konflik sosial - smk islam sudirman 1 ambarawa

advertisement
STRUKTUR SOSIAL
A. Definisi Struktur Sosial
Secara harfiah/ mendasar, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak harus
dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial. Menurut ilmu sosiologi, struktur
sosial adalah tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam
masyarakat. Susunannya bisa vertikal atau horizontal.
Para ahli sosiologi merumuskan definisi struktur sosial sebagai berikut:
 George Simmel: struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya.
 George C. Homans: struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan
perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari.
 William Kornblum: struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya
pengulangan pola perilaku individu.
 Soerjono Soekanto: struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan
peranan-peranan sosial.
B. Ciri-ciri Struktur Sosial
1. Muncul pada kelompok masyarakat
Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status dan peran.
Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca ketika mereka berada dalam suatu
sebuah kelompok atau masyarakat.
Pada setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran indvidu. Status yang berbeda-beda
itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang berbeda pula.
2. Berkaitan erat dengan kebudayaan
Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan. Setiap kebudayaan
memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai banyak daerah dengan kebudayaan yang
beraneka ragam. Hal ini menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di
Indonesia.
Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sbb:
a. Keadaan geografis
Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya kemudian
mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
b. Mata pencaharian
Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara lain sebagai petani,
nelayan, ataupun sektor industri.
c. Pembangunan
Pembangunan
dapat
memengaruhi
struktur
sosial
masyarakat
Indonesia.
Misalnya
pembangunan yang tidak merata antar daerah dapat menciptakan kelompok masyarakat kaya
dan miskin.
3. Dapat berubah dan berkembang
Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa berubah dan
berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur yang dibentuk oleh mereka pun bisa
berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
C. Fungsi Struktur Sosial
1. Fungsi Identitas
Struktur sosial berfungsi sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah kelompok.
Kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan dalam latar belakang ras, sosial, dan budaya akan
mengembangkan struktur sosialnya sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.
2. Fungsi Kontrol
Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul kecenderungan dalam diri individu untuk
melanggar norma, nilai, atau peraturan lain yang berlaku dalam masyarakat. Bila individu tadi
mengingat peranan dan status yang dimilikinya dalam struktur sosial, kemungkinan individu tersebut
akan mengurungkan niatnya melanggar aturan. Pelanggaran aturan akan berpotensi menibulkan
konsekuensi yang pahit.
3. Fungsi Pembelajaran
Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan
mengingat masyarakat merupakan salah satu tempat berinteraksi. Banyak hal yang bisa dipelajari dari
sebuah struktur sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan dan kedisplinan.
D. Bentuk Struktur Sosial
Bentuk struktur sosial terdiri dari stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial. Masing-masing
punya ciri tersendiri.
1. Stratifikasi Sosial
Stratifikasi berasal dari kata strata atau tingkatan. Stratifikasi sosial adalah struktur dalam
masyarakat yang membagi masyarakat ke dalam tingkatan-tingkatan.
Ukuran yang dipakai bisa kekayaan, pendidikan, keturunan, atau kekuasaan. Max Weber menyebutkan
bahwa kekuasaan, hak istimewa dan prestiselah yang menjadi dasar terciptanya stratifikasi sosial.
Adanya perbedaan dalam jumlah harta, jenjang pendidikan, asal-usul keturunan, dan kekuasaan
membuat manusia dapat disusun secara bertingkat. Ada yang berada di atas, ada pula yang menempati
posisi terbawah.
Berdasarkan sifatnya, stratifikasi sosial dapat dibagi menjadi 3:
1) Stratifikasi Sosial Tertutup
Adalah stratifikasi sosial yang tidak memungkinkan terjadinya perpindahan posisi (mobilitas
sosial)
2) Stratifikasi Sosial terbuka
Adalah stratifikasi yang mengizinkan adanya mobilitas, baik naik ataupun turun. Biasanya
stratifikasi ini tumbuh pada masyarakat modern.
Bentuk-bentuk mobilitas sosial:
a. Mobilitas Sosial Horizontal
Di sini, perpindahan yang terjadi tidak mengakibatkan berubahnya status dan kedudukan
individu yang melakukan mobilitas.
b. Mobilitas Sosial Vertikal
Mobilitas sosial yang terjadi mengakibatkan terjadinya perubahan status dan kedudukan
individu.
Mobilitas sosial vertikal terbagi menjadi 2:
 Vertikal naik
Status dan kedudukan individu naik setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.
 Vertikal turun
Status dan kedudukan individu turun setelah terjadinya mobilitas sosial tipe ini.
c. Mobilitas antargenerasi
Ini bisa terjadi bila melibatkan dua individu yang berasal dari dua generasi yang berbeda.
3) Stratifikasi Sosial Campuran
Hal ini bisa terjadi bila stratifikasi sosial terbuka bertemu dengan stratifikasi sosial tertutup.
Anggotanya kemudian menjadi anggota dua stratifikasi sekaligus. Ia harus menyesuaikan diri
terhadap dua stratifikasi yang ia anut.
Menurut dasar ukurannya, stratifikasi sosial dibagi menjadi:
1) Dasar ekonomi
Berdasarkan status ekonomi yang dimilikinya, masyarakat dibagi menjadi:
a. Golongan Atas
Termasuk golongan ini adalah orang-orang kaya, pengusaha, penguasan atau orang yang
memiliki penghasilan besar.
b.
Golongan Menengah
Terdiri dari pegawai kantor, petani pemilik lahan dan pedagang.;
c. Golongan Bawah
Terdiri dari buruh tani dan budak.
2) Dasar pendidikan
Orang yang berpendidikan rendah menempati posisi terendah, berturut-turut hingga orang yang
memiliki pendidikan tinggi.
3) Dasar kekuasaan
Stratifikasi jenis ini berhubungan erat dengan wewenang atau kekuasaan yang dimiliki oleh
seseorang. Semakin besar wewenang atau kekuasaan seseorang, semakin tinggi strata sosialnya.
Penggolongan yang paling jelas tentang stratifikasi sosial berdasarkan kekuasaan terlihat dalam
dunia politik.
Dampak adanya stratifikasi sosial:
a. Dampak Positif
Orang yang berada pada lapisan terbawah akan termotivasi dan terpacu semangatnya untuk bisa
meningkatkan kualitas dirinya, kemudian mengadakan mobilitas sosial ke tingkatan yang lebih
tinggi.
b. Dampak Negatif
Dapat menimbulkan kesenjangan sosial
2. Diferensiasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, diferensiasi sosial adalah penggolongan masyarakat atas
perbedaan-perbedaan tertentu yang biasanya sama atau sejajar. Jenis diferensiasi antara lain:
a. Diferensiasi ras
Ras adalah suatu kelompok manusia dengan ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Secara umum,
manusia dapat dibagi menjadi 3 kelompok ras, yaitu Ras Mongoloid, Negroid, dan Kaukasoid.
Orang Indonesia termasuk dalam ras Mongoloid.
b. Diferensiasi suku bangsa
Suku bangsa adalah kategori yang lebih kecil dari ras. Indonesia termasuk negara dengan aneka
ragam suku bangsa yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga papua.
c. Diferensiasi klen
Klen merupakan kesatuan keturunan, kepercayaan, dan tradisi. Dalam masyarakat Indonesia
terdapat 2 bentuk klen utama, yaitu:
 Klen atas dasar garis keturunan ibu (matrilineal)
Contohnya yang terdapat pada masyarakat Minangkabau.
 Klen atas dasar garis keturunan ayah (patrilineal)
Contohnya yang terdapat pada masyarakat Batak.
d. Diferensiasi agama
Di Indonesia kita mengenal agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, dan
kepercayaan lainnya.
e. Diferensiasi profesi
Masyarakat biasanya dikelompokkan atas dasar jenis pekerjaannya.
f. Diferensiasi jenis kelamin
Berdasarkan jenis kelamin, masyarakat dibagi atas laki-laki dan perempuan yang memiliki
derajat yang sama.
KONFLIK SOSIAL
1. PENGERTIAN KONFLIK SOSIAL
Konflik diartikan secara sederhana sebagai saling memukul. Konflik sosial adalah bentuk
interaksi sosial yang terjadi pada perorangan atau kelompok yang berupaya mencapai
tujuannya sendiri dengan mengalahkan atau menundukkan pihak lain.
Pengertian Konflik menurut beberapa ahli :
1. Soerjono Soekanto
Konflik sebagai perjuangn untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, di mana tujuan dari
mereka yang berkonflik, tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk
menundukkan saingannya.
2. Berstein
Konflik merupakan suatu pertentangan dan perbedaan yang tidak dapat dicegah yang secara
potensial dapat mempunyai kegunaan yang fungsional dan konstruktif sebaliknya dapat
pula bersifat disfungsional dan destruktif. Menurutnya konflik mempunyai dua potensial
yaitu positif dan negatif.
3. Robert M.Z. Lawang
Konflik sebagai perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan di mana tujuan
mereka yang memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya
4. Scmidth dan Kochkhan
Konflik adalah perselisihan di antara dua pihak yang ditandai dengan perilaku yang
menunjukkan permusuhan terbuka dan atau dengan gangguan dengan sengaja terhadap
pencapaian tujuan pihak yang menjadi lawan.
5. Ralf Dehredort
Konflik adalah suatu keadaan pertentangan karena adanya ketidakharmonisan hubungan
social di antara anggota kelompok atau antar kelompok dalam masyarakat.
2. FAKTOR PENYEBAB KONFLIK SOSIAL
1. Perbedaan Antar Individu
Coba perhatikan orang tua, adik,dan kakak mu! Kerap muncul persamaan ciri2 fisik di
antara mereka, sehingga sering muncul pendapat bahwa sang anak terlihat mirip dgn orang
tuanya. Persamaan fisik tadi ternyata tidak menjamin akan terjadinya hubungan yang
harmonis di antara mereka. Perbedaan pandangan atau pendapat pun msh bisa terjadi.
2. Perbedaan Kebudayaan
Perbedaan kebudayaan dapat memicu terjadinya konflik. Perbedaan kebudayaan antara
orang eropa yang dating ke Benua Amerika dan orang Indian yang merupakan penduduk
asli menyebabkan terjadinya konflik sampai menelan korban jiwa. Dan sampai saat ini
semakin bayak orang Eropa hijrah ke Amerika,sehingga warga Amerika terdominasi Warga
Eropa
3. Perbedaan Kepentingan
Perbedaan kepentingan antar individu maupun kelompok juga papat memicu terjadinya
konflik. Setiap orang atau kelompok tentu memiliki kebutuhan & kepenyingan sedang
orang lain atau kelompok lain pun memiliki kepentingan dan kebutuhan sendiri.Contohnya,
pengusaha memiliki kepentingan untuk memperoleh laba usaha yang besar
4. Perubahan Sosial
Perubahan
social
di
masyarakat
mengkibatkan
terjadinya
konflik.
Contohnya,
berkembangnya perkotaan menyebabkan lahan perumahan dan pertanian menjadi sempit.
Hal ini bisa mendatangkan konflik antar anggota keluarga akibat memperebutkan harta
warisan
Faktor Penyebab Konflik Secara Umum
a) Perbedaan Individu
Setiap
individu
mempunyai
sifat,pendirian,dan
perasaan
yang
berbeda
beda.Perbedaan tersebut dapat menjadi faktor penyebab konflik.
b) Perbedaan Latar Belakang
Kepribadian seseorang dibentuk melalui proses sosialisasi,yaitu di lingkungan
keluarga dan masyarakat.Terkadang apa yang dianggap oleh suatu masyarakat
baik,belum tentu oleh masyarakat lain dianggap baik.
c) Perbedaan Kepentingan
Perbedaan kepentingan dapat di sebabkan perbedaan perasaan, pendirian latar
belakang kebudayaan,dan sebagainya.
d) Perbedaan Sosial
Perubahan Sosial yang terlalu cepat terutama dalam nilai dan norma yang berlaku
dalam masyarakat tersebut.
Faktor Penyebab Konflik Di Indonesia
a) Ada domonasi suatu kelompok terhadap kelompok lain.
b) Persaingan dalam mendapatkan mata pencaharian hidup antar kelompok yang berlainan
suku.
c) Terdapat potensi konflik yang terpendamyang telah bermusuhan secara adat.
3. CARA MENGENDALIKAN DAN MEREDAKAN KONFLIK
1) Koersi yaitu suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilakukan dengan paksaan.
2) Kompromi yaitu suatu bentuk akomodasi yang dilakukan dimana pihak-pihak yang terlibat
saling mengurangi tuntutan agar tercapai penyelesaian dari penyelisihan.
3) Arbitrasi yaitu konflik yang dihentikan dengan cara mendatangkan pihak ke tiga untuk
memutuskan dan kedua belah pihak harus mentaati keputusan tersebut karena bersifat
memikat.
4) Mediasi yaitu penyelesaian konflik dengan mengundang pihak ketiga yang bersifat netral
dan tidak hanya berfungsi sebagai penasehat.
5) Toleransi yaitu suatu bentuk akomodasi di mana ada sikap saling menghargai dan
menghormati pendirian masing-masing pihak yang berkonflik.
6) Konveksi yaitu penyelesaian konflik apabila salah satu pihak bersedia mengalah dan mau
menerima pendirian pihak lain.
7) Konsilasi yaitu suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan pihak-pihak yang
berselisih demi tercapainya suatu tujuan bersama.
8) Adjudikasi yaitu suatu penyelesaian konflik melalui pengadilan.
9) Stalemate yaitu suatu keadaan dimana pihak-pihak yang bertentangan memiliki kekuatan
seimbang,namun terhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangan karena
kedua belah pihak sudah tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur.
10) Gencatan Senjata yaitu penangguhan permusuhan untuk jangka waktu tertentu guna
melakukan pekerjaan tertentu yang tidak boleh di ganggu.
11) Segregasi yaitu upaya saling memisahkan diri dan saling menghindar diantara pihak-pihak
yang bertentangan dalam rangka mengurangi ketegangan.
12) Cease Fire yaitu menangguhkan permusuhan atau peperangan dalam waktu tertentu sambil
mengupayakan terselenggaranya penyelesaian konflik,diantara pihak-pihak yang bertikai.
13) Dispasement yaitu usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan perhatian pada objek
masing-masing.
4. CARA-CARA PENYELESAIAN KONFLIK
Konflik dapat berpengaruh positif atau negatif, dan selalu ada dalam kehidupan. Oleh
karena itu konflik hendaknya tidak serta merta harus ditiadakan. Persoalannya, bagaimana
konflik itu bisa dimanajemen sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan disintegrasi sosial.
Pengelolaan konflik berarti mengusahakan agar konflik berada pada level yang optimal. Jika
konflik menjadi terlalu besar dan mengarah pada akibat yang buruk, maka konflik harus
diselesaikan.
Di sisi lain, jika konflik berada pada level yang terlalu rendah, maka konflik harus
dibangkitkan (Riggio, 1990). Berbeda lagi dengan yang dinyatakan oleh Soetopo (1999) bahwa
strategi pengelolaan konflik menunjuk pada suatu aktivitas yang dimaksudkan untuk mengelola
konflik mulai dari perencanaan, evaluasi, dan pemecahan/penyelesaian suatu konflik sehingga
menjadi
sesuatu
yang
positif
bagi
perubahan
dan
pencapaian
tujuan.
Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengelolaan konflik, dapat ditegaskan bahwa
pengelolaan konflik merupakan cara yang digunakan individu dalam mengontrol,
mengarahkan, dan menyelesaikan konflik, dalam hal ini adalah konflik interpersonal.
Hodge dan Anthony (1991), memberikan gambaran melalui berbagai metode resolusi
(penyelesaian) konflik, sebagai berikut:
1. Dengan metode penggunaan paksaan. Orang sering menggunakan kekuasaan dan
kewenangan agar konflik dapat diredam atau dipadamkan.
2. Dengan metode penghalusan (smoothing). Pihak-pihak yang berkonflik hendaknya saling
memahami konflik dengan bahasa kasihsayang, untuk memecahkan dan memulihkan
hubungan yang mengarah pada perdamaian.
3. Penyelesaian dengan cara demokratis. Artinya, memberikan peluang kepada masingmasing pihak untuk mengemukakan pendapat dan memberikan keyakinan akan kebenaran
pendapatnya sehingga dapat diterima oleh kedua belah pihak.
Cribbin (1985) mengelaborasi terhadap tiga hal, yaitu mulai yang cara yang paling tidak
efektif, yang efektif dan yang paling efektif.
Menurutnya, strategi yang dipandang paling tidak efektif, misalnya ditempuh cara:
1) Dengan paksaan. Strategi ini umumnya tidak disukai oleh kebanyakan orang. Dengan
paksaan, mungkin konflik bisa diselesaikan dengan cepat, namun bisa menimbulkan reaksi
kemarahan atau reaksi negatif lainnya
2) Dengan penundaan. Cara ini bisa berakibat penyelesaian konflik sampai berlarut-larut
3) Dengan bujukan. Bisa berakibat psikologis, orang akan kebal dengan bujukan sehingga
perselisihan akan semakin tajam
4) Dengan koalisi, yaitu suatu bentuk persekutuan untuk mengendalikan konflik. Akan tetapi
strategi ini bisa memaksa orang untuk memihak, yang pada gilirannya bisa menambah
kadar konflik konflik sebuah ‘perang’
5) Dengan tawar-menawar distribusi. Strategi ini sering tidak menyelesaikan masalah karena
masing-masing pihak saling melepaskan beberapa hal penting yang mejadi haknya, dan jika
terjadi konflik mereka merasa menjadi korban konflik.
Usaha manusia untuk meredakan pertikaian atau konflik dalam mencapai kestabilan dinamakan
“akomodasi”. Pihak-pihak yang berkonflik kemudian saling menyesuaikan diri pada keadaan
tersebut dengan cara bekerja sama. Bentuk-bentuk akomodasi :
1) Gencatan senjata, yaitu penangguhan permusuhan untuk jangka waktu tertentu, guna
melakukan suatu pekerjaan tertentu yang tidak boleh diganggu. Misalnya : untuk
melakukan perawatan bagi yang luka-luka, mengubur yang tewas, atau mengadakan
perundingan perdamaian, merayakan hari suci keagamaan, dan lain-lain.
2) Abitrasi, yaitu suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga yang
memberikan keputusan dan diterima serta ditaati oleh kedua belah pihak. Kejadian seperti
ini terlihat setiap hari dan berulangkali di mana saja dalam masyarakat, bersifat spontan dan
informal. Jika pihak ketiga tidak bisa dipilih maka pemerintah biasanya menunjuk
pengadilan.
3) Mediasi, yaitu penghentian pertikaian oleh pihak ketiga tetapi tidak diberikan keputusan
yang mengikat. Contoh : PBB membantu menyelesaikan perselisihan antara Indonesia
dengan Belanda.
4) Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang berselisih
sehingga tercapai persetujuan bersama. Misalnya : Panitia tetap penyelesaikan perburuhan
yang dibentuk Departemen Tenaga Kerja. Bertugas menyelesaikan persoalan upah, jam
kerja, kesejahteraan buruh, hari-hari libur, dan lain-lain.
5) Stalemate, yaitu keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki kekuatan
yang seimbang, lalu berhenti pada suatu titik tidak saling menyerang. Keadaan ini terjadi
karena kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur. Sebagai contoh :
adu senjata antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang dingin.
6) Adjudication (ajudikasi), yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.
Adapun cara-cara yang lain untuk memecahkan konflik adalah :
1) Elimination, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat di dalam konflik, yang
diungkapkan dengan ucapan antara lain : kami mengalah, kami keluar, dan sebagainya.
2) Subjugation atau domination, yaitu orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar untuk
dapat memaksa orang atau pihak lain menaatinya. Sudah barang tentu cara ini bukan suatu cara
pemecahan yang memuaskan bagi pihak-pihak yang terlibat.
3) Majority rule, yaitu suara terbanyak yang ditentukan melalui voting untuk mengambil
keputusan tanpa mempertimbangkan argumentasi.
4) Minority consent, yaitu kemenangan kelompok mayoritas yang diterima dengan senang hati
oleh kelompok minoritas. Kelompok minoritas sama sekali tidak merasa dikalahkan dan sepakat
untuk melakukan kerja sama dengan kelompok mayoritas.
5) Kompromi, yaitu jalan tengah yang dicapai oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik.
6) Integrasi, yaitu mendiskusikan, menelaah, dan mempertimbangkan kembali pendapat-pendapat
sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak.
4.
DAMPAK KONFLIK
1) Dampak Secara langsung
Adalah akibat langsung yang dirasakan oleh pihak yang terlibat konflik
2) Dampak Tidak Langsung
Adalah dampak yang dirasakan oleh pihak yang tidak terlibat langsung dalam konflik.
Konflik juga mempunyai dampak positif dan negative
1) Dampak Positif
 Bertambahnya solidaritas antara anggota kelompok.
 Munculnya pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situasi konflik.
 Membantu menghidupkan norma yang lama dan menciptakan norma yang baru.
 Munculnya kompromi antara pihak-pihak yang berkonflik.
2) Dampak Negatif
 Hancurnya dan retaknya persatuan dan kesatuan.
 Adanya perubahan kepribadian seorang individu yang negatif.
 Rusaknya tatanan kehidupan masyarakat.
 Disorganisasi sosial atau disintegrasi sosial.
 Krisis sosial.
 Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia.
 keretakan hubungan antar kelompokyang bertikai
 perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling
curiga dan lain-lain
 dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
LATIHAN SOAL
1. Jelaskan pengertian struktur soasial menurut William Kornblum!
2. Sebutkan dan jelaskan fungsi struktur sosial!
3. Apa yang Anda ketahui mengenai stratifikasi sosial!
4. Sebutkan jenis stratifikasi sosial menurut dasar ukurannya!
5. Jelskan dampak sratifikasi sosial!
6. Jelaskan pengertian konflik sosial menurut Soerjono Soekanto!
7. Jelaskan fakor penyebab konflik sosial di Indonesia!
8. Apa yang anda ketahui mengenai akomodasi?
9. Jelaskan dampak positif konflik sosial!
10. Jelaskan arti dari istilah-istilah berikut :
a. Kompromi
b. Elimination
c. Minority consent
Download