pengaruh suhu annealing lapisan aktif polimer p3ht:pcbm terhadap

advertisement
Fibusi(JoV) Vol.1 No.3, Desember 2013
PENGARUH SUHU ANNEALING LAPISAN AKTIF POLIMER P3HT:PCBM
TERHADAP UNJUK KERJA SEL SURYA POLIMER YANG DITUMBUHKAN
DI ATAS SUBSTRAT GELAS
Z. R. Pratiwi1), E. S. Rosa2), D. Rusdiana1)* dan Shobih2)*
1
Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
2
Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI
[email protected], [email protected], [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Pengaruh Suhu Annealing Lapisan Aktif Polimer P3HT:PCBM Terhadap Unjuk
Kerja Sel Surya Polimer Yang Ditumbuhkan Di Atas Substrat Gelas
Pada penelitian ini telah dilakukan pendekatan untuk meningkatkan unjuk kerja sel
surya polimer P3HT:PCBM dengan melakukan kontrol terhadap morfologi melalui
annealing lapisan aktif. Proses annealing terhadap lapisan aktif sebagai kontrol
morfologi diduga mempengaruhi unjuk kerja sel surya polimer karena akan
memperbaiki homogenitas dari lapisan aktif polimer. Sel surya dibuat dengan
menggunakan bahan polimer sebagai lapisan aktif semikonduktor organik. Polimer
yang digunakan adalah poly(3-heksiltiofen) atau P3HT yang berfungsi sebagai donor
elektron, dan [6,6]-fenil C61 asam butirat metil ester atau PCBM sebagai akseptor
elektron. Kedua material dibuat dalam struktur bulk-heterojunction film tipis
menggunakan teknik spin coating. Dalam penelitian ini, annealing telah dilakukan
dengan variasi suhu 120 C dan 150 C. Hasil SEM menunjukan bahwa kenaikan suhu
annealing mempengaruhi struktur morfologi sampel dimana permukaan lapisan aktif
menjadi lebih halus dan homogen. Disamping itu transmitansi minimum kedua sampel
terjadi pada rentang panjang gelombang 450-700 nm , dimana sampel 150 C
memiliki transmitansi yang lebih rendah dibandingkan sampel 120 C. Sebagai hasil
karakterisasi listrik, diperoleh nilai parameter untuk sampel 120 C dan 150 C
dimana daya maksimum, fill faktor, dan efisiensi, masing-masing adalah , 8,66 x 105
W dan 9,39 x 105 W, 0,301 dan 0,342, dan 0,028 % dan 0,003 %.
Kata kunci : Sel surya polimer, lapisan aktif, P3HT:PCBM, annealing, bulkheterojunction.
ABSTRACT
The Influence Of Annealing Temperature Of The Polymer Active Layer
P3HT:PCBM To The Performance Of Polymer Solar Cells on Glass Substrates
In this work, the approach has been taken to improve the performance of polymer
solar cells based on P3HT:PCBM with controlling the morphology through annealing.

Penulis Penanggungjawab
2
Z. R. Pratiwi, dkk, -Pengaruh Suhu Annealing…
Annealing proccess as the control of the morphology is thought to affect the
performance of polymer solar cells because it will improve the homogenity of the
active layer of polymer. Solar cell is made using the polymer materials as the active
layer of organic semiconductor. The polymer that it used is a poly(3-hexylthiophene)
or P3HT which serves as an electron donor, and [6,6]-phenyl-c61-butyric acid methyl
ester or PCBM as an electron acceptor. Both materials are made in bulk heterojunction
structure of thin film technology using spin coating techique. In this work, annealing
of active layer has been done with variation temperatures 1200 C and 150o C . SEM
results showed that the increase of annealing temperature affects the morphology
surface structure of the sample whre the active layer becomes more smooth and
homogeneous. Despitefully, the minimum transmittance of both samples occur over a
range of wavelengths 450 700nm , where the sample 150o C has a lower
transmitance than the sample 1200 C . As a result of electric characterization, it is
gotten the parameter values obtained for the sample 1200 C and 150o C , and where
the maximum power, fill factor, and efficiency, each of them are 8,66  10 5 W and
9,39 10 5 W , 0,301and 0,342 , and 0,028% and 0,003 %.
Keywords : Polymer Solar Cells, An active layer, P3HT:PCBM, annealing, bulkheterojunction.
Kebutuhan akan energi yang terus
meningkat memaksa manusia untuk
mencari sumber-sumber energi terbarukan.
Sampai saat ini sebagian besar sumber
energi
berasal
dari
fosil
yang
ketersediannya semakin berkurang. Energi
surya atau energi matahari merupakan
salah satu sumber energi alternatif yang
berpotensi
menyediakan
kebutuhan
konsumsi energi dalam waktu yang cukup
lama. Jumlahnya yang banyak atau
cenderung bersifat melimpah memberi
peluang untuk menjadi sasaran sumber
energi terbarukan yang harus terus
dikembangkan. Sel surya juga memiliki
kelebihan menjadi sumber energi yang
praktis mengingat tidak membutuhkan
transmisi karena dapat dipasang secara
modular
di
setiap
lokasi
yang
membutuhkan (Yuliarto, 2012).
Perkembangan industri pembuat
modul sel surya di dunia sangat meningkat
tajam (46%) dari tahun 2000 dan mencapai
1200 MW pada tahun 2004 dan terus
berkembang sampai 30 tahun ke depan dan
pada tahun 2020 diharapkan bisa
menghasilkan daya 200 GW (Bahtiar, A.
Aprillia, A. dan Fitrilawati., 2011).
Sampai saat ini terdapat beberapa
teknologi pembuatan sel surya yang sedang
dikembangkan oleh para peneliti salah
satunya sel surya organik. Sel surya jenis
ini memanfaatkan bahan organik yang
bersifat seperti semikonduktor (Wang, Y.
Wei, W. Liu, X. Ge, Y., 2011). Sel surya
organik memiliki potensi untuk diproduksi
dengan biaya yang lebih murah, proses
yang
lebih
mudah,
dan
dapat
dikembangkan
dengan
substrat
fleksibel/plastik sehingga lebih ringan dan
kompatibel jika dipasang di setiap tempat
yang terkena sinar matahari (Wang, Y.
Wei, W. Liu, X. Ge, Y., 2011). Sel surya
organik baru dikembangkan selama hampir
satu dekade terakhir dengan tingkat
efisiensi yang masih rendah
jika
dibandingkan dengan sel surya lainnya
(Mozer, A. J. and Sariciftci, N. S. 2005).
Sehingga sampai saat ini sel surya organik
masih berada pada tahap riset agar mampu
bersaing dengan sel surya generasi lainnya.
Selain itu, diharapkan dapat meningkatkan
eksistensi agar tetap dikembangkan
kedalam berbagai aplikasi sel surya.
Salah satu sel surya organik adalah
sel surya berbasis polimer. Sel surya
FibusiJoV Vol.1 No.3, Desember 2013
polimer merupakan sel surya dengan
menggunakan dua material polimer sebagai
lapisan aktif dimana polimer tersebut
berfungsi menyerap cahaya matahari dan
membangkitkan elektron pada saat cahaya
matahari mengenai permukaan sel surya
(Krebs, 2010). Elektron tersebut kemudian
akan mengalir melewati sepasang elektroda
yaitu alumunium (Al) sebagai katoda yang
ada dibawahnya dan menuju ke anoda
transparan di atasnya menghasilkan arus
listrik. Lapisan aktif dibentuk oleh dua
material polimer menjadi struktur bulkheterojunction dengan cara dicampur
sehingga terbentuk komposit film (Gunes,
S., Neugebaueur, H., Saricfitci, N. S.,
2007). Struktur sel surya polimer secara
umum dapat dilihat pada Gambar-1
berikut.
5
Al
P3HT:PCBM
PEDOT:PSS
ITO
substrat: Gelas
Gambar 1. Struktur sel surya polimer
Material polimer yang digunakan
adalah P3HT atau poly(3-hexylthiophene)
merupakan turunan polythiophene sebagai
donor elektron dan dicampur dengan
PCBM atau [6,6]-phenyl-c61-butyric acid
methyl ester turunan poly(p-phenylene
vinylene) (Grossiord, N. Kroon, M. J.
Andriessen, R. Blom, P. W. M., 2012).
Kedua material tersebut mempunyai band
gap yang rendah (1,9 – 2,2 eV)
dibandingkan material inorganik, memiliki
daya penyerapan yang tinggi di daerah
sinar tampak, dan cenderung bersifat stabil
sehingga sering digunakan dalam banyak
penelitian (Rosa, E.S. Shobih, dan Pratiwi,
Z. R., 2012).
Salah
satu
usaha
untuk
meningkatkan kinerja sel surya adalah
dengan melakukan kontrol terhadap
morfologi berupa proses annealing lapisan
aktif pada variasi suhu yang berbeda
(Huang, Y. Liao, Y. Li, S. Wu, M. Chen,
3
C. Su, W., 2007). Annealing pada lapisan
aktif diduga mampu mempengaruhi
mobilitas muatan sehingga dengan
annealing dari lapisan aktif mampu
membentuk keteraturan dalam polimer
yang akan berhubungan dengan mobilitas
pengisian muatan yang semakin tinggi
(Krebs, 2008).
Pada penelitian ini akan difokuskan
pada pembuatan sel surya polimer berbasis
organik
semikonduktor
P3HT:PCBM
dengan meninjau pengaruh dari variasi
suhu annealing lapisan aktif menggunakan
struktur bulk-heterojunction.
METODE
Pembuatan sel surya polimer
dimulai dengan persiapan substrat. substrat
yang digunakan slide gelas berukuran
25mm  25mm  1,1mm
dan ketebalan
0
120 C dan memiliki (yang sudah dilapisi
oleh ITO) produksi Aldrich. ITO di atas
substrat gelas dipola untuk menghindari
terjadinya short circuits ketika divais
dalam sel surya dikontakan satu dengan
lainnya.
Gambar 2. Diagram alir prosedur
penelitian sel surya polimer
P3HT:PCBM
Masker ITO dikerjakan pada pada
bagian yang tidak akan dihilangkan
menggunakan adhesive tape sedangkan
bagian yang akan dihilangkan dicelupkan
4
Z. R. Pratiwi, dkk, -Pengaruh Suhu Annealing…
ke dalam HCl 50% selama  15 menit.
Kemudian sampel dicelupkan ke dalam
NaHCO 3 selama 3 menit dan air selama
3 menit. Setelah itu sampel dikeringkan
dengan melepas masker dari sampel lalu
cleaning ultrasonic menggunakan air, IPA
(isopropyl alcohol), dan aceton selama
 10 menit. Di atas lapisan ITO kemudian
dilapiskan
pasta
PEDOT:PSS
menggunakan teknik screen printing.
Lapisan kemudian dipanaskan di dalam
oven vakum pada temperatur 120 ºC
selama 60 menit. PEDOT:PSS digunakan
sebagai hole transporter dan exciton
blocker, dan mencegah difusi ITO ke
dalam polimer lapisan aktif.
kemudian di atas lapisan PEDOT:PSS
ditumbuhkan kembali lapisan aktif polimer
P3HT:PCBM. Sebanyak 200mg P3HT
dilarutkan kedalam 10ml klorobenzen dan
diaduk sampai larutan homogen, dan juga
200mg . PCBM dilarutkan kedalam 10ml
klorobenzen diaduk sampai larutan
homogen. Dengan menggunakan plastik
pipet, kedua larutan tersebut dicampurkan
kedalam satu botol dan diaduk sampai
homogen. Proses pelapisan menggunakan
teknik spin coating pada kecepatan putar
600rpm selama 30 detik dengan luas aktif
area 2,6 cm2. Selanjutnya lapisan polimer
dibiarkan semalam di dalam lingkungan
nitrogen. Setelah itu dilakukan proses
annealing lapisan aktif pada suhu 120o C
dan 150o C menggunakan oven vakum.
kemudian dideposisikan kontak metal Al.
Pelapisan kontak Al dilakukan dengan
teknik evaporasi termal. Kemudian
kapsulasi dilakukan dengan menutup
permukaan atas sel dengan kaca
menggunakan sealant sebagai media
perekatnya dan kemudian dipanaskan pada
temperatur 120 ºC selama 10 menit. Untuk
mengetahui karakteristik I-V dari sel surya
polimer, maka dilakukan pengukuran
dengan menyinari sel menggunakan
sumber cahaya lampu Xenon pada radiasi
cahaya 60 mW/cm2 dan suhu 25 ºC. Selain
itu dilakukan juga karakterisasi SEM untuk
mendapatkan citra morfologi lapisan aktif
dan
UV-Vis
untuk
mendapatkan
karakteristik optik lapisan aktif sel surya
polimer.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Karakteristik Morfologi
Sampel yang di-annealing pada
suhu yang berbeda menunjukan morfologi
permukaan yang berbeda. Sampel yang di150o C
annealing
pada
memiliki
permukaan
yang
lebih
homogen
dibandingkan dengan yang di-annealing
selama 120o C . Hal tersebut ditunjukkan
dengan adanya lembah dan puncak di
sekitar permukaan. Pada gambar 3.a,
tampak adanya beberapa daerah berwarna
lebih gelap (lembah) dan membatasi daerah
yang berwarna lebih terang (bukit)
sehingga daerah lebih terang akan terlihat
seperti clusters di sekitar permukaan
sampel. Sedangkan pada gambar 3.b,
sampel yang di-annealing selama 150o C ,
sudah tidak terlihat adanya clusters
sehingga
dapat
dikatakan
bahwa
permukaan pada sampel ini lebih seragam
atau homogen.
Gambar 3. Hasil SEM permukaan lapisan
akitf yang di-annealing pada (a)
1200 C dan (b) 1500 C .
Ketika
diberikan
perlakuan
annealing, lapisan aktif sel surya akan
mengalami perubahan bentuk struktur
FibusiJoV Vol.1 No.3, Desember 2013
dimana mekanismenya mengacu pada dua
evolusi yaitu kristalisasi P3HT dan
agregasi PCBM. Evolusi ini mengarah
pada segregasi fase skala nano sehingga
terbentuk sistem bi-continuous pada
lapisan aktif. Ketika annealing di atas suhu
gelas transisinya (suhu gelas transisi untuk
P3HT sekitar 110o C ) (Krebs, 2008),
molekul-molekul P3HT dan PCBM akan
bebas bergerak di dalam film. Saat itu,
P3HT akan mengalami relaksasi dan proses
penyusunan dirinya kembali (self-ordering)
sehingga jaringan antar rantai dari P3HT
akan tumbuh menjadi fibril kristal yang
lebih teratur dengan mobilitas hole yang
tinggi. Fibril kristal P3HT tumbuh
membesar di dalam komposit film dan
lebih
cepat
dibandingkan
PCBM
(Thompson, B. C., Frechet, J. M., 2008).
konsekuensinya, akan terjadi difusi
molekul dari PCBM menuju P3HT
sehingga akan menghambat agregasi
PCBM yang tinggi dalam skala nano ketika
suhunya dinaikkan (Lu, Y. Wang, Y. Feng,
Z. Ning, Y. Liu, X. Lu, Y., Hou, Y.,
2012).
Disamping itu, Yunzhang Lu dan
kawan-kawan (2012) menunjukan evolusi
agregasi PCBM lebih rinci. Berdasarkan
hasil penelitiannya, ketika diberi perlakuan
panas sekitar 100o C , pada lapisan aktif
P3HT/PCBM akan timbul suatu daerah
kecil atau clusters yang dikelilingi sebuah
cahaya atau halo. Kemudian dengan
peningkatan suhu, clusters akan yang
tampak akan semakin membesar. Ketika
suhunya dinaikkan secara bertahap sampai
200 0 C , terjadi perubahan warna yang
signifikan yang menyatakan bahwa P3HT
dan PCBM telah mencapai titik lelehnya.
Yunzhang
dalam
penelitiannya
menyebutkan bahwa clusters yang tumbuh
membesar disebabkan oleh agregasi
PCBM. perlakuan annealing pada suhu
yang tinggi menyebabkan molekul PCBM
lebih cepat berdifusi ke dalam bulk film
menghasilkan formasi PCBM ke dalam
clusters.
5
2.Karakteristik Optik
Karakteristik optik
pada gambar 4.
digambarkan
Gambar 4. Grafik transmitansi lapisan
aktif
sel
surya
polimer
P3HT:PCBM terhadap panjang
gelombang.
Berdasarkan gambar 4 diperoleh
transmitansi minimum yaitu pada panjang
gelombang
sekitarc.
Hal
tersebut
menunjukan
bahwa
pada
panjang
gelombang tersebut terjadi penyerapan
maksimum sehingga transmitansi kedua
sampel berada pada titik miminumnya
yaitu  10% untuk annealing lapisan aktif
120o C dan  15% untuk 150o C . P3HT
dan PCBM sebagai material lapisan aktif
memiliki band-gap masing-masing sekitar
1,9eV
2,4eV
dan
(www.sigmaaldrich.com). Dengan besar
band-gap tersebut maka penyerapan energi
foton yang maksimum digunakan untuk
membangkitkan exciton berada pada
panjang gelombang sekitar 518nm dan
621nm . Kedua panjang gelombang
tersebut yang dihitung menggunakan
persamaan Planck berada diantara panjang
gelombang yang diasumsikan menjadi
batas transmitansi minimum pada grafik.
Hal tersebut menunjukan bahwa sel surya
polimer yang dibuat dalam penelitian ini
efektif menyerap foton pada panjang
gelombang sinar tampak.
Selain itu, grafik transmitansi
menunjukan transmitansi sampel yang diannealing pada 1500 C lebih landai
6
Z. R. Pratiwi, dkk, -Pengaruh Suhu Annealing…
dibandingkan sampel dengan annealing
1200 C . Sehingga sampel yang diannealing 1500 C menyerap foton lebih
efektif dibandingkan dengan sampel yang
di-annealing 1200 C . Hal ini berkaitan
dengan pengaruh annealing seperti yang
dipaparkan pada karakterisasi morfologi.
Struktur morfologi yang terbentuk setelah
annealing mempengaruhi sifat optik dari
lapisan aktif kedua sampel sel surya
polimer. Sampel yang di-annealing 1500 C
memiliki permukaan yang lebih homogrn
dibandingkan dengan sampel yang diannealing 1200 C . Suhu annealing
menyebabkan homogenitas yang berbeda
dimana semakin homogen kekristalan
rantai di dalam film maka semakin banyak
interface
yang
terbentuk
sehingga
meningkatkan arus foton di dalam film
(Benanti, T. L. Venkataraman, D., 2006).
Maka dari itu sampel 1500 C memiliki sifat
optik yang lebih baik daripada sampel
1200 C dimana transmitansinya lebih
rendah sekaligus menunjukan absorbsi
yang tinggi. Daerah absorbsi yang tinggi
terjadi
pada
panjang
gelombang
450 700nm yang merupakan daerah
cahaya tampak (Ge, 2009).
3.Karakteristik Listrik Sel Surya
Polimer
Karakteristik listrik digambarkan pada
grafik arus terhadap tegangan.
Gambar 5. Grafik hubungan arus terhadap
tegangan untuk sel surya yang di-annealing
pada 1200 C dan 1500 C
Tabel 1. Parameter terukur sel surya
polimer
Parameter
1200 C
1500 C
0,306V
0,428V
V maks
i maks
Voc
i sc
R shunt
2,83  10 5 A 2,193  10 5 A
0,510V
0,551V
5,655  10 5 A 4,978  10 5 A
6,16  10 4 
8,24  10 4 
Berdasarkan data terukur tersebut
maka diperoleh variabel yang menjadi
parameter unjuk kerja sel surya polimer.
Berikut parameter kedua sampel disajikan
kedalam bentuk tabel.
Tabel 2. Parameter unjuk kerja sel surya
polimer
Parameter
1200 C
1500 C
P
8,66  10 5 W 9,39 10 5 W
0,342
FF
0,301

0,0028
0,003
Dari tabel 2. terlihat bahwa
parameter yang dihasilkan oleh sampel
yang di annealing selama 1500 C lebih
besar dibandingkan dengan sampel yang di
annealing selama 1200 C . Parameter daya
maksimum, efisiensi dan fill faktor
menunjukan hasil yang berbanding lurus
dengan kenaikan suhu annealing. Daya
merupakan besarnya energi persatuan
waktu. Daya input cahaya yang dikenakan
pada sampel menggambarkan jumlah foton
yang datang. Dengan meningkatnya jumlah
foton
persatuan
waktu,
peluang
pembentukan exciton pada donor (P3HT)
semakin meningkat. Semakin banyak
exciton yang terbentuk, maka semakin
banyak exciton yang berdifusi dan
melakukan
migrasi
yang
akhirnya
berdisosiasi menjadi pasangan elektron-
FibusiJoV Vol.1 No.3, Desember 2013
hole (Chotimah. Triyana, K. Kartini, I.,
2012).
Namun parameter kedua sampel
yang dihasilkan masih mengerucut pada
efisiensi yang rendah. Hal tersebut diduga
oleh proses degradasi yang terjadi sangat
cepat. Sel surya polimer sangat rentan
terhadap degradasi. Waktu hidup sel surya
polimer paling lama adalah 10000 jam atau
sekitar satu tahun (Krebs, C. F., 2010).
Proses degradasi melibatkan oksigen yang
kemudian akan berikatan dengan karbon
paling ujung dari rantai alkil thiophene
(Putnam, 2010). Kemudian ikatan tersebut
membentuk reaksi yang secara tidak
langsung akan menganggu konjugasi dari
backbone P3HT (Grossiord, N. Kroon, M.
J. Andriessen, R. Blom, P. W. M., 2012).
Selain itu kondisi lingkungan disekitar
sampel yang lembab juga menyebabkan
penetrasi molekul bebas dari lingkungan ke
dalam sampel. Dalam penelitian ini,
degradasi sampel sel surya bisa jadi
disebabkan karena terjadinya difusi
alumunium sebagai elektroda ke dalam
lapisan aktif. Jika hal ini terjadi, sistem bicontinuous yang terbentuk antara dua
material P3HT dan PCBM tidak akan
memberikan keefektifan terhadap mobilitas
muatan
dalam
sistem.
Sehingga
kemungkinan lainnya yang akan terjadi
adalah kebocoran arus dan tingginya
resistansi dari piranti (Xiaoyin, X. Ju, H.,
Lee, E., 2010).
Namun disamping rendahnya nilai
parameter yang dihasilkan, suhu annealing
tetap memberikan kontribusi terhadap
peningkatan
unjuk
kerja
dimana
diperlihatkan
dengan
besar
daya
maksimum, fill faktor dan efisiensi untuk
sampel dengan annealing 1500 C yang
lebih besar dibandingkan dengan annealing
1200 C . Menurut Kim (2007), hal ini
disebabkan oleh interdifusi antara P3HT
dan PCBM keluar matriks polimer untuk
membentuk sistem bi-continuous antar
rantai setelah annealing P3HT/PCBM film
komposit, mengakibatkan peningkatan
mobilitas pembawa muatan di lapisan aktif.
7
Dengan demikian, parameter unjuk kerja
sel surya polimer akan terpengaruh oleh
kondisi annealing.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian, maka
diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Variasi
suhu
annealing
mempengaruhi struktur morfologi
permukaan lapisan aktif dimana lapisan
aktif yang di-annealing pada 1500 C
lebih halus dan homogen dibandingkan
dengan sel surya yang di-annealing
pada 120o C .
2. Variasi
suhu
annealing
mempengaruhi transmitansi lapisan
aktif dimana transmitansi lapisan aktif
yang di-annealing pada 1500 C lebih
rendah dibandingkan dengan sel surya
yang di-annealing pada 1200 C .
3. Variasi suhu annealing lapisan aktif
mempengaruhi parameter unjuk kerja
dimana sel surya polimer dengan
annealing lapisan aktif pada 1500 C
lebih baik dibandingkan dengan
annealing pada 1200 C dimana daya
maksimum, fill faktor, dan efisiensi
masing-masing adalah 9,39 10 5 W
dan 8,66  10 5 W , 0,342 dan 0,301,
dan 0,003% dan 0,028% .
DAFTAR PUSTAKA
Bahtiar, A. Aprillia, A. dan Fitrilawati.
(2011). “Sel Surya Polimer: State of
Art dan Progres penelitiannya Di
Universitas Padjadjaran.” Jurnal
Material dan Energi Indonesia, 01,
(01), 7-14.
Benanti, T. L. Venkataraman, D. (2006).
Organic Solar Cells: An Overview
Focusing
on
Active
Layer
Morphology.
Photosynthesis
Research, 87, 73-81.
Chotimah. Triyana, K. Kartini, I. (2012).
“Efek Intensitas Cahaya terhadap
Efisiensi Konversi Daya Sel Surya
Organik
Bulk
Heterojunction
8
Z. R. Pratiwi, dkk, -Pengaruh Suhu Annealing…
Berbasis
Poly(3-hexylthiophene)
dan Phenyl C61 Butyric Acid
Methylester.” Prosiding Pertemuan
Ilmiah XXVI HFI Jateng dan DIY,
68-72.
Ge,
W. (2009). “An Overview on
P3HT:PCBM, The Most Efficient
Organic Solar Cell Material So
Far.” Solid State Physics, Spring
2009.
Grossiord, N. Kroon, M. J. Andriessen, R.
Blom, P.
W.
M. (2012).
“Degradation
Mechanisms
in
Organic Photovoltaic Devices.”
Organic Electronics, 13, 432-456.
Gunes, S. Neugebaueur, H. and Saricfitci,
N. S. (2007). “Conjugated-Polymer
Based Organic Solar Cells.”
Chemical Reviews, 107, (4), 13241338.
Huang, Y. Liao, Y. Li, S. Wu, M. Chen, C.
Su, W. (2007). “Study of the Effect
of Annealing Process on the
Performance
of
P3HT/PCBM
Photovoltaic
Devices
Using
Scanning-Probe Microscopy.” Solar
Energy Materials & Solar Cells, 93,
888-892.
[Online],
Tersedia:
http://www.elsevier.com/locate/sol
met.
Kasiram, M. (2008). Metodologi Penelitian
Kualitatif-Kuantitatif. UIN Malang
Press.
Kingsley, J. W. Green, A. Lidzey, D.G.
(2009).
“Fabrication
and
Optimization of P3HT:PCBM
Organic Photovoltaic Devices.”
SPIE, 7416, 1-9
Krebs, C. F. (2010). Polymeric Solar Cells
: Materials, Design, Manufacture.
Lancaster,
PA
:
Destech
Publications. Inggris. [Online],
tersedia:
http://
http://books.google.co.id/books?id=
KWemN5vnWlMC&printsec=front
cover&dq=frederik+Krebs&hl=id&
sa=X&ei=YE4QUpOyI4m0rAfz7Y
GgBQ&redir_esc=y#v=onepage&q
=frederik%20Krebs&f=false
Krebs, C. F. (2008). Polymer Photovoltaik
A Practical Approach. United
States of America: SPIE.
Lu, Y. Wang, Y. Feng, Z. Ning, Y. Liu, X.
Lu, Y. and Hou, Y. (2012).
“Temperature-dependent
Morphology
Evolution
of
P3HT:PCBM Blend Solar Cells
During
Annealing
Process.”
Synthetic Metals, 162, 2039-2046.
[online],
tersedia:
http://dx.doi.org/j.synthmet.2012.10
.2012.com
Mozer, A. J. and Sariciftci, N. S. (2005).
Conjugated Polymer Photovoltaic
Devices and Materials. Linz for
Organic Solar Cells (LIOS),
Physical
Chemistry,
Johannes
Kepler
University
Linzz,
Altenbergerstr, 69, 568-577
Putnam, D. (2010). “Investigation of
Degradation in Polythiophenefullerene Based Solar Cells.”
[Online],
tersedia:
http://lib.dr.iastate.edu/etd
Rosa, E.S. Shobih, dan Pratiwi, Z. R.
(2012). “Sel Surya Polimer
Berbasis
P3HT/PCBM.”
Proceeding
Seminar
Ilmu
Pengetahuan Teknik “Teknologi
Untuk Mendukung Pembangunan
Nasional “. LIPI, 48-51.
Thompson, B. C. And Frechet, J. M.
(2008).
“Polymer-Fullerene
Composite Solar Cells.” Organic
Solar Cells, 47, 58-77. [Online],
tersedia:
http://
www.10.1002/anie.200702506.
Wang, Y. Wei, W. Liu, X. Ge, Y. (2011).
“Research Progress On Polymer
Heterojunction Solar Cells.” Solar
Energy Materials & Solar Cells, 98,
129-145.
[Online],
tersedia:
FibusiJoV Vol.1 No.3, Desember 2013
http://www.elsevier.com/locate/sol
met
Xiaoyin, X. Ju, H. and Lee, E. (2010).
Band Gap Enhancment by Covalent
Interactions
in
P3HT/PCBM
Photovoltaik
Heterojunction.”
Journal of the Korean Physical
Society, 57, (1), 144-148.
Yuliarto, B. (2011). Solar Sel, Sumber
Energi Terbarukan Masa Depan.
[Online],
tersedia:
http://www.esdm.go.id/legislasidan-publikasi.html (3 Agustus
2012)
9
Download