Kaitan Erat Kemenag-Pesantren Perlunya Ormas

advertisement
MPA 343 / APRIL 2015
Media informasi, komunikasi, dan edukasi,
Kantor Wilayah Kementerian Agama
Provinsi Jawa Timur
Pemimpin Umum:
H. Mahfudh Shodar
Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi:
H. Musta'in
Wakil Pemimpin Redaksi:
H. Ramin Abd. Wahid
Staf Ahli:
H. Husnul Maram, H. Ach. Faridul Ilmi,
H. Supandi, H. Mas’ud, H. M. Syakur,
H. M. Fachrur Rozi
Dewan Redaksi:
H. Ramin Abd. Wahid, H. Abd. Hadi AR
H. Athor Subroto, H. Hartoyo
H. Ahmad Husein AR
Sekretaris Redaksi:
Machsun Zain
H. Samsul Anam
Bendahara:
Ahmad Hidayatullah
Staf: Khusnul Khotimah
Distribusi/Tata Usaha:
Husnul Khotimah
Staf: Sukardjito
Litbang:
Hj. Hikmah Rahman
Staf Redaksi
Editor:
Choirul Mustofa
Reporter:
M. Hisyam, Suprianto, Dedy Kurniawan
Anni Athi'ah dan Feri Ariya Santi
Design-Layout:
Mey Sutrisno, Muhammad Munif
Korektor:
Rasmanna Rahiem
Khoththot:
M. Midzhar
Koresponden:
Berkedudukan di setiap Kankemenag
Kab/Ko se-Jawa Timur.
Alamat Redaksi:
Jl. Raya Juanda No. 26 Sidoarjo,
Telp. 031 - 8680490,
Fax. 031 - 8680490
e-mail: [email protected]
Diterbitkan Oleh:
Kantor Wilayah Kementerian Agama
Provinsi Jawa Timur.
Dicetak oleh: PT. Antar Surya Jaya,
Jl. Rungkut Industri III/68 & 70 SIER Surabaya,
Telp. (031) 8475000 (2200-2203)
Fax. : 031-8470600
Isi di luar tanggung jawab percetakan
Keberadaan madrasah dan pesantren dikoyak lagi. Isu pemindahan
keduanya dari naungan Kementerian Agama kedalam pengelolaan
Kemendikdasmen mencuat kembali. Tentu saja ini wacana yang sangat
mengkhawatirkan bagi eksistensi pendidikan agama Islam. Sebab kalau
sampai hal itu terjadi, dikhawatirkan para pengelolanya justru orang-orang
yang tak memiliki kompetensi dengan madrasah dan pesantren.
Nah, untuk menelusuri jejak tapak munculnya isu tersebut sekaligus
mengetahui bagaimana sikap umat Islam terhadap hal itu, kami sengaja
menjadikan isu ini sebagai bahan Lensa Utama kali ini. Disamping kami
mendapuk cendekiawan Muslim seperti Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag (Ketua
LP Ma’arif PWNU Jatim) dan Prof. DR. KH. Tholhah Hasan (mantan Menteri
Agama dan kini sebagai Ketua Badan Wakaf Indonesia), kami juga menemui
Ainul Yakin yang menjabat Sekretaris MUI Jawa Timur.
Hasil liputan tersebut kami lengkapi dengan wawancara khusus bersama
Drs. H. Mahfudh Shodar selaku Kepala Kanwil Kemenag Prov. Jawa Timur.
Sementara dari pengelola madrasah, kami meminta masukan dari Bambang
Wiyono, S. Ag. M. Pd (Kepala MIN Demangan Madiun), Drs. H. Kirom
Rofi’i, M.Pd.I (Kepala
MTsN 1 Tulungagung) dan Drs. H.
Anwari Sy, MA
(Kepala MAN 1
Jember).
Sedangkan dari
pihak pondok pesantren, kami sengaja mewawancari Ustadz
Umar Fanani (Wakil
Mundir bagian kurikulum pondok PERSIS Bangil), Gus Reza
Ahmad Zahid (Pengasuh pesantren al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri) dan Dr. (H.C.) Ir. KH.
Salahuddin Wahid (Pengasuh pondok Tebuireng Jombang).
Sementara sosok Prof. Akh. Muzakki, M.Ag, Gred. Dip. SEA, M.Phil,
Ph.D yang mengaku bangga jadi anak madrasah, kami tampilkan dalam rubrik
Taaruf. Meski tak pernah punya cita-cita melangit, tapi Dekan Fisip dan
FEBI ini telah dikukuhkan sebagai Guru Besar termuda di UIN Sunan Ampel
Surabaya.
Untuk rubrik Serambi Madrasah kali ini, kami mengangkat MTs
Tarbiyatul Waton Gresik. Meski yang sekolah di sana adalah anak-anak
pesisiran, tetapi mereka mampu menjadi sang juara. Tak saja di kancah nasional,
melainkan juga pada kompetisi robotika tingkat internasional di Tay Eng
Soon Convention Centre, ITE Headquarters, Singapura.
Sementara rubrik-rubrik kesayangan Anda lainnya, hadir menarik
sebagaimana biasanya. Akhirnya, kami mengucapkan selamat menikmati
sajian edisi kali ini. Semoga Anda senantiasa bahagia bersama keluarga dan
dapat mengambil buah manfaat sajian kami. Amin.
Kontak dan Pendapat --------------Teropong -----------------------------Lensa Utama -------------------------Liputan Khusus ---------------------Inspirasi ------------------------------Cahaya Hati -------------------------Agama -------------------------------Tafsir Maudlu’i ----------------------Bilik Santri ----------------------------
4
5
6
15
18
19
20
24
26
Jendela keluarga --------------------Uswah --------------------------------Edukasi ------------------------------Serambi Madrasah -----------------Lintas Peristiwa --------------------Pesona --------------------------------LAA Remaja ------------------------Cermat -------------------------------Dunia Islam -------------------------MPA 343 / April 2015
28
34
36
42
51
58
59
62
66
3
INNA LILLAHI WAINNA ILAIHI ROJIUN
SEGENAPKELUARGABESAR BALAI DIKLAT KEAGAMAAN SURABAYA
IKUT BERBELASUNGKAWA SEDALAM-DALAMNYA ATAS WAFATNYA
DRS.H.MASKUR HADI, MM
MANTAN KEPALA BDK SURABAYA TAHUN 2003 s.d 2006
PADA HARI JUM’AT TANGGAL 27 FEBRUARI 2015
Semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan segala khilafnya diampuni oleh-Nya, amiin
KEPALA
BALAI DIKLAT KEAGAMAAN SURABAYA
TTD
Drs.H. RUSMAN LANGKE, M.Pd
Telah meninggal dunia, 7 Maret 2015
Lasmaru, S.Ag, MM
Lahir: Pasuruan, 16 September 1961
Guru PAI MTsN Prigen (1996-2011) - Guru PAI MTsN Pandaan (2011-2015)
Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT dan segala kesalahannya diampuni oleh-Nya Amin
Segenap keluarga besar kantor kementerian agama Kabupaten Lamongan
Ikut belasungkawa yang dalam atas meninggalnya:
H. SUMINTO, M.Ag
Pengawas Pendais TINGKAT RA/TK/MI/SD/SDLB Wilayah Kecamatan Babat
Pada hari Kamis 05 Pebruari 2015
Kepala
Drs. H. Leksono, M.Pd.I
SEGENAPKELUARGABESAR KANTOR KEMENTERIANAGAMAKABUPATEN TRENGGALEK
Mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam – dalamnya atas wafatnya
MOKHAMAD SAIFUDIN, S.Pd
( Guru MTsN Kampak Kabupaten Trenggalek )
Wafat pada hari Sabtu, 14 Maret 2015
Semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT dan mendapat tempat terbaik disisi-Nya
Pgs. KEPALA
DAMANHURI, M.Ag
4
MPA 343 / April 2014
MEMBANGUN
GENERASI ROBBANI
Seiring dengan masuknya Islam ke Nusantara, berdiri surausurau dan mesjid-mesjid di berbagai
negeri. Tempat-tempat ibadah ini
bukan hanya sebagai sarana melaksanakan sholat saja, melainkan juga
tempat persemaian tunas-tunas muda bangsa. Anak-anak yang masih
muda belia, sejak usia balita hingga
remaja dibina, dibimbing dan dididik
di tempat peribadatan ini.
Lembaga pendidikan inilah
yang menjadi cikal bakal madrasah
dan pondok pesantren. Bentuk awalnya masih merupakan madrasah
diniyah, Institusi pendidikan yang
hanya mengajarkan baca tulis alQur’an dan kaifiat sholat. Dimulai
dari lembaga yang sederhana ini, oleh
para ulama’ dan pemuka agama Islam ditingkatkan menjadi madrasah
formal dalam berbagai jenjang: Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah serta pondok pesaantren.
Ada yang mengatakan bahwa lembaga perguruan
agama ini sebagai lembaga pendidikan yang tertua. Lembaga
ini didirikan jauh sebelum pemerintah kolonial Belanda masuk.
Dari institusi ini lahir pemimpin-pemimpin bangsa dan pejuang
kemerdekaan serta para pahlawan nasional. Mereka bukan
hanya memiliki jiwa kebangsaan dan negarawan saja, melainkan juga berkeimanan dan bertakwa serta berakhlak mulia.
Ketika kolonial Belanda mulai menancapkan kukunya
di Indonesia, pemerintah penjajah tidak membantu penyelenggaraan madrasah dan pondok pesantren ini. Alih-alih
memberikan bantuan, justru pemerintahan penjajah ini
mengendalikan dan membatasi gerak lembaga pendidikan
agama ini. Para ustadznya diatur dalam Ordonansi Guru,
sehingga tidak semua ustadz dan ustadzah yang mampu
dapat mengajar. Madrasah ini terus berkembang sejalan dengan kemajuan zaman. Ilmu pengetahuan umum yang semula
tidak diajarkan mulai dimasukkan ke dalam kurikulum madrasah, sekalipun tidak seragam antara satu madrasah dengan
madrasah lainnya.
Setelah merdeka lembaga bentukan ulama’ dan pemuka
agama ini diserahkan tanggungjawab pembinaannya dan pengawasan penyelenggaraannya kepada Kementerian Agama.
Dengan penuh amanah dan tanggungjawab Kementerian
Agama membina dan membimbing pengelolaan madrasah dan
pondok pesantren. Hasilnya tidak mengecewakan. Dari perguruan agama lahir generasi robbani, generasi yang berkeadaban, Moral dan akhlak dijadikan tolok ukur dan
indikator keberhasilan. Bila sekolah
peninggalan Belanda hanya melahirkan anak-anak pintar, maka
madrasah dan pondok pesantren
menghasilkan putra – putri bangsa
yang relijius dan berakhlak mulia.
Perbedaan out comes –hasil
pendidikan- dua macam model pendidikan: sekolah umum dan perguruan agama ini dinilai sebagai kepincangan. Satu pihak lahir pemimpin
bangsa yang hanya menguasai ilmi
pengetahuan umum tapi tidak mengenal agama. Sementara dipihak
lain lahir pemimpin bangsa yang
mendalam ilmu agamanya tapi minim
ilmu pengetahuan umumnya. Muncullah berbagai wacana untuk menciptakan model pendidikan nasional
yang dapat dijadikan acuan guna
membangun generasi bangsa yang
mumpuni atau memiliki kompetensi
dan daya saing yang tinggi.
Keputusan Presiden –Keppres 34 Tahun 74– dikeluarkan. Keputusan ini menetapkan bahwa semua lembaga
pendidikan berada dalam satu atap. Timbul reaksi dari para
ulama’ dan pemuka agama Islam yang kurang sepakat dengan
keputusan Presiden tersebut. Sebab dengan demikian yang
berhak menyelenggarakan dan membina pengelolaannya
hanyalah Kementerian Pendidikan Nasional waktu itu. Sementara Kementerian Agama yang sejak awal kemerdekaan
diserahi tanggungjawab membina madrasah dan pondok
pesantren dicabut kewenangannya. Karena penolakan yang
kuat dari para ulama dan pemuka agama Islam terhadap model
system pendidikan satu atap ini maka lahirlah Inpres 15 Tahun
1975 sebagai solusinya. Isi instruksi Presiden ini, agar madrasah menyesuaikan diri baik kurikulum maupun system
manajerialnya dengan sekolah-sekolah yang dibina oleh Kementerian Pendidikan Nasional saat itu.
Inpres tersebut dapat dilaksanakan dengan hasil yang
memuaskan. Dari upaya peningkatan mutu perguruan agama
ini yang terus berkembang, sekarang banyak lahir madrasahmadrasah unggulan dengan siswa-siswanya yang berpretasi
hingga tingkat nasional bahkan tingkat internasional. Dari
madrasah-madrasah dan pondok pesantren ini diharapkan
lahir generasi robbani, generasi bangsa yang tidak hanya
memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme, tapi juga berakhlak
mulia. Dari generasi robbani ini akan dapat dibentuk qoryah
thoyyibah dan baldatun thoyyibah wa robbun ghofur, Negara adil-makmur dan bangsa yang berkeadaban. RAW
MPA 343 / April 2015
5
Save Madrasah dan Pesantren
Kedepankan Pelayanan dan Bukan Penguasaan
Gagasan untuk memindahkan pengelolaan madrasah dan pesantren kedalam naungan Kemendikdasmen, kini
mencuat kembali. Alasannya, untuk meningkatkan mutu pendidikan dan kesejahteraan para guru. Wacana itu sempat
menghangat dalam pembahasan di Komisi VIII DPR RI.
Secara historis, asal-muasal tumbuhnya madrasah di Indonesia tak dapat dilepaskan dari keberadaan lembaga
pesantren. Maka wajar jika madrasah
dan pesantren berada di bawah pembinaan Kemenag – dan bukan Kemdikdasmen. Di sisi lain, madrasah yang 90
persen adalah swasta murni tumbuh dari
masyarakat dan bukan pemerintah.
Prof. DR. KH. Tholhah Hasan
Menurut Prof. Dr. H. Abd. Haris,
M.Ag, hingga kini dualisme pendidikan
masih melingkupi pendidikan nasional;
Kemenag yang mengelola pendidikan
agama dan Kemendikdasmen yang mengelola pendidikan umum. Hal ini dikuatkan dengan UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Disebutkan dalam Bab VI pasal 15 UU Sisdiknas, bahwa jenis pendidikan mencakup
pendidikan umum, kejuruan, akademik,
profesi, advokasi dan keagamaan.
Dirinya merasa heran jika dualisme
tersebut lantas dibesar-besarkan hingga berujung pada wacana penggabungan yang hanya berada di Kemendikdasmen saja. Apalagi selama ini prestasi
yang disuguhkan pendidikan madrasah
dan pesantren cukup bertebaran. “Ter6
MPA 343 / April 2015
Untuk itulah, lelaki kelahiran Lamongan 21 Oktober 1962 ini lebih sepakat
jika pendidikan agama tetap dikelola Kemenag. Sebab baginya, tarik-menarik
pengelolaan pendidikan agama bukan
sesuatu yang strategis untuk dipersoalkan. Justru yang harus dilakukan, adalah antara Kemenag dan Kemendikbud
duduk bersama untuk mengurai segala
problema demi meningkatkan kualitas
pendidikan nasional.
Prof. DR. KH. Tholhah Hasan
mengingatkan, agar pengambilalihan
madrasah dan pontren dari Kemenag ke
Kemendikbud tak semata untuk menguasai saja. Harap dipertimbangkan
sisi pengelolaan keduanya, karena memiliki karakteristik yang
berbeda dengan sekolah.
“Jadi perlu dipikirkan
ulang kalau mau mengambilalih madrasah dan
pesantren,” tegasnya.
Karakteristik khusus yang dimiliki madrasah dan pesantren, kata
Ketua Badan Wakaf Indonesia ini, pertama berciri khas Islami. Kedua,
populis atau merakyat
sesuai dengan kemauan
dan kemampuan masyarakat. Ketiga, mempunyai
Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag
corak yang beragam. Ini
sesuai dengan karakter
Pendidikan Islam UIN Sunan Ampel masyarakat yang juga beragam. Yang
keempat, memiliki watak mandiri. “MaSurabaya ini menegaskan.
Kalau dalihnya hanya demi efekti- kanya, Kemendiknas jangan terlalu
vitas dan efisiensi, kata pemilik 9 judul ambisi untuk mengambil alih madrasah
buku ini, secara logika masih bisa dite- dan pesantren,” katanya serius.
Apalagi ketidakadilan masih dirarima alasan tersebut. Tapi yang patut
dihitung ulang, dengan dibawah naung- sakan oleh pendidikan Islam. Kini masih
an Kemendikbud secara otomatis beban ada anggapan bahwa peringkat sekolah
kementerian yang menangani bidang berada di atas madrasah. “Jadi, jangan
pendidikan semakin besar. “Nah, ba- keinginan untuk menguasai yang ditongimana mungkin institusi yang terbatas jolkan. Pemerintah seharusnya justru
mampu mengelola sekian banyak model membantu bagaimana meningkatkan
pendidikan? Kan ada ukuran rasio an- mutu manajemen, biaya pembenahan
tara birokrasi yang mengelola pendi- SDM, serta sarana di madrasah dan
dikan dan jumlah yang dikelola,” tutur- pesantren,” tutur pria kelahiran Tuban
nya masyghul. “Apakah ada jaminan 10 Oktober 1936 ini menyarankan.
Di sisi lain, lanjut Pendiri dan Ketua
jika penggabungan ini selaras dengan
peningkatan kualitas?” tutur suami Dra. Dewan Pembina Universitas Islam Malang ini, kita semestinya mengapresiasi
Rif’atul Choiriyah ini menambahkan.
bukti Kemenag selama ini cukup baik
dalam mengelola pendidikan madrasah
dan pesantren,” tuturnya. “Nah, kalau
sudah baik, kenapa harus diubahubah,” imbuhnya mempertanyakan.
Di lain pihak, Ketua LP Ma’arif
PWNU Jatim ini mengakui, bahwa secara
implisit arah dari Sisdiknas adalah pendidikan satu atap. Tapi itu tak berarti
pendidikan harus dikelola oleh satu kementerian saja. “Jika itu sampai terjadi,
saya khawatir madrasah dan pesantren
justru malah tak terurus,” ujarnya. “Kalau tetap saja dipaksakan, ini berarti
pemerintah tak memberikan pelayanan
akan kebutuhan pendidikan masyarakat
Muslim,” tambah Guru Besar Filsafat
dan meningkatkan apa yang sudah digulirkan Kemenag yang memfasilitasi
guru-guru madrasah untuk menempuh
jenjang pendidikan S1, S2 dan S3. “Semangat melayani inilah yang harus dikedepankan dan bukan justru menguasainya,” pintanya.
Ketua Dewan Pembina Yayasan
Pendidikan Ma’arif Singosari ini berharap, agar partisipasi masyarakat
terhadap pendidikan Islam hendaknya
lebih meningkat lagi. Ini mengingat 90
persen madrasah berstatus swasta atau
milik masyarakat. Kalau diserahkan
kepada pemerintah semua, nanti justru
beban pendanaan pemerintah akan
bertambah berat. “Pemerintah laiknya
berterima kasih terhadap sumbangsih
masyarakat tersebut. Dukungan dan
kepercayaan masyarakat inilah, yang
membuat madrasah dan pesantren tetap
eksis hingga saat ini,” ungkapnya. “Kan
aneh kalau masyarakat tidak
boleh berpartisipasi,” tambahnya mempertanyakan.
Ketua Dewan Pembina
dan Pengembang Yayasan
Pendidikan Sabilillah Malang
ini berharap, agar madrasah
dan pesantren mampu menunjukkan sebagai lembaga
pendidikan Islam yang sejajar dengan lembaga pendidikan sekolah. Artinya,
mampu mengikuti perkembangan masyarakat yang dinamis beserta kebutuhannya, berkualitas, profesional
dalam pengelolaan, serta
kompetitif dan siap bersaing
menjadi lembaga pendidikan
pilihan.
Bagi Ainul Yakin, jika pemerintah
memang ingin mensukseskan Sistem
Pendidikan Nasional, seharusnya lebih
mendorong madrasah dan pesantren
yang berada di bawah Kemenag itu
diberikan porsi anggaran yang memadai. Dengan begitu bisa berjalan dan
bersinergi dengan pendidikan sekolah
yang dikelola Kemendikdasmen. “Nah,
kalau ini yang dilakukan pasti akan
menghasilkan kualitas pendidikan sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri,” ujarnya.
Sekretaris MUI Jawa Timur ini berharap, agar pemerintah tidak menafikan
keberadaan guru-guru atau SDM yang
mengurusi madrasah tersebut. Wacana
pengabilalihan pendidikan Islam berada
di bawah naungan Kemendikdasmen,
jelas akan menimbulkan sejumlah kekhawatiran. Khususnya, bagai orangorang yang selama ini bergelut mengurusi madrasah.
Selama ini, ulas pria kelahiran Jombang 14 Januari 1969 ini, orang-orang
yang menangani madrasah dan pesantren adalah mereka yang kental keislamannya. Itulah sebabnya, kehidupan peserta didik di madrasah dan pesantren sangat kentara sekali ciri keagamaannya. “Nah.. kalau dikelola
Diknas, dikhawatirkan nanti akan diurus
oleh orang-orang yang tak memiliki
kompetensi dengan madrasah. Lantas
apa jadinya madrasah nanti,” kritiknya.
Untuk itulah alumnus pondok
pesantren di Jombang dan Malang ini
menyarankan, agar pemerintah lebih
memperkuat eksistensi Kementerian
Agama yang mengelola madrasah dan
Ainul Yakin
pesantren. “Meski saya bukan orang
Kemenag, namun secara objektif saya
mengkhawatirkan kaum skularis sedang
melakukan upaya pelemahan terhadap
Kemenag,” simpulnya. “Padahal peran
Kemenag itu penting sekali. Oleh karenanya, keberadaan Kemenag harus
lebih diperkuat dan bukan malah digerogoti seperti ini,” tukasnya serius.
Penulis buku ‘Halal di Era Modern’ dan ‘Menolak Lieralisme Islam’ ini
merasa, bahwa kalangan sekuler juga
ingin menarik Indonesia ke arah ideologi sekuler. “Ini benar-benar persoalan
serius. Sebab bisa jadi wacana pengambilalihan itu tak sekedar melikuidasi
peran Kemenag, melainkan justru ingin
mengambilalih seluruh kebijakan Ke-
mentrian Agama,” paparnya.
Sebab menurut Sekretaris Yayasan
keluarga Alumni Masjid Kampus Indonesia (Kampusina) ini, wacana untuk
menghapus Kemenag sudah sangat
lama. Lantas muncul isu-isu memojokkan Kemenag, yang mewacanakan kementerian ini sangat korup dan seterusnya. Umat Islam bahkan tak menyadari
kalau mereka terprovokasi di dalamnya.
Alhasil, simpul peneliti di Institute
Pemikiran dan Peradaban Islam
(INPAS) ini, madrasah dan pesantren
jelas lebih efektif kalau berada dibawah
Kemenag. Dengan begitu akan tetap
bisa menstressing ‘tafaqquh fiddin’
dalam porsi yang cukup besar. Sebab
tujuannya adalah untuk mencetak orang yang lebif kompeten di bidang
agama. “Kalau lantas ditarik ke Kemendikbud, apa mungkin orang-orang Diknas bisa mengelola pesantren dengan
baik,” tukasnya meragukan.
Apalagi, lanjut lelaki
yang kini sedang menempuh
S3 di Universitas Muhammadiyah Surabaya ini, kini masyarakat lebih mempercayakan anaknya ke madrasah
dan pesantren. Alasannya,
tentu madrasah dan pesantren lebih menawarkan pemahaman keagamaan yang
itu tak bisa diraih di sekolah.
“Intinya, di madrasah dan
pesantren lebih save,” katanya bangga.
Untuk itulah, Wakil Ketua Ikatan Dai Area Lokalisasi (IDIAL-MUI) ini berharap, agar ke depan Kemenag
lebih bisa meyakinkan peranannya. Kita semua harus bersamasama memperjuangkan agar madrasah
dan pesantren tetap berada di bawah
pembinaan Kementerian Agama. Organisasi-organisasi Islam hendaknya juga
mensupport Kemenag. “MUI sudah
memberikan masukan pada pemerintah
kenapa madrasah dan pesantren harus
tetap di bawah Kemenag,” tuturnya.
“Masyarakat harus lebih cermat dan
kritis terhadap kebijakan pemerintah.
Jangan sampai kebijakan itu menjadi
blunder yang kemudian justru menggerogoti umat Islam,” tambahnya menandaskan.
Laporan: Suprianto, M. Tajuddin
Nurcholis (Surabaya), Syaifudin
Ma’arif (Malang).
MPA 343 / April 2015
7
Drs. Mahfudh Shodar, M.Ag
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur
Melindungi Madrasah Agar Tetap Bertahan
Wacana dipindahkannya madrasah dan
pesantren ke naungan Kemendikdasmen,
kini mencuat kembali. Padahal dulu isu serupa juga pernah bergulir kencang. Apa sesungguhnya yang melatarbelakangi hal tersebut? Dan bagaimana sikap Kemenag mengatasi hal itu? Untuk mengungkap seputar
masalah inilah, Anni Athi’ah dari MPA mewawancarai Drs. Mahfudh Shodar, M.Ag
selaku Kepala Kanwil Kemenag Prov. Jawa
Timur. Berikut petikan wawancaranya:
Isu pendidikan agama Islam dikelola
Dikdasmen dan Perguruan Tinggi Agama
Islam berada dalam naungan Kemenristek
kini mencuat lagi. Tanggapan Bapak?
Terkait hal tersebut, itu masih berupa
isu atau wacana. Namun demikian, kita perlu
memberikan perhatian mengenai hal tersebut. Saya kira tidak mudah mengubah kebijakan yang sudah ada. Ini butuh waktu,
tenaga dan biaya.
Lantas, bagaimana seandainya hal itu
benar-benar terjadi..
Kalau sampai itu terjadi, maka pendidikan Islam akan kehilangan historisnya
dan juga jati dirinya. Kita tahu dasar pendidikan di Indonesia adalah dari pondok pesantren yang notabene adalah madrasah. Melalui pesantren pula perjuangan bangsa untuk
merdeka dapat diraih.
Apa strategi Bapak di lingkungan Kemenag Jawa Timur untuk membendung wacana tersebut agar tidak sampai terwujud?
Kita harus selalu mengevaluasi, introspeksi diri dimana kekurangan kita. Selain
itu kita perlu membangun opini. Melalui
prestasi-prestasi yang diraih pendidikan
yang dikelola Kementerian Agama. Dan ini
tak terlepas pula dari peran media. Baik
media, cetak, elektronik maupun median online. Kita tunjukkan bahwa kita punya prestasi dan mampu bersaing dengan pendidikan
sekolah umum.
Contoh yang bisa diberikan..
Kompetisi AKSIOMA. Terbukti, kita
mampu bersaing dan unjuk gigi bahwa
madrasah yang dalam kurikulum pendidikan
umumnya 70 persen mampu meraih juara
dalam beberapa kategori lomba dengan
sekolah umum. Kita berharap ada fair play
dalam setiap even atau kompetisi yang ada.
Jangan sampai terjadi masalah lagi seperti
yang di Jawa Tengah.
Maksudnya Pak..
Sewaktu pelaksanaan AKSIOMA di
8
MPA 343 / April 2015
Lantas bagaimana dengan keberadaan pendidikan agama di lingkungan pondok
pesantren?
Harus diakui, sekarang pondok pesantren yang benar-benar salaf berkurang. Kini
bermunculan pondok modern. Indikatornya,
sekarang banyak santri yang mondok mencari pesantren yang ada pendidikan formalnya. Sehingga upaya yang dilakukan pontren
adalah memenuhi keinginan tersebut. Oleh
karena itu, harus ada formula pendidikan
dari masing-masing pondok bagaimana agar
pendidikan agama yang mendalam tidak
hilang di pesantrean sehingga ruhnya masih
tetap bertahan.
sana, anak-anak kita tidak diperkenankan
ikut. Dengan alasan anggaran tersebut diperuntukkan bagi sekolah, dan tidak menyebutkan madrasah. Nah, kalau seperti itu berarti kan tidak sesuai dengan sistem pendidikan nasional yang selalu menyebutkan SD/
MI, SMP/MTs, SMA/MA dan SMAK/
MAK. Andaikan pelaksanaan dari tahap
seleksi fair play, tentu anak-anak kita akan
lebih mencorong lagi sinarnya sebagai
generasi yang berprestasi, berintelektual dan
juga mumpuni dalam ilmu agama.
Lantas bagaimana kelanjutan dari
AKSIOMA tersebut?
Alhamdulillah, masalah tersebut akhirnya didengar oleh para petinggi. Dan kebijakan tahun 2016, AKSIOMA diperuntukkan bagi semua anak didik dari berbagai pengelola pendidikan. Begitupun sebaliknya,
kompetisi yang diadakan di Kementerian
Agama seperti KSMpun diperuntukkan bagi
semua pengelola pendidikan.
Namun kenyataan lain yang tak bisa ditampik, bahwa tak semua petinggi memahami
tentang madrasah. Bagaimana kita mempertahankan agar madrasah tetap eksis?
Satu hal yang patut kita syukuri, Wakil
Presiden kita Bapak Yusuf Kalla adalah mantan Pengurus Besar HMI tahun 1968. Beliau
juga pernah mengenyam pendidikan di
madrasah. Insya Allah untuk saat ini kita
punya orang yang bisa melindungi madrasah
agar tetap bertahan. Dan tentunya ada banyak
lagi pejabat-pejabat yang suaranya akan didengar yang mereka juga alumni madrasah. Itu
juga menjadi bukti, bahwa alumni madrasah
bisa menjadi pemimpin-pemimpin di negeri
ini. Jadi selama madrasah ada, maka akan
terlahir pula calon-calon pemimpin yang
siap menggantikan pendahulunya.
Kembali pada wacana pengambilalihan madrasah dan pesantren di atas. Bukankah isu semacam itu berulang kembali?
Kenyataannya memang demikian. Dulu ada Pengadilan Agama yang sudah lepas
dari kita. Pendidikan agama/madrasah akan
masuk dalam Diknas, Perguruan Tinggi Agama Islam masuk dalam Kemenristek, KUA
akan masuk dalam Catatan Sipil, Haji ada
lembaga tersendiri yang sekarang sudah
diUPTkan. Lantas mengapa ini terjadi lagi?
Bisa jadi karena Indonesia adalah negara
besar dan satu-satunya negara yang mempunyai Kementerian Agama di dunia.
Implikasinya?
Dengan adanya Kemenag, maka akan
terbentuk yang namanya Hubbul Wathon.
Di dalam Kementerian Agama ada agama
Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha
dan Khonghucu. Di situ ada kerukunan
agama. Upaya politik luar negeri dengan
segala intervensinya, agama menjadi salah
satu kendalanya. Di sisi lain, penduduk
Indonesia kategorinya masih beragama dan
menjalankan perintah-perintah agamanya.
Sehingga upaya untuk menguasai Indonesia
dengan cara memecahbelah, mengadudomba
antar agama maupun internal agama terus
dilakukan oleh pihak asing.
Bisa jadi konflik SARA yang terjadi
juga karena upaya pihak asing?
Ya.. bisa juga demikian. Namun
kondisinya ketika ada konfilik tertentu di
Indonesia, bisa diredam melalui pendekatan
agama. Kementerian Agama sebagai induk
organisasi yang menaungi semua permasalahan agama bekerjasama dengan institusi
pemerintah yang lain dan organisasi agama
masyarakat, serta para tokoh dan pemuka
agamanya dapat membantu menyelesaikan
konflik-konflik yang ada.
Merapatkan Barisan Madrasah
Mengawal Pendidikan
yang Berciri Khas Agama
Menyikapi wacana ditariknya
Madrasah dan Pontren ke
Kemendikbud, Drs. H. Kirom Rofi’i,
M.Pd.I sangat merasa keberatan
dengan gagasan tersebut. Sebab
pendidikan madrasah tak bisa
disamakan dengan pendidikan
umum. “Pengelolaannya tidak bisa
disatukan dengan pendidikan
umum,” tegasnya.
Sebagai pendidikan umum berciri
khas Islam, lanjut Kepala MTsN 1 Tulungagung ini, madrasah memiliki karakteristik khusus. Diantara karakteristik
itu, kurikulum madrasah mencoba
menuangkan keutamaan ilmu dari aspek
keutuhan ilmu. “Semua aliran ilmu berada dalam satu kerangka pemikiran dan
bersumber dari Allah SWT. Semua saling terkait dan saling melengkapi, tidak
berdiri sendiri,” terangnya.
Praktek terbaik dari pemikiran tersebut, lanjut pria kelahiran Tulungagung 11 Oktober 1962 ini, telah dilakukan para ilmuwan Muslim terdahulu.
Sebut saja Ibnu Sina yang dikenal di
Barat sebagai Avicenna, disamping ahli
di bidang kedokteran, filsafat, musik dan
psikologi, dia juga seorang ulama’. Ibnu
Kaldun yang menjadi rujukan dalam
ilmu sosiologi dengan karya populernya
Al-Muqaddimah, dikenal sebagai
peletak dasar sosiologi modern.
Mata pelajaran di madrasah, tutur
‘Guru Teladan/Berprestasi’ se-Jawa Timur tahun 2003 ini, juga berusaha menyeimbangkan antara kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. Dengan begitu
disiplin ilmu yang diajarkan tidak membedakan antara ilmu ukhrawi dan ilmu
duniawi. “Semuanya bersumber dari
Allah. Setiap Muslim wajib mempelajarinya,” ulasnya.
Saat ini proporsi pengajaran mata-
Drs. H. Kirom Rofi’i, M.Pd.I
pelajaran umum dan agama berbanding
70:30 persen. Jika pengelolaan madrasah
di bawah Kemendikbud, dirinya khawatir konsep keutuhan ilmu akan tereduksi. “”Dengan muatan 30 persen
matapelajaran agama, diharapkan anak
didik mempunyai bekal agama yang
cukup. Mereka tidak hanya cerdas
dalam ilmu umum, namun juga mempunyai pemahaman agama yang baik,”
paparnya.
Menurut suami Dra. Hj. Miftakul
Qoiroh, S.Pd ini, madrasah merupakan
institusi pendidikan formal yang menjembatani kebutuhan masyarakat akan
pendidikan yang memiliki kekhasan
agama. Banyak orangtua yang mempercayakan anaknya untuk dididik di madrasah, karena mereka yakin bahwa
madrasah mampu mencerdaskan anak
bangsa dengan bekal nilai-nilai agama
yang mumpuni.
Dalam praktek keseharian di madrasah, sebagai pendidik dirinya memahami betul tentang nilai-nilai keagamaan
yang ditanamkan pada siswa didiknya.
Madrasah sangat menekankan akhlakul
karimah. “Ditanamkan benar kepada
para siswa untuk mempraktekkan keilmuan yang dipelajari di madrasah dalam kehidupan sehari-hari,” tutur pria
yang madrasahnya menjadi pilot project Kurikulum 2013 untuk MTs seKabupaten Tulungagung ini.
Guru sebagai garda terdepan proses belajar mengajar di madrasah, tutur
ayah empat anak ini, harus menjaga sikap dan tindakannya karena label pendidik agama yang melekat padanya.
“Guru bisa menjadi teladan yang baik
sesuai ajaran Ki Hajar Dewantara yakni
ing ngarso sung tulhada (di depan
memberi contoh),” harapnya.
Itulah pasalnya Ketua K3M MTs
Kab. Tulungagung ini menghimbau kepada pengambil kebijakan, agar meninjau ulang wacana penyatuan lembaga
pendidikan keagamaan di Kemendikbud. Dia berharap agar konsep-konsep
yang telah ditanamkan peletak dasar
MPA 343 / April 2015
9
pendidikan keagamaan di tanah air tidak
bergeser, sehingga misi mencerdaskan
sekaligus menshalehkan anak bangsa
bisa tercapai.
Bagi Bambang Wiyono, S. Ag. M.
Pd, sudah saatnya orang-orang yang
memiliki komitmen pada madrasah
merapatkan barisan. Mereka harus saling bahu-membahu mengingatkan para
pemegang kebijakan untuk berhati-hati
dalam mengambil sebuah keputusan.
“Jangan tergesa-gesa. Semua perlu
pembahasan lebih serius dan mendalam,” tegasnya.
Kepala MIN Demangan Madiun ini
berharap, jangan sampai karena kepentingan sesaat salah mengambil sebuah
keputusan, sehingga berakibat bangsa
ini menyesal di kemudian hari. Semestinya mereka memperhatikan, bahwa
secara historis madrasah berdiri lebih
dulu dari pendidikan nasional. Jasajasanya diakui tidak hanya masyarakat
Harus ada kerjasama
antara madrasah,
orangtua dan
masyarakat. Semua
komponen memiliki satu
persepsi, satu perjuangan
yang sama. Jangan
sampai terpecah belah.
Sebab madrasah harus
terus terjaga sebagai
penopang moral anak
bangsa
negeri ini semata, tapi juga masyarakat
dunia. “Madrasah terbukti telah melahirkan pemimpin-pemimpin yang
tangguh meski dalam masa-masa yang
sulit,” ungkapnya.
Pria kelahiran Magetan 31 Mei
1971 ini mengajak insan madrasah untuk
terus berjalan pada rel yang benar. Jangan terlena dengan hanya fokus pada
bidang keilmuan semata, tetapi juga harus memperhatikan pendidikan karakter
dan moralitas. “Madrasah harus mampu.
Madrasah harus lebih baik dan lebih
baik madrasah,” ujarnya.
Menurut suami Siti Nurul Hidayati,
S.Sos yang dikaruniai dua anak ini, madrasah harus dapat mewujudkannya
sesuai amanat para orangtua siswa.
“Madrasah harus sanggup mencetak
10
MPA 343 / April 2015
peserta didik yang agamis, tangguh,
berbudi pakerti, serta siap bersaing di
masa yang akan datang,” katanya bersemangat.
Yang perlu disadari, sambung Juara
1 Widya Pakerti Nugraha Implementasi
Pendidikan Karakter SD/MI se Jatim ini,
kini tantangan kian hari semakin rumit.
Di sisi lain, kenakalan remaja sudah
marak dimana-mana. “Madrasah harus
menjadi solusinya. Ini mengingat di
madrasah tercukupi semua kebutuhan
keilmuan dan agama,” tandasnya..
Namun demikian, lanjut lelaki yang
pernah meraih juara III Kepala Sekolah
berprestasi jenjang SD/MI Nasional ini,
perlu juga meningkatkan pembiasaan
budaya di madrasah sebagai pendukung keilmuan para siswa. Semisal membangun sikap gotongroyong, memupuk
sifat tata krama dan susila, membiasakan
tradisi salam, melaksanakan shalat
Dhuha berjamaah dan seterusnya. Termasuk bagaimana guru dan orangtua
mengecek ‘Buku Monitoring Shalat,
serta memfungsikan ‘Dering Ananda’
yakni guru mengingatkan dan menanyakan kepada orangtua siswa apakah
anaknya sudah bangun dan shalat
Subuh.
Dalam membangun sebuah kultur
keagamaan, tutur alumnus STAI Madiun dan IKIP PGRI Adi Buana Surabaya
ini, harus ada kerjasama antara madrasah, orangtua dan masyarakat. “Kami
berharap semua komponen memiliki
satu persepsi, satu perjuangan yang
sama. Jangan sampai terpecah belah.
Sebab madrasah harus terus terjaga
sebagai penopang moral anak bangsa,”
tukasnya bernada harap.
Menurut Drs. H. Anwari Sy, MA,
wacana penggabungan madrasah ke
Kemendikbud, adalah merupakan
wacana lama. Namun hingga sekarang,
wacana tersebut belum ada titik temunya. “Ada kendala pada aspek akademik,” tutur Kepala MAN 1 Jember ini
singkat.
Dirinyapun dengan tegas menolak
untuk sependapat dengan wacana tersebut. Menurut lelaki kelahiran Jember
8 Agustus 1955 ini, secara administratif
dan organisatoris, memang terlihat mudah untuk melekatkan madrasah dan
pesantren pada Dikbud. Tinggal me-
Wiyono, S. Ag. M. Pd
nambah direktorat pendidikan keagamaan saja. “Tapi itu teori dan sifatnya
teknis,” kilah mantan Kepala MTsN
Umbulsari ini.
Kemenag sangat berbeda dengan
kementerian yang lain, karena ada
aspek kesejarahan. Menurut mantan
Kepala MAN 3 Jember ini, berdirinya
Kemenag merupakan aspirasi masyarakat pesantren. Lantas muncullah
pendidikan keagamaan formal yang
dikelola madrasah dan pesantren. “Secara teoritis, teknis dan kesejarahan,
pengelolaan madrasah
dan pesantren harus di
bawah Kemenag,” ujarnya. “Madrasah dan
pesanten harus dikelola
oleh orang yang paham
kultur dan berjiwa madrasah dan pesantren,”
tandasnya.
Madrasah dan pesantren, sambungnya,
juga akan berubah arah
jika ada dalam pengelolaan Dikbud. “Ada kekhasan madrasah dan
pesantren yang hilang
jika digabung dengan
Dikbud. Semua lembaga
di bawah Dikbud semuanya seragam,” katanya
dengan nada tinggi. “Tak
akan ada lagi keleluasan mengelola
lembaga, jika madrasah dan pesantren
dilekatkan pada Dikbud. Di Kemenag
kami diberi keleluasan mengelola untuk
menampilkan ciri khas masing-masing
lembaga,” tambahnya.
Menurut suami St. Julaikha, M.Pd
ini, menggabungkan pendidikan madrasah dan pesantren ke dalam Dikbud
bukanlah merupakan solusi. “Jika ada
persoalan dalam pengelolaan madrasah
dan pesantren, bisa ditata kembali, diperbaiki tanpa ada penyatuan,” terang-
Drs. H. Anwari Sy, MA
nya. “Saya tidak melihat ada urgensinya
tentang wacana penyatuan tersebut,”
tandas ayah tiga anak ini.
Wakil Ketua Musyawarah Kelompok Kerja MAN se-Jatim ini menduga,
meruncingnya wacana tersebut disebabkan hubungan Kemenag dan Diknas yang kurang harmonis. Untuk itulah, dirinya menyarankan agar pejabat
di level atas mulai direktorat, wilayah
hingga pejabat di daerah mewacanakan
hubungan yang bersifat integratif, koordinatif dan komparatif yang wajar dan
sehat, serta bisa saling
bekerja sama.
Ketua Forum Komunikasi Kepala MAN seBesuki ini menyarankan,
agar jangan sampai Kemenag dan Dikbud memposisikan diri saling berhadapan dan berseberangan.
“Kemenag dan Dikbud harus berjalan beriringan. Jadilah lembaga yang bersahabat. Hal itu harus dimulai dari kebijakan, koordinasi hingga tahap pelaksanaan,” paparnya.
Laporan: Dedy
Kurniawan (Surabaya),
Siti Fatimah (Tulungagung), Agung Jatmiko
(Madiun).
MPA 343 / April 2015
11
Kaitan Erat Kemenag-Pesantren
Perlunya Ormas Keagamaan
Menyatukan Persepsi
Gagasan untuk memindahkan
madrasah dan pontren dari
Kementerian Agama ke Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan
(Kemdikbud) membuat pondok
pesantren bergeliat. “Sebab ini
jelas-jelas merupakan kerugian
besar bagi umat Islam,” tegas Ustadz
Umar Fanani.
Menurut Wakil Mundir bagian
kurikulum pondok PERSIS Bangil ini,
bahwa tujuan pendirian Departemen
Agama oleh pendahulu kita – khususnya para Kiai – adalah untuk menegakkan ajaran Islam. “Jadi sudah tepat
madrasah dan pesantren itu berada di
bawah naungan Kementerian Agama.
Dengan begitu bisa terjadi pembinaan
karakter Islami, yakni pengamalam
ajaran Islam secara benar,” jelasnya.
Jika madrasah dan pondok
pesantren ditangani Kemendiknas,
lanjutnya, dikhawatirkan tak terjadi lagi
pembinaan karakter yang Islami tersebut. Padahal pendidikan Islam itu
haruslah dapat membentuk peserta didik
menuju kondisi fitrah. Sebagaimana
sabda Rasulullah “Kullu mauluudin
yuuladu ‘ala al-fitrah.
Alhasil, simpul pria kelahiran
Banjarnegara 15 Nopember 1940 ini, misi
madrasah dan pontren adalah pendidikan akhlak. “Maka terasa aneh jika
pendidikan akhlak akan ditangani oleh
Dikbud,” tukasnya sambil mengernyitkan dahi. “Apabila hal ini akan tetap
saja dipaksakan, tentu akan menyeret
madrasah dan pontren pada kehancuran lantaran tidak sesuai dengan proporsinya,” tandasnya.
Untuk itulah, Ustadz Umar Fanani
mengusulkan agar ormas keagamaan
seperti Nahdlatul Ulama’, Muhammadiyah, Persis, MUI dan yang lainnya
perlu menyatukan persepsi. Mereka
perlu mengajak bicara DPR untuk
membahas masalah penting yang
sangat serius ini.
Dirinya mengingatkan, bahwa
pendidikan Islam itu tak saja membentuk
peserta didiknya untuk pintar otaknya
semata. Lebih dari itu anak-anak didik
tersebut juga harus cemerlang hatinya.
“Intinya, memperbaiki hati dengan
mengimplementasikan rukun iman dan
rukun islam dalam kehidupan seharihari, sehingga akan membentuk karakter
atau akhlak mulia,” paparnya.
Peranan Kemenag adalah untuk
meningkatkan kualitas madrasah dan
pondok pesantren, agar tercipta output
yang cemerlang otak dan hatinya. De-
Ustadz Umar Fanani
12
MPA 343 / April 2015
ngan begitu akan dapat mengikis sikapsikap yang kurang terpuji menuju sifat
yang agung dan mulia. “Standar keberhasilan pendidikan Islam, adalah hablun minallah dan hablun minannas,”
ujarnya.
Menurut Gus Reza Ahmad Zahid,
wacana untuk memindahkan madrasah
dan pesantren berada di bawah naungan Kemendikbud sebenarnya sudah
cukup lama. Tujuannya adalah untuk
menghilangkan dikhotomi pendidikan
umum dan agama di Indonesia.
Namun yang perlu dipikirkan lebih
jauh, kata pengasuh pontren al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri ini, adalah efek
yang sangat besar dari kebijakan tersebut. Efek yang pertama, adalah hilangnya jejak historis. Departemen
Agama dulu dibangun para pendahulu
kita – khususnya KH. A. Wahid Hasyim
– dalam rangka mensejahterakan madrasah. “Istilah ini sudah mencakup
pesantren, majelis taklim dan juga madrasah yang ada sekarang ini,” terangnya.
Jadi, simpul Wakil Ketua IAI Tribhakti Kediri ini, antara Kementerian
Agama dan madrasah & pondok pesantren itu kaitannya erat sekali. “Lha
kalau keduanya justru mau dilimpahkan
ke Kemendikbud, kan otomatis menghilangkan tujuan yang mulia tersebut,”
ungkapnya.
Efek yang kedua, sambung alumnus S1 Al Ahqaf University Hadralmaut
Yaman International Islamic University
(IIU) Islamabad Palestina ini, pemindahan itu tentu akan mengubah tata
manajemen, administrasi dan sistem
koneksi dari pusat hingga akar rumput
secara signifikan. “Saya rasa ini perubahan sangat revolusioner. Jika ini
benar-benar diterapkan, maka beberapa
tahun ke depan pasti akan stagnan,”
kata pria kelahiran Surabaya 22 September 1980 ini menegaskan.
Selama ini, tutur lelaki yang kini sedang menempuh S3 di UGM Yogyakarta
ini, sistem, administrasi dan manajemen
yang diterapkan Kemenag untuk ma-
Pendidikan Islam itu tak saja
membentuk peserta didiknya
untuk pintar otaknya semata,
lebih dari itu juga harus
cemerlang hatinya.
drasah dan pontren sudah cukup bagus.
Mulai dari pusat hingga daerah sudah
mulai tertata. Pihak-pihak yang mengurus Madrasah Diniyah dan pondok
pesantren juga sama-sama sudah
menata dirinya. Kapasitas dan wawasan
keilmuan merekapun cukup mumpuni.
Bahkan tak sedikit dari mereka yang
menempati posisi penting di negeri ini.
Kalau pengelolaan madrasah dan
pontren jadi dipindahkan ke Kemendikbud, ujar Ketua RMI Jawa Timur ini,
yang menjadi pertanyaan besarnya
apakah Kemendikbud benar-benar berkompeten. “Jangan-jangan nanti malah
akan masuk ke jurang kezaliman. Sebab
ini termasuk dalam kategori memasukkan sesuatu yang bukan pada tempatnya,” katanya berterus terang.
Kalau cuma soal menghilangkan
dikhotomi pendidikan umum dan agama, ulas anggota Dewan Fatwa MUI
Kota Kediri ini, kan tidak harus mengubah sistem birokrasinya. Jadi tidak
harus dengan melimpahkan madrasah
dan pontren ke Kemendikbud. “Kalau
dirasa sistem birokrasi madrasah dan
pesantren kurang mampu, kenapa
nggak sistem yang ada di Kemendikbud
saja yang diterapkan di madrasah dan
pontren,” tuturnya mempertanyakan.
“Saya kira ini jauh lebih bijak ketimbang
harus memboyong kesana,” tambahnya.
Dengan tetap berada di Kementerian Agama, lanjut pengurus bidang
Litbang FKUB Kota Kediri ini, maka
sumbangsih pemikiran dan ide-ide dari
Kemenag melalui madrasah dan pesantren buat bangsa ini tidak hilang. Di sisi
lain, kita bisa tetap mempercayakan dan
menggunakan tenaga yang sudah berkompeten. “Bukankah sesuatu itu kalau
diserahkan yang tidak berkompeten justru akan rusak semua,” tukas suami
Niswatul Arifah ini mengingatkan.
Dr. (H.C.) Ir. KH. Salahuddin
MPA 343 / April 2015
13
Wahid sesungguhnya kurang mempercayai jika wacana tersebut benarbenar akan diterapkan. “Jika hal itu jadi
diterapkan, kita pasti menolaknya.
Sebab kalau sampai madrasah dan pesantren diserahkan ke Kemendikbud,
pendidikan agama akan terdiskrimi-
pemerintah seharusnya justru lebih
memperhatikan keberadaan pesantren
sebagai lembaga pendidikan tertua di
Indonesia. Sebab selama ini pemerintah
sangat kecil sekali perhatian dan bantuannya. “Selama ini Kementerian Agama saja perhatiannya masih kurang be-
Dr. (H.C.) Ir. KH. Salahuddin Wahid
nasi,” tegasnya. “Bayangkan, berapa
ribu madrasah nantinya akan hanya
berada di level direktorat. Dengan dana
yang makin kecil tentu tak akan bisa
mengelola pendidikan agama dengan
baik,” urainya.
Pengasuh pontren Tebuireng
Jombang ini mempertanyakan potensi
Kemendikbud untuk mengelola pendidikan agama terutama pondok pesantren. “Tahu apa mereka tentang itu semua,” tukasnya serius. “Saya tegaskan
sekali lagi, pondok pesantren sangat
tegas menolaknya,” tandasnya.
Menurut Rektor UNHASY (Universitas Hasyim Asy’ari) Tebuireng ini,
14
MPA 343 / April 2015
kriminasi lagi. “Biarkanlah pendidikan
agama yang telah berjalan 70 tahunan
itu berada di bawah naungan Kementerian Agama. Jangan membuat suasana
yang tidak kondusif,” harapnya.
Bagi pria kelahiran Jombang 11
September 1942 ini, semestinya peme-
Gus Reza Ahmad Zahid
sar, Apalagi jika dipindah ke Kemendiknas. Tentu perhatian dan bantuannya
akan jauh semakin kecil,” ungkapnya.
Menurut Gus Shalah – demikian
dirinya kerap dipanggil, sebenarnya
upaya tersebut sudah ada pada rancangan undang-undang Sisdiknas tahun
2003. Tapi di DPR semuanya menolak,
kecuali PDI-P. “Jika sekarang ada lagi
wacana seperti itu, tentu kita harus tahu
apa tujuannya secara jelas,” pintanya.
Lebih-lebih jika melihat keberadaan lembaga pendidikan agama tidak
setara dengan pendidikan umum. Kalau
itu digabungkan akan menjadikan lembaga pendidikan agama kian terdes-
rintah lebih memperhatikan masalah
mutu. Baik mutu guru, sarana, kesejahteraan dan lain sebagainya. Itu jauh
lebih baik ketimbang mengurusi sesuatu
yang belum jelas alasannya. “Penggabungan itu menjadi mungkin jika 20-30
tahun ke depan mutu pendidikan agama
sudah sejajar dan setara dengan pendidikan umum sehingga tak ada diskriminasi. Yang pasti, saat ini hal itu
sangat tidak mungkin,” tandasnya.
Laporan:
Muhammad Hisyam (Surabaya),
Alfiatu Solikah (Kediri),
Mohammad Farihin (Pasuruan).
Mendongkrak Prestasi
dengan Gerakan ‘Shubuh Berjamaah’
Keakraban masyarakat dengan
ritual keagamaan, kian waktu makin berkurang – khususnya di kalangan remaja.
Apalagi menyemarakkan budaya Shubuh seperti yang terjadi di masa lampau.
Dulu, selepas shalat Isya’ anak-anak
dan remaja masih akrab dengan lingkungan musholla atau masjid. Mereka
tidak langsung pulang, tapi belajar dan
tidur di sana. “Menyemarakkan kembali
budaya Shubuh memang bukan perkara
mudah,” tukas Drs. H. M. Anwari Sy,
MA berterus terang.
Peran madrasah, kata Kepala
MAN 1 Jember ini, masih sangat terbatas. Sebab di madrasah mereka tidak
hidup bersama selama 24 jam.
Berbeda dengan di pesantren.
“Jadi hal paling logis menerapkan pembiasaan itu ya
lewat pesantren,” terang mantan Kepala MAN 3 Jember ini.
Pembiasaan penerapan
disiplin shalat pada anak, ujar
lelaki kelahiran Jember 8
Agustus 1955 ini, memang
diakui sangat berperan dalam
pembetukan karakter mereka.
Dengan disiplin shalat, akan
muncul kesadaran. “Siswa
yang rajin shalatnya, pasti akan mampu
menyaring infiltrasi dari luar,” ujar suami
St. Julaikha, M.Pd ini. “Kedisiplinan
shalat akan menjadi perisai diri,” tandas
mantan Kepala MTsN Umbulsari ini
serius.
Namun demikian, perilaku yang
mencerminkan kesempurnaan shalat
seseorang tak sertamerta tercipta begitu
saja. Tapi perlu dilakukan pembiasaan
sejak usia dini. Dan madrasah adalah
pusat pendidikan yang bagus untuk
membentuk karakter mereka. “Jika
madrasah tak mengajarkan shalat sejak
dini, maka hilanglah akhlakul karimah
di lingkungan madrasah,” jelas ayah tiga
anak ini.
Pendidikan shalat di madrasah,
diharapkannya diterapkan sesuai dengan perkembangan kejiwaan. “Kita
harus membentuk kultur disiplin shalat
itu dengan rasional sehingga dapat diterima siswa,” tuturnya. “Jika shalat wajib, maka dibiasaakan untuk jamaah.
Tapi untuk shalat sunnah seperti Dhuha
tidak perlu diwajibkan untuk jamaah,”
tambah Wakil Ketua Musyawarah Kelompok Kerja MAN se-Jatim ini.
Selain menggalakkan 22 ekskul
pengembangan bakat dan potensi, kini
MAN 1 Jember juga sudah mendirikan
Ma’had. “Kyai Ahmad Shidiq pernah
berpesan, agar jangan meninggalkan
shalat,” tukasnya. “Lewat Ma’had ini
kami ingin membangun kultur pendidikan keagamaan pada siswa secara
disiplin dan penuh kesadaran,” tandasnya.
Sebelum gerakan ‘Shubuh Berjamaah’ booming, MTsN 1 Tulungagung telah mengawalinya dengan ge-
rakan ‘Budaya Shubuh’. Para guru dan
anak-anak dibiasakan shalat Shubuh
berjamaah. Gerakan yang digagas Drs.
H. Kirom Rofi’i, M.Pd.I selaku Kepala
MTsN 1 Tulungagung ini, sudah dimulai sejak tahun 2011.
Metodenya, adalah melalui telepon
seluler. Dia mengirim SMS kepada empat
Waka. Lantas pesan itu diteruskan kepada para guru. Bagi guru yang merangkap wali kelas kemudian meneruskannya ke seluruh siswa yang memiliki
ponsel. Gerakan ‘Budaya Shubuh’ ini
bernilai plus, yakni memantik kesadaran
para Waka dan guru untuk menunaikan
shalat malam.
Menurut Kirom – sapaan akrabnya, pesan singkat itu dikirimkan kepada
empat Waka pada pukul 03.15 dini hari.
Jika Waka belum membalas, maka akan
diulanginya sampai tiga kali. Dari gerakan pesan berantai itulah, sehingga
kini bangun di awal pagi menjadi kebiasaan.
Pria yang pernah meraih penghar-
gaan sebagai ‘Guru Madrasah Berprestasi’ tingkat Jawa Timur tahun 2003 ini
mengakui, kebiasaan bangun sebelum
Shubuh telah memberikan kontribusi
positif terhadap kedisiplinan siswa.
“Siswa kelas IX yang harus masuk pada
jam ke nol yaitu pukul 05.30 WIB, mereka bisa tepat waktu,” tuturnya bangga.
Dampak positif itupun juga tercermin dari tingkat kehadiran 100 persen
siswa kelas VII dan VIII, yang datang
sebelum jam pelajaran kesatu dimulai.
“Dengan tidak bangun terlambat, siswa
bisa datang tepat waktu dan lebih siap
menerima pelajaran,” urainya.
‘Budaya Shubuh’ terbukti memberi
dampak pada prestasi siswa.
MTsN 1 Tulungagung menjadi langganan juara pada berbagai perlombaan yang diikuti. Tak berselang lama madrasah ini meraih juara pada
KSM tingkat Kabupaten dan
berhak mengirimkan wakilnya
pada KSM tingkat Provinsi.
Merekapun juga menonjol dalam ekstrakurikuler. Di
bidang kepanduan misalnya,
Pramuka MTsN 1 Tulungagung juga menjadi langganan juara pada lomba-lomba kepramukaan tingkat Kabupaten. Indikator lain,
tercermin pula dari banyaknya siswa
yang diterima di sekolah-sekolah favorit
dan menjadi pemasok rutin siswa MAN
Insan Cendekia.
Menurut Bapak empat anak ini,
‘Budaya Shubuh’ telah membuat para
siswa menjadi terbiasa meluangkan
waktunya pada jam istirahat untuk
shalat Dhuha dan tilawah al-Qu’ran.
Budaya jabat tangan kepada guru sebagai penanaman rasa hormat kepada
pendidik, sudah menjadi pemandangan
biasa di madrasah ini. “Masyarakat juga
memberikan apresiasi terhadap kesantunan budi para siswa,” ujarnya. “Kini
kian banyak wali siswa yang mempercayakan anaknya untuk dididik di madrasah ini. Dengan kompetisi meraih bangku di sini yang cukup tinggi, kami bisa
mendapatkan input yang berkualitas,”
pungkasnya.
Laporan: Dedy Kurniawan
(Surabaya), Siti Fatimah (Tuluangung).
MPA 343 / April 2015
15
Kongres Umat Islam Indonesia ke VI
Mengkritisi Masalah Ekonomi, Politik dan Budaya
Kongres Umat Islam Indonesia
(KUII) ke VI usai digelar. Dari acara yang
dihelat pada tanggal 8-11 Pebruari 2015
tersebut, lahir sebuah kesepakatan
yang disebut dengan ‘Risalah Yogyakarta. Banyak hal yang dibahas dalam
kegiatan yang bertajuk “Penguatan
Peran Politik, Ekonomi dan Sosial
Budaya Umat Islam untuk
Indonesia yang Berkeadilan dan Berperadaban’ ini.
Dalam kongres tersebut, tutur Ainul Yakin, setidaknya ada tiga hal besar
yang mencoba dikritisi.
Pertama, seputar persoalan
ekonomi. Di Indonesia
tengah terjadi gerakan kapitalisme di bidang ekonomi yang makin kuat. “Perekonomian Indonesia kini
sedang ditarik ke arah kapitalisme dan liberalisme
ekonomi,” ujarnya. “Pemerintah sekarang tak terlibat
lagi persoalan BBM. Pemerintah sudah tidak mau campur tangan tentang hal-hal semacam itu,” katanya mencontohkan.
Persoalan energi, lanjut Sekretaris
MUI Jawa Timur ini, juga telah diserahkan pada mekanime pasar. Maklum jika
harganya jadi fluktuatif. “Penanganan
orang sakitpun masyarakat disuruh
patungan sendiri melalui BPJS,” paparnya. “Jadi, pemerintah tak mau lagi ikut
ambil bagian. Bahkan pihak negara
justru ikut mengambil keuntungan dari
orang sakit melalui asuransi BPJS,”
tukasnya geram.
Yang muskil, kata alumnus S1 Fak.
Farmasi dan S2 PSDM PPS Universitas
Airlangga Surabaya ini, penguasaan dan
pengelolaan aset-aset negara justru
diserahkan pada pihak swasta. Sebagai
akibatnya, adalah terjadinya privatisasi.
“Pengelolaan bahan-bahan pokok seperti
beras dan gula, yang mengatur harganya adalah pasar. Maka tentu yang jadi
korban adalah rakyat kecil,” tegasnya.
“Pada musim panen para pemain kapitalis
besar menurunkann harga. Dengan
begitu terpaksa para petani menjual
gabahnya dengan harga sangat murah,”
tambahnya mengungkap fakta.
16
MPA 343 / April 2015
Di sisi lain, sambung penulis buku
‘Halal di Era Modern’ dan ‘Menolak
Liberalisme Islam’ ini, kita seakan tak
menyadari kian menjamurnya supermarket di pelosok-pelosok desa. “Semua itu
jelas bersumber dari ekonomi kapitalis
dan liberalis,” tandasnya. “Negara ini
benar-benar telah didominasi kaum ka-
pitalis dan liberalis. Pertarungan ideologi ekonomi bangsa ini sedang dikuasai
oleh mereka,” katanya menegaskan.
Kongres KUII kali ini juga menyoroti persoalan budaya dan politik
yang ada di tengah-tengah bangsa ini.
Repotnya, ideologi pasar juga tengah
mendikte politik dan budaya yang ada.
Ambil misal soal Miss World. Dulu hal
itu dianggap tabu karena bertentangan
dengan adat dan tradisi ketimuran. Namun kini hal tersebut dianggap wajarwajar saja. Bahkan mereka disebut sebagai anak bangsa yang telah mengharumkan nama bangsa.
Bagi kandidat doktor Unmuh Surabaya ini, hal itu merupakan pergeseran
paradigma akibat dimenangkannya
budaya global. Alhasil, masyarakat saat
ini tak lagi sensitif menikmati sajian
televisi yang mengeksplorasi hiburan
dan mengumbar aurat. “Sungguh kita
tak menyadari kalau pola pikir kita telah
tereduksi dari nilai-nilai kebenaran,”
jelasnya.
Pria kelahiran Jombang 14 Januari
1969 ini lantas menyodorkan contoh.
Kaum perempuan kini tengah gandrung
dengan tayangan ‘Jodha Akbar’. Di situ
ditampilkan sosok Jodha, sebuah figur
yang nyaris tak pernah salah. Padahal
dia beragama Hindu yang hidup di tengah-tengah kaum Muslim yang penuh
intrik politik. “Masyarakat mengira ini
bagian riil dari sejarah. Padahal jelasjelas ada disain politik yang hendak meruntuhkan nilai-nilai keislaman,”
terangnya.
Salah satu tujuan diadakan Kongres Umat Islam kemarin, tutur alumnus
beberapa pesantren di Jawa Timur ini, agar umat Islam bangkit dan menyadari
bahwa kita sedang menghadapai begitu banyak tekanan dan persoalan. “Inilah yang membuat kita semakin terpuruk. Untuk itulah, kita harus segera bangun dari tidur nyenyak
ini,” tegasnya.
Namun demikian, auditor LPPOM MUI Jawa
Timur ini menyadari jika
pihak MUI selalu terbentur dengan
keterbatasan. Hingga kini MUI belum
memiliki media yang bisa menjadi
kepanjangan tangannya. Apalagi media
sekarang telah dikuasai kaum kapitalis
yang tentunya tidak begitu senang terhadap perkembangan Islam. “Sehingga
berita-berita seputar KUII tak terakses
secara baik ke masyarakat,” tukasnya.
“Bahkan tak sedikit yang justru menghembuskan kecurigaan dan mengadudomba sesama umat Islam,” tambahnya.
Peneliti di Institute Pemikiran dan
Peradaban Islam (INPAS) ini mengingatkan tentang tesis Huntington,
bahwa tidak terelakkan terjadinya benturan antara peradaban Barat dan Islam. Kekuatan Barat akan terlikuidasi
Islam jika mereka tak melakukan upayaupaya perlawanan. “Itulah sebabnya
Barat terus-menerus mengamati negara
mana yang mempunyai populasi masyarakat yang mayoritas Islam,” paparnya.
“Indonesia adalah negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia. Kita memang tak dibikin perang seperti di Timur
Tengah. Tapi pikiran kita sedang dirusak
dan dilemahkan,” pungkasnya mengingatkan. M. Tajuddin Nurcholis
Kriminalitas Pelajar
Miris dan sangat memprihatinkan
Angka kriminalitas yang
dilakukan kaum pelajar kian hari
makin memprihatinkan. Menurut
data Unit Remaja, Anak dan Wanita
Polda Jatim, yang menempati
peringkat pertama dalam kasus
kriminalitas yang melibatkan anak
dan remaja, adalah kasus
persetubuhan. Sementara berada di
ranking kedua dan ketiga, adalah
kasus percabulan dan kasus
penganiayaan.
Data yang pernah dirilis oleh
Telepon Sahabat Anak (TeSA)
129 Jatim maupun HotLine
Pendidikan Jawa Timur, juga
menunjukkan gambaran yang
sama tentang kasus
kriminalitas yang melibatkan
anak dan remaja.
Tertangkapnya beberapa
artis remaja dalam kasus
narkoba oleh BNN, sejumlah
kasus pesta miras yang
melibatkan siswa, beragam
berita pembegalan yang
dilakukan sejumlah remaja,
serta peristiwa tawuran antar
pelajar, menambah panjang
deretan daftar kriminalitas
yang melibatkan anak dan
remaja. “Miris dan sangat
memprihatinkan,” tukas Drs.
Istiqlal Arif Lazim.
Menurut Direktur
Perguruan Al Irsyad Surabaya
ini, tren penyimpangan
perilaku yang dilakukan
pelajar dari tahun ke tahun
memang semakin meningkat.
Sebab anak-anak zaman
sekarang memiliki akses
informasi lebih bagus dan
lebih cepat. “Internet, tontonan
televisi, HP, hingga tayangan hiburan
lainnya secara live telah
mempengaruhi karakter kepribadian
kaum remaja saat ini,” terangnya.
“Yang sangat disayangkan, semua itu
disajikan tanpa filter yang kuat,
sehingga harus mencerabut identitas
budaya bangsa sendiri,” ujarnya.
Globalisasi yang ditunjang
dengan derasnya laju teknologi
informasi, menjadikan manusia di
seluruh belahan bumi bisa saling
berinteraksi dan bertukar gagasan
tanpa batas ruang dan waktu. “Kini
kita tak lagi mengenali karakter desa
dan kota, mana orang yang
berpendidikan tinggi maupun rendah.
Sebab, baik cara berpakaian, berpikir,
bahkan cara dia berbicarapun hampir
tak jauh beda,” selorohnya sembari
menyungging senyum.
Yang dia sayangkan, perubahan
Drs. Istiqlal Arif Lazim
itu tak dibarengi dengan benteng diri
yang kuat. Sehingga tak sedikit orang
yang terseret laju roda peradaban.
“Maka yang terjadi sekarang adalah,
baik buruk tidak lagi dilihat dari
ukuran sosial, tapi sudah menjadi
urusan masing-masing individu,” kata
ayah satu anak ini. “Anak-anak kini
mudah saja meniru apa yang
dilihatnya dari media-media tersebut
tanpa ada filter sama sekali. Ini sangat
memprihatinkan,” tandasnya.
Tak hanya identitas budaya
bangsa yang tercerabut, tapi juga
karakter nilai keagamaan dalam diri
seseorang yang terenggut. Yang
dianut masyarakat, bukan lagi
tuntutan agama, melainkan
modernitas yang glamour. Sebagai
pendidik, apalagi di lingkungan
sekolah berbasis keagamaan, terang
alumni Fakultas Tarbiyah Universitas
Muhammadiyah Surabaya ini, kita
mesti prihatin. “Maka sudah
menjadi kewajiban kita untuk
membimbing para siswa,
kembali pada spirit dan
tanggung jawab sebagai
seorang Muslim,” tukasnya.
“Ini harus dimulai dari
keluarga kita masing-masing,
karena itu adalah hal yang
mendasar. Dan itu adalah
pendidikan keteladanan,”
tandasnya menambahkan.
Oleh karena itu, para
pendidik maupun orangtua,
agar lebih hati-hati dan
mewaspadai tumbuh kembang
anaknya. Cara terbaik untuk
membentuk karakter akhlakul
karimah, adalah kita harus
bisa menjadi teladan yang
baik bagi anak-anak kita.
“Salah satu caranya, dengan
mengajak anak-anak kita
untuk selalu mengikuti shalat
jamaah, baik di sekolah
maupun di rumah,” kata
alumni pondok pesantren
Maskumambang Dukun
Gresik ini.
Pendidikan keagamaan,
paparnya, harus ditanamkan kepada
anak-anak sejak dini. “Salah itu wajar.
Tapi harus berani bertanggung jawab
dan menerima resiko,” tukasnya. “Jika
pondasi keagamaan bisa mendasari
kita dalam menjalani hidup, insya
Allah bangsa ini akan menjadi bangsa
yang bermartabat,” tandasnya. Ded
MPA 343 / April 2015
17
Khatam Al-Qur’an Sebelum Lulus Sekolah
Tri Budianto, S.Ag
Apa yang dilakukan MIN Takeran
Magetan dalam membiasakan siswasiswinya mencintai al-Qur’an, kiranya
patut dicontoh. Sudah menjadi rutinan
pagi hari, lantunan ayat-ayat al-Qur’an
bergema dari pengeras suara di lingkungan madrasah dipandu oleh guru yang
sekaligus qori’.
Setahun ini, bagi setiap siswanya
yang mau lulus diwajibkan mengkhatamkan al-Qur’an terlebih dahulu. “Ini merupakan bagian dari menanamkan nilai
keagamaan pada anak. Karena al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat Islam sehari-hari,” ujar Tri Budianto, S.Ag.
Guna menunjang keberhasilan program pengkhataman tersebut, setiap
harinya para siswa kelas 5 ditambah jam
mengajinya. Jam tambahan ini dimulai
seusai jam pelajaran hingga jam 13.45.
Para wali muridpun merespon dengan
baik dan merasa senang dengan program tersebut. Mengingat penambahan
jam ini akan memberikan pembiasaan
kepada anak mereka untuk membaca alQur’an. Apalagi biasanya pada jam-jam
tersebut dipakai untuk bermain.
Sebanyak 20 guru telah siap sedia
mendampingi dan membimbing 100
siswa yang ada. Setiap guru mendampingi 5 siswa, dengan menggunakan
sistem sorogan. Setiap anak menyetor
satu persatu kepada guru. Tak ada rasa
lelah ataupun bosan dari para siswa
maupun guru, mengingat mereka sangat
menikmati proses tersebut. Apalagi
siswa dibebaskan menentukan tempat
mengajinya, sehingga mereka merasa
nyaman. “Jadi, siswa bisa mengaji di
musholla, di teras kelas atau di bawah
pohon,” ungkap pak Budi, sapaan akrab
Kepala MIN Takeran ini seraya senyum.
Pada setiap tatap muka, setiap siswa diharuskan menyetor bacaannya.
Disediakan pula buku prestasi yang
menjadi tolok ukur pencapaiannya. Unsur bacaan dan tajwid menjadi hal penting yang sangat ditekankan. Namun
begitu, siswa juga diperbolehkan untuk
menambah khataman al-Qur’an di rumah
dengan didampingi orangtua dan dibuktikan dengan tanda tangan. Meski nantinya akan dicroscheck-ulang oleh guru
pendamping. “Karena ada juga wali
murid yang mempunyai latar belakang
pengasuh pondok,” kata alumnus S1
Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.
Di tahun ini, proses tersebut dilaksanakan lebih awal, yakni saat siswa
kelas 5 menginjak semester genap. Ditargetkan pada semester ganjil kelas 6, semua siswa sudah mengkhatamkan alQur’an. Dengan proses selama dua semester, diharapkan tahun ini bisa lebih
sempurna karena waktu yang disediakan cukup panjang.
Melihat perkembangan yang ada,
menunjukkan ke arah tersebut. Banyak
para siswanya yang telah lancar membaca al-Qur’an. Mereka mempunyai perkembangan yang cukup menggembirakan. “Meskipun ada beberapa siswa
yang perlu pendampingan lebih. Tapi
jumlahnya sangat sedikit,” kilahnya.
Sebagai bentuk apresiasi dari madrasah yang salah satu siswanya pernah menjuarai MTQ tingkat Kabupaten
ini, seluruh siswa yang telah khatam
berhak mengikuti acara wisuda khatam
al-Qur’an. Acara itu memang dikemas
khusus untuk menimbulkan rasa bangga dan kecintaan kepada al-Qur’an.
Tentu saja, disamping memotivasi adik
kelas mereka untuk menirunya.
Hal itu terbukti dengan semangat
yang diperlihatkan para siswa yang mengkhatamkan pada tahun ini. Apresiasi dukungan juga mengalir dari wali murid,
berupa bantuan-bantuan yang terus mengalir demi suksesnya pelaksanaan wisuda Khatmul Qur’an. Baik bantuan moril
maupun materiil. “Wali murid sudah merasakan sendiri dampak dari adanya program ini. Salah satunya, anak semakin sering mengaji di rumah lantaran keinginan
mereka untuk diwisuda,” paparnya.
Dari proses pengkhataman alQur’an ini, tak sedikit siswa yang juga
telah mampu menghafalkan salah satu
juz al-Qur’an; yakni juz ‘Amma. Oleh
karenanya, Madrasah Ibtidaiyah yang
seringkali mewakili Kabupaten Magetan
di ajang Provinsi ini punya harapan ke
depan. “Mudah-mudahan setelah program khatam al-Qur’an ini sukses, kami
akan kembangkan untuk tahfidz juz
‘Amma,” ujar suami Wahyuni Rahmawati ini berharap. Syam/Kurdi
Para siswa dibimbing guru di tempat nyaman di teras kelas (kiri) dan prosesi wisuda khotmil qur'an (kanan)
18
MPA 343 / April 2015
PENYAKIT HATI dan SAKARATUL MAUT
Saya mempunyai seorang sahabat
berumur sekitar 32 tahunan bernama
Muhammad, kata Pak Khalid (nama
panggilan Dr.dr.Khalid bin Abdul Aziz
Al-Jubair, SpJP, dokter spesialis bedah
dan jantung Rumah Sakit Angkatan
Bersenjata/RSAB Saudi Arabia di Riyadh) mengawali sebagian kisah nyatanya yang diperoleh selama berpraktek
di rumah sakit tersebut. Ia (Muhammad)
telah terkena penyakit kanker otak.
Meskipun telah berobat ke luar negeri,
akan tetapi Allah Swt rupanya belum
menakdirkan kesembuhan untuknya.
Kemudian ia dimasukkan ke RSAB di
Riyadh. Pada bulan-bulan terakhir dari
kehidupannya ia tidak sadarkan diri. Seluruh wajahnya membengkak, khususnya daerah hidung dan kedua matanya.
Sehingga orang-orang yang menjenguknya tidak tega memandangnya.
Untuk mengantisipasi jika ia meninggal saat malam hari, maka saya minta kepada rekan-rekan di RSAB untuk
menghubungi keluarganya. Saya juga
minta segera dihubungi jika sahabat
saya itu sedang menghadapi sakaratul
maut. Sampai pada waktunya, pukul 6
pagi pihak RSAB menelpon saya. Setibanya di rumah sakit saya bertanya
kepada salah seorang perawat mengenai detak jantungnya. “Tiga puluh perdetik dan tekanan maksimal tiga puluh
lima”, jawabnya. Saya segera memasuki
ruang rawatnya (dengan cemas). Tetapi
apa yang terjadi kemudian? Sungguh
membuat saya ta’ajjub. Bagaimana tidak?, wajah yang kemarin dan hari-hari
sebelumnya membengkak dan menakutkan, hidung yang membesar, dan mata
yang menonjol keluar, saat itu semuanya
telah kembali normal. Seakan tidak
pernah terjadi apa-apa. Saya mendekatinya dan memutar tempat tidurnya kearah kiblat. Kemudian saya menyapanya, “Muhammad”!, Ia menyahut,
“Yaa”, Lantas ia memanggil saya, “Khalid”! Saya menjawabnya, “Yaa, bagaimana keadaanmu?” Ia menyahut, “Alhamdulillah, aku dalam keadaan baik”.
Lantas saya katakan kepadanya, “Ucapkanlah, “Asyhadu anlaa ilaha illallaah
wa anna Muhammadar rasulullaah”.
Ia mengucapkan dua kalimah syahadat
itu, lalu ia pergi menghadap Rabb-nya
untuk selama-lamanya. Semoga Allah
Swt merahmatinya, amiin.
Saya bertanya-tanya kepada diri
sendiri (kata Pak Khalid), amal perbuatan apa yang telah ia lakukan, sehingga
ia berhak untuk memperoleh anugerah
husnul-khaatimah ini?. Lebih-lebih
Rasulullah Saw pernah mengingatkan,
“Man kaana aakhiru kalamihi minad
dunyaa laa ilaha illallaahu dakhalal
jannata; Barang siapa ucapan terakhirnya di dunia kalimat (Laa ilaha
illallah) tiada tuhan selain Allah, maka ia akan masuk surga”, (HR.Ahmad
5 : 233). Saya juga menjadi heran, sebab
sepengetahuan saya ia bukanlah tipe
orang yang banyak beribadah, walaupun ia selalu menjaga shalat lima waktunya dan selalu berhati-hati dalam
menjahui larangan-larangan Alah Swt.
Saya yakin, pasti ia mempunyai suatu
amalan ibadah yang istimewa sehingga
ia mendapatkan kehormatan untuk
mendapatkan husnul-khatimah dengan
mengucapkan dua kalimah syahadat
dengan lancar di penghujung hayatnya.
Ketika saya bertanya kepada ayahnya, sang ayah menjelaskan bahwa,
“Anak-ku itu sangatlah aneh, aku belum
pernah menemui orang yang hatinya
lebih mulia dari padanya; ia tidak pernah tertarik terhadap harta milik orang lain, ia tidak mengenal sifat dengki maupun iri, ia selalu membawa cinta
dan kasih sayang kepada siapapun,
mungkin hal-hal itulah yang telah mengantarkannya ke derajat husnul-khatimah diakhir hidupnya”.
Kisah nyata diatas, mengisyaratkan adanya hubungan yang kuat /
korelasi significant antara penyakit hati
terhadap proses sakaratul maut. Mereka yang terbebas dari penyakit hati akan
berakhir pada husnul-khatimah (akhir
kehidupan yang baik). Sebaliknya mereka yang terkontaminasi penyakit hati
akan berujung dalam kubangan suulkhatimah (akhir kehidupan yang jelek).
Dalam peristiwa diatas, Muhammad
yang berada pada maqam terbebas dari
penyakit hati iri dan dengki, sehingga
ia tak pernah tertarik terhadap harta milik
orang lain. Bahkan mampu mengembangkan kasih sayang/silaturahim kepada siapapun. Disamping ibadah mahdhah dan amalan shalihan yang lain;
kiranya telah mengundang rahmat Allah Swt berupa kesembuhan dirinya walau sesaat menjelang sakaratul maut,
serta kemudahan dalam mengucapkan
dua kalimah syahadat pada saat naza’
menutup pintu kehidupannya bihusnilkhatimah.
Iri dan dengki, adalah dua jenis dari
sejumlah penyakit hati yang sangat ber-
bahaya. Pintu segala kerusakan, jalan
menuju berbagai macam dosa, penyebab utama keretakan rumah tangga, dan
perpecahan ummat. Ia dapat memusnahkan kebaikan, menghancurkan amal
shaleh, menjerumuskan kedalam ghibah, adu domba, kebohongan, penipuan, dan kedholiman. Bahkan dalam sebuah riwayat diisyaratkan, “ia dapat
membakar kebaikan sebagaimana api
membakar kayu bakar”. Oleh karena
itu, kita harus bekerja keras disertai doa
memohon kepada Allah Swt agar terhindar dari penyakit itu, sebagaimana
doa yang pernah dipanjatkan oleh orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar) : “Yaa Rabb
kami, ampunilah kami dan saudarasaudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah
Engkau tanamkan kedengkian dalam
hati kami terhadap orang-orang yang
beriman. Yaa Rabb kami, sungguh
Engkau Maha Penyantun dan Maha
Penyayang”, (QS. Al-Hasyr : 10). Disamping, “memohon perlindungan
Allah Swt dari kejahatan orang-orang
yang dengki apabila dia dengki “(QS.
Al-Falaq : 5).
Seseorang yang dalam hatinya terjangkit dan tumbuh penyakit iri dan
dengki, tidak akan dapat merasakan ketenangan dan ketentraman. Bahkan pertentangan batin dan gundah gulana selalu berkecamuk dalam hatinya karena
maunya selalu ingin mengintai orang lain. Penyakit hati termasuk iri dan dengki
disebabkan oleh keragu-raguan atau
hawa nafsunya, bukan penyakit fisik.
Karena itu, tidak ada seorang dokter ahli
bedah jantungpun yang dapat menghilangkan penyakit ini dengan peralatan
bedahnya. Satu-satunya obat adalah
kembali bertaubat dan tha’at kepada
Allah Swt dan selalu berdzikir kepadaNya. Shalat adalah dzikir yang paling
utama. Karena, “Shalatlah yang dapat
mencegah dari perbuatan-perbuatan
keji dan mungkar”, (QS.Al-Ankabut :
45). Selanjutnya selalu berdzikir mengingat Allah Swt, dengan mentadabburi
Al-Quran, membaca tasbih, tahlil, tahmid, membiasakan dzikir pagi dan sore,
memperbanyak istighfar, berdoa dan
bermujahadah. Karena,”Hanya dengan
mengingat Allah Swt, hati menjadi tenteram”, (QS.Al-Ra’d : 28). Wallaahul
A’lam. (diolah dari kesaksian seorang
dokter, khalid bin abdul aziz al-jubair
2009, serta sumber lain) AHAR
MPA 343 / April 2015
19
Wanita Teladan
S
ejarah Islam hanya mencatat sedikit
saja nama ulama perempuan. Kita
lebih mengenal nama ulama lelaki
daripada perempuan. Malah, kita juga
lebih mengenal Imam Syafii, Imam
Hanafi, Imam Hanbali, Imam Maliki, dan
banyak lagi. Tapi tak pernah mendengar
dari siapa mereka belajar. Populariti ulama
perempuan tenggelam di sebalik karisma
mereka yang belajar darinya. Walhasil tak
ada hilir jika tak ada hulu. Tak kenal maka
tak sayang. Kita memang tak tahu mereka.
Jadi, bagaimana kita menyayanginya?
Ada satu nama, Sayyida Nafisa
namanya. Darinya Imam Syafii memperoleh pengajaran ilmu fiqh, Quran
dan hadis. Pendiri salah satu dari empat
mazhab. Ia menyusul cucu Imam Hasan
Ali Abi Thalib, lima tahun setelah
perempuan itu berada di Kaherah, Mesir.
Tapi nama Sayyida Nafisa seolah tak
dikenal umat Islam. Mereka hanya tahu
Imam Syafii, pendiri mazhab Syafii.
Sayyida Nafisa lahir di Madinah pada
tahun 145 Hijriah. Ia keturunan langsung
Nabi Muhammad SAW melalui cucu
beliau Imam Hasan. Putera pasangan
Imam Ali dan Sayyida Fatimah itu memiliki seorang anak bernama Zaid, dan
selanjutnya Zaid mempunyai anak bernama Hasan al-Anwar, ayah Nafisa. Jadi,
Hasan al-Anwar adalah cucu Imam Hasan.
Kerana itu, wajar jika Sayyida Nafisa
juga mewarisi kecerdasan sekaligus
kefasihan berbicara. Dari keluarganya,
ia memperoleh pengetahuan tentang
Islam. Pendeknya jalur kekeluargaan serta
kehidupan keseharian yang ia jalankan
membuat wawasannya tentang al-Ouran
dan hadis Nabi sangat luas.
Nafisa kecil selalu dibawa ayahnya
ke Masjid Nabawi untuk shalat dan
bermunajat. Hasan Al-Anwar yang sempat
menjadi gabenor Madinah biasa berlamalama di makam datuknya Muhammad
SAW. Nafisa kecil mendampingi tiap kali
ayahnya ke Al Haram. Kala itu usianya
masih kecil. Ia masih dituntun menuju
makam Rasul sampai usianya enam tahun.
Hasan Al-Anwar kerap memperkenalkan anaknya pada Rasulullah. ”Ya
Rasulullah, ini aku datang bersama
puteriku Nafisa.” Kunjungan itu ia lakukan
20
MPA 343 / April 2015
terus sampai satu kali ia bermimpi berjumpa datuknya yang mengatakan senang
berjumpa Nafisa. Rasulullah dalam mimpi
Hasan mengaku senang pada Nafisa
kerana Allah juga menyukainya.
Kebiasaan semasa kecil terbawa terus.
Nafisa menjadi perempuan yang rajin
belajar dan terus-menerus beribadah di
masjid. Karena itu tak heran jika sejak
kecil ia telah menghafal Al-Quran dan
mengerti hukum Islam sejak belia lagi.
Melanjutkan tradisi keluarga Rasul, ia juga
terbiasa bermunajat di makam Rasul.
Kefasihan bicara, penguasaan ilmu
yang baik serta kekhusyukannya beribadah menjadikan Nafisa rujukan penduduk Madinah yang hendak bertanya.
Perempuan yang sangat zuhud dan alim
ini segera disukai penduduk Madinah.
Ia kemudian punya beberapa gelar
antara lain Nafisat Al Ilm wal Ma’rifat,
Nafisat Tahira (wanita suci), Nafisat Al
Abida (Nafisa ahli ibadah), Nafisat Al
Darayn, Sayyidat Ahlul Fatwa, Sayyidat
Al Karamat dan Umm Al Awaajiz.
Kesemuanya itu merujuk pada kehidupan
dan keulamaannya.
Diusia 16 tahun, Nafisa menikah. Ia
disunting Ishaq Mu’taman, keturunan
langsung Imam Husain, saudara Imam
Hasan putra Imam Ali dan Sayyida
Fatimah. Dari pernikahan ini, Nafisa
memiliki dua anak Al Qasim dan
Ummu Kaltsum.
Menikah, tak menjadikan perempuan
ini menarik diri dari kegiatan belajar dan
mengajar. Kerana memang itu pesan yang
disampaikan datuknya Muhammad SAW.
Ia juga berangkat ke Makkah untuk ibadah
haji. Dan ia memilih jalan kaki sementara
yang lain berkendaraan unta. ”Aku malu
pada datukku Muhammad bila pergi
ke Makkah berkendaraan.” Begitu dia
memberi alasan.
Saat berusia 44 tahun, Sayyida Nafisa
hijrah ke Mesir. Tak ada penjelasan mengapa ia pindah ke negeri di seberang benua
itu. Namun sebelum ia tiba, simpati
masyarakat telah diperolehnya. Masyarakat Mesir sangat menghormati ulama
perempuan keturunan Rasulullah SAW.
Saat datang, Sayyida Nafisa disambut bak
puteri. Ia diarak dengan lagu-lagu shalawat.
Putri Hasan Al-Anwar ini lantas
tinggal di kediaman Jamaluddin Abdullah
Al Jassas, rakannya yang orang Mesir. Tiap
saat rumah ini selalu dikerumuni orang.
Mereka datang untuk belajar, meminta
doa, bertabarruk, atau ikut beribadah.
Merasa tak enak hati dengan pemilik
rumah, Sayyida Nafisa pindah ke rumah
temannya Ummu Hani yang sekarang
berada di daerah al Hasaniyya. Namun
kepindahan tak membawa perubahan.
Umat Islam Mesir dari berbagai pelosok
masih mengunjunginya.
Pada akhirnya, Sayyida Nafisa merasa
terganggu kekhusyukan dalam berdoa.
Rumahnya selalu ramai. Sementara tak
mungkin menolak permintaan masyarakat
yang datang meminta doa, ia merasa kehilangan waktu untuk berdua saja dengan
Sang Pencipta, atau saat ia hendak berbicara dengan datuknya Rasulullah SAW.
Perempuan ini menyerah. Ia memutuskan untuk kembali ke Madinah Al
Munawwarah. Namun, keputusannya
mengecewakan rakyat Mesir. Melalui
gabenor Mesir, mereka memohon salah
satu keturunan Nabi itu tak meninggalkannya. Umat Islam Mesir memerlukan
bimbingannya. Mereka merasa kehadiran
Sayyida Nafisa membawa berkah.
Lagi-lagi ia tak dapat mengelak.
Sayyida Nafisa mengalah. Ia tak mungkin
meninggalkan masyarakat yang begitu
mencintainya. Ia memutuskan untuk
tinggal. Tentu masyarakat Mesir bersukaria
Sebagai rasa terima kasih, gubernur
Mesir kala itu Sirri bin Hakam menghadiahkan sebuah rumah di tempat lain.
Rumah itu berada di lahan yang lebih
besar. Dengan begitu kerumunan dapat
ditampung. Ia juga boleh mengatur
waktu untuk bermunajat, mengajar dan
menerima kunjungan. Pada akhirnya ia
menerima masyarakat pada hari tertentu.
Selebihnya adalah waktu peribadi untuk
ibadah dan mengajar.
Di rumah baru itu kemudian Sayyida
Nafisa menerima murid. Ia khusus
mengajar hukum Islam, Al-Quran dan
hadis. Salah satu muridnya yang kemudian
sangat terkenal adalah Imam Syafii. Imam
Sayyida Nafisa lahir di
Madinah pada tahun 145
Hijriah. Ia keturunan
langsung Nabi Muhammad
SAW melalui cucu beliau
Imam Hasan. Putera
pasangan Imam Ali
dan Sayyida Fatimah
itu memiliki seorang
anak bernama Zaid,
dan selanjutnya Zaid
mempunyai anak bernama
Hasan al-Anwar, ayah
Nafisa. Jadi, Hasan alAnwar adalah cucu Imam
Hasan.
Syafii datang lima tahun setelah Nafisa
tiba di Kaherah. Murid lain yang juga
menjadi besar adalah Utsman bin Said Al
Misri, Dzun Nun Al Misri, dan Masri Al
Samarkandi.
Imam Syafii dan Sayyida Nafisa lantas
berkerjasama. Mereka mengelola majlis
pembelajaran itu bersama. Di tempat
Sayyida Nafisa, Imam boleh tinggal enam
jam dalam sehari. Ia mengajar ilmu kalam,
figh dan tafsir. Syafii
Imam Syafii juga memimpin shalat di
markas Sayyida Nafisa. Gurunya itu akan
menjadi makmum dan berdiri di belakang.
Sampai saat sakitnya, Syafii masih berkunjung ke rumah Sayyida Nafisa. Ia meminta
doa. Dan saat tak mampu lagi berjalan,
ia mengirim muridnya untuk duduk di
majlis yang dipimpin Sayyida Nafisa.
Si murid lantas menyampaikan
salam Imam Syafii. ”Saudara sepupumu
ini tengah terbaring sakit. Doakan aku
agar segera sembuh.” Begitu pesan yang
dititipkan Imam Syafii buat guru Sayyida
Nafisa. Sampai satu saat, Sayyida Nafisa
mengatakan kepada orang yang dipesan
kata-kata ‘Mudah-mudahan Allah akan
bertemu dengannya. Sebuah pertemuan
yang teramat baik.’
Pesan tersebut dimaknai Imam Syafii
sebagai pertanda bahwa saat kematiannya
telah dekat. Ia lantas mengirimkan lagi
utusan yang menyampaikan permohonan
terakhir agar Sayyida Nafisa berkenan
mensolatkan jenazahnya setelah ia
meninggal.
Sayyida Nafisa mensolatkan Imam
Syafii di rumahnya, tempat mereka biasa
mengaji bersama. Jenazah Imam Syafii
dibawa ke rumah Sayyida Nafisa untuk
disolatkan.
Ulama yang satu ini hidup sebagai
seorang sufi. Diriwayatkan ia hanya
makan sekali tiap tiga hari. Ia bahkan
menyalurkan lagi hadiah yang diberikan
gubernur Mesir berupa wang kepada
orang miskin di sekitarnya. Apapun yang
dihadiahkan kepadanya akan ia sebar lagi
kepada mereka yang memerlukannya. Ia
lebih rela memilih hidup miskin meski
mampu untuk hidup mewah.
(dipetik dari Ummahonline, AS)
MPA 343 / April 2015
21
Ibu Sebagai Agen Perubahan
Dalam Kehidupan
Oleh : Imam Mahmud, MHI*)
Rasulullah SAW bersabda :
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu
‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang
kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah,
kepada siapakah aku harus berbakti
pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi
wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang
tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa
lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam
menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut
bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’
Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut
bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,
‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no.
5971 dan Muslim no. 2548)
Imam Al-Qurthubi menjelaskan,
“Hadits tersebut menunjukkan bahwa
kecintaan dan kasih sayang terhadap
seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya
dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi
shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan
kata ibu sebanyak tiga kali, sementara
kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu
sudah kita mengerti, realitas lain bisa
menguatkan pengertian tersebut. Karena
kesulitan dalam menghadapi masa hamil,
kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan
pada saat menyusui dan merawat anak,
hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga
bentuk kehormatan itu hanya dimiliki
oleh seorang ibu, seorang ayah tidak
memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X
: 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa
ibu memiliki keutamaan yang lebih besar
dibandingkan ayah)
Sebagaimana kita ketahui bersama
bahwa setiap tanggal 21 April dirayakan
hari Kartini. Tujuannya, agar anak-anak
perempuan bangsa ini –bisa menela-
22
MPA 343 / April 2015
dani kiprah pejuangannya. Dia telah
berasil menjebol tembok raksasa yang
menghalangi perempuan Indonesia menuntut ilmu dan berjuang demi negaranya
di luar rumah. Dari perjuangan beliau,
kaum perempuan berhasil untuk cancut
tali wondo terjun ke dunia pendidikan
dan perjuangan sebagaimana kaum lakilaki pada umumnya.
Perempuan khususnya seorang ibu
adalah instrumen utama yang sangat
berperan sebagai agen perubahan. Ia
hakikatnya sama dengan seorang bapak,
yakni sama-sama sebagai manusia,
yang memiliki potensi dasar yang sama
berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik.
Sedangkan dalam konteks masyarakat,
keberadaan ibu merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dengan bapak, dimana
keduanya diciptakan dengan mengemban
tanggungjawab yang sama dalam mengatur dan memelihara kehidupan ini sesuai
kehendak penciptanya.
Ibu memiliki peran utama di rumah,
sebagai manager rumah tangga serta
pendidik anaknya agar menjadi generasi
unggul. Para perempuan ( baca: ibu ) dapat
melakukan aktivitas politik dengan tidak
mengabaikan kewajibannya sebagai ibu
dan pengatur rumah tangga. Perannya ini
akan menjaga bangunan institusi keluarga
sebagai unit terkecil dari masyarakat dan
negara. Peran ini bukan remeh temeh.
Ini adalah peran politik dan strategis
perempuan yang memiliki kontribusi
sangat besar dalam pembentukan keluarga
yang tangguh, generasi terbaik dan
masyarakat madani, bukan posisi inferior,
tersubordinasi peran suami.
Tentu saja, perempuan diwajibkan
cerdas dengan terus menuntut ilmu
sebagai bekalnya. Darimana mendapatkan
ilmu ini ?. Jika tak mampu diperoleh di
rumah, dibolehkan keluar rumah seperti
ke majelis ilmu atau pendidikan formal.
Siapa yang mengajarkan? Bisa sesama
perempuan. Karena itu, peran strategis
perempuan di ranah publik juga sebagai
inspirator yang berkontribusi dalam mencerdaskan kaumnya.
Karena itu, semestinya pengarusutamaan peran perempuan saat ini
adalah berupa pencerdasan politik pada
perempuan. Ini agar mereka memahami
hakikat diri dan berkiprah sesuai
fitrahnya. Jangan sampai perempuan,
khususnya sebagai muslimah tenggelam
dalam arus pemberdayaan ala Barat
yang akan menggerus dan selanjutnya
menghilangkan identitasnya sebagai
muslimah sejati.
Kontribusi yang dapat diberikan
perempuan untuk peradaban cemerlang
adalah, pertama: menjadi ibu yang
ideologis, yaitu ibu yang faham Islam
secara kaffah baik aqidah maupun
syariah. Sejarah mencatat, ibu yang
ideologis seperti yang dilakukan ibu
Imam Syafi’i yang mengajari putranya
hingga hafal Al Qur’an pada usia tujuh
tahun dan menjadikannya mujtahid,
contoh lain Asma’ Binti Abu Bakar yang
berhasil mendidik Abdullah Bin Zubair
sebagai ahli ibadah, mapun Al Khansa’
yang mendorong empat putranya untuk
mati Syahid. Para perempuan ini lahir dari
peradaban yang cemerlang, yaitu Islam.
Kedua, perempuan sebagai istri berdiri
men-support suami guna menguatkan
perannya dalam berbagai kiprah, dan ketiga
senantiasa terlibat aktif dalam perjuangan
mengajak masyarakat menyadari bahwa
pangkal persoalan kehidupannya adalah
penerapan sistem demokrasi yang rusak
dan merusak. Untuk itu dibutuhkan kesungguhan dan keseseriusan pada seorang
muslimah untuk tidak berhenti berperan
dalam kancah politik meskipun harus
menghadapi berbagai kesulitan menuju
Indonesia lebih baik dengan menerapkan
Syari’ah Islam di negeri ini.
Hal–hal yang harus
dilakukan kepada ibu
1. BERBAKTI KEPADA IBUNYA
Motivasi anak untuk berbakti kepada
seorang ibu harus di bangun sejak dini.
Kali ini kita bisa menyimak contoh orang
yang terbaik dalam berbakti kepada
seorang ibu. Diceritakan oleh Abi Burdah,
ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di
sekitar Ka’bah sambil menggendong
ibunya di punggungnya. Orang yaman itu
bersenandung,
Artinya “Sesungguhnya diriku adalah
tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila
tunggangan yang lain lari, maka aku tidak
akan lari.”
Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu
Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah
membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar
menjawab, “Engkau belum membalas
budinya, walaupun setarik napas yang ia
keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul
Mufrad no. 11; Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dalam sebuah riwayat diterangkan :
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma
bahwasanya seseorang mendatanginya
lalu berkata: bahwasanya aku meminang
wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia
menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah
aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas
berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia
menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata:
bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan
dekatkanlah dirimu kepadaNya sebisamu.
Atho’ bin Yasar berkata: maka aku pergi
menanyakan kepada Ibnu Abbas kenapa
engkau tanyakan tentang kehidupan ibunya?
Maka beliau berkata: ‘Aku tidak mengetahui
amalan yang paling mendekatkan diri
kepada Allah ta’ala selain berbakti kepada
ibu’. (Hadits ini dikeluarkan juga oleh Al
Baihaqy di Syu’abul Iman (7313), dan
Syaikh Al Albany menshahihkannya, lihat
As Shohihah (2799)
Pada hadits di atas dijelaskan bahwasanya berbuat baik kepada ibu adalah
ibadah yang sangat agung, bahkan dengan
berbakti kepada ibu diharapkan bisa
membantu taubat seseorang diterima
Allah ta’ala. Seperti dalam riwayat di atas,
seseorang yang melakukan dosa sangat
besar yaitu membunuh, ketika ia bertanya
kepada Ibnu Abbas, apakah ia masih
bisa bertaubat, Ibnu Abbas malah balik
bertanya apakah ia mempunyai seorang
ibu, karena menurut beliau berbakti
atau berbuat baik kepada ibu adalah
amalan paling dicintai Allah sebagaimana
sebagaimana membunuh adalah termasuk
dosa yang dibenci Allah.
Berbuat baik kepada ibu adalah amal
sholeh yang sangat bermanfa’at untuk
menghapuskan dosa-dosa. Ini artinya,
berbakti kepada ibu merupakan jalan
untuk masuk surga.
2. JANGAN MENDURHAKAI IBU
Dalam sebuah hadits Rasulullah
shalallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibuibu kalian, mengubur anak perempuan
hidup-hidup, menolak kewajiban dan
menuntut sesuatu yang bukan menjadi
haknya. Allah juga membenci jika kalian
menyerbarkan kabar burung (desasdesus), banyak bertanya, dan menyianyiakan harta.” (Hadits shahih, riwayat
Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, AlMaktabah Asy-Syamilah)
Ibnu Hajar memberi penjelasan
sebagai berikut, “Dalam hadits ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan
terhadap seorang ibu. Sebab,ibu adalah
wanita yang lemah. Selain itu, hadits ini
juga memberi penekanan, bahwa berbuat
baik kepada itu harus lebih didahulukan
daripada berbuat baik kepada seorang
ayah, baik itu melalui tutur kata yang
lembut, atau limpahan cinta kasih yang
mendalam.” (Lihat Fathul Baari V : 68)
Sementara, Imam Nawawi menjelaskan, “Di sini, disebutkan kata ‘durhaka’
terhadap ibu, karena kemuliaan ibu yang
melebihi kemuliaan seorang ayah.” (Lihat
Syarah Muslim XII : 11)
3. BUATLAH IBU TERTAWA
“Seseorang datang kepada Rasulullah
shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan berkata,
“Aku akan berbai’at kepadamu untuk
berhijrah, dan aku tinggalkan kedua
orang tuaku dalam keadaan menangis.”
Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Kembalilah kepada kedua orang
tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya
menangis.” (Shahih : HR. Abu Dawud (no.
2528), An-Nasa-i (VII/143), Al-Baihaqi
(IX/26), dan Al-Hakim (IV/152))
4. JANGAN MEMBUAT IBU MARAH
“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata,
“Ridha Allah tergantung ridha orang
tua dan murka Allah tergantung murka
orang tua.“ (Adabul Mufrod no. 2. Syaikh
Al Albani mengatakan bahwa hadits ini
hasan jika sampai pada sahabat, namun
shahih jika sampai pada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam)
Kandungan hadits diatas ialah kewajiban mencari keridhaan kedua orang tua
sekaligus terkandung larangan melakukan
segala sesuatu yang dapat memancing
kemurkaan mereka.
Seandainya ada seorang anak yang
durhaka kepada ibunya, kemudian ibunya
tersebut mendo’akan kejelekan, maka do’a
ibu tersebut akan dikabulkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana dalam
hadits yang shahih, Nabi Shalallaahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tiga do’a yang dikabulkan oleh
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tidak
diragukan tentang do’a ini: (1) do’a
kedua orang tua terhadap anaknya, (2)
do’a musafir-orang yang sedang dalam
perjalanan-, (3) do’a orang yang dizhalimin.” (Hasan : HR. Al-Bukhari dalam
Al-Adabul Mufrad (no. 32, 481/Shahiih
Al-Adabil Mufrad (no. 24, 372))
Jika seorang ibu meridhai anaknya,
dan do’anya mengiringi setiap langkah
anaknya, niscaya rahmat, taufik dan pertolongan Allah akan senantiasa menyertainya. Sebaliknya, jika hati seorang ibu
terluka, lalu ia mengadu kepada Allah,
mengutuk anaknya. Cepat atau lambat, si
anak pasti akan terkena do’a ibunya.
Wal iyyadzubillaah.
*) Penulis Staf Bimas Islam
Kemenag Kab Nganjuk
MPA 343 / April 2015
23
Maudlu’i Kontemporer
Pengasuh :
Prof. Imam Muchlas, MA
03
ONTOLOGIS - MAHA
(Al-Quran=>Hadis=>Ijtihad)
AD 4 WAHYU
Secara ontologis maka benar yang
tertinggi tidak dapat dikalahkan oleh
data yang indrawi, teori ilmiah dan
filsafat ialah wahyu yaitu kebenaran dari
Allah. Menurut Islam maka Al-Quran
adalah wahyu dari Allah yang diturunkan
melalui malaikat Jibril, diterima oleh
Rasulullah Muhammad Saw yang dihafal
oleh Rasulullah Saw yang hafalan beliau
sudah diuji oleh malaikat Jibril ditulis
oleh para penulis wahyu. Maka Zaid bin
Tsabit menyaksikan sendiri ujian oleh
Jibril dia koreksi hafalan dan tulisannya
cocok dengan ulangan dari Jibril kepada
Rasulullah Saw yang terakhir ini.
Oleh karena itulah maka Anslemn
memutuskan suatu keyakinan bahwa
dari seluruh skala prioritas deretan yang
saling mengalahkan data ke-1, data ke-2,
data ke-3, ke-4, ke-5, ke- ke-6 dan seluruh
peringkat di atas…… Maka terakhir
sampailah ke puncak yang tertinggi,
terakhir bahwa ADA SATU DZAT YANG
TIDAK DAPAT DIKALAHKAN OLEH
APAPUN JUGA …. ITULAH TUHAN
(Kata Anslemn). Menurut ajaran Islam
namanya Allah.
(6) Filsafat dan
Masalah Filosufis
Di bawah ini terurai beberapa masalah
filosufis yang sangat sulit difaham,
maka yang tidak ingin masuk ke dalam
dipersilahkan, yang ingin masuk kedalam
alam filsafat monggo!!!.
(i) Hakikat AKU diri manusia
Masalah: Apa sebenarnya hakikat
AKU diri manusia itu? Jawaban sederhana: Hakikat AKU diri manusia itu
ialah gulungan film rekaman seluruh
alam indrawi dan metafisis yang masuk
ke dalam akal pikiran melalui panca
indra manusia di bawah kendali ruh. Kita
renungkan uraian menurut teori pakar
fisikawan dan ulama tafsir di bawah ini:
a. Keterangan Pakar
Ilmu Jiwa-kedokteran
Dr Paryana dari Akademi Metafisika
Yogya menggambarkan hakikat AKU diri
manusia itu bagaikan gulungan film yang
24
MPA 343 / April 2015
menyimpan data & fakta hasil pengamatan
indra lahir dan indra batin serta seluruh
gerak gerik setiap detik seseorang.
Jika kita terjemahkan teori dari Dr.
Paryana tersebut adalah sebagai berikut:
Bahwa bagian yang paling kecil tubuh
manusia adalah atom, salah satu unsur
dari atom namanya electron. Perlu diingat
bahwa electron itu bukan materi tetapi
makhluk gaib bahkan electron itu adalah
potensi atau daya- dia adalah salah satu
isi alam metafisika yang tidak dapat
dicapai oleh alat indra melainkan hanya
direnungkan oleh akal.
Elektron ini dapat dibayangkan
persis seperti wartawan surat kabar,
atau media cetak-elektronik, electron
bagaikan wartawan kerjanya meliput
dan merekam data&fakta sampai suara
bahkan gambar yang berwarna sekali
dari prikel (data&fakta) yang disaksikan
oleh elektron dari atom tubuh manusia.
Secara metafisis (hanya dapat dibayangkan
dalam pikiran) bahwa fotokopi data&fakta
tersebut berwujud elektron atau elektron
ini membawa sendiri foto-rekaman
data&fakta sehingga deretan elektron dari
setiap atom jasmani manusia ini berjalan
mengalir menjadi gulungan pita film.
Sampai di pangkal otak maka elektron
(pita-film) ini diantar oleh instunk dan
menyatu berpadu menjadi satu bahkan
instink inilah yang mengendalikan
eketron dan aktif berperan menentukan
taktik strategi politik, perilaku dan
tindakan dalam menanggapi prikel
(data & fakta) yang masuk ke pusat akal
(otak besar); Instink atau nafsu-nafsu ini
dispekulasikan sebagai “Dalang” yang
mengendalikan semua ini sehingga dapat
dinamakan RUH atau jiwa yang berpadu
dengan rekaman atau foto kopi data&fakta
yang masuk tersebut.
Di dalam otak besar seluruh data
& fakta itu dikelola, dibagi-dan disalurkan ke jurusan khusus, pusat pemikiran,
pusat gerak, pusat ingatan dan gudang
simpanan.
Proses pemikiran menghasilkan
politik, taktik, strategi, metodik-dedaktik
pemecahan masalah. Kemudian “dalang”
atau ruh mengeluarkan perintah gerak atau
tindakan dalam menanggapi atau reaksi
terhadap prikel (data& fakta) yang masuk
itu, selanjutmnya melalui syaraf jalurnya
maka perintah gerak tadi diwujudkan
dalam perbuatan nyata oleh anggota
tubuh, tangan, kaki dan sebagainya
menjadi tindakan lahiriyah yang dapat
disaksikan oleh panca indra orang lain
bertemu dan berbincang-bincang antara
AKU diri manusia tadi dengan siapa yang
menyaksikannya.
Paduan isi gulungan film ini sangat
lengkap sekali mencakup foto kopi atau
rekaman seluruh peri laku, perbuatan
apapun juga bahkan sampai niat, keinginan,
angan-angan, program perencanaan, citacita, utopis bayangan yang paling tinggi
seluruhnya menjadi satu rol film yang
mengaku sebagai oknum AKU tersebut.
b.1. Pandangan Qurani
masalah Zat Hayat (Jiwa)
Dalam berbagai ayat Al-Quran maka
Allah menyebut-nyebut masalah Roh
dengan beberapa istilah, yaitu:
“Ruhun Minhu” (S. 4 An-Nisa’ 171),
“Min Ruhina” (S. 21 Al-Anbiya’, 91)
At-Tahrim 12),
“Min ruhihi)” (S. 32 As-Sajdah 9),
“Min ruhi” (S. 15 Al-Hijru 29,
S. 38 Shad 72)
Maksudnya ialah bahwa roh itu
datangnya dari Allah atau rohnya Allah.
Kata-kata ini jika dipikirkan terlalu jauh
memang akan bertambah sulit dimengerti,
misalnya : Bagaimana cara datangnya roh
itu dari Allah? Bagaimana memahami roh
kepunyaan Tuhan itu? Untuk memahami
keterkaitan sesuatu dengan Allah maka
Ibnul Qayyim menjelaskan :
l Sesuatu yang menyatu dengan Allah
ialah dzat dan sifat atau nama Allah
seperti sifat qudrat-iradat Allah dan
sifat Allah yang 20 ataupun 99 nama
Al-Asmaul Husna itu.
l Sesuatu yang disandarkan kepada Allah
selain dzat dan sifat, atau nama mananya
adalah makhluk ciptaan Allah.
Oleh karena itu kata-kata “Roh dari
Tuhan atau roh Kami dan dari rohKu” tersebut maksudnya ialah roh atau
arwah makhluk ciptaan Allah. Kemudian
dihembuskan ke dalam mudlghah
atau zat awal jasmani manusia seluruh
anak keturunan Nabi Adam, ketika
janin berumur 120 hari, sebagaimana
keterangan Rasulullah Saw. dalam hadis
beliau yang disebutkan dalam hadis dari
Ibnu Mas’ud yang dicatat oleh Bukhari
no.2960 dan Muslim no.4781.
“Dari Zaid bin Wahb berkata 'Abdullah
telah bercerita kepada kami Rasulullah Saw,
dia adalah orang yang jujur lagi dibenarkan,
bersabda: "Sesungguhnya setiap orang dari
kalian dikumpulkan dalam penciptaannya
ketika berada di dalam perut ibunya selama
empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah
(zigot) selama itu pula kemudian menjadi
mudlghah (segumpal daging), selama itu
pula kemudian Allah mengirim malaikat
yang diperintahkan empat ketetapan dan
dikatakan kepadanya, tulislah amalnya,
rezekinya, ajalnya dan sengsara dan
bahagianya lalu ditiupkan ruh kepadanya.
Dan sungguh seseorang dari kalian akan
ada yang beramal hingga dirinya berada
dekat dengan surga kecuali sejengkal saja
lalu dia didahului oleh catatan (ketetapan
taqdir) hingga dia beramal dengan amalan
penghuni neraka dan ada juga seseorang
yang beramal hingga dirinya berada dekat
dengan neraka kecuali sejengkal saja lalu
dia didahului oleh catatan (ketetapan
taqdir) hingga dia beramal dengan amalan
penghuni surga"( HR Bukhari No. 2960 dan
Muslim 4781).
Perlu dicatat bahwa seluruh atom
dalam tubuh jasmani manusia itu bekerja
keras mengirimkan elektron hasil dari
pengamatan atas data & fakta termasuk
kegiatan pikiran ini sendiri dan semua
syaraf penyalur perbuatan yang dilalui
oleh electron data&fakta mengalir dari
dan atau ke pangkal otak. Dan seluruh
elektron (data&fakta) itu disimpan dalam
pusat ingatan atau gudang penyimpanan
data&fakta dalam otak.
Rol gulungan film rekaman data
& fakta inilah sebenarnya hakikat yang
menamakan diri AKU, dan AKU inilah
yang menggerakkan badan jasmani manusia itu sndiri. AKU inilah yang menjawab
jika dipanggil, AKU inilah yang mengeluarkan pidato yang gegap gempita atau
berbisik-bisik dengan sangat halus sekali.
Dan sekali lagi INI HANYA DAPAT
DIRENUNGKAN DALAM ALAM
PIKIRAN sehingga terlalu sulit difahamkan para pembaca (mohon maaf).
Dari sini terbayang bahwa seolaholah AKU tersebut diciptakan oleh dunia
yang mengelilingi dia sejak sebelum lahir
sampai detik-detik terakhir hidupnya
manusia. Maka banyak pakar Ilmu Jiwa,
Misalnya John Lock dan pakar psikologi
lainnya mengajukan teori TABULA
RASA bahwa jiwa manusia itu awalnya
seperti kertas putih kemudian terserah
kepada alam sekitar yang memberi isi dan
warna jiwa manusia atau orang tuanya
ingin menulis dan membuat gambar
pada kertas putih itu dengan tulisan atau
gambar menurut sesuka hatinya sehingga
tampaknya jiwa itu dibentuk oleh alam
sekitar. Dr Paryana menyatakan bahwa
zat hayat ini datang dari langit yang tidak
diketahui oleh akal.
b.2. Pandangan Qurani
tentang Asal Zat Hayat
Tantang asal usul kehidupan,
disinggung Al-Quran dalam S 21 Al-Anbiya’
30 diperjelas dengan ayat-ayat lain bahwa
dahulu di awal jaman Allah menciptakan
alam raya, kemudian Allah memberi air dan
dari air ini tumbuh segala jenis kehidupan.
Allah berfirman dalam Al Quran :
“Dan Allah telah menciptakan semua
jenis hewan dari air maka sebagian dari
hewan itu ada yang berjalan diatas
perutnya dan sebagian berjalan dengan
dua kaki, sedangkan sebagian (yang
lain) berjalan dengan empat kaki. Allah
menciptakan apa saja yang dikehendakiNya” (S. 24 An-Nur 45).
(ii). Roh dan masalahnya
Jika lafal “Ar-Ruh” bisa diartikan
nyawa maka timbul beberapa masalah
pemikiran tentang nyawa ini, yaitu :
1) Apakah sebenarnya hakikat roh itu?
2) Dari manakah asalnya roh itu?
3) Apakah roh itu qadim atau hadist,
kekal atau tidak?
Ad 1. Hakikat Roh
“….. Dan kamu lihat bumi ini kering,
kemudian apabila telah Kami turunkan air di
atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan
menumbuhkan berbagai macam tumbuhtumbuhan yang indah” (S.22 Al-Hajji 5).
Dapat kita bayangkan jika sebuah
benda logam misalnya kita taruh di luar
rumah dalam malam hari maka paginya
benda itu basah berair. Lebih dari itu
jika kita mempunyai kubangan berisi
air kita biarkan di sebelah rumah, maka
air ini makin lama tumbuh warna hijau
kemudian tumbuh lumut dan akhirnya
muncul makhluk hidup dibawah lumut
itu beraneka ragam bentuk dan cara
gerakannya. Oleh karena adanya air
inilah tanah yang tadinya kering berubah
menjadi arena kegiatan kehidupan sejak
tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia.
Allah berfirman dalam Al Quran:
“Dan Dialah yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa dan
singgasana Tuhan (sebelum itu) diatas air
agar Dia menguji siapakah diantara kamu
yang lebih baik amalnya” (S. 11 Hud 7).
Mengenai bagaimana hakikat roh,
telah dijelaskan oleh Allah swt. : “….
Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan hanya sedikit” (s 17 Al-Isra`
85). Namun para ahli pikir telah merabaraba sebagai berikut :
- Heracleitos berpendapat bahwa roh
itu sejenis api yang halus sekali;
- Democritus menyatakan bahwa roh itu
tersusun dari suatu atom yang paling
halus dan atom yang paling bersih;
- Plato mengatakan bahwa roh itu suatu
zat yang tak dapat ditangkap oleh panca
indera yang berasal dari alam idea;
- Al-Farabi seorang filosuf Islam (952
M) mengatakan bahwa roh itu timbul
sebagai pancaran dari emanasi dari
Tuhan yang Maha Esa.
Jika roh itu lebih diidentikkan
dengan makhluk halus seperti jin atau
setan-iblis, maka Al Quran mengatakan
bahwa iblis itu diciptakan dari api yaitu
sebagai berikut:
Artinya : “Allah berfirman : “Apakah
yang menghalangi kamu sehingga kamu
tidak bersujud (kepada Adam ketika Aku
menyuruh kamu? “Iblis menjawab : “Saya
lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan
saya dari api sedang dia Engkau ciptakan
dari tanah”. (S. 7 Al-A’raf 12).
Ad 2. Roh dan asalnya
Ibnu Sina senada dengan Al-Farabi
menandaskan bahwa roh manusia itu
sesuatu yang berdiri sendiri lepas dari
jasmaninya. Sehingga, jika jasmaninya
hancur maka roh itu tidak turut hancur.
Bersambung...
MPA 343 / April 2015
25
PP. Salafiah Nahdlatul Arifin Jember
Budidaya Jambu Merah di Bumi Karomah Bait Dua Belas
Kyai Arjuni Sanwani
PP. Salafiah Nahdlatul Arifin Jember
merupakan pondok tua di Jember. Pesantren ini didirikan pada awal tahun 1900-an
oleh Syekh H. Mohammad Nur yang dikenal
dengan karomah Bait Duabelasnya.
Syekh H. Mohammad Nur mendapatkan ilham Bait Duabelas setelah menjalankan Kholwah Suluk Mujahadah selama
9 tahun lamanya. Karena kealiman dan
beragam karomah yang dimiliki, Syekh. H.
Mohammad Nur lantas dipercaya sebagai
Waliyyullah Quthubul Ghouts.
Memulai aktivitas dakwahnya, Syekh
H. Mohammad Nur membeli tanah seluas
13 hektar di lereng Gunung Argopuro,
tepatnya di Desa Kemuningsari Lor
Kecamatan Panti Kabupaten Jember.
Kawasan pesantren ini, dulunya merupakan
hutan rimba yang dikenal wingit dan angker.
Banyak sekali binatang buas dan liar.
Beliau pun mulai membersihkan
beberapa area hutan dan mendirikan sebuah
gubug sederhana yang mirip saung. Atapnya
terbuat dari rumput ilalang dan daun rotan.
Sedangkan tiangnya berasal dari kayu dadap
yang masih basah. “Untuk mencukupi
kebutuhan sehari-hari, beliau bekerja keras
dengan bercocok tanam sayur-sayuran dan
palawija yang hasilnya dijual sendiri ke
pasar,” terang Kyai Arjuni Sanwani.
Makin lama, semakin banyak
masyarakat yang berdatangan untuk belajar
ilmu agama. Selain Jember, juga banyak dari
Banyuwangi, Bondowoso, hingga dari Jawa
Tengah, Jawa Barat, bahkan Sumatera.
“Kebanyakan santrinya saat itu berasal dari
Rembang Jawa Tengah,” kisah pria kelahiran
tahun 1942 ini. “Karena semakin banyak
yang datang, beliau lantas mendirikan
penginapan yang dindingnya terbuat dari
bamboo dengan alas jerambah dari bamboo
untuk para tamu yang nyantri yang
bermukim,” tambahnya.
Pondok pesantren yang baru berdiri
itu lantas diberi nama Nahdlatul Arifin, yang
memiliki arti dan makna Kebangkitan Orang-Orang yang Arif. Pesantren Salafiah
Nahdlatul Arifin pun kemudian lebih
dikenal dengan sebutan Pesantren Syekh
Haji Mohammad Nur.
Di zaman keemasannya, para santri
yang mondok di pesantren ini lebih banyak
dari kalangan para kyai. Sejak awal berdirinya
– meski tidak mengikuti aliran tariqah
tertentu – pesantren ini lebih mendidik para
santri untuk mengasah laku ati. Beragam
kitab Tasawuf yang hingga kini masih dikaji
di pesantren ini, antara lain kitab Ihya’
Ulumiddin, Minhajul Abidin, Fathul
Gerbang PP Salafiah Nahdlatul Arifin
26
MPA 343 / April 2015
Uluhiyyah, Insan Kamil, Jami’u Ushulil
Auliya’, Tafsir, Al-Hikam, Kifaayatul
Adzkiya’, Fathul Arifina Billah, juga
beberapa kitab kecil semisal Sulam Safina.
Syekh H. Mohammad Nur wafat pada
tahun 1946 di usia 138. Semenjak itu, santri
yang mondok di pesantren ini kian menurun.
Suasana pesantren menjadi sepi. Tidak lagi
banyak tamu yang datang untuk menimba
ilmu dan bertukar pikiran. “Dari situlah
kemudian muncul ide untuk mempertemukan kembali para alumni, jamaah dan
simpatisan beliau dengan menggelar
Peringatan Hari Ulang Tahun Karomah setiap tanggal 26 Maulud,” jelas anak pasangan
Kyai Sanwani dan Maryati ini.
Jamaahnya ribuan. Kepadatan
pengunjung mengular hingga radius kiloan
meter dari pesantren. Tak hanya alumni, tapi
juga para tokoh masyarakat dan ulama’, serta
pejabat Kab. Jember juga turut hadir. Yang
unik dari Peringatan Hari Ulang Tahun
Karomah Syekh H. Mohammad Nur, adalah
tidak adanya acara Tausiyah seperti galibnya
pada acara Haul pada umumnya. “Mulai
awal hingga akhir acara, kami hanya
menyenandungkan tembang dari syair Bait
Dua Belas,” papar suami Rohami ini.
Tak ayal, tembang berirama macapatan
seperti pangkur, sinom, dandanggula dan
lainnya terdengar mengalun syahdu
mengiringi sunyi Desa Kemuningsari Lor
Kecamatan Panti. Suasana sakral amat
terasa kala para jamaah melafalkan tiap baitbait dari Bait Dua Belas Syekh H.
Mohammad Nur.
Sepeninggal Syekh H. Mohammad
Nur, PP Salafiah Nahdlatul Arifin lantas
diasuh oleh para keturunnya secara
bergiliran, yaitu Syekh H. Moh. Nur, Kyai
Nawawi, lalu oleh Kyai Sanwani. Saat ini,
PP Salafiah Nahdlatul Arifin diasuh oleh
Kyai Arjun Sanwani yang merupakan
Reporter MIMBAR Sri Ratna bersama Kasi PD Pontren
Kab. Jember Ahmad Tholabi beserta para asatidz
Hasil Panen Buah Jambu Merah
generasi keempat dari Syekh H. Mohammad
Nur. “Saya ini kyai timbangan, timbang tidak
ada. Lha wong saya ini tidak bisa mengaji
kok. Makanya model ngajinya sekarang beda
dengan zaman beliau,” selorohnya sambil
terkekeh. “Saya dipilih karena saya dengan
Syekh H. Moh. Nur terhitung buyut. Ya..
untung saja saya tidak buyuten,” tambah
sembari terus berkelar.
Kyai Arjuni memang dikenal sebagai
kyai yang suka guyon. Banyak nasihat yang
ia sampai dengan nada kelakar, tapi penuh
makna. Menurutnya, ngaji model pesulukan
yang biasa diterapkan oleh Syekh H.
Mohammad Nur sekarang sudah tidak lagi
dilakukan. “Lha kyainya saja tak biasa
puasa. Malah banyak makannya saya ini.
Makanya gak sakti saya,” tukasnya sambil
melepas tawa.
Meski demikian, ada tradisi Syekh
yang masih tetap lestari hingga sekarang.
“Mbah buyut itu dikenal tak pernah meninggalkan shalat jamaah selama hidupnya,”
jelas ayah lima anak ini. “Pesantren ini tidak
mengikuti tariqah tertentu. Tapi sejak mbah
buyut, selalu ada tradisi Mulazamah, yaitu
melakukan shalat lima waktu berjamaah
selama 40 hari tanpa putus,” tambahnya.
Maka hingga sekarang, pada bulanbulan tertentu, tradisi ini selalu diikuti oleh
masyarakat dan pengikut Syekh H.
Mohammad Nur. Menurut Kyai Arjuni, laku
mujahadah ini sesuai dengan tuntunan
Rasulullah Saw. “Sabda Rasul Saw, siapa
yang shalat berjamaah selama 40 hari tanpa
ketinggalan takbiratul ikhramnya imam,
maka dicatat Allah dua perkara, satu lepas
munafiq dua lepas neraka,” papar alumni
PP Al Misri Curah malang ini. “Siapa yang
menemui takbiratul ihramnya imam, itu lebih
baik dari seribu haji dan umroh tapi sunnah,
pahalanya sama dengan sedekah emas
segunung uhud, dan tidak akan mati sebelum
melihat tempatnya di surga,” tambahnya.
Meski tak lagi ada tradisi khalwah
suluk untuk para santri, tapi pesantren ini
tetap melestarikan kajian kitab-kitab tasafuf
yang sudah ada sejak zaman Syekh H.
Mohammad Nur. Tembang syair Bait Dua
Belas masih disenandungkan oleh para
santri. Di setiap usai shalat lima waktu, kita
masih akan mendengar irama tembang yang
dirapal oleh para santri. Kesakralannya
masih amat terasa. Sebab keheningan pesantren ini masih terasa hingga sekarang.
Dengan lokasi yang jauh masuk ke
dalam alam pedesaan, pesantren ini masih
terjaga kedamainnya. Untuk menuju ke pesantren ini, kita mesti melintasi jalanan berkelok dengan pemandangan pesona alam
persawahan dan perkebunan yang menghijau.
Tak ada sekolah formal di pesantren
ini. Maka untuk membekali santri agar bisa
hidup mandiri di masyarakat, pesantren
memanfaatkan lahan persawahan dan
perkebunan peninggalan Syekh H. Mohammad Nur. Saat ini, ada sekitar 5 kebun dengan
luas yang berbeda. Ada yang berukuran 1,5
hektar, ada juga yang memiliki luas hingga
2,5 hektar. “Kebun itu ada yang kami tanami
Jambu Merah, Jambu Kristal, Durian,
Kelengkeng dan yang lainnya,” terang alumni
PP Blok Agung Banyuwangi ini.
Selain belajar menanam dan memelihara
kebun-kebun itu, memproses buah pasca
panen, para santri juga belajar pembibitan.
Saat ini, pesantren ini telah melakukan
pembibitan Jamu Merah dan Jambu Kristal,
juga ada pembibitan buah Durian Morntong,
Sirsak, Duku, Mangga, Kawista, maupun
Kelengkeng. “Saat ini, kami juga tengah
membubidayakan Jamur Tiram,” terang
Ustadz Nur Hadi.
Menurut Mbah Cangkok – demikian
ustadz Nur Hadi ini karib disapa – usaha
perkebunan milik pesantren sempat
mengalami kejayaan pada pertengahan
tahun 2000-an yang lalu. “Saat itu kan lagi
marak Jambu Merah untuk kebutuhan obat.
Dan waktu itu petani Jambu Merah belum
sebanyak saat ini,” terangnya.
Saat musim panen Jambu Merah tiba,
Budidaya Jarum Tiram
para santri akan dibuat semakin sibuk. Sebab
setiap dua hari sekali mereka bisa memanen
Jambu Merah sebanyak 5 Kwintal. “Panennya gantian. Tidak semuanya yang ada di
pohon kita ambil,” papar mbah Cangkok.
Hampir seluruh Mini Market,
Carrefour bergantung pada pasokan Jambu
Merah milik pesantren ini. Bahkan, kebin
wisata buah petik Agrokusuma Batu
dulunya juga berasal dari pesantren ini.
“Dulu bisa kirim seminggu sekali. Tapi kini
sudah tidak. Selain minim permintaan, harga
yang diberikan oleh mereka terlalu murah.
Bayarnya mundur lagi,” selorohnya sambil
mengulum senyum. Kini, pesantren langsung memasarkannya dengan mengirim ke
Pasar Tanjung Jember. Tiap dua hari sekali
kirim sebanyak 5 kwintal.
Sedangkan untuk buah Durian, dalam
setiap masa panennya, pesantren bisa
mendapatkan 1 ton lebih. “Tahun 2012-2013
kami panen durian sebanyak 1 ton 3 kwintal.
Sayangnya, di tahun 2014 kami gagal panen
karena terserang ulat,” terangnya.
Ke depannya, selain mendidik santri
dengan terampil membibit dan berkebun,
mbah Cangkok menginginkan agar kebunkebun ini juga bisa dimanfaatkan oleh para
siswa – khususnya di Jember – untuk belajar
budidaya tanaman. “Di lahan pembibitan,
selain untuk kepentingan budidaya, juga bisa
dijadikan lab kegiatan saintifik. Selebihnya,
bibit-bibit itu juga ada yang kita berikan gratis untuk pelestarian buah nusantara,”
ujarnya.
Saat ini, mbah Cangkok dengan dibantu
para santri, tengah mencoba melakuakn
rekayasa pada tanaman tembakau dan kayu
sengon tanpa proses kimiawi. “Saya ingin
petani tembakau bisa panen tiap dua bulan
sekali bukan empat bulan,” tukasnya serius.
“Kami juga tengah melakukan riset untuk
rekayasa kayu sengon agar bisa dipanen pada
tahun ketiga bukan tujuh tahun. Tapi
hasilnya sama, mohon doanya,” tandasnya.
 Dedy Kurniawan, Sri Ratna
MPA 343 / April 2015
27
TERSENYUM ATAU MENANGISKAH
(Sebuah Refleksi di Hari Kartini)
Oleh: Drs. Ahmad Zainul Arifin *)
Pada tanggal 21 April 1879, di
Jepara Jawa Tengah lahirlah seorang
putri bernama Raden Ajeng Kartini.
Meski ia seorang putri bangsawan, ia
hanya mendapatkan pendidikan dibangku Sekolah Dasar karena pada saat
itu wanita tidak boleh berpendidikan
lebih tinggi dari laki-laki. Ia di pingit
sambil menunggu di nikahkan. Ia sangat
sedih dengan kondisi yang demikian.
Ada keinginan yang kuat untuk
menentang dan berontak tapi ia takut
dikatakan sebagai anak durhaka.Untuk
mengisi kesehariannya, Kartini mengumpulkan dan membaca buku-buku ilmu
pengetahuan dan surat kabar. Melalui
buku-buku inilah ia tertarik dengan kemajuan berpikir wanita-wanita Eropa
(Belanda). Timbul keinginannya untuk
memajukan wanita Indonesia. Wanita
tidak hanya di dapur tetapi harus juga
memiliki ilmu pengetahuan. Ia mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajari tulis menulis dan ilmu pengetahuan.
Kartini juga banyak menulis surat
kepada teman-temannya dari negeri
Belanda. Melalui surat itu ia banyak
menuangkan pikirannya mengenai
masalah-masalah wanita Indonesia,
seperti rendahnya status sosial, tidak
mendapat hak untuk menuntut ilmu,
harus rela dinikahkan dan dimadu. Ia
juga menulis surat kepada Mr.J.H. Abendanon untuk mendapatkan beasiswa
belajar di negeri Belanda. Namun keinginannya untuk melanjutkan pendidikan di negeri Kincir Angin itu kandas,
tidak dapat direalisir karena ia di nikahkan oleh orang tuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat pada 12 Nopember 1903. Anak pertama sekaligus
terakhirnya lahir pada 13 September
1904, beberapa hari kemudian, 17 September 1904 Kartini meninggal dunia
pada usia 25 tahun, di makamkan di
28
MPA 343 / April 2015
Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten
Rembang.
Meski Kartini telah tiada, namun
ia telah mengambil tempat tersendiri di
hati masyarakat Indonesia. Cita-citanya
yang tinggi, tekadnya yang kuat dan
kiprahnya telah mampu mengilhami dan
menggerakkan langkah dan perjuangan
kaumnya dari stigma lama yang beku.
Melalui keberanian dan pengorbanannya dia telah menggugah dan mengeluarkan wanita Indonesia dari belenggu
kebodohan dan diskriminasi.
Sebuah peradaban baru telah terbuka, sebuah tatanan yang memberikan
pada wanita kesempatan dan hak yang
sama dengan pria. Kini, emansipasi itu
telah dinikmati oleh para wanita di negeri ini. Pada setiap sektor kehidupan
tidak lagi di dominasi para pria. Tidak
ada lagi bidang kehidupan yang terlarang bagi wanita untuk berkecimpung
didalamnya. Dalam bidang Pendidikan,
wanita memiliki hak yang sama dengan
pria untuk menempuh pendidikan tinggi.
Dalam bidang Olah raga, banyak dijumpai atlet wanita yang telah mengenalkan Indonesia kepada dunia. Dalam
bidang Pemerintahan, tidak jarang
wanita menduduki jabatan tinggi. Dalam
bidang Ekonomi, banyak di temui
pebisnis-pebisnis Indonesia (wanita)
yang telah go-internasional. Dalam bidang Entertain, betapa peran wanita
mampu membuat decak kagum praktisipraktisi dunia pada Indonesia. Demikian
pula pada bidang Agama, Hak Asasi
Manusia (HAM), Seni budaya, maupun
bidang - bidang soaial lainnya.
Kita patut berbangga pada realita
yang demikian, sehingga terlintas dalam
benak andai Kartini masih ada pasti
beliau akan tersenyum melihat kaumnya
telah mendapatkan hak setara dengan
pria. Memahami hal yang demikian
wajar bila Presiden Soekarno menetap-
kan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan melalui Kepres No. 108, tanggal
2 Mei 1964. Yah!.. Kartini memang tidak
memanggul senjata atau bambu runcing. Namun ia telah membawa mindset
yang dinilai tabu pada waktu itu, mendobrak paradigma yang hanya memposisikan wanita sekitar kasur, sumur dan
dapur, serta menyodorkan peradaban
yang mengangkat harkat dan martabat
makhluk Allah SWT yang berpredikat
wanita. Tepatlah harapan yang tergambar pada sebuah buku: Door Duisternis
Tot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, yang merupakan kumpulan suratsurat R.A.Kartini kepada teman-temannya di Eropa yang dibukukan oleh Mr.
J.H.Abendanon.
Setelah sekian dekade dilalui, Kartini-Kartini muda bermunculan, turut
aktif mengisi kemerdekaan. Dari Orde
Lama, Orde Baru sampai Era Reformasi
telah banyak torehan sejarah yang dibuat kaum wanita di negeri ini, mulai
dari bidang Olahraga, Hukum dan Peradilan, Perbankan, Keagamaan, Pemerintahan, Entertain, serta bidang-bidang
lain yang membuat kita semua tertegun
dan tersenyum bangga, karena wanita
telah mendapatkan haknya.
Namun adanya ungkapan bahwa
hidup ini berpasangan benar pula adanya, ada siang ada pula malam, ada positif tentu ada negatif, berlaku pula pada
wanita Indonesia. Kartini-Kartini muda
yang telah berjuang mengangkat harkat
dan martabat kaum wanita, KartiniKartini baru yang telah mencapai haknya dalam kesetaraan dengan kaum
pria, mereka hanyut pada euforia kemerdekaannya, terperangkap hegemoni,
hedonisme dan konsumerisme yang
disadari atau tidak telah menjungkalkan
kaum wanita pada peradaban yang hina,
menyeret mereka dalam meraih prestasi
semu dan menenggelamkan mereka
pada kepribadian yang maya dan
ambigo.
Betapa mirisnya kita jika setiap hari
disodori berita tentang kasus penipuan
yang salah seorang pelakunya adalah
wanita, pemimpin pemerintahan (wanita) yang menggelapkan uang rakyat
untuk memperkaya diri dan keluarga,
anggota Legislatif yang nota bene adalah wakil rakyat menjadi perantara sekaligus pelaku bagi-bagi angpao pada
kolega dan kelompoknya. Ada pula
wanita pengguna, pelaku penyelundupan bahkan bandar narkoba, gembong traficking. Ada lagi aparat pengayom masyarakat dan penegak hukum wanita yang
terlibat tindakan amoral,
juga wanita-wanita muda
yang menjadi hadiah gratifikasi proyek-proyek raksasa. Demikian juga berbagai event yang dikemas
sebagai pengembangan
budaya dan kejuaraankejuaraan yang ternyata
tidak hanya mengukur kecemerlangan otak dan
atitude, tetapi mengutamakan keindahan lekuk
tubuh wanita. Belum lagi
bermacam-macam tontonan yang tidak mengedepankan talenta dan kemahiran seni melainkan lebih
menonjolkan pornografi.
Masih banyak lagi kasuskasus lain yang membuat
dada terasa sesak, menahan nafas dan membuat
sanubari kita tersayat meratapi sebuah pertanyaan
mengapa hal demikian
bisa terjadi? Adakah
situasi, pergaulan dan
lingkungan yang salah?
Ataukah mental dan karakternya memang demikian? Jawabnya tentu beraneka ragam.
Kita lalu berpikir andai Kartini masih
ada, akankah ia tersenyum melihat fenomena yang demikian? Atau malah
menangis menyaksikan kaumnya yang
keliru dalam memaknai emansipasi dan
menerapkan emansipasi secara berlebihan dan di luar batas kodrat kewanitaan?
Kita berharap wanita seperti dalam
frame Jawa, wanita itu wani ditoto, artinya wanita itu berada berada di garda
depan dalam penerapan berbagai aturan, bisa menjadi pioner dalam persoalan etika. Karena wanita itu perempuan,
kata dasarnya empu, yang berarti pokok,
induk pada tanaman. Empu itu menumbuhkan akar yang menancap kuat ke
dalam tanah dan menumbuhkan batang
yang kokoh ke atas. Filosofi dari istilah
ini adalah perempuan itu merupakan
pondasi dari kokohnya sebuah keluarga, ia manager dalam mengatur biduk
rumah tangganya, pendamping suami
dalam berbagai suasana, pembimbing
anak-anak calon penerus bangsa. Tentu
ia harus berpendidikan yang layak dan
berkepribadian mulia. Tidak salah bila
kita menaruh harapan besar pada wanita
/ perempuan yang demikian ini. Wanita
yang menyejukkan pandangan dan hati
suami, wanita yang melahirkan, mengasuh dan membimbing generasi bangsa
yang tanggap, tangguh, tranggon dan
trengginas. Tepatlah kiranya ungkapan
yang menyatakan bahwa kemajuan peradaban suatu bangsa ditentukan oleh
wanita, bila wanitanya agung dan mulia
maka mulia dan terhormatlah bangsa itu.
Sebaliknya bila wanitanya tidak bermartabat tentu bangsa itu menjadi bangsa
yang kehilangan wibawa.
Bila ada kata bijak yang menyatakan bahwa Bangsa yang besar adalah
bangsa yang menghormati dan menghargai jasa para pahlawannya, tidak ada
salahnya jika kita mengkaji cita-cita dan
tujuan para pahlawan dalam berjuang
meraih kemerdekaan, mendobrak
kejumudan dan menguak sebuah peradaban, untuk selnjutnya
kita para penerus ini yang
mesti mengisi dan menghiasi kemerdekaan (dalam
segala aspek) dengan perilaku yang bermakna dan
bermartabat, berperan
aktif dalam mewujudkan
peradaban madani. Merupakan kewajiban kita
untuk membuat mereka
(para pahlawan) “tersenyum” melihat kiprah kita
dalam berbagai bidang
dengan tetap berpegang
pada norma dan etika.
Adalah sebuah dosa bila
kita mengotori cita-cita
luhur para pahlawan
dengan tindakan-tindakan arogan, mengedepankan kepentingan pribadi
atau kelompok dan berorientasi jangka pendek.
Apa tidak terbesit keinginan meninggalkan sistem yang mapan, budaya
luhur yang penuh etika
dalam mengatur dan
mengelola negeri gemah
ripah loh jinawe ini ?!
baik dalam aspek ekonomi, politik, sosial – budaya maupun
pertahanan dan keamanan. Sehingga
ada yang dibanggakan pada anak cucu
dalam kehormatan dimata dunia. Semoga refleksi ini menggugah kita, memberi motivasi dan menjadi sumber
inspirasi untuk memperindah dan mengharumkan negeri tercinta ini. 
*) Penulis adalah Kepala MI Muhammadiyah-2 Drajat, Baureno, Bojonegoro dan Kepala definitif MIS di lingkungan Kantor Kemenag Kab. Bojonegoro
MPA 343 / April 2015
29
entrepreneurship
Bila Anda berkunjung ke Jawa
Timur atau khususnya ke Surabaya,
jangan lupa minum kemasan alternatif
pelepas dahaga, kunir asem, kunir putih, sinom, temu lawak, dan beras kencur cap “Siti Ginoek”. Walaupun kemasan itu termasuk jenis jamu tradisional, tetapi tidak akan terasa pahit karena
sudah diolah sedemikian rupa, tanpa
menghilangkan fungsi dan hasiyat jamunya. Syukur-syukur kalau pulangnya bawa kemasan yang banyak untuk
oleh-oleh keluarga, bahkan mungkin
untuk tetangga dan teman di kantor.
market maupun di mall-mall”, jelas Putri,
(sarjana lulusan ilmu komunikasi yang
berada di blog: www.sitiginoek.blogspot.com) .
Usaha ini bermula ketika di tempat
kerja, Putri diberi tugas oleh atasannya
untuk membeli minuman dan mengisi
lemari es yang ada di ruangannya.
“Hampir seminggu sekali saya belanja
aneka minuman kemasan. Di deretan rak
minuman tempat saya belanja, ternyata
juga terdapat produk minuman tradisional seperti sinom. Di supermarket,
minuman ini dibanderol dengan harga
cukup mahal. Akhirnya saya
beli 1 botol. Setelah mencobanya, saya dan suami sedikit kecewa dengan rasanya. Lantas
produknya, saya memilih menggunakan
ejaan lama. Dari ejaan Siti Ginuk yang
menggunakan huruf ’U’ menjadi ’Siti
Ginoek’ yang menggunakan huruf ’OE’
biar kesan klasiknya tetap ada. Karena
jamu adalah minuman tradisional yang
sudah ada (dari leluhur) sejak dulu”,
ungkap Putri.
“Produk kami, cenderung lebih
segar dan tidak terasa pahit. Sehingga
bisa dijadikan alternatif minuman segar
penghilang dahaga. Berdasarkan testimoni dari beberapa pelanggan, produk
saya ini akan lebih nikmat jika diminum
dingin. Saat ini, produk kami baru tersedia dalam kemasan botol ukuran 500
ml dan 1500 ml, dengan varian produk
antara lain, kunir asem, kunir putih, sinom,
temu lawak, dan beras kencur. Untuk
kemasan 500 ml harga perbotolnya
Rp.6.500.-, sedangkan kemasan 1.500 ml
dibanderol Rp.18.000,-. Mengenai bahan
Adalah Putri pusparini, seorang
karyawati salah satu bank di Surabaya
yang sudah sekitar dua tahun lalu menekuni usahanya membuat jamu dalam kemasan itu. Usaha yang dirintis ibu muda
ini, modal awalnya hanya sekitar
Rp.300.000-an. Uang itu digunakan
untuk membeli keperluan bahan dan
botol. Tapi karena banyaknya permintaan untuk produk lain, akhirnya Putri
(begitu ia biasa dipanggil) mulai membuat kemasan kunir putih, sinom, temu
lawak, dan beras kencur, disamping
usaha awalnya kunir asem.
Dengan kemasan yang higienis,
Siti Ginoek mencoba menawarkan cara
baru minum jamu. Ramuan jamu tak
perlu pahit, melainkan harus nikmat dan
tetap kaya akan manfaat. “Melalui kemasan Siti Genoek ini, saya berharap
suatu saat minuman asli Indonesia ini,
bisa dipasarkan dengan cara modern
dan dapat bersaing dengan produk
minuman yang banyak dijual di mini
saya mulai berfikir, kenapa tidak membuat produk sendiri dan mencoba menitipkannya di kantor. Jika rasanya lebih
nikmat dan harganya lebih murah dari
harga jual di supermarket, pasti ada
yang mau beli. Setelah melalui beberapa
kali eksperimen untuk menemukan
komposisi yang sesuai, ternyata jamu
buatan saya mendapat respon cukup
bagus. Beberapa teman malah menyarankan untuk membuat dalam jumlah
banyak kemudian memasarkannya di
luar kantor”, ujar Putri.
“Kata ’ginuk’ yang bermakna gendut atau tambun adalah kata yang biasa
digunakan untuk bahan candaan di keluarga besar saya. ’Siti’, adalah nama
panggilan yang diberikan rekan kerja
untuk saya. Ada dua orang yang dipanggil Siti, kebetulan keduanya samasama memiliki kelebihan dalam postur
tubuhnya alias ginuk-ginuk. Karena
itulah ’Siti Ginuk’ dipilih sebagai nama
produk kami. Untuk penulisan dalam
pembuatannya, kami memilih bahan yang
berkualitas, menggunakan gula aseli dan
tanpa bahan pengawet. Salah satu
contoh resep kunir asem misalnya,
bahannya terdiri dari kunir 100 gr parut
kasar, asam jawa 1 sendok makan, gula
pasir 200 gr, gula jawa 100 gr, dan air 2000
ml. Cara membuatnya, air dimasak hingga
mendidih. Masukkan kunyit, asam jawa,
gula pasir dan gula merah. Biarkan diatas
kompor hingga 15 menit dan diaduk
beberapa kali, hingga asam jawa menjadi
lumer dan gula merah larut dalam air.
Lantas angkat, dinginkan, dan saring
kemudian kemas dalam botol”, tambah
Putri. Maka jadilah kemasan jamu penyegar pelepas dahaga dan siap dipasarkan
di lingkugan tetangga, warung-warung,
depot makan dan minuman, mini market,
di kantor, di toko-toko minuman dst.
Anda tertarik ? Silahkan mencoba! Karena peluang tetap ada. (diolah dari tabloid lezat edisi wira usaha volume
lviii) AHAR
“KUNIR ASEM SITI GINOEK”
30
MPA 343 / April 2015
MPA 343 / April 2015
31
32
MPA 343 / April 2015
MPA 343 / April 2015
33
Prof. Akh. Muzakki, M.Ag, Gred. Dip. SEA, M.Phil, Ph.D
Saya Bangga Jadi Anak Madrasah
Tak selamanya prestasi tinggi
bermula dari impian melangit. Prof. Akh.
Muzakki, M.Ag., Gred. Dip. SEA.,
M.Phil., Ph.D semula bercita-cita menjadi seorang guru biasa. Hal itu terispirasi dari sosok sang ayah.
Pria kelahiran Sidoarjo 9 Pebruari
1974 ini sangat kagum pada (alm.) Imam
Syafi’i. Ayahnya tersebut benar-benar
merupakan potret figur guru ideal. Dirinya begitu ikhlas dan penuh kesabaran
dalam mengabdikan hidupnya bagi
dunia pendidikan. Bayangkan, sejak
usia 19 tahun hingga menjelang wafatnya masih tetap berbhakti di MINU KH.
Mukmin Sidoarjo. “Para siswa dan guru
Nahdlhatul Ulama di Sidoarjo menjadikan Bapak sebagai figur panutan,” tuturnya bangga.
Meski materi kebilang kurang berkecukupan, ayahnya masih tetap setia
menjadi Kepala Madrasah yang terletak
di depan kantor PCNU Sidoarjo tersebut. Dan itulah satu-satunya yang menjadi sumber pemasukan keluarga. Wajar
jika sepeninggalnya hanya mewariskan
sepeda angin merk Phoenix warna merah
yang sudah memutih dimakan usia.
Itulah yang membuat keinginan
34
MPA 343 / April 2015
Muzakki untuk nyantri di pondok sambil
menimbah ilmu di MAN Sidoarjo patah
lantaran tak adanya biaya. “Ayah ngerti. Tapi nggak usah neko-neko. Kamu
bisa sekolah di MAN saja itu sudah untung. Lha kalau kamu mondok, rasanya
ayah tak sanggup menanggung biaya-
nya,” katanya dengan mata sembab menirukan ucapan sang ayah.
Meski demikian, tak lantas membuat Muzakki memupus cintanya terhadap
sang Ayah. Sebab tak hanya keluarga
saja yang takzim kepadanya. Masyarakatpun begitu mengagumi sikap kesederhanaan hidup dan istiqamah, serta
keseriusan dan kedisiplinan ayahnya
dalam mengajar.
Muzakki kecil kerap menyaksikan
rutinitas sang Ayah ketika mentari masih terbata-bata menyemburatkan sinar
merah. Ayahnya sudah duduk di depan
meja sambil membuat catatan, mengoreksi, lalu berangkat mengajar. Sepulang dari mengajar, diapun masih berkutat dengan tugas keguruan dan keumatan. “Hmm.. indah sekali hidup semacam itu,” gumam alumni MINU Plipir
dan MTsN Sidoarjo ini takjub. “Itulah
pasalnya, sedari kecil saya sudah punya keinginan kuat menjadi guru seperti Bapak,” tukasnya berapi-api.
Niatan menjadi seorang “Oemar
Bakri” itu terwujud saat dirinya berhasil
menyelesaikan S1nya di Jurusan Pendidikan Bahasa Arab Fakultar Tabiyah
IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 1996. Tanpa canggung dan malu
Prof Muzakki saat memberikan orasi ilmiah saat pengkuhan guru besarnya
Berpose bersama keluarga tercinta seusai pengukuhan guru besar
saban pagi Muzakki mengayuh sepeda
butut peninggalan mendiang sang
Ayah. Dari rumahnya ke ‘Madrasatul
Alsun’ berjarak lebih dari 5 Kilometer.
“Meski waktu itu banyak siswa yang
bermotor dan bahkan bermobil, saya
sama sekali tak merasa malu. Lha wong
bapak saja mengendarainya seumur
hidup kok,” kilahnya datar.
Toh roda kehidupan di tahun 1998
akhirnya berubah. Muzakki diangkat
menjadi dosen di UIN Sunan Ampel Surabaya. Karena saudaranya tak tega melihat dirinya bolak-balik Sidoarjo-Surabaya naik angkutan umum, mereka
patungan untuk membelikan motor.
“Sejak saat itu saya merasakan nyamannya naik motor,” ucap alumnus program
pembibitan dosen Perguruan Tinggi
Keagaman Islam Negeri angkatan X/
1997 ini sambil melepas tawa.
Seiring kegiatannnya menjadi dosen, iklim intelektual kampus membawanya untuk terus mengasah wawasan
dan meningkatkan kapasitas keilmuannya. Lebih-lebih ketika lelaki berkacamata minus ini berhasil menyelesaikan
program magisternya di UIN Sunan Ampel Surabaya program studi Pemikiran
Islam di tahun 2001.
Meski sesungguhnya, alam intelektualitas Muzakki sudah terasah sejak
berada di bangku ‘Madrasatul Alsun’.
Di lembaga bahasa inilah, Dekan Fak.
Fisipol dan FEBI ini mulai berkenalan
dengan karya ilmuwan dunia seperti
Ferdinand de Saussure, Leonard Bloomfield, Avram Noam Choamsky dan Michael Halliday. Juga ilmuwan klasik seperti Sibawaih hingga Kontemporer seperti Thoha Husein, Ismail Siniy dan
Ibrahim Anis. “Di sinilah pikiran intelektual saya untuk pertama kalinya ditempah,” ucapnya mengenang.
Alhasil, madrasahlah yang telah
menjadi kawah candradimuka penempaan
jiwa ilmuwan Sekretaris PWNU Jatim ini.
Sebab mulai pendidikan dasar hingga
menengah diselesaikannya di madrasah.
“Saya bangga jadi anak madrasah,”
katanya penuh semangat.
Baginya, madrasah telah memberinya fondasi yang kokoh dalam kelimuan. Madrasah pula yang telah memberi
kunci dasar moralitas yang terintegrasi
kedalam kehidupan. Konsep pinter sebagai simbol akademik dan bener per-
Arab. Lantas dirinya berhasil menyelesaikan program master bidang Antropologi Asia Tenggara (2003) dan master bidang Sosiologi (2005) di Australian Nasional University (ANU), Canberra, Australia. Empat tahun kemudian
pemilik tiga gelar master ini sukses merampungkan studi S3nya bidang Sosiologi Media dan Islam di University
of Queensland, Australia.
Kepakarannya kian lengkap setelah mantan pengajar di Faculty of Asian
Studies ANU dan di Indonesian Culture Program di Australian Defence
Force Academy (ADFA@UNSW) ini
dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang
Sosiologi Pendidikan. Penganugerahan
yang dilangsungkan pada 4 Maret lalu
di Audotarium UIN Sunan Ampel Surabaya ini, dihadiri langsung oleh Sekretaris Jenderal Kemenang RI Prof. Dr.
Nur Syam, MSi.
Apa yang telah diraihnya, terutama bagi keluarganya, benar-benar merupakan sebuah keajaiban. Sebab peluang memperoleh beasiswa waktu itu
masih sangat terbatas. Tak seperti sekarang, beasiswa telah dibuka lebar-lebar.
“Saat ini tak boleh lagi orang menjadi
Prof Muzakki bersama kedua buah hatinya saat menempuh program doktoral
di Univesity of Queensland Australia
lambang moralitas, telah berhasil dikom- bodoh karena alasan miskin,” tandasnya.
Kini Muzakki bersyukur penuh takbinasikan dalam proses pembelajaran di
madrasah. “Madrasah adalah penanam zim. Dan memang tak selamanya presbenih moralitas dan intelektualitas yang tasi tinggi bermula dari impian melangit.
handal,” ujarnya serius.
Terbukti, dirinya yang bercita-cita sederBekal itulah yang mengantarkan hana menjadi guru biasa, justru mengsuami Erna Mawati menjadi ilmuwan antarkannya ke puncak karir akademik
lintas disiplin keilmuan. Bermula dari sebagai seorang Guru Besar termuda di
spesialisasinya dalam bidang bahasa UIN Sunan Ampel Surabaya. pri
MPA 343 / April 2015
35
Belajar Metodologi Pendidikan Agama
Sampai ke Negeri Inggris
Oleh: Bagus Mustakim*
Awal desember lalu, Kementerian
Agama RI, melalui Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah, memberangkatkan 30 orang guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) beserta 6 orang Kepala Bidang Pendidikan Agama Islam
pada Sekolah untuk mengikuti Training of Trainers on Teaching Methodology of Islamic Religious Education
di Universitas Oxford Inggris. Kegiatan
berlangsung mulai tanggal 8-12 Desember. Selama lima hari, peserta training belajar tentang metodologi pembelajaran pendidikan agama dari dosendosen Departemen Pendidikan Universitas Oxford. Peserta juga melakukan
kunjungan ke beberapa sekolah di kota
Oxford dan melihat langsung praktik
pembelajaran pendidikan agama di
dalam kelas, mulai dari tingkat dasar
(primary school) sampai tingkat menengah (secondary school).
Keberadaan pendidikan agama di
Inggris ternyata memiliki kesamaan
sejarah dengan pendidikan agama di Indonesia. Seperti Indonesia dengan pesantrennya, sejarah pendidikan agama
di Inggris bermula dari pendidikan keagamaan yang diselenggarakan oleh
gereja. Benturan dengan modernisasi
menyebabkan peran pendidikan diambil
alih pemerintah. Pendidikan keagamaan
selanjutnya bermetamorfosis menjadi
pendidikan agama di sekolah.
Saat ini, ada dua orientasi pembelajaran agama di Inggris. Pertama,
learning about religion, yakni belajar
tentang agama. Ada enam agama yang
diajarkan dalam kurikulum pendidikan
36
MPA 343 / April 2015
di Inggris, yakni Budha, Kristen, Hindu,
Islam, Sikhisme, dan Yahudi. Dalam hal
ini, pelajaran agama diarahkan pada pengembangan aspek kognitif tentang sejarah, sosiologi, filsafat, dan antropologi
agama. Kedua, learning from religion,
yakni belajar berbagai nilai dalam
agama-agama yang dipelajari untuk
digunakan sebagai pisau analisis dalam
membaca berbagai isu sosial dan budaya yang dihadapi oleh masyarakat Inggris. Misalnya pandangan agama terhadap eutanasia, aborsi, pergaulan bebas,
dan lain-lain.
Pembelajaran Agama Berbasis
Pengalaman
Seorang guru mengajukan pertanyaan tentang apa saja yang biasa digunakan orang sebagai petunjuk dalam
kehidupan sehari-hari. Hampir semua
siswa mengangkat tangan ingin menjawab pertanyaan. Berbagai jawaban
pun meluncur satu per satu dari bibir
anak-anak usia 12-13 tahun itu, mulai
dari orang tua, teman, buku, polisi,
sampai lampu lalu lintas, bahkan anjing.
Kegiatan terus berlangsung sampai ada
seorang siswa memberikan jawaban dengan setengah bertanya, “kitab suci?”
“Oh tentu,” kata sang guru.
Dari jawaban “kitab suci” pembelajaran berbelok arah menjadi pembahasan tentang peran kitab suci dalam
masyarakat beragama. Kegiatan diawali
dengan memberikan lembar kerja yang
menginstruksikan siswa untuk melengkapi kata-kata dalam paragraf yang dikosongkan. Paragraf ini berisi penjelasan tentang kitab suci umat beragama
dan bagaimana umat beragama menggunakannya sebagai petunjuk.
Kegiatan kemudian dilajutkan dengan metode market place activity.
Setiap kelompok diberi tugas untuk
menjelaskan paragraf-paragraf itu dalam
bentuk gambar. Ada maksimal 15 kata
yang boleh digunakan. Setelah gambar
selesai setiap kelompok ditugaskan untuk belanja informasi ke kelompok lain
dengan meninggalkan seorang ahli di
kelompoknya. Setelah selesai setiap
kelompok berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing.
Seperti inilah gambaran umum
pembelajaran agama pada sekolahsekolah di Inggris. Kegiatan belajar
tidak dimulai dari buku. Tidak pula
membahas teori-teori. Semuanya bersumber dari pengetahuan dan pengalaman siswa yang digali dan dieksplorasi dalam kelompok dengan bimbingan
guru. Inilah yang disebut dengan pembelajaran berbasis pengalaman (experience based learning).
Kelas-kelas di sekolah yang dikunjungi oleh peserta training sungguh luar
biasa. Guru tidak banyak mendominasi.
Dalam satu jam pelajaran (sekitar 40-45
menit), guru berbicara tidak lebih dari
10 menit. Adapun yang dilakukan guru
adalah membagikan lembar kerja kepada
sekelompok siswa, mengamati pengerjaan lembar kerja itu secara berkelompok,
mendengarkan komentar siswa dari
berbagai kelompok, menjawab secara
singkat beragam pertanyaan, dan memberikan apresiasi terhadap komentarkomentar siswa. Dalam waktu 45 menit
itu ada 4 sampai 5 lembar kerja yang
dikerjakan siswa secara berkelompok.
Mereka antusias mengerjakan tugas
yang diberikan, bertanya kepada guru
tentang berbagai persoalan yang terdapat di dalam lembar kerja, dan memberikan komentar tentang tugas yang
diberikan.
Ada satu hal yang tidak lazim
dalam kegiatan pembelajaran di Inggris
jika dilihat dari kebiasaan di Indonesia.
Lembar-lembar kerja yang dikerjakan
oleh siswa ternyata tidak dinilai. Lembar
kerja itu hanya didokumentasikan saja.
Bahkan ada beberapa sekolah yang
tidak mendokumentasikan lembar kerja
itu. Lembar kerja hanya berfungsi
sebagai sarana belajar, bukan menjadi
instrumen penilaian.
berupa penguasaan sekaligus pengujian kebenaran suatu teori. Karenanya
meskipun pembelajaran berpusat pada
siswa, ruh dari kegiatan pembelajaran
itu tetap saja berorientasi pada penguasaan materi. Dus meskipun kurikulumnya berbunyi berbasis kompetensi, pada akhirnya tetap berbasis pada
materi.
Pada aspek penilaian, penilaian
pada pembelajaran di kelas-kelas yang
diobservasi di atas jauh lebih sederhana.
Sementara dalam K13 guru dituntut
memberikan penilaian terhadap semua
proses dan hasil belajar. Penilaian berbasis pada semua kompetensi. Dalam
satu bab, ada sekitar 3-4 kompetensi
pengetahuan yang harus dikuasai
siswa. Setiap kompetensi dikembangkan
Adapun penilaian dilakukan dengan memberikan tugas kepada siswa
untuk menyusun essai tentang tema tertentu. Essai ini pun tidak dinilai secara
langsung oleh guru. Guru justru menanyakan kembali kepada siswa tentang
kemampuan mereka dalam menyusun
essai. Siswa diminta menandari sendiri
kata-kata kunci dalam essai itu. Penilaian baru akan dilakukan terhadap
tugas akhir. Tugas akhir berbentuk essai
yang dinilai secara deskriptif berdasarkan kemampuan kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilaian diberikan
secara kualitatif dengan memberikan
deskripsi untuk menunjukkan tingkat
kemampuan kognitif siswa dalam
kegiatan pembelajaran.
Membaca Ulang Moratorium K13
Jika dibanding dengan K13, desain
pembelajaran di atas terlihat lebih
dinamis. Meskipun pembelajaran K13
dikembangkan berdasarkan pendekatan
saintifik, rata-rata praktik pembelajaran
tetap berbasis pada materi atau teoriteori tertentu. Arah pembelajaran
menjadi beberapa indikator. Kalau 1
kompetensi dikembangkan menjadi 3
indikator, maka dalam satu bab guru
harus menyiapkan 9-12 instrumen penilaian. Instrumen ini belum ditambah
kompetensi sikap dan keterampilan.
Sehingga rata-rata dalam satu bab, guru
harus menyiapkan 15-20 instrumen
penilaian. Setelah instrumen ini dikerjakan siswa, guru masih punya kewajiban untuk melakukan pensekoran dan
penilaian. Kalau dalam satu kelas ratarata 30 orang siswa dan setiap guru
memegang rata-rata 10 kelas, maka
dalam satu bab guru harus melakukan
pensekoran dan penilaian terhadap
4500-6000 instrumen. Belum lagi jika ada
ujian tengah semester dan akhir semester. Padahal dalam satu semester ada
sekitar 6-7 bab. Sungguh pekerjaan
yang sangat melelahkan!
Sebenarnya penilaian K13 juga
mengarah pada penilaian kualitatif.
Penilaian diberikan dengan memberikan
deskripsi terhadap tingkap kemampuan
belajar siswa. Sayang, pada praktiknya
banyak guru yang terjebak pada angkaangka kuantitatif yang dikumpulkan dari
instrumen penilaian. Di samping karena
persoalan mindset guru, faktor banyaknya instrumen yang harus dihadirkan
guru juga menjadi salah satu faktor
pendukung terjadinya disorientasi penilaian. Dengan banyaknya instrumen,
guru akan berpikir pragmatis. Dalam hal
ini angka dapat mempermudah guru
dalam menyelesaikan tugasnya. Akibatnya ketika memberikan nilai akhir, guru
hanya melakukan penilaian dengan
menarik rerata dari angka-angka yang
sudah dikumpulkan sebelumnya. Rerata
ini kemudian disusun menjadi deskripsi
penilaian. Karenanya deskripsi dalam
raport tidak menunjukkan tingkat kompetensi pengetahuan siswa melainkan
menunjukkan rerata pencapaian nilai.
Ada baiknya pada masa moratorium K13 ini, dikembangkan kajian
intensif dan mendalam tentang konsep
kurikulum K13, khususnya masalah
penilaian. Sehingga moratorium tidak
sekedar dibaca sebagai masa menunggu kesiapan teknis, melainkan juga sebagai masa perbaikan konseptual. Pertama, masalah penilaian bisa dibangun
mulai dari cara memahami kompetensi
dasar (KD). Penajamannya harus diarahkan pada aspek kompetensi, bukan
pada penguasaan materi. Karenanya
rumusan indikator pembelajaran terletak
pada taksonomi kompetensi bukan pada
pengembangan materi. Kedua, penyederhanaan bentuk penilaian. Guru tidak
perlu disibukkan dengan ragam bentuk
dan instrumen penilaian. Titik tekan
kurikulum lebih baik difokuskan pada
keterampilan guru dalam proses
pembelajaran, yakni bagaimana guru
mampu menghidupkan kelas dan
memotivasi semangat belajar siswa.
Ketiga, pekerjaan terberat tetap pada
perubahan mindset guru. Dalam hal ini
ada pepatah arab yang berbunyi althariqatu ahammu min al maddati, wa
al-mudarrisu ahammu min al-thariqati, wa ruh al-mudarrisu ahammu
min kulli syai’. Ruh (mindset) guru
lebih penting dari materi maupun
metode apapun.
* Peserta Shortcourse in
Teaching Methodologi for Religious
Islamic Teaching at University of
Oxford England, mengajar di SMP
Negeri 2 Karangjati
Kab. Ngawi
MPA 343 / April 2015
37
Membumikan
Semangat Bumi Wali
Oleh : Agus A Roziqin *)
jalan menuju hakikat dan makrifat.
Pemerintah Daerah KabupaBukan hanya gebyar dalam gemuten Tuban mempunyai jargon
ruh ibadah yang dengan mudah
ingin menjadikan Tuban sebagai
dihinggapi benalu riya’ atau ujub
kota wali dalam pengertian yang
tetapi kesungguhan dan keihlasan
sebenarnya, bukan sekedar jargon
yang melahirkan sikap rendah hati
apalagi sekedar abang-abange
(tawadhu’). Ini dimensi spiritualilambe. Secara historis Tuban
tas yang harus kembangkan, saat
mempunyai akar sejarah yang kuat
ilmu yang menjelma menjadi persebagai kota wali, hampir di setiap
buatan atau amaliah.
sudut kota terdapat makam wali.
Aspek spiritualitas memang
Artinya, pada zaman dulu Tuban
personal, tetapi ulul amri (pememempunyai peran penting dalam
rintah) mempunyai kewajiban
penyebaran agama Islam. Wali
Masjid Aschabul Kahfi Perut Bumi Al-Maghrobi,
memberikan ruang dan fasilitas
identik dengan dakwah Islam, tiSemanding Tuban
agar nilai-nilai itu bisa berkemdak hanya dakwah dalam pengertian konteks ilmu keagamaan tetapi juga juga nilai-nilai budaya dan sosial di bang, dengan tujuan bisa menjadi nilai
dalam membangun dan mengembangkan dalamnya. Wali tidak hanya pencapaian bersama. Jika itu sudah menjadi nilai bernilai-nilai sosial. Dengan demikian sa- spirititual tetapi juga pencapai sosial. sama maka negeri yang diimpikan sebangat wajar jika Pemda Tuban menyan- Dengan kata lain tidak hanya “gelar” gaimana firman Allah “Jikalau sekiradangkan kota Tuban dengan julukan pencapaian spiritualitas tetapi penca- nya penduduk negeri-negeri beriman
dan bertakwa, Pastilah kami akan
Bumi Wali, karena adanya nilai historis paian sosial dan budaya.
yang kuat. Yang menjadi pertanyaan baDari konsep ini, maka jargon “Buwi melimpahkan kepada mereka berkah
gaimana mengimplementasikan jargon Wali” merupakan sebuah konsep yang dari langit dan bumi, tetapi mereka
itu dalam kehidupan nyata !?
hebat dalam membangun masarakat, dan mendustakan (ayat-ayat kami) itu,
Wali dalam mayoritas tradisi Islam, sudah menjadi sesuatu yang lumrah se- Maka kami siksa mereka disebabkan
termasuk di Indonesia, tidak hanya iden- suatu yang hebat membutuhkan perju- perbuatannya.” (Al-A’raf 96) akan tertik dengan ayat “Ingatlah, sesungguh- angan yang panjang. Ada beberapa fak- wujud dalam kehidupan nyata, bukan
nya wali-wali Allah itu, tidak ada ke- tor yang menarik mengapa Bumi Wali hanya dalam konsep saja.
Peran pemerintah dalam mengemkhawatiran terhadap mereka dan ti- menjadi sesuatu yang menarik sebagai
dak (pula) mereka bersedih hati. sebuah konsep pembangunan sebuah bangkan kajian keislaman yang lebih
massif ditunggu oleh masarakat, upaya
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan kota.
mereka selalu bertakwa. Bagi mereka
Pertama, dimensi spiritualitas, memakmurkan tempat ibadah perlu menberita gembira di dalam kehidupan di artinya harus ada upaya mengembang- jadi agenda utama, karena tidak mungkin
dunia dan (dalam kehidupan) di kan kesadaran dalam nilai-nilai agama. menumbuhkembangkan spiritualitas
akhirat. Tidak ada perobahan bagi Beragama dalam konsep seorang wali, tanpa adanya ghirah beribadah dalam
kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. pastilah bukan sekedar ibadah yang ter- jamaah. Tempat Ibadah adalah tempat
Yang demikian itu adalah kemenangan penjara dalam kesempitan ilmu fiqih dimana spiritualitas ditanamkan, nilai
yang besar.”(QS Yunus 62-64) tetapi tetapi ibadah yang meniti dan merintis luhur ditebarkan, agar kelak bisa me38
MPA 343 / April 2015
manen nilai-nilai kemuliaan.
Kedua, tasamuh dalam beragama.
Salah satu keagungan para wali dalam
mengembangkan Islam adalah tinggi sikap tasamuh, makna tasamuh adalah
sikap mengedepankan mencari persamaan daripada mengembangkan perbedaan yang berujung pada konflik, ia
semacam sikap toleran yang bersumber
dari keinginan mencari kebersamaan
atau dalam istilah agama dianggap sebagai “kalimatus sawa’ --pada tataran
sosial menjadi semacam common platform atau nilai bersama yang telah diterima secara kolektif oleh suatu masyarakat.
Ada yang mengkritik bahwa cara
dakwah para wali adalah layyin atau
dakwah yang lembek, karena memberi
ruang terhadap perkembangan nilai-nilai
adat dalam agama. Sehingga unsur animisme, dinamisme, serta tradisi hindu dan
budha. Kritik itu mengabaikan dinamika
sejarah dan budaya dalam sebuah
masarakat, padahal dalam masarakat
selalu ada dialektika antara agama dan
budaya, para wali berdakwah dengan
pendekatan seperti itu, maka Islam masuk
ke Indonesia tanpa harus melewati konflik sosial, seperti perang dan berbagai
macam konflik lainnya. Para wali menghargai keragamaan dalam agama dan
budaya, dengan saling menghargai maka
keragamaan Islam tumbuh secara perlahan namun mempunyai akar yang kuat
dalam harti umat Islam.
Ketiga, mengembangkan kualitas
umat lewat pendidikan. Wali juga identik
dengan dunia pendidikan, menjadi guru
dalam mengembangkan dan mengajarkan nilai – nilai keislaman, kehidupan
wali sangat dekat dengan masarakat, bagaimana mereka orang-orang mulia itu
mengembangkan masarakat dengan
menjadi bagian dari masarakat. Berperan
sebagai sosok yang melakukan perubahan budaya dan nilai, dari budaya
dan nilai yang dekat dengan animisme,
dinamisme, hindu dan budha menuju
budaya dan nilai Islam. Sebuah proses
transformatif yang mengagumkan, dalam tradisi Jawa dikenal sebagai “memancing ikan tanpa harus membuat
airnya menjadi keruh”.
Ketika Pemda Tuban ingin menjadikan Tuban sebagai “Bumi Wali”, maka pendidikan yang berbasis spiritualitas harus dikembangkan, artinya mengembangkan pendidikan spirtitual bukan sekedar ilmu tetapi juga nilai – nilai
agama, lebih spesifik tentunya pendidikan agama yang mampu melahirkan
generasi muda yang hidup dengan nilainilai luhur para wali, sikap tawadhu’ dan
tasamuh dalam beragama, sehingga
melahirkan generasi qur’ani. Dan warga
Tuban akan menunggu langkah-langkah menuju terwujudnya Tuban sebagai Bumi Wali.
* Alumunus IAIN Sunan Ampel
dan bekerja sebagai guru di SMP N 1
Merakurak Tuban
MPA 343 / April 2015
39
Ketika Tidak Menjadi Penentu Kelulusan
Masihkah UNAS Curang?
Oleh : Ali Mujahidin *)
Perlahan tapi pasti
dunia pendidikan di era
pemerintahan baru ini
mengalami perubahan signifikan. Setelah moratorium
(penghentian)
Kurikulum 2013
bagi sekolah tertentu, berikutnya
Ujian Nasional
(unas) yang sebelumnya menjadi penentu kelulusan siswa
tingkat SMP dan SMA/
SMK sederajad kini tidak lagi
menjadi penentu kelulusan siswa. Dan
kabar terakhir, kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan akan mendesakralisasi unas dan menjadikan sebagai sesuatu yang rileks dan tidak mengerikan.
(Jawa Pos: 17/1/2015).
Tentu berbagai tanggapan pro dan
kontra akan mengemuka. Bagi sebagian
yang pro dengan lega dan senang hati
mengamini kebijakan ini. Karena unas
selama ini dianggap momok yang memberikan dampak psikologis bagi siswa,
orang tua, dan guru. Sebaliknya bagi
mereka yang kontra menganggap apa
yang dilakukan oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan ini sebagai
langkah mundur yang jauh sekali.
Pendapat pro dan kontra boleh
saja, ini era kebebasan berpendapat,
siapapun boleh berpendapat, toh nawaitu-nya sama, yaitu sama-sama meng40
MPA 343 / April 2015
inginkan pendidikan di Indonesia lebih baik sehingga
masyarakat mendapat
layanan pendidikan
yang baik dan “mencerdaskan” mengingat selama ini masih ditemukan layanan pendidikan yang
baik tapi “tidak mencerdaskan”. Jadi,
baik pihak yang pro
maupun yang kontra
tidak ada maksud lain
kecuali menginginkan pendidikan kita menjadi lebih baik.
Untuk menjadi lebih baik memang
banyak jalan yang bisa ditempuh.
Keputusan mendesakralisasi ujian
nasional oleh Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Anis Baswedan bukan
keputusan yang ujug-ujug melainkan
ada setting sosial yang cukup panjang
dan “meresahkan”. Masih segar dalam
ingatan kita kasus kecurangan unas di
berbagai mass media. Ironisnya curang
sudah dianggap sebagai suatu ‘kewajaran’. Tentu ini membahayakan bagi
perkembangan bangsa dan negara ke
depan dan bertolak belakang dengan
hakikat dan tujuan pendidikan itu sendiri sebagai ikhtiar mulia anak bangsa
dalam membangun karakter bangsa
menuju bangsa yang berperadapan
tinggi. Sehingga perlu dicari solusi agar
unas tidak menjadi ajang latihan curang.
Permasalahannya sekarang adalah
apakah ketika unas tidak lagi menjadi
penentu kelulusan, apakah pelaksanaan
unas jujur? Jawabnya mungkin iya
mungkin tidak. Keputusan unas tidak
menjadi penentu kelulusan siswa paling tidak menurunkan tensi siswa, guru
dan orang tua siswa. Tetapi (dalam hal
ini) penulis lebih cenderung berasumsi
bahwa unas belum seratus persen jujur.
Mengapa?
Ada sejumlah alasan; pertama,
kebocoran soal unas bukan sematamata domain siswa, tetapi sudah menjadi doman institusi lembaga pendidikan
yang melibatkan guru, kepala sekolah
dan yang “lainnya” bahkan kecurangan
itu sudah terstruktur dan sistemik (ingat
kasus Lamongan). Saat itu, sekolah
(lembaga pendidikan) tidak hanya menargetkan siswanya lulus seratus persen (karena itu sudah biasa), tetapi juga
ada target lain yang lebih prestisius
yaitu membangun prestise lembaga tersebut jika nilai rata-rata kelulusan tinggi,
apalagi siswanya mendapat peringkat
tertinggi, maka kepala sekolah dan guru
lebih bangga, kepalanya akan mengkorok (bahasa Jawa). Kelihatannya budaya bersaing antarsekolah masih tinggi, sehingga meskipun unas tidak dijadikan penentu kelulusan magnet menjadi sekolah (yang dianggap) berprestasi masih cukup kuat, oleh karena itu
kecurangan masih terjadi di sana-sini
dengan intensitas rendah. Sejatinya
persaingan antar lembaga pendidikan
itu positif manakala dikelola dengan
sistem yang baik. Tetapi akan menjadi
tidak baik manakala dijalankan secara
instan. Sesungguhnya bila ingin membangun prestise lembaga pendidikan
harus dimulai dengan membangun
sumber daya insaninya, yaitu tenaga
pendidik dan kependidikannya. Bersamaan itu juga membangun sistem
yang baik; adil, jujur, transparan, akuntabel, kreatif, inovatif, orientasi pelayanan, dedikatif dan kolaboratif.
Secara demikian sebuah lembaga pendidikan akan menjadi baik dan secara
linier output dan outcome-nya menjadi
baik pula.
Kedua, unas tahun 2015 masih
berlangsung secara konvensional (tidak
online), meskipun sudah ada sekolah/
madrasah yang menjadi piloting unas
online, tetapi prosentasinya masih
kecil. Secara demikian masih terbuka
celah untuk tidak jujur bagi sekolah
dengan berbagai modus. Berbeda
dengan unas online, akan lebih baik
dalam mencegah kecurangan. Oleh
karena itu pelaksanaan unas online
sesungguhnya harus mendapat perhatian lebih dari serius dari pengambil
kebijakan agar unas online sgera terealisir. Dan kalau unas online ini dijalankan, negara menghemat APBN triliunan
rupiah karena tidak usah belanja
percetakan naskah soal, belanja jasa
pengamanan, dan belanja jasa distribusi
naskah dan belanja jasa pengawasan
yang super ketat dan bertingkat-tingkat.
Betul-betul efesien. Tidak ada pencetak-
an naskah, tidak ada keterlambatan
pengiriman soal, tidak ada penjagaan
kepolisian, dan yang paling jos tidak
ada lagi kebocoran soal unas. Meski
demikian, ada hal perlu diwaspadai dan
diantisipasi yaitu server ngadat. Disamping itu, perlu diantisipasi kemampuan siswa peserta unas dalam penggunaan software dan hardware.
Ketiga, (maaf) -sudah biasa- tidak
jujur. Pepatah menuturkan, abiliti from
habit, bisa itu karena biasa. Tanpa kita
sadari, curang dalam unas sudah
menjadi kebiasaan dan dianggap biasa.
Merubah pola hidup yang sudah menjadi kebiasaan bukanlah hal yang gampang. Butuh waktu dan tenaga untuk
merubah mindset. Dalam pelaksanaan
unas sebelumnya dilakukan pengawasan yang berlipat-lipat, mulai guru,
dosen dan aparat kepolisian to masih
terjadi kecurangan. Itu karena sudah
biasa curang. Nah, kalau kita looking
to the past, para salafus shalihin (wali
songo) membutuhkan waktu bertahuntahun dan kesabaran ekstra serta metode dan pendekatan yang bermacammacam dalam merubah budaya animesme dan dinamisme yang sudah
mendarah daging di masyarakat. Oleh
karenanya aktivisme curang dalam unas
harus dicegah. Pencegahan tidak cukup
hanya dengan perintah verbal oleh guru
atau; ini jangan!, itu jangan!, pokoknya
jangan!. Sekali lagi, belum cukup. Tetapi
membutukan suatu usaha terstruktur,
terencana, terpola yang bersifat inter-
play antara satu dengan lainnya. Nah,
dalam tataran ini tidak cukup hanya
guru dan orang tua yang bisa mencegah
kebiasaan tidak terpuji ini, tetapi harus
dilakukan oleh segenap stakeholder
pendidikan secara sinerjik dalam membangun pendidikan yang “membelajarkan” dan “mencerdaskan”. Tidak kalah
pentingnya, pemerintah daerah dan legislatif seyogianya membuat regulasi
pendidikan yang komprehensif dan
opesional, tidak sekedar normatif. Sebab
Pemerintah Kabupaten maupun Kota
sangat penting dan strategis dalam
mengendalikan mutu pendidikan di era
otonomi daerah sekarang ini, tetapi
sangat disayangkan masih sedikit Kabupaten/Kota yang memiliki Peraturan
Daerah yang bagus dan mendukung
peningkatan mutu pendidikan. Kalau
satu Kabupaten/Kota ingin memajukan
pendidikan harus didukung dengan
Perda Pendidikan yang tepat. Sekaranglah saatnya memajukan pendidikan
menuju masyarakat yang cerdas, kreatif,
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Bukankah telah terbukti bahwa kualitas pendidikan berpengaruh terhadap indek pembangunan manusia. Oleh karena itu, jika ingin
membangun suatu daerah, bangunlah
pendidikan dengan segalah perangkatnya.
Wallahua’lam bisshowwab.
*) Guru MIN Balenrejo
Kabupaten Bojonegoro.
MPA 343 / April 2015
41
MTs Tarbiyatul Waton Gresik
Madrasah Robotika dari Pesisir
Prestasi bisa saja bermuheran jika biaya pembuatan
la dari sebuah almari. Ya, almarobot menjadi murah. Ya, sisri kayu setinggi 1,5 meter dewa MTs Tarbiyatul Wathon
ngan lebar 1 meterlah yang
hanya butuh sekitar Rp 1,5
menjadi saksi bisu atas presjuta untuk membuat satu rotasi yang ditorehkan Tim Robot berkualitas terbaik. Rincibotika MTs Tarbiyatul Waton,
annya, PCB seharga Rp 200
Campurejo, Panceng, Gresik.
ribu dan dua unit dinamo maDi almari yang sejatinya milik
sing-masing Rp 200 ribu. Jadi
laboratorium IPA itulah, selutotalnya Rp 400 ribu.
ruh alat dan perlengkapan roSedangkan harga batebotika tersimpan. “Selama ini,
rai litium Rp 200 ribu dan LCD
selain almari, memang tak terRp 250 ribu. Sisanya, dipersedia ruang khusus buat Tim
untukkan buat membeli bebeRobotika. Bahkan almari itu
rapa resistor (R), beberapa IC,
sendiri juga masih ndompleng Komplek MTs Tarbiyatul Waton Gresik yang menyatu dengan beberapa dioda led dan bebedi ruang lab,” kata Mukhlis In- pesantren
rapa komponen lainnya. “Sedrawan sambil terkekeh.
secara bulat. Ditambah lagi, keberadaan bagian bahan-bahan tersebut harus diMeski demikian, bukan berarti pro- ekskul ini ternyata juga benyak menye- beli di Surabaya. Ada pula bahan inti
ses pembinaan robotika di madrasah dot sumber dana. Tak ayal, evaluasi be- yang harus dibeli di luar negeri melalui
yang berjarak 42 kilometer dari kota sar-besaranpun dilakukan pihak madra- komunitas robotika,” terang Wawan
Gresik ini mengalami kendala. Justru sah demi mengurai penyebab minimnya pangilan karib Mukhlis Indrawan ini
keterbatasan inilah, yang memicu para prestasi yang diperoleh Tim Robotika. bersemangat.
siswa untuk terus berkarya sejak ekstra
Nah, setelah semua dirakit oleh paPadahal di atas kertas, penguasan
kurikuler ini didirikan tiga tahun silam. teori dan praktek sudah dikantongi para ra siswa, baru kemudian pemogramanTak hanya itu, madrasah di bawah siswa. Jika membandingkan dengan nya dilakukan menggunakan perangkat
naungan Yayasan Tarbiyatul Waton ini pembinaan robotika di lembaga lain, komputer jinjing. Laptop ini berfungsi
juga aktif mengirimkan siswanya meng- pembinaan di madrsah ini jauh dari untuk mengendalikan mesin robot deikuti even robotika; seperti yang dise- cukup untuk bisa menghasilkan tropi ngan nama kode Vision AVR. Dari sini
lengarakan di Unair dan ITS Surabaya. juara. Sebab di sekolah lain, umumnya lalu diunggah ke mesin perangkat keras
“Tapi saat itu, prestasi robotik kami ha- siswa hanya dibentuk sebagai joki atau (hardware) robot. Sedangkan perangkat
nya bisa menembus perempat final hing- operator robot tanpa mengertai bagai- lunak (software) sendiri disiapkan untuk
ga semi final saja,” beber guru ekstra- mana membuatnya dari nol. Sementara memerintah robot berjalan di atas line
kulikuler Robotika MTs Tarbiyatul Wa- di madrasah yang terletak tak jauh dari dan memindah barang.
thon ini berterus terang.
Agar robot bisa dikendalikan, maka
garis pantai ini, para siswa justru tak haTak kunjungnya prestasi mem- nya diajarkan sebatas menjadi operator dibutuhkan seperangkat sensor photobanggakan yang diraih menimbulkan robot, tapi juga diarahkan hingga mam- deoda dan perangkat komparator yang
suara bernada protes kian menggema. pu menyusun rangkain elekronik hingga dikontrol IC pemrograman AT Mega 16.
Apalagi sedari awal, pendirian eksul robot bisa dijalankan sesuai perintah.
Lantas sebagai penggeraknya adalah
robotika tak memperoleh dukungan
Dengan kemampuan tersebut, tak perangkat motor yang terdiri dari kompo-
Faizal Mubarok, SPd, MPd serius
42
MPA 343 / April 2015
Mukhlis Indrawan
nen motor 1000 RPM. “Mulai
tak lain warga kampung pesisir itu
proses awal hingga akhir, siswa
bisa berkompetisi di luar negeri.
sendiri yang mengerjakan lho..
Alhasil, kini kepercayaan maTak jarang ketika mendekati
syarakat terhadap keberadan malomba mereka masih memperdrasah makin meningkat.
siapkan robot di rumah saya
Bukan tanpa alasan madrasah
hingga larut malam,” ujar Wayang berada satu komplek dengan
wan menjelaskan.
Pesantren Tarbiyatul Wathon ini
Sementara itu, dari hasil
menjadikan Robotika sebagai salah
evaluasi minimnya prestasi
satu ekstra kurikuler. Hal itu dilatarTim Ronotika, ditemukan bahbelakngi oleh kesadaan madrasah
wa penyebab gagalnya presyang melihat dunia modern begitu
tasi robotika adalah faktor
getol mengkampanyekan konsep
mental siswa. Rasa minder se- Tim Robotika saat memohon restu kepada Bupati Gresik smart city. Untuk menyongsongringkali menghantui mereka. sebelum berangkat ke Singapura
nya tentu harus dipersiapkan maSebab dalam tiap even robotisyarakat yang smart pula. “Nah peka, siswa MTs Tarbyatul Wathon se- petisi robot se-Jawa dan Bali di Jember ngetahuan robotika sebagai dasarnya.
ringkali harus berhadapan dengan sis- Line Tracer IV. Masih di bulan yang sama, Ini agar mereka kelak tidak tumbuh menwa SMA hingga kalangan mahasiswa. tim ini juga berhasil mengungguli 59 jadi generasi gagap dengan perkembaKenyataan sebagai anak pesisir peserta kompetisi Robot Elite Competi- ngan teknologi,” ucap Faiz – panggilan
yang jauh dari kota, juga disinyalir turut tion 2 (Reco 2) di Institut Teknologi Na- Faizal Mubarok – dengan hati berbunga.
menciutkan nyali bertanding siswa. Apa- sional (ITENAS) Bandung.
Lebih penting dari itu semua, adaTiket inilah yang mengantarkan de- lah para siswa bisa mengenali dan melagi lawan yang dihadapai rata-rata berasal
dari sekolah elit perkotaan. Maka pe- legasi robotika madrasah pesisir ini ber- nyalurkan bakat serta potensinya masingnguatan mental menjadi pekerjaan utama hak mengikuti kompetisi robotika tingkat masing. Jika dulu prestasi selalu diukur
untuk segera dibenahi sebelum mendu- internasional di Tay Eng Soon Conven- dengan tingginya nilai akademik, tentu itu
lang prestasi siswa. “Karean itu, saya tion Centre, ITE Headquarters, Singapura tak boleh diberlakukan bagi semua siswa.
mewati-wanti para siswa agar tidak cepat pada 28 hingga 30 Januari silam. Lagi-lagi Sebab prestasi tak melulu harus dari jalur
puas dengan menjadi delegasi madrasah catatan manis ditorehkan siswa madrasah akademik, tapi bisa juga melalui jalur non
ketika berlomba. Lebih berbanggalah jika yang beralamat di Jl. Olah Raga No.56 RT. akademik. Apalagi jika skill non akademik
mampu mengharumkan nama madrasah 08 RW. 02 Campurejo ini dengan masuk seperti Robotika ini juga bisa menghadirdengan membawa juara,” tandas Faizal sebagai the best 10. “Ini adalah bukti bah- kan manfaat bagi masyarakat.
wa siswa madrasah juga mampu menorehMubarok, SPd, MPd serius.
Dua tahun silam, sebenarnya Tim
Pesan singkat tersebut ternyata kan prestasi robotika di kanca internasio- Robotika ini sudah menggagas robot
ibarat mantra yang mampu menyihir ke- nal,” tukas Kepala MTs Tarbiyatul Wa- yang bermanfaat bagi para nelayan. Tepercayaan diri siswa. Terbukti Tim Ro- thon ini bangga.
patnya, pada hasil karya yang diikutserSeiring prestasi tersebut secara takan pada kompetisi di ITS. Ketika itu
botika yang terdiri dari Ahmad Khoirul
Hadi (15), Nabil Al Annisi (14), dan Mo- otomatis membalikkan pesimisme bebe- mereka membuat robot yang mampu menhammad Harris Riqin (13) berhasil men- rapa pihak yang sempat mempertanya- deteksi tumpahan minyak di laut. “Ini
juarai lomba robot tingkat nasional pada kan eksistensi ekskul Robotika. Bahkan adalah lagkah nyata yang akan terus kami
masyarkat sekitar madrasah yang sebe- dorong. Tapi persoalannya saat ini agak
Nopember lalu.
Dalam even yang digelar Universi- lumnya tidak mengerti seluk beluk ro- tersendat lantaran kesulitan mencari mitra
tas Jember pada tanggal 1 dan 2 tersebut, botikapun dibuat terbelalak dengan to- untuk pendanaan,” pungkas lelaki kelahirTim Robotika anak pesisir ini mampu me- rehan prestasi ini. Sebagian mereka sem- an Gresik 30 September 1978 ini sambil
nyingkirkan 46 kompetitornya dalam kom- pat tak percaya jika Tim Robotika yang mengehela nafas. pri
Tim Robot MTs Tarbiyatul Wathon saat merlaga di Singapura dan mejuarai di Universitas Negeri Jember
MPA 343 / April 2015
43
Golongan Manusia
Yang Beruntung
Oleh : H. Ahmad Hartoyo
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Marilah kita tidak bosan-bosan untuk
bersyukur dan bersyukur kehadirat Allah
SWT, atas segala rahmat, nikmat dan
kerunia-Nya kepada kita. Sesungguhnya
Allah SWT sedikitpun tidak pernah bosan
untuk mencurahkan nikmat dan kasih
sayang-Nya kepada kita. Rasa syukur di
samping kita ungkapkan dengan lisan,
yang lebih utama adalah dengan meningkatkan amal kebajikan dan meningkatkan
ibadah kepada-Nya.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Dalam kesempatan yang baik ini saya
berwasiat, wasiat ini saya tujukan kepada
diri sendiri, dan kepada seluruh jamaah
jum’at yang berbahagia, yaitu marilah
kita tingkatkan taqwa kepada Allah SWT
dengan melaksanakan perintah-perintahNya, dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Dengan begitu, kita akan
44
MPA 343 / April 2015
menjadi manusia yang berbahagia, fid
diini wad dunya wal akhirah.
Allah SWT berfirman dalam surat Ali
Imran 102 :
Artinya : “Manusia yang paling bahagia
ialah orang yang memiliki hati yang
mengetahui, dan badan yang sabar, serta
qanaah dengan apa yang dimilikinya.“
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenarbenar takwa kepada-Nya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam.“
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad, Syekh
Nawawi Al-Bantani menukil ucapan
Ulama ahli hikmah yang merupakan
nasehat bagaimana seseorang akan
memperoleh kebahagiaan :
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Dalam nasehat tersebut dijelaskan
apabila seseorang ingin mendapatkan
kebahagiaan dalam kehidupannya, yang
pertama adalah hendaklah seseorang itu
memiliki hati yang mengetahui, qalbun
‘alimun. Apa maksudnya? Maksudnya
tiada lain adalah, hati yang menyadari
bahwa Allah SWT senantiasa bersama
kita, di manapun kita berada.
Dengan menyadari bahwa Allah
SWT senantiasa bersama kita, melihat
dan memperhatikan kita, tentu kita akan
berusaha mengerjakan ibadah dengan
sebaik-baiknya. Bahkan segala kewajiban
kita sebagai seorang Muslim, tanpa ragu
segera kita tunaikan. Begitu juga dengan
larangan-larangan Allah SWT, tanpa raguragu pula kita jauhi dan kita tinggalkan.
Dapat dikatakan bahwa hati yang alim
atau hati yang mengetahui, adalah keadaan
seseorang yang senantiasa berdzikir dan
mengingat Allah SWT. Marilah kita
perhatikan firman Allah SWT :
Artinya : “(yaitu) orang-orang yang
beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram“ (QS Ar Ra’du: 28).
Orang yang memiliki hati yang alim,
sekaligus merupakan orang yang mampu
menerapkan ihsan sebagaimana jawaban
Rasulullah SAW ketika beliau ditanya oleh
Malaikat Jibril AS tentang ihsan :
Artinya : “Bersabda Rasulullah SAW,
(ihsan adalah) engkau beribadah kepada
Allah seakan-akan engkau melihat-Nya,
dan jika engkau tidak mampu melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu“
(HR Muslim).
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Kunci kedua jika seseorang ingin
mendapatkan kebahagiaan, adalah badan
yang sabar, badanun shabirun. Apa
maksudnya? Tiada lain adalah hendaknya
badan yang kita miliki ini adalah badan
yang sabar jika melaksanakan ketaatan
kepada Allah SWT, bukanlah raga yang
malas jika diajak beribadah.
Dengan memiliki badan yang sabar,
seorang Muslim berusaha sekuat tenaga
untuk taat beribadah kepada Allah SWT.
Sekaligus ia menahan diri serta tidak
melakukan perbuatan durhaka dan
maksiat kepada Allah taala. Imam Ghazali
mendefinisikan sabar sebagai ketetapan
hati untuk melaksanakan tuntunan agama
dalam menghadapi godaan nafsu syetan.
Allah SWT berfirman dalam surat alBaqarah [2]: 45
Artinya : “Jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu. dan sesungguhnya
yang demikian itu sungguh berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyu.“
M. Quraish Shihab dalam Tafsir
al-Mishbah membagi sabar menjadi
dua bagian, pertama sabar jasmani
yakni kesabaran dalam menerima dan
melaksanakan perintah-perintah agama
yang melibatkan anggota badan, dan
kedua adalah sabar rohani, menyangkut
kemampuan menahan godaan nafsu yang
selalu mengajak kepada kejelekan.
Ma’asyiral Muslimin
Rahimakumullah,
Kunci ketiga jika seseorang ingin
mendapatkan kebahagiaan, adalah berlaku
qonaah terhadap segala ketentuan yang
telah ditakdirkan Allah SWT kepadanya.
Wa qona’atun bima fil yadi. Seorang yang
qona’ah akan ridha dengan apa yang diterimanya sebagai anugerah dari Allah SWT,
bahkan seandainya anugerah itu hilang
dari kepemilikannya, ia akan tetap tenang.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amer
RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :
Artinya : “Sungguh beruntunglah
orang yang telah memeluk agama Islam
dan cukup rezekinya, serta Allah memberi
kepuasan kepadanya terhadap apa yang
Allah karuniakan itu.“ (HR Muslim).
Orang yang berlaku qanaah akan
menyadari bahwa betapapun banyak harta
yang dimilikinya, ia tetap yakin kebutuhan
manusia yang utama hanyalah kesehatan,
rasa aman dan makanan yang cukup
pada hari itu. Karena itu selama
kebutuhan utama itu tercukupi, orang
yang berlaku qonaah akan bersyukur
dan merasa puas dengan segala nikmat
Allah itu. Hatinya akan tenteram dan
berbahagia serta menganggap ia telah
memperoleh anugerah yang teramat
besar dari Allah SWT.
MPA 343 / April 2015
45
Pengasuh :
dr. H Rasyid M Tauhid-al-Amien, MSc., DipHPEd., AIF.
Ca Cervix
Tak semenakutkan Kangker Mulut Rahim?
Kalau kita bicara tentang Ca cervix, mungkin banyak orang
yang tidak menghiraukan; berbeda dengan jika kita membicarakan Kangker Mulut
Rahim, padahal keduanya sama. Keadaan seperti itu mungkin juga kita jumpai
ketika orang bicara tentang CVA ataukah stroke (baca: strok).
Klinik.
Untuk tidak menakutkan, kalangan
medis sering hanya menuliskan Ca cervix
ketika mengirim surat konsult ataupun
jawaban ke dokter lain. Hal ini dilakukan
untuk menjaga perasaan penderita
maupun keluarganya, terutama jika dikhawatirkn pasen akan syok jika tahu penyakitnya; dokter tidak ingin terganggu oleh
keributan karena ada penderita “syok” di
tempatnya. Apalagi menurut “tata tertib”
zaman dulu penderita memang tidak boleh
tahu tentang penyakit yang di deritanya;
berbeda dengan zaman sekarang yang
penderita punya hak untuk memperoleh
informasi tentang penyakitnya, termasuk
obat yang diberikan ataupun tindakan
yang dilakukan kepadanya.
Ca adalah singkatan untuk carcinoma,
kangker; cervix (lengkapnya cervix uteri)
sebenarnya bermakna “leher rahim”.
Rahim berbentuk seperti jambu air
terbalik. Leher rahim dalam gambaran
jambu itu adalah bagian yang dekat
tangkainya, yang pada pemeriksaan dari
vagina (liang sanggama) tapak seperti
“mulut dengan bibir yang terkatup”; di
belakang mulut ini ada saluran yang kian
ke atas menjadi rongga rahim (cavum
uteri). Kangker rahim seringkali bermula
dengan munculnya gejala awal di mulut
rahim ini; oleh karena itulah untuk
kemudahan selanjutnya di sini digunakan
sebutan “kangker rahim” saja.
Pada awalnya kangker rahim ini
berupa perubahan struktur sel-sel yang
membentuk mulut rahim itu, yaitu
terjadinya perubahan menjadi sel ganas
(metaplasia, kangker), dari jumlah yang
sedikit kemudian dapat tumbuh “menjalar”
menjadi banyak ke kiri-kanannya. Lebih
jauh sel-sel ganas ini dapat menyebar di
dalam rahim itu saja maupun ke jaringan
di sekitarnya sehingga menimbulkan
perlekatan-perlekatan. Jika lebih parah
lagi tidak mustahil kangker rahim ini
mengalami metastase, yaitu adanya selsel kangker yang “lepas” kemudian, “bibit
46
MPA 343 / April 2015
kangker” ini terbawa oleh aliran darah,
dan tumbuh di tempat lain yang jauh dari
rahim, misalnya di paru-paru.
Penyebab timbulnya kangker secara
umum adalah rangsangan fisik ataupun
kimiawi yang berulang-ulang dan lama.
Infeksi mulut rahim yang tidak ditangani
dengan baik berpeluang memudahkan
munculnya kangker mulut rahim; 99,7%
kangker ini disebabkan oleh kuman yang
berupa human papilloma virus (HPV)
jenis yang onkogenik (pemicu kangker).
Infeksi seperti ini dapat bermula berupa
munculnya keputihan yang disertai dengan
sedikit perdarahan, terutama sesudah
“kumpul. Jika keputihan ini tidak sembuh
(berulang kali timbul) dengan pengobatan
“biasa” (menggunakan antibiotika yang
memadai) harus dicurigai telah terjadi
proses keganasan. Data statistik yang ada
menunjukkan bahwa perempuan yang
sering bergonta-ganti pasangan hubungan
seksual itu akan lebih besar berpeluang
untuk terserang kangker rahim ini.
Di Indonesia hanya 5 persen yang
“bersedia” menjalani skrining (penya-
ringan) untuk mencari kemungkinan
adanya kangker mulut rahim; akibatnya
76,6 % pasien itu, ketika terdeteksi
sudah berada dalam tingkat lanjut, yang
sudah sulit menanganinya. Mungkin
kenyataan ini karena kangker rahim ini
di tahap awalnya memang biasa tanpa
menunjukkan gejala apapun. Padahal
pemeriksaan awal yang dapat dilakukan
cukuplah sederhana, yaitu dengan melakukan “Pap smear”; jika ingin lebih
lengkap ditambah dengan tes yang lebih
baru: Inspeksi Visual Asam Asetat (Aided
Visual Inspection dengan menggunakan
asam cuka sebagai penguji, AAT) maupun
tes HPV (untuk mencari adanya virusnya).
Di negara berkembang pemeriksaan itu
telah banyak dilakukan sehingga sekitar
separo jumlah penderitanya dapat diketahui sejak dini, dan masih dapat ditolong.
Kanker mulut rahim pada tahap
awal tidak menunjukkan gejala yang
khas, ataupun bahkan bisa tanpa gejala.
Pada tingkat lanjut barulah muncul
gejala-gejalanya, antara lain: perdarahan
“sesudah kumpul”, keputihan yang tak
wajar, perdarahan sesudah mati haid
(menopause) disertai keluarnya cairan
yang kekuning-kuningan, berbau, dan
bercampur darah.
Jika diperhatikan lebih lanjut dapat
dikenali adanya faktor-faktor yang cenderung memudahkan munculnya kangker
rahim ini, yang meliputi faktor alamiah,
kebersihan, dan aktivitas seksual. Faktor
alamiah ini misalnya bahwa banyak
menyerang perempuan yang berusia di atas
40 tahun. Semakin tua seorang perempuan
maka makin tinggi peluangnya terkena
kanker rahim, walaupun yang berusia
muda pun bisa terkena kanker rahim.
Walaupun tidak terlalu pasti, mereka
yang di dalam keluarganya ada penderita
kangker rahim ini perlu waspada kalaukalau muncul gejala-gejala kangker ini.
Keputihan boleh dibilang wajar jika
muncul di sekitar masa haid, yang biasanya
berupa lendir yang bening, tidak berbau,
dan tidak gatal; keputihan ini biasanya
hilang sendiri. Bila tidak demikian,
segeralah berkonsultasi dengan dokter;
kalau-kalau itu petunjuk akan munculnya
keganasan sebagai akibat lanjut dari
infeksi, terutama oleh virus HPV. Infeksi
dapat juga terjadi sebagai akibat dari cebok
dengan air yang tidak bersih, misalnya di
toilet-toilet umum yang tidak terawat.
Mereka yang berhubungan seksual
pertama kali di usia terlalu muda lebih
berpeluang mengidap kangker rahim ini.
Berganti-ganti pasangan seks juga akan
meningkatkan risiko terserang kangker
rahim; mungkin ini karena penularan
penyakit kelamin virus HPV. Kangker
rahim ini juga banyak terdapat pada
mereka yang anaknya lebih dari 5 orang.
Diagnosa.
Perempuan yang punya risiko tinggi
untuk terserang kangker rahim perlu
secara berkala memeriksakan diri untuk
melihat kalau-kalau dia telah punya
tanda-tanda awal menderita penyakit ini.
Pemeriksaan yang “paling sederhana”
adalah pemeriksaan hapusan Papanicolau
(Pap smear, sering dibaca salah “semir”),
yaitu mengambil contoh sel-sel selaput
lendir mulut rahim dengan mengambil
sedikit lendir di situ lalu “menghapuskan”
(baca: mengoleskan) lendir itu ke sepotong
kaca kecil untuk nantinya diperiksa
dengan mikroskop. Dari pemeriksaan ini
dapat disimpulkan apakah keputihan yang
diderita itu merupakan keputihan oleh
infeksi “biasa”, awal dari kanker, ataukah
yang berpeluang dapat berkembang
menjurus ke terjadinya kangker rahim.
Jika hasil hapusan Pap sudah jelas
menunjukkan awal kangker, maka pada
tahap lanjutnya dokter akan melakukan
tindakan biopsy (operasi kecil untuk
mengambil contoh jaringan mulut rahim)
untuk pemeriksaan dengan mikroskop
Pada awalnya kangker
rahim ini berupa
perubahan struktur selsel yang membentuk
mulut rahim itu, yaitu
terjadinya perubahan
menjadi sel ganas
(metaplasia, kangker),
dari jumlah yang
sedikit kemudian dapat
tumbuh “menjalar”
menjadi banyak ke
kiri-kanannya.
guna selanjutnya menentukan sejauh
mana keadaan jaringan yang diperiksa
itu, serta menentukan kemungkinan
tindakan lanjutnya.
Pengobatan.
Pengobatan kangker rahim dapat
berupa operasi, radioterapi (sinar X),
ataupun kemoterapi; Pada tingkat penyakit
yang berbeda, tindakannya juga berbeda,
dari sekedar membuang mulut rahim,
mengambil sebagian rahim, ataupun
membuang rahim seluruhnya.
“Pengobatan” kangker rahim dapat
berupa operasi kecil (pada tingkat awal),
dan kemoterapi (dikenal dengan sebutan
kemo), dengan ataupun radioterapi
(sinar X) untuk tingkat (stadium) akhir
penyakit; diterapkan sendiri-sendiri
ataupun “bersamaan”.Yang disebut sebagai stadium akhir adalah jika kangker
sudah menyebar sehingga tidak mungkin
dilakukan pembuangan jaringan kangker
itu, ataupun ternyata diketahui telah
menyebar metastase ke tempat lain. Jika
kangker masih kecil (kurang dari 4 cm)
dan penderita masih ingin punya anak,
operasi dilakukan hanya untuk memotong
bagian rahim yang menjadi kangker itu
saja. Jika kangker sudah besar tetapi
belum menyebar biasanya ditawarkan
untuk total hysterectomy (membuang seluruh rahimnya). Operasi
kadang-kadang menjadi menakutkan
karena dapat berbuntut perdarahan
ataupun keputihan hebat. Ada juga
yang kemudiannya penderita sering
mengalami nyeri seperti nyeri haid
padahal dia sudah tidak punya rahim.
Obat yang digunakan untuk kemo
ini mempunyai kemampuan untuk
membunuh sel-sel muda, termasuk sel
kangker yang cepat berkembang itu.
Pemberian obat kemo dimaksudkan
untuk membunuh sel-sel kangker yang
baru tumbuh itu. Namun obat ini sering
dikeluhkan karena juga “mematikan”
sel-sel yang tidak seharusnya ikut mati,
misalnya sel rambut (mengakibatkan
kebotakan karena rambut tidak tumbuh,
rontok), sel darah (mengakibatkan kurang
darah, mudah mengalami perdarahan,
mudah lelah), sel saluran pencernaan dan
kelenjar pencernaan (mulut kering, mual,
muntah, nafsu makan hilang). Pengaruh
lainnya meliputi munculnya ruamruam kulit yang kemerahan, kesemutan,
gangguan pendengaran, keseimbangan
terganggu, nyeri sendi, kaki membengkak.
Pencegahan.
Pencegahan terhadap kanker rahim
dapat dilakukan dengan program skrining
(penyaringan) dan pemberian vaksinasi.
Di negara maju, kasus kanker jenis ini
sudah mulai menurun berkat adanya
program deteksi dini melalui pemeriksaan
hapusan Pap. Vaksin HPV dapat diberikan
pada perempuan usia 10 hingga 55 tahun
melalui tiga kali suntikan, yaitu pada bulan
ke nol, satu, dan enam. Hasil vaksinasi
akan jauh lebih baik jika dilakukan pada
remaja putri berusia 10 hingga 14 tahun,
walaupun masih dianjurkan juga dalam
umur 15 hingga 25 tahun. Vaksinasi
HPV terbilang mahal (sekitar satu juta)
setidaknya untuk negara berkembang.
Karena virus HPV ini dapat tertularkan
lewat pakaian, perlu benar berhati-hati
akan kemungkinan pakaian dalam yang
menjadi tercemari oleh virus dari pengidap
penyakit kanker serviks, misalnya ketika
mencuci bersama di laundry.
Penutup.
Walaupun ada juga yang menyimpang,
kangker awal tergolong “mudah” diatasi;
adapun yang sudah parah ada kalanya
menjadi tidak dapat lagi diatasi dengan
pembedahan, obat (kemo), ataupun
penyinaran. Oleh karena itulah pemeriksaan dini perlu dilakukan sejak dijumpai
keputihan dengan perdarahan yang
berulang timbul atau yang “sulit” diatasi.
Bagi yang sudah terlanjur mengidap
kangker rahim dan sudah “sembuh” setelah
mendapat pengobatan, perlu diingat
bahwa kangker rahim dapat saja muncul
kembali. Oleh karena itulah mereka ini
perlu patuh menjalani pemeriksaan ulang
setiap 3-6 bulan sekali; namun demikian
jika sebelum itu ada terasa munculnya
keadaan terganggunya kesehatan segeralah
ke dokter kembali untuk pemeriksaan
ulang seperlunya, misalnya hapusan Pap
maupun foto ronsen.
Semoga uraian di atas bermanfaat.
MPA 343 / April 2015
47
Pengasuh :
Drs. Ahmad Busyairi Mansur, MM
A. Reading (Wacana)
ACCEPTING AN INVITATION
A
bdullah ibn Umar r.a. narrates that the Holy Prophet said: "The person who is invited amongst you by his brother
should accept the invitation whether it is a wedding invitation or anything similar to it" (Muslim). Jabir ibn
Abdullah r.a. narrates that the Holy Prophet said: "If anyone of you is invited to partake of meals, he should at least
accept the invitation. There after he may partake of it if he desires or he may totally abstain from it." (Muslim)
Abu Hurairah r.a. narrates that the Holy Prophet said: "If anyone of you is invited for meals, he should accept the invitation.
If he is fasting, he should make duaa (of goodness and blessing) for the inviter (some maintain that he should set out and
perform salaah at the host's house), and if he is not fasting he should partake of the meal." (Muslim)
No excuse will be entertained in declining an invitation. However, if wine and other intoxicants are provided at the
invitation or food will be eaten out of gold and silver utensils or there is a fear of any other evil, one should on no account
accept the invitation.
If uninvited people accompany one who is invited, he should firstly seek the host's consent so that he is not annoyed and
disheartened (by the arrival of an uninvited guest). Abu Masood Badri r.a. narrates: A certain person invited the Holy Prophet
over for meals. Including the Prophet, food was prepared for 5 people. On the way to the invitation, a sixth person joined
them. When the group arrived at the door of the host, the Holy Prophet: " This Person has also joined us, if you wish to, you
may permit him or else he will return."
He (the host) said: "O Prophet of Allah, I don't mind him partaking of the meal." (Muslim)
Abdullah ibn Masood r.a. says that the Holy Prophet said: "Accept the invitation of he who invites you. Avoid declining
a gift and refrain from annoying the muslims." (Muslim)
Source: The 40 Pathways to Jannah by Sheikh Khalid Sayyid Ali
B. Vocabulary (Kosakata)
excuse
: alasan
entertained : terhibur
declining
: menurun
however
: namun
intoxicants
: minuman keras
provided
: disediakan
utensils
: peralatan
evil
: jahat
account
: perhitungan
accept
: menerima
accompany : menyertai
seek
: mencari
consent
: persetujuan
annoyed
: jengkel
disheartened : kecewa
arrival
: kedatangan
narrates
: meriwayatkan
including
: termasuk
permit
: ijin
C. Dialogue
Hamman
Zahra
:
:
H
:
Z
H
Z
H
Z
:
:
:
:
:
48
AT A BANK
Assalamu'alaikum. Good morning.
Wa'alaikumsalam. Good morning, Sir...
Welcome to Marzuqoh Bank.
How can I help you?
I'm very curiousabout your bank, Marzuqoh
Bank. Please give me some information
abaout your bank.
Have a seat please.
Thanks
Well, Mazuqoh is an Islamic Bank.
An Islamic Bank? But I'm not a moslem.
Don't worry, Sir. An Islamic Bank is not
exclusively for Moslem. It is operated based on
MPA 343 / April 2015
H
Z
:
:
H
Z
:
:
H
Z
:
:
H
:
Z
:
H:
:
Z
H
:
:
Z
:
H
Z
:
:
the principles of shari'a or Islamic law, but it is
for everybody, Moslem and non Moslem as well.
I see. So what do you offer to your customers?
Like any other banks, we offer financial
services like saving, deposit, transfer and
investment.
So, what's the difference with ordinary banks?
The first difference is that we do not apply the
interests as interest is prohibited by Islamic law.
How do you earn money then?
We apply profit sharing. Our customers
share a part of their profit with us.
You earn money from us and you call it
differently. What's the difference with interest?
The second difference is that we share risk not
only profit. So in our principle, Marzuqoh
bank invest our money in your bussiness. If
you make money, you will share it with us.
But if you don't make money, then you will
share risk with us. Isn't that much fairer than
ordinary banking?
That's great! How about my earning? If I put
money inyour bank, will you share us your profit?
Yes, Sir. We will share a portion of ours to you.
Hmm..., It is getting more interesting. Please
tellmeabout your saving and investment
services. If you meet my needs then I would
like to be your customer. I want to save and
to invest my money in Marzuqoh Bank. By
the way, what's the meaning of Marzuqoh?
It's an arabic word which means people who
receive provision from God.
Very nice name with wonderful meaning.
Thank you, Sir. As for our services, in brief
we offer the following ones.
Pengasuh :
Ustd. Faiz Abdur Rozak
Kosakata
Macam / Jenisnya
Mencakup / terdiri
Bilangannya
Terdiri
Susunannya
Susunan / Rangka
Kecil Pengecilannya
Terkait
Asal, nasab
Bina / Asal-usul
Sebagai contoh dalam menterjeman seperti :
Isim (kata nama) dilihat / ditinjau dari segi Jenisnya dan terbagi dua Lelaki (maskulin) dan Wanita (feminim).
MPA 343 / April 2015
49
SAKAL Ponpes Denanyar Adakan Festival dan Pameran Kaligrafi Nasional
Menpora Imam Nahrowi (dua dari kiri) menyaksikan pemberian kaligrafi
dari tamu Maroko dan Arab Saudi.
JOMBANG – Bertempat di auditorium Masjid Jami’ PP
Mambaul Ma’arif Denanyar Kab. Jombang digelar acara Festival
dan Pameran Kaligrafi Nasional yang dibuka oleh Menpora,
Menteri Desa PDT Transmigrasi dan persatuan khottoth dari
negara Maroko, Saudi Arabia dan Thailand, (11/03).
Dalam sambutan pembukanya, Menpora menceritakan
pengalaman masa kuliahnya yang menekuni bidang kaligrafi
sebagai sumber biaya. Oleh karenanya, beliau menyemangati
santri SAKAL (Sekolah Kaligrafi Al-Qur’an) untuk tetap
bersemangat dan istiqomah dalam belajar.
Sementara itu Sheh Belaid Hamid dari Maroko mengatakan
bahwa seni kaligrafi merupakan hal yang sangat penting.
Terutama membentuk karakter pemuda dalam mencetak jiwa
kewirausahaan dan pengembangkan seni kaligrafi di kancah
internasional. Sedangkan, Ketua Persatuan Khot Saudi Arabia
Prof dr. Abdullah Futini Abdul mengatakan kebangkitan khot di
Indonesia telah di mulai dari Jatim. Karena para pelajar khot nya
melakukan pembelajaran taqlidi yang berstandar internasional.
Acara yang juga dihadiri Kakankemenag Kab. Jombang ini
diakhiri dengan meninjau lokasi pameran. •Tts
Donor Darah Rutin Per Tiga Bulan, Bantu Masyarakat yang Membutuhkan Darah
BONDOWOSO – Donor darah rutin per tiga bulan, kembali
digelar di Kankemenag Kab. Bondowoso, (10/3).
Menurut Miftahul Huda, SH Ketua PMI Kabupaten Bondowoso,
pelaksanaan donor darah rutin per tiga bulan ini sudah masuk
yang kedua. Sebelumnya, Kankemenag Kab. Bondowoso dalam
pelaksanaan Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama, juga selalu
melaksanakan donor darah rutin. “Ini sangat membantu masyarakat
saat ada yang membutuhkan darah sesuai golongan” ujarnya.
Sementara itu, Suharyono, S.Ag, MH Kepala Penyelenggara
Syariah mengatakan bahwa pelaksanaan donor darah sebenarnya
rutin per tahun. Hanya saja, banyak pegawai yang meminta untuk
dilaksanakan kegiatan donor darah rutin per tiga bulan. “Banyak
yang merasa bahwa setelah donor darah badannya tambah segar
dan sehat,” ujarnya.
Perlu diketahui, jumlah donor darah pada per tiga bulan ini
berjumlah 40 pegawai dan diharapkan pada tahun berikutnya
akan bertambah. “Jumlah ini tidak terlalu banyak karena banyak
Sebelum mendonorkan darahnya, seorang pendonor terlebih dahulu
diperiksa tekanan darahnya oleh petugas.
yang tidak tahu kalau Kemenag Bondowoso juga melaksanakan
donor darah rutin per tiga bulan. Sebab sebelumnya, dilaksanakan
donor darah rutin di BKBN,” jelasnya. •His
Kakankemenag Kab. Tulungagung Melantik 23 Pejabat Baru Sebagai Penyegaran
Para pejabat terlantik sedang mengikrarkan sumpah jabatan dipimpin
oleh Kakankemenag Kab. Tulungagung.
TULUNGAGUNG – Kandungan QS. Al Baqarah ayat 204
menggarisbawahi tentang sumpah yang disaksikan oleh Allah
50
MPA 343 / April 2015
SWT, baik sumpah itu terucap maupun yang terkandung dalam
hati. Demikian disampaikan Kakankemenag Kab. Tulungagung
H. Damanhuri, M.Ag saat mengambil sumpah jabatan 23
pejabat baru di lingkungan Kankemenag Kab. Tulungagung di
aula Kankemenag setempat, (11/3)
Saat memberikan sambutan pasca pelantikan, H. Damanhuri
menerangkan bahwa mutasi ini merupakan penyegaran dan
kebutuhan organisasi sehingga di tempat baru itu bisa muncul
inspirasi baru, teman baru dan lingkungan yang baru. Di samping itu,
mutasi ini merupakan ikhtiar yang dimaksudkan untuk menempatkan
pejabat yang sesuai dengan karakteristik kebutuhannya.
Pelantikan ini merupakan tindak lanjut musyawarah Baperjakat
Kankemenag beberapa bulan lalu yang dipimpin oleh Kasubbag
TU Drs. H. Imam Saerozi, M.HI. Sebanyak 5 orang dimutasi
antar Satker, yakni MAN Tulungagung 1, MAN 2 Tulungagung,
MAN Rejotangan serta MTsN Ngantru dan MTsN Pucanglaban.
Sementara 18 Kepala KUA merangkap Pejabat Pembuat Akta Ikrar
Wakaf (PPAIW) dirotasi ke tempat baru. •Fat
Hadapi MTQ Tingkat Provinsi, Kankemenag Kab. Pasuruan Selenggarakan Seleksi
Bupati Pasuruan HM. Irsyad Yusuf, SE, MMA saat memberikan pengarahan
kepada para peserta seleksi.
KAB. PASURUAN – Bertempat di Gedung Serba Guna Pemkab
Pasuruan, Kankemenag Kab. Pasuruan bekerja sama dengan Pemkab
Pasuruan (Kesra) mengadakan kegiatan Try Out Seleksi Peserta MTQ
Tingkat Provinsi Jawa Timur ke XXVI Tahun 2015, (26/2).
Kakankemenag Kab. Pasuruan, Drs. H. Barnoto, M.Pd.I dalam
sambutannya menyampaikan bahwa seleksi ini dilaksanakan
sebagai upaya untuk menentukan calon kafilah Kab. Pasuruan
yang terbaik. Dan yang terpilih nantinya akan mewakili Kab.
Pasuruan pada event dua tahunan yakni di Kab. Banyuwangi
tahun 2015 ini. Oleh karenanya, para peserta diharapkan dapat
menampilkan kemampuan terbaiknya. Karena yang terbaiklah
yang akan mewakili Kab. Pasuruan.
Selanjutnya Bupati Pasuruan HM. Irsyad Yusuf, SE, MMA
dalam pengarahannya menyampaikan bahwa MTQ adalah ajang
apresiasi untuk menggali kemampuan yang dimiliki peserta. Dan
kuncinya adalah adanya kerja keras, dukungan dari orang tua,
dan do’a. Oleh karena itu melalui kegiatan ini Pemkab Pasuruan
memberikan perhatian yang sangat besar, sebab kegiatan ini
berkaitan dengan Al-Qur’an yang notabenenya sebagai pegangan
umat Islam sedunia. •Fin
Sebanyak 13 Kepala Madrasah, Pengawas dan Kepala KUA Ikuti Sertijab dan Pelantikan
TUBAN – Bertempat di aula Kankemenag Kab. Tuban,
dilaksanakan pelantikan dan sertijab struktural dan fungsional
13 orang, (3/3). Acara dipimpin Kakankemenag Kab. Tuban, Drs.
Abd. Wahib, M.Pd.I. dan dihadiri seluruh pejabat struktural dan
fungsional Kankemenag Kab. Tuban.
Dalam pengarahannya Kakankemenag Kab. Tuban mengatakan
bahwa promosi dan mutasi adalah hal yang biasa terjadi. Ini
dimaksudkan agar ada peningkatan kinerja dan juga penyegaran.
Di samping itu, pejabat terlantik diharap mengadakan evaluasi
terhadap apa yang telah dilaksanakan sehingga dapat diketahui
hasil kinerja dan kekuranganya.
Di antara pejabat terlantik adalah Dra. Afiyah sebagai Kepala
MIN Sugiharjo Tuban, A. Harianto, S.Ag,M.HI sebagai Pengawas
MIN Punggulrejo Rengel, Sahil, S.Ag sebagai kepala KUA dan
PPAIW Kec. Parengan, Nur Puat, S.Ag sebagai Kepala KUA dan
PPAIW Kec. Singgahan, Haris Rihandoko, S.Ag sebagai Kepala
KUA dan PPAIW Kec. Rengel, Abd. Wahid sebagai Kepala KUA dan
Salah seorang pejabat terlantik sedang membubuhkan tanda-tangan disaksikan
oleh Kakankemenag Kab. Tuban.
PPAIW Kec. Jenu, Drs. Salimin sebagai Kepala KUA dan PPAIW
Kec. Plumpang, dan Fathur Rohman, S.Ag sebagai Kepala KUA
dan PPAIW Kec.Widang. •Taar
Seminar Nasional Pokjawas Kanemenag Kab. Ngawi Diikuti oleh Seribuan Guru
Para guru madrasah dan guru PAIS yang ada di Kab. Ngawi sedang mengikuti
dengan seksama jalannya seminar.
NGAWI – Bertempat di RM. Notosuman Ngawi (4/3), telah
diselenggarakan Seminar Nasional oleh Kelompok Kerja Pengawas
(Pokjawas) Kankemenag Kab. Ngawi. Kegiatan ini diikuti 1.300
guru madrasah dan guru PAIS yang ada di Kab. Ngawi.
Dalam kesempatan acara pembukaan, Kakankemenag Kab.
Ngawi menyampaikan apresiasi yang tinggi karena seminar ini
bukan hanya sekedar ajang silaturrahmi atau reuni. Tapi lebih
merupakan acara syukuran dari para guru madrasah maupun
guru PAIS yang telah bekerja keras sehingga penyelenggaraan
pendidikan nasional berjalan baik dan sukses. Dengan tambahan
kesejahteraan, guru diharapkan lebih giat bekerja, professional,
kreatif, inovatif, disiplin serta ikhlas sehingga mampu mencetak
generasi yang cerdas, tangguh, dan mandiri.
Kegiatan yang bertema “Membangun Kecakapan Teknologi
di Dunia Pendidikan Menghadapi Pembelajaran Abad 21” ini
menghadirkan dua nara sumber yaitu Iqbal Fauzi Rakhmat,
MM dari Education Program Coordinator Intel Indonesia
Corporation, dan Ali Ishaq, S.Sos,I, Juara Nasional Bahan
Ajar ATK. Dan di akhir kegiatan diadakan pembagian hadiah
doorprize. •Guh
MPA 343 / April 2015
51
PELANTIKAN PEJABAT STRUKTURAL
SITUBONDO – Bertempat di aula
Kankemenag Kab. Situbondo, Kakankemenag
Kab. Situbondo, Drs. H. Moh. Bakri, M.Pd.I
melantik pejabat struktural di lingkungan
Kankemenag Kab. Situbondo, (12/3). Hadir
dalam kesempatan tersebut para Kasi,
Penyelenggara Syari’ah, Kepala KUA dan
PPAI se Kab. Situbondo, Kepala MAN,
MTsN, MIN, serta Karyawan/ti di lingkungan
Kankemenag Kab. Situbondo.
Sebanyak 10 pejabat yang dilantik
sebagai Kepala KUA adalah Buhadi, S.Ag,
M.HI (Jatibanteng), Abd. Rasyid, S.Ag, M.HI
(Sumbermalang), Imamul Muttaqin, S.Ag,
M.HI, (Suboh), Hasan Jazuli, S.Ag. M.HI
(Banyuglugur), Erfandi, SH (Mlandingan),
Imam Turmidzi, S.Ag. M.HI (Managaran),
Zainul Hadi, S.Ag, M.HI (Situbondo), Drs.
Abd. Rahem, M.Pd.I, (Jangkar), Zainuddin,
S.Ag (Kendit), dan Moh. Kholid, S.Ag
(Bungatan).
Seusai melantik, Kakankemenag Kab.
Situbondo Drs. H. Moh. Bakri, M.Pd.I menjelaskan bahwa alih tugas dalam kedinasan
dimaksudkan agar pejabat yang telah
mengabdi di tempat tugas selama beberapa
tahun mendapat suasana yang baru
sehingga tercipta kreativitas dan inovasi,
karena tanpa adanya penyegaran suasana
akan statis dan menjemukan. •Liz
PELATIHAN KURIKULUM MADRASAH
PAMEKASAN – Bertempat di MI Riyadatul Mubtadiin Sumber Batas Klompang
Barat Kec. Pakong, dilaksanakan Pelatihan
kurikulum Madrasah Program kemitaraan
Australia Indonesia Fase 3 (19-22/2). Hadir
dalam kegiatan ini, Mentor Kab Pamekasan
dan trainer Distrik Fase 3.
Pelatihan cluster kedua ini ditempatkan
di satu titik dan diikuti oleh 4 madrasah.
Masing-masing madrasah diwakili 10 guru
penerima bantuan Block Grant Pendampingan Akreditasi Phase 3 Kabupaten
Pamekasan. Acara ini juga didukung oleh
Madrasah Development Center (MDC)
Jawa Timur dan School System And Quality
(SSQ) Kemitraan Pendidikan Australia
Indonesia (AEPI).
Dalam pengarahannya, Kakankemenag Kab. Pamekasan, Drs. H. M.
Juhedi, M.M.Pd. berpesan agar seluruh
peserta mengikuti pelatihan dengan
bersungguh-sungguh sehingga menjadi
pelatihan yang bermakna. Lebih lanjut
beliau mengungkapkan, bahwa dengan
kegiatan ini diharapkan madrasah memiliki
dokumen KTSP 2006 untuk tahun pelajaran
2013/2014 dan Kurikulum 2013 untuk
tahun 2014/2015 Semester Gasal serta
dokumen kurikulum Perpaduan Kurikulum
2013 dan KTSP 2006 untuk tahun pelajaran
semester genap 2014/2015. •Sri Mukti
MENGAJAR ANAK DENGAN METODE BCM
KAB. PASURUAN – Kankemenag Kab.
Pasuruan mengadakan kegiatan Mengajar
Anak dengan Memanfaatkan Metode BCM
(Bermain, Cerita dan Menyanyi). Kegiatan
ini dilaksanakan di MI Nidlomiyah Pasrepan
dan diikuti oleh kepala dan guru TPQ seKec. Pasrepan, (11/3)
Narasumber pada kegiatan ini adalah
Rahmad Salahuddin, M.Pd.I (Penyuluh
Agama Fungsional Kankemenag Kab. Pasuruan) yang menerangkan bahwa anak butuh kenyamanan dan rasa gembira ketika
proses belajar. Karena anak memiliki dunia
yang berbeda. Oleh karena itu, setiap anak
memerlukan permainan yang menjadi
dunia sejati mereka. Karena melalui permainan yang menyenangkan akan membantu anak belajar dengan mudah dan
menghasilkan sesuatu.
Di samping permainan – lanjutnya –
metode bercerita juga dibutuhkan karena
dengan cerita akan membangkitkan daya
imajinasi juga membantu pengalaman
batin seorang anak. Dan yang tak kalah
pentingnya adalah metode bernyanyi.
Namun dalam praktek di lapangan, seorang
ustadz/dzah harus meniti syair dan teksnya
terlebih dahulu. Sehingga lagu-lagu yang
bertemakan Islam itu dapat mendukung
tercapainya tujuan pendidikan Islam yang
diinginkan. •Fin
PEMBINAAN PENINGKATAN KINERJA
PEGAWAI KEMENAG KOTA MALANG
KOTA MALANG – Bertempat di aula
Kankemenag Kota Malang, diselenggarakan
kegiatan Pembinaan Peningkatan Kinerja
dan Bimbingan Teknis Penilaian Prestasi
Kerja PNS di lingkungan Kankemenag Kota
Malang, (4/3). Nara sumber dalam kegiatan
tersebut adalah Achmad Subhan, S.Kom
dari Ortala Kepegawaian Kanwil Kemenag
Prov. Jatim yang menyampaikan teori dan
praktek serta beberapa hal yang terkait
dengan penyusunan dan pembuatan SKP.
Kakankemenag Kota Malang, Drs. H.
Imron, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan bahwa SKP adalah rencana kerja
dan target yang akan dicapai oleh
seorang PNS yang disusun dan disepakati
bersama antara pegawai dengan atasan
langsung. Salah satu manfaatnya adalah
memotivasi serta mengukur keberhasilan
seseorang.
Sementara itu Kasubbag TU H. Muhajir,
S.Pd. M.Ag selaku ketua Panitia dalam
laporannya mengatakan bahwa tujuan
diselenggarakan kegiatan ini adalah agar
setiap PNS dan Pejabat Penilai dapat
menyusun SKP sesuai dengan bidang
tugas jabatan masing-masing, serta dapat
mengetahui capaian SKP-nya.
Kegiatan ini diikuti 100 peserta terdiri
dari pengawas, guru serta KTU MAN dan
MTsN. •BHN
WORKSHOP PENGEMBANGAN
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
KELAS AKSELERASI
JEMBER – Dalam rangka meningkatkan
Mutu Pendidikan dan Daya Saing Madrasah
dan Profesionalisme Guru, bertempat di
aula MTsN Jember II dilangsungkan Workshop Pengembangan Model-model Pembelajaran Kelas Akselerasi(6/3). Acara ini dihadiri oleh guru-guru MTS se-Kab. Jember.
Dalam sambutannya, Kakankemenag
Kab. Jember Drs. H. Rosyadi BR, M.Pd.I
menyampaikan bahwa workshop ini
diselenggarakan oleh MTs Negeri Jember II
dengan tujuan ihktiar memperkaya khazanah
intelektual dan skill guru mengenai modelmodel pembelajaran yang relevan untuk
diimplementasikan di kelas akselerasi.
Model-model pembelajaran yang relevan
ini akan mengeksplorasi pengetahuan dan
peran aktif siswa dalam semua aktivitasnya.
Dengan model pembelajaran yang tepat,
jika diterapkan pada kelas akselerasi
yang berisikan siswa/siswi yang ber IQ
tinggi, maka hasil belajarnya akan sangat
signifikan dan tentunya akan meningkatkan
daya saing madrasah.
Kakankemenag Kab. Jember juga
berharap agar workshop ini dapat berjalan
dengan lancar dan menghasilakan out put
yang terbaik dalam upaya peningkatan mutu
dan daya saing madrasah. •Ratna
DIKLAT PENELITIAN TINDAKAN BIMBINGAN
DAN KONSELING DI MAN 2 KOTA PROBOLINGGO
KOTA PROBOLINGGO – Dalam rangka
meningkatkan kompetensi guru BK, MAN
2 Kota Probolinggo menggandeng ABKIN
Cabang Kota Probolinggo selenggarakan
Diklat Penelitian Tindakan Bimbingan dan
Konseling Bagi Guru MA/SMA/SMK/MTs/
SMP, (12-14/3). Kegiatan ini bertempat di
aula MAN 2 Kota Probolinggo dan diikuti 73
guru BK dari 4 Kab/Kota (Kota Probolinggo,
Kab. Probolinggo, Kab. Lumajang, dan
Pasuruan).
Menurut Kepala MAN 2 Kota Probolinggo, Syaiful Anwar, S.Ag, M.Pd, kegiatan
ini untuk memfasilitasi guru mencapai
standar kompetensi profesi yang telah
ditetapkan. Sekaligus memutakhirkan kompetensi yang dimiliki itu.
Sementara Ketua Panitia, Drs. Qabil
Yazid, M.Pd menjelaskan bahwa kegiatan ini
adalah pencerahan di dunia konseling dan
diharapkan terwujud guru yang profesional,
bermartabat dan sejahtera, sehingga bisa
berpartisipasi aktif meningkatkan mutu
pendidikan.
Hadir dalam acara ini, Kasi Pendma
Kankemenag Kota Probolinggo Samsur,
S.Ag, M.Pd.I, Kadis Pendik Kota Probolinggo
Adi Suhermanto, M.Pd, dan Ketua ABKIN
Cabang Kota Probolinggo H. Ahmad Jazuli
Afandi, S.Ag, S.Pd, S.Psi, MA. •Arb
52
MPA 343 / April 2015
Pokjaluh Kab. Madiun Bantu Terapi dan Santunan Kepada Korban Bencana
Kusnan, M.Ag, salah seorang penyuluh sedang memberikan bantuan simbolis
kepada salah seorang korban.
KAB. MADIUN – Bencana yang menghampiri wilayah Kecamatan
Dagangan Kab. Madiun khusunya Desa Mendak, Segulung dan
Joho mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan lingkungan yang
sangat luar biasa. Di antaranya korban jiwa 2 orang, 2 rumah
hanyut terbawa banjir, 40 rumah rusak dan hilangnya 5 ekor sapi
dan 25 ekor kambing. Untuk meringankan beban, Kelompok Kerja
Penyuluh Agama Islam Kabupaten Madiun mengadakan solidaritas
kemanusiaan dengan memberikan bantuan, (23-26/2).
Kegiatan diawali dengan memberikan terapi trauma pasca
bencana melalui pendekatan tausiah dan sharing oleh Kusnan,
M.Ag salah seorang Penyuluh Kec. Madiun. Dilanjutkan penyerahan
santunan sembako dan pakaian layak pakai secara simbolis yang
diwakili Dra. Hj. Suswinarsih (Penyuluh Kec. Kebonsari) kepada
Kasun dan diteruskan mengunjungi lokasi bencana.
Dalam sambutannya Haris Yusuf, S.Ag selaku Wakil Ketua
Pokjaluh Kab. Madiun turut prihatin atas musibah yang ada.
Namun semua harus diterima dengan sabar dan ikhlas karena ini
adalah ujian Allah. Semoga adanya musibah ini, masyarakat lebih
mendekatkan diri kepada Sang Khaliq dan menjaga lingkungan dan
ekosistem alam. •Arf
Delapan Pejabat KUA Dilantik Dalam Rangka Kepentingan Organisasi
MAGETAN – Bertempat di KUA Kec. Ngariboyo, 8 pejabat
KUA dilantik oleh Kakankemenag Kab. Magetan, Drs. H. Moch
Amin Mahfud M.Pd.I (4/3/2015). Pelantikan yang berjalan secara
sederhana ini dihadiri Kepala KUA se-Kab Magetan, Pengawas
Agama Islam, Penghulu dan Penyuluh Agama Islam Fungsional.
Dalam sambutannya, Amin Mahfud antara lain menekankan bahwa sebagai aparatur Kementerian Agama mulai saat ini
harus mengubah mindset. Jika dulu ada semacam pandangan
wilayah basah dan kering, untuk sekarang semua KUA di manapun sama. Harus siap melaksanakan tugas sebaik-baiknya.
Apalagi sekarang semua KUA telah sepakat satu tekad melaksanakan penerapan zona integritas wilayah bebas dari korupsi,
wilayah birokrasi bersih dan melayani. Pelantikan ini juga untuk
kepentingan organisasi.
Adapun 8 pejabat yang dilantik sebagai Kepala KUA adalah
Bani Arrosid,S.Ag (Kec. Magetan), Drs. Sadali, M.Pd.I (Kartoharjo), Toyib Hadi Sucipto, S.Ag (Sukomoro), Drs. Nur Suja,
Kakankemenag Kab. Magetan berharap agar pejabat terlantik
dapat menerapkan integritas wilayah bebas dari korupsi.
M.Pd.I (Sidorejo), Drs. Paimun, M.Ag (Plaosan), Farudi,S.Ag
(Parang), Drs. Amin (Lembeyan), dan Rohmat Priyo Wibowo,S.
Ag (Kec. Nguntoronadi). •Mkd
Pembinaan PSK Kedungbanteng Ponorogo, Menyongsong Penutupan Lokalisasi
Salah seorang Penyuluh Agama Islam Kemenag Kab. Ponorogo,
tengah memberikan pencerahan para PSK.
PONOROGO – Menindaklanjuti instruksi Gubernur Jawa
Timur agar seluruh lokalisasi PSK tidak beroperasi lagi, jajaran
stakeholder di Ponorogo berkomitmen menutup lokalisasi di
Desa Kedungbanteng Kecamatan Sukorejo Ponorogo. Rencana
penutupan ini pada bulan Juni 2015.
Banyak hal yang harus dipersiapkan. Di antaranya melakukan
berbagai pembinaan ekonomi oleh Indakop, pembinaan mental
oleh Kementerian Agama, kesehatan, ketenaga kerjaan dan lainlain. Pembinaan tersebut diharapkan akan mampu menjadi bekal
mereka dalam menjalani kehidupan dan kembali ke masyarakat,
setelah tidak menjadi PSK. Rencananya, semua PSK juga akan
diberi pesangon untuk modal kerja.
Dalam hal pembinaan keagamaan, Kemenag Kab. Ponorogo
memberi tugas kepada para Penyuluh Agama Islam untuk
membimbing dan mengarahkannya. Seperti pada tanggal
19 Maret 2015 yang lalu, salah satu penyuluh agama Islam
tengah memberikan pembinaan kepada sekitar 178 PSK. Dan
selanjutnya, kegiatan ini akan dijadwalkan setiap hari Kamis.
Dengan harapan tumbuh kesadaran dan bisa menjadi insan yang
lebih baik serta meniti jalan yang benar. •Ifroh
MPA 343 / April 2015
53
PELANTIKAN KEPALA KUA KECAMATAN
NGAWI - Bertempat di BP. Al Falah
Kankemenag Kab. Ngawi berlangsung
pelantikan dan pengambilan sumpah
pejabat struktural Kankemenag Kab.
Ngawi. Pejabat yang dilantik adalah
Kepala KUA Kecamatan Ngawi, Kepala
KUA Kecamatan Widodaren dan Kepala
KUA Kecamatan Karang Jati, (26/2).
Pada kesempatan pembinaan pejabat
yang baru dilantik, Kakankemenag Kab. Ngawi,
Drs. Syahidan, MH mengharap bahwa sebagai
Aparatur Sipil Negara dalam melaksanakan
tugas harus memperhatikan prinsip transparansi dan kebersamaan, melaporkan hasil
kerja, mempertahankan kredibilitas dan status
sebagai seorang aparat negara serta menjaga
kewibawaan kantor. “Semua pegawai maupun
pejabat harus melaporkan hasil kinerja
kepada atasan langsung secara hierarkhis
setiap dua bulan sekali dalam bentuk tulisan
tangan”, tegas Drs. Syahidan di hadapan para
pejabat dan tamu undangan yang hadir pada
acara pelantikan tersebut.
Adapun tiga pejabat yang dilantik
pada siang itu adalah Masrochan, S.Ag
sebagai Kepala KUA Kecamatan Karangjati,
Drs. Nasroni, M.Ag. sebagai Kepala KUA
Kecamatan Widodaren, dan Drs. Nur
Wachid, M.Pd.I, sebagai Kepala KUA
Kecamatan Ngawi. •Guh
SEKSI PD PONTREN DAN ISLAMADINA
NGAJI TOUR KE TIGA PESANTREN
SIDOARJO – Pada Harlah Islamadina
(Ikatan Silaturrahmi Madrasah Diniyah) ke8, Seksi PD Pontren bersama Islamadina,
pada awal Maret lalu mengadakan Ngaji
Tour ke tiga ponpes yaitu Al-Ghazali
Pungging Mojosari, Tebuireng Jombang dan
Jampes Kediri. Kegiatan ini diikuti seluruh
pengurus Islamadina plus staf seksi PD
Pontren, juga KH. Turmudzi (Penasehat
Islamadina) juga ikut serta.
Kasi PD Pontren, Drs. Suhaji, M.Si,
mengatakan, tujuan ngaji tour selain untuk
bersilaturrahim dengan tiga ulama, juga
mencari informasi (ngaji) tentang kiat-kiat
kesuksesan mengelola lembaga madrasah
diniyahnya.
KH. Sonhaji Machfud (da’i di TV9 dan
JTV) Pengasuh PP Al Ghozali Pungging
Mojokerto memberi wejangan agar
mengamalkan bacaan “hasbunallah
wani’mal wakil” agar santri dan lembaga
yang dikelola mendapatkan berkah dan
manfaat dan dimudahkan dalam urusan.
Sementara itu, KH. Sholahuddin Wahid dari
Ponpes Tebuireng Jombang menekankan
kesabaran ulama dalam penanaman moral
pendidikan moral kepada santri. Sedangkan
di PP Jampes Kediri, pengurus Islamadina
ziarah ke makam Kiai Pengarang Kitab
Sirajut Tholibin. •MS
PEMBINAAN MTQ DI HOTEL MADINAH
PAMEKASAN – Dalam rangka mempersiapkan kafilah MTQ Tingkat Prov. Jatim
ke-XXVI pada bulan Mei mendatang, Kankemenag Kab. Pamekasan bekerjasama
dengan Pemda Pamekasan mengadakan
pembinaan dan eliminasi hasil kejuaraan
MTQ tingkat Kabupaten. Kegiatan ini
dilaksanakan di hotel Madinah selama 3
hari, (20-22/3).
Cabang-cabang MTQ yang dibina
adalah Tartil, Tilawah Anak-anak, Tilawah
Remaja, Tilawah Dewasa dan Qiro’ah
Sab’ah, Tahfiz 1 juz Tilawah, Tahfiz 5 juz
Tilawah, Tahfiz 10 juz , 20 juz dan 30
juz, Tafsir Bahasa Arab, Bahasa Inggris,
Bahasa Indonesia, Syarh al-Quran, Khat
al-Quran dan Fahm al-Quran.
Adapun pembina acara ini adalah DR.
Imam Amrusi Jailani, M.Ag., Drs. Syamsul
Hadi, Khairul Amin, S.Ag., HM. Syahid, M.
Masduqi Alwi, RPA. Nadjibul Choiri, SH.,
Akh. Kusyairi, S.Pd., Akh. Syarkawi, S.Ag.,
Drs. HM. Munir., Drs. Salim, Drs. Baidhowi
Abshor, Drs. Budi Hariyanto, Syahid Siraj,
Marsuki, dan Qomaruddin, S.Ag.
Drs. H. Zayyadus Zabidi, M.Ag. selaku
Kasi Bimas Islam mengatakan bahwa
kegiatan ini bertujuan menanamkan nilainilai al-Quran dan menciptakan kesalehan
sosial bagi masyarakat bukan untuk mencari
kejuaraan. •Sri Mukti
KUNJUNGAN KERJA
ANGGOTA KOMISI VIII DPR-RI
LUMAJANG – H. Muhammad Nur
Purnamasidi, S.Sos anggota Komisi VIII
DPR RI Partai Golkar Dapil Jatim IV dalam
masa Reses melakukan kunjungan kerja ke
Kankemenag Kab. Lumajang, (3/3). Dalam
kunjungannya komisi yang membidangi
Kementerian Agama, Kementerian Sosial,
BNPB dan KPAI ini melakukan sharing
dengan Kakankemenag Kab. Lumajang
dan jajarannya.
Politisi Partai Golkar ini menyampaikan
bahwa tujuan kunjungan kerja ini adalah
untuk melakukan komunikasi, mengetahui
secara langsung informasi dan aspirasi yang
hasilnya nanti akan dijadikan acuan untuk
disampaikan pada sidang paripurna DPR RI.
Kakankemenag Kab. Lumajang, Nuril
Huda, SH, S.Pd.I, MH, dalam sambutannya
melaporkan keberadaan lembaga pendidikan
yang sebagian besar adalah swasta mulai
tingkat RA hingga MA, dan hanya ada 5
lembaga negeri. Meski demikian, animo
masyarakat untuk menyekolahkan putra
putrinya di madrasah tetap tinggi.
Selanjutnya Kakankemenag memberi
kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan segala permasalahan yang dihadapi di
wilayah kerjanya masing-masing. Kemudian
ditanggapi langsung oleh H. Muhammad Nur
Purnamasidi, S.Sos. •Ziza
POKJAHULU KANKEMENAG KAB SIDOARJO
SELENGGARAKAN RAKER
SIDOARJO – Untuk menjaga soliditas
internal, dibentuklah organisasi kepenghuluan yaitu Kelompok Kerja Penghulu
(Pokjahulu). Bertempat di RM Joyo Taman
Pinang, Pengurus Pokjahulu dikukuhkan
oleh Kakankemenag Kab. Sidoarjo, Drs.
H. M. Nur Sjamsuddin AM, Msi sekaligus
mengadakan Raker, akhir Pebruari lalu.
Usai mengukuhkan, Drs. H. M. Nur
Sjamsudin AM, M.Si berharap agar
Pokjahulu membantu Kemenag memberi
pelayanan nikah kepada masyarakat. Di
samping juga menjaga citra Kemenag
Kab Sidoarjo dan menyamakan visimisi dan pola pikir dalam bekerja serta
menerapkan lima budaya kerja dan juga
loyal kepada instansi.
Sementara itu, Kasi Bimas Islam Drs. H.
Syaiful Hadi, M.Pd.I yang bertindak sebagai
keynote speaker pada acara ini berharap
agar penghulu bangga pada profesinya,
karena tidak ada yang memajukan
penghulu kecuali penghulu itu sendiri. Oleh
karenanya, penghulu wajib meningkatkan
profesionalismenya masing-masing
Pengurus Pokjahulu Kankemenag Kab.
Sidoarjo periode 2014-2017 diketuai oleh
Drs. Syamsuddin, sementara Syamsul
Hidayat, S.Ag sebagai sekretaris, dan H.
Fuat Syakir, S.Pd.I sebagai bendahara. •Ms
PELATIHAN BRONIS DAN PENCERAHAN GENDER
GRESIK – Ibu rumah tangga harus
dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan sehingga secara ekonomi bisa
membantu meningkatkan taraf hidup
keluarga. Di antaranya dengan membuat
produk home industri. Karena produksi
kue kering dan bronis kukus saat in
diminati konsumen. Jika ini ditekuni
dan dijalankan secara profesional dan
dikemas dengan bagus, konsumen akan
tertarik. Hal tersebut disampaikan Ketua
DWP Kemenag Gresik Hj. Indah Haris
Hasanudin pada kegiatan rutin yang diisi
dengan pelatihan membuat bronis dan
kue kering, (4/3)
Selain pelatihan, pada kesempatan ini
pula diberikan pencerahan gender. Karena
saat ini ada banyak wanita yang berkarier
bagus dan merasa mampu secara finansial,
mengajukan gugatan cerai ke suami.
Padahal seorang wanita juga sebagai ibu
rumah tangga yang mempunyai tanggung
jawab kepada keluarga.
Fakta di kabupaten Gresik, lebih dari
130 PNS mengajukan perceraian, hanya
37 orang yang disetujui Bupati. Dan
mayoritas adalah dari kalangan pendidik.
Oleh karenanya, DWP yang beranggotakan
istri PNS dan anggota aktif, harus pandai
mengatur waktu sebagai pendamping suami
dan pendidik anak. •Fudlla
54
MPA 343 / April 2015
SEBANYAK TIGA KEPALA KUA DIMUTASI
BANYUWANGI – “Mutasi dan rolling
pejabat adalah hal biasa di sebuah institusi,”
kata Kakankemenag Kab. Banyuwangi H.
Santoso usai melantik Kepala KUA di aula
setempat, (9/3). Kepada pejabat yang
dilantik, dipesankan agar segera menyesuaikan diri di tempat tugas yang baru
dan segera berkoordinasi dengan instansi
terkait.
Tidak hanya itu, H. Santoso juga
mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dilaksanakan dengan penuh
tanggungajawab dan bisa dipertanggungjawabkan. Untuk itu pejabat terlantik
diwanti-wanti agar selalu mengikuti
perkembangan yang terus berkembang
di institusi. Terutama yang menyangkut
pembangunan zona integritas di lingkungan
Kankemenag Kab. Banyuwangi.
Adapun pejabat yang mengalami mutasi
adalah H. Lukman Hariyanto, S.H.I dari
KUA Kec. Licin dimutasi ke KUA Kec. Giri,
menggantikan posisi H. Ahmad, S.PdI yang
dipindah ke KUA Kec. Siliragung. Selain itu.
Fathurrahman, S.Ag dimutasi ke KUA Kec.
Licin, yang sebelumnya bertugas di KUA
Kec. Siliragung.
Acara ini dihadiri oleh seluruh pejabat
Kankemenag Kab. Banyuwangi, Kepala
Madrasah, Kepala KUA, Pengawas, dan ibuibu DWP se-Kab. Banyuwangi. •Yasin
RAKER BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL
(BAZNAS) KAB LUMAJANG TAHUN 2015
LUMAJANG – Dalam rangka intensifikasi
pengumpulan ZIS dan penyusunan program
kerja Badan Amil Zakat (BAZ) tahun 2015
serta penyerahan secara simbolis NPWZ,
BAZNAS Kab. Lumajang menggelar rapat
kerja dan pembinaan Unit Pengumpul Zakat
(UPZ). Kegiatan ini bertempat di gedung
PKK Kab. Lumajang, (25/2)
Ketua BAZ Kab Lumajang Drs. H. Mulih
Farid berterima kasih dan mengapresiasi
UPZ Kab Lumajang serta semua pihak
yang telah berkontribusi. Karena berkat
kerjasama semuanya, perolehan ZIS meningkat mencapai Rp. 2,8 Milyar. Untuk
tahun 2015 ditarget hingga 4 Milyar. Target
itu didapat dari rata-rata perolehan ZIS per
bulan yang mencapai Rp. 350 juta. Hasil
ini dari optimalisasi pengumpululan zakat
dari muzakki baru yaitu dari peningkatan
perolehan ZIS dari UPT pendidikan SD,
MKKS SMP, MKKS SMAN dan MKKS SMKN,
SKPD, BUMN, pengusaha, pedagang dan
sektor pertanian.
Wabub Kab. Lumajang Drs H. As’at
Malik M.Ag dalam sambutannya menghimbau kepada para kepala sekolah
yang hadir agar mempergunakan waktu
sebaik-baiknya untuk memotivasi muzakki,
terutama kepada guru di lingkungan kerja
masing-masing. •Ziza
RAPAT ANGGOTA TAHUNAN (RAT)
KPRI KEMENAG KAB .NGANJUK
NGANJUK – Bertempat di Wisma
Koperasi Jalan Raya Nganjuk-Madiun
dan dihadiri oleh 700 orang pengurus dan
anggota Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Kankeemnag Kab. Nganjuk,
Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tutup Buku
tahun 2014 diselenggarakan dengan lancar,
(28/2). Kepala Dinas Dekopinda Kab. Ngajuk
beserta Kepala Dinas Indagkoptamben Kab.
Nganjuk juga berkenan hadir sekaligus
memberikan sambutan pada acara tersebut.
Drs. Habibunnajar Ketua KPRI
Kankemenag Kabupaten Nganjuk dalam
pengarahannya menyampaikan bahwa untuk
mempercepat pertumbuhan, perkembangan
dan meningkatkan pelayanan kesejahteran
anggota, peran aktif anggota sangat diharapkan. Di antara bentuk nyata adalah
simpan pinjam dan belanja pada koperasi
yang dilakukan.
Acara pokok RAT kali ini dipandu
oleh Ketua KPRI Kemenag Kab. Nganjuk
Drs. Habibunnajar, MM. Dan mulai dari
pengesahan quorum rapat, pembagian
doorprice, hingga pemilihan pengawas
KPRI Kemenag Kab. Nganjuk Masa Bhakti
2015-2017 dapat berjalaan dengan lancar
dan tidak mengalami perubahan acara. Dan
acara RAT ini ditutup dengan do’a dipandu
oleh H. Farid Wajdi, S.Ag. •Nur
MUSYAWARAH DAERAH III PD IGRA
KABUPATEN JEMBER 2015-2020
JEMBER – Bertempat di Aula IKIP PGRI
Kab. Jember, IGRA Kab. Jember melaksnakan
kegiatan MUSDA III PD IGRA Kab. Jember
masa kepengurusan Tahun 2015 – 2020, (
18/2 ). Acara ini dihadiri oleh Kakankemenag
Kab. Jember Drs. H Rosyadi BR, M. Pd. I,
Kasi Pendma Drs. H. Mahfudz M.Pd serta
guru-guru RA se-Kab. Jember.
Dalam sambutannya, Kakankemenag
Kab. Jember menyampaikan bahwa kegiatan MUSDA ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan mutu
dari guru-guru RA yang akan menjadi
pendidikan awal dan pencentak generasi
penerus bangsa. Sehingga guru-guru RA
diharapkan tetap bersabar dalam membimbing dan mendampingi anak-anak
dalam belajar. Karena memang guru-guru
dituntut untuk dapat bersabar, karena
dengan sifat kesabaran dari guru maka
akan menumbuhkan kesuksesan dan
keberhasilan bagi anak-anak didik.
Sementara itu, Kasi Pendma Drs. H.
Mahfudz M.Pd dalam laporannya berharap
agar ilmu yang yang diperoleh peserta
dari MUSDA PD IGRA ini nanti dapatnya
diteruskan kepada guru yang tidak
mengikuti. Acara kemudian dilanjutkan
dengan acara pokok yang mendatangkan
nara sumber dari Surabaya. •Ratna
RAKOR DAN PUBLIKASI
PROGRAM KEGIATAN KEMENAG KAB. BLITAR
BLITAR – Mengingat pentingnya penyusunan program kerja tahun 2015, tuntutan
akuntabilitas dan profesionalitas kinerja
pegawai Kementerian Agama juga sebagai
upaya optimalisasi dan efektifitas kinerja
Kementerian Agama serta pentingnya
membangun kebersamaan, koordinasi dan
bekerjasama yang efektif, Kankemenag
Kab. Blitar mengadakan Rakor dan
Publikasi Program Kegiatan Kemenag.
Kab. Blitar, (3/3).
Acara yang bertempat di aula Raudlah
Kankemenag. Kab. Blitar ini dihadiri oleh
Kakankemenag Kab. Blitar, Kasubbag TU,
para Kasi dan Penyelenggara, Kepala
KUA, Pengawas, Kepala MAN, MTsN, dan
Kepala MIN di lingkungan Kankemenag.
Kab. Blitar.
Drs. H. Akhmad Mubasyir, MA dalam
sambutannya menjelaskan bahwa tujuan
dilaksanakannya acara ini adalah dalam
rangka koordinasi dan publikasi program
kerja Satker Kankemenag Kab. Blitar. Di sisi
lain juga untuk meningkatkan akuntabilitas
dan profesionalitas kinerja Kemenag
Kab. Blitar, dengan sasaran terwujudnya
tata kerja dan akuntabilitas Kementerian
Agama dengan baik dan terukur juga
terselenggaranya koordinasi yang baik di
lingkungan Kankemenag Kab. Blitar. •Han
KOTA PASURUAN TARGETKAN
JUARA UMUM MTQ TINGKAT PROVINSI
KOTA PASURUAN – Dengan tema
“Melalui Pembinaan MTQ, Kita Wujudkan
Kepribadian Jiwa Seni Yang Tinggi Dan
Berakhlakul Qurani”, Kemenag Kota Pasuruan menggelar acara pembinaan MTQ
Daerah bertempat di aula Kankemenag Kota
Pasuruan, (16/3). Kegiatan yang dibuka
oleh Kakankemenag Kota Pasuruan Drs.
H. Ma’mur Salim, M.si, dihadiri oleh Kabag
Kesra Pemkot, para pembina, juri dan juga
seluruh peserta dari seluruh cabang MTQ.
Dalam sambutannya, Kakankemenag
Kota Pasuruan mengatakan bahwa
pembinaan ini bukan hanya dilaksanakan
di kantor saja, tetapi juga dilaksanakan
di luar kantor. Diharapkan pembina ini
bisa memaksimalkan pembinaannya dan
dalam pelaksanaan MTQ tingkat provinsi di
Banyuwangi bisa pulang membawa nama
harum Kota Pasuruan. “Minimal juara satu
10 orang dan minimal masuk 10 besar atau
menjadi Juara Umum. Apalagi Kota Pasuruan
direncanakan akan dijadikan tempat MTQ
Tingkat Jawa Timur selanjutnya,” ujarnya.
Dikatakannya oleh Kakankemenag
Kota Pasuruan bahwa Pemkot dan
Kemenag Kota Pasuruan menerima
dengan tangan terbuka dan siap untuk
ditempati sebagai tuan rumah MTQ TK I
Jatim tahun 2017 nanti. •Mdk
MPA 343 / April 2015
55
Olah Raga Bersama, Ajang Silaturrahim Kemenag Kota Pasuruan dan Kota Surabaya
Pegawai Kankemenag Kota Pasuruan dan Kota Surabaya
melakukan foto bersama menambah keakraban kedua instansi.
KOTA PASURUAN – Jumat (20/3), Kemenag Kota Pasuruan
menerima tamu dari Kemenag Kota Surabaya. Rombongan dari
kota pahlawan ini disambut gembira oleh seluruh pegawai
Kankemenag Kota Pasuruan dengan diiringi tari gendrang dari
siswa MIN Mandanrejo Kota Pasuruan. Sejurus kemudian,
Kakankemenag Kota Pasuruan memberikan kalungan bunga
kepada Kakankemenag Kota Surabaya yang diarahkan ke aula
Kankemenag Kota Pasuruan.
Kakankemenag Kota Pasuruan mengucapkan selamat datang
kepada para tamu yang selain bersilaturrahim juga mengadakan
olah raga persahatan yang diharapkan dapat meningkatkan
perestasi kerja Olah raga yang ditandingkan adalah tenis lapangan,
bola volly, bulu tangkis dan futsal. Kegiatan pertandingan ini
semakin mengakrabkan keluarga besar Kankemenag Kota Pasuruan
dan Kemenag Kota Surabaya. Seusai olahraga dilanjutkan dengan
jamuan makan siang bersama di aula Kemenag Kota Pasuruan.
Suasana semakin akrab, setelah sholat jumat diisi dengan
pesta durian. Semua yang datangpun mendapatkan bagian untuk
makan durian. Bau yang kuat dari durian, membuat isi kantor
berbau durian. •Mdk
Panitia Gandeng UIN Malik Ibrahim Malang, Jamin Netralitas KSM Kabupaten Malang
MALANG - Ribuan orang memenuhi halaman MTsN Kepanjen
Kabupaten Malang untuk mengikuti acara pembukaan Kompetisi
Sains Madrasah (KSM) tingkat Kabupaten Malang Tahun 2015,
(7/3). Kompetisi yang melibatkan 3 (tiga) tingkatan madrasah
yakni MI, MTs dan MA ini merupakan ajang untuk memupuk
motivasi bagi siswa madrasah dalam mengembangkan bakat dan
minat di bidang agama, sains, sosial dan bahasa sehingg dapat
berkreasi dan memiliki SDM yang handal di masa mendatang.
“Sudah selayaknya siswa madrasah memiliki kesadaran
untuk meningkatkan kemampuan intelektual, emosional
dan spiritual berdasarkan nilai-nilai agama Islam”, ungkap
Kakankemenag Kab. Malang, Drs. H. Moh. As’adul Anam, M.Ag
pada saat membuka kegiatan tersebut di aula MTsN Kepanjen.
Sementara itu, Drs. H. Nasrulloh selaku penyelenggara
menyatakan bahwa KSM ini merupakan agenda rutin untuk
menyiapkan kontingen Kabupaten Malang yang akan berkompetisi
di tingkat provinsi yang akan digelar pada tahun yang sama.
Kakankemang Kab. Malang sedang memberikan soal secara simbolis
kepada ketua panitia KSM Kabupaten Malang.
Sebagai jaminan netralitas dan bobot penyelenggaraan,
pihak panitia menggandeng UIN Maulana Malik Ibrahim sebagai
penyusun naskah soal. •Arif
Sosialisasi Permenpan & RB Nomor 52 Tahun 2014, Agar Ada Keseragaman Pemahaman
Kakankemenag Kab. Pacitan saat memberikan arahan
terkait pentingnya Sosialisasi Permenpan & RB Nomor 52 Tahun 2014.
PACITAN – Rabu (4/3), Kankemenag Kab. Pacitan menyelenggarakan Sosialisasi Permenpan dan RB Nomor 52 Tahun 2014
56
MPA 343 / April 2015
tentang Pedoman Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah
Bebas Dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani di
Lingkungan Instansi Pemerintah. Kegiatan yang dilaksanakan
di aula Kankemenag Kab. Pacitan ini diikuti seluruh pejabat
struktural maupun fungsional sebagai tindak lanjut sosialisasi
serupa di tingkat Kanwil Kemenag Prov.
H. Zuhri. M.Si. selaku narasumber menyampaikan bahwa tahun
2014 pelaksanaan Zona Integritas berpedoman pada Permenpan
& RB Nomor 60 Tahun 2012, sedangkan mulai tahun 2015 ini
berpedoman pada Permenpan & RB Nomor 52 Tahun 2014.
Lebih lanjut Kakankemenag Kab. Pacitan menuturkan
bahwa sosialisasi ini penting dilaksanakan, karena akan menjadi
pedoman dan acuan bagi instansi pemerintah sehingga dapat
memberikan keseragaman pemahaman dan tindakan. Sementara
itu, perbedaan mendasar Permenpan & RB dibanding sebelumnya
adalah terletak pada penentuan komponen yang harus dibangun
sebagai indikator keberhasilan, yaitu 60% komponen pengungkit
dan 40% komponen hasil. •Cros
PENGEMBANGAN DIRI
APARATUR SIPIL NEGARA
KAB. BLITAR – Bertempat di aula Minna
Kementerian Agama Kabupaten Blitar, di
gelar Diklat Di Tempat Kerja “Pengembangan
Diri Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh Balai
Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan
Surabaya selama 4 hari, (10-13/3). Acara ini
dihadiri 30 peserta perwakilan dari pegawai
MAN, MTsN, MIN, KUA dan Kemenag. Kabupaten Blitar, dan Kota Blitar.
Tujuan diadakannya DDTK Pengembangan Diri ASN ini adalah diharapkan
peserta mampu merefleksikan pengalaman
spiritual, emosional dan intelektual berdasarkan norma Pancasila, keagamaan
dan peraturan. Sehingga meningkatkan
pelayanan kepada masyarakat secara
jujur, adil dan merata guna menciptakan
pemerintahan yang baik dan bersih di
lingkungan Kementerian Agama.
Kakankemenag Kab. Blitar, Drs. H.
Akhmad Mubasyir, MA dalam sambutannya
menyatakan bahwa acara ini sangat penting
untuk membentuk diri Aparatur Sipil
Negara yang baik, taat aturan, tanggung
jawab sebagai pelayan masyarakat. Sebagai
Aparatur Sipil Negara Kementerian Agama
seyogyanya senantiasa menerapkan 5
Budaya Kerja Kementerian Agama yaitu
integritas, profesional, inovasi, tanggung
jawab dan keteladanan. •Han
PENGAJIAN PKK DAN DHARMA WANITA
OLEH KASUBAG KEMENAG NGANJUK
NGANJUK –DWP Kankemenag Kab.
Nganjuk melaksanakan pengajian yang
menjadi agenda rutin tiap bulan sekali.
Pada pengajian kali ini dihadiri 200 jamaah
pengajian dari PKK dan DWP se-Kab.
Nganjuk dan bertempat di ruang Anjuk
Ladang Kab. Nganjuk, (27/2).
Acara pengajian diisi dengan membaca
Surah Yasin bersama tahlil dan juga
santunan anak yatim. Juga dimeriahkan
dengan tampilan dari group rebana dari
Kec. Berbek.
Ketua Kelompok Pengajian PKK dan
Dharma Wanita Dra. Hj. Endang Marheningsing Masduqi berterimakasih kepada
peserta yang berkenan memenuhi
undangan. Seraya berharap agar anggota
yang belum bisa hadir, dalam kesempatan
yang lain bisa mengikuti.
Tema pengajian kali ini adalah Dzikir
kepada Allah sebagai bentuk kehambaan
diri yang disampaikan oleh Kasubag TU
Kankemenag Kab. Nganjuk Drs. H. Imam
Mujaib, M.HI. Dalam inti paparannya,
beliau menyampaikan bahwa sebagai
hamba Allah yang beriman hendaknya
setiap saat berdo’a dan berdzikir kepada
Allah. Sehingga apa yang kita lakukan akan
selalu mendapatkan petunjuk dari-Nya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan
tanya jawab dan ditutup dengan do’a. •Nur
IPHI KECAMATAN WONOMERTO
LAKSANAKAN MANASIK HAJI PUTARAN KETIGA
PROBOLINGGO – Bertempat di aula
KUA Wonomerto, dua KUA yaitu KUA
Wonomerto dan KUA Lumbang melaksanakan manasik haji putaran ketiga yang
diikuti puluhan CJH Kec. Wonomerto dan
Lumbang. Kegiatan ini dibina langsung
oleh Kepala KUA Wonomerto H. Wawan
Ali Suhudi, S.Ag. M.Hum dan Kepala KUA
Lumbang Imamuddin Nur Fajri, M.PdI
dan Pembina IPHI Kab. Probolinggo KH.
Syuhada’ Nasrullah, (17/3).
Pembinaan dilaksanakan dengan cara
bergantian antara pembimbing yang satu
dengan pembimbing lainnya. Mulai dari
pengenalan tata cara pelaksanaan ibadah
haji dan umrah, penyempurnaan syarat,
rukun dan wajib haji, juga mencakup tata
cara memakai pakaian ihram.
Kepala KUA Wonomerto bahwa kegiatan
bertujuan membantu para CJH agar bisa
mengetahui tata cara pelaksanaan ibadah
haji dengan baik dan benar. Sehingga ketika
di tanah suci bisa sempurna sesuai aturan
fiqhiyah dan menjadi haji mabrur.
Acara ini terselenggara dengan baik
berkat kepala KUA yang bersungguhsungguh membangun komunikasi dengan
berbagai pihak. Di antaranya dengan PHU
Kankemenag Kab. Probolinggo, Pengurus
IPHI Kabupaten serta pembimbing. •Ansori
KASUBAG TU MEMBUKA PEMBINAAN
PENYUSUNAN LAKIP
KOTA MALANG – Kasubbag TU Kankemenag Kota Malang, H. Muhajir, S.Ag.
M.Ag membuka pembinaan dan penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (LAKIP) di lingkungan
dan jajaran Kemenag Kota Malang, (5/3).
Kegiatan ini diikuti 40 orang peserta,
terdiri dari Kepala Seksi & Binsyar, para
Kepala KUA, para Kepala Madrasah
Negeri serta JFU perwakilan seluruh
Jajaran Kankemenag Kota Malang.
Ketua Panitia yang juga Analis
Perencana Drs. Agus Sunaryo, M.Si dalam
laporannya berharap agar dengan kegiatan
ini dapat tercapai laporan kinerja instansi
pemerintah tahun 2014 pada Jajaran
Kemenag Kota Malang. Di samping adanya
kesamaan pemahaman dalam menyusun
Lakip, serta adanya pembuatan pelaporan
yang berkualitas. Sementara itu Kasubbag
TU, H. Muhajir, S.Ag, M.Si dalam sambutan
pembukaannya mengatakan bahwa dalam
rangka mewujudkan good governance,
penerapan akuntabilitas dan transparansi
merupakan salah satu aspek yang sangat
penting dan penentu dalam pelaksanaan
reformasi birokrasi. Nara sumber acara
ini adalah Sarwititi, S.Sos. MM (Analis
Laporan Akuntabilitas Kinerja) dari Kanwil
Kemenag Prov. Jatim. •Bhn
PEMBINAAN KAFILAH MTQ KOTA SURABAYA
SURABAYA – Bertempat di Masjid
Muhajirin Pemerintah Kota Surabaya diselenggarakan pembinaan Kafilah MTQ Kota
Surabaya, (11-12/3). Acara yang diikuti
75 peserta dengan 8 cabang lomba yang
dipertandingkan ini merupakan salah satu
persiapan Kota Surabaya untuk menyongsong
event MTQ Provinsi Jatim XXVI di Kabupaten
Banyuwangi bulan Mei mendatang.
Dalam kesempatan ini, Kakankemenag
Kota Surabaya yang diwakili Kasi Bimas
Islam H. Amanulloh, S.Ag, M.HI dalam
pembukaan pembinaan menuturkan bahwa
seluruh yang hadir pada acara ini harus
merapatkan barisan. Baik itu peserta,
pembina, official dan semua yang terlibat
didalamnya, yakni Pemkot Kota Surabaya
dan juga Kankemenag. Semuanya harus
bahu-membahu mensukseskan MTQ di
Banyuwangi secara maksimal baik jasmani,
maupun mental. Ini dilakukan untuk meraih
prestasi yang terbaik dalam ajang kompetisi
dua tahunan itu.
Pembinaan kali ini juga melibatkan
para pembina dari berbagai jenis profesi,
sesuai dengan bidang yang dilombakan.
Diharapkan dengan pembinaan ini tercipta
dan terpilih kafilah MTQ Kota Surabaya
yang terbaik untuk diikutkan sebagai
peserta MTQ di tingkat provinsi. •Dori
SOSIALISASI PROSEDUR PENDAFTARAN
HAJI REGULER DAN HAJI KHUSUS
BOJONEGORO – Dalam upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat
tentang penyelenggaraan ibadah haji,
khususnya tentang prosedur pendaftaran
haji reguler dan haji khusus, Kankemenag
Kab. Bojonegoro melalui Seksi PHU mengadakan Sosialisasi Prosedur Pendaftaran
Haji Reguler dan Haji Khusus di aula
Lapenkop Kab Bojonegoro (17/2). Kegiatan
ini diikuti 40 peserta dari unsur Penyuluh
Agama, KBIH dan IPHI.
Dalam sambutannya Ketua panitia,
H. Masrukhin, S.Ag,MHI menyampaikan
bahwa calon jamaah haji harus mendapat
pelayanan secara prima. Hal itu bisa
tercapai jika petugas melayani dengan
tepat dan cepat. Diharapkan dengan
adanya sosialisasi ini, penyuluh, KBIH
dan IPHI dapat meneruskan informasi
tentang perhajian kepada masyarakat
luas. Sehingga CJH dapat melakukan
dan mengurus sendiri kebutuhannya
terkait dengan pendaftaran, pelunasan,
pembatalan, mutasi keberangkatan dan
dokumen-dokumen haji lainnya. Tanpa
bergantung pada orang lain. Acara yang
digelar sehari tersebut menghadirkan nara
sumber Drs. H. Munir, M.Hum (Kakankemenag Kab. Bojonegoro) dan H. Wakhid
Priyono, S.Ag,MHI (Kasi PHU). •Hs
MPA 343 / April 2015
57
Sari buah Kuning Tropical
BAHAN :
l100 gram belimbing, potong
l150 gram jambu biji merah,
buang bijinya, potong-potong
l150 gram mangga, potongpotong
l100 gram buah siwalan,
potong-potong
l100 gram manisan rumput
laut, potong-potong
l350 ml susu cair
l50 ml sirup vanili
lEs batu secukupnya
lSusu kental manis
secukupnya
CARA MEMBUAT :
1. Letakkan dan susun ke dalam mangkuk/gelas saji belimbing, jambu
biji, manga, buah siwalan, dan manisan rumput laut. Tuang susu
cair dan sirup vanili
2. Tambahkan es batu dan susu kental manis
3. Sajikan dingin
Bagar Udang
BAHAN :
l1 kg udang, bersihkan
l1 sdt air jeruk nipis
l1 sdt garam
l3 sdm minyak goreng untuk menumis
l500 ml santan encer
l200 ml santan manis
l2 cm kayu manis
l2 batang serai, memarkan
l5 lembar daun jeruk
l2 buah cengkih
BUMBU DIHALUSKAN :
l 8 buah bawang merah
l5 siung bawang putih
l4 buah cabai merah
l½ sdt merica utuh
l3 butir kemiri
l2 cm kunyit
l2 cm jahe, iris
l¼ sdt jintan
lGaram secukupnya
CARA MEMBUAT :
1. Lumuri udang dengan air jeruk nipis dan
garam, tiriskan
2. Panskan minyak, tumis bumbu yang
dihaluskan hingga harus, masukkan kayu
manis, serai, daun jeruk, dan cengkih
3. Masukkan udang dan santan encer, masak
hingga udang matang dan santan terserap.
Tambahkan dengan santan kental dan masak
hingga kuah agak mongering. Angkat
58
MPA 343 / April 2015
Sholahur Robbani
Mendulang Prestasi dari
Dunia Animasi
S
usah bagi orang lain tak berarti sulit Sholahur Robbani. Ya,
bagi sebagain orang, membuat karya animasi merupakan
hal yang tak mudah. Tapi bagi siswa Kelas IX MTsN III
Gondanglegi Kabupaten Malang ini animasi merupakan dunia
yang menyenangkan. “Sebab, animasi menjadi media menuangkan
ide, kritik, gagasan maupun curahan hati yang tengah memenuhi
alam pikiran,” ujar Robi - panggilan Sholahur Robbani - ini santai.
Hingga kini, berbagai karya pun tercipta dari remaja kelahiran
Malang 10 September 2000 ini. Jika ingin menyaksikan langsung
hasil karyanya, bisa langsung mengunduhnya dari youtube. Di
sana bisa ditemukan berbagai judul karya Robi seperti Hikayat
Katak, Bebek Ijo, Kisah Pohon Pemberi dan beberapa karya
lainnya.
Kemampuan yang dimiliki Robi ini tentu tidak datang tibatiba, tapi melalui proses yang panjang nan berliku. Awal perkenalan
putra kedua pasangan Supriadi dan Mutmainah ini dengan dunia
animasi saat dirinya duduk di bangku kelas IV (enam) SD. Saat
itu, untuk pertama kalinya sang kakak yang kuliah jurusan Desain
Grafis memperkenalkannya dengan dunia animasi. “Saya senang
sekali waktu itu, karena bisa membuat animasi ikan yang bisa
melompat di atas air dalam waktu seminggu,” tuturnya riang.
Kala itu, pelajaran pertama yang harus dikuasainya adalah 12
(dua belas) prinsip animasi dasar diantaranya staraight art, squash
and staright, dan appeal. Lantaran baru pertama kali belajar, tentu
banyak hambatan. “Namun, berbekal ketelitian, kesabaran dan
kejelian mata dalam mengamati obyek niscaya semua hambatan
bisa diatasi,” kata ramaja periang ini berbagi tips.
Namun, untuk memperkaya ide dan imajinasi, bacaan buku
menjadi sebuah keharus. Sebab, dalam dunia imajinasi alur cerita
menjadi dasar dari terwujudnya gambar animasi. Nah, untuk
menajamkan ide, sering pula dirinya berdiskusi dengan sesama
komunitas animasi.
Semantara itu, untuk mengasah kreatifitas, tak lupa dia pun
sering mengikuti lomba. Beruntung, ada sang kakak yang selalu
meng-update informasi. Ingatan Robi masih segar kala pertama
kali mengikuti Anifest (Animation Festival) yang diadakan Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur Tahun
2013. Saat itu dia mengirimkan Hikayat Negeri Katak. “Dan tak
menyangka, baru pertama ikut festival ldapat juara,” bebernya
sambil melapas tawa.
Seakan kecanduan, di tahun yang sama Robi pun turut
mengikuti INAICTA (Indonesia ICT Award). Ini merupakan
ajang lomba karya cipta kreativitas dan inovasi di bidang
teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK). Di ajang yang
diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika
ini, Robi juga mujur bisa masuk nominasi. “Meski sempat grogi,
tapi Alhamdulillah bisa menyabet juara I untuk kategori Student
Project Animation,” tukasny sumringah.
Kemengan ini tentu saja menjadi motivasi tersendiri baginya.
Nyatanya, pada 2014 lalu, karyanya berjudul Bebek Ijo menjadi
juara I Anifest kategori cerita terbaik. Sedangkan kreasinya
bertajuk Kisah Pohon Pemberi berbuah juara katagori karakter
terbaik 2 Dimensi.
Selain itu, pada INAICTA 2014 dia juga mengirimkan karya
berlabel Kisah Pohon Media Pentas Sifat Cahaya. Dan pada ajang
Festival Film Animasi Indonesia (FFAI) yang digelar Kementerian
Pariwiata dan Ekonomi Kreatif, Hikayat Negeri Katak karyanya
meraih Juara III. “Semoga ke depan bisa terus berkarya dan
memberikan prestasi terbaik bagi orang tua, madrasah dan
masyarakat,” tandasnya. Syaifuddin Ma'arif
MPA 343 / April 2015
59
Manusia Culas
(Manusia yang di Serupakan
dengan Anjing oleh al-Qur’an)
Oleh : Moch Yusuf
I
a adalah Ba’lam bin Ba’ura seorang manusia yang pernah
hidup dijaman Nabi Musa as. Ia juga seorang yang dekat
dengan Nabi Musa dan dekat dengan Allah swt. sebagai
orang yang dekat dengan Allah dan kepercayaan Nabi
Musa, Ba’lam bin Ba’ura di anugrahi oleh Allah swt. sebuah
keistimewaan, yaitu doa-doa mustajabah, doa-doa yang selalu
dikabulkan oleh Allah swt.
Suatu ketika karena kedekatannya dengan Nabi Musa
as. Ia diutus oleh Nabi Musa as. kepada seorang penguasa di
Madain supaya menyembah kepada Allah swt. mengajaknya
supaya meninggalkan berhala serta berbagai macam takhayyul
dan kesyirikan lainnya. Jika penguasa tersebut menolak seruan
Nabi Musa maka Nabi Musa beserta pengikutnya akan datang
memerangi mereka.
Penguasa Madain mendengar akan datangnya utusan Nabi
Musa. Maka ia memerintahkan kepada penduduk Madain
supaya mempercatik Madain. Sesampai di daerah Madain,
Ba’lam bin Ba’ura terpesona dengan berbagai macam pernak
pernik keindahan didalamnya. Madain sebuah kota yang
mengagumkan bagi dirinya. Keelokan kota Madain telah
melupakan tugas utamanya ia datang kesana.
Dihadapan penguasa Madain ia memperkenalkan diri serta
menyampaikan maksud tujuan dirinya datang kesana. Penguasa
Madain membaca gelagat kekaguman serta ketergodaan Ba’lam
bin Ba’ura akan pesona keindahan di Madain. Maka sang
penguasa menawarkan kepadanya apa saja yang ia inginkan,
dari harta benda, tahta, wanita, dan keindahan serta kesenangan
lainnya. Mendapat tawaran yang menggiurkan dari penguasa
Madain tersebut Ba’lam bin Ba’ura menjadi alpa akan tugasnya,
ia telah benar-benar mabuk oleh keindahan dan pesona dunia.
Akhirnya ia melupakan Nabi Musa dan durhaka kepada Allah
swt. dan menjadi manusia yang kufur.
Penguasa Madain sangat senang dengan Ba’lam bin Ba’ura
karena ia telah beralih berada dipihaknya. Ia merasa bahwa kota
Madain akan tetap aman, terbebas dari ancaman Nabi Musa as.
dan murka Allah swt. sebab Ba’lam bin Ba’ura telah berpihak
kepadanya, dan ia mempunyai doa-doa yang mustajabah.
Dengan doa-doanya maka penduduk Madain bisa terhindar
dari berbagai gangguan yang akan datang mengancamnya.
Demikian dengan Ba’lam bin Ba’ura, ia sangat yakin bahwa
dengan doa-doanya ia pasti bisa menghadapi Nabi Musa as.
beserta para pengikutnya. Ba’lam bin Ba’ura semakin terlena
dalam tipu daya dunia, ia semakin ingkar, ia mabuk kepayang
dengan kemolekan dan kelezatan duniawi.
Mendengar kabar bahwa utusannya telah ingkar dan
menjadi pengikut penguasa Madain, Nabi Musa as. geram, ia
segera bergerak menuju ke Madain. Mengetahui hal ini, segera
penguasa Madain memanggil dan meminta Ba’lam bin Ba’ura
bertindak, ia meminta supaya Ba’lam bin Ba’ura berdoa supaya
penduduk Madain terhindar dari ancaman Nabi Musa as. dan
para pengikutnya.
Maka, pada sepertiga malam Ba’lam bin Ba’ura datang
60
MPA 343 / April 2015
menghadap Allah swt. ia mulai menghaturkan doa kepadaNya,
meminta supaya Nabi Musa tidak datang ke Madain sehingga
penduduk Madain bisa terhindar dari ancaman Nabi Musa as.
dan para pengikutnya. Selepas berdoa, Ba’lam bin Ba’ura tertidur.
Didalam tidurnya ia bermimpi supaya ia kembali kejalan yang
lurus, bertaubat kepada Allah dan kembali kepada Nabi Musa
as. serta meninggalkan kesenangan duniawi yang hanya bersifat
sementara. Didalam mimpi tersebut pula diberitakan bahwa
sejak saat ini doa-doanya sudah tidak mustajabah lagi sebab ia
telah berbuat culas, kemaksiatan dan kemungkaran.
Bukannya sadar, tetapi Ba’lam bin Ba’ura semakin menjadijadi. Setelah ia bangun dari tidurnya, ia mengumpulkan
penduduk Madain, ia bercerita bahwa Nabi Musa dan para
pengikutnya akan tetap datang ke Madain sebab doa-doanya
sudah tidak bisa menghalangi kedatangan Nabi Musa dan
para pengikutnya, doa-doanya mulai saat ini sudah tidak
mustajabah lagi. Namun ada satu cara yang bisa menghindari
dari ancaman Nabi Musa dan para pengikutnya, yaitu dengan
menyebarkan wanita-wanita seksi nan cantik keberbagai
pintu-pintu masuk ke Madain dengan dandanan yang menarik
dan penuh pesona, suruh mereka menampakkan keindahankeindahan tubuhnya, suruh mereka berbuat mesum. Para
pengikut Nabi Musa akan terangsang melihat mereka, para
pengikut Nabi Musa akan meninggalkan Nabi Musa dan
menjadi orang-orang yang ingkar.
Benar saja, sesampainya Nabi Musa as. dan para pengikutnya
ke Madain para pengikut Nabi Musa as. terpancing, mereka
tergoda, terlena dan jatuh dipelukan wanita-wanita tersebut.
Mereka menjadi kufur, ingkar dengan ajaran-ajaran yang telah
dibawa oleh Nabi Musa as. kemudian mereka meninggalkan
Nabi Musa, mereka menghina serta menolak nasehatnasehatnya. Mereka bergabung bersama penduduk Madain
menjadi manusia ingkar dan bermaksiat kepada Allah swt.
Sebab itulah Allah swt murka kepada mereka semua, Allah
kemudian menimpakan kepada mereka azab, suatu wabah
penyakit tha’un, sampar dan penyakit-penyakit berbahaya
lainnya sehingga mereka banyak yang mati, tidak terkecuali
Ba’lam bin Ba’ura sendiri. Akan tetapi sebagian dari mereka ada
yang sadar dan mengikuti jalan Nabi Musa as.
Itu semua terjadi karena ulah dari Bal’am bin Ba’ura,
manusia culas. Karena itu Allah swt. menjadi murka dan
menyamakan penyebutan dirinya didalam al-Qur’an dengan
paling buruk dan serendah rendahnya penyebutan dan
sebutan itu memang pantas disandangkan kepada dirinya, ia
diserupakan dengan anjing.
Allah swt. berfirman; Dan sekiranya Kami menghendaki
niscaya Kami tinggikan (derajat) nya dengan (ayat-ayat) itu,
tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya
(yang rendah), maka perumpama-annya seperti anjing, jika
kamu meng-halaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu
membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). (QS. AlA’raf, 176). Allahu A’lam Bish-Showab.
Esensi
Oleh: Mey. S
Di kalangan masyarakat kita banyak mengenal peringatan serta upacara-upacara. Adat istiadat
yang telah mentradisi pun mengenal yang namanya selapan, mudhun lemah, mitoni, nyewu atau
‘ulangtahun perkawinan’, ‘perkawinan perak’, Harlah organisasi ini dan itu, dan sebagainya.
Masyarakat kita memang masyarakat ceremonial. Artinya masyarakat yang gemar sekali
dengan peringatan-peringati, serta berupacara ria. Biasanya, semuanya bermula dari niat serta
tujuan mulia.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, di kampung-kampung, sekolah-sekolah, kant or-kantor,
organisasi-organisasi wanita dari pelbagai perkumpulan, menyelenggarakan beragam acara untuk
memperingati hari besar. Hari apa saja. Apakah itu 17 Agustus, ulang tahun, Hari Kartini dan
lainnya.
Entah berapa kali hari-hari besar tersebut diperingati. Entah seberapa dalam pula makna
peringatan tersebut dihayati dan mengendap dalam nurani. Rasanya itu tidaklah penting.
Selama peringatan tersebut digelar, beragam acara gemebyar mengiringinya. Slogan dan
tema pun dicanangkan: “Dengan Mengenang Jasa Para Pahlawan Kita Warisi Semangatnya”,
atau “Dengan Semangat Proklamasi Kita Galang Persatuan dan Kesatuan”, atau “Melalui Jiwa
Kartini, Wanita Indonesia Maju dan Mandiri”, dan sebagainya. Terdengar ideal dan menggetarkan
memang. Seandainya saja slogan-slogan tersebut mampu mewarnai semangat berkehidupan
masyarakat kita, alangkah hebatnya kita sebagai bangsa.
Masih belum lepas dalam benak ketika hari Kartini diperingati. Pagi-pagi sekali para ibu
mendandani putrinya agar tampil klimis dan cantik. Sementara ibu-ibu Dharma Wanita pagi-pagi
sekali sibuk ke salon untuk memesan sanggul dan memoles diri, juga dalam rangka Kartini-an.
Anak-anak berangkat ke sekolah dengan mengenakan pakaian adat atau kebaya dibuat semirip
mungkin penampilan Kartini. Demikian pula dengan ibu-ibunya, tampak anggun dan cantik. Hari
itu mereka disulap dan menyulap diri sebagai pelaku-pelaku dengan karakter yang khas serta
penuh wibawa.
Pesta pun digelar. Entah bergaya rock n roll, berdangdut ria, atau yang kampungan sekalipun,
yang penting ada upacara, ada pesta. Peringatan Kartini pun tak lepas dari lomba-lomba
kewanitaan. Berpakaian adat se hari-dua hari lantas meneriakkan emansipasi. Dan
ketika itu pula kita sering alpa, apa yang sesungguhnya harus kita warisi dari tokoh
wanita ini? Semangat emansipasi itu apa? Harus diterapkan di bagian mana dan
dengan cara bagaimana?
Untuk mengetahui itu semua, selayaknya bila kita memiliki pedoman serta
kesadaran tentang diri kita sendiri sebagai anggota suatu masyarakat. Jelas,
emansipasi wanita Indonesia tentu berlainan dengan emansipasi wanita Inggris
atau wanita di negara Eropa. Karena watak serta latarbelakangnya memang berbeda.
Dan dalam Islam pun telah memberikan pedoman yang lebih jelas.
Islam itu sendiri adalah pejuang emansipasi yang tangguh pada zamannya. Ia
juga memberi falsafah prinsipil tentang kewanitaan yang dapat dijadikan bekal
untuk menentukan serta mengarahkan emansipasi yang bagaimana yang harus
diperjuangkan wanita muslimah. Lantas, di atas itu semua, pastilah setiap wanita
menginsyafi bahwa kewanitaannya adalah sebuah naluri serta karakter tersendiri
yang berbeda dengan lainnya. Kesadaran serta pengenalan karakter, jatidiri sudah
semestinya dikenali sejak awal. Dari sinilah kita akan dengan tenang dan senang
menghirup atmosfir kehidupan yang nantinya bermuara pada penciptaan bangunan kehidupan
yang berperadaban. Bukan sekadar menyerap emansipasi sebatas kata belaka tanpa mengetahui
makna dan hakikatnya.
Kartinah, siswi sebuah SMU di sebuah desa itu merenung sembari mencoba menghitunghitung. Seandainya masyarakat kita tak lagi terbuai pada kuantitas tetapi mengutamakan kualitas,
alangkah eloknya bangsa kita. Seandainya pula, bila saja seluruh dana yang dikeluarkan untuk
keperluan segala bentuk upacara itu disatukan, lantas dialokasikan demi membantu pembangunan
sektor infrastruktur, lembaga pendidikan, serta kegiatan sosial, betapa bahagianya anak didik
serta anak-anak penghuni panti itu. Seandainya saja......
Kartinah pun terhenyak dari lamunnya manakala ia mendengar lagu Indonesia Raya
berkumandang dalam sebuah upacara.
MPA 340 / Januari 2015
61
KORUPSI MERAJALELA
Bentangan bahari nan eloknya alam nusantara
Kekayaan alam yang tiada terhingga
Budaya yang mendunia
Seakan memukau setiap mata
Sayang,tersimpan misteri yang tiada akhirnya
Korupsi...
Karena engkau rakyat menderita
Terlunta - lunta, mengemis-ngemis hanya demi
sesuap nasi
Semakin tahun bertambah
Semakin korupsi merajalela
Kemiskinan...
Laksana angin yang menerpa tiada akhir
Laksana buih di lautan tiada habis
Kemiskinan menjelma, korupsi merajalela
Di tengah jeritan masyarakat kecil
Akan kebutuhan yang semakin mencekik leher
Koruptor terbahak - bahak
Gayus – gayus pun bermunculan
Koruptor...
Kini sepak terjangmu bak roket yang meluncur
Kau ambil miliknya
Kau kacaukan negara
Korupsi...
Membuat resah hati
Membuat negeri bergejolak api
Entah sampai kapan kan terhenti
Pemerintah,dimana tangguna jawabmu
Kau dipercaya tapi kau berhianat
Korupsi dimana - mana
Namun,kau seakan menutup telinga
Kau saekan lari dari kenyataan
Inikah negeriku????........
Yang tiap hari kita saksikan sebuah drama tanpa episode
Inikah negeriku???.............
Yang anak kecilpun tahu tontonan rebutan kekuasaan
Inikah negeriku…
Yang bagai layar lebar….
Menyuguhkan pertengkaran para penguasa
Wahai penguasa ……
Bagaimana cara kami mengatakan
Pada tunas bangsa yang menanyakan sejarah tentangmu
Sedang engkaku dalam ego kepentinganmu
Tanpa peduli ketauladanan dan perilaku
Cukup akhiri drama tak berujung
Mari mengukir dan memoles sejarah
Tanpa catatan merah
Musyarofah
MI Darussalam
Jalan Masjid Al-Irsyad, RT 06/RW 05
Pandanarum, Kemlokolegi, Baron, Nganjuk 64394
PERJALANANKU KEPADAMU
Perjalanan..
Perjalan tak berakhir secepat ini
Aku tidak akan berhenti sebelum mati
Meski rintangan mulai menghalang
Tekatku selalu berjuang untuk menang
Dan kemenangan tidaklah menjadi kebanggaan
Tetapi kepadamu lah mendapatkan kebahagiaan
Sehingga aku bersyukur, berdo’a dan bertrimakasih
Hanya kepadamu ya Allah yang maha pengasih
Siti Khoiriyatul Ummah
MAN Kediri 1
Perjalanan...
Perjalananku takkan sempurna tanpa dukungan
Orang tua, guru, keluarga dan teman-teman
Tanpa mereka semua ini takkan berjalan
Perjalanan ini menuju jalanmu ya rohman
Ya Allah perjalanan ini butuh barokah
Dan perjalanan ku menjadi bekal untuk masa depan
Agar orang yang tidak kejalanmu
Menjadi kejalan yang lurus
Aku akan memperjuangkan iman ku kepada mu
NEGERIKU KINI
Siti Faiqotunnisa’
Madrasah Muallimat kls IVC
Oh Tuhan....
Tegakkan kebenaran di persada bumi
Sesungguhnya kau Maha Adil lagi Maha Menyayangi
Dalam goresan sejarah
Ku baca ada tetesan darah
Yang membanjiri setiap langkah pejuang
Yang bertahan dan merebut kemerdekaan
Dalam sejarah….
Negeri ku rindang penuh tanaman
Tapi kini telah gersang
Terganti oleh bangunan mewah nan berasap
Dalam sejarah …..
negeriku penuh pesona, Tapi kini terkoyak luka
hanya untuk berebut kekuasaan
62
MPA 343 / April 2015
HUJAN YANG DARI AL-GHAZALI
Demi waktu
yang mengejar jiwa-jiwa
yang melahap semua-mua
yang tiada ujung sebab
yang jauh bernama waktu
yang dekat menjelma mati
yang besar berbentuk nafsu
yang berat memikul amanah
yang mudah menelan bulat dosa
yang panjang mewujud amal saleh
yang indah ketika saling memaafkan
Achmad Marzuki
Pondok Pesantren Nurul Jadid
Paiton, Probolinggo, Jawa Timur
TITIK PENGINGAT AKHIR WAKTU
Kala senja, dimana dunia berada
pada titik penuh bernamakan kejenuhan
dimana hari belum bernamakan malam
namun tidak juga bernamakan siang
seolah titik suram dan titik cerah
bersatu menjadi seorang senja
O, senja, kau bagai perumpamaan manusia
berhura senang bagai sang siang
sang siang yang tak ingat akan datangnya malam
sang siang yang tak ingat akan adanya
suatu waktu bernamakan akhir
hingga datanglah seorang senja
seorang yang membawa hadiah
bernamakan penyesalan
Demi masa dan kala senja
saat semua penyesalan berubah menjadi kerugian
dan berakhir menjadi kesia-siaan belaka
saat orang-orang takut pada ketakutannya sendiri
dan khawatir pada kekhawatirannya sendiri
hanya hamba-hamba yang saling menasehati
dalam kebenaran yang akan tersenyum
bahagia di akhir permainan ini
Dan kesedihan bagi si penelantar waktu
di mana saat sang senja pergi dan berganti gelap
mereka berada dalam keterpurukan yang begitu
mendalam
Titik pengingat akhir waktu semua insan
saat waktu tak benar-benar siang
dan tak benar-penar malam
Fikita Putri Ananda
Siswi kelas XI MA Al-Munawwaroh
Kembangbahu Lamongan
BUKU MENANGIS
buku menangis
bukan karena cinta
buku menangis
karena ilmunya
orang yang baru mencari ilmu
sudah merasa lebih hebat dari Tuhannya
buku menangis
bukan karena putus cinta
buku menangis
karena putus ilmunya.
Lailatur Rizqi
Siswi MTs Al-Anwar Paculgowang Jombang
TTM EDISI 343
Bulan aPRIl 2015
TTM
EDISI 342
MPA
JAWABAN TTM NO. 342
MENDATAR :
1.GELAYUT 5.BALIK 6.RADAR 8.UUD 10.JIN
11.NIP 12.GENDANG 16.ADAKALA 20.SON 21.NHK
22.ARU 24.KIKIR 25.SKILL 26.TEMBANG
DAFTAR PERTANYAAN
MENDATAR :
2. Bubur dari buah-buahan yang dimasak dengan gula
5. Tempat sembahyang orang Hindu
6. Wakil pengganti penghulu urusan Agama Islam
7. Republik Indonesia
9. Kereta Diesel
10. Terjal dan dalam
12. Hujan rintik-rintik
15. Tepat, sesuai untuk mengerjakan sesuatu
16. Alat-alat dapur untuk memasak dibuat dari tanah liat
20. Kegiatan jual beli untuk memperoleh untung
22. Hasrat dan keinginan yang kuat untuk berbuat
26. Lawan kanan
27. Olah raga khas Jepang
28. Nama hari
MENURUN :
1. Golongan orang-orang dari sebagian kaum
2. Jaringan yang mengatur kerjasama rangsangan
dari/ke organ tubuh
3. Mandiri, tidak bergantung
4. Mengambil dan menahan barang-barang menurut
keputusan pengadilan
5. Nama Kabupaten di provinsi Jawa Timur
8. Orang yangd atang dari negara lain dan menetap
9. Salah satu perawatan rambut
13. Tanpa nama
14. Ke/Di dalam
17. Orang yang selalu mementingkan diri sendiri
18. Mengambil, menimba air
21. Islamic State of Iraq and Syria
23. Komunikasi yang berisi saran,
arahan atau menerangkan
KUPON
NO : 343
MENURUN :
1.GELANG 2.LIKU 3.YARD 4.TUDUNG 5.BAJA
7.RUPA 9.UGD 13.END 14.NOL 15.ISAK 16.ANGKET
17.KOR 18.ANJING 19.AKAL 22.ARUM 23.USIA
PERAIH HADIAH TTM NO. 342
1. M.UBAIDILLAH AL FAROEQ
JL. PEMUDA RT.02/01 ARDIREJO
PANJI-SITUBONDO (68321)
2. ACHMAD ZAKI MANDALLA
MBI AMANATUL UMMAH
JL. KH. ABD. HALIM NO.1
KEMBANG BELOR, PACET-MOJOKERTO
3. M.HAKIM MUMTAZUL WAFA
KELAS VIII AKSEL MTSN SRONO
JL. RAYA SRONO NO.171
SRONO-BANYUWANGI (68471)
4. DRS. DIMYATI
SMP NEGERI 3 LAMONGAN
JL. MASTRIB NO.73, LAMONGAN
5. ENDAH RATNAWATI
MAN NGLAWAK KERTOSONO
JL. KH. ABDUL FATTAH 15 NGLAWAK
KERTOSONO-NGANJUK (64351)
KETENTUAN :
1. Jawaban ditulis pada kartu pos dan ditempeli kupon sesuai dengan nomornya.
2. Jawaban dikirim ke redaksi MPA paling lambat akhir April 2015 (cap pos).
3. Peraih hadiah diumumkan pada MPA edisi 344.
MPA 343 / April 2015
63
Panggilan : Hana
Pangilan : Najwa
TTL : 20 Agustus 2011
TTL : Tuban, 1 Juli 2014
Alamat : Desa Deketagung
Alamat : Sendangharjo II No 86 Tuban
Sugio, Lamongan
Cita-cita : Dokter
Hobi : Sepak bola
Orangtua : Moh. Anshori dan
Cita-cita : Pilot
Orangtua : Hendik Suhantono, S.Pd
Dyah Kurniawati
dan Eka Laili R
Panggilan : Keysha
Panggilan : Najwa
TTL : Pontianak, 2 juli 2012
TTL : Pontianak, 4 april 2014
Alamat : Jl. Mawar No. 5 Sampang
Alamat : Asrama Gatot 1
Hobi : Berenang
Pontianak, Kal-Bar
Cita-cita : Polwan
Hobi : Menyanyi
Orangtua : Achmad sholeh, S.Sos
dan Yunika Puspa Dewi
Cita-cita : Polwan
Orangtua : H. Sumandi, SH
dan Siska Yulianti, S.Pd.I
Panggilan : Najwa
Panggilan : Raka
TTL : Mojokerto, 2 Juni 2012
Alamat : Jl. Raya Ijen 57
Mojokerto Kota
Hobi : Menggambar
Cita-cita : Diplomat
Orangtua : Ahmad Yusron Rijal
dan Rananta Zwari Sunyaranggi
TTL : Sidoarjo, 23 Mei 2008
Alamat : Durungbedug RT 11
RW 03 Candi Sidoarjo
Sekolah : MINU Durungbedug
Candi Sidoarjo
Hobi : Berenang
Cita-cita : Presenter tv
seperti Najwa Shihab
Orangtua : Ach. Junaidi dan
Khoirun Nusa’
64
MPA 343 / April 2015
Gadis Kecil
di Bawah Gedung Itu
Oleh : Annisa Farida Salma *)
S
etapak jalan berbatu terlindas sepasang kaki yang terbalut
dua bilah sepatu kulit mewah. Jubah panjangnya menyisir
sepanjang jalan. Perlahan ia mulai melewati pesisir jalanan.
Air wajahnya sendu. Sebuah duka terbayang jelas di wajahnya yang
termakan leher. Tangannya mengepal. Mengisyaratkan sebuah
emosi yang ingin membakar. Gedung di sepanjang jalan itu telah
hancur menjadi sebuah mozaik kecil. Air matanya hanyut. Turun
perlahan. Angin gurun mengibaskan baju yang ia kenakan. Sebuah
jubah panjang dengan berbagai aksesoris pertanda kemewahan.
Kepalanya terbungkus kerudung hitam yang menutup hingga
separuh wajahnya. Kepalanya terangkat.Mata hijau cemerlangnya
menatap lurus kedepan. Benih matanya berkabut. Dengan bulu
mata terangkat lentik. Ia tak sanggup membendung sedihnya saat
seorang anak kecil menghampirinya. Mengangkat sepasang tangan
kecil berdebu dan menunjukkan wajah memelas. “Saya belum
makan. Bolehkah meminta sedikit uang?”. Kata-kata sederhana
yang selalu di ucapkan para peminta. Namun ia tak mengerti
sejengkal kalimat itu membuatnya ingin mengambil beberapa
lembar uang di tasnya yang terbeban di bahunya. Itulah yang ia
lakukan sekarang. Selang beberapa detik, beberapa lembar uang
telah sampai di tangan bocah itu yang kini tengah tersenyum lalu
melangkah pergi. Entah mengapa bocah itu mengingatkannya
pada seseorang di masa lalunya. Seseorang yang spesial tentunya.
Ia terus melangkah dengan memikirkan siapakah orang itu.
Pohon-pohon gurun di sekitarnya sedikit berguncang saat
angin menerjangya yang juga menerbangkan ujung jubahnya
yang berdebu. Gedung-gedung di sekitarnya telah rata dengan
tanah. Sepanjang jalan yang ia ingat, gedung hanya sebuah puing.
Orang-orang yang semula tinggal di tempat itu telah banyak yang
menghadap sang Ilahi. Dan yang tersisa tinggal mengenaskan
di bawah puing-puing itu berharap takkan ada sebuah bencana
apapun. Anak kecil berlari di sekitarnya tanpa ada beban di wajah
mereka. Saat ia palingkan wajahnya kearah lain, justru pandangan
sedih yang didapat. Pandangan memohon yang ia benci. Amarah
itu perlahan bangkit. Di otaknya yang terlindungi dua kali lipat
itu, berbagai macam partanyaan hadir. Dan saat putar kearah
lain ia juga hanya mendapatkan hal yang sama. Tapi ada sebuah
pandangan yang sangat ia kenal. Mata hijau yang lebih tua dari
yang ia miliki telah menghisap sebuah akal sehat yang ia bina
dari dulu. Ia kenal pandangan itu. Pasti. Tapi siapa? Dan mengapa
pandangan itu seolah ia kenal dengan baik. Seorang gadis sebaya
dengannya. Tengah berdiri menyandarkan tubuh kurusnya ke
sebuah reruntuhan tembok bangunan di atasnya. Meski kerudung
yang ia kenakan tak menutup separuh wajah, tapi tetap tak
mengenalnya. Namun entah mengapa gadis itu tersenyum sinis
dan menatapnya dengan benci. Jubah gadis itu tiba-tiba berkibar.
Dan gadis itu berjalan pergi dengan pelan. Kakinya tak beralas
apapun. Padahal cuaca hari itu begitu menyengat. Sosok itu
memalingkan wajahnya dan tersenyum. Seolah mengundangnya
untuk ikut bersamanya. Dan ajaib. Kakinya melangkah dengan
pasti. Mengikuti perlahan dibelakangnya. Menciptakan tatapan
aneh di sekitarnya.
Keadaan di bawah gedung itu sangat menjijikkan. Sampah
bertebaran di bawah sepatu mahalnya. Gadis itu berpaling
menghadapnya. Memberikan sebuah senyuman dan sebuah
kalung yang pernah lihat sebelumnya. ‘Syafira’ nama itu terukir di
atas kalung yang kini berada di genggamannya. Ia ingat. Itu nama
sahabatnya yang ia tinggalkan hanya untuk sebuah keegoisan. Ia
kembali meneteskan air mata. Perasaan bersalah menyelimuti hati
dan pikirannya. “Syaf.” Suaranya bergetar saat nama itu meluncur
dari bibirnya. Gadis itu berhenti. Badan itu menghadap dirinya.
Pucat pasi. Tak ada senyuman. Mata hijaunya kelam. Seperti ada
ketakutan yang mampir di hati gadis itu. saat ia mendekat. Gadis
itu berlari. Nalurinya berkata ia harus mengejarnya. Dan di sadari,
langit telah berubah senja. Warna biru telah luntur tergantikan
warna merah orange yang indah. Bayangan hitam telah jatuh
menimpa tanah. Walau buram tubuh itu tergambar dengan baik.
Angin gurun kembali menerpanya. Menerbangkan dedaunan
tua yang menguning. Saat ia terpejam, tubuh itu menghilang.
Layaknya awan yang tertiup angin kencang. Menyisakan sebuah
tubuh yang masih terpejam matanya.
Kelopak matanya perlahan terbuka. Menampakkan mata
hijaunya yang menawan. Nafasnya terdengar berat. Bulir air mata
jatuh dan tertangkup di cadarnya yang hitam. Ia seperti ingat akan
sesuatu yang membuatnya tak terkejut dengan apa yang terjadi di
hadapannya saat ini. Sebuah pohon tua berdiri dengan angkuh di
atas sebuah bukit yang hijau di tengah kota yang porak poranda
akibat perang aneh yang mengutamakan sebuah keegoisan. Di
tengah gurun panas yang membakar. Biji kenari berjatuhan di
sekitar pohon itu. bebatuan berjejer rapi. Dan sebuah batu dengan
lafadz arab yang menyusun sebuah nama. “Syafira”. Nama yang
sama dengan nama di kalung yang tersanggah di jemarinya. Kini
ia ingat semua. Anak kecil yang meminta itu. ia pernah mengerjai
teman baiknya untuk melakukan hal yang sama. Dengan kalimat
yang sama pula. Gedung itu adalah sekolahnya dulu. Dan
kini pohon ini adalah tempatnya sering bermain dulu di masa
bermainnya. Dan nisan itu adalah nisan temannya yang pergi
beberapa tahun lalu karena serangan negera penuh emosi. Dan
gadis itu adalah sahabatnya.
*) MTs. Akselerasi Amanatul Ummah
Kelas 9, Pacet, Mojokerto.
MPA 343 / April 2015
65
PUSAT KEBUDAYAAN ISLAM IRLANDIA
SIMBOL UKHUWWAH
I
rlandia, adalah sebuah negara yang terletak di kontinen
Eropa. Dibanding negara-negara lain di benua Eropa, Irlandia
tergolong cukup baru mengenal Islam. Diperkirakan Islam
masuk kesana baru sekitar abad ke-19, melalui para imgran Timur
Tengah, Afrika, dan Turki. Tetapi dalam perkembangannya, Islam
berkembang cukup pesat. Hingga kini, Islam di Irlandia telah
menjadi agama dengan penganut terbesar kedua setelah Katolik.
Dengan semakin besarnya umat Islam ini, membuat kebutuhan
masjid dan pusat-pusat kegiatan Islam menjadi keniscayaan. Oleh
karena itulah, melalui ”Yayasan Islam Irlandia”, kini Muslimin
Irlandia telah dapat merasakan sebuah fasilitas ibadah dan pusat
aktivitas / kegiatan Muslim dengan yang cukup lengkap dengan
berdirinya ”Islamic Cultural Centre of Ireland atau ICCI (Pusat
Kebudayaan Islam Irlandia)”. ICCI ini berdiri, berkat dukungan dana
dari pihak Uni Emirat Arab. Pada tahun 1992, Shiekh Hamdan bin
Rashid Al-Maktoum Wakil Gubernur Dubai yang juga menjabat
sebagai Menteri Keuangan dan Industri Uni Emirat Arab,
menyetujui pembangunan kompleks aktivitas Islam di Irlandia
(melalui proposal yang diajukan oleh Yayasan Islam Irlandia dan
Pemerintah Irlandia). Kompleks ICCI ini berada di Clonskeagh,
selatan Dublin, bersebelahan dengan University College Dublin.
Berdiri diatas tanah seluas 5.573 meter persegi. Pembangunan
proyeknya dimulai 1994 dengan menelan dana sekitar Rp. 661 miliar lebih. Pada 16 Nopember 1996, kompleks ICCI ini selesai dan
diresmikan oleh Presiden Irlandia saat itu, Mary Therese Winifred
Robinson, bersama Sheikh Hamdan bin Rashid Al-Maktoum.
Akan halnya profile kompleks ICCI ini, rancangan arsitektur
bangunannya, dibuat langsung oleh sebuah perusahaan arsitektur
terkenal Irlandia, Michael Collins & Associates. Dalam rancang
bangun kompleks ini, ada lima bangunan utama yang saling
terhubung oleh sebuah koridor. Dari kelima bangunan utama
itu, setidaknya terdapat sembilan bagian yang memiliki fungsi
masing-masing tetapi tetap saling terkait dan saling melengkapi.
Seperti bangunan masjid berlantai dua yang berdaya tampung
sekitar 550-an orang jama’ah putra dan putri, yang berada tepat di
tengah kompleks dengan ciri khas kubah dan menara menjulang
tinggi berujung bulan sabit diatasnya yang menyimbolkan kalender lunar Islam. Bagian bangunan yang lain, adalah sekolah Islam
atau madarasah, perpustakaan, perkantoran dan administrasi,
ruang pertemuan, pertokoan, restoran, hingga apartemen. Secara
keseluruhan kapasitas bangunan kompleks ICCI ini mampu menampung sekitar 3000-an orang dalam satu kegiatan yang bersamaan, seperti perayaan hari besar Islam misalnya. Khusus bagian
pendidikan, telah dibangun Nurul Huda Qur’anic School yang berfungsi sebagai sekolah / madarasah pembelajaran Al-Qur’an dan
ilmu-ilmu agama bagi anak-anak Muslaim Irlandia. Di luar ban-
66
MPA
MPA 343
343 // April
April 2015
2015
gunan fisik itu, hamparan rumput hijau dan aneka tanaman hias/
teduhan serta halaman parkir terbentang cukup luas mengelilingi
kompleks ICCI ini.
Disisi lain walaupun dalam inisiasi pembangunannya didominasi kelompok Muslim Sunny, tetapi dalam perjalanannya ICCI
ini telah disepakati bersama oleh Dewan Imam Irlandia yang terdiri dari Sunny dan Syiah, sebagai pusat kebudayaan bersama bagi
seluruh komunitas Muslim di Irlandia. Hal ini, tampak dengan
dipilihnya Ketua Dewan Imam Irlandia, Imam Hussein Halawa,
yang juga sebagai Imam dari ICCI.
Presiden Irlandia, Michael Daniel Higgins (sebagaimana Presiden sebelumnya Marry T.W. Robinson), dalam kunjungannya
ke ICCI pada 28 November 2012 , sangat respect dan menaruh
harapan besar kepada ICCI dalam memberikan kontribusi positif terhadap persaudaraan Islam dan integrasi dengan masyarakat
Irlandia, dengan menyatakan bahwa, “Pusat Kebudayaan Islam Irlandia (ICCI), merupakan simbol penting bagi integrasi dan aktivitas inklusif Muslim Irlandia”. Selanjutnya beliau menambahkan,
“Irlandia dalam beberapa dekade terakhir telah menjadi masyarakat yang multi etnik dan multi agama yang telah memilih Irish
sebagai warga negara dan rumah mereka”.
Bagi komunitas Muslim, peran ICCI ini telah mampu memberikan kontribuasi penting dalam proses integrasi tersebut.
“Saya berharap ICCI dapat berperan sebagai simbol persaudaraan Muslim Irish dan simbol integrasi inclusif Muslim Irlandia. Saya senang keberadaan Islami Centre ini,” tambah Pak
Michael. Dia menekankan agar, “ICCI dapat memiliki peran
penting dalam menjaga hubungan posistif dalam masyarakat,
menanamkan rasa hormat dari kelompok-kelompok keagamaan yang berbeda, dan kehidupan beragama yang moderat”.
Dia juga menekankan, “Multi etnik dan agama telah menjadi
struktur warga Irlandia baru, dalam membentuk dan menyusun masa depan bersama.Masa depan berbagai budaya dalam
masyarakat bisa datang bersama-sama dan bekerjasama untuk
menawarkan kehidupan yang beragam bagi kepentingan bersama, bukan memaksakan satu budaya atau satu agama terhadap agama dan budaya yang telah ada”, demikian harapan Pak
Michael. (diolah dari islam digest republika januari 2015) •Ahar
Download