Uploaded by Aghiets Zulfa

MASKER Gel peel off

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Kosmetik
1. Pengertian Kosmetik
Kosmetik merupakan suatu sediaan yang telah menjadi kebutuhan
penting bagi masyarakat. Salah satu kegunaan sediaan kosmetika adalah untuk
melindungi tubuh dari berbagai faktor yang dapat menyebabkan kerusakan sel kulit.
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada
bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir), gigi dan rongga mulut untuk
membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi agar
tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk
mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono et al, 2007).
Menurut
Surat
Keputusan
Kepala
Badan
POM
RI
Nomor:
HK.00.05.4.1745 tentang Kosmetik, yang dimaksud kosmetik adalah bahan atau
sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia
(epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar) atau gigi atau
mukosa mulut terutama membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan dan
atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi
baik.
Sedangkan
menurut
Peraturan
Menteri
Kesehatan
Nomor
220/Men.Kes/Per/IX/76 tentang Produksi dan Peredaran Kosmetik dan Alat
Kesehatan, yang dimaksud dengan kosmetik adalah bahan atau campuran bahan
untuk digosokkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan pada,
dimasukkan dalam, dipergunakan pada badan atau bagian badan dengan maksud
untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik atau mengubah rupa dan
tidak termasuk golongan obat.
2. Penggolongan Kosmetik
Berdasarkan Keputusan Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional,
Kosmetik dan Produk Komplemen Nomor: PO.01.04.42.4082 tentang Pedoman
Tata Cara Pendaftaran dan Penilaian Kosmetik, berdasarkan bahan dan
penggunaannya serta untuk penilaian, kosmetik dibagi menjadi 2 (dua) golongan,
yaitu:
a. Kosmetik golongan I, adalah:
1) Kosmetik yang digunakan untuk bayi;
2) Kosmetik yang digunakan disekitar mata, rongga mulut dan mukosa lainnya;
3) Kosmetika yang mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan
penandaan;
4) Kosmetik yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim serta belum
diketahui keamanan dan kemanfaatannya.
b. Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk golongan I
3. Kategori Kosmetik
Berdasarkan fungsi kosmetik terdiri dari 13 (tiga belas) kategori, yaitu:
a. Sediaan bayi;
b. Sediaan mandi;
c. Sediaan kebersihan badan;
d. Sediaan cukur;
e. Sediaan wangi-wangian;
f. Sediaan rambut;
g. Sediaan pewarna rambut;
h. Sediaan rias mata;
i. Sediaan rias wajah;
j. Sedian perawatan kulit;
k. Sediaan mandi surya dan tabir surya;
l. Sediaan kuku;
m. Sediaan hygiene mulut.
4. Penandaan Kosmetik
Penandaan kosmetik harus memenuhi persyaratan umum, yaitu etiket
wadah atau pembungkus harus mencantumkan penandaan berisi informasi yang
lengkap, objektif dan tidak menyesatkan, sesuai dengan data pendaftaran yang telah
disetujui, jelas dan mudah terbaca, menggunakan huruf latin dan angka arab; dan
tidak boleh mencantumkan penandaan seolah-olah sebagai obat, rekomendasi dari
dokter, apoteker, pakar di bidang kosmetik atau organisasi profesi.
Keterangan-keterangan yang harus dicantumkan pada etiket wadah dan
atau pembungkus meliputi:
a. Nama produk;
b. Nama dan alamat produsen atau importer/penyalur;
c. Ukuran, isi atau berat bersih;
d. Komposisi harus memuat semua bahan;
e. Nomor ijin edar;
f. Nomor bets/kode produksi;
g. Kegunaan dan cara penggunaan kecuali untuk produk yang sudah jelas
penggunaannya;
h. Bulan dan tahunkadaluwarsa bagi produk yang stabilitasnya kurang dari 30
bulan;
i. Penandaan yang berkaitan dengan keamananatau mutu
5. Nomor ijin edar
Kosmetik yang telah mendapatkan ijin edar memiliki nomor registrasi
ijin edar, dengan kode sebagai berikut:
a. Yang mendapatkan ijin edar sebelum notifikasi, ijin edar diterbitkan oleh
Departemen kesehatan dengan kode CD/CL diikuti 10 digit angka,:
CD/CL12345678910
Keterangan:
CD/CL : Kosmetik produksi dalam negeri/Kosmetik produksi luar atau lisensi
1, 2
: Jenis kategori kosmetik
3, 4
: Jenis sub kategori
5,6
: Tahun berakhir ijin (dibalik)
7,8,9,10 : Tahun pendaftaran
b. Ijin melalui notifikasi, ijin edar diterbitkan oleh Badan POM RI dengan kode C
diikuti 12 digit angka:
C123456789101112
Keterangan:
C : Huruf C singkatan dari cosmetic
1
: Kode benua, disusun secara alphabetis
2,3 : Kode Negara yang disusun secara alphabetis
4,5 : Tahun notifikasi
6,7 : Kategori kosmetik ASEAN
8-12
: Nomor urut notifikasi pada tahun yang bersangkutan
B. Dasar Hukum Peraturan di Bidang Kosmetik
Undang–Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sebagai dasar
berbagai peraturan yang mengatur pelayanan kesehatan bagi masyarakat. UndangUndang ini memuat pengaturan berbagai hal pokok tentang kesehatan, yaitu berisi
tentang:
1.
Ketentuan umum yang memuat istilah dan pengertian berbagai hal tentang
kesehatan;
2.
Azaz dan tujuan pembangunan kesehatan, diselenggarakan dengan berasaskan
perikemanusiaan, keseimbangan, manfaat, pelindungan, penghormatan terhadap
hak dan kewajiban, keadilan, gender dan nondiskriminatif dan norma-norma agama
dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya;
3.
Hak dan kewajibandalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,
dan terjangkau, untuk mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan, dan
kewajiban ikut mewujudkan, mempertahankan, dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya;
4.
Tanggung jawab pemerintah dalam merencanakan, mengatur, menyelenggarakan,
membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan
terjangkau oleh masyarakat;
5.
Sumber daya di bidang kesehatan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan
kesehatan;
6.
Upaya kesehatan yang diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan
promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu,
menyeluruh, dan berkesinambungan;
7.
Pengawasan, penyidikan dan ketentuan pidana sebagai upaya untuk melindungi
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman.
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, ketentuan
mengenai peredaran kosmetika, tindakan terhadap pelanggaran dan tindak pidana
terhadap peredaran kosmetik tanpa ijin edar diatur dalam beberapa pasal, yaitu:
 Pasal 106 ayat (1) Sediaan farmasidan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah
mendapat izin edar
Sanksi pidana terhadap pelaku peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan tanpa
ijin edar diatur dalam Undang Undang nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan
dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 72 Tahun 1998 tentang
Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan
 Pasal 106 ayat (3) Pemerintah berwenang mencabut izin edar dan memerintahkan
penarikan dari peredaran sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh
izin edar, yang kemudian terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan/atau
keamanan dan/atau kemanfaatan, dapat disita dandimusnahkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
 Pasal 189 ayat (1) Selain penyidik polisi negara Republik Indonesia, kepada pejabat
pegawai negeri sipil tertentu di lingkungan pemerintahan yang menyelenggarakan
urusan di bidang kesehatan juga diberi wewenang khusus sebagai penyidik
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang
Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang
kesehatan.
 Pasal 189 ayat (2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang:
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang tindak
pidana di bidang kesehatan;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di
bidang kesehatan;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan
dengan tindak pidana di bidang kesehatan;
d. Melakukan pemeriksaan atas surat dan/ataudokumen lain tentang tindak pidana
di bidang kesehatan;
e. Melakukan pemeriksaan atau penyitaan bahan atau barang bukti dalam perkara
tindak pidana di bidang kesehatan;
f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana
di bidang kesehatan;
g. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang membuktikan
adanya tindak pidana di bidang kesehatan.
 Pasal 189 ayat (3) Kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan
oleh penyidik sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Hukum Acara Pidana
 Pasal 196 Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan
sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau
persyaratan keamanan, khasiat atau kemanfaatan, dan mutu sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 198 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama
10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar
rupiah).
 Pasal 197 Setiap orang yang dengan sengaja memproduksi atau mengedarkan
sediaan farmasi dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15
(lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima
ratus juta rupiah).
Salah satu sediaan kosmetik untuk menjaga kebersihan dan perawatan kulit
wajah adalah masker. Masker adalah salah satu jenis perawatan yang sering
dimanfaatkan oleh para wanita untuk mengatasi masalah wajah. Masker berfungsi
untuk meningkatkan taraf kebersihan, kesehatan, dan kecantikan kulit, memperbaiki,
dan merangsanng kembali aktivitas sel kulit. Bahan kosmetik wajah pada umumnya
bertujuan untuk menyegarkan, mengencangkan kulit, dan sebagai antioksidan
(Kumalaningsih, 2006)
Produk masker yang telah beredar di masyarakat adalah masker bubuk,
masker krim, masker gel, dan masker kertas. Jenis masker yang praktis digunakan
yaitu masker gel yang setelah kering dapat langsung dikelupas atau biasa dikenal
dengan sebutan masker gel peel-off (Muliyawan, 2013).
Makalah ini dbuat untuk mengetahui bagaimana formulasi masker gell peel
off serta bagaimana mengevaluasi sediaan masker gel peel off yang memenuhi
prosedur farmaseutika.
BAB II
MASKER GEL PEEL OFF
A. Pengertian
Kosmetika wajah yang umumnya digunakan tersedia dalam berbagai bentuk
sediaan, salah satunya dalam bentuk masker
Masker merupakan sediaan topikal yang digunakan pada wajah untuk
mendapatkan efek mengencangkan dan membersihkan dari kotoran yang menempel.
Biasanya masker digunakan pada wajah dan leher dengan cara mengoleskan dengan
kuas, dibiarkan sampai mengering, sehingga masker mengeras dan terasa ketat dikulit.
Setelah dibiarkan beberapa saat masker diangkat atau dilepas (peel-off) (Poucher. 1979)
Gel merupakan sistem setengah padat yang terdiri dari dari suatu dispersi
yang tersusun baik dari partikel organik yang kecil atau molekul organik yang
besar,terpenetrasi oleh suatu cairan (Ansel, 1989). Gel mempunyai beberapa
keuntungan diantaranya yaitu tidak lengket, kadar air dalam gel tinggi, sehingga jumlah
air yang banyak dalam gel akan menghidrasi stratum corneum dan terjadi perubahan
permeabilitas stratum corneum menjadi lebih permeable terhadap zat aktif yang dapat
meningkatkan permeasi zat aktif (lieberman, 1997)
Masker
peel-off
memiliki
beberapa
manfaat
diantaranya
mampu
merileksasikan otot-otot wajah, membersihkan, menyegarkan, melembabkan, dan
melembutkan kulit wajah (Vieira, 2009). Masker berbentuk gel mempunyai beberapa
keuntungan diantaranya penggunaan yang mudah, serta mudah untuk dibilas dan
dibersihkan. Selain itu, dapat juga diangkat atau dilepaskan seperti membran elastic
(Harry,1973).
B. Formula Penyusun Masker Peel Off
Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk
jaringan yang merupakan bagian penting dari sistem gel. Termasuk dalam kelompok ini
adalah gum alam, turunan selulosa, dan karbomer. Beberapa partikel padat koloidal
dapat berprilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel.
Konsentrasi yang tinggi beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk
menghasilkan gel yang jernih (Tray, 2006).
Formulasi sediaan masker gel peel off
Bahan
Konsentrasi (%)
Zat aktif
10
PVA
12
HPMC
1
Madu
6
Propilenglikol
10
Metil paraben
0,2
Propil paraben
0,05
Aquades ad
100
Reni dkk (2015)
1.
Polivinil Alkohol (PVA)
Polivinil alkohol (PVA) adalah polimer sintetis yang larut dalam air. PVA
berupa bubuk granula berwarna putih hingga krem, dan tidak berbau. PVA larut
dalam air, sedikit larut dalam etanol (95%), dan tidak larut dalam pelarut organik.
PVA umumnya dianggap sebagai bahan yang tidak beracun. Bahan ini bersifat
noniritan pada kulit dan mata pada konsentrasi sampai dengan 10%, serta
digunakan dalam kosmetik pada konsentrasi hingga 7% (Rowe, 2009).
PVA adalah polimer yang paling umum digunakan sebagai membrane
karena salah satu sifatnya, yaitu hidrofilik. PVA dapat larut dalam air dengan
bantuan panas yaitu pada temperature diatas 900C, pada suhu kamar PVA berwujud
padat, lunak dalam pemansan, kemudian elastis seperti karet dan mengkristal dalam
proses. PVA memiliki berat molekul 85.000-146.000, mempunyai temperature
transisi gelas (Tg) sebesar 850C, dan temperature leleh (Tm) sebesar 228-2560C,
(Perry, 1997).
PVA komersial mengandung pengotor berupa gugus keton yang terisolasi
yang mungkin membentuk ikatan asetal dengan gugus hidoksil dari rantai lain
sehingga molekul cabangnya membentuk ikatan crosslink. Membran PVA
mempunyai sifat sangat mudah mengembang (swelling) jika berinteraksi dengan
air. Hal ini disebabkan karena gugus –OH sehingga membrane bersifat hidrofilik,
molekul-molekul air akan berinteraksi dengan membrane melalui pembentukan
hidrogen. Gugus hidroksil yang terdapat pada rantai polimer menyebabkan
membran PVA bersifat polar. Sifat hidrofilik dan kepolaran membrane akan
menentukan selektivitas dan fluks membrane pada proses pervaporasi campuran
organic-air, (Jie, 2003).
2.
HPMC (Hidroksipropil metilselulose)
Hidroksipropil metilselulose adalah turunan selulosa eter semisintetik yang
telah digunakan secara luas sebagai polimer hidrofilik dalam sistem pemberian obat
oral dan topikal (Rogers, 2009).Pemilihan basis HPMC dikarenakan penampakan
gel jernih dan kompatibeldengan bahan-bahan lain, kecuali oxidative materials
(Gibson, 2001) serta dapat mengembang terbatas dalam air sehingga merupakan
bahan pembentuk hidrogel yang baik (Suardi et al., 2008). Selain itu substitusi pada
metil memberi satu ciri unik HPMC yaitu kekuatan gel dan gel terbentuk pada suhu
60-90°C tergantung substitusi polimer dan konsentrasi pada air (Roger, 2009).
Hasil penelitian Madan & Singh (2010) menyebutkan basis HPMC memiliki
kemampuan daya sebar yang lebih baik dari karbopol, metilselulosa, dan sodium
alginat, sehingga mudah diaplikasikan ke kulit. Gel yang baik mempunyai waktu
penyebaran yang singkat.
3.
Madu
Madu merupakan salah satu produk yang sangat bak untuk perawatan kulit dalam
penggunaanya sebagai kosmetik. Madu bersifat sangat higrokopis, yaitu mudah
menyerap air dari udara sekitarnya, karena itu dapat digunakan sebagai humaktan
(pelembab). Sifat higrokopis ini disebabkan karena madu merupakan larutan
gulayang sangat jenuh
4.
Propilen glikol
Propilen glikol mengandung tidak kurang dari 99,5% CHO382. Pemerian
propilen glikol yaitu cairan kental, jernih, tidak berwarna; rasa khas; praktis tidak
berbau, menyerap air pada udara lembab. Propilen glikol dapat bercampur dengan
air, dengan aseton, dan dengan kloroform; larut dalam eter dan dalam beberapa
minyak essensial; tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak.
Propilen glikol digunakan secara luas sebagai pelarut, pengekstrak dan
preservative. Propilen glikol merupakan pelarut umum yang lebih baik daripada
gliserin dan dapat terlarut dalam berbagai bahan seperti kortikosteroid, fenol, obatobat sulfa, barbiturat, vitamin (A dan D), sebagian alkaloid dan banyak lokal
anestesi
5.
Metil Paraben dan Propil paraben
Metil paraben banyak digunakan sebagai pengawet antimikroba dalam
kosmetik, produk makanan, dan formulasi sediaan farmasi. Metil paraben dapat
digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan paraben lain atau dengan zat
antimikroba lainnya.
Metil paraben dan propil paraben diperlukan dalam formulasi sediaan gel
untuk mencegah kontaminasi mikroba karena tingginya kandungan air pada
sediaan. Kombinasi konsentrasi 0,2% propil paraben dengan 0,05% metil paraben
akan menghasilkan kombinasi pengawet dengan aktivitas antimikroba yang kuat.
C. Evaluasi Sediaan Gel Masker Peel-Off
Evaluasi kestabilan sediaan gel sebelum dan setelah penyimpanan
dipercepat dilakukan untuk menentukan kestabilan gel secara fisik karena evaluasi
tersebut sebagai salah satu uji atau tolak ukur untuk mendeteksi ketidakstabilan dari
sediaan.
Uji stabilitas dipercepat dilakukan dengan cara menyimpan sediaan pada
suhu 400C selama 28 hari. Tahap ini bertujuan untuk melihat dan mengetahui ketahanan
fisik sediaan selama masa penyimpanan dengan kondisi yang dilebihkan. Pengamatan
uji stabilitas dipercepat meliputi organoleptis, waktu mengering, daya sebar, viskositas
dan PH sediaan.
.Hasil evaluasi sediaan masker gel peel off
Evaluasi
Organoleptis
Sentrifugasi
Homogenitas
Hasil Evaluasi Sediaan
Konsistensi
Kental
Warna
Hijau kehitaman
Bau
Khas Zat Aktif
Jam ke 1
Stabil
Jam ke 2
Stabil
Jam ke 3
Stabil
Jam ke 4
Stabil
Jam ke 5
Stabil
Homogen
Reni dkk (2015)
1. Pengamatan Organoleptis atau penampilan fisik
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengamati adanya perubahan bentuk,
kejernihan, timbulnya bau atau tidak dan perubahan warna. Pengamatan organoleptis
dilakukan untuk mengamati perubahan fisik sediaan masker gel peel off yang terjadi
meliputi warna, bau, dan konsistensi dari sediaan. Pengamatan dilakukan pada hari
ke 1, 7, 14, 21, 28 selama penyimpanan. Sifat organoleptis sediaan stabil selama
masa penyimpanan.
2. Pengujian Homogenitas
Pemeriksaan homogenitas dilakukan dengan cara meletakkan sediaan
diantara dua kaca objek dan diamati ada atau tidaknya partikel kasar yang terdapat
dalam sediaan.
3. Viskositas
Evaluasi viskositas sediaan selama 28 hari mengalami penurunan. Meskipun
terjadi penurunan viskositas pada sediaan, namun tidak menyebabkan terjadinya
pemisahan fase dalam sediaan masker gel
Pengukuran Viskositas sediaaan
Reni dkk (2015)
Sebanyak 100 gr gel dimasukkan ke dalam beaker glass 250 ml, kemudian
viskositasnya diukur dengan Viskometer Haake, spindle no R5 untuk formula (0) dan
formula (1), spindel no R6 untuk formula (2) dan formula (3). Putaran yang
digunakan dipillih (2, 4, 10, 50, 100, 50, 10, 4 dan 2 rpm). Data viskositas zat di catat
dalam centi poise (Cps), %Torque dan rpm. Data tersebut diplot antara kecepatan
geser dengan % Torque sumbu (x) dan rpm sumbu (y), sehingga diperoleh kurva dan
ditentukan sifat aliran (rheologi) cairan tersebut, sedangkan untuk viskositas diplot
antara %Torque sumbu (x) dan CPS sumbu (y) (Martin, 1993). Secara umum
kenaikan viskositas dapat meningkatkan kestabilan sediaan.
4. Pemeriksaan pH
Hasil pengukuran evaluasi pH sediaan Masker gel peel off
Hari ke-
pH Sediaan
1
5,673±0,047
7
5-6
14
5-6
21
5-6
28
5-6
Reni dkk (2015)
Sediaan masker wajah gel peel off seharusnya memiliki pH yang sesuai
dengan pH kulit wajah yaitu 5,4-5,9. Untuk sediaan topikal yang akan digunakan
pada kulit jika memiliki pH lebih kecil dari 4,5 dapat menimbulkan iritasi pada kulit
sedangkan jika pH lebih besar dari 6,5 dapat menyebabkan kulit bersisik
(Rahmawanty dkk., 2015). Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan menggunakan
pH meter. Sejumlah gel masker peel-off dimasukan pada alat pH meter (Tranggono,
2007).
Stabilitas didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk obat atau
kosmetik untuk bertahan dalam batas spesifikasi yang diterapkan sepanjang periode
penyimpanan dan penggunaan untuk menjamin identitas, kekuatan, kualitas dan
kemurnian produk. Definisi sediaan kosmetik yang stabil yaitu suatu sediaan yang
masih berada dalam batas yang dapat diterima selama periode waktu penyimpanan dan
penggunaan, dimana sifat dan karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya saat
dibuat (Djajadisastra, 2004).
Ketidakstabilan fisika dari sediaan ditandai dengan adanya perubahan
warna, timbul bau, pengendapan suspensi atau caking, perubahan konsistensi dan
perubahan fisik lainya (Djajadisastra, 2004). Nilai kestabilan suatu sediaan farmasetika
atau kosmetik dalam waktu yang singkat dapat diperoleh dengan melakukan uji
stabilitas dipercepat. Pengujian ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang
diinginkan dalam waktu sesingkat mungkin dengan cara menyimpan sediaan sampel
pada kondisi yang dirancang untuk mempercepat terjadinya perubahan yang yang biasa
terjadi pada kondisi normal.
Jika hasil pengujian suatu sediaan pada uji dipercepat diperoleh hasil yang
stabil, hal itu menunjukkan bahwa sediaan tersebut stabil pada penyimpanan suhu
kamar selama setahun. Pengujian yang dilakukan pada uji dipercepat yaitu cycling test.
Uji ini merupakan simulasi adanya perubahan suhu setiap tahun bahkan setiap harinya
selama penyimpanan produk (Djajadisastra, 2004)
Cara cycling test yaitu Sampel gel disimpan pada suhu 40C selama 24 jam
dan suhu 40oC selama 24 jam dilakukan sebanyak 6 siklus dan diamati terjadinya
perubahan fisika dari gel pengamatan organoleptis (perubahan warna, bau dan pH)
(Butler, 2000).
D. Evaluasi Karakteristik Masker Peel-off
Karakteristik ideal dari masker wajah peel off adalah tidak terdapat partikel
yang kasar, tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan dapat mebersihkan kulit.
Mampu memberikan efek lembab pada kulit, membentuk lapisan film tipis yang
seragam, memberikan efek mengencangkan kulit, dapat kering pada waktu 5-30 menit.
Masker peel off harus mudah digunakan dan tidak menimbulkan rasa sakit (Grace et
al., 2015).
1.
Pengujian Waktu Sediaan Mengering
Sebanyak 1gr gel masker peel-off dioleskan pada kulit lengan dengan
panjang 7cm dan lebar 7cm. Kemudian dihitung kecepatan mengering gel hingga
membentuk lapisan film dari gel masker peel-off dengan menggunakan stop watch.
Hasil evaluasi mengering sediaan masker gel peel off
Hari ke-
Waktu mengering (menit)
1
18,5 ± 0,707
7
18,5 ± 0,707
14
18,5 ± 0,707
21
17,5 ± 0,707
28
16,5 ± 0,707
Reni dkk (2015)
Dari sampel sediaan dihasilkan hasil evaluasi seperti tabel diatas waktu
mengering sediaan pada hari ke 21 dan ke 28 mengalami peningkatan, hal ini
karena kandungan air dalam sediaan semakin sedikit, sehingga waktu mengering
semakin lebih cepat
2.
Pengujian Daya Sebar
Sebanyak 1 gram gel masker peel-off diletakkan di atas kertas grafik yang
sudah dilapisi plastik transparan kemudian ditutup dengan plastik transparan lain
dan diukur diameternya dari lima titik sudut. Beban 19 gram diletakkan di atas
lapisan gel, didiamkan selama 1 menit dan dicatat diameter gel yang menyebar.
Kemudian beban 20 gram ditambahkan kembali di atas gel, didiamkan selama 1
menit dan dicatat diameter gel yang menyebar. Beban 20 gram selanjutnya
ditambahkan diatas gel hingga beban maksimum diatas gel seberat 99 gram, dan
setiap kali beban ditambahkan diatas gel didiamkan selama 1 menit dan dicatat
diameter gel yang menyebar.
Hasil evaluasi daya sebar sediaan masker gel peel off
Hari ke-
Daya Sebar (cm)
1
6,65 ± 0,071
7
6,55 ± 0,212
14
6,4 ± 0,141
21
6,4 ± 0,141
28
6,1 ± 0,141
Reni dkk (2015)
Evaluasi daya sebar dilakukan untuk mengetahui kecepatan penyebaran gel
pada kulit wajah saat dioleskan. Daya sebar gel yang baik antara 5-7 cm. Dari hasil
evaluasi sediaan pada tabel diatas, sediaan masker gel peel off memiliki daya sebar
yang baik.
BAB III
KESIMPULAN
Kosmetika wajah yang umumnya digunakan tersedia dalam berbagai bentuk
sediaan, salah satunya dalam bentuk masker wajah peel-off dalam sediaan gel. Masker
berbentuk gel mempunyai beberapa keuntungan diantaranya penggunaan yang mudah,
serta mudah untuk dibilas dan dibersihkan. Selain itu, dapat juga diangkat atau
dilepaskan seperti membran elastic.
Basis yang baik untuk formulasi sediaan masker gel peel off yaitu dengan
formulasi basis PVA 12% dan HPMC 1% yang memiliki waktu mengering 20 menit,
pH 5,753 serta stabil setelah disentrifugasi
DAFTAR PUSTAKA
Butler, H. 2000. Poacher's Perfumes, Cosmetics and Soaps 10th Edition. Kluwer
Academic Publishers. London
Djajadisastra, J. (2004). Cosmetic Stability. Seminar Setengah Hari HIKI, Departemen
Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Indonesia, Depok.
Harry, Ralph G. 1973. Harry’s Cosmeticology. Edisi Keenam. Chemical Publishing Co.,
Inc. New York.
.
Muliyawan, Dewi., dan Suriana, N. (2013). A-Z tentang Kosmetik, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Reni Siti Syarifah, dkk. 2015. Formulasi sediaan masker gel peel off Ekstrak daun
pepaya sebagai anti jerawat dan uji aktivitasnya terhadap Bakteri
Propionibacterium Acnes. SPeSIA Unisba. Bandung
Rowe, R.C., Paul, J.S., dan Marian, E.Q. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients
6thed: Pharmaceutical Press. Chicago, London
Slavtcheff, C.S. 2000. Komposisi Kosmetik untuk Masker Kulit Muka. indonesia Patent
2000/0004913.
Tranggono, Retno Iswari, Latifah, Fatmah. 2007. Buku Pegangan IlmuPengetahuan
Kosmetik. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Vieira, Rafael Pinto, et al. 2009. Physical and physicochemical stability evaluation of
cosmetic formulations containing soybean extract fermented by
Bifidobacterium animalis. Brazilian Journal of Pharmaceutical Sciences vol.
45, n. 3, jul./sep.
Voigt, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi Terjemahan. UGM. Yogyakarta.
MAKALAH
FORMULASI DAN EVALUASI
SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF
Diajukan untuk memenuhu tugas mata kuliah
Dosen: Anna Pradnaningsih, M.Si, Apt
Di susun oleh :
YULI FAHMI
Konversi Umum 2017
SEKOLAH TINGGI FARMASI YPIB
CIREBON
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan pemilik
semesta alam dan sumber segala pengetahuan atas bimbingan dan penyeraan-Nya,
sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “FORMULASI DAN
EVALUASI SEDIAAN MASKER GEL PEEL OFF”. Penyusunan makalah
dimaksudkan untuk memenuhi tugas struktur pada matakuliah ........
Kami sangat menyadari makalah ini masih jauh dari kesempuranaan. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun kami sangat harapakan untuk
kesempurnaan dari kekurangan-kekurangan yang ada, sehingga makalah ini bisa
bermanfaat.
Download