TREMATODA DARAH

advertisement
TREMATODA DARAH
TREMATODA DARAH SCHISTOSOMA
•
•
•
•
•
•
Schistosoma japonicum
Schistosoma mansoni
Schistosoma haematobium
Schistosoma intercalatum
Schistosoma mekongi
Schistosoma binatang
Schistosoma
• Penyakit : skistosomiasis= bilharziasis
• Morfologi dan Daur Hidup
– Hidup in copula di dalam pembuluh darah venavena usus, vesikalis dan prostatika.
– Di bagian ventral cacing jantan terdapat canalis
gynaecophorus, tempat cacing betina.
– Telur tidak mempunyai operkulum dan berisi
mirasidium, mempunyai duri dan letaknya
tergantung spesies.
• Telur dapat menembus keluar dari
pembuluh darah, bermigrasi di jaringan dan
akhirnya masuk ke lumen usus atau
kandung kencing
• Telur menetas di dalam air mengeluarkan
mirasidium.
Cacing Dewasa Schistosoma
HP Schistosoma
Serkaria Schistosoma
Daur hidup Schistosoma sp.
Schistosoma Waktu Kopulasi
Patologi dan Gejala Klinis
•
•
Perubahan yang terjadi disebabkan oleh 3
stadium cacing yaitu serkaria, cacing dewasa
dan telur.
Perubahan-perubahan pada skistosomiasis
dibagi dalam 3 stadium:
1. Masa tunas biologik
–
Gejala kulit dan alergi : eritema, papula disertai rasa
gatal dan panas hilang dalam 2-3 hari.
– Gejala paru : batuk, kadang-kadang
pengeluaran dahak yang produktif
– Gejala toksemia : timbul minggu ke-2 sampai
ke-8 setelah infeksi. Berat gejala tergantung
jumlah serkaria yang masuk
• Gejala berupa : lemah, malaise, tidak nafsu makan,
mual dan muntah. Diare disebabkan hipersensitif
terhadap cacing
• Hati dan limpa membesar dan nyeri raba.
2. Stadium Akut
– Mulai sejak cacing bertelur
– Efek patologis tergantung jumlah telur yang
dikeluarkan dan jumlah cacing .
– Keluhan : demam, malaise, berat badan
menurun
– Pada infeksi berat Sindroma disentri
– Hepatomegali timbul lebih dini disusul
splenomegali; terjadi 6-8 bulan setelah
infeksi.
3. Stadium menahun :
– Penyembuhan dengan pembentukan jaringan
ikat dan fibrosis
– Hepar kembali mengecil karena fibrosis. Hal
ini disebut sirosis
– sirosis  sirosis periportal
– Gejala : splenomegali, edema tunbgai bawah
dan alat kelamin, asites dan ikterus.
– Stadium lanjut sekali dapat terjadi
hematemesis.
• Diagnosis :
– Menemukan telur dalam tinja, urin atau
jaringan biopsi
– Reaksi serologi
Pengobatan
• Umumnya tidak ada yang aman atau agak
toksik
• Semuanya mempunyai risiko
• Pengaruh obat anti schistosoma dapat
menyebabkan terlepasnya cacing dari p. darah
dan mengakibatkan tersapunya cacing ke
dalam hati oleh sirkulkasi portal disebut
hepatic shift.
• Obat-obat anti schistosoma :
– Emetin (tartras emetikus)
– Fuadin stibofen, Reprodal, neo-antimosan
– Astiban TW 56
– Lucanthone-HCl, Miracil D. Nilodin
– Niridazol
– Prazikuantel (Embay® 8440; Droncit®,Biltricide®)
Epidemiologi
• Penyakit skistosomiasis merupakan masalah
kesehatan masyarakat di berbagai negara. Di
Indonesia hanya skistomiasis japonikum ditemukan
endemik di Sulawesi Tengah.
• Berhubungan erat dengan air dari irigasi dengan
adanya fokus keong sebagai hospes perantara
• Infeksi berlangsung pada orang yang bekerja di
sawah.
• Kelompok usia yang terkena 5 – 50 tahun.
Schistosoma japonicum
• Hospes : Manusia, kucing, anjing,rusa, tikus
sawah (rattus), sapi, babi rusa dll.
• Penyakit : Oriental schistosomiasis,
skistosomiasis japonika, penyakit Katayama
atau penyakit demam keong.
• Penyebaran geografis :
– Di Indonesia hanya di Sulteng daerah D. Lindu
dan lembah Napu.
Schistosoma japonicum
TELUR
BENTUK : BULAT AGAK LONJONG DNG
TONJOLAN DI BAGIAN
LATERAL DEKAT KUTUB
UKURAN : 100 x 65 µm
TELUR BERISI EMBRIO
TANPA OPERKULUM
SERKARIA
Schistosoma sp
EKOR BERCABANG
Morfologi S. japonicum
Telur S.japonicum
Telur S.japonicum
Telur S. japonicum
S. japonicum jantan dan betina
DAUR HIDUP Schistosoma sp
Daur S. japonicum
INANG ANTARA
Schistosoma japonicum
Oncomelania sp
Patologi dan Gejala Klinis
• Satdioum I :
– Gatal-gatal (urtikaria)
– Gejala intoksikasi : demam hepatomegali dan eosinofilia
tinggi
• Stadium II :
– Sindroma disentri
• Stadium III :
– Sirosis hepatis dan splenomegali serta emasiasis
Diagnosis
• Menemukan telur dalam tinja atau jaringan
biopsi
• Reaksi serologi :
– COPT (circumoral precipitin test)
– IHT (Indirect haemagglutinination test)
– CFT (complement fixation test)
– FAT (Fluorescense antibody test)
– ELISA(Enzyme linked immunosorbent assay)
Schistosoma mansoni
• Hospes : Manusia dan kera babon di Afrika sbg
hospes reservoir.
• Penyakit : skistomiasis usus
• Patologi dan gejala Klinis :
– Seperti pada S. japonicum, tetapi lebih ringan.
– Splenomegali dapat jadi berat sekali.
Morfologi S. mansoni
Telur S. mansoni
Telur S. mansoni
Daur S. mansoni
INANG ANTARA Schistosoma mansoni
Biomphalaria sp
Telur S. mansoni dlm usus
Telur S. mansoni pada jaringan usus (pd lapisan mukosa
dan submukosa)
Schistosoma haematobium
• Hospes : Manusia. Babon dan kera lain sbg
hospes reservoir.
• Penyakit : skistosmiasis vesika urinaria
• Tidak ditemukan di Indonesia.
• Patologi dan Gejala Klinis:
– Hematuria dan disuria bila terjadi sistitis
– Sindroma disentri bila terjadi kelainan di
rektum.
Diagnosis : Menemukan telur di dalam urin.
Morfologi S. haematobium
Telur S. haematobium
Telur S. haematobium
Daur S. haematobium
INANG ANTARA Schistosoma haematobium
Bulinus sp
Telur S. haematobium pada jaringan kandung kencing,
terlihat telur terkalsifikasi
Telur S. haematobium pada jaringan
kandung
Lokasi S. haematobium dlm Plexus V. vesicalis
Schistosoma intercalatum
• Kadang-kadang menginfeksi manusia di Afrika
(Kamerun, Gabon, Guyinea equator, Republik Afrika
Tengah, Chad dan Zaire).
• Serupa dengan S. haematobium, telur berduri
terminal.
• Cacing dewasanya ditemukan dalam plekxus venavena usus manusia
• Hospes perantara : Bulinus africanus dan
B.
globosus
Schistosoma mekongi
• Serupa dengan S. japonicum
• Ditemukan di daerah sekitar Sungai Mekong
Schistosoma binatang
• Hospes : mammalia dan burung (termasuk
itik)
• Penyakit : Swimmer’s itch, clam digger’s itch.
• Penyebaran geografis : kosmopolit.
• Hospes perantara : 25 spesies keong air tawar
dan 4 spesies keong air laut.
Patologi dan gejala klinis
• Serkaria “ asing di tempat asing”(“stranger in a
strange land”) masuk menembus kulit lalu
dihancurkan dalam lapisan epitel kulit, kadangkadang lolos ke paru-paru.
• Menimbulkan reaksi radang akut dengan edema,
infiltrasi neutrofil dan limfosit, kemudian eosinophil.
• Gejala : urtikaria, gatal hebat , edema , terjadi
pemebentukan papula dan pustula dan mencapai
maksimum dalam 2-3 hari.
• Diagnosis :
– Riwayat kontak dengan air
– Kemerahan pada kulit
– Reaksi serologi mungkin positip
• Pengobatan:
– Lotion anti gatal dan anti histamin.
– Reaksi alergi : urtikaria atau edema
angioneurotik
S. haematobium
S. mansoni
S. japonicum
Ukuran
10-15 x 1 mm
10 x 1 mm
12-20 x 0.5 mm
Kutikula
Tuberkula halus
Tuberkula kasar
Tidak bertuberkel
Testis
4-5, berkelompok
8-9, deret zig-zag
6-7, berderet
Ukuran
20 X 0.25 mm
14 x 0.25 mm
26 x 0.3 mm.
Ovarium
Posterior pertengahan badan
Anterior pertengahan badan
Pertengahan badan
Telur dalam uterus
20-30 butir
1-3 butir
50 butir atau lebih
Sekum yang menyatu
Panjang (menyatu di pertengahan
Terpanjang(menyatu di anterior
Pendek(menyatu di posterior
badan)
perte-ngahan badan)
perte-ngahan badan)
Bulinus (Physopsis dan
Biomphalaria dan Australorbis
Oncomelania hupensis
Manusia
Manusia
Manusia & hewan domestik
Babon
Babon
Afrika, Timur Tengahd & Timur
Afrika dan Amerika Selatan
Timur Jauh (Oriental)
Pleksus vena vesikalis dan
Plexus mesenterikus daerah
Plexus mesenterikus daerah
prostatika
sigmoidorektal
ileocaecalis (v. mesenterika
(v. mesenterika inferior dan
superior dan cabang-cabangnya)
Cacing jantan
Cacing betina
Hospes perantara
Planorbarius)
Hospes Definitif
Penyebaran Geografis
Dekat
Habitat
cabang-cabangnya
Download