sistematika tumbuhan tinggi

advertisement
LAPORAN
PENULISAN BUKU AJAR
SISTEMATIKA TUMBUHAN TINGGI
OLEH:
DR. JUHRIAH, M.Si
DR. HJ. SRI SUHADIYAH, M.Agr
DR. ELIS TAMBARU, M.Si
DR. A. MASNIAWATI, M.Si, S.Si
Dibiayai oleh Dana BOPTN Universitas Hasanuddin Sesuai
dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan
No: 1042/UN4.12/PP.13/2014
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SEPTEMBER 2014
i
ii
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat
petunjuk, inayah dan hidayahNya sehingga
penulisan buku ajar Sistematika
Tumbuhan Tinggi ini dapat diselesaikan.
Buku ajar ini disusun sebagai bahan acuan dalam mata kuliah Sistematika
Tumbuhan Tinggi, merupakan rangkuman berbagai sumber pustaka.
Tumbuhan yang termasuk Divisio Spermatophyta sangat beragam, dalam
buku ajar ini
hanya menjelaskan
beberapa contoh tumbuhan yang mewakili
beberapa kelas anggota Divisio Spermatophyta yang ada di alam maupun yang
telah punah. Buku ajar ini juga dilengkapi dengan berbagai sistem klasifikasi,
sumber data untuk Sistematika dan juga hal yang berkaitan dengan penamaan
(tatanama) tumbuhan
Mudah-mudahan buku ajar ini dapat membantu mahasiswa dalam
melakukan proses pembelajaran dan bermanfaat untuk pengembangan bidang ilmu
Sistematika Tumbuhan TInggi.
Penulis menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam penulisan buku ajar
ini, untuk itu penulis mengharapkan adanya masukan dan kritik yang membangun
demi penyempurnaan penulisan buku ajar ini di masa datang. Penulis juga
menyampaikan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada
DIKTI yang
mendanai penulisan buku ajar ini melalui Dana BOPTN Universitas Hasanuddin
Sesuai
dengan
Surat
Perjanjian
Pelaksanaan
Pekerjaan
No:
1042/UN4.12/PP.13/2014. Semoga buku ajar ini bermanfaat dan menjadi salah satu
sarana pembelajaran Sistematika Tumbuhan Tinggi.
Makasssar, September 2014
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Halaman
i
Halaman sampul
Halaman Pengesahan
ii
Surat Pernyataan
iii
Kata Pengantar
iv
Daftar Isi
v
BAB I. PENDAHULUAN
1
I.1. Profil Lulusan Program Studi
1
I.2. Kompetensi lulusan
1
I.3. Analisis Kebutuhan Pembelajaran
3
I.4. Garis Besar rencana Pembelajaran (GBRP)
4
BAB II. RUANG LINGKUP SISTEMATIKA TUMBUHAN TINGGI
8
DAN SISTEM KLASIFIKASI
II.1. Pendahuluan
8
II.2. Pengertian Dan Ruang Lingkup Sistematika Tumbuhan Tinggi
8
II.3. Fase Perkembangan Sistematika Tumbuhan
10
II.4. Relevansi Dengan Lapangan dan Hubungannya Dengan ilmu lain.
11
II.5. Sistem Klasifikasi Tumbuhan
13
II.6. Tugas Untuk Mahassiwa
20
BAB III. SUMBER INFORMASI BAGI SISTEMATIKA TUMBUHAN
21
III.1. Pendahuluan
21
III. 2. Sumber Data Sistematika Tumbuhan
21
III.3. Informasi Struktur
21
III.4. Informasi Kimia
26
III.5. Informasi Kromosom
31
III.6. informasi Sistem Penangkaran
34
III.7.Tugas Untuk Mahassiwa
36
BAB IV. IDENTIFIKASI DAN TATA NAMA TUMBUHAN
38
IV.1. Pendahuluan
38
IV.2. Pengertian dan cara Identifikasi Tumbuhan
38
IV.3. Tatanama Tumbuhan
43
IV.4. Tugas Untuk Mahasiswa
53
v
BAB V. DIVISIO SPERMATOPHYTASUB DIVISIO GYMNOSPERMAE
54
V.1. Pendahuluan
54
V.2. Diviso Spermatophyta (Tumbuhan Berbiji)
54
V.3. Sub Dividio Gymnospermae (Tumbuhan Berbiji terbuka)
55
V.4.Tugas Untuk Mahassiwa
70
BAB VI. SUB DIVISIO ANGIOSPERMAE CLASSIS DICOTYLEDONEAE
SUB CLASSIS MONOCLAMIDAE (APETALAE)
71
VI.1. Pendahuluan
71
VI.2. Anak Divisi (Sub Divisio) Angiospermae
71
VI.3. Anak Kelas (Sub Classis)Monoclamidae (Apetalae)
71
VI.4.Tugas Untuk Mahassiwa
100
BAB VII. SUB CLASSIS DIALYPETALAE
101
VII.1. Pendahuluan
101
VII.2. Sub Classis Dialypetalae
101
VII.3.Tugas Untuk Mahassiwa
139
BAB VIII. SUB CLASSIS SYMPETALAE
140
VIII.1. Pendahuluan
140
VIII.2. SUB CLASSIS SYMPETALAE
140
VIII.3.Tugas Untuk Mahassiwa
156
BAB IX. CLASSIS MONOCOTYLEDONEAE
157
IX.1. Pendahuluan
157
IX .2. Kelas (Classis) Monocotyledoneae
157
IX.3.Tugas Untuk Mahassiwa
184
DAFTAR PUSTAKA
185
vi
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Profil Lulusan Program Studi: Membina dan menghasilkan lulusan yang cerdas,
terampil, berwawasan luas, dan berbudaya sehingga bisa bersaing dan mampu menghadapi
persaingan secara global.
I.2. Kompetensi lulusan:
Kompetensi utama (U):
1. Mampu dalam pemahaman tentang pengetahuan dasar biologi dan ilmu
pengetahuan alam.
2. Mampu menerapkan perinsip–perinsip dasar biologi dalam pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya hayati yang berkelanjutan serta dalam mempertahankan
keragaman hayati flora dan fauna.
3. Mampu menguasai, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan dasar biologi
yang dimilikinya secara profesional dalam kegiatan produktif dan pelayanan
kepada masyarakat/industri.
4. Mampu mengoperasikan peralatan laboratorium biologi dan bioteknologi atau
yang relevan dan menjadi periset handal sesuai dengan bidang keahliannya
5. Mampu menguasai, mengembangkan dan menerapkan pengetahuan dasar biologi
yang dimilikinya secara profesional dalam kegiatan produktif serta pelayanan
kepada masyarakat, industri dan kesehatan
6. Mampu mendayagunakan potensi biota laut dan sumberdaya alam laut lainnya
pada berbagai bidang untuk kesejahteraan masyarakat.
Kompetensi Pendukung (P)
1. Mampu bersaing dan unggul sebagai ilmuwan yang profesional, serta bersifat
terbuka dan tanggap terhadap kemajuan ipteks secara global.
2. Mampu membuat tulisan karya ilmiah; penguasaan bahasa Inggeris; serta
penguasaan software dan hardware komputer.
3. Mampu mendayagunakan potensi mahluk hidup dan sumberdaya alam lainnya
pada berbagai bidang untuk kesejahteraan masyarakat.
1
Kompetensi lainnya (L)
1. Mampu mengamalkan nilai moral, bersikap, dan berperilaku dalam berkarya dibidang
keahliannya maupun dalam bermasyarakat.
2. Mampu mengembangkan diri dan pemikiran berdasarkan wawasan dan budaya bahari.
2
I.3. Analisis Kebutuhan Pembelajaran
Mata kuliah Taksonomi Tumbuhan II adalah mata kuliah dengan bobot 3 SKS dengan
kode 336H413, merupakan mata kuliah Program Studi Biologi yang termasuk dalam
kelompok mata kuliah keahlian dan ketrampilan, disajikan pada semester genap tahun kedua
(Semester 4). Mata kuliah ini wajib bagi seluruh mahasiswa jurusan Biologi FMIPA
UNHAS. Mahasiswa yang akan mengambil mata kuliah ini disyaratkan telah mengikuti
antara lain Struktur & Perkembangan Tumbuhan I (SPT I) dan Sistematika Tumbuhan
Rendah
Mata kuliah ini sangat penting diketahui oleh mahasiswa yang akan mengaplikasikan
ilmu tersebut pasca kuliah yang akan bergelut dibidang biologi, pertanian, farmasi, pemuliaan
tumbuhan ataupun biokimia, sehingga penguasaan terhadap ilmu ini perlu dimiliki oleh
seorang mahasiswa. Identifikasi, tatanama dan klasifikasi tumbuhan Spermatophyta
merupakan inti (ruang lingkup) mata kuliah ini. Spermatophyta mencakup semua tumbuhan
berbiji ataupun berbunga dengan jumlah jenis yang sangat banyak, merupakan tumbuhan
sumber kehidupan manusia baik untuk pangan, sandang dan papan, tersebar di segala penjuru
dengan berbagai kondisi iklim, hidup baik di darat ataupun di perairan.
Salah satu komponen dalam proses komunikasi dalam pembelajaran yang
menentukan tercapainya tujuan pembelajaran adalah sumber dan media informasi. Buku ajar
ini disusun dan diharapkan menjadi salah satu sumber informasi, menjadi salah satu sarana
pembelajaran dan menjadi acuan bagi dosen maupun mahasiswa peserta mata kuliah
Sistematika Tumbuhan Tinggi sehingga menunjang tercapainya tujuan metode pembelajaran
Student Center Learning. Diharapkan dengan adanya buku ajar ini dapat membantu
menambah wawasan dan penguasaan mahasiswa tentang Sistematika Tumbuhan Tinggi.
3
GARIS BESAR RENCANA PEMBELAJARAN (GBRP)
MAMA MATAKULIAH
NOMOR KODE/SKS
SEMESTER
Komptensi utama
Kompetensi Pendukung
Kompetensi Lainnya
SASARAN PEMBELAJARAN
: SISTEMATIKA TUMBUHAN TINGGI
: 336H413/3
: GENAP
: Mampu memahami prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan alam (1)
Mampu memahami struktur, klasifikasi dan dan manfaat ekonomi serta aspek anatomi dan fisiologis
pada hewan dan tumbuhan (2)
Mampu menerapkan prinsip-prinsip dasar biologi dalam pengelolaan, pemanfaatan dan pelestarian
lingkungan serta pendayagunaan sumberdaya hayati secara berkelanjutan (3)
Mampu menguasai, mengembangkan dan menerapkan dasar biologi yang dimilikinya secara professional
dan kegiatan produktif serta pelayanan kepada masyarakat, industri dan kesehatan (5)
: Mampu bersaing dan unggul sebagai ilmuan yang professional serta bersikap tanggap terhadap kemajuan
iptek secara global (1)
Mampu mendayagunakan potensi makhluk hidup dan sumberdaya alam lainnya pada berbagai bidang
untuk kesejahteraan masyarakat (3)
: Mampu mengamalkan nilai moral, bersikap dan berprilaku dalam berkarya dibidang keahliannya dalam
masyarakat
: Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa akan dapat mengaplikasikan ilmu Sistematika Tumbuhan
(identifikasi, klasifikasi dan penamaan) tumbuhan Spermatophyta dalam praktek.
4
MINGGU
KE
MATERI PEMBELAJARAN
1s/d 2
- Kontrak kuliah
- Pembentukan kelompok
- Ruang lingkup Sistematika
Tumbuhan Tinggi.
- Pengertian dan sasaran
- Fase Perkembangan sistematika
Tumbuhan
- Relevansi dengan lapangan dan
hubungannya dengan ilmu lain
- Macam-macam sistem
klasifikasi
Sumber informasi bagi
Sistematika Tumbuhan Tinggi:
- Informasi struktur tumbuhan
- Informasi kimiawi
- Informasi kromosom
- Informasi sist. Penangkaran.
Identifikasi dan tatanama
tumbuhan:
- Pengertian identifikasi
- Identifikasi tumbuhan yang
belum dan sudah dikenal dunia
ilmu pengetahuan
-Nama biasa dan nama ilmiah
3 s/d 4
5
BENTUK
PEMBELAJA
RAN (RAGAM
METODE
SCL)
Teaching
learning,
diskusi
KOMPETENSI AKHIR SESI
PEMBELAJARAN
INDIKATOR
PENILAIAN
BOBO
T
NILAI
Mahasiswa mampu: Menjelaskan
tentang ruang lingkup Sistematika
Tumbuhan Tinggi dan sistem
klasifikasi
- Ketepatan menjelaskan
tentang ruang lingkup
Sistematika Tumbuhan
Tinggi dan sistem
klasifikasi
10%
- Teaching
learning
- collaborative
learning
Mahasiswa mampu:
- Menjelaskan tentang berbagai
pengetahuan sebagai sumber
informasi bagi Sistematika
Tumbuhan
10%
- Teaching
learning
- collaborative
learning
Mahasiswa mampu Menjelaskan:
- Pengertian identifikasi
- Langkah dentifikasi tumbuhan
yang belum dan sudah dikenal
dunia ilmu pengetahuan
-Nama biasa dan nama ilmiah
-Azas tatanama tumbuhan
-Ketepatan menjelaskan
tentang sumber-sumber
informasi
-Kerjasama tim,
kedisiplinan dan
ketelitian
- Ketepatan menjelaskan
tentang pengertian dan
langkah identifikasi serta
tatanama tumbuhan
-Kerjasama tim,
kedisiplinan dan
ketelitian
5
5%
6 s/d 7
-Azas tatanama tumbuhan
Identifikasi, klasifikasi dan
penamaan Spermatophyta dan Sub
Divisi Gymnospermae
- Kelas Pteridospermae
- Kelas Gynkoinae
- Kelas Cycadinae
- Kelas Coniferinae
- Kelas Gnetinae
8
9
10 s/d 11
- Teaching
learning
- collaborative
learning
- Contextual
instruction
-presentasi tgs
- praktikum
Mahasiswa mampu:
-Menjelaskan tentang ciri-ciri,
tatanama dan klasifikasi
Gymnospermae
- Ketepatan menjelaskan
tentang ciri-ciri,
tatanama dan klasifikasi
Gymnospermae
-Kerjasama tim,
kedisiplinan dan
ketelitian
15%
UJIAN TENGAH SEMESTER
Identifikasi, klasifikasi dan
penamaan Dicotyledoneae sub
clas Apetalae:
- Ordo Urticales
- Ordo Piperales
- Ordo Polygonales
- Ordo Caryophyllales
- Ordo Euphorbiales
Identifikasi, klasifikasi dan
penamaan Sub Classis
Dialypetalae:
- Ordo Ranales
- Ordo Rosales
- Ordo Myrtales
- Ordo Brassicales
- Ordo Parietales
- Ordo Malvales
- Teaching learning
- collaborative
learning
- Contextual
instruction
- presentasi tgs
- praktikum
Mahasiswa mampu:
Menjelaskan tentang ciri-ciri,
tatanama dan klasifikasi Clas
Dikotil sub clas Apetalae
-
- Ketepatan menjelaskan
tentang ciri-ciri, tatanama
dan klasifikasi Clas
Dikotil sub clas Apetalae
- Kerjasama tim,
kedisiplinan dan ketelitian
15%
- Teaching learning
- collaborative
learning
- Contextual
instruction
- presentasi tgs
- praktikum
Mahasiswa mampu:
-Menjelaskan tentang ciri-ciri,
tatanama dan klasifikasi
tumbuhan dari Sub Classis
Sympetalae
-Ketepatan menjelaskan
tentang ciri-ciri, tatanama
dan klasifikasi tumbuhan
dari Sub Classis
Sympetalae
-Kerjasama tim,
kedisiplinan dan ketelitian
15%
6
12
13 s/d 15
- Ordo Graniales
- Ordo Rutales
- Ordo Sapindales
- Ordo Apiales
Identifikasi, klasifikasi dan
penamaan Sub Classis
Sympetalae
- Ordo Asterales
- Ordo Rubiales
- Ordo Apocynales
- Ordo Solanales
- Ordo Cucurbitales
Identifikasi, klasifikasi dan
penamaan Classis Monokotil
- Ordo Alismatales
- Ordo Bromeliales
- Ordo Liliales
- Ordo Cyperales
- Ordo Poales
- Ordo Zingiberales
- Ordo Arecales
- Ordo Pandanales
- Ordo Orchidales
- Teaching learning
- collaborative
learning
- Contextual
instruction
- presentasi tgs
- praktikum
Mahasiswa mampu
-Menjelaskan tentang ciri-ciri,
tatanama dan klasifikasi sub
classis Sympetalae
- Ketepatan menjelaskan
tentang ciri-ciri, tatanama
dan klasifikasi sub classis
Sympetalae
- Kerjasama tim,
kedisiplinan dan ketelitian
15%
- Teaching learning
- collaborative
learning
- Contextual
instruction
- presentasi tgs
- praktikum
Mahasiswa mampu:
Menjelaskan tentang ciri-ciri,
tatanama dan klasifikasi
Classis Monokotil
- Ketepatan menjelaskan
tentang ciri-ciri, tatanama
dan klasifikasi Classis
Monokotil
- Kerjasama tim,
kedisiplinan dan ketelitian
15%
16
UJIAN AKHIR SEMESTER
DOSEN PENGASUH MATA KULIAH SISTEMATIKA TUMBUHAN TINGGI:
1. Dr .Juhriah, M.Si.
2. Dr. Sri Suhadiyah, M.Agr
3. Dr. Elis Tambaru, M.Si
4. Dr. A. Masniawati, S.Si, M.Si
7
BAB II
RUANG LINGKUP SISTEMATIKA TUMBUHAN TINGGI
DAN SISTEM KLASIFIKASI
II.1. PENDAHULUAN:
SASARAN PEMBELAJARAN: Mahasiswa mampu menjelaskan tentang ruang lingkup
Sistematika Tumbuhan Tinggi dan Sistem klasifikasi
STRATEGI PEMBELAJARAN: Teaching learning,
II.2. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP SISTEMATIKA TUMBUHAN
TINGGI
Sistematika tumbuhan adalah ilmu yang berkaitan sangat erat dengan taksonomi
tumbuhan. Sistematika tumbuhan lebih banyak mempelajari hubungan tumbuhan dengan
proses evolusinya, namun dalam mata kuliah Sistematika Tumbuhan Tinggi ini ruang
lingkupnya mencakup identifikasi, tatanama dan klasifikasi objek yaitu tumbuhan Divisio
Spermatophyta.
Sistematika ataupun taksonomi tumbuhan adalah salah satu cabang ilmu yang telah
dipelajari sejak jaman purba, karena manusia purba waktu itu telah mengelompokkan
beratus-ratus tumbuhan disekitar mereka misalnya untuk pangan, obat-obatan, tanaman
serat, dan lain-lain. Setelah manusia berkembang menjadi kelompok-kelompok suku
dengan masing-masing bahasanya dan telah dikenalnya bahasa tulisan, maka hasil
pengelompokan tumbuhan yang mereka buat menjadi tercatat. Adanya catatan tersebut dan
bertambahnya pengetahuan mereka maka ilmu tentang tumbuhan bertambah banyak dari
generasi ke generasi berikutnya.
Pengelompokan secara sederhana berdasarkan kegunaan dan bahayanya (tumbuhan
beracun) ini, merupakan awal dari ilmu taksonomi dan sistematika tumbuhan saat ini. Ilmu
ini berkembang menjadi ilmu yang sangat kompleks dengan memperhatikan prihal
pengelompokan alami dan memberi nama pada setiap kelompok.
Para ilmuan yang berkecimpung dalam bidang biokimia, ekologi, fisiologi tentang
tumbuhan selalu membutuhkan nama tumbuhan yang digunakannya. Oleh karena itu
8
taksonomi dan sistematika tumbuhan akan selalu berguna bagi para ilmuan yang mengkaji
tumbuhan sesuai kebutuhannya.
Taksonomi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari keanekaragaman tumbuhan
baik identifikasinya, namanya, klasifikasi dan evolusinya. Taksonomi berasal dari kata
Yunani yaitu taxis yang berarti susunan, dan nomos yang berarti hukum. Kata takson
(jamak= taksa) diartikan sebagai kesatuan kelompok seperti divisi, kelas, ordo, famili
genus, spesies dan lain-lain.
Taksonomi tumbuhan dapat pula didefinisikan sebagai studi dan pertelaan dalam
hal variasi tumbuhan, penelitian tentang sebab dan konsekuensi dari variasi dan
memanipulasi data-datanya sehingga didapatkan sistem klasifikasi,
karena itulah
taksonomi tumbuhan sering juga disebut sistematika tumbuhan. Pada kenyataannya kedua
istilah tersebut biasa dianggap sinonim, akan tetapi bebarapa ilmuan menganggap bahwa
sistematika tumbuhan
mempunyai pengertian yang lebih luas semenatar ilmuan lain
berpendapat sebaliknya.
Klasifikasi tumbuhan adalah penempatan tumbuhan dalam kelompok-kelompok
yang mempunyai persamaan karakter
dan ditata dalam suatu sistem. Setiap spesies
tumbuhan yang mirip satu sama lain ditempatkan pada satu genus. Setiap genus yang mirip
satu sama lain ditempatkan dalam satu famili, demikian seterusnya. Klasifikasi ini akan
menghasilkan hierarki yang berurutan atau kategori seperti : spesies, genus, famili, ordo,
dan seterusnya.
Identifikasi atau determinasi adalah pengenalan beberapa ciri tumbuhan seperti
bunga, buah, daun dan batang suatu spesies dan membandingkannya dengan spesies
tumbuhan yang ciri-cirinya telah diketahui. Jika tumbuhan yang dibandingkan dengan
spesies yang telah diketahui tersebut walaupun memang mirif tetapi tidak sama berarti itu
adalah spesies yang lain.
Tata nama adalah aturan pemberian nama tumbuhan di dalam taksa dengan sistem yang
telah diatur dalam International Code of Botanical Nomenclature (ICBN) = Kode
Internasional TatanamaTumbuhan (KITT)
Sasaran mempelajari Sistematika/Taksonomi Tumbuhan Tinggi:
a. Mempelajari tumbuhan disuatu daerah atau di dunia mengenai macamnya,
namanya, perbedaan dan persamaannya, tempat tumbuhnya, serta hubungannya
dengan penelitian botani lainnya
9
b. Mengunpulkan pengetahuan untuk menyusun suatu publikasi berupa flora,
manual, monografi dan sebagainya.
c. Mempelajari sistem klasifikasi yang logis dan universal
d. Mempelajari evolusi berbagai jenis tumbuhan
2.3. FASE PERKEMBANGAN SISTEMATIKA/TAKSONOMI TUMBUHAN
a. Fase eksplorasi dan penemuan
Ilmu ini pada awalnya timbul karena adanya inventarisasi tumbuhan di dunia.
Aktivitas ini dimulai sejak jaman purba, akan tetapi aktivitas paling menonjol sekitar tahun
1400 yaitu saat orang-orang Eropa Barat mengadakan pelayaran menjelajahi pulau-pulau
di berbagai penjuru dunia untuk mendapatkan bahan rempah. Puncak kegiatan eksplorasi
botani terjadi pada akhir tahun 1800, walaupun kegiatan tersebut masih dilakukan orang
sampai saat ini terutama di daerah tropika.
Material yang didapatkan dari hasil ekspedisi awal ini telah dikirim kepada para
ahli botani di Eropa untuk diteliti dan diberi nama. Pada akhir tahun 1700 sampai awal
tahun 1800, para ahli botani dibanjiri oleh material tumbuhan yang ditemukan untuk
diteliti. Tumbuhan koleksi tersebut kemudian di-pres dan dikeringkan yang selanjutnya
disebut sebagai herbarium. Para ahli botani kemudian saling tukar menukar herbarium
untuk diteliti lebih intensif dan beberapa dari herbarium tersebut dikumpulkan pada pusat
herbarium termashur.
Pada akhir tahun 1800 banyak terdapat pusat penelitian botani yang telah mantap
baik di Eropa maupun di Amerika Utara. Herbarium yang dimilikinya bertambah dengan
pesat yang berasal dari berbagai daerah di dunia. Pada fase ini banyak spesies tumbuhan
yang telah diteliti, diberi nama, dan diklasifikasikan dalam genera atau famili untuk yang
pertama kalinya. Flora atau tumbuhan yang berasal dari suatu daerah dapat diketahui dari
hasil penelitian herbarium.
b. Fase sintesis
Klasifikasi pada fase ini dilakukan berdasarkan data morfologi dan antomi, yang
dilihat dari herbarium atau di laboratorium. Para ahli botani pada fase ini melakukan
pengamatan dan penelitian yang lebih mendalam tentang ciri-ciri tiap taksa.
Taksonomi/sistematika dengan klasifikasi berdasarkan ciri-ciri morfologi dan anatomi ini
biasa disebut Taksonomi/sistematika klasik. Masa berlangsungnya fase sintesis ini dimulai
pada akhir tahun 1800 hingga sekarang.
10
c. Fase penelitian/ Taksonomi Penelitian/ Biosistematika
Taksonomi yang klasifikasinya berdasarkan pada penelitian. Biosistematika dapat
pula dikatakan sebagai studi taksonomi organisme dilihat dari segi populasinya bukan dari
segi individunya, serta penelitian proses evolusi yang terjadi di alam dari populasi tersebut.
Bidang-bidang yang diteliti untuk maksud tersebut meliputi bidang genetika, sitologi dan
aspek ekologi dari suatu populasi di lapangan atau di kebun poercobaan. Penelitian
demikian saat ini masih dilakukan orang terus menerus terutama di Eropa Barat, Amerika
Utara, Rusia, Australia, Selandia Baru dan Jepang.
Penelitian proses evolusi dari suatu populasi dapat dilihat dari adanya
kemungkinan terjadinya proses hibridisaasi dari populasi tersebut secara alami. Apabila
proses hibridisasi ini terjadi, maka pada akhirnya akan dijumpai yang menyimpang dari
induknya. Berbagai macam informasi yang didapat dari hasil penelitian spesies-spesies
dari suatu populasi di dalam hal kandungan unsur kimia, bentuk sel, jumlah kromosom,,
morfologi dan lain-lain akan melengkapi perbendaharaan pengetahuan mengenai spesiesspesies tersebut, dan dapat pula dilihat apakah diantara spesies-spesies tersebut ada
hubungan satu dengan lainnya terutama bagi spesies-spesies yang berasal dari satu genus
Fase penelitian ini didasarkan pada kombinasi data yang digunakan untuk
menginterpretasikan evolusi atau keeratan keluarga (phylogeni), dimulai sejak timbulnya
teori evolusi dari Charles Darwin pada pertengahan abad XIX hingga sekarang. Disamping
itu dengan banyaknya penelitian dan majunya teknologi, maka saat ini telah timbul
berbagai cabang ilmu taksonomi seperti kemotaksonomi, yaitu taksonomi yang didasarkan
pada data kimianya. Sitotaksonomi yaitu taksonomi yang didasarkan pada data
kromosomnya. Taksonomi numerik yaitu taksonomi yang didasarkan pada data
numeriknya dan untuk pelaksanaannya digunakan komputer.
II.4. RELEVANSI DENGAN LAPANGAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN
ILMU LAIN
Pada saat ini ilmu tentang identifikasi, pemberian nama dan klasifikasi tumbuhan
merupakan ilmu yang sangat dibutuhkan di lapangan. Pada bidang pertanian, terutama bagi
pemulia tanaman yang akan meningkatkan potensi ekonomi suatu jenis tanaman,
memerlukan tumbuhan liar yang dianggap paling dekat hubungan kekeluargaannnya
dengan jenis tumbuhan tersebut diatas. Tumbuhan liar mempunyai beberapa sifat unggul
yang diperlukan oleh para pemulia tanaman untuk memperbaiki mutu tanamannya. Sifat11
sifat tersebut antara lain: ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit, ketahanan
terhadap keasaman tanah, umur yang relatif lebih pendek dan sebagainya. Kesemuanya ini
dapat dilakukan oleh taksonomi dengan jalan eksplorasi.
Aktifitas para ahli taksonomi merupakan dasar dari semua ilmu biologi lain karena
ilmu taksonomi erat kaitannya dengan pelaksaan inventarisasi tumbuhan, identifikasi,
pemberian nama dan klasifikasinya. Para ahli taksonomi mempunyai tanggungjawab yang
berat kepada masyarakat ilmu-ilmu lainnya, karena harus dapat menyajikan nama dan
klasifikasi yang benar atas tumbuhan yang dibutuhkan orang. Nama dan klasifikasi
tumbuhan besar manfaatnya bagi mereka yang mepelajari ilmu ekologi, kimia, pemuliaan
tanaman, farmakologi, hortikultura, kehutanan dan lain-lain.
Manusia berkomunikasi antara satu dengan lainnya untuk mengemukakan masalah
tumbuhan. Hal ini dengan sendirinya membutuhkan nama tumbuhan tersebut agar mudah
dimengerti. Pemberian nama tersebut merupakan tugas para ahli taksonomi. Nama
umumnya diberikan dalam bentuk nama ilmiah karena nama lokal atau nama daerah
sangat bervariasi. Nama ilmiah tumbuhan kadang-kadang sulit dimengerti dan kurang
menarik bagi orang awam, namun demikian nama ilmiah sudah diakui secara international
karena proses pemberian nama atau perubahan nama tidak dapat dilakukan dengan cara
sembarangan, tetapi harus mengikuti aturan yang berlaku secara internasional pula.
Klasifikasi berubah dengan bertambah majunya ilmu pengetahuan dan banyaknya
penemuan-penemuan baru. oleh karena itu banyak juga nama tumbuhan yang lama diubah
menjadi nama baru. Klasifikasi khusus untuk tanaman budidaya sulit dibuat karena masih
banyak variasinya. Informasi tumbuhan liar yang erat hubungannnya dengan tanaman
budidaya perlu dikemukakan agar suatu saat mungkin diperlukan bagi pengembangan
tanaman budidaya.
Inventarisasi tumbuhan di daerah tropika sangat diperlukan dan hal ini merupakan
tantangan bagi ahli taksonomi sebelum ekosistemnya rusak sebagai akibat perkembangan
daerah pertanian dan pemukiman. Banyak tumbuhan hutan hujan tropis yang belum
diketahui nama dan klasifikasinya telah musnah karena peningkatan kebutuhan dan
aktifitas manusia. Hilangnya spesies-spesies tersebut maka hilang pula kemungkinan dan
kesempatan untuk memperbaiki mutu salah satu tanaman budidaya yang ada sekarang.
Taksonomi/sistematika tergantung pada banyak ilmu lain, demikian juga
sebaliknya ilmu-ilmu lain banyak tergantung pada ilmu taksonomi/sistematika seperti:
12
Morfologi yaitu ilmu yang mempelajari struktur luar organ vegetatif dan
reproduktif
tumbuhan, memegang peranan penting dalam penggolongan taksa atau
klasifikasi tumbuhan. Anatomi yaitu ilmu yang meliputi sitologi, histologi struktur
vegetatif dan reproduktif tumbuhan , banyak membantu dalam menentukan golongan
tumbuhan. Embriologi yang mempelajari perkembangan sel telur sampai pembuahan pada
tumbuhan. Ilmu ini juga banyak membantu dalam menentukan derajat keeratan
kekeluargaan taksa tumbuhan. Genetika ilmu yang mempelajari sifat-sifat yang
diturunkan, letak faktor sifat, kromosom
dan lain-lain.
Ilmu ini membantu dalam
menentukan penggolongan taksa. Fisiologi atau ilmu faal banyak membantu dalam
menentukan taksa tumbuhan. Evolusi mempelajari perkembangan organism dari yang
paling sederhana sampai yang modern/kompleks. Palaeobotani ilmu tentang tumbuhan
purba yang pada saat sekarang telah punah. Fosil-fosil yang didapatkan dapat membantu
para ahli untuk menghubungkan kekeluargaan dengan tumbuhan yang hidup sekarang.
Ekologi ilmu yang mempelajari hubungan antara tumbuhan dan berbagai faktor
lingkungan tempat tumbuhnya seperti tanah, iklim, organisme hidup serta modifikasi
bentuk dan fungsi yang memungkinkan tumbuhan menyesuaikan dengan keadaan
lingkungan. Fitogeografi yaitu ilmu tentang penyebaran tumbuhan di dunia. Berdasarkan
sejarah populasi tumbuhan, asal dan penyebarannya dapatlah ditarik kesimpulan tentang
keeratan pertalian kekeluargaannya. Palinologi yaitu ilmu yang mempelajari tentang spora
dan tepung sari. Ini sangat membantu dalam penggolongan taksa tumbuhan berdasarkan
tanda-tanda yang ada pada spora maupun tepung sari.
II.5. SISTEM KLASIFIKASI TUMBUHAN
Pada saat ini klasifikasi tumbuhan di dunia masih terus mengalami perubahan
berdasarkan pada penemuan-penemuan baru. Klasifikasi tersebut antara lain dibuat oleh
Robert Torne (1976), dari Amerika, Armen Takhtajan (1969) dari Rusia dan Arthur
Cronquist (1968) dari Amerika. Ketiga ahli tersebut membuat klasifikasi tumbuhan
mengikuti sistem yang dibuat oleh Bessey.
Sistem klasifikasi tumbuhan berdasarkan sejarah perkembangannya dapat
dikelompokkan dalam empat golongan yaitu berdasarkan bentuk, buatan, alami dan
phylogenetik. Disamping keempat golongan ini, bagi manusia prasejarah dan para tabib
menggolongkan tumbuhan berdasar pada penggunaannya. Beberapa contoh klasifikasi dari
keempat golongan tersebut adalah:
13
a. Klasifikasi Berdasarkan Bentuk
Sistem klasifikasi berdasar bentuk adalah sistem klasifikasi berdasarkan pada
keadaan, sifat atau bentuk yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Sebagai contoh
Theophrastus dalam bukunya Historia Plantarum membangi tumbuhan berdasarkan :
Sifat : pohon, perdu, semak
Umur : setahun, dua tahun, tahunan
Bunga majemuk : terbatas, tidak terbatas
Perlekatan tajuk bunga: polypetalus, gamopetalus
b. Klasifikasi Berdasarkan Sistem Buatan
Sistem klasifikasi berdasarkan sistem buatan adalah klasifikasi berdasar pada
bentuk organ kelamin tumbuhan. Sistem ini dibuat oleh C. Linnaeus dengan maksud
untuk memudahkan identifkasi tumbuhan yang diamati. Sistem ini pertama kali dimuat
dalam buku Hortus uplandicus (1732) yang kemudian diperluas pada buku Genera
Plantarum (1737). Pada sistem ini Linnaeus membagi tumbuhan dalam 24 klas berdasar
jumlah dan panjang benang sari (stamen) sebagai berikut:
1. Klas Monandria. Benang sari satu. Contoh pada genus Lemna, Scirpus
2. Klas Diandria. Benang sari dua. Contoh pada genus veronica, Salvia
3. Klas Triandria. Benang sari tiga. Contoh pada genus iris, Sisyrinchium
4. Klas Tetra Andria. Benang sari empat. Contoh pada genus Mentha, Ulmus dan
Cornus
5. Klas Pentandria. Benang sari lima. Contoh pada genus Primula
6. Klas Hexandria. Benang sari enam. Contoh pada genus Myosotis
7. Klas Heptandria. Benang sari tujuh. Contoh pada genus Aesculus
8. Klas Oktandria. Benang sari delapan. Contoh pada genus Fagopyrum
9. Klas Enneandria. Benang sari sembilan. Contoh pada genus Rheum,Ranunculus
10. Klas Decandria. Benang sari sepuluh. Contoh pada genus Acer, Kalmia
11. Klas Dodecandria. Benang sari sebelas sampai sembilan belas. Contoh pada genus
Euphorbia
12. Klas Icosandria. Benang saridua belas atau lebih dan episepalus. Contoh pada genus
Rosa, Rubus
13. Klas Polyandria. Benang sari 20 atau lebih dan melekat pada sumbu. Contoh pada
genus Tilia, Papaver dan Nymphaea
14. Klas Didynamia. Benang sari didynamous. Contoh pada genus Linaria, Linnaea
14
15. Klas Tetradynamia. Contoh pada semua anggota Cruciferae
16. Klas Monodelphia. Contoh pada anggota familia Malvaceae dan Graniaceae
17. Klas Diadelphia, Contoh pada genus Lathyrus, Trifolium
18. Klas Polyadelphia. Contoh pada genus Hypericum
19. Klas Syngenesia. Contoh pada genus Lobella , Viola dan anggota familia
Compositae
20. Klas Gynandria. Gynoecium dan Androecium bersatu. Contoh pada anggota familia
Orchidaceae
21. Klas Monoecia. Berumah satu. Contoh pada genus Typha, Quercus dan Thuja
22. Klas Dioecia. Berumah dua. Contoh pada genus Salix, Urtica
23. Klas Polygamia. Contoh pada genus Empetrum dan beberapa anggota family
Compositae
24. Klas Cryptogamia . \contoh pada semua anggota ganggang, fungi, lumut dan pakupakuan.
3. Klasifikasi Berdasarkan Sistem Alami
Pada akhir abad ke XIX, pengetahuan tentang tumbuhan semakin banyak. Para
ilmuan saat itu menganggap bahwa di alam selain mempunyai organ kelamin tertentu
seperti yang dikemukakan oleh Linnaeus, ternyata mempunyai hubungan yang erat
diantara mereka. Kemajuan pengetahuan saat ini terutama pengetahuan tentang pelukisan
organ-organ tumbuhan dan fungsinya. Beberapa contoh klasifikasi berdasarkan sistem
alami yang popular adalah:
a. Sistem klasifikasi de Jussieu, yang tertera pada buku Exposition d’un nouvel
orde de plant (1774)
b. Sistem klasifikasi de Candolle yang tertera pada buku Produrmus systematis
Naturalis regni vegetabilis (1800)
c. Sistem klasifikasi Bentham dan Hooker, yang tertera pada buku Genera
Plantarum (1862-1883)
A. Sistem klasifikasi de Jussieu dengan bagan:
Acotyledons (tidak berbiji, tidak berbunga)
Monocotyledons
a. Hypogynous
b. Perigynous
15
c. Epigynous
Dicotyledons
1. Apetalae (tidak berpetal)
a. Hypoginous
b. Perigynous
c. Epigynous
2. Monopetalae (petal berlekatan jadi satu)
a. Hypogynous
b. Perigynous
c. Epigynous dengan benangsari lepas
d. Epiginous dengan benangsari berlekatan.
3. Polypetalae (petal lepas)
a. Hypogynous
b. Perigynous
c. Epigynous
4. Diclines irregulares (unisexual, tidak bercorolla)
B. Sistem klasifikasi de Candolle dengan bagan sebagai berikut:
Vasculares (dengan sistem pembuluh)
A. Exogenae (dengan pertumbuhan keluar/dengan kambium, dicot).
1. Diplochorydeae (dengan calyx dan corolla)
a. Thalmiflorae (chloripetalous dan hypogynous)
b. Calyciflorae
(chloripetalous dan peri atau epigynous atau sympetalous dan
epigynous)
c. Corolliflorae (sympetalous dan hypogynous)
2. Monoclamydeae (hanya bercalyx)
B. Endopgenae (dengan pertumbuhan kedalam tanpa kambium).
Cellulares (tanpa sistem pembuluh)
C. Sistem klasifikasi Bentham dan Hooker dengan bagan :
Dicotyledons
1- Polypetalae (corolla tidak berlekatan)
a.Thalamiflorae (benangsari hypogynous dan biasanya banyak, tidak mempunyai
cawan).
16
b. Disciflorae (benangsari hupogynous dan mempunyai cawan).
c. Calyciflorae (benangsari perigynous atau epigynous, bakal buah kebanyakan
inferior)
2. Gamopetalae (corolla terbagi-bagi sebagian atau seluruhnya berlekatan).
a. Inferae (bakal buah inferior)
b.Heteromerae (bakal buah superior, androecium 1 atau 2, karpel kebanyakan lebih
dari 2)
c. Bicarpellattae (bakal buah superior, androecium 1, karpel 2)
3. Monochlamydeae (bunga apetalous)
Curvembryeae (embrio terputar,ovule kebanyakan 1)
Multiovulatae aquaticae (beberapa biji, tumbuh di air)
Multiovulatae terrestres
Microembryeae (embrio kecil di dalam endosperm)
Daphnales (ovary berkarpel tunggal, ovule tunggal)
Achlamydosporeae (bakal buah biasanya inferior, unilocular, ovule 1 - 3)
Unisexuales (bunga unisexual)
Gymnospermae
Monocotyledons
Miscropermae (bakal buah inferior, biji kecil) Epigynae (bakal buah biasanya
inferior, biji besar) Coronarieae .(bakal buah superior, perianth berwarna)
Calycineae (bakal buah superior, perianth berwarna hijau)
Nudiflorae (perianth kebanyakan tidak ada, biji albuminous)
Apocarpae (putik lebih dari 1 dan terang), Glumaceae (perianth tereduksi, brachtea
bersisik dan menyolok
4. Klasifikasi berdasarkan phylogeny.
Pada abad ke XIX sejak tercetusnya teori evolusi oleh Darwin, para ilmuan
menganggap bahwa organisme hidup yang ada saat ini adalah keturunan organisme masa
lalu melalui proses evolusi. Oleh karena itu untuk menyusun klasifikasi tumbuhan mereka
memasukkan unsur keturunan dan hubungan kekeluargaan antara tumbuhan satu dengan
tumbuhan lainnya. Beberapa sistem klasifikasi yang popular berdasarkan sistem phylogeny
adalah:
17
a. Sistem klasifikasi A.W. Eichler yang tertera pada buku Bluthendiagram
Construirt und erlautet (1875-1878) dengan bagan:
Cryptogamae
A. Thallophyters
1. Cyanophyceae.
2. Chlorophyceae.
3. Rhodophyceae.
B. Bryophytes.
1. Hepaticeae.
2. Musci.
C. Pteridophytes.
1. Equisetineae.
2. Lycopodineae.
3. Filicinae.
Phanerogamae
A. Angiospermae: Monocotyledonneae, Dicotyledoneae.
B. Gymnospermae.
b. Sistem klasifikasi Adolph Engler dan Karl Prantl, yang tertera pada buku Die
Naturlichen phflanzenfamilien (1887-1889), dengan bagan sebagai berikut:
Myxothallophyta Euthallophyta
Embryophyta asiphonogama
1. Bryophyta
2. Pteridophyta
Embryophyta siphonogama
1. Gymnospermae
2. Angiospermae:
a. Monocotyledoneae
b. Dicotyledoneae
bl. Archychlamydeae (tanpa perinth/hanya calyx/ calyx dan petal lepas:
- chorypetalae
- apetalae
b2. Metachlamydeae (dengan calyx dan petal coalescent).
18
c. Sistem klasifikasi Richard Von Wettstein, yang tertera pada buku Handbuch
der Systematichen Botanik (1935). Dengan bagan :
Schizophyta
Monodophyta
Myxophyta
Conjugatophyta
Bacillariophyta
Phaeophyta
Rhodophyta
Euthallophyta
Cormophyta
1. Archegoniatae
a. Bryophyta
b. Pteridophyta
2. Anthophyta:
a. Gymnos pe rmae
b. Angiospermae
bl. Dicotyledoneae:
Choripetalae
- Monochlamydeae
- Dialypetalae
Sympetalae
b2. Monocotyledoneae
d. Sistem klasifikasi Charles E. Bessey tyercatat dalam buku Evolution and
Classification (1894)
Ilmu taksonomi/sistematika tumbuhan mengalami banyak perubahan cepat
semenjak digunakannya berbagai teknik biologi molekular dalam berbagai kajiannya.
Pengelompokan spesies ke dalam berbagai takson sering kali berubah-ubah tergantung dari
sistem klasifikasinya.
Berdasarkan kesepakatan Internasional nama-nama takson tumbuhan berturut-turut
dari yang besar ke yang kecil adalah: divisio (divisi), classis (kelas), ordo (bangsa).
19
Familia (suku), tribus (rumpun), genus (marga), series (seri), species (jenis), varietas
(varitas), forma (bentuk). Jika setiap bagian yang lebih kecil pada setiap takson itu diaebut
dengan istilah yang sama dengan diberi awalan Sub (anak), maka seluruh tumbuhan dapat
memiliki duapuluh lima takson sebagai berikut:
Regnum
=
Dunia
Genus
=
marga
Sub regnum
=
anak dunia
subgenus
=
anak marga
Division
=
divisi
sectio
=
seksi
Subdivisio
=
anak divisi
subsectio
=
anak seksi
Classis
=
kelas
series
=
seri
Subclassis
=
anak kelas
subseries
=
anak seri
Ordo
=
bangsa
species
=
jenis
Subordo
=
anak bangsa
subspecies
=
anak jenis
Familia
=
suku
varietas
=
varitas
Subfamilia
=
anak suku
subvarietas
=
anak varitas
Tribus
=
rumpun
forma
=
bentuk
Subtribus
=
anak rumpun
subforma
=
anak bentuk
Individuum
=
individu
Menurut kesepakatan internasional, istilah-istilah untuk menyebut masing-masing
takson bagi tumbuhan itu tempatnya tidak boleh diubah, sehingga masing-masing istilah
itu sekaligus menunjukkan kedudukan atau tingkat dalam hierarki takson tumbuhan
artinya menunjukkan kategorinya dalam system klasifikasi.
II.5. TUGAS UNTUK MAHASISWA
Mahasiswa diharuskan membuat makalah tentang
sistem klasifikasi dengan
membaca dari sumber-sumber buku literatur, materi bahan ajar atau penelusuran melalui
internet.
20
BAB III
SUMBER INFORMASI BAGI SISTEMATIKA TUMBUHAN
III.1. PENDAHULUAN:
SASARAN PEMBELAJARAN: Mahasiswa mampu menjelaskan tentang ruang lingkup
Sistematika Tumbuhan Tinggi dan Sistem klasifikasi
STRATEGI PEMBELAJARAN: Teaching learning,
III.2.SUMBER DATA SISTEMATIKA TUMBUHAN
Data untuk klasifikasi tumbuhan telah mencakup bidang-bidang studi yang jauh
lebih luas dibandingkan dengan sistem klasifikasi alami. Hal ini menyebabkan
dibutuhkannya penelitian-penelitian yang mencakup berbagai macam cabang ilmu biologi.
Pada saat ini telah banyak diketemukan teknologi baru untuk memperoleh data
yang sangat diperlukan oleh para ahli taksonomi. Data seperti: jumlah kromosom, bentuk
tepung sari, bentuk stomata, unsur yang terbentuk dari proses metabolisme sekunder,
rangkaian asam amino dalam protein, dan Iain-lain yang memerlukan alat dan dana
khusus, Informasi yang penting untuk setiap ahli taksonomi adalah berbeda-beda. DAVIS
dan HEYWOOD (1936) mengemukakan yang penting adalah: morfologi dan anatomi,
sitologi dan fitokimia. BENSON (1962) mengemukakan yang penting adalah: studi
herbarium, observasi lapangan, morfologi secara mikroskopis, paleobotani, biogeografi,
kimia, ekologi dan sitogenetik. SNEATH dan SOKAL (1973) mengemukakan yang penting adalah : anatomi dan morfologi, fisiologi dan kimia, ekologi dan geografi. Pada buku
ajar ini dikemukakan beberapa sumber informasi/data bagi sistematika tumbuahan seperti:
Informasi struktur, informasi kimia, informasi kromosom dan informasi sistem
penangkaran
III.3. INFORMASI STRUKTUR
Struktur tumbuhan meliputi: morfologi dan anatomi, reproduksi dan vegetatif,
tumbuhan saat ini dan fosil (neobotany dan paleobotany), perkembangan dan kematangan.
Secara garis besar struktur tumbuhan yang sering digunakan orang untuk menyusun
klasifikasi tumbuhan adalah sebagai berikut:
a. Struktur Reproduktif dan Vegetatif Tumbuhan
Struktur reproduksi dan vegetatif adalah informasi tertua yang digunakan para ahli
21
taksonomi untuk mengklasifikasikan tumbuhan hingga saat ini. Berbagai macam bentuk
variasi karangan bunga, daun penumpu, dasar bunga. hypanthium, calyx, corolla, benang
sari, bakal buah, buah, dan Iain-lain merupakan ciri-ciri yang berharga bagi ahli taksonomi
untuk mengklasifikasikan antara satu dan lain kelompok tumbuhan berbunga. Pada kunci
identifikasi dari taksa suatu flora, ciri-ciri bunga merupakan ciri terpenting dibandingkan
dengan ciri-ciri lainnya.
Berdasakan cir-ciri bunga, dapatlah dikelompokan ciri-ciri taksa secara umum ;
artinya ciri suatu taksa membutuhkan beberapa ciri-ciri bunga tertentu, sedangkan taksa
yang lain membutuhkan ciri-ciri lainnya. Sebagai contoh : pada famili Ranunculaceae, ciriciri daun penumpu, kelopak dan mahkota adalah ciri-ciri utama untuk membedakan taksa
dibawahnya. Pada famili-famili lain seperti Asteraceae (Compositae) dan Poaceae
(Graminae) adalah : karangan bunga, daun penumpu dan tipe bunga. Pada familia
Fabaceae adalah benang sari dan dinding buah; pada familia Scrophulariaceae dan
Lamiaceae adalah corolla dan benang sari; Pada klasifikasi tumbuhan dalam skala besar,
ciri-ciri buah dan biji kurang besar peranannya, kecuali hanya untuk beberapa taksa. Pada
famili Carryophyllaceae, biji merupakan ciri penting untuk membedakan tribe dan
generanya, sedangkan pada familia lainnya tidak.
Pada tumbuhan tingkat tinggi, ciri-ciri vegetatifnya lebih banyak mirip antara satu
dengan lainnya, Pada tumbuhan yang tidak ada hubungannya, misalnya tumbuhan
berbentuk pohon, herba dan semak; daun majemuk menyirip, menjari dan lain-lain.
Sebagai contoh: daun pada genus Acer dan Plotanus sangat mirip bentuknya padahal
kedua genus tersebut berasal dari famili yang sangat jauh hubungannya. Banyak sekali ciri
vegetatif yang mirip satu dengan lainnya padahal berasal dari taksa yang sangat jauh
berbeda. Oleh karena itu ciri-ciri vegetatif dipergunakan seperlunya saja, dan biasanya
digunakan sebagai ciri kelompok, misalnya: berbentuk herba, berbentuk pohon dan Iainlain. Ciri-ciri bentuk tum-buhan biasanya konstan dalam satu genus atau familia, meskipun
ada yang tidak. Familia Cruciferae seluruh anggotanya berbentuk herba, sedangkan familia
Compositae anggotanya ada yang berkayu dan ada yang berbentuk herba. Familia atau
genera yang anggotanya sebagian dari daerah tropika dan sebagian lagi dari daerah
subtropika biasanya ada yang berkayu dan ada yang berbentuk herba.
Struktur vegetatif lain yang sering digunakan dalam klasifikasi tumbuhan antara
lain: .bentuk batang, bentuk daun, tulang daun, dan tepi daun. Bentuk batang yang
menyimpang dari bentuk umum, yaitu berupa struktur yang berada di bawah permukaan
22
tanah, sering digunakan sebagai ciri khusus suatu taksa.
Daun mempunyai nilai yang cukup tinggi dalam klasifikasi tumbuhan. Beberapa
anggota tumbuhan berbunga tidak mempunyai daun, sedang anggota yang lain mempunyai
daun dengan berbagai bentuk. Daun yang dari satu tangkai daun hanya terdiri dari satu
helai daun disebut sebagai daun tunggal, sedangkan yang lebih dari satu helai daun disebut
daun majemuk. Pada beberapa taksa, daun tidak mempunyai tangkai daun dan untuk daun
yang demikian ini disebut daun duduk atau sessila. Pada buku tempat tangkai daun
melekat kadang-kadang terdapat bentuk tambahan yang mirip daun atau selaput dan
disebut daun penumpu atau stipula. Bentuk stipula bervariasi. Pada beberapa tumbuhan
seperti rerumputan atau tetekian, bagian pangkal daun melebar dan menyelimuti batang
yang disebut pelepah. Ada rerumputan, pada tempat pertautan antara pelepah dan helai
daun, terdapat bentuk lidah daun atau ligula. Bentuk daun majemuk untuk berbagai spesies
tumbuhan sangat bervariasi
Daun yang melekat pada batang biasanya dalam kedudukan tertentu yaitu : (1)
berseling atau alternate, (2) berhadapan atau opposite, dan (3) melingkar atau whorled,
bila dalam satu buku terdapat lebih dari tiga helai daun.
Walaupun secara keseluruhan ukuran helai daun kemungkinan di pengaruhi oleh
23
faktor lingkungan, bentuk daun atau helai daun sering digunakan sebagai ciri bagi spesies
tumbuhan. Secara umum bentuk daun, bentuk ujung dan pangkal daun sebagai berikut
.
.
Setiap spesies tumbuhan mempunyai bentuk tepi daun yang berbeda-beda,
meskipun ada juga beberapa yang mempunyai bentuk tepi daun yang sama. Variasi
struktur vegetatif pada tumbuhan memang tidak sebanyak struktur reproduktifnya,
sehingga didalam klasifikasi tumbuhan tidak begitu besar peranannya. Akan tetapi ada
juga kekecualiannya misal pada genus Ulmus, bunga dan buahnya tidak banyak variasinya
sehingga pembagian spesiesnya sangat tergantung pada bentuk daunnya; demikian juga
pada genus Quercus, dan Betula.
b. Struktur Anatomi
Penggunaan ciri-ciri anatomi tumbuhan dalam taksonomi baru berjalan lebih
kurang 100 tahun, setelah diketemukannya mikroskop berkekuatan tinggi. Penelitian
dengan penggunaan mikroskup ini menjadi lebih jelas dan meyakinkan, terutama pada ciriciri yang meragukan apabila dilihat dengan mata telanjang. Revolusi penggunaan anatomi
tumbuhan untuk klasifikasi berjalan selama lebih kurang 30 tahun.
Prinsip-prinsip struktur anatomi dapat digunakan untuk klasifikasi adalah: (1)
bentuk anatomi mempunyai kaitan si-fat dengan ciri-ciri lainnya, (2) ciri-ciri anatomi
harus di kombinasikan dengan ciri-ciri lainnya, (3) ciri-ciri anatomi condong bermanfaat
untuk klasifikasi katagori besar dan kurang bermanfaat bagi katagori di bawah genus.
Sejak tahun 1930 telah dilakukan penelitian dan diketahui bahwa evaluasi pada tumbuhan
berbunga terjadinya cenderung khusus pada xylem sekundernya
Tumbuhan berbunga yang tidak berpembuluh dianggap lebih primitif. Gambaran
perkembangan pembuluh kayu, digabungkan dengan ciri-ciri morfologi lain, digunakan
24
untuk menguji hipotesa keeratan kekeluargaan (philogeni) diantara tumbuhan berbunga.
Pada familia Euphorbiaceae untuk semua anggotanya, dicirikan oleh adanya pembuluh
lateks, walaupun bentuknya mirip kaktus, sedangkan pada famili Cactaceae tidak. Pada
pengamatan anatomi daun Acer dan Platonus yang secara morfo logi sangat mirip, ternyata
bentuk anatominya sangat jauh berbeda.
Variasi pola rambut epidermal atau "trikhoma" mungkin juga dapat digunakan
sebagai ciri klasifikasi pada tingkat spesies - genus - familia. Pada familia Combretaceae
didapatkan informasi bahwa anatomi trikhoma besar sekali kegunaannya untuk klasifikasi
pada semua tingkat dari familia sampai spesies bahkan sampai varietas. Hasilnya dapat
memperbaiki klasifikasi khususnya tribe dalam familia dan subgenus dalam genus
Combretum. Penelitian beberapa spesies dari genus Vernonia, didapatkan informasi bahwa
struktur trikhoma berbeda-beda dalam hal besarnya, bentuknya dan kumpulan sel yang
membentuk rambutnya. Pada familia Compositae dan beberapa familia lainnya, trikhoma
mempunyai nilai yang cukup tinggi untuk menganalisa beberapa bentuk hibrida yang
belum diketahui.
Pada familia Graminae yang bunganya mengalami reduksi sangat besar, sehingga
sulit untuk diidentifikasi berdasar ciri-ciri morfologinya, maka identifikasi dapat dilakukan
berdasar struktur anatomi dan sitologinya. Ciri-ciri seperti: susunan schlerenchyma,
susunan serta bentuk ikatan pembuluh, perbedaan panjang pendek sel-sel epidermal,
bentuk dan penyebaran silikat, serta bentuk trikhoma, berperanan sangat penting untuk
meninjau kembali klasiflkasi familia Graminae dari subfamilia sampai spesies. Salah satu
25
contoh, spesies Vulpiella termis dan Vulpia alopecorus tadinya dianggap sinonim, akan
tetapi setelah dilihat anatominya secara mikroskopik ternyata tidak sama.
Diantara bentuk khusus pada tumbuhan yang sering digunakan sebagai dasar
klasifikasi adalah bentuk sel penjaga atau guard cell dan sel tetangga atau subsidiary cell
pada stomata. Diduga salah satu ciri yang sangat membedakan subklas dari monokotil
adalah kedudukan kedua sel tersebut di atas.. Terdapat 31 bentuk pola kedua sel tersebut
yang terdapat pada tumbuhan berpembuluh secara keseluruhan termasuk Pteridophyta,
perbedaan tipe-tipe tersebut umumnya bervariasi pada katagori besar. Pada familia
Acanthaceae, stomatanya anomacytic. Diantara familia Combretaceae, stomata pada
subfamilia
Strephonnematoideae
adalah
paracytic,
sedangkan
pada
subfamilia
Combretoidae adalah anomocytic. Pada suatu tumbuhan kadang-kadang dijumpai lebih
dari satu bentuk stomata. Pada genus Streptocarpus dari familia Gesneriaceae, stomata
pada kotiledonnya berupa anomocytic. Pada genus Lippia nodiflora dari familia
Verbenaceae, dalam satu daun terdapat bentuk stomata anomocytic, anisocytic, diacytic,
dan paracytic.
III.4 INFORMASI KIMIA
Kemotaksonomi
tumbuhan,
kemosistematik,
taksonomi
kimia
tumbuhan,
sistematik kimia tumbuhan atau fitokimla adalah nama yang diberikan untuk ilmu
taksonomi tumbuhan yang didasarkan pada kandungan unsur kimianya . Ilmu ini
berkembang dengan cepat, yang menggambarkan penggunaan unsur kimia yang
terkandung dalam tumbuhan sebagai bahan untuk memlengkapi klasifikasi tumbuhan.
Ilmu ini baru timbul sebagai ilmu yang menonjol sejak lebih kurang tahun 1960, dengan
dua buah pemikiran: (1) ilmu kemotaksonomi yang me-rupakan pembaharuan dari ilmu
26
yang sudah ada, (2) kandungan unsur kimia adalah merupakan sifat dasar dari tumbuhan,
dan kandungan tersebut terdapat pada organ-organ tertentu. Kandungan unsur kimia tidak
terlepas dari uraian morfologi dan sitologi, sehingga datanya menjadi lebih penting dalam
klasifikasi tumbuhan.
Asal mula timbulnya ilmu kemotaksonomi dimulai pada saat manusia mengetahui
bahwa berbagai tumbuhan mempunyai kegunaan tertentu bagi manusia misalnya untuk
obat, racun, stimulan, pemyedap, gula, dan sebagainya, belumlah diketahui unsur apa
yang terkandung didalamnya.
Pencarian tumbuhan liar yang mungkin mempunyai nilai penting sebagai sumber
bahan obat-obatan masih dilakukan oleh manusia. Sebelum manusia menemukan tanaman
obat-obatan, manusia purba telah mencoba-coba mencari tumbuhan sebagai bahan
makanan, banyak sekali tanaman sebagai sumber karbohidrat (Graminae), sumber protein
(Leguminosae), dan Iain-lain. Warna tumbuhan adalah menggambarkan salah satu ciri
morfologi atau kandungan kimia tertentu, sedangkan bentuk kristal yang terdapat dalam
tumbuhan menggambarkan salah satu ciri anatomi atau kandungan kimia tertentu.
Beberapa warna dapat digunakan sebagai dasar penduga adanya sesuatu atau kombinasi
dari beberapa molekul yang berbeda-beda, sedangkan kristal atau bentuk lain, tidak hanya
berva-riasi dalam hal unsur kimianya (kalsium oksalat, kalsium karbonat, pati, silikat, dan
Iain-lain), tetapi juga berva-riasi dalam hal struktur fisiknya. Perbedaan bentuk seperti
halnya butir-butir pati, silikat dan kalsium karbonat dijum-pai dalam sel-sel tumbuhan,
pada umumnya berharga digunakan sebagai sumber informasi bagi taksonomi tumbuhan.
Sebagai contoh, pada familia Graminae dijumpai duapuluh bentuk silikat, sedangkan
kalsium karbonat yang berbentuk seperti jarum dijumpai hanya sangat sedikit pada
tumbuhan dikotil, kecuali familia Rubiaceae dan Onagraceae. lebih kurang empat belas
bentuk butir pati dapat dijumpai pada tumbuhan berbu-nga dan dapat digunakan sebagai
sumber informasi bagi semua tingkat taksa. Rasa dan bau dari tumbuhan tidak saja dapat
digunakan sebagai dasar untuk menentukan kegunaannya seperti untuk pangan, obat atau
kosmetika bagi manusia, tetapi juga dapat menarik bagi hewan atau patogen tertentu. Pada
tahun terakhir ini banyak perhatian difokuskan pada "ko-evolusi" antara hewan dan
tumbuhan, terutama
kesukaan hewan akan tumbuhan tertentu sebagai sumber
makanannya. Fenomena ini banyak ditunjukan oleh serangga, yaitu spesies serangga yang
hanya senang makan satu spesies tumbuhan saja. Misalnya larva dari kupu-kupu Danaidae
senang makan tumbuhan dari familia Asclepiadaceae, ulat sutera senang makan daun
27
murbei dan Iain-lain. Demikian pula banyak contoh mamalia herbivora atau molusca yang
makan spesies tumbuhan tertentu, beberapa serangga melaksanakan polinasi pada
tumbuhan tertentu. Penyakit cendawan tertentu hanya menyerang spesies tumbuhan
tertentu pula, dan Para ahli hortikultura pada abad ini berhasil mengembangkan beberapa
spesies tumbuhan dari taksa yang berlainan, misal pohon "pear" dan "apel" ; Laburnum
dan cytisus, dan semuanya ini diduga karena menyangkut masalah kandungan unsur kimia.
Perkembangan ilmu kemotaksonomi berjalan dengan cepat hal ini mungkin disebabkan
oleh tiga sebab utama, yaitu: (1) adanya perkembangan beberapa teknik baru seperti
adanya perkembangan berbagai bentuk khromatografi atau elektroforesis yang dapat
menganalisa produk-produk tumbuhan dengan cepat dan sederhana, (2) realisasi dibalik
kejadian-kejadian yang terjadi berdasar pengalaman orang di alam, menyebabkan
diketemukannya berbagai unsur kimia penting diantara beberapa taksa, (3) timbulnya
banyak pendapat yang menganggap bahwa unsur-unsur kimia pada tumbuhan banyak yang
dapat digunakan sebagai dasar klasifikasi tumbuhan.
Senyawa-senyawa kimia yang berguna bagi taksonomi tumbuhan dapat dikelompokan
dalam tiga katagori besar yaitu: (1) hasil metabolisme primer, (2) hasil metabolisme
sekunder, dan (3) semantida.
Hasil metabolisme primer adalah senyawa hasil metabolisme utama pada
tumbuhan, dan kebanyakan dari senyawa tersebut terdapat pada sebagian besar tumbuhan.
Sebagai contoh: Asam akonitik (dari genus Aconitum) atau asam sitrik (dari genus
Cytrus), berperan dalam "Siklus Krebs" (asam trikarboksilat) terdapat pada semua
organisme hidup. Ada tidaknya beberapa senyawa dalam tumbuhan tidak berpengaruh
dalam taksonomi tumbuhan, misalnya asam amino, gula dan lain-lain. Dalam beberapa
kasus, jumlah dari hasil metabolisme primer sangat bervariasi diantara taksa, dan data ini
dapat digunakan sebagai dasar taksonomi tumbuhan.
Hasil metabolisme sekunder adalah hasil ikatan yang tidak dijumpai pada semua
tumbuhan.
Oleh
karena
taksonomi/sistematika
itu
senyawa
ini
dapat
digunakan
sebagai
dasar
tumbuhan. Senyawa hasil metabolisme sekunder yang sangat
terkenal dan dapat digunakan sebagai dasar klasifikasi tumbuhan antara lain adalah:
alkaloid, fenolik, glukosin, asam amino tertentu, terpen, minyak lilin, dan karbohidrat
tertentu. Semantida adalah molekul-molekul pembawa sifat, yang terdiri dari: DNA yang
merupakan semantida primer, RNA yang merupakan semantida sekunder, dan protein
merupakan semantida tersier.
28
Penggunaan data senyawa kimia untuk taksonomi tumbuhan banyak ditunjukan oleh
molekul mikro khususnya dari tingkat genus ke bawah, sedangkan molekul makro banyak
membantu untuk menentukan keeratan kekeluargaan pada tingkat di atas genus.
Ciri-ciri yang digunakan dalam kemotaksonomi, seperti halnya ciri-ciri yang lain, dapat
digunakan pada semua tingkat hirarki taksonomi, walaupun kadang-kadang ada
kelemahan-nya juga. Misalnya: pada suatu spesies tanaman hias, ada yang berbunga putih,
merah, kuning, biru dan Iain-lain, padahal mereka dalam satu spesies dan hal ini sulit
untuk dideteksi; sedangkan pada genus lain warna bunga adalah salah satu dasar untuk
membedakan spesies. Tragopogon porrifolius adalah spesies tumbuhan yang bunganya
berwarna ungu, sedangkan T. pratensis mempunyai bunga berwarna kuning; Silene alba
adalah spesies tumbuhan yang bunganya berwarna putih, sedangkan S. dioica mempunyai
bunga berwarna merah; Medigago sativa mempunyai mahkota berwarna ungu, sedangkan
M. falcate mempunyai mahkota berwarna kuning; Endimion nonscirpus mempunyai
kepala sari berwarna krem, sedangkan E. hispanicus mempunyai kepala sari berwarna
biru; kesemua kelompok spesies tersebut di atas mempunyai hubungan antara satu dengan
lainnya dalam kelompok, warna bunganya atau kepala sarinya berbeda, dan warna ini
merupakan ciri pembeda yang penting.
Semua kelompok hasil metabolisme sekunder yang digunakan oleh para ahli
kemotaksonomi, yang paling penting adalah senyawa fenolat. Bentuk senyawa ini merupakan senyawa bebas dengan senyawa dasar berupa fenol (C6H5OH). Senyawa fenolat
yang terpenting untuk taksonomi tumbuhan adalah flavonoids, yang relatif mempunyai inti
sederhana
Biasanya senyawa fenolat mempunyai bentuk yang berbeda-beda pada
beberapa spesies, beberapa diantaranya tersebar luas dalam banyak spesies, dan ada juga
yang sangat jarang dijumpai, sehingga pola dan kombinasinya mempunyai nilai yang
cukup tinggi untuk dijadikan dasar klasifikasi dari batas ordo ke bawah.
Salah satu contoh penggunaan dalam taksonomi tumbuhan berdasar hasil
metabolisme sekunder adalah melihat adanya pigmen tertentu. Kebanyakan dari warna
merah, biru dan warna yang mendekati keduanya pada bunga atau organ-organ lainnya,
menandakan adanya senyawa anthocyanidin, yang merupakan bentuk perkembangan dari
flavonoid, malvidin keseluruhan bentuk senyawa ini disebut anthocyanin. Kombinasi
antara bentuk anthocyanidin dan bentuk gula yang melekat padanya menyebabkan
terjadinya berbagai bentuk anthocyanin, yang terdapat pada hampir seluruh famili
tumbuhan, anthocyanin tidak ada, hanya pada beberapa familia dikoliledoneae yang
29
fungsinya diambil alih oleh senyawa betacyanin. Senyawa ini berbeda dengan
anthocyanidin karena adanya nitrogen hetero-siklik yang mengandung cincin aromatik,
dan merupakan hasil metabolisme yang berbeda dari anthocyanidin; contohnya adalah
Betanidin terdapat pada Beta vulgaris. Betacyanin-betacyanin yang berhubungan sangat
rapat disebut betaxanthin, berupa pigmen berwarna kuning, sedang-kan betacyaninbetacyanin yang hubungannya tidak rapat (longgar) disebut anthoxanthin, yang terdapat
pada sebagian besar tumbuhan.
Secara elektroforesis telah dideterminasi variasi dari allozyme yang sangat
berpengaruh dalam biologi populasi dan genetika. Kebanyakan dari data yang ada sangat
membantu pada tingkat populasi, subspesies, spesies, atau kadang-kadang genera.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang biologi
molekuler, sistematika juga mengembangkan cabang ilmu baru yaitu sistematika
molekuler. Sistematika molekuler merupakan disiplin ilmu yang mengklasifikasikan
organisme-organisme ke dalam taksa-taksa tertentu berdasarkan kemiripan (similaritas)
dan ketidakmiripan (disimilaritas) karakter asam nukleat (DNA dan RNA) dan protein
yang dimiliki organisme tersebut.
Cabang ilmu ini berkembang mengingat data morfologi saja tidak cukup kuat untuk
menjadi satu-satunya dasar klasifikasi, karena organisme yang berkerabat jauh juga dapat
memiliki morfologi yang serupa sebagai akibat adanya proses adaptasi maupun evolusi.
Penggunaan data-data molekuler sebagai penunjang data morfologi diharapkan akan dapat
menjadi dasar yang lebih kuat dalam penentuan klasifikasi.
Sistematik molekuler juga memudahkan ilmuwan untuk mengetahui seberapa
banyak perubahan yang terjadi akibat proses evolusi dan hubungan antara beberapa spesies
yang tidak memiliki kemiripan morfologi. Perubahan molekuler yang terjadi tersebut juga
dapat digunakan untuk mengekplorasi filogeni dari organisme yang akan diteliti.
Data karakter molekuler yang dapat digunakan pada sistematik molekuler secara
garis besar dapat dibedakan menjadi data karakter protein dan asam nukleat (DNA dan
RNA). Data molekuler yang paling sering digunakan pada sistematik molekuler tanaman
antara lain isozyme, allozyme, sekuen DNA, DNA restriction sites, microsatelit, RAPD,
dan AFLP.
Data sekuen DNA merupakan salah satu data molekuler yang paling sering
30
digunakan dalam sistematika molekuler tanaman.DNA memiliki struktur untai ganda
sehingga relatif lebih stabil dibandingkan dengan RNA, sehingga lebih memudahkan pada
tahap isolasi. Data sekuen DNA pada dasarnya merujuk pada urutan basa nitrogen pada
sekuen tertentu (A = adenine, C = sitosin, G = guanine, dan T = timin).
Pada tanaman, data sekuen DNA yang dapat digunakan adalah yang berasal dari
DNA yang terdapat pada inti sel (nDNA), kloroplas (cpDNA), dan mitokondria (mtDNA).
Contoh penelitian pemanfaatan molekuler ataupun gabungan dengan data lainnya
dalam sistematika Tumbuhan sebagai berikut: Keragaman Genetik Beberapa Kultivar
Tanaman Mangga Berdasarkan Penanda Molekuler Mikrosatelit, Keanekaragaman Padi
(Oryza sativa L.) Berdasar Karakteristik Botani Morfologi dan Penanda RAPD (Random
Amplified Polymorphic DNA), Analisis Keragaman Genetik Tanaman Jarak Pagar Lokal
(Jatropha curcas L.) Berdasarkan Penanda Molekuler Random Amplified Polymorphic
DNA. Keragaman genetik jagung lokal Sulawesi Selatan berdasarkan marka molekuler
Simple Sequence Repaet. Kekerabatan jagung lokal Tana Toraja dan jagung asal
CIMMYT berdasarkan marka Simple Sequence Repaet, dan lain-lain.
Secara teori, teknik hibridisasi DNA dan RNA telah di-terapkan pada sistematika
tumbuhan karena semua organisme mengandung komponen atau bahan campuran ini
III.5. INFORMASI KROMOSOM
Data kromosom dapat dilihat dari dua sudut pandangan bila digunakan untuk
kepentingan klasifikasi, yaitu: (1) dilihat dari segi anatomi, jumlah kromosom sama
pentingnya dengan jumlah dinding buah, dan dilihat dari bentuk morfologi, kromosom
dapat digambarkan seperti halnya menggambar bentuk permukaan daun atau mahkota
bunga, atau bentuk senyawa fenol yang dikandung oleh tumbuhan; (2) jumlah kromosom
dan homolognya secara luas akan menggambarkan ciri yang khas pada saat meiosis, yang
merupakan bagian dari proses yang mengatur tingkat fertilitas dan sifat-sifat keturunannya
serta variasi bentuk populasinya. Pandangan yang kedua lebih penting apabila digunakan
untuk
studi
biosistematik
atau filogenetik. Kromosom
mengandung gen yang
merupakan sumber informasi genetik dan dinyatakan/terekspresi pada
fenotipiknya.
Taksonomi yang didasarkan pada data kromosom ini disebut sebagai sitotaksonomi.
Data kromosom yang berperan untuk taksonomi ini adalah meliputi: jumlah
kromosom, struktur kromosom dan sifat kromosom
a. Jumlah Kromosom
Jumlah kromosom pada setiap sel pada semua individu dari setiap spesies adalah
31
konstan. Pentingnya jumlah kromosom dalam taksonomi merupakan hasil dari serentetan
penelitian. Diantara spesies yang mempunyai hubungan rapat (dalam satu genus) kadangkadang mempunyai jumlah kromosom berbeda, dan hal ini merupakan dasar dari
fenomena yang disebut poliploidy; misal pada genus Festica, terdapat spesies dengan 2n =
14, 28, 42, 56 dan 70, dan untuk itu dikatakan sebagai diploid, tetraploid, heksaploid,
oktoploid dan dekoploid, dengan jumlah n=7; jumlah dasar tersebut kadang-kadang
disebut sebagai jumlah dasar kromosom (X), yang menggambarkan genome atau sifat
dasar yang dimiliki oleh tumbuhan. Jumlah dasar kromosom kadang-kadang mudah
diketahui tetapi kadang-kadang hanya bisa ditaksir atau diambil kesimpulannya saja. Misal
pada genus Pandanus, semua spesiesnya mempunyai kromosom 2n = 60, jumlah dasar
kromosomnya dapat 5, 6, 10, 15, atau 30. Sedangkan perhitungan kromosom pada spesies
Freycinetra yang merupakan kerabat dekat dengan Pandanus dari familia Pandanaceae
adalah 2n = 30. Oleh karena itu jumlah dasar kromosom pada Pandanus diperkirakan 5
atau 15, bukan 6, 10, atau 30, karena diperkirakan jumlah kromosom yang digambarkan
oleh organ sporofitik adalah sama dengan jumlah rangkaiannya. Masalah yang terdapat
pada familia Pandanaceae ini kadang-kadang cukup memusingkan, karena spesies nenek
moyangnya yang diploid (2X) saat ini telah musnah.
Jumlah dasar kromosom pada Angiospermae berkisar antara n = 2 pada
Haplopappus gracilis (Compositae) sampai n = 132 pada Poa littoroa (Gramineae). akan
tetapi sebagian besar anggota Angiospermae jumlah kromosom dasarnya n = 7 dan n = 12.
Kelompok organisme yang jumlah kromosomnya mempunyai tingkat-tingkat
poliploid, dikenal sebagai kelompok organisme yang mempunyai seri poliploid. Contohcontoh pada beberapa spesies Aster jumlah kromosomnya n = 9, 18, atau 27. Tipe
poliploidi yang saat ini dikenal sebagai aneuploidi adalah poliploid yang jumlah
kromosomnya bukan merupakan kelipatan sepasang kromosom, tetapi dari kromosom
tunggal atau kromosom sederhana. Pada genus Vicia jumlah kromosom-nya 2n = 10, 12,
14, 24 dan 28, yang tersusun dalam kelompok pada tingkat diploid dan tetraploid.
Demikian pula pada genus Crepis, jumlah kromosomnya 2n = 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18, 22,
24, 42, 44, 66, 88 dan sebagainya, tersusun agak berkelompok (tidak berpasanganpasangan).. Banyak kejadian kehilangan atau penambahan kromosom. Suatu diploid yang
mendapatkan tambahan satu kromosom disebut trisomlk, yang kehilangan satu kromosom
disebut sebagai monosomik, dan diploid yang normal disebut disomik.
Jumlah kromosom umumnya digunakan untuk membahas ciri-ciri dari spesies,
32
tetapi untuk ini belum seluruhnya terpenuhi. Setiap familia tumbuhan umumnya
mempunyai anggota dengan jumlah kromosom yang sangat bervariasi, kecuali beberapa
familia seperti Pinaceae, semua anggotanya mempunyai jumlah kromosom disekitar 2n =
24. Variasi jumlah kromosom pada tingkat familia dari seluruh tumbuhan berbunga telah
dikemukakan bahwa jumlah dasar kromosom dari Angiospermae adalah X = 7. Demikian
pula klasifikasi tumbuhan yang dibuat oleh Cronquist juga mengemukakan bahwa jumlah
dasar kromosom bagi seluruh familia tumbuhan adalah X = 7, kecuali beberapa klas dan
subklas, seperti Caryophillidae,, X = 9. Selain itu dengan dijumpainya benyak diploid (2X)
pada semua subklas, dapatlah disimpulkan bahwa awal dari proses evolusi pada tumbuhan
berbunga adalah pada tingkat diploid.
Jumlah kromosom seringkali berguna untuk membedakan anggota tumbuhan
dalam satu familia pada tingkat tribe dan genera. Pada famili Ranunculaceae, kebanyakan
generanya mempunyai kromosom dasar XXX = 8, akan tetapi ada beberapa genera yang
mempunyai kromosom dasar X = 7, dan untuk kasus ini akan dibedakan dalam tribe yang
berbeda. Demikian pula pada familia ini dijumpai genus yang kromosom dasarnya X = 9,
dan XX = 13, sehingga genus tersebut harus ditempatkan pada tribe yang berbeda lagi.
Pada familia Poaceae, perbedaan sub familia, tribe dan genera dapat dilakukan dengan
melihat jumlah dasar kromosomnya, misal: Pada sub familia Bambusoideae XX = 12;
sedangkan subfamili Poideae X = 7; pada tribe Glyccerieae X = 10 dan pada genus Molcus
x = 5. Variasi jumlah kromosom interspesifik adalah merupakan salah satu sumber terkaya
diantara data sitologi yang bermanfaat bagi para ahli taksonomi. Data yang terpenting
adalah jumlah dasar yang kemudian dapat menurunkan berbagai macam bentuk aneuploid
dan poliploid. Pada tumbuhan rumput dari genus Vulpia terdapat spesies yang diploid (2n
= 28) dan heksaploid (2n = 42). Genus ini kemudian dibagi dalam lima seksi: Tiga seksi
berupa diploid, satu seksi (monachne) berupa diploid dan tetraploid, sedang seksi terakhir
(Vulpia) mencakup tiga tingkat ploidi.
Pada seksi Monachne hanya terdiri dari tiga
spesies, dua diantaranya diploid, dan satu tetradiploid. Salah satu spesies yang diploid dan
yang tetraploid mempunyai hubungan yang sangat rapat sehingga sering dianggap sebagai
satu spesies. Perbedaan antara diploid dan tetraploid dapat dilihat pada pola kedudukan
bakal buah yang tertutup bulu-bulu halus, dan bila spesies itu tumbuh pada keadaan
ekologi atau geografi yang berbeda, orang akan dapat melihat bahwa kedua spesies
tersebut adalah berbeda. Pada seksi Vulpia terdapat tiga spesies yang diploid, dua spesies
yang tetraploid dan lima spesies yang heksaploid. Dua spesies yang tetraploid sangat mirip
33
satu dengan lainnya, tetapi
menunjukkan perbedaan bila tumbuh pada tempat yang
berbeda.
Genus Vicia mempunyai anggota spesies dengan jumlah kromosom yang berbedabeda yaitu 2n= 10, 12, 14, 24, dan 28. Spesies yang banyak adalah dengan 2n = 12 dan 14,
sedangkan yang lainnya lebih sedikit. Spesies yang tetraploid dengan 2n = 24 kelihatannya
diturunkan dari induk diploid 2n = 12, sedangkan yang 2n = 28 diturunkan dari induk
diploid 2n = 14. Pada umumnya setiap spesies tumbuhan dicirikan oleh jumlah kromosom
dasarnya, sehingga dapat menambah ciri-ciri lainnya dalam taksonomi.
b. Struktur Kromosom
Struktur kromosom yang paling penting adalah po-sisi sentromer dan perbandingan
panjang lengari setiap kromosom pada genome. Aspek-aspek struktur kromosom ditambah
besarnya kromosom dan jumlah kromosom secara keseluruhan, merupakan data yang
sangat berguna untuk semua tingkat hirarki taksonomi Pentingnya ukuran atau besarnya
kromosom te-lah diuji untuk membedakan tribe pada familia Ranunculaceae. Paling
terkenal adalah dalam mempelajari beberapa genus tumbuhan monokotil seperti Yucca,
Agave dan tumbuhan sejenisnya. Tumbuhan tersebut adalah tumbuhan yang berdaun
sangat panjang dan kuat, berbentuk roset, tumbuh sangat lama dalam bentuk vegetatif, dan
kemudian baru keluar bunga. Setekah tumbuhan tersebut berbiji kemudian akan mati atau
akan melewatkan hidupnya dalam bentuk vegetatif lagi untuk beberapa tahun sebelum
berbunga kembali. Luzula dan beberapa tumbuhan lainnya mempunyai bunga dengan
bakal buah di atas, sedangkan Agave dan beberapa tumbuhan lainnya mempunyai bunga
dengan bakal buah di bawah.
.
c. Sifat Kromosom
Sifat pasangan-pasangan kromosom dan kemudian pemisahannya pada saat
meiosis. Bukan saja sifat pasangan ini yang akan menceritakan fertilitas tumbuhan, akan
tetapi juga perbandingan derajat homolog antar genome dari satu kromosom dan
kromosom lainnya.
Studi pasangan kromosom mempunyai arti sa-ngat penting pada studi sitogenetik,
terutama peranan dari pasangan kromosom ini pada hereditas. Informasi taksonomi dapat
pula dilakukan dengan mempe-lajari mekanisme meiosis; misalnya: meiosis pada familia
Juncaceae dan Cyperaceae yang mempunyai kromosom kecil dan sentromernya tidak
terpusat, harus dipertimbangkan secara terbalik. Pengusutan terjadinya meiosis yang
34
terbalik pada hewan, menunjukkan bahwa fenomena ini tidak selalu ada hubungannya
dengan sentromer yang tidak terpusat. Akan tetapi fakta ini justru menunjukkan adanya
heterozygositas; oleh karena itu pada saat meiosis sesuatu yang dilihat adalah pasanganpasangan yang tidak mirip dengan genome. Perbedaan yang mungkin terjadinya sering
disebabkan oleh
adanya duplikasi, defisiensi, inversi dan translokasi dari materi
kromosom, dan gambaran meiosis biasanya merupakan fakta penyusunan kembali secara
sekasama materi kromosom tersebut. Beberapa spesies tumbuhan terkenal bersifat
heterozigot secara terus menerus untuk beberapa translokasi, dengan menunjukkan adanya
formasi multivalen pada saat meiosis. Pada genus Oenothera semua spesiesnya adalah
diploid dengan 2n = 14. Banyak dari spesies ini menunjukkan adanya proses meiosis yang
normal, tetapi pada subgenus Oenothera spesies-spesiesnya bersifat heterozigot dengan
adanya translokasi yang meliputi berbagai macam kromosom sehingga pada saat meiosis
akan terbentuk multivalen kromosom.
III.6. INFORMASI DARI SISTEM PENANGKAPAN
Sistem penangkaran atau breeding system tumbuhan didefinisikan sebagai cara,
pola dan tingkat terjadinya penangkaran antara tumbuhan dengan tumbuhan lain pada
taksa yang berbeda atau yang sama. Pe-nangkar dalam atau inbreeder adalah tumbuhan
yang sebagian besar atau secara keseluruhan dihasilkan dari proses penyer-bukan sendiri;
Penangkar luar atau outbreeder adalah tumbuhan yang dihasilkan dari proses penyerbukan
silang dialam.
Pandangan yang mengemukakan bahwa sistem penangkaran penting bagi
taksonomi adalah karena: (1) tingkat penangkaran antar tumbuhan (interbereeding) secara
luas dapat menen-tukan pola variasi tumbuhan dan kemudian dapat diberi batas-an
taksanya; (2) pengetahuan tentang sistem penangkaran seringkali dapat membantu untuk
lebih mendalami masalah taksonomi yang kompleks, meskipun sering tidak dapat
memecahkan masalah secara sempurna; (3) studi sistem penangkaran sering sangat penting
untuk menelusuri seluk beluk proses evolusi atau taksa.
Sampai pada tingkat mana sistem penangkaran dapat menentukan pola variasi
tumbuhan, adalah berdasar argumentasi melalui dua tahap :
1. Perbandingan terjadinya penangkaran dalam (inbreeding) dan penangkaran luar
(outbreeding) yang menghasilkan bebe-rapa spesies tumbuhan, umum dikenal sebagai
terjadinya variasi diantara populasi. Spesies yang dihasilkan dari penangkaran luar, tiap
35
populasinya bervariasi akan tetapi agak mirip satu dengan lainnya. Hal ini disebabkan oleh
adanya pertukaran gen antar populasi. Spesies yang dihasilkan dari penangkaran dalam
cenderung menunjukkan bentuk populasi yang relatif seragam, walaupun antara
populasinya sangat berbeda satu dengan lainnya pada jarak yang sangat dekat, karena pertukaran gen antar mereka sangat sedikit atau tidak terjadi sama sekali.
2. Bila suatu takson mengalami proses penangkaran dengan takson lain, maka kadangkadang keturunannya mempunyai bentuk fenotip yang tidak begitu berbeda dengan kedua
induknya, dengan kata lain hibridanya mempunyai bentuk kabur antara kedua induknya.
Faktor yang mengatur jumlah rekombinasi per unit waktu
1. Panjangnya generasi
Faktor yang mengatur jumlah rekombinasi per generasi.
2. Jumlah kromosom
3. Frekwensi dari penyerbukan silang
4. Barier sterilitas post sigotik
5. Sistem penangkaran
6. Sistem penyerbukan
7. Potensi untuk melakukan penyebaran
8. Besarnya populasi
9. Mekanisme isolasi eksternal dan kemampuan mencegah penyerbukan silang
Spesies yang ideal dalam taksonomi adalah spesies yang tidak ada masalah
taksonomi, merupakan suatu kesatuan yang terpisah dari kesatuan lainnya, tidak
mengalami perubahan fenotip, dan mudah dibedakan dengan spesies lainnya.
Banyak spesies yang diturunkan dari isolasi genetik spesies lain, yang dengan
sendirinya merupakan hasil dari proses penangkaran luar. Spesies ini adalah hasil dari perkawinan penangkaan luar, akan tetapi bukan merupakan hi-brida, misal beberapa anggota
famili Fabaceae dan Apiaceae seperti Sedium, Campanula dan Allium.
III.7. TUGAS UNTUK MAHASISWA
Buatlah ringkasan tulisan tentang pemanfaatan data kimia dan data molekuler
dalam Sistematika Tumbuhan dengan menggunakan berbagai sumber literature.
36
BAB IV
IDENTIFIKASI DAN TATA NAMA TUMBUHAN
IV.1. PENDAHULUAN:
SASARAN PEMBELAJARAN: Mahasiswa mampu menjelaskan tentang sistem
identifikasi dan tatanama tumbuhan
STRATEGI PEMBELAJARAN: Teaching learning,
IV.2. IDENTIFIKASI
Tugas utama
taksonomi/sistematika
tumbuhan
selain
penggolongan
atau
klasifikasi, juga tidak kalah pentingnya adalah identifikasi atau pengenalan. Melakukan
identifikasi tumbuhan berarti mengungkapkan atau menetapkan identitas (jati diri) suatu
tumbuhan yang tidak lain adalah menentukan namanya yang benar dan tempatnya yang
tepat dalam sistem klasifikasi. Selain istilah identifikasi sering juga digunakan istilah
determinasi (dari bahasa Belanda determinatie = penentuan).
Seseorang yang menemukan benda yang tidak dikenalnya, maka pasti akan muncul
pertanyaan benda apakah ini? Demikian pula halnya jika seseorang menghadapi tumbuhan
yang tidak dikenalnya, maka akan muncul pula pertanyaan tumbuhan apakah ini?
Pertanyaan tersebut muncul karena umbuhan yang ada di bumi ini sangat beragam. Hal ini
menandakan bahwa yang ingin diketahuinya lebih dulu adalah identitas tumbuhan itu,
yang berarti pula bahwa yang pertama harus dilakukan oleh siapapun yang tidak atau
belum mengenal tumbuhan yang dia hadapi adalah berusaha mengenali atau melakukan
identifikasi terhadap tumbuhan tersebut.
Keanekaragaman tumbuhan yang ada dipermukaan bumi menyebabkan ada
diantaranya yang telah kita kenal namun masih banyak juga yang belum kita kenal.
Tumbuhan yang telah kita kenal mungkin juga telah dikenal orang lain tetapi mungkin
juga orang lain belum mengenalnya. Sebaliknya juga dapat terjadi, kita belum mengenal
tumbuhan tersebut tapi orang lain sudah mengenalnya. Namun dapat juga terjadi tumbuhan
yang tidak kita kenal ternyata itu juga tidak dikenal oleh siapapun artinya belum dikenal
oleh dunia ilmu pengetahuan. Berdasarkan kenyataan tersebut maka setiap orang yang
akan mengidentifikasi suatu tumbuhan selalu menghadapi dua kemungkinan yaitu:
38
a. Tumbuhan yang diidentifikasi belum dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan,
artinya belum ada nama ilmiahnya, demikian juga kategorinya.
b. Tumbuhan yang akan diidentifkasi sudah dikenal oleh dunia ilmu pengetahuan,
artinya sudah ditentukan namanya dan tempatnya yang tepat dalam sistem
klasifikasi.
a. Identifikasi Tumbuhan yang Belum Dikenal Oleh Dunia Ilmu Pengetahuan
Kehidupan manusia sebagian besar bergantung pada tumbuhan karena itu sejak
dahulu kala manusia telah melakukan pengenalan tumbuhan dan semakin banyak yang ia
kenal semakin dirasakan pula perlunya untuk mengadakan penggolongan atau
klasifikasinya. Masalah identifikasi ini bukan suatu yang baru, yang relatif baru adalah
kesepakatan intemasional menuju ke keseragaman dalam pemberian nama, yang secara
eksplisit kemudian disebut sebagai nama ilmiah. Untuk klasifikasinya pun diharapkan,
agar dapat disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, yaitu dengan
menerapkan sistem filogenetik.
Identifikasi tumbuhan selalu didasarkan atas spesimen (bahan) yang nil, baik
spesimen yang masih hidup maupun yang telah diawetkan, biasanya dengan cara
dikeringkan atau dalam bejana yang berisi cairan pengawet, misalnya alkohol atau
formalin. Oleh pelaku identifikasi, spesimen yang belum dikenal itu melalui studi yang
seksama kemudian dibuatkan candra atau deskripsinya di samping gambar-gambar
terinci mengenai bagian-bagian tumbuhan yang memuat ciri-ciri diagnostiknya, yang
atas dasar hasil studinya kemudian ditetapkan spesimen itu merupakan anggota populasi
jenis apa, dan berturut-turut ke atas dimasukkan kategori yang mana (marga, suku,
bangsa, dan kelas serta divisinya). Penentuan nama jenis dan tingkat-tingkat takson
ke atas berturut-turut tidak boleh menyimpang dari ketentuan-ketentuan yang berlaku
seperti dimuat dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan (KITT) . Nama takson
baru itu selanjutnya harus dipublikasikan melalui cara-cara yang diatur pula oleh KITT.
Prosedur identifikasi tumbuhan yang untuk pertama kali akan diperkenalkan oleh dan ke
dunia ilmiah itu memerlukan bekal yang lazimnya hanya dimiliki oleh mereka
yang berpendidikan ilmu hayat, khususnya taksonomi tumbuhan. Oleh karena itu pekerjaan
identifikasi yang pertama kali itu hanya dilakukan oleh ahli-ahli yang bekerja dalam
39
lembaga penelitian taksonomi tumbuhan (herbarium), jarang sekali oleh pihak-pihak lain
di luar mereka.
Suatu hal yang perlu disadari ialah, bahwa kegiatan ini berjalan terus. Setiap
ekspedisi ke wilayah tertentu baik yang belum dikenal atau bahkan yang telah dikenal pun,
biasanya ada saja di antara spesimen-spesimen yang dikumpulkan itu yang ternyata
merupakan anggota populasi yang tergolong dalam jenis yang belum pernah dikenal
sebelumnya. Hal ini memang tak perlu mengherankan kita bila teori evolusi merupakan
suatu konsep yang tak lagi diragukan kebenarannya karena selama evolusi masih
berlangsung, selama itu akan selalu dihasilkan jenis-jenis yang baru.
b. Identifikasi Tumbuhan yang Sudah Dikenal Oleh Dunia Ilmu Pengetahuan
Publikasi
ahli-ahli
taksonomi
yang
memuat
nama
takson
baru
yang
diperkenalkan kepada khalayak ramai, sekurang-kurangnya kepada khalayak ilmu
pengetahuan disebut publikasi yang asli. Seperti telah disebut di muka baik nama yang
diberikan maupun cara mempublikasikannya harus sesuai dengan ketentuan yang
tercantum dalam KITT. Nama yang diberikan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang
berlaku disebut nama yang "tidak sah" ("illegitimate name") sedang publikasi yang
tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku disebut sebagai publikasi yang "tidak
berlaku" atau "tidak sahih" ("not validly published"). Nama yang tidak sah dan
dipublikasikan menyimpang dari ketentuan merupakan nama yang tidak dapat diterima
dan tidak dibenarkan untuk dipakai ("inadmissable").
Nama takson baru yang diperkenalkan seorang ahli lazimnya termuat dalam karya
yang disebut "Flora " atau "Monografi". Flora merupakan suatu bentuk karya taksonomi
yang memuat jenis-jenis tumbuhan yang ditemukan dalam suatu wilayah tertentu,
seperti misalnya "Flora Pulau Jawa", "Flora saku daerah pertanian di Jawa", sedang
Monografi memuat jenis-jenis tumbuhan yang tergolong dalam kategori tertentu (jenis,
marga, suku), baik yang terbatas pada suatu wilayah tertentu saja maupun yang terdapat di
seluruh dunia, misalnya "Jenis-jenis Annona di Jawa" atau "Jenis-jenis Annona di seluruh
dunia". Flora dan monografi lazimnya memuat candra atau deskripsi setiap jenis yang
disebut di dalamnya, kadang-kadang bahkan disertai gambar-gambar lengkap (atlas)
seluruh jenis yang dimuat. Dengan demikian flora atau monografi oleh pembaca dapat
digunakan sebagai sarana identifikasi untuk jenis-jenis tumbuhan yang tidak ia kenal,
tetapi diperkirakan berasal dari wilayah yang sama atau tergolong dalam kategori yang
40
sama dengan yang disebut dalam flora atau monografi itu. Bahkan sering kali penulis
"flora" atau "monografi" dengan sengaja menyertakan suatu sarana identifikasi khusus
untuk jenis tumbuhan yang sama dengan yang dimuat dalam flora atau monografi itu yang
berupa "kunci identifikasi" atau "kunci determinasi".
Untuk identifikasi tumbuhan yang tidak kita kenal, tetapi telah dikenal oleh dunia
ilmu pengetahuan, pada waktu ini tersedia beberapa sarana, antara lain:
l. Menanyakan identitas tumbuhan yang tidak kita kenal kepada seorang yang kita
anggap ahli dan kita perkirakan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan kita.
Hal ini dilakukan dengan membawa spesimen tumbuhan yang ingin kita ketahui
identitasnya kepada seorang ahli. Sang ahli yang berpengetahuan luas secara langsung
dapat menyebutkan dengan tepat nama dan klasifikasi tumbuhan yang kita tanyakan,
metode ini merupakan metode yang paling mudah, murah, dan cepat memberikan hasil dan
lazim dilakukan oleh orang awam, yang tempat tinggalnya tidak jauh dari suatu universitas
atau lembaga penelitian taksonomi (herbarium).
2. Mencocokkan dengan spesimen herbarium yang telah diidentifikasikan.
Pihak yang ditanya kadangkala tidak dapat memberikan jawabannya dengan
seketika dan dibutuhkan waktu untuk mengadakan verifikasi dengan jalan mencocokkan
spesimen yang ditanyakan dengan koleksi spesimen-spesimen herbarium yang telah
diidentifikasi. Cara ini merupakan cara yang terjadi di mana-mana di seluruh dunia, yang
berupa pengiriman spesimen tumbuhan ke herbarium atau lembaga-lembaga penelitian
biologi yang tenar untuk diidentifikasikan. Ini tidak hanya dilakukan oleh orang awam,
tetapi juga antar para ilmuwan sendiri dalam rangka upaya memperoleh kepastian
mengenai identitas tumbuhan, terutama bila identifikasi yang telah dilakukan diinginkan
adanya pengecekan silang (cross checking) atau konfirmasi.
3. Mencocokkan dengan candra dan gambar-gambar yang ada dalam buku-buku flora
atau monografi.
Bila jalan identifikasi mencocokkan dengan spesimen-spesimen herbarium yang
telah diidentifikasikan lazimnya hanya dilakukan oleh orang-orang profesional yang
memang menguasai bidang taksonomi tumbuhan, cara yang ketiga ini jelas tidak mungkin
dilakukan oleh setiap orang. Selain penguasaan ilmu hayat, pelaku identifikasi dengan cara
ini harus pula menguasai peristilahan yang lazim digunakan dalam mencandra tumbuhan.
Selain itu, dalam rangka pencocokan ciri-ciri itu mungkin diperlukan pula peralatan
41
tertentu, misalnya perangkat alat pengurai ("dissecting kit"), kaca pembesar ataupun
mikroskop. Adanya gambar-gambar (atlas) yang disertakan sebagai kelengkapan candra
tumbuhan yang dibahas dalam flora atau monografi akan sangat membantu bagi yang
memanfaatkan flora atau monografi itu sebagai sarana pengidentifikasian tumbuhan.
4. Penggunaan
kunci identifikasi
dalam
identifikasi tumbuhan.
Flora atau monografi lazim dilengkapi dengan kunci yang sengaja disertakan untuk
dapat digunakan sebagai sarana identifikasi. Pada dasarnya identifikasi dengan
menggunakan kunci identifikasi juga mencocokkan ciri-ciri yang terdapat pada tumbuhan
yang akan diidentifikasikan dengan ciri-ciri tumbuhan yang telah dikenal yang telah dibuat
kuncinya. Kunci identifikasi merupakan serentetan pertanyaan-pertanyaan yang jawabnya
harus ditemukan pada spesimen yang akan diidentifikasikan. Bila semua pertanyaan
berturut-turut dalam kunci identifikasi itu ditemukan jawabnya, berarti tumbuhan yang
akan diidentifikasikan sama dengan salah satu yang telah dibuat kuncinya, dan nama serta
tempatnya dalam sistem klasifikasi akan diketahui setelah semua pertanyaan dalam kunci
dapat dijawab. Dalam penggunaan kunci idenfitikasi diperlukan kesabaran, kecermatan
pengamatan, jangan sampai terjadi salah persepsi dan interpretasi terhadap pertanyaanpertanyaan yang tercantum dalam kunci identifikasi tadi.
5. Penggunaan Lembar Identifikasi Jenis ("Species Identification Sheet").
"Lembar Identifikasi Jenis" adalah sebuah gambar suatu jenis tumbuhan yang
disertai dengan nama dan klasifikasi jenis yang bersangkutan. Di samping itu gambar tadi
juga dilengkapi dengan candra serta keterangan-keterangan lain yang menambah
lengkapnya informasi mengenai jenis tumbuhan tadi. Identifikasi dengan sistem lembar
identifikasi jenis pada dasarnya adalah mencocokkan spesimen tumbuhan yang akan
diidentifikasikan dengan lembar identifikasi yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Penerapan sistem "lembar identifikasi jenis" ini merupakan hal yang relatif baru,
dan ditujukan terutama bagi orang yang sifat tugasnya banyak berhubungan dengan
pengenalan tumbuhan, namun tidak memiliki bekal pengetahuan dan kesempatan yang
cukup dengan menerapkan metode identifikasi yang lain, seperti misalnya karyawankaryawan perkebunan dan penyuluh pertanian. Dengan tersedianya lembar-lembar
identifikasi jenis, yang merupakan semacam flora bergambar untuk suatu lingkungan
tertentu (misalnya flora gulma kebun teh, kebun karet, kebun kopi, daerah-daerah sawah),
maka dimungkinkan untuk mengadakan inventarisasi jenis-jenis gulma yang ada dalam
wilayah kerjanya.
42
CONTOH LEMBAR IDENTIFIKASI
IV. 3. TATANAMA TUMBUHAN
A. NAMA BIASA DAN NAMA ILMIAH
Nama yang diberikan kepada tumbuhan pada mulanya dalam bahasa induk orang
yang memberi nama, sehingga satu jenis tumbuhan dapat mempunyai nama yang berbedabeda. Pisang dalam bahasa Indonesia oleh orang Inggris atau Belanda dinamakan banana,
orang Jawa Tengah menyebutnya gedang. sedang di Jawa Barat oleh orang-orang Sunda
pisang itu dinamakan cauk. Di daerah Sulawesi Selatan dengan suku yang bervariasi maka
pisang mempunyai banmyak nama. Suku Bugis menamakan pisang: otti, utti atau loka.
Nama demikian yang berbeda-beda menurut bahasa tadi, dalam taksonomi tumbuhan
disebut nama biasa. nama daerah. atau nama. lokal ("common name", "vernacular nama.".
"local name'). Dengan semakin berkembangnya ilmu taksonomi/sistematika tumbuhan
kemudian dikenal yang disebut "nama ilmiah" ("scientific name").
43
Lahirnya nama ilmiah disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain ialah:
a. beranekaragamnya nama biasa, berarti tidak adanya kemungkinan nama biasa itu
diberlakukan sccara umum untuk dunia intemasional, mengingat adanya
perbedaan dalam setiap bahasa yang digunakan, sehingga tidak mungkin
dimengerti oleh semua bangsa.
b. beranekaragamnya nama dalam arti ada yang pendek, ada yang panjang, bahkan
ada yang panjang sekali, misalnya nama Sambucus, Sambucus
nigra
(sambucus hitam), Sambucus fructu in umbello nigro (Sambucus dengan
buah berwarna hitam yang tersusun dalam rangkaian seperti payung), atau
Sambucus caule ramoso floribus umbellatus (Sambucus dengan batang
berkayu yang bercabang-cabang dan bunga yang tersusun sebagai payung).
Nama-nama itu diberikan kepada tumbuhan tanpa adanya indikasi nama-nama
tadi dimaksud sebagai nama jenis, nama marga, atau nama kategori takson yang
lain lagi.
c. banyaknya sinonima (dua nama atau lebih) untuk satu macam tumbuhan, seperti
misalnya nama-nama dalam bahasa Jawa: tela pohong, tela kaspa, tela jendral,
menyok, untuk ketela pohon, dan juga banyaknya homonima, seperti misalnya
dalam bahasa Indonesia lidah buaya yang digunakan untuk marga Aloe dan
Opuntia.
d. sukarnya untuk diterima oleh dunia intemasional, bila salah satu bahasa bangsabangsa yang sekarang masih dipakai sehari-hari dipilih sebagai bahasa untuk
nama-nama ilmiah.
Karya-karya yang pertama-tama berisi nama-nama tumbuhan yang diberikan dalam
bahasa Yunani sesuai dengan bahasa induk tokoh-tokoh perintis taksonomi waktu itu
antara lain adalah Historia Plantarum karya Theophrastes. Dengan munculnya tokohtokoh bangsa Romawi nama-nama tumbuhan tersebut diganti dengan nama-nama dalam
bahasa Latin. Nama-nama seperti Dryas, Itexa, Ptelea yang diberikan oleh Theophrastes,
oleh Plinius masing-masing diganti dengan Quercus, Salix, dan Ulmus.
Sampai kira-kira pertengahan abad yang lalu para ahli ilmu taksonomi menerbitkan
karya-karyanya dalam bahasa Latin, jadi bukan hanya nama tumbuhannya saja, tetapi juga
seluruh teksnya. Para ilmuwan tidak hanya menulis, tetapi juga berkomunikasi dalam
bahasa Latin.
Linnaeus selama tinggal di Negeri Belanda tidak mau belajar bahasa
Belanda, tetapi menulis dan bergaul dengan menggunakan bahasa Latin. Sampai sekarang
44
pun salah satu pasal dalam KITT/ICBN masih mensyaratkan, agar dalam publikasi asli
untuk memperkenalkan takson baru, bukan hanya nama takson baru yang pertama kali
diperkenalkan itu ditulis dalam bahasa Latin, tetapi juga candra atau sekurang-kurangnya
diagnosis*' takson yang bersangkutan pun harus ditulis dalam bahasa Latin. Tanpa
penguasaan bahasa Latin yang memadai, ahli-ahli taksonomi tidak akan mungkin dapat
memanfaatkan karya-karya taksonomi yang ditulis dalam abad ke-19 dan sebelumnya.
Keadaan tersebut
berakhir pada tahun 1867 dengan terciptanya seperangkat
ketentuan yang mengatur pemberian nama tumbuhan, hasil Muktamar Botani Internasional
I yang diadakan di Paris., karena itu
publikasi pertama tentang peraturan-peraturan
pemberian nama tumbuhan diberi nama dalam bahasa Perancis Lois de la Nomenclature
de la Botanique , disebut pula Kode Paris (Paris Code). Terbitnya buku ini juga menandai
lahirnya kode tatanama tumbuhan secara internasional yang mengatur pemberian namanama ilmiah tumbuhan. Sejak sebelum Linnaeus, telah dirasakan perlunya nama ilmiah
yang teratur, yang diterima baik dan diikuti oleh semua ahli ilmu taksonomi di seluruh
dunia. Nama-nama Caspar Bauhin, Linnaeus, de Candolle, merupakan nama-nama yang
dapat disebut sebagai perintis ke arah terciptanya nama ilmiah yang berlaku secara
internasional. Sekarang telah terbiasa dengan adanya dua macam nama tumbuhan, yaitu
nama biasa dan nama ilmiah , perbedaan-perbedaannya seperti pada tabel berikut ini.
No
1
2
3
4
5
6
Nama biasa
Tidak mengikuti ketentuan yang
mana pun
Dalam bahasa sehari-hari yang
bersifat lokal atau setempat.
Biasanya hanya dimengerti oleh
penduduk setempat.
Mudah dieja dan dilafalkan.
Tidak jelas untuk kategori yang
mana nama itu diperuntukkan.
Satu takson dapat mempunyai nama
yang berbeda menurut bahasa yang
digunakan, sering banyak sinonima
dan homonima.
Nama ilmiah
Melalui kesepakatan internasional yang
diatur dalam KITT
Dalam bahasa yang diperlakukan sebagai
bahasa Latin.
Berlaku internasional, sekurang- kurangnya
bagi kaum ilmuwan.
Kadang-kadang sulit dieja dan dilafalkan.
Dengan indikasi yang jelas untuk kategori
mana nama itu dimaksud.
Suatu takson dengan sirkum skripsi, posisi,
dan tingkat tertentu hanya mempunyai satu
nama yang benar, kecuali dalam hal-hal yang
dinyatakan secara khusus.
Meskipun nama biasa banyak kelemahan-kelemahan dari segi ilmu pengetahuan,
namun penggunaan nama biasa tidak boleh secara a priori begitu saja diabaikan. Di
daerah-daerah tertentu nama setempat itu demikian pasti, sehingga tak perlu diragukan
45
untuk kelompok tumbuhan mana nama itu dimaksud, dan dari kategori apa. Oleh karena
itu, dalam karangan-karangan ilmiah pun, tidak ada salahnya, untuk bila mungkin juga
menyebut nama-nama biasa di samping nama ilmiah. Sekalipun penerapan nama biasa itu
harus dibatasi dan dilakukan dengan sangat hati-hati, meniadakan sama sekali nama biasa
kiranya bukan suatu langkah yang bijaksana, terlebih-lebih dalam karya-karya tulis yang
tidak hanya ditujukan untuk kaum ilmuwan, tetapi juga dimaksud untuk konsumsi umum.
Bagi khalayak umum, nama-nama ilmiah kadang-kadang dirasakan terlalu panjang,
sering kali sukar dilafalkan dan oleh karena itu juga sukar diingat. Sebagian besar katakata yang dipakai untuk nama ilmiah berasal dari bahasa asing (Latin dan Yunani),
sehingga banyak yang tidak diketahui maknanya sehingga semakin menjauhkan namanama itu dari orang-orang awam.
B. SEJARAH
PERKEMBANGAN
KODE
INTERNASIONAL
TATANAMA
TUMBUHAN
Nama-nama ilmiah automatis berlaku ketentuan-ketentuan yang termuat dalam
KITT, penerapannya tidaklah sederhana, sering pula terjadi kekisruhan-kekisruhan seperti
dalam pemakaian nama-nama biasa. Ketentuan-ketentuan yang termuat dalam KITT dapat
mengalami perubahan, atau tidak berlaku lagi sebagai akibat usul-usul perubahan,
penyempumaan, penghapusan, dan Iain-lain, dari hasil Muktamar Botani Internasional,
sehingga biasanya akan terbit edisi KITT terbaru. Peraturan tentang tatanama tumbuhan
telah mengalami bermacam-macam "ujian" sehingga kedudukannya menjadi semakin
kokoh dan isinya boleh dianggap sebagai "aturan main" bagi siapa pun yang ingin
mendalami taksonomi/sistematika tumbuhan. Perubahan pada Kode Paris sebelum
mencapai usia 10 tahun terhitung dari kelahirannya pada tahun 1867 karena banyak sekali
kekurangan-kekurangan, yang belum ada ketentuannya para ahli taksonomi memberikan
interpretasinya sendiri-sendiri akibatnya muncul ketentuan-ketentuan belum merupakan
kesepakatan internasional. Ahli-ahli Inggris misalnya, menerapkan yang mereka sebut
"Kew Rule", yang merupakan peraturan tak tertulis yang menyangkut pemberian nama
jenis, khusus yang menyangkut perubahan sebutan jenis. jika suatu jenis dipindahkan dari
suatu marga ke marga yang lain. Menurut Kew Rule ini suatu jenis tersebut akan mendapat
nama yang merupakan kombinasi antara nama marga yang baru dengan sebutan jenis yang
baru pula, misalnya Pseudodatura arborea van Zyp yang dipindahkan oleh Persoon ke
46
marga Brugmansia lalu memperoleh sebagai namanya yang baru Brugmansia candida dari
Persoon. Daftar nama-nama ("cheklist") jenis tumbuhan yang diterbitkan oleh Herbarium
Kew yang dikenal sebagai Index Kewensis memuat nama-nama jenis-jenis tumbuhan yang
mengikuti peraturan tidak tertulis yang kita kenal sebagai "Kew Rule" itu. Menurut
ketentuan dalam KITT yang berlaku sekarang adalah: bahwa sebutan jenis dalam marga
baru harus dipertahankan, kecuali bila dengan itu terjadi homonima, karena sebelum
terjadi pemindahan jenis ke marga yang baru itu telah ada jenis lain dengan sebutan yang
sama. Bila tidak ada kemungkinan terjadinya homonima, dalam kasus pemindahan dengan
contoh Pseudodatura arborea van Zyp ke marga Brugmansia nama jenis itu seharusnya
Brugmansia arborea (van Zyp) Persoon, dan bukan Brugmansia candida Pers.
Sekelompok ahli taksonomi Amerika di bawah pimpinan Britton dari "New York
Botanical Garden" (Kebun Raya New York) menyusun sendiri peraturan tatanama
tumbuhan yang dianggap memiliki dasar-dasar yang lebih obyektif daripada Kode Paris,
dan rencana peraturan-peraturan tersebut kemudian didiskusikan dalam suatu pertemuan
yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Amerika untuk Kemajuan Ilmu Pengetahuan
("American Association for the Advancement of Science") di Rochester, New York, pada
tahun 1892. Peraturan-peraturan tersebut dikenai sebagai Kode Rochester.
Dibandingkan dengan Kode Paris, dalam Kode Rochester terdapat perbedaanperbedaan yang bersifat asasi., antara lain:
l. Penerapan metode tipe (type method). Dalam Kode Rochester terdapat ketentuan
bahwa: nama-nama untuk kategori bangsa (ordo) ke bawah harus didasarkan pada salah
satu unsur dalam takson itu yang dikaitkan secara permanen pada nama, termasuk
deskripsi atau candranya takson yang bersangkutan yang disebut "tipe tatanama" atau
dengan singkat "tipe". Bagi suatu bangsa tipe tatanamanya adalah salah satu suku yang
tergolong di dalamnya, bagi suatu suku tipe tatanamanya adalah salah satu marga yang
dibawahinya, bagi suatu marga salah satu jenis yang tergolong di dalam marga itu, dan
bagi suatu jenis adalah salah satu spesimen herbarium yang dijadikan referensi (rujukan)
utama dalam pengidentifikasian jenis tadi.
2. Penerapan asas prioritas harus dilaksanakan secara konsisten, tanpa mengenal
perkecualian. Ahli taksonomi di Amerika Serikat
akhimya timbul dua aliran yang
berhadapan satu sama lain, yaitu kelompok penganut Kode Rochester di bawah pimpinan
Britton dan kelompok penganut aliran yang mempertahankan Kew Rule yang dipimpin
oleh Asa Grey dari Universitas Harvard.
47
Muktamar Botani Internasional II yang juga diadakan di Paris tahun 1900,
memutuskan untuk selama waktu 5 tahun berikutnya menjelang Muktamar Botani
Internasional III yang direncanakan untuk diadakan di Wina, Austria, dalam tahun 1905,
secara serius menangani seluruh persoalan yang menyangkut tatanama tumbuhan. John
Briquet, seorang ahli ilmu tumbuhan dari Swis, diberikan tugas untuk menampung segala
usul-usul mengenai tatanama tumbuhan, dan menyusunnya dalam suatu bentuk ikhtisar
yang ringkas namun jelas dan teratur untuk diajukan ke Muktamar di Wina. Sementara itu
ahli-ahli taksonomi Amerika yang tidak puas dengan perkembangan tatanama tumbuhan,
sejak Muktamar ke-II di Paris terus bekerja untuk menyempurnakan Kode Rochester, dan
dalam tahun 1904 mereka siap dengan suatu perangkat peraturan tatanama tumbuhan, yang
kcmudian dikenal sebagai Kode Amerika (American Code).
Muktamar Botani Internasional III di Wina menghasilkan Kode Wina yang dapat
dianggap sebagai penyempurnaan Kode Paris dengan perubahan judul dari Lois de la
Nomenclature de la Botanique (Hukum Tatanama Tumbuhan) menjadi Regies de la
Nomenclature de la Botanique (Peraturan Tatanama Tumbuhan). Dalam muktamar ini
pihak Amerika merasa sangat dikecewakan, karena usul-usul yang mereka anggap
merupakan bagian-bagian penting dalam Kode Amerika ditolak, yang berakibat kelompok
Amerika "memboikot" keputusan Muktamar Wina dan tidak mau mengakui Regies de la
Nomenclature de la Botanique. karena menganggap apa yang termuat dalam Kode
Amerika lebih obyektif dan lebih logis, jadi Kode Amerika merupakan Kode tatanama
tumbuhan yang lebih baik daripada yang dihasilkan muktamar. Beda pendapat yang pada
dasarnya terdapat antara kelompok ahli taksonomi Amerika dan kelompok ahli taksonomi
Eropa itu berjalan terus. Sampai selesai Muktamar Botani Internasional IV di Brussel,
Belgia, tahun 1910 tidak terjadi hal-hal yang dapat mendekatkan pendirian kelompok
Amerika dan Eropa. Mereka tetap pada pendirian masing-masing.
Perang Dunia I dari tahun 1914-1918 tidak memungkinkan terselenggaranya
pertemuan-pertemuan ilmiah yang bersifat internasional, demikian pula sampai satu dasa
warsa lebih setelah Perjanjian Perdamaian di Versailles tahun 1919.
Pertentangan pendapat antara kelompok Amerika dan kelompok Eropa yang telah
berjalan berpuluh-puluh tahun itu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik dalam
Muktamar Botani Internasional V yang diadakan di Cambridge, Inggris, pada tahun 1930,
terutama berkat jasa-jasa Sprague dan Green dari pihak kelompok Inggris, Eropa dengan
Hitchcock di pihak Amerika. Dari muktamar di Cambridge itu lahirlah International Rules
48
of Botanical Nomenclature (Peraturan Internasional Tatanama Tumbuhan) sebagai
pengganti peraturan-peraturan yang lama. International Rules of Botanical Nomenclature
ini merupakan peraturan tatanama tumbuhan pertama yang benar-benar bersifat
internasional, karena isinya diterima baik oleh seluruh peserta muktamar dan tidak ada lagi
terdapat kelompok-kelompok atau blok-blok yang menentang.
Dalam perjalanan hidupnya, Peraturan Internasional Tatanama Tumbuhan melalui
muktamar-muktamar internasional yang diadakan lima tahun sekali, terus mengalami
penyempurnaan-penyempurnaan baik mengenai isi maupun perumusan pasal-pasalnya.
Kegiatan internasional di bidang tatanama tumbuhan terhenti lagi oleh meletusnya Perang
Dunia II dari tahun 1939-1944, namun setelah akibat-akibat Perang Dunia II oleh semua
pihak yang menderita dapat teratasi, Muktamar Botani Internasional dapat diadakan lagi
secara teratur setiap lima tahun, dan hingga saat ini telah dilalui Muktamar ke-14 yang
diadakan di Berlin, Jerman, pada tahun 1987. Sejak Muktamar Botani Internasional VII
tahun 1950 di Stockholm, Swedia, peraturan-peraturan tatanama tumbuhan diganti lagi
namanya menjadi Kode Internasional Tatanama Tumbuhan (KITT) = International Code
of Botanical Nomenclature (ICBN)
C. ISI KODE INTERNASIONAL TATANAMA TUMBUHAN (KITT/ICBN)
Dalam bentuknya sebagai hasil muktamar Sidney tahun 1981, Kode Internasional
Tatanama Tumbuhan yang diterbitkan dalam tiga bahasa: Inggris, Perancis, dan Jerman
pada tahun 1983, memuat bagian-bagian penting berikut:
A.
Mukadimah
B.
Bagian I Asas-asas
C.
Bagian II: Peraturan dan Saran-saran yang terdiri atas 75 pasal,
terbagi dalam 6 bab, dengan masing-masing bab terbagi lagi dalam beberapa seksi
D.
Bagian III Ketentuan-ketentuan untuk mengubah Kode
E.
Lampiran I Nama-nama hibrida
F.
Lampiran II Nama-nama suku yang dilestarikan
G.
Lampiran III Nama-nama marga yang dilestarikan dan ditolak H.
Lampiran IV
Nama-nama yang bagaimanapun ditoiak Petunjuk untuk penentuan tipe.
Dalam buku ajar Sistematika Tumbuhan Tinggi ini hanya memuat intisari tentang
mukadimah dan Asas-asasnya saja
49
A. Mukadimah
Mukadimah KITT memuat 10 butir yang penting, yaitu:
1. Pembenaran, bahwa ilmu tumbuhan memerlukan sistem tatanama yang sederhana
namun tepat, yang digunakan oleh scmua ahli ilmu tumbuhan di seluruh dunia. Sistem
tatanama itu di satu pihak menyangkut peristilahan yang digunakan untuk menyebut
tingkat-tingkat takson atau kategori, dan di pihak lain menyangkut nama-nama yang
diberikan kepada setiap takson tumbuhan. Tujuan diciptakannya KITTantara lain
adalah untuk menyediakan metode yang mantap dalam pemberian nama takson-takson
tumbuhan dengan menghindarkan dan menolak penggunaan nama-nama yang dapat
menimbulkan kekeliruan atau keraguan atau mengacaukan ilmu pengetahuan.
2. Asas-asas yang seluruhnya hanya berjumlah enam merapakan dasar atau pangkal tolak
sistem tatanama tumbuhan, yang selanjutnya dijabarkan ke dalam peraturan-peiaturan
dan saran-saran atau rekomendasi yang lebih terinci.
3. Ketentuan-ketentuan yang terinci dibagi dalam peraturan-peraturan yang harus ditaati,
dan saran-saran yang seyogyanya diikuti demi keseragaman yang lebih luas, dan tidak
menjadi contoh yang tidak selayaknya untuk ditiru.
4. Sasaran yang ingin dicapai dengan penyusunan peraturan-peraturan tatanama tumbuhan
adalah untuk penertiban tatanama di masa lampau dan penyediaan sistem tatanama
untuk masa mendatang. Butir ini menyatakan pula, bahwa nama-nama yang
bertentangan dengan bunyinya peraturan merupakan nama-nama yang tidak sah dan
oleh karenanya tidak dapat dipertahankan.
5. Sasaran yang ingin dicapai dengan pemberian saran-saran atau rekomendasi adalah
keseragaman yang lebih luas serta kejelasan yang lebih terang, terutama untuk masa
mendatang.
6. Ketentuan untuk mengubah Kode Tatanama Tumbuhan merupakan bagian terakhir
kode ini.
7. Peraturan-peraturan dan saran-saran berlaku untuk semua makhluk yang diperlakukan
sebagai tumbuhan (termasuk jamur, tetapi bakteri tidak), baik yang telah bersifat fosil
maupun yang sekarang masih hidup. Untuk bakteri tersedia kode tatanama tersendiri,
yaitu Kode Internasional Tatanama Bakteri (International Code of Nomenclature of
Bacteria). Demikian pula bagi tanaman budidaya yang mempunyai Kode Internasional
Tatanama Tumbuhan Budidaya (International Code of Nomenclature for Cultivated
50
Plants) yang dalam tahun 1980 telah diterima baik oleh Komisi Internasional untuk
tatanama tumbuhan budidaya. Khusus untuk tumbuhan yang merupakan hibrida atau
bastar, diatur dalam Lampiran I KITT.
8. Satu-satunya alasan yang tepat untuk mengubah suatu nama adalah adanya studi yang
lebih mendalam yang menghasilkan data yang membenarkan pengubahan suatu nama,
karena identifikasi sebelumnya dipandang tidak tepat lagi, atau karena nama yang
bersangkutan temyata bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.
9. Butir ini menyatakan bahwa dalam hal tidak adanya peraturan yang relevan, atau dalam
hal yang hasilnya akan meragukan bila suatu peraturan diterapkan, maka kelazimanlah
yang harus diikuti.
10. Butir terakhir Mukadimah KITT menyatakan, bahwa dengan diterbitkannya edisi
terbaru, automatis semua edisi sebelumnya tidak berlaku lagi.
Butir ke-10 ini sebagai bukti nyata bahwa taksonomi/sistematika tumbuhan diatur oleh
ketentuan-ketentuan yang selalu disesuaikan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu
dan tidak ketinggalan zaman.
A. Bagian I : Asas-asas Tatanama Tumbuhan
KITT mempunyai 6 asas, yang dari keenam asas itu selanjutnya dijabarkan
peraturan-peraturan yang lebih rinci serta saran-saran. Keenam asas yang dapat dianggap
sebagai "sokoguru"-nya tatanama tumbuhan itu berbunyi sebagai berikut:
Asas I. Tatanama tumbuhan dan Tatanama hewan berdiri sendiri-sendiri. Kode
Internasional Tatanama Tumbuhan berlaku sama bagi nama-nama takson
vang sejak semua diperlakukan sebagai tumbuhan atau tidak.
Kalimat pertama asas ini mengingatkan agar dalam menghadapi nama ilmiah tidak
mempersoalkan perbedaan yang ada antara tumbuhan dan hewan, karena masing-masing
memiliki peraturan yang memang tidak sama, karena misalnya istilah "phylum" untuk
suatu kategori dalam klasifikasi hewan yang dalam taksonomi tumbuhan disebut "divisio".
Demikian pula untuk nama-nama suku yang untuk tumbuhan berakhiran -aceae, tetapi
untuk suku hewan dengan akhiran -idae, dibenarkannya penggunaan tautonima (nama jenis
yang terdiri atas dua kata yang sama, misalnya nama Gallus gallus untuk ayam, yang bagi
tumbuhan penggunaannya tidak dibenarkan). Adapun kalimat kedua menyangkut adanya
kenyataan, bahwa makhluk tertentu dapat dianggap sebagai hewan, tetapi ada pula kalanya
51
kemudian dipindah ke golongan tumbuhan, atau sebaliknya. Yang perlu diperhatikan
adalah: bila organisme itu dianggap sebagai hewan, maka nama organisme itu harus
mengikuti ketentuan-ketentuan yang ada dalam Kode Internasional Tatanama Hewan,
sebaliknya, bila suatu organisme diperlakukan sebagai tumbuhan, maka namanya harus
tunduk pada KITT.
Asas II: Penerapan nama-nama takson ditentukan dengan perantaraan tipe
tatanamanva.
Asas ini merupakan hasil perjuangan kelompol ahli taksonomi Amerika yang sejak
Muktamar Wina mengusulkan penerapan metode tipe. Seperti telah dikemukakan
terdahulu dalam bab ini, yang dimaksud dengan tipe tatanama adalah unsur suatu takson
yang dikaitkan secara permanen dengan nama yang diberikan kepada takson itu.
Asas III: Tatanama takson didasarkan atas prioritas publikasinva.
Asas ini menjelaskan bahwa bila suatu takson mempunyai lebih dari satu nama,
maka nama yang dipublikasikan lebih dululah yang berlaku. Tentu saja dalam hal ini
pemberian nama telah dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku demikian pula
publikasi nama tersebut.
Asas IV: Setiap takson dengan sirkumskripsi. dan tingkat tertentu hanya dapat
mempunvai satu nama yang benar. yaitu nama tertua yang sesuai dengan
peraturan. kecuali dalam hal-hal yang dinyatakan secara khusus.
Pada nama-nama ilmiah pun dikenal adanya sinonima dan homonima. Bila
ditekankan pada "hanya dapat mempunyai satu nama yang benar", maka adanya sinonima
merupakan suatu hal yang tidak dimungkinkan, namun dinyatakan pula bahwa hal itu ada
perkecualiannya, seperti beberapa nama suku yang secara eksplisit dinyatakan, bahwa
suku-suku tadi mempunyai nama yang ada alternatif atau aliasnya. Nama-nama suku
Gramineae, Palmae, Umbelliferae, Compositae misalnya, berturut-turut boleh diganti
dengan Poaceae, Arecaceae, Apiaceae, dan Asteraceae.
Asas
V:
Nama-nama
ilmiah
diperlakukan
sebagai
bahasa
Latin
tanpa
memperhatikan asalnya.
Asas ini perlu mendapat perhatian khusus, karena pada umumnya terdapat
anggapan bahwa nama ilmiah sama dengan nama Latin. Bagi yang mengenal bahasa52
bahasa kuno (Yunani, Latin) tentu dapat mengetahui bahwa untuk nama-nama ilmiah
memang banyak digunakan bahasa Latin, tetapi banyak pula kata-kata dalam bahasa
Yunani digunakan sebagai nama tumbuhan, bahkan dari bahasa Indonesia pun ada kata
yang digunakan dalam nama ilmiah. Kata grandiflora (berbunga besar) pada nama ilmiah
untuk turi Sesbania grandiflora berasal dari bahasa Latin, kata polyantha pada nama
sengganan Melastoma polyantha berasal dari bahasa Yunani yang berarti berbunga
banyak, sedang kata gnemon pada nama ilmiah untuk belinjo Gnetum gnemon berasal dari
bahasa Maluku yaitu ganemu.
Dengan contoh-contoh di atas jelas, bahwa definisi yang tepat untuk nama ilmiah adalah
nama-nama yang terdiri atas kata-kata yang diperlakukan sebagai bahasa Latin, dan
tidak tepat bila nama ilmiah disamakan dengan nama Latin.
Asas VI: Peraturan Tatanama herlaku surut kecuali bila dibatasi dengan sengaja.
Sejarah perjalanan tatanama tumbuhan menunjukkan bahwa Peraturan tatanama
tumbuhan itu baru lahir pada tahun 1867 sebagai hasil Muktamar Botani Internasional I di
Paris. Namun demikian ketentuan-ketentuan yang termuat di dalamnya dinyatakan berlaku
sejak lebih seabad sebelumnya, yaitu dinyatakan berlaku per 1 Mei 1753, jadi peraturan
tatanama tumbuhan itu berlaku surut. Tanggal 1 Mei 1753, yaitu tanggal diterbitkannya
karya Linnaeus yaitu Species Plantarum dinyatakan sebagai tanggal permulaan tatanama
tumbuhan yang diakui.
IV.4. TUGAS UNTUK MAHASISWA
Mahasiswa diharuskan membuat makalah tentang
Identifikasi dan Tatanama
Tumbuhan dengan membaca dari sumber-sumber buku literatur, materi bahan ajar atau
penelusuran melalui internet.
53
BAB V
DIVISIO SPERMATOPHYTA SUB DIVISIO GYMNOSPERMAE
V.1. PENDAHULUAN:
SASARAN PEMBELAJARAN: Mahasiswa mampu menjelaskan tentang ciri-ciri,
tatanama dan klasifikasi Divisio Spermatophyte Sub Divisio Gymnospermae
STRATEGI PEMBELAJARAN: Teaching learning, collaborative learning, Contextual
instruction, presentasi tugas kelompok, praktikum
V.2. DIVISIO SPERMATOPHYTA (TUMBUHAN BERBIJI)
Tumbuhan berbiji (Spermatophyta) merupakan golongan tumbuhan sejati (emiliki
akar, batang dan daun) yang tingkat perkembangan filogenetik tertinggi dengan ciri khas
adalah adanya biji (bahasa Yunani : sperma = biji) sebagai alat perkembangbiakannya,
karena itu divisi ini juga sering disebut kormofita berbiji. Selain itu tumbuhan biji juga
dicirikan dengan adanya bunga sehingga sering disebut dengan tumbuhan berbunga
(Anthophyta). Biji dihasilkan dari bunga setelah terjadi peristiwa penyerbukan dan
pembuahan. Dengan kata lain, biji yang dihasilkan merupakan alat pembiakan secara
seksual
(generatif)..
Alat
perkembangbiakannya
tersebut
tampak
jelas
(dapat
dilihat/diamati) sehingga disebut juga Phanerogamae (Yunani: phaneros = tampak, jelas:
gamein = kawin). Mikrospora (serbuk sari) tumbuh menjadi badan berbentuk buluh dan
sebagai jalan inti gamet jantan menuju ke sel telur, oleh karena itu golongan ini disebut
juga Embryophyta siphonogamae. (Yunani:
embyon = embrio, lembaga: phyton =
tumbuhan: siphon = pipa, buluh: gamein = kawin). Tumbuhan ini memiliki arti penting
bagi organisme lain dibumi. Bahan makanan manusia dan hewan banyak yang berasal dari
tumbuhan berbiji.
Semua tumbuhan berbiji adalah heterospora, yang berarti memiliki dua jenis
sporangia berbeda. Megasporangia menghasilkan megaspora yang akan menjadi gametofit
betina, dan mikrosporangia menghasilkan mikrospora yang akan menjadi gametofit jantan.
Megaspora terbentuk dalam megasporangium yang dilindungi oleh integumen, yang secara
keseluruhan struktur tersebut ovulum atau bakal biji. Perkembangan megaspora inilah
yang akan membentuk sel telur (ovum), jika ovum dibuahi oleh sel sperma maka akan
54
tumbuh menjadi zigot. Zigot berkembang menjadi embrio sporofit. Keseluruhan bakal biji
akhirnya berkembang membentuk biji.
Tumbuhan berbiji di kelompokkan menjadi dua anak divisi, yaitu tumbuhan berbiji
terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae).
V.3. SUB DIVISIO GYMMNOSPERMAE ( TUMBUHAN BERBIJI TERBUKA)
a. Ciri-ciri umum
Ciri – ciri tumbuhan berbiji terbuka atau Gymnospermsae adalah sebagai berikut :
1. Tumbuhan kormophyta
2. Pada umumnya perdu atau pohon, tidak ada yang berupa herba.
3.
Batang dan akar berkambium sehingga dapat tumbuh membesar (mengadakan
pertumbuhan menebal sekunder).
4. Umumnya batang memiliki saluran resin,
5. Bentuk perakaran tunggang.
6. Daun sempit, tebal dan kaku, Tulang daun tidak beraneka ragam.
7. Memiliki strobilus sebagai alat reproduksi. Alat kelamin terpisah, serbuk sari
terdapat dalam strobilus jantan dan sel telur terdapat dalam strobilus betina.
8.
Dalam reproduksinya mengalami pembuahan tunggal.
9. . Biji tidak ditutupi atau dibungkus oleh daun buah
10. Berkas pembuluh pengangkutan kolateral terbuka. Xilem pada Gymnospermae
hanya terdiri atas trakeid saja sedangkan floemnya tanpa sel-sel pengiring.
Gymnospermae telah hidup di bumi sejak periode Devon (410-360 juta tahun yang
lalu), sebelum era Dinosaurus. Pada saat itu, Gymnospermae banyak diwakili oleh
kelompok yang sekarang sudah punah seperti: Pteridospermophyta (paku biji),
Bennettophyta dan Cordaitophyta. Anggota-anggotanya yang lain dapat melanjutkan
keturunannya hingga sekarang.
A. Sistematika Gymnospermae
Tumbuhan Sub Divisio Gymnospermae dikelompkkan dalam beberapa kelas,
sebagai berikut :
1. Kelas (Classis) Pteridospermae
Pteridospermae (Paku biji) adalah tumbuhan fosil yang telah hidup sejak zaman
Devon, mencapai puncak perkembangannya dalam zaman Carbon dan Perm, dan telah
55
punah dalam zaman Mesozoikum. Tumbuhan yang termasuk dalam kelas ini merupakan
peralihan dari tumbuhan Pterydophyta dan Gymnospermae.
Ciri-ciri kelas ini yaitu:
1. Memiliki daun yang menyerupai daun tumbuhan paku.
2. Sporofilnya menyerupai daun biasa tetapi belum terkumpul menjadi bunga.
3. Batangnya kecil seperti liana atau tumbuh tegak,
4. Kayu sekunder mempunya trakheida dengan noktah-noktah halaman dan jari-jari teras
yang lebar.
Dalam Pteridopspermae dikenal dengan 2 suku (familia), yaitu:
1. Lyginopteridaceae
Batang ada yang memanjat, Tidak atau sedikit saja bercabang, Mempunyai teras
atau tidak, Unsur-unsur kayu seperti pada Gymnospermae tersusun radier, Baik akar
maupun batangnya mempunyai kambium dan memperlihatkan pertumbuhan menebal
sekunder.,
Tajuk
pohon
berbentuk
kipas,
Bakal
biji
mempunyai
piala.
Contohnya: Lyginopteris oldhamia
Lyginopteris oldhamia
2. Medullosaceae
Ciri-ciri :
1) Batangnya mempunyai banyak stele
2) Masing-masing memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder
3) Bakal biji tidak mempunyai piala
Bangsa (Ordo): Caytoniales
Disamping kedua suku tadi, sekelompok tumbuhan dari ordo ini merupakan
tumbuhan yang juga telah punah dan dekat hubungan kekerabatannya dengan
56
Pterydospermae. Ciri-cirinya adalah daun bertangkai, pada ujungnya terdapat 3-6 segmen.
Daun-daun fertil memiliki segmen menyirip, ujungnya melengkung sehingga membentuk
seperti lekukan yang di dalamnya terdapat beberapa bakal biji. Jalan masuk ke lekukan itu
berupa suatu celah yang fungsinya dapat dianggap seperti kepala putik.
2. Kelas (Classis) Cycadinae
Ciri-ciri kelas Cycadinae ini adalah sebagai berikut :
1. Habitus (perawakan) menyerupai pohon palem, berkayu, batangnya tidak atau sedikit
bercabang, mengalami penebalan sekunder, dan korteksnya tebal.
2. Daun majemuk menyirip tersusun dalam roset batang dan menggulung sewaktu masih
muda.
3. Sporofil tersusun dalm bentuk strobilus letaknya terminalis.
4. Beberapa jenis Cycadinae memiliki batang amat pendek, jenis yang lain dapat
mencapai tinggi 9 meter, tetapi kebanyakan tingginya sekitar 2 meter.
5. Semua anggotanya berumah dua.
6. Strobilus yang dihasilkan berukuran besar.
7. Penyerbukan sering dibantu oleh serangga yang tertarik dengan aroma yang dihasilkan
strobilus jantan dan betina.
8. Tumbuhan kelas ini merupakan tumbuhan biji yang primitif, hidup di daerah tropis dan
subtropis.
Kelas ini hanya terdiri dari satu bangsa (ordo) yaitu Cycadales dengan satu suku
(familia) yaitu Cycadaceae..
Adapun ciri – ciri umum dari bangsa (ordo) Cycadales adalah :
1. Termasuk tanaman berperawakan pohon, serupa palem, termasuk tanaman menahun.
Tinggi tanaman dapat mencapai kurang lebih 4 meter.
2. Berumah dua, artinya ada tanaman jantan yang menghasilkan strobilus jantan dan
tanaman betina yang menghasilkan strobilus betina. .
Anggota ordo ini menghasilkan strobilus yang besar. Meskipun demikian, rata –
rata reproduksinya rendah. Dari 15 – 20 strobilus yang dihasilkan tumbuhan Cycas
jantan, hanya satu atau dua saja yang siap melepaskan serbuk sarinya. Strobilus jantan
ini menghasilkan aroma yang membuat serangga tertarik untuk datang. Setelah datang,
serangga tersebut akan memakan strobilus dan berkembang biak. Pada saat yang sama,
strobilus betina menghasilkan bau yang dapat mengusir serangga yang datang
kepadanya. Setelah beberapa waktu, strobilus betina menghasilkan aroma yang justru
57
menarik serangga yang berasal dari strobilus jantan. Sambil membawa mikrospora dari
strobilus jantan, serangga tersebut menuju strobilus betina dan terjadilah polinasi.
3. Daun berbagi menyirip, tersusun roset batang, daun muda menggulung.
4. Mirip palma, berkayu berbentuk pohon.
5. Daun-daun majemuk tersusun dalam roset batang yang menyirip dan menggulung
sewaktu masih muda.
6. Strobilus terminalis, uniseksualis, dioecious.
7. Strobilus jantan mengandung banyak sekali mikrosporofil yang tersusun spiral dengan
mikrosporangia pada permukaan bawah.
8. Gamet jantan (spermatozoid) motil di lingkungan air, penting untuk penyerbukan.
9. Jumlah ovuli dua atau lebih pada tiap megasporofil.
10. Megasporofil mirip bulu ayam, tersusun longgar di ujung batang atau tersusun rapat
dan kompak.
Anggota Cycadaceae yang terdapat di Indonesia adalah marga Cycas antara lain; C.
rumphii. Jenis ini dalam akarnya terdapat ganggang Anabaena sp (simbiosis) sehingga
dapat mengikat Nitrogen. Marga lainnya terutama terdapat di benua Amerika adalah:
Dioon, Zamia, Ceratozamia, Microcycas. Di benua Asia ada marga Encephalortos dan
Stangeria, sedang di Afrika adalah marga Macrozamia serta Australia ada marga Bowenia.
Semuanya meliputi 9 marga dengan 65 jenis.
Cycas ini merupakan tumbuhan biji yang primitive. Golongan sikas ditemukan di
daerah tropis hingga sub-tropis. Ciri yang khas untuk tumbuhan ini adalah batang yang
tidak
bercabang, daun majemuk menyirip atau berbagi menyirip.yang tersusun sebagai tajuk di
puncak batang (roset
batang) yang memanjang. Seluruh anggotanya berumah dua.
Tanaman ini merupakan sumber bahan kertas, kayu lunak, bahan bangunan, bahan plastik,
pernis, terpentin, damar, dan tinta cetak.
Cycas biasa disebut sikas adalah tanaman jurasik yang berumur kurang lebih
240 juta tahun dan diperkirakan merupakan makanan dinosaurus yang herbivora. Sikas
bahkan dipercaya sudah tumbuh sebelum tanaman berbunga. Distribusi sikas yang sangat
luas menunjukkan tanaman ini sangat dominan pada masa prehistorik, sikas dapat ditemui
di benua Amerika, Australia, Asia, Afrika. Umur sikas yang begitu tua memberikan kesan
prehistorik yang kuat sehingga menjadi buruan banyak kolektor tanaman.
58
Sikas hanya tumbuh didaerah beriklim tropis seperti di Asia, Australia, Amerika
Tengah dan Selatan hingga Afrika. Beberapa jenis sikas diketahui telah punah di alam
habitatnyasedangkan sebagian lainnya terancam punah yang disebabkan karena
aktivitas illegal para kolektor tanaman hias yang secara membabi buta mengambil sikas
dari alam bebas seirring dengan tingginya permintaan dan nilai komersial yang dapat
diperoleh dari usaha jaul beli tanaman hias
Cycas sp.
Cycas rumphii
Strobilus betina Cycas sp
Daun muda
Strobilus jantan Cycas sp
Cycas rumphii jantan
Cycas rumphii betina
Cycas merupakan satu-satunya genus dalam suku Cycadaceae yang masih banyak
dijumpai. Masyarakat awam di Indonesia mengenal pakis haji dari beberapa spesies yang
biasa ditanam di taman-taman menyerupai palem, yaitu C. rumphii, C. javana, serta C.
revoluta (sikas jepang).
Mayoritas tanaman sikas masih digunakan sebagai tanaman hias dalam penataan
taman, baik untuk kebutuhan landscape maupun sebagai tanaman hias dalam pot. Namun
demikian, beberapa jenis sikas juga mempunyai manfaat di bidang lain, misalnya C.
revoluta yang dikenal sebagai salah satu tanaman obat yang telah digunakan di beberapa
negara.
59
Contoh klasifikasi spesies tumbuhan dari kelas Cycadinae
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub divisio
: Gymnospermae
Classsis
: Cycadinae
Ordo
: Cycadales
Familia
: Cycadaceae
Genus
: Cycas
Species
: Cycas revoluta
3. Kelas (Classis) Bennettitinae
Tumbuhan anggota kelas ini sudah punah, sisa yang ditemukan dimasukkan dalam
satu suku yaitu Benettitaceae dengan ciri-ciri: Tumbuhan dengan habitus berkayu, batang
bercabang paying menggarpu, mempunyai teras dengan sedikit kayu. Pertulangan daun
menyirip. Strobilus terletak di ketiak daun, kadamng-kadamg demgam tangkai yang
panjang, kadang-kadang dengan tangkai yang pendek yang muncul dari bagian batang
yang telah tua, kadang pula muncul di ujung (terminal) pada cabang yangf menggarpu.
Strobilus dapat berisi hanya mikrosporifil saja tapi dapat bjuga berisi mikrosporofil dan
makrosporofil. Mikrosporofil menyerupai daun menyirip ganda dan tersusun membentuk
karangan. Makrosporofil banyak terdapat di bagian atas strobilus. Sebagian berbentuk
tangkai dengan suatu bakal biji pada ujungnya, sebagian mandul dan berbentuk sisikm di
antara bakal-bakal biji. Bakal biji dengan 1integumen dan suatu ruang serbuk sari.
Lembaga dengan dua daun lembaga.
4. Kelas (Classsis) Cordaitinae
Anggota kelas ini juga telah punah. Ciri-ciri anggotanya adalah: Umumnya berupa
pohon yang tinggi, bercabang-cabang dan terdapat pertumbuhan sekunder. Daun tunggal,
bangun lanset atau pita, pertulangan daun sejajar, duduk daun tersebar namun pada ujungujung cabang amat berdekatan. Strobilus jantan terasusun dalam 2 baris pada tangkai yang
tebal. Mkrosporofil masing-masing dengan 3-6 kantong sari. Strobilus betina dengan
susunan yang sama. Setiap strobilus juga mempunyai sisik-sisik dengan diantaranya
terdapat bakal biji. Bakal biji dengan 1 integumen dengan ruang serbuk sari yang panjang.
Biji pipih kadang-kadang bersayap.
60
Kelas Cordaitinae meliputi ordo Cordaitales yang didalamnya terdapat suku
Cordaitaceae atau Pityaceae. Contoh Cordaites laevis, Cordaianthus pseudifluitan
5. Kelas (Classis) Ginkyoinae
Anggota kelas ini yang masih ada adalah Ginkyo biloba (Ginko) yang berasal dari
Cina. Ginkyo merupakan pohon besar, dapat mencapai ketinggian lebih dari 30 meter.
Daunnya bertangkai panjang dan lebar berbentuk seperti kipas, dengan belahan yang
berlekuk dalam. Tulang daun berbentuk menggarpu. Ginko merupakan tumbuhan
Gymnospermae yang meranggas, berumah dua, biji keras berwarna kekuningan, berukuran
sebesar kelereng, berbau tidak enak. Bijinya mempunyai kulit luar berdaging dan kulit
dalam yang keras.
Daunnya dapat dijadikan obat asma dan mengatur tekanan darah
buahnya dapat di jadikan bahan ramuan untuk makanan tambahan (suplemen) yang
berfungsi menjernihkan daya ingat.
Kelas ini terdiri atas bangsa Ginkyoales dan suku Ginkyoaceae. Contoh
spesisesnya yaitu Ginkyo biloba.
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub divisio
: Gymnospermae
Class
: Ginkyoinae
Ordo
: Ginkyoales
Family
: Ginkyoaceae
Genus
: Ginkyo
Spesies
: Ginkyo biloba
Ginkyo biloba
61
Ciri khas tumbuhan ini adalah:
1. Mempunyai daun yang berbentuk seperti kipas dengan lebar 5 sampai 10 sentimeter
dan tinggi batang mencapai 30 meter. Selain itu, daunnya juga ada yang berbentuk
mirip daun paku kelompok suplir.
2. Ketika musim penyerbukan tiba, tanaman ini mengeluarkan bau yang kurang sedap
dan dijauhi oleh manusia. Habitus pohon tinggi lebih dari 1000 kaki, daun berubah
warna dan menggugurkan daunnya pada musim rontok.
3. Tumbuhan berumah dua (diesis)
4. Gamet jantan motil, penyerbukan di air.
5. Daun muda menggulung, melebar bentuk kipas, daun terbagi dua simetris karena
lekukan yang dalam, mengalami perkembangan.
6. Strobilus jantan berbentuk kerucut; strobilus betina dngan 2 ovuli yang berbeda
kematangannya; ovulum mempunyai pembungkus berdaging yang dapat berubah
warna.
7. Lembaga mempunyai 2 cotyledon.
6. Kelas (Classis) Coniferae atau Coniferinae
Tumbuhan anggota kelas
ini banyak anggotanya yang masih dapat dijumpai
hingga sekarang. Tumbuhan ini terdapat pada hutan di daerah beriklim dingin di kutub
utara maupun hutan pada pegunungan di daerah tropis. Ciri utama kelas Coniferinae
adalah adanya tajuk berbentuk kerucut (Coniferae berasal dari kata conus = ‘kerucut’ dan
ferein = ‘mendukung’). habitusnya dapat berupa semak, perdu, atau pohon. Batang besar
berkayu Daun-daunnya berbentuk jarum, sehingga sering disebut pohon jarum, pada
umumnya conifer tidak mengalami gugur daunt namun selalu hijau sepanjang tahun
sehingga disebut juga tumbuhan evergreen. Tumbuhan ini berumah dua, tetapi ada juga
yang berumah satu, memiliki strobilus berbentuk kerucut. Ada dua macam strobilus, yaitu
strobilus betina yang mengandung bakal biji dan strobilus jangtan yang mengandung
serbuk sari. Strobilus jantan menghasilkan serbuk sari yang mengandung sel sperma.
Dengan bantuan angin, serbuk sari sampai kebakal biji yang menempel pada sisik strobilus
betina. Selanjutnya terbentuk buluh serbuk yang membawa sel sperma untuk bertemu
dengan sel telur yang ada didalam bakal biji. Setelah terjadi fertilisasi, terbentuklah biji
yang bersayap tipis.Biji diterbangkan angin kemana-mana, jika jatuh di tempat yang sesuai
akan tumbuh menjadi kecambah, dan berkembang menjadi tumbuhan baru.
62
Kelas coniferinae terdiri atas lima ordo yaitu ordo Taxales, ordo Araucariales,
ordo Podocarpales, ordo Pinales, dan ordo Cupressales. Berikut ini deskripsi tiap ordo dari
kelas Coniferinae :
1. Bangsa (Ordo) Taxales
Ordo ini terdiri atas pohon-pohon atau semak-semak, dengan daun yang tersebar
berbentuk lanset, strobilus berumah dua, yang terpisah-pisah atau merupakan bulir dalam
ketiak daun, dengan mikrosporofil yang berbentuk perisai atau sisik yang masing-masing
dengan 2-8 kantong sari, serbuk sari tanpa gelembung udara, dan pada perkecambahan
tidak membentuk sel-sel protalium, bakal biji berpasangan diatas sisik- sisik biji
atau di
ujungnya, setelah persarian sisik-sisik tidak berkayu dan membesar, jadi tidak membentuk
suatu kerucut.
Ordo ini terdiri atas dua familia diantaranya adalah Taxaceae dan Cephalotaxaceae.
a.
Suku (Familia) Taxaceae
Memiliki daun yang berbentuk lanset yang tersebar, strobilus jantan terpisah dalam
ketiak daun atau dalam bulir-bulir kecil di ketiak daun. Mikrosporofil bangun perisai
dengan 2-8 kantong sari, serbuk sari pada perkecambahannya hanya memiliki satu sel
generative dan satu sel buluh serbuk sari. Biji yang diselubungi oleh salut biji atau arillus,
biji memiliki dua daun lembaga, Contoh spesiesnya adalah Taxus baccata.
Gambar . Taxus baccata
b. Suku (Familia) Cephalotaxaceae
Familia Cephalotaxaceae memiliki ciri yaitu habitus berupa pohon atau perdu
dengan daun garis, dalam daun terdapat satu saluran resin. Tumbuhan berumah dua,
strobilus jantan berkumpul atau berupa bulir-bulir pendek di ketiak daun, tiap strobilus
63
terdiri atas 12 mikrosporofil, masing-masing dengan 3 kantong sari, serbuk sari tanpa
gelembung udara, strobilus betina dalam ketiak-ketiak, sisik-sisik, yang terdapat pada
tunas yang pendek, sisik-sisik biji itu duduknya bersilang, masing-masing dengan 2 bakal
biji pada sisi atasnya, kulit biji yang luar tebal berdaging, kulit biji yang dalam keras,
memiliki dua daun lembaga.
Anggotanya tersebar luas di Asia timur contohnya Cephalotoraxus fartanei.
2. Bangsa (Ordo) Araucariales
Ordo Araucariales meliputi satu familia yaitu Araucariaceae dengan ciri pohonpohon yang daunnya tersebar, berbentuk jarum atau lebar dengan saluran-saluran resin
didalamnya, tumbuhan ini berumah satu atau berumah dua. Strobilus jantan ukurannya
besar, diketiak atau diujung cabang-cabang yang pendek dengan mikrosporofil yang
bertangkai dan berbentuuk sisik, yang pada bagian bawahnya banyak mengandung
mikrosporangium yang panjang. Strobilus betina pada ujung cabang-cabang yang pendek,
penuh dengan makrosporofil yang tersusun dalam satu spiral, dengan disebelaah atasnya
masing-masing dengan satu bakal biji yang diselubungi dengan struktur yang melekat pada
makrosporofil.
Familia Araucariaceae meliputi dua genus yaitu Araucaria dan Agathis. Contoh
speciesnya adalah Araucaria cunninghamii dan Agathis alba
.
Araucaria heterophylla
64
Araucaria cunninghamii
Agathis alba
3. Bangsa (Ordo) Podocarpales
Ordo Podocarpales meliputi familia Podocarpaceae yang memiliki cirri-ciri berupa
perdu atau pohon dengan daun berbentuk sisik, jarum dan lanset duduknya tersebar atau
bersilang, dengan satu atau tiga saluran resin didalamnya. Umumnya berumah dua
strobilus jantan diketiak dengan ukuran yang agak panjang dengan banyak mikrosporofil,
masing-masing dengan dua kantong serbuk sari. Memiliki epimatium, memiliki dua daun
lembaga, serbuk sari kebanyakan dengan gelembung udara,. Contoh spesiesnya adalah
Podocarpus imbricate.
Podocarpus imbricate.
4. Bangsa (Ordo) Pinales
Ordo ini meliputi satu familia yaitu Pinaceae, dengan cirri tumbuhan berkayu, daun
berbentuk jartum, duduknya tersebar pada sirung panjang, atau pada sirung panjang
terdapat daun dengan struktur berdaging sedangkan pada sirung pendek terdapat daun
dengan bentuk jarum. Daun-daun tersebut dengan satu atau dua berkas pengangkut dan
saluran resin, pada umumnya tumbuhan ini berumah satu. Strobilus jantan terminal pada
sirung pendek, dengan banyak mikrosporofil bertangkai yang tersusun dalam satu spiral
65
dengan dua lkantong sari, serbuk sari dengan dua gelembung udara. Strobilus betina
terminal atau aksilar, dengan banyak sisik penutup yang tersusun dalam spiral, pada ketiak
sisik penutup terdapat satu sisik biji dengan pada sisi atasnya dua bakal bii yang
mikrofilnya menghadap ke sumbu. Biji memiliki sayap dan memiliki daun lembaga
sebanyak 2-15. Contoh spesiesnya adalah Pinus merkusii.
Pinus merkusii
7. Bangsa (Ordo) Cupressales
Ordo ini memiliki ciri sebagai berikut :
1. Berupa perdu atau pohn dengan daun yang
berbentuk jarum atau sisik yang duduknya tersebar,
berhadapan, atau berkarang.
2. Strobilus jantan dengan mikrosporofil yang bertangkai
pendek dengan suatu sisik lebar dengan 2-9 kantong sari.
3. Strobilus betina dengan sisik yang tersusun dalam spiral
atau berhadapan dengan 1-9 bakal biji.
Taxodium distichum
Ordo ini meliputi dua Familia yaitu sebagai berikut :
a. Suku (Familia) Taxodiaceae
Familia ini meliputi tumbuhan berupa pohon dengan daun berbentuk jarum
duduknya tersebar atau berhadapan, dan kadang-kadan pada sirung panjang terdapat daun
berbentuk sisik dan pada sirung pendek terdapat daun menyerupai bentuknya jarum.
Daunnya memiliki satu saluran resin, strobilus jantan terminal, atau aksilar atau kadang
berkumpul didalam satu malai. Serbuk sari tanpa gelembung udara. Strobilus betina
terpisah-pisah, terminal, dengan sedikit atau banyak spiral. Biji memiliki sayap yang
66
sempit, memiliki lembaga dengan 2-9 daun lembaga. Contoh speciesnya adalah Taxodium
distichum.
b. Suku (Familia) Cupressaceae
Suku ini memiliki ciri-ciri antara lain:
Habitus perdu atau pohon, bercabang banyak. Daun kebanyakan bentuk sisik
jarang berbentuk jarum, duduk bersilang atau merupakan karangan yang trdiri dsari 3
daun. Daun memiliki saluran atau ruang resin. Bisanya berumah dua jarang berumah satu.
Strobilus jantan terletak diujung ranting yang pendek tetapi dapat juga di ketiak daun.
Mikrosporofil duduk bersilang atau merupakan karangan yang terdiri dari 3 sprofil,
bertamngkai pendek dengan sisik lebar dan 2 – 6 kantong sari. Strobilus betina dengan satu
atau beberapa pasang sisik yang duduknya bersilang, masing-masing dengan beberapa
bakal biji. Setelah penyerbukan sisik-sisik tersebut membesar dan mengayu, saling
menutupi seperti susunan genting atau seperti perisai yang tepinya saling berdampingan
rapatPada genus Juniperus bakal biki berjumlah 1 – 3 , letaknya di ujung dan setelah
penyerbukan diselubungi oleh sisik-sisik berdaging. Lembaga dengan 2 daun lembaga.
Suku ini terdiri dari 140 jenis yang terbagi dalam 15 marga. Contoh jenisnya Juniperus
communis (buahnya dipakai untuk pembuatan minuman keras “juniper”. Thuja gigantean,
T occidentalis, menghasilkan kayu bangunan
Thuja occidentalis
8. Kelas (Classis) Gnetinae
Gnetinae merupakan kelas dari subdivision gymnospermae yang meliputi
tumbuhan berkayu, yang batangnya bercabang atau tidak, tidak memiliki saluran resin,
daaunnya tunggal, berhadapan, bunga berkelamin tunggal, majemuk, terdapat dalam ketiak
daun pelindung yang besar, memiliki tenda bunga. Lembaga dengan idua daun lembaga.
67
Kelas ini terdiri atas 3 ordo (bangsa), yaitu Ephedrales, Gnetales dan
Welwitschiales.
a. Bangsa (Ordo) Ephedrales
Ordo ini hanya terdiri dari satu suku yaitu Ephedraceae dengan ciri-ciri:
Habitus perdu bercabang banyak dengan sisik yang duduknya bersilang, Bumnga
dalam bulir,terletak pada ujung sirung di ketiak daun pelindung yang besar yang setelah
penyerbukan menjadi berdaging atau melebar. Bunga jantan dengan 2 daun tenda bunga
(tepala) dan 2 sampai 8 anthera masing-masing dengan 2-3 ruang. Bunga betina dengan
tenda bunga berbentuk pembukluh, di dalamnya terdapat satu bakal bijidengan integumen
memanjang. Tenda bunga menjadi keras dan menyelubungi buah. Suku ini hanya terdiri
dari satu margay ITU: Ephedra dengan anggota sekitar 35 jenis yang tersebar di daerah
panas dan daerah iklim sedang. Contoh : Ephedra altissima
b. Bangsa (Ordo) Gnetales
Ordo Gnetales ini dicirikan dengan:
1. Batang pohon yang lurus kira-kira 20 meter dan bercabang.
2. Akarnya tunggang.
3. Tulang daun menyirip, tipis dan melebar.
4. Berumah dua karena strobilus jantan dan betina terletak pada pohon yang berbeda.
Namun ada pula yang berumah satu, strobilus jantan dan betina terdOrdo Gnetales
meliputoi familia Gnetaceae, dengan cirri sebagai berikut :
Ciri khas Gnetaceae yaitu:
1. Anggota kelompok ini berupa pohon, barcabang,
2. Batang memiliki kambium, floeterma dan buluh-buluh kayu tanpa saluran resin.
3. Daun tunggal, duduk daun berhadapan dengan pertulangan daun menyirip.
4. Bunga majemuk bercabang dichasial (anak paying menggarpu), terletak di ketiak daun.
5. Ujung bunga majemuk berbentuk bulir dengan bunga yang berkarang dalam ketriak
daun pelindung.
6. Bunga jantan dengan tenda bunga berbentuk pembuluh dan pada perpanjangan sumbu
bunga. Memiliki 1 – 2 kantong sari.
7. Bunga betina dengan tenda bunga berbentuk pembuluh, satu bakal biji deengan 2
integumen.
68
8. Biji diselubungi suatu mantel yang terdiri dri integument luar dan tenda bunga
berdaging yang akhirnya berwarna merah jika buah telah masak.
Suku ini hanya terdiri dari satu marga yaitu Gnetum dengan sekitar 30 jenis yang
semuanya hidup di daerah tropis.
Contoh yang terkenal dari kelompok ini adalah Gnetum gnemon (melinjo), yang
daun dan bijinya dapat dimakan, sedangkan kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku kertas, serat tali, dan perabot rumah tangga. Melinjo banyak digunakan oleh orang
Indonesia untuk sayur – sayuran dan emping.
Klasifikasi Gnetum gnemon (Melinjo)
Divisio
: Spermatophyta
Sub division
: Gymnospermae
Classis
: Gnetinae
Ordo
: Gnetales
Familia
: Gnetaceae
Genus
: Gnetum
Spesies
: Gnetum gnemon
Gnetum gnemon
c. Ordo Welwitschiales
Ordo ini meliputi satu familia yaitu familia welwitschiaceae dengan ciri :
1.
tumbuhan berupa batang hipokotil yang menebal seperti umbi dan akar
tunggang yang menebal menembus tanah.
2. Batang epikotil dan tidak terdapat daun daun, kecuali dua daun yang
berhadapan, berbentuk pita dengan ukuran sekitar 2 meter, yang pada
69
ujungnya mati tetapi pangkalnya terus tumbuh selama tumbuhan masih
hidup.
3. Berbunga majemuk terdapat pada tepi batang hipokotil, bercabang seperti
anak paying menggarpu, dengan hunga-bunga yang tersusun dalam bulir
yang keluar dari ketiak daun pelindung yang besar dan tersusun
berhadapan.
4. Bunga jantan dengan 4 tepala yang tersusun dalam 2 lingkaran dan 6
benang sari yang pangkalnya berlekatan dengan kepala sari yang terdiri atas
3 kantong sari, ditemhah terdapt bakal biji yang rudimenter.
5. Memiliki bunga betina dengan tenda bunga yang berlekatan, kanan kiri
melebar seperti sayap.
6. Bakal biji dengan satu integument berbentuk pembuluh yang memanjang.
Suku ini hanya terdiri atas satu Genus, yaitu Welwitschia.
Contoh speciesnya adalah Welwitschia mirabilis, hidup endemic di daerah gurun
dekat pantai Afrika barat daya dan Angola.
Regum
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Class
: Gnetinae
Ordo
: Welwitschiales
Family
: Welwitschiaceae
Genus
: Welwitschia
Species
: W. mirabilis
V.4. TUGAS UNTUK MAHASISWA
Mahasiswa diharuskan membuat makalah dan tentang Divisio Spermatophyta sub
divisio Gymnospermae dengan membaca dari sumber-sumber buku literatur, materi bahan
ajar atau penelusuran melalui internet.
70
BAB VI
SUB DIVISIO ANGIOSPERMAE CLASSIS DICOTYLEDONEAE
SUB CLASSIS APETALAE
IV. 1. PENDAHULUAN:
SASARAN PEMBELAJARAN: Menjelaskan tentang ciri-ciri, tatanama dan klasifikasi
Clas Dikotil sub classis Apetalae
STRATEGI PEMBELAJARAN: Teaching learning, collaborative learning, , presentasi
tugas kelompok, praktikum
IV.2. SUB DIVISIO ANGIOSPERMAE
Tumbuhan berbiji atau Spermatophyta terbagi menjadi 2 sub divisio yaitu
Gymnospermae (Berbiji Terbuka) dan Angiospermae (Berbiji Tertutp). Sub Divisio
Gymnospermae telah dibahas pada bab terdahulu. Pada bab ini akan dibahas tentang sub
divisio Angiospermae.
Angisopermae hanya terdiri dari 2 kelas (classis) yaitu
Dicotyledonae dan Monocotyledonae, keduanya dibedakan antara lain berdasrkan jumlah
daun lembaganya. Dicotyledoneae dapat dibedakan dalam tiga (3) anak kelas (sub classis)
yaitu: Monochlamyceae (Apetalae), Dialypetalae dan Sympetalae yang perbedaanya
terletak pada ada dan tidaknya daun-daun mahkota (petalae) dan bagaimana susunan daundaun mahkota tersebut
IV.3. ANAK KELAS (SUB CLASSIS) MONOCHLAMYDEAE (APETALAE)
Tumbuh-tumbuhan yang masuk dalam anak kelas ini kebanyakan berupa pohonpohonan atau setidaknya pepohonan yang batangnya berkayu, bunga berkelamin tunggal
dengan penyerbukan anemogami, jarang yang entomogami. Hiasan bunga tidak ada atau
kalau ada hanya tunggal, oleh sebab itu disebut Monochlamydeae ( Mono = satu, tunggal;
chlamydos = mantel, selubung). Hiasan bunga menyerupai kelopak, jarang menyerupai
mahkota, oleh sebab itu dinamankan Apetalae ( a = tidak, tanpa ; petala = daun mahkota).
Hanya pada golongan tertentu saja terdapat hiasan bunga ganda antara lain pada suku
Caryophyllaceae. Benang sari sama banyaknya dengan jumlah daun-daun hiasan bunga,
duduknya berhadapan dengan daun-daun hiasan bunga, atau terdapat jumlah benang sari
yang lebih banyak.
Anak kelas ini meliputi berbagai bangsa (Ordo) yaitu:
71
1. Bangsa (Ordo) Casuarinales (Verticillatae)
Bangsa ini hanya terdiri atas 1 suku Casuarinaceae yang mempunyai ciri-ciri
sebagai berikut:
a. Umumnya tumbuh-tumbuhan dengan batang berkayu (pohon-pohon) yang
habitusnya menyerupai Coniferinae, cabang-cabang yang muda berwarna hijau,
jelas berbuku-buku dengan daun-daun yang amat tereduksi menjadi seperti selaput
kecil dan tersusun berkarang, oleh sebab itu dinamakan Verticillatae
b. Bunga berkelamin tunggal, penyerbukan secara anemogami. Bunga jantan berupa
benang sari dan tersusun berkarang yang seluruh karangan-karangan itu merupakan
bulir pada ujung-ujung cabang yang paling muda. Tiap bunga jantan terdiri atas 1
benang sari yang terbelah-belah dengan 2 daun hiasan bunga yang kecil dan 2 daun
pelindung yang kecil pula.
c. Bunga betina dalam rangkaian berbentuk bongkol pada cabang-cabang yang
pendek, tanpa hiasan bunga, dengan 2 daun pelindung yang kecil
d. Bakal buah terdiri atas 2 daun buah, beruang 2, dari 2 ruang itu yang satu
berkembang,yang lainnya berisi 2 bakal biji dan dari kedua bakal biji itupun
biasanya yang satu akan mati.
e. Pembuahan secara kalazogami. Dalam nuselus semula terdapat beberapa
kandungan lembaga, tetapi hanya satu yang dapat berkembang terus.
f. Buahnya buah kurung yang bersayap dan diselubungi oleh 2 daun pelindungnya
yang menjadi berkayu. Bakal biji mempunyai 2 selaput biji.
Suku ini hanya terdiri atas 1 marga dengan ± 40 jenis yang tersebar di daerah
Nusantara dan Australia antara lain : Casuarina equisetifolia., C. junghuhniana, yang
dikenal dengan nama cemara, seringkali ditanam sebagai tanaman hias atau di tepi-tepi
jalan.
Casuarina equisetifolia.
72
2. Bangsa (Ordo) Fagales
Ciri-cirinya sebagai berikut :
a. Berupa tumbuh-tumbuhan yang berbatang kayu dengan daun-daun tunggal serta
daun-daun penumpu yang lekas runtuh.
b. Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bunga majemuk yang menyerupai
bunga lada dengan penyerbukan secara anemogami.
c. Hiasan bunga tidak ada atau menyerupai kelopak
d. Bunga jantan dengan benang sari yang sama banyaknya dengan daun-daun hiasan
bunga,duduknya berhadapan atau benang sari terdapat dalam jumlah yang besar.
e. Bungan betina dengan putik yang terdiri atas 2-6 daun buah, bakal buah tenggelam,
beruang 1-6
f. Buahnya buah keras yang berisi 1 biji. Biji tanpa endosperm dengan lembaga yang
lurus.
Ordo Fagales meliputi beberapa suku (familia):
1. Suku (Familia) Betulaceae
Ciri-cirinya sebagai berikut:
a. Terdiri atas pohon-pohon atau perdu dengan daun tunggal yang tersebar dan daun
penumpu yang lekas runtuh.
b. Bunga berkelamin tunggal berumah 1, tersusun dalam bunga majemuk yang
menyerupai bunga lada dan terdiri atas bagian-bagian yang bersifat simos
c. Hiasan bunga tidak ada atau berupa tenda bunga yang kecil, berbilangan 4, bebas atau
berlekatan satu sama lain.
d. Bunga jantan melekat pada daun pelindungnya dengan 2-12 benang sari yang
seringkali terbelah, dalam bunga-bunga yang berbilangan 4 duduknya berhadapan
dengan daun-daun tenda bunga.
e. Bunga betina dengan putik yang terdiri atas 2 daun buah dan mempunyai 2 kepala
putik, bakal buah beruang 2, tiap ruang dengan 2 atau 1 bakal biji, masing-masing
dengan 1 selaput biji.
f. Buahnya buah keras dengan 1 biji, biji tanpa endosperm
g. Daun pelindung pada pertumbuhan buah membesar seperti sayap.
Suku ini meliputi 6 marga dengan ± 100 jenis yang tersebar di sebelah utara
khatulistiwa,antara lain :
73
Betula : B. nana, B. pendula
Alnus : A. incana, A. glutunosa
Carpinus : C. orientalis, C. betulus
Ostrya : O. carpinifolia, O. virginiana
Corylus : C. avelllana, C. maxima
Betula nana
2. Suku (Familia) Fagaceae
Ciri-cirinya sebagai berikut:
a. Tumbuh-tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal yang duduknya tersebar dan
daun penumpu yang lekas gugur.
b. Bungan berkelamin tunggal, berumah 1, jarang sekali berumah 2.
c. Bunga dalam bunga majemuk seperti bunga lada
d. Buahnya buah kering dengan 1 biji, pangkalnya diselubungi oleh suatu badan
berbentuk seperti mangkuk atau piala yang disebut kupula
e. Biji tanpa endosperm dengan lembaga yang besar.
f. Bunga jantan dengan daun-daun hiasan bunga dengan benang-benang sari yang
jumlahnya
sama dengan daun-daun hiasan bunga atau lebih banyak, seringkali
dengan sisa-sisa daun putik.
g. Bunga betina dengan tenda bunga yang kecil berbilangan 6, bakal buah tenggelam,
mempunyai 3-6 ruang, tiap ruang dengan 2 bakal biji yang mempunyai 2 selaput biji
h. Buahnya buah kering dengan 1 biji, pangkalnya di selubungi oleh suatu badan
berbentuk seperti mangkuk atau piala yang disebut kupula.
i. Biji tanpa endosperm dengan lembaga yang besar.
Suku ini meliputi 6 marga dengan ± 500 jenis yang tersebar di daerah-daerah iklim
sedang, dan tropika tetapi tidak terdapat di Afrika (sebelah selatan gurun Sahara).
Diantaranya yaitu :
Castanea : C. argentea (sarangan). Castanea sativa, Bijinya dapat dimakan.
Fagus : F. silvatica
Quercus : Q. suber (penghasil gabus). Q. tinctoria, Q. petraea, Q. robur
74
Dari yang tumbuh di pulau Jawa, dulu orang menggunakan buah Quercus sebagai
salah satu ramuan dalam pembuatan “banyon” yang digunakan untuk menghitamkan gigi.
Castanea sativa
3. Bangsa (Ordo) Myricales
Bangsa ini hanya terdiri atas 1 suku yaitu suku Myricaceae dengan ciri-ciri sebagai
berikut :
a. Terdiri atas tumbuh-tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal yang tersebar,
mempunyai daun-daun penumpu atau tidak, dalam daun terdapat sel-sel minyak.
b. Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir-bulir tunggal atau majemuk.
c. Buahnya buah batu, biji tanpa endosperm
d. Bunga tanpa hiasan bunga, yang jantan mempunyai 2-16 benang sari, yang betina
dengan bakal buah yang menumpang yang terdiri atas 2 daun buah
e. Mempunyai 1 ruang dan 1 bakal biji dengan 1 selaput biji
f. Buahnya buah batu, biji tanpa endosperm
Suku ini antara lain meliputi marga Myrica dengan ±50 sp.yang tersebar di
Eropa,Asia dan Amerika, misalnya :
Myrica cerifera (menghasilkan lilin)
M. pensylvanic
Myrica cerifera
75
4. Bangsa (Ordo) Juglandales
Ciri-cirinya sebagai berikut:
a. Bangsa ini meliputi pohon-pohon dengan daun-daun majemuk menyirip gasal yang
duduknya tersebar, kadang-kadang berhadapan
b. Daun penumpu tidak terdapat
c. Bunga berkelamin tunggal, anemogami, berumah satu
d. Buahnya buah semu yang menyerupai buah batu atau buah keras yang diselubungi
semacam kupula dengan kulit luar tipis atau berdaging dan kulit dalam yang keras.
e. Biji tanpa endosperm
f. Bunga jantan dengan tenda bunga yang biasanya berbilangan 4 yang beserta daundaun pelindung berlekatan dengan bakal buahnya
g. Bakal buah tenggelam, beruang 1 dengan 1 bakal biji yang mempunyai 1 selaput
biji
h. Buahnya buah semu yang menyerupai buah batu atau buah keras yang diselubungi
semacam kupula dengan kulit luar tipis atau berdaging dan kulit dalam keras.
i. Biji tanpa endosperm
Suku (Familia) Juglandaceae
Ciri-cirinya sebagai berikut :
a. Pohon-pohon dengan daun majemuk menyirip gasal yang tersebar atau berhadapan
tanpa daun penumpu, daun kaya akan zat-zat yang berbau sedap. Bunga berkelamin
tunggal, berumah satu,anemogami.
b. Bunga jantan tersusun dalam bulir yang terdiri atas banyak bunga, kebanyakan
dengan hiasan bunga, bunga betina dalam bulir yang lebih miskin akan bunga.
c. Masing-masing bunga betina dengan hiasan bunga, pada bagian bawah diselubungi
badan yang menyerupai kupula, yang nanti akan menjadi selubung buah yang
berdaging atau berubah menjadi alat untuk beterbangan.
Suku ini terdiri atas 6 marga,dengan ± 50 jenis yang tersebar di daerah-daerah
iklim sedang di belahan bumi utara dan daerah Asia tropika dan Amerika Selatan. Sebagai
contoh dapat disebut :
Juglans, misalnya :J. regia (biji dapat dimakan), J. nigra, dari kedua jenis itu
kayunya digunakan untuk bermacam-macam keperluan, misalnya kotak-kotak pesawat
radio, dll.
Carya : C. ovate, C. olivaeformis.
76
. Juglans regia
5. Bangsa (Ordo) Salicales
Bangsa ini hanya terdiri atas 1suku, yaitu suku Salicaceae dengan cirri-ciri sebagai
berikut :
a. Tumbuh-tumbuhan yang berbatang kayu dengan daun-daun tunggal yang
tersebar,dan mempunyai daun-daun penumpu.
b. Bunga berkelamin tunggal, berumah 2, jarang sekali berumah 1, tersusun dalam
bulir, tanpa hiasan bunga, atau jika ada amat tereduksi dan tidak pernah
menyerupai mahkota.
c. Pada pangkal bunga terdapat suatu badan seperti piala atau cakram yang seringkali
dipandang sebagai hiasan bunga yang tereduksi.
d. Bunga jantan dengan 2-8 benang sari, bunga betina dengan 1 putik yang terdiri atas
2 daun buah, dengan bakal buah yang duduknya menumpang, mempunyai 1 ruang
yang mengandung banyak bakal biji yang anatrop dengan 2-4 papan biji yang
parietal.
e. Bakal biji dengan 1 selaput biji
f. Penyerbukan secara anemogami atau entomogami
g. Buahnya buah kendaga yang membuka dengan 2 katup
h. Biji amat kecildengan seberkas rambut yang tumbuh dari tali pusarnya,endosperm
sedikit atau tidak ada.
Suku ini hanya terdiri atas 2 marga dengan ± 330 jenis yangtersebar di daerahdaerah iklim sedang di belahan utara bumi dengan beberapa jenis di daerah tropika.
Beberapa jenis sebagai contoh :
Populus : P. nigra, P. balsamifera, P. deltoids
77
Salix : S. alba, S. fragilis, S. purpurea, S. Amygdalina
Cabang-cabang muda berbagai jenis mudah dibengkok-bengkokkan seperti rotan
dan bahan anyam-anyaman.
Populus nigra
Salix alba
6. Bangsa (Ordo) Urticales
Ordo Urticales meliputi tumbuhan terna, semak
maupun pohon dengan
kebanyakan daun tunggal yang tersebar dan mempunyai daun penumpu. Bunga
kebanyakan berklamin tunggal, tersusun dalam bunga majemuk terbatas, biasanya kecil –
kecil, aktinomorf dengan tenda bunga yang berwarna hijau, berbilangan 4 – 5 atau lebih,
bebasatau berlekatan satu sama lain. Benang sari sama jumlahnya dengan tenda bunga dan
duduknya berhadapan, Bunga betina dengan bakal buah menumpang, beruang satu dengan
satu bakal biji. Penyerbukan secara anemogami, pembuahan kalazogami atau bentuk –
bentuk peralihan ke porogami. Buahnya buah keras atau buah batu.Dalam epidermis daun
sering terdapat sistolit.
Ordo Urticales ini meliputi Familia Moraceae,
Cannabiaceae, Ulmaceae dan
Urticaceae.
a
Suku (Familia) Moraceae
Ciri-ciri:
•
Habitusnya berupa pohon.
•
Bergetah putih atau bening.
•
Daun – daun tunggal yang duduknya tersebar dengan daun – daun penumpu yang lebar
yang kadang – kadang memeluk batang.
•
Stipula besar melindungi batang, daun tersebar.
•
Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bunga majemuk berbatas, yang berbentuk
bongkol, tongkol, atau periuk.
78
•
Bunga uniseksual ukurannya kecil. Brachtea besar melindungi batang muda.
•
Organ vegetatif : bergetah susu (putih), berdaun penumpu berbentuk tudung, bila gugur
meninggalkan bekas perlekatan pada ranting berupa lingkaran cincin di ketiak daun.
•
Organ generatif : bunga/buah semu, dasar bunga (receptaculum) pada marga ficus
tumbuh keluar melanjut, melingkar bentuk bulat, pada bagian atasnya terdapat pintu
tempat masuknya serangga (semut)
•
Bunga jantan dengan tenda bunga yang berbilangan 2 → 6, kebanyakan 4, benang sari
sama dengan daun hiasan bunga duduk berhadapan.
•
Bunga betina dengan bakal buah yang tenggelam sampai menumpang, dengan 1 atau 2
tangkai puti, beruang 1 dengan 1 bakal biji.
•
Buahnya buah semu majemuk, biji dengan endosperm.
Suku ini meliputi ±70 marga denganb ± 1000 jenis. Contoh :
Ficus: Ficus elastica Roxb. (karet hutan), F. benjamina (beringin), F. septica. .
Morus: Morus. alba, M. nigra, M. nigra
Broussonetia: . Broussonetia papyrif era, B. kampferi
Artocarpus: A. intergra, A. Champeden, dll.
Contoh Klasifikasi
Regnum
: Planta
Divisio
: Spermatophyta
Sub Divisio
: Agiospermae
Classis
: Dicotyledoneae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Urticales
Familia
: Moraceae
Genus
: Artocarpus
Spesies
: Artocarpus integra
b. Suku (Familia) Cannabiaceae
Ciri-ciri:
•
Terna berbau aromatik tanpa getah.
•
Daun tunggal bertoreh menjari, duduknya tersebar atau berhadapan, dengan daun –
daun penumpu yang bebas dan tidak gugur.
•
Bunga berkelamin tunggal, berumah 2, tersusun dalam bungan majemuk berbatas yang
menyerupai tandan, bongkol, atau bunga lada.
79
•
Bunga jantan dengan hiasan bunga berbilangan 5, 5 benang sari.
•
Bunga betina dengan tenda bunga bentuk mangkok, . Putik dengan 2 tangkai putikdan
2 kepala putik
•
Bakal buah dengan 1 ruang dan 1 bakal biji.
•
Buahnya buah keras dengan biji yang mempunyai lembaga yang bengkok atau
tergulung.
Suku inihanya terdiri dari 3 jenis dari 2 marga yitu:
Humulus: Humulus lupulus (memiliki rambut buah yang mengandung zat yang rasanya
pahit dan digunakan dalam pembuatan bir. H. japonicus (tumbuh membelit) .
Cannabis: Cannabis sativa (ganja).
Contoh Klasifikasi Cannabis sativa :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Divisio
: Agiospermae
Classis
: Dicotyledoneae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Urticales
Familia
: Cannabiaceae
Genus
: Cannabis
Spesies
: Cannabis sativa
Manfaat dari tanaman ini yaitu digunakan untuk obat psikotropik.
c. Suku (Familia) Ulmaceae
Suku ini memiliki ciri-ciri habitus pohon atau perdu yang tidak bergetah, Daun
tunggal dengan pangkal tiudak simetris, duduk dalam 2 baris, daun penumpu mudah
rontok. Bunga berkelamin tunggal atau hermaprodit dengan tenda bunga yang sering
zigomorf, terpisah atau tersusun dalam karangan bunga majemuk terbatas menyerupai
bunga paying. Tenda bunga berbilangan 4. Benang sari berhadapan dengan daun tenda
bunga dengan jumlah sama atau kadang-kadang 2 x lipatnya. Bakal buah menumpang
dengan 2 tangkai putik, beruang 1 dengan 1 bakal biji yang anatrop. Buahnya buah batu,
seringkali bersayap.
Suku inimeliputi 14 marga (genus) dengan 150 jenis yang terutama terdapat di
belahan bumi utara.Contoh: Ulmus americana, U. campetris, U. laevis, dan u. fulva.
Celtis australis, C. occidentalis ini jenis penghasil kayu.
80
d.
Suku (Familia) Urticaceae
•
Kebanyakan berupa terna dan semak yang tidak bergetah.
•
Daun tunggal, tersebar atau berhadapan dengan penumpu/stipula yang seringkali tidak
sama besar.
•
Bunga berkelamin tunggal jarang banci, tersusun dalam tukal – tukal atau bongkol
yang simos dan selanjutnya terkumpul dalam rangkaian yang menyerupai tandan atau
bunga lada.
•
Bunga dengan tenda bunga yang berjumlah 4 → 5 (kadang – kadang 2 → 3), benang
– benang sari sama banyaknya dengan daun tenda bunga, berhadapan dengan daun
tenda bunga, dalam kuncup membengkok ke dalam, pada waktu bunga mekar lalu
membengkok keluar.
•
Bunga dalam perbungaan ( cymosa, spika, capitulum ).
•
Umumnya uniseksual, bunga jantan 4 stamen.
•
Putik dengan 1 kepala putik yang berbentuk seperti bulu atau seberkas rambut –
rambut, bakal buah beruang satyu dengan 1 bakal biji. Buahnya buah batu. Biji
dengan endosperm dan lembaga lurus.
•
Seringkali ada stamenodium, berupa sisik terdapat pada bagian basis dari pistilum.
•
Pada lat-alat vegetative sering terdapat rambut-rambut gatal (stimulus), mengandung
serat yang panjang sehingga dapat dijadikan bahan tekstil.
•
Suku ini meliputi sekitar 550 jenis yang terbagi dalm 40 marga
Contoh; Urtica urens (untuk bahan obat-obatan), U. dioica (memiliki rambut gatal).
Boehmeria nivea (rami= bahan tekstil), B. viridis, B. altissima. Laportea
microstigma, L. sinuate, L. stimulans (kemaduh, memiliki rambut
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Divisio
: Agiospermae
Classis
: Dicotyledoneae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Urticales
Familia
: Urticaceae
Genus
: Laportea
Spesies
: Laportea interrupta
gatal).
Manfaat tanaman ini yaitu sebagai makanan ternak (kambing dan domba).
81
7. Bangsa (Ordo) Piperales
Ordo piperales adalah salah satu bangsa tumbuhan berbunga. Kebanyakan berupa
terna, hanya kadang – kadang berupa tumbuh – tumbuhan dengan batang yang berkayu.
Daun tunggal, bunga amat kecil berkelamin tunggal atau banci tanpa hiasan bunga. Bunga
tersusun dalm bulir (amentum). Benang sari 1- 10, bakal buah 1 - 4, apokarp atau sinkarp.
Masing-masing dengan 1 bakal biji. Biji besar mempunyai endosperm, lembaga kecil.
Dalam ordo ini terdapat 3 familia yaitu
Piperaceae,
Saururaceae, dan
Chloranthaceae.
a. Suku (Familia) Piperaceae
Ciri-ciri:
•
Terna atau tumbuh - tumbuhan berkayu seringkali memanjat dengan menggunakan
akar – akar pelekat.
•
Daun tunggal bentuk jantung, yang duduknya tersebar atau berkarang dengan atau
tanpa daun – daun penumpu.
•
Bunga majemuk bentuk lada (amentum), tanpa hiasan bunga.
•
Biseksual dan uniseksual, dengan 1 – 10 benang sari, putik 1-6 (umumnya 3), kepala
putik 1 – 6, beruang 1 dengan 1 bakal biji.
•
Buahnya buah batu atau buah buni, dengan endosperm dan perisperm.
•
Suku Piperaceae meliputi 1300 jenis yang terbagi dalam 10 marga yang hamper
semuanya hidup di daerah treopika.
•
Anggotanya antara lain: Pipere betle, P. cubeba, P. retrofractumP. Longum (semunya
berguna dalam dunia obat-obatan). Piperomia pellucid. P. arifolia. Heckeria peltata.
H. umbellata
Contoh Klasifikasi tanaman :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Divisio
: Agiospermae
Classis
: Dicotyledoneae
Sub Classis
: Apetalae
Familia
: Piperaceae
Genus
: Piper
Spesies
: Piper bettle L, Piper nigrum L.
82
Manfaatnya kedua tanaman tersebut yaitu digunakan sebagai bumbu masak dan
obat herbal.
8. Ordo (Bangsa) Proteales.
Bangsa ini hanya terdiri dari satu suku yaitu Proteaceae, dengan ciri-ciri: habitus
pohon atau perdu, jarang berupa terna. Daun tunggal, bertoreh pertulangan menyirip, daun
kaku atau seperti belulang, duduk tersebar atau berhadapan tanpa daun penumpu. Bunga
hermaprodit atau berubah menjadi uniseksual karena adanya reduksi pada salah satu
kelamin bunga. Bunga tersusun bentuk bulir, tandan atau tongkol. Masing-masing bvunga
dengan hiasan bunga menyerupai mahkota berbilangan 4, aktinomorf atau zigomorf.
Benang sari berhadapan dengan daun tajuk hiasan bunga dan berlekatan tetapi kepala sari
bebas. Bakal buah menumpang, beruang 1 dengan 1 sampai banyak bakal buah yang
parietal. Tiap bakal biji dengan 2 selaput. Buahnya buah kendaga atau buah kurung, biji
tanpa endosperm. Lembaga dengan lebih dari 2 katiledon.
Suku ini terdiridari 50 marga dengan 1200 jenis yang tersebar di daerah sebelah
selatan khatulistiwa terutama Australia dan Afrika Selatan. Contoh: Leucodendron
argentum,
Leucospermum coenocarpum, Myzodendron brachystachyum, Protea
cynaroide, Banksia
: B. serrata, B. verticillata Macadamia. termifolia ,Grevillea.
Preissei G. robusta
. Leucodendron argenteum
9. Bangsa (Ordo) Santalales
Adapun ciri-cirinya sebagai berikut :
a. Tumbuh-tumbuhan berbatang kayu atau terna yang sering bersifat sebagai parasit
dengan daun-daun tunggal yang tersebar atau berhadapan, tanpa daun penumpu.
83
b.
Bunga mempunyai tenda bunga dengan benang-benang sari yang berhadapan
dengan daun-daun tenda bunga, seringkali terdapat hiasan bunga yang rangkap dan
benang-benang sari yang tersusun dalam 1 sampai 2 lingkaran.
c.
Bakal buah tenggelam, beruang 1 sampai 3 tiap ruang dengan 1 bakal biji dengan
tembuni di pusat. Kadang-kadang bakal biji tidak jelas terpisah dari papan bijinya
tanpa selaput
Bangsa ini antara lain meliputi :
1. Suku (Familia) : Santalaceae.
Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:
a. Terna, perdu,
parasit,
atau pohn-pohon yang kadang-kadang hidup sebagai setengah
dengan
daun-daun
tunggal
yang
dududknya
tersebar
atau
berhadapan.bunga amat kecil, banci atau berkelamin tunggal, terpisah-pisah atau
berkelompok dalam ketiak-ketiak daun.
b. Kelopak seringkali menyerupai mahkota, mahkota tidak ada. Benang sari sama
banyaknya dengan jumlah daun kelopak, berhadapan dengan daun-daun kelopak
tadi.
c. Bakal buah tenggelam, beruang 1 dengan 24 bakal biji dengan tembuni di pusat,
bakal biji tanpa selaput atau dengan 1 selaput.
d. Buahnya buah keras atau buah batu dengan 1 biji tanpa kulit biji, endosperm besar
berdaging, lembaga kecil.
Suku ini meliputi 400 jenis terbagi dalam 30 marga yang kebanyakan terdapat di
daerah tropika, di antaranya :
Santalum : S. album (cendana) yang banyak terdapat di Nusa Tenggara Timur
(Sumba, Timor) untuk diambil kayunya dan minyak.
Santalum album
84
2. Suku (Familia) Loranthaceae
Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. Setengah parasit yang batangnya berkayu, tumbuh pada dahan anggota-anggota
Gymnospermae dan Dicotyledoneae yang berkayu, dengan daun-daun tunggal yang
kaku seperti belulang, duduknya bersilang/berhadapan atau berkarang, tanpa daun
penumpu.
b. Kadang-kadang tidak terdapat daun-daun, dalam hal itu ruas-ruas cabangcabangnya berwarna hijau dan berfungsi sebagai alat untuk asimilasi.
c. Tumbuh-tumbuhan membentuk alat penghisap yang beraneka rupa
d. Pada perkecambahan alat pelekatnya ada yang lalu membentuk alat penghisap yang
pipih dan meluas melekat pada kayu inangnya. Adapula yang dari alat pelekat itu
tumbuh streng-streng penghisap seperti akaryang meluas pada permukaan gelam
tumbuh-tumbuhan inangnya dan dari streng-streng tersebut masuk ke dalam kayu
alat penghisap yang disebut penyelam, ada pul yang langsung dari cakram
pelekatnya mengeluarkan penyelam ke bagian kayu inangnya.
e. Bunga banci atau berkelamin tunggal
f. Berumah 1 atau 2
g. Aktinomorf dengan tenda bunga yang sedikit terdiferensiasi atau jelas mempunyai
hiasan bunga yang rangkap, hiasan bunga berbilangan 2-3
h. Benang sari sama banyaknya dengan taju-taju tenda bunga dan berhadapan dengan
taju-taju tersebut, bebas atau sedikit banyak berlekatan dengan tenda bunga tadi
i. Bakal buah tenggelam dalam sumbu bunganya, biasanya tidak jelas diferensiasi
antara tembuni dengan bakal bijinya
j. Buahnya menyerupai buah batu, bagian pusat mengandung 1 atau tidak jelas
diferensiasi antara papan biji dengan bakal bijinya
k. Buahnya menyerupai buah batu, bagian pusat mengandung 1 atau beberapa
lembaga dan biasanya diselubungi oleh suatu substansi seperti lendir yang berasal
dari lapisan dalam sumbu bunga
l. Lembaga mempunyai 2 kadang-kadang 3-6 daun lembaga
Penyerbukan biasanya secara entomogami atau ornitogami, tetapi terdapat pula
anemogami. Antara penyerbukan dan pembuahan terdapat perbedaan waktu yang lama.
Penyebaran biji/buah biasanya secara ornitokori.
85
Loranthaceae terdiri atas + 40 marga dengan 1.300 jenis yang tyersebar luas di
daerah tropika, hanya sebagian kecil terdapat di luar tropika.
Contoh-contoh :
Loranthus: L. europeus.
Phora dendron: Ph. Undulatum, Ph. Flavescens
Viscum: V. Albumseringkali sebagai hiperparasit pada Loranthus, V. articulum.
Scurrula: Sc. Atropurpurea
Macrosolen: M. cochinchinensis
. Loranthus sp
3. Suku (Familia) Balanophoraceae.
Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:
a. Parasit-parasit sejati, yang sama sekali tak mempunyai klorofil lagi, biasanya hidup
pada akar tumbuh-tumbuhan yang berkayu dengan bagian-bagian vegetatif yang
mengalami reduksi yang amat mendalam.
b.
Pada tumbuh-tumbuhan inang terdapat semacam rimpang yang serupa umbi
dengan percabang-cabangan serupa yang langsung bersambungan dengan akar
tumbuhan inangnya, tanpa penyelam, daun-daun tereduksi berupa sisik-sisik atau
sama sekali tidak ada.
c.
Pada ujung umbi atau percabangannya terdpat bunga majemuk yang nanti muncul
di atas tanah, berupa bongkol atau bulir, kadang-kadang mulai rapat.
d. Bunga telanjang atau dengan tenda bunga yang kecil, dengan tenda bunga yang
berbilangan 3-4 atau kadang-kadang 2-8 seringkali berlekatan.
e. Benang sari berhadapan dengan daun-daun tenda bunga, jumlahnya sama dengan
daun-daun tenda bunga atau kurang
86
f. Kepala sari dengan 1 atau beberapa ruang sari
g. Bunga betina biasanya telanjang, bakal buah menumpang, terdiri atas 1-3 daun
buah, beruang 1 dengan 1-3 bakal biji tanpa selaput.
h. Kadang-kadang bakal biji tidak jelas, dalam tembuni atau dinding bakal buah lalu
terdapat kandung lembaga
Penyerbukan secara entomogami atau anemogami. Buahnya buah keras berisi 1 biji
dengan endosperm dan lembaga kecil yang belum terdiferensi. Penyebaran dengan
perantaraan semut.
Suku ini meliputi lebih dari 100 jenis yang terbagi dalam 17 marga terutama dalam
hutan-hutan di daerah tropika, a.l. :
Balanophora: B. globosa, B.elongata.
Lophophyum: L. leandri
Langsdorffia: L. hypogea
Helosis: H. brasiliensis
4. Suku (Familia) Cynomoriaceae
Adapun ciri-cirinya sebagai berikut:
a. Parasit-parasit akar yang berwarna perang kemerahan-merahan, tanpa klorofil
mempunyai rimpang yang mengeluarkan akar-akar adventif dan akar-akar inilah
timbul haustoria yang melekat pada tumbuhan inangnya.
b. Batang tidak bercabang dengan daun-daun yang berbentuk sisik. Bunga banci atau
berkelamin tunggal, tersusun dalam bunga maemuk yang berbentuk tongko,l atau
menyerupai gada.
c. Mempunyai tenda bunga yang berbilangan 1 8, 1 benang sari, bakal buah yang
tenggelam beruang 1 dengan 1 bakal biji yang mempunyai 1 selaput.
Habitus menyerupai Balanophoraceae, tetapi jelas berbeda dalam bentuk susunan
rimpang dan terdapatnya selaput bakal biji.
Suku ini bersifat monotipik, hanya terdiri atas 1 marga dengan 1 jenis:
Cynomorium coccineum, yang hidup sebagai parasit pada akar berbagi macam
tumbuhan halofita di pantai Laut Tengan dan padang-padang rumput di Asia Barat.
Dalam bangsa Santales masih termasuk beberapa suku yang belum mendapatkan
perhatian yang cukup dari para ahli ilmu tumbuhan :
Suku : Grubbiaceae, Octocnemaceae, Olacaceae, Opiliaceae, dan Myzidendraceae.
87
10. Bangsa (Ordo) Polygonales
Ordo ini hanya terdiri atas 1 suku Polygonaceae dengan ciri-ciri sebagai berikut :
Terna, perdu atau pohon-pohonan dengan daun-daun yang duduknya tersebar dan
mempunyai omrea yang memeluk batang. Bunga dengan tenda bunga atau jelas dengan
kelopak dan mahkota, banci (hemaprodit) atau erkelamin tunggal, aktinomorf, berbilang 2
sampai 3 atau 5. Benang sari 4 sampai 12, kebanyakan 6 sampai 9. Putik terdiri atas 2
sampai 4 daun buah dengan tangkai putik yang sama dengan jumlah daun buahnya, bakal
buah menumpang, dikelilingi oleh sebuah cakram, beruang 1 dengan 1 bakal biji yang
atrop atau kadang-kadang anatrop. Buahnya buah keras berbentuk pipih atau segi tiga,
kadang-kadang diselubungi tenda bunganya. Biji mempunyai endosperm tanpa perisperm.
Suku ini meliputi 800 jenis yang terbagi dalam 32 marga kebanyakan tersebar disebelah
utara khatulistiwa.
Beberapa contoh :
Rheum ; Rheum palmatum, Rheum officinale, keduannya menghasilkan “radix rhei” yang
berguna untuk obat-obatan. Di Jawa Tengah untuk industry rokok klemak menyan. Rheum
raponticum, Rheum rhabarbarum (sayuran)
Fagopyrum : Fagopyrum .esculentum (soba), dapat dimakan
Antigonon : A. leptopus (Air mata pengantin , banyak ditanaman sebagai tanaman hias).
Polygonum : P. umplexicaule, P. aviculare, P. perfoliatum.
Rumex : R. crispus, R. ambiguous, R. sagittatus ( Sayuran )
Contoh Klasifikasi
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Polygonales
Familia
: Polygonaceae
Genus
: Rheum , Fagopyrum Antigonon, Polygonum, Rumex,
Species
: Rheum palmatum , Fagopyrum esculentum Antigonon leptopus,
Polygonum umplexicaule, Rumex cripsus
88
Rheum palmatum ,
Antigonon leptopus
11.
Fagopyrum esculentum
Polygonum umplexicaule
Rumex cripsus
Ordo (Bangsa) Carryophyllales=Centrospermae
Umumnya berupa terna, jarang sekali tumbuh-tumbuhan yang berkayu. Daun
tunggal, biasanya tanpa daun penumpu. Bunga banci atau karena adanya reduksi menjadi
berkelamin tunggal, aktinomorf, dengan tenda bunga yang rangkap atau tunggal atau jelas
dengan kelopak dan mahkota. Benang sari dalam satu lingkaran, berhadapan dengan tenda
bunga atau dalam dua lingkaran. Bakal buah tenggelam atau menumpang, kebanyakan
beruang satu dengan banyak 1 bakal biji yang kampilotrop, yang hampir selalu mempunyai
2 selaput biji, terletak pada tembuni yang sentral. Biji dengan lembaga yang bengkok
mengelilingi perispermnya.
Ordo ini mencakup beberapa famili diantaranya:
a. Suku (Familia) Chenopodiaceae
Terna atau kadang-kadang tumbuhan berbatang kayu (yang sering memperlihatkan
cara penebalan yang abnormal) dengan daun-daun tunggal yang duduknya tersebar, jarang
sekali berhadapan, kadang-kadang bersifat sukulen. Tanpa daun penumpu. Bunga kecil
kehijau-hijauan, tersusun dalam bunga majemuk yang rasemos, kebanyakan aktinomorf
89
dengan tenda bunga yang tunggal, banci, atau berkelamin tunggal. Tenda bunga
berbilangan 1 sampai 5 atau sama sekali tidak ada.
Benang sari sama atau kurang daripada jumlah daun tenda bunga duduknya
berhadapan dengan daun-daun tenda bunga, dalam kuncup membengkok ke dalam. Bakal
buah menumpang atau setengah tenggelam, terdiri atas 2 daun buah dengan 2 sampai 5
kepala putik, beruang 1 dengan 1 bakal biji yang kamilotrop dengan tali pusar yang basal.
Buahnya buah keras atau buah yang kalau masak membuka dengan sebuah tutup, biasanya
diselubungi daun daun tenda bunga yang berdaging.
Bunga dengan perisperm yang
dikelilingi oleh lembaga yang tergulung. Suku ini meliputi ±1400 jenis, dari ± 100 marga.
Contoh: Chenopodium abrosioides, Beta vulgaris, spinocia oleracea, Salicornia
herbacea, salsola soda, Holoxylon ammodendron dll.
Contoh : Klasifikasi Bit gula Beta vulgaris :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophyllales
Familia
: Chenopodiaceae
Genus
: Beta
Spesies
: Beta vulgaris
b. Suku (Familia) Amaranthaceae
Terna berumur pendek atau tumbuh-tumbuhan berbatang kayu, dengan daun-daun
yang kadang-kadang bersifat sukulen,duduknya berhadapan atau tersebar tanpa daun
penumpu. Susunan bunga menyerupai bunga Chenopodiaceae. Bunga terdapat dalam
ketiak-ketiak daun atau tersusun dalam bunga majemuk yang bersifat seperti dikasium
yang selanjutnya tersusun lagi dalam rangkaian-rangkaian yang menyerupai bulir,
seringkali berwarna kehijau-hijauan. Benang sari pada pangkalnya seringkali berlekatan
menjadi buluh, seringkali diantaranya terdapat pseudostaminodium yang bersifat petaloid.
Bakal buah menumpang, beruang 1 dengan 1 bakal biji. Tangkai putik tidak ada
atau berbentuk benang dengan kepala putik yang berbentuk kancing atau terbelah. Bakal
biji kampilotrop, tegak atau bergantungan pada tali pusar yang basal. Buahnya buah buni,
90
buah keras atau buah kering yang membuka dengan sebuah tutup, kadang-kadang
diselubungi tenda bunga. Biji dengan lembaga yang bengkok melingkari endospermnya.
Suku ini memiliki ± 850 jenis.
Contoh: Amaranthus spinosus, Celosia cristata, Alternanthera sessilis, Gomphrena
globosa.
Celosia cristata
Celosia Plumosa
Contoh Klasifikasi Bayam duri Amaranthus spinosus L :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophillales
Familia
: Amaranthaceae
Genus
: Amaranthus
Spesies
: Amaranthus spinosus L
c.Suku( Familia) Phytolaccaceae
Terna atau tumbuh-tumbuhan berbatang berkayu dengan daun daun tunggal yang
tersebar dan hampir selalu tanpa daun-daun penumpu. Bunga amat kecil tersusun dalam
bunga majemuk yang bersifat simos atau rasemos, banci, kadang-kadang karena terjadi
reduksi menjadi berkelamin tunggal, aktinomorf, tenda bunga tunggal, hanya kadang-
91
kadang saja mempunyai hiasan bunga yang rangkap, berbilangan 4 sampai 5, biasanya
tetap tinggal menyelubungi buah.
Susunan benang sari macam-macam ada yang sama jumlahnya dengan jumlah
daun-daun hiasan bunga, duduknya berseling atau berhadapan dengan daun-daun hiasan
bunga tersebut, dapat juga terdapat jumlah benang sari yang besar. Bakal buah buah
menumpang terdiiri dari 1 atau tak terhitung daun buah, sinkarp atau apokarp, tiap ruang
dengan 1 bakal biji. Buahnya buah buni atau buah kendaga, beruang 1 atau beruang
banyak yang dapat pecah menjadi bagian-bagian buah yang masing-masing berisi 1 biji.
Biji mempunyai salut, perisperm bertepung, lembaga bengkok melingkari perispermnya.
Meliputi ±120 jenis dari 17 marga. Contoh Phytolacca decandra, P. Americana.
Rivina humilis L
Klasifikasi Getih getihan Rivina humilis L :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophillales
Familia
: Phytolaccaceae
Genus
: Rivina
Spesies
: Rivina humilis
d. Suku (Familia) Nyctaginaceae
Terna atau tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal yang duduknya
berhadapan, tanpa daun penumpu. Bunga tersusun dalam kelompok-kelompok kecil yang
seringkali diselubungi oleh daun-daun pelindung yang berwarna menarik, banci atau
karena adanya reduksi berkelamin tunggal, aktinomorf, atau sedikit zigomorf.
Hiasan bugna tunggal, kebanyakan menyerupai mahkota, kadangkadang kecil
sekali, berbilangan 5 dan berlekatan satu sama lain, di luarnya sering terdapat daun-daun
pembalut yang menyerupai kelopak. Bagian bawah hiassan bunga tinggal sebagai selubung
buah. Benang sari 1 10, tersusun dalam 2 lingkaran, duduk berseling dengan taju-taju
hiasan bunga. Bakal buah menumpang, beruang satu yang basal. Penyerbukan secara
entomogami atau kleistogami. Buahnya buah kurung, dinding buah rapat dan berlekatan
dengan kulit biji. Lembaga lurus atau bengkok, biji mempunyai perisperm.
92
Suku ini meliputi
± 30 marga dengan ± 300 jenis. Contoh: Bougenvillea
spectabilis, Mirabilis jalapa dll
Contoh Spesies : Bunga pukul empat Mirabilis jalapa
Klasifikasi :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophyllales
Familia
: Nyctaginaceae
Genus
: Mirabilis
Bougenvillea
Spesies
: Mirabilis jalapa
Bougenvillea spectabilis
e. Suku (Familia) Aizoaceae
Terna berumur pendek atau panjang atau tumbuh-tumbuhan berkayu dengan daundaun yang berhadapan, jarang sekali tersebar, biasanya sukulen dan merupakan rozet akar,
kadang-kadang terduksi, dengan daun-daun penumpu. Bunga hampir selalu banci,
aktinomorf dengan tenda bunga yang berbilangan 5 sampai 8, bebas atau berlekatan,
kadang-kadang jelas dengan kelopak dan sejumlah besar daun daun mahkota yang
merupakan metamorfosis benang-benang sari yang paling luar.
Benang sari
5, duduk berseling dengan daun daun tenda bunga, atau banyak dan
berlekatan pada pangkalnya. Bakal buah menumpang
sampai tenggelam, beruang 1
sampai 20. Dengan tembuni disudut, basal, atau perial bakal biji tak terhingga, anatrop
atau kamilotrop. Buahnya buah kendaga atau buah keras atau berdaging seperti buah buni.
Biji dengan perisperm yang bertepung dan lembaga yang bengkok, seringkali mempunyai
salut biji. Suku ini meliputi ± 600 jenis. Contoh: Mesembryanthemum edule, Tetragonia
expansa, Mollugo pentaphylla.
Contoh Klasifikasi :
93
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophyllales
Familia
: Aizoaceae
Genus
: Tetragonia
Spesies
: Tetragonia expansa
f. Suku (Familia) Cactaceae
Batang Sukulen, kebanyakan xerofita atau kadang-kadang epifita, tanpa daun daun.
Batang tebal berdaging (dengan jaringan air) dengan bentuk yang beraneka ragam, bulat,
bersegi, silinder, seperti pilar, dll. Daun-daun telah tereduksi menjadi duri-duri, jarang
sekali terdapat daun-daun yang normal, di dalam ketiaknya seringkali terdapat berkas
rambut-rambut. Bunga relatif besar, duduk diatas bantalan-bantalan daun, aktinomorf atau
sedikit zigomorf, banci, dengan sumbu bunga yang panjang berbentuk buluh.. Hiasan
bunga terdiri atas sejumlah besar daun-daun hiasan bunga yang biasanya sukar dibedakan
antar kelopak dan mahkotanya, di bagian bawah seringkali berlekatan menjadi suatu buluh.
Benang sari , bakal buah tenggelam, mempunyai satu tangkai putik, tersusun atas beberapa
daun buah, beruang 1 dengan tembuni di dinding. Bakal biji dengan 2 selaput biji, buahnya
buah buni yang berisi banyak biji, biji dengan sedikit atau tanpa endosperm.
Suku ini meliputi ± 100 marga dengan ± 1500 jenis .Contoh: Cereus giganteus,
Opuntia vulgaris, Nopaleacoccinellifera
Contoh Klasifikasi :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophyllales
Familia
: Cactaceae
Genus
: Nopalea
Spesies
: Nopalea coccinellifera L
94
g. Suku (Familia) Portulacaceae
Terna atau semak-semak kecil dengan daun-daun tunggal yang tebal berdaging,
duduknya tersebar atau berhadapan atau dalam rozet,dengan daun-daun penumpu yang
tipis seperti selaput atau mengalami metamorfosis menjadi seberkas rambut-rambut, jarang
sekali tanpa daun penumpu. Bunga banci aktinomorf.
Bunga dengan 2 sampai 5 daun-daun pembalut atau lebih yang menyerupai
kelopak: tenda bunga berbilangan 4 sampai 6, biasanya lekas gugur. Benang sari sama
dengan jumlah daun hiasan bunga atau lebih banyak atau kurang. Biasanya duduk
berhadapan dengan daun-daun gtenda bunga. Bakal buah menumpang atau setengah
tenggelam, mula-mula beruang banyak, kemudian menjadi beruang 1 karena lenyapnya
sekat-sekat, berisi 1 bakal biji yang kampilotrop dengan tembuni yang sentral. Buahnya
buah kendaga yang membuka dengan katup-katup atau dengan sebuah tutup biasanya
mengandung banyak biji.
Biji dengan perisperm yang besar, lembaga bengkok
mengelilingi perisperm. Suku ini meliputi 19 marga dengan ± 500 jenis yang sebagian
besar Xerofita. Contoh: Portulaca oleraceae, P. grandiflora, Talinum triangulare, montia
minor dll
Contoh Klasifikasi :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophyllales
Familia
: Portulacaceae
Genus
: Portulaca
Spesies
: Portulaca grandiflora
h.Suku (Familia) Basellaceae
Terna berumur panjang, batang membelit, kaang-kadang sedikit berkayu, dengan
daun-daun tunggal yang tersebar, seringklai bersifat sukulen, tanpa daun penumpu, bunga
dalam bunga majemuk yang rasemos, banci, jarang sekali berkelamin tunggal, aktinomorf,
dengan 5 daun tenda bunga yang berlekatan pada pangkalnya serta 2 daun pembalut yang
95
seringkali dikira daun-daun kelopak. Benang sari 5, berhadapan dengan daun-daun tenda
bunga, pada pangkal berlekatan dengan daun-daun tenda bunga.
Daun buah menumpang, mempunyai 1 tangkai putik, dengan 1 bakal biji yang
kamilotrop dengan tembuni didasarnya. Buahnya buah buni atau buah batu, berdaging,
diselubungi oleh daun-daun tenda bunga yang tidak gugur. Biji dengan sedikit endosperm
dan lembaga yang bengkok. Suku ini meliputi 5 marga dengan ± 20 jenis.
Contoh: Basella alba, B. rubra: Ullucus tuberosus: Boussingaultia baselloides
Contoh Klasifikasi :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophyllales
Familia
: Basellaceae
Genus
: Basella
Spesies
: Basella rubra L
i. Suku (Familia) Caryophyllaceae
Terna atau kadang-kadang semak-semak kecil dengan daun-daun yang sempit yang
duduknya tersebar, dengan atau tanpa daun-daun penumpu. Bunga tersusun dalam bunga
majemuk yang simos, banci atau berkelamin tunggal, seringkali dengan daun-daun
peralihan atas yang steril sebagai selubung atau mempunyai kelopak dan mahkota, hampir
selalu berbilangan 5.
Benang sari 5 -10, tersusun dalam 1 atau 2 lingkaran. Bakal buah terdiri dari 2
sampai 5 daun buah, menumpang atau setengah tenggelam, beruang 1 atau beruang banyak
tidak sempurna, mempunyai 2 sampai 5 tangkai putik atau mempunyai 1 tangkai putik
dengan 2 5 kepala putik. Bakal biji , anatrop atau tampilotrop denga tembuni yang basah
atau di sudut-sudut pusat. Buahnya buah kendaga atau buah buni. Biji dengan perisperm
dalam kendaga yang bengkok. Penyerbukan secara entomogami, adakalanya autogami atau
kleistogami. Suku ini meliputi 80 marga dengan ± 2000 jenis.
Contoh: Hernaria hirsuta, Stellaria medica, Dianthus annuus, D. plumarius,
Contoh Spesies : Dianthus plumarius
Klasifikasi :
96
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Caryophyllales
Familia
: Caryophyllaceae
Genus
: Dianthus
Spesies
: Dianthus plumarius
12. Bangsa (Ordo) Euphorbiales = Tricoccae
Umumnya terna atau tumbuh-tumbuhan berkayu dengan daun tunggal atau
majemuk yang duduknya tersebar atau berhadapan, kebanyakan mempunyai daun
penumpu.
Bunga tanpa hiasan bunga atau dengan hiasan bunga yang tunggal, jarang terdapat
kelopak dan mahkota, seringkali dalam bunga majemuk yang mempunyai susunan yang
khusus kebanyakan aktinomorf, hampir selalu berkelamin tunggal. Bakal buah biasanya
terdiri atas 3 daun buah (jarang sekali kurang atau lebih) yang berlekatan membentuk 3
ruang, tiap ruang dengan 1-2 bakal biji
Ordo ini mencakup beberapa famili diantaranya:
a.
Suku (Familia) Euphorbiaceae
Tumbuhan berkayu, tetapi termasuk pula di dalamnya terna. Karena adaptasi
terhadap lingkungannya kadang-kadang mempunyai habitus seperti Cactaceae, ada pula
yang mempunyai filokladium. Daun tunggal atau majemuk, duduknya tersebar atau
berhadapan, dengan daun-daun penumpu yang seringkali menyerupai kelenjar-kelenjar.
Bunga hampir selalu berkelamin tunggal, berumah 1 atau 2, dengan bentuk dan susunan
yang beraneka rupa, ada yang tanpa hiasan bunga, dengan hiasan bunga rangkap atau
tunggal, biasanya berangkai dalam bunga majemuk yang berganda.
Bunga jantan dengan benang sari yang sama jumlahnya dengan daun-daun hiasan
bunga, dapat pula kurang atau lebih. Bunga betina dengan putik yang berdiri atas 3 daun
buah dengan 3 tangkai putik yang bebas atau berlekatan, bakal buah menumpang, beruang
3. Buahnya biasanya buah kendaga yang kalau masak pecah menjadi 3 bagian buah, ada
97
pula yang berupa buah buni atau buah batu. Biji dengan endosperm yang besar, lembaga
letaknya sentral.
Hampir semua bagian tubuh tumbuhan dalam suku ini mengandung getah yang
terdapat dalam saluran-saluran getah yang dapat hanya berdiri atas 1 sel saja (suatu
senosit) yang panjang dan bercabang-cabang serta bersambungan satu sama lain
(anastomoseren), dapat
pula merupakan
fusi
banyak
sel
)seperti
buluh-buluh
pengangkutan).
Contoh spesies : Kayu racun Euphorbia pulcherrima
Klasifikasi :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Euphorbiales
Familia
: Euphorbiaceae
Genus
: Euphorbia
Spesies
: Euphorbia pulcherrima
b. Suku (Familia) Dichapetalaceae
Tumbuhan berkayu, kadang-kadang berupa liana, dengan rata, duduknya tersebar,
mempunyai daun penumpu. Bunga kecil tersusun sebagai bunga majemuk yang terdapat
dalam ketiak-ketiak daun, aktinomorf atau zigomorf, banci atau berkelamin tunggal.
Sumbu bunga dengan sisik-sisik atau cakram yang berbentuk piala. Hiasan bunga rangkap,
berbilangan 5. Benang sari 5, semuanya fertil atau 2-4 bersifat staminodial, bebas atau
berlekatan menjadi buluh, berlekatan pula dengan mahkota. Putik 2-3 tangkai putik, bakal
buah menumpang atau setengah tenggelam, beruang 2-3, tiap ruang dengan 2 bakal biji
yang epitrop (bergantungan), masing-masing dengan 2 selaput bakal biji. Buahnya buah
batu, biji tanpa endosperm.
Contoh spesies : Tapura fischeri
Klasifikasi :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
98
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Euphorbiales
Familia
: Dichapetalaceae
Genus
: Tapura
Spesies
: Tapura fischeri
c. Suku (Familia) Buxaceaee
Umumnya berupa tumbuh-tumbuhan berkayu dengan daun-daun bertepi rata yang
duduknya tersebar atau berhadapan, tanpa daun-daun penumpu. Bunga dalam ketiak daun,
terpisah-pisah atau berupa bulir atau bongkol., berkelamin tunggal, aktinomorf. Tenda
bunga berwarna hijau berbilangan 4 atau lebih, pada bunga jantan, tenda bunga seringkali
tidak terdapat. Bunga jantan dengan 4 benang sari atau lebih, duduknya berhadapan
dengan daun-daun tenda bunga. Bunga betina mempunyai putik dengan 2-4 tangkai putik,
bakal buah yang menumpang, beruang 2-4, biasanya 3, tiap ruang dengan 1-2 bakal biji.
Buahnya buah kendaga yang kalau masuk membuka dengan membelah ruang (loculicide)
atau buah batu. Biji dengan endosperm dan kebanyakan mempunyai karunkula.
Contoh spesies : Buxus sempervirens
Klasifikasi :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Euphorbiales
Familia
: Buxaceae
Genus
: Buxus
Spesies
: Buxus sempervirens
d.
Suku (Familia) Callitrichaceae
Biasanya terdiri ats terna yang tergolong dalam hidrofita, dengan daun-daun
tunggal yang duduknya berhadapan., tanpa daun penumpu. Bunga kecil, berkelamin
tunggal, berumah 1, telanjang, biasanya terdapat dalam ketiak-ketiak daun. Bunga jantan
dengan 1 benang sari, yang betina mempunyai putik dengan 2 tangkai putik, terdiri atas 2
99
daun buah, bakal buah beruang 2 masing-masing dengan 2 bakal biji, tetapi kemudian
dengan pembentukan sekat median menjadi beruang 4. Buahnya kalau masak pecak
menjadi 4 bagian buah yang masing-masing menyerupai buah batu. Biji mempunyai
endosperm.
Contoh spesies : Callistriche heterophylla
Klasifikasi :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Sub Diviso
: Angiospermae
Classis
: Dicotyledonae
Sub Classis
: Apetalae
Ordo
: Euphorbiales
Familia
: Callitrichaceae
Genus
: Callistriche
Spesies
: Callistriche heterophylla
V.4. TUGAS UNTUK MAHASISWA
Mahasiswa
membuat makalah
Dicotyledoneae sub classis Apetalae
tentang
sub divisio Angiospermae Classis
dengan membaca dari sumber-sumber literatur,
materi bahan ajar atau penelusuran melalui internet.
100
BAB VII
SUB CLASSIS DIALYPETALAE
VI. 1.PENDAHULUAN:
SASARAN PEMBELAJARAN: Menjelaskan tentang ciri-ciri, tatanama dan klasifikasi Clas
Dikotil sub classis Dialypetalae
STRATEGI PEMBELAJARAN: Teaching learning, collaborative learning, , presentasi tugas
kelompok, praktikum
VI.2. SUB CLASSIS DIALYPETALAE
Dialypetalae merupakan kelompok tumbuhan dengan ciri utamanya mempunyai
bunga yang segera dapat menarik perhatian dan pada umumnya menunjukkan adanya hiasan
bunga ganda, jadi jelas dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota,. Contoh bangsa yang
termasuk dalam anak kelas Dialypetalae, yaitu :
1. Ordo (Bangsa) POLYCARPICAE (RANALES atau RANUNCULALES)
Umumnya tumbuhan dengan batang berkayu.Terdapat daun buah yang bebas dalam
bunganya, sehingga dari satu bunga dapat membentuk banyak buah (polycarpiceae ;poly =
banyak, carpos = buah). Bagian-bagian bunga lepas dan tersusun secara spiral.
Sebagian besar warga bangsa ini terjadi atas tumbuhan dengan batang berkayu, kadangkadang dalam kayunya belum terdapat trakea, sebagian kecil berupa terna.Ciri utama bangsa
ini ialah terdapatnya daun buah yang bebas pada bunganya, sehingga dari satu bunga dapat
kemudian terbentuk banyak buah. Sifat inilah yang menyebabkan kelompok tumbuhan ini
diberi nama Polycarpicae (dari bahasa Yunani Poly = banya, carpos = buah). Kedudukan
primitifnya terlihat dari dimilikinya bunga yang bagian-bagianya selain bebas satu dengan
yang lain juga karena duduknya yang mengikuti spiral dan adanya bentuk-bentuk peralihan
antara bagian-bangian utama bunga. Selain dari itu bagian-bangian bunga tersebut (terutama
daun-daun buahnya) kadang-kadang masih jelas sifatnya sebagai sporofil dengan bakal-bakal
biji (makrosporangium) yang terletak pada tepinya (marginal).
Polycarpicae juga
sering
dipandang
sebagai
kelompok
dikotil
yang
dalam
perkembangan filogentik selanjutnya akan menghasilkan kelompok tumbuhan monokotil.
Pendapat ini didasarkan atas adanya kenyataan ditemukannnya sifat-sifat umum tumbuhan
monokotil pada warganya, misalnya adanya daun-daun yang duduk berseling (mengikuti
rumus ½) dan bunga yang bagian-bangian berbilang tiga (trimer) seperti dapat kita jumpai
101
pada anggota-anggota suku Annonaceae, dan adanya suku daun-daun bertulang melengkung
serta bunga berbilangan 3 seperti terdapat pada anggota-anggota suku Lauraceae.
Dalam bangsa Polycarpicae termasuk sejumlah suku, diantaranya ialah :
1.
Suku (Familia) Ranunculaceae atau Ranaceae
Suku ini meliputi terna annual maupun parenial dan tumbuhan berkayu dengan daun-
daun tunggal atau majemuk yang duduknya tersebar atau berhadapan.Bagian-bagian bunga
jarang tersusun berkarang, kebanyakan mempunyai bagian-bagian bunga yang masih duduk
dalam spiral.Bunga dengan tenda bunga atau hiasan bunga yang telah jelas dapat dibedakan
dalam kelopak atau mahkota.Bila terdapat tenda bunga, tenda bunga itu umumnya bersifat
seperti mahkota, seringkali dengan daun-daun penghasil madu diantaranya daun-daun tenda
bunga dengan benang-benang sarinya.Bunga aktinomorf atau zigomorf, hampir selalu banci.
Benang sari banyak, bebas.Bakal buah kebanyakan lebih dari satu, jarang hanya satu,
apokarp, jarang sinkarp, mempunyai banyak bakal biji masing-masing dengan 1 sampai 2
integumen.Buahnya buah kurung, buah keras, atau buah buni.Biji dengan endosperm yang
besar dan lembaga yang kecil.
Suku ini meliputi sekitar 1200 jenis yang terbagi dalam 30 marga, kebanyakan
menghuni daerah iklim sedang.Sampai daerah iklim dingin.Kebanyakan anggotanya
mengandung alkaloid dan oleh karenanya berguna dalam obat-obatan.
Contah-contohnya :
2.
•
Ranunculus : R.arvensis, R. scleratus.
•
Hydrastis : H. Canadensis, rimpangnya berkhasiat obat.
•
Nigella : N.sativa, bijinya sebagai bumbu masak.
•
Clematis : C.paniculata, C. vitalba (liana, tanaman hias).
•
Delphinium : D. staphisagria (tanaman hias, biji berkhasiat obat).
•
Aconitium : A. napellus (umbinya berkhasiat obat).
•
Paeonia : P. officinalis, P. arborea.
•
Helleborus : H. niger, H. viridis.
•
Anemone : A. pulsatilla (berkhasiat obat).
Suku (Familia) Lardizabalaceae
Tumbuhan berkayu seringkali berupa liana, daun majemuk atau menyirip.Bunga
berpisah-pisah atau majemuk berbentuk tandan, aktinomorf, banci atau berkelamin tunggal,
berbilang tiga. Hiasan bunga terdiri atas 2 lingaran daun tenda bunga, 2 lingkaran daun-daun
102
penghasil madu, 2 lingkaran benang-benang buah apoarp, masing-masing berisi banyak atau
hanya 1 bakal biji yang parietal. Buahnya buah buni. Biji dengan endosperm dan lembaga
yang kecil.
Suku ini hanya mencakup + 15 jenis, terbagi dalam 7 marga, yang tersebar di
pegunungan Himalaya, Asia timur, dan Chili.
Contoh-contoh :
Akebia : A. aquinata, A. lobata (tanaman hias, buah dapat dimakan)
3.
Suku (Familia) Berberidaceae
Terna perennial atau tumbuhan berkayu dengan daun tunggal atau majemuk tanpa daun
penumpu. Bunga terpisah-pisah atau tersusun dalam rangkaian yang bersifat rasemos: hiasan
bunga berupa tenda bunga atau jelas dapat di bedakan dalam kelopak dan mahkota, berbilang
2 atau 3, banci, aktinomorf. Hiasan bunga tersusun dalam 2-4 lingkaran, seringkali di susul
dengan 2 lingkaran daun-daun madu dan 2 lingkaran benang-benang sari. Kepala sari
membuka dengan celah atau katup. Bakal buah dengan 1 sampai banyak bakal biji, masingmasing bakal biji dengan 1 sampai banyak bakal biji, masing-masing bakal biji dengan 2
integumen. Buahnya buah buni.Biji dengan endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku ini meliputi + 150 jenis yang terbagi dalam 10 marga , kebanyakan tumbuhan di
daerah iklim sedang, beberapa jenis terdapat di Asia timur dan tenggara.
Contoh-contoh :
4.
•
Berberis
: B. vulgaris.
•
Epimedium
: E. rubrum, E. alpinum (tanaman hias).
•
Podophyllum : P. peltatum, penghasil “rhizome podophylli” berkhasiat obat.
Suku ((Familia) Menispermaceae
Kebanyakan berupa liana, daun tunggal berlekuk atau berbagi menjari, dengan bunga
yang kecil-kecil. Pada akar dan batang sering terdapat pertumbuhan menebal sekunder yang
abnormal.Bunga dengan tenda bunga tunggal atau ganda, berbilangan 3 atau 2, berkelamin
tunggal, berumah 2, aktinomorf.Hiasan bunga, bila dapat dibedakan dalam kelopak dan
mahkota, masing-masing membentuk 2 lingkaran, mahkotanya kecil dan tidak lekas menarik
perhatian. Bakal buah 3 atau banyak (kadang-kadang hanya 1), tidak berlekatan 1 sama lain,
masing-masing berisi 1 bakal biji yang mempunyai integument. Buah berupa buah batu yang
bengkok.Biji tanpa endosperm.
Suku ini meliputi ± 400 jenis, terbagi dalam dari 60 marga, kebanyakan tumbuh di
daerah panas.Banyak di antaranya yang beracun.
103
Contoh :
•
Menispermum: M. canadense, dipiara sebagai tanaman hias yang memanjat.
•
Anamirta: A. cocculus, menghasilkan racun ikan.
•
Jatrorrhiza: J. palmate, menghasilkan “radix columbae”, berkhasiat obat.
•
Chondrodendron: Ch. Tomentosum, menghasilkan “radix pereirae brorae”, berguna
dalam obat-obatan.
5.
Suku ((Familia) Magnoliaceae
Tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal yang duduknya tersebar, tanpa atau
dengan daun penumpu, kadang-kadang dengan daun penumpu yang besar.Bunga banci atau
berkelamin tunggal, aktinomorf, kenamyakan mempunyai hiasan bunga yang jelas dapat
dibedakan dalam kelompok dan mahkotanya, tetapi tidak jarang terdapat daun tenda bunga
dalam jumlah besar yang tersusun dalam spiral tanpa perbedaan yang jelas antara kelompok
dan mahkotanya.Benang sari banyak, teratur dalam spiral.Bakal buah juga banyak, seperti
benang sarinya tersusun dalam spiral pada ujungsumbu bunga.Tiap bakal buah mengandung
satu 1 atau beberapa bakal biji yang melekat pada kampuh perut.Buahnya kendaga, buah
kurung, atau buah buni, yang terkumpul merupakan buah ganda.Biji dengan banyak
endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku ini mencakup ± 100 jenis yang terbagi dalam 12 marga, tumbuh di Amerika dan
Asia.Kebanyakan di daerah-daerah panas.
Contoh-contoh :
Magnolia
: M. precia, M. uriginianan M. macraphylla (tanaman hias).
Liriodendron : L. tulipifera (tanaman hias)
Michelia
: M. alba (cempaka putih), M. champaca (Cempaka Kuning).
Illicium
: I. verum, penghasil “fructus anisi stellati”, yang berguna dalam obat-obatan
dan sebagai penyedap dalam pembuat minuman keras, I. religiosum dengan
buah yg beracun. I. floridenum, I. anisatum.
6.
Suku ((Familia) Annonaceae
Tumbuhan berkayu dengan daun tunggal yang duduknya tersebar atau bereling, tanpa
daun penumpu.Bunga banci, jarang berkelamin tunggal, aktinomorf, biasanya berbilangan 3,
seringkali mempunyai 2 lingkaran daun-daun mahkota. Benang sari banyak, bakal buah 1
sampai banyak, bebas satu sama lain, masing-masing berisi banyak atau 1 bakal biji saja,
letaknya pada kampuh perut atau basal, tiap bakal biji mempunyai 2 integumen. Buah
104
kebanyakan berupa buah buni, kadang-kadang berupa buah ganda.Biji dengan endosperm
berbelah dan lembaga yang kecil.
Suku ini mencakup sekitar 800 jenis, terbagi dalam 80 marga, hampir semunya
penghuni daerah tropika.
Contoh-contoh :
•
Annona: A. muricata (sirsat), A. squamosa (srikaya), A. reticulate (buah nona),
penghasilan buah-buahan.
•
Stelechocarpus: St. borahol (kepel, burahol). Bunga tunggal, berumah 1, kauliflor,
buah dengan biji yang melintang, pantang di makan bagi wanita yang sedang
mengandung.
•
Cananga: C. odorata (kenanga, ilang-ilang), penghasil bunga tabur dan minyak
wangi.
•
7.
Polyalthia: P. lateriflora
Suku ((Familia) Myristicaceae
Suku ini terdiri atas tumbuhan berkayu dengan daun tunggal yang duduknya tersebar
atau berseling.Bunga kecil dengan tenda bunga tunggal yang berbilangan 3, selalu
berkelamin tunggal, aktinomorf, berumah 2.Tenda bunga berlekatan, benangsari banyak
(sampai 20), tangkai sari berlekatan berbentuk buluh, kepala sari menghadap keluar.Bakal
buah tunggal dengan 1 bakal biji yang anatrop dan terletak pada dasar bakal buah,
mempunyai 2 integumen.Buahnya buah yang berdaging, bila masak membuka dengan 2
katup.Biji dengan salut bijim yang disebut “macis”, endosperm dan perisperm yang berbelah,
lembaga hanya kecil.
Dalam suku ini termasuk sekitar 250 jenis, terbagi dalam 15 marga, kebanyakan
penghuni daerah tropika, terutama di Asia, Malaysia, dan Indonesia, ada juga di Afrika.
Contoh : Myristica fragrans (pala) penghasil rempah-rempah dan bahan obat (bijinya), kulit
buah yang tebal berdaging dapat dimakan (manisan pala atau asinan pala), salut biji (macis)
berguna dalam obat-obatan.
8. Suku (Familia) Monimiaceae
Tumbuhan berkayu, kebanyakan dengan daun-daun tunggal yang duduk daunnya
berhadapan tanpa penumpu.Bunga jelas mempunyai kelopak dan mahkota atau tenda bunga,
banci atau berkelamin tunggal, aktinomorf atau zigomorf.Sumbu bunga berbentuk cakram
atau piala.Benang sari banyak atau sedikit tersusun dalam 2 lingkaran. Bakal buah banyak,
bebas satu sama lain, masing-masing dengan satu bakal bijiyang letaknya basal dan
105
mempunyai 2 integumen. Buahnya buah kurung yang terbungkus oleh dasar bunganya.Biji
dengan endosperm dan lembaga yang kecil.
Suku Monimiaceae mencakup sekitar 340 jenis yang terbagi dalam 30 marga yang
merupakan penghuni daerah-daerah dengan udara panas. Contoh-contoh : Peumus : P.
Boldus, daunnya (folia boldo) berguna dalam obat-obatan. Daryphora : D. sassafras,
sassafras Australia. Atherosperma : A. moschatum.
9. Suku (Familia) Lauraceae
Tumbuh-tumbuhan berkayu dengan daun-daun tunggal (yang kadang-kadang
bertulang melengkung) yang duduknya tersebar, kadang-kadang berhadapan, tidak
mempunyai daun penumpu.Bunga banci atau berkelamin tunggal, dengan tenda bunga
berbilangan 2 sampai 5, biasanya berbilangan 3, tertanam pada tepi sumbu bunga yang
berbentuk mangkuk atau piala dan tersusun dalam 2 lingkaran. Benang sari tersusun dalam 3
sampai 4 lingkaran, tiap lingkaran terdiri atas sejumlah benang sari yang sama dengan jumlah
daun-daun tenda bunga dalam lingkarannya, yang pada lingkaran dalam sering bersifat
mandul sebagai staminodium. Kepala sari membuka dengan katup.Bakal buah menumpang
atau terdapat dalam lekukan dasar bunganya, mempunyai 1 bakal niji yang anatrop dengan 2
integumen.Buah untuk sebagian terbalutoleh sumbu bunganya yang membesar, berupa buah
buni atau menyerupai buah batu.Biji tanpa endosperm, lembaga dengan daun lembaga yang
besar.Dalam daun dan kulit batang (gelam) terdapat sel-sel yang mengandung minyak atsiri.
Warga suku Lauraceae merupakan penghuni daerah-daerah yang panas, seluruhnya
mencakup lebih dari 1000 jenis yang terbagi dalam sekitar 50 marga.Banyak diantaranya
yang berguna bagi kehidupan manusia.
Contoh-contoh :
• Laurus : L. nobilis, daunnya sebagai penyedap masakan. L. camphora, kamfer jepang
• Cinnamomum : C. zeylanicum, C. burmanni, C. cassia, penghasil kenigar atau kayu manis
(cortex cinnamomi) yang berguna sebagai penyedap masakan dan dalam obat-obatan.
• Persea : P. gratissima (alpokat, apukat), buahnya dapat dimakan : P. americana.
• Sassafras : S. officinale, kayunya (lignum sassafras) berguna dalam obat-obatan
• Eusideroxylon : E. zwageri, penghasil kayu ulin atau merbau dari Sumatra Selatan
• Cassytha : C. filiformis (tali putri), suatu parasit terutama bagi pohon-pohon di hutanhutan pantai.
10. Suku (Familia) Hernandiaceae
106
Suku ini terdiri atas tumbuhaan berkayu dengan daun penumpu.Bungan dengan tenda
bunga, banci atau berkelamin sari 3-5, duduknya berhadapan dengan daun-daun tenda bunga
dalam lingkaran yang paling luar.Bakal buah tenggelam, beruang 1, berisi satu bakal biji
anatrop yang bergantung dan mempunyai 2 integumen.Buahnya keras yang bersayap, biji
tanpa endosperm dengan lembaga yang lurus.
Hernandiaceae merupakan suatu suku yang warganya hidup di daerah tropika,
meliputi hanya sekitar 22 jenis yang terbagi dalam 4 marga.Contoh :Hernandia : Hernandia
Peltata, Hernandia origera.
11. Suku (Familia) Gomortegaceae
Angggota-anggotanya terdiri atas pohon-pohon dengan daun tunggal yang duduk
berhadapan, tanpa daun penumpu.Kayunya berat, awet.Bunga tersusun dalam tandan di
ketiak-ketiak daun atau pada ujung-ujung cabang, banci, aktinomorf. Hiasan bunga terdiri
atas 6-10 daun kelopak yang tersusun dalam spiral dan mempunyai bentuk dan warna seperti
tenda bunga. Mahkota tidak terdapat. Benang sari banyak, tetapi hanya 2 sampai 3 yang
bersifat fertile, yang di bagian dalam masing-masing mempunyai 2 kelenjar yang bertangkai
pada tangkai sarinya. Kepala sari membuka dengan katup-katup, menghadap ke dalam.
Bakal buah tenggelam, beruang 2 sampai 3 dengan bakal biji dalam tiap ruang.Bakal
biji mempunyai 2 integumen.Buahnya buah batu.Biji dengan banyak endosperm dan lembaga
yang besar. Suku ini hanya terdiri atas satu marga ;Gomortega dengan 1 jenis yang hidup di
Chili yaitu Comortega nitida.
12. Suku (Familia) Calycanthaceae
Merupakan tumbuhan perdu dengan daun-daun tunggal yang berhadapan, tanpa daun
penumpu.Bunga terpisah-pisah dalam ketiak daun, brbau sedap, mempunyai tenda bunga
yang banyak dan tersusun dalam spiral, dasar bunga yang terbentuk piala, aktinomorf.Daun
tenda menyerupai mahkota.Benang sari berjumlah antara 20-30. Bakal buah kurang lebig 20
terletak pada dasar sumbu bunga, bebas satu sama lain, masing-masing berisi 2 bakal biji
yang anatrop dan mempunyai 2 integumen. Buahnya buah kurung, berisi 1 biji.Biji dengan
sedikit atau tanpa endosperm, lembaga dengan daun lembaga yang tergulung.
Suku ini hanya terdiri atas satu marga, yaitu Calicanthus dengan 5 jenis yang tersebar
di Amerika Utara, Asia Timur, dan Australia tropik. Sebagai contoh: Calycanthus
occidentalis.
13. Suku (Familia) Eupomatiaceae
107
Merupakan tumbuhan semak atau perdu dengan daun-daun penumpu.Bunga terpisahpisah, banci aktinomorf, mempunyai dasar bunga yang berbentuk piala.Hiasan bunga hanya
terdiri atas 1 daun pelindung yang mudah gugur pada tepi dasar bunga yang berbentuk piala
tadi.Benang sari banyak, yang di bagian dalam steril dan petaloid. Bakal buah banyak, bebas
satu sama lain, terletak dalam dasar bunga, masing-masing banyak mengandung bakal biji.
Buahnya buah buni, dilingkari oleh sisa hiasan bunganya.Biji dengan endosperm yang
berbagi dan lembaga kecil. Suku ini hanya terdiri atas satu marga yaitu Eupomatia dengan
dua jenis di Irian dan Australia Timur. Contoh : Eupomatia laurina.
14. Suku (Familia) Nymphaeaceae
Hidrofita yang tumbuh di rawa-rawa atau daerah-daerah yang tergenang air, terapung
atau mempunyai akar yang dapat mencapai dasar air.Daun-daun terapung di air atau
tenggelam, tetapi ada pula yang muncul di atas air. Bunga terpisah-pisah, aktinomorf dengan
tenda bunga berbilangan 3 sampai banyak yang berfugsi sebagai daun kelopak, atau hanya 6
daun tenda bunga yang tersusun dalam 2 lingkaran. Benang sari 3 sampai banyak, sebagian
besar bersifat steril dan berubah menjadi bagian-bagian yang meyerupai daun-daun mahkota.
Bakal buah menumpang atau setengah tenggelam, kadang-kadang sama sekali
tenggelam berjumlah 3 sampai banyak, bebas satu sama lain atau berlekatan, seringkali
tenggelam dalam dasar bunganya, masng-masing beruang banyak, tiap ruang dengan satu
sampel banyak bakal biji yang laminal. Buahnya buah kurung atau menyerupai buah buni.Biji
mempunyai salut biji, kebanyakan dengan endosperm dan perisperm, lembaga lurus.Suku ini
mencakup sekitar 100 jenis yang terbagi dalam 8 marga dengan daerah distribusi yang sangat
luas, meliputi daerah tropika dan daerah iklim sedang di belahan bumi utara. Contoh-contoh :
•
Nymphaea :Nymphaea lotus (teratai), Nymphaea stellate (tunjung), seringkali sebgai
tanaman hias di kolam.
•
Nelumbo : Nelumbo nucifera, Nelumbo lutea (bijinya dapat dimakan).
•
Victoria : Victoria regia, dengan daun yang bundar dan tepi ke atas, sebagai tanaman
hias
15. Suku (Familia) Ceratophyllaceae
Tumbuhan air yang submers, dengan daun-daun yang berulang kali berbagi
menggarpu. Tanpa tangkai daun, tanpa daun penumpu, duduknya berkarang. Tiap daun,
mempunyai tenda bunga, berkelamin tunggal.Bunga ♂ dan ♀ dalam ketiak daun pada bukubuku yang berbeda, berumah satu.Daun tenda bunga pada bunga ♀ 12 sangat kecil, benang
108
sari 10-12, pada bunga ♀daun tenda bunga 9-10.Bakal buah menumpang, dengan 1 bakal biji
mempunyai tangkai putik yang panjang.Buahnya buah keras dengan tangkai putik yang
mengeras pada ujungnya, dilingkari daun-daun tenda bunga yang tidak luruh.Biji dengan
endosperm tipis, lembaga yang besar dan lurus.Pucuk lembaga telah jelas dan dalam biji telah
menujukkan beberapa daun. Suku ini hanya terdiri atas 1 marga : Ceratophyllum dengan 3
jenis yang kosmopolitik, diantaranya ialah : Ceratophyllum demersum.
2. Bangsa (Ordo) Rosales
Warga bangsa ini terdiri atas terna, semak, atau pohon dengan daun-daun tunggal atau
majemuk yang duduknya tersebar atau berhadapan, dengan atau tanpa daun penumpu.Bunga
banci, Karena reduksi dapat menjadi berkelamin tunggal, jelas mempunyai hiasan bunga
yang dapat dibedakan antara kelopak dan mahkotanya, mahkota berdaun mahkota bebas,
kebanyakan berbilangan 5. Jumlah benang sari sama dengan jumlah daun mahkotanya. Bakal
buah sama dengan jumlah daun mahkotanya. Bakal buah sama dengan jumlah daun mahkota
atau kurang, bebas, dapat berupa bakal buah beruang banyak dengan tembuni sentral. Dasar
bunga berbentuk cakram, melebar atau cekung dengan bagian-bagian bunga (mulai kelopak
sampai benang-benang sari ) pada tepinya. Bakal buah seringkali terdapat dalam cekungan
dasar bunga dan diselubungi dasara bunga itu, hingga letak bakal buah menjadi tenggelam.
1.
Suku (Familia) Crassulaceae
Suku yang berupa terna atau semak dengan daun-daun tunggal atau majemuk tanpa
daun penumpu.Bunga tersusun dalam bunga majemuk yang bersifat simus.Aktinomorf,
kebanyakan banci, mempunyai kelopak dan mahkota yang kebanyakan berbilangan 5, tetapi
ada juga berbilangan 3 – 32. Benang sari sama banyaknya dengan daun-daun mahkota atau
2x lipat. Bakal buah 3 atau lebih, atau bebas sebagian berlekatan, dengan sisik kecil pada
pangkalnya.Bakal biji banyak, tersusun dalam dua garispada kampuh perut, masing-masing
mempunyai 2 integumen.Buahnya buah bumbung dengan bij-biji yang kecil tanpa
endosperm.
Suku ini merupakan suatu suku yang cukup besar, meliputi 1.300 jenis yang terbagi
dalam sekitar 30 marga, kebanyakan merupakan tumbuhan daerah iklim sedang sampai
daera-daerah yang lebih panas, umumnya terdapat di atas tanah-tanah berbatu cadas, yang
menunjukkan bentuk-bentuk adaptasi terhadap keadaaan kurang air, oleh sebab itu umumnya
sukulenta.
Contoh-contoh:
Crassula: C. pyramidalis, C. columnaris
Sedum: S. palustre, S. aizoon, S. koloniense
109
Sempervivum: S. acuminatum, S. soboliferum, S. arachnoideum
Bryophyllum (Kalanchoe): K.crenata, K. pinnata, yang dapat berkembang biak dengan
kuncup-kuncup daun, yang terbentuk dalam toreh-toreh pada tepi daunnya.
Cotyledon: C. glaucus
2.
Suku (Familia) Saxifragaceae
Terna atau tumbuhan berkayu, mempunyai daun tunggal atau majemuk yang
duduknya tersebar atau berhadapan dengan atau tanpa daun penumpu yang kecil.Bunga
umumnya banci, aktinomorf, atau zigomorf, dengan kelopak dan mahkota yang jelas berbeda,
sering dengan kelopak saja atau tanpa hiasan bunga, kebanyakan berbilangan 5. Benang sari
2x lipat jumlah daun-daun hiasan bunga atau sama banyak, jarang banyak sekali. Bakal buah
menumpang, bila berlekatan dengan dasar bunganya yang cekung menjadi tenggelam atau
setengah tenggelam dengan tangkai putik yang bebas.Bakal biji banyak, terdapat pada
tembuni yang tebal.Buah berupa buah kendaga, mengandung banyak biji yang mempunyai
endosperm dengan lembaga yang lurus, kecil.
Warga suku ini sangat heterogen, mencakup 1.100 jenis, terbagi dalam ±85 marga
yang tersebar di seluruh permukaan bumi, paling sedikit di daerah tropika.
Contoh-contoh:
Saxifraga: S. flagellaris, S. trifurcali, S. sarmentosa
Hydrangea: H. hortensia, H. opuloides, tanaman hias.
Ribus; R.rubrum, R. nigrum, R. grossularia, buahnya dapat dimakan
Philadelpus: Ph. Pallidus, Ph. Coronaries
Deutzia: D.scabra, D.gracili
3.
Suku (Familia) Rosaceae
Terna atau tumbuhan berkayu, daun tunggal atau majemuk, duduk tersebar atau
berkarang, mempunyai sepasang daun penumpu, kadang-kadang melekat pada pangkal
tangkai bunga.Bunga banci, aktinomorf, jarang sekali zigomorf, hiasan bunga biasanya
berbilangan 5, ada yang berbilangan 3, 4, 6 atau 8, kadang-kadang jelas dapat dibedakan
dalam kelopak dan mahkotanya.Kadang-kadang mahkota tidak terdapat.Dasar bunga rata,
berbentuk cawan atau piala, dibagian tengah kadang-kadang cembung.Hiasan bunga dan
benang sari biasanya terdapat pada tepi dasar bunga.Benang sari berjumlah 2—4 x lipat
jumlah daun kelopak atau sangat banyak, jarang hanya 1—5, dalam kuncup seringkali
bengkok di dalam.Tangkai sari bebas, kepala sari beruang 2, membuka dengan celah
110
membujur. Bakal buah 1—banyak, bebas atau berlekatan satu sama lain, kadang-kadang
berlekatan dengan sumbu bunga, sehingga merupakan bakal buah yang tenggelam. Dalam
tiap bakal buah atau tiap ruang terdapat 2 bakal biji.Buah bermacam-macam dapat berupa
buah keras, buah kurung, buah bumbung, atau buah apel, kadang-kadang pada dasar bunga
yang membesar dan tebal berdaging.Biji dengan sedikit atau tanpa endosperm.
Suku ini tergolong suku yang besar, mempunyai sekitar 2.000 jenis yang terbagi
dalam ± 100 marga, tersebar di seluruh dunia.
Contoh:
Rosa: R.gallica, R. damascene, R. canina, tanaman hias penghasil minyak wangi (minyak
mawar, ”oleum rosarum”).
Rubus: R. idaeus, R. rosifolius, R.fraxinifolius, buahnya dapat dimakan.
Pyrus: Pyrus malus (apel), pohon buah-buahan.
Prunus: Pr. armeniaca, Pr. domesticus (plum)
Eriobotrya: E. japonica (mispel jepang)
Mespilus: M. germanica (mispel).
4.
Suku (Familia) Leguminosae
Suku ini merupakan satu diantara suku tebesar
(Leguminosae, Gramineae,
Orchidaceae) yang termasuk tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) yang meliputi lebih
dari 11.500 jenis yang terbagi dalam lebih dari 500 marga. Ciri khasnya ialah terdapatnya
buah yang disebut buah polong, yaitu buah yang berasal dari 1 daun buah dengan atau
tanpasekat-sekat
semu.Biji-biji
terdapat
pada
kampuh perut,
bila
masak
kering,
pecah.Sehingga biji terlontar keluar, atau buah terputus-putus menjadi beberapa bagian
menurut sekat-sekat semunya tetapi ada pula yang buahnya berdaging dan tidak pernah
pecah.Karena besarnya suku ini, lagipula pada bunganya terdapat sifat-sifat yang
karakteristik. Maka suku ini ada yang memecah menjadi 3 suku, yaitu:
a.
Suku Mimosaceae
Dengan bunga banci yang aktinomorf. Mempunyai kelopak berbilangan 4—5 yang
berlekatan dan mahkota terdiri atas daun-daun mahkota yang sama jumlahnya dan bebas satu
sama lain. Benang sari 2 x lipat jumlah daun mahkota atau banyak, tangkai sari bebas atau
berlekatan.Bunga itu kebanyakan terangkai dalam bunga majemuk berbentuk bongkol yang
seringkali tampak seperti satu bunga saja.Bakal buah menumpang, beruang 1, bakal biji
dalam 2 baris pada dinding bakal buah.Buah merupakan polong yang bila dimasak menjadi
kering dan terputus-putus menjadi beberapa bagian.Biji dengan sedikit atau tanpa endosperm.
Contoh:
111
Mimosa: M. pudica, M. invisa
Leucena: L. glauca, L. leucocephala
Acacia: A. catechu, A. decurrens, A. Senegal
Albizzia: A. falcate, A. sumatrana, A. stipulate
Calliandra: C. brevipes, C. haematoma, C. portoricensis
Entada: E. phaseoloides
b. Suku Papilionaceae
Terna, semak, perdu atau pohon dengan daun tunggal atau majemuk.Bunga banci,
zigomorf. Kelopak berbilangan 5, pada pangkal berlekatan, mahkota berbentuk kupu-kupu
terdiri atas 5 daun mahkota dengan susunan yang khas, 1 paling besar disebut bendera
(vexillum), 2 di sampingsama besar disebut sayap (ala), 2 lagi sempit berlekatan disebut
lunas (carina). Benang sari biasanya 10, berberkas 2, 1 bebas, yang 9 lainnya dengan tangkai
sari yang berlekatan, kepala sari membuka dengan celah membujur.Buahnya berupa polong
yang bila masak menjadi kering dan pecah, tetapi ada pula yang tidak pecah, melainkan
terputus-putus dalam bagian yang berisi 1 biji.Biji tanpa atau sedikit endosperm.Cadangan
makanan untuk lembaga terutama tersimpan dalam daun lembaganya.
Diantara anggota-anggotanya banyak yang merupakan tanama penghasil komoditi
yang berharga, merupakan bahan pangan dengan nilai gizi yang tinggi karena kandungannya
akan protein, lemak dan vitamin-vitamin dalam bijinya. Polong yang muda demikian pula
daun-daun muda jenis tertentu yang dimakan sebagai sayuran.
Contoh:
Soja: S. max (kedelai)
Phaseolus: Ph. radiatus, Ph. vulgaris
Arachis: A. hypogaea
Pisum: P.sativum
Canavalia: C. ensiformis
Mucuna: M. pruriens
Cajanus: C. cajan
Crotalaria: Cr. Juncea
Dan masih banyak lagi.
c. Suku Caesalpiniaceae
Anggota suku ini berbeda dengan warga papilionaceae terutama karena wraga suku
ini hampir semua berupa perdu atau pohon, boleh dikatakan tidak ada yang berupa terna,
daun hamper selalu majemuk menyirip atau menyirip ganda, jarang sekali tunggal atau
112
beranak daun 1. Selanjutnya terdapat perbedaan mengenai bunganya, ialah bahwa pada suku
ini bunga memang sering masih mempunyai mahkota yang nyata berbentuk seperti kupukupu pula, tetapi ke 5 daun mahkota bebas, tidak ada yang berlekatan atau dapat pula jumlah
daunmahkota kurang dari 5, bahkan sampai tidak ada. Benang sari 10, jarang lebih, biasanya
bebas atau berlekatan dengan bermacam-macam cara. Buahnya buah polong yang jika masak
menjadi kering kemudian pecah, atau berdaging dan tidak membuka, seringkali bersayap.Biji
dengan endosperm tipis atau tanpa endosperm, lembaga besar.
Contoh-contoh:
Caesalpinia: C. pulcherrima, C.sappan (secang)
Cassia; C. siamea (johar), C. javanica, C. alata (ketepeng), C. occidentalis, C. fistula
(trenggul)
Tamarindus: T.indica (asam)
Bauhinia: B.purpurea, B. tomentosa
Cynometra: Cy. Cauliflora (namnam)
Sementara ahli botani tidak menganggap adanya perbedaan prinsipal antara
Papilionaceae dan Caesalpiniaceae, oleh karena itu kedua suku itu digabungkan dalam 1
suku yang diberi namaFabaceae. Seluruhnya meliputi sekitar 10.000 jenis yang terbagi
dalam ± 800 marga, tersebar di seluruh permukaan bumi, meliputi daerah iklim sedang
maupun daerah-daerah panas.
3. Bangsa (Ordo) Myrtales
Myrtales meliputi tumbuhan dengan berbagai macam perawakan, tetapi kebanyakan berupa
tumbuhan berkayu.Umumnya mempunyai daun tunggal
yang duduknya
bersilanf
berhadapan.Pada cabang-cabang mendatar mengalami modifikasi seakan-akan tersusun
dalam 2 baris yang berhadapan, tanpa daun penumpu, helaian daun sering mempunyai
kelenjar-kelenjar minyak.Bunga banci atau karena adanya reduksi salah satu alat kelaminnya
menjadi berkelamin tunggal, dengan hiasan bunga yang jelas dapat dibedakan dalam kelopak
dan mahkota bunga, kadang-kadang tanpa mahkota, aktonomorf atau zigomorf, kebanyakan
berbilangan 4. Benang sari sama banyaknya dengan jumlah daun mahkota atau 2 x lipat,
kadang-kadang hanya beruang 1 dengan 11 tangkai putik dan banyak bakal biji pada tembuni
yang letaknya sentral di sudut-sudit.dasar bunga cekung sampai berbentuk mangkok atau
tabung, biasanya menyelubungi bakal buah, hingga bakal buah menjadi tenggelam. Buah
sering mempunyai tangkai kutik dan benang sari pada bagian ujung diantara bagian-bagian
daun kelopak dan tidak runtuh dan menjadi bagian buah.
113
Suatu ciri anatomi yang khas ialah terdapatnya floem pada kayu (floem intraxiler).
Dalam bangsa ini termasuk sejumlah suku diantaranya ialah :
1.
Suku (Familia) Lythraceae
Terna atau pohon dan perdu dengan daun tunggal yang duduknya silang berhadapan
yang mempunyai daun penumpuh yang kecil.Bunga banci, aktinomorf atau zigomorf,
berbilangan 3-16.Kelopak pada tangkal bagian bawah berlekatan membentuk badan seperti
mangkuk atau tabung dengan taju yang bebas.Daun-daun mahkota terdapat pada tepi tabung
kelopak atau tidak ada.Benang sari 2x lipat jumlah daun mahkota atau banyak, tertanam
dibawah daun-daun mahkota. Bakal buah dengan 1 tangkai putik, menumpang sampai
setengah tenggelam, beruang 1-6, seringkali hanya beruang 1, bakal biji banyak, pada papanpapan biji pada dinding bakal bbuah. Buahnya buah keras atau buah kendaga.Biji
mempunyaio endosperm.
Suku ini meliputi 450 jenis yang terbagi dalam 22 marga,tersebar didaerah iklim
sedang sampai daerah-daerah panas, terutama di Amerika.
Contoh-contoh :
Lawsonia: L.inermis (pacar), daun-daunnya diramu untuk dijadikan pewarna kuku,
sehingga menjadi merah
Lagerstroemia: L.speciosa (bungur), L. loudoni, L.indica (bungur kecil), semuanya
tanaman hias.
Lythrum: L. salicaria
Cuphea: C. purpurea, C. platycentra
2.
Suku (Familia) Sonneratiacae
Pohon dengan daun tunggal bertepi ata yang duduknya berhadapan tanpa daun
penumpu. Bunga terpisah-pisah atau membentuk kelompok-kelmpok yang terdiri atas 3
bunga, besar, aktinomorf,banci atau berkelamin tunggal. Dasar bunga bangun lonceng,
ditepinya terdapat 4-8 taju-taju daun kelopak yang kaku seperti belulang. Daun-daun mahkota
sama banyaknya dengan daunkelopak atau tidak ada. Benang sari banyak tertanam pada
kelopak dalam beberapa lingkaran. Bakal buah tenggelam,berlekatan pada dinding dasar
bunga, beruang banyak atau 4, mempunyai satu trangkai putik, berisi banyak bakal biji pada
tembuni yang tebal yang aksilar. Buahnya buah kendaga atau buah buni dengan 4 hingga
banyak ruang, berisi banyak biji. Biji tanpa endosperm,lembaga dengan daun lembaga
pendek seperti daun biasa. Suku ini hanya terdiri atas 8 jenis yang terbagi dam 2
marga.Sebagian besar, yaitu 6 jenis tergolong dalam marga Sonneratia yang semuanya
mempunyai ciri khas yaitu adanya cabang-cabang akar yang tumbuh tegak lurus ke atas
114
muncul diatas air atau tempat tumbuhnya yang berfungsi sebagai akar nafas. Anggota
Sonneratia tersebar di pantai timur Afrika dan Asia Tenggara, merupakan salah satu
komponen vegetasi mangrofe, bahkan dapat digolongkan ke dalam perintis yang diantara
penyusun hutan mangrofe, yang antara lain terbukti dari kadang-kadang terdapatnya pohon
jenis ini jauh menjorok kelaut dari pantai.
Contohnya :S. alba, S. casepolaris, S. acida (bogem)
3.
Suku (Familia) Rhizophoraceae
Pohon atau perdu dengan daun tunggal yang kaku seperti belulang, duduknya tersebar
atau berhadapan pada buku-buku yang membengkak, mempunyai daun penumpu, jarang
duduknya berseling dan tanpa daun penumpu. Daun penumpu letaknya antar tangkai
daun,lekas runtuh.bunga kebanyakan banci, aktinomorf dengan sumbu bunga yang berbentuk
seperti piala. Kelopak terdiri atas 4-8 daun kelopak, kadang-kadang 3-16, mahkota terdiri atas
sejumlah daun mahkota yang sama dengan jumlah yang sama dengan daun jumlah kelopak
kadang-kadang tidak terdapat. Benang sari 8-banyak, kebanyakan semuanya fertil, seringkali
berpasangan berhadapan dengan daun-daun mahkota, tertanam pada tepi atau pangkal suatu
cakram, kepala sari mempunyai 2 ruang sari. Bakal buah tenggelam, berlekatan dengan
sumbu bunga, beruang 2-6 atau hanya beruang 1 karena pembentukan sekat-sekat yang tidak
sempurna, berisi 2 sampai banyak bakal biji pada tembuni pada sudut-sudut tiap ruang,
mempunyai 1 tangkai putik. Buahnya waktu masak tidak membuka, beruang 1-5, tiap ruang
berisi 2 biji dengan atau tanpa endosperm yang sering sudah berkecambah selagi masih
dalam buah yang belum terlepas dari pohon, kadang-kadang sampai akar lembaga hampir 1
meter panjangnya masih juga belum terlepas. Sifat yang khas dari suku ini disiebut vipipari.
Suku ini mencakup sekitar 60 jenis yang terbagi dalam 17 marga.
Contoh-contoh :
Rhizophora: Rh. mucronata, Rh. mangle, Rh. apiculata
Bruguiera: Br. gymnorrhiza, Br. parviflora, Br. caryophylloides
Ceriops: C. tagal, C. candolleana, C. roxburghiana
4.
Suku (Familia) Alangiaceae
Pohon atau perdu yang kadang-kadang berduri dengan daun-daun tunggal bertepi rata
atau berlekuk, tanpa daun penumpu, duduknya tersebar atau berseling.Bunga tersusun dalam
rangkaian yang bersifat simos dalam ketiak-ketiak daun, banci, aktinomorf, dengan tangkai
bunga yang bersendi.Kelopak biasanya dengan tepi bergigi 4-10, mahkota terdiri atas 4-10
daun mahkota, kecil, bangun garis, melengkung keluar. Benang sari berjumlah sama dengan
115
daun mahkota, dudujnya berseling dengan daun mahkota, dapat juga jumlah benang sari 2-4x
lipat jumlah daun mahkotanya. Tangkai sari bebas atau sedikit berdekatan pada pangkalnya,
kepala sari memanjang, beruang 2, membuka dengan celah membujur.Bakal buah tenggelam,
beruang 1-2 dengan 1 bakal biji yang mempunyai 2 integumen dalam tiap ruang.Tangkai
putik 1, terbelah atau berlekuk 2-3.Buahnya buah batu dengan sisa-sisa cakram dan kelopak
pada ujungnya, berisi satu biji yang mempunyai endosperm berdaging.
Suku ini hanya terdiri atas satu marga, mencakup sekitar 21 jenis, tersebar di daerah
tropika dan subtropika di Asia.
Contoh: Alangium chinense
5.
Suku (Familia) Lechythidaceae
Pohon atau perdu, daun tunggal tanpa daun penumpu, duduknya tersebar, kadang-
kadang dengan kelenjar-kelenjar pada tepinya.Bunga agak besar, menarik, banci, aktinomorf
atau zigomorf, dengan sumbu bunga berbentuk piala.Kelopak berlekuk 4-6, jarang hanya 23.Daun mahkota juga 4-6, jarang lebih, kadang-kadang malahan tidak ada.Benang sari
banyak, tersusun dalam lingkaran, seringkali di bagian pinggir steril dan berubah menjadi
staminodium yang menyerupai mahkota tambahan.Tangkai sari kebanyakan berlekatan
membentuk buluh yang pendek.Bakal buah tenggelam atau setengah tenggelam, berlekatan
dengan sumbu bunga, beruang 2-6, berisi banyak biji atau hanya 1, mempunyai 1 tangkai
putik.Buahnya buah buni atau kadang-kadang berupa buah yang berkayu, berserabut atau
berdaging, tidak membuka atau membuka dengan suatu tutup pada ujungnya.Biji banyak
tanpa endosperm, lembaga terbagi atau utuh.
Suku ini anggota-anggotanya merupakan penghuni daerah tropika, meliputi sekitar 30
jenis yang terbagi dalam ±25 marga.
Contoh-contoh:
Lecythis: L. grandiflora, L. ollaria, L. usitata
Napoleana: N. vogelli
Bertholletia: B. excelsa
Goias: G. cauliflora
6.
Suku (Familia) Combretaceae
Pohon atau perdu, seringkali berupa liana, daun tunggal tanpa daun penumpu, duduk
tersebar atau berhadapan.Bunga tersusun atas bulir atau tandan, banci atau berkelamin
tunggal, aktinomorf, biasanya kecil-kecil. Daun kelopak berjumlah 4-8, daun mahkota sama
banyaknya dengan daun kelopak, kadang-kadang tidak ada. Benang sari 1-10 atau
banyak.Bakal buah tenggelam dengan 1 tangkai putik, beruang 1, bakal biji 2-6.Buah dengan
116
kulit yang bergigi atau bersayap, berisi 1 biji, sedikit atau tidak membuka.Biji berisi lembaga
yang mempunyai daun lembaga terpuntir atau terlipat dengan akar lembaga pendek, tanpa
endosperm.
Suku ini meliputi sekitar 450 jenis, terbagi dalam ±20 marga, tersebar di daerah
tropika.
Contoh-contoh:
Terminalia: T. catappa, T. beleria, T. tomentosa
Combretum: C. racemosum
Quisqualis: Q. indica (tanaman hias)
Bucida; B.buceras
7.
Suku (Familia) Myrtaceae
Pohon atau perdu, daun tunggal, bersilang berhadapan, pada cabang-cabang mendatar
seakan-akan tersusun dalam 2 baris pada 1 bidang, kebanyakan tanpa daun penumpu.Bunga
kebanyakan banci, karena aborsi kadang-kadang poligam, aktinomorf. Kelopak dan mahkota
masing-masing terdiri atas 4-5 daun kelopak dan sejumlah daun mahkota yang sama yang
kadang-kadang berlekatan atau tidak terdapat. Benang sari banyak, kadang-kadang
berkelompok 4-5 daun kelopak dan sejumlah daun mahkota yang sama yang kdang-kadang
berlekatan atau tidak terdapat. Benang sari banyak, kadang-kadang berkelompok berhadapan
dengan daun-daun mahkota, mempunyai tangkai sari dengan warna cerah, yang kdang-kdang
menjadi bagian bunga yang paling menarik, bakal buah tenggelam, mempunyai 1 tangkai
putik, beruang 1 sampai banyak dengan 1-8 bakal biji dalam tiap ruang. Buah bermacammacam, pada ujungnya masih jelas tampak kelopak yang tidak gugur, sisa tangkai putik dan
sisa-sisa benang sari yang tertinggal didalam kelopak.Biji dengan sedikit atau tanpa
endosperm, lembaga lurus, bengkok atau melingkar, ada pula yang terpuntil seperti spiral.
Suku ini tergolong suku yang besar, meliputi hampir 3000 jenis yang terbagi dalam
±80 marga, sebagian besar penghuni daerah tropika dan benua Australia. Banyak anggotaanggotanya yang merupakan penghasil minyak atsiri yang berkhasiat obat, banyak pula yang
merupakan pohon buah-buahan.
Contoh :
Myrtus; M. communis, M. bullata
Pimento: P. officinalis
Eugenia: E. aromatic, E. jambos, E. javanica
117
8.
Suku (Familia) Punicaceae
Pohon atau perdu kadang-kadang berduri, dengan daun tunggal yang berhadapan atau
tersebar tanpa daun penumpu.Bunga banci, aktinomorf, terpisah-pisah atau bergerombol,
sumbu bunga berongga, bangun kerucut daun kelopak bertaju 5-7, tidak gugur.Daun mahkota
5-7, dalam kuncup tidak beraturan.Benang sari banyak, tangkai sari bebas, kepala sari
beruang 2, melekat pada bagian punggung, membuka dengan celah membujur.Bakal buah
tenggelam, beruang banyak, ruang-ruang bertingkat, yang bawah dengan bakal biji diketiak,
yang atas dengan bakal biji pada dindingnya. Tangkai putik langsing, hanya 1 titik, buahnya
buah buni yang kurang lebih bulat dengan taju-taju kelopak yang tidak gugur pada ujung
atasnya, biji banyak dengan salut biji yang berair dan dapat dimakan, endosperm tidak
terdapat, lembaga dengan daun lembaga yang tergulung.
Suku ini hanya terdiri dari 1 marga dengan 2 jenis, yang paling terkenal adalah
Punica granatum (delima) yang sering ditanam dihalaman rumah.Selain untuk dimakan, kulit
buah dan akarnya berguna dalam obat-obatan. Di Indonesia terkenal
2 varietas, yang
berbunga putih dan yang berbunga merah.
9.
Suku (Familia) Melastomataceae
Terna, semak, atau pohon, jarang berupa liana, daun tunggal, berhadapan atau
berkarang, kebanyak 3-9 tulang yang melengkung, jarang tulang menyirip, tanpa daun
penumpu. Bunga banci, aktinomorf, atau agak zigomorf, biasanya tampak menarik. Kelopak
terdiri atas 3-5 daun kelopak yang pada pangkal berlekatan berbentuk tabung, daun mahkota
sama banyaknya dengan daun kelopak, dengan mahkota tambahan yang terdapat antara
mahkota dan benang sari. Benang sari sama banyaknya dengan jumlah daun mahkota atau 2x
lipat, kepala sari dalam kuncup membengkok kedalam,membuka dengan liang, sering
mempunyai bagian-bagian tambahan. Bakal buah tenggelam,atau terletak bebas pada dasar
kelopak yang berbentuk piala atau tabung, adapula yang setengah tenggelam, mempunyai 1
tangkai putik, beruang 2-banyak, jarang beruang 1 saja, berisi banyak bakal biji. Buah berupa
buah kendaga atau buah buni, biji sering kecil saja, tanpa endosperm, lembaga lurus atau
mengikuti bentuk biji bila bijinya besar.
Suku ini meliputi sekitar 1800 jenis terbagi dalam hamper 200 marga, terutama
tersebar di daerah tropika, kebanyakan di Amerika.
Contoh-contoh:
Melastoma: M. polyanthum, M. malabathricum
Clidemia: Cl. Hirta
Medinilla: M.crispata, M. macrocarpa
118
Tibou china: T. semidecandra
4. Bangsa (Ordo) Rhoeadales (Brassicales)
Bangsa ini meliputi tumbuhan-tumbuhan yang untuk sebagian besar berupa terna
dengan daun-daun yang duduknya tersebar, tanpa daun penumpu.Bunga umumnya banci,
aktinomorf, hiasan bunga berupa kelopak dan mahkota yang bedaun lepas, berbilangan 2 
4, kadang-kadang 3 5. Benang sari sama banyaknya dengan jumlah daun mahkota atau
lebih banyak. Bakal buah biasanya menumpang dengan 2 tembuni atau lebih banyak yang
terdapat pada dinding buah, kadang-kadang menjadi beruang banyak karena adanya
pembentukan sekat-sekat.
Dari segi anatomi ada sifat-sifat yang karakteristik yaitu adanya buluh-buluh getah
dan sel-sel yang mengandung mirosin. Dalam bangsa ini tercakup sejumlah suku, antara lain :
1.
Suku (Familia) Papaveraceae
Kebanyakan anggotanya berupa terna anual atau perenial, jarang sekali berupa semak
atau pohon, menghasilkan getah seperti susu atau getah yang berwarna. Daun tersebar, di
bagian ujung batang dekat bunga berhadapan atau berkarang, helaian daun sering
berbagi.Daun penumpu tidak terdapat.Bunga terpisah-pisah, banci, aktinomorf.Daun kelopak
2, bebas daun mahkota 4, jarang lebih atau tidak ada, biasa mendapat kunjungan serangga
yang mengumpulkan serbuk sari. Benang sari bangak, bebas; kepala sari beruang 2 ,
membuka dengan retak membujur. Balan buah menumpang, terbentuk dari 2 daun buah atau
lebih berlekatan, beruang 1 dengan banyak bakal biji pada 2  16 tembuni yang terdapat
pada dinding bakal buah, dapat pula hanya 1 bakal biji pada dasarnya. Buah kebanyakan
berupa buah kendaga, jarang berupa buah keras, bila masak membuka dengan katup-katup
atau liang. Biji kecil, kampuh licin atau berigi, kadang-kadang bersalut, lembaga kecil dalam
endosperm yang mengandung minyak atau berdaging.
Suku ini mencakup lebih dari 600 jenis tumbuhan, terbagi dalam sekitar 42 marga,
kebanyakan terdapat di daerah iklim sedang dan daerah-daerah yang lebih panas di belahan
bumi utara.
Contoh-contoh :
Papaver somniverum, penghasil candu (morfin), terutama di Asia Kecil (Turki) dan
Asia Tenggara (“Golden triangle”, Birma, Thailand, Laos), Papaver rhoeas, daun-daun
mahkota bunganya berguna dalam obat-obatan, P. Orientale, Fumaria officianalis, Fumaria
capreolata, Dicentra spectabilis, Dicentra formosa, Corydalis cova, Corydalis solida,
Corydalis lutea, Sanguinaria canadensis, dll.
119
2.
Suku (Familia) Capparidaceae
Terna, semak atau pohon, kadang-kadang memanjat.Daun tunggal atau majemuk
menjari,
sering
mempunyai
daun
penumpu,
duduknya
tersebar,
kadang-kadang
berhadapan.Bunga umumnya banci, aktinomorf atau zigomorf, biasanya tersusun dalam
tandan.Sumbu bunga sering membesar berbentuk cincin, kadang-kadang memanjang menjadi
androginofor (pendukung benang sari dan putik) atau menjadi ginofor (pendukung putik)
saja.Daun kelopak 4, daun mahkota kebanyakan juga 4, dapat banyak atau malahan tidak
ada.Benag sari banyak atau hanya beberapa saja (46), seringkali ada diantaranya yang tidak
mempunyai kepala sari.Bakal buah menumpang diatas ginofor, beruang 1 dengan tembuni
pada dinding atau terbagi dalam beberapa ruang oleh sekat-sekat semu.Bakal biji sedikit
sampai banyak.Buahnya buah kendaga atau buah buni, kadang buah batu.Biji bangun ginjal
atau beigi dengan sedikit atau tanpa endosperm, lembaga bengkok dengan daun lembaga
yang besar.
Suku ini mencakup lebih dari 600 jenis tumbuhan, terbagi dalam 45 marga, terutama
terdapat di daerah-daerah iklim panas.
Contoh-contoh :
Capparis spinosa, Capparis rupestris, Cleome spinosa, Cleome tetrandra, Cleome
violacea, Cleome aspera, Gynandropsis gynandra, Gynandropsis speciosa, Polanisia
viscosa, Polanisia chelidonii, Cadaba capparoides.
3.
Suku (Familia) Cruciferae ( Brassicaceae )
Kebanyakan berupa terna anual atau perenial, jarang sekali berupa tumbuhan berkayu.
Daun tunggal atau majemuk, duduknya tersebar, tidak mempunyai daun penumpu. Bunga
banci, bilateral simetris atau aktinimorf, biasanya tersusun dalam tandan pada ujung-ujung
batang, jarang mempunyai daun pelindung. Kelopak terdiri atas 4 daun kelopak yang tersusun
dalam 2 lingkaran, daun mahkota 4, berseling dengan daun-daun mahkota. Benang sari 6
dalam 2 lingkaran, pada lingkaran luar terdapat 2 dan pada lingkaran dalam 4 benang sari
yang berhadapan dengan daun-daun mahkota dan lebih panjang daripada benang sari di
lingkungan luar. Bakal buah menumpang terdiri atas 2 daun buah yang berlekatan, beruang 1,
bakal biji banyak, pada tepi sekat semu, anatrop atau kampilotrop, seringkali beruang 2
karena adanya sekat semu yang tipis seperti membran, atau oleh sekat-sekat melintang
terbagi dalam beberapa ruang. Buahnya berupa buah lobak (“siliqua”) bila masak membuka
dengan 2 katup, atau terputus menjadi beberapa bagian, jarang berupa buah yang tertutup.
Biji umumnya tanpa endosperm.
120
Suku ini termasuk suku yang besar, meliputi 3.000 jenis yang terbagi dalam kurang
lebih 350 marga, kosmopolitan tetapi paling banyak terdapat dalam daerah-daerah yang lebih
dingin di belahan bumi utara. Banyak sekali yang bermanfaat, merupakan penghasil bahan
pangan, terutama sayuran, tetapi juga ada yang menghasilkan bumbu masak.
Contoh – contoh :
Brassica nigra, Brassica oleracea, Brassica chinensis, Brassica juncea, Brassica
napus, Brasicca rapa, Nosturtium officinale, Nosturtium heterophyllum, Raphanus sativus,
Lepidium sativum, Lepidium ruderale, Cheiranthus cheiri, Sinapis alba, Cochlearia
officinalis, Cochlearia armoracia, Lunaria annua, Lunaria rediviva, Camelina sativa,
Camelina microcarpa, dll.
4. Suku (Familia) Moringaceae
Pohon dengan daun majemuk menyirip ganda 2 sampai 3, duduknya tersebar, tanpa
daun penumpu, atau daun penumpu telah mengalami metamorfosis menjadi kelenjar-kelenjar
pada pangkal tangkai daun. Bunga banci, zigomorf, tersusun dalam malai yang terdapat
dalam ketiak-ketiak daun. Dasar bunga bangun mangkuk, kelopak terdiri atas 5 daun kelopak,
mahkota pun terdiri atas 5 daun mahkota, benang sari 5 ditambah dengan 5 lagi yang telah
mandul (staminodium). Bakal buah menumpang di atas ginofor pendek, beruang 1 dengan 3
tembuni pada dinding bakaln buah, bakal biji banyak. Buahnya buah kendaga yang telah
membuka dengan 3 katup, biji besar, bersayap, tanpa endosperm. Lembaga lurus.
Warga suku ini adalah dari segi anatomi mempunyai sifat yang khas, yaitu terdapatnya sel-sel
mirosin dan buluh-buluh gom dalam kulit batang dan cabang. Selain dari itu, dalam musimmusim tertentu dapat menggugurkan daun-daunnya (meranggas). Suku Moringaceae hanya
terdiri atas 1 marga yaitu Moringa dengan beberapa jenis saja, di antaranya yaitu : Moringa
oleifera, Moringa arabica, Moringa pterygosperma, Moringa peregrina, dll.
5.
Bangsa (Ordo) Parietales = Cistales
Terna atau tumbuhan berkayu dengan daun-daun yang berhadapan atau tersebar,
kebanyakan mempunyai daun penumpu. Bunga sebagain besar banci, mempunyai kelopak
dan mahkota yang berbilangan 5 benang sari sama banyaknya dengan jumlah daun mahkota
atau lebih banyak. Bakal buah kebanyakan menumpang, kadang-kadang tenggelam, biasanya
beruang 1 dengan 3 papan biji pada dindingnya, kadang-kadang beruang lebih dari 1.
1. Suku (Familia) Cistaceae.
Terna atau semak-semak dengan daun-daun tunggal yang duduknya berhadapan; daun
dengan rambut kelenjar yang menghasilkan minyak atsiri, rambut seringkali berbentuk
bintang. Bunga banci, aktinomorf, terpisah-pisah atau tersusun dalam rangkaian yang bersifat
121
simos. Daun kelopak 3-5, daun mahkota sampai 5 atau tidak terdapat, biasanya lekas gugur.
Benang sari banyak, bakal buah menumpang, beruang 1 dengan 3-10 tembuni pada
didndingnya, tembuni sering menjorok kedalam hingga merupakan sekat-sekat yang tidak
sempurna dan bakal buah menjadi seakan-akan terbagi dalam beberapa ruang. Pada tiap
tembuni terdapat 1- banyak bakal biji, masing-masing dengan 2 integumen. Buahnya buah
kendaga yang membuka dengan membelah ruang, mulai dari ujung kepangkal. Biji dengan
endosperm, lembaga bengkok, terpilin atau terlipat.
Suku ini meliputi sekitar 175 jenis, terbagi dalam 8 marga, tersebar di daerah-daerah
iklim sedang, banyak pula di daerah Laut Tengah. Contohnya: Cistus: C. ladaniferus, C.
polymorphus, C villosus, C. loretii, penghasil resin. Helianthemum; H. nummularium, H.
kahiricum, H. roseum, H ovatum. Crocanthemum; CR. Canadense, Cr. Glomeratum.
Fumana: F. vulgaris.
2. Suku (Familia) Bixaceae.
Pohon atau perdu, daun tunggal bertulang daun menjari yang duduknya tersebar,
mempunyai daun penumpu. Bunga besar membentuk rangkaian berupa malat, banci,
aktinomorf. Daun kelopak 5, daun mahkota 5, benang sari banyak. Bakal buah menumpang,
beruang 1 dengan 2 tembuni pada dindingnya, pada tiap tembuni terdapat banyak bakl biji,
masing-masing dengan 2 integumen, tangkai putik 1. Buahnya buah kendaga, penuh dengan
rambut-rambut atau gundul disebelah luarny, membuka dengan 2 katup di antara tembuni.
Biji dengan kulit luar berdaging berwarna merah, mempunyai endosperm, lembaga besar
dengan daun lembaga yang lebar dan melengkung pada ujungnya.
Suku ini hanya terdiri atas 1 suku Bixa yang monopotipik, asli Amerika tropic. Bixa
orellana, sering dipiara sebagai tanaman hias, dari bijinya diperoleh zat warna merah
(kasumba) yang antara lain berguna untuk mewarnai bahan makanan (mentega, keju).
Daunnya (“folia bixae”) berguna dalam obat-obatan.
3. Suku (Familia) Cannellaceae.
Pohon dengan daun tunggal yang duduknya tersebar, tanpa daun penumpu, berbau
sedap (aromatik) karena adanya minyak-minyak atsiri dalam batang dan daun-daunnya.
Bunga banci, aktinomorf. Daun kelopak 3, daun mahkota 4-12, bebas atau berlekatan.
Benang sari sampai 20 atau kurang, tangkai putik berlekatan menjadi suatu buluh. Putik
dengan tangkai putik yang tebal pendek, bakal buah menumpang, beruang 1 dengan 2-5
tembuni pada dindingnya, pada tiap tembuni terdapat 2- banyak bakal biji, masing-masing
dengan 2 integumen. Buahnya buah buni, berisi 2- banyak biji. Biji dengan endosperm
berminyak atau berdagng, lembaga lurus atau hamper lurus.
122
Warga suku ini dikenal sebagai keningar hutan, hanya terdiri atas 9 jenis yang terbagi
dalam 5 marga, hamper semua terdapat di Amerika tropika. Contohnya:
Canella: C.
winterana atau C. alba, penghasil “cortex canella albae” yang berguna dalam obat-obatan.
Suku: Flacourtiaceae. Semak atau pohon berbatang kayu, daun tunggal, seringkali berlekuk,
duduk tersebar atau berhadapan , kadang-kadang mempunyai daun penumou kecil yang lekas
gugur. Bunga umumnya banci, jarang berkelamin tunggal, aktinomorf, mempunyai dasar
bunga yang membesar dengan suatu cakram, kebanyakan tersusun dalam rangkaian yang
bersifat simos, dalam ketiak-ketiak daun atau pada ujung batang dan cabang. Daun kelopak
2-15, kadang-kad ng sukar dibedakan dari daun mahkotanya. Daun mahkota biasanya sama
banyaknya dengan daun kelopak, besar, kecil atau tidak ada, disebelah dalam pangkalnya
dengan atau tanpa sisik. Benang sari banyak. Bakal buah menumpang, beruang 1 dengan 2-10
tembuni pada dindingnya, jarang mempunyai lebih dari 1 ruang. Bakal biji banyak, masingmasing dengan 2 integumen. Buahnya buah buni atau buah kendaga, kadang-kadang amat
besar. Biji kadang-kadang dengan salut biji, endosperm berdaging, lembaga sedang, daun
lembaga kadang-kadang lebar.
Suku ini meliputi sekiatr 800 jenis yang terbagi dalam 80 marga, yang menghuni
daerah-daerah tropika. Contohnya: Flacourtia: F. rukam (rukam), F indica (saradan) , F.
inermis (lobi-lobi), buahnya dapat dimakan, dari buah lobi-lobi sering dibuat sirup. Pangium:
P. edule,
bijinya melalui pembenaman dalam tanah menghasilkan keluak yang banyak
digunakan sebagai bumbu masak (pindang, rawon), daunnya sering digunakan sebagai racun
ikan. Hydnocarpus: H. anthelminthica, penghasil minyak chaulmoogra untuk obat cacing.
Caseria: C. lasiophylla.
4. Suku (Familia) Tureneraceae.
Terna annual atau parenial , dapat juga berupa semak atau pohon berkayu, daun
tunggal, tersebar, dengan atau tanpa daun penumpu. Bunga banci, aktinomorf, sering
mempunyai dua lingkaran daun pelindung, terpisah-pisah atau tersusun dalam berkas-berkas,
yaitu diketiak daun sering tampak seakan-akan muncul dari tangkai daun. Kelopak, mahkota,
dan benang sari masing –masing 5, benang sari berseling dengan daun mahkota. Putik denga
3 tangkai putik, bakal buah menumpang, beruang 1, dengan 3 tembuni pada dindingnya,
masing-masing dengan 3 sampai banyak bakal biji yang mempunyai 3 katup yang membuka
dengan membelah ruang. Biji bersalut dengan endosperm berdaging dan lembaga yang lurus.
Suku ini mencakup kira-kira seratusan jenis yang terbagi dalam 7 marga, kebanyakan
di Amerika dan Afrika. Contohnya: Turnera: T. ulmifolia, terna yang banyak terdapat di
123
pinggir-pinggir jalan. T. salicifolia; T. aphrodisiaca, penghasil herba miana yang berguna
dalam obat-obatan. Piriqueta: P. racemosa.
5. Suku (Familia) Passifloraceae.
Pohon atau semak-semak berkayu, banyak pula berupa tumbuhan memanjat yang
menggunakan sulur-sulur dahan yang muncul dari ketiak-ketiak daunnya. Daun tunggal,
biasanya berlekuk menjari, jarang menyirip, seringkali mempunyai kelenjar pada tangkai
daunnya, duduknya tersebar, kebanyakan mempunyai daun penumou yang kecil dan lekas
gugur. Bunga banci, aktinomorf, kadang-kadang berkelamin tunggal. Daun kelopak 5, tidak
gugur, bebas atau sebagian berlekatan. Daun mahkota juga 5, bebas atau sedikit berlekatan.
Disamping mahkota terdapat mahkota tambahan terdiri atas badan-badan seperti tangkai sari
atau sisik-sisik atau seperti cincin yang tersusun dalam 2 lingkaranatau lebih. Benang sari 5
sampai banyak, berlekatan pendek atau berkeras, seringkali muncul dari ginofor. Putik
dengan bakal buah yang seringkali duduk di atas ginofor, mempunyai 3-5 tangkai putik yang
bebas atau berlekatan dengan kepala putik berbentuk bongkol. Bakal biji banyak, pada 3-5
tembuni yang terdapat pad dinding bakal buah kendaga atau buah buni, tidak membuka atau
membuka dengan membelah ruang melalui 3 katup. Biji dengan kulit biji bernoktah
diselubungi salut biji yang berdaging mempunyai endosperm dengan lembaga yang lurus dan
besar.
Suku ini meliputi 600-an jenis yang terbagi dalam ± 12 marga, kebanyakan di
Amerika tropic. Contohnya: Passiflora, yang mencakup ± 2/3 seluruh anggota suku, banyak
ditanam untuk buahnya yang dapat dimakan atau sebagai tanaman hias, diantaranya yang
terdapat di Indonesia: P. quadrangularis, P. edulis, P. lunata, P. foetida, P. laurifolia.
Smeathmannia: S. pubescen.
6. Suku (Familia) Carricaceae.
Semak atau pohon kecil yang batangnya tidak berkayu, daun tunggal berbagi atau
majemuk menjari, duduknya tersebar menurut rumus 3/8 biasanya terkumpul pada ujung
batang atau cabang, tanpa daun penumpu. Bunga banci atau berkelamin tunggal, aktinomorf,
poligam, mempunyai dasar bunga yang berbentuk seperti lonceng. Kelopak berlekuk 5 atau
bertepi rata. Daun mahkota 5, pada bunga jantan berlekatan, pada bunga betina berlekatan
menjadi buluh yang pendek atau bebas. Benang sari 10, tertanam pada mahkotanya, tangkai
sari bebas atau berlekatan pada pangkalnya. Pada bunga jantan dengan rudimen putik atau
tidak ada. Pada bunga betina tidak terdapat rudiment benang sari atau staminodium, putik
dengan tangkai putik pendek, bebas atau tanpa tangkai putik, bakal buah menumpang,
beruang 1 atau beruang terbagi menjadi 5 ruang oleh sekat-sekat semu. Bakal biji banyak
124
pada 3-5 tembuni yang terdapat pada dinding bakal buah. Masing-masing dengan 2
integumen. Buahnya buah buni dengan daging buah yang tebal dan lunak. Biji dengan
endosperm dan lembaga yang lurus.
Suku ini mencakup 45 jenis, terbagi dalam 4 marga. Yang paling terkenal Cacica
papaya, banyak ditanama sebagai pohon buah-buahan. Selain lezat dan segar, banyak makan
buah papaya memudahkan buang air besar.
7. Suku (Familia) Droseraceae.
Terna atau semak-semak kecil, seringkali tanpa batang yang nyata, daun tunggal,
tersebar atau tersusun sebagai roset akar, dalam kuncup tergulung ke dalam, padanya terdapat
kelenjar-kelenjar bertangkai yang berperekat atau rambut-rambut kaku yang berguna untuk
menjebak serangga, tanpa daun penumpu. Bunga banci, aktinomorf, biasanya tersusun dalam
rangkaian yang bersifat simos. Daun kelopak 4-5, sedikit banyak berlekatan pada pangkalnya,
tidak gugur. Daun mahkota sama jumlahnya dengan daun kelopak, hipogin., jarang perigin.
Benang sari 4-20, kadang-kadang hanya 5, hipogin, tangkai sari bebas, jarang berlekatan pada
pangkalnya, kepala sari menghadap keluar, beruang 2, membuka dengan celah membujur.
Putik dengan 3-5 tembuni pad dinding atau dasarnya. Bakal biji banyak, jarang hanya sedikit.
Buahnya buah kendaga yang membuka dengan membelah ruang. Biji dengan endosperm
berdaging, lembaga lurus, kecil.
Suku kecil ini mencakup sekitar 90 jenis yang terbagi dalam 4 marga, sebagian besar
(±85 jenis) tergolong dalam marga Drosera. Warga suku ini bersifat kosmopolit, terutama
tumbuh di tempat-tempat berpasir atau berawa-rawa. Contoh Drosera rotundifolia, terna
pemakan serangga, kosmopolit.
8. Suku (Familia) Begoniaceae.
Terna atau semak kecil, seringkali berbatang basah, kadang-kadang menghasilkan
umbi, dengan daun tunggal asimetrik, sering berlekuk atau majemuk menjari, duduknya
tersebar, mempunyai daun penumpu. Bunga berkelamin tunggal, berumah 1, aktinomorf atau
zigomorf, biasanya tersusun dalam rangkaian berupa anak paying menggarpu. Bunga jantan
dengan 2 daun kelopak dan 2-6 daun mahkota, 4- banyak benang sari dengan tangkai sari
yang bebas atau berlekatan pada pangkalnya. Bunga betina dengan hiasan bunga seperti pada
bunga jantan, staminodium atau berlekatan pada pangkalnya, bakal buah tenggelam,
bersayap, beruang 3, kadang-kadang beruang 2-6 tetapi tidak sempurna. Bakal biji banyak,
masing-masing dengan 2 integumen, terdapat pada tembuni yang terbagi-bagi. Buahnya buah
kendaga atau buah buni. Biji kecil, tanpa endosperm atau dengan sedikit endosperm, lembaga
lurus.
125
Suku ini mencakup lebih dari 800 jenis, hamper semua tergolong dalam marga
Begonia, kebanyakan di daerah tropika. Banyak di antaranya digemari sebagai tanaman hias,
mudah dikembang biakkan dengan stek daun. Contohnya: Begonia: B. rex-cultorum, B.
semperflorens, B. maculate.
6. Bangsa (Ordo) Malvales
Warga bangsa malvales disebut juga disebut juga columniferae, mempunyai cirri khas
terdapatnya “Columna” yaitu bagian bunga yang terdiri atas perlekatan bagian bawah tangkai
sarinya membentuk badan yang menyelubungi putikdan bagian pangkalnya berlekatan
dengan pengkal daun-daun mahkota, sehinggqa bila mahkota bunga di tarik keseluruhannya
akan terlepas dari bunga bersama-sama dengan benang-benang sari dengan neninggalakan
kelopak dan bakal buah saja. Tumbuhan yang tergolong dalam bangsa ini kebanyakan berupa
semak atau pohon, ada pula yang berupa terna atau annual.Daun tunggal, tersebar,
mempunyai daun penumpu.Bunga umumnya banci, aktinomorf, berbilang 5, dengan daundaun kelopak yang berkatup dan daun mahkota seperti sirap atau genting.Benang sari banyak,
tersusun dalam 2 lingkaran, yang linkaran luar sering kali tereduksi yang linkaran dalam
membentuk “columna”.Bakal buah menumpang, beruang 2-banyak, dalam tiap ruang
terdapat 1-banyak bakal biji yang tegak, masing-masing dengan 2 integumen.Padabagianbagian tertentu seperti daun dan kulit batang terdapat sel-selatau saluran lender, dan di luar
sering terdapat rambut-rambut berbentuk bintang.
Dalam bangsa ini ada beberapa suku, di antaranya yang penting adalah:
1. Suku (Familia) Tiliaceae
Kebanyakan berupa tumbuhan kayu, jarang berupa terna.Daun tunggal kadangkadang berlekuk, mempunyai daun penumpu, duduknya tersebar.Bunga banci, jarang
berkelamin tunggal, aktinomorf.Daun kelopak 4-5, bebes atau berlekatan, tersusun seperti
katup.Daum mahkota juga 4-5, kebanyakan bebes denagn susunan seperti katup, kadang
kadang tidak terdapat.Benang sari umumnya banyak atau 2x jumlah daun mahkota, tidak
berlekatan tapi tersusun dalam 5-10 berkas.Bakal buah menumpang, terdiri atas 2-banyak
ruang, tiap ruang dengan 1-banyak bakal biji, jarang beruang 1 dengan tembuni pada
dinding.Kadang-kadang
bunga
mempunyai
pendukung
putik
dan
benang
sari
(androginofor).Buah mempunyai beberapa ruan, menyereupai buah kendaga, kadang terbagi
dalam beberapa bagian kemudian terpisah-pisah, kadang berrupa buah keras dengan 1
biji.Biji mempunyai endosperm, lembaga biasanya lurus.
126
Suku ini mencangkup lebih dari 500 jenis terbagi dalam lebih dari 50 marga,
kebanyakan trumbuh di daerah tropika.
Contoh-contoh
Tilia : T. platyphyllos dan T. cordata (daunnya bekhasiat serbagai obat)
Corchorus : C. capsularis dan C. olitorius (jute, guni), menghasilkan serabut kulit yang
digunakan untuk penbuatan karung guni ; C. acutangulus
Triumfetta: T. plasa, T. tomentosa, T. rhomboidea, T. indica.
Spermania : S. africana
Grewia : G. tomentosa, G. guazumaefolia, G. columnaris
2. Suku(Familia) Elaeocarpaceae
Tumbuhan yang di masukkan dalam suku ini mempunyai cirri-ciri serupa dengan
cirri-ciri warga suku tiliaceae.Perbedaan hanya terletak pada tidak terdapatnya saluransaluran lender dalam jaringan tubuhnya.Berhubungan dengan hal itu sementara ahli
taksonomi tidak memisahkannya sebagai suku yang berdiri sendiri, tetapi di satukan dengan
suku tiliaceae.
Contoh spesies :
Elaeocarpus: E. ganitrus (jenitri) dan E. grandiflorus, sering digunakan sebagai tanaman hias
Muntingia: M. calabura (talok)
3. Suku (Familia) Sterculiaceae
Pohon semak (kadang-kadang berupa liana), atau terna dengan rambut-rambut bintang
atau sisik, daun tunggal bertepi rata, kadang-kadang berlekuk menjari atau majemuk, yang
duduknya tersebar, mempunyai daun penumpu yang lekas runtuh.Bunga biasanya banci atau
berkelamin tunggal, berumah 1, aktinomorf, jarang dengan kedudukan terminal, seringkali
pada batang (kauliflor).Daun kelopak 3-5, sedikit banyak berlekatan, tersusun seperti
katup.Daun mahkota 5 atau tidak ada, bebasa atau pada pangkal berlekatan dengan buluh
yang terbentuk dari perlekatan tangkai-tangkai sari, tersusun seperti genting. Benang sari
sering tersusun dalam lebih dari satu lingkaran, yang sebelah luar mandul, yang sebelah
dalam berlekatan membentuk buluh atau sama sekali bebeas, kapala sari beruang 2, membuka
dengan celah membujur, atau dengan liang di ujung atasnya. Bakal buah menumpang,
tersusun atas 2-5 kadang-kadang 10-12 daun buah, atau hanya terdira atas 1 daun buah
saja.Tiap ruang berisi 2 bakal buah atau lebih, jarang hanya 1. Buahnya buah kering atau
buah buni, tidak membuika atu membuka dengan cara yang bermacam-macam. Biji dengan
127
endosperm berdaging atau tanpa endosperm, kadang-kadang bersalut.Lembaga lurus atau
bengkok.
Warga suku ini meliputi lebih dari 700 jenis terbagi dalam lebih dari 50 marga,
tersebar di deaerah tropika dan subtropika.
Contoh-contoh :
Sterculia : S. foetida (jangkang atau kepuh) basa yang diperoleh dari abu cangkang buahnya
digunakan untuk pembuatan kue-kue cina tertentu.
Theobroma : T. cacao(coklat) dari bijinya di buat bubuk coklat dan mentega coklat, T.
bicolor, T. angustifolia
Cola: C. vera dan C. nitida menghasilkan bahan obat
Dombeya : D. wallichii dan D. acutangula sebagai tanaman hias
Theobroma cacao
4. Suku (Familia) Bombacaceae
Warga suku ini hampir berupa pohon-pohon yang dapat menjadi tinggi besar,
memmpunyai sisik atau rambut-ranbut bintang, daun tunggal atau majemuk menjari, duduk
daun tersebar dengan daun penumpu.Bunga kadang-kadang besar dengan warna yang
menarik, banci aktinomorf.Daun kelopak 4-5, biasanya berlekatan, dalam kuncup yang
tersusun seperti katup.Daun mahkota 5tersusun seperti genting, dan di dalamnya
kuncupseperti terpilin ke satu arah. Benag sarti sama banyaknyadengan jumlah daun mahkota
dan duduk berhadapan dengan daun-daun mahkota, kebanyakan lebih banyak, dapat sampai
banyak sekali. Bila jumlah besar seringkali berlekatan membentuk buluh atau tersusun atas
berkas-berkas.Kepala sari beruang 1-2 atau lebih, serbuk sari dengan permukaan yang licin.
Bakal buah menumpang sampai setengah tenggelam, beruang 2-5, tiap ruang berisi 2-banyak
bakal biji.buahnya buah kendaga, seringkali pecah dengan membelah ruang, sisi dalam
kulitnya sering kali berambut, biji dengan atau tanpa endosperm, sering bersalut.
128
Suku ini hanya mencangkup sekitar 140 jenis yang terbagi dalam 20-an marga,
terutama terdapat di daerah tropika.
Berapa contoh yang penting adalah:
Bombax (Salmanila): B. malabaricum (S. malabarica) (randu alas, kapok hutan)
Ceiba (Eriodendron): C. petandra ( Eriodendron anfractuosum) penghasil kapok
Adansonia: A. digitata
Durio : D. zibethinus (durian) sejenis buah yang kontroversial, salut bijinya di makan
D. kutejensis (durian kuntai)
Durio zibethinus
5. Suku (Familia) Malvaceae
Terna atau semak, jarang berupa pohon, seringkali dengan batang yang
menyerupaiserabut serabut kulit, serta penutup permukaan organ tertentu yang berupa
rambut-rambut bintang atau sisik.Daun tunggal bertepi rata atau berlekuk beraneka ragam,
kebanyakan bertulang menjari, duduk tersebar, mempunyai daun penumpu.Bunga besar,
banci, aktinomorf, daun kelopak 4-5, sedikit banyak berlekatan, dengan susunan seperti
katup, di samping itu seringkali terdapat kelopak tambahan. Daum mahkota 5, bebas satu
sama lain, tapi pada pangkal sering berlekatan dengan buluh (columna) yang merupakan
perlekatan tangkai-tangkai sarinya, letaknya seperti genting. Benang sari banyak dan tangkai
sari berlekatan membentuk suatu kolom berongga menyelubungi putik dan bagian atas
terbagi-bagi dalam cabang-cabang yang masing-masing mendukung kepala sari yang beruang
1 dan membuka dengan celah yang membujur, serbuk sari dengan permukaan benjolbenjol.Bakal buah menumpang. Beruang 2 atau beruang banyak, sering kali beruang 5
dengan 1 sampai banyak bakal biji, tangkai putik sama banyaknya dengan jumlah ruang
dalam bakal buah atau 2 jumlah ruang. Buahnya buah kendaga dan buah berbelah, biji
kebanyakan mempunyai endosperm dan lembaga yang lurus atau bengkok.
129
Malvaceae ditaksir memiliki 900 jenis, terbagi dalam sekitar 50 marga tersebar di
daerah tropika sampai ke daerah iklim sedang.Banyak di antara suku ini merupakan tanaman
budidaya yang penting.
Contoh-contoh :
Gossypium : G. herbaceum, G. barbadense, G. arboreum (semuanya dinamakan kapas)
Hibiscus : H. sabdariffa, H. cannabinus penghasil sarat untuk pembuatan karung
Sida : S. retusa, S. rhombifolia (Sidaguri)
Malvaviscus : M. arboreus, tanaman hias.
Gossypium herbaceum
7. Bangsa (Ordo) Geraniales
Warga bangsa ini kebanyakan berupa terna atau semak-semak kecil, jarang berupa
perdu atau pohon, dengan daun-daun tunggal atau majemuk tanpa kelenjar-kelenjar minyak,
balsam, atau resin,tetapi sering terdapat sel-sel lendir, terutama pada epidermis daun, daun
penumpu kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak. Bunga berbilangan 5, daun kelopak dan
daun-daun mahkota bebas, benang sari tersusun dalam 1 lingkaran atau dalam 2 lingkaran
dengan benang sari dalam lingkaran yang luar berhadapan dengan daun-daun mahkota, ada
pula yang benang sarinya banyak. Cakram tidak terdapat, bakal buah beruang 3-5 dengan
satu beberapa bakal biji disudut-sudut ruang. Biji kebanyakan tanpa endosperm, lembaga
lurus.
Bangsa ini mencakup beberapa suku, diantaranya :
1. Suku (Familia) Erythroxylaceae
Semak, perdu, atau pohon dengan daun dalam daun tunggal yang duduknya tersebar ,
dengan 1 daun penumpu dalam ketiak yang tetap atau 2 daun penumpu diluar ketiak yang
lekas runtuh. Bunga banci, aktinomorf. Kelopak bangun lonceng, berlekuk 5, tidak gugur.
Mahkota terdiri atas daun mahkota yang bebas, tersusun seperti genting, sisi dalam
mempunyai lidah-lidah. Benang sari 10, tersusun dalam 2 lingkaran, pada pangkal sedikit
130
banyak berlekatan membentuk buluh, kepala sari bangun jorong, beruang 2 membuka dengan
celah membujur. Bakal buah tersusun atas 3 daun buah, beruang 3 tiap ruang berisi 1-2 bakal
biji. Buahnya buah batu, biji dengan endosperm, lembaga lurus.
Contoh
: Erythroxylon
coca (koka
peru), Erythroxylon
novogranatense (koka
jawa),
penghasil obat bius kokain. Sering ditanam sebagai tanaman hias.
2. Suku (Familia) Linaceae
Terna atau tumbuhan berbatang berkayu dengan daun tunggal yang duduknya tersebar
atau berhadapan, dengan atau tanpa daun penumpu, bila ada sering kali menyerupai kelenjar.
Bunga banci, aktinomorf, berbilangan 4-5. Kelopak terdiri atas 4-5 daun kelopak bebas, atau
sebagian berlekatan pada pangkalnya. Daun mahkota bebas, sering kali berkuku, tersusun
seperti genting . benang sari sama banyaknya dengan jumlah daun mahkota, kadang-kadang
banyak sebagian mandul , pada pangkalnya belekatan. Kepala sari menghadap kedalam,
beruang dua, membuka dengan celah membujur. Bakal buah menumpang, beruang 2-10, tiap
berisi 1-2 bakal biji. Buahnya buah kendaga yang membuka dengan membelah sekat atau
buah batu. Biji pipih dengan endosperm sedikit atau banyak atau tidak ada. Lembaga lurus
dengan daun lembaga yang pipih.
Suku ini mencakup sekitar 300 jenis yang terbagi dalam 17 marga, dari daerah iklim
sedang sampai kedaerah panas. Yang paling terkenal yaitu marga Linum yang terdiri atas
sekitar 140 jenis.
Contohnya :
Linum usitasisimum (lena), menghasilkan serat yang digunakan untuk pembuatan bahan
tekstil (kain lena) dan minyak cat untuk melukis.
Linum grandiflorum, yang sangat digemari orang sebagai tanaman hias karena indahnya
warna bunganya.
3. Suku (Familia) Oxalidaceae
Kebanyakan berupa terna, ada pula yang berupa semak, perdu, atau bahkan berupa
pohon. Daun majemuk menjari atau menyirip, kadang-kadang tampak seperti daun tunggal
karena adanya reduksi anak-anak daunnya,duduknya tersebar, biasanya tanpa, jarang
mempunyai daun penumpu. Bunga banci, aktinomorf, sering kali ada yang tidak sempurna
karena adanya reduksi daun-daun mahkotanya, biasanya terpisah-pisah, atau terangkai dalam
berbagai ragam susunan, bersifat simos maupun rasemos. Kelopak bercangap atau berbagi 5,
tersusun seperti genting. Daun mahkota 5, berkuku pendek, bebas atau belekatan pendek pada
pangkalnya. Benang sari 10, kadang hanya 5 tetapi dapat pula sampai 15, sebagian
sering tanpa kepala sari beruang 2, membuka dengan celah membujur. Bakal buah
131
menumpang, beruang 5, tiap ruang dengan 1- banyak bakal biji.buahnya buah kendaga yang
membuka dengan membelah ruang, kadang-kadang berupa buah buni. Biji seringkali
mempunyai kulit biji yang elastis, dengan endosperm berdaging, lembaga lurus.
Suku ini meliputi sekitar 900-an jenis, terbagi dalam 8 marga, sekitar 75% termasuk
marga Oxalis.
Contoh : Oxalis corniculata, Oxalis repens, Averrhoea bilimbi (belimbing wuluh).
4. Suku (Familia) Geraniceae
Warga suku ini terutama terdiri atas terna anual atau semak-semak kecil, jarang
berupa perdu atau pohon. Daun berlekuk, berbagi, atau mejemuk, duduknya tersebar atau
berhadapan, dengan sepasang daun penumpu. Bunga banci, aktinomorf, kebanyakan
berbentuk dann berwarna menarik. Kelopak tidak gugur, terdiri atas 4-5 daun kelopak, bebas
atau berlekatan sampai tengah-tengah, tersusun seperti genting, jarang seperti katup, sisi
punggungnya sering kali bertaji. Daun mahkota 5, jarang hanya 4, adakalanya tanpa mahkota
, tersusun seperti genting, jarang terpilin. Benang sari 2-3 x jumlah daun kelopak, diantaranya
ada beberapa yang tidak berkepala sari, tangkai sarinya pada pangkal sedikit banyak
berlekatan. Kepala sari beruang 2, membuka dengan celah membujur. Bakal buah berlekuk 35, menumpang, beruang 2-5, tiap ruang dengan 1-2 bakal biji, adakalanya 2 –banyak.
Buahnya berlekuk, tiap lekukan berisi 1 biji, jarang lebih, bila masak terbagi dalam beberapa
bagian yang masing-masing mempunyai ujung yang berparuh. Biji bergantung pada tangkai
biji, mempunyai endosperm tipis atau tanpa endosperm. Lembaga lurus atau bengkok.
Suku ini meliputi lebih dari 600 jenis, kira-kira separuh tergolong dalam marga
Geranium dan separoh lagi dalam marga Pelargonium, sisanya terbagi dalam sekitar 9 marga,
semuanya terdapat didaerah-daerah beriklim panas.
Contoh : Geranium sanguineum, Geranium phaeum, Pelargonium zonale, Pelargonium
peltatum.
5. Suku (Familia) Tropaeolaceae
Terna sekulen, berbaring , membelit, atau memanjat, dengan tangkai daunnya,
berbatang basah dengan getah cair gatal. Daun seringkali bangun perisai, tunggal atau
bertoreh, duduknya tersebar, dibagian bawah seringkali berhadapan, dengan atau tanpa daun
penumpu. Bunga banci zigomorf, terpisah-pisah, dalam ketiak daun. Kelopak berwarna,
berbibir 2, daun kelopak seperti genting atau katup, yang disamping sering lebih besar, yang
dibagian punggung bertaji (sering dianggap sebagai bagian sumbu bunga). Daun mahkota 5,
karena ada keguguran dapat berkurang sampai tinggal 2, bebas tersusun seperti genting, 2
yang dibagian atas sering kali agak berbeda dari yang lain. Benang sari 8, bebas sering
132
bembengkok ke bawah. Kepala sari beruang 2, membuka kesamping dengan celah membujur.
Bakal buah menumpang, beruang 3, tiap ruang berisi 1 biji, tangaki putik 1, diujungnya
mendukung 3 kepala putik. Buahnya berbagi dalam 3 bagian masing-masing dengan 1 biji.
Biji tanpa endosperm, lembaga lurus dengan daun lembaga yang berdaging.
Dalam suku ini mencakup sekitar 80 jenis yang terbagi dalam 2 marga, terutama
terdapat di Amerika Selatan di daerah pegunungan Andes.
6. Suku (Familia) Zygophyllaceae
Terna anual atau tumbuhan berkayu berupa semak, jarang berupa pohon, cabangcabang sering jelas berbuku-buku. Daun majemuk beranak daun 2 atau menyirip genap,
jarang beranak daun 3, duduknya tersebar atau berhadapan, dengan sepasang daun penumpu
yang tidak gugur, kadnag-kadang seperti duri. Bungan banci, aktinomorf atau zigomorf.
Daun kelopak 5, kadang-kadang 4, bebas, jarang berlekatan dipangkalnya, tersusun seperti
genting atau katup. Daun mahkota sama banyaknya dengan daun kelopak, ada kalanya tidak
ada. Benang sari 8-10, kadang-kadang 15, pada pangkalnya seringkali mempunyai sisik pada
pangkal disebelah dalamnya. Kepala sari beruang 2, membuka dengan celah membujur.
Bakal buah menumpang, beruang 2-12, tiap ruang berisi 1-banyak bakal biji. Tangkai putik 1,
pendek, kepala putik sering tampak duduk pada bakal buah. Buah bermacam-macam, tidak
pernah berupa buah buni, kebanyakan berupa buah kendaga atau buah berbagi. Biji dengan
atau tanpa endosperm, lembaga sepanjang bijinya, lurus atau bengkok.
Suku ini meliputi sekitar 250 jenis, terbagi dalam 26 marga, tersebar didaerah-daerah
beriklim panas, banyak yang merupakan halofit dan xerofit.
8. Bangsa (Ordo) Rutales
1. Suku (Familia) Rutaceae
Pada umumnya tumbuhan yang termasuk dalam suku ini memiliki habitus hampir
selalu berupa pohon atau semak dan jarang berbentuk terma. Daunnya tunggal atau majemuk
dengan duduk daun tersebar atau berhadapan dan tidak memiliki daun penumpu. Daun dan
kulit batangnya mengandung kelenjar-kelenjar minyak. Bunganya bunga banci, aktinomorf
atau sigomorf berbilangan 4-5. Dalam lingkaran benang-benang sari kebanyakan terdapat
cakram. Kelopak terdiri dari 4-5 daun kelopak yang berlekatan dengan susunan seperti
gunting atau kelopaknya lepas. Mahkota lepas tersusun seperti susunan genting atau katup.
Benang sarinya berjumlah sama dengan daun mahkota atau 2 kali lipat dari daun mahkota
jarang lebih. Lepas dan jarang berlekatan. Kepala benang sari menghadap ke dalam dan
beruang 2. Bakal buah menumpang,biasanya beruang 4-5, kadang-kadan beruang 1-3 atau
133
banyak, ada kalanya terdapat lebih dari1 bakal buah yang terpisah dan tiap ruang berisi 2
bakal buah. Buahnya mempunyai bentuk dan susunan bermacam-macam, ada yang seperti
buah buni atauberkulit tebal seperti kulit (belulang) dan jarang berujud buah kendaga.
Contoh:
Citrus
:Citrus nobilis (jeruk keprok), Citrus aurantunm (jeruk manis), Citrus
maxima (jeruk besar, bali, adas), Citrus amantifoila (jeruk nipis), Citrus
hystrix (jeruk purut), Citrus medica (jeruk sitrum)
Aegle
:Aegle marmelos (maja)
Ruta
:Ruta graveolen, Ruta mortana
Murraya
:Murraya paniculata (kemuning)
Triphastia
:Triphasia trifelia (jeruk kingkit)
Feronia
:Feronia limonia (kawis)
Citrus maxima (jeruk besar, adas dan bali)
2. Suku(Familia) Meliaceae
Tumbuhan yang termasuk dalam family Meliaceae mempunyai ciri-ciri habitus
berupa pohon atau semak, jarang yang berwujud terna, mempunyai kelenjar minyak.
Daunnya majemuk menyirip dengan duduk dauntersebar dan tidak mempunyai daun
penumpu. Bunga aktinomorf dan kebanyakan bunga banci. Kerapkali kelopaknya kecil,
terdiri dari 4-5 daun kelopak, biasanya 5 dan berlekatan satu dengan yang lain. Mahkota
banyaknya sama dengan jumlahnya daun kelopak. Mahkota lepas atau saling berlekatan.
Benang sari banyaknya sama dengan daun mahkota atau 2 kali lipar yang pada umumnya
saling berlekatan membentuk pembuluh. Bakal buahnya menumpang, jarang setengah
tenggelam, beruang 3-5 dan tiap ruang berisi 1-2 bakal biji, jarang lebih. Tangkai putik 1
dengan kepala putik yang berbentuk cakram atau bongkol.Buahnya buah buni, buah kendaga
atau buah batu.
Contoh:
134
Melia
:Melia azedarach (mindi kecil), Melia dubis (mindi besar)
Algaia
: Algaia odorata (pacar cina)
Lansium
:Lansium domesticum (duku, langsat, kokosan)
Sandoricum
:Sandoricum koetjape (kecapi, sentul), Sandoricum emarginatum (kecapi kera)
Swietenia
:Swietenia mahagoni (mahoni berdaun kecil), Swietenia macrophylla (mahoni
berdaun besar)
Cedrella
:Cedrella odorata (kayu sadar)
Dysoxylum
:Dysoxylum macrocarpum (mentaos)
9. Bangsa (Ordo) Sapindales
Warga bangsa ini kebanyakan berupa semak atau pohon dengan daun-daun majemuk
atau tunggal, jarang mempunyai daun penumpu. Dalam bagian-bagian vegetatifnya tidak
jarang terdapat rongga-rongga yang berisi resin. Bunga banci, seringkali berkelamin tunggal,
kelopak dan mahkota berbilangan 5, daun-daun kelopak dan mahkota bebas, biasanya
zigomorf. Benang sari 8, tersusun dalam 2 lingkaran yang seringkali tidak sempurna, jarang
tersusun dalam lebih dari 2 lingkaran. Cakram biasanya jelas. Bakal buah beruang 2-3, jarang
lebih, tiap ruang berisi 1-2 bakal biji yang apotrop atau epitrop, tembuni di sudut-sudut ruang.
Dalam bangsa ini termasuk berbagai suku yang warganya merupakan jenis-jenis
tumbuhan dengan nilai ekonomi yang tinggi, di antaranya berbagai jenis buah-buahan.
1. Suku (Familia) Sapindaceae.
Semak, perdu, atau pohon, kadang-kadang liana dengan alat-alat pembelit. Daun
tunggal atau majemuk menyirip tunggal atau berganda, duduknya tersebar, jarang
berhadapan, dengan atau tanpa daun penumpu. Bunga banci, berkelamin tunggal, atau
poligam, seringkali berumah 2, tersusun dalam rangkaian yang bermacam-macam, biasanya
berbentuk malai, zigomorf dengan bidang simetri miring. Daun kelopak 5, bebas atau
berlekatan, tersusun seperti genting atau katup. Daun mahkota 3-5, sering tidak terdapat.
Cakram biasanya terdapat, seringkali pada satu sisi saja di luar lingkaran benang sari. Benang
sari 8, kadang-kadang 5, 10, atau banyak, tertanam di sebelah dalam cakram, tangkai sari
bebas, sering berambut. Kepala sari beruang 2. Bakal buah menumpang, dekat pangkal
berlekuk atas berbagi, biasanya beruang 3, sering hanya beruang 2, tiap ruang kebanyakan
hanya berisi 1 bakal biji, ada kalanya 2 atau lebih. Buahnya buah kendaga, buah keras, buah
batu atau buah berbagi, sering bersayap. Biji mempunyai salut, tanpa endosperm, lembaga
terlipat atau terpilin.
135
Suku ini membawahi lebih dari 1.000 jenis, terbagi dalam lebih dari 140 marga,
kebanyakan tersebar di daerah tropika dan daerah beriklim panas, tidak terdapat di Eropa.
Contohnya yaitu
Schleichera: Sch. Oleosa (kesambi), kayunya terpuji sebagai bahan
pembuat arang yang bermutu tinggi, dari buahnya (kacacil) dibuat minyak untuk obat luka.
Pohon ini digunakan juga untuk inang kutu lak (Laccifer lacca) yang menghasilkan lak yang
bermutu. Erioglossum: E. rubiginosum dan Otophora: O. olata, keduanya dikenal sebagai
kelayu, buahnya dapat dimakan. Euphoria: E. longana (lengkeng), penghasil buah yang
dianggap mewah, mahal harganya, demikian pula Litchi: L. chinensis (leci), yang sering
dijadikan satu marga dengan lengkeng.
Schleichera oleosa
Euphoria longana
2. Suku (Familia) Anacardiaceae.
Jenis-jenis tumbuhan yang tergolong dalam suku ini berupa semak atau pohon dengan
kulit batang yang biasanya mengandung resin, yang bila mengenai kulit dapat menimbulkan
peradangan, sering juga mengandung zat samak. Daun tunggal, menyirip gasal atau menyirip
beranak daun 3, duduknya hampir selalu tersebar, tanpa daun penumpu. Bunga kecil.
Terangkai sebagai malai, banci atau berkelamin tunggal, aktinomorf atau agak zigomorf.
Kelopak berbilangan 5, berbagai dengan cara yang bermacam-macam. Daun mahkota 3-7,
biasnya 5, sering tidak ada. Benang sari sama banyaknya dengan jumlah daun mahkota atau 2
x lipat, bebas; kepala sari beruang 2, membuka dengan celah membujur. Bakal buah
menumpang ataua setengah tenggelam, beruang 1-10, biasanya tidak lebih dari 3, kadangkadang terdapat lebih dari 1 bakal buah yang terpisah-pisah, tiap ruang berisi 1 bakal biji
dengan 2 integumen. Buahnya biasanya berupa buah batu dengan mesokarpium yang
seringkali tebal berdaging dan dapat dimakan. Biji tanpa atau dengan endosperm yang tipis,
lembaga dengan daun lembaga yang tebal berdaging.
Suku Anacardiaceae membawahi kira-kira 500 jenis, terbagi dalam 70 marga yang
terbesar dari daerah-daerah beriklim panas sampai daerah-daerah iklim sedang. Contohnya
136
Ancardium: A. occidentale (jambu mete), penghasil mete; buah semu yang berasal dari
tangkai bunganya juga dapat dimakan. Mangifera: M. indica (mangga dengan puluhan
varietas budidaya), penghasil buah-buahan; M. odorata (kuweni), M. foetida (pakel, limus):
D. mengiferum (rau), buahnya dapat dimakan; D. deo. Bouea sp., Spondias sp., Gluta sp.,
Rhus p., Pistacia sp., dan Lannea sp.
Anacardium occidentale
Mangifera odorata
Mangifera indica
3. Suku (Familia) Aceraceae.
Perdu atau pohon dengan daun tunggal, berlekuk, atau mejemuk menyirip, duduknya
berhadapan, tanpa daun penumpu. Bunga tersusun dalam bulir, tandan, atau malai, banci atau
berkelamin tunggal, aktinomorf, dengan cakram pipih atau cekung. Kelopak berbagi 4-10.
Mahkota terdiri atas 4-10 daun mahkota, eringkali 5, beba, kadang-kadang tidak ada. Benang
sari 4-10, kebanyakan 8, bebas. Bakal buah menumpang, beruang 2, tiap ruang dengan bakal
biji, tangkai putik 2. Buah seperti samara, bersayap, biasanya kemudian terbagi menjadi
beberapa bagian. Biji tanpa endosperm, lembaga dengan akar lembaga memanjang dan daun
lembaga yang rata atau terlipat.
Suku ini meliputi sekitar 120 jenis yang terbagi hanya dalam 2 marga, yaitu: Acer dan
Dipteronia, terutama tersebar di daerah iklim sedang di belahan bumi utara, beberapa jenis di
daerah tropika. Contohnya: Acer: A. saccharum, menghasilkan gula; A. platanus, A. rubrum,
A. dasycarpum, A. campestre.
10. Bangsa (Ordo) Umbelliflorae (Apiales)
Kebanyakan terdiri atas terna, jarang berupa tumbuhan yang berbatang, berkayu, daun
tunggal atau majemuk tanpa daun penumpu. Dalam alat-alatnya sering terdapat saluransaluran minyak atau resin. Bunga tersusun sebagai bunga payung, banci, aktinomorf,
berbilangan 4 atau 5. Kelopak kecil, daun mahkota bebas, benang sari dalam satu lingkaran,
berhadapan dengan daun-daun kelopaknya. Bakal buah tenggelam, seringkali beruang 2, tiap
137
ruang dengan 1 atau 2 bakal biji yang kebanyakan hanya mempunyai 1 integumen. Biji
dengan endosperm dan lembaga yang kecil. Adapun suku dari Apiales yaitu Apiaceae
(Umbelliferae).
1. Suku Apiaceae (Umbelliferae)
Terna berumur pendek atau panjang, dengan batang berongga sebelah dalam dan
beralur atau berigi membujur pada permukaannya. Daun tersebar, berseling atau berhadapan,
majemuk ganda atau banyak berbagi, tanpa daun penumpu tetapi mempunyai pelepah yang
besar dan pipih yang disebut perikladium dan tidak membaalut batang. Bunga majemuk
berupa bunga payung atau bunga payung bersusun atau suatu kapitulum. Bunga kecil,
kebanyakan banci, aktinomorf atau sedikit zigomorf, berbilangan 5. Kelopak seringkali amat
kecil, daun mahkota 5 dengan ujungnya yang melengkung ke dalam berwarna kuning atau
keputih-putihan, jarang merah jambu, lembayung. Benang sari 5, berseling dengan daun
mahkota.Bakal buah tenggelam , tertutup oleh bantal tangkai putik yang berbagi 2, beruang 2
dalam tiap ruang dengan 1 bakal biji yang bergantungan. Tangkai puik 2, terpisah. Buahnya
buah berbelh 2 (merupakan suatu diakenium), tiap bagian buah tetap berlekatan pada suatu
karpofor. Dalam kulit buah terdapat saluran-saluran minyak atsiri. Biji dengan endosperm
menyerupai tanduk.
Sifat-sifat anatomi yang penting :
- Adanya saluran-saluran resin skizolisigen dalam gelam dari akar dan batang dan kulit
buahnya,
- Kolenkim dalam korteks primer dari batang dan dalam rigi-rigi dari buah,
- Perforasi sederhana dalam trakea,
- Tak add rambut-rambut kelenjar, tetapi ada rambut-rambutt lain,
- Dalam tunas-tunas batang tak ada teras, tetapi berongga.
Adapun contoh serta ciri-ciri spesifik spesies dari bangsa Apiales suku Apiaceae
yaitu sebagai berikut :
Apium
:Apium graveolens L. (selderi)
Anethum
:Anethum graveolens L.
Angelica
:Angelica archangelica L.
Centella
:Centella asiatica Urb.
Coriandrum
:Coriandrum sativum L.
Conium
:Conium maculatum L.
Carum
:Carum carvi L.
Dorema
:Dorema ammoniacum Don.
138
Foeniculum
:Foeniculum vulgare Mill
Ferula
:Ferula galbaniflua Boiss & Buhse, Ferula sumbul (Kaufz.) Hook.f.
Levisticum
:Levisticum officinale Koch
Petroselinum
:Petroselinum crispum (Mill.) Nyman.
Pimpinella
:Pimpinella anisum L.
VII. 3. TUGAS UNTUK MAHASISWA
Buat ringkasan klasifikasi tentang anggota anak kelas Dialypetalae
139
BAB VIII
SUB CLASSIS SYMPETALAE
VIII. 1.PENDAHULUAN:
SASARAN PEMBELAJARAN: Menjelaskan tentang ciri-ciri, tatanama dan klasifikasi Clas
Dikotil sub classis Sympetalae
STRATEGI PEMBELAJARAN: Teaching learning, collaborative learning, , presentasi tugas
kelompok, praktikum
VIII.2. SUB CLASSIS SYMPETALAE
Sympetalae merupakan kelompok tumbuhan yang ciri utamanya yaitu adanya bunga
dengan hiasan bunga yang lengkap, terdiri atas kelopak dan mahkota, dengan daun-daun
mahkota yang berlekatan menjadi satu. Adapun beberapa bangsa yang termasuk dalam anak
kelas Sympetalae, namun pada buku ajar ini hanya dibahas 6 diantaranya yaitu: :
1. Bangsa (Ordo) Ebenales
Ordo ini tediri atas tumbuhan berbatang berkayu, biasanya berupapohon, mempunyai daun tunggal
yang duduknya tersebar. Bungabanci, jarang berkelamin tunggal, aktinomorf, kebanyakan
berbilangan5, daun-daun mahkota berlekatan, benang sari tersusun dalam 2 sampai3 lingkaran,
jarang hanya 1, tertanam dalam mahkotanya. Bakal buah menumpang atau tenggelam, beuruang
banyak, tiap ruang berisi 1sampai 2 integumen. Buji dengan endosperm yang terbentuk
secaraseluler dengan lembaga yang lurus atau sedikit bengkok.
1. Suku Sapotaceae
Perdu atau pohon dengan daun-daun tunggal yang tersebar.Bunga dalam kelompok-kelompok
kecil dalam ketiak daun,banci, aktinomorf. Kelopak terdiri atas 3-8 daun kelopak yangbebas atau
berlekatan. Mahkota terbagi 4-10. Benang sari samabanyaknya dengan daun mahkota atau lebih
banyak, letaknyaberhadapan dengan daun-daun mahkota, terdapat pula benang-benang sari yang
mandul yang sama bnyaknya atau lebihbanyak daripada daun-daun mahkota. Bakal
buahnyamenumpang. Buahnya buah buni atau buahnya berkayu atautidak membuka. Biji dengan atau
tanpa endosperm, Lembagabesar, akar lembaga pendek, daun lembaga lebar. Warga sukuini
mempunyai saluran getah dalam kulit batang, daun, dan juga dalam empulur karena kandungan
zat tersebut seringdibudidayakan (getah perca).Contoh: Palaquium gutta(Getah Perca),
Chrysophyllum cainito (sawo, kenitu).
140
2. Suku Ebenaceae
Semak atau pohon dengan kayu yang keras berwarna hitam,daun tunggal, duduk tersebar atau
berkarang, tanpa daunpenumpu. Bunga berkelamin tunggal jarang yang banci,antinomorf,
terpisah-pisah dalam ketiak daun. Bunga jantandengan buah yang rudimenter, bunga betina
dengan benangsari yang tidak sempurna atau tanpa benang sari sama sekali.Kelopak berlekuk 36 dan sering ikut membesar bersamapertumbuhan buah. Mahkota berlekuk 3-7 yang
tersusunseperti genting. Bakal buah menumpang beruang 2-16,masing-masing dengan 2
integumen. Buahnya kebanyakanbuah buni. Biji berkulit tipis dengan endosperm yang
besar.Suku ini mencakup lebih dari 300 jenis yang terbagi dalam 7marga dan tersebar daerah
tropika. Contoh: Buah kaki (Diospyros khaki)
3. Suku Styraceae
Semak atau pohon yang sering mempunyai rambut-rambutberbentuk bintang atau sisik-sisik.
Daun tunggal, tersebartanpa daun penumpu. Bunga banci, aktinomorf. Kelopak berbentuk bulu,
sedikit banyak melekat pada bakal buahnya.Bakal buah menumpang jarang setengah tenggelam
dan beruang 3-5. Buahnya seperti buah kendaga atau buah batudengan kelopak yang tidak gugur.
Biji dengan endosperm danembrio yang lurus atau sedikit bengkok. Warga suku iniseluruhnya
ada 120 jenis yang tersebar didaerah tropika dansubtropika, jarang terdapat di Afrika dan tidak
terdapat diAustralia. Contoh: Styrax officinalis
4. Suku Symplocaceae
Semak atau pohon, daun tunggal tersebar tanpa daun penumpu.Bunga terpisah-pisah atau
terangkai dalam bentuk bulir atautandan, banci, aktinomorf. Kelopak berbelah lima. Bakal
buahtenggelam atau setengah tenggelam, beruang 2 sampai 5.Buahnya buah batu atau buah buni.
Beruang 2 sampai 5, tiapruang berisi 1 biji. Biji dengan endosper, lembaga lurus dengandaun
lembaga yang pendek. Suku ini terdiri atas 1 marga sajayaitu symplocos dengan mendekati 300an jenis. Contoh: Symplocos: S. Odoratissima, S. Spicata, S. Fasciculata, S. Paniculata, S.
Javanica, S. Tinctoria.
2. Bangsa (Ordo) Asterales = Campanulatae = Synandrae
Pada ordo ini kebanyakan berupa terna, jarang
berupa tumbuhan berkayu, sering
mempunyai saluran-saluran getah atau kelenjar-kelenjar minyak. Daun tunggal, duduk
berhadapan atau tersebar, kebanyakan tanpa daun penumpu. Bunga dalam rangkaian yang
141
bersifat rasemos, dengan kecenderungan untuk pembentukan bunga cawan atau bonggol,
sebagian besar berbilangan lima, yang seringkali berlekatan satu dengan yang lain. Bakal buah
hampir semuanya tenggelam beruang 1-5, tiap ruang dengan banyak atau satu bakal bij, masingmasing dengan satu integumaen.Biji dengan endosperm seluler.
1. Suku (Familia) Campanulaceae
Kebanyakan berupa terna, semak-semak kecil, jarang berupa tumbuhan berkayu,
kebanyakan mempunyai saluran getah yang beruas-ruas. Daun tunggal kadang-kadang berbagi
sangat dalam, duduk tersebar, jarang berhadapan, tanpa daun penumpu.Bunga banci, aktinomorf
atau zigomorf. Kelopak terdiri atas 5 daun kelopak, kadang-kadang 6-10 atau mempunyai 3-4
taju-taju. Daun-daun mahkota berlekatan, ada kalanya bebas. Benang sari sama banyaknya
dengan taju-taju daun mahkota.Bakal buahnya tenggelam atau setengah tenggelam, beruang 210, jarang hanya beruang 1, tiap ruang berisi 2-banyak bakal biji pada tembuni yang aksilar atau
pada dinding tangkai putik 1.Buahnya kebanyakan berupa buah kendaga, kadang-kadang buah
buniBiji dengan endosperm.
Suku ini mencakup sekitar 1.150 jenis dengan 70 marga, terutama tersebar di daerah
iklim sedang daerah-daerah subtropika. Beberapa anggota dari suku Campanulaceae :Campanula
allioni, Phyteua comosum, Lobelia inflata, Adenophora lilifolia
2.
Suku Compositae (Asteraceae)
Habitus kebanyakan berupa terna, semak, atau perdu, jarang sekali berupa pohon. Daun
tunggal, kadang-kadang berbagi sangat dalam hingga menyerupai daun majemuk, duduknya
berhadapan, jarang tersebar, kebanyakan tanpa daun penumpu. Bunga meupakan bunga cawan
atau bongkol atau seperti bulir pendek dengan daun-daun pembalut bersama untuk seluruh
rangkaian bunga. Pembalut masing-masing bunga biasanya tereduksi berupa sisik-sisik. Bunga
berkelamin tunggal atau banci, aktinomorf atau zigomorf, berbilangan 5, biasanya kelopak tidak
jelas dan sebagai pengganti terdapat rambut-rambut atau sisik-sisik. Daun-daun mahkota
berlekatan, sering seperti lidah. Benang sari tertanam pada buluh mahkota, tangkai sari bebas,
kepala sari berlekatan, berseling dengan taju-taju mahkota, Bakal buah tenggelam beruang satu
dengan satu bakal biji. Tangkai putik satu, kepala putik 2. Buahnya berupa buah kurung atau
buah batu, biji berlekatan dengan dinding buah, tanpa endosperm.
Suku ini merupakan suku dengan marga paling banyak, ditaksir sampai sekitar 14.000
jenis dengan kurang lebih 1.000 marga tersebar di seuruh dunia. Banyak di antara anggota142
anggotanya yang mempunyai buluh-buluh getah yang beruas atau kelanjar-kelenjar minyak.
Banyak jenis-jenis yang bermanfaat, sebagai penghasil tanaman obat, sebagai tanaman hias,
penghasil bunga potong, dan lain sebagainya. Berikut ini adalah beberapa marga dari suku
Asteraceae, yaitu Blumea balsamifera, Pluchea indica, Chrysantemum indicum, Helianthus
annuus, Eupatorium pallescens.
Aster sp dan Pluchea indica
3. Bangsa (Ordo) Rubiales
Pada ordo Rubiales ini berupa terna atau tumbuhan berkayu dengan daun tunggal atau
majemuk yang duduk berhadapan, dengan atau tanpa daun penumpu.Bunga banci, aktinomorf
atau zigomorf, berbilangan 4 sampai 5, biasanya membentuk bunga majemuk yang simos. Daun
mahkota berlekatan, pada bunga yang aktinomorf benang sari sama banyaknya dengan daun
mahkota, pada bunga yang zigomorf jumlah benang sari lebih sedikit, duduknya berseling
dengan daun-daun mahkota. Bakal buah tenggelam, beruang 1 sampai 5, tiap ruang berisi 1
sampai banyak bakal biji, masing-masing dengan 1 integumen. Biji kebanyakan mempunyai
endosperm.
1. Suku (Familia) Rubiaceae
Semak perdu atau pohon-pohon, jarang berupa terna. Daun tunggal berhadapan atau
berkarang, dengan daun penumpu dalam ketiak atau antar tangkai. Bunga dalam rangkaian yang
bersifat rasemos atau simos, sering berbentuk sepertibongkol, aktainomorf atau zigomorf, banci
atau berkelamin tunggal, biasanya berbilangan 4-5, kadang kadang lebih. Kelopak tersusun
sebagai katup, mahkota berlekatan, bentuk mahkota bermacam-macam, benang sari melekat
pada mahkota, berseling dengan taju-taju mahkota, jarang jumlah benang sari lebih kecil. Dalam
143
bunga bisanya terdapat cakram. Bakal buah tenggelam. Contohnya yaitu Kopi Coffea arabica L
dan Ixora palludosa.
Coffea arabica L dan Ixora palludosa.
2. Suku (Familia) Caprifoliaceae
Semak atau perdu, kadang-kadang berupa liana, dengan kayu yang relative lunak dan
empulur yang lebar. Daun tunggal, daun yang duduk berhadapan, kebanyakan tanpa daun
penumpu. Bunga banci, aktonomorf atau zigomorf. Kelopak bergigi atau bartaju 3-5. Mahkota
berlekuk dengan 5 taju-taju. Benang sari kebanyakan 5, kadang-kadang hanya 4, tertanam pada
mahkota, berseling dengan taju-tajunya. Bakal buah tenggelam, beruang 2-5, jarang hanya
beruang 1, tiap ruang berisi satu sampai banyak bakal biji. Tangkai putik 1 atau lebih. Buahnya
buah buni atau buah batu, jarang buah kendaga. Biji dengan kulit biji yang keras seperti tulang,
kebanyakan dengan endosperm yang besar, lembaga lurus.
Suku ini membawahi sekitar 340 jenis, terbagi dalam 11 marga, sebagian tersebar di
belahan bumi utara, di pegunungan Ades di Amerika Selatan dan Asia Tenggara.
Contohnya Diervilla sessilifolia, Lonicera tatarica dan Diervilla rosea.
144
3. Suku (Familia) Valerianaceae
Terna, jarang berupa semak atau perdu, daun-daun tunggal berbagi sangat dalam, duduk
berhadapan tanpa daun penumpu. Bunga banci atau berkelamin tunggal, zigomorf atau asimetris,
kadang-kadang dengan daun-daun pembalut atau daun pelindung. Kelopak dengan tepi yang
tidak jelas perkembangannya, mahkota dengan 3-5 taju-taju, pada pangkal bertaji atau berkatung.
Benang sari 1-4, tertanam pada mahkota, bakal buah tenggelam dan beruang tiga, biasanya
menjadi satu atau tinggal satu ruang yang berisi 1 bakal biji. Tangkai putik satu. Buahnya buah
keras dengan satu biji, denganujungnya terdapat rambut-rambut yang berasal dari kelopak yang
tidak gugur. Biji tanpa endosperm, lembaga lurus.
Suku ini meliputi sekitar 350 jenis, terbagi dalam 12 marga. Seperti warga suku
Caprifoliaceae tersebar terutama di belahan bumi utara, di pegunungan Andes dan Asia
Tenggara. Contohnya yaitu Valeriana tuberose dan Valeriana officinalis.
Valeriana tuberose
Valeriana officinalis
4. Suku (Familia) Dipsacaceae
Terna atau semak-semak
kecil, dengan daun-daun tunggal berbagi dalam, duduk
berhadapan, tanpa daun penumpu. Bunga tersusun sebagai bongkol, kebanyakan banci,
zigomorf, tiap bunga dilingkari kelopak tambahanyang terdiri atas daun-daun pelindung.
Kelopak dengan taju-taju kecil, seperti sikar. Mahkota mempuyai 2-5 taju-taju. Benang 2-4,
tertanam pada mahkota. Bakal buah tenggelam, beruang 1 dengan 1 bakal biji. Tangkai putik 1.
Buahnya buah keras, berisi 1 biji. Biji dengan endosperm, lembaga besar, lurus. Suku ini
meliputi sekiitar150 jenis tumbuha, terbagi dalam 9 marga. Umumnya tersebar di daerah sekitar
laut tengah. Contoh : Dipsacus fullonum, Morina longifolia dan Scabiosa graminifolia
145
Dipsacus fullonum
4. Bangsa (Ordo) Contortae = Apocynales
Terna, semak, dan pohon. Kayunya seringkali floem intraxiller dengan daun tunggal
duduk berhadapan atau berkarang, kebanyakan tanpa daun penumpu. Bunga banci, jarang
berkelamin tunggal, aktinomorf, berbilangan 4-5 dengan daun-daun mahkota yang berlekatan
dan dalam kuncup seperti terpuntir ke satu arah. Benang sari sama dengan taju-taju tersebut.
Bakal buah menumpang, jarang setengah tenggelam, kebanyakan beruang 2, jarang hanya 1,
tembuni pada dinding. Ada kalanya terdapat dua bakal buah yang menjadi sati karena pelekatan
tangkai putiknya. Tiap ruang berisi sedikit sampai banyak bakal biji, masing-masing dengan 1
integumen. Biji sering bersayap atau berambut dengan endosperm yang terbentuk secara nuclear,
lembaga lurus.
1. Suku (Familia) Apocynaceae
Terna atau tumbuhan berkayu berupa semak, perdu atau pohon dengan buluh getah yang
tidak beruas, seringkali memanjat, denagn daun tunggal yang duduk berhadapan atau berkarang,
tanpa daun penumpu. bunga banci, aktinomorf, berbilangan 5. Bakal buah menumpang atau
setengah tenggelam, beruang satu engan 2 tembuni pada dinding. Bakal buah dikelilingi cakram
yang berlekuk 4-5 atau berbelah 2. Tangkai putik 1 denagn penebalan dekat kepala putiknya.
Bah buni. Biji bersayap dengan rambut. Lembaga besar dan lurus.
Contoh: Catharanthus
rosea
(tapak
dara)
; Nerium
oleander;
Alstonia
scholoris
(pulai); Rauwolffia verticillata.
2. Suku (Familia) Loganiaceae
Terna atau tumbuhan berkayu denagn floem intraxiller, daun tunggal, berhadapan,
berkarang, pada pangkal bersambungan dengan perantraan suatu rusuk atau mempunyai daun
146
penumpu kecil. Bunga banci tau berkelamin tunggal, aktinomorf. Daun kelopak 4-16, biasanya
tersusun dalam beberapa lingkaran. Daun mahkota berlekatan 4, 5 sampaibanyak taju-taju.
Benang sari sama banyaknya dengan taju-taju mahkota, berlekatan dengan buluh mahkota,
jarang hanya terdapat 1 benang sari. Bakal buah menumpang atau setengah tenggelam. Buahnya
buah kendaga. Biji dengan endosperm yang terbentuk secara nuclear dengan lembaga yang lurus.
Contoh: Logania longifolia; Strychnos ligustrina (bidara laut); Gelsemium nitidum; Spiegelia
anthelmia, berkhasiat obat; Fagraea fragans (tembesu).
Logania serpyllifolia
3. Suku (Familia) Gentianaceae
Kebanyakan berupa terna annual atau perennial, jarang berupa semak atau perdu. Daun
tunggal, berhadapan. Tanpa daun penumpu. Bunga majemuk yang bersifat simos, banci, jarang
berkelamin tunggal, aktinomorf. Kelopak dengan 4-12 taju. Benang sari sama banayk dengan
jumlah taju mahkota atau lebih sedikit. Bakal buah menumpang attau setengah tenggelam.
Tangkai putik 1. Buahnya buah kendaga. Biji dengan endosperm dan lembaga yang berbentuk
kerucut. Conntoh: Gentiana lutea; Menyanthes trifoliata; Sabatia campestris;
peltatum; Exacum affina; Halenia elliptica.
Gentiana lutea
147
Nymphoides
4. Suku (Familia) Asclepidaceae
Terna atau tumbuhan berkayu, , kadang kadang membelit dau tunggal, kebanyakan sukulen
duduknya behadapan atau berkarang, kadang kadang tersebar tanpa daun penumpu, serbuk sari
berganda dengan membentuk polinia, mempunyai alat pelekat, biji bermahkotakan rambut
rambut mengkilap/ mengkilat contoh : Asclepias, Hodia, Dischidia sukulen, habitus seperti
kaktus). Asclepia tuberose, Calotropis gigantea, Marsdenia cordurango dll
Calotropis gigantea
5. Bangsa (Ordo) Tubiflorae = Solanales
Pada ordo ini terdiri atas terna jarang berupa tanaman berkayu, daun tunggal jarang
majemuk, duduknya tersebar atau berhadapan, tanpa daun penumpu.Bunga banci, aktinomorf
atau lebih sering zigomorf dengan kelopak dan mahkota yang berlekatan, kebanyakan
berbilangan 5.Benang sari dalam 1 lingkaran, berhadapan dengan daun-daun kelopak, dalam
bunga yang zigomorf jumlah benang sari berkurang karena ada reduksi.Bakal buah sebagian
besar beruang 2, kadang-kadang beruang 1, tiap ruang dengan 2 tembuni, menumpang jarang
setengah tenggelam.Tiap ruang berisi 1 samapai banyak bakal biji, masing-masing dengan 1
integumen.
1.
Suku (Familia) Solanaceae
Pada Umumnya suku ini memiliki ciri-ciri
berkas pengangkutan yang bikolateral atau
mempunyai floem intrasilar.Dalam daun ditemukan serabut sklerenkim.Terdapat rambut penutup
dan rambut kelenjar. Sifat-sifat penting Solanaceae : Sepal & petal digabungkan. Filamen
pendek, antera besar. Berkas pembuluh bikolateral. Stomata anisositik, kristal bentuk pasir,
kristal soliter.Terdapat trikoma (rambut daun), rambut kelenjar dan memiliki rumus bunga * K
(5), [C (5), A 5], G(2).
148
Contoh:
Atropa
:Atropa belladona L.
Capsicum
:Capsicum frutescen (Cabe rawit).
Datura
:Datura stramonium (Kecubung)
Solanum
:Solanum mammosum (Terong susu), Solanum tuberosum (Kentang)
2.
Suku (Familia) Convolvulaceae
Terna atau tumbuhan berkayu, kebanyakan merayap atau membelit, daun tunggal, sering
bertoreh – torehatau berbagi dalam, duduknya tersebar tanpa daun penumpu. Bunga banci,
aktinomorf. Kelopak terdiri atas 4-5 daun kelopak yang bebas, mahkota berlekatan berbentuk
corong atau terompet, dalam kuncup tajuk – tajuk mahkotanya berlipat atau tersusun seperti
katup. Benang sari 5, melekat pada buluh mahkota, berseling dengan tajuk – tajuk mahkota.
Bakal buah menumpang, kebanyakan beruang 2, tiap ruang dengan 2 bakal biji pada dasar ruang,
masing – masing dengan 1 integumen. Tangkai putik 1-2, buahnya buah kendaga, kadang –
kadang terbagi dalam 4 bagian. Biji kadang – kadang berambut, lembaga sedikit, banyak
bengkok atau tergulung, endosperm sedikit. Suku ini membawahi lebih dari 1000 jenis tumbuhan
yang seringkali mempunyai saluran – saluran getah tidak beruas, keseluruhannya terbagi dalam
kurang lebih 45 marga. Daerah distribusinya terutama daerah tropika. Contoh : Porana volubilis,
Convoluulus scammonia , Ipomea reptans dll
3.
Suku (Familia) Cuscutaceae
Parasit obligat, tanpa klorofil, tanpa akar, menghisap air dan makanan dari inangnya
dengan perantaraan alat alat penghisap (haustoria) yang terdapat pada batangnya yang membelit
inangnya, berbentuk seperti benang berwarna kuning jingga. Mahkota berwarna putih ataua
merah jambu, berbentuk lonceng atau hampir bulat dengan 5 atau 4 tajuk – tajuk. Benang sari 5,
tangkai sari pendek tertanam pada pangkal mahkota,berseling dengan tajuk. Bakal buah
149
menumpang, beruang 2 dengan sempurna atau tidak sempurna, masing – masing dengan 2 bakal
biji. Tangkai putik 2, bebas atau berlekatan. Buahnya buah kendaga berbentuk bulat, kering atau
berdaging, berisi 1 – 4 biji. Biji dengan lembaga yang melingkari endospermanya, Suku ini
monotipik, hanya terdiri atas marga Cuscuta dengan sekitar 100 jenis yang tersebar di seluruh
dunia.Contoh: Cuscuta australis
4.
Suku (Familia) Polemoniceae
Terna anual atau parenial, kadang kadang memanjat dengan sulur, pembelit, jarang
berupa tumbuhan berkayu. Daun tunggal atau majemuk, tersebar atau berhadapan tanpa daun
penumpu. Bunga banci, aktinomorf, berbilangan 5. Kelopak dan mahkota terdiri atas daun-daun
kelopak dan daun-daun mahkota yang berlekatan, dengan tajuk-tajuk yang dalam kuncup
terpuntir ke satu arah. Benang sari sama banyaknya dengan tajuk-tajuk mahkota, berseling
dengan tajuk-tajuk itu dan sebagian berlekatan dengan mahkota. Bakal buah menumpang,
beruang 3, kadang-kadang 5 atau hanya 2, tiap ruang berisi banyak atau hanya 1 bakal biji.
Tangkai putik satu di bagian atas berbelah 3. Buah kebanyakan berupa kendaga yang pecah
dengan membelah ruang. Biji dengan endosperm, lembaga lurus atau sedikit bengkok. Suku ini
meliputi sekitar 270 jenis yang terbagi dalam 12 marga. Contoh: Polemonium reptans
Polemonium reptans
150
5.
Suku ( Familia) Hydrophyllaceae
Kebanyakan berupa terna annual atau perennial, dengan daun tunggal atau berbagi yang
duduknya tersebar atau berhadapan, tanpa daun penumpu. Bunga banci, aktinomorf, tersusun
dalam sinsinus (bunga bercabang seling). Kelopak dan mahkota berbagi 5, berbelah 5 dengan 5
tajuk-tajuk. Dalam bunga kebanyakan tidak terdapat cakram. Benang sari melekat pada pangkal
mahkota, berseling dengan tajuk-tajuk mahkota, seringkali jumlahnya lebih besar daripada
jumlah-jumlah tajuk mahkota, jarang hanya 4. Bakal buah menumpang, beruang 1 dengan 2
tembuni pada dindingnya, atau beruang 2 dengan banyak bakal biji atau hanya 2 dalam tiap
ruang. Tangkai putik 2 atau 1. Buahnya kebanyakan buah kendaga yang pecah dengan membelah
ruang. Biji dengan endosperm, lembaga kecil, lurus. Suku ini meliputi 18 marga dengan
seluruhnya 170 jenis.
6.
Suku ( Familia) Boraginaceae
Berupa terna, jarang pohon-pohonan seringkali mempunyai rambut kasar, daun tunggal,
tersebar, tanpa daun penumpu. Kebanyakan bunga banci, aktinomorf atau zigomorf, tersusun
dalam rangkaian yang bersifat simos berganda, tergulung pada ujung batang. Kelopak berbagi,
mahkota tersusun dari 5 daun mahkota yang berlekatan, dalam kuncup teratur quinkunsial atau
terpuntir, tajuk-tajuk mahkota sering tidak sama besar. Disebelah dalam buluh mahkota sering
terdapat sisik-sisik. Benang sari 5, sering dengan tangkai sari yang tidak sama panjang, di
antaranya ada yang mandul, melekat pada buluh mahkota. Bakal buah menumpang, berlekuk 4,
beruang 2, kemudian terbagi dalam 4 bagian yang masing-masing berisi 1 biji. Tangkai putik 1
atau terbelah 2, tertanam pada pangkal bagian-bagian bakal buah. Buah terbagi dalam 4 bagian
buah yang masing-masing bersifat seperti buah keras. Biji dengan atau tanpa endosperm, lembag
lurus atau bengkok. Mendekati 1000 jenis tumbuhan tergolong dalam suku ini, terbagi dalam
sekitar 100 marga dengan daerah distribusi yang luas, terutama di daerah tropika dan sub tropika.
7. Suku (Familia) Scrophulariaceae
Terna atau semak kecil, kadang kadang pohon kecil, daun tunggal atau berbagi, duduknya
tersebar, berhadapan atau berkarang, tanpa daun penumpu. Bunga banci, hampir selalu zigomorf.
Kelopak dan mahkota masing-masing terdiri atas 4 - 5 kadang-kadang 6 – 8 daun kelopak dan
daun mahkota yang berlekatan antara 1 dengan yang lainnya. Benang sari 5, melekat pada
151
mahkota berseling dengan tajuk-tajuk mahkota, kadang-kadang 4, 2 panjang dan 2 pendek, ada
kalanya hanya 2 benang sari. Dalam bunga terdapat sebuah cakram. Bakal buah menumpang,
beruang 2 dengan sempurna atau tidak, dengan sekat yang melintang (transversal), tiap ruang
berisi 2 hingga banyak bakal biji. Tangkai putik 1. Buahnya buah kendaga atau buah buni. Biji
dengan endosperm, lembaga lurus atau sedikit bengkok. Suku ini mencakup kira-kira 2600 jenis,
terbagi dalam lebih dari 200 marga, tersebar di seluruh dunia. Contoh Scrophularia alata.
8. Suku (Familia) Lentibulariaceae.
Terna, seringkali berupa tumbuhan air atau tumbuhan darat yang menyukai tanah-tanah
yang lembab, daun tunggal, berbagi dalam, duduknya tersebar membentuk roset akar,
kebanyakan mempunyai gelembung-gelembung. Bunga banci, zigomorf, terpisah-pisah atau
tersusun dalam bunga majemuk berupa bulira atau tandan. Kelopak berbagi 2 – 5, mahkota
berlekatan membentuk 2 bibir pada ujung dan bertaji pada pangkalnya. Benang sari 2, melekat
pada pangkal mahkota. Dalam bunga tidak terdapata cakram. Bakal buah menumpang, beruang
1, tembuni di tengah-tengah dengan banyak bakal biji, kadang-kadang bakal buah beruang 2.
Tangkai putik pendek, kepala putik duduk di atas bakal buah. Buahnya buah kendaga yang
membuka dengan 2 – 4 katup-katup, atau buah kurung dengan 1 biji tanpa endosperm. Suku ini
membawahi 5 marga, dengan kurang lebih 300 jenis yang tersebar dimana-mana.
Contoh Utricularia: Urticularia flexuosa, Pinguicularia vulgaria, Genliseaornata dll.
9.
Suku (Familia) Orobanchaceae
Terna annual atau perennial yang hidup sebagai parasit pada akar-akar tumbuhan lain,
tidak berklorofil, dengan daun-daun yang berubah bentuk menjadi sisik-sisik. Bunga dalam
ketiak suatu daun pelindung, terpisah-pisah atau tersusun dalam tandan, banci, zigomorf.
Kelopak terdiri atas 2 – 5 daun kelopak yang berlekatan pada pangkalnya. Mahkota berlekatan
dengan 4 – 5 tajuk-tajuk dan 2 bibir. Benang sari 4, 2 – 2 tidak sama panjang melakat pada
mahkota. Bakal buah menumpang, beruang satu, dengan 2 – 4 tembuni pada dinding dan banyak
bakal biji. Tangkai putik 1. Buahnya buah kendaga yang pecah dengan membelah ruang. Biji
dengan endosperm dan lembaga yang kecil. Suku ini meliputi kira-kira 130 jenis yang terbagi
dalam 13 marga, kebanyaka di daerah beriklim sedang di belahan bumi utara.
Ccontoh : Orobanch: Orbanca speciosa, Cistancha luxiflora dll.
152
10. Suku (Familia) Gesneriaceae
Terna, semak, jarang berupa pohon seringkali hidup sebagai epifit, daun sering tidak
sama, daun tersebar atau berhadapan tanpa daun penumpu. Bunga banci, zigomorf, berbilangan
5. Kelopak berlekatan, mahkota sering mempunyai 2 bibir. Benang sari 4, 2 – 2 tidak sama
panjang, kadang-kadang hanya 2, di antaranya kadang-kadang 1 – 3 bersifat mandul, semua
melekat pada mahkota bunga, kepala sari 2 – 2 berlekatan atau semuanya bergandengan menjadi
1. Bakal buah menumpang sampai tenggelam, beruang 1 dengan 2 tembuni pada dinding dan
banyak bakal biji. Tangkai putik 1. Buahnya buah kendaga atau buah buni. Biji dengan atau
tanpa endosperm, lembaga lurus. Warga suku ini terdiri atas sekitar 1100 jenis, terbagi dalam
kurang lebih 100 marga, hampir semua tersebar di daerah tropika.
Contoh : Gesneri: Gesneria libanensis, Episcia fulgida, dll.
11. Suku (Familia) Bignoniaceae
Semak atau pohon, kadang-kadang memanjat atau membelit jarang berupa terna. Daun
kebanyakan majemuk, duduk berhadapan atau tersebar, tanpa daun penumpu. Bunga banci,
zigomorf, berbilang 5, sering berwarna sangat menarik. Kelopak bangun lonceng, rompang atau
bergigi 5. Mahkota dengan 5 tajuk-tajuk yang tersusun seperti genting, kadang-kadang berbibir
2. Benang sari 4 atau 2, melekat pada mahkota berseling dengan tajuk-tajuk mahkota, 1 – 3 di
antaranya mandul. Dalam bunga kebanyakan terdapat cakram. Bakal buah menumpang, beruang
2 atau 1, tiap ruang dengan 2 tembuni, denga banyak bakal biji. Tangkai putik 1. Buahnya buah
kendaga yang pecah dengan membelah ruang tau membelah sekat dan 2 katup, sering tidak
membuka, adapula yang berupa buah buni. Biji bersayap, tanpa endosperm, lembaga lurus.
Terbagi dalam lebih dari 100 marga, seluruhnya mencakup sekitar 500 jenis, sebagian besar
merupakan penghuni daerah tropika. Contoh : Bignonia fraxinifolia. dll.
12. Suku Familia) Pedaliaceae
Terna dengan rambut-rambut kelenjar yang mengeluarkan lendir. Daun tunggal
berhadapan, bagian bawah batang tersebar, tanpa daun penumpu.
Bunga zigomorf, banci.
Berbilangan 5. Kelopak sedikit berlekatan, mahkota berbibir 2. Benang sari 4 tidak sama panjang
dan melekat pada mahkota. Bakal buah menumpang, beruang 2 dengan masing-masing 1 sampai
banyak bakal biji. Buahnya buah kendaga atau buah batu. Biji mempunyai endosperm tipis.
Contoh: Sesanum indicum
153
13. Suku (Familia) Acanthaceae.
Terna atau semak, jarang berupa pohon atau liana, daun tunggal dengan sistolit-sistolit,
berhadapan atau berkarang, kadang-kadang tersebar, tanpa daun penumpu. Bunga berupa bulir
atau tandan, banci, zigomorf, berbilangan 5, sering dengan daun-daun pelindung yang nyata.
Kelopak berlekuk 4 hingga 5 atau terdiri atas daun-daun
kelopak yang bebas. Mahkota
membentuk buluh yang panjang, berbibir 2 atau 1, tajuk-tajuk mahkota tersusun seperti genting
atau terpuntir. Benang sari 4, keduanya tidak sama panjang, kadang-kadang hanya 2 atau 5,
melekat pada mahkota. Dalam bunga biasanya terdapat cakram. Bakal buah menumpang,
beruang 2 atau 1, tiap ruang berisi 2 – 8 bakal biji, jarang kurang atau lebih, bakal biji tersusun
dalam 1 atau 2 baris pada tembuni. Tangkai putik 1. Buahnya buah kendaga yang pecah dengan
membelah ruang, jarang berupa batu. Biji tanpa endosperm, sering menmepel pada tembuni
dengan perantara badan-badan berbentuk kait, lembaga besar. Suku ini membawahi lebih dari
200 marga dan seluruhnya meliputi sekitar 2000 jenis, terutama terdapat di daerah tropika.
Contoh: Acanthus mollis, A. ilicifolia, Justicia gendarussa, dll
14. Suku (Familia) Verbenaceae.
Perdu, terkadang pohon-pohonan, duduk daun bersilang/berhadapan. Daun tunggal, tanpa
daun penumpu, bunga majemuk, aktinomorf, seringkali zigomorf. Mahkota membentuk bulu
yang nyata, berbilang lima, jarang empat, kebanyakan dengan tajuk-tajuk mahkota yang sama
besar, sedikit miring dan tidak jelas berbibir. Benang sari biasanya empat. Bakal buah
menumpang tersusun dari dua hingga empat daun buah yang tepinya melipat kedalam
membentuk sekat. Pada setiap daun buah trdapat dua bakal biji. Tangkai putik pada ujung bakal
buah tidak berbagi. Buahnya buah batu yang berisi dua atau delapan biji. Biji dengan sedikit
endosperm dan lembaga lurus. Suju ini membawahi sekitar seratusan marga dengan seluruhnya
hampir 3.000 jenis kebanyakan di daerah tropika. Contoh Verbena hybrida, Clerodendron
serratum, Lantana camara, Vitex trifolia, Avicennia marina, Tectona grandis, dll
15. Suku (Familia) Labiatae (Lamiaceae)
Terna dengan batang segiempat. Daun tunggak duduk berhadapan atau berkarang, tanpa
daun penumpu namun biasanya memiliki kelenjar minyak atsiri yang memberikan bau sedap..
Bunga majemuk, terletak di ketiak daun. Kelopak berbilangan 4 – 5, mahkota berbilangan 5 – 6,
berlekatan membentuk buluh berbibir2 atau bertaju tidak sama besar, zygomorf. Benag sari
tertanam pada buluh mahkota. Biasanya 4 tapi tidak sama panjang. Bakal buah menumpang dari
154
2 daun buah yang membentuk 4 ruangan. . Biji mempunyai endosperm atau tidak.. Warga suku
ini menunjukkan banyak perbedaan dengan warga suku Verbenaceae. Labiatae membawahi
hampir 200 marga dengan seluruhnya meliputi lebih dari 3000 jenis yang sebagian besar
menghuni daerah beriklim panas.
Contoh: Lamium maculatum, Leucas lavandulifolia, Hyptis brevipes, Salvia ocidentalia,
Mentha piperita, Coleus tuberosus, Ocimum basilicum, Orthisiphon stamineus, Lavandula
latifolia, dll.
16. Suku (Familia) Plantaginaceae
Terna atau tumbuhan semak-semak kecil dengan daun-daun yang tersebar atau tersusun
dalam rozet akar, jarang berhadapan, tunggal, tanpa daun penumpu. Bunga dalam bulir atau
terpisah-pisah, aktinomorf, banci atau berkelamin tunggal. Kelopak 4 , mahkota seperti selaput,
berlekuk 4, benag sari 3 tertanam pada mahkota. Bakal buah menumpang, beruang 2-4 , biji 1 –
banyak. Buahnya buah kendaga yang pecah melintang atau buah keras. Biji mempunyai
endosperm. Suku ini sering dimasukkan dalam bangsa tersendiri yaitu Plantaginales, hanya
membawahi 3 marga dengan seluruhnya sekitar 250 jenis yang tersebar terutama di daerah
beriklim sedang. Contoh Plantago major, P. psyllium dll.
6. BANGSA( Ordo) Cucurbitales
Bangsa ini hanya terdiri atas satu suku saja yaitu cucurbitaceae.
1.
Suku Cucurbitaceae
Kebanyakan berupa terna annual, memanjat dengan sulur-sulur (alat pembelit) atau
berbaring di tanah, jarang berupa semak. Batang seringkali segi 5, dengan daun-daun tunggal,
berbagi atau majemuk menjari, duduknya tersebar, tanpa daun penumpu, atau daun penumpu
telah mengalami metamorfosis menjadi alat-alat pembelit.Bunga hampir selalu berkelamin
tunggal, berumah 1 atau 2, jarang banci, aktinomorf.Bunga betina dengan kelopak berbentuk
buluh, berlekuk 5.Mahkota berlekatan, dengan taju-taju yang tersusun seperti katubkatub.Benang sari 5, kepala sari beruang 2 ada yang hanya beruang 1, keseluruhan benang sari
berlekatan membentuk suatu sinandrium, yang di antaranya dua-dua berpasangan.Bakal buah
tenggelam, biasanya beruang 3, tiap ruang dengan 2 tembuni dengan banyak bakal biji (kadangkadang hanya 1), bakal biji dengan 2 integumen.Tangkai putik 1 dengan kepala putik yang
menggarpu. Buahnya buah buni, biji biasanya tanpa endosperm.
155
Contoh:
Benincasa
: B. Hispida ,
Bryonia
: B. dioica
Cucurbita
: C. Moschata, C. Pepo. Citrullus
:C. Vulgaris, C. Colocynthis
Cucumis
: C. Sativus, C. Melo
: C. cordifolia
Luffa
: L. Cylindrica, L. Acutangula.
Coccinia
Legenaria : L. Leuchanta
Trichosanthes : T. anquina
VII. 3. TUGAS UNTUK MAHASISWA
Buat ringkasan klasifikasi tentang anggota anak kelas Sympetae.
156
BAB IX
CLASSIS MONOCOTYLEDONEAE
IX. 1. PENDAHULUAN
Sasaran Pembelajaran:
Setelah mengikuti mata kuliah ini, mahasiswa mampu menginterpretasikan dan
mengaplikasikan konsep-konsep dasar Ilmu Sistematika Tumbuhan dalam praktek, ciriciri, tatanama dan klasifikasi dari Classis Monocotyledoneae dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi Pembelajaran:
a. Kuliah tatap muka
b. Tugas individu maupun kelompok
c. Diskusi
d. Praktikum
IX.2. Classis Monocotyledoneae
Tumbuhan biji merupakan golongan tumbuhan dengan tingkat perkembangan
filogenetik tertinggi, sebagai ciri khasnya ialah adanya suatu organ berupa biji (dalam
bahasa Yunani: Sperma). Biji berasal dari bakal biji, yang dapat disamakan dengan
makrosporangium. Di dalamnya dihasilkan makrospora yang tidak pernah meninggalkan
tempatnya, dan di tempat itu selanjutnya berkembang menjadi makroprotalium dengan
arkegonium serta sel telurnya. Setelah terjadi pembuahan, zigot yang terbentuk
berkembang menjadi embrio. Bakal biji yang k mengandung embrio berkembang menjadi
alat reproduksi yang disebut biji.
Ciri-ciri Monocotyledoneae adalah :
1. Habitus: herba, semak,perdu, dan pohon.
2. Batang mempunyai ruas-ruas.
3. Pertulangan daun umumnya : sejajar rectinervis dan melengkung
curvinervis.
4. Bunga bersifat trimer.
5. Akar serabut radix adventitia .
6. Embrio mempunyai satu cotyledon
7. Berkas pengangkutan umumnya tersebar atau kolateral tertutup, umumnya tidak
berkambium kecuali pada:
-
Dracaena sp.
-
Cordyline fruticosa
157
Adapun beberapa ordo dari Classis Monocotyledoneae yaitu Alismatales,
Bromeliales, Liliales, Cyperales, Poales, Zingiberales, Arecales, Pandanales, dan
Orchidales (Tjitrosoepomo, 2010).
A. Ordo Alismatales
Tumbuhan Ordo Alismatales termasuk habitus herba/terna sebagian besar hidup di
air atau rawa dengan daun-daun tunggal yang mempunyai sisik pada ketiak daunnya.
Bunga berkelamin tunggal atau banci, aktinomorf, tanpa tenda bunga atau mempunyai
tenda bunga yang tunggal atau ganda. Benang sari 1-banyak. Bakal buah banyak atau
hanya satu, terpisah-pisah atau berlekatan, mempunyai 1-banyak bakal biji, duduknya
menumpang sampai tenggelam, dengan tangkai dan kepala putik yang bebas. Biji dengan
lembaga yang besar dengan tanpa atau hanya sedikit endosperm.
Familia yang masuk ke dalam Ordo Alismatales terdiri dari :
1. Familia Aponogetonaceae
Familia Aponogetonaceae merupakan tumbuhan air, mempunyai rimpang berbentuk
umbi, daun tunggal, bertangkai dengan helaian daun berbentuk lanset bulat telur,
mengapung atau terendam di dalam air. Bunga banci tersusun dalam bulir bercabang
atau berbentuk silinder, diselubungi sarung yang mudah gugur dan muncul di atas air.
Tenda bunga menyerupai mahkota, terdiri atas 3 atau 1
daun tenda bunga. Benang sari berjumlah 6, tersusun
dalam 2 lingkaran, atau lebih dari 6 tersusun dari 3-4
lingkaran. Bakal buah menumpang, berjumlah 3-6,
masing–masing berisi 2 atau lebih banyak bakal biji.
Buahnya
pecah
bila
telah
masak,
dengan
celah
menghadap kearah sumbu. Biji tanpa endosperm dan
lembaganya lurus, contoh species: Aponogeton echinatus.
2. Familia Potamogetonaceae
Familia Potamogetonaceae berhabitus terne, merupakan tumbuhan air yang berakar dan
mempunyai rimpang pada dasar. Daun bangun garis, bangun lanset atau bulat telur serta
bertangkai dan kadang-kadang dengan upih daun berukuran besar dengan helaian daun
yang mengapung atau terendam air. Tumbuhan darat dengan daun-dauan bulat. Bunga
berkelamin tunggal atau banci, aktinomorf atau zigomorf serta tersusun sebagai bulir
atau terpisah. Perhiasan bunga tunggal, tidak pernah menyerupai mahkota dan biasanya
kecil seperti selaput terdiri atas 8 segmen, biasanya dengan 4 atau tanpa tenda bunga.
158
Bakal buah masing-masing berisi satu bakal biji. Buah kurung
atau buah batu berisi satu biji, tanpa endosperm dan lembaga
dengan hipokotil yang besar, contoh species: Potamogeton
perfoliatus.
3. Familia Najadaceae
Familia Najadaceae berhabitus terna, merupakan tumbuhan air summers tenggelam di
dalam air tawar, payau atau air laut. Daun seperti benang atau bangun garis dengan tepi
rata yang bergigi jarang. Bunga berkelamin tunggal, terpisahpisah atau terangkai dalam bunga majemuk yang bersifat simos
dengan tenda
bunga tunggal atau telanjang, Bunga jantan
mempunyai 1 benang sari, sering berpasangan dan bunga betina
dengan 1 bakal buah. Buah biasanya diselubungi seludang. Biji
dengan kulit yang tipis, lembaga lurus dengan akar lembaga dan
hipokotil yang besar tanpa endosperm, contoh species: Najas
marina.
4. Familia Scheuchzeriaceae
Familia Scheuchzeriaceae tergolong tumbuhan berhabitus herba/terna air perennial
dengan rimpang pada dasar, batang tegak, daun-daun
bangun lanset dan mempunyai upih yang berbalut batang
dengan lidah daun pada batas antara upih dengan helaian
daun. Bunga banci, aktinomorf, tersusun dalam bulir pada
ujung batang. Tenda bunga tersusun atas 6 tipis seperti
selaput
tersusun dalam 2 lingkaran dan tidak gugur.
Benang sari 6-8 bebas dengan kepala sari bangun garis menghadap ke dalam. Buahnya
buah kurung, biji tanpa endosperm, lembaga dengan daun lembaga membulat dan
pucuk lembaga yang kecil, contoh species: Lilaea scilloides.
5. Familia Alismataceae
Familia Alismataceae tumbuhan berhabitus terna, tumbuh tegak,
jarang mengapung dan mempunyai saluran-saluran getah. Daun
dengan tangkai panjang membentuk upih daun terbuka pada
pangkalnya, helaian daun bunga bulat telur membulat, lansetgaris atau bangun anak panah, bertulang melengkung dan
tersusun roset. Bunga banci dan aktinomorf. Perhiasan bunga
159
jelas terdiri dari 3 daun kelopak, dan 3 daun mahkota. Benang sari 6 atau lebih, bila
banyak di bagian pinggir maka bersifat mandul. Buahnya buah keras dengan 1 biji atau
buah kurung yang berisi banyak biji, species: Machaerocarpus californicus.
6. Familia Butomaceae
Familia Butomaceae tumbuahn berhabitus terna perennial dengan rimpang di dasar,
biasanya dengan cairan seperti getah. Daun pada batang membentuk rozet akar, bangun
pedang atau pipih lebar bangun jantung, corong atau bundar, bertulang melengkung.
Bunga banci, aktinomorf, terpisah-pisah dan tersusun sebagai bunga payung. Hiasan
bunga jelas dapat dibedakan, dengan 3 daun kelopak dan 3 daun mahkota. Bakal buah
terisi banyak bakal biji yang memenuhi seluruh permukaan
dinding di dalam bakal buah. Buahnya buah kurung dengan
banyak biji, tanpa endosperm, lembaga lurus atau bengkok
dengan bangun tapal kuda, contoh species: Limnochoris flava.
7. Familia Hydrocharitaceae
Familia Hydrocharitaceae tumbuhan berhabitus terna air,
mengapung dan jarang sekali berakar pada dasar. Daun tunggal tersusun rozet akar,
tersebar atau berkarang. Bunga berkelamin tunggal, berumah 2 atau banci, aktinomorf,
terpisah-pisah, terletak dalam daun pelindung terbagi 2 atau di antara 2 daun pelindung
duduk berhadapan. Perhiasan bunga jelas dapat dibedakan, dengan 3 daun kelopak dan
3 daun mahkota, kadang-kadang tanpa mahkota atau
perhiasan bunga. Benang sari 3 atau kelipatan 3. Bakal buah
tengelam dan beruang 1. Biji banyak tanpa endosperm,
lembaga lurus, akar lembaga tebal, pucuk lembaga kecil.
contoh species: Hydrilla verticilata.
B. Ordo Bromeliales
Ordo Bromeliales merupakan tumbuhan berhabitus
herba/terna, jarang mempunyai batang yang kokoh kuat, kadang-kadang mirip rumput.
Bunga banci, karena adanya reduksi kadang-kadang berkelamin tunggal, aktinomorf atau
zigomorf, berbilangan 3, jarang berbilangan 2, mempunyai 2 lingkaran hiasan yang sama,
kadang-kadang perhiasan bunga dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota. Benang sari
dalam 2 lingkaran, jumlahnya sering berkurang, kadang-kadang hanya terdapat 1 benang
sari. Bakal buah dengan bakal biji yang atrop atau anatrop, buah dengan biji yang
mempunyai endosperm bertepung.
160
Familia yang masuk ke dalam Ordo Bromeliales terdiri dari :
1. Familia Flagellariaceae
Familia Flagellariaceae kebanyakan berupa tumbuhan
memanjat dengan daun-daun yang panjang dan bertulang
sejajar dan ujungnya berubah menjadi pembelit (sulur
daun), pangkalnya berupa upih membalut batang. Bunga
kecil, banci atau berkelamin tunggal, berumah 2,
aktinomorf, tersusun dalam malai pada ujung batang.
Hiasan bunga berupa tenda bunga petaloid, tersusun dalam
2 lingkaran dengan 3 daun tenda bunga dalam setiap lingkaran, tidak gugur. Benang
sari 6, berlekatan dengan pangkal tenda bunga, bebas satu sama lainnya. Bakal buah
menumpang, beruang 3 dengan 1 bakal biji setiap ruang, 1 tangkai putik yang berlekuk
3. Buah tidak membuka, berupa buah buni atau buah batu berisi 3 biji. Biji dengan
endosperm, lembaga kecil, contoh species: Flagellaria indica.
2. Familia Restionaceae
Familia Restionaceae, merupakan tumbuhan berhabitus terna perennial dengan
rimpang yang dibalut oleh upih-upih yang serupa sisik dengan batang pendukung bunga
yang tumbuh tegak, berbentuk segi empat atau pipih, pada tiap-tiap bukunya terdapat
upih yang tidak atau lekas gugur dan tersusun dalam 2 baris. Bunga dalam ketiak daundaun pelindung, terangkai sebagai bulir atau malai, kebanyakan berkelamin tunggal,
berumah 2, jarang banci. Rangkaian bunga jantan berbeda dari rangkaian bunga betina.
Bunga bersifat aktinomorf, tenda bunga terdiri atas 2-6 daun tenda bunga, pada bunga
betina sering tidak ada. Bunga jantan dengan 2-3
benang sari yang berhadapan dengan daun-daun
tenda di lingkaran dalam. Bakal buah menumpang,
1-3 dengan 1-3 tangkai putik, tiap ruang berisi 1
bakal biji. Buahnya buah kendaga atau buah keras.
Biji dengan endosperm, lembaga kecil, contoh
species: Anarthria scabra.
3. Familia Mayacaceae
Familia Mayacaceae merupakan tumbuhan berhabitus terna rawa-rawa yang kecil,
daun-daun bangun pita pendek, duduknya tersebar. Bunga terpisah-pisah atau tersusun
dalam bunga payung, banci, aktinomorf. Perhiasan bunga terdiri atas 3 daun kelopak
161
dan 3 daun mahkota. Benang sari 3, berseling dengan daundaun mahkotanya. Bakal buah menumpang, beruang 1
dengan 3 tembuni pada dindingnya, masing-masing tembuni
hanya dengan sedikit bakal biji. Tangkai putik 1. Buah
berupa kendaga
endosperm,
membuka dengan 3 katuk. Biji dengan
lembaga
kecil,
contoh
species:
Mayaca
fluviatilis.
4. Familia Xyridaceae
Familia Xyridaceae tumbuhan berhabitus terna perenial, merupakan rozet akar,
panjang, mirip daun rumput, batang pendukung bunga panjang, dengan pada ujungnya
sejumlah bunga tersusun sebagai bulir rapat, dan terdapat dalam ketiak daun-daun
pelindung. Bunga banci, kelopak terdiri atas 2 daun kelopak, zigomorf atau terdiri atas
1 daun kelopak yang besar dan 2 yang kecil. Mahkota terdiri atas 3 daun mahkota yang
berlekatan, aktinomorf. Benang sari 6 tersusun dalam 2 lingkaran, yang 3 berhadapan
dengan daun-daun mahkota fertil, yang 3 lainnya mandul
atau hilang. Bakal buah penumpang, beruang 1, dengan 3
tembuni pada dinding atau 1 tembuni pada dasar, bakal
biji banyak tangkai putik 1 atau berbelah 3. Buahnya buah
kendaga yang membuka dengan membelah ruang. Biji
dengan endosperm seperti tepung dan
lembaga kecil,
contoh species: Xyris indica.
5. Familia Eriocaulaceae
Familia Eriocaulaceae merupakan tumbuhan berhabitus terna perennial, jarang anual,
dengan
daun-daun
seperti
daun
rumput,
sempit
memanjang, sering tersusun sebagai rozet akar. Bunga
kecil, berkelamin tunggal, aktinomorf atau zigomorf,
tersusun dalam bongkol yang terdapat pada ujung tangkai
yang panjang. Tenda bunga seperti selaput, berbilangan 23
tersusun dalam 1 lingkaran, kadang-kadang tidak
terdapat. Benang sari 2-6, bebas, berhadapan dengan
daun-daun tenda. Kepala sari kecil, beruang 1-2 membuka dengan celah membujur.
Bakal buah menumpang, beruang 2-3, setiap ruang dengan 1 bakal biji, tangkai putik 1.
162
Buah kendaga membuka dengan membelah ruang. Biji dengan endosperm seperti
tepung dan lembaga kecil, contoh species: Eriocaulon compressum.
6. Familia Bromeliaceae
Familia Bromeliaceae sebagian besar tumbuhanini berupa epifit, jarang teresterial
dan berupa tumbuhan besar dengan batang
agak panjang, daun tebal memanjang
dengan rambut-rambut berbentuk sisik, tepi dengan rigi-rigi yang berupa duri-duri, upih
lebar, biasanya berjejal membentuk rozet akar. Bunga banci, kebanyakan aktinomorf,
jarang zigomorf, tersusun dalam bulir atau malai. Kelopak terdiri atas 3 daun kelopak,
tidak gugur, daun mahkota 3, bebas. Benang sari tersusun dalam 2 lingkaran, masingmasing lingkaran terdiri atas 3 benang sari. Bakal buah
menumpang sampai sama sekali tenggelam, beruang 3
dengan banyak bakal biji dalam setiap ruang. Tangkai
putik
panjang dengan 3 kepala putik. Buahnya
berdaging, tidak membuka. Biji sering bersayap,
mempunyai endosperm bertepung dan lembaga yang
kecil, contoh species: Ananas comosus.
7. Familia Commelinaceae
Familia Commelinaceae berupa tumbuhan berhabitus terna perenial, dengan batang
berbuku-buku, upih daun tipis seperti selaput yang besar, kadang-kadang tertembus
oleh perbungaannya. Bunga biasanya banci, aktinomorf, tersusun dalam sinsinus atau
sinsinus ganda. Perhiasan bunga terdiri atas kelopak dengan 3 daun kelopak yang bebas
dan seringkali berwarna, mahkota terdiri atas 3 daun mahkota yang bebas kebanyakan
berwarna biru atau putih. Benang sari 6, sering
kurang dari 6 karena ada yang rontok, kadangkadang sampai hanya tinggal 2.Tangkai sari
berambut, sering berwarna cerah. Bakal buah selalu
jelas menumpang. Beruang 2-3, tiap ruang dengan 1
bakal biji atau lebih. Tangkai putik di ujung,
tunggal, kepala putik berbentuk bongkol atau
berbagi 3, contoh species: Commelina nudiflora.
8. Familia Pontederiaceae
Familia Pontederiaceae merupakan tumbuhan berhabitus terna air atau rawah,
perennial, batang simpodial, berakar pada dasar atau mengapung. Daun dengan helaian
163
yang seringkali lebar, bertulang melengkung,
pada pangkal tangkai mempunyai upih, tersusun
berseling atau membentuk suatu rozet. Bunga
banci, zigomorf, tersusun dalam rangkaian berupa
bulir, tenda atau malai yang terdapat dalam ketiak
suatu daun pelindung menyerupai upih daun.
Perhiasan bunga menyerupai mahkota terdiri atas 6 daun tenda bunga tersusun dalam 2
lingkaran, berlekatan pada bagian bawahnya membentuk suatu buluh yang panjang.
Benang sari 6, 3 atau hanya 1, melekat pada buluh tenda bunga, kadang-kadang tidak
sama panjang atau ada satu yang paling panjang. Bakal buah menumpang, beruang 3,
setiap ruang berisi banyak bakal biji atau beruang 1 dengan 1 bakal biji.Tangkai putik 1.
Buahnya buah kendaga yang membuka dengan 3 katup, atau buah keras yang tidak
membuka. Biji berusuk membujur, mempunyai endosperm, lembaga bangun silinder,
lurus, contoh species: Eichhornia crassipes.
C. Ordo Liliales
Ordo Liliales kebanyakan tumbuhannya berhabitus herba/terna perennial,
mempunyai rimpang, umbi sisik, atau umbi lapis, kadang-kadang juga berupa semak atau
perdu, bahkan berupa pohon, ada pula yang merupakan tumbuhan memanjat. Daun
tersebar pada batang atau merupakan rozet akar. Bunga banci, atau karena adanya reduksi
salah satu alat kelaminnya menjadi berkelamin tunggal, aktinomorf atau zigomorf,
biasanya tersusun dalam rangkaian
bersifat rasemos.
Perhiasan bunga berupa tenda bunga berbilangan 3 yang
tersusun dalam 2 lingkaran menyerupai mahkota, kadangkadang seperti kelopak, tetapi jarang dapat dibedakan dalam
kelopak dan mahkota. Benang sari biasanya 6, dalam 2
lingkaran, lingkaran yang dalam sering kali tidak ada. Bakal
buah menumpang atau tenggelam. Kebanyakan beruang 3
dengan bakal biji yang anatrop. Buahnya buah kendaga atau
buah buni. Biji dengan endosperm berdaging atau seperti tanduk.
Familia yang masuk ke dalam ordo Liliales terdiri dari :
1. Familia Liliaceae
Familia Liliaceae merupakan tumbuhan berhabitus terna rimpang atau umbi lapis
,kadang-kadang semak atau perdu berupa tumbuhan memanjat. Daun tunggal, tersebar
164
pada batang atau terkumpul sebagai roset akar,
adakalanya tereduksi dan cabang-cabang berubah
menjadi kladodium. Bunga kecil sampai sangat besar
dan amat menarik, kebanyakan banci aktinomorf atau
sedikit zigomorf. Perhiasan bunga yang menyerupai
mahkota dengan atau tanpa pelekatan berupa buluh, terdiri atas 6 daun tenda bunga,
jarang hanya 4 atau lebih dari 6, kebanyakan jelas tersusun dalam 2 lingkaran. Benang
sari 6, jarang sampai 12 atau hanya 3, berhadapan dengan daun-daun tenda bunga.
Tangkai sari bebas atau berlekatan dengan berbagai cara. Kepala sari beruang 2,
membuka dengan celah membujur, jarang dengan suatu liang pada ujungnya. Bakal
buah menumpang atau setengah tenggelam, kebanyakan beruang 3, dengan tembuni di
sudut-sudut ruang. Buahnya buah kendaga atau buah buni. Biji dengan banyak sekali
endosperm, lembaga lurus atau bengkok, contoh species: Lilium longiforum.
1. Cordyline fruticosa
Klasifikasi
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Subdivisio
: Angiospermae
Classis
: Monocotyledoneae
Ordo
: Liliales
Familia
: Liliaceae
Genus
: Cordyline
Species
: Cordyline fruticosa
2. Familia Amaryllidaceae
Familia Amaryllidaceae tumbuhan berhabitus terna dengan umbi lapis atau umbi
sisik, jarang dengan rimpang, atau batang di atas tanah. Daun pipih panjang, kadangkadang dengan jaringan air dan tepi serta ujung berduri, tersusun sebagai rozet akar
ataupun rozet batang, kadang-kadang bertunggangan dalam dua baris. Bunga banci,
amat menarik baik karena warna, bentuk maupun
ukurannya, tersusun sebagai payung atau tandan,
kadang-kadang terpisah pada ujung tangkai yang
tidak berdaun dan di bawah hiasan bunga
mempunyai daun-daun pembalut yang tipis seperti
165
selaput. Bakal buah tenggelam, buah kendaga atau buah buni. Biji dengan endosperm
yang berdaging, lembaga pipih, kadang-kadang bersayap, contoh species: Amaryllis
belladonna.
3. Familia Velloziaceae
Familia Velloziaceae merupakan tumbuhan berhabitus
terna perenial atau tumbuhan
berkayu dengan batang tebal, bercabang-cabang menggarpu, daun sempit memanjang,
berujung runcing tersusun sebagai rozet batang. Bunga terpisah-pisah pada tangkai yang
panjang, berwarna putih, kuning atau biru
kadang-kadang amat menarik, banci,
aktinomorf. Perhiasan bunga terdiri atas 6 daun-daun tenda bunga berlekatan, tersusun
dalam 2 lingkaran. Benang sari 6 atau banyak dan tersusun dalam 6 berkas, masing-masing
terdiri atas 2-6 benang sari. Buahnya buah kendaga
kering dan keras, ujung sering rata atau cekung, penuh
dengan bekas-bekas hiasan bunga, bergigi 6, kadangkadang berduri, membuka dengan membelah ruang.
Biji banyak, pipih, mempunyai endosperm dan
lembagang kecil, contoh species: Barbacenia bicolor.
4. Familia Iridaceae
Familia Iridaceae tumbuhan berhabitus terna perennial dengan akar-akar yang
tumbuh dari rimpang, umbi sisik atau umbi lapis. Daun-daun pipih memanjang,
tersusun sebagai rozet akar atau bertunggangan pada batang dalam dua baris, berupih
pada pangkalnya. Bunga banci, aktinomorf atau zigomorf, kebanyakan tersusun dalam
rangkaian yang bersifat resemos, seringkali tampak sangat indah dan menarik.
Perhiasan bunga terdiri atas tenda bunga yang menyerupai mahkota, berbilangan 3,
tersusun dalam 2 lingkaran dengan daun-daun tenda
bunga yang sama atau berbeda baik dalam bentuk,
struktur maupun ukurannya, tidak lekas gugur. Buahnya
buah kendaga yang membuka dengan katup-katup, pada
ujung terdapat seperti bekas luka yang berbentuk
lingkaran. Biji dengan endosperm dan lembaga yang
kecil, contoh species: Iris germanica.
5. Familia Taccaceae
166
Familia Taccaceae tumbuhan berhabitus terna perennial
dengan rimpang merayap atau berbentuk umbi. Daun besar, tunggal
atau bergigi, tersusun sebagai rozet akar. Bunga banci, aktinomorf, terangkai dalam
bunga majemuk berbentuk payung yang terdapat pada ujung tangkai bunga
tidak
berdaun. Perhiasan bunga serupa mahkota, terdiri atas 6 daun tenda bunga tersusun
dalam 2 lingkaran, berlekatan antara satu dengan yang lain. Bakal buah tenggelam,
beruang 1 dengan tembuni pada dinding yang mendukung banyak bakal biji. Tangka
putik 3, pendek, dengan 3 kepala putik yang seringkali melebar berbentuk seperti
mahkota. Buahnya buah buni atau buah kendaga
membuka dengan 3 katup. Biji
banyak, dengan endosperm dan lembaga berukuran
kecil, Contoh species: Tacca
cristata.
6. Familia Dioscoreaceae
Familia Dioscoreaceae tumbuhan berhabitus terna memanjat atau membelit
dengan rimpang atau umbi di dalam tanah, kaya akan zat tepung dan organ-organ
serupa pada bagian-bagian di atas tanah, tetapi lebih kecil daripada yang terdapat di
dalam tanah. Daun tunggal, bangun jantung atau anak panah, bertulang menjari sampai
melengkung, duduk tersebar, jarang berhadapan. Bunga
berkelamin tunggal, kecil aktinomorf, tersusun dalam
rangkaian beberapa bulir, tandan atau malai. Buahnya
buah kendaga membuka dengan 3 katup atau buah buni.
Biji sering bersayap, mempunyai endosperm dan lembaga
yang kecil, contoh species: Dioscorea bulbifera.
7. Familia Juncaceae
Familia Juncaceae tumbuhan berhabitus terna annual atau perennial, mirip
rumput atau mendong, jarang berupa semak, kebanyakan mempunyai rimpang, jarang
mempunyai batang di atas tanah. Daun sempit panjang, bangun silinder atau pipih
seperti daun rumput, mempunyai upih pada pangkalnya, duduknya kebanyakan sebagai
rozet akar. Bunga banci, aktinomorf, terangkai dalam
berbagai susunan. Perhiasan bunga terdiri atas 6 daun
tenda bunga seperti selaput yang tersusun dalam 2
lingkaran, benang sari 3 atau 6, bebas, berhadapan
dengan daun-daun tenda bunga. Kepala sari beruang 2,
membuka
dengan
celah
membujur,
serbuk
167
sari
membentuk tetrade. Bakal buah menumpang, beruang 1-3, tiap ruang berisi 1 sampai
banyak bakal biji. Tangkai putik 1, kepala putik 3, berbentuk benang. Buahnya buah
kendaga kering, membuka dengan membelah ruang. Biji kadang-kadang berekor,
mempunyai endosperm, lembaga kecil dan lurus, contoh species: Juncus effusus.
8. Familia Burmanniaceae
Familia Burmanniaceae tumbuhan berhabitus terna annual atau perennial,
sebagian besar hidup sebagai saprofit, dengan atau tanpa daun, kadang-kadang
mempunyai rimpang. Batang dengan daun-daun kecil seperti sisik yang tersebar, jenis
yang bukan saprofit mempunyai daun-daun tersusun sebagai rozet akar. Bunga banci,
aktinomorf atau agak zigomorf, terpisah-pisah atau terangkai sebagai sinsinus.
Perhiasan bunga berwarna biru atau putih terdiri atas bagian yang berlekatan
membentuk buluh yang panjang. Buahnya buah kendaga yang pada ujungnya
bermahkotakan perhiasan bunga yang telah mengering,
seringkali bersayap 3, biasanya membuka dengan celah
membujur di antara tembuni. Biji kecil, banyak,
mempunyai
endosperm,
lembaga
belum
jelas
terdiferensiasi, contoh species: Burmannia bicolor.
D. Ordo Cyperales
Ordo Cyperales terdiri atas 1 Familia, yaitu Cyperaceae, dengan ciri-ciri sebagai
berikut: pada umumnya berhabitus terna perennial yang menyukai habitat lembab,
berpaya-paya, atau berair, jarang berupa terna anual, seringkali berumpun, terdapat
rimpang yang merayap atau badan-badan seperti umbi dengan geragih yang merupakan
alat perkembangbiakan vegetatif. Batang segitiga, tidak berongga, di bawah rangkaian
bunga biasanya tidak bercabang.
Daun berbentuk pita, bertulang sejajar dengan upih yang tertutup, tanpa atau jarang
mempunyai lidah-lidah, jarang tereduksi, biasanya tersusun, sebagai rozet akar. Bunga
kecil, tidak menarik, banci atau berkelamin tunggal dan berumah 1, jarang berumah 2,
tersusun dalam bulir-bulir dengan bunga-bunga yang terdapat dalam ketiak daun
pelindung, daun-daun pelindung biasanya teratur dalam 2 deretan atau mengikuti suatu
garis spiral. Bulir-bulir kecil tersusun dalam rangkaian berbentuk payung atau payung
berganda, ada pula yang berbentuk malai, jarang berupa bulir berganda (Tjitrosoepomo,
2010).
168
Bunga majemuk biasanya mempunyai 1 atau beberapa daun pembalut
mirip
dengan daun-daun biasa pada pangkalnya. Perhiasan bunga tereduksi menjadi sisik-sisik,
sekat atau rambut-rambut, jarang mempunyai mahkota, sering tidak terdapat. Benang sari
3 atau kurang dari 3, jarang lebih sampai banyak, tangkai sari bebas, kepala sari beruang 2,
membuka dengan celah membujur. Bakal buah menumpang, beruang 1 dengan 1 bakal biji
yang anatrop pada dasarnya. Tangkai putik bercabang 2-3 atau bergigi 2-3. Buahnya buah
keras yang berisi 1 biji, yang semula mempunyai tangkai putik berlekuk 3 mempunyai 2
sisi, yang semula mempunyai tangkai putik berlekuk 2 mempunyai 2 sisi, yang semula
mempunyai tangkai putik berlekuk 3 mempunyai 3 sisi. Biji dengan lembaga kecil dan
endosperm bertepung banyak (Tjitrosoepomo, 2010).
Beberapa contoh Genus dari Familia Cyperaceae (Anonim, 2014), yaitu:
a. Cyperus
Salah satu contoh dari Genus Cyperus, yaitu: rumput teki Cyperus rotundus yang
termasuk Familia Cyperaceae (teki-tekian). Ciri-ciri tumbuhan ini adalah: Rumput teki
merupakan rumput semu menahun, tingginya 10-95 cm, Batang rumputnya berbentuk
segitiga (triangularis) dan tajam, Daunnya berjumlah 4-10 helai terkumpul pada pangkal
batang. Akar dengan pelepah daunnya tertutup tanah, helaian daun berbentuk pita
bersilang sejajar, permukaan atas berwarna hijau mengkilap dengan panjang daun 10-30
cm dan lebar 3-6 cm. Memiliki allelophat (senyawa berupa racun) yang mampu
membunuh tumbuhan lainnya.
Klasifikasi dari rumput teki Cyperus rotundus, yaitu :
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Subdivisio
: Angiospermae
Classis
: Monocotyledonae
Ordo
: Cyperales
Familia
: Cyperaceae
Genus
: Cyperus
Species
: Cyperus rotundus
b. Bulbostylis
Salah satu contoh dari Genus Bulbostylis, yaitu:
Bulbostylis barbata.
Ciri-ciri tumbuhan ini adalah
(Anonim, 2014): Daun lebih pendek dari batang dan
169
kurva ke bawah, daun selubung dengan rambut putih panjang. Perbungaan berbentuk
kepala , dengan 3-20 bulir dengan warna kelopak coklat kemerahan. Contoh: Bulbostylis
barbata.
c. Fimbristylis
Salah satu contoh dari Genus Fimbristylis, yaitu : mendong Fimbristylis globulosa.
Ciri-ciri tumbuhan ini (Citra, 2011) adalah: tumbuhan yang hidup di rawa, tanaman ini
tumbuh di daerah yang berlumpur dan memiliki air yang cukup. Mendong merupakan
salah satu jenis rumput, dan biasanya tumbuh dengan panjang lebih kurang 100 cm.
Contoh: Fimbristylis globulosa.
d. Kyllinga
Salah satu contoh dari Genus Kyllinga, yaitu : jukut pendul atau teki pendul
Kyllinga monocephala. Ciri-ciri tumbuhan ini (Anonim, 2014) adalah : memiliki bunga
menyerupai bola-bola berukuran kecil, Tanaman menahun ini dapat tumbuh dengan tinggi
sampai 20 cm dan beraroma wangi.
e. Lepironia
Salah satu contoh dari Genus Lepironia, yaitu : purun Lepironia mucronata (Asri,
2012). Ciri-ciri tumbuhan ini adalah:Tumbuhan purun dapat
tumbuh liar dan ada juga menjadikannya sebagai tanaman
peliharaan. Batang purun sangat lemah kalau ditiup angin
bergoyang. Ada rongga di batang tidak memiliki kayu keras
seperti bambu. Setiap tumbuhan purun mempunyai buah
satu biji pada ujungnya.
E. Ordo Poales
Ordo Poales terdiri dari satu Familia yaitu Poaceae atau Graminae dengan ciriciri sebagai berikut: habitus terna annual atau perennial, kadang-kadang berupa semak
atau pohon yang tinggi. Batang dengan posisi bermacam-macam, ada yang tegak lurus, ada
yang serong ke atas, ada yang merayap, ada yang berimpang di dalam tanah. Bentuk
batang kebanyakan silinder panjang,
jelas berbuku dan beruas, ruas-ruas berongga,
bersekat pada buku-bukunya. Daun kebanyakan bangun pita, panjang bertulang daun
sejajar, tersusun sebagai roset akar, atau berseling dalam 2 baris pada batang. Daun terdiri
atas helaian daun, upih, dan lidah-lidah. Jarang antara helaian dan upih terdapat tangkai.
Bunga umumnya banci, kadang-kadang berkelamin tunggal, kecil, dan tidak menarik.
170
Setiap bunga terdapat dalam ketiak daun pelindung yang disebut “palea inferior”. Kelopak
telah berubah menjadi badan yang disebut “palea superior” terdiri atas 2 daun kelopak
yang berlekatan, berhadapan dengan palea inferior. Mahkota terdiri atas 2 daun mahkota
(jarang 3) yang telah berubah menjadi badan yang berupa sisik kecil dan dapat
membengkak yang dinamakan “lodicula”. Benang sari 1-6. Jarang lebih, biasanya 3.
Tangkai sari halus, kepala sari beruang 2, biasanya membuka dengan celah membujur.
Bunganya disebut bunga semu floret. Memiliki gluma, setial floret, bakal buahnya
menumpang, beruang 1 dengan bakal biji anatrop yang sering kali menempel pada sisi
daun buah yang menghadap sumbu. Tangkai putik biasanya 2. Jarang 1 atau 3. Kepala
putik seperti bulu. Buahnya berupa buah padi “caryopsis”, yaitu buah dengan 1 biji yang
bijinya berlekatan dengan kulit buah. Biji dengan endosperm, lembaga terdapat pada sisi
yang jauh dari sumbu.
Beberapa contoh genus yaitu:
1. Andropogon : A. nardus (sereh)
2. Zea may (jagung)
2.
3.
4.
F. Ordo Zingiberales
Ordo Zingiberales tumbuhannya kebanyakan berhabitus herba/terna yang besar,
perennial, mempunyai rimpang atau batang dalam tanah. Daun lebar, jelas dapat
dibedakan dalam tiga bagian: helaian, tangkai dan upih. Helaian daun simetris, bertulang
menyirip. Bunga besar dengan warna yang menarik, banci, zigomorf atau asimetris.
Kelopak dan mahkota berbilang 3, kelopak sering menyerupai mahkota. Benang sari 6,
tersusun dalam 2 lingkaran, tangkai sari bebas, sering terdapat reduksi, sehingga kadangkadang hanya tinggal 1 benang sari yang fertil, yang lain mandul atau tidak terdapat. Bakal
buah tenggelam, kebanyakan beruang 3, setiap ruang dengan 1- banyak bakal biji.
Buahnya buah kendaga atau berdaging, biasanya tidak membuka. Biji tanpa atau dengan
sedikit endosperm, tetapi dengan perisperm yang besar. Ordo Zingiberales meliputi
empat Familia yaitu: Zingiberaceae, Musaceae, Cannaceae, dan Marantaceae.
171
1. Familia Zingiberaceae
Familia Zingiberales tumbuhannya berhabitus terna perennial dengan rimpang
yang kadang-kadang berbentuk seperti umbi, biasanya mengandung minyak menguap
sampai berbau aromatik. Batang di atas tanah seringkali hanya pendek dan mendukung
bunga-bunga saja. Daun tunggal mempunyai sel-sel minyak menguap, tersusun dalam 2
baris, kadang-kadang jelas mempunyai 3 bagian berupa helaian, tangkai, dan upih, selain
itu juga lidah-lidah. Helaian biasanya lebar dengan ibu tulang yang tebal dan tulang-tulang
cabang yang sejajar dan rapat satu dengan yang lain dengan arah yang serong ke atas.
Tangkai daun pendek atau tidak terdapat, upih terbuka atau tertutup, lidah-lidah pada batas
antara helaian dengan tangkai atau antara helaian dengan upih. Bunga terpisah-pisah
tersusun dalam bunga majemuk tunggal atau berganda, kebanyakan banci, zigomorf atau
asimetrik. Perhiasan bunga dapat dibedakan dalam kelompok dengan 3 daun kelopak dan
mahkota yang terdiri atas 3 daun mahkota berlekatan pada bagian bawahnya membentuk
suatu buluh. Benang sari 1 dengan 3-5 benang sari mandul, kadang-kadang bersifat seperti
daun mahkota. Bakal buah tenggelam, beruang 3, jarang 2 dengan tembuni di ketiak, atau
beruang 1 dengan tembuni pada dinding atau pada dasarnya. Tangkai putik di ujung, tidak
terbagi, bebas atau terdapat dalam suatu alur pada benang sari yang fertil, ada kalanya
berbibir atau bergigi 2. Bakal biji banyak. Buahnya buah kendaga yang berkatup 3, atau
berdaging tidak membuka. Biji bulat atau berusuk, mempunyai salut biji, endosperm
banyak. Beberapa contoh species:
a. Alpinia: A. galanga
Alpinia galanga merupakan tumnuhan berhabitus terna berumur panjang, tinggi
sekitar 1 sampai 2 meter, bahkan dapat mencapai 3,5 meter. Biasanya tumbuh dalam
rumpun yang rapat. Batangnya tegak, tersusun oleh pelepah-pelepah daun yang bersatu
membentuk batang semu, berwarna hijau agak keputih- putihan. Batang muda keluar
sebagai tunas dari pangkal batang tua. Daun tunggal, berwarna hijau, bertangkai pendek,
tersusun berseling. Daun di sebelah bawah dan atas biasanya lebih kecil dari pada yang di
tengah. Bentuk daun lanset memanjang, ujung runcing,
pangkal tumpul, dengan tepi daun rata. Pertulangan daun
menyirip. Panjang daun sekitar 20 - 60 cm, dan lebarnya 4 - 1
5 cm. Pelepah daun lebih kurang 15 - 30 cm, beralur,
warnanya hijau. Pelepah daun ini saling menutup membentuk
batang semu berwarna hijau. Bunga lengkuas merupakan
172
bunga majemuk berbentuk lonceng, berbau harum, berwarna putih kehijauan atau putih
kekuningan, terdapat dalam tandan bergagang panjang dan ramping, yang terletak tegak di
ujung batang. Lengkuas Alpinia galanga merupakan salah satu tanaman dari Familia
Zingiberaceae yang rimpangnya dapat dimanfaatkan sebagai obat. Rimpang lengkuas
merah Alpinia galanga selama ini telah dikenal sebagai obat tradisional.
b. Amomum: A. cardamomum (kapulaga)
Amomum cardamomum merupakan tumbuhan berhabitus herba tahunan, tingginya
dapat mencapai 1-5 meter. Daun tunggal, tersebar, berwarna hijau tua. Helai daun licin
atau agak berbulu, berbentuk lanset atau tombak, dengan pangkal dan ujung runcing, dan
tepi daun rata. Panjang daun sekitar 30-60 cm, dan lebarnya 10-12 cm, pertulangan
menyirip. Buah Amomum cardamomum berkhasiat sebagai obat batuk dan obat
perut kembung. Buahnya mengandung minyak atsiri yang terutama mengandung sineol,
terpineol, dan borneol. Biji mengandung 3–7% minyak atsiri yang terdiri atas terpineol,
terpinil asetat, sineol, alfa borneol, dan beta kamfer, di samping itu biji juga mengandung
minyak lemak, protein, kalsium oksalat, dan asam kersik.
Klasifikasi:
Regnum
Divisio
Subdivisio
Classis
Ordo
Familia
Genus
Species
: Plantae
: Spermatophyta
: Angiospermae
: Monocotyledonae
: Zingiberales
: Zingiberaceae
: Amomum
: Amomum cardamomum
c. Kaempferia: K. galanga (kencur), K. angustifolia (kunci), K. rotunda (kunci
pepet), K. pandurata.
Kencur merupakan tumbuhan berhabitus perennial, berbatang basah tidak begitu
tinggi, lebih kurang 20 cm. Tumbuh dalam rumpun. Daun tunggal, berwarna hijau dengan
tepi merah kecoklatan bergelombang. Bentuk daun jorong lebar
sampai bundar, panjang 7-15 cm, lebar 2-8 cm, ujung runcing,
pangkai berlekuk, dan tepinya rata. Permukaan daun bagian
atas tidak berbulu, sedangkan bagian bawah berbulu halus.
Tangkai daun pendek, berukuran 3-10 cm, pelepah terbenam
dalam tanah, panjang 1,5-3,5 cm, berwarna putih. Bunga
173
tunggal, bentuk terompet, panjang sekitar 2,5-5 cm. Benang sari panjang sekitar
4 mm,
berwarna kuning. Putik berwarna putih atau putih keunguan. Kencur memiliki nama
Botani Kaempferia galanga.
2. Familia Musaceae
Familia Musaceae tumbuhan berhabitus terna yang besar, sering dengan batang semu
yang terdiri atas upih daun yang balut membalut, dengan daun yang lebar, bangun jorong
atau memanjang, ibu tulang daun tebal, beralur di sisi atasnya, jelas berbeda dari tulangtulang cabangnya yang menyirip. Bunga banci atau berkelamin tunggal, zigomorf, tersusun
dalam sinsinus terdapat dalam ketiak daun pelindung yang besar dan berwarna menarik.
Keseluruhan rangkaian bunga merupakan tenda dengan bunga betina di bagian pangkal
dan bunga-bunga jantan di bagian ujung perbungaannya. Perhiasan bunga jelas dapat
dibedakan dalam kelopak dan mahkotanya. Kelopak berbentuk tabung, memanjang,
berbagi 2 dengan tepi bergigi yang berbeda-beda. Mahkota berbibir 2, bagian atasnya
berigi-rigi. Benang sari 5 dengan 1 lagi yang tereduksi. Tangkai sari berbentuk benang,
kepala sari bangun garis, beruang 2. Bakal buah tenggelam, beruang 3, tiap ruang berisi
banyak bakal biji dengan tembuni di sudut-sudutnya. Tangkai sari berbentuk benang,
kepala sari berlekuk. Buah berdaging, tidak membuka, merupakan buah buni atau buah
kendaga. Biji dengan kulit biji keras, kadang-kadang bersalut, lembaga lurus terdapat
dalam endosperm dan perisperm.
Beberapa contoh-contoh Genus dari Familia Musaceae yaitu:a. Musa: M.
paradisiaca (pisang), penghasil buah-buahan, mencakup berbagai jenis budidaya
(“cultivar”). M. textilis (pisang Manila), penghasil serat; M. chiliocarpa (pisang seribu),
M. brachycarpa (pisang batu), M. zebrina (pisang lilin).
Tanaman pisang termasuk habitus terna dari Classis Monocotyledoneae perennial
berbentuk pohon tersusun atas batang semu. Batang semu
ini merupakan tumpukan pelepah daun yang tersusun
secara rapat teratur. Percabangan tanaman bertipe
simpodial dengan meristem ujung memanjang dan
membentuk bunga lalu buah. Bagian bawah batang
pisang menggembung berupa
umbi
yang disebut
bonggol. Pucuk lateral (sucker) muncul dari kuncup pada
bonggol yang selanjutnya tumbuh menjadi tanaman
pisang. Buah pisang umumnya tidak berbiji atau bersifat partenokarpi.
174
3.
Familia Cannaceae
Familia Cannaceae termasuk tumbuhan berhabitus
terna berukuran
besar,
perennial, dalam tanah mempunya rimpang yang tebal seperti umbi. Daun pada batang di
atas tanah, besar, lebar, bertulang menyirip dengan ibu tulang nyata, tangkai daun pada
pangkal melebar menjadi upih, lidah-lidah daun tidak terdapat. Bunga banci, zigomorf
atau lebih sering asimetrik, besar dengan warna cerah dan menarik, tersusun dalam
rangkaian berbentuk tandan atau malai. Perhiasan bunga terdiri atas kelopak dan mahkota,
masing-masing berbilangan 3, daun- daun kelopak bebas tersusun seperti genting, daundaun mahkota berlekatan pada pangkalnya. Benang sari 1-5, kecuali 1 semuanya steril dan
berubah menjadi bagian bunga yang paling menarik, berwarna cerah, lebar, seperti daun
mahkota, tetapi mendukung 1 kepala sari yang beruang 1 pada salah satu di bagian
atasnya. Bakal buah tenggelam, beruang 3, tiap ruang berisi banyak bakal biji yang
tersusun dalam 2 baris. Tangkai putik tebal menyerupai
daun dengan kepala putik yang miring. Buah dengan
kelopak yang tidak gugur di bagian atasnya, berupa buah
kendaga yang membuka dengan rusaknya dinding kemudian
menjadi
kasap
berbenjol-benjol.
Biji
banyak,
endosperm keras, dan lembaga kecil, contoh:
bulat,
C. edulis
(ganyong), rimpangnya dimakan, penghasil tepung yang
dikenal sebagai “arrowroot of Queensland”. C. indica (Puspanyidra dan bunga tasbih)
tanaman hias.
4. Familia Marantaceae
Familia Marantaceae merupakan tumbuhan berhabitus
terna perennial, dalam
tanah membentuk rimpang yang merayap, di atas tanah terdapat batang yang nyata atau
tidak. Daun dalam dua baris, terdiri atas 3 bagian yang jelas, berupa helaian, tangkai, dan
upih yang terbuka, biasanya tampak sebagai rozet akar. Helaian bulat telur-memanjang
atau jorong, bertulang menyirip, seringkali dengan 1 sisi lurus dan sisi yang lain
melengkung. Tangkai daun bangun silinder, menebal pada batas dengan helaian, seringkali
bersayap. Bunga banci, asimetrik, tersusun dalam bulir atau malai yang mempunyai daun
pelindung dan terdapat pada ujung batang, ada kalanya bunga muncul dari rimpang.
Hiasan bunga biasanya dapat dibedakan dalam kelopak dan mahkota, masing-masing
terdiri atas 3 daun mahkota
tidak sama besar dan berlekatan, membentuk suatu buluh
pada bagian bawahnya. Benang sari 4-5, hanya 1 yang fertil, lainnya mandul dan bersifat
175
petaloid (seperti daun mahkota). Bakal buah tenggelam, beruang 3-1, sering 2 dari ke-3
ruangnya tidak berisi bakal biji. Bakal biji tegak pada dasar ruang, putik bengkok, sering
melebar pada ujungnya. Buahnya buah kendaga yang pecah dengan membelah ruang atau
buah berdaging. Biji dengan banyak endosperm, sering bersalut pada bagian pangkal,
lembaga bengkok atau terlipat. Beberapa contoh-contoh species dari Marantaceae yaitu:
Maranta: M. arundinacea (garut, kerut), penghasil tepung “arrowroot.
Klasifikasi garut Maranta arundinacea yaitu:
Regnum
: Plantae
Divisio
: Spermatophyta
Subdivisio
: Angiospermae
Classis
: Monocotyledonae
Ordo
: Zingiberales
Familia
: Marantaceae
Genus
: Maranta
Species
: Maranta arundinacea
G. Bangsa Arecales
Ordo Arecales merupakan tumbuhan yang memiliki berbagai perawakan habitus,
kebanyakan berupa herba/terna yang besar, kadang-kadang pohon-pohon atau liana, ada
pula yang berupa tumbuhan kecil-kecil. Daun kebanyakan besar, berbagi atau majemuk
dengan susunan tulang-tulang menjari atau menyirip. Bunga kecil, banci atau berkelamin
tunggal, tersusun rapat membentuk bunga majemuk seperti bulir atau tongkol,
pada
pangkalnya terdapat suatu seludang yang membungkus atau melindungi bunga majemuk.
Perhiasan bunga tidak ada, atau bila ada tidak menarik, berbilang 3, kadang berbilang lain.
Benang sari berbeda-beda jumlahnya. Bakal buah menumpang, beruang 1 atau lebih,
jumlah bakal biji dalam setiap ruang tidak tertentu. Buah berupa buah buni atau buah batu,
bukan buah kendaga. Bunga dengan endosperm besar dan lembaga kecil.
a. Familia Arecaceae (Palmae)
Familia Arecaceae tumbuhan berhabitus semak, pohon atau liana dengan batang
sangat pendek hampir tidak ada, atau tinggi besar, ada yang langsing panjang dan bersifat
176
lentur, biasanya tidak bercabang, seringkali penuh dengan dengan sisa-sisa tangkai daun
yang lebar berbentuk upih yang tidak gugur. Akar pertama yang berasal dari lembaga
segera hilang dan diganti dengan akar-akar yang sama besar yang keluar dari pangkal
batang.
Daun tunggal, bercangap, berbagi atau majemuk dengan susunan tulang-tulang
menjari atau menyirip, biasanya besar, panjangnya dapat mencapai beberapa meter,
tersusun sebagai roset batang atau roset akar, pada jenis-jenis yang memanjat, tersebar
dalam kuncup, daun berlipat bila telah berkembang biasanya berujung tajam, tepi atau ibu
tulang berduri. Tangkai daun ke pangkal melebar menjadi upih yang membalut batang atau
setidak-tidaknya menyerupai upih dan kadang-kadang lama tidak mau melepas dari
batang.
Bunga kecil, hermaprodit atau karena adanya reduksi salah satu alat kelaminya
menjadi berkelamin tunggal, berumah satu atau berumah dua, kadang-kadang, tersusun
dalam bunga majemuk yang bersifat seperti malai, biasanya dengan ibu tangkai bunga
yang menebal, yang keseluruhanya membentuk yang disebut bunga tongkol. Karangan
bunga itu jarang terdapat pada ujung batang, tetapi biasanya di ketiak-ketiak daun atau
pada batang di bawah roset daun, kebanyakan diselubungi oleh daun pelindung yang
disebut seludang bunga, seludang bunga banyak atau sedikit, seperti belulang atau seperti
membran. Perhiasan bunga ganda, berupa 3 daun kelopak yang terpisah-pisah atau
berlekatan dengan susunan seperti genting atau kutub-kutub, dalam bunga jantan biasanya
tersusun seperti katup-katup dalam bunga betina seperti genting. Benang sari biasanya 6,
tersusun dalam 2 lingkaran, jarang lebih dari 6 (3- banyak) atau hanya 3, bebas satu dari
yang lain atau berlekatan, kepala sari beruang 2, membuka dengan celah membungkus,
serbuk sari dengan permukaan yang licin jarang berduri. Bakal buah menumpang, dalam
bungan jantan tidak ada atau tereduksi, beruang 1-3, jarang beruang 4-7, setiap ruang
berisi 1 bakal biji, kadang dalam bakal buah yang beruang 3 hanya terdapat 1 bakal biji
yang sempurna perkembangannya. Buah buni atau buah batu, beruang 1-2, atau dengan
daun-daun buah yang jelas batas-batasnya. Biji dengan endosperm dan lembaga yang
kecil, contoh species:
Salak Zalacca edulis
177
a. Familia Araceae
Familia Araceae berhabitus terna dengan getah yang cair atau seperti susu, pait,
dalam tanah mempunyai rimpang yang memanjang dan seperti umbi, kadang-kadang
memanjat, jarang dengan batang berkayu. Daun biasanya tidak banyak, kadang-kadang
baru terbentuk setelah keluar bunga, tunggal atau berbagi sampai majemuk, kebanyakan
tersusun sebagai roset akar atau tersebar pada batang atau bersilang dalam 2 baris. Helaian
bunga jantung atau perisai, anak panah, dengan tangkai pada pangkal berubah menjadi
upih daun yang tipis seperti selaput.
Bunga kecil, dalam jumlah yang banyak, tersusun sebagai bulir atau tongkol yang
mempunyai seludang, berbau tidak sedap, banci atau berkelamin tunggal. Bunga banci
atau berkelamin tunggal pada tongkol teratur sedemikian rupa, sehingga bunga jantan
terdapat di bagian atas tongkol, dan bunga betina di bagian bawahnya. Bunga yang banci
mempunyai perhiasan bunga yang terdiri atas 4-6 segmen atau berlekatan membentuk
badan seperti piala, bunga yang berkelamin tunggal tanpa perhiasan bunga. Benang sari 24-8, berhadapan dengan segmen-segmen perhiasan bunga, kepala sari membuka dengan
celah atau liang, bebas atau bersatu menjadi satu massa. Pada bunga jantan sering terdapat
benang-benang sari yang mandul.
Bakal buah menumpang atau tenggelam dalam
tongkol, beruang 1-banyak, dengan sedikit sampai banyak,
bakal biji dalam setiap ruangnya. Tangkai putik dan kepala
putik bermacam-macam bentuk dan susunannya, atau tidak
terdapat. Buahnya buah buni, berisi1-banyak biji, yang
mempunyai endosperm dengan lembaga di tengahnya, atau
tanpa endosperm dengan lembaga yang bengko,contoh
species: Tanaman kuping gajah Anthurium pentaphyllum
178
b. Familia Cyclanthaceae
Familia Cyclanthaceae merupakan tumbuhan berhabitus terna perennial dengan
habitus mirip Palma, batang pendek atau tidak ada, kadang-kadang memanjat dan menjadi
setengah epifit, mempunyai getah seperti susu atau cair. Daun berbentuk kipas seperti pada
Palma kipas, bertepi rata, berlekuk atau berbagi 2, masing-masing bagian dapat berlekuk
atau berbagi lagi, tangkai daun pada pangkal berubah menjadi upih, duduk daun tersebar
atau berseling dalam 2 baris.
Bunga berkelamin tunggal, berumah 1, tersusun sebagai tongkol yang mempunyai
2-6 seludang yang mudah runtuh. Bunga jantan dan betina terdapat pada satu tongkol.
Bunga jantan tanpa perhiasan bunga atau mempunyai tenda bunga yang berlekatan, bergigi
6 dengan 6-banyak benang sari. Bunga jantan telanjang, atau mempunyai tenda bunga
yang terdiri atas 4 daun tenda bunga berbentuk sisik, dan 4 benang sari mandul berbentuk
benang. Bakal buah tenggelam dalam tongkol atau sumbu
bunga majemuknya, beruang 1 dengan 2-4 tembuni pada
dindingnya, bakal biji pada setiap tembuni banyak. Buahnya
buah buni yang berisi banyak biji. Biji dengan kulit biji
yang berdaging, mempunyai endosperm dan lembaga yang
kecil, lurus atau bengkok, contoh species: Cyclanthus
bipartitus.
c. Familia Lemnaceae
Familia Lemnaceae merupakan tumbuhan berhabitus terna perennial, berukuran
kecil, mengapung atau tenggelam di air, tanpa batas yang nyata antara batang dan daundaunnya, dengan akar-akar seperti benang-benang atau tanpa akar, merupakan tanda
adanya adaptasi kehidupan, menggunakan air sebagai habitatnya, serta adanya reduksi
alat-alat vegetatif yang tidak ditemukan pada tumbuhan lain. Tubuh tumbuhan ini
tereduksi menjadi benda bentuk jorong, memanjang atau bulat pipih, tanpa diferensiasi
morfologi, sehingga menyerupai talus, di sebelah atas kelihatan hijau, sebelah bawah
seringkali berwarna lembayung, berkembang biak
secara vegetatif dengan perantaraan kuncup-kuncup
pada pangkal bergandengan dengan induknya, dan
kemudian dapat terpisah-pisah menjadi individu baru.
Bungan
berkelamin
tunggal,
berumah
1,
tidak
mempunyai perhiasan bunga; bunga jantan hanya
179
terdiri atas 1 benang sari, yang betina terdiri atas 1 putik dengan bakal buah beruang 1
yang berisi 1-6 bakal biji pada dasar ruang. Buah berupa gelembung kecil, biji dengan
kulit berdaging, sedikit endosperm dan lembaga yang lurus, contoh species: Lemna minor.
H. Ordo Pandanales
Ordo Pandanales berhabitus perdu atau pohon dengan daun-daun pipih, bangun
garis atau pita. Bunga selalu berkelamin tunggal, telanjang atau mempunyai tenda bunga,
biasanya tersusun dalam karangan bunga berupa tongkol majemuk atau bongkol. Bunga
jantan dengan 1-banyak benang sari, bunga betina dengan bakal buah beruang 1-banyak,
setiap ruang berisi 1-banyak bakal biji. Kandung lembaga umumnya terdapat lebih dari 3
sel antipoda. Buah menyerupai buah keras, biji mempunyai endosperm.
a. Familia Pandanaceae
Familia Pandanaceae berhabitus semak, perdu atau pohon dengan batang yang
besar atau tumbuh tegak, bercabang-cabang atau berupa liana dengan batang-batang
memanjat. Pada pangkal batang terdapat akar tunjang, kadang-kadang akar keluar dari
bagian batang yang lebih tinggi, bahkan dari cabang-cabangnya. Daun sempit, panjang,
bangun pita dengan tepi berduri kecil-kecil tajam, duri-duri kadang-kadang juga pada sisi
punggung ibu tulangnya, tersusun dalam garis spiral spirostich biasanya ada 3. Bunga
berkelamin tunggal, telanjang tersusun sebagai bunga tongkol bersifat majemuk, terdapat
pada ujung batang atau dalam ketiak daun-daun pelindung besar, seringkali berwarna.
Bunga jantan dengan atau tanpa putik yang rudimenter, mempunyai banyak benang sari
terdapat pada sumbu bunga pendek atau panjang, tangkai sari bebas atau berlekatan,
kepala sari tegak terdiri atas 2 ruang sari yang masing-masing dapat terbagi lagi dalam
ruang-ruang yang lebih kecil. Bunga betina tanpa benang
sari mandul atau bila ada kecil dengan posisi hipogin.
Bakal buah menumpang, beruang 1, bebas atau
berlekatan dengan bakal buah di dekatnya membentuk
kelompok-kelompok bakal buah dengan kepala putik
menjadi satu atau tetap terpisah-pisah, duduk langsung
pada bakal buah atau pada tangkai putik yang pendek.
Buahnya buah batu atau menyerupai buah buni,
terkumpul menjadi buah ganda. Biji kecil, mempunyai endosperm berdaging dan lembaga
berukuran kecil, contoh species: Pandan wangi Pandanus amaryllifolius.
180
b. Familia Sparganiaceae
Familia Sparganiaceae merupakan tumbuhan
berhabitus terna perennial, mempunyai rimpang dan
batang di atas tanah atau bercabang-cabang. Daun
bangun pita, panjang, kaku atau terkulai, pangkal
berupih, biasanya tersusun dalam 2 baris pada pangkal
batang. Bunga berkelamin tunggal, terkumpul dalam
tongkol-tongkol yang bulat dan terpisah-pisah, bunga
jantan di bagian atas dan bunga betina pada setiap
bunga majemuk, setiap bunga mempunyai perhiasan bunga terdiri atas 3-6 segmen, berupa
sisik-sisik tipis seperti membran yang memanjang. Bunga jantan dengan 3 benang sari atau
lebih, tangkai sari bebas atau untuk sebagian berlekatan, kepala sari memanjang, serbuk
sari bulat. Bunga jantan dengan bakal buah yang duduk tidak bertangkai daun menyempit
pada bagian bawahnya, beruang 1 atau 2, setiap ruang berisi 1 bakal biji. Buah termasuk
buah keras atau buah batu, tanpa tangkai buah, tidak membuka bila telah masak. Biji
dilindungi oleh kulit biji yang tipis, mempunyai endosperm, bertepung dengan lembaga di
tengahnya, contoh species: Sparganium eucarpus.
c. Familia Typhaceae
Familia Typhaceae merupakan tumbuhan berhabitus terna air, perennial, rawarawa atau telaga, mempunyai rimpang yang merayap dan batang-batang sederhana, dengan
bagian bawah terendam air. Daun sempit, bangun garis atau pita memanjang, agak tebal
seperti sepon, biasanya tersusun dalam 2 baris atau merupakan rozet akar. Bunga
berkelamin tunggal, dalam jumlah besar, tersusun rapat dalam tongkol yang berbentuk
silinder dengan bunga jantan di bagian atas dan bunga betina di bagian bawah tongkol,
kedua bagian tersebut dipisahkan oleh bagian tongkol
yang terdiri atas sisik-sisik tipis seperti selaput. Bunga
jantan dengan 2-5 benag sari, tangkai sari bebas atau
berlekatan dengan berbagai cara; kepala putik bangun
garis. Bunga betina dengan bakal buah beruang 1, yang
ke atas menyempit menjadi tangkai putik dengan kepala
putik yang sempit seperti pita, pangkal bertangkai.
181
Buah kering, jika membuka dengan membelah membujur. Biji dengan kulit biji yang
bergaris-garis membujur, endosperm bertepung, lembaga sempit, hampir sepanjang
bijinya, contoh species: Typha angustifolia.
I. Ordo Orchidales
Ordo Orchidales termasuk tumbuhan berbahitus herba/terna yang hidup sebagai
epifit, kadang-kadang sebagai saprofit, atau terestrial, dengan kadang-kadang terdapat
badan-badan yang merupakan adaptasi terhadap kekurangan air. Daun dengan bentuk yang
beraneka ragam, biasanya tersusun dalam 2 baris, sering agak tebal berdaging. Bunga
banci, zigomorf, jarang sekali aktinomorf. Perhiasan bunga terdiri dari 2 lingkaran daun
tenda bunga yang bebas, dalam masing-masing lingkaran terdapat 3 daun tenda bunga.
Benang sari 1 atau 2, jarang sekali 3, berlekatan dengan tangkai putik. Bakal buah
tenggelam, kebanyakan beruang 1 dengan banyak bakal biji pada tembuni yang terletak
pada dinding, atau bakal buah beruang 3 dengan tembuni pada sudut-sudutnya. Buah
kendaga apabila masak akan pecah dengan mengeluarkan biji-biji kecil seperti serbuk. Biji
tanpa endosperm, lembaga belum sempurna.
a. Familia Apostasiaceae
Familia Apostasiaceae merupakan tumbuhan berhabitus terna teresterial, dengan
rimpang pendek dan batang yang tidak bercabang-cabang. Daun memanjang, bertangkai,
bertulang melengkung. Bungan kecil, banci, aktinomorf atau zigomorf, tersusun dalam
bulir atu tandan yang mempunyai daun pelindung. Perhiasan bungan terdiri atas 6 daundaun tenda bungan yang menyerupai mahkota, semua bebas, hampir sama satu dengan
yang lain, dengan salah satu menunjukkan kecenderungan untuk berubah menjadi bibir
labellum. Benang sari 3 atau 2. Tangkai sari berlekatan
pada pangkalnya dan berlekatan pula dengan tangkai putik.
Kepala sari bebas, beruang 2, memanjang dan membuka
dengan celah membujur. Bakal buah tenggelam, beruang 3
dengan tembuni di sudut-sudut, tangkai putik, kepala putik
3. Buah kendaga, kadang-kadang berparuh pendek. Biji
kecil, banyak dan bangun jorong, contoh species:
Neuwiedia linleyi.
b.
Familia Orchidaceae
182
Familia Orchidaceae termasuk tumbuhan berhabitus terna perennial dengan
perawakan yang beraneka ragam, hidup sebagian besar sebagai epifit, ada yang sebagai
saprofit, ada pula teresetrial, mempunyai rimpang, akar yang seperti umbi, tetapi bukan
umbi lapis atau umbi sisik. Batang berdaun atau tidak, pangkalnya seringkali menebal
membentuk umbi semu pseudo bulbi , mempunyai akar-akar yang mengandung klorofil
dan berfungsi sebagai alat untuk asimilasi. Daun tidak berbagi, berseling biasanya tersusun
dalam dua baris, jarang berhadapan, kadang-kadang tereduksi menjadi sisik, seringkali
agak tebal, berdaging, pangkal berubah menjadi upih yang hampir selalu tertutup dan
memeluk batang. Bunga seringkali mempunyai bentuk dan warna yang indah, tetapi
kadang-kadang juga hanya kecil, tidak berwarna atau berwarna kehijau-hijauan,
mempunyai daun pelindung, biasanya banci, zigomorf, jarang terdapat bunga berkelamin
tunggal yang berumah 1. Bunga-bunga tersebut ada yang terpisah-pisah ada yang tersusun
dalam beraneka susunan rangkaian, seperti bulir, tandan atau malai. Perhiasan bunga
tersusun atas 6 segmen (daun tenda bunga) yang terdapat dalam dua lingkaran, lingkaran
dalam seperti petala yang luar seperti sepala, setiap lingkaran bunga bebas satu sama lain,
atau berlekatan dengan cara yang bermacam-macam.
Benang sari 2 atau 1, terdiri dari benang sari-benang sari yang lateral pada
lingkaran dalam atau yang median dari lingkaran luar, sedang benang sari yang lain
bersifat mandul. Kepala sari menghadap ke dalam, beruang dua, membuka dengan celah
membujur. Serbuk sari merupakan butir terpisah-pisah, atau lebih sering bergumpalgumpal membentuk kelompokan serbuk sari yang bertepung atau berlilin yang disebut
polinium. Bakal biji banyak, anatrop, sangat kecil. Buah biasanya berupa buah kendaga,
membuka ke samping dengan 3-6 celah-celah membujur. Biji banyak, sangat kecil, seperti
serbuk, memanjang pada 2 ujung atau jarang sekali bersayap, endosperm tidak terdapat,
lembaga belum terbentuk atau belum terdiferensiasi, contoh species:
Orchis militaris
Phalaenopsis amabilis
183
IX.3. TUGAS UNTUK MAHASISWA
Mahasiswa diharuskan membuat makalah tentang
Classis Monocotyledoneae
dengan membaca dari sumber-sumber buku literatur, materi bahan ajar atau penelusuran
melalui internet. Makalah tersebut dibuatkan power point kemudian dipersentasikan di
kelas, dilakukan tanya jawab antara kelompok peserta mata kuliah dan hasil presentasi
dibuatkan rangkuman/kesimpulan.
184
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2013. Gambar-gambar Tumbuhan Dialypetalae. http://wikipedia.org. diakses pa
3 Maret 2013
,
2014.
Biologipedia.
Rumput
Teki
Cyperus
Rotundus.
http://biologipedia.blogspot.com/2014/01/teki-tekianrumput-teki-
Cyperus-rotundus.html. Diakses pada hari Jumat, tanggal 28 Februari 2014, pukul
18.30 WITA, Makassar.
,2014. Teki Pendul. http://id.wikipedia.org/wiki/Jukut_pendul. Diakses pada
hari Jumat, tanggal 28 Februari 2014, pukul 18.56 WITA, Makassar.
,
2014.
Bulbostylis
barbata.
Australian
Tropical
Rainforest
media/Html/taxon/Bulbostylis_barbata.htm. Diakses pada hari Jumat,
Plants.
tanggal
28 Februari 2014, pukul 18.34 WITA, Makassar.
Arif, D., 2013. www.GambarTumbuhan.com, di akses pada tanggal 2 Maret 2014, pukul
19.00 WITA.
Ariesnie, D, 1985. Gymnospermae. Gramedia, Jakarta.
Asri,
A.,
2012.
Tumbuhan
Purun
Sebagai
Komoditi
Rumah
Kita.
https://sites.google.com/site/sdn3ast/classroom-news/. Diakses pada hari Jumat,
tanggal 28 Februari 2014, pukul 19.05 WITA, Makassar.
Benson, L., 1956. Classification. Lousiana State University, D.C.Heath and Company,
Boston.
Bayu, B. 2012. http://bayou.blogspot.tumbuhan.com, diakses pada tanggal 20 Februari
2013
Campbell, Neil A. Dkk, 2002. Biologi Edisi Kelima Jilid 2, Erlangga. Jakarta.
Campbell, N. A., dan Reece J.B. 2008. Biologi Edisi ke 8 Jilid 1, (diterjemahkan dari :
Biology Eighth Edition), Erlangga. Jakarta.
Citra,
S.,
2011.
Ciri-ciri
dari
Mendong
Fimbristylis
globulosa.
http://sketselku.wordpress.com/2011/12/21/mendong/. Diakses pada hari
Jumat, tanggal 28 Februari 2014, pukul 18.45 WITA, Makassar.
Damayanti, 2012, Pembagian Tumbuhan, http://coridamayanti.blogspot.com, diakses
tanggal 1 Maret 2014, pukul 20.00 WITA.
185
Dasuki, U.A., 1991. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Pusat Antar Universitas Bidang Ilmu
Hayati, ITB.
Ismail. 2011. Spermatophyta. Kretakupa. Makassar.
Jones, S.B. Jr. & A.E. Luchsinger. 1979. Plant Systematics. Me. Graw-Hill. Inc. U.S.A.
Kimball, John W., 1983. Biologi Edisi Kelima Jilid 3, Erlangga. Jakarta.
Lawrence, G.H.M. 1974. Taxonomy of Vascular Plants. Fourth Indian Reprint. Mohan
Primlani, Oxford & IBH Publishing Co. New Delhi.
Plantamor, 2013. Sympetalae. http://www.plantamor.com. Diakses 1 maret 2014.
Radfor, A.E.; W.C. Dickinson; J.R. Massey & C.R. Bell. 1976. Vascular Plant
Systematics. Harper and Raw Publishers. New York.
Sriyuni, 2009. Bahan Ajar Liliopsida. http://www.wikipedia.com. Diakses, 9 Mei 2012.
Stace, C.A. 1980. Plant Taxonomy and Biosystematics. Edward Arnold Publishing Ltd.
London.
Sudarnadi, H. 1989.Taksonomi Tumbuhan berpembuluh I. Departemen P dan K< Dirjen DIKTI
dan PAU Ilmu Hayat IPB, Bogor
Tjitrosoepomo, G., 1990. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Tjitrosoepomo. Gembong, 2010. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
186
Download