BAB I PENDAHULUAN A. Kosmetik 1. Pengertian Kosmetik Kosmetik merupakan suatu sediaan yang telah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat. Salah satu kegunaan sediaan kosmetika adalah untuk melindungi tubuh dari berbagai faktor yang dapat menyebabkan kerusakan sel kulit. Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir), gigi dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi agar tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono et al, 2007). Menurut Surat Keputusan Kepala Badan POM RI Nomor: HK.00.05.4.1745 tentang Kosmetik, yang dimaksud kosmetik adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar) atau gigi atau mukosa mulut terutama membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik. Sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 220/Men.Kes/Per/IX/76 tentang Produksi dan Peredaran Kosmetik dan Alat Kesehatan, yang dimaksud dengan kosmetik adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan pada, dimasukkan dalam, dipergunakan pada badan atau bagian badan dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik atau mengubah rupa dan tidak termasuk golongan obat. 2. Penggolongan Kosmetik Berdasarkan Keputusan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen Nomor: PO.01.04.42.4082 tentang Pedoman Tata Cara Pendaftaran dan Penilaian Kosmetik, berdasarkan bahan dan penggunaannya serta untuk penilaian, kosmetik dibagi menjadi 2 (dua) golongan, yaitu: a. Kosmetik golongan I, adalah: 1) Kosmetik yang digunakan untuk bayi; 2) Kosmetik yang digunakan disekitar mata, rongga mulut dan mukosa lainnya; 3) Kosmetika yang mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan penandaan; 4) Kosmetik yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim serta belum diketahui keamanan dan kemanfaatannya. b. Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk golongan I 3. Kategori Kosmetik Berdasarkan fungsi kosmetik terdiri dari 13 (tiga belas) kategori, yaitu: a. Sediaan bayi; b. Sediaan mandi; c. Sediaan kebersihan badan; d. Sediaan cukur; e. Sediaan wangi-wangian; f. Sediaan rambut; g. Sediaan pewarna rambut; h. Sediaan rias mata; i. Sediaan rias wajah; j. Sedian perawatan kulit; k. Sediaan mandi surya dan tabir surya; l. Sediaan kuku; m. Sediaan hygiene mulut. 4. Penandaan Kosmetik Penandaan kosmetik harus memenuhi persyaratan umum, yaitu etiket wadah atau pembungkus harus mencantumkan penandaan berisi informasi yang lengkap, objektif dan tidak menyesatkan, sesuai dengan data pendaftaran yang telah disetujui, jelas dan mudah terbaca, menggunakan huruf latin dan angka arab; dan tidak boleh mencantumkan penandaan seolah-olah sebagai obat, rekomendasi dari dokter, apoteker, pakar di bidang kosmetik atau organisasi profesi. Keterangan-keterangan yang harus dicantumkan pada etiket wadah dan atau pembungkus meliputi: a. Nama produk; b. Nama dan alamat produsen atau importer/penyalur; c. Ukuran, isi atau berat bersih; d. Komposisi harus memuat semua bahan; e. Nomor ijin edar; f. Nomor bets/kode produksi; g. Kegunaan dan cara penggunaan kecuali untuk produk yang sudah jelas penggunaannya; h. Bulan dan tahunkadaluwarsa bagi produk yang stabilitasnya kurang dari 30 bulan; i. Penandaan yang berkaitan dengan keamananatau mutu 5. Nomor ijin edar Kosmetik yang telah mendapatkan ijin edar memiliki nomor registrasi ijin edar, dengan kode sebagai berikut: a. Yang mendapatkan ijin edar sebelum notifikasi, ijin edar diterbitkan oleh Departemen kesehatan dengan kode CD/CL diikuti 10 digit angka,: CD/CL12345678910 Keterangan: CD/CL : Kosmetik produksi dalam negeri/Kosmetik produksi luar atau lisensi 1, 2 : Jenis kategori kosmetik 3, 4 : Jenis sub kategori 5,6 : Tahun berakhir ijin (dibalik) 7,8,9,10 : Tahun pendaftaran b. Ijin melalui notifikasi, ijin edar diterbitkan oleh Badan POM RI dengan kode C diikuti 12 digit angka: C123456789101112 Keterangan: C : Huruf C singkatan dari cosmetic 1 : Kode benua, disusun secara alphabetis 2,3 : Kode Negara yang disusun secara alphabetis 4,5 : Tahun notifikasi 6,7 : Kategori kosmetik ASEAN 8-12 : Nomor urut notifikasi pada tahun yang bersangkutan B. Dasar Hukum Peraturan di Bidang Kosmetik Undang–Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sebagai dasar berbagai peraturan yang mengatur pelayanan kesehatan bagi masyarakat. UndangUndang ini memuat pengaturan berbagai hal pokok tentang kesehatan, yaitu berisi tentang: 1. Ketentuan umum yang memuat istilah dan pengertian berbagai hal tentang kesehatan; 2. Azaz dan tujuan pembangunan kesehatan, diselenggarakan dengan berasaskan perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya; 3. Hak dan kewajibandalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau, untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan, dan kewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya; 4. Tanggung jawab pemerintah dalam merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat; 5. Sumber daya di bidang kesehatan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan; 6. Upaya kesehatan yang diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu, menyeluruh, dan berkesinambungan; 7. Pengawasan, penyidikan dan ketentuan pidana sebagai upaya untuk melindungi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, ketentuan mengenai peredaran kosmetika, tindakan terhadap pelanggaran dan tindak pidana terhadap peredaran kosmetik tanpa ijin edar diatur dalam beberapa pasal, yaitu: Pasal 106 ayat (1) Sediaan farmasidan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah mendapat izin edar Sanksi pidana terhadap pelaku peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan tanpa ijin edar diatur dalam Undang Undang nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan Pasal 106 ayat (3) Pemerintah berwenang mencabut izin edar dan memerintahkan penarikan dari peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh izin edar, yang kemudian terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau keamanan dan/atau kemanfaatan, dapat disita dandimusnahkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 189 ayat (1) Selain penyidik polisi negara Republik Indonesia, kepada pejabat pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan pemerintahan yang menyelenggarakan urusan di bidang kesehatan juga diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang kesehatan. Pasal 189 ayat (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang: a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang tindak pidana di bidang kesehatan; b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang kesehatan; c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan tindak pidana di bidang kesehatan; d. Melakukan pemeriksaan atas surat dan/ataudokumen lain tentang tindak pidana di bidang kesehatan; e. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam perkara tindak pidana di bidang kesehatan; f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang kesehatan; g. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan adanya tindak pidana di bidang kesehatan. Pasal 189 ayat (3) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan oleh penyidik sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Hukum Acara Pidana Pasal 196 Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 198 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Pasal 197 Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). Salah satu sediaan kosmetik untuk menjaga kebersihan dan perawatan kulit wajah adalah masker. Masker adalah salah satu jenis perawatan yang sering dimanfaatkan oleh para wanita untuk mengatasi masalah wajah. Masker berfungsi untuk meningkatkan taraf kebersihan, kesehatan, dan kecantikan kulit, memperbaiki, dan merangsanng kembali aktivitas sel kulit. Bahan kosmetik wajah pada umumnya bertujuan untuk menyegarkan, mengencangkan kulit, dan sebagai antioksidan (Kumalaningsih, 2006) Produk masker yang telah beredar di masyarakat adalah masker bubuk, masker krim, masker gel, dan masker kertas. Jenis masker yang praktis digunakan yaitu masker gel yang setelah kering dapat langsung dikelupas atau biasa dikenal dengan sebutan masker gel peel-off (Muliyawan, 2013). Makalah ini dbuat untuk mengetahui bagaimana formulasi masker gell peel off serta bagaimana mengevaluasi sediaan masker gel peel off yang memenuhi prosedur farmaseutika. BAB II MASKER GEL PEEL OFF A. Pengertian Kosmetika wajah yang umumnya digunakan tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, salah satunya dalam bentuk masker Masker merupakan sediaan topikal yang digunakan pada wajah untuk mendapatkan efek mengencangkan dan membersihkan dari kotoran yang menempel. Biasanya masker digunakan pada wajah dan leher dengan cara mengoleskan dengan kuas, dibiarkan sampai mengering, sehingga masker mengeras dan terasa ketat dikulit. Setelah dibiarkan beberapa saat masker diangkat atau dilepas (peel-off) (Poucher. 1979) Gel merupakan sistem setengah padat yang terdiri dari dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel organik yang kecil atau molekul organik yang besar,terpenetrasi oleh suatu cairan (Ansel, 1989). Gel mempunyai beberapa keuntungan diantaranya yaitu tidak lengket, kadar air dalam gel tinggi, sehingga jumlah air yang banyak dalam gel akan menghidrasi stratum corneum dan terjadi perubahan permeabilitas stratum corneum menjadi lebih permeable terhadap zat aktif yang dapat meningkatkan permeasi zat aktif (lieberman, 1997) Masker peel-off memiliki beberapa manfaat diantaranya mampu merileksasikan otot-otot wajah, membersihkan, menyegarkan, melembabkan, dan melembutkan kulit wajah (Vieira, 2009). Masker berbentuk gel mempunyai beberapa keuntungan diantaranya penggunaan yang mudah, serta mudah untuk dibilas dan dibersihkan. Selain itu, dapat juga diangkat atau dilepaskan seperti membran elastic (Harry,1973). B. Formula Penyusun Masker Peel Off Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk jaringan yang merupakan bagian penting dari sistem gel. Termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam, turunan selulosa, dan karbomer. Beberapa partikel padat koloidal dapat berprilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. Konsentrasi yang tinggi beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih (Tray, 2006). Formulasi sediaan masker gel peel off Bahan Konsentrasi (%) Zat aktif 10 PVA 12 HPMC 1 Madu 6 Propilenglikol 10 Metil paraben 0,2 Propil paraben 0,05 Aquades ad 100 Reni dkk (2015) 1. Polivinil Alkohol (PVA) Polivinil alkohol (PVA) adalah polimer sintetis yang larut dalam air. PVA berupa bubuk granula berwarna putih hingga krem, dan tidak berbau. PVA larut dalam air, sedikit larut dalam etanol (95%), dan tidak larut dalam pelarut organik. PVA umumnya dianggap sebagai bahan yang tidak beracun. Bahan ini bersifat noniritan pada kulit dan mata pada konsentrasi sampai dengan 10%, serta digunakan dalam kosmetik pada konsentrasi hingga 7% (Rowe, 2009). PVA adalah polimer yang paling umum digunakan sebagai membrane karena salah satu sifatnya, yaitu hidrofilik. PVA dapat larut dalam air dengan bantuan panas yaitu pada temperature diatas 900C, pada suhu kamar PVA berwujud padat, lunak dalam pemansan, kemudian elastis seperti karet dan mengkristal dalam proses. PVA memiliki berat molekul 85.000-146.000, mempunyai temperature transisi gelas (Tg) sebesar 850C, dan temperature leleh (Tm) sebesar 228-2560C, (Perry, 1997). PVA komersial mengandung pengotor berupa gugus keton yang terisolasi yang mungkin membentuk ikatan asetal dengan gugus hidoksil dari rantai lain sehingga molekul cabangnya membentuk ikatan crosslink. Membran PVA mempunyai sifat sangat mudah mengembang (swelling) jika berinteraksi dengan air. Hal ini disebabkan karena gugus –OH sehingga membrane bersifat hidrofilik, molekul-molekul air akan berinteraksi dengan membrane melalui pembentukan hidrogen. Gugus hidroksil yang terdapat pada rantai polimer menyebabkan membran PVA bersifat polar. Sifat hidrofilik dan kepolaran membrane akan menentukan selektivitas dan fluks membrane pada proses pervaporasi campuran organic-air, (Jie, 2003). 2. HPMC (Hidroksipropil metilselulose) Hidroksipropil metilselulose adalah turunan selulosa eter semisintetik yang telah digunakan secara luas sebagai polimer hidrofilik dalam sistem pemberian obat oral dan topikal (Rogers, 2009).Pemilihan basis HPMC dikarenakan penampakan gel jernih dan kompatibeldengan bahan-bahan lain, kecuali oxidative materials (Gibson, 2001) serta dapat mengembang terbatas dalam air sehingga merupakan bahan pembentuk hidrogel yang baik (Suardi et al., 2008). Selain itu substitusi pada metil memberi satu ciri unik HPMC yaitu kekuatan gel dan gel terbentuk pada suhu 60-90°C tergantung substitusi polimer dan konsentrasi pada air (Roger, 2009). Hasil penelitian Madan & Singh (2010) menyebutkan basis HPMC memiliki kemampuan daya sebar yang lebih baik dari karbopol, metilselulosa, dan sodium alginat, sehingga mudah diaplikasikan ke kulit. Gel yang baik mempunyai waktu penyebaran yang singkat. 3. Madu Madu merupakan salah satu produk yang sangat bak untuk perawatan kulit dalam penggunaanya sebagai kosmetik. Madu bersifat sangat higrokopis, yaitu mudah menyerap air dari udara sekitarnya, karena itu dapat digunakan sebagai humaktan (pelembab). Sifat higrokopis ini disebabkan karena madu merupakan larutan gulayang sangat jenuh 4. Propilen glikol Propilen glikol mengandung tidak kurang dari 99,5% CHO382. Pemerian propilen glikol yaitu cairan kental, jernih, tidak berwarna; rasa khas; praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Propilen glikol dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform; larut dalam eter dan dalam beberapa minyak essensial; tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak. Propilen glikol digunakan secara luas sebagai pelarut, pengekstrak dan preservative. Propilen glikol merupakan pelarut umum yang lebih baik daripada gliserin dan dapat terlarut dalam berbagai bahan seperti kortikosteroid, fenol, obatobat sulfa, barbiturat, vitamin (A dan D), sebagian alkaloid dan banyak lokal anestesi 5. Metil Paraben dan Propil paraben Metil paraben banyak digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam kosmetik, produk makanan, dan formulasi sediaan farmasi. Metil paraben dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan paraben lain atau dengan zat antimikroba lainnya. Metil paraben dan propil paraben diperlukan dalam formulasi sediaan gel untuk mencegah kontaminasi mikroba karena tingginya kandungan air pada sediaan. Kombinasi konsentrasi 0,2% propil paraben dengan 0,05% metil paraben akan menghasilkan kombinasi pengawet dengan aktivitas antimikroba yang kuat. C. Evaluasi Sediaan Gel Masker Peel-Off Evaluasi kestabilan sediaan gel sebelum dan setelah penyimpanan dipercepat dilakukan untuk menentukan kestabilan gel secara fisik karena evaluasi tersebut sebagai salah satu uji atau tolak ukur untuk mendeteksi ketidakstabilan dari sediaan. Uji stabilitas dipercepat dilakukan dengan cara menyimpan sediaan pada suhu 400C selama 28 hari. Tahap ini bertujuan untuk melihat dan mengetahui ketahanan fisik sediaan selama masa penyimpanan dengan kondisi yang dilebihkan. Pengamatan uji stabilitas dipercepat meliputi organoleptis, waktu mengering, daya sebar, viskositas dan PH sediaan. .Hasil evaluasi sediaan masker gel peel off Evaluasi Organoleptis Sentrifugasi Homogenitas Hasil Evaluasi Sediaan Konsistensi Kental Warna Hijau kehitaman Bau Khas Zat Aktif Jam ke 1 Stabil Jam ke 2 Stabil Jam ke 3 Stabil Jam ke 4 Stabil Jam ke 5 Stabil Homogen Reni dkk (2015) 1. Pengamatan Organoleptis atau penampilan fisik Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengamati adanya perubahan bentuk, kejernihan, timbulnya bau atau tidak dan perubahan warna. Pengamatan organoleptis dilakukan untuk mengamati perubahan fisik sediaan masker gel peel off yang terjadi meliputi warna, bau, dan konsistensi dari sediaan. Pengamatan dilakukan pada hari ke 1, 7, 14, 21, 28 selama penyimpanan. Sifat organoleptis sediaan stabil selama masa penyimpanan. 2. Pengujian Homogenitas Pemeriksaan homogenitas dilakukan dengan cara meletakkan sediaan diantara dua kaca objek dan diamati ada atau tidaknya partikel kasar yang terdapat dalam sediaan. 3. Viskositas Evaluasi viskositas sediaan selama 28 hari mengalami penurunan. Meskipun terjadi penurunan viskositas pada sediaan, namun tidak menyebabkan terjadinya pemisahan fase dalam sediaan masker gel Pengukuran Viskositas sediaaan Reni dkk (2015) Sebanyak 100 gr gel dimasukkan ke dalam beaker glass 250 ml, kemudian viskositasnya diukur dengan Viskometer Haake, spindle no R5 untuk formula (0) dan formula (1), spindel no R6 untuk formula (2) dan formula (3). Putaran yang digunakan dipillih (2, 4, 10, 50, 100, 50, 10, 4 dan 2 rpm). Data viskositas zat di catat dalam centi poise (Cps), %Torque dan rpm. Data tersebut diplot antara kecepatan geser dengan % Torque sumbu (x) dan rpm sumbu (y), sehingga diperoleh kurva dan ditentukan sifat aliran (rheologi) cairan tersebut, sedangkan untuk viskositas diplot antara %Torque sumbu (x) dan CPS sumbu (y) (Martin, 1993). Secara umum kenaikan viskositas dapat meningkatkan kestabilan sediaan. 4. Pemeriksaan pH Hasil pengukuran evaluasi pH sediaan Masker gel peel off Hari ke- pH Sediaan 1 5,673±0,047 7 5-6 14 5-6 21 5-6 28 5-6 Reni dkk (2015) Sediaan masker wajah gel peel off seharusnya memiliki pH yang sesuai dengan pH kulit wajah yaitu 5,4-5,9. Untuk sediaan topikal yang akan digunakan pada kulit jika memiliki pH lebih kecil dari 4,5 dapat menimbulkan iritasi pada kulit sedangkan jika pH lebih besar dari 6,5 dapat menyebabkan kulit bersisik (Rahmawanty dkk., 2015). Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan menggunakan pH meter. Sejumlah gel masker peel-off dimasukan pada alat pH meter (Tranggono, 2007). Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau kosmetik untuk bertahan dalam batas spesifikasi yang diterapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin identitas, kekuatan, kualitas dan kemurnian produk. Definisi sediaan kosmetik yang stabil yaitu suatu sediaan yang masih berada dalam batas yang dapat diterima selama periode waktu penyimpanan dan penggunaan, dimana sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya saat dibuat (Djajadisastra, 2004). Ketidakstabilan fisika dari sediaan ditandai dengan adanya perubahan warna, timbul bau, pengendapan suspensi atau caking, perubahan konsistensi dan perubahan fisik lainya (Djajadisastra, 2004). Nilai kestabilan suatu sediaan farmasetika atau kosmetik dalam waktu yang singkat dapat diperoleh dengan melakukan uji stabilitas dipercepat. Pengujian ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang diinginkan dalam waktu sesingkat mungkin dengan cara menyimpan sediaan sampel pada kondisi yang dirancang untuk mempercepat terjadinya perubahan yang yang biasa terjadi pada kondisi normal. Jika hasil pengujian suatu sediaan pada uji dipercepat diperoleh hasil yang stabil, hal itu menunjukkan bahwa sediaan tersebut stabil pada penyimpanan suhu kamar selama setahun. Pengujian yang dilakukan pada uji dipercepat yaitu cycling test. Uji ini merupakan simulasi adanya perubahan suhu setiap tahun bahkan setiap harinya selama penyimpanan produk (Djajadisastra, 2004) Cara cycling test yaitu Sampel gel disimpan pada suhu 40C selama 24 jam dan suhu 40oC selama 24 jam dilakukan sebanyak 6 siklus dan diamati terjadinya perubahan fisika dari gel pengamatan organoleptis (perubahan warna, bau dan pH) (Butler, 2000). D. Evaluasi Karakteristik Masker Peel-off Karakteristik ideal dari masker wajah peel off adalah tidak terdapat partikel yang kasar, tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan dapat mebersihkan kulit. Mampu memberikan efek lembab pada kulit, membentuk lapisan film tipis yang seragam, memberikan efek mengencangkan kulit, dapat kering pada waktu 5-30 menit. Masker peel off harus mudah digunakan dan tidak menimbulkan rasa sakit (Grace et al., 2015). 1. Pengujian Waktu Sediaan Mengering Sebanyak 1gr gel masker peel-off dioleskan pada kulit lengan dengan panjang 7cm dan lebar 7cm. Kemudian dihitung kecepatan mengering gel hingga membentuk lapisan film dari gel masker peel-off dengan menggunakan stop watch. Hasil evaluasi mengering sediaan masker gel peel off Hari ke- Waktu mengering (menit) 1 18,5 ± 0,707 7 18,5 ± 0,707 14 18,5 ± 0,707 21 17,5 ± 0,707 28 16,5 ± 0,707 Reni dkk (2015) Dari sampel sediaan dihasilkan hasil evaluasi seperti tabel diatas waktu mengering sediaan pada hari ke 21 dan ke 28 mengalami peningkatan, hal ini karena kandungan air dalam sediaan semakin sedikit, sehingga waktu mengering semakin lebih cepat 2. Pengujian Daya Sebar Sebanyak 1 gram gel masker peel-off diletakkan di atas kertas grafik yang sudah dilapisi plastik transparan kemudian ditutup dengan plastik transparan lain dan diukur diameternya dari lima titik sudut. Beban 19 gram diletakkan di atas lapisan gel, didiamkan selama 1 menit dan dicatat diameter gel yang menyebar. Kemudian beban 20 gram ditambahkan kembali di atas gel, didiamkan selama 1 menit dan dicatat diameter gel yang menyebar. Beban 20 gram selanjutnya ditambahkan diatas gel hingga beban maksimum diatas gel seberat 99 gram, dan setiap kali beban ditambahkan diatas gel didiamkan selama 1 menit dan dicatat diameter gel yang menyebar. Hasil evaluasi daya sebar sediaan masker gel peel off Hari ke- Daya Sebar (cm) 1 6,65 ± 0,071 7 6,55 ± 0,212 14 6,4 ± 0,141 21 6,4 ± 0,141 28 6,1 ± 0,141 Reni dkk (2015) Evaluasi daya sebar dilakukan untuk mengetahui kecepatan penyebaran gel pada kulit wajah saat dioleskan. Daya sebar gel yang baik antara 5-7 cm. Dari hasil evaluasi sediaan pada tabel diatas, sediaan masker gel peel off memiliki daya sebar yang baik. BAB III KESIMPULAN Kosmetika wajah yang umumnya digunakan tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, salah satunya dalam bentuk masker wajah peel-off dalam sediaan gel. Masker berbentuk gel mempunyai beberapa keuntungan diantaranya penggunaan yang mudah, serta mudah untuk dibilas dan dibersihkan. Selain itu, dapat juga diangkat atau dilepaskan seperti membran elastic. Basis yang baik untuk formulasi sediaan masker gel peel off yaitu dengan formulasi basis PVA 12% dan HPMC 1% yang memiliki waktu mengering 20 menit, pH 5,753 serta stabil setelah disentrifugasi DAFTAR PUSTAKA Butler, H. 2000. Poacher's Perfumes, Cosmetics and Soaps 10th Edition. Kluwer Academic Publishers. London Djajadisastra, J. (2004). Cosmetic Stability. Seminar Setengah Hari HIKI, Departemen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, Depok. Harry, Ralph G. 1973. Harry’s Cosmeticology. Edisi Keenam. Chemical Publishing Co., Inc. New York. . Muliyawan, Dewi., dan Suriana, N. (2013). A-Z tentang Kosmetik, PT Elex Media Komputindo, Jakarta. Reni Siti Syarifah, dkk. 2015. Formulasi sediaan masker gel peel off Ekstrak daun pepaya sebagai anti jerawat dan uji aktivitasnya terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes. SPeSIA Unisba. Bandung Rowe, R.C., Paul, J.S., dan Marian, E.Q. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6thed: Pharmaceutical Press. Chicago, London Slavtcheff, C.S. 2000. Komposisi Kosmetik untuk Masker Kulit Muka. indonesia Patent 2000/0004913. Tranggono, Retno Iswari, Latifah, Fatmah. 2007. Buku Pegangan IlmuPengetahuan Kosmetik. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Vieira, Rafael Pinto, et al. 2009. Physical and physicochemical stability evaluation of cosmetic formulations containing soybean extract fermented by Bifidobacterium animalis. Brazilian Journal of Pharmaceutical Sciences vol. 45, n. 3, jul./sep. Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Terjemahan. UGM. Yogyakarta. MAKALAH FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF Diajukan untuk memenuhu tugas mata kuliah Dosen: Anna Pradnaningsih, M.Si, Apt Di susun oleh : YULI FAHMI Konversi Umum 2017 SEKOLAH TINGGI FARMASI YPIB CIREBON 2019 KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan pemilik semesta alam dan sumber segala pengetahuan atas bimbingan dan penyeraan-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF”. Penyusunan makalah dimaksudkan untuk memenuhi tugas struktur pada matakuliah ........ Kami sangat menyadari makalah ini masih jauh dari kesempuranaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun kami sangat harapakan untuk kesempurnaan dari kekurangan-kekurangan yang ada, sehingga makalah ini bisa bermanfaat.