang khusus dan pribadi kepada orang yang membutuhkan dan
wanita-wanita yang mandul (seperti istri bapa leluhur).
(3) Mazmur 139
55
a. Omniscience (Mahatahu): ayat 1–6
b. Omnipresence (Mahahadir): ayat 7–12
c. Predestinasi: ayat 13–16
d. "Tuhan bersama dengan saya": ayat 17–18
e. Kebencian terhadap musuh2: ayat 19–24. Gambaran penting dari kebencian
ini adalah bahwa musuh-musuh ini bukan hanya musuh-musuh pemazmur
tetapi musuh Allah. Karena alasan ini, dia memohon tindakan Tuhan melawan
mereka.
56
Mazmur Ucapan Syukur Individu
1. Karakteristik Mazmur Ucapan Syukur Individu
(1) Mazmur Ucapan Syukur Individu dan Fungsinya
a. Pembagian Mazmur Ucapan Syukur Individu
Mz 30; 34; 41; 66; 92; 116; 118; 138
b. Fungsi Mazmur Ucapan Syukur Individu
i. Fungsinya adalah mengucapkan syukur kepada Tuhan karena
pengalaman pembebasan dan memuji Dia di hadapan komunitas (misal,
30:2–4; 34:5, 7; 41:5).
ii. Bagaimanapun juga, dalam pengertian tertentu, Mazmur Ucapan
Syukur Individu berhubungan dengan Mazmur Keluhan Individu. Itu
seperti dua tindakan dalam satu drama. Isi Mazmur Ucapan Syukur
Individu mengindikasikan bahwa itu adalah lanjutan dari Mazmur
Keluhan Individu dalam beberapa hal.
(2) Relasi antara Mazmur Ucapan Syukur Individu dan Mazmur Keluhan Individu
a. Di akhir Mazmur Keluhan Individu kita mendengar janji pemazmur untuk
memuji (misal, Mz 7:18; 13:6; 26:12; 28:7c; 35:28; 43:5b; 54:8; 57:10–11):
Mz 13:6
"Aku akan memuji Tuhan,
Karena Dia telah melakukan yang baik bagiku."
b. Janji untuk memuji sekarang digenapi dalam Mazmur Ucapan Syukur
Individu. Apa yang telah dijanjikan digenapi dalam Mazmur Ucapan Syukur
Individu. Salah satu contoh terbaik tentang hal ini terdapat dalam Mz 30:2–4):
"Aku akan memuji Engkau, ya Tuhan,
Sebab Engkau telah menarik aku ke atas
Dan tidak membiarkan musuh2ku bersukacita atas aku.
TUHAN Allahku, aku berteriak minta tolong kepadamu
Dan Engkau telah menyembuhkan aku.
TUHAN, Engkau telah mengangkat aku dari kubur,
Engkau menghindarkan aku turun ke lubang kubur."
c. Faktanya, kesimpulan dari Mazmur Keluhan Individu identik dalam
pengertiannya dengan pendahuluan Mazmur Ucapan Syukur Individu. Janji
untuk memuji di akhir Mazmur Keluhan Individu menjadi pengumuman di
awal Mazmur Ucapan Syukur Individu.
d. Apakah seseorang memulai dengan keluhan atau pujian, elemen yang
ditekankan adalah pujian. Kesamaan dan relasi di antara keduanya dapat
57
disimpulkan dengan cara berikut:
i. Mazmur Ucapan Syukur:
ii. Mazmur Keluhan:
Keluhan Individu
pujian (sekarang) + bahaya (masa lalu)
bahaya (sekarang) + pujian (masa depan)
Ucapan Syukur Individu
"Kepada-Mu aku memanggil,
"Kepada-Mu aku telah
Tuhan Batu Karangku”
menjerit"
"Jawablah aku ketika aku memanggil-Mu!" "Engkau telah mendengarku"
"Bebaskan aku, O Tuhanku!"
"Engkau telah menarik aku
keluar dari lubang kubur"
e. Pendahuluan Mazmur Ucapan Syukur Individu yang paling sering adalah
“voluntative” (ekspresi tekad atau komitmen) seperti yang terlihat dalam
contoh2 berikut. “Voluntative” dalam permulaan Mazmur Ucapan Syukur
Individu oleh karena pernah ada janji yang telah diucapkan sebelumnya.
▪ Mz 30:2
▪ Mz 34:2
▪ Mz 92:1
"Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN"
"Aku hendak memuji TUHAN dalam segala waktu"
"Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN dan
menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi”
2. Latar Belakang Ibadah dalam Kitab Mazmur
(1) Latar Belakang Ibadah yang Terefleksi dalam Mazmur Ucapan Syukur Individu
a. Meskipun para ahli berkata bahwa mazmur digunakan untuk ibadah-ibadah
yang variatif dalam Bait Suci, kita tidak tahu dengan pasti bagaimana ibadah
dilaksanakan karena tidak ada catatan liturgi yang tertinggal pada kita
sekarang. Bagaimanapun juga, elemen-elemen tertentu ibadah dalam Bait Suci
dapat dideteksi dari Mazmur Ucapan Syukur Individu:
i. Membawa persembahan (Mz 66:13–14)
Teks mengindikasikan bahwa Mazmur Ucapan Syukur Individu
disampaikan dengan persembahan kurban pujian.
ii. Memberikan kesaksian (Mz 66:16–20)
Menurut mazmur ini, adalah mungkin bahwa persembahan diikuti
dengan penyampaian kesaksian oleh pemazmur kepada orang lain
untuk menerangkan pembebasan yang menakjubkan dari kesulitan
yang dialami oleh pemazmur.
iii. Tempat untuk memberikan persembahan (Mz 116:17–19)
Mazmur ini menunjukkan bahwa perayaan pemberian persembahan
seperti itu terjadi di halaman Bait Suci.
iv. Ajakan kepada orang lain untuk bergabung (Mz 34:9)
Kesaksian pemazmur tentang pembebasannya disampaikan di hadapan
sekelompok umat, dan para pendengar kadangkala diundang untuk ikut
bergabung dengannya dalam pujian.
58
v. Respon Pendengar (Mz 118:22–24)
Subyek jamak "Kami" (LAI“Kita”) dan konteks mengindikasikan
bahwa ini kemungkinan adalah respon pendengar.
vi. Pemberian Arahan (Mz 34:12–13)
Kesaksian ini biasanya diikuti oleh instruksi/arahan atau pengajaran
yang berisi ungkapan-ungkapan hikmat.
(2) Latar Belakang Ibadah yang Terefleksi dalam Mazmur Keluhan Individu
Beberapa ahli terdahulu (Gunkel dan Mowinckel) sangat menekankan bahwa
Mazmur Keluhan Individu menunjukkan jejak-jejak latar belakang ibadah. Dapat
dikatakan bahwa pendapat mereka ini masih didukung oleh hasil penelitian
beberapa ahli masa kini. Latar belakang ibadah berhubungan dengan 3 elemen:
waktu, tempat, dan aktifitas (lihat silabus hal 32-33).
a. Waktu
i. Beberapa mazmur mengindikasikan bahwa pagi hari adalah waktu
untuk menerima anugerah Allah:
▪ Mz 30:6
"sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi
terdengar sorak sorai"
▪ Mz 46:6
"Allah akan menolongnya menjelang pagi"
▪ Mz 90:14
"Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setiaMu”
▪ Mz 143:8
"Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu
pagi"
ii. Beberapa mazmur mengindikasikan adanya doa-doa di pagi hari:
▪ Mz 5:4
"TUHAN, pada waktu pagi hari Engkau mendengar
seruanku,
Pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu,
dan aku menunggu-nunggu
▪ Mz 57:9
"Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan
kecapi,
aku mau membangunkan fajar!"
▪ Mz 59:17
"Tetapi aku akan menyanyikan kekuatan-Mu,
Pada waktu pagi hari aku mau bersorak-sorai karena
kasih setia-Mu"
▪ Mz 88:14
"Tetapi aku ini, ya TUHAN kepada-Mu aku berteriak
minta tolong,
Dan pada waktu pagi doaku datang ke hadapan-Mu"
b. Jawaban Tuhan
Beberapa mazmur menunjukkan bahwa para penyembah mengharapkan untuk
mendengarkan jawaban atau firman langsung dari Tuhan pada waktu
mempersembahkan kurban (bandingkan dengan Kain dan Habel di Kej 4,
Bileam di Bil 23:3, dan Zakharia di Lk 1:11).
▪ Mz 5:4
"Pada waktu pagi hari aku mengatur persembahan bagi-
59
Mu
▪ Mz 86:17
▪ Mz 38:15
dan aku menunggu-nunggu"
"Lakukanlah kepadaku suatu tanda kebaikan"
“Sebab kepada-Mu, ya TUHAN, aku berharap;
Engkaulah yang akan menjawab, ya Tuhan, Allahku.”
c. Aktifitas-aktifitas
Beberapa mazmur mengindikasikan pembasuhan dan pemurnian diri
dihubungkan dengan ibadah.
▪ Mz 26:6
▪ Mz 51:4
▪ Mz 51:9
"Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah"
"Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku"
"Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop,
maka aku menjadi tahir,
basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!
3. Struktur Mazmur Ucapan Syukur Individu
(1) Pendahuluan
a. Pendahuluan Mazmur Ucapan Syukur Individu dimulai dengan maksud hati
pemazmur untuk “bersyukur” atau “meninggikan” Tuhan.
b. Hal ini diikuti dengan alasan singkat untuk memuji Tuhan (Mz 30:2–4;
116:1; 138:3). Jelaslah bahwa mazmur ucapan syukur adalah hasil dari
tindakan Tuhan. Intervensi Allah adalah sumber dari mazmur2 seperti itu
(bandingkan dengan Kel 15:1 dan Yunus 2). Contoh-contoh tersebut juga
mengindikasikan bahwa pujian paling mendasar terwujud dalam satu kalimat
tunggal.
(2) Bagian Utama
a. Ini adalah catatan tentang tindakan Tuhan. Bagian utama merefleksikan 2
natur keluhan: "Dengarlah doaku!" dan "Selamatkan aku!" Ini dibagi 2:
tinjauan tentang krisis dan catatan tentang penyelamatan.
i. Tinjauan tentang krisis (Mz 30:7–8)"Dalam kesenanganku aku berkata
.. ,"
ii. Catatan pembebasan (Mz 30:11) "Aku yang meratap telah Kauubah
menjadi orang yang menari-nari"
b. Di sini, masalah sering diterangkan sebagai kondisi diperbudak atau hampir
mati, sementara pelepasan dijelaskan sebagai pembebasan dari kematian. Sifat
dualistik, "Dengar" dan "Selamatkan," dalam keluhan juga terefleksi dalam
pujian.
c. Bagian utama biasanya terdiri dari 3 elemen:
i. Laporan bahaya yang dialami pemazmur
ii. Doanya kepada Tuhan
iii. Pelepasan dari Tuhan
60
(3) Kesimpulan
Kesimpulan itu bermacam2 bentuknya tetapi selalu bertujuan untuk memuji
Tuhan:
▪ Mz 30:12 (janji yang
memberikan
diperbaharui untk memuji)
"Ya Tuhan Allahku, aku akan
▪ Mz 66:20 (pujian)
"Pujilah Tuhan yang tidak menolak
▪ Mz 118:28 (pujian)
" Allahku Engkau, aku hendak bersyukur
kepada-Mu,...”
ucapan syukur kepada-Mu selama2nya"
doaku”
4. Contoh2 Mazmur Ucapan Syukur Individu
(1) Mazmur 30
a. Struktur
ayat 1–4
ayat 5–6
ayat 7–11
ayat 12
ayat 13
Pendahuluan
Undangan kepada komunitas
Tinjauan terhadap krisis
Situasi masa lalu (ayat 7–8)
Permohonan di masa lalu (ayat 9–11)
Laporan tentang penyelamatan Allah
Janji yang diperbaharui untuk memuji
b. Latar Belakang
i. Ucapan Syukur.
ii. Seseorang disembuhkan setelah sakit yang mendekati maut (ayat 3–4).
iii. Tidak disebutkan tentang persembahan kurban atau pemenuhan janji.
iv. Upacara ucapan syukur dilakukan di hadapan orang2 kudus (ayat 5).
c. Komentar
i. Kata kuncinya adalah ydh () yang arti aslinya adalah "memuji" dan
bukan "memberikan ucapan syukur."
ii. Pemazmur berkata, "Aku akan meninggikan Engkau" karena Tuhan
telah menyelamatkan dia dari kesusahannya. Dalam ayat 2–4 tindakan
Allah yang menyelamatkan diekspresikan dalam 4 kata kerja:
ayat 2 "Engkau telah menarik aku ke atas (dlh, )"
ayat 3 "Engkau telah menyembuhkan (, )"
ayat 4a "Engkau telah mengangkat aku (, )"
61
ayat 4b "Engkau menghidupkan aku (, )"
iii. Pernyataan tersebut kurang adanya contoh nyata tentang masalah yang
dialami. Baik “penyembuhan” maupun” kubur” dapat dipahami secara
simbolis. Pemazmur tidak bermaksud menghubungkan apa yang terjadi
padanya, tetapi untuk menyaksikan apa yang Tuhan telah perbuat bagi
dirinya.
iv. Undangan bagi para pendengar ditemukan dalam ayat 5-6. Ini adalah
pujian yang deskriptif yang dimulai dengan kata imperatif.
v. Ayat 7 dan 8 mengimplikasikan bahwa krisis datang karena rasa aman
yang palsu. Pemazmur berpikir dia tidak pernah membutuhkan
penyelamatan dari Allah.
vi. Ayat 9 adalah permohonan terdahulu untuk meminta pertolongan.
vii. Ayat 10 berisi alasan bagi tindakan Allah yang segera. Ini bukanlah
ancaman tetapi ide fundamental dalam pemikiran Israel: orang mati tidak
dapat memuji (bandingkan dengan 6:6; 88:11–13; 115:17; Yes 38:18f.).
Memuji Tuhan adalah untuk kehidupan yang nyata. Jadi, hidup tanpa
pujian bukanlah hidup yang lengkap.
viii. Ayat 11 adalah permohonan lain untuk meminta pertolongan.
ix. Penyelamatan Allah dijelaskan secara mendetail di ayat 12.
x. Dalam ayat 13, pemazmur membuat janji lain bahwa dia tidak akan
pernah melupakan hal2 baik yang telah Tuhan lakukan.
(2) Bacalah Mazmur 118
(3) Mazmur 138
a. Struktur
ayat 1–3
ayat 4–6
ayat 7–8
Pendahuluan dengan ringkasan penyelamatan
Undangan untuk bergabung dalam pujian
Kesimpulan
b. Latar Belakang
i. Mazmur Ucapan Syukur Individu
ii. Itu terjadi di halaman Bait Suci (ayat 2)
iii. Ayat 4 mungkin mengimplikasikan bahwa hal ini mungkin
dinyanyikan oleh raja (Daud).
iv. Kemungkinan terjadi selama perang (ayat 7–8)
c. Komentar
i. Pada ayat 1–3 kata kunci bagi pujian adalah "kasih" () dan
62
"kesetiaan" () pada ayat 2. Empat tindakan pemazmur
diekspresikan dengan 3 kata kerja "memuji," "bernyanyi," dan
"bertelut" (, , , , , ).
ii. Pada ayat 4–6 raja2 dianjurkan untuk memuji Tuhan.
iii. "Kasih" () pada ayat 2 dan ayat 8 membentuk inklusio.
iv. Karena pemazmur menyadari bahwa pujiannya tidak mencukupi, dia
memanggil semua raja di bumi untuk mengucap syukur pada Tuhan.
Kebesaran Tuhan layak untuk dipuji oleh seluruh penguasa dunia.
(4) Mazmur 116
a. Struktur
i. Pendahuluan (ayat 1–2)
ii. Tinjauan tentang situasi terdahulu (ayat 3, 10–11)
iii. Laporan pembebasan (ayat 4–9, 15–16)
iv. Pemenuhan janji/nazar (ayat 12–14, 17–19)
b. Latar Belakang
i. Pemberian kurban syukur di Bait Suci selama hari-hari raya (ayat 14,
18,
19).
ii. Seperti yang umumnya dalam mazmur-mazmur lain, masalah
aktualnya tidak jelas, tetapi itu adalah situasi yang membahayakan
kehidupan (ayat 3, 8, 15). Sakit adalah latar belakang yang paling mungkin
daripada penganiayaan dengan tuduhan palsu (bandingkan dengan ayat
11).
c. Komentar
i Pemazmur terlihat diserang bukan hanya oleh kuasa kematian tetapi
juga oleh orang-orang.
ii. Dia memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan hidupnya
berdasarkan ikatan antara dirinya dengan Allah sebagai hamba dan tuan.
Ketika dia berkata "anak laki-laki dari hamba-Mu perempuan," (ayt. 16)
dia berpikir tentang generasi2 berikutnya yang mengakui Allah sebagai
tuannya.
iii. Pertanyaan retorik "Bagaimanakah aku akan membayar . . . ?"
mengekspresikan emosi pemazmur oleh karena telah menerima hadiah
besar itu, sehingga tidak ada ucapan syukur yang dapat diberikan yang
seimbang dengan pemberian tersebut.
63
Mazmur Ucapan Syukur Komunal
1. Karakteristik Mazmur Ucapan Syukur Komunal
(1) Pembagian Mazmur Ucapan Syukur Komunal
Mz 67; 75; 107; 124; 129; 136
(2) Jarangnya Mazmur Ucapan Syukur Komunal
a. Para ahli menunjukkan perbedaan pendapat yang besar tentang kategori ini
dibandingkan kategori mazmur yang lain. Bagaimanapun juga, mereka setuju
dalam satu hal: tidak terlalu banyak terdapat mazmur yang dapat
diklasifikasikan sebagai mazmur ucapan syukur komunal:
i.
ii.
iii.
iv.
Gunkel: Mz 66:8–12; 67; 124; 129
Westermann: Mz 124; 129
Weiser: Mz 124
Murphy: Mz 67; 124
b. Jarangnya mazmur ucapan syukur komunal merupakan fakta yang aneh
karena jenis mazmur ini dapat menjelaskan dengan baik relasi antara Allah
dan Israel. Beberapa ahli mencoba menjelaskan fenomena yang tidak biasa ini
dengan beberapa cara sebagai berikut:
i. Di satu sisi, kitab Mazmur seperti yang kita miliki sekarang telah
dibentuk setelah pembuangan selama masa dimana tidak ada tindakan
penyelamatan Allah kepada mereka sebagai suatu bangsa. Di sisi lain,
waktu yang mana Israel mengalami pembebasan Allah terjadi pada masa
lalu.
ii. Penjelasan lain adalah adanya kemungkinan mazmur pujian
“menyerap” mazmur ucapan syukur komunal karena perbedaan di antara
mereka sangat sulit dideteksi. Mungkin orang Israel kuno tidak dengan
jelas membedakan seperti yang dilakukan ahli modern.
(3) Relasi antara Mazmur Ucapan Syukur Komunal dan Mazmur Keluhan Komunal
a. Telah dijelaskan adanya hubungan antara mazmur keluhan individu dan
mazmur ucapan syukur individu. Tapi tidak ada hubungan antara mazmur
keluhan komunal dan mazmur ucapan syukur komunal.
b. Ketiadaan hubungan di antara keduanya mungkin karena permohonan umat
pada saat bencana nasional tidak dapat berubah dengan cepat menjadi sebuah
pujian seperti dalam kasus mazmur ucapan syukur individu.
(4) Asal Mula Mazmur Ucapan Syukur Komunal
a. Pujian Kemenangan kemungkinan adalah asal mula dari tipe mazmur ini
64
(misal Hakim 5 dan 1 Sam 18:7).
b. Semula mazmur ini terdiri dari stanza-stanza pendek terdiri dari 2 baris
yang diulangi tidak beraturan (Kel 15:21).
(5) Dua Jenis Mazmur Ucapan Syukur Komunal
a. Pujian Syukur Israel (Mz 124; 129)
i. Tidak ada kiasan tentang peperangan.
ii. Peristiwa historis sebagai latar belakangnya tidak jelas.
b. Pujian Kemenangan
i. Tidak ada pujian kemenangan yang dimasukkan ke dalam Mazmur. Ini
mungkin karena setelah penghancuranYerusalem pada 586 SM dan
pembuangan Babel, Israel tidak lagi mengalami kemenangan untuk
beberapa abad.
ii. "Buku Perang Tuhan" dalam Bil 21:14 pasti berisi pujian-pujian
kemenangan.
iii. Bagian utama pujian kemenangan adalah laporan peperangan dan
kemenangan (missal Hakim 5).
iv. Pujian Debora (Hakim 5), satu-satunya pujian kemenangan yang
disampaikan secara panjang lebar dan berasal dari jaman sebelum
pembuangan yang ditransmisikan secara penuh, menunjukkan melalui
strukturnya kesamaan dengan mazmur pujian komunal.
ayat 2–3
ayat 4–5
ayat 6–8
ayat 9–11
ayat 12–30
ayat 31
Nasehat untuk memuji Tuhan
Deskripsi kedatangan Tuhan
Bahaya di masa lalu
Permulaan baru untuk memuji Tuhan
Catatan kemenangan
Musuh-musuh Allah, kawan-kawan Allah
(6) Deskripsi Kedatangan Tuhan dalam Pujian Kemenangan
Beberapa pujian kemenangan menunjukkan deskripsi umum tentang kedatangan
Tuhan dengan elemen2 berikut di dalamnya (misal Hakim 5:4–5; Mz 18:8–15;
68:8–9, 34):
a. Kedatangan Tuhan
b. Kekacauan kosmis yang menyertai kedatangan-Nya
c. Pertolongan Tuhan
Hakim 5:4–5 Mz 18:8–15
Kedatangan Tuhan
Bumi
Gunung2
4a
4b
5
10
8a
8a
65
Tuhan mengendarai. . .
Air
Guntur
Panah2
4b
11
12
14
15
2. Struktur
(1) Oleh Mowinckel
a. Pendahuluan
b. Bagian Utama: catatan bahaya dan keselamatan
c. Kesimpulan: undangan untuk memuji dan ucapan syukur
(2) Oleh Westermann (Mz 124; 129)
a. Nasehat: "Biarlah Israel berkata demikian" (124:1b; 129:1a)
b. Ringkasan pendahuluan: "Jikalau bukan . . . " (124:2a)
c. Melihat ke belakang: "Ketika manusia bangkit . . . " (124:2b–5; 129:3)
d. Pujian: "Terpujilah Tuhan . . . " (124:6; 129:4)
e. Laporan Tindakan Tuhan (124:6–7; 129:4b)
f. Kesimpulan: Keyakinan, harapan-harapan (124:8; 129:5–8)
3. Contoh2 Mazmur Ucapan Syukur Komunal
(1) Mazmur 107
a. Struktur
i. Undangan secara umum untuk mengucap syukur (ayat 1–3)
ii. 4 mazmur ucapan syukur mini (ayat 4–32) dengan struktur yang sama
(malapetaka, teriakan minta tolong, penyelamatan, ucapan syukur)
▪ ayat 4–9
Para pengembara pulang kembali
▪ ayat 10–16 Para tahanan dibebaskan
▪ ayat 17–22 Orang sakit disembuhkan
▪ ayat 23–32 Orang yang mengarungi laut diselamatkan
b. Latar Belakang
i. Ibadah ucapan syukur bersama (bandingkan dengan Kis 21:23–26)
yang dilakukan pada saat perayaan hari-hari raya.
ii. Pengingatan dari imam untuk memberikan janji dan ucapan syukur
iii. Para penyembah dari segala penjuru dunia berkumpul (ayat 3).
iv. Empat situasi bukanlah kasus-kasus yang spesifik melainkan sebuah
paradigma bagi para penyembah untuk memberikan kesempatan
mengucap syukur.
66
c. Komentar
i. Pertanyaannya adalah "Apakah hal ini menjelaskan sejarah Israel atau
empat situasi pribadi?"
ii. Beberapa orang menafsiran mazmur ini sebagai berikut:
ayat 4–9 dari padang gurun ke Kanaan
ayat 10–16 pembebasan dari Mesir dan Babel
ayat 17–22 pemulihan orang mati (Israel di pembuangan)
ayat 23–32 alegori seperti kisah Yunus
ayat 33–43 penghancuran orang Kanaan dan pendudukan
Israel di Kanaan
iii. Ayat 2 dan 3 mengindikasikan bahwa mungkin mazmur sebelum
pembuangan telah ditransformasi menjadi ucapan syukur komunal pasca
pembuangan bagi Diaspora.
iv. Struktur khiastic dalam ayat 4–32
ayat 4–9, perjalanan (keselamatan dari kekacauan)
ayat 10–16, malapetaka karena dosa (keselamatan dari dosa)
ayat 17–22, malapetaka karena dosa (keselamatan dari dosa)
ayat 23–32, perjalanan (keselamatan dari kekacauan)
v. Arti mula-mula dari mazmur ini mungkin menjelaskan sejarah Israel,
tetapi itu telah ditafsirkan ulang di masa kemudian untuk menjelaskan
perjalanan para peziarah melewati wilayah, laut, penjara, dan penyakit.
(2) Mazmur 124
a. Struktur
ayat 1–5
ayat 6–7
ayat 8
Nasehat untuk mengingat kembali masa lalu
Pujian dan laporan tindakan Allah
Pengakuan keyakinan (dalam Tuhan)
b. Latar belakang: ayat 1b mengindikasikan bahwa mazmur ini digunakan
dalam ibadah komunal.
67
Mazmur Penciptaan
1. Karakteristik Mazmur Penciptaan
(1) Mazmur-mazmur Penciptaan: Mz 8; 19; 65; 104; 148
(2) Karakteristik Mazmur Penciptaan
a. Menurut Westermann, mazmur penciptaan adalah satu-satunya kelompok
mazmur dalam Kitab Mazmur yang mana sebuah motif dikembangkan ke
dalam mazmur independen.
b. Masing-masing mazmur penciptaan berbeda. Itu menunjukkan bahwa ketika
suatu motif dikembangkan untuk membentuk sebuah mazmur yang utuh, tidak
ada lagi bentuk yang kaku.
c. Bagi pemazmur dari mazmur penciptaan, dunia dipenuhi oleh hal-hal
"baik", menggemakan Kej 1:1–2:4a, yang menerangkan setiap elemen realitas
sebagai "baik" dan keseluruhan ciptaan sebagai "sangat baik." Mazmurmazmur ini merefleksikan pandangan umum Israel bahwa penciptaan adalah
"baik," yaitu teratur, indah, dan kehidupan yang meningkat dan menopang
diri.
d. Dalam mazmur penciptaan, dunia yang diciptakan tidaklah diam atau bisu.
Dia mengirimkan pesan untuk memuji keagungan, kuasa, dan kemuliaan
Tuhan. Itu ditampilkan dengan baik dalam Mz 19:
Langit menceritakan kemuliaan Allah,
Cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.
Hari meneruskan berita itu kepada hari,
Malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.
Tidak ada berita dan tidak ada kata,
Suara mereka tidak terdengar.
Gema mereka terpencar ke seluruh dunia,
Perkataan mereka sampai ke ujung bumi.
e. Allah sebagai Pencipta dunia memberikan fungsi kepada semua ciptaan,
termasuk umat manusia. Dia memberikan kepada mereka kuasa terhadap
dunia seperti dalam Mz 8, dan mereka memuji Tuhan karena ciptaan-Nya dan
kedaulatan-Nya terhadap dunia.
f. Kesamaan yang paling jelas dengan struktur dasar mazmur pujian
ditunjukkan dalam Mz 8, yang mana polaritas dari kemuliaan Allah (8:2, 10)
dan kasih karunia Allah (8:5) menghubungkan ciptaan-Nya kepada manusia
sebagai bagian dari ciptaan-Nya. Mungkin usaha membawa dua bagian ini
secara bersama dalam Mz 19 dimaksudkan untuk bergerak dalam arahan
polaritas ini.
68
2. Contoh-contoh Mazmur Penciptaan
(1) Mazmur 8
a. Struktur
i. Inklusio (ayat 2a dan 10)
ii. Kontras antara kemuliaan Tuhan dan bayi (ayat 2b–3)
iii. Kontras lain antara alam semesta dengan manusia (ayat 4–5)
iv. Dominasi manusia terhadap ciptaan yang lain (ayat 6–9)
b. Latar Belakang
i. P.C. Craigie mengusulkan bahwa latar belakang mazmur ini adalah
ibadah komunal. Usulnya didasarkan pada adanya perubahan subyek dari
jamak "Kami" dalam ayat 2 menjadi tunggal "Saya" dalam ayat 4.
ii. Indikasi lain dari teks (ayat 4) adalah bahwa ibadah mungkin terjadi
pada malam hari (bandingkan dengan Mz 134:1 untuk ibadah malam).
c. Komentar
i. Agama kafir mungkin memimpin penyembahan kepada benda-benda
langit, namun Israel tidak pernah mengilahkan alam. Inilah perbedaan
antara Israel dan bangsa-bangsa lain.
ii. Bagi pemazmur, ocehan bayi yang kacau dan tidak jelas dalam ayat 3a
adalah perayaan kemegahan Allah.
iii. Pemazmur mengalihkan pandangannya dari keagungan ciptaan Allah
kepada ketidakberartiannya manusia.
iv. Kemudian, dia menyadari mandat agung yang diberikan kepada
manusia.
v. Childs mengusulkan pemahaman kanonik berkenaan dengan mazmur
ini, yang memberikan kepada kita arti yang sepenuhnya berbeda. Menurut
Ibr 2:5–9, Yesus adalah pribadi yang "dibuat untuk waktu yang singkat
lebih rendah daripada malaikat-malaikat" tetapi "dikaruniai kemuliaan dan
hormat" karena penderitaan-Nya.
vi. Arti kanonikal lain dari mazmur ini adalah itu bukanlah pujian tentang
“manusia alami" tetapi pujian tentang "manusia" yang diselamatkan Allah
melalui Yesus Kristus.
(2) Mazmur 104
a. Struktur
69
ayat 1a
ayat 1b–30
ayat 2–4
ayat 5–9
ayat 10–18
ayat 19–23
Pendahuluan, panggilan untuk memuji
Pujian terhadap Pencipta, tafsiran terhadap Kej 1
Pujian terhadap Pencipta langit
Penciptaan bumi dan pemisahan air dan darat
Mata air, hujan, binatang, dan tumbuhan
Matahari dan bulan, siang dan malam, kehidupan di
ayat 24–26
ayat 27–30
ayat 31–35a
ayat 31–32
ayat 33–34
ayat 35a
ayat 35b
Laut dan isinya
Allah penopang/pemelihara semua ciptaan
Harapan bagi Tuhan, saya, dan musuh
Harapan bagi Tuhan (positif)
Harapan bagi saya (positif)
Harapan bagi orang berdosa (negatif)
Panggilan untuk memuji
dunia
b. Latar Belakang
i. Pujian individu tentang Pencipta
ii. Temanya kelihatannya berhubungan dengan Tuhan sebagai Raja, yang
dirayakan dalam hari-hari raya tertentu.
c. Komentar
i. Kombinasi partisip dan perfekt (ayat 2–4, 5, 6)
ii. Mazmur 104 menunjukkan urutan yang sama dengan Kej 1.
Mazmur 104
104:1–4
104:5–9
104:10–13
104:14–18
104:19–23
104:24–26
104:27–30
Subyek
Penciptaan langit dan bumi
Air terdorong ke belakang
Air ditaruh di tempat yang berguna
Penciptaan tumbuhan
Penciptaan benda2 langit
Penciptaan binatang2 laut
Penciptaan makhluk hidup
Kejadian 1
1:1–5
1:6–10
1:6–10
1:11–12
1:14–18
1:20–22
1:24–31
iii. Allah memanifestasikan diri-Nya sendiri dari kemah atau istana-Nya
sebagai Raja Surgawi (ayat 2–4)
iv. Pemazmur berbagi dunia dengan binatang buas, burung, dan
tumbuhan. Dia bukannya acuh tak acuh terhadap ciptaan yang lain.
v. Harapannya adalah bagi kemuliaan Allah sampai kekekalan dan bagi
dunia yang sempurna tanpa orang2 berdosa.
(3) Mazmur 148
a. Struktur
ayat 1–6
ayat 1–5a
Pujilah Tuhan di surga
Panggilan untuk memuji Tuhan
70
ayat 5b–6
Alasan untuk memuji
ayat 7–13
Pujilah Tuhan di bumi
ayat 7–13a Panggilan untuk memuji Tuhan
ayat 13b
Alasan untuk memuji
ayat 14
Kesimpulan
b. Latar Belakang
i. Tidak ada petunjuk jelas bagi situasi ibadah dari mazmur ini.
ii. Kraus menyadari bahwa mazmur ini mungkin digunakan sebagai
nyanyian pujian untuk ibadah publik (bersama).
c. Komentar
i. Ini adalah mazmur imperatif yang dimulai dan diakhiri dengan teriakan
untuk memuji "Haleluya."
ii. Perluasan panggilan untuk memuji kepada semua ciptaan bukanlah
retorik melainkan keluar dari iman bahwa semua ciptaan dapat berlaku
kepada Pencipta seperti yang dilakukan manusia.
iii. Alasan untuk memuji bagi benda-benda langit ialah bahwa mereka
diciptakan oleh-Nya, sementara alasan yang sama bagi benda-benda di
bumi adalah tidak ada nama lain selain Allah yang harus ditinggikan di
bumi (kontras).
71
Mazmur Tuhan sebagai Raja
1. Daftar dan Karakteristik Mazmur Tuhan sebagai Raja
(1) Daftar Mazmur Tuhan sebagai Raja: Mz 47; 93; 95; 96; 97; 98; 99
(2) Karakteristik Mazmur Tuhan sebagai Raja
a. Sebelumnya, mazmur-mazmur ini disebut Mazmur Penobatan oleh Gunkel,
Mowinckel, dan ahli yang lain karena dalam mazmur-mazmur ini tema
memuji Tuhan sebagai Raja sangatlah dominan. Westermann memasukkan
mazmur-mazmur ini dalam kategori mazmur dengan pujian yang deskriptif.
b. Ekspresi, "Tuhan memerintah" atau "Tuhan telah menjadi raja" dalam
Mazmur Tuhan sebagai Raja diterangkan oleh Mowinckel sebagai berikut:
i. Frasa khusus dalam Mazmur Tuhan sebagai Raja adalah "Tuhan
memerintah" (, , 93:1; 97:1; 47:8; 96:10).
Mowinckel berpendapat bahwa terjemahan yang benar dari frasa tersebut
haruslah "Tuhan telah menjadi raja" daripada "Tuhan memerintah."
Penekanannya ialah pada konotasi ingressive (permulaan suatu tindakan)
dan bukan pada pengertian durative (suatu jangka waktu tertentu). Dia
berkata bahwa terjemahan "Tuhan memerintah" salah arah.
ii. Pendirian teguh Mowinckel tentang terjemahan ini berkaitan dengan
latar belakang mazmur ini yang diusulkannya. Dia dan ahli kritik bentuk
lainnya memahami bahwa latar belakang mazmur-mazmur ini adalah hari
raya untuk merayakan kenaikan Allah ke tahta sebagai raja. Karena alasan
ini, dia berargumen bahwa terjemahan "Tuhan telah menjadi raja" adalah
benar karena itu menjelaskan apa yang telah terjadi.
iii. Untuk mendukung pendapatnya, dia menampilkan bagian-bagian
Alkitab yang parallel, dimana konotasi ingressive yang sama ditemukan.
Dalam 2 Sam 15:10 dan 2 Raja 9:13, baik Absalom dan Yehu
diproklamasikan sebagai raja dengan frasa:
2 Sam 15:10, 
()
"dan kamu akan berkata, 'Absalom sudah menjadi raja
di Hebron'."
2 Raja 9:13,

()
"dan mereka berkata, 'Yehu telah menjadi raja'."
c. Karena fakta bahwa banyak ahli menolak hipotesa Mowinckel tentang hari
raya penobatan sebagai sesuatu yang tidak ada dasarnya, tipe mazmur ini
sekarang disebut "Mazmur Tuhan sebagai Raja" atau sesuatu yang mirip
dengan itu.
(3) Yesaya dan Mazmur Tuhan sebagai Raja
a. Beberapa ahli memperhatikan bahwa ada hubungan erat antara Mazmur
72
Tuhan sebagai Raja dan Kitab Yesaya (fasal 40–66) dalam menerangkan Allah
sebagai Raja.
b. Contoh terbaik dapat ditemukan dalam Yes 52:7, dimana pembawa berita
baik membawa ke Zion berita bahwa Tuhan adalah Raja.
Yes 52:7
Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit
kedatangan pembawa berita,
yang mengabarkan berita damai dan
memberitakan kabar baik,
yang mengabarkan berita selamat dan
berkata kepada Sion: "Allahmu itu Raja!"
()
()
c. Mengarah pada ketergantungan antara Mazmur Tuhan sebagai Raja dan
Yesaya, opini para ahli terbagi dalam 2 kelompok:
i. Pandangan pertama menyebutkan bahwa tema Allah sebagai Raja yang
ditemukan dalam Kitab Mazmur dipinjam dari Yesaya. Para ahli yang
mendukung pendapat ini cenderung menentukan tanggal penulisan
Mazmur Tuhan sebagai Raja pasca pembuangan.
ii. Pandangan kedua memahami bahwa Mazmur Tuhan sebagai Raja yang
ditemukan dalam Kitab Yesaya sama seperti bagian lain dari PL (misal
Zef 3 dan Zakh 9) adalah karena pengaruh Mazmur Tuhan sebagai Raja
pada mereka. Jadi, Yesaya adalah saksi eksistensi mazmur-mazmur ini
dalam masa sebelum pembuangan.
d. Westermann, berdasarkan bentuk Yesaya 52 dan Mazmur Tuhan sebagai
Raja mendukung opini pertama dengan alasan2 berikut:
i. Dalam Yesaya 52, seruan ditemukan di dalam konteks yang mana
pesannya adalah sesuatu yang sangat dinanti-nantikan dan disambut
dengan sorak sorai kegirangan, dibawa oleh pembawa berita yang datang
dari puncak gunung menuju Yerusalem. Dalam Mazmur Tuhan sebagai
Raja seruan menjadi rumusan yang terpisah dari konteks.
ii. Dalam Yesaya 52 Tuhan telah menjadi Raja terhadap dan bagi Israel.
Dalam Mazmur Tuhan sebagai Raja, seperti dalam Mz 47, Dia telah
menjadi raja terhadap bangsa-bangsa. Dalam gambaran menyeluruh,
adalah beralasan untuk berpikir bahwa Tuhan dikatakan pertama-tama
sebagai Raja Israel, dan kemudian sebagai Raja bangsa-bangsa dan Raja
seisi dunia.
iii. Mazmur Tuhan sebagai Raja tidak membentuk suatu kategori
tersendiri, atau tersatukan oleh tanda-tanda umum untuk suatu kategori.
Sebaliknya, di seluruh mazmur ini kita berurusan dengan bentuk campuran
yang diambil dari kategori-kategori yang sangat bervariasi.
iv. Di samping fakta bahwa semua Mazmur Tuhan sebagai Raja adalah
mazmur-mazmur campuran, dalam bahasa dan komposisi mereka
73
menunjukkan tanda-tanda dari periode terkemudian.
v. Asal mula motif "Tuhan telah menjadi Raja" dalam Yes 52 dan
pengambilalihan motif ini ke dalam kelompok mazmur pada periode pasca
pembuangan dapat dijelaskan bukan tanpa kesulitan. Penjelasan sebaliknya
tidak memungkinkan tanpa hipotesa-hipotesa yang luas, seperti halnya
keberatan terhadap asumsi tentang hari raya penobatan Tuhan, yang dalam
PL hanya dapat didasarkan esensinya pada mazmur-mazmur ini.
2. Struktur Mazmur Tuhan sebagai Raja
(1) Pendahuluan
a. Frasa "Tuhan memerintah" (LAI “TUHAN adalah Raja”) sering ditemukan
dalam permulaan mazmur-mazmur ini (93:1; 97:1; 47:8; 96:10).
b. Frasa yang lain ditemukan dalam pembukaan adalah nasihat, panggilan
seluruh bumi untuk menyanyi dan memuji Dia (47:1; 96:1; 98:4).
(2) Perbandingan antara Tuhan dan allah-allah lain
a. Tuhan ialah Raja yang besar di atas segala allah (95:3; 96:4; 97:9).
b. Pemazmur mengundang allah lain untuk gentar di hadapan-Nya dan
menyembah Dia (97:7).
(3) Ciptaan
a. Ide utama berhubungan dengan Tuhan sebagai Raja adalah ciptaan-Nya
(95:3–5; 96:5).
b. Jadi, semua yg diciptakan diundang untuk memuji Dia (96:11f.; 97:6a;
98:7–8).
(4) Penghakiman: kadangkala ada ide tentang penghakiman atau penghukuman Allah
(97:8; 98:9).
3. Latar Belakang Mazmur Tuhan sebagai Raja
(1) Latar Belakang Kultus oleh Mowinckel
a. Meskipun Mowinckel mengakui bahwa mazmur-mazmur ini dapat
dinyanyikan secara eskatologis, pengharapan bahwa Allah akan
menghancurkan kuasa jahat dan membebaskan umat untuk mendirikan
kerajaan eskatologis Allah, dia berkata bahwa itu tidak dapat menjadi latar
belakang mula-mula dari mazmur ini.
b. Menurutnya, latar belakang mula-mula pastilah kultus. Kesimpulannya
didasarkan pada beberapa pengamatan berikut.
74
i. Kesan yang kuat yang tampak dalam mazmur ini adalah para
penyembah yang merayakan Tuhan sebagai raja di masa sekarang.
Mereka tidak bermaksud untuk menjelaskan kerajaan-Nya secara umum;
mereka hanya bersuka bahwa hal itu terjadi sekarang.
ii. Yang pemazmur terangkan adalah perayaan besar tentang penobatan
raja, dalam kasus ini, Tuhan. Ekspresi dalam 47:6, "Allah telah naik,"
dengan kuat mengindikasikan latar belakangnya adalah ibadah untuk
merayakan Tuhan sebagai raja.
iii. Dalam penobatan kehadiran Allah secara pribadi disimbolkan dengan
tabut Allah (bandingkan dengan Mz 24:7–10). Dalam Mz 99:5 dan 132:7
tabut Allah diterangkan sebagai tumpuan kaki-Nya (bandingkan dengan
Yes 66:1, bumi, dan Rat 2:1, Bait Suci). Ini mengindikasikan penulisan
tipe mazmur ini mungkin kembali ke masa sebelum pembuangan.
iv. Mowinckel memahami hari raya penobatan sebagai asal mula konsep
"Hari Tuhan."
(2) Westermann
a. Dia tidak menerima kategori mazmur penobatan. Menurutnya, apa yang
orang lain sebut sebagai mazmur penobatan hanyalah perluasan dan
modifikasi dari mazmur-mazmur deskriptif.
b. Tetapi dalam kasus ini, ide tentang eskatologi sangat dominan.
(3) Arti Penting Mazmur Tuhan sebagai Raja secara Teologis
a. Elemen kosmik yang diindikasikan dalam mazmur ini memberikan
implikasi bahwa Allah bukanlah Allah suku atau sektarian melainkan Allah
universal yang kepada-Nya segala bangsa harus tunduk.
b. Pelayanan Yesus dalam PB adalah realisasi liturgy PL (bandingkan dengan
Mk 1:14–15). Dia tidak memproklamasikan "Kerajaan Yesus," melainkan
"Kerajaan Allah." Dia punya perhatian terhadap Kerajaan Allah dan Allah
sebagai Raja.
c. Sampai sekarang, kita melanjutkan berdoa untuk metafora ini, Tuhan
sebagai Raja. Kita berdoa setiap hari Kerajaan Allah datang ke bumi. Bagi
kita, mazmur penobatan adalah pengharapan masa depan. Dia akan datang
sebagai Raja untuk menghakimi seluruh bangsa.
4. Mazmur Tuhan sebagai Raja sebagai sebuah Metafora
(1) Arti Penting Metafora
a. J. L. Mays dengan yakin berpendapat bahwa "Tuhan memerintah" adalah
pusat dan metafora yang terorganisir bagi teologi kitab Mazmur. Setuju
dengan T. N. D. Mettinger, dia membuat ungkapan "akar metafora," dan
75
menerangkan bahwa apapun yang disebut dalam kitab Mazmur tentang Tuhan
dan relasinya dengan dunia dan umat manusia berakar dalam pengertian dan
kebenaran dari metafora ini.
b. Kata kerja  () dalam ungkapan ini lebih berarti suatu aktifitas
daripada jabatan. Ini adalah istilah bagi kedaulatan dinamis, suatu kedaulatan
yang diatur dalam 2 pola aktifitas:
i. Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara mengatur dunia yang kacau.
ii. Allah sebagai Hakim dan Penyelamat mengintervensi kekacauan
manusia melalui penghukuman dan pembebasan.
c. Semua topik dan fungsi lain dari bahasa mazmur cocok dengan pola
kedaulatan ini. "Umat" Allah, "tempat kediaman" Allah, "Messias," "hukum"
Allah, "doa-doa," "nyanyian-nyanyian pujian," dan yg lain berhubungan
dengan konsep Allah sebagai Raja.
(2) "Tuhan memerintah" sebagai Pusat Teologi Kitab Mazmur
a. Ruang Lingkup Dominasi Allah
i. Tuhan adalah Penguasa segala allah (Mz 95:3)
ii. Tuhan memerintah dunia dan semua elemen-elemen pembentuknya
(Mz 93:3–4; 95:4–5)
iii. Tuhan memerintah segala bangsa dan umat (Mz 47:3, 8–9; 99:2)
iv. Tuhan memerintah di Zion (Mz 97:8)
b. Institusi-institusi dari Pemerintahan Allah
i. Tahta Tuhan bersandar pada fondasi keadilan dan hukum (Mz 97:2)
ii. Tuhan bertahta di atas kerub-kerub (Mz 99:1)
iii. Rumah Tuhan sebagai Raja berdiri kokoh di atas gunung kudus (Mz
93:5)
iv. Tempat Kudus-Nya memiliki pelataran (Mz 96:8)
v. Tuhan telah memberikan keputusan dan peraturan kepada umat-Nya
untuk mengatur hidup mereka (99:7; 93:5)
c. Tindakan-tindakan Kedaulatan Allah
i. Tindakan kosmik Allah diterangkan dalam Mazmur 93, dimana elemen
yang melawan Allah adalah "air yang besar." Itu dipahami sebagai
kekacauan zaman purba. Tuhan menegakkan stabilitas sebagai tanda dari
pemerintahan-Nya.
ii. Tindakan historis Allah untuk menyatakan pemerintahan-Nya adalah
penundukan rakyat dan bangsa-bangsa dalam rangka memberikan kepada
Yakub-Israel suatu milik pusaka (Mz 47).
76
5. Contoh2 Mazmur Tuhan sebagai Raja
(1) Mazmur 97
a. Struktur
ayat 1
ayat 2–5
ayat 6–9
ayat 7
ayat 8–9
ayat 10–13
Rumusan Tuhan sebagai Raja, panggilan untuk bersuka
Prosesi kemenangan Allah
Keilahian Tuhan yang tiada duanya
Berita buruk bagi para penyembah berhala
Berita baik bagi Yehuda
Dorongan kekuatan bagi orang benar
b. Komentar
i. Dalam ayat 10, "bencilah kejahatan" berasal dari kasih perjanjian
Allah.
ii. "Bersukacita" dalam ayat 1 dan ayat 12 berfungsi sebagai inklusio.
iii. Dalam ayat 9, "Tuhan, Yang Mahatinggi" (,
) pertama-tama digunakan oleh imam-raja Melkisedek dalam
Kej 14:18 (, ). Itu biasanya dihubungkan dengan
ibadahnya di Yerusalem.
iv. Dalam ayat 7–8, penghakiman adalah suatu sukacita bagi umat
sementara itu adalah berita buruk bagi para penyembah berhala.
(2) Mazmur 47
a. Struktur
ayat 2–5
ayat 2
ayat 3
ayat 4
ayat 5
ayat 6
ayat 7–8
ayat 7
ayat 8
ayat 9–10
Nyanyian Pujian
Panggilan untuk memuji
Alasan untuk memuji Dia
Pemerintahan Universal/Kemenangan Allah
Pemilihan Israel
Rumusan Penobatan
Nyanyian Pujian
Panggilan untuk memuji
Alasan untuk memuji
Ibadah Tuhan sebagai Raja oleh para bangsawan
b. Komentar
i. Tabut Allah dibawa masuk (ayat 6).
ii. Maskil (ayt. 8) diterjemahkan dalam NEB sebagai "with all your art"
(dengan semua kemampuan senimu)
iii. Dalam ayat 9, kata kerja, "memerintah" dan "bertahta/bersemayam,"
77
adalah kata kerja bentuk perfect. Westermann memberikan catatan bahwa
hal ini adalah tidak biasa dalam mazmur pujian deskriptif, dan
menyimpulkan bahwa itu dikarenakan ide eskatologis dalam mazmur.
78
Mazmur Liturgikal
1. Karakteristik Mazmur Liturgikal
(1) Daftar Mazmur Liturgikal
a. Mazmur 15 dan 24
b. Mazmur Liturgikal adalah Mz 15 dan 24, tetapi ada mazmur-mazmur lain
yang berisi elemen dialog antiphonal (bertanggapan) atau tindakan liturgikal
dengan menggunakan kata-kata (banding dengan Mz 81; 95; 115).
(2) Karakteristik Mazmur Liturgikal
a. Mazmur Liturgikal dibentuk oleh beberapa aktifitas liturgikal, yang terdiri
dari kata-kata liturgikal dan tindakan liturgikal.
b. Biasanya, dialog antiphonal atau responsif dapat dikenal dalam mazmurmazmur tersebut. Dialog antiphonal seperti itu dalam ibadah disertai dengan
aktifitas yang telah ditunjukkan oleh 2 kelompok atau oleh liturgis dan jemaat:
i. Bergantian antara 2 kelompok
ii. Bergantian antara pemimpin pujian dan jemaat
c. Sebagai tambahan untuk dialog antiphonal, terdapat beberapa tindakan sbb:
i. Sujud
ii. Menunduk
iii. Bangkit
iv. Gerakan2 tangan
v. Prosesi
vi. Berjalan di seputar altar
vii. Mempersembahkan kurban atau makanan
2. Contoh2 Ibadah Bait Suci
(1) Ulangan 26:1–10
Petani yang ingin membawa hasil pertama ke Bait Suci harus melakukan hal-hal
berikut:
a. Pergi ke tempat ibadah (dalam kasus ini, Yerusalem): ayat 2
b. Mendeklarasikan bahwa Tuhan telah menepati janji-Nya tentang tanah: ayat
3
c. Menaruh hasil tanah di depan altar oleh imam: ayat 4
d. Menyuarakan pengakuan iman (kredo) di depan altar: ayat 5–10
(2) Mazmur 66:13–20
a. Meskipun penyebutan kurban-kurban persembahan tidak terdapat di
79
mazmur yang lain, kita berasumsi dari Mazmur 66:13–15 bahwa mulanya
suatu persembahan kurban telah dihubungkan dengan setiap mazmur nazar,
dan bahwa deklarasi persembahan kurban adalah bagian dari persembahan
kurban itu sendiri.
b. Aktifitas ibadah yang dapat direkonstruksi dari Mz 66:13–20 adalah:
i. Membawakan kurban ke Bait Suci, yang telah dijanjikan dalam doa
ii. Memberikan kesaksian kepada para penyembah lainnya
(3) Mazmur 118
a. Ada nyanyian antiphonal antara precentor (pemimpin pujian) dan jemaat
(ayat
1–4). Aktifitas dalam ayat 1–18 mungkin terjadi di luar Bait Suci.
b. Kita berasumsi bahwa nyanyian prosesi (ayat 19–20) adalah untuk
memasuki Bait Suci.
c. Ayat 22–25 dipahami sebagai respon dari jemaat.
d. Berkat dinyatakan oleh imam dari dalam Bait Suci (ayat 26).
e. Mungkin ada prosesi menuju ke altar/mezbah dan memegang tanduk-tanduk
mezbah (ayat 27).
(4) Mazmur 107
a. Pimpinan dari pemimpin pujian dalam ibadah (ayat 1–2)
b. Ucapan syukur kelompok pertama (ayat 4–9)
c. Ucapan syukur kelompok kedua (ayat 10–16)
d. Ucapan syukur kelompok ketiga (ayat 17–22)
e. Ucapan syukur kelompok keempat (ayat 23–32)
f. Kesimpulan oleh pemimpin pujian (ayat 33–43)
(5) Nyanyian2 Ziarah
a. Mazmur 120–134 memiliki judul "Nyanyian Ziarah" (,
). Namun sebagian besar dari mazmur-mazmur tsb tidak
merefleksikan ziarah ke Yerusalem.
b. Mazmur 121 adalah mazmur keyakinan, yang berisi berkat. Dari ayat 3
sampai. 8 terdapat suara-suara yang berbeda berbicara. Mungkin, seorang
imam mengucapkan berkat kepada orang yang meninggalkan (atau
mendatangi) tempat kudus.
c. Mazmur 122 adalah nyanyian ziarah, yang bukan dinyanyikan di jalan
menuju ke Bait Suci, melainkan suatu penjelasan tentang kepergian dan
kedatangan di Yerusalem.
i. Kepergian dan kedatangan (ayat 1–2)
ii. Alamat diarahkan langsung ke Yerusalem (ayat 3–5)
iii. Harapan agar Yerusalem diberkati (ayat 6–9)
3. Mazmur Masuk (ke Gerbang Bait Suci)
Beberapa mazmur menunjukkan pada kita adanya ucapan2 liturgikal tertentu antara
peziarah dan imam sebelum memasuki pintu gerbang Bait Suci.
80
(1) Mazmur 24
a. Pertanyaan dalam ayat 3 kelihatannya diucapkan oleh peziarah setelah
sampai di pintu masuk Bait Suci.
b. Kemudian ayat 4–6 berisi jawaban imam yang diberikan sebagai respon
terhadap pertanyaan tersebut. Itu menunjukkan prasyarat bagi masuknya
(seseorang) ke dalam area ruang kudus.
c. Bagian kedua dari mazmur menjelaskan prosesi dengan tabut Allah. Itu
diekspresikan dalam bentuk dialog antiphonal.
d. Bagian kedua adalah bagian yang jarang dari tipe mazmur ini, dan dialog
dalam bagian ini dimaksudkan untuk memuji Tuhan, bukan untuk
mempertanyakan masuknya dia ke dalam ruang kudus.
(2) Contoh dari Kitab-kitab Nabi
a. Yes 33:14–16. Nubuatan2 yang mirip dengan mazmur masuk ke gerbang
Bait Suci telah digunakan oleh nabi2 untuk membawa Israel berbalik kepada
Tuhan.
b. Mikha 6:6–8. Di sini pertanyaan disampaikan tentang kemungkinan2
meredakan amarah Allah.
4. Contoh2 Mazmur Liturgikal
(1) Mazmur 118
a. Struktur
i. ayat 1–4
Panggilan untuk bersyukur kepada Tuhan dengan
alasan-alasannya (ayat 1 dan 29 membentuk inklusio)
ii. ayat 5–18
Pujian Deklaratif
ayat 5
Bahaya dan penyelamatan Allah
ayat 6–9
Percaya dalam Tuhan
ayat 10–16
Laporan bahaya dan pembebasan dari Tuhan
ayat 17,21,28
Janji untuk memuji Dia
iii. ayat 19–27
ayat 19
ayat 20
ayat 21
ayat 22–25
ayat 26–27
Liturgi utk Masuk ke Pintu Gerbang Bait Suci
Oleh orang yang ingin masuk
oleh imam
Laporan pembebasan dari Allah
Respon jemaat
Berkat
b. Latar Belakang
i. Meskipun pelbagai latar belakang diindikasikan dalam ayat 5–18,
adalah mungkin bahwa kemenangan militer oleh raja dilaporkan dalam
mazmur ini. Jika ini adalah kasusnya, maka aktifitas-aktifitas berikut ini
diindikasikan dalam mazmur ini:
81
▪ Imam membuka dengan panggilan untuk memuji Tuhan
▪ Raja melaporkan perang dan kemenangan
▪ Raja memohon untuk masuk ke dalam Bait Suci
▪ Rakyat merespon dengan sukacita
▪ Berkat
c. Komentar
i. Mazmur ini dikutip dalam PB dalam relasi dengan misi mesianis
Mazmur ini dikutip dalam PB dalam relasi dengan misi mesianis Yesus.
ii. Ayat 25–26 digunakan dalam Mk 11:9–10 untuk menerangkan
masuknya Yesus ke kota Yerusalem.
iii. Mark 12:10–11 mengutip ayat 22–23 untuk mengimplikasikan
kematian dan kebangkitan Yesus. Petrus menggunakannya lagi di Kis
4:11.
iv. Batu yang ditolak menjadi salah satu tema teologi yang penting dalam
PB (bandingkan dengan Ef 2:20–21; 1 Pet 2:4–8).
(2) Mazmur 15
a. Struktur
i. Ayat 1 adalah pertanyaan oleh para penyembah mengenai kualifikasi
untuk masuk Bait Suci.
ii. 10 syarat bagi para penyembah didaftarkan dalam ayat 2–5b (5 syarat
positif dan 5 syarat negatif):
5 Syarat Positif
(ayat 2)
Dia yang berlaku tidak bercela
Dia yang melakukan keadilan
Dia yang berbicara benar di dalam
5 Syarat Negatif
(ayat 3)
Dia tidak menyebarkan fitnah
Dia tidak berlaku jahat kepada
tetangganya
Dia tidak menimpakan cela
hatinya
tetangganya
kepada
dengan
(ayat 4)
(ayat 5)
Yang memandang hina orang yang Dia tidak meminjamkan uang
tersingkir dan memuliakan orang
makan riba (bunga)
yang takut akan TUHAN
Dia bersumpah (untuk tidak)
melakukan kejahatan dan
tidak berubah
Dia tidak menerima suap
melawan orang tidak bersalah
iii. Kesimpulan (ayat 5b)
b. Latar Belakang
i. Gunkel, Mowinckel, dan Westermann mengklasifikasikan mazmur ini
sebagai mazmur liturgikal untuk masuk ke gerbang yang digunakan dalam
ibadah di Bait Suci.
82
ii. Meskipun Mays, Bruggemann, dan yang lain mengakui bahwa mazmur
ini mungkin digunakan dalam ibadah dalam pengertian bentuknya, mereka
menganggap mazmur ini sebagai mazmur Taurat atau hikmat karena
tujuannya kelihatannya bersifat instruksional.
c. Komentar
Kelihatannya 10 syarat positif dan negatif intentional (disengaja) sifatnya
untuk merefleksikan 10 Perintah Allah.
83
Mazmur Keyakinan
1. Karakteristik Mazmur Keyakinan
(1) Mazmur Keyakinan
a. Daftar para ahli tentang mazmur ini bervariasi. Alasan bagi
ketidaksepahaman di antara ahli dapat dijelaskan dengan fakta bahwa mazmur
keluhan individu dan mazmur ucapan syukur juga berisi elemen keyakinan
atau iman dalam Tuhan, yang membuatnya serupa dengan mazmur keyakinan.
b. Mazmur-mazmur ini berikut dapat disebut sebagai mazmur keyakinan: Mz
23; 91; 121; 125; 131
(2) Latar Belakang Mazmur Keyakinan
a. Mowinckel
i. Mowinckel memahami bahwa mazmur keyakinan bukanlah produk
asli melainkan produk sampingan dari mazmur keluhan, yang darinya
mazmur-mazmur ini dikembangkan dan akhirnya mendapatkan posisi
seperti sekarang ini.
ii. Mazmur keyakinan tidak dapat dipisahkan dari mazmur keluhan.
Lahirnya mazmur keyakinan adalah setelah atau di tengah-tengah bahaya
yang dialami seseorang. Mereka adalah respon terhadap bahaya akut yang
dialami umat.
iii. Penjelasan lain yang memungkinkan tentang asal mula mazmur
keyakinan adalah mazmur protektif (perlindungan). Mazmur-mazmur
tertentu dapat digunakan sebelum atau dalam permulaan bahaya. Mazmurmazmur ini adalah permintaan proteksi terhadap Tuhan melawan bahaya
yang mereka alami saat itu.
iv. Nada mazmur protektif lebih jelas dibandingkan mazmur keluhan
karena mereka mengekspresikan keyakinan di dalam Tuhan dan jaminan
untuk mendapatkan pertolongan. Namun, karena kecenderungan mazmurmazmur ini untuk membuat suasana suram bila memungkinkan, tidak
selalu mudah untuk membedakan antara mazmur protektif dan mazmur
keluhan.
v. Akhirnya, di antara mazmur-mazmur protektif, beberapa mazmur
individu menunjukkan keunggulan tentang keyakinan dan jaminan. Ini
disebut mazmur keyakinan atau iman (bandingkan Mz 23).
b. Westermann
i. Dia menjelaskan bahwa mazmur-mazmur adalah buah karya dari suatu
masa tertentu, merefleksikan situasi kehidupan waktu mereka ditulis.
Menurutnya, eksistensi 2 kelompok, "orang benar" dan "orang fasik"
84
dalam kitab Mazmur mengimplikasikan bahwa selama periode waktu
tertentu, Israel terbagi menjadi 2 kelompok, satu percaya di dalam Tuhan
dalam menghadapi krisis nasional dan yang lain menyangkali kehadiran
Tuhan.
ii. Kecenderungan pemazmur untuk menerangkan diri mereka sendiri
sebagai "orang benar" bukan dimotivasi oleh pembenaran diri sendiri
tetapi oleh pentingnya perjuangan untuk bertahan dalam waktu-waktu
sulit, menghadapi perlawanan yang melampaui kekuatan mereka sendiri
dari pihak yang lain.
iii. Kapankah pembagian ini dimulai dalam sejarah Israel? Dua fenomena,
"orang bodoh berkata di dalam hatinya tidak ada Allah" (14:1=53:1) dan
"keluhan tentang kemakmuran orang fasik" (Mz 73), mungkin terjadi
setelah penghancuran Bait Suci.
iv. Mazmur keyakinan mungkin adalah hasil tandingan dari doktrin
retribusi (ganti rugi). Pengarang Mz 73 dan Ayub menyadari bahwa
doktrin ini tidak sesuai dengan realita. Dari sanalah muncul sikap yang
baru dan berbeda: seseorang harus berpegang teguh pada Tuhan dan
melanjutkan untuk percaya pada-Nya bahkan ketika tidak seorangpun
memahami apa yang Dia sedang kerjakan.
c. Brueggemann
i. Pendekatannya terhadap Kitab Mazmur dipahami sebagai pendekatan
“postcritical" (pasca kritis), dimana dia membagi mazmur ke dalam 3
kelompok:
▪ Mazmur-mazmur Orientasi: statis, tidak ada ketegangan
▪ Mazmur-mazmur Disorientasi: kehilangan orientasi
▪ Mazmur-mazmur Orientasi Kembali: baru atau perubahan arah dari
disorientasi
ii. Pembagian 2 kelompok mazmur oleh Westermann, pujian (deskriptif
dan
deklaratif) dan keluhan, mungkin tepat dalam kaitan istilah jenisnya, tetapi
ketika hal itu berhubungan dengan fungsi, mazmur deskriptif dan
deklaratif berdiri terpisah pada 2 ekstrim, pada orientasi dan pada orientasi
kembali. Tidalah mudah untuk menemukan tempat bagi mazmur
keyakinan dalam klasifikasinya.
iii. Pendekatan Brueggemann bukannya tanpa kesulitan. Hal yang sama
dapat dikatakan tentang sistem pembagian mazmur dalam 3 kelompok:
posisi mazmur keyakinan tidak jelas dalam pembagiannya (misal Mz 23
dan 131).
85
2. Contoh2 Mazmur Keyakinan
(1) Mazmur 23
a. Struktur
A. ayat 1–3, Allah Sang Pemelihara A'. ayat 5, Allah Sang
Pemelihara
B. ayat 4, Keyakinan atau iman
B'. ayat 6, Keyakinan atau iman
b. Kata ganti
i. ayat 1–3
ii. ayat 4–5
iii. ayat 6
Allah disebut dengan kata ganti orang ketiga
Allah disebut dengan kata ganti orang kedua
Allah disebut dengan kata ganti orang ketiga
c. Nama Tuhan dan kata ganti (Tuhan - Dia - Engkau - Tuhan)
i. ayat 1
ii. ayat 2–5
iii. ayat 6
Tuhan
Penggunaan kata ganti ("Dia" dan "Engkau")
Tuhan
d. Metafora Tuhan
i. ayat 1–4
ii. ayat 5–6
Tuhan sebagai Gembala
Tuhan sebagai Tuan Rumah (yang menyiapkan pesta)
e. Latar Belakang
i. Beberapa berkata bahwa Mz 23 adalah mazmur non kultus. Itu adalah
ekspresi sederhana keyakinan.
ii. Namun yang lain beranggapan bahwa latar belakang ibadah,
menganggap "meja dan piala" sebagai perjamuan kurban dalam Bait Suci.
iii. Freedman mengusulkan bahwa Mazmur 23 menjelaskan pengalaman
Israel di padang gurun. Usulannya didasarkan pada kemiripan antara Mz
23:5 dan Mz 78:19:
Mz 23:4
Mz 78:19
"Engkau menyediakan hidangan di hadapanku "
"Dapatkah Tuhan menyediakan hidangan di padang
gurun?"
iv. Beberapa mengusulkan bahwa latar belakang mazmur ini adalah
ibadah kerajaan di Bait Suci:
▪ Rumah Tuhan: Bait Suci
▪ Musuh-musuh dalam ayat 5: musuh individu atau nasional
86
f. Komentar
i. Adakah perubahan metafora dari gembala menjadi tuan rumah?
ii. Jika ini kasusnya, Allah diterangkan sebagai gembala dan kemudian
sebagai tuan rumah.
iii. Jika tidak ada perubahan metafora, itu harus ditafsirkan sebagai
metafora gembala-domba dalam cara berikut:
▪ Dalam ayat 5, gembala mengusir ular-ular dari padang rumput dan
membersihkan duri-duri sebelum meletakkan domba di atasnya.
▪ "Mengurapi kepalaku dengan minyak" diterjemahkan sebagai
berikut: setelah domba kembali ke kandang pada malam hari, luka atau
memar diurapi dengan minyak yang berfungsi sebagai obat dan
penyembuhan.
▪ "Pialaku" menunjuk pada masakan fermentasi khusus yang membuat
domba yang lemah kuat kembali.
v. Yesus sebagai Gembala kita (Mk 6:34; Lk 12:32; Mt 15:24; Yoh
10:11) dan Meja sebagai Perjamuan Kudus.
(2) Mazmur 131
a. Struktur
ayat 1 tiga negatif
ayat 2 pengulangan "jiwaku"
ayat 3 inklusio (Tuhan)
b. Latar Belakang
i. Latar belakang mazmur ini tidak diketahui. Mungkin setelah kegagalan
pemazmur belajar bagaimana bersandar pada Tuhan.
ii. Atau seperti yang diusulkan Seybold, mazmur ini mungkin
dinyanyikan oleh peziarah wanita, membawa anaknya pada pintu gerbang
Bait Suci.
c. Komentar
Penggunaan metafora domestik menunjukkan aturan kehidupan yang tepat.
Kita harus seperti bayi kecil, menunggu untuk diberikan makanan dan tidak
memiliki kecenderungan untuk berdiri sendiri.
(3) Mazmur 121
a. Struktur
87
i. ayat 1–2
ii. ayat 3–8
Pertanyaan dan jawaban, subyek orang pertama
Berkat dialamatkan pada orang kedua
b. Latar Belakang
i. Menurut Mowinckel, peziarah melihat ke atas bukit-bukit di mana
bangsanya menyembah berhala dan mengucapkan pengakuan iman
kepada Tuhan.
ii. Bagaimanapun juga, yang lain memahami latar belakang mazmur ini
dengan cara berbeda. Setelah ibadah di Bait Suci di Yerusalem, peziarah
pulang ke rumah. Ketika dia melihat gunung-gunung di mana para
penjahat mungkin menunggu untuk menyergap, dia mengekspresikan
ketakutannya dan sebaliknya menerima jaminan dari imam.
iii. Pandangan tradisional masih valid. Ekspresi "Aku melayangkan
mataku ke gunung-gunung" tidak menunjuk pada bukit tertentu atau
kepada puncak gunung kudus, tetapi ekspresi umum memandang
sekeliling. Penyembah merasakan kehadiran Allah Pencipta dan menjadi
yakin bahwa Allah adalh sumber pertolongannya.
c. Komentar
Mazmur ini mungkin adalah monolog, tetapi secara umum dipahami sebagai
perbincangan responsif antara peziarah dan imam.
88
Mazmur Zion
1. Karakteristik Mazmur Zion
(1) Daftar dan Karakteristik Mazmur Zion
a. 7 mazmur berikut digolongkan sebagai Mazmur Zion: 46; 48; 76; 84; 87;
122.
b. Mazmur Zion adalah nyanyian pujian yang menerangkan Zion, termasuk
sebagai kota dan Bait Suci, sebagai gunung Allah dan tempat kediaman-Nya.
Mazmur-mazmur tersebut berisi pelbagai istilah yang tetap berkenaan dengan
Allah dan kota-Nya:
i. "Kota Alah” atau "kota Raja Besar" (46:5; 48:2,3)
ii. "Tempat kediaman kudus" atau "Gunung Kudus” (46:5; 48:3; 87:1)
iii. "Sungai Allah" (46:5; bandingkan dengan 87:7; 65:10)
c. Penjelasan geografis dan topografis seperti yang terlihat dalam Mazmur
Zion dipahami bukan sebagai kota yang sebenarnya. Pendapat para ahli
terbagi dua: sebagian berkata bahwa penjelasan tersebut eskatologis sifatnya,
atau yang lain berkata bahwa hal tersebut harus dihubungkan tradisi kultus
kuno.
(2) Penjelasan tentang Zion
a. Zion di utara (Zaphon)
i. Penjelasan utama tentang kota ini terdapat dalam Mz 48:3 ketika
disebut sebagai Gunung Zion "jauh di utara" (,
).
ii. Mengapa Gunung Zion disebut "gunung jauh di utara"? Ini adalah
tradisi kultus kuno bahwa tempat kediaman Allah harus lebih tinggi dari
gunung-gunung yang lain (bandingkan dengan Yes 2:2, dst; 14:13–14),
dan gunung yang tertinggi diyakini terletak di utara.
b. Zion dengan sungainya
i. Karakteristik kedua Zion adalah penjelasan bahwa itu semacam surge
dengan sungainya. Dalam Mz 46:5, ada referensi tentang aliran-aliran air
yang membuat kota tersebut bersukacita. Penjelasan "sungai dengan
aliran-alirannya" (, ) tidak dapat diaplikasikan
kepada Sumber Mata Air Gihon yang keluar dari kaki buki dari kota kuno
tersebut.
ii. Penjelasan Zion dengan sungai-sungainya dipahami sebagai kota ideal
di masa depan, dan itu muncul dalam bagian eskatologis lainnya (Yes
33:21; Yoel 3:18; Yehez 47; Zakh 14:8). Mungkin ini merefleksikan
gambaran firdaus yang ditemukan dalam Taman Eden di Kej 2.
89
c. Zion, kota yang tidak terkalahkan.
i. Karakteristik ketiga Zion adalah sebagai kota yang tidak terkalahkan
karena Allah tinggal di sana (Mz 46:5–7). Ketika bangsa-bangsa
menyerang kota itu, mereka akan diusir dan dikalahkan oleh Allah (Mz
48:6, 7; 76:4dst.;
Yes 17:13dst.). Tuhan akan menghancurkan musuh dengan suara-Nya
(guntur, Mz 46:7).
ii. Konsep bahwa Allah ada di tengah kota tersebut, atau bahwa itu adalah
kota Alah, mungkin menyebabkan orang Israel di masa kemudian
memiliki pemahaman yang salah bahwa mereka tidak akan pernah
dihancurkan oleh bangsa-bangsa asing.
iii. Bangsa-bangsa akan mengakui Allah dan datang ke Yerusalem untuk
menyembah Dia dan memberikan persembahan (Mz 76:12–13; Yes 2:2–
4=Mikha 4:1–4; Zakh 14:16–19).
d. Zion sebagai tempat kediaman damai ()
i. Nama kota itu sendiri, "Yerusalem" dihubungkan dengan konsep
damai (). Umat perlu berdoa bagi kedamaian Yerusalem demi
rumah Tuhan dan umat di kota tersebut (Mz 122:6).
ii. Israel juga berdoa bagi, berharap bagi, dan menantikan “damai” bagi
keseluruhan bangsa (Mz 79:11; 85:8; 125:5).
iii. Mereka berdoa bagi kedamaian tanah mereka. Itu akan
dimanifestasikan dalam bentuk kemakmuran dan kehidupan yang berbuah
(Mz 72:3, 7; 85:11; 147:14).
2. Latar Belakang Mazmur Zion
(1) A. Weiser
a. Menurut Weiser, pemilihan dan pendirian Yerusalem sebagai kota dan
tempat kudus Tuhan melekat erat dalam struktur sejarah keselamatan
(salvation history) seperti yang terlihat dalam Kel 15:13,17.
b. Pendirian Bait Suci di Zion juga adalah motif dalam Mazmur Raja
bersamaan dengan pemilihan Daud.
c. Dari hal-hal tsb dapat dikatakan bahwa Mazmur Zion menekankan tempat
sebagai tempat kediaman Allah, dan itu mungkin dinyanyikan dalam ibadah
untuk merayakan pemilihan dan pendirian Yerusalem dan Bait Suci.
(2) C. Westermann
90
Westermann mengusulkan bahwa Mazmur Zion mungkin dinyanyikan oleh para
peziarah ketika mereka datang di Yerusalem untuk beribadah (misal Mz 122; 84:2,
4, 6, 11).
3. Contoh Mazmur Zion
(1) Mazmur 84
a. Struktur
ayat 2–5
ayat 6–8
ayat 9–10
ayat 11–13
Rindu akan mezbah Tuhan
Para peziarah yang diberkati
Doa syafaat bagi raja
Sukacita ibadah
ayat 2–8 Bagian luar Bait Suci
ayat 9–13 Bagian dalam Bait Suci
b. Latar Belakang
i. Mazmur ini mungkin dinyanyikan oleh para peziarah.
ii. Aspek unik mazmur ini adalah berisi doa bagi raja.
c. Komentar
i. Penyebutan jiwa, hati, dan tubuh dalam ayat 2–3 mengindikasikan
bahwa keseluruhan diri pemazmur bersukacita di bagian luar Bait Suci.
ii. Bagi pemazmur, bahwa bahkan burung adalah obyek kecemburuannya
(ayat 4–5). Dengan memanggil Tuhan "Rajaku dan Tuhanku" dia
mengakui perlindungan Allah. Dia juga cemburu kepada petugas-petugas
Bait Suci.
iii. Meskipun Weiser mengusulkan bahwa doa pemazmur bagi raja
mengimplikasikan bahwa ibadah terjadi selama perayaan hari raya
berkenaan dengan penobatan raja, pengertian ini tidak perlu.
iv. Sebagai penduduk dalam diaspora, pemazmur mengekspresikan
sukacita berada dalam rumah Tuhan dan menyembah Tuhan dibandingkan
dengan tinggal di antara bangsa asing.
(2) Mazmur 48
a. Struktur
ayat 2
Pendahuluan
ayat 3–4 Keindahan kota
ayat 5–9 Penaklukan Tuhan terhadap bangsa-bangsa
ayat 10–12 Mengarahkan diri langsung kepada Tuhan
ayat 13–15 Undangan oleh imam untuk berjalan mengelilingi kota
b. Latar Belakang
i. Gerakan dari bagian luar menuju bagian dalam Bait Suci
(ayat 2–9,10–11)
ii. Keseluruhan ibadah mungkin termasuk prosesi mengelilingi kota.
91
c. Komentar
i. Meskipun pendirian kota disyukuri, hal yang paling jelas adalah
kehadiran Tuhan di dalam kota. Kota menjadi tidak terkalahkan hanya
karena Allah ada di sana.
ii. Para penyembah adalah utusan bagi generasi berikutnya untuk
menyalurkan pemahaman bahwa Allah hadir di kota tsb.
(3) Mazmur 122
a. Struktur
ayat 1–2 Pendahuluan, sukacita perjalanan ziarah
ayat 3–5 Pujian bagi kota
ayat 6–9 Doa bagi kota
b. Latar Belakang
i. Peziarah telah datang ke Yerusalem untuk beribadah dan berdiri di
antara sesama peziarah yang lain yang mengadakan perjalanan bersama
dengannya (bandingkan dengan Lk 2:44).
ii. Pelbagai pendapat terbagi apakah mazmur ini adalah ucapan selamat
(kedatangan) atau perpisahan (kepergian).
c. Komentar
i. Para peziarah telah datang di hadapan kota Yerusalem dan sekarang
mereka berpikir ke masa lalu ketika mereka keluar dari dalamnya.
ii. Pemikiran pertama mereka adalah untuk masa kini (ayat 3–4),
pemikiran kedua tentang masa lalu (ayat 5).
iii. Ucapan selamat adalah tujuan sederhana nyanyian ziarah, yang
sepenuhnya diatur oleh Syalom Tuhan. Itu diikuti oleh paralelisme yang
indah dalam ayat 8–9. Doa bagi kesejahteraan dan keamanan Yerusalem
adalah berpusat pada Allah (God-centered).
92
Mazmur-mazmur Raja
1. Karakteristik Mazmur Raja
(1) Daftar Mazmur-mazmur Raja
Buku I: 2, 18, 20, 21
Buku II: 45, 72
Buku III: 89
Buku IV: 101
Buku V: 110, 132, 144
(2) Karakteristik Mazmur-mazmur Raja
a. Klasifikasi (mazmur raja) bukan berarti "tipe" atau "struktur" yang khusus
dari mazmur. Mazmur raja dapat memiliki tipe mazmur apa saja: himne,
pujian, keluhan, dan ucapan syukur.
b. Alasan mengapa disebut "mazmur raja" adalah karena raja adalah subyek
utama dalam mazmur tersebut. Dia adalah orang yang berdoa atau orang yang
disebutkan, atau orang yang didoakan.
c. Beberapa ahli berargumen untuk jumlah yang lebih besar bagi mazmur raja
daripada para ahli lainnya. Ketidaksepahaman berasal dari penafsiran
mazmur-mazmur tertentu dalam kaitannya dengan bentuk mazmur raja.
Sebagai contoh, J. J. Eaton dan S. J. L. Croft mengusulkan Mz 23 dapat
dimasukkan ke dalam daftar mazmur raja. Mereka menginterpretasikan 2
ekspresi, gembala/domba dan pengurapan kepala dengan minyak, sebagai
representasi hubungan antara Allah dan raja.
(3) Raja-raja dalam Mazmur-mazmur Raja
a. Perjanjian Baru memberikan penafsiran ulang tentang mazmur-mazmur raja
tertentu, dengan menampilkan raja yang dimaksudkan dalam mazmur adalah
Yesus Sang Mesias (missal, Mz 2; 110). Penafsiran seperti ini oleh PB adalah
sangat penting untuk memahami bagaimana mazmur-mazmur tersebut dibaca
oleh orang Israel ketika tidak ada lagi raja duniawi bagi mereka.
b. Ada sebagian kecil ahli yang berpendapat mazmur-mazmur tersebut dalam
bentuk akhirnya adalah komposisi masa pasca pembuangan, dengan
berpendapat bahwa raja hanyalah simbol kolektif bangsa.
c. Bagaimanapun juga, mazmur-mazmur raja menerangkan bahwa raja adalah
raja tertentu, memerintah di Yerusalem, daripada personifikasi puitis atau
seseorang yang akan muncul di masa depan. Raja-raja dalam mazmu-mazmur
ini adalah raja-raja Israel atau Yehuda dengan informati sebagai berikut:
i. Tahta raja di Sion (2:6; 110:2; 20:3).
ii. Dia adalah keturunan Daud (18:51; 132:10, 17).
iii. Dia adalah orang yang "diurapi Allah" (2:2; 18:51; 20:7; 89:52;
132:10).
93
(4) Latar Belakang Mazmur Raja seperti Yang Dianjurkan oleh Gunkel
a. Gunkel berkata bahwa pemilihan kategori "mazmur raja" bukanlah suatu
kategori kritik bentuk karena tidak ada struktur yang tipikal (khas).
Menurutnya, mazmur raja berkaitan dengan raja dalam pelbagai latar
belakang.
b. Berbagai latar belakang mazmur raja adalah sebagai berikut:
Mz 20
Nyanyian oleh paduan suara kerajaan ketika raja pergi
berperang
Mz 144:1–11 Keluhan kerajaan yang disampaikan oleh raja
Mz 18
Doa syukur raja setelah pulang dari perang
Mz 45
Nyanyian pernikahan bagi raja dan mempelainya
Mz 132
Dalam rangka peringatan ulang tahun Bait Suci dan Kerajaan
Mz 2, 21,
72, 110
Nyanyian2 pada waktu penobatan raja
2. Konsep Raja di Timur Dekat Kuno
(1) Raja sebagai Anak Allah dan sebagai Mediator
a. Elemen paling penting dalam pandangan timur kuno tentang raja adalah
bahwa dia dipandang sebagai yang ilahi.
i. Mesir. Raja adalah tuhan sejak dari lahir, dan pada saat kematiannya
dia menjadi satu dengan Osiris, dew kematian dan kehidupan.
ii. Mesopotamia. Raja dipilih untuk jabatan sebagai raja oleh para allah.
Dia adalah anak allah, diadopsi, dirawat, diasuh, diberikan pendidikan
oleh dewa dewi yang berbeda.
iii. Ugarit. Di ibukota Ugarit, Raja Keret dipahami sebagai anak allah dari
allah El.
b. Dalam komunitas sosial kuno, raja juga dipahami sebagai wakil manusia di
hadapan allah-allah. Di Mesopotamia raja mewakili manusia di hadapan allah-allah.
(2) Konsep Raja di Israel
a. Menurut 1 Sam 8:5, Israel mengadopsi konsep kerajaan dengan meniru
langsung orang Kanaan yang mendapatkan ide, bentuk dan fungsi raja dari
raja-raja besar dari Mesopotamia dan Mesir.
b. Namun konsep raja dari Timur Dekat Kuno secara fundamental berubah di
Israel karena kepercayaan mereka kepada Tuhan. Aspek fundamental dari
konsep kerajaan di Israel adalah penundukan diri kepada Tuhan.
94
c. Raja Israel adalah orang yang diurapi Tuhan dan diberikan roh Tuhan (Mz
2:2; 18:51; 89:39, 52; 132:10; 1 Sam 10:6, 9dst; 16:13). Karena itu membunuh
seorang raja adalah tindakan berdosa (1 Sam 24:7; 2 Sam 1:14).
i. Dia adalah anak Tuhan (Mz 2:7; 89:27–28; bandingkan dgn. 2 Sam
7:14)
ii. Raja yang ideal harus berfungsi sebagai imam. Ide ini hanya
ditemukan pada Mz 110:4.
3. Mazmur Raja dan Penafsiran Mesianis
(1) Mazmur Raja dalam Periode yang Berbeda
a. Mazmur Raja terbagi dalam 2 periode dalam sejarah ibadah Israel:
i. Ibadah selama adanya kerajaan
ii. Ibadah setelah tidak adanya kerajaan
b. Mazmur Raja memiliki 2 fungsi berbeda dalam setiap periode:
i. Selama berdirinya kerajaan, mazmur-mazmur ini digunakan bagi rajaraja pada masa tersebut.
ii. Setelah hancurnya kerajaan dalam periode pasca pembuangan,
mazmur-mazmur ini digunakan sebagai pengharapan datangnya raja yang
baru dan sempurna, Mesias.
c. Kontras antara janji Natan dan berakhirnya dinasti Daud membangkitkan
pengharapan kuat pada Mesias, raja yang sempurna.
d. Pemahaman Eskatologis Brevard Childs
i. Childs menerangkan bahwa para ahli modern yang mengikuti Gunkel
gagal untuk menyadari fungsi baru dari mazmur raja sebagai hasil dari
proses pembentukan kanon.
ii. Penjelasannya didasarkan fakta bahwa sementara mazmur-mazmur lain
seperti mazmur keluhan pribadi dan nyanyian ziarah telah ditransmisikan
dalam sebuah koleksi, namu mazmur-mazmur raja ditemukan tersebar
dalam kitab Mazmur. Ini mengandung implikasi bahwa editor kitab
Mazmur tidak menganggap mazmur raja sebagai suatu tipe atau genre
tertentu.
iii. Childs kemudian menyimpulkan bahwa, meskipun latar belakang
mula-mula mazmur raja bersifat historis, mazmur-mazmur ini telah
ditransmisikan dan dipelihara dalam kitab Mazmur untuk suatu alasan
yang berbeda. Mazmur-mazmur ini harus dipahami sebagai saksi-saksi
bagi pengharapan mesianis dari rakyat sepanjang periode pasca
pembuangan. Rakyat mencari penggenapan kerajaan Allah melalui orang
yang diurapi-Nya, Mesias (bandingkan dengan Mz 2).
95
4. Contoh Mazmur Raja
(1) Mazmur 2
a. Struktur
ayat 1–3
Pemberontakan bangsa-bangsa melawan Allah dan Yang
Diurapi-Nya
ayat 4–6 Allah tertawa dan pengumuman-Nya tentang raja yang baru
ayat 7–9 Berkat Tuhan terhadap raja yang baru
ayat 10–12 Peringatan melawan para raja dan penguasa di bumi
ayat 1–3
ayat 4–6
ayat 7–9
ayat 10–12
Pembicara mewakili bangsa-bangsa
Pembicara mewakili Tuhan di Surga
Raja baru berbicara
Pembicara menyampaikan peringatan2
ayat 1–12 Monolog oleh raja baru (Weiser)
b. Latar Belakang
i. Penobatan raja baru
ii. Konteks mungkin memberikan indikasi tentang tanggal penulisan
mazmur ini selama atau segera setelah zaman Daud.
c. Komentar
i. Arti penting mazmur ini dapat dilihat dari fakta, terlepas tidak adanya
judul, bahwa mazmur ini diletakkan di antara Mazmur 1 dan koleksi
Daud. Dalam Kis 13:33 Teks Barat (Western Text) menyebutkan mazmur
ini sebagai "mazmur pertama," yang mengindikasikan bahwa dua mazmur
pertama dianggap sebagai satu kesatuan dan sebagai pendahuluan dari
Kitab ini. Lebih lanjut, rumusan berkat pada akhir Mazmur 2 membuat
inklusio dengan permulaan Mazmur 1.
ii. Ketika 2 mazmur itu dipahami sebagai satu kesatuan, itu memberikan
2 tema penting bagi keseluruhan kitab: Bersuka dalam Taurat dan
meminta pertolongan kepada Tuhan.
iii. Mazmur ini menunjukkan beberapa elemen yang hanya dapat dipahami
dalam konteks Timur Dekat Kuno:
▪ Perencanaan untuk memutuskan belenggu (ayat 1–3) oleh negaranegara bawahan
▪ Meremukkan dengan gada (ayat 9) disebutkan dalam ritual Mesir
▪ Mencium penguasa (ayat 11) ditunjukkan dalam gambar-gambar
pahatan di Mesopotamia
iv. Secara eskatologis, mazmur ini mengatakan bahwa seluruh bumi
adalah milik Allah dan bila mereka tidak menundukkan diri mereka
96
sendiri kepada Allah, mereka akan dihancurkan. Ketika Yesus berkata
kepada murid-murid-Nya untuk pergi dan membaptis bangsa-bangsa
karena segala kuasa di Surga dan di bumi diberikan kepada-Nya, kita
mendengar penggenapan dari Mz 2.
v. Mazmur 2:7 dikutip berulang kali dalam PB (Mt 3:17; 17:5; Mk 1:11;
9:7;
Lk 9:35; Kis 13:33; Ibr 1:5a; 5:5; 2 Pet 1:17). Adalah signifikan bahwa
gelar, "Anak Allah," diberikan kepada Yesus setelah baptisan.
(2) Mazmur 110
a. Struktur
ayat 1–3 Operasi militer pertama
ayat 1 Kata-kata Tuhan
ayat 2–3 Memerintah atas musuh
ayat 4–7 Operasi militer kedua
ayat 4 Kata-kata Tuhan
ayat 5–7 Penghakiman Tuhan terhadap bangsa-bangsa
b. Latar Belakang
i. Penobatan sebagai raja di Bait Suci
ii. Ritual sebelum perang
iii. Pandangan Rowley:
ayat 1–3
ayat 4
ayat 5–7
oleh Zadok
oleh David
oleh Zadok
c. Komentar
i. Mazmur ini digunakan dalam PB lebih banyak dibandingkan mazmurmazmur lainnya (17 x, Mt 22:44; 26:64; Mk 12:36; 14:62; 16:19; Lk
20:42–43; 22:69; Kis 2:34–35; 1 Kor 15:25; Ef 1:20; Kol 3:1; Ibr 1:3, 13;
8:1; 10:12–13; 12:2).
ii. Dalam Mk 12:35–37, kerajaan dan kuasa Yesus akan melebihi
Kerajaan Daud.
iii. Mazmur ini dimengerti paling baik dalam hubungan dengan pelayanan
kekal Yesus. Mesias akan menjadi raja yang memerintah dunia, dan Dia
akan menjadi imam besar yang unik untuk menjadi mediator antara Allah
dan dunia.
97
Mazmur Hikmat
(atau Mazmur Pastoral)
1. Karakteristik Mazmur Hikmat
(1) Daftar Mazmur Hikmat
a. Sementara terdapat kesepatan umum tentang eksistensi mazmur hikmat,
terdapat ketidaksepakatan di antara para ahli berkenaan dengan daftar
mazmur2 yang harus dimasukkan dalam kategori ini:
i. Mowinckel
ii. Murphy
iii. Whybray
Mz 1, 34, 37, 49, 78, 105, 106, 111, 112, 127
Mz 1, 32, 34, 37, 49, 112, 128
Mz 1, 19B, 37, 49, 51, 73, 90, 92, 94, 104, 107, 111,
iv. Purdue
Mz 1, 19A, 19B, 32, 34, 37, 49, 73, 112, 119, 127
119
b. Dalam diskusi kita, mazmur-mazmur berikut diklasifikasikan sebagai
mazmur
hikmat: Mz 1, 32, 37, 49, 73, 78, 112, 119, 127, 128, 133
(2) Karakteristik
a. Menurut Westermann, dalam pengertian yang ketat tidak ada mazmur
hikmat karena mazmur berasal dari dan memiliki latar belakang ibadah.
Bagaimanapun juga, banyak ahli setuju tentang adanya kategori mazmur yang
disebut “mazmur hikmat.” Ada berbagai alasan mengapa mazmur tertentu
disebut demikian.
b. Mazmur-mazmur tertentu berisi perkataan hikmat yang mirip dalam Kitab
Amsal:
Mz 37:16
"Lebih baik yang sedikit pada orang benar
Daripada yang berlimpah-limpah pada orang fasik"
Amsal 16:8 "Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran
Dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan"
Mz 128:1a
"Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN”
Amsal 28:14a "Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan
TUHAN”
c. Beberapa mazmur berbagi motif yang sama dengan literatur hikmat dalam
PL (Amsal, Ayub, Pengkhotbah):
i. Ide retribusi (Mz 1, 112, 128)
ii. Keluhan terhadap kemakmuran orang fasik (Mz 37, 73)
d. Beberapa mazmur memperlihatkan gambaran linguistik dan gaya yang khas
literatur hikmat: misalnya, "bijak" atau "fasik." Di samping itu, jika mazmurmazmur menggunakan bentuk atau gaya tertentu, mereka diyakini sebagai
mazmur hikmat:
98
i. Macarism (maka/rioj) "Berbahagialah" (, )
ii. Panggilan pembukaan "Dengarlah . . . " (49:2; 78:1)
iii. Pemazmur menyebut ucapannya "hikmat," "instruksi," "amsal," atau
"teka teki" (49:4–5; 78:1–2).
iv. Mazmur akrostik terlihat menjadi gaya favorit bagi mazmur hikmat
(misal, Mz 37; 112; 119).
e. Kelompok besar mazmur yang bertemakan "Taurat" disebut mazmur hikmat
karena mereka dimaksudkan untuk mengajarkan gaya hidup yang baik dan
menolak yang buruk (misal Mz 1; 119).
f. Kitab hikmat dalam PL biasanya dibagi menjadi dua. Sementara kelompok
yang satu percaya pada retribusi Allah, yang memberi penghargaan bagi orang
benar dan penghakiman bagi orang fasik, sedangkan kelompok yang lain
mempertanyakan teologi tradisional ini, dengan mengungkapkan bahwa
kadangkala orang fasik menikmati kemakmuran sementara orang benar
menderita karena ketidakberuntungan:
i. Amsal: gaya hikmat ortodoks dan tradisional
ii. Ayub dan Pengkhotbah: tidak ortodoks dan pendekatan yang lebih
menggunakan pertanyaan
g. Mazmur 1 dan 112 mungkin memiliki karakteristik tradisional dan Mazmur
37 dan 49 mengambil posisi yang kedua. Dua mazmur terakhir
mempertanyakan hikmat tradisional tentang retribusi. Mereka diliputi
pemikiran tentang masalah yang diajukan oleh kasus kemakmuran orang fasik
dan penderitaan orang benar. Mereka mengklaim bahwa kemakmuran orang
fasik hanyalah sementara dan cepat atau lambat orang benar akan
dipertahankan.
(3) Isi Mazmur Hikmat
a. Mazmur-mazmur ini biasanya berisi nasehat dan instruksi. Biasanya
terdapat nasihat-nasihat positif. Nasihat-nasihat ini biasanya diikuti dengan
janji, kadangkala dimulai dengan “karena.” Nasihat-nasihat positif ini adalah:
i. Takutlah akan Tuhan (34:10; 37:5, 6)
ii. Lakukan yang baik (37:3, 27, 37)
iii. Hindari dosa (37:27)
iv. Akuilah pada saat yang tepat (32:6dst.)
v. Jagalah lidah (34:14)
b. Bersamaan dengan nasihat-nasihat positif ini, terdapat peringatan negatif
yang dimulai dengan "Janganlah . . . " (,  + jussive) untuk melawan:
i. Menjadi tidak puas karena ketidakberuntungan (32:9)
ii. Terprovokasi oleh kekayaan orang yang berbuat jahat (37:1)
iii. Terlalu mengagungkan kekayaan, atau percaya di dalamnya (49:17)
c. Suatu gambaran berkenaan dengan nasib mengerikan orang yang tidak
99
benar yang mengikuti peringatan-peringatan ini, dan seringkali dimulai
dengan “sebab” (37:1f., 8f., 27f.).
d. Ide retribusi terlihat dalam mazmur-mazmur hikmat dengan sejumlah
variasi. Pertama-tama diterangkan orang benar menurut tingkah lakunya,
hadiah dijanjikan baginya, atau keduanya (Mz 1:1–3; 32:10; 37:6, 9, 11, 18f.;
112; 128). Juga orang fasik diperlihatkan perbuatan2nya yang jahat dan
nasibnya yang mengerikan (Mz 1:4f.; 32:10; 37:2, 9, 10, 12f.; 112:10;
119:21).
(4) Relasi antara Mazmur Hikmat dan Mazmur Taurat
a. Mazmur Taurat disadari sebagai bagian dari mazmur hikmat. Cirinya
berdasarkan isinya, bukan dari bentuknya. Mazmur 1, 19B, dan 119 diyakini
sebagai Mazmur-mazmur Taurat karena sangat dominannya ide tentang Taurat
dalam mazmur-mazmur ini.
b. Mengikuti pendapat Mowinckel, beberapa ahli berkata bahwa latar
belakang mazmur hikmat dan Taurat bukanlah ibadah di Bait Suci melainkan
sebuah sekolah. Ini dianggap tepat karena karakter didaktis dari mazmurmazmur ini.
2. Contoh Mazmur Hikmat
(1) Mazmur 1
a. Struktur
ayat 1–3
ayat 1
ayat 2
ayat 3
ayat 4–5
ayat 6
Orang benar
Apa yang tidak dilakukan orang benar
Apa yang dilakukan orang benar
Perbandingan orang benar dengan sebuah pohon
Orang fasik
Kontras antara orang benar dan orang fasik
b. Komentar
i. Tujuan mazmur ini adalah menampilkan kepada pembaca 2 macam
gaya hidup, yang berbahagia dan yang fasik. Implikasinya, tidak ada
wilayah netral dalam hidup. Dan pilihan harus dibuat oleh pembaca.
ii. Kata pertama, "Diberkatilah/Berbahagialah," adalah seruan sukacita
dan pengamatan penuh antusiasme terhadap kehidupan yang berbahagia.
Kebahagiaan sejati dipisahkan dari tindakan orang fasik. Pemisahan tsb
diekspresikan dalam 3 kata kerja yang bertahap: berjalan, berdiri, duduk (
, , ).
iii. Tugas penting dalam ayat 2 adalah mendefinisikan kata "Taurat."
Pertama-tama, itu harus diterjemahkan sebagai "instruksi" daripada
terjemahan tradisional "hukum." Itu menunjuk pda wahyu tertulis dari
100
kehendak Allah yang harus dibaca di depan publik (Ul 31:9–11) dan
secara pribadi (Yos 1:7). Tentang ruang lingkup Taurat dalam ayat ini,
para ahli setuju bahwa Mazmur dimaksudkan untuk dibaca sebagai
Alkitab bersama2 dengan Pentateukh.
iv. Arti penting mazmur ini adalah bahwa membaca dan merenungkan
hokum adalah tugas yang diberikan kepada para pemimpin nasional
(bandingkan dengan Ul 17:18–20; Yos 1:8) di hari2 terdahulu, tetapi
sekarang itu menjadi tugas setiap orang.
(2) Mazmur 128
a. Struktur
ayat 1–3 Berkat
ayat 4–6 Doa Berkat
ayat 1
ayat 2–3
ayat 4
ayat 5–6
Orang ketiga
Orang kedua
Orang ketiga
Orang kedua
b. Latar Belakang
i. Adalah mungkin untuk memahami latar belakang mazmur ini sebagai
berkat yang dialamatkan oleh imam kepada penyembah di Yerusalem.
ii. Namun karena gaya bahasa dalam ayat 1, mazmur ini dianggap sebagai
mazmur hikmat.
c. Komentar
i. Mazmur ini adalah berkat keluarga seperti Mz 127.
ii. Ada 3 tema utama: takut akan Tuhan, usaha manusia, dan kebahagiaan
keluarga.
iii. Berkat diterangkan melalui metafora pohon
(3) Mazmur 119
a. Bentuk
i. Ini adalah puisi akrostik, terbagi dalam 22 bagian, mewakili 22 huruf
dalam alphabet Ibrani. Tiap bagian terdiri dari 8 ayat, semua ayat itu
dimulai dengan huruf Ibrani yang sama.
ii. Ada 8 istilah utama yang berbeda yang dipakai untuk Taurat: Hukum,
Perintah, Undang-undang, Firman, Penghakiman, Kesaksian,
Peraturan, dan Perkataan. Kemunculan kata2 itu adalah sbb:
Hukum (, )
Perintah(, )
25 kali
22 kali
101
Undang-undang (, )
Firman (, )
Penghakiman (, )
Kesaksian (, )
Peraturan (, )
Perkataan (, )
21 kali
24 kali
23 kali
23 kali
21 kali
19 kali
iii. Masing2 ayat dari 176 ayat memiliki satu dari istilah-istilah tersebut,
kecuali ayat 3, 37, 90, dan 122, tetapi ayat 15, 16, 43, 160, 168, 172
masing-masing memiliki 2 istilah.
b. Dua puluh dua bait
berikan




























Nya














bagian  (1–8)
Ucapan syukur karena instruksi yang Tuhan
bagian (9–16)
bagian (17–24)
bagian (25–32)
bagian (33–40)
bagian (41–48)
bagian (49–56)
bagian (57–64)
bagian (65–72)
bagian (73–80)
bagian (81–88)
bagian (89–96)
bagian (97–104)
bagian (105–112)
bagian (113–120)
Allah sebagai pemberi hikmat
Keluhan
Keluhan
Hadiah (balasan) dari Allah
Pertandingan orang benar melawan kuasa jahat
Penghiburan di tengah penderitaan
Ketaatan dan pujian kepada Allah
Ucapan syukur karena perintah-perintah Allah
Doa kepada Allah Sang Pencipta
Keluhan disebabkan oleh penganiayaan
Nyanyian pujian karena penciptaan dunia
Pengakuan dan kata-kata hikmat
Pujian terhadap Taurat Tuhan
Kasih sepenuh hati kepada Tuhan dan instruksi-
bagian (121–128)
bagian (129–136)
bagian (137–144)
bagian (145–152)
bagian (153–160)
bagian (161–168)
bagian (169–176)
Kesetiaan hamba Tuhan
Kerinduan yang meluap terhadap Firman Tuhan
Pujian kepada Tuhan dan Taurat-Nya
Keluhan
Keluhan yang lebih kuat
Ekspresi keyakinan dalam Tuhan
Keyakinan dan keluhan
102
Allah dalam Kitab Mazmur
1. Nama Tuhan
(1) Penggunaan Nama dan Gelar Tuhan dalam Kitab Mazmur
a. Dalam kitab Mazmur, Allah dipanggil dengan berbagai cara sesuai dengan
kebutuhan pemazmur dalam situasi yang berbeda. Ketika seseorang menyadari
bahwa Tuhan dipanggil "Gembala," "Raja," "Batu karang," "Perisai,"
"Benteng," "Allah Israel/Abraham/Yakub," dan cara yang lain, bukanlah tugas
mudah untuk mengklarifikasi arti gelar-gelar tersebut. Berikut ini adalah
klasifikasi sederhana:
i. TUHAN ()
ii.  ()
iii. Elohim ()
iv. El ()
695 kali
43 kali (50 kali dalam PL)
365 kali
75 kali
b. Tentang bentuk pendek nama Allah  (), pandangan para ahli terbagi
dua:
i. Karena bentuk pendek ini muncul sangat dominan dalam Mazmur (43
dari total 50 kali dalam PL), adalah mungkin bahwa bentuk panjang
YHWH adalah asli (bandingkan dengan Kel 3 dan 6), dan bentuk
pendeknya dipakai kemudian hari untuk sorak sorai selama ibadah dan
dalam nyanyian pujian.
ii. Karena penemuan nama-nama yang berhubungan dengan allah
(theophoric names) di luar Israel (Yaubidi di Hamath dan Azriyau di
Sam'al) dan penemuan yw sebagai nama ilahi di Ugarit, ada yang
berargumen bahwa bentuk pendek  mungkin sungguh2
menggambarkan nama asli Allah.
.
c. Di antara ekspresi-ekspresi yang berhubungan dengan nama Allah, Tuhan
Yang Mahakuasa () memunculkan diskusi yang luas dalam
studi PL. Dalam ekspresi ini pertanyaan diajukan berhubungan dengan arti
 (). Berikut ini adalah ringkasan studi para ahli:
i. Menurut 1 Sam 17:45, the hosts menunjuk pada para tentara Israel.
ii. The hosts adalah hamba2 Allah di Surga (Mz 103:21; 148:2).
iii. The hosts menunjuk pada bintang, matahari, dan bulan (Yes 40:26;
45:12; 34:4).
iv. The hosts adalah semua ciptaan di bumi dan di Surga.
v. Istilah ini dipakai dalam bentuk jamak intensif abstrak, berarti "kuasa."
vi. Tidak ada penjelasan rasional yang memungkinkan.
(2) Nama Allah sebagai Obyek Penyembahan
a. Pemahaman umum dalam relasi dengan nama manusia dalam PL adalah
ketika seseorang meninggal atau suatu bangsa dihancurkan, namanya "tidak
103
diingat lagi" (Mz 83:5; 109:13). Namun disebutkan bahwa nama Tuhan
"bertahan untuk selama-lamanya" dan "kemasyhuran-Nya" bertahan "sampai
segala jaman."
b. Menurut Kel 3:15, tujuan wahyu Allah tentang nama-Nya adalah untuk
digunakan dalam ibadah: "Inilah nama-Ku sampai selama-lamanya, dan itulah
sebutan-Ku turun temurun" Nama ini tidak dapat dan tidak boleh dipakai
untuk hal-hal magis atau tujuan apapun yang tidak sesuai dengan kehendakNya, karena salah penggunaan seperti itu akan mencemarkan nama-Nya.
c. Dalam kitab mazmur, nama Tuhan adalah obyek seluruh doa, pujian, dan
refleksi:
i. Pemazmur memberikan "ucapan syukur" kepada nama ini (Mz 7:18;
30:5; 54:8; 97:12; 105;1; 106:47).
ii. Israel takut terhadap nama ini (Mz 86:11; “bangsa-bangsa” 102:16).
iii. Israel mengasihi nama ini (Mz 5:12; 119:132).
iv. Israel menyembah (Mz 29:2), memuji (Mz 135:1), dan memuliakan
(Mz 86:9; 105:3) nama ini.
v. Tuhan menyelamatkan melalui nama ini (Mz 54:3).
vi. Israel mengetahui bahwa pertolongan baginya ada "di dalam nama
Tuhan" (124:8).
vii. Bait Suci adalah "tempat kediaman nama-Nya" (Mz 74:7).
viii. Dalam Mazmur 118 nama ini muncul 26 kali dalam 29 ayat.
d. Israel seringkali memohon Tuhan untuk menyelamatkan, menolong, dan
melindungi "oleh karena nama-Nya" (, ) karena
nama-Nya memberikan jaminan untuk memelihara perjanjian-Nya (Mz 23:3;
25:11; 31:4; 106:8; 109:21). Ekspresi serupa dengan hal ini adalah "demi
kemuliaan nama-Nya" dalam Mz 79:9.
e. Calvin menjelaskan pentingnya nama Tuhan dengan cara berikut: "Ada
alasan mengapa nama Tuhan digunakan bagi Allah itu sendiri. Karena kita
tidak dapat memahami esensi Allah, sejauh anugerah dan kuasa-Nya
dimanifestasikan kepada kita, adalah tepat bagi kita untuk menaruh harap di
dalam Dia. Oleh karena itu dengan memanggil nama-Nya iman dilahirkan."
2. Wahyu dan Keadilan Allah
(1) Wahyu Allah melalui Nama dan Firman-Nya
a. Melalui Nama-Nya
i. Wahyu Allah adalah dasar bagi komunikasi. Dia menyatakan diri-Nya
sendiri kepada umat-Nya dan meminta mereka memberikan respon.
Komunikasi tentang nama Allah dan Firman-Nya adalah alat yang
melaluinya Allah Israel membuat diri-Nya sendiri dikenal. Ada perbedaan
antara pewahyuan nama-Nya dan pewahyuan Firman-Nya:
▪ Pewahyuan nama: identitas Allah
▪ Pewahyuan Firman: kehendak Allah bagi manusia
104
b. Melalui Firman-Nya
i. Firman Tuhan pada dasarnya ditemukan dalam Taurat. Taurat
bukanlah suatu entitas (suatu eksistensi yang khas, berbeda dengan yang
lain) yang tetap dan impersonal melainkan kuasa yang dinamis. Itu lebih
manis dari madu (19:11) dan lebih berharga dari emas murni (19:11;
119:72). Di samping Taurat, para penyembah dalam kitab Mazmur
percaya bahwa Allah berbicara di rumah Tuhan (Mz 60:8; 108:8). Jadi,
ketika dia datang ke Bait Suci, dia mengharapkan untuk mendengar
sesuatu dari Tuhan (85:9).
ii. Diasumsikan bahwa 3 cara konkrit Allah berbicara kepada manusia:
▪ Melalui nabi
▪ Melalui imam
▪ Melalui penghakiman Ilahi dalam perkara hukum
(2) Wahyu Allah melalui Cara-cara Lain
a. Melalui karya-Nya di masa lalu
Allah juga menyatakan diri-Nya dalam tindakan historis di masa lalu.
Tindakan-Nya ditunjukkan dalam “pekerjaan,” "perbuatan," dan "karya ajaibNya." Pemazmur dalam mazmur-mazmur historis berkata bahwa leluhur
mereka melihat pekerjaan Allah (95:9).
b. Melalui dunia ciptaan
Dunia ciptaan dipahami sebagai wahyu Allah karena langit adalah hasil karya
tangan-Nya (Mz 8:4; 19:2; 102:26). Ciptaan Allah dibedakan dalam 2 cara:
i. Ketika Israel berbicara tentang ciptaan Allah, itu berbeda dengan
konsep modern tentang “alam” atau konsep Yunani tentang “kosmos.”
Bagi Israel dunia adalah lebih dari sekedar organism yang tertata secara
stabil dan harmoni. Ciptaan dalam pengertian yang statis dan materi
adalah asing bagi konsep Ibrani. Ciptaan berarti suatu tindakan yang mana
Allah aktif dan memelihara segala sesuatu.
ii. Cara lain memahami ciptaan adalah bahwa dunia bukanlah diam
melainkan menyuarakan pesan, kesaksian tentang Allah, Pencipta. Hasil
karya ciptaan Allah adalah mediator wahyu Allah secara langsung.
Mereka tidak berbicara tentang diri mereka sendiri, tetapi menceritakan
kemuliaan Allah.
Mz 19:2
"Langit menceritakan kemuliaan Allah,
Cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya."
Mz 145:10 "Semua yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepadaMu,
ya TUHAN."
Mz 97:6
"Langit menceritakan keadilan-Nya
105
Dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya."
c. Melalui teophani
Teophani Allah adalah bentuk pewahyuan langsung kepada manusia. Ada
beberapa mazmur teophani dalam Kitab Mazmur, menggambarkan
penampakan Allah di dalam dunia (Mz 18; 29; 50; 68; 77; 97). Ketika Tuhan
datang ke dalam dunia ini, Dia digambarkan dalam pelbagai cara, dan caracara berikut ini disebutkan dalam mazmur teophani:
i. Dia mengendarai awan (Mz 18:10–12; 68:5, 34).
ii. Suara-Nya didengar dalam guntur (Mz 18:14).
iii. Dia “menaburkan” ledakan kilat (Mz 18:15).
iv. Suara-Nya membuat bumi gemetar (Mz 29:3-8; 46:7).
v. Suara kereta-Nya mengguncangkan bumi (Mz 77:19).
(3) Allah yang Tersembunyi
a. Kehadiran Allah dalam Bait Suci diekspresikan dengan mencari “wajahNya.” Bagi bangsa-bangsa sekitar Israel, berbicara tentang “wajah” ilah berarti
wajah dari patung ilah. Tetapi bagi Israel “mencari wajah Tuhan” berarti pergi
ke Bait Suci untuk mengalami kehadiran, pertolongan, dan anugerah-Nya.
Jadi, Israel didesak untuk:
i. Selalu mencari wajah Tuhan (24:6; 27:8; 105:4)
ii. Menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur (95:2)
iii. Memandang wajah-Nya (11:7; 42:3)
b. Allah dapat menyembunyikan wajah-Nya. Wajah-Nya yang tersembunyi
diekspresikan baik oleh orang benar maupun orang fasik:
i. Orang fasik tidak takut terhadap perbuatan jahatnya karena Allah
menutupi wajah-Nya (10:1).
ii. Penyembunyian wajah Allah akan memberikan teror dan ketakutan
bagi umat-Nya (30:8).
iii. Pemazmur bertanya dalam kesusahannya berapa lama wajah-Nya tetap
tersembunyi (13:2; 88:15).
iv. Pemazmur memohon dengan sangat, "Janganlah menyembunyikan
wajah-Mu dariku" (27:9; 69:18; 102:3; 143:7).
c. Allah yang tersembunyi tidak boleh dipahami sebagai Allah yang asing.
Aspek Allah seperti ini dalam Kitab Mazmur mengimplikasikan bahwa Allah
Israel tidak dapat diakses dalam keadaan permanen untuk menyatakan diri dan
kehadiran-Nya. Hal itu mengajarkan kita secara paradoks bahwa
penyingkapan diri-Nya adalah hasil dari kehendak diri Allah yang bebas dan
berdaulat. Kehadiran-Nya adalah janji yang dijamin di atas kerinduan dan
permohonan kita yang tulus, bukan suatu kondisi kehadiran yang otomatis dan
permanen. Dalam kaitan dengan tema Allah yang tersembunyi, von Rad
menjelaskan bahwa salib Kristus adalah tempat penyembunyian Allah yang
paling dalam, yaitu, ketidakmampuan dan rasa malu-Nya, dan pada saat yang
106
sama tempat pewahyuan tentang kemuliaan-Nya yang paling agung.
(4) Iman Pemazmur dalam Tuhan (, )
a. Bagi pemazmur, perjanjian adalah pondasi bagi semua pemahaman tentang
Allah dan dasar bagi semua doa. Pemazmur benar2 tidak pernah
mempertanyakan eksistensi Allah. Dia yakin pada anugerah Allah dan
kebergantungannya kepada Allah. Keyakinan tersebut berakar dalam
kepercayaan bahwa Allah adalah setia kepada perjanjian-Nya dengan Israel.
Perjanjian adalah tema yang muncul dari berbagai cara dalam Kitab Mazmur:
i. Mz 25:10
ii. Mz 106:45
Allah itu baik bagi mereka yang memegang perjanjian
Allah mengingat perjanjian dan menunjukkan kasih
iii. Mz 111:5
Allah menyediakan rezeki (makanan) karena perjanjian
karunia
b. Kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya dimengerti sebagai  ()
dalam PL. Pentingnya kata ini dalam Kitab Mazmur terlihat dari fakta bahwa
kata ini muncul 127 kali (245 kali dalam PL). Nelson Glueck menjelaskan arti
kata ini sebagai kasih berdasarkan relasi (perjanjian), yang membedakannya
dari kasih spontan tanpa sebab tertentu.
c. Karena kepercayaan pada kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya, pemazmur
dengan yakin mencari kasih-Nya berdasarkan pada relasi tsb:
i. "Bebaskan aku demi kasih setia-Mu" (6:5; 44:27)
ii. "Selamatkan aku di dalam kasih setia-Mu" (31:17)
iii. "Kasihanilah aku, ya Tuhan, menurut kasih setia-Mu" (51:3)
d. Lebih jauh, pemazmur merasa bahwa mereka memiliki hak untuk
mengingatkan Allah tentang kebutuhan mereka karena relasi dalam perjanjian,
dan mereka dengan berani memohon pada Tuhan "Ingatlah!":
i. Mz 119:49
ii. Mz 20:4
iii. Mz 74:2
iv. Mz 74:18, 22
v. Mz 89:51
vi. Mz 137:7
"Ingatlah Firman-Mu!"
Kurban2 persembahan
Umat-Mu
Musuh yang mencela nama Allah
Bagaimana sang hamba dicela dan dihina
Dosa Edom melawan Yerusalem
(5) Memahami Keadilan Tuhan (Theodicy)
a. Seperti dalam Yer 12:1, pertanyaan paling sulit yang ditanyakan oleh orang
beriman adalah, "Mengapa orang tidak bersalah menderita dan orang fasik
makmur?" Pertanyaan ini mencoba untuk mendamaikan kehadiran kejahatan
dengan konsep dunia yang dikelola oleh Allah yang baik.
b. Tidak satupun ditemukan dalam PL jawaban singkat bagi pemahaman,
penafsiran dan penghubungan penderitaan dan eksistensi kejahatan. Minimal
ada 6 alternatif solusi terhadap isu teodise.
107
i. Keberdosaan manusia
Ini adalah penjelasan paling umum tentang eksistensi penderitaan.
Dalam pandangan ini, penghentian harmoni kehidupan dipahami
sebagai akibat dari dosa2 manusia. Restorasi berasal dari
pengampunan Allah. Banyak mazmur keluhan pribadi menunjukkan
bahwa penyebab penderitaan manusia adalah dosa (misal Mz 32:3–5;
38:3).
ii. Penderitaan sebagai disiplin ilahi
Ini juga adalah pemahaman umum alkitabiah tentang penderitaan
manusia. Penderitaan dipahami sebagai salah satu dari banyak cara
Allah untuk mengajar umat-Nya (bandingkan dengan Ibr 12:7ff.).
Dalam Mazmur 119:67 dan 71, pemazmur bersyukur kepada Tuhan
karena keuntungan yang didapat dari penderitaannya.
iii. Kehadiran Allah sebagai jawaban terhadap penderitaan
Ini diilustrasikan dengan baik dalam kisah Ayub. Ketika Allah
menampakkan diri kepadanya, Ayub terdiam, tidak menanyakan
pertanyaan apapun kepada Tuhan meskipun dia diberikan kesempatan
untuk bertanya. Salah satu karakteristik penampakan Allah adalah hal
itu menyebabkan munculkan pujian dan keberdiaman diri. Jika
seseorang merasakan kehadiran Allah kepadanya di tengah2
penderitaan, semua pertanyaan2 terdahulu lenyap karena dia tahu
bahwa seorang berdosa tidak dapat tahan berdiri di hadapan Tuhan
(Mz 73:21–28).
iv. Respon eskatologis
Ketika seorang yang menderita menyadari penderitaannya tidak adil,
dia dapat menemukan jawaban dalam kepercayaan akan penghakiman
akhir. Di Penghakiman Terakhir, Allah akan mengkoreksi
ketidakadilan, menghakimi orang fasik, menyelamatkan orang benar,
dan membuat keadilan dapat diakses (Mz 96:11–13).
v. Allah sebagai penyebab penderitaan
Dalam pemahaman ini, tidak ada pertanyaan yang dapat diajukan
kepada Tuhan bagi penderitaan karena kedaulatan kehendak Allah
adalah penyebab kesusahan orang yang mengalami penderitaan (Mz
88:4–10).
vi. Penderitaan yang bersifat menebus
Adalah mungkin bahwa penderitaan seseorang bersifat menebus demi
kepentingan diri sendiri atau orang lain (bandingkan dengan Yes 53:4–
5).
108
Individu dan Raja dalam Kitab Mazmur
1. Individu di Israel
(1) Individu dalam Nyanyian Doa dan Nyanyian Syukur
a. Dalam Kitab Mazmur semua gambaran kehidupan sehari2 bertemu: rumah
dan jalan, tanah dan tempat kerja, tempat tidur orang sakit dan ruang tidur;
makan dan minum, tidur dan bangun, bekerja dan beristirahat; semua
kelompok umur dari anak2 sampai orang tua; laki2 dan perempuan, orang tua
dan anak, saudara dan teman.
b. Dalam semua situasi, nyanyian2 individu "I," keluhan2, doa2, dan
penyampaian pujian dan syukur, berpartisipasi dalam ibadah Israel. Asumsi
penting dalam relasi dengan aktifitas doa dan nyanyian individu dalam Kitab
Mazmur adalah bahwa banyak mazmur Daud kemungkinan digunakan oleh
para penyembah di jaman terkemudian untuk menerangkan situasi mereka
sendiri kepada Tuhan. Sebagian besar dari mereka yang menyampaikan doa2
di Israel mengadopsi penggunaan mazmur2 untuk diri mereka sendiri yang
tersedia dalam Bait Suci. Mereka kemungkinan belajar doa2 dari imam dan
penyanyi Bait Suci yang bertanggung jawab untuk mengajar mereka.
c. Mazmur2 tertentu mengindikasikan bahwa beberapa nyanyian2 kuno
diturunkan kepada generasi berikutnya dalam pengingatan karya
penyelamatan Allah:
Mz 22:4–6
"Padahal Engkaulah Yang Kudus;
Yang bersemayam di atas puji-pujian Israel.
Kepada-Mu nenek moyang kami percaya;
Mereka percaya dan Engkau meluputkan mereka.
Mereka berseru2 kepada-Mu dan mereka diselamatkan;
Kepada-Mu mereka percaya dan tidak kecewa."
d. Ul 31:19–22 dapat menjadi contoh yang baik untuk menjelaskan bagaimana
nyanyian-nyanyian itu dipelihara dan diajarkan kepada umat Israel:
i. "Tuliskanlah bagi dirimu sendiri nyanyian ini"
ii. "Ajarkanlah itu kepada orang2 Israel"
iii. "Biarlah mereka menyanyikannya"
(2) Peristiwa-peristiwa bagi Individu untuk Datang ke Bait Suci
a. Kurban Syukur
Ini adalah latar belakang dari Mazmur Ucapan Syukur dalam Kitab Mazmur.
Individual menyampaikan "nyanyian syukur” (, ) bersama dengan
kurban syukur, setelah situasi yang mengancam berlalu.
b. Pengadilan/Penghakiman di Bait Suci
Ul 17:8 dst. menerangkan hak individu untuk pergi ke pengadilan Bait Suci
untuk mendapatkan keadilan/penghakiman. Ketika sebuah kasus terlalu sulit
untuk ditangani dalam pengadilan lokal, atau ketika penolakan keadilan dan
penganiayaan terjadi, individu mencari keamanan dalam Bait Suci, di mana
109
dia berharap dibela oleh Tuhan.
c. Setelah kesembuhan dari sakit
Ketika seseorang sembuh dari sakit atau keadaan tidak bersih (najis), dia dapat
pergi ke Bait Suci bagi ritual penyucian dan pengakuan (dosa). Dalam kasus
ini, sangat mungkin bahwa dosa seseorang yang telah sembuh dari sakit itu
juga disebutkan. Latar belakang dari beberapa doa pengakuan dosa mungkin
terjadi dalam peristiwa seperti ini.
d. Permohonan pribadi kepada Allah
Para peziarah individu mungkin dapat ke Bait Suci untuk berdoa tentang
kebutuhan pribadi seperti yang digambarkan oleh kisah Hana dalam 1 Sam 1.
Dalam kasus ini, individu ditanyai di pintu gerbang Bait Suci dengan
menggunakan liturgy pintu gerbang (Mz 15; 24:3–6).
(3) Doa-doa Individu dalam Bait Suci
a. Banyak mazmur menyatakan bahwa individu yang datang ke Bait Suci
menderita kesusahan dan bahaya, menghadapi bahaya penganiayaan dan
fitnah yang ekstrim, dan dalam kesakitan. Individu yang melalui situasi yang
menyedihkan mengekspresikan perasaan-perasaannya yang tidak dapat
ditoleransi lagi tentang Allah yang tersembunyi sebagai berikut:
i. "Berapa lama?" (Mz 6:4; 35:17; 62:4; 74:10; 119:84)
ii. "Tuhan diam" (Mz 28:1; 35:22; 109:1)
iii. "Apakah Engkau lupa?" (Mz 9:13; 10:12; 13:2; 42:10)
iv. "Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu?" (Mz 10:1; 27:9;
30:8; 55:2; 104:29)
v. "Apakah Engkau tertidur?" (Mz 44:24; 78:65)
vi. "Kapankah Engkau bangun?" (Mz 7:7; 44:24)
b. Perubahan suasana hati (mood) dari keluhan menuju pujian atau ucapan
syukur dicatat dalam beberapa doa individu. Perubahan ini diekspresikan
dalam cara-cara berikut:
i. Penyembah telah menerima jawaban dari Tuhan melalui imam atau
nabi kultus.
ii. Jaminan datang langsung di dalam pikiran penyembah.
iii. Theophani dalam Bait Suci menjamin individu pada saat berdoa bahwa
Tuhan hadir dan memiliki kuasa untuk menyelamatkan.
iv. Penyembah menerima tanda dari Tuhan bahwa dia akan ditolong.
Tidak diketahui bagaimana tanda tersebut diberikan, namun pemazmur
memohon pada Tuhan untuk memberikan tanda kepadanya: "Berikan
kepadaku tanda dari kebaikan-Mu” (Mz 86:17).
2. Deskripsi tentang Manusia dalam Kitab Mazmur
(1) Manusia dalam Pengertian Absolut
a. Ketika pemazmur berkata, "Apakah yang dapat dilakukan manusia
kepadaku?" (56:12; 118:6), di sini "manusia" ada dalam kontras yang absolut
dengan Tuhan. Ada 2 sisi manusia dalam pertanyaan ini:
110
i. Mereka adalah musuh umat Allah (Mz 56:2; 66:12; 124:2)
ii. Mereka adalah makhluk yang lemah.
b. Kebenaran ini juga berlaku bagi suatu kelompok orang atau bangsa:
"Biarlah bangsa-bangsa tahu bahwa mereka hanyalah manusia" (Mz 9:21).
(2) Istilah-istilah yang menunjuk pada manusia
a. Daging (, )
Kata ini digunakan untuk mengindikasikan bahwa manusia adalah daging,
bukan bahwa manusia memiliki daging. Kata ini mengandung implikasi
bahwa tubuh manusia adalah rentan dan dapat binasa. Ini juga berarti bahwa
tubuh adalah lemah ketika masalah dan penyakit datang menimpa. Tanpa
proteksi Tuhan “tubuh” adalah subyek ketidakamanan dan
pembusukan/kerusakan.
b.  ()
i. Ini adalah tempat dari segala keinginan dan hasrat, pencarian dan
kerinduan umat manusia. Itu juga mewakili tempat dan proses dari
perasaan rohani dan kondisi di dalam batin. Dalam pengertian ini, adalah
tepat untuk menerjemahkan kata ini sebagai "jiwa" (Mz 42:2–3).
ii.  bukan milik manusia, namun manusia adalah . Dalam
kasus ini kata Ibrani ini berarti "persona/pribadi," atau "diri." Jadi, itu
dapat diterjemahkan sebagai "aku/saya" (Mz 54:5; 84:3; 103:1).
iii. Arti  termasuk "tenggorokan/kerongkongan." Ini adalah organ
yang melaluinya makanan diterima (Mz 107:5, 9).
c.  atau 
i. Pusat hidup manusia adalah . "Hati" ini adalah pusat segala
pemikiran, rencana, refleksi, penjelasan, dan ambisi (Mz 4:5; 10:6; 15:2;
20:5; 33:11).
ii. Tuhan sendiri mengetahui kedalaman hati manusia (Mz 44:22). Dia
adalah Pribadi yang membuat hati dan mencatat segala aktifitasnya (Mz
33:15).
iii. Itu dapat menjadi tempat kejahatan (Mz 28:3). Keseluruhan hati dapat
bercirikan "perlawanan" (Mz 101:4). Allah mampu menyingkirkan
kejahatan dari dalamnya dan menciptakan "hati yang murni" (Mz 24:4;
51:12; 73:1).
d.  ()
i. Arti literalnya adalah angin, nafas hidup, dan kuasa yang memberikan
kehidupan. "Ketika nafasnya (, ) melayang, dia kembali ke
111
tanah" (Mz 146:4).
ii. Ada kesamaan antara kata ini dengan  seperti terlihat dalam Mz
51:19 "roh yang patah" dan "hati yang patah" ( dan
,  dan ).
(3) Individu sebagai Orang Miskin
a. Ada bermacam sebutan diri dari mereka yang berdoa di dalam Kitab
Mazmur. Orang yang menderita biasanya memanggil diri mereka sebagai
“orang yang tertindas”, “sengsara”, "orang miskin", dan "membutuhkan"
( dan ,  dan , 10:2, 9; 14:6; 40:18; 70:6; 86:1; 109:22).
b. Tentang identitas orang miskin, para ahli mengusulkan berbagai penafsiran:
i. Rahlfs dan Causse mengusulkan bahwa Kitab Mazmur adalah buku
tentang “orang miskin” Israel, yang adalah kelompok pengikut-pengikut
Tuhan yang berkomitmen. Namun penafsiran orang miskin sebagai partai
atau kelompok tidak lagi diterima.
ii. Usaha Mowinckel untuk mengklarifikasi arti miskin dimulai dengan
pengertian musuh-musuh mereka. Dia memahami bahwa musuh-musuh
mereka adalah para penyihir dan dukun. Jadi orang miskin pastilah korban
dari praktek magis oleh musuh-musuh mereka.
iii. Menurut penjelasan dalam Kitab Mazmur, orang miskin adalah mereka
yang teraniaya, terhina, dan yang mengalami tuduhan palsu. Mereka tidak
mampu mempertahankan diri mereka sendiri melawan kuasa superior dari
musuh-musuh mereka. Mereka pergi kepada Tuhan untuk berlindung dan
di dalam Bait Suci menampilkan kasus mereka kepada Tuhan.
3. Raja dalam Kitab Mazmur
(1) Gelar Raja dan Relasi dengan Tuhan
a. "Raja" (, , 2:6; 20:10; 21:2, 8)
b. "Yang Diurapi" (, , 2:2; 20:7; 84:10; 89:39, 52; 132:10)
i. Kata ini sering ditambahkan akhiran dengan "(Yang Diurapi)-Nya"
(, , 2:2; 20:7), “Yang Kau-urapi” 84:10; 89:39, 52; 132:10).
ii. Tuhan sendiri mengurapi Daud dengan minyak kudus (89:21).
iii. Orang yang diurapi diperlengkapi dengan "Roh dari Tuhan" (Saul
dalam 1 Sam 10:1, 6; David in 16:13).
c. Dalam Kitab Mazmur, penyebutan raja biasanya berkaitan dengan nama
Daud
(89:4; 132:10, 11–12).
d. Raja dijelaskan duduk di sebelah kanan Tuhan (80:18; 110:1).
e. Relasi ayah-anak diaplikasikan pada hubungan raja dan Allah (2:7; 89:27–
28). Relasi ini didasarkan pada perjanjian yang dibuat dengan Daud melalui
Natan (2 Sam 7:14).
(2) Peran Raja dalam Ibadah
112
a. Raja tidak pernah menjadi obyek ibadah meskipun dapat diadakan ibadah
untuk kepentingan raja seperti yang ditunjukkan dalam mazmur-mazmur raja.
b. Kraus, berdasarkan Mz 110:4, mengusulkan raja-raja keturunan Daud
adalah imam-raja. Mungkin ini adalah pemahaman yang baik dalam relasi
dengan Yesus sebagai imam-raja dalam PB.
c. Ada permohonan-permohonan yang dibuat bagi raja selama ibadah:
i. Dalam Mz 21:2–8, para imam dan umat bersyukur pada Tuhan karena
apa yang Tuhan telah lakukan demi kepentingan raja. Dalam bagian
berikutnya, 21:9–13, sukses raja di masa depan disampaikan.
ii. Dalam Mz 20:2–6, permohonan-permohonan bagi raja dipresentasikan
dalam bentuk harapan.
iii. Permohonan-permohonan lain ditemukan dalam mazmur keluhan
individu (61:7–8; 63:12) dan khususnya Mazmur Zion (84:10).
d. Ada beberapa upacara ibadah bagi peristiwa istimewa berkenaan dengan
raja:
i. Untuk penobatan raja (Mz 2; 110)
ii. Untuk pernikahannya (Mz 45)
iii. Untuk beberapa peristiwa yang tidak diketahui/tidak disebutkan (Mz
72)
e. Arti penting Mazmur 45
i. Dalam hubungan dengan Mz 45, beberapa pertanyaan dapat diajukan:
Mengapa mazmur seperti itu dimasukkan ke dalam kanon? Setelah
berakhirnya kerajaan, bagaimana nyanyian tersebut dipahami ketika
mazmur dikanonisasikan?
ii. Itu dapat ditafsirkan secara rohani, yang bukanlah cara penafsiran yang
tidak biasa dalam tradisi rabi: raja sebagai Mesias dan pengantin
perempuan sebagai komunitas orang percaya. Ini juga merupakan
metafora yang umum dalam PB (pesta pernikahan raja).
113
Musuh dan Pembalasan Dendam dalam Kitab Mazmur
1. Musuh2 Bangsa
(1) Musuh2 dalam Mazmur Raja
a. Ketika seseorang berurusan dengan ide pembalasan dalam Kitab Mazmur,
dia harus memahami terlebih dahulu natur dari musuh2 itu. Sebaliknya,
musuh2 itu harus dibedakan antara musuh2 pribadi maupun musuh2 Israel.
Mazmur Raja menyediakan gambaran yang jelas tentang musuh2 Israel.
b. Musuh2 Israel tanpa diragukan lagi adalah bangsa2 asing. Musuh2 dalam
Mazmur Raja diterangkan dengan kata2 Ibrani yang berbeda2:
i. "Musuh2 raja" (, , Mz 45:6)
ii. "Musuh2" (, , Mz 18:41; 21:9; 72:9; 110:1, 2; 132:18)
iii. "Seseorang yg membenci" ( or , Mz 18:41; 21:9; 89:24)
iv. "Seteru" (, , Ps 89: 23, 42)
v. "Lawan, yaitu orang yg bangkit melawan aku" (, , Mz 18:40,
49)
c. Gambaran yang lebih konkrit tentang musuh2 adalah bahwa musuh2 dalam
mazmur2 itu seringkali adalah rakyat atau raja2 dan penguasa2 yang
mengumumkan perang melawan umat Tuhan (2:2, 10; 18:48; 45:6; 110:5–6).
Ketika musuh2 menang, mereka mengejek Israel dengan cara mengolok-olok
Tuhan (Mz 74:10) atau dengan berkata2 secara provokatif, "Dimana Allah
mereka?" (Mz 79:10).
d. Sementara musuh bersandar pada kekuatan senjata dan tentara, umat Allah
yang terancam hanya mengetahui satu hal, memohon pada Tuhan untuk
menyelamatkan mereka: "Sebagian orang percaya pada kereta2 dan sebagian
pada kuda2, tetapi kami percaya dalam nama Tuhan, Allah kita" (Mz 20:8).
e. Hal paling penting bagi seorang raja adalah janji yang dibuat untuknya di
hari penobatannya sebagai raja: Tuhan akan membuat musuh2 raja sebagai
tumpuan kakinya (110:1). Tuhan akan menghancurkan musuh2 atau Dia
membuat raja menghancurkan mereka (2:12).
f. Tetapi Tuhan dapat marah kepada raja dan menundukkan dia kepada para
musuhnya (89:39–46).
(2) Musuh2 dalam Keluhan Komunal
a. Dalam Mazmur Keluhan Komunal, raja bukanlah subyek. Istilah2 yang
digunakan untuk menerangkan musuh2 di sini sangat mirip dengan yang ada
dalam mazmur2 raja:
i. Musuh (, , Mz 44:17; 74:4; 80:7; 106:42)
ii. Seteru (, , Mz 44:8; 60:13; 74:4)
iii. Orang yang membenci (, , Mz 44:8, 11)
b. Karakteristik musuh2 dalam keluhan komunal adalah:
114
i. Sombong dan arogan (123:4)
ii. Mereka (bangsa2) tidak mengetahui Allah (79:6)
iii. Musuh2 mengalahkan Israel dan Yehuda, mencemarkan Bait Suci, dan
membunuh banyak orang (79:1–4, 7; 74:4–9)
iv. Musuh2 sangat jarang diidentifikasi (Babel dalam 137:1)
v. Musuh2 mengolok2 Tuhan dan umat-Nya (74:10; 80:7)
c. Musuh2 membuat pemazmur berdoa kepada Tuhan dalam berbagai cara:
i. Pemazmur memahami kesulitan yang disebabkan oleh musuh2 sebagai
penolakan Tuhan (60:3).
ii. Pemazmur berdoa dengan tidak sabar "Berapa lama?" (74:10; 79:5).
iii. Pemazmur memohon anugerah "Kasihanilah kami!" (123:3) atau
"Pulihkan kami, ya Tuhan!" (80:4, 8, 20).
iv. Yang lebih penting, doa pemazmur berubah menjadi doa pembalasan
dendam (94:1–7).
(3) Musuh2 dalam Mazmur Pujian
a. Dalam mazmur penciptaan mereka yang melawan Tuhan disebut sebagai
"seteru" (8:3).
b. Dalam Mz 104:35, orang2 berdosa dan orang fasik mengancam kemuliaan
Tuhan. Pujian tidak lengkap sampai semua musuh Allah disingkirkan dari
dunia.
2. Musuh2 Individu
(1) Istilah yang Digunakan untuk Musuh2
a. Musuh2 individu dalam Mazmur Keluhan diekspresikan dengan istilah2
Ibrani yang sudah dikenal luas:
i. Musuh (, )
ii. Seteru (, )
iii. Pelaku kejahatan atau org fasik ( atau ,  atau
)
iv. Pengikut2 (, )
b. "Pelaku2 kejahatan," "orang fasik," dan "pengikut2" adalah istilah yang
lebih deskriptif dibandingkan "seteru" atau "musuh" untuk menggambarkan
cara seseorang bertindak: musuh2 ini melakukan “kejahatan."
(2) Karakteristik Musuh
Istilah "fasik" (, ) mengindikasikan bahwa orang fasik adalah orang
yang tidak baik, yang tidak hanya menyangkal Allah dalam beberapa pengertian
tetapi tidak memiliki rasa malu di hadapan Tuhan ketika mereka membawa
perbuatan2 mereka yang menipu. Karakteristik utama musuh dalam mazmur
115
keluhan individu adalah:
a. Dia percaya pada diri sendiri (10:6).
b. Mereka bersandar pada kuasa mulut mereka yang menghancurkan (12:5;
10:7).
c. Mereka sangat tidak baik: mereka berkata, "Allah sudah melupakan" atau
"Allah tidak melihat" (10:11, 13).
d. Mereka bersaksi palsu dan memfitnah, yang adalah senjata mereka yang
paling ampuh (27:12; 59:7–8).
e. Mereka merencanakan kejahatan (35:20).
f. Tidak ada kebenaran di dalam mulut mereka dan tenggorokan mereka
adalah kubur yang terbuka (5:10).
(3) Tiga Gambaran yang Digunakan untuk Menerangkan Kata Musuh
a. Gambaran tentang tentara yang menyerang dan mengepung (3:7; 27:3;
55:19; 56:3; 59:4; 62:4)
b. Gambaran pemburu atau penangkap ikan (7:16; 9:16; 31:5; 35:7–8; 57:7;
59:7; 64:4; 140:6).
c. Gambaran binatang2 buas (7:3; 22:13–14; 27:2; 35:21)
(4) Musuh2 dan Sistem Judicial Hukum
a. Untuk memahami identitas musuh2 individu, kita harus memahami sistem
hukum di Israel. Pertama, tempat yang normal bagi pengadilan terhadap
perkara2 individu adalah pintu gerbang kota (Ul 21:19; 16:18).
b. Jika kasusnya terlalu sulit dan kompleks, itu harus dibawa ke pusat Bait
Suci di Yerusalem (Ul 17:8–13).
c. Dalam kasus ini tergugat dapat meminta perlindungan di dalam Bait Suci
untuk proteksi karena para penggugat seringkali berusaha untuk
membunuhnya. Situasi ini terlihat dalam Mz 3, 17, 27, 57, 63.
d. Tergugat tidur di malam hari dengan aman (3:6; 4:9).
e. Terdapat ritual sebelum pengadilan. Salah satunya adalah sumpah
penyucian seperti terlihat dalam Mz 7:4–6.
f. Hari berikutnya orang yang teraniaya menampilkan kasusnya dan menunggu
keputusan (5:4).
g. Selama proses tersebut dia memberikan permohonan, dengan berkata
"hakimilah aku, ya Tuhan” (7:9–10; 26:1–2; 35:22–24).
3. Mazmur Kutukan
(1) Definisi Mazmur Kutukan
a. Kutukan adalah suatu doa penghakiman, malapetaka, atau kutukan yang
diucapkan melawan musuh seseorang atau musuh Allah. Itu pasti suatu doa
116
kepada Tuhan dan pasti berisi permohonan bahwa musuh seseorang akan
dihakimi dan dihukum dengan adil. Tipe doa2 kutukan ditemukan baik dalam
kitab narasi maupun kitab nabi2:
i. Doa Musa pada permulaan perjalanan selama di padang gurun (Bil
10:35)
ii. Doa Debora bagi musuh2 (Hakim 5:31)
iii. Doa2 Yeremia (11:20; 15:15; 17:18; 18:21–23; 20:12)
b. Beberapa bagian dalam PB juga dipahami oleh beberapa orang berisi
kutukan:
i. Doa para martir di Surga (Wahyu 6:9–10)
ii. Teguran Paulus terhadap Elimas sang tukang sihir (Kis 13:10–11)
iii. Teguran Paulus terhadap Ananias (Kis 23:3)
iv. Anathema [terkutuklah ia] (1 Kor 16:22)
v. Kutukan Paulus bagi yang memberitakan injil yang lain (Gal 1:8–9)
vi. Paulus melawan para pendukung sunat (Gal 5:12)
vii. Peringatan Paulus kepada Alexander (2 Tim 4:14)
c. Contoh yang sangat menarik tentang penggunaan mazmur kutukan dalam
PB terdapat dalam Kis 1:20, dimana doa kutukan (Mz 69:26; 109:8) dipahami
sebagai nubuatan bagi Yudas Iskariot.
(2) Identifikasi Mazmur Kutukan
a. Salah satu tema paling sulit dalam Mazmur bagi orang Kristen modern
adalah ide tentang balas dendam yang diekspresikan dalam banyak mazmur
(Mz 5:11; 6:11; 9:20; 10:15; 17:13; 28:4; 31:18–19; 40:15–16; 55:10, 16;
68:2–3; 70:3–4; 71:13; 79:6, 10, 12; 94:1; 97:7; 104:35; 129:5–6; 140:10–12;
141:10; 143:12).
a. Mazmur kutukan berisi ekspresi2 yang memanggil penghakiman ilahi
untuk dilaksanakan kepada musuh2 pemazmur, yang meliputi bukan hanya
kehancuran personal dari musuh tetapi juga kehancuran keluarganya dan
penumpasan semua harapan baginya di masa depan. Dalam mazmur kutukan,
kutukan menjadi elemen atau gambaran utama. Meskipun ada berbagai opini
terhadap jumlah dan identitas mazmur kutukan, minimal 9 mazmur berikut ini
dapat disebut sebagai “mazmur kutukan”:
i. Mz 7 (7:15–17)
ii. Mz 35 (35:4–8, 26)
iii. Mz 58 (58:7–9)
iv. Mz 59 (59:9–16)
v. Mz 69 (69:23–29)
vi. Mz 83 (83:10–19)
vii. Mz 109 (109:6–20)
viii. Mz 137 (137:7–9)
ix. Mz 139 (139:19–22)
117
(3) Masalah dengan Mazmur Kutukan
a. Masalah teologis yang muncul dari mazmur semacam itu sangat jelas.
Bagaimana kita mendamaikan dengan pengajaran PB dan perintah Yesus
untuk "mengasihi musuhmu, dan berdoa untuk orang yang menganiaya kamu"
(Mt 5:44)?
b. Pada dasarnya ada 3 masalah berhubungan dengan mazmur kutukan:
i. Bagaimana menjelaskan kehadiran kutukan2 ini dalam PL?
ii. Bagaimana orang Kristen mengaplikasikan hal ini dalam hidup dan
ibadah mereka?
iii. Dapatkah bagian kutukan2 ini adalah hal yang diinspirasikan seperti
bagian2 lain dalam Alkitab?
(4) Bermacam-macam Penafsiran tentang Balas Dendam dalam Kitab Mazmur
a. Di antara contoh2 mazmur kutukan, Mz 109 terkenal karena kutukannya
yang panjang dan intensif (ayat 6–20). Tentang pembicara bagian ini,
beberapa ahli berkata bahwa kutukan tersebut dikatakan oleh musuh2 Daud.
Namun karena konteks dan kutipan mazmur ini dalam Kis 1:20 (Mz 109:8,
"biarlah jabatannya diambil orang lain") jelaslah bahwa pembicara adalah
Daud. Bagaimanapun juga, menghubungkan kutukan2 itu dengan musuh Daud
adalah tidak mungkin dalam mazmur2 yang lain.
b. Karena Daud adalah penulis banyak mazmur kutukan, beberapa ahli tidak
menyebutkan isu tentang pembicara, namun mengatakan bahwa kutukan2 itu
merefleksikan hati Daud sendiri sebagai seorang manusia dan bukan inspirasi
dari Roh Kudus. Ini adalah pandangan yang berbahaya karena memotong
bagian Alkitab menjadi bagian yang diinspirasikan dan yang tidak
diinspirasikan adalah kesalahan mendasar. Selain itu, PB menyaksikan bahwa
Daud diinspirasikan oleh Roh Kudus (Kis 4:25; bandingkan dengan 2 Pet
1:21).
c. Para penafsir traditional mencoba memahami musuh2 sebagai prinsip2 jahat
dan kekuatan2 kegelapan. Dengan cara ini kutukan2 dibenarkan sebagai cara
membela keadilan Tuhan (bandingkan dengan Mz 139:21–22, "musuh Allah
adalah musuhku"). Solusi ini memperkenalkan subyektifitas yang tidak jelas
tentang makna dari bahasa Alkitab. Jika musuh2 pemazmur adalah makhluk2
spiritual, adalah sangat aneh jika keluarga2 mereka disebutkan dlm Mazmur
109.
d. Yang lain menganggap mazmur kutukan sebagai milik iman Israel
terdahulu dan primitif yang telah digantikan secara total dengan perintah untuk
mengasihi dalam PB. Itu dimengerti sebagai “semangat yang liar” atau orang2
Yahudi kuno, yang menandai perbedaan antara PL dan etika rohani yang lebih
tinggi dalam PB. Solusi ini tidak tepat karena hal itu meremehkan ketersediaan
PL dalam memberikan pedoman etika. Pendapat itu juga mungkin mengakui
adanya kesalahan dalam pengajaran PL. Meskipun orang Kristen menikmati
keuntungan dari pewahyuan progresif, progresifitas itu bukanlah dari
kesalahan menuju kebenaran.
118
e. Solusi lain yang ditawarkan adalah memahami kutukan2 sebagai nubuatan.
Pemazmur menubuatkan apa yang akan terjadi kepada orang yang tidak baik.
Pandangan ini dianut oleh Agustinus, Calvin, dan Spurgeon. Kekuatan solusi
ini adalah bahwa kutukan2 dikutip dalam PB sebagai nubuatan2 (Mz 69:26
dan 109:8 dalam Kis 1:20 dan Mz 69:23–24 dalam Roma 11:9–10).
Pandangan ini mungkin cocok untuk mengurangi tuduhan pemazmur
mengucapkan sesuatu yang keluar dari roh yang pahit atau pembalasan
(bandingkan dengan 137:8–9), namun melemparkan tanggung jawab kutukan
pada Tuhan. Pada saat yang sama, penafsiran ini melupakan aspek ganda
penggenapan nubuatan: penggenapan selama jaman pemazmur atau masa
depan yang dekat dan nubuatan dengan penggenapannya di dalam Yesus dan
PB.
f. Penafsiran lain adalah mencoba menjelaskan mazmur2 ini dengan faktor2
historis dan psikologis. Dengan kata lain, di masa ketika kekejaman dan balas
dendam adalah hal yang umum, adalah alami bagi Israel untuk memohon balas
dendam Tuhan terhadap para penindas mereka. Penjelasan ini juga tidak
melakukan keadilan bagi kehadiran ide seperti itu dalam Alkitab.
g. Juga terdapat solusi lain yang mencoba menjelaskan kutukan2 dalam terang
perjanjian Abraham dalam Kej 12:1–3. Allah menjanjikan kepada Abraham
dalam perjanjian bahwa mereka yang memberkatinya akan diberkati dan
mereka yang mengutuk akan dikutuk. Berdasarkan perjanjian tersebut, Daud
memiliki hak sempurna sebagai pemimpin Israel untuk berdoa bagi
penghakiman terhadap musuh2nya.
(5) PL dan PB tentang Balas Dendam
a. Pertama-tama, mengutuk musuh sangat dilarang dalam Imamat 19:17–18.
Mungkin ada yang berpendapat bahwa perintah ini terbatas pada anggota umat
perjanjian. Bagaimanapun juga, Ayub, seorang non Yahudi, mengindikasikan
dalam 31:29–30 bahwa mengutuki musuh2 secara umum dimengerti sebagai
dosa.
b. Dalam Roma 12:17–20, ketika Paulus memberitahukan pembacanya untuk
tidak melakukan pembalasan dengan tangan mereka sendiri, dia menunjuk
pada hokum Musa (Ul 32:35) dalam rangka mendukung pengajarannya.
c. Adalah kesalahpahaman yang besar dengan menganggap bahwa PL
mengijinkan balas dendam sementara PB tidak. Keduanya berdiri atau gugur
bersama2 dalam isu ini sama seperti isu2 yang lain.
(6) Bagaimana Cara Memahami Kutukan
a. Menemukan hasrat untuk membalas dendam dalam diri saya sendiri
i. Fakta yang tak dapat dibantah adalah adanya hasrat untuk membalas
dendam di dalam mazmur2. Hal itu ada di sana tanpa perasaan malu,
permintaan maaf, dan sensor. Kita tidak bebas untuk menghilangkan hal
tersebut.
ii. Fakta lain yang jelas adalah hasrat untuk membalas dendam ada di
sana di dalam diri kita. Kita tahu bahwa kita mengharapkan balas dendam.
Ketika kita membaca mazmur2 tersebut, dengan pengakuan bahwa balas
119
dendam adalah umum dalam mazmur dan dalam diri kita, itu akan
menolong kita untuk sadar dan berjaga2 terhadap diri kita sendiri.
b. Belajar dengan jujur dan mazmur2 kutukan
Mazmur2 ini adalh untuk menolong kita menemukan apakah diri kita
(penemuan diri). Pada saat yang sama, ketika kita membacanya, kita harus
mengakui apa yang ada di dalam diri kita (dengan jujur). Mazmur2 kutukan
mengajar kita untuk melihat diri sendiri dengan kejujuran.
c. Sikap pemazmur dalam mazmur2 kutukan
i. Hal pertama yang kita pelajari dari sikap pemazmur berkenaan dengan
balas dendam adalah bahwa balas dendam itu diekspresikan dalam bentuk
"verbal" (kata2) bukan "action" (tindakan). Itu dikatakan sebagai harapan
dan doa.
ii. Kedua, kerinduan untuk membalas dendam disampaikan kepada Tuhan
dalam doa. Itu dialirkan dari hati pemazmur kepada hati Allah. Itulah
sebabnya mengapa pemazmur harus mengekspresikannya secara penuh
bagaimana musuh2 itu telah menyakitinya dan bagaimana dia
menginginkan Allah melakukan sesuatu kepadanya.
iii. Alkitab berkata, "Pembalasan adalah milik-Ku" (Ul 32:35). Alasan
pemazmur menyampaikan pembalasannya kepada Tuhan adalah karena
itu adalah milik/hak Tuhan. Ketika itu diserahkan kepada Tuhan, itu
berarti akhir dari pembalasan dendam manusia.
d. Dua hal yang dipelajari dalam mazmur kutukan
i. Pembalasan dendam harus sepenuhnya dimengerti sebagai sesuatu
yang hadir, sepenuhnya dimiliki sebagai kemarahan "ku," dan
diekspresikan sepenuhnya dengan kejujuran yang intensif.
ii. Hal penting lainnya adalah menyerahkan hal itu sepenuhnya kepada
kuasa dan kedaulatan Allah. Ini adalah tindakan iman dan penyerahan,
menaruh pengharapan hanya dalam Dia. Pembalasan Tuhan bukanlah
kemarahan yang sembarangan. Itu adalah semangat Allah bagi keadilan
untuk melindungi umat-Nya.
120
Mazmur dan Gereja
1. Mazmur dan PB
(1) Kutipan Mazmur dalam PB
Berikut ini adalah daftar kutipan Mazmur dalam PB baik secara literal, paraphrase
(kutipan dengan menggunakan kata2 sendiri) atau disinggung sebagian:
Mazmur
2:1–2
2:7
PB
Mazmur
PB
2:8–9
Kis 4:25–26
Mt 3:17; 17:5; Mk 1:11
9:7; Lk 3:22; 9:35
Kis 13:33; Ibr 1:5
5:5; 2 Pet 1:17
Why 2:26–27
79:6
82:6
89:4–5
89:21
90:4
91:11–12
2 Tes 1:8
Joh 10:34
Kis 2:30
Kis 13:22
2 Pet 3:8
Mat 4:6; Lk 4:10–
4:5
5:10
6:9
8:3
8:5–7
Ef 4:26
Rom 3:13–18
Mt 7:23; Lk 13:27
Mt 21:26
Ibr 2:6–8
94:11
94:14
95:7–8
95:7–11
95:11
8:7
9:9
10:7
14:1–3
16:8–11
16:10
18:50
19:5
22:2
22:19
1 Kor 15:27; Ef 1:22
Kis 17:31
Rom 3:13–18
Rom 3:10–18
Kis 2:25–28
Kis 2:27, 31; 13:35
Rom 15:9
Rom 10:18
Mt 27:46; Mk 15:34
Mt 27:35; Mk 15:24
96:13
98:9
102:26–28
103:8
103:17
104:4
109:8
110:1
1 Kor 3:20
Rom 11:2
Ibr 3:7, 8, 15; 4:7
Ibr 3:7–11
Ibr 3:11, 18;
4:3, 4, 5, 10
Kis 17:31
Kis 17:31
Ibr 1:10–12
Yak 5:11
Lk 1:50
Ibr 1:7
Kis 1:20
Mt 22:44; 26:64;
Mk 12:36; 14:62;
16:19; Lk 20:42–
11
43
Lk 23:34; Jn 19:24
22:69; Kis 2:34–
22:23
24:1
Ibr 2:12
1 Kor 10:26
1 Kor 15:25;
Ef 1:20, 22; Kol
31:6
32:1–2
34:9
34:13–17
34:21
35:19
36:2
37:11
40:7–9
41:10
Lk 23:46
Rom 4:7–8
1 Pet 2:3
1 Pet 3:10–12
Yoh 19:36
Yoh 15:25
Rom 3:13–18
Mt 5:5
Ibr 10:5–7, 8, 9, 10
Yoh 13:18
Ibr 1:3, 13; 8:1
10:12–13; 12:2
Ibr 5:6; 7:17, 21
2 Kor 9:9
Why 9:20
2 Kor 4:13
Rom 15:11
Ibr 13:6
Mt 21:42; Mk
12:10–11;
35
3:1;
110:4
112:9
115:4–7
116:10
117:1
118:6
118:22–23
121
Lk 20:17;
44:23
45:7–8
48:3
51:6
55:23
62:13
67:3
68:19
69:5
69:10
69:22
Rom 8:36
Ibr 1:8–9
Mt 5:34–35
Rom 3:4
1 Pet 5:7
Mt 16:27; Rom 2:6
2 Tim 4:14
Kis 28:28
Ef 4:8
Yoh 15:25
Yoh 2:17; Rom 15:3
Mt 27:48; Mk 15:36
Yoh 19:28–29
118:25–26
118:26
130:8
132:11
135:14
135:15–17
140:4
143:2
Kis 4:11; 1 Pet 2:7
Mt 21:9; 23:39;
Mk 11:9–10; Lk
13:35; 19:38;
Yoh 12:13
Mt 21:9; 23:39
Lk 13:35; 19:38
Tit 2:14
Kis 2:30
Ibr 10:30
Why 9:20
Rom 3:10–18
Rom 3:20; Gal
2:16
69:23–24
69:26
78:2
78:24
Rom 11:9–10
Kis 1:20
Mt 13:35
Yoh 6:31
146:6
Kis 4:24; 14:15
Why 10:6; 14:7
(2) Relasi Intim antara Mazmur dengan PB
a. Keintiman antara Mazmur dan PB dapat dilihat dari praktek kuno dimana
Kitab Mazmur sering dicetak bersama2 dengan PB dalam satu volume.
Sejarah Gereja memberitahukan kepada kita bahwa dalam abad 8 M ada sekte
Kristen yang disebut “Bogomils" di daerah Balkan, yang memegang hanya PB
dan Mazmur sebagai Kitab Suci.
b. Keintiman antara Mazmur dan PB dapat dengan mudah dimengerti karena
PB tidak memiliki bagian yang berisi doa2 dan himne2.
c. Keintiman di antara keduanya juga dibuktikan oleh seringnya kutipan dari
Mazmur di dalam PB. PB secara keseluruhan mengutip lebih sering dari
Mazmur (kira2 70 kali) dibandingkan dari kitab2 PL yang lain.
(3) Identitas Mazmur dalam PB
a. Cukup jelas terlihat bahwa para penulis PB mengetahui Mazmur seperti
yang kita punyai sekarang. Ini didasarkan fakat bahwa PB mengutip Mazmur
dari LXX, yang mengikuti Masoretik Teks. Informasi yang paling jelas
tentang Mazmur muncul dalam Kis. 13:33, dimana bagian yang dikutip
disebutkan berasal dari "mazmur yang kedua " (e0n tw|
yalmw|~
ge/graptai tw|~ deute/rw|).
b. Kutipan2 dalam Lukas 20:42 dan Kis. 1:20 didahului kata2 "di dalam kitab
Mazmur" (e0n bi/blw| yalmw~n).
(4) Pengaruh Mazmur pada Puisi Jaman Terkemudian
Nyanyian2 rohani dalam PB tidak diragukan lagi dipengaruhi oleh mazmur2 PL.
122
Mazmur adalah dasar yang darinya bahasa himne2 dan nyanyian2 dalam bentuk
doa yang diinspirasikan roh dari Gereja mula2 berasal. Ada 3 tipe mazmur puisi
yang dipengaruhi oleh mazmur2 PL.
a. 35 Mazmur orang Yahudi yang disebut "Mazmur Ucapan Syukur"
ditemukan di antara Dead Sea Scrolls, dan mazmur2 tsb sangat mirip dengan
mazmur2 PL.
b. Beberapa nyanyian dalam PB sangat mirip dengan mazmur2 PL (misal, Lk
1:46–55, 68–79; 2:29–35). Yang lebih khusus, puji2an dalam Kitab Wahyu
merefleksikan karakter2 dari mazmur2 PL (misal, 5:9–10; 11:17–18; 12:10–
12; 19:6–8).
c. 1 Korintus 14:26 mengindikasikan adanya beberapa elemen dalam ibadah
gereja mula2” himne (yalmo/j), instruksi (didaxh/), wahyu (a0poka/luyij),
lidah (glw~ssa), atau penafsiran (e9rmhnei/a). Daftar ini menunjukkan mazmur
di posisi pertama, yang mengimplikasikan pentingnya mazmur2 PL dalam
Gereja. Contoh yang serupa ditemukan dalam Efesus 5:19–20 (yalmoi=j,
w|)dai=j, pneumatikai=j). Menurut bagian ini, ekspresi "berbicara seorang
dengan yang lain dengan nyanyian2 ini," mengindikasikan bahwa mazmur2
bukan hanya kepada Tuhan tetapi juga kepada para pendengar (bandingkan
Kol 3:16).
(5) Pembacaan Messianis terhadap Mazmur dalam PB
a. Pengamatan yang paling signifikan dari kutipan mazmur dalam PB adalah
bahwa para penulis PB menganggap mazmur2 sebagai nubuatan tentang
Mesias. Daud disebut sebagai nabi yang melaluinya Roh Kudus berbicara (Mt
22:43; Mk 12:36; Kis 2:30; 4:25).
b. Kebanyakan dari 70 kutipan mazmur dalam PB adalah untuk mendukung
konsep bahwa Yesus dengan hidup dan kematian-Nya dinubuatkan sebagai
Mesias. Dengan melakukan hal ini, para penulis PB menyadari mazmur2
sebagai prediksi masa depan yang menunjuk pada peristiwa2 mesianis setelah
tanggal penyusunannya (Mt 22:43–45; Kis 2:25, 31; 4:11). Beberapa contoh:
i. Setan mengutip Mazmur 91:11–12 sebagai pembebasan oleh Mesias
dari kejahatan (Mt 4:6; Lk 4:11).
ii. Mazmur 118:22–23 diyakini sebagai nubuatan tentang penolakan
Yesus oleh para pemimpin Israel (Mt 21:42; Mk 12:10; Lk 20:17).
iii. Mazmur 118:25–26 menunjuk pada masuknya Mesias ke kota
Yerusalem (Mt 21:9; 23:39; Mk 11:9; Lk 13:35; 19:38; Yoh 12:13).
iv. Mazmur 22:2 dan 19 menubuatkan peristiwa2 sepanjang penderitaan
Mesias (Mt 27:35; 27:46; Mk 15:34; Yoh 19:24).
v. 10 Mazmur yang berbeda dikutip dalam Surat Ibrani (Mz 2; 8; 22; 40;
45; 95; 102; 104; 110; 118 dalam Ibrani 1:5, 7, 8–9, 10–12, 13; 2:6–8, 12;
3:7–11, 15; 4:3, 5, 7; 5:5, 6; 7:17–21; 10:5–7; 13:6).
vi. Mirip dengan itu, Injil Yohanes juga mengutip mazmur2 yang berbeda:
Yoh 2:17 (Mz 69:10), Yoh 6:31 (Mz 78:24), Yoh 10:34 (Mz 82:6), Yoh
12:13 (Mz 118:25–26), Yoh 13:18 (Mz 41:10), Yoh 15:25 (Mz 35:19;
123
69:5), Yoh 19:24 (Mz 22:19).
(6) Mazmur2 yang Digunakan dalam PB dengan Arti yang Istimewa
Mazmur2 yang paling sering dikutip berkenaan dengan kemesiasan Yesus adalah
Mz 2, 22, 69, 110, and 118.
a. Mazmur 2
i. Mz 2:7: keilahian Yesus sebagai anak (Mt 3:17; Mk 1:11; 9:7; Kis
13:33; Ibrani 1:5; 2 Pet 1:17)
ii. Mz 2:1–2: pemberontakan bangsa2 melawan Kristus (Kis 4:25–26)
iii. Mz 2:8–9: penaklukan bangsa2 (Wahyu 2:26–27)
iv. Mz 2 dipahami oleh Gereja Mula2 sebagai penobatan eskatologis
Yesus Kristus.
b. Mazmur 22
i. Yesus di atas kayu salib mengucapkan keluhan pemazmur dalam Mz
22:2 sebagai kata2-Nya sendiri.
ii. Dia mengetahui pertanyaan "Mengapa?," atau "Berapa lama?" yang
diungkapkan oleh para peratap.
iii. Motif individu dari Mz 22 yang muncul dari narasi seputar penderitaan
Kristus:
▪ Mz 22:8 – mengolok2, menghina, menggelengkan kepala (Mk
15:29)
▪ Mz 22:9 - "Biarlah Tuhan menyelamatkan dia" (Mt 27:43)
▪ Mz 22:19 – membagi pakaiannya dan membuang undi (Mk 15:24;
Mt 27:35)
▪ Mz 22:23 – Pesan Paskah (Mt 28:10)
c. Mazmur 69
i. Mz 69:22 juga digunakan dalam narasi penderitaan Kristus (Mt 27:34,
48; Mk 15:36).
ii. Ini bukan pembuktian teks, tetapi ilustrasi terhadap peristiwa yang
actual. Peristiwa tersebut membuat mazmur ini memiliki arti yang
penting.
iii. Dalam Yoh 2:17 murid2 mengingat Mz 69:10 setelah penyucian Bait
Allah.
d. Mazmur 110
i. Dari Mz 110:4 penekanan diletakkan pada fakta bahwa Yesus Kristus
telah menjadi Imam Besar berdasarkan peraturan Melkisedek (Ibrani 5:6,
10; 6:20).
ii. Ibrani 8:1 merefleksikan kombinasi ide dari Mz 110:1 dan 4, imam
besar yang duduk di sebelah kanan Allah.
iii. Mazmur 110:1 digunakan mungkin untuk menjelaskan masalah yang
didiskusikan di antara orang2: "Apakah Yesus sebagai Messias adalah
124
anaknya Daud atau tuannya Daud?" (Mt 22:41–44).
iv. Dalam Mk 16:19 kebangkitan dan kenaikan Yesus dipahami sebagai
penggenapan Mz 110:1.
v. Dalam 1 Kor 15:25–26 musuh terakhir yang akan dihancurkan adalah
kematian, mengimplikasikan Mz 110:1.
(7) Contoh2 Mazmur yang Dipakai dalam Ibadah Gereja
a. Mazmur2 yang dihubungkan dengan peristiwa2 khusus dalam hidup Kristus
i.
Kedatangan
Mz 24 (“Angkatlah kepalamu . . . bahwa Raja
Kemuliaan akan masuk”)
Mz 80 (“Bangkitkanlah keperkasaan-Mu, datan
dan
selamatkan kami”)
ii.
Natal
Mz 96, 97, 98 (“Tuhan telah membuatnya
dikenal”)
(Lagu Natal terkenal dari Isaac Watts,
“Kesukaan
bagi Dunia,” didasarkan pada Mz 98)
iii. Epiphany
Mz 72 (“Segala bangsa akan diberkati oleh-
Nya”)
iv.
v.
(Manifestasi kehadiran
Allah bagi bangsa2
non Yahudi)
Rabu Abu dan
Mz 51 (“Buatlah di dalam diriku hati
40 hari menjelang
yang bersih, O Tuhan”)
Paskah
Minggu Palem
Mz 118 (“Hosana di tempat tinggi”)
vi. Maundy Thursday
Satu atau lebih Mazmur Hallel (Mz 113–118)
(Pembasuhan kaki
(Mazmur Hallel mungkin dinyanyikan oleh
orang di hari Kamis
Yahudi dalam peringatan Paskah
tradisional
sblm Jum’at Agung) mereka)
vii. Jum’at Agung
Mz 22 (“Allahku, Allahku, mengapa Engkau
meninggalkan aku?”)
viii. Paskah
Mz 118 (“Batu yang ditolak para tukang
bangunan
akan menjadi batu penjuru”)
Mz 16 (“Engkau tidak akan membiarkan Orang
Kudus-Mu melihat kebinasaan”)
ix. Kebangkitan
Mz 47 (“Allah telah naik dengan diiringi sorak
sorai”)
125
x.
Pentakosta
Mz 104 (“Apabila Engkau mengirim roh-Mu,
mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka
bumi”)
b. Mazmur2 yang dapat digunakan dalam ibadah
i.
Panggilan Ibadah
Mz 47, 66, 95, 96, 98, 100, 113, 150 (dan yang
ii.
Doa Pengakuan Dosa Mz 6, 32, 38, 51, 102, 130, 143
(7 Mazmur Pengakuan Dosa)
lain)
iii. Doa Ratapan
Mz 6, 13, 22, 42 (dan Mazmur Ratapan yang
iv. Kata2 Jaminan
Mz 30, 32, 103
v.
Mz 34, 103, 116
lain)
Perjamuan Kudus
vi. Doa Berkat
Mz 67, 115:12–15, 128
vii. Baptisan
Mz 23, 42, 89, 105
ix. Pernikahan
Mz 8, 67, 128, 145
x.
Mz 23, 27, 121, 139 (dan banyak lagi)
Penyembuhan
xi. Pemakaman
Mz 23, 46, 90, 103, 116, 121, 130, 139
xii. Dedikasi Gereja
Mz 84
xiii. Pentahbisan
Mz 117, 132, 134
xiv. Doa Pagi
Mz 5, 30, 90
xv. Doa Malam
Mz 4, 141
PENGGOLONGAN (KUALIFIKASI) MAZMUR-MAZMUR
(Tak ada kesepakatan total di antara para ahli perihal penggolongan mazmur)
1. PUJIAN
(1) Himne Umum
29, 33, 68, 100, 103, 105, 111, 113, 114, 115,
117, 134, 135, 139, 145, 146, 149, 150
(2) Mazmur tentang Penciptaan
8, 19, 65, 104, 148
(3) Mazmur Tuhan sebagai Raja
47, 93, 95, 97, 98, 99.
(4) Mazmur Zion
46, 48, 76, 84, 87, 122
(5) Mazmur Liturgikal
15, 24
(6) Mazmur Teguran Kenabian
50, 81, 82
(7) Mazmur Keyakinan
23, 91, 121, 125, 131
(8) Mazmur Ucapan Syukur Pribadi 30, 34, 41, 66, 92, 116, 118, 138
(9) Mazmur Ucapan Syukur Komunal
67, 75, 107, 124, 129, 136
2. RATAPAN/KELUHAN
(1) Mazmur Ratapan Pribadi
3, 4, 5, 6, 7, 9-10, 11, 13, 16, 17, 22, 25, 26, 27,
28, 31, 35, 36, 38, 39, 40, 42-43, 51, 52, 54, 55,
56, 57, 59, 61, 62, 63, 64, 69, 70, 71, 77, 86, 88,
94, 102, 109, 120, 130, 140, 141
(2) Mazmur Ratapan Komunitas
12, 14, 44, 53, 58, 60, 74, 79, 80, 83, 85, 90,
106, 108, 123, 126, 137
3.MAZMUR KERAJAAN
2, 18, 20, 21, 45, 72, 89, 101, 110, 132, 144
4. MAZMUR HIKMAT
1, 32, 37, 49, 73, 78, 112, 119, 127, 128, 133
Download
Study collections