Uploaded by dwiarianta7

LP KANKER OVARIUM

advertisement
KEPERAWATAN MATERNITAS II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA OVARIUM
Oleh :
(kelompok 2 B11-B)
1. Elwis Sarce Somalinggi
(183222961)
2. Gusti Ayu Kade Widya Astuti
(183222962)
3. I Gede Putu Widi Widiana
(183222963)
4. I Gede Wisma Prayoga
(183222964)
5. I Gusti Ayu Putu Dian Wulandari
(183222965)
6. I Komang Ranandika
(183222966)
7. I Made Dwi Arianta
(183222967)
8. I Made Hendra Wirawan
(183222968)
PROGRAM ALIH JENJANG S1 KEPERAWATAN
STIKES WIRAMEDIKA PPNI BALI
DENPASAR
2018
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kanker ovarium merupakan tumor dengan histogenesis yang beraneka ragam, dapat berasal
dari ketiga dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifat-sifat histiologis
maupun biologis yang beraneka ragam (Smeltzer & Bare, 2002). Kanker ovarium sebagian besar
berbentuk kista berisi cairan maupun padat. Kanker ovarium disebut sebagaisilent killer. Karena
ovarium terletak di bagian dalam sehingga tidak mudah terdeteksi, 70-80% kanker ovarium baru
ditemukan pada stadium lanjut dan telah menyebar (metastasis) kemana-mana
Kanker ini menyerang pada wanita terlebih pada usia diatas 50 tahun. Selain itu, wanita di
negara industri lebih beresiko. Dan di Indonesia sendiri beberapa tahun ini temuan kasus
keganasan salah satunya kanker ovarium sering ditemukan dan menjadi penyebab kematian bagi
seseorang. Sehingga wanita Indonesia perlu waspada akan penyakit ini terutama yang tinggal di
area perindustrian karena di Indonesia juga banyak perusahaan-perusahaan industri. Sehingga
penting dirasa untuk mempelajari lebih luas lagi mengenai kanker ovarium khususnya bagi
mahasiswa keperawatan yang nantinya menjadi tenaga kesehatan. Oleh karena itu pada
penyusunan makalah ini akan dibahas mengenai proses terjadinya kanker ovarium sebagai salah
satu penyakit keganasan.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimanakah konsep dasar teori ca ovarium?
2. Bagaimanakah konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan ca ovarium?
3. Bagaimanakah contoh asuhan keperawatan pada pasien dengan ca ovarium?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar teori ca ovarium
2. Untuk mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien dengan ca ovarium
3. Untuk mengetahui contoh asuhan keperawatan pada pasien dengan ca ovarium
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Pengertian
Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur)
yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium bisa
menyebar ke bagian lain, panggul, dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem
pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru
Kanker ovarium adalah salah satu kanker ginekologi yang paling sering dan penyebab
kematian kelima akibat kanker pada perempuan. (Price, 2005;1297)
Kanker ovarium memiliki 5 stadium yaitu :
(Smeltzer, 2001;1570)

Stadium I : Pertumbuhan kanker terbatas pada ovarium

Stadium II : Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan perluasan pelvis

Stadium III : Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan metastasis diluar
pelvis atau nodus inguinal atau retroperitoneal positif

Stadium IV : Pertumbuhan mencakup satu atau kedua sisi ovarium dengan metastasis
jauh
2. Etiologi
Penyebab pasti kanker ovarium tidak diketahui namun multifaktorial. Risiko
berkembangnya kanker ovarium berkaitan dengan lingkungan, endokrin dan faktor genetik
(Price, 2005;1297).

Faktor lingkungan
Kebiasaan makan, kopi dan merokok, adanya asbestos dalam lingkungan, dan
penggunaan bedak talek pada daerah vagina, semua itu dianggap mungkin menyebabkan
kanker.

Faktor endokrin
Faktor risiko endokrin untuk kanker ovarium adalah perempuan yang nulipara,
menarke dini, menopause yang lambat, kehamilan pertama yang lambat, dan tidak
pernah menyusui. Penggunaan kontrasepsi oral tidak meningkatkan resiko dan mungkin
3
dapat mencegah. Terapi pengganti astrogen (ERT) pascamenopause untuk 10 tahun atau
lebih berkaitan dengan peningkatan kematian akibat kanker ovarium

Faktor genetik
Kanker ovarium herediter yang dominan autosomal dengan variasi penetrasi telah
ditunjukkan dalam keluarga yang terdapat penderita kanker ovarium. Bila terdapat dua
atau lebih hubungan tingkat pertama yang menderita kanker ovarium, seorang perempuan
memiliki 50% kesempatan untuk menderita kanker ovarium.
3. Patofisologi
Kanker ovarium bermetastasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan dengan
abdomen dan pelvis dan sel-sel yang menempatkan diri pada rongga abdomen dan pelvis. Selsel ini mengikuti sirkulasi alami cairan peritoneal sehingga implantasi dan pertumbuhan
keganasan selanjutnya dapat timbul pada semua permukaan intraperitoneal. Limfatik yang
disalurkan ke ovarium juga merupakan jalur untuk penyebaran sel-sel ganas. Semua kelenjar
pada pelvis dan kavum abdominal pada akhirnya akan terkena. Penyebaran awal kanker
ovarium dengan jalur intraperitoneal dan limfatik muncul tanpa gejala atau spesifik. Gejala
tidak pasti yang akan muncul seiring dengan waktu adalah perasaan berat pada pelvis, sering
berkemih dan disuria, dan perubahan fungsi gastrointestinal, seperti rasa penuh, mual, tidak
enak pada perut, cepat kenyang dan konstipasi. Pada beberapa perempuan dapat terjadi
perdarahan abnormal vagina sekunder akibat hiperplasia endometrium bila tumor menghasilkan
estrogen; beberapa tumor menghasilkan testosteron dan menyebabkan virilisasi. Gejala-gejala
keadaan akut pada abdomen dapat timbul mendadak bila terdapat perdarahan dalam
tumor,ruptur, atau torsi ovarium. Namun, tumor ovarium paling sering terdeteksi selama
pemeriksaan pelvis rutin.
Pathway (pohon masalah terlampir)
4
4. Klasifikasi
Lebih dari 30 neoplasma ovarium telah diidentifikasi. Tumor ovarium dikelompokkan
dalam 3 kategori besar ( Price, 2005;1297) yaitu :
(Price, 2005;1297)

Tumor-tumor epitel
Tumor-tumor epitel menyebabkan 60% dari semua neoplasma ovarium dan
diklasifikasikan sebagai neoplasma jinak, perbatasan ganas dan ganas

Tumor stroma gonad

Tumor-tumor sel germinal
Terdapat tiga ketegori utama tumor sel germinal yaiyu : tumor jinak (kista dermoid),
tumor ganas (bagian dari kista dermoid), tumor sel germinal primitive ganas (sel
embrionik dan ekstraembrionik)
Dua pertiga persen kanker ovarium adalah tumor sel germinal primitive ganas. Penting
untuk mendiagnosis jenis tumor dengan tepat.
5. Gejala klinis
Adapun tanda dan gejala yang ditimbulkan pada pasien dengan kanker ovarium adalah
sebagai berikut :

Haid tidak teratur

Darah menstruasi yang banyak (menoragia) dengan nyeri tekan pada payudara

Menopause dini

Dispepsia

Tekanan pada pelvis

Sering berkemih dan disuria

Perubahan fungsi gastrointestinal, seperti rasa penuh, mual, tidak enak pada perut, cepat
kenyang dan konstipasi.

Pada beberapa perempuan dapat terjadi perdarahan abnormal vagina skunder akibat
hyperplasia endometrium bila tumor menghasilkan estrogen
(Smeltzer, 2001;1570)
5
6. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik hasil yang sering didapatkan pada tumor ovarium adalah massa
pada rongga pelvis. Tidak ada petunjuk pasti pada pemeriksaan fisik yang mampu membedakan
tumor adneksa adalah jinak atau ganas, namun secara umum dianut bahwa tumor jinak
cenderung kistik dengan permukaan licin, unilateral dan mudah digerakkan. Sedangkan tumor
ganas akan memberikan gambaran massa yang padat, noduler, terfiksasi dan sering bilateral.
Massa yang besar yang memenuhi rongga abdomen dan pelvis lebih mencerminkan tumor jinak
atau keganasan derajat rendah. Adanya asites dan nodul pada cul-de-sac merupakan petunjuk
adanya keganasan
7. Pemeriksaan penunjang
Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang utama dalam menegakkan diagnosis
suatu tumor adneksa ganas atau jinak. Pada keganasan akan memberikan gambaran dengan
septa internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites . Walaupun ada pemeriksaan
yang lebih canggih seperti CT scan, MRI (magnetic resonance imaging), dan positron tomografi
akan memberikan gambaran yang lebih mengesankan, namun pada penelitian tidak menunjukan
tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik dari ultrasonografi. Serum CA 125 saat ini
merupakan petanda tumor yang paling sering digunakan dalam penapisan kanker ovarium jenis
epitel, walaupun sering disertai keterbatasan. Perhatian telah pula diarahkan pada adanya
petanda tumor untuk jenis sel germinal, antara lain alpha-fetoprotein (AFP), lactic acid
dehidrogenase (LDH), human placental lactogen (hPL), plasental-like alkaline phosphatase
(PLAP) dan human chorionic gonadotrophin(hCG).
8. Diagnosis/kriteria diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya riwayat, pemeriksaan fisik ginekologi, serta
pemeriksaan penunjang

Riwayat
Kanker ovarium pada stadium dini tidak memberikan keluhan. Keluhan yang timbul
berhubungan dengan peningkatan massa tumor, penyebaran tumor pada permukaan serosa
dari kolon dan asites. Rasa tidak nyaman dan rasa penuh diperut, serta cepat merasa
kenyang sering berhubungan dengan kanker ovarium. Gejala lain yang sering timbul adalah
mudah lelah, perut membuncit, sering kencing dan nafas pendek akibat efusi pleura dan
asites yang masif.
6
Dalam melakukan anamnesis pada kasus tumor adneksa perlu diperhatikan umur
penderita dan faktor risiko terjadinya kanker ovarium. Pada bayi yang baru lahir dapat
ditemukan adanya kista fungsional yang kecil (kurang dari 1-2 cm) akibat pengaruh dari
hormon ibu. Kista ini mestinya menghilang setelah bayi berumur beberapa bulan. Apabila
menetap akan terjadi peningkatan insiden tumor sel germinal ovarium dengan jenis yang
tersering adalah kista dermoid dan disgerminoma. Dengan meningkatnya usia kemungkinan
keganasan akan meningkat pula. Secara umum akan terjadi peningkatan risiko keganasan
mencapai 13% pada premenopause dan 45% setelah menopause. Keganasan yang terjadi
bisa bersifat primer dan bisa berupa metastasis dari uterus, payudara, dan traktus
gastrointestinal.

Pemeriksaan fisik ginekologi
Dengan melakukan pemeriksaan bimanual akan membantu dalam memperkirakan
ukuran, lokasi, konsistensi dan mobilitas dari massa tumor. Pada pemeriksaan rektovaginal
untuk mengevaluasi permukaan bagian posterior, ligamentum sakrouterina, parametrium,
kavum Dauglas dan rektum. Adanya nodul di payudara perlu mendapat perhatian,
mengingat tidak jarang ovarium merupakan tempat metastasis dari karsinoma payudara.
Hasil yang sering didapatkan pada tumor ovarium adalah massa pada rongga pelvis.
Tidak ada petunjuk pasti pada pemeriksaan fisik yang mampu membedakan tumor adneksa
adalah jinak atau ganas, namun secara umum dianut bahwa tumor jinak cenderung kistik
dengan permukaan licin, unilateral dan mudah digerakkan. Sedangkan tumor ganas akan
memberikan gambaran massa yang padat, noduler, terfiksasi dan sering bilateral. Massa
yang besar yang memenuhi rongga abdomen dan pelvis lebih mencerminkan tumor jinak
atau keganasan derajat rendah. Adanya asites dan nodul pada cul-de-sac merupakan
petunjuk adanya keganasan.

Pemeriksaan penunjang
Ultrasonografi merupakan pemeriksaan penunjang utama dalam menegakkan
diagnosis suatu tumor adneksa ganas atau jinak. Pada keganasan akan memberikan
gambaran dengan septa internal, padat, berpapil, dan dapat ditemukan adanya asites .
Walaupun ada pemeriksaan yang lebih canggih seperti CT scan, MRI (magnetic resonance
imaging), dan positron tomografi akan memberikan gambaran yang lebih mengesankan,
namun pada penelitian tidak menunjukan tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang lebih baik
dari ultrasonografi. Serum CA 125 saat ini merupakan petanda tumor yang paling sering
digunakan dalam penapisan kanker ovarium jenis epitel, walaupun sering disertai
7
keterbatasan. Perhatian telah pula diarahkan pada adanya petanda tumor untuk jenis sel
germinal, antara lain alpha-fetoprotein (AFP), lactic acid dehidrogenase (LDH), human
placental lactogen (hPL), plasental-like alkaline phosphatase (PLAP) dan human chorionic
gonadotrophin(hCG).
9. Kemungkinan komplikasi

Torsi

Rupture kista

Perdarahan

Keganasan
10. Penatalaksanaan
Adapun tindakan yang dilakukan pada penanganan kanker ovarium antara lain :
(Smeltzer, 2001;1570)

Pentahapan/pengklasifikasian tumor merupakan aktivitas penting yang digunakan untuk
mengarahkan pengobatan

Intervensi bedah untuk kanker ovarium adalah histerektomi abdominal total dengan
pengangkatan tuba falopii dan ovarium serta omentum (salpingo-oofarektomi bilateral
dan omentektomi) adalah prosedur standar unruk penyakit tahap dini

Terapi radiasi dan implantasi fosfor 32 (32P) interperitoneal, isotop radioaktif, dapat
dilakukan setelah pembedahan

Kemoterapi dengan preparat tunggal atau multiple tetapi biasanya termasuk cisplantin,
sikofosfamid, atau karboplatin juga digunakan

Paklitaksel (Taxol) merupakan preparat yang berasal dari pohon cemara pasifik, bekerja
dengan menyebabkan mikrotubulus di dalam sel-sel untuk berkumpul dan mencegah
pemecahan struktur yang mirip benang ini. Secara umum, sel-sel tidak dapat berfungsi
ketika mereka terlilit dengan mikrotubulus dan mereka tidak dapat membelah diri.
Karena medikasi ini sering menyebabkan leucopenia, pasien juga harus minum G-CSF
(factor granulosit koloni stimulating)

Pengambilan cairan asites dengan parasintesis tidak dianjurkan pada penderita dengan
asites yang disertai massa pelvis, karena dapat menyebabkan pecahnya dinding kista
akibat bagian yang diduga asites ternyata kista yang memenuhi rongga perut.
8
Pengeluaran cairan asites hanya dibenarkan apabila penderita mengeluh sesak akibat
desakan pada diafragma
9
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian yang dilakukan meliputi :
A. Identitas pasien
B. Status kesehatan saat ini, yang meliputi :

Alasan kunjungan/keluhan utama, faktor pencetus, lamanya keluhan, timbulnya
keluhan, upaya yang telah dilakukan

Riwayat Keperawatan, meliputi :
 Riwayat obstetrik : riwayat menstruasi (menarche, banyaknya, HPHT,
Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu)
 Riwayat keluarga berencana : apakah melaksanakan KB, Jenis kontrasepsi
yang digunakan, sejak kapan menggunakan kontrasepsi, masalah yang terjadi
 Riwayat kesehatan : penyakit yang pernah dialami ibu, pengobatan yang
didapat, riwayat penyakit keluarga
 Kebutuhan dasar Khusus
a. Pola nutrisi : kaji frekuensi makan, nafsu makan, jenis makanan rumah,
makanan yang tidak disukai
b. Pola eliminasi : kaji pola BAK (frekuensi, warna, keluhan saat BAK), pola
BAB (frekuensi, warna, keluhan saat BAB)
c. Pola personal hygiene : kaji oral hygiene, kebersihan rambut, kebersihan
tubuh
d. Pola istirahat dan tidur : Kaji lama tidur, kebiasaan sebelum tidur, keluhan
saat tidur
e. Pola aktivitas dan latihan
f. Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
g. Pola perceptual
h. Pola persepsi diri
i. Pola seksual dan reproduksi
j. Pola peran-hubungan
k. Pola manajemen koping stress
l. Sistem nilai dan keyakinan
10

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik meliputi keadaan umun pasien, kesadaran, tekanan darah, respirasi,
berat badan

Mata : Meliputi pemeriksaan kelopak mata, gerakan mata, konjungtiva, sclera,
pupil, akomodasi.

Hidung : meliputi pemeriksaan reaksi alergi, sinus,dll.

Mulut dan tenggorokan : kaji adanya mual, kesulitan menelan

Dada dan aksila : kaji adanya pembesaran mammae

Pernafasan : kaji jalan nafas, suara nafas, kaji adanya penggunaan otot bantu
pernafasan

Sirkulasi jantung : kaji kecepatan denyut apical, irama, kelainan bunyi
jantung, sakit dada


Abdomen : kaji adanya asites

Genitourinaria : kaji adanya massa pada rongga pelvis

Ekstremitas : kaji turgor kulit
Data penunjang

Laboratorium

USG

Rontgen

Terapi yang didapat
2. Diagnosa keperawatan

Nyeri kronis berhubungan dengan nekrosis jaringan pada ovarium akibat
penyakit kanker ovarium

Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan penekanan pada vesika urinaria

Nausea berhubungan dengan ovarium (kanker bermetastasis dg invasi
ke
abdomen)

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan efek kemoterapi

Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

Risiko perdarahan berhubungan dengan hyperplasia endometrium
11

Risiko infeksi berhubungan dengan penyakit kronis (metastase sel kanker ke
bagian tubuh yang lain)
3. Rencana keperawatan
No Diagnosa
keperawatan
1
Nyeri kronis b/d
nekrosis jaringan
pada ovarium
akibat penyakit
kanker ovarium
Tujuan
Intervensi
NOC :
Paint Management
1. Lakukan
 Pain level
 Pain control
pengkajian nyeri
 Comfort level
secara
Kriteria hasil :
komprehensif
 Mampu
termasuk lokasi,
mengontrol nyeri
karakteristik,
 Melaporkan bahwa
durasi, frekuensi
nyeri berkurang
kualitas dan faktor
dengan
prepitasi
menggunakan
2. Lakukan teknik
manajemen nyeri
pengurangan nyeri
 Mampu mengenali
nyeri (skala,
nonfarmakologis
intensitas,
(nafas dalam)
frekuensi dan
3. Kontrol
tanda nyeri)
lingkungan yang
 Menyatakan rasa
dapat
nyaman setelah
mempengaruhi
nyeri berkurang
nyeri seperti suhu,
pencahayaan dan
§
kebisingan
Analgesic
Administration
4. Cek intruksi
dokter tentang
jenis obat, dosis
dan frekuensi
5. Cek riwayat alergi
6. Berikanan
analgesik sesuai
ketentuan
7. Hindari aspirin
atau senyawanya
Rasional
1. Menentukan
tindakan
selanjutnya
2. Sebagai
analgesik
tambahan
3. Untuk
menambah
kenyamanan
pasien
4. Agar tidak terjadi
kesalahan dalam
memberikan obat
5. Untuk
mengetahui
riwayat alergi
pasien terhadap
obat
6. Untuk
mengurangi rasa
sakit
7. Karena aspirin
meningkatkan
kecenderungan
pendarahan
12
2
Gangguan
NOC
eliminasi urine b/d  Urinary
elimination
penekanan pada

Urinary
vesika urinaria
Contiunence
Kriteria Hasil
 Kandung kemih
kosong secara
penuh
 Tidak ada residu
urine > 100-200 cc
 Intake cairan
dalam rentang
normal
 Bebas dari ISK
 Tidak ada spasme
bladder
 Balance cairan
seimbang
1. Catat keluaran
urine, selidiki
penurunan /
penghentian aliran
urine tiba-tiba
2. Kaji pola berkemih
(frekuensi dan
jumlahnya).
Bandingkan
haluaran urine dan
masukan cairan
serta catat berat
jenis urine
3. Observasi dan
catat warna urine.
Perhatikan ada /
tidaknya hematuria
4. Observasi adanya
bau yang tidak
enak pada urine
(bau abnormal)
5. Dorong
peningkatan cairan
dan pertahankan
pemasukan akurat
6. Awasi tanda vital.
Kaji nadi perifer,
turgor kulit,
pengisian kapiler,
dan membran
mukosa
7. Kolaborasi :
Siapkan untuk tes
diagnostik,
prosedur
penunjang sesuai
indikasi
8. Kolaborasi :
Pantau nilai BUN
dan kreatinin
1. Penurunan aliran
urine tiba-tiba
dapat
mengindikasikan
adanya obstruksi
/ disfungsi pada
traktus urinarius
2. Identifikasi
kerusakan fungsi
vesika urinaria
akibat metastase
sel-sel kanker
pada bagian
tersebut
3. Penyebaran
kanker pada
traktus urinarius
(salah satunya di
vesika urinaria)
dapat
menyebabkan
jaringan di
vesika urinaria
mengalami
nekrosis
sehingga urine
yang keluar
berwarna merah
karena
bercampur
dengan darah
4. Identifikasi tanda
- tanda infeksi
pada jaringan
traktus urinarius
5. Mempertahankan
hidrasi dan aliran
urine baik
6. Indikator
keseimbangan
cairan dan
menunjukkan
tingkat hidrasi
7. Pemeriksaan
diagnostik dan
penunjang
misalnya
pemeriksaan
retrograd dapat
13
8.
3
Nausea
berhubungan
dengan kanker
ovarium (kanker
bermetastasis dg
invasi ke
abdomen),efek
kemoterapi
NOC
 Nausea and
Vomiting Control
 Nausea &vomiting
severity
Kriteria hasil
 Pasien dapat
menghindari faktor
penyebab nausea
dengan baik
 Pasien melakukan
acupressure point
P6 untuk
mencegah
mengurangi mual
 Pasien mengatakan
tidak mual
 Pasien mengatakan
tidak muntah
 Tidak ada
peningkatan
sekresi saliva
Nausea Management
1. Lakukan
pengkajian lengkap
rasa mual termasuk
frekuensi, durasi,
tingkat mual, dan
faktor yang
menyebabkan
pasien mual.
2. Evaluasi efek mual
terhadap nafsu
makan pasien,
aktivitas seharihari, dan pola tidur
pasien
3. Ajnurkan makan
sedikit tapi sering
dan dalam keadaan
hangat
4. Anjurkan pasien
mengurangi jumlah
makanan yang bisa
1.
2.
3.
4.
5.
6.
digunakan untuk
mengevaluasi
tingkat infiltrasi
kanker pada
traktus urinarius
sehingga dapat
menjadi dasar
untuk intervensi
selanjutnya
Kadar BUN dan
kreatinin yang
abnormal dapat
menjadi
indikator
kegagalan fungsi
ginjal sebagai
akibat
komplikasi
metastase sel-sel
kanker pada
traktus urinarius
hingga ke organ
ginjal.
Mengidentifikasi
keefektifan
intervensi yang
diberikan
Mengidentifikasi
pengaruh mual
terhadap kualitas
hidup pasien.
Memenuhi
kebutuhan nutrisi
pasien dan
menegah mual
Untuk
menghindari
terjadinya mual
Untuk
menghindari efek
mual
Membantu
mengurangi efek
mual dan
menegah muntah
14
4
Gangguan citra
tubuh
berhubungan
dengan efek
kemoterapi
NOC

Adaptation to
Physical Disability
 Body Image
Kriteria Hasil
 Mampu beradaptasi
dengan keterbatasan
fungsional
 Puas dengan
penampilan tubuh
 Mampu
menyesuaikan
dengan perubahan
fungsi tubuh
menimbulkan
mual.
5. Berikan istirahat
dan tidur yang
adekuat untuk
mengurangi mual
6. Lakukan
akupresure point
P6 3 jari dibawah
pergelangan tangan
pasien. Lakukan
selama 2-3 menit
setiap 2 jam
selama kemoterapi.
7. Kolaborasi
pemberian
antiemetik :
ondansentron 4 mg
IV jika mual
7. Menurangi mual
dengan aksi
sentralnya pada
hipotalamus
Body Image
Enhancement
1. Bantu klien untuk
mengenali
tindakan yang akan
meningkatkan
penampilannya
2. Fasilitasi hubungan
klien dengan
individu yang
mengalami
perubahan citra
tubuh yang serupa
3. Identifikasi
dukungan
kelompok yang
tersedia untuk
klien
4. Fasilitasi
lingkungan dan
aktifitas yang akan
meningkatkan
1. Untuk
meningkatkan
percaya diri
klien
2. Untuk
meningkatkan
percaya diri dan
semangat klien
3. Untuk
mengetahui
kekuatan pribadi
klien
4. Agar klien bisa
melakukan
aktivitas
5. Memantau
kondisi klien
15
harga diri klien
5. Monitor tingkat
harga diri klien
dari waktu ke
waktu dengan tepat
4
Ansietas
berhubungan
perubahan status
kesehatan
NOC
 Anxiety level
Kriteria Hasil
 Kecemasan pada
klien berkurang
Anxiety Reduction
1. Mendengarkan
penyebab
kecemasan klien
dengan penuh
perhatian
2. Observasi tanda
verbal dan non
verbal dari
kecemasan klien
Calming Technique
3. Menganjurkan
keluarga untuk
tetap
mendampingi
klien
4. Mengurangi atau
menghilangkan
rangsangan yang
menyebabkan
kecemasan pada
klien
1. Klien dapat
mengungkapkan
penyebab
kecemasannya
sehingga perawat
dapat
menentukan
tingkat
kecemasan klien
dan menentukan
intervensi untuk
klien
selanjutnya.
2. Mengobservasi
tanda verbal dan
non verbal dari
kecemasan klien
dapat
mengetahui
tingkat
kecemasan yang
klien alami.
3. Dukungan
keluarga dapat
memperkuat
mekanisme
koping klien
sehingga tingkat
ansietasnya
berkurang
4. Pengurangan
atau
penghilangan
rangsang
penyebab
kecemasan dapat
16
5
6
Risiko perdarahan
berhubungan
dengan
hyperplasia
endometrium
Risiko infeksi
berhubungan
dengan penyakit
kronis (metastase
sel kanker ke
bagian tubuh yang
lain)
meningkatkan
ketenangan pada
klien dan
mengurangi
tingkat
kecemasannya
untuk
mengetahui
kondisi
perdarahan
pasien
kadar Hb
mempengaruhi
kondisi pasien
untuk memantau
kondisi pasien
secara tepat
untuk membantu
mengurangi
pendarahan
untuk
mempercepat
pemulihan
kondisi pasien
NOC
 Blood lose severity
 Blood koagulation
Kriteria Hasil:
 Tidak ada
hematuria dan
hematemesis
 Kehilangan darah
yang terlihat
 Tekanan darah
dalam batas
normal sistol dan
diastole
 Tidak ada
perdarahan
pervagina
 Tidak ada distensi
abdominal
 Hemoglobin dan
hematrokrit dalam
batas normal
 Plasma, PT, PTT
dalam batas
normal
Bleeding precautions
1. Monitor ketat
tanda-tanda
perdarahan
2. Catat nilai Hb dan
HT sebelum dan
sesudah terjadìnya
perdarahan
3. Monitor TTV
4. Anjurkan pasien
untuk
meningkatkan
intake makanan
yang banyak
mengandung
vitamin K
5. Kolaborasi dalam
pemberian produk
darah
1.
NOC
 Immune Status
 Knowledge :
Infection control
 Risk control
Kriteria Hasil
 Klien bebas dari
tanda dan gejala
infeksi
 Mendeskripsikan
proses penularan
penyakit, faktor
yang
1. Bersihkan
lingkungan setelah
dipakai pasien lain
2. Gunakan sabun
antimikrobia untuk
cuci tangan
3. Cuci tangan setiap
sebelum dan
sesudah tindakan
keperawatan
4. Gunakan baju,
sarung tangan
sebagai alat
1. untuk mencegah
terjadinya
penularan
penyakit
2. agar tangan tetap
steril terbebas
dari bakteri
3. untuk mencegah
terjadinya infeksi
nosocomial
4. sebagai alat
pelindung diri
dari infeksi
2.
3.
4.
5.
17


mempengaruhi
penularan serta
penatalaksanaanny
a
Menunjukkan
kemampuan untuk
mencegah
timbulnya infeksi
Jumlah leukosit
dalam batas
normal
pelindung
5. Pertahankan
lingkungan aseptik
selama
pemasangan alat
6. Monitor tanda dan
gejala infeksi
sistemik dan local
7. Monitor hitung
granulosit, WBC
5. untuk mencegah
kontaminasi
6. untuk
mengetahui
tanda dan gejala
infeksi
7. granulosit dan
WBC dapat
digunakan
sebagai indikator
terjadinya infeksi
4. Impelmentasi
Melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan rencana keperawatan yang sudah
dirumusakan untuk memenuhi kebutuhan pasien
5. Evaluasi
Melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien setelah di berikan tindakan keperawatan
yang sudah direncanakan sebelumnya, apakah dari tujuan yang direncakan dapat
tercapai atau tidak
18
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beraneka ragam, dapat
berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, endodermal, mesodermal) dengan sifat-sifat
histiologis maupun biologis yang beraneka ragam. Penyebab pasti dari penyakit ini tidak
diketahui.Kanker ovarium cepat menyebar per intraperitoneum melalui pertambahan ukuran
setempat atau penyebaran benih permukaan, dan terkadang melalui aliran limfe dan aliran
darah. Metastasis ke ovarium dapat terjadi dari kanker payudara, kolon, lambung, dan
pankreas.
B. Saran
Telatnya diagnosa kanker ovarium karena tanda dan gejala yang samar-samar membuat
kanker ini disebutsilent killer. Namun kita dapat mencegah terjadinya kanker ovarium dengan
pola hidup yang bersih dan sehat. Selain itu, dengan mengatur pola makan kita akan
mengurangi resiko terjadinya kanker.
19
DAFTAR PUSTAKA
Garcia,
Agustin.
2010.
Kanker
Ovarium,
(online)
Dalam
:
(http://emedecine.medscape.com./article/433779-overview), Diakses pada tanggal 4
November 2018
Nurarif, Amin Huda & Hardi Kusuma. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. Yogyakarta : Mediaction
Padila. 2015. Asuhan Keperawatan Maternitas II. Yogyakarta : Nuha Medika
PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta selatan : DPP PPNI
Price. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Volume 2. Edisi 6. Jakarta :
EGC
Smeltzer. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth. Volume 3.
Jakarta : EGC
20
Download