Tugas1 Geomorfologi dan peng. jauh

advertisement
PENGENALAN DASAR GEOMORFOLOGI
DAN PENGINDERAAN JAUH
Tugas ini disusun untuk memenuhi mata kuliah geomorfologi dan pengindraan jauh
AnugrahWidiana
270110140001
SatrioWibowo
270110140121
LuthfiZulkifli
270110140161
Mira Widyariestha
270110140163
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikumWarahmatullahiWabarakatuh
Puji dan syukur kita panjatkankehadirat Allah SWTkarenaberkatrahmatdanhidayahnya kami
dapatmenyelesaikankaryatulisini.TaklupaSholawatsertasalam kami junjungkankepadaNabiBesar
Muhammad SAW
besertakeluargadansahabatnyakarenaberkatusahabeliaukitadapatkeluardarizamankebodohan
Terimakasih juga kami sampaikan kepada dosen mata kuliah geomorfologi dan penginderaan
jauh yang telah memberikan arahan agar karya tulis yang berjudul “PENGENALAN DASAR
GEOMORFOLOGI DAN PENGINDERAAN JAUH” bias dibuat dengan sebaik-baiknya dan
diselesaikan tepat waktu.
Penulis berharap dengan karya tulis ini dapat menambah ilmu teman-teman dan penulis.
Penulis juga berharap karya tulis ini dapat dipergunakan sebaik-baiknya demi memajukan ilmu
pendidikan di Indonesia.
Demikian yang dapat penulis sampaikan. Penulis mohon maaf bila ada kesalahan pemilihan
kata dan tulisan yang ada dalam karya tulis ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sumedang, September 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam mendalami geologi, diperlukan pemahaman yang baik dalam beberapa bidang
matakuliah. Ada banyak mata kuliah yang harus didalami oleh seseorang yang ingin menjadi seorang
ahli geologi, salah satunya mata kuliah geomorfologi dan penginderaan jauh.
Dalam karya tulis ini, kami ingin mengangkat tema tentang deskripsi geomorfologi dan penginderaan
jauh. Geomorfologi dan penginderaan jauh merupakan salah satu matakuliah wajib di semester satu
bagi seseorang yang mengambil program studi Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. Kami ingin
dalam karya tulis ini teman-teman dan kelompok kami dapat mengerti matakuliah geomorfologi dan
penginderaan jauh secara umum, sebelum kita masuk lebih jauh dalam program studi Teknik Geologi
Universitas Padjadjaran.
1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang tersebut ada beberapa rumusan masalah yang muncul
untuk dikaji, antara lain:

Apa yang dimaksud dengan geomorfologi?

Apa yang dimaksud dengan penginderaan jauh?

Apa hubungan geomorfologi dan pengindraan jauh?
1.3 Tujuan
Tujuan karya tulis ini adalah untuk mengenal mata kuliah geomorfologi dan
penginderaan jauh. Jika sudah mengenal definisi umumnya maka akan mempermudah dalam
proses memperdalam materi geomorfologi dan penginderaan jauh.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 GEOMORFOLOGI
2.1.1 Pengertian Geomorfologi
Geomorfologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari Bentangalam, bentuk alam
dan proses yang membentuknya (wikipedia). Bentuk alam atau landform adalah suatu
individual corak permukaan bumi seperti lereng, bukit dan lembah. Bentangalam atau
Landscape ialah gabungan dari beberapa bentuk alam, contohnya seperti gunung atau padang
pasir.
Worcester (1939) menjelaskan dan mentafsirkan bentuk permukaan bumi, namun
bukan hanya ilmu tentang bentang alam (science of landscape) melainkan menjelaskan pula
pembentukan cekungan lautan, paparan benua serta struktur yang lebih kecil seperti dataran
rendah. dataran tinggi, gunung dan sebagainya.
Lobeck (1939) dalam bukunya “Geomorphology: An Introduction to the study of
landscapes”. Landscapes yang dimaksudkan adalah bentangalam alamiah (natural
landscapes). Untukmendeskripsikan bentuk permukaan bumi, ada tiga faktor utama
yangharus diperhatikan yaitu struktur, proses dan stadia. Ketiga faktor menjadi satu dalam
ilmu geomorfologi.
William Morris Davis (1884–1899) pertama kalinya Mengembangkan model tentang
siklus geomorfik yang terinspirasi dari teori “uniformitarianisme” yang pertama kalinya
dikenalkan oleh James Hutton (1726-1797). Siklus geomorfik mampu menjelaskan
bagaimana urutan sungai yang mengikis lembah dan membuatnya menjadi semakin dalam,
erosi pada dinding lembah yang membuat menjadi landai dan luas. Siklus ini akan terus
berlangsung, dan akhirnya terjadi pengangkatan daratan.
2.2.2 Konsep dasar Geomorfologi
10 Konsep dasar geomorfologi yang berada dalam buku Principles of Geomorphology
adalah:
1. Proses-proses fisik dan hukumnya yang terjadi saat ini berlangsung selama waktu
geologi,
2. Struktur geologi merupakan faktor pengontrol yang dominan dalam evolusi bentuk
lahan,
3. Tingkat perkembangan relief permukaan bumi tergantung pada proses-proses
geomorfologi yang berlangsung,
4. Proses-proses geomorfik terekam pada land forms yang menunjukan karakteristik
proses yang berlangsung,
5. Keragaman erosional agents tercermin pada produk dan urutan land forms yang
terbentuk,
6. Evolusi geomorfologi bersifat kompleks,
7. Obyek alam di permukaan bumi umumnya berumur lebih muda dari Pleistosen,
8. Interpretasi yang sempurna mengenai landscapes melibatkan beragam faktor geologi
dan perubahan iklim selama Pleistosen,
9. Apresiasi iklim global diperlukan dalam memahami proses-proses geomorfik yang
beragam, dan
10. Geomorfologi, umumnya mempelajari land forms / landscapes yang terjadi saat ini
dan sejarah pembentukannya.
Seorang geomorfologis pun harus memahami fungsi dari bentuk alam, bagaimana bentuk
alam ini dapat memberikan efek terhadap perubahan energi contoh nyaseperti proses yang
menyebabkan pembentukan topografi diantaranya disebabkan oleh angin, ombak, cuaca,
pergerakan tanah, aliran air, gletser, tektonik, dan vulkanik.
2.3.3 Relief
Relief yang dimaksud mencakup daratan benua maupun daratan lautan. Berdasarkan luas
nya Relef dikelompokan dalam 3 jenis orde yaitu
1. Relief Orde I (Relief of the first order)
2. Relief Orde II (Relief of the second order)
3. Relief Orde III (Relief of the third order)
2.3.3.1 Relief Orde Pertama
Bentuk bentuk dalam orde ini sangat luas, termasuk dalam paparan benua dan cekungan
lautan. Relief orde pertama berkaitan dengan proses pembentukan bumi.
Gambar 1-1 Relief Order I : Benua dan Cekungan Samudra
2.3.3.2 Relief Orde Kedua
Relief orde kedua bisa disebut dengan fase pembangunan (fase konstruktif). Hal ini
disebabkan oleh gaya yang diakibatkan dari dalam bumi yang bersifat membangun (gaya
endogen). Kawasan Benua dan dataran lautan pada relief orde pertama yang menjadi tempat
terbentuk nya satuan relief yang dibentuk oleh orde kedua seperti dataran tinggi, gunung dan
sebagainya. Gaya Endogen merupakan gaya yang berasal dari dalam bumi yang
mengakibatkan perubahan bentuk pada permuka an bumi. Gaya Endogen terdiri dari dua
jenis yaitu:

Epirogenesa,Jika terjadi Proses Epirogenesa pada tempat yang luas maka akan
terbentuk Benua

Orogenesa, Jika terjadi Proses Orogenesa pada tempat yang luas maka akan terbentuk
Pegunungan
Kedua Gaya Endogen diatas dapat menyebabkan bentangalam yang membangun. Apabila
suatu daerah yang tersusun dari batuan dan mengalami gaya Endogen yang perlapisanya
secara Horizontal maka akan terbentuk dataran. Gaya Endogen pun dapat terjadi pada
lapisan batu sedimen yang perlapisan terus menerus dan akhirnya membentuk kubah (dome
mountain). Apabila gaya endogen mengakibatkan batuan sedimen terlipat kuat menghasilkan
perlipatan sinklin dan antiklin maka akan menghasilkan pegunungan lipatan (folded
mountains). Sedangkan apabila dipengaruhi oleh lipatan dan patahan akan menghasilkan
pegunungan lipat pathan (complex mountains).
Gambar 1-2 Citra pegunungan “Himalaya” yang terdapat di Nepal yang masuk kedalam relief orde kedua.
2.3.3.3 Relief Orde Ketiga
Fase Orde Ketiga bisa disebut dengan fase penghancuran yang disebkan oleh gaya
eksergonik. Gaya Eksergonik merupakan gaya yang berasal dari Luar Bumi yang
memperindah dan menghiasi bentuk bentuk yang terbentuk pada fase orde dua. Gaya
Eksergonik akan meninggalkanbentuk lahan akibat erosi seperti, Valley dan Canyons.
Terdapat 4 Energi utama dalam proses ini, yaitu:
1. Bentuk-bentangalam yang dihasilkan oleh aktivitas sungai (fluvial), yaitu :
a. Bentuk bentangalam hasil erosi (Erosional forms), seperti: gallies, valleys, gorges dan
canyons.
b. Bentuk bentangalam hasil residu (Residual forms), seperti: peaks, ronadrocks, summits
areas.
c. Bentuk bentangalam hasil pengendapan (Depositional forms) seperti: alluvial fans, flood
plains and deltas.
2. Bentuk-bentangalam yang dihasilkan oleh energi dari luncuran es (gletser) yaitu :
a. Bentuk bentangalam hasil erosi (Erosional forms), seperti: cirques, glacial trought
b. Bentuk bentangalam hasil residu (Residual forms), seperti: patterhorn-peaks, aretes, roche
eontounees
c. Bentuk bentangalam hasil pengendapan (Depositional forms), seperti: deraine, drumlins,
kame dan esker.
3. Bentuk bentangalam yang dihasilkan oleh energi gelombang laut, yaitu :
a. Bentuk bentangalam hasil erosi (Erosional forms), seperti: erode sea caves
b. Bentuk bentangalam hasil residu (Residual forms), seperti: stacks & Arches
c. Bentuk bentangalam hasil pengendapan (Depositional forms) seperti: beaches, bars & spits
4. Bentuk bentangalam yang diciptakan oleh energi angin, yaitu :
a. Bentuk bentangalam hasil erosi (Erosional forms), seperti: blow holes pada daerah-daerah
yang berpasir
b. Bentuk bentangalam hasil residu (Residual forms), seperti: pedestal dan mushroom rocks.
c. Bentuk bentangalam hasil pengendapan (Depositional forms) seperti: endapan pasir atau
lempung dalam bentuk dunes atau loess.
Relief order 3 yang dihasilkan oleh aktivitas sungai (fluvial): Gullies (kiri) dan Kipas Aluvial (kanan)
Relief order 3 yang dihasilkan oleh energi dari luncuran es: : glacial trought (kiri) dan cirques glacial (kanan)
Relief order 3 yang dihasilkan oleh energi gelombang laut: erode sea caves (kiri) dan stacks & Arches (kanan)
Relief order 3 yang dihasilkan oleh energi angin: Sandunes (kiri) dan pedestal (kanan)
Siklus Geomorfik adalah Peristiwa yang terjadi mempunyai gejala gejala terus
menerus dari suatu stadia awal sampai stadia akhir dan kembali pada stadia awal. Siklus
geomorfologi bisa diartikan sebagai rangkaian gejala geomorfologi yang sifatnya menerus.
Suatu bentangalam dikatakan telah mengalami satu siklus geomorfologi apabila telah melalui
tahapan perkembangan mulai tahap muda, dewasa dan tua.
Stadia Muda: Dicirikan oleh
lembah berbentuk “V”, tidak
dijumpai dataran banjir, banyak
dijumpai air terjun, aliran air deras,
erosi vertikal lebih dominan
dibandingkan erosi lateral.
Stadia Dewasa: Dicirikan oleh relief
yang maksimal, dengan bentuk
lembah sudah mulai cenderung
berbentuk “U” dimana erosi vertikal
sudang seimbang dengan erosi
lateral, cabang-cabang sungai sudah
memperlihatkan bentuk meandering.
Stadia Tua: Dicirikan oleh lembah
dan sungai meander yang lebar, erosi
lateral lebih dominan dibandingkan
erosi vertikal karena permukaan
erosi sudah mendekati ketingkat
dasar muka air.
2.2 PENGINDRAAN JAUH
2. 2.1 Pengertian Pengindraan jauh
Pengindraan jauh atau indareja adalah metode pengambilan informasi objek dengan
tidak melakukan interaksi langsung dengan objek tersebut. Indrareja mengumpulkan
informasi dari jarak yang sangat jauh dari objek. Seperti dikutip dari wikipedia, istilah
inderaja sendiri berasal dari bahasa Inggris remote sensing, bahasa Perancis télédétection,
bahasa Jerman fernerkundung, bahasa Portugis sensoriamento remota, bahasa Spanyol
percepcion remote dan bahasa Rusia distangtionaya.
2.2.2 Sejarah
Pengaplikasian indrareja paling sederhana yaitu pada akhir tahun 1800an di mana
kamera diposisikan di jauh dari permukaan tanah dengan balon atau layang-layang. Kamera
ini akan mengambil fotografi kenampakan bumi. Kemudian pada Perang Dunia I, fotografi
aerial seperti ini berperan sangat penting dalam pengumpulan informasi mengenai pergerakan
dan posisi pasukan musuh. Fotografi aerial pada masa itu diambil dari pesawat terbang. Pada
Perang Dunia II, fotografi aerial mengalami kemajuan pesat karena gambar yang diambil
tidak lagi hanya berupa hitam-putih melainkan berwarna. Informasi yang didapatkan dari
fotografi aerial saat itu jauh lebih banyak daripada masa-masa sebelumnya. Di tahun 1942,
Kodak mulai mengembangkan film dengan warna inframerah yang merekam gelombang
dengan spektrum mendekati bagian spektrum inframerah. Tipe ini memiliki kemampuan
indentifikasi tipe dan kesehatan vegetasi yang lebih detail.
Pyramid gyza yang dipublikasikan pada tahun 1978 (kiri), Pesawat yang digunakan untuk fotografi aerial saat Perang
Dunia I (kanan) (sumber: http://en.wikipedia.org)
Revolusi pengindraan jauh dimulai pada tahun 1960an, di mana manusia mulai
menggunakan satelit luar angkasa untuk teknologi pengindraan jauh. Karena gambar diambil
dari posisi yang sangat jauh dari permukaan bumi, cakupan pantau menjadi jauh lebih luas.
Satelit meteorologi yang pertama diluncurkan adalh TIROS-1, satelit milik Amerika Serikat
yang menggunakan teknologi roket atlas. Satelit-satelit pertama pada saat itu menggunakan
alat yang mirip dengan kamera televisi untuk menangkap gambar secara digital. Data yang
didapatkan kemudian ditransmisi ke stasion penerima yang terdapat di permukaan bumi.
Pada tahun 1970an, revolusi kedua pengindraan jauh dimuai dengan peluncuran
satelit Landsat. Sejak 1972, beberapa generasi satelit Landsat telah menyediakan berbagai
data mengenai permukaan bumi. Saat ini, Landsat mengorbit bumi pada ketinggian sekitar
700 kilometer. Pengambilan gambar komplit seluruh permukaan bumi memakan waktu 233
kali pengorbitan yang diambil setiap 16 hari sekali. Teknologi sensor yang pertama kali
digunakan Landsat adalah multispectral scanner, yang dapat merekam 4 spektrum
gelombang. Sedangkan setelah 1982 teknologi pengambilan gambar yang digunakah adalah
thematic mapper yang dapat merekam tujuh spektrum gelombang mulai dari yang terlihat
hingga yang tak terlihat seperti inframerah. Setelah kegunaan Landsat terbukti sangat besar,
negara-negara lain mulai meluncurkan satelit pengindraan jauh masing-masing. Prancis
mengeluarkan SPOT, Kanada mengeluarkan Radarsat-1, dan lain sebagainya.
Citra kota Newyork hasil interpretasi SPOT
(sumber: http://www.physicalgeography.net)
2.2.3 Metode kerja
Indareja memanfaatkan interaksi energi radiasi untuk mendeteksi objek. Salah satunya
menggunakan transmisi gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik yang
direfleksikan maupun dipancarkan dari objek akan ditangkap oleh alat pemantau untuk
nantinya diintrepretasi. Citra hasil intrepretasi kemudian akan digunakan untuk dianalisis.
Metode ini dapat diterapkan di berbagai bidang, seperti medis, astronomi, dan geologi.
Pada bidang pada bidang ilmu geologi, penggunaaan indareja adalah untuk
pengambilan informasi mengenai fenomena-fenomena pada litosfer, biosfer, hidrosfer dan
atmosfer. Indrareja dapat digunakan untuk mengukur dan mencari informasi mengenai
bentuk permukaan bumi, berbagai gejala alam, dan kondisi cuaca pada atmosfer. Metode
indrareja diaplikasikan memakai alat sensor khusus. Alat sensor ini dibawa mengudara
menggunakan helikopter, pesawat, atau satelit agar jangkauan pantaunya lebih luas.
Mata manusia hanya dapat membedakan objek yang kasat mata, yaitu objek yang
dapat memantulkan spektrum warna yang terlihat. Sedangkan sensor dapat mendeteksi area
yang kasat mata dan yang tidak tampak pada spektrum gelombang.
Berdasarkan sumber energi untuk pengaplikasian indrareja, terdapat dua jenis sensor
pada pengindraaan jauh. Sensor-sensor tersebut adalah sensor yang memakai energi pasif dan
sensor yang memakai energi aktif. Sensor dengan energi pasif membutuhkan sumber energi
eksternal untuk pengoperasiannya. Sumber energi eksternal pada umumnya adalah matahari.
Sensor pasif menangkap dan mengukur panjang gelombang yang direfleksikan dan
dipancarkan oleh objek pantau. Berbeda dengan sensor pasif, sensor aktif menyediakan
sendiri sumber energinya. Radar sensor aktif akan memancarkan energi pada objek dan
mengukur pantulan energi yang dihasilkan. Sensor yang umum digunakan adalah sensor
dengan energi pasif.
Cara kerja sensor pasif
(sumber: http://www.oneonta.edu)
Metode pengindraan jauh mengindentifikasi berbagai kenampakan alam melalui
perbedaan rona warna dan pola. Karena permukaan bumi memiliki bentuk yang berbedabeda, maka warna-warna yang dihasilkan tentu akan berbeda pula. Setiap ketinggian dan
tekstur permukaan bumi memiliki karakteristik warna tersendiri pada hasil citraan indrareja.
Ini disebabkan oleh tingkat kemampuan pantul dan pancar yang dimiliki oleh masing-masing
permukaan bumi. Energi yang direfleksikan lautan tentunya tidak akan sama dengan pantulan
yang dihasilkan oleh daerah-daerah di daratan. Karakteristik yang bervariasi inilah yang
menyebabkan berbagai perbedaan rona warna pada hasil citraan indrareja.
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi jumlah energi yang diterima masing-masing
objek. Faktor tersebut antara lain waktu penyinaran, bentuk permukaan bumi, dan keadaan
cuaca.
Keuntungan terbesar penggunaan indrareja adalah kemampuannya menggambarkan
objek di permukaan bumi dengan wujud serta bentuk yang mirip dengan aslinya dan area
yang diliput relatif luas. Pengindraan jauh juga dapat menggambarkan benda yang tidak
tampak sehingga sangat diperlukan untuk mengecek objek-objek di bawah permukaan bumi,
seperti untuk mengetahui adanya kebocoran pipa dalam tanah. Hasil pengindraan jauh pun
relatif cepat dan mudah didapatkan, sehingga area objek yang sulit ditempuh tidak lagi
menjadi penghalang untuk memperoleh informasi. Selain itu pengindraan jauh juga
merupakan satu-satunya cara untuk memetakan daerah rawan bencana.
2.2.4 Hubungan Remote Sensing dan Geomorfologi
Ilmu pengetahuan yang mempelajari geologi dengan menggunakan citra pengindraan
jauh disebut Geologi Citra Pengindraan Jauh. Foto udara merupakan salah satu macam citra
pengindraan jauh yang sudah lama dipergunakan orang untuk mempelajari Geologi. Foto
udara adalah foto permukaan bumi yang diambil dari pesawat udara atau satelit dengan
menggunakan kamera udara (Bates dan Jackson, 1987). Dalam Geologi citra pengindraan
jauh dikenal 2 faktor interprestasi citra yaitu :
2.2.4.1
Unsur dasar interpretasi Pengenalan Citra
2.2.4.2
Unsur dasar interpretasi Geologi
Dengan melihat kedua citra tersebut, kita dapat mengetahui persebaran batuan dan
geomorfologi secara garis besar. Untuk melihat keadaan secara detail, perlu mendatangi
daerah tersebut.
2.2.4.1
Unsur dasar interpretasi Pengenalan Citra
Citraan hasil indrareja akan diinterpretasi menggunakan alat bantu. Alat bantu
tersebut bernama stereoskop. Unsur-unsur dasar interpretasi citra indrareja yaitu, rona warna,
bentuk, ukuran, tekstur, pola, bayangan, dan situs.
Stadion Nelson Mandela, Afrika Selatan dapat di identifikasi dengan melihat bentuk hasil interpretasi satelit
2.2.4.2 Unsur dasar interpretasi geologi
Unsur dasar interpretasi geologi terdiri dari Relief, Pola Penyaluran, Kebudayaan dan
Tumbuh-tumbuhan Penutup
a. Relief
Relief yaitu beda tinggi rendah dari suatu tempat dengan tempat lainnya pada suatu daerah
dan juga curam landainya lereng-lereng yang ada. Contohnya seperti bentuk-bentuk bukit,
lembah, dataran, gunung dan sebagainya.
b.
Pola Penyaluran (drainage pattern)
Pola penyaluran adalah kenampakan pola sungai pada foto udara
c.
Kebudayaan (culture)
Kebudayaan kerapkali dapat dipergunakan untuk interprestasi geologi Sawah biasanya diolah
oleh manusia didataran alluvial atau tanah residual hasil pelaukan batuan, biasanya dikaki
gunung api.
d.
Tumbuh-tumbuhan Penutup (vegetation)
Tumbuah-tumbuhan penutup kerapkali dapat memberi keterangan tentang geologi suatu
daerah. Hampir seluruh wilayah Indonesia tertutup oleh tumbuh-tumbuhan, baik hutan tropis,
lembab, savanna, ataupun tumbuhan hasil kebudayaan manusia.
Informasi tumbuhan penutup di lahan Limboto,Gorontalo
(sumber: http://inderaja.lapan.go.id)
Informasi relief citra Landsat non foto di daerah Philadelphia, Pennsylvania
(sumber: www.satimagingcorp.com)
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Geomorfologi merupakan sebuah ilmu yang mempelajari Bentang alam, bentuk alam
dan proses yang membentuknya seperti pembentukan cekungan lautan, paparan benua serta
struktur yang lebih kecil seperti dataran rendah. dataran tinggi, gunung dan sebagainya.
Untuk mendeskripsikan bentuk permukaan bumi, ada tiga faktor utama yang harus
diperhatikan yaitu struktur, proses dan stadia. Perubahan bentuk permukaan bumi permukaan
bumi dapat disebabkan oleh energi seperti angin, ombak, gelombang,dll.
Pengindraan jauh atau indareja adalah metode pengambilan informasi objek dengan
tidak melakukan interaksi langsung dengan objek tersebut dengan mengumpulkan informasi
dari jarak yang sangat jauh. Indareja berkembang cepat dimulai dari yang sederhana
menggunakan kamera yang diterbangkan layangan sampai paling modern sekarang
menggunakan data dari satelit. Indareja juga dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang
seperti bidang kesehatan dan pertanian. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi indareja
diantaranya waktu penyinaran, permukaan benda, dan cuaca.
Pengindraan jauh dapat diaplikasikan di mana saja, seperti kartografi, penggunaan
lahan, pemetaan tanah, perhutanan, arkeologi, observasi militer, meteorologi, geomorfologi
dan lain sebagainya. Didalam ilmu Kebumian, kita hanya dapat mengetahui Geomorfologi
secara garis besar. Jika ingin mengetahui suatu daerah secara detail, diperlukan terjun
langsung ke lapangan.
3.2 Saran
Kami menyarankan untuk teman-teman sekalian untuk mempelajari lebih lanjut
mengenai ilmu geomorfologi dan penginderaan jauh dari sumber-sumber lain. Karena apa
yang kami presentasikan pada kali ini hanya gambaran luar saja dari ilmu geomorfologi dan
penginderaan jauh. Masih banyak hal lain yang dapat dipelajari lebih lanjut dalam ilmu ini.
DAFTAR PUSTAKA
Aini, Ratu. “Cara Beternak Itik Lampung”. 15 Januari 2001. http://ternakindo.com/2008/12/literasiinformasi-ternak-itik-nasional.html.
Download