Geologi Daerah Tanjungrasa dan sekitarnya, Kecamatan

advertisement
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
BAB III
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
3.1
GEOMORFOLOGI
Bentang alam dan morfologi suatu daerah terbentuk melalui proses
pembentukan secara geologi. Proses geologi itu disebut dengan proses geomorfologi.
Bentang alam dan bentuk muka bumi tersebut dikontrol oleh tiga parameter utama,
yaitu struktur, proses, dan tahapan. Struktur adalah proses geologi endogen yang
dapat bersifat membangun/konstruksional, proses adalah proses-proses eksogen yang
bersifat merusak/destruktif, dan tahapan adalah respon batuan terhadap proses
eksogen (Lobeck, 1939 dalam Brahmantyo, B., dan Bandono, 2006). Metode yang
dilakukan adalah melalui analisis peta topografi didukung oleh pengamatan langsung
di daerah penelitian yang kemudian diolah sehingga didapatkan satuan-satuan
geomorfologi pada daerah penelitian.
Daerah penelitian berada pada ketinggian 100 mdpl sampai dengan 310 mdpl.
Analisis peta topografi dilakukan dengan cara mengamati pola kontur, pola kelurusan
sungai dan punggungan, dan pola aliran sungai. Dari peta topografi didapatkan dua
macam pola kontur pada daerah penelitian, yaitu pola kontur renggang yang berada
pada bagian timur daerah penelitian dan pola kontur renggang-rapat yang berada
pada bagian barat daerah penelitian. Bentang alam atau morfologi yang dapat terlihat
adalah adanya gawir terjal dari perbedaan ketinggian yang mencolok pada bagian
tengah daerah penelitian yang dicirikan oleh rapatnya kontur, dataran, dan adanya
lembahan.
Pola aliran sungai pada daerah penelitian terbagi menjadi dua pola yaitu pola
paralel dan pola dendritik (gambar 3.1). Sungai besar pada daerah penelitian
memiliki pola aliran paralel yaitu Sungai Cibadak yang mengalir dari selatan ke
utara. Sedangkan pola dendritik diwakili oleh sungai-sungai yang mengalir dari barat
ke timur dan bermuara ke Sungai Cibadak antara lain Sungai Cisero dan Sungai
Cihideung. Pola aliran paralel dapat diinterpretasikan sebagai adanya bidang sesar
yang tersingkap atau adanya lereng dari suatu lapisan miring sedangkan pola aliran
dendritik mencerminkan daerah dengan batuan yang ketahanannya seragam.
10
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Gambar 3.1 Pola aliran sungai daerah penelitian (tanpa skala). Warna hijau lebih tua menunjukkan
daerah dengan pola aliran sungai dendritik dan daerah dengan warna hijau lebih terang
menunjukkan daerah dengan pola aliran paralel.
Kelurusan-kelurusan yang ditarik pada peta topografi merupakan kelurusan
dari punggungan dan sungai. Kelurusan tersebut diinterpretasikan sebagai struktur
geologi pada daerah penelitian berupa sesar (gambar 3.2). Pola kelurusan sungai
pada daerah penelitian memperlihatkan orientasi dominan utara-selatan (gambar
3.3a) dan pola kelurusan punggungan pada daerah penelitian memperlihatkan
orientasi dominan barat-timur (gambar 3.3b). Pola kelurusan sungai dan punggungan
diinterpretasikan sebagai pola struktur yang berkembang pada daerah penelitian.
11
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Gambar 3.2 Peta topografi dan kelurusan daerah penelitian (tanpa skala). Garis berwarna hitam
menunjukkan kelurusan sungai dan garis berwarna merah menunjukkan kelurusan
punggungan.
(a)
(b)
Gambar 3.3 (a) Diagram rosset kelurusan sungai
(b) Diagram rosset kelurusan punggungan.
Berdasarkan analisa secara deskriptif melalui peta topografi skala 1:10.000
dan pengamatan langsung di lapangan kemudian mengacu pada bentuk bentang alam
menurut Budi Brahmantyo dan Bandono (2006), daerah penelitian dibagi menjadi
tiga satuan geomorfologi, yaitu:
12
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3.1.1
Satuan Perbukitan Homoklin
Satuan ini menempati 65% dari luas keseluruhan daerah
penelitian
yang
ditandai
dengan
warna
kuning
pada
Peta
Geomorfologi (Lampiran). Satuan ini terletak memanjang utaraselatan daerah penelitian dan berada pada ketinggian 100 sampai
dengan 250 mdpl dengan pola kontur rapat-renggang. Satuan ini
mempunyai ekspresi morfologi berupa perbukitan dan lembah (Foto
3.1a dan 3.1b).
Berdasarkan pengamatan di lapangan, batuan penyusun dari
satuan ini adalah batupasir yang berada pada bagian utara dan
batulempung pada bagian selatan. Interpretasi dari kemiringan lapisan
batuan mempunyah arah yang relatif sama yaitu ke arah utara. Pada
bagian utara satuan ini terdapat gawir terjal yang memanjang barattimur yang searah dengan pola kelurusan punggungan. Hal tersebut
diinterpretasikan sebagai adanya proses endogen berupa suatu patahan
pada satuan ini yang didukung oleh pengamatan langsung di
lapangan. Proses eksogen pada satuan ini adalah erosi dan pelapukan.
Foto 3.1a. Morfologi lembah dari satuan perbukitan homoklin (foto diambil dari Babakan).
T
B
Foto 3.1b. Morfologi bukit dari satuan perbukitan homoklin (foto diambil dari Gunungsabelah).
13
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3.1.2
Satuan Perbukitan Endapan Vulkanik
Satuan ini menempati 30% dari luas keseluruhan daerah
penelitian yang ditandai dengan warna coklat pada Peta Geomorfologi
(Lampiran). Satuan ini terletak pada bagian barat daerah penelitian
dan berada pada ketinggian 250 sampai dengan 310 mdpl dengan pola
kontur yang rapat-renggang. Satuan ini mempunyai ekspresi
morfologi berupa perbukitan (Foto 3.2).
Batuan penyusun dari satuan ini adalah breksi vulkanik yang
merupakan produk erupsi gunungapi berumur Kuarter. Proses
eksogen pada satuan ini adalah erosi dan pelapukan.
Foto 3.2 Satuan perbukitan endapan vulkanik (dibatasi garis berwarna merah). Foto diambil dari
Margaluyu.
3.1.3 Satuan Dataran Aluvial
Satuan ini menempati 5% dari luas keseluruhan daerah penelitian
yang ditandai dengan warna abu-abu pada Peta Geomorfologi
(Lampiran). Satuan ini terletak pada bagian tengah daerah penelitian
dan berada pada ketinggian 100 mdpl dengan pola kontur yang
renggang. Satuan ini mempunyai ekspresi morfologi berupa dataran
yang dilewati oleh sungai besar pada daerah penelitian yaitu Sungai
Cibadak (foto 3.3).
14
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Batuan penyusun dari satuan ini adalah akumulasi materialmaterial lepas dari proses erosi pada sungai-sungai kecil yang
bermuara pada Sungai Cibadak yang terdiri dari fragmen batuan beku,
batupasir, dan batulempung. Proses geologi yang dominan terjadi
pada satuan ini adalah proses eksogen yang lebih bersifat destruktif
yaitu proses erosi yang menyebabkan adanya batuan yang tersingkap
pada sungai besar tersebut.
T
B
Foto 3.3 Satuan Dataran Aluvial (foto diambil dari Sungai Cibadak).
3.2
STRATIGRAFI
Berdasarkan ciri litologi yang diamati di lapangan, daerah penelitian dibagi
menjadi empat satuan tidak resmi dari tua ke muda, yaitu Satuan Batulempung,
Satuan Batupasir-Batulempung, Satuan Breksi Vulkanik, dan Satuan Aluvial. Urutan
tersebut terlihat lebih jelas pada kolom stratigrafi tidak resmi daerah penelitian
(gambar 3.4).
15
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Gambar 3.4 Kolom stratigrafi tidak resmi daerah penelitian (tanpa skala).
16
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3.2.1 Satuan Batulempung
3.2.1.1
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini menempati 25% dari luas keseluruhan
daerah penelitian yang ditandai dengan warna hijau pada
Peta Geologi (Lampiran). Satuan ini tersingkap di bagian
selatan daerah penelitian yang memanjang barat-timur.
Singkapan ditemukan pada Sungai Cisero dan anak
sungainya serta di Sungai Cibadak dengan kondisi
singkapan agak lapuk. Satuan batulempung ini membentuk
morfologi punggungan dan lembahan dengan pola kontur
rapat-renggang. Dari penampang, ketebalan dari satuan ini
adalah lebih dari 550 meter.
3.2.1.2
Ciri Litologi
Satuan
ini
terdiri
dari
dominasi
batulempung
menyerpih, batulempung sisipan batupasir, dan batupasir
(foto 3.4a, b, dan c). Kedudukan lapisan batuan didapatkan
dari sisipan batupasir dan singkapan batupasir. Secara
megaskopis, batulempung berwarna abu-abu gelap, matriks
karbonatan
lemah, dan struktur menyerpih.
Sisipan
batupasir berwarna abu-abu, matriks karbonatan lemah,
pemilahan buruk, kemas terbuka, bentuk butir membundar
tanggung, dan ketebalan sebagai sisipan sampai dengan
10cm. Tidak ditemukan struktur sedimen pada satuan ini.
Pengamatan terhadap sayatan tipis (Lampiran A)
menunjukkan bahwa batupasir sebagai sisipan pada
batulempung adalah quartz wacke sandstone (Pettijohn,
1987). Terdiri dari butiran 40%, semen 10%, matriks 30%,
dan rongga sebagai porositas 20%. Bentuk butiran
membundar tanggung-menyudut, pemilahan sedang, kemas
terbuka, ukuran butir sampai dengan 0,2 mm. Butiran terdiri
dari kuarsa 60%, K-feldspar 20%, dan mineral opak 20%.
Lempung hadir sebagai matriks dan silika sebagai semen.
17
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Batupasir pada GP 001 adalah quartz arenite sandstone
(Pettijohn, 1987). Terdiri dari butiran 70%, semen 20%, dan
matriks 10%. Bentuk butiran membundar tanggungmenyudut, pemilahan sedang, kemas terbuka, ukuran butir
sampai dengan 0,3 mm. Butiran terdiri dari kuarsa 60%, Kfeldspar 30%, dan mineral opak 10%.
3.2.1.3
Umur
Berdasarkan kehadiran foraminifera planktonik yang
terkandung pada sampel GP 201 dan CB 205 (Lampiran B),
didapatkan umur dari satuan ini adalah N9–N11 (Blow,
1969) yang disetarakan dengan Kala Miosen Tengah.
3.2.1.4
Lingkungan Pengendapan
Berdasarkan kehadiran foraminifera bentonik yang
terkandung pada sampel GP 201 dan CB 205 (Lampiran B),
didapatkan
lingkungan
pengendapan
berkisar
antara
kedalaman 550-725 meter atau berada pada zona batimetri
batial atas (Grimsdale dan van Morkhoven, 1955).
3.2.1.5
Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan ciri litologi, maka satuan batulempung ini
dapat
disetarakan
dengan
Formasi
Bantargadung
(Martodjojo, 1984).
3.2.1.6
Hubungan Stratigrafi
Hubungan satuan batuan ini dengan satuan yang lebih
tua tidak diketahui karena tidak tersingkap di daerah
penelitian.
18
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
S
B
U
T
(a)
(b)
B
T
(c)
Foto 3.4 (a) Singkapan batulempung pada lokasi CB 101.
(b) Singkapan batulempung sisipan batupasir pada lokasi GP 205.
(c) Singkapan batupasir pada lokasi GP 001.
3.2.2 Satuan Batupasir-batulempung
3.2.2.1
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini menempati 40% dari luas keseluruhan
daerah penelitian yang ditandai dengan warna kuning pada
Peta Geologi (Lampiran). Satuan ini tersingkap di bagian
tengah daerah penelitian. Singkapan ditemukan pada Sungai
Cibadak, Sungai Cihideung, Sungai Cibaturuyuk, dan
sungai-sungai kecil yang bermuara ke Sungai Cibadak
dengan kondisi singkapan agak lapuk. Satuan batupasirbatulempung ini membentuk morfologi punggungan dan
lembahan dengan pola kontur rapat-renggang. Dari
19
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
penampang, ketebalan dari satuan ini adalah lebih dari 1950
meter.
3.2.2.2
Ciri Litologi
Satuan ini terdiri dari dominasi perselingan batupasirbatulempung, setempat ditemukan batulempung menyerpih
dan batupasir (foto 3.5a, b, dan c). Secara megaskopis,
batulempung pada perselingan berwarna abu-abu gelap,
matriks karbonatan, getas, ketebalan mencapai 5 cm.
Batupasir pada perselingan berwarna abu-abu, matriks
karbonatan, pemilahan buruk, kemas terbuka, bentuk butir
membundar tanggung, dan ketebalan sampai dengan 20 cm.
Pada bagian perselingan, ditemukan struktur sedimen
berupa laminasi sejajar dan slump (foto 3.5 d, e, dan f).
Batulempung
menyerpih
berwarna
abu-abu,
matriks
karbonatan, dan masif. Batupasir berwarna abu-abu, matriks
karbonatan, pemilahan buruk, kemas terbuka, bentuk butir
membundar tanggung, masif.
Pengamatan terhadap sayatan tipis (Lampiran A)
menunjukkan bahwa batupasir pada perselingan adalah
quartz wacke sandstone dan quartz arenite sandstone
(Pettijohn, 1987). Quartz wacke sandstone
terdiri dari
butiran 30%, semen 20%, dan matriks 50%. Bentuk butiran
membundar tanggung, pemilahan sedang, kemas terbuka,
ukuran butir sampai dengan 0,1 mm.. Butiran terdiri dari
kuarsa 50%, K-feldspar 30%, dan mineral opak 20%.
Lempung hadir sebagai matriks dan kalsit sebagai semen.
Quartz arenite sandstone terdiri dari butiran 60%, semen
30%, dan
matriks 10%. Bentuk butiran membundar
tanggung-menyudut, pemilahan sedang, kemas terbuka,
ukuran butir sampai dengan 0,3 mm. Butiran terdiri dari
kuarsa 45%, K-feldspar 40%, pecahan fosil 5% dan mineral
20
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
opak 10%. Lempung hadir sebagai matriks dan kalsit
sebagai semen.
Batupasir pada lokasi CB 202 merupakan quartz
arenite sandstone (Pettijohn, 1987) terdiri dari butiran 50%,
semen 40%, dan matriks 10%. Bentuk butiran membundar
tanggung-menyudut, pemilahan sedang, kemas terbuka,
ukuran butir sampai dengan 0,3 mm. Butiran terdiri dari
kuarsa 45%, K-feldspar 45%, dan mineral opak 10%.
Lempung hadir sebagai matriks dan kalsit sebagai semen.
3.2.2.3
Umur
Berdasarkan kehadiran foraminifera planktonik yang
terkandung pada sampel CH 102 dan CB 201 (Lampiran B),
didapatkan umur dari satuan ini adalah N12–N14 (Blow,
1969) yang disetarakan dengan Kala Miosen Tengah.
3.2.2.4
Lingkungan Pengendapan
Berdasarkan kehadiran foraminifera bentonik yang
terkandung pada sampel CH 102 dan CB 201 (Lampiran B),
didapatkan
lingkungan
pengendapan
berkisar
antara
kedalaman 60-600 meter atau berada pada zona batimetri
neritik tengah-batial atas (Grimsdale dan van Morkhoven,
1955).
3.2.2.5
Kesebandingan Stratigrafi
Berdasarkan ciri litologi, maka satuan batulempung ini
dapat
disetarakan
dengan
Formasi
Bantargadung
(Martodjojo, 1984).
3.2.2.6
Hubungan Stratigrafi
Hubungan satuan batuan ini dengan satuan yang lebih
tua adalah selaras dilihat dari kemenerusan umur satuan dan
kemiringan lapisan yang sama.
21
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
B
T
B
(a)
B
(b)
T
TG
(c)
U
T
BL
(d)
S
U
(e)
S
(f)
Foto 3.5 (a) Singkapan batupasir-batulempung pada lokasi CH 001.
(b) Singkapan batupasir pada lokasi CB 202.
(c) Singkapan batulempung menyerpih pada lokasi CB 201.
(d) Struktur sedimen laminasi sejajar pada lokasi CH 101.
(e) dan (f) Struktur slump pada lokasi CH 001.
22
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3.2.3 Satuan Breksi Vulkanik
3.2.3.1
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini menempati 30% dari luas keseluruhan
daerah penelitian yang ditandai dengan warna coklat pada
Peta Geologi (Lampiran). Satuan ini tersingkap di bagian
barat daerah penelitian. Singkapan ditemukan di sepanjang
pada Sungai Citalahap, bagian barat dari Sungai Cihideung,
dan Sungai Cibaturuyuk dengan kondisi singkapan agak
lapuk. Satuan ini membentuk morfologi perbukitan dengan
pola kontur rapat-renggang. Dari penampang, ketebalan dari
satuan ini adalah lebih dari 110 meter.
3.2.3.2
Ciri Litologi
Satuan ini tersusun atas endapan vulkanik hasil erupsi
gunungapi yang terdiri dari breksi vulkanik (foto 3.6).
Satuan ini tidak memiliki kedudukan atau kemiringan
lapisan. Breksi vulkanik memiliki ciri berwarna coklat,
fragmen monomik berwarna abu kehitaman, ukuran butir
kerikil-bongkah, bentuk butir menyudut hingga membundar
tanggung, porfiritik, hipokristalin, getas. Matriks berupa tuf,
abu-abu gelap sampai terang dengan warna pelapukan
coklat kemerahan,
ukuran butir
pasir sedang-halus,
menyudut-menyudut tanggung, pemilahan sedang-buruk,
getas.
Pengamatan terhadap sayatan tipis (Lampiran A) pada
fragmen batuan beku menunjukkan jenis batuan beku
andesit. Andesit pada satuan ini memiliki 40% fenokris
yang terdiri
dari plagioklas
(30%),
kuarsa (10%),
hornblende (50%), dan mineral opak (10%) serta
60%
massa dasar berupa gelas.
3.2.3.3
Umur
Dari
kesamaan
penyebaran
satuan
ini
dengan
penyebaran batuan vulkanik pada Peta Geologi Lembar
23
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Cianjur (Sudjatmiko, 1972) maka satuan ini kemungkinan
merupakan bagian dari batupasir tufaan dan konglomerat
(Qos) yang berumur Pleistosen.
3.2.3.4
Lingkungan Pengendapan
Satuan ini diinterpretasikan terendapkan di lingkungan
darat karena pada umur yang lebih muda dari PlioPleistosen daerah ini sudah merupakan darat secara regional
(Martodjojo, 1984).
3.2.3.5
Hubungan Stratigrafi
Satuan ini diendapkan secara tidak selaras dengan
satuan yang lebih tua karena ketidakmenerusan umur
pengendapan.
S
U
BD
(a)
TL
(b)
Foto 3.6 (a) Breksi vulkanik pada lokasi CT 02.
(b) Breksi vulkanik pada CH 004.
3.2.4 Satuan Aluvial
3.2.4.1
Penyebaran dan Ketebalan
Satuan ini menempati 5% dari luas keseluruhan daerah
penelitian yang ditandai dengan warna abu-abu pada Peta
Geologi (Lampiran). Satuan ini berada pada Sungai
Cibadak yang merupakan sungai besar pada daerah
24
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
penelitian (foto 3.7). Ketebalan dari satuan ini tidak dapat
diketahui karena keberadaannya yang menutupi satuan yang
lebih tua.
3.2.4.2
Ciri Litologi
Satuan ini terdiri dari akumulasi material-material
lepas dari proses erosi pada sungai-sungai kecil yang
bermuara pada Sungai Cibadak yang yang terdiri dari
fragmen batuan beku, batupasir, dan batulempung dengan
ukuran butir kerikil sampai bongkah.
3.2.4.3
Umur
Satuan ini berumur Resen karena pembentukannya
masih berlangsung hingga sekarang dan diendapkan secara
tidak selaras di atas satuan batuan yang lebih tua.
3.2.4.4
Lingkungan Pengendapan
Satuan ini diinterpretasikan terendapkan di lingkungan
darat karena pada umur yang lebih muda dari PlioPleistosen daerah ini sudah merupakan darat secara regional
(Martodjojo, 1984).
B
T
Foto 3.7 Aluvial pada Sungai Cibadak.
25
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3.3
STRUKTUR GEOLOGI
Langkah awal dalam identifikasi struktur geologi pada daerah penelitian
adalah dengan pengamatan morfologi/bentang alam pada peta topografi. Dari peta
topografi tersebut, dapat diamati pola kontur, pola kelurusan punggungan dan sungai,
dan pembelokan tajam dari sungai-sungai pada daerah penelitian. Kelurusan
punggungan pada daerah penelitian mempunyai arah dominan barat-timur dan
kelurusan sungai mempunyai arah dominan utara-timur. Langkah selanjutnya adalah
dengan pengamatan langsung dan pengambilan data di lapangan berupa bukti-bukti
struktur geologi yang terekam pada batuan seperti kekar gerus, rekahan, breksiasi,
dan bidang sesar. Kemudian data yang didapat dari lapangan akan diolah dengan
perangkat lunak Stereonet. Analisis yang dilakukan adalah analisis kinematika
dilanjutkan dengan analisis dinamika dari sesar kemudian penamaan dari struktur
tersebut didasarkan atas klasifikasi ganda.
Setelah dilakukan langkah-langkah tersebut, daerah penelitian memiliki 2
struktur geologi berupa sesar. Penamaan struktur sesar dilakukan berdasarkan nama
daerah yang dilalui oleh sesar tersebut.
3.3.1
Sesar Naik Cihideung
Dari analisis peta topografi, terdapat anomali pola kontur di
bagian tengah
daerah penelitian tepatnya pada Sungai Cihideung
(lihat Gambar 3.2). Daerah tersebut mempunyai ketinggian rata-rata
150 mdpl. Namun, pada timur laut Sungai Cihideung tersebut,
ketinggian dapat mencapai 300 mdpl. Dari anomali pola kontur
tersebut, pada pada daerah itu terdapat gawir terjal (lihat Peta
Geomorfologi pada lampiran). Selain itu, terdapat juga kelurusan
punggungan dengan arah relatif barat-timur.
Dari pengamatan yang dilakukan di lapangan, lokasi pengamatan
singkapan pada sepanjang Sungai Cihideung tersebut terdapat kekar
gerus intensif pada singkapan (foto 3.8 a dan b). Selain itu, data
lapangan yang menunjukkan adanya gejala sesar adalah adanya
kemiringan lapisan batuan yang hampir tegak (750) pada lokasi CB
204 (foto 3.8 c). Kedudukan dari bidang sesar diinterpretasikan
26
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
melalui kelurusan punggungan. Berdasarkan analisis kinematika,
tegasan utama yang membentuk sesar ini mempunyai arah relatif
utara-selatan, yaitu N 1780 E. Kemudian berdasarkan analisis
dinamika, Sesar Cihideung ini mempunyai arah pergerakan relatif
naik mengiri (Lampiran C).
B
T
(a)
(b)
U
S
(c)
Foto 3.8(a) Kekar gerus intensif pada lokasi CH 001.
(b) Kekar gerus pada lokasi CH 102.
(c) Lapisan tegak pada CB 204.
27
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3.3.2
Sesar Mendatar Cibadak
Dari analisis peta topografi, terdapat kelurusan sungai pada
Sungai Cibadak dengan arah utara-selatan yang sama dengan arah
sungai (Gambar 3.2). Dari pengamatan yang dilakukan di lapangan,
lokasi pengamatan singkapan pada sepanjang Sungai Cibadak tersebut
terdapat kekar gerus intensif pada singkapan (foto 3.9). Kedudukan
bidang sesar diinterpretasikan melalui kelurusan Sungai Cibadak
tersebut. Pembelokan yang tajam dari bagian utara Sungai Cibadak
dapat diinterpretasikan sebagai Sesar Naik Cihideung yang terbentuk
pertama terpotong oleh Sesar Mendatar Cibadak yang terbentuk
kemudian. Berdasarkan analisis kinematika, tegasan utama yang
membentuk sesar ini mempunyai arah relatif utara-selatan, yaitu N
1740 E. Kemudian berdasarkan analisis dinamika, Sesar Cibadak ini
mempunyai arah pergerakan relatif mengiri turun (Lampiran C).
(Kedua sesar yang berada pada daerah penelitian dapat dilihat dalam
Gambar 3.5).
T
B
Foto 3.9 Kekar gerus intensif pada lokasi GP 001.
28
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Gambar 3.5 Struktur geologi daerah penelitian
29
Geologi Daerah Desa Tanjungrasa dan Sekitarnya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
3.3.3
Mekanisme Pembentukan Struktur Geologi
Daerah penelitian memiliki dua zona struktur sesar, yaitu Sesar
Cihideung dan Sesar Cibadak. Kehadiran sesar-sesar tersebut dapat
dilihat pada analisis kelurusan yang telah dilakukan. Pada pengamatan
lapangan, pola-pola yang dibentuk oleh kelurusan punggungan dan
lembah ini ditunjang oleh gejala-gejala struktur sesar, seperti rekahan.
Arah kelurusan punggungan yang relatif barat-timur diwakili oleh
kehadiran Sesar Cihideung. Pola kelurusan sungai yang relatif berarah
utara-selatan diwakili oleh kehadiran Sesar Cibadak.
Berdasarkan hasil analisis kinematika, tegasan utama yang
menyebabkan terbentuknya struktur geologi pada daerah penelitian
mempunyai arah relatif utara-selatan. Sesar Cihideung memiliki arah
tegasan utama dari N 1780 E dan Sesar Cibadak memiliki arah tegasan
utama dari N 1740 E. Hal yang menyebabkan arah tegasan utama
relatif utara-selatan adalah hasil penunjaman Lempeng Indo-Australia
di selatan Jawa (Pulunggono dan Martodjojo. 1994).
30
Download