Optimasi pH dan Salinitas terhadap Pembentukan Bioflok untuk Uji

advertisement
Optimasi pH dan Salinitas terhadap Pembentukan Bioflok untuk Uji Kualitas Air pada
Sistem Akuakultur
I.Pendahuluan
Subsektor perikanan memegang peranan penting dalam penyediaan protein hewani bagi
rakyat Indonesia. Produksi perikanan Indonesia tahun 2006 adalah sebesar 7.39 juta ton dan dari
jumlah total tersebut, budidaya perikanan menyumbangkan 2.67 juta ton. Untuk memenuhi
permintaan produk perikanan yang terus meningkat, penerapan intensifikasi budidaya tidak dapat
dihindarkan termasuk dalam pertambakan udang di Indonesia.
Aktivitas pertambakan udang di negara tropis seperti Indonesia telah
memberikan kontribusi hingga 26% pada budidaya udang dunia. Akan tetapi, produksi udang
nasional setiap tahunnya mengalami penurunan produksi akibat rendahnya kualitas air pada
sistem tambak. Penurunan
kualitas air ini mayoritas disebabkan oleh tingginya akumulasi senyawa toksik seperti amonia dan
nitrit.
Salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengendalikan kualitas air ini adalah melalui
penggunaan sistem tambak aktif yang memanfaatkan aktivitas komunitas mikroba alami yang
disebut sistem
bioflok. Teknik bioflok adalah sebuah teknologi alternatif untuk budidaya udang yang sedang
popular saat ini. Keberadaan dan aktivitas bioflok dalam system tambak sangat dipengaruhi oleh
kondisi
lingkungan.
Teknik bioflok bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dengan
pembentukan biomass mikroba makroagregat dari bahan organik dan senyawa terlarut (Serfling,
2006). Telah diketahui secara luas bahwa berdasarkan hukum kekekalan massa banyak materi
pakan tidak terserap menjadi biomass udang. Flok mikroba ini diharapkan mampu memanfaatkan
materi tersebut dan akhirnya dapat menjadi bahan makanan tambahan bagi udang. Beberapa hal
penting yang menentukan kualitas bioflok adalah nilai nutrisi, aman dan palatable untuk
dikonsumsi dan
berukuran cukup besar sehingga layak dimakan oleh udang.
II. Tinjaun Pustaka
Budidaya perairan (akuakultur) merupakan bentuk pemeliharaan dan penangkaran berbagai
macam hewan atau tumbuhan perairan yang menggunakan air sebagai komponen pokoknya.
Kegiatan-kegiatan yang umum termasuk di dalamnya adalah budidaya ikan, budidaya
udang, budidaya tiram, serat budidaya rumput laut (alga). Dengan batasan di atas, sebenarnya
cakupan budidaya perairan sangat luas namun penguasaan teknologi membatasi komoditi tertentu
yang dapat diterapkan.Budidaya perairan adalah bentuk perikanan budidaya, untuk dipertentangkan
dengan perikanan tangkap.Di Indonesia, budidaya perairan dilakukan melalui berbagai sarana.
Kegiatan budidaya yang paling umum dilakukan di kolam/empang, tambak, tangki, karamba,
serta karamba apung.
Teknik bioflok adalah sebuah teknologi alternatif untuk budidaya udang yang sedang
popular saat ini. Teknik ini mencoba untuk mentreatment limbah budidaya secara langsung di
dalam petak budidaya dengan mempertahankan kecukupan oksigen, mikroorganisme, dan rasio
C/N dalam tingkat
tertentu. Keberhasilan teknik bioflok telah diklaim di beberapa tempat, seperti Israel (dengan
komoditas Tilapia), Indonesia (vannamei), Belize, Amerika Tengah (vanname), dan Australia
(Windu). Penggunaan teknik ini di Indonesia pada budidaya Vannamei mampu menurunkan FCR
sebesar 20%, dan menghasilkan 50 ton udang/ha dengan panen bertahap. Paparan berikut ini
berusaha menjelaskan teori
dan teknik bioflok untuk budidaya udang.
Teori Bioflokulasi
Bioflok adalah bahasa slang pada teknik pengolahan limbah cair untuk makroagregat yang
dihasilkan dalam sistem lumpur aktif. Lumpur aktif dapat pula diibaratkan sebagai ‘sup mikroba’
yang terbentuk dari pemberian aerasi terus-menerus pada biomassa tersuspensi dan mikroorganisme
pengurai dalam limbah cair. Jadi, bioflok terdiri atas mikroorganisme (bakteri, ragi, fungi, protozoa,
fitoplankton) dan limbah. Namun ada beberapa mikroorganisme yang telah diidentifikasi berfungsi
sebagai bioflocculant.
-
Zooglea ramigera
-
Escherichia intermedia
-
Paracolobacterium aerogenoids
-
Bacillus subtilis
-
Bacillus cereus
-
Flavobacterium
-
Pseudomonas alcaligenes
-
Sphaerotillus natans
-
Tetrad dan Tricoda
-
Escherichia intermedia
Terbentuknya bioflok secara ilmiah belum disepakati para ilmuwan. Akan tetapi hasil kajian terkini
menunjukkan arah sebagai berikut. Mikroorganisme seperti bakteri dengan kemampuan lisis bahan
organic memanfaatkan detritus sebagai makanan. Sel bakteri mensekresikan lender metabolit,
biopolymer (polisakarida, peptide dan lipid) atau senyawa kombinasi dan terakumulasi disekitar
dinding sel serta detritus. Kesalingtertarikan antara dinding sel bakteri menyebabkan munculnya
flok bacterial. Polimer ekstraseluler yang dibentuk sendiri oleh bakteri berfungsi sebagai jembatan
penghubung (mampu mencapai panjang 50 um). Dua senyawa biopolymer dengan gugus karboksil
(COOH) pada bakteri berbeda membentuk ester dengan ion divalent (Ca, Mg). Ikatan-ikatan ini
meningkatkan massa kumpulan partikel, menjadikan inti kumpulan bersifat hidrofobik (takut air)
dan tepinya bersifat hidrofilik (suka air) sehingga terjadi dewaterisasi (lebih sedikit air di dalam
partikel). Kemudian karena ukuran diameter yang semakin besar menjadikan flok mudah terendap.
Selain hal-hal diatas, kandungan bahan organik, oksigen dan pH juga berpengaruh terhadap
terbentuknya flok. Pembentukan bioflok berkualitas memerlukan perbandingan C/N/P sekitar
100:5:1.
Oksigen terlarut di seluruh bagian air (vertical-horizontal) sebaiknya >4 ppm, Kandungan karbon
yang terlalu banyak dan kadar oksigen terlarut rendah menyebabkan berkembangnya bakteri filamen
sehingga flok menjadi berkualitas buruk. Flok yang baik memiliki proporsi yang seimbang antara
bakteri filament (berfungsi sebagai rangka flok) dan non-filamen. Berhubungan dengan pH, air yang
berpH asam akan menghambat terbentuknya bioflok karena akan mengurangi kandungan kation
divalent dalam air untuk ikatan esterasi.
Penggunaan Bioflokulasi dalam Akuakultur
Teknik pengolahan limbah dengan bioflok diadopsi oleh akuakultur untuk mereduksi bahanbahan organik dan senyawa beracun yang terakumulasi dalam air pemeliharaan ikan/udang. Pada
dasarnya sistem ini mereproduksi efek self-purifikasi yang terjadi di sungai dan estuarin. Hasil akhir
aplikasi teknik bioflok adalah meningkatnya efisiensi pemanfaatan pakan dan peningkatan kualitas
air. Telah diketahui secara luas bahwa berdasarkan hokum kekekalan massa banyak materi pakan
tidak terserap menjadi biomass udang/ikan. Flok mikroba ini diharapkan mampu memanfaatkan
materi tersebut dan akhirnya dapat menjadi bahan makanan tambahan bagi udang. Beberapa hal
penting yang
menentukan kualitas bioflok adalah nilai nutrisi, aman dan palatable untuk dikonsumsi dan
berukuran cukup besar sehingga layak dimakan oleh udang/ikan.
Aplikasi teknik bioflok secara kronologis dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada awal
pemeliharaan kondisi kualitas air masih dalam keadaan baik. Kemudian dimasukkan input hewan
pemeliharaan lalu pakan diberikan secara teratur. Pakan tak termakan, kotoran ikan/udang padat
terakumulasi di dasar kolam. Amonia beracun semakin bertambah di media namun masih dapat
diserap oleh fitoplankton. Akan tetapi, fitoplankton tidak mampu menggunakan massa lumpur
padat di dasar kolam. Seiring waktu, ketika mendung atau fitoplankton terlalu padat terjadi
kematian massal fitoplankton sehingga tidak mampu mengurangi limbah beracun bahkan
fitoplankton menambah konsentrasi limbah.
Kualitas Air
Beberapa faktor kualitas air seperti oksigen terlarut, suhu, dan ammonia dapat menyebabkan
kematian pada ikan. Lainnya, seperti pH, alkalinitas, kekerasan dan kecerahan mempengaruhi ikan,
tetapi biasanya ikan tidak sampai mengalami kematian. Setiap faktor kualitas air berinteraksi
dengan dan pengaruh parameter lain. Pada situasi tertentu reaksi antar parameter akan
menyebabkan racun pada air dan dapat mematikan. Sehingga sangat penting adanya monitoring
kualitas air secara intensif selama masa pemeliharaan dari sistim produksi budidaya.
Faktor utama kualitas air yang penting dalam system budidaya perikanan dan metode untuk
memonitoring kualitas air akan dijelaskan dalam Tulisan ini. Kualitas air tidak hanya menentukan
seberapa baik ikan akan bertumbuh dalam sistim budidaya, tapi apakah mereka mampu bertahan
hidup.
Kualitasa air akan mempengaruhi ikan melalui proses seperti respirasi dan metabolisme nitrogen.
Pengetahuan tentang prosedur pengujian kualitas air dan interpretasi hasil sangat penting bagi
petani ikan untuk keberhasilan berbudidaya.
Parameter kualitas air
Semua proses biologi dan kimia dalam operasi akuakultur dipengaruhi oleh suhu. Ikan
menyesuaikan suhu tubuh mereka dengan melakukan pergerakan dari air yang bertemperatur
rendah menuju temperature tinggi guna meningkatkan metabolisme. Setiap spesies memiliki kisaran
suhu
optimum yang akan menentukan pertumbuhan optimal apabila ikan berada pada suhu rendah dapat
menyebabkan kematian atau pertumbuhan menjadi lambat. Setiap memiliki batas minimum
konsumsi oksigen terlarut yang dipengaruhi oleh temperature.
Oksigen Terlarut
Konsumsi oksigen meningkat di pengaruhi oleh perubahan suhu. Di kolam, DO dapat
berubah secara dramatis selama periode 24 jam. Sepanjang hari oksigen dihasilkan oleh fotosintesis,
proses di mana tanaman hijau mengubah air dan karbon dioksida di bantu cahaya, menjadi oksigen
dan karbohidrat. Selama malam hari dan oksigen digunakan untuk respirasi, proses di mana
tanaman dan hewan menggunakan oksigen untuk menghasilkan karbon dioksida ketika mereka
membakar karbohidrat, tapi dalam fotosintesis hari biasanya menghasilkan oksigen lebih dari yang
digunakan. Biasanya, tingkat oksigen yang terendah menjelang fajar dan tertinggi di sore hari DO
dalam sistem budaya harus dijaga agar ikan tidak mengalami stress. Sebagai aturan praktis, DO
harus dijaga di atas 3,0 ppm (bagian per juta; sering digunakan bergantian dengan miligram per liter,
mg / L). Penurunan DO atau kondisi DO minimum akan menyebabkan Stress pada ikan. Stress
pada ikan menyebabkan nafsu
makan ikan menjadi rendah. Metabolisme terganggu mengurangi kemampuan ikan mengubah
makanan menjadi energi, rentan terhadapat serangan penyakit. Apabila hal ini berlanjut dapat
menyebabkan kematian pada ikan. Pada sistim budidaya intensif untuk meningkatkan DO dan
mempertahankan DO digunakan sistim aerasi, sirkulasi
NitrogenTotal
Adanya kandungan ammonia pada air dihasilkan dari proses ekskresi ikan, metode analisis
yang digunakan untuk menentukan amonia nitrogen-total (TAN) adalah proporsi TAN yang ada
dalam bentuk terionisasi dan un-terionisasi bervariasi dengan pH dan suhu. Sebagai pH dan
meningkatkan suhu, jumlah TAN di un-terionisasi beracun). Kualitas air yang mengandung amonia
lebih dari 0.02 ppm bentuk
un-terionisasi mungkin menunjukkan penurunan pertumbuhan dan meningkatkan kerentanan
terhadap penyakit.
Pada budidaya ikan secara intensif kandungan ammonia sangat tinggi hal ini disebabkan
dari sisa pakan yang mengandung protein tinggi. Amonia dan limbah metabolik lainnya secara
bertahap dihapus oleh proses alami di kolam atau melalui penggunaan filter biologis dalam
sirkulasi.. Amonia
dihilangkan oleh bakteri mengubahnya menjadi nitrit dan kemudian menjadi nitrat. Nitrit adalah
racun bagi ikan dan menyebabkan penyakit “darah cokelat”. Nitrit dengan konsentrasi 0,5 ppm
dapat mengurangi pertumbuhan sedangakan ikan dapat mentolerir nitrat. Pengurangan amonia
dengan menjaga pH air antara 7-9 guna menumbuhkan bakteri nitrifikasi
Konsentrasi basa dan asam di dalam air menentukan pH. Sebuah pH rendah asam dan pH
tinggi merupakan dasar; pH 7 netral. Ikan bertahan dan berkembang terbaik di perairan dengan pH
antara 6-9. Jika pH berada di luar kisaran ini, pertumbuhan ikan berkurang. Pada nilai-nilai di
bawah 4,5 atau di
atas 10, kematian ikan dapat terjadi. Penyangga pH dalam kolam (dengan alkalinitas lebih dari
5-10 ppm, lihat bagian berikutnya), pH biasanya berfluktuasi satu atau dua unit setiap hari. Di pagi
hari, karbon dioksida tingkat tinggi dan pH rendah sebagai hasil dari respirasi pada malam hari
(karbon dioksida membentuk asam ringan ketika dilarutkan dalam air). Setelah matahari terbit,
ganggang dan tanaman hijau lainnya menghasilkan karbohidrat dan oksigen dari karbon dioksida
dan air oleh fotosintesis. Karbon dioksida akan dihapus dari air, yang meningkatkan pH. PH
terendah hari biasanya terkait dengan tingkat oksigen terlarut terendah. PH tertinggi hari biasanya
terkait dengan tingkat tertinggi oksigen terlarut. Dalam system sirkulasi, vitrifikasi dan respirasi
pada ikan dan biofilter bakteri dapat menurunan pH. Buffer seperti natrium bikarbonat ditambahkan
untuk mencegah penurunan pH.
Alkalinitas
Kapasitas penyangga air budaya, dinyatakan sebagai kalsium karbonat. Alkalinitas adalah
pengukuran ion karbonat dan bikarbonat (ion adalah atom atau kelompok atom dengan muatan
negatif atau positif) dilarutkan dalam air. Sebagai jumlah karbon dioksida berfluktuasi, perubahan
pH air. Besarnya pergeseran ini ditentukan oleh kapasitas air buffering atau kemampuan untuk
menyerap asam dan / atau basa. aktivitas fotosintesis di kolam dapat menyebabkan buffer pH
meningkat, mungkin dari terendah enam sampai sembilan pada atau lebih pada sore. Di kolam
dengan alkalinitas tinggi, pergeseran pH berkurang. Misalnya, pergeseran harian di kolam juga
mungkin dari pH tujuh delapan sore nanti. Berbagai cocok dari alkalinitas adalah 2-30 ppm.
Alkalinitas lebih dari 300 ppm tidak merugikan ikan, tetapi tidak mengganggu dengan tindakan
yang biasa digunakan bahan kimia tertentu (misalnya, sulfat tembaga). Alkalinitas tetap relatif
konstan di kolam, namun terus menurun pada sistem sirkulasi. Alkalinitas dapat ditingkatkan
dengan menambahkan kapur pertanian untuk kolam atau natrium bikarbonat ke sistem sirkulasi
Kekerasan
Kekerasan terdiri ion kalsium dan magnesium. Uji prosedur biasanya menentukan baik ion
sebagai “total kekerasan,” dinyatakan sebagai kalsium karbonat (ppm). Di perairan yang paling
konsentrasi alkalinitas dan kekerasan yang serupa, tetapi mereka dapat berbeda jauh sebagai ukuran
ion negatif alkalinitas (karbonat, bicabonate) dan ion positif tindakan kekerasan (kalsium,
magnesium).
Kekerasan sangat penting, terutama dalam budaya beberapa jenis komersial seperti pada udang. Jika
kekerasan kekurangan, spesies ini tidak tumbuh dengan baik. Kekerasan harus di atas 50 ppm,
kekerasan rendah dapat disesuaikan dengan penambahan kapur atau kalsium klorida.
Karbondioksida
Permasalahan pada karbondioksida terjadi apabila air budidaya berasal dari air tanah, padat
tebar yang tinggi dan saat pengiriman ikan. Pada konsentrasi tinggi, karbon dioksida menyebabkan
ikan kehilangan keseimbangan, menjadi bingung dan mungkin mati. Pengujian air tanah sebelum
digunakan jika perlu, akan mengurangi karbon dioksida ke minimum. Konsentrasi total dari semua
ion dalam air. Salinitas tidak hanya mempengaruhi osmoregulasi juga mempengaruhi konsentrasi
ammonia un-terionisasi. Selama tahap perencanaan suatu operasi pada akuakultur, salinitas harus
diukur dan kelayakan air ditentukan.
Besi
Air tanah (air dari sumur bor) banyak mengandung kadar besi terlarut. Bila terkena udara,
besi berinteraksi dengan oksigen, menjadi larut, dan membentuk deposit berwarna merah. gumpalan
kecil dari besi diproduksi yang dapat menetap pada insang ikan, menyebabkan iritasi dan stres.
Masalah dapat dihindari jika air-bantalan besi terkena udara dan gumpalan-gumpalan besi resultan
dihapus
oleh menetap atau penyaringan sebelum air memasuki sistem budaya.
Chorine
Untuk mengendalikan bakteri, pasokan air kota biasanya ditreament dengan klorin 1,0
ppm., sisa klorin harus dihilangkan dengan aerasi, dengan bahan kimia seperti natrium tiosulfat,
atau filtrasi melalui arang aktif. Klor tingkat serendah 0,02 ppm dapat menyebabkan ikan stres.
Kolam dengan oksigen-miskin danterganggunya akumulasi bahan organik dapat melepaskan
hidrogen sulfide. Apabila oksigen terlarut berkurang akan menimbulkan hydrogen sulfide. Gas
Hidrogen sulfida memiliki bau telur busuk dan sangat beracun untuk ikan. Untuk memperbaiki
masalah ini kolam sebelum digunakan harus dilakukan proses pengeringan bertujuan untuk
mengoksidasi bahan organic yang terdapat pada dasar
kolam
Kecerahan
Dalam kolam kecerahan air dapat mempengaruhi ikan. Jika yang lebih dibudidaya adalah
ikan air air keruh (misalnya lele, gabus, nila) yang dibudidayakan dalam air kecerahan tinggi mereka
akan mengalami stres; kelangsungan hidup dan pertumbuhan akan terpengaruh. Akumulasi padatan
tersuspensi dan warna air terjadi pada sistem sirkulasi yang dapat mengganggu ikan dan presipitat
penyakit. Beberapa bahan tersuspensi dan terlarut dapat menyebabkan mati rasa pada ikan. Filtrasi
dan flocculent dapat digunakan untuk menghapus padat dan mengurangi perubahan warna.
Monitoring Kualitas Air
Jika ikan yang dipelihara dengan kepadatan tinggi, maka suhu, oksigen terlarut, ammonia,
nitrit, dan pH harus dipantau setiap hari atau lebih sering (misalnya, pemantauan terus menerus
oksigen terlarut dalam sistem sirkulasi). Kejernihan air, alkalinitas, dan kekerasan dapat diukur
kurang sering, mungkin satu atau dua kali per minggu, karena mereka tidak berfluktuasi seperti
cepat. Salinitas, besi, dan klorin harus ditentukan ketika sumber air potensial pertama diperiksa
sehingga tindakan korektif dapat dimasukkan ke dalam sistem produksi selama tahap desain atau
perencanaan. Karbon dioksida harus diukur ketika pertama kali menggunakan sumber air tanah
baru dan secara rutin dalam sistem sirkulasi. Ketika hydrogen sulfida dan karbon dioksida masalah
yang mungkin, sistem harus diawasi dengan baik dan sarana untuk memperbaiki masalah harus siap
tersedia. Pada kepadatan
tebar rendah, parameter kualitas air dapat dipantau lebih jarang atau tidak sama sekali. Terlepas dari
frekuensi, pemantauan harus dilakukan pada waktu standar dan kedalaman di mana ikan berada.
Waktu pengukuran dan nilai-nilai yang diamati harus dicatat; menjaga catatan yang baik sangat
penting untuk
budidaya sukses. Dalam kolam dan budaya kandang adalah lebih baik untuk memantau oksigen
terlarut pada pagi hari, ketika kondisi stres untuk ikan yang paling mungkin terjadi (misalnya,
oksigen rendah). Sebaliknya, suhu dan pH di kolam yang terbaik diukur pada sore hari.
pH (Larutan)
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau
kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. idefinisikan sebagaikologaritma aktivitas ion
hidrogen (H+) yang terlarut. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara
eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala
absolut. Air murni bersifat netral, dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan
dengan pH kurang daripada tujuh disebut
bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali.
Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.
Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut
Air tawar
Air payau
Air saline
Brine
< 0.05 %
0.05 – 3 %
3–5%
>5%
Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil sehingga
air di
tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara
definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau
menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine. Air laut secara
alami merupakan
air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa
lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh, Laut
Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.
III. ANALISA SOLUSI PERMASALAHAN
Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan morfologi flok dari masing-maisng kultur
gabungan.Tahap selanjutnya yaitu seleksi lanjutan dari tahap sebelumnya yang dititik beratkan pada
kemampuan kultur gabungan yang dapat menurunkan konsentrasi amonia akhir. Dari tahap ini,
isolate 13 dan diatom Thalassiosira sp.merupakan kultur gabungan yang mampu menurunkan
konsentrasi amonia hingga hasil akhirnya yaitu sebesar 4,2 ppm. Selanjutnya kedua kultur tersebut
digunakan dalam tahap optimasi pH dan salinitas dengan perbandingan inokulum 1:1. Optimasi pH
dilakukan dengan tiga variasi, yaitu pH 7.5, 8, dan 8.5.Hasil optimasi pH awal medium sebelum
sterilisasi menunjukkan bahwa pH 8 merupakan pH optimum dalam pembentukan bioflok dengan
konsentrasi amonia akhir terendah dibanding dengan yang lain, yaitu sebesar 15,48 ppm pada
kondisi lingkungan dengan salinitas 20.5 – 26.5 ppt. Sedangkan optimasi salinitas awal dilakukan
dengan tiga variasi, yaitu 20 ppt, 25 ppt, dan 30 ppt.
Optimasi pH dan Salinitas terhadap Pembentukan Bioflok untuk Uji Kualitas Air pada
Sistem Akuakultur
Kualitas air merupakan salah satu faktor kunci dalam keberhasilan budidaya tambak udang.
Permasalahan yang terjadi kini adalah menurunnya kualitas air tambak yang dipicu oleh
pembusukan sisa pakan di dasar tambak dan penyebaran bahan-bahan beracun yang meningkat di
dalam tambak.
Penggunaan bioflok adalah salah satu solusi untuk memperbaiki kualitas air. Penelitian tentang
bioflok dan aplikasinya telah mulai dilakukan, namun kualitas dan kestabilannya masih sangat
rendah. Hal ini terjadi akibat kurangnya pemahaman tentang faktor lingkungan yang berpengaruh
terhadap
pembentukan bioflok sehingga dilakukan penelitian optimasi kondisi fisik pH dan salinitas terhadap
pembentukan bioflok. Penelitian yang bertujuan mengetahui pH awal medium sebelum sterilisasi
dan salinitas awal yang optimum dalam pembentukan bioflok telah dilakukan. Isolat bakteri yang
digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil isolasi pada sedimen tambak di Maros, Sulawesi
Selatan yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya (Yunda, 2007) dan didapat tiga isolat bakteri
(isolat 11,13, dan 20) serta dua diatom (Chaetoceros sp. dan Thalassiosira sp.) yang memiliki
kemampuan pembentukan bioflok dengan baik. Pada seleksi tahap pertama dilakukan seleksi
terhadap variasi kultur gabungan
isolat bakteri dengan diatom yang memiliki kemampuan yang baik dalam membentuk bioflok.
Hal ini dapat dilihat dari hasil pengamatan morfologi flok dari masing-maisng kultur
gabungan.Tahap selanjutnya yaitu seleksi lanjutan dari tahap sebelumnya yang dititik beratkan pada
kemampuan kultur gabungan yang dapat menurunkan konsentrasi amonia akhir. Dari tahap ini,
isolat 13 dan diatom Thalassiosira sp.merupakan kultur gabungan yang mampu menurunkan
konsentrasi amonia hingga hasil akhirnya yaitu sebesar 4,2 ppm. Selanjutnya kedua kultur tersebut
digunakan dalam tahap optimasi pH dan salinitas dengan perbandingan inokulum 1:1. Optimasi pH
dilakukan dengan tiga variasi, yaitu pH 7.5, 8, dan 8.5.Hasil optimasi pH awal medium sebelum
sterilisasi menunjukkan bahwa pH 8 merupakan pH optimum dalam pembentukan bioflok dengan
konsentrasi amonia akhir terendah dibanding dengan yang lain, yaitu sebesar 15,48 ppm pada
kondisi lingkungan dengan salinitas
20.5 – 26.5 ppt. Sedangkan optimasi salinitas awal dilakukan dengan tiga variasi, yaitu 20 ppt, 25
ppt, dan 30 ppt.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas optimum untuk pembentukan bioflok adalah
salinitas 20 ppt, yang memiliki konsentrasi ammonia akhir sebesar 17,42 ppm pada
kondisilingkungan dengan pH 7.95-8.58. Hasil identifikasi bakteri menunjukkan bahwa isolat 13
merupakan Achromobacter sp.
IV. Kesimpulan
Kualitas air merupakan salah satu faktor kunci dalam keberhasilan budidaya tambak udang.
Permasalahan yang terjadi kini adalah menurunnya kualitas air tambak yang dipicu oleh
pembusukan sisa pakan di dasar tambak dan penyebaran bahan-bahan beracun yang meningkat di
dalam tambak. Penggunaan bioflok adalah salah satu solusi untuk memperbaiki kualitas air Teknik
bioflok adalah sebuah teknologi alternatif untuk budidaya udang yang sedang popular saat ini.
Teknik digunakan untuk mentreatment limbah budidaya secara langsung di dalam petak budidaya
dengan mempertahankan kecukupan oksigen, mikroorganisme, dan rasio C/N dalam tingkat
tertentu.Salinitas optimum untuk
pembentukan bioflok adalah salinitas 20 ppt, yang memiliki konsentrasi ammonia akhir sebesar
17,42 ppm pada kondisilingkungan dengan pH 7.95-8.58.
Daftar pustaka

http://www.sith.itb.ac.id/abstract/s1/2008-S1-DianNovitasari
Optimasi%20pH%20dan%20Salinitas%20terhadap%20Pembentukan%20Bioflok%20%20untuk%20
Uji%20Kualitas%20Air%20pada%20Sistem%20Akuakultur.pdf

http://artaquaculture.blogspot.com/2010/07/teknologi-bioflok-teori-dan-praktek.html

http://rizal-bbapujungbatee.blogspot.com/2010/08/beberapa-faktor-kualitas-airseperti.html
Download